Dieng, Desa yang Hilang dan Elegi Api di Atas Awan

Terbanglah di atas Dataran Tinggi Dieng, daerah yang secara administratif dimiliki oleh dua kabupaten yakni Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo di propinsi Jawa Tengah. Kita bisa terbang secara fisik, entah secara langsung menggunakan pesawat ultralight maupun secara tak langsung dengan PUNA (pesawat udara nir awak) atau lebih dikenal sebagai dron (drone). Tetapi bisa juga kita terbang secara non-fisik, dengan menggunakan program komputer (software) atau aplikasi pemetaan populer seperti Google Earth maupun Google Maps. Tetapkan koordinat 7º 12′ LS 109º 51′ BT (-7,2; 109,85) sebagai titik awal. Lalu bergeraklah perlahan ke barat.

Jika dilakukan dengan benar maka panorama memukau Dataran Tinggi Dieng bagian barat pun tersajilah. Tepatnya panorama di sekitar kota Batur (Kabupaten Banjarnegara). Kita akan menyaksikan bentang lahan berbukit-bukit yang terbagi-bagi ke dalam bidang-bidang lahan tertentu berpola geometris khas. Lahan-lahan pertanian mudah dikenali sebagai kotak persegi empat mengikuti kontur tanah. Di lereng yang curam, kotak-kotak itu ramping dan membentuk sistem undak-undakan (terasering). Sebaliknya di lereng landai, kotak-kotak tersebut nampak lebih lebar.

Gambar 1. Panorama sebagian Dataran Tinggi Dieng barat di sekitar koordinat 7º 12′ LS 109º 51′ BT. Nampak Desa Pesurenan dan bekas Desa Kepucukan. Desa Kepucukan adalah desa yang hilang pasca tragedi seiring meletusnya Telaga Sinila (Kawah Sinila) di tahun 1979 TU. Sumber: Sudibyo, 2017 dengan basis Google Earth.


Sekitar setengah kilometer ke barat daya dari titik awal penerbangan kita, tersaji panorama berbeda. Tempat ini juga lahan pertanian, namun pola geometrisnya berbeda. Ukuran kotak-kotak di sini lebih kecil dibanding lahan pertanian disekelilingnya. Mereka juga cenderung menampakkan geometri mendekati bujursangkar, bukan persegi empat. Saat dibandingkan dengan geometri lahan pemukiman, misalnya di kota Batur (sebelah barat) maupun desa Pesurenan (sebelah timur), terlihat geometri lahan di tempat itu relatif serupa dengan lahan pemukiman. Inilah lokasi dari sebuah desa yang hilang. Sebelum tahun 1979 Tarikh Umum (TU), tempat ini bernama Desa Kepucukan, bagian dari kecamatan Batur (Kabupaten Banjarnegara).

Kepucukan

Kita mungkin pernah mendengar tentang desa yang hilang di Dataran Tinggi Dieng. Namun hampir semuanya selalu merujuk ke dusun Legetang, bagian dari Desa Kepakisan (juga di kecamatan Batur). Dusun yang makmur itu lenyap dalam semalam dan terhapus dari peta setelah bencana tanah longsor dahsyat menimbuni sepenuhnya pada tengah malam 16 April 1955 TU. Kecuali jasad kepala dusun, segenap 350 orang penduduk dan tamu yang berkunjung ke dusun tersebut pada malam naas itu tertimbun di bawah berton-ton material tebal produk longsoran lereng sektor tenggara Gunung Pangamun-amun.

Gambar 2. Pintu masuk ke bekas desa Kepucukan dengan gapura yang masih berdiri tegak. Desa Kepucukan dinyatakan dihapus secara administratif pasca Tragedi Sinila 1979 dan dinyatakan sebagai kawasan terlarang. Meski demikian pelanggaran sering terjadi. Sumber: BanyumasNews/Nanang, 2014.


Tetapi sesungguhnya ada beberapa desa yang hilang di Dieng. Salah satunya adalah desa Kepucukan. Berbeda dengan ketampakan bekas dusun Legetang yang kini hanya berupa bukit kecil sebagai kuburan massal bagi ratusan penduduknya, bekas desa Kepucukan masih mudah dikenali baik dalam citra satelit maupun foto udara. Desa Kepucukan hilang setelah dinyatakan dihapus pemerintah Kabupaten Banjarnegara pada tahun 1979 TU, menyusul malapetaka memilukan Tragedi Sinila. Tragedi itu merenggut nyawa 149 orang dan memaksa tak kurang dari 15.000 orang lainnya di kawasan Dataran Tinggi Dieng bagian barat untuk mengungsi. Tragedi ini sekaligus menyajikan gambaran nyata bagi dunia, betapa sebuah gunung berapi yang bererupsi dalam skala kecil bisa berujung pada malapetaka berskala besar dalam situasi khusus.

Tragedi Sinila terjadi pada Selasa 20 Februari 1979 TU. Petaka diawali oleh rentetan tiga gempa dangkal berturut-turut. Gempa pertama terjadi pada pukul 01:55 WIB. Getarannya cukup keras dengan skala intensitas mungkin mencapai 4 hingga 5 MMI (Modified Mercalli Intensity) sehingga cukup kuat untuk membangunkan orang-orang yang terlelap di kota Batur. Gempa kedua menyusul terjadi pada pukul 02:40 WIB, getarannya juga cukup kuat pula hingga dirasakan warga desa Pesurenan. Dan gempa terakhir mengguncang pada pukul 04:00 WIB.

Gambar 3. Panorama Kawah Sinila dan Kawah Sigludug, dua kawah yang berperan besar Tragedi Sinila 1979. Kawah Sinila tergenangi air sebagai telaga, sementara Kawah Sigludug tetap kering. Kawah Sigludug baru muncul pada 20 Februari 1979 TU. Sumber: Sudibyo, 2017 dengan basis Google Earth.


Tanpa disadari penduduk yang tinggal diatasnya, rentetan gempa menyebabkan kesetimbangan rapuh dalam perut bumi Dataran Tinggi Dieng bagian barat terganggu berat. Retakan-retakan timbul dan menyebar dalam tanah yang sejatinya sudah rapuh karena dibelah oleh aneka sesar dan diperlemah oleh alterasi hidrotermal khas vulkanisme. Retakan-retakan itu juga menembus cebakan-cebakan (reservoir) gas vulkanik yang ada di kedalaman sekitar 1 hingga 2 kilometer. Akibatnya isi cebakan berupa gas karbondioksida (CO2) dan uap air bertekanan tinggi pun segera meraih jalan keluarnya.

Gerakan gas dan uap itu memilih jalan termudah yang sudah ada, yakni titik lemah yang berujung di Kawah Sinila. Penduduk Dieng sudah lama mengenal kawah ini. Ia adalah cekungan bergaris tengah sekitar 50 meter yang terisi air sehingga menjadi sebuah telaga (danau kecil) yang diberi nama Telaga Nila atau Telaga Sinila. Kawah yang ini kurang populer dibandingkan dengan kawah-kawah tetangganya seperti Kawah Candradimuka, Telaga Dringo dan Sumur (kawah) Jalatunda. Penduduk juga mengenalnya sebagai kawah yang kalem, tak seperti Kawah Timbang yang juga tetangganya namun lasak. Akan tetapi kesan kalem itu akan segera terhapus pada petaka Selasa pagi itu.

Erupsi freatik pun terjadilah, yang dimulai sejak pukul 05:04 WIB. Dorongan sangat kuat dari gas dan uap bertekanan tinggi membobol dasar Kawah Sinila diiringi dentuman menggelegar. Material letusan pun menyembur tinggi hingga beberapa ratus meter, membentuk kolom coklat gelap meraksasa yang mendirikan bulu roma. Bongkahan-bongkahan tanah dan bebatuan hingga seukuran 40 sentimeter mulai terlontar hingga sejarak 150 meter dari kawah. Bersamaan dengannya uap pekat pun terus mengepul. Tanah bergetar. Sekitar pukul 06:00 WIB terjadilah semburan kedua. Horor kian mencekam saat tanah sejarak 250 meter di sebelah barat-baratdaya kawah Sinila mendadak berlubang pada pukul 06:50 WIB. Kawah baru ini sontak menyemburkan material letusan dan kepulan uap pekat. Ia rajin mengirimkan suara gemuruh susul menyusul mirip petir. Dalam istilah setempat petir memiliki nama gluduk atau gludug. Sehingga kawah baru itupun mendapatkan nama Kawah Sigludug.

Gambar 4. Rekonstruksi aliran lahar dari Kawah Sinila dan Kawah Sigludug dalam peristiwa erupsi 1979 yang berujung pada Tragedi Sinila. Nampak aliran lahar mengepung Desa Kepucukan dari arah utara dan timur sehingga hanya menyisakan arah ke barat sebagai pilihan untuk menyelamatkan diri, yang berujung pada tragedi. Digambar ulang dari Guern dkk (1982). Sumber: Sudibyo, 2017 dengan basis Google Earth.


Pada pukul 06:00 WIB itu kawah Sinila mulai melelehkan lahar. Lahar bergerak mengikuti alur batang sungai kecil didekatnya. Sekitar pukul 07:00 WIB, kawah Sinila kembali memuntahkan laharnya. Lahar mengalir hingga sejauh kurang lebih 4 kilometer, memotong jalan raya utama Dieng dan hampir menjangkau jalan lintas selatan di dekat desa Kaliputih. Kawah Sigludug pun turut memuntahkan lahar, namun dengan volume lebih sedikit. Lahar Sigludug hanya mengalir sejauh sekitar 1 kilometer saja mengikuti alur batang kali Tempurung untuk kemudian berhenti sebelum gerbang desa Kepucukan.

Kejadian ini sontak menggemparkan penduduk Dataran Tinggi Dieng bagian barat. Warga enam desa yang mengitari kawah Sinila dan kawah Sigludug pun mengungsi. Termasuk desa Kepucukan. Namun tanpa disadari penduduk Kepucukan, takdir kebumian menempatkan mereka dalam simalakama. Desa ini dijepit dua lembah sungai, baik di sisi timur maupun barat. Terdapat tiga jalur untuk keluar masuk desa, masing-masing ke utara menuju jalur raya utama Dieng. Lalu ke timur menuju desa Pesurenan dan yang terakhir ke barat menuju kota Batur. Sebagian jalur ke barat adalah jalan setapak yang menyeberangi kali Tempurung dan berujung di jalur jalan raya lintas utara Dieng sejarak 1,5 kilometer sebelah timur kota Batur. Di sini berdiri bangunan SD (sekolah dasar) Inpres Kepucukan.

