Menuju Satu Idul Fitri 1440 H di Indonesia

Syawwal secara literal memiliki beragam makna mulai dari ‘ringan’ hingga ‘mengandung’. Ini merupakan jejak dari era belasan abad silam kala masih berlaku sistem penanggalan lunisolar, dimana bulan kalender ini berlangsung usai puncak musim panas di Semenanjung Hijaz (Saudi Arabia). Dengan suhu udara yang mulai menurun maka kehidupan menjadi lebih ringan, tanpa didera sengatan tajam sinar mentari. Suhu udara yang mulai menurun juga diikuti mulai mengandungnya unta-unta betina seiring datangnya musim kawin mereka.

Namun di masa kini, manakala sistem penanggalan telah bertransformasi menjadi lunar murni, peranan Syawwal bertitik berat pada aspek religius. Inilah bulan kalender Hijriyyah yang mengikuti pada bulan Ramadhan. Tanggal 1 Syawwal menandakan berakhirnya puasa Ramadhan dan diperingati sebagai hari raya Idul Fitri. Di Indonesia dan negara-negara Asia Selatan / Asia Tenggara, perayaan Idul Fitri juga memiliki dimensi ekonomis dan sosio-kultural. Aktivitas konsumsi publik meningkat sepanjang masa libur Idul Fitri, jutaan manusia bermigrasi untuk sementara ke tanah kelahirannya dan tempat-tempat wisata yang eksotis pun dijubeli pengunjung.

Hilaal

Seperti halnya bulan Ramadhan, bulan Syawwal merupakan bagian kalender Hijriyyah yang gayut (bergantung) pada periode sinodis Bulan sebagai rentang waktu antara dua peristiwa konjungsi Bulan-Matahari berurutan. Konjungsi Bulan-Matahari sendiri adalah peristiwa saat Bulan dan Matahari menempati satu garis bujur ekliptika yang sama dalam tata koordinat langit. Pengamatan menunjukkan nilai periode sinodis Bulan sesungguhnya bervariasi di antara 29 hari 8 jam hingga 29 hari 16 jam. Namun jika pengamatan dilakukan dalam jangka panjang dan hasilnya dirata-ratakan, maka diperoleh nilai periode sinodis Bulan rata-rata adalah 29 hari 12 jam 44 menit 3 detik. Inilah yang digunakan sebagai landasan untuk enetapkan panjang hari bulan Hijriyyah sebagai 29 hari atau 30 hari.

Gambar 1. Hilaal sebagai lengkungan sabit tertipis (tanda panah) dari Bulan yang teramati pasca Matahari terbenam setelah terjadinya konjungsi Bulan – Matahari. Hilaal ini diabadikan dari Pos Observasi bulan Pedalen Kebumen (jawa Tengah) pada Minggu 5 Mei 2019 TU oleh tim observasi BMKG dengan menggunakan teleskop Celestron NextStar 5E 125 mm yang dirangkai kamera Canon EOS 70D. Sumber: BMKG, 2019.

Penentu pergantian bulan kalender Hijriyyah adalah hilaal, lengkungan sabit Bulan tertipis / termuda yang bisa dideteksi dengan mata baik menggunakan instrumen maupun tidak. Idul Fitri pun ditentukan dengan cara demikian. Secara umum di Indonesia terdapat dua cara penentuan Idul Fitri. Yang pertama adalah rukyat hilaal (observasi hilaal), yakni mencoba mengamati hilaal dengan acuan setelah Matahari terbenam. Di satu sisi ini adalah cara penentuan dengan anggitan (rujukan) terbanyak dalam perspektif syariat. Akan tetapi di sisi lain cara ini butuh waktu hingga last minute guna memperoleh hasilnya. Sedangkan yang kedua adalah hisab (perhitungan astronomi), yakni mencoba memperhitungkan elemen-elemen posisional Bulan dan Matahari untuk kemudian diperbandingkan dengan persamaan batas (threshold) tertentu yang disebut kriteria. Di satu sisi hisab menyediakan aplikasi prediktif sejak jauh hari sebelumnya namun di sisi lain memiliki anggitan minimal. Pada dasarnya secara astronomi kedua cara tersebut berterima, sepanjang syarat dan ketentuan yang melekat pada masing-masing cara dipatuhi.

Indonesia memiliki sebuah kriteria untuk menentukan awal bulan kalender Hijriyyah, yang disebut kriteria Imkan Rukyat, atau disebut pula kriteria MABIMS karena menjadi acuan bagi Umat Islam di Asia Tenggara. Kriteria tersebut memiliki narasi tinggi Bulan toposentrik minimal adalah 2º dengan syarat tambahan. Yakni umur Bulan minimal 8 jam atau elongasi Bulan – Matahari minimal 3º. Kriteria ini dipergunakan baik dari sisi hisab, maupun dari sisi rukyat. Dari sisi hisab, maka apabila posisi Bulan sudah melebihi nilai kriteria ini awal bulan Hijriyyah yang baru sudah terjadi kala Matahari terbenam saat itu. Sementara dari sisi rukyat, kriteria ini juga menjadi alat untuk menerima atau menolak sebuah laporan hasil rukyat. Terutama jika laporan tersebut berdasarkan pada observasi mata telanjang saja, tanpa didukung alat bantu apapun dan tanpa citra/foto yang menjadi bukti.

Gambar 2. Posisi Bulan dan Matahari pada saat terbenamnya Matahari di Senin 3 Juni 2019 TU sebagai dasar pelaksanaan rukyat hilaal penentuan Idul Fitri 1440 H. Sumber: Sudibyo, 2019.

Indonesia

Bagaimana dengan Idul Fitri 1440 H di Indonesia?

Tanggal 29 Ramadhan 1440 H dalam Takwim Standar Indonesia bertepatan dengan Senin 3 Juni 2019 TU (Tarikh Umum). Pada tanggal inilah Idul Fitri 1440 H akan ditentukan, baik dengan cara hisab maupun rukyat. Pada almanak sejumlah ormas Islam seperti misalnya Nahdlatul ‘Ulama, Muhammadiyah dan Persis, tanggal 29 Sya’ban juga bertepatan pada hari yang sama.

Konjungsi geosentris Bulan dan Matahari terjadi pada hari Senin 3 Juni 2019 TU pukul 17:02WIB. Di seluruh Indonesia pada saat Matahari terbenam maka umur Bulan bervariasi mulai dari yang terkecil -1,6 jam (di Merauke, propinsi Papua) hingga yang terbesar +1,8 jam (di Banda Aceh, propinsi Aceh). Umur Bulan adalah selisih waktu di antara saat konjungsi geosentris Bulan dan Matahari dengan waktu lokal terbenamnya Matahari. Sementara tinggi toposentrik Bulan juga bervariasi dari yang terkecil -0º 57’ (di Jayapura, propinsi Papua) hingga yang terbesar +0º 22’ (di Pelabuhan Ratu, propinsi Jawa Barat). Demikian halnya elongasi Bulan bervariasi dari yang terkecil +3º 00’ (di Pelabuhan Ratu, propinsi Jawa Barat) hingga +3º 12’ (di Jayapura, propinsi Papua).

