1256: Bumi Merekah, Magma Melimpah dan Nyaris Mengubur Madinah

Solah tingkah gunung berapi telah mengharu biru Indonesia sepanjang 2014 ini. Akhir-akhir ini Gunung Slamet menyedot perhatian besar khususnya bagi yang bertempat tinggal di pulau Jawa seiring ulahnya. Meski letusannya tergolong kecil dan terlokalisir di seputar puncak saja sehingga kawasan terlarang pun ditetapkan hanya sejarak 4 kilometer dari kawah aktif, banyak orang dibikin cemas. Apalagi isu tak berkeruncingan bertaburan dimana-mana. Sementara di luar pulau Jawa tepatnya di pulau Sumatra, Gunung Sinabung masih terus saja bergemuruh. Meski statusnya telah diturunkan menjadi Siaga (Level III), atau sejajar status Gunung Slamet, namun Sinabung terlihat lebih aktif. Gunung berapi yang lama tertidur tersebut kini terus saja membangun lidah lava. Ia menjulur kian panjang ke arah tenggara dan kian tebal. Berulangkali awan panas (piroklastika) guguran masih terjadi tatkala bagian-bagian tertentu lidah lava rontok seiring labilnya strukturnya dan oleh pengaruh gravitasi. Di pulau Sulawesi, dua gunung berapi lasak dengan status Siaga (Level III) yang sama pun masih rajin memuntahkan magmanya meski relatif sepi dari perhatian. Masing-masing adalah Gunung Lokon-Empung dan Gunung Karangetang (keduanya di propinsi Sulawesi utara).

Gambar 1. Semburan magma basaltik hingga setinggi sekitar 100 meter menyeruak dari retakan di padang Holuhraun, sebagai perwujudan dari erupsi efusif Gunung Bardarbunga di Islandia. Letusan tidak menyemburkan debu vulkanik pekat ke langit, namun melelerkan lava panas membara yang mengukir permukaan tanah layaknya sungai api. Diabadikan oleh tim Reykjavik Helicopters pada awal September 2014. Sumber: Reykjavik Helicopters, 5 September 2014.

Gambar 1. Semburan magma basaltik hingga setinggi sekitar 100 meter menyeruak dari retakan di padang Holuhraun, sebagai perwujudan dari erupsi efusif Gunung Bardarbunga di Islandia. Letusan tidak menyemburkan debu vulkanik pekat ke langit, namun melelerkan lava panas membara yang mengukir permukaan tanah layaknya sungai api. Diabadikan oleh tim Reykjavik Helicopters pada awal September 2014. Sumber: Reykjavik Helicopters, 5 September 2014.

Jangan lupakan letusan besar Gunung Kelud (propinsi Jawa Timur) pada 13 Februari 2014 lalu yang demikian menggetarkan. Amukannya sempat melumpuhkan sebagian pulau Jawa. Menyusul letusan besar Gunung Sangeang Api (propinsi Nusa Tenggara Barat) pada 30 Mei 2014. Meski tak sepopuler dan tak sebesar letusan Kelud, namun muntahan debu vulkaniknya sempat melumpuhkan lalu lintas udara negeri tetangga: Australia. Syukurlah dua letusan besar tersebut tak banyak menelan korban jiwa, meski angka kerugian material yang diakibatkannya mencapai ratusan milyar rupiah. Di antara kedua letusan besar tersebut, patut dicatat pula aksi Gunung Merapi (propinsi Jawa Tengah dan DIY) yang telah berulangkali menghembuskan debu vulkaniknya dalam kejadian erupsi freatik yang demikian sekonyong-konyong dan nyaris tak didului tanda-tanda umum. Meski tak menyebabkan korban jiwa maupun luka, tetap saja rasa cemas sempat membara.

Holuhraun

Di mancanegara, sejumlah gunung berapi pun unjuk gigi. Satu yang menyedot perhatian adalah letusan unik Gunung Bardarbunga di Islandia. Islandia sendiri sudah merupakan keajaiban. Secara geologis inilah pulau yang berdiri tepat di atas punggungan tengah Samudera Atlantik, jalur rekahan memanjang yang menjadi tempat menyeruaknya magma dari perutbumi. Tak sekedar membentuk pegunungan memanjang yang hampir seluruhnya berada di dasar samudera, magma ini juga mendorong lempeng-lempeng tektonik yang mengapitnya ke dua arah berlawanan. Masing-masing lempeng Amerika Utara ke barat dan lempeng Eurasia ke timur. Sementara secara geografis, Islandia terletak di dalam lingkar kutub utara sehingga memiliki iklim kutub. Bahkan Islandia menjadi satu dari dua daratan besar dalam lingkar kutub utara yang selalu berselimutkan es, selain pulau Greenland. Maka Islandia lah tempat merah (baca: magma) dan putih (baca: es) bertemu, tempat di mana panas (magma) dan dingin (es) bersua.

Gambar 2. Islandia dalam peta sederhana, yang menunjukkan posisinya persis di punggungan tengah Samudera Atlantik. Sumber: USGS, 2014.

Gambar 2. Islandia dalam peta sederhana, yang menunjukkan posisinya persis di punggungan tengah Samudera Atlantik. Sumber: USGS, 2014.

Magma yang menyuplai gunung-gemunung berapi Islandia sangat berbeda dibanding Indonesia. Di Islandia magmanya berasal dari lokasi yang jauh lebih dalam. Yakni dari selubung (mantel) Bumi, lapisan plastis sangat tebal dan panas yang terletak tepat di bawah kerak bumi mulai kedalaman 40 kilometer. Magma Islandia adalah magma basaltik sehingga lebih encer, lebih banyak mengandung mineral-mineral logam, miskin gas vulkanik dan bersuhu lebih tinggi. Karena encernya, pucuk gunung-gemunung berapi Islandia cenderung berketinggian rendah dengan lereng relatif lebih landai. Saat meletus, magma basaltik cenderung keluar dari lubang letusan sebagai lava cair encer yang meleleh kemana-mana laksana lilin cair dalam erupsi tipe efusif. Sangat jarang terjadi letusan yang menyemburkan berjuta-juta meter kubik debu vulkanik ke langit. Perkecualian adalah Gunung Eyjafjallajokul dalam letusan 2010-nya. Saat itu letusan menyemburkan sekitar 100 juta meter kubik debu vulkanik pekat hingga setinggi 8 kilometer. Hembusan angin mendorong debu vulkanik menutupi ruang udara Eropa bagian utara. Akibatnya parah. 107.000 penerbangan terpaksa dibatalkan dalam 8 hari berturut-turut, angka yang setara 48 % total penerbangan global. Total kerugian yang ditimbulkannya melampaui angka Rp 16 trilyun.

Meski terkesan tak segalak gunung-gemunung berapi Indonesia, namun aktivitas gunung berapi Islandia jauh lebih intensif. Sepanjang 500 tahun terakhir volume lava akumulatif yang dihasilkannya setara sepertiga total volume lava di Bumi. Episode letusan terdahsyat terjadi pada 1783-1784 di Gunung Laki. Tak ada semburan debu vulkanik tebal yang membumbung tinggi hingga berkilo-kilometer ke langit menciptakan suasana horor. Namun Laki memuntahkan 14.000 juta meter kubik lava basaltik lewat 130 lubang letusan selama delapan bulan berturut-turut. Bersamanya tersembur pula gas-gas vulkanik, termasuk 8 juta ton gas asam fluorida dan 120 juta ton gas belerang (sulfurdioksida). Udara Islandia pun tercemar berat sehingga 80 % domba, 50 % sapi dan 50 % kuda mati perlahan-lahan setelah gigi-geliginya rontok akibat paparan gas asam fluorida berlebihan. Matinya hewan-hewan ternak itu membuat segenap Islandia dilanda bencana kelaparan tiada tara. Pada puncaknya sebanyak 20 hingga 25 % populasi penduduknya tewas berkalang tanah.

Gambar 3. Plot episentrum gempa-gempa vulkanik di sekitar Gunung Bardarbunga beserta kedalamannya dalam periode antara 16 hingga 24 Agustus 2014. Nampak episentrum berkerumun di sebuah garis irregular sepanjang sekitar 40 kilometer yang menjulur ke timur laut dari Gunung Bardarbunga. Inilah pertanda terbentuknya pematang instrusi magmatik sebagai tempat dimana amagma berakumulasi tepat sebelum keluar ke permukaan Bumi. Tanda bintang (*) adalah tempat terbentuknya retakan yang selanjutnya menjadi pusat letusan Holuhraun mulai 29 Agustus 2014. Sumber: Icelandic Meteorological Office, 2014.

Gambar 3. Plot episentrum gempa-gempa vulkanik di sekitar Gunung Bardarbunga beserta kedalamannya dalam periode antara 16 hingga 24 Agustus 2014. Nampak episentrum berkerumun di sebuah garis irregular sepanjang sekitar 40 kilometer yang menjulur ke timur laut dari Gunung Bardarbunga. Inilah pertanda terbentuknya pematang instrusi magmatik sebagai tempat dimana amagma berakumulasi tepat sebelum keluar ke permukaan Bumi. Tanda bintang (*) adalah tempat terbentuknya retakan yang selanjutnya menjadi pusat letusan Holuhraun mulai 29 Agustus 2014. Sumber: Icelandic Meteorological Office, 2014.

Islandia kembali mengeliat pada 2014 ini lewat Gunung Bardarbunga. Awalnya adalah krisis seismik selama sebulan penuh ditandai terjadinya gempa demi gempa kecil yang datang beruntun. Bersamaan dengannya bagian kerak bumi di sektor timurlaut gunung juga mulai menggelembung. Keduanya adalah pertanda bahwa magma segar dalam jumlah cukup signifikan sedang menanjak naik dari perut Gunung Bardarbunga hendak mencari jalan keluar. Krisis seismik juga memperlihatkan magma segar telah berkumpul demikian rupa hingga menghasilkan pematang intrusi magmatik sepanjang sekitar 40 kilometer pada segmen kerak bumi yang membentang di antara Gunung Bardarbunga dan padang Holuhraun. Di Holuhraun inilah, tepatnya di sekitar ujung pematang intrusi magmatik, tanah merekah sepanjang 2 kilometer pada 29 Agustus 2014 dinihari. Darinya magma basaltik tumpah keluar, beberapa sebagai pancuran lava yang menyembur hingga setinggi lebih dari 100 meter. Bersamaan dengan itu tubuh Gunung Bardarbunga kontan mengempis, terjadi penurunan pada lantai kaldera Bardarbunga hingga 15 meter dari semula.

Lava basaltik yang encer membanjir ke timur laut, laksana sungai api, dalam volume teramat besar. Hingga 1 Oktober 2014 lava telah menutupi area seluas 48 kilometer persegi dengan ketebalan rata-rata 14 meter, setinggi gedung berlantai tiga. Dengan demikian volume lava pada saat itu mencapai sekitar 650 juta meter kubik, lima kali lipat volume Letusan Kelud 2014. Sehingga sejauh ini letusan Holuhraun adalah letusan dengan material vulkanik terbesar di Bumi sepanjang 2014. Maka setiap detiknya letusan Holuhraun melepaskan 290 meter kubik lava. Dengan kata lain setiap detiknya retakan Holuharun memuntahkan lava dalam jumlah yang setara muatan 12 truk tanki pengangkut BBM berkapasitas 24.000 liter. Total energinya pun sangat besar. Jika suhu magmanya dianggap 900 derajat Celcius, maka energi termal yang dihasilkan letusan Holuhraun hingga 1 Oktober 2014 mencapai 117 megaton TNT. Ini setara energi yang dilepaskan 5.850 butir bom nuklir Hiroshima.

Gambar 4. Sebaran lava basaltik letusan Holuhraun hingga 1 Oktober 2014. Lava telah menutupi area seluas 48,2 kilometer persegi dengan panjang sekitar 16 kilometer. Volume magma yang diletuskan hingga 1 Oktober 2014 telah sekitar 650 juta meter kubik. Tak ada tanda-tanda aktivitas letusan mulai menyurut. Sumber: University of Iceland, 2014.

Gambar 4. Sebaran lava basaltik letusan Holuhraun hingga 1 Oktober 2014. Lava telah menutupi area seluas 48,2 kilometer persegi dengan panjang sekitar 16 kilometer. Volume magma yang diletuskan hingga 1 Oktober 2014 telah sekitar 650 juta meter kubik. Tak ada tanda-tanda aktivitas letusan mulai menyurut. Sumber: University of Iceland, 2014.

Sejauh ini tak ada korban jiwa maupun luka-luka akibat letusan Holuhraun. Kerugian material juga relatif tidak ada, seiring tidak terganggunya lalu lintas penerbangan sipil setempat maupun regional (Eropa) dan tidak adanya infrastruktur yang dilalap sang lava. Namun letusan ini mengirimkan pesan sangat jelas pada segenap manusia, bahwa vulkanisme di Bumi tak hanya menghasilkan gunung-gemunung berapi yang tinggi mengerucut dengan erupsi sentral di kawah utamanya seperti umum dijumpai di Indonesia. Namun juga sanggup menghasilkan gunung-gemunung berapi ‘aneh’ berbentuk retakan panjang yang sanggup membanjirkan lava basalt dalam erupsi retakan. Erupsi retakan seperti letusan Holuhraun memang jarang dijumpai di Bumi. Hanya di tempat-tempat dimana terjadi aktivitas vulkanisme titik-panas (hotspot) sajalah letusan sejenis terjadi. Dan Islandia adalah salah satu tempat tersebut.

Di luar Islandia pun masih ada sejumlah tempat yang menjadi panggung vulkanisme titik-panas. Salah satunya sangat dikenal Umat Islam sedunia mengingat kedudukannya demikian dekat dengan satu dari dua kotasuci, yakni Madinah. Dan 7,5 abad silam, gunung berapi dengan retakan panjang yang tak begitu kita kenal ini meletus dengan skala kedahsyatan menyerupai letusan Holuhraun. Banjir lava panas membaranya demikian mencekam, hingga hampir mengubur kotasuci Madinah dalam lautan bara. Inilah Letusan Madinah.

Letusan Madinah

Bandar udara internasional Pangeran Muhammad bin Abdulaziz adalah pintu gerbang utama kotasuci Madinah al-Munawwarah. Ia juga menjadi satu dari dua pintu masuk utama ke dua kotasuci bagi Umat Islam selain bandar udara internasional King Abdul Aziz di Jeddah. Bandar udara ini terletak di pinggiran utara kotasuci Madinah, tak seberapa jauh dari Gunung Uhud yang bersejarah. Jika kita melayangkan pandangan mata dari sini, Gunung Uhud yang tandus dengan hiasan warna coklat tanah kemerah-merahan nampak memanjakan mata di arah barat daya. Lansekap sewarna juga dijumpai di arah barat, utara dan timur. Namun tidak dengan arah selatan. Sejauh mata memandang hanya nampak bukit-bukit tandus kehitaman, dengan bongkahan bebatuan penyusunnya yang jauh lebih kasar ketimbang bebatuan Gunung Uhud. Sangat sedikit informasi yang tersedia tentang bukit-bukit kehitaman ini. Namun siapa sangka, di balik minimnya informasi, bukit-bukit kehitaman ini sejatinya adalah jejak kasat mata dari salah satu periode paling mencekam sepanjang sejarah kotasuci Madinah. Inilah endapan lava basaltik dari Letusan Madinah, letusan besar yang hampir saja memanggang Madinah.

Gambar 5. Citra satelit Landsat dalam warna nyata untuk kotasuci Madinah dan sekitarnya. Nampak hampir seluruh permukaan tanah di sekitar kota ini didominasi warna coklat kemerah-merahan. Terkecuali di sisi tenggara kota yang permukaan tanahnya bewarna hitam/gelap. Inilah endapan lava jejak Letusan Madinah 1256. Sumber: Google Earth, 2014.

Gambar 5. Citra satelit Landsat dalam warna nyata untuk kotasuci Madinah dan sekitarnya. Nampak hampir seluruh permukaan tanah di sekitar kota ini didominasi warna coklat kemerah-merahan. Terkecuali di sisi tenggara kota yang permukaan tanahnya bewarna hitam/gelap. Inilah endapan lava jejak Letusan Madinah 1256. Sumber: Google Earth, 2014.

Kalender menunjukkan hari Senin 1 Jumadil Akhir 654 Hijriyyah kala sebuah getaran mulai mengguncang kotasuci Madinah. Para pedagang, peziarah tanah suci, penduduk dan segenap manusia lainnya yang sedang berada maupun tinggal di kotasuci itu merasakannya. Semuanya berharap getaran tadi hanyalah getaran tanah biasa yang akan berhenti dengan segera secepat kedatangannya. Namun harapan itu sirna laksana uap menghilang di udara. Betapa tidak, dalam empat hari kemudian secara beruntun getaran demi getaran tanah justru terus saja terjadi berulang-ulang. Kekerapannya kian mengencang dan sering. Di Jumat pagi, sedikitnya 18 getaran keras mengguncang hanya dalam waktu singkat. Dan siang harinya, kala orang-orang sedang berkumpul di Masjid Nabawi menanti waktu shalat Jumat, sebuah getaran keras, terkeras di antara semua getaran sebelumnya, mengagetkan semuanya. Tak pelak semua itu mengundang tanya di hati setiap orang. Rasa cemas pun mulai membersit. Apalagi getaran demi getaran terus saja terjadi selepas shalat Jumat, meski tak sekeras sebelumnya.

