Gunung Merapi : Erupsi Debu Jumat Pagi 1 Juni 2018 TU

Gunung Merapi meletus kembali pada Jumat pagi1 Juni 2018 TU (Tarikh Umum). Disertai dentuman suara keras disusul gemuruh, terlihatlah semburan putih abu-abu tebal menyeruak tinggi ke udara laksana meninju angkasa. Pemandangan mengesankan sekaligus mencekam itu terlihat hingga berpuluh kilometer jauhnya. Yakni hingga sejauh Karanganyar dan Ambarawa, keduanya di propinsi Jawa Tengah yang masing-masing sejarak 60 kilometer di timur dan 30 kilometer di utara Gunung Merapi. Suara gemuruh terdengar bahkan hingga sejauh Kaloran, Temanggung (juga di Jawa Tengah), yakni hingga radius 25 kilometer dari Gunung Merapi.

Gambar 1. Saat-saat erupsi debu Merapi 1 Juni 2018, diamati dari Turi (Sleman) di kaki selatan Gunung Merapi. Sumber: Sulastama Raharja, 2018.

Erupsi Debu

Semenjak Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), meningkatkan status aktivitas Gunung Merapi menjadi Waspada (Level II) mulai 21 Mei 2018 pukul 23:00 WIB, maka erupsi seperti ini terkategori sebagai erupsi debu atau erupsi minor. Eruspi tercatat dimulai pada pukul 08:20 WIB dan berlangsung selama 2 menit kemudian. Seismometer (radas pengukur gempa) mencatat erupsi disertai dengan kejadian gempa letusan yang memiliki amplitudo maksimal 77 milimeter.

Material letusan disemburkan hingga setinggi 6.000 meter di atas puncak. Dengan ketinggian kawah Merapi 2.968 mdpl, maka kolom letusan ini membumbung hingga setinggi 8.968 mdpl atau hampir mencapai ketinggian FL 300 (flight level 30.000 feet).Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin, lembaga yang bertugas menginformasikan paparan debu vulkanik letusan gunung-gemunung berapi di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik Barat Daya, menginformasikan debu vulkaniknya memang menjangkau FL300.

Gambar 2. Rekaman seismik Gunung Merapi berdasarkan seismometer di stasiun Pusunglodon, dekat puncak. Jejak erupsi debu Merapi terlihat di bagian paling bawah. Sumber: BPPTKG, 2018.

Berdasarkan ketinggian kolom letusannya dan dengan menggunakan hubungan antara tinggi kolom letusan terhadap kecepatan pengeluaran material vulkanik (Sparks, 1997 dan Mastin, 2009) diperhitungkan erupsi debu ini melepaskan sekitar 140 meter3 material vulkanik per detiknya. Sehingga dengan durasi erupsi 2 menit, secara keseluruhan dilepaskan sekitar 17.000 meter3 material vulkanik. Dengan demikian erupsi debu Merapi 1 Juni 2018 masih lebih kecil ketimbang erupsi debu 24 Mei 2018 lalu. Yakni hanya sekitar setengahnya saja.

Seperti peristiwa erupsi sejak 21 Mei 2018 TU, erupsi debu kali ini pun mengusung narasi serupa. Yakni sebagai erupsi debu yang menjadi bagian dari awal episode erupsi magmatis Merapi. Erupsi debu Merapi 1 Juni 2018 mewujud dalam letusan bertipe vulkanian, atau vulkano kuat dengan mengacu klasifikasi Escher (1933). Dalam letusan vulkano kuat, kolom letusan disemburkan tinggi ke langit oleh dorongan gas vulkanik bertekanan tinggi. Dengan status Gunung Merapi pada saat ini, maka gas-gas vulkanik tersebut bersumberkan dari magma segar (juvenile) yang masih merayap di kedalaman. Yakni pada kedalaman sedikitnya 3 kilometer terhitung dari puncak Merapi, berdasarkan rekaman seismik.

Material letusannya menjatuhi tubuh gunung sektor lereng dan kaki gunung atau bahkan lebih jauh lagi. Itulah yang terjadi dalam erupsi debu Merapi 1 Juni 2018. Segera setelah menjangkau elevasi hampir 9.000 mdpl, debu letusan melebar horizontal mengikuti hembusan angin regional sebelum gravitasi membuatnya berjatuhan kembali ke paras Bumi. Dalam catatan BPPTKG, hembusan angin membuat debu vulkanik erupsi ini bergerak ke arah barat. Citra satelit Himawari dalam kanal RGB yang disajikan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan debu vulkanik mengarah ke barat daya.

Gambar 3. Menit-menit awal sebaran debu vulkanik Gunung Merapi pasca erupsi debunya, diabadikan dari Sleman. Sumber: Danang, 2018.

Akan tetapi dinamika atmosfer tepat di atas Gunung Merapi menyajikan fenomena yang mengesankan. Sebaran debu menyebar ke dua arah sekaligus, yakni menuju ke utara dan ke selatan. Awalnya mereka membentuk konfigurasi mirip huruf C terbalik. Untuk kemudian debu vulkanik sisi selatan terus bergerak menjauh menuju Samudera Indonesia. Sementara debu vulkanik sisi utara menyebar ke daratan yang ada di sisi utara Gunung Merapi. Hujan abu vulkanik pun mengguyur bagian-bagian dari Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, Kota Salatiga, Kabupaten Semarang dan Kota Semarang. Paparan debu vulkanik pula yang menyebabkan dua bandara, yakni Adisumarmo di Surakarta dan Ahmad Yani di Semarang, terpaksa ditutup selama 3 jam mulai pukul 15:45 WIB. Karena adanya konsentrasi debu vulkanik di ruang udara kedua bandara tersebut.

