Mengenal Gunung Anak Ranakah, Sang Gunung Berapi Termuda di Darat

Tahun 2019 TU (Tarikh Umum) ditandai oleh lahirnya sebuah gunung berapi baru di Bumi, meskipun bertempat di dasar laut sehingga tak seorang pun yang menyaksikan langsung saat-saat kelahirannya. Gunung berapi baru yang belum bernama di sebelah timur Pulau Mayotte (Perancis) di Kepulauan Komoro tersebut terbenam sepenuhnya dalam perairan selat Mozambik yang berkedalaman 3.500 meter meski ia menjulang setinggi 800 meter dari dasarnya. Dengan volume 5.000 juta m3, lahirnya gunung berapi termuda di laut ini sekaligus merupakan letusan gunung berapi yang terbesar bagi tahun 2019 TU, untuk sementara ini. Jika semata mengacu volume magmanya maka letusannya tergolong berskala 5 VEI (Volcanic Explosivity Index), atau setara Letusan Gunung Agung 1963 (Indonesia). Meskipun letusan yang melahirkan gunung berapi termuda ini lebih bersifat efusif (leleran) dan sepenuhnya tersekap di dalam laut sehingga tak menyemburkan kolom material vulkanik nan khas ke udara.

Gambar 1. Gunung Anak Ranakah saat masih bertumbuh, berdampingan dengan Gunung Ranakah. Nampak kubah lava dan lidah lava pada gunung berapi darat termuda di dunia ini. Diabadikan pada 17 Januari 1988 TU. Sumber: PVMBG/Wirasaputra, 1988.

Membicarakan gunung berapi termuda mau tak mau akan mengalihkan pandangan mata ke mancanegara. Tepatnya ke negara bagian Michoacan, Meksiko. Yakni di kawasan vulkanik Michoacan – Guanajuto seluas 200 x 250 km2 dan terdiri atas sedikitnya 1.400 kerucut vulkanik berukuran kecil-kecil. Salah satu diantaranya lahir pada 20 Februari 1943 TU dari sebuah retakan di tengah-tengah ladang jagung pak Dionisio Pulido, 322 km sebelah barat ibukota Meksiko City. Letusan terus berlangsung hingga 9 tahun berikutnya, berselang-seling antara efusif dan eksplosif (ledakan). Dalam empat bulan pertama saja rentetan erupsi efusif telah membentuk kerucut vulkanik setinggi 200 meter. Kini kerucut tersebut dikenal sebagai Gunung Paricutin, sebuah kerucut sinder yang adalah gunung berapi monogenetik yang menjulang 208 meter dari daratan sekitar dengan puncak berelevasi 2.800 mdpl.

Namun gunung berapi termuda di daratan Bumi kita bukanlah Paricutin. Ia lahir 45 tahun kemudian. Bukan di Meksiko ataupun bagian dunia lainnya. Gelar tersebut disematkan pada satu tempat di tanah air kita tercinta, Indonesia. Yakni di pulau Flores, sebuah pulau vulkanis yang ditumbuhi oleh delapan buah gunung berapi aktif dan merupakan bagian dari propinsi Nusa Tenggara Timur. Gunung berapi termuda itu adalah Gunung Anak Ranakah, atau Gunung Namparnos dalam bahasa penduduk setempat. Gunung Anak Ranakah lahir pada 28 Desember 1987 TU.

Segenap penduduk kota Ruteng di Kabupaten Manggarai mungkin tak pernah menyadari bahwa kawasan pegunungan di sisi selatan kota mereka sejatinya adalah sebuah gunung berapi sangat tua yang telah padam. Dahulu kala menjulang sebuah gunung berapi setinggi 2.500 meter yang disebut Gunung Rii Purba. Di masa prasejarah, Gunung Rii Purba meletus dahsyat hingga dua kali. Masing-masing letusan menghasilkan Kaldera Rii dan Kaldera Lunggar yang saling berhadapan. Kedua kaldera tersebut membentuk sebuah struktur besar yang disebut Kaldera Poco Leok dengan garis tengah 3 km. Kaldera Poco Leok terbentuk akibat pengamblesan (subsidence) tubuh gunung seiring kosongnya kantung magma setelah terkuras habis dalam setiap letusan besar. Pengamblesan ini diiringi terbentuknya retakan-retakan (sesar) konsentris dengan pusat berimpit ke pusat kaldera.

Gambar 2. Peta geologi kaldera Poco Leok dan sekitarnya. Nampak jajaran kubah-kubah lava produk aktivitas pasca kaldera yang membentuk barisan setengah melingkar di sisi utara. Gunung Anak Ranakah ditandai oleh titik letusan. Sumber: Katili & Sudrajat, 1988 dalam Wahyudin, 2012.

Pada sejumlah titik di retakan-retakan konsentrik itulah aktivitas vulkanik pascakaldera berulang kali terjadi. Aktivitas itu membentuk kubah-kubah lava yang terdiri atas Gunung Ngrekok, Gunung Likang, Gunung Tadowalok, Gunung Nggolongtede, Gunung Kasteno, Gunung Mandosawu dan Gunung Ranakah. Aktivitas vulkanik terakhir terjadi 15.000 tahun silam. Sehingga kawasan Kaldera Poco Leok sejatinya merupakan gunung berapi padam jika mengacu klasifikasi gunung berapi dari Global Volcanism Program. Gejala pasca vulkanik bermunculan di berbagai titik pada sekujur kaldera ini. Di sisi selatan ini terdapat lapangan panasbumi Ulumbu yang memiliki potensi energi 90 megawatt elektrik dan telah dikembangkan menjadi PLTP Ulumbu yang berkapasitas 10 megawatt elektrik.

Jarum jam menunjukkan pukul 22:00 WITA pada titi mangsa Senin 28 Desember 1987 TU saat sebuah dentuman keras membangunkan sebagian penduduk Kota Ruteng dari peraduannya. Dentuman menggelegar itu berasal dari Gunung Ranakah, tepatnya dari kaki timur laut. Dentuman ini merupakan puncak dari upaya keras gas-gas vulkanik bertekanan tinggi dalam membobol jalan keluar ke parasbumi dari kantung magma jauh di bawah Gunung Ranakah. Kerasnya batuan kubah lava Gunung Ranakah membuat gas-gas vulkanik terpaksa mencari jalan menyamping dan berjumpa dengan titik lemah di kaki timur laut bukit tersebut. Yakni pada sebuah ceruk kecil yang disebut loka leke ndereng (lubang tempurung merah) oleh penduduk setempat.

Gambar 3. Fase erupsi freatik di awal mula lahirnya Gunung Anak Ranakah. Magma belum keluar ke paras bumi sehingga tubuh gunung belum terbentuk pada saat itu. Tanda panah menunjukkan Gunung Ranakah. Sumber: PVMBG/Rohi, 1988.

