Gempa Pelabuhan Ratu, Sebuah Catatan Singkat

Gambar 1. Peta intensitas getaran dari Gempa Pelabuhan Ratu 2 Agustus 2019 (magnitudo 7,4) menurut BMKG

Hingga 2 jam pasca Gempa Pelabuhan Ratu 2 Agustus 2019, tak terdeteksi adanya usikan khas tsunami pada stasiun-stasiun pasangsurut BIG (Badan Informasi Geospasial) terdekat, yakni stasiun Pelabuhan Ratu (Jawa Barat) dan stasiun Binangeun (Banten). Laut terlihat normal seperti biasanya. Patut disyukuri, mengingat berdasarkan kedudukan lokasi episentrum dan durasi gempa yang lumayan lama sempat membuat saya menerka mungkin ini jenis gempa unik yang dikenal sebagai slow-quake atau tsunami-earthquake. Yakni jenis gempa yang bsa memproduksi tsunami lebih besar ketimbang skala gempanya itu sendiri.

Dengan magnitudo 7,4 menurut rilis awal BMKG, maka gempa ini melepaskan energi 1,89 megaton TNT (setara 95 butir bom nuklir Nagasaki) yang merambat sebagai gelombang seismik. Energi totalnya tentu jauh lebih besar lagi, namun nggak perlu lah disinggung di sini. Yang jelas gempa ini bersumber dari area seluas 75 x 27 kilometer persegi. di area tersebut terjadi pematahan kerak bumi yang menimbulkan pergeseran rata-rata 260 cm (dengan pergeseran maksimal 330 cm). Pergeserannya besar? Ya. Namun mekanisme sumber gempanya (beachball) didominasi oleh pematahan mendatar (strike slip).

Komponen pergeseran vertikal sangat kecil. Dalam hitungan pak Widjo Kongko (dan saya juga setuju), hanya sekitar 5 cm saja. Dengan pergeseran vertikal yang kecil maka andaikata pergeseran tersebut juga mencapai dasar Samudera Indonesia di atas sumber gempa, deformasi dasar laut yang terjadi bakal sangat kecil. Usikan kolom air laut diatasnya pun bakal sangat kecil sehingga tsunami tak terbentuk. Keyakinan pribadi bahwa gempa ini tak menimbulkan tsunami juga datang dari lamanya durasi gempa, yang mengindikasikan bahwa sumber gempa tersebut relatif dalam. Hampir segenap tsunami merusak yang dibangkitkan oleh gempa bumi memiliki gempa dengan sumber yang dangkal / sangat dangkal.

Tentu saja, semua ini hanya bisa dituliskan dalam beberapa waktu pascagempa. Ya 2 jam untuk saya sendiri, di tengah sok sibuk ini dan itu serta data lebih lengkap telah berdatangan dari sana sini Namun jika anda misalnya bertugas di ruang operasi Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia (InaTEWS) di gedung BMKG Kemayoran, Jakarta, dimana sahabat saya pak Daryono bertahta, anda hanya punya waktu lima menit untuk menganalisis sebelum menyebarluaskan informasi. Ya hanya lima menit, dengan data yang masih terbatas. Sistem peringatan dini tsunami Indonesia memang dirancang harus cepat, mengingat kajian-kajian menunjukkan banyak pesisir Indonesia yang hanya punya waktu kurang dari 15 menit sebelum terjangan tsunami datang manakala sumber gempanya berada persis di hadapannya. Bahkan dalam kasus khusus seperti di Palu 2018 lalu, tsunami menggempur pantai hanya dalam tempo 3 menit (!).

Semoga Gempa Pelabuhan Ratu 2019 ini tidak menelan korban. Pelajaran yang bisa diambil, bagi saya pribadi, tetaplah waspada namun jangan berlebihan. Manakala kelak ada gempa bumi lagi dengan peringatan dini tsunami-nya, cermati daerah-daerah mana saja yang tergolong Waspada dan Siaga. Kita yang berada di luar daerah itu silahkan tetap waspada, namun tak perlu ikut-ikutan mengungsi.

Sesar Sorong yang Gemar Mendorong, Gempa Halmahera Selatan 14 Juli 2019

Di ujung utara kawasan kepala burung pulau Irian berdirilah kota pantai bernama Sorong. Dahulu suku Biak menamakan tempat ini sebagai Soren, satu pengingat akan lautnya yang dalam dan bergelora. Kata Soren lama-kelamaan mengalami transformasi tipis-tipis menjadi Sorong. Penamaan Soren jelas memperlihatkan kearifan lokal suku Biak akan karakter kebumian setempat. Sorong memang berdiri di atas lembah sempit dan panjang, yang menatah kawasan kepala burung pulau Irian demikian rupa. Di bagian yang tergenangi air laut, lembah itu memang terkenal dalam dan penuh ombak.

Gambar 1. Sebagian zona sesar Sorong dalam peta model elevasi digital. Nampak jelas meski di dasar laut sekalipun sesar Sorong tetap berbentuk lembah sempit panjang. Sumber: SEARG, 2016.

Sesar Sorong

Dan itu bukan lembah biasa. Cendekiawan kebumian masakini mengidentifikasinya sebagai sesar Sorong. Tepatnya Zona Sesar Sorong. Inilah salah satu sesar (patahan) aktif terpanjang di Indonesia selain sistem Sesar Besar Sumatera yang lebih dulu melegenda. Terhitung dari pesisir timur Teluk Cenderawasih, zona sesar Sorong membentang sepanjang 1.900 km ke arah barat hingga berujung di Kepulauan Banggai (propinsi Sulawesi tengah). Itu setara dua kali lipat panjang pulau Jawa.

Luar biasanya lagi, zona sesar Sorong memiliki banyak cabang dan hampir semuanya aktif bergerak dan berpotensi menjadi sumber gempa tektonik. Salah satu cabangnya melintasi pulau Halmahera bagian selatan, dikenal sebagai segmen Bacan, dan pada Minggu 14 Juli 2019 TU (Tarikh Umum) terpatahkan. Terjadilah Gempa Halmahera Selatan (magnitudo 7,3) yang menyebabkan kerusakan dan memicu tsunami kecil. BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) mencatat, hingga empat hari pascagempa tela tercatat korban 6 orang tewas, 51 orang luka-luka dan 3.104 orang mengungsi. Jumlah bangunan yang rusak terdiri atas 871 buah rumah dan 7 buah sekolah.

Sepak terjang sesar Sorong tak terlepas dari rumitnya kawasan Indonesia bagian timur. Termasuk bumi para raja, Laut Maluku. Di kawasan Indonesia timur inilah tiga lempeng tektonik besar dunia bertemu dalam kawasan yang disebut triple junction, yaitu lempeng Eurasia, lempeng Australia dan lempeng Pasifik. Zona sesar Sorong merupakan pembatas antara lempeng Australia yang bersifat kontinental (lempeng benua) dan relatif stabil dengan lempeng Laut Filipina dan Carolina yang bergerak ke barat. Karenanya zona sesar Sorong merupakan sesar geser yang aktif dan bergerak kecepatan yang relatif tinggi, yakni 32 mm/tahun.

Gambar 2. Sebagian zona sesar Sorong yang berada di lingkungan kepala burung pulau Irian dan sekitarnya. Nampak sesar Sorong memiliki sejumlah cabang. Salah satu cabangnya yang melintas di pulau h
Halmahera bagian selatan merupakan sumber Gempa Halmahera Selatan 14 Juli 2019 (magnitudo 7,3). Sumber: Permana & Gaol, 2018.

Dalam proses pembentukan pulau Sulawesi yang unik, karena menjadi kawasan dimana triple junction berada, sesar Sorong memegang peranan penting. Lewat sesar Sorong-lah sebagian kepala burung Irian dibelah-belah. Sebagian diantaranya didorong jauh ke arah pulau Sulawesi hingga akhirnya berbenturan. Bagian yang terdorong membentur itu kini menjadi kepulauan Banggai – Sula dan kepulauan Buton – Tukang Besi. Proses tersebut terjadi dalam kurun 11 hingga 5 juta tahun silam dalam peristiwa yang oleh pak Awang Satyana, salah satu cendekiawan kebumian terkemuka negeri ini, disebut sebagai Benturan Keempat. Ini adalah bagian dari lima kejadian benturan (collision) yang membentuk tanah Indonesia dalam kurun 50 juta tahun terakhir. Dengan karakternya yang gemar mendorong-dorong, tak salah jika sesar ini menyandang nama sesar Sorong.

Pusat studi gempabumi nasional dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017 membagi sesar Sorong ke dalam sejumlah segmen aktif. Yakni 13 segmen aktif dalam zona sesar Sorong sendiri, 1 segmen aktif pada sesar Sula utara dan 3 segmen aktif pada zona sesar Yapen. Magnitudo maksimum yang bisa dibangkitkan oleh segmen-segmen ini bervariasi mulai dari magnitudo 6,6 (pada segmen West Salawati yang panjangnya 45 km) hingga magnitudo 8,1 (pada segmen sesar Sula utara dengan panjang 405 km).

Gempa Halmahera

Meski memiliki belasan segmen aktif, diduga masih banyak bagian-bagian dari sesar Sorong yang belum tercakup ke dalam Peta 2017. Baik karena masih diteliti maupun belum akibat terbatasnya sumberdaya. Salah satu segmen yang belum tercakup adalah segmen Bacan yang melintasi pulau Halmahera bagian selatan serta pulau Bacan. Segmen Bacan inilah yang diduga kuat merupakan sumber Gempa Halmahera Selatan 14 Juli 2019.

