Hiroshima, Nagasaki dan Indonesia Merdeka

Pertanyaan ini menggelitik: andaikata kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang tidak dibom nuklir, akankah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945 Tarikh Umum (TU)?

Duo proklamator kita Ir. Soekarno dan Drs. Moh Hatta membacakan naskah proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta pada waktu yang sungguh langka dan tepat. Indonesia secara faktual sedang mengalami kekosongan kekuasaan pada saat itu. Tatanan geopolitik regional sedang berubah dramatis akibat pemboman nuklir Hiroshima (6 Agustus 1945 TU) dan Nagasaki (9 Agustus 1945 TU) yang dibarengi invasi Uni Soviet ke pendudukan Jepang di Mansyuria (sejak 9 Agustus 1945 TU). Tiga peristiwa beruntun itu memaksa kaisar Hirohito mengambil langkah tak terduga, berpidato untuk pertama kalinya di radio nasional Jepang. Hirohito memaklumatkan kekaisaran Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, tepatnya kepada Amerika Serikat. Penyerahan diri tersebut efektif per 15 Agustus 1945 TU. Meski secara formal penyerahan diri Jepang baru terlaksana setengah bulan lebih kemudian. Tepatnya pada 2 September 1945 TU dalam sebuah upacara di geladak kapal perang USS Missouri milik Angkatan Laut Amerika yang berlabuh di Teluk Tokyo.

Menyusul penyerahan diri di Teluk Tokyo, pemerintahan pendudukan Jepang di Asia Tenggara pun menyerahkan diri pada 12 September 1945 TU lewat upacara di Singapura. Pasukan Sekutu baru mulai mendarat di Indonesia per 29 September 1945 TU sebagai AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies), yang terdiri dari tentara Inggris dan Australia. Belakangan ketahuan tentara Belanda pun membonceng AFNEI secara diam-diam. Praktis sepanjang periode 15 Agustus hingga 29 September 1945 TU terjadi kekosongan kekuasaan di Indonesia. Ya, secara formal negeri ini saat itu masih berada di bawah cengkeraman pemerintahan pendudukan Jepang. Namun dengan moral prajurit yang ambrol cukup dalam dan hancur lebur akibat kalah perang yang memalukan dan menyesakkan seiring penyerahan diri tanpa syarat, pemerintahan pendudukan Jepang di Indonesia tak bisa berbuat banyak. Sehingga secara faktual Indonesia berada dalam periode kekosongan kekuasaan. Ini yang menjadikan kemerdekaan Indonesia berbeda dibanding negara-negara lain yang memproklamasikan kemerdekaannya pada saat yang hampir sama.

Gambar 1. Awan cendawan raksasa khas ledakan nuklir sedang mengembang di atas udara Nagasaki, hanya beberapa detik setelah bom nuklir berkode Fatman diledakkan di atas kota ini pada 9 Agustus 1945 Tu pukul 11:02 setempat. Sumber: Nagasaki Atomic Bomb Museum.

Gambar 1. Awan cendawan raksasa khas ledakan nuklir sedang mengembang di atas udara Nagasaki, hanya beberapa detik setelah bom nuklir berkode Fatman diledakkan di atas kota ini pada 9 Agustus 1945 Tu pukul 11:02 setempat. Sumber: Nagasaki Atomic Bomb Museum.

Bagaimana jika Hiroshima dan Nagasaki tidak dibom nuklir?

Usai kemenangan di teater peperangan Eropa dengan bertekuk lututnya Jerman tanpa syarat di hadapan Sekutu lewat upacara di Rheims (Perancis) pada 8 Mei 1945 TU, Amerika Serikat bersiap menghabisi Jepang dengan cara apapun. Meski Amerika merasa berat melakukannya karena harus bertempur sendirian di teater peperangan Pasifik. Beruntung Uni Soviet kemudian menawarkan bantuan, siap bersama-sama memerangi kekaisaran Jepang. Meski tawaran bantuan ini kemudian dipandang dengan penuh curiga dan dianggap memiliki maksud terselubung. Tidak seperti Soviet, Amerika tidak tertarik menguasai tanah-tanah pendudukan Jepang terlebih dahulu sebelum menyerang negeri induknya. Termasuk Indonesia. Jenderal Douglas McArthur pernah mengusulkan menyerbu pulau Jawa di tahun 1944-1945 TU sebagai bagian dari taktik lompatan kataknya. Namun usulan ini ditolak presiden Roosevelt. Sehingga balatentara Amerika hanya melipir di pinggiran saja dengan menguasai pulau Irian dan Kepulauan Halmahera sebagai pangkalan untuk menyerbu pendudukan Jepang di Filipina.

Operasi Downfall pun dirancang. Inilah serbuan langsung ke pulau-pulau utama Jepang bergaya perang amfibi. Ia mencoba meniru sukses Operasi Overlord di teater Eropa. Overlord adalah pendaratan pasukan Sekutu secara besar-besaran di pesisir Normandia (Perancis) semenjak 6 Juni 1944 TU yang berlanjut dengan serangan darat ke posisi-posisi Jerman di Perancis, Belanda dan Belgia. Serangan darat tersebut akhirnya berujung pada serbuan langsung ke Jerman terutama ke jantungnya: Berlin. Kemenangan pun diraih lebih cepat setelah Uni Soviet menyerbu ke barat, sehingga Jerman dijepit baik dari timur maupun barat. Nah, Downfall bakal mencoba mereplikasinya. Downfall terdiri dari dua bagian. Pertama, invasi Olympic guna menundukkan pulau Kyushu, yang bakal dilaksanakan 1 November 1945 TU. Dan yang kedua invasi Coronet, yang bakal dieksekusi 1 Maret 1946 TU dengan tujuan menaklukkan pulau Honshu sekaligus menguasai Tokyo. Jika semua berlangsung sesuai rencana, Jepang akan dipaksa menyerah sekitar Mei/Juni 1946 TU.

Amerika membutuhkan kemenangan cepat. Untuk itu Operasi Downfall bakal dilaksanakan dengan balatentara yang berlimpah-limpah, hingga tak kurang dari 39 divisi. Tetapi prakiraan korban yang bakal berjatuhan membikin ngeri. Seperti halnya Jerman dalam menghadapi Overlord, Jepang pun telah lama menanti-nantikan kehadiran Downfall. Namun skala pertempurannya diyakini bakal lebih sengit. Jika Jerman mendirikan tembok Atlantik yang kukuh namun bersiap setengah hati namun cenderung meremehkan kemampuan lawannya, maka Jepang jauh lebih siap dengan merancang pertahanan lewat Operasi Ketsugo. Pertempuran Okinawa memperlihatkan betapa Amerika harus membayar mahal setiap jengkal tanah Jepang yang direbutnya. Dalam pertempuran paling berdarah di teater Pasifik itu Amerika harus kehilangan 20.000 prajuritnya dari total 541.000 tentara yang diterjunkan merebut Okinawa. Selain itu masih ada 55.000 orang yang terluka. Bila hasil ini diekstrapolasikan ke dalam Operasi Downfall, korban jiwa akan mencapai hampir setengah juta orang dan sejuta lainnya luka-luka. Prediksi ini tentu tak menyenangkan jenderal-jenderal Amerika. Termasuk McArthur.

Gambar 2. Bayangan manusia di anak tangga. Saat bom nuklir bertajuk Little Boy meledak di ketinggian udara Hiroshima, sosok paruh baya bertongkat ini sedang berdiri di tepi jalan, di ujung anak tangga sebuah bangunan. Ia terlalu dekat dengan ground zero (episentrum titik ledakan), sehingga menderita paparan panas yang sangat tinggi dan sangat kuat. Demikian kuatnya sehingga bayangannya pun tercetak di anak tangga. Sosok ini menjadi salah satu korban tewas akibat paparan panas berlebihan, yang membuat tubuhnya sontak menjadi arang atau bahkan menjadi abu. Sumber: Hiroshima Atomic Bomb Museum.

Gambar 2. Bayangan manusia di anak tangga. Saat bom nuklir bertajuk Little Boy meledak di ketinggian udara Hiroshima, sosok paruh baya bertongkat ini sedang berdiri di tepi jalan, di ujung anak tangga sebuah bangunan. Ia terlalu dekat dengan ground zero (episentrum titik ledakan), sehingga menderita paparan panas yang sangat tinggi dan sangat kuat. Demikian kuatnya sehingga bayangannya pun tercetak di anak tangga. Sosok ini menjadi salah satu korban tewas akibat paparan panas berlebihan, yang membuat tubuhnya sontak menjadi arang atau bahkan menjadi abu. Sumber: Hiroshima Atomic Bomb Museum.

Di kala para jenderal itu dibikin puyeng dengan upaya persiapan Operasi Downfall sekaligus mereduksi sedikit mungkin korban, solusi tak terduga (dan menggembirakan) datang dari jenderal Leslie R. Grooves. Inilah pucuk pimpinan Proyek Manhattan yang super-rahasia di daratan Amerika, yang telah berlangsung sejak 1942 TU. Kerja keras mereka telah berbuah, Amerika berhasil membangun senjata jenis baru yang bernama bom nuklir. Sebuah pengujian telah dilakukan di Alomogordo (New Mexico) pada 16 Juli 1945 TU dinihari. Bom nuklir berkode Trinity yang terbuat dari 6,5 kilogram Plutonium dan dipermak dalam bentuk bola sempurna diledakkan. Hasilnya memuaskan, sekaligus menggidikkan. Trinity melepaskan energi tak kurang dari 20 kiloton TNT, atau setara dengan 20.000 ton batang dinamit. Kemampuan nan dahsyat ini membuka peluang Amerika untuk menghancurkan infrastruktur dan moral bangsa Jepang tanpa harus melaksanakan Operasi Downfall.

Proyek Manhattan telah menyediakan minimal tiga bom nuklir yang siap pakai. Dua bom pertama pun dikirim ke pulau Tinian, pulau kecil di tengah-tengah Samudera Pasifik bagian barat yang berhasil direbut dan menjadi menjadi landasan utama pemboman intensif ke Jepang. Setelah dirakit dan dimuat ke perut pesawat pembom B-29 Superfortress yang disiapkan khusus, bom pertama yang bertajuk Little Boy (berat 4 ton, mengandung 64 kilogram Uranium) pun diterbangkan ke sasaran utama (kota Hiroshima) pada 6 Agustus 1945 TU pagi buta. Tiga hari kemudian giliran bom kedua yang bernama Fatman (berat 4,6 ton yang mengandung 6,5 kilogram Plutonium) yang dipersiapkan dan diterbangkan ke sasaran utama: kota Kokura. Bila pemboman pertama berlangsung mulus, tidak demikian dengan yang kedua. Kokura ternyata terselubungi awan sepenuhnya sehingga menyulitkan pengeboman. Pesawat B-29 pun beralih ke kota Nagasaki sebagai target cadangan. Awalnya Nagasaki pun tertuttupi awan, namun mendadak sebuah celah menyibak. Di celah itulah Fatman dijatuhkan, lalu meledak.

Kita tahu bagaimana akhir cerita pengeboman nuklir ini. Baik Hiroshima maupun Nagasaki luluh lantak, setelah dihempas ledakan berkekuatan masing-masing 15 kiloton TNT dan 20 kiloton TNT. Tak kurang dari 140.000 warga sipil Hiroshima menjadi korban dan demikian pula 74.000 warga sipil Nagasaki. Digabungkan dengan tak kurang dari 300.000 warga sipil di seantero Jepang yang tewas akibat kampanye pemboman strategis (dengan bom konvensional dan kemudian bom bakar/napalm), tak kurang dari setengah juta warga sipil Jepang yang meregang nyawa sebagai korban serangan udara. Baik pemboman non nuklir maupun nuklir.

Korban jiwa yang melangit tak menggoyahkan keteguhan hati tentara kekaisaran Jepang. Mereka tetap enggan menyerah. Mereka tetap patuh dan bersiap dengan Operasi Ketsugo untuk menangkis serangan amfibi dan pendaratan besar-besaran di pesisir timur. Namun tak demikian dengan kaisar Hirohito. Tergetar oleh demikian besarnya korban jiwa sipil dalam pemboman Hiroshima dan Nagasaki serta ngeri membaca propaganda Amerika yang siap melumat kota-kota Jepang lainnya dengan bom nuklir (padahal stoknya tinggal tersisa sebutir), kaisar pun bersikap. Apalagi setelah Uni Soviet pun menyatakan perang pada Jepang dan mulai menyapu kekuatan darat tentara kekaisaran Jepang di Mansyuria. Pidato radio kaisar pun memerintahkan penghentian tembak menembak dan memastikan Jepang menyerah tanpa syarat. Jenderal-jenderal Amerika pun bersuka cita, sebab Operasi Downfall praktis batal. Dan Amerika tak perlu kehilangan lebih banyak tentaranya lagi. Sementara bagi Hirohito, dihadapkan pada pilihan yang sama-sama tak enak, lebih baik bila Jepang menyerah ke Amerika karena sistem kekaisaran akan tetap terjaga. Sebaliknya jika bertekuk lutut ke Uni Soviet, gaya revolusi mereka akan menghapus sistem kekaisaran sepenuhnya dari muka bumi.

Kita bisa berandai-andai. Jika bom nuklir tak pernah ada di kancah Perang Dunia 2, kekaisaran Jepang masih sangat kuat di pertengahan tahun 1945 TU itu. Operasi Downfall pun mau tak mau harus dilaksanakan, dengan segenap konsekuensinya. Jika berjalan lancar, Jepang baru dapat ditaklukkan di sekitar pertengahan 1946 TU. Rentang waktu setahun (pasca penyerahan diri Jerman) memungkinkan negara-negara Eropa memulihkan kekuatannya dan turut berpartisipasi dalam teater peperangan Pasifik. Termasuk Belanda. Bila hal itu terjadi, jalannya sejarah Indonesia akan mengambil rute yang sangat berbeda dibandingkan apa yang kita lihat pada hari ini. Singkatnya, tanpa pemboman nuklir di Perang Dunia 2, Indonesia merdeka tidak terjadi pada 17 Agustus 1945 TU.

Letusan Kelud Setahun Kemudian dan Kisah Senjakala Majapahit

Pulau Jawa, Indonesia, Kamis malam 13 Februari 2014 Tarikh Umum (TU). Tepat setahun silam. Selagi aktivitas sebagian besar insan yang mendiami pulau terpadat di Indonesia mulai menyurut dan bersiap-siap terlelap, ratusan ribu penduduk tiga kabupaten di kawasan Mataraman dan Arek Jawa Timur, yakni Kediri, Blitar dan Malang, justru dipaksa bersiaga. Mereka harus bergegas mengungsi, bergerak menjauh dari lereng dan kaki Gunung Kelud hingga radius minimal 10 kilometer dari kawah aktif. Arus pengungsi dimulai setelah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI meningkatkan status Gunung Kelud pada pukul 21:15 WIB. Dari semula berstatus Siaga (Level III), sejak saat itu Gunung Kelud kemudian menyandang status tertinggi dalam tingkat aktivitas gunung-gemunung berapi di Indonesia, yakni Awas (Level IV). Dasarnya adalah terjadinya lonjakan gempa frekuensi rendah yang disusul dengan tremor menerus. Selepas pukul 21:00 WIB, tremor menerus yang terekam bahkan telah melebihi batasan skala yang tersedia dalam radas (instrumen) seismometer.

Gambar 1. Gunung Kelud pada Jumat 14 Februari 2014 TU jelang fajar dari kaki gunung sebelah barat. Nampak asap pekat masih mengepul dari kawah hingga setinggi beberapa ratus meter, beberapa jam pasca letusan besarnya usai. Pemandangan ini diterangi oleh semburat cahaya kemerah-merahan yang khas menjelang terbitnya Matahari. Planet Venus yang berada dalam kondisi paling terang (magnitudo -4,7) mengapung di atas horizon (tanda panah), menyaksikan kisah Bumi yang sedang bergulir. Sumber: Akhmad Zainuddin, 2014 dalam Geomagz, 2014.

Gambar 1. Gunung Kelud pada Jumat 14 Februari 2014 TU jelang fajar dari kaki gunung sebelah barat. Nampak asap pekat masih mengepul dari kawah hingga setinggi beberapa ratus meter, beberapa jam pasca letusan besarnya usai. Pemandangan ini diterangi oleh semburat cahaya kemerah-merahan yang khas menjelang terbitnya Matahari. Planet Venus yang berada dalam kondisi paling terang (magnitudo -4,7) mengapung di atas horizon (tanda panah), menyaksikan kisah Bumi yang sedang bergulir. Sumber: Akhmad Zainuddin, 2014 dalam Geomagz, 2014.

Dengan status tertinggi ini, jelas hanya tinggal menunggu waktu bagi gunung berapi terlasak se-Jawa Timur ini untuk meletus. Perintah evakuasi pun diturunkan. Meski keraguan masih membayang tentang bagaimana skala letusan yang bakal segera terjadi. Enam setengah tahun sebelumnya, ribuan penduduk juga berduyun-duyun mengungsi setelah Gunung Kelud dinyatakan berstatus Awas (Level IV) pada pertengahan Oktober 2007 TU. Tetapi hari demi hari gunung itu tak kunjung menampakkan letusan eksplosif yang selama ini menjadi tabiatnya. Sebaliknya tiga minggu setelah berstatus Awas (Level IV), ia justru mulai melelerkan lava pijar panasnya di dalam kawahnya sendiri. Muntahan lava pijar yang terus-menerus pun membentuk gundukan besar membukit berisikan bongkahan bebatuan beragam ukuran beserta pasir yang masih terus berasap. Gundukan berasap berbentuk kerucut raksasa yang dasarnya selebar 470 meter dan tingginya 215 meter itu kemudian dikenal sebagai kubah lava 2007. Atau kerap pula disebut sebagai Anak Kelud. Letusan tak biasa semenjak November 2007 TU hingga Juni 2008 TU itu tak menelan korban jiwa ataupun luka-luka sama sekali. Juga tak ada bangunan/fasilitas yang rusak. Namun implikasi sosialnya tak sedikit, mulai dari banyaknya agenda pernikahan yang harus dijadwal ulang hingga tertundanya kegiatan-kegiatan kemasyarakatan.

Kali ini polah Gunung Kelud tak lagi malu-malu. Ia kembali ke tabiatnya semula. Pukul 22:46 WIB seismograf-seismograf di sekujur tubuh Gunung Kelud mulai menangkap geliat awal letusan. Tak lama kemudian kamera di dekat kawah merekam percikan-percikan api melesat dari dinding kubah lava 2007. Inilah pertanda kubah lava itu mulai merekah dan menyemburkan material pijar letusan. Letusan besar yang eksplosif pun terjadilah. Letusan demi letusan berikutnya kemudian menyusul secara beruntun selama tiga setengah jam kemudian. Rempah letusan disemburkan demikian cepat ke udara sebagai kolom letusan hingga membentuk awan cendawan raksasa yang menjadi salah satu ciri khas letusan besar. Mayoritas tudung cendawan raksasa tersebut terletak di ketinggian 17 kilometer dpl (dari paras air laut rata-rata). Namun puncaknya menjangkau ketinggian hingga 26 kilometer dpl. Gesekan antara material vulkanik yang kering dan melejit pada kecepatan tinggi dengan lapisan udara disekelilingnya menciptakan aliran listrik statis sangat intensif. Hingga petir pun menyambar-nyambar di sela-sela debu letusan yang sedang membumbung. Menambah horornya suasana.

Tak pelak pada Jumat dinihari 14 Februari 2014 TU tersebut, hampir sekujur Jawa Timur dibuat terjaga oleh Gunung Kelud yang sedang membara. Berselang beberapa jam kemudian sebagian besar pulau Jawa pun dibuat terhenyak. Menyaksikan fajar yang biasanya penuh suasana syahdu dan energi baru berubah total menjadi suram dengan guyuran debu. Hujan debu vulkanik terus-menerus mengguyur dari langit, membedaki semuanya.

Gambar 2. Masjid Agung Kauman di pusat kota Kebumen, Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah) yang nampak suram berselimutkan debu vulkanik tebal pada Jumat pagi 14 Februari 2014 TU. Segenap Kabupaten Kebumen dihujani debu vulkanik Letusan Kelud 2014 yang demikian pekat hingga sanggup membentuk endapan setebal 2 sentimeter atau lebih. Padahal daerah ini berjarak lebih dari 300 kilometer di sebelah barat Gunung Kelud. Sumber: Warta Kebumen, 2014.

Gambar 2. Masjid Agung Kauman di pusat kota Kebumen, Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah) yang nampak suram berselimutkan debu vulkanik tebal pada Jumat pagi 14 Februari 2014 TU. Segenap Kabupaten Kebumen dihujani debu vulkanik Letusan Kelud 2014 yang demikian pekat hingga sanggup membentuk endapan setebal 2 sentimeter atau lebih. Padahal daerah ini berjarak lebih dari 300 kilometer di sebelah barat Gunung Kelud. Sumber: Warta Kebumen, 2014.

Dampak

Kini setahun kemudian, kita telah mengetahui lebih banyak apa yang terjadi dengan Letusan Kelud 2014. Analisis pendahuluan Pyle (2014) menunjukkan amukan Gunung Kelud itu menghembuskan antara 30.000 hingga 100.000 ton material letusan sepadat batuan dalam setiap detiknya. Pada awalnya secara keseluruhan Letusan Kelud 2014 memuntahkan sekitar 130 juta meter kubik rempah vulkanik. Namun di kemudian hari PVMBG meralat estimasi volume muntahan letusan Gunung Kelud ke angka 105 juta meter kubik. Rempah letusan yang lebih berat seperti awan panas (piroklastika) mengalir menyusuri lembah-lembah di lereng barat yang terhubung ke kawah hingga sejauh 2 kilometer. Material yang lebih ringan seperti pasir dan kerikil menghujani kawasan sejauh 20 hingga 30 kilometer dari kawah. Guyuran pasir dan kerikil hingga sejauh ini merupakan fenomena yang tak pernah terjadi dalam letusan-letusan Kelud sebelumnya. Di luar radius 30 kilometer dari kawah, debu vulkanik meraja. Hujan debu vulkanik pekat yang menciptakan endapan debu setebal 5 sentimeter atau lebih mengguyur kawasan seluas sekitar 4.000 kilometer persegi. Sebaliknya hujan debu vulkanik ringan yang hanya sanggup memproduksi endapan dengan ketebalan 1 milimeter melanda lebih jauh, sehingga area yang tercakup mencapai sekitar 80.000 kilometer persegi.

Letusan besar ini merenggut 7 korban jiwa. Penyebab kematian para korban beragam, mulai dari tertimpa tembok yang runtuh terbebani debu vulkanik hingga gangguan pernafasan. Seluruh korban tinggal di kawasan yang terbedaki debu vulkanik hingga setebal 20 sentimeter. Selain korban jiwa, tercatat 70 orang mengalami gangguan pernafasan dan harus dirawat di rumah sakit. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jumat pagi 14 Februari 2014 TU juga mencatat 100.248 orang harus mengungsi. Skala kerusakan yang ditimbulkannya pun luar biasa. Sebanyak 11.093 buah bangunan/rumah di tiga kabupaten (Kediri, Blitar dan Malang) rusak berat. Sementara 7.370 buah lainnya mengalami kerusakan sedang. Dan 8.044 buah dinyatakan rusak ringan. Ribuan hektar lahan perkebunan dan pertanian pun turut dibuat rusak.

Gambar 3. Pesawat Airbus A320-232 nomor 9V-JSN milik maskapai JetStar Asia saat berada di apron bandara Soekarno-Hatta. Saat pesawat ini jelang mendarat di Jakarta sebagai penerbangan JSA114 pada Jumat pagi 14 Februari 2014 TU, ia mendadak masuk ke dalam awan debu produk Letusan Kelud 2014. Pesawat berhasil mendarat dengan selamat, namun insiden ini membuat kedua mesinnya rusak parah akibat menghisap debu vulkanik. Sumber: Indo-Avtiation.com, 2014.

Gambar 3. Pesawat Airbus A320-232 nomor 9V-JSN milik maskapai JetStar Asia saat berada di apron bandara Soekarno-Hatta. Saat pesawat ini jelang mendarat di Jakarta sebagai penerbangan JSA114 pada Jumat pagi 14 Februari 2014 TU, ia mendadak masuk ke dalam awan debu produk Letusan Kelud 2014. Pesawat berhasil mendarat dengan selamat, namun insiden ini membuat kedua mesinnya rusak parah akibat menghisap debu vulkanik. Sumber: Indo-Avtiation.com, 2014.

Namun yang paling fenomenal adalah pada imbasnya terhadap lalu lintas udara domestik dan internasional Indonesia. Tebaran debu vulkanik memaksa ditutupnya delapan bandara di pulau Jawa. Masing-masing bandara Juanda (Surabaya), Abdulrahman Saleh (Malang), Adisumarmo (Surakarta), Adisucipto (Yogyakarta), Ahmad Yani (Semarang), Husein Sastranegara (Bandung) serta bandara di Cilacap dan Cirebon. Ratusan penerbangan pun terpaksa dibatalkan. Bahkan sebuah insiden terjadi, yang menimpa pesawat Airbus A320-232 9V-JSN milik maskapai JetStar Asia. Selagi melayani rute Perth (Australia)-Singapura dengan persinggahan di Jakarta (Indonesia) dalam penerbangan JSA114 pada Jumat fajar 14 Februari 2014 TU, pesawat tersebut tanpa diduga memasuki awan debu letusan Kelud. Ini terjadi hanya dalam 30 menit jelang mendarat di Jakarta. Bau asap pun merebak di dalam kabin pesawat dan pemandangan di sisi luar jendela pun mendadak gelap gulita.

Pesawat berhasil mendarat dengan selamat di bandara Soekarno-Hatta (Jakarta) pada pukul 05:50 WIB. Ia tidak mengalami mati mesin di udara, seperti yang tiga dasawarsa silam diderita jumbo jet Boeing 747-236B nomor G-BDXH British Airways penerbangan 009 akibat paparan debu vulkanik letusan Gunung Galunggung saat melintas di selatan pulau Jawa. Meski begitu inspeksi detail yang dilakukan teknisi pabrikan Airbus memperlihatkan kedua mesin pesawat Airbus A320-232 9V-JSN itu rusak parah akibat menghisap debu vulkanik Kelud. Sehingga keduanya harus diganti dan pesawat pun dipaksa grounded berhari-hari lamanya.

Dengan semua dampak tersebut, Letusan Kelud 2014 menelan kerugian hingga bertrilyun-trilyun rupiah. Namun demikian korban manusia relatif minimal, baik korban jiwa maupun luka-luka. Hal ini memperlihatkan bahwa sistem peringatan dini mitigasi bencana letusan Gunung Kelud yang diterapkan PVMBG bersama dengan BNPB berjalan dengan efektif. Minimnya korban juga ditunjang oleh sifat letusan yang kering. Letusan Kelud 2014 terjadi tatkala kawah gunung berapi tersebut dalam kondisi kering (minim kandungan air) seiring tiadanya genangan air signifikan sebagai danau kawah. Danau kawah Kelud telah menghilang pasca munculnya kubah lava 2007 dalam Letusan Kelud 2007. Hanya tersisa sedikit genangan air yang kerap keruh di sisi barat daya.

