Kabel Menjuntai dan Listrik pun Memble

Separuh Jawa bagian barat mendadak gulita pada Minggu 4 Agustus 2019 TU (Tarikh Umum) malam seiring peristiwa padam listrik massif (blackout atau power outage) yang berlangsung sejak pukul 11:50 WIB. Sebanyak 22 juta pelanggan di tiga propinsi (Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat) terdampak olehnya. Peristiwa ini berlangsung hingga sekitar 30 jam, meski di beberapa tempat durasinya lebih panjang hingga dua hari kemudian yang sempat diselingi pulihnya aliran listrik dalam sesaat.

Padamnya listrik massif ini berdampak cukup luas. Di ranah transportasi, fasilitas transportasi publik ikonik Jabotabek seperti KRL (kereta rel listrik) dan MRT (moda raya terpadu) terpaksa berhenti. Gardu-gardu otomatis di pintu-pintu tol juga lumpuh dan transaksi pun kembali ke tunai. Di ranah bisnis, potensi kerugian Rp 200 milyar sudah membayang di sektor ritel. Jaringan perbankan dan internet pun terhambat berat, menyebabkan banyak ATM (anjungan tunai mandiri) tak bisa diakses. PLN sendiri, sebagai penyedia layanan listrik tunggal, dikabarkan bakal merogoh koceknya dalam-dalam, hingga senilai Rp 865 milyar, untuk memenuhi kompensasi atas padamnya listrik massif ini.

Skala pemadaman ini adalah yang terbesar dalam sistem interkoneksi Jawa-Bali sejak 2005 TU. Pada 18 Agustus 2005 TU juga terjadi padam listrik massif yang berdampak pada 120 juta orang. Hanya saja durasi pemadamannya terbatas selama 3 jam. Padam listrik massif yang jauh lebih besar, karena meliputi segenap Jawa-Bali, terjadi pada 17 Agustus 1991 TU malam. Durasinya juga selama 3 jam. Hanya di daerah-daerah dimana terdapat pasokan listrik lokal dan tak bergantung pada pasokan PLTU Suralaya saja yang tak terpengaruh. Padam listrik massif berikutnya terjadi pada 13 April 1997 TU yang berlangsung selama 10 jam.

Gambar 1. Peta sederhana sistem interkoneksi Jawa-Bali. Nampak lintasan paralel pantura dan pansela Jawa Tengah. Masing-masing lintasan terdiri atas dua jalur SUTET. Awal reaksi berantai yang menimbulkan padam listrik massif ditengarai berasal dari lintasan pantura Jawa Tengah, tepatnya di sisi barat kota Semarang. Sumber: PLN, 2019.

Interkoneksi

Untuk peristiwa dengan skala sebesar kejadian padam listrik massif 4-5 Agustus 2019 TU kemarin, tentu ada banyak faktor yang berkontribusi. Tak mungkin hanya ada satu faktor tunggal saja yang menjadi penyebabnya. Di sini saya hanya mengupas salah satu dari sekian banyak faktor yang memungkinkan, khususnya dari sudut pandang fisika. Namun sebelum masuk ke bagian itu, lebih dulu perlu dipahami bagaimana sistem interkoneksi listrik Jawa-Bali pada saat ini. Saya menyarikannya dari beberapa sumber, terutama dari tulisan mas Aldi di media sosial facebook-nya.

Sistem interkoneksi listrik Jawa-Bali merupakan suatu sistem tenaga listrik yang menggabungkan seluruh pembangkit listrik di pulau Jawa dan Bali beserta segenap gardu induknya melalui saluran transmisi yang bertujuan untuk melayani beban yang ada pada semua gardu induk yang terhubung. Sistem ini menjamin tersedianya penyaluran tenaga listrik secara terus-menerus meskipun kepadatan bebannya cukup tinggi dan meliputi pada area yang cukup luas. Keandalannya dapat dipegang dan kualitasnya pun tinggi. Meski di sisi lain sistem interkoneksi ini pun mengandung kelemahan, mulai dari biayanya yang tinggi hingga kerentanannya apabila salah satu atau beberapa pembangkit listrik yang berpartisipasi mengalami gangguan sehingga harus lepas (trip) dulu untuk sementara. Gangguan itu berpotensi pada kolaps-nya sebagian atau bahkan seluruh sistem.

Pada saat ini sistem interkoneksi listrik Jawa-Bali bertumpu pada dua lintasan paralel, masing-masing lintasan pantai utara (pantura) dan lintasan pantai selatan (pansela) Jawa. Setiap lintasan masih terdiri atas dua jalur SUTET (saluran udara tegangan ekstra tinggi) 500 kilovolt (500.000 volt). Filosofi dari dua jalur ini adalah salah satunya berfungsi sebagai cadangan untuk yang lain apabila mengalami gangguan. Lewat empat jalur SUTET inilah daya listrik yang diproduksi terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur disalurkan ke arah barat, menuju DKI Jakarta dan sekitarnya sebagai daerah dengan beban listrik terbesar. Tentunya setelah kebutuhan masing-masing propinsi terpenuhi.

Dengan cara itulah Jawa Timur memasok 1.277 megawatt 1.034 megawatt listrik ke sistem interkoneksi yang melintasi Jawa Tengah. Dan setelah melewati Jawa Tengah sistem interkoneksi tersebut masih membawa 1.387 megawatt 2.088 megawatt daya listrik menuju Jawa Barat dan DKI Jakarta. Daya sebesar itu dibagi ke dalam dua lintasan. Lintasan pantura Jawa Tengah menyalurkan 940 megawatt 1.586 megawatt listrik sementara lintasan pansela Jawa Tengah kebagian menyalurkan 491 megawatt 475 megawatt listrik.

Kabel SUTET terbuat dari logam yang memiliki kemampuan konduktor (penghantar listrik) namun juga memiliki hambatan listrik. Dua hal berbeda ini yang menentukan seberapa besar daya listrik yang bisa dialirkan melalui kabel SUTET. Besarnya tegangan yang melewati kabel SUTET memang telah dipatok sebagai tegangan ekstra tinggi 500 kilovolt, yang dipilih guna mereduksi sebesar mungkin potensi terjadinya kehilangan daya listrik seiring transmisi di sistem interkoneksi. Maka seberapa besar daya listrik boleh dialirkan menentukan seberapa besar kuat arus dalam kabel SUTET. Umumnya kuat arus listrik yang diperkenankan mengalir dalam kabel SUTET sebesar 2.000 Ampere. Dengan demikian satu jalur SUTET hanya diperkenankan menyalurkan maksimal 1.000 megawatt daya listrik saja.

Sebagai konduktor yang memiliki hambatan listrik, kabel listrik juga menghasilkan panas. Panas diproduksi oleh hambatan listrik yang dimilikinya dan bergantung kepada kuat arus yang mengalir dalam kabel. Pada kabel listrik yang terbuka seperti umum dijumpai di Indonesia, produksi panas diperbolehkan hingga batas tertentu saja. Yakni sepanjang panas tersebut dapat didinginkan dengan cara ditransfer ke lingkungan (udara) untuk mencapai keseimbangan termal.

