Mengenal Gerhana Bulan, Melihat Gerhana Bulan Sebagian 14 Zulqaidah 1440 H

Akan terjadi sebuah peristiwa Gerhana Bulan (al-kusuf al-qamar) pada Rabu dinihari 14 Zulqaidah 1440 H yang bertepatan dengan 17 Juli 2019 TU (Tarikh Umum). Gerhana Bulan ini merupakan Gerhana Bulan Sebagian, yang mendapatkan namanya karena pada saat puncak gerhana tercapai hanya sebagian dari cakram Bulan yang tergelapkan oleh gerhana. Dalam Gerhana Bulan Sebagian 14 Zulqaidah 1440 H diperhitungkan hanya 65 % cakram Bulan yang akan berubah menjadi gelap. Sehingga Bulan purnama sempurna pada saat itu akan berubah menjadi laksana Bulan sabit tebal.

Gambar 1. Bulan dalam peristiwa Gerhana Bulan fase gerhana sebagian. Diabadikan dengan kamera DSLR pada bukaan rana 70 mm, ISO 200 dan waktu paparan 2 detik. Nampak bagian Bulan yang tergelapkan berwarna kemerahan, imbas pembiasan berkas cahaya Matahari kala menembus atmosfer Bumi. Bagian berwarna kebiruan adalah produk pembiasan cahaya Matahari melalui lapisan Ozon. Bagian berwarna kemerahan dan kebiruan hanya muncul melalui teknik pemotretan yang tepat. Sumber: Sudibyo, 2018.

Periode Bulan

Gerhana Bulan adalah sebuah peristiwa langit dimana Bumi, Bulan dan Matahari menempati sebuah garis lurus dalam perspektif tiga dimensi (syzygy) sehingga berkas cahaya Matahari yang seharusnya jatuh di paras Bulan sebagai Bulan purnama menjadi terhalangi. Dalam Gerhana Bulan, Bumi berkedudukan di tengah diapit oleh Bulan dan Matahari. Gerhana Bulan adalah implikasi dari peredaran Bulan mengelilingi Bumi dan pergerakan Bumi mengelilingi Matahari.

Bulan adalah satu-satunya satelit alamiah Bumi kita. Dimensinya cukup besar, yakni seperempat ukuran Bumi dan tergolong cukup besar diantara satelit-satelit alamiah lainnya di seantero tata surya. Di antara benda-benda langit yang berstatus satelit alamiah planet dalam tata surya, Bulan adalah yang terbesar kelima setelah Ganymede (satelit alamiah Jupiter), Titan (satelit alamiah Saturnus), Callisto dan Io (keduanya satelit alamiah Jupiter).

Gambar 2. Bulan dalam peristiwa Gerhana Bulan fase gerhana penumbral. Diabadikan dengan kamera DSLR pada bukaan rana 70 mm, ISO 200 dan waktu paparan 1/500 detik. Nampak bagian Bulan yang sedikit gelap sebagai pengaruh penumbra. Sumber: Sudibyo, 2018.

Sebagai satu-satunya satelit alamiah di satu-satunya planet yang dihuni umat manusia, maka Bulan sudah dikenal sejak awal peradaban. Termasuk siklus fasenya mulai dari berbentuk sabit, sabit tebal, separo, perbani (benjol) hingga purnama dan seterusnya. Dari perubahan demi perubahan fase Bulan ini yang diamati dalam jangka panjang, umat manusia mengetahui fase-fase Bulan memiliki siklus sepanjang 29,5 hari (rata-rata). Ini disebut periode sinodis (al-fatrah as-sayanudsi), yang merupakan selang waktu diantara dua kejadian berkumpulnya Matahari dan Bulan (konjungsi atau ijtima’) yang berurutan (sinodis : berkumpul). Periode sinodis Bulan berperan penting dalam aneka peradaban, sebab menjadi dasar bagi sistem penanggalan. Baik yang berupa kalender lunar murni (setahun terdiri atas 12 bulan kalender) maupun kalender luni-solar (setahun biasa terdiri atas 12 bulan kalender dan setahun kabisat terdiri atas 13 bulan kalender).

Di sisi lain, besaran periode sinodis Bulan sempat menimbulkan masalah tersendiri pada abad ke-16 TU. Kala Isaac Newton merumuskan hukum gravitasiya yang kesohor dan menerapkannya pada pergerakan benda-benda langit, ia sempat dibuat pusing oleh tidak konsistennya hukum tersebut terhadap Bulan. Dengan memasukkan periode sinodis Bulan ke dalam hukum gravitasi dan berdasar pengetahuan massa Bumi yang diketahui pada zamannya (yakni sepertiga lebih rendah ketimbang nilai sesungguhnya), diperoleh nilai jarak rata-rata Bumi Bulan hanyalah 359.000 km. Padahal hasil pengukuran astronomi berdasarkan fenomena Gerhana Bulan yang telah dilakukan berulang-ulang semenjak zaman Ptolomeus menunjukkan jarak terjauh Bumi Bulan adalah 410.000 km.

Masalah ini terselesaikan detelah disadari bahwa terdapat dua macam periode revolusi benda langit, yakni periode sinodis dan periode sideris. Periode revolusi benda langit yang sesungguhnya adalah periode sideris (al-fatrah al-falakiy), yakni yang mengacu kepada posisi bintang-bintang sangat jauh (sidereal : bintang). Terdapat hubungan antara periode sideris dengan periode sinodis sebagai berikut :

Dalam hal Bulan, maka P1 adalah periode sideris Bulan yang dicari dan P2 adalah periode revolusi Bumi yang besarnya 365,25 hari. Diperoleh besarnya periode sideris Bulan adalah 27,3 hari. Massa Bumi yang lebih akurat baru diketahui satu setengah abad pasca Newton lewat eksperimen Cavendish dan kala hasilnya dimasukkan ke dalam hukum gravitasi beserta dengan nilai periode sideris Bulan, diketahui bahwa jarak rata-rata Bumi Bulan adalah sebesar 384.400 kilometer. Pengukuran modern berdasarkan femomena kulminasi atas Bulan oleh Crommelin (1905-1910 TU) disusul okultasi Bulan oleh O’Keefe (1952 TU) dan radar oleh Laboratorium Angkatan Laut AS (1957 TU) serta laser selama misi penerbangan antariksa Apollo (1969 TU hingga sekarang) mengesahkan nilai jarak rata-rata Bumi Bulan tersebut.

Gambar 3. Panorama klasik Bulan dalam peristiwa Gerhana Bulan fase gerhana sebagian. Diabadikan dengan kamera DSLR pada bukaan rana 70 mm, ISO 200 dan waktu paparan 1/100 detik. Nampak bagian Bulan yang tergelapkan betul-betul berwarna gelap seiring teknik pemotretan standar untuk observasi gerhana. Sumber: Sudibyo, 2018.

Gerhana

Hanya periode sinodis Bulan saja yang berperan dalam peristiwa Gerhana Bulan. Secara umum pada setiap pertengahan bulan Hijriyyah, yakni saat Bulan purnama, sejatinya Bulan berkedudukan di antara Bumi dan Matahari. Akan tetapi tidak pada setiap saat tersebut terjadi Gerhana Bulan. Sebab lintasan (orbit) Bulan dalam mengelilingi Bumi tidak sama dengan bidang orbit Bumi dalam mengelilingi Matahari yang disebut ekliptika (masar al-syams). Melainkan membentuk sudut 5 derajat. Hanya pada saat Bulan purnama berkedudukan di ekliptikalah maka Gerhana Bulan bisa terjadi. Sehingga dalam setahun Hijriyyah hanya berkemungkinan terjadi dua hingga tiga peristiwa Gerhana Bulan saja.

Gerhana Bulan terjadi manakala cahaya Matahari yang seharusnya tiba di permukaan cakram Bulan terhalangi Bumi akibat konfigurasi syzygy. Penghalangan Bumi menciptakan dua jenis bayangan, yaitu bayangan inti atau umbra dan bayangan tambahan atau penumbra. Umbra dan penumbra terjadi akibat ukuran Matahari yang jauh lebih besar ketimbang Bumi. Saat Bulan melintasi umbra, secara teoritik takkan ada berkas cahaya Matahari yang bisa jatuh ke permukaan Bulan. Itulah yang menjadikan Bulan gelap sepenuhnya di puncak Gerhana Bulan Total, atau gelap sebagian di puncak Gerhana Bulan Sebagian.

Gambar 4. Diagram sederhana sebuah Gerhana Bulan. Bilamana Bulan bergerak dalam lintasan 1 maka yang terjadi adalah Gerhana Bulan Total atau Gerhana Bulan Parsial. Sementara bila Bulan bergerak dalam lintasan 2, akan terjadi Gerhana Bulan Parsial atau Gerhana Bulan Penumbral. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 4. Diagram sederhana sebuah Gerhana Bulan. Bilamana Bulan bergerak dalam lintasan 1 maka yang terjadi adalah Gerhana Bulan Total atau Gerhana Bulan Parsial. Sementara bila Bulan bergerak dalam lintasan 2, akan terjadi Gerhana Bulan Parsial atau Gerhana Bulan Penumbral. Sumber: Sudibyo, 2014.

Sebaliknya bilamana Bulan hanya melintasi penumbra, masih cukup banyak berkas cahaya Matahari yang tiba di permukaan Bulan. Maka dalam peristiwa Gerhana Bulan unik yang disebut Gerhana Bulan Penumbral (Samar), Bulan akan nampak seperti biasa saja laksana purnama sempurna meski sedang terjadi gerhana. Hanya perukyat yang berpengalaman, atau bilamana pengamatan Gerhana Bulan dilaksanakan dengan menggunakan teleskop atau kamera tertentu sajalah maka gerhana dapat diidentifikasi.

Gerhana Bulan Sebagian 14 Zulqaidah 1440 H diperhitungkan akan dimulai pada Rabu dinihari pukul 01:44 WIB. Pada saat itu Bulan tepat mulai bersentuhan dengan penumbra lewat peristiwa kontak awal penumbra (P1). Di menit-menit berikutnya Bulan kian jauh memasuki penumbra, namun secara sangat sulit untuk diidentifikasi. Barulah pada pukul 03:02 WIB berdasarkan hasil perhitungan, Bulan akan tepat bersentuhan dengan umbra lewat peristiwa kontak awal umbra (U1). Mulai saat itulah Gerhana Bulan menjadi kasatmata, ditandai dengan mulai menggelapnya bagian cakram Bulan yang lama kelamaan kian meluas.

Puncak gerhana diperhitungkan akan tercapai pada pukul 04:31 WIB. Pada saat puncak gerhana terjadi, diperhitungkan 65 % cakram Bulan akan menjadi gelap. Begitu puncak gerhana telah berlalu maka luas bagian gelap di cakram Bulan secara berangsur-angsur mulai berkurang dan diperhitungkan akan menghilang sepenuhnya pada pukul 06:00 WIB saat kotak akhir umbra (U4) terjadi. Selanjutnya Bulan kembali memasuki penumbra hingga tepat meninggalkan penumbra dalam kontak akhir penumbra (P4) yang diperhitungkan akan terjadi pada pukul 07:18 WIB.

Gambar 5. Bulan dalam peristiwa Gerhana Bulan fase gerhana total. Diabadikan dengan kamera DSLR pada bukaan rana 70 mm, ISO 200 dan waktu paparan 2 detik. Nampak bagian Bulan yang tergelapkan berwarna kemerahan, imbas pembiasan berkas cahaya Matahari kala menembus atmosfer Bumi. Bagian berwarna kebiruan adalah produk pembiasan cahaya Matahari melalui lapisan Ozon. Bagian berwarna kemerahan dan kebiruan hanya muncul melalui teknik pemotretan yang tepat. Sumber: Sudibyo, 2018.

Gerhana Bulan Sebagian 14 Zulqaidah 1440 H akan memiliki durasi gerhana 5 jam 34 menit, dihitung dari saat kontak awal penumbra hingga kontak akhir penumbra. Sementara durasi kasatmatanya hanya 2 jam 58 menit, yakni dihitung dari saat kontak awal umbra hingga kontak akhir umbra. Selain durasi gerhana dan durasi kasatmata, ilmu falak juga mengenal adanya istilah durasi nampak gerhana, yang hanya terjadi bilamana Bulan dalam kondisi terbit atau terbenam manakala gerhana terjadi. Durasi nampak akan selalu lebih kecil ketimbang durasi kasatmata.

