Repihan Sejarah Sudut Nusantara berlatar Gerhana Sang Surya (1): Panjer

Sekeping daerah di Lembah Luk Ulo, di antara Sungai Luk Ulo dan Sungai Kedungbener yang menjadi anak sungai utamanya, di sisi selatan tanah Jawa bagian tengah. Saat itu Rabu 7 April 1502 TU (Tarikh Umum) yang bertepatan dengan 29 Ramadhan 907 H. Penghujung bulan suci. Masyarakat Muslim setempat sedang bersiap-siap merayakan Idul Fitri di bawah natural leader Sayyid Abdul Kahfi al-Hasani yang kelak populer dengan nama Syekh Abdul Kahfi Awwal. Kala waktu telah beranjak memasuki saat Dhuhur, mendadak di langit terjadi peristiwa yang sangat langka dan mengesankan. Selama hampir tiga jam kemudian terjadi Bagowong (Pagowong) atau Coblong, istilah Jawa Kuna untuk Gerhana Matahari Total. Peristiwa langit langka itu nampaknya demikian mempesona dan menginspirasi, hingga diabadikan menjadi nama lokasi.

Gambar 1. Rekonstruksi wilayah Gerhana Matahari Total 7 April 1502 di pulau Jawa dan sekitarnya. Angka-angka menunjukkan jam-jam terjadinya puncak gerhana dalam WIB. Nampak lokasi Panjer (kini Kebumen) berada di sumbu Zona Total gerhana ini. Peristiwa langit tersebut mungkin menginspirasi pemberian nama Panjer. Sumber: Sudibyo, 2019.

Terakhir kalinya Gerhana Matahari Total terjadi bagi daerah di antara Sungai Luk Ulo dan Sungai Kedungbener adalah hampir enam abad sebelumnya. Tepatnya pada 24 Februari 928 TU, kala tanah itu masih dalam naungan Kerajaan Medang yang sedang menjalani masa-masa turbulensi seiring kudeta silih berganti. Manakala Gerhana Matahari Total 7 April 1502 TU terjadi, tanah Jawa pun sedang menjalani metamorfosa dramatis. Di ujung timur Kerajaan Majapahit yang sudah tua masih bertahta namun kian berkeping-keping saja seakan sedang dipercepat menuju masa paripurnanya. Sedangkan di bagian tengah tanah Jawa kekuasaan bercorak lain mulai menanjak. Yakni Kesultanan Demak di bawah pimpinan Raden Patah yang menyandang gelar Sultan Alam Akbar al-Fattah.

Sayyid Abdul Kahfi al-Hasani memegang peranan penting dalam Kesultanan Demak. Datang sebagai pendakwah dari tanah Hadhramaut, beliau memiliki hubungan sangat erat dengan Sunan Ampel dan Sunan Kudus, dua dari Wali Sanga yang menjadi tulang punggung Kesultanan Demak. Pada tepian Sungai Kedungbener, Sayyid Abdul Kahfi al-Hasani babat alas membuka lahan yang disebut tsumma dha’u yang beraroma harum. Disinilah salah satu pondok pesantren tertua di Indonesia masakini, bahkan di Asia Tenggara, berdiri. Pesantren Somalangu secara resmi berdiri pada 25 Sya’ban 879 H (4 Januari 1475 TU) ditandai dengan sebuah prasasti berbahan batu zamrud yang kini masih ada dalam lingkungan pondok pesantren tersebut.

