Gugur Gunung Anak Krakatau, Tsunami Sunyi Selat Sunda

Apa yang terjadi bilamana gunung berapi tumbuh berkembang dengan pesat dengan bertumpu pada lokasi yang sesungguhnya tidak begitu stabil? Pertanyaan yang menghantui benak (sebagian) cendekiawan kebumian Indonesia ini menemukan jawabannya dalam peristiwa Tsunami Selat Sunda 22 Desember 2018. Tsunami nan sunyi, bagi sebagian kita, karena datang tanpa didului gempa bumi dan tanpa peringatan apapun. Bahkan di jam-jam pertama pasca serbuannya ke kedua belah pesisir Selat Sunda, yakni pesisir Banten dan Lampung, eksistensinya masih diragukan. Ada yang mengiranya hanya sekedar gelombang tinggi sebagaimana telah dinyatakan dalam prakiraan cuaca.

Gambar 1. Panorama letusan Gunung Anak Krakatau pasca peristiwa gugur gunung 22 Desember 2018 TU lalu. Kepulan asap merupakan kolom letusan dari erupsi tipe Surtseyan, mengingat lubang letusan kini berada di bawah paras laut. Di sisi kanan nampak pulau Rakata dengan jejak tsunami Selat Sunda di pantainya. Analisis memperlihatkan jejak tersebut ditinggalkan oleh tsunami setinggi 55 meter. Sumber: Anonim, 2018 dengan teks ditambahkan Sudibyo, 2018.

Hingga empat hari kemudian, jumlah korban tewas akibat bencana ini mencapai tak kurang dari 430 orang. Inilah tsunami ketiga yang menghantam Indonesia dalam tahun 2018 TU, setelah peristiwa Tsunami Lombok dan Tsunami Palu. Tsunami Lombok dipicu Gempa Lombok 5 Agustus 2018 (magitudo 7,0). Tsunaminya kecil, hanya setinggi 20 centimeter saja seperti terekam di stasiun pasangsurut Lembar yang dioperasikan BIG (Badan Informasi Geospasial). Sehingga tidak ada korban jiwa yang jatuh dari tsunami. Sebaliknya tsunami Palu diproduksi Gempa Donggala-Palu 2018 (magnitudo 7,5) tergolong cukup besar dan merusak. Tinggi maksimumnya 12 meter. Hempasannya di pesisir kota Palu merenggut nyawa tak kurang dari 1.500 orang. Secara akumulatif, jumlah korban jiwa yang jatuh akibat peristiwa tsunami di Indonesia sepanjang 2018 TU mendekati 2.000 orang.

Banyak pertanyaan mengemuka dari bencana Tsunami Selat Sunda 22 Desember 2018, yang untuk selanjutnya kita sebut saja tsunami Selat Sunda. Apa penyebabnya? Mengapa berlangsung sunyi (tanpa didului gempa tektonik)? Mengapa tak terdeteksi? Dan apa yang sebaiknya dilakukan guna mengantisipasi bencana sejenis di masa depan?

Gambar 2. Marigram (rekaman dinamika paras air laut) di stasiun pasang surut Ciwandan / Banten pada 22 Desember 2018. Nampak jelas perbedaan pola pasang surut laut biasa dan pola tsunami. Tsunami terekam datang pada pukul 21:33 WIB setinggi 35 centimeter. Sumber: BIG, 2018 dengan teks ditambahkan Sudibyo, 2018.

Gugur Gunung

Tsunami Selat Sunda berhubungan erat dengan peristiwa gugur Gunung Anak Krakatau. Yakni rapun atau pecahnya gunung berapi laut itu menjadi dua bagian, mungkin oleh letusannya atau mungkin oleh bobotnya sendiri. Salah satu bagian lantas bergerak menurun sebagai longsoran raksasa / gigantis, karena melibatkan volume material longsor yang sangat besar. Gugur gunung dikenal juga sebagai keruntuhan lereng (flank collapse), karena pada galibnya salah satu lereng gunung berapi runtuh membuat gunung terbuka ke satu sisi. Ciri khas yang ditinggalkannya adalah adanya kawah atau kaldera tapalkuda dari puncak hingga ke lereng / kaki gunung.

Gugur gunung berapi adalah peristiwa yang jamak ditemui dalam sejarah geologi tanah Indonesia. Geolog legendaris van Bemmelen dalam opus magnum-nya The Geology of Indonesia memaparkan gugur gunung berapi di Indonesia jamak dijumpai sebagai konsekuensi tumbuh kembangnya sang gunung di atas batuan dasar sedimen laut relatif lunak. Seiring tumbuh kembangnya, pada satu masa bobot gunung berapi itu telah demikian besar hingga tak sanggup lagi ditahan oleh batuan dasarnya. Akibatnya gunung pun mulai gugur, atau malah terperosok seluruhnya. Jajaran gunung-gemunung di Jawa bagian tengah seperti Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo hingga Gunung Ungaran adalah contoh yang pernah mengalami gugur gunung.

Meski demikian pada skala waktu umat manusia, peristiwa gugur gunung berapi tergolong jarang terjadi. Indonesia terakhir kali menyaksikannya pada tahun 1772 TU silam, manakala Gunung Papandayan di Garut (Jawa Barat) meletus dan menjebol lereng sisi timur lautnya dalam erupsi mendatar (lateral). Sebanyak 40 desa terkubur dan tak kurang dari 5.000 nyawa melayang. Gugur gunung bisa terjadi akibat letusan gunung berapi, misalnya yang sangat populer pada Letusan St. Helena 1980 di Gunung St. Helena, negara bagian Washington (Amerika Serikat). Juga bisa timbul tanpa letusan signifikan, misalnya dalam kejadian Gunung Bandai 1888 (Jepang).

Gambar 3. Gugur gunung berapi yang disertai letusan besar di Gunung St. Helena, Washington (Amerika Serikat) pada 18 Mei 1980 TU. Awalnya salah satu lereng gunung mendadak gugur lalu mengalir deras ke arah kakinya dalam volume gigantis. Pada saat bersamaan magma segar mulai menyembur sebagai letusan. Sumber: USGS, 1980.

Gugur Gunung Anak Krakatau terjadi pada Sabtu 22 Desember 2018 TU pukul 21:02 WIB. Saat itu lereng barat gunung mendadak patah, merosot lalu meluncur deras ke laut. Mengacu batasan dari Gianchetti dkk (2012), volume tubuh gunung yang gugur diperkirakan tak lebih dari 280 juta meter3. Dan berdasar analisis citra satelit radar Sentinel-1 dalam beberapa jam pasca kejadian, saya memperkirakan (secara sangat kasar) bahwa volumenya di sekitar 100 juta meter3. Analisis citra satelit sejenis yang dikerjakan BPPT memperlihatkan bidang tanah dengan panjang 1.800 meter dan lebar 357 meter (seluas 64 hektar) telah menghilang dari sisi barat Gunung Anak Krakatau. Jika perhitungan kasar saya benar, maka inilah kejadian tanah longsor terbesar di Indonesia dalam kurun 14 tahun terakhir terhitung sejak peristiwa Longsor Bawakareng 26 Maret 2004 (volume longsoran 232 juta meter3) di dalam kaldera purba Gunung Bawakareng (Sulawesi Selatan).