Pemuluran Kabel

Masalah timbul manakala daya listrik yang mengalir melebihi batasan. Sehingga kuat arus didalam kabel SUTET pun menjadi lebih besar, yang berakibat pada produksi panas lebih besar pula hingga melampaui kemampuan pendinginannya. Karena kabel SUTET terbuat dari logam, pertambahan panas bakal membuatnya mengalami ekspansi termal. Terjadilah pemuaian yang besarnya sebanding dengan pertambahan suhu, yang mewujud sebagai memanjang atau mulurnya kabel SUTET. Karena ditopang oleh menara-menara transmisi (tinggi 40 meter), maka kombinasi antara ekspansi termal dan gravitasi membuat kabel SUTET akan mulai menjuntai di antara dua menara.

Masalah tersebut kian kompleks manakala di bawah bentangan kabel SUTET terdapat obyek pengganggu. Misalnya pucuk pepohonan. Kala kabel SUTET yang kian menjuntai bersua dengan pucuk pepohonan, terjadilah lucutan listrik disertai suara ledakan mirip petir. Di saat yang sama kuat arus yang mengalir dalam kabel akan berosilasi cukup besar yang sontak memicu aktifnya relai pelindung. Relai yang aktif segera memutus jalur tersebut demi melindungi diri dari potensi kerusakan lebih besar. Dan daya listrik yang seharusnya mengalir melalui jalur tersebut pun terpaksa dialihkan ke jalur lain, atau bahkan malah distop.

Itulah yang diindikasikan terjadi di dusun Malon, kelurahan Gunungpati, kota Semarang (Jawa Tengah) sekitar 2 menit sebelum padam listrik massif terjadi. Di sekitar koordinat 7º 05′ 54″ LS 110º 21′ 34″ BT, kabel SUTET terbawah yang sedang menjuntai akhirnya bertemu atau sangat berdekatan dengan pucuk-pucuk pohon tanaman budidaya. Terjadilah lucutan listrik. Penduduk setempat melihat kilatan cahaya, disusul nyala api dan suara ledakan hingga empat kali berturut-turut sejak pukul 11:27 WIB hingga 11:48 WIB. Tak lama kemudian padam listrik massif pun terjadi.

Gambar 2. Dusun Malon, kelurahan Gunungpati, kota Semarang (Jawa Tengah) pada citra Google Earth. Nampak posisi menara SUTET bagian dari lintasan paralel pantura Jawa Tengah. Ellips putus-putus menandakan lokasi dimana lucutan listrik terjadi yang ditandai kilatan cahaya, nyala api dan suara ledakan mirip petir. Sumber: Sudibyo, 2019.

Dalam kasus dusun Malon ini, panjang kabel SUTET yang menggantung di antara dua menara bersebelahan adalah 450 meter. Kabel terbuat dari tembaga, logam dengan koefisien muai panjang 0,000017 /º C pada temperatur lingkungan 20º C. Anggaplah produksi panas akibat beban berlebih yang diterima jalur SUTET ini menyebabkan kabel memiliki suhu 100º C. Pada suhu tersebut maka kabel mengalami pemuluran menjadi sepanjang 450,5 meter. Penambahan panjang inilah yang membuat kabel mulai menjuntai.

Tentu saja, kabel menjuntai akibat panas internal yang berujung terjadinya lucutan di dusun Malon hanya salah satu faktor. Masih tersisa pertanyaan, misalnya mengapa daya yang tersalur lewat jalur ini bertambah sehingga kabel bertambah panas? Lalu mengapa lucutan menyebabkan dua jalur SUTET sekaligus kolaps? Selanjutnya mengapa 940 megawatt 1.287 megawatt daya listrik yang semula melewati lintasan pantura Jawa Tengah beralih begitu saja ke lintasan pansela Jawa Tengah? Sementara di lintasan ini hanya tersedia satu jalur SUTET yang aktif, satunya lagi masih dalam perawatan terjadwal. Dengan satu jalur aktif yang sudah mengangkut 491 megawatt 979 megawatt daya listrik, tambahan 940 megawat 1.287 megawatt daya listrik yang dialihkan begitu saja dari lintasan pantura yang kolaps bakal sangat membebani hingga membuat lintasan pansela Jawa Tengah pun menyusul kolaps. Dan masih banyak pertanyaan lainnya.

Semoga tim penyelidik gabungan Kementerian ESDM – Polri – Kementerian BUMN mampu menelusuri akar permasalahan yang membuat padam listrik massif ini terjadi, termasuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Agar bencana serupa tak lagi terulang di masa depan.

Pembaharuan : Data Teknis

Kawan di PLN membagikan outline data teknis terkait peristiwa lucutan di dusun Malon yang telah dipaparkan di atas. Sebelumnya, angka-angka daya listrik yang ditransfer dari Jawa Timur ke barat dan juga dari Jawa Tengah ke barat adalah berdasarkan pada posisi data pukul 10:00 WIB. Menjelang pukul 11:27 WIB, yakni tepat sebelum terjadi lucutan listrik yang pertama, daya listrik yang ditransfer dari Jawa Tengah ke barat mencapai 2.266 megawatt. Ini masih berada di bawah ambang batas stabilitas 2.300 megawatt. Dari daya listrik sebanyak itu, sejumlah 1.287 megawatt disalurkan melalui lintasan pantura Jawa Tengah tepatnya melalui dua jalur SUTET aktif. Sementara sisanya 979 megawatt disalurkan lewat lintasan pansela Jawa Tengah yang pada saat itu hanya memiliki satu jalur SUTET aktif (satunya lagi masih dalam perawatan). Listrik yang dialirkan memiliki kuat arus 842 Ampere dengan frekuensi 49,9 Hz yang stabil baik di ujung timur maupun ujung barat sistem interkoneksi ini.

Lucutan pertama di dusun Malon terjadi pada pukul 11:27 WIB. Perekam data PLN mendeteksi terjadinya lonjakan arus listrik hingga sebesar ~4.000 Ampere yang kemudian turun kembali lewat osilasi eksponensial gayut waktu ke posisi 842 Ampere. Dalam lucutan pertama ini baik jalur kesatu maupun jalur kedua SUTET masih tetap aman. Lucutan kedua terjadi pada pukul 11:45 WIB, yang menimbulkan lonjakan kuat arus listrik hingga sebesar 3.410 Ampere. Jalur kedua SUTET langsung kolaps sementara jalur kedua tetap aman. Lucutan ketiga dan keempat terjadi pada pukul 11:48 WIB, masing-masing hanya berselisih 4 detik. Dalam dua lucutan tersebut, arus listrik masing-masing melonjak ke posisi 4.870 Ampere dan 4.638 Ampere. Tepat 3 detik kemudian jalur kesatu SUTET pun kolaps. Kolaps-nya kedua jalur ini menyebabkan daya listrik sebesar 1.287 megawatt sontak berpindah ke lintasan pansela Jawa Tengah.

Gambar 3. Sekuens peristiwa lucutan listrik di dusun Malon seperti yang terekam dalam Gardu Induk Pemalang dan Ungaran. Terjadi empat peristiwa lucutan sejak pukul 11:27 WIB hingga 11:48 WIB yang pada akhirnya menyebabkan lintasan pantura Jawa Tengah kolaps. Sumber: PLN, 2019.

Kolaps-nya lintasan pantura Jawa Tengah membawa akibat sangat serius dalam upaya menjaga stabilitas frekuensi. Tepat 3 detik pasca kolaps, frekuensi arus listrik di ujung timur (yang tercatat di Gardu Induk Banyuwangi-Gilimanuk) melambung ke 51,43 Hz sementara di ujung barat (yang tercatat di gardu Induk Suralaya) anjlok ke 48,35 Hz. Terjadi selisih 3 Hz, yang seharusnya tak boleh terjadi. Dalam dua menit pasca kolaps, frekuensi arus listrik di ujung timur telah stabil di angka 50,7 Hz. Sebaliknya di ujung barat yang semula sempat melonjak ke posisi 49,24 Hz terus menurun ke 47,11 Hz. Penurunan frekuensi secara konsisten ini menyebabkan sejumlah pembangkit listrik akhirnya melepaskan diri (trip) secara otomatis dari sistem interkoneksi sebagai bagian dari sistem proteksi. Akibatnya padam listrik massif pun terjadi.

