Indonesia ‘Menaklukkan’ Australia (Menyaksikan Letusan Sangeang Api dari Langit)

Sekilas judul tulisan ini kelewat bombastis. Indonesia menaklukkan Australia? Kedua negara tidak sedang dalam keadaan berperang, meski hubungan kita dengan negeri kanguru kerap diterpa gelombang pasang-surut sepanjang sejarah. Pada saat tertentu pasang-surut itu bahkan mencapai titik ekstrimnya. Misalnya kala aksi penyadapan intel Australia terhadap pejabat-pejabat Indonesia terungkap. Jakarta lantas membalasnya dengan memanggil pulang duta besar Indonesia untuk Australia, sebuah tamparan terkeras dalam etika hubungan internasional. Meski demikian belum ada ceritanya militer Indonesia saling berhadap-hadapan dengan Australia dalam teater konfrontasi.

Gambar 1. Laksana ledakan bom nuklir Hiroshima, saat puncak kolom letusan Sangeang Api telah demikian melebar dan membentuk payung/jamur raksasa yang terlihat jelas dari jarak 40 km. Diabadikan oleh M. Taufiqurrahman (twitter @tofifoto) dari pusat kota Bima, Kabupaten Bima (Nusa Tenggara Barat) pada Jumat 30 Mei 2014 sore. Sumber: Taufiqurrahman, 2014.

Gambar 1. Laksana ledakan bom nuklir Hiroshima, saat puncak kolom letusan Sangeang Api telah demikian melebar dan membentuk payung/jamur raksasa yang terlihat jelas dari jarak 40 km. Diabadikan oleh M. Taufiqurrahman (twitter @tofifoto) dari pusat kota Bima, Kabupaten Bima (Nusa Tenggara Barat) pada Jumat 30 Mei 2014 sore. Sumber: Taufiqurrahman, 2014.

Namun penaklukan itu benar adanya, meski dalam bentuk lain yang sungguh tak pernah diduga. Adalah letusan besar Gunung Sangeang Api pada 30 Mei 2014 yang menjadi penyebabnya. Apalagi aktivitas letusan Sangeang Api terus berlanjut hingga dua hari kemudian. Letusan-letusan itu secara akumulatif menyemburkan jutaan meter kubik debu vulkanik ke udara, dalam letusan pertama bahkan mencapai ketinggian sekitar 20.000 meter dpl (dari paras air laut rata-rata), lantas terbawa angin regional ke arah tenggara. Maka debu vulkanik Sangeang Api pun terbawa cukup jauh sampai sejauh sekitar 3.000 km hingga menyerbu udara Australia bagian utara.

Hujan debu yang dialami daratan Australia bagian utara memang tak separah guyuran debu dan pasir yang merejam sebagian propinsi Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur di Indonesia. Namun konsentrasi debu vulkanik Sangeang Api di atas Australia utara tergolong cukup besar dan berpotensi membahayakan lalu lintas penerbangan, baik sipil maupun militer. Di waktu lalu, Australia menyaksikan sendiri bagaimana dampak debu vulkanik terhadap kinerja mesin jet seperti dialami pesawat Boeing-747 British Airways penerbangan 009 (nomor pesawat G-BDXH, kode panggil Speedbird 9, rute London-Auckland) pada 24 Juni 1983. Saat terbang di atas pulau Jawa, pesawat sempat terperangkap dalam kolom debu vulkanik salah satu letusan Gunung Galunggung sehingga terjadi gangguan berat yang sempat mematikan keempat mesinnya. Sehingga pesawat pun terjun bebas dari ketinggian 11.500 meter dpl menuju permukaan Samudera Indonesia (Samudera Hindia) dibawahnya. Beruntung, pada ketinggian lebih rendah satu-persatu mesin jetnya berhasil dinyalakan ulang sehingga pilot berhasil menghindari lautan dan memutuskan untuk mendarat darurat di bandara Halim Perdanakusuma (Jakarta).

Gambar 2. Kiri: pulau Sangeang (puncak Gunung Sangeang Api) yang impresif di tengah-tengah Laut Flores yang permai, diabadikan oleh astronot pesawat ulang-alik Atlantis saat menjalani misi antariksa STS 112 pada 7 hingga 18 Oktober 2001. Kanan: wajah kawah aktif Doro Api dan lingkungan sekitarnya, diabadikan oleh satelit Quickbird dengan warna nyata pada 2 Oktober 2005 dan kemudian diproses oleh LAPAN. Terlihat kubahlava 1985, yang kini telah jebol/hilang dalam letusan 30 Mei 2014 lalu. Sumber: NASA, 2002; LAPAN, 2014.

Gambar 2. Kiri: pulau Sangeang (puncak Gunung Sangeang Api) yang impresif di tengah-tengah Laut Flores yang permai, diabadikan oleh astronot pesawat ulang-alik Atlantis saat menjalani misi antariksa STS 112 pada 7 hingga 18 Oktober 2001. Kanan: wajah kawah aktif Doro Api dan lingkungan sekitarnya, diabadikan oleh satelit Quickbird dengan warna nyata pada 2 Oktober 2005 dan kemudian diproses oleh LAPAN. Terlihat kubahlava 1985, yang kini telah jebol/hilang dalam letusan 30 Mei 2014 lalu. Sumber: NASA, 2002; LAPAN, 2014.

Guna menghindari petaka serupa, maka VAAC (Volcanic Ash Advisory Committee) Darwin pun menerbitkan kode merah bagi ruang udara Australia bagian utara, yang melarang lalu lintas pesawat berawak apapun di sini khususnya untuk penerbangan sipil. Sebagai imbasnya, ratusan penerbangan dari dan ke bandara Darwin pun dibatalkan. Belakangan sejumlah penerbangan lainnya khususnya yang menuju ke Denpasar (Bali), misalnya dari Melbourne, pun turut dibatalkan. Kerugian pun tercetak dan ditaksir mencapai milyaran rupiah. Namun apa boleh buat, hal itu dianggap masih lebih baik ketimbang menjerumuskan lalu lintas udara ke dalam bencana yang bakal menyedot kerugian material jauh lebih besar. Cukup menarik bahwa keputusan ini berdasar atas kerja keras dari langit dalam memantau apa yang terjadi dengan Gunung Sangeang Api dan lingkungannya.

MTSAT-2 dan Landsat-8

Sebelum meletus kemarin, Gunung Sangeang Api telah berulangkali menjadi target menarik untuk dibidik dari langit, baik oleh satelit-satelit penginderaan dan sumberdaya Bumi maupun oleh sejumlah astronot dalam beberapa misi penerbangan antariksa berawak. Ketertarikan itu didasari impresifnya bentuk gunung berapi ini saat dilihat dari langit, yakni sebagai pulau yang membulat yang khas pulau vulkanik. Sejatinya pulau ini memang merupakan puncak sebuah gunung berapi aktif yang menyembul di atas paras air laut.

Gambar 3. Letusan Sangeang Api dalam empat jam pertamanya, diabadikan satelit MTSAT-2 dalam kanal inframerah pada resolusi rendah. Pukul 17:00 WITA nampak titik putih mendekati sferis muncul di atas lokasi Sangeang Api (panah kuning), pertanda puncak kolom letusan membumbung tinggi dan mulai melebar membentuk awan payung/jamur raksasa. Dalam tiga jam berikutnya, awan debu vulkanik tersebut terus melebar dan melonjong sembari beringsut ke arah timur-tenggara. Sumber: JMA, 2014.

Gambar 3. Letusan Sangeang Api dalam empat jam pertamanya, diabadikan satelit MTSAT-2 dalam kanal inframerah pada resolusi rendah. Pukul 17:00 WITA nampak titik putih mendekati sferis muncul di atas lokasi Sangeang Api (panah kuning), pertanda puncak kolom letusan membumbung tinggi dan mulai melebar membentuk awan payung/jamur raksasa. Dalam tiga jam berikutnya, awan debu vulkanik tersebut terus melebar dan melonjong sembari beringsut ke arah timur-tenggara. Sumber: JMA, 2014.

Letusan Sangeang Api pertama kali terdeteksi oleh satelit Himawari-7 atau dikenal juga sebagai satelit MTSAT-2 (Multifunction Transport Satellite-2). MTSAT-2 adalah satelit cuaca dan komunikasi milik Badan Meteorologi Jepang yang ditempatkan di orbit geostasioner, sehingga memiliki periode revolusi yang sama dengan periode rotasi Bumi yang menjadikannya selalu berada di atas permukaan Bumi yang sama. Dengan berkedudukan di atas Samudera Pasifik, maka satelit ini mampu mengamati kawasan Pasifik, Asia Timur, Asia tenggara dan Australia secara terus-menerus.

Pada resolusi rendah, letusan Sangeang Api pertama kali terlihat di citra MTSAT-2 pada pukul 17:00 WITA kanal inframerah sebagai titik putih yang nyaris membulat di atas pulau Sumbawa bagian timur. Titik putih ini cukup kontras bila dibandingkan dengan lingkungan sekitarnya yang nyaris tak berawan, khususnya di hampir seluruh kepulauan Sunda Kecil dan sebagian pulau Jawa. Dalam jam-jam berikutnya titik putih ini terus melebar dan melonjong untuk kemudian bergerak ke arah tenggara mengikuti angin regional. Dalam resolusi yang lebih tinggi, letusan Sangeang Api pertama kali terlihat di citra MTSAT-2 pada pukul 16:32 WITA, juga sebagai obyek putih mirip awan namun lebih padat. Pemandangan ini mengingatkan pada citra Letusan Kelud 2014 kemarin, hanya saja dimensi awan letusan Sangeang Api nampak lebih kecil. Selain itu juga tak terlihat pola bow shock-wave, yakni pola bergelombang yang disebabkan oleh interaksi tekanan gas vulkanik yang sangat tinggi dengan hembusan angin regional yang mencoba menggeser seluruh debu vulkanik menjauh, seperti halnya yang terjadi pada Letusan kelud 2014. Karena itu untuk sementara dapat dikatakan bahwa skala dan muntahan material vulkanik dalam Letusan Sangeang Api 2014 mungkin lebih kecil dibanding Letusan Kelud 2014, setidaknya menurut citra satelit MTSAT-2.

Gambar 4. Perkembangan letusan Sangeang Api pada 30 Mei 2014 pukul 19:32 WITA, diabadikan satelit MTSAT-2 dalam kanal komposit cahaya tampak/inframerah pada resolusi tinggi, dipadukan dengan analisis NOAA/CIMSS Volcanic Ash Height. Nampak debu vulkanik masih terus membumbung dari Gunung Sangeang Api meski letusan telah berlangsung selama 4 jam lebih. Di atas pulau Sumba, debu vulkanik Sangeang Api bahkan membumbung hingga mendekati ketinggian 14.000 meter dpl. Sumber: CIMSS, 2014.

Gambar 4. Perkembangan letusan Sangeang Api pada 30 Mei 2014 pukul 19:32 WITA, diabadikan satelit MTSAT-2 dalam kanal komposit cahaya tampak/inframerah pada resolusi tinggi, dipadukan dengan analisis NOAA/CIMSS Volcanic Ash Height. Nampak debu vulkanik masih terus membumbung dari Gunung Sangeang Api meski letusan telah berlangsung selama 4 jam lebih. Di atas pulau Sumba, debu vulkanik Sangeang Api bahkan membumbung hingga mendekati ketinggian 14.000 meter dpl. Sumber: CIMSS, 2014.

Puncak kolom letusan Sangeang Api jauh menembus ke dalam lapisan atmosfer yang lebih tinggi membuat suhunya merosot dramatis hingga di bawah minus 70 derajat Celcius seperti diperlihatkan oleh pengukuran radiometer. Dengan demikian ia telah memasuki lapisan stratosfer. Berbekal fakta tersebut maka NOAA/CIMSS Volcanic Ash Height memperkirakan debu vulkanik Sangeang Api membumbung hingga mencapai ketinggian setidaknya 14.000 meter dpl. Satelit MTSAT-2 juga memperlihatkan letusan Sangeang Api berlangsung berulang-ulang sepanjang 30 Mei 2014 tersebut. Berselang 10 jam setelah letusan pertama yang cukup besar, tepatnya pada 31 Mei 2014 pukul 02:00 WITA, terpantau debu vulkanik dari letusan berikutnya yang lebih kecil. Letusan kedua ini nampaknya telah terjadi setengah jam sebelumnya, seperti dilaporkan PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi). Dan berselang empat jam kemudian, yakni pada pukul 06:00 WITA, terjadi letusan ketiga yang tergolong cukup besar sehingga kembali melontarkan debu vulkaniknya sampai setinggi 14.000 meter dpl.

Gambar 5. Perkembangan letusan Sangeang Api pada 31 Mei 2014 pukul 07:32 WITA, diabadikan satelit MTSAT-2 dalam kanal komposit cahaya tampak/inframerah pada resolusi tinggi, dipadukan dengan analisis NOAA/CIMSS Volcanic Ash Height. Nampak debu vulkanik kembali membumbung dari Gunung Sangeang hingga mendekati ketinggian 14.000 meter dpl tepat di atas gunung. Debu vulkanik ini merupakan bagian dari letusan ketiga. Sumber: CIMSS, 2014.

Gambar 5. Perkembangan letusan Sangeang Api pada 31 Mei 2014 pukul 07:32 WITA, diabadikan satelit MTSAT-2 dalam kanal komposit cahaya tampak/inframerah pada resolusi tinggi, dipadukan dengan analisis NOAA/CIMSS Volcanic Ash Height. Nampak debu vulkanik kembali membumbung dari Gunung Sangeang hingga mendekati ketinggian 14.000 meter dpl tepat di atas gunung. Debu vulkanik ini merupakan bagian dari letusan ketiga. Sumber: CIMSS, 2014.

Selain MTSAT-2, letusan Sangeang Api juga dipantau melalui satelit Terra, sebuah satelit penginderaan Bumi yang dimiliki Badan Antariksa AS (NASA), khususnya lewat instrumen MODIS dalam kanal cahaya tampak. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) memanfaatkan sinyal satelit ini untuk merekonstruksi sejauh mana dampak letusan Sangeang Api. Pada 31 Mei 2014 pukul 10:27 WITA, debu vulkanik Sangeang Api terlihat telah menyelimuti sebagian pulau Sumbawa, seluruh pulau Sumba, Flores dan Rote serta ujung barat daya pulau Timor. Sangeang Api sendiri terlihat masih menyemburkan debu vulkanik ke arah tenggara. Tiga jam kemudian Sangeang Api terlihat sudah tak menyemburkan debu vulkanik lagi, namun kawasan yang terselimuti debu vulkanik justru meluas.