Gambar 3. peta tinggi Bulan di Indonesia pada 3 Juni 2019 TU waktu maghrib setempat berdasarkan sistem hisab kontemporer ELP 2000-82. Sumber: Sudibyo, 2019.

Dengan data-data tersebut, maka kriteria Imkan Rukyat tidak terpenuhi dari sisi hisab. Sementara dari sisi rukyat, masih harus menunggu hingga Matahari terbenam pada Senin senja 3 Juni 2019 TU, namun dengan Bulan terbenam lebih dulu dibanding Matahari pada saat ghurub (kecuali di sebagian Jawa dan sebagian Sumatra), maka mustahil hilaal bisa dilihat. Pada sebagian pulau Jawa dan pulau Sumatra pun, meski Bulan terbenam terlambat dibanding Matahari, namun selisih waktu antara terbenamnya Matahari dan terbenamnya Bulan sangat singkat. Kurang dari 5 menit. Dalam situasi seperti ini juga mustahil hilaal bisa dilihat. Dengan situasi demikian maka Idul Fitri 1440 H di Indonesia berpeluang sangat besar akan bertepatan dengan Rabu 5 Juni 2019 TU yang dimulai dari malam Rabu.

Bagaimana dengan belahan dunia lainnya?

Ada dua negara yang patut mendapat perhatian. Yang pertama adalah Saudi Arabia, negara yang membawahi dua tanah suci Umat Islam sedunia sehingga kerap dianggap sebagai kiblat dalam beragam aspek ibadah yang terkait dimensi spasial dan temporal. Termasuk dalam hal penentuan Idul Fitri. Arab Saudi bertumpu pada rukyat dalam menentukan 1 Syawwal 1440 H, namun bagaimana hasil rukyat di negara tersebut akan disikapi dapat dilihat dari sisi hisab.

Gambar 4. peta tinggi Bulan di seluruh dunia pada 3 Juni 2019 TU waktu maghrib setempat berdasarkan sistem hisab kontemporer. Sumber: BMKG, 2019.

Berbeda dengan Indonesia, segenap wilayah Saudi Arabia telah memiliki tinggi Bulan yang positif manakala Matahari terbenam pada Senin 3 Juni 2019 TU waktu setempat. Meski rentang tinggi Bulan di sana relatif kecil, yakni kurang dari 1º. Dengan tinggi Bulan yang sudah positif, bilamana apabila terdapat laporan hilaal berhasil dilihat maka laporan tersebut berkemungkinan untuk diterima. Sehingga terbuka kemungkinan Saudi Arabia akan ber-Idul Fitri pada Selasa 4 Juni 2019 TU.

Negara yang kedua yang patut menjadi perhatian adalah Turki, tempat berlangsungnya Konferensi Penyatuan Kalender Hijriyyah Internasional 2016 sekaligus sebagai satu-satunya negara yang hingga saat ini telah meratifikasi Resolusi Istanbul. Resolusi Istanbul menyebutkan awal bulan Hijriyyah telah terjadi apabila tinggi Bulan minimal 5º dan elongasi Bulan – Matahari minimal 8º dimanapun di daratan pada Bumi ini, sepanjang di negara paling timur (yakni Selandia Baru) belum terbit fajar.

Berdasarkan data hisab, maka pada daratan paling barat (yakni wilayah benua Amerika bagian selatan) telah terjadi tinggi Bulan lebih dari 5º pada saat Matahari terbenam 3 Juni 2019 TU. Namun elongasinya masih kurang dari 8º dan demikian pula pada saat Matahari terbenam di Amerika selatan ternyata di Selandia Baru sudah terjadi terbitnya Matahari. Dengan semua kondisi tersebut, Turki telah memutuskan jauh hari sebelumnya bahwa Idul Fitri 1440 H di Turki bertepatan dengan Selasa 4 Juni 2019 TU.

Idul Adha 1437 H, Kebersamaan di Tengah Dua Anomali (Kasus Unik Saudi Arabia dan Indonesia)

Hari raya Idul Adha 1437 H telah datang. Indonesia merayakannya pada Senin 12 September 2016 Tarikh Umum (TU), bertepatan dengan 10 Zulhijjah 1437 H. Dan tak seperti sebelumnya, kali ini tak ada yang berbeda. Kementerian Agama RI, sebagai representasi pemerintah, memutuskan 1 Zulhijjah bertepatan dengan Sabtu 3 September 2016 TU atas dasar sidang itsbat pada 1 September 2016 TU. Pada momen sidang itsbat tersebut, yang bertepatan dengan 29 Zulqaidah 1437 H dalam takwim standar Indonesia, seluruh sistem hisab (perhitungan astronomi) yang berkembang di Indonesia menyajikan data bahwa Bulan terbenam lebih dulu dibanding Matahari. Hal tersebut ditegaskan dari sisi rukyat (observasi) hilaal. Dalam momen yang bersamaan dengan terjadinya peristiwa Gerhana Matahari 1 September 2016 di 123 kota/kabupaten di Indonesia, rukyatul hilaal tak berhasil mendeteksi hilaal pada kesempatan tersebut. Sehingga bulan Zulqaidah 137 H pun harus digenapkan menjadi 30 hari (istikmal).

Keputusan senada juga disajikan oleh ormas-ormas Islam di Indonesia. Nahdlatul ‘Ulama, atas dasar rukyatul hilaal di banyak titik rukyat di berbagai penjuru Indonesia pada saat yang sama dan tak ada yang berhasil mendeteksi hilaal, menyampaikan ikhbar bahwa Idul Adha 10 Zulhijjah 1437 H bertepatan dengan Senin 12 September 2016 TU. Ikhbar tersebut dikeluarkan setelah sidang itsbat di Kementerian Agama RI usai. Demikian halnya Muhammadiyah. Jauh hari sebelumnya Muhammadiyah sudah memutuskan bahwa Idul Adha 1437 H bertepatan dengan Senin 12 September 2016 melalui maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah nomor 01/MLM/I.0/E/2016. Dasarnya adalah hisab sistem kontemporer dengan “kriteria” wujudul hilaal, dimana pada 1 September 2016 TU hilaal dinyatakan belum wujud di seluruh Indonesia karena tinggi Bulan pada saat Matahari terbenam berkisar antara minus 1o hingga 0o. Maklumat yang sama juga menetapkan 1 Ramadhan 1437 H bertepatan dengan Senin 6 Juni 2016 TU dan hari raya Idul Fitri 1 Syawwal 1437 H adalah Rabu 6 Juli 2016 TU. Demikian halnya Persatuan Islam (Persis), dengan dasar hisab sistem kontemporer berbasis “kriteria” LAPAN 2009.

