Peristiwa Langit Tahun Ini

Halaman ini memuat jadwal peristiwa langit yang akan berlangsung di tahun yang sedang berjalan ini, yakni tahun 2017 Tarikh Umum (TU). Peristiwa-peristiwa langit tersebut dibatasi secara umum hanya yang berkaitan langsung Matahari, Bulan, planet-planet dan meteor. Terkecuali dalam kejadian khusus.

JANUARI 2017 TU

Matahari

Bumi akan berada di titik perihelion, yakni titik terdekat terhadap Matahari dalam orbitnya, pada Rabu 4 Januari 2017 TU pukul 21:18 WIB. Pada saat itu jarak Bumi ke Matahari adalah sebesar 0,9833 SA atau setara dengan 147,1 juta kilometer (SA = satuan astronomi, 1 SA = 149,6 juta kilometer).

Nilai jarak Bumi ke Matahari pada saat perihelion terjadi sejatinya bervariasi dari waktu ke waktu. Sepanjang abad ini, angkanya ada di antara yang terpendek 0,9832 SA (147,09 juta kilometer) yang akan terjadi pada tahun 2020 TU mendatang hingga yang terpanjang 0,9834 SA (147,11 juta kilometer) yang akan terjadi pada tahun 2098 TU mendatang. Variasi jarak perihelion ini terutama disebabkan oleh posisi Bulan dalam orbitnya mengelilingi titik pusat bersama (barisenter) sistem Bumi-Bulan. Titik tersebut terletak pada kedalaman 1.700 kilometer dari paras Bumi, sehingga tidak tepat berada di inti (pusat) Bumi.

Bulan

Januari 2017 TU bertepatan dengan bulan Rabiuts Tsani (Rabiul Akhir) dan Jumadal Ula (Jumadil Awal) tahun 1438 H dalam kalender Hijriyyah. Bulan dalam fase kuartir pertama (fase 25 % muda) akan terjadi pada Jumat 6 Januari 2017 TU pukul 02:47 WIB. Sementara Bulan dalam fase purnama (fase penuh) akan terjadi pada Kamis 12 Januari 2017 TU pukul 18:35 WIB. Dan Bulan dalam fase kuartir ketiga (fase 25 % tua) akan terjadi pada Jumat 20 Januari 2017 TU pukul 05:14 WIB. Konjungsi geosentrik Bulan dan Matahari akan terjadi pada Sabtu 28 Januari 2017 TU pukul 07:07 WIB.

Penentuan tanggal 1 Jumadal Ula 1438 H dalam kalender Hijriyyah di Indonesia akan terjadi pada Sabtu 28 Januari 2017 TU waktu maghrib. Berikut adalah peta tinggi Bulan berdasarkan hisab jama’i yang dikembangkan salah satu ormas Islam di Indonesia, yakni Nahdlatul ‘Ulama.

Peta tinggi Bulan untuk penentuan 1 Jumadal Ula 1438 H pada 28 Januari 2017 TU.

Peta tinggi Bulan untuk penentuan 1 Jumadal Ula 1438 H pada 28 Januari 2017 TU.

Berdasarkan peta tersebut nampak bahwa dari sisi hisab, tinggi Bulan di Indonesia bervariasi di antara 2,5º hingga 4,5º. Sehingga bila mengacu pada “kriteria” Imkan Rukyat revisi yang digunakan di Indonesia pada masa kini (yakni tinggi Bulan minimal 2º dan umur Bulan geosentrik minimal 8 jam, atau tinggi Bulan minimal 2º dan elongasi Bulan-Matahari minimal 3º), maka dari sisi hisab posisi Bulan pada saat itu sudah memenuhi kriteria. Sehingga dari sisi hisab tanggal 1 Jumadal Ula 1438 H bertepatan dengan Minggu 29 Januari 2017 TU.

Namun karena tanggal 28 Januari 2017 TU juga bertepatan dengan tanggal 29 Rabiuts Tsani 1438 H, maka dari sisi rukyat penentuan tanggal 1 Jumadal Ula menunggu hasil rukyat yang dilaksanakan pada Sabtu maghrib 28 Januari 2017 TU.

Catatan pembaharuan: berdasarkan hasil rukyat, yang tidak berhasil mendeteksi hilaal akibat tutupan mendung maupun hujan, maka Nahdlatul ‘Ulama memutuskan bulan Rabiuts Tsani diistikmalkan (digenapkan 30 hari). Sehingga 1 Jumadal Ula 1438 H menurut Nahdlatul ‘Ulama bertepatan dengan Senin 30 Januari 2017 TU.