Gambar 6. Panorama sebagian kepulauan Nusa tenggara dalam dua kesempatan berbeda, diabadikan oleh instrumen MODIS pada satelit Terra dan kemudian diproses oleh LAPAN, masing-masing pada 31 Mei 2014 pukul 10:27 WITA dan 13:22 WITA. Pada pukul 10:27 WITA, nampak Gunung Sangeang Api menyemburkan debu vulkanik pekat ke arah tenggara, dengan sebaran debu vulkanik menyelimuti sebagian pulau Sumbawa, hampir seluruh pulau Flores, seluruh pulau Sumba dan Rote serta ujung barat daya pulau Timor. Pada pukul 13:22 WITA, semburan debu vulkanik yang sama sudah tak terpantau, namun luas kawasan yang terselimuti debu vulkanik justru makin membesar. Sumber: LAPAN, 2014.

Gambar 6. Panorama sebagian kepulauan Nusa tenggara dalam dua kesempatan berbeda, diabadikan oleh instrumen MODIS pada satelit Terra dan kemudian diproses oleh LAPAN, masing-masing pada 31 Mei 2014 pukul 10:27 WITA dan 13:22 WITA. Pada pukul 10:27 WITA, nampak Gunung Sangeang Api menyemburkan debu vulkanik pekat ke arah tenggara, dengan sebaran debu vulkanik menyelimuti sebagian pulau Sumbawa, hampir seluruh pulau Flores, seluruh pulau Sumba dan Rote serta ujung barat daya pulau Timor. Pada pukul 13:22 WITA, semburan debu vulkanik yang sama sudah tak terpantau, namun luas kawasan yang terselimuti debu vulkanik justru makin membesar. Sumber: LAPAN, 2014.

Sehari berikutnya (1 Juni 2014), LAPAN kembali memantau Gunung Sangeang Api dengan memanfaatkan sinyal satelit penginderaan Bumi lainnya, yakni Landsat-8 yang dioperasikan oleh Badan Survei Geologi AS (USGS). Pada kanal cahaya tampak, berhasil diperoleh citra Gunung Sangeang Api dalam warna nyata. Gunung itu terlihat masih menyemburkan asap tebal namun kini berwarna keputihan ke arah barat-barat daya, atau berkebalikan arah dibanding saat letusan pertamanya. Jejak hempasan awan panas letusan pun terlihat di sisi selatan dan tenggara. Luncuran awan panas ke arah tenggara bahkan sampai ke bibir pantai dan nampaknya terus masuk ke dalam Laut Flores. Meski demikian volumenya mungkin cukup kecil sehingga tak mampu membangkitkan usikan air laut dalam bentuk tsunami.

Gambar 7. Pulau Sangeang (puncak Gunung Sangeang Api), diabadikan oleh satelit Landsat 8 pada 1 Juni 2014 dan kemudian diproses oleh LAPAN. Nampak debu vulkanik bercampur gas vulkanik masih menyembur dari kawah Doro Api, memastikan bahwa pusat Letusan Sangeang Api 2014 memang bersumber dari kawah tersebut. Debu dan gas vulkanik berhembus ke barat, atau berlawanan arah dibanding letusan pertama dua hari sebelumnya. Nampak sisi tenggara gunung berwarna abu-abu, pertanda telah terendapkannya material letusan di sana sebagai awan panas yang meluncur jauh hingga menyentuh bibir pantai. Sumber: LAPAN, 2014.

Gambar 7. Pulau Sangeang (puncak Gunung Sangeang Api), diabadikan oleh satelit Landsat 8 pada 1 Juni 2014 dan kemudian diproses oleh LAPAN. Nampak debu vulkanik bercampur gas vulkanik masih menyembur dari kawah Doro Api, memastikan bahwa pusat Letusan Sangeang Api 2014 memang bersumber dari kawah tersebut. Debu dan gas vulkanik berhembus ke barat, atau berlawanan arah dibanding letusan pertama dua hari sebelumnya. Nampak sisi tenggara gunung berwarna abu-abu, pertanda telah terendapkannya material letusan di sana sebagai awan panas yang meluncur jauh hingga menyentuh bibir pantai. Sumber: LAPAN, 2014.

Sementara Biro Meteorologi Australia khususnya VAAC Darwin memantau letusan Sangeang Api secara menerus dengan memanfaatkan satelit MetOp-A dan MetOp-B, sepasang satelit cuaca milik organisasi Eropa untuk satelit-satelit meteorologi (Eumetsat). Instrumen yang digunakan pada satelit tersebut terutama adalah GOME, yang aslinya digunakan untuk memantau distribusi lapisan Ozon di stratosfer secara kontinu. Namun dalam kasus letusan gunung berapi, GOME juga bisa dimanfaatkan untuk merekam pergerakan aerosol sulfat, yakni gas sulfurdioksida yang lantas bereaksi dengan uap air di atmosfer membentuk butir-butir asam sulfat yang bersifat koloid. Dengan kata lain instrumen GOME pun berkemampuan mendeteksi pergerakan debu vulkanik letusan sebuah gunung berapi dengan lebih baik dibanding instrumen/kamera yang bekerja kanal cahaya tampak.

Hingga 1 Juni 2014, instrumen GOME satelit MetOp-A dan MetOp-B secara berkesinambungan memperlihatkan bahwa aerosol sulfat letusan Sangeang Api masih terbentuk. Aerosol tersebut memang menyebar jauh ke arah timur dan tenggara hingga mencapai daratan Australia. Namun Konsentrasi aerosol sulfat terbesar ada di atas pulau Timor. Sekilas kuantitas aerosol sulfat letusan Sangeang Api memang jauh lebih lemah ketimbang letusan Kelud. Sehingga menguatkan dugaan yang telah terbentuk melalui observasi satelit MTSAT-2, bahwa Letusan Sangeang Api 2014 memang menyemburkan material vulkanik dalam jumlah lebih kecil ketimbang Letusan Kelud 2014.

Gambar 8. Sebaran aerosol sulfat letusan Sangeang Api, diabadikan oleh instrumen GOME pada satelit MetOp-A dan MetOp-B pada 1 Juni 2014. Nampak aerosol tersebar jauh hingga mencapai daratan Australia bagian utara, yang memaksa ditutupnya bandara Darwin untuk sementara. Panah merah dan kurva lonjong dengan garis merah putus-putus menunjukkan estimasi bilamana arah angin regional pada saat letusan terjadi menuju ke barat-barat laut, yang bakal membuat pulau Jawa terselimuti debu vulkanik. Sumber: Eumetsat, 2014.

Gambar 8. Sebaran aerosol sulfat letusan Sangeang Api, diabadikan oleh instrumen GOME pada satelit MetOp-A dan MetOp-B pada 1 Juni 2014. Nampak aerosol tersebar jauh hingga mencapai daratan Australia bagian utara, yang memaksa ditutupnya bandara Darwin untuk sementara. Panah merah dan kurva lonjong dengan garis merah putus-putus menunjukkan estimasi bilamana arah angin regional pada saat letusan terjadi menuju ke barat-barat laut, yang bakal membuat pulau Jawa terselimuti debu vulkanik. Sumber: Eumetsat, 2014.

Dampak

Berselang 3 hari pasca letusan pertamanya, Gunung Sangeang Api berangsur-angsur mereda. Semburan asap dan debu vulkanik memang masih terjadi berkali-kali, namun kini dengan tekanan jauh lebih lemah. Sehingga asap dan debu hanya menyembur hingga beberapa ratus meter saja di atas kawah Doro Api. Hujan debu juga sudah tidak terjadi lagi, baik di Kabupaten Bima maupun kabupaten-kabupaten di Nusa Tenggara yang tepat ada di sebelah tenggara Gunung Sangeang Api seperti Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat dan Sumba Timur.

Meski mengejutkan dan tergolong besar, namun letusan Sangeang Api ternyata tidak diikuti dengan pengungsian penduduk khususnya yang bertempat-tinggal di Kecamatan Wera (Kabupaten Bima) yang menjadi lokasi terdekat ke gunung. Sebab selain sebagai gunung berapi laut, kawah aktif Gunung Sangeang Api juga berjarak cukup besar terhadap kampung Sangeang Darat sebagai pemukiman terdekat, yakni hampir 20 km. Sementara dalam status Siaga (Level III), PVMBG menetapkan daerah terlarang bagi Gunung Sangeang adalah hingga radius 5 km saja dari kawah aktif. Pada Sabtu 31 Mei 2014, sekitar 3.000 orang memang mengungsi secara mandiri ke perbukitan setelah letusan kedua dan ketiga terjadi, namun lebih didasari kehawatiran akan timbulnya tsunami. Kekhawatiran ini memang beralasan mengingat citra Landsat-8 memperlihatkan sebagian material vulkanik Letusan Sangeang Api 2014 meluncur sebagai awan panas letusan ke arah tenggara hingga menjangkau bibir pantai. Namun dengan material awan panas yang kecil, tsunami yang dikhawatirkan seperti diperlihatkan Letusan Krakatau 1883 maupun Letusan Tambora 1815 tidak terjadi. Pengungsian mandiri ini sekaligus memperlihatkan bahwa penduduk telah cukup memahami potensi bencana Gunung Sangeang Api.

Setelah dievaluasi lebih lanjut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan meskipun cukup besar namun letusan ini tidak menimbulkan korban jiwa. Penduduk yang sempat disangka hilang saat berladang di pulau Sangeang akhirnya berhasil ditemukan dalam kondisi selamat. Namun meski tiada pengungsi, dampak letusan Sangeang Api di Kabupaten Bima cukup telak. Selain membuat bandara Bima sempat ditutup (meski akhirnya dibuka kembali pada 1 Juni 2014), ribuan penduduk pun terpapar debu vulkanik yang lumayan pekat. Selain menyebabkan gangguan pernafasan ringan, paparan debu vulkanik juga mencemari sumber air setempat.

Bagaimanapun, patut disyukuri bahwa letusan Sangeang Api 2014 ini tidak menghamburkan debunya ke arah yang berlawanan. Andaikata angin regional pada Jumat sore 30 Mei 2014 itu mengarah ke barat-barat daya, maka niscaya debu vulkanik Sangeang Api akan menyelimuti hingga ke pulau Jawa. Meski tak sedahsyat horor akibat Letusan Kelud 2014, namun paparan debu vulkanik Sangeang Api tersebut jelas bakal bisa melumpuhkan bandara-bandara sibuk di pulau Jawa. Jika hal itu terjadi, lalu lintas udara dari dan ke pulau Jawa akan lumpuh untuk sementara dan berakibat pada kerugian yang luar biasa besar.

Referensi :

CIMSS. 2014. Eruption of the Sangeang Api volcano in Indonesia.

NASA. 2002. The Gateway to Astronaut Photography of Earth. NASA Earth Observatory Laboratory.

Volcano Planet. 2014. Sangeang Api Latest, 1 June 2014.

Pusdatin BNPB. 2014. Ribuan Warga Terdampak Abu Gunung Sangeang Api Membutuhkan Masker. Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

LAPAN. 2014. Letusan Gunungapi Sangeang Api. Respon Tanggap Darurat Bencana Berbasis Satelit, Kedeputian Penginderaan Jauh, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional.

Sudibyo. 2014. Mengamati Letusan Kelud dari Angkasa. Majalah Geomagz, vol. 4 no. 1, Maret 2014, hal. 33-35.

Tambora, Penakluk Dunia yang (Nyaris) Terlupa

Krakatau. Itulah jawaban spontan sebagian besar dari kita saat disodori pertanyaan mengenai gunung berapi apakah yang letusannya terdahsyat sepanjang catatan sejarah. Sebagian kecil mungkin akan menjawabnya dengan Danau (Gunung) Toba, seiring kian teruangkapnya sejumlah fakta baru yang mencengangkan di balik keindahan Danau Toba. Letusan Gunung Toba memang letusan terdahsyat dalam 27,8 juta tahun terakhir. Namun peristiwa itu terjadi pada 74.500 tahun silam atau jauh di luar rentang masa sejarah yang tercatat.

Tak ada yang menyangsikan kedahsyatan Letusan Krakatau 1883. Gunung berapi mungil di Selat Sunda itu memuntahkan tak kurang dari 20 kilometer kubik material vulkanik. Sebagian diantaranya dihembuskan hingga setinggi 40 km ke dalam atmosfer. Jika seluruhnya dianggap berbentuk debu dan kita tuangkan ke dalam wilayah DKI Jakarta sembari dipadatkan demikian rupa, maka seluruh wilayah itu akan terbenam dalam timbunan pasir setinggi 30 meter. Namun yang paling dikenang dari Krakatau adalah tsunaminya. Ambruknya hampir seluruh tubuh gunung seiring letusan dahsyatnya membentuk kaldera bawah laut disertai hempasan awan panas dalam jumlah sangat besar. Efek langsungnya adalah tsunami, yang berderap ke kedua belah sisi Selat Sunda dan kala menghempas ke pesisir bahkan sampai setinggi 37 meter seperti terjadi di Merak. Korban jiwa yang direnggutnya amat besar. Pemerintah kolonial Hindia Belanda mencatat ada 295 desa dan kota yang hancur akibat terjangan tsunami dengan total korban jiwa resmi sebesar 36.417 orang. Tetapi jumlah korban jiwa dalam perhitungan tak resmi lebih besar, bahkan mungkin menyentuh angka 120.000 jiwa.

Gambar 1. Kawah raksasa (kaldera) yang menghiasi puncak Gunung Tambora saat ini, diabadikan dari udara dengan arah pandang ke timur laut. Kawah raksasa berdiameter 7 km sedalam 1.250 meter ini merupakan jejak paling kentara dari kedahsyatan Letusan Tambora 1815. Di dasar kawah raksasa ini tepatnya di sisi utaranya berdirilah si anak Tambora, yakni kerucut Doro Api Toi (DAT). Sumber: Pratomo, 2006.