Manjer

Di penghujung suatu bulan Ramadhan, lebih dari seperempat abad setelah Pesantren Somalangu berdiri, peristiwa Gerhana Matahari Total yang mengesankan terjadi di langit setempat. Perhitungan astronomi modern yang termaktub dalam Five Millenium Canon of Solar Eclipses karya Fred Espenak (astronom NASA, Amerika Serikat) menunjukkan gerhana dimulai pada pukul 11:39 WIB. Mulai saat itu langit siang secara berangsur-angsur meredup dan menggelap selagi Matahari secara perlahan-lahan nampak ‘robek.’ Mulai pukul 13:04 WIB langit menjadi betul-betul gelap dimana Matahari berubah menjadi bundaran hitam bermahkota putih lembut. Bintang-bintang pun bertaburan menghiasi langit yang sesungguhnya masih siang bolong. Hal ini berlangsung selama hampir 5 menit kemudian. Setelah itu langit secara berangsur-angsur mulai bertambah terang dan Matahari pun kembali ke bentuk bundarnya sebagai penanda akhir gerhana pada pukul 14:31 WIB.

Perhitungan sederhana guna memprakirakan terjadinya Gerhana Matahari sudah dikenal sejak masa Yunani Kuno lewat Claudius Ptolomeus (100-170 TU) seperti termaktub dalam Almagest. Al-Battani (wafat 929 TU) memperbaikinya sehingga memungkinkan pengembangan prediksi Gerhana Matahari Cincin. Meski demikian belum ada bukti karya-karya ini telah masuk dan dipelajari di tanah Jawa terutama pada era transisi Kerajaan Majapahit – Kesultanan Demak. Sehingga dapat diperkirakan tak ada penduduk yang tinggal di antara Sungai Luk Ulo dan Sungai Kedungbener yang telah memprakirakan kejadian Gerhana Matahari sebelumnya.

Akan tetapi begitu gerhana mulai terjadi dan langit mulai menggelap, orang-orang pun riuh menabuh lesung mengikuti tradisi Jawa akan mitos Batara Kala menelan sang surya. Gerhana Matahari Total yang terjadi pada tengah siang bolong, saat Matahari sedang berkulminasi atas (istiwa’) yang menadai awal waktu Dhuhur, di penghujung bulan suci bagi Umat Islam, nampaknya memberikan kesan sangat mendalam bagi orang-orang yang tinggal di antara Sungai Luk Ulo hingga Sungai Kedungbener. Peristiwa luar biasa itu mungkin menginspirasi pemberian nama sebuah daerah di dekat Pesantren Somalangu sebagai Panjer.

Dalam Bahasa Jawa, kata Panjer memiliki kedudukan dan makna yang sama dengan kata Manjer. Berdasarkan riset pak Widya Sawitar, astronom senior di POJ (Planetarium dan Observatorium Jakarta), Orang Jawa mengenal sekitar 90 nama julukan untuk Matahari. Nama-nama julukan tersebut sebagian merupakan pengaruh dari bahasa Sansekerta dan umumnya terkait kalender pertanian (pranata mangsa), simbolisasi keseharian, penanda rentang waktu serta penanda fenomena alam tertentu. Kata Manjer adalah salah satu diantaranya. Manjer merupakan istilah bagi transit Matahari atau istiwa’, yaitu situasi saat Matahari mencapai titik kulminasi atas dalam peredaran semu hariannya. Nama julukan lain yang memiliki makna serupa Manjer adalah Panengahnikangrawi dan Suryasata.

Kulminasi atas Matahari sesungguhnya merupakan peristiwa langit yang rutin terjadi setiap hari dan tidaklah cukup unik dalam perspektif astronomi. Namun manakala peristiwa Gerhana Matahari Total yang sangat langka terjadi kala sang Surya sedang manjer di penghujung bulan Ramadhan pada daerah yang sebagian besar penduduknya memeluk Islam, kesan yang ditimbulkannya akan luar biasa dan menginspirasi. Analisis astronomi menunjukkan pasca Gerhana Matahari Total 7 April 1502, selama setengah milenium (lima abad) kemudian tanah Panjer hanya mengalami dua Gerhana Matahari Total lainnya. Masing-masing Gerhana Matahari Total 24 Juli 1683 yang terjadi kala Matahari terbit dan Gerhana Matahari Total 11 Juni 1983 yang terjadi di pagi hari.