Drama mencapai klimaksnya pada Sabtu pagi usai shalat Shubuh, bertepatan dengan 1 Juli 1256. Secara mendadak ketenangan dan keheningan pagi dibuyarkan suara bergemuruh susul-menyusul yang datang dari arah al-Hijaz di tenggara. Bersamanya muncul pancuran bola-bola api merah kebiruan ke langit dalam jumlah besar. Demikian banyaknya bola-bola api yang mirip kembang api ini sehingga cahayanya benderang menyinari cakrawala laksana tersorot Matahari. Selama berhari-hari kemudian pancuran api terus berlangsung tanpa henti dan bahkan kian bertambah banyak saja. Kini malam-malam di kotasuci Madinah pun berubah dramatis menjadi seterang siang hari. Demikian terangnya malam-malam itu sehingga bagian Raudhah dan makam Nabi SAW yang ada di dalam kompleks Masjid Nabawi bagaikan tersorot cahaya Matahari secara terus-menerus. Cahaya terang itu bahkan bisa disaksikan dengan jelas dari Tayma’ dan kotasuci Makkah al-Mukarramah, padahal keduanya berjarak 300 kilometer dari sumber bola-bola api ini.

Sejarawan al-Qastalani menulis, orang-orang Badui pemberani yang mencoba mendekati titik sumber lontaran api tercengang menyaksikan pemandangan menggidikkan. Cairan panas kental mirip bubur yang sangat encer berwarna merah-kebiruan dengan beberapa bagiannya telah menghitam nampak menggelegak. Di latar belakangnya terlihat enam titik pancuran bola-bola api membara yang terus-menerus muncrat ke langit. Seluruh cairan tersebut bergerak mengalir perlahan laksana sungai sembari menyeret batu, pohon, tanah dan apa saja yang dilaluinya. Suara bergemuruh mirip petir yang sambung-menyambung terus saja terdengar. Asap pekat beraroma belerang terus mengepul, memedihkan mata dan menyesakkan dada. Demikian pekat asapnya sehingga udara laksana berkabut terus-menerus. Akibatnya Matahari pun hanya terlihat sebagai bundaran kemerah-merahan saja, hatta telah berkedudukan cukup tinggi di langit. Udara di dekat cairan kental nan aneh ini demikian panasnya, sehingga tak seorang pun berani mendekatinya lebih dekat dari dua lontaran anak panah (+/- 200 m).

Gambar 6. Citra satelit Landsat dalam warna nyata untuk salah satu lokasi retakan yang menjadi sumber Letusan Madinah 1256. Nampak sejumlah kerucu skoria (cinder cone) yang dikelilingi bebatuan berwarna gelap (yang adalah endapan lava basaltik). Sumber: Google Earth, 2014.

Gambar 6. Citra satelit Landsat dalam warna nyata untuk salah satu lokasi retakan yang menjadi sumber Letusan Madinah 1256. Nampak sejumlah kerucu skoria (cinder cone) yang dikelilingi bebatuan berwarna gelap (yang adalah endapan lava basaltik). Sumber: Google Earth, 2014.

Di masa kini kita mengetahui apa yang dihadapi orang-orang Madinah saat itu adalah lava panas produk letusan gunung berapi. Dengan teknologi terkini, relatif lebih mudah mengetahui apa yang sedang terjadi dengan menerbangkan radas (instrumen) dalam kedudukan cukup tinggi di atas lava panas membara itu, baik di dalam pesawat udara nir-awak maupun via satelit penginderaan jauh. Layaknya letusan Holuhraun, Letusan Madinah bersumber pada sebuah retakan di segmen kerak bumi berbelas kilometer sebelah tenggara kotasuci Madinah. Entah seberapa panjangnya retakan itu, namun darinya magma basaltik membanjir keluar sembari muncrat hingga puluhan meter ke udara. Sejumlah gundukan mengerucut yang membukit pun terbentuk di sepanjang retakan ini, yang disebut kerucut skoria (cinder cone). Magma encer itu lantas mengalir sebagai lava menyusuri kontur rupabumi setempat menuju tempat-tempat yang lebih rendah. Pada puncaknya lava panas ini pun terkumpul demikian rupa hingga laksana sejenis danau lava berkedalaman 3 meter yang membentang sepanjang 23 kilometer.

Teknologi di abad ke-13 memang belum memungkinkan manusia masa itu melihat keseluruhan dinamika Letusan Madinah. Apalagi memprakirakan kemana danau lava itu bakal bergerak mengalir dan menelan apa saja yang ada dihadapannya. Namun orang-orang Badui yang pemberani itu terus mengamati pergerakan cairan kental panas nan aneh (yang adalah tepi danau lava) itu dari hari ke hari. Sehingga mereka pun menyadari bahwa cairan panas menggelegak itu secara perlahan namun pasti sedang beringsut mengarah ke kotasuci Madinah yang memang berketinggian lebih rendah. Jelas sudah. Jika semua terus berlangsung seperti itu, maka segenap isi kotasuci tersebut akan tenggelam dalam lautan bara. Kini rasa cemas yang melanda penduduk Madinah pun bermetamorfosis menjadi ketakutan luar biasa. Juga kebingungan. Belum pernah mereka atau nenek moyang mereka, atau bahkan Bangsa Arab sekalipun, menghadapi peristiwa alam semacam ini. Dapat dipahami jika di tengah ketakutan dan kebingungan ini kisah-kisah akan hari akhir pun menyebar kemana-mana. Apalagi salah satu di antara tanda-tanda besar kedatangan hari akhir adalah munculnya api di tanah Hijaz. Dan kini kotasuci Madinah (yang berada di kawasan Hijaz) benar-benar berhadapan dengan api panas membara dalam ukuran yang sungguh tak pernah terbayangkan pada zaman itu.

Menyadari bahaya yang mengancam kotasuci Madinah seisinya, gubernur sigap bertindak. Seluruh penduduk maupun musafir, baik laki-laki maupun perempuan, baik orang dewasa maupun anak-anak, dimintanya untuk segera berkumpul di Masjid Nabawi khususnya di bagian Raudhah dan sekitarnya yang merupakan kawasan mustajab. Semua pun berdoa dengan sepenuh hati, bertaubat dan memohon ampunan Allah SWT atas segala kesalahan yang telah dilakukan. Mereka juga memohon agar cairan kental panas itu, yang kian mendekat saja ke kotasuci, untuk dihentikan atau dialihkan. Banyak yang mencucurkan air mata di tengah kekhusukan doanya ketika menyadari bahwa jika Allah SWT menghendaki, dengan mudah cairan kental panas itu menelan kotasuci Madinah beserta seluruh isinya dan menghapusnya dari muka bumi tanpa sisa dan tiada sesuatu pun yang dapat menghalanginya.

Dan keajaiban pun terjadilah. Seperti bernyawa, lava panas itu berhenti sebelum tapal batas kotasuci dan lantas lantas berbelok ke utara untuk kemudian melambat, berhenti dan membeku. Letusan Madinah sendiri berakhir dalam 52 hari setelah bermula. Sepanjang 52 hari tersebut 500 juta meter kubik magma dimuntahkan dari dalam perut bumi. Sehingga rata-rata Letusan Madinah memuntahkan lebih dari 100 meter kubik magma dalam setiap detiknya.

Harrat Rahat

Gambar 7. Retakan di padang Holuhraun pada 30 Agustus 2014, sehari setelah letusan Holuhraun bermula. Nampak lava panas membara sedang meluap dan mengendap ke sekelilingnya sembari mendingin sehingga berubah warna menjadi gelap. Gas vulkanik pekat nampak terus mengepul. Panorama semacam ini pula yang dilihat orang-orang Madinah kala terjadi Letusan Madinah 1256 pada 7,5 abad silam. Sumber: Dailykos, 2014.

Gambar 7. Retakan di padang Holuhraun pada 30 Agustus 2014, sehari setelah letusan Holuhraun bermula. Nampak lava panas membara sedang meluap dan mengendap ke sekelilingnya sembari mendingin sehingga berubah warna menjadi gelap. Gas vulkanik pekat nampak terus mengepul. Panorama semacam ini pula yang dilihat orang-orang Madinah kala terjadi Letusan Madinah 1256 pada 7,5 abad silam. Sumber: Dailykos, 2014.

Letusan Madinah merupakan wujud nyata eksistensi gunung berapi di semenanjung Arabia. Ya. Meski mayoritas bagiannya beriklim gurun, namun bentang lahan semenanjung terbesar di muka bumi ini tidaklah melulu berisi lautan pasir gersang. Padang pasir semacam itu hanya dijumpai di sisi selatan dan tenggara sebagai padang pasir ar-Rub’ al-Khali, yang adalah lautan pasir lepas terluas di muka bumi. Semenanjung ini juga bukan sekedar tanah tempat agama-agama samawi dilahirkan, tanah tempat para nabi dan rasul diutus serta tanah tempat berdirinya dua kotasuci Umat Islam. Namun lebih dari itu, semenanjung ini juga adalah salah satu keajaiban geologi yang sulit dicari padanannya di tempat lain. Sebagian Semenanjung Arabia khususnya daratan yang sebelah-menyebelah Laut Merah (termasuk kawasan Hijaz) adalah salah satu daratan tertua di muka bumi. Daratan ini dikenal sebagai Tameng Arabia-Nubia (Arabian-Nubian Shield). Dengan umur sedikitnya 600 juta, batuan di Tameng Arabia-Nubia sejatinya telah begitu padat sehingga jauh lebih stabil dibanding daratan lainnya yang lebih muda.

Namun di Tameng Arabia-Nubia pula kita kita bisa menyaksikan momen lahirnya kerak bumi baru dan meluasnya lempeng tektonik. Bentangan panjang Laut Merah yang menghiasi kawasan ini sejatinya adalah lembah besar yang dalam sehingga tergenangi air asin yang mengalir dari Samudera Hindia. Lembah besar ini bukanlah lembah biasa, sebab dibentuk oleh pergerakan tektonik intensif. Ia bersambung dengan lembah-lembah lurus lainnya yang menjulur dari Turki hingga ke Afrika Tengah dalam sebuah ekspresi yang disebut Lembah Retakan Besar (Great Rift Valley) sepanjang sekitar 4.000 kilometer. Di sejumlah bagian lembah inilah magma panas menyeruak dari lapisan selubung, terutama di sepanjang retakan kecil sumbu dasar Laut Merah, khususnya di sisi selatan. Begitu keluar, magma panas mulai mendingin dan membeku menjadi bayi lempeng tektonik oseanik. Jika pola semacam ini berlangsung secara menerus, maka dalam puluhan juta tahun ke depan Laut Merah akan demikian meluas menjadi samudera baru sementara retakan kecil sumbu dasarnya berevolusi menjadi punggungan tengah samudera seperti Islandia saat ini. Maka jangan heran jika saat ini di tengah-tengah Laut Merah dijumpai sejumlah gunung berapi. Ada yang tetap terbenam di bawah permukaan air dan ada pula yang menyembul di atas laut sebagai pulau vulkanis.

Tetapi retakan tidak hanya muncul di dasar Laut Merah. Di kawasan Hijaz, sejumlah retakan yang mirip pun terbentuk dan menjadi panggung bagi vulkanisme titik-panas serupa. Di retakan-retakan inilah magma menyeruak keluar membentuk gunung berapi Hijaz yang khas. Jangan bayangkan gunung berapi Arabia berbentuk kerucut tinggi yang indah seperti halnya gunung-gunung berapi komposit (stratovulcan) di Indonesia. Vulkanisme titik-panas menghasilkan magma basaltik yang lebih encer, sehingga gunung berapi Hijaz sejatinya hanyalah tumpukan lava yang tersebar menutupi area sangat luas dengan sejumlah kerucut skoria berketinggian rendah muncul didalamnya. Dapat dikata gunung berapi Hijaz memiliki panorama yang ‘jelek.’ Namun dibalik ‘kejelekan’-nya, vulkanisme di tanah Hijaz ini sungguh luar biasa. Secara akumulatif dalam 10 juta tahun terakhir ia telah memuntahkan lava basaltik yang menutupi area seluas 180 ribu kilometer persegi, setara sepersepuluh luas Indonesia.

Gambar 8. Lava basaltik panas membara sedang merayap menyusuri tanah Islandia, diabadikan pada 15 September 2014. Pelan namun pasti lava basaltik ini terus bergerak maju menutupi wilayah lebih luas dari hari ke hari. Panorama sejenis tersebut juga disaksikan orang-orang Madinah kala terjadi Letusan Madinah 1256 pada 7,5 abad silam. Sumber: University of Iceland, 2014.

Gambar 8. Lava basaltik panas membara sedang merayap menyusuri tanah Islandia, diabadikan pada 15 September 2014. Pelan namun pasti lava basaltik ini terus bergerak maju menutupi wilayah lebih luas dari hari ke hari. Panorama sejenis tersebut juga disaksikan orang-orang Madinah kala terjadi Letusan Madinah 1256 pada 7,5 abad silam. Sumber: University of Iceland, 2014.

Salah satu retakan di sini adalah yang berpangkal dari sekitar kotasuci Makkah al-Mukarramah dan menerus ke utara-timur laut melintas di dekat kotasuci Madinah hingga kemudian berujung di Nafud. Karenanya retakan sepanjang sekitar 600 kilometer ini lebih dikenal sebagai retakan Makkah-Madinah-Nafud atau Makkah-Madinah-Nafud volcanic line. Lewat retakan inilah magma melimpah ke permukaan tanah dan membentuk sedikitnya empat gunung berapi Hijaz. Dari selatan ke utara, masing-masing adalah Harrat Rahat, Harrat Kurama, Harrat Khaybar dan Harrat Ithnayn. Harrat Rahat menjadi gunung berapi terbesar di jalur retakan ini, bahkan di seantero Semenanjung Arabia. Ia membentang sepanjang 310 kilometer dari Jeddah ke Madinah dengan lebar rata-rata sekitar 75 kilometer. Harrat Rahat pada dasarnya adalah tumpukan lava basaltik yang telah membeku dengan total volume sebesar 2.000 kilometer kubik. Lava sebanyak itu diletuskan secara bertahap lewat 400 saluran magma serta lebih dari 2.000 kerucut skoria sepanjang 10 juta tahun terakhir. Praktis kotasuci Makkah dan Madinah sebenarnya berdiri tepat di tubir gunung berapi raksasa menggetarkan yang memiliki nama lain Harrat Bani Abdullah, atau Harrat Madinah, atau Harrat Rashid, atau Harrat Turrah, atau Harrat el-Medina, atau Harrat er-Raha, atau Jabal Ma’tan, atau Jabal Umm Ruqubah, atau Jabal al-Hurus, atau Jibal Diba’ Al Hurus ini. Dan di ujung utara gunung berapi raksasa inilah Letusan Madinah terjadi dalam 7,5 abad silam.

Gambar 9. Peta Semenanjung Arabia bagian barat khususnya kawasan Hijaz. Nampak gunung-gemunung berapi Arabia (harrat) dengan yang terbesar adalah Harrat Rahat. Praktis kotasuci Makkah dan Madinah berdiri di tubir gunung berapi raksasa ini. Tanda bintang (*) menunjukkan lokasi Letusan Madinah 1256. Aktivitas terakhir gunung-gemunung berapi ini adalah di Harrat Lunayyir, 200 kilometer barat laut kotasuci Madinah. Sumber: Zahrani dkk, 2013.

Gambar 9. Peta Semenanjung Arabia bagian barat khususnya kawasan Hijaz. Nampak gunung-gemunung berapi Arabia (harrat) dengan yang terbesar adalah Harrat Rahat. Praktis kotasuci Makkah dan Madinah berdiri di tubir gunung berapi raksasa ini. Tanda bintang (*) menunjukkan lokasi Letusan Madinah 1256. Aktivitas terakhir gunung-gemunung berapi ini adalah di Harrat Lunayyir, 200 kilometer barat laut kotasuci Madinah. Sumber: Zahrani dkk, 2013.

Letusan Madinah bukanlah akhir dari aktivitas gunung berapi Hijaz. Gunung-gunung berapi unik ini terus aktif bahkan hingga kini. Pada 2009 lalu terjadi lonjakan jumlah gempa vulkanik secara mendadak di Harrat Lunayyir, sebuah gunung berapi Hijaz berukuran kecil yang terletak di barat laut kotasuci Madinah. Selama bulan April hingga Juni 2009 terjadi 40.000 guncangan gempa vulkanik dengan magnitudo antara 2 hingga 5,4 skala Richter. Inilah pertanda sangat jelas bahwa magma basaltik di perutbumi kawasan Hijaz masih tetap berupaya mencari jalan keluar ke permukaan. Pertanda tersebut kian jelas lewat terbentuknya retakan sepanjang 8 kilometer selebar 45 sentimeter. Belajar dari pengalaman Letusan Madinah 7,5 abad silam, otoritas Saudi Arabia tak menyia-nyiakan waktu untuk mengevakuasi sekitar 30.000 orang di kota al-Ays yang ada dalam kompleks gunung berapi ini. Namun tak seperti Harrat Rahat, Harrat Lunayyir ternyata tak kunjung memuntahkan magmanya. Ia urung meletus. Mungkin masih menunggu kesempatan lain di masa depan.

Referensi :

Sudibyo. 2012. Ensiklopedia Fenomena Alam dalam al-Qur’an, Menguak Rahasia Ayat-Ayat Kauniyah. Surakarta: Tinta Medina, cetakan pertama.

Rei. 2014. Bardarbunga: Sorry, Ireland (Update 2x). DailyKos.com, 5 September 2014.

Frimann. 2014. Bardarbunga Daily Update. Iceland Geology, Volcano and Earthquake Activity in Iceland.

al-Zahrani dkk. 2013. Aftershock Sequence Analysis of 19 May, 2009 Earthquake of Lunayyir Lava Flow, Northwest Saudi Arabia. International Journal of the Physical Sciences Vol. 8(7), 23 February 2013, pp. 277-285.