Gambar 4. Terjadinya separasi frekuensi listrik dalam sistem interkoneksi Jawa-Bali menyusul kolaps-nya lintasan pantura Jawa seperti yang terekam dalam Gardu Induk Banyuwangi dan Suralaya. Normalnya tidak boleh terjadi perbedaan frekuensi di titik manapun dalam sistem interkoneksi. Sumber: PLN, 2019.

Berikut adalah foto-foto dari pepohonan di dusun Malon yang terlibat dalam proses lucutan listrik. Sejumlah tanda lewatnya arus listrik terlihat di pepohonan tersebut, mulai dari ranting yang menghangus hingga kulit pohon yang tersayat memanjang.

Gambar 5. Pepohonan yang teraliri arus listrik dalam serangkaian kejadian lucutan listrik di dusun Malon tepat menjelang padam listrik massif di pulau Jawa. Nampak jejak aliran arus listrik dalam bentuk sayatan panjang di kulit pohon (panah kuning) dan ranting yang hangus (panah merah). Sumber: PLN, 2019.

Referensi:

Marsudi. 2005. Pembangkitan Energi Listrik. Jakarta : Erlangga.

Stevenson. 1983. Analisa Sistem Tenaga Listrik. Jakarta : Erlangga, edisi keempat.

PLN. 2019. Gangguan Partial Blackout Sistem Jawa Bali 4 Agustus 2019.

Mendongengi Pendongeng Geologi, Mengenang Rovicky Dwi Putrohari (1963-2019)

“Hambok aku diewangi,” begitu perbincangan pertama saya dan pakdhe dalam beberapa jam setelah kami berbagi nomor ponsel per-email. Ya, lawan bicara saya adalah almarhum Rovicky Dwi Putrohari, sang pendongeng kebumian legendaris yang baru berpulang itu. Perbincangan itu berlangsung pada medio Juni 2006, sekira 2 atau 3 minggu selepas Gempa Yogya 2006 nan mengharu-biru. Bencana yang menyayat hati, saya bersama banyak saudara menyaksikan langsung kala bumi laksana diguncang angkara. Malapetaka yang merenggut nyawa 6.234 orang, membuat 36.299 orang lainnya luka-luka berat maupun ringan serta memaksa lebih dari 1,5 juta orang menjadi pengungsi seiring rusaknya 616.458 unit bangunan di Bantul, Klaten, kota Yogyakarta, Kulonprogo dan Gunungkidul.

Gambar 1. Pertemuan terakhir dengan pakdhe dalam satu forum kebencanaan di Yogyakarta, medio Oktober 2018 TU. Dari kiri ke kanan adalah mas Budi (Muhammadiyah Disaster Management Centre), pak Suharko (geolog, kawan karib pakdhe), pakdhe, saya dan mas Fahmi (geolog muda yang baru pulang dari kota Palu). Dokumentasi pribadi.

Di sela-sela kegiatan ber-relawan, iseng saya kirimkan ringkasan hasil perhitungan energetika Gempa Yogya ke Dongeng Geologi. Energetika itu mengupas seberapa besar energi seismik Gempa Yogya 2006 sekaligus menjadi bantahan bencana itu adalah ulah kotor tangan-tangan manusia. Karena butuh senjata nuklir berkekuatan besar untuk bisa melepaskan energi sebesar Gempa Yogya dan jelas bakal ada efek samping detonasi nuklir yang tak bisa dinegasikan, mulai tsunami hingga masalah pencemaran radiasi nuklir. Saat itu memang berkembang hoaks adanya tangan-tangan jahat yang meledakkan senjata nuklir di dasar laut di selatan Parangtritis hingga memproduksi Gempa Yogya. Perhitungan energetika serupa pernah saya kerjakan pada momen Gempa Aceh 2004 nan fenomenal itu. Meski hasilnya dibagi terbatas ke sejumlah sejawat (dan sepi tanggapan), sementara versi yang lebih lunak (yang tak berhias aneka angka dan persamaan matematika) sambil lalu saya kirim ke satu koran Jawa Tengah (dan entah bagaimana ceritanya malah naik cetak).

“Ngewangi pakdhe? Lah apa ndak nguyahi segara?” Ya, saya selalu memanggilnya pakdhe sedari awal perkenalan kami. Sebaliknya panggilan untuk saya-lah yang berubah-ubah laksana gayut alur evolusi geologis. Mulai dari thole yang jadi ciri khasnya, hingga mas dan belakangan malah pak. Diajak membantu sang pendongeng geologi yang saya kagumi, yang tulisan-tulisan di blognya saya ikuti bertahun-tahun terutama semenjak peristiwa Gempa Aceh 2004? Itu laksana menggarami lautan. Ngajari wong pinter. Lagipula energetika gempa bumi bukanlah perkara sulit. Itu sekedar memainkan kalkulator pada persamaan umum Gutenberg-Richter (log E = aM + b) yang telah diderivasikan ke berbagai bentuk. Diikuti seni mengubah besaran satuan.

Saya lebih menyukai penggunaan satuan kiloton TNT maupun megaton TNT karena lebih ‘nendang,’ lebih kontekstual. Bukannya Joule apalagi Erg yang relatif ‘kering.’ Kiloton/megaton TNT banyak digunakan dalam cabang ilmu fisika energi tinggi dan awalnya digunakan menjelaskan kekuatan ledakan nuklir. Bom nuklir yang meluluhlantakkan Hiroshima memiliki energi 12 kiloton TNT, sementara kembaran-beda-bentuk -nya di Nagasaki berkekuatan 20 kiloton TNT. Belakangan satuan ini digunakan pula dalam ilmu kebencanaan, misalnya mendeskripsikan besarnya energi letusan gunung berapi maupun gempa bumi/tsunami.

Di sisi lain saya saat itu hanya ingin menulis. Cuma berhasrat menata kata dalam guratan pena. Berharap bisa menuangkan penat dalam hati. Sembari merintis jalan menuju cahaya, mencari kekuatan penyembuh bagi luka dalam jiwa setelah anugerah kehidupan yang susul-menyusul. Kata seorang sejawat, menulislah agar tak ada lagi bisul dalam sukma. Bukan untuk berargumen atau berdebat dalam koridor sains tertentu guna mencari kebenaran ilmiah. Apalagi mengunduh popularitas.

Aku belajar geologi di Yogya lalu lanjut studi geofisika di Depok, tukasnya. Bahasan energi adalah makanan sehari-hari. Tapi aspek energi yang kupahami ya melulu seluk-beluk minyak bumi, gas alam dan batubara. Kadang geotermal. Bagaimana gempa terjadi, aku tahu mekanismenya. Aku bisa jelaskan tentang sesar (patahan), gejala-gejalanya dan kemungkinan pergerakannya. Tapi ya hanya sebatas itu. Tidak dengan aspek energinya. Berapa besar energi seismik yang dilepaskan? Berapa besar energi total gempa itu (istilah kerennya momen-seismik)? Seberapa besar fraksi energi yang berubah menjadi getaran dan bagaimana intensitas getarannya? Berapa yang berubah menjadi energi tsunami? Apakah energi sebesar itu bisa dipicu dari luar dengan tetap mempertahankan prinsip kekekalan energi? Itu semua di luar pengetahuanku.