Di mancanegara, keputusan penetapan hariraya Idul Adha 1437 H yang patut diperhatikan adalah keputusan Saudi Arabia. Pada hari yang sama dengan Indonesia, Saudi Arabia juga menggelar proses rukyat hilaal untuk menentukan Idul Adha 1437 H dan hari Arafah (hari wukuf) bagi jamaah haji. Hasilnya, wukuf di padang Arafah ditetapkan terjadi pada Minggu 11 September 2016 TU. Sementara hari raya Idul Adha di Saudi Arabia dirayakan pada hari berikutnya, yakni Senin 12 September 2016 TU. Keputusan ini segera menjadi rujukan bagi banyak negara Islam dan negara berpenduduk mayoritas Muslim serta komunitas Muslim di berbagai penjuru. Hanya sedikit yang berbeda dengannya. Misalnya Mesir, sebagian India dan Jerman yang merayakan Idul Adha pada Minggu 11 September 2016 TU. Sementara negara lain seperti sebagian India, Selandia Baru dan Pakistan baru akan menggelar shalat Idul Adha pada Selasa 13 September 2016 TU.

Penetapan 1 Zulhijjah adalah salah satu isu penting dalam perikehidupan Umat Islam di Indonesia karena terkait ibadah. Yakni hari raya Idul Adha pada tanggal 10 Zulhijjah yang didahului puasa Arafah sehari sebelumnya. Semenjak hari raya Idul Adha hingga empat hari kemudian, yakni pada hari-hari tasyrik (tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijjah), Umat Islam di Indonesia melaksanakan penyembelihan hewan kurban. Idul Adha menjadi satu dari dua hari raya Umat Islam di Indonesia, meski atmosfer budaya yang melingkupinya tak sekental momen hari raya Idul Fitri

Di tengah kebersamaan ini, sejatinya ada dua anomali yang menarik untuk dikupas terkait penetapan tersebut. Yakni anomali di Saudi Arabia dan (sebagian) Indonesia.

Saudi Arabia

Konjungsi geosentris Bulan dan Matahari (ijtima’ haqiqy), yakni momen saat Bulan dan Matahari menempati satu garis bujur ekliptika yang sama ditinjau dari titik pusat Bumi, terjadi pada Kamis 1 September 2016 TU pukul 16:03 WIB. Sementara konjungsi toposentris Bulan dan Matahari (ijtima’ mar’i), yakni momen yang sama dengan konjungsi geosentris Bulan dan Matahari namun ditinjau dari sebuah titik di paras (permukaan) Bumi terjadi lebih lambat dengan saat yang berbeda-beda. Di Indonesia, konjungsi toposentris terjadi jelang maghrib, seperti ternyata dari peristiwa Gerhana Matahari 1 September 2016. Di Saudi Arabia khususnya di kotasuci Makkah al-Mukarramah, Gerhana Matahari yang sama mencapai puncaknya pada pukul 11:23 waktu Saudi. Sehingga konjungsi toposentris di Makkah terjadi pada pukul 11:23 waktu Saudi, atau sebelum Matahari terbenam setempat.

Dalam kalender sipil Saudi Arabia, yang dikenal sebagai kalender Ummul Qura, 1 September 2016 TU juga bertepatan dengan 29 Zulqaidah 1437 H. Dan hari berikutnya merupakan tanggal 1 Zulhijjah 1437 H. Saudi Arabia menggunakan “kriteria” Ummul Qura dalam kalendernya. Secara sederhana “kriteria” ini mendeskripsikan:

awal bulan Hijriyyah terjadi tatkala seluruh cakram Bulan masih ada di atas horizon semu pada saat Matahari terbenam sempurna pasca konjungsi geosentrik Bulan dan Matahari.

Dalam bahasa astronomi, “kriteria” ini diformulasikan sebagai saat Lag Bulan > + 2 menit. Lag Bulan adalah selisih waktu keterlambatan terbenamnya Bulan terhadap terbenamnya Matahari. Lag Bulan bernilai positif saat Bulan terlambat terbenam dibanding Matahari dan sebaliknya bernilai negatif tatkala Bulan lebih dulu terbenam dibanding Matahari.

Gambar 1. Zona potensi ketampakan (visibilitas) hilaal per 1 September 2016 TU secara toposentrik berdasarkan kriteria Odeh (Audah). Warna merah tidak memenuhi moonset after sunset. Sementara warna selain merah sudah memenuhi moonset after sunset. Berdasar grafik ini Saudi Arabia sudah memenuhi syarat Ummul Qura, sementara sebagian pulau Sumatra (Indonesia) sudah memenuhi syarat wujudul hilaal. Sumber: Odeh, 2016.

Gambar 1. Zona potensi ketampakan (visibilitas) hilaal per 1 September 2016 TU secara toposentrik berdasarkan kriteria Odeh (Audah). Warna merah tidak memenuhi moonset after sunset. Sementara warna selain merah sudah memenuhi moonset after sunset. Berdasar grafik ini Saudi Arabia sudah memenuhi syarat Ummul Qura, sementara sebagian pulau Sumatra (Indonesia) sudah memenuhi syarat wujudul hilaal. Sumber: Odeh, 2016.

Namun harus digarisbawahi bahwa kalender Saudi Arabia dengan “kriteria” Ummul Qura-nya merupakan kalender sipil. Ia digunakan untuk kepentingan perikehidupan sehari-hari di negeri itu, mulai dari kepentingan ekonomi dan bisnis hingga politik ketatanegaraan. Sementara khusus untuk menentukan hari raya Idul Adha, Saudi Arabia menetapkannya berdasarkan rukyatul hilaal. Demikian halnya untuk menentukan awal puasa Ramadhan dan hari raya Idul Fitri. Sebab dalam pandangan Saudi Arabia, ketiga hal tersebut memiliki aspek ibadah yang kuat sehingga tidak mengacu pada kalender sipil yang mereka gunakan. Maka berpeluang terjadi situasi dimana Saudi Arabia memulai puasa Ramadhan saat kalendernya menunjukkan tanggal 2 Ramadhan, ber-Idul Fitri saat kalender menunjukkan tanggal 2 Syawwal dan ber-Idul Adha pada saat kalender menunjukkan tanggal 11 Zulhijjah. Inilah anomali itu.