Gambar 4. Bagaimana wajah kawah Gunung Kelud berubah antara sebelum tahun 1990 (atas) dan 2008 TU (bawah), diabadikan dari titik yang sama di bibir kawah. Jelang Letusan Kelud 1990, mayoritas kawah Kelud digenangi air sebagai danau kawah dengan air berwarna hijau toska akibat pengaruh gas vulkanik. Sementara pasca Letusan Kelud 2007, hampir seluruh bagian danau kawah telah menghilang dan digantikan dengan gundukan kubah lava 2007 yang masih berasap. Hanya tersisa sedikit genangan air di sisi barat daya (latar depan). Sumber: Geomagz, 2014.

Gambar 4. Bagaimana wajah kawah Gunung Kelud berubah antara sebelum tahun 1990 (atas) dan 2008 TU (bawah), diabadikan dari titik yang sama di bibir kawah. Jelang Letusan Kelud 1990, mayoritas kawah Kelud digenangi air sebagai danau kawah dengan air berwarna hijau toska akibat pengaruh gas vulkanik. Sementara pasca Letusan Kelud 2007, hampir seluruh bagian danau kawah telah menghilang dan digantikan dengan gundukan kubah lava 2007 yang masih berasap. Hanya tersisa sedikit genangan air di sisi barat daya (latar depan). Sumber: Geomagz, 2014.

Sebelum 2007 TU, kawah Gunung Kelud selalu berupa danau kawah yang genangan airnya cukup signifikan meskipun volumenya dibatasi lewat terowongan pembuang, seperti terowongan Ampera. Upaya mengontrol volume danau kawah Kelud menjadi salah satu cara mengurangi keganasan letusannya. Catatan sejarah Kelud memperlihatkan betapa volume air danau kawah yang terlalu banyak akan menghasilkan lahar letusan yang menerjang jauh, hingga merenggut banyak korban. Letusan Kelud 1919 membunuh tak kurang dari 5.000 orang tatkala 40 juta meter kubik air danau bercampur dengan rempah letusan menjadi lahar letusan. Lahar letusan menderu ke setiap lembah sungai yang terhubung dengan kawah. Ia menerjang hingga 40 kilometer jauhnya dari kawah, mengubah bentang lahan lembah sungai yang dilintasinya dan mengubur apa saja yang dilaluinya. Hempasan lahar letusan yang luar biasa setiap kali meletus hingga menyapu apa saja yang dilaluinya membuat Gunung Kelud mendapatkan namanya (Kelud = sapu).

Letusan Kelud 2014 mengubah wajah kawahnya secara dramatis. Hampir seluruh kubah lava 2007 yang volumenya 16 juta meter kubik remuk menjadi debu, pasir dan batu. Remukan itu kemudian diterbangkan ke langit sebagai bagian dari kolom letusan. Lantai kawah yang sebelumnya ditempati kubah lava 2007 kini berlubang besar. Lubang letgusan itu berbentuk mirip lingkaran dengan diameter sekitar 400 meter. Lubang besar itu masih mengepulkan uap air dan gas belerang didasarnya. Tapi seiring waktu, lubang ini bakal kembali digenangi air, mungkin dalam 2 hingga 3 tahun pasca letusan. Maka Gunung Kelud pun akan kembali mempunyai danau kawahnya seperti halnya pemandangan 2.000 tahun terakhir, setelah menghilang sementara sepanjang periode 2007-2014 TU. Volume danau kawah Kelud yang baru ini masih sulit diprediksi. Namun bakal hadirnya kembali danau kawah Kelud membuat kebutuhan memfungsikan kembali terowongan pembuang menjadi hal yang mutlak. Terowongan pembuang bertujuan membatasi volume air danau kawah Kelud di sekitar 4 juta meter kubik saja, sehingga tak berubah menjadi lahar letusan dalam letusan mendatang.

Gambar 5. Perubahan dramatis wajah kawah Gunung Kelud antara sebelum (atas) dan sesudah Letusan Kelud 204 (bawah), diabadikan dari titik yang hampir sama. Letusan kelud 2014 membuat kubah lava 2007 yang diproduksi oleh Letusan Kelud 2007 sebelumnya remuk dan menjadi komponen rempah letusan. Sebagai gantinya terbentuk lubang letusan berdiameter sekitar 400 meter yang masih berasap. Tak ada lagi genangan air. Sumber: Geomagz, 2014.

Gambar 5. Perubahan dramatis wajah kawah Gunung Kelud antara sebelum (atas) dan sesudah Letusan Kelud 204 (bawah), diabadikan dari titik yang hampir sama. Letusan kelud 2014 membuat kubah lava 2007 yang diproduksi oleh Letusan Kelud 2007 sebelumnya remuk dan menjadi komponen rempah letusan. Sebagai gantinya terbentuk lubang letusan berdiameter sekitar 400 meter yang masih berasap. Tak ada lagi genangan air. Sumber: Geomagz, 2014.

Meski didahului penghancuran kubah lava 2007 namun durasi letusan utamanya (yakni pengeluaran material letusan) tetap singkat, yakni tak lebih dari empat jam. Setelah empat jam, Letusan Kelud 2014 tinggal menghembuskan uap air sebagai erupsi freatik. Hal ini sekali lagi mendemonstrasikan salah satu ciri khas Gunung Kelud, yakni ukuran kantung magma yang relatif kecil. Sehingga letusan selalu berlangsung singkat karena kandungan magma segar yang siap diletuskannya cepat terkuras. Tak peduli bahwa Letusan Kelud 2014 memiliki tekanan gas demikian besar, yang diperlihatkan oleh melimpahnya fragmen batuapung (pumis) dalam material letusan. Kelimpahan batuapung merupakan pertanda bahwa magma Kelud 2014 merupakan magma yang asam (kaya silikat), sehingga mampu menyekap gas vulkanik lebih banyak. Konsekuensinya tekanan gas vulkaniknya pun cukup besar. Hingga mampu membobol dan menghancurkan kubah lava 2007. Meski diawali penghancuran kubah lava, kecilnya jumlah magma yang tertumpuk dalam kantung magma Kelud membuat Letusan Kelud 2014 tak menjadi berkepanjangan seperti halnya Letusan Galunggung 1983-1984 yang berlangsung 9 bulan lamanya.

Di satu sisi, Letusan Kelud 2014 merupakan letusan gunung berapi yang menghembuskan kolom letusan tertinggi di Bumi sepanjang tahun 2014 TU. Namun dari sisi volume rempah letusannya, Letusan Kelud 2014 bukanlah yang terbesar. Ia masih kalah jauh dibanding Gunung Bardarbunga (Holuhraun) di Islandia, yang hingga kini telah memuntahkan tak kurang dari 1,3 kilometer kubik rempah letusan.

Majapahit

Kecilnya jumlah korban jiwa dan luka-luka menunjukkan bahwa pada salah satu sisi dampak Letusan Kelud 2014 relatif minimal. Sistem peringatan dini yang bekerja efektif ditunjang dengan sifat letusan yang kering (akibat menghilangnya danau kawah semenjak 2007) menjadi dua dari banyak faktor yang berkontribusi terhadapnya. Namun, bagaimana dengan letusan Gunung Kelud di masa silam? Bagaimana dampaknya terhadap umat manusia yang bermukim disekelilingnya di masa silam? Yakni saat sistem peringatan dini belum terbentuk dan Gunung Kelud masih mempunyai danau kawah dengan volume jumbo? Bagaimana imbas letusannya terhadap hidup-matinya kerajaan legendaris di lembah sungai Brantas, yakni Majapahit?

Geolog Awang Satyana (2014) menuturkan beberapa dari letusan Gunung Kelud di masa kerajaan Majapahit nampaknya tercatat dalam kronik sejarah Pararaton, meski singkat. Secara kronologis kerajaan Majapahit muncul semenjak tahun 1293 TU seiring bertahtanya Kertarajasa Jayawardhana. Setelah mengalami pasang-surut akibat beragam pemberontakan, Majapahit mencapai puncak kejayaannya di masa Rajasanegara (Hayam Wuruk) yang berkuasa pada 1359 hingga 1380 TU. Selepas masa kejayaannya, kerajaan besar ini kemudian melapuk. Pertikaian antar keluarga kerajaan yang berlarut-larut dan bahkan sempat berkembang menjadi perang saudara seperti Perang Paregreg (1404-1406 TU). Pertikaian keluarga dinasti ini kian melemahkan kendali Majapahit atas daerah-daerah taklukannya, sehingga satu persatu pun melepaskan diri. Pada akhirnya kertajaan yang telah mengecil ini pun runtuh di sekitar tahun 1521 TU di masa kekuasaan Patih Udara.

Gambar 6. Topografi lembah Brantas beserta gunung-gunung berapi yang mengapitnya. Trowulan adalah bekas ibukota kerajaan pada sebagian besar masa kerajaan Majapahit. Sumber: Zainuddin dkk, 2013.

Gambar 6. Topografi lembah Brantas beserta gunung-gunung berapi yang mengapitnya. Trowulan adalah bekas ibukota kerajaan pada sebagian besar masa kerajaan Majapahit. Sumber: Zainuddin dkk, 2013.

Kecuali di dekade-dekade terakhir kehidupannya, hampir dalam segenap masanya Majapahit beribukota di Trowulan. Trowulan merupakan kawasan seluas 11 x 9 kilometer persegi yang terletak di lahan datar lembah sungai Brantas. Kini situs arkeologis tersebut menjadi bagian dari kabupaten Mojokerto dan kabupaten Jombang (keduanya di Jawa Timur). Salah satu pintu gerbang utama untuk memasuki ibukota Trowulan adalah pelabuhan Canggu, yang juga menjadi pelabuhan utama Majapahit. Pelabuhan besar ini terletak tak jauh dari muara sungai Brantas. Lokasi pelabuhan besar tersebut di masa kini ada di sebelah utara kota Mojokerto, berjarak sekitar 10 hingga 15 kilometer saja dari situs Trowulan. Di masa Majapahit, muara sungai Brantas terletak tak jauh dari pelabuhan Canggu. Kawasan yang kini menjadi kota Surabaya dan sekitarnya di era Majapahit masih berupa delta berteluk yang ditebari pulau-pulau kecil diapit dua tanjung. Pada tanjung sisi utara terdapat pelabuhan kecil, yakni Hujung Galuh (Ujung Galuh). Perubahan dramatis bentanglahan surabaya antara era Majapahit dengan masakini salah satunya merupakan imbas aktivitas Gunung Kelud.

Dalam catatan Pararaton, sepanjang zaman Majapahit terdapat peristiwa letusan gunung berapi hingga lima kali. Yang pertama pada minggu Madasia suryasengkala pendeta-sunyi-sifat-tunggal, yang mungkin bertepatan dengan tahun 1307 Saka atau 1385 TU. Yang kedua terjadi pada minggu Prangbakat suryasengkala muka-orang-tindakan-ular, yang mungkin bertepatan dengan tahun 1317 Saka atau 1395 TU. Lalu yang ketiga pada minggu Kuningan suryasengkala belut-pendeta-menggigit-bulan, mungkin bertepatan dengan tahun 1373 Saka atau 1451 TU. Selanjutnya yang keempat pada minggu Landep suryasengkala empat-ular-tiga-pohon, mungkin bertepatan dengan tahun 1384 Saka atau 1462 TU. Dan yang kelima adalah pada minggu Watu Gunung suryasengkala tindakan-angkasa-laut-ekor, yang mungkin bertepatan dengan tahun 1403 Saka atau 1481 TU.

Pararaton memang tak menyebut nama-nama gunung berapi yang meletus dalam kelima letusan tersebut. Pararaton juga tidak secara spesifik spesifik menyebut nama Gunung Kampud (nama Kelud di masa silam) sebagai yang meletus. Namun bila kita memperhatikan sejarah aktivitas gunung-gemunung berapi di sekitar ibukota Trowulan, yang terdiri dari Gunung Wilis, Gunung Kelud, Gunung Arjuno-Welirang, Gunung Penanggungan dan Gunung Kawi-Butak, hanya Gunung Kelud yang memperlihatkan catatan aktivitas tinggi dan kerap meletus. Sehingga dapat diduga kelima letusan yang dicatat Pararaton tersebut merupakan letusan-letusan Gunung Kelud. Dibandingkan dengan sejarah letusan Gunung Kelud, nampak jelas bahwa kelima letusan yang dicatat Pararaton bersesuaian dengan letusan-letusan yang dicatat dalam Data Dasar Gunung Api Indonesia (1979).

Seberapa besar kelima letusan tersebut?

Kitab Pararaton tidak memerikan (menggambarkan)-nya. Untuk mengetahuinya kita harus melihat penelitian geologi yang pernah dikerjakan di kawasan Gunung Kelud dan sekitarnya. Misalnya dari Zainuddin dkk (2013), yang mengkaji singkapan-singkapan endapan letusan Kelud pada empat titik di lereng/kaki barat gunung. Keempat titik tersebut berjarak antara 0,7 hingga 20 kilometer dari kawah. Salah satu titik tersebut adalah situs candi Tondowongso (Kediri), yang baru ditemukan pada April 2007 TU. candi ini terpendam di bawah endapan produk letusan setebal 3 meter dan hingga kini masih terus diekskavasi. Zainuddin dkk menemukan bahwa pada keempat titik tersebut terdapat bukti kuat Gunung Kelud pernah meletus besar sebanyak dua kali dalam selang waktu antara 1380 hingga 1420 TU.

Gambar 7. Situs candi Tondowongso di Gayam, kediri (Jawa Timur) yang baru ditemukan pada April 2007 dan belum sepenuhnya diekskavasi. Situs ini berjarak 20 kilometer di sebelah barat laut kawah Gunung Kelud. Seluruh lapisan tanah yang menimbuni situs ini merupakan produk letusan Gunung Kelud, yang terbagi menjadi dua: jatuhan abu/debu vulkanik dan lahar. Endapan lahar di situs ini merupakan bukti dahsyatnya letusan Gunung Kelud di masa kerajaan Majapahit. Sumber: Zainuddin dkk, 2013.

Gambar 7. Situs candi Tondowongso di Gayam, kediri (Jawa Timur) yang baru ditemukan pada April 2007 dan belum sepenuhnya diekskavasi. Situs ini berjarak 20 kilometer di sebelah barat laut kawah Gunung Kelud. Seluruh lapisan tanah yang menimbuni situs ini merupakan produk letusan Gunung Kelud, yang terbagi menjadi dua: jatuhan abu/debu vulkanik dan lahar. Endapan lahar di situs ini merupakan bukti dahsyatnya letusan Gunung Kelud di masa kerajaan Majapahit. Sumber: Zainuddin dkk, 2013.

Seberapa besar kedua letusan besar tersebut? Pada situs candi Tondowongso ditemukan endapan lahar setebal 70 sentimeter. Sebagai pembanding, sejumlah candi era Majapahit yang berdiri di berbagai situs di sekeliling Gunung Kelud pun banyak yang tertimbun endapan produk letusan tatkala ditemukan. Misalnya candi Sumbersugih, Purwosari dan Sumberagung di kaki selatan Gunung Kelud. Juga candi Modangan dan Candisewu di kaki barat daya. Ketebalan lahar dan tertimbunnya candi-candi tersebut mengindikasikan bahwa letusan Gunung Kelud saat itu demikian besar. Hingga mampu mengirimkan lahar letusan sampai sejauh antara 30 hingga 40 kilometer dari kawah.

Kita dapat membayangkan bagaimana besarnya letusan tersebut. Danau kawah Kelud, yang pada puncaknya sanggup memuat 40 juta meter kubik air, sontak tumpah bercampur dengan rempah letusan begitu Gunung Kelud mengamuk. Rempah letusan dalam jumlah mungkin mendekati 200 juta meter kubik yang langsung bercampur dengan air danau sontak membentuk lahar letusan. Lahar deras pun membanjir melalui alur-alur sungai yang berhulu ke Gunung Kelud. Derasnya lahar letusan tak sekedar membuat sungai-sungai tersebut meluap hebat hingga membanjiri lembah-lembahnya. Namun juga juga sanggup mengubah alur sungai-sungai tersebut akibat kuatnya gerusan. Tak heran jika kawasan yang terkena hempasan lahar letusan pun sangat luas di sepanjang lembah Brantas. Sungai Brantas pun mendangkal di sana-sini. Perikehidupan masyarakat masa itu yang menggantungkan diri pada dunia pertanian dan perdagangan memanfaatkan alur sungai pun bakal terganggu berat.

Gambar 8. Aliran lahar hujan Gunung Kelud pada 19 Februari 2014 TU di Pandansari (Malang). Lahar ini berasal dari material produk letusan yang bertumpukan di lereng dan kemudia dihanyutkan oleh air hujan. Selain lahar letusannya, salah satu dampak letusan Gunung Kelud terletak pada lahar hujannya. Terlebih hampir seluruh materi lahar hujan Gunung Kelud mengalir ke sungai Brantas. Aktivitas Gunung Kelud menjadi penyebab naik turunnya dasar sungai Brantas dan meluasya delta di muaranya. Hal ini tentu berdampak pada naik turunnya peradaban yang tumbuh dan berkembang di sepanjang lembah sungai ini. Sumber: Handoko, 2014 dalam Global Volcanism Program, 2014.

Gambar 8. Aliran lahar hujan Gunung Kelud pada 19 Februari 2014 TU di Pandansari (Malang). Lahar ini berasal dari material produk letusan yang bertumpukan di lereng dan kemudia dihanyutkan oleh air hujan. Selain lahar letusannya, salah satu dampak letusan Gunung Kelud terletak pada lahar hujannya. Terlebih hampir seluruh materi lahar hujan Gunung Kelud mengalir ke sungai Brantas. Aktivitas Gunung Kelud menjadi penyebab naik turunnya dasar sungai Brantas dan meluasya delta di muaranya. Hal ini tentu berdampak pada naik turunnya peradaban yang tumbuh dan berkembang di sepanjang lembah sungai ini. Sumber: Handoko, 2014 dalam Global Volcanism Program, 2014.

Bahkan hingga bertahun pasca letusan, dampaknya masih akan sangat terasa. Terlebih hampir segenap lahar letusan Kelud mengalir ke anak-anak sungai Brantas. Hulu anak-anak sungai tersebut menyebar di lereng selatan, barat dan utara Gunung Kelud. Hanya kawasan lereng timur yang relatif bebas dari anak-anak sungai Brantas, karena di sini berpagar jajaran gunung-gunung Arjuno-Welirang dan Kawi-Butak. Maka pada akhirnya hampir seluruh endapan lahar letusan Kelud bakal mengalir ke sungai Brantas kala hujan turun sebagai lahar hujan. Selain membuat alur sungai mendangkal sehingga banjir lebih mudah terjadi, lahar hujan Kelud juga bakal terikut aliran sungai hingga ke muaranya. Endapan bakal kian memperluas delta di muara sungai Brantas. Teluknya pun bakal mendangkal menjadi rawa-rawa dan akhirnya tertutup sepenuhnya. Sehingga apa yang semula hanyalah delta berteluk pun berkembang demikian rupa menjadi dataran rendah nan luas. Kelak di kemudian hari di sini berdiri kota Surabaya. Kian berkembangnya delta di muara sungai Brantas membuat jarak yang harus ditempuh perahu/kapal ke pelabuhan Canggu kian jauh. Pada saat yang sama alur sungai di pelabuhan itu kian mendangkal, membuat kapal berukuran besar kian sulit menambatkan diri.

Gambar 9. Diagram sederhana yang menunjukkan bagaimana aktivitas Gunung Kelud berpengaruh bagi kerajaan Majapahit. Saat Gunung Kelud meletus, terbentuk lahar letusan (panah hitam) yang sanggup mengalir hingga sejauh 40 kilometer dari kawah (garis titik-titik). Setelah beberapa lama, endapan lahar letusan bakal dihanyutkan lagi oleh air hujan deras menjadi lahar hujan (panah merah). Hampir seluruh materi lahar hujan akan masuk ke sungai Brantas, sungai utama di lembah Brantas. Di sungai Brantas, materi lahar hujan akan menghilir jauh hingga akhirnya sampai ke pelabuhan Canggu dan muaranya. Imbasnya pelabuhan Canggu menjadi kian dangkal dan muara sungai Brantas pun terus berkembang. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Maps dan data dari Zainuddin dkk, 2013.

Gambar 9. Diagram sederhana yang menunjukkan bagaimana aktivitas Gunung Kelud berpengaruh bagi kerajaan Majapahit. Saat Gunung Kelud meletus, terbentuk lahar letusan (panah hitam) yang sanggup mengalir hingga sejauh 40 kilometer dari kawah (garis titik-titik). Setelah beberapa lama, endapan lahar letusan bakal dihanyutkan lagi oleh air hujan deras menjadi lahar hujan (panah merah). Hampir seluruh materi lahar hujan akan masuk ke sungai Brantas, sungai utama di lembah Brantas. Di sungai Brantas, materi lahar hujan akan menghilir jauh hingga akhirnya sampai ke pelabuhan Canggu dan muaranya. Imbasnya pelabuhan Canggu menjadi kian dangkal dan muara sungai Brantas pun terus berkembang. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Maps dan data dari Zainuddin dkk, 2013.

Tambahkan segala kesulitan tersebut dengan situasi kerajaan Majapahit pasca kekuasaan Rajasanegara. Pertikaian dalam tubuh dinasti yang berlarut-larut membuat kerajaan besar tersebut mulai melemah. Jelas dalam situasi tersebut beragam problem sosial pun muncul. Keamanan mulai sulit dikendalikan. Apalagi saat pertikaian itu memuncak dalam perang Paregreg. Jelas sudah, dua letusan besar Gunung Kelud yang terjadi di antara tahun 1380 hingga 1420 TU merupakan salah satu faktor yang mungkin turut menggiring Majapahit menuju senjakalanya.

Referensi :

Pyle. 2014. Ash Fallout from The 2014 Kelut Eruption, a Preliminary Analysis. Earth Science Class, 18 February 2014. Oxford University, UK.

Sulaksana dkk. 2014. The Crater Configuration f Kelud Volcano, East Java, Indonesia after 2014 Eruption. International Journal of Science and Research, vol. 3 no. 3, March 2014, 419-422.

Global Volcanism Program. 2014. Kelut (Kelud), Java, Indonesia, Big 2014 Eruption. Smithsonian Institution.

Indo-Aviation. 2014. Imbas Abu Gunung Kelud, Airbus A320 Jetstar Asia Harus Ganti Mesin. Laman Indo-Aviation.com, reportase Achdiyatma Reza.

Zainuddin dkk. 2013. Letusan Gunung Kelud pada 690 ± 110 Tahun yang Lalu Merupakan Letusan yang Sangat Dahsyat dan Sangat Berdampak pada Kerajaan Majapahit. Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol. 4 No. 2 Agustus 2013: 117 – 133.

Triastuty dkk. 2014. Gelegar Kelud 2014. Majalah Geomagz, vol. 4 no. 1 Maret 2014, halaman 20-28.

Karangbolong, Jejak Gunung Berapi Purba di Pesisir Kebumen

Gudangnya pantai eksotis! Barangkali kata itu yang bakal terucap kala kita menyusuri pesisir Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah). Betapa tidak. Banyak pantai indah yang bisa dijumpai di kabupaten yang memiliki garis pantai sepanjang 58 kilometer itu. Jika kita mulai dari sebelah timur sembari menyusuri jalur jalan raya lintas selatan yang masih dalam pembangunan dan lebih populer dengan akronim jalur JSS, kita akan bersirobok dengan pantai Lembupurwo yang berlaguna dan datar. Beringsut sedikit ke barat akan dijumpai pantai Bocor nan datar yang berbenteng bukit-bukit pasir. Di sini terdapat kolam-kolam renang air tawar semi permanen yang sengaja dibuat dengan airnya berasal dari sumur-sumur dangkal yang dibor persis di bibir pantai. Bergeser lagi ke barat akan dijumpai pantai Tegalretno, pantai perawan yang juga datar dan berlaguna. Melipir ke barat lagi kita akan bertemu dengan pantai Karanggadung (Petanahan) yang sudah lebih dulu ngetop. Pantai ini juga merupakan pantai datar yang berhias bukit-bukit pasir. Bukit-bukit pasir tersebut terus merentang hingga ke barat hingga mendekati pantai Suwuk.

Gambar 1. Pantai berlaguna Lembupurwo (atas) dan pantai berbukit pasir Karanggadung/Petanahan (bawah). Dua pantai tersebut merepresentasikan pantai dataran rendah di Kabupaten Kebumen. Sumber: LintasKebumen, 2014 & Sudibyo, 2006.

Gambar 1. Pantai berlaguna Lembupurwo (atas) dan pantai berbukit pasir Karanggadung/Petanahan (bawah). Dua pantai tersebut merepresentasikan pantai dataran rendah di Kabupaten Kebumen. Sumber: LintasKebumen, 2014 & Sudibyo, 2006.

Karst Karangbolong

Namun pantai-pantai yang lebih eksotis baru bisa dijumpai saat kita tiba di Tanjung Karangbolong, kawasan berbukit-bukit kapur yang menjuntai hingga bibir pantai dan menyajikan bentanglahan berpanorama demikian indah. Di tubir tanjung sebelah timur terdapat pantai Suwuk, tempat dimana sejumlah sungai bermuara dengan bentanglahan bertransisi dari pedataran menjadi tinggian berbukit-bukit. Dari pantai yang sudah tertata rapi ini beringsutlah ke barat dengan menyeberangi sungai Telomoyo yang besar. Atau jalankan kendaraan anda menyusuri jalus JSS dan maksimalkan tenaga kendaraan karena kita akan melewati jalan menanjak berkelak-kelok di antara bukit-bukit. Di perhentian pertama terdapat pantai Karangbolong. Pantai ini bertebing terjal dan populer dengan goa-goa tepi lautnya yang menjadi tempat ribuan burung walet bersarang. Burung-burung itu menjadi ikon Kabupaten Kebumen dan di masa lalu sarang-sarang burungnya (yang berprotein sangat tinggi) diunduh secara periodik dan dipasarkan dengan nilai yang sangat mahal, sehingga menjadi salah satu komponen pendapatan daerah. Salah satu goa di sini berbentuk terowongan pendek yang mengesankan sebagai batu karang berlubang besar. Dari sinilah nama Karangbolong konon berasal (karang = batu karang, bolong = lubang). Bergeser lagi ke barat, kita akan bertemu dengan pantai Pasir yang menempati sebuah ceruk kecil berhias lengkung jembatan alamiah tepat di tubir laut lepas.

Gambar 2. Pantai Suwuk pasca bencana tsunami 2006, sebelum dikembangkan lebih lanjut menjadi obyek wisata unggulan (atas) dan jembatan lengkung alamiah tepat di tubir laut lepas di pantai Pasir (bawah). Kedua pantai ini terletak di Tanjung Karangbolong, dimana pantai Suwuk merupakan pantai bermuara tepat di batas timur tanjung dan menjadi kawasan transisi daratan rendah ke tinggian berbukit-bukit. Sebaliknya pantai Pasir terletak di tengah-tengah tanjung Karangbolong sehingga berbataskan tebing curam di belakangnya. Sumber: Sudibyo, 2006.