Pada Senin 9 Januari 2017 TU, Bulan yang hampir purnama (dalam fase 88 %) akan berokultasi (menutupi) bintang terang Aldebaran (magnitudo +0,9). Puncak okultasi akan terjadi pada pukul 21:31 WIB. Wilayah okultasinya (yakni wilayah yang berkemampuan melihat okultasi ini bila langit dalam kondisi cerah) adalah Kepulauan Jepang, Semenanjung Korea, daratan Cina, India dan sebagian Asia Tengah. Indonesia tidak termasuk dalam wilayah okultasi.

Berikutnya pada Minggu 15 Januari 2017 TU, giliran Bulan berokultasi dengan bintang terang Regulus (magnitudo +1,4). Saat itu Bulan telah 3 hari lepas dari status purnama (dengan fase saat okultasi 88 %). Puncak okultasi terjadi pada pukul 11:31 WIB dengan wilayah okultasinya hanya meliputi sebagian Amerika selatan. Indonesia lagi-lagi tidak termasuk dalam wilayah okultasi.

Dan pada Senin 30 Januari 2017 TU, Bulan akan berokultasi dengan planet Neptunus (magnitudo +8,00). Saat itu Bulan masih sebagai Bulan sabit (fase sekitar 6 %) dengan puncak okultasi pada 18:25 WIB. Wilayah okultasinya meliputi sebagian daratan Cina dan sebagian India. Indonesia lagi-lagi tidak termasuk dalam wilayah okultasi.

Planet

Pada Kamis 12 Januari 2017 TU pukul 18:00 WIB, planet Venus akan mencapai kedudukan dimana jarak sudut (elongasi)-nya terhadap Matahari adalah yang terbesar. Yakni pada elongasi 47º di sebelah timur Matahari. Bagi Indonesia, peristiwa ini membuat planet Venus berada pada ketinggian maksimumnya di langit barat setelah Matahari terbenam. Selepas itu berangsur-angsur ketinggian Venus semakin menurun.

Dan pada Kamis 19 Januari 2017 TU pukul 20:00 WIB, planet Merkurius juga akan mencapai elongasi terbesarnya terhadap Matahari adalah. Yakni pada elongasi 24,1º di sebelah barat Matahari. Bagi Indonesia, peristiwa ini membuat planet Merkurius berada pada ketinggian maksimumnya di langit timur sebelum Matahari terbit. Selepas itu berangsur-angsur ketinggian Merkurius semakin menurun.

Meteor

Hujan meteor Quadrantids akan mencapai puncaknya pada Selasa 3 Januari 2017 TU pukul 21:00 WIB. Hujan meteor ini aktif selama dua minggu, mulai 28 desember 2016 TU hingga 12 Januari 2017 TU. Sepanjang sejarah jumlah meteornya bervariasi antara 60 hingga 200 meteor perjam. Khusus di tahun ini jumlah meteornya diperkirakan mencapai angka ideal 120 meteor/jam.

Pada saat itu Bulan sedang menyandang status Bulan sabit dengan fase 23 %. Maka langit tak didominasi oleh cahaya Bulan, menjadikan tahun ini sebagai tahun favorit untuk mengamati hujan meteor Quadrantids.

Meteor-meteor Quadrantids berasal dari remah-remah komet yang diduga sempat disaksikan para astronom kuno di Cina, Jepang dan Korea dalam kurun waktu 31 Desember 1490 TU hingga 12 Februari 1491 TU. Komet tersebut mungkin telah terpecah-belah demikian rupa dan menghasilkan sejumlah kepingan Salah satu kepingannya diidentifikasi sebagai asteroid 2003 EH1 (diameter 2,1 km).

FEBRUARI 2017 TU

Matahari

Sebuah peristiwa Gerhana Matahari Cincin akan terjadi pada bulan ini, yakni pada Minggu 26 Februari 2017 TU waktu Indonesia. Pada puncak gerhana ini sebanyak 99,22 % cakram Matahari akan tertutupi oleh bundaran Bulan. Sehingga masih ada 0,78 % bagian cakram Matahari yang terlihat. Akibatnya pada puncak gerhana, Matahari akan terlihat sebagai cincin tipis bercahaya. Wilayah gerhana ini meliputi sebagian besar Amerika selatan, sebagian besar Afrika dan sebagian Antartika. Sementara zona antumbra (zona yang mampu melihat bentuk cincin pada saat puncak gerhana) hanya selebar 31 kilometer yang melintasi Chile, Argentina, Zambia dan Kongo. Kontak awal penumbra akan dimulai pada pukul 19:11 WIB sementara kontak akhirnya pada pukul 00:36 WIB. Dan kontak awal antumbra akan terjadi pukul 20:15 WIB sementara kontak akhirnya pada pukul 23:32 WIB. Indonesia tidak termasuk ke dalam wilayah gerhana, baik zona penumbra apalagi zona antumbra.