Lebih dari seabad kemudian pasca Gerhana Matahari Total 7 April 1502 yang bersejarah, Panjer telah berkembang meluas dan terstruktur melampaui ukuran sebuah desa. Panjer kemudian menyeruak ke pentas sejarah di era Kerajaan Mataram manakala Sultan Agung mempersiapkan invasi ke Batavia yang dikuasai VOC. Tersebut nama Ki Bagus Badranala yang menyiapkan keperluan logistik dan sumberdaya manusia guna mendukung invasi tersebut, dalam kurun 1627-1629 TU. Atas jasa-jasanya maka Ki Bagus Badranala dikukuhkan menjadi Ki Gede Panjer Roma pada 21 Agustus 1629 TU. Berselang 13 tahun kemudian Ki Gede Panjer Roma dilantik menjadi sebagai Bupati Panjer yang pertama dan menyandang nama baru: Panembahan Badranala. Bahwa dua abad kemudian terjadi gempa politik tanah Jawa seiring meletusnya Perang Jawa / Perang Dipanegara yang demikian menghancurkan, yang memaksa berubahnya nama Kabupaten Panjer menjadi Kabupaten Kebumen, itu tidak menghilangkan ketokohan Panembahan Badranala. Tanggal 21 Agustus 1629 TU pun kini ditetapkan sebagai Hari Jadi Kab. Kebumen berdasarkan Peraturan Daerah no. 3/2018.

Hingga saat ini belum ditemukan bukti tertulis maupun cerita tutur (lisan) terkait asal-usul nama Panjer dan peristiwa langit langka berupa Gerhana Matahari Total di tengah siang bolong. Namun dalam sudut pandang toponomi, yakni cabang ilmu pengetahuan yang mencari hubungan antara fenomena alam lokal dengan nama daerah setempat, hal itu tetap berterima. Terdapat banyak tempat di tanah Kebumen yang mengandung unsur nama karang- (misalnya Karangsambung, Karanggayam, Karangpoh, Karanganyar, Karangtanjung, Karangkembang dan sebagainya). Tempat-tempat tersebut secara tertulis maupun lisan juga belum diketahui asal-usulnya. Namun dengan pendekatan toponomi, kata karang- yang melekat pada nama tempat-tempat itu terbukti merepresentasikan fenomena alam setempat terkait pegunungan/perbukitan dan formasi-formasi batuan yang khas.

Seperti halnya bangsa-bangsa lainnya di dunia, leluhur manusia Indonesia di masa silam mempelajari astronomi sebagai bagian dari bertahan hidup. Guna mereduksi sebesar mungkin dampak dari fenomena-fenomena alam tertentu yang dipandang merugikan (misalnya musim kemarau) dan sebaliknya mengeksploitasi semaksimal mungkin terjadi fenomena-fenomena alam lainnya yang menguntungkan (misalnya musim hujan) untuk bercocok tanam dan mengembangkan peradaban. Dalam kesempatan yang sama pembelajaran itu juga mewariskan pengetahuan tersebut pada nama-nama daerah dan istilah-istilah unik bagi anak cucunya.

Referensi :

Sawitar. 2016.Tekang Adityamandala. Planetarium dan Observatorium Jakarta, diakses 25 Desember 2019 TU.

Kisah Sumur Berasap di Kebumen

Sebuah sumur tua yang sedang dikuras mendadak mengepulkan asap putih dari dasarnya pada Senin 25 November 2019 TU (Tarikh Umum) siang, mulai sekitar pukul 10:00 WIB. Sumur tua itu berada di dukuh Semaji, desa Brecong, kec. Buluspesantren (Kab. Kebumen) sejarak 1,8 kilometer dari garis pantai. Sumur tua itu sedang dikuras untuk diperdalam guna mendapatkan pasokan air lebih banyak seiring kemarau panjang yang masih melanda Kab. Kebumen.