Dentuman disusul mengepulnya asap hitam kecoklatan setinggi 3.000 hingga 4.000 meter di atas titik letusan disertai suara gemuruh. Debu vulkanik yang diproduksinya berkomposisi andesit, konsisten dengan batuan penyusun tubuh Gunung Ranakah. Inilah awal rangkaian erupsi freatik yang berlangsung secara intensif hingga enam hari kemudian. Sepanjang fase erupsi freatik ini terjadi 17 letusan kuat dan 200 letusan lemah. Terjadi pula rentetan gempa vulkanik yang mencapai rata-rata 200 kejadian per hari.

Mulai enam hari pasca awal letusan, intensitas erupsi freatik cenderung menurun namun sebaliknya kegempaan vulkanik meningkat pesat hingga dua kali lipat. Ini indikasi kuat telah terjadi gerakan fluida (magma) yang sedang mencoba menembus ke paras bumi, yang bakal menimbulkan erupsi freatomagmatik atau bahkan erupsi magmatik. Terbukti dalam sepuluh hari pasca awal letusan, mulai terdeteksi cahaya terang berkelanjutan dari arah lubang letusan di malam hari. Itulah pertanda jelas letusan telah memasuki fase erupsi magmatik. Dan dalam 12 hari pasca awal letusan mulai teramati adanya gundukan membara menyerupai kerucut. Itulah kubah lava, dengan tinggi saat itu 30 meter yang menyelubungi lubang letusan. Gundukan lava membara yang menandakan sebagai bayi gunung inilah yang membuat penduduk setempat menamainya Gunung Namparnos (namparnos : dinding yang terbakar). Sementara vulkanolog Indonesia menyebutnya sebagai Gunung Anak Ranakah.

Gambar 4. Sketsa sederhana proses lahir dan tumbuh kembang Gunung Anak Ranakah dalam rentang waktu tiga minggu terhitung semenjak 28 Desember 1987 TU. Sumber : Katili & Sudrajat, 1988 dalam Wahyudin, 2012.

Letusan-letusan berikutnya sangat didominasi oleh erupsi efusif dengan sesekali saja terjadi erupsi eksplosif (ledakan). Karenanya ukuran kubah lava terus membesar. Erupsi eksplosif pertama terjadi dua minggu pasca awal letusan, dalam bentuk erupsi Vulkanian kuat yang membentuk kolom letusan setinggi 8.000 meter di atas lubang letusan. Letusan itu juga memproduksi awan panas untuk pertama kalinya, mengalir ke utara melalui lembah sungai Wae Reno sejauh 5 km. Intensifnya erupsi efusif yang bertipe erupsi Strombolian membuat kubah lava tumbuh pesat, dimana dalam tiga minggu pasca awal letusan telah menjulang 100 meter dari dasar dengan volume 5 juta meter3. Selain gundukan kubah lava, terbentuk juga lidah lava yang menjulur ke utara sepanjang sekitar 1.000 meter.

Fase erupsi magmatik di Gunung Anak Ranakah pada dasarnya telah berhenti sejak Juli 1988 TU. Saat itu kubah lava sudah menjulang setinggi 140 meter dari dasar, dengan puncak memiliki elevasi 2.200 mdpl. Dasarnya berjari-jari 400 meter, namun dengan bentuk kubah lava yang terpancung di bagian dasar karena menindihi kaki timur laut Gunung Ranakah, maka volumenya jauh lebih kecil dibanding volume kerucut. Jumlah magma yang dikeluarkan dalam letusan ini mencapai 19 juta m3, terdiri atas 14 juta m3 kubah lava dan 5 juta m3 lidah lava. Tingkat pengeluaran magma tertinggi mencapai 0,5 juta m3 per hari yang terjadi sepanjang Januari 1988 TU. Di bulan-bulan berikutnya tingkat pengeluaran magma kian menurun. Mulai Juli 1988 TU hingga dua tahun kemudian praktis aktivitas vulkanik Gunung Anak Ranakah hanya berupa hembusan solfatara dari puncak gunung, yang membumbung setinggi 15 hingga 25 meter saja.

Gambar 5. Awan panas guguran yang terbentuk pada 20 Januari 1988 TU dalam proses tumbuh kembang Gunung Anak Ranakah. Karena sifatnya yang rapuh dan mudah longsor, gugurnya bagian-bagian kubah lava Gunung Anak Ranakah akan membentuk awan panas guguran. Sumber: PVMBG/Wirasaputra, 1988.

Lahirnya Gunung Anak Ranakah tidak membawa korban manusia (baik korban jiwa maupun luka-luka) ataupun kerugian harta benda. Pada 6 Januari 1988 TU sebanyak 20.000 orang memang sempat diungsikan, yakni para penduduk yang tinggal di dalam radius 5 km dari bayi gunung tersebut. Manakala karakter letusan Anak Ranakah sudah lebih diketahui seiring perjalanan waktu, berangsur-angsur mereka pulang ke kediaman masing-masing. Pada 26 Januari 1988 TU, tinggal 4.200 pengungsi yang masih tersisa. Yakni yang bertempat tinggal di sekitar lembah sungai Wae Reno di utara Gunung Anak Ranakah. Begitu fase erupsi magmatik usai, maka pengungsi pun berangsur-angsur pulang kembali.

Berbeda dengan saudara muda-nya Gunung Paricutin di Meksiko, Gunung Anak Ranakah bukanlah gunung berapi monogenetik. Sehingga Anak Ranakah tidaklah sekali beraksi (meletus) untuk kemudian mati. Tubuh Gunung Anak Ranakah merupakan lava yang menumpuk dimana bagian dalamnya masih panas membara. Maka potensi letusan Gunung Anak Ranakah masih tetap terbuka, baik yang berasal dari runtuhnya kubah lava saat ini (yang bisa menghasilkan awan panas guguran) maupun dari suplai magma segar dari kantung magmanya. Kemungkinan suplai segar ini masih tetap terbuka, mengingat bila mengacu pada saudara-saudaranya di kawasan kaldera Poco Leok, ukuran Gunung Anak Ranakah masih jauh lebih kecil. Sehingga potensi untuk meletus dan menambah ukuran lagi masih terbuka. Untuk itu peta kawasan rawan bencana Gunung Anak Ranakah telah dibentuk sebagai langkah antisipasi.

Referensi :

Wahyudin. 2012. Vulkanisme dan Prakiraan Bahaya Gunung Api Anak Ranakah, Nusa Tenggara Timur. Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, vol. 3 no. 2 Agustus 2012, hal. 89-108.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. 2014. Gunung Anak Ranakah, Data Dasar Gunungapi.