Gambar 2. Diagram sederhana sumber Gempa Yogya 2006 berdasarkan analisis episentrum gempa-gempa susulan dan interferometri satelit. Pematahan pada sesar Oya melepaskan energi yang merambat kemana-mana, terutama melalui sesar Siluk sebagai jalan tol-nya. Bentang lahan lunak di antara sesar Opak dan sesar Progo tergetarkan hebat hingga mengalami amplifikasi getaran. Kerusakan terparah terjadi di sini. Sumber: Tsuji dkk, 2009 digambar ulang Sudibyo, 2015.

Geologi memandang gempa bumi hanya dari satu sisi, sedangkan peristiwa gempa bumi sendiri jelas multidimensi pengetahuan. Baik ilmu alam maupun sosial. Memandang gempa bumi dalam berbagai dimensi membuat kita bisa tahu fenomena itu secara lebih komprehensif. Untuk saat sekarang, itu bisa mengeliminasi hoaks yang tak berkeruncingan dan membantu menenangkan khalayak. Dalam jangka panjang, semoga membantu anak cucu kita dalam menyiapkan diri menghadapi peristiwa yang sama. Karena gempa bumi selalu berulang di satu lokasi setelah sekian waktu. Dan thole kan ngerti, geologi kadang sulit memberi penjelasan jika tak dibantu kacamata bersudut pandang lebih lebar.

Makanya astronomi pernah menjadi kacamatanya, tukas saya sambil mengutip cerita Alfred Wegener. Kami pun ngakak. Ya, Alfred Wegener sang pencetus gagasan pengapungan benua yang menjadi pondasi tektonik lempeng, sejatinya seorang astronom. Dialah yang pertama kali menyadari kemiripan bentuk pesisir timur benua Amerika bagian selatan dengan pesisir barat benua Afrika sebagai kepingan puzzle yang bisa dipersatukan. Maka pada tahun 1912 TU Wegener pun mengungkapkan gagasan pengapungan benuanya, hanya untuk melihatnya ‘dibantai’ habis-habisan oleh para pesohor dunia ilmu kebumian saat itu. Butuh waktu hampir setengah abad kemudian atau dua dasawarsa selepas berpulangnya Wegener dalam ekspedisi kutub utara, setelah melalui serangkaian survei bawahlaut Samudera Atlantik dan survei magnetik, untuk menyatakan Wegener memang benar. Benua-benua memang saling mengapung dan bergerak. Segenap kerak bumi kita yang padat dan kaku itu mengapung di atas bubur panas sangat kental yang dipenuhi gerakan berskala besar arus konvektif. Itulah lapisan selubung (mantel) Bumi. Dan dahulu semua benua pernah menjadi satu, sebagai superbenua Pangaea.

Berhari kemudian ada saudara mampir ke rumah mengangsurkan koran sembari nyengir menyebalkan. Di halaman depan bagian bawah terpampang artikel energetika Gempa Yogya berciri khas tulisan saya, lengkap dengan foto bertampang culun dalam ukuran kecil. Astaga! Ini kan yang kemarin kukirim ke Dongeng Geologi? Dikutip utuh bulat-bulat, plek-jiplek kata orang Kebumen. Pakdhe ketawa saja saat kami berbincang per telepon, memaparkan betapa kenalan jurnalisnya tertarik dengan lika-liku perbincangan seputar Gempa Yogya 2006 dan telah mohon izin untuk dimuat secara bersambung.

Gambar 3. Saat-saat tsunami Pangandaran 2006 menggempur kolam PLTU Bunton, Cilacap (Jawa Tengah). Tsunami ini dibangkitkan oleh Gempa Pangandaran 17 Juli 2006 (magnitudo 7,7) yang terjadi 45 menit sebelumnya. Gempa tersebut merupakan gempa-lambat sehingga meproduksi tsunami besar. Sumber: PLTU Bunton, 2006 dalam Lavigne, 2007.

Pancawarsa pasca perkenalan kami menjadi masa yang amat sibuk dan juga produktif bagi Dongeng Geologi. Sejumlah fenomena alam terjadi secara beruntun. Sebutlah Gempa Pangandaran 2006 yang tsunamigenik dan bersifat gempa-lambat (tsunami-earthquake) sehingga nyaris tak terasa getarannya, namun tanpa diduga samudera mendadak bergelora dalam sejam pascagempa. Juga Gempa Solok 2007, gempa ganda (doublet) yang sama energetiknya dengan Gempa Yogya 2006 dan meninggalkan banyak retakan tanah menarik di sekitar Danau Singkarak. Lantas Gempa Bengkulu 2007, yang meletup di zona megathrust Sunda di Sumatera terutama pada segmen Mentawai bagian selatan. Gempa yang menjadi bagian dari dekade teror gempa Sumatera (dalam istilah geolog legendaris pak Danny Hilman Natawidjaja) dan diduga adalah babak pertama dari perulangan doublet gempa megathrust 1797 – 1833.

Ada juga Gempa Laut Jawa 2007, episentrumnya berdekatan dengan Jakarta dan getarannya mengguncang luas seantero pulau Jawa, sebuah ciri khas gempa intralempeng berhiposentrum sangat dalam. Meski episentrumnya ada di lepas pantai utara Jawa, uniknya getarannya justru menyebabkan puluhan rumah rusak di Cianjur yang berada di pesisir selatan Jawa. Si ‘intra’ lain datang menerjang dua tahun kemudian dalam dua kejadian, tepatnya pada bulan September 2009. Diawali Gempa Tasikmalaya 2007 pada senja menjelang buka puasa, yang memicu tanah longsor Cikangkareng yang menewaskan puluhan orang. Disusul Gempa Padang 2009, hanya beberapa hari selepas Idul Fitri. Ratusan nyawa meregang dalam peristiwa gempa yang sama sekali tak diduga dan bukanlah bagian dekade teror gempa Sumatera. Dan berikutnya Gempa Mentawai 2010 naik ke panggung, sebuah gempa-lambat tsunamigenik dengan getaran yang ringan namun diikuti terjangan tsunami besar yang merenggut nyawa hampir 500 orang.

Bencana gempa bumi di mancanegara tak kalah menarik perhatian Dongeng Geologi. Sebut saja Gempa Wenchuan 2008 di sudut barat China, yang meletup di area konservasi kawanan panda. Gempa darat sangat kuat akibat patahnya sesar Longmenshan itu menelan korban jiwa tak kurang dari 60.000 orang. Lalu Gempa megathrust Chile 2010, yang sedikit lebih kuat ketimbang Gempa Nias 2005. Gempa yang melepaskan tsunami ke sekujur pesisir Samudera Pasifik, mulai dari California (AS) hingga Jepang dan Russia. Demikian halnya Gempa Hati 2010, gempa kuat yang tidak begitu besar namun menohok langsung ibukota sebuah negara miskin berpenduduk padat. Korban jiwa yang jatuh tak kurang dari 100.000 orang. Meski pemerintah Haiti sendiri mengklaim korban jiwa mencapai 316.000 orang, angka yang dianggap terlalu dibesar-besarkan untuk tujuan tertentu.