Saat penguras hendak menapakkan kaki di dasar sumur, mendadak tangga yang dinaikinya terasa merosot. Lalu terjadi pelepasan gas berwarna keputihan pekat laksana kabut yang membuat suhu udara dalam sumur terasa lebih dingin. Lama kelamaan jumlah gas tersebut kian banyak. Khawatir akan terjadi sesuatu, penguras bergegas keluar dan menaikkan tangganya. Ia lantas menguji tipe gas dengan cara memasukkan sebatang lilin yang menyala menggunakan tali. Lilin tersebut tetap menyala meski tali diulur hingga hampir menyentuh air. Api juga masih tetap menyala meski tali ditarik kembali perlahan-lahan ke atas hingga mencapai bibir sumur.

Fakta

Dapat dikatakan sumur tua itu tidak melepaskan gas karbondioksida (CO2) khususnya hingga konsentrasi letal (mematikan). Terbukti pada sosok penguras yang tetep segar bugar selama menjalankan aktivitasnya dan nyala api lilin yang tidak padam meski berada di dalam sumur. Gas CO2 umum dijumpai di sumur-sumur tua dan menjadi salah satu penyebab keracunan tatkala pemeliharaan sumur dilaksanakan. Gas ini lebih berat dibanding udara normal, sehingga akan tetap mendekam di bagian yang lebih rendah daripada paras tanah seperti halnya lubang sumur.

Konsentrasi gas CO2 di udara yang dianggap aman adalah di bawah 3 % volume untuk waktu paparan 10 menit bagi manusia, menurut Institut Nasional untuk Kesehatan dan Keamanan Kerja Amerika Serikat (NIOSH). Pada konsentrasi 3 %, timbul gejala kenaikan tekanan darah dan penurunan daya pendengaran. Mulai konsentrasi 5 % terjadi gejala sakit kepala dan sesak napas. Manusia akan mulai kehilangan kesadaran saat menghirup udara dengan konsentrasi 8 % dalam tempo 10 menit. Berdasarkan data tersebut maka dapat dikatakan kadar gas CO2 dalam peristiwa sumur berasap Brecong tidak melampaui 3 %.

Gambar 1. Semburan lumpur Butuh (Purworejo), hanya beberapa jam setelah mulai menyembur pada 5 September 2013 TU. Meski terkesan menggidikkan, semburan air bercampur lumpur ini hanya didorong oleh gas metana yang sumbernya relatif kecil sehingga tekanannya menurun seiring waktu. Maka hanya bertahan selama 2 hari saja . Sumber: Wewed Urip Widodo, 2013.

Hal lainnya, penguras sumur tidak melaporkan kondisi dasar sumur yang lebih hangat atau lebih panas dibanding normal. Demikian pula pada tanah di sekitar bibir sumur, juga tidak lebih panas dibanding lingkungan sekitar. Suhu yang relatif sama dengan lingkungan sekitar menunjukkan tidak ada indikasi pasokan energi eksternal ke area sumur ini. Maka vulkanisme dapat dicoret. Demikian halnya panas bumi (geotermal) non vulkanik seperti muncul di parasbumi sebagai mataair panas Krakal yang terletak 19 kilometer sebelah utara Brecong, juga dapat dicoret. Sumber energi eksternal buatan manusia yang sering dijumpai, misalnya grounding listrik rumah tangga yang tidak bagus atau dari kabel listrik tegangan tinggi yang terputus dan menjuntai ke tanah menjadi penyebab beberapa kasus tanah yang memanas/menghangat dan mengeluarkan asap di Indonesia.

Yang menarik, hembusan asap yang dikeluarkan sumur tua ini nampak putih dan tak berbau Belerang. Tiadanya aroma Belerang juga menunjukkan bukan vulkanisme atau panasbumi non vulkanik yang menjadi penyebabnya. Suhu sumur yang menjadi lebih dingin saat hembusan asap putih itu mulai terjadi mengindikasikan asap tersebut mungkin merupakan uap air yang memiliki suhu kamar, laksana kabut. Paparan uap air ke kulit akan selalu menyebabkan suhu terasa lebih dingin.