Lahirnya Gunung Berapi Laut di Dekat Mayotte

Gunung berapi baru itu masih sangat muda. Mungkin baru setahun usianya, jika dihitung pada Mei 2019 TU (Tarikh Umum). Meski masih sangat belia, pertumbuhannya cukup pesat dengan ukuran saat ini sudah cukup besar, kini volumenya sudah 5 km3. Tak satupun insan yang menyaksikan detik demi detik kelahirannya seiring tersembunyinya jauh di dasar Samudera Indonesia di lepas pantai timur benua Afrika. Namun tanda-tanda tak langsung dari proses kelahirannya telah dirasakan sebagian penduduk Kepulauan Komoro sejak setahun sebelumnya. Lewat aneka guncangan lemah yang misterius dan meresahkan.

Gambar 1. Ketampakan gunung berapi laut baru di dasar Selat Mozambik tepatnya 55 km sebelah timur pulau Mayotte. Gunung berapi baru yang sangat muda ini tersingkap lewat survei sonar pada 2 – 18 Mei 2018 TU. Menjulang setinggi 800 meter dari dasar, terdeteksi pula kepulan materi letusan hingga setinggi 2.000 meter dari puncaknya. Sumber: tim MAYOBS, 2019.

Gunung berapi umum dijumpai di Bumi dan sejumlah benda langit anggota tata surya kita berkaitan dengan proses pelepasan bahang (panas) interior ke lingkungan sekitar. Pada Bumi, 10 % dari bahang interior merupakan bahang primitif. Yakni sisa panas saat proses pembentukan tata surya 5 milyar tahun silam. Sedangkan 90 % sisanya merupakan bahang radiogenik, yakni akumulasi panas dari proses peluruhan inti-inti atom radioaktif terutama Uranium (U238), Thorium (Th232) dan Kalium (K40) yang terjadi di lapisan selubung dan inti luar. Total bahang interior yang dilepaskan Bumi kita mencapai 47 terawatt (4,7 . 1013 watt) yang ditransfer ke paras Bumi melalui mekanisme konveksi dalam lapisan selubung. Hanya 1 % bahang yang kemudian terlepas ke lingkungan lewat peristiwa tektonisme, vulkanisme dan kegempaan yang riuh. Sementara 99 % sisanya dilepaskan lewat aliran panas permukaan (heatflow) yang besarnya rata-rata 92 miliwatt/m2.

Gempa Swarm Mayotte

Gunung berapi baru umumnya tumbuh berkembang di lingkungan yang secara geologis merupakan kawasan vulkanik dengan jejak aktivitas vulkaniknya di masa silam, umumnya berupa gunung berapi tua yang telah lama padam. Gunung berapi baru lebih sering tumbuh di dasar laut yang tersembunyi, mengikuti trend lebih banyaknya magma yang dilepaskan di dasar laut khususnya di zona pemekaran lantai samudera (mencapai 70 hingga 80 %) ketimbang di daratan. Terakhir kali umat manusia menyaksikan kelahiran gunung berapi baru di daratan adalah pada akhir 1987 TU silam lewat Gunung Anak Ranakah / Namparnos di dekat kota Ruteng, pulau Flores (Indonesia). Sementara gunung berapi baru di dasar laut yang paling muda adalah Gunung Nijima, di sebelah selatan Gunung Nishinoshima pada perairan Samudera Pasifik 940 km sebelah selatan-tenggara kota Tokyo (Jepang). Gunung Nijima akhirnya bergabung menyatu dengan Nishinosima membentuk sebuah pulau tunggal yang kecil dan vulkanis.

Gambar 2. Kepulauan Komoro dalam peta topografi dasar laut Selat Mozambik. Seluruh pulau di kepulauan ini merupakan pulau vulkanik, puncak dari gunung-gemunung berapi besar yang menyembul di atas paras airlaut. Sumber: Lemoine dkk, 2019.

Penduduk Kepulauan Komoro, khususnya di pulau Mayotte, mulai merasakan situasi tak biasa mulai pagi hari 10 Mei 2018 TU. Sebuah gempa ringan (magnitudo 4,3) menggoyang pelan. Di hari-hari berikutnya getaran demi getaran susul-menyusul, kian dirasakan oleh lebih dari seperempat juta jiwa penduduk Mayotte. Getaran juga kian terdeteksi oleh sensor-sensor seismometer yang lebih jauh. Sebuah gempa kuat (magnitudo 5,9) mengguncang lima hari kemudian, disusul sepasang gempa kuat lainnya (magnitudo 5,5) masing-masing pada 20 dan 21 Mei 2018 TU. Getaran demi getaran ini mencemaskan mengingat pulau Mayotte sudah lama tak merasakan gempa bumi, apalagi yang merusak. Getaran gempa merusak terakhir kali terjadi pada 1 Desember 1993 TU (magnitudo 5,2) yang memproduksi sejumlah kerusakan ringan-sedang di sekujur pulau.

Selama enam bulan kemudian telah terdeteksi 1.109 gempa bumi dengan magnitudo lebih dari 3,5. Salah satu diantaranya bahkan cukup unik karena tak mengandung komponen gelombang primer (P) dan sekunder (S). Meletup pada 11 November 2018 TU, gempa unik ini terdeteksi oleh seismometer hingga sejauh 18.000 km dari sumbernya. Gempa unik ini berlangsung selama sedikitnya 20 menit sebagai gelombang panjang berperiode 16 detik. Meski terdeteksi hingga ke lokasi yang demikian jauh dan bergetar cukup lama, uniknya gelombang panjang gempa unik ini sama sekali tak dirasakan penduduk Mayotte. Di kemudian hari gempa unik ini dikategorikan sebagai tremor episodik.

Rentetan gempa tersebut merupakan gempa swarm, yakni gempa-gempa yang terjadi pada suatu lokasi dalam rentang waktu tertentu namun tidak menunjukkan pola hubungan gempa utama – gempa susulan yang khas bagi gempa bumi tektonik. Meski secara garis besar relatif serupa, namun mekanisme fokus dari setiap gempa bumi dalam kejadian gempa swarm ini berbeda-beda parameternya. Gempa swarm umumnya menjadi indikasi terjadinya migrasi fluida (magma) dari kedalaman, atau terjadinya pengamblesan (subsidence) dari suatu massa yang besar seperti gunung.

Gambar 3. Posisi episentrum setiap gempa dalam Gempa swarm Mayotte 2018 untuk selang waktu 10 Mei hingga 14 November 2018 TU. Perbedaan warna episentrum menunjukkan perbedaan kelompok, biru untuk kelompok pertama, kuning untuk kelompok kedua dan merah untuk kelompok ketiga. Sumber: Lemoine dkk, 2019.