Gambar 3. Sumber Gempa Halmahera Selatan 14 Juli 2019 berdasarkan analisis seismik cepat IRIS (Incorporated Research Institutions for Seismology). Panjang sumber gempa sekitar 65 km dengan lebar 24 km yang berarah tenggara-baratlaut. Sumber: IRIS, 2019.

Gempa itu tergolong gempa besar, magnitudonya 7,2 menurut rilis BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) atau 7,3 menurut USGS (United States Geological Survey). Gempa tersebut sangat dangkal, kedalaman sumbernya hanyalah 10 km. Penyebab gempa adalah terjadinya pematahan yang bersifat mendatar pada segmen kerak bumi seluas 65 x 24 km2 yang berarah tenggara-baratlaut di ujung selatan pulau Halmahera. Pada area itu terjadi pergeseran sebesar 240 sentimeter (rata-rata) dimana pergeseran maksimumnya mencapai 295 sentimeter. Meski sifat pematahannya mendatar namun terdapat komponen gerak vertikal turun (subsidence) sebesar yang relatif kecil, yakni sekitar 20 sentimeter. Pada magnitudo 7,3 maka energi yang dilepaskan Gempa Halmahera Selatan 14 Juli 2019 sebagai gelombang seismik mencapai 1.340 kiloton TNT atau setara dengan 67 butir bom nuklir Nagasaki. Energi totalnya sendiri jauh lebih besar.

Karena sangat dangkal dan memiliki pergeserannya relatif besar, terbuka kemungkinan sumber gempa mencuat juga di paras Bumi diatasnya dan memproduksi pengamblesan. Nampaknya demikianlah yang terjadi. Bilamana gerak vertikal turun sebesar 20 sentimeter terjadi pula pada paras Bumi di atas sumber gempa yang sebagian diantaranya merupakan dasar laut, maka tsunami bisa tercipta. Di atas kertas, jika segenap area sumber gempa berada di dasar laut, maka tsunami yang terbentuk kecil sehingga pada jarak 160 km diperhitungkan hanya akan setinggi 25 sentimeter, secara kasar.

Gambar 4. Simulasi Widjo Kongko terkait pembangkita tsunami kecil dalam gempa Halmahera Selatan 14 Juli 2019. Atas: perkiraan bentuk sumber tsunami, dengan warna biru menunjukkan bagian dasar laut yang mengalami penurunan. Bawah : perkiraan tinggi tsunami dengan tinggi maksimum di pesisir pulau Widi sebesar sekitar 50 sentimeter. Sumber : Widjo Kongko, 2019.

Pak Widjo Kongko, salah satu cendekiawan tsunami Indonesia, memiliki pandangan sendiri terkait tsunami kecil ini. Menurutnya, sumber Gempa Halmahera Selata 14 Juli 2019 memiliki luas 70 x 18 km2. Pada paras bumi di atas sumber gempa terjadi gerak vertikal menurun sejauh maksimum 18 sentimeter. Tsunami yang terbentuk diperhitungkan memiliki tinggi maksimum sekitar 50 sentimeter, yang terjadi di pesisir pulau Widi. Sementara pesisir tenggara pulau Halmahera diterpa tsunami setinggi sekitar 20 hingga 25 sentimeter saja. Dan pada pulau Gebe, tinggi tsunami diperhitungkan kurang dari 20 sentimeter.

Gambar 5. Rekaman dinamika paras air laut di stasiun pasangsurut Gebe dalam peristiwa Gempa Halmahera Selatan 14 Juli 2019. Atas : data asli, bawah : data yang telah dinormalisasi ke elevasi nol. Nampak jelas pola tsunami dengan periode 15 menit dan tinggi maksimum 8 sentimeter. Sumber: Widjo Kongko, 2019 berdasar data BIG dan BPPT.

Faktanya stasiun pasangsurut Gebe yang dikelola BIG (Badan Informasi Geospasial), 161 km di sebelah timur sumber gempa, memang merekam usikan kecil tsunami. Tinggi tsunami yang terekam hanyalah 8 sentimeter dengan periode 15 menit. Tsunami kecil ini terekam dalam 35 menit pasca gempa, sehingga diperhitungkan melaju dengan kecepatan 276 km/jam. Dengan periode yang relatif besar yakni 15 menit, maka tsunami kecil ini murni diproduksi pergerakan segmen kerak bumi yang menjadi sumber gempa, tanpa diikuti oleh faktor-faktor lain seperti misalnya longsoran dasar laut. Dan dengan tinggi hanya 8 sentimeter, maka jelas area sumber tsunami lebih kecil ketimbang area sumber gempa, disebabkan oleh adanya daratan (pulau Halmahera bagian selatan) yang menjadi bagian sumber gempa.

Di atas semua fakta tersebut, tinggi tsunami ini cukup kecil dibandingkan ambang batas 25 sentimeter. Sehingga tidak memicu sistem peringatan dini tsunami Indonesia untuk mengeluarkan amaran.

Gambar 6. Distribusi episentrum gempa-gempa susulan dan gempa utama (bintang biru) dalam peristiwa Gempa Halmahera Selatan 14 Juli 2019. Nampak area episentrum membentuk huruf L, menandakan terdapat sedikitnya dua sesar yang bergerak dalam gempa ini. Segitiga terbalik menunjukkan posisi seismometer BMKG. Sumber: Dimas Sianipar, 2019 berdasarkan data BMKG.

Hingga empat hari pascagempa, telah terjadi 65 kali gempa susulan. Hal yang wajar bagi sebuah peristiwa gempa bumi tektonik. Cukup menarik saat episentrum gempa-gempa susulan diplot ke dalam peta seperti yang dilakukan mas Dimas Sianipar, seismolog muda Indonesia, dijumpai dua area. Area pertama berimpit dengan lokasi sumber gempa sebagaimana diperhitungkan sebelumnya berdasarkan analisis distribusi gelombang seismik. Sementara area kedua berada di sisi utara area pertama dan seakan menyudut siku-siku. Sehingga menjulur ke pulau Bacan. Di area kedua ini juga dijumpai dua gempa susulan dengan mekanisme sumber berupa pematahan menurun dan cukup dalam. Munculnya dua area episentrum gempa-gempa susulan ini mengindikasikan bahwa Gempa Halmahera Selatan 14 Juli 2019 menyebabkan reaktivasi (pergerakan) sedikitnya dua sesar.

Referensi :

SEARG. 2016. Sorong Fault Zone. South East Asia Research Group, Royal Holloway University of London, UK. Diakses 16 Juli 2019 TU.

Permana & Gaol. 2018. Sesar Geser Sorong segmen Sorong-Kofiau, Papua Barat, Indonesia: Bukti dari data Batimetri dan SBP. Jurnal Geologi Kelautan, vol. 16 no. 1 (Juni 2018), halaman 37-50.

Satyana & Herawati. 2011. Sorong Fault Tectonism and Detachment of Salawati Island: Implications for Petroleum Generation and Migration in Salawati Basin, Bird’s Head Papua. Proceeding Indonesia Petroleum Association 35th Annual Convention & Exhibition IPA11-G-183, May 2011.

Widjo Kongko. 2019. komunikasi personal.

Dimas Sianipar. 2019. komunikasi personal.

Mengenal Gerhana Bulan, Melihat Gerhana Bulan Sebagian 14 Zulqaidah 1440 H

Akan terjadi sebuah peristiwa Gerhana Bulan (al-kusuf al-qamar) pada Rabu dinihari 14 Zulqaidah 1440 H yang bertepatan dengan 17 Juli 2019 TU (Tarikh Umum). Gerhana Bulan ini merupakan Gerhana Bulan Sebagian, yang mendapatkan namanya karena pada saat puncak gerhana tercapai hanya sebagian dari cakram Bulan yang tergelapkan oleh gerhana. Dalam Gerhana Bulan Sebagian 14 Zulqaidah 1440 H diperhitungkan hanya 65 % cakram Bulan yang akan berubah menjadi gelap. Sehingga Bulan purnama sempurna pada saat itu akan berubah menjadi laksana Bulan sabit tebal.

Gambar 1. Bulan dalam peristiwa Gerhana Bulan fase gerhana sebagian. Diabadikan dengan kamera DSLR pada bukaan rana 70 mm, ISO 200 dan waktu paparan 2 detik. Nampak bagian Bulan yang tergelapkan berwarna kemerahan, imbas pembiasan berkas cahaya Matahari kala menembus atmosfer Bumi. Bagian berwarna kebiruan adalah produk pembiasan cahaya Matahari melalui lapisan Ozon. Bagian berwarna kemerahan dan kebiruan hanya muncul melalui teknik pemotretan yang tepat. Sumber: Sudibyo, 2018.

Periode Bulan

Gerhana Bulan adalah sebuah peristiwa langit dimana Bumi, Bulan dan Matahari menempati sebuah garis lurus dalam perspektif tiga dimensi (syzygy) sehingga berkas cahaya Matahari yang seharusnya jatuh di paras Bulan sebagai Bulan purnama menjadi terhalangi. Dalam Gerhana Bulan, Bumi berkedudukan di tengah diapit oleh Bulan dan Matahari. Gerhana Bulan adalah implikasi dari peredaran Bulan mengelilingi Bumi dan pergerakan Bumi mengelilingi Matahari.

Bulan adalah satu-satunya satelit alamiah Bumi kita. Dimensinya cukup besar, yakni seperempat ukuran Bumi dan tergolong cukup besar diantara satelit-satelit alamiah lainnya di seantero tata surya. Di antara benda-benda langit yang berstatus satelit alamiah planet dalam tata surya, Bulan adalah yang terbesar kelima setelah Ganymede (satelit alamiah Jupiter), Titan (satelit alamiah Saturnus), Callisto dan Io (keduanya satelit alamiah Jupiter).