Anomali tersebut terjadi pada tahun ini. Karena pada Kamis 1 September 2016 TU tidak terdeteksi hilaal di segenap penjuru Saudi Arabia, maka otoritas kerajaan ini menetapkan hari raya Idul Adha adalah pada Senin 12 September 2016 TU yang bertepatan dengan 11 Zulhijjah 1437 H. Konsekuensinya hari wukuf di padang Arafah, yang menjadi penentu pelaksanaan ibadah haji, adalah bertepatan dengan tanggal 10 Zulhijjah 1437 H. Konsekuensi ini merupakan hal yang tak terhindarkan manakala kalender Hijriyyah hendak dijadikan sebagai kalender sipil (muamalah) sebagaimana halnya kalender Tarikh Umum (Masehi/Gregorian) dengan kriteria yang tetap, sementara pendapat fikih mayoritas dalam penentuan waktu ibadah puasa Ramadhan dan dua hari raya adalah berdasarkan rukyatul hilaal.

Anomali semacam ini bukanlah yang pertama kali terjadi di Saudi Arabia. Konstelasinya sepanjang empat tahun terakhir adalah sebagai berikut:

  • Awal puasa Ramadhan 1434 H bertepatan dengan Kamis 2 Ramadhan 1434 H kalender Saudi Arabia (10 Juli 2014 TU).

  • Hari raya Idul Adha 1436 H bertepatan dengan Kamis 11 Zulhijjah 1436 H kalender Saudi Arabia (24 September 2015 TU).

  • Hari raya Idul Adha 1437 H bertepatan dengan Senin 11 Zulhijjah 1437 H kalender Saudi Arabia (12 September 2016 TU).

Saudi Arabia berpandangan mereka memiliki dasar yang kuat terkait anomali tersebut. Di masa Rasulullah SAW juga pernah terjadi shalat Idul Fitri digelar pada tanggal 2 Syawwal. Yakni bersandar hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah, dengan terjemahan sebagai berikut :

“Telah menceritakan kepada kami (Abu Bakr bin Abu Syaibah) berkata, telah menceritakan kepada kami (Husyaim) dari (Abu Bisyr) dari (Abu Umair bin Anas bin Malik) ia berkata; telah menceritakan kepadaku (paman-pamanku) dari kalangan Anshar -mereka adalah para sahabat Rasulullah SAW- mereka berkata, “Kami tidak dapat melihat hilal bulan Syawal, maka pada pagi harinya kami masih berpuasa, lalu datanglah kafilah di penghujung siang, mereka bersaksi di sisi Nabi SAW bahwa kemarin mereka melihat hilal. Maka Rasulullah SAW pun memerintahkan mereka berbuka, dan keluar untuk merayakan hari rayanya pada hari esok. ”
Hadits Imam Ibnu Majah nomor 1643.

Memang butuh kajian lebih lanjut melalui ilmu-ilmu terkait, namun hadits ini menyajikan kesan bahwa ibadah (hari raya Idul Fitri) boleh berselisih terhadap kalender (Hijriyyah).

Indonesia

Bagaimana dengan Indonesia? Anomali serupa ternyata juga terjadi meski kejadiannya adalah sebaliknya. Ini dialami oleh Muhammadiyah. Kalender Hijriyyah yang dpedomani Muhammadiyah merupakan kalender yang berdasarkan pada “kriteria” wujudul hilaal dan diberlakukan ke seluruh Indonesia melalui prinsip transfer wujudul hilaal (naklul wujud). Secara sederhana “kriteria” wujudul hilaal mendeskripsikan :

awal bulan Hijriyyah terjadi tatkala piringan teratas cakram Bulan masih ada di atas horizon semu pada saat Matahari terbenam sempurna pasca konjungsi geosentrik Bulan dan Matahari.

Sekilas “kriteria” ini mirip dengan “kriteria” Ummul Qura dengan sedikit perbedaan dalam kedudukan cakram Bulan. Dalam bahasa astronomi, “kriteria” wujudul hilaal ini diformulasikan sebagai saat Lag Bulan > + 0 menit atau singkatnya moonset after sunset. Dan dengan prinsip transfer wujudul hilaal, apabila terjadi situasi dimana sebagian Indonesia sudah memenuhi kondisi wujudul hilaal (positif) sementara sebagian lainnya belum memenuhi (negatif) maka daerah-daerah yang masih negatif musti mengikuti daerah yang sudah positif. Sehingga terdapat satu kesatuan. Dalam hal ini prinsip transfer wujudul hilaal tak berbeda dengan konsep wilayatul hukmi yang dipergunakan Kementerian Agama RI maupun sejumlah ormas Islam di Indonesia lainnya. Hanya namanya saja yang berbeda.

adha-gb2-a_sdh-wujud

Gambar 2. Perbandingan posisi serta kedudukan cakram Bulan dan Matahari pada saat syarat wujudul hilaal sudah terpenuhi (atas) dan wujudul hilaal belum terpenuhi (bawah). Perhatikan bahwa dalam kedua contoh tersebut, tinggi Bulan (dihitung dari horizon sejati) adalah sudah negatif. Namun patokan wujudul hilaal adalah horizon semu (ufuk mar'i). Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 2. Perbandingan posisi serta kedudukan cakram Bulan dan Matahari pada saat syarat wujudul hilaal sudah terpenuhi (atas) dan wujudul hilaal belum terpenuhi (bawah). Perhatikan bahwa dalam kedua contoh tersebut, tinggi Bulan (dihitung dari horizon sejati) adalah sudah negatif. Namun patokan wujudul hilaal adalah horizon semu (ufuk mar’i). Sumber: Sudibyo, 2016.

Pada saat Matahari terbenam di hari Kamis 1 September 2016 TU, hampir di seluruh Indonesia sudah mengalami konjungsi geosentrik Bulan dan Matahari. Dan di seluruh Indonesia tinggi Bulan bervariasi antara minus 1o hingga 0o. Hampir di seluruh Indonesia pula kondisi moonset after sunset tak terpenuhi. Dalam grafik visibilitas Odeh secara global (gambar 1), kawasan yang tidak memenuhi syarat moonset after sunset adalah kawasan yang berwarna merah. Sementara kawasan yang sudah memenuhi syarat moonset after sunset adalah yang berwarna selain merah. Dapat dilihat dalam grafik tersebut bahwa mayoritas Indonesia berada dalam kawasan merah. Perkecualian adalah di sebagian pulau Sumatra khususnya bagian utara. Meski di sini tinggi Bulan sudah negatif (dihitung terhadap horizon sejati), namun terjadi situasi dimana moonset after sunset sudah potensial terpenuhi. Sehingga wilayah ini tercakup ke dalam kawasan berwarna putih.

adha-gb3_a-jakarta

Gambar 3. Perbandingan posisi serta kedudukan cakram Bulan dan Matahari untuk titik Jakarta (atas) dan Palembang (bawah) pada 1 September 2016 TU saat Matahari terbenam. Perhatikan bahwa di kedua titik tersebut, syarat wujudul hilaal belum terpenuhi. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 3. Perbandingan posisi serta kedudukan cakram Bulan dan Matahari untuk titik Jakarta (atas) dan Palembang (bawah) pada 1 September 2016 TU saat Matahari terbenam. Perhatikan bahwa di kedua titik tersebut, syarat wujudul hilaal belum terpenuhi. Sumber: Sudibyo, 2016.