Status Waspada (Level II)

Erupsi debu ini terjadi dalam situasi Gunung Merapi menyandang status Waspada (Level II). Resiko yang terjadi sejauh ini lebih berupa paparan debu vulkanik. Perlindungan terbaik terhadap abu vulkanik adalah dengan tetap tinggal di dalam ruangan/rumah. Dengan jendela dan ventilasi yang tertutup. Jika terpaksa harus beraktivitas keluar rumah, maka lengkapi diri anda dengan alat perlinfungan diri seperti kacamata, jaket dan helm.

Jangan lupa untuk terus memantau informasi dari lembaga yang berwenang. Seperti BPPTKG untuk informasi soal erupsi Gunung Merapi dan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) setempat untuk petunjuk evakuasi bila diperlukan.

Gambar 4. Debu vulkanik produk erupsi debu Merapi 1 Juni 2018 seperti terekam dalam citra satelit Himawari pada kanal RGB yang dipublikasikan BMKG Stasiun Klimatologi Yogyakarta. Sumber: BMKG, 2018.

Pada akhirnya kita harus menerima bahwa Gunung Merapi memang telah berubah pasca 2010 TU. Kini ia kerap meletuskan diri secara freatik, meski dalam kurun empat tahun terakhir nyaris tiada kejadian serupa. Hidup ramah bersama Merapi yang telah berubah adalah satu keniscayaan.

Referensi :

Dipublikasikan pula di MountMerapi.org dengan perubahan seperlunya.

Mengenal Erupsi Gunung Berapi: Freatik, Freatomagmatik dan Magmatik

Gunung Agung akhirnya membuktikan bahwa dirinya tak ingkar dari janjinya sebagai gunung berapi aktif. Setelah lebih dari dua bulan mencekam lewat drama krisis seismik yang ditandai lonjakan kegempaan vulkanik dan tektonik, pada Selasa 21 November 2017 TU (Tarikh Umum) Agung akhirnya meletus.

Gambar 1. Letusan awal Gunung Agung pada Minggu 21 November 2017 TU sore. Tekanan gas vulkanik di letusan ini tergolong sedang, sehingga debu hanya menyembur setinggi 700 meter di atas puncak. Semula dikira erupsi freatik, namun analisis sampel debu produk letusan ini menunjukkan saat itu Gunung Agung sudah memasuki tahap erupsi freatomagmatik. Sumber: PVMBG, 2017.

Letusan awal Agung tergolong sedang. Ia menyemburkan debu vulkanik hingga setinggi maksimal 700 meter di atas puncak, atau 4.100 meter dpl (dari paras air laut rata-rata). Letusan berlangsung singkat dan Gunung Agung kembali tenang hingga 4 hari kemudian. Namun kejadian letusan itu sendiri dipandang mengagetkan bagi sebagian kalangan. Mengingat sejak krisis seismik Gunung Agung dimulai pada 13 September 2017 TU, kegempaan harian Agung justru menunjukkan kecenderungan mulai menurun pada 37 hari kemudian.

Dengan patokan 20 Oktober 2017 TU, bila dicermati sebelum tanggal tersebut jumlah gempa vulkanik-tektonik Gunung Agung melampaui 600 kejadian per hari dan bahkan pada puncaknya sempat menyentuh lebih dari 1.000 kejadian per hari. Namun selepas tanggal itu jumlahnya anjlok secara drastis menjadi di bawah 400 kejadian per hari. Bahkan sehari sebelum letusan, jumlah gempa Gunung Agung sudah anjlok drastis di bawah angka 100 kejadian per hari. Tak heran banyak yang beranggapan Gunung Agung telah melempem, kehabisan tenaga sebelum saatnya meletus.

Gambar 2. Panorama kawah Gunung Agung dalam beberapa hari pasca letusan awal, diabadikan dengan PUNA/pesawat udara nir-awak (drone). Nampak lubang letusan awal (yang merupakan erupsi freatomagmatik) menganga di tengah dasar kawah. Sementara gas belerang nampak mengepul pada zona retakan di sisi timur laut. Sumber: PVMBG, 2017.

Setelah tenang kembali selama 4 hari, Gunung Agung kembali beraksi pada Sabtu 25 November 2017 TU. Kali ini letusannya lebih besar dan durasinya lebih lama karena berlangsung hingga berhari-hari kemudian. Awalnya kolom debu letusan disemburkan setinggi 4.600 meter dpl (lebih dari 15.000 kaki). Namun terus berlangsungnya pasokan magma segar membuat debu vulkanik membumbung kian tinggi hingga akhirnya mencapai ketinggian lebih dari 6.000 meter dpl (hampir 18.000 kaki).