Liang Maut

Pada horor Selasa pagi itu penduduk Kepucukan tak mungkin mengungsi ke utara. Itu sama saja menuju marabahaya, karena disanalah Kawah Sinila dan Kawah Sigludug berada. Mereka juga tak mungkin ke timur, sebab lahar Sinila telah memutus jalur tersebut. Maka pilihan rasional yang tersedia adalah ke barat. Akan tetapi tak satupun menyadari bahwa jalur barat yang dikira aman sesungguhnya adalah jalur maut.

Gambar 5. Lokasi jalur maut Tragedi Sinila 1979, digambar ulang dari Guern dkk (1982) Direktorat Vulkanologi (1979). Nampak pula posisi liang-liang maut penyembur gas karbondioksida, yang turut berkontribusi pada jatuhnya korban terutama di sekitar SD Inpres Kepucukan. Sumber: Sudibyo, 2017 dengan basis Google Earth.


Rentetan gempa disusul erupsi kawah Sinila dan kawah Sigludug membuat tanah yang sudah rapuh itu kian retak-retak di banyak tempat. Beberapa dari retakannya menjulur hingga muncul di paras bumi, sebagai rekahan atau liang kecil. Seperti halnya di Kawah Sinila dan Kawah Sigludug, dari liang-liang kecil ini tersembur gas CO2. Dua liang muncul di sekitar Kawah Timbang. Kawah Timbang sendiri juga turut menyemburkan gas yang sama. Densitas (massa jenis) gas CO2 lebih berat dibanding udara, sehingga selalu menempel ke paras tanah. Keterikatan gas CO2 dengan uap air seperti yang umum dijumpai di Dieng membuat densitasnya menjadi lebih besar. Sehingga ia menjadi laksana air mengalir, bergerak dari tempat yang tinggi ke rendah dengan dikendalikan gravitasi Bumi.

Kombinasi semburan gas CO2 dari dua liang dan Kawah Timbang mengalir jauh ke selatan-baratdaya, menyusuri lembah sungai kecil. Sejarak 800 meter dari kawah Timbang, aliran maut ini bersua dengan barisan pengungsi Kepucukan yang sedang menyusuri jalan raya utama Dieng menjelang kompleks makam (bong) Cina, sekitar 1 kilometer dari kota Batur. Tak terelakkan lagi dalam tempo singkat barisan ini bertumbangan di tempatnya masing-masing. Pingsan lalu meregang nyawa. Sisanya, yang melihat barisan bagian depan gugur, sontak berbalik arah kembali ke Kepucukan. Tanpa disadari, liang-liang kecil yang sama juga bermunculan di sekitar SD Inpres Kepucukan. Bahkan ada empat liang disini, satu diantaranya persis di pinggir jalan setapak. Tak pelak, CO2 pun menyambar-nyambar. Sebanyak 145 orang meregang nyawa di jalan raya.

Gambar 6. Daerah bahaya dalam Tragedi Sinila 1979, digambar ulang dari Direktorat Vulkanologi (1979). Nampak segenap Desa Kepucukan tercakup ke dalam daerah bahaya, sehingga desa ini terlalu rawan untuk dihuni kembali. Sumber: Sudibyo, 2017 dengan basis Google Maps.


Mulai pukul 11:00 WIB aktivitas di kawah Sinila dan Sigludug cenderung mereda. Letusan benar-benar berhenti pada keesokan harinya. Secara keseluruhan erupsi Sinila dan Siglugug memiliki skala 1 VEI (Volcanic Explosivity Index), karena muntahan material letusannya kurang dari sejuta meter kubik. Kawah Sinila sendiri hanya memuntahkan 15.000 meter3 lahar dengan komponen lava didalamnya adalah lava tua (berasal dari magma tua, tanpa keterlibatan magma segar).

Kaldera

Banjarnegara pun gempar kala menyaksikan ratusan penduduk Kepucukan telah bergelimpangan tanpa nyawa. Upaya evakuasi intensif terutama mulai Rabu pagi (21 Februari 1979 TU) juga diiringi jatuhnya lagi 4 korban jiwa dari relawan. Butuh waktu tiga hari untuk mengevakuasi seluruh jasad korban. Seluruh jasad disemayamkan secara terpisah di tiga lokasi dalam kota Batur, yakni di kantor Koramil, Masjid Batur dan kantor kecamatan. Mereka semua lantas dimakamkan pada sebuah pemakaman massal di tengah-tengah ladang kentang tak jauh dari kota Batur. Sebuah tugu peringatan didirikan di sini.

Indonesia dan juga dunia dibuat terpana menatap korban-korban tragedi Sinila. Tragedi letusan gunung berapi yang aneh, karena jasad para korban nampak relatif bersih tanpa diselimuti debu vulkanik. Perhatian besar pun tertuju ke kawasan Dataran Tinggi Dieng. Ebiet G Ade mengabadikan tragedi ini dengan apik dalam lagunya Berita kepada Kawan di album Camelia III.

Penyelidikan memperlihatkan korban-korban berjatuhan akibat paparan gas CO2 dalam konsentrasi tinggi. Selain di sekitar kawah Timbang dan SD Inpres Kepucukan, liang-liang gas itu juga muncul di sejumlah titik. Sebagian diantaranya terkonsentrasi di tepi barat Kali Tempurung. Sebagian diantaranya juga sudah diketahui sebelum tahun 1979 TU. Konsentrasi gas CO2 demikian pekat hingga mencapai 40 kali lipat ambang batas aman. Eksistensi liang-liang tersebut dan hasil pengukuran gas vulkanik di berbagai titik menjadi alasan Direktorat Vulkanologi (kini Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/PVMBG) untuk membentuk Daerah Bahaya Dieng. Zona tersebut terbagi ke dalam dua zona, yakni zona tertutup total dan tertutup sebagian. Tidak boleh ada orang yang masuk dan beraktivitas di zona tertutup total, apapun alasannya. Sementara pada zona tertutup sebagian boleh dimasuki dan ada aktivitas manusia meski terbatas hanya di siang hari dan hanya pada saat angin berhembus.

Segenap desa Kepucukan dan desa Simbar tercakup ke dalam Daerah Bahaya Dieng ini. Beberapa bulan kemudian pemerintah kabupaten Banjarnegara mengambil keputusan menghapus desa Kepucukan dan desa Simbar secara administratif. Sebagian dari penyintas (survivor) di kedua desa diikutsertakan program transmigrasi ke pulau Sumatra. Sebagian lainnya berpindah tempat tinggal ke desa-desa tetangga. Seluruh bangunan di bekas kedua desa pun dibongkar. Namun lahan tempat bangunan-bangunan itu semula berdiri tetap dibiarkan apa adanya. Inilah yang membuat bekas desa Kepucukan mudah dikenali dari udara.

Gambar 7. Struktur kompleks vulkanik Dieng, yang terdiri dari kaldera (garis merah) di sisi timur dan graben/cekungan Batur (garis hitam) di sisi barat. Nampak sejumlah kerucut vulkanis yang tumbuh dalam kompleks vulkanik ini. Digambar ulang dari Sukhyar (1994). Sumber: Sudibyo, 2017 dengan basis Google Maps.


Tragedi Sinila menampakkan salah satu wajah Dieng, yakni wajah ancaman. Wajah yang merugikan bagi kehidupan umat manusia dan makhluk hidup lainnya. Di sisi lain Dataran Tinggi Dieng juga memiliki wajah yang ramah, yakni wajah keindahan. Ancaman dan keindahan memang berbaur menjadi satu bagi tanah yang adalah dataran tinggi tertinggi kedua di dunia setelah Dataran Tinggi Tibet.

Secara geologis Dataran Tinggi Dieng adalah kaldera, atau cekungan (depresi) vulkano-tektonik. Jadi ia adalah produk dari letusan dahsyat sebuah gunung berapi, yang di kemudian hari nampaknya diikuti oleh pergerakan tektonik khususnya pematahan (pensesaran). Dalam hal ini Dataran Tinggi Dieng memiliki kemiripan dengan Danau Toba, meski tentu saja dari segi ukurannya jauh lebih kecil. Karena aktivitas vulkaniknya maka dataran tinggi ini disebut juga Kompleks Vulkanik Dieng.

Kompleks vulkanik Dieng mencakup area sepanjang 14 kilometer (arah barat-timur) dan lebar 6 kilometer (arah utara-selatan). Antara setengah hingga satu juta tahun silam, sebagian kompleks vulkanik ini adalah bagian barat dari Gunung Prahu tua. Suatu letusan dahsyat dialami Gunung Prahu tua pada masa akhir hidupnya, menghasilkan kaldera yang memiliki diameter 7 kilometer. Sisa tubuhnya (tinggal setinggi 2.566 meter dpl) menjadi Gunung Prahu muda yang juga adalah batas sisi timur kaldera. Batas sisi barat dan selatannya masing-masing diduduki Gunung Nagasari (2.365 meter dpl) dan Gunung Bisma (2.365 meter dpl), dua kerucut vulkanik yang lahir dalam aktivitas pascakaldera.

Aktivitas pascakaldera juga membentuk Gunung Seroja (2.275 meter dpl), yang di kemudian hari mengalami erupsi parasitik di kakinya dan membentuk kawah 800 meter yang lantas terisi air sebagai Telaga Menjer. Lalu terbentuk pula Gunung Merdada dan Gunung Pangonan (2.308 meter dpl). Puncak keduanya juga berhias kawah, namun hanya kawah Merdada saja yang tergenangi air sebagian menjadi Telaga Merdada. Di sekitar jajaran Gunung Pangonan dan Merdada inilah kemudian lahir Gunung Pagerkandang/Sipandu (2.241 meter dpl) dan Igir Binem. Gunung Pagerkandang memiliki kawah kering, namun di kakinya tumbuh kawah parasiter yang tergenangi air menjadi telaga Sileri. Sementara Igir Binem memiliki dua kawah berisi air yang saling berdampingan, masing-masing Telaga Warna dan Telaga Pengilon.