Gempa swarm Mayotte secara umum terbagi ke dalam tiga kelompok. Kelompok pertama terjadi pada 10 Mei hingga 8 Juli 2018 TU, yang mengambil area sejauh 45 hingga 55 km sebelah timur pulau Mayotte. Gempa swarm pada kelompok ini secara berangsur-angsur bergeser ke arah tenggara hingga 10 km, sementara kedalaman sumber gempanya juga berkurang dari semula 35 km menjadi 15 km. Sementara kelompok kedua mulai berlangsung sejak 26 Juni 2018 TU dengan area sumber di sebelah barat kelompok pertama, yakni sejarak 42 hingga 55 km dari pulau Mayotte. Dan kelompok ketiga mulai belangsung sejak 5 Juli 2018 TU dengan area sumber di sebelah barat kelompok kedua, yakni pada jarak 26 hingga 42 km. Hingga November 2018 TU, secara akumulatif energi yang dilepaskan seluruh gempa swarm itu setara dengan energi Gempa Yogya 2006.

Inflasi

Selain hentakan gempa swarm, pulau Mayotte juga mengalami proses deformasi yang terekam dalam radas (instrumen) GPS meskipun tak kasat mata dan tak terasakan sama sekali oleh penduduk setempat. Selama enam bulan sejak Mei 2018 TU, pulau Mayotte beringsut ke timur hingga sejauh sekitar 20 cm dan melesak (ambles) sedalam sekitar 5 cm. Ini menandakan bagian dasar laut di sebelah timur pulau sedang mengalami inflasi (penggelembungan), sebuah ciri khas aktivitas sebuah gunung berapi menjelang meletus. Inflasi terjadi kala magma segar dalam volume banyak mulai mengisi suatu tempat di dalam kerakbumi, menjadikan tempat itu laksana balon yang terus membesar karena ditiup pelan-pelan.

Perhitungan menunjukkan posisi dapur magma dari aktivitas ini adalah 35 km sebelah timur pulau Mayotte pada kedalaman 30 km. Magma mengalir vertikal ke atas, namun pada kedalaman sekitar 10 km mulai berbelok ke barat sebagai retas magmatik hingga sejarak sekitar 20 km sebelah timur pulau Mayotte. Perhitungan lebih lanjut menunjukkan pada periode 10 Mei hingga 5 Juli 2018 TU terjadi pengeluaran magma sebanyak 45 meter3/detik. Selanjutnya pada 3 Juli hingga 14 November 2018 TU pengeluaran magmanya meningkat menjadi 82 meter3/detik. Maka secara akumulatif selama enam bulan tersebut terjadi pengeluaran magma sebanyak 1,15 km3.

Gambar 4. Penampang melintang lokasi dapur magma (reservoir), saluran magma (conduit) dan retas magma (dyke) yang berhasil direkonstruksi berdasarkan data-data deformasi dari stasiun-stasiun GPS di pulau Mayotte selama gempa swarm berlangsung. Posisi gunung berapi baru (new volcano) dan sistem goa lava (lava tube) yang memasok magmanya ditambahkan kemudian. Sumber: Lemoine dkk, 2019.

Pusat penelitian ilmu pengetahuan (CNRS) Perancis akhirnya memutuskan meneliti fenomena ini lebih lanjut melalui survei gabungan bawah air laut di bawah tajuk MAYOBS mulai Februari 2019 TU. Survei meliputi pemasangan enam sensor seismometer dasar laut (OBS) guna mengetahui posisi sumber gempa swarm lebih detil serta pemetaan dasar laut menggunakan sonar. Penempatan sensor OBS dan pemetaan sonar dilakukan menggunakan kapal Marion Dufresne.

Dari survei inilah diketahui sebuah gunung berapi laut yang baru sudah lahir dan tumbuh berkembang di dasar Selat Mozambik. Tepatnya sejarak 55 km sebelah timur pulau Mayotte. Gunung berapi laut yang baru ini tumbuh di kedalaman 3.500 meter. Ia berbentuk kerucut dengan dasar bergaris tengah 5.000 meter dan menjulang setinggi 800 meter dari dasar. Diperhitungkan volumenya mendekati 5 km3. Jika ia tumbuh sejak awal gempa swarm Mayotte terjadi, maka kecepatan pengeluaran magma dari dalam perutbumi yang membentuk gunung berapi baru ini mencapai rata-rata 160 meter3/detik. Angka ini tak jauh berbeda dibanding perkiraan 82 meter3/detik berdasarkan data deformasi. Survei juga memperlihatkan tanda-tanda aktivitas gunung berapi baru tersebut, melalui semburan fluida yang terdeteksi hingga 2.000 meter di atas kawah gunung.

Gambar 5. Peta dasar laut di sisi timur pulau Mayotte. Nampak posisi gunung berapi baru (depan) dan posisi terkini sumber gempa swarm (belakang). Sumber: MAYOBS, 2019.

Sementara dari data-data sensor OBS diketahui posisi sumber gempa swarm terbaru, yang telah bergeser lagi ke barat. Yakni hanya sejarak 12 – 22 km saja di sebelah timur pulau Mayotte. Maka terdapat jarak 40-an km antara sumber gempa swarm dengan gunung berapi baru tersebut. Karena survei telah menemukan sebuah gunung berapi baru dasar laut, maka sumber gempa swarm Mayotte berkaitan dengan pergerakan magma menuju bagian atas kerakbumi. Selisih jarak antara sumber gempa swarm dengan gunung berapi baru yang dilahirkannya menunjukkan adanya pergerakan mendatar magma sejauh 40-an km sebelum menemukan jalan keluarnya ke paras bumi. Pergerakan ini dapat terjadi melalui sistem goa lava (lava tube) yang khas untuk gunung-gemunung berapi laut. Tepatnya gunung-gemunung berapi basaltik, yang memuntahkan magma bersifat basa sehingga lebih encer dan lebih mampu mengalir jauh sekaligus lebih berkemungkinan membentuk sistem goa lava yang sangat panjang.

Goa Lava

Dengan demikian terbentuknya gunung berapi baru ini mengikuti fenomena yang terjadi di Gunung Kilauea, Hawaii (Amerika Serikat), salah satu gunung berapi laut terpopuler. Pada 2018 TU silam, gunung ini meletus sebagai Letusan Puna 2018. Lubang letusan tak berada di kawah utama, melainkan pada sejumlah titik di desa Leilani Estate di lereng gunung yang berjarak mendatar 40 km dari kawah. Letusan Puna 2018 berkecamuk selama 3 bulan lamanya dan memuntahkan tak kurang dari 700 juta meter3 magma, menjadikannya letusan gunung berapi yang terbesar untuk tahun 2018 TU. Transfer magma dari dapur magma yang berada tepat di bawah kawah utama menuju ke lubang-lubang letusan sejauh itu berlangsung melalui sistem goa lava.

