Beagle 2, Korban Terakhir Kutukan Mars

Pendarat itu bernama Beagle 2. Namanya diperoleh dari nama kapal HMS Beagle, kapal legendaris milik Angkatan Laut Inggris Raya yang melakukan perjalanan bersejarah mengarungi lautan mengelilingi Bumi pada 1830-an Tarikh Umum (TU) dengan salah satu penumpangnya adalah Charles Robert Darwin. Persinggahannya di benua Amerika bagian selatan dan Kepulauan Galapagos menjadi pemicu lompatan kuantum akan pengetahuan kita tentang kehidupan di Bumi. Beagle 2 pun menyandang harapan yang sama. Saat diformulasikan oleh tim ilmuwan Universitas Terbuka dan Universitas Leicester (keduanya di Inggris) bertahun silam, Beagle 2 memang ditujukan untuk mencari tanda-tanda kehidupan di Mars, baik di masa silam maupun masa kini. Maka wahana pendarat itu pun dibekali beragam radas (instrumen) untuk menyelidiki aspek-aspek geologi, mineralogi, geokimia, tingkat oksidasi titik pendaratan beserta dengan aspek klimatologi dan meteorologi Mars serta sifat fisis atmosfer dan permukaan tanah Mars. Beagle 2 dirancang untuk dapat beroperasi selama 180 hari. Dan bisa diperpanjang menjadi setahun Mars (687 hari), bila memungkinkan.

Gambar 1. Replika wahana pendarat Beagle 2 seperti dipamerkan di Museum Ilmu Pengetahuan London. Dalam keadaan terbuka penuh, ia terlihat mirip anjing. Tak heran jika Beagle 2 dijuluki sebagai "anjing Inggris." Sumber: London Science Museum, 2008.

Gambar 1. Replika wahana pendarat Beagle 2 seperti dipamerkan di Museum Ilmu Pengetahuan London. Dalam keadaan terbuka penuh, ia terlihat mirip anjing. Tak heran jika Beagle 2 dijuluki sebagai “anjing Inggris.” Sumber: London Science Museum, 2008.

Apa lacur, ambisi itu tak kesampaian. Semenjak melepaskan diri dari wahana induk Mars Express Orbiter pada 19 Desember 2003 TU, Beagle 2 tak terdengar kabarnya lagi. Ia tetap terdiam di pagi hari 25 Desember 20103 TU waktu Inggris, saat dimana Beagle 2 rencananya telah mendarat di permukaan dataran Isidis Planitia. Ia tetap membisu meski ESA (European Space Agency) berkali-kali mencoba mengontaknya, baik lewat teleskop radio Lovell di kompleks observatorium Jodrell Bank, Cheshire (Inggris) maupun melalui wahana pengorbit Mars Odyssey milik NASA (badan antariksa Amerika Serikat). Semuanya gagal. Upaya menjalin komunikasi lebih lanjut mulai 7 Januari 2014 TU hingga lima hari kemudian secara berturut-turut tetap tak sanggup menangkap berkas sinyal Beagle 2Upaya ambisius terakhir, yakni dengan memrogram ulang wahana Mars Express Orbiter agar lewat tepat di atas lokasi pendaratan Beagle 2, pun tidak menuai sukses. Meski Mars Express Orbiter lewat tepat di atas dataran Isidis Planitia pada 2 Februari 2014 TU dan menyalakan auto transmit (sistem komunikasi cadangan), tak ada jawaban dari Beagle 2.

Jelas sudah, Beagle 2 hilang. Ia mengisi peringkat terakhir dalam daftar korban kutukan Mars. Inilah istilah tak resmi yang beredar di kalangan ilmuwan dan teknisi penerbangan antariksa terkait tingginya tingkat kegagalan misi-misi antariksa ke Mars. Meski telah dikenal sebagai satu-satunya planet yang paling mirip dengan Bumi kita dalam tata surya, namun pergi ke Mars bukanlah hal yang mudah. Hingga 2010 TU, dari 38 misi antariksa yang telah dikirimkan ke planet merah ini, hanya 19 yang berhasil merengkuh sukses. Tingkat kegagalannya mencapai 50 %. Diantaranya penyebabnya bahkan tergolong sepele. Peringkat terakhir sebelum kegagalan Beagle 2 diduduki oleh hilangnya dua wahana NASA secara berturut-turut pada 1999 TU, yakni pendarat Mars Polar Lander dan penyelidik Mars Climate Orbiter. Penyebabnya sepele, yakni alpanya teknisi dan ilmuwan dalam mengonversi sistem satuan Inggris ke metrik dan sebaliknya dalam program komputer pendukung saat keduanya sedang dirakit. Yang jelas hilangnya Beagle 2 kontan memusnahkan harapan ESA untuk menyaingi prestasi partnernya di seberang Atlantik: NASA.

Gambar 2. Wajah terakhir Beagle 2 saat wahana pendarat itu baru saja melepaskan diri dari Mars Express Orbiter yang menjadi wahana induknya pada 19 Desember 2003 TU. Ia dijadwalkan akan mendarat di permukaan planet merah dalam enam hari kemudian. Dalam kenyataannya Beagle 2 terus membisu untuk seterusnya. Sumber: ESA, 2003.

Gambar 2. Wajah terakhir Beagle 2 saat wahana pendarat itu baru saja melepaskan diri dari Mars Express Orbiter yang menjadi wahana induknya pada 19 Desember 2003 TU. Ia dijadwalkan akan mendarat di permukaan planet merah dalam enam hari kemudian. Dalam kenyataannya Beagle 2 terus membisu untuk seterusnya. Sumber: ESA, 2003.

Mangkuk

Beagle 2 dikemas dalam ruang mirip mangkuk ceper besar berdiameter 1 meter sedalam 25 sentimeter. Bentuk mangkuk ini dipilih agar Beagle 2 bisa tersimpan aman dalam sepasang cangkang penyekat panasnya, yang mencakup cangkang depan (rear cover) dan cangkang belakang (backshell). Sebab wahana pendarat ini direncanakan harus berjuang melintasi atmosfer Mars pada kecepatan awal 20.000 kilometer/jam. Beagle 2 harus memanfaatkan gesekannya dengan atmosfer Mars untuk memperlambat kecepatannya, layaknya meteor. Jika sudah cukup lambat, barulah penyekat panas dilepaskan dan parasut pengerem bisa dikembangkan.

Bentuk mirip mangkuk ini memang bisa mengecoh. Saat tiba di permukaan targetnya, Beagle 2 akan membuka secara otomatis. Ada lima “daun” yang bakal mekar menghasilkan konfigurasi pentagonal. Jika dilihat dari atas, “daun-daun” yang membuka dan tubuh Beagle 2 terlihat menyerupai bentuk anjing. Tak heran jika beredar lelucon di kalangan ilmuwan, teknisi dan praktisi penerbangan antariksa, yang menyebut Beagle 2 sebagai “anjing Inggris.” Dari kelima “daun” tersebut, empat memuat panel-panel surya guna memasok tenaga listrik ke segenap bagian Beagle 2. Dan “daun” kelima memuat sebuah antena radio UHF (ultra high frequency) serta sebuah lengan robotik. Lengan yang bisa dimulurkan hingga sepanjang 75 sentimeter itu membawa sepasang kamera stereo, mikroskop, spektrometer Mossbauer, spektrometer sinar-X, mesin bor kecil dan sebuah lampu sorot.

Saat mesin bor berhasil mengambil sampel tanah/batuan, ia akan mengantarkannya ke tubuh Beagle 2 yang memuat spektrometer massa dan kromatograf gas. Mereka berdua akan mengukur proporsi relatif isotop-isotop karbon dan metana. Selain dua radas tersebut, di tubuh Beagle 2 juga terdapat baterei, sistem telekomunikasi, sistem komputer, pemanas kecil, sistem telekomunikasi beserta sensor radiasi dan sensor oksidasi. Sistem komunikasi dirancang untuk menyalurkan data pada kecepatan minimal 2 kbit/detik dan maksimal 128 kbit/detik.

Gambar 3. Dataran Isidis Planitia, tempat dimana Beagle 2 mendarat. Dataran ini adalah sebuah cekungan sedimen dengan permukaan relatif datar yang menjadi pembatas antara tinggian (warna kecoklatan) dengan dataran rendah Mars bagian utara (warna keunguan). Titik pendaratan Beagle 2 terdapat dalam lingkungan ellips merah, ditandai dengan anak panah. Sumber: Grindrod, 2015.

Gambar 3. Dataran Isidis Planitia, tempat dimana Beagle 2 mendarat. Dataran ini adalah sebuah cekungan sedimen dengan permukaan relatif datar yang menjadi pembatas antara tinggian (warna kecoklatan) dengan dataran rendah Mars bagian utara (warna keunguan). Titik pendaratan Beagle 2 terdapat dalam lingkungan ellips merah, ditandai dengan anak panah. Sumber: Grindrod, 2015.

Seluruh Beagle 2 memiliki massa 33,2 kilogram pada saat menyentuh Mars. Massa tersebut tergolong rendah. Namun untuk membangun dan membiayai operasional Beagle 2, pemerintah Inggris Raya harus merogoh kocek hingga Rp. 500 milyar (berdasar kurs 2014 TU). Tambahan Rp. 500 milyar lagi harus dicari dari sektor-sektor swasta yang turut berpartisipasi. Sehingga biaya keseluruhan yang disediakan bagi Beagle 2 adalah Rp. 1 trilyun. Tak pelak, inilah “anjing Inggris” termahal untuk saat ini.

Meski telah menelan biaya cukup mahal, hasilnya nihil. Begitu “anjing Inggris” ini didaratkan di Mars, jangankan ‘menggonggong’ (baca: mempertontonkan aktivitasnya), dengusan nafasnya (baca: pancaran sinyal elektronik tanda telah mendarat dengan selamat) tak pernah terdengar. Akhirnya dengan berat hati ESA mengumumkan pada 6 Februari 20104 TU bahwa Beagle 2 telah hilang. Apa penyebabnya tak jelas benar.

ESA hanya menyebut adanya enam kemungkinan penyebab. Pertama, Beagle 2 mungkin terlontar kembali ke langit dan menghilang di kegelapan angkasa akibat kondisi atmosfer Mars saat itu berbeda dengan apa yang diprediksi. Kedua, parasut atau bantalan udara Beagle 2 mungkin gagal berfungsi. Saat Beagle 2 tinggal berjarak 200 meter di atas permukaan Mars, parasut pengeremnya seharusnya dilepaskan. Pada saat yang sama generator gas memproduksi gas-gas yang mencukupi untuk mengembangkan bantalan udara. Sehingga Beagle 2 dapat mendarat dan memantul-mantul di tanah Mars sebelum kemudian benar-benar terdiam. Dapat pula terjadi parasut mungkin mengembang terlalu dini, demikian pula bantalan udaranya. Baik gagal berfungsi ataupun mengembang terlalu dini akan membuat Beagle 2 menghunjam tanah Mars dengan derasnya.

Ketiga, parasut pengeremnya mungkin menjadi kusut akibat terlilit dengan cangkang penyekat panas belakangnya. Bila hal ini terjadi, Beagle 2 pun akan menghunjam tanah Mars dengan keras. Keempat, Beagle 2 mungkin tetap terbungkus dalam bantalan udaranya tanpa bisa melepaskan diri meski telah mendarat. Dalam hal ini Beagle 2 mungkin tetap utuh setibanya di tanah Mars, namun takkan sanggup berkomunikasi. Kelima, Beagle 2 mungkin melepaskan bantalan udaranya terlalu dini sehingga ia bakal terbanting keras ke tanah Mars. Dan keenam, adanya cacat dalam radas akselerometer (pengukur percepatan) sehingga parasut mungkin terbuka lebih dini. Akibatnya Beagle 2 mungkin terbanting keras ke tanah Mars.

Mana di antara keenam kemungkinan penyebab tersebut yang tepat, ESA tak bisa menjawabnya. Jawaban baru muncul 11 tahun kemudian.

Ditemukan

Upaya mencari si “anjing Inggris” ini mendapatkan nafas baru saat NASA berhasil menempatkan wahana penyelidik Mars Reconaissance Orbiter (MRO) mengorbit Mars dengan selamat pada 10 Maret 2006 TU. Ia terus bekerja dengan baik hingga sekarang. Wahana MRO mengangkut kamera HiRISE (High Resolution Imaging Science Experiment). Inilah kamera beresolusi sangat tinggi yang ditopang teleskop reflektor (pemantul) yang cermin obyektifnya berdiameter 50 sentimeter, menjadikannya mampu membidik obyek berdiameter 30 sentimeter saja dari kejauhan jarak 300 kilometer. Di sela-sela tugas utama yang dibebankan padanya, NASA mengirim perintah pada MRO untuk melacak sejumlah perangkat keras yang pernah didaratkan di permukaan planet merah. Baik itu perangkat keras milik Amerika Serikat, ataupun milik (eks) Uni Soviet, maupun Eropa. Maka pencarian Beagle 2 pun dimulai.

Gambar 4. Lokasi penemuan wahana pendarat Beagle 2 dengan sejumlah komponen pendaratnya, di salah satu sudut dataran Isidis Planitia (kiri). Citra lebih detil bagian dalam kotak yang diperbesar, nampak Beagle 2 beserta parasut pengeremnya dan cangkang penyekat panas bagian depannya (kanan). Dibidik oleh wahana penyelidik Mars Reconaissance Orbiter. Sumber: NASA, 2015.

Gambar 4. Lokasi penemuan wahana pendarat Beagle 2 dengan sejumlah komponen pendaratnya, di salah satu sudut dataran Isidis Planitia (kiri). Citra lebih detil bagian dalam kotak yang diperbesar, nampak Beagle 2 beserta parasut pengeremnya dan cangkang penyekat panas bagian depannya (kanan). Dibidik oleh wahana penyelidik Mars Reconaissance Orbiter. Sumber: NASA, 2015.

Upaya pertama dilakukan pada Februari 2007 TU yang berujung dengan kegagalan. Wahana MRO saat itu lewat di atas Isidis Planitia dan kamera HiRISE diarahkan ke sebuah kawah kecil dimana Beagle 2 diprediksikan mendarat. Pada 20 Desember 2005 TU Collin Pillinger, peneliti utama Beagle 2 di Universitas Terbuka, memublikasikan citra beresolusi rendah dari wahana Mars Global Surveyor (juga milik NASA) yang telah diproses. Citra tersebut memperlihatkan adanya sebuah bintik hitam dalam sebuah kawah kecil. Pillinger menafsirkan bintik tersebut sebagai Beagle 2, yang dikelilingi bantalan udara kempis. Namun citra resolusi tinggi dari kamera HiRISE membuyarkan anggapan tersebut. Kawah kecil itu ternyata kosong.

Kegagalan awal ini tak menyurutkan upaya pencarian. Setelah berjalan hampir 8 tahun lamanya, sukses pun akhirnya diraih juga di tahun ini. Pada 16 Januari 2015 TU NASA mengumumkan bahwa Beagle 2, lebih tepatnya rongsokannya, telah ditemukan. Ia ditemukan lewat citra HiRISE wahana MRO, yang diambil per 28 Februari 2013 TU dan 29 Juni 2014 TU. Lewat analisis panjang yang dilakukan NASA bersama dengan Universitas Arizona (Amerika Serikat) dan Universitas Leicester, akhirnya diketahui bahwa si “anjing Inggris” ini ternyata tergolek di tempat yang tepat sesuai rencana pendaratannya. Yakni di dataran Isidis Planitia, tepatnya di sekitar koordinat 11,5 LUM (lintang utara Mars) dan 90,4 BTM (bujur timur Mars). Tiga komponen penting yang terekam dalam citra MRO terkini adalah pendarat Beagle 2 itu sendiri, parasut pengeremnya dan sebagian penyekat panasnya.

Gambar 5. Wahana pendarat Beagle 2 dalam citra Mars Reconaissance Orbiter yang diperbesar. Nampak jelas Beagle 2 tetap utuh namun hanya dua "daun" yang mekar dari tubuhnya. Sementara tiga "daun" sisanya tak terlihat. Sumber: NASA, 2015.

Gambar 5. Wahana pendarat Beagle 2 dalam citra Mars Reconaissance Orbiter yang diperbesar. Nampak jelas Beagle 2 tetap utuh namun hanya dua “daun” yang mekar dari tubuhnya. Sementara tiga “daun” sisanya tak terlihat. Sumber: NASA, 2015.

Pengumuman NASA ini sekaligus membuyarkan semua kemungkinan penyebab hilangnya Beagle 2 yang disusun ESA sebelumnya. Wahana pendarat ini ternyata mendarat dengan baik (soft-landing) di targetnya. Sehingga ia tetap utuh, tak terpecah-belah. Parasut pengeremnya nampaknya bekerja dengan baik. Parasut tersebut mendarat di titik yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi pendaratan Beagle 2. Citra yang sama juga mengungkap kemungkinan baru yang menjadi akar masalah gagalnya misi Beagle 2. Dari kelima “daun”-nya, hanya dua yang membuka. Tiga “daun” sisanya yang semuanya berisikan panel surya tetap terlipat bersama tubuh Beagle 2. Inilah jawaban mengapa Beagle 2 membisu selamanya. “Daun” yang masih terlipat membuat sistem komunikasi Beagle 2 sulit bekerja. Hal yang sama juga membuat pasokan tenaga listrik dari panel-panel surya ke tubuh Beagle 2 terhambat. Sehingga batereinya tak mengalami pengisian ulang dengan baik dan lama-kelamaan pun mati.

Jadi, “anjing” itu sebenarnya sukses mendarat namun kemudian sekarat karena ketiga kakinya masih terlipat.

Referensi :

Webster. 2015. ‘Lost’ 2003 Mars Lander Found by Mars Reconnaissance Orbiter. NASA Jet Propulsion Laboratory, California, 16 Januari 2015.

Grindrod. 2015. Beagle 2 Found on Mars.

Iklan

Menuju Kebumen Siaga Tsunami

Bagian pertama dari dua tulisan

Peristiwanya sudah berlalu satu dasawarsa. Bekas-bekasnya pun sebagian besar sudah tak ada. Kota-kota yang dulu begitu merana dibuatnya, kini menggeliat kembali dalam rutinitas sehari-hari layaknya sedia kala. Bencana dahsyat itu seperti telah lenyap ditelan masa. Hanya di sejumlah lokasi saja jejak-jejak kedahsyatannya masih tersisa. Namun tidak demikian di sanubari dan benak sebagian besar insan Indonesia. Bencana itu masih demikian membekas, seakan baru terjadi kemarin sore saja.

Minggu 26 Desember 2004 Tarikh Umum (TU) awalnya mungkin dianggap bakal menjadi sebuah hari Minggu biasa saja bagi Indonesia. Di benak banyak orang mungkin bakal ada sedikit kemeriahan. Tahun 2014 TU bakal segera tutup buku. Tahun dimana Indonesia menjalani pemilu yang menentukan, namun terlaksana tanpa huru-hara seperti ramalan sejumlah orang. Terkecuali bagi ujung utara pulau Sumatra. Keributan masih terjadi di sini, sering masih berlakunya status darurat militer. Aparat militer masih terus mencoba menekan dan menghimpit anasir-anasir separatis hingga ke tubir kemampuannya. Baku tembak kerap terjadi diberbagai tempat. Namun secara umum Indonesia relatif tenang, aman dan bersiap menyongsong masa depan.

Semua berubah drastis semenjak pukul 07:59 WIB. Pada jam itu, ujung utara pulau Sumatra bergetar. Gempa bumi tektonik melanda. Sejatinya gempa tektonik bukanlah hal yang aneh bagi kawasan ini. Di dasar samudera lepas pantai barat pulau ini terdapat zona subduksi dimana lempeng India dan Australia melekuk ke bawah lempeng Eurasia. Palung laut yang panjang membentang dari barat laut ke tenggara merupakan wujud fisiknya. Sementara di darat, sebuah sistem patahan besar membentang dari Banda Aceh di utara hingga Selat Sunda di selatan, yang menampakkan dirinya sebagai lembah-lembah lurus panjang di sela-sela Pegunungan Bukit Barisan. Itulah sistem patahan besar Sumatra yang legendaris. Baik zona subduksi maupun sistem patahan besar Sumatra adalah generator tektonik yang produktif.

Gambar 1. Air laut bercampur lumpur pekat dan segala macam reruntuhan dari segala macam benda yang dihempas tsunami besar produk Gempa akbar Sumatra-Andaman 26 Desember 2004, tepat sepuluh tahun silam. Sumber: Yulianto dkk, 2010.

Gambar 1. Air laut bercampur lumpur pekat dan segala macam reruntuhan dari segala macam benda yang dihempas tsunami besar produk Gempa akbar Sumatra-Andaman 26 Desember 2004, tepat sepuluh tahun silam. Sumber: Yulianto dkk, 2010.

Tapi gempa ini bukanlah gempa biasa. Di ujung utara pulau Sumatra itu, tanah bergetar keras dan berayun-ayun laksana lautan yang sedang bergelora. Orang-orang yang merasakannya tak kuasa berdiri tegak. Banyak benda berjatuhan. Beberapa bangunan di kota-kota seperti Banda Aceh, Calang dan Meulaboh runtuh. Getaran bahkan masih sanggup meretakkan kaca-kaca bangunan di Medan, kota yang di pantai timur Sumatra. Getaran itu berlangsung cukup lama. Orang-orang merasakannya lebih dari 10 menit. Sementara instrumen pencatat gempa (seismometer) mencatatnya dengan riuh selama 15 menit lebih, menjadikannya durasi gempa terlama yang pernah tercatat sepanjang sejarah ilmu kegempaan (seismologi) modern. Magnitud (kekuatan)-nya juga luar biasa. Dengan getaran yang luar biasa keras, satuan pengukuran standar gempa bumi yang kita kenal sebagai skala Richter (SR) pun tersaturasi dan tak dapat digunakan dengan baik. Sehingga satuan pengukuran yang lebih spesifik pun digunakan, yakni skala Magnitudo (SM). Gempa bumi 26 Desember 2014 TU di ujung utara pulau Sumatra itu ternyata memiliki magnitud 9,3 SM. Inilah gempa terbesar nomor dua yang pernah tercatat sepanjang sejarah seismologi modern setelah Gempa Chile 1960.

Dengan magnitud-nya yang demikian besar, ilmu kegempaan modern menggolongkan getaran tak biasa di ujung utara pulau Sumatra sebagai gempa akbar (megathrust). Ini jenis gempa yang langka karena melibatkan pematahan kerak bumi dalam luasan yang sangat besar hingga puluhan ribu kilometer persegi. Pematahan ini disertai pergeseran (pelentingan) massa batuan yang terpatahkan dengan jarak yang fantastis, hingga puluhan meter. Gempa jenis ini selalu terjadi di zona subduksi. Semenjak seismologi modern bersemi di dekade 1930-an TU, umat manusia baru menyaksikan enam peristiwa gempa akbar. Dan getaran tak biasa di ujung utara pulau Sumatra itu adalah gempa akbar ketujuh, yang kemudian dikenal sebagai Gempa akbar Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 atau disebut juga gempa akbar Sumatra-Andaman 2004.

Begitu menyadari sebuah gempa akbar telah terjadi di Samudera Indonesia di Minggu pagi 26 Desember 2014 TU itu, Pacific Tsunami Warning Center (PTWC) yang berkedudukan di Hawaii (Amerika Serikat) segera melakukan simulasi dan hasilnya segera disebar. Sebab pasca sebuah gempa akbar, akan ada bencana lain yang menyusul dengan skala yang tak kalah dahsyatnya. Namun tiadanya infrastruktur sistem peringatan dini di sekujur pesisir Samudera Indonesia membuat peringatan itu tak dapat disalurkan hingga ke masyarakat akar rumput yang berpotensi terdampak.

Bencana pun terjadilah tanpa bisa dihindari. Dalam waktu sejam pasca gempa, kota Banda Aceh dilimbur gelora dari arah samudera. Itulah tsunami. Tingginya tak kepalang tanggung, hingga 20 meter dan bahkan lebih. Air bah menginvasi daratan hingga sejauh 4 kilometer dari garis pantai. Tak hanya Banda Aceh. Kota-kota lain di pesisir barat propinsi Aceh pun tak luput dari terjangan seperti Meulaboh dan Calang. Di Lhoknga, tsunami bahkan menggempur sebagai gelora setinggi bukit. Tinggi gelombangnya mencapai 50 meter! Begitu memasuki kota, air bah tsunami melanda dan menggerus apa saja yang dilaluinya, kecuali bangunan berkualitas baik. Jaringan jalan raya berkualitas baik di Banda Aceh justru menjadi jalan bebas hambatan bagi tsunami untuk menginvasi daratan lebih jauh lagi. Jika kecepatan tsunami saat tiba di pesisir umumnya berkisar 20 hingga 30 kilometer/jam, saat menggempur daratan melalui jalan raya Banda Aceh justru ia melejit hingga secepat 60 kilometer/jam !

Gambar 2. Imam Abu Abdul Rhaffar dari Lhoknga memegang sebuah jam manual yang berhenti pada pukul 09:20. Jam inilah salah satu saksi bisu kedahsyatan tsunami yang menggempur Lhoknga, dengan ketinggian gelombang hingga 50 meter dan menyerbu hanya dalam 20 menit pasca gempa dimulai. Sumber: Yulianto dkk, 2010.

Gambar 2. Imam Abu Abdul Rhaffar dari Lhoknga memegang sebuah jam manual yang berhenti pada pukul 09:20. Jam inilah salah satu saksi bisu kedahsyatan tsunami yang menggempur Lhoknga, dengan ketinggian gelombang hingga 50 meter dan menyerbu hanya dalam 20 menit pasca gempa dimulai. Sumber: Yulianto dkk, 2010.