Kerucut-kerucut vulkanis ini mulai tumbuh sekitar 17.000 tahun silam. Sementara leleran lava termuda dalam kaldera berumur 8.500 tahun, yakni aliran lava Sikunang. Setelah itu masih lahir lagi sejumlah kerucut vulkanik seluruhnya terkonsentrasi di dekat batas selatan kaldera. Misalnya Gunung Sidede (2.231 meter dpl), Gunung Pakuwaja (2.395 meter dpl), Gunung Sikunir (2.463 meter dpl), Gunung Sikendil (2.340 meter dpl), Gunung Prambanan dan Gunung Watusumbul (2.154 meter dpl).

Setelah kaldera Dieng terbentuk dan aktivitas pascakaldera mulai tumbuh, ketidakstabilan masih berlangsung di sisi barat. Hingga terjadilah pensesaran turun atau pengamblesan (subsidence) yang membentuk graben Batur. Segera sesar-sesar di graben menjadi jalur-jalur lemah yang dilalui magma dari dapur magma di bawah kaldera. Sehingga sejumlah kerucut vulkanis pun lahir. Misalnya Gunung Dringo dan Gunung Petarangan (2.135 meter dpl). Keduanya muncul pada masa yang sama dengan lahirnya Gunung Pangonan dan Gunung Merdada. Lalu Gunung Legetang, yang lahir tepat di sisi timur graben Batur. Baik di dalam kaldera maupun graben Batur, kerucut-kerucut vulkanik tersebut menjulang mulai dari setinggi 100 hingga 300 meter dari paras dataran Dieng.

Gambar 8. Diagram skematik sederhana tentang sistem sesar besar Kebumen-Muria-Meratus dan Cilacap-Pamanukan-Lematang di Jawa Tengah. Aktivitas sistem sesar besar ini diduga menjadi penyebab kompleks vulkanik Dieng “terdorong” ke utara dari lokasi seharusnya. Digambar ulang dari Satyana dan Purwaningsih (2002) Sumber: Sudibyo, 2015.


Dibanding jajaran gunung berapi aktif di tanah Jawa yang bergabung dalam jalur vulkanik Jawa muda, kompleks vulkanik Dieng terletak terlalu ke utara. Selain Dieng, hanya ada tiga gunung berapi muda Jawa yang juga berposisi demikian. Masing-masing Gunung Ciremai, Gunung Ungaran dan Gunung Muria. Keempat gunung berapi tersebut bisa menyebal keluar dari jalur vulkanik Jawa muda akibat aktifnya dua sesar besar, masing-masing sesar besar Kebumen-Muria-Meratus dan sesar besar Cilacap-Pamanukan-Lematang. Selain menjadi penyebab keluarnya kompleks vulkanik Dieng dari jalur vulkanik Jawa muda, dua sesar besar tersebut juga bertanggung jawab atas lebih sempitnya lebar pulau Jawa di bagian tengah ketimbang di bagian barat maupun timur.

Api di Atas Awan

Kompleks vulkanik Dieng adalah satu-satunya gunung berapi berkaldera yang ada di Jawa Tengah. Aktivitas pascakaldera disini dalam kurun 17.000 tahun terakhir telah membentuk tak kurang dari 100 kawah. Sebagian besar diantaranya, yakni sekitar 70 kawah, terkonsentrasi dalam kaldera. Sementara sisanya, yakni sekitar 30 kawah, mengambil tempat dalam graben Batur.

Gambar 9. Kawah Timbang, diabadikan dari sisi utara. Kawah kering ini dikenal rajin menyemburkan gas karbondioksida yang terikat uap air. Gas tersebut akan mengalir menuruni lembah di latar belakang. Sebagian korban Tragedi Sinila menghirup gas beracun dari kawah Timbang ini. Sumber: Aldhila Gusta, 2014.


Dengan lokasinya yang menjulang di ketinggian dan dipahat secara simultan oleh panas magma dan air hujan selama beribu-ribu tahun, tak heran bila kompleks vulkanik Dieng menjadi tempat yang eksotis. Eksotisme yang telah dikenal sejak beratus-ratus tahun silam. Peradaban Jawa masa kuna bahkan menempatkannya dalam posisi tempat suci sesuai dengan kosmologi yang diyakini. Candi-candi Hindu tertua di Jawa pun berdiri di sini, yang dibangun di masa Kerajaan Medang. Dua pusat kerajaan Medang pada zamannya, yakni Mamrati dan Poh Pitu, pun (diduga) terletak tak jauh dari Dieng yakni di sebelah timur Gunung Sindoro. Candi-candi tersebut kini menjadi tempat kunjungan wisatawan yang ramai.

Selain candi, Dieng juga banyak dikunjungi karena aktivitas pascakalderanya. Hanya di Dieng kita bisa ‘merasakan’ gelegak aktivitas vulkanik dalam jarak yang begitu dekat seperti di Kawah Sikidang. Suatu sensasi yang unik karena api (kawah) itu berada di daerah yang sesungguhnya dingin menggigil karena berlokasi di atas garis awan. Panorama di aneka telaga seperti Telaga Warna, Telaga Pengilon dan Telaga Menjer pun sungguh menawan. Pada aras yang lain, kompleks vulkanik ini terkenal akan kesuburan tanahnya, salah satu ciri khas kawasan vulkanik. Dengan kesuburan lahannya dan ditunjang oleh kedudukannya di ketinggian, lahan pertanian Dieng menjadi produsen kentang terbesar se-Indonesia.

Gambar 10. Kawah Sikendang, tepat di tepi jalur lalu-lalang antara Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Dengan konsentrasi gas CO2 yang dilepaskan kawah ini mencapai 74 % maka perlu penataan lebih lanjut agar pengunjung tidak tepat berada di bibir kawah. Sumber: Geomagz/Parpar Priatna, 2015.


Akan tetapi high risk high gain, sisi eksotika Dieng sebanding dengan sisi ancamannya. Kompleks ini adalah kompleks vulkanik yang masih aktif, sehingga gejolak magmanya kerap menghasilkan erupsi. Meski dalam tiga abad terakhir karakter letusan di Dieng berupa erupsi freatik yang kerap diikuti lontaran/semburan lumpur dengan lubang letusan yang berbeda-beda. Erupsi di Dieng memiliki skala yang kecil, hanya 1 hingga 2 VEI, terhitung sejak catatan tahun 1786 TU. Gelegak magma juga memanasi tubuh kompleks vulkanik Dieng dengan begitu intensif dan berkesinambungan sehingga laksana dikukus terus menerus. Akibatnya terjadi alterasi hidrotermal (persentuhan dengan cairan panas produk aktivitas vulkanik), yang melemahkan kekuatan batuan. Sehingga tanah Dieng menjadi lebih rapuh dan mudah longsor. Diduga pernah terjadi letusan yang cukup besar dengan segala akibatnya sehingga Dieng sempat kosong dari hunian manusia selama beberapa waktu, sebelum kemudian mulai dihuni kembali di abad ke-19 TU.

Gambar 11. Distribusi gas karbondioksida dalam tanah pada kompleks vulkanik Dieng. Nampak konsentrasi tertinggi (lebih dari 25 %) dijumpai baik dalam kaldera maupun graben Batur. Sumber: UGM/Fak. Geografi, 2014.


Namun ancaman paling menonjol di Dieng adalah gas beracunnya, dalam wujud gas CO2. Gas ini adalah gas vulkanik, berasal dari magma segar nun jauh di kedalaman Dieng. Magma segar tersebut tak bergerak, namun melepaskan cairan hidrotermal yang kaya gas CO2 secara kontinu. Berkurangnya tekanan saat bergerak ke atas membuat cairan superpanas ini mengalami pendidihan pada kedalaman sekitar 4,5 kilometer sehingga terbentuklah gas CO2 yang kaya uap air. Campuran ini terus bergerak ke atas sembari terus memperkaya konsentrasi gas CO2-nya hingga akhirnya tiba di cebakan-cebakan pada kedalaman sekitar 1 kilometer. Dari sini sebagian gas tersebut mengalir keluar terutama lewat lubang-lubang kawah. Namun sebagian lainnya tetap tersekap dalam cebakan dan dalam tanah.

Kawah Sikidang melepaskan gas CO2 dalam konsentrasi 5,7 % yang tergolong rendah. Sebaliknya Kawah Sileri, yang paling rajin meletus itu, memiliki konsentrasi gas CO2 yang cukup tinggi, yakni sebesar 56 %. Bahkan Kawah Sikendang, kawah kecil tak populer yang terletak di sisi Telaga Warna, melepaskan gas CO2 hingga 73,8 %. Pengukuran gas CO2 dalam tanah menunjukkan bahwa baik kaldera maupun graben Batur umumnya mengandung gas CO2 dalam konsentrasi lebih dari 0,5 % (angka batas aman). Sebaliknya konsentrasi gas CO2 di udara terbuka hanya berkisar 0,03 % atau setara dengan lingkungan selain Dieng. Kandungan gas CO2 yang besar di dalam tanah membawa implikasi bahwa mereka bisa terbebaskan ke udara saat terjadi gangguan besar dalam tanah Dieng, baik berupa gempa bumi maupun letusan gunung berapi.

Referensi:

IAVCEI. 2000. Crater Lakes of Java: Dieng, Kelud and Ijen, Excursion Guidebook. International Association of Volcanology and Chemistry of the Earth’s Interior, 2000 General Assembly. Bali: Denpasar.

Rizal. 2014. Kajian Sebaran dan Karakteristik Kawah di Gunungapi Dieng. Kuliah Kerja Lapangan 3, Fakultas Geografi UGM, Yogyakarta.

Priatna. 2015. Menata Eksotisme Dieng. Majalah Geomagz, vol. 5 no. 3 September 2015, hal. 35-39.

Guern dkk. 1982. An Example of Health Hazard, People Killed by Gas during a Phreatic Eruption: Dieng Plateau (Java, Indonesia), February 20th 1979. Bulletin of Volcanology, vol. 45-2 (1982), hal. 153-156.

Sukhyar dkk. 1994. Peta Geologi Komplek Gunungapi Dieng, Jawa Tengah. Direktorat Vulkanologi.