Di atas semua itu, fakta yang paling menarik adalah bahwa hembusan asap putih tersebut terjadi setelah lapisan pasir di dasar sumur mendadak ambles oleh satu sebab. Ini mengindikasikan semula asap tersebut terjebak di dasar sumur, terlindungi oleh satu lapisan penyekap (seal). Kala lapisan penyekap ini tertembus oleh tangga, maka gas pun terbebaskan ke lingkungan dan menampakkan diri sebagai asap putih.

Penyebab

Jadi, kenapa sumur berasap di Brecong terjadi?

Ada beragam kemungkinan penyebab. Dalam tebakan ngawur saya, ada dua kemungkinan sumber gasnya. Yang pertama adalah gas CO2, hasil dari pembusukan material organik yang masuk ke dalam sumur tersebut. Seperti telah dijelaskan, gas CO2 umum dijumpai pada dasar sumur-sumur tua. Jika merupakan hembusan gas CO2 maka kadarnya tidak melebihi 3 % sehingga tetap aman bagi manusia. Gas CO2 juga diketahui dapat bersifat basah (terikat dengan air). Sehingga kala berhembus keluar dari cebakannya, ia laksana hembusan titik-titik air yang membentuk kabut.

Gambar 2. Mekanisme yang memungkinkan bagi timbulnya kejadian sumur berasap dio Brecong (Kebumen). Kiri : sebelum kejadian. Dasar sumur masih terlapisi penyekat yang masih utuh sehingga aliran gas yang berasal dari luar sumur terhambat dan terakumulasi. Kanan : setelah kejadian, penyekat telah tertembus / terganggu sehingga gas terlepas dan membumbung ke atas bersama dengan tetes-tetes air. Sumber: Sudibyo, 2019.

Kemungkinan kedua adalah gas rawa atau gas metana (CH4) dengan sumber eksternal. Jadi dasar sumur ini mungkin sempat terhubung dengan sebuah cebakan kecil berisi gas CH4 produk proses biogenik setempat. Sumur ini berlokasi di dekat pesisir Kebumen, sebagai bagian dari alluvial pantai muda yang di masa silam merupakan rawa-rawa. Proses sedimentasi massif dan pengangkatan menjadikan rawa-rwa tersebut kemudian tertutupi sedimen dan terangkat ke atas paras air laut. Sisa-sisa tumbuh-tumbuhan tersebut membusuk perlahan-lahan dalam proses biogenik, memproduksi gas CH4.

Jika gas CH4 yang menjadi penyebab sumur berasap di Brecong, maka konsentrasinya di udara tidak akan mencapai 5 hingga 15 %. Sebab pada rentang konsentrasi itulah gas CH4 akan bereaksi dengan Oksigen di udara saat terpicu api dan terbakar sebagai ledakan. Tiadanya bau asap terbakar dan atau ledakan dalam peristiwa sumur berasap di Brecong menunjukkan konsentrasi gas CH4 lebih kecil dari ambang batas tersebut.

Semburan gas metana umum dijumpai di dataran rendah Kebumen. Demikian halnya di dataran rendah yang membentang dari Cilacap di sebelah barat hingga Bantul di sebelah timur, dataran rendah yang terbentuk melalui proses indentasi Jawa Tengah dalam berbelas hingga berpuluh juta tahun terakhir seiring aktivitas dua sesar besar yang saling berlawanan : sesar Kebumen-Muria-Meratus dan sesar Cilacap-Pamanukan-Lematang. Kini kedua sesar besar itu telah mati. Namun jejak aktivitasnya mengukir bumi Jawa Tengah hingga memiliki garis pantai selatan yang lebih menjorok ke utara (ke arah daratan) ketimbang garis pantai selatan Jawa Barat dan Jawa Timur. Juga diikuti menghilangnya Pegunungan Selatan, yang khas di pesisir selatan Jawa Barat dan Jawa Timur, berganti dengan dataran rendah yang luas dan dipenuhi rawa-rawa pada masanya.