Gambar 2. Bulan dalam peristiwa Gerhana Bulan fase gerhana penumbral. Diabadikan dengan kamera DSLR pada bukaan rana 70 mm, ISO 200 dan waktu paparan 1/500 detik. Nampak bagian Bulan yang sedikit gelap sebagai pengaruh penumbra. Sumber: Sudibyo, 2018.

Sebagai satu-satunya satelit alamiah di satu-satunya planet yang dihuni umat manusia, maka Bulan sudah dikenal sejak awal peradaban. Termasuk siklus fasenya mulai dari berbentuk sabit, sabit tebal, separo, perbani (benjol) hingga purnama dan seterusnya. Dari perubahan demi perubahan fase Bulan ini yang diamati dalam jangka panjang, umat manusia mengetahui fase-fase Bulan memiliki siklus sepanjang 29,5 hari (rata-rata). Ini disebut periode sinodis (al-fatrah as-sayanudsi), yang merupakan selang waktu diantara dua kejadian berkumpulnya Matahari dan Bulan (konjungsi atau ijtima’) yang berurutan (sinodis : berkumpul). Periode sinodis Bulan berperan penting dalam aneka peradaban, sebab menjadi dasar bagi sistem penanggalan. Baik yang berupa kalender lunar murni (setahun terdiri atas 12 bulan kalender) maupun kalender luni-solar (setahun biasa terdiri atas 12 bulan kalender dan setahun kabisat terdiri atas 13 bulan kalender).

Di sisi lain, besaran periode sinodis Bulan sempat menimbulkan masalah tersendiri pada abad ke-16 TU. Kala Isaac Newton merumuskan hukum gravitasiya yang kesohor dan menerapkannya pada pergerakan benda-benda langit, ia sempat dibuat pusing oleh tidak konsistennya hukum tersebut terhadap Bulan. Dengan memasukkan periode sinodis Bulan ke dalam hukum gravitasi dan berdasar pengetahuan massa Bumi yang diketahui pada zamannya (yakni sepertiga lebih rendah ketimbang nilai sesungguhnya), diperoleh nilai jarak rata-rata Bumi Bulan hanyalah 359.000 km. Padahal hasil pengukuran astronomi berdasarkan fenomena Gerhana Bulan yang telah dilakukan berulang-ulang semenjak zaman Ptolomeus menunjukkan jarak terjauh Bumi Bulan adalah 410.000 km.

Masalah ini terselesaikan detelah disadari bahwa terdapat dua macam periode revolusi benda langit, yakni periode sinodis dan periode sideris. Periode revolusi benda langit yang sesungguhnya adalah periode sideris (al-fatrah al-falakiy), yakni yang mengacu kepada posisi bintang-bintang sangat jauh (sidereal : bintang). Terdapat hubungan antara periode sideris dengan periode sinodis sebagai berikut :

Dalam hal Bulan, maka P1 adalah periode sideris Bulan yang dicari dan P2 adalah periode revolusi Bumi yang besarnya 365,25 hari. Diperoleh besarnya periode sideris Bulan adalah 27,3 hari. Massa Bumi yang lebih akurat baru diketahui satu setengah abad pasca Newton lewat eksperimen Cavendish dan kala hasilnya dimasukkan ke dalam hukum gravitasi beserta dengan nilai periode sideris Bulan, diketahui bahwa jarak rata-rata Bumi Bulan adalah sebesar 384.400 kilometer. Pengukuran modern berdasarkan femomena kulminasi atas Bulan oleh Crommelin (1905-1910 TU) disusul okultasi Bulan oleh O’Keefe (1952 TU) dan radar oleh Laboratorium Angkatan Laut AS (1957 TU) serta laser selama misi penerbangan antariksa Apollo (1969 TU hingga sekarang) mengesahkan nilai jarak rata-rata Bumi Bulan tersebut.

Gambar 3. Panorama klasik Bulan dalam peristiwa Gerhana Bulan fase gerhana sebagian. Diabadikan dengan kamera DSLR pada bukaan rana 70 mm, ISO 200 dan waktu paparan 1/100 detik. Nampak bagian Bulan yang tergelapkan betul-betul berwarna gelap seiring teknik pemotretan standar untuk observasi gerhana. Sumber: Sudibyo, 2018.

Gerhana

Hanya periode sinodis Bulan saja yang berperan dalam peristiwa Gerhana Bulan. Secara umum pada setiap pertengahan bulan Hijriyyah, yakni saat Bulan purnama, sejatinya Bulan berkedudukan di antara Bumi dan Matahari. Akan tetapi tidak pada setiap saat tersebut terjadi Gerhana Bulan. Sebab lintasan (orbit) Bulan dalam mengelilingi Bumi tidak sama dengan bidang orbit Bumi dalam mengelilingi Matahari yang disebut ekliptika (masar al-syams). Melainkan membentuk sudut 5 derajat. Hanya pada saat Bulan purnama berkedudukan di ekliptikalah maka Gerhana Bulan bisa terjadi. Sehingga dalam setahun Hijriyyah hanya berkemungkinan terjadi dua hingga tiga peristiwa Gerhana Bulan saja.

Gerhana Bulan terjadi manakala cahaya Matahari yang seharusnya tiba di permukaan cakram Bulan terhalangi Bumi akibat konfigurasi syzygy. Penghalangan Bumi menciptakan dua jenis bayangan, yaitu bayangan inti atau umbra dan bayangan tambahan atau penumbra. Umbra dan penumbra terjadi akibat ukuran Matahari yang jauh lebih besar ketimbang Bumi. Saat Bulan melintasi umbra, secara teoritik takkan ada berkas cahaya Matahari yang bisa jatuh ke permukaan Bulan. Itulah yang menjadikan Bulan gelap sepenuhnya di puncak Gerhana Bulan Total, atau gelap sebagian di puncak Gerhana Bulan Sebagian.

Gambar 4. Diagram sederhana sebuah Gerhana Bulan. Bilamana Bulan bergerak dalam lintasan 1 maka yang terjadi adalah Gerhana Bulan Total atau Gerhana Bulan Parsial. Sementara bila Bulan bergerak dalam lintasan 2, akan terjadi Gerhana Bulan Parsial atau Gerhana Bulan Penumbral. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 4. Diagram sederhana sebuah Gerhana Bulan. Bilamana Bulan bergerak dalam lintasan 1 maka yang terjadi adalah Gerhana Bulan Total atau Gerhana Bulan Parsial. Sementara bila Bulan bergerak dalam lintasan 2, akan terjadi Gerhana Bulan Parsial atau Gerhana Bulan Penumbral. Sumber: Sudibyo, 2014.

Sebaliknya bilamana Bulan hanya melintasi penumbra, masih cukup banyak berkas cahaya Matahari yang tiba di permukaan Bulan. Maka dalam peristiwa Gerhana Bulan unik yang disebut Gerhana Bulan Penumbral (Samar), Bulan akan nampak seperti biasa saja laksana purnama sempurna meski sedang terjadi gerhana. Hanya perukyat yang berpengalaman, atau bilamana pengamatan Gerhana Bulan dilaksanakan dengan menggunakan teleskop atau kamera tertentu sajalah maka gerhana dapat diidentifikasi.

Gerhana Bulan Sebagian 14 Zulqaidah 1440 H diperhitungkan akan dimulai pada Rabu dinihari pukul 01:44 WIB. Pada saat itu Bulan tepat mulai bersentuhan dengan penumbra lewat peristiwa kontak awal penumbra (P1). Di menit-menit berikutnya Bulan kian jauh memasuki penumbra, namun secara sangat sulit untuk diidentifikasi. Barulah pada pukul 03:02 WIB berdasarkan hasil perhitungan, Bulan akan tepat bersentuhan dengan umbra lewat peristiwa kontak awal umbra (U1). Mulai saat itulah Gerhana Bulan menjadi kasatmata, ditandai dengan mulai menggelapnya bagian cakram Bulan yang lama kelamaan kian meluas.

Puncak gerhana diperhitungkan akan tercapai pada pukul 04:31 WIB. Pada saat puncak gerhana terjadi, diperhitungkan 65 % cakram Bulan akan menjadi gelap. Begitu puncak gerhana telah berlalu maka luas bagian gelap di cakram Bulan secara berangsur-angsur mulai berkurang dan diperhitungkan akan menghilang sepenuhnya pada pukul 06:00 WIB saat kotak akhir umbra (U4) terjadi. Selanjutnya Bulan kembali memasuki penumbra hingga tepat meninggalkan penumbra dalam kontak akhir penumbra (P4) yang diperhitungkan akan terjadi pada pukul 07:18 WIB.

Gambar 5. Bulan dalam peristiwa Gerhana Bulan fase gerhana total. Diabadikan dengan kamera DSLR pada bukaan rana 70 mm, ISO 200 dan waktu paparan 2 detik. Nampak bagian Bulan yang tergelapkan berwarna kemerahan, imbas pembiasan berkas cahaya Matahari kala menembus atmosfer Bumi. Bagian berwarna kebiruan adalah produk pembiasan cahaya Matahari melalui lapisan Ozon. Bagian berwarna kemerahan dan kebiruan hanya muncul melalui teknik pemotretan yang tepat. Sumber: Sudibyo, 2018.