Global Volcanism Program. Dieng Volcanic Complex. Smithsonian Institution, National Museum of Natural History.

Nanang. 2014. Kompleks Sinila dan Timbang Jadi Incaran Penggarap. BanyumasNews.com, 5 April 2014.

Hiroshima, Nagasaki dan Indonesia Merdeka

Pertanyaan ini menggelitik: andaikata kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang tidak dibom nuklir, akankah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945 Tarikh Umum (TU)?

Duo proklamator kita Ir. Soekarno dan Drs. Moh Hatta membacakan naskah proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta pada waktu yang sungguh langka dan tepat. Indonesia secara faktual sedang mengalami kekosongan kekuasaan pada saat itu. Tatanan geopolitik regional sedang berubah dramatis akibat pemboman nuklir Hiroshima (6 Agustus 1945 TU) dan Nagasaki (9 Agustus 1945 TU) yang dibarengi invasi Uni Soviet ke pendudukan Jepang di Mansyuria (sejak 9 Agustus 1945 TU). Tiga peristiwa beruntun itu memaksa kaisar Hirohito mengambil langkah tak terduga, berpidato untuk pertama kalinya di radio nasional Jepang. Hirohito memaklumatkan kekaisaran Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, tepatnya kepada Amerika Serikat. Penyerahan diri tersebut efektif per 15 Agustus 1945 TU. Meski secara formal penyerahan diri Jepang baru terlaksana setengah bulan lebih kemudian. Tepatnya pada 2 September 1945 TU dalam sebuah upacara di geladak kapal perang USS Missouri milik Angkatan Laut Amerika yang berlabuh di Teluk Tokyo.

Menyusul penyerahan diri di Teluk Tokyo, pemerintahan pendudukan Jepang di Asia Tenggara pun menyerahkan diri pada 12 September 1945 TU lewat upacara di Singapura. Pasukan Sekutu baru mulai mendarat di Indonesia per 29 September 1945 TU sebagai AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies), yang terdiri dari tentara Inggris dan Australia. Belakangan ketahuan tentara Belanda pun membonceng AFNEI secara diam-diam. Praktis sepanjang periode 15 Agustus hingga 29 September 1945 TU terjadi kekosongan kekuasaan di Indonesia. Ya, secara formal negeri ini saat itu masih berada di bawah cengkeraman pemerintahan pendudukan Jepang. Namun dengan moral prajurit yang ambrol cukup dalam dan hancur lebur akibat kalah perang yang memalukan dan menyesakkan seiring penyerahan diri tanpa syarat, pemerintahan pendudukan Jepang di Indonesia tak bisa berbuat banyak. Sehingga secara faktual Indonesia berada dalam periode kekosongan kekuasaan. Ini yang menjadikan kemerdekaan Indonesia berbeda dibanding negara-negara lain yang memproklamasikan kemerdekaannya pada saat yang hampir sama.

Gambar 1. Awan cendawan raksasa khas ledakan nuklir sedang mengembang di atas udara Nagasaki, hanya beberapa detik setelah bom nuklir berkode Fatman diledakkan di atas kota ini pada 9 Agustus 1945 Tu pukul 11:02 setempat. Sumber: Nagasaki Atomic Bomb Museum.

Gambar 1. Awan cendawan raksasa khas ledakan nuklir sedang mengembang di atas udara Nagasaki, hanya beberapa detik setelah bom nuklir berkode Fatman diledakkan di atas kota ini pada 9 Agustus 1945 Tu pukul 11:02 setempat. Sumber: Nagasaki Atomic Bomb Museum.

Bagaimana jika Hiroshima dan Nagasaki tidak dibom nuklir?

Usai kemenangan di teater peperangan Eropa dengan bertekuk lututnya Jerman tanpa syarat di hadapan Sekutu lewat upacara di Rheims (Perancis) pada 8 Mei 1945 TU, Amerika Serikat bersiap menghabisi Jepang dengan cara apapun. Meski Amerika merasa berat melakukannya karena harus bertempur sendirian di teater peperangan Pasifik. Beruntung Uni Soviet kemudian menawarkan bantuan, siap bersama-sama memerangi kekaisaran Jepang. Meski tawaran bantuan ini kemudian dipandang dengan penuh curiga dan dianggap memiliki maksud terselubung. Tidak seperti Soviet, Amerika tidak tertarik menguasai tanah-tanah pendudukan Jepang terlebih dahulu sebelum menyerang negeri induknya. Termasuk Indonesia. Jenderal Douglas McArthur pernah mengusulkan menyerbu pulau Jawa di tahun 1944-1945 TU sebagai bagian dari taktik lompatan kataknya. Namun usulan ini ditolak presiden Roosevelt. Sehingga balatentara Amerika hanya melipir di pinggiran saja dengan menguasai pulau Irian dan Kepulauan Halmahera sebagai pangkalan untuk menyerbu pendudukan Jepang di Filipina.

Operasi Downfall pun dirancang. Inilah serbuan langsung ke pulau-pulau utama Jepang bergaya perang amfibi. Ia mencoba meniru sukses Operasi Overlord di teater Eropa. Overlord adalah pendaratan pasukan Sekutu secara besar-besaran di pesisir Normandia (Perancis) semenjak 6 Juni 1944 TU yang berlanjut dengan serangan darat ke posisi-posisi Jerman di Perancis, Belanda dan Belgia. Serangan darat tersebut akhirnya berujung pada serbuan langsung ke Jerman terutama ke jantungnya: Berlin. Kemenangan pun diraih lebih cepat setelah Uni Soviet menyerbu ke barat, sehingga Jerman dijepit baik dari timur maupun barat. Nah, Downfall bakal mencoba mereplikasinya. Downfall terdiri dari dua bagian. Pertama, invasi Olympic guna menundukkan pulau Kyushu, yang bakal dilaksanakan 1 November 1945 TU. Dan yang kedua invasi Coronet, yang bakal dieksekusi 1 Maret 1946 TU dengan tujuan menaklukkan pulau Honshu sekaligus menguasai Tokyo. Jika semua berlangsung sesuai rencana, Jepang akan dipaksa menyerah sekitar Mei/Juni 1946 TU.

Amerika membutuhkan kemenangan cepat. Untuk itu Operasi Downfall bakal dilaksanakan dengan balatentara yang berlimpah-limpah, hingga tak kurang dari 39 divisi. Tetapi prakiraan korban yang bakal berjatuhan membikin ngeri. Seperti halnya Jerman dalam menghadapi Overlord, Jepang pun telah lama menanti-nantikan kehadiran Downfall. Namun skala pertempurannya diyakini bakal lebih sengit. Jika Jerman mendirikan tembok Atlantik yang kukuh namun bersiap setengah hati namun cenderung meremehkan kemampuan lawannya, maka Jepang jauh lebih siap dengan merancang pertahanan lewat Operasi Ketsugo. Pertempuran Okinawa memperlihatkan betapa Amerika harus membayar mahal setiap jengkal tanah Jepang yang direbutnya. Dalam pertempuran paling berdarah di teater Pasifik itu Amerika harus kehilangan 20.000 prajuritnya dari total 541.000 tentara yang diterjunkan merebut Okinawa. Selain itu masih ada 55.000 orang yang terluka. Bila hasil ini diekstrapolasikan ke dalam Operasi Downfall, korban jiwa akan mencapai hampir setengah juta orang dan sejuta lainnya luka-luka. Prediksi ini tentu tak menyenangkan jenderal-jenderal Amerika. Termasuk McArthur.

Gambar 2. Bayangan manusia di anak tangga. Saat bom nuklir bertajuk Little Boy meledak di ketinggian udara Hiroshima, sosok paruh baya bertongkat ini sedang berdiri di tepi jalan, di ujung anak tangga sebuah bangunan. Ia terlalu dekat dengan ground zero (episentrum titik ledakan), sehingga menderita paparan panas yang sangat tinggi dan sangat kuat. Demikian kuatnya sehingga bayangannya pun tercetak di anak tangga. Sosok ini menjadi salah satu korban tewas akibat paparan panas berlebihan, yang membuat tubuhnya sontak menjadi arang atau bahkan menjadi abu. Sumber: Hiroshima Atomic Bomb Museum.

Gambar 2. Bayangan manusia di anak tangga. Saat bom nuklir bertajuk Little Boy meledak di ketinggian udara Hiroshima, sosok paruh baya bertongkat ini sedang berdiri di tepi jalan, di ujung anak tangga sebuah bangunan. Ia terlalu dekat dengan ground zero (episentrum titik ledakan), sehingga menderita paparan panas yang sangat tinggi dan sangat kuat. Demikian kuatnya sehingga bayangannya pun tercetak di anak tangga. Sosok ini menjadi salah satu korban tewas akibat paparan panas berlebihan, yang membuat tubuhnya sontak menjadi arang atau bahkan menjadi abu. Sumber: Hiroshima Atomic Bomb Museum.

Di kala para jenderal itu dibikin puyeng dengan upaya persiapan Operasi Downfall sekaligus mereduksi sedikit mungkin korban, solusi tak terduga (dan menggembirakan) datang dari jenderal Leslie R. Grooves. Inilah pucuk pimpinan Proyek Manhattan yang super-rahasia di daratan Amerika, yang telah berlangsung sejak 1942 TU. Kerja keras mereka telah berbuah, Amerika berhasil membangun senjata jenis baru yang bernama bom nuklir. Sebuah pengujian telah dilakukan di Alomogordo (New Mexico) pada 16 Juli 1945 TU dinihari. Bom nuklir berkode Trinity yang terbuat dari 6,5 kilogram Plutonium dan dipermak dalam bentuk bola sempurna diledakkan. Hasilnya memuaskan, sekaligus menggidikkan. Trinity melepaskan energi tak kurang dari 20 kiloton TNT, atau setara dengan 20.000 ton batang dinamit. Kemampuan nan dahsyat ini membuka peluang Amerika untuk menghancurkan infrastruktur dan moral bangsa Jepang tanpa harus melaksanakan Operasi Downfall.

