Mengenal Gunung Anak Ranakah, Sang Gunung Berapi Termuda di Darat

Tahun 2019 TU (Tarikh Umum) ditandai oleh lahirnya sebuah gunung berapi baru di Bumi, meskipun bertempat di dasar laut sehingga tak seorang pun yang menyaksikan langsung saat-saat kelahirannya. Gunung berapi baru yang belum bernama di sebelah timur Pulau Mayotte (Perancis) di Kepulauan Komoro tersebut terbenam sepenuhnya dalam perairan selat Mozambik yang berkedalaman 3.500 meter meski ia menjulang setinggi 800 meter dari dasarnya. Dengan volume 5.000 juta m3, lahirnya gunung berapi termuda di laut ini sekaligus merupakan letusan gunung berapi yang terbesar bagi tahun 2019 TU, untuk sementara ini. Jika semata mengacu volume magmanya maka letusannya tergolong berskala 5 VEI (Volcanic Explosivity Index), atau setara Letusan Gunung Agung 1963 (Indonesia). Meskipun letusan yang melahirkan gunung berapi termuda ini lebih bersifat efusif (leleran) dan sepenuhnya tersekap di dalam laut sehingga tak menyemburkan kolom material vulkanik nan khas ke udara.

Gambar 1. Gunung Anak Ranakah saat masih bertumbuh, berdampingan dengan Gunung Ranakah. Nampak kubah lava dan lidah lava pada gunung berapi darat termuda di dunia ini. Diabadikan pada 17 Januari 1988 TU. Sumber: PVMBG/Wirasaputra, 1988.

Membicarakan gunung berapi termuda mau tak mau akan mengalihkan pandangan mata ke mancanegara. Tepatnya ke negara bagian Michoacan, Meksiko. Yakni di kawasan vulkanik Michoacan – Guanajuto seluas 200 x 250 km2 dan terdiri atas sedikitnya 1.400 kerucut vulkanik berukuran kecil-kecil. Salah satu diantaranya lahir pada 20 Februari 1943 TU dari sebuah retakan di tengah-tengah ladang jagung pak Dionisio Pulido, 322 km sebelah barat ibukota Meksiko City. Letusan terus berlangsung hingga 9 tahun berikutnya, berselang-seling antara efusif dan eksplosif (ledakan). Dalam empat bulan pertama saja rentetan erupsi efusif telah membentuk kerucut vulkanik setinggi 200 meter. Kini kerucut tersebut dikenal sebagai Gunung Paricutin, sebuah kerucut sinder yang adalah gunung berapi monogenetik yang menjulang 208 meter dari daratan sekitar dengan puncak berelevasi 2.800 mdpl.

Namun gunung berapi termuda di daratan Bumi kita bukanlah Paricutin. Ia lahir 45 tahun kemudian. Bukan di Meksiko ataupun bagian dunia lainnya. Gelar tersebut disematkan pada satu tempat di tanah air kita tercinta, Indonesia. Yakni di pulau Flores, sebuah pulau vulkanis yang ditumbuhi oleh delapan buah gunung berapi aktif dan merupakan bagian dari propinsi Nusa Tenggara Timur. Gunung berapi termuda itu adalah Gunung Anak Ranakah, atau Gunung Namparnos dalam bahasa penduduk setempat. Gunung Anak Ranakah lahir pada 28 Desember 1987 TU.

Segenap penduduk kota Ruteng di Kabupaten Manggarai mungkin tak pernah menyadari bahwa kawasan pegunungan di sisi selatan kota mereka sejatinya adalah sebuah gunung berapi sangat tua yang telah padam. Dahulu kala menjulang sebuah gunung berapi setinggi 2.500 meter yang disebut Gunung Rii Purba. Di masa prasejarah, Gunung Rii Purba meletus dahsyat hingga dua kali. Masing-masing letusan menghasilkan Kaldera Rii dan Kaldera Lunggar yang saling berhadapan. Kedua kaldera tersebut membentuk sebuah struktur besar yang disebut Kaldera Poco Leok dengan garis tengah 3 km. Kaldera Poco Leok terbentuk akibat pengamblesan (subsidence) tubuh gunung seiring kosongnya kantung magma setelah terkuras habis dalam setiap letusan besar. Pengamblesan ini diiringi terbentuknya retakan-retakan (sesar) konsentris dengan pusat berimpit ke pusat kaldera.

Gambar 2. Peta geologi kaldera Poco Leok dan sekitarnya. Nampak jajaran kubah-kubah lava produk aktivitas pasca kaldera yang membentuk barisan setengah melingkar di sisi utara. Gunung Anak Ranakah ditandai oleh titik letusan. Sumber: Katili & Sudrajat, 1988 dalam Wahyudin, 2012.

Pada sejumlah titik di retakan-retakan konsentrik itulah aktivitas vulkanik pascakaldera berulang kali terjadi. Aktivitas itu membentuk kubah-kubah lava yang terdiri atas Gunung Ngrekok, Gunung Likang, Gunung Tadowalok, Gunung Nggolongtede, Gunung Kasteno, Gunung Mandosawu dan Gunung Ranakah. Aktivitas vulkanik terakhir terjadi 15.000 tahun silam. Sehingga kawasan Kaldera Poco Leok sejatinya merupakan gunung berapi padam jika mengacu klasifikasi gunung berapi dari Global Volcanism Program. Gejala pasca vulkanik bermunculan di berbagai titik pada sekujur kaldera ini. Di sisi selatan ini terdapat lapangan panasbumi Ulumbu yang memiliki potensi energi 90 megawatt elektrik dan telah dikembangkan menjadi PLTP Ulumbu yang berkapasitas 10 megawatt elektrik.

Jarum jam menunjukkan pukul 22:00 WITA pada titi mangsa Senin 28 Desember 1987 TU saat sebuah dentuman keras membangunkan sebagian penduduk Kota Ruteng dari peraduannya. Dentuman menggelegar itu berasal dari Gunung Ranakah, tepatnya dari kaki timur laut. Dentuman ini merupakan puncak dari upaya keras gas-gas vulkanik bertekanan tinggi dalam membobol jalan keluar ke parasbumi dari kantung magma jauh di bawah Gunung Ranakah. Kerasnya batuan kubah lava Gunung Ranakah membuat gas-gas vulkanik terpaksa mencari jalan menyamping dan berjumpa dengan titik lemah di kaki timur laut bukit tersebut. Yakni pada sebuah ceruk kecil yang disebut loka leke ndereng (lubang tempurung merah) oleh penduduk setempat.

Gambar 3. Fase erupsi freatik di awal mula lahirnya Gunung Anak Ranakah. Magma belum keluar ke paras bumi sehingga tubuh gunung belum terbentuk pada saat itu. Tanda panah menunjukkan Gunung Ranakah. Sumber: PVMBG/Rohi, 1988.

Dentuman disusul mengepulnya asap hitam kecoklatan setinggi 3.000 hingga 4.000 meter di atas titik letusan disertai suara gemuruh. Debu vulkanik yang diproduksinya berkomposisi andesit, konsisten dengan batuan penyusun tubuh Gunung Ranakah. Inilah awal rangkaian erupsi freatik yang berlangsung secara intensif hingga enam hari kemudian. Sepanjang fase erupsi freatik ini terjadi 17 letusan kuat dan 200 letusan lemah. Terjadi pula rentetan gempa vulkanik yang mencapai rata-rata 200 kejadian per hari.

Mulai enam hari pasca awal letusan, intensitas erupsi freatik cenderung menurun namun sebaliknya kegempaan vulkanik meningkat pesat hingga dua kali lipat. Ini indikasi kuat telah terjadi gerakan fluida (magma) yang sedang mencoba menembus ke paras bumi, yang bakal menimbulkan erupsi freatomagmatik atau bahkan erupsi magmatik. Terbukti dalam sepuluh hari pasca awal letusan, mulai terdeteksi cahaya terang berkelanjutan dari arah lubang letusan di malam hari. Itulah pertanda jelas letusan telah memasuki fase erupsi magmatik. Dan dalam 12 hari pasca awal letusan mulai teramati adanya gundukan membara menyerupai kerucut. Itulah kubah lava, dengan tinggi saat itu 30 meter yang menyelubungi lubang letusan. Gundukan lava membara yang menandakan sebagai bayi gunung inilah yang membuat penduduk setempat menamainya Gunung Namparnos (namparnos : dinding yang terbakar). Sementara vulkanolog Indonesia menyebutnya sebagai Gunung Anak Ranakah.

Gambar 4. Sketsa sederhana proses lahir dan tumbuh kembang Gunung Anak Ranakah dalam rentang waktu tiga minggu terhitung semenjak 28 Desember 1987 TU. Sumber : Katili & Sudrajat, 1988 dalam Wahyudin, 2012.

Letusan-letusan berikutnya sangat didominasi oleh erupsi efusif dengan sesekali saja terjadi erupsi eksplosif (ledakan). Karenanya ukuran kubah lava terus membesar. Erupsi eksplosif pertama terjadi dua minggu pasca awal letusan, dalam bentuk erupsi Vulkanian kuat yang membentuk kolom letusan setinggi 8.000 meter di atas lubang letusan. Letusan itu juga memproduksi awan panas untuk pertama kalinya, mengalir ke utara melalui lembah sungai Wae Reno sejauh 5 km. Intensifnya erupsi efusif yang bertipe erupsi Strombolian membuat kubah lava tumbuh pesat, dimana dalam tiga minggu pasca awal letusan telah menjulang 100 meter dari dasar dengan volume 5 juta meter3. Selain gundukan kubah lava, terbentuk juga lidah lava yang menjulur ke utara sepanjang sekitar 1.000 meter.

Fase erupsi magmatik di Gunung Anak Ranakah pada dasarnya telah berhenti sejak Juli 1988 TU. Saat itu kubah lava sudah menjulang setinggi 140 meter dari dasar, dengan puncak memiliki elevasi 2.200 mdpl. Dasarnya berjari-jari 400 meter, namun dengan bentuk kubah lava yang terpancung di bagian dasar karena menindihi kaki timur laut Gunung Ranakah, maka volumenya jauh lebih kecil dibanding volume kerucut. Jumlah magma yang dikeluarkan dalam letusan ini mencapai 19 juta m3, terdiri atas 14 juta m3 kubah lava dan 5 juta m3 lidah lava. Tingkat pengeluaran magma tertinggi mencapai 0,5 juta m3 per hari yang terjadi sepanjang Januari 1988 TU. Di bulan-bulan berikutnya tingkat pengeluaran magma kian menurun. Mulai Juli 1988 TU hingga dua tahun kemudian praktis aktivitas vulkanik Gunung Anak Ranakah hanya berupa hembusan solfatara dari puncak gunung, yang membumbung setinggi 15 hingga 25 meter saja.

Gambar 5. Awan panas guguran yang terbentuk pada 20 Januari 1988 TU dalam proses tumbuh kembang Gunung Anak Ranakah. Karena sifatnya yang rapuh dan mudah longsor, gugurnya bagian-bagian kubah lava Gunung Anak Ranakah akan membentuk awan panas guguran. Sumber: PVMBG/Wirasaputra, 1988.

Lahirnya Gunung Anak Ranakah tidak membawa korban manusia (baik korban jiwa maupun luka-luka) ataupun kerugian harta benda. Pada 6 Januari 1988 TU sebanyak 20.000 orang memang sempat diungsikan, yakni para penduduk yang tinggal di dalam radius 5 km dari bayi gunung tersebut. Manakala karakter letusan Anak Ranakah sudah lebih diketahui seiring perjalanan waktu, berangsur-angsur mereka pulang ke kediaman masing-masing. Pada 26 Januari 1988 TU, tinggal 4.200 pengungsi yang masih tersisa. Yakni yang bertempat tinggal di sekitar lembah sungai Wae Reno di utara Gunung Anak Ranakah. Begitu fase erupsi magmatik usai, maka pengungsi pun berangsur-angsur pulang kembali.

Berbeda dengan saudara muda-nya Gunung Paricutin di Meksiko, Gunung Anak Ranakah bukanlah gunung berapi monogenetik. Sehingga Anak Ranakah tidaklah sekali beraksi (meletus) untuk kemudian mati. Tubuh Gunung Anak Ranakah merupakan lava yang menumpuk dimana bagian dalamnya masih panas membara. Maka potensi letusan Gunung Anak Ranakah masih tetap terbuka, baik yang berasal dari runtuhnya kubah lava saat ini (yang bisa menghasilkan awan panas guguran) maupun dari suplai magma segar dari kantung magmanya. Kemungkinan suplai segar ini masih tetap terbuka, mengingat bila mengacu pada saudara-saudaranya di kawasan kaldera Poco Leok, ukuran Gunung Anak Ranakah masih jauh lebih kecil. Sehingga potensi untuk meletus dan menambah ukuran lagi masih terbuka. Untuk itu peta kawasan rawan bencana Gunung Anak Ranakah telah dibentuk sebagai langkah antisipasi.

Referensi :

Wahyudin. 2012. Vulkanisme dan Prakiraan Bahaya Gunung Api Anak Ranakah, Nusa Tenggara Timur. Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, vol. 3 no. 2 Agustus 2012, hal. 89-108.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. 2014. Gunung Anak Ranakah, Data Dasar Gunungapi.