Gerhana Bulan Sebagian 14 Zulqaidah 1440 H akan memiliki durasi gerhana 5 jam 34 menit, dihitung dari saat kontak awal penumbra hingga kontak akhir penumbra. Sementara durasi kasatmatanya hanya 2 jam 58 menit, yakni dihitung dari saat kontak awal umbra hingga kontak akhir umbra. Selain durasi gerhana dan durasi kasatmata, ilmu falak juga mengenal adanya istilah durasi nampak gerhana, yang hanya terjadi bilamana Bulan dalam kondisi terbit atau terbenam manakala gerhana terjadi. Durasi nampak akan selalu lebih kecil ketimbang durasi kasatmata.

Hal tersebut akan teramati pada Gerhana Bulan Sebagian 14 Zulqaidah 1440 H. Gerhana bisa disaksikan dari Asia, Afrika dan Eropa. Di Indonesia juga bisa disaksikan namun dalam kondisi yang tak sempurna. Sebab di Indonesia gerhana berlangsung saat Matahari dalam proses terbit. Bagi Jakarta yang akan mengalami kondisi Matahari terbit pada pukul 06:05 WIB, maka berkesempatan menikmati gerhana kasatmata dengan durasi kasatmata-nya. Namun tidak dengan wilayah-wilayah di sebelah timurnya. Di kota Makassar misalnya, dengan Matahari terbit diperhitungkan akan terjadi pada pukul 06:10 WITA (05:10 WIB) maka mengalami gerhana dengan durasi nampak 2 jam 8 menit. Di kota Jayapura, dimana Matahari terbit diperhitungkan akan terjadi pada pukul 05:41 WIT (03:41 WIB) maka durasi nampak gerhana hanyalah 39 menit.

Laut Maluku, Gempa dan Rumit Bumi Para Raja

Laut Maluku adalah sebentuk perairan yang membentang di sebelah timur pulau Sulawesi bagian utara. Pulau-pulau yang bertebaran di perairan ini membentuk kepulauan yang adalah buminya para raja. Yakni Kepulauan Maluku. Nama Maluku diduga berasal dari al-Mulk dalam bahasa Arab yang bermakna negeri para raja, menurut satu pendapat. Sementara dalam pendapat lain, asma Maluku mungkin berasal dari Moloku kie Raha dalam bahasa Ternate yang mengandung arti tanah air dengan empat gunung (negeri). Sejarah mencatat di sini memang pernah berdiri empat negeri besar, yaitu Kesultanan Ternate, kerajaan Tidore, kerajaan Bacan dan kerajaan Jailolo.

Bumi para raja pernah menyandang pusat gravitasi dunia yang menjadi pemicu lahirnya era penjelajahan samudera khususnya bagi bangsa Eropa. Tanah sangat subur produk aktivitas jajaran gunung berapi aktif di kawasan ini menjadikan produksi rempah-rempah melimpah dan bermutu tinggi. Rempah-rempah ini telah dinikmati dunia sejak era Mesir Kuno dan turut mengubah wajah dunia khususnya sepanjang abad pertengahan.

Gambar 1. Rona muka bumi kawasan Laut Maluku. Area di antara sepasang garis merah merupakan mikrolempeng Laut Maluku yang telah terdesak dan terbenam sepenuhnya oleh peristiwa tabrakan antar busur. Di sebelah barat (kiri) terdapat mikrolempeng Sangihe, bagian dari lempeng Eurasia yang mendesak ke arah timur. Sementara di sebelah timur terdapat mikrolempeng Halmahera yang mendesak ke arah barat seiring dorongan lempeng Laut Filipina. Sumber: Hamilton, 1979 dalam PusGen, 2017.

Dari kawasan Laut Maluku inilah sebuah getaran kuat menyeruak pada Minggu 7 Juli 2019 TU (Tarikh Umum) malam pukul 22:08 WIB. Atau tepat pada tengah malam waktu setempat. Episentrum gempa berada di tengah-tengah Laut Maluku. Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) magnitudo gempa ini 7,0 (versi pembaharuan, dalam versi awal dinyatakan 7,1). Sumber gempa berada pada kedalaman 50 km dengan mekanisme pematahan naik miring (oblique thrust). Gempa Laut Maluku 2019 ini sempat memicu sistem peringatan dini tsunami Indonesia. Status Waspada pun ditegakkan bagi pesisir Kota Ternate, Kota Tidore, Kabupaten Minahasa Utara, Kabupaten Minahasa Selatan dan Kabupaten Boolang Mongondow seiring potensi tsunami setinggi hingga maksimum 50 sentimeter. Sedangkan status Siaga diberlakukan bagi kota Bitung seiring potensi tsunami dengan tinggi antara 50 hingga 100 sentimeter. Status Waspada dan Siaga tersebut dicabut dalam dua jam kemudian, setelah pemantauan dinamika paras air laut di pesisir Laut Maluku melalui satsiun-stasiun pasangsurut yang dikelola Badan Informasi Geospasial (BIG) tidak mendeteksi adanya usikan khas tsunami.

Selain tanpa tsunami, gempa ini juga tak menimbulkan kerusakan fisik baik di pulau Halmahera maupun Sulawesi. Getaran gempa ini memang terasa keras khususnya di propinsi Sulawesi Utara dan Maluku Utara. Intensitas getaran di kedua tempat tersebut mencapai 4 MMI (Modified Mercalli Intensity), sehingga bisa dirasakan oleh hampir setiap orang. Intensitas getaran 4 MMI ditandai oleh suara derik pintu/jendela yang bergoyang akibat getaran hingga dinding yang berbunyi, mirip situasi manakala sebuah kendaraan angkutan berat seperti truk tronton sedang melintas manakala kita berdiri di pinggir jalan. Namun tingkat getaran ini belum cukup kuat guna menyebabkan kerusakan fisik.

Subduksi Ganda

Gempa Laut Maluku 2019 terbit dari kawasan yang statusnya cukup rumit dalam perspektif ilmu kebumian. Bumi Maluku dibentuk oleh jepitan tiga lempeng tektonik utama, masing-masing lempeng Eurasia yang mendorong dari sisi barat, lempeng Laut Filipina dari sisi timur dan lempeng Australia dari sisi selatan. Di bumi Maluku sendiri interaksi ketiga lempeng tektonik tersebut dimanifestasikan oleh tiga mikrolempeng. Di sisi barat ada mikrolempeng Sangihe, yang turut membentuk lengan utara pulau Sulawesi dan kepulauan Sangihe. Sementara di sisi timur bertahta mikrolempeng Halmahera yang menjadi pondasi bagi pulau Halmahera. Baik mikrolempeng Sangihe maupun Halmahera ditumbuhi gunung-gemunung berapi. Tercatat ada 10 buah gunung berapi aktif yang tumbuh di atas mikrolempeng Sangihe dan 6 gunung berapi aktif berdiri atas mikrolempeng Halmahera.

Gambar 2. Sumber Gempa Laut Maluku 2019 berdasarkan analisis seismik cepat IRIS (Incorporated Research Institutions for Seismology). Panjang sumber gempa sekitar 40 km dengan lebar separuhnya. Sumber: IRIS, 2019.

Di bawah kedua mikrolempeng tersebut terdapat lempeng tektonik mikro ketiga, yakni mikrolempeng Laut Maluku. Mikrolempeng Laut Maluku terjebak dan telah terbenam sepenuhnya di bawah mikrolempeng Sangihe dan Halmahera. Jejak-jejak keberadaan mikrolempeng laut Maluku masih bisa ditelusuri berdasarkan distribusi kedalaman sumber gempa-gempa tektonik yang ditimbulkan oleh gerakannya. Di sisi barat, mikrolempeng Laut Maluku masih bisa dilacak keberadaannya hingga sedalam 650 km. Sementara pada sisi timur hanya terlacak hingga sedalam sekitar 150 km. Berdasarkan distribusi sumber gempa-gempa tektoniknya pula, diketahui mikrolempeng Laut Maluku memiliki geometri berbentuk huruf U terbalik.

Bumi Maluku bisa serumit itu karena terjadinya proses benturan antar busur (arc-arc collission) sebagai bagian dari proses menutupnya cekungan samudera. Lempeng Eurasia bergerak ke timur pada kecepatan 2 cm/tahun. Sedangkan lempeng Laut Filipina mendesak ke barat pada laju 7 cm/tahun. Sebagai akibatnya mikrolempeng Sangihe dan Halmahera yang ada di antara keduanya saling berbenturan sembari mendesak mikrolempeng Laut Maluku melesak terbenam. Proses ini menciptakan kompleks benturan Laut Maluku dengan subduksi ganda Sangihe sebagai ciri khasnya. Disebut subduksi ganda, karena satu lempeng yang sama (yakni mikrolempeng laut Maluku) mengalami subduksi dengan dua lempeng yang saling berbatasan dengannya. Pada bagian barat barat subduksi ganda ini terbentuk Parit Sangihe, tempat mikrolempeng Laut Maluku menyelusup di bawah mikrolempeng Sangihe. Sementara bagian timur subduksi ganda itu membentuk Parit Talaud atau Parit Halmahera, dimana mikrolempeng Laut Maluku menyelusup di bawah mikrolempeng Halmahera.

Poros dasar Laut Maluku yang berupa pegunungan bawahlaut berarah utara selatan yang disebut Punggungan Mayo pada hakikatnya berdiri tepat di atas puncak huruf U terbalik dari mikrolempeng Laut Maluku yang terbenam sempurna. Puncak tertinggi dari punggungan itu muncul di atas paras laut sebagai Kepulauan Talaud.