Dan yang paling fenomenal tentulah Gempa megathrust Tohoku-Oki 2011 di Jepang, yang setara kuatnya dengan gempa Aceh 2004. Gempa yang melepaskan tsunami raksasa ke seantero pesisir Samudera Pasifik dan merenggut nyawa tak kurang dari 16.000 orang. Tak sekedar merenggut korban jiwa, gempa itu juga memicu aneka krisis di Jepang. Yang paling menonjol tentulah krisis nuklir di keempat reaktor nuklir PLTN Fukushima Daichi. Keempatnya kehilangan aliran pendingin seiring putusnya catudaya listrik akibat matinya generator oleh terjangan tsunami. Reaktor-reaktor yang memanas, meleleh dan (sebagian) berujung pada ledakan Hidrogen menjadi panorama menggidikkan yang menghantui dunia.

Selain peristiwa gempa bumi, letusan sejumlah gunung berapi pun menggamit minat. Misalnya Gunung Merapi, yang letusannya pada 2006 TU meluncurkan awan panas dan lava pijar hingga mengubur bunker Kaliadem. Gunung Merapi meletus kembali empat tahun berikutnya, dengan letusan aneh yang menyebal dari kebiasaan umum. Letusan Merapi 2010 menjadi amukan gunung berapi terdahsyat di Indonesia dalam kurun seperempat abad terakhir, semenjak letusan Gunung Galunggung. Dua letusan itu diselingi oleh letusan Gunung Kelud di tahun 2007. Letusan ini semula dikhawatirkan bakal sangat merusak, seperti hikayat amukan Gunung Kelud sebelumnya. Tapi semesta raya selalu punya cara sendiri dalam menggoda kita manusia. Di tahun itu Gunung Kelud ternyata hanya menyembulkan gundukan kubahlava dari danau kawahnya secara berangsur-angsur hingga sebesar bukit. Tanpa ada pasir dan debu vulkanik menghujani kawasan sekitar. Tujuh tahun berikutnya barulah Gunung Kelud kembali ke perilaku aslinya dengan letusan dahsyat katastrofik, meremukkan kubahlavanya berkeping-keping dan melontarkannya ke langit untuk kemudian membedaki separo pulau Jawa.

Pakdhe selalu hadir dalam peristiwa-peristiwa tersebut. Tak hanya sebatas satu, kerap pakdhe menghadirkan rentetan artikel berkesinambungan bagi satu peristiwa. Semua tersaji dengan gayanya yang khas: ringan, renyah, bernas dan hidup. Tak seperti umumnya artikel ilmiah populer yang melulu datar dan kering dengan sedikit nuansa. Tak heran, meski terdapat sekian banyak blogger yang menggumuli popularisasi ilmu kebumian, perlahan namun pasti pakdhe menjadi selebriti. Pesohor geologi. Media darling. Kunjungan ke Dongeng Geologi pun melonjak pesat. Hingga pakdhe wafat sudah menyentuh angka 9 juta kunjungan, jauh di atas blog saya (Ekliptika) yang baru berkutat di angka 700 ribuan.

Gambar 3. Lubang Letusan Kelud 2014 di dalam kawah aktif Gunung Kelud, nampak masih berasap dan kering pascaletusan. Sebelum 2007 TU lubang ini tergenangi air sebagai danau kawah Kelud. Setelah 2007 TU danau kawah menghilang hampir sepenuhnya, digantikan oleh gundukan kubahlava sebesar bukit. Sumber: PVMBG, 2014.

Dalam masa tersebut pula diskusi kami menjadi kian intensif dengan memanfaatkan semua media yang memungkinkan. Mulai dari email dan media sosial saat itu (terutama facebook), telepon hingga layanan pesan singkat (SMS). Tak jarang kami masih berdiskusi hingga lepas tengah malam. Seperti kala Letusan Merapi 2010. Hingga sehari sebelum erupsi terjadi, kami mulai menyadari akan terjadi peristiwa yang tak biasa. Saat itu energi seismik akumulatif Merapi membumbung tinggi hingga tiga kali lipat energi pra-letusan Merapi 2006. Akan tetapi secara visual tak terlihat perubahan berarti di puncak selayaknya peristiwa letusan-letusan sebelumnya. Saya sudah khawatir akumulasi energi luar biasa besar itu akan keluar dari Gunung Merapi dalam tempo singkat sebagai erupsi eksplosif yang melepaskan gelombang kejut (shockwave), hempasan udara bertekanan sangat tinggi dan menjalar cepat yang khas pada kejadian-kejadian eksplosif. Berhari-hari hari kemudian kekhawatiran itu terbukti. Dan hingga Desember 2010, amukan Gunung Merapi telah melepaskan 27 megaton TNT energi, yang tak pernah terjadi dalam letusan-letusan Merapi sebelumnya (kecuali 1930).

Namun minat pakdhe tak hanya sebatas itu. Fenomena geologi lainnya pun menggamitnya untuk dibahas di Dongeng Geologi. Paling menonjol adalah kejadian semburan lumpur di dekat area pengeboran eksplorasi Lapindo Brantas di Porong, Sidoarjo (Jawa Timur). Peristiwa yang kini dipahami sebagai erupsi gunung lumpur (mud volcano) terbesar di dunia. Begitu intensifnya diskusi didalamnya sampai-sampai pakdhe memutuskan membuat spin-off Dongeng Geologi. Lahirlah blog khusus bertema HotMudFlow. Diskusi, pertarungan ide dan gagasan hingga otot-ototan argumentasi pun berlangsung seru di HotMudFlow. Baik dari kutub yang berpendapat mud volcano ini sebagai bencana alam yang dipicu getaran Gempa Yogya 2006, hingga kutub yang berargumen mud volcano ini sebagai kecelakaan industri akibat kelalaian manusia. Sependek amatan saya inilah satu-satunya platform yang secara konsisten dan berkelanjutan membahas kejadian mud volcano Sidoarjo hingga bertahun-tahun. Bukan sekedar hangat-hangat tahi ayam.

Minat pakdhe pun berkembang meluas. Bagaimana mataair zamzam eksis di kotasuci Makkah disertai cekungan air tanah yang menopang, dikupasnya dalam artikel yang ringan namun berkelas dan berbobot. Beliau juga tertarik pada hal-hal di luar lingkup ilmu kebumian seperti beberapa hal yang saya pelajari, mulai dari aneka benda langit hingga bagaimana cara kerja semesta raya beserta realitas fisik didalamnya. Dalam ranah ini saya laksana mendongengi sang pendongeng.

Peristiwa-peristiwa Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan dikupas dan didokumentasikannya dengan baik. Dan sebagai sosok Muslim, pakdhe secara khusus menaruh perhatian besar bagaimana fenomena-fenomena alam (baik dalam astronomi maupun geologi) bisa dideskripsikan dalam rangka mempertebal keimanan. Termasuk dalam diskursus penentuan awal bulan Hijriyyah dan penyatuan kalender Hijriyyah di Indonesia, bidang khusus yang di kemudian hari saya garap dengan serius dan formal.

Gambar 4. Rekaman naik-turunnya paras (permukaan) air laut saat peristiwa Tsunami Selat Sunda 2018. Nampak paras laut yang tadinya mengalami kenaikan secara bertahap dan lama mendadak naik dan turun dalam tempo jauh lebih singkat, sebuah ciri khas tsunami. Sumber: BIG, 2018.