Lahirnya Gunung Berapi Laut di Dekat Mayotte

Gunung berapi baru itu masih sangat muda. Mungkin baru setahun usianya, jika dihitung pada Mei 2019 TU (Tarikh Umum). Meski masih sangat belia, pertumbuhannya cukup pesat dengan ukuran saat ini sudah cukup besar, kini volumenya sudah 5 km3. Tak satupun insan yang menyaksikan detik demi detik kelahirannya seiring tersembunyinya jauh di dasar Samudera Indonesia di lepas pantai timur benua Afrika. Namun tanda-tanda tak langsung dari proses kelahirannya telah dirasakan sebagian penduduk Kepulauan Komoro sejak setahun sebelumnya. Lewat aneka guncangan lemah yang misterius dan meresahkan.

Gambar 1. Ketampakan gunung berapi laut baru di dasar Selat Mozambik tepatnya 55 km sebelah timur pulau Mayotte. Gunung berapi baru yang sangat muda ini tersingkap lewat survei sonar pada 2 – 18 Mei 2018 TU. Menjulang setinggi 800 meter dari dasar, terdeteksi pula kepulan materi letusan hingga setinggi 2.000 meter dari puncaknya. Sumber: tim MAYOBS, 2019.

Gunung berapi umum dijumpai di Bumi dan sejumlah benda langit anggota tata surya kita berkaitan dengan proses pelepasan bahang (panas) interior ke lingkungan sekitar. Pada Bumi, 10 % dari bahang interior merupakan bahang primitif. Yakni sisa panas saat proses pembentukan tata surya 5 milyar tahun silam. Sedangkan 90 % sisanya merupakan bahang radiogenik, yakni akumulasi panas dari proses peluruhan inti-inti atom radioaktif terutama Uranium (U238), Thorium (Th232) dan Kalium (K40) yang terjadi di lapisan selubung dan inti luar. Total bahang interior yang dilepaskan Bumi kita mencapai 47 terawatt (4,7 . 1013 watt) yang ditransfer ke paras Bumi melalui mekanisme konveksi dalam lapisan selubung. Hanya 1 % bahang yang kemudian terlepas ke lingkungan lewat peristiwa tektonisme, vulkanisme dan kegempaan yang riuh. Sementara 99 % sisanya dilepaskan lewat aliran panas permukaan (heatflow) yang besarnya rata-rata 92 miliwatt/m2.

Gempa Swarm Mayotte

Gunung berapi baru umumnya tumbuh berkembang di lingkungan yang secara geologis merupakan kawasan vulkanik dengan jejak aktivitas vulkaniknya di masa silam, umumnya berupa gunung berapi tua yang telah lama padam. Gunung berapi baru lebih sering tumbuh di dasar laut yang tersembunyi, mengikuti trend lebih banyaknya magma yang dilepaskan di dasar laut khususnya di zona pemekaran lantai samudera (mencapai 70 hingga 80 %) ketimbang di daratan. Terakhir kali umat manusia menyaksikan kelahiran gunung berapi baru di daratan adalah pada akhir 1987 TU silam lewat Gunung Anak Ranakah / Namparnos di dekat kota Ruteng, pulau Flores (Indonesia). Sementara gunung berapi baru di dasar laut yang paling muda adalah Gunung Nijima, di sebelah selatan Gunung Nishinoshima pada perairan Samudera Pasifik 940 km sebelah selatan-tenggara kota Tokyo (Jepang). Gunung Nijima akhirnya bergabung menyatu dengan Nishinosima membentuk sebuah pulau tunggal yang kecil dan vulkanis.

Gambar 2. Kepulauan Komoro dalam peta topografi dasar laut Selat Mozambik. Seluruh pulau di kepulauan ini merupakan pulau vulkanik, puncak dari gunung-gemunung berapi besar yang menyembul di atas paras airlaut. Sumber: Lemoine dkk, 2019.

Penduduk Kepulauan Komoro, khususnya di pulau Mayotte, mulai merasakan situasi tak biasa mulai pagi hari 10 Mei 2018 TU. Sebuah gempa ringan (magnitudo 4,3) menggoyang pelan. Di hari-hari berikutnya getaran demi getaran susul-menyusul, kian dirasakan oleh lebih dari seperempat juta jiwa penduduk Mayotte. Getaran juga kian terdeteksi oleh sensor-sensor seismometer yang lebih jauh. Sebuah gempa kuat (magnitudo 5,9) mengguncang lima hari kemudian, disusul sepasang gempa kuat lainnya (magnitudo 5,5) masing-masing pada 20 dan 21 Mei 2018 TU. Getaran demi getaran ini mencemaskan mengingat pulau Mayotte sudah lama tak merasakan gempa bumi, apalagi yang merusak. Getaran gempa merusak terakhir kali terjadi pada 1 Desember 1993 TU (magnitudo 5,2) yang memproduksi sejumlah kerusakan ringan-sedang di sekujur pulau.

Selama enam bulan kemudian telah terdeteksi 1.109 gempa bumi dengan magnitudo lebih dari 3,5. Salah satu diantaranya bahkan cukup unik karena tak mengandung komponen gelombang primer (P) dan sekunder (S). Meletup pada 11 November 2018 TU, gempa unik ini terdeteksi oleh seismometer hingga sejauh 18.000 km dari sumbernya. Gempa unik ini berlangsung selama sedikitnya 20 menit sebagai gelombang panjang berperiode 16 detik. Meski terdeteksi hingga ke lokasi yang demikian jauh dan bergetar cukup lama, uniknya gelombang panjang gempa unik ini sama sekali tak dirasakan penduduk Mayotte. Di kemudian hari gempa unik ini dikategorikan sebagai tremor episodik.

Rentetan gempa tersebut merupakan gempa swarm, yakni gempa-gempa yang terjadi pada suatu lokasi dalam rentang waktu tertentu namun tidak menunjukkan pola hubungan gempa utama – gempa susulan yang khas bagi gempa bumi tektonik. Meski secara garis besar relatif serupa, namun mekanisme fokus dari setiap gempa bumi dalam kejadian gempa swarm ini berbeda-beda parameternya. Gempa swarm umumnya menjadi indikasi terjadinya migrasi fluida (magma) dari kedalaman, atau terjadinya pengamblesan (subsidence) dari suatu massa yang besar seperti gunung.

Gambar 3. Posisi episentrum setiap gempa dalam Gempa swarm Mayotte 2018 untuk selang waktu 10 Mei hingga 14 November 2018 TU. Perbedaan warna episentrum menunjukkan perbedaan kelompok, biru untuk kelompok pertama, kuning untuk kelompok kedua dan merah untuk kelompok ketiga. Sumber: Lemoine dkk, 2019.

Gempa swarm Mayotte secara umum terbagi ke dalam tiga kelompok. Kelompok pertama terjadi pada 10 Mei hingga 8 Juli 2018 TU, yang mengambil area sejauh 45 hingga 55 km sebelah timur pulau Mayotte. Gempa swarm pada kelompok ini secara berangsur-angsur bergeser ke arah tenggara hingga 10 km, sementara kedalaman sumber gempanya juga berkurang dari semula 35 km menjadi 15 km. Sementara kelompok kedua mulai berlangsung sejak 26 Juni 2018 TU dengan area sumber di sebelah barat kelompok pertama, yakni sejarak 42 hingga 55 km dari pulau Mayotte. Dan kelompok ketiga mulai belangsung sejak 5 Juli 2018 TU dengan area sumber di sebelah barat kelompok kedua, yakni pada jarak 26 hingga 42 km. Hingga November 2018 TU, secara akumulatif energi yang dilepaskan seluruh gempa swarm itu setara dengan energi Gempa Yogya 2006.

Inflasi

Selain hentakan gempa swarm, pulau Mayotte juga mengalami proses deformasi yang terekam dalam radas (instrumen) GPS meskipun tak kasat mata dan tak terasakan sama sekali oleh penduduk setempat. Selama enam bulan sejak Mei 2018 TU, pulau Mayotte beringsut ke timur hingga sejauh sekitar 20 cm dan melesak (ambles) sedalam sekitar 5 cm. Ini menandakan bagian dasar laut di sebelah timur pulau sedang mengalami inflasi (penggelembungan), sebuah ciri khas aktivitas sebuah gunung berapi menjelang meletus. Inflasi terjadi kala magma segar dalam volume banyak mulai mengisi suatu tempat di dalam kerakbumi, menjadikan tempat itu laksana balon yang terus membesar karena ditiup pelan-pelan.

Perhitungan menunjukkan posisi dapur magma dari aktivitas ini adalah 35 km sebelah timur pulau Mayotte pada kedalaman 30 km. Magma mengalir vertikal ke atas, namun pada kedalaman sekitar 10 km mulai berbelok ke barat sebagai retas magmatik hingga sejarak sekitar 20 km sebelah timur pulau Mayotte. Perhitungan lebih lanjut menunjukkan pada periode 10 Mei hingga 5 Juli 2018 TU terjadi pengeluaran magma sebanyak 45 meter3/detik. Selanjutnya pada 3 Juli hingga 14 November 2018 TU pengeluaran magmanya meningkat menjadi 82 meter3/detik. Maka secara akumulatif selama enam bulan tersebut terjadi pengeluaran magma sebanyak 1,15 km3.

Gambar 4. Penampang melintang lokasi dapur magma (reservoir), saluran magma (conduit) dan retas magma (dyke) yang berhasil direkonstruksi berdasarkan data-data deformasi dari stasiun-stasiun GPS di pulau Mayotte selama gempa swarm berlangsung. Posisi gunung berapi baru (new volcano) dan sistem goa lava (lava tube) yang memasok magmanya ditambahkan kemudian. Sumber: Lemoine dkk, 2019.

Pusat penelitian ilmu pengetahuan (CNRS) Perancis akhirnya memutuskan meneliti fenomena ini lebih lanjut melalui survei gabungan bawah air laut di bawah tajuk MAYOBS mulai Februari 2019 TU. Survei meliputi pemasangan enam sensor seismometer dasar laut (OBS) guna mengetahui posisi sumber gempa swarm lebih detil serta pemetaan dasar laut menggunakan sonar. Penempatan sensor OBS dan pemetaan sonar dilakukan menggunakan kapal Marion Dufresne.

Dari survei inilah diketahui sebuah gunung berapi laut yang baru sudah lahir dan tumbuh berkembang di dasar Selat Mozambik. Tepatnya sejarak 55 km sebelah timur pulau Mayotte. Gunung berapi laut yang baru ini tumbuh di kedalaman 3.500 meter. Ia berbentuk kerucut dengan dasar bergaris tengah 5.000 meter dan menjulang setinggi 800 meter dari dasar. Diperhitungkan volumenya mendekati 5 km3. Jika ia tumbuh sejak awal gempa swarm Mayotte terjadi, maka kecepatan pengeluaran magma dari dalam perutbumi yang membentuk gunung berapi baru ini mencapai rata-rata 160 meter3/detik. Angka ini tak jauh berbeda dibanding perkiraan 82 meter3/detik berdasarkan data deformasi. Survei juga memperlihatkan tanda-tanda aktivitas gunung berapi baru tersebut, melalui semburan fluida yang terdeteksi hingga 2.000 meter di atas kawah gunung.

Gambar 5. Peta dasar laut di sisi timur pulau Mayotte. Nampak posisi gunung berapi baru (depan) dan posisi terkini sumber gempa swarm (belakang). Sumber: MAYOBS, 2019.

Sementara dari data-data sensor OBS diketahui posisi sumber gempa swarm terbaru, yang telah bergeser lagi ke barat. Yakni hanya sejarak 12 – 22 km saja di sebelah timur pulau Mayotte. Maka terdapat jarak 40-an km antara sumber gempa swarm dengan gunung berapi baru tersebut. Karena survei telah menemukan sebuah gunung berapi baru dasar laut, maka sumber gempa swarm Mayotte berkaitan dengan pergerakan magma menuju bagian atas kerakbumi. Selisih jarak antara sumber gempa swarm dengan gunung berapi baru yang dilahirkannya menunjukkan adanya pergerakan mendatar magma sejauh 40-an km sebelum menemukan jalan keluarnya ke paras bumi. Pergerakan ini dapat terjadi melalui sistem goa lava (lava tube) yang khas untuk gunung-gemunung berapi laut. Tepatnya gunung-gemunung berapi basaltik, yang memuntahkan magma bersifat basa sehingga lebih encer dan lebih mampu mengalir jauh sekaligus lebih berkemungkinan membentuk sistem goa lava yang sangat panjang.

Goa Lava

Dengan demikian terbentuknya gunung berapi baru ini mengikuti fenomena yang terjadi di Gunung Kilauea, Hawaii (Amerika Serikat), salah satu gunung berapi laut terpopuler. Pada 2018 TU silam, gunung ini meletus sebagai Letusan Puna 2018. Lubang letusan tak berada di kawah utama, melainkan pada sejumlah titik di desa Leilani Estate di lereng gunung yang berjarak mendatar 40 km dari kawah. Letusan Puna 2018 berkecamuk selama 3 bulan lamanya dan memuntahkan tak kurang dari 700 juta meter3 magma, menjadikannya letusan gunung berapi yang terbesar untuk tahun 2018 TU. Transfer magma dari dapur magma yang berada tepat di bawah kawah utama menuju ke lubang-lubang letusan sejauh itu berlangsung melalui sistem goa lava.