Tsunami dahsyat tak hanya menyerbu Indonesia. Segenap negara yang pesisirnya berhadapan dengan Samudera Indonesia turut merasakannya seperti Thailand, Malaysia, Myanmar, Sri Lanka, India, Bangladesh, Maladewa, Yaman dan bahkan hingga ke benua Afrika meliputi Somalia, Tanzania, Afrika Selatan, Kenya dan Madagaskar. Lebih dari seperempat juta jiwa, tepatnya 280.000 orang, terbunuh oleh terjangan tsunami ini. Ini menjadikannya bencana tsunami paling mematikan semenjak awal peradaban manusia, melampaui rekor yang semula dipegang tsunami produk Gempa Messina 1908 (Italia) yang menewaskan 123.000 orang. Dari 280.000 korban, sekitar 200.000 diantaranya adalah orang Indonesia khususnya penduduk yang bermukim di sepanjang pesisir barat dan utara propinsi Aceh. Bersama dengannya 1,74 juta orang dipaksa mengungsi dengan lebih dari setengah juta diantaranya berasal dari Indonesia. Massifnya skala bencana tsunami ini membuat tsunami produk Letusan Krakatau 1883 yang merenggut nyawa 36.417 jiwa (angka resmi) atau 120.000 jiwa (angka perkiraan) terasa kecil. Bencana ini pun membuat tsunami paling mematikan di Indonesia dalam abad ke-20, yakni tsunami produk Gempa Flores 1992 yang menelan korban 2.500 jiwa, menjadi terasa demikian kerdil.

Raksasa Pembangkit Gelora

Dahsyatnya bencana tsunami dalam Gempa akbar Sumatra-Andaman 2004 sontak mengejutkan dunia. Berbagai anggapan yang aneh-aneh tentang penyebab bencana pun diapungkan. Satu yang sempat menarik perhatian adalah anggapan bencana itu bagian dari konspirasi. Gempa akbar tersebut dan tsunami yang menyertainya dianggap terjadi akibat diledakkannya bom termonuklir di dasar Samudera Indonesia yang kemudian memicu rentetan bencana. Anggapan serupa masih tetap muncul tujuh tahun kemudian, tatkala gempa akbar berikutnya yakni Gempa akbar Tohoku (Jepang) 2011 datang mengguncang. Gempa akbar Tohoku 2011 juga menerbitkan tsunami, yang menjalar hingga sekujur pesisir Samudera Pasifik dengan korban jiwa pun cukup besar. Kali ini yang dituding bukan lagi bom termonuklir, melainkan fasilitas riset pemantauan ionosfer di bawah tajuk HAARP (High-frequency Active Auroral Research Program).

Tanpa harus menelaah jauh-jauh, tak sulit untuk mementahkan anggapan konspirasi ini. Jika bom termonuklir memicu rentetan bencana di ujung utara pulau Sumatra, kemana semua sampah radioaktif yang khas produk ledakan nuklirnya? Padahal salah satu ciri khas tsunami adalah ia mengaduk-aduk dasar samudera demikian rupa sehingga sedimen/endapan yang semula teronggok di dasar laut pun akan diangkutnya dan diendapkan di daratan yang diserbunya. Selain itu bagaimana peristiwa serupa pernah terjadi di sini dalam 600 hingga 700, 1.200 hingga 1.400 dan 1.800 hingga 2.100 tahun silam seperti ditemukan para ahli kegempaan belakangan? Di atas semua itu, anggapan konspirasi hanyalah mencoba mencari kambing hitam atas suatu bencana sehingga tak bermanfaat untuk mengantisipasi bencana sejenis di kelak kemudian hari.

Gambar 3. Diagram sederhana yang memperlihatkan interaksi konvergen antara lempeng India yang oseanik dengan mikrolempeng Burma (bagian dari lempeng Eurasia) yang kontinental dan menjadi alas bagi berdirinya ujung utara pulau Sumatra. Terbentuk subduksi yang salah satunya ditandai oleh palung laut. Di zona subduksi inilah sumber gempa akbar Sumatra-Andaman 2004 berada. Sumber: Sudibyo, 2014 berbasis peta Google Earth.

Gambar 3. Diagram sederhana yang memperlihatkan interaksi konvergen antara lempeng India yang oseanik dengan mikrolempeng Burma (bagian dari lempeng Eurasia) yang kontinental dan menjadi alas bagi berdirinya ujung utara pulau Sumatra. Terbentuk subduksi yang salah satunya ditandai oleh palung laut. Di zona subduksi inilah sumber gempa akbar Sumatra-Andaman 2004 berada. Sumber: Sudibyo, 2014 berbasis peta Google Earth.

Dalam pandangan seismologi modern, peristiwa gempa akbar dan tsunami yang menyertainya lebih merupakan akibat dari interaksi konvergen (saling bertemu) antara dua lempeng tektonik di zona subduksinya. Dalam kasus Gempa akbar Sumatra-Andaman 2004 itu dua lempeng tektonik yang saling bertemu adalah lempeng India yang oseanik (lempeng samudera) dan mikrolempeng Burma (bagian dari lempeng Eurasia) yang kontinental (lempeng benua). Karena berat jenisnya lebih tinggi, maka saat lempeng India bertemu dengan mikrolempeng Burma, ia melekuk dan selanjutnya menyelusup kebawahnya dengan sudut tertentu hingga akhirnya memasuki lapisan selubung atas (asthenosfer).

Mulai dari titik pelekukan, bagian atas lempeng India bersentuhan dengan bagian bawah mikrolempeng Burma, membentuk zona subduksi. Jalur dimana lempeng India melekuk secara kasat mata terlihat sebagai palung laut. Sementara mikrolempeng Burma mengelembung dan menyembul ke atas paras laut sebagai bagian dari daratan Aceh sebelah barat. Lempeng India bergerak relatif ke utara-timur laut dengan kecepatan 53 mm/tahun, sementara mikrolempeng Burma relatif tak bergerak. Posisi pulau Sumatra yang melintang membuat palung lautnya pun turut melintang, sehingga pergerakan lempeng India relatif terhadap zona subduksinya bersifat miring (oblique). Di lepas pantai barat ujung utara pulau Sumatra, kecepatan pergerakan itu 30 mm/tahun relatif terhadap zona subduksi. Sementara di sebelah utaranya, yakni di Kepulauan Andaman dan Nicobar, kecepatan relatifnya bahkan mendekati nol.

Gambar 4. Diagram sederhana yang memperlihatkan bagaimana tsunami dahsyat terbentuk pada gempa akbar Sumatra-Andaman 2004. Atas: terbentuknya zona kuncian antara bagian atas lempeng India dengan bagian bawah mikrolempeng Burma. Tengah: terdesaknya zona kuncian akibat gerakan menerus lempeng India. Dan bawah: patahnya zona kuncian disusul melentingnya mikrolempeng Burma sehingga menghasilkan usikan di permukaan laut yang lantas berkembang menjadi tsunami dahsyat. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 4. Diagram sederhana yang memperlihatkan bagaimana tsunami dahsyat terbentuk pada gempa akbar Sumatra-Andaman 2004. Atas: terbentuknya zona kuncian antara bagian atas lempeng India dengan bagian bawah mikrolempeng Burma. Tengah: terdesaknya zona kuncian akibat gerakan menerus lempeng India. Dan bawah: patahnya zona kuncian disusul melentingnya mikrolempeng Burma sehingga menghasilkan usikan di permukaan laut yang lantas berkembang menjadi tsunami dahsyat. Sumber: Sudibyo, 2014.

Idealnya pergerakan lempeng India dalam zona subduksinya dengan mikrolempeng Burma tidak terganggu. Namun dalam realitanya tidak demikian. Karena gaya gesek antar batuan dalam dua lempeng yang berbeda tersebut, pergerakan lempeng India terhalangi oleh gesekannya dengan mikrolempeng Burma. Mikrolempeng tersebut bahkan dapat terkunci ke lempeng India. Sehingga selagi lempeng India terus bergerak ke utara-barat laut, zona subduksinya (beserta palung laut dan pulau-pulau kecil didekatnya) pun turut bergeser ke arah yang sama, lebih mendekat ke pulau Sumatra. Ibarat pegas raksasa, mikrolempeng Burma jadi terdesak dan mulai memendek. Namun pemendekan ini memiliki batas maksimum. Saat tegangan batuan telah melampaui daya ikat antar batuan di zona kuncian, maka kunciannya itu pun terpatahkan. Mikrolempeng Burma spontan melenting kembali sehingga palung laut pun kembali menjauhi pulau Sumatra. Pematahan diikuti pelentingan inilah yang menghasilkan gempa bumi tektonik dan kemudian tsunami. Dalam gempa akbar, pematahan yang terjadi melibatkan luasan sangat besar dengan pelentingan yang tak kalah fantastisnya.

Gempa akbar Sumatra-Andaman 2004 melibatkan pematahan sepanjang 1.600 kilometer di zona subduksi lepas pantai barat Sumatra dan kepulauan Andaman-Nicobar, mulai dari pulau Simeulue di selatan hingga pulau Preparis di utara. Lebar pematahannya 150 kilometer. Sehingga area yang terpatahkan mencapai 1.600 x 150 kilometer persegi atau setara dengan separuh luas pulau Sumatra! Pelentingan yang terjadi bervariasi antara 10 meter hingga 30 meter. Akibat pelentingan ini maka palung laut di sepanjang pulau Simeulue hingga ke pulau Preparis mengalami pengangkatan vertikal yang bervariasi antara 1 hingga 5 meter. Dengan kata lain, dasar samudera di atas sumber gempa terdongkrak naik. Inilah yang membuat massa air laut diatasnya turut terangkat hingga ke permukaan samudera. Usikan dahsyat inilah yang menerbitkan tsunami dahsyat yang amat mematikan.

Tsunami bukanlah gelombang laut biasa. Ia memiliki periode yang cukup lama, yakni antara beberapa menit hingga 30 menit. Sementara periode ombak akibat hembusan angin hanya berkisar beberapa detik hingga 20 detik saja. Panjang gelombangnya pun sangat besar, puluhan hingga hingga 200 kilometer. Sementara panjang ombak produk hembusan angin hanyalah antara 60 hingga 150 meter. Dengan panjang gelombang yang jauh melebihi kedalaman samudera dimanapun, tsunami memiliki karakteristik mengaduk-aduk lautan yang dilewatinya hingga ke dasar. Sementara ombak produk hembusan angin hanya berefek di paras/permukaan laut saja. Kecepatannya pun berbeda jauh. Di tengah samudera, sebuah tsunami bisa melaju secepat 700 kilometer/jam atau sama cepatnya dengan pesawat jumbo jet komersial! Bandingkan dengan ombak produk hembusan angin yang hanya melaju pada kecepatan antara 30 hingga 60 kilometer/jam saja.

Gambar 5. Koordinat episentrum-episentrum gempa di sekujur pulau Sumatra sebelum 26 Desember 2004 TU. Nampak ada tiga lokasi dengan geometri tertentu yang episentrum gempanya lebih jarang dibanding sekitarnya, pertanda zona subduksinya terkunci. Lokasi jarang gempa yang paling utara kemudian menjadi sumber gempa akbar Sumatra-Andaman 2004 (9,3 SM) pada 26 Desember 2014 TU. Sementara lokasi tengah menjadi sumber gempa akbar Simeulue-Nias 2005 (8,7 SM) pada 28 Maret 2005 TU. Dan lokasi paling selatan adalah sumber gempa akbar Mentawai, yang saat ini belum terjadi. Sumber: Natawidjaja, 2007 dengan teks oleh Sudibyo, 2014.

Gambar 5. Koordinat episentrum-episentrum gempa di sekujur pulau Sumatra sebelum 26 Desember 2004 TU. Nampak ada tiga lokasi dengan geometri tertentu yang episentrum gempanya lebih jarang dibanding sekitarnya, pertanda zona subduksinya terkunci. Lokasi jarang gempa yang paling utara kemudian menjadi sumber gempa akbar Sumatra-Andaman 2004 (9,3 SM) pada 26 Desember 2014 TU. Sementara lokasi tengah menjadi sumber gempa akbar Simeulue-Nias 2005 (8,7 SM) pada 28 Maret 2005 TU. Dan lokasi paling selatan adalah sumber gempa akbar Mentawai, yang saat ini belum terjadi. Sumber: Natawidjaja, 2007 dengan teks oleh Sudibyo, 2014.

Kala tiba di pesisir, baik tsunami maupun ombak akan sedikit berubah perilakunya. Namun perbedaannya dramatis. Bagi ombak, ia akan melambat dan terpecah saat mendekati pesisir sehingga hanya mengguyur garis pantai. Tsunami pun melambat pula jelang tiba di pesisir, dengan kecepatan merosot drastis hingga hanya antara 20 sampai 30 kilometer/jam. Tapi karena panjang gelombangnya amat sangat besar bila dibandingkan dengan ombak, maka tsunami tak terpecah. Sebaliknya ketinggiannya justru kian meningkat akibat efek akumulasi tatkala bagian tsunami yang lebih cepat mendesak bagian tsunami yang sudah melambat. Karena itu bila di tengah-tengah samudera ketinggian tsunami hanyalah berkisar setengah meter atau kurang, jelang tiba di pesisir ia bisa berlipat kali lebih besar hingga beberapa meter atau bahkan belasan/puluhan meter. Fenomena ini disebut run-up. Karena itu saat menerjang garis pantai, tsunami lebih mirip dengan gelombang pasang sehingga ia melanda/menginvasi daratan hingga jarak cukup jauh, bergantung pada run-up-nya. Bedanya, jika penjalaran gelombang pasang biasa berlangsung cukup lambat (dalam hitungan jam), tsunami menyerbu cukup cepat (hanya dalam hitungan menit pasca tiba di garis pantai). Karena itu daya rusaknya jauh lebih besar.

Tsunami di Pesisir Selatan Jawa

Di Indonesia, zona subduksi tak hanya dijumpai di lepas pantai ujung utara pulau Sumatra saja. Namun juga di tempat-tempat lain di sekujur tanah Nusantara ini. Dapat dikatakan separuh dari garis pantai kepulauan ini berhadapan dengan zona subduksi. Termasuk segenap pesisir selatan pulau Jawa.

Sebelum 2004 TU, para ahli kegempaan bersilang pendapat mengenai potensi zona-zona subduksi di Indonesia dalam menghasilkan gempa akbar. Pada umumnya mereka sepakat bahwa potensi gempa akbar jauh lebih tinggi bagi kawasan pesisir Samudera Pasifik, dimanapun berada. Sebab di sini zona subduksinya berumur relatif muda secara geologis, yakni 20 juta tahun di selatan (Chile) dan 40 juta tahun di utara (Alaska). Zona subduksi yang muda ini dianggap kurang padat sehingga lebih mudah terpatahkan. Sebaliknya zona subduksi di Samudera Indonesia, khususnya di sepanjang kepulauan Indonesia, relatif lebih tua. Di sekitar pulau Simeulue umurnya 55 juta tahun. Sementara di Kepulauan Andaman-Nicobar umurnya jauh lebih tua yakni hampir 90 juta tahun. Terdapat hubungan antara umur zona subduksi dan kecepatan lempeng samudera relatif terhadap zona subduksi dengan magnitud maksimum gempa tektonik yang bisa dibangkitkannya. Untuk zona subduksi lempeng India dengan mikrolempeng Burma, magnitud maksimum itu berkisar antara 8 hingga 8,2 skala Magnitudo. Anggapan ini berantakan setelah Gempa akbar Sumatra-Andaman 2004 meletup, yang berkekuatan hingga 9,3 skala Magnitudo.

Pasca 2004 TU, kini para ahli kegempaan menyepakati seluruh zona subduksi yang ada dimanapun harus dipandang memiliki potensi serupa Sumatra-Andaman. Termasuk zona subduksi di lepas pantai pesisir selatan Pulau Jawa. Di zona subduksi ini lempeng Australia yang oseanik bersubduksi dengan lempeng Eurasia yang kontinental. Lempeng Australia bergerak ke utara-timur laut pada kecepatan 67 mm/tahun sementara lempeng Eurasia (yang menjadi landasan pulau Jawa) relatif stabil. Subduksi telah berumur 130 juta tahun dan menghasilkan zona subduksi yang hampir tepat tegaklurus terhadap arah gerak lempeng Australia (head-on). Sebelum 2004 TU, magnitud maksimum gempa tektonik yang bisa dibangkitkan zona subduksi ini diperkirakan hanya sekitar 7,7 skala Magnitudo. Namun pasca 2004 TU, perkiraannya berubah dramatis. Sejumlah ahli kegempaan bahkan berpendapat gempa akbar dengan magnitud hingga 9 skala Magnitudo berpotensi terjadi di sini. Sumber gempanya bisa di sisi selatan Selat Sunda, atau di lepas pantai selatan Jawa Tengah. Jika gempa akbar sebesar ini terjadi, tsunami dahsyat bakal menggempur pesisir selatan pulau Jawa dengan ketinggian bisa mencapai 10 meter atau bahkan lebih.

Gambar 6. Kiri: lapisan endapan takbiasa dari tsunami dari gempa besar/akbar di zona subduksi segmen Simeulue-Andaman-Nicobar yang dijumpai di bekas rawa 500 meter dari garis pantai di pulau Phra Thong (Thailand). Kanan: Karang mikroatol (karang cincin kecil) yang terangkat dari dasar laut pasca gempa akbar Sumatra-Andaman 2004 di pulau Simeulue (Indonesia). Kelak karang ini akan terendam kembali tatkala zona subduksi dibawahnya mulai terkunci kembali. Dari endapan tsunami dan naik turunnya karang inilah diketahui gempa akbar di ujung utara pulau Sumatra berulang setiap 600 hingga 700 tahun sekali. Sumber: Yulianto dkk, 2010 & Natawidjaja, 2007.

Gambar 6. Kiri: lapisan endapan takbiasa dari tsunami dari gempa besar/akbar di zona subduksi segmen Simeulue-Andaman-Nicobar yang dijumpai di bekas rawa 500 meter dari garis pantai di pulau Phra Thong (Thailand). Kanan: Karang mikroatol (karang cincin kecil) yang terangkat dari dasar laut pasca gempa akbar Sumatra-Andaman 2004 di pulau Simeulue (Indonesia). Kelak karang ini akan terendam kembali tatkala zona subduksi dibawahnya mulai terkunci kembali. Dari endapan tsunami dan naik turunnya karang inilah diketahui gempa akbar di ujung utara pulau Sumatra berulang setiap 600 hingga 700 tahun sekali. Sumber: Yulianto dkk, 2010 & Natawidjaja, 2007.

Salah satu kesulitan dalam mengidentifikasi apakah sebuah gempa akbar bisa terjadi di zona subduksi terletak pada minimnya data. Pada umumnya gempa tektonik, termasuk gempa akbar, selalu berulang di sumber yang sama. Namun periode ulangnya sangat lama, hingga beberapa ratus tahun untuk gempa akbar. Sementara seismologi modern dengan instrumen seismometernya baru berjalan kurang dari seabad ini. Apalagi pencatatan pergerakan lempeng tektonik di suatu daerah, itu baru berlangsung semenjak dekade 1980-an saja. Maka untuk mengetahui potensi gempa akbar di suatu tempat, para ahli kegempaan memanfaatkan pendekatan tak langsung. Baik dengan jalan menyelidiki naik-turunnya daratan melalui naik-turunnya karang di pulau-pulau kecil tepat di sebelah sebuah palung laut (seperti dilakukan di pulau Sumatra) maupun dengan menyelidiki lapisan-lapisan endapan takbiasa yang diproduksi sebuah tsunami di sepanjang pesisir.

Lewat analisis karang, kita mengetahui salah satu sumber gempa akbar di pulau Sumatra ada di segmen Kepulauan Mentawai. Gempa akbar di sini terjadi pada sekitar tahun 1370, 1600 serta yang terakhir pada 1797 dan 1833 TU. Dengan demikian gempa akbar dan tsunami besarnya di segmen Kepulauan Mentawai terjadi setiap 200 hingga 230 tahun sekali. Sementara sedimen pesisir di Thailand dan Simeule memperlihatkan gempa akbar dan tsunami besar di segmen Simeulue-Andaman-Nicobar berulang jauh lebih lama, yakni setiap 600 hingga 700 tahun sekali.

Bagaimana dengan pesisir selatan Pulau Jawa?

Gambar 7. Jejak kedahsyatan tsunami produk gempa besar Pangandaran 2006 di pesisir Kabupaten Kebumen. Atas: tebing pasir curam setinggi 1 meter yang terbentuk oleh terjangan tsunami di pantai Sidoharjo (Kec. Puring). Di sini tsunami menginvasi hingga 60 meter ke daratan dari garis pantai. Bawah: jejak tsunami di dinding pos Lanal Ayah di pantai Logending (Kec. Ayah). Di sini riak tsunami mencipratkan air hingga setinggi 2 meter dari paras tanah (A). Hempasan tsunami beserta reruntuhan material yang diangkutnya mampu melubangi dinding (B). Sumber: Sudibyo, 2006.

Gambar 7. Jejak kedahsyatan tsunami produk gempa besar Pangandaran 2006 di pesisir Kabupaten Kebumen. Atas: tebing pasir curam setinggi 1 meter yang terbentuk oleh terjangan tsunami di pantai Sidoharjo (Kec. Puring). Di sini tsunami menginvasi hingga 60 meter ke daratan dari garis pantai. Bawah: jejak tsunami di dinding pos Lanal Ayah di pantai Logending (Kec. Ayah). Di sini riak tsunami mencipratkan air hingga setinggi 2 meter dari paras tanah (A). Hempasan tsunami beserta reruntuhan material yang diangkutnya mampu melubangi dinding (B). Sumber: Sudibyo, 2006.

Pesisir selatan Jawa Timur dilimbur tsunami produk gempa besar Banyuwangi 3 Juni 1994 (7,8 skala Magnitudo). Tinggi maksimum tsunaminya mencapai 15 meter dan menginvasi daratan hingga sejauh 400 meter. Korban jiwa yang direnggutnya tercatat 238 orang. Sementara pesisir selatan Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah dihantam tsunami dari gempa besar Pangandaran 17 Juli 2006 (7,7 skala Magnitudo). Tsunaminya menghantam pesisir mulai dari pantai Pangandaran (Jawa Barat) hingga pantai Parangtritis (DI Yogyakarta) dengan tinggi maksimum 21 meter di pulau Nusakambangan. Tsunami ini menelan korban jiwa hingga lebih dari 700 orang. Baik gempa besar Banyuwangi 1994 maupun Pangandaran 2006 merupakan gempa pembangkit tsunami yang takbiasa. Mereka terjadi tepat di sisi utara palung laut dengan getaran yang cukup lama, sehingga disebut sebagai gempa-lambat atau gempa-ayun (slow earthquake) yang getarannya tak begitu dirasakan di daratan pulau Jawa. Di lokasi sumber gempanya, getaran gempa menyebabkan tebing-tebing curam di sisi utara palung runtuh, menciptakan longsoran bawah laut yang massif. Kombinasi pengangkatan dasar laut di lokasi sumber gempa dan longsoran massif ini membangkitkan tsunami yang tak biasa. Meski bersifat lokal, namun ketinggiannya di pesisir dan invasinya ke daratan amat sangat besar dibanding tsunami yang hanya disebabkan oleh gempa saja.

Sebelum kedua peristiwa tersebut, pesisir selatan Pulau Jawa antara pantai Pangandaran hingga Parangtritis juga pernah diterpa tsunami pada 1921 TU. Tsunami ini produk gempa besar (7,5 skala Richter) di seberang zona subduksi, namun tinggi gelombangnya kecil sehingga tidak menghasilkan kerusakan dan korban jiwa berarti. Sebelum itu tsunami lokal tercatat juga terjadi pada 1840 dan 1859 TU. Keduanya menerpa pesisir selatan pulau Jawa di antara Kebumen (Jawa Tengah) hingga Pacitan (Jawa Timur).

Tsunami yang lebih besar namun tak begitu tercatat dalam sejarah nampaknya terjadi empat abad silam, atau di abad ke-16 TU. Jejaknya ditemukan sebagai lapisan endapan takbiasa khas tsunami di dekat muara sungai Cikembulan, Pangandaran (Jawa Barat) oleh tim LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Endapan ini lebih tebal ketimbang endapan tsunami 2006 sehingga mungkin berasal dari gempa besar berskala 8 skala Magnitudo atau lebih. Peristiwa tersebut nampaknya dicatat oleh pujangga kerajaan Mataram Islam di zaman pemerintahan Sultan Agung pada Babad ing Sangkala. Peristiwa tersebut nampaknya terjadi pada tahun 1618 atau 1619 TU, sepuluh tahun jelang agresi Mataram ke kedudukan VOC Belanda di Batavia (kini Jakarta). Tsunami tersebut nampaknya berdampak signifikan dan mungkin melahirkan legenda Nyi Roro Kidul (Ratu Kidul). Legenda sejenis, meski kalah populer, juga dijumpai di tempat-tempat lain mulai dari masyarakat Mentawai di sebelah barat hingga ke masyarakat Flores di sebelah timur.