Proyek Manhattan telah menyediakan minimal tiga bom nuklir yang siap pakai. Dua bom pertama pun dikirim ke pulau Tinian, pulau kecil di tengah-tengah Samudera Pasifik bagian barat yang berhasil direbut dan menjadi menjadi landasan utama pemboman intensif ke Jepang. Setelah dirakit dan dimuat ke perut pesawat pembom B-29 Superfortress yang disiapkan khusus, bom pertama yang bertajuk Little Boy (berat 4 ton, mengandung 64 kilogram Uranium) pun diterbangkan ke sasaran utama (kota Hiroshima) pada 6 Agustus 1945 TU pagi buta. Tiga hari kemudian giliran bom kedua yang bernama Fatman (berat 4,6 ton yang mengandung 6,5 kilogram Plutonium) yang dipersiapkan dan diterbangkan ke sasaran utama: kota Kokura. Bila pemboman pertama berlangsung mulus, tidak demikian dengan yang kedua. Kokura ternyata terselubungi awan sepenuhnya sehingga menyulitkan pengeboman. Pesawat B-29 pun beralih ke kota Nagasaki sebagai target cadangan. Awalnya Nagasaki pun tertuttupi awan, namun mendadak sebuah celah menyibak. Di celah itulah Fatman dijatuhkan, lalu meledak.

Kita tahu bagaimana akhir cerita pengeboman nuklir ini. Baik Hiroshima maupun Nagasaki luluh lantak, setelah dihempas ledakan berkekuatan masing-masing 15 kiloton TNT dan 20 kiloton TNT. Tak kurang dari 140.000 warga sipil Hiroshima menjadi korban dan demikian pula 74.000 warga sipil Nagasaki. Digabungkan dengan tak kurang dari 300.000 warga sipil di seantero Jepang yang tewas akibat kampanye pemboman strategis (dengan bom konvensional dan kemudian bom bakar/napalm), tak kurang dari setengah juta warga sipil Jepang yang meregang nyawa sebagai korban serangan udara. Baik pemboman non nuklir maupun nuklir.

Korban jiwa yang melangit tak menggoyahkan keteguhan hati tentara kekaisaran Jepang. Mereka tetap enggan menyerah. Mereka tetap patuh dan bersiap dengan Operasi Ketsugo untuk menangkis serangan amfibi dan pendaratan besar-besaran di pesisir timur. Namun tak demikian dengan kaisar Hirohito. Tergetar oleh demikian besarnya korban jiwa sipil dalam pemboman Hiroshima dan Nagasaki serta ngeri membaca propaganda Amerika yang siap melumat kota-kota Jepang lainnya dengan bom nuklir (padahal stoknya tinggal tersisa sebutir), kaisar pun bersikap. Apalagi setelah Uni Soviet pun menyatakan perang pada Jepang dan mulai menyapu kekuatan darat tentara kekaisaran Jepang di Mansyuria. Pidato radio kaisar pun memerintahkan penghentian tembak menembak dan memastikan Jepang menyerah tanpa syarat. Jenderal-jenderal Amerika pun bersuka cita, sebab Operasi Downfall praktis batal. Dan Amerika tak perlu kehilangan lebih banyak tentaranya lagi. Sementara bagi Hirohito, dihadapkan pada pilihan yang sama-sama tak enak, lebih baik bila Jepang menyerah ke Amerika karena sistem kekaisaran akan tetap terjaga. Sebaliknya jika bertekuk lutut ke Uni Soviet, gaya revolusi mereka akan menghapus sistem kekaisaran sepenuhnya dari muka bumi.

Kita bisa berandai-andai. Jika bom nuklir tak pernah ada di kancah Perang Dunia 2, kekaisaran Jepang masih sangat kuat di pertengahan tahun 1945 TU itu. Operasi Downfall pun mau tak mau harus dilaksanakan, dengan segenap konsekuensinya. Jika berjalan lancar, Jepang baru dapat ditaklukkan di sekitar pertengahan 1946 TU. Rentang waktu setahun (pasca penyerahan diri Jerman) memungkinkan negara-negara Eropa memulihkan kekuatannya dan turut berpartisipasi dalam teater peperangan Pasifik. Termasuk Belanda. Bila hal itu terjadi, jalannya sejarah Indonesia akan mengambil rute yang sangat berbeda dibandingkan apa yang kita lihat pada hari ini. Singkatnya, tanpa pemboman nuklir di Perang Dunia 2, Indonesia merdeka tidak terjadi pada 17 Agustus 1945 TU.

Letusan Kelud Setahun Kemudian dan Kisah Senjakala Majapahit

Pulau Jawa, Indonesia, Kamis malam 13 Februari 2014 Tarikh Umum (TU). Tepat setahun silam. Selagi aktivitas sebagian besar insan yang mendiami pulau terpadat di Indonesia mulai menyurut dan bersiap-siap terlelap, ratusan ribu penduduk tiga kabupaten di kawasan Mataraman dan Arek Jawa Timur, yakni Kediri, Blitar dan Malang, justru dipaksa bersiaga. Mereka harus bergegas mengungsi, bergerak menjauh dari lereng dan kaki Gunung Kelud hingga radius minimal 10 kilometer dari kawah aktif. Arus pengungsi dimulai setelah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI meningkatkan status Gunung Kelud pada pukul 21:15 WIB. Dari semula berstatus Siaga (Level III), sejak saat itu Gunung Kelud kemudian menyandang status tertinggi dalam tingkat aktivitas gunung-gemunung berapi di Indonesia, yakni Awas (Level IV). Dasarnya adalah terjadinya lonjakan gempa frekuensi rendah yang disusul dengan tremor menerus. Selepas pukul 21:00 WIB, tremor menerus yang terekam bahkan telah melebihi batasan skala yang tersedia dalam radas (instrumen) seismometer.

Gambar 1. Gunung Kelud pada Jumat 14 Februari 2014 TU jelang fajar dari kaki gunung sebelah barat. Nampak asap pekat masih mengepul dari kawah hingga setinggi beberapa ratus meter, beberapa jam pasca letusan besarnya usai. Pemandangan ini diterangi oleh semburat cahaya kemerah-merahan yang khas menjelang terbitnya Matahari. Planet Venus yang berada dalam kondisi paling terang (magnitudo -4,7) mengapung di atas horizon (tanda panah), menyaksikan kisah Bumi yang sedang bergulir. Sumber: Akhmad Zainuddin, 2014 dalam Geomagz, 2014.

Gambar 1. Gunung Kelud pada Jumat 14 Februari 2014 TU jelang fajar dari kaki gunung sebelah barat. Nampak asap pekat masih mengepul dari kawah hingga setinggi beberapa ratus meter, beberapa jam pasca letusan besarnya usai. Pemandangan ini diterangi oleh semburat cahaya kemerah-merahan yang khas menjelang terbitnya Matahari. Planet Venus yang berada dalam kondisi paling terang (magnitudo -4,7) mengapung di atas horizon (tanda panah), menyaksikan kisah Bumi yang sedang bergulir. Sumber: Akhmad Zainuddin, 2014 dalam Geomagz, 2014.

Dengan status tertinggi ini, jelas hanya tinggal menunggu waktu bagi gunung berapi terlasak se-Jawa Timur ini untuk meletus. Perintah evakuasi pun diturunkan. Meski keraguan masih membayang tentang bagaimana skala letusan yang bakal segera terjadi. Enam setengah tahun sebelumnya, ribuan penduduk juga berduyun-duyun mengungsi setelah Gunung Kelud dinyatakan berstatus Awas (Level IV) pada pertengahan Oktober 2007 TU. Tetapi hari demi hari gunung itu tak kunjung menampakkan letusan eksplosif yang selama ini menjadi tabiatnya. Sebaliknya tiga minggu setelah berstatus Awas (Level IV), ia justru mulai melelerkan lava pijar panasnya di dalam kawahnya sendiri. Muntahan lava pijar yang terus-menerus pun membentuk gundukan besar membukit berisikan bongkahan bebatuan beragam ukuran beserta pasir yang masih terus berasap. Gundukan berasap berbentuk kerucut raksasa yang dasarnya selebar 470 meter dan tingginya 215 meter itu kemudian dikenal sebagai kubah lava 2007. Atau kerap pula disebut sebagai Anak Kelud. Letusan tak biasa semenjak November 2007 TU hingga Juni 2008 TU itu tak menelan korban jiwa ataupun luka-luka sama sekali. Juga tak ada bangunan/fasilitas yang rusak. Namun implikasi sosialnya tak sedikit, mulai dari banyaknya agenda pernikahan yang harus dijadwal ulang hingga tertundanya kegiatan-kegiatan kemasyarakatan.

Kali ini polah Gunung Kelud tak lagi malu-malu. Ia kembali ke tabiatnya semula. Pukul 22:46 WIB seismograf-seismograf di sekujur tubuh Gunung Kelud mulai menangkap geliat awal letusan. Tak lama kemudian kamera di dekat kawah merekam percikan-percikan api melesat dari dinding kubah lava 2007. Inilah pertanda kubah lava itu mulai merekah dan menyemburkan material pijar letusan. Letusan besar yang eksplosif pun terjadilah. Letusan demi letusan berikutnya kemudian menyusul secara beruntun selama tiga setengah jam kemudian. Rempah letusan disemburkan demikian cepat ke udara sebagai kolom letusan hingga membentuk awan cendawan raksasa yang menjadi salah satu ciri khas letusan besar. Mayoritas tudung cendawan raksasa tersebut terletak di ketinggian 17 kilometer dpl (dari paras air laut rata-rata). Namun puncaknya menjangkau ketinggian hingga 26 kilometer dpl. Gesekan antara material vulkanik yang kering dan melejit pada kecepatan tinggi dengan lapisan udara disekelilingnya menciptakan aliran listrik statis sangat intensif. Hingga petir pun menyambar-nyambar di sela-sela debu letusan yang sedang membumbung. Menambah horornya suasana.

Tak pelak pada Jumat dinihari 14 Februari 2014 TU tersebut, hampir sekujur Jawa Timur dibuat terjaga oleh Gunung Kelud yang sedang membara. Berselang beberapa jam kemudian sebagian besar pulau Jawa pun dibuat terhenyak. Menyaksikan fajar yang biasanya penuh suasana syahdu dan energi baru berubah total menjadi suram dengan guyuran debu. Hujan debu vulkanik terus-menerus mengguyur dari langit, membedaki semuanya.