Aktivitas vulkanik menjadi hal wajar bagi Kepulauan Komoro, sebuah kepulauan yang adalah untaian puncak gunung-gemunung berapi dasar laut yang menyembul di atas paras air laut. Di pulau terbesar, yakni pulau Grande Comoro (terbentuk 130 ribu tahun silam) menjulang tinggi Gunung Karthala yang terakhir meletus pada 2007 TU silam. Sementara pulau Mayotte adalah pulau tertua yang terbentuk sekitar 11 juta tahun silam sekaligus terkalem dengan letusan gunung berapi terakhir terjadi antara 7.000 hingga 4.000 tahun silam. Letusan itu membentuk pulau kecil Petite Terre, yang berjarak 5 km di sebelah timur Mayotte dan kini menjadi pintu gerbang utama ke pulau Mayotte dengan bandaranya. Terbentuknya gunung-gemunung berapi laut di kepulauan ini adalah wajar, mengingat posisinya yang berdiri di retakan kerakbumi yang memungkinkan magma menyeruak dari lapisan selubung melalui vulkanisme titik-panas (hot-spot volcanism).

Gambar 6. Tatanan tektonik benua Afrika bagian timur yang tersusun oleh lempeng Nubia, lempeng Somalia dan tiga mikrolempeng. Masing-masing mikrolempeng Victoria, Rovuma dan Lwandle. Kepulauan Komoro beserta pulau Mayotte (MAYG) terletak di retakan kerakbumi yang menjadi batas antara lempeng Somalia dengan mikrolempeng Lwandle. Sumber: Lemoine dkk, 2019.

Retakan tersebut adalah konsekuensi dari tatanan tektonik Afrika timur yang rumit. Pada dasarnya benua Afrika bagian timur tersusun oleh lempeng Nubia yang bersifat kontinental serta lempeng Somalia yang kontinental dan oseanik. Lempeng Nubia bergerak ke barat-barat daya sementara lempeng Somalia ke timur laut. Batas antara kedua lempeng merupakan zona divergen yang adalah bagian dari lembah retakan besar (Great Rift Valley), lembah besar sangat panjang yang menjulur dari Palestina hingga Afrika bagian tengah. Pada bagian selatan, interaksi lempeng Nubia dan Somalia dibatasi oleh tiga mikrolempeng. Masing-masing mikrolempeng Victoria, Rovuma dan Lwandle. Mikrolempeng Lwandle menjadi dasar dari hampir segenap pulau Madagaskar dan Selat Mozambik. Retakan kerakbumi yang melintasi Kepulauan Komoro merupakan batas antara mikrolempeng Lwandle dengan lempeng Somalia.

Bilamana tingkat pertumbuhannya seperti sekarang, maka puncak gunung berapi baru ini akan menyembul di paras air selat Mozambik pada 5 tahun setelah kelahirannya, atau sekitar tahun 2022 TU kelak. Dengan catatan bila aktivitasnya berlangsung secara kontinu dan konstan. Realitanya aktivitas gunung berapi dengan pengeluaran magma demikian besar tak pernah berlangsung lama sepanjang catatan sejarah kita manusia. Sehingga mungkin butuh waktu beratus atau bahkan beribu tahun lagi bagi gunung berapi baru ini untuk menyembul ke paras air laut menjadi sebuah pulau vulkanik baru.

Referensi

Lemoine dkk. 2019. The Volcano-tectonic Crisis of 2018 East of Mayotte, Comoros Islands. Geophysical Journal International, submitted February 26, 2019.

Mendongengi Pendongeng Geologi, Mengenang Rovicky Dwi Putrohari (1963-2019)

“Hambok aku diewangi,” begitu perbincangan pertama saya dan pakdhe dalam beberapa jam setelah kami berbagi nomor ponsel per-email. Ya, lawan bicara saya adalah almarhum Rovicky Dwi Putrohari, sang pendongeng kebumian legendaris yang baru berpulang itu. Perbincangan itu berlangsung pada medio Juni 2006, sekira 2 atau 3 minggu selepas Gempa Yogya 2006 nan mengharu-biru. Bencana yang menyayat hati, saya bersama banyak saudara menyaksikan langsung kala bumi laksana diguncang angkara. Malapetaka yang merenggut nyawa 6.234 orang, membuat 36.299 orang lainnya luka-luka berat maupun ringan serta memaksa lebih dari 1,5 juta orang menjadi pengungsi seiring rusaknya 616.458 unit bangunan di Bantul, Klaten, kota Yogyakarta, Kulonprogo dan Gunungkidul.

Gambar 1. Pertemuan terakhir dengan pakdhe dalam satu forum kebencanaan di Yogyakarta, medio Oktober 2018 TU. Dari kiri ke kanan adalah mas Budi (Muhammadiyah Disaster Management Centre), pak Suharko (geolog, kawan karib pakdhe), pakdhe, saya dan mas Fahmi (geolog muda yang baru pulang dari kota Palu). Dokumentasi pribadi.

Di sela-sela kegiatan ber-relawan, iseng saya kirimkan ringkasan hasil perhitungan energetika Gempa Yogya ke Dongeng Geologi. Energetika itu mengupas seberapa besar energi seismik Gempa Yogya 2006 sekaligus menjadi bantahan bencana itu adalah ulah kotor tangan-tangan manusia. Karena butuh senjata nuklir berkekuatan besar untuk bisa melepaskan energi sebesar Gempa Yogya dan jelas bakal ada efek samping detonasi nuklir yang tak bisa dinegasikan, mulai tsunami hingga masalah pencemaran radiasi nuklir. Saat itu memang berkembang hoaks adanya tangan-tangan jahat yang meledakkan senjata nuklir di dasar laut di selatan Parangtritis hingga memproduksi Gempa Yogya. Perhitungan energetika serupa pernah saya kerjakan pada momen Gempa Aceh 2004 nan fenomenal itu. Meski hasilnya dibagi terbatas ke sejumlah sejawat (dan sepi tanggapan), sementara versi yang lebih lunak (yang tak berhias aneka angka dan persamaan matematika) sambil lalu saya kirim ke satu koran Jawa Tengah (dan entah bagaimana ceritanya malah naik cetak).

“Ngewangi pakdhe? Lah apa ndak nguyahi segara?” Ya, saya selalu memanggilnya pakdhe sedari awal perkenalan kami. Sebaliknya panggilan untuk saya-lah yang berubah-ubah laksana gayut alur evolusi geologis. Mulai dari thole yang jadi ciri khasnya, hingga mas dan belakangan malah pak. Diajak membantu sang pendongeng geologi yang saya kagumi, yang tulisan-tulisan di blognya saya ikuti bertahun-tahun terutama semenjak peristiwa Gempa Aceh 2004? Itu laksana menggarami lautan. Ngajari wong pinter. Lagipula energetika gempa bumi bukanlah perkara sulit. Itu sekedar memainkan kalkulator pada persamaan umum Gutenberg-Richter (log E = aM + b) yang telah diderivasikan ke berbagai bentuk. Diikuti seni mengubah besaran satuan.

Saya lebih menyukai penggunaan satuan kiloton TNT maupun megaton TNT karena lebih ‘nendang,’ lebih kontekstual. Bukannya Joule apalagi Erg yang relatif ‘kering.’ Kiloton/megaton TNT banyak digunakan dalam cabang ilmu fisika energi tinggi dan awalnya digunakan menjelaskan kekuatan ledakan nuklir. Bom nuklir yang meluluhlantakkan Hiroshima memiliki energi 12 kiloton TNT, sementara kembaran-beda-bentuk -nya di Nagasaki berkekuatan 20 kiloton TNT. Belakangan satuan ini digunakan pula dalam ilmu kebencanaan, misalnya mendeskripsikan besarnya energi letusan gunung berapi maupun gempa bumi/tsunami.

Di sisi lain saya saat itu hanya ingin menulis. Cuma berhasrat menata kata dalam guratan pena. Berharap bisa menuangkan penat dalam hati. Sembari merintis jalan menuju cahaya, mencari kekuatan penyembuh bagi luka dalam jiwa setelah anugerah kehidupan yang susul-menyusul. Kata seorang sejawat, menulislah agar tak ada lagi bisul dalam sukma. Bukan untuk berargumen atau berdebat dalam koridor sains tertentu guna mencari kebenaran ilmiah. Apalagi mengunduh popularitas.

Aku belajar geologi di Yogya lalu lanjut studi geofisika di Depok, tukasnya. Bahasan energi adalah makanan sehari-hari. Tapi aspek energi yang kupahami ya melulu seluk-beluk minyak bumi, gas alam dan batubara. Kadang geotermal. Bagaimana gempa terjadi, aku tahu mekanismenya. Aku bisa jelaskan tentang sesar (patahan), gejala-gejalanya dan kemungkinan pergerakannya. Tapi ya hanya sebatas itu. Tidak dengan aspek energinya. Berapa besar energi seismik yang dilepaskan? Berapa besar energi total gempa itu (istilah kerennya momen-seismik)? Seberapa besar fraksi energi yang berubah menjadi getaran dan bagaimana intensitas getarannya? Berapa yang berubah menjadi energi tsunami? Apakah energi sebesar itu bisa dipicu dari luar dengan tetap mempertahankan prinsip kekekalan energi? Itu semua di luar pengetahuanku.

Gambar 2. Diagram sederhana sumber Gempa Yogya 2006 berdasarkan analisis episentrum gempa-gempa susulan dan interferometri satelit. Pematahan pada sesar Oya melepaskan energi yang merambat kemana-mana, terutama melalui sesar Siluk sebagai jalan tol-nya. Bentang lahan lunak di antara sesar Opak dan sesar Progo tergetarkan hebat hingga mengalami amplifikasi getaran. Kerusakan terparah terjadi di sini. Sumber: Tsuji dkk, 2009 digambar ulang Sudibyo, 2015.

Geologi memandang gempa bumi hanya dari satu sisi, sedangkan peristiwa gempa bumi sendiri jelas multidimensi pengetahuan. Baik ilmu alam maupun sosial. Memandang gempa bumi dalam berbagai dimensi membuat kita bisa tahu fenomena itu secara lebih komprehensif. Untuk saat sekarang, itu bisa mengeliminasi hoaks yang tak berkeruncingan dan membantu menenangkan khalayak. Dalam jangka panjang, semoga membantu anak cucu kita dalam menyiapkan diri menghadapi peristiwa yang sama. Karena gempa bumi selalu berulang di satu lokasi setelah sekian waktu. Dan thole kan ngerti, geologi kadang sulit memberi penjelasan jika tak dibantu kacamata bersudut pandang lebih lebar.

Makanya astronomi pernah menjadi kacamatanya, tukas saya sambil mengutip cerita Alfred Wegener. Kami pun ngakak. Ya, Alfred Wegener sang pencetus gagasan pengapungan benua yang menjadi pondasi tektonik lempeng, sejatinya seorang astronom. Dialah yang pertama kali menyadari kemiripan bentuk pesisir timur benua Amerika bagian selatan dengan pesisir barat benua Afrika sebagai kepingan puzzle yang bisa dipersatukan. Maka pada tahun 1912 TU Wegener pun mengungkapkan gagasan pengapungan benuanya, hanya untuk melihatnya ‘dibantai’ habis-habisan oleh para pesohor dunia ilmu kebumian saat itu. Butuh waktu hampir setengah abad kemudian atau dua dasawarsa selepas berpulangnya Wegener dalam ekspedisi kutub utara, setelah melalui serangkaian survei bawahlaut Samudera Atlantik dan survei magnetik, untuk menyatakan Wegener memang benar. Benua-benua memang saling mengapung dan bergerak. Segenap kerak bumi kita yang padat dan kaku itu mengapung di atas bubur panas sangat kental yang dipenuhi gerakan berskala besar arus konvektif. Itulah lapisan selubung (mantel) Bumi. Dan dahulu semua benua pernah menjadi satu, sebagai superbenua Pangaea.

Berhari kemudian ada saudara mampir ke rumah mengangsurkan koran sembari nyengir menyebalkan. Di halaman depan bagian bawah terpampang artikel energetika Gempa Yogya berciri khas tulisan saya, lengkap dengan foto bertampang culun dalam ukuran kecil. Astaga! Ini kan yang kemarin kukirim ke Dongeng Geologi? Dikutip utuh bulat-bulat, plek-jiplek kata orang Kebumen. Pakdhe ketawa saja saat kami berbincang per telepon, memaparkan betapa kenalan jurnalisnya tertarik dengan lika-liku perbincangan seputar Gempa Yogya 2006 dan telah mohon izin untuk dimuat secara bersambung.

Gambar 3. Saat-saat tsunami Pangandaran 2006 menggempur kolam PLTU Bunton, Cilacap (Jawa Tengah). Tsunami ini dibangkitkan oleh Gempa Pangandaran 17 Juli 2006 (magnitudo 7,7) yang terjadi 45 menit sebelumnya. Gempa tersebut merupakan gempa-lambat sehingga meproduksi tsunami besar. Sumber: PLTU Bunton, 2006 dalam Lavigne, 2007.