Dengan ketinggian hingga 18.000 kaki itu, maka tebaran debu vulkanik Agung sudah memasuki area lalulintas penerbangan pesawat-pesawat komersial. Larangan terbang di ruang udara sekitar Gunung Agung pun ditegakkan untuk keselamatan penerbangan. Meski konsekuensinya dua bandara, masing-masing Denpasar (Bali) dan Mataram (Nusa Tenggara Barat), terpaksa ditutup untuk sementara. Akibatnya ratusan penerbangan dari dan ke pulau Bali dan pulau Lombok pun terpaksa dibatalkan. Beruntung penutupan ini tidak berlangsung lama. Di sisi lain, lonjakan ini membuak status Gunung Agung kembali dinaikkan ke Awas (Level IV) mulai 27 November 2017 TU.

Kubah Lava

Gambar 3. Letusan Gunung Agung pada 29 November 2017 TU dinihari. Warna kemerahan pada satu sisi di bagian bawah kolom letusan merupakan cahaya yang dipancarkan dari magma segar yang telah keluar dan mulai mengisi dasar kawah. Inilah pertanda tak langsung letusan Gunung Agung sudah memasuki fase erupsi magmatik yang efusif. Sumber: PVMBG, 2017.

Semenjak itu Gunung Agung terus berkibar dengan aktivitasnya. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMB) mencatat hingga akhir tahun 2017 TU, Gunung Agung telah mengalami 21 kejadian letusan dan 843 kejadian hembusan. Bila dirata-ratakan maka terjadi satu letusan setiap 2 hari dan setiap harinya terjadi 21 hembusan. Kejadian letusan adalah semburan dengan kolom berwarna abu-abu/gelap sebagai pertanda dominasi debu vulkanik. Sementara hembusan adalah semburan yang mirip namun lebih cerah atau putih, indikasi dominannya uap air.

Selain kejadian letusan dan hembusan, sejak letusan beruntun 25 November 2017 juga terdeteksi terjadinya muntahan magma segar. Awalnya berdasarkan indikasi tak langsung, dimana dasar kolom letusan nampak merah membara laksana tersinari sesuatu di malam hari. Indikasi langsungnya baru diketahui berhari-hari kemudian lewat pencitraan satelit sumberdaya Bumi (baik dalam spektrum cahaya tampak maupun radar), terutama manakala tutupan awan di atas Gunung Agung relatif jarang.

Gambar 4. Panorama kubah lava di dasar kawah Gunung Agung, diabadikan dengan PUNA PVMBG dan satelit penginderaan jauh PlanetLab masing-masing pada pertengahan dan awal Desember 2017 TU. Orientasi arah mataangin keduanya adalah sama. Nampak jelas kubah lava yang unik dengan tepian bergelombang dan lubang letusan di bagian tengah. Sumber: PVMBG, 2017 & Planet, 2017.

Magma keluar sebagai lava segar yang terakumulasi di dasar kawah sebagai kubah lava nan unik. Bentuknya melebar datar mirip telur dadar atau martabak. Terdapat pola bergelombang di tepinya, yang mengesankan terbentuk saat lava masih cukup encer dan mendadak terjadi letusan cukup kuat hingga membentuk gelombang di permukaan sebelum kemudian mulai mendingin dan membeku. Bentuknya yang melebar datar menunjukkan lava letusan Agung kali ini relatif encer, setidaknya dibanding lava letusan 1963-1964.

Secara akumulatif terdapat 20 hingga 30 juta meter3 lava di dasar kawah Agung. Volume kawah Agung sendiri adalah 60 juta meter3, sehingga jumlah lava yang keluar dalam letusan ini baru mengisi sepertiga hingga setengah kawah saja. Belum tumpah. Ini membuat fenomena khas letusan gunung berapi bagi lereng gunung seperti aliran lava pijar maupun awan panas guguran tidak terjadi.

Ada perdebatan apakah akumulasi lava Agung merupakan kubah lava atau fenomena lain, misalnya danau lava. Mengutip VolcanoDiscovery.com, sulit menyebutnya sebagai danau lava. Sebab danau lava memerlukan lava yang lebih encer lagi dan mampu mempertahankan diri untuk tetap cair (dalam waktu tertentu) sehingga proses konveksi dapat terjadi. Hal tersebut tak dijumpai pada tumpukan lava Agung saat ini. Maka fenomena dalam kawah Agung lebih merupakan kubah lava. Lavanya relatif lebih encer dibanding lava penyusun kubah-kubah lava lainnya di gunung-gemunung berapi Indonesia. Sehingga bentuknya mendatar. Kubah lava yang mirip dijumpai pula di Gunung Popocatepetl (Meksiko) saat letusan 2015-2016 lalu.

Gambar 5. Panorama kubah lava Agung dan Popocatepetl. Dua kubah lava yang berbeda ini memiliki sejumlah kemiripan, yakni bentuknya relatif datar dan memiliki pola bergelombang di tepinya. Sumber: PVMBG, 2017 & CENAPRED, 2016.

Freatik, Freatomagmatik dan Magmatik

Banyak yang menganggap (termasuk saya) letusan Gunung Agung kali ini dimulai dengan peristiwa erupsi freatik. Tepatnya pada letusan awal 21 November 2017. Namun PVMBG, melalui analisis sampel debu letusan, mementahkan anggapan itu dan menyatakan letusan awal Agung bukan lagi erupsi freatik namun sudah merupakan erupsi freatomagmatik.