Gambar 1. Kawah raksasa (kaldera) yang menghiasi puncak Gunung Tambora saat ini, diabadikan dari udara dengan arah pandang ke timur laut. Kawah raksasa berdiameter 7 km sedalam 1.250 meter ini merupakan jejak paling kentara dari kedahsyatan Letusan Tambora 1815. Di dasar kawah raksasa ini tepatnya di sisi utaranya berdirilah si anak Tambora, yakni kerucut Doro Api Toi (DAT). Sumber: Pratomo, 2006.

Meski demikian Krakatau 1883 bukanlah letusan terdahsyat, baik bagi Indonesia maupun dunia. Hampir dua abad silam tahun silam, tepatnya di bulan April 1815, sebuah gunung berapi lain yang juga berada di Indonesia meletus dengan skala kedahsyatan jauh lebih besar. Volume material vulkanik yang dimuntahkannya delapan kali lipat lebih besar ketimbang Krakatau 1883. Demikian banyak debu yang ditebar ke langit sehingga ia mampu menciptakan kekacauan cuaca di segenap penjuru permukaan Bumi hingga berdampak besar pada peradaban kita. Tak heran jika letusan ini disebut sebagai salah satu letusan pengubah dunia. Hingga tahun 2013 letusan gunung berapi ini merupakan letusan gunung berapi terdahsyat di muka Bumi dalam kurun 26.500 tahun terakhir terhitung semenjak amukan Gunung Taupo (Selandia Baru), sebelum kemudian riset terkini memperlihatkan letusan Gunung Rinjani (juga di Indonesia) di sekitar tahun 1258 ternyata lebih besar.

Itulah Gunung Tambora. Guna membayangkan seperti apa kedahsyatannya, mari imajinasikan kita menjadi penguasa dunia dan memunguti satu persatu hululedak nuklir yang disembunyikan di seluruh negara nuklir terkini. Kita kumpulkan semuanya di satu tempat lalu diledakkan secara bersama-sama. Energi Letusan Tambora 1815 masih lebih besar ketimbang kekuatan ledakan seluruh hululedak nuklir tersebut. Jika tak jua terbayang, mari imajinasikan kita sedang berhadapan dengan kengerian ledakan bom nuklir yang meluluhlantakkan kota Hiroshima (Jepang) pada 6 Agustus 1945 silam. Untuk ukuran manusia, ledakan ini sudah sangat besar. Tetapi tidak demikian bagi gunung berapi. Kumpulkan 1.350.000 butir bom nuklir yang identik dengan bom nuklir Hiroshima dan ledakkan semua di satu lokasi pada saat yang sama. Barulah kita akan memperoleh skala energi yang sama dengan Letusan Tambora 1815.

Jika begitu dahsyatnya, mengapa Letusan Tambora 1815 tidak se-ngetop Krakatau 1883? Salah satu jawabannya adalah karena letusan ini terjadi dalam kerangka waktu yang ‘salah’ dalam sejarah umat manusia. Sistem telekomunikasi global baru tercipta lebih dari 60 tahun pasca letusan Gunung Tambora, dalam rupa telegraf yang berbasis teks kode morse (bukan suara). Bagi kita di masa kini, teknologi komunikasi yang satu ini adalah antik sekaligus primitif. Namun untuk kurun 1,5 abad silam, telegraf adalah sarana komunikasi termaju pada zamannya yang memungkinkan umat manusia di berbagai penjuru saling bertukar informasi, juga bergosip. Hanya beberapa minggu setelah jaringan global telegraf tersambung melalui sistem kabel laut, Gunung Krakatau meletus dahsyat. Sehingga informasi letusannya cepat tersebar. Sebaliknya saat Gunung Tambora meletus, kecepatan penyebaran informasi sangat lambat sehingga kabar terawal letusan tersebut baru tiba di London (Inggris) lebih dari enam minggu kemudian.

Jadi, bagaimana sih letusan kolosal hampir dua abad silam itu?

Yogyakarta

Gambar 2. Gunung Tambora di batas pandangan mata, diabadikan dari perairan Laut Flores yang permai di sebelah utaranya. Aktivitas snorkeling nampak di latar depan. Garis putus-putus menunjukkan perkiraan bentuk tubuh gunung berapi ini sebelum 1815. Letusan Tambora 1815 memenggal bagian teratas tubuh gunung bersamaan dengan terbentuknya kaldera raksasa berdiameter 7 km. Sumber: Awang Satyana, 2008.

Gambar 2. Gunung Tambora di batas pandangan mata, diabadikan dari perairan Laut Flores yang permai di sebelah utaranya. Aktivitas snorkeling nampak di latar depan. Garis putus-putus menunjukkan perkiraan bentuk tubuh gunung berapi ini sebelum 1815. Letusan Tambora 1815 memenggal bagian teratas tubuh gunung bersamaan dengan terbentuknya kaldera raksasa berdiameter 7 km. Sumber: Awang Satyana, 2008.

Tengara letusan dahsyat itu terasa di kota Buitenzorg (kini Bogor), pusat pemerintahan pendudukan Inggris di Hindia Timur (kini Indonesia), pada Kamis fajar 6 April 1815 . Kala Thomas Stanford Raffles, kepala pemerintahan pendudukan Inggris di Hindia Timur, membuka pintu kamarnya di istana Buitenzorg setelah diketuk berulang-ulang, matanya langsung bersirobok dengan ajudannya yang tegang tanpa sanggup menyembunyikan wajah piasnya. Laporannya mengejutkan. Ada suara dentuman berulang-ulang setiap seperempat jam sekali yang nampaknya datang dari arah timur. Di tengah puncak permusuhan Inggris dan sekutunya terhadap koalisi Belanda-Perancis, intuisi militer Raffles segera bangun. Mungkin musuh telah melancarkan serangan mendadak terhadap posisi-posisi militer Hindia Timur. Apalagi kabar lolosnya kaisar Napoleon Bonaparte dari pengasingannya di pulau Elba telah menyebar.

Sekitar 400 km ke arah timur dari Buitenzorg, yakni di Yogyakarta, residen Crawfurd telah terlebih dahulu terjaga. Ia juga sangat terganggu dan gelisah mendengar suara dentuman demi dentuman keras terus bersahutan mirip rentetan tembakan meriam. Ia juga beranggapan telah terjadi agresi mendadak dari musuh. Komandan militer setempat segera diperintahkannya bersiaga penuh. Satu detasemen pasukan sontak dikirim ke pos-pos militer terluar, untuk memastikan apa yang sedang terjadi sekaligus bersiap menjadi bala bantuan awal. Namun di tengah kesiapsiagaan dan kegelisahan itu, pelan namun pasti udara Yogyakarta mulai berubah. Matahari tak jua kunjung benderang meski jam telah beranjak siang, alih-alih justru kian memburam dan memerah. Tak lama kemudian langit laksana ditutupi mendung sehingga situasi kian meremang. Mendung itu lalu mulai mencucurkan muatannya, namun bukannya air hujan segar yang berjatuhan, alih-alih debu halus kering yang memedihkan mata. Belakangan air hujan juga tercurah, tapi bersamanya turun pula butir-butir es. Hujan es di Yogyakarta yang tropis? Yang benar saja!

Baik Raffles maupun Crawfurd tak sebersit pun menyadari bahwa ribuan kilometer di sebelah timur, di salah satu sudut gemerlap kepulauan Sunda Kecil, surga sedang berubah menjadi neraka. Sebuah malapetaka berskala luar biasa sedang melanda pulau Sumbawa. Segenap penjuru kerajaan Sanggar, Papekat serta Tambora dicekam kepanikan dan ketakutan tiada tara. Selama berhari-hari Matahari tak menampakkan batang hidungnya sehingga suasana senantiasa gulita. Suara menggelegar terus terdengar dan saling berkejaran. Tanah bergetar berulang-ulang tanpa henti laksana diguncang-guncang dari perut bumi. Udara tak lepas dari hawa maut, sesak oleh pekatnya asap belerang dan debu. Hujan debu mengguyur deras, membedaki apa saja yang ditimpanya. Di tengah horor tersebut, kaki langit nampak memerah menampakkan siluet besar mengerucut yang menandakan Gunung Tambora, gunung yang selama ini dikenal ramah. Tiga sungai api meleleh dari puncaknya, membakar hutan serta padang rumput yang dilintasinya. Masing-masing hulunya memancurkan cipratan-cipratan bara pekat ke udara bersamaan dengan kolom asap tebal menembus ketinggian, seperti lengan raksasa yang sedang meninju langit. Suasana mencekam kian menjadi-jadi seiring sambaran kilat berkali-kali.

Gambar 3. Kiri: ilustrasi Greg Harlin yang menggambarkan saat-saat jelang letusan dahsyat Gunung Tambora pada bulan April 1815. Puncak gunung terus mengepulkan asap dan api, sementara penduduk yang panik bergegas mengungsi. Kanan: endapan debu dan awan panas Letusan Tambora 1815 setebal 4 meter, tersingkap di Desa Tambora yang terletak di kaki gunung berapi itu. Sumber: Johnston, 2012; Sutawidjaja dkk, 2006.

Gambar 3. Kiri: ilustrasi Greg Harlin yang menggambarkan saat-saat jelang letusan dahsyat Gunung Tambora pada bulan April 1815. Puncak gunung terus mengepulkan asap dan api, sementara penduduk yang panik bergegas mengungsi. Kanan: endapan debu dan awan panas Letusan Tambora 1815 setebal 4 meter, tersingkap di Desa Tambora yang terletak di kaki gunung berapi itu. Sumber: Johnston, 2012; Sutawidjaja dkk, 2006.

Puncaknya terjadi pada 10 hingga 11 April 1815. Dentuman demi dentuman dengan suara jauh lebih keras hingga sanggup menggetarkan rumah dan merobek gendang telinga terus terjadi secara beruntun. Langit kini tak hanya mencucurkan debu halus dengan derasnya, namun juga butir-butir kerikil dan gumpalan-gumpalan batu apung beraneka ukuran. Tak hanya daratan pulau Sumbawa, perairan Laut Flores di sebelah utaranya pun direjam habis hujan kerikil dan batu apung sadis. Para nakhoda kapal, baik kapal dagang maupun kapal perang, berjibaku setengah mati berjuang mengendalikan laju kapalnya melewati perairan penuh batu apung menghitam yang sangat sulit dilintasi. Para awak kapal pun berjibaku membersihkan geladak kapalnya dari timbunan debu, kerikil dan batu apung bercampur air secepat mungkin, mencoba mengalahkan derasnya hujan debu dan kerikil. Beberapa kali laut menggila, mengirimkan gelombang aneh yang demikian tinggi melebihi atap rumah. Tsunami itu berulang kali datang menerjang dan menenggelamkan sejumlah kapal yang tak siap dengan perubahan keadaan. Situasi ini terus berlangsung hingga 15 April 1815.

Kaldera

Sebelum 1815, Gunung Tambora adalah gunung tertinggi di seantero pulau Sumbawa yang puncaknya menjulang hingga ketinggian sekitar 4.000 meter dpl (dari paras air laut) atau lebih. Demikian tingginya sehingga ia pun terlihat jelas dari pantai timur pulau Bali meski tempat itu berjarak 300 km lebih dari gunung. Gunung yang seakan memaku bumi pulau Sumbawa ini dikenal kalem. Dalam catatan Global Volcanism Program Smithsonian Institution, letusan Gunung Tambora yang terakhir dan tergolong besar terjadi sekitar tahun 740 merujuk pada pertanggalan karbon radioaktif. Selepas itu selama lebih dari seribu tahun kemudian Tambora terlihat lebih ramah dan bersahabat. Dipadukan dengan kesuburan tanah dan melimpahnya air bersih, tak heran bila di kemudian hari kawasan seputar kaki Tambora menjadi lokasi hunian favorit manusia. Pada puncaknya tiga kerajaan pun tumbuh berkembang di sini, masing-masing Sanggar, Papekat dan Tambora. Ketiganya memiliki tata administrasinya masing-masing dengan kegiatan pertanian dan perdagangan yang sibuk. Hubungan perdagangan dengan mancanegara pun terjalin erat dan saling menguntungkan, seperti dengan Kampuchea (Kamboja) dan juga kekaisaran Cina.

Semua berubah secara dramatis pada April 1815. Letusan kolosal menyebabkan puncak Gunung Tambora terpangkas hebat sehingga ketinggiannya berkurang jadi 2.850 meter dpl. Tak hanya itu, kini puncaknya pun berganti dengan sebentuk kawah raksasa (kaldera) berdiameter sekitar 7 km dengan kedalaman maksimum 1.250 meter, menjadikannya kaldera terdalam di seantero muka Bumi. Di kemudian hari, sebagian kecil dasar kaldera ini digenangi air hujan khususnya di sisi barat daya. Genangan tersebut bernama Danau Motilahalo, yang secara kasar memiliki panjang 800 meter, lebar 200 meter dan kedalaman air maksimum 15 meter. Dipagari dinding-dinding kaldera yang menjulang tinggi dan keras, danau Motilahali tak memiliki saluran pengeluaran seperti halnya sungai atau sejenisnya. Sehingga airnya hanya bisa meninggalkan danau dengan cara menguap maupun meresap ke dalam tubuh gunung. Sementara di sisi utara dasar kaldera berdiri kerucut gunung anak Tambora yang berjuluk Doro Api Toi. Kerucut ini muncul pasca 1815, tepatnya dalam dalam letusan 1830, dan kini menjulang setinggi sekitar 100 meter dari dasar.

Kaldera Tambora terbentuk kala 160 kilometer kubik material vulkanik dimuntahkan gunung berapi ini dalam letusan dahsyatnya diantara 5 hingga 15 April 1815. Dibanding Krakatau 1883 yang ‘hanya’ mengeluarkan 20 kilometer kubik, jelas material vulkanik Letusan Tambora 1815 delapan kali lipat lebih banyak. Bila semuanya dianggap berbentuk debu dan dituangkan ke wilayah DKI Jakarta serta dipadatkan demikian rupa, maka hampir seluruh propinsi yang juga ibukota RI ini akan tenggelam di bawah timbunan setebal 242 meter. Tak ada satupun bangunan yang tersisa, karena bangunan tertinggi di sini yakni Monas (Monumen Nasional) pun ‘hanya’ setinggi 115 meter. Hanya ada 2 puncak bangunan pencakar langit yang masih tersembul, yakni Ciputra World Jakarta (tinggi 257 meter) dan Wisma 46 (tinggi 250 meter).