Semburan gas metana telah berulang kali terjadi di dataran rendah ini. Di Kebumen, terakhir terjadi pada dua tahun silam di desa Kabekelan, kec. Prembun, tepatnya pada 24 Agustus 2017 TU. Tepatnya di sisi selatan rel kereta api. Semburan hanya berlangsung sejam, untuk kemudian melemah dan lambat laun berhenti dengan sendirinya.

Mana yang lebih memungkinkan, semburan gas CO2 atau semburan gas CH4? Bagi saya pribadi, yang terakhir lebih mungkin karena lebih mampu memproduksi gas dalam jumlah lebih besar dan didukung oleh kondisi lingkungan setempat. Yang jelas baik dari gas CO2 maupun CH4, tekanan gas tersebut terlalu rendah. Sehingga hanya menimbulkan hembusan lemah menyerupai kabut. Bukan semburan bertekanan tinggi yang membuat air memancar keluar.

Gambar 3. Semburan lumpur Desa Wotan (Pati) yang terjadi pada 1 November 2014 TU. Awalnya lumpur dan air menyembur setinggi 20 meter, namun dalam beberapa jam kemudian ketinggiannya menyusut drastis. Semburan hanya berlangsung selama 28 jam dan didorong oleh gas metana dengan sumber relatif kecil pula. Sumber: Tribun Jogja, 2014.

Sumur berasap di Brecong ini merupakan ekspresi dari fenomena kebumian yang khas bagi dataran rendah Kebumen khususnya yang berdekatan dengan pesisir. Asap tersebut bakal berhenti dengan sendirinya. Tak ada yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan.

Kupas-Hoax: Isu Tsunami Kebumen 18 Desember 2018 dan Tiada Kuasa Ramalan Gempa

Dalam dua bulan terakhir beredar isu lokal yang meresahkan penduduk pesisir di Kabupaten Kebumen. Isu tersebut mengklaim bakal terjadinya bencana gempa bumi besar disertai tsunami pada Selasa 18 Desember 2018 TU. Dengan membaca semesta yang menjadi bagian ayat–ayat-Nya melalui perkembangan ilmu pengetahuan terkait, isu tersebut dapat dipastikan merupakan hoaks. Atau kabar–bohong yang tak punya dasar.

Kabar bakal terjadinya gempa bumi besar disertai tsunami yang bakal melimbur pesisir Kabupaten Kebumen merebak pasca peristiwa bencana Gempa Donggala–Palu 28 September 2018 (magnitudo 7,5) silam. Bencana yang meluluhlantakkan Kota Palu itu mengejutkan publik Indonesia. Walaupun catatan sejarah menunjukkan sesungguhnya negeri ini mengalami kejadian tsunami merusak yang merenggut korban jiwa setiap tujuh tahun sekali (rata–rata).

Gempa Donggala–Palu 2018 menewaskan tak kurang dari 5.000 orang. Seperlima diantara korban jiwa tersebut meregang nyawa seiring terjangan tsunami lokal unik ke pesisir kota Palu yang berpenduduk padat. Tsunami Palu bersifat lokal, karena hanya signifikan di dalam lingkungan Teluk Palu semata dan melemah saat memasuki perairan Selat Makassar. Riset pascabencana memperlihatkan tsunami ini unik karena diproduksi beraneka titik longsor dasar laut dan disokong juga oleh terjadinya amblesan (deformasi) sebagian dasar Teluk Palu.

Gambar 1. Suasana rapat koordinasi rencana kontijensi tsunami yang diselenggarakan BPBD Kebumen pada 16 Oktober 2018 TU. Sumber: BPBD Kebumen, 2018.

Bencana tsunami Palu menyentak kesadaran banyak pihak, baik lembaga–lembaga terkait penanggulangan bencana hingga pegiat alam bebas. Termasuk di Kabupaten Kebumen. Maka pada Selasa 16 Oktober 2018 TU lalu BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kabupaten Kebumen menggelar Rapat Koordinasi Rencana Kontijensi Tsunami. Rapat digelar di Hotel Candisari Karanganyar Kebumen, yang melibatkan para pihak terkait. Selain me–review bencana tsunami Palu secara umum, rapat juga juga mengingatkan kembali akan langkah–langkah mitigasi bencana tsunami yang telah disusun bagi Kabupaten Kebumen.