Hal tersebut akan teramati pada Gerhana Bulan Sebagian 14 Zulqaidah 1440 H. Gerhana bisa disaksikan dari Asia, Afrika dan Eropa. Di Indonesia juga bisa disaksikan namun dalam kondisi yang tak sempurna. Sebab di Indonesia gerhana berlangsung saat Matahari dalam proses terbit. Bagi Jakarta yang akan mengalami kondisi Matahari terbit pada pukul 06:05 WIB, maka berkesempatan menikmati gerhana kasatmata dengan durasi kasatmata-nya. Namun tidak dengan wilayah-wilayah di sebelah timurnya. Di kota Makassar misalnya, dengan Matahari terbit diperhitungkan akan terjadi pada pukul 06:10 WITA (05:10 WIB) maka mengalami gerhana dengan durasi nampak 2 jam 8 menit. Di kota Jayapura, dimana Matahari terbit diperhitungkan akan terjadi pada pukul 05:41 WIT (03:41 WIB) maka durasi nampak gerhana hanyalah 39 menit.

Gerhana Bulan Total Terlama Abad Ini dan Mars Terdekat ke Bumi

Bagaimana jika dua peristiwa langit yang berbeda terjadi pada waktu yang hampir sama? Inilah yang akan kita jumpai pada akhir Juli 2018 TU (Tarikh Umum). Yakni peristiwa Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 dan Mars terdekat ke Bumi 31 Juli 2018.

Sebelum lebih jauh, perlu digarisbawahi bahwa yang dimaksud Gerhana Bulan Total terlama abad ini adalah dalam durasi totalitasnya. Yakni rentang waktu manakala Bulan sepenuhnya berada dalam umbra (bayangan inti) Bumi sehingga sepenuhnya terblokir dari paparan langsung cahaya Matahari. Peristiwa Gerhana Bulan Total telah diperhitungkan akan terjadi pada Sabtu 28 Juli 2018 TU, bertepatan dengan 15 Zulqaidah 1439 H jika berdasarkan takwim standar Kementerian Agama RI atau 14 Zulqaidah 1439 H merujuk kalender Nahdlatul ‘Ulama yang telah dikomparasikan dengan hasil rukyat hilaal. Dan dalam peristiwa ini, durasi totalitasnya adalah sebesar 103 menit atau 1 jam 43 menit. Panjangnya durasi totalitas ini menjadikan Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 adalah Gerhana Bulan Total (berdurasi totalitas) terlama bagi abad ke-21 TU.

Gambar 1. Bulan dalam tahap parsial saat Gerhana Bulan 7-8 Agustus 2017 silam. Diabadikan dalam citra overeksposur untuk memperlihatkan bagian umbra di cakram Bulan yang berwarna kemerah-merahan. Pemandangan yang lebih memukau akan kita saksikan pada Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018. Sumber: Sudibyo, 2017.

Gerhana Bulan ini mengurung narasi yang hampir serupa dengan peristiwa sejenis sebelumnya. Yakni terjadi manakala Matahari, Bulan dan Bumi berada dalam satu garis lurus ditinjau dari segala arah (syzygy) dengan Bulan berada di tengah-tengah. Pada saat itu Bulan memiliki fase purnama. Dan pada saat yang sama pula Bulan berkedudukan dekat atau bahkan tepat menempati salah satu dari dua titik nodal dalam orbitnya, yakni titik potong antara orbit Bulandengan dengan ekliptika (bidang edar Bumi dalam mengelilingi Matahari). Sebagai akibatnya pancaran sinar Matahari ke arah Bulan akan terhalangi oleh bundaran Bumi. Bergantung pada besar kecilnya derajat penghalangan cahaya Matahari oleh Bumi, maka terdapat tiga macam Gerhana Bulan. Masing-masing Gerhana Bulan Total (GBT), Gerhana Bulan Sebagian (GBS) atau Gerhana Bulan Parsial dan Gerhana Bulan Penumbral(GBP) atau Gerhana Bulan Samar.

Gerhana Bulan Apogean

Gerhana Bulan 28 Juli 2018 merupakan peristiwa Gerhana Bulan Total. Terjadi karena Bulan tepat sepenuhnya melintasi umbra Bumi di kala puncak gerhana terjadi. Perhitungan menunjukkan awal gerhana akan terjadi pada pukul 00:15 WIB, yang ditandai dengan kontak awal penumbra (P1) yang juga pertanda dimulainya tahap penumbral. Dalam kondisi tersebut, meski gerhana telah dimulai namun masih sangat sulit untuk membedakannya dengan Bulan purnama biasa. Kecuali oleh pengamat yang berpengalaman, atau pengamatan dilakukan dengan menggunakan teleskop / binokular.

Gambar 2. Wajah Bulan dalam Gerhana Bulan Sebagian 7-8 Agustus 2017. Panorama tahap parsial seperti ini akan bisa disaksikan lagi dalam peristiwa Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018. Sumber: Sudibyo, 2017.

Gerhana Bulan diperhitungkan baru akan nampak secara kasat mata pada pukul 01:24 WIB. Yakni pada saat kontak awal umbra (U1) dimulai yang juga menandakan dimulainya tahap parsial. Pada yakni pada saat umbra tepat mulai bersentuhan dengan cakram Bulan. Mulai saat itu cakram Bulan akan berangsur-angsur menggelap dari sisi timur. Tahap berikutnya, yakni tahap total, diperhitungkan akan terjadi mulai terjadi pada pukul 02:30 WIB dengan terjadinya kontak awal total (U2). Puncak gerhana diperhitungkan terjadi pada pukul 03:22 WIB.

Tahap total ini diperhitungkan akan berakhir pada pukul 04:13 WIB seiring terjadinya kontak akhir total (U3). Secara kasat mata gerhana diperhitungkan akan berakhir pada pukul 05:19 WIB seiring cakram Bulan tepat meninggalkan umbra sebagai pertanda terjadinya kontak akhir umbra (U4). Tahap parsial pun berakhir pada saat itu. Dan akhir gerhana diperhitungkan bakal terjadi pada pukul 06:28 WIB dengan terjadinya kontak akhir penumbra (P4) sekaligus akhir tahap penumbral.

Dari angka-angka tersebut kita bisa mengetahui durasi gerhana ini. Durasi gerhana secara keseluruhan, dimulai dari kontak awal penumbra hingga kontak akhir penumbra, diperhitungkan sebesar 6 jam 14 menit. Namun durasi gerhana kasat mata, yakni sejak kontak awal umbra hingga kontak akhir umbra, diperhitungkan sebesar 3 jam 55 menit. Sementara durasi totalitasnya adalah 1 jam 43 menit.

Durasi totalitas Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 cukup panjang. Karena gerhana terjadi pada waktu berdekatan dengan apogee Bulan. Yakni saat Bulan berkedudukan di titik apogee (titik terjauh dalam orbitnya terhadap Bumi). Karena itu merupakan Gerhana Bulan Apogean. Saat puncak gerhana terjadi pada 28 Juli 2018 TU pukul 03:22 WIB, jarak Bumi – Bulan diperhitungkan adalah sebesar 406.100 kilometer (yakni dari pusat Bumi ke pusat Bulan). Sementara apogee Bulan terjadi pada 27 Juli 2018 TU pukul 12:45 WIB, atau hanya 14 jam sebelum puncak gerhana. Apogee Bulan saat itu diperhitungkan memiliki jarak 406.220 kilometer.

Jarak rata-rata Bumi – Bulan adalah sebesar 384.400 kilometer. Jika jarak Bumi – Bulan untuk satu saat lebih besar dari nilai tersebut, maka ukuran tampak (apparent) cakram Bulan akan terlihat lebih kecil kala disaksikan dari Bumi. Fenomena ini akan cukup jelas pada saat terjadinya Bulan purnama. Dalam astronomi, Bulan purnama yang terjadi dalam waktu berdekatan dengan apogee Bulan disebut sebagai Bulan purnama apogean. Namun bagi khalayak ramai lebih populer dengan istilah Minimoon, sebuah lawan-kata dari istilah Supermoon. Sejak awal abad ke-21 hingga beberapa tahun ke depan, Minimoon selalu terjadi di setiap bulan Juli hingga Agustus, sementara Supermoon di setiap bulan Desember hingga Januari.

Gambar 3. Perbandingan ukuran Bulan antara saat Bulan purnama perigean (Supermoon) dengan saat purnama jelang Gerhana Bulan Sebagian 7-8 Agustus 2017. Diabadikan dengan instrumen yang sama. Nampak Bulan saat purnama perigean sedikit lebih besar. Sumber: Sudibyo, 2017.

Kecepatan gerak Bulan dalam mengelilingi Bumi tergantung pada posisinya. Saat berada di perigee (titik terdekat ke Bumi), Bulan bergerak paling cepat. Sebaliknya pada saat berada di apogee ia menjadi yang paling lambat. Maka saat Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 terjadi, gerak Bulan sedang dalam keadaan paling lambat. Inilah yang menjadikan durasi totalitasnya cukup besar, selain bahwa pada saat gerhana terjadi lintasan pergerakan Bulan tepat hampir menyentuh pusat bundaran umbra. Kombinasi dua hal tersebut menjadikan durasi totalitas Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 adalah yang terpanjang bagi abad ke-21 TU.

Keterlihatan Gerhana Bulan

Salah satu aspek istimewa dalam peristiwa Gerhana Bulan adalah tahap-tahap gerhananya terjadi pada waktu yang sama pada titik-titik manapun dalam wilayah gerhana. Jika ada perbedaan, maka perbedaan tahap-tahap gerhana antara satu titik dengan titik lainnya hanyalah dalam orde detik. Dengan demikian durasi gerhana Bulan di setiap titik pun dapat dikatakan adalah sama.

Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 memiliki wilayah gerhana cukup luas mencakup lebih dari separuh bola Bumi yang sedang berada dalam situasi malam hari. Yakni melingkupi seluruh benua Eropa, Afrika, Australia serta hampir seluruh Asia (kecuali sudut timur laut Russia) dan sebagian Amerika (khususnya Amerika selatan). Luasan wilayah gerhana terbagi menjadi dua, yakni wilayah yang mengalami gerhana secara utuh dan wilayah yang mengalami gerhana secara tak utuh (saat Bulan mulai terbenam maupun mulai terbit).

Gambar 4. Peta wilayah Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 secara global. Perhatikan bahwa hampir segenap Indonesia merupakan bagian dari wilayah yang mengalami gerhana secara tidak utuh. Yakni Gerhana Bulan terjadi di Indonesia saat Bulan sedang dalam proses terbenam. Sehingga tidak seluruh tahap gerhana bisa disaksikan, sepanjang langit cerah. Sumber: Sudibyo, 2018 dengan basis NASA, 2018.

Hampir segenap Indonesia tercakup ke dalam wilayah yang mengalami gerhana meski secara tak utuh. Karena Gerhana Bulan terjadi di Indonesia manakala Bulan sedang dalam proses terbenam. Jadi tidak seluruh tahap gerhana bisa disaksikan mengingat Bulan sudah keburu terbenam (dan sebaliknya sudah Matahari terbit). Karena itulah maka propinsi Papua hanya bisa menikmati Gerhana Bulan ini sebelum akhir tahap total (U3) saja. Sementara segenap daerah yang ada di antara pulau Sulawesi hingga sisi barat pulau Irian (yakni propinsi Irian Jaya Barat) beserta sebagian propinsi Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan Utara hanya sanggup mengalami gerhana sebelum akhir tahap parsial (U4). Sisanya, kecuali sebagian pulau Sumatra, masih lebih beruntung karena mengalami Gerhana Bulan hingga sebelum tahap akhir gerhana (P4). Hanya propinsi Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan Riau saja yang berkesempatan menyaksikan gerhana secara utuh.

Gerhana Bulan Total merupakan gerhana Bulan yang kasat mata. Sehingga dapat kita amati tanpa bantuan alat optik apapun, sepanjang langit cerah. Namun penggunaan alat bantu optik seperti kamera dan teleskop akan menyajikan hasil yang lebih baik. Sepanjang dilakukan dengan pengaturan (setting) yang tepat sesuai dengan tahap-tahap gerhana. Detail teknis pemotretan untuk mengabadikan gerhana ini dengan menggunakan kamera DSLR (digital single lens reflex) tersaji berikut ini :


Mars Terdekat ke Bumi

Selain Gerhana Bulan Total, Juli 2018 TU juga ditandai dengan peristiwa langka, yakni saat Mars berkedudukan terdekat dengan Bumi. Terdekat dalam arti yang sesungguhnya, yakni dalam hal jarak. Pada Selasa 31 Juli 2018 TU pukul 14:51 WIB yang bertepatan dengan 18 Zulqaidah 1439 H (dalam takwim Kementerian Agama RI) atau 17 Zulqaidah 1439 H (dalam kalender Nahdlatul ‘Ulama) Mars diperhitungkan akan berjarak 57,59 juta kilometer dari Bumi kita, dihitung dari pusat Bumi ke pusat Mars. Terakhir kali Mars berada pada posisi yang lebih dekat ke Bumi ketimbang saat ini adalah pada 15 silam. Tepatnya pada 27 Agustus 2003 TU dimana saat itu Bumi dan Mars hanya terpisahkan jarak sebesar 55,7 juta kilometer saja.