Gambar 8. Koordinat episentrum-episentrum gempa di sekujur pulau Jawa hingga 2007 TU. Nampak dua lokasi di zona subduksi yang telah melepaskan gempa besar dan tsunaminya. Masing-masing di sebelah timur (sumber gempa besar Banyuwangi 1994) dan sebelah barat (sumber gempa Pangandaran 2006). Nampak pula dua lokasi jarang gempa (ditandai garis putus-putus), masing-masing di selatan Jawa Barat dan selatan Jawa Tengah (ditandai sebagai seismic gap). Dua lokasi tersebut diprediksi bakal menjadi sumber gempa besar dan tsunami mendatang. Sumber: Natawidjaja, 2007.

Gambar 8. Koordinat episentrum-episentrum gempa di sekujur pulau Jawa hingga 2007 TU. Nampak dua lokasi di zona subduksi yang telah melepaskan gempa besar dan tsunaminya. Masing-masing di sebelah timur (sumber gempa besar Banyuwangi 1994) dan sebelah barat (sumber gempa Pangandaran 2006). Nampak pula dua lokasi jarang gempa (ditandai garis putus-putus), masing-masing di selatan Jawa Barat dan selatan Jawa Tengah (ditandai sebagai seismic gap). Dua lokasi tersebut diprediksi bakal menjadi sumber gempa besar dan tsunami mendatang. Sumber: Natawidjaja, 2007.

Berapa tahun sekali periode ulang gempa besar/akbar dan tsunami yang menyertainya di lepas pantai pesisir selatan pulau Jawa memang belum diketahui hingga kini. Namun jelas bahwa di masa silam hal itu pernah terjadi. Dan kelak juga pasti akan terjadi lagi. Ini hanya soal kapan waktunya dan seberapa besar magnitudonya. Maka suka tak suka, pesisir selatan pulau Jawa memang harus berbenah dan bersiap untuk menghadapinya. Termasuk Kabupaten Kebumen di propinsi Jawa Tengah, yang memiliki garis pantai unik sepanjang 58 kilometer. Ada lebih dari 220 ribu jiwa yang hidup di sepanjang pesisir Kabupaten Kebumen yang berpotensi terdampak jika bencana tsunami tersebut benar-benar terjadi, apalagi jika sekelas tsunami produk gempa akbar Sumatra-Andaman 2004.

Bagaimana Kabupaten Kebumen menyiagakan diri mengantisipasi ancaman tsunami ini? Simak di bagian kedua dari tulisan ini.

Referensi :

Yulianto dkk. 2010. Where the First Wave Arrives in Minutes, Indonesian Lessons on Surviving Tsunamis Near Their Sources. Intergovernmental Oceanographic Commission, United Nations Educational Scientific and Cultural Organisation, IOC-Brochure 2010-4.

BNPB. 2012. Masterplan Pengurangan Risiko Bencana Tsunami. Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Juni 2012.

Natawidjaja. 2007. Tectonic Setting Indonesia dan Pemodelan Gempa dan Tsunami. Pelatihan Pemodelan Tsunami Run-up, Kementerian Negara Riset dan Teknologi RI, 20 Agustus 2007.

Memandang Longsor Dahsyat Jemblung dari Ketinggian Udara dan Satelit

Beberapa hari pasca bencana longsor dahsyat yang meluluhlantakkan dusun Jemblung, desa Sampang Banjarnegara, bagaimana luasnya skala bencana tersebut mulai terkuak. Khususnya setelah dua tim yang berbeda melaksanakan pemotretan (pencitraan) di atas lokasi bencana. Pencitraan pertama dikerjakan oleh tim KataDesa (Banjarnegara) bekerjasama dengan BukaPeta (Jakarta) dengan menggunakan pesawat udara nir-awak (PUNA) atau drone tepat di atas lokasi longsor pada Rabu 17 Desember 2014 Tarikh Umum (TU) lalu. Kedua relawan lembaga nirlaba tersebut melakukan pemotretan udara (pencitraan aerial) selama tiga hari penuh hingga 20 Desember 2014 TU, yang menghasilkan sejumlah data dalam bentuk rekaman-rekaman foto dan video. Sejumlah citra foto dan videonya telah dipublikasikan semenjak awal. Sementara pencitraan kedua dilaksanakan oleh tim respon cepat bencana LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) pada saat yang hampir sama. Memanfaatkan satelit penginderaan jauh Pleiades milik badan antariksa Perancis yang melintas jauh di atas lokasi bencana pada 16 Desember 2014 TU, tim LAPAN mencitra dan mengolah datanya dalam kanal cahaya tampak (visual) untuk kemudian memublikasikan hasilnya per 19 Desember 2014 TU. Hasil kerja dua tim yang berbeda tersebut saling melengkapi sehingga memberikan perspektif baru dalam upaya kita memahami bencana tanah longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 ini.

Gambar 1. Panorama dusun Jemblung, desa Sampang (Banjarnegara) dan Gunung Telagalele pasca bencana longsor dahsyat 12 Desember 2014. Dibuat dalam peta Google Earth yang dilapisi (overlay) citra satelit Pleiades dalam kanal cahaya tampak. Nampak lereng utara Gunung Telagalele yang longsor, dengan mahkota longsor di elevasi 1.060 meter dpl. Nampak pula lembah miring dimana dusun Jemblung semula berada, dengan ujung timur lembah 30 meter lebih tinggi dari ujung baratnya. Sumber: Sudibyo, 2014 berbasis Google Earth dan LAPAN, 2014.

Gambar 1. Panorama dusun Jemblung, desa Sampang (Banjarnegara) dan Gunung Telagalele pasca bencana longsor dahsyat 12 Desember 2014. Dibuat dalam peta Google Earth yang dilapisi (overlay) citra satelit Pleiades dalam kanal cahaya tampak. Nampak lereng utara Gunung Telagalele yang longsor, dengan mahkota longsor di elevasi 1.060 meter dpl. Nampak pula lembah miring dimana dusun Jemblung semula berada, dengan ujung timur lembah 30 meter lebih tinggi dari ujung baratnya. Sumber: Sudibyo, 2014 berbasis Google Earth dan LAPAN, 2014.

Citra aerial dan citra satelit tersebut menyajikan batas-batas longsor dan beberapa perspektif tiga dimensi sektor longsor tertentu. Tatkala batas-batas tersebut dimasukkan ke dalam program pemetaan seperti Google Earth, diperoleh bahwa longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 mencakup area seluas hampir 18 hektar. Dari area seluas itu sekitar 2,2 % di antaranya, yakni hampir 4.000 meter persegi, merupakan bagian yang tak terjamah aliran maupun timbunan tanah dalam bencana ini, yang mencakup sebuah rumah berdinding putih dan kebun jagung.

Dua Luncuran

Selamatnya rumah dan kebun jagung ini dari terjangan tanah longsor telah mengundang decak kagum. Banyak yang menyebutnya sebuah keajaiban. Cerita-cerita yang tersebar luas tak berkeruncingan di media sosial menuturkan rumah itu adalah milik kiai kampung yang rajin berdakwah kepada penduduk sekitar. Namun penelusuran lebih lanjut menunjukkan pemilik rumah tersebut adalah seorang petani yang tinggal bersama istri, anak, menantu dan cucunya. Meski rumah tersebut selamat dari terjangan tanah, namun tidak demikian dengan penguninya. Hanya sang menantu yang sedang hamil 9 bulan dan satu keponakannya yang luput dari maut meski sempat tertimbun tanah setebal 1 meter. Sementara petani, istri, anak dan seorang cucunya lagi menjadi korban bencana dahsyat ini.

Gambar 2. Citra satelit Pleiades lokasi bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 beserta lokasi luncuran tanah utama yang berskala besar dan dua luncuran tanah berskala kecil yang menduluinya. Sumber: LAPAN, 2014.

Gambar 2. Citra satelit Pleiades lokasi bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 beserta lokasi luncuran tanah utama yang berskala besar dan dua luncuran tanah berskala kecil yang menduluinya. Sumber: LAPAN, 2014.

Citra aerial dipadukan dengan citra satelit menempatkan rumah dan kebun yang selamat itu dalam perspektif baru pada bencana longsor dahsyat ini. Dalam analisa sementara penulis, rumah dan kebun yang selamat beserta sepenggal tanah sempit di atasnya merupakan pembatas bagi sekurangnya dua kejadian luncuran tanah yang berbeda namun berlangsung dalam waktu yang sama atau hampir bersamaan yang sebelah menyebelah. Yakni luncuran tanah sisi timur (arah Dieng) dan luncuran tanah sisi barat (arah Banjarnegara). Dua luncuran tanah ini ternyata senada dengan hasil analisis sementara BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) seperti yang dipaparkan Kepala Pusdatin (pusat data dan informasi) BNPB Sutopo Purwo Nugroho pada 15 Desember 2014 TU lalu. Arah gerak kedua luncuran tanah tersebut pun terlihat berbeda. Namun pada akhirnya kedua luncuran tanah itu saling berkoalisi hingga menghasilkan kerusakan cukup besar dan luas.

Google Earth memperlihatkan dusun Jemblung secara topografis terletak di sebuah lembah berarah barat-timur yang dipagari dua buah gunung (bukit), masing-masing di sisi selatan dan utaranya. Bukit di sisi selatan dikenal sebagai Gunung Telagalele. Lembah ini tidak rata melainkan berhias sejumlah gundukan. Di sela-selanya mengalir sungai Petir, sebuah sungai kecil yang bermuara ke sungai Merawu. Sungai Merawu sendiri merupakan salah satu anak sungai utama dari sungai Serayu yang besar. Sehingga sungai Petir dan seluruh dusun Jemblung pada dasarnya merupakan bagian dari DAS (Daerah Aliran Sungai) Serayu. Lembah dimana dusun Jemblung berada juga bukanlah lembah datar ataupun landai, karena ujung timurnya 30 meter lebih tinggi ketimbang ujung baratnya. Selain lebih rendah, ujung barat lembah dimana dusun Jemblung berada juga tepat bersisian dengan sungai Petir. Berbeda dengan ujung timurnya. Faktor ini yang nampaknya berperan penting terhadap aliran tanah pada bencana longsor dahsyat 12 Desember 2014 TU.

Sebelum luncuran tanah terjadi, dusun Jemblung telah lebih dulu dikejutkan oleh dua peristiwa luncuran tanah dalam skala kecil yang mengambil lokasi di dusun Jemblung sebelah barat. Apakah masih berkaitan ataukah tidak, apakah salah satu atau kedua longsor kecil itu menyebabkan gangguan stabilitas lereng utara Gunung Telagalele ataukah tidak, yang jelas ia segera diikuti luncuran tanah yang jauh lebih besar. Luncuran tanah terakhir ini secara umum dapat dibedakan menjadi luncuran tanah sisi timur dan luncuran tanah sisi barat.

Gambar 3. Perkiraan batas luncuran tanah sisi timur dalam bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 (garis kuning putus-putus) dalam citra satelit Pleiades pada kanal cahaya tampak (kiri) dan citra aerial PUNA/drone (kanan). Selain batas luncuran tanah, beberapa ciri khas tanah longsor dapat dikenali khususnya dalam citra aerial. Sumber: LAPAN, 2014 & KataDesa, 2014 dengan teks oleh Sudibyo, 2014.

Gambar 3. Perkiraan batas luncuran tanah sisi timur dalam bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 (garis kuning putus-putus) dalam citra satelit Pleiades pada kanal cahaya tampak (kiri) dan citra aerial PUNA/drone (kanan). Selain batas luncuran tanah, beberapa ciri khas tanah longsor dapat dikenali khususnya dalam citra aerial. Sumber: LAPAN, 2014 & KataDesa, 2014 dengan teks oleh Sudibyo, 2014.

Luncuran tanah sisi timur melaju tepat ke utara, menuju dusun Jemblung sebelah timur yang ada di kakinya. Namun volume tanah dalam luncuran tanah sisi timur ini mungkin lebih kecil ketimbang luncuran tanah sisi barat. Sehingga energinya pun mungkin lebih kecil yang membuatnya sebatas menimbuni jalan raya Banjarnegara-Dieng/Banjarnegara-Pekalongan dan bentang lahan di sisi selatannya. Ia tak sanggup ‘meloncat’ untuk menimbuni mayoritas rumah di dusun Jemblung sebelah timur yang ada di gundukan sisi utara jalan raya. Bahkan terdapat tanda-tanda benturan massa tanah longsoran ke gundukan dimana rumah-rumah dusun Jemblung sebelah timur berada. Benturan ini menyebabkan sebagian massa tanah longsor tersebut nampaknya terbelokkan ke arah barat, menurun menuju dusun Jemblung sebelah barat.

Hal itu berbeda dengan luncuran tanah sisi barat. Pada awalnya luncurannya mungkin kecil dengan arah ke utara-barat laut. Namun tumpukan material longsornya amat mendesak lereng yang lebih rendah. Sehingga lereng yang sudah labil itu pun turut runtuh, menghasilkan longsor dalam volume lebih besar juga dengan arah ke utara-barat laut. Hal yang sama berulang, tumpukan materialnya mendesak lereng yang lebih rendah lagi hingga turut longsor. Pada akhirnya luncuran tanah sisi barat membawa volume tanah yang lebih besar ketimbang sisi timur. Pun demikian energinya, sehingga daya gerusnya pun lebih besar. Massa tanah pun terdorong jauh tanpa terhenti meski telah menghantam dusun Jemblung sebelah barat dengan telak. Selain dari luncuran tanah sisi barat, dusun Jemblung sebelah barat juga diterjang sebagian kecil massa tanah dari longsoran tanah sisi timur yang tadi terbelokkan. Akibatnya dusun Jemblung sebelah barat pun dihapus dari peta, sebagian tertimbun tanah dan sebagian lagi tergerus. Massa tanah di sini pun meluncur jauh hingga memasuki sungai Petir untuk kemudian menghilir sejauh sekitar 150 meter. Sehingga selain di bekas dusun Jemblung sebelah barat, banyak jasad korban longsor yang ditemukan di sekitar sungai Petir.

Gambar 4. Perkiraan batas luncuran tanah sisi barat dalam bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 dalam citra satelit Pleiades pada kanal cahaya tampak (kiri) dan citra aerial PUNA/drone (kanan). Kemungkinan terjadi tiga kali pergerakan tanah secara berantai, dari lereng yang lebih tinggi ke lereng yang lebih rendah dengan luasan kian membesar. Perkiraan batas masing pergerakan tanah diperlihatkan oleh garis kuning putus-putus, sementara arah masing-masing gerakan tanah oleh tanda panah. Sumber: LAPAN, 2014 & KataDesa, 2014 dengan teks oleh Sudibyo, 2014.

Gambar 4. Perkiraan batas luncuran tanah sisi barat dalam bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 dalam citra satelit Pleiades pada kanal cahaya tampak (kiri) dan citra aerial PUNA/drone (kanan). Kemungkinan terjadi tiga kali pergerakan tanah secara berantai, dari lereng yang lebih tinggi ke lereng yang lebih rendah dengan luasan kian membesar. Perkiraan batas masing pergerakan tanah diperlihatkan oleh garis kuning putus-putus, sementara arah masing-masing gerakan tanah oleh tanda panah. Sumber: LAPAN, 2014 & KataDesa, 2014 dengan teks oleh Sudibyo, 2014.

Hingga Minggu 21 Desember 2014 TU tengah hari, secara akumulatif tim telah menemukan 95 jenazah. Paling tidak 13 jasad lainnya masih belum ditemukan. Namun atas kesepakatan bersama warga dusun Jemblung, BNPB memutuskan untuk menghentikan proses pencarian jasad korban. Pertimbangannya adalah luasnya kawasan yang terkena longsor, tebalnya timbunan tanah, cuaca yang kurang menentu dan ancaman longsor susulan akibat keberadaan telaga baru di bawah mahkota longsor sisi barat. Fokus penanganan bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 kini dialihkan pada relokasi penduduk dari 35 KK (kepala keluarga) yang selamat, mencakup 32 KK yang rumahnya tertimbun longsor dan 3 KK yang rumahnya rusak berat. 21 KK sisanya tidak turut direlokasi karena seluruhnya menjadi korban bencana dahsyat ini.

Pelajaran

Selain bermanfaat memperkirakan bagaimana mekanisme sebuah bencana khususnya pada bencana yang berskala besar, penggunaan citra aerial dan/atau citra satelit memberikan pelajaran berharga dari Banjarnegara. Citra aerial dan/atau citra satelit sangat membantu dalam pencarian jasad korban. Dalam bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 ini, citra aerial dan satelit membantu memberikan gambaran antara pra dan pasca bencana. Sehingga gambaran dimana rumah-rumah yang tertimbun/tergerus tanah longsor dapat segera diperoleh. Mengingat cuaca yang kurang mendukung dengan langit kerap mendung, satelit penginderaan jauh tak bisa secepatnya membantu apalagi jika bekerja pada kanal cahaya tampak. Sebab pandangan satelit ke lokasi bencana akan kerap terganggu oleh tutupan awan. Sebaliknya PUNA/drone tidak begitu terganggu karena ketinggian jelajahnya lebih rendah dibanding awan. Sepanjang tidak turun hujan deras, PUNA/drone dapat dioperasikan tepat di atas lokasi bencana.

Gambar 5. Panorama eks Dusun Jemblung sebelah barat yang telah lumat oleh timbunan tanah dan juga tergerus (atas) dan Dusun Jemblung sebelah timur dengan latar depan tebing tempat sebagian massa tanah dalam luncuran tanah sisi timur menubruk untuk kemudian berbelok arah (bawah). Sumber: KataDesa, 2014 dengan teks oleh Sudibyo, 2014.

Gambar 5. Panorama eks Dusun Jemblung sebelah barat yang telah lumat oleh timbunan tanah dan juga tergerus (atas) dan Dusun Jemblung sebelah timur dengan latar depan tebing tempat sebagian massa tanah dalam luncuran tanah sisi timur menubruk untuk kemudian berbelok arah (bawah). Sumber: KataDesa, 2014 dengan teks oleh Sudibyo, 2014.

Dalam bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 ini, sebelum tim KataDesa dan BukaPeta meluncurkan PUNA/drone-nya, sesungguhnya telah ada PUNA/drone lain yang terbang di atas lokasi bencana. Yakni dari tim respon cepat bencana UGM (Universitas Gadjah Mada) serta dari tim BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana). Hasil pencitraan aerial tim ini memang tidak dipublikasikan, namun nampaknya kemudian menjadi acuan bagi BNPB untuk menyusun bagan bencana longsor. Dengan bagan tersebut, maka dusun Jemblung yang terlanda bencana dibagi ke dalam sektor-sektor tertentu. Sehingga upaya tim relawan dalam pencarian jasad-jasad korban dapat dilakukan dengan lebih fokus.

Selain sangat membantu dalam pencarian jasad para korban dengan memetakan batas-batas kawasan yang terlanda bencana longsor, pelajaran berharga lainnya dari Banjarnegara adalah bahwa citra aerial yang diproduksi PUNA/drone juga membantu mengevaluasi bagaimana tutupan vegetasi (tumbuh-tumbuhan) di sebuah lereng. Juga bagaimana keadaan lereng tersebut, khususnya lereng yang telah menunjukkan gejala pendahuluan akan bencana tanah longsor dalam bentuk retak-retak tanah dalam beragam skala. Ini akan sangat membantu dalam menyiapkan kewaspadaan bagi masyarakat disekitarnya.

Gambar 6. Perkiraan arah gerakan tanah dalam bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014. Luncuran tanah sisi timur digambarkan dengan panah kuning, sementara luncuran tanah sisi barat dengan panah merah. Gabungan massa tanah kedua luncuran digambarkan dengan panah hitam, yang terus menerjang dusun Jemblung sebelah barat hingga memasuki sungai Petir. Sumber: KataDesa, 2014 dengan teks oleh Sudibyo, 2014.

Gambar 6. Perkiraan arah gerakan tanah dalam bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014. Luncuran tanah sisi timur digambarkan dengan panah kuning, sementara luncuran tanah sisi barat dengan panah merah. Gabungan massa tanah kedua luncuran digambarkan dengan panah hitam, yang terus menerjang dusun Jemblung sebelah barat hingga memasuki sungai Petir. Sumber: KataDesa, 2014 dengan teks oleh Sudibyo, 2014.

Takdir kebumian Banjarnegara khususnya kawasan Karangkobar-Merawu dengan batuan dasarnya yang rapuh membuat kejadian longsor di sini menjadi begitu banyak dan beberapa diantaranya unik. Dalam pandangan umum, tanah longsor bisa diminimalkan atau bahkan dielakkan jika lereng yang setengah terjal atau bahkan terjal ditanami dengan vegetasi (tumbuhan) berakar tunjang. Namun di sebagian Banjarnegara, hal tersebut tidak selalu berlaku. Dalam bencana longsor dahsyat Gunungraja (Sijeruk) 2006 misalnya, longsor berskala besar tetap terjadi meskipun lereng Bukit Pawinihan masih tertutup tumbuhan-tumbuhan tinggi yang relatif rapat dan berakar tunjang. Tebalnya tanah pelapukan membuat tumbuh-tumbuhan itu tak sempat mengakar kuat hingga ke lapisan batuan yang masih keras dibawahnya. Sehingga tatkala tanah pelapukan itu jenuh dengan air, longsor pun tetap terjadi.

Gambar 7. Tiga titik retak baru di Gunung Telagalele, desa Sampang (Banjarnegara), tak jauh dari lokasi longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014. Ketiga titik retak baru ini harus dicermati lebih lanjut ke depan sebagai titik-titik yang rawan longsor. Sumber: Sudibyo, 2014 berbasis Google Earth dan data dari KataDesa, 2014.

Gambar 7. Tiga titik retak baru di Gunung Telagalele, desa Sampang (Banjarnegara), tak jauh dari lokasi longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014. Ketiga titik retak baru ini harus dicermati lebih lanjut ke depan sebagai titik-titik yang rawan longsor. Sumber: Sudibyo, 2014 berbasis Google Earth dan data dari KataDesa, 2014.

Pasca bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 ini, beberapa titik retakan baru telah muncul di lereng Gunung Telagalele. Misalnya di teras SD Negeri 3 Sampang (dusun Tekik), di jalan desa ke dusun Gondang dan tepat di atas mahkota longsor Jemblung. Di luar Gunung Telagalele, retakan-retakan juga terdeteksi di dusun Slimpet desa Tlaga (kecamatan Punggelan) dan di desa Bandingan (kecamatan Sigaluh). Titik-titik retakan baru ini bisa jadi merupakan gejala pendahuluan tanah longsor yang akan datang.

Titik-titik ini perlu segera ditangani dengan jalan segera ditutup tanah hingga rata. Juga perlu untuk terus dipantau apakah ada tanda-tanda pendahuluan lainnya seperti mulai merosotnya lereng, mulai miringnya pepohonan/tiang listrik ataupun mulai menegangnya kabel listrik yang melintas di atas lokasi. Selain itu bagaimana skenario terburuk terkait besarnya luncuran tanah dan arahnya pun musti mulai dipikirkan. Dalam konteks inilah pencitraan aerial berbasis PUNA/drone menjadi penting peranannya untuk mengevaluasi status lereng tersebut. Apalagi dengan kemampuannya yang melebihi resolusi citra satelit penginderaan bumi dan ongkos operasionalnya yang relatif murah. Agar kelak korban tak lagi berjatuhan…

Referensi :

KataDesa.

Citra Udara Dampak Longsor Jemblung di Youtube.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Merdeka. 2014. Cerita Rumah Putih yang Selamat dari Longsor Hebat Banjarnegara. Laman Merdeka.com, reportase Chandra Iswinarno, 19 Desember 2014.

Longsor Dahsyat Jemblung dan Takdir Kebumian Banjarnegara

Senja menjelang tiba di segenap Kabupaten Banjarnegara, propinsi Jawa Tengah, pada Jumat 12 Desember 2014 Tarikh Umum (TU) lalu. Dalam kondisi normal panoramanya bakal memukau siapapun, saat langit berangsur-angsur menjadi memerah tembaga di kala Matahari memerah dan meredup, pemandangan yang selalu menimbulkan kesan spiritual dan relijius. Namun sore itu tak satupun yang dapat disaksikan. Bahkan seberkas sinar Matahari tak juga nampak. Banjarnegara sedang kehujanan. Titik-titik air hujan yang sangat deras meredam segenap kabupaten tersebut sejak sehari sebelumnya. Stasiun geofisika kelas III Banjarnegara yang dioperasikan oleh BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) mencatat curah hujan sepanjang Kamis 11 Desember 2014 TU mencapai 112,7 milimeter. Dan sehari kemudian curah hujannya masih sebesar 101,8 milimeter. Dalam dua hari saja saja intensitas hujan yang mengguyur seantero Banjarnegara telah sebesar 214,5 milimeter. Di waktu-waktu lalu, pada umumnya curah hujan sebanyak itu membutuhkan waktu sebulan Desember penuh (rata-rata) dalam menjatuhi segenap Banjarnegara. Jelas sudah, dengan volume air hujan yang setara dengan yang rata-rata diguyurkan selama 31 hari penuh, hujan sepanjang 11 hingga 12 Desember 2014 di Banjarnegara berkualifikasi hujan sangat deras atau hujan ekstrim.

Gambar 1. Wajah dusun Jemblung, desa Sampang (Banjarnegara) antara sebelum dan sesudah bencana tanah longsor dahsyat 12 Desember 2014 TU. Citra sebelum bencana diambil dari sisi utara jalan raya Banjarnegara-Dieng menghadap ke barat laut-utara. Nampak masjid al-Iman di latar belakang. Sementara citra sesudah bencana diambil dari lokasi yang lebih tinggi namun tidak seberapa jauh dari lokasi pengambilan citra sebelum bencana, dengan arah pandang yang sama. Nampak semua sudah berubah menjadi timbunan lumpur. Sumber: Nurmansyah, 2014.