Aktivitas vulkanik menjadi hal wajar bagi Kepulauan Komoro, sebuah kepulauan yang adalah untaian puncak gunung-gemunung berapi dasar laut yang menyembul di atas paras air laut. Di pulau terbesar, yakni pulau Grande Comoro (terbentuk 130 ribu tahun silam) menjulang tinggi Gunung Karthala yang terakhir meletus pada 2007 TU silam. Sementara pulau Mayotte adalah pulau tertua yang terbentuk sekitar 11 juta tahun silam sekaligus terkalem dengan letusan gunung berapi terakhir terjadi antara 7.000 hingga 4.000 tahun silam. Letusan itu membentuk pulau kecil Petite Terre, yang berjarak 5 km di sebelah timur Mayotte dan kini menjadi pintu gerbang utama ke pulau Mayotte dengan bandaranya. Terbentuknya gunung-gemunung berapi laut di kepulauan ini adalah wajar, mengingat posisinya yang berdiri di retakan kerakbumi yang memungkinkan magma menyeruak dari lapisan selubung melalui vulkanisme titik-panas (hot-spot volcanism).

Gambar 6. Tatanan tektonik benua Afrika bagian timur yang tersusun oleh lempeng Nubia, lempeng Somalia dan tiga mikrolempeng. Masing-masing mikrolempeng Victoria, Rovuma dan Lwandle. Kepulauan Komoro beserta pulau Mayotte (MAYG) terletak di retakan kerakbumi yang menjadi batas antara lempeng Somalia dengan mikrolempeng Lwandle. Sumber: Lemoine dkk, 2019.

Retakan tersebut adalah konsekuensi dari tatanan tektonik Afrika timur yang rumit. Pada dasarnya benua Afrika bagian timur tersusun oleh lempeng Nubia yang bersifat kontinental serta lempeng Somalia yang kontinental dan oseanik. Lempeng Nubia bergerak ke barat-barat daya sementara lempeng Somalia ke timur laut. Batas antara kedua lempeng merupakan zona divergen yang adalah bagian dari lembah retakan besar (Great Rift Valley), lembah besar sangat panjang yang menjulur dari Palestina hingga Afrika bagian tengah. Pada bagian selatan, interaksi lempeng Nubia dan Somalia dibatasi oleh tiga mikrolempeng. Masing-masing mikrolempeng Victoria, Rovuma dan Lwandle. Mikrolempeng Lwandle menjadi dasar dari hampir segenap pulau Madagaskar dan Selat Mozambik. Retakan kerakbumi yang melintasi Kepulauan Komoro merupakan batas antara mikrolempeng Lwandle dengan lempeng Somalia.

Bilamana tingkat pertumbuhannya seperti sekarang, maka puncak gunung berapi baru ini akan menyembul di paras air selat Mozambik pada 5 tahun setelah kelahirannya, atau sekitar tahun 2022 TU kelak. Dengan catatan bila aktivitasnya berlangsung secara kontinu dan konstan. Realitanya aktivitas gunung berapi dengan pengeluaran magma demikian besar tak pernah berlangsung lama sepanjang catatan sejarah kita manusia. Sehingga mungkin butuh waktu beratus atau bahkan beribu tahun lagi bagi gunung berapi baru ini untuk menyembul ke paras air laut menjadi sebuah pulau vulkanik baru.

Referensi

Lemoine dkk. 2019. The Volcano-tectonic Crisis of 2018 East of Mayotte, Comoros Islands. Geophysical Journal International, submitted February 26, 2019.

Mendongengi Pendongeng Geologi, Mengenang Rovicky Dwi Putrohari (1963-2019)

“Hambok aku diewangi,” begitu perbincangan pertama saya dan pakdhe dalam beberapa jam setelah kami berbagi nomor ponsel per-email. Ya, lawan bicara saya adalah almarhum Rovicky Dwi Putrohari, sang pendongeng kebumian legendaris yang baru berpulang itu. Perbincangan itu berlangsung pada medio Juni 2006, sekira 2 atau 3 minggu selepas Gempa Yogya 2006 nan mengharu-biru. Bencana yang menyayat hati, saya bersama banyak saudara menyaksikan langsung kala bumi laksana diguncang angkara. Malapetaka yang merenggut nyawa 6.234 orang, membuat 36.299 orang lainnya luka-luka berat maupun ringan serta memaksa lebih dari 1,5 juta orang menjadi pengungsi seiring rusaknya 616.458 unit bangunan di Bantul, Klaten, kota Yogyakarta, Kulonprogo dan Gunungkidul.

Gambar 1. Pertemuan terakhir dengan pakdhe dalam satu forum kebencanaan di Yogyakarta, medio Oktober 2018 TU. Dari kiri ke kanan adalah mas Budi (Muhammadiyah Disaster Management Centre), pak Suharko (geolog, kawan karib pakdhe), pakdhe, saya dan mas Fahmi (geolog muda yang baru pulang dari kota Palu). Dokumentasi pribadi.

Di sela-sela kegiatan ber-relawan, iseng saya kirimkan ringkasan hasil perhitungan energetika Gempa Yogya ke Dongeng Geologi. Energetika itu mengupas seberapa besar energi seismik Gempa Yogya 2006 sekaligus menjadi bantahan bencana itu adalah ulah kotor tangan-tangan manusia. Karena butuh senjata nuklir berkekuatan besar untuk bisa melepaskan energi sebesar Gempa Yogya dan jelas bakal ada efek samping detonasi nuklir yang tak bisa dinegasikan, mulai tsunami hingga masalah pencemaran radiasi nuklir. Saat itu memang berkembang hoaks adanya tangan-tangan jahat yang meledakkan senjata nuklir di dasar laut di selatan Parangtritis hingga memproduksi Gempa Yogya. Perhitungan energetika serupa pernah saya kerjakan pada momen Gempa Aceh 2004 nan fenomenal itu. Meski hasilnya dibagi terbatas ke sejumlah sejawat (dan sepi tanggapan), sementara versi yang lebih lunak (yang tak berhias aneka angka dan persamaan matematika) sambil lalu saya kirim ke satu koran Jawa Tengah (dan entah bagaimana ceritanya malah naik cetak).

“Ngewangi pakdhe? Lah apa ndak nguyahi segara?” Ya, saya selalu memanggilnya pakdhe sedari awal perkenalan kami. Sebaliknya panggilan untuk saya-lah yang berubah-ubah laksana gayut alur evolusi geologis. Mulai dari thole yang jadi ciri khasnya, hingga mas dan belakangan malah pak. Diajak membantu sang pendongeng geologi yang saya kagumi, yang tulisan-tulisan di blognya saya ikuti bertahun-tahun terutama semenjak peristiwa Gempa Aceh 2004? Itu laksana menggarami lautan. Ngajari wong pinter. Lagipula energetika gempa bumi bukanlah perkara sulit. Itu sekedar memainkan kalkulator pada persamaan umum Gutenberg-Richter (log E = aM + b) yang telah diderivasikan ke berbagai bentuk. Diikuti seni mengubah besaran satuan.

