Gunung Rinjani dan Kisah Letusan Terdahsyat Sejagat 7,5 Abad Silam

Semburan debu vulkanik mendadak menyeruak dari lubang letusan di sisi kerucut Barujari di Gunung Rinjani, Kabupaten Lombok Timur (propinsi Nusa Tenggara Barat) pada 25 Oktober 2015 Tarikh Umum (TU) pukul 10:04 WITA. Debu vulkanik itu menyembur hingga setinggi 200 meter di atas puncak. Dengan elevasi puncak Barujari adalah 2.376 meter dpl (dari paras laut rata-rata), maka semburan debu vulkanik itu membumbung hingga setinggi paling tidak 2.500 meter dpl. Sontak peristiwa di salah satu kerucut vulkanis yang menjulang di sisi timur Danau Segara Anak dalam Gunung Rinjani itu mengagetkan semua orang yang kebetulan sedang berada di sana. Terlebih Gunung Rinjani dengan Danau Segara Anaknya merupakan salah satu tujuan wisata populer. Pendakian ke gunung ini selalu menantang adrenalin, khususnya bagi para petualang.

Gambar 1. Awal mula Letusan Rinjani 2015 pada Minggu 25 Oktober 2015 TU pukul 10:45 WITA. Nampak debu vulkanik mulai menyembur dari sisi utara puncak kerucut Barujari. Diabadikan dari sudut barat daya danau Segara Anak. Sumber: PVMBG, 2015.

Gambar 1. Awal mula Letusan Rinjani 2015 pada Minggu 25 Oktober 2015 TU pukul 10:45 WITA. Nampak debu vulkanik mulai menyembur dari sisi utara puncak kerucut Barujari. Diabadikan dari sudut barat daya danau Segara Anak. Sumber: PVMBG, 2015.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pun memutuskan untuk menaikkan tingkat aktivitas Gunung Rinjani pada hari itu juga mulai pukul 12:00 WIB. Dari semula Aktif Normal (Level I), kini Gunung Rinjani menyandang status Waspada (Level II). Semburan debu vulkanik itu kembali berulang pada jam-jam dan hari-hari berikutnya dengan intensitas kian meninggi. Debu vulkanik Rinjani yang membumbung tinggi ke udara hingga 4.000 meter dpl. Ia kemudian terdorong angin regional ke arah Barat. Sehingga ruang udara pulau Lombok dan Bali praktis diselubungi debu vulkanik Barujari. Perkembangan tersebut memaksa VAAC (Volcanic Ash Advisory Commitee) Darwin, sebagai lembaga yang bertanggung jawab memantau dinamika letusan gunung berapi dan penyebaran debu vulkaniknya di ruang udara sekitarnya untuk menjamin keselamatan penerbangan sipil, menerbitkan peringatannya. Lalu lintas penerbangan sipil dianjurkan menghindari ruang udara pulau Lombok dan Bali. Sebagai konsekuensinya bandara Ngurah Rai, Denpasar (propinsi Bali) bandara Selaparang, Mataram (propinsi Lombok) dan bandara Blimbingsari, Banyuwangi (propinsi Jawa Timur) pun terpaksa ditutup sementara waktu. Ribuan penumpang menumpuk.

Perkembangan ini mengejutkan, terlebih bila dibandingkan dengan aktivitas Gunung Rinjani pada 2009 TU silam. Saat itu pun kerucut Barujari menyemburkan debu vulkaniknya dalam kurun sepanjang Mei hingga Agustus 2009 TU. Saat itu Gunung Rinjani juga dinyatakan berstatus Waspada (Level II). Namun ia tak sempat membuat lalu lintas penerbangan sipil pada ruang udara disekelilingnya dialihkan. Padahal saat itu ketinggian maksimum semburan debu vulkaniknya mencapai 1.000 meter di atas puncak, atau paling tidak 3.400 meter dpl.

Gambar 2. Letusan Rinjani 2015 berdasarkan observasi dari langit melalui satelit sumberdaya Bumi Himawari-8 dalam kanal cahaya tampak warna nyata. Gunung Rinjani berada di tengah citra dan nampak mengepulkan asap secara terus-menerus. Diabadikan dalam rentang waktu 4 hingga 6 November 2015 TU. Sumber: NOAA, 2015.
Gunung Rinjani-Samalas

Kerucut Barujari (Tenga) adalah satu dari dua kerucut vulkanis dalam kompleks Gunung Rinjani nan besar. Kerucut lainnya adalah kerucut Mas/Rombongan (2.100 meter dpl) yang terletak di sebelah barat Barujari. Pusat aktivitas vulkanik Gunung Rinjani saat ini berlangsung di kerucut Barujari, setidaknya semenjak pencatatan aktivitas Gunung Rinjani dimulai pada 1847 TU. Pada 1944 TU terjadi anomali saat letusan justru terjadi di sebelah barat kerucut Barujari. Itulah yang melahirkan kerucut Mas. Lima tahun berikutnya, aktivitas vulkanik kembali berpusat di kerucut Mas. Namun setelah itu kerucut Mas seakan tertidur dan aktivitas berpindah kembali ke kerucut Barujari.

Baik kerucut Barujari maupun Mas sejatinya merupakan gunung berapi anak. Ini adalah istilah bagi kerucut vulkanis kecil yang tumbuh dalam kaldera dari sebuah gunung berapi. Barujari dan Mas tumbuh di sisi timur kaldera Rinjani, atau kaldera Segara Anak, nan besar. Dimensi kaldera Rinjani adalah 8,5 x 6 kilometer persegi dengan kedalaman hingga 800 meter dari puncak tertingginya. Sebagian kaldera kini digenangi air sebagai Danau Segara Anak. Luas genangan danau ini mencapai 11 kilometer persegi dan kedalaman maksimum 230 meter. Prakiraan volume air danau adalah sekitar 1,02 kilometer kubik, terhitung sebelum Letusan Rinjani 2009. Paras air danau terletak pada elevasi sekitar 2.000 meter dpl. Dengan suhu air danau yang lebih tinggi ketimbang suhu udara setempat dan di beberapa titik muncul mata air panas, maka Danau Segara Anak mungkin adalah danau vulkanik berair panas yang terbesar sedunia.

Gambar 3. Panorama menakjubkan kompleks Gunung Rinjani diamati dari ketinggian 339 kilometer melalui stasiun antariksa internasional ISS pada 21 September 2002 TU. Nampak posisi tiga kerucut (masing-masing Rinjani, Barujari dan Mas), kawah tapalkuda, kaldera Segara Anak dan lembah Kokok Putih. Sumber: NASA, 2002.

Gambar 3. Panorama menakjubkan kompleks Gunung Rinjani diamati dari ketinggian 339 kilometer melalui stasiun antariksa internasional ISS pada 21 September 2002 TU. Nampak posisi tiga kerucut (masing-masing Rinjani, Barujari dan Mas), kawah tapalkuda, kaldera Segara Anak dan lembah Kokok Putih. Sumber: NASA, 2002.

Di sisi timur Danau Segara Anak, atau tepatnya di sisi timur kerucut Barujari dan Mas, menjulang kerucut lain yang jauh lebih besar dan lebih tinggi. Inilah kerucut Rinjani, yang puncaknya berelevasi 3.726 meter dpl. Inilah yang menjadikan Gunung Rinjani menduduki peringkat gunung berapi aktif tertinggi kedua di Indonesia, setelah Gunung Kerinci (propinsi Sumatra Barat). Puncak Rinjani berhiaskan sebuah cekungan kawah dengan beberapa titik solfatara (sumber gas belerang) didalamnya. Letusan Rinjani 1940 berpusat di puncak ini, dalam skala yang kecil. Uniknya, sisi barat kerucut Rinjani nampak tergerus cukup dalam hingga ke kaldera Segara Anak. Gerusan itu merupakan jejak dari peristiwa runtuhnya/longsornya lereng sektor tersebut dalam sejarahnya, hingga membentuk apa yang dikenal sebagai cekungan/kawah tapalkuda nan khas.

Danau Segara Anak bukanlah danau tertutup karena kalderanya sendiri bukanlah cekungan sempurna meski dihiasi oleh tebing-tebing curam bahkan terjal. Di sisi utara kaldera terdapat bagian terbuka sebagai lembah Kokok Putih nan besar, tempat mengalirnya sungai Kokok Putih. Sungai ini mendapatkan airnya dari Danau Segara Anak. Ia menghilir meliuk-liuk hingga bermuara di Laut Bali di utara. Setiap gangguan yang terjadi dalam lingkungan Danau Segara Anak, misalnya oleh masuknya material letusan dalam jumlah besar ke dalam danau, akan berimbas pada aliran sungai Kokok Putih. Banjir bandang pun berkemungkinan terjadi. Oleh karena itu sepanjang lembah sungai ini merupakan salah satu kawasan bahaya Gunung Rinjani.

Secara geografis Gunung Rinjani duduk di kepulauan Sunda Kecil (Bali dan Nusa Tenggara), rumah bagi sejumlah gunung berapi aktif legendaris seperti Gunung Tambora dan Gunung Sangeang Api. Tumbuh kembangnya Gunung Rinjani tak bisa dilepaskan dari subduksi lempeng Australia yang oseanik terhadap lempeng Sunda (Eurasia) yang kontinental. Sedikit berbeda dengan subduksi sejenis yang membentuk pulau Jawa, di Kepulauan Sunda Kecil ini muncul salah satu gejala unik subduksi. Yakni terbentuknya sesar naik busur belakang (back-arc thrust), dalam rupa sesar naik Wetar di sisi timur dan sesar naik Flores di sisi barat. Sama halnya dengan zona subduksi, zona sesar naik ini pun merupakan sumber gempa tektonik potensial dan bisa membangkitkan tsunami. Maka praktis kepulauan Sunda Kecil dikepung oleh jalur sumber gempa dan tsunami, baik di sisi selatan maupun di sisi utaranya.

Selain membentuk jalur sumber gempa, subduksi lempeng Australia terhadap lempeng Sunda juga menghasilkan zona pelelehan yang memproduksi magma. Di kepulauan Sunda Kecil, zona sumber magma itu berada di kedalaman 165 hingga 200 kilometer. Magma yang terbentuk dari kedalaman ini lantas bermigrasi ke atas, menuju bagian kerak bumi tertentu yang berperan sebagai dapur magma. Dari sana magma yang terkumpul kemudian berjuang kembali hingga menyeruak ke paras Bumi sebagai gunung berapi. Aktivitas gunung berapi di kawasan ini dimulai pada 450 ribu tahun silam dengan tumbuhnya Gunung Sembalun di bagian timur. Gunung Rinjani seperti yang kita lihat saat ini tumbuh lebih kemudian, mungkin baru muncul sekitar 12.000 tahun silam.

Gambar 4. Rekonstruksi tubuh gunung berapi kembar Rinjani-Samalas yang dilakukan tim peneliti gabungan Indonesia-Perancis. Gunung Rinjani-Samalas nampak memiliki dua puncak, yakni Puncak Rinjani (elevasi 3.726 meter dpl) dan Puncak Samalas (elevasi 4.200 +/- 100 meter dpl). Eks puncak Samalas kini ditempati oleh kaldera Segara Anak dengan dua kerucut gunung berapi anaknya (Barujari dan Mas). Sumber: Lavigne dkk, 2013.

Gambar 4. Rekonstruksi tubuh gunung berapi kembar Rinjani-Samalas yang dilakukan tim peneliti gabungan Indonesia-Perancis. Gunung Rinjani-Samalas nampak memiliki dua puncak, yakni Puncak Rinjani (elevasi 3.726 meter dpl) dan Puncak Samalas (elevasi 4.200 +/- 100 meter dpl). Eks puncak Samalas kini ditempati oleh kaldera Segara Anak dengan dua kerucut gunung berapi anaknya (Barujari dan Mas). Sumber: Lavigne dkk, 2013.

Bentuk tubuh Gunung Rinjani saat ini mengesankan ia terlalu besar bagi sebuah gunung berapi tunggal. Itu benar. Gunung Rinjani lebih merupakan gunung berapi kembar, yakni dua gunung berapi yang saling bersebelahan dan memiliki satu sumber pasokan magma yang sama. Kembaran Rinjani tumbuh di sisi baratnya, di tempat yang kini menjadi Danau Segara Anak. Catatan sejarah dalam Babad Lombok mengindikasikan kembaran Rinjani bernama Gunung Samalas. Rekonstruksi topografis yang dilakukan oleh tim peneliti gabungan Indonesia-Perancis memperlihatkan puncak Samalas memiliki elevasi 4.300 +/- 100 meter dpl. Kedua gunung berapi tersebut nampaknya bertumbuh bersama-sama hingga cukup besar, hingga akhirnya bagian bawah kedua tubuhnya pun menyatu. Sehingga secara keseluruhan gunung berapi besar itu dapat disebut sebagai Gunung Rinjani-Samalas. Fenomena serupa sempat pula terjadi pada Gunung Krakatau sebelum peristiwa tahun 1883 TU. Saat itu pun Gunung Krakatau sejatinya adalah tubuh gunung Rakata, Danan dan Perbuwatan yang menjadi satu.

Jika pernah ada Gunung Samalas di sisi barat Gunung Rinjani, mengapa wajahnya bisa berubah total menjadi kaldera Segara Anak seperti saat ini? Salah satu jawabannya terdapat di Babad Lombok. Dalam bentuk puisi, bagian babad ini berkisah tentang peristiwa mengerikan terkait Gunung Samalas pada tujuh abad silam.

Letusan Samalas 1257

Gunung Rinjani longsor dan Gunung Samalas runtuh, banjir batu gemuruh, menghancurkan Desa Pamatan, rumah-rumah rubuh dan
hanyut terbawa lumpur, terapung-apung di lautan, penduduknya banyak yang mati (baris 274).

Tujuh hari lamanya, gempa dahsyat meruyak bumi, terdampar di Leneng (Lenek), diseret oleh batu gunung yang hanyut, manusia berlari semua, sebahagian lagi naik ke bukit (baris 275).

Bersembunyi di Jeringo, semua mengungsi sisa kerabat raja, berkumpul mereka di situ, ada yang mengungsi ke Samulia, Borok, Bandar, Pepumba dan Pasalun, Serowok, Piling, dan Ranggi, Sembalun, Pajang dan Sapit (baris 276).

Di Nangan dan Palemoran, batu besar dan gelundungan tanah, duri dan batu menyan, batu apung dan pasir, batu sedimen granit, dan batu cangku, jatuh di tengah daratan, mereka mengungsi ke Brang batun (baris 277).

Ada ke Pundung, Buak, Bakang, Tana’ Bea, Lembuak, Bebidas, sebagian ada mengungsi ke bumi Kembang, Kekrang, Pengadangan dan Puka hate-hate lungguh, sebagian ada yang sampai, datang ke Langko, Pejanggik (baris 278).

Semua mengungsi dengan ratunya, berlindung mereka di situ, di Lombok tempatnya diam, genap tujuh hari gempa itu, lalu membangun desa, di tempatnya masing-masing (baris 279).

Baris-baris di atas adalah bagian Babad Lombok yang telah diterjemahkan, dari aslinya berbahasa Jawa Kawi (Jawa Kuno) menjadi bahasa Indonesia. Tanpa perlu menafsirkan lebih lanjut, terlihat jelas bahwa sesuatu terjadi pada Gunung Rinjani-Samalas. Yakni meletusnya puncak Samalas hingga membanjirkan batu-batu besar beraneka ragam jenis dan ukuran serta lumpur. Sementara puncak Rinjani longsor. Peristiwa itu terjadi bersamaan dengan gempa dahsyat selama tujuh hari berturut-turut. Gempa tersebut jelas gempa vulkanik dan jika demikian keras maka letusan Gunung Samalas saat itu tentu sangat besar. Tak heran jika terbentuk kaldera Segara Anak.

Gambar 5. Tebing curam yang tersusun dari timbunan pasir di pantai Luk, pulau Lombok bagian utara. Inilah salah satu jejak kedahsyatan Letusan Samalas 1257 pada tujuh setengah abad silam. Tebing curam setebal 35 meter ini sejatinya sisa dari endapan awan panas Letusan Samalas 1257 yang demikian melimpah. Di titik pantai Luk inilah awan panas memasuki perairan Laut Bali dan menerbitkan tsunami. Sumber: Lavigne dkk, 2013.

Gambar 5. Tebing curam yang tersusun dari timbunan pasir di pantai Luk, pulau Lombok bagian utara. Inilah salah satu jejak kedahsyatan Letusan Samalas 1257 pada tujuh setengah abad silam. Tebing curam setebal 35 meter ini sejatinya sisa dari endapan awan panas Letusan Samalas 1257 yang demikian melimpah. Di titik pantai Luk inilah awan panas memasuki perairan Laut Bali dan menerbitkan tsunami. Sumber: Lavigne dkk, 2013.

Catatan Babad Lombok didukung melimpahnya bukti terjadinya letusan sangat besar, yang berserakan di sekujur pulau Lombok. Di desa Sedau yang berjarak 22 kilometer sebelah barat daya kaldera, terdapat dinding terjal didominasi pasir yang menjulang setinggi 20 meter dari dasar. Dalam dinding ini banyak dijumpai fragmen batuan beku beragam ukuran dan potongan batu apung. Jelas dinding pasir ini merupakan endapan awan panas (piroklastika). Dinding pasir sejenis, bahkan dengan ketinggian hingga 35 meter, dijumpai di pantai Luk, yang berjarak 25 kilometer sebelah barat laut kaldera. Bahkan 30 kilometer sebelah tenggara kaldera, bersisian dengan selat Alas (batas pulau Lombok dan Sumbawa) pun dijumpai endapan sejenis dengan tebal 30 meter. Jelas endapan-endapan tersebut berasal dari aliran awan panas dalam volume sangat besar, ciri khas produk letusan dahsyat. Tengara letusan dahsyat itu juga terlihat dari temuan butir-butir batuapung dalam endapan awan panas. Batuapung yang berlimpah adalah indikator sebuah letusan dahsyat.

Gambar 6. Peta sebaran awan panas Letusan Samalas 1257 di pulau Lombok. Tanda panah menunjukkan jejak pergerakan material awan panas, seperti masih tersisa pada butir-butir batuapung didalamnya. Titik hitam berangka menunjukkan lokasi singkapan endapan awan panas di masa kini berikut ketebalannya (dalam meter). Sementara titik merah menunjukkan lokasi pengambilan perconto (sampel) arang kayu untuk pertanggalan radioaktif. Seluruh perconto konsisten berasal dari tahun 1257 TU. Sumber: Lavigne dkk, 2013.

Gambar 6. Peta sebaran awan panas Letusan Samalas 1257 di pulau Lombok. Tanda panah menunjukkan jejak pergerakan material awan panas, seperti masih tersisa pada butir-butir batuapung didalamnya. Titik hitam berangka menunjukkan lokasi singkapan endapan awan panas di masa kini berikut ketebalannya (dalam meter). Sementara titik merah menunjukkan lokasi pengambilan perconto (sampel) arang kayu untuk pertanggalan radioaktif. Seluruh perconto konsisten berasal dari tahun 1257 TU. Sumber: Lavigne dkk, 2013.

Selain endapan awan panas, pertanda lainnya dari letusan dahsyat Samalas juga nampak dari sebaran tefranya, yakni fragmen material produk letusan yang berjatuhan dari udara dan tak menyatu menjadi batu. Tefra letusan Samalas menyelubungi pulau Lombok dan bahkan sisi timur pulau Bali. Ketebalannya rata-rata dua kali lipat dari tefra produk Letusan Tambora 1815. Di tempat yang kini menjadi kota Mataram pada saat itu bahkan dihujani tefra hingga membentuk lapisan setebal 70 centimeter.

Berdasarkan pengukuran pertanggalan karbin radioaktif pada balok-balok kayu yang mengarang (menjadi arang) di dalam endapan awan panas, dapat ditentukan bahwa letusan dahsyat tersebut terjadi pada tahun 1257 TU. Sebaran tefra yang lebih banyak mengarah ke barat menjadi indikasi bahwa pada saat itu angin regional berhembus ke arah barat. Sehingga letusan itu terjadi pada musim kemarau. Lebih persisnya lagi letusan dahsyat tersebut, yang untuk selanjutnya dinamakan Letusan Samalas 1257, terjadi dalam waktu kapan saja di antara Mei hingga Oktober 1257 TU.

Seberapa dahsyat letusan tersebut?

Sebuah tim peneliti gabungan Indonesia-Perancis telah meneliti aspek-aspek Letusan Samalas 1257. Dipimpin oleh Franck Lavigne, di dalam tim gabungan ini terdapat beberapa vulkanolog papan atas Indonesia. Seperti Surono atau lebih akrab dengan nama Mbah Rono (saat itu masih menjabat Kepala PVMBG) dan Indyo Pratomo (dari Museum Geologi Bandung). Atas kerja keras merekalah kini kita tahu apa yang terjadi pada Gunung Rinjani-Samalas pada 1257 TU itu.

Letusan Samalas 1257 adalah letusan gunung berapi dengan kedahsyatan tak terperi dan tak pernah terbayangkan sebelumnya. Letusan dahsyat ini menyemburkan debu vulkanik teramat pekat secara vertikal hingga membentuk kolom hitam raksasa mirip tangan sangat besar seakan hendak meninju langit. Puncak kolom debu vulkanik pekat ini menjangkau ketinggian antara 34 hingga 52 kilometer dpl. Pada ketinggian ini debu vulkanik pekat itu lantas melebar ke samping. Sehingga secara keseluruhan kini terbentuk pemandangan menyerupai cendawan/payung raksasa, salah satu ciri khas dalam letusan-letusan dahsyat gunung berapi. Yakni letusan berskala 4 VEI (Volcanic Explosivity Index) atau lebih. Beberapa waktu kemudian, awan cendawan ini pun meluruh, jatuh kembali ke Bumi oleh tarikan gravitasi. Material letusan yang berjatuhan inilah yang kemudian melampar ke segala arah di paras Bumi sebagai awan panas.

Gambar 7. Peta sebaran debu vulkanik produk Letusan Samalas 1257 di pulau Lombok. Garis-garis menunjukkan kontur ketebalan endapan debu vulkanik (dalam centimeter). Titik-titik putih menunjukkan lokasi singkapan endapan debu vulkanik di masa kini yang digunakan untuk merekonstruksi kontur ketebalan debu vulkanik. Sumber: Lavigne dkk, 2013.

Gambar 7. Peta sebaran debu vulkanik produk Letusan Samalas 1257 di pulau Lombok. Garis-garis menunjukkan kontur ketebalan endapan debu vulkanik (dalam centimeter). Titik-titik putih menunjukkan lokasi singkapan endapan debu vulkanik di masa kini yang digunakan untuk merekonstruksi kontur ketebalan debu vulkanik. Sumber: Lavigne dkk, 2013.

Awan panas Letusan Samalas 1257 sebagian besar membanjir ke utara, meluncur jauh hingga lebih dari 20 kilometer untuk kemudian tercebur ke Laut Bali. Sementara sisanya memilih mengalir ke selatan untuk kemudian bercabang dua. Satu cabang berbelok ke barat daya dan menjalar hingga sejauh 40 kilometer lebih sebelum kemudian memasuki Selat Lombok. Apa yang kini menjadi kota Mataram, pada saat itu adalah salah satu jalur lintasan awan panas Letusan Samalas 1257 dengan ketebalan bermeter-meter yang menjadi bagian cabang barat daya ini. Dan cabang kedua berbelok ke tenggara dan mengalir sejauh lebih dari 30 kilometer lantas masuk ke Selat Alas. Sebelum tercebur ke perairan Selat Alas, awan panas cabang tenggara ini melintasi apa kini menjadi kota Selong, ibukota Kabupaten Lombok Timur. Di sini pun ketebalan awan panas itu masih berpuluh meter.

Baik di Laut Bali, Selat Lombok maupun Selat Alas, terceburnya material awan panas ke dalam perairan-perairan tersebut dalam volume yang sangat besar menghasilkan olakan air laut yang tak kalah besarnya. Olakan inilah yang menjalar sebagai tsunami. Tsunami inilah salah satu kekhasan Letusan Samalas 1257, meski fenomena serupa yang juga teramati dalam Letusan Tambora 1815 berabad kemudian. Berbeda dengan Gunung Krakatau, Gunung Rinjani-Samalas berdiri di tengah-tengah daratan dan jauh dari pesisir. Tapi oleh letusannya yang demikian dahsyat hingga memuntahkan rempah letusan dalam volume sangat besar, maka awan panas yang diproduksinya pun sangat berlimpah. Akibatnya awan panas itu sanggup menjalar jauh dan memasuki perairan dalam volume yang masih cukup besar. Karena volume awan panasnya lebih besar, tsunami Letusan Samalas 1257 mungkin juga lebih besar ketimbang yang dihasilkan Letusan Tambora 1815. Namun sebagai longsoran material yang memasuki perairan, tsunami Letusan Samalas 1257 pun takkan menjalar terlalu jauh dari perairan Laut Bali. Meski mungkin masih sanggup menghasilkan kerusakan signifikan dan merenggut korban jiwa terutama di pesisir pulau Jawa bagian utara serta pulau Kalimantan dan pulau Sulawesi bagian selatan.

Selain menghempaskan awan panas, Letusan Samalas 1257 juga menyemburkan debu vulkanik dalam jumlah yang tak kalah banyak. Sekujur pulau Lombok pun berubah abu-abu dibedaki debu. Ketebalan endapan debu vulkanik bervariasi antara 20 hingga lebih dari 90 centimeter. Bahkan pulau Bali sisi timur pun tak lepas tertimbuni debu hingga setebal 10 centimeter. Sementara sebagian pulau Jawa dibedaki debu vulkanik setebal antara 1 hingga 5 centimeter. Hembusan angin regional dari timur menyebabkan debu vulkanik lebih banyak ditebarkan ke arah barat dari pulau Lombok. Namun dengan tingginya kolom debu vulkanik yang terinjeksi ke langit serta sangat besarnya volume magma yang dimuntahkan, praktis menjadikan rempah letusan memasuki lapisan stratosfer. Untuk selanjutnya ia pun terdistribusikan oleh arus-arus udara didalamnya hingga akhirnya menyelimuti hampir sekujur ruang udara Bumi.

Gambar 8. Batang kayu yang telah mengarang (menjadi arang) di dalam singkapan pasir yang adalah endapan awan panas Letusan Samalas 1257, tersingkap di tepi sungai Luk, pulau Lombok bagian utara. Proses pengarangan batang kayu ini terjadi bersamaan dengan terjangan awan panas Letusan Samalas 127 yang bersuhu tinggi. Arang ini dijumpai dalam ekspedisi Badan geologi ke Gunung Rinjani pada 2014 TU silam. Sumber: Oki Oktariadi, 2014, komunikasi pribadi.

Gambar 8. Batang kayu yang telah mengarang (menjadi arang) di dalam singkapan pasir yang adalah endapan awan panas Letusan Samalas 1257, tersingkap di tepi sungai Luk, pulau Lombok bagian utara. Proses pengarangan batang kayu ini terjadi bersamaan dengan terjangan awan panas Letusan Samalas 127 yang bersuhu tinggi. Arang ini dijumpai dalam ekspedisi Badan geologi ke Gunung Rinjani pada 2014 TU silam. Sumber: Oki Oktariadi, 2014, komunikasi pribadi.

Tim peneliti gabungan menemukan volume debu vulkanik yang mengguyur pulau Lombok dan sekitarnya berkisar antara 5,6 hingga 7,6 kilometer kubik, yang setara dengan 2 hingga 2,8 kilometer material sepadat batuan atau DRE (dense rock equivalent). Sementara volume awan panasnya yang melampar di daratan mencapai 14,5 kilometer kubik, setara dengan 8 kilometer kubik material sepadat batuan. Itu hampir tiga kali lipat lebih banyak ketimbang volume awan panas Letusan Tambora 1815. Tim juga menemukan Letusan Samalas 1257 juga membuat puncak Samalas (dengan volume sekitar 15,4 kilometer kubik material sepadat batuan) terpangkas habis. Sebagai gantinya adalah sebuah kawah raksasa atau kaldera yang memiliki volume sekitar 18,4 kilometer kubik material sepadat batuan, Di dalam kaldera ini tersekap rempah letusan sebanyak 3,7 kilometer kubik material sepadat batuan. Mereka terlalu berat sehingga tak sanggup terlontar jauh. Selain itu ditemukan pula bahwa Letusan Samalas 1257 berpengaruh besar terhadap puncak Rinjani. Yakni menyebabkan lereng puncak sektor barat rontok sebagai letusan lateral, memuntahkan sekitar 2,5 kilometer kubik material sepadat batuan.