Gambar 4. Wajah Gunung Anak Krakatau dalam periode seminggu antara tanggal 19 hingga 25 Desember 2018 TU dalam citra radar satelit Sentinel-1. Nampak jelas perubahan dramatisnya pasca terjadinya peristiwa gugur gunung yang menerbitkan tsunami Selat Sunda. Sumber: Sudibyo, 2018.

Material longsoran gigantis Gunung Anak Krakatau yang mengalir deras menghasilkan getaran seismik khas. Seismometer-seismometer BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) merekamnya sebagai gempa bermagnitudo lokal (ML) 3,4 yang memiliki frekuensi sangat rendah (yakni antara 0,01 hingga 0,1 Hertz). Demikian halnya jaringan seismometer GFZ (Geo Forschungs Zentrum), lembaga geofisika Jerman, yang merekamnya sebagai gempa bermagnitudo 5,1. Dapat diperkirakan, material longsoran gigantis ini mengalir dalam kecepatan tinggi, mungkin hingga 100 km/jam. Sehingga terinjeksikan ke dalam laut dalam tempo singkat. Inilah yang menerbitkan tsunami.

Gunung Anak Krakatau lahir melalui letusan terus-menerus sejak 27 Desember 1927 TU. Awalnya sebagai letusan bawah air laut dan hanya nampak di paras laut sebagai semburan menyerupai air mancur. Mulai 20 Januari 1929 TU terlihatlah tumpukan materi kehitaman di samping tiang asap putih yang telah eksis berminggu-minggu sebelumnya. Inilah momen kelahiran Gunung Anak Krakatau. Bayi gunung berapi ini tumbuh cepat di tahun-tahun berikutnya dengan pertambahan ketinggian rata-rata 4 meter/tahun dan kecepatan pertumbuhan rata-rata 52,51 juta m3/tahun per tahun. Dengan demikian diperkirakan pada 2018 TU volume tubuh gunung telah mencapai 7,8 km3.

Gunung berapi ini tumbuh menumpang di atas tebing sisi timur laut kaldera produk Letusan Krakatau 1883 nan dahsyat. Kaldera tersebut berdiameter 6 km dengan lantai sedalam 240 meter dari paras laut. Dinding kaldera cukup terjal, membuat kaki Gunung Anak Krakatau yang menjulur ke sini memiliki kemiringan hingga 28º. Selama pertumbuhannya Gunung Anak Krakatau nyaris tak pernah mengirim materi letusannya ke lantai kaldera. Ia cenderung tumbuh berkembang ke arah timur laut. Seiring tubuhnya kian membesar dari tahun ke tahun, praktis gunung berapi ini menumpang di atas lereng terjal, membuatnya kian beresiko mengalami gugur gunung.

Gambar 5. Sketsa situasi kompleks kepulauan Krakatau antara sebelum dan sesudah 1929 TU. Nampak kedudukan Gunung Anak Krakatau adalah menumpang di atas tebing kaldera Krakatau 1883 sisi timur laut. sehingga sedari awal kelahirannya, gunung berapi ini sudah tidak stabil. Sumber : Sutawidaja, 2006 dengan sketsa dari Self & Rampino (1981) serta Francis (1985).

Riset Gianchetti dkk (2012) memperlihatkan potensi gugur Gunung Anak Krakatau sebesar 280 juta m3 (0,28 km3) atau setara 3,5 % volume tubuh gunung. Itu mencakup seluruh bagian tubuh gunung yang terbentuk pasca tahun 1960 TU dan menumpang di atas bagian tubuh gunung yang lebih tua. Bidang kontak antara kedua bagian itu membentuk sudut 8,2º terhadap bidang datar. Aktivitas Gunung Anak Krakatau sebelum Juni 2018 TU cenderung melontarkan materinya ke arah timur atau timur laut. Namun sejak mulai beraktivitas kembali pada Juni 2018 TU, Gunung Anak Krakatau bertingkah sedikit berbeda. Erupsinya masih bertipe Strombolian, yang mirip pancuran air mancur berapi dan dikenal bersifat membangun. Akan tetapi kali ini Gunung Anak Krakatau melelerkan lavanya ke arah selatan dan barat daya. Tempat yang selama ini tak pernah disentuhnya. Hingga menjelang gugur gunung terjadi, telah berlangsung 400 kali erupsi Strombolian. Citra satelit pun memperlihatkan munculnya daratan baru signifikan di kaki selatan gunung. Penambahan massa baru di sisi selatan inilah yang mungkin meningkatkan ketidakstabilan tubuh gunung sehingga peristiwa gugur gunung pun terjadi.

Tsunami Injeksi

Saat gugur Gunung Anak Krakatau terjadi, tsunami pun terbit. Tsunami adalah gelombang transversal yang memiliki panjang gelombang jauh lebih besar ketimbang kedalaman perairan yang dilintasinya. Kedalaman rata–rata Selat Sunda hanyalah 40 meter sedangkan panjang gelombang Tsunami Selat Sunda sekitar 10.000 meter. Dengan panjang gelombang demikian besar membuat tsunami selalu mengaduk–aduk perairan yang dilintasinya hingga ke dasar. Berbeda dengan gelombang laut biasa yang hanya mengusik paras laut. Dikombinasikan sifat penguatan / amplifikasi menjelang tiba di garis pantai, inilah yang membuat tsunami memiliki daya rusak jauh lebih besar ketimbang gelombang biasa. Pada dasarnya setiap meter persegi air tsunami yang menghantam pantai kekuatannya setara tubrukan truk tronton yang ngebut.

Gambar 6. Potensi gugur Gunung Anak Krakatau terkait kedudukannya terhadap kaldera Krakatau 1883. Kiri : penampang mendatar kaldera 1883 dan tubuh Gunung Anak Krakatau dalam lintasan A-B. Kanan : peta batimetri dan topografi Kepulauan Krakatau dengan lintasan A-B. Sumber: Gianchetti dkk, 2012.