Jika suhu rata-rata magma saat tepat keluar dari perutbumi dianggap sebesar 850 derajat Celcius, maka energi termal yang dikeluarkan dalam Letusan Tambora 1815 ini mencapai 27.000 megaton TNT. Ini masih lebih besar dibandingkan jumlah energi potensial yang tersimpan dalam seluruh hululedak nuklir di Bumi di puncak Perang Dingin pada 3 dasawarsa silam, yang ‘hanya’ 20.000 megaton TNT. Jika kita bandingkan dengan ledakan bom nuklir Hiroshima, yang ‘hanya’ berenergi 20 kiloton TNT, jelas bahwa energi Letusan Tambora 1815 adalah 1,35 juta kali lipat lebih besar.

Gambar 4. Jejak rumah yang terkubur di bawah pasir beserta sejumlah barang yang berhasil ditemukan didalamnya. Pasir tersebut adalah endapan awan panas Letusan Tambora 1815. Sisa-sisa kayu kerangka rumah yang telah rebah dan berubah menjadi arang (terkarbonisasi) menunjukkan awan panas yang mengubur kaki Gunung Tambora masih bersuhu sangat tinggi. Sumber: Johnston, 2012.

Gambar 4. Jejak rumah yang terkubur di bawah pasir beserta sejumlah barang yang berhasil ditemukan didalamnya. Pasir tersebut adalah endapan awan panas Letusan Tambora 1815. Sisa-sisa kayu kerangka rumah yang telah rebah dan berubah menjadi arang (terkarbonisasi) menunjukkan awan panas yang mengubur kaki Gunung Tambora masih bersuhu sangat tinggi. Sumber: Johnston, 2012.

Sebagian besar material vulkanik Tambora dihempaskan ke barat-barat laut dari gunung. Awan panasnya mengganyang daerah seluas hingga 874 kilometer persegi disekitarnya, yang menghasilkan endapan batu, kerikil dan pasir panas setebal rata-rata 7 meter. Demikian banyak volume awan panas Tambora sehingga sebagian bahkan sampai ke pesisir Laut Flores dan terus mengalir ke dalam laut, menciptakan tsunami. Tsunami ini berderap dengan kecepatan hingga 250 km/jam dan melanda pesisir Jawa Timur bagian utara dengan ketinggian 1 hingga 2 meter serta pesisir Maluku dengan tinggi 2 meter atau lebih. Jika tinggi tsunami di kedua tempat tersebut diekstrapolasikan untuk mengetahui tinggi tsunami di pesisir utara pulau Sumbawa, maka diperkirakan tingginya mencapai lebih dari 4 meter.

Kematian

Ada banyak sekali dampak Letusan Tambora 1815 baik di ranah ekonomi, politik, sosial dan budaya. Namun di sini penulis hanya ingin fokus pada hal paling menggetarkan: kematian. Untuk dipahami, korban jiwa akibat Letusan Tambora 1815 tak hanya mereka yang tewas dihempas awan panas maupun tercekik gas dan debu vulkanik, namun juga mereka yang dilanda kelaparan massif seiring berkurangnya bahan pangan, pun mereka yang dilanda penyakit menular seiring sanitasi lingkungan yang memburuk pasca letusan.

Sensus yang dilakukan Zollinger di tahun 1847 atas nama pemerintah kolonial Hindia Belanda (saat itu tanah Indonesia sudah dikembalikan ke Belanda sebagai hasil Kongres Wina 1815) menunjukkan dramatisnya dampak Letusan Tambora 1815. Korban jiwa langsung akibat letusan, yakni yang terkubur awan panas dan debu vulkanik tebal, mencapai 10.100 jiwa. Sementara korban jiwa tak langsung, yakni kelaparan dan wabah diare massif yang berkecamuk di pulau Sumbawa, mencapai 37.825 jiwa. Namun jika korban jiwa yang berjatuhan di pulau Lombok, Bali, Flores, Jawa bagian timur dan pulau-pulau lain disekitarnya akibat terjangan tsunami, kelaparan dan diare juga diperhitungkan, angkanya mungkin mencapai lebih dari 70.000 jiwa.

Zollinger juga mencatat banyaknya penduduk yang hengkang dari pulau Sumbawa, termasuk yang terpaksa dijual oleh orang tuanya, sebanyak 36.275 orang. Dengan demikian Letusan Tambora 1815 menewaskan 35 % populasi dan memaksa 26 % sisanya hengkang keluar pulau. Sehingga hanya menyisakan 39 % populasi yang masih berkukuh tinggal di tanah yang semula subur namun kini mendadak segersang Bulan.

Gambar 5. Dramatisnya perbedaan panorama atmosfer Bumi pasca letusan dahsyat gunung berapi (kanan) dibanding saat normal (kiri) saat diabadikan melalui pesawat ulang-alik. O = lapisan ozon dan Cb = puncak awan cumulonimbus (awan hujan). Pada saat "kotor", nampak terlihat aerosol sulfat (A) yang membentuk lapisan ganda di bawah lapisan ozon, jauh di dalam stratosfer. Aerosol sulfat ini tembus pandang, namun berkemampuan besar menghalangi sinar Matahari yang seharusnya diteruskan ke Bumi hingga persentase tertentu. Sumber: NASA, 1992 & 1997.

Gambar 5. Dramatisnya perbedaan panorama atmosfer Bumi pasca letusan dahsyat gunung berapi (kanan) dibanding saat normal (kiri) saat diabadikan melalui pesawat ulang-alik. O = lapisan ozon dan Cb = puncak awan cumulonimbus (awan hujan). Pada saat “kotor”, nampak terlihat aerosol sulfat (A) yang membentuk lapisan ganda di bawah lapisan ozon, jauh di dalam stratosfer. Aerosol sulfat ini tembus pandang, namun berkemampuan besar menghalangi sinar Matahari yang seharusnya diteruskan ke Bumi hingga persentase tertentu. Sumber: NASA, 1992 & 1997.

Begitu banyaknya nyawa yang terenggut membuat dua kerajaan di kaki gunung, yakni kerajaan Papekat dan Tambora, lenyap dari pentas sejarah karena seluruh penduduknya tewas. Sementara kerajaan Sanggra kehilangan hampir 88 % penduduknya. Tiga kerajaan lainnya di pulau Sumbawa yang tak berbatasan langsung dengan Gunung Tambora, masing-masing kerajaan Dompo, Sumbawa dan Bima pun terpukul telak. Dompo kehilangan 50 % penduduk, sementara Sumbawa 33 % dan Bima 25 %. Di luar korban manusia, sebanyak 75 % populasi ternak Sumbawa tersapu bersih akibat letusan. Pun demikian koloni lebah madu dan burung.

Namun Letusan Tambora 1815 tak hanya berdampak lokal. Seluruh permukaan Bumi merasakan akibatnya seiring terlepasnya tak kurang dari 160 juta ton gas belerang ke atmosfer bersama dengan semburan material vulkanik hingga setinggi 43 km. Ia lantas bereaksi dengan uap air dan gas oksigen membentuk lebih dari 300 juta ton aerosol sulfat. Bersama dengan partikel debu vulkanik, aerosol sulfat pun membentuk tabir surya pun terbentuk, yang merentang di antara ketinggian 10 hingga 30 km dari paras laut dan menyebar di segenap penjuru lapisan troposfer-stratosfer. Akibatnya 25 % sinar Matahari diserap dan dipantulkan kembali oleh tabir surya ini ke antariksa. Sehingga intensitas sinar Matahari yang diterima permukaan Bumi menurun.

Pada saat yang sama Bumi sedang menjalani periode minimum Dalton, yakni menurunnya suhu rata-rata permukaan Bumi yang disebabkan oleh faktor astronomik dalam rupa berkurangnya jumlah bintik Matahari (sunspot). Intensitas sinar Matahari di permukaan Bumi dalam periode minimum Dalton sebelum 1815 adalah 1.363 watt per meter persegi, atau turun 3 watt per meter persegi dibanding normalnya. Letusan Tambora 1815 menghasilkan penurunan tambahan hingga 7 watt per meter persegi. Sehingga pada puncaknya intensitas sinar Matahari di Bumi sempat menyentuh titik terendah 1.356 watt per meter persegi, atau turun 0,7 % di bawah normal.

Konsekuensinya terjadilah pendinginan global, yakni penurunan suhu rata-rata permukaan Bumi. Pendinginan global terparah terjadi pada tahun 1816 yang mencapai 0,7 derajat Celcius di bawah suhu rata-rata semula. Akibatnya tutupan es dan suhu sangat dingin terus berlanjut di kawasan subtropis meski musim seharusnya telah berganti ke musim panas. Karena itu tahun 1816 dikenang sebagai Tahun Tanpa Musim Panas. Tanpa bisa ‘dicuci’ oleh air hujan, tabir surya Tambora bertahan hingga bertahun-tahun kemudian sebelum gravitasi Bumi lambat-laun menariknya turun ke kembali ke permukaan Bumi. Selama itu pula pendinginan global berlangsung dan memicu kekacauan cuaca. Konsekuensinya produksi pangan pun sangat terganggu dan sanitasi lingkungan memburuk sehingga wabah penyakit mudah terbesar, bahkan melampaui wilayah tradisionalnya.

Berapa korbannya? Di daratan Amerika Serikat, kelaparan besar membuat sebuah wilayah seperti Vermont saja kehilangan antara 10.000 hingga 15.000 jiwa penduduknya hanya di tahun 1816. Belum wilayah dan kota yang lain. Di Eropa, kelaparan juga merebak dimana-mana dan menjadi bencana kelaparan terparah dalam abad ke-19. Kekurangan makanan dan memburuknya lingkungan membuat penyakit merajalela. Misalnya di Irlandia, dimana 1,5 juta orang disergap wabah tipus sepanjang tahun 1817 hingga 1819 dengan sekitar 100.000 jiwa diantaranya meregang nyawa. Wabah tipus juga berkecamuk hebat di Eropa bagian tenggara dan pesisir Laut Tengah bagian timur. Jumlah korban jiwa di kedua wilayah terakhir itu tak diketahui, namun diduga sebanding dengan Irlandia.

Gambar 6. Ilustrasi penyebaran tabir surya (debu dan aerosol sulfat) Tambora di lapisan stratosfer beserta lokasi-lokasi di mancanegara yang mengalami bencana kelaparan dahsyat dan/atau merebaknya wabah penyakit mematikan sebagai imbas dari berkurangnya sinar Matahari yang diterima permukaan Bumi akibat penyerapan dan pemantulan oleh tabir surya Tambora. Sumber peta: Wohletz, 2008.

Gambar 6. Ilustrasi penyebaran tabir surya (debu dan aerosol sulfat) Tambora di lapisan stratosfer beserta lokasi-lokasi di mancanegara yang mengalami bencana kelaparan dahsyat dan/atau merebaknya wabah penyakit mematikan sebagai imbas dari berkurangnya sinar Matahari yang diterima permukaan Bumi akibat penyerapan dan pemantulan oleh tabir surya Tambora. Sumber peta: Wohletz, 2008.

Sebaliknya di Asia wabah kolera-lah yang bertahta. Penyakit ini semula endemis di lembah sungai Gangga semata. Namun kombinasi cuaca yang kacau-balau, suhu lebih dingin dan kekurangan nutrisi yang parah membuat penyakit ini menyebar luas ke luar India mulai 1817 dan bertahan hingga tujuh tahun kemudian. Pada puncaknya wabah ini merajalela di kawasan yang sangat luas mulai dari pesisir timur Afrika dan pesisir timur Laut Tengah di sebelah barat hingga Asia Tenggara dan Jepang di sebelah timur serta merangsek hingga masuk ke jantung kota Moskow (Russia) di sebelah utara. Korbannya? Sulit diperkirakan, namun diduga kuat mencapai ratusan ribu jiwa di berbagai tempat. Sebagai contoh, di Bangkok (Thailand) saja 30.000 orang meregang nyawa kala wabah ini berkecamuk, sementara di Semarang (Indonesia), 1.225 orang tersapu bersih dari permukaan Bumi hanya dalam tempo 11 hari saja di bulan April 1821 akibat serangan wabah ini.

Jadi, berapa jumlah kematian akibat Letusan Tambora 1815 secara keseluruhan? Sayangnya hingga saat ini belum bisa diketahui secara pasti. Namun dengan merangkai kepingan-kepingan fakta di atas, maka jelas mencapai ratusan ribu jiwa. Dan diduga mungkin melampaui angka 1 juta jiwa. Korban jiwa sebanyak ini harus dilihat dalam perspektif awal abad ke-19 dimana populasi manusia secara keseluruhan jauh lebih sedikit dibanding masa kini karena baru menyentuh angka semilyar. Jika Letusan Tambora 1815 benar menewaskan sejuta orang, baik secara langsung maupun tak langsung, jelas bahwa dari setiap 1.000 orang di Bumi saat itu, maka 1 orang diantaranya tewas sebagai korban jiwa Letusan Tambora 1815. Maka bolehlah kita sebut bahwa Gunung Tambora telah menaklukkan dunia dengan letusan 1815-nya yang kolosal.

Hari ini, Gunung Tambora kembali ke tabiat kalemnya. Hari ini pula tak banyak yang mengetahui apa yang pernah dipertontonkan gunung ini secara dramatis pada hampir dua abad silam. Ironisnya, ketidaktahuan yang sama bahkan dijumpai pula di kalangan penduduk yang kini bermukim di kaki gunung berapi tersebut. Namun terlepas dari ketidaktahuan tersebut, Letusan Tambora 1815 mendemonstrasikan betapa sebuah letusan dahsyat gunung berapi mampu berdampak demikian besar bagi peradaban manusia.

Referensi

1. Sutawidjaja, Sigurdsson, Abrams. 2006. Characterization of Volcanic Deposits and Geoarchaeological Studies from the 1815 Eruption of Tambora Volcano. Jurnal Geologi Indonesia, vol. 1, no. 1, Maret 2006, hal. 49-57.

2. Pratomo. 2006. Klasifikasi Gunung Api Aktif Indonesia, Studi Kasus dari Beberapa Letusan Gunung Api dalam Sejarah. Jurnal Geologi Indonesia, vol. 1, no. 4, Desember 2006, hal. 209-227.

3. Johnston. 2012. Up from the Ashes. Popular Archaeology, vol. 7, Juni 2012.

4. Wohletz. 2008. Were the Dark Ages Triggered by Volcano-Related Climate Change? Los Alamos National Laboratory.

Duh, Sinabung!