Saya lebih menyukai penggunaan satuan kiloton TNT maupun megaton TNT karena lebih ‘nendang,’ lebih kontekstual. Bukannya Joule apalagi Erg yang relatif ‘kering.’ Kiloton/megaton TNT banyak digunakan dalam cabang ilmu fisika energi tinggi dan awalnya digunakan menjelaskan kekuatan ledakan nuklir. Bom nuklir yang meluluhlantakkan Hiroshima memiliki energi 12 kiloton TNT, sementara kembaran-beda-bentuk -nya di Nagasaki berkekuatan 20 kiloton TNT. Belakangan satuan ini digunakan pula dalam ilmu kebencanaan, misalnya mendeskripsikan besarnya energi letusan gunung berapi maupun gempa bumi/tsunami.

Di sisi lain saya saat itu hanya ingin menulis. Cuma berhasrat menata kata dalam guratan pena. Berharap bisa menuangkan penat dalam hati. Sembari merintis jalan menuju cahaya, mencari kekuatan penyembuh bagi luka dalam jiwa setelah anugerah kehidupan yang susul-menyusul. Kata seorang sejawat, menulislah agar tak ada lagi bisul dalam sukma. Bukan untuk berargumen atau berdebat dalam koridor sains tertentu guna mencari kebenaran ilmiah. Apalagi mengunduh popularitas.

Aku belajar geologi di Yogya lalu lanjut studi geofisika di Depok, tukasnya. Bahasan energi adalah makanan sehari-hari. Tapi aspek energi yang kupahami ya melulu seluk-beluk minyak bumi, gas alam dan batubara. Kadang geotermal. Bagaimana gempa terjadi, aku tahu mekanismenya. Aku bisa jelaskan tentang sesar (patahan), gejala-gejalanya dan kemungkinan pergerakannya. Tapi ya hanya sebatas itu. Tidak dengan aspek energinya. Berapa besar energi seismik yang dilepaskan? Berapa besar energi total gempa itu (istilah kerennya momen-seismik)? Seberapa besar fraksi energi yang berubah menjadi getaran dan bagaimana intensitas getarannya? Berapa yang berubah menjadi energi tsunami? Apakah energi sebesar itu bisa dipicu dari luar dengan tetap mempertahankan prinsip kekekalan energi? Itu semua di luar pengetahuanku.

Gambar 2. Diagram sederhana sumber Gempa Yogya 2006 berdasarkan analisis episentrum gempa-gempa susulan dan interferometri satelit. Pematahan pada sesar Oya melepaskan energi yang merambat kemana-mana, terutama melalui sesar Siluk sebagai jalan tol-nya. Bentang lahan lunak di antara sesar Opak dan sesar Progo tergetarkan hebat hingga mengalami amplifikasi getaran. Kerusakan terparah terjadi di sini. Sumber: Tsuji dkk, 2009 digambar ulang Sudibyo, 2015.

Geologi memandang gempa bumi hanya dari satu sisi, sedangkan peristiwa gempa bumi sendiri jelas multidimensi pengetahuan. Baik ilmu alam maupun sosial. Memandang gempa bumi dalam berbagai dimensi membuat kita bisa tahu fenomena itu secara lebih komprehensif. Untuk saat sekarang, itu bisa mengeliminasi hoaks yang tak berkeruncingan dan membantu menenangkan khalayak. Dalam jangka panjang, semoga membantu anak cucu kita dalam menyiapkan diri menghadapi peristiwa yang sama. Karena gempa bumi selalu berulang di satu lokasi setelah sekian waktu. Dan thole kan ngerti, geologi kadang sulit memberi penjelasan jika tak dibantu kacamata bersudut pandang lebih lebar.

Makanya astronomi pernah menjadi kacamatanya, tukas saya sambil mengutip cerita Alfred Wegener. Kami pun ngakak. Ya, Alfred Wegener sang pencetus gagasan pengapungan benua yang menjadi pondasi tektonik lempeng, sejatinya seorang astronom. Dialah yang pertama kali menyadari kemiripan bentuk pesisir timur benua Amerika bagian selatan dengan pesisir barat benua Afrika sebagai kepingan puzzle yang bisa dipersatukan. Maka pada tahun 1912 TU Wegener pun mengungkapkan gagasan pengapungan benuanya, hanya untuk melihatnya ‘dibantai’ habis-habisan oleh para pesohor dunia ilmu kebumian saat itu. Butuh waktu hampir setengah abad kemudian atau dua dasawarsa selepas berpulangnya Wegener dalam ekspedisi kutub utara, setelah melalui serangkaian survei bawahlaut Samudera Atlantik dan survei magnetik, untuk menyatakan Wegener memang benar. Benua-benua memang saling mengapung dan bergerak. Segenap kerak bumi kita yang padat dan kaku itu mengapung di atas bubur panas sangat kental yang dipenuhi gerakan berskala besar arus konvektif. Itulah lapisan selubung (mantel) Bumi. Dan dahulu semua benua pernah menjadi satu, sebagai superbenua Pangaea.

Berhari kemudian ada saudara mampir ke rumah mengangsurkan koran sembari nyengir menyebalkan. Di halaman depan bagian bawah terpampang artikel energetika Gempa Yogya berciri khas tulisan saya, lengkap dengan foto bertampang culun dalam ukuran kecil. Astaga! Ini kan yang kemarin kukirim ke Dongeng Geologi? Dikutip utuh bulat-bulat, plek-jiplek kata orang Kebumen. Pakdhe ketawa saja saat kami berbincang per telepon, memaparkan betapa kenalan jurnalisnya tertarik dengan lika-liku perbincangan seputar Gempa Yogya 2006 dan telah mohon izin untuk dimuat secara bersambung.

Gambar 3. Saat-saat tsunami Pangandaran 2006 menggempur kolam PLTU Bunton, Cilacap (Jawa Tengah). Tsunami ini dibangkitkan oleh Gempa Pangandaran 17 Juli 2006 (magnitudo 7,7) yang terjadi 45 menit sebelumnya. Gempa tersebut merupakan gempa-lambat sehingga meproduksi tsunami besar. Sumber: PLTU Bunton, 2006 dalam Lavigne, 2007.

Pancawarsa pasca perkenalan kami menjadi masa yang amat sibuk dan juga produktif bagi Dongeng Geologi. Sejumlah fenomena alam terjadi secara beruntun. Sebutlah Gempa Pangandaran 2006 yang tsunamigenik dan bersifat gempa-lambat (tsunami-earthquake) sehingga nyaris tak terasa getarannya, namun tanpa diduga samudera mendadak bergelora dalam sejam pascagempa. Juga Gempa Solok 2007, gempa ganda (doublet) yang sama energetiknya dengan Gempa Yogya 2006 dan meninggalkan banyak retakan tanah menarik di sekitar Danau Singkarak. Lantas Gempa Bengkulu 2007, yang meletup di zona megathrust Sunda di Sumatera terutama pada segmen Mentawai bagian selatan. Gempa yang menjadi bagian dari dekade teror gempa Sumatera (dalam istilah geolog legendaris pak Danny Hilman Natawidjaja) dan diduga adalah babak pertama dari perulangan doublet gempa megathrust 1797 – 1833.