Apa sih erupsi freatik dan freatomagmatik itu?

Dalam hal pergerakan magma dari sebelum hingga sesudah keluar dari lubang letusan, dikenal adanya tiga jenis erupsi. Masing-masing erupsi freatik, erupsi freatomagmatik dan erupsi magmatik. Seperti diketahui manakala sebuah gunung berapi hendak meletus maka dapur magmanya mulai mengalirkan magma segar yang telah bertekanan cukup tinggi (oleh sebab apapun) ke atas. Pergerakan ini menciptakan retakan-retakan pada bebatuan yang menyumbat saluran, batuan yang sejatinya merupakan bekuan dari magma tua (magma sisa letusan sebelumnya). Pembentukan retakan ini menghasilkan getaran yang terdeteksi sebagai gempa-gempa vulkanik.

Gambar 6. Skema sederhana erupsi freatik, freatomagmatik dan magmatik. A = Situasi menjelang erupsi freatik, dimana air bawah tanah sekitar puncak (2) terpanaskan intensif oleh magma segar yang masih jauh di kedalaman (5) sehingga membentuk uap air yang terakumulasi (4) di bawah penutup dasar kawah (3). B = saat erupsi freatik terjadi. Erupsi ini menciptakan jalan bebas hambatan bagi magma segar untuk lebih cepat naik, sehingga erupsi freatomagmatik juga berkemungkinan terjadi. C = saat erupsi magmatik terjadi, magma segar sudah keluar dari lubang letusan dan mengalir sebagai lava pijar maupun awan panas di lereng. Sumber: Sudibyo, 2014.

Saat magma segar kian dekat ke paras tanah dan siap memasuki tubuh gunung, mulailah ia berinteraksi dengan air bawah tanah. Gas-gas vulkanik panas yang dilepaskan magma segar di kedalaman bersentuhan dengan air bawah tanah sehingga penguapan terjadi, meskipun magma segar itu sendiri belum menyentuh air. Intensitas penguapan kian meningkat seiring kian naiknya magma segar. Sebagian uap bisa meloloskan diri ke udara melalui retakan-retakan yang sudah ada menuju kawah. Akan tetapi sebagian lagi tetap tersekap, berkumpul kian banyak hingga tekanannya kian meningkat. Erupsi freatik terjadi manakala akumulasi uap air ini memiliki tekanan yang cukup tinggi sehingga mampu membobol bebatuan pembekuan magma tua yang menyumbat kawah. Terciptalah jalur bebas hambatan ke udara.

Karena itu material vulkanik yang disemburkan oleh erupsi freatik lebih didominasi uap air bercampur gas-gas vulkanik lainnya. Sementara debu, pasir hingga kerikil produk pembobolan magma tua merupakan komponen sekunder. Produk letusannya pun relatif dingin. Saat baru keluar dari lubang letusan, material vulkaniknya memiliki suhu kurang dari 200º C dan saat tiba di kaki gunung sudah setara suhu lingkungan. Erupsi freatik sama sekali tidak memuntahkan magma segar. Intensitas erupsinya juga umumnya kecil. Namun ia menghasilkan jalan bebas hambatan yang membuat jenis-jenis erupsi berikutnya menjadi lebih mudah terjadi.

Gambar 7. Suasana panik sesaat setelah erupsi freatik di Kawah Sileri, kompleks vulkanik Dieng, Banjarnegara (Jawa Tengah) pada 2 Juli 2017 TU silam. Uap air nampak mengepul dari kawah, salah satu ciri khas erupsi freatik. Sumber: BNPB/Sutopo Purwo Nugroho, 2017.

Pada letusan Agung kali ini tidak terdeteksi terjadinya erupsi freatik. Erupsi freatik kadangkala menjadi babak pembuka sebuah episode letusan gunung berapi. Misalnya seperti pada Letusan Sinabung 2010. Namun juga dapat berdiri sendiri, yakni langsung berhenti tanpa diikuti jenis letusan yang lain. Misalnya seperti peristiwa Letusan Kawah Sileri 2017.

Jenis erupsi berikutnya adalah erupsi freatomagmatik. Umumnya erupsi ini terjadi setelah erupsi freatik berlalu. Erupsi freatomagmatik terjadi manakala magma segar, yang kian naik saja ke dalam tubuh gunung namun belum mencapai lubang letusan, mulai bersentuhan langsung dengan air bawah tanah. Persentuhan dengan air yang lebih dingin membuat permukaan magma segar sontak mendingin cepat, membentuk butiran-butiran pasir hingga kerikil dengan komposisi khas. Sebaliknya air bawah tanah langsung menguap secara brutal.

Gambar 8. Foto langka yang menunjukkan tahap awal Letusan Krakatau 1883, yakni saat puncak Perbuwatan menyemburkan debu vulkaniknya pada Mei 1883 TU. Letusan ini merupakan erupsi freatomagmatik. Sumber : Simkin & Fiske, 1983.