Pancawarsa pasca perkenalan kami menjadi masa yang amat sibuk dan juga produktif bagi Dongeng Geologi. Sejumlah fenomena alam terjadi secara beruntun. Sebutlah Gempa Pangandaran 2006 yang tsunamigenik dan bersifat gempa-lambat (tsunami-earthquake) sehingga nyaris tak terasa getarannya, namun tanpa diduga samudera mendadak bergelora dalam sejam pascagempa. Juga Gempa Solok 2007, gempa ganda (doublet) yang sama energetiknya dengan Gempa Yogya 2006 dan meninggalkan banyak retakan tanah menarik di sekitar Danau Singkarak. Lantas Gempa Bengkulu 2007, yang meletup di zona megathrust Sunda di Sumatera terutama pada segmen Mentawai bagian selatan. Gempa yang menjadi bagian dari dekade teror gempa Sumatera (dalam istilah geolog legendaris pak Danny Hilman Natawidjaja) dan diduga adalah babak pertama dari perulangan doublet gempa megathrust 1797 – 1833.

Ada juga Gempa Laut Jawa 2007, episentrumnya berdekatan dengan Jakarta dan getarannya mengguncang luas seantero pulau Jawa, sebuah ciri khas gempa intralempeng berhiposentrum sangat dalam. Meski episentrumnya ada di lepas pantai utara Jawa, uniknya getarannya justru menyebabkan puluhan rumah rusak di Cianjur yang berada di pesisir selatan Jawa. Si ‘intra’ lain datang menerjang dua tahun kemudian dalam dua kejadian, tepatnya pada bulan September 2009. Diawali Gempa Tasikmalaya 2007 pada senja menjelang buka puasa, yang memicu tanah longsor Cikangkareng yang menewaskan puluhan orang. Disusul Gempa Padang 2009, hanya beberapa hari selepas Idul Fitri. Ratusan nyawa meregang dalam peristiwa gempa yang sama sekali tak diduga dan bukanlah bagian dekade teror gempa Sumatera. Dan berikutnya Gempa Mentawai 2010 naik ke panggung, sebuah gempa-lambat tsunamigenik dengan getaran yang ringan namun diikuti terjangan tsunami besar yang merenggut nyawa hampir 500 orang.

Bencana gempa bumi di mancanegara tak kalah menarik perhatian Dongeng Geologi. Sebut saja Gempa Wenchuan 2008 di sudut barat China, yang meletup di area konservasi kawanan panda. Gempa darat sangat kuat akibat patahnya sesar Longmenshan itu menelan korban jiwa tak kurang dari 60.000 orang. Lalu Gempa megathrust Chile 2010, yang sedikit lebih kuat ketimbang Gempa Nias 2005. Gempa yang melepaskan tsunami ke sekujur pesisir Samudera Pasifik, mulai dari California (AS) hingga Jepang dan Russia. Demikian halnya Gempa Hati 2010, gempa kuat yang tidak begitu besar namun menohok langsung ibukota sebuah negara miskin berpenduduk padat. Korban jiwa yang jatuh tak kurang dari 100.000 orang. Meski pemerintah Haiti sendiri mengklaim korban jiwa mencapai 316.000 orang, angka yang dianggap terlalu dibesar-besarkan untuk tujuan tertentu.

Dan yang paling fenomenal tentulah Gempa megathrust Tohoku-Oki 2011 di Jepang, yang setara kuatnya dengan gempa Aceh 2004. Gempa yang melepaskan tsunami raksasa ke seantero pesisir Samudera Pasifik dan merenggut nyawa tak kurang dari 16.000 orang. Tak sekedar merenggut korban jiwa, gempa itu juga memicu aneka krisis di Jepang. Yang paling menonjol tentulah krisis nuklir di keempat reaktor nuklir PLTN Fukushima Daichi. Keempatnya kehilangan aliran pendingin seiring putusnya catudaya listrik akibat matinya generator oleh terjangan tsunami. Reaktor-reaktor yang memanas, meleleh dan (sebagian) berujung pada ledakan Hidrogen menjadi panorama menggidikkan yang menghantui dunia.

Selain peristiwa gempa bumi, letusan sejumlah gunung berapi pun menggamit minat. Misalnya Gunung Merapi, yang letusannya pada 2006 TU meluncurkan awan panas dan lava pijar hingga mengubur bunker Kaliadem. Gunung Merapi meletus kembali empat tahun berikutnya, dengan letusan aneh yang menyebal dari kebiasaan umum. Letusan Merapi 2010 menjadi amukan gunung berapi terdahsyat di Indonesia dalam kurun seperempat abad terakhir, semenjak letusan Gunung Galunggung. Dua letusan itu diselingi oleh letusan Gunung Kelud di tahun 2007. Letusan ini semula dikhawatirkan bakal sangat merusak, seperti hikayat amukan Gunung Kelud sebelumnya. Tapi semesta raya selalu punya cara sendiri dalam menggoda kita manusia. Di tahun itu Gunung Kelud ternyata hanya menyembulkan gundukan kubahlava dari danau kawahnya secara berangsur-angsur hingga sebesar bukit. Tanpa ada pasir dan debu vulkanik menghujani kawasan sekitar. Tujuh tahun berikutnya barulah Gunung Kelud kembali ke perilaku aslinya dengan letusan dahsyat katastrofik, meremukkan kubahlavanya berkeping-keping dan melontarkannya ke langit untuk kemudian membedaki separo pulau Jawa.

Pakdhe selalu hadir dalam peristiwa-peristiwa tersebut. Tak hanya sebatas satu, kerap pakdhe menghadirkan rentetan artikel berkesinambungan bagi satu peristiwa. Semua tersaji dengan gayanya yang khas: ringan, renyah, bernas dan hidup. Tak seperti umumnya artikel ilmiah populer yang melulu datar dan kering dengan sedikit nuansa. Tak heran, meski terdapat sekian banyak blogger yang menggumuli popularisasi ilmu kebumian, perlahan namun pasti pakdhe menjadi selebriti. Pesohor geologi. Media darling. Kunjungan ke Dongeng Geologi pun melonjak pesat. Hingga pakdhe wafat sudah menyentuh angka 9 juta kunjungan, jauh di atas blog saya (Ekliptika) yang baru berkutat di angka 700 ribuan.

Gambar 3. Lubang Letusan Kelud 2014 di dalam kawah aktif Gunung Kelud, nampak masih berasap dan kering pascaletusan. Sebelum 2007 TU lubang ini tergenangi air sebagai danau kawah Kelud. Setelah 2007 TU danau kawah menghilang hampir sepenuhnya, digantikan oleh gundukan kubahlava sebesar bukit. Sumber: PVMBG, 2014.

Dalam masa tersebut pula diskusi kami menjadi kian intensif dengan memanfaatkan semua media yang memungkinkan. Mulai dari email dan media sosial saat itu (terutama facebook), telepon hingga layanan pesan singkat (SMS). Tak jarang kami masih berdiskusi hingga lepas tengah malam. Seperti kala Letusan Merapi 2010. Hingga sehari sebelum erupsi terjadi, kami mulai menyadari akan terjadi peristiwa yang tak biasa. Saat itu energi seismik akumulatif Merapi membumbung tinggi hingga tiga kali lipat energi pra-letusan Merapi 2006. Akan tetapi secara visual tak terlihat perubahan berarti di puncak selayaknya peristiwa letusan-letusan sebelumnya. Saya sudah khawatir akumulasi energi luar biasa besar itu akan keluar dari Gunung Merapi dalam tempo singkat sebagai erupsi eksplosif yang melepaskan gelombang kejut (shockwave), hempasan udara bertekanan sangat tinggi dan menjalar cepat yang khas pada kejadian-kejadian eksplosif. Berhari-hari hari kemudian kekhawatiran itu terbukti. Dan hingga Desember 2010, amukan Gunung Merapi telah melepaskan 27 megaton TNT energi, yang tak pernah terjadi dalam letusan-letusan Merapi sebelumnya (kecuali 1930).

Namun minat pakdhe tak hanya sebatas itu. Fenomena geologi lainnya pun menggamitnya untuk dibahas di Dongeng Geologi. Paling menonjol adalah kejadian semburan lumpur di dekat area pengeboran eksplorasi Lapindo Brantas di Porong, Sidoarjo (Jawa Timur). Peristiwa yang kini dipahami sebagai erupsi gunung lumpur (mud volcano) terbesar di dunia. Begitu intensifnya diskusi didalamnya sampai-sampai pakdhe memutuskan membuat spin-off Dongeng Geologi. Lahirlah blog khusus bertema HotMudFlow. Diskusi, pertarungan ide dan gagasan hingga otot-ototan argumentasi pun berlangsung seru di HotMudFlow. Baik dari kutub yang berpendapat mud volcano ini sebagai bencana alam yang dipicu getaran Gempa Yogya 2006, hingga kutub yang berargumen mud volcano ini sebagai kecelakaan industri akibat kelalaian manusia. Sependek amatan saya inilah satu-satunya platform yang secara konsisten dan berkelanjutan membahas kejadian mud volcano Sidoarjo hingga bertahun-tahun. Bukan sekedar hangat-hangat tahi ayam.

Minat pakdhe pun berkembang meluas. Bagaimana mataair zamzam eksis di kotasuci Makkah disertai cekungan air tanah yang menopang, dikupasnya dalam artikel yang ringan namun berkelas dan berbobot. Beliau juga tertarik pada hal-hal di luar lingkup ilmu kebumian seperti beberapa hal yang saya pelajari, mulai dari aneka benda langit hingga bagaimana cara kerja semesta raya beserta realitas fisik didalamnya. Dalam ranah ini saya laksana mendongengi sang pendongeng.

Peristiwa-peristiwa Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan dikupas dan didokumentasikannya dengan baik. Dan sebagai sosok Muslim, pakdhe secara khusus menaruh perhatian besar bagaimana fenomena-fenomena alam (baik dalam astronomi maupun geologi) bisa dideskripsikan dalam rangka mempertebal keimanan. Termasuk dalam diskursus penentuan awal bulan Hijriyyah dan penyatuan kalender Hijriyyah di Indonesia, bidang khusus yang di kemudian hari saya garap dengan serius dan formal.

Gambar 4. Rekaman naik-turunnya paras (permukaan) air laut saat peristiwa Tsunami Selat Sunda 2018. Nampak paras laut yang tadinya mengalami kenaikan secara bertahap dan lama mendadak naik dan turun dalam tempo jauh lebih singkat, sebuah ciri khas tsunami. Sumber: BIG, 2018.

Pakdhe adalah kawan diskusi yang menyenangkan. Kadangkala juga menjadi lawan diskusi yang tangguh dan susah ditaklukkan. Tak jarang kami berselisih pendapat pada berbagai hal hingga berujung pada diktum sepakat untuk tidak sepakat. Terutama jika diskusi sudah menyentuh masalah politik, kebijakan dan ketatanegaraan. Seperti persoalan blue energy yang mencuat di masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Pakdhe mengulasnya dengan antusias, menganggap sebagai salah satu solusi bagi energi Indonesia di tengah menyusutnya produksi minyak dan gas nasional (sementara konsumsi terus membengkak) dan belum jua ditemukan lapangan-lapangan raksasa minyak dan gas baru. Sebaliknya saya skeptis sedari awal, terutama karena memicu ‘radar’ too good to be true yang menjadi pedoman saya dalam mengidentifikasi hoaks. Aspek-aspek blue energy bertentangan dengan pengetahuan akan kekekalan dan perubahan energi.

Belakangan skandal meruak di Yogyakarta atas klaim menyadap energi listrik secara langsung dari fenomena peluruhan radioaktif. Klaim terbukti bohong dan memaksa pucuk pimpinan satu perguruan tinggi mengundurkan diri. Dan beliau adalah kawan pakdhe. “Sampeyan bener mas,” tukas pakdhe kala itu. Saya kalem saja. Karena ini bukanlah kemenangan yang patut dirayakan. Memprihatinkan bahwa perguruan tinggi yang menjadi tempat ilmu pengetahuan teknologi disemaikan, dikembangkan dan diajarkan bisa terperosok dalam situasi tersebut. Dalam beberapa hal saya masih bisa menerima bilamana hoaks berkembang di lingkungan masyarakat umum. Bukan pada masyarakat kampus yang sesungguhnya sangat terdidik.

Energi dan semangat pakdhe tak surut meski di tahun-tahun terakhir kondisi kesehatannya kian menurun seiring pergulatannya melawan sigmoid diverticulosis beserta segenap implikasinya. Kita harus terus menyampaikan seperti apa sesungguhnya bencana geologi semacam gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi dan gerakan tanah. Bukan menyebarkan rasa pesimis dan sikap tanpa harapan, meski ulasan tentang kebencanaan memang sering-seringnya seperti itu. Tapi dengan harapan membangun sikap kesiapsiagaan dan mental positif. Karena sebagai negara yang berdiri di atas pertemuan tiga lempeng inilah high risk high gain bagi Indonesia. Negeri yang beresiko besar terhadap aneka bencana geologi, namun juga dianugerahi sekian banyak kelebihan sumberdaya alam dibanding para tetangga. Dalam setiap kalimat dan kata, mari tempatkan semuanya di bawah payung besar agar berharap yang terbaik akan tetapi tetap bersiap untuk yang terburuk. Ya, jargon pengurangan resiko bencana.