Bila segenap kaldera Segara Anak beserta isinya dan kawah tapalkuda Rinjani merupakan ekspresi paras Bumi dari pengeluaran magma besar-besaran dalam Letusan Samalas 1257, maka letusan itu menghamburkan sekurangnya 40 kilometer kubik magma sepadat batuan. Sebagai pembanding, Letusan Tambora 1815 menyemburkan 33 kilometer kubik magma sepadat batuan. Jika volume rempah letusan (non-sepadat batuan) dari Tambora adalah sekitar 160 kilometer kubik, maka dengan anggapan bahwa densitas (massa jenis) magma Samalas serupa Tambora, Letusan Samalas 1257 menghamburkan tak kurang dari 195 kilometer kubik magma. Dengan demikian Letusan Samalas 1257 menjadi letusan terdahsyat yang pernah terjadi di paras Bumi dalam kurun 7.000 tahun terakhir. Ia juga menumbangkan rekor yang semula dipegang Gunung Tambora dengan kukuh. Skala letusan Samalas ini adalah 7 VEI. Volume magma yang dimuntahkan Letusan Samalas 1257 sekaligus menjadikan Letusan Krakatau 1883 (20 kilometer kubik) terasa begitu kerdil. Tim peneliti gabungan tersebut juga menemukan bahwa dalam puncak kedahsyatannya, Letusan Samalas 1257 menyemburkan tak kurang dari 1,1 juta ton magma sepadat batuan per detik. Massa total magma yang dilepaskan mencapai tak kurang dari 99 milyar ton.

Tim peneliti gabungan Indonesia-Perancis itu menggarisbawahi bahwa volume magma Letusan Samalas 1257 yang mereka simpulkan sejatinya hanyalah volume minimal. Mereka belum memperhitungkan seberapa banyak awan panas yang masuk ke dalam laut. Juga seberapa banyak debu yang tersebar hingga jarak yang sangat jauh dari Gunung Rinjani-Samalas. Sebagai pembanding, dalam Letusan Tambora 1815, dari 33 kilometer kubik magma sepadat batuan yang dimuntahkan sebanyak 26,2 kilometer kubik (sepadat batuan) diantaranya merupakan debu vulkanik yang tersebar sangat jauh.

Gambar 9. Salah satu singkapan tefra Letusan Samalas 1257 yang terletak di Gunungsari, sebelah utara kota Mataram (lokasi nomor 9 dalam peta). Jejak kedahsyatan letusan tersebut tertera di sini, sebagai endapan pasir dan batuapung berlapis tiga (masing-masing ditandai sebagai F1, F2 dan F3). Menandakan sedikitnya terjadi tiga erupsi bertipe Plinian. Sumber Lavigne dkk, 2013.

Gambar 9. Salah satu singkapan tefra Letusan Samalas 1257 yang terletak di Gunungsari, sebelah utara kota Mataram (lokasi nomor 9 dalam peta). Jejak kedahsyatan letusan tersebut tertera di sini, sebagai endapan pasir dan batuapung berlapis tiga (masing-masing ditandai sebagai F1, F2 dan F3). Menandakan sedikitnya terjadi tiga erupsi bertipe Plinian. Sumber Lavigne dkk, 2013.

Berdasarkan eksistensi kristal-kristal plagioklas yang tersisipi kristal silika ter-rehomogenisasi, tim memperkirakan suhu magma Letusan Samalas 1257 sebesar 1.000° Celcius. Dengan demikian dapat diperkirakan bahwa Letusan Samalas 1257 melepaskan energi termal sebesar tak kurang dari 39.000 megaton TNT. Sebagai ilustrasi untuk menggambarkan betapa besarnya energi letusan ini, kumpulkan 1,95 juta butir bom nuklir sekelas Little Boy yang menghancurkan Hiroshima di akhir Perang Dunia 2 di satu tempat. Lalu ledakkanlah bersama-sama. Sebesar itulah energi termal Letusan Samalas 1257. Sebagai pembanding lagi, Letusan Tambora 1815 melepaskan energi ‘hanya’ sebesar 27.000 megaton TNT.

Zaman Es Kecil

Dampak langsung Letusan Samalas 1257 terkisah dalam Babad Lombok, dimana Pamatan (ibukota kerajaan Lombok) dihancurkan oleh letusan tersebut. Jika mengacu pada apa yang terjadi pada kerajaan-kerajaan di pulau Sumbawa saat berhadapan dengan Letusan Tambora 1815 berabad kemudian, jelas kematian besar-besaran terjadi pada penduduk di pulau Lombok dan (sebagian) pulau Bali. Dapat dikatakan bahwa telah terjadi kematian penduduk dalam jumlah besar-besaran di Lombok dan Bali. Ini membuat struktur organisasi kehidupan masyarakat menjadi hancur. Sehingga ditengarai membuat Kertanegara tak kesulitan menguasai Bali dan Lombok kala menggerakkan balatentara Singhasari menggempur wilayah ini pada 1284 TU.

Gambar 10. Simulasi dampak global Letusan Samalas 1257 dalam bentuk penurunan suhu rata-rata per region (berdasarkan dua model). Sumbu datar (horizontal) menunjukkan angka tahun, sementara sumbu tegak (vertikal) menunjukkan garis-garis lintang (N untuk Lintang Utara dan S untuk Lintang Selatan). Meski penurunan suhu rata-rata global akibat letusan dahsyat ini berkisar 1° Celcius di bawah normal, namun bagi region lingkar kutub utara bisa mencapai 6° Celcius di bawah normal. Sumber: Schneider dkk, 2008.

Gambar 10. Simulasi dampak global Letusan Samalas 1257 dalam bentuk penurunan suhu rata-rata per region (berdasarkan dua model). Sumbu datar (horizontal) menunjukkan angka tahun, sementara sumbu tegak (vertikal) menunjukkan garis-garis lintang (N untuk Lintang Utara dan S untuk Lintang Selatan). Meski penurunan suhu rata-rata global akibat letusan dahsyat ini berkisar 1° Celcius di bawah normal, namun bagi region lingkar kutub utara bisa mencapai 6° Celcius di bawah normal. Sumber: Schneider dkk, 2008.

Namun dampak global letusan dahsyat inilah yang menggetarkan dunia. Seperti halnya letusan-letusan dahsyat gunung berapi lainnya, Letusan Samalas 1257 pun berdampak serius. Awan panasnya memang sebatas melumuri pulau Lombok dalam bara, dengan sebagian diantaranya tercebur ke laut dan melimburkan tsunami. Namun debu vulkaniknya mencekik dunia. Demikian halnya dengan gas Belerang (sulfurdiosida)-nya yang disemburkan ke udara. Diperkirakan Letusan Samalas 1257 menyemburkan tak kurang dari 55 juta ton gas sulfurdioksida. Di atmofer, gas belerang ini segera bereaksi dengan butir-butir uap air hingga membentuk aerosol asam sulfat. Diperkirakan massa aerosol asam sulfat tersebut tak kurang dari 370 juta ton. Bersama debu vulkanik, eksistensi aerosol asam sulfat dalam lapisan stratosfir membentuk sejenis tabir surya alamiah. Ia mereduksi kuantitas cahaya Matahari yang seharusnya tiba di paras Bumi. Sebagai akibatnya reaksi berantai dampak global Letusan Samalas 1257 pun terpantik.

Berkurangnya intensitas cahaya Matahari yang diterima Bumi membuat suhu udara rata-rata paras Bumi menurun. Imbasnya, tingkat penguapan air pun ikut menurun. Sehingga cuaca menjadi kacau-balau. Di sisi lain tutupan salju dan es meluas. Akibatnya tanaman pangan yang sensitif terhadap perubahan suhu pun sangat terpengaruh. Produksi pangan merosot drastis. Kelaparan pun melanda. Di saat bersamaan, sanitasi memburuk khususnya di kawasan yang diguyur hujan lebih deras dari normal. Bibit penyakit pun mulai berpesta pora. Dikombinasikan dengan udara yang mendingin, maka penyakit pun bergentayangan kian jauh hingga melampaui wilayah tradisionalnya. Inilah mimpi terburuk yang harus dihadapi dunia kala berhadapan dengan sebuah letusan dahsyat gunung berapi, horor yang lebih dikenal dengan nama musim dingin vulkanis.

Musim dingin vulkanis Letusan Samalas 1257 nan dahsyat terekspresikan dari berkurangnya intensitas penyinaran Matahari hingga 11,5 watt per meter persegi di bawah normalnya. Konsekuensinya suhu rata-rata paras Bumi menurun hingga hampir 1° Celcius di bawah normal. Nilai tersebut adalah penurunan suhu rata-rata global. Karena paras Bumi terdiri dari region berbeda-beda mulai tropis, subtropis hingga lingkar kutub, maka penurunan suhu paras Bumi di tiap region sejatinya berbeda-beda. Secara umum dapat dikatakan bahwa kian menjauh dari garis khatulistiwa maka nilai penurunan suhu paras Bumi akan kian lebih besar dibanding rata-rata global. Sehingga region subtropis dan kutub mengalami penurunan suhu jauh lebih besar ketimbang 1° Celcius. Ini menjadi pemicu berbagai anomali cuaca dalam satu bagian episode anomali iklim yang kerap disebut sebagai zaman es kecil.

Gambar 11. Simulasi dampak global Letusan Samalas 1257 dalam bentuk anomali curah hujan global (berdasarkan satu model). Sumbu datar (horizontal) menunjukkan garis-garis bujur (E untuk Bujur Timur dan W untuk Bujur Barat). Sementara sumbu tegak (vertikal) menunjukkan garis-garis lintang (N untuk Lintang Utara dan S untuk Lintang Selatan). Terlihat kecuali sebagian Afrika dan Amerika Selatan, hampir segenap daratan mengalami penurunan curah hujan. Sumber: Schneider dkk, 2008.

Gambar 11. Simulasi dampak global Letusan Samalas 1257 dalam bentuk anomali curah hujan global (berdasarkan satu model). Sumbu datar (horizontal) menunjukkan garis-garis bujur (E untuk Bujur Timur dan W untuk Bujur Barat). Sementara sumbu tegak (vertikal) menunjukkan garis-garis lintang (N untuk Lintang Utara dan S untuk Lintang Selatan). Terlihat kecuali sebagian Afrika dan Amerika Selatan, hampir segenap daratan mengalami penurunan curah hujan. Sumber: Schneider dkk, 2008.

Catatan-catatan dari Eropa masa itu menggambarkan betapa dahsyat situasi yang mendera kawasan pasca 1257 TU. Hujan deras salah musim yang mengguyur sepanjang musim panas dan gugur tahun 1257 dan 1258 TU menghancurkan lahan pertanian di Inggris, Jerman bagian barat, Perancis dan Italia bagian utara. Kelaparan pun merajalela. Inggris paling terpukul oleh bencana kelaparan ini. Para petani yang mengalami gagal panen memilih pergi ke London bersama keluarganya, dalam upaya putus asa untuk mendapatkan bahan makanan. Korban jiwa pun berjatuhan. Sedemikian parahnya bencana kelaparan di Inggris, sehingga Richard of Cornwall (raja Jerman) berinisiatif mengumpulkan gandum dari tanah Jerman dan Belanda untuk disumbangkan ke Inggris. Senyampang Jerman sendiri juga sedang diterpa kesulitan. Bencana kelaparan dalam skala yang lebih kecil juga merajalela di Perancis dan Italia bagian utara. Harga bahan makanan meroket luar biasa. Di luar Eropa, bencana kelaparan tercatat juga berkecamuk di kawasan Asia Barat, tepatnya di Irak, Suriah dan Turki tenggara. Bencana kelaparan ini dihubung-hubungkan pula dengan invasi Mongol (di bawah pimpinan Hulagu Khan) ke kawasan ini, yang berujung pada tergulingnya Dinasti Abbasiyah.

Selain bencana kelaparan, bibit penyakit pun merebak seiring menurunnya sanitasi lingkungan akibat suhu rata-rata yang menurun dari normal ditunjang deraan hujan deras berkepanjangan. Penyakit menular bergentayangan di antara kawanan hewan ternak seperti domba, yang memperparah derajat kelaparan. Penyakit menular pun merajalela di kalangan rakyat jelata dan merenggut nyawa. Hingga April 1259 TU, wabah penyakit diketahui telah berkecamuk hebat di London (Inggris), Paris dan bagian Perancis lainnya, Italia serta Austria. Wabah penyakit itu memiliki sejumlah gejala yang mirip epidemi influenza, namun apa yang sebenarnya menjangkiti umat manusia saat itu belum diketahui dengan pasti.

Selain dari catatan-catatan tersebut, jejak kedahsyatan Letusan Samalas 1257 juga terekam dalam lapisan-lapisan es di lingkar kutub, baik di kutub utara maupun selatan. Pengeboran-pengeboran di padang es yang terletak di pulau Greeenland, Arktika Kanada dan Antartika memperlihatkan adanya konsentrasi asam sulfat sangat tinggi dalam lapisan es yang berasal dari sekitar tahun 1258 TU. Asam sulfat tersebut mengandung jejak-jejak penanda yang sama dengan aerosol asam sulfat produk letusan dahsyat gunung berapi. Konsentrasi asam sulfatnya cukup tinggi, dua kali lebih tinggi ketimbang asam sulfat produk Letusan Tambora 1815 dan delapan kali lebih tinggi dari asam sulfat produk Letusan Krakatau 1883 yang ada di inti pengeboran (core) yang sama. Melimpahnya asam sulfat vulkanis pada lapisan es yang berasal dari sekitar tahun 1258 TU telah diketahui sejak lama sekaligus memastikan bahwa lokasi gunung berapi yang meletus dahsyat terletak di region tropis.

Sebelum 2013 TU sempat muncul dugaan bahwa gunung berapi penyebab anomali cuaca dan limpahan asam sulfat itu adalah Gunung Harrah Rahat (Saudi Arabia) melalui Letusan Rahat 1256. Namun dengan volume magma Letusan Rahat 1256 ‘hanya’ setengah kilometer kubik, dampak yang ditimbulkannya takkan mengglobal. Kandidat berikutnya adalah Gunung el Chichon (Meksiko), yang diketahui meletus pada rentang waktu kapan saja di antara tahun 1260 hingga 1460 TU, berdasarkan pertanggalan radioaktif. Namun Letusan el Chichon ini pun meragukan, karena diperkirakan memiliki skala letusan ‘hanya’ 5 VEI, yang setara pengeluaran magma antara 1 hingga 10 kilometer kubik saja. Dengan kata lain Letusan el Chichon saat itu lebih lemah ketimbang Letusan Krakatau 1883. Padahal konsentrasi asam sulfat yang ditemukan pada lapisan es dari sekitar tahun 1258 TU adalah delapan kali lebih besar ketimbang yang dihasilkan Letusan Krakatau 1883.

Gambar 12. Kombinasi data yang menunjukkan jejak-jejak Letusan Samalas 1257 dalam lembaran es di kutub utara (diwakili Greenland) dan kutub selatan (Antartika). Terlihat konsentrasi sulfat yang sangat tinggi baik di kutub utara maupun selatan. Juga terlihat terjadinya penurunan intensitas sinar Matahari yang diterima paras Bumi pasca Letusan Samalas 1257. Sumber: Schneider dkk, 2008.

Gambar 12. Kombinasi data yang menunjukkan jejak-jejak Letusan Samalas 1257 dalam lembaran es di kutub utara (diwakili Greenland) dan kutub selatan (Antartika). Terlihat konsentrasi sulfat yang sangat tinggi baik di kutub utara maupun selatan. Juga terlihat terjadinya penurunan intensitas sinar Matahari yang diterima paras Bumi pasca Letusan Samalas 1257. Sumber: Schneider dkk, 2008.

Kombinasi bencana kelaparan dan wabah penyakit jelas merenggut banyak korban jiwa. Ekskavasi arkeologis di Spitalfields, London (Inggris) saja mengungkap ratusan kerangka manusia yang seluruhnya tewas hanya dalam setahun pasca Letusan Samalas 1257. Inilah salah satu bukti dahsyatnya bencana kelaparan dan wabah penyakit tersebut. Meski begitu seberapa besar jumlah korban jiwanya dalam lingkup global takkan pernah bisa diketahui. Sebagai pembanding, dampak langsung Letusan Tambora 1815 merenggut sekitar 71.000 jiwa. Namun dampak tak langsungnya menelan tak kurang dari sejuta korban jiwa secara global. Letusan Samalas 1257 mungkin merenggut korban lebih besar lagi.

Letusan Rinjani 2015

Kini, tujuh setengah abad kemudian, Gunung Rinjani kembali menggeliat. PVMBG mencatat intensitas letusan memperlihatkan kecenderungan menguat sejak 2 November 2015 TU tengah hari. Gempa tremor menerus terjadi sepanjang 2 hingga 5 November 2015 TU, mengindikasikan letusan terjadi secara terus-menerus pada saat itu. Selain membumbungkan debu vulkanik, puncak Barujari juga melelehkan lava pijar ke arah timur laut. Namun sejauh ini bongkahan batu, kerikil dan pasir dalam rempah letusan masih berjatuhan di sekujur tubuh kerucut Barujari saja.

Dengan semua fakta tersebut, akankah letusan Rinjani kali ini berkembang membesar? Akankah ia berkembang menjadi sedahsyat Letusan Kelud 2014? Atau bahkan akankah letusan ini berkembang lebih jauh lagi hingga menyamai leluhurnya tujuh setengah abad silam dalam Letusan Samalas 1257 yang demikian dahsyat?

Jawaban singkatnya, tidak. Lebih teknisnya, peluang ke arah letusan yang lebih besar adalah kecil. Sementara peluang terjadinya letusan dahsyat adalah sangat kecil.

Gambar 13. Grafik RSAM Gunung Rinjani dalam periode 27 Oktober hingga 5 November 2015 TU. Sumbu datar (horizontal) menunjukkan tanggal sementara sumbu tegak (vertikal) menunjukkan energi letusan (tanpa satuan). Terlihat ada peningkatan energi letusan semenjak 2 November 2015 TU, namun setelah itu berfluktuasi. Sumber: PVMBG, 2015.

Gambar 13. Grafik RSAM Gunung Rinjani dalam periode 27 Oktober hingga 5 November 2015 TU. Sumbu datar (horizontal) menunjukkan tanggal sementara sumbu tegak (vertikal) menunjukkan energi letusan (tanpa satuan). Terlihat ada peningkatan energi letusan semenjak 2 November 2015 TU, namun setelah itu berfluktuasi. Sumber: PVMBG, 2015.

Mengapa? Aktivitas Gunung Rinjani pada saat ini terpusat di kerucut Barujari dalam kaldera Segara Anak. Aktivitas semacam ini merupakan ciri khas aktivitas pascakaldera, yakni aktivitas vulkanik yang tumbuh berkembang setelah letusan dahsyat yang membentuk kaldera. Aktivitas pascakaldera ditandai dengan munculnya lubang letusan di dasar/tepi kaldera sebuah gunung berapi. Darinya tersembur rempah-rempah letusan dari erupsi berenergi lemah sehingga tertimbun di sekeliling lubang letusan. Lambat laun timbunan rempah-rempah letusan itu membentuk kubah/kerucut vulkanis yang kian lama kian membesar. Kerucut vulkanis dalam kaldera acap disebut sebagai gunung berapi anak. Inilah ciri khas itu, aktivitas pascakaldera hampir selalu berupa aktivitas vulkanik membangun. Yakni membangun tubuh sebuah gunung berapi baru. Bukan jenis aktivitas vulkanik yang merusak.

Aktivitas yang membangun itu bakal terus berlangsung, membuat tubuh gunung berapi anak kian bongsor saja. Hingga akhirnya ia akan begitu meraksasa, menyamai atau bahkan malah melampaui ukuran induknya. Inilah titik balik dimana gunung berapi tersebut akan berubah, dari semula ber-aktivitas membangun menjadi merusak. Pada momen inilah letusan besar atau bahkan letusan dahsyat berkemungkinan terjadi. Terlebih jika induk gunung berapi tersebut pernah memiliki sejarah letusan dahsyat di masa silam, yang ditandai dengan eksistensi kaldera.

Jika mengacu pola tersebut, letusan Rinjani saat ini masih tergolong sebagai aktivitas vulkanik membangun. Kerucut Barujari dan Mas yang ada di dalam kaldera Segara Anak sejatinya merupakan gunung berapi anak. Sepanjang sejarahnya (terhitung semenjak 1847 TU), aktivitas vulkanik di kerucut Barujari terbatasi hanya pada letusan-letusan berskala antara 0 hingga 2 VEI. Satu-satunya letusan yang lebih besar adalah Letusan Rinjani 1994 yang berskala 3 VEI, atau memuntahkan magma di antara 10 hingga 100 juta meter kubik. Sedangkan aktivitas vulkanik yang merusak pada umumnya ditandai dengan letusan berskala minimal 4 VEI, atau minimal memuntahkan 100 juta meter kubik magma. Contoh letusan berskala 4 VEI misalnya Letusan Kelud 2014 dan Letusan Sangeang Api 2014, keduanya terjadi di tahun 2014 TU lalu. Bila mengacu pada pola ini, Letusan Rinjani 2015 mungkin takkan melampaui skala 2 atau 3 VEI.

Indikasi lain bahwa Letusan Rinjani 2015 berpeluang sangat kecil untuk berkembang menjadi letusan yang lebih besar terlihat dari data kegempaan hingga saat ini. Catatan aktivitas Gunung Rinjani yang dipublikasikan PVMBG memperlihatkan pasokan magma segar, yang dicirikan melalui gempa vulkanik dalam (VA) dan gempa vulkanik dangkal (VB), tak mengalami peningkatan dramatis. Hal itu diperlihatkan oleh absennya kedua jenis gempa tersebut sejak awal November. Padahal dalam periode 25-31 Oktober 2015 TU tercatat terjadi 50 gempa vulkanik dalam dan 44 gempa vulkanik dangkal. Sebaliknya sejak awal November justru hanya terekam gempa tremor. Gempa vulkanik yang satu ini merupakan pertanda degasifikasi (pelepasan gas-gas vulkanik dari magma saat magma segar sudah hampir tiba di dasar lubang letusan Barujari).

Pertanda yang lebih jelas terlihat dari data RSAM (realtime seismic amplitude measurement), yang mencerminkan energi Letusan Rinjani 2015. Data RSAM memperlihatkan Letusan Rinjani kali ini mengalami peningkatan semenjak tengah hari 2 November 2015 TU. Tetapi selepas itu Letusan Rinjani berfluktuasi, kadang melemah sedikit dan sebaliknya kadang menguat sedikit. Meski demikian dapat dikatakan bahwa tidak terdeteksi adanya lonjakan energi letusan dalam skala besar-besaran. Maka dari itu dapat dikatakan bahwa peluang terjadinya letusan Rinjani yang lebih besar, apalagi letusan dahsyat adalah sangat kecil.

Referensi :

PVMBG. 2015. Peningkatan Tingkat Aktivitas G. Rinjani Dari Level I (Normal) Ke Level II (Waspada), 25 Oktober 2015. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI, 26 Oktober 2015.

PVMBG. 2015. Evaluasi Data Pengamatan Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat, Hingga 5 November 2015. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI, 9 November 2015.

Global Volcanism Program. 2015. Rinjani. Smithsonian Institution

Lavigne dkk. 2013. Source of the Great A.D. 1257 Mystery Eruption Unveiled, Samalas Volcano, Rinjani Volcanic Complex, Indonesia. Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), vol. 110, no. 42, 16742–16747.

Geay dkk. 2007. Volcanoes and ENSO over the Past Millennium. Journal of Climate, vol 21, 3134-3148.

Schneider dkk. 2008. Climatic Impacts of the Largest Volcanic Eruption of the Last Millennium. CCSM Workshop 2008, National Center for Atmospheric Research.

Stothers. 2000. Climactic and Demographic Consequence of the Massive Volcanic Eruption of 1258. Climactic Change, vol. 45 (2000) 361-374.

Asnawir dkk. 2010. Rinjani and Propok Volcanics as a Heat Sources of Geothermal Prospects from Eastern Lombok, Indonesia. Jurnal Geoaplika, vol. 5, no. 1 (2010), 001-009.

Solikhin dkk. 2010. Geochemical and Thermodinamic Modeling of Segara Anak Lake and the 2009 Eruption of Rinjani Volcano, Lombok, Indonesia. Jurnal Geologi Indonesia, vol. 5, no. 4 (Desember 2010), 227-239.

Sinabung dan Gunung Berapi yang Tumbuh di Tata Surya Kita

Gunung Sinabung kian menjadi-jadi saja. Selama 66 jam berturut-turut semenjak Selasa 23 Juni 2015 Tarikh Umum (TU) pukul 00:00 WIB tak kurang 22 awan panas dikibarkannya secara beruntun. Seluruhnya meluncur ke arah kaki sektor timur-tenggara vulkan yang lasak ini. Bersamanya dihembuskan pula debu vulkanik pekat ke udara, ciri khas letusan eksplosif semi vulkanian. Semua hempasan awan panas ini tak menelan korban, seiring telah dievakuasinya penduduk yang tinggal di desa-desa di kaki gunung sektor selatan dan tenggara pasca penetapan status Awas (Level IV) beberapa waktu lalu. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI telah menetapkan kawasan terlarang bagi aktivitas manusia. Meliputi sektor selatan hingga radius mendatar 7 kilometer dari puncak, sektor tenggara (radius mendatar 5 kilometer dari puncak) dan sektor lain yang tersisa (hingga radius mendatar 3 kilometer dari puncak). Radius kawasan terlarang memang lebih besar ke sektor selatan dan tenggara, mengingat kesinilah selama ini hempasan awan panas dan lava pijar Gunung Sinabung melanda. Hal itu akibat titik tumbuhnya kubah lava berada di bukaan kawah yang mengarah ke selatan-tenggara.

Gambar 1. Pemandangan menakjubkan, sekaligus mengerikan, saat Gunung Sinabung meluncurkan salah satu awan panas gugurannya ke arah lereng sektor tenggara dalam salah satu letusannya. Nampak jelas material awan panas yang berat dan bersuhu tinggi bergumpal-gumpal menuruni lereng. Tepat diatasnya debu vulkanik pekat mengepul ke atas membentuk awan debu vulkanik hingga ketinggian tertentu. Diabadikan oleh fotografer Hendi Syarifuddin pada 9 Februari 2015 TU dari arah kaki Sinabung sektor timur laut. Sumber: Syarifuddin, 2015 dalam Geomagz, Maret 2015.

Gambar 1. Pemandangan menakjubkan, sekaligus mengerikan, saat Gunung Sinabung meluncurkan salah satu awan panas gugurannya ke arah lereng sektor tenggara dalam salah satu letusannya. Nampak jelas material awan panas yang berat dan bersuhu tinggi bergumpal-gumpal menuruni lereng. Tepat diatasnya debu vulkanik pekat mengepul ke atas membentuk awan debu vulkanik hingga ketinggian tertentu. Diabadikan oleh fotografer Hendi Syarifuddin pada 9 Februari 2015 TU dari arah kaki Sinabung sektor timur laut. Sumber: Syarifuddin, 2015 dalam Geomagz, Maret 2015.

Sampai saat ini jangkauan maksimum hempasan awan panas Sinabung sudah mencapai radius mendatar 4,5 kilometer dari puncak, yang terjadi pada Senin (22 Juni 2015 TU) dan Kamis (25 Juni 2015 TU) kemarin. Dengan tingkat ekstrusi magma yang tetap tinggi sementara endapan awan panas telah ‘melicinkan’ lereng gunung sektor selatan dan tenggara, maka ke depan muncul potensi kian jauhnya jangkauan hempasan awan panas Sinabung. Harus digarisbawahi bahwa volume kubah lava Sinabung hingga saat relatif tak menyusut, masih tetap bertahan di sekitar 3 juta meter kubik lava. Sebab besarnya jumlah magma yang diekstrusikan ke puncak Sinabung, yang mencapai sekitar 100.000 meter kubik per hari, diimbangi oleh gugurnya bagian-bagian kubah lava tersebut. Tiap guguran itulah yang menerbitkan awan panas.

Gambar 2. Estimasi kawasan terlarang Gunung Sinabung semenjak dinyatakan berstatus Awas (Level IV) per 2 Juni 2015 TU. Nampak sektor selatan dan sektor tenggara lebih jauh ketimbang sektor-sektor lainnya. Angka-angka 3, 5 dan 7 masing-masing menunjukkan jarak mendatar sebesar 3, 5 dan 7 kilometer dari puncak. Sumber: Sudibyo, 2015 dengan basis Google Maps dan data PVMBG.

Gambar 2. Estimasi kawasan terlarang Gunung Sinabung semenjak dinyatakan berstatus Awas (Level IV) per 2 Juni 2015 TU. Nampak sektor selatan dan sektor tenggara lebih jauh ketimbang sektor-sektor lainnya. Angka-angka 3, 5 dan 7 masing-masing menunjukkan jarak mendatar sebesar 3, 5 dan 7 kilometer dari puncak. Sumber: Sudibyo, 2015 dengan basis Google Maps dan data PVMBG.

Bahang

Hingga saat ini aktivitas Gunung Sinabung masih sangat tinggi. Ia masih akan terus membuat sebagian Indonesia berdebar karenanya. Bagi sejumlah orang, letusan Sinabung kali ini tergolong berdurasi lama karena nyaris tanpa henti semenjak 15 September 2013 TU. Meski jika menganalisis dinamika gunung-gemunung berapi Indonesia, sejatinya Gunung Sinabung bukanlah satu-satunya vulkan dengan letusan terpanjang. Masih ada Gunung Semeru (propinsi Jawa Timur), yang telah meletus tanpa henti semenjak 1967 TU dan sejak itu berstatus Waspada (Level II). Hanya saja letusan Semeru tergolong letusan bertipe strombolian yang terjadi setiap beberapa belas menit sekali. Letusan strombolian di Gunung Semeru selalu merupakan letusan kecil, menyemburkan sedikit material vulkanik dan terjadi karena saluran magmanya yang sudah terbuka tanpa penghalang berarti. Letusan yang kecil membuat Gunung Semeru tak berkesempatan untuk meluncurkan awan panasnya. Ini bertolak-belakang dengan Gunung Sinabung, dengan tipe letusan semi vulkanian-nya, sehingga kerap eksplosif sebagai imbas dari saluran magmanya yang (diduga) belum sepenuhnya terbuka.