Di Punggungan Mayo inilah Gempa Laut Maluku 2019 bersumber, khususnya pada bagian selatan. Berdasarkan analisis seismik dalam produk finite fault model (FFM), sumber Gempa Laut Maluku 2019 secara empiris memiliki panjang sekitar 40 km. Bilamana berbentuk persegi sederhana, sumber Gempa Laut Maluku 2019 memiliki lebar empiris sekitar 19 km. Pada bagian kulit bumi seluas inilah pematahan terjadi dengan pergerakan/lentingan (slip) sejauh rata-rata sekitar 160 sentimeter. Pergeseran maksimum yang bisa terjadi pada bidang sumber gempa ini mencapai sekitar 200 sentimeter.

Data seismik dari BMKG menunjukkan sumber gempa ini mempunyai sudut dip 61º. Maka pergerakan rata-rata 160 sentimeter itu membuat terjadinya gerak vertikal naik (uplift) sebesar 140 sentimeter. Jika pengangkatan ini mencapai dasar laut tepat di atas sumber gempa maka tsunami bisa terjadi. Jika pengangkatan dasar laut benar-benar terjadi, diperhitungkan kolom air laut sebanyak 0,2 km3 volume air turut terangkat dan bergolak yang bisa menerbitkan tsunami lokal. Perhitungan kasar menunjukkan pesisir kota Ternate dan kota Bitung akan mengalami terpaan tsunami setinggi 25 sentimeter. Tak mengherankan bila peringatan dini tsunami Indonesia sempat aktif. Seiring diakhirinya peringatan dini tsunami dalam dua jam kemudian, ada dua hal yang kemungkinan terjadi. Pertama, gempa ini tidak menyebabkan pengangkatan dasar laut. Atau yang kedua, gempa ini memang menyebabkan pengangkatan dasar laut tapi lebih kecil sehingga volume air laut yang diangkatnya tak signifikan.

Gambar 3. Penampang melintang zona tubrukan antar busur di kawasan Laut Maluku dalam arah barat – timur. Nampak jelas kedudukan lempeng Sangihe dan lempeng Halmahera yang muncul di permukaan serta lempeng laut Maluku yang telah terbenam. Sumber: Zhang dkk, 2017.

Rumitnya bumi para raja selain menjadikannya sebagai kawasan seismik teraktif di Bumi juga membuat kawasan ini memiliki potensi terlanda gempa tektonik besar. Pusat Studi Gempabumi Nasional dalam Peta 2010 menunjukkan subduksi Parit Sangihe memiliki kemampuan membangkitkan gempa bumi tektonik dengan magnitudo maksimum 7,9. Sedangkan subduksi Parit Talaud berkemampuan melepaskan gempa bumi tektonik pada magnitudo maksimum 8,1. Hal ini tentu bukan untuk ditakuti, melainkan untuk diantisipasi.

Referensi :

Pusat studi gempabumi nasional (PusGen). 2017. Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017. Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia.

Zhang dkk. 2017. Geodynamics of Divergent Double Subduction: 3-D Numerical Modelling of a Cenozoic Example in the Molucca Sea Region, Indonesia. Journal of Geophysical Research: Solid Earth, vol. 122 no. 5 (May 2017): 3977–3998.

Mengenal Gunung Anak Ranakah, Sang Gunung Berapi Termuda di Darat

Tahun 2019 TU (Tarikh Umum) ditandai oleh lahirnya sebuah gunung berapi baru di Bumi, meskipun bertempat di dasar laut sehingga tak seorang pun yang menyaksikan langsung saat-saat kelahirannya. Gunung berapi baru yang belum bernama di sebelah timur Pulau Mayotte (Perancis) di Kepulauan Komoro tersebut terbenam sepenuhnya dalam perairan selat Mozambik yang berkedalaman 3.500 meter meski ia menjulang setinggi 800 meter dari dasarnya. Dengan volume 5.000 juta m3, lahirnya gunung berapi termuda di laut ini sekaligus merupakan letusan gunung berapi yang terbesar bagi tahun 2019 TU, untuk sementara ini. Jika semata mengacu volume magmanya maka letusannya tergolong berskala 5 VEI (Volcanic Explosivity Index), atau setara Letusan Gunung Agung 1963 (Indonesia). Meskipun letusan yang melahirkan gunung berapi termuda ini lebih bersifat efusif (leleran) dan sepenuhnya tersekap di dalam laut sehingga tak menyemburkan kolom material vulkanik nan khas ke udara.

Gambar 1. Gunung Anak Ranakah saat masih bertumbuh, berdampingan dengan Gunung Ranakah. Nampak kubah lava dan lidah lava pada gunung berapi darat termuda di dunia ini. Diabadikan pada 17 Januari 1988 TU. Sumber: PVMBG/Wirasaputra, 1988.

Membicarakan gunung berapi termuda mau tak mau akan mengalihkan pandangan mata ke mancanegara. Tepatnya ke negara bagian Michoacan, Meksiko. Yakni di kawasan vulkanik Michoacan – Guanajuto seluas 200 x 250 km2 dan terdiri atas sedikitnya 1.400 kerucut vulkanik berukuran kecil-kecil. Salah satu diantaranya lahir pada 20 Februari 1943 TU dari sebuah retakan di tengah-tengah ladang jagung pak Dionisio Pulido, 322 km sebelah barat ibukota Meksiko City. Letusan terus berlangsung hingga 9 tahun berikutnya, berselang-seling antara efusif dan eksplosif (ledakan). Dalam empat bulan pertama saja rentetan erupsi efusif telah membentuk kerucut vulkanik setinggi 200 meter. Kini kerucut tersebut dikenal sebagai Gunung Paricutin, sebuah kerucut sinder yang adalah gunung berapi monogenetik yang menjulang 208 meter dari daratan sekitar dengan puncak berelevasi 2.800 mdpl.

Namun gunung berapi termuda di daratan Bumi kita bukanlah Paricutin. Ia lahir 45 tahun kemudian. Bukan di Meksiko ataupun bagian dunia lainnya. Gelar tersebut disematkan pada satu tempat di tanah air kita tercinta, Indonesia. Yakni di pulau Flores, sebuah pulau vulkanis yang ditumbuhi oleh delapan buah gunung berapi aktif dan merupakan bagian dari propinsi Nusa Tenggara Timur. Gunung berapi termuda itu adalah Gunung Anak Ranakah, atau Gunung Namparnos dalam bahasa penduduk setempat. Gunung Anak Ranakah lahir pada 28 Desember 1987 TU.

Segenap penduduk kota Ruteng di Kabupaten Manggarai mungkin tak pernah menyadari bahwa kawasan pegunungan di sisi selatan kota mereka sejatinya adalah sebuah gunung berapi sangat tua yang telah padam. Dahulu kala menjulang sebuah gunung berapi setinggi 2.500 meter yang disebut Gunung Rii Purba. Di masa prasejarah, Gunung Rii Purba meletus dahsyat hingga dua kali. Masing-masing letusan menghasilkan Kaldera Rii dan Kaldera Lunggar yang saling berhadapan. Kedua kaldera tersebut membentuk sebuah struktur besar yang disebut Kaldera Poco Leok dengan garis tengah 3 km. Kaldera Poco Leok terbentuk akibat pengamblesan (subsidence) tubuh gunung seiring kosongnya kantung magma setelah terkuras habis dalam setiap letusan besar. Pengamblesan ini diiringi terbentuknya retakan-retakan (sesar) konsentris dengan pusat berimpit ke pusat kaldera.

Gambar 2. Peta geologi kaldera Poco Leok dan sekitarnya. Nampak jajaran kubah-kubah lava produk aktivitas pasca kaldera yang membentuk barisan setengah melingkar di sisi utara. Gunung Anak Ranakah ditandai oleh titik letusan. Sumber: Katili & Sudrajat, 1988 dalam Wahyudin, 2012.

Pada sejumlah titik di retakan-retakan konsentrik itulah aktivitas vulkanik pascakaldera berulang kali terjadi. Aktivitas itu membentuk kubah-kubah lava yang terdiri atas Gunung Ngrekok, Gunung Likang, Gunung Tadowalok, Gunung Nggolongtede, Gunung Kasteno, Gunung Mandosawu dan Gunung Ranakah. Aktivitas vulkanik terakhir terjadi 15.000 tahun silam. Sehingga kawasan Kaldera Poco Leok sejatinya merupakan gunung berapi padam jika mengacu klasifikasi gunung berapi dari Global Volcanism Program. Gejala pasca vulkanik bermunculan di berbagai titik pada sekujur kaldera ini. Di sisi selatan ini terdapat lapangan panasbumi Ulumbu yang memiliki potensi energi 90 megawatt elektrik dan telah dikembangkan menjadi PLTP Ulumbu yang berkapasitas 10 megawatt elektrik.

Jarum jam menunjukkan pukul 22:00 WITA pada titi mangsa Senin 28 Desember 1987 TU saat sebuah dentuman keras membangunkan sebagian penduduk Kota Ruteng dari peraduannya. Dentuman menggelegar itu berasal dari Gunung Ranakah, tepatnya dari kaki timur laut. Dentuman ini merupakan puncak dari upaya keras gas-gas vulkanik bertekanan tinggi dalam membobol jalan keluar ke parasbumi dari kantung magma jauh di bawah Gunung Ranakah. Kerasnya batuan kubah lava Gunung Ranakah membuat gas-gas vulkanik terpaksa mencari jalan menyamping dan berjumpa dengan titik lemah di kaki timur laut bukit tersebut. Yakni pada sebuah ceruk kecil yang disebut loka leke ndereng (lubang tempurung merah) oleh penduduk setempat.