Lewat semangat itulah pakdhe tetap tampil dimana-mana kala terjadi bencana Gempa Lombok 2018, Gempa dan tsunami Palu 2018 serta Tsunami Selat Sunda 2018. Pakdhe berkibar dimana-mana hingga kesulitan mengatur waktu wawancara dari satu stasiun televisi ke stasiun berikutnya. Sebaliknya beliau enggan menuangkan gagasannya di suratkabar. “Itu wilayah panjenengan pak,” tukasnya ketika itu. Sepanjang masa itu kami tak hanya bertukar pikiran akan hal-hal teknis semacam energetika maupun mekanisme bencana. Tetapi juga pada ranah strategis seperti saat mencorat-coreti dan menambahkurangi draft rancangan Sisnas-Perdimana. Tak peduli bahwa selama periode itu pakdhe bolak-balik ke rumah sakit. Tetap semangat hingga tiba di garis akhir.

Sugeng tindak pakdhe. Panjenengan saestu piyantun sae. Terimakasih atas semua ilmumu. Doa kami menyertaimu. Akan kami teruskan perjuanganmu…

Gugur Gunung Anak Krakatau, Tsunami Sunyi Selat Sunda

Apa yang terjadi bilamana gunung berapi tumbuh berkembang dengan pesat dengan bertumpu pada lokasi yang sesungguhnya tidak begitu stabil? Pertanyaan yang menghantui benak (sebagian) cendekiawan kebumian Indonesia ini menemukan jawabannya dalam peristiwa Tsunami Selat Sunda 22 Desember 2018. Tsunami nan sunyi, bagi sebagian kita, karena datang tanpa didului gempa bumi dan tanpa peringatan apapun. Bahkan di jam-jam pertama pasca serbuannya ke kedua belah pesisir Selat Sunda, yakni pesisir Banten dan Lampung, eksistensinya masih diragukan. Ada yang mengiranya hanya sekedar gelombang tinggi sebagaimana telah dinyatakan dalam prakiraan cuaca.

Gambar 1. Panorama letusan Gunung Anak Krakatau pasca peristiwa gugur gunung 22 Desember 2018 TU lalu. Kepulan asap merupakan kolom letusan dari erupsi tipe Surtseyan, mengingat lubang letusan kini berada di bawah paras laut. Di sisi kanan nampak pulau Rakata dengan jejak tsunami Selat Sunda di pantainya. Analisis memperlihatkan jejak tersebut ditinggalkan oleh tsunami setinggi 55 meter. Sumber: Anonim, 2018 dengan teks ditambahkan Sudibyo, 2018.

Hingga empat hari kemudian, jumlah korban tewas akibat bencana ini mencapai tak kurang dari 430 orang. Inilah tsunami ketiga yang menghantam Indonesia dalam tahun 2018 TU, setelah peristiwa Tsunami Lombok dan Tsunami Palu. Tsunami Lombok dipicu Gempa Lombok 5 Agustus 2018 (magitudo 7,0). Tsunaminya kecil, hanya setinggi 20 centimeter saja seperti terekam di stasiun pasangsurut Lembar yang dioperasikan BIG (Badan Informasi Geospasial). Sehingga tidak ada korban jiwa yang jatuh dari tsunami. Sebaliknya tsunami Palu diproduksi Gempa Donggala-Palu 2018 (magnitudo 7,5) tergolong cukup besar dan merusak. Tinggi maksimumnya 12 meter. Hempasannya di pesisir kota Palu merenggut nyawa tak kurang dari 1.500 orang. Secara akumulatif, jumlah korban jiwa yang jatuh akibat peristiwa tsunami di Indonesia sepanjang 2018 TU mendekati 2.000 orang.

Banyak pertanyaan mengemuka dari bencana Tsunami Selat Sunda 22 Desember 2018, yang untuk selanjutnya kita sebut saja tsunami Selat Sunda. Apa penyebabnya? Mengapa berlangsung sunyi (tanpa didului gempa tektonik)? Mengapa tak terdeteksi? Dan apa yang sebaiknya dilakukan guna mengantisipasi bencana sejenis di masa depan?

Gambar 2. Marigram (rekaman dinamika paras air laut) di stasiun pasang surut Ciwandan / Banten pada 22 Desember 2018. Nampak jelas perbedaan pola pasang surut laut biasa dan pola tsunami. Tsunami terekam datang pada pukul 21:33 WIB setinggi 35 centimeter. Sumber: BIG, 2018 dengan teks ditambahkan Sudibyo, 2018.

Gugur Gunung

Tsunami Selat Sunda berhubungan erat dengan peristiwa gugur Gunung Anak Krakatau. Yakni rapun atau pecahnya gunung berapi laut itu menjadi dua bagian, mungkin oleh letusannya atau mungkin oleh bobotnya sendiri. Salah satu bagian lantas bergerak menurun sebagai longsoran raksasa / gigantis, karena melibatkan volume material longsor yang sangat besar. Gugur gunung dikenal juga sebagai keruntuhan lereng (flank collapse), karena pada galibnya salah satu lereng gunung berapi runtuh membuat gunung terbuka ke satu sisi. Ciri khas yang ditinggalkannya adalah adanya kawah atau kaldera tapalkuda dari puncak hingga ke lereng / kaki gunung.

Gugur gunung berapi adalah peristiwa yang jamak ditemui dalam sejarah geologi tanah Indonesia. Geolog legendaris van Bemmelen dalam opus magnum-nya The Geology of Indonesia memaparkan gugur gunung berapi di Indonesia jamak dijumpai sebagai konsekuensi tumbuh kembangnya sang gunung di atas batuan dasar sedimen laut relatif lunak. Seiring tumbuh kembangnya, pada satu masa bobot gunung berapi itu telah demikian besar hingga tak sanggup lagi ditahan oleh batuan dasarnya. Akibatnya gunung pun mulai gugur, atau malah terperosok seluruhnya. Jajaran gunung-gemunung di Jawa bagian tengah seperti Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo hingga Gunung Ungaran adalah contoh yang pernah mengalami gugur gunung.

Meski demikian pada skala waktu umat manusia, peristiwa gugur gunung berapi tergolong jarang terjadi. Indonesia terakhir kali menyaksikannya pada tahun 1772 TU silam, manakala Gunung Papandayan di Garut (Jawa Barat) meletus dan menjebol lereng sisi timur lautnya dalam erupsi mendatar (lateral). Sebanyak 40 desa terkubur dan tak kurang dari 5.000 nyawa melayang. Gugur gunung bisa terjadi akibat letusan gunung berapi, misalnya yang sangat populer pada Letusan St. Helena 1980 di Gunung St. Helena, negara bagian Washington (Amerika Serikat). Juga bisa timbul tanpa letusan signifikan, misalnya dalam kejadian Gunung Bandai 1888 (Jepang).

Gambar 3. Gugur gunung berapi yang disertai letusan besar di Gunung St. Helena, Washington (Amerika Serikat) pada 18 Mei 1980 TU. Awalnya salah satu lereng gunung mendadak gugur lalu mengalir deras ke arah kakinya dalam volume gigantis. Pada saat bersamaan magma segar mulai menyembur sebagai letusan. Sumber: USGS, 1980.

Gugur Gunung Anak Krakatau terjadi pada Sabtu 22 Desember 2018 TU pukul 21:02 WIB. Saat itu lereng barat gunung mendadak patah, merosot lalu meluncur deras ke laut. Mengacu batasan dari Gianchetti dkk (2012), volume tubuh gunung yang gugur diperkirakan tak lebih dari 280 juta meter3. Dan berdasar analisis citra satelit radar Sentinel-1 dalam beberapa jam pasca kejadian, saya memperkirakan (secara sangat kasar) bahwa volumenya di sekitar 100 juta meter3. Analisis citra satelit sejenis yang dikerjakan BPPT memperlihatkan bidang tanah dengan panjang 1.800 meter dan lebar 357 meter (seluas 64 hektar) telah menghilang dari sisi barat Gunung Anak Krakatau. Jika perhitungan kasar saya benar, maka inilah kejadian tanah longsor terbesar di Indonesia dalam kurun 14 tahun terakhir terhitung sejak peristiwa Longsor Bawakareng 26 Maret 2004 (volume longsoran 232 juta meter3) di dalam kaldera purba Gunung Bawakareng (Sulawesi Selatan).

Gambar 4. Wajah Gunung Anak Krakatau dalam periode seminggu antara tanggal 19 hingga 25 Desember 2018 TU dalam citra radar satelit Sentinel-1. Nampak jelas perubahan dramatisnya pasca terjadinya peristiwa gugur gunung yang menerbitkan tsunami Selat Sunda. Sumber: Sudibyo, 2018.

Material longsoran gigantis Gunung Anak Krakatau yang mengalir deras menghasilkan getaran seismik khas. Seismometer-seismometer BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) merekamnya sebagai gempa bermagnitudo lokal (ML) 3,4 yang memiliki frekuensi sangat rendah (yakni antara 0,01 hingga 0,1 Hertz). Demikian halnya jaringan seismometer GFZ (Geo Forschungs Zentrum), lembaga geofisika Jerman, yang merekamnya sebagai gempa bermagnitudo 5,1. Dapat diperkirakan, material longsoran gigantis ini mengalir dalam kecepatan tinggi, mungkin hingga 100 km/jam. Sehingga terinjeksikan ke dalam laut dalam tempo singkat. Inilah yang menerbitkan tsunami.

Gunung Anak Krakatau lahir melalui letusan terus-menerus sejak 27 Desember 1927 TU. Awalnya sebagai letusan bawah air laut dan hanya nampak di paras laut sebagai semburan menyerupai air mancur. Mulai 20 Januari 1929 TU terlihatlah tumpukan materi kehitaman di samping tiang asap putih yang telah eksis berminggu-minggu sebelumnya. Inilah momen kelahiran Gunung Anak Krakatau. Bayi gunung berapi ini tumbuh cepat di tahun-tahun berikutnya dengan pertambahan ketinggian rata-rata 4 meter/tahun dan kecepatan pertumbuhan rata-rata 52,51 juta m3/tahun per tahun. Dengan demikian diperkirakan pada 2018 TU volume tubuh gunung telah mencapai 7,8 km3.

Gunung berapi ini tumbuh menumpang di atas tebing sisi timur laut kaldera produk Letusan Krakatau 1883 nan dahsyat. Kaldera tersebut berdiameter 6 km dengan lantai sedalam 240 meter dari paras laut. Dinding kaldera cukup terjal, membuat kaki Gunung Anak Krakatau yang menjulur ke sini memiliki kemiringan hingga 28º. Selama pertumbuhannya Gunung Anak Krakatau nyaris tak pernah mengirim materi letusannya ke lantai kaldera. Ia cenderung tumbuh berkembang ke arah timur laut. Seiring tubuhnya kian membesar dari tahun ke tahun, praktis gunung berapi ini menumpang di atas lereng terjal, membuatnya kian beresiko mengalami gugur gunung.

Gambar 5. Sketsa situasi kompleks kepulauan Krakatau antara sebelum dan sesudah 1929 TU. Nampak kedudukan Gunung Anak Krakatau adalah menumpang di atas tebing kaldera Krakatau 1883 sisi timur laut. sehingga sedari awal kelahirannya, gunung berapi ini sudah tidak stabil. Sumber : Sutawidaja, 2006 dengan sketsa dari Self & Rampino (1981) serta Francis (1985).

Riset Gianchetti dkk (2012) memperlihatkan potensi gugur Gunung Anak Krakatau sebesar 280 juta m3 (0,28 km3) atau setara 3,5 % volume tubuh gunung. Itu mencakup seluruh bagian tubuh gunung yang terbentuk pasca tahun 1960 TU dan menumpang di atas bagian tubuh gunung yang lebih tua. Bidang kontak antara kedua bagian itu membentuk sudut 8,2º terhadap bidang datar. Aktivitas Gunung Anak Krakatau sebelum Juni 2018 TU cenderung melontarkan materinya ke arah timur atau timur laut. Namun sejak mulai beraktivitas kembali pada Juni 2018 TU, Gunung Anak Krakatau bertingkah sedikit berbeda. Erupsinya masih bertipe Strombolian, yang mirip pancuran air mancur berapi dan dikenal bersifat membangun. Akan tetapi kali ini Gunung Anak Krakatau melelerkan lavanya ke arah selatan dan barat daya. Tempat yang selama ini tak pernah disentuhnya. Hingga menjelang gugur gunung terjadi, telah berlangsung 400 kali erupsi Strombolian. Citra satelit pun memperlihatkan munculnya daratan baru signifikan di kaki selatan gunung. Penambahan massa baru di sisi selatan inilah yang mungkin meningkatkan ketidakstabilan tubuh gunung sehingga peristiwa gugur gunung pun terjadi.