Tsunami secara umum disebabkan oleh dua hal. Pertama, pergerakan besar di dasar laut. Pergerakan semacam ini umumnya berasal dari gempa tektonik dengan patahan sumber sepanjang minimal 100 km yang berlokasi di bawah laut. Sehingga menyebabkan naik atau turunnya dasar laut tepat diatasnya, bergantung pada jenis patahan sumber gempanya. Ini adalah penyebab lebih dari 90 % kejadian tsunami di Indonesia sepanjang sejarah. Sementara kurang dari 10 % sisanya disebabkan oleh faktor kedua, yakni injeksi massa yang massif (dalam jumlah besar) pada tempo singkat ke perairan. Massa itu bisa berupa material longsoran (baik longsoran bawah laut maupun permukaan laut), material awan panas produk letusan gunung berapi, material tebing es raksasa yang rontok, material tebing terjal yang rontok hingga asteroid / komet besar yang jatuh menumbuk. Maka tsunami bisa saja terjadi meski tidak didahului gempa tektonik, seperti yang kita saksikan pada tsunami Selat Sunda.

Begitu material longsoran gigantis Gunung Anak Krakatau meluncur ke barat dan tercebur ke dalam lantai kaldera, olakan sangat besar dari air laut pun tercipta. Dalam beberapa detik, gelora setinggi hingga sekitar 55 meter terbentuk dan mulai menjalar. Sebagai gelombang Huygens, kecepatan tsunami Selat Sunda berbanding lurus dengan kedalaman perairan tempat pembentukannya. Sehingga hanya secepat sekitar 100 km/jam dan tidak secepat kelajuan jelajah pesawat jet komersial (700 km/jam) sebagaimana tsunami Aceh 2004.

Periode tsunami Selat Sunda juga relatif pendek yakni hanya 5 menit. Setara dengan tsunami Palu. Ini merupakan salah satu ciri khas tsunami produk injeksi massa massif ke perairan. Ciri khas lainnya, tinggi tsunami kian besar seiring kian dekat ke sumbernya. Maka pada pulau-pulau kecil yang memagari Gunung Anak Krakatau, tinggi tsunaminya mencapai 50 meter atau lebih. Namun begitu menjalar jauh mencapai pesisir Selat Sunda, tingginya meluruh dramatis hingga tinggal berkisar 1 s/d 3 meter. Kombinasi antara batimetri Selat Sunda, eksistensi pulau-pulau kecil dan arah gerak longsoran gigantisnya membuat tsunami tiba di pesisir Banten hanya dalam 30 menit. Sebaliknya tsunami baru mencapai pesisir Bandar Lampung di ujung Teluk Lampung hampir sejam kemudian. Simulasi Gianchetti dkk (2012) yang ditunjang simulasi CEDIM berbasis rekaman marigram stasiun-stasiun pasangsurut di sekujur pesisir Selat Sunda menegaskan hal itu.

Dengan demikian pesisir Banten memiliki selang waktu setengah jam sejak gugur gunung terjadi hingga tsunami menerjang. Sementara bagi pesisir Lampung selang waktunya antara setengah hingga satu jam. Selang waktu yang sesungguhnya menyediakan kesempatan cukup lama bagi penduduk pesisir untuk mengevakuasi diri. Sangat bertolak-belakang dengan tsunami Palu, dimana tsunami menerjang dalam tempo cukup singkat dan membuat penduduk Palu tak sempat bereaksi. Sayangnya dalam kejadian tsunami Selat Sunda, tak ada peringatan dini dari sistem InaTEWS. Membuat korban jiwa menjadi tak terelakkan.

Gambar 7. Perbandingan waktu tempuh tsunami (time travel) dalam satuan menit antara hasil pemodelan Gianchetti dkk di tahun 2012 TU dengan kejadian tsunami Selat Sunda 2018 yang dipublikasikan CEDIM. Nampak bahwa keduanya memiliki kemiripan cukup besar, mengindikasikan bahwa gugur Gunung Anak Krakatau memang penyebab Tsunami Selat Sunda 2018. Sumber: Gianchetti dkk, 2012 & CEDIM, 2018.

Sistem InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System) dibangun untuk memberikan peringatan dini tsunami di Indonesia dari sumber apapun, termasuk kejadian longsoran. Sistem ini mendapatkan masukan dari jaringan seismometer dan akselerometer yang ditanam di segenap penjuru Indonesia untuk mengendus peristiwa gempa tektonik dan resikonya. Juga mendapat masukan dari pelampung tsunami (tsunami buoy) untuk mengendus tsunami kala masih menjalar di laut lepas. Sehingga InaTEWS bisa mengeluarkan amaran untuk pesisir-pesisir yang berpotensi terdampak berdasarkan pada pemodelan dengan masukan radas-radas (instrumen-instrumen) tadi. Dan akhirnya konfirmasi benar tidaknya telah terjadi tsunami diperoleh dari marigram stasiun-stasiun pasangsurut yang ditanam di sejumlah titik pesisir termasuk di seluruh pelabuhan.

Sistem InaTEWS berada di bawah payung BMKG, sementara pelampung-pelampung tsunami dikelola BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) dan stasiun-stasiun pasangsurut oleh BIG. Sistem yang dirancang GFZ ini akan terpicu otomatis saat terjadi gempa tektonik dengan sumber di dasar laut dan bermagnitudo minimal 6,5. Problem tersulit adalah bilamana sumber tsunami tidak berasal dari gempa, yang membuat jaringan seismometer tak bisa digunakan. Sistem harus mengandalkan kinerja pelampung-pelampung tsunami, sementara segenap radas itu kini sudah tak berfungsi lagi. Terutama karena sudah hilang dicuri. Sebaliknya jika mengandalkan stasiun-stasiun pasangsurut maka esensi peringatan dini sudah hilang. Karena saat tsunami terbaca oleh stasiun-stasiun pasang surut, artinya tsunami sudah tiba di garis pantai. Tak ada lagi artinya peringatan dini jika tsunami sudah tiba di garis pantai.

Inilah yang membuat tsunami Selat Sunda tak terdeteksi dalam sistem InaTEWS sehingga peringatan dini tsunami pun tak bisa dikeluarkan. Gunung Anak Krakatau memang dimonitor PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) secara menerus sebagaimana halnya gunung-gemunung berapi aktif lainnya di Indonesia. Pemantauan umumnya berada pada tiga aspek : seismik, kimia gunung berapi dan deformasi (kembang kempis tubuh gunung). Dan tak satupun dari ketiga aspek tersebut yang bisa mendeteksi kejadian gugur gunung.

Maka begitu gugur Gunung Anak Krakatau terjadi, tak satupun yang menyadari. Terlebih Gunung Anak Krakatau berada di tengah laut sejarak 40 km dari pos PGA Pasauran dan gugur gunung berlangsung di gelapnya malam. Manakala tsunami Selat Sunda sudah terbit dan menjalar pun, tidak ada yang tahu bahwa petaka akan terjadi sebentar lagi. Karena pelampung tsunami di kawasan Selat Sunda telah hilang sejak 2007 TU silam dan tak kunjung mendapat pengganti. Konfirmasi terjadinya tsunami justru baru diketahui pasca kejadian, setelah stasiun-stasiun pasangsurut di sekujur pesisir Selat Sunda dengan jelas menunjukkan pola tsunami pada marigram-marigramnya.