Gambar 2. Pantai Suwuk pasca bencana tsunami 2006, sebelum dikembangkan lebih lanjut menjadi obyek wisata unggulan (atas) dan jembatan lengkung alamiah tepat di tubir laut lepas di pantai Pasir (bawah). Kedua pantai ini terletak di Tanjung Karangbolong, dimana pantai Suwuk merupakan pantai bermuara tepat di batas timur tanjung dan menjadi kawasan transisi daratan rendah ke tinggian berbukit-bukit. Sebaliknya pantai Pasir terletak di tengah-tengah tanjung Karangbolong sehingga berbataskan tebing curam di belakangnya. Sumber: Sudibyo, 2006.

Merayap lagi ke barat, kita akan bertemu dengan dua pantai berceruk lainnya, yakni pantai Pecaron (Srati) dan pantai Karangbata. Kedua pantai dipagari oleh tebing-tebing terjal, namun bila pantai Pecaron beralaskan pasir halus dengan bongkah-bongkah karang beraneka ukuran terserak disana-sini, maka pantai Karangbata melulu berlandaskan bongkahan-bongkahan batu hitam seukuran batubata. Tepat di sebelah barat pantai Karangbata akan kita jumpai pantai Menganti, sang obyek wisata primadona baru yang kini sedang menjadi buah bibir dimana-mana. Berbeda dengan pantai-pantai yang sudah tersebut tadi, pantai Menganti beralaskan pasir putih. Antara pantai Karangbata dan Menganti hanya berbataskan sebuah tanjung kecil yang disebut tanjung Karangbata. Jika kendaraan kita terus pacu ke barat menyusuri jalan yang naik-turun, sebuah pantai berceruk lagi akan kita jumpai, yakni pantai Pedalen. Dari sini kencangkan rem kendaraan anda, karena jalan ke arah barat terus menurun hingga akhirnya berujung tubir barat Tanjung Karangbolong, ke sebuah obyek wisata yang tertata dan cukup populer: pantai Logending. Seperti halnya pantai Suwuk, pantai Logending merupakan tempat sebuah sungai bermuara dengan bentanglahan bertransisi dari pedataran menjadi tinggian berbukit-bukit.

Gambar 3. Ombak memecah jelang tiba di pantai Menganti, diabadikan dari pucuk tebing terjal di belakang pantai (atas) dan wajah sebagian kecil pantai Logending di sekitar muara sungainya diabadikan dari lokasi tempat pelelangan ikan (TPI) Logending pasca bencana tsunami 2006 (bawah). Sumber: Sudibyo, 2006.

Gambar 3. Ombak memecah jelang tiba di pantai Menganti, diabadikan dari pucuk tebing terjal di belakang pantai (atas) dan wajah sebagian kecil pantai Logending di sekitar muara sungainya diabadikan dari lokasi tempat pelelangan ikan (TPI) Logending pasca bencana tsunami 2006 (bawah). Sumber: Sudibyo, 2006.

Segenap pantai indah yang membentang di antara pantai Suwuk dan Logending tersebut berada di kawasan Tanjung Karangbolong, yang adalah kawasan kars Karangbolong atau kars Gombong selatan. Kars merupakan kawasan dengan kondisi hidrologi yang khas sebagai akibat dari batuan yang mudah larut (dalam hal ini batu kapur/gamping) dan memiliki porositas sekunder yang berkembang dengan baik. Sebagai akibatnya sebuah kawasan kars memiliki beberapa ciri khas. Diantaranya adalah mempunyai cekungan tertutup/lembah kering dalam beragam ukuran, sangat jarang memiliki sungai di permukaan tanah dan sebaliknya memiliki drainase (sungai) bawah tanah dan goa yang melimpah. Seluruh ciri tersebut ada di kars Karangbolong. Tingginya curah hujan dan banyaknya retakan-retakan yang memotong batu gamping membuat kars Karangbolong diwarnai bukit-bukit mirip kerucut yang saling sambung-menyambung dengan sela-sela diantaranya berupa cekungan mirip bintang, sebuah ciri khas kegelkarst. Terdapat sedikitnya 69 buah goa kapur di kawasan ini dengan dua diantaranya cukup populer dan menjadi obyek wisata andalan Kabupaten Kebumen, yakni goa Jatijajar dan goa Petruk. Itu belum termasuk goa-goa di pantai Karangbolong, yang bukanlah goa kapur. Sejumlah goa tersebut juga dialiri sungai bawah tanah nan deras dan beberapa diantaranya menjadi air terjun dalam goa. Di sejumlah titik, sungai-sungai bawah tanah itu menyeruak keluar dari dalam tanah menjadi sungai permukaan. Bahkan di goa Surupan yang terletak di sebelah barat pantai Menganti, aliran air sungai bawah tanah yang baru saja keluar dari goa langsung bertemu tebing terjal di bibir pantai, menjadi air terjun Sawangan yang unik. Semuanya sungguh panorama alam yang luar biasa, anugerah terberi dari Illahi.

Gambar 4. Dua sisi yang memperlihatkan keunikan sungai bawah tanah di kars Karangbolong. Sungai bawah tanah yang mengalir di dalam goa Surupan keluar menjadi air terjun Sawangan dan kembali menjadi sungai permukaan tanah meski hanya mengalir sejauh 150 meter sebelum bertemu laut (atas). Salah satu titik keluarnya sungai bawah tanah menjadi sungai permukaan di Kalikarag, yang dimanfaatkan penduduk setempat untuk pemandian. Sumber: Arif, dalam Lintas Kebumen, 2014 & Supriatna, t.t.

Gambar 4. Dua sisi yang memperlihatkan keunikan sungai bawah tanah di kars Karangbolong. Sungai bawah tanah yang mengalir di dalam goa Surupan keluar menjadi air terjun Sawangan dan kembali menjadi sungai permukaan tanah meski hanya mengalir sejauh 150 meter sebelum bertemu laut (atas). Salah satu titik keluarnya sungai bawah tanah menjadi sungai permukaan di Kalikarag, yang dimanfaatkan penduduk setempat untuk pemandian. Sumber: Arif, dalam Lintas Kebumen, 2014 & Supriatna, t.t.

Gunung Berapi Purba

Namun kars Karangbolong tak hanya melulu diwarnai bebatuan gamping. Di titik-titik tertentu di tepi laut dijumpai bebatuan ‘aneh’ yang sama sekali berbeda. Bebatuan ini hitam/gelap, keras dan mirip dengan bebatuan beku yang bisa kita jumpai di kawasan gunung berapi sebagai hasil dari pembekuan lava. Selain itu di titik lainnya juga dijumpai bebatuan ‘aneh’ lainnya. Bebatuan itu terlihat sebagai batu gamping namun anehnya sangat kaya dengan silika. Bahkan dijumpai juga batu kapur yang mengandung emas. Silika dan emas pada dasarnya merupakan mineral khas yang normalnya hanya bisa dijumpai dalam batuan beku. Sementara di tengah-tengah bukit kapur, dijumpai sedikitnya tiga buah bukit ‘aneh’ yang juga tersusun oleh bebatuan beku. Maka kesimpulan berani pun menyeruak : jauh di masa silam di kawasan ini pernah berdiri tegak beberapa gunung berapi yang kini hanya ada sisa-sisanya sebagai gunung berapi purba. Inilah gunung-gunung berapi purba Karangbolong.

Apa sih gunung berapi purba itu?

Pada dasarnya gunung berapi adalah sebuah titik atau bukaan yang menjadi tempat keluarnya bubur batu panas membara (magma) beserta gas-gas vulkanik keluar permukaan Bumi dengan produk menumpuk di sekeliling titik pengeluaran tersebut membentuk gundukan baik kecil maupun besar. Titik/bukaan tempat pengeluaran itu dinamakan kawah jika berukuran kecil, atau kaldera jika berukuran sangat besar (dengan diameter melebihi 2 kilometer). Sebuah gunung berapi dapat terbentuk di tengah-tengah sebuah lempeng tektonik (intralempeng) maupun di perbatasan antar lempeng tektonik sebagaimana gunung-gunung berapi di Indonesia. Dan gunung berapi dapat terbentuk baik di daratan maupun di dasar laut, dengan ciri khasnya masing-masing.

Saat sebuah gunung berapi aktif kita iris secara vertikal, akan terlihat penampangnya yang khas. Kawah/kaldera umumnya terletak di puncak, meski ada juga yang tidak, dan kerap disumbat oleh bekuan lava maupun kubah lava. Tepat di bawah kawah terdapat bentuk mirip pipa panjang yang menembus hingga ke perutbumi. Pipa ini disebut saluran magma (diatrema), yang berujung ke tempat penampungan magma tepat di dasar gunung berapi yang disebut kantung magma. Dari kantung magma terdapat lagi bentuk mirip pipa panjang yang menembus jauh ke bawah lagi hingga berujung di dapur magma. Dalam tubuh gunung berapi sendiri, pipa magma senantiasa bercabang-cabang dengan setiap cabang meliuk-liuk demikian rupa menembus lapisan-lapisan bebatuan vulkanik yang menyusun tubuh gunung berapi. Tidak semua cabangnya berujung ke permukaan tanah sebagai kawah, namun hanya berhenti sebagai intrusi magmatik baik dalam bentuk retas magmatik (dike), retas lempeng (sill), maupun kubah lava samar (cryptodome). Saluran magma tak pernah kosong, melainkan selalu terisi magma sisa letusan sebelumnya yang sudah mulai membatu sehingga membentuk leher vulkanik (volcanic neck). Persentuhan magma panas membara dengan batuan yang menyelubungi lokasi intrusi magmatik akan menghasilkan alterasi batuan yang khas. Seluruhnya disebut sebagai lingkungan CF (central facies).

Gambar 5. Penampang melintang gunung berapi aktif dan purba (tererosi tingkat dewasa dan lanjut) beserta contohnya. Baik gunung berapi aktif maupun purba memiliki lingkungan pengendapan batuan vulkanik yang sama. Perhatikan betapa sulitnya membedakan gunung berapi purba, baik tererosi tingkat dewasa maupun lanjut, dengan bukit-bukit non vulkanik pada umumnya jika hanya dilihat sekilas. Sumber: Hartono & Bronto, 2007. Bronto, 2012.

Gambar 5. Penampang melintang gunung berapi aktif dan purba (tererosi tingkat dewasa dan lanjut) beserta contohnya. Baik gunung berapi aktif maupun purba memiliki lingkungan pengendapan batuan vulkanik yang sama. Perhatikan betapa sulitnya membedakan gunung berapi purba, baik tererosi tingkat dewasa maupun lanjut, dengan bukit-bukit non vulkanik pada umumnya jika hanya dilihat sekilas. Sumber: Hartono & Bronto, 2007. Bronto, 2012.

Di luar lingkungan CF, tubuh gunung berapi juga menunjukkan ciri khas tersusun dari batuan vulkanik. Pada titik terdekat dengan lingkungan CF terdapat lingkungan PF (proximal facies), yakni struktur terdekat ke kawah/kaldera sehingga tersusun oleh endapan lava dan awan panas (piroklastika). Di luarnya lagi terdapat lingkungan MF (medial facies), yang tersusun oleh kombinasi endapan debu vulkanik (tuff), kerikil (lapili) serta breksi lahar. Dan di bagian yang paling luar terdapat lingkungan DF (distal facies), yang umumnya menyusun kaki gunung berapi atau lebih jauh lagi. Lingkungan DF umumnya merupakan kawasan dimana bebatuan vulkanik telah mengalami pengerjaan ulang, umumnya oleh erosi, sehingga menghasilkan breksi lahar, konglomerat, batupasir dan bahkan batu lempung.

Sebuah gunung berapi disebut gunung berapi aktif bilamana kantung magma dangkalnya masih dipasok magma secara rutin dari dapur magma. Magma tersebut kemudian dikeluarkan ke permukaan tanah sebagai letusan yang terjadi hanya pada saat-saat tertentu, bergantung pada periode letusan yang khas untuk setiap gunung berapi. Letusan tersebut bisa berupa letusan eksplosif (ledakan) yang menyemburkan gas dan material letusan ke udara, ataupun letusan efusif (leleran) yang hanya mengeluarkan magma dari kawah tanpa terlontar tinggi ke udara untuk kemudian mengalir sebagai lava dan akhirnya lahar. Dapat pula letusan yang terjadi adalah kombinasi antara letusan eksplosif dan efusif. Jika tidak sedang meletus, dapur magma gunung berapi aktif tetap menerima pasokan magma segar dari perutbumi, namun tidak langsung dikeluarkan jika tekanannya belum sanggup mendobrak/memecah magma sisa letusan sebelumnya yang mulai membatu di dalam saluran magma. Dalam keadaan tidak meletus, gunung berapi aktif umumnya tetap mengeluarkan gas-gas vulkanik dari kawahnya serta memanaskan air bawah tanah yang keluar sebagai mataair panas di sejumlah titik. Tubuh gunung berapi aktif umumnya berbentuk kerucut dan relatif mulus sebagai hasil keseimbangan antara penambahan material (akibat letusan) dengan erosi.

Sementara gunung berapi tidak aktif/padam adalah gunung berapi yang dapur magma dan kantung magma dangkalnya tidak lagi menerima pasokan magma dari perutbumi. Sehingga tak ada lagi aktivitas letusan maupun pengeluaran gas-gas vulkanik. Namun mataair panas masih ada, mengingat magma yang tersisa dalam dapur magma maupun kantung magma dangkal masih panas dan membutuhkan waktu sangat lama untuk mendingin dan membatu. Sepanjang waktu itu ia tetap memindahkan panasnya ke batuan disekelilingnya hingga cukup mampu untuk memanaskan atau bahkan mendidihkan air bawah tanah. Meski harus digarisbawahi bahwa mataair panas tidak selalu terkait dengan gejala pasca vulkanik, seperti diperlihatkan oleh mataair panas Krakal di kecamatan Alian, juga di Kabupaten Kebumen. Dapat dikatakan kawasan gunung berapi padam merupakan kawasan pasca vulkanik yang memiliki prospek bagus untuk pengembangan energi panas bumi. Seiring menghilangnya pasokan material vulkanik, maka erosi pun tanpa tanding dan bekerja memahat tubuh gunung demikian rupa. Sehingga puncak gunung berapi padam mulai menurun akibat terkikis erosi, sementara lereng-lerengnya berhias alur/jurang yang demikian dalam.

Gambar 6. Bebatuan beku mirip tiang-tiang batu yang saling bertumpuk di ujung tanjung Karangbata, pantai Menganti. Tiang-tiang batu tersebut merupakan balok yang adalah kekar kolom. Kekar kolom ini menjadi pertanda pernah ada sebuah gunung berapi purba di kawasan ini. Diabadikan oleh geolog Bambang Mertani. Sumber: Mertani, 2013.

Gambar 6. Bebatuan beku mirip tiang-tiang batu yang saling bertumpuk di ujung tanjung Karangbata, pantai Menganti. Tiang-tiang batu tersebut merupakan balok yang adalah kekar kolom. Kekar kolom ini menjadi pertanda pernah ada sebuah gunung berapi purba di kawasan ini. Diabadikan oleh geolog Bambang Mertani. Sumber: Mertani, 2013.

Dan gunung berapi purba adalah gunung berapi yang telah padam dalam jangka waktu sangat lama sehingga segenap magma yang masih tersisa didalamnya, baik di retas magmatik, retas lempeng, saluran magma maupun kantung magma dangkal dan dapur magma telah sepenuhnya mendingin dan membeku. Erosi berkuasa sepenuhnya atas tubuh gunung berapi purba dan menggerusnya demikian rupa sampai mayoritas tubuh gunung menghilang secara perlahan-lahan dibawa aliran air. Bagian yang masih tersisa kini berbentuk gundukan-gundukan membukit yang sepintas tak ada bedanya dengan bukit-bukit pada umumnya. Hanya jika komposisi batuannya dicermati sajalah baru terungkap bukit-bukit tersebut merupakan sisa gunung berapi purba. Erosi yang sama juga bisa memunculkan bebatuan beku yang membentuk retas magmatik, retas lempeng, leher vulkanik dan bahkan kubah lava samar.

Busur Vulkanik Jawa Tua

Jejak gunung berapi purba di Tanjung Karangbolong bisa ditemukan sedikitnya di tujuh lokasi. Lokasi pertama adalah lokasi yang paling eksotis, yakni di ujung tanjung Karangbata yang ada di sisi timur pantai Menganti. Di ujung tanjung ini tersingkap batuan beku kehitaman yang nampak retak-retak dan memperlihatkan panorama mirip “tiang-tiang batu” yang saling bertumpuk. Dari sejumlah potongan “tiang” yang terserak dihempas air laut diketahui bahwa “tiang-tiang” tersebut merupakan balok-balok batu. Secara geologis balok-balok batu kehitaman ini adalah lava yang membeku secara perlahan-lahan dan mengalami perekahan yang terus berkembang hingga menjadi batuan beku ber-kekar kolom (columnar joint). Pendinginan secara perlahan-lahan tersebut umumnya berlangsung saat magma menyelusup hingga kedalaman tertentu sebagai retas magmatik, retas lempeng maupun leher vulkanik. Lokasi kedua terdapat di pantai Karangbata, tepat di sisi timur tanjung Karangbata. Di sekujur pantai ini terserak bongkahan-bongkahan batu mirip batubata yang berwarna hitam. Melihat bentuknya dan jaraknya yang cukup dekat dengan singkapan kekar kolom di ujung tanjung Karangbata, dapat diduga bahwa bongkah-bongkah tersebut berasal dari kekar kolom di ujung tanjung yang terhempas gelora. Lokasi ketiga terdapat di pantai Karangbolong dan Pasir. Di sini tersingkap batuan breksi lahar. Di pantai Karangbolong, breksi lahar bahkan mengalami pengekaran dan terus berkembang disertai runtuhan hingga membentuk goa Karangbolong. Breksi lahar ini berumur Oligo-Miosen atau secara kasar berasal dari masa 30 hingga 15 juta tahun silam.

Gambar 7. Bongkah-bongkah potongan kekar kolom seukuran batubata di pantai Karangbata. Bongkah-bongkah tersebut nampaknya dihanyutkan dari lokasi singkapan kekar kolom di ujung tanjung Karangbata, yang menjadi pertanda pernah ada sebuah gunung berapi purba di kawasan ini.Sumber: Anonim, t.t.

Gambar 7. Bongkah-bongkah potongan kekar kolom seukuran batubata di pantai Karangbata. Bongkah-bongkah tersebut nampaknya dihanyutkan dari lokasi singkapan kekar kolom di ujung tanjung Karangbata, yang menjadi pertanda pernah ada sebuah gunung berapi purba di kawasan ini.Sumber: Anonim, t.t.

Lokasi keempat terletak di tebing-tebing sebelah timur pantai Logending. Secara kasat mata tak terlihat adanya jejak gunung berapi purba di sini. Namun penyelidikan lebih lanjut mengungkap sejumlah titik singkapan bebatuan yang sekilas mirip batu gamping terumbu sesungguhnya telah mengalami penggantian sebagian mineral penyusunnya dari kalsium menjadi silika. Dijumpai juga mineral/batuan yang seharusnya tak ada dalam batu gamping namun umum dijumpai dalam batuan beku produk aktivitas gunung berapi, dalam rupa jasperoid, kalsedon dan kristal kuarsa. Batu gamping terumbu yang kaya silika, jasperoid serta kristal kalsedon dan kuarsa merupakan produk dari injeksi cairan hidrotermal bersuhu relatif tinggi (lebih dari 600 derajat Celcius) yang berasal dari magma ke dalam batu gamping. Masuknya cairan panas yang bersifat asam membuat kalsium dalam batu gamping melarut digantikan oleh koloid silika. Lama kelamaan koloid ini teruapkan membentuk jel dan akhirnya padatan sebagai kristal kuarsa dan kalsedon.

Gambar 8. Breksi lahar di tebing curam sisi barat pantai Pasir (tanda panah). Breksi lahar ini juga menjadi pertanda pernah ada sebuah gunung berapi purba di kawasan ini. Sumber: Sudibyo, 2006.

Gambar 8. Breksi lahar di tebing curam sisi barat pantai Pasir (tanda panah). Breksi lahar ini juga menjadi pertanda pernah ada sebuah gunung berapi purba di kawasan ini. Sumber: Sudibyo, 2006.

Lokasi kelima terletak di Bukit Poleng, satu kilometer sebelah timur pantai Logending ke arah perbukitan. Lokasi keenam ada di Bukit Gadung, sekitar dua kilometer sebelah tenggara Bukit Poleng, Dan lokasi ketujuh ada di Bukit Arjuna, sekitar tiga kilometer sebelah utara-barat laut pantai Karangbolong. Ketiga bukit tersebut disusun oleh bebatuan beku berjenis andesit, yang berasal dari masa sekitar 17 juta tahun silam. Selain tujuh lokasi tersebut, jejak-jejak aktivitas gunung berapi purba pada umumnya juga ditemukan di sebagian wilayah Tanjung Karangbolong sebagai satuan batuan sedimen formasi Gabon. Formasi ini didominasi endapan awan panas (piroklastika) yang berasal dari letusan-letusan gunung-gunung berapi purba bawah laut pada kurun sekitar 19 juta tahun silam. Material letusan gunung-gunung berapi purba tersebut mengalir menuju ke bagian parit yang dalam di laut lalu mengendap sembari ditingkahi proses-proses pelongsoran bawah laut. Di kemudian hari endapan tersebut parit yang terisi material letusan itu terangkat perlahan-lahan hingga menjadi perairan laut dangkal yang memungkinkan binatang karang tumbuh, yang menghasilkan endapan batu gamping diatasnya. Batu gamping inilah yang komponen utama di kars Karangbolong.

Gambar 9. Salah satu lokasi dimana batu gamping terumbu diubah menjadi silika, di dekat pantai Logending (atas). Selain batu gamping berisi silika dengan urat-urat kuarsa yang mengandung emas, di sini terdapat juga kalsedon dan kristal-kristal kuarsa (bawah). Semuanya merupakan petunjuk pernah ada sebuah gunung berapi purba di kawasan ini. Sumber: Suprapto, 2010.

Gambar 9. Salah satu lokasi dimana batu gamping terumbu diubah menjadi silika, di dekat pantai Logending (atas). Selain batu gamping berisi silika dengan urat-urat kuarsa yang mengandung emas, di sini terdapat juga kalsedon dan kristal-kristal kuarsa (bawah). Semuanya merupakan petunjuk pernah ada sebuah gunung berapi purba di kawasan ini. Sumber: Suprapto, 2010.

Dari ketujuh titik tersebut dapat dikatakan bahwa lingkungan central facies gunung berapi terdapat di ujung tanjung Karangbata dan pantai Karangbata (sebagai singkapan dan bongkah-bongkah batuan beku berkekar kolom) serta di Bukit Poleng, Bukit Gadung dan Bukit Arjuna (sebagai intrusi magmatik). Sementara lingkungan distal facies gunung berapi tersingkap sebagai formasi Gabon yang mewarnai separuh Tanjung Karangbolong. Maka, mungkin ada sedikitnya empat gunung berapi purba di kawasan ini dengan saluran magmanya terdapat tanjung Karangbata, Bukit Poleng, Bukit Gadung dan Bukit Arjuna.

Tentu saja dibutuhkan penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap struktur gunung-gunung berapi purba Karangbolong ini dengan lebih detil. Namun sejauh ini dapat dikatakan bahwa kedudukan mereka tak terlepas dari gunung-gemunung berapi purba yang membentang di segenap Pegunungan Selatan, seperti yang sejauh ini telah ditemukan di Bantul, Gunungkidul, Wonogiri hingga Pacitan. Pada suatu masa, gunung-gemunung berapi purba ini pernah menjadi tulang punggung vulkanisme tanah Jawa, seperti yang dilakoni oleh 45 gunung berapi modern yang membentang dari kompleks Gunung Karang-Pulosari (Banten) hingga Gunung Ijen (Jawa Timur) di masa kini. Jika ke-45 gunung berapi modern itu membentuk busur vulkanik Jawa muda yang muncul dalam waktu kurang dari 10 juta tahun terakhir, maka gunung-gemunung berapi purba di Pegunungan Selatan (termasuk gunung berapi purba Karangbolong) merupakan bagian busur vulkanik Jawa tua yang muncul semenjak 45 juta tahun silam dan bertahan hingga paling tidak 20 juta tahun silam.

Gambar 10. Lokasi dimana jejak-jejak gunung berapi purba tersingkap dalam Tanjung Karangbolong (warna hitam), di antara sejumlah pantai eksotis di kawasan ini (warna merah muda). Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Maps.

Gambar 10. Lokasi dimana jejak-jejak gunung berapi purba tersingkap dalam Tanjung Karangbolong (warna hitam), di antara sejumlah pantai eksotis di kawasan ini (warna merah muda). Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Maps.

Pada masanya, gunung-gemunung berapi purba itu pun membentang dari barat ke timur. Namun bedanya mereka tidaklah setinggi 45 gunung berapi modern di busur vulkanik Jawa muda sekarang. Musababnya sebagian besar gunung berapi purba tersebut adalah gunung berapi laut, yang puncaknya terendam di dalam air asin. Musabab berikutnya, hampir seluruh busur vulkanik Jawa tua ini kemudian tenggelam kembali ke dasar laut sehingga memungkinkan batu gamping khas laut dangkal mengendap diatasnya. Bila hampir seluruh gunung-gemunung berapi purba itu kini berada di daratan, hal itu akibat terangkatnya busur vulkanik Jawa tua bersamaan dengan terdongkraknya bagian selatan pulau Jawa pada masa sekitar 5 juta tahun silam. Pengangkatan itu berlangsung asimetris, sehingga sisi utara busur vulkanik Jawa tua ini lebih terangkat dibanding sisi selatannya. Akibatnya gunung-gemunung berapi purba di busur vulkanik tersebut kini dalam kondisi miring ke selatan.

Gambar 11. Gambaran sederhana rekonstruksi tiga dari sejumlah gunung berapi purba di Karangbolong, dengan anggapan bahwa setiap bukit intrusi magmatik dan kekar kolom merupakan saluran magma gunung berapi purba. Pada masanya, seluruh gunung berapi purba Karangbolong merupakan gunung berapi bawah laut. Gunung purba Menganti mungkin muncul lebih dulu (dan juga mati lebih dulu) ketimbang gunung purba lainnya. SUmber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth.

Gambar 11. Gambaran sederhana rekonstruksi tiga dari sejumlah gunung berapi purba di Karangbolong, dengan anggapan bahwa setiap bukit intrusi magmatik dan kekar kolom merupakan saluran magma gunung berapi purba. Pada masanya, seluruh gunung berapi purba Karangbolong merupakan gunung berapi bawah laut. Gunung purba Menganti mungkin muncul lebih dulu (dan juga mati lebih dulu) ketimbang gunung purba lainnya. SUmber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth.