Gunung Slamet, Si Menara Api di Malam Hari

Gunung Slamet (3.428 meter dari paras air laut) di Jawa Tengah terkesan kian menjadi-jadi saja. Bukannya lebih kalem dan bertambah ‘jinak’, ia kini justru kian gemar mempertontonkan kegagahannya kepada siapapun manusia yang sedang berada ataupun bermukim di sekujur kaki dan lerengnya. Semenjak kembali menyandang status Siaga (Level III) per 12 Agustus 2014 silam, intensitas letusan gunung berapi aktif tertinggi kedua di seantero pulau Jawa ini cenderung meningkat. Suara dentuman dan gemuruh kian sering terdengar. Kian jauh pula daerah yang sanggup mendengar dentuman tersebut. Getaran tanah pun kian kerap terjadi, membuat kaca-kaca jendela pada bangunan-bangunan di kaki gunung rutin berderak-derak. Kepulan debu vulkanik yang dilepaskan dari lubang letusan kian meninggi saja. Dan di malam hari material berpijar yang mirip kembang api raksasa juga lebih sering muncul dengan ketinggian semburan kian meninggi saja. Kini pancuran api tersebut bahkan sudah mulai bisa dilihat dari kota Purwokerto, menjadikan Gunung Slamet ibarat menara api penerang gelapnya malam hari.

Gambar 1. Gunung Slamet pada Jumat 12 September 2014 malam, diabadikan dari arah Pemalang. Nampak puncak gunung ibarat menara api. Kepulan debu dan asap terlihat menyebar ke barat berhias gugusan bintang Sagittarius di latar belakang. Sumber: Fatrurrizal, 2014.

Gambar 1. Gunung Slamet pada Jumat 12 September 2014 malam, diabadikan dari arah Pemalang. Nampak puncak gunung ibarat menara api. Kepulan debu dan asap terlihat menyebar ke barat berhias gugusan bintang Sagittarius di latar belakang. Sumber: Fatrurrizal, 2014.

Tak hanya itu, batu cair panas mirip bubur kental yang kita kenal sebagai lava pun sudah menyeruak ke lantai kawah dalam jumlah cukup banyak. Kawah Slamet pun tak lagi sanggup menampungnya, hingga meluber melalui lekukan kawah di sisi barat daya sebagai lava pijar yang mengalir sejauh 1.500 meter. Bahkan pada Kamis 11 September 2014 dini hari kemarin lava pijar terdeteksi telah mengalir pula ke lereng timur, juga melalui lekukan kawah di sini, hingga sejauh 1.300 meter. Lava menjulur demikian jauh hingga memasuki kawasan padang sabana di batas vegetasi lereng utara. Akibatnya kawasan bersemak-belukar itu pun mulai terbakar. Hingga beberapa jam kemudian kebakaran itu kian meluas hingga radius 4 km dari kawah. Di siang harinya Gunung Slamet kembali memperlihatkan kebolehannya dengan menampakkan fenomena unik yang jarang terjadi, yakni terbentuknya cincin asap. Muncul pada sekitar pukul 12:45 WIB, cincin asap ini menghembus demikian tinggi hingga mudah dilihat baik dari kaki gunung bagian selatan maupun utara. Sebelumnya hujan debu telah mengguyur beberapa bagian di sekitar kaki gunung. Tak hanya debu vulkanik, di dekat puncak gunung bahkan telah diguyur hujan kerikil dan pasir.

Gambar 2. Cincin asap Gunung Slamet yang muncul pada Kamis 11 September 2014 sekitar pukul 12:45 WIB. Cincin asap dalam letusan Slamet sejatinya menunjukkan bagaimana geometri dan ukuran saluran magma serta betapa saluran magma tetap terbuka tanpa sumbatan yang berarti. Sumber: Leo Kennedy Adam, 2014.

Gambar 2. Cincin asap Gunung Slamet yang muncul pada Kamis 11 September 2014 sekitar pukul 12:45 WIB. Cincin asap dalam letusan Slamet sejatinya menunjukkan bagaimana geometri dan ukuran saluran magma serta betapa saluran magma tetap terbuka tanpa sumbatan yang berarti. Sumber: Leo Kennedy Adam, 2014.

Tak pelak tabiat Gunung Slamet kali ini membuat sebagian kita resah. Apalagi ditambahi informasi sejumlah hewan liar mulai turun dari hutan belantara di tubuh gunung. Keresahan meraja di sebagian kita yang sedang berada atau bertempat tinggal di sekitar gunung. Juga bagi yang memiliki sanak saudara di sini. Informasi tak berkeruncingan dari sumber-sumber yang tak dapat dipertanggungjawabkan pun membanjir. Demikian pula gambar/foto. Ada berbagai foto akan letusan gunung berapi dan jilatan awan panasnya yang diklaim sebagai letusan Gunung Slamet, padahal itu adalah foto comotan dari letusan Gunung Sinabung (Sumatra Utara) di awal tahun ini. Penampakan cincin asap pun dicermati sebagai kemunculan Mbah Bebek dan dianggap pertanda buruk. Dalam situasi dimana hampir sebagian besar kita memiliki perangkat ponsel terkini dengan segala kecanggihannya namun pada saat yang sama relatif awam akan kegunungapian, tak pelak sebaran foto-foto tersebut membuat rasa cemas dan resah kita kian meningkat. Kecemasan yang tak pada tempatnya mengingat perilaku Gunung Slamet sendiri tak seheboh itu.

Apa yang kini terjadi dengan Gunung Slamet? Bagaimana status aktivitasnya? Apakah lava pijar yang panas membara itu akan mengalir lebih jauh lagi hingga bisa mencapai pemukiman di kaki gunung? Apakah awan panas akan segera terbentuk mengikuti lava pijar? Apa yang sebaiknya dilakukan?

Aktivitas

Sejak menyandang status Siaga (Level III) untuk kedua kalinya, intensitas letusan Gunung Slamet memang tinggi. Pun demikian dalam seminggu terakhir. Merujuk data yang dihimpun secara terus-menerus dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI melalui pos pengamatan Gambuhan, Pemalang, kegempaan vulkanik Gunung Slamet menjadi bukti betapa riuhnya gunung itu. Masih terdeteksi adanya pasokan magma segar yang membuncah dari perutbumi nun jauh di bawah gunung, seperti diperlihatkan beberapa kejadian gempa vulkanik semenjak 4 hingga 6 September 2014.

Gambar 3. Grafik jumlah gempa vulkanik, hembusan dan letusan Gunung Slamet per hari dalam periode 4 hingga 11 September 2014. Nampak gempa vulkanik absen setelah 6 September, sebaliknya gempa letusan mulai muncul pada 9 September dan langsung meroket dalam sehari berikutnya. Sumber: Sudibyo, 2014 berdasarkan data PVMBG, 2014.

Gambar 3. Grafik jumlah gempa vulkanik, hembusan dan letusan Gunung Slamet per hari dalam periode 4 hingga 11 September 2014. Nampak gempa vulkanik absen setelah 6 September, sebaliknya gempa letusan mulai muncul pada 9 September dan langsung meroket dalam sehari berikutnya. Sumber: Sudibyo, 2014 berdasarkan data PVMBG, 2014.

Masih terjadinya gempa vulkanik menjadi pertanda jelas bahwa Gunung Slamet masih mendapatkan pasokan magma segar dari perutbumi. Cepat atau lambat magma ini pasti bakal keluar melalui lubang letusan yang sudah lama terbentuk di dasar kawah aktif Slamet. Benar saja. Lontaran material pijar (yang terlihat sebagai sinar api) dan lava pijar Gunung Slamet mendadak meroket pada 9 hingga 11 September 2014. Bersamaan dengannya gempa letusan, yakni getaran yang terjadi bersamaan dengan semburan asap abu-abu (pertanda debu vulkanik) dari kawah, mulai terjadi kembali dan segera melonjak. Gempa hembusan, yakni getaran yang bersamaan dengan berkepulnya asap putih (pertanda uap air) dari kawah, kian melonjak. Aktivitas letusan dan hembusan ini masih dibarengi dengan terjadinya tremor vulkanik menerus, sebagai pertanda terus terjadinya pelepasan gas-gas vulkanik dari magma yang sedang mulai membeku menjelang terlontar dari lubang letusan bersamaan dengan gerakan magma itu sendiri, terus berlangsung semenjak Agustus.

Gambar 4. Grafik jumlah sinar api dan lava pijar yang dimuntahkan Gunung Slamet per hari dalam periode 4 hingga 11 September 2014. Nampak kejadian sinar api meroket dan mencapai puncaknya pada 9 September dan setelah itu mulai menurun. Sebaliknya kejadian lava pijar cenderung mulai naik mulai dan mencapai puncaknya pada 10 September. Sumber: Sudibyo, 2014 berdasarkan data PVMBG, 2014.

Gambar 4. Grafik jumlah sinar api dan lava pijar yang dimuntahkan Gunung Slamet per hari dalam periode 4 hingga 11 September 2014. Nampak kejadian sinar api meroket dan mencapai puncaknya pada 9 September dan setelah itu mulai menurun. Sebaliknya kejadian lava pijar cenderung mulai naik mulai dan mencapai puncaknya pada 10 September. Sumber: Sudibyo, 2014 berdasarkan data PVMBG, 2014.

Jelas terlihat meningkatnya intensitas letusan Gunung Slamet pada 9 hingga 11 September 2014 merupakan imbas dari pasokan magma segar baru yang terus terjadi, seperti diperlihatkan gempa vulkaniknya. Magma segar yang mulai membeku saat keluar dari lubang letusan kini tak lagi hanya berupa bongkahan material beragam ukuran yang masih memijar, seperti halnya yang terjadi pada letusan Slamet sebelumnya (misalnya letusan 1999-2000 dan letusan 1988). Namun juga berupa lava, sebuah fenomena yang jarang terjadi dalam era sejarah tercatat di gunung berapi ini.

Material vulkanik yang dimuntahkan Gunung Slamet sepanjang letusan 2014-nya kali ini nampaknya cukup banyak dalam kisaran jutaan meter kubik. Selain memenuhi lantai kawah aktif hingga meluber menjadi lava pijar ke barat daya dan kemudian juga ke timur, sebagian material vulkaniknya (termasuk lava) telah membentuk gundukan yang mengerucut di sekeliling lubang letusan. Observasi lapangan (misalnya yang dilakukan secara pribadi oleh mas Aris Yanto) maupun pencitraan satelit memastikan keberadaan gundukan kerucut ini. Namun di pucuk gundukan ini masih tetap terdapat ujung lubang letusan tanpa tertutupi material sama-sekali, berbeda dengan kubah lava pada umumnya yang relatif tersumbat. Fenomena ini menunjukkan bahwa saluran magma/diatrema Gunung Slamet memang tetap terbuka.

Gambar 5. Grafik jumlah suara dentuman dan gemuruh pada letusan Gunung Slamet per hari dalam periode 4 hingga 11 September 2014. Nampak jumlah suara gemuruh dan dentuman yang terdeteksi pada rentang waktu 9 hingga 11 September 2014 lebih besar ketimbang sebelumnya. Sumber: Sudibyo, 2014 berdasarkan data PVMBG, 2014.

Gambar 5. Grafik jumlah suara dentuman dan gemuruh pada letusan Gunung Slamet per hari dalam periode 4 hingga 11 September 2014. Nampak jumlah suara gemuruh dan dentuman yang terdeteksi pada rentang waktu 9 hingga 11 September 2014 lebih besar ketimbang sebelumnya. Sumber: Sudibyo, 2014 berdasarkan data PVMBG, 2014.

Munculnya cincin asap yang langka juga menunjukkan bahwa saluran magma memang tetap terbuka. Cincin asap secara umum hanya bisa terjadi saat asap, yakni gas-gas vulkanik, berkumpul demikian rupa dalam ruang sempit berbentuk/mirip tabung. Kemudian ia menghembus keluar pada tekanan dan kecepatan yang pas. Sehingga selepas keluar dari ruang tersebut, asap tetap mempertahankan bentuk geometri tabung tempat semula ia berada tanpa melayang terlalu rendah ataupun buyar tersapu tekanannya sendiri. Cincin asap dalam letusan gunung berapi adalah pemandangan yang sangat langka, apalagi di Indonesia. Selain di Gunung Slamet, sejauh ini bentuk cincin asap sejenis baru terdokumentasikan dalam letusan Gunung Batutara di pulau Lembata (Nusa Tenggara Timur) dan Gunung Sinabung (Sumatra Utara). Dalam khasanah kegunungapian, selain menjadi pertanda terbukanya saluran magma fenomena cincin asap juga menjadi petunjuk untuk memahami bentuk dan diameter saluran magma.

Status Aktivitas

Dengan semua dinamika dalam seminggu terakhir, bagaimana status aktivitas Gunung Slamet?

Ada empat level status aktivitas yang dapat melekat di sebuah gunung berapi Indonesia untuk kurun tertentu. Status Aktif Normal (Level I) menjadi level terendah. Aktif Normal secara umum terjadi bila gunung berapi tidak mengalami pergerakan magma segar yang signifikan. Meski tetap melepaskan gas vulkanik dan gempa-gempa khas gunung berapi, kecuali gempa vulkanik dalam, namun semuanya berada dalam rentang nilai rata-rata secara statistik. Di level berikutnya ada status Waspada (Level II). Secara umum status ini terjadi tatkala magma dalam perutbumi mulai bergerak naik sehingga menimbulkan peningkatan jumlah gempa vulkanik dalam dan dangkal. Pelepasan gas vulkanik mulai meningkat namun belum diikuti perubahan bentuk tubuh gunung (deformasi). Dalam status ini kewaspadaan manusia yang tinggal di sekitar gunung sebaiknya mulai ditingkatkan. Barang-barang yang dibutuhkan dalam rangka evakuasi kelak sudah mulai disiapkan, meskipun evakuasi belum terjadi. Kawasan terlarang pun umumnya mulai dibentuk, meski tidak semua gunung berapi mengalami hal demikian. Kawasan terlarang dalam status Waspada (Level II) meski masih beradius kecil dari kawah aktif.

Gambar 6. Contoh gempa letusan Gunung Slamet yang terekam di pos pengamatan Gambuhan pada 25 Agustus 2014 pukul 05:50 WIB. Kala kepulan asap berwana abu-abu/gelap menyeruak dari kawah aktif di puncak gunung, pada saat yang sama seismometer analog di pos merekam getarannya (tanda panah). Sumber: PVMBG, 2014.

Gambar 6. Contoh gempa letusan Gunung Slamet yang terekam di pos pengamatan Gambuhan pada 25 Agustus 2014 pukul 05:50 WIB. Kala kepulan asap berwana abu-abu/gelap menyeruak dari kawah aktif di puncak gunung, pada saat yang sama seismometer analog di pos merekam getarannya (tanda panah). Sumber: PVMBG, 2014.

Jika pergerakan magma segar terus berlangsung maka gunung berapi bakal memasuki status lebih tinggi, yakni Siaga (Level III). Secara umum pada status ini magma telah bergerak cukup signifikan hingga mulai memasuki tubuh gunung berapi. Akibatnya gempa vulkaniknya meroket disertai pelepasan gas vulkanik dan mulai terdeformasinya tubuh gunung dalam wujud penggelembungan (inflasi). Dapat terjadi magma sudah mencapai kepundan dan menyeruak keluar sebagai letusan (erupsi) lewat lubang letusan yang dibuatnya. Jika berupa lava, magma yang ter-erupsi bisa terkumpul di satu titik sebagai kubah lava maupun tersebar sebagai lava pijar. Kubah lava mungkin dapat longsor dan menghasilkan awan panas (piroklastika), namun jangkauannya relatif pendek. Dalam status ini meski sudah meletus tapi intensitasnya rendah. Sehingga lava dan awan panasnya belum mengancam umat manusia di yang bermukim di sekitar tubuh gunung. Pada status ini evakuasi masyarakat sudah mulai dilakukan, khususnya yang berdiam di kawasan terlarang. Radius kawasan terlarang juga diperluas. Dan status berikutnya sekaligus yang tertinggi adalah Awas (Level IV), yang secara umum terjadi saat intensitas letusan kian meningkat sehingga produk letusannya khususnya lava dan awan panasnya sudah mulai mengancam pemukiman manusia secara langsung. Dalam status ini radius kawasan terlarang kian diperluas dan evakuasi segenap manusia didalamnya menjadi hal mutlak.

Saat ini Gunung Slamet berstatus Siaga (Level III). Magma sudah keluar di permukaan. Sebagian membeku sebagai debu pasir dan kerikil sebagai material pijar yang dimuncratkan ke langit saat keluar dari lubang letusan. Sementara sebagian lagi keluar sebagai lava pijar membara yang kental dan mengalir lambat. Saat keluar dari lubang letusan, material pijar terlontar hingga setinggi maksimum 700 meter di atas kawah sebelum kemudian jatuh kembali dalam lintasan parabola di bawah pengaruh gravitasi Bumi. Hampir seluruh material tersebut mengendap kembali di kawasan puncak. Terkecuali debu vulkanik yang ringan sehingga paling mudah mendingin tapi juga paling gampang dihembus angin ke jarak yang jauh. Sementara lava pijarnya mengalir sejauh maksimum 1.500 meter dari lubang letusan. Hingga saat ini letusan Gunung Slamet belum menghasilkan awan panas. Jelas bahwa material letusan, khususnya lava pijar, masih berposisi cukup jauh dari pemukiman penduduk di kaki gunung dan belum melampaui radius 4 kilometer dari kawah aktif. Sehingga status aktivitas Gunung Slamet hingga saat ini masih dipertahankan pada Siaga (Level III) dan belum dipandang perlu untuk dinaikkan.