Gambar 3. Fase erupsi freatik di awal mula lahirnya Gunung Anak Ranakah. Magma belum keluar ke paras bumi sehingga tubuh gunung belum terbentuk pada saat itu. Tanda panah menunjukkan Gunung Ranakah. Sumber: PVMBG/Rohi, 1988.

Dentuman disusul mengepulnya asap hitam kecoklatan setinggi 3.000 hingga 4.000 meter di atas titik letusan disertai suara gemuruh. Debu vulkanik yang diproduksinya berkomposisi andesit, konsisten dengan batuan penyusun tubuh Gunung Ranakah. Inilah awal rangkaian erupsi freatik yang berlangsung secara intensif hingga enam hari kemudian. Sepanjang fase erupsi freatik ini terjadi 17 letusan kuat dan 200 letusan lemah. Terjadi pula rentetan gempa vulkanik yang mencapai rata-rata 200 kejadian per hari.

Mulai enam hari pasca awal letusan, intensitas erupsi freatik cenderung menurun namun sebaliknya kegempaan vulkanik meningkat pesat hingga dua kali lipat. Ini indikasi kuat telah terjadi gerakan fluida (magma) yang sedang mencoba menembus ke paras bumi, yang bakal menimbulkan erupsi freatomagmatik atau bahkan erupsi magmatik. Terbukti dalam sepuluh hari pasca awal letusan, mulai terdeteksi cahaya terang berkelanjutan dari arah lubang letusan di malam hari. Itulah pertanda jelas letusan telah memasuki fase erupsi magmatik. Dan dalam 12 hari pasca awal letusan mulai teramati adanya gundukan membara menyerupai kerucut. Itulah kubah lava, dengan tinggi saat itu 30 meter yang menyelubungi lubang letusan. Gundukan lava membara yang menandakan sebagai bayi gunung inilah yang membuat penduduk setempat menamainya Gunung Namparnos (namparnos : dinding yang terbakar). Sementara vulkanolog Indonesia menyebutnya sebagai Gunung Anak Ranakah.

Gambar 4. Sketsa sederhana proses lahir dan tumbuh kembang Gunung Anak Ranakah dalam rentang waktu tiga minggu terhitung semenjak 28 Desember 1987 TU. Sumber : Katili & Sudrajat, 1988 dalam Wahyudin, 2012.

Letusan-letusan berikutnya sangat didominasi oleh erupsi efusif dengan sesekali saja terjadi erupsi eksplosif (ledakan). Karenanya ukuran kubah lava terus membesar. Erupsi eksplosif pertama terjadi dua minggu pasca awal letusan, dalam bentuk erupsi Vulkanian kuat yang membentuk kolom letusan setinggi 8.000 meter di atas lubang letusan. Letusan itu juga memproduksi awan panas untuk pertama kalinya, mengalir ke utara melalui lembah sungai Wae Reno sejauh 5 km. Intensifnya erupsi efusif yang bertipe erupsi Strombolian membuat kubah lava tumbuh pesat, dimana dalam tiga minggu pasca awal letusan telah menjulang 100 meter dari dasar dengan volume 5 juta meter3. Selain gundukan kubah lava, terbentuk juga lidah lava yang menjulur ke utara sepanjang sekitar 1.000 meter.

Fase erupsi magmatik di Gunung Anak Ranakah pada dasarnya telah berhenti sejak Juli 1988 TU. Saat itu kubah lava sudah menjulang setinggi 140 meter dari dasar, dengan puncak memiliki elevasi 2.200 mdpl. Dasarnya berjari-jari 400 meter, namun dengan bentuk kubah lava yang terpancung di bagian dasar karena menindihi kaki timur laut Gunung Ranakah, maka volumenya jauh lebih kecil dibanding volume kerucut. Jumlah magma yang dikeluarkan dalam letusan ini mencapai 19 juta m3, terdiri atas 14 juta m3 kubah lava dan 5 juta m3 lidah lava. Tingkat pengeluaran magma tertinggi mencapai 0,5 juta m3 per hari yang terjadi sepanjang Januari 1988 TU. Di bulan-bulan berikutnya tingkat pengeluaran magma kian menurun. Mulai Juli 1988 TU hingga dua tahun kemudian praktis aktivitas vulkanik Gunung Anak Ranakah hanya berupa hembusan solfatara dari puncak gunung, yang membumbung setinggi 15 hingga 25 meter saja.

Gambar 5. Awan panas guguran yang terbentuk pada 20 Januari 1988 TU dalam proses tumbuh kembang Gunung Anak Ranakah. Karena sifatnya yang rapuh dan mudah longsor, gugurnya bagian-bagian kubah lava Gunung Anak Ranakah akan membentuk awan panas guguran. Sumber: PVMBG/Wirasaputra, 1988.

Lahirnya Gunung Anak Ranakah tidak membawa korban manusia (baik korban jiwa maupun luka-luka) ataupun kerugian harta benda. Pada 6 Januari 1988 TU sebanyak 20.000 orang memang sempat diungsikan, yakni para penduduk yang tinggal di dalam radius 5 km dari bayi gunung tersebut. Manakala karakter letusan Anak Ranakah sudah lebih diketahui seiring perjalanan waktu, berangsur-angsur mereka pulang ke kediaman masing-masing. Pada 26 Januari 1988 TU, tinggal 4.200 pengungsi yang masih tersisa. Yakni yang bertempat tinggal di sekitar lembah sungai Wae Reno di utara Gunung Anak Ranakah. Begitu fase erupsi magmatik usai, maka pengungsi pun berangsur-angsur pulang kembali.

Berbeda dengan saudara muda-nya Gunung Paricutin di Meksiko, Gunung Anak Ranakah bukanlah gunung berapi monogenetik. Sehingga Anak Ranakah tidaklah sekali beraksi (meletus) untuk kemudian mati. Tubuh Gunung Anak Ranakah merupakan lava yang menumpuk dimana bagian dalamnya masih panas membara. Maka potensi letusan Gunung Anak Ranakah masih tetap terbuka, baik yang berasal dari runtuhnya kubah lava saat ini (yang bisa menghasilkan awan panas guguran) maupun dari suplai magma segar dari kantung magmanya. Kemungkinan suplai segar ini masih tetap terbuka, mengingat bila mengacu pada saudara-saudaranya di kawasan kaldera Poco Leok, ukuran Gunung Anak Ranakah masih jauh lebih kecil. Sehingga potensi untuk meletus dan menambah ukuran lagi masih terbuka. Untuk itu peta kawasan rawan bencana Gunung Anak Ranakah telah dibentuk sebagai langkah antisipasi.

Referensi :

Wahyudin. 2012. Vulkanisme dan Prakiraan Bahaya Gunung Api Anak Ranakah, Nusa Tenggara Timur. Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, vol. 3 no. 2 Agustus 2012, hal. 89-108.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. 2014. Gunung Anak Ranakah, Data Dasar Gunungapi.

Kisah Asteroid yang Menumbuk Bumi Hanya 12 Jam Pasca Ditemukan

Sebuah asteroid mini telah jatuh ke Bumi hanya dalam 12 jam pasca dilihat manusia untuk pertama kalinya. Inilah untuk keempat kalinya umat manusia berhasil mendeteksi sebuah benda langit yang sedang menuju ke Bumi saat masih berada di antariksa. Kali ini disertai bonus, asteroid ini yang terbesar di antara ketiga asteroid lainnya sehingga memiliki energi terbesar.

Sistem penyigi langit ATLAS (Asteroid Terestrial-impact Last Alert System) di Observatorium Mauna Loa, negara bagian Hawaii (Amerika Serikat) sedang menjalankan tugas rutinnya kala sebintik cahaya redup mengerjap di layar. Waktu saat itu menunjukkan Jumat 21 Juni 2019 TU (Tarikh Umum) jelang tengah malam , yakni pukul 23:30 waktu setempat. Selama setengah jam kemudian bintik cahaya redup dengan magnitudo semu +18 itu (40 kali lebih redup ketimbang Pluto) terus muncul di layar meski beringsut perlahan-lahan, nyaris tak terlihat. Sistem ATLAS segera merekamnya, mencatat posisinya dan melabelinya secara internal sebagai obyek A10eoM1. Astronom Universitas Hawaii yang menjadi pengelolanya lantas mendistribusikan data itu ke segenap penjuru.

Gambar 1. Kilatan cahaya yang terekam di atas Laut Karibia yakni pada 400 km selatan kota San Juan (Puerto Rico) oleh radas deteksi petir (GLM) pada satelit GOES-16. Analisis lebih lanjut memperlihatkan kilatan cahaya ini merupakan kilap cahaya airburst akibat tumbukan asteroid 2019 MO (obyek A10eoM1), asteroid yang baru saja ditemukan. Sumber: NASA, 2019.

Berselang 12 jam kemudian, sesuatu terjadi di atas Laut Karibia sejarak sekitar 400 km sebelah selatan San Juan (Puerto Rico). Sebuah ledakan berkekuatan besar terjadi pada ketinggian 25 km di atas paras Bumi pada Sabtu 22 Juni 2019 TU sore tepatnya pada pukul 17:30 waktu setempat. Tak seorang pun melihat ledakan itu atau merasakan getarannya. Namun radas mikrobarometer teramat peka yang terpasang di stasiun infrasonik Bermuda, sejauh 1.600 km di sebelah utara San Juan, merekam adanya denyutan gelombang infrasonik khas yang menjalar dari ledakan itu. Peter Brown, astrofisikawan yang menganalisisnya, menyimpulkan denyutan infrasonik tersebut dilepaskan dari peristiwa mirip ledakan-di-udara (airburst) yang melepaskan energi sekitar 5 kiloton TNT.