Gambar 2. Masjid Agung Kauman di pusat kota Kebumen, Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah) yang nampak suram berselimutkan debu vulkanik tebal pada Jumat pagi 14 Februari 2014 TU. Segenap Kabupaten Kebumen dihujani debu vulkanik Letusan Kelud 2014 yang demikian pekat hingga sanggup membentuk endapan setebal 2 sentimeter atau lebih. Padahal daerah ini berjarak lebih dari 300 kilometer di sebelah barat Gunung Kelud. Sumber: Warta Kebumen, 2014.

Gambar 2. Masjid Agung Kauman di pusat kota Kebumen, Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah) yang nampak suram berselimutkan debu vulkanik tebal pada Jumat pagi 14 Februari 2014 TU. Segenap Kabupaten Kebumen dihujani debu vulkanik Letusan Kelud 2014 yang demikian pekat hingga sanggup membentuk endapan setebal 2 sentimeter atau lebih. Padahal daerah ini berjarak lebih dari 300 kilometer di sebelah barat Gunung Kelud. Sumber: Warta Kebumen, 2014.

Dampak

Kini setahun kemudian, kita telah mengetahui lebih banyak apa yang terjadi dengan Letusan Kelud 2014. Analisis pendahuluan Pyle (2014) menunjukkan amukan Gunung Kelud itu menghembuskan antara 30.000 hingga 100.000 ton material letusan sepadat batuan dalam setiap detiknya. Pada awalnya secara keseluruhan Letusan Kelud 2014 memuntahkan sekitar 130 juta meter kubik rempah vulkanik. Namun di kemudian hari PVMBG meralat estimasi volume muntahan letusan Gunung Kelud ke angka 105 juta meter kubik. Rempah letusan yang lebih berat seperti awan panas (piroklastika) mengalir menyusuri lembah-lembah di lereng barat yang terhubung ke kawah hingga sejauh 2 kilometer. Material yang lebih ringan seperti pasir dan kerikil menghujani kawasan sejauh 20 hingga 30 kilometer dari kawah. Guyuran pasir dan kerikil hingga sejauh ini merupakan fenomena yang tak pernah terjadi dalam letusan-letusan Kelud sebelumnya. Di luar radius 30 kilometer dari kawah, debu vulkanik meraja. Hujan debu vulkanik pekat yang menciptakan endapan debu setebal 5 sentimeter atau lebih mengguyur kawasan seluas sekitar 4.000 kilometer persegi. Sebaliknya hujan debu vulkanik ringan yang hanya sanggup memproduksi endapan dengan ketebalan 1 milimeter melanda lebih jauh, sehingga area yang tercakup mencapai sekitar 80.000 kilometer persegi.

Letusan besar ini merenggut 7 korban jiwa. Penyebab kematian para korban beragam, mulai dari tertimpa tembok yang runtuh terbebani debu vulkanik hingga gangguan pernafasan. Seluruh korban tinggal di kawasan yang terbedaki debu vulkanik hingga setebal 20 sentimeter. Selain korban jiwa, tercatat 70 orang mengalami gangguan pernafasan dan harus dirawat di rumah sakit. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jumat pagi 14 Februari 2014 TU juga mencatat 100.248 orang harus mengungsi. Skala kerusakan yang ditimbulkannya pun luar biasa. Sebanyak 11.093 buah bangunan/rumah di tiga kabupaten (Kediri, Blitar dan Malang) rusak berat. Sementara 7.370 buah lainnya mengalami kerusakan sedang. Dan 8.044 buah dinyatakan rusak ringan. Ribuan hektar lahan perkebunan dan pertanian pun turut dibuat rusak.

Gambar 3. Pesawat Airbus A320-232 nomor 9V-JSN milik maskapai JetStar Asia saat berada di apron bandara Soekarno-Hatta. Saat pesawat ini jelang mendarat di Jakarta sebagai penerbangan JSA114 pada Jumat pagi 14 Februari 2014 TU, ia mendadak masuk ke dalam awan debu produk Letusan Kelud 2014. Pesawat berhasil mendarat dengan selamat, namun insiden ini membuat kedua mesinnya rusak parah akibat menghisap debu vulkanik. Sumber: Indo-Avtiation.com, 2014.

Gambar 3. Pesawat Airbus A320-232 nomor 9V-JSN milik maskapai JetStar Asia saat berada di apron bandara Soekarno-Hatta. Saat pesawat ini jelang mendarat di Jakarta sebagai penerbangan JSA114 pada Jumat pagi 14 Februari 2014 TU, ia mendadak masuk ke dalam awan debu produk Letusan Kelud 2014. Pesawat berhasil mendarat dengan selamat, namun insiden ini membuat kedua mesinnya rusak parah akibat menghisap debu vulkanik. Sumber: Indo-Avtiation.com, 2014.

Namun yang paling fenomenal adalah pada imbasnya terhadap lalu lintas udara domestik dan internasional Indonesia. Tebaran debu vulkanik memaksa ditutupnya delapan bandara di pulau Jawa. Masing-masing bandara Juanda (Surabaya), Abdulrahman Saleh (Malang), Adisumarmo (Surakarta), Adisucipto (Yogyakarta), Ahmad Yani (Semarang), Husein Sastranegara (Bandung) serta bandara di Cilacap dan Cirebon. Ratusan penerbangan pun terpaksa dibatalkan. Bahkan sebuah insiden terjadi, yang menimpa pesawat Airbus A320-232 9V-JSN milik maskapai JetStar Asia. Selagi melayani rute Perth (Australia)-Singapura dengan persinggahan di Jakarta (Indonesia) dalam penerbangan JSA114 pada Jumat fajar 14 Februari 2014 TU, pesawat tersebut tanpa diduga memasuki awan debu letusan Kelud. Ini terjadi hanya dalam 30 menit jelang mendarat di Jakarta. Bau asap pun merebak di dalam kabin pesawat dan pemandangan di sisi luar jendela pun mendadak gelap gulita.

Pesawat berhasil mendarat dengan selamat di bandara Soekarno-Hatta (Jakarta) pada pukul 05:50 WIB. Ia tidak mengalami mati mesin di udara, seperti yang tiga dasawarsa silam diderita jumbo jet Boeing 747-236B nomor G-BDXH British Airways penerbangan 009 akibat paparan debu vulkanik letusan Gunung Galunggung saat melintas di selatan pulau Jawa. Meski begitu inspeksi detail yang dilakukan teknisi pabrikan Airbus memperlihatkan kedua mesin pesawat Airbus A320-232 9V-JSN itu rusak parah akibat menghisap debu vulkanik Kelud. Sehingga keduanya harus diganti dan pesawat pun dipaksa grounded berhari-hari lamanya.

Dengan semua dampak tersebut, Letusan Kelud 2014 menelan kerugian hingga bertrilyun-trilyun rupiah. Namun demikian korban manusia relatif minimal, baik korban jiwa maupun luka-luka. Hal ini memperlihatkan bahwa sistem peringatan dini mitigasi bencana letusan Gunung Kelud yang diterapkan PVMBG bersama dengan BNPB berjalan dengan efektif. Minimnya korban juga ditunjang oleh sifat letusan yang kering. Letusan Kelud 2014 terjadi tatkala kawah gunung berapi tersebut dalam kondisi kering (minim kandungan air) seiring tiadanya genangan air signifikan sebagai danau kawah. Danau kawah Kelud telah menghilang pasca munculnya kubah lava 2007 dalam Letusan Kelud 2007. Hanya tersisa sedikit genangan air yang kerap keruh di sisi barat daya.

Gambar 4. Bagaimana wajah kawah Gunung Kelud berubah antara sebelum tahun 1990 (atas) dan 2008 TU (bawah), diabadikan dari titik yang sama di bibir kawah. Jelang Letusan Kelud 1990, mayoritas kawah Kelud digenangi air sebagai danau kawah dengan air berwarna hijau toska akibat pengaruh gas vulkanik. Sementara pasca Letusan Kelud 2007, hampir seluruh bagian danau kawah telah menghilang dan digantikan dengan gundukan kubah lava 2007 yang masih berasap. Hanya tersisa sedikit genangan air di sisi barat daya (latar depan). Sumber: Geomagz, 2014.

Gambar 4. Bagaimana wajah kawah Gunung Kelud berubah antara sebelum tahun 1990 (atas) dan 2008 TU (bawah), diabadikan dari titik yang sama di bibir kawah. Jelang Letusan Kelud 1990, mayoritas kawah Kelud digenangi air sebagai danau kawah dengan air berwarna hijau toska akibat pengaruh gas vulkanik. Sementara pasca Letusan Kelud 2007, hampir seluruh bagian danau kawah telah menghilang dan digantikan dengan gundukan kubah lava 2007 yang masih berasap. Hanya tersisa sedikit genangan air di sisi barat daya (latar depan). Sumber: Geomagz, 2014.

Sebelum 2007 TU, kawah Gunung Kelud selalu berupa danau kawah yang genangan airnya cukup signifikan meskipun volumenya dibatasi lewat terowongan pembuang, seperti terowongan Ampera. Upaya mengontrol volume danau kawah Kelud menjadi salah satu cara mengurangi keganasan letusannya. Catatan sejarah Kelud memperlihatkan betapa volume air danau kawah yang terlalu banyak akan menghasilkan lahar letusan yang menerjang jauh, hingga merenggut banyak korban. Letusan Kelud 1919 membunuh tak kurang dari 5.000 orang tatkala 40 juta meter kubik air danau bercampur dengan rempah letusan menjadi lahar letusan. Lahar letusan menderu ke setiap lembah sungai yang terhubung dengan kawah. Ia menerjang hingga 40 kilometer jauhnya dari kawah, mengubah bentang lahan lembah sungai yang dilintasinya dan mengubur apa saja yang dilaluinya. Hempasan lahar letusan yang luar biasa setiap kali meletus hingga menyapu apa saja yang dilaluinya membuat Gunung Kelud mendapatkan namanya (Kelud = sapu).