Pada masanya, aktivitas gunung-gemunung berapi purba ini secara akumulatif membentuk bagian selatan pulau Jawa dengan demikian intensif. Kini sedimen vulkanik mewarnai kawasan ini dari ujung barat Banten hingga ujung timur Jawa Timur dengan lebar sekitar 50 kilometer (dari selatan ke utara) dan ketebalan rata-rata 2.500 meter. Aktivitas vulkanik di busur vulkanik Jawa tua dipuncaki oleh gunung berapi super Semilir dengan letusannya yang amat sangat dahsyat pada masa sekitar 36 hingga 30 juta tahun silam. Kedahsyatan letusan tersebut hanya dapat disandingkan dengan amukan mahadahsyat Gunung Toba pada Letusan Toba Muda 74.000 tahun silam, yang memuntahkan tak kurang dari 2.800 kilometer kubik material letusan. Oleh sebab-sebab yang belum jelas benar, seluruh gunung berapi di busur vulkanik tua padam dan mati pada sekitar 20 juta tahun silam. Aktivitas vulkanik kemudian bergeser ke utara, ke tengah-tengah pulau Jawa, yang dimulai dalam kurun 10 juta tahun silam hingga sekarang. Terbentuklah busur vulkanik Jawa muda dengan 45 buah gunung berapinya yang sebagian besar masih aktif.

Gambar 12. Topografi sebagian pulau Jawa dengan DEM (digital elevation model) dengan lokasi busur vulkanik Jawa tua (garis merah putus-putus) dan busur vulkanik Jawa muda (garis kuning putus-putus). Lingkaran-lingkaran merah menunjukkan lokasi gunung-gemunung berapi purba yang sudah diidentifikasi di sepanjang busur vulkanik Jawa tua. Pada masanya, gunung-gunung ini rajin meletus hingga paling tidak 20 juta tahun silam. Setelah itu aktivitas vulkanik pulau Jawa bergeser ke utara (ditunjukkan dengan tanda panah), membentuk busur vulkanik Jawa muda semenjak 10 juta tahun silam hingga sekarang. Sumber: Hall & Smyth, 2008 dalam Satyana, 2014.

Gambar 12. Topografi sebagian pulau Jawa dengan DEM (digital elevation model) dengan lokasi busur vulkanik Jawa tua (garis merah putus-putus) dan busur vulkanik Jawa muda (garis kuning putus-putus). Lingkaran-lingkaran merah menunjukkan lokasi gunung-gemunung berapi purba yang sudah diidentifikasi di sepanjang busur vulkanik Jawa tua. Pada masanya, gunung-gunung ini rajin meletus hingga paling tidak 20 juta tahun silam. Setelah itu aktivitas vulkanik pulau Jawa bergeser ke utara (ditunjukkan dengan tanda panah), membentuk busur vulkanik Jawa muda semenjak 10 juta tahun silam hingga sekarang. Sumber: Hall & Smyth, 2008 dalam Satyana, 2014.

Selain memenuhi rasa keingintahuan kita, mengetahui keberadaan gunung berapi purba seperti halnya gunung berapi purba Karangbolong pun memiliki manfaat praktis ekonomis. Lingkungan central facies sebuah gunung berapi purba merupakan sumber bagi mineral logam dasar bernilai tinggi seperti halnya emas, tembaga dan sebagainya. Deposit emas Cikotok di Banten, yang telah lama ditambang dan kini telah ditutup, terbentuk di lingkungan seperti ini. Di sejumlah titik Tanjung Karangbolong pun telah dijumpai singkapan batuan yang mengandung emas. Menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kabupaten Kebumen untuk memetakan kawasan ini secara lebih teliti, memilah-milah kandungan logam berharganya dan menilai kelayakan ekonomisnya untuk ditambang. Selain itu, keberadaan gunung-gunung berapi purba Karangbolong jika dikelola dengan layak dapat menjadi faktor penambah daya tarik obyek-obyek wisata di sini.

Bahan acuan :

Hartono & Bronto. 2007. Asal-usul Pembentukan Gunung Batur di Daerah Wediombo, Gunungkidul, Yogyakarta. Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 2 No. 3 September 2007, hal. 143-158.

Bronto. 2012. Gunung Padang Berdasarkan Pandangan Geologi Gunung Api. Makalah dalam Rembug Nasional Gunung Padang, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Suprapto. 2010. Batu Gamping Berubah Menjadi Bijih Emas. Majalah Warta Geologi, vol. 5 no. 4 Desember 2010, hal. 17-21

Maskuri. 2003. Studi Alterasi Hidrotermal Daerah Karangbolong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. JIK TekMin, vol. 16 no. 2 Juli-Desember 2003, hal. 68-73.

Supriatna. t.t. Bentukan-Bentukan Karst. UPI Bandung.

Ansori dkk. 2010. Evaluasi Potensi dan Konservasi Kawasan Tambang Pasir Besi pada Jalur Pantai Selatan Di Kabupaten Purworejo-Kebumen, Jawa Tengah. UPT Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung LIPI.

Satyana. 2014. Jawa: Jalur Gunungapi Tua & Jalur Gunungapi Modern.

Lintas Kebumen.

Longsor dan Banjir Alian (Kebumen) November 2014, Sepotong Kisah Bumi dari Lembah Kedungbener

Bencana itu bermula pada Minggu malam 23 November 2014 Tarikh Umum (TU). Setelah diguyur hujan deras selama berjam-jam, beberapa titik lereng terjal di Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah) longsor. Ada sedikitnya enam titik tanah longsor yang tersebar di tiga desa, masing-masing Desa Krakal, Kalirancang dan Kalijaya. Longsor terparah terjadi di salah satu titik Desa Krakal yang merenggut satu korban jiwa. Secara keseluruhan tercatat 17 rumah rusak berat terkena material longsoran sementara 7 lainnya dalam kondisi rentan terkena longsor susulan. Material longsoran dari dua titik longsor juga sempat menumpuk di jalan raya, memutus urat nadi utama penghubung kota kecamatan Alian dengan ibukota Kabupaten Kebumen.

Gambar 1. Kiri: salah satu titik longsor di Desa Krakal yang merenggut satu korban jiwa pada Minggu malam 23 November 2014 TU. Kanan: genangan air di jalan raya utama yang menghubungkan kecamatan Alian dengan ibukota kabupaten tepatnya pada titik di sebelah timur pemandian air panas Krakal, seiring banjir kilat Selasa sore 25 November 2014 TU. Sumber: twitter@LintasKebumen, 2014.

Gambar 1. Kiri: salah satu titik longsor di Desa Krakal yang merenggut satu korban jiwa pada Minggu malam 23 November 2014 TU. Kanan: genangan air di jalan raya utama yang menghubungkan kecamatan Alian dengan ibukota kabupaten tepatnya pada titik di sebelah timur pemandian air panas Krakal, seiring banjir bandang Selasa sore 25 November 2014 TU. Sumber: twitter@LintasKebumen, 2014.

Seakan belum cukup, dua hari kemudian bencana berbeda namun disebabkan oleh hal yang sama kembali datang menerpa. Setelah kawasan hulunya diguyur hujan deras selama 2 hingga 3 jam, Sungai Kedungbener meluap hebat pada Selasa sore 25 November 2014 TU. Di sejumlah titik tanggul sungai ini jebol, melimpahkan air bah nan deras kemana-mana menciptakan genangan sedalam 1 sampai 1,5 meter di area yang luas. Tercatat delapan desa dari dua kecamatan terendam banjir mendadak ini. Kedelapan desa tersebut berada di alur lembah Kedungbener, masing-masing desa Krakal, Kalirancang, Wonokromo, Sawangan, Seliling, Surotrunan, Bojongsari (semuanya di Kecamatan Alian) dan Sumberadi (Kecamatan Kebumen). Banjir ini memang berlangsung relatif singkat. Tak lebih dari tujuh jam sejak awal mulanya air sudah menyurut, sehingga tergolong banjir kilat banjir bandang (flash flood). Namun ia mendatangkan petaka yang luar biasa. Memang tak ada korban jiwa maupun luka-luka yang ditimbulkannya, namun kerugian materialnya melangit. Tak kurang dari 1.281 buah rumah di delapan desa tersebut terendam banjir, sebagian diantaranya rusak parah. Sejumlah bangunan sekolah beserta fasilitas pendidikannya pun turut rusak berat. Angka kerugian akibat kedua bencana tersebut mencapai sedikitnya lima milyar rupiah.

Gambar 2. Titik-titik dimana tanah longsor (EL: earth landslide) terjadi pada Minggu malam 23 November 2014 TU serta genangan akibat banjir kilat Selasa sore 25 November 2014 TU di dalam lembah Kedungbener. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth.

Gambar 2. Titik-titik dimana tanah longsor (EL: earth landslide) terjadi pada Minggu malam 23 November 2014 TU serta genangan akibat banjir bandang Selasa sore 25 November 2014 TU di dalam lembah Kedungbener. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth.

Sesar Kedungbener

Bencana banjir dan tanah longsor bagi kecamatan yang memiliki lembah sempit dialiri sungai Kedungbener ini sejatinya bukan hal yang baru. Dalam beberapa tahun terakhir, banjir melanda lembah ini nyaris setiap dua tahun sekali. Walaupun bencana banjir kilat banjir bandang 25 November 2014 TU ini merupakan yang terparah dibanding bencana sejenis tahun-tahun sebelumnya. Meski demikian setiap bencana tersebut cenderung terbatasi di sepanjang lembah tersebut saja dan relatif tak melebar keluar darinya. Mengapa bisa seperti itu?

Jika anda sedang berada di kota Kebumen, meluncurlah ke arah timur melewati Jalan Sarbini yang ramai. Begitu tiba di pertigaan Kawedusan teruslah bergerak ke timur hingga sekitar 3 kilometer lagi, kali ini melintasi Jalan Bumidirja yang sempit meski telah beraspal cukup baik. Saat perjalanan sampai di tengah-tengah kawasan persawahan yang luas, sempatkanlah berhenti sejenak dan arahkan pandangan ke utara. Di latar belakang lahan persawahan yang luas membentang terlihat jajaran bukit-bukit yang sambung menyambung sebagai bagian dari Pegunungan Serayu Selatan. Terdapat sebuah celah yang cukup lebar di antara bukit-bukit tersebut. Celah inilah yang dikenal sebagai lembah Kedungbener. Inilah lembah dimana Sungai Kedungbener menghilir ke selatan dari mata airnya di perbukitan Karangsambung sembari mengumpulkan air dari anak-anak sungainya.

Gambar 3. Pemandangan lembah Kedungbener dari lokasi pembangunan Musholla wakaf tunai BMT Sejahtera Umat di Desa Surotrunan. Di latar belakang nampak sesar Kedungbener dengan graben dan horst-nya yang khas. SUmber: BMT Sejahtera Umat, 2014.

Gambar 3. Pemandangan lembah Kedungbener dari lokasi pembangunan Musholla wakaf tunai BMT Sejahtera Umat di Desa Surotrunan. Di latar belakang nampak sesar Kedungbener dengan graben dan horst-nya yang khas. SUmber: BMT Sejahtera Umat, 2014.

Lembah Kedungbener adalah sebuah lembah yang relatif lurus berarah utara-selatan sepanjang sekitar 8 kilometer yang membentang mulai dari sisi timur kota Kebumen hingga ke kawasan perbukitan di Karangsambung. Lembah ini merupakan ekspresi permukaan Bumi dari sebuah sesar (patahan/fault) yang saat ini dinamakan sesar Kedungbener atau sesar Kedungkramat. Sesar ini membentang sepanjang sekitar 12 kilometer dengan arah utara-selatan dan terbentuk tak kurang dari 2 juta tahun silam sebagai patahan turun (normal fault). Maka saat kita menyusuri lembah ini ke utara, bayangkanlah bahwa sekitar 2 juta tahun silam bagian kerak bumi di sisi kiri kita mendadak turun (ambles) menjadi lembah sesar (graben). Sebaliknya semua di sisi kanan kita tetap bertahan dan menjadi bukit sesar (horst).

Dalam geologi, sesar yang aktif merupakan zona sumber gempa yang potensial. Sebuah sesar aktif senantiasa bergerak pada kecepatan tertentu meski hanya sebesar beberapa milimeter per tahun sebagai konsekuensi dari gaya-gaya yang bekerja pada batuan di sepanjang sesar. Pada suatu titik ia dapat tertahan demikian rupa sehingga melambat atau bahkan malah tak bergerak sama sekali hingga bertahun lamanya. Namun demikian gaya-gaya tersebut tetap bekerja secara terus-menerus. Sehingga timbul akumulasi energi dan gaya. Pada suatu saat, akumulasi gaya tersebut telah demikian besarnya sehingga melampaui daya dukung maksimum batuannya. Terjadilah pematahan secara tiba-tiba di sepanjang sesar dan energi yang tersimpan pun dilepaskan seketika sebagai getaran permukaan Bumi, yang kita kenal sebagai gempa bumi.

Apakah sesar Kedungbener berupa sesar aktif? Hingga saat ini kita belum mengetahuinya. Di masa silam Kebumen memang beberapa kali diguncang gempa bumi tektonik dengan intensitas getaran yang tinggi. Namun belum tentu gempa tektonik tersebut berasal dari pematahan segmen batuan di sesar Kedungbener. Terlebih Kebumen berhadapan langsung dengan zona subduksi lempeng Eurasia (Sunda) dan Australia yang berada di lepas pantai selatan Pulau Jawa, kawasan yang penuh dengan sumber gempa tektonik dangkal dan kuat/besar. Yang jelas keberadaan sesar inilah yang membentuk lembah Kedungbener sebagai sebuah celah sempit di dalam Pegunungan Serayu Selatan.

Gambar 4. Panorama lahan sawah yang luas di lembah Kedungbener dan ekspresi sesar Kedungbener di latar belakangnya dengan graben dan horst sebagai ciri khasnya, diabadikan dari Desa Seliling. Sumber: Seliling.com, 2014.

Gambar 4. Panorama lahan sawah yang luas di lembah Kedungbener dan ekspresi sesar Kedungbener di latar belakangnya dengan graben dan horst sebagai ciri khasnya, diabadikan dari Desa Seliling. Sumber: Seliling.com, 2014.

Sesar Kedungbener pula yang bertanggung jawab atas mataair panas Krakal, yang muncul dalam kurun kurang dari dua abad terakhir. Mataair panas dengan luah (debit) 10 liter per menit, suhu air rata-rata 40 derajat Celcius dan tingkat keasaman (pH) 8 itu kini dikembangkan menjadi Pemandian Air Panas Krakal, salah satu obyek wisata unik andalan Kabupaten Kebumen. Air panas tersebut bukan disebabkan oleh aktivitas vulkanik, namun berasal dari reservoir alamiah yang terletak di kedalaman 1,1 kilometer dari permukaan tanah sejauh sekitar 500 meter ke utara-barat laut dari lokasi Pemandian Air Panas. Ia mendapatkan panasnya dari magma yang mencoba menyelusup lewat salah satu titik di sesar Kedungbener namun terhenti di kedalaman 8 kilometer dari permukaan tanah dan membeku menjadi granit. Panas yang masih tersisa itulah yang memanaskan air di reservoir. Selain keluar di Pemandian Air Panas, diduga reservoir yang sama juga memasok air panas dengan luah rendah ke dua lokasi, masing-masing ke Plumbon (hulu sungai Kedungbener) dan bendung Kaligending. Survei geofisika pada gelombang elektromagnetik VLF (very low frequency) juga memperlihatkan reservoir yang sama pun memasok air panas ke bawah kantor kecamatan Alian. Hanya saja sampai kini di lokasi tersebut belum dijumpai jalan keluar ke permukaan tanah.

Gambar 5. Titik-titik mataair panas (warna kuning) di Krakal dan sekitarnya serta perkiraan lokasi reservoir air panasnya berdasarkan survei geofisika. Terdapat tiga titik mataair panas namun hanya satu yang memiliki luah (debit) besar dan telah dikembangkan menjadi obyek wisata pemandian air panas Krakal. Survei geofisika juga menunjukkan adanya konsentrasi air panas di bawah lokasi kantor kecamatan Alian, namun hingga kini belum menemukan jalan keluar ke permukaan tanah. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Maps dan survei geofisika tim UGM, 2000.

Gambar 5. Titik-titik mataair panas (warna kuning) di Krakal dan sekitarnya serta perkiraan lokasi reservoir air panasnya berdasarkan survei geofisika. Terdapat tiga titik mataair panas namun hanya satu yang memiliki luah (debit) besar dan telah dikembangkan menjadi obyek wisata pemandian air panas Krakal. Survei geofisika juga menunjukkan adanya konsentrasi air panas di bawah lokasi kantor kecamatan Alian, namun hingga kini belum menemukan jalan keluar ke permukaan tanah. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Maps dan survei geofisika tim UGM, 2000.

Sesar Kedungbener muncul di kawasan yang secara tektonik telah demikian tercabik-cabik, sebagai bagian dari sejarah daratan Kebumen purba yang istimewa. Terbentuk jauh di kedalaman samudera di dekat palung laut, yang adalah tempat lempeng Australia purba bersubduksi dengan lempeng Eurasia purba, bebatuan Kebumen purba ditekan oleh gaya-gaya tektonik yang teramat kuat hingga tercabik-cabik begitu dahsyat. Di kemudian hari segenap bebatuan terangkat seiring dinamika pembentukan pulau Jawa dan lama kelamaan muncul ke atas permukaan laut. Pengangkatan intensif terjadi tatkala Jawa Tengah bagian selatan menjadi ajang koalisi dua sesar besar, masing-masing sesar besar Kebumen-Muria-Meratus yang berarah timur laut-barat daya dan sesar besar Cilacap-Pamanukan-Lematang yang berarah barat laut-tenggara. Aktivitas intensif kedua sesar besar tersebut, sebelum kemudian mati berjuta tahun silam, yang disusul dengan vulkanisme intensif yang mendongkrak bagian selatan pulau Jawa membuat bebatuan tersebut terangkat hingga lebih dari 2.000 meter dan membentuk wajah Kabupaten Kebumen seperti sekarang.

Gambar 6. Gambaran sederhana irisan kulit Bumi di lokasi mataair panas Krakal, yang keberadaannya dipengaruhi oleh sesar Kedungbener. Reservoir air panas bersuhu > 300 derajat Celcius terletak pada kedalaman 1.100 meter dari permukaan tanah. Ia mengalirkan air panasnya ke permukaan melalui kulit bumi yang lemah dan lebih mudah ditembus di lokasi sesar Kedungbener. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth; survei geofisika tim UGM, 2000 dan survei Lemigas, 1986.

Gambar 6. Gambaran sederhana irisan kulit Bumi di lokasi mataair panas Krakal, yang keberadaannya dipengaruhi oleh sesar Kedungbener. Reservoir air panas bersuhu > 300 derajat Celcius terletak pada kedalaman 1.100 meter dari permukaan tanah. Ia mengalirkan air panasnya ke permukaan melalui kulit bumi yang lemah dan lebih mudah ditembus di lokasi sesar Kedungbener. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth; survei geofisika tim UGM, 2000 dan survei Lemigas, 1986.

Sesar Kedungbener mengiris bebatuan tercabik-cabik itu, yang secara umum terbagi ke dalam satuan batuan sedimen formasi Waturanda (utara) dan Penosogan (selatan). Formasi Waturanda berumur 26 hingga 20 juta tahun silam, terdiri atas batu pasir vulkanik dan breksi vulkanik yang diendapkan di lingkungan laut dalam. Bebatuan dalam formasi ini secara kasat mata terlihat kasar. Sementara formasi Penosogan yang berumur 20 hingga 12 juta tahun silam tersusun oleh batu pasir, batu lempung, tuff, napal dan gamping kalkarenit setebal sekitar 1.000 meter yang diendapkan di lingkungan laut dangkal. Batuan dalam formasi ini secara kasat mata terlihat lebih halus. Meski telah membatu, namun cabikan-cabikan tektonik masa silam membuat bebatuan di sini relatif lebih lemah. Di formasi Penosogan, itu membuatnya mudah melapuk dan terburai kembali menjadi butir-butir pasir dan lempung. Hampir segenap kecamatan Alian ditutupi oleh sedimen formasi Waturanda yang permukaannya sudah melapuk membentuk tanah pelapukan setebal hingga 2 meter atau lebih. Keberadaan sesar kedungbener membuat bebatuan yang lapuk ini menjadi lebih riskan, karena sesar membuat bentang alam setempat menjadi berhias lereng-lereng dengan kondisi setengah terjal hingga terjal.

Gambar 7. Peta zona kerentanan gerakan tanah untuk Kecamatan Alian dan sekitarnya, yang didominasi oleh zona rentan gerakan tanah menengah (warna kuning). Lingkaran-lingkaran hitam menunjukkan titik-titik tanah longsor pada Minggu malam 23 November 2014 TU. Sumber: PVMBG, 2014.

Gambar 7. Peta zona kerentanan gerakan tanah untuk Kecamatan Alian dan sekitarnya, yang didominasi oleh zona rentan gerakan tanah menengah (warna kuning). Lingkaran-lingkaran hitam menunjukkan titik-titik tanah longsor pada Minggu malam 23 November 2014 TU. Sumber: PVMBG, 2014.

Tak heran jika Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMB) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang berkedudukan di Bandung menempatkan mayoritas wilayah Kecamatan Alian ke dalam zona rentan gerakan tanah menengah. Dengan demikian gerakan tanah, baik berupa tanah longsor maupun tanah merayap (soil creep), berpeluang terjadi di lembah sungai, tebing curam tepi jalan maupun gawir saat hujan lebat. Itulah yang terjadi pada Minggu malam 23 November 2014 TU kemarin

Lingga dan Yoni Sumberadi

Selain potensi bencana gerakan tanah, lembah Kedungbener juga memiliki potensi bencana lainnya yang relatif permanen, yakni banjir. Banjir tersebut baik berupa banjir kilat banjir bandang singkat maupun banjir yang genangannya hingga berhari-hari lamanya. Sebagai lembah sempit yang dipagari bukit-bukit di kanan-kirinya dan dialiri sungai Kedungbener beserta sejumlah anak sungainya, praktis air bah akan terkurung di dalam lembah ini semata begitu sungai Kedungbener meluap hebat, entah akibat faktor apapun. Tetapi sejak kapan lembah ini menjadi daerah langganan banjir? Salah satu jawabannya mungkin dapat ditemukan di peninggalan bersejarah di ujung selatan lembah ini.

Gambar 8. Batuan sedimen formasi Waturanda yang terlihat kasar berdampingan dengan batuan formasi Penosogan yang terlihat lebih halus, dalam bidang kontak yang salah satunya bisa dilihat di tepi sungai Karanggayam. Seluruh titik tanah longsor dalam bencana Minggu malam 23 November 2014 TU di Kecamatan Alian tersusun dari batuan sedimen formasi Penosogan dengan tanah pelapukan yang tebal. Sumber: Satyana, 2013.

Gambar 8. Batuan sedimen formasi Waturanda yang terlihat kasar berdampingan dengan batuan formasi Penosogan yang terlihat lebih halus, dalam bidang kontak yang salah satunya bisa dilihat di tepi sungai Karanggayam. Seluruh titik tanah longsor dalam bencana Minggu malam 23 November 2014 TU di Kecamatan Alian tersusun dari batuan sedimen formasi Penosogan dengan tanah pelapukan yang tebal. Sumber: Satyana, 2013.

Datanglah ke gerbang timur kota Kebumen. Dari gerbang berwarna hitam ini, beringsutlah sedikit ke barat hingga bertemu pertigaan jalan yang diatur lampu lalu lintas (traffic light). Inilah lokasi ujung timur jalur lingkar selatan kota Kebumen , salah satu urat nadi utama lalu lintas jalur selatan pulau Jawa. Dari pertigaan ini sejatinya terdapat satu jalan kecil beraspal yang menjulur ke utara, namun bukan bagian dari jalur lalu lintas utama di kota Kebumen. Bila anda hendak menyusuri jalan kecil ini, hati-hati tatkala menemui perlintasan kereta api karena menanjak tinggi, tak berpalang pintu dan sudah beberapa kali menelan korban jiwa. Dari perlintasan horor ini, teruskan perjalanan anda ke utara melewati kawasan persawahan yang luas dengan sungai Kedungbener membujur di sisi timur jalan. Setelah melewati sejumlah pertigaan, anda akan tiba di pertigaan yang salah satu jalannya berarah ke timur. Inilah jalan masuk ke desa Sumberadi, atau dikenal juga sebagai Somalangu, yang tergolong kawasan kota Kebumen bagian timur. Di sinilah berdiri pondok pesantren tertua seantero Kebumen, yakni pesantren al-Kahfi. Tempat ini jugalah episentrum gerakan Angkatan Oemat Islam (AOI), badan kelasykaran terbesar seantero Jawa Tengah bagian selatan di masa perang kemerdekaan namun berubah menjadi buruan militer pasca pengakuan kedaulatan seiring kesalahpahaman.

Sekitar 200 meter di sebelah barat pesantren tua inilah tergeletak peninggalan bersejarah bernafaskan Hindu dalam rupa lingga dan yoni, yang kini ditempatkan di dalam kompleks TK (taman kanak-kanak) Sumber Hikmah Sumberadi. Terdapat dua buah yoni berukuran besar yang terbuat dari batu andesit. Sebuah diantaranya memiliki cerat (ujung saluran air) yang ditopang arca kepala ular dan kura-kura, menyerupai yoni di candi utama kompleks percandian Gunung Wukir (Canggal), Kabupaten Magelang. Sementara cerat yoni satunya lagi polos tanpa topangan apapun. Di sekitar kedua yoni terdapat enam patok batu yang adalah lingga, dengan dasar balok, bagian tengah berbentuk segi delapan dan bagian atas membulat seperti tabung. Seperti halnya yoni, lingga-lingga tersebut pun terbuat dari batu andesit. Selain lingga dan yoni, hingga dua dasawarsa silam masih terdapat pecahan-pecahan batubata berukuran besar mirip dengan batubata pada candi-candi langgam Jawa Timuran.

Gambar 9. Sepasang benda peninggalan sejarah berupa yoni yang terdapat di situs arkeologis Desa Sumberadi. Di situs yang sama juga dijumpai enam buah lingga dan batubata khas candi langgam Jawa Timuran. Ini indikasi bahwa kawasan ini telah dihuni masyarakat yang terorganisir setidaknya semenjak abad ke-8 atau ke-10 TU. Sumber: Hindarto, 2013.

Gambar 9. Sepasang benda peninggalan sejarah berupa yoni yang terdapat di situs arkeologis Desa Sumberadi. Di situs yang sama juga dijumpai enam buah lingga dan batubata khas candi langgam Jawa Timuran. Ini indikasi bahwa kawasan ini telah dihuni masyarakat yang terorganisir setidaknya semenjak abad ke-8 atau ke-10 TU. Sumber: Hindarto, 2013.

Apa makna peninggalan bersejarah ini dalam upaya kita memahami banjir di lembah Kedungbener?