Gambar 3. Tiga lokasi sumber gempa akbar di pulau Sumatra sepanjang kurun 2005-2007 TU yang diduga berhubungan dengan aktifnya kembali Gunung Sinabung. Garis titik-titik di dalam sumber gempa menunjukkan besarnya pergeseran (slip) setempat. Misalnya "10" menunjukkan pergeseran sebesar 10 meter. Sumber: Lupi & Miller, 2014.

Gambar 3. Tiga lokasi sumber gempa akbar di pulau Sumatra sepanjang kurun 2005-2007 TU yang diduga berhubungan dengan aktifnya kembali Gunung Sinabung. Garis titik-titik di dalam sumber gempa menunjukkan besarnya pergeseran (slip) setempat. Misalnya “10” menunjukkan pergeseran sebesar 10 meter. Sumber: Lupi & Miller, 2014.

Sebuah studi terkini (Lupi & Miller, 2014) memperlihatkan kemungkinan adanya hubungan antara aktifnya kembali Gunung Sinabung, setelah sekitar 1.200 tahun terlelap, dengan dekade teror gempa Sumatra. Lebih jelasnya, Gunung Sinabung mungkin aktif kembali sebagai imbas dari gempa akbar Simeulue-Nias 28 Maret 2005 (Mw 8,7) yang disusul gempa akbar berganda Mentawai-Enggano 12 September 2007 (Mw 7,9 dan Mw 8,4). Rentetan gempa akbar tersebut yang disusul dengan sejumlah gempa darat di berbagai titik dalam sistem patahan besar Sumatra menyebabkan tegasan (stress) yang selama ini menekan dan menyungkup dapur dapur magma Sinabung menjadi melemah. Pelemahan tersebut memungkinkan magma bermigrasi ke atas melewati retakan-retakan baru yang terbentuk hingga akhirnya meluap dari puncak. Inilah yang menghasilkan Letusan Sinabung 2013 semenjak hampir dua tahun silam hingga kini.

Gunung Sinabung hanyalah salah satu dari sekian banyak gunung berapi aktif di Bumi yang sedang memuntahkan magmanya saat ini. Di tata surya kita, vulkanisme tidaklah eksklusif di Bumi saja. Letusan gunung berapi yang memuntahkan berbelas kilometer kubik lava dan hampir sedahsyat Letusan Krakatau 1883 juga biasa dijumpai di Io, salah satu satelit Jupiter. Bahkan belakangan jejak letusan gunung berapi yang memuntahkan magma panas juga terdeteksi pada salah satu lembah retakan besar di Venus, benda langit tetangga terdekat dengan Bumi kita. Mengapa gunung-gemunung berapi dapat bertumbuh pada berbagai benda langit dalam tata surya kita?

Gambar 4. Lembah retakan Ganiki Chasma dengan empat titik (Obyek A hingga Obyek D) yang diduga merupakan gunung-gemunung berapi aktif di Venus. Sumber: Shaligyn dkk, 2015.

Tuangkan air panas ke dalam gelas di meja. Seduhlah minuman kesukaan, baik kopi ataupun teh. Lalu tempelkan tangan anda ke gelas tersebut. Panas? Sudah pasti. Telapak tangan bahkan mungkin terasa seperti terbakar. Namun tunggulah barang 15 atau 20 menit kemudian, lalu tempelkan lagi tangan anda. Panas? Mungkin belum bisa disebut dingin, namun yang jelas tingkat kepanasannya sudah jauh berkurang. Kemana panasnya menghilang? Ilmu pengetahuan memiliki jawaban sederhananya. Bahang (kalor) dari air dalam gelas dipindahkan ke lingkungannya, baik ke meja maupun ke udara sekitar. Bahang dipindahkan baik lewat proses konduksi (antara gelas dan meja) atau konveksi (antara gelas dan udara sekitar). Saat keseimbangan telah tercapai, air dalam gelas pun mendingin.

Vulkanisme dalam tata surya pun mengikuti langkah serupa transfer bahang dari air dalam gelas. Ya, vulkanisme sejatinya hanyalah salah satu bentuk pelepasan bahang dari sebuah benda langit dalam upayanya untuk mendingin. Sumber bahang bisa berasal dari internal (inti dan/atau selubung) maupun eksternal. Bahang disalurkan ke permukaan (kerak) lewat proses konduksi dan/atau konveksi. Dari kerak, bahang selanjutnya diemisikan ke angkasa lewat proses radiasi sebagai gelombang elektromagnetik dengan rentangan spektrum tertentu.

Panas dan Dingin

Gambar 6. Video detik-detik letusan Gunung Tvashtar Patera seperti diabadikan wahana New Horizon (2007) saat melintas-dekat Jupiter dalam perjalanan menuju planet-kerdil Pluto. Material vulkanik terlihat disemburkan setinggi 330 km dan membentuk busur setengah bola mirip payung raksasa, ciri khas letusan besar. Sumber: NASA, 2007.

Gambar 6. Video detik-detik letusan Gunung Tvashtar Patera seperti diabadikan wahana New Horizon (2007) saat melintas-dekat Jupiter dalam perjalanan menuju planet-kerdil Pluto. Material vulkanik terlihat disemburkan setinggi 330 km dan membentuk busur setengah bola mirip payung raksasa, ciri khas letusan besar. Sumber: NASA, 2007.

Vulkanisme memproduksi magma, sebagai material yang suhunya jauh lebih tinggi dibanding suhu lingkungan di permukaan/kerak. Pergerakan magma dari lapisan yang lebih dalam hingga dimuntahkan ke paras sebuah benda langit merupakan salah satu penyaluran bahang. Berdasarkan suhu magmanya maka secara umum terdapat pada saat ini tata surya kita mengenal dua jenis vulkanisme. Yakni vulkanisme panas (hot volcanism) dan vulkanisme dingin (cryovolcanism). Vulkanisme panas menghasilkan magma bersuhu antara 800 hingga 1.200° Celcius alias sepanas batu cair. Sifat magmanya cair/encer hingga kental. Magmanya didominasi senyawa silikat dan logam alkali/alkali tanah. Ia juga disertai dengan gas-gas vulkanik seperti sulfurdioksida (gas belerang), karbondioksida dan uap air. Vulkanisme panas yang aktif pada saat ini bisa dijumpai di Bumi, Io dan Venus.

Sebaliknya vulkanisme dingin menghasilkan magma bersuhu rendah, yakni di sekitar titik beku air di Bumi (0° Celcius) atau lebih besar lagi. Sifat magmanya sangat cair dan didominasi uap air atau gas nitrogen bercampur dengan senyawa-senyawa sederhana seperti metana dan amonia. Bagi kita, sifat ini mungkin terasa aneh, karena uap air dapat dijumpai dimana-mana di Bumi kita. Namun jangan salah, vulkanisme dingin terjadi di benda langit yang suhu rata-rata parasnya demikian dingin membekukan, jauh di bawah titik beku air. Sehingga eksistensi uap air di sana sudah tergolong ‘sangat panas’ untuk ukuran setempat.

Vulkanisme dingin yang aktif saat ini dapat dijumpai di Triton (salah satu satelit alami Neptunus) dan Enceladus (salah satu satelit alami Saturnus). Vulkanisme dingin di Triton teramati (untuk pertama dan juga terakhir kalinya hingga saat ini) pada 1989 TU silam saat wahana penjelajah takberawak Voyager 2 melintas di dekat planet Neptunus. Voyager 2 mendeteksi sejumlah titik semburan mirip geyser yang memuntahkan material didominasi gas nitrogen dengan volume setara produk Letusan Kelud 2014. Sementara vulkanisme dingin Enceladus terdeteksi oleh wahana Cassini (mengorbit Saturnus sejak 2004 TU hingga kini) pada 2005 TU. Seperti halnya Voyager 2, Cassini pun mendeteksi semburan mirip geyser. Dia menyeruak dari jajaran lembah retakan di dekat kutub selatan Enceladus.

Gambar 6. Enceladus dalam fase sabit dan semburan material vulkanisme dingin produk letusan gunung berapi aktif di dekat kutub selatannya, seperti diabadikan wahana Cassini pada 2005. Sumber: NASA. 2005.

Gambar 6. Enceladus dalam fase sabit dan semburan material vulkanisme dingin produk letusan gunung berapi aktif di dekat kutub selatannya, seperti diabadikan wahana Cassini pada 2005. Sumber: NASA. 2005.

Sumber bahang bagi benda-benda langit yang menjadi arena bagi vulkanisme aktif masa kini di tata surya berbeda-beda. Bagi Bumi, Io, Venus dan Enceladus, sumbernya bersifat internal. Bahang di inti dan selubung Bumi merupakan berasal dari sisa pembentukan Bumi 4,5 milyar tahun silam (10 %) dan peluruhan radioaktif radioisotop berumur sangat panjang seperti Uranium-238, Thorium-232 dan Kalium-40 (90 %). Dua sumber itu menghasilkan daya tak kurang dari 47.000 Gigawatt. Hampir seluruhnya mewujud sebagai aliran panas permukaan (heatflow) dan hanya kurang dari 1 % yang berkontribusi dalam seluruh aktivitas tektonik dan vulkanik di Bumi. Venus pun mungkin memiliki sumber bahang yang mirip, mengingat dimensi planet tersebut hampir sama dengan Bumi kita. Hanya saja seberapa besar energi yang dihasilkan dan bagaimana proporsi antara bahang primordial sisa pembentukan Venus dengan peluruhan radioaktif masih belum diketahui.

Sebaliknya sumber bahang di Io sangat berbeda. Meski tetap bersifat internal, namun bahang di Io dibangkitkan oleh gaya tidal (gaya pasang surut gravitasi) seiring interaksinya dengan planet Jupiter dan dua satelit alamiah lainnya yakni Europa dan Ganymede. Ketiga satelit alamiah tersebut mengorbit Jupiter demikian rupa (Io pada orbit terdalam dan Ganymede di orbit terluar) sehingga terjadi resonansi orbital. Sebagai satelit alamiah yang paling dekat ke Jupiter, Io menderita efek terkuat resonansi sehingga mengalami gaya tidal paling kuat. Friksi di dalam struktur Io pun terjadi secara berkelanjutan dan memproduksi bahang cukup besar untuk menggerakkan aktivitas vulkanismenya. Pemanasan tidal di Io menghasilkan daya antara 60 hingga 160 Gigawatt. Beda lagi dengan Enceladus. Pengukuran Cassini memperlihatkan Enceladus melepaskan bahang berdaya 4,7 Gigawatt. Seperti halnya Io, Enceladus pun diyakini menderita gaya tidal oleh interaksinya dengan planet Saturnus. Namun gaya tidal tersebut diperhitungkan hanya menghasilkan seperlima dari total daya yang dilepaskan Enceladus. Sehingga terdapat sumber bahang lain yang hingga kini masih belum diketahui apa bentuknya.

Gambar 7. Panorama kawasan di dekat kutub selatan Triton, diabadikan oleh wahana Voyager pada 1989 TU. Nampak goresan-goresan kehitaman dengan ketebalan beragam, menunjukkan jejak-jejak letusan gunung berapi di Triton sebagai ekspresi dari vulkanisme dinginnya yang unik. Sumber: NASA, 1989.

Gambar 7. Panorama kawasan di dekat kutub selatan Triton, diabadikan oleh wahana Voyager pada 1989 TU. Nampak goresan-goresan kehitaman dengan ketebalan beragam, menunjukkan jejak-jejak letusan gunung berapi di Triton sebagai ekspresi dari vulkanisme dinginnya yang unik. Sumber: NASA, 1989.

Situasi yang sangat berbeda dijumpai di Triton. Sumber bahangnya bersifat eksternal, yakni dari pemanasan Matahari. Triton memang berlokasi demikian jauh dari Matahari kita, yakni sejarak 4,5 milyar kilometer, sehingga lingkungannya demikian dingin membekukan. Suhu rata-rata di parasnya hanyalah minus 236° Celcius, membuat senyawa seperti karbondioksida, metana, karbonmonoksida dan nitrogen membeku sepenuhnya. Namun kombinasi antara penyinaran Matahari dengan komposisi paras Triton memungkinkan terbentuknya vulkanisme dingin. Saat Matahari menyinari paras Triton khususnya pada deposit bekuan nitrogen yang bersifat transparan, panas Matahari terjebak dalam bekuan tersebut. Sehingga lama-kelamaan membuatnya memanas. Ini mirip dengan efek rumah kaca di Bumi kita (dan juga Venus), namun terjadi pada medium padat. Sehingga disebut sebagai ‘efek rumah kaca padat.’ Bila suhunya telah minimum 4° Celcius lebih tinggi dibanding lingkungan sekitar, gas nitrogen yang terbentuk telah bertekanan cukup besar untuk membuat retakan yang menjebol permukaan dan selanjutnya menyembur hingga setinggi 8 kilometer mirip air mancur yang bertahan hingga setahun kemudian. Dengan sumber bahang dari pemanasan Matahari, maka segenap vulkan di Triton terkonsentrasi di hemisfer selatan. Tepatnya di antara garis lintang 50° hingga 57°.

Referensi :

Lupi & Miller. 2014. Short-lived Tectonic Switch Mechanism for Long-term Pulses of Volcanic Activity after Mega-thrust Earthquakes. Solid Earth, 5 (2014), pp. 13-24.

Soderblom dkk. 1990. Triton’s Geyser-like Plumes, Discovery and Basic Characterization. Science, vol 250 (13 October 1990), pp. 410-415.

Wittiri. 2015. Asap Sinabung Terus Membumbung. Majalah Geomagz, vol. 5 no. 1 Maret 2015, hal 8-9.

Debu Vulkanik Berhembus di Venus

Gunung Sinabung terus meraung. Memasuki separuh pertama tahun 2015 Tarikh Umum (TU) solah tingkah gunung berapi aktif yang berdiri di atas dataran Karo, propinsi Sumatra Utara, itu kian menjadi-jadi saja. Meski telah meletus hampir dua tahun lamanya, terhitung sejak Sinabung menyemburkan debu vulkanik pekatnya ke kegelapan udara Minggu dinihari 15 September 2013 TU, namun tak ada tanda-tanda Sinabung hendak beristirahat kembali. Sebaliknya letusan demi letusan yang mewujud dalam bentuk tumbuh dan gugurnya kubah lava terus terjadi secara berulang-ulang. Setiap guguran kubah lavanya memproduksi hempasan awan panas yang berkibar ke arah selatan dan tenggara. Dengan aktivitas yang tetap tinggi dan bahkan cenderung meningkat akhir-akhir ini, maka setelah lebih dari setahun berstatus Siaga (Level III) terhitung sejak 8 April 2014 TU, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang berkedudukan di bawah Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI memutuskan untuk menaikkan kembali status Gunung Sinabung ke level tertinggi. Yakni Awas (Level IV), semenjak 2 Juni 2015 TU. Peningkatan ini menjadikan Gunung Sinabung sebagai satu-satunya gunung berapi berstatus Awas (Level IV) di seantero Indonesia pada saat ini (hingga Juni 2015 TU).

Gambar 1.  Puncak Gunung Sinabung dengan dinamika kubah lavanya dalam selang waktu seminggu, diabadikan dari lokasi yang berbeda di kaki selatan. Pada 3 Juni 2015 TU, kubah lava Sinabung masih cukup buncit (kiri), namun pada 10 Juni 2015 TU sebagian diantaranya telah gugur (kanan). Sumber: Beidar Sinabung, 2015; Sadrach Peranginangin, 2015.

Gambar 1.
Puncak Gunung Sinabung dengan dinamika kubah lavanya dalam selang waktu seminggu, diabadikan dari lokasi yang berbeda di kaki selatan. Pada 3 Juni 2015 TU, kubah lava Sinabung masih cukup buncit (kiri), namun pada 10 Juni 2015 TU sebagian diantaranya telah gugur (kanan). Sumber: Beidar Sinabung, 2015; Sadrach Peranginangin, 2015.

Seakan hendak menyambut peningkatan statusnya, Gunung Sinabung terus membengkakkan volume kubah lavanya dengan penambahan rata-rata 100.000 meter kubik lava segar setiap harinya. Pada akhirnya kubah lava yang telah demikian membuncit pun mulai kehilangan stabilitasnya. Pada 13 Juni 2015 TU, sebagian mulai gugur dan memproduksi 10 kejadian awan panas relatif besar yang menghempas ke selatan dan tenggara hingga sejauh maksimum 3 kilometer. Bersamanya membumbung pula debu vulkanik setinggi 2 kilometer ke udara. Hujan debu sempat mengguyur hingga sejauh kota Medan. Letusan ini memaksa sekitar 200 jiwa warga Desa Sukanalu mengungsi. Secara keseluruhan Gunung Sinabung telah ‘memaksa’ 2.785 orang mengungsi. Masing-masing adalah penduduk Desa Guru Kinayan, Tiga Pancur, Pintu Besi, Berastepu dan Sukanalu. Disamping itu juga masih ada 6.179 orang yang tinggal di hunian sementara (huntara) semenjak Juni 2014 TU. Mereka adalah penduduk Desa Sukameriah, Bekerah, Simacem, Kuta Tunggal, Berastepu dan Gamber.

Gambar 2.  Salah satu dari 10 awan panas yang diluncurkan Gunung Sinabung pada 13 Juni 2015 TU. Ia berkibar ke arah selatan-tenggara hingga sejauh 3 kilometer dan membumbungkan debu vulkanik hingga setinggi 2 kilometer. Sumber: Sadrach Peranginangin, 2015.

Gambar 2.
Salah satu dari 10 awan panas yang diluncurkan Gunung Sinabung pada 13 Juni 2015 TU. Ia berkibar ke arah selatan-tenggara hingga sejauh 3 kilometer dan membumbungkan debu vulkanik hingga setinggi 2 kilometer. Sumber: Sadrach Peranginangin, 2015.

Selain membuat secara keseluruhan 8.964 orang tergusur dari tanah tumpah darahnya masing-masing yang terletak kaki selatan dan tenggara gunung, hingga akhir 2014 TU letusan Sinabung juga telah menyebabkan kerugian sangat besar. Yakni sekitar Rp 1.490 milyar. Harus dicatat bahwa angka kerugian ini belum termasuk potensi kerugian yang masih membayang seiring eksistensi sekitar 3 juta meter kubik material vulkanik lepas di sekujur tubuh Gunung Sinabung. Hujan deras mampu mengubah material vulkanik yang terakumulasi di sejumlah bagian lereng itu menjadi banjir lahar hujan. Seperti diketahui, lahar hujan memiliki daya rusak yang tak kalah ganas dibanding awan panas.

Venus

Selagi Indonesia terus diharu-birukan Gunung Sinabung dengan letusannya yang tak kunjung usai, gunung berapi aktif lainnya juga sedang mengguncang jagat astronomi saat ini. Gunung berapi aktif yang meletus itu berlokasi di dunia lain, di bagian lain tata surya kita. Yakni di Venus, planet tetangga terdekat ke Bumi. Gunung berapi Venus tersebut diduga meletus pada Juni 2008 TU atau tujuh tahun silam. Namun fakta terkait letusannya baru terkuak saat ini. Sekaligus membuktikan bahwa planet tetangga yang terlihat cantik namun sesungguhnya panas membara itu pun aktif secara geologis, layaknya Bumi.

Bagi umat manusia, Venus adalah bintang kejora. Ia kerap terlihat berbinar sangat terang di atas kaki langit barat kala senja selepas Matahari terbenam. Kerap juga ia terlihat di kala fajar di atas kaki langit timur sebelum Matahari terbit. Venus mendapatkan namanya yang megah mengingat ia adalah benda langit terterang ketiga setelah Matahari dan Bulan purnama. Bercahaya sangat terang dengan warna putih layaknya salju nan sejuk, Venus terlihat cantik dan indah dipandang. Sehingga aura feminin pun dilekatkan umat manusia padanya semenjak awal peradaban. Persepsi yang bertahan sangat lama ini sejatinya sangat bertolak belakang dengan realitas. Ya, Venus menjadi salah satu obyek yang mengesahkan adagium don’t judge a book by it cover (jangan menilai sebuah buku hanya berdasarkan sampulnya).

Gambar 3.  Permukaan Venus, diproyeksikan dalam globe, berdasarkan citra radar wahana antariksa takberawak Magellan. Tanda panah menunjukkan kawasan Alta Regio. Sumber: NASA, 1994.

Gambar 3.
Permukaan Venus, diproyeksikan dalam globe, berdasarkan citra radar wahana antariksa takberawak Magellan. Tanda panah menunjukkan kawasan Alta Regio. Sumber: NASA, 1994.

Penjelajahan antariksa ke Venus semenjak paruh kedua abad ke-20 TU membuktikan bahwa warna putih nan sejuk Venus hanyalah selimut bagi suasana menggidikkan yang terselubunginya. Ya, Venus ternyata adalah salah satu tempat terhoror dalam tata surya kita. Planet yang diameternya hanya 650 kilometer lebih kecil ketimbang Bumi ternyata adalah planet terpanas dalam tata surya, dengen temperatur permukaan rata-rata 462° Celcius. Atmosfernya pun demikian berat, dengan tekanan udara di permukaannya 92 kali lipat tekanan atmosfer Bumi kita. Udara yang berat itu hampir sepenuhnya berisikan gas karbondioksida, dengan komposisi hingga 96,5 %. Sisanya adalah campuran gas-gas nitrogen, sulfurdioksida, argon, uap air, karbon monoksida, helium dan neon. Hampir 80 % permukaan planet nan ganas ini merupakan bentanglahan yang dibentuk oleh bekuan lava Venus. Namun yang mengejutkan, tak satupun aliran lava Venus terkini yang pernah dijumpai wahana-wahana antariksa takberawak yang pernah dikirim ke sana. Hingga Juni 2015 TU ini.

Ganiki Chasma

Eugene Shalygin sedang mengompilasi citra-citra kanal inframerah yang diproduksi radas kamera VMC (Venus Monitoring Camera) dari wahana antariksa takberawak Venus Express saat matanya bersirobok hal tak biasa. Rutinitas yang dikerjakan astronom Jerman dan timnya itu merupakan bagian dari kolaborasi internasional untuk menciptakan peta emisi termal permukaan Venus. Agar bisa menembusi atmosfer Venus nan tebal itu, mereka harus memanfaatkan radas kamera yang bekerja pada sepktrum sinar inframerah. Dan Venus Express memang mengangkut kamera semacam itu. Diorbitkan badan antariksa gabungan negara-negara Eropa (ESA) ke Venus pada 9 November 2005 TU silam dari kosmodrom Baikonur, semula Venus Express hanya dirancang untuk bekerja selama 2 tahun saja. Faktanya, ia sanggup bertugas hingga lebih dari 9 tahun kemudian, hingga sinyal terakhir darinya diterima stasiun bumi ESA per 18 Januari 2015 TU sebelum Venus Express menjatuhkan diri ke permukaan Venus seiring habisnya bahan bakarnya.

Gambar 4. Lembah retakan besar Ganiki Chasma di kawasan Alta Regio, Venus. Diabadikan dengan citra radar Magellan. Sumber: NASA, 1994.

Gambar 4.
Lembah retakan besar Ganiki Chasma di kawasan Alta Regio, Venus. Diabadikan dengan citra radar Magellan. Sumber: NASA, 1994.

Hal takbiasa yang dijumpai Shalygin berada di kawasan Alta Regio, tepatnya di Ganiki Chasma. Citra radar wahana takberawak Magellan milik NASA (Amerika Serikat), yang mengorbit Venus antara 1989 hingga 1994 TU, memperlihatkan Ganiki Chasma adalah lembah retakan besar mirip Laut Merah di Bumi. Di Bumi kita, lembah retakan besar merupakan produk peregangan kerak bumi setempat seiring membumbungnya magma dari lapisan selubung mengikuti arus konveksi. Bumbungan magma nantinya akan mendorong kerak bumi sebelah menyebelah jalur yang meregang tersebut ke arah saling berlawanan sebagai dua lempeng tektonik terpisah. Proses ini akan memperlebar dimensi lembah retakan secara perlahan-lahan hingga kelak akan cukup luas dan dibanjiri air laut sebagai samudera baru. Inilah yang sedang terjadi di Laut Merah semenjak 30 juta tahun terakhir. Membumbungnya magma juga bisa meluapkannya ke sejumlah titik di dalam regangan, hingga membentuk gunung-gemunung berapi unik yang mirip tameng sebagai produk pendinginan lava sangat encer/cair. Gunung Erta Ale (Ethiopia) dengan danau lavanya adalah salah satu dari gunung unik yang sejalur dengan lembah retakan Laut Merah.

Gambar 5. Dinamika pancaran panas di Obyek A dalam pantauan kamera VMC Venus Express antara Juni hingga Oktober 2008 TU. Obyek A adalah salah titik yang diduga merupakan gunung berapi di dalam lembah retakan Ganiki Chasma. Sumber: Shalygin dkk, 2015.

Gambar 5.
Dinamika pancaran panas di Obyek A dalam pantauan kamera VMC Venus Express antara Juni hingga Oktober 2008 TU. Obyek A adalah salah titik yang diduga merupakan gunung berapi di dalam lembah retakan Ganiki Chasma. Sumber: Shalygin dkk, 2015.

Pada peta emisi termal permukaan Venus yang sedang dikerjakannya, Shalygin mendapati sejumlah titik dalam Ganiki Chasma nampak lebih panas. Namun hanya dalam beberapa hari kemudian temperaturnya telah mendingin kembali. Naik turunnya temperatur tersebut nampak jelas misalnya dalam citra 22 Juni dan 24 Juni 2008 TU bagi titik yang disebut Shalygin sebagai Obyek A. Tutupan awan di atas Ganiki Chasma saat Venus Express mencitra kawasan ini membuat Obyek A terlihat cukup lebar, dengan diameter sekitar 100 kilometer. Namun Shalygin dan timnya percaya ukuran Obyek A sejatinya cukup kecil, berkisar 1 kilometer persegi. Pada puncaknya, Obyek A melepaskan material bersuhu hingga 830° Celcius. Suhu setinggi ini mirip dengan suhu lava segar yang baru saja dimuntahkan gunung berapi daratan (andesitik) di Bumi. Obyek A hanyalah salah satu titik saja di antara empat titik yang dideteksi Shalygin dan timnya. Tiga lainnya masing-masing adalah Obyek B, Obyek C dan Obyek D.

Gambar 6. Keempat titik yang diduga gunung berapi aktif dalam lembah retakan Ganiki Chasma. Masing-masing Obyek A, Obyek B, Obyek C dan Obyek D. Sumber: Shalygin dkk, 2015.

Gambar 6.
Keempat titik yang diduga gunung berapi aktif dalam lembah retakan Ganiki Chasma. Masing-masing Obyek A, Obyek B, Obyek C dan Obyek D. Sumber: Shalygin dkk, 2015.

Selain deteksi titik-titik bersuhu tinggi yang mungkin merupakan ekspresi luapan lava Venus, Shalygin dan timnya juga mendapati perubahan signifikan dalam atmosfer Venus. Sepanjang 1985 hingga 1995 TU konsentrasi gas sulfurdioksida di atmosfer Venus bervariasi di antara 50 hingga 100 bpm (bagian per milyar) volume, berdasarkan pengukuran dengan Pioneer Venus dan wahana antariksa takberawak generasi berikutnya. Namun pengukuran sejenis oleh Venus Express menunjukkan lonjakan kadar sulfurdioksida yang cukup signifikan pada 2007-2008 TU hingga hampir 400 bpm. Membutuhkan waktu antara 3 hingga 4 tahun kemudian agar kadar sulfurdioksida di atmosfer Venus meluruh hingga menyentuh kembali angka 50 bpm. Di Bumi, lonjakan kadar gas sejenis di atmosfer selalu berhubungan dengan aktivitas vulkanisme dalam rupa letusan gunung berapi.

Jadi, apakah ada gunung berapi aktif di Venus? Apakah gunung berapi tersebut pernah/sedang meletus? Jawabannya masih mungkin. Kemungkinan eksistensi gunung berapi aktif di venus akan mendatangkan banyak pertanyaan lebih lanjut. Misalnya, bagaimana gunung berapi itu mendapatkan pasokan magmanya? Bagaimana kadar keenceran lava segar yang dimuntahkannya? Dan apakah gunung api aktif di Venus merupakan produk vulkanisme yang berkaitan dengan sistem lempeng tektonik layaknya di Bumi?

Gambar 7.  Gunung berapi Erta Ale (Ethiopia). Puncaknya berelevasi 613 meter dpl dan berbentuk rupa kaldera lonjong berukuran 700 x 1.600 meter yang terdiri dari dua kawah dan masing-masing memiliki danau lava. Danau lava selatan (kanan) masih terus aktif hingga kini. Gunung Erta Ale adalah gunung berapi yang berdiri di atas lembah retakan besar terusan Laut Merah. Ada kemungkinan gunung-gunung berapi di Ganiki Chasma di Venus bersifat seperti Gunung Erta Ale. Sumber: Global Volcanism Program, 2015.