Pelajaran

Jadi, bagaimana Indonesia belajar dari tsunami Selat Sunda?

Gambar 8. Bagaimana teknik interferometri radar diterapkan untuk memantau dinamika lereng bukit/gunung dengan menggunakan radas InSAR darat. Penyigian interferometri pada salah satu lereng menunjukkan adanya potensi longsor dan terbukti sesuai dengan kejadian sesungguhnya. Gugur gunung berapi pada dasarnya adalah peristiwa longsor. Sumber: Dongeng Geologi, 2018.

Mayoritas (95 % atau lebih) peristiwa tsunami di Indonesia yang tercatat sepanjang sejarah disebabkan gempa tektonik. Terdapat sejumlah kejadian tsunami yang disebabkan longsoran besar di dasar laut, namun longsoran itu sendiri tetap dipicu gempa tektonik. Misalnya tsunami Flores 1992 (dipicu gempa bermagnitudo 7,8), tsunami Banyuwangi 1994 (dipicu gempa bermagnitudo 7,7), tsunami Pangandaran 2006 (dipicu gempa bermagnitudo 7,7), tsunami Mentawai 2010 (dipicu gempa bermagnitudo 7,8) dan tsunami Palu 2018 (dipicu gempa bermagnitudo 7,5). Sementara sisanya (yakni 5 % atau kurang) merupakan tsunami yang bersumber dari letusan gunung berapi, yakni akibat injeksi awan panas nan massif ke dalam laut. Dan sangat jarang tsunami bersumber dari longsoran gigantis dipicu faktor non-gempa.

Gugur gunung berapi pada dasarnya adalah peristiwa gerakan tanah. Sehingga memiliki tanda-tanda awal khas, dimulai dari munculnya retakan-retakan lantas mulai beringsutnya massa tanah secara perlahan-lahan sebelum akhirnya longsor terjadi. Tanda-tanda awal ini bisa dideteksi. Secara umum pada lokasi yang memiliki potensi gerakan tanah biasa digunakan radas ekstensometer. Untuk potensi gugur gunung berapi, deteksi tanda awal mungkin bisa memanfaatkan radas-radas GPS yang ditanam di lereng yang berpotensi. Atau menggunakan teknik interferometri, baik yang berbasis satelit maupun darat. Teknologi interferometri berbasis darat telah umum digunakan dalam dunia pertambangan untuk memeriksa stabilitas lereng.

Gambar 9. Usulan skema penerapan teknik interferometri berbasis radas InSAR darat. Tiga radas ditempatkan di pulau Sertung, Panjang dan Rakata yang semuanya diarahkan ke Gunung Anak Krakatau. Sehingga bagaimana pergerakan lereng-lerengnya dapat dimonitor. Sumber: Dongeng Geologi, 2018.

Pemantauan jadi penting artinya mengingat Gunung Anak Krakatau masih berpotensi mengalami gugur gunung kembali. Belum seluruh potensi maksimum volume gugur gunungnya terlepaskan. Di sisi lain, aktivitas Gunung Anak Krakatau meningkat pesat pasca gugur gunung. Karena saluran magmanya kini relatif terbuka yang ditunjang dengan lubang letusan tepat di bawah paras air laut. Sehingga kini magma keluar relatif lebih leluasa dan langsung dihantarkan ke laut sebagai erupsi tipe Surtseyan. Apabila terjadi letusan yang lebih besar, awan panasnya pun akan langsung dimuntahkan ke laut. Injeksi massa nan massif pun bisa terulang, menjadikan peluang terulangnya kembali tsunami Selat Sunda masih terbuka.

Referensi :

Gianchetti dkk. 2012. Tsunami Hazard Related to a Flank Collapse of Anak Krakatau Volcano, Sunda Strait, Indonesia. Geological Society, London, Special Publications 2012, v.361, p 79-90.

Sutawidjaja. 2006. Pertumbuhan Gunung Api Anak Krakatau Setelah Letusan Katastrofis 1883. Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 1 No. 3 September 2006: 143-153

Rovicky Dwi Putrohari. 2018. komunikasi personal.

Widjo Kongko. 2012. komunikasi personal

Kupas-Hoax: Isu Tsunami Kebumen 18 Desember 2018 dan Tiada Kuasa Ramalan Gempa

Dalam dua bulan terakhir beredar isu lokal yang meresahkan penduduk pesisir di Kabupaten Kebumen. Isu tersebut mengklaim bakal terjadinya bencana gempa bumi besar disertai tsunami pada Selasa 18 Desember 2018 TU. Dengan membaca semesta yang menjadi bagian ayat–ayat-Nya melalui perkembangan ilmu pengetahuan terkait, isu tersebut dapat dipastikan merupakan hoaks. Atau kabar–bohong yang tak punya dasar.

Kabar bakal terjadinya gempa bumi besar disertai tsunami yang bakal melimbur pesisir Kabupaten Kebumen merebak pasca peristiwa bencana Gempa Donggala–Palu 28 September 2018 (magnitudo 7,5) silam. Bencana yang meluluhlantakkan Kota Palu itu mengejutkan publik Indonesia. Walaupun catatan sejarah menunjukkan sesungguhnya negeri ini mengalami kejadian tsunami merusak yang merenggut korban jiwa setiap tujuh tahun sekali (rata–rata).

Gempa Donggala–Palu 2018 menewaskan tak kurang dari 5.000 orang. Seperlima diantara korban jiwa tersebut meregang nyawa seiring terjangan tsunami lokal unik ke pesisir kota Palu yang berpenduduk padat. Tsunami Palu bersifat lokal, karena hanya signifikan di dalam lingkungan Teluk Palu semata dan melemah saat memasuki perairan Selat Makassar. Riset pascabencana memperlihatkan tsunami ini unik karena diproduksi beraneka titik longsor dasar laut dan disokong juga oleh terjadinya amblesan (deformasi) sebagian dasar Teluk Palu.

Gambar 1. Suasana rapat koordinasi rencana kontijensi tsunami yang diselenggarakan BPBD Kebumen pada 16 Oktober 2018 TU. Sumber: BPBD Kebumen, 2018.

Bencana tsunami Palu menyentak kesadaran banyak pihak, baik lembaga–lembaga terkait penanggulangan bencana hingga pegiat alam bebas. Termasuk di Kabupaten Kebumen. Maka pada Selasa 16 Oktober 2018 TU lalu BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kabupaten Kebumen menggelar Rapat Koordinasi Rencana Kontijensi Tsunami. Rapat digelar di Hotel Candisari Karanganyar Kebumen, yang melibatkan para pihak terkait. Selain me–review bencana tsunami Palu secara umum, rapat juga juga mengingatkan kembali akan langkah–langkah mitigasi bencana tsunami yang telah disusun bagi Kabupaten Kebumen.