Baik yoni maupun lingga merupakan peninggalan bersejarah bernafaskan Hindu. Sebuah lingga dibuat sebagai penghormatan atas Dewa Syiwa, salah satu trimurti dalam Hindu. Sementara yoni dibuat guna menghormati Dewi Parwati, istri Syiwa. Lingga yang disatukan dengan yoni, dimana bagian bawah lingga dapat dimasukkan dengan pas dalam lubang yoni, menjadi artefak pemujaan yang melambangkan kesuburan. Lingga dan yoni pun kerap dijumpai di situs-situs arkeologis bangunan pemujaan yang kita kenal sebagai candi. Menarik sekali bahwa tepat di sebelah utara desa Sumberadi terdapat dua desa yang sama-sama berawalan “candi”, yakni desa Candimulyo dan desa Candiwulan. Awalan “candi” di kedua desa mungkin merupakan toponimi yang merujuk ke bangunan pemujaan tersebut, meski sejauh ini belum sebutir batu candinya yang telah ditemukan. Walaupun didirikan dengan tujuan berbeda, namun sebuah candi selalu dijumpai berdiri di atas lahan yang sangat subur. Baik lingga dan yoni maupun candi di satu lokasi menandakan telah adanya masyarakat yang terorganisir yang tak hanya sanggup membangun benda/bangunan tersebut namun juga memelihara/mengelolanya sepanjang mereka masih bermukim disana.

Lingga dan yoni Sumberadi nampaknya dibangun oleh masyarakat setempat yang telah terorganisir pada masanya sebagai persembahan mereka atas anugerah kesuburan daerah ini. Perikehidupan mereka nampaknya bertumpu pada dunia pertanian, dengan sawah/ladang yang subur. Kesuburan ini ditunjang oleh lokasinya di lembah Kedungbener. Pada umumnya kawasan lembah sungai terkenal subur karena selalu memperoleh pasokan tanah pucuk (topsoil) secara rutin. Tanah pucuk itu yang diendapkan ke kawasan ini dari hutan-hutan di hulu sungai setiap kali sungai Kedungbener banjir. Banjir hanya berlangsung beberapa saat saja. Setelah surut, tanah yang diendapkannya dapat segera diolah untuk tanaman pertanian tadah hujan berumur pendek. Panen pun dapat dipetik sebelum banjir berikutnya (yang membawa tanah pucuk baru) datang menerjang.

Gambar 10. Posisi situs arkeologis Sumberadi yang mengandung peninggalan bersejarah dalam bentuk lingga dan yoni beserta dua desa didekatnya yang berawalan "candi" dalam lingkup lembah Kedungbener. Peninggalan bersejarah tersebut mengindikasikan dataran rendah di ujung selatan lembah Kedungbener telah dihuni masyarakat yang terorganisir setidaknya semenjak abad ke-8 atau ke-10 TU yang nampaknya bertumpu pada dunia pertanian, memanfaatkan kesuburan tanah lembah. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Maps.

Gambar 10. Posisi situs arkeologis Sumberadi yang mengandung peninggalan bersejarah dalam bentuk lingga dan yoni beserta dua desa didekatnya yang berawalan “candi” dalam lingkup lembah Kedungbener. Peninggalan bersejarah tersebut mengindikasikan dataran rendah di ujung selatan lembah Kedungbener telah dihuni masyarakat yang terorganisir setidaknya semenjak abad ke-8 atau ke-10 TU yang nampaknya bertumpu pada dunia pertanian, memanfaatkan kesuburan tanah lembah. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Maps.

Walaupun tidak sama persis, namun kemiripan yoni Sumberadi dengan yoni di candi utama Gunung Wukir memberi indikasi yoni Sumberadi mungkin juga berasal dari abad ke-8 Tarikh Umum (TU). Meski tidak menutup kemungkinan ia berasal dari masa yang lebih muda, misalnya dari langgam Jawa Timuran (abad ke-11 TU atau lebih). Cukup menarik bahwa kala pesantren al-Kahfi didirikan sekitar tahun 1475 TU (berdasarkan prasasti yang masih tersisa), pendirinya (Syaikh Abdul Kahfi Awwal) masih berjumpa dengan masyarakat setempat pemeluk Hindu. Legenda lokal menyebutkan Syaikh Abdul Kahfi berjumpa dengan dua pemimpin masyarakat setempat, yakni Resi Candra Tirto dan resi Dhanu Tirto. Syaikh berhasil menundukkan keduanya hingga memungkinkan berdirinya pesantren al-Kahfi.

Bila legenda tersebut benar, nampaknya ujung selatan lembah Kedungbener terus dihuni masyarakat terorganisir pemeluk Hindu hingga abad ke-15 TU, sebelum kemudian bertransformasi menjadi masyarakat pemeluk Islam sampai sekarang. Maka, lembah Kedungbener (khususnya ujung selatannya) nampaknya telah dimukimi manusia paling tidak semenjak abad ke-8 TU hingga sekarang, atau sudah 13 abad lamanya. Sepanjang waktu itu mereka bertumpu pada dunia pertanian tadah hujan dan baru mengenal irigasi teknis belakangan saja, seperti halnya dunia pertanian di Pulau Jawa pada umumnya. Nampaknya, meski hanya berupa pertanian tadah hujan, namun kesuburan lahan setempat seiring mengendapnya tanah pucuk lewat banjir sungai Kedungbener membuat produksinya mampu menopang perikehidupan secara berulang-ulang hingga merentang masa. Jika memang demikian adanya, maka sebelum abad ke-20 TU banjir sungai Kedungbener justru menjadi berkah bagi manusia yang tinggal di lembahnya.

Reboisasi

Namun selepas abad ke-20 TU, peristiwa yang sama menjadi musibah bagi penduduk. Termasuk pada 25 November 2014 TU kemarin. Banjir kilat banjir bandang singkat itu mengejutkan mengingat hujan deras yang memicunya berlangsung relatif singkat dan hanya terjadi di kawasan yang relatif sempit di hulu sungai Kedungbener, yakni mencakup Kecamatan Alian dan Kecamatan Karangsambung. Citra satelit cuaca MTSAT kanal inframerah hari itu memperlihatkan curah hujan di Jawa Tengah bagian selatan pada pukul 19:00 WIB sekitar 10 mm/jam, yang masih tergolong curah hujan normal. Sementara saksi mata menyebut hujan yang cukup deras berlangsung tak lebih dari 3 jam di sore harinya. Sungai Kedungbener merupakan anak sungai terbesar dari Sungai Lukulo, sungai utama di Kabupaten Kebumen. Sebagai anak sungai terbesar, Sungai Kedungbener memiliki sub daerah aliran sungai (sub-DAS) tersendiri, yang luasnya 22.812 hektar. Jika dianggap hujan terjadi selama 5 jam berturut-turut saja dengan curah hujan rata-rata dianggap 10 mm/jam dan menerpa sepertiga luas sub-DAS Kedungbener (setara 6.843 hektar) khususnya di hulunya, maka air yang tercurah mencapai lebih dari 3 milyar liter. Bila daya serap tanah di hulu rendah, entah oleh faktor apapun, tak heran jika air sebanyak itu justru lari ke Sungai Kedungbener dan anak-anak sungainya. Banjir kilat banjir bandang singkat pun tak terelakkan.

Banyak faktor yang membuat sebuah banjir kilat banjir bandang terjadi di sebuah lembah sungai. Kerusakan hutan di kawasan hulu menjadi salah satunya. Dan hutan di hulu sungai Kedungbener banyak yang tergolong hutan kritis atau bahkan sangat kritis. Penghutanan kembali (reboisasi) menjadi hal yang mutlak, agar sebagian air hujan yang turun di hulu sungai ini dapat terserap ke dalam tanah dan bukannya lari sebagai air permukaan yang langsung masuk ke sungai maupun anak-anak sungainya. Faktor lainnya adalah wajah sungai Kedungbener sendiri yang sudah mendangkal.

Sudah seharusnya pemerintah Kabupaten Kebumen menyelenggarakan upaya reboisasi tersebut sekaligus juga tetap menjaga upaya-upaya merawat sungai dengan mengeruk sedimen yang menumpuk di sepanjang alur sungai serta memperbaiki tanggul-tanggul yang telah menipis dan kritis. Namun pemerintah Kabupaten Kebumen tidak bisa melangkah sendirian. Partisipasi masyarakat Kabupaten Kebumen, khususnya yang bermukim di sepanjang lembah kedungbener, pun perlu digalakkan dalam rangka penyelamatan lembah tersebut bagi masa mendatang. Khususnya dalam hal reboisasi. Gerakan reboisasi lembah Kedungbener dapat diintegrasikan dengan sejumlah upaya kreatif. Misalnya di dunia pendidikan dasar/menengah, tiap tahun ajaran baru bermula para siswa (baik siswa baru maupun siswa yang naik kelas) bisa diminta menyiapkan bibit sebatang pohon berkayu guna ditanam bersama-sama sekolah (atau beberapa sekolah) di lokasi hutan kritis pada waktu tertentu yang telah ditentukan sebelumnya.

Referensi :

PVMBG. 2014. Tanggapan Bencana Gerakan Tanah Di Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Kementerian ESDM, 25 November 2014.

Asikin. 1992. Peta Geologi Lembar Kebumen. Pusat Survei Geologi, Badan Geologi, Kementerian ESDM.

Ma’rufin Sudibyo & Duma Rahmat Artanto. 1995. Sumber Air Panas Krakal Bukan Gejala Pasca Vulkanik. Karya Ilmiah dalam LKIR-LIPI 1995.

Utama dkk. 2012. Green Field Geothermal System in Java, Indonesia. Proceeding 1st Geothermal Workshop, ITB, Bandung, 6-8 Maret 2012.

Hindarto. 2013. Nilai Keberadaan Lingga dan Yoni di Desa Sumberadi. History and Legacy of Kebumen, 14 Maret 2013.

Semburan Lumpur Pati dan Selat Muria yang Telah Mati

Warga RT 01 RW 11 Dukuh Sarimulyo Desa Wotan Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati (Jawa Tengah) barangkali tak pernah menyangka upaya mereka untuk mendapatkan air bersih berlimpah guna mengatasi kekeringan akibat kemarau berkepanjangan ternyata berujung peristiwa menghebohkan Sabtu 1 November 2014 Tarikh Umum (TU) lalu. Tak hanya membikin gempar penduduk sedesa, bahkan hingga sekecamatan dan sekabupaten sekaligus. Semenjak dua minggu sebelumnya mereka telah berusaha mengebor sumur dalam, sebagai upaya menawarkah dahaga warga dari 110 KK (kepala keluarga) setelah sumur-sumur dangkal mereka mengering dan berubah menjadi kumpulan air keruh. Pengeboran pertama bersua dengan air asin, sementara pengeboran kedua yang mengambil lokasi berbeda hanya menghasilkan air berlumpur. Dan saat pengeboran ketiga dilakukan di halaman rumah pak Sabar, lumpur kembali ditemukan dan kali ini justru menyembur sangat tinggi.

Gambar 1. Saat air dan lumpur menyembur dari sumur hasil pengeboran yang sedang dikerjakan warga 01 RW 11 Dukuh Sarimulyo Desa Wotan, Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati (Jawa Tengah) dalam kejadian yang dinamakan Semburan lumpur Pati. Semburan berlangsung selama 28 jam kemudian dan mengeluarkan gas yang didominasi metana. Sumber: Tribun Jogja, 2014.

Gambar 1. Saat air dan lumpur menyembur dari sumur hasil pengeboran yang sedang dikerjakan warga 01 RW 11 Dukuh Sarimulyo Desa Wotan, Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati (Jawa Tengah) dalam kejadian yang dinamakan Semburan lumpur Pati. Semburan berlangsung selama 28 jam kemudian dan mengeluarkan gas yang didominasi metana. Sumber: Tribun Jogja, 2014.

Semburan terjadi mulai pukul 15:15 WIB kala pengeboran telah mencapai kedalaman 140 meter. Di hari pertama air bercampur lumpur menyembur setinggi sekitar 20 hingga 25 meter bersamaan dengan bau gas menyengat yang menyergap. Di hari kedua, tinggi semburan menurun menjadi sekitar 15 meter dengan air yang lebih jernih. Semburan akhirnya berhenti dengan sendirinya di kala petang hari kedua, yakni pada Minggu 2 November 2014 TU pukul 19:00 WIB. Selepas itu air tinggal mengalir saja tanpa menyembur. Meski demikian semburan air bercampur lumpur ini telah berdampak pada rumah-rumah penduduk yang berjarak hingga 20 meter dari titik semburan. Rumah-rumah itu sempat berhias timbunan lumpur setebal hingga 20 sentimeter. Tak pelak penduduk pun segera mengungsi semenjak hari pertama. terlebih setelah terdengarnya suara gemuruh dan desisan menyerupai kembang api yang dinyalakan.

Tanpa bisa dicegah, kegemparan pun merebak. Kekhawatiran pun terbit. Sebagian mengira peristiwa ini akan kian masif dan meluas seperti halnya semburan lumpur Lapindo (Sidoarjo) yang muncul semenjak 2006 TU silam dan tak menunjukkan tanda-tanda bakal berhenti hingga kini. Kosakata semburan lumpur Pati pun bermunculan di laman-laman media massa maupun media sosial.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Metana

Tim Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI telah melakukan pengukuran lapangan sehari pasca semburan berhenti. Dalam penuturan pak Surono, Kepala Badai Geologi, air yang keluar dari sumur bor cenderung bersifat basa dengan pH 8,4 dan bersuhu rendah (yakni 31,1 derajat Celcius). Pengukuran komposisi gas dengan menggunakan radas Draeger memperlihatkan dominannya kadar gas metana, yakni maksimum 76 % LEL (low explosive level) dan rata-rata 35 % LEL. Gas-gas lain seperti karbondioksida, sulfurdioksida dan hidrogen sulfida absen/tak terdeteksi. Meski semburan sudah berhenti, namun tim menemukan di lokasi masih terjadi gelembung-gelembung gas berintensitas rendah.

Gambar 2. Api yang menyala dari mulut sumur hasil pengeboran di desa Lubang Kidul, Kecamatan Butuh Kabupaten Purworejo (juga di Jawa Tengah) yang terjadi pada 5 September 2013 TU silam. Semburan lumpur Pati pada dasarnya sama dengan semburan lumpur Butuh. Bedanya, gas yang menyembur di Butuh memang sengaja dibakar. Sumber: Urip Widodo, 2013.

Gambar 2. Api yang menyala dari mulut sumur hasil pengeboran di desa Lubang Kidul, Kecamatan Butuh Kabupaten Purworejo (juga di Jawa Tengah) yang terjadi pada 5 September 2013 TU silam. Semburan lumpur Pati pada dasarnya sama dengan semburan lumpur Butuh. Bedanya, gas yang menyembur di Butuh memang sengaja dibakar. Sumber: Urip Widodo, 2013.

Bila dominannya gas metana dipadukan dengan singkatnya durasi semburan (yakni hanya ~28 jam), maka jelas bahwa semburan lumpur Pati ini ditenagai oleh gas metana atau gas rawa. Sehingga kejadian ini lebih mungkin merupakan perulangan dari apa yang pernah terjadi di desa Lubang Kidul, Kecamatan Butuh Kabupaten Purworejo lebih dari setahun silam, tepatnya pada 5 September 2013 TU. Nampaknya pengeboran itu menembus kantung gas metana bertekanan tinggi di dalam tanah. Sehingga gas metana pun mengalir deras ke permukaan tanah melalui lubang bor sembari membawa serta air dan butir-butir tanah yang menyertainya. Tekanan gas metana dalam semburan lumpur Pati nampaknya lebih besar dibanding dalam semburan lumpur Butuh, terlihat dari tingginya lumpur yang tersembur. Namun seperti halnya kasus Butuh, ukuran kantung gas metana ini nampaknya relatif kecil yang membuatnya cepat terkuras habis. Sehingga semburan pun berlangsung hanya dalam waktu yang relatif singkat saja. Meski demikian masih ada aliran gas metana ke permukaan, seperti terlihat dari gelembung-gelembung gas berintensitas rendah yang ditemukan tim.

Sumur sedalam sekitar 140 meter yang dibor warga Sarimulyo itu nampaknya telah menembus lapisan sedimen formasi Bulu. Formasi ini terdiri dari batu gamping berpasir dengan sisipan napal di antaranya. Formasi ini menyebar cukup luas mulai dari dataran Rembang-Pati di sebelah barat hingga Madura di sebelah timur, dengan ketebalan antara 50 hingga 200 meter. Berdasarnya kandungan fosilnya, diketahui batuan-batuan sedimen dalam formasi ini diendapkan di dataran pesisir purba (zona litoral). Hal ini diperlihatkan pula oleh sifat air semburan yang basa dan bersuhu rendah. Ini menandakan air semburan tidak berasal dari lingkungan geotermal sehingga tidak mendapatkan pengaruh gunung berapi. Sebab air yang berasal dari lingkungan geotermal umumnya bersuhu tinggi (lebih dari 40 derajat Celcius) dan cenderung asam seiring tingginya kadar silikat dan sulfat. Sedangkan air yang cenderung basa umumnya berasal dari lapisan-lapisan batuan sedimen yang dahulunya diendapkan di laut sehingga kaya akan logam khususnya Natrium.

Kawasan pesisir purba tersebut nampaknya berawa-rawa. Seiring waktu, kawasan ini berubah menjadi daratan akibat sedimentasi masif disertai gerak pengangkatan kerak bumi setempat. Sehingga tumbuh-tumbuhan yang merajai rawa-rawa tersebut perlahan-lahan tertimbun di bawah sedimen tebal. Saat membusuk, gas metana pun terlepaskan. Namun berada jauh di dalam tanah, gas-gas metana ini terperangkap tanpa tak bisa keluar menuju permukaan tanah. Terbentuklah kantung-kantung gas metana yang bercampur bersama air bawah tanah. Saat kantung semacam ini tertembus, baik oleh sebab alamiah maupun aktivitas manusia, gas pun mengalir keluar sembari menyeret air dan partikel-partikel tanah yang dilintasinya.

Meski sempat mengkhawatirkan, semburan lumpur Pati ini nampaknya membawa berkah bagi warga Sarimulyo. Sebab pengeboran tersebut nampaknya menembus akuifer air bawah tanah dalam yang bisa dimanfaatkan sebagai air baku untuk berbagai keperluan (termasuk air minum) dalam jumlah relatif besar. Penawar dahaga yang selama ini dicari-cari nampaknya sudah ditemukan. Kabar baiknya lagi, dengan gas metana sebagai pendorong utama semburan ini, maka semburan lumpur Pati takkan berkembang meluas hingga menjadi bencana layaknya semburan lumpur Lapindo (Sidoarjo).

Selat Muria

Gambar 3. Selat Muria (warna biru muda) pada masa 1.500 tahun silam. Nampak selat ini membentang luas di antara Semarang hingga Pati, sekaligus memisahkan pulau Jawa dengan kompleks Gunung Muria (pulau Muria). Lokasi semburan lumpur Pati di desa Wotan berada di pesisir selat ini. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth dan data dari Noerwidi, 2002.

Gambar 3. Selat Muria (warna biru muda) pada masa 1.500 tahun silam. Nampak selat ini membentang luas di antara Semarang hingga Pati, sekaligus memisahkan pulau Jawa dengan kompleks Gunung Muria (pulau Muria). Lokasi semburan lumpur Pati di desa Wotan berada di pesisir selat ini. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth dan data dari Noerwidi, 2002.

Kejadian semburan lumpur Pati menjadi pengingat bagi kita untuk menguak sejarah kawasan ini hingga beribu tahun silam, khususnya dalam ranah geologi. Dahulu kawasan ini adalah rawa-rawa di pesisir purba yang menjadi bagian dari sebuah laut dangkal yang membentang dari kota Semarang sekarang di sebelah barat hingga ke kota kecil Lasem sekarang di sebelah timur. Maka jika kini kita berkendara menyusuri jalan raya utama penghubung kota-kota Semarang, Demak, Kudus, Pati hingga Rembang, bayangkanlah bahwa hingga sekitar 1.500 tahun silam daratan yang mengalasi jalan raya ini belumlah ada. Semuanya masih berupa perairan laut dangkal yang terhubung langsung dengan Laut Jawa purba. Kini kita menyebut perairan dangkal purba ini sebagai Selat Muria. Disebut selat, sebab ia memisahkan daratan utama pulau Jawa purba di sebelah selatan dengan sebuah gunung berapi laut besar yang menyembul di atas paras air laut rata-rata sebagai pulau vulkanis, sebut namanya pulau Muria. Kini pulau vulkanis itu telah menyatu dengan daratan pulau Jawa menjadi semenanjung Muria. Sebentuk bentang lahan gunung berapi padam yang telah tererosi tingkat dewasa di semenanjung ini pun dikenal sebagai Gunung Muria.

Selat Muria dan Gunung Muria adalah salah satu keajaiban geologis di kawasan ini. Tariklah sepasang garis imajiner yang diposisikan sejajar dengan garis pantai utara pulau Jawa dari lokasi Gunung Muria, masing-masing ke arah barat dan timur, akan kita lihat bahwa di sepanjang lintasan garis imajiner ini, tak ada satupun gunung berapi yang terlihat, entah yang sudah padam dan tererosi (baik tingkat dewasa maupun lanjut) apalagi yang masih aktif. Ya. Gunung Muria adalah gunung berapi yang menyendiri dan terletak paling utara di pulau Jawa, atau paling jauh dari zona subduksi.

Dalam penuturan pak Awang Satyana, gunung berapi ini muncul sebagai imbas dari relatif lemahnya kerak bumi di sini akibat eksistensi patahan besar Kebumen-Muria-Meratus. Patahan besar sepanjang lebih dari 1.000 kilometer yang mengambil lintasan barat daya-timur laut ini aktif sekitar 65 juta tahun silam. Ia memahat bumi Jawa Tengah demikian rupa sehingga mengangkat daratan setempat yang melahirkan Pegunungan Karangbolong dan kawasan geologi Karangsambung (keduanya di Kebumen) sekaligus menenggelamkan segmen Pegunungan Selatan di sini. Sehingga bentang lahan di antara Bantul hingga Cilacap sangat bertolak belakang dibanding kawasan pesisir selatan pulau Jawa pada umumnya, karena di sini berupa dataran rendah. Patahan besar ini telah lama mati dalam berjuta-juta tahun silam, namun jejaknya memungkinkan magma untuk menyeruak naik dan keluar di permukaan Bumi sebagai gunung berapi. Termasuk di Muria.

Pada masanya pulau Muria terdiri dari tiga buah gunung berapi masing-masing Gunung Muria yang besar beserta Gunung Genuk dan Gunung Patiayam (keduanya relatif berukuran kecil). Gunung-gunung berapi ini mulai terbentuk sekitar 2 juta tahun silam dan terus aktif memuntahkan magmanya menjadi lava dan lahar hingga masa setidaknya 320.000 tahun yang lalu. Mengikuti naik turunnya paras air laut akibat siklus glasial-interglasial dalam 650.000 tahun terakhir, Selat Muria pun telah berulang-kali mengering dan kemudian terisi air laut kembali. Sehingga pulau Muria pun telah sedikitnya 12 kali terpisah dan menyatu lagi dengan daratan utama pulau Jawa purba. Karena itu tak mengherankan bila di sini dijumpai fosil-fosil makhluk hidup masa silam. Termasuk diantaranya fosil Homo erectus yang diduga berasal dari kurun 850.000 tahun yang lalu yang dijumpai di situs Patiayam (sebelah timur laut kota Kudus sekarang).

Gambar 4. Gambar 3. Selat Muria (warna biru muda) pada 500 tahun silam di masa kerajaan Demak. Dibanding 1.000 tahun sebelumnya, selat ini telah lebih sempit akibat sedimentasi besar-besaran. Hanya di ujung barat selat ini masih relatif luas dan nampak menyerupai corong (estuaria). Demak dan Juwana merupakan dua pelabuhan penting di selat ini. Lokasi semburan lumpur Pati di desa Wotan kini sudah berada di daratan hasil sedimentasi Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth dan data dari Noerwidi, 2002.

Gambar 4. Gambar 3. Selat Muria (warna biru muda) pada 500 tahun silam di masa kerajaan Demak. Dibanding 1.000 tahun sebelumnya, selat ini telah lebih sempit akibat sedimentasi besar-besaran. Hanya di ujung barat selat ini masih relatif luas dan nampak menyerupai corong (estuaria). Demak dan Juwana merupakan dua pelabuhan penting di selat ini. Lokasi semburan lumpur Pati di desa Wotan kini sudah berada di daratan hasil sedimentasi Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth dan data dari Noerwidi, 2002.

Hingga setidaknya 1.500 tahun silam, Selat Muria ini masih ada dan masih cukup lebar. Di puncak kejayaan kerajaan Medang (Mataram Hindu), selat ini menempati posisi cukup penting seiring diletakkannya pelabuhan utama kerajaan di sini. Tepatnya di ujung barat, yakni di kawasan Bergota (bagian dari kota Semarang) sekarang. Namun pada masa itu pun orang-orang Medang mulai berhadapan dengan tantangan alamiah Selat Muria, berupa sedimentasi yang sangat intensif. Dengan garis pantai pulau Jawa bagian utara bergeser rata-rata 100 meter per tahun, sulit untuk mempertahankan pelabuhan Bergota bagi kapal-kapal berukuran besar. Mundurnya peran pelabuhan Bergota ini disebut-sebut menjadi salah satu faktor yang memaksa Mpu Sindok memindahkan pusat kerajaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, di samping faktor-faktor lain. Sedimentasi yang masif pun membuat Selat Muria kian menyempit.

Hingga sekitar 500 tahun silam, tepatnya di penghujung era kerajaan Majapahit, Selat Muria masih ada namun telah demikian sempit sehingga mirip sungai besar. Atau mirip dengan terusan. Sisanya telah tertimbun baik sebagai daratan yang kering maupun lahan rawa yang setengah basah. Hanya ujung baratnya yang masih relatif lebar sehingga membentuk semacam corong (estuaria). di sisi selatan corong ini terdapat rawa-rawa yang ditumbuhi tanaman gelagah beraroma wangi, membuat kawasan ini dikenal dengan nama Gelagah Wangi. Kelak di awal abad ke-16 TU pangeran Jimbun (atau Jin bun) mendirikan pemukiman yang kemudian terus berkembang menjadi sebuah kerajaan Islam pertama di tanah Jawa, kerajaan Demak atau Demak Bintara. Sang pangeran pun menjadi raja pertamanya yang bergelar Sultan Alam Akbar al-Fatah, yang populer dengan sebutan Raden Fatah atau Raden Patah. Sebuah pelabuhan besar pun didirikan di sini, sementara di ujung timur Selat Muria pun telah berdiri pelabuhan Juwana. Maka Selat Muria, meski sempit, kian ramai dihilir mudiki perahu-perahu yang mengangkut aneka barang dan orang. Keramaian ini terus berlangsung meski di kemudian hari kerajaan Demak hancur dan pusat kekuasaan berpindah ke Pajang, untuk kemudian ke Mataram (Islam).