Gambar 5. Simulasi panorama langit malam pada saat puncak Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 dilihat dari Jakarta, Indonesia. Atas = utara, kanan = barat. Nampak Bulan sangat berdekatan dengan Mars, dengan jarak sudut (elongasi) hanya sekitar 10º. Sumber: SkyMapOnline, 2018.

Karena berkedudukan cukup dekat dengan Bumi dibanding biasanya, maka Mars akan bertambah terang. Pada 31 Juli 2018 TU itu Mars bakal menjadi benda langit alami terterang nomor tiga di langit malam setelah Bulan dan Venus. Diperhitungkan Mars akan memiliki magnitudo semu hingga -3, atau 10 kali lebih benderang dibandingkan kondisi biasanya. Perubahan kecemerlangan ini akan mudah dideteksi bahkan tanpa menggunakan alat bantu optik apapun.

Baik Mars maupun Bumi adalah planet-planet yang beredar mengelilingi Matahari dalam lintasannya masing-masing. Mars tergolong dalam kelompok planet superior, yakni planet-planet yang orbitnya lebih jauh terhadap Matahari dibandingkan orbit Bumi. Maka dalam sudut pandang kita di Bumi, ada dua peristiwa unik yang terkait erat dengan posisi Bumi dan Mars dalam orbitnya masing-masing terhadap Matahari. Yakni peristiwa konjungsi (ijtima’) dan oposisi (istikbal).

Konjungsi Mars – Matahari terjadi saat Bumi, Mars dan Matahari terletak dalam satu garis lurus dengan kedudukan Matahari di tengah-tengah. Sehingga Mars akan terlihat sangat berdekatan atau bahkan menghilang di balik Matahari saat dilihat dari Bumi. Dalam peristiwa ini maka Matahari dan Mars akan terbit dan terbenam pada saat yang hampir sama dilihat dari Bumi. Saat itu terjadi maka Mars akan memiliki jarak terpanjangnya terhadap Bumi, yakni mencapai 400 juta kilometer. Pada saat konjungsi Mars – Matahari terjadi, Mars berada dalam kondisi paling redup dengan magnitudo semu +1,6.

Sedangkan oposisi Mars – Matahari adalah sebaliknya, yakni saat Bumi, Mars dan Matahari terletak dalam satu garis lurus dengan kedudukan Bumi di tengah-tengah. Sehingga Mars akan bertolak belakang terhadap kedudukan Matahari. Dengan kata lain, pada saat oposisi Mars terjadi maka planet itu tepat akan terbit kala Matahari tepat terbenam. Dan demikian pula sebaliknya. Saat oposisi Mars terjadi maka ia akan berada pada kondisi paling terang dan jaraknya ke Bumi pun adalah yang terpendek.

Gambar 6. Ilustrasi perubahan diameter tampak (apparent) Mars dari waktu ke waktu antara sebelum oposisi, pada saat oposisi 2018 dan setelah oposisi. Sumber: ALPO, 2018.

Mars memiliki orbit yang berjarak rata-rata 1,524 SA (satuan astronomi) terhadap Matahari sehingga mempunyai periode revolusi sideris 1,88 tahun. Namun demikian konjungsi maupun oposisi Mars – Matahari tidak terjadi setiap 1,88 tahun sekali. Dengan mempertimbangkan periode revolusi Bumi, maka Mars memiliki periode revolusi sinodis sebesar 2,135 tahun atau setara dengan 780 hari. Maka setiap 2,135 tahun inilah konjungsi Mars – Matahari terjadi. Demikian halnya oposisi Mars – Matahari.

Oposisi Mars 2018 sejatinya akan terjadi pada 27 Juli 2018 TU pukul 12:07 WIB, atau hanya 15 jam sebelum puncak Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018. Sementara jarak terdekat Mars ke Bumi dicapai dalam empat hari kemudian, yang terjadi karena Mars mengalami dua kondisi sekaligus. Yakni oposisi Mars itu sendiri dan Mars yang sedang bergerak menuju titik perihelionnya (akan dicapai pada 15 September 2018 TU mendatang. Kombinasi dua hal ini sering disebut sebagai oposisi perihelion, umumnya terjadi setiap 15 hingga 17 tahun sekali.

Referensi :

SkyMapOnline, 2018.

Beish. 2018. The 2018 Perihelic Apparition of Mars. The Association of Lunar and Planetary Observers (ALPO), diakses 25 Juli 2018 TU.

Espenak & Meeus. 2009. Five Millennium Canon of Lunar Eclipse, – 1999 to +3000 (2000 BCE to 3000 CE). NASA Tech.Pub. 2008-214173, NASA Goddard Space Flight Center, Greenbelt, Maryland.

Biru Gerhana Bulan Perigean 31 Januari 2018

Dua fenomena alam yang berbeda akan terjadi pada saat yang hampir bersamaan pada Rabu 31 Januari 2018 TU (Tarikh Umum). Yang pertama adalah Gerhana Bulan yang selalu mempesona. Dan yang kedua adalah Bulan purnama perigean atau dkenal juga dengan nama supermoon. Ini melahirkan sebuah istilah baru, Gerhana Bulan Total Perigean.

Gambar 1. Wajah Bulan dalam Gerhana Bulan 7-8 Agustus 2017 yang lalu, yang berjenis Gerhana Bulan Sebagian. Panorama semacam ini akan bisa disaksikan lagi dalam peristiwa Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018. Sumber: Sudibyo, 2017.

Konfigurasi

Pada dasarnya Gerhana Bulan terjadi tatkala Matahari, Bulan dan Bumi tepat berada dalam satu garis lurus, konfigurasi yang normalnya menghasilkan fase Bulan purnama. Namun kali ini konfigurasi tersebut bersifat syzygy, yakni segaris lurus ditinjau dari segenap arah tiga dimensi. Di tengah-tengah konfigurasi tersebut bertenggerlah Bumi. Sementara Bulan menempati salah satu dari dua titik nodal, yakni titik potong orbit Bulan dengan ekliptika (bidang orbit Bumi mengelilingi Matahari). Akibatnya pancaran sinar Matahari yang seharusnya tiba di paras Bulan menjadi terhalangi Bumi.

Mengingat diameter Matahari jauh lebih besar ketimbang Bumi kita, yakni 109 kali lipat lebih besar, maka Bumi tak sepenuhnya menghalangi pancaran cahaya Matahari. Sehingga terbentuk umbra dan penumbra. Umbra adalah kerucut bayangan inti, yakni kerucut imajiner di belakang Bumi yang sepenuhnya tak mendapat pencahayaan Matahari. Sedangkan penumbra adalah kerucut bayangan samar/tambahan, yakni kerucut imajiner di belakang Bumi kita yang ukurannya jauh lebih besar ketimbang umbra dan masih mendapatkan cukup banyak pencahayaan Matahari.

Gambar 2. Bulan dalam fase umbra Gerhana Bulan 7-8 Agustus 2017 yang lalu, dalam citra overeksposur untuk memperlihatkan bagian umbra pada cakram Bulan yang berwarna kemerah-merahan. Pemandangan yang lebih memukau akan kita saksikan pada Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018. Sumber: Sudibyo, 2017.

Dalam Gerhana Bulan Total, cakram Bulan sepenuhnya berada dalam lingkup umbra Bumi. Namun bukan berarti ia sepenuhnya menghilang. Ia masih ada meski kehilangan pancaran sinar Matahari yang menuju padanya. Ia tidak ‘menghilang’ di gelap malam, melainkan nampak nampak kemerah-merahan (merah darah). Sebab meskipun tak terpapar cahaya Matahari secara langsung, sepanjang saat puncak gerhana terjadi Bulan tetap menerima pencahayaan tak langsung dari sinar Matahari yang dibiaskan atmosfer Bumi. Khususnya cahaya dalam spektrum warna merah atau inframerah.

Sementara Bulan purnama perigean adalah peristiwa dimana fase Bulan purnama terjadi berdekatan dengan saat Bulan menempati titik perigee, yakni titik terdekat ke Bumi dalam orbit Bulan yang ellips. Bulan purnama perigeaan merupakan fenomena tahunan, yang selalu terjadi dalam dua atau tiga purnama di setiap akhir tahun dan berlanjut pada awal tahun Tarikh Umum. Bupan purnama perigeaan kali ini terjadi karena Bulan berada di titik perigee pada Selasa 30 Januari 2018 TU pukul 16:55 WIB, yakni dengan jarak 358.995 kilometer (dari pusat Bumi ke pusat Bulan). Sebaliknya fase Bulan purnama terjadi pada Rabu 31 Januari 2018 TU pukul 20:30 WIB, atau berselang 27 jam kemudian. Fenomena ini merupakan penutup dari trio Bulan purnama perigeaan yang telah bermula sejak awal Desember 2017 TU lalu.

Musim Gerhana 2018

Gambar 3. Perbandingan ukuran Bulan antara saat Bulan purnama perigean (supermoon) dengan saat purnama jelang Gerhana Bulan 7-8 Agustus 2017. Diabadikan dengan instrumen yang sama. Nampak Bulan saat purnama perigean sedikit lebih besar. Sumber: Sudibyo, 2017.

Tidak setiap kejadian Bulan purnama bersamaan dengan peristiwa Gerhana Bulan. Sebaliknya suatu peristiwa Gerhana Bulan pasti bersamaan waktunya dengan Bulan purnama. Musababnya adalah orbit Bulan yang tak berimpit dengan bidang edar Bumi mengelilingi Matahari, melainkan menyudut sebesar 5o. Hanya ada dua titik dimana Bulan berpeluang tepat segaris lurus syzygy dengan Bumi dan Matahari, yakni di titik nodal naik (ascending) dan titik nodal turun (descending). Dan dalam kejadian Bulan purnama, mayoritas terjadi tatkala Bulan tak berdekatan ataupun berada dalam salah satu dari dua titik nodal tersebut. Inilah sebabnya mengapa tak setiap saat Bulan purnama kita bersua dengan Gerhana Bulan.

Bagaimana Bulan berperilaku terhadap umbra dan penumbra Bumi menentukan jenis gerhananya. Ada tiga jenis Gerhana Bulan. Pertama Gerhana Bulan Total (GBT), terjadi kala cakram Bulan sepenuhnya memasuki umbra Bumi tanpa terkecuali. Kedua Gerhana Bulan Sebagian (GBS), terjadi kala umbra tak sepenuhnya menutupi cakram Bulan. Akibatnya pada puncak gerhananya Bulan hanya akan lebih redup (ketimbang saat GBT) dan ‘robek’ di salah satu sisinya. Dan yang terakhir adalah Gerhana Bulan Penumbral (GBP) atau gerhana Bulan samar, yang bisa terjadi kala hanya penumbra Bumi yang menutupi cakram Bulan baik sepenuhnya maupun hanya separuhnya. Tiada umbra Bumi yang turut menutupi. Dalam gerhana Bulan yang terakhir ini, Bulan masih tetap mendapatkan sinar Matahari sehingga sekilas nampak tak berbeda dibanding Bulan purnama umumnya.

Gambar 4. Parameter dua dari lima gerhana yang menjadi bagian dari Musim Gerhana 2018.

Gerhana Bulan 31 Januari 2018 ini adalah peristiwa Gerhana Bulan Total. Ia menjadi babak pembuka dari musim gerhana tahun 2018 TU ini. Musim Gerhana 2018 TU terdiri dari lima peristiwa gerhana, masing-masing tiga Gerhana Matahari dan dua Gerhana Bulan. Semua peristiwa Gerhana Bulan itu dapat disaksikan dari Indonesia mengingat negeri ini berada dalam cakupan wilayah gerhana-gerhana tersebut. Kabar baiknya, kedua gerhana tersebut merupakan Gerhana Bulan Total. Sebaliknya seluruh Gerhana Matahari di musim 2018 ini tak berkesempatan disaksikan manusia Indonesia.

Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018 merupakan Gerhana Bulan Total pertama yang menyentuh wilayah Indonesia dalam tiga tahun terakhir, pasca Gerhana Bulan Total 4 April 2015. Akan tetapi gerhana ini merupakan Gerhana Bulan Total Perigean pertama kali bagi Indonesia dalam 35 tahun terakhir. Terakhir kali peristiwa langit kombinasi semacam ini terjadi adalah pada Gerhana Bulan Total 30 Desember 1982 silam.

Tahap Gerhana dan Wilayah Gerhana

Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018 terdiri atas tujuh tahap. Tahap pertama adalah awal gerhana yang berupa kontak awal penumbra (P1), diperhitungkan akan terjadi pada pukul 17:51 WIB. Lalu tahap kedua adalah awal gerhana kasat mata yang berupa kontak awal umbra (U1), diperhitungkan akan terjadi pukul 18:48 WIB. Lantas tahap ketiga, yang adalah awal totalitas gerhana yang berupa kontak awal total (U2), diperhitungkan akan terjadi pukul 19:52 WIB.

Sebagai puncaknya adalah puncak gerhana, diperhitungkan akan terjadi pada pukul 20:30 WIB. Usai puncak gerhana berlangsung, maka Bulan berangsur-angsur ‘membuka’ diri dengan berakhirnya totalitas gerhana melalui tahap kelima berupa kontak akhir total (U3), yang diperhitungkan akan terjadi pada pukul 21:08 WIB. Berikutnya disusul dengan tahap keenam berupa akhir gerhana kasat mata, dalam bentuk kontak akhir umbra (U4) pada pukul 22:11 WIB. Dan yang terakhir adalah tahap ketujuh, berupa akhir gerhana yang berupa kontak akhir penumbra (P4), diperhitungkan akan terjadi pada pukul 23:08 WIB.

Bulan Biru Toska

Satu aspek istimewa Gerhana Bulan adalah bahwa tahap-tahap gerhananya secara umum terjadi pada waktu yang sama pada titik-titik manapun yang tercakup dalam wilayah gerhana. Jika ada perbedaan antara satu titik dengan titik lainnya hanyalah dalam orde detik. Dengan demikian durasi gerhana Bulan di setiap titik pun dapat dikatakan adalah sama. Dengan tahap-tahap tersebut maka kita tahu bahwa Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018 memiliki durasi gerhana 5 jam 17 menit. Dari durasi sepanjang itu, durasi kasat mata terjadi selama 3 jam 23 menit. Dan dari durasi kasat mata tersebut, durasi totalitas gerhana adalah selama 1 jam 16 menit. Durasi totalitas ini tergolong yang cukup panjang untuk abad ke-21 TU ini.

Sedikit berbeda dengan Gerhana Matahari, Gerhana Bulan memiliki wilayah gerhana cukup luas meliputi lebih dari separuh bola Bumi yang sedang berada dalam situasi malam hari. Wilayah Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018 melingkupi seluruh benua Asia, Australia, sebagian Amerika, sebagian kecil Afrika dan sebagian besar Eropa. Wilayah gerhana terbagi menjadi tiga, yakni wilayah yang mengalami gerhana secara utuh, wilayah yang mengalami gerhana secara tak utuh (saat Bulan mulai terbenam maupun mulai terbit) dan yang terakhir wilayah yang tak mengalami gerhana sama sekali.

Gambar 5. Peta wilayah Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018 dalam lingkup global. Perhatikan bahwa segenap Indonesia merupakan bagian dari wilayah yang mengalami gerhana secara utuh. Sehingga seluruh tahap gerhana bisa disaksikan, sepanjang langit cerah. Sumber: Sudibyo, 2018 dengan basis NASA, 2018.

Segenap tanah Indonesia juga tercakup ke dalam wilayah gerhana ini. Kabar baiknya, segenap Indonesia merupakan bagian dari wilayah yang mengalami gerhana secara utuh, kecuali sebagian pulau Jawa dan segeap pulau Sumatra. Di kedua tempat tersebut, gerhana (tepatnya kontak awal penumbra) telah dimulai selagi Bulan belum terbit setempat (karena Matahari belum terbenam).

Satu hal yang menjadi pembeda antara peristiwa Gerhana Bulan Total dengan Gerhana Bulan yang lainnya adalah (potensi) munculnya Bulan berwarna kebiruan. Bukan, ini bukan blue moon sebagaimana yang acap disematkan sejumlah kalangan menjelang Gerhana Bulan Total ini. Blue moon hanyalah anggapan untuk Bulan purnama kedua yang terjadi dalam satu bulan Tarikh Umum yang sama. Sementara gejala fisisnya tak ada sama sekali. Bagi Januari 2018 TU ini blue moon terjadi karena purnama pertama telah berlangsung pada 2 Januari 2018 TU pukul 09:00 WIB silam.

Namun Bulan kebiruan ini adalah fenomena fisis. Ia berpotensi terjadi beberapa saat menjelang awal totalitas, ataupun sebaliknya dalam beberapa saat setelah akhir totalitas gerhana. Warna kebiruan pada Bulan di saat itu merupakan hasil pembiasan cahaya Matahari pada lapisan Ozon, sehingga menghasilkan warna biru toska tipis yang khas.

Shalat Gerhana

Gerhana Bulan Total ini bertepatan dengan tanggal 14 Jumadal Ula 1439 H dan merupakan gerhana Bulan yang kasat mata. Sehingga dapat kita amati tanpa bantuan alat optik apapun, sepanjang langit cerah. Namun penggunaan alat bantu optik seperti kamera dan teleskop akan menyajikan hasil yang lebih baik. Sepanjang dilakukan dengan pengaturan (setting) yang tepat sesuai dengan tahap-tahap gerhana. Detail teknis pemotretan untuk mengabadikan gerhana ini dengan menggunakan kamera DSLR (digital single lens reflex) tersaji berikut ini :

Bagi Umat Islam terdapat anjuran untuk menyelenggarakan shalat gerhana baik di kala terjadi peristiwa Gerhana Matahari maupun Gerhana Bulan. Hal tersebut juga berlaku dalam kejadian Gerhana Bulan Total ini. Musababnya Gerhana Bulan ini dapat diindra dengan mata manusia secara langsung. Sementara dasar penyelenggaraan shalat gerhana adalah saat peristiwa tersebut dapat disaksikan (kasat mata), seperti dinyatakan dalam hadits Bukhari, Muslim dan Malik yang bersumber dari Aisyah RA. Pendapat ini pula yang dipegang oleh dua ormas Islam terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul ‘Ulama dan Muhammadiyah.

Mengingat durasi gerhana yang kasatmata adalah dari tahap U1 hingga tahap U4, yakni dari pukul 18:48 WIB hingga pukul 22:11 WIB, maka shalat Gerhana Bulan seyogyanya juga diselenggarakan pada rentang waktu tersebut. Dari sudut pandang fikih, pelaksanaan shalat Gerhana Bulan hanya bisa diselenggarakan jika gerhana benar-benar bisa disaksikan secara kasat mata dari lokasi pelaksanaan shalat. Atau, apabila gerhana tak bisa disaksikan, maka terdapat kabar / informasi yang sahih dan berterima bahwa gerhana memang benar-benar disaksikan di tempat lain oleh saksi mata yang tepercaya.

Berikut adalah infografis tatacara pelaksanaan shalat gerhana

Dalam peristiwa Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan dianjurkan untuk mengerjakan shalat gerhana, karena baik Matahari maupun Bulan merupakan dua benda langit yang menjadi bagian dari tanda-tanda kekuasaan Alloh SWT. Dan peristiwa gerhana merupakan peristiwa langit yang menakjubkan (sekaligus menerbitkan rasa takut) bagi sebagian kalangan. Namun peristiwa ini adalah bagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya dan tidak terkait dengan kematian seseorang. Di sisi lain, shalat gerhana mendorong umat Islam untuk lebih dekat dengan-Nya. Terlebih mengingat peristiwa Gerhana pada khususnya (baik Gerhana Bulan maupun gerhana Matahari) serta fase Bulan baru dan Bulan purnama pada umumnya ternyata mampu memicu salah satu gaya endogen dalam sistem kerja Bumi kita, yakni gempa bumi tektonik.

Mari Simak Gerhana Bulan Seperempat 15 Zulqaidah 1438 H

Silahkan tandai waktunya dalam kalender maupun gawai (gadget) anda: Senin-Selasa dinihari, 7-8 Agustus 2017 TU (Tarikh Umum). Atau bertepatan dengan tanggal 15 Zulqaidah 1438 H dalam penanggalan Hijriyyah. Bilamana langit cerah, kita akan menyaksikan Bulan berkedudukan cukup tinggi di langit dengan wajah bundar penuh sebagai purnama. Namun sesuatu akan terjadi sejak pukul 22:50 WIB hingga lima jam kemudian. Sisi selatan Bulan akan ‘robek’ yang berangsur-angsur kian membesar saja hingga mencapai puncaknya sekitar pukul 01:20 WIB. Selepas itu ‘robekan’ yang samasedikit demi sedikit mengecil kembali hingga menghilang. Pada puncaknya, ‘robekan’ tersebut akan memiliki luasan setara dengan seperempat bundaran Bulan. Inilah Gerhana Bulan Seperempat 7-8 Agustus 2017.

Gerhana Bulan Seperempat ini sejatinya adalah peristiwa Gerhana Bulan Sebagian (Parsial). Ia masih menjadi bagian dari musim gerhana tahun 2017 TU ini yang terdiri dari empat gerhana, masing-masing dua Gerhana Matahari dan dua Gerhana Bulan. Seluruh Gerhana Bulan tersebut dapat disaksikan dari Indonesia, karena negeri ini berada dalam cakupan wilayah kedua gerhana. Sebaliknya seluruh Gerhana Matahari tersebut tak berkesempatan ‘menyentuh’ wilayah Indonesia. Dalam hal Gerhana Bulan, hanya saja gerhana Bulan pertama di musim ini adalah gerhana Bulan yang pemalu karena bersifat Gerhana Bulan Penumbral. Sehingga sangat sulit untuk disaksikan secara kasat mata.

Gambar 1. Wajah Bulan purnama yang tinggal separo dengan separo sisanya telah ‘robek’ dalam sebuah peristiwa Gerhana Bulan. Diabadikan pada Gerhana Bulan Total 16 Juni 2011 di Gombong, Kebumen (Jawa Tengah). Pada puncak Gerhana Bulan Seperempat 7-8 Agustus 2017, wajah Bulan akan seperti ini hanya bagian yang ‘robek’ lebih kecil. Sumber: Sudibyo, 2011.

Dalam Gerhana Bulan Seperempat ini cakram Bulan takkan sepenuhnya menghilang. Ia masih ada, hanya ‘kehilangan’ seperempat bagian wajahnya saja. Bagian yang ‘menghilang’ itu pun sejatinya juga tak sepenuhnya gelap. Karena dalam kondisi yang tepat bagian tersebut akan nampak kemerah-merahan (merah darah). Sebab meski bagian yang ‘menghilang’ itu tak terpapar cahaya Matahari sepenuhnya, ia tetap mendapatkan pencahayaan dari sinar Matahari yang dibiaskan atmosfer Bumi. Khususnya cahaya dalam spektrum warna merah atau inframerah.

Sebagian

Konfigurasi benda langit yang membentuk peristiwa Gerhana Bulan Seperempat ini identik dengan yang memproduksi Gerhana Bulan pada umumnya. Gerhana Bulan terjadi tatkala Matahari, Bulan dan Bumi tepat berada dalam satu garis lurus dalam konfigurasi yang menghasilkan fase Bulan purnama. Namun konfigurasi tersebut bersifat syzygy, yakni segaris lurus ditinjau dari segenap arah tiga dimensi. Di tengah-tengah konfigurasi tersebut bertenggerlah Bumi. Sementara Bulan menempati salah satu dari dua titik nodal, yakni titik potong orbit Bulan dengan ekliptika (bidang orbit Bumi mengelilingi Matahari). Akibatnya pancaran sinar Matahari yang seharusnya tiba di paras Bulan menjadi terhalangi Bumi.

Mengingat diameter Matahari jauh lebih besar ketimbang Bumi kita, yakni 109 kali lipat lebih besar, maka Bumi tak sepenuhnya menghalangi pancaran cahaya Matahari. Sehingga terbentuk umbra dan penumbra. Umbra adalah kerucut bayangan inti, yakni kerucut imajiner di belakang Bumi yang sepenuhnya tak mendapat pencahayaan Matahari. Sedangkan penumbra adalah kerucut bayangan samar/tambahan, yakni kerucut imajiner di belakang Bumi kita yang ukurannya jauh lebih besar ketimbang umbra dan masih mendapatkan cukup banyak pencahayaan Matahari.