Untuk mengevaluasi potensi tersebut maka diuji apakah Bulan telah sepenuhnya berada di bawah horizon semu ataukah tidak manakala Matahari terbenam untuk titik-titik tertentu di pulau Sumatra dan Jawa pada 1 September 2016 TU. Evaluasi dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Accurate Times 5.2 karya Mohammad Odeh dari ICOP (International Crescent’s Observation Project). Perhitungan di-setting secara toposentrik pada enam titik berbeda masing-masing lima di pulau Sumatra (Palembang, Medan, Banda Aceh, pulau Simeulue dan pulau Nias) serta satu di pulau Jawa (Jakarta). Titik di pulau Jawa sekaligus menjadi titik kontrol mengingat berada di wilayah Gerhana Matahari 1 September 2016.

Di titik Jakarta (propinsi DKI Jakarta), diperoleh bahwa pada saat Matahari terbenam sempurna maka Bulan juga sudah sepenuhnya terbenam. Mengingat piringan teratas Bulan sudah sepenuhnya berada di bawah horizon semu. Sehingga di sini moonset after sunset belum terjadi. Hal serupa juga terjadi di titik Palembang (propinsi Sumatra Selatan). Hal menarik yang dapat dicermati dari titik Jakarta adalah cakram Bulan yang beririsan dengan cakram Matahari. Ini menunjukkan pada saat terbenam di titik Jakarta, Matahari memang sedang mengalami Gerhana Matahari. Dan hal ini memang benar-benar terjadi, dimana dua lokasi di DKI Jakarta berhasil mengabadikan saat-saat awal gerhana tersebut. Yakni di titik rukyat hilaal pulau Karya, yang dilaksanakan oleh tim gabungan Kementerian Agama Kanwil Jakarta, Kementerian Agama Kep. Seribu, Lembaga Falakiyah PWNU Jakarta dan Jakarta Islamic Centre. Sementara yang kedua di titik rukyat hilaal Kemayoran, yang dilaksanakan oleh tim BMKG pusat.

adha-gb3_c-medan

Gambar 4. Perbandingan posisi serta kedudukan cakram Bulan dan Matahari untuk titik Medan (atas) dan Banda Aceh (bawah) pada 1 September 2016 TU saat Matahari terbenam. Perhatikan bahwa di kedua titik tersebut, syarat wujudul hilaal sudah terpenuhi. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 4. Perbandingan posisi serta kedudukan cakram Bulan dan Matahari untuk titik Medan (atas) dan Banda Aceh (bawah) pada 1 September 2016 TU saat Matahari terbenam. Perhatikan bahwa di kedua titik tersebut, syarat wujudul hilaal sudah terpenuhi. Sumber: Sudibyo, 2016.

Berbeda halnya dengan titik Medan (propinsi Sumatra Utara). Disini diperoleh bahwa pada saat Matahari terbenam sempurna Bulan ternyata belum sepenuhnya terbenam. Sebab piringan teratas Bulan masih ada di bawah horizon semu, meski bagian lainnya sudah di bawah horizon semu. Situasi serupa juga terjadi di titik Banda Aceh (propinsi Aceh), titik Sinabang di pulau Simeulue (propinsi Aceh) dan titik Gunungsitoli di pulau Nias (propinsi Sumatra Utara). Pada ketiga titik terakhir tersebut semuanya mengalami situasi Bulan belum sepenuhnya terbenam tatkala Matahari sudah terbenam sempurna, dimana masih ada bagian piringan teratas Bulan yang menyembul di atas horizon semu.

Dengan demikian syarat wujudul hilaal sejatinya telah terpenuhi di sebagian pulau Sumatra, setidaknya di propinsi Aceh dan Sumatra Utara. Seyogyanya dengan prinsip transfer wujudul hilaal maka daerah-daerah lain di Indonesia yang belum memenuhi syarat musti mengikuti Aceh dan Sumatra Utara (yang sudah memenuhi syarat wujudul hilaal). Bila hal ini diberlakukan maka seyogyanya 1 Zulhijjah 1437 H di Indonesia menurut “kriteria” wujudul hilaal bertepatan dengan Jumat 2 September 2016 TU. Dan hari raya Idul Adha seyogyanya bertepatan dengan Minggu 11 September 2016 TU.

adha-gb3_e-simeulue

Gambar 5. Perbandingan posisi serta kedudukan cakram Bulan dan Matahari untuk titik Sinabang di pulau Simeulue (atas) dan Gunungsitoli di pulau Nias (bawah) pada 1 September 2016 TU saat Matahari terbenam. Perhatikan bahwa di kedua titik tersebut, syarat wujudul hilaal sudah terpenuhi. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 5. Perbandingan posisi serta kedudukan cakram Bulan dan Matahari untuk titik Sinabang di pulau Simeulue (atas) dan Gunungsitoli di pulau Nias (bawah) pada 1 September 2016 TU saat Matahari terbenam. Perhatikan bahwa di kedua titik tersebut, syarat wujudul hilaal sudah terpenuhi. Sumber: Sudibyo, 2016.

Namun situasi tersebut tidak terjadi. Muhammadiyah dalam maklumatnya menetapkan hari raya Idul Adha bertepatan dengan Senin 12 September 2016 TU. Inilah anomali itu. Personalia pengurus pusat Muhammadiyah dalam penjelasan singkatnya (secara personal) menyebut bahwa situasi ini terjadi karena di titik acuan perhitungan (markaz), yakni di Yogyakarta, situasi moonset after sunset belum terpenuhi.