Namun keramaian ini harus purna sekitar seabad setelah Demak sirna. Sedimentasi yang kian massif membuat Selat Muria akhirnya menyerah dan mati. Pada pertengahan abad ke-17 TU selat yang telah menyempit itu sudah terputus, tertutup oleh sedimen di antara Demak dan Pati sekarang. Karenanya pada tahun 1657 TU Tumenggung Pati mengumumkan rencananya untuk menggali kembali sebuah terusan yang menghubungkan Demak dan Pati, sebagai upaya untuk menghidupkan kembali Selat Muria dan tetap menjaga arus lalu lintas perdagangan lewat laut. Upaya ini nampaknya tak berhasil. Selat Muria tetap mati, pun demikian pelabuhan-pelabuhan di sepanjang alurnya termasuk pelabuhan Demak. Peran pelabuhan Demak kemudian diambil-alih oleh pelabuhan Jepara. Bagian Selat Muria lainnya yang masih tersisa pun lama-kelamaan tertutup juga oleh sedimentasi yang masif. Pulau Muria pun kini bersatu dengan daratan utama pulau Jawa sebagai semenanjung Muria.

Matinya Selat Muria membuat rawa-rawa yang tersebar di sepanjang pesisirnya menjadi tertimbun sedimen. Gas-gas metana yang diproduksi pun membentuk kantung-kantung gas metana dangkal di dalam tanah. Saat ia tertembus, maka gas pun mengalir keluar. Seperti dalam semburan lumpur Pati barusan.

Referensi:

Surono. 2014. komunikasi personal.

Satyana. 2009. Kerajaan Demak dan Geologi Selat Muria. Arsip Iagi.net.

Noerwidi & Susanto. 2012. Sangiran-Patiayam Perbandingan Karakter Dua Situs Plestosen di Jawa, dalam Kehidupan Purba Sangiran. Jakarta, Pusat Arkeologi Nasional.

Bronto & Mulyaningsih. 2007. Gunung Api Maar di Semenanjung Muria. Jurnal Geologi Indonesia vol. 2 no. 1 (Maret 2007), 43-54.

Adhi N. 2014. Semburan di Pati Berbeda dengan di Sidoarjo. AntaraNews.

1256: Bumi Merekah, Magma Melimpah dan Nyaris Mengubur Madinah

Solah tingkah gunung berapi telah mengharu biru Indonesia sepanjang 2014 ini. Akhir-akhir ini Gunung Slamet menyedot perhatian besar khususnya bagi yang bertempat tinggal di pulau Jawa seiring ulahnya. Meski letusannya tergolong kecil dan terlokalisir di seputar puncak saja sehingga kawasan terlarang pun ditetapkan hanya sejarak 4 kilometer dari kawah aktif, banyak orang dibikin cemas. Apalagi isu tak berkeruncingan bertaburan dimana-mana. Sementara di luar pulau Jawa tepatnya di pulau Sumatra, Gunung Sinabung masih terus saja bergemuruh. Meski statusnya telah diturunkan menjadi Siaga (Level III), atau sejajar status Gunung Slamet, namun Sinabung terlihat lebih aktif. Gunung berapi yang lama tertidur tersebut kini terus saja membangun lidah lava. Ia menjulur kian panjang ke arah tenggara dan kian tebal. Berulangkali awan panas (piroklastika) guguran masih terjadi tatkala bagian-bagian tertentu lidah lava rontok seiring labilnya strukturnya dan oleh pengaruh gravitasi. Di pulau Sulawesi, dua gunung berapi lasak dengan status Siaga (Level III) yang sama pun masih rajin memuntahkan magmanya meski relatif sepi dari perhatian. Masing-masing adalah Gunung Lokon-Empung dan Gunung Karangetang (keduanya di propinsi Sulawesi utara).

Gambar 1. Semburan magma basaltik hingga setinggi sekitar 100 meter menyeruak dari retakan di padang Holuhraun, sebagai perwujudan dari erupsi efusif Gunung Bardarbunga di Islandia. Letusan tidak menyemburkan debu vulkanik pekat ke langit, namun melelerkan lava panas membara yang mengukir permukaan tanah layaknya sungai api. Diabadikan oleh tim Reykjavik Helicopters pada awal September 2014. Sumber: Reykjavik Helicopters, 5 September 2014.

Gambar 1. Semburan magma basaltik hingga setinggi sekitar 100 meter menyeruak dari retakan di padang Holuhraun, sebagai perwujudan dari erupsi efusif Gunung Bardarbunga di Islandia. Letusan tidak menyemburkan debu vulkanik pekat ke langit, namun melelerkan lava panas membara yang mengukir permukaan tanah layaknya sungai api. Diabadikan oleh tim Reykjavik Helicopters pada awal September 2014. Sumber: Reykjavik Helicopters, 5 September 2014.

Jangan lupakan letusan besar Gunung Kelud (propinsi Jawa Timur) pada 13 Februari 2014 lalu yang demikian menggetarkan. Amukannya sempat melumpuhkan sebagian pulau Jawa. Menyusul letusan besar Gunung Sangeang Api (propinsi Nusa Tenggara Barat) pada 30 Mei 2014. Meski tak sepopuler dan tak sebesar letusan Kelud, namun muntahan debu vulkaniknya sempat melumpuhkan lalu lintas udara negeri tetangga: Australia. Syukurlah dua letusan besar tersebut tak banyak menelan korban jiwa, meski angka kerugian material yang diakibatkannya mencapai ratusan milyar rupiah. Di antara kedua letusan besar tersebut, patut dicatat pula aksi Gunung Merapi (propinsi Jawa Tengah dan DIY) yang telah berulangkali menghembuskan debu vulkaniknya dalam kejadian erupsi freatik yang demikian sekonyong-konyong dan nyaris tak didului tanda-tanda umum. Meski tak menyebabkan korban jiwa maupun luka, tetap saja rasa cemas sempat membara.

Holuhraun

Di mancanegara, sejumlah gunung berapi pun unjuk gigi. Satu yang menyedot perhatian adalah letusan unik Gunung Bardarbunga di Islandia. Islandia sendiri sudah merupakan keajaiban. Secara geologis inilah pulau yang berdiri tepat di atas punggungan tengah Samudera Atlantik, jalur rekahan memanjang yang menjadi tempat menyeruaknya magma dari perutbumi. Tak sekedar membentuk pegunungan memanjang yang hampir seluruhnya berada di dasar samudera, magma ini juga mendorong lempeng-lempeng tektonik yang mengapitnya ke dua arah berlawanan. Masing-masing lempeng Amerika Utara ke barat dan lempeng Eurasia ke timur. Sementara secara geografis, Islandia terletak di dalam lingkar kutub utara sehingga memiliki iklim kutub. Bahkan Islandia menjadi satu dari dua daratan besar dalam lingkar kutub utara yang selalu berselimutkan es, selain pulau Greenland. Maka Islandia lah tempat merah (baca: magma) dan putih (baca: es) bertemu, tempat di mana panas (magma) dan dingin (es) bersua.

Gambar 2. Islandia dalam peta sederhana, yang menunjukkan posisinya persis di punggungan tengah Samudera Atlantik. Sumber: USGS, 2014.

Gambar 2. Islandia dalam peta sederhana, yang menunjukkan posisinya persis di punggungan tengah Samudera Atlantik. Sumber: USGS, 2014.

Magma yang menyuplai gunung-gemunung berapi Islandia sangat berbeda dibanding Indonesia. Di Islandia magmanya berasal dari lokasi yang jauh lebih dalam. Yakni dari selubung (mantel) Bumi, lapisan plastis sangat tebal dan panas yang terletak tepat di bawah kerak bumi mulai kedalaman 40 kilometer. Magma Islandia adalah magma basaltik sehingga lebih encer, lebih banyak mengandung mineral-mineral logam, miskin gas vulkanik dan bersuhu lebih tinggi. Karena encernya, pucuk gunung-gemunung berapi Islandia cenderung berketinggian rendah dengan lereng relatif lebih landai. Saat meletus, magma basaltik cenderung keluar dari lubang letusan sebagai lava cair encer yang meleleh kemana-mana laksana lilin cair dalam erupsi tipe efusif. Sangat jarang terjadi letusan yang menyemburkan berjuta-juta meter kubik debu vulkanik ke langit. Perkecualian adalah Gunung Eyjafjallajokul dalam letusan 2010-nya. Saat itu letusan menyemburkan sekitar 100 juta meter kubik debu vulkanik pekat hingga setinggi 8 kilometer. Hembusan angin mendorong debu vulkanik menutupi ruang udara Eropa bagian utara. Akibatnya parah. 107.000 penerbangan terpaksa dibatalkan dalam 8 hari berturut-turut, angka yang setara 48 % total penerbangan global. Total kerugian yang ditimbulkannya melampaui angka Rp 16 trilyun.

Meski terkesan tak segalak gunung-gemunung berapi Indonesia, namun aktivitas gunung berapi Islandia jauh lebih intensif. Sepanjang 500 tahun terakhir volume lava akumulatif yang dihasilkannya setara sepertiga total volume lava di Bumi. Episode letusan terdahsyat terjadi pada 1783-1784 di Gunung Laki. Tak ada semburan debu vulkanik tebal yang membumbung tinggi hingga berkilo-kilometer ke langit menciptakan suasana horor. Namun Laki memuntahkan 14.000 juta meter kubik lava basaltik lewat 130 lubang letusan selama delapan bulan berturut-turut. Bersamanya tersembur pula gas-gas vulkanik, termasuk 8 juta ton gas asam fluorida dan 120 juta ton gas belerang (sulfurdioksida). Udara Islandia pun tercemar berat sehingga 80 % domba, 50 % sapi dan 50 % kuda mati perlahan-lahan setelah gigi-geliginya rontok akibat paparan gas asam fluorida berlebihan. Matinya hewan-hewan ternak itu membuat segenap Islandia dilanda bencana kelaparan tiada tara. Pada puncaknya sebanyak 20 hingga 25 % populasi penduduknya tewas berkalang tanah.

Gambar 3. Plot episentrum gempa-gempa vulkanik di sekitar Gunung Bardarbunga beserta kedalamannya dalam periode antara 16 hingga 24 Agustus 2014. Nampak episentrum berkerumun di sebuah garis irregular sepanjang sekitar 40 kilometer yang menjulur ke timur laut dari Gunung Bardarbunga. Inilah pertanda terbentuknya pematang instrusi magmatik sebagai tempat dimana amagma berakumulasi tepat sebelum keluar ke permukaan Bumi. Tanda bintang (*) adalah tempat terbentuknya retakan yang selanjutnya menjadi pusat letusan Holuhraun mulai 29 Agustus 2014. Sumber: Icelandic Meteorological Office, 2014.

Gambar 3. Plot episentrum gempa-gempa vulkanik di sekitar Gunung Bardarbunga beserta kedalamannya dalam periode antara 16 hingga 24 Agustus 2014. Nampak episentrum berkerumun di sebuah garis irregular sepanjang sekitar 40 kilometer yang menjulur ke timur laut dari Gunung Bardarbunga. Inilah pertanda terbentuknya pematang instrusi magmatik sebagai tempat dimana amagma berakumulasi tepat sebelum keluar ke permukaan Bumi. Tanda bintang (*) adalah tempat terbentuknya retakan yang selanjutnya menjadi pusat letusan Holuhraun mulai 29 Agustus 2014. Sumber: Icelandic Meteorological Office, 2014.

Islandia kembali mengeliat pada 2014 ini lewat Gunung Bardarbunga. Awalnya adalah krisis seismik selama sebulan penuh ditandai terjadinya gempa demi gempa kecil yang datang beruntun. Bersamaan dengannya bagian kerak bumi di sektor timurlaut gunung juga mulai menggelembung. Keduanya adalah pertanda bahwa magma segar dalam jumlah cukup signifikan sedang menanjak naik dari perut Gunung Bardarbunga hendak mencari jalan keluar. Krisis seismik juga memperlihatkan magma segar telah berkumpul demikian rupa hingga menghasilkan pematang intrusi magmatik sepanjang sekitar 40 kilometer pada segmen kerak bumi yang membentang di antara Gunung Bardarbunga dan padang Holuhraun. Di Holuhraun inilah, tepatnya di sekitar ujung pematang intrusi magmatik, tanah merekah sepanjang 2 kilometer pada 29 Agustus 2014 dinihari. Darinya magma basaltik tumpah keluar, beberapa sebagai pancuran lava yang menyembur hingga setinggi lebih dari 100 meter. Bersamaan dengan itu tubuh Gunung Bardarbunga kontan mengempis, terjadi penurunan pada lantai kaldera Bardarbunga hingga 15 meter dari semula.

Lava basaltik yang encer membanjir ke timur laut, laksana sungai api, dalam volume teramat besar. Hingga 1 Oktober 2014 lava telah menutupi area seluas 48 kilometer persegi dengan ketebalan rata-rata 14 meter, setinggi gedung berlantai tiga. Dengan demikian volume lava pada saat itu mencapai sekitar 650 juta meter kubik, lima kali lipat volume Letusan Kelud 2014. Sehingga sejauh ini letusan Holuhraun adalah letusan dengan material vulkanik terbesar di Bumi sepanjang 2014. Maka setiap detiknya letusan Holuhraun melepaskan 290 meter kubik lava. Dengan kata lain setiap detiknya retakan Holuharun memuntahkan lava dalam jumlah yang setara muatan 12 truk tanki pengangkut BBM berkapasitas 24.000 liter. Total energinya pun sangat besar. Jika suhu magmanya dianggap 900 derajat Celcius, maka energi termal yang dihasilkan letusan Holuhraun hingga 1 Oktober 2014 mencapai 117 megaton TNT. Ini setara energi yang dilepaskan 5.850 butir bom nuklir Hiroshima.

Gambar 4. Sebaran lava basaltik letusan Holuhraun hingga 1 Oktober 2014. Lava telah menutupi area seluas 48,2 kilometer persegi dengan panjang sekitar 16 kilometer. Volume magma yang diletuskan hingga 1 Oktober 2014 telah sekitar 650 juta meter kubik. Tak ada tanda-tanda aktivitas letusan mulai menyurut. Sumber: University of Iceland, 2014.

Gambar 4. Sebaran lava basaltik letusan Holuhraun hingga 1 Oktober 2014. Lava telah menutupi area seluas 48,2 kilometer persegi dengan panjang sekitar 16 kilometer. Volume magma yang diletuskan hingga 1 Oktober 2014 telah sekitar 650 juta meter kubik. Tak ada tanda-tanda aktivitas letusan mulai menyurut. Sumber: University of Iceland, 2014.

Sejauh ini tak ada korban jiwa maupun luka-luka akibat letusan Holuhraun. Kerugian material juga relatif tidak ada, seiring tidak terganggunya lalu lintas penerbangan sipil setempat maupun regional (Eropa) dan tidak adanya infrastruktur yang dilalap sang lava. Namun letusan ini mengirimkan pesan sangat jelas pada segenap manusia, bahwa vulkanisme di Bumi tak hanya menghasilkan gunung-gemunung berapi yang tinggi mengerucut dengan erupsi sentral di kawah utamanya seperti umum dijumpai di Indonesia. Namun juga sanggup menghasilkan gunung-gemunung berapi ‘aneh’ berbentuk retakan panjang yang sanggup membanjirkan lava basalt dalam erupsi retakan. Erupsi retakan seperti letusan Holuhraun memang jarang dijumpai di Bumi. Hanya di tempat-tempat dimana terjadi aktivitas vulkanisme titik-panas (hotspot) sajalah letusan sejenis terjadi. Dan Islandia adalah salah satu tempat tersebut.

Di luar Islandia pun masih ada sejumlah tempat yang menjadi panggung vulkanisme titik-panas. Salah satunya sangat dikenal Umat Islam sedunia mengingat kedudukannya demikian dekat dengan satu dari dua kotasuci, yakni Madinah. Dan 7,5 abad silam, gunung berapi dengan retakan panjang yang tak begitu kita kenal ini meletus dengan skala kedahsyatan menyerupai letusan Holuhraun. Banjir lava panas membaranya demikian mencekam, hingga hampir mengubur kotasuci Madinah dalam lautan bara. Inilah Letusan Madinah.

Letusan Madinah

Bandar udara internasional Pangeran Muhammad bin Abdulaziz adalah pintu gerbang utama kotasuci Madinah al-Munawwarah. Ia juga menjadi satu dari dua pintu masuk utama ke dua kotasuci bagi Umat Islam selain bandar udara internasional King Abdul Aziz di Jeddah. Bandar udara ini terletak di pinggiran utara kotasuci Madinah, tak seberapa jauh dari Gunung Uhud yang bersejarah. Jika kita melayangkan pandangan mata dari sini, Gunung Uhud yang tandus dengan hiasan warna coklat tanah kemerah-merahan nampak memanjakan mata di arah barat daya. Lansekap sewarna juga dijumpai di arah barat, utara dan timur. Namun tidak dengan arah selatan. Sejauh mata memandang hanya nampak bukit-bukit tandus kehitaman, dengan bongkahan bebatuan penyusunnya yang jauh lebih kasar ketimbang bebatuan Gunung Uhud. Sangat sedikit informasi yang tersedia tentang bukit-bukit kehitaman ini. Namun siapa sangka, di balik minimnya informasi, bukit-bukit kehitaman ini sejatinya adalah jejak kasat mata dari salah satu periode paling mencekam sepanjang sejarah kotasuci Madinah. Inilah endapan lava basaltik dari Letusan Madinah, letusan besar yang hampir saja memanggang Madinah.

Gambar 5. Citra satelit Landsat dalam warna nyata untuk kotasuci Madinah dan sekitarnya. Nampak hampir seluruh permukaan tanah di sekitar kota ini didominasi warna coklat kemerah-merahan. Terkecuali di sisi tenggara kota yang permukaan tanahnya bewarna hitam/gelap. Inilah endapan lava jejak Letusan Madinah 1256. Sumber: Google Earth, 2014.

Gambar 5. Citra satelit Landsat dalam warna nyata untuk kotasuci Madinah dan sekitarnya. Nampak hampir seluruh permukaan tanah di sekitar kota ini didominasi warna coklat kemerah-merahan. Terkecuali di sisi tenggara kota yang permukaan tanahnya bewarna hitam/gelap. Inilah endapan lava jejak Letusan Madinah 1256. Sumber: Google Earth, 2014.

Kalender menunjukkan hari Senin 1 Jumadil Akhir 654 Hijriyyah kala sebuah getaran mulai mengguncang kotasuci Madinah. Para pedagang, peziarah tanah suci, penduduk dan segenap manusia lainnya yang sedang berada maupun tinggal di kotasuci itu merasakannya. Semuanya berharap getaran tadi hanyalah getaran tanah biasa yang akan berhenti dengan segera secepat kedatangannya. Namun harapan itu sirna laksana uap menghilang di udara. Betapa tidak, dalam empat hari kemudian secara beruntun getaran demi getaran tanah justru terus saja terjadi berulang-ulang. Kekerapannya kian mengencang dan sering. Di Jumat pagi, sedikitnya 18 getaran keras mengguncang hanya dalam waktu singkat. Dan siang harinya, kala orang-orang sedang berkumpul di Masjid Nabawi menanti waktu shalat Jumat, sebuah getaran keras, terkeras di antara semua getaran sebelumnya, mengagetkan semuanya. Tak pelak semua itu mengundang tanya di hati setiap orang. Rasa cemas pun mulai membersit. Apalagi getaran demi getaran terus saja terjadi selepas shalat Jumat, meski tak sekeras sebelumnya.

Drama mencapai klimaksnya pada Sabtu pagi usai shalat Shubuh, bertepatan dengan 1 Juli 1256. Secara mendadak ketenangan dan keheningan pagi dibuyarkan suara bergemuruh susul-menyusul yang datang dari arah al-Hijaz di tenggara. Bersamanya muncul pancuran bola-bola api merah kebiruan ke langit dalam jumlah besar. Demikian banyaknya bola-bola api yang mirip kembang api ini sehingga cahayanya benderang menyinari cakrawala laksana tersorot Matahari. Selama berhari-hari kemudian pancuran api terus berlangsung tanpa henti dan bahkan kian bertambah banyak saja. Kini malam-malam di kotasuci Madinah pun berubah dramatis menjadi seterang siang hari. Demikian terangnya malam-malam itu sehingga bagian Raudhah dan makam Nabi SAW yang ada di dalam kompleks Masjid Nabawi bagaikan tersorot cahaya Matahari secara terus-menerus. Cahaya terang itu bahkan bisa disaksikan dengan jelas dari Tayma’ dan kotasuci Makkah al-Mukarramah, padahal keduanya berjarak 300 kilometer dari sumber bola-bola api ini.

Sejarawan al-Qastalani menulis, orang-orang Badui pemberani yang mencoba mendekati titik sumber lontaran api tercengang menyaksikan pemandangan menggidikkan. Cairan panas kental mirip bubur yang sangat encer berwarna merah-kebiruan dengan beberapa bagiannya telah menghitam nampak menggelegak. Di latar belakangnya terlihat enam titik pancuran bola-bola api membara yang terus-menerus muncrat ke langit. Seluruh cairan tersebut bergerak mengalir perlahan laksana sungai sembari menyeret batu, pohon, tanah dan apa saja yang dilaluinya. Suara bergemuruh mirip petir yang sambung-menyambung terus saja terdengar. Asap pekat beraroma belerang terus mengepul, memedihkan mata dan menyesakkan dada. Demikian pekat asapnya sehingga udara laksana berkabut terus-menerus. Akibatnya Matahari pun hanya terlihat sebagai bundaran kemerah-merahan saja, hatta telah berkedudukan cukup tinggi di langit. Udara di dekat cairan kental nan aneh ini demikian panasnya, sehingga tak seorang pun berani mendekatinya lebih dekat dari dua lontaran anak panah (+/- 200 m).

Gambar 6. Citra satelit Landsat dalam warna nyata untuk salah satu lokasi retakan yang menjadi sumber Letusan Madinah 1256. Nampak sejumlah kerucu skoria (cinder cone) yang dikelilingi bebatuan berwarna gelap (yang adalah endapan lava basaltik). Sumber: Google Earth, 2014.

Gambar 6. Citra satelit Landsat dalam warna nyata untuk salah satu lokasi retakan yang menjadi sumber Letusan Madinah 1256. Nampak sejumlah kerucu skoria (cinder cone) yang dikelilingi bebatuan berwarna gelap (yang adalah endapan lava basaltik). Sumber: Google Earth, 2014.

Di masa kini kita mengetahui apa yang dihadapi orang-orang Madinah saat itu adalah lava panas produk letusan gunung berapi. Dengan teknologi terkini, relatif lebih mudah mengetahui apa yang sedang terjadi dengan menerbangkan radas (instrumen) dalam kedudukan cukup tinggi di atas lava panas membara itu, baik di dalam pesawat udara nir-awak maupun via satelit penginderaan jauh. Layaknya letusan Holuhraun, Letusan Madinah bersumber pada sebuah retakan di segmen kerak bumi berbelas kilometer sebelah tenggara kotasuci Madinah. Entah seberapa panjangnya retakan itu, namun darinya magma basaltik membanjir keluar sembari muncrat hingga puluhan meter ke udara. Sejumlah gundukan mengerucut yang membukit pun terbentuk di sepanjang retakan ini, yang disebut kerucut skoria (cinder cone). Magma encer itu lantas mengalir sebagai lava menyusuri kontur rupabumi setempat menuju tempat-tempat yang lebih rendah. Pada puncaknya lava panas ini pun terkumpul demikian rupa hingga laksana sejenis danau lava berkedalaman 3 meter yang membentang sepanjang 23 kilometer.

Teknologi di abad ke-13 memang belum memungkinkan manusia masa itu melihat keseluruhan dinamika Letusan Madinah. Apalagi memprakirakan kemana danau lava itu bakal bergerak mengalir dan menelan apa saja yang ada dihadapannya. Namun orang-orang Badui yang pemberani itu terus mengamati pergerakan cairan kental panas nan aneh (yang adalah tepi danau lava) itu dari hari ke hari. Sehingga mereka pun menyadari bahwa cairan panas menggelegak itu secara perlahan namun pasti sedang beringsut mengarah ke kotasuci Madinah yang memang berketinggian lebih rendah. Jelas sudah. Jika semua terus berlangsung seperti itu, maka segenap isi kotasuci tersebut akan tenggelam dalam lautan bara. Kini rasa cemas yang melanda penduduk Madinah pun bermetamorfosis menjadi ketakutan luar biasa. Juga kebingungan. Belum pernah mereka atau nenek moyang mereka, atau bahkan Bangsa Arab sekalipun, menghadapi peristiwa alam semacam ini. Dapat dipahami jika di tengah ketakutan dan kebingungan ini kisah-kisah akan hari akhir pun menyebar kemana-mana. Apalagi salah satu di antara tanda-tanda besar kedatangan hari akhir adalah munculnya api di tanah Hijaz. Dan kini kotasuci Madinah (yang berada di kawasan Hijaz) benar-benar berhadapan dengan api panas membara dalam ukuran yang sungguh tak pernah terbayangkan pada zaman itu.

Menyadari bahaya yang mengancam kotasuci Madinah seisinya, gubernur sigap bertindak. Seluruh penduduk maupun musafir, baik laki-laki maupun perempuan, baik orang dewasa maupun anak-anak, dimintanya untuk segera berkumpul di Masjid Nabawi khususnya di bagian Raudhah dan sekitarnya yang merupakan kawasan mustajab. Semua pun berdoa dengan sepenuh hati, bertaubat dan memohon ampunan Allah SWT atas segala kesalahan yang telah dilakukan. Mereka juga memohon agar cairan kental panas itu, yang kian mendekat saja ke kotasuci, untuk dihentikan atau dialihkan. Banyak yang mencucurkan air mata di tengah kekhusukan doanya ketika menyadari bahwa jika Allah SWT menghendaki, dengan mudah cairan kental panas itu menelan kotasuci Madinah beserta seluruh isinya dan menghapusnya dari muka bumi tanpa sisa dan tiada sesuatu pun yang dapat menghalanginya.

Dan keajaiban pun terjadilah. Seperti bernyawa, lava panas itu berhenti sebelum tapal batas kotasuci dan lantas lantas berbelok ke utara untuk kemudian melambat, berhenti dan membeku. Letusan Madinah sendiri berakhir dalam 52 hari setelah bermula. Sepanjang 52 hari tersebut 500 juta meter kubik magma dimuntahkan dari dalam perut bumi. Sehingga rata-rata Letusan Madinah memuntahkan lebih dari 100 meter kubik magma dalam setiap detiknya.

Harrat Rahat

Gambar 7. Retakan di padang Holuhraun pada 30 Agustus 2014, sehari setelah letusan Holuhraun bermula. Nampak lava panas membara sedang meluap dan mengendap ke sekelilingnya sembari mendingin sehingga berubah warna menjadi gelap. Gas vulkanik pekat nampak terus mengepul. Panorama semacam ini pula yang dilihat orang-orang Madinah kala terjadi Letusan Madinah 1256 pada 7,5 abad silam. Sumber: Dailykos, 2014.