Konfirmasi independen pun datang dari langit. Salah satu satelit cuaca GOES (Geostationary Operational Environment Satellite), yakni GOES-16, merekam adanya kilatan cahaya mirip sambaran kilat cukup intensif lewat radas GLM (Geostationary Lightning Mapper). Satelit GEOS-16 dioperasikan bersama oleh badan antariksa (NASA) serta badan kelautan dan atmosfer Amerika Serikat (NOAA) itu dipangkalkan pada orbit geostasioner di atas Peru utara dan bertugas memantau cuaca di sepertiga belahan Bumi. Cahaya mirip kilat itu terdeteksi pada saat yang sama dengan terekamnya denyutan gelombang infrasonik di Bermuda.

Gambar 2. Denyutan gelombang infrasonik yang terekam di stasiun Bermuda, 2.000 km sebelah utara lokasi Peristiwa Karibia. Dari rekaman ini dapat diketahui bahwa airburst di atas Laut Karibia disebabkan oleh tumbukan asteroid 2019 MO. Sumber: Brown, 2019.

Dan konfirmasi berikutnya datang dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon). Radas bhangmeter pada satelit mata-mata rahasia pemantau ledakan nuklir atmosferik dan antariksa mereka merekam kilatan cahaya khas airburst. Dari sini datang data yang lebih lengkap. Airburst itu terjadi pada ketinggian 25 km dpl (dari paras laut) dan disebabkan oleh benda yang bergerak secepat 15 km/detik (54.000 km/jam).

Untuk selanjutnya mari sebut kehebohan di atas Laut Karibia itu sebagai Peristiwa Karibia.

2019 MO

Kala Peristiwa Karibia tersiar hingga ke Hawaii, operator sistem ATLAS curiga itu berhubungan dengan obyek A10eoM1 yang mereka temukan. Namun mereka kekurangan data untuk memastikan dugaanya. Beruntung, Hawaii adalah rumah bagi sejumlah teleskop tercanggih saat ini. Dua jam sebelum ATLAS menyapu langit, sistem penyigi langit yang lain yang disebut Pan-STARRS (Panoramic Survey Telescope and Rapid Response System) sudah beekrja memotret bidang langit yang sama dengan yang dibidik ATLAS. Sistem Pan-STARRS berpangkalan di Observatorium Haleakala, sejauh 160 km dari Maunoa Loa, dan sama-sama dikelola oleh Universitas Hawaii. Kamera Pan-STARRS berhasil merekam obyek A10eoM1 pada tiga kesempatan berbeda secara berturut-turut.

Berbekal hanya tujuh data tersebut, perkiraan orbit obyek tersebut dapat diperbaiki. Dan hasilnya menunjukkan dengan gemilang, obyek tersebut memang memasuki Bumi di atas Laut Karibia dan menjadi penyebab semua kehebohan tersebut. IAU (International Astronomical Union) melalui MPC (Minor Planet Center) kemudian melabeli ulang obyek tersebut menjadi asteroid 2019 MO, sesuai tata nama yang berlaku.

Gambar 3. Orbit asteroid 2019 MO di antara orbit planet-planet terestrial. Asteroid ini beresonansi orbital 3 : 1 terhadap planet Jupiter (tidak digambarkan), sehingga orbitnya cenderung tidak stabil. Sumber: Sudibyo, 2019 dengan data dari NASA Solar System Dynamics.

Asteroid 2019 MO memiliki massa sekitar 200 ton sehingga bergaris tengah sekitar 4,5 meter, jika dianggap berkomposisi siderolit atau campuran besi dan nikel (massa jenis 5 gram/cm3). Ia semula merupakan asteroid yang mengorbit Matahari pada orbit lonjong yang memiliki perihelion (titik terdekat ke Matahari) sejarak 0,938 SA dan aphelion (titik terjauh dari Matahari) sebesar 4,01 SA (1 SA = 149,6 juta kilometer). Kemiringan bidang orbit (inklinasi) asteroid 2019 MO hanyalah 1,5º. Asteroid butuh waktu 3,89 tahun untuk sekali mengelilingi Matahari satu putaran penuh.

Tinjauan lebih lanjut memperlihatkan asteroid ini mengalami resonansi orbital 3:1 terhadap planet Jupiter. Dimana asteroid 2019 MO telah tepat mengedari Matahari 3 kali manakala Jupiter tepat sekali mengeilingi sang surya. Resonansi ini menyebabkan orbit asteroid cenderung takstabil sehingga terus berubah secara gradual dari waktu ke waktu. Pada satu masa perubahan orbit tersebut membuatnya tepat berpotongan dengan orbit Bumi. Sehingga asteroid pun mengarah ke Bumi dan bersiap menghadapi kejadian tumbukan benda langit.

Di Laut Karibia, asteroid jatuh dari arah tenggara (tepatnya azimuth 120º) dengan membentuk sudut 43º terhadap paras Bumi. Kecepatan awalnya saat tepat mulai memasuki atmosfer Bumi di ketinggian 120 km dpl adalah 15 km/detik atau 54.000 km/jam. Tapi mulai titik ini asteroid mengalami perlambatan secara dramatis seiring kian menebalnya selimut udara Bumik kala ketinggiannya kian menurun. Perlambatan itu membuat asteroid berpijar sangat terang sebagai meteor-sangat-terang (supefireball). Pada puncaknya, superfireball itu jauh lebih benderang dari Bulan purnama dan sempat mencapai kecerlangan 1/30 kali Matahari, yakni pada magnitudo semu -23.

Pada ketinggian sekitar 34 km dpl, asteroid mulai mengalami pemecah-belahan atau fragmentasi secara intensif. Fragmentasi terus berlangsung hingga akhirnya pada ketinggian 25 kmdpl, kecepatan segenap fragmen mendadak sangat diperlambat, suatu pertanda peristiwa airburst sedang terjadi. Dengan energi total 6 kiloton TNT, hanya separuh yang dilepaskan pada saat airburst terjadi yakni 3,2 kiloton TNT. Sebagai pembanding bom nuklir Nagasaki berkekuatan 20 kiloton TNT, sehingga Peristiwa Karibia ini melepaskan energi setara bom nuklir taktis.

Meski sekilas terkesan mengerikan, namun pelepasan energi di lokasi setinggi itu tidak berdampak apapun pada paras Bumi yang terletak tepat dibawahnya. Pada dasarnya aspek energi tumbukan benda langit dapat disetarakan dengan ledakan nuklir, terkecuali radiasinya. Simulasi berbasis ledakan nuklir untuk energi dan ketinggian tersebut memperlihatkan bahkan gelombang kejut dengan efek terlemah pun (yakni menggetarkan kaca jendela, pada overpressure 200 Pascal) tidak sampai menjangkau paras Bumi.

Gambar 4. Lintasan asteroid 2019 MO saat memasuki atmosfer Bumi. Sumber: University of Hawaii/IfA, 019.

Pasca airburst, mungkin ada sisa-sisa pecahan asteroid yang bisa bertahan dari penghancuran di ketinggian atmosfer selama proses fragmentasi dan mendarat ke Laut Karibia sebagai meteorit. Secara statistik, mungkin masih tersisa 200 kilogram massa asteroid yang lantas menyentuh laut sebagai meteorit dalam puluhan atau bahkan ratusan keping. Namun dengan lokasi jatuh di tengah laut, jelas mustahil untuk bisa menemukannya.

Dengan terjadinya Peristiwa Karibia ini maka asteroid 2019 MO menjadi asteroid keempat yang berhasil dideteksi keberadaannya sebelum memasuki atmosfer Bumi dalam sejarah manusia. Ketiga asteroid sebelumnya adalah asteroid 2008 TC3 (jatuh 8 Oktober 2008 TU), asteroid 2014 AA (jatuh 1 Januari 2014 TU) dan asteroid 2018 LA (jatuh 2 Juni 2018 TU).

Versi singkat artikel ini dipublikasikan di Kompas.com.

Referensi :

Denneau & Gal. 2019. Breakthrough: UH team successfully locates incoming asteroid. Institute for Astronomy University of Hawaii, diakses 27 Juni 2019 TU.

Brown. 2019. komunikasi personal

Menuju Satu Idul Fitri 1440 H di Indonesia

Syawwal secara literal memiliki beragam makna mulai dari ‘ringan’ hingga ‘mengandung’. Ini merupakan jejak dari era belasan abad silam kala masih berlaku sistem penanggalan lunisolar, dimana bulan kalender ini berlangsung usai puncak musim panas di Semenanjung Hijaz (Saudi Arabia). Dengan suhu udara yang mulai menurun maka kehidupan menjadi lebih ringan, tanpa didera sengatan tajam sinar mentari. Suhu udara yang mulai menurun juga diikuti mulai mengandungnya unta-unta betina seiring datangnya musim kawin mereka.

Namun di masa kini, manakala sistem penanggalan telah bertransformasi menjadi lunar murni, peranan Syawwal bertitik berat pada aspek religius. Inilah bulan kalender Hijriyyah yang mengikuti pada bulan Ramadhan. Tanggal 1 Syawwal menandakan berakhirnya puasa Ramadhan dan diperingati sebagai hari raya Idul Fitri. Di Indonesia dan negara-negara Asia Selatan / Asia Tenggara, perayaan Idul Fitri juga memiliki dimensi ekonomis dan sosio-kultural. Aktivitas konsumsi publik meningkat sepanjang masa libur Idul Fitri, jutaan manusia bermigrasi untuk sementara ke tanah kelahirannya dan tempat-tempat wisata yang eksotis pun dijubeli pengunjung.