Namun jagatmaya, melalui aneka media sosialnya, justru beredar klaim tak berkeruncingan yang menyatakan rapat koordinasi itu ‘meramalkan’ bakal terjadi sesuatu pada 18 Desember 2018 TU. Laksana menuangkan bensin ke bara, klaim sesat ini pun menyebar kemana–mana dan meresahkan banyak pihak. Meskipun BPBD Kebumen dan juga BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) belakangan menegaskan bahwa klaim itu tidaklah benar dan terkategori hoaks.

Dimana Sesar Lasem?

Mengapa terkategori hoaks alias kabar-bohong? Ada sejumlah alasan.

Pertama, hoaks itu mencatut nama sesar (patahan) Lasem. Padahal apabila mengacu buku Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017 hasil jerih payah Pusgen (Pusat Studi Gempabumi Nasional) Balitbang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, sesar Lasem adalah nama bagi sebuah sesar aktif di kawasan Semenanjung Muria di pesisir utara Jawa Tengah. Sesar aktif sepanjang sepanjang 70 kilometer ini membentang mulai dari sisi selatan kota Demak hingga kota Rembang. Sesar aktif ini yang juga dinamakan sesar Pati ini bersifat sesar geser (strike-slip) dengan kecepatan pergeseran 0,1 mm/tahun.

Gambar 2. Hoaks yang beredar.

Jadi sesar Lasem tidak bertempat di Jawa Tengah bagian selatan. Sehingga mustahil mengaitkannya dengan dinamika seismik di Kabupaten Kebumen. Dan yang terpenting, sebaggai sesar darat (yakni sesar aktif yang berada di daratan) adalah mustahil bagi sesar Lasem untuk bisa memproduksi tsunami pada saat ia meletupkan gempa bumi. Ilmu kegempaan (seismologi) mengajarkan, tsunami hanya bisa terjadi manakala sumber sebuah gempa tektonik ada di laut / perairan besar, baik sebagian besar maupun seluruhnya. Luasan sumber itu sendiri harus cukup luas sehingga mampu mengangkat / mengambleskan bagian dasar laut / perairan besar yang persis ada diatasnya dalam derajat kenaikan / pengamblesan yang signifikan.

Yang kedua, hoaks itu mengklaim gempa bermagnitudo 8,2 bakal meletup dari sesar Lasem. Padahal dengan panjang ‘hanya’ 70 km, sesar Lasem hanya bisa berpotensi membangkitkan gempa bumi tektonik masa depan pada magnitudo maksimum 6,5 saja. Karena besarnya magnitudo gempa berbanding lurus dengan panjang sesar sumber gempanya. Sehingga mustahil bagi sesar Lasem untuk bisa memproduksi gempa bumi dengan tingkat energi 54 kali lipat lebih tinggi ketimbang yang bisa dihasilkannya dengan mengacu pada panjang sesar. Angka magnitudo 8,2 tersebut, jika dikaji lebih lanjut, sejatinya merupakan angka maksimum bagi gempa bumi hipotetik di zona subduksi lepas pantai selatan Jawa Tengah yang diajukan Widjo Kongko (2010) guna mengevaluasi resiko tsunami di pesisir Kabupaten Cilacap.

Tidak ada Ramalan Gempa

Dan yang ketiga, hoaks itu meramal kejadian gempa bumi pada waktu yang sangat spesifik. Sementara seismologi modern, seperti berulang-ulang dijelaskan BMKG pada hoaks yang mirip, menjelaskan setiap bentuk kuasa ramalan bakal terjadinya peristiwa gempa bumi di satu lokasi pada tanggal tertentu adalah hoaks. Sebab seismologi sejauh ini belum mencapai taraf setingkat itu.