Tsunami Injeksi

Saat gugur Gunung Anak Krakatau terjadi, tsunami pun terbit. Tsunami adalah gelombang transversal yang memiliki panjang gelombang jauh lebih besar ketimbang kedalaman perairan yang dilintasinya. Kedalaman rata–rata Selat Sunda hanyalah 40 meter sedangkan panjang gelombang Tsunami Selat Sunda sekitar 10.000 meter. Dengan panjang gelombang demikian besar membuat tsunami selalu mengaduk–aduk perairan yang dilintasinya hingga ke dasar. Berbeda dengan gelombang laut biasa yang hanya mengusik paras laut. Dikombinasikan sifat penguatan / amplifikasi menjelang tiba di garis pantai, inilah yang membuat tsunami memiliki daya rusak jauh lebih besar ketimbang gelombang biasa. Pada dasarnya setiap meter persegi air tsunami yang menghantam pantai kekuatannya setara tubrukan truk tronton yang ngebut.

Gambar 6. Potensi gugur Gunung Anak Krakatau terkait kedudukannya terhadap kaldera Krakatau 1883. Kiri : penampang mendatar kaldera 1883 dan tubuh Gunung Anak Krakatau dalam lintasan A-B. Kanan : peta batimetri dan topografi Kepulauan Krakatau dengan lintasan A-B. Sumber: Gianchetti dkk, 2012.

Tsunami secara umum disebabkan oleh dua hal. Pertama, pergerakan besar di dasar laut. Pergerakan semacam ini umumnya berasal dari gempa tektonik dengan patahan sumber sepanjang minimal 100 km yang berlokasi di bawah laut. Sehingga menyebabkan naik atau turunnya dasar laut tepat diatasnya, bergantung pada jenis patahan sumber gempanya. Ini adalah penyebab lebih dari 90 % kejadian tsunami di Indonesia sepanjang sejarah. Sementara kurang dari 10 % sisanya disebabkan oleh faktor kedua, yakni injeksi massa yang massif (dalam jumlah besar) pada tempo singkat ke perairan. Massa itu bisa berupa material longsoran (baik longsoran bawah laut maupun permukaan laut), material awan panas produk letusan gunung berapi, material tebing es raksasa yang rontok, material tebing terjal yang rontok hingga asteroid / komet besar yang jatuh menumbuk. Maka tsunami bisa saja terjadi meski tidak didahului gempa tektonik, seperti yang kita saksikan pada tsunami Selat Sunda.

Begitu material longsoran gigantis Gunung Anak Krakatau meluncur ke barat dan tercebur ke dalam lantai kaldera, olakan sangat besar dari air laut pun tercipta. Dalam beberapa detik, gelora setinggi hingga sekitar 55 meter terbentuk dan mulai menjalar. Sebagai gelombang Huygens, kecepatan tsunami Selat Sunda berbanding lurus dengan kedalaman perairan tempat pembentukannya. Sehingga hanya secepat sekitar 100 km/jam dan tidak secepat kelajuan jelajah pesawat jet komersial (700 km/jam) sebagaimana tsunami Aceh 2004.

Periode tsunami Selat Sunda juga relatif pendek yakni hanya 5 menit. Setara dengan tsunami Palu. Ini merupakan salah satu ciri khas tsunami produk injeksi massa massif ke perairan. Ciri khas lainnya, tinggi tsunami kian besar seiring kian dekat ke sumbernya. Maka pada pulau-pulau kecil yang memagari Gunung Anak Krakatau, tinggi tsunaminya mencapai 50 meter atau lebih. Namun begitu menjalar jauh mencapai pesisir Selat Sunda, tingginya meluruh dramatis hingga tinggal berkisar 1 s/d 3 meter. Kombinasi antara batimetri Selat Sunda, eksistensi pulau-pulau kecil dan arah gerak longsoran gigantisnya membuat tsunami tiba di pesisir Banten hanya dalam 30 menit. Sebaliknya tsunami baru mencapai pesisir Bandar Lampung di ujung Teluk Lampung hampir sejam kemudian. Simulasi Gianchetti dkk (2012) yang ditunjang simulasi CEDIM berbasis rekaman marigram stasiun-stasiun pasangsurut di sekujur pesisir Selat Sunda menegaskan hal itu.

Dengan demikian pesisir Banten memiliki selang waktu setengah jam sejak gugur gunung terjadi hingga tsunami menerjang. Sementara bagi pesisir Lampung selang waktunya antara setengah hingga satu jam. Selang waktu yang sesungguhnya menyediakan kesempatan cukup lama bagi penduduk pesisir untuk mengevakuasi diri. Sangat bertolak-belakang dengan tsunami Palu, dimana tsunami menerjang dalam tempo cukup singkat dan membuat penduduk Palu tak sempat bereaksi. Sayangnya dalam kejadian tsunami Selat Sunda, tak ada peringatan dini dari sistem InaTEWS. Membuat korban jiwa menjadi tak terelakkan.

Gambar 7. Perbandingan waktu tempuh tsunami (time travel) dalam satuan menit antara hasil pemodelan Gianchetti dkk di tahun 2012 TU dengan kejadian tsunami Selat Sunda 2018 yang dipublikasikan CEDIM. Nampak bahwa keduanya memiliki kemiripan cukup besar, mengindikasikan bahwa gugur Gunung Anak Krakatau memang penyebab Tsunami Selat Sunda 2018. Sumber: Gianchetti dkk, 2012 & CEDIM, 2018.

Sistem InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System) dibangun untuk memberikan peringatan dini tsunami di Indonesia dari sumber apapun, termasuk kejadian longsoran. Sistem ini mendapatkan masukan dari jaringan seismometer dan akselerometer yang ditanam di segenap penjuru Indonesia untuk mengendus peristiwa gempa tektonik dan resikonya. Juga mendapat masukan dari pelampung tsunami (tsunami buoy) untuk mengendus tsunami kala masih menjalar di laut lepas. Sehingga InaTEWS bisa mengeluarkan amaran untuk pesisir-pesisir yang berpotensi terdampak berdasarkan pada pemodelan dengan masukan radas-radas (instrumen-instrumen) tadi. Dan akhirnya konfirmasi benar tidaknya telah terjadi tsunami diperoleh dari marigram stasiun-stasiun pasangsurut yang ditanam di sejumlah titik pesisir termasuk di seluruh pelabuhan.

Sistem InaTEWS berada di bawah payung BMKG, sementara pelampung-pelampung tsunami dikelola BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) dan stasiun-stasiun pasangsurut oleh BIG. Sistem yang dirancang GFZ ini akan terpicu otomatis saat terjadi gempa tektonik dengan sumber di dasar laut dan bermagnitudo minimal 6,5. Problem tersulit adalah bilamana sumber tsunami tidak berasal dari gempa, yang membuat jaringan seismometer tak bisa digunakan. Sistem harus mengandalkan kinerja pelampung-pelampung tsunami, sementara segenap radas itu kini sudah tak berfungsi lagi. Terutama karena sudah hilang dicuri. Sebaliknya jika mengandalkan stasiun-stasiun pasangsurut maka esensi peringatan dini sudah hilang. Karena saat tsunami terbaca oleh stasiun-stasiun pasang surut, artinya tsunami sudah tiba di garis pantai. Tak ada lagi artinya peringatan dini jika tsunami sudah tiba di garis pantai.

Inilah yang membuat tsunami Selat Sunda tak terdeteksi dalam sistem InaTEWS sehingga peringatan dini tsunami pun tak bisa dikeluarkan. Gunung Anak Krakatau memang dimonitor PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) secara menerus sebagaimana halnya gunung-gemunung berapi aktif lainnya di Indonesia. Pemantauan umumnya berada pada tiga aspek : seismik, kimia gunung berapi dan deformasi (kembang kempis tubuh gunung). Dan tak satupun dari ketiga aspek tersebut yang bisa mendeteksi kejadian gugur gunung.

Maka begitu gugur Gunung Anak Krakatau terjadi, tak satupun yang menyadari. Terlebih Gunung Anak Krakatau berada di tengah laut sejarak 40 km dari pos PGA Pasauran dan gugur gunung berlangsung di gelapnya malam. Manakala tsunami Selat Sunda sudah terbit dan menjalar pun, tidak ada yang tahu bahwa petaka akan terjadi sebentar lagi. Karena pelampung tsunami di kawasan Selat Sunda telah hilang sejak 2007 TU silam dan tak kunjung mendapat pengganti. Konfirmasi terjadinya tsunami justru baru diketahui pasca kejadian, setelah stasiun-stasiun pasangsurut di sekujur pesisir Selat Sunda dengan jelas menunjukkan pola tsunami pada marigram-marigramnya.

Pelajaran

Jadi, bagaimana Indonesia belajar dari tsunami Selat Sunda?

Gambar 8. Bagaimana teknik interferometri radar diterapkan untuk memantau dinamika lereng bukit/gunung dengan menggunakan radas InSAR darat. Penyigian interferometri pada salah satu lereng menunjukkan adanya potensi longsor dan terbukti sesuai dengan kejadian sesungguhnya. Gugur gunung berapi pada dasarnya adalah peristiwa longsor. Sumber: Dongeng Geologi, 2018.

Mayoritas (95 % atau lebih) peristiwa tsunami di Indonesia yang tercatat sepanjang sejarah disebabkan gempa tektonik. Terdapat sejumlah kejadian tsunami yang disebabkan longsoran besar di dasar laut, namun longsoran itu sendiri tetap dipicu gempa tektonik. Misalnya tsunami Flores 1992 (dipicu gempa bermagnitudo 7,8), tsunami Banyuwangi 1994 (dipicu gempa bermagnitudo 7,7), tsunami Pangandaran 2006 (dipicu gempa bermagnitudo 7,7), tsunami Mentawai 2010 (dipicu gempa bermagnitudo 7,8) dan tsunami Palu 2018 (dipicu gempa bermagnitudo 7,5). Sementara sisanya (yakni 5 % atau kurang) merupakan tsunami yang bersumber dari letusan gunung berapi, yakni akibat injeksi awan panas nan massif ke dalam laut. Dan sangat jarang tsunami bersumber dari longsoran gigantis dipicu faktor non-gempa.

Gugur gunung berapi pada dasarnya adalah peristiwa gerakan tanah. Sehingga memiliki tanda-tanda awal khas, dimulai dari munculnya retakan-retakan lantas mulai beringsutnya massa tanah secara perlahan-lahan sebelum akhirnya longsor terjadi. Tanda-tanda awal ini bisa dideteksi. Secara umum pada lokasi yang memiliki potensi gerakan tanah biasa digunakan radas ekstensometer. Untuk potensi gugur gunung berapi, deteksi tanda awal mungkin bisa memanfaatkan radas-radas GPS yang ditanam di lereng yang berpotensi. Atau menggunakan teknik interferometri, baik yang berbasis satelit maupun darat. Teknologi interferometri berbasis darat telah umum digunakan dalam dunia pertambangan untuk memeriksa stabilitas lereng.

Gambar 9. Usulan skema penerapan teknik interferometri berbasis radas InSAR darat. Tiga radas ditempatkan di pulau Sertung, Panjang dan Rakata yang semuanya diarahkan ke Gunung Anak Krakatau. Sehingga bagaimana pergerakan lereng-lerengnya dapat dimonitor. Sumber: Dongeng Geologi, 2018.

Pemantauan jadi penting artinya mengingat Gunung Anak Krakatau masih berpotensi mengalami gugur gunung kembali. Belum seluruh potensi maksimum volume gugur gunungnya terlepaskan. Di sisi lain, aktivitas Gunung Anak Krakatau meningkat pesat pasca gugur gunung. Karena saluran magmanya kini relatif terbuka yang ditunjang dengan lubang letusan tepat di bawah paras air laut. Sehingga kini magma keluar relatif lebih leluasa dan langsung dihantarkan ke laut sebagai erupsi tipe Surtseyan. Apabila terjadi letusan yang lebih besar, awan panasnya pun akan langsung dimuntahkan ke laut. Injeksi massa nan massif pun bisa terulang, menjadikan peluang terulangnya kembali tsunami Selat Sunda masih terbuka.

Referensi :

Gianchetti dkk. 2012. Tsunami Hazard Related to a Flank Collapse of Anak Krakatau Volcano, Sunda Strait, Indonesia. Geological Society, London, Special Publications 2012, v.361, p 79-90.

Sutawidjaja. 2006. Pertumbuhan Gunung Api Anak Krakatau Setelah Letusan Katastrofis 1883. Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 1 No. 3 September 2006: 143-153

Rovicky Dwi Putrohari. 2018. komunikasi personal.

Widjo Kongko. 2012. komunikasi personal

Elegi Tebing Breksi, Letusan Sedahsyat Toba dan Gerhana Bulan Apogean

Salah satu lokasi pengamatan Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 adalah Taman Tebing Breksi, yang diselenggarakan oleh Jogja Astro Club (JAC), klub astronomi tertua di kota Yogyakarta. Taman Tebing Breksi bertempat di desa Sambirejo, kec. Prambanan, Kab. Sleman (DIY). Ini adalah sebuah obyek wisata baru nan khas, bekas area penambangan bahan galian C yang ditutup pada 2014 TU (Tarikh Umum) silam. Lantas dinding-dinding batu tegak yang masih tersisa didekorasi dengan aneka pahatan berseni. Kedekatan lokasinya dengan obyek wisata yang telah lebih dulu ada dan populer seperti kompleks Candi Prambanan dan kompleks Candi Ratu Boko menjadikan Taman Tebing Breksi cepat populer. Terlebih setelah pesohor seperti mantan Presiden Barrack Obama mengunjunginya tepat setahun lalu.