Peta wilayah Gerhana Matahari Cincin 26 Februari 2016 TU

Peta wilayah Gerhana Matahari Cincin 26 Februari 2016 TU

Dalam dasaharian terakhir bulan ini, Matahari mulai melintas di atas wilayah Indonesia seiring gerak semu tahunannya dari Garis Balik Selatan (garis lintang 23,5º LS) menuju Garis Balik Utara (garis lintang 23,5º LU). Gerak semu tahunan ini akan menghasilkan fenomena hari tanpa bayangan Matahari bagi Indonesia. Hari tanpa bayangan Matahari adalah peristiwa dimana Matahari tepat berkedudukan di titik zenith sebuah lokasi dalam wilayah Indonesia pada saat Matahari berkulminasi atas sebagai akibat dari kesamaan nilai deklinasi Matahari saat itu dengan nilai garis lintang lokasi tersebut. Pada saat peristiwa tersebut terjadi, maka kita yang berdiri tegak di udara terbuka pada hari yang cerah di siang bolong akan kehilangan bayang-bayang tubuh kita tepat pada saat kulminasi atas terjadi.

Hari tanpa bayangan Matahari di Indonesia akan dimulai dari bagian selatan negeri ini. Tepatnya pada Rabu 22 Februari 2017 TU di kota Kupang (Nusa Tenggara Timur). Selanjutnya di kota Denpasar (Bali) dan kota Mataram (Nusa Tenggara Barat) pada Minggu 26 Februari 2017 TU serta kota Yogyakarta (Daerah Istimewa Yogyakarta) pada Selasa 28 Februari 2017 TU.

Bulan

Februari 2017 TU bertepatan dengan bulan Jumadal Ula (Jumadil Awal) dan Jumadal Akhir (Jumadil Akhir) tahun 1438 H dalam kalender Hijriyyah. Bulan dalam fase kuartir pertama (fase 25 % muda) akan terjadi pada Sabtu 4 Februari 2017 TU pukul 11:19 WIB. Sementara Bulan dalam fase purnama (fase penuh) akan terjadi pada Sabtu 11 Februari 2017 TU pukul 07:33 WIB. Dan Bulan dalam fase kuartir ketiga (fase 25 % tua) akan terjadi pada Minggu 19 Februari 2017 TU pukul 02:53 WIB. Konjungsi geosentrik Bulan dan Matahari akan terjadi pada Minggu 26 Februari 2017 TU pukul 21:58 WIB.

Peta wilayah Gerhana Bulan Penumbral 11 Februari 2017 TU

Peta wilayah Gerhana Bulan Penumbral 11 Februari 2017 TU

Sebuah peristiwa Gerhana Bulan Samar atau Gerhana Bulan Penumbral juga akan terjadi di bulan ini, yakni pada Sabtu 11 Februari 2017 TU waktu Indonesia. Gerhana ini adalah Gerhana Bulan Samar, sehingga pada puncak gerhana Bulan masih akan terlihat bulat bundar penuh sebagai purnama tanpa ada bagian yang ‘robek’ atau bahkan ‘menghilang’ sepenuhnya layaknya Gerhana Bulan Sebagian dan Total. Pada puncak gerhana ini sebanyak 99 % cakram Bulan akan memasuki penumbra Bumi. Wilayah gerhana ini meliputi sebagian besar paras Bumi dan hampir segenap benua, kecuali Australia, sebagian besar Antartika dan sebagian kecil Asia (tepatnya Asia timur jauh dan Asia tenggara). Gerhana akan dimulai pada pukul 05:34 WIB dan berakhir pada pukul 09:53 WIB. Indonesia tercakup ke dalam wilayah gerhana ini, namun hanya pulau Sumatra, sebagian pulau Jawa dan sebagian pulau Kalimantan.

Penentuan tanggal 1 Jumadil Akhir H dalam kalender Hijriyyah di Indonesia akan terjadi pada Minggu 26 Februari 2017 TU waktu maghrib. Berikut adalah peta tinggi Bulan berdasarkan hisab jama’i yang dikembangkan salah satu ormas Islam di Indonesia, yakni Nahdlatul ‘Ulama.

Peta tinggi Bulan untuk penentuan 1 Jumadil Akhir 1438 H pada 26 Februari 2017 TU.