Pakdhe adalah kawan diskusi yang menyenangkan. Kadangkala juga menjadi lawan diskusi yang tangguh dan susah ditaklukkan. Tak jarang kami berselisih pendapat pada berbagai hal hingga berujung pada diktum sepakat untuk tidak sepakat. Terutama jika diskusi sudah menyentuh masalah politik, kebijakan dan ketatanegaraan. Seperti persoalan blue energy yang mencuat di masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Pakdhe mengulasnya dengan antusias, menganggap sebagai salah satu solusi bagi energi Indonesia di tengah menyusutnya produksi minyak dan gas nasional (sementara konsumsi terus membengkak) dan belum jua ditemukan lapangan-lapangan raksasa minyak dan gas baru. Sebaliknya saya skeptis sedari awal, terutama karena memicu ‘radar’ too good to be true yang menjadi pedoman saya dalam mengidentifikasi hoaks. Aspek-aspek blue energy bertentangan dengan pengetahuan akan kekekalan dan perubahan energi.

Belakangan skandal meruak di Yogyakarta atas klaim menyadap energi listrik secara langsung dari fenomena peluruhan radioaktif. Klaim terbukti bohong dan memaksa pucuk pimpinan satu perguruan tinggi mengundurkan diri. Dan beliau adalah kawan pakdhe. “Sampeyan bener mas,” tukas pakdhe kala itu. Saya kalem saja. Karena ini bukanlah kemenangan yang patut dirayakan. Memprihatinkan bahwa perguruan tinggi yang menjadi tempat ilmu pengetahuan teknologi disemaikan, dikembangkan dan diajarkan bisa terperosok dalam situasi tersebut. Dalam beberapa hal saya masih bisa menerima bilamana hoaks berkembang di lingkungan masyarakat umum. Bukan pada masyarakat kampus yang sesungguhnya sangat terdidik.

Energi dan semangat pakdhe tak surut meski di tahun-tahun terakhir kondisi kesehatannya kian menurun seiring pergulatannya melawan sigmoid diverticulosis beserta segenap implikasinya. Kita harus terus menyampaikan seperti apa sesungguhnya bencana geologi semacam gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi dan gerakan tanah. Bukan menyebarkan rasa pesimis dan sikap tanpa harapan, meski ulasan tentang kebencanaan memang sering-seringnya seperti itu. Tapi dengan harapan membangun sikap kesiapsiagaan dan mental positif. Karena sebagai negara yang berdiri di atas pertemuan tiga lempeng inilah high risk high gain bagi Indonesia. Negeri yang beresiko besar terhadap aneka bencana geologi, namun juga dianugerahi sekian banyak kelebihan sumberdaya alam dibanding para tetangga. Dalam setiap kalimat dan kata, mari tempatkan semuanya di bawah payung besar agar berharap yang terbaik akan tetapi tetap bersiap untuk yang terburuk. Ya, jargon pengurangan resiko bencana.

Lewat semangat itulah pakdhe tetap tampil dimana-mana kala terjadi bencana Gempa Lombok 2018, Gempa dan tsunami Palu 2018 serta Tsunami Selat Sunda 2018. Pakdhe berkibar dimana-mana hingga kesulitan mengatur waktu wawancara dari satu stasiun televisi ke stasiun berikutnya. Sebaliknya beliau enggan menuangkan gagasannya di suratkabar. “Itu wilayah panjenengan pak,” tukasnya ketika itu. Sepanjang masa itu kami tak hanya bertukar pikiran akan hal-hal teknis semacam energetika maupun mekanisme bencana. Tetapi juga pada ranah strategis seperti saat mencorat-coreti dan menambahkurangi draft rancangan Sisnas-Perdimana. Tak peduli bahwa selama periode itu pakdhe bolak-balik ke rumah sakit. Tetap semangat hingga tiba di garis akhir.

Sugeng tindak pakdhe. Panjenengan saestu piyantun sae. Terimakasih atas semua ilmumu. Doa kami menyertaimu. Akan kami teruskan perjuanganmu…

Tekanan Hidrostatik: Insiden Goa Thailand dan Kecelakaan Danau Toba Indonesia

John Volanthen masih menyelam sembari memasangi tali pandu di dasar lorong goa Tham Luang Nan Non, atau goa Putri Tidur, yang dibanjiri air. Mendadak sosok yang disebut sebagai penyelam spesialis goa terbaik di dunia itu tersadar kalau gulungan tali yang dibawanya habis. Kondisi yang memaksanya berenang ke paras air, sesuai prosedur standar, untuk berorientasi dan beristirahat barang sejenak. Saat itu pukul 22:00 waktu Thailand (setara dengan WIB di Indonesia), hari Senin 2 Juli 2018 TU (Tarikh Umum). Lorong itu gelap gulita dan hening seperti seharusnya, tapi mendadak terdengar suara lirih memanggil. Begitu lampu sorotnya diarahkan ke sumber suara, terpampang pemandangan 12 remaja dan seorang dewasa berkumpul pada satu serambi sempit di tepi air. Semua nampak tenang meski terduduk lemas tanpa bisa berdiri. Mereka inilah yang telah dicari-cari dan menyedot perhatian dunia selama sembilan hari terakhir.

Drama dimulai pada Sabtu 23 Juni 2018 TU. Kisah sesungguhnya masih simpang siur. Versi yang banyak dikutip menjelaskan, 13 remaja yang berasal dari desa-desa miskin di dekat perbatasan Thailand dan Myanmar meluncur ke kompleks goa Tham Luang usai berlatih sepakbola. Mereka adalah bagian klub kecil yang menjuluki dirinya klub Wild Boar. Setibanya di mulut goa, mereka segera masuk menjalani ritual inisiasi khas setempat. Yakni masuk sejauh mungkin dalam lorong goa, menuliskan namanya di dinding dan lantas bergegas keluar sebelum tergenang air. Juga ada rencana merayakan ulang tahun salah satu dari mereka. Beberapa bungkus makanan ringan pun turut dibawa.

Sang pelatih, pemuda yatim piatu berusia 25 tahun yang dididik menjadi biksu dan mengabdi pada kuil setempat, awalnya tak tahu rencana anak-anak didiknya. Bergegas ia menyusul mereka mengingat sifat goa Tham Luang yang tak boleh dimasuki selama periode Juli hingga September setiap tahunnya karena selalu tergenangi air dari hujan lebat muson. Apalagi mendung sudah membayang. Ia terlambat, para remaja itu sudah terlanjur masuk dan meninggalkan sepeda-sepedanya di dalam mulut goa. Ia pun menyusul masuk. Benar saja, hujan deras pun mengguyur selama berhari-hari kemudian.

Tak ada pilihan bagi mereka kecuali terus masuk kian jauh ke dalam lorong, mencari tempat yang kering dan menunggu. Selama sembilan hari kemudian mereka bertahan hidup dalam ruang sempit nan gelap dengan meminum tetes-tetes air dari stalaktit dan menjatah tiap keping makanan ringan yang dibawa. Sang pelatih juga mengajari bermeditasi, menekankan tetap tenang, tetap berkumpul dan tetap menghemat energi. Mereka sempat berusaha membuat jalan keluar dengan menggali dinding goa hingga 5 meter.