Gambar 7.
Gunung berapi Erta Ale (Ethiopia). Puncaknya berelevasi 613 meter dpl dan berbentuk rupa kaldera lonjong berukuran 700 x 1.600 meter yang terdiri dari dua kawah dan masing-masing memiliki danau lava. Danau lava selatan (kanan) masih terus aktif hingga kini. Gunung Erta Ale adalah gunung berapi yang berdiri di atas lembah retakan besar terusan Laut Merah. Ada kemungkinan gunung-gunung berapi di Ganiki Chasma di Venus bersifat seperti Gunung Erta Ale. Sumber: Global Volcanism Program, 2015.

Yang jelas, jika keempat titik di dalam Ganiki Chasma benar-benar merupakan gunung berapi aktif, Venus akan berdiri bersama Bumi dan Io dalam jajaran benda langit anggota tata surya kita yang mengalami peristiwa vulkanisme panas. Yakni jenis vulkanisme yang menyemburkan material vulkanik bersuhu sangat tinggi hingga mampu melelehkan batu.

Referensi :

Shalygin dkk. 2015. Active volcanism on Venus in the Ganiki Chasma rift zone. Geophysical Research Letter, June 17th 2015.

Global Volcanism Program. 2015. Erta Ale. Smithsonian Institution.

Letusan Kelud Setahun Kemudian dan Kisah Senjakala Majapahit

Pulau Jawa, Indonesia, Kamis malam 13 Februari 2014 Tarikh Umum (TU). Tepat setahun silam. Selagi aktivitas sebagian besar insan yang mendiami pulau terpadat di Indonesia mulai menyurut dan bersiap-siap terlelap, ratusan ribu penduduk tiga kabupaten di kawasan Mataraman dan Arek Jawa Timur, yakni Kediri, Blitar dan Malang, justru dipaksa bersiaga. Mereka harus bergegas mengungsi, bergerak menjauh dari lereng dan kaki Gunung Kelud hingga radius minimal 10 kilometer dari kawah aktif. Arus pengungsi dimulai setelah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI meningkatkan status Gunung Kelud pada pukul 21:15 WIB. Dari semula berstatus Siaga (Level III), sejak saat itu Gunung Kelud kemudian menyandang status tertinggi dalam tingkat aktivitas gunung-gemunung berapi di Indonesia, yakni Awas (Level IV). Dasarnya adalah terjadinya lonjakan gempa frekuensi rendah yang disusul dengan tremor menerus. Selepas pukul 21:00 WIB, tremor menerus yang terekam bahkan telah melebihi batasan skala yang tersedia dalam radas (instrumen) seismometer.

Gambar 1. Gunung Kelud pada Jumat 14 Februari 2014 TU jelang fajar dari kaki gunung sebelah barat. Nampak asap pekat masih mengepul dari kawah hingga setinggi beberapa ratus meter, beberapa jam pasca letusan besarnya usai. Pemandangan ini diterangi oleh semburat cahaya kemerah-merahan yang khas menjelang terbitnya Matahari. Planet Venus yang berada dalam kondisi paling terang (magnitudo -4,7) mengapung di atas horizon (tanda panah), menyaksikan kisah Bumi yang sedang bergulir. Sumber: Akhmad Zainuddin, 2014 dalam Geomagz, 2014.

Gambar 1. Gunung Kelud pada Jumat 14 Februari 2014 TU jelang fajar dari kaki gunung sebelah barat. Nampak asap pekat masih mengepul dari kawah hingga setinggi beberapa ratus meter, beberapa jam pasca letusan besarnya usai. Pemandangan ini diterangi oleh semburat cahaya kemerah-merahan yang khas menjelang terbitnya Matahari. Planet Venus yang berada dalam kondisi paling terang (magnitudo -4,7) mengapung di atas horizon (tanda panah), menyaksikan kisah Bumi yang sedang bergulir. Sumber: Akhmad Zainuddin, 2014 dalam Geomagz, 2014.

Dengan status tertinggi ini, jelas hanya tinggal menunggu waktu bagi gunung berapi terlasak se-Jawa Timur ini untuk meletus. Perintah evakuasi pun diturunkan. Meski keraguan masih membayang tentang bagaimana skala letusan yang bakal segera terjadi. Enam setengah tahun sebelumnya, ribuan penduduk juga berduyun-duyun mengungsi setelah Gunung Kelud dinyatakan berstatus Awas (Level IV) pada pertengahan Oktober 2007 TU. Tetapi hari demi hari gunung itu tak kunjung menampakkan letusan eksplosif yang selama ini menjadi tabiatnya. Sebaliknya tiga minggu setelah berstatus Awas (Level IV), ia justru mulai melelerkan lava pijar panasnya di dalam kawahnya sendiri. Muntahan lava pijar yang terus-menerus pun membentuk gundukan besar membukit berisikan bongkahan bebatuan beragam ukuran beserta pasir yang masih terus berasap. Gundukan berasap berbentuk kerucut raksasa yang dasarnya selebar 470 meter dan tingginya 215 meter itu kemudian dikenal sebagai kubah lava 2007. Atau kerap pula disebut sebagai Anak Kelud. Letusan tak biasa semenjak November 2007 TU hingga Juni 2008 TU itu tak menelan korban jiwa ataupun luka-luka sama sekali. Juga tak ada bangunan/fasilitas yang rusak. Namun implikasi sosialnya tak sedikit, mulai dari banyaknya agenda pernikahan yang harus dijadwal ulang hingga tertundanya kegiatan-kegiatan kemasyarakatan.

Kali ini polah Gunung Kelud tak lagi malu-malu. Ia kembali ke tabiatnya semula. Pukul 22:46 WIB seismograf-seismograf di sekujur tubuh Gunung Kelud mulai menangkap geliat awal letusan. Tak lama kemudian kamera di dekat kawah merekam percikan-percikan api melesat dari dinding kubah lava 2007. Inilah pertanda kubah lava itu mulai merekah dan menyemburkan material pijar letusan. Letusan besar yang eksplosif pun terjadilah. Letusan demi letusan berikutnya kemudian menyusul secara beruntun selama tiga setengah jam kemudian. Rempah letusan disemburkan demikian cepat ke udara sebagai kolom letusan hingga membentuk awan cendawan raksasa yang menjadi salah satu ciri khas letusan besar. Mayoritas tudung cendawan raksasa tersebut terletak di ketinggian 17 kilometer dpl (dari paras air laut rata-rata). Namun puncaknya menjangkau ketinggian hingga 26 kilometer dpl. Gesekan antara material vulkanik yang kering dan melejit pada kecepatan tinggi dengan lapisan udara disekelilingnya menciptakan aliran listrik statis sangat intensif. Hingga petir pun menyambar-nyambar di sela-sela debu letusan yang sedang membumbung. Menambah horornya suasana.

Tak pelak pada Jumat dinihari 14 Februari 2014 TU tersebut, hampir sekujur Jawa Timur dibuat terjaga oleh Gunung Kelud yang sedang membara. Berselang beberapa jam kemudian sebagian besar pulau Jawa pun dibuat terhenyak. Menyaksikan fajar yang biasanya penuh suasana syahdu dan energi baru berubah total menjadi suram dengan guyuran debu. Hujan debu vulkanik terus-menerus mengguyur dari langit, membedaki semuanya.

Gambar 2. Masjid Agung Kauman di pusat kota Kebumen, Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah) yang nampak suram berselimutkan debu vulkanik tebal pada Jumat pagi 14 Februari 2014 TU. Segenap Kabupaten Kebumen dihujani debu vulkanik Letusan Kelud 2014 yang demikian pekat hingga sanggup membentuk endapan setebal 2 sentimeter atau lebih. Padahal daerah ini berjarak lebih dari 300 kilometer di sebelah barat Gunung Kelud. Sumber: Warta Kebumen, 2014.

Gambar 2. Masjid Agung Kauman di pusat kota Kebumen, Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah) yang nampak suram berselimutkan debu vulkanik tebal pada Jumat pagi 14 Februari 2014 TU. Segenap Kabupaten Kebumen dihujani debu vulkanik Letusan Kelud 2014 yang demikian pekat hingga sanggup membentuk endapan setebal 2 sentimeter atau lebih. Padahal daerah ini berjarak lebih dari 300 kilometer di sebelah barat Gunung Kelud. Sumber: Warta Kebumen, 2014.

Dampak

Kini setahun kemudian, kita telah mengetahui lebih banyak apa yang terjadi dengan Letusan Kelud 2014. Analisis pendahuluan Pyle (2014) menunjukkan amukan Gunung Kelud itu menghembuskan antara 30.000 hingga 100.000 ton material letusan sepadat batuan dalam setiap detiknya. Pada awalnya secara keseluruhan Letusan Kelud 2014 memuntahkan sekitar 130 juta meter kubik rempah vulkanik. Namun di kemudian hari PVMBG meralat estimasi volume muntahan letusan Gunung Kelud ke angka 105 juta meter kubik. Rempah letusan yang lebih berat seperti awan panas (piroklastika) mengalir menyusuri lembah-lembah di lereng barat yang terhubung ke kawah hingga sejauh 2 kilometer. Material yang lebih ringan seperti pasir dan kerikil menghujani kawasan sejauh 20 hingga 30 kilometer dari kawah. Guyuran pasir dan kerikil hingga sejauh ini merupakan fenomena yang tak pernah terjadi dalam letusan-letusan Kelud sebelumnya. Di luar radius 30 kilometer dari kawah, debu vulkanik meraja. Hujan debu vulkanik pekat yang menciptakan endapan debu setebal 5 sentimeter atau lebih mengguyur kawasan seluas sekitar 4.000 kilometer persegi. Sebaliknya hujan debu vulkanik ringan yang hanya sanggup memproduksi endapan dengan ketebalan 1 milimeter melanda lebih jauh, sehingga area yang tercakup mencapai sekitar 80.000 kilometer persegi.

Letusan besar ini merenggut 7 korban jiwa. Penyebab kematian para korban beragam, mulai dari tertimpa tembok yang runtuh terbebani debu vulkanik hingga gangguan pernafasan. Seluruh korban tinggal di kawasan yang terbedaki debu vulkanik hingga setebal 20 sentimeter. Selain korban jiwa, tercatat 70 orang mengalami gangguan pernafasan dan harus dirawat di rumah sakit. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jumat pagi 14 Februari 2014 TU juga mencatat 100.248 orang harus mengungsi. Skala kerusakan yang ditimbulkannya pun luar biasa. Sebanyak 11.093 buah bangunan/rumah di tiga kabupaten (Kediri, Blitar dan Malang) rusak berat. Sementara 7.370 buah lainnya mengalami kerusakan sedang. Dan 8.044 buah dinyatakan rusak ringan. Ribuan hektar lahan perkebunan dan pertanian pun turut dibuat rusak.

Gambar 3. Pesawat Airbus A320-232 nomor 9V-JSN milik maskapai JetStar Asia saat berada di apron bandara Soekarno-Hatta. Saat pesawat ini jelang mendarat di Jakarta sebagai penerbangan JSA114 pada Jumat pagi 14 Februari 2014 TU, ia mendadak masuk ke dalam awan debu produk Letusan Kelud 2014. Pesawat berhasil mendarat dengan selamat, namun insiden ini membuat kedua mesinnya rusak parah akibat menghisap debu vulkanik. Sumber: Indo-Avtiation.com, 2014.

Gambar 3. Pesawat Airbus A320-232 nomor 9V-JSN milik maskapai JetStar Asia saat berada di apron bandara Soekarno-Hatta. Saat pesawat ini jelang mendarat di Jakarta sebagai penerbangan JSA114 pada Jumat pagi 14 Februari 2014 TU, ia mendadak masuk ke dalam awan debu produk Letusan Kelud 2014. Pesawat berhasil mendarat dengan selamat, namun insiden ini membuat kedua mesinnya rusak parah akibat menghisap debu vulkanik. Sumber: Indo-Avtiation.com, 2014.

Namun yang paling fenomenal adalah pada imbasnya terhadap lalu lintas udara domestik dan internasional Indonesia. Tebaran debu vulkanik memaksa ditutupnya delapan bandara di pulau Jawa. Masing-masing bandara Juanda (Surabaya), Abdulrahman Saleh (Malang), Adisumarmo (Surakarta), Adisucipto (Yogyakarta), Ahmad Yani (Semarang), Husein Sastranegara (Bandung) serta bandara di Cilacap dan Cirebon. Ratusan penerbangan pun terpaksa dibatalkan. Bahkan sebuah insiden terjadi, yang menimpa pesawat Airbus A320-232 9V-JSN milik maskapai JetStar Asia. Selagi melayani rute Perth (Australia)-Singapura dengan persinggahan di Jakarta (Indonesia) dalam penerbangan JSA114 pada Jumat fajar 14 Februari 2014 TU, pesawat tersebut tanpa diduga memasuki awan debu letusan Kelud. Ini terjadi hanya dalam 30 menit jelang mendarat di Jakarta. Bau asap pun merebak di dalam kabin pesawat dan pemandangan di sisi luar jendela pun mendadak gelap gulita.

Pesawat berhasil mendarat dengan selamat di bandara Soekarno-Hatta (Jakarta) pada pukul 05:50 WIB. Ia tidak mengalami mati mesin di udara, seperti yang tiga dasawarsa silam diderita jumbo jet Boeing 747-236B nomor G-BDXH British Airways penerbangan 009 akibat paparan debu vulkanik letusan Gunung Galunggung saat melintas di selatan pulau Jawa. Meski begitu inspeksi detail yang dilakukan teknisi pabrikan Airbus memperlihatkan kedua mesin pesawat Airbus A320-232 9V-JSN itu rusak parah akibat menghisap debu vulkanik Kelud. Sehingga keduanya harus diganti dan pesawat pun dipaksa grounded berhari-hari lamanya.

Dengan semua dampak tersebut, Letusan Kelud 2014 menelan kerugian hingga bertrilyun-trilyun rupiah. Namun demikian korban manusia relatif minimal, baik korban jiwa maupun luka-luka. Hal ini memperlihatkan bahwa sistem peringatan dini mitigasi bencana letusan Gunung Kelud yang diterapkan PVMBG bersama dengan BNPB berjalan dengan efektif. Minimnya korban juga ditunjang oleh sifat letusan yang kering. Letusan Kelud 2014 terjadi tatkala kawah gunung berapi tersebut dalam kondisi kering (minim kandungan air) seiring tiadanya genangan air signifikan sebagai danau kawah. Danau kawah Kelud telah menghilang pasca munculnya kubah lava 2007 dalam Letusan Kelud 2007. Hanya tersisa sedikit genangan air yang kerap keruh di sisi barat daya.

Gambar 4. Bagaimana wajah kawah Gunung Kelud berubah antara sebelum tahun 1990 (atas) dan 2008 TU (bawah), diabadikan dari titik yang sama di bibir kawah. Jelang Letusan Kelud 1990, mayoritas kawah Kelud digenangi air sebagai danau kawah dengan air berwarna hijau toska akibat pengaruh gas vulkanik. Sementara pasca Letusan Kelud 2007, hampir seluruh bagian danau kawah telah menghilang dan digantikan dengan gundukan kubah lava 2007 yang masih berasap. Hanya tersisa sedikit genangan air di sisi barat daya (latar depan). Sumber: Geomagz, 2014.

Gambar 4. Bagaimana wajah kawah Gunung Kelud berubah antara sebelum tahun 1990 (atas) dan 2008 TU (bawah), diabadikan dari titik yang sama di bibir kawah. Jelang Letusan Kelud 1990, mayoritas kawah Kelud digenangi air sebagai danau kawah dengan air berwarna hijau toska akibat pengaruh gas vulkanik. Sementara pasca Letusan Kelud 2007, hampir seluruh bagian danau kawah telah menghilang dan digantikan dengan gundukan kubah lava 2007 yang masih berasap. Hanya tersisa sedikit genangan air di sisi barat daya (latar depan). Sumber: Geomagz, 2014.

Sebelum 2007 TU, kawah Gunung Kelud selalu berupa danau kawah yang genangan airnya cukup signifikan meskipun volumenya dibatasi lewat terowongan pembuang, seperti terowongan Ampera. Upaya mengontrol volume danau kawah Kelud menjadi salah satu cara mengurangi keganasan letusannya. Catatan sejarah Kelud memperlihatkan betapa volume air danau kawah yang terlalu banyak akan menghasilkan lahar letusan yang menerjang jauh, hingga merenggut banyak korban. Letusan Kelud 1919 membunuh tak kurang dari 5.000 orang tatkala 40 juta meter kubik air danau bercampur dengan rempah letusan menjadi lahar letusan. Lahar letusan menderu ke setiap lembah sungai yang terhubung dengan kawah. Ia menerjang hingga 40 kilometer jauhnya dari kawah, mengubah bentang lahan lembah sungai yang dilintasinya dan mengubur apa saja yang dilaluinya. Hempasan lahar letusan yang luar biasa setiap kali meletus hingga menyapu apa saja yang dilaluinya membuat Gunung Kelud mendapatkan namanya (Kelud = sapu).

Letusan Kelud 2014 mengubah wajah kawahnya secara dramatis. Hampir seluruh kubah lava 2007 yang volumenya 16 juta meter kubik remuk menjadi debu, pasir dan batu. Remukan itu kemudian diterbangkan ke langit sebagai bagian dari kolom letusan. Lantai kawah yang sebelumnya ditempati kubah lava 2007 kini berlubang besar. Lubang letgusan itu berbentuk mirip lingkaran dengan diameter sekitar 400 meter. Lubang besar itu masih mengepulkan uap air dan gas belerang didasarnya. Tapi seiring waktu, lubang ini bakal kembali digenangi air, mungkin dalam 2 hingga 3 tahun pasca letusan. Maka Gunung Kelud pun akan kembali mempunyai danau kawahnya seperti halnya pemandangan 2.000 tahun terakhir, setelah menghilang sementara sepanjang periode 2007-2014 TU. Volume danau kawah Kelud yang baru ini masih sulit diprediksi. Namun bakal hadirnya kembali danau kawah Kelud membuat kebutuhan memfungsikan kembali terowongan pembuang menjadi hal yang mutlak. Terowongan pembuang bertujuan membatasi volume air danau kawah Kelud di sekitar 4 juta meter kubik saja, sehingga tak berubah menjadi lahar letusan dalam letusan mendatang.

Gambar 5. Perubahan dramatis wajah kawah Gunung Kelud antara sebelum (atas) dan sesudah Letusan Kelud 204 (bawah), diabadikan dari titik yang hampir sama. Letusan kelud 2014 membuat kubah lava 2007 yang diproduksi oleh Letusan Kelud 2007 sebelumnya remuk dan menjadi komponen rempah letusan. Sebagai gantinya terbentuk lubang letusan berdiameter sekitar 400 meter yang masih berasap. Tak ada lagi genangan air. Sumber: Geomagz, 2014.

Gambar 5. Perubahan dramatis wajah kawah Gunung Kelud antara sebelum (atas) dan sesudah Letusan Kelud 204 (bawah), diabadikan dari titik yang hampir sama. Letusan kelud 2014 membuat kubah lava 2007 yang diproduksi oleh Letusan Kelud 2007 sebelumnya remuk dan menjadi komponen rempah letusan. Sebagai gantinya terbentuk lubang letusan berdiameter sekitar 400 meter yang masih berasap. Tak ada lagi genangan air. Sumber: Geomagz, 2014.

Meski didahului penghancuran kubah lava 2007 namun durasi letusan utamanya (yakni pengeluaran material letusan) tetap singkat, yakni tak lebih dari empat jam. Setelah empat jam, Letusan Kelud 2014 tinggal menghembuskan uap air sebagai erupsi freatik. Hal ini sekali lagi mendemonstrasikan salah satu ciri khas Gunung Kelud, yakni ukuran kantung magma yang relatif kecil. Sehingga letusan selalu berlangsung singkat karena kandungan magma segar yang siap diletuskannya cepat terkuras. Tak peduli bahwa Letusan Kelud 2014 memiliki tekanan gas demikian besar, yang diperlihatkan oleh melimpahnya fragmen batuapung (pumis) dalam material letusan. Kelimpahan batuapung merupakan pertanda bahwa magma Kelud 2014 merupakan magma yang asam (kaya silikat), sehingga mampu menyekap gas vulkanik lebih banyak. Konsekuensinya tekanan gas vulkaniknya pun cukup besar. Hingga mampu membobol dan menghancurkan kubah lava 2007. Meski diawali penghancuran kubah lava, kecilnya jumlah magma yang tertumpuk dalam kantung magma Kelud membuat Letusan Kelud 2014 tak menjadi berkepanjangan seperti halnya Letusan Galunggung 1983-1984 yang berlangsung 9 bulan lamanya.

Di satu sisi, Letusan Kelud 2014 merupakan letusan gunung berapi yang menghembuskan kolom letusan tertinggi di Bumi sepanjang tahun 2014 TU. Namun dari sisi volume rempah letusannya, Letusan Kelud 2014 bukanlah yang terbesar. Ia masih kalah jauh dibanding Gunung Bardarbunga (Holuhraun) di Islandia, yang hingga kini telah memuntahkan tak kurang dari 1,3 kilometer kubik rempah letusan.

Majapahit

Kecilnya jumlah korban jiwa dan luka-luka menunjukkan bahwa pada salah satu sisi dampak Letusan Kelud 2014 relatif minimal. Sistem peringatan dini yang bekerja efektif ditunjang dengan sifat letusan yang kering (akibat menghilangnya danau kawah semenjak 2007) menjadi dua dari banyak faktor yang berkontribusi terhadapnya. Namun, bagaimana dengan letusan Gunung Kelud di masa silam? Bagaimana dampaknya terhadap umat manusia yang bermukim disekelilingnya di masa silam? Yakni saat sistem peringatan dini belum terbentuk dan Gunung Kelud masih mempunyai danau kawah dengan volume jumbo? Bagaimana imbas letusannya terhadap hidup-matinya kerajaan legendaris di lembah sungai Brantas, yakni Majapahit?

Geolog Awang Satyana (2014) menuturkan beberapa dari letusan Gunung Kelud di masa kerajaan Majapahit nampaknya tercatat dalam kronik sejarah Pararaton, meski singkat. Secara kronologis kerajaan Majapahit muncul semenjak tahun 1293 TU seiring bertahtanya Kertarajasa Jayawardhana. Setelah mengalami pasang-surut akibat beragam pemberontakan, Majapahit mencapai puncak kejayaannya di masa Rajasanegara (Hayam Wuruk) yang berkuasa pada 1359 hingga 1380 TU. Selepas masa kejayaannya, kerajaan besar ini kemudian melapuk. Pertikaian antar keluarga kerajaan yang berlarut-larut dan bahkan sempat berkembang menjadi perang saudara seperti Perang Paregreg (1404-1406 TU). Pertikaian keluarga dinasti ini kian melemahkan kendali Majapahit atas daerah-daerah taklukannya, sehingga satu persatu pun melepaskan diri. Pada akhirnya kertajaan yang telah mengecil ini pun runtuh di sekitar tahun 1521 TU di masa kekuasaan Patih Udara.

Gambar 6. Topografi lembah Brantas beserta gunung-gunung berapi yang mengapitnya. Trowulan adalah bekas ibukota kerajaan pada sebagian besar masa kerajaan Majapahit. Sumber: Zainuddin dkk, 2013.

Gambar 6. Topografi lembah Brantas beserta gunung-gunung berapi yang mengapitnya. Trowulan adalah bekas ibukota kerajaan pada sebagian besar masa kerajaan Majapahit. Sumber: Zainuddin dkk, 2013.

Kecuali di dekade-dekade terakhir kehidupannya, hampir dalam segenap masanya Majapahit beribukota di Trowulan. Trowulan merupakan kawasan seluas 11 x 9 kilometer persegi yang terletak di lahan datar lembah sungai Brantas. Kini situs arkeologis tersebut menjadi bagian dari kabupaten Mojokerto dan kabupaten Jombang (keduanya di Jawa Timur). Salah satu pintu gerbang utama untuk memasuki ibukota Trowulan adalah pelabuhan Canggu, yang juga menjadi pelabuhan utama Majapahit. Pelabuhan besar ini terletak tak jauh dari muara sungai Brantas. Lokasi pelabuhan besar tersebut di masa kini ada di sebelah utara kota Mojokerto, berjarak sekitar 10 hingga 15 kilometer saja dari situs Trowulan. Di masa Majapahit, muara sungai Brantas terletak tak jauh dari pelabuhan Canggu. Kawasan yang kini menjadi kota Surabaya dan sekitarnya di era Majapahit masih berupa delta berteluk yang ditebari pulau-pulau kecil diapit dua tanjung. Pada tanjung sisi utara terdapat pelabuhan kecil, yakni Hujung Galuh (Ujung Galuh). Perubahan dramatis bentanglahan surabaya antara era Majapahit dengan masakini salah satunya merupakan imbas aktivitas Gunung Kelud.

Dalam catatan Pararaton, sepanjang zaman Majapahit terdapat peristiwa letusan gunung berapi hingga lima kali. Yang pertama pada minggu Madasia suryasengkala pendeta-sunyi-sifat-tunggal, yang mungkin bertepatan dengan tahun 1307 Saka atau 1385 TU. Yang kedua terjadi pada minggu Prangbakat suryasengkala muka-orang-tindakan-ular, yang mungkin bertepatan dengan tahun 1317 Saka atau 1395 TU. Lalu yang ketiga pada minggu Kuningan suryasengkala belut-pendeta-menggigit-bulan, mungkin bertepatan dengan tahun 1373 Saka atau 1451 TU. Selanjutnya yang keempat pada minggu Landep suryasengkala empat-ular-tiga-pohon, mungkin bertepatan dengan tahun 1384 Saka atau 1462 TU. Dan yang kelima adalah pada minggu Watu Gunung suryasengkala tindakan-angkasa-laut-ekor, yang mungkin bertepatan dengan tahun 1403 Saka atau 1481 TU.

Pararaton memang tak menyebut nama-nama gunung berapi yang meletus dalam kelima letusan tersebut. Pararaton juga tidak secara spesifik spesifik menyebut nama Gunung Kampud (nama Kelud di masa silam) sebagai yang meletus. Namun bila kita memperhatikan sejarah aktivitas gunung-gemunung berapi di sekitar ibukota Trowulan, yang terdiri dari Gunung Wilis, Gunung Kelud, Gunung Arjuno-Welirang, Gunung Penanggungan dan Gunung Kawi-Butak, hanya Gunung Kelud yang memperlihatkan catatan aktivitas tinggi dan kerap meletus. Sehingga dapat diduga kelima letusan yang dicatat Pararaton tersebut merupakan letusan-letusan Gunung Kelud. Dibandingkan dengan sejarah letusan Gunung Kelud, nampak jelas bahwa kelima letusan yang dicatat Pararaton bersesuaian dengan letusan-letusan yang dicatat dalam Data Dasar Gunung Api Indonesia (1979).

Seberapa besar kelima letusan tersebut?

Kitab Pararaton tidak memerikan (menggambarkan)-nya. Untuk mengetahuinya kita harus melihat penelitian geologi yang pernah dikerjakan di kawasan Gunung Kelud dan sekitarnya. Misalnya dari Zainuddin dkk (2013), yang mengkaji singkapan-singkapan endapan letusan Kelud pada empat titik di lereng/kaki barat gunung. Keempat titik tersebut berjarak antara 0,7 hingga 20 kilometer dari kawah. Salah satu titik tersebut adalah situs candi Tondowongso (Kediri), yang baru ditemukan pada April 2007 TU. candi ini terpendam di bawah endapan produk letusan setebal 3 meter dan hingga kini masih terus diekskavasi. Zainuddin dkk menemukan bahwa pada keempat titik tersebut terdapat bukti kuat Gunung Kelud pernah meletus besar sebanyak dua kali dalam selang waktu antara 1380 hingga 1420 TU.

Gambar 7. Situs candi Tondowongso di Gayam, kediri (Jawa Timur) yang baru ditemukan pada April 2007 dan belum sepenuhnya diekskavasi. Situs ini berjarak 20 kilometer di sebelah barat laut kawah Gunung Kelud. Seluruh lapisan tanah yang menimbuni situs ini merupakan produk letusan Gunung Kelud, yang terbagi menjadi dua: jatuhan abu/debu vulkanik dan lahar. Endapan lahar di situs ini merupakan bukti dahsyatnya letusan Gunung Kelud di masa kerajaan Majapahit. Sumber: Zainuddin dkk, 2013.

Gambar 7. Situs candi Tondowongso di Gayam, kediri (Jawa Timur) yang baru ditemukan pada April 2007 dan belum sepenuhnya diekskavasi. Situs ini berjarak 20 kilometer di sebelah barat laut kawah Gunung Kelud. Seluruh lapisan tanah yang menimbuni situs ini merupakan produk letusan Gunung Kelud, yang terbagi menjadi dua: jatuhan abu/debu vulkanik dan lahar. Endapan lahar di situs ini merupakan bukti dahsyatnya letusan Gunung Kelud di masa kerajaan Majapahit. Sumber: Zainuddin dkk, 2013.