Gambar 1. Panorama Taman Tebing Breksi, obyek wisata baru yang berlokasi tak jauh dari Candi Prambanan dan Candi Ratu Boko yang tersohor. Meski menyandang nama breksi, sejatinya tak dijumpai batuan breksi di sini. Melainkan tuf, debu vulkanik produk letusan gunung berapi masa silam yang telah terpadatkan demikian rupa hingga mengeras dan membatu. Sumber: Detik.com/Bagus Kurniawan, 2016.

Nama Tebing Breksi yang melekat pada obyek wisata baru ini sesungguhnya tidaklah tepat menurut perspektif ilmu kebumian. Breksi adalah batuan sedimen yang mengandung fragmen/bongkah yang kasar dan sisinya relatif tajam/menyudut. Jika fragmen/bongkahnya relatif membulat, maka namanya berubah menjadi lebih megah dan populer. Yakni Konglomerat. Kata yang sering dinisbatkan kepada sosok-sosok yang dalam istilah milenial disebut horang-horang kayah rayah.

Breksi bisa dijumpai sebagai hasil aktivitas pengendapan di dasar laut. Bisa juga breksi tersebar di sekeliling sebuah gunung berapi sebagai produk aktivitasnya. Dapat pula breksi terbentuk akibat aktivitas tumbukan benda langit, yakni saat komet atau asteroid menghantam paras Bumi dengan dahsyatnya dan mengubah banyak hal pada batuan yang ditumbuknya. Breksi produk aktivitas terakhir itu dikenal sebagai suevit atau breksi tumbukan.

Namun breksi tidaklah ada di Taman Tebing Breksi, sejauh mata memandang dan sejauh tangan mampu menggali. Dinding-dinding batuan tegak yang kini berhias aneka rupa itu sejatinya dikenal sebagai Tuf. Ya tuf, tumpukan debu vulkanik yang telah membatu demikian rupa. Berbeda dengan breksi yang bisa berasal dari berbagai sumber, tuf jelas merupakan produk aktivitas gunung berapi.

Tuf yang tersingkap di Taman Tebing Breksi merupakan bagian dari apa yang dalam ilmu kebumian dikenal sebagai formasi Semilir. Ini adalah satuan batuan yang dijumpai membentang dalam area yang sangat luas di bagian selatan pulau Jawa, yakni hingga mencapai luasan 800 km2. Tuf ini tersebar mulai dari Yogyakarta di sebelah barat hingga Pacitan di sebelah timur. Dengan ketebalan antara 250 meter hingga 1.200 meter, maka volume tuf Semilir mencapai sedikitnya 480 km3.

Gambar 2. Sebaran dan ketebalan tuf Semilir di bagian selatan pulau Jawa. Tuf yang diendapkan dalam tempo singkat itu kini tersebar di tiga propinsi yakni DIY, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sumber: Smyth dkk. 2011.

Berdasarkan ketiadaan jejak-jejak erosi dan aktivitas binatang purba didalamnya, tuf Semilir diindikasikan terbentuk oleh pengendapan material letusan gunung berapi dalam tempo cukup singkat bagi skala waktu geologi. Tidak perlu menunggu ribuan hingga berjuta-juta tahun seperti umumnya batuan endapan dalam sebuah formasi. Maka tuf Semilir merupakan produk letusan tunggal, sebuah letusan yang sangat dahsyat.

Mari bayangkan berkelana ke masa silam, anggaplah kita bisa menumpang mesin waktunya Doraemon. Putar waktu kembali ke zaman 20 juta tahun silam, kembali ke kala Oligo-Miosen dalam skala waktu geologi. Pulau Jawa sudah terbentuk meski wajahnya belumlah seperti sekarang. Jawa bagian selatan masih terbenam di bawah air laut. Di sini terdapat untaian pulau-pulau kecil berbaris, yang sejatinya adalah puncak-puncak gunung berapi aktif yang tumbuh dari dasar laut. Mereka menjadi bagian dari apa yang disebut busur vulkanik Jawa tua, yang tumbuh dan aktif sejak 45 juta tahun silam.

Salah satu pulau itu adalah, sebut saja, pulau Semilir. Pada 20 juta tahun silam itu ia meletus, mengamuk teramat dahsyat. Seberapa dahsyat? Bagi kita di Yogyakarta, Jawa Tengah dan sekitarnya, Letusan Merapi 2010 selalu dikenang sebagai letusan terdahsyat saat ini. Gunung Merapi memuntahkan tak kurang dari 150 juta m3 magma saat itu. Ada juga Letusan Kelud 2014 meski tingkat kedahsyatannya sedikit di bawah Gunung Merapi, yakni dengan muntahan magma segar 105 juta m3. Namun dibandingkan letusan Semilir 20 juta tahun silam, Merapi dan Kelud adalah ibarat amuba yang bersanding dengan gajah.

Gambar 3. Jam-jam pertama Letusan Toba Muda 74.000 silam, dalam sebuah ilustrasi. Gas dan debu vulkanik disemburkan dahsyat hingga menjangkau ketinggian 70 kilometer. Gambaran situasi yang mirip juga dijumpai pada Letusan Semilir 20 juta tahun silam. Sumber: Anynobody, 2009 dalam Wikipedia, 2009.

Letusan Semilir 20 juta tahun silam memuntahkan tak kurang dari 480 milyar m3 atau 480 km3 magma padat setara batuan. Jika dianggap komposisinya mirip dengan magma Tambora, kalikan angka tersebut dengan 6. Akan kita dapatkan volume magma Letusan Semilir 20 juta tahun silam itu mencapai tak kurang dari 2.800 km3 magma! Bila anda pernah mendengar kisah horor dahsyatnya letusan Gunung Toba yang kini menjadi Danau Toba, ya seperti itulah gambarannya. Letusan Gunung Toba terjadi pada 74.000 tahun silam, yang disebut sebagai Letusan Toba Muda. Letusan yang menggelapkan tanah Sumatera dan Semenanjung Malaya serta mencekik dunia. Volume magma yang dierupsikan dalam Letusan Semilir 20 juta tahun silam itu 18.000 kali lipat lebih melimpah ketimbang amukan Gunung Merapi 2010 TU silam.

Seperti halnya kisah yang terjadi dalam letusan-letusan sangat besar gunung berapi, Letusan Semilir 20 juta tahun silam jelas menebarkan dampaknya ke segenap sudut paras Bumi. Tebaran debu vulkaniknya yang teramat banyak mungkin membedaki kawasan sekitarnya hingga radius 2.500 kilometer dari gunung. Namun debu vulkanik yang lebih halus tersembur tinggi hingga memasuki lapisan stratosfer bersama dengan gas SO2 yang sontak bereaksi dengan uap air membentuk butir-butir sulfat (H2SO4).

Terbentuklah tabir surya vulkanis di ketinggian lapisan stratosfer, yang efektif memblokir sinar Matahari sehingga paras Bumi dibikin remang-remang. Maka reaksi berantai pun terjadilah. Tumbuh-tumbuhan tak bisa menyelenggarakan fotosintesis sehingga mulau bermatian. Hewan-hewan herbivora pun kelaparan dan bertumbangan. Disusul hewan-hewan karnivora hingga ke puncak jaring-jaring makanan. Kematian besar-besaran diduga terjadi pada saat itu, meski seberapa besar tingkatannya masih belum bisa kita ketahui.

Gambar 4. Estimasi dampak sebaran debu vulkanik dalam Letusan Semilir 20 juta tahun silam, dengan mengacu pada dampak Letusan Toba Muda 74.000 tahun silam yang telah lebih diketahui. Bentuk kepulauan Indonesia adalah berdasarkan rekonstruksi untuk 20 juta tahun silam. Sumber: Smyth dkk. 2011.

Pergerakan tektonik menyebabkan bagian selatan pulau Jawa terangkat menjadi daratan. Sementara lempeng tektonik Australia terus mendesak ke utara sembari bersubduksi. Rangkaian proses inilah yang menyebabkan formasi Semilir terbentuk lantas terangkat dan menjadi jajaran perbukitan yang sebagian diantaranya menghiasi sisi timur Yogyakarta. Ilmu kebumian menyebutnya sebagai zona Baturagung. Dimana lokasi gunung berapi purba yang meletus demikian dahsyat itu? Ada beragam pendapat, misalnya yang menyebutkan pusat letusan ada di dalam area zona Baturagung yang terletak di antara Kab. Klaten dan Kab. Gunungkidul. Ada juga yang beropini pusat letusan sangat dahsyat itu kini menjadi cekungan Baturetno, cekungan besar bekas danau purba yang sebagian digenangi air sebagai Waduk Gajahmungkur, Kab. Wonogiri.

Raungan

Untuk apa membicarakan gunung berapi pada saat Gerhana Bulan?

Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 merupakan Gerhana Bulan Apogean, karena terjadi hanya berselang 14 jam setelah Bulan mencapai titik apogee-nya. Gerhana Bulan ini akan dimulai pada pukul 00:15 WIB (kontak awal penumbra atau P1) dan berakhir pada pukul 06:28 WIB (kontak akhir penumbra atau P4). Sehingga durasinya 6 jam 14 menit. Akan tetapi bagian gerhana yang kasatmata hanyalah berdurasi 3 jam 55 menit. Yakni mulai dari pukul 01:24 WIB (kontak awal umbra atau U1) hingga pukul 05:19 WIB (kontak akhir umbra atau U4).

Sementara durasi totalitasnya adalah 1 jam 43 menit dengan puncak gerhana dicapai pada pukul 03:22 WIB. Karena Bulan baru saja meninggalkan titik apogee dengan jarak Bumi – Bulan saat itu masih sebesar 406.100 kilometer, maka kecepatan orbital Bulan masih lambat. Ditunjang dengan lintasan Bulan yang tep@at hampir bersentuhan dengan pusat lingkaran umbra, maka inilah yang menjadikan Gerhana Bulan Total ini sebagai Gerhana Bulan dengan durasi totalitas terpanjang untuk abad ke-21 TU.

Gambar 5. Wajah Bulan dalam Gerhana Bulan Sebagian 7-8 Agustus 2017. Panorama tahap parsial seperti ini akan bisa disaksikan lagi dalam peristiwa Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018. Sumber: Sudibyo, 2017.

Manakala gerhana Bulan terjadi, saksikanlah saat-saat sebelum umbra Bumi mulai menyelimuti paras Bulan. Nampak bundaran Bulan nan cemerlang di langit malam. Pada wajahnya ada bagian yang nampak lebih cerah, juga ada yang lebih gelap. Bagian-bagian yang gelap itu disebut mare (jamaknya maria), istilah Bahasa Latin untuk laut. Sebab para astronom jaman dulu, termasuk diantaranya Galileo Galilei, menganggap bagian itu adalah laut di paras Bulan. Namun di kemudian hari anggapan itu terbantahkan. Terlebih setelah eksplorasi Bulan menjadi salah satu bagian dalam khasanah penerbangan antariksa. Bulan ternyata kering kerontang.

Maria merupakan dataran rendah Bulan, khususnya cekungan raksasa (basin) yang terbentuk oleh sebab tertentu bermilyar tahun silam. Di kemudian hari ia digenangi oleh lava Bulan secara berangsur-angsur, produk muntahan magma gunung-gemunung berapi Bulan secara kontinu di masa silam. Magmanya relatif encer, tidak seperti magma Merapi yang lebih kental atau bahkan magma Semilir yang (mungkin) sangat kental. Gunung gemunung berapi Bulan saat itu mungkin seperti gunung berapi di Kepulauan Hawaii (Amerika Serikat) atau di kawasan Hijaz (Saudi Arabia) pada masa kini. Magmanya cair encer sehingga melebar menutupi area yang sangat luas dalam letusan yang dikenal sebagai erupsi efusif (leleran). Namun tak menutup kemungkinan bahwa gunung-gemunung berapi Bulan untuk meletus eksplosif. Layaknya Letusan Merapi 2010 atau bahkan Letusan Semilir 20 juta tahun silam.

Gambar 6. Wajah Bulan dengan tebaran nama-nama mare yang bertebaran diparasnya. Awalnya dikira laut, eksplorasi Bulan memperlihatkan mare adalah cekungan besar yang terisi material vulkanik produk aktivitas gunung-gemunung berapi Bulan yang aktif jauh di masa silam, bermilyar tahun yang lalu. Sumber : Sudibyo, 2018.

Jadi, kala kita menatap wajah Bulan dari tempat seperti Taman Tebing Breksi, kita bisa belajar bahwa kekuatan yang membentuk Taman Tebing Breksi ini sejatinya juga pernah bekerja di Bulan. Dan juga bagian lain tata surya kita. Vulkanisme atau aktivitas kegunungberapian sejatinya berlandaskan pada prinsip yang sangat sederhana, yakni pelepasan panas. Tatkala kita menyeduh secangkir kopi pada saat ini, kopi perlahan-lahan akan mendingin karena melepaskan panasnya ke lingkungan sekitarnya. Termasuk ke udara. Vulkanisme pun demikian. Manakala benda langit, baik planet maupun satelit alamiahnya, memiliki kandungan panas yang cukup besar dalam interiornya, maka panas itu perlahan-lahan akan dilepaskan ke lingkungan sekitar melalui berbagai cara. Salah satunya adalah vulkanisme.