Sampai hari ini (3 Februari 2014) jumlah korban jiwa akibat letusan Gunung Sinabung mencapai 15 orang sementara 2 orang lainnya masih menjalani perawatan intensif akibat luka-luka berat yang dideritanya. Diduga masih ada korban lainnya yang belum ditemukan di desa Sukameriah yang hanya berjarak mendatar 2,7 km dari puncak. Pencarian masih dilakukan namun belum berjalan dengan efektif karena berkali-kali terganggu oleh luncuran demi luncuran awan panas Sinabung. Inilah duka lara terbaru di Gunung Sinabung semenjak gunung berapi ini menunjukkan peningkatan aktivitasnya mulai 15 September 2013 silam. Seluruhnya merupakan korban dari erupsi Sabtu 1 Februari 2014. Saat itu Gunung Sinabung meluncurkan awan panasnya hingga tiga kali, masing-masing pada pukul 07:03 WIB, 10:30 WIB dan 11:27 WIB. Namun luncuran awan panas pukul 10:30 WIB adalah yang terjauh, yakni 4,5 km dari puncak ke arah tenggara. Tak pelak sebagian desa Sukameriah yang memang ada di lereng Sinabung sebelah selatan-tenggara pun tergulung awan panas. Lebih mengenaskan lagi, sebagian korban tewas adalah relawan yang sedang berjibaku mengingatkan orang-orang yang nekat memasuki kawasan terlarang Gunung Sinabung, yakni radius 5 km dari puncak, dengan alasannya masing-masing.

Gambar 1.Peta sebaran endapan awan panas guguran produk letusan Gunung Sinabung hingga 30 Januari 2014 (area merah) berdasarkan data dari BNPB dalam peta topografi dari Google Maps. Ujung endapan telah menyentuh jarak mendatar 4,5 km dari puncak. Nampak posisi desa Sukameriah tepat di batas terluar endapan awan panas guguran, sehingga berpotensi terkena tebaran debu vulkanik panas. Disinilah korban-korban peristiwa 1 Februari 2014 ditemukan. Lingkaran 3, 5 dan 10 masing-masing menunjukkan radius mendatar sebesar 3 km, radius 5 km dan radius 10 km dari kubah lava Gunung Sinabung. Panduan arah, atas = utara, kanan = timur. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 1.Peta sebaran endapan awan panas guguran produk letusan Gunung Sinabung hingga 30 Januari 2014 (area merah) berdasarkan data dari BNPB dalam peta topografi dari Google Maps. Ujung endapan telah menyentuh jarak mendatar 4,5 km dari puncak. Nampak posisi desa Sukameriah tepat di batas terluar endapan awan panas guguran, sehingga berpotensi terkena tebaran debu vulkanik panas. Disinilah korban-korban peristiwa 1 Februari 2014 ditemukan. Lingkaran 3, 5 dan 10 masing-masing menunjukkan radius mendatar sebesar 3 km, radius 5 km dan radius 10 km dari kubah lava Gunung Sinabung. Panduan arah, atas = utara, kanan = timur. Sumber: Sudibyo, 2014.

Tragedi ini terjadi di tengah kecenderungan menurunnya aktivitas erupsi Sinabung. Maka masih berstatus Awas (Level 4), BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) atas rekomendasi PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) mulai mewacanakan pemulangan kembali sebagian pengungsi khususnya yang tempat tinggalnya berjarak lebih dari 5 km terhadap puncak Sinabung. Jika wacana ini dilaksanakan, maka 13.828 jiwa atau hampir separuh jumlah pengungsi akan kembali ke kediaman masing-masing dalam waktu yang tak terlalu lama. Namun wacana ini hanya bisa dilakukan tatkala infrastruktur desa tersebut sudah beres, misalnya jalan raya sudah bersih dan aliran listrik sudah tersambung kembali. Wacana ini juga hanya bisa dilaksanakan jika aktivitas Gunung Sinabung memang benar-benar menurun berdasarkan pengamatan terus-menerus. Di sisi lain, wacana ini masih tetap melarang aktivitas apapaun, apalagi kepulangan pengungsi, dalam radius 5 km dari puncak.

Siapa sangka kalau di tengah berkembangnya wacana ini, Gunung Sinabung mendadak menunjukkan peningkatan aktivitas yang berpuncak pada peristiwa memilukan 1 Februari 2014 lalu?

Tipe Merapi

Meski sudah menunjukkan peningkatan aktivitas semenjak 15 September 2013, namun Gunung Sinabung sesungguhnya baru benar-benar mengalami erupsi magmatik mulai 5 November 2013 ditandai dengan munculnya awan panas. Sebelumnya letusan Sinabung lebih merupakan erupsi freatik atau freatomagmatik, yakni letusan yang sepenuhnya dikendalikan oleh uap air superpanas bercampur debu dan bongkahan bebatuan beku yang menyumbat saluran magma (diatrema) di bawah kepundan. Jika uap airnya berasal dari air bawah tanah yang terpanaskan tanpa bersentuhan langsung dengan magma segar, namun terpanaskan oleh gas-gas vulkanik panas yang dilepaskan magma segar, maka erupsinya disebut erupsi freatik. Sedangkan bila uap airnya berasal dari air bawah tanah yang bersentuhan langsung dengan magma segar maka erupsinya adalah erupsi freatomagmatik. Pada erupsi magmatik, yang dikeluarkan adalah benar-benar magma yang masih segar (bersuhu tinggi) yang berasal dari kantung magma sebuah gunung berapi.

Gambar 2. Gunung Sinabung kala menghembuskan kolom letusan secara vertikal dan meluncurkan awan panas gugurannya pada 15 Januari 2014 lalu. Awan panas guguran nampak masih menyusuri jalur yang dilintasi awan-awan panas guguran sebelumnya. Diabadikan oleh Endro Lewa. Sumber: Lewa, 2014.

Gambar 2. Gunung Sinabung kala menghembuskan kolom letusan secara vertikal dan meluncurkan awan panas gugurannya pada 15 Januari 2014 lalu. Awan panas guguran nampak masih menyusuri jalur yang dilintasi awan-awan panas guguran sebelumnya. Diabadikan oleh Endro Lewa. Sumber: Lewa, 2014.

Tak seperti yang dikhawatirkan sejumlah kalangan mengenai kemungkinan terjadinya letusan besar mengingat gunung berapi ini telah lama sekali tidak meletus, magma segar Gunung Sinabung ternyata tidak bertekanan tinggi kala mulai muncul di lantai kawah. Erupsi magmatik Gunung Sinabung lebih condong kepada erupsi tipe Merapi. Dalam tipe erupsi ini, karena tekanan gasnya sangat kecil maka magma segar yang keluar di kepundan akan menumpuk sebagai lava dan terus menumpuk hingga menjadi timbunan menyerupai bukit yang disebut kubah lava. Meski terlihat padat dan kokoh, sebuah kubah lava yang baru terbentuk sejatinya cukup rapuh karena bagian dalamnya masih berupa lava yang bersifat cair kental membara. Karena itu ia amat rawan untuk runtuh/gugur. Sebagian kubah lava yang runtuh/gugur ini menjadi awan panas yang disebut awan panas guguran (dome-collapse pyroclastic flow), yang lantas mengalir menuruni lereng menyusuri alur lembah-lembah sungai dengan dikendalikan gaya gravitasi. Selain menjadi awan panas, material kubah lava yang longsor juga mengalir sebagai lava pijar yang membara. Dengan demikian perilaku erupsi Gunung Sinabung saat ini mirip dengan apa yang terjadi pada Gunung Merapi sepanjang abad ke-20 dan 21, kecuali letusan besar 1930 dan 2010.

Meski menyandang nama awan, namun awan panas guguran tidaklah berisi uap air. Sebaliknya ia merupakan campuran debu vulkanik dan bongkahan-bongkahan beragam ukuran dari lava yang mulai membeku. Saat mengalir menuruni lereng gunung, ia nampak bergumpal-gumpal mirip gumpalan awan biasa, sehingga membuatnya menyandang nama “awan.” Bagi penduduk di sekitar Gunung Merapi, awan panas guguran memiliki sebutan yang lebih intim yakni wedhus gembel, karena gumpalan-gumpalan tersebut jika dilihat dari jauh menyerupai rombongan domba yang sedang berarak menuruni lereng gunung. Awan panas guguran melejit dengan suhu awal yang sangat tinggi yakni bisa mencapai 700 derajat Celcius. Dalam perjalanannya menuruni lereng gunung hingga akhirnya berhenti, suhunya akan menurun menjadi sekitar 300 hingga 400 derajat Celcius. Gerak awan panas guguran dalam menuruni lereng gunung berapi merupakan gerak longsor sehingga kecepatan awal awan panas bisa mencapai 100 km/jam. Kombinasi tingginya suhu dan juga besarnya kecepatan hempasan inilah yang membuat awan panas guguran amat mematikan bagi manusia. Bahkan meskipun kita tidak berada di dekat lembah sungai yang menjadi jalur lintasannya, awan panas guguran tetap amat mematikan mengingat debu vulkanik yang mengepul darinya pun masih memiliki suhu cukup tinggi yang sanggup menyebabkan luka bakar parah bagi manusia.

Gambar 3. Selain awan panas guguran, erupsi magmatik Gunung Sinabung juga menghasilkan leleran lava pijar yang membara di kala gelap. Berikut salah satu aliran lava pijar yang diabadikan Endro Lewa pada 15 januari 2014 silam dari titik observasi desa Tiga Kicat. Sumber: Lewa, 2014.

Gambar 3. Selain awan panas guguran, erupsi magmatik Gunung Sinabung juga menghasilkan leleran lava pijar yang membara di kala gelap. Berikut salah satu aliran lava pijar yang diabadikan Endro Lewa pada 15 januari 2014 silam dari titik observasi desa Tiga Kicat. Sumber: Lewa, 2014.

Kubah lava terbaru di Gunung Sinabung mulai terbentuk semenjak 16 Desember 2013 ditandai dengan mulai terjadinya gempa hibrid dan mulai menurunnya nilai RSAM (realtime seismic amplitude measurement). Semenjak itu kubah lava Sinabung tumbuh dengan pesat seiring besarnya muntahan magma yang pada awalnya sebanyak 3,5 meter kubik per detik. Sehingga dalam 10 hari kemudian volume kubah lava Sinabung telah melebihi 1 juta meter kubik dan membentuk bukit selebar 210 meter dengan ketinggian 56 meter. Kubah lava yang terus tumbuh dan membesar inilah yang menjadi sumber bagi awan-awan panas guguran semenjak awal 2014. Secara umum tatkala kubah lava terus tumbuh, maka jumlah kejadian awan panas guguran pun bakal meningkat. Kejadian awan panas guguran bakal berhenti kala volume kubah lava telah mengecil demikian rupa sehingga keseimbangan terbentuk dan ia tak lagi longsor/gugur sebagian. Kapan itu terjadi? Sampai saat ini belum bisa diketahui.

Permasalahan pelik yang terkait dengan tumbuhnya kubah lava adalah semakin jauhnya jarak jangkau awan panas guguran yang terbentuk kala ia meluncur. Bertambah besarnya volume kubah lava membuat bagian kubah lava yang kelak akan longsor dan berubah menjadi awan panas guguran bertambah besar. Karenanya awan panas guguran yang terbentuk bisa menghempas hingga menjangkau jarak yang cukup jauh. Atas pertimbangan inilah maka radius bahaya di sekitar Gunung Sinabung diperluas dari smeula 3 km terhadap puncak secara mendatar menjadi 5 km dari puncak mulai akhir November 2013. Perluasan ini terbukti tepat sebab pada awal 2014 hempasan awan panas telah menjangkau jarak 4 km dari puncak. Meski konsekuensinya lebnih banyak lagi desa yang harus dikosongkan sehingga jumlah pengungsi pun membengkak. Di akhir November 2013 itu terdapat 17 desa yang harus dikosongkan dengan jumlah pengungsi secara keseluruhan mencapai 20.270 jiwa.

Kepatuhan

Secara akumulatif hingga 15 Januari 2014 Gunung Sinabung telah memuntahkan 2,4 juta meter kubik rempah letusan. Untuk ukuran manusia, angka tersebut sangat besar. Jika suhu magma yang tepat keluar di kepundan mencapai 900 derajat Celcius, maka hingga 15 Januari 2014 itu Gunung Sinabung telah melepaskan eenrgi termal sebanyak 1.810 TeraJoule atau setara dengan 432 kiloton TNT. Dengan begitu energi letusan Sinabung hingga saat itu menyamai energi yang dilepaskan kala 21 bom nuklir seukuran yang dijatuhkan di atas Hiroshima di akhir Perang Dunia 2 diledakkan secara serempak.

Gambar 4. Kubah lava Sinabung yang masih berasap, pertanda ia masih cukup panas, nampak bertengger di puncak berdampingan dengan titik sumbat lava tua (SL) yang membatasi kawah I dan kawah II Gunung Sinabung. Kubah lava yang hampir meluap dari kawah III Sinabung ini diabadikan selatan-tenggara. Di latar depan nampak bagian lereng yang selama ini menjadi jalan untuk mengalirkan awan panas guguran dan lava pijar, sehingga berwarna keputih-putihan. Sumber: BNPB, 2014.

Gambar 4. Kubah lava Sinabung yang masih berasap, pertanda ia masih cukup panas, nampak bertengger di puncak berdampingan dengan titik sumbat lava tua (SL) yang membatasi kawah I dan kawah II Gunung Sinabung. Kubah lava yang hampir meluap dari kawah III Sinabung ini diabadikan selatan-tenggara. Di latar depan nampak bagian lereng yang selama ini menjadi jalan untuk mengalirkan awan panas guguran dan lava pijar, sehingga berwarna keputih-putihan. Sumber: BNPB, 2014.

Namun untuk ukuran letusan gunung berapi sesungguhnya volume rempah letusan Sinabung masih tergolong kecil. Bandingkan dengan Letusan Merapi 2006 yang sama-sama berupa erupsi tipe Merapi namun menghasilkan 8 juta meter kubik rempah letusan. Jangan bandingkan dengan Letusan Merapi 2010, yang keluar dari kebiasaannya dan memuntahkan 150 juta meter kubik rempah letusan. Dengan demikian dalam skala letusan gunung berapi, erupsi Gunung Sinabung hingga saat ini masih bertahan pada skala 2 VEI (Volcanic Explosivity Index).