Seberapa besar kedua letusan besar tersebut? Pada situs candi Tondowongso ditemukan endapan lahar setebal 70 sentimeter. Sebagai pembanding, sejumlah candi era Majapahit yang berdiri di berbagai situs di sekeliling Gunung Kelud pun banyak yang tertimbun endapan produk letusan tatkala ditemukan. Misalnya candi Sumbersugih, Purwosari dan Sumberagung di kaki selatan Gunung Kelud. Juga candi Modangan dan Candisewu di kaki barat daya. Ketebalan lahar dan tertimbunnya candi-candi tersebut mengindikasikan bahwa letusan Gunung Kelud saat itu demikian besar. Hingga mampu mengirimkan lahar letusan sampai sejauh antara 30 hingga 40 kilometer dari kawah.

Kita dapat membayangkan bagaimana besarnya letusan tersebut. Danau kawah Kelud, yang pada puncaknya sanggup memuat 40 juta meter kubik air, sontak tumpah bercampur dengan rempah letusan begitu Gunung Kelud mengamuk. Rempah letusan dalam jumlah mungkin mendekati 200 juta meter kubik yang langsung bercampur dengan air danau sontak membentuk lahar letusan. Lahar deras pun membanjir melalui alur-alur sungai yang berhulu ke Gunung Kelud. Derasnya lahar letusan tak sekedar membuat sungai-sungai tersebut meluap hebat hingga membanjiri lembah-lembahnya. Namun juga juga sanggup mengubah alur sungai-sungai tersebut akibat kuatnya gerusan. Tak heran jika kawasan yang terkena hempasan lahar letusan pun sangat luas di sepanjang lembah Brantas. Sungai Brantas pun mendangkal di sana-sini. Perikehidupan masyarakat masa itu yang menggantungkan diri pada dunia pertanian dan perdagangan memanfaatkan alur sungai pun bakal terganggu berat.

Gambar 8. Aliran lahar hujan Gunung Kelud pada 19 Februari 2014 TU di Pandansari (Malang). Lahar ini berasal dari material produk letusan yang bertumpukan di lereng dan kemudia dihanyutkan oleh air hujan. Selain lahar letusannya, salah satu dampak letusan Gunung Kelud terletak pada lahar hujannya. Terlebih hampir seluruh materi lahar hujan Gunung Kelud mengalir ke sungai Brantas. Aktivitas Gunung Kelud menjadi penyebab naik turunnya dasar sungai Brantas dan meluasya delta di muaranya. Hal ini tentu berdampak pada naik turunnya peradaban yang tumbuh dan berkembang di sepanjang lembah sungai ini. Sumber: Handoko, 2014 dalam Global Volcanism Program, 2014.

Gambar 8. Aliran lahar hujan Gunung Kelud pada 19 Februari 2014 TU di Pandansari (Malang). Lahar ini berasal dari material produk letusan yang bertumpukan di lereng dan kemudia dihanyutkan oleh air hujan. Selain lahar letusannya, salah satu dampak letusan Gunung Kelud terletak pada lahar hujannya. Terlebih hampir seluruh materi lahar hujan Gunung Kelud mengalir ke sungai Brantas. Aktivitas Gunung Kelud menjadi penyebab naik turunnya dasar sungai Brantas dan meluasya delta di muaranya. Hal ini tentu berdampak pada naik turunnya peradaban yang tumbuh dan berkembang di sepanjang lembah sungai ini. Sumber: Handoko, 2014 dalam Global Volcanism Program, 2014.

Bahkan hingga bertahun pasca letusan, dampaknya masih akan sangat terasa. Terlebih hampir segenap lahar letusan Kelud mengalir ke anak-anak sungai Brantas. Hulu anak-anak sungai tersebut menyebar di lereng selatan, barat dan utara Gunung Kelud. Hanya kawasan lereng timur yang relatif bebas dari anak-anak sungai Brantas, karena di sini berpagar jajaran gunung-gunung Arjuno-Welirang dan Kawi-Butak. Maka pada akhirnya hampir seluruh endapan lahar letusan Kelud bakal mengalir ke sungai Brantas kala hujan turun sebagai lahar hujan. Selain membuat alur sungai mendangkal sehingga banjir lebih mudah terjadi, lahar hujan Kelud juga bakal terikut aliran sungai hingga ke muaranya. Endapan bakal kian memperluas delta di muara sungai Brantas. Teluknya pun bakal mendangkal menjadi rawa-rawa dan akhirnya tertutup sepenuhnya. Sehingga apa yang semula hanyalah delta berteluk pun berkembang demikian rupa menjadi dataran rendah nan luas. Kelak di kemudian hari di sini berdiri kota Surabaya. Kian berkembangnya delta di muara sungai Brantas membuat jarak yang harus ditempuh perahu/kapal ke pelabuhan Canggu kian jauh. Pada saat yang sama alur sungai di pelabuhan itu kian mendangkal, membuat kapal berukuran besar kian sulit menambatkan diri.

Gambar 9. Diagram sederhana yang menunjukkan bagaimana aktivitas Gunung Kelud berpengaruh bagi kerajaan Majapahit. Saat Gunung Kelud meletus, terbentuk lahar letusan (panah hitam) yang sanggup mengalir hingga sejauh 40 kilometer dari kawah (garis titik-titik). Setelah beberapa lama, endapan lahar letusan bakal dihanyutkan lagi oleh air hujan deras menjadi lahar hujan (panah merah). Hampir seluruh materi lahar hujan akan masuk ke sungai Brantas, sungai utama di lembah Brantas. Di sungai Brantas, materi lahar hujan akan menghilir jauh hingga akhirnya sampai ke pelabuhan Canggu dan muaranya. Imbasnya pelabuhan Canggu menjadi kian dangkal dan muara sungai Brantas pun terus berkembang. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Maps dan data dari Zainuddin dkk, 2013.

Gambar 9. Diagram sederhana yang menunjukkan bagaimana aktivitas Gunung Kelud berpengaruh bagi kerajaan Majapahit. Saat Gunung Kelud meletus, terbentuk lahar letusan (panah hitam) yang sanggup mengalir hingga sejauh 40 kilometer dari kawah (garis titik-titik). Setelah beberapa lama, endapan lahar letusan bakal dihanyutkan lagi oleh air hujan deras menjadi lahar hujan (panah merah). Hampir seluruh materi lahar hujan akan masuk ke sungai Brantas, sungai utama di lembah Brantas. Di sungai Brantas, materi lahar hujan akan menghilir jauh hingga akhirnya sampai ke pelabuhan Canggu dan muaranya. Imbasnya pelabuhan Canggu menjadi kian dangkal dan muara sungai Brantas pun terus berkembang. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Maps dan data dari Zainuddin dkk, 2013.

Tambahkan segala kesulitan tersebut dengan situasi kerajaan Majapahit pasca kekuasaan Rajasanegara. Pertikaian dalam tubuh dinasti yang berlarut-larut membuat kerajaan besar tersebut mulai melemah. Jelas dalam situasi tersebut beragam problem sosial pun muncul. Keamanan mulai sulit dikendalikan. Apalagi saat pertikaian itu memuncak dalam perang Paregreg. Jelas sudah, dua letusan besar Gunung Kelud yang terjadi di antara tahun 1380 hingga 1420 TU merupakan salah satu faktor yang mungkin turut menggiring Majapahit menuju senjakalanya.

Referensi :

Pyle. 2014. Ash Fallout from The 2014 Kelut Eruption, a Preliminary Analysis. Earth Science Class, 18 February 2014. Oxford University, UK.

Sulaksana dkk. 2014. The Crater Configuration f Kelud Volcano, East Java, Indonesia after 2014 Eruption. International Journal of Science and Research, vol. 3 no. 3, March 2014, 419-422.

Global Volcanism Program. 2014. Kelut (Kelud), Java, Indonesia, Big 2014 Eruption. Smithsonian Institution.

Indo-Aviation. 2014. Imbas Abu Gunung Kelud, Airbus A320 Jetstar Asia Harus Ganti Mesin. Laman Indo-Aviation.com, reportase Achdiyatma Reza.

Zainuddin dkk. 2013. Letusan Gunung Kelud pada 690 ± 110 Tahun yang Lalu Merupakan Letusan yang Sangat Dahsyat dan Sangat Berdampak pada Kerajaan Majapahit. Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol. 4 No. 2 Agustus 2013: 117 – 133.

Triastuty dkk. 2014. Gelegar Kelud 2014. Majalah Geomagz, vol. 4 no. 1 Maret 2014, halaman 20-28.

Karangbolong, Jejak Gunung Berapi Purba di Pesisir Kebumen

Gudangnya pantai eksotis! Barangkali kata itu yang bakal terucap kala kita menyusuri pesisir Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah). Betapa tidak. Banyak pantai indah yang bisa dijumpai di kabupaten yang memiliki garis pantai sepanjang 58 kilometer itu. Jika kita mulai dari sebelah timur sembari menyusuri jalur jalan raya lintas selatan yang masih dalam pembangunan dan lebih populer dengan akronim jalur JSS, kita akan bersirobok dengan pantai Lembupurwo yang berlaguna dan datar. Beringsut sedikit ke barat akan dijumpai pantai Bocor nan datar yang berbenteng bukit-bukit pasir. Di sini terdapat kolam-kolam renang air tawar semi permanen yang sengaja dibuat dengan airnya berasal dari sumur-sumur dangkal yang dibor persis di bibir pantai. Bergeser lagi ke barat akan dijumpai pantai Tegalretno, pantai perawan yang juga datar dan berlaguna. Melipir ke barat lagi kita akan bertemu dengan pantai Karanggadung (Petanahan) yang sudah lebih dulu ngetop. Pantai ini juga merupakan pantai datar yang berhias bukit-bukit pasir. Bukit-bukit pasir tersebut terus merentang hingga ke barat hingga mendekati pantai Suwuk.

Gambar 1. Pantai berlaguna Lembupurwo (atas) dan pantai berbukit pasir Karanggadung/Petanahan (bawah). Dua pantai tersebut merepresentasikan pantai dataran rendah di Kabupaten Kebumen. Sumber: LintasKebumen, 2014 & Sudibyo, 2006.

Gambar 1. Pantai berlaguna Lembupurwo (atas) dan pantai berbukit pasir Karanggadung/Petanahan (bawah). Dua pantai tersebut merepresentasikan pantai dataran rendah di Kabupaten Kebumen. Sumber: LintasKebumen, 2014 & Sudibyo, 2006.

Karst Karangbolong

Namun pantai-pantai yang lebih eksotis baru bisa dijumpai saat kita tiba di Tanjung Karangbolong, kawasan berbukit-bukit kapur yang menjuntai hingga bibir pantai dan menyajikan bentanglahan berpanorama demikian indah. Di tubir tanjung sebelah timur terdapat pantai Suwuk, tempat dimana sejumlah sungai bermuara dengan bentanglahan bertransisi dari pedataran menjadi tinggian berbukit-bukit. Dari pantai yang sudah tertata rapi ini beringsutlah ke barat dengan menyeberangi sungai Telomoyo yang besar. Atau jalankan kendaraan anda menyusuri jalus JSS dan maksimalkan tenaga kendaraan karena kita akan melewati jalan menanjak berkelak-kelok di antara bukit-bukit. Di perhentian pertama terdapat pantai Karangbolong. Pantai ini bertebing terjal dan populer dengan goa-goa tepi lautnya yang menjadi tempat ribuan burung walet bersarang. Burung-burung itu menjadi ikon Kabupaten Kebumen dan di masa lalu sarang-sarang burungnya (yang berprotein sangat tinggi) diunduh secara periodik dan dipasarkan dengan nilai yang sangat mahal, sehingga menjadi salah satu komponen pendapatan daerah. Salah satu goa di sini berbentuk terowongan pendek yang mengesankan sebagai batu karang berlubang besar. Dari sinilah nama Karangbolong konon berasal (karang = batu karang, bolong = lubang). Bergeser lagi ke barat, kita akan bertemu dengan pantai Pasir yang menempati sebuah ceruk kecil berhias lengkung jembatan alamiah tepat di tubir laut lepas.

Gambar 2. Pantai Suwuk pasca bencana tsunami 2006, sebelum dikembangkan lebih lanjut menjadi obyek wisata unggulan (atas) dan jembatan lengkung alamiah tepat di tubir laut lepas di pantai Pasir (bawah). Kedua pantai ini terletak di Tanjung Karangbolong, dimana pantai Suwuk merupakan pantai bermuara tepat di batas timur tanjung dan menjadi kawasan transisi daratan rendah ke tinggian berbukit-bukit. Sebaliknya pantai Pasir terletak di tengah-tengah tanjung Karangbolong sehingga berbataskan tebing curam di belakangnya. Sumber: Sudibyo, 2006.

Gambar 2. Pantai Suwuk pasca bencana tsunami 2006, sebelum dikembangkan lebih lanjut menjadi obyek wisata unggulan (atas) dan jembatan lengkung alamiah tepat di tubir laut lepas di pantai Pasir (bawah). Kedua pantai ini terletak di Tanjung Karangbolong, dimana pantai Suwuk merupakan pantai bermuara tepat di batas timur tanjung dan menjadi kawasan transisi daratan rendah ke tinggian berbukit-bukit. Sebaliknya pantai Pasir terletak di tengah-tengah tanjung Karangbolong sehingga berbataskan tebing curam di belakangnya. Sumber: Sudibyo, 2006.

Merayap lagi ke barat, kita akan bertemu dengan dua pantai berceruk lainnya, yakni pantai Pecaron (Srati) dan pantai Karangbata. Kedua pantai dipagari oleh tebing-tebing terjal, namun bila pantai Pecaron beralaskan pasir halus dengan bongkah-bongkah karang beraneka ukuran terserak disana-sini, maka pantai Karangbata melulu berlandaskan bongkahan-bongkahan batu hitam seukuran batubata. Tepat di sebelah barat pantai Karangbata akan kita jumpai pantai Menganti, sang obyek wisata primadona baru yang kini sedang menjadi buah bibir dimana-mana. Berbeda dengan pantai-pantai yang sudah tersebut tadi, pantai Menganti beralaskan pasir putih. Antara pantai Karangbata dan Menganti hanya berbataskan sebuah tanjung kecil yang disebut tanjung Karangbata. Jika kendaraan kita terus pacu ke barat menyusuri jalan yang naik-turun, sebuah pantai berceruk lagi akan kita jumpai, yakni pantai Pedalen. Dari sini kencangkan rem kendaraan anda, karena jalan ke arah barat terus menurun hingga akhirnya berujung tubir barat Tanjung Karangbolong, ke sebuah obyek wisata yang tertata dan cukup populer: pantai Logending. Seperti halnya pantai Suwuk, pantai Logending merupakan tempat sebuah sungai bermuara dengan bentanglahan bertransisi dari pedataran menjadi tinggian berbukit-bukit.

Gambar 3. Ombak memecah jelang tiba di pantai Menganti, diabadikan dari pucuk tebing terjal di belakang pantai (atas) dan wajah sebagian kecil pantai Logending di sekitar muara sungainya diabadikan dari lokasi tempat pelelangan ikan (TPI) Logending pasca bencana tsunami 2006 (bawah). Sumber: Sudibyo, 2006.

Gambar 3. Ombak memecah jelang tiba di pantai Menganti, diabadikan dari pucuk tebing terjal di belakang pantai (atas) dan wajah sebagian kecil pantai Logending di sekitar muara sungainya diabadikan dari lokasi tempat pelelangan ikan (TPI) Logending pasca bencana tsunami 2006 (bawah). Sumber: Sudibyo, 2006.

Segenap pantai indah yang membentang di antara pantai Suwuk dan Logending tersebut berada di kawasan Tanjung Karangbolong, yang adalah kawasan kars Karangbolong atau kars Gombong selatan. Kars merupakan kawasan dengan kondisi hidrologi yang khas sebagai akibat dari batuan yang mudah larut (dalam hal ini batu kapur/gamping) dan memiliki porositas sekunder yang berkembang dengan baik. Sebagai akibatnya sebuah kawasan kars memiliki beberapa ciri khas. Diantaranya adalah mempunyai cekungan tertutup/lembah kering dalam beragam ukuran, sangat jarang memiliki sungai di permukaan tanah dan sebaliknya memiliki drainase (sungai) bawah tanah dan goa yang melimpah. Seluruh ciri tersebut ada di kars Karangbolong. Tingginya curah hujan dan banyaknya retakan-retakan yang memotong batu gamping membuat kars Karangbolong diwarnai bukit-bukit mirip kerucut yang saling sambung-menyambung dengan sela-sela diantaranya berupa cekungan mirip bintang, sebuah ciri khas kegelkarst. Terdapat sedikitnya 69 buah goa kapur di kawasan ini dengan dua diantaranya cukup populer dan menjadi obyek wisata andalan Kabupaten Kebumen, yakni goa Jatijajar dan goa Petruk. Itu belum termasuk goa-goa di pantai Karangbolong, yang bukanlah goa kapur. Sejumlah goa tersebut juga dialiri sungai bawah tanah nan deras dan beberapa diantaranya menjadi air terjun dalam goa. Di sejumlah titik, sungai-sungai bawah tanah itu menyeruak keluar dari dalam tanah menjadi sungai permukaan. Bahkan di goa Surupan yang terletak di sebelah barat pantai Menganti, aliran air sungai bawah tanah yang baru saja keluar dari goa langsung bertemu tebing terjal di bibir pantai, menjadi air terjun Sawangan yang unik. Semuanya sungguh panorama alam yang luar biasa, anugerah terberi dari Illahi.

Gambar 4. Dua sisi yang memperlihatkan keunikan sungai bawah tanah di kars Karangbolong. Sungai bawah tanah yang mengalir di dalam goa Surupan keluar menjadi air terjun Sawangan dan kembali menjadi sungai permukaan tanah meski hanya mengalir sejauh 150 meter sebelum bertemu laut (atas). Salah satu titik keluarnya sungai bawah tanah menjadi sungai permukaan di Kalikarag, yang dimanfaatkan penduduk setempat untuk pemandian. Sumber: Arif, dalam Lintas Kebumen, 2014 & Supriatna, t.t.

Gambar 4. Dua sisi yang memperlihatkan keunikan sungai bawah tanah di kars Karangbolong. Sungai bawah tanah yang mengalir di dalam goa Surupan keluar menjadi air terjun Sawangan dan kembali menjadi sungai permukaan tanah meski hanya mengalir sejauh 150 meter sebelum bertemu laut (atas). Salah satu titik keluarnya sungai bawah tanah menjadi sungai permukaan di Kalikarag, yang dimanfaatkan penduduk setempat untuk pemandian. Sumber: Arif, dalam Lintas Kebumen, 2014 & Supriatna, t.t.

Gunung Berapi Purba

Namun kars Karangbolong tak hanya melulu diwarnai bebatuan gamping. Di titik-titik tertentu di tepi laut dijumpai bebatuan ‘aneh’ yang sama sekali berbeda. Bebatuan ini hitam/gelap, keras dan mirip dengan bebatuan beku yang bisa kita jumpai di kawasan gunung berapi sebagai hasil dari pembekuan lava. Selain itu di titik lainnya juga dijumpai bebatuan ‘aneh’ lainnya. Bebatuan itu terlihat sebagai batu gamping namun anehnya sangat kaya dengan silika. Bahkan dijumpai juga batu kapur yang mengandung emas. Silika dan emas pada dasarnya merupakan mineral khas yang normalnya hanya bisa dijumpai dalam batuan beku. Sementara di tengah-tengah bukit kapur, dijumpai sedikitnya tiga buah bukit ‘aneh’ yang juga tersusun oleh bebatuan beku. Maka kesimpulan berani pun menyeruak : jauh di masa silam di kawasan ini pernah berdiri tegak beberapa gunung berapi yang kini hanya ada sisa-sisanya sebagai gunung berapi purba. Inilah gunung-gunung berapi purba Karangbolong.

Apa sih gunung berapi purba itu?

Pada dasarnya gunung berapi adalah sebuah titik atau bukaan yang menjadi tempat keluarnya bubur batu panas membara (magma) beserta gas-gas vulkanik keluar permukaan Bumi dengan produk menumpuk di sekeliling titik pengeluaran tersebut membentuk gundukan baik kecil maupun besar. Titik/bukaan tempat pengeluaran itu dinamakan kawah jika berukuran kecil, atau kaldera jika berukuran sangat besar (dengan diameter melebihi 2 kilometer). Sebuah gunung berapi dapat terbentuk di tengah-tengah sebuah lempeng tektonik (intralempeng) maupun di perbatasan antar lempeng tektonik sebagaimana gunung-gunung berapi di Indonesia. Dan gunung berapi dapat terbentuk baik di daratan maupun di dasar laut, dengan ciri khasnya masing-masing.

Saat sebuah gunung berapi aktif kita iris secara vertikal, akan terlihat penampangnya yang khas. Kawah/kaldera umumnya terletak di puncak, meski ada juga yang tidak, dan kerap disumbat oleh bekuan lava maupun kubah lava. Tepat di bawah kawah terdapat bentuk mirip pipa panjang yang menembus hingga ke perutbumi. Pipa ini disebut saluran magma (diatrema), yang berujung ke tempat penampungan magma tepat di dasar gunung berapi yang disebut kantung magma. Dari kantung magma terdapat lagi bentuk mirip pipa panjang yang menembus jauh ke bawah lagi hingga berujung di dapur magma. Dalam tubuh gunung berapi sendiri, pipa magma senantiasa bercabang-cabang dengan setiap cabang meliuk-liuk demikian rupa menembus lapisan-lapisan bebatuan vulkanik yang menyusun tubuh gunung berapi. Tidak semua cabangnya berujung ke permukaan tanah sebagai kawah, namun hanya berhenti sebagai intrusi magmatik baik dalam bentuk retas magmatik (dike), retas lempeng (sill), maupun kubah lava samar (cryptodome). Saluran magma tak pernah kosong, melainkan selalu terisi magma sisa letusan sebelumnya yang sudah mulai membatu sehingga membentuk leher vulkanik (volcanic neck). Persentuhan magma panas membara dengan batuan yang menyelubungi lokasi intrusi magmatik akan menghasilkan alterasi batuan yang khas. Seluruhnya disebut sebagai lingkungan CF (central facies).

Gambar 5. Penampang melintang gunung berapi aktif dan purba (tererosi tingkat dewasa dan lanjut) beserta contohnya. Baik gunung berapi aktif maupun purba memiliki lingkungan pengendapan batuan vulkanik yang sama. Perhatikan betapa sulitnya membedakan gunung berapi purba, baik tererosi tingkat dewasa maupun lanjut, dengan bukit-bukit non vulkanik pada umumnya jika hanya dilihat sekilas. Sumber: Hartono & Bronto, 2007. Bronto, 2012.

Gambar 5. Penampang melintang gunung berapi aktif dan purba (tererosi tingkat dewasa dan lanjut) beserta contohnya. Baik gunung berapi aktif maupun purba memiliki lingkungan pengendapan batuan vulkanik yang sama. Perhatikan betapa sulitnya membedakan gunung berapi purba, baik tererosi tingkat dewasa maupun lanjut, dengan bukit-bukit non vulkanik pada umumnya jika hanya dilihat sekilas. Sumber: Hartono & Bronto, 2007. Bronto, 2012.

Di luar lingkungan CF, tubuh gunung berapi juga menunjukkan ciri khas tersusun dari batuan vulkanik. Pada titik terdekat dengan lingkungan CF terdapat lingkungan PF (proximal facies), yakni struktur terdekat ke kawah/kaldera sehingga tersusun oleh endapan lava dan awan panas (piroklastika). Di luarnya lagi terdapat lingkungan MF (medial facies), yang tersusun oleh kombinasi endapan debu vulkanik (tuff), kerikil (lapili) serta breksi lahar. Dan di bagian yang paling luar terdapat lingkungan DF (distal facies), yang umumnya menyusun kaki gunung berapi atau lebih jauh lagi. Lingkungan DF umumnya merupakan kawasan dimana bebatuan vulkanik telah mengalami pengerjaan ulang, umumnya oleh erosi, sehingga menghasilkan breksi lahar, konglomerat, batupasir dan bahkan batu lempung.

Sebuah gunung berapi disebut gunung berapi aktif bilamana kantung magma dangkalnya masih dipasok magma secara rutin dari dapur magma. Magma tersebut kemudian dikeluarkan ke permukaan tanah sebagai letusan yang terjadi hanya pada saat-saat tertentu, bergantung pada periode letusan yang khas untuk setiap gunung berapi. Letusan tersebut bisa berupa letusan eksplosif (ledakan) yang menyemburkan gas dan material letusan ke udara, ataupun letusan efusif (leleran) yang hanya mengeluarkan magma dari kawah tanpa terlontar tinggi ke udara untuk kemudian mengalir sebagai lava dan akhirnya lahar. Dapat pula letusan yang terjadi adalah kombinasi antara letusan eksplosif dan efusif. Jika tidak sedang meletus, dapur magma gunung berapi aktif tetap menerima pasokan magma segar dari perutbumi, namun tidak langsung dikeluarkan jika tekanannya belum sanggup mendobrak/memecah magma sisa letusan sebelumnya yang mulai membatu di dalam saluran magma. Dalam keadaan tidak meletus, gunung berapi aktif umumnya tetap mengeluarkan gas-gas vulkanik dari kawahnya serta memanaskan air bawah tanah yang keluar sebagai mataair panas di sejumlah titik. Tubuh gunung berapi aktif umumnya berbentuk kerucut dan relatif mulus sebagai hasil keseimbangan antara penambahan material (akibat letusan) dengan erosi.

Sementara gunung berapi tidak aktif/padam adalah gunung berapi yang dapur magma dan kantung magma dangkalnya tidak lagi menerima pasokan magma dari perutbumi. Sehingga tak ada lagi aktivitas letusan maupun pengeluaran gas-gas vulkanik. Namun mataair panas masih ada, mengingat magma yang tersisa dalam dapur magma maupun kantung magma dangkal masih panas dan membutuhkan waktu sangat lama untuk mendingin dan membatu. Sepanjang waktu itu ia tetap memindahkan panasnya ke batuan disekelilingnya hingga cukup mampu untuk memanaskan atau bahkan mendidihkan air bawah tanah. Meski harus digarisbawahi bahwa mataair panas tidak selalu terkait dengan gejala pasca vulkanik, seperti diperlihatkan oleh mataair panas Krakal di kecamatan Alian, juga di Kabupaten Kebumen. Dapat dikatakan kawasan gunung berapi padam merupakan kawasan pasca vulkanik yang memiliki prospek bagus untuk pengembangan energi panas bumi. Seiring menghilangnya pasokan material vulkanik, maka erosi pun tanpa tanding dan bekerja memahat tubuh gunung demikian rupa. Sehingga puncak gunung berapi padam mulai menurun akibat terkikis erosi, sementara lereng-lerengnya berhias alur/jurang yang demikian dalam.

Gambar 6. Bebatuan beku mirip tiang-tiang batu yang saling bertumpuk di ujung tanjung Karangbata, pantai Menganti. Tiang-tiang batu tersebut merupakan balok yang adalah kekar kolom. Kekar kolom ini menjadi pertanda pernah ada sebuah gunung berapi purba di kawasan ini. Diabadikan oleh geolog Bambang Mertani. Sumber: Mertani, 2013.

Gambar 6. Bebatuan beku mirip tiang-tiang batu yang saling bertumpuk di ujung tanjung Karangbata, pantai Menganti. Tiang-tiang batu tersebut merupakan balok yang adalah kekar kolom. Kekar kolom ini menjadi pertanda pernah ada sebuah gunung berapi purba di kawasan ini. Diabadikan oleh geolog Bambang Mertani. Sumber: Mertani, 2013.

Dan gunung berapi purba adalah gunung berapi yang telah padam dalam jangka waktu sangat lama sehingga segenap magma yang masih tersisa didalamnya, baik di retas magmatik, retas lempeng, saluran magma maupun kantung magma dangkal dan dapur magma telah sepenuhnya mendingin dan membeku. Erosi berkuasa sepenuhnya atas tubuh gunung berapi purba dan menggerusnya demikian rupa sampai mayoritas tubuh gunung menghilang secara perlahan-lahan dibawa aliran air. Bagian yang masih tersisa kini berbentuk gundukan-gundukan membukit yang sepintas tak ada bedanya dengan bukit-bukit pada umumnya. Hanya jika komposisi batuannya dicermati sajalah baru terungkap bukit-bukit tersebut merupakan sisa gunung berapi purba. Erosi yang sama juga bisa memunculkan bebatuan beku yang membentuk retas magmatik, retas lempeng, leher vulkanik dan bahkan kubah lava samar.