Lava dan Awan Panas

Bentuk tubuh Gunung Slamet unik. Ada lembah besar yang menghubungkan kawasan puncak dengan kaki gunung sebelah barat laut, yakni ke arah Kabupaten Tegal. Melihat bentuknya, lembah besar ini diduga merupakan jejak yang masih tersisa dari letusan mendatar (lateral) yang pernah dialami Gunung Slamet nun jauh di masa silam. Lava pijar yang saat ini diletuskan Gunung Slamet ke barat daya tepat memasuki hulu lembah besar. Andaikata intensitas letusan terus meningkat, lembah besar ini menjadi kawasan yang paling potensial dilalui lava pijar. Selain berpotensi mengalir ke arah barat laut, lekukan di bibir kawah aktif juga memungkinkan lava pijar Gunung Slamet mengalir ke arah timur laut menuju Kabupaten Pemalang, seperti yang terjadi pada 11 September 2014 barusan. Lava pijar yang telah mendingin juga masih memiliki potensi bencana khususnya kala hujan lebat. Butiran-butiran lava yang telah mendingin akan bercampur dan larut terbawa air hujan sebagai lahar hujan yang mengalir ke kaki barat laut Gunung Slamet menyusuri sungai yang berhulu di lembah besar ini. Inilah yang menjadikan kawasan lereng Gunung Slamet bagian utara memiliki kerentanan lebih tinggi dalam menghadapi setiap letusan gunung tersebut.

Gambar 7. Dua wajah kawah Gunung Slamet saat ini berdasarkan observasi lapangan 26 Agustus 2014. Baik di kala malam maupun siang hari, gundukan material baru yang mengerucut nampak jelas berada di dalam kawah aktif. Di pucuk gundukan material ini nampak ujung dari lubang letusan. Belum jelas status gundukan ini apakah sekedar tumpukan material letusan ataukah kubah lava. Sumber: Aris Yanto, 2014.

Gambar 7. Dua wajah kawah Gunung Slamet saat ini berdasarkan observasi lapangan 26 Agustus 2014. Baik di kala malam maupun siang hari, gundukan material baru yang mengerucut nampak jelas berada di dalam kawah aktif. Di pucuk gundukan material ini nampak ujung dari lubang letusan. Belum jelas status gundukan ini apakah sekedar tumpukan material letusan ataukah kubah lava. Sumber: Aris Yanto, 2014.

Bagaimana dengan potensi terjadinya awan panas Gunung Slamet? Sejauh ini, letusan memang telah menghasilkan gundukan yang mengerucut di sekeliling lubang letusan. Apakah gundukan ini kubah lava? Mungkin ya, tapi mungkin juga tidak. Pada saat ini gundukan tersebut masih berada di dalam kawah aktif Slamet. Ia belumlah tumbuh sedemikian besar sehingga belumlah menutupi seluruh bagian kawah aktif. Maka andaikata gundukan ini adalah kubah lava, setiap guguran yang dialaminya terbatasi hanya di dalam lantai kawah aktif. Dengan ukuran yang masih kecil, maka kecil kemungkinan terjadinya guguran/runtuhan besar yang menghasilkan awan panas. Andaikata guguran besar terjadi, sebaran materialnya akan terbatasi hanya di lantai kawah aktif. Dari sini dapat dikatakan bahwa pada saat ini potensi terbentuknya awan panas dalam letusan Gunung Slamet masih amat sangat kecil.

Gambar 8. Citra satelit sumberdaya Bumi SPOT sebelum Letusan Slamet 2014 dalam warna natural (atas) dan Landsat-8 OLI pada 30 Agustus 2014 dalam warna komposit RGB (bawah). Nampak jelas adanya perubahan dalam kawah aktif Gunung Slamet, dari semula berbentuk cekung saja (atas) menjadi berhias gundukan (bawah) yang ditebari warna kemerahan, yang adalah jejak panas dari lava pijar. Sumber: LAPAN, 2014.

Gambar 8. Citra satelit sumberdaya Bumi SPOT sebelum Letusan Slamet 2014 dalam warna natural (atas) dan Landsat-8 OLI pada 30 Agustus 2014 dalam warna komposit RGB (bawah). Nampak jelas adanya perubahan dalam kawah aktif Gunung Slamet, dari semula berbentuk cekung saja (atas) menjadi berhias gundukan (bawah) yang ditebari warna kemerahan, yang adalah jejak panas dari lava pijar. Sumber: LAPAN, 2014.

Ukuran gundukan tersebut memang masih bisa membesar lagi seiring masih intensifnya Gunung Slamet memuntahkan magmanya. Jika berlangsung terus secara berkesinambungan, maka di masa depan gundukan ini bisa sedemikian besarnya sehingga menutupi seluruh bagian kawah aktif. Selain membuat Gunung Slamet bertambah tinggi, gundukan yang demikian besar juga bakal lebih tak stabil khususnya jika ia memang kubah lava. Baru dalam kondisi inilah potensi terjadinya awan panas atau wedhus gembel dalam letusan Gunung Slamet membesar. Dengan satu penegasan, jika gundukan itu memang kubah lava.

Apa yang Sebaiknya Kita Lakukan?

Pasca peningkatan intensitas letusan dalam rentang waktu 9 hingga 11 September 2014, kini Gunung Slamet justru cenderung menurun. Ia cenderung lebih kalem. Gelagat ini sejatinya tak mengherankan seiring nihilnya gempa vulkaniknya selepas 6 September 2014. Dengan kata lain suplai magma segar yang baru dalam jumlah signifikan dari perutbumi relatif berkurang. Sehingga lontaran material pijar dan lava pijar beserta suara dentuman dan gemuruh yang ditimbulkannya relatif menurun dalam jumlah yang relatif besar. Situasi kalem semacam ini bakal terus bertahan sampai ada suplai magma segar yang baru lagi kelak. Kapan magma segar yang baru akan kembali naik dari perutbumi? Hanya Allah SWT yang tahu. Ilmu pengetahuan dan teknologi masakini belum memiliki kemampuan untuk memperkirakannya. Kita hanya bisa mengetahuinya tepat pada saat magma segar itu sudah bergerak naik, yang direfleksikan oleh kejadian gempa vulkaniknya. Yang jelas begitu suplai magma segar yang baru terdeteksi, dapat dikatakan bahwa dalam beberapa hari hingga seminggu kemudian intensitas letusan Gunung Slamet kembali meningkat.

Sejauh ini letusan Gunung Slamet masih tetap membatasi lontaran material pijar dan lava pijarnya hanya di sekitar kawasan puncak. Belum ada material vulkanik panas membara yang terlontar melampaui batas radius 4 kilometer dari kawah aktif yang saat ini diberlakukan. Sehingga sejatinya Gunung Slamet masih tetap berada dalam ritme letusan yang telah dilakoninya selama berabad-abad terakhir. Ia masih mempertahankan tipe letusannya pada erupsi strombolian. Ia masih memiliki saluran magma yang terbuka tanpa hambatan berarti, sehingga tak berkesempatan menimbun magma hingga jumlah yang sangat besar ataupun meningkatkan tekanan gas vulkaniknya hingga sangat tinggi. Ketinggian semburan material vulkaniknya pun masih tergolong rendah, juga kepekatan debu vulkaniknya seperti diperlihatkan oleh Volcanic Ash Advisory Committee (VAAC) Darwin. Karenanya ia belum mengganggu aktivitas penerbangan yang melintas di atas/dekatnya. Maka dari itu bisa disimpulkan bahwa potensi Gunung Slamet untuk meletus besar adalah sangat kecil.

Gambar 9. Ilustrasi gunung berapi dengan saluran magma yang terbuka dan tertutup. Jika saluran magma terbuka, yakni tak memiliki penghalang yang signifikan, maka magma dengan mudah keluar dari kawah sehingga intensitas letusannya relatif kecil. Sebaliknya jika saluran magma tertutupi oleh sumbat yang pejal dan kuat, maka magma dan gas harus terkumpul dan memiliki tekanan yang sangat tinggi guna menjebol sumbatnya. Sehingga intensitas intensitas letusannya jauh lebih besar. Gunung Slamet memiliki saluran magma yang terbuka, sehingga potensinya untuk meletus besar adalah sangat kecil. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 9. Ilustrasi gunung berapi dengan saluran magma yang terbuka dan tertutup. Jika saluran magma terbuka, yakni tak memiliki penghalang yang signifikan, maka magma dengan mudah keluar dari kawah sehingga intensitas letusannya relatif kecil. Sebaliknya jika saluran magma tertutupi oleh sumbat yang pejal dan kuat, maka magma dan gas harus terkumpul dan memiliki tekanan yang sangat tinggi guna menjebol sumbatnya. Sehingga intensitas intensitas letusannya jauh lebih besar. Gunung Slamet memiliki saluran magma yang terbuka, sehingga potensinya untuk meletus besar adalah sangat kecil. Sumber: Sudibyo, 2014.

Dalam kaitannya dengan ini, menarik untuk mencermati pernyataan Dr. Surono, ahli kegunungapian legendaris yang juga Kepala Badan Geologi. Bahwa tak perlu meden-medeni (menakut-nakuti) terkait (letusan) Gunung Slamet. Ditinjau dari sudut pandang ilmu kegunungapian, letusan Gunung Slamet kali ini masih tergolong kalem. Apalagi jika dibandingkan dengan Letusan Kelud 2014 dan Letusan Sangeang Api 2014 kemarin. Sepanjang tidak memasuki kawasan terlarang (yang beradius mendatar hingga 4 kilometer dari kawah aktif), maka tak ada yang perlu dikhawatirkan. Bahkan letusan Slamet kali ini sejatinya bisa dinikmati sebagai obyek wisata baru. Menyaksikan semburan api mencuat dari puncak Gunung Slamet di kala malam akan cukup mengesankan, yang bisa menjadi bagian dari upaya kita memahami kinerja alam semesta sekaligus mengagumi kebesaran-Nya.

Yang jelas ke depan intensitas letusan Gunung Slamet masih berpotensi untuk meninggi kembali seperti barusan terlewat, sepanjang masih terjadi suplai magma segar yang baru dalam jumlah signifikan. Kapan? Hanya Allah SWT yang tahu. Namun saat hal itu kembali terjadi, mari upayakan untuk menekan rasa cemas dan resah kita seminimal mungkin. Tetaplah mengacu informasi pada sumber-sumber yang bisa dipertanggungjawabkan, dalam hal ini PVMBG melalui Pos Gambuhan ataupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Brebes, Tegal, Pemalang, Purbalingga dan Banyumas. PVMBG dan juga Badan Geologi cukup aktif dalam menyalurkan informasi khususnya lewat media elektronik dan/atau media sosial. Pun demikian sejumlah relawan bencana, yang juga tetap merujuk pada PVMBG. Tak perlu membesar-besarkan klaim, info (apalagi foto) yang belum jelas juntrungannya. Kerap sebuah bencana lokal menjadi petaka yang sungguh berlipatganda, yang sejatinya bisa dihindari, kala informasinya disebarkan sebagai desas-desus yang merambah kemana-mana dalam ranah media sosial.

Catatan :

Beberapa tulisan terkait sebelumnya :

Letusan Gunung Slamet, Antara Mitos dan Realitas.

Gunung Merapi Berstatus Waspada (Level II), Gunung Slamet Meningkat ke Siaga (Level III).

Gunung Slamet (Hampir) Usai Tunaikan Janji.

Bila Gunung Slamet Mencicil Letusan.

Referensi :

PVMBG. 2014. Evaluasi Aktivitas G. Slamet Status Siaga (Level III) Hingga Tanggal 12 September 2014.

Bila Gunung Slamet Mencicil Letusan

Terhitung mulai Selasa 12 Agustus 2014 pukul 10:00 WIB Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia meningkatkan status Gunung Slamet (propinsi Jawa Tengah) dari semula Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III). Peningkatan ini didasari oleh cenderung meningkatnya aktivitas letusan gunung berapi tertinggi kedua di pulau Jawa itu seperti tercermin dalam ranah kegempaan, ketinggian semburan debu vulkanik letusan, suhu mata air panas di kakinya dan mulai terjadinya leleran lava pijar. Bagi sebagian besar kita peningkatan status ini terasa mengejutkan. Namun bagi saudara-saudara kita yang tinggal di sekitar gunung berapi aktif yang bertubuh terbesar seantero pulau Jawa itu peningkatan status lebih sebagai formalisasi terhadap apa yang mereka saksikan secara langsung pada Gunung Slamet dalam kurun sebulan terakhir.

Gambar 1. Pancuran api Gunung Slamet, yang adalah lontaran material vulkanik berpijar mirip air mancur dari kawah aktif Slamet untuk kemudian berjatuhan kembali ke dalam/sekitar kawah sebagai ciri khas erupsi Strombolian. Pada status Siaga (Level III) kali ini, selain erupsi Strombolian juga telah terjadi leleran lava pijar ke arah barat-barat daya (tanda panah). Sumber: Hendrasto (Kepala PVMBG), 2014.

Gambar 1. Pancuran api Gunung Slamet, yang adalah lontaran material vulkanik berpijar mirip air mancur dari kawah aktif Slamet untuk kemudian berjatuhan kembali ke dalam/sekitar kawah sebagai ciri khas erupsi Strombolian. Pada status Siaga (Level III) kali ini, selain erupsi Strombolian juga telah terjadi leleran lava pijar ke arah barat-barat daya (tanda panah). Sumber: Hendrasto (Kepala PVMBG), 2014.

Ya. Aktivitas Gunung Slamet memang sedang meningkat. Salah satu petunjuknya secara kasat mata nampak sebagai letusan debu. Pada paruh pertama Juli 2014 (yakni dari tanggal 1 hingga 15), Gunung Slamet hanya mengalami 31 letusan debu yang membumbung setinggi 300 hingga 1.500 meter dari puncak. Namun pada paruh kedua Juli 2014 meroket menjadi 148 letusan debu yang setinggi 300 hingga 2.000 meter dari puncak disertai 2 kali suara dentuman berintensitas sedang dan 1 kali pancuran api. Dan pada paruh pertama Agustus 2014 (hingga tanggal 12) telah terjadi 100 kali letusan debu (tinggi kolom letusan 300 hingga 800 meter dari puncak), disertai terdengarnya suara dentuman berintensitas sedang hingga kuat sebanyak 109 kali, terdengarnya suara gemuruh hingga 9 kali dan 37 kali pancuran api serta 2 kali luncuran lava pijar sejauh 1.500 meter ke arah barat-barat daya.

Petunjuk kasat mata ini beriringan dengan meningkatnya kegempaan vulkanik Gunung Slamet. Misalnya gempa letusan. Bila sepanjang Juni 2014 gunung berapi ini hanya menghasilkan 1 gempa letusan/hari (rata-rata), maka pada Juli 2014 meningkat menjadi 43 gempa letusan/hari (rata-rata). Dan pada paruh pertama Agustus 2014 (tepatnya semenjak tanggal 1 hingga 11), jumlah gempa letusannya meroket tajam menjadi 43 gempa letusan/hari (rata-rata). Demikian pula dengan gempa hembusan. Jika sepanjang Juni 2014 hanya terjadi 123 gempa hembusan/hari (rata-rata), maka sepanjang Juli 2014 meningkat menjadi 247 gempa hembusan/hari (rata-rata). Dan dalam paruh pertama Agustus 2014 terus membumbung tinggi sampai menyentuh angka 456 gempa hembusan/hari (rata-rata). Pun demikian dengan gempa vulkanik. Jika pada Juni 2014 hanya terjadi 3 gempa vulkanik dalam dan 4 gempa vulkanik dangkal, maka sepanjang Juli 2014 meningkat sedikit menjadi 6 gempa vulkanik dalam dan 8 gempa vulkanik dangkal.

Petunjuk lainnya datang dari mata air panas di kaki gunung. Pengukuran suhu mata air panas Pandansari dan Sicaya (7,5 km ke arah barat laut dari puncak Slamet) menunjukkan suhu air panas di kedua tempat tersebut cenderung naik dalam kurun sebulan terakhir, meski kenaikannya berfluktuasi. Dan petunjuk lain yang lebih jelas datang dari pengukuran EDM (electronic distance measurement). Semenjak awal Agustus 2014 terdeteksi terjadinya peningkatan tekanan dari dalam tubuh gunung melalui pengukuran EDM di titik Cilik (5,5, km sebelah utara puncak) dan titik Buncis (6 km sebelah barat laut puncak). Peningkatan tekanan tubuh gunung menunjukkan bahwa sepanjang paruh pertama Agustus 2014 ini tubuh Gunung Slamet sedang membengkak/menggelembung atau mengalami inflasi.

Gambar 2. Kegempaan Gunung Slamet sepanjang tahun 2014 (hingga 11 Agustus 2014). Area di antara sepasang garis hitam tegak menunjukkan situasi saat Gunung Slamet berstatus Siaga (Level III) pada periode yang pertama (yakni antara 30 April hingga 12 Mei 2014). Sementara kotak bergaris merah menunjukkan aneka kegempaan semenjak awal Juli 2014, yakni pada saat letusan debu dan gempa letusan kembali mulai terjadi. Dalam kotak merah ini nampak gempa letusan, gempa hembusan dan dua gempa vulkanik cenderung meningkat. Sumber: PVMBG, 2014.

Gambar 2. Kegempaan Gunung Slamet sepanjang tahun 2014 (hingga 11 Agustus 2014). Area di antara sepasang garis hitam tegak menunjukkan situasi saat Gunung Slamet berstatus Siaga (Level III) pada periode yang pertama (yakni antara 30 April hingga 12 Mei 2014). Sementara kotak bergaris merah menunjukkan aneka kegempaan semenjak awal Juli 2014, yakni pada saat letusan debu dan gempa letusan kembali mulai terjadi. Dalam kotak merah ini nampak gempa letusan, gempa hembusan dan dua gempa vulkanik cenderung meningkat. Sumber: PVMBG, 2014.