Gambar 7. Retakan di padang Holuhraun pada 30 Agustus 2014, sehari setelah letusan Holuhraun bermula. Nampak lava panas membara sedang meluap dan mengendap ke sekelilingnya sembari mendingin sehingga berubah warna menjadi gelap. Gas vulkanik pekat nampak terus mengepul. Panorama semacam ini pula yang dilihat orang-orang Madinah kala terjadi Letusan Madinah 1256 pada 7,5 abad silam. Sumber: Dailykos, 2014.

Letusan Madinah merupakan wujud nyata eksistensi gunung berapi di semenanjung Arabia. Ya. Meski mayoritas bagiannya beriklim gurun, namun bentang lahan semenanjung terbesar di muka bumi ini tidaklah melulu berisi lautan pasir gersang. Padang pasir semacam itu hanya dijumpai di sisi selatan dan tenggara sebagai padang pasir ar-Rub’ al-Khali, yang adalah lautan pasir lepas terluas di muka bumi. Semenanjung ini juga bukan sekedar tanah tempat agama-agama samawi dilahirkan, tanah tempat para nabi dan rasul diutus serta tanah tempat berdirinya dua kotasuci Umat Islam. Namun lebih dari itu, semenanjung ini juga adalah salah satu keajaiban geologi yang sulit dicari padanannya di tempat lain. Sebagian Semenanjung Arabia khususnya daratan yang sebelah-menyebelah Laut Merah (termasuk kawasan Hijaz) adalah salah satu daratan tertua di muka bumi. Daratan ini dikenal sebagai Tameng Arabia-Nubia (Arabian-Nubian Shield). Dengan umur sedikitnya 600 juta, batuan di Tameng Arabia-Nubia sejatinya telah begitu padat sehingga jauh lebih stabil dibanding daratan lainnya yang lebih muda.

Namun di Tameng Arabia-Nubia pula kita kita bisa menyaksikan momen lahirnya kerak bumi baru dan meluasnya lempeng tektonik. Bentangan panjang Laut Merah yang menghiasi kawasan ini sejatinya adalah lembah besar yang dalam sehingga tergenangi air asin yang mengalir dari Samudera Hindia. Lembah besar ini bukanlah lembah biasa, sebab dibentuk oleh pergerakan tektonik intensif. Ia bersambung dengan lembah-lembah lurus lainnya yang menjulur dari Turki hingga ke Afrika Tengah dalam sebuah ekspresi yang disebut Lembah Retakan Besar (Great Rift Valley) sepanjang sekitar 4.000 kilometer. Di sejumlah bagian lembah inilah magma panas menyeruak dari lapisan selubung, terutama di sepanjang retakan kecil sumbu dasar Laut Merah, khususnya di sisi selatan. Begitu keluar, magma panas mulai mendingin dan membeku menjadi bayi lempeng tektonik oseanik. Jika pola semacam ini berlangsung secara menerus, maka dalam puluhan juta tahun ke depan Laut Merah akan demikian meluas menjadi samudera baru sementara retakan kecil sumbu dasarnya berevolusi menjadi punggungan tengah samudera seperti Islandia saat ini. Maka jangan heran jika saat ini di tengah-tengah Laut Merah dijumpai sejumlah gunung berapi. Ada yang tetap terbenam di bawah permukaan air dan ada pula yang menyembul di atas laut sebagai pulau vulkanis.

Tetapi retakan tidak hanya muncul di dasar Laut Merah. Di kawasan Hijaz, sejumlah retakan yang mirip pun terbentuk dan menjadi panggung bagi vulkanisme titik-panas serupa. Di retakan-retakan inilah magma menyeruak keluar membentuk gunung berapi Hijaz yang khas. Jangan bayangkan gunung berapi Arabia berbentuk kerucut tinggi yang indah seperti halnya gunung-gunung berapi komposit (stratovulcan) di Indonesia. Vulkanisme titik-panas menghasilkan magma basaltik yang lebih encer, sehingga gunung berapi Hijaz sejatinya hanyalah tumpukan lava yang tersebar menutupi area sangat luas dengan sejumlah kerucut skoria berketinggian rendah muncul didalamnya. Dapat dikata gunung berapi Hijaz memiliki panorama yang ‘jelek.’ Namun dibalik ‘kejelekan’-nya, vulkanisme di tanah Hijaz ini sungguh luar biasa. Secara akumulatif dalam 10 juta tahun terakhir ia telah memuntahkan lava basaltik yang menutupi area seluas 180 ribu kilometer persegi, setara sepersepuluh luas Indonesia.

Gambar 8. Lava basaltik panas membara sedang merayap menyusuri tanah Islandia, diabadikan pada 15 September 2014. Pelan namun pasti lava basaltik ini terus bergerak maju menutupi wilayah lebih luas dari hari ke hari. Panorama sejenis tersebut juga disaksikan orang-orang Madinah kala terjadi Letusan Madinah 1256 pada 7,5 abad silam. Sumber: University of Iceland, 2014.

Gambar 8. Lava basaltik panas membara sedang merayap menyusuri tanah Islandia, diabadikan pada 15 September 2014. Pelan namun pasti lava basaltik ini terus bergerak maju menutupi wilayah lebih luas dari hari ke hari. Panorama sejenis tersebut juga disaksikan orang-orang Madinah kala terjadi Letusan Madinah 1256 pada 7,5 abad silam. Sumber: University of Iceland, 2014.

Salah satu retakan di sini adalah yang berpangkal dari sekitar kotasuci Makkah al-Mukarramah dan menerus ke utara-timur laut melintas di dekat kotasuci Madinah hingga kemudian berujung di Nafud. Karenanya retakan sepanjang sekitar 600 kilometer ini lebih dikenal sebagai retakan Makkah-Madinah-Nafud atau Makkah-Madinah-Nafud volcanic line. Lewat retakan inilah magma melimpah ke permukaan tanah dan membentuk sedikitnya empat gunung berapi Hijaz. Dari selatan ke utara, masing-masing adalah Harrat Rahat, Harrat Kurama, Harrat Khaybar dan Harrat Ithnayn. Harrat Rahat menjadi gunung berapi terbesar di jalur retakan ini, bahkan di seantero Semenanjung Arabia. Ia membentang sepanjang 310 kilometer dari Jeddah ke Madinah dengan lebar rata-rata sekitar 75 kilometer. Harrat Rahat pada dasarnya adalah tumpukan lava basaltik yang telah membeku dengan total volume sebesar 2.000 kilometer kubik. Lava sebanyak itu diletuskan secara bertahap lewat 400 saluran magma serta lebih dari 2.000 kerucut skoria sepanjang 10 juta tahun terakhir. Praktis kotasuci Makkah dan Madinah sebenarnya berdiri tepat di tubir gunung berapi raksasa menggetarkan yang memiliki nama lain Harrat Bani Abdullah, atau Harrat Madinah, atau Harrat Rashid, atau Harrat Turrah, atau Harrat el-Medina, atau Harrat er-Raha, atau Jabal Ma’tan, atau Jabal Umm Ruqubah, atau Jabal al-Hurus, atau Jibal Diba’ Al Hurus ini. Dan di ujung utara gunung berapi raksasa inilah Letusan Madinah terjadi dalam 7,5 abad silam.

Gambar 9. Peta Semenanjung Arabia bagian barat khususnya kawasan Hijaz. Nampak gunung-gemunung berapi Arabia (harrat) dengan yang terbesar adalah Harrat Rahat. Praktis kotasuci Makkah dan Madinah berdiri di tubir gunung berapi raksasa ini. Tanda bintang (*) menunjukkan lokasi Letusan Madinah 1256. Aktivitas terakhir gunung-gemunung berapi ini adalah di Harrat Lunayyir, 200 kilometer barat laut kotasuci Madinah. Sumber: Zahrani dkk, 2013.

Gambar 9. Peta Semenanjung Arabia bagian barat khususnya kawasan Hijaz. Nampak gunung-gemunung berapi Arabia (harrat) dengan yang terbesar adalah Harrat Rahat. Praktis kotasuci Makkah dan Madinah berdiri di tubir gunung berapi raksasa ini. Tanda bintang (*) menunjukkan lokasi Letusan Madinah 1256. Aktivitas terakhir gunung-gemunung berapi ini adalah di Harrat Lunayyir, 200 kilometer barat laut kotasuci Madinah. Sumber: Zahrani dkk, 2013.

Letusan Madinah bukanlah akhir dari aktivitas gunung berapi Hijaz. Gunung-gunung berapi unik ini terus aktif bahkan hingga kini. Pada 2009 lalu terjadi lonjakan jumlah gempa vulkanik secara mendadak di Harrat Lunayyir, sebuah gunung berapi Hijaz berukuran kecil yang terletak di barat laut kotasuci Madinah. Selama bulan April hingga Juni 2009 terjadi 40.000 guncangan gempa vulkanik dengan magnitudo antara 2 hingga 5,4 skala Richter. Inilah pertanda sangat jelas bahwa magma basaltik di perutbumi kawasan Hijaz masih tetap berupaya mencari jalan keluar ke permukaan. Pertanda tersebut kian jelas lewat terbentuknya retakan sepanjang 8 kilometer selebar 45 sentimeter. Belajar dari pengalaman Letusan Madinah 7,5 abad silam, otoritas Saudi Arabia tak menyia-nyiakan waktu untuk mengevakuasi sekitar 30.000 orang di kota al-Ays yang ada dalam kompleks gunung berapi ini. Namun tak seperti Harrat Rahat, Harrat Lunayyir ternyata tak kunjung memuntahkan magmanya. Ia urung meletus. Mungkin masih menunggu kesempatan lain di masa depan.

Referensi :

Sudibyo. 2012. Ensiklopedia Fenomena Alam dalam al-Qur’an, Menguak Rahasia Ayat-Ayat Kauniyah. Surakarta: Tinta Medina, cetakan pertama.

Rei. 2014. Bardarbunga: Sorry, Ireland (Update 2x). DailyKos.com, 5 September 2014.

Frimann. 2014. Bardarbunga Daily Update. Iceland Geology, Volcano and Earthquake Activity in Iceland.

al-Zahrani dkk. 2013. Aftershock Sequence Analysis of 19 May, 2009 Earthquake of Lunayyir Lava Flow, Northwest Saudi Arabia. International Journal of the Physical Sciences Vol. 8(7), 23 February 2013, pp. 277-285.

Menelisik Letusan Krakatau 15 Abad Silam, Letusan yang Memisahkan Pulau Jawa dan Sumatra?

Selat sempit itu mirip benar dengan segitiga raksasa kala dilihat dari ketinggian udara. Saat itu, di dekat puncak segitiga ini berdiri kokoh sebuah gunung berapi. Ia tegak menjulang perkasa seakan memaku buana. Tubuhnya (mungkin) demikian besarnya sehingga kakinya membentang begitu lebar, nyaris menutup seluruh perairan laut yang ada di sana. Tak heran jika gunung berapi besar ini ibarat jembatan penyatu dua pulau besar itu, yang semula dipisahkan oleh selat sempit tersebut. Orang bisa menyeberang dari satu pulau ke pulau yang lain dengan berjalan menyusuri kaki gunung. Selat itu pun seakan berubah menjadi sebuah teluk nan besar.

Namun semuanya berubah total di suatu ketika 15 abad silam. Berawal dari getaran demi getaran yang terus mengguncang,disusul asap mengepul dari puncak sang gunung dan lama-kelamaan kian memekat, maka tibalah saat gunung berapi itu mempertontonkan kedahsyatannya. Letusan sangat dahsyat pun terjadilah. Pada puncak letusannya, sekitar 400.000 meter kubik magma disemburkan gunung berapi dalam setiap detiknya. Maka setiap detiknya gunung itu memuntahkan magma dalam jumlah yang cukup untuk mengisi 17.000 mobil tanki bahan bakar berkapasitas 24.000 liter. Uap panas, gas vulkanik nan mencekik, bebatuan membara dan debu vulkanik pekat disemburkan hingga ketinggian berpuluh kilometer ke atmosfer. Sebagian diantaranya berjatuhan kembali ke Bumi, menggelapkan langit kedua pulau besar yang ada didekatnya. Sebagian lagi melayang di dalam lapisan stratosfer dan memicu efek dramatik yang terasa dampaknya di segenap penjuru permukaan Bumi dalam jangka panjang. Bersamaan dengan gelap pekatnya langit kedua pulau besar didekatnya, tubuh gunung pun mulai ambruk ke dasar laut. Gelora raksasa pun tercipta, dengan tinggi luar biasa saat tiba di pesisir sehingga mampu menerjang berkilo-kilometer ke daratan. Gelora raksasa segera menyapu bersih apa dan siapa saja yang dilintasinya.

Gambar 1. Panorama Kepulauan Krakatau yang ikonik. Gundukan di latar depan adalah Gunung Anak Krakatau, dengan leleran lava produk letusan tahun 1975 yang telah membeku di bagian kanan bawah. Jauh di latar belakang terlihat pulau Rakata, yang adalah salah satu titik tertinggi dinding kaldera Letusan Krakatau 1883 yang mencuat di atas permukaan Laut. Kepulauan Krakatau mendunia lewat letusan dahsyatnya di tahun 1883. Namun jejak-jejak lapisan debu tebal yang tersingkap di berbagai pulau di kepulauan ini menunjukkan bahwa gunung berapi ini telah meletus dahsyat lebih dari sekali sepanjang sejarahnya. Sumber: Direktorat Vulkanologi (kini PVMBG), 1979.

Gambar 1. Panorama Kepulauan Krakatau yang ikonik. Gundukan di latar depan adalah Gunung Anak Krakatau, dengan leleran lava produk letusan tahun 1975 yang telah membeku di bagian kanan bawah. Jauh di latar belakang terlihat pulau Rakata, yang adalah salah satu titik tertinggi dinding kaldera Letusan Krakatau 1883 yang mencuat di atas permukaan Laut. Kepulauan Krakatau mendunia lewat letusan dahsyatnya di tahun 1883. Namun jejak-jejak lapisan debu tebal yang tersingkap di berbagai pulau di kepulauan ini menunjukkan bahwa gunung berapi ini telah meletus dahsyat lebih dari sekali sepanjang sejarahnya. Sumber: Direktorat Vulkanologi (kini PVMBG), 1979.

Begitu klimaks drama menggidikkan ini usai, pemandangan baru pun tersaji sudah. Gunung berapi besar itu lenyap hampir sepenuhnya. Apa yang semula menjadi tempat berdirinya gundukan tinggi besar ibarat paku buana itu pun kini berganti total menjadi pemandangan samudera. Dua pulau besar itu pun kembali terpisahkan. Tak ada lagi jembatan alamiah yang menjadi penghubung keduanya seperti sedia kala. Di kemudian hari salah satu pulau besar itu dikenal sebagai pulau Jawa, sementara pulau lainnya adalah pulau Sumatra. Dan kelak di kemudian hari, di tengah-tengah perairan dimana gunung berapi besar itu dahulu pernah ada, tumbuh sebentuk gunung berapi lainnya meski dimensinya jauh lebih kecil. Kelak kita mengenalnya sebagai Gunung Krakatau.

Petaka

Siapa yang tak kenal dengan Gunung Krakatau? Walaupun ia hanyalah sebentuk gundukan kecil mungil berasap di tengah-tengah keluasan perairan Selat Sunda, namun namanya sungguh meraksasa. Apalagi jika bukan karena Letusan Krakatau 1883 yang demikian menggetarkan. Letusan yang baru kita peringati kejadiannya untuk ke-131 kalinya di Agustus 2014 ini. Namun amukan Gunung Krakatau di tahun 1883 itu sejatinya bukanlah letusan terbesar yang pernah dialami si gunung lasak ini sepanjang sejarahnya.

Kala ilmu kegunungapian terus berkembang hingga menjadi seperti sekarang, para ahli kegunungapian pun berdatangan ke sudut-sudut kepulauan Krakatau ini. Mereka mengabadikan, menganalisis dan mendokumentasikan setiap singkapan bebatuan yang ada. Kini kita tahu bahwa lapisan-lapisan debu vulkanik yang bertumpukan di kepulauan ini menunjukkan betapa dalam setidaknya 8.000 tahun terakhir, gunung ini telah meletus dahsyat sebanyak sedikitnya tiga kali. Kedahsyatan tersebut tecermin lewat eksistensi tiga lapisan debu vulkanik yang cukup tebal dibanding lapisan-lapisan sejenis lainnya. Pada dasarnya semakin tebal lapisan debu vulkaniknya maka semakin besar pula skala letusannya.

Lapisan debu tebal teratas merupakan lapisan yang termuda yang dihasilkan Letusan Krakatau 1883. Namun letusan itu, yang dahsyatnya tak kepalang untuk ukuran manusia modern itu, sejatinya merupakan letusan terkecil dari ketiga letusan dahsyat dalam sejarah Krakatau. Peringkat kedua ditempati oleh Letusan Krakatau 1215, yang terjadi pada tahun 1215 berdasarkan pertanggalan radioaktif pada batang/ranting kayu yang mengarang (menjadi arang) di dalam lapisan debunya. Skala letusannya mungkin setara dengan letusan 1883, yakni sama-sama menempati 6 VEI (Volcanic Explosivity Index). Meski berdasarkan ketebalan lapisan debunya, Letusan Krakatau 1215 nampaknya menyemburkan material letusan dalam jumlah sedikit lebih besar ketimbang Letusan Krakatau 1883. Dan pemuncaknya adalah letusan sangat dahsyat yang menghasilkan lapisan debu demikian tebal, hingga setebal 25 meter. Belum ada sisa kayu yang telah mengarang yang berhasil dijumpai pada lapisan debu tebal ini, sehingga letusan pembentuknya terjadi belum bisa ditentukan berdasarkan teknik pertanggalan karbon radioaktif. Berdasarkan ketebalan debunya, letusan ini diperkirakan memiliki skala 7 VEI. Sejauh ini hanya Letusan Tambora 1815 dan Letusan Samalas (Rinjani) 1257 yang menyamai skala letusannya.

Gambar 2. Kiri: singkapan lapisan-lapisan debu tebal produk letusan dahsyat pada terbing terjal di salah satu sudut Kepulauan Krakatau. Nampak lapisan debu setebal 25 meter yang diduga merupakan produk letusan sangat dahsyat di abad ke-6. Kanan: vulkanolog Haraldur Sigurdsson nampak sedang menuruni tebing terjal itu guna menyelidiki lebih lanjut. Sumber: Wohletz, 2000.

Gambar 2. Kiri: singkapan lapisan-lapisan debu tebal produk letusan dahsyat pada terbing terjal di salah satu sudut Kepulauan Krakatau. Nampak lapisan debu setebal 25 meter yang diduga merupakan produk letusan sangat dahsyat di abad ke-6. Kanan: vulkanolog Haraldur Sigurdsson nampak sedang menuruni tebing terjal itu guna menyelidiki lebih lanjut. Sumber: Wohletz, 2000.

Tengara akan letusan sangat dahsyat yang membentuk lapisan debu setebal hingga 25 meter itu nampaknya datang dari sumber tertulis nan jauh di luar kepulauan Nusantara. Tepatnya di Cina. Sebuah berita Cina, yakni kronik Nan Shi, mencatat suara gemuruh mirip guntur di kejauhan yang terdengar dari barat daya pada suatu waktu di tahun 535. Peristiwa ini merupakan awal dari malapetaka besar yang menghantam imperium Cina sepanjang tahun 536-537. Kronik yang sama menuturkan betapa pada titimangsa Desember 536, debu kuning pekat mengguyur daratan di seluruh wilayah kekaisaran laksana hujan salju. Lantas sepanjang bulan Juli dan Agustus tahun berikutnya, udara membeku dan salju turun dengan derasnya di tengah-tengah masa yang seharusnya merupakan musim panas. Kronik Bei Shi pun mencatat hal senada. Akibatnya lahan pertanian pun hancur membuat produksi pangan merosot drastis. Kelaparan pun segera merebak dimana-mana dan merenggut korban-korbannya dalam jumlah sangat besar. Demikian parah situasinya sehingga kaisar sampai memberlakukan dekrit pengampunan pajak.

Namun petaka besar di tahun 535-536 itu ternyata tak hanya melanda Cina. Di Semenanjung Korea bagian utara, kerajaan Koguryo pun berjuang hidup mati mempertahankan diri setelah mendadak dihantam banjir besar. Banjir besar yang salah musim itu segera disusul dengan merebaknya wabah penyakit. Nada pesimisme yang sama juga dijumpai di Kepulauan Jepang lewat kronik Nihon Shoki. Kronik itu menuturkan betapa terjadi perubahan cuaca yang tak biasa yang disusul hancurnya lahan pertanian.

Tak hanya di Cina, Korea dan Jepang, malapetaka sejenis ternyata juga tercatat di kawasan pesisir Laut Tengah (Mediterania). Seorang uskup John dari Efesus (kini bagian dari Turki) menuliskan dalam kroniknya berapa pemandangan aneh terjadi di langit, saat Matahari seakan–akan kehilangan kecerahannya hingga hanya sedikit lebih terang saja dibanding Bulan. Situasi ini bertahan hingga 18 bulan lamanya. Bersamaan dengannya terjadi kelaparan besar menyusul hancurnya lahan pertanian akibat cuaca ekstrim yang salam musim. Tak hanya kelaparan yang melanda, wabah penyakit sampar (pes) pun bergentayangan mencari korban-korbannya. Hal senada juga diutarakan senator Cassiodorus di imperium Romawi pada saat yang hampir sama.

Gambar 3. Lokasi dimana terdapat catatan sejarah setempat terkait peristiwa dramatis di tahun 535, beserta data-data kronologis yang berhasil digali dari analisis lingkaran tahun kayu-kayu tua, sedimen dasar danau dan lembaran-lembaran es. Semua menunjukkan adanya gangguan iklim dramatis selama beberapa tahun, yang secara alamiah lebih mungkin disebabkan oleh letusan gunung berapi yang sangat dahsyat. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan data dari Wohletz, 2000.

Gambar 3. Lokasi dimana terdapat catatan sejarah setempat terkait peristiwa dramatis di tahun 535, beserta data-data kronologis yang berhasil digali dari analisis lingkaran tahun kayu-kayu tua, sedimen dasar danau dan lembaran-lembaran es. Semua menunjukkan adanya gangguan iklim dramatis selama beberapa tahun, yang secara alamiah lebih mungkin disebabkan oleh letusan gunung berapi yang sangat dahsyat. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan data dari Wohletz, 2000.

Bagi Eropa dan Asia, peristiwa aneh di tahun 535-536 ini adalah momen yang mengantarkan peradaban mereka memasuki abad kegelapan. Kekuasaan imperium Romawi mulai melemah sehingga sebagian wilayahnya mulai diambil-alih suku-suku Jermania nan perkasa yang bermigrasi dari Mongolia akibat bencana kelaparan. Pada saat yang sama peradaban Kristen Arian (rival terbesar Katolik Roma) pun berakhir secara misterius. Di Jazirah Arabia bagian selatan, peristiwa aneh itu memperparah situasi dalam peradaban Himyarit yang telah melemah seiring bobolnya bendungan Ma’rib. Kelaparan berkepanjangan dan wabah sampar kian melemahkannya hingga pada puncaknya mengambrukkan peradaban itu. Sampar semula hanya terkonsentrasi di Afrika timur. Namun kekeringan dahsyat menyebabkan populasi tikus merajalela tanpa bisa dikontrol lagi oleh para predatornya yang keburu mati kelaparan. Tikus-tikus pembawa kutu-kutu inang sampar selanjutnya memasuki pelabuhan–pelabuhan di pesisir Afrika timur dan terbawa armada kapal dagang yang berlayar melintasi Laut Merah dan terusan Trajanus ke Laut Tengah. Dengan cara inilah wabah sampar bergentayangan hingga mencapai Arabia selatan, Mediterania dan bahkan kepulauan Inggris serta lembah Mesopotamia.

Data

Baiklah, semua itu adalah catatan sejarah. Dan sejarah kerap bersifat multitafsir kala dipandang kembali dari masa yang lebih kemudian, dari zaman yang telah berubah. Namun bagaimana dengan catatan-catatan yang lebih independen, yakni jejak-jejak yang tak terkotori campur tangan manusia?

Petunjuk menarik datang dari lingkaran tahunan di dalam batang-batang kayu yang sangat tua. Lingkaran tahunan adalah lapisan kambium yang telah menjadi lapisan kayu pada tumbuhan berkayu keras. Sifat lapisan kambium ini khas, dimana tebal tipisnya dipengaruhi oleh normal tidaknya kehidupan tumbuhan bersangkutan terkait banyak sedikitnya jumlah air dan pencahayaan Matahari yang bisa diserap. Pada dasarnya berkurangnya jumlah air dan penyinaran Matahari akan menghasilkan lapisan kayu lebih tipis, demikian sebaliknya.

Analisis yang telah dilakukan terhadap lingkaran tahunan kayu-kayu tua di daratan Irlandia menunjukkan pada abad ke-6 dijumpai lapisan-lapisan kayu yang lebih tipis, terjadi semenjak tahun 535 dan berlangsung hingga 10 tahun kemudian. Analisis perbandingan dengan kayu-kayu tua di tempat lainnya menunjukkan fenomena ini bukanlah khas Irlandia semata. Sebab dijumpai pula di bagian Eropa lainnya seperti Swedia barat laut, Finlandia utara, Semenanjung Yamal (Rusia), Yunani dan Polandia. Juga didapati di daratan Amerika utara seperti di Sierra Nevada dan Carolina utara, maupun di Amerika selatan seperti di Chile selatan dan Argentina selatan. Bahkan di tempat sejauh dan seterpencil Tasmania (Australia) juga dijumpai hal serupa. Maka dapat dikatakan bahwa pasca tahun 535 hingga beberapa tahun kemudian iklim Bumi secara umum mengalami gangguan lumayan berat, sehingga jumlah air (dalam wujud curah hujan) merosot drastis bersamaan dengan berkurangnya penyinaran Matahari.

Gambar 4. Atas: dinamika ketebalan lingkaran kayu pada lingkaran tahunan kayu-kayu tua yang berhasil diekstrak dari Siberia (Rusia), Finlandia dan Swedia dalam rentang kronologi sejak tahun 1 hingga 1997. Garis merah menunjukkan lapisan kayu dari tahun 535 hingga beberapa tahun kemudian, nampak memiliki ketebalan paling kecil dibanding yang lain. Bawah:  dinamika kadar asam sulfat yang berhasil diekstrak dari lembaran es di proyek pengeboran GRIP (Greenland). Kadara asam sulfat tertinggi adalah pada tahun 535 hingga beberapa tahun kemudian (ditunjukkan dengan pensil). Sumber: Wohletz, 2000.

Gambar 4. Atas: dinamika ketebalan lingkaran kayu pada lingkaran tahunan kayu-kayu tua yang berhasil diekstrak dari Siberia (Rusia), Finlandia dan Swedia dalam rentang kronologi sejak tahun 1 hingga 1997. Garis merah menunjukkan lapisan kayu dari tahun 535 hingga beberapa tahun kemudian, nampak memiliki ketebalan paling kecil dibanding yang lain. Bawah:dinamika kadar asam sulfat yang berhasil diekstrak dari lembaran es di proyek pengeboran GRIP (Greenland). Kadara asam sulfat tertinggi adalah pada tahun 535 hingga beberapa tahun kemudian (ditunjukkan dengan pensil). Sumber: Wohletz, 2000.