Gambar 2. Bulan dalam peristiwa Gerhana Bulan Penumbral (Gerhana Bulan Samar), yang hanya bisa disaksikan secara leluasa dengan menggunakan teleskop. Diabadikan dalam momen Gerhana Bulan Penumbral 16-17 September 2016. Dalam Gerhana Bulan Seperempat, sebagian tahap gerhana akan lebih mudah disaksikan kasat mata. Sumber: Sudibyo, 2016.

Pada dasarnya tidak setiap kejadian Bulan purnama bersamaan dengan peristiwa Gerhana Bulan. Sebaliknya suatu peristiwa Gerhana Bulan pasti terjadi bertepatan dengan saat Bulan purnama. Musababnya adalah orbit Bulan yang tak berimpit dengan bidang edar Bumi mengelilingi Matahar), melainkan menyudut sebesar 5o. Hanya ada dua titik dimana Bulan berpeluang tepat segaris lurus syzygy dengan Bumi dan Matahari, yakni di titik nodal naik dan titik nodal turun. Dan dalam kejadian Bulan purnama, mayoritas terjadi tatkala Bulan tak berdekatan ataupun berada dalam salah satu dari dua titik nodal tersebut. Inilah sebabnya mengapa tak setiap saat Bulan purnama kita bersua dengan Gerhana Bulan.

Bagaimana Bulan berperilaku terhadap umbra dan penumbra Bumi menentukan jenis gerhananya. Ada tiga jenis Gerhana Bulan. Pertama ialah Gerhana Bulan Total (GBT), terjadi kala cakram Bulan sepenuhnya memasuki umbra Bumi tanpa terkecuali. Kedua adalah Gerhana Bulan Sebagian (GBS), terjadi kala umbra tak sepenuhnya menutupi cakram Bulan. Akibatnya pada puncak gerhananya Bulan hanya akan lebih redup (ketimbang saat GBT) dan ‘robek’ di salah satu sisinya. Dan yang terakhir adalah Gerhana Bulan Penumbral (GBP) atau gerhana Bulan samar, yang bisa terjadi kala hanya penumbra Bumi yang menutupi cakram Bulan baik sepenuhnya maupun hanya separuhnya. Tiada umbra Bumi yang turut menutupi. Dalam gerhana Bulan yang terakhir ini, Bulan masih tetap mendapatkan sinar Matahari sehingga sekilas nampak tak berbeda dibanding Bulan purnama umumnya.

Tahap dan Wilayah

Dalam kasus Gerhana Bulan Seperempat ini, pada puncaknya sebanyak 24,6 % wajah Bulan berada dalam umbra. Sebagai akibatnya Bulan yang sejatinya sedang berada dalam fase purnama pun menjadi temaram dan ‘robek’ seperempat bagiannya. Gerhana Bulan Seperempat ini terdiri dari lima tahap. Tahap pertama adalah awal gerhana atau kontak awal penumbra (P1) yang akan terjadi pada 7 Agustus 2017 TU pukul 22:50 WIB. Lalu tahap kedua adalah awal gerhana kasat mata atau kontak awal umbra (U1) yang terjadi pada pukul 00:23 WIB. Berikutnya adalah tahap ketiga yang berupa puncak gerhana, terjadi pada pukul 01:20 WIB. Selanjutnya tahap keempat berupa kontak akhir umbra (U4) atau akhir gerhana kasat mata, yang terjadi pada pukul 02:18 WIB. Dan yang terakhir adalah kontak akhir penumbra (P4) atau akhir gerhana, terjadi pada pukul 03:51 WIB.

Satu aspek istimewa dari Gerhana Bulan adalah bahwa tahap-tahap gerhananya secara umum terjadi pada waktu yang sama di setiap titik yang berada dalam wilayah gerhana. Jika ada perbedaan antara satu titik dengan titik lainnya hanyalah dalam orde detik. Dengan demikian durasi gerhana Bulan di setiap titik pun dapat dikatakan adalah sama. Durasi Gerhana Bulan Seperempat ini adalah 5 jam 1 menit. Namun durasi gerhana yang kasat mata lebih singkat, yakni hanya 1 jam 55 menit.

Sedikit berbeda dengan Gerhana Matahari, Gerhana Bulan memiliki wilayah gerhana cukup luas meliputi lebih dari separuh bola Bumi yang sedang berada dalam situasi malam hari. Wilayah Gerhana Bulan Sebagian 7-8 Agustus 2017 melingkupi seluruh benua Asia, Australia, Afrika, Eropa dan sebagian kecil Brazil di benua Amerika. Hanya mayoritas benua Amerika yang tak tercakup ke dalam wilayah gerhana ini. Wilayah gerhana terbagi menjadi tiga, yakni wilayah yang mengalami gerhana secara utuh, wilayah yang mengalami gerhana secara tak utuh (saat Bulan mulai terbenam maupun mulai terbit) dan yang terakhir wilayah yang tak mengalami gerhana sama sekali.

Gambar 3. Peta wilayah Gerhana Bulan Seperempat 15 Zulqaidah 1438 H dalam lingkup global. Perhatikan bahwa segenap Indonesia merupakan bagian dari wilayah yang mengalami gerhana secara utuh. Sehingga seluruh tahap gerhana bisa disaksikan, sepanjang langit cerah. Sumber: Sudibyo, 2017.

Segenap tanah Indonesia juga tercakup ke dalam wilayah gerhana ini. Kabar baiknya, segenap Indonesia merupakan bagian dari wilayah yang mengalami gerhana secara utuh, kecuali kota Jayapura (propinsi Papua). Di Jayapura, Matahari telah terbit dalam waktu 3 menit sebelum gerhana berakhir (tepatnya sebelum tahap P4 berakhir).

Shalat Gerhana

Gerhana Bulan Seperempat ini merupakan gerhana Bulan yang kasat mata. Sehingga dapat kita amati tanpa bantuan alat optik apapun, sepanjang langit cerah. Namun penggunaan alat bantu optik seperti kamera dan teleskop akan menyajikan hasil yang lebih baik. Sepanjang dilakukan dengan pengaturan (setting) yang tepat sesuai dengan tahap-tahap gerhana. Detail teknis pemotretan untuk mengabadikan gerhana ini dengan menggunakan kamera DSLR (digital single lens reflex) tersaji berikut ini :

Bagi Umat Islam terdapat anjuran untuk menyelenggarakan shalat gerhana baik di kala terjadi peristiwa Gerhana Matahari maupun Gerhana Bulan. Hal tersebut juga berlaku dalam kejadian Gerhana Bulan Seperempat ini. Musababnya gerhana Bulan ini dapat diindra dengan mata manusia secara langsung. Sementara dasar penyelenggaraan shalat gerhana adalah saat peristiwa tersebut dapat disaksikan (kasat mata), seperti dinyatakan dalam hadits Bukhari, Muslim dan Malik yang bersumber dari Aisyah RA. Pendapat ini pula yang dipegang oleh dua ormas Islam terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul ‘Ulama dan Muhammadiyah. Mengingat durasi gerhana yang kasatmata adalah dari tahap U1 hingga tahap U4, yakni dari pukul 00:23 WIB hingga pukul 02:18 WIB, maka shalat Gerhana Bulan seyogyanya juga diselenggarakan pada rentang waktu tersebut. Berikut adalah infografis tatacara pelaksanaan shalat gerhana

Tatacara shalat gerhana Bulan. Sumber: RM Khotib Asmuni, 2017

Dalam peristiwa Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan dianjurkan untuk mengerjakan shalat gerhana, karena baik Matahari maupun Bulan merupakan dua benda langit yang menjadi bagian dari tanda-tanda kekuasaan Alloh SWT. Dan peristiwa gerhana merupakan peristiwa langit yang menakjubkan (sekaligus menerbitkan rasa takut) bagi sebagian kalangan. Namun peristiwa ini adalah bagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya dan tidak terkait dengan kematian seseorang. Di sisi lain, shalat gerhana mendorong umat Islam untuk lebih dekat dengan-Nya. Terlebih mengingat peristiwa Gerhana pada khususnya (baik Gerhana Bulan maupun gerhana Matahari) serta fase Bulan baru dan Bulan purnama pada umumnya ternyata mampu memicu salah satu gaya endogen dalam sistem kerja Bumi kita, yakni gempa bumi tektonik.

Gerhana Bulan 11 Februari 2017 yang Pemalu

Sabtu 11 Februari 2017 Tarikh Umum (TU) jelang Matahari terbit. Bilamana langit cerah dan anda tinggal di pulau Jawa bagian barat, atau di pulau Kalimantan bagian barat, atau di pulau Sumatra dan pulau-pulau kecil disekelilingnya, arahkan pandangan ke langit barat. Bila pandangan tak terhalang, Bulan akan nampak bertengger di atas kaki langit barat sebagai Bulan purnama. Wajahnya sesungguhnya bulat bundar penuh, namun kedudukannya yang rendah di atas kaki langit membuatnya nampak terdistorsi menjadi sedikit lonjong.

 Gambar 1. Bulan dalam peristiwa Gerhana Bulan Penumbral 16-17 September 2016, diabadikan dengan teleskop yang terangkai kamera. Secara kasat mata penggelapan wajah Bulan dalam Gerhana Bulan Penumbral sangat sulit untuk diamati. Sumber: Sudibyo, 2016.


Gambar 1. Bulan dalam peristiwa Gerhana Bulan Penumbral 16-17 September 2016, diabadikan dengan teleskop yang terangkai kamera. Secara kasat mata penggelapan wajah Bulan dalam Gerhana Bulan Penumbral sangat sulit untuk diamati. Sumber: Sudibyo, 2016.

Mulai pukul 05:34 WIB, suatu peristiwa terjadi pada Bulan. Namun secara kasat mata sangat sulit bagi anda yang tinggal di tiga lokasi tadi untuk mendeteksinya. Inilah peristiwa Gerhana Bulan Penumbral atau disebut juga Gerhana Bulan samar. Gerhana Bulan Penumbral 11 Februari 2017 merupakan gerhana yang paling awal di musim gerhana tahun 2017 TU. Dalam peristiwa Gerhana Bulan Penumbral ini, bundaran cakram Bulan akan memasuki zona bayangan tambahan (penumbra) Bumi akibat konfigurasi posisi Bulan, Bumi dan Matahari yang nyaris hampir segaris lurus dalam segala arah (syzygy) dengan Bulan di antara kedua benda langit lainnya. Meski memiliki konfigurasi yang serupa dengan peristiwa Gerhana Bulan Total maupun Gerhana Bulan Sebagian, namun masuknya cakram Bulan hanya ke dalam bayangan tambahan Bumi membuat Bulan masih tetap akan terlihat layaknya Bulan purnama. Ia masih tetap mendapatkan sinar Matahari meski intensitasnya sedikit lebih rendah dibanding seharusnya.

Seperti halnya peristiwa Gerhana Bulan pada umumnya, tidak setiap saat Bulan purnama terjadi diiringi dengan peristiwa Gerhana Bulan. Sebaliknya suatu peristiwa Gerhana Bulan pasti terjadi bertepatan dengan saat Bulan purnama. Musababnya adalah orbit Bulan yang tak berimpit dengan bidang edar Bumi mengelilingi Matahar), melainkan menyudut sebesar 5o. Hanya ada dua titik dimana Bulan berpeluang tepat segaris lurus syzygy dengan Bumi dan Matahari, yakni di titik nodal naik dan titik nodal turun. Dan dalam kejadian Bulan purnama, mayoritas terjadi tatkala Bulan tak berdekatan ataupun berada dalam salah satu dari dua titik nodal tersebut. Inilah sebabnya mengapa tak setiap saat Bulan purnama kita bersua dengan Gerhana Bulan.

Gerhana Bulan Penumbral 11 Februari 2017 hanya terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama adalah awal gerhana/kontak awal penumbra (P1) yang akan terjadi pada pukul 05:34 WIB. Sementara tahap kedua adalah puncak gerhana, yang bakal terjadi pada pukul 07:33 WIB dengan magnitudo saat puncak adalah 0,99. Artinya pada saat itu 99 % cakram Bulan tertutupi oleh bayangan tambahan Bumi. Dan yang terakhir adalah tahap akhir gerhana/kontak akhir penumbra (P4) yang bakal berlangsung pada pukul 09:53 WIB. Dengan demikian durasi Gerhana Bulan Penumbral 11 Februari 2017 ini adalah 4 jam 19 menit.