Maka tak heran jika di Bulan kita menemukan jejak-jejak aktivitas gunung berapi. Demikian halnya di planet Venus dan Mars. Meski di ketiga benda langit tersebut aktivitas vulkanisme masakini nyaris tidak ada karena proses pelepasan panas interior nampaknya sudah kurang intensif. Di lingkungan planet Jupiter, bahkan dijumpai aktivitas vulkanisme aktif yang jauh lebih ganas ketimbang yang kita alami di Bumi. Yakni di Io, salah satu satelit alamiah dari planet gas raksasa itu. Bahkan hingga ke tempat yang demikian jauh, dingin dan ganjil seperti lingkungan planet Neptunus pun dijumpai aktivitas vulkanisme. Yakni di Triton, satelit alamiah terbesar dari planet yang berjarak terjauh terhadap Matahari.

Jadi, tatkala kita berada di Taman Tebing Breksi dan menatap Rembulan, mari bayangkan bahwa raungan vulkanik yang pernah membentuk tempat ini pada 20 juta tahun silam juga pernah bergema di keluasan langit, dalam sudut-sudut tata surya kita. Mulai dari Bulan sang pengawal setia Bumi kita, lalu Venus yang udaranya panas membara hingga ke lingkungan Neptunus yang demikian mengigil membekukan.

Referensi :

Smyth dkk. 2011. A Toba-scale Eruption in the Early Miocene: The Semilir Eruption, East Java, Indonesia. Lithos no. 126(3) October 2011, halaman198-211.  

Gunung Merapi : Erupsi Debu Jumat Pagi 1 Juni 2018 TU

Gunung Merapi meletus kembali pada Jumat pagi1 Juni 2018 TU (Tarikh Umum). Disertai dentuman suara keras disusul gemuruh, terlihatlah semburan putih abu-abu tebal menyeruak tinggi ke udara laksana meninju angkasa. Pemandangan mengesankan sekaligus mencekam itu terlihat hingga berpuluh kilometer jauhnya. Yakni hingga sejauh Karanganyar dan Ambarawa, keduanya di propinsi Jawa Tengah yang masing-masing sejarak 60 kilometer di timur dan 30 kilometer di utara Gunung Merapi. Suara gemuruh terdengar bahkan hingga sejauh Kaloran, Temanggung (juga di Jawa Tengah), yakni hingga radius 25 kilometer dari Gunung Merapi.

Gambar 1. Saat-saat erupsi debu Merapi 1 Juni 2018, diamati dari Turi (Sleman) di kaki selatan Gunung Merapi. Sumber: Sulastama Raharja, 2018.

Erupsi Debu

Semenjak Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), meningkatkan status aktivitas Gunung Merapi menjadi Waspada (Level II) mulai 21 Mei 2018 pukul 23:00 WIB, maka erupsi seperti ini terkategori sebagai erupsi debu atau erupsi minor. Eruspi tercatat dimulai pada pukul 08:20 WIB dan berlangsung selama 2 menit kemudian. Seismometer (radas pengukur gempa) mencatat erupsi disertai dengan kejadian gempa letusan yang memiliki amplitudo maksimal 77 milimeter.

Material letusan disemburkan hingga setinggi 6.000 meter di atas puncak. Dengan ketinggian kawah Merapi 2.968 mdpl, maka kolom letusan ini membumbung hingga setinggi 8.968 mdpl atau hampir mencapai ketinggian FL 300 (flight level 30.000 feet).Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin, lembaga yang bertugas menginformasikan paparan debu vulkanik letusan gunung-gemunung berapi di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik Barat Daya, menginformasikan debu vulkaniknya memang menjangkau FL300.

Gambar 2. Rekaman seismik Gunung Merapi berdasarkan seismometer di stasiun Pusunglodon, dekat puncak. Jejak erupsi debu Merapi terlihat di bagian paling bawah. Sumber: BPPTKG, 2018.

Berdasarkan ketinggian kolom letusannya dan dengan menggunakan hubungan antara tinggi kolom letusan terhadap kecepatan pengeluaran material vulkanik (Sparks, 1997 dan Mastin, 2009) diperhitungkan erupsi debu ini melepaskan sekitar 140 meter3 material vulkanik per detiknya. Sehingga dengan durasi erupsi 2 menit, secara keseluruhan dilepaskan sekitar 17.000 meter3 material vulkanik. Dengan demikian erupsi debu Merapi 1 Juni 2018 masih lebih kecil ketimbang erupsi debu 24 Mei 2018 lalu. Yakni hanya sekitar setengahnya saja.

Seperti peristiwa erupsi sejak 21 Mei 2018 TU, erupsi debu kali ini pun mengusung narasi serupa. Yakni sebagai erupsi debu yang menjadi bagian dari awal episode erupsi magmatis Merapi. Erupsi debu Merapi 1 Juni 2018 mewujud dalam letusan bertipe vulkanian, atau vulkano kuat dengan mengacu klasifikasi Escher (1933). Dalam letusan vulkano kuat, kolom letusan disemburkan tinggi ke langit oleh dorongan gas vulkanik bertekanan tinggi. Dengan status Gunung Merapi pada saat ini, maka gas-gas vulkanik tersebut bersumberkan dari magma segar (juvenile) yang masih merayap di kedalaman. Yakni pada kedalaman sedikitnya 3 kilometer terhitung dari puncak Merapi, berdasarkan rekaman seismik.

Material letusannya menjatuhi tubuh gunung sektor lereng dan kaki gunung atau bahkan lebih jauh lagi. Itulah yang terjadi dalam erupsi debu Merapi 1 Juni 2018. Segera setelah menjangkau elevasi hampir 9.000 mdpl, debu letusan melebar horizontal mengikuti hembusan angin regional sebelum gravitasi membuatnya berjatuhan kembali ke paras Bumi. Dalam catatan BPPTKG, hembusan angin membuat debu vulkanik erupsi ini bergerak ke arah barat. Citra satelit Himawari dalam kanal RGB yang disajikan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan debu vulkanik mengarah ke barat daya.

Gambar 3. Menit-menit awal sebaran debu vulkanik Gunung Merapi pasca erupsi debunya, diabadikan dari Sleman. Sumber: Danang, 2018.

Akan tetapi dinamika atmosfer tepat di atas Gunung Merapi menyajikan fenomena yang mengesankan. Sebaran debu menyebar ke dua arah sekaligus, yakni menuju ke utara dan ke selatan. Awalnya mereka membentuk konfigurasi mirip huruf C terbalik. Untuk kemudian debu vulkanik sisi selatan terus bergerak menjauh menuju Samudera Indonesia. Sementara debu vulkanik sisi utara menyebar ke daratan yang ada di sisi utara Gunung Merapi. Hujan abu vulkanik pun mengguyur bagian-bagian dari Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, Kota Salatiga, Kabupaten Semarang dan Kota Semarang. Paparan debu vulkanik pula yang menyebabkan dua bandara, yakni Adisumarmo di Surakarta dan Ahmad Yani di Semarang, terpaksa ditutup selama 3 jam mulai pukul 15:45 WIB. Karena adanya konsentrasi debu vulkanik di ruang udara kedua bandara tersebut.

Status Waspada (Level II)

Erupsi debu ini terjadi dalam situasi Gunung Merapi menyandang status Waspada (Level II). Resiko yang terjadi sejauh ini lebih berupa paparan debu vulkanik. Perlindungan terbaik terhadap abu vulkanik adalah dengan tetap tinggal di dalam ruangan/rumah. Dengan jendela dan ventilasi yang tertutup. Jika terpaksa harus beraktivitas keluar rumah, maka lengkapi diri anda dengan alat perlinfungan diri seperti kacamata, jaket dan helm.

Jangan lupa untuk terus memantau informasi dari lembaga yang berwenang. Seperti BPPTKG untuk informasi soal erupsi Gunung Merapi dan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) setempat untuk petunjuk evakuasi bila diperlukan.

Gambar 4. Debu vulkanik produk erupsi debu Merapi 1 Juni 2018 seperti terekam dalam citra satelit Himawari pada kanal RGB yang dipublikasikan BMKG Stasiun Klimatologi Yogyakarta. Sumber: BMKG, 2018.

Pada akhirnya kita harus menerima bahwa Gunung Merapi memang telah berubah pasca 2010 TU. Kini ia kerap meletuskan diri secara freatik, meski dalam kurun empat tahun terakhir nyaris tiada kejadian serupa. Hidup ramah bersama Merapi yang telah berubah adalah satu keniscayaan.

Referensi :

Dipublikasikan pula di MountMerapi.org dengan perubahan seperlunya.

Gunung Merapi: Dimana Posisi Anda dalam Kawasan Rawan Bencananya?

Seiring meningkatnya aktivitas Gunung Merapi dengan ditetapkannya status Waspada (Level II) sejak Senin 21 Mei 2018 pukul 23:00 WIB, maka peran peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Merapi jadi semakin penting. Ini adalah sebuah peta yang mendeskripsikan daerah-daerah yang tergolong rawan bencana letusan Gunung Merapi dengan ruang lingkup berupa daerah yang terdampak langsung (bahaya primer) dan daerah yang terdampak tak langsung (bahaya sekunder). Peta KRB Gunung Merapi dibuat oleh Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang berkedudukan di bawah Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral Republik Indonesia.

Dengan peta semacam ini maka masyarakat yeng tinggal atau sedang beraktivitas di lingkungan sekitar Gunung Merapi akan mengetahui lokasi-lokasi manakah yang termasuk ke dalam KRB I, KRB II maupun KRB III. Manakala Gunung Merapi sedang menggeliat, lokasi-lokasi tertentu yang berpotensi terdampak dapat dihindari sehingga potensi jatuhnya korban dapat direduksi.

Pada saat ini peta tersebut sudah berbentuk peta digital. Berikut adalah salah satu contohnya, yang dipublikasikan oleh Kelompok Studi Kawasan Merapi (KSKM) dengan tetap mengacu pada peta publikasi PVMBG. Peta digital ini berupa peta sederhana yang hanya mencakup zonasi kawasan rawan bencana Gunung Merapi dan daerah terlarang radius 3 kilometer dalam status Waspada (Level II).

Tautan (link) peta tersebut dapat diklik di sini.

Peta digital lainnya adalah yang dipublikasikan PVMBG bersama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Peta digital ini lebih lengkap ketimbang peta yang dipublikasikan KSKM, karena juga menyertakan pos-pos pengamatan Gunung Merapi, tempat-tempat evakuasi, fasilitas-fasilitas kesehatan dan sekolah-sekolah yang menyelenggarakan kelas bahaya LGA Merapi baik di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta maupun Jawa Tengah

Tautan (link) peta tersebut dapat diklik di sini.

Bagaimana Cara Menggunakannya?

Bagaimana cara menggunakan peta-peta tersebut?

Pertama, dengan menggunakan gawai pintar anda, klik tautan (link) yang disertakan pada masing-masing peta digital tersebut di atas. Jika aplikasi peta digital seperti Google Maps telah terpasang, maka secara otomatis tautan akan mengarah ke aplikasi tersebut dan menyajikan petanya.

Kedua, jangan lupa aktifkan GPS pada gawai pintar anda. Sehingga dimana posisi anda berada akan langsung terlihat dalam aplikasi Google Maps yang telah dilengkapi dengan peta-peta digital KRB Gunung Merapi. Akurasi posisi memang bergantung pada perangkat gawai pintar yang digunakan. Untuk gawai pintar yang telah mendukung penggunaan APGS dan GLONASS akurasinya akan lebih baik karena tersedia fasilitas GPS online dan GPS offline.

Bagaimana Cara Membaca Petanya?

Pada peta Kawasan Rawan Bencana Gunung Merapi terdapat tiga zona yang ditandai dengan warna-warna berbeda. Berdasarkan jaraknya terhadap kawah Merapi, maka masing-masing zona tersebut adalah zona KRB III, zona KRB II dan zona KRB I.

Zona KRB III Gunung Merapi adalah daerah seluas 120 kilometer2 dengan warna merah yang posisinya paling dekat terhadap kawah sehingga paling rawan. KRB III berpotensi besar mengalami terjangan awan panas (aliran piroklastika), aliran lava, lontaran batu pijar, guguran batu pijar dan paparan gas beracun.

Sementara zona KRB II Gunung Merapi adalah daerah seluas 97 kilometer2 yang berwarna merah muda dan berjarak sedikit lebih jauh terhadap kawah dibanding KRB III. Selain masih berpeluang terlanda aliran awan panas, paparan gas beracun dan guguran batu pijar meski potensinya lebih kecil ketimbang KRB III, KRB II ini juga berpotensi besar terpapar hujan abu lebat dan aliran lahar.

Dan zona KRB I Gunung Merapi adalah daerah berwarna kuning dengan luas 31 kilometer2 yang berjarak lebih jauh lagi terhadap kawah dibanding KRB II. KRB I mengerucut pada lembah-lembah sungai yang berhulu di Gunung Merapi khususnya di lereng tenggara, selatan, barat daya dan barat. KRB I ini memiliki potensi terlanda aliran lahar, kecuali dalam kasus letusan besar.