Dengan data-data tersebut, apa yang yang sebenarnya sedang terjadi di Gunung Slamet? Apakah aktivitasnya bakal terus meningkat? Apakah gunung ini akan meletus? Apakah ia akan meletus lebih besar lagi sebagaimana dahsyatnya letusan Gunung Kelud 13 Februari 2014 maupun letusan Gunung Sangeang Api 30 Mei 2014 lalu? Apakah letusan ini akan memenuhi mitos bahwa Gunung Slamet memang bakal membelah pulau Jawa? Mengapa peningkatan status ini terjadi hanya sehari pasca peristiwa Bulan purnama perigean atau supermoon?

Apakah Gunung Slamet Akan Meletus?

Gunung Slamet sejatinya sudah meletus sejak Maret 2014 lalu yakni kala statusnya ditingkatkan menjadi Waspada (Level II) mulai 10 Maret 2014. Secara kasat mata letusan itu terlihat sebagai semburan debu vulkanik bertekanan lemah sehingga hanya membumbung setinggi maksimum beberapa ratus meter saja di atas puncak. Di malam hari pemandangan semburan debu ini tergantikan oleh pancuran material pijar dari kawah (pancuran api), sebuah ciri khas erupsi strombolian. Pada saat yang sama instrumen seismometer (pengukur gempa) akan merekam getaran khas. Inilah gempa letusan. Di waktu yang lain, seismometer kerap pula merekam getaran yang mirip namun hanya dibarengi semburan asap putih/uap air dari kawah aktif, fenomena yang dikenal sebagai gempa hembusan.

Namun harus digarisbawahi bahwa meskipun letusan sudah terjadi sejak Maret 2014, sepanjang itu melulu berbentuk semburan debu tanpa disertai penumpukan lava. Sehingga tak terbentuk aliran lava pijar atau bahkan malah awan panas (aliran piroklastika). Atas dasar inilah dalam status Waspada (Level II), PVMBG hanya merekomendasikan tak ada aktivitas manusia dalam bentuk apapun di tubuh gunung hingga radius mendatar (horizontal) 2 km dari kawah aktif.

Semenjak dinyatakan berstatus Waspada (Level II) pada Maret 2014 itu Gunung Slamet memang terus memperlihatkan peningkatan aktivitas seperti terlihat pada melonjaknya jumlah gempa letusan dan gempa hembusannya. Belakangan bahkan terjadi deformasi tubuh gunung dalam rupa inflasi atau pembengkakan/penggelembungan tubuh gunung. Inflasi selalu menandai masuknya magma segar ke kantung magma dangkal di dasar tubuh gunung. Besar kecilnya volume magma segar yang diinjeksikan ke dalam kantung magma itu sebanding dengan tinggi rendahnya derajat inflasi tubuh gunung. Inilah yang menjadi alasan PVMBG untuk kembali meningkatkan status Gunung Slamet menjadi Siaga (Level III) mulai 30 April 2014. Konsekuensinya daerah terlarang pun diperluas menjadi radius mendatar 4 km dari kawah aktif.

Namun uniknya status Siaga (Level III) ini hanya disandang Gunung Slamet selama 12 hari. Meski berstatus Siaga (Level III), pasokan magma segar ke dalam tubuh gunung justru menurun seperti diperlihatkan oleh menurunnya gempa vulkanik dalam dan dangkalnya. Dengan letusan demi letusan debu terus berlangsung sementara pasokan magma segar berkurang, maka jumlah magma segar yang masih terkandung dalam kantung magma dangkal di dasar gunung kian menipis. Akibatnya pelan namun pasti letusan debu pun mulai menyurut. Bahkan mulai 6 Mei 2014 sudah tak terjadi letusan debu lagi sehingga gempa letusan pun nihil. Itulah saat hari-hari aktivitas Gunung Slamet ditandai hanya dengan hembusan asap putih/uap air, itu pun dengan kekerapan (jumlah kejadian) yang cenderung menurun. Demikian halnya gempa hembusannya. Atas dasar inilah PVMBG kemudian menurunkan status Gunung Slamet menjadi Waspada (Level II). Status tersebut bertahan hingga 10 Agustus 2014. Meski cenderung menurun, PVMBG tetap melaksanakan pemantauan secara menerus sebagai bagian untuk berjaga-jaga sekaligus mendeteksi kemungkinan ia keluar dari tabiatnya yang telah dikenal secara lebih dini.

Apa yang Terjadi Saat Ini?

Gambar 3. Citra satelit SPOT kanal cahaya tampak akan kawasan puncak Gunung Slamet. Nampak jejak aliran lava masa silam, kemungkinan dari Letusan Slamet 1934 (tanda panah) di sisi barat daya kawah. Sumber: Google Earth, 2014 dengan label oleh Sudibyo.

Gambar 3. Citra satelit SPOT kanal cahaya tampak akan kawasan puncak Gunung Slamet. Nampak jejak aliran lava masa silam, kemungkinan dari Letusan Slamet 1934 (tanda panah) di sisi barat daya kawah. Sumber: Google Earth, 2014 dengan label oleh Sudibyo.

Pada saat ini, di bulan Agustus 2014 ini, Gunung Slamet memang mengalami peningkatan aktivitas kembali. Parameternya cukup jelas, yakni melonjaknya jumlah gempa letusan dan gempa hembusan. Letusan debu mulai terjadi pada awal Juli 2014, sehingga mulai saat itu gempa letusan kembali terjadi di Gunung Slamet. Pada saat yang sama hembusan asap putih/uap air juga cenderung meningkat, meski berfluktuasi. Peningkatan ini jelas terkait dengan naiknya kembali pasokan magma segar dari perutbumi ke dalam tubuh gunung, yang juga mulai terdeteksi pada awal Juli 2014 lewat adanya gempa vulkanik dalam dan dangkal. Saat itu kedua gempa vulkanik tersebut memang tak seriuh gempa yang sama pada paruh pertama Maret 2014 lalu.

Gempa vulkanik merupakan getaran yang terjadi tatkala magma segar yang menanjak naik dari perutbumi mulai meretakkan/memecahkan batuan-batuan yang menghalang dalam saluran magma. Batuan-batuan penghalang itu pun sejatinya magma juga, namun dari periode erupsi sebelumnya (yakni 2009 atau lebih dulu lagi) sehingga adalah magma tua yang telah membeku dan mulai membatu. Begitu batuan-batuan itu terpecahkan maka jalan pun terbuka sehingga magma dapat memasuki kantung magma dangkal di dasar gunung dan kemudian terus bergerak naik hingga menyembur keluar dari kawah aktif di puncak. Saat magma segar yang baru kembali menanjak naik dari perutbumi pada awal Juli 2014 lalu, jalan yang hendak dilaluinya relatif tak terhambat lagi. Sehingga magma segar ini pun tak harus memecahkan lapisan-lapisan batuan penghalang dalam jumlah yang besar. Inilah kemungkinan penyebab kecilnya gempa vulkanik (dalam dan dangkal) Gunung Slamet pada Juli 2014.

Parameter paling jelas bahwa terjadi pasokan magma segar yang baru ke dalam tubuh gunung terlihat pada deformasinya. Dengan Gunung Slamet mengalami inflasi pada saat ini, maka jelas magma segar yang baru dalam volume tertentu telah dipasok ke dalam kantung magma dangkal di dasar Gunung Slamet. Berikutnya sebagian atau bahkan hampir seluruh magma segar ini tentu akan dikeluarkan melalui kawah aktif di puncak. Maka tidaklah mengherankan jika aktivitas letusan Gunung Slamet cenderung meningkat, seperti diperlihatkan oleh meningkatnya letusan debu dan hembusan asap putih/uap airnya.

Satu hal yang membedakan status Siaga (Level III) Gunung Slamet saat ini dengan status sejenis sebelumnya (yakni status periode 30 April hingga 12 Mei 2014) adalah lava. Dalam Siaga (Level III) Gunung Slamet kali ini, lava pijar meleler ke arah barat-barat daya hingga sejauh 1.500 meter dari kawah. Sebaliknya status yang sama di periode sebelumnya tak disertai aksi lava. Lava pijar ini keluar ke barat-barat daya mengikuti aliran lava pijar yang pernah terjadi pada periode erupsi sebelumnya, yang terakhir pada Letusan Slamet 1934. Lava mengalir ke arah barat-barat daya mengikuti lekukan pada bibir kawah aktif Gunung Slamet di sisi barat daya ini. Citra satelit Spot pada kanal cahaya tampak dalam basisdata Google Earth jelas memperlihatkan bagaimana jejak-jejak aliran lava masa silam di puncak sektor barat daya ini.

Belum jelas mengapa kali ini Gunung Slamet melelerkan lava pijar. Bisa jadi aktivitas letusan debu Gunung Slamet selama ini, melalui erupsi strombolian secara terus-menerus dalam kurun hampir setengah tahun terakhir, membuat cekungan kawah aktif dipenuhi material vulkanik sehingga lava mulai ‘tumpah’ lewat sisi yang lebih rendah/berlekuk. Namun bisa juga telah terbentuk lubang letusan yang baru di dekat lekukan dinding kawah aktif ini, sehingga magma yang menyeruak keluar darinya langsung mengalir ke lereng sebagai lava pijar.

Apakah Akan Terjadi Letusan Besar?

Pada saat ini tubuh Gunung Slamet memang sedang mengandung sejumlah magma segar yang baru. Cepat atau lambat, magma segar ini tentu akan dimuntahkan sebagai letusan. Permasalahannya, apakah pengeluaran magma segar yang baru ini bisa berujung pada terjadinya letusan besar? Apakah akan terjadi letusan seperti letusan Gunung Kelud (propinsi Jawa Timur) 13 Februari 2014 maupun letusan Gunung Sangeang Api (propinsi Nusa Tenggara Barat) 30 Mei 2014 ?

Pada saat ini, potensi Gunung Slamet untuk meletus besar adalah kecil dan mungkin bahkan sangat kecil. Sedikitnya ada dua alasan yang mendasarinya. Pertama, seberapa banyak volume magma segar yang memasuki tubuh Gunung Slamet. Dahsyat tidaknya letusan sebuah gunung berapi sangat bergantung pada volume magma segar yang memasuki kantung magma dangkal di dasar tubuh gunung. Semakin banyak magma segarnya maka akan semakin besar dan dahsyat letusannya. Letusan Kelud 2014 menjadi dahsyat karena magma segar yang terlibat mencapai 120 juta meter kubik. Pun demikian Letusan Merapi 2010, yang menghamburkan magma segar hingga 150 juta meter kubik. Gunung Krakatau menjadi legenda dengan kedahsyatannya nan menggetarkan, karena Letusan Krakatau 1883 memuntahkan 20 kilometer kubik (20.000 juta meter kubik) magma segar. Dan Gunung Tambora menciptakan malapetaka berskala global saat menghamburkan tak kurang dari 160 kilometer kubik (160.000 juta meter kubik) magma segar dalam Letusan Tambora 1815.

Seperti tersebut di atas, volume magma segar yang terinjeksi ke dalam tubuh gunung akan berbanding lurus dengan derajat inlfasinya. Dengan kata lain, makin banyak magma segar yang masuk maka tubuh gunung akan kian membengkak/menggelembung. Dalam hal Gunung Slamet memang telah terjadi inflasi dan sejauh ini datanya masih terus dicermati oleh para peneliti Badan Geologi khususnya peneliti PVMBG. Namun melihat kecenderungan yang terjadi pada periode April-Mei 2014 lalu (yakni tatkala tubuh Gunung Slamet juga mengalami inflasi), derajat inflasinya tergolong kecil. Sehingga volume magma segar yang masuk ke dalam tubuhnya pun boleh jadi berkisar beberapa juta meter kubik saja. Untuk ukuran gunung berapi aktif, akumulasi magma segar sebanyak beberapa juta meter kubik itu tergolong menengah dan jauh dari ambang batas yang diperlukan untuk menghasilkan letusan besar.

Alasan kedua terletak pada karakteristik jalan/saluran magma Gunung Slamet. Gunung Slamet memiliki sistem yang terbuka, dimana di antara kantung magma dangkalnya dengan kawah aktif dipuncaknya tak ada penghalang yang berarti. Hal ini sangat berbeda bila dibandingkan dengan Gunung Kelud sebelum letusan 13 Februari 2014, dimana dasar kawahnya disumbat pekat oleh kubah lava produk erupsi 2007 yang mulai membeku/membatu dengan volume 16 juta meter kubik dan bermassa sekitar 23 juta ton. Pun demikian Gunung Merapi sebelum letusan 26 Oktober 2010, yang puncaknya dipenuhi kubah-kubah lava dari beragam periode erupsi semenjak 2 abad sebelumnya. Sehingga praktis Gunung Merapi pra-2010 bahkan tak memiliki kawah, karena seluruhnnya disumbat oleh kubah-kubah lava beragam usia yang telah menua dan membatu. Dengan saluran yang terbuka, maka magma segar dalam tubuh Gunung Slamet pun tak harus tertahan dulu untuk kemudian mengalami peningkatan volume dan tekanan. Maka begitu magma segar memasuki tubuh gunung, dalam tempo yang tak terlalu lama pun ia pun dimuntahkan melalui kawah aktif yang sudah terbuka. Sehingga tak terjadi peningkatan tekanan secara dramatis ataupun akumulasi magma yang siap dimuntahkan.

Gambar 4. Kawasan rawan bencana Gunung Slamet dalam status Siaga (Level III). Lingkaran berangka 4 menunjukkan kawasan beradius mendatar 4 km dari kawah aktif. Sementara area kuning menunjukkan area yang berpotensi terlanda aliran lava dan awan panas. Sumber: digambar ulang oleh Sudibyo, 2014 dengan data PVMBG dan peta Google Maps terrain.

Gambar 4. Kawasan rawan bencana Gunung Slamet dalam status Siaga (Level III). Lingkaran berangka 4 menunjukkan kawasan beradius mendatar 4 km dari kawah aktif. Sementara area kuning menunjukkan area yang berpotensi terlanda aliran lava dan awan panas. Sumber: digambar ulang oleh Sudibyo, 2014 dengan data PVMBG dan peta Google Maps terrain.

Dua alasan tersebut menjadikan potensi terjadinya letusan Gunung Slamet yang lebih besar pun cukup kecil. Maka tak perlu ada kekhawatiran berlebihan. Apalagi dikait-kaitkan dengan mitos bahwa letusan Gunung Slamet kali ini bakal membelah pulau Jawa. Memang pada beberapa ratus tahun silam gunung berapi ini mungkin pernah meletus besar hingga mengubur ibukota kerajaan kecil bernama Kerajaan Pasirluhur di kaki selatannya. Peristiwa itu pula yang mungkin menyebabkan nama gunung berapi aktif ini mengalami transformasi menjadi Gunung Slamet (dari yang semula diduga bernama Gunung Pasir Luhur). Semua itu memang perlu untuk diteliti lebih lanjut, oleh pihak-pihak yang berkompeten. Namun pada saat ini, dalam status Siaga (Level III) Gunung Slamet kali ini, dapat dikatakan bahwa potensi terjadinya letusan besar adalah sangat kecil.

Mencicil

Jelas bahwa gejolak Gunung Slamet kali ini hingga menjadi berstatus Siaga (Level III), status yang untuk kedua kalinya disandang gunung itu dalam tahun 2014 ini, telah dimulai semenjak awal Juli 2014. Maka meski secara formal baru ditetapkan berstatus Siaga (Level III) pada Selasa 12 Agustus 2014 kemarin, dapat dikatakan bahwa gejolak Gunung Slamet kali ini tidak berada dalam pengaruh fenomena astronomis yang disebut Bulan purnama perigean atau supermoon. Tahun 2014 ini memang mencatat terjadinya tiga peristiwa Bulan purnama perigean yang berurutan, masing-masing pada Sabtu 12 Juli 2014, Minggu 11 Agustus 2014 dan kelak pada Selasa 9 September 2014.

Bulan dalam status purnama maupun kebalikannya (yakni Bulan dalam status Bulan baru) memang menempati posisi unik, karena nyaris segaris dengan posisi Bumi dan Matahari. Akibatnya pada saat itu gaya tidal Bulan pun berkolaborasi dengan gaya tidal Matahari, sehingga Bumi merasakan tarikan yang lebih kuat. Air laut adalah bagian Bumi yang paling menderita kolaborasi gaya tersebut, yang mewujud dalam rupa pasang naik yang tertinggi. Namun sejatinya tak hanya air laut yang merasakannya. Kulit Bumi pun demikian, meski tak sekasat mata pasang surut air laut. Naik turunnya kulit Bumi akibat kolaborasi gaya tidal tersebut bisa saja meningkatkan tekanan di dalam kulit Bumi, yang dapat bermanifestasi entah menjadi pemicu gempa bumi ataupun pemicu letusan gunung berapi (pada gunung berapi yang sedang kritis, yakni yang sudah menimbun magma segar dalam tubuhnya). Namun dari data di atas terlihat bahwa lonjakan aktivitas Gunung Slamet sudah terjadi bahkan sebelum Bulan purnama perigean yang pertama (yakni pada Sabtu 12 Juli 2014) terjadi. Sehingga untuk sementara dapat dikatakan bahwa tak ada kaitan peningkatan aktivitas Gunung Slamet dengan supermoon.

Menguat, melemah dan menguatnya lagi aktivitasnya menunjukkan bahwa Gunung Slamet mengeluarkan material vulkaniknya secara mencicil. Ia tak sekonyong-konyong mengeluarkan material vulkaniknya dalam tempo relatif singkat sebagaimana halnya Gunung Kelud (dalam Letusan 2014) maupun Gunung Merapi (dalam Letusan 2010) dan Gunung Sangeang Api (dalam Letusan 2014). Letusan yang dicicil menjadikan aktivitas Gunung Slamet kali ini lebih mirip dengan aktivitas Gunung Sinabung, bedanya material vulkanik yang dimuntahkan Slamet lebih kecil dan didominasi debu vulkanik (bukan lava). Mencicil letusan memang bukan tabiat Gunung Slamet yang kita kenal setidaknya dalam seperempat abad terakhir, namun itu bukannya tak mungkin. Mengingat seperti halnya manusia, tabiat sebuah gunung berapi pun dapat berubah seiring waktu. Pada saat ini Gunung Slamet bisa diibaratkan tidak sedang mengajak kita untuk sprint (berlari jarak pendek) melainkan untuk berlari maraton. Dibutuhkan kesabaran, daya tahan dan waktu yang lebih panjang untuk menyikapi gejolaknya.