Meski relatif kecil, namun letusan Gunung Sinabung kali ini berhadapan dengan kompleksitas masyarakat disekelilingnya. Entah bagaimana ceritanya, Kabupaten Karo rupanya tak juga belajar dari Gunung Sinabung meski pada 2010 silam gunung berapi ini pun telah memancarkan sinyal-sinyal peringatannya. Peringatan itu berupa erupsi freatik, yang intensitasnya jauh lebih kecil dibanding erupsi yang sedang terjadi pada saat ini. Begitu erupsi freatik tersebut berhenti dan Gunung Sinabung terlihat tenang kembali, langkah-langkah mitigasi seharusnya segera dilakukan. Termasuk dengan membentuk organ BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah). Tiadanya langkah tersebut tersebut membuat begitu Gunung Sinabung kembali meletus semenjak 15 September 2013, penanganannya menjadi serba kikuk. Apalagi Gunung Sinabung kemudian seakan mengajak semuanya untuk bermaraton dengan aktivitas yang tetap tinggi hingga kini, empat bulan setelah letusan bermula. Pada puncaknya pembentukan radius bahaya 5 km dari puncak membuat 28.715 orang menjadi pengungsi yang memadati 42 pusat-pusat pengungsian. Terlebih daerah bahaya tidak dijaga dengan baik sehingga siapapun bebas keluar masuk mendekati gunung untuk alasan apapun.

Semoga peristiwa 1 Februari 2014 menjadi dasar untuk meningkatkan kepatuhan di sekujur Gunung Sinabung, tak hanya bagi penduduk setempat namun juga bagi warga masyarakat yang hendak mendekat ke gunung berapi ini. Rekomendasi PVMBG dibentuk bukan untuk mengekang aktivitas manusia, namun semata untuk menjaga keselamatan bersama selagi sebuah gunung berapi beraktivitas. Sebab tatkala sebuah gunung berapi meletus, bukan gunung itu yang harus menyeimbangkan diri dengan kita melainkan kita lah yang harus menyesuaikan diri terhadap gunung berapi tersebut. Biarkan Gunung Sinabung menjalani siklus hidupnya yang baru setelah sekian lama tidak memuntahkan magmanya. Begitu muntahan magma berhenti, radius bahaya pun akan dicabut dan setiap orang bebas kembali memasuki kawasan gunung. Jadi bersabarlah !

Referensi:
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi KESDM.

The Burning Ash of Katimbang, Kisah Panas dalam Letusan Dahsyat Krakatau 130 Tahun Silam

Agustus selalu menjadi bulan kalender yang penuh arti bagi Indonesia. Setiap tanggal 17 Agustus, negeri ini memperingati saat-saat kelahirannya yang membahana dan pada tahun 2013 ini telah diperingati untuk ke-68 kalinya. Dan berselang sepuluh hari kemudian, negeri ini kembali “memperingati” salah satu momen tergelap sepanjang sejarahnya. Ya. Pada 27 Agustus 2013 tepat 130 tahun silam Gunung Krakatau di selat Sunda yang kini menjadi bagian administratif propinsi Lampung, mencapai puncak letusannya dalam sebuah drama letusan gunung berapi dengan kedahsyatan yang tak tertanggungkan lagi bahkan untuk ukuran manusia modern.

Gambar 1. Awal letusan pulau Krakatau yang bersumber dari puncak Perbuwatan pada Mei 1883, diabadikan dalam foto hitam putih. Sumber : Simkin & Fiske, 1983.

Gambar 1. Awal letusan pulau Krakatau yang bersumber dari puncak Perbuwatan pada Mei 1883, diabadikan dalam foto hitam putih. Sumber : Simkin & Fiske, 1983.

Ada suasana penyambutan nan jauh berbeda bagi kedua hari istimewa itu. Bila 17 Agustus menjadi momen yang senantiasa dinanti dan dirayakan dengan penuh kegembiraan baik lewat rangkaian pesta rakyat di berbagai tempat maupun upacara formal dengan petatah-petitih para pejabat, sebaliknya 27 Agustus hanya terdengar sayup-sayup dikenang segelintir kalangan. Mungkin inilah imbas gayahidup manusia modern khususnya di Indonesia yang enggan mengingat apalagi mengenang bencana menyakitkan dan peristiwa kematian. Padahal di balik bencana selalu tersembunyi sejumlah pelajaran penting yang sangat berharga bagi kualitas kehidupan manusia masa depan masa depan, khususnya tatkala berhadapan kembali dengan petaka sejenis.

Gunung Krakatau menjadi gunung berapi terpopuler bagi manusia Indonesia khususnya lewat kedahsyatan letusannya pada 1883. Dalam persepsi umum, inilah amukan gunung berapi terdahsyat dalam era sejarah, meski sejatinya tidak demikian. Hanya 68 tahun sebelum Krakatau melepaskan amarahnya, Gunung Tambora di pulau Sumbawa (kini bagian propinsi Nusa Tenggara Barat) meletus demikian dahsyatnya dengan puncaknya pada 11 April 1815. Ia memuntahkan magma panas membara dalam jumlah delapan kali lipat lebih banyak ketimbang Krakatau 1883. Energi letusannya pun demikian besar. Kumpulkan seluruh hululedak nuklir di dua negara adidaya pada puncak Perang Dingin (yakni AS dan Uni Soviet) lalu ledakkan di satu secara bersama-sama, maka energi ledakan itu masih belum melampaui kedahsyatan Letusan Tambora 1815.

Namun, mari abaikan Tambora untuk sementara dan kita fokuskan perhatian ke Krakatau. Sebelum Agustus 1883, gunung berapi ini hanyalah sebentuk pulau kecil biasa saja yang berjajar dengan sejumlah pulau-pulau lainnya di Selat Sunda seperti pulau Sertung (Verlaten), Rakata Kecil (Lang), Sebesi dan Sebuku. Pulau Krakatau berbentuk lonjong sepanjang sekitar 7 kilometer dan berhias tiga gundukan mirip bukit. Berderet dari tenggara ke baratlaut, ketiganya adalah puncak Rakata (798 meter dpl), Danan (500 meter dpl) dan Perbuwatan (130 meter dpl). Ketiga gundukan ini sejatinya merupakan gunung berapi bawah laut, yang tumbuh pasca letusan dahsyat 1200 (tahun pastinya belum diketahui) di kawasan ini. Dalam perkembangannya ketiga gunung berapi bawah laut itu kian membesar sehingga akhirnya menyembul di atas Selat Sunda dan lama-kelamaan tubuh ketiganya pun menyatu menjadi pulau Krakatau. Pulau kecil ini sempat dihuni manusia dengan kehidupan agrarisnya, lengkap dengan persawahan dan perkebunan. Angkatan Laut kolonial Hindia Belanda bahkan sempat membangun galangan kapal di sini. Namun di awal abad ke-19 saat Indonesia beralih ke penjajahan Inggris yang singkat, pulau Krakatau ditinggalkan tanpa alasan yang jelas. Sehingga lambat laun semuanya berubah menjadi hutan belantara yang indah dan permai laksana surga. Namun pada Agustus 1883, surga nan indah itu sontak berubah menjadi neraka panas membara saat ketiga puncak di pulau Krakatau meletus dengan dahsyatnya.

Gambar 2. Topografi pulau Krakatau hanya dua minggu sebelum lenyap dalam puncak letusan dahsyatnya, berdasarkan data-data pengukuran Kapten Firzenaar pada 11 Agustus 1883. Sumber: Carayannis, 2010.

Gambar 2. Topografi pulau Krakatau hanya dua minggu sebelum lenyap dalam puncak letusan dahsyatnya, berdasarkan data-data pengukuran Kapten Firzenaar pada 11 Agustus 1883. Sumber: Carayannis, 2010.

Letusan Krakatau 1883 amat populer sebagai bencana alam terdahsyat bagi Indonesia pasca Letusan Tambora 1815 dan bertahan hingga lebih dari seabad kemudian. Rekornya baru ditumbangkan pada akhir 2004 saat bencana gempa akbar Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 meletup. Korban jiwa yang direnggut letusan dahsyat ini mencapai 36.417 orang, berdasarkan catatan resmi pemerintah kolonial Hindia Belanda. Namun para ilmuwan terkini memperkirakan korban sesungguhnya jauh lebih besar, mungkin bahkan mencapai angka 120.000 orang. Hampir seluruhnya meregang nyawa oleh terjangan tsunami luar biasa yang terbentuk sebagai akibat ambruknya pulau Krakatau diiringi pembentukan kaldera besar dan injeksi material vulkanik dalam jumlah sangat besar ke dasar Selat Sunda. Tetapi di antara korban-korban itu, ada sekitar 1.000 jiwa yang tewas terpapar material vulkanik muntahan Krakatau. Seluruhnya berasal dari Katimbang yang kini dikenal sebagai Katibung, berdekatan dengan Kalianda dan menjadi bagian dari propinsi Lampung. Inilah kisah panas yang memilukan, yang betul-betul panas karena melibatkan suhu yang demikian tinggi dan membakar.

Katimbang

Katimbang adalah satu kawasan pesisir Selat Sunda di kaki barat Gunung Rajabasa yang dikenal subur sehingga menjadi kawasan perkebunan produktif. Ia berjarak sekitar 37 kilometer di sebelah utara pulau Krakatau. Katimbang bukanlah pemukiman terdekat ke gunung berapi kolosal tersebut, sebab masih ada pulau Sebuku yang berpenduduk sekitar 3.000 orang dan hanya sejauh 20 kilometer dari pulau Krakatau. Perkebunan Katimbang berada di bawah kendali kontrolir Willem Beijerinck, seorang Belanda muda belia yang dibebani menangani administrasi daerah kolonial nan liar dengan gaji kecil. Meski kurang berpengalaman dan kerap dipandang sebelah mata oleh sesama kontrolir lainnya, Willem Beijerinck dan istrinya Johanna Beijerinck dikenal rajin menulis. Catatan-catatan merekalah yang menjadi saksi bisu berharga tentang apa yang terjadi di Katimbang, baik sebelum maupun selama letusan dahsyat Krakatau 1883.

Pada Februari 1883 telah terjadi getaran demi getaran yang terasa di Katimbang. Getaran itu berintensitas kecil dan tak menyebabkan kerusakan maupun kepanikan, namun berlangsung secara kontinu dalam jangka waktu tertentu untuk kemudian berhenti. Kini ilmu kegunungapian modern mengetahui bahwa pada saat itu magma segar dalam jumlah sangat besar dan sangat kental sedang mulai mengalir dari dapur magma Krakatau nun jauh di kedalaman puluhan kilometer menuju ke kantung magma yang lokasinya tepat di bawah gunung.

Gambar 3. Posisi pulau Krakatau di tengah Selat Sunda terhadap daratan Sumatra dan Jawa serta titik-titik yang melaporkan dampak letusan Krakatau di lokasi masing-masing, yakni Katimbang serta tiga kapal uap (Charles Baal, Loudon dan WH Besse). Nampak jejak-jejak aliran 'awan panas bawah air' (submarine pyroclastic flow deposit) dan bagian awan panas yang menjalar di atas permukaan air Selat Sunda (pyroclastic current travelling over the sea). Dengan posisinya yang paling dekat ke Krakatau, Katimbang menerima bagian awan panas yang masih pekat dan bersuhu tinggi. Sumber: Pratomo, 2006.

Gambar 3. Posisi pulau Krakatau di tengah Selat Sunda terhadap daratan Sumatra dan Jawa serta titik-titik yang melaporkan dampak letusan Krakatau di lokasi masing-masing, yakni Katimbang serta tiga kapal uap (Charles Baal, Loudon dan WH Besse). Nampak jejak-jejak aliran ‘awan panas bawah air’ (submarine pyroclastic flow deposit) dan bagian awan panas yang menjalar di atas permukaan air Selat Sunda (pyroclastic current travelling over the sea). Dengan posisinya yang paling dekat ke Krakatau, Katimbang menerima bagian awan panas yang masih pekat dan bersuhu tinggi. Sumber: Pratomo, 2006.

Berselang tiga bulan kemudian, tepatnya 9 Mei 1883, Beijerinck kembali mencatat terjadinya getaran demi getaran di Katimbang, namun kali ini terasa cukup keras dan mulai menakutkan. Tak ada yang tahu apa penyebabnya. Tapi kini kita tahu, saat itu magma segar telah mencapai kantung magma dan sedang berjuang keras meretakkan lapisan-lapisan bebatuan yang menghalangi jalannya menuju ke puncak. Getaran demi getaran itu berpuncak pada terjadinya letusan pertama, yang menyembur dari puncak Perbuwatan pada 20 Mei 1883. Kepulan debu vulkanik pekat dan gas menyembur hingga setinggi 11 kilometer. Para nelayan di Selat Sunda, juga para penebang kayu untuk bahan pembuatan kapal di Katimbang menjadi saksinya, pun kapten Lindeman bersama awak kapal uap Loudon. Dan hanya berselang beberapa saat kemudian hempasan tekanan udara yang kuat menerjang Katimbang, tanpa dampak apapun. Hempasan serupa pun dirasakan instrumen barometer stasiun cuaca Dr. Vanderstock di Batavia, 160 kilometer dari Krakatau. Namun tak ada dampak berarti yang diderita Katimbang pasca letusan pertama ini. Pulau Krakatau kemudian terus aktif menyemburkan gas dan debu vulkaniknya selama empat bulan kemudian.