Gambar 2. Peta wilayah Gerhana Bulan Penumbral 11 Februari 2017 dalam lingkup global. Perhatikan Indonesia dibelah oleh garis P1 , yakni garis dimana awal gerhana bertepatan dengan terbenamnya Bulan (terbitnya Matahari). Dengan demikian hanya sebagian Indonesia berkesempatan menyaksikan Gerhana Bulan yang samar ini, sepanjang langit cerah. Sumber: NASA, 2016.

Gambar 2. Peta wilayah Gerhana Bulan Penumbral 11 Februari 2017 dalam lingkup global. Perhatikan Indonesia dibelah oleh garis P1 , yakni garis dimana awal gerhana bertepatan dengan terbenamnya Bulan (terbitnya Matahari). Dengan demikian hanya sebagian Indonesia berkesempatan menyaksikan Gerhana Bulan yang samar ini, sepanjang langit cerah. Sumber: NASA, 2016.

Wilayah gerhana bagi Gerhana Bulan Penumbral 11 Februari 2017 melingkupi hampir segenap paras Bumi, kecuali sebagian kecil benua Asia (yakni Asia timur jauh dan sebagian Asia tenggara) serta segenap benua Australia. Sebagian besar Indonesia tidak tercakup ke dalam wilayah gerhana ini. Secara umum Indonesia terbelah menjadi dua oleh garis P1, yakni himpunan titik-titik yang mengalami momen terbenamnya Bulan bersamaan dengan awal gerhana. Garis P1 tersebut melintas melalui pulau Kalimantan dan pulau Jawa. Hanya daerah-daerah yang berada di sebelah barat dari garis P1 inilah yang berkesempatan tercakup ke dalam wilayah Gerhana Bulan Penumbral 11 Februari 2017. Dengan demikian wilayah gerhana ini di Indonesia hanya mencakup sebagian pulau Jawa (propinsi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah), sebagian pulau Kalimantan (propinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah) serta segenap pulau Sumatra dan pulau-pulau kecil disekitarnya. Di daerah-daerah tersebut, Gerhana Bulan Penumbral ini pun takkan bisa dinikmati secara utuh karena terjadi kala Bulan sedang dalam proses terbenam. Maka dapat dikatakan peristiwa Gerhana Bulan ini merupakan gerhana yang pemalu, karena Bulan tak menampakkan seluruh tahap gerhananya.

Sesuai dengan namanya, Gerhana Bulan Penumbral ini nyaris tak dapat dibedakan dengan Bulan purnama biasa. Butuh teleskop dengan kemampuan baik untuk dapat melihatnya. Untuk memotretnya, butuh kamera dengan pengaturan (setting) yang lebih kompleks dan bisa disetel secara manual. Dalam puncak gerhana Bulan samar, jika cara pengaturan kamera kita tepat maka Bulan akan terlihat menggelap di salah satu sudutnya. Detail teknis pemotretan untuk mengabadikan gerhana ini dengan menggunakan kamera DSLR (digital single lens reflex) tersaji berikut ini :

Bagi Umat Islam ada anjuran untuk menyelenggarakan shalat gerhana baik di kala terjadi peristiwa Gerhana Matahari maupun Gerhana Bulan. Tapi hal tersebut tak berlaku dalam kejadian Gerhana Bulan Penumbral ini. Musababnya gerhana Bulan samar dapat dikatakan mustahil untuk bisa diindra dengan mata manusia secara langsung. Padahal dasar penyelenggaraan shalat gerhana adalah saat gerhana tersebut dapat dilihat, seperti dinyatakan dalam hadits Bukhari, Muslim dan Malik yang bersumber dari Aisyah RA. Pendapat ini pula yang dipegang oleh dua ormas Islam terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul ‘Ulama dan Muhammadiyah. Keduanya sepakat saat gerhana tak bisa disaksikan (secara langsung), maka shalat gerhana tak dilaksanakan.

Gerhana Bulan Penumbral 23 Maret 2016, Gerhana yang tak Diikuti Shalat Gerhana

Rabu 23 Maret 2016 senja. Jika Matahari terbenam, atau azan Maghrib telah berkumandang, layangkanlah pandangan mata anda ke arah timur. Bila langit cerah atau berbalut sedikit awan, akan terlihat Bulan mengapung rendah di atas ufuk timur. Sekilas pandang, kita akan melihatnya sebagai Bulan bulat bundar penuh khas purnama. Tetapi sesungguhnya sejak terbit hingga pukul 20:53 WIB nanti, Bulan sedang dalam kondisi gerhana Bulan. Inilah gerhana unik yang bernama resmi Gerhana Bulan Penumbral, atau kadang disebut juga gerhana Bulan samar. Inilah jenis Gerhana Bulan yang tak akrab bagi telinga kita. Sebab dalam gerhana jenis ini, jangankan menyaksikan Bulan menghilang sepenuhnya bergantikan obyek sangat redup berwarna kemerah-merahan dalam puncak gerhananya, Bulan setengah meredup pun tak bakal dijumpai.

Gambar 1. Bulan saat mengalami fase gerhana penumbral (kiri) dan purnama pasca gerhana (kanan), diabadikan dengan teleskop yang terangkai kamera dalam momen Gerhana Bulan 4 April 2015 silam. Nampak Bulan sedikit menggelap di sudut kanan atasnya pada saat fase penumbral terjadi. Secara kasat mata penggelapan ini tak teramati. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 1. Bulan saat mengalami fase gerhana penumbral (kiri) dan purnama pasca gerhana (kanan), diabadikan dengan teleskop yang terangkai kamera dalam momen Gerhana Bulan 4 April 2015 silam. Nampak Bulan sedikit menggelap di sudut kanan atasnya pada saat fase penumbral terjadi. Secara kasat mata penggelapan ini tak teramati. Sumber: Sudibyo, 2016.

Lah bagaimana bisa Bulan yang tampak sebagai purnama sesungguhnya sedang mengalami gerhana? Pada dasarnya peristiwa Gerhana Bulan terjadi tatkala tiga benda langit dalam tata surya kita yakni Matahari, Bulan dan Bumi tepat berada dalam satu garis lurus secara tiga dimensi. Atau dalam istilah teknisnya mereka membentuk konfigurasi syzygy. Di tengah-tengah konfigurasi tersebut terletak Bumi. Akibatnya pancaran sinar Matahari yang seharusnya tiba di paras Bulan terhalangi oleh Bumi. Sehingga membuat Bulan tak memperoleh sinar Matahari yang mencukupi. Atau bahkan tak mendapatkannya sama sekali untuk periode waktu tertentu.

Sebagai imbasnya, Bulan yang sejatinya sedang berada dalam fase Bulan purnama pun temaram atau bahkan sangat redup kemerah–merahan dalam beberapa jam kemudian. Sedikit berbeda dengan Gerhana Matahari, Gerhana Bulan memiliki wilayah gerhana cukup luas meliputi lebih dari separuh bola Bumi yang sedang berada dalam suasana malam. Karena garis tengah Matahari jauh lebih besar ketimbang Bumi, maka Bumi tak sepenuhnya menghalangi pancaran sinar Matahari yang menuju ke Bulan. Sehingga bakal masih ada bagian sinar Matahari yang lolos meski intensitasnya berkurang. Ini membuat wilayah gerhana Bulan pun terbagi ke dalam zona penumbra (bayangan tambahan) dan zona umbra (bayangan utama).

Jenis

Bagaimana gerhana samar yang unik ini bisa terjadi? Pada dasarnya ada tiga jenis Gerhana Bulan. Yang pertama adalah Gerhana Bulan Total (GBT), terjadi kala bayangan utama Bumi sepenuhnya menutupi cakram Bulan tanpa terkecuali. Sehingga Bulan akan nyaris menghilang sepenuhnya saat puncak gerhana tiba, menampakkan diri sebagai benda langit sangat redup berwarna kemerah–merahan. Yang kedua adalah Gerhana Bulan Sebagian (GBS), terjadi kala bayangan utama Bumi tak sepenuhnya menutupi cakram Bulan. Akibatnya Bulan hanya akan lebih redup dan terlihat ‘robek’ di salah satu sisinya dengan persentase tertentu di puncak gerhana. Dan yang terakhir adalah Gerhana Bulan Penumbral (GBP) atau gerhana Bulan samar, yang bisa terjadi kala hanya bayangan tambahan Bumi yang menutupi cakram Bulan, baik menutupi sepenuhnya maupun separo. Tak ada bayangan utama Bumi yang turut menutupi. Dalam gerhana samar ini, Bulan masih tetap mendapatkan sinar Matahari meski intensitasnya sedikit lebih rendah dibanding seharusnya.

Bila Gerhana Bulan Total dan Gerhana Bulan Sebagian mudah diidentifikasi secara kasat mata, tidak demikian halnya dengan Gerhana Bulan Penumbral. Dalam pandangan mata kita, kala Gerhana Bulan Penumbral terjadi Bulan akan tetap terlihat bulat bundar penuh sebagai purnama. Hanya melalui teleskop yang dilengkapi kamera memadai sajalah fenomena gerhana Bulan samar ini bisa disaksikan.

Gerhana Bulan 23 Maret 2016 merupakan gerhana Bulan samar, yang terjadi sebagai konsekuensi dari Gerhana Matahari 9 Maret 2016 tepat 14 hari sebelumnya. Ya, ada hubungan antara dua gerhana tersebut. Pada dasarnya tidak setiap saat purnama diikuti dengan peristiwa Gerhana Bulan, meskipun Gerhana Bulan selalu terjadi tepat pada saat Bulan purnama. Musababnya adalah orbit Bulan yang tak berimpit dengan ekliptika (bidang edar Bumi mengelilingi Matahari), melainkan membentuk sudut sebesar 5°. Karena menyudut seperti ini maka terdapat dua titik potong antara orbit Bulan dan ekliptika, yang dinamakan titik nodal. Mengikuti arah gerak Bulan dalam mengelilingi Bumi, maka kedua titik nodal tersebut terdiri dari titik nodal naik (ascending node) dan titik nodal turun (descending node).

Gambar 2. Peta wilayah Gerhana Bulan Penumbral 23 Maret 2016 untuk lingkup global. Perhatikan bahwa hanya di wilayah A dan B (baik B1 maupun B2) saja Gerhana Bulan ini bisa dilihat, sepanjang langit tak berawan. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 2. Peta wilayah Gerhana Bulan Penumbral 23 Maret 2016 untuk lingkup global. Perhatikan bahwa hanya di wilayah A dan B (baik B1 maupun B2) saja Gerhana Bulan ini bisa dilihat, sepanjang langit tak berawan. Sumber: Sudibyo, 2016.

Tidak setiap saat purnama terjadi bertepatan dengan Bulan menempati salah satu dari dua titik nodal ini. Namun begitu Bulan berada di titik ini atau hanya didekatnya saja saat purnama terjadi, peristiwa Gerhana Bulan pun berlangsung. Saat Bulan menempati salah satu titik nodalnya pada saat purnama, maka berselisih setengah bulan kalender kemudian maupun sebelumnya Bulan juga menempati titik nodalnya yang lain bertepatan dengan momen Bulan baru. Inilah yang menyebabkan peristiwa Gerhana Matahari. Dengan kekhasan tersebut, tiap kali terjadi sebuah peristiwa Gerhana Matahari (dimanapun tempatnya di Bumi), maka 14 hari sebelumnya atau 14 hari sesudahnya bakal terjadi Gerhana Bulan. Pada saat tertentu yang jarang terjadi, sebuah peristiwa Gerhana Matahari bahkan bisa didahului dengan Gerhana Bulan pada 14 hari sebelumnya dan diikuti lagi dengan Gerhana Bulan yang lain 14 hari sesudahnya. Jadi ada tiga gerhana berturut-turut, membentuk sebuah parade gerhana.

Indonesia

Gerhana Bulan Penumbral 23 Maret 2016 hanya terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama adalah awal gerhana atau kontak awal penumbra (P1) yang terjadi pada pukul 16:40 WIB. Sementara tahap kedua adalah puncak gerhana, yang terjadi pada pukul 18:47 WIB. Magnitudo gerhana saat puncak adalah 0,77. Artinya 77 % cakram Bulan pada saat itu tercakup ke dalam bayangan tambahan Bumi. Dan yang terakhir adalah tahap akhir gerhana atau kontak akhir penumbra (P4) yang terjadi pukul 20:53 WIB. Dengan demikian durasi gerhana Bulan samar ini mencapai 4 jam 13 menit.