Drama itu menyedot perhatian berskala internasional sekaligus menyatukan kembali rakyat Thailand, yang terpecah oleh perbedaan politik berkepanjangan, untuk sementara. Angkatan Laut Thailand menyiagakan 18 penyelam Navy Seals terbaiknya. 24 sukarelawan penyelam goa pun berdatangan dari mancanegara, mulai dari negara-negara tetangga seperti Laos, Myanmar, China, Filipina, Jepang dan India. Hingga dari negeri-negeri jauh seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia, Russia, Belanda, Belgia, Ceko, Denmark, Finlandia, Jerman, Ukraina dan bahkan Israel. Di luar itu ada sekitar 1.000 sukarelawan yang berpartisipasi dari beragam latar belakang. Mulai dari para relawan bencana, petugas penyelamat untuk keadaan darurat hingga petani, pencari sarang burung, tukang masak, pemilik usaha laundry dan juga tukang pijat.

Setelah mempertimbangkan aneka opsi masak-masak, otoritas Thailand memutuskan yang paling rasional dan memungkinkan adalah membawa mereka keluar melalui lorong yang tergenangi air. Begitu ditemukan dan diketahui masih hidup serta lengkap, mereka yang terjebak dalam goa segera diasup makanan dan minuman tinggi kalori. Mereka akan dikeluarkan dari goa dengan didampingi dua penyelam profesional. Mempertimbangkan derasnya arus air dan lebar lorong (yang di satu lokasi sangat menyempit menjadi leher-angsa yang khas), maka diputuskan mereka yang terjebak akan dikeluarkan secara bertahap dalam tiga kelompok.

Gambar 1. Penampang melintang goa Thamn Luang Nan Non di propinsi Chiang Rai (Thailand) berdekatan dengan perbatasan Thailand – Myanmar. Nampak lorong-lorong yang melebar membentuk ruang-ruang goa, juga yang menyempit membentuk sejenis terowongan yang dibanjiri air. Jarak antara pintu masuk goa (entrance) dengan lokasi terjebaknya para remaja dan pelatih sepakbolanya adalah 4 kilometer. Sumber: Anonim, 2018.

Meski serambi tempat mereka terjebak berjarak sekitar 4 kilometer dari mulut goa, namun setiap orang hanya perlu menempuh jarak 2 kilometer untuk tiba di pusat operasi penyelamatan yang ditempatkan ruangan besar kering dalam goa. Dari sini mereka akan dibawa dengan tandu ke mobil ambulans yang sudah menunggu di luar mulut goa, atau ke helikopter jika situasinya mendesak. RS Chiang Rai Prachanukroh yang berjarak 70 kilometer dari goa pun disiagakan.

Operasi evakuasi mulai dilaksanakan pada Minggu 8 Juli 2018 TU. Hari itu kelompok pertama yang terdiri dari empat remaja berhasil dikeluarkan. Sehari berikutnya giliran kelompok kedua, juga terdiri dari empat remaja, berhasil dikeluarkan. Operasi hari kedua berjalan dalam waktu lebih cepat ketimbang hari pertama. Sehingga komandan operasi cukup percaya diri untuk mengeluarkan kelimanya pada hari ketiga. Dan demikianlah adanya. Operasi penyelamatan dinyatakan berakhir pada Selasa malam 10 Juli 2018 TU.

Danau Toba

Lima hari sebelum drama goa Thailand dimulai, tragedi yang lebih memilukan berlangsung di Indonesia. Yakni tenggelamnya Kapal Motor (KM) Sinar Bangun VI di perairan Danau Toba sebelah utara pada Senin 18 Juni 2018 TU senja selagi melayari rute antara pelabuhan Simanindo di pulau Samosir ke pelabuhan Tigaras di pesisir timur danau. 21 orang berhasil diselamatkan sementara 3 jasad berhasil dievakuasi. Namun ratusan orang, dalam perhitungan terakhir adalah 164 orang, dinyatakan hilang .

Sejauh ini penyelidikan memperlihatkan kecelakaan yang menimpa KM Sinar Bangun VI terjadi akibat kelebihan muatan. Dimana kapal yang hanya berkapasitas 40 penumpang dijejali hampir 200 orang. Demikian berlebih bebannya sehingga kala berlayar, penumpang yang selamat menuturkan bahwa paras air Danau Toba hanyalah sejarak sejengkal dari bibir geladak kapal. Faktor berikutnya adalah cuaca buruk yang menerpa kawasan Danau Toba ditandai dengan hujan lebat dan angin kencang yang menciptakan gelombang di paras air danau. Diceritakan pula, kelebihan muatan merupakan hal yang biasa dilakukan pada pelayaran di Danau Toba selama bertahun-tahun di bawah hidung otoritas terkait.

Gambar 2. Diagram Kapal Motor Sinar Bangun IV, yang mengalami kecelakaan dan tenggelam di Danau Toba (Indonesia) pada 18 Juni 2018 TU. Kapal terdiri dari tiga dek dengan panjang hanya 17,5 meter dan kapasitas penumpang maksimum hanya 40 orang tanpa diperkenankan mengangkut barang. Namun pada saat kecelakaan terjadi, kapal dijejali oleh hampir 200 orang dan mengangkut sejumlah sepeda motor. Sumber: Reuters, 2018.

Posisi bangkai kapal dan sejumlah jasad penumpangnya baru diketahui sepuluh hari pasca tenggelam. Awalnya Badan SAR Nasional (Basarnas) mendeteksi adanya obyek asing tergolek di dasar danau sedalam 450 meter melalui sonar. Saat wahana otomatik bawahair (ROV) milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dioperasikan guna melihat lebih lanjut temuan sonar secara visual, terlihat reruntuhan yang diduga adalah bangkai kapal. Terekam pula sejumlah jasad dan benda-benda yang terlontar keluar dari kapal, seperti sepeda motor.

Meski posisi bangkai kapal telah diketahui, namun pada Minggu 2 Juli 2018 TU otoritas Indonesia memutuskan menghentikan operasi pencarian bawahair pada keesokan harinya. Sementara pencarian di permukaan air terus berlanjut. Sebagai kenangan sekaligus peringatan ke masa depan akan peristiwa ini, akan dibangun tugu peringatan. Keputusan ini telah dikonsultasikan dengan keluarga para korban hilang. Walaupun demikian beberapa pihak mengkritik keras keputusan tersebut.

Kini, sukses operasi evakuasi para remaja dan pelatihnya yang terjebak dalam goa di Thailand memberikan bahan bakar baru. Bila remaja Thailand saja bisa dievakuasi, mengapa korban Sinar Bangun VI di Indonesia tidak?

Perbandingan

Membandingkan langsung operasi evakuasi goa Thailand dengan Danau Toba Indonesia sesungguhnya tak berimbang dan tak saling mendekati. Karena keduanya sangat berbeda. Terutama korban hilang terjebak di goa Thailand ditemukan masih hidup. Sementara korban hilang di Danau Toba Indonesia (sebagian kecil) ditemukan telah meninggal di dasar danau. Strategi evakuasi antara korban hidup dengan yang sudah meninggal jelas berbeda.

Gambar 3. Peta kedalaman air Danau Toba dan lokasi ditemukannya bangkai KM Sinar Bangun IV. Nampak bagian terdalam danau adalah sepanjang sisi timur pulau Samosir. Peta diadaptasi dari Chesner (2012). Sumber: Reuters, 2018.

Andaikata mau dibandingkan, dalam hemat saya salah satu faktor fisis yang bisa dievaluasi adalah persoalan hidrostatika yang mewujud dalam bentuk tekanan hidrostatis. Dalam fisika, tekanan hidrostatis berbanding lurus dengan kedalamannya. Semakin dalam maka tekanannya kian meninggi. Disinilah letak perbedaan mendasar kasus goa Thailand dengan Danau Toba Indonesia.