Petunjuk lain gangguan iklim Bumi pada saat itu datang dari dasar sejumlah danau di berbagai penjuru. Sebuah danau mendapatkan airnya dari kawasan tangkapan air yang ada disekitarnya. Kala hujan mengguyur, air jatuh ke kawasan ini sembari menyeret partikel-partikel tumbuhan (umumnya bulir serbuk sari) lantas mengalir ke danau melalui alur parit-parit kecil dengan membawa serta partikel-partikel tanah. Seluruh partikel itu lalu diendapkan di dasar danau dan pengendapan berlangsungs ecara berkesinambungan. Pada saat gangguan iklim terjadi, berkurangnya curah hujan akan membuat tumbuh-tumbuhan hidup di bawah normal. Sehingga jumlah serbuk sari yang diproduksinya akan menyusut, pun demikian serbuk sari yang mengendap di dasar danau. Pengeboran terhadap dasar danau-danau di benua Amerika seperti danau Titicaca dan Marcachoca (keduanya di Amerika selatan) serta danau Chichancanab dan Punta Laguna (keduanya di Amerika tengah) memperlihatkan gejala itu. Dibantu dengan teknik pertanggalan radioaktif, maka terkuak bahwa mulai tahun 535 hingga beberapa tahun kemudian jumlah serbuk sari yang mengendap di dasar danau jauh lebih sedikit dibanding sebelumnya maupun sesudahnya. Hal ini menunjukkan dengan jelas terjadinya gangguan iklim Bumi, terutama lewat menurunnya jumlah curah hujan.

Baiklah, dari data lingkaran tahunan di kayu-kayu tua dan endapan dasar danau tersebut, kita tahu ada sesuatu yang terjadi di tahun 535 yang dampaknya menghantam sistem iklim Bumi dengan begitu telak. Namun apa penyebabnya? Di sinilah kita berhutang kepada para ahli glasiologi, yang bertekun diri menantang bahaya pergi ke tempat-tempat terpencil yang sangat dingin baik, di kawasan kutub maupun di pucuk-pucuk pegunungan bersalju. Bukan untuk berwisata maupun memompa adrenalin sekuat tenaga, namun untuk mengebor lembaran-lembaran es di sana dan membawanya pulang ke laboratorium berpendingin khusus. Lapisan-lapisan es pada dasarnya terbentuk dari guyuran hujan salju yang terus terakumulasi selama bertahun-tahun. Saat jatuh ke Bumi, butir-butir salju membawa serta partikulat dan gas apapun yang ada di udara pada saat itu. Maka es beku dalam lembaran-lembaran es dimanapun berada sejatinya memuat informasi tentang apa yang dialami atmosfer Bumi kita hingga kurun waktu ribuan atau bahkan puluhan ribu tahun silam.

Saat lembaran–lembaran es di Greenland (lewat proyek GRIP dan Dye 3) serta Antartika (lewat proyek Byrd) dibor, analisisnya menghasilkan temuan menarik yang terkait langsung peristiwa tahun 535. Dengan dibantu teknik pertanggalan karbon radioaktif, diketahui bahwa pada lapisan es yang berasal dari tahun 535 terkandung asam sulfat dalam jumlah besar, yang mencapai 5 kali lipat di atas normal. Asam sulfat umum dijumpai dalam atmosfer Bumi dalam wujud aerosol sebagai produk aktivitas vulkanisme. Namun kadar asam sulfat yang sangat besar menandakan terjadi sesuatu yang di luar kebiasaan, baik berupa letusan gunung berapi yang dahsyat maupun tumbukan benda langit (komet atau asteroid) yang cukup besar. Kadar asam sulfat dari tahun 535 itu adalah yang tertinggi sepanjang 2.000 tahun terakhir. Ia masih lebih tinggi dibanding kadar asam sulfat dari tahun 1815 (produk Letusan Tambora 1815), apalagi dari tahun 1883 (produk Letusan Krakatau 1883). Belakangan pengeboran lembaran es di gletser Quelccaya di Pegunungan Andes (Amerika selatan) juga menjumpai hal senada. Bahwa lonjakan asam sulfat itu dijumpai baik di lingkaran kutub utara (yakni di Greenland) maupun selatan (yakni Antartika) menandakan bahwa peristiwa yang menjadi penyebabnya haruslah berlokasi di kawasan khatulistiwa’ dan sekitarnya.

Saat semua data tersebut dibandingkan dengan catatan sejarah, terkuaklah sebuah fakta: terjadi sebuah peristiwa di luar normal (entah dalam wujud letusan gunung berapi yang sangat dahsyat ataupun tumbukan benda langit) mengambil tempat di kepulauan Nusantara, khususnya yang berada di arah barat daya dari Nanking/Nanjing (ibukota imperium Cina di abad ke-6 dan tempat kronik Nan shi ditulis). Peristiwa itu menghembuskan partikulat debu dalam jumlah sangat banyak ke atmosfer hingga demikian tinggi untuk kemudian terdistribusi ke segenap penjuru lapisan stratosfer. Maka tercipta lapisan debu bercampur aerosol asam sulfat, entah sebagai tabir surya vulkanik maupun tabir surya tumbukan, yang berkemampuan sangat efektif dalam mereduksi pancaran sinar Matahari yang seharusnya dihantarkan ke permukaan Bumi tanpa gangguan.

Maka Matahari pun nampak seakan-akan lebih redup. Penurunan suhu rata-rata permukaan Bumi pun terjadilah. Es meluas dimana-mana. Produksi uap air secara umum berkurang sehingga curah hujan pun turut berkurang. Iklim jadi kacau. Akibatnya lahan pertanian hancur. Produksi tanaman pangan merosot drastis, membuat dunia kelaparan. Suhu udara yang lebih dingin dan orang-orang yang daya tahan tubuhnya menurun (akibat kelaparan) memudahkan bakteri patogen menyebar melampaui area tradisionalnya. Maka abad kegelapan pun terjadilah. Tak sulit membayangkan bahwa jutaan orang, angka yang sangat signifikan bagi populasi penduduk Bumi masa itu, meregang nyawa menjadi korbannya. Tak heran jika ada yang berpendapat, surga seakan sedang menjauh dari dunia. Murka-Nya seakan sedang menjelma.

Simulasi

Bagian kepulauan Nusantara yang berada di arah barat daya dari kota Nanking mencakup pulau Sumatra dan Jawa serta pulau-pulau kecil disekitarnya sekarang. Sampai saat ini di kawasan ini belum dijumpai eksistensi kawah produk tumbukan benda langit, khususnya yang berasal dari abad ke-6. Sehingga penyebab peristiwa di tahun 535 itu lebih mungkin adalah letusan gunung berapi sanga dahsyat. Pulau Sumatra dan Jawa memang dipadati oleh gunung-gemunung berapi aktif. Namun saat kita mencari gunung berapi mana yang meletus demikian dahsyatnya di abad ke-6, telunjuk akan terarah ke satu titik: Gunung Krakatau.

Letusan Krakatau di abad ke-6 merupakan letusan yang paling samar datanya. Ada lapisan debu sangat tebal (setebal 25 meter) yang tertinggal di kepulauan Krakatau, namun belum bisa diketahui umurnya mengingat tiadanya jejak kayu yang mengarang yang bisa digunakan untuk penentuan umur dengan teknik pertanggalan karbon radioaktif. Di sisi lain, data sejarah memperlihatkan adanya keterputusan peradaban di abad ke-6, yang ditandai dengan punahnya kebudayaan Pasemah (Lampung) dan Aruteun/Holotan (Jawa Barat). Di luar Indonesia, sejumlah peradaban juga diketahui berakhir kala memasuki abad ke-6, misalnya Beikthano (Myanmar), peradaban pantai barat Malaya (Malaysia) dan peradaban Oc Eo (Kampuchea). Ada banyak faktor yang menyebabkan sebuah peradaban berakhir. Dan letusan dahsyat gunung berapi dapat menjadi salah satu faktornya, seperti terlihat pada berakhirnya peradaban Papekat dan Tambora di pulau Sumbawa akibat Letusan Tambora 1815.

Ada sebuah karya sastra klasik di tanah Jawa yang samar-samar menyajikan penggambaran mencekam akan peristiwa letusan dahsyat sebuah gunung berapi di masa silam. Yakni kitab Pustaka Raja Purwa, yang ditulis oleh R Ng (Raden Ngabehi) Ranggawarsita sang pujangga besar terakhir di tanah Jawa pada 1869 di istana Kasunanan Surakarta. Kitab ini sejatinya merupakan kumpulan cerita yang berakar dari kitab Mahabharata dan Ramayana nan tersohor. Sehingag kisah-kisah didalamnya berakar dari awal milenium di tanah India, dengan beberapa bagiannya telah dimodifikasi agar sesuai dengan situasi tanah Jawa. Di salah satu bagian kitab yang menjadi acuan para dalang wayang kulit itu tersurat kisah menggetarkan. Tertera, betapa pada suatu waktu bumi Jawa dikejutkan oleh dentuman keras melebihi halilintar yang datang dari arah Gunung Batuwara dan Gunung Kapi. Tanah pun bergetar keras yang segera diikuti amukan petir dan halilintar. Suasana menjadi gulita bahkan meski di siang hari. Hujan mengguyur sangat deras. Dan beberapa saat kemudian air bah yang tak biasa pun menggenang hebat, menjalar dari Gunung Kapi di barat hingga Gunung Kamula di timur. Setelah semua itu usai, Jawa terpisah dari Sumatra.

Gunung Batuwara kini kita kenal sebagai Gunung Pulosari, salah satu gunung berapi anak di lingkungan kaldera Dano (Banten). Gunung Kapi terletak di sisi barat Gunung Batuwara. Hanya ada satu gunung berapi yang sesuai dengan ciri-ciri Gunung Kapi ini, yakni Gunung Krakatau.

Baik, mari anggap Gunung Krakatau menjadi biang keladi perubahan iklim dramatis di tahun 535, yang menggiring segenap dunia berperadaban menuju ke abad kegelapan lewat letusan sangat dahsyatnya. Nah seberapa besar letusan tersebut?

Gambar 5. Peta kedalaman dasar Selat Sunda berdasar arsip Angkatan Laut Inggris di era perang Napoleon, dipadukan dengan peta topografi daratan Sumatra dan Jawa. Nampak cekungan nyaris membulat selebar sekitar 50 km yang diduga adalah kaldera raksasa produk Letusan Krakatau Purba. Sumber: Wohletz, 2000.

Gambar 5. Peta kedalaman dasar Selat Sunda berdasar arsip Angkatan Laut Inggris di era perang Napoleon, dipadukan dengan peta topografi daratan Sumatra dan Jawa. Nampak cekungan nyaris membulat selebar sekitar 50 km yang diduga adalah kaldera raksasa produk Letusan Krakatau Purba. Sumber: Wohletz, 2000.

Inilah yang ditelusuri seorang Ken Wohletz, ahli kegunungapian (vulkanolog) di Laboratorium Nasional Los Alamos (Amerika Serikat), tempat senjata nuklir pertama dirakit dan diledakkan. Para ahli kegunungapian pada umumnya telah dapat menerima bahwa apa yang kini kita kenal sebagai Kepulauan Krakatau sejatinya merupakan relik (sisa) dari Gunung Krakatau Purba yang demikian besar. Gunung tersebut mungkin menjulang setinggi hingga 2.000 meter dari permukaan laut dengan bentangan kakinya melampar hingga selebar 12 km. Letusan sangat dahsyat di masa silam melenyapkan hampir seluruh tubuhnya dan membentuk kaldera berdiameter sekitar 7 km. Sebagian dinding kaldera yang masih tersembul di atas Selat Sunda sebagai pulau Rakata, Sertung dan Panjang. Pada satu titik di pulau Rakata, kelak di kemudian hari tumbuh Gunung Krakatau yang pada klimaksnya berkembang membesar dengan tiga puncak utamanya: Rakata, Danan dan Perbuwatan. Pasca letusan 1883, seluruh tubuh Gunung Krakatau lenyap menjadi kaldera, kecuali sebagian pulau Rakata. Di tengah-tengah kaldera letusan 1883 inilah tumbuh Gunung Anak Krakatau yang kita kenal sekarang.

Tapi menurut Wohletz, ukuran Gunung Krakatau Purba mungkin lebih besar. Merujuk peta kedalaman Selat Sunda dalam arsip Angkatan Laut Inggris yang berasal dari masa pendudukan di tanah Jawa pada era perang Napoleon, Wohletz mendapati adanya cekungan besar (bergaris tengah sekitar 50 km). Cekungan ini dipagari oleh Kepulauan Krakatau, pulau Sebesi, pulau Sebuku, kaki Gunung Rajabasa dan pulau Sangiang. Jejak tepian cekungan ini di Pulau Sangiang nampak sebagai tebing terjal yang menyayat sebagian tubuh gunung berapi purba pembentuk pulau itu. Terletak tepat di lokasi gunung berapi aktif, tafsiran terbaik akan eksistensi cekungan ini adalah kemungkinan besar merupakan kaldera, lubang besar yang ditinggalkan di permukaan Bumi (dalam hal ini di dasar Selat Sunda) akibat letusan yang teramat dahsyat. Jika kalderanya sebesar ini maka jelas Gunung Krakatau Purba bertubuh jauh lebih besar. Kaki gunungnya mungkin membentang hingga mencakup area berdiameter 50 km atau lebih. Ketinggiannya nampaknya melebihi tinggi Gunung Rajabasa (1.281 meter dpl), mungkin hingga setinggi 3.000 meter atau bahkan lebih.

Gambar 6. Tebing terjal di Pulau Sangiang, yang secara menakjubkan memperlihatkan penampang bagian puncak gunung berapi purba dengan dua kawahnya. Tebing terjal ini kemungkinan merupakan salah satu titik tertinggi dari (dugaan) dinding kaldera raksasa Krakatau Purba yang lebarnya sekitar 50 km. Sumber: Bronto, 2012.

Gambar 6. Tebing terjal di Pulau Sangiang, yang secara menakjubkan memperlihatkan penampang bagian puncak gunung berapi purba dengan dua kawahnya. Tebing terjal ini kemungkinan merupakan salah satu titik tertinggi dari (dugaan) dinding kaldera raksasa Krakatau Purba yang lebarnya sekitar 50 km. Sumber: Bronto, 2012.

Agar sebuah gunung sebesar ini bisa ambruk dan lenyap menjadi kaldera yang berada di bawah permukaan laut, maka harus terjadi subsidens (amblesan) sebesar sekitar 100 meter. Subsidens ini disebabkan oleh kosongnya kantung magma dangkal di dasar gunung seiring dimuntahkannya magma secara besar-besaran dalam letusan yang sangat dahsyat. Jika dianggap diameter kantung magma dangkal tersebut sekitar 50 km, maka subsidens sebesar 100 meter ini hanya bisa disebabkan oleh tersemburnya magma menjadi rempah letusan sebanyak sekitar 200 kilometer kubik (200.000 juta meter kubik).

Lewat program komputer Erupt3 yang dikembangkannya, Wohletz pun telah menyimulasikan sejumlah aspek dalam letusan dahsyat tersebut, dengan bersandar pada beberapa anggapan. Sebelum meletus dahsyat, tubuh Gunung Krakatau Purba demikian besar sehingga menyembul ke atas permukaan Selat Sunda sebagai pulau vulkanis. Pulau ini demikian besar sehingga menutupi hampir seluruh bagian perairan Selat Sunda yang membentang di antara kaki Gunung Rajabasa (Sumatra) hingga Anyer (Jawa). Sebagai gunung berapi laut, perilaku Gunung Krakatau Purba sangat dipengaruhi berlimpahnya air laut yang mengepungnya dari segenap penjuru. Saat letusan mulai terjadi rempah letusan disemburkan Gunung Krakatau Purba hingga setinggi sekitar 20 km dari paras Selat Sunda, sebagai erupsi freatik. Erupsi freatik ini terjadi saat magma segar yang sedang mendesak naik mulai bertemu dengan air laut yang meresap di dalam tubuh gunung, menghasilkan uap panas bertekanan tinggi yang lantas mendobrak titik lemah di sekitar puncak. Tersemburlah uap air bersama debu vulkanik dari magma tua yang sudah membatu.

Erupsi freatik menciptakan lubang letusan, memperlebarnya dan mengawali retak-retak ke segenap arah hingga mulai melemahkan kekuatan batuan penyusun tubuh gunung. Kekuatan yang melemah memungkinkan magma mulai tersembur, lama-kelamaan dalam jumlah kian membesar dan bertekanan sangat tinggi. Terjadilah erupsi magmatik dalam tipe erupsi ultraplinian. Menyeruak dengan suhu sekitar 900 derajat Celcius, magma yang keluar sebagai batuapung dan debu vulkanik melesat dengan kecepatan awal sangat tinggi, sekitar dua kali lipat kecepatan suara, kala terlepas dari lubang letusan. Akibatnya mereka tersembur hingga setinggi 50 km dari paras selat Sunda dan lantas membentuk struktur menyerupai cendawan raksasa, untuk kemudian berjatuhan kembali ke Bumi. Hujan debu vulkanik pekat dan batuapung mengguyur deras hingga radius sekitar 60 km dari lubang letusan.

Gambar 7. Salah satu hasil simulasi program Erupt3 tentang karakter (kemungkinan) Letusan Krakatau Purba 535. Atas: saat letusan hendak mencapai puncaknya sebagai tipe ultraplinian yang menyemburkan material setinggi 60 km dan membentuk awan cendawan raksasa. Bawah: klimaks letusan ditandai dengan letusan tipe freatoplinian akbar dengan semburan material setinggi  30 km dan membentuk awan panas. Kombinasi dua tipe letusan inilah yang membentuk kaldera selebar 50 km dengan memuntahkan 200 kilometer kubik magma. Sumber: Wohletz, 2000.

Gambar 7. Salah satu hasil simulasi program Erupt3 tentang karakter (kemungkinan) Letusan Krakatau Purba 535. Atas: saat letusan hendak mencapai puncaknya sebagai tipe ultraplinian yang menyemburkan material setinggi 60 km dan membentuk awan cendawan raksasa. Bawah: klimaks letusan ditandai dengan letusan tipe freatoplinian akbar dengan semburan material setinggi 30 km dan membentuk awan panas. Kombinasi dua tipe letusan inilah yang membentuk kaldera selebar 50 km dengan memuntahkan 200 kilometer kubik magma. Sumber: Wohletz, 2000.

Pengeluaran magma secara besar-besaran dalam tahap ini membuat kantung magma dangkal di dasar gunung mulai terkosongkan. Bobot tubuh gunung yang sangat besar membuat retak-retak di sekujur tubuhnya kian bertambah. Subsidens pun mulai terjadi. membuat kian banyak saja air laut yang merasuk. Pada saat yang sama tubuh gunung yang kian melemah memungkinkannya memuntahkan magma dalam jumlah lebih besar. Maka klimaks letusan pun terjadilah, saat air laut bercampur langsung dengan magma panas membara membentuk erupsi bertipe freatoplinian akbar. Gelegar suara letusannya terdengar jauh hingga ke daratan Cina. Setiap detiknya gunung ini memuntahkan sekitar 400.000 meter kubik magma yang membentuk debu, lapili (kerikil), bom vulkanik (bongkahan besar) dan batuapung. Rempah vulkanik yang lebih besar dan berat dari debu dan batuapung menyembur hingga ketinggian sekitar 30 km. Setelah membentuk struktur cendawan raksasa, rempah letusan ini pun berjatuhan kembali ke Bumi dalam kondisi masih cukup panas sehingga menjadi awan panas (piroklastika) letusan. Awan panas diperkirakan menjalar hingga sejauh 60 km dari lubang letusan memanggang benda apa saja yang dilewatinya. Setelah klimaks letusan terlampaui, intensitas letusan pun berkecenderungan menurun. Pada saat yang sama tubuh gunung pun terus menghancur dan melesak ke dalam laut membentuk kaldera. Air laut yang masih terus merasuk terus bercampur dengan sisa-sisa magma yang tak tersembur, menghasilkan semburan uap panas bertekanan tinggi bercampur debu vulkanik yang kembali menghambur hingga setinggi sekitar 20 km. Erupsi freatik ini menjadi bab penutup dari kedahsyatan letusan itu.

Dengan memuntahkan sekitar 200 kilometer kubik magma, Letusan Krakatau Purba adalah 25 % lebih besar ketimbang Letusan Tambora 1815 (volume magma 160 kilometer kubik) dan 10 kali lebih dahsyat dari Letusan Krakatau 1883 (volume magma 20 kilometer kubik). Lewat program Erupt3-nya, Wohletz menyimpulkan terkurasnya magma sebanyak itu menyebabkan Gunung Krakatau Purba mengalami subsidens dan mengubah topografinya secara dramatis. Hampir segenap tubuh gunung lenyap terbenam menjadi kaldera, kecuali sebagian kecil area puncak yang masih menyembul di atas permukaan Selat Sunda sebagai pulau kecil. Maka bentang lahan yang selama ini seakan menjembatani pulau Jawa dan Sumatra pun terputus sudah.

Gambar 8. Hasil simulasi program Erupt3 terkait (kemungkinan) perubahan topografi Gunung Krakatau Purba antara sebelum dan sesudah letusan dahsyatnya di tahun 535. Sebelum letusan, tubuh gunung merentang demikian lebar hingga berperan sebagai jembatan alamiah penghubung daratan pulau Sumatra dan Jawa. Setelah letusan, jembatan tersebut menghilang berganti dengan kaldera 50 km yang tergenangi air laut sebagai bagian dari Selat Sunda. Sumber: Wohletz, 2000.

Gambar 8. Hasil simulasi program Erupt3 terkait (kemungkinan) perubahan topografi Gunung Krakatau Purba antara sebelum dan sesudah letusan dahsyatnya di tahun 535. Sebelum letusan, tubuh gunung merentang demikian lebar hingga berperan sebagai jembatan alamiah penghubung daratan pulau Sumatra dan Jawa. Setelah letusan, jembatan tersebut menghilang berganti dengan kaldera 50 km yang tergenangi air laut sebagai bagian dari Selat Sunda. Sumber: Wohletz, 2000.

Letusan sangat dahsyat yang mengambil tempat di sebuah pulau vulkanis ini jelas membentuk gelora raksasa atau tsunami. Tsunami terbentuk seiring ambruknya tubuh gunung ke dasar laut bersamaan dengan hempasan awan panas yang menjalar di dasar laut. Seberapa besar daya hancur tsunaminya belum bisa diketahui. Di sisi lain, dampak letusan sangat dahsyat ini sangat terasa di sekujur penjuru Bumi. Dari 200 kilometer kubik magma, 10 hingga 80 kilometer kubik diantaranya berupa debu vulkanik halus yang terinjeksi demikian tinggi hingga memasuki lapisan stratosfer. Namun tak hanya debu. Letusan juga mengubah sekitar 150 meter kubik air laut menjadi uap sebanyak sekitar 200.000 kilometer kubik. Separuh diantaranya mengembun kembali di ketinggian rendah, namun sisanya membumbung tinggi memasuki lapisan stratosfer dan berubah menjadi kristal-kristal es. Pada saat yang sama juga tersembur sekitar 180 juta ton gas belerang, yang lantas bereaksi dengan uap air membentuk tetes-tetes asam sulfat. Sirkulasi atmosferik di lapisan stratosfer membuat debu, aerosol asam sulfat dan kristal es tersebar ke segenap penjuru dan menciptakan tabir surya vulkanik demikian tebal. Ketebalannya mencapai sekitar 20 hingga 150 meter, yang melayang di ketinggian 30 km tanpa bisa dicuci oleh proses cuaca.

Dampaknya sangat menyiksa Bumi hingga beberapa tahun kemudian. Tabir surya vulkanik nan tebal ini menghalangi 50 % cahaya Matahari yang seharusnya diteruskan ke Bumi. Terjadilah penurunan suhu rata-rata permukaan Bumi, yang bisa mencapai 5 derajat Celcius di bawah normal. Imbasnya udara menjadi lebih dingin, tutupan es pun menyebar keluar dari lingkaran kutub dan jumlah uap air yang diproduksi dari lautan pun menurun. Akibat lebih lanjutnya, cuaca pun sangat terganggu. Kekeringan berlangsung dimana-mana, meski tak jarang juga terjadi hujan sangat lebat hingga badai yang salah musim. Keberadaan kristal-kristal es di lapisan stratosfer pun berdampak pada hancurnya lapisan Ozon. Sinar ultraviolet beta dari Matahari pun membanjir deras tanpa terhalangi dan bekerja merusak sel-sel makhluk hidup. Secara keseluruhan letusan ini benar-benar membuat Bumi menjadi tak nyaman ditinggali makhluk hidup, khususnya manusia. Tak heran jika abad kegelapan pun terjadilah.

Masa Depan

Di atas kertas, seperti itulah kedahsyatan Letusan Krakatau Purba, yang diperkirakan terjadi pada tahun 535. Tentu saja butuh penelitian lebih lanjut guna memastikan apakah semua atau sebagian hasil simulasi itu memang benar-benar terjadi ataukah tidak. Yang jelas, lapisan debu setebal 20 meter yang terjepit di antara lapisan produk letusan 8.000 tahun silam dan lapisan produk Letusan Krakatau 1215 memastikan bahwa pada suatu waktu di masa silam Gunung Krakatau memang pernah meletus dengan kedahsyatan letusan yang jauh lebih besar ketimbang Letusan Krakatau 1883.

Sifat Gunung Krakatau yang gemar meletus dahsyat dan menghancurkan dirinya sendiri, setidaknya sudah tiga kali terjadi, tentu harus menjadi perhatian. Terlebih kawasan Selat Sunda kian memegang peranan penting. Perairan ini menjadi salah satu urat nadi terpenting bagi Indonesia modern, sebagai jalur penghubung antara pulau Sumatra dan Jawa lewat laut. Bahkan kelak jalur darat pun bakal tersambung dengan Jembatan Selat Sunda, meski pembangunannya masih dalam rencana dan terus menuai kontroversi. Pusat-pusat pertumbuhan ekonomi juga terus berdiri di sini. Alangkah baiknya jika segenap kepentingan manusia yang didirikan di kawasan ini tetap menyesuaikan diri dengan sifat alamiah Gunung Krakatau. Itu untuk kebaikan kita sendiri. Karena kita manusialah yang harus menyesuaikan diri dengan dinamika alam semesta, bukan sebaliknya. Dalam kasus Gunung Krakatau, kitalah yang harus bersiap semenjak dini andaikata gunung berapi lasak ini kembali mempertontonkan kedahsyatannya di masa depan.

Referensi:

Wohletz. 2000. Were the Dark Ages Triggered by Volcano-related Climate Changes in the 6th Century? EOS Trans Amer Geophys Union 48(81), F1305.

Bronto. 2012. Gunung Padang Berdasarkan Pandangan Geologi Gunung Api. Kertas Kerja Rembug Nasional Gunung Padang, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.