Gambar 1. Wajah dusun Jemblung, desa Sampang (Banjarnegara) antara sebelum dan sesudah bencana tanah longsor dahsyat 12 Desember 2014 TU. Citra sebelum bencana diambil dari sisi utara jalan raya Banjarnegara-Dieng menghadap ke barat laut-utara. Nampak masjid al-Iman di latar belakang. Sementara citra sesudah bencana diambil dari lokasi yang lebih tinggi namun tidak seberapa jauh dari lokasi pengambilan citra sebelum bencana, dengan arah pandang yang sama. Nampak semua sudah berubah menjadi timbunan lumpur. Sumber: Nurmansyah, 2014.

Hujan yang sangat deras ini membuat sekujur Banjarnegara menggigil dan berharap-harap cemas. Kabar meluapnya Sungai Serayu, sungai utama di kabupaten ini, sembari mengalirkan arusnya demikian deras pun menyebar kemana-mana. Sedemikian berlimpah air sungai ini sehingga tinggi genangan di Waduk Panglima Besar Sudirman (Mrica), yang ada di aliran sungai Serayu, pun mencapai maksimum dalam waktu singkat. Akibatnya pengelola dipaksa membuka pintu-pintu pelimpas air (spillway)-nya untuk tetap menjaga keamanan bendung. Air Serayu pun menderas ke hilir dan sempat menenggelamkan sejumlah rumah. Kabar tak berkeruncingan pun menyebar kemana-mana, mewartakan waduk telah bobol dan menenggelamkan hilir sungai meski hal ini segera dibantah oleh pengelola bendungan. Titik-titik tanah longsor pun bermunculan dimana-mana di kabupaten ini. Namun yang terburuk belumlah tiba.

Pada Jumat senja itu mayoritas penduduk dusun Jemblung, desa Sampang, kecamatan Karangkobar lebih memilih meriung di kediamannya masing-masing. Hujan sangat deras hari itu baru saja berlalu. Namun titik-titik air yang lebih lembut masih berjatuhan, membuat orang-orang enggan keluar. Dusun sederhana berhawa sejuk itu terletak pada elevasi 930 hingga 940 meter dpl (dari paras air laut rata-rata). Mayoritas penduduk bergelut di dunia pertanian. Dusun ini nyaris tak dikenal orang luar Karangkobar, meski berada di jalur jalan raya utama yang menghubungkan kota Banjarnegara dengan Leksana (ibukota kecamatan Karangkobar) dan Dataran Tinggi Dieng. Jalan raya yang sama juga menjadi salah satu poros penghubung Banjarnegara dengan Pekalongan di utara. Jalan tersebut telah beraspal mulus dengan kualitas baik, meski naik turun dan penuh tikungan. Terdapat sekitar 150 rumah di dusun ini. Desa Sampang sendiri berpenduduk lebih dari 2.000 jiwa dengan 1.805 orang diantaranya terdaftar sebagai pemilih dalam daftar pemilih tetap pilpres 2014 lalu seperti dipublikasikan KPU (Komisi Pemilihan Umum).

Gambar 2. Panorama dusun Jemblung, desa Sampang (Banjarnegara) dari langit dalam citra Google Earth pra bencana. Nampak bentangan jalan raya Banjarnegara-Dieng/Banjarnegara-Pekalongan, sungai Petir dan masjid al-Iman. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth.

Gambar 2. Panorama dusun Jemblung, desa Sampang (Banjarnegara) dari langit dalam citra Google Earth pra bencana. Nampak bentangan jalan raya Banjarnegara-Dieng/Banjarnegara-Pekalongan, sungai Petir dan masjid al-Iman. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth.

Situasi berubah dramatis pada pukul 17:00 WIB. Didahului suara mirip ledakan keras hingga dua kali, lereng sisi utara Gunung Telagalele yang persis ada di hadapan dusun ini mendadak longsor. Materialnya mengalir deras tak tertahankan ke kaki gunung. Hampir segenap dusun beserta penduduknya kontan terkubur di bawah timbunan lumpur tebal. Longsor dahsyat ini juga menimbun jalan raya beserta kendaraan apapun yang sedang melintasinya saat itu. Hanya dalam lima menit, lansekap yang semula indah kini berubah menjadi timbunan tanah yang mengerikan. Luas kawasan yang terkena hantaman longsor dalam bencana dahsyat ini mencapai tak kurang dari 15 hektar dan sebagian menyumbat Sungai Petir, salah satu anak sungai Merawu dalam DAS (daerah aliran sungai) Serayu. Hingga Minggu 13 Desember 2014 TU, tim evakuasi yang kini sudah beranggotakan lebih dari 2.000 orang dari segenap eksponen relawan telah menemukan 42 jasad korban. Dari perkiraan 108 jasad yang terkubur, maka masih ada 66 orang yang belum ditemukan. Ribuan penduduk baik dari desa Sampang maupun desa-desa sekitarnya telah diungsikan ke tempat-tempat pengungsian sementara, seiring Gunung Telagalele dan bukit-bukit lainnya di sini yang masih labil. Nama Jemblung dan Sampang pun sontak menjadi episentrum perhatian hingga skala nasional.

Lempung dan Napal

Skala kedahsyatan bencana longsor Jemblung (Sampang) 2014 ini menggamit kembali ingatan akan sejumlah bencana sejenis yang menerpa Banjarnegara dalam setengah abad terakhir. Misalnya bencana longsor Gunungraja (Sijeruk) 2006, yang terjadi pada 4 Januari 2006 TU dan merenggut 90 nyawa dengan 76 jasad korban berhasil ditemukan dan 14 sisanya tetap hilang. Atau bencana longsor Legetang (Kepakisan) 1955 yang spektakuler, yang terjadi pada 16 April 1955 TU akibat ambrolnya lereng Gunung Pengamun-amun di Dataran Tinggi Dieng dan menimbun tak kurang dari 351 orang. Ketiga bencana longsor dahsyat itu pun harus disandingkan pula dengan bencana longsor dalam skala yang lebih kecil lainnya di Banjarnegara. Dalam kurun lima tahun terakhir, kabupaten ini berhadapan dengan 15 peristiwa tanah longsor atau rata-rata tiga peristiwa longsor per tahun. Semua bencana longsor menimbulkan kerugian material yang besar dan beberapa diantaranya bahkan merenggut korban jiwa, meski tak sefantastis bencana longsor dahsyat Legetang, Gunungraja dan Jemblung. Pada saat yang sama dengan bencana longsor dahsyat Jemblung ini, Banjarnegara pun sedang berhadapan dengan tak kurang dari 66 titik longsor lainnya.

Mengapa bencana tanah longsor seakan jadi penyakit kambuhan bagi Banjarnegara?

Gambar 3. Panorama dusun Jemblung, desa Sampang (Banjarnegara) dalam citra Google Earth pra bencana ke arah timur-timur laut. Tanda panah kuning menunjukkan arah gerakan tanah saat bencana longsor dahsyat 12 Desember 2014 TU. Sementara garis putus-putus menandakan perkiraan batas daerah yang tertimbun tanah dalam bencana tersebut. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth.

Gambar 3. Panorama dusun Jemblung, desa Sampang (Banjarnegara) dalam citra Google Earth pra bencana ke arah timur-timur laut. Tanda panah kuning menunjukkan arah gerakan tanah saat bencana longsor dahsyat 12 Desember 2014 TU. Sementara garis putus-putus menandakan perkiraan batas daerah yang tertimbun tanah dalam bencana tersebut. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth.

Faktor utamanya terletak pada geologi Banjarnegara yang unik, khususnya kawasan Karangkobar-Merawu yang menjadi bagian sub-DAS Merawu. Kawasan ini merupakan bagian dari mandala Pegunungan Serayu Utara yang topografinya relatif bergelombang yang lereng-lerengnya setengah terjal hingga terjal. Segenap kecamatan Karangkobar terletak di dalam pegunungan ini, dengan gunung-gunungnya memiliki kemiringan lereng antara 15 hingga 40 %. Kawasan Karangkobar-Merawu ini dialasi oleh batuan sedimen lempung dan napal hasil rombakan gunung berapi jauh di masa silam. Permukaannya ditutupi tanah hasil pelapukan yang cukup tebal. Hal ini masih ditambah dengan tercabik-cabiknya kawasan Karangkobar-Merawu akibat aktivitas tektonik nun jauh di masa silam, yang membuat kawasan ini dibelah-belah dan ditekan hebat demikian rupa oleh beragam sesar (patahan) yang saling bersilang-siur dan aktif pada masanya. Kini sesar-sesar itu telah lama mati, namun imbasnya masih bisa dirasakan dalam wujud rapuhnya lempung dan napal yang mengalasi kawasan Karangkobar-Merawu. Lempung dan napal tersebut cukup sarang sehingga mampu menyimpan air namun juga membuatnya mudah longsor bila kandungan airnya telah jenuh.

Kekhasan ini masih ditambah dengan terus bergeraknya kawasan Karangkobar-Merawu akibat desakan dari dalam dari arah selatan. Desakan yang masih terus berlangsung membuat lempung dan napal seakan diremas-remas. Sejumlah gunung batu relatif padat, yang adalah sisa intrusi magmatik nun jauh di masa silam dan relatif tahan terhadap pengikisan oleh cuaca, pun turut terdorong oleh desakan tersebut hingga terputus dari akarnya. Situasi ini kian menambah rapuh lempung dan napal di segenap kawasan Karangkibar-Merawu. Tak heran jika tingkat erosi di sini demikian tinggi, bahkan meskipun vegetasi (tumbuhan) berkayu yang rapat masih menutupi lereng-lerengnya dengan baik. Tanah pucuk (topsoil) yang dihanyutkan air lantas mengalir ke sungai-sungai kecil yang menjadi bagian sub-DAS Merawu. Hampir tiga perempat abad silam geolog legendaris van Bemmelen menyebut Sungai Merawu adalah sungai paling berlumpur di Indonesia. Tingginya erosi di sub-DAS Merawu memberikan kontribusi cukup besar bagi sedimentasi Waduk Panglima Besar Sudirman. Setiap tahunnya waduk ini dimasuki sedimen sebanyak 2,4 juta meter kubik. Sedimentasi tersebut setara dengan lumpur/tanah yang diangkut 1.300 dump truck kapasitas 5 meter kubik dalam setiap harinya. Selain erosi yang sangat tinggi, kekhasan kawasan Karangkobar-Merawu juga menjadikannya kawasan yang sangat rentan terhadap bencana tanah longsor baik dalam skala kecil maupun besar. Tak heran jika PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) menempatkan mayoritas kecamatan Karangkobar ke dalam zona kerentanan gerakan tanah menengah (zona kuning) dan tinggi (zona merah).

Gambar 4. Peta zona kerentanan gerakan tanah untuk kecamatan Karangkobar dan sekitarnya dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Lingkaran merah menunjukkan lokasi bencana tanah longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014. Nampak lokasi bencana dan sekitarnya didominasi oleh zona rentan gerakan tanah menengah (zona kuning) dan zona rentan gerakan tanah tinggi (zona merah). Sumber: PVMBG, t.t.

Gambar 4. Peta zona kerentanan gerakan tanah untuk kecamatan Karangkobar dan sekitarnya dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Lingkaran merah menunjukkan lokasi bencana tanah longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014. Nampak lokasi bencana dan sekitarnya didominasi oleh zona rentan gerakan tanah menengah (zona kuning) dan zona rentan gerakan tanah tinggi (zona merah). Sumber: PVMBG, t.t.

Bencana tanah longsor dahsyat di kawasan Karangkobar-Merawu umumnya disebabkan akumulasi air hujan dalam lereng setengah terjal hingga terjal sampai mencapai titik jenuh. Selain menambah bobot lereng, akumulasi air juga membuat bagian bawah tanah lereng tersebut seakan dilumasi sehingga menciptakan bidang gelincir. Begitu lereng tak lagi sanggup menahan bobotnya sendiri, bidang gelincir membuat proses melorotnya lereng menjadi lebih mudah. Jika bidang gelincirnya berbentuk cekung, maka tanah longsor bertipe rotasional pun terjadilah. Longsor rotasional cukup khas karena mengandung energi besar sehingga saat segenap lereng merosot, ia mampu meloncatkan kaki lereng (lidah longsor) hingga beberapa puluh atau bahkan beberapa ratus meter dalam kecepatan cukup tinggi sebelum menyentuh tanah. Sementara puncak lereng (mahkota longsor) mungkin hanya beringsut beberapa meter hingga beberapa puluh meter. Loncatan ini sangat sulit dihindari. Namun bencana tanah longsor dalam skala besar tidaklah terjadi sekonyong-konyong. Selalu terdapat gejala pendahuluan sebelum peristiwa utamanya terjadi, dalam rupa terbentuk retakan-retakan di bagian atas lereng yang kemudian terus berkembang memanjang dan kian dalam menjadi retakan lengkung/retakan bulan sabit/retakan tapal kuda. Dari retakan inilah air hujan lebih mudah memasuki lereng dan terakumulasi. Tatkala hal ini sudah terjadi, bencana tanah longsor tinggal menunggu waktu.

Gambar 5. Tiga lokasi dalam Kabupaten Banjarnegara yang pernah dilanda bencana tanah longsor dahsyat hingga melenyapkan hampir segenap dusun. Masing-masing adalah dusun Legetang desa Kepakisan (kecamatan Batur), dusun Gunungraja desa Sijeruk (kecamatan Banjarmangu) dan dusun Jemblung desa Sampang (kecamatan Karangkobar). Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth.

Gambar 5. Tiga lokasi dalam Kabupaten Banjarnegara yang pernah dilanda bencana tanah longsor dahsyat hingga melenyapkan hampir segenap dusun. Masing-masing adalah dusun Legetang desa Kepakisan (kecamatan Batur), dusun Gunungraja desa Sijeruk (kecamatan Banjarmangu) dan dusun Jemblung desa Sampang (kecamatan Karangkobar). Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth.

Legetang dan Gunungraja

Hal tersebut teramati dalam bencana tanah longsor dahsyat Legetang 1955. 70 hari sebelum bencana terjadi, retakan sudah mulai terlihat di dekat puncak Gunung pengamun-amun (elevasi 2.000 meter dpl) yang berjarak sekitar 500 meter sebelah timur dusun Legetang, desa Kepakisan. Para pencari rumput dan kayu bakar di gunung yang saat itu tertutupi hutan lebat pun telah mengetahuinya. Kian lama retakan tersebut kian melebar dan juga kian dalam, mengarah ke sisi tenggara. Retakan yang terus berkembang ini sering menjadi bahan obrolan sehari-hari penduduk dusun Legetang, yang terletak pada elevasi sekitar 1.800 meter dpl. Namun tak ada yang merasa khawatir atau menduga terlalu jauh.

Situasi berubah dramatis pada pertengahan April 1955 TU. Setelah diguyur hujan lebat selama berhari-hari, lereng sisi tenggara Gunung Pengamun-amun telah demikian berat dan terlumasi dasarnya sehingga merosot ambrol dalam volume sangat besar. Penyelidikan geolog MM Purbo dari Jawatan Geologi (kini Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI) memperlihatkan kombinasi longsor bertipe rotasional dengan halangan bukit kecil dihadapannya membuat membuat lidah longsor meloncat jauh. Ia membentur bukit dihadapannya. Hingga akhirnya material longsor pun terbelokkan ke dusun Legetang setelah meloncati sebatang sungai kecil jelang tengah malam 16 April 1955 TU. Segenap dusun ini pun terkubur di bawah tumbunan tanah yang sangat tebal beserta 332 penduduknya dan 19 orang dari desa lain yang sedang bertamu ke dusun tersebut.

Gambar 6. Bagaimana bencana tanah longsor dahsyat Legetang (Kepakisan) 1955 terjadi, dalam ilustrasi berbasis citra Google Earth. Saat lereng tenggara Gunung Pengamun-amun hingga hampir ke puncaknya merosot dengan tipe rotasional (panah kuning tak terputus), materialnya segera membentur bukit dihadapannya. Sehingga berbelok arah menjadi mengubur dusun Legetang (panah kuning putus-putus). 351 orang tewas dan hanya 1 jasad yang berhasil dievakuasi. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth dan Abdrurrahman, 2013.

Gambar 6. Bagaimana bencana tanah longsor dahsyat Legetang (Kepakisan) 1955 terjadi, dalam ilustrasi berbasis citra Google Earth. Saat lereng tenggara Gunung Pengamun-amun hingga hampir ke puncaknya merosot dengan tipe rotasional (panah kuning tak terputus), materialnya segera membentur bukit dihadapannya. Sehingga berbelok arah menjadi mengubur dusun Legetang (panah kuning putus-putus). 351 orang tewas dan hanya 1 jasad yang berhasil dievakuasi. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth dan Abdrurrahman, 2013.

Bentang lahan Legetang pun berubah dramatis dari semula cekungan di sebuah lembah menjadi gundukan sedikit membukit. Dari 351 korban jiwa itu, hanya jasad kepala dusun yang berhasil dievakuasi. Sisanya terlalu sulit untuk digali akibat tebalnya timbunan tanah. Bencana dahsyat ini sontak menggemparkan masyarakat Banjarnegara khususnya di Dataran Tinggi Dieng. Penduduk segera menghubung-hubungkan bencana ini dengan sikap warga dusun Legetang, yang jauh dari kehidupan religius. Kini di ‘bukit’ yang menimbun Legetang terdapat sebuah tugu beton sebagai pengingat akan bencana yang paling mematikan di Dataran Tinggi Dieng dan Banjarnegara.

Hal serupa juga terjadi jelang bencana longsor dahsyat Gunungraja. Bahkan retakan di lereng bukit Pawinihan sudah terdeteksi semenjak 2004, atau dua tahun sebelumnya. Retakan tersebut terus berkembang dan melebar akibat erosi parit. Hingga dua minggu jelang bencana, retakan ini telah sepanjang 25 meter dengan lebar 1 hingga 2 meter sedalam 4 meter. Lebih tak menguntungkan lagi, erosi parit juga membuat ujung parit ini terbendung oleh material erosi sehingga air tak leluasa mengalir. Namun sepanjang waktu itu tidak ada langkah antisipasi. Meski demikian hingga November 2005 TU bencana relatif terhindarkan seiring masih seimbangnya arus keluaran air (lewat kemampuan tanah bukit untuk menyerap air) dengan arus masukan air (dari air hujan).

Situasi berubah dramatis pada November 2005 TU saat tanah di kaki bukit diperkeras dengan aspal sebagai jalan raya lokal yang menghubungkan dusun Gunungraja Wetan dengan dusun Kendaga, keduanya dalam wilayah desa Sijeruk. Pengaspalan jalan lokal ini jelas bertujuan baik, untuk memperlancar arus transportasi setempat dengan efek multidimensinya. Namun dalam analisis pascabencana yang dilakukan tim Dewan Riset Daerah (DRD) Jawa Tengah, pengaspalan jalan di kaki bukit membuat keseimbangan terganggu. Kini arus masukan air menjadi lebih besar dari arus keluarannya. Puncaknya terjadi pada selang waktu antara 27 Desember 2005 hingga 4 Januari 2006 TU, saat Banjarnegara diguyur hujan lebat. Masukan air di lereng bukit Pawinihan itu pun meningkat hebat tanpa diimbangi oleh peningkatan kemampuan keluaran air. Lereng yang jenuh air membuat bobotnya bertambah besar sembari menciptakan bidang gelincir didasarnya. Maka bencana tanah longsor dahsyat pun terjadilah, tak peduli bahwa lereng bukit itu masih tertutupi tumbuh-tumbuhan berakar tunggang dengan baik. Sebagian dusun Gunungraja pun lenyap di bawah timbunan tanah, yang merenggut nyawa 90 orang dari sekitar 600 orang penduduknya.

Gambar 7. Bagaimana bencana tanah longsor dahsyat Gunungraja (Sijeruk) 2006 terjadi, dalam ilustrasi berbasis citra Google Earth. Saat lereng timur Bukit Pawinihan merosot dengan tipe rotasional (panah kuning)materialnya segera meloncat dan mengubur dusun Gunungraja. 90 orang tewas dan 76 jasad yang berhasil dievakuasi. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth dan data dari Sutopo & Wilonoyudho, 2006.

Gambar 7. Bagaimana bencana tanah longsor dahsyat Gunungraja (Sijeruk) 2006 terjadi, dalam ilustrasi berbasis citra Google Earth. Saat lereng timur Bukit Pawinihan merosot dengan tipe rotasional (panah kuning)materialnya segera meloncat dan mengubur dusun Gunungraja. 90 orang tewas dan 76 jasad yang berhasil dievakuasi. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth dan data dari Sutopo & Wilonoyudho, 2006.

Bagaimana dengan longsor dahsyat Jemblung?

Relawan MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Centre) yang sempat melakukan assessment sebelum bencana menyebutkan telah ada retakan di lereng utara Gunung Telagalele semenjak sebulan sebelum bencana. Retakan tersebut bahkan telah berkembang seiring datangnya musim penghujan. Berkaca dari pengalaman longsor dahsyat Gunungraja, yang hanya berjarak 5 kilometer di selatan dusun Jemblung, maka sejumlah langkah antisipasi telah dilakukan. Penduduk yang bermukim di rumah-rumah yang persis ada di bawah retakan pun telah dievakuasi. Dapat dikatakan bahwa penduduk dusun Jemblung telah mengetahui potensi longsor tersebut dan telah melakukan antisipasi. Satu hal yang belum jelas benar adalah seberapa jauh longsor yang bakal terjadi itu melanda. Anggapan yang berkembang, longsor yang bakal terjadi mungkin berskala kecil hingga sedang. Sehingga evakuasi hanya dilakukan di rumah-rumah di lereng, yang posisinya paling dekat ke retakan.

Asumsi ini ternyata tak terbukti. Longsor yang benar-benar terjadi ternyata berskala besar. Analisis tim respon cepat bencana UGM (Universitas Gadjah Mada) menyebut lereng yang longsor berdimensi tinggi 100 meter dan lebar 500 meter. Tipe longsornya mungkin rotasional, yang membuat lidah longsor meloncat dan menerjang hingga sejauh 600 meter. 35 rumah dan 1 masjid (Masjid al-Iman) bersama dengan penggal jalan raya Banjarnegara-Dieng tertimbun material longsor hingga bermeter-meter. Dari 308 penduduknya, 200 orang diantaranya berhasil menyelamatkan diri. Longsor dahsyat Jemblung merupakan yang terbesar di antara 34 titik tanah longsor lainnya yang berhasil ditemukan. Seluruhnya terletak di kawasan Karangkobar.

Gambar 8. Panorama dusun Jemblung, desa Sampang (Banjarnegara) dan Gunung Telagalele dalam ilustrasi berbasis citra Google Earth dengan arah pandang ke selatan. Garis putus-putus menunjukkan perkiraan posisi asal material longsor. Tanda panah kuning menunjukkan arah gerakan tanah dalam bencana longsor dahsyat tersebut. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth dan keterangan Azizah, 2014.

Gambar 8. Panorama dusun Jemblung, desa Sampang (Banjarnegara) dan Gunung Telagalele dalam ilustrasi berbasis citra Google Earth dengan arah pandang ke selatan. Garis putus-putus menunjukkan perkiraan posisi asal material longsor. Tanda panah kuning menunjukkan arah gerakan tanah dalam bencana longsor dahsyat tersebut. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth dan keterangan Azizah, 2014.

Pasca bencana, tim kaji cepat yang beranggotakan UGM, BMKG, PVMBG, LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) dan lainnya memperlihatkan potensi bencana masih tetap membayangi dusun Jemblung ke depan. Potensi pertama datang dari material longsoran yang sebagian membendung sungai Petir. Jika hujan deras, bendungan ini akan menghalangi air sungai untuk beberapa saat sebelum kemudian jebol menjadi banjir bandang. Sementara potensi kedua datang dari mahkota longsor. Di sini terdapat telaga sepanjang 30 meter yang digenangi air hingga sedalam 1 meter. Bila hujan deras kembali mengguyur, air dalam telaga ini dapat menekan tanah dibawahnya yang telah demikian lunak dan rapuh sehingga longsor dapat kembali terjadi. Bahkan dalam prediksi terburuk, skala bencananya bisa melampaui apa yang barusan dusun Jemblung alami!

Antisipasi

Dalam bencana tanah longsor pada umumnya, sedikitnya ada tiga faktor yang berkontribusi. Dalam kasus Banjarnegara khususnya di kawasan Karangkobar-Merawu, faktor pertama adalah kondisi geologi yang unik. Faktor kedua adalah hujan deras hingga hujan ekstrim. Dan faktor ketiga adalah tersumbatnya drainase sehingga air tidak bisa terbebas dengan leluasa dari lereng yang berpotensi longsor. Faktor pertama dan kedua adalah faktor yang terberi (given), atau sudah dari sononya demikian. Sehingga tak bisa dikendalikan manusia. Namun berbeda dengan faktor ketiga. Manusia dapat mengelola drainase lereng, sehingga tingkat kejenuhan airnya dapat direduksi. Saluran-saluran drainase sederhana dapat dibangun untuk keperluan itu. Di samping itu retakan yang sudah terbentuk harus segera ditimbuni lagi hingga rata. Juga tak boleh ada penggalian baik di lereng maupun kaki lereng, baik kecil-kecilan apalagi besar, atas alasan apapun.

Gambar 9. Citra medan pandang lebar (wide-field) lokasi bencana tanah longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014, diambil Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi per 13 Desember 2014 TU. Arah pandang ke selatan-tenggara. Nampak posisi mahkota longsor dan telaga/genangan air tepat dibawahnya. Sumber: PVMBG, 2014.