Produksi uap air yang berlebihan berujung pada letusan. Selain menyemburkan uap air dan gas-gas vulkanik lainnya, erupsi freatomagmatik pun menyemburkan debu, pasir hingga kerikil. Namun kali ini mayoritas berasal dari magma segar yang membeku cepat. Intensitas erupsinya akan lebih besar dari erupsi freatik dan material vulkanik yang dimuntahkannya pun lebih panas. Letusan Agung 21 November 2017 adalah erupsi jenis ini. Demikian halnya erupsi-erupsi awal dari episode Letusan Krakatau 1883.

Gambar 9. Menit-menit awal Letusan Sangeang Api 2014 seperti diabadikan fotografer Sofyan Efendi. Letusan pada 30 Mei 2014 TU ini merupakan contoh erupsi magmatik yang eksplosif. Saat itu Gunung Sangeang Api menyemburkan debu vulkaniknya hingga setinggi sekitar 20.000 meter dpl. Sumber: Effendi, 2014 dalam Mail Online, 2014.

Dan jenis erupsi yang terakhir adalah erupsi magmatik. Erupsi ini adalah pemuncak dari episode letusan gunung berapi, dengan magma segar sudah keluar dari lubang letusan. Erupsi magmatik secara umum terbagi menjadi dua: eksplosif (ledakan) dan efusif (leleran). Erupsi magmatik eksplosif umumnya melibatkan magma segar yang bersifat asam karena banyak mengandung silikat (SiO2). Sehingga ia lebih kental dan lebih banyak menyekap gas-gas vulkanik. Saat hendak keluar atau tepat keluar dari lubang letusan, gas-gas vulkanik ini terbebaskan sehingga menciptakan kolom letusan cukup besar dan menyembur tinggi. Manakala kekuatan semburan gas tak lagi mampu mempertahankan material vulkanik ini di udara maka ia akan berjatuhan kembali ke Bumi. Mayoritas diantaranya (yakni fraksi yang lebih berat) jatuh kembali ke tubuh gunung dan mengalir menuruni lereng sebagai Awan Panas Letusan (APL). Hal ini misalnya bisa disaksikan dalam kejadian Letusan Merapi 2010, Letusan Kelud 2014 dan Letusan Sangeang Api 2014.

Gambar 10. Letusan Sinabung pada 9 Februari 2015 TU, diabadikan fotografer Hendi Syarifuddin. Letusan ini merupakan contoh erupsi magmatik yang efusif, dimana terbentuk awan panas guguran yang mengalir ke lereng. Sumber: Syarifuddin, 2015 dalam geomagz, Maret 2015.

Sebaliknya erupsi magmatik yang efusif terjadi karena magma segar yang lebih bersifat basa (basaltik). Maka ia lebih encer dan kurang mengandung gas. Kurangnya gas vulkanik membuat magma segar cenderung menumpuk disekeliling lubang letusan saat keluar. Membentuk kubah lava. Pasokan magma segar yang berkesinambungan membuat kubah lava kian membesar dan kian takstabil, sehingga bisa longsor sebagian. Longsoran ini menghasilkan Awan Panas Guguran (APG) dan leleran lava pijar. Keduanya bergerak menuruni lereng hingga jarak tertentu. Hal ini misalnya bisa disaksikan pada Letusan Sinabung 2013 yang masih berlangsung hingga kini.

Referensi :

Martanto. 2017. Letusan Gunung Agung 21 November 2017 pukul 17:05 WITA. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, diakses 22 November 2017 TU.

Kasbani. 2017. Perkembangan Terkini Aktivitas Gunung Agung (1 Desember 2017 21:00 WITA). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, diakses 3 Desember 2017 TU.

VolcanoDiscovery. 2017. Gunung Agung volcano (Bali, Indonesia): Flat Lava Dome Occupying Summit Crater. Publikasi 13 Desember 2017 TU, diakses 30 Desember 2017 TU.

VolcanoDiscovery. 2017. Popocatépetl volcano (Mexico): Growing Lava Dome has Filled Inner Crater. Publikasi 29 Januari 2016 TU, diakses 30 Desember 2017 TU.

Duh, Sinabung!

Sampai hari ini (3 Februari 2014) jumlah korban jiwa akibat letusan Gunung Sinabung mencapai 15 orang sementara 2 orang lainnya masih menjalani perawatan intensif akibat luka-luka berat yang dideritanya. Diduga masih ada korban lainnya yang belum ditemukan di desa Sukameriah yang hanya berjarak mendatar 2,7 km dari puncak. Pencarian masih dilakukan namun belum berjalan dengan efektif karena berkali-kali terganggu oleh luncuran demi luncuran awan panas Sinabung. Inilah duka lara terbaru di Gunung Sinabung semenjak gunung berapi ini menunjukkan peningkatan aktivitasnya mulai 15 September 2013 silam. Seluruhnya merupakan korban dari erupsi Sabtu 1 Februari 2014. Saat itu Gunung Sinabung meluncurkan awan panasnya hingga tiga kali, masing-masing pada pukul 07:03 WIB, 10:30 WIB dan 11:27 WIB. Namun luncuran awan panas pukul 10:30 WIB adalah yang terjauh, yakni 4,5 km dari puncak ke arah tenggara. Tak pelak sebagian desa Sukameriah yang memang ada di lereng Sinabung sebelah selatan-tenggara pun tergulung awan panas. Lebih mengenaskan lagi, sebagian korban tewas adalah relawan yang sedang berjibaku mengingatkan orang-orang yang nekat memasuki kawasan terlarang Gunung Sinabung, yakni radius 5 km dari puncak, dengan alasannya masing-masing.