Ada juga Gempa Laut Jawa 2007, episentrumnya berdekatan dengan Jakarta dan getarannya mengguncang luas seantero pulau Jawa, sebuah ciri khas gempa intralempeng berhiposentrum sangat dalam. Meski episentrumnya ada di lepas pantai utara Jawa, uniknya getarannya justru menyebabkan puluhan rumah rusak di Cianjur yang berada di pesisir selatan Jawa. Si ‘intra’ lain datang menerjang dua tahun kemudian dalam dua kejadian, tepatnya pada bulan September 2009. Diawali Gempa Tasikmalaya 2007 pada senja menjelang buka puasa, yang memicu tanah longsor Cikangkareng yang menewaskan puluhan orang. Disusul Gempa Padang 2009, hanya beberapa hari selepas Idul Fitri. Ratusan nyawa meregang dalam peristiwa gempa yang sama sekali tak diduga dan bukanlah bagian dekade teror gempa Sumatera. Dan berikutnya Gempa Mentawai 2010 naik ke panggung, sebuah gempa-lambat tsunamigenik dengan getaran yang ringan namun diikuti terjangan tsunami besar yang merenggut nyawa hampir 500 orang.

Bencana gempa bumi di mancanegara tak kalah menarik perhatian Dongeng Geologi. Sebut saja Gempa Wenchuan 2008 di sudut barat China, yang meletup di area konservasi kawanan panda. Gempa darat sangat kuat akibat patahnya sesar Longmenshan itu menelan korban jiwa tak kurang dari 60.000 orang. Lalu Gempa megathrust Chile 2010, yang sedikit lebih kuat ketimbang Gempa Nias 2005. Gempa yang melepaskan tsunami ke sekujur pesisir Samudera Pasifik, mulai dari California (AS) hingga Jepang dan Russia. Demikian halnya Gempa Hati 2010, gempa kuat yang tidak begitu besar namun menohok langsung ibukota sebuah negara miskin berpenduduk padat. Korban jiwa yang jatuh tak kurang dari 100.000 orang. Meski pemerintah Haiti sendiri mengklaim korban jiwa mencapai 316.000 orang, angka yang dianggap terlalu dibesar-besarkan untuk tujuan tertentu.

Dan yang paling fenomenal tentulah Gempa megathrust Tohoku-Oki 2011 di Jepang, yang setara kuatnya dengan gempa Aceh 2004. Gempa yang melepaskan tsunami raksasa ke seantero pesisir Samudera Pasifik dan merenggut nyawa tak kurang dari 16.000 orang. Tak sekedar merenggut korban jiwa, gempa itu juga memicu aneka krisis di Jepang. Yang paling menonjol tentulah krisis nuklir di keempat reaktor nuklir PLTN Fukushima Daichi. Keempatnya kehilangan aliran pendingin seiring putusnya catudaya listrik akibat matinya generator oleh terjangan tsunami. Reaktor-reaktor yang memanas, meleleh dan (sebagian) berujung pada ledakan Hidrogen menjadi panorama menggidikkan yang menghantui dunia.

Selain peristiwa gempa bumi, letusan sejumlah gunung berapi pun menggamit minat. Misalnya Gunung Merapi, yang letusannya pada 2006 TU meluncurkan awan panas dan lava pijar hingga mengubur bunker Kaliadem. Gunung Merapi meletus kembali empat tahun berikutnya, dengan letusan aneh yang menyebal dari kebiasaan umum. Letusan Merapi 2010 menjadi amukan gunung berapi terdahsyat di Indonesia dalam kurun seperempat abad terakhir, semenjak letusan Gunung Galunggung. Dua letusan itu diselingi oleh letusan Gunung Kelud di tahun 2007. Letusan ini semula dikhawatirkan bakal sangat merusak, seperti hikayat amukan Gunung Kelud sebelumnya. Tapi semesta raya selalu punya cara sendiri dalam menggoda kita manusia. Di tahun itu Gunung Kelud ternyata hanya menyembulkan gundukan kubahlava dari danau kawahnya secara berangsur-angsur hingga sebesar bukit. Tanpa ada pasir dan debu vulkanik menghujani kawasan sekitar. Tujuh tahun berikutnya barulah Gunung Kelud kembali ke perilaku aslinya dengan letusan dahsyat katastrofik, meremukkan kubahlavanya berkeping-keping dan melontarkannya ke langit untuk kemudian membedaki separo pulau Jawa.

Pakdhe selalu hadir dalam peristiwa-peristiwa tersebut. Tak hanya sebatas satu, kerap pakdhe menghadirkan rentetan artikel berkesinambungan bagi satu peristiwa. Semua tersaji dengan gayanya yang khas: ringan, renyah, bernas dan hidup. Tak seperti umumnya artikel ilmiah populer yang melulu datar dan kering dengan sedikit nuansa. Tak heran, meski terdapat sekian banyak blogger yang menggumuli popularisasi ilmu kebumian, perlahan namun pasti pakdhe menjadi selebriti. Pesohor geologi. Media darling. Kunjungan ke Dongeng Geologi pun melonjak pesat. Hingga pakdhe wafat sudah menyentuh angka 9 juta kunjungan, jauh di atas blog saya (Ekliptika) yang baru berkutat di angka 700 ribuan.

Gambar 3. Lubang Letusan Kelud 2014 di dalam kawah aktif Gunung Kelud, nampak masih berasap dan kering pascaletusan. Sebelum 2007 TU lubang ini tergenangi air sebagai danau kawah Kelud. Setelah 2007 TU danau kawah menghilang hampir sepenuhnya, digantikan oleh gundukan kubahlava sebesar bukit. Sumber: PVMBG, 2014.

Dalam masa tersebut pula diskusi kami menjadi kian intensif dengan memanfaatkan semua media yang memungkinkan. Mulai dari email dan media sosial saat itu (terutama facebook), telepon hingga layanan pesan singkat (SMS). Tak jarang kami masih berdiskusi hingga lepas tengah malam. Seperti kala Letusan Merapi 2010. Hingga sehari sebelum erupsi terjadi, kami mulai menyadari akan terjadi peristiwa yang tak biasa. Saat itu energi seismik akumulatif Merapi membumbung tinggi hingga tiga kali lipat energi pra-letusan Merapi 2006. Akan tetapi secara visual tak terlihat perubahan berarti di puncak selayaknya peristiwa letusan-letusan sebelumnya. Saya sudah khawatir akumulasi energi luar biasa besar itu akan keluar dari Gunung Merapi dalam tempo singkat sebagai erupsi eksplosif yang melepaskan gelombang kejut (shockwave), hempasan udara bertekanan sangat tinggi dan menjalar cepat yang khas pada kejadian-kejadian eksplosif. Berhari-hari hari kemudian kekhawatiran itu terbukti. Dan hingga Desember 2010, amukan Gunung Merapi telah melepaskan 27 megaton TNT energi, yang tak pernah terjadi dalam letusan-letusan Merapi sebelumnya (kecuali 1930).