Katimbang baru benar-benar merasakan kedahsyatan letusan Krakatau pada Minggu sore 26 Agustus 1883. Pada pukul 17:07 setempat, pulau Krakatau memasuki babak sangat mematikan dimulai dengan gelegar dentuman sangat keras dari arah puncak Perbuwatan yang terdengar ke segala arah, bahkan hingga sejauh 5.000 kilometer dari gunung. Suara ini tercatat sebagai suara terkeras yang pernah terjadi di Bumi sampai sekarang. Debu vulkanik pekat dan gas disemburkan hingga setinggi 27 kilometer. Sebagian pulau Krakatau khususnya di sekitar puncak Perbuwatan hancur hingga hanya tersisa kawah raksasa bergaris tengah sekitar 1 kilometer. Gelombang tekanan udara (gelombang kejut) yang dilepaskannya yang dikombinasikan dengan rangkaian letusan demi letusan bawah laut berikutnya menghasilkan gelombang tinggi yang berderap sebagai tsunami. Maka hanya dalam sejam kemudian, kala Matahari beranjak terbenam, Katimbang menerima terjangan tsunaminya. Akibatnya rumah-rumah penduduk dan fasilitas apa saja di dekat garis pantai hancur. Mujur bahwa sebagian besar penduduk Katimbang telah mengungsi lebih dulu menuju hutan lebat di lereng bawah Gunung Rajabasa yang lokasinya lebih tinggi atas perintah Willem Beijerinck sebelum terlalap tsunami. Namun tak satupun yang tahu bahwa hanya dalam beberapa belas jam kemudian mereka bakal berhadapan dengan situasi yang paling menggidikkan dalam letusan Krakatau.

Setelah melewati malam yang riuh dan membara oleh rentetan letusan demi letusan Krakatau yang saling susul-menyusul setiap 10 menit sekali layaknya tembakan mitraliur, pada Senin 27 Agustus 1883 gunung ini mencapai puncak letusannya. Letusan teramat dahsyat, yang menghamburkan lebih dari 15 kilometer kubik rempah vulkanik yang mencakup lebih dari 75 % total magma yang dimuntahkan Letusan Krakatau 1883, terjadi pada pukul 10:02 setempat. Tsunami dahsyat pun terbentuk, dengan tinggi gelombang hingga seratusan meter di awal mulanya dan segera berderap ke segenap sisi Selat Sunda dengan kecepatan kurang dari 100 km/jam. Sembari menjalar, ia juga mengaduk-aduk isi perairan laut sempit itu hingga bongkah-bongkah karang tercabut dari akarnya. Baik pesisir Jawa maupun Sumatera segera direndam terjangan tsunami dengan ketinggian antara 15 hingga 33 meter.

Tsunami tidak berdampak bagi penduduk Katimbang yang telah mengungsi ke hutan. Air laut tak sanggup menjangkau mereka. Namun petaka dalam bentuk lain segera datang menerpa. Mendadak angin kencang menerjang diikuti hempasan debu-debu sehalus bedak yang teramat panas yang segera melumat tempat pengungsian di lereng gunung itu. Dampaknya cukup mematikan. Dari 3.000 warga Katimbang yang turut mengungsi di hutan belantara itu, sekitar 1.000 orang diantaranya langsung tewas meregang nyawa dengan tubuh terpanggang bara atau menghilang di bawah timbunan debu. Sementara sisanya tak luput dari lara, penuh dengan luka-luka bakar di sekujur tubuh dalam berbagai tingkatan. Termasuk Willem dan Johanna Beijerinck, yang beruntung sedang berada di dalam salah satu rumah pengungsian sehingga terpaan debu panas yang mengenainya relatif sedikit. Namun keduanya kehilangan salah satu bayi mereka dalam petaka tersebut.

Letusan Mendatar

Gambar 4. Detik-detik letusan lateral Gunung St Helena pada 18 Mei 1980 hanya dalam tempo 31 detik semenjak pukul 08:32:47,0 hingga pukul 08:33:18,8 setempat. Nampak hanya sedikit kepulan gas dan debu vulkanik yang membumbung vertikal, sebagian besar diletuskan mendatar ke arah kanan dari bidang foto ini. Sumber: USGS, 1980.

Gambar 4. Detik-detik letusan lateral Gunung St Helena pada 18 Mei 1980 hanya dalam tempo 31 detik semenjak pukul 08:32:47,0 hingga pukul 08:33:18,8 setempat. Nampak hanya sedikit kepulan gas dan debu vulkanik yang membumbung vertikal, sebagian besar diletuskan mendatar ke arah kanan dari bidang foto ini. Sumber: USGS, 1980.

Catatan-catatan dari Willem dan Johanna Beijerinck segera diterbitkan selepas tahun 1883. Hempasan debu panas membara yang menyelimuti Katimbang pun sontak mendunia dan populer sebagai peristiwa the Burning Ash of Katimbang. Peristiwa ini sempat membikin pening para ahli kebumian dan kegunungapian masa itu. Betapa tidak. Tak ada keraguan bahwa debu-debu superpanas sehalus bedak yang menerpa Katimbang merupakan bagian dari awan panas, yakni material vulkanik produk letusan dalam bentuk pasir dan debu bercampur gas vulkanik yang semuanya bersuhu tinggi. Seluruh materi tersebut meluncur bergulung-gulung hingga berbentuk mirip awan dan dari sinilah kata ‘awan panas’ itu bermula. Penyelidikan geolog RDM Verbeek dan dilanjutkan oleh geolog-geolog lainnya memperlihatkan awan panas Krakatau tak hanya menghantam Katimbang, namun bahkan meluncur hingga 10 kilometer lebih dari garis pantai. Jangkauan awan panas mencapai 48 kilometer dan sepenuhnya terpusat ke arah utara.

Apakah peristiwa ini adalah salah satu ciri khas letusan gunung berapi yang sangat dahsyat? Nampaknya tidak juga. Dalam Letusan Pinatubo 1991 (Filipina) yang memuntahkan magma hingga lebih dari separuh Letusan Krakatau 1883, awan panasnya tak sempat melampaui jarak 16 kilometer dari kawah. Jelas ada penyebab lain yang membuat awan panas Krakatau melejit demikian jauh.

Pencerahan pertama datang hampir seabad kemudian, yakni kala Gunung St Helena di negara bagian Washington (AS) meletus dahsyat di 18 Mei 1980 meski skala kedahsyatannya masih 20 kali lebih lemah dibanding Krakatau 1883. Yang istimewa Letusan St Helena 1980 diawali dengan runtuhnya lereng utara gunung sehingga magma yang telah tersimpan di tubuh gunung tak tersembur secara vertikal melainkan horizontal (mendatar) dan menuju ke satu sisi saja, yakni ke arah utara. Inilah fenomena letusan mendatar (lateral) yang telah diteorikan semenjak berpuluh-puluh tahun sebelumnya namun baru pada saat itulah menjumpai bukti langsungnya.

Gambar 5. Kiri : bagaimana awan panas letusan Soufriere Hills mulai mengalir menuju ke Laut Karibia dalam letusannya di tahun 1995 dan kemudian terus menjalar menyeberangi laut hingga sejauh 1 kilometer lebih. Kanan: delta vulkanik seluas sekitar 100 hektar yang terbentuk pasca hempasan awan panas. Sumber: USGS, 1995.

Gambar 5. Kiri : bagaimana awan panas letusan Soufriere Hills mulai mengalir menuju ke Laut Karibia dalam letusannya di tahun 1995 dan kemudian terus menjalar menyeberangi laut hingga sejauh 1 kilometer lebih. Kanan: delta vulkanik seluas sekitar 100 hektar yang terbentuk pasca hempasan awan panas. Sumber: USGS, 1995.

Sementara pencerahan kedua datang pada saat Gunung Soufriere Hills di pulau Montserrat (teritori Inggris seberang lautan) di perairan Karibia meletus pada 18 Juli 1995. Letusan besar tersebut cukup fenomenal karena mengubur ibukota Plymouth hingga bermeter-meter di bawah timbunan batu dan pasir vulkanik. Pulau Montserrat merupakan pulau gunung berapi dan Soufriere Hills adalah salah satu puncaknya. Sehingga tatkala meletus, Soufriere Hills pun mengalirkan awan panasnya hingga melampaui batas garis pantai. Dan tatkala hempasan awan panas Soufriere Hills memasuki Laut Karibia, terjadilah peristiwa yang tak biasa. Awan panas itu ternyata terus menjalar seakan-akan berjalan di atas permukaan air laut dan baru berhenti setelah melampaui jarak lebih dari 1 kilometer terhadap garis pantai. Pasca peristiwa ini terbentuk daratan baru yang mirip delta (sehingga disebut delta vulkanik) seluas sekitar 100 hektar.

Bagaimana awan panas bisa menjalar di permukaan air laut? Jawabannya ditemukan dalam eksperimen Armin Freundt (2001) di Geomar Research Center for Marine Geosciences di kota Kiel (Jerman). Saat awan panas yang semula menjalar di darat mulai memasuki laut, terjadilah letupan uap yang diikuti terpisahnya butir-butir pasir dan batuan (yang massa jenisnya lebih besar dibanding air) dengan butir-butir debu halus (yang massa jenisnya lebih kecil dari air). Bagian awan panas dengan massa jenis lebih besar terbenam ke dasar laut namun tetap melaju sebagai ‘awan panas bawah air’ yang kemudian berubah menjadi arus turbidit. Pergerakan ini menciptakan olakan besar pada kolom air laut di atasnya, yang kemudian menjalar sebagai tsunami. Sementara bagian awan panas yang massa jenisnya lebih kecil tetap melaju di atas permukaan air laut sampai jarak tertentu sebelum kehilangan seluruh kecepatannya dan kemudian membumbung tinggi ke udara sebagai abu vulkanik.

Pelajaran Ke Depan

Gambar 6. Skema perilaku awan panas bila memasuki air/laut, berdasarkan eksperimen Freundt (2001). Saat awan panas yang menjalar dari lereng gunung mulai memasuki laut, terjadi letusan uap di pesisir (littoral explosion) dan awan panas terbagi menjadi dua bagian. Bagian yang lebih berat menjadi awan panas bawah air (pyroclastic flow underwater) sementara yang lebih ringan tetap mengapung di permukaan sembari menjalar dengan kecepatan tinggi (pyroclastic flow over water). Sumber: Freundt, 2003.

Gambar 6. Skema perilaku awan panas bila memasuki air/laut, berdasarkan eksperimen Freundt (2001). Saat awan panas yang menjalar dari lereng gunung mulai memasuki laut, terjadi letusan uap di pesisir (littoral explosion) dan awan panas terbagi menjadi dua bagian. Bagian yang lebih berat menjadi awan panas bawah air (pyroclastic flow underwater) sementara yang lebih ringan tetap mengapung di permukaan sembari menjalar dengan kecepatan tinggi (pyroclastic flow over water). Sumber: Freundt, 2003.

Berdasarkan pencerahan-pencerahan tersebut, kini kita bisa menyibak lebih jauh ke dalam misteri yang selama ini menyelubungi peristiwa the Burning Ash of Katimbang. Rupanya kejadian tersebut merupakan hasil kombinasi letusan lateral Krakatau dengan penjalaran awan panas di permukaan Selat Sunda. Saat pulau Krakatau mulai memasuki fase penghancuran seiring letusan demi letusan teramat dahsyatnya, struktur lereng gunung kian lama kian melemah.

Pada satu titik, lereng gunung telah demikian lemahnya sehingga magma segar yang sedang mencari jalan keluar didalamnya mendadak berjumpa dengan udara segar. Terjadilah letusan lateral yang mengarah ke utara. Di awal mula kecepatan kolom gas dan material vulkanik yang dihempaskan itu mungkin melampaui kecepatan suara, namun lama kelamaan kian melambat. Setelah meluncur sejauh 15 hingga 20 kilometer dari gunung, kolom material vulkanik yang telah melambat lalu bertransformasi menjadi awan panas. Sebagian awan panas tenggelam ke dasar Selat Sunda (yang kedalamannya antara 20 hingga 60 meter) dan berubah menjadi ‘awan panas bawah air’ yang melaju sejauh beberapa kilometer kemudian. Sementara sebagian lainnya tetap mengapung di atas permukaan Selat Sunda, masih bersuhu tinggi (hingga sekitar 500 derajat Celcius) dan tetap menderu dengan kecepatan yang tergolong tinggi untuk ukuran manusia (mungkin sekitar 100 km/jam). Inilah yang melejit hingga sekitar 28 kilometer kemudian dan menciptakan neraka di Katimbang.

Satu pelajaran berharga yang bisa diambil dari peristiwa the Burning Ash of Katimbang adalah, jangan mengabaikan gunung berapi laut meskipun jaraknya tergolong ‘jauh’ untuk ukuran kita. Sebab tatkala meletus, apalagi jika letusannya berjenis letusan katastrofik yang menghancurkan tubuh gunung, potensi terbentuknya tsunami mematikan dan peristiwa mirip the Burning Ash of Katimbang adalah sangat besar. Inilah pelajaran berharga yang diambil dunia ilmu kegunungapian moder dari Letusan Krakatau 1883.

Sumber :

Johanna Beijerinck, 1884 dalam Discovery Channel. 2010. Krakatoa, Survivor Diary: Johanna Beijerinck,

Pratomo. 2006. Klasifikasi Gunung Api Indonesia, Studi Kasus dari Beberapa Letusan Gunung Api dalam Sejarah. Jurnal Geologi Indonesia vol. 1 no. 4 Desember 2006 halaman 209-227.

Freundt. 2003. Entrance of Hot Pyroclastic Flows into the Sea, Experimental Observations. Bulletin of Vocanology no. 65 (2003) pp 144-164.

Sutawidjaja. 2006. Pertumbuhan Gunung Api Anak Krakatau Setelah Letusan Katastrofik 1883. Jurnal Geologi Indonesia vol. 1 no. 3 September 2006 halaman 143-153.

Letusan Rokatenda, Sepotong Petaka Pasca Hari Raya

Kepulan debu vulkanik yang menjulang hingga setinggi 2.000 meter untuk kemudian hanyut mendatar terbawa angin masih terlihat dari Gunung Rokatenda, dua hari pasca peristiwa 10 Agustus 2013. Sumber : BNPB, 2013.

Kepulan debu vulkanik yang menjulang hingga setinggi 2.000 meter untuk kemudian hanyut mendatar terbawa angin masih terlihat dari Gunung Rokatenda, dua hari pasca peristiwa 10 Agustus 2013. Sumber : BNPB, 2013.