Busur Vulkanik Jawa Tua

Jejak gunung berapi purba di Tanjung Karangbolong bisa ditemukan sedikitnya di tujuh lokasi. Lokasi pertama adalah lokasi yang paling eksotis, yakni di ujung tanjung Karangbata yang ada di sisi timur pantai Menganti. Di ujung tanjung ini tersingkap batuan beku kehitaman yang nampak retak-retak dan memperlihatkan panorama mirip “tiang-tiang batu” yang saling bertumpuk. Dari sejumlah potongan “tiang” yang terserak dihempas air laut diketahui bahwa “tiang-tiang” tersebut merupakan balok-balok batu. Secara geologis balok-balok batu kehitaman ini adalah lava yang membeku secara perlahan-lahan dan mengalami perekahan yang terus berkembang hingga menjadi batuan beku ber-kekar kolom (columnar joint). Pendinginan secara perlahan-lahan tersebut umumnya berlangsung saat magma menyelusup hingga kedalaman tertentu sebagai retas magmatik, retas lempeng maupun leher vulkanik. Lokasi kedua terdapat di pantai Karangbata, tepat di sisi timur tanjung Karangbata. Di sekujur pantai ini terserak bongkahan-bongkahan batu mirip batubata yang berwarna hitam. Melihat bentuknya dan jaraknya yang cukup dekat dengan singkapan kekar kolom di ujung tanjung Karangbata, dapat diduga bahwa bongkah-bongkah tersebut berasal dari kekar kolom di ujung tanjung yang terhempas gelora. Lokasi ketiga terdapat di pantai Karangbolong dan Pasir. Di sini tersingkap batuan breksi lahar. Di pantai Karangbolong, breksi lahar bahkan mengalami pengekaran dan terus berkembang disertai runtuhan hingga membentuk goa Karangbolong. Breksi lahar ini berumur Oligo-Miosen atau secara kasar berasal dari masa 30 hingga 15 juta tahun silam.

Gambar 7. Bongkah-bongkah potongan kekar kolom seukuran batubata di pantai Karangbata. Bongkah-bongkah tersebut nampaknya dihanyutkan dari lokasi singkapan kekar kolom di ujung tanjung Karangbata, yang menjadi pertanda pernah ada sebuah gunung berapi purba di kawasan ini.Sumber: Anonim, t.t.

Gambar 7. Bongkah-bongkah potongan kekar kolom seukuran batubata di pantai Karangbata. Bongkah-bongkah tersebut nampaknya dihanyutkan dari lokasi singkapan kekar kolom di ujung tanjung Karangbata, yang menjadi pertanda pernah ada sebuah gunung berapi purba di kawasan ini.Sumber: Anonim, t.t.

Lokasi keempat terletak di tebing-tebing sebelah timur pantai Logending. Secara kasat mata tak terlihat adanya jejak gunung berapi purba di sini. Namun penyelidikan lebih lanjut mengungkap sejumlah titik singkapan bebatuan yang sekilas mirip batu gamping terumbu sesungguhnya telah mengalami penggantian sebagian mineral penyusunnya dari kalsium menjadi silika. Dijumpai juga mineral/batuan yang seharusnya tak ada dalam batu gamping namun umum dijumpai dalam batuan beku produk aktivitas gunung berapi, dalam rupa jasperoid, kalsedon dan kristal kuarsa. Batu gamping terumbu yang kaya silika, jasperoid serta kristal kalsedon dan kuarsa merupakan produk dari injeksi cairan hidrotermal bersuhu relatif tinggi (lebih dari 600 derajat Celcius) yang berasal dari magma ke dalam batu gamping. Masuknya cairan panas yang bersifat asam membuat kalsium dalam batu gamping melarut digantikan oleh koloid silika. Lama kelamaan koloid ini teruapkan membentuk jel dan akhirnya padatan sebagai kristal kuarsa dan kalsedon.

Gambar 8. Breksi lahar di tebing curam sisi barat pantai Pasir (tanda panah). Breksi lahar ini juga menjadi pertanda pernah ada sebuah gunung berapi purba di kawasan ini. Sumber: Sudibyo, 2006.

Gambar 8. Breksi lahar di tebing curam sisi barat pantai Pasir (tanda panah). Breksi lahar ini juga menjadi pertanda pernah ada sebuah gunung berapi purba di kawasan ini. Sumber: Sudibyo, 2006.

Lokasi kelima terletak di Bukit Poleng, satu kilometer sebelah timur pantai Logending ke arah perbukitan. Lokasi keenam ada di Bukit Gadung, sekitar dua kilometer sebelah tenggara Bukit Poleng, Dan lokasi ketujuh ada di Bukit Arjuna, sekitar tiga kilometer sebelah utara-barat laut pantai Karangbolong. Ketiga bukit tersebut disusun oleh bebatuan beku berjenis andesit, yang berasal dari masa sekitar 17 juta tahun silam. Selain tujuh lokasi tersebut, jejak-jejak aktivitas gunung berapi purba pada umumnya juga ditemukan di sebagian wilayah Tanjung Karangbolong sebagai satuan batuan sedimen formasi Gabon. Formasi ini didominasi endapan awan panas (piroklastika) yang berasal dari letusan-letusan gunung-gunung berapi purba bawah laut pada kurun sekitar 19 juta tahun silam. Material letusan gunung-gunung berapi purba tersebut mengalir menuju ke bagian parit yang dalam di laut lalu mengendap sembari ditingkahi proses-proses pelongsoran bawah laut. Di kemudian hari endapan tersebut parit yang terisi material letusan itu terangkat perlahan-lahan hingga menjadi perairan laut dangkal yang memungkinkan binatang karang tumbuh, yang menghasilkan endapan batu gamping diatasnya. Batu gamping inilah yang komponen utama di kars Karangbolong.

Gambar 9. Salah satu lokasi dimana batu gamping terumbu diubah menjadi silika, di dekat pantai Logending (atas). Selain batu gamping berisi silika dengan urat-urat kuarsa yang mengandung emas, di sini terdapat juga kalsedon dan kristal-kristal kuarsa (bawah). Semuanya merupakan petunjuk pernah ada sebuah gunung berapi purba di kawasan ini. Sumber: Suprapto, 2010.

Gambar 9. Salah satu lokasi dimana batu gamping terumbu diubah menjadi silika, di dekat pantai Logending (atas). Selain batu gamping berisi silika dengan urat-urat kuarsa yang mengandung emas, di sini terdapat juga kalsedon dan kristal-kristal kuarsa (bawah). Semuanya merupakan petunjuk pernah ada sebuah gunung berapi purba di kawasan ini. Sumber: Suprapto, 2010.

Dari ketujuh titik tersebut dapat dikatakan bahwa lingkungan central facies gunung berapi terdapat di ujung tanjung Karangbata dan pantai Karangbata (sebagai singkapan dan bongkah-bongkah batuan beku berkekar kolom) serta di Bukit Poleng, Bukit Gadung dan Bukit Arjuna (sebagai intrusi magmatik). Sementara lingkungan distal facies gunung berapi tersingkap sebagai formasi Gabon yang mewarnai separuh Tanjung Karangbolong. Maka, mungkin ada sedikitnya empat gunung berapi purba di kawasan ini dengan saluran magmanya terdapat tanjung Karangbata, Bukit Poleng, Bukit Gadung dan Bukit Arjuna.

Tentu saja dibutuhkan penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap struktur gunung-gunung berapi purba Karangbolong ini dengan lebih detil. Namun sejauh ini dapat dikatakan bahwa kedudukan mereka tak terlepas dari gunung-gemunung berapi purba yang membentang di segenap Pegunungan Selatan, seperti yang sejauh ini telah ditemukan di Bantul, Gunungkidul, Wonogiri hingga Pacitan. Pada suatu masa, gunung-gemunung berapi purba ini pernah menjadi tulang punggung vulkanisme tanah Jawa, seperti yang dilakoni oleh 45 gunung berapi modern yang membentang dari kompleks Gunung Karang-Pulosari (Banten) hingga Gunung Ijen (Jawa Timur) di masa kini. Jika ke-45 gunung berapi modern itu membentuk busur vulkanik Jawa muda yang muncul dalam waktu kurang dari 10 juta tahun terakhir, maka gunung-gemunung berapi purba di Pegunungan Selatan (termasuk gunung berapi purba Karangbolong) merupakan bagian busur vulkanik Jawa tua yang muncul semenjak 45 juta tahun silam dan bertahan hingga paling tidak 20 juta tahun silam.

Gambar 10. Lokasi dimana jejak-jejak gunung berapi purba tersingkap dalam Tanjung Karangbolong (warna hitam), di antara sejumlah pantai eksotis di kawasan ini (warna merah muda). Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Maps.

Gambar 10. Lokasi dimana jejak-jejak gunung berapi purba tersingkap dalam Tanjung Karangbolong (warna hitam), di antara sejumlah pantai eksotis di kawasan ini (warna merah muda). Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Maps.

Pada masanya, gunung-gemunung berapi purba itu pun membentang dari barat ke timur. Namun bedanya mereka tidaklah setinggi 45 gunung berapi modern di busur vulkanik Jawa muda sekarang. Musababnya sebagian besar gunung berapi purba tersebut adalah gunung berapi laut, yang puncaknya terendam di dalam air asin. Musabab berikutnya, hampir seluruh busur vulkanik Jawa tua ini kemudian tenggelam kembali ke dasar laut sehingga memungkinkan batu gamping khas laut dangkal mengendap diatasnya. Bila hampir seluruh gunung-gemunung berapi purba itu kini berada di daratan, hal itu akibat terangkatnya busur vulkanik Jawa tua bersamaan dengan terdongkraknya bagian selatan pulau Jawa pada masa sekitar 5 juta tahun silam. Pengangkatan itu berlangsung asimetris, sehingga sisi utara busur vulkanik Jawa tua ini lebih terangkat dibanding sisi selatannya. Akibatnya gunung-gemunung berapi purba di busur vulkanik tersebut kini dalam kondisi miring ke selatan.

Gambar 11. Gambaran sederhana rekonstruksi tiga dari sejumlah gunung berapi purba di Karangbolong, dengan anggapan bahwa setiap bukit intrusi magmatik dan kekar kolom merupakan saluran magma gunung berapi purba. Pada masanya, seluruh gunung berapi purba Karangbolong merupakan gunung berapi bawah laut. Gunung purba Menganti mungkin muncul lebih dulu (dan juga mati lebih dulu) ketimbang gunung purba lainnya. SUmber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth.

Gambar 11. Gambaran sederhana rekonstruksi tiga dari sejumlah gunung berapi purba di Karangbolong, dengan anggapan bahwa setiap bukit intrusi magmatik dan kekar kolom merupakan saluran magma gunung berapi purba. Pada masanya, seluruh gunung berapi purba Karangbolong merupakan gunung berapi bawah laut. Gunung purba Menganti mungkin muncul lebih dulu (dan juga mati lebih dulu) ketimbang gunung purba lainnya. SUmber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth.

Pada masanya, aktivitas gunung-gemunung berapi purba ini secara akumulatif membentuk bagian selatan pulau Jawa dengan demikian intensif. Kini sedimen vulkanik mewarnai kawasan ini dari ujung barat Banten hingga ujung timur Jawa Timur dengan lebar sekitar 50 kilometer (dari selatan ke utara) dan ketebalan rata-rata 2.500 meter. Aktivitas vulkanik di busur vulkanik Jawa tua dipuncaki oleh gunung berapi super Semilir dengan letusannya yang amat sangat dahsyat pada masa sekitar 36 hingga 30 juta tahun silam. Kedahsyatan letusan tersebut hanya dapat disandingkan dengan amukan mahadahsyat Gunung Toba pada Letusan Toba Muda 74.000 tahun silam, yang memuntahkan tak kurang dari 2.800 kilometer kubik material letusan. Oleh sebab-sebab yang belum jelas benar, seluruh gunung berapi di busur vulkanik tua padam dan mati pada sekitar 20 juta tahun silam. Aktivitas vulkanik kemudian bergeser ke utara, ke tengah-tengah pulau Jawa, yang dimulai dalam kurun 10 juta tahun silam hingga sekarang. Terbentuklah busur vulkanik Jawa muda dengan 45 buah gunung berapinya yang sebagian besar masih aktif.

Gambar 12. Topografi sebagian pulau Jawa dengan DEM (digital elevation model) dengan lokasi busur vulkanik Jawa tua (garis merah putus-putus) dan busur vulkanik Jawa muda (garis kuning putus-putus). Lingkaran-lingkaran merah menunjukkan lokasi gunung-gemunung berapi purba yang sudah diidentifikasi di sepanjang busur vulkanik Jawa tua. Pada masanya, gunung-gunung ini rajin meletus hingga paling tidak 20 juta tahun silam. Setelah itu aktivitas vulkanik pulau Jawa bergeser ke utara (ditunjukkan dengan tanda panah), membentuk busur vulkanik Jawa muda semenjak 10 juta tahun silam hingga sekarang. Sumber: Hall & Smyth, 2008 dalam Satyana, 2014.

Gambar 12. Topografi sebagian pulau Jawa dengan DEM (digital elevation model) dengan lokasi busur vulkanik Jawa tua (garis merah putus-putus) dan busur vulkanik Jawa muda (garis kuning putus-putus). Lingkaran-lingkaran merah menunjukkan lokasi gunung-gemunung berapi purba yang sudah diidentifikasi di sepanjang busur vulkanik Jawa tua. Pada masanya, gunung-gunung ini rajin meletus hingga paling tidak 20 juta tahun silam. Setelah itu aktivitas vulkanik pulau Jawa bergeser ke utara (ditunjukkan dengan tanda panah), membentuk busur vulkanik Jawa muda semenjak 10 juta tahun silam hingga sekarang. Sumber: Hall & Smyth, 2008 dalam Satyana, 2014.

Selain memenuhi rasa keingintahuan kita, mengetahui keberadaan gunung berapi purba seperti halnya gunung berapi purba Karangbolong pun memiliki manfaat praktis ekonomis. Lingkungan central facies sebuah gunung berapi purba merupakan sumber bagi mineral logam dasar bernilai tinggi seperti halnya emas, tembaga dan sebagainya. Deposit emas Cikotok di Banten, yang telah lama ditambang dan kini telah ditutup, terbentuk di lingkungan seperti ini. Di sejumlah titik Tanjung Karangbolong pun telah dijumpai singkapan batuan yang mengandung emas. Menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kabupaten Kebumen untuk memetakan kawasan ini secara lebih teliti, memilah-milah kandungan logam berharganya dan menilai kelayakan ekonomisnya untuk ditambang. Selain itu, keberadaan gunung-gunung berapi purba Karangbolong jika dikelola dengan layak dapat menjadi faktor penambah daya tarik obyek-obyek wisata di sini.

Bahan acuan :

Hartono & Bronto. 2007. Asal-usul Pembentukan Gunung Batur di Daerah Wediombo, Gunungkidul, Yogyakarta. Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 2 No. 3 September 2007, hal. 143-158.

Bronto. 2012. Gunung Padang Berdasarkan Pandangan Geologi Gunung Api. Makalah dalam Rembug Nasional Gunung Padang, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Suprapto. 2010. Batu Gamping Berubah Menjadi Bijih Emas. Majalah Warta Geologi, vol. 5 no. 4 Desember 2010, hal. 17-21

Maskuri. 2003. Studi Alterasi Hidrotermal Daerah Karangbolong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. JIK TekMin, vol. 16 no. 2 Juli-Desember 2003, hal. 68-73.

Supriatna. t.t. Bentukan-Bentukan Karst. UPI Bandung.

Ansori dkk. 2010. Evaluasi Potensi dan Konservasi Kawasan Tambang Pasir Besi pada Jalur Pantai Selatan Di Kabupaten Purworejo-Kebumen, Jawa Tengah. UPT Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung LIPI.

Satyana. 2014. Jawa: Jalur Gunungapi Tua & Jalur Gunungapi Modern.

Lintas Kebumen.

Danau Toba dan Bubur Batu Membara di Perutbuminya

Sebuah penelitian yang telah berlangsung selama enam tahun terakhir telah mengungkap hal mencengangkan di perutbumi Danau Toba (propinsi Sumatra Utara). Menggunakan 40 seismometer (radas/instrumen perekam gempa) yang dipasang di sekeliling Danau Toba selama kurun Mei hingga Oktober 2008 Tarikh Umum (TU yang dianalisis hingga bertahun kemudian, tim peneliti gabungan Russia, Perancis dan Jerman mengungkap bahwa di perutbumi Danau Toba ini masih tersimpan magma. Bubur batu yang panas membara dalam jumlah relatif besar itu dijumpai berada di kedalaman lebih dari 7 kilometer dari paras air laut rata-rata (dpl).

Gambar 1. Pemandangan sisi selatan Danau Toba yang permai. Nampak pulau Pardepur yang seakan mengapung di air danau. Pulau ini sejatinya merupakan salah satu kubah lava yang menyembul di paras danau, dari sejumlah kubah lava di sini yang terbentuk pasca letusan sangat dahsyat dalam kurun 74.000 tahun silam. Sumber: Sutawidjaja, 2008 dalam Warta Geologi, 2008.

Gambar 1. Pemandangan sisi selatan Danau Toba yang permai. Nampak pulau Pardepur yang seakan mengapung di air danau. Pulau ini sejatinya merupakan salah satu kubah lava yang menyembul di paras danau, dari sejumlah kubah lava di sini yang terbentuk pasca letusan sangat dahsyat dalam kurun 74.000 tahun silam. Sumber: Sutawidjaja, 2008 dalam Warta Geologi, 2008.

Magma di bawah danau itu dijumpai secara tak langsung lewat analisis gelombang gempa-gempa tektonik kecil yang rutin terjadi di kawasan ini seiring eksistensi patahan besar Sumatra dan cabang-cabangnya. Tim peneliti memusatkan perhatian pada gelombang permukaan, yakni gelombang Rayleigh dan gelombang Love, dengan melacak perbedaan kecepatannya. Mereka menemukan gelombang Rayleigh yang melintas di bawah Danau Toba (periode 5 dan 15 detik) memiliki kecepatan lebih rendah dibanding yang melewati area lain disekitarnya. Hal sejenis juga dijumpai pada gelombang Love namun hanya pada periode kecil (5 detik) dan pada kedalaman lebih rendah. Guna menafsirkan perbedaan antara perilaku gelombang Rayleigh dan Love di bawah Danau Toba, tim peneliti memutuskan untuk ‘melihat’ melalui gelombang sekunder terpolarisasi baik secara horizontal (SH) maupun vertikal (SV). Mereka juga kembali menjumpai keanehan lagi, gelombang sekunder SV pada kedalaman antara 7 hingga 20 kilometer dpl di bawah Danau Toba memiliki kecepatan lebih rendah. Sebaliknya gelombang sekunder SH berkecepatan lebih rendah hanya pada kedalaman lebih dangkal dari 7 kilometer dpl.

Pada dasarnya gelombang gempa akan melaju lebih cepat jika melintasi media yang padat (batuan) ketimbang media yang cair/setengah cair (magma). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pada kerak bumi di bawah Danau Toba terdapat magma, yang tersekap dalam kantung magma. Namun tak puas jika hanya menyimpulkan seperti itu. Mereka mencoba melangkah lebih jauh untuk mengetahui strukturnya. Setelah melakukan serangkaian perhitungan dan pemodelan matematis yang rumit dan meninjau juga hasil-hasil penelitian sebelumnya, mereka berani menyimpulkan bahwa magma di bawah Danau Toba tersimpan dalam sejumlah lapisan mendatar (sill) yang bertumpuk mirip kue lapis, tertata pada kedalaman antara 7 hingga 20 kilometer dpl. Pada kedalaman lebih besar dari 20 kilometer dpl pun diduga masih seperti itu yang menerus hingga kedalaman sekitar 30 kilometer dpl, tempat kerak bumi setempat berbatasan dengan selubung atas. Sebaliknya pada kedalaman yang lebih dangkal dari 7 kilometer dpl magmanya tidak tertata seperti itu, melainkan menyelusup di sela-sela kerak bumi dengan geometri yang kacau-balau. Tim menyimpulkan kawasan kacau-balau ini adalah pertanda jelas dari masa silam, dari sebuah letusan gunung berapi yang sangat dahsyat.

Gambar 2. Penampang melintang kerak bumi di bawah Danau Toba dalam dua dimensi, dengan perkiraan kantung magma raksasanya berdasarkan penelitian gabungan Rusia, Perancis dan Jerman. Terdapat lapisan-lapisan mendatar berisi magma (sill) mulai dari kedalaman 7 hingga 20 kilometer dpl dan kemungkinan menerus hingga 30 kilometer dpl. Pada kedalaman lebih dangkal dari 7 kilometer dpl terdapat zona kacau-balau, yakni bagian kerak bumi di bawah Danau Toba yang terimbas langsung letusan sangat dahsyat 74.000 tahun silam. Sumber: Jaxybulatov dkk, 2014.

Gambar 2. Penampang melintang kerak bumi di bawah Danau Toba dalam dua dimensi, dengan perkiraan kantung magma raksasanya berdasarkan penelitian gabungan Rusia, Perancis dan Jerman. Terdapat lapisan-lapisan mendatar berisi magma (sill) mulai dari kedalaman 7 hingga 20 kilometer dpl dan kemungkinan menerus hingga 30 kilometer dpl. Pada kedalaman lebih dangkal dari 7 kilometer dpl terdapat zona kacau-balau, yakni bagian kerak bumi di bawah Danau Toba yang terimbas langsung letusan sangat dahsyat 74.000 tahun silam. Sumber: Jaxybulatov dkk, 2014.

Apa pentingnya penelitian ini? Tak lain dan tak bukan ia menegaskan bahwa Danau Toba sejatinya adalah sebuah gunung berapi. Dan dengan struktur kantung magmanya yang demikian, ia bukanlah gunung berapi biasa. Ya. Danau Toba adalah sebuah gunung berapi super (supervolcano), yang aksinya di masa silam sanggup membuat bulu kuduk kita meremang.

Letusan Toba Muda

Danau Toba. Rasanya tak ada manusia Indonesia, terlebih yang pernah mengenyam bangku sekolah, yang tak pernah mendengar namanya. Inilah perairan tawar terbesar se-Indonesia bahkan seantero Asia Tenggara. Danau ini memiliki luas 1.130 kilometer persegi yang menampung air hingga sebanyak 240 kilometer kubik, bersumber dari aneka mata air disekelilingnya seiring curah hujan tahunan lebih dari 2.100 mm/tahun (rata-rata). Paras air danau terletak di ketinggian 906 meter dpl dengan kedalaman maksimum 530 meter dari paras. Ini menjadikannya sebagai danau terdalam ke-2 di Indonesia (setelah Danau Matano di Sulawesi) dan juga danau terdalam keempatbelas di seantero Bumi. Perairan luas ini dipagari oleh tebing-tebing curam yang ketinggiannya bervariasi antara 400 hingga 1.200 meter dari paras danau, dengan puncak tertinggi menyembul 1.700 meter di atas paras danau. Air danau ini mengalir di sudut tenggara sebagai Sungai Asahan dengan debit rata-rata 155 meter kubik/detik. Besarnya debit air dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik lewat dibangunnya waduk Sigura–gura (tinggi bendungan 47 meter) dan waduk Tangga (tinggi bendungan 82 meter) dengan total produksi 426 megawatt listrik.

Gambar 3. Topografi Danau Toba dan lingkungan sekelilingnya beserta kedalaman perairannya. Tersaji pula lubang-lubang letusan yang dibentuk oleh keempat letusan sangat dahsyat Gunung Toba di masa silam. Sumber: Chesner, 2011 dengan labelisasi oleh Sudibyo, 2014.

Gambar 3. Topografi Danau Toba dan lingkungan sekelilingnya beserta kedalaman perairannya. Tersaji pula lubang-lubang letusan yang dibentuk oleh keempat letusan sangat dahsyat Gunung Toba di masa silam. Sumber: Chesner, 2011 dengan labelisasi oleh Sudibyo, 2014.

Di tengah-tengah danau terdapat Pulau Samosir (panjang 45 kilometer, lebar 20 kilometer), yang sejatinya bukan pulau. Dahulu Samosir tersambung langsung dengan daratan Sumatra lewat jembatan alamiah (tanah genting) di sisi barat. Namun romantisme era Hindia Belanda membuat tanah genting ini dikeruk demikian rupa sehingga Samosir pun akhirnya benar-benar terpisah dan menjadi pulau yang berdiri sendiri. Di pulau terdapat dua danau kecil yakni Danau Sidihoni dan Danau Aek Natonang, membuatnya kerap disebut sebagai danau di atas danau. Selain keunikan ini, pemandangan indah di sekujur Danau Toba juga disokong oleh sejumlah air terjun seperti air terjun Sipiso-piso maupun air terjun Sigura-gura. Sigura-gura adalah air terjun setinggi 250 meter, menjadikannya air terjun tertinggi se-Indonesia. Panorama yang indah dan udara yang sejuk menjadikan danau raksasa yang juga jantung masyarakat Batak ini menjadi tujuan wisata yang populer.

Di balik keindahannya, ada misteri yang tersembunyi di danau ini semenjak awal peradaban umat manusia. Misteri yang menggetarkan itu baru terkuak kurang dari seabad silam. Ternyata danau raksasa ini adalah sebuah gunung berapi. Adalah RW van Bemmelen, geolog legendaris era Hindia Belanda, yang mengungkapnya pada masa antara 1930 hingga 1939 TU. Geolog yang sangat populer dengan opus magnumnya The Geology of Indonesia, buku yang wajib dibaca dalam pembelajaran geologi Indonesia, awalnya curiga dengan kehadiran ignimbrit yang tersebar pada area luas di Sumatra bagian utara. Ignimbrit adalah campuran antara debu vulkanik yang mengeras (tuff) dengan butir-butir batuapung yang bersifat asam (kaya silikat) demikian rupa hingga membatu. Ignimbrit hanya bisa hadir kala terjadi letusan gunung berapi yang eksplosif dan berskala besar sehingga menghempaskan awan panas dalam jumlah besar. Kian mendekat ke Danau Toba, ignimbrit yang dijumpai kian menebal saja. Bahkan dijumpai pula tuff yang terlaskan (welded tuff) yang berlimpah, lagi-lagi petunjuk terjadinya letusan berskala besar di masa silam.

Gambar 4. Singkapan ignimbrit tepat di tepi jalan di pinggiran Danau Toba. Ignimbrit ini kaya akan besi dan telah teroksidasi sehingga berwarna kemerah-merahan mirip karat. Ignimbrit inilah jejak dari letusan gunung berapi yang dahsyat di masa silam, yang menghasilkan kaldera raksasa dan kini digenangi air menjadi Danau Toba. Diabadikan oleh Ridwan Hutagalung dalam rangka Geotrek Danau Toba 2-4 November 2012 TU. Sumber: Hutagalung, 2012.

Gambar 4. Singkapan ignimbrit tepat di tepi jalan di pinggiran Danau Toba. Ignimbrit ini kaya akan besi dan telah teroksidasi sehingga berwarna kemerah-merahan mirip karat. Ignimbrit inilah jejak dari letusan gunung berapi yang dahsyat di masa silam, yang menghasilkan kaldera raksasa dan kini digenangi air menjadi Danau Toba. Diabadikan oleh Ridwan Hutagalung dalam rangka Geotrek Danau Toba 2-4 November 2012 TU. Sumber: Hutagalung, 2012.

Ignimbrit yang tebal di sekitar Danau Toba namun menipis begitu jaraknya lebih jauh mengesankan bahwa batuan vulkanik itu bersumber dari tempat yang kini menjadi Danau Toba. Jelas sudah. Danau Toba adalah perairan tawar raksasa yang menempati sebuah cekungan sangat besar produk letusan gunung berapi yang sangat dahsyat. Dengan luas cekungan 2.270 kilometer persegi (panjang sekitar 100 kilometer dan lebar sekitar 30 kilometer), maka jelaslah bahwa ia berkualifikasi kaldera. Danau Toba merupakan perairan tawar yang menempati kaldera tersebut meski genangannya tak sampai mencakup separuh luas kaldera. Sehingga Danau Toba adalah danau vulkanik. Ukuran Kaldera Toba yang demikian raksasa membuat kaldera-kaldera produk letusan dahsyat gunung berapi dalam era sejarah di Indonesia seperti kaldera Rinjani, Tambora dan Krakatau menjadi terasa kerdil. Andaikata kaldera raksasa Toba ditempatkan di pulau Jawa bagian tengah, maka ia akan membentang mulai dari Gunung Slamet di barat hingga Gunung Sumbing-Sindoro di timur.

Gambar 5. Bagaimana jika kaldera raksasa Toba dengan Danau Toba di tengah-tengahnya ditempatkan di pulau Jawa bagian tengah dan disejajarkan dengan orientasi pulau. Nampak jelas kaldera raksasa itu membentang dari Gunung Slamet di barat hingga Gunung Sumbing di timur. Sumber: Sudibyo, 2014 berbasis Google Maps.

Gambar 5. Bagaimana jika kaldera raksasa Toba dengan Danau Toba di tengah-tengahnya ditempatkan di pulau Jawa bagian tengah dan disejajarkan dengan orientasi pulau. Nampak jelas kaldera raksasa itu membentang dari Gunung Slamet di barat hingga Gunung Sumbing di timur. Sumber: Sudibyo, 2014 berbasis Google Maps.

Van Bemmelen pula yang memopulerkan istilah Tumor Batak, yakni gundukan sangat besar tempat dimana Danau Toba berada yang terpisah dari Pegunungan Bukit Barisan. Dengan Danau Toba sebagai perairan di dalam kaldera, maka Tumor Batak yang menopangnya pada hakikatnya adalah gunung berapi yang disebut Gunung Toba. Gunung Toba menjadi salah satu gunung berapi yang berdekatan/berdiri di atas sistem patahan besar Sumatra. Patahan besar ini, yang secara kasat mata nampak sebagai Pegunungan Bukit Barisan, terbentuk seiring tunjaman miring lempeng India dan Australia yang oseanik terhadap lempeng Sunda yang kontinental dan menjadi alas berdirinya pulau Sumatra. Patahan ini sekaligus adalah zona lemah di kerak bumi Sumatra yang memudahkan magma produk pelelehan sebagian di bidang kontak tunjaman merangsek ke atas.