Meski penjelasan ini belum menjawab pertanyaan bagaimana dengan prinsip transfer wujudul hilaal, sebagaimana yang pernah diterapkan pada penentuan 1 Ramadhan 1434 H (2013 TU) di Indonesia. Dimana pada saat itu sebagian Indonesia (khususnya pulau-pulau Sumatra, Jawa, kepulauan Bali dan Nusa Tenggara serta sebagian pulau Kalimantan dan sebagian kecil Sulawesi) sudah memenuhi syarat wujudul hilaal pada Senin 8 Juli 2013 TU sementara sisanya belum. Namun Muhammadiyah memaklumatkan seluruh Indonesia sudah memasuki 1 Ramadhan 1434 H (menurut “kriteria” wujudul hilaal) pada keesokan harinya Selasa 9 Juli 2013 TU.

Gambar 6. Zona potensi ketampakan (visibilitas) hilaal per 8 Juli 2013 TU secara toposentrik berdasarkan kriteria Odeh (Audah). Warna merah tidak memenuhi moonset after sunset. Berdasar grafik ini sebagian Indonesia sudah memenuhi syarat wujudul hilaal. Dengan prinsip transfer wujudul hilaal, maka Muhammadiyah memaklumatkan bahwa saat tu seluruh Indonesia sudah memenuhi syarat wujudul hilaal. Sumber: Odeh, 2013.

Gambar 6. Zona potensi ketampakan (visibilitas) hilaal per 8 Juli 2013 TU secara toposentrik berdasarkan kriteria Odeh (Audah). Warna merah tidak memenuhi moonset after sunset. Berdasar grafik ini sebagian Indonesia sudah memenuhi syarat wujudul hilaal. Dengan prinsip transfer wujudul hilaal, maka Muhammadiyah memaklumatkan bahwa saat tu seluruh Indonesia sudah memenuhi syarat wujudul hilaal. Sumber: Odeh, 2013.

Di atas semua persoalan teknis tersebut, patut disyukuri bahwa kedua anomali itu menjadikan Idul Adha 1437 H dapat kita rayakan bersama-sama di Indonesia di sebagian besar dunia pada hari yang sama. Kebersamaan semacam ini yang telah lama didamba oleh Umat Islam dimanapun berada. Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah SAW bertutur bahwa hari raya adalah saat orang banyak berhari raya. Semoga kebersamaan ini dapat selalu terlaksana dalam hal waktu-waktu ibadah (awal Ramadhan dan dua hari raya) ke depan.

Gerhana Bulan Penumbral 23 Maret 2016, Gerhana yang tak Diikuti Shalat Gerhana

Rabu 23 Maret 2016 senja. Jika Matahari terbenam, atau azan Maghrib telah berkumandang, layangkanlah pandangan mata anda ke arah timur. Bila langit cerah atau berbalut sedikit awan, akan terlihat Bulan mengapung rendah di atas ufuk timur. Sekilas pandang, kita akan melihatnya sebagai Bulan bulat bundar penuh khas purnama. Tetapi sesungguhnya sejak terbit hingga pukul 20:53 WIB nanti, Bulan sedang dalam kondisi gerhana Bulan. Inilah gerhana unik yang bernama resmi Gerhana Bulan Penumbral, atau kadang disebut juga gerhana Bulan samar. Inilah jenis Gerhana Bulan yang tak akrab bagi telinga kita. Sebab dalam gerhana jenis ini, jangankan menyaksikan Bulan menghilang sepenuhnya bergantikan obyek sangat redup berwarna kemerah-merahan dalam puncak gerhananya, Bulan setengah meredup pun tak bakal dijumpai.

Gambar 1. Bulan saat mengalami fase gerhana penumbral (kiri) dan purnama pasca gerhana (kanan), diabadikan dengan teleskop yang terangkai kamera dalam momen Gerhana Bulan 4 April 2015 silam. Nampak Bulan sedikit menggelap di sudut kanan atasnya pada saat fase penumbral terjadi. Secara kasat mata penggelapan ini tak teramati. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 1. Bulan saat mengalami fase gerhana penumbral (kiri) dan purnama pasca gerhana (kanan), diabadikan dengan teleskop yang terangkai kamera dalam momen Gerhana Bulan 4 April 2015 silam. Nampak Bulan sedikit menggelap di sudut kanan atasnya pada saat fase penumbral terjadi. Secara kasat mata penggelapan ini tak teramati. Sumber: Sudibyo, 2016.

Lah bagaimana bisa Bulan yang tampak sebagai purnama sesungguhnya sedang mengalami gerhana? Pada dasarnya peristiwa Gerhana Bulan terjadi tatkala tiga benda langit dalam tata surya kita yakni Matahari, Bulan dan Bumi tepat berada dalam satu garis lurus secara tiga dimensi. Atau dalam istilah teknisnya mereka membentuk konfigurasi syzygy. Di tengah-tengah konfigurasi tersebut terletak Bumi. Akibatnya pancaran sinar Matahari yang seharusnya tiba di paras Bulan terhalangi oleh Bumi. Sehingga membuat Bulan tak memperoleh sinar Matahari yang mencukupi. Atau bahkan tak mendapatkannya sama sekali untuk periode waktu tertentu.

Sebagai imbasnya, Bulan yang sejatinya sedang berada dalam fase Bulan purnama pun temaram atau bahkan sangat redup kemerah–merahan dalam beberapa jam kemudian. Sedikit berbeda dengan Gerhana Matahari, Gerhana Bulan memiliki wilayah gerhana cukup luas meliputi lebih dari separuh bola Bumi yang sedang berada dalam suasana malam. Karena garis tengah Matahari jauh lebih besar ketimbang Bumi, maka Bumi tak sepenuhnya menghalangi pancaran sinar Matahari yang menuju ke Bulan. Sehingga bakal masih ada bagian sinar Matahari yang lolos meski intensitasnya berkurang. Ini membuat wilayah gerhana Bulan pun terbagi ke dalam zona penumbra (bayangan tambahan) dan zona umbra (bayangan utama).

Jenis

Bagaimana gerhana samar yang unik ini bisa terjadi? Pada dasarnya ada tiga jenis Gerhana Bulan. Yang pertama adalah Gerhana Bulan Total (GBT), terjadi kala bayangan utama Bumi sepenuhnya menutupi cakram Bulan tanpa terkecuali. Sehingga Bulan akan nyaris menghilang sepenuhnya saat puncak gerhana tiba, menampakkan diri sebagai benda langit sangat redup berwarna kemerah–merahan. Yang kedua adalah Gerhana Bulan Sebagian (GBS), terjadi kala bayangan utama Bumi tak sepenuhnya menutupi cakram Bulan. Akibatnya Bulan hanya akan lebih redup dan terlihat ‘robek’ di salah satu sisinya dengan persentase tertentu di puncak gerhana. Dan yang terakhir adalah Gerhana Bulan Penumbral (GBP) atau gerhana Bulan samar, yang bisa terjadi kala hanya bayangan tambahan Bumi yang menutupi cakram Bulan, baik menutupi sepenuhnya maupun separo. Tak ada bayangan utama Bumi yang turut menutupi. Dalam gerhana samar ini, Bulan masih tetap mendapatkan sinar Matahari meski intensitasnya sedikit lebih rendah dibanding seharusnya.