Gambar 1.Peta sebaran endapan awan panas guguran produk letusan Gunung Sinabung hingga 30 Januari 2014 (area merah) berdasarkan data dari BNPB dalam peta topografi dari Google Maps. Ujung endapan telah menyentuh jarak mendatar 4,5 km dari puncak. Nampak posisi desa Sukameriah tepat di batas terluar endapan awan panas guguran, sehingga berpotensi terkena tebaran debu vulkanik panas. Disinilah korban-korban peristiwa 1 Februari 2014 ditemukan. Lingkaran 3, 5 dan 10 masing-masing menunjukkan radius mendatar sebesar 3 km, radius 5 km dan radius 10 km dari kubah lava Gunung Sinabung. Panduan arah, atas = utara, kanan = timur. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 1.Peta sebaran endapan awan panas guguran produk letusan Gunung Sinabung hingga 30 Januari 2014 (area merah) berdasarkan data dari BNPB dalam peta topografi dari Google Maps. Ujung endapan telah menyentuh jarak mendatar 4,5 km dari puncak. Nampak posisi desa Sukameriah tepat di batas terluar endapan awan panas guguran, sehingga berpotensi terkena tebaran debu vulkanik panas. Disinilah korban-korban peristiwa 1 Februari 2014 ditemukan. Lingkaran 3, 5 dan 10 masing-masing menunjukkan radius mendatar sebesar 3 km, radius 5 km dan radius 10 km dari kubah lava Gunung Sinabung. Panduan arah, atas = utara, kanan = timur. Sumber: Sudibyo, 2014.

Tragedi ini terjadi di tengah kecenderungan menurunnya aktivitas erupsi Sinabung. Maka masih berstatus Awas (Level 4), BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) atas rekomendasi PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) mulai mewacanakan pemulangan kembali sebagian pengungsi khususnya yang tempat tinggalnya berjarak lebih dari 5 km terhadap puncak Sinabung. Jika wacana ini dilaksanakan, maka 13.828 jiwa atau hampir separuh jumlah pengungsi akan kembali ke kediaman masing-masing dalam waktu yang tak terlalu lama. Namun wacana ini hanya bisa dilakukan tatkala infrastruktur desa tersebut sudah beres, misalnya jalan raya sudah bersih dan aliran listrik sudah tersambung kembali. Wacana ini juga hanya bisa dilaksanakan jika aktivitas Gunung Sinabung memang benar-benar menurun berdasarkan pengamatan terus-menerus. Di sisi lain, wacana ini masih tetap melarang aktivitas apapaun, apalagi kepulangan pengungsi, dalam radius 5 km dari puncak.

Siapa sangka kalau di tengah berkembangnya wacana ini, Gunung Sinabung mendadak menunjukkan peningkatan aktivitas yang berpuncak pada peristiwa memilukan 1 Februari 2014 lalu?

Tipe Merapi

Meski sudah menunjukkan peningkatan aktivitas semenjak 15 September 2013, namun Gunung Sinabung sesungguhnya baru benar-benar mengalami erupsi magmatik mulai 5 November 2013 ditandai dengan munculnya awan panas. Sebelumnya letusan Sinabung lebih merupakan erupsi freatik atau freatomagmatik, yakni letusan yang sepenuhnya dikendalikan oleh uap air superpanas bercampur debu dan bongkahan bebatuan beku yang menyumbat saluran magma (diatrema) di bawah kepundan. Jika uap airnya berasal dari air bawah tanah yang terpanaskan tanpa bersentuhan langsung dengan magma segar, namun terpanaskan oleh gas-gas vulkanik panas yang dilepaskan magma segar, maka erupsinya disebut erupsi freatik. Sedangkan bila uap airnya berasal dari air bawah tanah yang bersentuhan langsung dengan magma segar maka erupsinya adalah erupsi freatomagmatik. Pada erupsi magmatik, yang dikeluarkan adalah benar-benar magma yang masih segar (bersuhu tinggi) yang berasal dari kantung magma sebuah gunung berapi.

Gambar 2. Gunung Sinabung kala menghembuskan kolom letusan secara vertikal dan meluncurkan awan panas gugurannya pada 15 Januari 2014 lalu. Awan panas guguran nampak masih menyusuri jalur yang dilintasi awan-awan panas guguran sebelumnya. Diabadikan oleh Endro Lewa. Sumber: Lewa, 2014.

Gambar 2. Gunung Sinabung kala menghembuskan kolom letusan secara vertikal dan meluncurkan awan panas gugurannya pada 15 Januari 2014 lalu. Awan panas guguran nampak masih menyusuri jalur yang dilintasi awan-awan panas guguran sebelumnya. Diabadikan oleh Endro Lewa. Sumber: Lewa, 2014.