Gambar 9. Citra medan pandang lebar (wide-field) lokasi bencana tanah longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014, diambil Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi per 13 Desember 2014 TU. Arah pandang ke selatan-tenggara. Nampak posisi mahkota longsor dan telaga/genangan air tepat dibawahnya. Sumber: PVMBG, 2014.

Bencana tanah longsor senantiasa membayangi Banjarnegara sebagai implikasi dari takdir kembumiannya yang unik. Takdir yang membuat tanah di sini sangat subur dan dapat ditumbuhi beragam tanaman budidaya. Takdir yang juga menjadikannya kawasan berpanorama indah dan sejuk. Jika dikelola dengan baik, dua hal tersebut dapat menjadikan Banjarnegara gemah ripah loh jinawi. Namun high risk high gain, di balik segala keuntungan tersebut tersembunyi pula bakat marabahaya. Di masa beratus hingga ribuan tahun silam, potensi bencana tanah longsor mungkin tak menjadi masalah besar seiring jumlah penduduk yang masih jarang. Namun kini jumlah penduduk telah berlipat ganda, sehingga resikonya semakin besar. Maka patut disambut baik upaya tim UGM beserta institusi lainnya untuk memetakan potensi longsor Banjarnegara hingga ke tingkat dusun (sub-desa). Patut disambut pula gagasan gubernur Jawa Tengah untuk menransmigrasikan lokal penduduk dusun Jemblung yang masih tersisa. Gagasan transmigrasi lokal atau relokasi yang masih tetap berada dalam lingkup Banjarnegara patut dikembangkan tak hanya untuk dusun Jemblung pasca bencana. Namun juga untuk dusun-dusun lain yang kelak diketahui memiliki potensi longsor yang tinggi. Agar kelak korban tak lagi berjatuhan…

Bahan acuan :

Oman Abdurrahman. 2013. Geologi Linewatan, dari Tasikmalaya hingga Banjarnegara. Geomagz, vol. 3 no. 1 (Maret 2013), hal. 54-79.

PVMBG. 2014. Tanggapan Bencana Gerakan Tanah Di Kecamatan Sigaluh, Kecamatan Pejawaran dan Kecamatan Karang Kobar, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI, 12 Desember 2014.

Buku Putih Sanitasi Kabupaten Banjarnegara. 2011.

Sutopo & Wilonoyudho. 2006. Analisis Tanah Longsor Banjarnegara. Wacana Suara Merdeka, 26 Januari 2006.

Daryono. 2014. komunikasi personal.

Ima Azizah. 2014. komunikasi personal.

Twitter Nurmansyah (@nurmansali). 2014.

Detik. 2014. Ini Hasil Investigasi UGM soal Aspek Geologi Bencana Longsor Banjarnegara. Laman DetikNews, reportase Sukma Indah Permana, 15 Desember 2014.

Tempo. 2014. Kolam Raksasa pada Sumber Longsor Banjarnegara. Laman Tempo.co, reportase Aris Andrianto, 15 Desember 2014.

Karangbolong, Jejak Gunung Berapi Purba di Pesisir Kebumen

Gudangnya pantai eksotis! Barangkali kata itu yang bakal terucap kala kita menyusuri pesisir Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah). Betapa tidak. Banyak pantai indah yang bisa dijumpai di kabupaten yang memiliki garis pantai sepanjang 58 kilometer itu. Jika kita mulai dari sebelah timur sembari menyusuri jalur jalan raya lintas selatan yang masih dalam pembangunan dan lebih populer dengan akronim jalur JSS, kita akan bersirobok dengan pantai Lembupurwo yang berlaguna dan datar. Beringsut sedikit ke barat akan dijumpai pantai Bocor nan datar yang berbenteng bukit-bukit pasir. Di sini terdapat kolam-kolam renang air tawar semi permanen yang sengaja dibuat dengan airnya berasal dari sumur-sumur dangkal yang dibor persis di bibir pantai. Bergeser lagi ke barat akan dijumpai pantai Tegalretno, pantai perawan yang juga datar dan berlaguna. Melipir ke barat lagi kita akan bertemu dengan pantai Karanggadung (Petanahan) yang sudah lebih dulu ngetop. Pantai ini juga merupakan pantai datar yang berhias bukit-bukit pasir. Bukit-bukit pasir tersebut terus merentang hingga ke barat hingga mendekati pantai Suwuk.

Gambar 1. Pantai berlaguna Lembupurwo (atas) dan pantai berbukit pasir Karanggadung/Petanahan (bawah). Dua pantai tersebut merepresentasikan pantai dataran rendah di Kabupaten Kebumen. Sumber: LintasKebumen, 2014 & Sudibyo, 2006.

Gambar 1. Pantai berlaguna Lembupurwo (atas) dan pantai berbukit pasir Karanggadung/Petanahan (bawah). Dua pantai tersebut merepresentasikan pantai dataran rendah di Kabupaten Kebumen. Sumber: LintasKebumen, 2014 & Sudibyo, 2006.

Karst Karangbolong

Namun pantai-pantai yang lebih eksotis baru bisa dijumpai saat kita tiba di Tanjung Karangbolong, kawasan berbukit-bukit kapur yang menjuntai hingga bibir pantai dan menyajikan bentanglahan berpanorama demikian indah. Di tubir tanjung sebelah timur terdapat pantai Suwuk, tempat dimana sejumlah sungai bermuara dengan bentanglahan bertransisi dari pedataran menjadi tinggian berbukit-bukit. Dari pantai yang sudah tertata rapi ini beringsutlah ke barat dengan menyeberangi sungai Telomoyo yang besar. Atau jalankan kendaraan anda menyusuri jalus JSS dan maksimalkan tenaga kendaraan karena kita akan melewati jalan menanjak berkelak-kelok di antara bukit-bukit. Di perhentian pertama terdapat pantai Karangbolong. Pantai ini bertebing terjal dan populer dengan goa-goa tepi lautnya yang menjadi tempat ribuan burung walet bersarang. Burung-burung itu menjadi ikon Kabupaten Kebumen dan di masa lalu sarang-sarang burungnya (yang berprotein sangat tinggi) diunduh secara periodik dan dipasarkan dengan nilai yang sangat mahal, sehingga menjadi salah satu komponen pendapatan daerah. Salah satu goa di sini berbentuk terowongan pendek yang mengesankan sebagai batu karang berlubang besar. Dari sinilah nama Karangbolong konon berasal (karang = batu karang, bolong = lubang). Bergeser lagi ke barat, kita akan bertemu dengan pantai Pasir yang menempati sebuah ceruk kecil berhias lengkung jembatan alamiah tepat di tubir laut lepas.

Gambar 2. Pantai Suwuk pasca bencana tsunami 2006, sebelum dikembangkan lebih lanjut menjadi obyek wisata unggulan (atas) dan jembatan lengkung alamiah tepat di tubir laut lepas di pantai Pasir (bawah). Kedua pantai ini terletak di Tanjung Karangbolong, dimana pantai Suwuk merupakan pantai bermuara tepat di batas timur tanjung dan menjadi kawasan transisi daratan rendah ke tinggian berbukit-bukit. Sebaliknya pantai Pasir terletak di tengah-tengah tanjung Karangbolong sehingga berbataskan tebing curam di belakangnya. Sumber: Sudibyo, 2006.

Gambar 2. Pantai Suwuk pasca bencana tsunami 2006, sebelum dikembangkan lebih lanjut menjadi obyek wisata unggulan (atas) dan jembatan lengkung alamiah tepat di tubir laut lepas di pantai Pasir (bawah). Kedua pantai ini terletak di Tanjung Karangbolong, dimana pantai Suwuk merupakan pantai bermuara tepat di batas timur tanjung dan menjadi kawasan transisi daratan rendah ke tinggian berbukit-bukit. Sebaliknya pantai Pasir terletak di tengah-tengah tanjung Karangbolong sehingga berbataskan tebing curam di belakangnya. Sumber: Sudibyo, 2006.

Merayap lagi ke barat, kita akan bertemu dengan dua pantai berceruk lainnya, yakni pantai Pecaron (Srati) dan pantai Karangbata. Kedua pantai dipagari oleh tebing-tebing terjal, namun bila pantai Pecaron beralaskan pasir halus dengan bongkah-bongkah karang beraneka ukuran terserak disana-sini, maka pantai Karangbata melulu berlandaskan bongkahan-bongkahan batu hitam seukuran batubata. Tepat di sebelah barat pantai Karangbata akan kita jumpai pantai Menganti, sang obyek wisata primadona baru yang kini sedang menjadi buah bibir dimana-mana. Berbeda dengan pantai-pantai yang sudah tersebut tadi, pantai Menganti beralaskan pasir putih. Antara pantai Karangbata dan Menganti hanya berbataskan sebuah tanjung kecil yang disebut tanjung Karangbata. Jika kendaraan kita terus pacu ke barat menyusuri jalan yang naik-turun, sebuah pantai berceruk lagi akan kita jumpai, yakni pantai Pedalen. Dari sini kencangkan rem kendaraan anda, karena jalan ke arah barat terus menurun hingga akhirnya berujung tubir barat Tanjung Karangbolong, ke sebuah obyek wisata yang tertata dan cukup populer: pantai Logending. Seperti halnya pantai Suwuk, pantai Logending merupakan tempat sebuah sungai bermuara dengan bentanglahan bertransisi dari pedataran menjadi tinggian berbukit-bukit.

Gambar 3. Ombak memecah jelang tiba di pantai Menganti, diabadikan dari pucuk tebing terjal di belakang pantai (atas) dan wajah sebagian kecil pantai Logending di sekitar muara sungainya diabadikan dari lokasi tempat pelelangan ikan (TPI) Logending pasca bencana tsunami 2006 (bawah). Sumber: Sudibyo, 2006.

Gambar 3. Ombak memecah jelang tiba di pantai Menganti, diabadikan dari pucuk tebing terjal di belakang pantai (atas) dan wajah sebagian kecil pantai Logending di sekitar muara sungainya diabadikan dari lokasi tempat pelelangan ikan (TPI) Logending pasca bencana tsunami 2006 (bawah). Sumber: Sudibyo, 2006.

Segenap pantai indah yang membentang di antara pantai Suwuk dan Logending tersebut berada di kawasan Tanjung Karangbolong, yang adalah kawasan kars Karangbolong atau kars Gombong selatan. Kars merupakan kawasan dengan kondisi hidrologi yang khas sebagai akibat dari batuan yang mudah larut (dalam hal ini batu kapur/gamping) dan memiliki porositas sekunder yang berkembang dengan baik. Sebagai akibatnya sebuah kawasan kars memiliki beberapa ciri khas. Diantaranya adalah mempunyai cekungan tertutup/lembah kering dalam beragam ukuran, sangat jarang memiliki sungai di permukaan tanah dan sebaliknya memiliki drainase (sungai) bawah tanah dan goa yang melimpah. Seluruh ciri tersebut ada di kars Karangbolong. Tingginya curah hujan dan banyaknya retakan-retakan yang memotong batu gamping membuat kars Karangbolong diwarnai bukit-bukit mirip kerucut yang saling sambung-menyambung dengan sela-sela diantaranya berupa cekungan mirip bintang, sebuah ciri khas kegelkarst. Terdapat sedikitnya 69 buah goa kapur di kawasan ini dengan dua diantaranya cukup populer dan menjadi obyek wisata andalan Kabupaten Kebumen, yakni goa Jatijajar dan goa Petruk. Itu belum termasuk goa-goa di pantai Karangbolong, yang bukanlah goa kapur. Sejumlah goa tersebut juga dialiri sungai bawah tanah nan deras dan beberapa diantaranya menjadi air terjun dalam goa. Di sejumlah titik, sungai-sungai bawah tanah itu menyeruak keluar dari dalam tanah menjadi sungai permukaan. Bahkan di goa Surupan yang terletak di sebelah barat pantai Menganti, aliran air sungai bawah tanah yang baru saja keluar dari goa langsung bertemu tebing terjal di bibir pantai, menjadi air terjun Sawangan yang unik. Semuanya sungguh panorama alam yang luar biasa, anugerah terberi dari Illahi.

Gambar 4. Dua sisi yang memperlihatkan keunikan sungai bawah tanah di kars Karangbolong. Sungai bawah tanah yang mengalir di dalam goa Surupan keluar menjadi air terjun Sawangan dan kembali menjadi sungai permukaan tanah meski hanya mengalir sejauh 150 meter sebelum bertemu laut (atas). Salah satu titik keluarnya sungai bawah tanah menjadi sungai permukaan di Kalikarag, yang dimanfaatkan penduduk setempat untuk pemandian. Sumber: Arif, dalam Lintas Kebumen, 2014 & Supriatna, t.t.

Gambar 4. Dua sisi yang memperlihatkan keunikan sungai bawah tanah di kars Karangbolong. Sungai bawah tanah yang mengalir di dalam goa Surupan keluar menjadi air terjun Sawangan dan kembali menjadi sungai permukaan tanah meski hanya mengalir sejauh 150 meter sebelum bertemu laut (atas). Salah satu titik keluarnya sungai bawah tanah menjadi sungai permukaan di Kalikarag, yang dimanfaatkan penduduk setempat untuk pemandian. Sumber: Arif, dalam Lintas Kebumen, 2014 & Supriatna, t.t.

Gunung Berapi Purba

Namun kars Karangbolong tak hanya melulu diwarnai bebatuan gamping. Di titik-titik tertentu di tepi laut dijumpai bebatuan ‘aneh’ yang sama sekali berbeda. Bebatuan ini hitam/gelap, keras dan mirip dengan bebatuan beku yang bisa kita jumpai di kawasan gunung berapi sebagai hasil dari pembekuan lava. Selain itu di titik lainnya juga dijumpai bebatuan ‘aneh’ lainnya. Bebatuan itu terlihat sebagai batu gamping namun anehnya sangat kaya dengan silika. Bahkan dijumpai juga batu kapur yang mengandung emas. Silika dan emas pada dasarnya merupakan mineral khas yang normalnya hanya bisa dijumpai dalam batuan beku. Sementara di tengah-tengah bukit kapur, dijumpai sedikitnya tiga buah bukit ‘aneh’ yang juga tersusun oleh bebatuan beku. Maka kesimpulan berani pun menyeruak : jauh di masa silam di kawasan ini pernah berdiri tegak beberapa gunung berapi yang kini hanya ada sisa-sisanya sebagai gunung berapi purba. Inilah gunung-gunung berapi purba Karangbolong.

Apa sih gunung berapi purba itu?

Pada dasarnya gunung berapi adalah sebuah titik atau bukaan yang menjadi tempat keluarnya bubur batu panas membara (magma) beserta gas-gas vulkanik keluar permukaan Bumi dengan produk menumpuk di sekeliling titik pengeluaran tersebut membentuk gundukan baik kecil maupun besar. Titik/bukaan tempat pengeluaran itu dinamakan kawah jika berukuran kecil, atau kaldera jika berukuran sangat besar (dengan diameter melebihi 2 kilometer). Sebuah gunung berapi dapat terbentuk di tengah-tengah sebuah lempeng tektonik (intralempeng) maupun di perbatasan antar lempeng tektonik sebagaimana gunung-gunung berapi di Indonesia. Dan gunung berapi dapat terbentuk baik di daratan maupun di dasar laut, dengan ciri khasnya masing-masing.

Saat sebuah gunung berapi aktif kita iris secara vertikal, akan terlihat penampangnya yang khas. Kawah/kaldera umumnya terletak di puncak, meski ada juga yang tidak, dan kerap disumbat oleh bekuan lava maupun kubah lava. Tepat di bawah kawah terdapat bentuk mirip pipa panjang yang menembus hingga ke perutbumi. Pipa ini disebut saluran magma (diatrema), yang berujung ke tempat penampungan magma tepat di dasar gunung berapi yang disebut kantung magma. Dari kantung magma terdapat lagi bentuk mirip pipa panjang yang menembus jauh ke bawah lagi hingga berujung di dapur magma. Dalam tubuh gunung berapi sendiri, pipa magma senantiasa bercabang-cabang dengan setiap cabang meliuk-liuk demikian rupa menembus lapisan-lapisan bebatuan vulkanik yang menyusun tubuh gunung berapi. Tidak semua cabangnya berujung ke permukaan tanah sebagai kawah, namun hanya berhenti sebagai intrusi magmatik baik dalam bentuk retas magmatik (dike), retas lempeng (sill), maupun kubah lava samar (cryptodome). Saluran magma tak pernah kosong, melainkan selalu terisi magma sisa letusan sebelumnya yang sudah mulai membatu sehingga membentuk leher vulkanik (volcanic neck). Persentuhan magma panas membara dengan batuan yang menyelubungi lokasi intrusi magmatik akan menghasilkan alterasi batuan yang khas. Seluruhnya disebut sebagai lingkungan CF (central facies).

Gambar 5. Penampang melintang gunung berapi aktif dan purba (tererosi tingkat dewasa dan lanjut) beserta contohnya. Baik gunung berapi aktif maupun purba memiliki lingkungan pengendapan batuan vulkanik yang sama. Perhatikan betapa sulitnya membedakan gunung berapi purba, baik tererosi tingkat dewasa maupun lanjut, dengan bukit-bukit non vulkanik pada umumnya jika hanya dilihat sekilas. Sumber: Hartono & Bronto, 2007. Bronto, 2012.

Gambar 5. Penampang melintang gunung berapi aktif dan purba (tererosi tingkat dewasa dan lanjut) beserta contohnya. Baik gunung berapi aktif maupun purba memiliki lingkungan pengendapan batuan vulkanik yang sama. Perhatikan betapa sulitnya membedakan gunung berapi purba, baik tererosi tingkat dewasa maupun lanjut, dengan bukit-bukit non vulkanik pada umumnya jika hanya dilihat sekilas. Sumber: Hartono & Bronto, 2007. Bronto, 2012.

Di luar lingkungan CF, tubuh gunung berapi juga menunjukkan ciri khas tersusun dari batuan vulkanik. Pada titik terdekat dengan lingkungan CF terdapat lingkungan PF (proximal facies), yakni struktur terdekat ke kawah/kaldera sehingga tersusun oleh endapan lava dan awan panas (piroklastika). Di luarnya lagi terdapat lingkungan MF (medial facies), yang tersusun oleh kombinasi endapan debu vulkanik (tuff), kerikil (lapili) serta breksi lahar. Dan di bagian yang paling luar terdapat lingkungan DF (distal facies), yang umumnya menyusun kaki gunung berapi atau lebih jauh lagi. Lingkungan DF umumnya merupakan kawasan dimana bebatuan vulkanik telah mengalami pengerjaan ulang, umumnya oleh erosi, sehingga menghasilkan breksi lahar, konglomerat, batupasir dan bahkan batu lempung.

Sebuah gunung berapi disebut gunung berapi aktif bilamana kantung magma dangkalnya masih dipasok magma secara rutin dari dapur magma. Magma tersebut kemudian dikeluarkan ke permukaan tanah sebagai letusan yang terjadi hanya pada saat-saat tertentu, bergantung pada periode letusan yang khas untuk setiap gunung berapi. Letusan tersebut bisa berupa letusan eksplosif (ledakan) yang menyemburkan gas dan material letusan ke udara, ataupun letusan efusif (leleran) yang hanya mengeluarkan magma dari kawah tanpa terlontar tinggi ke udara untuk kemudian mengalir sebagai lava dan akhirnya lahar. Dapat pula letusan yang terjadi adalah kombinasi antara letusan eksplosif dan efusif. Jika tidak sedang meletus, dapur magma gunung berapi aktif tetap menerima pasokan magma segar dari perutbumi, namun tidak langsung dikeluarkan jika tekanannya belum sanggup mendobrak/memecah magma sisa letusan sebelumnya yang mulai membatu di dalam saluran magma. Dalam keadaan tidak meletus, gunung berapi aktif umumnya tetap mengeluarkan gas-gas vulkanik dari kawahnya serta memanaskan air bawah tanah yang keluar sebagai mataair panas di sejumlah titik. Tubuh gunung berapi aktif umumnya berbentuk kerucut dan relatif mulus sebagai hasil keseimbangan antara penambahan material (akibat letusan) dengan erosi.

Sementara gunung berapi tidak aktif/padam adalah gunung berapi yang dapur magma dan kantung magma dangkalnya tidak lagi menerima pasokan magma dari perutbumi. Sehingga tak ada lagi aktivitas letusan maupun pengeluaran gas-gas vulkanik. Namun mataair panas masih ada, mengingat magma yang tersisa dalam dapur magma maupun kantung magma dangkal masih panas dan membutuhkan waktu sangat lama untuk mendingin dan membatu. Sepanjang waktu itu ia tetap memindahkan panasnya ke batuan disekelilingnya hingga cukup mampu untuk memanaskan atau bahkan mendidihkan air bawah tanah. Meski harus digarisbawahi bahwa mataair panas tidak selalu terkait dengan gejala pasca vulkanik, seperti diperlihatkan oleh mataair panas Krakal di kecamatan Alian, juga di Kabupaten Kebumen. Dapat dikatakan kawasan gunung berapi padam merupakan kawasan pasca vulkanik yang memiliki prospek bagus untuk pengembangan energi panas bumi. Seiring menghilangnya pasokan material vulkanik, maka erosi pun tanpa tanding dan bekerja memahat tubuh gunung demikian rupa. Sehingga puncak gunung berapi padam mulai menurun akibat terkikis erosi, sementara lereng-lerengnya berhias alur/jurang yang demikian dalam.

Gambar 6. Bebatuan beku mirip tiang-tiang batu yang saling bertumpuk di ujung tanjung Karangbata, pantai Menganti. Tiang-tiang batu tersebut merupakan balok yang adalah kekar kolom. Kekar kolom ini menjadi pertanda pernah ada sebuah gunung berapi purba di kawasan ini. Diabadikan oleh geolog Bambang Mertani. Sumber: Mertani, 2013.

Gambar 6. Bebatuan beku mirip tiang-tiang batu yang saling bertumpuk di ujung tanjung Karangbata, pantai Menganti. Tiang-tiang batu tersebut merupakan balok yang adalah kekar kolom. Kekar kolom ini menjadi pertanda pernah ada sebuah gunung berapi purba di kawasan ini. Diabadikan oleh geolog Bambang Mertani. Sumber: Mertani, 2013.

Dan gunung berapi purba adalah gunung berapi yang telah padam dalam jangka waktu sangat lama sehingga segenap magma yang masih tersisa didalamnya, baik di retas magmatik, retas lempeng, saluran magma maupun kantung magma dangkal dan dapur magma telah sepenuhnya mendingin dan membeku. Erosi berkuasa sepenuhnya atas tubuh gunung berapi purba dan menggerusnya demikian rupa sampai mayoritas tubuh gunung menghilang secara perlahan-lahan dibawa aliran air. Bagian yang masih tersisa kini berbentuk gundukan-gundukan membukit yang sepintas tak ada bedanya dengan bukit-bukit pada umumnya. Hanya jika komposisi batuannya dicermati sajalah baru terungkap bukit-bukit tersebut merupakan sisa gunung berapi purba. Erosi yang sama juga bisa memunculkan bebatuan beku yang membentuk retas magmatik, retas lempeng, leher vulkanik dan bahkan kubah lava samar.

Busur Vulkanik Jawa Tua

Jejak gunung berapi purba di Tanjung Karangbolong bisa ditemukan sedikitnya di tujuh lokasi. Lokasi pertama adalah lokasi yang paling eksotis, yakni di ujung tanjung Karangbata yang ada di sisi timur pantai Menganti. Di ujung tanjung ini tersingkap batuan beku kehitaman yang nampak retak-retak dan memperlihatkan panorama mirip “tiang-tiang batu” yang saling bertumpuk. Dari sejumlah potongan “tiang” yang terserak dihempas air laut diketahui bahwa “tiang-tiang” tersebut merupakan balok-balok batu. Secara geologis balok-balok batu kehitaman ini adalah lava yang membeku secara perlahan-lahan dan mengalami perekahan yang terus berkembang hingga menjadi batuan beku ber-kekar kolom (columnar joint). Pendinginan secara perlahan-lahan tersebut umumnya berlangsung saat magma menyelusup hingga kedalaman tertentu sebagai retas magmatik, retas lempeng maupun leher vulkanik. Lokasi kedua terdapat di pantai Karangbata, tepat di sisi timur tanjung Karangbata. Di sekujur pantai ini terserak bongkahan-bongkahan batu mirip batubata yang berwarna hitam. Melihat bentuknya dan jaraknya yang cukup dekat dengan singkapan kekar kolom di ujung tanjung Karangbata, dapat diduga bahwa bongkah-bongkah tersebut berasal dari kekar kolom di ujung tanjung yang terhempas gelora. Lokasi ketiga terdapat di pantai Karangbolong dan Pasir. Di sini tersingkap batuan breksi lahar. Di pantai Karangbolong, breksi lahar bahkan mengalami pengekaran dan terus berkembang disertai runtuhan hingga membentuk goa Karangbolong. Breksi lahar ini berumur Oligo-Miosen atau secara kasar berasal dari masa 30 hingga 15 juta tahun silam.

Gambar 7. Bongkah-bongkah potongan kekar kolom seukuran batubata di pantai Karangbata. Bongkah-bongkah tersebut nampaknya dihanyutkan dari lokasi singkapan kekar kolom di ujung tanjung Karangbata, yang menjadi pertanda pernah ada sebuah gunung berapi purba di kawasan ini.Sumber: Anonim, t.t.