Letusan Kelud 2014 mengubah wajah kawahnya secara dramatis. Hampir seluruh kubah lava 2007 yang volumenya 16 juta meter kubik remuk menjadi debu, pasir dan batu. Remukan itu kemudian diterbangkan ke langit sebagai bagian dari kolom letusan. Lantai kawah yang sebelumnya ditempati kubah lava 2007 kini berlubang besar. Lubang letgusan itu berbentuk mirip lingkaran dengan diameter sekitar 400 meter. Lubang besar itu masih mengepulkan uap air dan gas belerang didasarnya. Tapi seiring waktu, lubang ini bakal kembali digenangi air, mungkin dalam 2 hingga 3 tahun pasca letusan. Maka Gunung Kelud pun akan kembali mempunyai danau kawahnya seperti halnya pemandangan 2.000 tahun terakhir, setelah menghilang sementara sepanjang periode 2007-2014 TU. Volume danau kawah Kelud yang baru ini masih sulit diprediksi. Namun bakal hadirnya kembali danau kawah Kelud membuat kebutuhan memfungsikan kembali terowongan pembuang menjadi hal yang mutlak. Terowongan pembuang bertujuan membatasi volume air danau kawah Kelud di sekitar 4 juta meter kubik saja, sehingga tak berubah menjadi lahar letusan dalam letusan mendatang.

Gambar 5. Perubahan dramatis wajah kawah Gunung Kelud antara sebelum (atas) dan sesudah Letusan Kelud 204 (bawah), diabadikan dari titik yang hampir sama. Letusan kelud 2014 membuat kubah lava 2007 yang diproduksi oleh Letusan Kelud 2007 sebelumnya remuk dan menjadi komponen rempah letusan. Sebagai gantinya terbentuk lubang letusan berdiameter sekitar 400 meter yang masih berasap. Tak ada lagi genangan air. Sumber: Geomagz, 2014.

Gambar 5. Perubahan dramatis wajah kawah Gunung Kelud antara sebelum (atas) dan sesudah Letusan Kelud 204 (bawah), diabadikan dari titik yang hampir sama. Letusan kelud 2014 membuat kubah lava 2007 yang diproduksi oleh Letusan Kelud 2007 sebelumnya remuk dan menjadi komponen rempah letusan. Sebagai gantinya terbentuk lubang letusan berdiameter sekitar 400 meter yang masih berasap. Tak ada lagi genangan air. Sumber: Geomagz, 2014.

Meski didahului penghancuran kubah lava 2007 namun durasi letusan utamanya (yakni pengeluaran material letusan) tetap singkat, yakni tak lebih dari empat jam. Setelah empat jam, Letusan Kelud 2014 tinggal menghembuskan uap air sebagai erupsi freatik. Hal ini sekali lagi mendemonstrasikan salah satu ciri khas Gunung Kelud, yakni ukuran kantung magma yang relatif kecil. Sehingga letusan selalu berlangsung singkat karena kandungan magma segar yang siap diletuskannya cepat terkuras. Tak peduli bahwa Letusan Kelud 2014 memiliki tekanan gas demikian besar, yang diperlihatkan oleh melimpahnya fragmen batuapung (pumis) dalam material letusan. Kelimpahan batuapung merupakan pertanda bahwa magma Kelud 2014 merupakan magma yang asam (kaya silikat), sehingga mampu menyekap gas vulkanik lebih banyak. Konsekuensinya tekanan gas vulkaniknya pun cukup besar. Hingga mampu membobol dan menghancurkan kubah lava 2007. Meski diawali penghancuran kubah lava, kecilnya jumlah magma yang tertumpuk dalam kantung magma Kelud membuat Letusan Kelud 2014 tak menjadi berkepanjangan seperti halnya Letusan Galunggung 1983-1984 yang berlangsung 9 bulan lamanya.

Di satu sisi, Letusan Kelud 2014 merupakan letusan gunung berapi yang menghembuskan kolom letusan tertinggi di Bumi sepanjang tahun 2014 TU. Namun dari sisi volume rempah letusannya, Letusan Kelud 2014 bukanlah yang terbesar. Ia masih kalah jauh dibanding Gunung Bardarbunga (Holuhraun) di Islandia, yang hingga kini telah memuntahkan tak kurang dari 1,3 kilometer kubik rempah letusan.

Majapahit

Kecilnya jumlah korban jiwa dan luka-luka menunjukkan bahwa pada salah satu sisi dampak Letusan Kelud 2014 relatif minimal. Sistem peringatan dini yang bekerja efektif ditunjang dengan sifat letusan yang kering (akibat menghilangnya danau kawah semenjak 2007) menjadi dua dari banyak faktor yang berkontribusi terhadapnya. Namun, bagaimana dengan letusan Gunung Kelud di masa silam? Bagaimana dampaknya terhadap umat manusia yang bermukim disekelilingnya di masa silam? Yakni saat sistem peringatan dini belum terbentuk dan Gunung Kelud masih mempunyai danau kawah dengan volume jumbo? Bagaimana imbas letusannya terhadap hidup-matinya kerajaan legendaris di lembah sungai Brantas, yakni Majapahit?

Geolog Awang Satyana (2014) menuturkan beberapa dari letusan Gunung Kelud di masa kerajaan Majapahit nampaknya tercatat dalam kronik sejarah Pararaton, meski singkat. Secara kronologis kerajaan Majapahit muncul semenjak tahun 1293 TU seiring bertahtanya Kertarajasa Jayawardhana. Setelah mengalami pasang-surut akibat beragam pemberontakan, Majapahit mencapai puncak kejayaannya di masa Rajasanegara (Hayam Wuruk) yang berkuasa pada 1359 hingga 1380 TU. Selepas masa kejayaannya, kerajaan besar ini kemudian melapuk. Pertikaian antar keluarga kerajaan yang berlarut-larut dan bahkan sempat berkembang menjadi perang saudara seperti Perang Paregreg (1404-1406 TU). Pertikaian keluarga dinasti ini kian melemahkan kendali Majapahit atas daerah-daerah taklukannya, sehingga satu persatu pun melepaskan diri. Pada akhirnya kertajaan yang telah mengecil ini pun runtuh di sekitar tahun 1521 TU di masa kekuasaan Patih Udara.

Gambar 6. Topografi lembah Brantas beserta gunung-gunung berapi yang mengapitnya. Trowulan adalah bekas ibukota kerajaan pada sebagian besar masa kerajaan Majapahit. Sumber: Zainuddin dkk, 2013.

Gambar 6. Topografi lembah Brantas beserta gunung-gunung berapi yang mengapitnya. Trowulan adalah bekas ibukota kerajaan pada sebagian besar masa kerajaan Majapahit. Sumber: Zainuddin dkk, 2013.

Kecuali di dekade-dekade terakhir kehidupannya, hampir dalam segenap masanya Majapahit beribukota di Trowulan. Trowulan merupakan kawasan seluas 11 x 9 kilometer persegi yang terletak di lahan datar lembah sungai Brantas. Kini situs arkeologis tersebut menjadi bagian dari kabupaten Mojokerto dan kabupaten Jombang (keduanya di Jawa Timur). Salah satu pintu gerbang utama untuk memasuki ibukota Trowulan adalah pelabuhan Canggu, yang juga menjadi pelabuhan utama Majapahit. Pelabuhan besar ini terletak tak jauh dari muara sungai Brantas. Lokasi pelabuhan besar tersebut di masa kini ada di sebelah utara kota Mojokerto, berjarak sekitar 10 hingga 15 kilometer saja dari situs Trowulan. Di masa Majapahit, muara sungai Brantas terletak tak jauh dari pelabuhan Canggu. Kawasan yang kini menjadi kota Surabaya dan sekitarnya di era Majapahit masih berupa delta berteluk yang ditebari pulau-pulau kecil diapit dua tanjung. Pada tanjung sisi utara terdapat pelabuhan kecil, yakni Hujung Galuh (Ujung Galuh). Perubahan dramatis bentanglahan surabaya antara era Majapahit dengan masakini salah satunya merupakan imbas aktivitas Gunung Kelud.

Dalam catatan Pararaton, sepanjang zaman Majapahit terdapat peristiwa letusan gunung berapi hingga lima kali. Yang pertama pada minggu Madasia suryasengkala pendeta-sunyi-sifat-tunggal, yang mungkin bertepatan dengan tahun 1307 Saka atau 1385 TU. Yang kedua terjadi pada minggu Prangbakat suryasengkala muka-orang-tindakan-ular, yang mungkin bertepatan dengan tahun 1317 Saka atau 1395 TU. Lalu yang ketiga pada minggu Kuningan suryasengkala belut-pendeta-menggigit-bulan, mungkin bertepatan dengan tahun 1373 Saka atau 1451 TU. Selanjutnya yang keempat pada minggu Landep suryasengkala empat-ular-tiga-pohon, mungkin bertepatan dengan tahun 1384 Saka atau 1462 TU. Dan yang kelima adalah pada minggu Watu Gunung suryasengkala tindakan-angkasa-laut-ekor, yang mungkin bertepatan dengan tahun 1403 Saka atau 1481 TU.

Pararaton memang tak menyebut nama-nama gunung berapi yang meletus dalam kelima letusan tersebut. Pararaton juga tidak secara spesifik spesifik menyebut nama Gunung Kampud (nama Kelud di masa silam) sebagai yang meletus. Namun bila kita memperhatikan sejarah aktivitas gunung-gemunung berapi di sekitar ibukota Trowulan, yang terdiri dari Gunung Wilis, Gunung Kelud, Gunung Arjuno-Welirang, Gunung Penanggungan dan Gunung Kawi-Butak, hanya Gunung Kelud yang memperlihatkan catatan aktivitas tinggi dan kerap meletus. Sehingga dapat diduga kelima letusan yang dicatat Pararaton tersebut merupakan letusan-letusan Gunung Kelud. Dibandingkan dengan sejarah letusan Gunung Kelud, nampak jelas bahwa kelima letusan yang dicatat Pararaton bersesuaian dengan letusan-letusan yang dicatat dalam Data Dasar Gunung Api Indonesia (1979).

Seberapa besar kelima letusan tersebut?