Hilaal

Seperti halnya bulan Ramadhan, bulan Syawwal merupakan bagian kalender Hijriyyah yang gayut (bergantung) pada periode sinodis Bulan sebagai rentang waktu antara dua peristiwa konjungsi Bulan-Matahari berurutan. Konjungsi Bulan-Matahari sendiri adalah peristiwa saat Bulan dan Matahari menempati satu garis bujur ekliptika yang sama dalam tata koordinat langit. Pengamatan menunjukkan nilai periode sinodis Bulan sesungguhnya bervariasi di antara 29 hari 8 jam hingga 29 hari 16 jam. Namun jika pengamatan dilakukan dalam jangka panjang dan hasilnya dirata-ratakan, maka diperoleh nilai periode sinodis Bulan rata-rata adalah 29 hari 12 jam 44 menit 3 detik. Inilah yang digunakan sebagai landasan untuk enetapkan panjang hari bulan Hijriyyah sebagai 29 hari atau 30 hari.

Gambar 1. Hilaal sebagai lengkungan sabit tertipis (tanda panah) dari Bulan yang teramati pasca Matahari terbenam setelah terjadinya konjungsi Bulan – Matahari. Hilaal ini diabadikan dari Pos Observasi bulan Pedalen Kebumen (jawa Tengah) pada Minggu 5 Mei 2019 TU oleh tim observasi BMKG dengan menggunakan teleskop Celestron NextStar 5E 125 mm yang dirangkai kamera Canon EOS 70D. Sumber: BMKG, 2019.

Penentu pergantian bulan kalender Hijriyyah adalah hilaal, lengkungan sabit Bulan tertipis / termuda yang bisa dideteksi dengan mata baik menggunakan instrumen maupun tidak. Idul Fitri pun ditentukan dengan cara demikian. Secara umum di Indonesia terdapat dua cara penentuan Idul Fitri. Yang pertama adalah rukyat hilaal (observasi hilaal), yakni mencoba mengamati hilaal dengan acuan setelah Matahari terbenam. Di satu sisi ini adalah cara penentuan dengan anggitan (rujukan) terbanyak dalam perspektif syariat. Akan tetapi di sisi lain cara ini butuh waktu hingga last minute guna memperoleh hasilnya. Sedangkan yang kedua adalah hisab (perhitungan astronomi), yakni mencoba memperhitungkan elemen-elemen posisional Bulan dan Matahari untuk kemudian diperbandingkan dengan persamaan batas (threshold) tertentu yang disebut kriteria. Di satu sisi hisab menyediakan aplikasi prediktif sejak jauh hari sebelumnya namun di sisi lain memiliki anggitan minimal. Pada dasarnya secara astronomi kedua cara tersebut berterima, sepanjang syarat dan ketentuan yang melekat pada masing-masing cara dipatuhi.

Indonesia memiliki sebuah kriteria untuk menentukan awal bulan kalender Hijriyyah, yang disebut kriteria Imkan Rukyat, atau disebut pula kriteria MABIMS karena menjadi acuan bagi Umat Islam di Asia Tenggara. Kriteria tersebut memiliki narasi tinggi Bulan toposentrik minimal adalah 2º dengan syarat tambahan. Yakni umur Bulan minimal 8 jam atau elongasi Bulan – Matahari minimal 3º. Kriteria ini dipergunakan baik dari sisi hisab, maupun dari sisi rukyat. Dari sisi hisab, maka apabila posisi Bulan sudah melebihi nilai kriteria ini awal bulan Hijriyyah yang baru sudah terjadi kala Matahari terbenam saat itu. Sementara dari sisi rukyat, kriteria ini juga menjadi alat untuk menerima atau menolak sebuah laporan hasil rukyat. Terutama jika laporan tersebut berdasarkan pada observasi mata telanjang saja, tanpa didukung alat bantu apapun dan tanpa citra/foto yang menjadi bukti.

Gambar 2. Posisi Bulan dan Matahari pada saat terbenamnya Matahari di Senin 3 Juni 2019 TU sebagai dasar pelaksanaan rukyat hilaal penentuan Idul Fitri 1440 H. Sumber: Sudibyo, 2019.

Indonesia

Bagaimana dengan Idul Fitri 1440 H di Indonesia?

Tanggal 29 Ramadhan 1440 H dalam Takwim Standar Indonesia bertepatan dengan Senin 3 Juni 2019 TU (Tarikh Umum). Pada tanggal inilah Idul Fitri 1440 H akan ditentukan, baik dengan cara hisab maupun rukyat. Pada almanak sejumlah ormas Islam seperti misalnya Nahdlatul ‘Ulama, Muhammadiyah dan Persis, tanggal 29 Sya’ban juga bertepatan pada hari yang sama.

Konjungsi geosentris Bulan dan Matahari terjadi pada hari Senin 3 Juni 2019 TU pukul 17:02WIB. Di seluruh Indonesia pada saat Matahari terbenam maka umur Bulan bervariasi mulai dari yang terkecil -1,6 jam (di Merauke, propinsi Papua) hingga yang terbesar +1,8 jam (di Banda Aceh, propinsi Aceh). Umur Bulan adalah selisih waktu di antara saat konjungsi geosentris Bulan dan Matahari dengan waktu lokal terbenamnya Matahari. Sementara tinggi toposentrik Bulan juga bervariasi dari yang terkecil -0º 57’ (di Jayapura, propinsi Papua) hingga yang terbesar +0º 22’ (di Pelabuhan Ratu, propinsi Jawa Barat). Demikian halnya elongasi Bulan bervariasi dari yang terkecil +3º 00’ (di Pelabuhan Ratu, propinsi Jawa Barat) hingga +3º 12’ (di Jayapura, propinsi Papua).

Gambar 3. peta tinggi Bulan di Indonesia pada 3 Juni 2019 TU waktu maghrib setempat berdasarkan sistem hisab kontemporer ELP 2000-82. Sumber: Sudibyo, 2019.

Dengan data-data tersebut, maka kriteria Imkan Rukyat tidak terpenuhi dari sisi hisab. Sementara dari sisi rukyat, masih harus menunggu hingga Matahari terbenam pada Senin senja 3 Juni 2019 TU, namun dengan Bulan terbenam lebih dulu dibanding Matahari pada saat ghurub (kecuali di sebagian Jawa dan sebagian Sumatra), maka mustahil hilaal bisa dilihat. Pada sebagian pulau Jawa dan pulau Sumatra pun, meski Bulan terbenam terlambat dibanding Matahari, namun selisih waktu antara terbenamnya Matahari dan terbenamnya Bulan sangat singkat. Kurang dari 5 menit. Dalam situasi seperti ini juga mustahil hilaal bisa dilihat. Dengan situasi demikian maka Idul Fitri 1440 H di Indonesia berpeluang sangat besar akan bertepatan dengan Rabu 5 Juni 2019 TU yang dimulai dari malam Rabu.

Bagaimana dengan belahan dunia lainnya?

Ada dua negara yang patut mendapat perhatian. Yang pertama adalah Saudi Arabia, negara yang membawahi dua tanah suci Umat Islam sedunia sehingga kerap dianggap sebagai kiblat dalam beragam aspek ibadah yang terkait dimensi spasial dan temporal. Termasuk dalam hal penentuan Idul Fitri. Arab Saudi bertumpu pada rukyat dalam menentukan 1 Syawwal 1440 H, namun bagaimana hasil rukyat di negara tersebut akan disikapi dapat dilihat dari sisi hisab.

Gambar 4. peta tinggi Bulan di seluruh dunia pada 3 Juni 2019 TU waktu maghrib setempat berdasarkan sistem hisab kontemporer. Sumber: BMKG, 2019.

Berbeda dengan Indonesia, segenap wilayah Saudi Arabia telah memiliki tinggi Bulan yang positif manakala Matahari terbenam pada Senin 3 Juni 2019 TU waktu setempat. Meski rentang tinggi Bulan di sana relatif kecil, yakni kurang dari 1º. Dengan tinggi Bulan yang sudah positif, bilamana apabila terdapat laporan hilaal berhasil dilihat maka laporan tersebut berkemungkinan untuk diterima. Sehingga terbuka kemungkinan Saudi Arabia akan ber-Idul Fitri pada Selasa 4 Juni 2019 TU.

Negara yang kedua yang patut menjadi perhatian adalah Turki, tempat berlangsungnya Konferensi Penyatuan Kalender Hijriyyah Internasional 2016 sekaligus sebagai satu-satunya negara yang hingga saat ini telah meratifikasi Resolusi Istanbul. Resolusi Istanbul menyebutkan awal bulan Hijriyyah telah terjadi apabila tinggi Bulan minimal 5º dan elongasi Bulan – Matahari minimal 8º dimanapun di daratan pada Bumi ini, sepanjang di negara paling timur (yakni Selandia Baru) belum terbit fajar.

Berdasarkan data hisab, maka pada daratan paling barat (yakni wilayah benua Amerika bagian selatan) telah terjadi tinggi Bulan lebih dari 5º pada saat Matahari terbenam 3 Juni 2019 TU. Namun elongasinya masih kurang dari 8º dan demikian pula pada saat Matahari terbenam di Amerika selatan ternyata di Selandia Baru sudah terjadi terbitnya Matahari. Dengan semua kondisi tersebut, Turki telah memutuskan jauh hari sebelumnya bahwa Idul Fitri 1440 H di Turki bertepatan dengan Selasa 4 Juni 2019 TU.