Dalam status Siaga (Level III) kali ini kawasan terlarang di Gunung Slamet pun diperluas menjadi radius mendatar 4 km dari kawah aktif. Hanya di kawasan inilah tidak direkomendasikan adanya aktivitas manusia dalam bentuk apapun, entah masyarakat setempat, para pendaki gunung maupun wisatawan. Sebab hanya di kawasan inilah yang berpotensi terbesar bagi terjadinya hujan debu dan kerikil panas Gunung Slamet. Dan hanya di kawasan ini pula leleran lava pijar ataupun awan panas berpotensi melanda. Di luar radius tersebut adalah kawasan yang aman, termasuk sejumlah kota dan lokasi penting di sekitar Gunung Slamet ini seperti kota Purwokerto, Purbalingga dan Bumiayu serta Baturaden dan Guci.

Referensi :

PVMBG. 2014. Peningkatan Tingkat Aktivitas Gunung Slamet Dari Waspada (Level II) ke Siaga (Level III), 12 Agustus 2014.

Gunung Slamet (Hampir) Usai Tunaikan Janji

Setelah hampir dua minggu berada dalam status Siaga (Level III) Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi memutuskan untuk menurunkan status Gunung Slamet (Jawa Tengah) setingkat lebih rendah menjadi Waspada (Level II), terhitung semenjak Senin 12 Mei 2014 pukul 16:00 WIB. Penurunan ini didasarkan atas cenderung meredanya aktivitas letusan Gunung Slamet pada saat ini seperti dicerminkan oleh data kegempaan dan geokimianya.

Gambar 1. Salah satu letusan Gunung Slamet yang diabadikan di kala fajar 7 Mei 2014 oleh Syamsul Rizal Wittiri, vulkanolog Indonesia. Semburan gas dan debu ini tak setinggi semburan sejenis beberapa hari sebelumnya, yang menjadi indikasi bahwa aktivitas Gunung Slamet mulai mereda. Sumber: Wittiri, 2014.

Gambar 1. Salah satu letusan Gunung Slamet yang diabadikan di kala fajar 7 Mei 2014 oleh Syamsul Rizal Wittiri, vulkanolog Indonesia. Semburan gas dan debu ini tak setinggi semburan sejenis beberapa hari sebelumnya, yang menjadi indikasi bahwa aktivitas Gunung Slamet mulai mereda. Sumber: Wittiri, 2014.

Kegempaan Gunung Slamet memperlihatkan adanya penurunan dalam hal gempa-gempa letusan dan hembusan. Uniknya penurunan ini justru terjadi pada saat gunung berapi itu menempati status Siaga (Level III). Berdasarkan pengukuran SSAM (Seismic Spectral Amplitude Measurement), puncak kejadian gempa letusan dan hembusan Gunung Slamet telah terjadi pada rentang waktu 16 hingga 26 April 2014. Rentang waktu tersebut bersamaan dengan meroketnya energi kegempaan Gunung Slamet.

SSAM juga memperlihatkan bahwa mayoritas gempa yang berhasil direkamnya di Gunung Slamet memiliki frekuensi rendah, yakni antara 2 hingga 5 Hertz (Hz). Gempa semacam ini merupakan jejak dari aliran fluida dari perutbumi, dalam hal ini gas vulkanik. Sebaliknya gempa dengan frekuensi lebih tinggi yang menjadi ciri khas gempa vulkanik justru nihil. Ketiadaan ini menunjukkan tidak terjadinya perekahan batuan sebagai hasil bekuan magma tua yang ada di dalam saluran magma di perutbumi Gunung Slamet. Nihilnya gempa vulkanik menunjukkan tak adanya pasokan magma segar yang baru dari dapur magma dalam Gunung Slamet menuju ke kawah di puncak.

Gambar 2. Dinamika kegempaan Gunung Slamet semenjak awal 2014 hingga 12 Mei 2014. Dalam status Siaga (Level III), jumlah gempa letusan dan gempa hembusan per harinya justru cenderung menurun. Inilah salah satu alasan Gunung Slamet kembali diturunkan statusnya ke Waspada (Level II). Sumber : PVMBG, 2014.

Gambar 2. Dinamika kegempaan Gunung Slamet semenjak awal 2014 hingga 12 Mei 2014. Dalam status Siaga (Level III), jumlah gempa letusan dan gempa hembusan per harinya justru cenderung menurun. Inilah salah satu alasan Gunung Slamet kembali diturunkan statusnya ke Waspada (Level II). Sumber : PVMBG, 2014.

Menurunnya aktivitas Gunung Slamet juga terlihat dari sisi geokimia. Suhu air panas di mata-mata air panas Pandansari, Sicaya dan Pengasihan (ketiganya terletak di sekitar Guci, kaki barat laut Gunung Slamet) relatif stabil tanpa ada pertanda peningkatan temperatur yang dramatis. Di mataair Pengasihan suhunya cenderung berfluktuasi di sekitar angka 50 derajat Celcius. Hal serupa juga dijumpai di air panas Sicaya, yang sedikit lebih panas yakni 60 derajat Celcius. Sebaliknya pada air panas Pandansari, suhunya justru cenderung menurun meski tak terlalu besar.

Selain pengukuran suhu air panas, juga telah dilakukan pengukuran kadar gas karbondioksida (CO2) yang diemisikan Gunung Slamet dan terlarut dalam air panas. Pengukuran dilangsungkan pada air panas di kolam pancuran 3 Baturaden yang terletak di lereng Gunung Slamet sebelah selatan. Pengukuran pada 9 Mei 2014 memperlihatkan kadar gas CO2 ini masih setinggi hingga 88 %. Kadar tersebut lebih besar ketimbang hasil pengukuran yang sama pada 17 hingga 21 Maret 2014 sebelumnya, yang bervariasi antara 6 hingga 78 %. Masih tingginya emisi gas CO2 menunjukkan Gunung Slamet masih menghembuskan gas-gas vulkaniknya dengan intensitas cukup tinggi. Hal ini juga konsisten dengan data kegempaan khususnya data gempa letusan dan hembusan.

Gambar 3. Dinamika amplitudo spektra seismik Gunung Slamet dalam frekuensi hingga 5 Hertz semenjak awal 2014 hingga 12 Mei 2014. Nampak amplitudo rata-rata (moving average) meningkat sedikit di awal status Waspada dan meroket di akhir status Waspada (Level II). Dalam status Siaga (Level III) amplitudo tersebut justru cenderung menurun. Inilah salah satu alasan Gunung Slamet kembali diturunkan statusnya ke Waspada (Level II). Sumber : PVMBG, 2014.

Gambar 3. Dinamika amplitudo spektra seismik Gunung Slamet dalam frekuensi hingga 5 Hertz semenjak awal 2014 hingga 12 Mei 2014. Nampak amplitudo rata-rata (moving average) meningkat sedikit di awal status Waspada dan meroket di akhir status Waspada (Level II). Dalam status Siaga (Level III) amplitudo tersebut justru cenderung menurun. Inilah salah satu alasan Gunung Slamet kembali diturunkan statusnya ke Waspada (Level II). Sumber : PVMBG, 2014.

Namun emisi gas-gas vulkanik ini tidak disertai dengan pasokan magma segar dari perutbumi Gunung Slamet menuju ke puncak. Maka tidak terjadi lonjakan suhu yang signifikan pada mata-mataair panas di sekujur tubuh Gunung Slamet. Tiadanya pasokan magma segar juga tercermin dari data kegempaan, khususnya nihilnya gempa-gempa vulkanik Gunung Slamet.

Tunaikan Janji

Dalam status Siaga (Level III), ‘kekacauan’ sempat terjadi seiring terdeteksinya deformasi di sektor tenggara Gunung Slamet, seperti diperlihatkan oleh instrumen tiltmeter yang dipasang di Blambangan (4,5 km sebelah timur kawah aktif Slamet). Deformasi ini berupa inflasi (penggelembungan) dan dengan kuantitas cukup besar. Fenomena ini sempat diliput oleh sebuah media cetak nasional dan dikupas sebagai pertanda aktivitas Gunung Slamet bakal terus meningkat. Umumnya inflasi pada tubuh gunung berapi ditafsirkan sebagai telah masuknya pasokan magma segar ke dalam tubuh gunung. Sehingga gunung berapi tersebut sedikit membengkak.

Gambar 4. Dinamika deformasi tubuh Gunung Slamet semenjak status Waspada (Level II) diberlakukan melalui tiltmeter Blambangan serta EDM (electronic distance measurement) Buncis dan Cilik. Nampak komponen tangensial (sumbu X) tiltmeter Blambangan meroket semenjak 5 Mei 2014. Namun gejala tersebut tak terlihat pada komponen radial (sumbu Y) di stasiun yang sama. Juga tak terlihat di stasiun EDM Buncis dan Cilik. Maka tiltmeter Blambangan pun diinstalasi ulang pada 10 Mei 2014. Dengan mengecualikan tiltmeter Blambangan, secara umum tak terjadi deformasi signifikan di tubuh Gunung Slamet. Sumber : PVMBG, 2014.

Gambar 4. Dinamika deformasi tubuh Gunung Slamet semenjak status Waspada (Level II) diberlakukan melalui tiltmeter Blambangan serta EDM (electronic distance measurement) Buncis dan Cilik. Nampak komponen tangensial (sumbu X) tiltmeter Blambangan meroket semenjak 5 Mei 2014. Namun gejala tersebut tak terlihat pada komponen radial (sumbu Y) di stasiun yang sama. Juga tak terlihat di stasiun EDM Buncis dan Cilik. Maka tiltmeter Blambangan pun diinstalasi ulang pada 10 Mei 2014. Dengan mengecualikan tiltmeter Blambangan, secara umum tak terjadi deformasi signifikan di tubuh Gunung Slamet. Sumber : PVMBG, 2014.

Namun inflasi tersebut hanya tercatat di tiltmeter Blambangan dan itu pun hanya terekam pada satu sumbu dari dua sumbu yang ada. Sementara tiltmeter Cilik (5,5 km sebelah utara kawah aktif Slamet) justru tak merekamnya. Sehingga anggapan terjadinya anomali mulai muncul khususnya terkait tidak stabilnya pondasi tiltmeter Blambangan. Bila pondasi tak stabil, maka tiltmeter akan menyalurkan sinyal keliru yang bisa ditafsirkan sebagai terjadinya deformasi tubuh Gunung Slamet, padahal sejatinya tak demikian. Karena itu stasiun tiltmeter Blambangan kemudian dipasang ulang dan dikalibrasi pada 10 Mei 2014.

Sejauh ini Gunung Slamet memperlihatkan bahwa letusannya pada saat ini masih memiliki pola yang sama dengan letusan-letusan Slamet dalam kurun 2 abad terakhir. Yakni letusan yang didominasi semburan gas bertekanan rendah-sedang bersama debu vulkanik, tanpa disertai muntahan lava. Semburan tersebut bermanisfestasi sebagai letusan tipe Strombolian, yang bagaikan kembang api/pancuran api menari-nari di kawah aktif Slamet kala disaksikan di malam hari. Letusan Strombolian dikenal sebagai letusan pembangun. Sebab material vulkanik yang disemburkannya akan berjatuhan kembali di sekeliling kawah aktif, membentuk tumpukan material yang mengelilingi lubang letusan. Lama kelamaan tumpukan ini kian meninggi dan bakal berimbas pada bertambah tingginya puncak gunung. Puncak Slamet saat ini, khususnya bagian yang terletak di atas batas vegetasi, diperkirakan terbentuk oleh tumpukan material vulkanik dari rentetan letusan demi letusan Strombolian dalam kurun beratus tahun terakhir.

Gambar 5. Petani yang tetap asyik dengan aktivitas keseharian di ladangnya meski jauh di belakangnya Gunung Slamet nampak menyemburkan asap dalam salah satu letusannya di pagi hari 7 Mei 2014. Diabadikan oleh T. Bachtiar, geografer Indonesia, bersama dengan tim redaksi majalah Geomagz. Sumber: Bachtiar, 2014.

Gambar 5. Petani yang tetap asyik dengan aktivitas keseharian di ladangnya meski jauh di belakangnya Gunung Slamet nampak menyemburkan asap dalam salah satu letusannya di pagi hari 7 Mei 2014. Diabadikan oleh T. Bachtiar, geografer Indonesia, bersama dengan tim redaksi majalah Geomagz. Sumber: Bachtiar, 2014.

Dengan pola seperti ini, sejauh ini tak ada yang perlu dikhawatirkan dari Gunung Slamet. Bahkan dengan penurunan statusnya menjadi Waspada (Level II) menjadi indikasi bahwa letusan Gunung Slamet di tahun 2014 ini sudah mulai melandai dan segera menuju ke titik akhirnya. Dengan kata lain, Gunung Slamet sudah hampir usai menunaikan janjinya. Penurunan status membuat radius daerah terlarang Gunung Slamet pun dipersempit kembali menjadi hanya 2 kilometer dari kawah aktif.

Meski menunjukkan kecenderungan demikian, tak ada salahnya tetap menjaga kewaspadaan. Setiap gunung berapi memiliki perilakunya sendiri dan kadang keluar dari kebiasaan. Untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan Gunung Slamet keluar dari kebiasaan itulah maka pemantauan terus-menerus terhadap gunung berapi aktif ini tetap digelar. Sehingga apabila terdapat pertanda awal perubahan kebiasaan sang gunung, maka informasi bisa diperoleh dengan lebih rinci untuk kemudian disalurkan guna memenuhi kepentingan publik.

Referensi :

PVMBG. 2014. Penurunan Status Kegiatan G. Slamet Dari Siaga Menjadi Waspada, 12 Mei 2014.

Gunung Merapi Berstatus Waspada (Level II), Gunung Slamet Meningkat ke Siaga (Level III)

Hanya dalam tempo kurang dari 12 jam, dua gunung berapi di propinsi Jawa Tengah mengalami kenaikan status kegiatan (aktivitas) setingkat lebih tinggi dibanding semula. Masing-masing adalah Gunung Merapi yang terletak perbatasan Jawa Tengah dan DIY serta Gunung Slamet yang berada di Jawa Tengah bagian barat.

Balai Penelitian dan Pengembangan Teknik Kebencanaan Geologi (BPPTKG) memutuskan menaikkan status Gunung Merapi dari yang semula Aktif Normal (Level I) menjadi Waspada (Level II) mulai Selasa 29 April 2014 pukul 23:50 WIB. Alasannya adalah meningkatnya jumlah kegempaan Gunung Merapi terhitung semenjak 20 April 2014 atau sejak terjadinya erupsi freatik Merapi yang terakhir. Dalam kurun waktu 20 hingga 29 April 2014 telah terjadi 37 kali gempa guguran, 13 kali gempa fase banyak (multiphase), 4 kali gempa hembusan dan 29 kali gempa LF (low frequency).

Gambar 1. Hembusan di Gunung Merapi pada Jumat pagi 25 April 2014, diabadikan dari Observatorium as-Salam, kompleks pondok pesantren modern as-Salam, Pabelan, Surakarta (Jawa Tengah). Sumber: AR Sugeng Riyadi, 2014.

Gambar 1. Hembusan di Gunung Merapi pada Jumat pagi 25 April 2014, diabadikan dari Observatorium as-Salam, kompleks pondok pesantren modern as-Salam, Pabelan, Surakarta (Jawa Tengah). Sumber: AR Sugeng Riyadi, 2014.

Gempa guguran adalah getaran yang terjadi kala bongkahan-bongkahan batuan berukuran besar terlepas dari kubah lava Merapi dan jatuh menggelinding menuruni lereng hingga jarak tertentu. Sementara gempa fase banyak merupakan getaran yang terkait dengan aktivitas internal kubah lava. Sedangkan gempa hembusan merupakan getaran yang segera disusul dengan pelepasan uap air dan/atau gas vulkanik dari kawah yang membumbung ke udara yang nampak sebagai semburan asap berwarna cerah (putih). Dan gempa low frequency merupakan getaran yang terkait dengan peningkatan jumlah fluida dalam tubuh gunung, yang dalam hal ini adalah gas vulkanik.

Peningkatan status Gunung Merapi terutama didasarkan pada melonjaknya jumlah gempa low frequency yang dramatis. Sebelumnya sejak 1 Januari 2012 hingga 27 April 2014 tidak terjadi gempa low frequency sekali pun. Namun mulai 28 April 2014 gempa ini mulai terjadi dan terus meningkat. Uniknya, lonjakan gempa low frequency ternyata tidak dibarengi munculnya gempa vulkanik ataupun deformasi tubuh gunung. Gempa vulkanik adalah getaran yang terjadi seiring pergerakan fluida di kedalaman tertentu di bawah gunung, dalam hal ini adalah magma segar. Nihilnya gempa vulkanik Merapi khususnya gempa vulkanik dalam (VTA) menunjukkan tak adanya aliran magma segar dari dapur magma nun jauh di kedalaman menuju kantung magma dangkal di internal tubuh gunung. Dalam aras yang sama, nihilnya gempa vulkanik khususnya dalam bentuk gempa vulkanik dangkal (VTB) memperlihatkan pada saat ini tak adanya tanda-tanda mulai terisinya kantung magma dangkal Merapi oleh magma segar dan tiadanya aliran magma segar dari kantung magma dangkal menuju puncak.