Gambar 7. Bongkah-bongkah potongan kekar kolom seukuran batubata di pantai Karangbata. Bongkah-bongkah tersebut nampaknya dihanyutkan dari lokasi singkapan kekar kolom di ujung tanjung Karangbata, yang menjadi pertanda pernah ada sebuah gunung berapi purba di kawasan ini.Sumber: Anonim, t.t.

Lokasi keempat terletak di tebing-tebing sebelah timur pantai Logending. Secara kasat mata tak terlihat adanya jejak gunung berapi purba di sini. Namun penyelidikan lebih lanjut mengungkap sejumlah titik singkapan bebatuan yang sekilas mirip batu gamping terumbu sesungguhnya telah mengalami penggantian sebagian mineral penyusunnya dari kalsium menjadi silika. Dijumpai juga mineral/batuan yang seharusnya tak ada dalam batu gamping namun umum dijumpai dalam batuan beku produk aktivitas gunung berapi, dalam rupa jasperoid, kalsedon dan kristal kuarsa. Batu gamping terumbu yang kaya silika, jasperoid serta kristal kalsedon dan kuarsa merupakan produk dari injeksi cairan hidrotermal bersuhu relatif tinggi (lebih dari 600 derajat Celcius) yang berasal dari magma ke dalam batu gamping. Masuknya cairan panas yang bersifat asam membuat kalsium dalam batu gamping melarut digantikan oleh koloid silika. Lama kelamaan koloid ini teruapkan membentuk jel dan akhirnya padatan sebagai kristal kuarsa dan kalsedon.

Gambar 8. Breksi lahar di tebing curam sisi barat pantai Pasir (tanda panah). Breksi lahar ini juga menjadi pertanda pernah ada sebuah gunung berapi purba di kawasan ini. Sumber: Sudibyo, 2006.

Gambar 8. Breksi lahar di tebing curam sisi barat pantai Pasir (tanda panah). Breksi lahar ini juga menjadi pertanda pernah ada sebuah gunung berapi purba di kawasan ini. Sumber: Sudibyo, 2006.

Lokasi kelima terletak di Bukit Poleng, satu kilometer sebelah timur pantai Logending ke arah perbukitan. Lokasi keenam ada di Bukit Gadung, sekitar dua kilometer sebelah tenggara Bukit Poleng, Dan lokasi ketujuh ada di Bukit Arjuna, sekitar tiga kilometer sebelah utara-barat laut pantai Karangbolong. Ketiga bukit tersebut disusun oleh bebatuan beku berjenis andesit, yang berasal dari masa sekitar 17 juta tahun silam. Selain tujuh lokasi tersebut, jejak-jejak aktivitas gunung berapi purba pada umumnya juga ditemukan di sebagian wilayah Tanjung Karangbolong sebagai satuan batuan sedimen formasi Gabon. Formasi ini didominasi endapan awan panas (piroklastika) yang berasal dari letusan-letusan gunung-gunung berapi purba bawah laut pada kurun sekitar 19 juta tahun silam. Material letusan gunung-gunung berapi purba tersebut mengalir menuju ke bagian parit yang dalam di laut lalu mengendap sembari ditingkahi proses-proses pelongsoran bawah laut. Di kemudian hari endapan tersebut parit yang terisi material letusan itu terangkat perlahan-lahan hingga menjadi perairan laut dangkal yang memungkinkan binatang karang tumbuh, yang menghasilkan endapan batu gamping diatasnya. Batu gamping inilah yang komponen utama di kars Karangbolong.

Gambar 9. Salah satu lokasi dimana batu gamping terumbu diubah menjadi silika, di dekat pantai Logending (atas). Selain batu gamping berisi silika dengan urat-urat kuarsa yang mengandung emas, di sini terdapat juga kalsedon dan kristal-kristal kuarsa (bawah). Semuanya merupakan petunjuk pernah ada sebuah gunung berapi purba di kawasan ini. Sumber: Suprapto, 2010.

Gambar 9. Salah satu lokasi dimana batu gamping terumbu diubah menjadi silika, di dekat pantai Logending (atas). Selain batu gamping berisi silika dengan urat-urat kuarsa yang mengandung emas, di sini terdapat juga kalsedon dan kristal-kristal kuarsa (bawah). Semuanya merupakan petunjuk pernah ada sebuah gunung berapi purba di kawasan ini. Sumber: Suprapto, 2010.

Dari ketujuh titik tersebut dapat dikatakan bahwa lingkungan central facies gunung berapi terdapat di ujung tanjung Karangbata dan pantai Karangbata (sebagai singkapan dan bongkah-bongkah batuan beku berkekar kolom) serta di Bukit Poleng, Bukit Gadung dan Bukit Arjuna (sebagai intrusi magmatik). Sementara lingkungan distal facies gunung berapi tersingkap sebagai formasi Gabon yang mewarnai separuh Tanjung Karangbolong. Maka, mungkin ada sedikitnya empat gunung berapi purba di kawasan ini dengan saluran magmanya terdapat tanjung Karangbata, Bukit Poleng, Bukit Gadung dan Bukit Arjuna.

Tentu saja dibutuhkan penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap struktur gunung-gunung berapi purba Karangbolong ini dengan lebih detil. Namun sejauh ini dapat dikatakan bahwa kedudukan mereka tak terlepas dari gunung-gemunung berapi purba yang membentang di segenap Pegunungan Selatan, seperti yang sejauh ini telah ditemukan di Bantul, Gunungkidul, Wonogiri hingga Pacitan. Pada suatu masa, gunung-gemunung berapi purba ini pernah menjadi tulang punggung vulkanisme tanah Jawa, seperti yang dilakoni oleh 45 gunung berapi modern yang membentang dari kompleks Gunung Karang-Pulosari (Banten) hingga Gunung Ijen (Jawa Timur) di masa kini. Jika ke-45 gunung berapi modern itu membentuk busur vulkanik Jawa muda yang muncul dalam waktu kurang dari 10 juta tahun terakhir, maka gunung-gemunung berapi purba di Pegunungan Selatan (termasuk gunung berapi purba Karangbolong) merupakan bagian busur vulkanik Jawa tua yang muncul semenjak 45 juta tahun silam dan bertahan hingga paling tidak 20 juta tahun silam.

Gambar 10. Lokasi dimana jejak-jejak gunung berapi purba tersingkap dalam Tanjung Karangbolong (warna hitam), di antara sejumlah pantai eksotis di kawasan ini (warna merah muda). Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Maps.

Gambar 10. Lokasi dimana jejak-jejak gunung berapi purba tersingkap dalam Tanjung Karangbolong (warna hitam), di antara sejumlah pantai eksotis di kawasan ini (warna merah muda). Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Maps.

Pada masanya, gunung-gemunung berapi purba itu pun membentang dari barat ke timur. Namun bedanya mereka tidaklah setinggi 45 gunung berapi modern di busur vulkanik Jawa muda sekarang. Musababnya sebagian besar gunung berapi purba tersebut adalah gunung berapi laut, yang puncaknya terendam di dalam air asin. Musabab berikutnya, hampir seluruh busur vulkanik Jawa tua ini kemudian tenggelam kembali ke dasar laut sehingga memungkinkan batu gamping khas laut dangkal mengendap diatasnya. Bila hampir seluruh gunung-gemunung berapi purba itu kini berada di daratan, hal itu akibat terangkatnya busur vulkanik Jawa tua bersamaan dengan terdongkraknya bagian selatan pulau Jawa pada masa sekitar 5 juta tahun silam. Pengangkatan itu berlangsung asimetris, sehingga sisi utara busur vulkanik Jawa tua ini lebih terangkat dibanding sisi selatannya. Akibatnya gunung-gemunung berapi purba di busur vulkanik tersebut kini dalam kondisi miring ke selatan.

Gambar 11. Gambaran sederhana rekonstruksi tiga dari sejumlah gunung berapi purba di Karangbolong, dengan anggapan bahwa setiap bukit intrusi magmatik dan kekar kolom merupakan saluran magma gunung berapi purba. Pada masanya, seluruh gunung berapi purba Karangbolong merupakan gunung berapi bawah laut. Gunung purba Menganti mungkin muncul lebih dulu (dan juga mati lebih dulu) ketimbang gunung purba lainnya. SUmber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth.

Gambar 11. Gambaran sederhana rekonstruksi tiga dari sejumlah gunung berapi purba di Karangbolong, dengan anggapan bahwa setiap bukit intrusi magmatik dan kekar kolom merupakan saluran magma gunung berapi purba. Pada masanya, seluruh gunung berapi purba Karangbolong merupakan gunung berapi bawah laut. Gunung purba Menganti mungkin muncul lebih dulu (dan juga mati lebih dulu) ketimbang gunung purba lainnya. SUmber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth.

Pada masanya, aktivitas gunung-gemunung berapi purba ini secara akumulatif membentuk bagian selatan pulau Jawa dengan demikian intensif. Kini sedimen vulkanik mewarnai kawasan ini dari ujung barat Banten hingga ujung timur Jawa Timur dengan lebar sekitar 50 kilometer (dari selatan ke utara) dan ketebalan rata-rata 2.500 meter. Aktivitas vulkanik di busur vulkanik Jawa tua dipuncaki oleh gunung berapi super Semilir dengan letusannya yang amat sangat dahsyat pada masa sekitar 36 hingga 30 juta tahun silam. Kedahsyatan letusan tersebut hanya dapat disandingkan dengan amukan mahadahsyat Gunung Toba pada Letusan Toba Muda 74.000 tahun silam, yang memuntahkan tak kurang dari 2.800 kilometer kubik material letusan. Oleh sebab-sebab yang belum jelas benar, seluruh gunung berapi di busur vulkanik tua padam dan mati pada sekitar 20 juta tahun silam. Aktivitas vulkanik kemudian bergeser ke utara, ke tengah-tengah pulau Jawa, yang dimulai dalam kurun 10 juta tahun silam hingga sekarang. Terbentuklah busur vulkanik Jawa muda dengan 45 buah gunung berapinya yang sebagian besar masih aktif.

Gambar 12. Topografi sebagian pulau Jawa dengan DEM (digital elevation model) dengan lokasi busur vulkanik Jawa tua (garis merah putus-putus) dan busur vulkanik Jawa muda (garis kuning putus-putus). Lingkaran-lingkaran merah menunjukkan lokasi gunung-gemunung berapi purba yang sudah diidentifikasi di sepanjang busur vulkanik Jawa tua. Pada masanya, gunung-gunung ini rajin meletus hingga paling tidak 20 juta tahun silam. Setelah itu aktivitas vulkanik pulau Jawa bergeser ke utara (ditunjukkan dengan tanda panah), membentuk busur vulkanik Jawa muda semenjak 10 juta tahun silam hingga sekarang. Sumber: Hall & Smyth, 2008 dalam Satyana, 2014.

Gambar 12. Topografi sebagian pulau Jawa dengan DEM (digital elevation model) dengan lokasi busur vulkanik Jawa tua (garis merah putus-putus) dan busur vulkanik Jawa muda (garis kuning putus-putus). Lingkaran-lingkaran merah menunjukkan lokasi gunung-gemunung berapi purba yang sudah diidentifikasi di sepanjang busur vulkanik Jawa tua. Pada masanya, gunung-gunung ini rajin meletus hingga paling tidak 20 juta tahun silam. Setelah itu aktivitas vulkanik pulau Jawa bergeser ke utara (ditunjukkan dengan tanda panah), membentuk busur vulkanik Jawa muda semenjak 10 juta tahun silam hingga sekarang. Sumber: Hall & Smyth, 2008 dalam Satyana, 2014.

Selain memenuhi rasa keingintahuan kita, mengetahui keberadaan gunung berapi purba seperti halnya gunung berapi purba Karangbolong pun memiliki manfaat praktis ekonomis. Lingkungan central facies sebuah gunung berapi purba merupakan sumber bagi mineral logam dasar bernilai tinggi seperti halnya emas, tembaga dan sebagainya. Deposit emas Cikotok di Banten, yang telah lama ditambang dan kini telah ditutup, terbentuk di lingkungan seperti ini. Di sejumlah titik Tanjung Karangbolong pun telah dijumpai singkapan batuan yang mengandung emas. Menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kabupaten Kebumen untuk memetakan kawasan ini secara lebih teliti, memilah-milah kandungan logam berharganya dan menilai kelayakan ekonomisnya untuk ditambang. Selain itu, keberadaan gunung-gunung berapi purba Karangbolong jika dikelola dengan layak dapat menjadi faktor penambah daya tarik obyek-obyek wisata di sini.

Bahan acuan :

Hartono & Bronto. 2007. Asal-usul Pembentukan Gunung Batur di Daerah Wediombo, Gunungkidul, Yogyakarta. Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 2 No. 3 September 2007, hal. 143-158.

Bronto. 2012. Gunung Padang Berdasarkan Pandangan Geologi Gunung Api. Makalah dalam Rembug Nasional Gunung Padang, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Suprapto. 2010. Batu Gamping Berubah Menjadi Bijih Emas. Majalah Warta Geologi, vol. 5 no. 4 Desember 2010, hal. 17-21

Maskuri. 2003. Studi Alterasi Hidrotermal Daerah Karangbolong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. JIK TekMin, vol. 16 no. 2 Juli-Desember 2003, hal. 68-73.

Supriatna. t.t. Bentukan-Bentukan Karst. UPI Bandung.

Ansori dkk. 2010. Evaluasi Potensi dan Konservasi Kawasan Tambang Pasir Besi pada Jalur Pantai Selatan Di Kabupaten Purworejo-Kebumen, Jawa Tengah. UPT Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung LIPI.

Satyana. 2014. Jawa: Jalur Gunungapi Tua & Jalur Gunungapi Modern.

Lintas Kebumen.

Longsor dan Banjir Alian (Kebumen) November 2014, Sepotong Kisah Bumi dari Lembah Kedungbener

Bencana itu bermula pada Minggu malam 23 November 2014 Tarikh Umum (TU). Setelah diguyur hujan deras selama berjam-jam, beberapa titik lereng terjal di Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah) longsor. Ada sedikitnya enam titik tanah longsor yang tersebar di tiga desa, masing-masing Desa Krakal, Kalirancang dan Kalijaya. Longsor terparah terjadi di salah satu titik Desa Krakal yang merenggut satu korban jiwa. Secara keseluruhan tercatat 17 rumah rusak berat terkena material longsoran sementara 7 lainnya dalam kondisi rentan terkena longsor susulan. Material longsoran dari dua titik longsor juga sempat menumpuk di jalan raya, memutus urat nadi utama penghubung kota kecamatan Alian dengan ibukota Kabupaten Kebumen.

Gambar 1. Kiri: salah satu titik longsor di Desa Krakal yang merenggut satu korban jiwa pada Minggu malam 23 November 2014 TU. Kanan: genangan air di jalan raya utama yang menghubungkan kecamatan Alian dengan ibukota kabupaten tepatnya pada titik di sebelah timur pemandian air panas Krakal, seiring banjir kilat Selasa sore 25 November 2014 TU. Sumber: twitter@LintasKebumen, 2014.

Gambar 1. Kiri: salah satu titik longsor di Desa Krakal yang merenggut satu korban jiwa pada Minggu malam 23 November 2014 TU. Kanan: genangan air di jalan raya utama yang menghubungkan kecamatan Alian dengan ibukota kabupaten tepatnya pada titik di sebelah timur pemandian air panas Krakal, seiring banjir bandang Selasa sore 25 November 2014 TU. Sumber: twitter@LintasKebumen, 2014.

Seakan belum cukup, dua hari kemudian bencana berbeda namun disebabkan oleh hal yang sama kembali datang menerpa. Setelah kawasan hulunya diguyur hujan deras selama 2 hingga 3 jam, Sungai Kedungbener meluap hebat pada Selasa sore 25 November 2014 TU. Di sejumlah titik tanggul sungai ini jebol, melimpahkan air bah nan deras kemana-mana menciptakan genangan sedalam 1 sampai 1,5 meter di area yang luas. Tercatat delapan desa dari dua kecamatan terendam banjir mendadak ini. Kedelapan desa tersebut berada di alur lembah Kedungbener, masing-masing desa Krakal, Kalirancang, Wonokromo, Sawangan, Seliling, Surotrunan, Bojongsari (semuanya di Kecamatan Alian) dan Sumberadi (Kecamatan Kebumen). Banjir ini memang berlangsung relatif singkat. Tak lebih dari tujuh jam sejak awal mulanya air sudah menyurut, sehingga tergolong banjir kilat banjir bandang (flash flood). Namun ia mendatangkan petaka yang luar biasa. Memang tak ada korban jiwa maupun luka-luka yang ditimbulkannya, namun kerugian materialnya melangit. Tak kurang dari 1.281 buah rumah di delapan desa tersebut terendam banjir, sebagian diantaranya rusak parah. Sejumlah bangunan sekolah beserta fasilitas pendidikannya pun turut rusak berat. Angka kerugian akibat kedua bencana tersebut mencapai sedikitnya lima milyar rupiah.

Gambar 2. Titik-titik dimana tanah longsor (EL: earth landslide) terjadi pada Minggu malam 23 November 2014 TU serta genangan akibat banjir kilat Selasa sore 25 November 2014 TU di dalam lembah Kedungbener. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth.

Gambar 2. Titik-titik dimana tanah longsor (EL: earth landslide) terjadi pada Minggu malam 23 November 2014 TU serta genangan akibat banjir bandang Selasa sore 25 November 2014 TU di dalam lembah Kedungbener. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth.

Sesar Kedungbener

Bencana banjir dan tanah longsor bagi kecamatan yang memiliki lembah sempit dialiri sungai Kedungbener ini sejatinya bukan hal yang baru. Dalam beberapa tahun terakhir, banjir melanda lembah ini nyaris setiap dua tahun sekali. Walaupun bencana banjir kilat banjir bandang 25 November 2014 TU ini merupakan yang terparah dibanding bencana sejenis tahun-tahun sebelumnya. Meski demikian setiap bencana tersebut cenderung terbatasi di sepanjang lembah tersebut saja dan relatif tak melebar keluar darinya. Mengapa bisa seperti itu?

Jika anda sedang berada di kota Kebumen, meluncurlah ke arah timur melewati Jalan Sarbini yang ramai. Begitu tiba di pertigaan Kawedusan teruslah bergerak ke timur hingga sekitar 3 kilometer lagi, kali ini melintasi Jalan Bumidirja yang sempit meski telah beraspal cukup baik. Saat perjalanan sampai di tengah-tengah kawasan persawahan yang luas, sempatkanlah berhenti sejenak dan arahkan pandangan ke utara. Di latar belakang lahan persawahan yang luas membentang terlihat jajaran bukit-bukit yang sambung menyambung sebagai bagian dari Pegunungan Serayu Selatan. Terdapat sebuah celah yang cukup lebar di antara bukit-bukit tersebut. Celah inilah yang dikenal sebagai lembah Kedungbener. Inilah lembah dimana Sungai Kedungbener menghilir ke selatan dari mata airnya di perbukitan Karangsambung sembari mengumpulkan air dari anak-anak sungainya.

Gambar 3. Pemandangan lembah Kedungbener dari lokasi pembangunan Musholla wakaf tunai BMT Sejahtera Umat di Desa Surotrunan. Di latar belakang nampak sesar Kedungbener dengan graben dan horst-nya yang khas. SUmber: BMT Sejahtera Umat, 2014.

Gambar 3. Pemandangan lembah Kedungbener dari lokasi pembangunan Musholla wakaf tunai BMT Sejahtera Umat di Desa Surotrunan. Di latar belakang nampak sesar Kedungbener dengan graben dan horst-nya yang khas. SUmber: BMT Sejahtera Umat, 2014.

Lembah Kedungbener adalah sebuah lembah yang relatif lurus berarah utara-selatan sepanjang sekitar 8 kilometer yang membentang mulai dari sisi timur kota Kebumen hingga ke kawasan perbukitan di Karangsambung. Lembah ini merupakan ekspresi permukaan Bumi dari sebuah sesar (patahan/fault) yang saat ini dinamakan sesar Kedungbener atau sesar Kedungkramat. Sesar ini membentang sepanjang sekitar 12 kilometer dengan arah utara-selatan dan terbentuk tak kurang dari 2 juta tahun silam sebagai patahan turun (normal fault). Maka saat kita menyusuri lembah ini ke utara, bayangkanlah bahwa sekitar 2 juta tahun silam bagian kerak bumi di sisi kiri kita mendadak turun (ambles) menjadi lembah sesar (graben). Sebaliknya semua di sisi kanan kita tetap bertahan dan menjadi bukit sesar (horst).

Dalam geologi, sesar yang aktif merupakan zona sumber gempa yang potensial. Sebuah sesar aktif senantiasa bergerak pada kecepatan tertentu meski hanya sebesar beberapa milimeter per tahun sebagai konsekuensi dari gaya-gaya yang bekerja pada batuan di sepanjang sesar. Pada suatu titik ia dapat tertahan demikian rupa sehingga melambat atau bahkan malah tak bergerak sama sekali hingga bertahun lamanya. Namun demikian gaya-gaya tersebut tetap bekerja secara terus-menerus. Sehingga timbul akumulasi energi dan gaya. Pada suatu saat, akumulasi gaya tersebut telah demikian besarnya sehingga melampaui daya dukung maksimum batuannya. Terjadilah pematahan secara tiba-tiba di sepanjang sesar dan energi yang tersimpan pun dilepaskan seketika sebagai getaran permukaan Bumi, yang kita kenal sebagai gempa bumi.

Apakah sesar Kedungbener berupa sesar aktif? Hingga saat ini kita belum mengetahuinya. Di masa silam Kebumen memang beberapa kali diguncang gempa bumi tektonik dengan intensitas getaran yang tinggi. Namun belum tentu gempa tektonik tersebut berasal dari pematahan segmen batuan di sesar Kedungbener. Terlebih Kebumen berhadapan langsung dengan zona subduksi lempeng Eurasia (Sunda) dan Australia yang berada di lepas pantai selatan Pulau Jawa, kawasan yang penuh dengan sumber gempa tektonik dangkal dan kuat/besar. Yang jelas keberadaan sesar inilah yang membentuk lembah Kedungbener sebagai sebuah celah sempit di dalam Pegunungan Serayu Selatan.

Gambar 4. Panorama lahan sawah yang luas di lembah Kedungbener dan ekspresi sesar Kedungbener di latar belakangnya dengan graben dan horst sebagai ciri khasnya, diabadikan dari Desa Seliling. Sumber: Seliling.com, 2014.

Gambar 4. Panorama lahan sawah yang luas di lembah Kedungbener dan ekspresi sesar Kedungbener di latar belakangnya dengan graben dan horst sebagai ciri khasnya, diabadikan dari Desa Seliling. Sumber: Seliling.com, 2014.

Sesar Kedungbener pula yang bertanggung jawab atas mataair panas Krakal, yang muncul dalam kurun kurang dari dua abad terakhir. Mataair panas dengan luah (debit) 10 liter per menit, suhu air rata-rata 40 derajat Celcius dan tingkat keasaman (pH) 8 itu kini dikembangkan menjadi Pemandian Air Panas Krakal, salah satu obyek wisata unik andalan Kabupaten Kebumen. Air panas tersebut bukan disebabkan oleh aktivitas vulkanik, namun berasal dari reservoir alamiah yang terletak di kedalaman 1,1 kilometer dari permukaan tanah sejauh sekitar 500 meter ke utara-barat laut dari lokasi Pemandian Air Panas. Ia mendapatkan panasnya dari magma yang mencoba menyelusup lewat salah satu titik di sesar Kedungbener namun terhenti di kedalaman 8 kilometer dari permukaan tanah dan membeku menjadi granit. Panas yang masih tersisa itulah yang memanaskan air di reservoir. Selain keluar di Pemandian Air Panas, diduga reservoir yang sama juga memasok air panas dengan luah rendah ke dua lokasi, masing-masing ke Plumbon (hulu sungai Kedungbener) dan bendung Kaligending. Survei geofisika pada gelombang elektromagnetik VLF (very low frequency) juga memperlihatkan reservoir yang sama pun memasok air panas ke bawah kantor kecamatan Alian. Hanya saja sampai kini di lokasi tersebut belum dijumpai jalan keluar ke permukaan tanah.

Gambar 5. Titik-titik mataair panas (warna kuning) di Krakal dan sekitarnya serta perkiraan lokasi reservoir air panasnya berdasarkan survei geofisika. Terdapat tiga titik mataair panas namun hanya satu yang memiliki luah (debit) besar dan telah dikembangkan menjadi obyek wisata pemandian air panas Krakal. Survei geofisika juga menunjukkan adanya konsentrasi air panas di bawah lokasi kantor kecamatan Alian, namun hingga kini belum menemukan jalan keluar ke permukaan tanah. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Maps dan survei geofisika tim UGM, 2000.

Gambar 5. Titik-titik mataair panas (warna kuning) di Krakal dan sekitarnya serta perkiraan lokasi reservoir air panasnya berdasarkan survei geofisika. Terdapat tiga titik mataair panas namun hanya satu yang memiliki luah (debit) besar dan telah dikembangkan menjadi obyek wisata pemandian air panas Krakal. Survei geofisika juga menunjukkan adanya konsentrasi air panas di bawah lokasi kantor kecamatan Alian, namun hingga kini belum menemukan jalan keluar ke permukaan tanah. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Maps dan survei geofisika tim UGM, 2000.