Gambar 3. Peta sebagian sesar darat aktif di Pulau Jawa khususnya di pantura Jawa Tengah. Hampir seluruhnya merupakan bagian dari zona sesar Baribis-Kendeng, sesar aktif yang baru diidentifikasi pada 2016 TU silam.. Sesar Lasem ditandai dengan huruf L. Sesar Lasem (sesar Pati) bukanlah bagian zona sesar Baribis-Kendeng. Sumber: Pusgen, 2017 dengan penambahan seperlunya.

Secara ilmiah prakiraan gempa bumi baru bisa diterima apabila ketiga komponen berikut terpenuhi semua :

  • telah diketahui lokasi gempa bumi yang bakal terjadi,
  • telah diketahui besarnya magnitudo gempa bumi yang bakal terjadi,
  • telah diketahui kapan gempa bumi yang bakal terjadi.

Seismologi modern sudan sanggup memenuhi dua dari tiga komponen tersebut. Misalnya di Indonesia, dengan melihat sejarah kegempaan dan memetakan pergerakan titik-titik kerak bumi di negeri ini lewat radas (instrumen) GPS khusus, maka lokasi mana yang berpotensi mengalami gempa bumi di masa depan dan besarnya magnitudo maksimum gempa tersebut dapat diketahui.

Misalnya dalam kasus sesar Lasem di atas. Dengan radas-radas GPS dapat diketahui sesar tersebut adalah sesar aktif sehingga bisa memproduksi gempa bumi tektonik di masa yang akan datang. Dan dengan mengombinasikan kecepatan pergerakan 0,1 mm / tahun serta panjang sesar, dapat diketahui sesar Lasem berkemampuan memproduksi gempa bumi dengan magnitudo maksimum 6,5. Namun kapan sesar Lasem benar-benar akan meletupkan gempa bumi tersebut, belum diketahui secara spesifik. Seismologi modern memang pernah berupaya mengetahui hal ini. Akan tetapi ternyata terlalu kompleks sehingga mayoritas ahli kegempaan kini telah meninggalkan upaya-upaya peramalan waktu kejadian gempa. Hanya China yang masih mencoba bertahan mencari jawab tentangnya.

Sepanjang sejarah seismologi hanya ada satu cerita sukses terkait peramalan gempa bumi, yakni dalam kejadian Gempa Haicheng 4 Februari 1975 (magnitudo 7,5) di kota Haicheng, propinsi Liaoning, China. Peramalan gempa dalam kasus ini dianggap sukses karena sejutan orang berhasil dievakuasi dari kota pada waktu yang tepat. Sehingga kala gempa besar mengguncang dan meremukkan 27.000 bangunan, korban jiwa yang berjatuhan ‘hanya’ 2.000 orang. Jika evakuasi tak dilakukan, korban jiwa diprakirakan bisa mencapai angka 150.000 orang.

Namun begitu setahun kemudian China dibuat tak berdaya dalam peristiwa Gempa ganda Tangshan 28 Juli 1976 (magnitudo 7,6 dan 7,0) di propinsi Hebei. Hanya berjarak 400 km dari Haicheng, gempa mengguncang kota Tangshan di sisi timur ibukota Beijing tanpa peringatan apapun. Sebanyak 85 % bangunan di kota tersebut hancur lebur dan rusak berat, tidak bisa digunakan lagi. Korban jiwa yang jatuh mencapai hampir 700.000 orang. Menjadikannya salah satu bencana gempa bumi yang paling mematikan sepanjang sejarah umat manusia.

Jadi, hingga saat ini belum ada kisah sukses peramalan gempa bumi kecuali dalam kejadian Haicheng. Maka pola umumnya belum ada. Sehingga segala bentuk klaim ramalan gempa terkategori sebagai hoaks.

Referensi:

PusGen. 2017. Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017. Balitbang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Kongko & Schlurmann. 2010. The Java Tsunami Model: Using highly-resolved data to model the past event and to estimate the future hazard. Coastal engineering proceedings, January 2010.