Gambar 2. Kegempaan Gunung Merapi semenjak 1 Januari 2012 hingga sekarang. Perhatikan komponen gempa low frequency (LF), nomor dua dari atas, yang melonjak tajam mulai 28 April 2014. Sumber: BPPTKG, 2014.

Gambar 2. Kegempaan Gunung Merapi semenjak 1 Januari 2012 hingga sekarang. Perhatikan komponen gempa low frequency (LF), nomor dua dari atas, yang melonjak tajam mulai 28 April 2014. Sumber: BPPTKG, 2014.

Selain diperlihatkan oleh nihilnya gempa-gempa vulkanik, ketiadaan aliran magma segar di perutbumi Merapi juga ditunjang dengan nihilnya deformasi tubuh gunung khususnya penggelembungan (inflasi). Saat magma segar memasuki tubuh gunung khususnya kantung magma dangkal (yang masih terisi magma sisa periode letusan sebelumnya), magma segar mendorong tubuh gunung sedemikian rupa sehingga tubuh gunung akan membengkak/menggelembung. Peristiwa ini bisa diibaratkan dengan balon yang membesar kala ditiup. Pembengkakan tubuh gunung ini tak kasat mata, namun bisa diukur dengan sejumlah instrumen deformasi seperti tiltmeter (pengukur kemiringan lereng) maupun EDM (pengukur jarak tunjam antara titik referensi dengan titik-titik di puncak). Pengukuran tiltmeter maupun EDM menunjukkan Gunung Merapi pada saat ini tidak mengalami inflasi.

Dengan demikian peningkatan status Gunung Merapi pada saat ini lebih didasari oleh meningkatnya jumlah gas vulkanik dalam tubuh gunung. Selain tercermin melalui gempa low frequency, peningkatan gas vulkanik nampaknya juga terindikasi lewat terjadinya dentuman yang berulang-ulang di Gunung Merapi, tanpa disertai semburan material vulkanik. Suara dentuman tersebut terdengar dari pos-pos pengamatan Gunung Merapi hingga jarak 8 km dari puncak.

Harus digarisbawahi bahwa gas-gas vulkanik ini berasal dari kantung magma dangkal Merapi sehingga masih cukup panas. Andaikata ia bertemu dengan air bawah tanah maka gas-gas vulkanik panas ini sanggup menguapkannya lewat rangkaian proses yang bisa berujung pada terjadinya erupsi freatik. Dan dengan jumlah gas vulkanik yang lebih besar ketimbang dalam situasi normal, maka erupsi freatiknya berkemungkinan menyemburkan material vulkanik lebih tinggi dan lebih banyak ketimbang erupsi-erupsi freatik yang telah terjadi selama ini. Sehingga wajar jika BPPTKG kemudian menaikkan statusnya menjadi Waspada (Level II).

Gambar 3. Gambaran sederhana mengenai deformasi tubuh gunung berapi dalam bentuk inflasi (penggelembungan/pembengkakan) dan deflasi (pengempisan). Hingga 1 Mei 2014, Gunung Merapi tidak mengalami inflasi. Sebaliknya Gunung Slamet telah mengalami inflasi. Sumber: Suganda dkk, 2007 diadaptasi dari Abidin, 2001.

Gambar 3. Gambaran sederhana mengenai deformasi tubuh gunung berapi dalam bentuk inflasi (penggelembungan/pembengkakan) dan deflasi (pengempisan). Hingga 1 Mei 2014, Gunung Merapi tidak mengalami inflasi. Sebaliknya Gunung Slamet telah mengalami inflasi. Sumber: Suganda dkk, 2007 diadaptasi dari Abidin, 2001.

Kenaikan status ini tidak berimbas pada terbentuknya daerah terlarang. Namun pendakian Gunung Merapi untuk sementara waktu tidak direkomendasikan. Gunung ini hanya boleh didaki untuk kepentingan penelitian dan penyelidikan dalam rangka mitigasi bencana. Dalam status ini, penduduk yang tinggal di lereng dan kaki gunung diharap untuk menyiapkan barang-barang penting yang harus dibawa dalam evakuasi. Sehingga apabila di kemudian hari Gunung Merapi ditetapkan dinaikkan kembali statusnya, evakuasi sudah siap dilaksanakan.

Slamet

Berselang 10 jam dari penetapan status Waspada (Level II) di Gunung Merapi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memutuskan untuk menaikkan status Gunung Slamet menjadi Siaga (Level III). Sebelumnya Gunung Slamet telah menyandang status Waspada (Level II) terhitung semenjak tanggal 10 Maret 2014. Berbeda dengan Gunung Merapi, peningkatan status Gunung Slamet didasari oleh gempa hembusan dan gempa letusan yang cenderung melonjak serta terjadinya deformasi.

Gambar 4. Semburan material vulkanik pijar menyerupai pancuran kembang api, ciri khas erupsi strombolian, di kawah Gunung Slamet, diabadikan dari obyek wisata Baturaden. Sumber: AP, 2014.

Gambar 4. Semburan material vulkanik pijar menyerupai pancuran kembang api, ciri khas erupsi strombolian, di kawah Gunung Slamet, diabadikan dari obyek wisata Baturaden. Sumber: AP, 2014.

Gempa hembusan merupakan getaran yang segera disusul dengan pelepasan uap air dan/atau gas vulkanik dari kawah yang membumbung ke udara yang nampak sebagai semburan asap berwarna cerah (putih). Sementara gempa letusan mirip gempa hembusan namun dengan jumlah uap air/gas vulkanik yang terlepas lebih banyak dan membawa material vulkanik sehingga berwarna lebih gelap/abu-abu. Di malam hari, gempa letusan diikuti dengan ketampakan semburan material pijar menyerupai pancuran kembang api dari kawah, sebagai ciri khas erupsi strombolian.

Dalam kurun waktu 8 hingga 28 Maret 2014, Gunung Slamet mengalami rata-rata 180 gempa hembusan/hari dan 47 gempa letusan/hari. Sementara dalam kurun waktu 29 Maret hingga 29 April 2014, gempa hembusannya melonjak menjadi rata-rata 334 kejadian/hari. Demikian pula gempa letusan yang melonjak ke angka rata-rata 78 kejadian/hari. Lonjakan ini menandakan meningkatnya intensitas letusan, meskipun tekanan gas vulkanik (sebagai penggerak terjadinya letusan) cenderung tetap seperti diperlihatkan dari tinggi setiap kolom asap (semburan material vulkanik letusan) yang relatif sama, yakni maksimum 1.800 meter di atas kawah. Di malam hari, letusan teramati sebagai pancuran pijar mirip kembang api yang terlontar hingga setinggi 700 meter dari kawah.

Gambar 5. Kegempaan Gunung Slamet semenjak 1 Januari 2014 hingga sekarang. Perhatikan komponen gempa letusan dan hembusan, masing-masing nomor satu dan dua dari atas, yang cenderung terus meningkat. Sumber: PVMBG, 2014.

Gambar 5. Kegempaan Gunung Slamet semenjak 1 Januari 2014 hingga sekarang. Perhatikan komponen gempa letusan dan hembusan, masing-masing nomor satu dan dua dari atas, yang cenderung terus meningkat. Sumber: PVMBG, 2014.

Meningkatnya intensitas letusan Gunung Slamet juga diperlihatkan oleh lonjakan energi gempa akumulatifnya yang diperlihatkan oleh instrumen RSAM (real-time seismic amplitude measurement) yang telah dipasang di bukit Cilik, yang berlokasi 5,5 km di sebelah utara puncak Slamet. Lonjakan ini terdeteksi semenjak 17 April 2014. Pada saat yang sama terdeteksi terjadinya deformasi tubuh Gunung Slamet dalam wujud inflasi (penggelembungan/pembengkakan). Inflasi terdeteksi melaui instrumen EDM dengan refletor yang terpasang di bukit Cilik dan bukit Buncis (6 km sebelah barat laut puncak Slamet). Inflasi menunjukkan telah masuknya magma segar ke dalam kantung magma dangkal di dasar Gunung Slamet dan tinggal menunggu waktu untuk diletuskan.

Cukup menarik bahwa setelah ditetapkan berstatus Waspada (Level II), Gunung Slamet justru relatif sepi dari aktivitas gempa vulkanik. Gempa vulkanik yang relatif sedikit, baik gempa vulkanik dalam maupun dangkal, mungkin menjadi indikasi bahwa pasokan magma segar dari dapur magma nun jauh di kedalaman perutbumi Gunung Slamet telah berkurang.

Sebagai implikasi dari naiknya status Gunung Slamet menjadi Siaga (Level III), maka daerah terlarang Gunung Slamet pun diperluas dari semula secara umum beradius 2 km menjadi 4 km dari kawah aktif. Daerah bahaya ini mencakup KRB (kawasan rawan bahaya) 2 Gunung Slamet. Daerah ini dinyatakan terlarang karena selalu berpotensi terkena guyuran debu vulkanik pekat disertai lapili (kerikil) dengan diameter antara 1 hingga 4 cm. Selain itu daerah ini juga berpotensi terlanda aliran awan panas maupun lava khususnya melalui lembah-lembah sungai yang mengarah ke puncak Slamet.

Kewaspadaan

Pertanyaan yang spontan terucap seiring peningkatan status Gunung Merapi dan Gunung Slamet adalah apakah keduanya akan meletus? Seberapa dahsyat letusannya? Akankah sedahsyat Gunung Kelud ?

Jawabannya tentu saja harus melihat perkembangan aktivitas kedua gunung berapi tersebut dari waktu ke waktu. Mari fokus ke Gunung Slamet. Secara teknis semenjak dinaikkan statusnya menjadi Waspada (Level II), Gunung Slamet sebenarnya telah meletus. Namun letusannya merupakan letusan-letusan kecil dengan tipe erupsi strombolian. Erupsi strombolian menyemburkan material vulkaniknya mirip pancuran kembang api hingga ketinggian tertentu. Namun hampir seluruh material vulkanik ini kemudian berjatuhan kembali ke dasar kawah. Hanya beberapa yang sempat terlontar jauh sehingga jath di luar dinding kawah dan selanjutnya menggelinding menuruni lereng, namun itupun tidak jauh. Maka ancaman terbesar erupsi strombolian Gunung Slamet sejatinya hanya di seputar kawah aktif gunung ini. Meski demikian daerah terlarang hingga 4 km dari kawah diberlakukan untuk mengantisipasi bongkah-bongkah material vulkanik yang sempat terlontar lebih jauh sehingga jatuh di luar kawah dan menuruni lereng. Daerah bahaya tersebut juga untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya awan panas maupun guguran lava pijar. Meski sejauh ini Gunung Slamet tidak menunjukkan tanda-tanda pembentukan awan panas maupun lava pijar.

Sampai saat ini (1 Mei 2014), kegempaan vulkanik Gunung Slamet menunjukkan kecenderungan bahwa letusan kali ini pun mirip dengan Letusan Slamet 2009. Sehingga potensi terjadinya letusan yang lebih besar adalah cukup kecil. Dengan kata lain, aktivitas Gunung Slamet kali ini nampaknya tidak akan menjangkau kawasan berpenduduk padat di kaki gunung seperti halnya kota Purwokerto maupun Purbalingga. Apalagi untuk lokasi yang lebih jauh. Sehingga untuk saat ini dapat dikatakan bahwa Gunung Slamet tidak akan seperti Gunung Kelud. Meski demikian kewaspadaan harus tetap dijaga seiring pemantauan ketat PVMBG melalui pos pengamatan Gunung Slamet di Gambuhan (Pemalang). Setiap rekomendasi PVMBG mengenai Gunung Slamet sebaiknya dipatuhi, demi keselamatan bersama.

Bagaimana dengan Gunung Merapi? Hingga saat ini (1 Mei 2014) aktivitas Gunung Merapi masih cenderung pada bertambahnya jumlah gas vulkanik dalam tubuh gunung. Belum disertai dengan pergerakan magma segar. Namun demikian kewaspadaan harus ditingkatkan mengantisipasi kemungkinan terjadinya pergerakan magma segar ke permukaan yang bakal dipungkasi dengan erupsi magmatik. Peningkatan jumlah gas vulkanik juga harus dicermati sebagai peningkatan potensi terjadinya erupsi freatik dibanding apa yang telah terjadi selama ini. Pemantauan ketat BPPTKG dilakukan melalui pos pengamatan Gunung Merapi yang ada di Kaliurang, Jrakah, Babadan, Selo dan Ngepos. Setiap rekomendasi PVMBG mengenai Gunung Slamet sebaiknya dipatuhi, demi keselamatan bersama. Terlebih setelah Letusan Merapi 2010, gunung berapi ini telah berubah. Sehingga kebiasaan (titen) yang berlaku di masa lalu mungkin sudah tak bisa diterapkan lagi pada waktu kini.

Referensi :

1. PVMBG. 2014. Peningkatan Status Kegiatan G. Merapi Dari Normal (level I) Menjadi Waspada (level II), 29 April 2014.

2. PVMBG. 2014. Peningkatan Status Kegiatan G. Slamet Dari Waspada (level II) Ke Siaga (level III), 30 April 2014.

Letusan Gunung Slamet, Antara Mitos dan Realitas

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM yang berkedudukan di Bandung menaikkan status aktivitas Gunung Slamet (Jawa Tengah) dari semula Aktif Normal (Level I) menjadi Waspada (Level II) semenjak Senin 10 Maret 2014 pukul 21:00 WIB. Peningkatan status dilaksanakan setelah Gunung Slamet mengalami lonjakan kegempaan vulkanik. Dari 1 hingga 10 Maret 2014 pukul 13:00 telah terjadi 1.650 gempa hembusan, 1 gempa vulkanik dalam dan 13 gempa vulkanik dangkal di Gunung Slamet. Gempa hembusan menjadi pertanda pelepasan gas vulkanik di dalam tubuh gunung, sementara gempa vulkanik dalam adalah indikator aliran fluida (magma ataupun gas) di perutbumi jauh di bawah tubuh gunung yang sedang bergerak menuju kantung magma dangkal. Dan gempa vulkanik dangkal menjadi pertanda aliran fluida dari kantung magma dangkal menuju kawah namun dengan kedalaman lebih besar dibanding sumber gempa hembusan.

Gambar 1. Gunung Slamet di kala senja senin 10 Maret 2014 pukul 18:07-18:15 WIB dari arah tenggara, diabadikan oleh Sabet Martian Fatrurrizal dari Desa Mangunegara, Kec. Mrebet (Purbalingga). Sumber: Fatrurrizal, 2014.

Gambar 1. Gunung Slamet di kala senja senin 10 Maret 2014 pukul 18:07-18:15 WIB dari arah tenggara, diabadikan oleh Sabet Martian Fatrurrizal dari Desa Mangunegara, Kec. Mrebet (Purbalingga). Sumber: Fatrurrizal, 2014.

Peningkatan status Gunung Slamet membawa konsekuensi adanya zona terlarang hingga sejauh 2 km dari kawah. Peningkatan ini mengejutkan Jawa Tengah khususnya eks-karesidenan Banyumas yang berada di bawah bayang-bayang gunung berapi aktif tersebut. Terlebih kenangan akan dahsyatnya letusan Gunung Kelud (Jawa Timur) yang membuat Jawa Tengah bagian selatan dibedaki debu tebal pada 14 Februari 2014 lalu masih kuat mencekam. Pun demikian saat Gunung Merapi (Jawa Tengah-DIY) meletus besar pada 2010 lalu. Apalagi kemudian Gunung Slamet menghembuskan debu vulkaniknya hingga beratus meter ke udara dari kawah, lantas menghujani lereng gunung sektor timur dan utara sebagai hujan debu tipis. Berikutnya Gunung Slamet bahkan memancurkan lava-nya ke udara menyerupai kembang api yang terlihat jelas kala malam. Pancuran itu menghambur hingga sejauh 100-200 meter dari kawah. Tak ayal, peningkatan status Gunung Slamet segera diikuti melonjaknya kegelisahan publik. Aneka rumor tak berdasar pun berkesiur lewat pesan singkat maupun broadcast. Terlebih Gunung Slamet pun berbalut sekian mitos. Salah satunya mengatakan jika gunung berapi ini meletus, maka letusannya bakal demikian besarnya sehingga sanggup membelah pulau Jawa.

Agung dan Luhur

Gunung Slamet adalah sebuah gunung berapi aktif yang menjulang setinggi 3.428 meter dpl (dari permukaan laut), menjadikannya gunung berapi aktif tertinggi di propinsi Jawa Tengah sekaligus gunung berapi aktif tertinggi kedua di pulau Jawa setelah Gunung Semeru (Jawa Timur). Gunung Slamet juga merupakan ujung terbarat dari jajaran gunung-gemunung berapi yang menghiasi daratan Jawa Tengah dan menjadi batas wilayah dari lima kabupaten, masing-masing Purbalingga, Banyumas, Brebes, Tegal dan Pemalang,

Gunung berapi ini merupakan satu-satunya gunung berapi di pulau Jawa dan bahkan di Indonesia yang namanya beraroma Islam. Nama Slamet berasal dari kata “Salamatan” dalam Bahasa Arab, yang bermakna “keselamatan.” Nama “Slamet” diduga baru disematkan pada gunung berapi ini 5 abad silam, kala pengaruh agama Islam mulai merasuk di Jawa Tengah bagian selatan. Sebelumnya ia menyandang nama Gunung Agung, seperti tertera dalam naskah Perjalanan Bujangga Manik. Naskah kuno berbahasa Sunda ini mengisahkan penjelajahan Prabu Jaya Pakuan atau Bujangga Manik, seorang bangsawan Pakuan Pajajaran sekaligus brahmana yang mengelilingi Jawa dan Bali yang terjadi di sekitar awal 1500-an dan kini tersimpan di perpustakaan Bodleian, Universitas Oxford (Inggris). Sumber lain menyebut nama gunung berapi tersebut semula adalah Pasir Luhur, sebuah nama bercorak Sunda yang bermakna mirip dengan Gunung Agung (pasir = bukit/gunung). Nama Pasir Luhur menjadi pertanda bahwa kawasan ini mendapatkan pengaruh budaya Sunda. Tapalbatas budaya Sunda dan Jawa membentang dari Cipamali di utara (kini Sungai Pemali di kabupaten Brebes) melintasi Gunung Agung (Gunung Slamet) hingga ke Cisarayu di selatan (kini Sungai Serayu di Kabupaten Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas dan Cilacap). Sebuah kerajaan kecil bernama kerajaan Pasir Luhur bahkan sempat berdiri di kaki gunung berapi ini, dengan ibukota di sisi barat kota Purwokerto masakini

Gambar 2. Topografi Gunung Slamet berdasarkan citra Google Maps classic mode terrain. Nampak tubuh Slamet tua yang berpuncak di igir Cowet dan tubuh Slamet muda yang berpuncak di puncak Slamet dengan kawah aktifnya. Nampak pula lembah besar yang membuka ke arah Guci dari kawah, yang diduga adalah jejak letusan lateral masa silam. Beberapa obyek wisata di sekitar lereng dan kaki gunung adalah kawasan Baturaden, Guci (pemandian air panas) dan Waduk Penjalin. Kawah Gunung Slamet berjarak mendatar masing-masing 20 dan 21 km terhadap kota Purwokerto dan Purbalingga. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan peta dari Google Maps.