Sesar Kedungbener muncul di kawasan yang secara tektonik telah demikian tercabik-cabik, sebagai bagian dari sejarah daratan Kebumen purba yang istimewa. Terbentuk jauh di kedalaman samudera di dekat palung laut, yang adalah tempat lempeng Australia purba bersubduksi dengan lempeng Eurasia purba, bebatuan Kebumen purba ditekan oleh gaya-gaya tektonik yang teramat kuat hingga tercabik-cabik begitu dahsyat. Di kemudian hari segenap bebatuan terangkat seiring dinamika pembentukan pulau Jawa dan lama kelamaan muncul ke atas permukaan laut. Pengangkatan intensif terjadi tatkala Jawa Tengah bagian selatan menjadi ajang koalisi dua sesar besar, masing-masing sesar besar Kebumen-Muria-Meratus yang berarah timur laut-barat daya dan sesar besar Cilacap-Pamanukan-Lematang yang berarah barat laut-tenggara. Aktivitas intensif kedua sesar besar tersebut, sebelum kemudian mati berjuta tahun silam, yang disusul dengan vulkanisme intensif yang mendongkrak bagian selatan pulau Jawa membuat bebatuan tersebut terangkat hingga lebih dari 2.000 meter dan membentuk wajah Kabupaten Kebumen seperti sekarang.

Gambar 6. Gambaran sederhana irisan kulit Bumi di lokasi mataair panas Krakal, yang keberadaannya dipengaruhi oleh sesar Kedungbener. Reservoir air panas bersuhu > 300 derajat Celcius terletak pada kedalaman 1.100 meter dari permukaan tanah. Ia mengalirkan air panasnya ke permukaan melalui kulit bumi yang lemah dan lebih mudah ditembus di lokasi sesar Kedungbener. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth; survei geofisika tim UGM, 2000 dan survei Lemigas, 1986.

Gambar 6. Gambaran sederhana irisan kulit Bumi di lokasi mataair panas Krakal, yang keberadaannya dipengaruhi oleh sesar Kedungbener. Reservoir air panas bersuhu > 300 derajat Celcius terletak pada kedalaman 1.100 meter dari permukaan tanah. Ia mengalirkan air panasnya ke permukaan melalui kulit bumi yang lemah dan lebih mudah ditembus di lokasi sesar Kedungbener. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth; survei geofisika tim UGM, 2000 dan survei Lemigas, 1986.

Sesar Kedungbener mengiris bebatuan tercabik-cabik itu, yang secara umum terbagi ke dalam satuan batuan sedimen formasi Waturanda (utara) dan Penosogan (selatan). Formasi Waturanda berumur 26 hingga 20 juta tahun silam, terdiri atas batu pasir vulkanik dan breksi vulkanik yang diendapkan di lingkungan laut dalam. Bebatuan dalam formasi ini secara kasat mata terlihat kasar. Sementara formasi Penosogan yang berumur 20 hingga 12 juta tahun silam tersusun oleh batu pasir, batu lempung, tuff, napal dan gamping kalkarenit setebal sekitar 1.000 meter yang diendapkan di lingkungan laut dangkal. Batuan dalam formasi ini secara kasat mata terlihat lebih halus. Meski telah membatu, namun cabikan-cabikan tektonik masa silam membuat bebatuan di sini relatif lebih lemah. Di formasi Penosogan, itu membuatnya mudah melapuk dan terburai kembali menjadi butir-butir pasir dan lempung. Hampir segenap kecamatan Alian ditutupi oleh sedimen formasi Waturanda yang permukaannya sudah melapuk membentuk tanah pelapukan setebal hingga 2 meter atau lebih. Keberadaan sesar kedungbener membuat bebatuan yang lapuk ini menjadi lebih riskan, karena sesar membuat bentang alam setempat menjadi berhias lereng-lereng dengan kondisi setengah terjal hingga terjal.

Gambar 7. Peta zona kerentanan gerakan tanah untuk Kecamatan Alian dan sekitarnya, yang didominasi oleh zona rentan gerakan tanah menengah (warna kuning). Lingkaran-lingkaran hitam menunjukkan titik-titik tanah longsor pada Minggu malam 23 November 2014 TU. Sumber: PVMBG, 2014.

Gambar 7. Peta zona kerentanan gerakan tanah untuk Kecamatan Alian dan sekitarnya, yang didominasi oleh zona rentan gerakan tanah menengah (warna kuning). Lingkaran-lingkaran hitam menunjukkan titik-titik tanah longsor pada Minggu malam 23 November 2014 TU. Sumber: PVMBG, 2014.

Tak heran jika Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMB) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang berkedudukan di Bandung menempatkan mayoritas wilayah Kecamatan Alian ke dalam zona rentan gerakan tanah menengah. Dengan demikian gerakan tanah, baik berupa tanah longsor maupun tanah merayap (soil creep), berpeluang terjadi di lembah sungai, tebing curam tepi jalan maupun gawir saat hujan lebat. Itulah yang terjadi pada Minggu malam 23 November 2014 TU kemarin

Lingga dan Yoni Sumberadi

Selain potensi bencana gerakan tanah, lembah Kedungbener juga memiliki potensi bencana lainnya yang relatif permanen, yakni banjir. Banjir tersebut baik berupa banjir kilat banjir bandang singkat maupun banjir yang genangannya hingga berhari-hari lamanya. Sebagai lembah sempit yang dipagari bukit-bukit di kanan-kirinya dan dialiri sungai Kedungbener beserta sejumlah anak sungainya, praktis air bah akan terkurung di dalam lembah ini semata begitu sungai Kedungbener meluap hebat, entah akibat faktor apapun. Tetapi sejak kapan lembah ini menjadi daerah langganan banjir? Salah satu jawabannya mungkin dapat ditemukan di peninggalan bersejarah di ujung selatan lembah ini.

Gambar 8. Batuan sedimen formasi Waturanda yang terlihat kasar berdampingan dengan batuan formasi Penosogan yang terlihat lebih halus, dalam bidang kontak yang salah satunya bisa dilihat di tepi sungai Karanggayam. Seluruh titik tanah longsor dalam bencana Minggu malam 23 November 2014 TU di Kecamatan Alian tersusun dari batuan sedimen formasi Penosogan dengan tanah pelapukan yang tebal. Sumber: Satyana, 2013.

Gambar 8. Batuan sedimen formasi Waturanda yang terlihat kasar berdampingan dengan batuan formasi Penosogan yang terlihat lebih halus, dalam bidang kontak yang salah satunya bisa dilihat di tepi sungai Karanggayam. Seluruh titik tanah longsor dalam bencana Minggu malam 23 November 2014 TU di Kecamatan Alian tersusun dari batuan sedimen formasi Penosogan dengan tanah pelapukan yang tebal. Sumber: Satyana, 2013.

Datanglah ke gerbang timur kota Kebumen. Dari gerbang berwarna hitam ini, beringsutlah sedikit ke barat hingga bertemu pertigaan jalan yang diatur lampu lalu lintas (traffic light). Inilah lokasi ujung timur jalur lingkar selatan kota Kebumen , salah satu urat nadi utama lalu lintas jalur selatan pulau Jawa. Dari pertigaan ini sejatinya terdapat satu jalan kecil beraspal yang menjulur ke utara, namun bukan bagian dari jalur lalu lintas utama di kota Kebumen. Bila anda hendak menyusuri jalan kecil ini, hati-hati tatkala menemui perlintasan kereta api karena menanjak tinggi, tak berpalang pintu dan sudah beberapa kali menelan korban jiwa. Dari perlintasan horor ini, teruskan perjalanan anda ke utara melewati kawasan persawahan yang luas dengan sungai Kedungbener membujur di sisi timur jalan. Setelah melewati sejumlah pertigaan, anda akan tiba di pertigaan yang salah satu jalannya berarah ke timur. Inilah jalan masuk ke desa Sumberadi, atau dikenal juga sebagai Somalangu, yang tergolong kawasan kota Kebumen bagian timur. Di sinilah berdiri pondok pesantren tertua seantero Kebumen, yakni pesantren al-Kahfi. Tempat ini jugalah episentrum gerakan Angkatan Oemat Islam (AOI), badan kelasykaran terbesar seantero Jawa Tengah bagian selatan di masa perang kemerdekaan namun berubah menjadi buruan militer pasca pengakuan kedaulatan seiring kesalahpahaman.

Sekitar 200 meter di sebelah barat pesantren tua inilah tergeletak peninggalan bersejarah bernafaskan Hindu dalam rupa lingga dan yoni, yang kini ditempatkan di dalam kompleks TK (taman kanak-kanak) Sumber Hikmah Sumberadi. Terdapat dua buah yoni berukuran besar yang terbuat dari batu andesit. Sebuah diantaranya memiliki cerat (ujung saluran air) yang ditopang arca kepala ular dan kura-kura, menyerupai yoni di candi utama kompleks percandian Gunung Wukir (Canggal), Kabupaten Magelang. Sementara cerat yoni satunya lagi polos tanpa topangan apapun. Di sekitar kedua yoni terdapat enam patok batu yang adalah lingga, dengan dasar balok, bagian tengah berbentuk segi delapan dan bagian atas membulat seperti tabung. Seperti halnya yoni, lingga-lingga tersebut pun terbuat dari batu andesit. Selain lingga dan yoni, hingga dua dasawarsa silam masih terdapat pecahan-pecahan batubata berukuran besar mirip dengan batubata pada candi-candi langgam Jawa Timuran.

Gambar 9. Sepasang benda peninggalan sejarah berupa yoni yang terdapat di situs arkeologis Desa Sumberadi. Di situs yang sama juga dijumpai enam buah lingga dan batubata khas candi langgam Jawa Timuran. Ini indikasi bahwa kawasan ini telah dihuni masyarakat yang terorganisir setidaknya semenjak abad ke-8 atau ke-10 TU. Sumber: Hindarto, 2013.

Gambar 9. Sepasang benda peninggalan sejarah berupa yoni yang terdapat di situs arkeologis Desa Sumberadi. Di situs yang sama juga dijumpai enam buah lingga dan batubata khas candi langgam Jawa Timuran. Ini indikasi bahwa kawasan ini telah dihuni masyarakat yang terorganisir setidaknya semenjak abad ke-8 atau ke-10 TU. Sumber: Hindarto, 2013.

Apa makna peninggalan bersejarah ini dalam upaya kita memahami banjir di lembah Kedungbener?

Baik yoni maupun lingga merupakan peninggalan bersejarah bernafaskan Hindu. Sebuah lingga dibuat sebagai penghormatan atas Dewa Syiwa, salah satu trimurti dalam Hindu. Sementara yoni dibuat guna menghormati Dewi Parwati, istri Syiwa. Lingga yang disatukan dengan yoni, dimana bagian bawah lingga dapat dimasukkan dengan pas dalam lubang yoni, menjadi artefak pemujaan yang melambangkan kesuburan. Lingga dan yoni pun kerap dijumpai di situs-situs arkeologis bangunan pemujaan yang kita kenal sebagai candi. Menarik sekali bahwa tepat di sebelah utara desa Sumberadi terdapat dua desa yang sama-sama berawalan “candi”, yakni desa Candimulyo dan desa Candiwulan. Awalan “candi” di kedua desa mungkin merupakan toponimi yang merujuk ke bangunan pemujaan tersebut, meski sejauh ini belum sebutir batu candinya yang telah ditemukan. Walaupun didirikan dengan tujuan berbeda, namun sebuah candi selalu dijumpai berdiri di atas lahan yang sangat subur. Baik lingga dan yoni maupun candi di satu lokasi menandakan telah adanya masyarakat yang terorganisir yang tak hanya sanggup membangun benda/bangunan tersebut namun juga memelihara/mengelolanya sepanjang mereka masih bermukim disana.

Lingga dan yoni Sumberadi nampaknya dibangun oleh masyarakat setempat yang telah terorganisir pada masanya sebagai persembahan mereka atas anugerah kesuburan daerah ini. Perikehidupan mereka nampaknya bertumpu pada dunia pertanian, dengan sawah/ladang yang subur. Kesuburan ini ditunjang oleh lokasinya di lembah Kedungbener. Pada umumnya kawasan lembah sungai terkenal subur karena selalu memperoleh pasokan tanah pucuk (topsoil) secara rutin. Tanah pucuk itu yang diendapkan ke kawasan ini dari hutan-hutan di hulu sungai setiap kali sungai Kedungbener banjir. Banjir hanya berlangsung beberapa saat saja. Setelah surut, tanah yang diendapkannya dapat segera diolah untuk tanaman pertanian tadah hujan berumur pendek. Panen pun dapat dipetik sebelum banjir berikutnya (yang membawa tanah pucuk baru) datang menerjang.

Gambar 10. Posisi situs arkeologis Sumberadi yang mengandung peninggalan bersejarah dalam bentuk lingga dan yoni beserta dua desa didekatnya yang berawalan "candi" dalam lingkup lembah Kedungbener. Peninggalan bersejarah tersebut mengindikasikan dataran rendah di ujung selatan lembah Kedungbener telah dihuni masyarakat yang terorganisir setidaknya semenjak abad ke-8 atau ke-10 TU yang nampaknya bertumpu pada dunia pertanian, memanfaatkan kesuburan tanah lembah. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Maps.

Gambar 10. Posisi situs arkeologis Sumberadi yang mengandung peninggalan bersejarah dalam bentuk lingga dan yoni beserta dua desa didekatnya yang berawalan “candi” dalam lingkup lembah Kedungbener. Peninggalan bersejarah tersebut mengindikasikan dataran rendah di ujung selatan lembah Kedungbener telah dihuni masyarakat yang terorganisir setidaknya semenjak abad ke-8 atau ke-10 TU yang nampaknya bertumpu pada dunia pertanian, memanfaatkan kesuburan tanah lembah. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Maps.

Walaupun tidak sama persis, namun kemiripan yoni Sumberadi dengan yoni di candi utama Gunung Wukir memberi indikasi yoni Sumberadi mungkin juga berasal dari abad ke-8 Tarikh Umum (TU). Meski tidak menutup kemungkinan ia berasal dari masa yang lebih muda, misalnya dari langgam Jawa Timuran (abad ke-11 TU atau lebih). Cukup menarik bahwa kala pesantren al-Kahfi didirikan sekitar tahun 1475 TU (berdasarkan prasasti yang masih tersisa), pendirinya (Syaikh Abdul Kahfi Awwal) masih berjumpa dengan masyarakat setempat pemeluk Hindu. Legenda lokal menyebutkan Syaikh Abdul Kahfi berjumpa dengan dua pemimpin masyarakat setempat, yakni Resi Candra Tirto dan resi Dhanu Tirto. Syaikh berhasil menundukkan keduanya hingga memungkinkan berdirinya pesantren al-Kahfi.

Bila legenda tersebut benar, nampaknya ujung selatan lembah Kedungbener terus dihuni masyarakat terorganisir pemeluk Hindu hingga abad ke-15 TU, sebelum kemudian bertransformasi menjadi masyarakat pemeluk Islam sampai sekarang. Maka, lembah Kedungbener (khususnya ujung selatannya) nampaknya telah dimukimi manusia paling tidak semenjak abad ke-8 TU hingga sekarang, atau sudah 13 abad lamanya. Sepanjang waktu itu mereka bertumpu pada dunia pertanian tadah hujan dan baru mengenal irigasi teknis belakangan saja, seperti halnya dunia pertanian di Pulau Jawa pada umumnya. Nampaknya, meski hanya berupa pertanian tadah hujan, namun kesuburan lahan setempat seiring mengendapnya tanah pucuk lewat banjir sungai Kedungbener membuat produksinya mampu menopang perikehidupan secara berulang-ulang hingga merentang masa. Jika memang demikian adanya, maka sebelum abad ke-20 TU banjir sungai Kedungbener justru menjadi berkah bagi manusia yang tinggal di lembahnya.

Reboisasi

Namun selepas abad ke-20 TU, peristiwa yang sama menjadi musibah bagi penduduk. Termasuk pada 25 November 2014 TU kemarin. Banjir kilat banjir bandang singkat itu mengejutkan mengingat hujan deras yang memicunya berlangsung relatif singkat dan hanya terjadi di kawasan yang relatif sempit di hulu sungai Kedungbener, yakni mencakup Kecamatan Alian dan Kecamatan Karangsambung. Citra satelit cuaca MTSAT kanal inframerah hari itu memperlihatkan curah hujan di Jawa Tengah bagian selatan pada pukul 19:00 WIB sekitar 10 mm/jam, yang masih tergolong curah hujan normal. Sementara saksi mata menyebut hujan yang cukup deras berlangsung tak lebih dari 3 jam di sore harinya. Sungai Kedungbener merupakan anak sungai terbesar dari Sungai Lukulo, sungai utama di Kabupaten Kebumen. Sebagai anak sungai terbesar, Sungai Kedungbener memiliki sub daerah aliran sungai (sub-DAS) tersendiri, yang luasnya 22.812 hektar. Jika dianggap hujan terjadi selama 5 jam berturut-turut saja dengan curah hujan rata-rata dianggap 10 mm/jam dan menerpa sepertiga luas sub-DAS Kedungbener (setara 6.843 hektar) khususnya di hulunya, maka air yang tercurah mencapai lebih dari 3 milyar liter. Bila daya serap tanah di hulu rendah, entah oleh faktor apapun, tak heran jika air sebanyak itu justru lari ke Sungai Kedungbener dan anak-anak sungainya. Banjir kilat banjir bandang singkat pun tak terelakkan.

Banyak faktor yang membuat sebuah banjir kilat banjir bandang terjadi di sebuah lembah sungai. Kerusakan hutan di kawasan hulu menjadi salah satunya. Dan hutan di hulu sungai Kedungbener banyak yang tergolong hutan kritis atau bahkan sangat kritis. Penghutanan kembali (reboisasi) menjadi hal yang mutlak, agar sebagian air hujan yang turun di hulu sungai ini dapat terserap ke dalam tanah dan bukannya lari sebagai air permukaan yang langsung masuk ke sungai maupun anak-anak sungainya. Faktor lainnya adalah wajah sungai Kedungbener sendiri yang sudah mendangkal.

Sudah seharusnya pemerintah Kabupaten Kebumen menyelenggarakan upaya reboisasi tersebut sekaligus juga tetap menjaga upaya-upaya merawat sungai dengan mengeruk sedimen yang menumpuk di sepanjang alur sungai serta memperbaiki tanggul-tanggul yang telah menipis dan kritis. Namun pemerintah Kabupaten Kebumen tidak bisa melangkah sendirian. Partisipasi masyarakat Kabupaten Kebumen, khususnya yang bermukim di sepanjang lembah kedungbener, pun perlu digalakkan dalam rangka penyelamatan lembah tersebut bagi masa mendatang. Khususnya dalam hal reboisasi. Gerakan reboisasi lembah Kedungbener dapat diintegrasikan dengan sejumlah upaya kreatif. Misalnya di dunia pendidikan dasar/menengah, tiap tahun ajaran baru bermula para siswa (baik siswa baru maupun siswa yang naik kelas) bisa diminta menyiapkan bibit sebatang pohon berkayu guna ditanam bersama-sama sekolah (atau beberapa sekolah) di lokasi hutan kritis pada waktu tertentu yang telah ditentukan sebelumnya.

Referensi :

PVMBG. 2014. Tanggapan Bencana Gerakan Tanah Di Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Kementerian ESDM, 25 November 2014.

Asikin. 1992. Peta Geologi Lembar Kebumen. Pusat Survei Geologi, Badan Geologi, Kementerian ESDM.

Ma’rufin Sudibyo & Duma Rahmat Artanto. 1995. Sumber Air Panas Krakal Bukan Gejala Pasca Vulkanik. Karya Ilmiah dalam LKIR-LIPI 1995.

Utama dkk. 2012. Green Field Geothermal System in Java, Indonesia. Proceeding 1st Geothermal Workshop, ITB, Bandung, 6-8 Maret 2012.

Hindarto. 2013. Nilai Keberadaan Lingga dan Yoni di Desa Sumberadi. History and Legacy of Kebumen, 14 Maret 2013.

Lubang Hitam (Raksasa) yang Batal ‘Menyantap Makanan’

Sebuah awan gas raksasa yang ukurannya setara tata surya kita dan seharusnya telah remuk tercabik-cabik lantas menghilang (sebagian) tersedot lubang hitam raksasa di pusat galaksi Bima Sakti ternyata masih tetap eksis meski baru saja lewat dalam jarak cukup dekat (pada skala astronomi) dengan sang monster. Kini para astronom menduga ada sedikitnya satu bintang tersembunyi di dalam awan gas raksasa ini. Sehingga ia bisa tetap bertahan meski telah melintasi lingkungan sangat ganas dekat lubang hitam raksasa itu. Peristiwa yang sesungguhnya terjadi antara 24.500 hingga 27.300 tahun silam membuat lubang hitam raksasa yang menghuni pusat galaksi Bima Sakti kita pun dipaksa kembali berpuasa.

Awan gas tersebut pertama kali teramati pada 2002 Tarikh Umum (TU) namun sebagian sifatnya baru terungkap sembilan tahun kemudian. Diberi identitas G2, awan gas yang berdiameter sekitar 37,5 milyar kilometer atau setara dimensi tata surya kita hingga ke kawasan Sabuk Kuiper-Edgeworth (dan mengabaikan awan komet Opik-Oort) tersusun dari campuran debu, gas dan ion-ion yang menggumpal. Massanya sekitar tiga kali lipat Bumi kita. Debu di awan gas tersebut bersuhu 277 derajat Celcius, atau lebih panas ketimbang suhu air mendidih di permukaan Bumi. Meski tergolong panas untuk ukuran manusia namun debu di awan gas ini sebaliknya masih bisa dianggap ‘dingin’ jika dibandingkan dengan gas-gasnya yang memiliki suhu hingga 10.000 derajat Celcius. Pada suhu tersebut, gas-gas di awan gas G2 ini lebih panas ketimbang permukaan Matahari (fotosfer) kita, yang ‘hanya’ bersuhu 5.800 derajat Celcius. Sebaliknya sekujur awan gas G2 ini tergolong sangat dingin bagi lingkungan pusat galaksi Bima Sakti, yang bertaburan gas-gas difus sepanas hingga 100 juta derajat Celcius.

Gambar 1. Benda langit yang semula dikira awan gas G2 nampak masih ada dan relatif utuh meski baru saja melewati titik perinigricon (titik terdekat ke lubang hitam) di pusat galaksi Bima Sakti. Melintasnya awan gas G2 di perinigricon-nya menjadi peristiwa langit yang paling dinanti dunia astronomi di tahun 2014 TU ini karena menyajikan peluang untuk menyaksikan lubang hitam raksasa di pusat Bima Sakti menyantap kudapan kosmik. Diabadikan dengan teleskop kembar Keck (diameter 10 meter) pada Agustus 2014 TU lalu. Sumber: Ghez, 2014.

Gambar 1. Benda langit yang semula dikira awan gas G2 nampak masih ada dan relatif utuh meski baru saja melewati titik perinigricon (titik terdekat ke lubang hitam) di pusat galaksi Bima Sakti. Melintasnya awan gas G2 di perinigricon-nya menjadi peristiwa langit yang paling dinanti dunia astronomi di tahun 2014 TU ini karena menyajikan peluang untuk menyaksikan lubang hitam raksasa di pusat Bima Sakti menyantap kudapan kosmik. Diabadikan dengan teleskop kembar Keck (diameter 10 meter) pada Agustus 2014 TU lalu. Sumber: Ghez, 2014.

Hal yang paling menarik dari awan gas G2 ini adalah bahwa ia bergerak, tepatnya berputar mengelilingi sebentuk benda langit taknampak di pusat galaksi Bima Sakti kita. Para astronom telah lama menduga benda langit taknampak itu adalah lubang hitam raksasa (supermassive blackhole) yang diameternya sekitar 88 juta kilometer. Observasi berkelanjutan memperlihatkan awan gas G2 bergerak menyusuri orbit yang sangat lonjong yang eksentrisitasnya 0,92 atau mirip dengan orbit komet-komet berperiode panjang/sangat panjang dalam tata surya kita. Orbit awan gas G2 memiliki titik perinigricon (titik terdekat ke lubang hitam) sejauh 38,9 milyar kilometer dari pusat lubang hitam raksasa tersebut. Jarak tersebut setara 260 kali lipat jarak rata-rata Bumi ke Matahari. Sebaliknya titik aponigricon-nya (titik terjauh ke lubang hitam) adalah sebesar 988,9 milyar kilometer atau setara dengan 6.610 kali lipat jarak rata-rata Bumi ke Matahari. Dengan begitu awan gas G2 membutuhkan waktu sekitar 100 tahun untuk bisa menyelesaikan revolusinya sekali putaran.

Analisis lebih lanjut memperlihatkan bahwa awan gas G2 ini nampak bakal melintas di titik perinigricon-nya pada suatu waktu di antara Januari hingga Juni 2014 TU. Saat di perinigricon-nya, awan gas G2 Segera informasi ini menghebohkan jagat astronomi. Sebab titik perinigricon-nya demikian dekat ke lubang hitam raksasa tersebut, yakni 3.000 kali lipat lebih besar ketimbang jari-jari lubang hitam raksasa itu mengacu pada radius Schwarszchild (jari-jari antara pusat lubang hitam dengan ufuk peristiwanya). Dalam jarak sedemikian dekat, maka untuk pertama kalinya para astronom berkesempatan menyaksikan aksi dahsyat sang lubang hitam raksasa yang selama ini hanya sebatas gagasan di atas kertas, yakni memakan benda langit. Makanan tersebut entah sebagai kudapan yakni benda langit bermassa relatif kecil seperti halnya awan gas G2 ini, ataupun makan besar dengan melahap bintang massif. Tak pelak bakal melintasnya awan gas G2 di titik perinigricon-nya menjadi salah satu peristiwa langit yang paling ditunggu di dunia astronomi dalam tahun 2014 TU ini.