Goa Tham Luang Nan Non terletak pada elevasi 450 meter dpl (dari paras air laut rata-rata). Tekanan udara paras air laut didefinisikan sebagai tekanan 1 atmosfer (1 atm), yang setara dengan 1,013 bar atau 101.325 Pascal. Secara umum terjadi pengurangan tekanan udara sebesar 1.200 Pascal dalam tiap kenaikan elevasi 100 meter. Maka tekanan udara di lokasi goa Tham Luang diperhitungkan sebesar 0,95 atmosfir atau hanya 5 % lebih rendah ketimbang tekanan udara paras air laut. Lorong goa ini memang berliku-liku dan naik-turun dengan bagian yang lebih rendah digenangi air yang keruh berlumpur.

Namun genangan air terdalam hanyalah 3 meter, yakni di bagian lorong tersempit dan berbentuk mirip leher-angsa yang umum dijumpai pada wastafel atau toilet. Jika massa jenis air yang menggenangi goa dianggap 1.100 kg/m3 (karena berlumpur) maka dapat diperhitungkan pada titik genangan terdalam besarnya tekanan total (yakni kombinasi tekanan hidrostatis dan tekanan udara permukaan) adalah 1,27 atm. Ini hanya 27 % lebih tinggi ketimbang tekanan udara paras air laut. Maka di goa Tham Luang di Thailand, para penyelamat bisa mencoret problem tekanan hidrostatis dari daftar hal-hal yang harus diperhatikan dan diatasi dalam operasi penyelamatan.

Sebaliknya tidak demikian dengan Danau Toba di Indonesia.

Paras air danau berada pada elevasi 900 meter dpl. Sehingga tekanan udaranya diperhitungkan sebesar 0,89 atmosfir atau hanya 11 % lebih rendah ketimbang tekanan udara paras air laut. Akan tetapi bangkai kapal beserta para korban hilang tergeletak pada kedalaman 450 meter. Air danau terlihat jernih, sehingga massa jenisnya diperkirakan bernilai sekitar 1.000 kg/m3. Jika kerapatan air danau dianggap seragam untuk setiap titik kedalaman, maka dapat diperhitungkan pada kedalaman 450 meter itu tekanan totalnya mencapai 44,5 atm. Ini tekanan cukup tinggi, mencapai 44,5 kali lipat lebih besar ketimbang tekanan udara paras laut. Tekanan setinggi itu bisa disetarakan dengan tekanan udara yang berkekuatan menghancurkan di paras Venus.

Gambar 4. Gambaran sederhana akan perbandingan tekanan hidrostatis yang diderita di dasar Danau Toba dengan bagian terdalam lorong goa Tham Luang yang digenangi air. Jelas terlihat bahwa tekanan total (kombinasi tekanan hidrostatis dan tekanan udara paras air lokal) di dasar Danau Toba jauh lebih besar ketimbang goa Tham Luang. Inilah salah satu faktor yang membedakan proses evakuasi dalam kecelakaan di Indonesia dan insiden di Thailand. Sumber: Sudibyo, 2018.

Sehingga, bertolak belakang dengan goa Tham Luang di Thailand, para penyelamat di Danau Toba sedari awal harus berhadapan dengan masalah tingginya tekanan air di dasar danau. Indonesia memang memiliki perlengkapan penyelaman laut dalam, yang memungkinkan penyelam bisa bekerja pada kedalaman ekstrim. Namun kedalaman maksimum yang bisa dicapai hanyalah 200 meter. Untuk menjangkau kedalaman 450 meter diperlukan peralatan khusus untuk penyelaman laut dalam nan berat. Atau alternatif lainnya yang telah tersedia, dengan berkaca pada pengalaman evakuasi korban-korban hilang pada jatuhnya pesawat Airbus A330 Air France penerbangan 447 di Samudera Atlantik pada 1 Juni 2009 TU. Yakni menggunakan kapal selam mini khusus yang sanggup menyelami kedalaman lebih dari 200 meter. Dalam kasus Air France tersebut, kapal selam mini khusus itu mengangkut jasad-jasad dari kedalaman 4.000 meter.

Masalah tersulit adalah, baik peralatan penyelaman laut dalam maupun kapal selam mini khusus itu hanya bisa dioperasikan lewat kapal induk yang memang dirancang khusus untuknya. Mendatangkan kapal selam mini khusus ke Danau Toba, secara teknis memungkinkan. Ia bisa diangkut lewat jalur laut melalui Pelabuhan Belawan di Medan, atau lewat jalur udara ke Bandara Kuala Namu. Dari situ kapal selam mini khusus tersebut akan menempuh jalur darat ratusan kilometer menuju Danau Toba. Namun tanpa keberadaan kapal induknya, kapal selam mini khusus itu tak bisa berbuat apa-apa. Sementara kapal induknya, misalnya seperti kapal induk HSwMS Belos (A214) milik Swedia, berbobot mati 6.500 ton sehingga mustahil diangkut lewat jalur darat.

Disini saya tidak mengecilkan upaya evakuasi para korban yang terjebak dalam goa Tham Luang di Thailand. Evakuasi itu pun berhadapan dengan aneka problem di luar problem tekanan hidrostatis. Misalnya, paras genangan air dalam goa yang terus naik. Masalah ini diatasi lewat dipasangnya pompa berkekuatan tinggi yang sanggup menyedot 1,6 juta liter air perjam. Pemerintah Ceko mengirim bantuan pompa tambahan berkapasitas 1,4 juta liter perjam. Dan dalam dua hari terakhir operasi, sebuah pintu air pengendali dibangun tepat di jalan air masuk goa. Sehingga volume air yang memasuki goa dapat dikontrol dan demikian pula paras genangannya.

Begitupun pada saat-saat terakhir, yakni sekitar 30 menit setelah korban terakhir berhasil dikeluarkan dari dalam goa, mesin pompa mendadak meledak. Alhasil air terus masuk tak terkontrol lagi ke dalam goa, sementara di dalam masih ada 20 petugas penyelamat. Petugas terakhir berhasil keluar dari goa manakala air telah menggenang hingga setinggi kepala.

Problem berikutnya adalah ruangan goa tempat mereka terjebak merupakan ruang tertutup. Pernafasan setiap orang membuat kadar Oksigen menurun (terakhir terukur hanya 15 % dari normalnya 21 %) sebaliknya kadar CO2 terus meningkat. Awalnya masalah ini dicoba diatasi dengan memasang pipa penyalur udara segar dari luar goa. Setelah terbukti tak membantu, maka diputuskan mereka harus dievakuasi secepatnya.

Evakuasi secepatnya pun berhadapan dengan masalah tersendiri, karena mereka tak bisa berenang apalagi menyelam. Awalnya direncanakan untuk melatih mereka. Namun mengingat potensi rasa panik yang bisa timbul, terlebih mereka harus menyelam selama 3 jam penuh, maka diputuskan untuk memberi asupan obat penenang dosis tinggi. Sehingga seluruh korban melintasi genangan air dalam kondisi tertidur.

Namun begitu dalam perspektif hidrostatika, evakuasi goa Tham Luang Thailand tidak berhadapan dengan rejim tekanan tinggi sebagaimana halnya evakuasi di Danau Toba.

Referensi :

Chesner. 2012. The Toba Caldera Complex. Quaternary International, volume 258 (2012), hal 5-18.

Scar dkk. 2018. Tragedy on Lake Toba. Reuters Graphic, diakses 6 Juli 2018 TU.