Kitab Pararaton tidak memerikan (menggambarkan)-nya. Untuk mengetahuinya kita harus melihat penelitian geologi yang pernah dikerjakan di kawasan Gunung Kelud dan sekitarnya. Misalnya dari Zainuddin dkk (2013), yang mengkaji singkapan-singkapan endapan letusan Kelud pada empat titik di lereng/kaki barat gunung. Keempat titik tersebut berjarak antara 0,7 hingga 20 kilometer dari kawah. Salah satu titik tersebut adalah situs candi Tondowongso (Kediri), yang baru ditemukan pada April 2007 TU. candi ini terpendam di bawah endapan produk letusan setebal 3 meter dan hingga kini masih terus diekskavasi. Zainuddin dkk menemukan bahwa pada keempat titik tersebut terdapat bukti kuat Gunung Kelud pernah meletus besar sebanyak dua kali dalam selang waktu antara 1380 hingga 1420 TU.

Gambar 7. Situs candi Tondowongso di Gayam, kediri (Jawa Timur) yang baru ditemukan pada April 2007 dan belum sepenuhnya diekskavasi. Situs ini berjarak 20 kilometer di sebelah barat laut kawah Gunung Kelud. Seluruh lapisan tanah yang menimbuni situs ini merupakan produk letusan Gunung Kelud, yang terbagi menjadi dua: jatuhan abu/debu vulkanik dan lahar. Endapan lahar di situs ini merupakan bukti dahsyatnya letusan Gunung Kelud di masa kerajaan Majapahit. Sumber: Zainuddin dkk, 2013.

Gambar 7. Situs candi Tondowongso di Gayam, kediri (Jawa Timur) yang baru ditemukan pada April 2007 dan belum sepenuhnya diekskavasi. Situs ini berjarak 20 kilometer di sebelah barat laut kawah Gunung Kelud. Seluruh lapisan tanah yang menimbuni situs ini merupakan produk letusan Gunung Kelud, yang terbagi menjadi dua: jatuhan abu/debu vulkanik dan lahar. Endapan lahar di situs ini merupakan bukti dahsyatnya letusan Gunung Kelud di masa kerajaan Majapahit. Sumber: Zainuddin dkk, 2013.

Seberapa besar kedua letusan besar tersebut? Pada situs candi Tondowongso ditemukan endapan lahar setebal 70 sentimeter. Sebagai pembanding, sejumlah candi era Majapahit yang berdiri di berbagai situs di sekeliling Gunung Kelud pun banyak yang tertimbun endapan produk letusan tatkala ditemukan. Misalnya candi Sumbersugih, Purwosari dan Sumberagung di kaki selatan Gunung Kelud. Juga candi Modangan dan Candisewu di kaki barat daya. Ketebalan lahar dan tertimbunnya candi-candi tersebut mengindikasikan bahwa letusan Gunung Kelud saat itu demikian besar. Hingga mampu mengirimkan lahar letusan sampai sejauh antara 30 hingga 40 kilometer dari kawah.

Kita dapat membayangkan bagaimana besarnya letusan tersebut. Danau kawah Kelud, yang pada puncaknya sanggup memuat 40 juta meter kubik air, sontak tumpah bercampur dengan rempah letusan begitu Gunung Kelud mengamuk. Rempah letusan dalam jumlah mungkin mendekati 200 juta meter kubik yang langsung bercampur dengan air danau sontak membentuk lahar letusan. Lahar deras pun membanjir melalui alur-alur sungai yang berhulu ke Gunung Kelud. Derasnya lahar letusan tak sekedar membuat sungai-sungai tersebut meluap hebat hingga membanjiri lembah-lembahnya. Namun juga juga sanggup mengubah alur sungai-sungai tersebut akibat kuatnya gerusan. Tak heran jika kawasan yang terkena hempasan lahar letusan pun sangat luas di sepanjang lembah Brantas. Sungai Brantas pun mendangkal di sana-sini. Perikehidupan masyarakat masa itu yang menggantungkan diri pada dunia pertanian dan perdagangan memanfaatkan alur sungai pun bakal terganggu berat.

Gambar 8. Aliran lahar hujan Gunung Kelud pada 19 Februari 2014 TU di Pandansari (Malang). Lahar ini berasal dari material produk letusan yang bertumpukan di lereng dan kemudia dihanyutkan oleh air hujan. Selain lahar letusannya, salah satu dampak letusan Gunung Kelud terletak pada lahar hujannya. Terlebih hampir seluruh materi lahar hujan Gunung Kelud mengalir ke sungai Brantas. Aktivitas Gunung Kelud menjadi penyebab naik turunnya dasar sungai Brantas dan meluasya delta di muaranya. Hal ini tentu berdampak pada naik turunnya peradaban yang tumbuh dan berkembang di sepanjang lembah sungai ini. Sumber: Handoko, 2014 dalam Global Volcanism Program, 2014.

Gambar 8. Aliran lahar hujan Gunung Kelud pada 19 Februari 2014 TU di Pandansari (Malang). Lahar ini berasal dari material produk letusan yang bertumpukan di lereng dan kemudia dihanyutkan oleh air hujan. Selain lahar letusannya, salah satu dampak letusan Gunung Kelud terletak pada lahar hujannya. Terlebih hampir seluruh materi lahar hujan Gunung Kelud mengalir ke sungai Brantas. Aktivitas Gunung Kelud menjadi penyebab naik turunnya dasar sungai Brantas dan meluasya delta di muaranya. Hal ini tentu berdampak pada naik turunnya peradaban yang tumbuh dan berkembang di sepanjang lembah sungai ini. Sumber: Handoko, 2014 dalam Global Volcanism Program, 2014.

Bahkan hingga bertahun pasca letusan, dampaknya masih akan sangat terasa. Terlebih hampir segenap lahar letusan Kelud mengalir ke anak-anak sungai Brantas. Hulu anak-anak sungai tersebut menyebar di lereng selatan, barat dan utara Gunung Kelud. Hanya kawasan lereng timur yang relatif bebas dari anak-anak sungai Brantas, karena di sini berpagar jajaran gunung-gunung Arjuno-Welirang dan Kawi-Butak. Maka pada akhirnya hampir seluruh endapan lahar letusan Kelud bakal mengalir ke sungai Brantas kala hujan turun sebagai lahar hujan. Selain membuat alur sungai mendangkal sehingga banjir lebih mudah terjadi, lahar hujan Kelud juga bakal terikut aliran sungai hingga ke muaranya. Endapan bakal kian memperluas delta di muara sungai Brantas. Teluknya pun bakal mendangkal menjadi rawa-rawa dan akhirnya tertutup sepenuhnya. Sehingga apa yang semula hanyalah delta berteluk pun berkembang demikian rupa menjadi dataran rendah nan luas. Kelak di kemudian hari di sini berdiri kota Surabaya. Kian berkembangnya delta di muara sungai Brantas membuat jarak yang harus ditempuh perahu/kapal ke pelabuhan Canggu kian jauh. Pada saat yang sama alur sungai di pelabuhan itu kian mendangkal, membuat kapal berukuran besar kian sulit menambatkan diri.

Gambar 9. Diagram sederhana yang menunjukkan bagaimana aktivitas Gunung Kelud berpengaruh bagi kerajaan Majapahit. Saat Gunung Kelud meletus, terbentuk lahar letusan (panah hitam) yang sanggup mengalir hingga sejauh 40 kilometer dari kawah (garis titik-titik). Setelah beberapa lama, endapan lahar letusan bakal dihanyutkan lagi oleh air hujan deras menjadi lahar hujan (panah merah). Hampir seluruh materi lahar hujan akan masuk ke sungai Brantas, sungai utama di lembah Brantas. Di sungai Brantas, materi lahar hujan akan menghilir jauh hingga akhirnya sampai ke pelabuhan Canggu dan muaranya. Imbasnya pelabuhan Canggu menjadi kian dangkal dan muara sungai Brantas pun terus berkembang. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Maps dan data dari Zainuddin dkk, 2013.

Gambar 9. Diagram sederhana yang menunjukkan bagaimana aktivitas Gunung Kelud berpengaruh bagi kerajaan Majapahit. Saat Gunung Kelud meletus, terbentuk lahar letusan (panah hitam) yang sanggup mengalir hingga sejauh 40 kilometer dari kawah (garis titik-titik). Setelah beberapa lama, endapan lahar letusan bakal dihanyutkan lagi oleh air hujan deras menjadi lahar hujan (panah merah). Hampir seluruh materi lahar hujan akan masuk ke sungai Brantas, sungai utama di lembah Brantas. Di sungai Brantas, materi lahar hujan akan menghilir jauh hingga akhirnya sampai ke pelabuhan Canggu dan muaranya. Imbasnya pelabuhan Canggu menjadi kian dangkal dan muara sungai Brantas pun terus berkembang. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Maps dan data dari Zainuddin dkk, 2013.

Tambahkan segala kesulitan tersebut dengan situasi kerajaan Majapahit pasca kekuasaan Rajasanegara. Pertikaian dalam tubuh dinasti yang berlarut-larut membuat kerajaan besar tersebut mulai melemah. Jelas dalam situasi tersebut beragam problem sosial pun muncul. Keamanan mulai sulit dikendalikan. Apalagi saat pertikaian itu memuncak dalam perang Paregreg. Jelas sudah, dua letusan besar Gunung Kelud yang terjadi di antara tahun 1380 hingga 1420 TU merupakan salah satu faktor yang mungkin turut menggiring Majapahit menuju senjakalanya.

Referensi :

Pyle. 2014. Ash Fallout from The 2014 Kelut Eruption, a Preliminary Analysis. Earth Science Class, 18 February 2014. Oxford University, UK.

Sulaksana dkk. 2014. The Crater Configuration f Kelud Volcano, East Java, Indonesia after 2014 Eruption. International Journal of Science and Research, vol. 3 no. 3, March 2014, 419-422.

Global Volcanism Program. 2014. Kelut (Kelud), Java, Indonesia, Big 2014 Eruption. Smithsonian Institution.

Indo-Aviation. 2014. Imbas Abu Gunung Kelud, Airbus A320 Jetstar Asia Harus Ganti Mesin. Laman Indo-Aviation.com, reportase Achdiyatma Reza.

Zainuddin dkk. 2013. Letusan Gunung Kelud pada 690 ± 110 Tahun yang Lalu Merupakan Letusan yang Sangat Dahsyat dan Sangat Berdampak pada Kerajaan Majapahit. Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol. 4 No. 2 Agustus 2013: 117 – 133.

Triastuty dkk. 2014. Gelegar Kelud 2014. Majalah Geomagz, vol. 4 no. 1 Maret 2014, halaman 20-28.