Lubang Hitam

Bagaimana umat manusia masakini mencoba memahami benda langit eksotik bernama lubang hitam berangkat dari pertanyaan sederhana. Jika bintang-bintang di langit (termasuk Matahari) tersusun dari gas, mengapa gas-gas itu bisa berkumpul di satu lokasi yang sama sementara sifat gas adalah mengisi ruang yang kosong? Jawaban dari pertanyaan ini baru mulai terkuak dalam kurun kurang dari seabad terakhir. Tepatnya kala dunia ilmu pengetahuan diguncangkan oleh dua revolusi besar dalam ilmu fisika dengan imbasnya kemana-mana, yakni relativitas umum dan mekanika kuantum.

Gambar 2. Diagram sederhana struktur Matahari kita bila diiris dan bagaimana dimensi (ukurannya) sebagai hasil keseimbangan antara gravitasi yang selalu menuju ke pusat Matahari (dan selalu mencoba mengerutkannya) dengan tekanan radiasi produk reaksi fusi nuklir di pusat Matahari yang selalu keluar dari pusat Matahari (dan selalu memcoba mengembangkannya). Kesetimbangan ini akan berubah dramatis saat bahan reaksi fusi nuklir telah sangat terbatas. Bagaimana nasib bintang pada saat itu sangat bergantung pada massanya. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 2. Diagram sederhana struktur Matahari kita bila diiris dan bagaimana dimensi (ukurannya) sebagai hasil keseimbangan antara gravitasi yang selalu menuju ke pusat Matahari (dan selalu mencoba mengerutkannya) dengan tekanan radiasi produk reaksi fusi nuklir di pusat Matahari yang selalu keluar dari pusat Matahari (dan selalu memcoba mengembangkannya). Kesetimbangan ini akan berubah dramatis saat bahan reaksi fusi nuklir telah sangat terbatas. Bagaimana nasib bintang pada saat itu sangat bergantung pada massanya. Sumber: Sudibyo, 2014.

Sebelumnya musti digarisbawahi bahwa bintang tidaklah tersusun dari gas, melainkan plasma. Plasma adalah campuran antara ion-ion positif dan elektron-elektron bebas bersuhu tinggi yang secara akumulatif berperilaku mirip gas. Di sisi lain setiap partikel dalam ion-ion positif (dan elektron juga) dalam plasma memiliki massa sehingga mereka tunduk pada hukum gravitasi. Karena jumlahnya amat sangat banyak, maka maka secara akumulatif partikel-partikel dalam plasma yang menyusun bintang memproduksi gravitasi yang arahnya selalu menuju ke pusat massa bintang tersebut. Dengan demikian bintang itu memiliki kecenderungan abadi untuk mengerut (mengecil) oleh gravitasinya sendiri. Namun bintang pada umumnya dapat menahan pengerutan tersebut melalui tekanan radiasi/gelombang elektromagnetik. Jadi kala massa plasma terus saja mengerut, pusat massanya jadi bersuhu sangat tinggi (hingga belasan juta derajat Celcius). Akibatnya reaksi fusi (penggabungan nuklir), yakni bergabungnya inti-inti atom ringan menjadi inti atom yang lebih berat sembari melepaskan energi, pun terjadilah. Begitu reaksi dimulai, energi yang dilepaskan tetap menjaga suhu tinggi disekelilingnya sehingga reaksi-reaksi fusi berikutnya akan terus terjadi secara berkesinambungan. Salah satu produk reaksi adalah foton gamma, yakni sinar radioaktif berenergi tinggi dan berdaya tembus besar. Jika jumlah foton gammanya sangat besar maka ia pun menghasilkan tekanan radiasi yang cukup kuat dengan arah berkebalikan dibanding tekanan gravitasi. Sehingga tekanan radiasi selalu mengarah keluar (ke segala arah) dari pusat massa akumulatif plasma.

Matahari kita pun seperti itu. Diameternya yang 1,39 juta kilometer juga berasal dari keseimbangan antara tarikan gravitasi dengan tekanan radiasi produk reaksi fusi nuklir di pusatnya. Keseimbangan ini akan terus bertahan selama reaksi fusi nuklir di pusatnya terus berlangsung. Reaksi tersebut mengonsumsi tak kurang dari 620 juta ton inti Hidrogen per detiknya untuk diubah menjadi 615,6 juta ton inti Helium dan 0,2 juta ton positron (antimateri dari elektron, atau elektron bermuatan positif). Sisa massa 4,2 juta ton lenyap, berubah menjadi energi mengikuti kesetaraan massa-energi Einstein yang terkenal itu dengan produk energi 382 trilyun trilyun watt (dengan 26 angka nol). Massa plasma yang amat sangat besar poun membuat Matahari menjadi cukup massif untuk membengkokkan ruang-waktu disekitarnya demikian rupa. Sehingga berkas cahaya bintang jauh yang hendak menuju ke Bumi pun dipaksa berbelok sedikit kala lewat di dekat Matahari. Inilah fenomena yang diramalkan relativitas umum Einstein hampir seabad silam dan menemukan buktinya pada observasi Gerhana Matahari Total 19 Mei 1919 TU yang dipimpin Eddington, astronom Inggris.

Gambar 3. Poster yang dibuat astronom Eddington dan rekan-rekannya (Inggris) menjelang Gerhana Matahari Total 29 Mei 1919 TU. Berkas cahaya bintang jauh digambarkan menempuh lintasan melengkung kala lewat di dekat Matahari. Sehingga posisi bintang jauh tersebut terlihat bergeser dibanding posisi sesungguhnya. Eddington menjadi bagian dari tim astronom yang membuktikan bahwa melengkungnya lintasan cahaya tersebut memang benar-benar terjadi. Sumber: Morison, 2008.

Gambar 3. Poster yang dibuat astronom Eddington dan rekan-rekannya (Inggris) menjelang Gerhana Matahari Total 29 Mei 1919 TU. Berkas cahaya bintang jauh digambarkan menempuh lintasan melengkung kala lewat di dekat Matahari. Sehingga posisi bintang jauh tersebut terlihat bergeser dibanding posisi sesungguhnya. Eddington menjadi bagian dari tim astronom yang membuktikan bahwa melengkungnya lintasan cahaya tersebut memang benar-benar terjadi. Sumber: Morison, 2008.

Masalahnya ketersediaan inti Hidrogen di Matahari terbatas. Suatu saat ia pasti bakal turun hingga ke batas kritis yang membuat kesinambungan reaksi fusi nuklir sirna. Nah apa yang bakal terjadi?

Jawaban dari persoalan ini dipelopori oleh Subrahmanyan Chandrasekhar, seorang cendekia India muda belia yang pada tahun 1930 TU berlayar ke Inggris guna melanjutkan studinya. Sepanjang pelayaran Chandrasekhar melakukan perhitungan mekanika statistik dengan mengacu dua revolusi ilmu pengetahuan di abad ke-20, yakni relativitas umum dan mekanika kuantum. Chandrasekhar mendapati jika jumlah inti Hidrogen telah demikian sedikit, reaksi fusi nuklir pun berhenti dan gravitasi bintang kembali membuat bintang tersebut mengerut. Akibatnya plasma dipaksa berkumpul dalam volume lebih sempit sehingga jarak antar partikelnya kian memendek. Termasuk jarak antar elektron-elektron bebasnya. Karena sama-sama bermuatan negatif, maka elektron akan saling tolak-menolak saat berjumpa dengan sesamanya. Pada suatu titik, gaya tolak-menolak ini demikian besar sehingga mampu mengimbangi pengerutan gravitasi. Lahirlah sebuah bintang eksotik, yakni bintang katai putih/cebol putih (white dwarf) yang diameternya hanya beberapa ratus kilometer namun massanya setara massa bintang biasa.

Bintang katai putih hanya akan terbentuk bila massa pusat bintang induk yang kehabisan inti Hidrogen bernilai maksimum 1,4 kali massa Matahari. Jika seluruh bagian bintang induknya diperhitungkan, maka bintang katai putih hanya akan terbentuk oleh sebuah bintang yang massa maksimumnya 8 kali massa Matahari. Dengan demikian Matahari kita kelak juga akan bertransformasi menjadi bintang katai putih, begitu jumlah inti Hidrogennya menyusut hingga di bawah ambang batas. Tetapi bagaimana dengan bintang yang lebih massif?

Pada bintang yang massanya lebih dari 8 kali massa Matahari, pengerutan akibat gravitasinya sendiri begitu reaksi fusi nuklirnya berhenti tak bisa ditahan oleh gaya tolak antar elektronnya. Karena telah mengerut demikian rupa, partikel-partikel inti atom dalam plasmanya dipaksa untuk terpecah menjadi proton dan neutron. Dan elektron-elektronnya dimuati energi yang cukup untuk bereaksi dengan proton. Sehingga terbentuklah neutron. Sebagai partikel subatomik dengan spin pecahan, neutron mematuhi prinsip eksklusi Pauli sehingga tak ada dua neutron yang menempati posisi dan keadaan kuantum yang sama. Pada satu titik, prinsip ini menghasilkan gaya tolak demikian besar sehingga mampu menyeimbangkan diri dengan pengerutan oleh gravitasinya sendiri. Terbentuklah bintang neutron, yang hampir sepenuhnya berisi neutron. Bintang eksotik ini hanya berdiameter beberapa belas kilometer, namun massanya setara bintang biasa. Sehingga massa jenisnya amat sangat tinggi, menyamai massa jenis inti atom. Sesendok teh materi bintang neutron sama bobotnya dengan 900 buah Piramida Giza yang ditumpuk menjadi satu !

Sebuah bintang neutron hanya akan terbentuk jika massa pusat bintang induknya antara 1,5 hingga 3 kali lipat Massa Matahari. Jika seluruh bagian bintang induknya diperhitungkan, maka bintang neutron hanya akan terbentuk oleh sebuah bintang yang massa maksimumnya 15 hingga 20 kali massa Matahari. Namun pertanyaan lama kembali berulang, bagaimana dengan bintang yang lebih massif?

Inilah saat bintang eksotik yang bernama lubang hitam tampil ke permukaan. Kala massa bintang induknya melebihi 20 kali massa Matahari, maka begitu reaksi fusi nuklirnya berhenti bintang tersebut akan terus mengerut. Gaya tolak antar elektron bebasnya tak mampu menghentikan pengerutan, demikian pula prinsip eksklusi Pauli pada neutron-neutronnya. Bahkan begitu proses pengerutan membuat volumenya menjadi amat sangat kecil, neutron yang ada pun dipaksa buyar kembali hingga menjadi aneka kuark penyusunnya. Di saat bersamaan medan gravitasi bintang eksotik ini pun menjadi amat sangat besar, yang membuat ruang-waktu disekelilingnya dipaksa melengkungan demikian dramatis hingga membentuk asimtot, atau lubang/sumur tanpa dasar. Karena itu ia mendapatkan nama lubang hitam. Tapal batasnya disebut horizon peristiwa, yakni radius khas dimana bahkan berkas cahaya pun tak bisa meloloskan diri darinya.

Sagittarius A-star

Lubang hitam menjadi benda langit yang paling menggamit minat manusia pada saat ini sekaligus menjadi salah satu topik paling seksi dalam astronomi modern. Ia dianggap sebagai obyek yang eksotis, misterius sekaligus mengerikan. Kisah tentang bagaimana lubang hitam begitu ganasnya hingga mampu menghisap habis sebuah bintang biasa sampai gerombolan bintang pun jamak tersebar. Bahkan pada tingkat lubang hitam raksasa yang menghuni sebuah pusat galaksi, galaksi lain pun disebut-sebut dapat dilahap dengan mudah. Jangankan bintang ataupun galaksi, bahkan cahaya sekalipun takkan mampu meloloskan diri darinya.

Gambar 4. Ilustrasi sebuah lubang hitam yang paling populer, yakni Cygnus X-1, bersama pasangannya. Sebagai sebuah sistem bintang ganda yang salah satu anggotanya telah bertransformasi secara radikal menjadi bintang eksotik berupa lubang hitam, maka sang lubang hitam mulai menyedot materi bintang biasa pasangannya hingga membentuk piringan akresi superpanas pemancar sinar ultraungu dan sinar-X yang sangat kuat. Meski lubang hitam sanggup menghisap apapun, namun hingga 90 % materi dalam piringan akresi justru takkan terhisap dalam lubang hitam dan malah terlempar ke angkasa. Sumber: NASA, 2014.

Gambar 4. Ilustrasi sebuah lubang hitam yang paling populer, yakni Cygnus X-1, bersama pasangannya. Sebagai sebuah sistem bintang ganda yang salah satu anggotanya telah bertransformasi secara radikal menjadi bintang eksotik berupa lubang hitam, maka sang lubang hitam mulai menyedot materi bintang biasa pasangannya hingga membentuk piringan akresi superpanas pemancar sinar ultraungu dan sinar-X yang sangat kuat. Meski lubang hitam sanggup menghisap apapun, namun hingga 90 % materi dalam piringan akresi justru takkan terhisap dalam lubang hitam dan malah terlempar ke angkasa. Sumber: NASA, 2014.

Bintang eksotik bernama lubang hitam memang berkemampuan melahap, namun tak seseram bayangan tersebut. Mari ambil contoh Matahari kita. Matahari memang takkan bisa berubah menjadi lubang hitam akibat massanya yang terlalu kecil. Namun andaikata dia bertransformasi menjadi lubang hitam maka diameternya akan demikian kecil menjadi hanya 5,9 kilometer saja. Namun massa dan gravitasinya akan tetap sama dengan Matahari kita saat ini, sehingga Bumi dan planet-planet lainnya bakal tetap berada di orbitnya seperti semula. Dengan satu perbedaan, kini semua gelap gulita abadi. Persoalan baru muncul jika Bumi dan planet-planet mendekat hingga sejarak setengah sampai sejuta kilometer dari ‘lubang hitam Matahari’ ini. Sebab pada titik itulah gaya tidal (gaya pasang surut gravitasi) ‘lubang hitam Matahari’ telah demikian besar sehingga mampu membelah dan mencabik-cabik benda langit apapun yang melintasinya.

Begitu pun setiap benda langit lainnya yang dipaksa terlalu dekat dengan lubang hitam nyata apapun. Setelah tercabik-cabik begitu rupa, kepingan-kepingan sisa benda langit tasi dipaksa mengelilingi sang lubang hitam dalam jarak dekat sebagai piringan akresi. Piringan ini bentuknya seperti donat gepeng dan menyerupai sabuk asteroid, namun memiliki suhu sangat tinggi sehingga melepaskan gelombang elektromagnetik berintensitas dan berenergi tinggi yang didominasi sinar ultraungu dan sinar-X. Hanya sedikit materi bersuhu tinggi dalam piringan akresi ini yang bakal dilahap lubang hitam. Justru hingga 90 % diantaranya bakal terlempar keluar menjauhi piringan akresi, yang otomatis juga menjauhi lubang hitam, menurut sebuah simulasi. Maka, meski memang tak bakal meloloskan seberkas cahaya sekalipun (demikian pula gelombang elektromagnetik lainnya), namun sejatinya lubang hitam bisa dideteksi dengan berdasar pada pancaran sinar ultraungu/sinar-X dari kawasan sempit di langit. Ia juga bisa dideteksi dengan mengamati perilaku bintang-bintang biasa didekatnya.

Lubang hitam raksasa di pusat galaksi Bima Sakti pertama kali terdeteksi pada Februari 1974 TU oleh astronom Bruce Balik dan Robert Brown lewat teleskop radio. Ia terekam sebagai sumber gelombang radio sangat kuat di dekat perbatasan rasi Sagittarius dan Scorpio. Mereka menamainya Sagittarius A-star (Sgr A*), yang berjarak antara 24.500 hingga 27.300 tahun cahaya dari Bumi kita. Maka berkas sinar-X yang kita terima dari Sgr A* pada saat ini sejatinya dipancarkan olehnya dalam 24.500 hingga 27.300 tahun silam. Sgr A* ini tidak bisa disaksikan mata (pada spektrum cahaya tampak) akibat berlimpahnya debu-debu antarbintang yang sangat menghalangi pandangan mata kita dari Bumi ke arahnya. Awalnya Sgr A* dianggap sebagai gerombolan bintang gelap maupun bintang eksotik tertentu. Namun kemudian dijumpai sejumlah bintang yang teramati beredar mengelilingi Sgr A* dalam orbit amat lonjong. Keberadaan bintang-bintang ini memungkinkan kita menghitung massa Sgr A* dengan menggunakan kombinasi Hukum Kepler III dan hukum gravitasi Newton, sepanjang kita mengetahui nilai periode revolusi masing-masing bintang.

Gambar 5. Pemandangan selempang galaksi Bima Sakti kita saat disaksikan dari Bumi. Sagittarius A-star (Sgr A*) merupakan pusat galaksi Bima Sakti yang terlihat berdekatan dengan bintang terang Antares di rasi Scorpio. Sgr A* adalah lubang hitam raksasa yang massanya 4,31 juta kali lipat massa Matahari kita dan terletak antara 24.500 hingga 27.300 tahun cahaya dari Bumi kita. Diabadikan dari Gunung Sumbing pada Juni 2014 TU lalu. Sumber: Enggar, 2014.

Gambar 5. Pemandangan selempang galaksi Bima Sakti kita saat disaksikan dari Bumi. Sagittarius A-star (Sgr A*) merupakan pusat galaksi Bima Sakti yang terlihat berdekatan dengan bintang terang Antares di rasi Scorpio. Sgr A* adalah lubang hitam raksasa yang massanya 4,31 juta kali lipat massa Matahari kita dan terletak antara 24.500 hingga 27.300 tahun cahaya dari Bumi kita. Diabadikan dari Gunung Sumbing pada Juni 2014 TU lalu. Sumber: Enggar, 2014.

Dengan cara inilah tim Max Planck Institute for Extraterestrial Physics berhasil mendapatkan massa Sgr A*. Belakangan hasilnya diperbaiki dengan lebih akurat oleh astronom Stefan Gilessen dkk pada Oktober 2008 TU lewat observasi pergerakan bintang-bintang disekeliling Sgr A* selama 16 tahun berturut-turut tanpa terputus. Sgr A* ternyata memiliki massa luar biasa besar, yakni 4,31 juta kali lipat massa Matahari kita. Hanya ada satu penjelasan bagi benda langit bermassa sebesar itu, yakni sebagai lubang hitam. Lebih tepatnya sebuah lubang hitam raksasa.

Observasi lebih lanjut memperlihatkan bahwa lubang hitam raksasa di pusat galaksi Bima Sakti kita ternyata dalam kondisi lapar. Daya (energi per detik) yang dilepaskan oleh piringan akresi di sekelilingnya ternyata 200 juta kali lipat lebih rendah dibanding yang seharusnya bisa dilepaskan untuk ukuran massanya. Rendahnya daya tersebut merupakan implikasi dari kecilnya materi yang dilahap sang lubang hitam raksasa, yakni tak lebih massif dari Bumi kita setiap tahunnya. Karena lapar, maka aktivitas lubang hitam raksasa Sgr A* pun cenderung kalem. Dia tak seagresif lubang-lubang hitam raksasa penghuni pusat galaksi-galaksi tetangga tertentu yang demikian meledak-ledak.

Batal

Namun sebuah harapan bersemi dengan ditemukannya awan gas G2. Awan gas ini beredar mengelilingi lubang hitam raksasa Sgr A* dengan titik perinigricon-nya demikian kecil. Sementara gaya tidal Sgr A* sudah berkemampuan mengoyak sang awan gas bahkan tatkala masih berjarak trilyunan kilometer darinya. Maka awan gas ini diprediksikan akan tercabik-cabik begitu mendekat atau melintas titik perinigricon-nya hingga terlontar kemana-mana sebagai kembang api kosmik berskala sangat besar. Peristiwa ini juga memungkinkan lubang hitam raksasa Sgr A* untuk berbuka puasa, meski hanya sekedar menyantap kudapan kosmik seiring kecilnya massa si awan gas.

Gambar 6. Bagaimana awan gas G2 berubah bentuk secara perlahan dari tahun ke tahun begitu kian mendekati Sgr A* dalam satu dekade terakhir. Nampak awan gas terlihat semakin mulur begitu kian mendekati titik perinigricon-nya terhadap lubang hitam raksasa. Namun ajaibnya, setelah melintasi titik perinigricon-nya awan gas G2 justru tetap ada dan relatif utuh. Sumber: Max Planck Institute for Extraterrestrial Physics, 2014.

Gambar 6. Bagaimana awan gas G2 berubah bentuk secara perlahan dari tahun ke tahun begitu kian mendekati Sgr A* dalam satu dekade terakhir. Nampak awan gas terlihat semakin mulur begitu kian mendekati titik perinigricon-nya terhadap lubang hitam raksasa. Namun ajaibnya, setelah melintasi titik perinigricon-nya awan gas G2 justru tetap ada dan relatif utuh. Sumber: Max Planck Institute for Extraterrestrial Physics, 2014.

Jika hal itu benar-benar terjadi, maka umat manusia berkesempatan menyaksikan untuk pertama kalinya bagaimana sebuah lubang hitam melahap benda langit yang ditakdirkan untuk terlalu dekat dengannya. Meski kini kita telah memiliki daftar kandidat lubang hitam yang bertebaran dimana-mana, bahkan dalam galaksi Bima Sakti sendiri, namun bagaimana cara sebuah lubang hitam menyantap makanannya belum pernah dapat disaksikan. Kampanye observasi pun digelar melibatkan teleskop-teleskop termutakhir. Sedemikian ramainya kampanye observasi ini sehingga dalam kata-kata astronom Andrea Ghez di University of California Los Angeles, ia menjadi peristiwa langit yang paling banyak diamati.

Tapi hasilnya sungguh tak terduga. Andrea Ghez dan rekan-rekannya mengamati awan gas G2 ini dengan menggunakan teleskop kembar di observatorium W.M. Keck puncak Gunung Mauna Kea, Hawaii (Amerika Serikat), yang masing-masing memiliki cermin obyektif berdiameter 10 meter, pada spektrum sinar inframerah dengan panjang gelombang 3 mikrometer. Pengamatan dilangsungkan dalam dua kesempatan terpisah, masing-masing di bulan Maret dan Agustus 2014 TU. Hasilnya apa yang dikira sebagai awan gas G2 ternyata masih ada dan relatif tak terganggu pada observasi bulan Agustus 2014 TU lalu. Dan observasi juga tak menjumpai fenomena kembang api kosmik yang dinanti. Jelas sudah, lubang hitam raksasa Sgr A* batal menyantap kudapan.

Gambar 7. Simulasi bagaimana nasib awan gas G2 dari tahun ke tahun hingga saat melintas demikian dekat dengan lubang hitam raksasa di pusat galaksi Bima Sakti. Lubang hitam raksasa ditempatkan di koordinat (0, 0). Nampak awan gas G2 pada akhirnya akan terjebak di sekeliling lubang hitam raksasa untuk membentuk piringan akresi. Dalam kenyataannya, awan gas G2 tidak bernasib seperti simulasi ini. Sumber: Anninos dkk, 2012.

Gambar 7. Simulasi bagaimana nasib awan gas G2 dari tahun ke tahun hingga saat melintas demikian dekat dengan lubang hitam raksasa di pusat galaksi Bima Sakti. Lubang hitam raksasa ditempatkan di koordinat (0, 0). Nampak awan gas G2 pada akhirnya akan terjebak di sekeliling lubang hitam raksasa untuk membentuk piringan akresi. Dalam kenyataannya, awan gas G2 tidak bernasib seperti simulasi ini. Sumber: Anninos dkk, 2012.

Kini muncul dugaan bahwa apa yang semula kita kira sebagai awan gas G2 mungkin sesungguhnya adalah benda langit yang lebih massif. Dalam pandangan Andrea Ghez, G2 lebih mungkin merupakan bintang takbiasa yang massanya 2 kali lipat Matahari kita namun diameternya 100 kali lipat lebih besar. Bintang takbiasa ini nampaknya mungkin merupakan penggabungan dari dua buah bintang yang semula menjadi bagian sebuah sistem bintang ganda. Namun seiring mendekatnya ke lubang hitam raksasa Sgr A*, sistem bintang ganda tersebut kehilangan stabilitasnya sekaligus memaksa kedua bintang itu berbenturan dan menyatu.

Ada juga dugaan bahwa G2 mungkin adalah sebuah bintang yang melepaskan gas dalam jumlah besar ke sekelilingnya. Dapat pula ia adalah sebuah awan gas yang seungguhnya dengan gumpalan-gumpalan beragam ukuran didalamnya, produk dari pelepasan lapisan terluar sebuah bintang raksasa di tempat lain. Namun apapun itu, lubang hitam raksasa Sgr A* masih harus bersabar menahan laparnya hingga beberapa waktu ke depan. Umat manusia pun juga masih harus bersabar untuk bisa membuktikan bagaimana cara sebuah bintang eksotik bernama lubang hitam mengonsumsi benda-benda langit yang terlanjur mendekat kearahnya.

Referensi :

Clery. 2014. Astronomers Identify Mysterious Object at Heart of Milky Way. American Association for the Advancement of Science, 4 November 2014.

Cofield. 2014. Milky Way’s Monster Black Hole Ignores Its ‘Snack,’ and Debate Swirls. Space.com, 20 November 2014.

Anninos dkk. 2012. Three-Dimensional Moving-Mesh Simulations of Galactic Center Cloud G2. The Astrophysical Journal, vol. 759 no. 132 (2012).