Peta tinggi Bulan untuk penentuan 1 Jumadil Akhir 1438 H pada 26 Februari 2017 TU.

Berdasarkan peta tersebut nampak bahwa dari sisi hisab, tinggi Bulan di Indonesia bervariasi di antara minus 3,75º hingga minus 2,5º. Sehingga bila mengacu pada “kriteria” Imkan Rukyat revisi yang digunakan di Indonesia pada masa kini (yakni tinggi Bulan minimal 2º dan umur Bulan geosentrik minimal 8 jam, atau tinggi Bulan minimal 2º dan elongasi Bulan-Matahari minimal 3º), maka dari sisi hisab posisi Bulan pada saat itu belum memenuhi kriteria. Sementara dari sisi rukyat, rukyatul hilaal yang akan diselenggarakan pada saat itu takkan bisa melihat hilaal mengingat Bulan sudah di bawah ufuk. Sehingga baik dari sisi hisab maupun rukyat, tanggal 1 Jumadil Akhir 1438 H bertepatan dengan Selasa 28 Februari 2017 TU.

Namun untuk Nahdlatul ‘Ulama, tanggal 29 Jumadal Ula 1438 H bertepatan dengan Senin 27 Februari 2017 TU. Maka penentuan tanggal 1 Jumadil Akhir bagi Nahdlatul ‘Ulama menunggu hasil rukyat yang dilaksanakan pada Senin maghrib 27 Februari 2017 TU.

Pada Senin 6 Februari 2017 TU, Bulan yang berbentuk benjol (dalam fase 64 %) akan berokultasi bintang terang Aldebaran (magnitudo +0,9). Puncak okultasi akan terjadi pada pukul 04:38 WIB. Wilayah okultasinya adalah Afrika bagian utara, Eropa bagian selatan dan sebagian Timur Tengah. Indonesia tidak termasuk dalam wilayah okultasi.

Berikutnya pada Sabtu 11 Februari 2017 TU, giliran Bulan berokultasi dengan bintang terang Regulus (magnitudo +1,4). Saat itu Bulan dalam status purnama (dengan fase saat okultasi 99 %). Puncak okultasi terjadi pada pukul 21:29 WIB dengan wilayah okultasinya hanya meliputi Australia dan sebagian Antartika. Indonesia lagi-lagi tidak termasuk dalam wilayah okultasi.

Komet

Pada Sabtu 11 Februari 2017 TU komet Honda-Mrkos-Padjusakova akan melintas di titik terdekat orbitnya terhadap Bumi. Tepatnya pada pukul 21:44 WIB komet ini akan melintas pada jarak 12,4 juta kilometer dari Bumi. Ini menjadikannya komet terdekat ke-23 terhadap Bumi sepanjang catatan sejarah. Pada saat itu komet Honda-Mrkos-Padjusakova akan berada dalam kondisi paling cerlang dengan perkiraan magnitudo sekitar +6. Ini menjadikannya dapat disaksikan dengan menggunakan teleskop kecil ataupun binokular. Komet Honda-Mrkos-Padjusakova adalah komet periodik dengan periode hanya 5,25 tahun. Ini menjadikannya bagian keluarga komet Jupiter, yakni kelompok komet yang orbitnya mendapat gangguan permanen dari gravitasi planet gas raksasa Jupiter. Dengan periode tersebut maka dapat dikatakan komet Honda-Mrkos-Padjusakova melintas di lingkungan dekat Bumi setiap 5 tahun sekali.

Komet ini dapat disaksikan di Indonesia pada saat fajar sebelum Matahari terbit. Dari lokasi kota Jakarta, jika observasi dilakukan pada pukul 04:00 WIB, komet ini dapat disaksikan mulai Selasa 7 Februari 2017 TU pada arah timur laut-timur (tepatnya pada azimuth 80º). Di hari-hari berikutnya kedudukan komet Honda-Mrkos-Padjusakova akan terus meninggi sembari beringsut ke arah utara. Sehingga pada Minggu 12 Februari 2017 TU, komet ini telah berada pada ketinggian 37º dan di arah tenggara (tepatnya azimuth 47º). Lima hari kemudian, tepatnya pada Jumat 17 Februari 2017 TU, komet ini sudah ada di ketinggian 49º pada arah barat laut-utara (tepatnya azimuth 351º).

MARET 2017 TU

APRIL 2017 TU

MEI 2017 TU

JUNI 2017 TU

JULI 2017 TU

AGUSTUS 2017 TU

SEPTEMBER 2017 TU

OKTOBER 2017 TU

NOVEMBER 2017 TU

DESEMBER 2017 TU

Iklan