Di kemudian hari kita kian mengetahui bagaimana lasaknya Gunung Toba ini yang menjadikannya sebagai gunung berapi super. Dalam kurun 1,2 juta tahun terakhir telah terjadi empat letusan dahsyat. Letusan terakhir sekaligus yang paling dahsyat sepanjang sejarahnya adalah Letusan Toba Muda, yang terjadi 74.000 tahun silam. Letusan Toba Muda juga adalah letusan terdahsyat yang pernah terjadi di Bumi dalam kurun 27,8 juta tahun terakhir. Ia memuntahkan tak kurang dari 2.800 kilometer kubik material vulkanik, lewat letusan dahsyat sedahsyat-dahsyatnya yang berlangsung selama sekitar dua minggu berturut–turut tanpa hentu. Dapat dikatakan setiap detiknya Gunung Toba menyemburkan tak kurang dari 4,6 juta meter kubik material vulkanik. Jika suhu magmanya saat tepat keluar dari lubang letusan berkisar 700 hingga 780 derajat Celcius, maka energi termal yang dilepaskannya mencapai 500 ribu megaton TNT. Ini setara dengan 21 juta butir bom nuklir Hiroshima diledakkan secara bersama-sama di satu titik.

toba-magma_tabel-1_letusan-tobAndaikata seluruh material vulkanik ini dituang demikian rupa mengubur wilayah DKI Jakarta, propinsi yang juga ibukota Indonesia itu akan terbenam di bawah timbunan batu, pasir dan debu vulkanik setebal 4,2 kilometer. Letusan yang sedemikian dahsyat dengan muntahan material vulkanik sedemikian besar membuat sejumlah letusan dahsyat gunung berapi Indonesia di era sejarah seperti Letusan Tambora 1815 maupun Letusan Krakatau 1883 menjadi terasa kerdil. Bahkan Letusan Kelud 2014 yang terasa demikian menghentak di tahun 2014 TU ini ibarat semut disandingkan dengan gajah bila dibandingkan dengan kedahsyatan Gunung Toba saat itu.

Dari 2.800 kilometer kubik material vulkanik yang diletuskannya, 1.000 kilometer kubik diantaranya meluncur deras sebagai awan panas yang mengalir ke barat dan timur. Awan panas Toba membanjiri kawasan sangat luas yang membentang dari pantai Selat Malaka di timur hingga pesisir Samudera Hindia di barat. Meski sudah menjalar jauh dari kaldera, suhunya masih tinggi, mungkin hingga 500 derajat Celcius. Akibatnya daratan Sumatra bagian utara pun diubah menjadi segersang Bulan. Segala kehidupan yang ada tersapu pun terpanggang dan musnah. Endapan awan panas gigantis inilah yang kini tersingkap sebagai ignimbrit di area seluas 20.000 kilometer persegi. Ketebalan rata-ratanya 50 meter, namun sesungguhnya bervariasi tergantung jauh dekatnya dengan Gunung Toba. Di tepi Danau Toba, ketebalan ignimbritnya mencapai 400 meter. Awan panas yang mengalir jauh tersebut dipastikan juga ada yang terjun ke Selat Malaka dan Samudera Hindia, memicu tsunami di kedua perairan itu. Namun seberapa besar tsunaminya belum diketahui, seiring volume awan panas yang masuk ke dalam kedua perairan tersebut pun belum diketahui.

toba-magma_tabel-2_perbandingan-letusanLetusan Toba Muda yang dahsyat itu membentuk kaldera raksasa dengan kedalaman sekitar 2 kilometer dpl akibat kosongnya kantung magma raksasa Toba, sehingga tak sanggup lagi menahan bobot tubuh gunung. Namun kaldera sedalam ini segera ditimbuni kembali oleh 1.000 kilometer kubik material vulkanik lainnya, yang terlalu berat baik untuk mengalir jauh maupun membumbung tinggi ke udara. Di dasar kaldera ini ketebalan ignimbritnya diperkirakan mencapai 600 meter. Dan 800 kilometer kubik material vulkanik sisanya berupa debu vulkanik halus yang terlontar sangat tinggi ke udara hingga menembus ketinggian 70 kilometer dpl. Sebagian debu vulkanik tersebut lantas tertiup angin ke barat dan berjatuhan menyelimuti area seluas lebih dari 4 juta kilometer persegi. Kawasan tersebut meliputi India, Semenanjung Malaya, Teluk Benggala, Samudera Hindia bagian utara, Laut Arab dan Semenanjung Arabia. Ketebalan endapan debu vulkanik di sini mencapai 10 cm (rata-rata), atau setara dengan 400 kilometer kubik material. Sisanya terbawa oleh sirkulasi angin di dalam lapisan stratosfer hingga tersebar ke segenap penjuru. Tanpa bisa dipengaruhi oleh proses-proses cuaca, debu vulkanik ini bertahan hingga bertahun-tahun di dalam lapisan stratosfer sebelum jatuh kembali ke permukaan Bumi di bawah pengaruh gravitasi. Sepanjang waktu itu ia menimbulkan efek lanjutan yang mencekik kehidupan di permukaan Bumi hingga ke titik yang paling kritis.

Musim Dingin Vulkanik

Masalah terbesar akibat Letusan Toba Muda terletak pada tebaran debu vulkaniknya ke dalam lapisan stratosfer. Umumnya 10 hingga 30 % dari material vulkanik yang disemburkan gunung berapi dalam sebuah letusan dahsyat, terlebih jika tinggi kolom semburannya melebihi 30 kilometer dpl, akan tetap bertahan di udara karena sudah terlanjur masuk jauh ke dalam lapisan stratosfer, khususnya jika berupa debu halus. Di saat yang sama, belerang yang turut terbawa sebagai gas sulfurdioksida akan bereaksi dengan butir–butir air di udara hingga membentuk tetes–tetes asam sullfat dalam rupa aerosol. Apa yang selanjutnya terjadi baru bisa kita pahami setelah dunia memasuki era nuklir lebih dari setengah abad silam.

Di tengah kancah perang urat-syaraf yang dikenal sebagai Perang Dingin, dua negara adidaya yang terlibat yakni Amerika Serikat dan Uni Soviet berlomba–lomba memproduksi senjata nuklir dalam beragam ukuran dan kekuatan. Untuk menyimulasikan dampaknya dalam berbagai kondisi, rangkaian eksperimen peledakan nuklir pun diselenggarakan. Selama masa ujicoba nuklir yang riuh itu diketahui bila senjata nuklir diledakkan di permukaan tanah ataupun bawah tanah dangkal, ledakannya akan menghembuskan material ledakan berupa debu dan batu beragam ukuran ke atmosfer. Ketinggian semburan material ledakan bergantung pada kekuatan ledakan, semakin semakin besar ledakan nuklirnya maka semakin berlimpah material ledakannya dan semakin tinggi pula mereka dihembuskan ke langit bahkan bisa memasuki lapisan stratosfer. Tebaran material ledakan sanggup memblokir cahaya Matahari selama waktu tertentu sehingga permukaan Bumi di sekitar lokasi ledakan berubah menjadi remang–remang atau bahkan gelap gulita. Apalagi jika kekuatan ledakan nuklir itu juga mengenai benda–benda mudah terbakar seperti minyak, kayu, gas, kertas dan batubara sekaligus. Asap hasil pembakaran besar–besaran akan melimpahkan jelaga ke udara yang malah kian memperparah situasi.

Dengan memanfaatkan data–data hasil ujicoba nuklir itu maka pada dekade 1980–an lima serangkai cendekiawan dengan latar belakang keilmuan berbeda mencoba merumuskan model matematika komprehensif dan serangkaian persamaan matematika kompleks yang memprediksikan bagaimana perilaku sebaran debu dan tetes–tetes asam sulfat dalam jumlah besar di lapisan stratosfer. Model ini disebut model TTAPS, berdasarkan pada huruf depan dari lima cendekiawan penyusunnya masing-masing Turco, Toon, Pollack, Ackerman dan Sagan. Model TTAPS memperlihatkan, karena berada di dalam lapisan stratosfer maka butuh waktu bertahun–tahun bagi debu dan tetes–tetes asam sulfat itu untuk turun kembali ke permukaan Bumi di bawah pengaruh gravitasi Bumi. Selagi masih melayang di lapisan stratosfer, pada dasarnya debu halus dan tetes–tetes asam sulfat itu menjadi tabir surya, terutama karena asam sulfat sangat efektif dalam menyerap cahaya Matahari. Di samping itu tabir surya juga bisa memantulkan kembali sebagian cahaya Matahari ke langit. Akibatnya albedo Bumi bakal meningkat dan cahaya Matahari yang diteruskan ke permukaan Bumi berkurang.

Akibatnya sungguh pelik mengingat cahaya Matahari membawa energi Matahari yang adalah motor penggerak utama sistem cuaca dan iklim Bumi sekaligus sumber energi utama makhluk hidup. Berkurangnya intensitas pencahayaan Matahari akan menimbulkan anomali suhu permukaan, dimana suhu rata–rata permukaan Bumi bakal merosot dibawah nilai normalnya. Sehingga Bumi akan lebih dingin, fenomena yang disebut sebagai musim dingin nuklir. Es meluas dimana-mana, baik di laut maupun di sungai/danau yang berada di kawasan subtropis. Konsekuensinya tingkat penguapan pun menurun yang bakal berlanjut pada kacau-balaunya sistem cuaca. Salah satu dampaknya adalah penurunan jumlah hujan. Ada cukup banyak tanaman bahan pangan yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu dimana penurunan suhu 1 derajat Celcius saja bisa menyebabkan penurunan produksi atau malah bahkan bisa gagal panen. Ditambah penurunan jumlah hujan, maka eksistensi tabir surya di lapisan stratosfer itu bakal berdampak pada kekurangan bahan pangan yang akan menimbulkan bencana kelaparan massal dengan segala dampak berantainya.

Gambar 6. Ilustrasi saat-saat Gunung Toba meletus dengan dahsyatnya di hari pertamanya pada 74.000 tahun silam, yang menghembuskan debu vulkanik hingga setinggi 70 kilometer dpl sembari menghempaskan awan panas ke segenap Sumatra bagian utara. Arah pandang adalah ke tenggara. Sumber: Anynobody, 2009 dalam Wikipedia, 2009.

Gambar 6. Ilustrasi saat-saat Gunung Toba meletus dengan dahsyatnya di hari pertamanya pada 74.000 tahun silam, yang menghembuskan debu vulkanik hingga setinggi 70 kilometer dpl sembari menghempaskan awan panas ke segenap Sumatra bagian utara. Arah pandang adalah ke tenggara. Sumber: Anynobody, 2009 dalam Wikipedia, 2009.

Bagaimana jika skenario musim dingin nuklir ala model TTAPS diterapkan pada Letusan Toba Muda?

Letusan Toba Muda menyemburkan tak kurang dari 6 milyar ton gas sulfurdioksida ke atmosfer. Begitu bertemu dengan uap air di udara, gas tersebut berubah menjadi 3 milyar ton aerosol asam sulfat. Koalisi tetes-tetes asam sulfat ini dengan debu vulkanik di dalam lapisan stratosfer membentuk tabir surya vulkanik yang cukup tebal, hingga setebal paling tidak 500 meter. Tabir surya ini diperhitungkan memblokir cahaya Matahari demikian rupa sehingga jumlah cahaya Matahari yang berhasil diteruskan ke permukaan Bumi kurang dari 1 % terhadap normalnya. Akibatnya di siang hari bolong pun situasi tetap meremang. Matahari akan nampak memerah seperti situasi dalam setengah jam jelang terbenam, meski di tengah hari yang seharusnya terik. Intensitas pencahayaannya juga anjlok drastis hingga 120 watt per meter persegi di bawah normalnya. Albedo Bumi pun meroket ke posisi 70 % dari normalnya 30 % dan bertahan hingga sedikitnya 10 tahun pasca letusan. Dalam situasi tersebut, model TTAPS memperlihatkan suhu rata-rata permukaan Bumi anjlok hingga bisa mencapai 17 derajat Celcius di bawah normal. Musim dingin pun berkecamuk, yang bisa disebut sebagai musim dingin vulkanik. Suhu dingin ini memang hanya bertahan selama sekitar 1.000 tahun pasca letusan. Namun kombinasinya dengan siklus Milankovitch dan faktor–faktor tak menguntungkan lainnya menyebabkan Bumi seisinya terseret ke dalam zaman es Wurm utama, meski Bumi baru saja keluar dari zaman es Wurm awal 20.000 tahun sebelumnya. Zaman es Wurm utama berkecamuk selama sekitar 50.000 tahun kemudian dan baru berakhir pada sekitar 20.000 tahun yang lalu.

Kurangnya cahaya Matahari juga menyebabkan tingkat penguapan global terjun bebas hingga 45 % di bawah normal. Konsekuensinya jumlah uap di atmosfer pun anjlok hingga 50 % dibawah normal untuk lapisan troposfer dan hingga 25 % di bawah normal di lapisan stratosfer. Maka curah hujan pun merosot, yang dalam puncaknya sampai merosot drastis hingga 44 cm/tahun di bawah normal. Berkurangnya hujan amat menyengsarakan kawasan–kawasan yang dalam keadaan normal pun curah hujannya sudah kecil. Bahkan hal ini turut mendorong anjloknya paras air laut hingga 40 meter di bawah paras sebelumnya dan bertahan selama 7.000 tahun kemudian.

Musim dingin vulkanik akibat Letusan Toba Muda berimbas sangat buruk bagi kehidupan. Dengan intensitas cahaya Matahari kurang dari 1 % terhadap normalnya, praktis mayoritas tumbuh-tumbuhan berhenti menyelenggarakan fotosintesis. Ditambah dengan suhu yang teramat dingin, mereka pun mati perlahan-lahan. Bencana segera menjalar melalui rantai makanan. Mayoritas binatang juga kelaparan dan pada akhirnya mati bertumbangan. Anjloknya populasi hewan pun terjadilah, seperti diperlihatkan dalam analisis genetik yang menimpa populasi simpanse Afrika timur, orangutan Kalimantan, kera India, harimau dan cheetah. Manusia, khususnya populasi Homo sapiens arkhaik, turut terkena dampaknya jua. Analisis genetik memperlihatkan sekitar 60 % dari mereka tewas dalam bencana ini dan hanya tersisa sekitar 15.000 populasi saja yang terus berjuang untuk bertahan hidup.

Gambar 7. Bagaimana letusan dahsyat gunung berapi berdampak ke lingkungan sekitar dengan memicu musim dingin vulkanik dalam lingkup regional hingga global. Sumber: Max Planck Institute fur Meteorologie, 2014 dengan labelisasi oleh Sudibyo, 2014.

Gambar 7. Bagaimana letusan dahsyat gunung berapi berdampak ke lingkungan sekitar dengan memicu musim dingin vulkanik dalam lingkup regional hingga global. Sumber: Max Planck Institute fur Meteorologie, 2014 dengan labelisasi oleh Sudibyo, 2014.

Masihkah Aktif?

Pasca Letusan Toba Muda, kaldera raksasanya mulai tergenangi air. Dengan curah hujan tahunan masa kini 2.100 mm/tahun dan tingkat penguapan tahunan masa kini 1.350 mm/tahun, butuh waktu sekitar 1.500 tahun saja untuk menggenangi kaldera ini sebagai Danau Toba. Namun jika memperhitungkan air bawah tanah dan aliran permukaan dari kawasan sekitarnya, waktu terbentuknya Danau Toba mungkin saja berlangsung lebih cepat ketimbang 1.500 tahun pasca Letusan Toba Muda.

Di perutbuminya, kantung magma raksasa Toba hingga kedalaman 7 kilometer dpl nyaris kosong setelah isinya nyaris dikuras habis dalam Letusan Toba Muda. Namun secara perlahan-lahan magma segar kembali mengalir ke sini dari dalam lapisan selubung, kemungkinan dari bidang kontak tunjaman antarlempeng tektonik, dan mengisinya. Lama-kelamaan jumlah magma segarnya telah cukup signifikan untuk yang mengalir dari bidang kontak tunjaman. Pengisian magma secara terus–menerus menyebabkan lapisan-lapisan kantung magma raksasa mulai menggelembung kembali dan mengangkat massa batuan diatasnya. Proses vulkano–tektonik pun terjadilah. Lantai kaldera terangkat naik secara asimetris mulai sekitar 33.000 tahun silam pada kecepatan sekitar 1,8/cm. Sehingga lantai kaldera sisi barat akhirnya menyembul di atas paras danau menjadi Pulau Samosir. Karena itu di Pulau Samosir masih dijumpai lapisan-lapisan endapan khas dasar danau. Pengangkatan asimetris ini membuat lapisan-lapisan endapan tersebut berkedudukan miring antara 5 hingga 8 derajat ke arah barat. Pengangkatan sejenis juga terjadi di lantai kaldera sisi timur, membentuk blok Uluan. Namun kecepatan pengangkatannya lebih rendah, yakni hanya 0,5 cm/tahun sehingga ia tidaklah setinggi Pulau Samosir meski tetap menyembul di atas paras danau. Kemiringan lapisan-lapisan endapan di blok Uluan pun berlawanan dengan Pulau Samosir, yakni miring ke timur. Sebagai akibat dari pengangkatan Pulau Samosir dan blok Uluan maka lantai kaldera di antara keduanya berubah menjadi lembah sangat curam yang tetap tergenang air. Kini lembah itu dikenal sebagai Selat Latung.

Gambar 8. Bagaimana dampak Letusan Toba Muda terhadap tumbuh-tumbuhan hutan hujan tropis terlihat dalam simulasi ini. Bila semula hutan hujan tropis masih cukup rapat di kawasan Amerika selatan, Afrika, Asia selatan dan Asia tenggara sebelum letusan (atas), maka hanya dalam empat tahun pasca letusan hampir semuanya telah musnah. Sumber: Robock dll, 2008.

Gambar 8. Bagaimana dampak Letusan Toba Muda terhadap tumbuh-tumbuhan hutan hujan tropis terlihat dalam simulasi ini. Bila semula hutan hujan tropis masih cukup rapat di kawasan Amerika selatan, Afrika, Asia selatan dan Asia tenggara sebelum letusan (atas), maka hanya dalam empat tahun pasca letusan hampir semuanya telah musnah (bawah). Sumber: Robock dll, 2008.

Selain mengangkat lantai kaldera hingga membentuk Pulau Samosir dan blok Uluan, magma segar yang mengisi kembali kantung magma raksasa Toba juga sempat keluar ke permukaan Bumi di beberapa titik. Di tepi kaldera sisi barat magma itu membentuk Gunung Pusukbukit (1.982 meter dpl) yang kini diklasifikasikan ke dalam gunung berapi aktif tipe B seiring adanya sumber uap air (fumarol), sumber gas sulfurdioksida (solfatara) dan mata air panas di lereng utaranya. Sementara di tepi sebelah utara terbentuk Gunung Tandukbenua (1.860 meter dpl) yang juga digolongkan ke dalam gunung berapi tipe B. Sedangkan di tepi selatan terbentuk kompleks kubahlava Pardepur yang terdiri dari sedikitnya empat kubah lava. Mata air panas juga dijumpai di sini. Dan di Pulau Samosir sisi barat, tepanya di antara Gunung Pusukbukit dan kompleks Pardepur, dijumpai bagian-bagian yang membumbung sedikit, mengindikasikan adanya kubah lava tersembunyi (cryptodome). Sementara di sisi timurnya khususnya di Semenanjung Tuktuk dan sebelah utaranya juga dijumpai kubah lava.

Apakah saat ini Gunung Toba masih aktif?

Gambar 9. Panorama Gunung Pusukbukit (kiri), salah satu gunung berapi yang terbentuk jauh hari setelah Letusan Toba Muda, tepatnya kala kantung magma raksasa Gunung Toba mulai terisi kembali. Ada beberapa titik fumarol di gunung ini, salah satunya di lereng utaranya (kanan). Sumber: Sutawidjaja, 2008 dalam Warta Geologi, 2008.

Gambar 9. Panorama Gunung Pusukbukit (kiri), salah satu gunung berapi yang terbentuk jauh hari setelah Letusan Toba Muda, tepatnya kala kantung magma raksasa Gunung Toba mulai terisi kembali. Ada beberapa titik fumarol di gunung ini, salah satunya di lereng utaranya (kanan). Sumber: Sutawidjaja, 2008 dalam Warta Geologi, 2008.

Antara ya dan tidak. Pada satu sisi Gunung Toba dikategorikan masih aktif. Hal itu ditegaskan lagi oleh hasil penelitian gabungan Rusia, Inggris dan Jerman barusan. Ia masih menyimpan magma di kantung-kantung magma raksasanya. Namun di sisi lain, Gunung Toba tidaklah seagresif gunung berapi super lainnya seperti Yellowstone (Amerika Serikat). Kaldera Yellowstone telah berkali-kali diguncang rentetan gempa dan naiknya lantai kaldera, indikasi dari pergerakan fluida di perutbuminya entah berupa magma ataupun cairan hidrotermal lainnya. Sementara kaldera raksasa Danau Toba tidaklah seperti itu. Dan jika mengacu kepada sejarah letusan dahsyatnya, Gunung Toba membutuhkan waktu paling tidak antara 340.000 hingga 765.000 tahun untuk beristirahat dan menghimpun tenaga sebelum meletus sangat dahsyat kembali. Dengan Letusan Toba Muda terjadi pada 74.000 tahun silam, letusan dahsyat Gunung Toba yang selanjutnya barangkali akan terjadi 266.000 hingga 691.000 tahun dari sekarang.

Referensi :

Chesner. 2011. The Toba Caldera Complex. Quaternary International (2011) pp 1–14.

Petraglia dkk. 2007. Middle Paleolithic Assemblages from the Indian Subcontinent Before and After the Toba Super–eruption. Science vol. 137 (2007) pp 114–116.

Chesner dkk. 1991. Eruptive History of Earth’s Largest Quaternary Caldera (Toba, Indonesia) Clarified. Geology vol. 19 (1991), pp. 200–203.

Rampino & Self. 1992. Volcanic Winter and Accelerated Glaciation Following the Toba Super–eruption. Nature, vol 359 (1992), pp. 50–52.

Rampino & Self. 1993. Climate–Volcanism Feedback and the Toba Eruption of ~74.000 Years Ago. Quaternary Research vol 40 (1993), pp. 269–280.

Rose & Chesner. 1987. Dispersal of Ash in the Great Toba Eruption, 75 ka. Geology, vol 15 (1987), pp. 913–917.

Schulz dkk. 1998. Correlation Between Arabian Sea and Greenland Climate Oscillation of the Past 110.000 Years. Nature, vol. 393 (1998), pp. 54–57.

Rampino. 2002. Super–eruptions as a Threat to Civilizations on Earth–like Planet. Icarus, vol. 156 (2002), pp. 562–569.

Robock dkk. 2008. Did the Toba Volcanic Eruption of ~74 k BP Produce Widespread Glaciation? Journal of Geophysical Research, submitted.

Sutawidjaja. 2008. Kaldera “Supervolcano” Toba. Majalah Warta Geologi vol. 3 no. 4 (2008) halaman 20–25.

Jaxybulatov dkk. 2014. A Large Magmatic Sill Complex Beneath the Toba Caldera. Science, vol 346 no. 6209 (31 October 2014), pp. 617-619.

1256: Bumi Merekah, Magma Melimpah dan Nyaris Mengubur Madinah

Solah tingkah gunung berapi telah mengharu biru Indonesia sepanjang 2014 ini. Akhir-akhir ini Gunung Slamet menyedot perhatian besar khususnya bagi yang bertempat tinggal di pulau Jawa seiring ulahnya. Meski letusannya tergolong kecil dan terlokalisir di seputar puncak saja sehingga kawasan terlarang pun ditetapkan hanya sejarak 4 kilometer dari kawah aktif, banyak orang dibikin cemas. Apalagi isu tak berkeruncingan bertaburan dimana-mana. Sementara di luar pulau Jawa tepatnya di pulau Sumatra, Gunung Sinabung masih terus saja bergemuruh. Meski statusnya telah diturunkan menjadi Siaga (Level III), atau sejajar status Gunung Slamet, namun Sinabung terlihat lebih aktif. Gunung berapi yang lama tertidur tersebut kini terus saja membangun lidah lava. Ia menjulur kian panjang ke arah tenggara dan kian tebal. Berulangkali awan panas (piroklastika) guguran masih terjadi tatkala bagian-bagian tertentu lidah lava rontok seiring labilnya strukturnya dan oleh pengaruh gravitasi. Di pulau Sulawesi, dua gunung berapi lasak dengan status Siaga (Level III) yang sama pun masih rajin memuntahkan magmanya meski relatif sepi dari perhatian. Masing-masing adalah Gunung Lokon-Empung dan Gunung Karangetang (keduanya di propinsi Sulawesi utara).

Gambar 1. Semburan magma basaltik hingga setinggi sekitar 100 meter menyeruak dari retakan di padang Holuhraun, sebagai perwujudan dari erupsi efusif Gunung Bardarbunga di Islandia. Letusan tidak menyemburkan debu vulkanik pekat ke langit, namun melelerkan lava panas membara yang mengukir permukaan tanah layaknya sungai api. Diabadikan oleh tim Reykjavik Helicopters pada awal September 2014. Sumber: Reykjavik Helicopters, 5 September 2014.

Gambar 1. Semburan magma basaltik hingga setinggi sekitar 100 meter menyeruak dari retakan di padang Holuhraun, sebagai perwujudan dari erupsi efusif Gunung Bardarbunga di Islandia. Letusan tidak menyemburkan debu vulkanik pekat ke langit, namun melelerkan lava panas membara yang mengukir permukaan tanah layaknya sungai api. Diabadikan oleh tim Reykjavik Helicopters pada awal September 2014. Sumber: Reykjavik Helicopters, 5 September 2014.

Jangan lupakan letusan besar Gunung Kelud (propinsi Jawa Timur) pada 13 Februari 2014 lalu yang demikian menggetarkan. Amukannya sempat melumpuhkan sebagian pulau Jawa. Menyusul letusan besar Gunung Sangeang Api (propinsi Nusa Tenggara Barat) pada 30 Mei 2014. Meski tak sepopuler dan tak sebesar letusan Kelud, namun muntahan debu vulkaniknya sempat melumpuhkan lalu lintas udara negeri tetangga: Australia. Syukurlah dua letusan besar tersebut tak banyak menelan korban jiwa, meski angka kerugian material yang diakibatkannya mencapai ratusan milyar rupiah. Di antara kedua letusan besar tersebut, patut dicatat pula aksi Gunung Merapi (propinsi Jawa Tengah dan DIY) yang telah berulangkali menghembuskan debu vulkaniknya dalam kejadian erupsi freatik yang demikian sekonyong-konyong dan nyaris tak didului tanda-tanda umum. Meski tak menyebabkan korban jiwa maupun luka, tetap saja rasa cemas sempat membara.

Holuhraun

Di mancanegara, sejumlah gunung berapi pun unjuk gigi. Satu yang menyedot perhatian adalah letusan unik Gunung Bardarbunga di Islandia. Islandia sendiri sudah merupakan keajaiban. Secara geologis inilah pulau yang berdiri tepat di atas punggungan tengah Samudera Atlantik, jalur rekahan memanjang yang menjadi tempat menyeruaknya magma dari perutbumi. Tak sekedar membentuk pegunungan memanjang yang hampir seluruhnya berada di dasar samudera, magma ini juga mendorong lempeng-lempeng tektonik yang mengapitnya ke dua arah berlawanan. Masing-masing lempeng Amerika Utara ke barat dan lempeng Eurasia ke timur. Sementara secara geografis, Islandia terletak di dalam lingkar kutub utara sehingga memiliki iklim kutub. Bahkan Islandia menjadi satu dari dua daratan besar dalam lingkar kutub utara yang selalu berselimutkan es, selain pulau Greenland. Maka Islandia lah tempat merah (baca: magma) dan putih (baca: es) bertemu, tempat di mana panas (magma) dan dingin (es) bersua.

Gambar 2. Islandia dalam peta sederhana, yang menunjukkan posisinya persis di punggungan tengah Samudera Atlantik. Sumber: USGS, 2014.

Gambar 2. Islandia dalam peta sederhana, yang menunjukkan posisinya persis di punggungan tengah Samudera Atlantik. Sumber: USGS, 2014.

Magma yang menyuplai gunung-gemunung berapi Islandia sangat berbeda dibanding Indonesia. Di Islandia magmanya berasal dari lokasi yang jauh lebih dalam. Yakni dari selubung (mantel) Bumi, lapisan plastis sangat tebal dan panas yang terletak tepat di bawah kerak bumi mulai kedalaman 40 kilometer. Magma Islandia adalah magma basaltik sehingga lebih encer, lebih banyak mengandung mineral-mineral logam, miskin gas vulkanik dan bersuhu lebih tinggi. Karena encernya, pucuk gunung-gemunung berapi Islandia cenderung berketinggian rendah dengan lereng relatif lebih landai. Saat meletus, magma basaltik cenderung keluar dari lubang letusan sebagai lava cair encer yang meleleh kemana-mana laksana lilin cair dalam erupsi tipe efusif. Sangat jarang terjadi letusan yang menyemburkan berjuta-juta meter kubik debu vulkanik ke langit. Perkecualian adalah Gunung Eyjafjallajokul dalam letusan 2010-nya. Saat itu letusan menyemburkan sekitar 100 juta meter kubik debu vulkanik pekat hingga setinggi 8 kilometer. Hembusan angin mendorong debu vulkanik menutupi ruang udara Eropa bagian utara. Akibatnya parah. 107.000 penerbangan terpaksa dibatalkan dalam 8 hari berturut-turut, angka yang setara 48 % total penerbangan global. Total kerugian yang ditimbulkannya melampaui angka Rp 16 trilyun.