Namun jagatmaya, melalui aneka media sosialnya, justru beredar klaim tak berkeruncingan yang menyatakan rapat koordinasi itu ‘meramalkan’ bakal terjadi sesuatu pada 18 Desember 2018 TU. Laksana menuangkan bensin ke bara, klaim sesat ini pun menyebar kemana–mana dan meresahkan banyak pihak. Meskipun BPBD Kebumen dan juga BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) belakangan menegaskan bahwa klaim itu tidaklah benar dan terkategori hoaks.

Dimana Sesar Lasem?

Mengapa terkategori hoaks alias kabar-bohong? Ada sejumlah alasan.

Pertama, hoaks itu mencatut nama sesar (patahan) Lasem. Padahal apabila mengacu buku Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017 hasil jerih payah Pusgen (Pusat Studi Gempabumi Nasional) Balitbang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, sesar Lasem adalah nama bagi sebuah sesar aktif di kawasan Semenanjung Muria di pesisir utara Jawa Tengah. Sesar aktif sepanjang sepanjang 70 kilometer ini membentang mulai dari sisi selatan kota Demak hingga kota Rembang. Sesar aktif ini yang juga dinamakan sesar Pati ini bersifat sesar geser (strike-slip) dengan kecepatan pergeseran 0,1 mm/tahun.

Gambar 2. Hoaks yang beredar.

Jadi sesar Lasem tidak bertempat di Jawa Tengah bagian selatan. Sehingga mustahil mengaitkannya dengan dinamika seismik di Kabupaten Kebumen. Dan yang terpenting, sebaggai sesar darat (yakni sesar aktif yang berada di daratan) adalah mustahil bagi sesar Lasem untuk bisa memproduksi tsunami pada saat ia meletupkan gempa bumi. Ilmu kegempaan (seismologi) mengajarkan, tsunami hanya bisa terjadi manakala sumber sebuah gempa tektonik ada di laut / perairan besar, baik sebagian besar maupun seluruhnya. Luasan sumber itu sendiri harus cukup luas sehingga mampu mengangkat / mengambleskan bagian dasar laut / perairan besar yang persis ada diatasnya dalam derajat kenaikan / pengamblesan yang signifikan.

Yang kedua, hoaks itu mengklaim gempa bermagnitudo 8,2 bakal meletup dari sesar Lasem. Padahal dengan panjang ‘hanya’ 70 km, sesar Lasem hanya bisa berpotensi membangkitkan gempa bumi tektonik masa depan pada magnitudo maksimum 6,5 saja. Karena besarnya magnitudo gempa berbanding lurus dengan panjang sesar sumber gempanya. Sehingga mustahil bagi sesar Lasem untuk bisa memproduksi gempa bumi dengan tingkat energi 54 kali lipat lebih tinggi ketimbang yang bisa dihasilkannya dengan mengacu pada panjang sesar. Angka magnitudo 8,2 tersebut, jika dikaji lebih lanjut, sejatinya merupakan angka maksimum bagi gempa bumi hipotetik di zona subduksi lepas pantai selatan Jawa Tengah yang diajukan Widjo Kongko (2010) guna mengevaluasi resiko tsunami di pesisir Kabupaten Cilacap.

Tidak ada Ramalan Gempa

Dan yang ketiga, hoaks itu meramal kejadian gempa bumi pada waktu yang sangat spesifik. Sementara seismologi modern, seperti berulang-ulang dijelaskan BMKG pada hoaks yang mirip, menjelaskan setiap bentuk kuasa ramalan bakal terjadinya peristiwa gempa bumi di satu lokasi pada tanggal tertentu adalah hoaks. Sebab seismologi sejauh ini belum mencapai taraf setingkat itu.

Gambar 3. Peta sebagian sesar darat aktif di Pulau Jawa khususnya di pantura Jawa Tengah. Hampir seluruhnya merupakan bagian dari zona sesar Baribis-Kendeng, sesar aktif yang baru diidentifikasi pada 2016 TU silam.. Sesar Lasem ditandai dengan huruf L. Sesar Lasem (sesar Pati) bukanlah bagian zona sesar Baribis-Kendeng. Sumber: Pusgen, 2017 dengan penambahan seperlunya.

Secara ilmiah prakiraan gempa bumi baru bisa diterima apabila ketiga komponen berikut terpenuhi semua :

  • telah diketahui lokasi gempa bumi yang bakal terjadi,
  • telah diketahui besarnya magnitudo gempa bumi yang bakal terjadi,
  • telah diketahui kapan gempa bumi yang bakal terjadi.

Seismologi modern sudan sanggup memenuhi dua dari tiga komponen tersebut. Misalnya di Indonesia, dengan melihat sejarah kegempaan dan memetakan pergerakan titik-titik kerak bumi di negeri ini lewat radas (instrumen) GPS khusus, maka lokasi mana yang berpotensi mengalami gempa bumi di masa depan dan besarnya magnitudo maksimum gempa tersebut dapat diketahui.

Misalnya dalam kasus sesar Lasem di atas. Dengan radas-radas GPS dapat diketahui sesar tersebut adalah sesar aktif sehingga bisa memproduksi gempa bumi tektonik di masa yang akan datang. Dan dengan mengombinasikan kecepatan pergerakan 0,1 mm / tahun serta panjang sesar, dapat diketahui sesar Lasem berkemampuan memproduksi gempa bumi dengan magnitudo maksimum 6,5. Namun kapan sesar Lasem benar-benar akan meletupkan gempa bumi tersebut, belum diketahui secara spesifik. Seismologi modern memang pernah berupaya mengetahui hal ini. Akan tetapi ternyata terlalu kompleks sehingga mayoritas ahli kegempaan kini telah meninggalkan upaya-upaya peramalan waktu kejadian gempa. Hanya China yang masih mencoba bertahan mencari jawab tentangnya.

Sepanjang sejarah seismologi hanya ada satu cerita sukses terkait peramalan gempa bumi, yakni dalam kejadian Gempa Haicheng 4 Februari 1975 (magnitudo 7,5) di kota Haicheng, propinsi Liaoning, China. Peramalan gempa dalam kasus ini dianggap sukses karena sejutan orang berhasil dievakuasi dari kota pada waktu yang tepat. Sehingga kala gempa besar mengguncang dan meremukkan 27.000 bangunan, korban jiwa yang berjatuhan ‘hanya’ 2.000 orang. Jika evakuasi tak dilakukan, korban jiwa diprakirakan bisa mencapai angka 150.000 orang.

Namun begitu setahun kemudian China dibuat tak berdaya dalam peristiwa Gempa ganda Tangshan 28 Juli 1976 (magnitudo 7,6 dan 7,0) di propinsi Hebei. Hanya berjarak 400 km dari Haicheng, gempa mengguncang kota Tangshan di sisi timur ibukota Beijing tanpa peringatan apapun. Sebanyak 85 % bangunan di kota tersebut hancur lebur dan rusak berat, tidak bisa digunakan lagi. Korban jiwa yang jatuh mencapai hampir 700.000 orang. Menjadikannya salah satu bencana gempa bumi yang paling mematikan sepanjang sejarah umat manusia.