Gambar 2. Topografi Gunung Slamet berdasarkan citra Google Maps classic mode terrain. Nampak tubuh Slamet tua yang berpuncak di igir Cowet dan tubuh Slamet muda yang berpuncak di puncak Slamet dengan kawah aktifnya. Nampak pula lembah besar yang membuka ke arah Guci dari kawah, yang diduga adalah jejak letusan lateral masa silam. Beberapa obyek wisata di sekitar lereng dan kaki gunung adalah kawasan Baturaden, Guci (pemandian air panas) dan Waduk Penjalin. Kawah Gunung Slamet berjarak mendatar masing-masing 20 dan 21 km terhadap kota Purwokerto dan Purbalingga. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan peta dari Google Maps.

Selain pengaruh agama, transformasi nama Gunung Agung ataupun Pasir Luhur menjadi Gunung Slamet nampaknya juga didasari pesan mitigasi bagi masa depan, mengingat nama baru yang bermakna keselamatan tersebut mungkin berlatarbelakang terjadinya peristiwa kehancuran (bencana) akibat letusan gunung berapi tersebut. Kemungkinan ini ditunjang dengan adanya endapan lahar yang tebal dan menutupi kawasan cukup luas di kaki gunung sektor selatan, tempat dimana kota besar Purwokerto dan kota kecil Wangon kini berdiri. Letusan yang menghasilkan endapan lahar seluas itu jelas berkualifikasi letusan besar dan kemungkinan berdampak pada peradaban manusia disekelilingnya pada saat itu, bahkan mungkin melenyapkan kerajaan kecil Pasir Luhur dari panggung sejarah. Letusan besar itu pula mungkin yang melahirkan mitos bahwa letusan (besar) Gunung Slamet selanjutnya bakal membelah pulau Jawa. Meski kata-kata “membelah pulau Jawa” ini sebaiknya dipahami secara simbolis, mengingat Gunung Slamet sendiri memang berdiri di atas garis tapalbatas tak kasat mata yang membelah pulau Jawa menjadi dua bagian utama, yakni yang bercorak budaya Sunda di sisi barat dan yang bercorak budaya Jawa di sisi timur. Tentu saja dibutuhkan penyelidikan lebih lanjut dan multidisplin ilmu guna mengetahui apakah anggapan ini benar atau tidak.

Kaldera

Secara geologis tubuh Gunung Slamet terdiri dari tubuh Slamet tua dan muda. Tubuh Slamet tua mencakup bagian sebelah barat dan mudah dikenali dalam citra satelit seperti dalam Google Maps classic mode terrain, karena terlihat kasar dan dipenuhi dengan lembah-lembah dalam hasil pahatan air terus-menerus selama berabad-abad. Titik tertingginya adalah Igir Cowet (puncak Cowet) dengan elevasi 2.539 meter dpl. Igir Cowet sekaligus menjadi titik tertinggi dari lengkungan yang mengesankan sebagai bagian kawah Slamet tua yang bergaris tengah sekitar 6 km, sehingga berkualifikasi sebagai kaldera (kawah raksasa). Sebagian besar lengkungan kaldera ini tertimbun di bawah tubuh Slamet muda yang juga mewarnai sisi timur Gunung Slamet. Berbeda dengan tubuh Slamet tua, tubuh Slamet muda terlihat lebih mulus dalam citra satelit. Hal ini karena tubuh Slamet muda masih terus menerima lontaran material vulkanik produk aktivitas Gunung Slamet. Kecuali di lereng sebelah timur dan timur laut dimana terlihat sejumlah tonjolan mirip bisul. Tubuh Slamet muda berpuncak pada puncak Slamet saat ini yang sekaligus menjadi titik tertinggi dari gunung berapi ini.

Kaldera di tubuh Gunung Slamet mengesankan gunung berapi ini pernah meletus besar, mungkin ribuan hingga puluhan ribu tahun silam. Hal ini diperkuat dengan adanya lembah besar yang mengarah ke barat laut dari kaldera hingga ke kawasan kaki gunung di sekitar pemandian air panas Guci. Tepat di ujungnya lembah besar ini berhadapan dengan perbukitan besar. Maka dapat diperkirakan letusan besar Gunung Slamet di masa silam bertipe letusan terarah/mendatar (directed/lateral) menuju ke barat laut. Letusan lateral merupakan kombinasi dari magma yang terus mendesak dalam tubuh sebuah gunung berapi dengan ukuran tubuh gunung yang terlalu tinggi dan tambun. Keduanya menciptakan titik-titik lemah di salah satu sektor lereng gunung sehingga kemudian terjadilah rapun/longsoran berskala gigantis yang diikuti hempasan rempah vulkanik berkekuatan tinggi secara mendatar. Material longsoran lantas akan menggunduk di kaki gunung, menghasilkan perbukitan yang khas. Letusan lateral selalu mengubah wajah gunung berapi secara dramatis dengan ciri utama adalah kaldera tapal kuda. Letusan ini sangat jarang terjadi, namun menjadi tahapan yang kerap dilewati gunung-gemunung berapi di Indonesia karena berdiri di atas sedimen yang lunak. Indonesia terakhir kali menyaksikan letusan lateral pada Gunung Papandayan di tahun 1772. Jauh hari sebelumnya letusan yang sama juga terjadi di Gunung Galunggung sekitar 4.000 tahun silam, yang menghasilkan kompleks perbukitan Sapuluh Rebu di sekitar kota Tasikmalaya. Di Jawa Tengah, letusan serupa di masa silam pernah terjadi di Gunung Telomoyo dan Gunung Merapi serta kemungkinan juga pernah terjadi di Gunung Sindoro dan Sumbing.

Gambar 3. Pancuran lava yang menyerupai kembang api sebagai pertanda letusan tipe Strombolian pada saat Gunung Slamet meletus di April-Mei 2009 silam, diabadikan oleh Th Boeckel dan M. Rietze langsung dari bibir kawah IV. Sumber: Boeckel & Rietze, 2009.

Gambar 3. Pancuran lava yang menyerupai kembang api sebagai pertanda letusan tipe Strombolian pada saat Gunung Slamet meletus di April-Mei 2009 silam, diabadikan oleh Th Boeckel dan M. Rietze langsung dari bibir kawah IV. Sumber: Boeckel & Rietze, 2009.

Pasca letusan lateralnya, Gunung Slamet kembali tumbuh dan beraktivitas meski dalam skala lebih kecil dan terpusat di sisi kaldera bagian timur. Aktivitas terus berlangsung hingga membentuk kerucut vulkanis baru yang kian meninggi dan pada akhirnya menutupi sebagian kaldera tapal kuda hingga menjadi puncak Gunung Slamet yang baru seperti terlihat di masa kini, sekaligus membentuk tubuh Slamet muda. Puncak Slamet terdiri dari empat buah kawah dengan kawah aktif masa kini adalah kawah IV yang terletak di sisi barat daya. Selain lewat kawah di puncak, di masa silam Gunung Slamet juga pernah mewujudkan aktivitas vulkaniknya melalui letusan-letusan di lereng khususnya lereng timur laut-timur-tenggara. 35 tonjolan mirip bisul di area ini merupakan jejak aktivitas letusan lereng, yang menghasilkan gundukan membukit sebagai kerucut debu (cinder cone) dengan beraneka ragam ukuran, mulai dari yang volumenya 12 juta meter kubik hingga 7,9 milyar meter kubik. Jejak-jejak kerucut debu ini sekaligus menjadi pertanda kecenderungan berpindahnya pusat aktivitas Gunung Slamet dari timur laut menuju barat daya.

Letusan Masa Kini

Catatan tentang letusan Gunung Slamet telah ada semenjak tahun 1772 hingga sekarang. Sepanjang lebih dari dua abad terakhir, Gunung Slamet telah meletus sebanyak 38 kali (termasuk letusan tahun ini). Masa istirahatnya, yakni selang waktu di antara dua letusan yang berurutan, bervariasi mulai dari yang terpendek hanya 1 tahun hingga yang terpanjang sampai 53 tahun. Tiap kali meletus, Gunung Slamet hanya menghamburkan debu vulkanik dengan ketinggian beberapa ratus hingga 1-2 km dari puncak untuk kemudian menghujani lereng dan kaki gunungnya. Pada Letusan Slamet 1904, 1923, 1926, 1927, 1928, 1929, 1930, 1932 dan 1934, semburan debu vulkanik juga diikuti dengan mengalirnya lava walaupun volumenya cukup kecil sehingga radius penjalarannya pendek. Lava kembali keluar dalam letusan 1971 dan 2009 sebagai pancuran lava mirip kembang api. Masing-masing letusan Gunung Slamet yang tercatat memiliki skala letusan yang tergolong kecil, yakni hanya 2 VEI (Volcanic Explosivity Index) sehingga hanya memuntahkan rempah vulkanik dalam jumlah kurang dari 10 juta meter kubik. Angka ini tergolong kecil untuk ukuran letusan gunung berapi di Indonesia pada umumnya, katakanlah jika dibandingkan dengan Letusan Galunggung 1982-1983 (300 juta meter kubik), maupun Letusan Merapi 2010 (150 juta meter kubik) dan Letusan Kelud 2014 (120 juta meter kubik).

Gambar 4. Kawasan terlarang kala Gunung Slamet berstatus Waspada (Level II) dalam warna merah. Kawasan ini beradius 2 km dari kawah ditambah radius 5 km (sektor barat laut) dan 4 km (utara) dari kawah khusus untuk lembah-lembah besar yang terhubung langsung dengan kawah. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan peta dari Google Maps dan data dari PVMBG.

Gambar 4. Kawasan terlarang kala Gunung Slamet berstatus Waspada (Level II) dalam warna merah. Kawasan ini beradius 2 km dari kawah ditambah radius 5 km (sektor barat laut) dan 4 km (utara) dari kawah khusus untuk lembah-lembah besar yang terhubung langsung dengan kawah. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan peta dari Google Maps dan data dari PVMBG.

Letusan Slamet 2009 yang terjadi sepanjang April hingga Mei 2009 menjadi gambaran kecilnya skala letusan gunung berapi ini. Pada dasarnya saat sebuah gunung berapi bersiap meletus, magma segar mulai memasuki kantung magma dangkal tepat di dalam tubuh gunung sehingga tubuh gunung mulai membengkak. Pembengkakan ini dapat diukur dengan pengukuran deformasi di sekitar puncak menggunakan instrumen EDM (electronic distance measurement) ataupun perubahan kemiringan lereng yang diukur menggunakan tiltmeter. Dari pengukuran EDM diketahui bahwa kantung magma dangkal Slamet terletak pada kedalaman 3 km di bawah puncak. Dan letusannya selama bulan April-Mei 2009 itu memuntahkan rempah vulkanik sebanyak 1,5 juta meter kubik. Bandingkan dengan letusan Gunung Sinabung, yang hingga Januari 2014 telah memuntahkan 2,4 juta meter kubik rempah vulkanik. Mayoritas rempah vulkanik Gunung Slamet disemburkan sebagai debu vulkanik, sementara sisanya berupa lava yang dipancurkan setinggi 100 hingga 400 meter dan kemudian berjatuhan di dalam dan sekitar kawah. Letusan yang memancurkan lava seperti ini merupakan letusan tipe Strombolian dan dikenal sebagai letusan pembangun tubuh gunung. Karena rempah vulkanik yang dimuntahkannya hanya mengendap di sekitar kawah dana lama kelamaan kian meninggi. Letusan Strombolian pada Gunung Slamet menjadi indikasi bahwa tekanan gas vulkanik yang menggerakkan letusan gunung berapi ini tergolong kecil.

Bagaimana dengan letusan 2014 ini? PVMBG masih melakukan pengukuran EDM hingga beberapa waktu ke depan. Namun berdasar dinamika kegempaan vulkanik dan pengamatan langsung, terlihat bahwa letusan Gunung Slamet kali ini pun berupa letusan Strombolian. Setiap gempa vulkanik dangkal di Gunung Slamet langsung diimbangi dengan hembusan asap dan debu yang ketinggiannya bervariasi. Fenomena ini menunjukkan bahwa gas-gas vulkanik dalam tubuh gunung Slamet tak sempat terakumulasi dan langsung dilepaskan ke udara bebas sebagai hembusan asap. Ini adalah kabar baik, sebab dengan demikian Gunung Slamet tak sempat menghimpun tenaga dalam jumlah besar. Sehingga potensi terjadinya letusan besar dalam waktu dekat adalah sangat kecil. Kabar baik berikutnya, Gunung Slamet juga tak sempat menghimpun lava dalam jumlah besar sehingga potensi timbulnya awan panas (aliran piroklastika), yakni luncuran material vulkanik bersuhu tinggi mengikuti alur-alur lembah di lereng gunung sektor tertentu, juga sangat kecil.

Gambar 5. Kawasan terlarang bila Gunung Slamet berstatus Siaga (Level III) dalam warna kuning. Kawasan ini beradius 4 km dari kawah, kecuali sektor barat laut, utara dan selatan yang meluas hingga radius 8 km dari kawah. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan peta dari Google Maps dan data dari PVMBG.

Gambar 5. Kawasan terlarang bila Gunung Slamet berstatus Siaga (Level III) dalam warna kuning. Kawasan ini beradius 4 km dari kawah, kecuali sektor barat laut, utara dan selatan yang meluas hingga radius 8 km dari kawah. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan peta dari Google Maps dan data dari PVMBG.

Meski demikian PVMBG tetap berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan mengingat sifat dasar gunung berapi adalah menyerupai manusia, yakni dapat berubah seiring waktu. Karena itu pemantauan secara berkelanjutan terus berlangsung. Pada saat yang sama peta kawasan rawan bencana Gunung Slamet pun diberakukan. Dalam status Waspada (Level II), kawasan terlarang adalah kawasan yang beradius 2 km dari kawah. Kecuali pada sektor barat laut dan utara dimana radius kawasan terlarang menjangkau 5 dan 4 km dari kawah karena terdapat lembah-lembah yang langsung terhubung dengan kawah di sini. Kawasan ini selalu terancam oleh leleran lava dan aliran awan panas, jika memang terjadi. Bila aktivitas Gunung Slamet kian meningkat, maka status Siaga (Level III) akan diberlakukan. Dalam status ini, kawasan terlarang meluas hingga radius 4 km dari kawah, kecuali sektor barat laut (arah Guci), utara dan selatan (arah Baturaden) yang meluas hingga radius 8 km dari kawah. Kawasan tersebut dinyatakan tertutup hanya jika Gunung Slamet berstaus Siaga (Level III) karena berpotensi terlanda leleran lava dan aliran awan panas.

Dengan gambaran seperti itu kita bisa melihat bahwa, bertentangan dengan mitos bahwa Gunung Slamet bakal meletus besar, dalam realitasnya sepanjang lebih dari 200 tahun terakhir letusan Gunung Slamet selalu berbentuk letusan-letusan kecil yang dampaknya hanya dirasakan di sekujur tubuh gunung semata tanpa menjalar jauh. Maka dari itu tak ada yang perlu dikhawatirkan dari letusan Gunung Slamet, hingga sejauh ini. Mari patuhi kawasan terlarang yang sudah diberlakukan dan berikan Gunung Slamet ruang dan waktu guna menuntaskan aktivitasnya, sebagai bagian dari siklus kehidupan yang dijalaninya. Yang penting kita tetap waspada, tetap merujuk informasi dari institusi yang berkompeten didalamnya serta tetap mengikuti rekomendasi yang diberikannya melalui organ-organ pemerintah daerah setempat berupa BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) masing-masing kabupaten.

Referensi:

1. Oman Abdurrahman. 2013. Geologi Linewatan dari Tasikmalaya hingga Banjarnegara. Majalah Geomagz vol. 3 no. 1 Maret 2013, hal. 54-79.

2. Kriswati & Prambada. 2009. Korelasi Parameter Suhu Air Panas, Kegempaan dan Letusan Gunung Slamet April-Mei 2009. Buletin Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, vol. 4 no. 2 Agustus 2009, hal. 19-26.

3. Sutawidjaja & Sukhyar. 2009. Cinder Cones of Mount Slamet, Central Java, Indonesia. Jurnal Geologi Indonesia, vol. 4 no. 1 Maret 2009, hal. 57-75.

4. Boeckel & Rietze. 2009. Volcano Slamet.