Tak seperti yang dikhawatirkan sejumlah kalangan mengenai kemungkinan terjadinya letusan besar mengingat gunung berapi ini telah lama sekali tidak meletus, magma segar Gunung Sinabung ternyata tidak bertekanan tinggi kala mulai muncul di lantai kawah. Erupsi magmatik Gunung Sinabung lebih condong kepada erupsi tipe Merapi. Dalam tipe erupsi ini, karena tekanan gasnya sangat kecil maka magma segar yang keluar di kepundan akan menumpuk sebagai lava dan terus menumpuk hingga menjadi timbunan menyerupai bukit yang disebut kubah lava. Meski terlihat padat dan kokoh, sebuah kubah lava yang baru terbentuk sejatinya cukup rapuh karena bagian dalamnya masih berupa lava yang bersifat cair kental membara. Karena itu ia amat rawan untuk runtuh/gugur. Sebagian kubah lava yang runtuh/gugur ini menjadi awan panas yang disebut awan panas guguran (dome-collapse pyroclastic flow), yang lantas mengalir menuruni lereng menyusuri alur lembah-lembah sungai dengan dikendalikan gaya gravitasi. Selain menjadi awan panas, material kubah lava yang longsor juga mengalir sebagai lava pijar yang membara. Dengan demikian perilaku erupsi Gunung Sinabung saat ini mirip dengan apa yang terjadi pada Gunung Merapi sepanjang abad ke-20 dan 21, kecuali letusan besar 1930 dan 2010.

Meski menyandang nama awan, namun awan panas guguran tidaklah berisi uap air. Sebaliknya ia merupakan campuran debu vulkanik dan bongkahan-bongkahan beragam ukuran dari lava yang mulai membeku. Saat mengalir menuruni lereng gunung, ia nampak bergumpal-gumpal mirip gumpalan awan biasa, sehingga membuatnya menyandang nama “awan.” Bagi penduduk di sekitar Gunung Merapi, awan panas guguran memiliki sebutan yang lebih intim yakni wedhus gembel, karena gumpalan-gumpalan tersebut jika dilihat dari jauh menyerupai rombongan domba yang sedang berarak menuruni lereng gunung. Awan panas guguran melejit dengan suhu awal yang sangat tinggi yakni bisa mencapai 700 derajat Celcius. Dalam perjalanannya menuruni lereng gunung hingga akhirnya berhenti, suhunya akan menurun menjadi sekitar 300 hingga 400 derajat Celcius. Gerak awan panas guguran dalam menuruni lereng gunung berapi merupakan gerak longsor sehingga kecepatan awal awan panas bisa mencapai 100 km/jam. Kombinasi tingginya suhu dan juga besarnya kecepatan hempasan inilah yang membuat awan panas guguran amat mematikan bagi manusia. Bahkan meskipun kita tidak berada di dekat lembah sungai yang menjadi jalur lintasannya, awan panas guguran tetap amat mematikan mengingat debu vulkanik yang mengepul darinya pun masih memiliki suhu cukup tinggi yang sanggup menyebabkan luka bakar parah bagi manusia.

Gambar 3. Selain awan panas guguran, erupsi magmatik Gunung Sinabung juga menghasilkan leleran lava pijar yang membara di kala gelap. Berikut salah satu aliran lava pijar yang diabadikan Endro Lewa pada 15 januari 2014 silam dari titik observasi desa Tiga Kicat. Sumber: Lewa, 2014.

Gambar 3. Selain awan panas guguran, erupsi magmatik Gunung Sinabung juga menghasilkan leleran lava pijar yang membara di kala gelap. Berikut salah satu aliran lava pijar yang diabadikan Endro Lewa pada 15 januari 2014 silam dari titik observasi desa Tiga Kicat. Sumber: Lewa, 2014.

Kubah lava terbaru di Gunung Sinabung mulai terbentuk semenjak 16 Desember 2013 ditandai dengan mulai terjadinya gempa hibrid dan mulai menurunnya nilai RSAM (realtime seismic amplitude measurement). Semenjak itu kubah lava Sinabung tumbuh dengan pesat seiring besarnya muntahan magma yang pada awalnya sebanyak 3,5 meter kubik per detik. Sehingga dalam 10 hari kemudian volume kubah lava Sinabung telah melebihi 1 juta meter kubik dan membentuk bukit selebar 210 meter dengan ketinggian 56 meter. Kubah lava yang terus tumbuh dan membesar inilah yang menjadi sumber bagi awan-awan panas guguran semenjak awal 2014. Secara umum tatkala kubah lava terus tumbuh, maka jumlah kejadian awan panas guguran pun bakal meningkat. Kejadian awan panas guguran bakal berhenti kala volume kubah lava telah mengecil demikian rupa sehingga keseimbangan terbentuk dan ia tak lagi longsor/gugur sebagian. Kapan itu terjadi? Sampai saat ini belum bisa diketahui.

Permasalahan pelik yang terkait dengan tumbuhnya kubah lava adalah semakin jauhnya jarak jangkau awan panas guguran yang terbentuk kala ia meluncur. Bertambah besarnya volume kubah lava membuat bagian kubah lava yang kelak akan longsor dan berubah menjadi awan panas guguran bertambah besar. Karenanya awan panas guguran yang terbentuk bisa menghempas hingga menjangkau jarak yang cukup jauh. Atas pertimbangan inilah maka radius bahaya di sekitar Gunung Sinabung diperluas dari smeula 3 km terhadap puncak secara mendatar menjadi 5 km dari puncak mulai akhir November 2013. Perluasan ini terbukti tepat sebab pada awal 2014 hempasan awan panas telah menjangkau jarak 4 km dari puncak. Meski konsekuensinya lebnih banyak lagi desa yang harus dikosongkan sehingga jumlah pengungsi pun membengkak. Di akhir November 2013 itu terdapat 17 desa yang harus dikosongkan dengan jumlah pengungsi secara keseluruhan mencapai 20.270 jiwa.