Wilayah gerhana untuk Gerhana Bulan Penumbral 23 Maret 2016 melingkupi sebagian besar benua Asia, Australia dan sebagian besar benua Amerika. Hanya Eropa, Afrika, kawasan Timur Tengah dan separuh Brazil yang tak tercakup ke dalam zona gerhana ini. Jika ditelaah lebih detil lagi, wilayah gerhana terbagi menjadi tiga sub-area. Sub-area pertama (sub area A) mengalami seluruh tahap gerhana secara utuh sehingga durasi-tampak di sini setara dengan durasi gerhana. Sub-area ini hanya meliputi Jepang, Indonesia bagian timur, Papua Nugini, sebagian besar Australia, Selandia Baru, Alaska (Amerika Serikat) dan sebagian Canada. Sementara sub-area kedua adalah yang mengalami gerhana secara tak utuh karena gerhana sudah terjadi sebelum Bulan terbit setempat (sub-area B1). Dengan demikian durasi-tampak gerhana pun lebih kecil ketimbang durasi gerhana. Sub-area ini meliputi mayoritas Asia dan sebagian Australia (bagian barat). Dan sub-area ketiga juga mengalami gerhana secara tak utuh, namun karena gerhana belum berakhir meski Bulan sudah terbenam setempat (sub-area B2). Dengan demikian durasi-tampak gerhana pun lebih kecil ketimbang durasi gerhana. Sub-area ini meliputi mayoritas Amerika saja.

Gambar 3. Peta wilayah Gerhana Bulan Penumbral 23 Maret 2016 untuk Indonesia. Garis P1 adalah garis yang menghubungkan titik-titik dimana kontak awal penumbra terjadi tepat pada saat Bulan terbit. Sementara garis puncak menghubungkan titik-titik yang mengalami puncak gerhana tepat pada saat Bulan terbit. Seluruh Indonesia mampu menyaksikan peristiwa Gerhana Bulan ini, sepanjang langit tak berawan. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 3. Peta wilayah Gerhana Bulan Penumbral 23 Maret 2016 untuk Indonesia. Garis P1 adalah garis yang menghubungkan titik-titik dimana kontak awal penumbra terjadi tepat pada saat Bulan terbit. Sementara garis puncak menghubungkan titik-titik yang mengalami puncak gerhana tepat pada saat Bulan terbit. Seluruh Indonesia mampu menyaksikan peristiwa Gerhana Bulan ini, sepanjang langit tak berawan. Sumber: Sudibyo, 2016.

Indonesia secara umum terbelah menjadi dua. Garis P4, yakni himpunan titik-titik yang mengalami terbitnya Bulan bersamaan dengan awal gerhana, melintas mulai dari sisi barat kepulauan Halmahera di utara, sisi timur Pulau Buru di tengah dan ujung timor pulau Timor di selatan. Seluruh wilayah yang terletak di sebelah timur garis ini tercakup ke dalam sub-area A sehingga mengalami gerhana secara utuh. Termasuk ke dalam kawasan ini adalah segenap pulau Irian, kepulauan Halmahera dan kepulauan Maluku. Hanya di tempat–tempat inilah gerhana terjadi setelah Bulan terbit (atau setelah Matahari terbenam). Sementara sisa Indonesia lainnya harus berpuas diri mengalami gerhana Bulan samar yang tak utuh karena tergolong ke dalam sub-area B1. Bahkan di kota Aceh (propinsi Aceh), Bulan terbit bersamaan dengan puncak gerhana.

Sesuai namanya, gerhana Bulan samar ini nyaris tak dapat dibedakan dengan Bulan purnama biasa. Butuh teleskop dengan kemampuan baik untuk dapat melihatnya. Untuk memotretnya, butuh kamera dengan pengaturan (setting) yang lebih kompleks dan bisa disetel secara manual. Dalam puncak gerhana Bulan samar, jika cara pengaturan kamera kita tepat maka Bulan akan terlihat menggelap di salah satu sudutnya. Detail teknis pemotretan untuk mengabadikan gerhana ini dengan menggunakan kamera DSLR (digital single lens reflex) tersaji berikut ini :

Sayangnya, prakiraan cuaca mengindikasikan sebagian besar Indonesia mungkin tak berpeluang menyaksikan gerhana unik ini. Kanal SADEWA (Satellite Disaster Early Warning System) dari LAPAN (Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional) mengindikasikan bahwa pada 23 Maret 2016 senja sebagian besar Indonesia diliputi tutupan awan. Tak hanya itu, potensi hujan pun ada dan bahkan di beberapa tempat diprakirakan mengalami hujan deras.

Gambar 4. Prakiraan tutupan awan di Indonesia pada 23 Maret 2016 TU pukul 18:00 WIB berdasarkan analisis kanal SADEWA di LAPAN. Nampak sebagian besar Indonesia tertutupi awan. Sumber: LAPAN, 2016.

Gambar 4. Prakiraan tutupan awan di Indonesia pada 23 Maret 2016 TU pukul 18:00 WIB berdasarkan analisis kanal SADEWA di LAPAN. Nampak sebagian besar Indonesia tertutupi awan. Sumber: LAPAN, 2016.

Tanpa Shalat Gerhana

Meski tak familiar di telinga kita, namun gerhana Bulan samar bukanlah fenomena yang jarang terjadi. Sepanjang 2016 Tarikh Umum (TU) ini akan terjadi empat gerhana, masing–masing dua gerhana Bulan dan dua gerhana Matahari. Dan seluruh gerhana Bulan di tahun ini merupakan gerhana Bulan samar.

Bagi Umat Islam ada anjuran untuk menyelenggarakan shalat gerhana baik di kala terjadi peristiwa Gerhana Matahari maupun Gerhana Bulan. Tapi hal tersebut tak berlaku dalam kejadian Gerhana Bulan Penumbral ini. Musababnya gerhana Bulan samar dapat dikatakan mustahil untuk bisa diindra dengan mata manusia secara langsung. Padahal dasar penyelenggaraan shalat gerhana adalah saat gerhana tersebut dapat dilihat, seperti dinyatakan dalam hadits Bukhari, Muslim dan Malik yang bersumber dari Aisyah RA. Pendapat ini pula yang dipegang oleh dua ormas Islam terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul ‘Ulama dan Muhammadiyah. Keduanya sepakat bahwa saat gerhana tak bisa disaksikan (secara langsung), maka shalat gerhana tak dilaksanakan.

Gambar 5. Prakiraan curah hujan (resolusi 5 kilometer) di Indonesia pada 23 Maret 2016 TU pukul 18:00 WIB berdasarkan analisis kanal SADEWA di LAPAN. Semakin gelap maka semakin deras hujan yang diprakirakan bakal turun. Nampak hujan diprakirakan bakal terjadi di hampir segenap pulau Sumatra dan sebagian pulau Jawa (kecuali Jawa bagian tengah). Sumber: LAPAN, 2016.

Gambar 5. Prakiraan curah hujan (resolusi 5 kilometer) di Indonesia pada 23 Maret 2016 TU pukul 18:00 WIB berdasarkan analisis kanal SADEWA di LAPAN. Semakin gelap maka semakin deras hujan yang diprakirakan bakal turun. Nampak hujan diprakirakan bakal terjadi di hampir segenap pulau Sumatra dan sebagian pulau Jawa (kecuali Jawa bagian tengah). Sumber: LAPAN, 2016.

Sekilas, tak diselenggarakannya shalat gerhana dalam Gerhana Bulan Penumbral terkesan sedikit mengganjal. Sebab jika dibandingkan dengan penilaian terhadap fenomena alam lainnya, yakni hilaal yang berperanan dalam penentuan awal bulan kalender Hijriyyah khususnya bulan suci Ramadhan dan hari raya Idul Fitri/Idul Adha, sebagian kalangan Umat Islam di Indonesia memiliki tafsiran yang ‘lebih maju’ dari batasan literal. Misalnya Muhammadiyah, yang berpendapat bahwa kosakata “melihat hilaal” dapat disubstitusi menjadi “memperhitungkan“. Sehingga dalam praktiknya penentuan awal bulan kalender Hijriyyah cukup dilakukan dengan perhitungan (hisab). Di sisi lain ada juga Kementerian Agama RI, yang berpendapat kosakata “melihat hilaal” dapat dipertajam menjadi “melihat hilaal dengan peralatan” dan belakangan bahkan “melihat hilaal dengan peralatan dan pengolahan citra/foto.”

Tafsir-tafsir tersebut itu terkesan inkonsisten bila mengantisipasi peristiwa Gerhana Bulan Penumbral ini tak dianjurkan menyelenggarakan shalat gerhana. Secara kasat mata gerhana ini memang sangat sulit disaksikan, bahkan andaikata kita menggunakan teleskop sekalipun. Namun secara perhitungan, Gerhana Bulan sudah terjadi lho (entah apapun jenisnya). Dan jika pengamatan dilengkapi dengan teknik pengolahan citra yang menjadi standar bagi astronomi, gerhana yang samar ini juga bakal terlihat lho. Jadi?

Menyongsong Gerhana Bulan Total 4 April 2015

Sebuah peristiwa langit populer akan segera datang menjelang pada Sabtu 4 April 2015 Tarikh Umum (TU) besok. Peristiwa tersebut adalah Gerhana Bulan Total 4 April 2015. Dalam peristiwa itu tiga benda langit dalam tata surya kita yakni Matahari, Bumi dan Bulan akan terletak dalam satu garis lurus bila ditinjau dari ketiga sumbu koordinat (sumbu X, sumbu Y dan sumbu Z) dengan Bumi berada di tengah-tengah. Astronomi menyebut kesejajaran ini sebagai syzygy. Tentu, Bulan yang dimaksud di sini adalah Bulan yang sebenar-benarnya Bulan. Bukan asteroid Cruithne yang kerap disangka sebagai Bulan seolah-olah (meski sesungguhnya bukan) ataupun Bulan sementara (satelit alamiah tangkapan sementara).

Karena Bumi berada di tengah-tengah secara proporsional, ia menghalangi pancaran cahaya Matahari yang seharusnya jatuh ke permukaan sisi dekat Bulan yang normalnya menghasilkan Bulan purnama. Halangan itu menciptakan dua jenis bayangan, yakni bayangan tambahan/samar (penumbra) dan bayangan inti (umbra). Saat gerakan Bulan membuatnya memasuki zona bayangan samar, maka fase penumbra pun terjadi. Fase ini ditandai dengan sedikit berkurangnya cahaya Matahari yang jatuh ke Bulan sehingga Bulan akan sedikit meredup, di atas kertas. Dalam praktiknya amat sulit untuk bisa mendeteksi sedikit meredupnya Bulan pada saat fase penumbra secara kasat mata, kecuali jika kita dibantu dengan instrumen perekam yang memadai. Selanjutnya saat gerakan Bulan membawanya kian jauh hingga memasuki zona bayangan inti, maka fase umbra terjadilah. Dalam fase umbra, jumlah cahaya Matahari yang mengenai permukaan Bulan berkurang cukup signifikan. Sehingga Bulan yang seharusnya sedang bulat bundar penuh dalam fase purnamanya secara berangsur-angsur akan menggelap sebagian hingga menjadi seperti Bulan sabit. Dalam puncak fase umbra dimungkinkan Bulan akan benar-benar kehilangan hampir seluruh cahaya Matahari yang harusnya mengenainya akibat terblokir cakram Bumi. Situasi tersebut dinamakan fase totalitas.

Gambar 2. Linimasa yang memperlihatkan fase-fase gerhana dalam peristiwa Gerhana Bulan Total 4 April 2015 untuk zona Waktu Indonesia bagian Barat (WIB). Untuk zona waktu yang lain menyesuaikan. Sumber: Sudibyo, 2015.

Gambar 2. Linimasa yang memperlihatkan fase-fase gerhana dalam peristiwa Gerhana Bulan Total 4 April 2015 untuk zona Waktu Indonesia bagian Barat (WIB). Untuk zona waktu yang lain menyesuaikan. Sumber: Sudibyo, 2015.

Berdasarkan sejauh apa fase penumbra dan umbra dilalui, maka ada tiga macam Gerhana Bulan. Gerhana yang pertama adalah yang terpopuler, yakni Gerhana Bulan Total (GBT). Dalam gerhana ini Bulan akan mengalami tiga fase gerhana, yakni fase penumbra, umbra dan totalitas. Selanjutnya yang kedua adalah gerhana yang tak kalah populernya, yakni Gerhana Bulan Sebagian (GBS). Dalam gerhana ini Bulan akan mengalami dua fase gerhana saja, yakni fase penumbra dan umbra. Dan yang ketiga adalah yang paling tidak populer dan kerap diabaikan, yakni Gerhana Bulan Penumbral (GBP). Karena pada gerhana ini Bulan hanya akan mengalami satu fase gerhana saja, yakni fase penumbra. Tanpa didukung oleh alat bantu optik memadai dan serangkaian perhitungan awal jauh hari sebelumnya, sangat sulit bagi mata kita untuk dapat mendeteksi terjadinya sebuah peristiwa Gerhana Bulan Penumbral.