Jadi, hingga saat ini belum ada kisah sukses peramalan gempa bumi kecuali dalam kejadian Haicheng. Maka pola umumnya belum ada. Sehingga segala bentuk klaim ramalan gempa terkategori sebagai hoaks.

Referensi:

PusGen. 2017. Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017. Balitbang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Kongko & Schlurmann. 2010. The Java Tsunami Model: Using highly-resolved data to model the past event and to estimate the future hazard. Coastal engineering proceedings, January 2010.

Gempa dan Tsunami Donggala-Palu 2018 (2), Tsunami Tak-Biasa Itu dan Takdir Kebumian Kota Palu

Sepekan pasca peristiwa Gempa Donggala-Palu 2018, apa yang dialami pesisir Kota Palu perlahan-lahan mulai terkuak. Selagi seantero negeri berdebat akan sistem peringatan dini tsunami Indonesia yang (dianggap) memprihatinkan, kepingan demi kepingan data yang mulai terkumpul dari kawasan pesisir Teluk Palu menyajikan hasil tak terduga. Sekaligus menonjok uluhati kita.

Betapa tidak, bahkan andaikata sistem peringatan dini tsunami Indonesia bekerja sempurna dengan segenap infrastruktur pendukungnya, seperti tsunami buoy, stasiun pasangsurut, sirene menara peringatan dini tsunami hingga SMS blasting ke segenap penduduk setempat, para korban tsunami itu (mungkin) tetap takkan selamat. Takdir kebumian Kota Palu mengantar daerah itu berhadapan dengan tsunami mengerikan. Sekaligus mimpi buruk bagi sistem peringatan dini tsunami manapun. Sebab gelombang pembunuh itu adalah tsunami tak-biasa, yang datang terlalu cepat.

Data dan Pembaharuan Informasi

Badan Informasi Geospasial (BIG), yang bertanggungjawab memonitor stasiun-stasiun pasangsurut pada pelabuhan-pelabuhan Indonesia, melansir data penting pada Rabu 3 Oktober 2018 TU (Tarikh Umum) lalu. Yakni data dinamika paras air laut yang terekam stasiun pasangsurut pelabuhan Pantoloan. Pelabuhan ini terletak 20 kilometer sebelah utara Kota Palu. Semula stasiun pasangsurut Pantoloan dikira rusak atau bahkan hancur oleh terjangan tsunami. Namun ternyata hanya perangkat komunikasi datanya saja yang rusak. Sementara sebagian sensor pasangsurutnya sendiri tetap utuh dan bekerja.

Gambar 1. Grafik paras air laut Teluk Palu yang terukur di stasiun pasangsurut pelabuhan Pantoloan, 20 kilometer sebelah utara Kota Palu, pada saat peristiwa tsunami terjadi. Grafik telah dikoreksi terhadap faktor pasang surut harian setempat. Nampak tsunami mulai datang pada pukul 18:08 WITA, hanya dalam 6 menit pascagempa. Tinggi tsunami murni 1,9 meter (murni) atau 3,9 meter (dari lembah gelombang ke bukit gelombang). Sumber: BIG, 2018 diolah oleh Widjo Kongko, 2018.

Datanya mengejutkan. Tsunami tiba di pelabuhan Pantoloan hanya dalam 6 menit pascagempa atau tepatnya pada pukul 18:08 WITA. Ia ditandai oleh gelombang negatif (surut maksimum) yang disusul gelombang positif (pasang maksimum) dalam 2 menit kemudian. Tinggi tsunami maksimum, yakni dari surut maksimum hingga pasang maksimum, adalah 3,9 meter. Sementara periode gelombangnya adalah 3,5 menit, tergolong pendek bila dibanding tsunami bangkitan gempa bumi tektonik pada umumnya. Ia lebih mirip periode tsunami Krakatau 1883, produk injeksi awan panas letusan berskala massif ke dasar Selat Sunda, yang hanya 5 menit.

Pantoloan melengkapi data yang telah dipublikasikan sebelumnya, yakni dari stasiun pasangsurut pelabuhan Majene. Dari data Majene, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan pembaharuan informasi runtun waktu. Tsunami kecil terdeteksi di pelabuhan Majene pada pukul 18:27 WITA (sebelumnya disebut 18:13 WITA). Tinggi maksimumnya hanya 6 cm. BMKG juga menyampaikan informasi terjangan tsunami di pesisir Kota Palu dimulai pada pukul 18:10 hingga 18:13 WITA, atas dasar analisis rekaman video. Dengan demikian tsunami tiba di pesisir Palu hanya dalam tempo 8 hingga 11 menit pascagempa. Sangat singkat.

Selain pembaharuan informasi, BMKG juga melansir hasil survei lapangan pendahuluan terkait distribusi tinggi tsunami di sekujur Teluk Palu. Tinggi tsunami terbesar ada di Kota Palu, masing-masing Kota Palu bagian tengah (yakni di Jembatan Kuning) dan Kota Palu bagian timur (dekat kampus Universitas Tadulako). Yakni setinggi 10,9 meter dan 11,3 meter! Di sepanjang pesisir Teluk Palu bagian barat dan timur, distribusi tinggi tsunami relatif berimbang. Di pesisir barat, tinggi tsunami bervariasi dari 4 meter di Loli Dondo, Banawa (Kab. Donggala) hingga 9,5 meter di Kota Palu bagian barat. Sementara di pesisir bagian timur, tinggi tsunami bervariasi dari 3,9 meter di Toaya, Sindua (Kab. Donggala) hingga 11,3 meter di Kota Palu bagian timur.

Gambar 2. Distribusi tinggi tsunami di seantero pesisir Teluk Palu dan Selat Makassar berdasarkan survei lapangan pendahuluan oleh BMKG. Nampak tinggi tsunami terbesar berada di pesisir Kota Palu, yakni 10,9 meter (lokasi Jembatan Kuning) dan 11,3 meter (Kota Palu bagian timur). Sumber: BMKG, 2018.

Pembaharuan informasi juga disampaikan lembaga geofisika lainnya, United States Geological Survey (USGS). Analisis gabungan yang melibatkan banyak data dari sejumlah jejaring seismometer dan citra satelit terutama melalui teknik InSAR (interferometry synthethic apperture radar) menghasilkan pembaharuan tentang geometri sumber gempa. Kini sumber Gempa Donggala-Palu 2018 dipahami sebagai persegi panjang yang membentang mulai dari titik episentrum di utara hingga 150 kilometer ke selatan. Persegi panjang ini terbagi menjadi tiga sub-bagian, masing-masing utara, tengah dan selatan. Sub-bagian utara merentang dari episentrum di Lompio (Kab. Donggala) hingga sekitar Pantoloan (Kab. Donggala) dengan panjang 50 kilometer. Sub-bagian tengah membentang dari Teluk Palu melintasi Kota Palu hingga kawasan Dolo Sel (Kab.Sigi), juga sepanjang 50 kilometer. Dan sisanya adalah sub-bagian selatan, yang merentang hingga Kulawi (Kab.Sigi), pun sepanjang 50 kilometer.