Bila Gerhana Bulan Total dan Gerhana Bulan Sebagian mudah diidentifikasi secara kasat mata, tidak demikian halnya dengan Gerhana Bulan Penumbral. Dalam pandangan mata kita, kala Gerhana Bulan Penumbral terjadi Bulan akan tetap terlihat bulat bundar penuh sebagai purnama. Hanya melalui teleskop yang dilengkapi kamera memadai sajalah fenomena gerhana Bulan samar ini bisa disaksikan.

Gerhana Bulan 23 Maret 2016 merupakan gerhana Bulan samar, yang terjadi sebagai konsekuensi dari Gerhana Matahari 9 Maret 2016 tepat 14 hari sebelumnya. Ya, ada hubungan antara dua gerhana tersebut. Pada dasarnya tidak setiap saat purnama diikuti dengan peristiwa Gerhana Bulan, meskipun Gerhana Bulan selalu terjadi tepat pada saat Bulan purnama. Musababnya adalah orbit Bulan yang tak berimpit dengan ekliptika (bidang edar Bumi mengelilingi Matahari), melainkan membentuk sudut sebesar 5°. Karena menyudut seperti ini maka terdapat dua titik potong antara orbit Bulan dan ekliptika, yang dinamakan titik nodal. Mengikuti arah gerak Bulan dalam mengelilingi Bumi, maka kedua titik nodal tersebut terdiri dari titik nodal naik (ascending node) dan titik nodal turun (descending node).

Gambar 2. Peta wilayah Gerhana Bulan Penumbral 23 Maret 2016 untuk lingkup global. Perhatikan bahwa hanya di wilayah A dan B (baik B1 maupun B2) saja Gerhana Bulan ini bisa dilihat, sepanjang langit tak berawan. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 2. Peta wilayah Gerhana Bulan Penumbral 23 Maret 2016 untuk lingkup global. Perhatikan bahwa hanya di wilayah A dan B (baik B1 maupun B2) saja Gerhana Bulan ini bisa dilihat, sepanjang langit tak berawan. Sumber: Sudibyo, 2016.

Tidak setiap saat purnama terjadi bertepatan dengan Bulan menempati salah satu dari dua titik nodal ini. Namun begitu Bulan berada di titik ini atau hanya didekatnya saja saat purnama terjadi, peristiwa Gerhana Bulan pun berlangsung. Saat Bulan menempati salah satu titik nodalnya pada saat purnama, maka berselisih setengah bulan kalender kemudian maupun sebelumnya Bulan juga menempati titik nodalnya yang lain bertepatan dengan momen Bulan baru. Inilah yang menyebabkan peristiwa Gerhana Matahari. Dengan kekhasan tersebut, tiap kali terjadi sebuah peristiwa Gerhana Matahari (dimanapun tempatnya di Bumi), maka 14 hari sebelumnya atau 14 hari sesudahnya bakal terjadi Gerhana Bulan. Pada saat tertentu yang jarang terjadi, sebuah peristiwa Gerhana Matahari bahkan bisa didahului dengan Gerhana Bulan pada 14 hari sebelumnya dan diikuti lagi dengan Gerhana Bulan yang lain 14 hari sesudahnya. Jadi ada tiga gerhana berturut-turut, membentuk sebuah parade gerhana.

Indonesia

Gerhana Bulan Penumbral 23 Maret 2016 hanya terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama adalah awal gerhana atau kontak awal penumbra (P1) yang terjadi pada pukul 16:40 WIB. Sementara tahap kedua adalah puncak gerhana, yang terjadi pada pukul 18:47 WIB. Magnitudo gerhana saat puncak adalah 0,77. Artinya 77 % cakram Bulan pada saat itu tercakup ke dalam bayangan tambahan Bumi. Dan yang terakhir adalah tahap akhir gerhana atau kontak akhir penumbra (P4) yang terjadi pukul 20:53 WIB. Dengan demikian durasi gerhana Bulan samar ini mencapai 4 jam 13 menit.

Wilayah gerhana untuk Gerhana Bulan Penumbral 23 Maret 2016 melingkupi sebagian besar benua Asia, Australia dan sebagian besar benua Amerika. Hanya Eropa, Afrika, kawasan Timur Tengah dan separuh Brazil yang tak tercakup ke dalam zona gerhana ini. Jika ditelaah lebih detil lagi, wilayah gerhana terbagi menjadi tiga sub-area. Sub-area pertama (sub area A) mengalami seluruh tahap gerhana secara utuh sehingga durasi-tampak di sini setara dengan durasi gerhana. Sub-area ini hanya meliputi Jepang, Indonesia bagian timur, Papua Nugini, sebagian besar Australia, Selandia Baru, Alaska (Amerika Serikat) dan sebagian Canada. Sementara sub-area kedua adalah yang mengalami gerhana secara tak utuh karena gerhana sudah terjadi sebelum Bulan terbit setempat (sub-area B1). Dengan demikian durasi-tampak gerhana pun lebih kecil ketimbang durasi gerhana. Sub-area ini meliputi mayoritas Asia dan sebagian Australia (bagian barat). Dan sub-area ketiga juga mengalami gerhana secara tak utuh, namun karena gerhana belum berakhir meski Bulan sudah terbenam setempat (sub-area B2). Dengan demikian durasi-tampak gerhana pun lebih kecil ketimbang durasi gerhana. Sub-area ini meliputi mayoritas Amerika saja.

Gambar 3. Peta wilayah Gerhana Bulan Penumbral 23 Maret 2016 untuk Indonesia. Garis P1 adalah garis yang menghubungkan titik-titik dimana kontak awal penumbra terjadi tepat pada saat Bulan terbit. Sementara garis puncak menghubungkan titik-titik yang mengalami puncak gerhana tepat pada saat Bulan terbit. Seluruh Indonesia mampu menyaksikan peristiwa Gerhana Bulan ini, sepanjang langit tak berawan. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 3. Peta wilayah Gerhana Bulan Penumbral 23 Maret 2016 untuk Indonesia. Garis P1 adalah garis yang menghubungkan titik-titik dimana kontak awal penumbra terjadi tepat pada saat Bulan terbit. Sementara garis puncak menghubungkan titik-titik yang mengalami puncak gerhana tepat pada saat Bulan terbit. Seluruh Indonesia mampu menyaksikan peristiwa Gerhana Bulan ini, sepanjang langit tak berawan. Sumber: Sudibyo, 2016.