Namun minat pakdhe tak hanya sebatas itu. Fenomena geologi lainnya pun menggamitnya untuk dibahas di Dongeng Geologi. Paling menonjol adalah kejadian semburan lumpur di dekat area pengeboran eksplorasi Lapindo Brantas di Porong, Sidoarjo (Jawa Timur). Peristiwa yang kini dipahami sebagai erupsi gunung lumpur (mud volcano) terbesar di dunia. Begitu intensifnya diskusi didalamnya sampai-sampai pakdhe memutuskan membuat spin-off Dongeng Geologi. Lahirlah blog khusus bertema HotMudFlow. Diskusi, pertarungan ide dan gagasan hingga otot-ototan argumentasi pun berlangsung seru di HotMudFlow. Baik dari kutub yang berpendapat mud volcano ini sebagai bencana alam yang dipicu getaran Gempa Yogya 2006, hingga kutub yang berargumen mud volcano ini sebagai kecelakaan industri akibat kelalaian manusia. Sependek amatan saya inilah satu-satunya platform yang secara konsisten dan berkelanjutan membahas kejadian mud volcano Sidoarjo hingga bertahun-tahun. Bukan sekedar hangat-hangat tahi ayam.

Minat pakdhe pun berkembang meluas. Bagaimana mataair zamzam eksis di kotasuci Makkah disertai cekungan air tanah yang menopang, dikupasnya dalam artikel yang ringan namun berkelas dan berbobot. Beliau juga tertarik pada hal-hal di luar lingkup ilmu kebumian seperti beberapa hal yang saya pelajari, mulai dari aneka benda langit hingga bagaimana cara kerja semesta raya beserta realitas fisik didalamnya. Dalam ranah ini saya laksana mendongengi sang pendongeng.

Peristiwa-peristiwa Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan dikupas dan didokumentasikannya dengan baik. Dan sebagai sosok Muslim, pakdhe secara khusus menaruh perhatian besar bagaimana fenomena-fenomena alam (baik dalam astronomi maupun geologi) bisa dideskripsikan dalam rangka mempertebal keimanan. Termasuk dalam diskursus penentuan awal bulan Hijriyyah dan penyatuan kalender Hijriyyah di Indonesia, bidang khusus yang di kemudian hari saya garap dengan serius dan formal.

Gambar 4. Rekaman naik-turunnya paras (permukaan) air laut saat peristiwa Tsunami Selat Sunda 2018. Nampak paras laut yang tadinya mengalami kenaikan secara bertahap dan lama mendadak naik dan turun dalam tempo jauh lebih singkat, sebuah ciri khas tsunami. Sumber: BIG, 2018.

Pakdhe adalah kawan diskusi yang menyenangkan. Kadangkala juga menjadi lawan diskusi yang tangguh dan susah ditaklukkan. Tak jarang kami berselisih pendapat pada berbagai hal hingga berujung pada diktum sepakat untuk tidak sepakat. Terutama jika diskusi sudah menyentuh masalah politik, kebijakan dan ketatanegaraan. Seperti persoalan blue energy yang mencuat di masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Pakdhe mengulasnya dengan antusias, menganggap sebagai salah satu solusi bagi energi Indonesia di tengah menyusutnya produksi minyak dan gas nasional (sementara konsumsi terus membengkak) dan belum jua ditemukan lapangan-lapangan raksasa minyak dan gas baru. Sebaliknya saya skeptis sedari awal, terutama karena memicu ‘radar’ too good to be true yang menjadi pedoman saya dalam mengidentifikasi hoaks. Aspek-aspek blue energy bertentangan dengan pengetahuan akan kekekalan dan perubahan energi.

Belakangan skandal meruak di Yogyakarta atas klaim menyadap energi listrik secara langsung dari fenomena peluruhan radioaktif. Klaim terbukti bohong dan memaksa pucuk pimpinan satu perguruan tinggi mengundurkan diri. Dan beliau adalah kawan pakdhe. “Sampeyan bener mas,” tukas pakdhe kala itu. Saya kalem saja. Karena ini bukanlah kemenangan yang patut dirayakan. Memprihatinkan bahwa perguruan tinggi yang menjadi tempat ilmu pengetahuan teknologi disemaikan, dikembangkan dan diajarkan bisa terperosok dalam situasi tersebut. Dalam beberapa hal saya masih bisa menerima bilamana hoaks berkembang di lingkungan masyarakat umum. Bukan pada masyarakat kampus yang sesungguhnya sangat terdidik.

Energi dan semangat pakdhe tak surut meski di tahun-tahun terakhir kondisi kesehatannya kian menurun seiring pergulatannya melawan sigmoid diverticulosis beserta segenap implikasinya. Kita harus terus menyampaikan seperti apa sesungguhnya bencana geologi semacam gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi dan gerakan tanah. Bukan menyebarkan rasa pesimis dan sikap tanpa harapan, meski ulasan tentang kebencanaan memang sering-seringnya seperti itu. Tapi dengan harapan membangun sikap kesiapsiagaan dan mental positif. Karena sebagai negara yang berdiri di atas pertemuan tiga lempeng inilah high risk high gain bagi Indonesia. Negeri yang beresiko besar terhadap aneka bencana geologi, namun juga dianugerahi sekian banyak kelebihan sumberdaya alam dibanding para tetangga. Dalam setiap kalimat dan kata, mari tempatkan semuanya di bawah payung besar agar berharap yang terbaik akan tetapi tetap bersiap untuk yang terburuk. Ya, jargon pengurangan resiko bencana.

Lewat semangat itulah pakdhe tetap tampil dimana-mana kala terjadi bencana Gempa Lombok 2018, Gempa dan tsunami Palu 2018 serta Tsunami Selat Sunda 2018. Pakdhe berkibar dimana-mana hingga kesulitan mengatur waktu wawancara dari satu stasiun televisi ke stasiun berikutnya. Sebaliknya beliau enggan menuangkan gagasannya di suratkabar. “Itu wilayah panjenengan pak,” tukasnya ketika itu. Sepanjang masa itu kami tak hanya bertukar pikiran akan hal-hal teknis semacam energetika maupun mekanisme bencana. Tetapi juga pada ranah strategis seperti saat mencorat-coreti dan menambahkurangi draft rancangan Sisnas-Perdimana. Tak peduli bahwa selama periode itu pakdhe bolak-balik ke rumah sakit. Tetap semangat hingga tiba di garis akhir.

Sugeng tindak pakdhe. Panjenengan saestu piyantun sae. Terimakasih atas semua ilmumu. Doa kami menyertaimu. Akan kami teruskan perjuanganmu…