Gambaran pergerakan sesar Palu-Koro di sisi barat Kota Palu dapat dilihat berikut ini :

Dalam segenap sumber gempa ini, terdeteksi lentingan / pergeseran total sebesar 5 – 6 meter (rata-rata) yang didominasi pergerakan mendatar ke arah kiri (sinistral strikeslip). Namun ada pula komponen pergerakan vertikal yang nampaknya juga dialami oleh sub-bagian sumber gempa yang terletak di dasar Teluk Palu. Di sepanjang sumber gempa ini terjadi getaran yang amat sangat keras dengan intensitas hingga mencapai intensitas 9 MMI (modified mercalli intensity). Ini jenis getaran yang mampu menggeser bangunan bermutu baik dari pondasinya sekaligus menyebabkan likuifaksi. Dengan demikian getaran di Kota Palu 1.000 kali lebih kuat ketimbang yang semula diduga lewat analisis pendahuluan (yang hanya mencantumkan 6 MMI).

Gambar 3. Sumber Gempa Donggala-Palu 2018, berdasarkan hasil analisis citra satelit menggunakan teknik InSAR (interferometry Synthethic apperture radar). Ia sepanjang 150 kilometer yang terdiri dari 3 sub-bagian, dengan satu sub-bagian diantaranya berada di Teluk Palu. Diolah oleh Sotiris Valkaniotis berbasis citra radar Sentinel-2. Sumber: Valkaniotis, 2018.

Penyebab

Jadi apa penyebab tsunami dalam Gempa Donggala-Palu 2018 ini?

Ada dua pendapat utama. Satu kubu memperkukuhi pergerakan gempa bumi murnilah yang memproduksi tsunami. Sedangkan kubu yang lain beranggapan gempa bumi semata tak cukup sehingga musti ada faktor penyebab tambahan, dalam hal ini adalah longsoran massif di dasar Teluk Palu. Khususnya di area sub-bagian tengah sumber gempa Donggala-Palu 2018.

Aneka simulasi tsunami yang telah dikerjakan sejauh ini juga belum menunjukkan kecocokan mendekati realita. Misalnya simulasi pendahuluan dari EDIM (Earthquake Disaster Information system for the Marmara), proyek penelitian yang menjadi bagian dari University of Karlsruhe (Jerman). Simulasi tsunami EDIM adalah bagian kubu pertama dan dilansir hanya sehari pascagempa. Simulasi EDIM berasumsi sumber gempa Donggala-Palu 2018 berupa persegi sepanjang 100 kilometer dengan beberapa bagiannya berada di dasar Selat Makassar – Teluk Palu. Hasil simulasinya menempatkan tinggi tsunami di Kota Palu bagian tengah sebesar 5,5 meter.

Gambar 4. Simulasi tsunami pendahuluan dari EDIM. Tsunami Palu dianggap murni diproduksi dari kenaikan dasar sebagian Teluk Palu akibat gempa. Tinggi tsunami terbesar berdasarkan simulasi adalah di pesisir Kota Palu bagian tengah, yakni setara 5,5 meter. Ini masih jauh dari realitas. Sumber: EDIM, 2018.

Sementara simulasi pendahuluan lainnya dikerjakan oleh Aditya Gusman, cendekiawan muda gempa dan tsunami yang sedang menempuh program pascadoktoralnya di Selandia Baru. Simulasi ini tergolong ke dalam kubu kedua dan dipublikasikan 2 hari pascagempa. Ia mengambil asumsi sumber gempa Donggala-Palu 2018 sebagai persegi sepanjang 60 kilometer dengan lebar 20 kilometer dan ada bagiannya yang menjorok ke dasar laut Selat Makassar. Aditya juga berasumsi telah terjadi longsoran dasar laut, yang dispekulasikannya berada di mulut Teluk Palu. Longsoran dianggap berbentuk bulat berdiameter 5 kilometer dengan amplitudo 2 meter. Hasil simulasinya menempatkan tinggi tsunami di Kota Palu bagian tengah hanyalah 2,5 meter. Jika faktor longsoran dasar laut diabaikan, simulasi Aditya menjumpai tinggi tsunami di Kota Palu bagian tengah hanyalah 0,25 meter.

Untuk memastikan apa yang menjadi pembangkit tsunami dalam Gempa Donggala-Palu 2018, maka survei lapangan pun bakal digelar. Termasuk diantaranya bakal ‘mengaduk-aduk’ dasar Teluk Palu, tentu dengan teknologi pencitra dasar laut yang berbasis sonar. Dari survei ini bakal diketahui bagaimana sebenarnya bentuk geometri sumber gempa Donggala-Palu 2018 dan bagaimana situasi di dasar Teluk Palu. Sehingga simulasi tsunami yang lebih baik dan lebih dekat ke realita dapat dikerjakan.

Gambar 5. Simulasi tsunami pendahuluan oleh Aditya Gusman. Tsunami Palu dianggap diproduksi dari gabungan kenaikan Selat Makassar akibat gempa dan terjadinya longsoran dasar laut tepat di mulut Teluk Palu. Tinggi tsunami terbesar berdasarkan simulasi adalah di pesisir Kota Palu bagian tengah, yakni setara 2,5 meter. Ini masih jauh dari realitas. Sumber: Gusman, 2018.

Meski hasil simulasi tsunami pendahuluan hingga sejauh ini belum dapat menjawab apa yang sesungguhnya terjadi, akan tetapi mereka mengungkap fakta lain. Simulasi tsunami pada dasarnya adalah pemodelan matematis penjalaran tsunami dengan menggunakan persamaan-persamaan gelombang tertentu yang dihitung secara numerik. Simulasi tsunami memperlihatkan betapa geometri Teluk Palu yang unik menjadi hal fatal manakala berhadapan dengan peristiwa tsunami.

Pada dasarnya tsunami adalah gelombang panjang. Karena sebagai gelombang transversal, ia mempunyai panjang gelombang jauh lebih besar ketimbang kedalaman perairan yang dilintasinya. Kedalaman Teluk Palu mencapai 700 meter, membuat tsunami yang terbentuk di perairan ini mampu melesat secepat sekitar 300 kilometer/jam. Dengan periode hanya 3,5 menit maka gelombang tsunami Palu memiliki panjang gelombang hingga 5.000 kilometer. Sebagai gelombang panjang, tsunami memiliki tinggi sangat kecil khususnya di tengah-tengah perairan samudera terbuka. Di lokasi tersebut tinggi tsunami mungkin hanya beberapa sentimeter hingga semeter saja.