Dentuman sangat keras terdengar pada Sabtu pagi buta 10 Agustus 2013 dari arah Gunung Rokatenda di tengah-tengah pulau Palue (Paluweh), sebuah pulau kecil seluas 39,5 kilometer persegi di tengah-tengah Laut Flores yang termasuk bagian Kabupaten Sikka (Nusa Tenggara Timur). Dentuman itu sontak menciutkan hati segenap orang. Namun kejutan demi kejutan berikutnya segera menyusul. Sesaat setelah dentuman menggelegar, tanah mulai bergetar seiring lindu. Hampir bersamaan kemudian puncak Rokatenda mulai memuntahkan kepulan bebatuan, debu dan gas vulkanik nan membara menembus langit yang masih gulita karena Matahari baru terbit 1,5 jam lagi. Kepulan membara tersebut membumbung hingga setinggi 2.000 meter di atas puncak. Bebarengan dengannya terbentuklah awan panas, yakni kumpulan pasir, debu dan kerikil yang bercampur-baur yang demikian panas membara dengan suhu awal melebihi 600 derajat Celcius dan mengalir laksana lumpur pekat menyusuri lereng-lereng gunung. Monster panas membara menakutkan itu pun segera berkibar ke arah utara hingga 4 kilometer jauhnya, sampai-sampai memasuki perairan Laut Flores.

Letusan pagi buta itu sontak membuat panik penduduk Palue. Apalagi terjangan awan panasnya demikian mendadak dan menyebal dari kebiasaan, karena sebelumnya puncak Rokatenda lebih rajin mengirim awan panasnya ke lereng selatan. Lima orang meregang nyawa diterjang awan panas namun sejauh ini hanya tiga jasad saja yang sudah ditemukan. Ratusan orang segera dievakuasi keluar pulau. Hingga dua hari kemudian sebanyak 511 orang orang telah diungsikan ke kota Sikka menggunakan kapal, termasuk 157 anak-anak siswa SD dan SMP di seantero Palue.

Letusan Rokatenda amat mengagetkan Indonesia yang masih menikmati suasana libur Hari Raya Idul Fitri 1434 H. Terjangan awan panas seakan tak kenal kompromi dengan sebuah peristiwa religius yang memiliki imbas cukup dalam pada ranah ekonomi, sosial dan budaya. Bagaimana semua ini bisa terjadi?

Tsunami 1928

Posisi Gunung Rokatenda (segitiga merah) di busur Kepulauan Sunda Kecil.Nampak patahan anjak (sesar naik) Flores melintas di sisi utara gunung. Sumber : Budiono, 2009.

Posisi Gunung Rokatenda (segitiga merah) di busur Kepulauan Sunda Kecil.Nampak patahan anjak (sesar naik) Flores melintas di sisi utara gunung. Sumber : Budiono, 2009.

Pulau Palue adalah sebuah pulau gunung berapi yang berjarak sekitar 30 kilometer di utara pulau Flores, pulau utama di propinsi Nusa Tenggara Timur. Seluruh bagian pulau yang memiliki garis tengah 8 kilometer tersebut sejatinya merupakan tubuh gunung berapi Rokatenda yang menjulang dari kedalaman Laut Flores. Jika dihitung dari dasar laut, Gunung Rokatenda adalah sebuah gunung berapi besar yang menjulang hingga setinggi 3.000 meter atau tak kalah dibanding Gunung Slamet (Jawa Tengah). Namun kebesaran itu tersembunyi di balik birunya air Laut Flores dan hanya menyisakan ujung kecil mungil yang menyembul hingga setinggi 875 meter saja dari paras air laut. Sebuah kawah berdiameter 900 meter menghiasi puncaknya dan penuh berisi sejumlah kubah lava produk letusan terdahulu. Gunung ini memang satu tipe dengan Gunung Merapi (Jawa Tengah-DIY) yang rajin membentuk gundukan kubah lava di puncaknya tatkala meletus seiring rendahnya tekanan gas vulkanik dari kantung magma tepat di bawah gunung. Kubah lava kemudian menghempas sebagian dan berkibar menjadi awan panas dalam episode letusan berikutnya, saat desakan magma ataupun faktor eksternal membuatnya kehilangan stabilitas dan gugur menuruni lereng.

Gunung Rokatenda adalah bagian dari jajaran gunung-gunung berapi yang memaku bumi Bali dan Nusa Tenggara, kepulauan yang dulu kerap disebut Kepulauan Sunda Kecil. Seperti halnya pulau Jawa dan Sumatra, Bali dan Nusa Tenggara adalah hasil interaksi lempeng Sunda (Eurasia) yang stabil dan lempeng Australia yang mendesak dari selatan, dimana lempeng Australia melekuk dan menyelusup ke bawah lempeng Sunda sebagai subduksi. Di sepanjang Bali dan Nusa Tenggara, subduksi itu terjadi di sepanjang lepas pantai selatan yang secara kasat mata berupa palung laut memanjang dari barat ke timur dan sedikit berbelok di sekitar pulau Sumba dan Timor. Namun interaksi itu lebih kompleks karena, berbeda dengan pulau Jawa, di sepanjang sisi utara Bali dan Nusa Tenggara juga muncul fenomena busur belakang yang mewujud sebagai sistem patahan anjak (naik) Flores dan Wetar nan panjang. Maka Bali dan Nusa Tenggara dikepung rapat oleh dua sumber gempa utama baik di sisi selatan maupun utaranya. Jika sumber gempa sebelah selatan pernah meletup dahsyat pada 10 Agustus 1977 silam dengan kekuatan hingga 8 SM (skala magnitudo) dan menghempaskan tsunami besar yang menewaskan hampir 500 jiwa, maka sumber gempa sebelah utara tak kurang dahsyatnya. Misalnya dalam kejadian gempa 12 Desember 1992 (kekuatan 7,5 SM) yang menerbitkan tsunami besar hingga setinggi 26meter dan merenggut nyawa lebih dari 2.000 orang di kota Maumere dan pesisir utara Flores lainnya. Tsunami Maumere 1992 ini tercatat sebagai tsunami paling mematikan di Indonesia sepanjang abad ke-20, sebelum peristiwa gempa akbar dan tsunami Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 merenggut lebih banyak korban jiwa di ujung utara pulau Sumatra.

Terkait tsunami, gunung Rokatenda pun tak kalah spektakuler khususnya saat meletus pada 4 Agustus hingga 25 September 1928 silam. Letusan dengan skala 3 VEI itu memuntahkan rempah vulkanik antara 10 hingga 100 juta meter kubik. Termasuk di antaranya adalah awan panas, yang meluncur deras hingga memasuki perairan Laut Flores dalam volume cukup besar. Interaksi awan panas yang membara dengan air laut menghasilkan tsunami yang bersifat lokal, namun sebaliknya memiliki tinggi gelombang cukup besar. Tsunami setinggi 5 hingga 7 meter menyapu pesisir pulau Palue dan menewaskan 260 orang yang hendak mengungsi keluar seiring terjadinya letusan. Tsunami bahkan masih terasakan di pesisir utara pulau Flores, yang merenggut nyawa 6 orang dan mendamparkan 6 kapal dagang. Ini merupakan perulangan dari peristiwa Letusan Krakatau 1883 dan Letusan Tambora 1815, saat interaksi awan panas dalam volume sangat besar dengan air laut pun menerbitkan tsunami perusak yang membunuh banyak manusia. Meskipun skala kedahsyatan tsunami Rokatenda jauh lebih kecil dibanding kedua peristiwa letusan gunung berapi legendaris tersebut.

Pasca letusan 1928, Gunung Rokatenda kembali meletus pada 1963-1966, 1972-1973, 1980-1981, 1984 dan 1985. Terkecuali letusan 1972-1973, semuanya memiliki skala letusan kecil yakni hanya berkisar antara 1 hingga 2 VEI. Tak ada korban jiwa yang berjatuhan dalam letusan-letusan tersebut. Letusan 1963-1966 bahkan hanya menyebabkan 3 orang luka-luka.

Semenjak 2012

Kubah lava baru di puncak Gunung Rokatenda yang terbentuk semenjak Oktober 2012 silam. Longsornya sisi selatan dan utara kubah lava ini, masing-masing pada 13 Februari dan 10 Agustus 2013, menyebabkan awan panas berkibar ke arah selatan dan tenggara. Sumber : Pos Kupang, 2013.

Kubah lava baru di puncak Gunung Rokatenda yang terbentuk semenjak Oktober 2012 silam. Longsornya sisi selatan dan utara kubah lava ini, masing-masing pada 13 Februari dan 10 Agustus 2013, menyebabkan awan panas berkibar ke arah selatan dan tenggara. Sumber : Pos Kupang, 2013.

Setelah 27 tahun tertidur pasca aktivitas terakhirnya pada 3 Februari 1985, Gunung Rokatenda kembali menggeliat pada Juni 2012. Peningkatan aktivitas memaksa Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan statusnya secara bertahap dalam tempo cukup singkat. Sehingga pada 13 Oktober 2012 Gunung Rokatenda telah berstatus Siaga (Tingkat 3), tingkatan terakhir sebelum status Awas (status tertinggi). Dalam tingkatan ini penduduk yang tinggal di sekitar gunung khususnya di dalam Kawasan Rawan Bencana 3 dan 2, yakni kawasan yang berpotensi terkena hempasan awan panas, gas beracun, leleran lava letusan dan jatuhan bebatuan pijar produk letusan, sudah harus dievakuasi. Status itu bertahan hingga kini.

Perkembangan aktivitas Gunung Rokatenda kian mengkhawatirkan pasca Oktober 2012. Pendakian dari segenap sisi gunung pada 30 November hingga 2 Desember 2012 memastikan sebuah kubah lava baru tumbuh di dalam kawah dan terus membesar hingga akhirnya setinggi 150 meter dari dasar kawah dengan lebar 200 hingga 250 meter dan volumenya sebesar 5,1 juta meter kubik . Letusan-letusan kecil berkali-kali terjadi dan membumbungkan debu vulkanik hingga setinggi sekitar 3.000 meter. Pada akhirnya apa yang dikhawatirkan pun terjadilah, yakni pada Rabu 13 Februari 2013 saat seperempat bagian sisi selatan kubah lava baru ini longsor dan berubah menjadi awan panas. Awan panas merangsek sejauh 3 kilometer ke selatan, sementara debu vulkanik yang sempat melejit hingga setinggi 4.000 meter lantas menghujani dan membedaki seluruh pulau dan kawasan sekitarnya, bahkan hingga mencapai kota Ende yang jauhnya 60 kilometer. Letusan ini tidak memakan korban jiwa maupun luka-luka, namun sudah cukup sebagai landasan untuk mengevakuasi penduduk Palue.

Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) letusan Gunung Rokatenda. Lingkaran merah berjari-jari 1 kilometer dari puncak, sementara tiga lingkaran kuning berikutnya berturut-turut berjari-jari 2, 3 dan 4 kilometer dari puncak. Alur kuning merupakan lembah-lembah sungai yang menjadi KRB 1 yang potensi bahayanya minimal, sementara area merah muda merupakan KRB 2 yang berpotensi bahayanya medium dan area merah merupakan KRB 3 yang potensi bahayanya paling besar terhadap kejadian letusan. Sumber : BNPB, 2013.

Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) letusan Gunung Rokatenda. Lingkaran merah berjari-jari 1 kilometer dari puncak, sementara tiga lingkaran kuning berikutnya berturut-turut berjari-jari 2, 3 dan 4 kilometer dari puncak. Alur kuning merupakan lembah-lembah sungai yang menjadi KRB 1 yang potensi bahayanya minimal, sementara area merah muda merupakan KRB 2 yang berpotensi bahayanya medium dan area merah merupakan KRB 3 yang potensi bahayanya paling besar terhadap kejadian letusan. Sumber : BNPB, 2013.

Evakuasi ini tidaklah gampang. Pulau Palue dihuni oleh sekitar 9.990 jiwa di delapan desa dengan 657 orang diantaranya bahkan tinggal di Kawasan Rawan Bencana 3 yang sesungguhnya kawasan terlarang. Maka problem sosial yang membelit Gunung Rokatenda pun serupa dengan Gunung Merapi, sama-sama padat oleh hunian manusia bahkan hingga mendekati puncaknya. Meski letusan Rokatenda 1963-1966 membikin trauma dan membuat segenap penduduk sempat direlokasi ke Maumere lengkap dengan hunian dan lahan persawahannya, namun perlahan namun pasti mereka akhirnya kembali lagi ke pulau Palue sebagai tanah tumpah darahnya. Faktor inilah yang membuat rekomendasi PVMBG untuk merelokasi penduduk pulau Palue sulit dilaksanakan. Padahal sebuah gunung berapi takkan pernah terus-menerus berperilaku serupa untuk jangka waktu yang lama. Letusan Kelud 2007 dan Letusan Merapi 2010 menjadi bukti terkini bagaimana karakter sebuah gunung berapi dapat berubah dramatis. Gunung Kelud (Jawa Timur), yang semula dikenal hobi menghamburkan ratusan juta meter kubik rempah vulkanik disertai aliran lahar panas dalam waktu hanya beberapa belas jam sebagai letusan dahsyat, mendadak berubah menjadi menumbuhkan kubah lava di dalam kawah pada Letusan 2007. Sebaliknya Gunung Merapi yang selama beberapa dekade terakhir dikenal rajin memproduksi kubah lava mendadak berubah dengan letusan dahsyatnya pada 2010 silam.

Pasca letusan 13 Februari 2013, aktivitas Gunung Rokatenda seakan menyurut dan tak ada perkembangan yang berarti sehingga
mereka yang sempat mengungsi pun kembali lagi ke pulau ini, meski PVMBG belum menurunkan status gunung. Siapa sangka, hanya berselang enam bulan kemudian letusan yang lebih besar dan menelan korban jiwa justru terjadi. Kali ini giliran sisi utara kubah lava baru yang berulah dan longsor hingga mengibarkan awan panas dalam volume jauh lebih besar, bahkan hingga mencapai pesisir utara. Namun begitu dengan volume awan panas yang tergolong kecil, tsunami merusak tak terjadi sehingga korban jiwa yang lebih besar dapat dihindarkan. Kini, untuk menghindari korban jiwa dan luka-luka yang lebih besar, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengungsikan sebagian penduduk Palue ke Maumere. Sebagai pendukung, BNPB juga telah menyediakan 20.000 masker, 500 paket sandang, 500 paket kebutuhan keluarga, 500 paket anak-anak dan 1.000 selimut.

Sebagian pengungsi korban letusan Gunung Rokatenda yang telah berada di Maumere. Sumber : BNPB, 2013.

Sebagian pengungsi korban letusan Gunung Rokatenda yang telah berada di Maumere. Sumber : BNPB, 2013.

Sumber : PVMBG, 2012. BNPB, 2013. Global Volcanism Program Smithsonian Institution, 2013.