Indonesia secara umum terbelah menjadi dua. Garis P4, yakni himpunan titik-titik yang mengalami terbitnya Bulan bersamaan dengan awal gerhana, melintas mulai dari sisi barat kepulauan Halmahera di utara, sisi timur Pulau Buru di tengah dan ujung timor pulau Timor di selatan. Seluruh wilayah yang terletak di sebelah timur garis ini tercakup ke dalam sub-area A sehingga mengalami gerhana secara utuh. Termasuk ke dalam kawasan ini adalah segenap pulau Irian, kepulauan Halmahera dan kepulauan Maluku. Hanya di tempat–tempat inilah gerhana terjadi setelah Bulan terbit (atau setelah Matahari terbenam). Sementara sisa Indonesia lainnya harus berpuas diri mengalami gerhana Bulan samar yang tak utuh karena tergolong ke dalam sub-area B1. Bahkan di kota Aceh (propinsi Aceh), Bulan terbit bersamaan dengan puncak gerhana.

Sesuai namanya, gerhana Bulan samar ini nyaris tak dapat dibedakan dengan Bulan purnama biasa. Butuh teleskop dengan kemampuan baik untuk dapat melihatnya. Untuk memotretnya, butuh kamera dengan pengaturan (setting) yang lebih kompleks dan bisa disetel secara manual. Dalam puncak gerhana Bulan samar, jika cara pengaturan kamera kita tepat maka Bulan akan terlihat menggelap di salah satu sudutnya. Detail teknis pemotretan untuk mengabadikan gerhana ini dengan menggunakan kamera DSLR (digital single lens reflex) tersaji berikut ini :

Sayangnya, prakiraan cuaca mengindikasikan sebagian besar Indonesia mungkin tak berpeluang menyaksikan gerhana unik ini. Kanal SADEWA (Satellite Disaster Early Warning System) dari LAPAN (Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional) mengindikasikan bahwa pada 23 Maret 2016 senja sebagian besar Indonesia diliputi tutupan awan. Tak hanya itu, potensi hujan pun ada dan bahkan di beberapa tempat diprakirakan mengalami hujan deras.

Gambar 4. Prakiraan tutupan awan di Indonesia pada 23 Maret 2016 TU pukul 18:00 WIB berdasarkan analisis kanal SADEWA di LAPAN. Nampak sebagian besar Indonesia tertutupi awan. Sumber: LAPAN, 2016.

Gambar 4. Prakiraan tutupan awan di Indonesia pada 23 Maret 2016 TU pukul 18:00 WIB berdasarkan analisis kanal SADEWA di LAPAN. Nampak sebagian besar Indonesia tertutupi awan. Sumber: LAPAN, 2016.

Tanpa Shalat Gerhana

Meski tak familiar di telinga kita, namun gerhana Bulan samar bukanlah fenomena yang jarang terjadi. Sepanjang 2016 Tarikh Umum (TU) ini akan terjadi empat gerhana, masing–masing dua gerhana Bulan dan dua gerhana Matahari. Dan seluruh gerhana Bulan di tahun ini merupakan gerhana Bulan samar.

Bagi Umat Islam ada anjuran untuk menyelenggarakan shalat gerhana baik di kala terjadi peristiwa Gerhana Matahari maupun Gerhana Bulan. Tapi hal tersebut tak berlaku dalam kejadian Gerhana Bulan Penumbral ini. Musababnya gerhana Bulan samar dapat dikatakan mustahil untuk bisa diindra dengan mata manusia secara langsung. Padahal dasar penyelenggaraan shalat gerhana adalah saat gerhana tersebut dapat dilihat, seperti dinyatakan dalam hadits Bukhari, Muslim dan Malik yang bersumber dari Aisyah RA. Pendapat ini pula yang dipegang oleh dua ormas Islam terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul ‘Ulama dan Muhammadiyah. Keduanya sepakat bahwa saat gerhana tak bisa disaksikan (secara langsung), maka shalat gerhana tak dilaksanakan.

Gambar 5. Prakiraan curah hujan (resolusi 5 kilometer) di Indonesia pada 23 Maret 2016 TU pukul 18:00 WIB berdasarkan analisis kanal SADEWA di LAPAN. Semakin gelap maka semakin deras hujan yang diprakirakan bakal turun. Nampak hujan diprakirakan bakal terjadi di hampir segenap pulau Sumatra dan sebagian pulau Jawa (kecuali Jawa bagian tengah). Sumber: LAPAN, 2016.

Gambar 5. Prakiraan curah hujan (resolusi 5 kilometer) di Indonesia pada 23 Maret 2016 TU pukul 18:00 WIB berdasarkan analisis kanal SADEWA di LAPAN. Semakin gelap maka semakin deras hujan yang diprakirakan bakal turun. Nampak hujan diprakirakan bakal terjadi di hampir segenap pulau Sumatra dan sebagian pulau Jawa (kecuali Jawa bagian tengah). Sumber: LAPAN, 2016.

Sekilas, tak diselenggarakannya shalat gerhana dalam Gerhana Bulan Penumbral terkesan sedikit mengganjal. Sebab jika dibandingkan dengan penilaian terhadap fenomena alam lainnya, yakni hilaal yang berperanan dalam penentuan awal bulan kalender Hijriyyah khususnya bulan suci Ramadhan dan hari raya Idul Fitri/Idul Adha, sebagian kalangan Umat Islam di Indonesia memiliki tafsiran yang ‘lebih maju’ dari batasan literal. Misalnya Muhammadiyah, yang berpendapat bahwa kosakata “melihat hilaal” dapat disubstitusi menjadi “memperhitungkan“. Sehingga dalam praktiknya penentuan awal bulan kalender Hijriyyah cukup dilakukan dengan perhitungan (hisab). Di sisi lain ada juga Kementerian Agama RI, yang berpendapat kosakata “melihat hilaal” dapat dipertajam menjadi “melihat hilaal dengan peralatan” dan belakangan bahkan “melihat hilaal dengan peralatan dan pengolahan citra/foto.”

Tafsir-tafsir tersebut itu terkesan inkonsisten bila mengantisipasi peristiwa Gerhana Bulan Penumbral ini tak dianjurkan menyelenggarakan shalat gerhana. Secara kasat mata gerhana ini memang sangat sulit disaksikan, bahkan andaikata kita menggunakan teleskop sekalipun. Namun secara perhitungan, Gerhana Bulan sudah terjadi lho (entah apapun jenisnya). Dan jika pengamatan dilengkapi dengan teknik pengolahan citra yang menjadi standar bagi astronomi, gerhana yang samar ini juga bakal terlihat lho. Jadi?