Meski terkesan tak segalak gunung-gemunung berapi Indonesia, namun aktivitas gunung berapi Islandia jauh lebih intensif. Sepanjang 500 tahun terakhir volume lava akumulatif yang dihasilkannya setara sepertiga total volume lava di Bumi. Episode letusan terdahsyat terjadi pada 1783-1784 di Gunung Laki. Tak ada semburan debu vulkanik tebal yang membumbung tinggi hingga berkilo-kilometer ke langit menciptakan suasana horor. Namun Laki memuntahkan 14.000 juta meter kubik lava basaltik lewat 130 lubang letusan selama delapan bulan berturut-turut. Bersamanya tersembur pula gas-gas vulkanik, termasuk 8 juta ton gas asam fluorida dan 120 juta ton gas belerang (sulfurdioksida). Udara Islandia pun tercemar berat sehingga 80 % domba, 50 % sapi dan 50 % kuda mati perlahan-lahan setelah gigi-geliginya rontok akibat paparan gas asam fluorida berlebihan. Matinya hewan-hewan ternak itu membuat segenap Islandia dilanda bencana kelaparan tiada tara. Pada puncaknya sebanyak 20 hingga 25 % populasi penduduknya tewas berkalang tanah.

Gambar 3. Plot episentrum gempa-gempa vulkanik di sekitar Gunung Bardarbunga beserta kedalamannya dalam periode antara 16 hingga 24 Agustus 2014. Nampak episentrum berkerumun di sebuah garis irregular sepanjang sekitar 40 kilometer yang menjulur ke timur laut dari Gunung Bardarbunga. Inilah pertanda terbentuknya pematang instrusi magmatik sebagai tempat dimana amagma berakumulasi tepat sebelum keluar ke permukaan Bumi. Tanda bintang (*) adalah tempat terbentuknya retakan yang selanjutnya menjadi pusat letusan Holuhraun mulai 29 Agustus 2014. Sumber: Icelandic Meteorological Office, 2014.

Gambar 3. Plot episentrum gempa-gempa vulkanik di sekitar Gunung Bardarbunga beserta kedalamannya dalam periode antara 16 hingga 24 Agustus 2014. Nampak episentrum berkerumun di sebuah garis irregular sepanjang sekitar 40 kilometer yang menjulur ke timur laut dari Gunung Bardarbunga. Inilah pertanda terbentuknya pematang instrusi magmatik sebagai tempat dimana amagma berakumulasi tepat sebelum keluar ke permukaan Bumi. Tanda bintang (*) adalah tempat terbentuknya retakan yang selanjutnya menjadi pusat letusan Holuhraun mulai 29 Agustus 2014. Sumber: Icelandic Meteorological Office, 2014.

Islandia kembali mengeliat pada 2014 ini lewat Gunung Bardarbunga. Awalnya adalah krisis seismik selama sebulan penuh ditandai terjadinya gempa demi gempa kecil yang datang beruntun. Bersamaan dengannya bagian kerak bumi di sektor timurlaut gunung juga mulai menggelembung. Keduanya adalah pertanda bahwa magma segar dalam jumlah cukup signifikan sedang menanjak naik dari perut Gunung Bardarbunga hendak mencari jalan keluar. Krisis seismik juga memperlihatkan magma segar telah berkumpul demikian rupa hingga menghasilkan pematang intrusi magmatik sepanjang sekitar 40 kilometer pada segmen kerak bumi yang membentang di antara Gunung Bardarbunga dan padang Holuhraun. Di Holuhraun inilah, tepatnya di sekitar ujung pematang intrusi magmatik, tanah merekah sepanjang 2 kilometer pada 29 Agustus 2014 dinihari. Darinya magma basaltik tumpah keluar, beberapa sebagai pancuran lava yang menyembur hingga setinggi lebih dari 100 meter. Bersamaan dengan itu tubuh Gunung Bardarbunga kontan mengempis, terjadi penurunan pada lantai kaldera Bardarbunga hingga 15 meter dari semula.

Lava basaltik yang encer membanjir ke timur laut, laksana sungai api, dalam volume teramat besar. Hingga 1 Oktober 2014 lava telah menutupi area seluas 48 kilometer persegi dengan ketebalan rata-rata 14 meter, setinggi gedung berlantai tiga. Dengan demikian volume lava pada saat itu mencapai sekitar 650 juta meter kubik, lima kali lipat volume Letusan Kelud 2014. Sehingga sejauh ini letusan Holuhraun adalah letusan dengan material vulkanik terbesar di Bumi sepanjang 2014. Maka setiap detiknya letusan Holuhraun melepaskan 290 meter kubik lava. Dengan kata lain setiap detiknya retakan Holuharun memuntahkan lava dalam jumlah yang setara muatan 12 truk tanki pengangkut BBM berkapasitas 24.000 liter. Total energinya pun sangat besar. Jika suhu magmanya dianggap 900 derajat Celcius, maka energi termal yang dihasilkan letusan Holuhraun hingga 1 Oktober 2014 mencapai 117 megaton TNT. Ini setara energi yang dilepaskan 5.850 butir bom nuklir Hiroshima.

Gambar 4. Sebaran lava basaltik letusan Holuhraun hingga 1 Oktober 2014. Lava telah menutupi area seluas 48,2 kilometer persegi dengan panjang sekitar 16 kilometer. Volume magma yang diletuskan hingga 1 Oktober 2014 telah sekitar 650 juta meter kubik. Tak ada tanda-tanda aktivitas letusan mulai menyurut. Sumber: University of Iceland, 2014.

Gambar 4. Sebaran lava basaltik letusan Holuhraun hingga 1 Oktober 2014. Lava telah menutupi area seluas 48,2 kilometer persegi dengan panjang sekitar 16 kilometer. Volume magma yang diletuskan hingga 1 Oktober 2014 telah sekitar 650 juta meter kubik. Tak ada tanda-tanda aktivitas letusan mulai menyurut. Sumber: University of Iceland, 2014.

Sejauh ini tak ada korban jiwa maupun luka-luka akibat letusan Holuhraun. Kerugian material juga relatif tidak ada, seiring tidak terganggunya lalu lintas penerbangan sipil setempat maupun regional (Eropa) dan tidak adanya infrastruktur yang dilalap sang lava. Namun letusan ini mengirimkan pesan sangat jelas pada segenap manusia, bahwa vulkanisme di Bumi tak hanya menghasilkan gunung-gemunung berapi yang tinggi mengerucut dengan erupsi sentral di kawah utamanya seperti umum dijumpai di Indonesia. Namun juga sanggup menghasilkan gunung-gemunung berapi ‘aneh’ berbentuk retakan panjang yang sanggup membanjirkan lava basalt dalam erupsi retakan. Erupsi retakan seperti letusan Holuhraun memang jarang dijumpai di Bumi. Hanya di tempat-tempat dimana terjadi aktivitas vulkanisme titik-panas (hotspot) sajalah letusan sejenis terjadi. Dan Islandia adalah salah satu tempat tersebut.

Di luar Islandia pun masih ada sejumlah tempat yang menjadi panggung vulkanisme titik-panas. Salah satunya sangat dikenal Umat Islam sedunia mengingat kedudukannya demikian dekat dengan satu dari dua kotasuci, yakni Madinah. Dan 7,5 abad silam, gunung berapi dengan retakan panjang yang tak begitu kita kenal ini meletus dengan skala kedahsyatan menyerupai letusan Holuhraun. Banjir lava panas membaranya demikian mencekam, hingga hampir mengubur kotasuci Madinah dalam lautan bara. Inilah Letusan Madinah.

Letusan Madinah

Bandar udara internasional Pangeran Muhammad bin Abdulaziz adalah pintu gerbang utama kotasuci Madinah al-Munawwarah. Ia juga menjadi satu dari dua pintu masuk utama ke dua kotasuci bagi Umat Islam selain bandar udara internasional King Abdul Aziz di Jeddah. Bandar udara ini terletak di pinggiran utara kotasuci Madinah, tak seberapa jauh dari Gunung Uhud yang bersejarah. Jika kita melayangkan pandangan mata dari sini, Gunung Uhud yang tandus dengan hiasan warna coklat tanah kemerah-merahan nampak memanjakan mata di arah barat daya. Lansekap sewarna juga dijumpai di arah barat, utara dan timur. Namun tidak dengan arah selatan. Sejauh mata memandang hanya nampak bukit-bukit tandus kehitaman, dengan bongkahan bebatuan penyusunnya yang jauh lebih kasar ketimbang bebatuan Gunung Uhud. Sangat sedikit informasi yang tersedia tentang bukit-bukit kehitaman ini. Namun siapa sangka, di balik minimnya informasi, bukit-bukit kehitaman ini sejatinya adalah jejak kasat mata dari salah satu periode paling mencekam sepanjang sejarah kotasuci Madinah. Inilah endapan lava basaltik dari Letusan Madinah, letusan besar yang hampir saja memanggang Madinah.

Gambar 5. Citra satelit Landsat dalam warna nyata untuk kotasuci Madinah dan sekitarnya. Nampak hampir seluruh permukaan tanah di sekitar kota ini didominasi warna coklat kemerah-merahan. Terkecuali di sisi tenggara kota yang permukaan tanahnya bewarna hitam/gelap. Inilah endapan lava jejak Letusan Madinah 1256. Sumber: Google Earth, 2014.

Gambar 5. Citra satelit Landsat dalam warna nyata untuk kotasuci Madinah dan sekitarnya. Nampak hampir seluruh permukaan tanah di sekitar kota ini didominasi warna coklat kemerah-merahan. Terkecuali di sisi tenggara kota yang permukaan tanahnya bewarna hitam/gelap. Inilah endapan lava jejak Letusan Madinah 1256. Sumber: Google Earth, 2014.

Kalender menunjukkan hari Senin 1 Jumadil Akhir 654 Hijriyyah kala sebuah getaran mulai mengguncang kotasuci Madinah. Para pedagang, peziarah tanah suci, penduduk dan segenap manusia lainnya yang sedang berada maupun tinggal di kotasuci itu merasakannya. Semuanya berharap getaran tadi hanyalah getaran tanah biasa yang akan berhenti dengan segera secepat kedatangannya. Namun harapan itu sirna laksana uap menghilang di udara. Betapa tidak, dalam empat hari kemudian secara beruntun getaran demi getaran tanah justru terus saja terjadi berulang-ulang. Kekerapannya kian mengencang dan sering. Di Jumat pagi, sedikitnya 18 getaran keras mengguncang hanya dalam waktu singkat. Dan siang harinya, kala orang-orang sedang berkumpul di Masjid Nabawi menanti waktu shalat Jumat, sebuah getaran keras, terkeras di antara semua getaran sebelumnya, mengagetkan semuanya. Tak pelak semua itu mengundang tanya di hati setiap orang. Rasa cemas pun mulai membersit. Apalagi getaran demi getaran terus saja terjadi selepas shalat Jumat, meski tak sekeras sebelumnya.

Drama mencapai klimaksnya pada Sabtu pagi usai shalat Shubuh, bertepatan dengan 1 Juli 1256. Secara mendadak ketenangan dan keheningan pagi dibuyarkan suara bergemuruh susul-menyusul yang datang dari arah al-Hijaz di tenggara. Bersamanya muncul pancuran bola-bola api merah kebiruan ke langit dalam jumlah besar. Demikian banyaknya bola-bola api yang mirip kembang api ini sehingga cahayanya benderang menyinari cakrawala laksana tersorot Matahari. Selama berhari-hari kemudian pancuran api terus berlangsung tanpa henti dan bahkan kian bertambah banyak saja. Kini malam-malam di kotasuci Madinah pun berubah dramatis menjadi seterang siang hari. Demikian terangnya malam-malam itu sehingga bagian Raudhah dan makam Nabi SAW yang ada di dalam kompleks Masjid Nabawi bagaikan tersorot cahaya Matahari secara terus-menerus. Cahaya terang itu bahkan bisa disaksikan dengan jelas dari Tayma’ dan kotasuci Makkah al-Mukarramah, padahal keduanya berjarak 300 kilometer dari sumber bola-bola api ini.

Sejarawan al-Qastalani menulis, orang-orang Badui pemberani yang mencoba mendekati titik sumber lontaran api tercengang menyaksikan pemandangan menggidikkan. Cairan panas kental mirip bubur yang sangat encer berwarna merah-kebiruan dengan beberapa bagiannya telah menghitam nampak menggelegak. Di latar belakangnya terlihat enam titik pancuran bola-bola api membara yang terus-menerus muncrat ke langit. Seluruh cairan tersebut bergerak mengalir perlahan laksana sungai sembari menyeret batu, pohon, tanah dan apa saja yang dilaluinya. Suara bergemuruh mirip petir yang sambung-menyambung terus saja terdengar. Asap pekat beraroma belerang terus mengepul, memedihkan mata dan menyesakkan dada. Demikian pekat asapnya sehingga udara laksana berkabut terus-menerus. Akibatnya Matahari pun hanya terlihat sebagai bundaran kemerah-merahan saja, hatta telah berkedudukan cukup tinggi di langit. Udara di dekat cairan kental nan aneh ini demikian panasnya, sehingga tak seorang pun berani mendekatinya lebih dekat dari dua lontaran anak panah (+/- 200 m).

Gambar 6. Citra satelit Landsat dalam warna nyata untuk salah satu lokasi retakan yang menjadi sumber Letusan Madinah 1256. Nampak sejumlah kerucu skoria (cinder cone) yang dikelilingi bebatuan berwarna gelap (yang adalah endapan lava basaltik). Sumber: Google Earth, 2014.

Gambar 6. Citra satelit Landsat dalam warna nyata untuk salah satu lokasi retakan yang menjadi sumber Letusan Madinah 1256. Nampak sejumlah kerucu skoria (cinder cone) yang dikelilingi bebatuan berwarna gelap (yang adalah endapan lava basaltik). Sumber: Google Earth, 2014.

Di masa kini kita mengetahui apa yang dihadapi orang-orang Madinah saat itu adalah lava panas produk letusan gunung berapi. Dengan teknologi terkini, relatif lebih mudah mengetahui apa yang sedang terjadi dengan menerbangkan radas (instrumen) dalam kedudukan cukup tinggi di atas lava panas membara itu, baik di dalam pesawat udara nir-awak maupun via satelit penginderaan jauh. Layaknya letusan Holuhraun, Letusan Madinah bersumber pada sebuah retakan di segmen kerak bumi berbelas kilometer sebelah tenggara kotasuci Madinah. Entah seberapa panjangnya retakan itu, namun darinya magma basaltik membanjir keluar sembari muncrat hingga puluhan meter ke udara. Sejumlah gundukan mengerucut yang membukit pun terbentuk di sepanjang retakan ini, yang disebut kerucut skoria (cinder cone). Magma encer itu lantas mengalir sebagai lava menyusuri kontur rupabumi setempat menuju tempat-tempat yang lebih rendah. Pada puncaknya lava panas ini pun terkumpul demikian rupa hingga laksana sejenis danau lava berkedalaman 3 meter yang membentang sepanjang 23 kilometer.

Teknologi di abad ke-13 memang belum memungkinkan manusia masa itu melihat keseluruhan dinamika Letusan Madinah. Apalagi memprakirakan kemana danau lava itu bakal bergerak mengalir dan menelan apa saja yang ada dihadapannya. Namun orang-orang Badui yang pemberani itu terus mengamati pergerakan cairan kental panas nan aneh (yang adalah tepi danau lava) itu dari hari ke hari. Sehingga mereka pun menyadari bahwa cairan panas menggelegak itu secara perlahan namun pasti sedang beringsut mengarah ke kotasuci Madinah yang memang berketinggian lebih rendah. Jelas sudah. Jika semua terus berlangsung seperti itu, maka segenap isi kotasuci tersebut akan tenggelam dalam lautan bara. Kini rasa cemas yang melanda penduduk Madinah pun bermetamorfosis menjadi ketakutan luar biasa. Juga kebingungan. Belum pernah mereka atau nenek moyang mereka, atau bahkan Bangsa Arab sekalipun, menghadapi peristiwa alam semacam ini. Dapat dipahami jika di tengah ketakutan dan kebingungan ini kisah-kisah akan hari akhir pun menyebar kemana-mana. Apalagi salah satu di antara tanda-tanda besar kedatangan hari akhir adalah munculnya api di tanah Hijaz. Dan kini kotasuci Madinah (yang berada di kawasan Hijaz) benar-benar berhadapan dengan api panas membara dalam ukuran yang sungguh tak pernah terbayangkan pada zaman itu.

Menyadari bahaya yang mengancam kotasuci Madinah seisinya, gubernur sigap bertindak. Seluruh penduduk maupun musafir, baik laki-laki maupun perempuan, baik orang dewasa maupun anak-anak, dimintanya untuk segera berkumpul di Masjid Nabawi khususnya di bagian Raudhah dan sekitarnya yang merupakan kawasan mustajab. Semua pun berdoa dengan sepenuh hati, bertaubat dan memohon ampunan Allah SWT atas segala kesalahan yang telah dilakukan. Mereka juga memohon agar cairan kental panas itu, yang kian mendekat saja ke kotasuci, untuk dihentikan atau dialihkan. Banyak yang mencucurkan air mata di tengah kekhusukan doanya ketika menyadari bahwa jika Allah SWT menghendaki, dengan mudah cairan kental panas itu menelan kotasuci Madinah beserta seluruh isinya dan menghapusnya dari muka bumi tanpa sisa dan tiada sesuatu pun yang dapat menghalanginya.

Dan keajaiban pun terjadilah. Seperti bernyawa, lava panas itu berhenti sebelum tapal batas kotasuci dan lantas lantas berbelok ke utara untuk kemudian melambat, berhenti dan membeku. Letusan Madinah sendiri berakhir dalam 52 hari setelah bermula. Sepanjang 52 hari tersebut 500 juta meter kubik magma dimuntahkan dari dalam perut bumi. Sehingga rata-rata Letusan Madinah memuntahkan lebih dari 100 meter kubik magma dalam setiap detiknya.

Harrat Rahat

Gambar 7. Retakan di padang Holuhraun pada 30 Agustus 2014, sehari setelah letusan Holuhraun bermula. Nampak lava panas membara sedang meluap dan mengendap ke sekelilingnya sembari mendingin sehingga berubah warna menjadi gelap. Gas vulkanik pekat nampak terus mengepul. Panorama semacam ini pula yang dilihat orang-orang Madinah kala terjadi Letusan Madinah 1256 pada 7,5 abad silam. Sumber: Dailykos, 2014.

Gambar 7. Retakan di padang Holuhraun pada 30 Agustus 2014, sehari setelah letusan Holuhraun bermula. Nampak lava panas membara sedang meluap dan mengendap ke sekelilingnya sembari mendingin sehingga berubah warna menjadi gelap. Gas vulkanik pekat nampak terus mengepul. Panorama semacam ini pula yang dilihat orang-orang Madinah kala terjadi Letusan Madinah 1256 pada 7,5 abad silam. Sumber: Dailykos, 2014.

Letusan Madinah merupakan wujud nyata eksistensi gunung berapi di semenanjung Arabia. Ya. Meski mayoritas bagiannya beriklim gurun, namun bentang lahan semenanjung terbesar di muka bumi ini tidaklah melulu berisi lautan pasir gersang. Padang pasir semacam itu hanya dijumpai di sisi selatan dan tenggara sebagai padang pasir ar-Rub’ al-Khali, yang adalah lautan pasir lepas terluas di muka bumi. Semenanjung ini juga bukan sekedar tanah tempat agama-agama samawi dilahirkan, tanah tempat para nabi dan rasul diutus serta tanah tempat berdirinya dua kotasuci Umat Islam. Namun lebih dari itu, semenanjung ini juga adalah salah satu keajaiban geologi yang sulit dicari padanannya di tempat lain. Sebagian Semenanjung Arabia khususnya daratan yang sebelah-menyebelah Laut Merah (termasuk kawasan Hijaz) adalah salah satu daratan tertua di muka bumi. Daratan ini dikenal sebagai Tameng Arabia-Nubia (Arabian-Nubian Shield). Dengan umur sedikitnya 600 juta, batuan di Tameng Arabia-Nubia sejatinya telah begitu padat sehingga jauh lebih stabil dibanding daratan lainnya yang lebih muda.

Namun di Tameng Arabia-Nubia pula kita kita bisa menyaksikan momen lahirnya kerak bumi baru dan meluasnya lempeng tektonik. Bentangan panjang Laut Merah yang menghiasi kawasan ini sejatinya adalah lembah besar yang dalam sehingga tergenangi air asin yang mengalir dari Samudera Hindia. Lembah besar ini bukanlah lembah biasa, sebab dibentuk oleh pergerakan tektonik intensif. Ia bersambung dengan lembah-lembah lurus lainnya yang menjulur dari Turki hingga ke Afrika Tengah dalam sebuah ekspresi yang disebut Lembah Retakan Besar (Great Rift Valley) sepanjang sekitar 4.000 kilometer. Di sejumlah bagian lembah inilah magma panas menyeruak dari lapisan selubung, terutama di sepanjang retakan kecil sumbu dasar Laut Merah, khususnya di sisi selatan. Begitu keluar, magma panas mulai mendingin dan membeku menjadi bayi lempeng tektonik oseanik. Jika pola semacam ini berlangsung secara menerus, maka dalam puluhan juta tahun ke depan Laut Merah akan demikian meluas menjadi samudera baru sementara retakan kecil sumbu dasarnya berevolusi menjadi punggungan tengah samudera seperti Islandia saat ini. Maka jangan heran jika saat ini di tengah-tengah Laut Merah dijumpai sejumlah gunung berapi. Ada yang tetap terbenam di bawah permukaan air dan ada pula yang menyembul di atas laut sebagai pulau vulkanis.

Tetapi retakan tidak hanya muncul di dasar Laut Merah. Di kawasan Hijaz, sejumlah retakan yang mirip pun terbentuk dan menjadi panggung bagi vulkanisme titik-panas serupa. Di retakan-retakan inilah magma menyeruak keluar membentuk gunung berapi Hijaz yang khas. Jangan bayangkan gunung berapi Arabia berbentuk kerucut tinggi yang indah seperti halnya gunung-gunung berapi komposit (stratovulcan) di Indonesia. Vulkanisme titik-panas menghasilkan magma basaltik yang lebih encer, sehingga gunung berapi Hijaz sejatinya hanyalah tumpukan lava yang tersebar menutupi area sangat luas dengan sejumlah kerucut skoria berketinggian rendah muncul didalamnya. Dapat dikata gunung berapi Hijaz memiliki panorama yang ‘jelek.’ Namun dibalik ‘kejelekan’-nya, vulkanisme di tanah Hijaz ini sungguh luar biasa. Secara akumulatif dalam 10 juta tahun terakhir ia telah memuntahkan lava basaltik yang menutupi area seluas 180 ribu kilometer persegi, setara sepersepuluh luas Indonesia.

Gambar 8. Lava basaltik panas membara sedang merayap menyusuri tanah Islandia, diabadikan pada 15 September 2014. Pelan namun pasti lava basaltik ini terus bergerak maju menutupi wilayah lebih luas dari hari ke hari. Panorama sejenis tersebut juga disaksikan orang-orang Madinah kala terjadi Letusan Madinah 1256 pada 7,5 abad silam. Sumber: University of Iceland, 2014.

Gambar 8. Lava basaltik panas membara sedang merayap menyusuri tanah Islandia, diabadikan pada 15 September 2014. Pelan namun pasti lava basaltik ini terus bergerak maju menutupi wilayah lebih luas dari hari ke hari. Panorama sejenis tersebut juga disaksikan orang-orang Madinah kala terjadi Letusan Madinah 1256 pada 7,5 abad silam. Sumber: University of Iceland, 2014.

Salah satu retakan di sini adalah yang berpangkal dari sekitar kotasuci Makkah al-Mukarramah dan menerus ke utara-timur laut melintas di dekat kotasuci Madinah hingga kemudian berujung di Nafud. Karenanya retakan sepanjang sekitar 600 kilometer ini lebih dikenal sebagai retakan Makkah-Madinah-Nafud atau Makkah-Madinah-Nafud volcanic line. Lewat retakan inilah magma melimpah ke permukaan tanah dan membentuk sedikitnya empat gunung berapi Hijaz. Dari selatan ke utara, masing-masing adalah Harrat Rahat, Harrat Kurama, Harrat Khaybar dan Harrat Ithnayn. Harrat Rahat menjadi gunung berapi terbesar di jalur retakan ini, bahkan di seantero Semenanjung Arabia. Ia membentang sepanjang 310 kilometer dari Jeddah ke Madinah dengan lebar rata-rata sekitar 75 kilometer. Harrat Rahat pada dasarnya adalah tumpukan lava basaltik yang telah membeku dengan total volume sebesar 2.000 kilometer kubik. Lava sebanyak itu diletuskan secara bertahap lewat 400 saluran magma serta lebih dari 2.000 kerucut skoria sepanjang 10 juta tahun terakhir. Praktis kotasuci Makkah dan Madinah sebenarnya berdiri tepat di tubir gunung berapi raksasa menggetarkan yang memiliki nama lain Harrat Bani Abdullah, atau Harrat Madinah, atau Harrat Rashid, atau Harrat Turrah, atau Harrat el-Medina, atau Harrat er-Raha, atau Jabal Ma’tan, atau Jabal Umm Ruqubah, atau Jabal al-Hurus, atau Jibal Diba’ Al Hurus ini. Dan di ujung utara gunung berapi raksasa inilah Letusan Madinah terjadi dalam 7,5 abad silam.

Gambar 9. Peta Semenanjung Arabia bagian barat khususnya kawasan Hijaz. Nampak gunung-gemunung berapi Arabia (harrat) dengan yang terbesar adalah Harrat Rahat. Praktis kotasuci Makkah dan Madinah berdiri di tubir gunung berapi raksasa ini. Tanda bintang (*) menunjukkan lokasi Letusan Madinah 1256. Aktivitas terakhir gunung-gemunung berapi ini adalah di Harrat Lunayyir, 200 kilometer barat laut kotasuci Madinah. Sumber: Zahrani dkk, 2013.

Gambar 9. Peta Semenanjung Arabia bagian barat khususnya kawasan Hijaz. Nampak gunung-gemunung berapi Arabia (harrat) dengan yang terbesar adalah Harrat Rahat. Praktis kotasuci Makkah dan Madinah berdiri di tubir gunung berapi raksasa ini. Tanda bintang (*) menunjukkan lokasi Letusan Madinah 1256. Aktivitas terakhir gunung-gemunung berapi ini adalah di Harrat Lunayyir, 200 kilometer barat laut kotasuci Madinah. Sumber: Zahrani dkk, 2013.

Letusan Madinah bukanlah akhir dari aktivitas gunung berapi Hijaz. Gunung-gunung berapi unik ini terus aktif bahkan hingga kini. Pada 2009 lalu terjadi lonjakan jumlah gempa vulkanik secara mendadak di Harrat Lunayyir, sebuah gunung berapi Hijaz berukuran kecil yang terletak di barat laut kotasuci Madinah. Selama bulan April hingga Juni 2009 terjadi 40.000 guncangan gempa vulkanik dengan magnitudo antara 2 hingga 5,4 skala Richter. Inilah pertanda sangat jelas bahwa magma basaltik di perutbumi kawasan Hijaz masih tetap berupaya mencari jalan keluar ke permukaan. Pertanda tersebut kian jelas lewat terbentuknya retakan sepanjang 8 kilometer selebar 45 sentimeter. Belajar dari pengalaman Letusan Madinah 7,5 abad silam, otoritas Saudi Arabia tak menyia-nyiakan waktu untuk mengevakuasi sekitar 30.000 orang di kota al-Ays yang ada dalam kompleks gunung berapi ini. Namun tak seperti Harrat Rahat, Harrat Lunayyir ternyata tak kunjung memuntahkan magmanya. Ia urung meletus. Mungkin masih menunggu kesempatan lain di masa depan.

Referensi :

Sudibyo. 2012. Ensiklopedia Fenomena Alam dalam al-Qur’an, Menguak Rahasia Ayat-Ayat Kauniyah. Surakarta: Tinta Medina, cetakan pertama.

Rei. 2014. Bardarbunga: Sorry, Ireland (Update 2x). DailyKos.com, 5 September 2014.

Frimann. 2014. Bardarbunga Daily Update. Iceland Geology, Volcano and Earthquake Activity in Iceland.

al-Zahrani dkk. 2013. Aftershock Sequence Analysis of 19 May, 2009 Earthquake of Lunayyir Lava Flow, Northwest Saudi Arabia. International Journal of the Physical Sciences Vol. 8(7), 23 February 2013, pp. 277-285.