Kepatuhan

Secara akumulatif hingga 15 Januari 2014 Gunung Sinabung telah memuntahkan 2,4 juta meter kubik rempah letusan. Untuk ukuran manusia, angka tersebut sangat besar. Jika suhu magma yang tepat keluar di kepundan mencapai 900 derajat Celcius, maka hingga 15 Januari 2014 itu Gunung Sinabung telah melepaskan eenrgi termal sebanyak 1.810 TeraJoule atau setara dengan 432 kiloton TNT. Dengan begitu energi letusan Sinabung hingga saat itu menyamai energi yang dilepaskan kala 21 bom nuklir seukuran yang dijatuhkan di atas Hiroshima di akhir Perang Dunia 2 diledakkan secara serempak.

Gambar 4. Kubah lava Sinabung yang masih berasap, pertanda ia masih cukup panas, nampak bertengger di puncak berdampingan dengan titik sumbat lava tua (SL) yang membatasi kawah I dan kawah II Gunung Sinabung. Kubah lava yang hampir meluap dari kawah III Sinabung ini diabadikan selatan-tenggara. Di latar depan nampak bagian lereng yang selama ini menjadi jalan untuk mengalirkan awan panas guguran dan lava pijar, sehingga berwarna keputih-putihan. Sumber: BNPB, 2014.

Gambar 4. Kubah lava Sinabung yang masih berasap, pertanda ia masih cukup panas, nampak bertengger di puncak berdampingan dengan titik sumbat lava tua (SL) yang membatasi kawah I dan kawah II Gunung Sinabung. Kubah lava yang hampir meluap dari kawah III Sinabung ini diabadikan selatan-tenggara. Di latar depan nampak bagian lereng yang selama ini menjadi jalan untuk mengalirkan awan panas guguran dan lava pijar, sehingga berwarna keputih-putihan. Sumber: BNPB, 2014.

Namun untuk ukuran letusan gunung berapi sesungguhnya volume rempah letusan Sinabung masih tergolong kecil. Bandingkan dengan Letusan Merapi 2006 yang sama-sama berupa erupsi tipe Merapi namun menghasilkan 8 juta meter kubik rempah letusan. Jangan bandingkan dengan Letusan Merapi 2010, yang keluar dari kebiasaannya dan memuntahkan 150 juta meter kubik rempah letusan. Dengan demikian dalam skala letusan gunung berapi, erupsi Gunung Sinabung hingga saat ini masih bertahan pada skala 2 VEI (Volcanic Explosivity Index).

Meski relatif kecil, namun letusan Gunung Sinabung kali ini berhadapan dengan kompleksitas masyarakat disekelilingnya. Entah bagaimana ceritanya, Kabupaten Karo rupanya tak juga belajar dari Gunung Sinabung meski pada 2010 silam gunung berapi ini pun telah memancarkan sinyal-sinyal peringatannya. Peringatan itu berupa erupsi freatik, yang intensitasnya jauh lebih kecil dibanding erupsi yang sedang terjadi pada saat ini. Begitu erupsi freatik tersebut berhenti dan Gunung Sinabung terlihat tenang kembali, langkah-langkah mitigasi seharusnya segera dilakukan. Termasuk dengan membentuk organ BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah). Tiadanya langkah tersebut tersebut membuat begitu Gunung Sinabung kembali meletus semenjak 15 September 2013, penanganannya menjadi serba kikuk. Apalagi Gunung Sinabung kemudian seakan mengajak semuanya untuk bermaraton dengan aktivitas yang tetap tinggi hingga kini, empat bulan setelah letusan bermula. Pada puncaknya pembentukan radius bahaya 5 km dari puncak membuat 28.715 orang menjadi pengungsi yang memadati 42 pusat-pusat pengungsian. Terlebih daerah bahaya tidak dijaga dengan baik sehingga siapapun bebas keluar masuk mendekati gunung untuk alasan apapun.

Semoga peristiwa 1 Februari 2014 menjadi dasar untuk meningkatkan kepatuhan di sekujur Gunung Sinabung, tak hanya bagi penduduk setempat namun juga bagi warga masyarakat yang hendak mendekat ke gunung berapi ini. Rekomendasi PVMBG dibentuk bukan untuk mengekang aktivitas manusia, namun semata untuk menjaga keselamatan bersama selagi sebuah gunung berapi beraktivitas. Sebab tatkala sebuah gunung berapi meletus, bukan gunung itu yang harus menyeimbangkan diri dengan kita melainkan kita lah yang harus menyesuaikan diri terhadap gunung berapi tersebut. Biarkan Gunung Sinabung menjalani siklus hidupnya yang baru setelah sekian lama tidak memuntahkan magmanya. Begitu muntahan magma berhenti, radius bahaya pun akan dicabut dan setiap orang bebas kembali memasuki kawasan gunung. Jadi bersabarlah !

Referensi:
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi KESDM.