Namun begitu memasuki perairan sempit seperti misalnya muara sungai, selat, teluk dan pantai berteluk rumit mirip pola gigi gergaji (sawtooth), tsunami mengalami proses amplifikasi atau penguatan. Oleh karena kecepatannya berkurang, maka panjang gelombangnya pun memendek dramatis. Dimana bagian depan tsunami melambat sementara bagian belakangnya masih melaju lebih cepat. Ini membuat massa air bertumpuk sehingga tingginya pun meningkat. Proses ini diperparah jika ada pasokan air lain, misalnya dari aliran sungai. Karena itu saat tiba di pesisir perairan sempit, tinggi tsunami telah demikian meningkat.

Teluk Palu pada dasarnya adalah perairan mirip estuaria (muara sungai berbentuk corong) raksasa. Kota Palu tepat berada di ujung dari corong tersebut. Sehingga manakala tsunami memasuki perairan ini, ataupun tepat terbentuk dalam perairan ini, ia akan diperkuat begitu mendekati Kota Palu. Dan saat tiba di pesisir Kota Palu, tingginya telah demikian besar sehingga cukup mampu menghasilkan kerusakan. Dan menelan korban. Inilah yang menjadikan Kota Palu sebagai kawasan paling rawan tsunami di Indonesia.

Takdir Kebumian

Data dari stasiun pasangsurut Pantoloan dan hasil analisis rekaman video tsunami yang menerpa Kota Palu menghasilkan kesimpulan sementara ibarat pisau bersisi dua. Yakni tentang sistem peringatan dini tsunami. Pada sisi yang tajam, sistem peringatan dini tsunami itu terbukti telah bekerja meskipun tak sempurna. Tsunami menerjang Kota Palu hanya dalam tempo paling lama 10 menit dari awal gempa. Meski BMKG menyampaikan peringatan dininya lebih cepat, yakni hanya 4 menit setelah gempa dimulai, namun waktu yang tersedia sangat sempit. Hanya 6 menit kemudian tsunami telah melimbur Kota Palu. Pada sisi yang tumpul disadari bahwa sebagus apapun dan sesempurna apapun sistem peringatan dini tsunami bagi Kota Palu, warga kota itu hanya memiliki peluang yang kecil untuk selamat.

Gambar 6. Peta kontur kedalaman (batimetri) dasar Teluk Palu berdasarkan rilis Badan Informasi Geospasial (BIG). Nampak lokasi Pelabuhan Pantoloan dan Kota Palu serta kandidat lokasi terjadinya longsor dasar laut yang memperparah tsunami. Sumber: BIG, 2018.

Mari kita bayangkan bagaimana menit demi menit situasi Kota Palu yang mendirikan bulu roma pada saat gempa dan tsunami melanda. Begitu gempa mulai, sesar Palu-Koro yang membelah Kota Palu bergeser 5-6 meter dari semula mengikuti prinsip dislokasi elastis. Segenap kota menjadi sub-bagian tengah sumber gempa. Getaran yang amat sangat keras terjadilah dengan intensitas hingga 9 MMI. Tak satupun insan yang sanggup berdiri tegak kala menerima getaran sekeras itu. Hujan reruntuhan mulai terjadi. Bangunan bermutu buruk remuk, sementara bangunan yang lebih baik dibikin rusak berat hingga runtuh. Mereka yang berhasil mengeluarkan diri segera berkumpul di tempat-tempat terbuka.

Selagi gempa mereda dan rasa panik masih meraja di tahta tertingginya, tak satupun menyadari perairan tenang yang selama ini mempercantik wajah kota mulai bergolak. Sebagian dasar Teluk Palu terangkat dan longsor. Laut bergolak, mengirim gelombang panjang yang awalnya kecil. Namun lama kelamaan kian membesar dan meninggi begitu mendekat ke pesisir. Hanya 10 menit setelah awal gempa, gelombang pembunuh itu tiba di pesisir. Kini ia menjadi monster setinggi hingga 11 meter. Melaju secepat (mungkin) 30 kilometer/jam, ia menerjang ke daratan, merayahi kota hingga 500 meter dari garis pantai. Menyapu apa saja yang dilintasinya. Termasuk manusia.

Takdir kebumian Kota Palu, dengan sesar Palu-Koro yang melintasinya dan teluk bergeometri unik dihadapannya, mengantar kota itu berhadapan dengan kengerian tsunami. Sekaligus mimpi buruk bagi sistem peringatan dini tsunami dimanapun. Sistem peringatan dini tsunami Indonesia adalah sebuah sistem rumit yang melibatkan banyak lembaga. Kendali memang berada di BMKG, sekaligus sebagai pemantau jejaring seismometer. Namun verifikasi terjadi tidaknya tsunami harus melalui bacaan tsunami buoy ataupun stasiun pasangsurut. Tsunami buoy ada di bawah koordinasi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sementara stasiun pasangsurut menjadi bagian dari BIG.

Hasilnya lantas disalurkan kepada lembaga-lembaga nasional yang berkepentingan dan pemerintah daerah berpotensi terdampak. Pada titik ini, seharusnya di daerah itu terdapat menara sirene peringatan dini tsunami. Sirene tersebut didesain untuk meraung-raung, suaranya bisa terdengar hingga berkilometer jauhnya. Juga seharusnya terdapat sistem SMS blasting, yang mampu mengirim layanan pesn singkat secara massal ke segenap pemilik telepon seluler di daerah tersebut.

Dalam kejadian tsunami Palu, sistem peringatan dini tsunami itu bekerja tak sempurna. Tak ada tsunami buoy yang memverifikasi ada tidaknya tsunami saat masih menjalar di tengah teluk, karena sudah invalid. Hanya satu stasiun pasangsurut yang melaporkan kejadian usikan khas tsunami di pantai, itupun sejarak 200 kilometer dari episentrum. Tak ada sirene yang meraung-raung dari menara peringatan dini tsunami. Pun tak ada SMS blasting ke penduduk. Meski dua hal terakhir mungkin disebabkan oleh suasana panik yang melanda Kota Palu saat gempa. Atau bahkan bisa jadi infrastrukturnya telah hancur sementara operatornya telah tiada, akibat guncangan gempa.

Akan tetapi andaikata semua bagian tersebut bekerja sempurna sekalipun, dengan tsunami melimpur kota hanya dalam tempo 10 menit pascagempa, kecil peluangnya bagi penduduknya untuk selamat.

Referensi :

Widjo Kongko. 2018. komunikasi pribadi.

Aditya Gusman. 2018. komunikasi pribadi.

Sotiris Valkaniotis. 2018. komunikasi pribadi.