Fase

Gerhana Bulan apa yang akan terjadi dalam suatu waktu sangat bergantung dengan bagaimana konfigurasi posisi astronomis Bulan saat itu. Dan pada Sabtu 4 April 2015 TU itu konfigurasinya menghasilkan Gerhana Bulan Total. Perhitungan berbasis persamaan-persamaan Jean Meeus memperlihatkan Gerhana Bulan Total 4 April 2015 ini akan diawali pada pukul 16:02 WIB, saat Bulan mulai memasuki fase penumbra awal yang ditandai dengan terjadinya kontak awal penumbra (P1). Selanjutnya Bulan terus bergerak hingga kemudian mulai memasuki fase umbra awal. Fase ini ditandai dengan terjadinya kontak awal umbra (U1) pada pukul 17:16 WIB, yakni kala tepi barat cakram Bulan tepat mulai bersentuhan dengan umbra. Semenjak saat itulah Gerhana Bulan tersebut mulai bisa disaksikan secara kasat mata. Secara berangsur-angsur cakram Bulan menggelap dan memerah mulai dari sisi barat hingga akhirnya mencapai fase totalitas.

Gambar 2. Linimasa yang memperlihatkan fase-fase gerhana dalam peristiwa Gerhana Bulan Total 4 April 2015 untuk zona Waktu Indonesia bagian Barat (WIB). Untuk zona waktu yang lain menyesuaikan. Sumber: Sudibyo, 2015.

Gambar 2. Linimasa yang memperlihatkan fase-fase gerhana dalam peristiwa Gerhana Bulan Total 4 April 2015 untuk zona Waktu Indonesia bagian Barat (WIB). Untuk zona waktu yang lain menyesuaikan. Sumber: Sudibyo, 2015.

Persamaan-persamaan Jean Meeus gagal memperhitungkan seberapa lama fase totalitas Gerhana Bulan Total 4 April 2015 ini. Sehingga saya pun beralih ke persamaan-persamaan yang lebih kompleks, seperti misalnya dari ELP (Ephemerides Lunairre Parisienne) 2000-85. Tak seperti peristiwa Gerhana Bulan sebelumnya, kali ini fase totalitas berlangsung cukup singkat. Yakni kurang dari 5 menit, atau tepatnya hanya 4 menit 43 detik. Fase totalitas dimulai pada pukul 18:58 WIB ditandai dengan kontak awal totalitas (U2). Berselang beberapa saat kemudian gerhana memasuki puncaknya, yang terjadi pada pukul 19:01 WIB. Selanjutnya Bulan meninggalkan fase totalitas pada pukul 19:02:30 WIB yang bertepatan dengan kontak akhir totalitas (U3).

Selepas fase totalitas, Bulan kembali mengembara dalam umbra. Namun kali ini dalam fase umbra akhir, dengan bagian barat cakram Bulan secara berangsur-angsur mulai lebih terang. Fase umbra akhir selesai pada pukul 20:44 WIB saat umbra tepat mulai meninggalkan tepi timur cakram Bulan sebagai kontak akhir umbra (U4) pada pukul 20:44 WIB. Selepasnya Bulan terus bergerak mengarungi fase penumbra akhir, meski secara kasatmata sulit untuk mengindra apakah masih berstatus Gerhana Bulan, karena Bulan sudah muncul sebagai cakram bulat bercahaya khas purnama. Gerhana Bulan ini sejatinya baru berakhir pada pukul 21:58 WIB saat kontak akhir penumbra (P4) terjadi, yang ditandai dengan tepat menghilangnya penumbra dari tepi timur cakram Bulan. Secara keseluruhan Gerhana Bulan Total 4 April 2015 ini memiliki durasi 5 jam 56 menit, dengan durasi gerhana yang kasatmata (fase umbra) adalah 3 jam 28 menit.

Gambar 3. Peta wilayah Gerhana Bulan Total 4 April 2015 untuk lingkup global. Perhatikan bahwa hanya di wilayah A dan B (baik B1 maupun B2) saja Gerhana Bulan ini bisa dilihat, sepanjang langit tak berawan. Sumber: Sudibyo, 2015.

Gambar 3. Peta wilayah Gerhana Bulan Total 4 April 2015 untuk lingkup global. Perhatikan bahwa hanya di wilayah A dan B (baik B1 maupun B2) saja Gerhana Bulan ini bisa dilihat, sepanjang langit tak berawan. Sumber: Sudibyo, 2015.

Dalam lingkup global Gerhana Bulan Total 4 April 2015 hanya dapat disaksikan di segenap Australia, sebagian besar Asia (Asia timur, tengah, selatan dan tenggara) serta sebagian besar Amerika (utara dan selatan). Hanya Eropa, Afrika dan Asia barat (Timur Tengah) saja yang tak tercakup ke dalam wilayah Gerhana Bulan ini. Namun wilayah yang dapat menyaksikan gerhana secara penuh dalam setiap fasenya (tanpa terganggu aktivitas terbit ataupun terbenamnya Bulan) hanyalah sebagian besar Alaska, Russia bagian timur, sebagian Jepang, sebagian besar Australia dan sebagian besar pulau Irian.

Gambar 4. Peta wilayah Gerhana Bulan Total 4 April 2015 untuk Indonesia. Garis P1 adalah garis yang menghubungkan titik-titik dimana kontak awal penumbra terjadi tepat pada saat Bulan terbit. Sementara garis U1 menghubungkan titik-titik yang mengalami kontak awal umbra tepat pada saat Bulan terbit. Seluruh Indonesia mampu menyaksikan peristiwa Gerhana Bulan ini, sepanjang langit tak berawan. Sumber: Sudibyo, 2015.

Gambar 4. Peta wilayah Gerhana Bulan Total 4 April 2015 untuk Indonesia. Garis P1 adalah garis yang menghubungkan titik-titik dimana kontak awal penumbra terjadi tepat pada saat Bulan terbit. Sementara garis U1 menghubungkan titik-titik yang mengalami kontak awal umbra tepat pada saat Bulan terbit. Seluruh Indonesia mampu menyaksikan peristiwa Gerhana Bulan ini, sepanjang langit tak berawan. Sumber: Sudibyo, 2015.

Dalam lingkup Indonesia, seluruh wilayah di negeri ini tercakup ke dalam wilayah Gerhana Bulan Total 4 April 2015 ini, meski berbeda-beda dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Gerhana secara utuh, yakni dari fase penumbra awal hingga fase penumbra akhir, hanya bisa disaksikan dari propinsi Papua. Sementara di propinsi-propinsi lainnya tidaklah demikian, akibat Bulan belum terbit kala gerhana dimulai. Segenap pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku, Kepulauan Nusa Tenggara (minus propinsi Bali) dan propinsi Irian Jaya Barat serta sebagian kecil propinsi Kalimantan Timur serta sebagian propinsi Kalimantan Utara berada di sebelah barat garis P1 namun di sisi timur garis U1. Sehingga di kawasan ini Gerhana Bulan dapat dinikmati mulai dari fase penumbra awal yang terpotong terbitnya Bulan hingga fase penumbra akhir. Sisanya terletak di sisi barat garis U4, yang mencakup segenap pulau Sumatra, Jawa hampir seluruh pulau Kalimantan dan propinsi Bali. Di sini Gerhana Bulan hanya dapat dinikmati mulai dari fase umbra awal yang sudah terpotong terbitnya Bulan hingga fase penumbra akhir saja.

Shalat Gerhana dan Observasi

Dengan demikian Gerhana Bulan Total ini terjadi di kala Matahari sedang dalam proses terbenam (Bulan sedang dalam proses terbit) bagi sebagian besar Indonesia. Dengan kata lain, Bulan terbit sudah dalam keadaan gerhana bagi sebagian besar Indonesia. Sebagai implikasinya maka durasi-tampak gerhana, yakni selang waktu antara terbitnya Bulan hingga kontak akhir penumbra, pun menjadi berbeda-beda antara satu lokasi dengan lokasi lainnya. Di sisi timur garis P1 durasi-tampak gerhana adalah sama dengan durasi gerhana, yakni 5 jam 56 menit. Namun kian ke barat dari garis P1, durasi-tampaknya kian menurun. Durasi-tampak terkecil terjadi di ujung terbarat Indonesia, yakni di Banda Aceh (propinsi Aceh). Yaitu hanya sebesar 3 jam 14 menit saja.

Gambar 5. Peta durasi-tampak Gerhana Bulan Total 4 April 2015 untuk Indonesia. Gerhana Bulan ini sebenarnya memiliki durasi 5 jam 56 menit, terhitung dari kontak awal hingga kontak akhir penumbra. Namun dengan Bulan dalam proses terbit di Indoensia saat gerhana terjadi, maka durasi-tampak gerhana terhitung dari terbitnya Bulan hingga kontak akhir penumbra menjadi berbeda-beda dari satu lokasi ke lokasi lain. Garis-garis dalam peta ini menghubungkan titik-titik yang memiliki durasi-tampak yang sama. Angka 5j 30m bermakna "durasi-tampak 5 jam 30 menit." Sumber: Sudibyo, 2015.

Gambar 5. Peta durasi-tampak Gerhana Bulan Total 4 April 2015 untuk Indonesia. Gerhana Bulan ini sebenarnya memiliki durasi 5 jam 56 menit, terhitung dari kontak awal hingga kontak akhir penumbra. Namun dengan Bulan dalam proses terbit di Indoensia saat gerhana terjadi, maka durasi-tampak gerhana terhitung dari terbitnya Bulan hingga kontak akhir penumbra menjadi berbeda-beda dari satu lokasi ke lokasi lain. Garis-garis dalam peta ini menghubungkan titik-titik yang memiliki durasi-tampak yang sama. Angka 5j 30m bermakna “durasi-tampak 5 jam 30 menit.” Sumber: Sudibyo, 2015.

Meski memiliki durasi-tampak yang berbeda-beda, pada hakikatnya seluruh Indonesia tercakup dalam wilayah Gerhana Bulan Total 4 April 2015. Dan semuanya juga mampu menikmati gerhana kasat mata, baik dalam fase umbra maupun fase totalitas. Konsekuensinya Umat Islam di seluruh Indonesia berkesempatan menunaikan ibadah shalat gerhana bulan, tanpa terkecuali. Dan sebelum menunaikan shalat gerhana, dianjurkan untuk mengumandangkan gema takbir. Di samping itu alangkah baiknya jika turut mengamati gerhana ini, sebagai bagian dari mengagumi kebesaran Illahi dan memahami bagaimana semesta bekerja. Kesempatan untuk menunaikan shalat gerhana bulan terbuka hingga kontak akhir umbra (U4) terjadi pada pukul 20:44 WIB. Mengingat fase totalitas adalah fase gerhana yang paling menyedot perhatian, maka perlu disusun strategi kapan waktunya observasi (mengamati) gerhana dan kapan saatnya menunaikan shalat gerhana bulan.

Gambar 6. Peta saran waktu pelaksanaan shalat gerhana bulan terkait peristiwa Gerhana Bulan Total 4 April 2015 di Indonesia, dengan mengacu pada saat-saat fase totalitas. Untuk daerah-daerah yang ada di sisi timur garis U1 dan yang ada di sisi barat garis 18:28 WIB disarankan menyelenggarakan shalat gerhana bulan di masjid-masjid segera setelah shalat Isya' berjama'ah. Sebaliknya daerah-daerah yang terletak di antara garis U1 dan 18:28 WIB disarankan menyelenggarakan shalat gerhana bulan di masjid-masjid segera setelah shalat Maghrib berjama'ah. Sumber: Sudibyo, 2015.

Gambar 6. Peta saran waktu pelaksanaan shalat gerhana bulan terkait peristiwa Gerhana Bulan Total 4 April 2015 di Indonesia, dengan mengacu pada saat-saat fase totalitas. Untuk daerah-daerah yang ada di sisi timur garis U1 dan yang ada di sisi barat garis 18:28 WIB disarankan menyelenggarakan shalat gerhana bulan di masjid-masjid segera setelah shalat Isya’ berjama’ah. Sebaliknya daerah-daerah yang terletak di antara garis U1 dan 18:28 WIB disarankan menyelenggarakan shalat gerhana bulan di masjid-masjid segera setelah shalat Maghrib berjama’ah. Sumber: Sudibyo, 2015.

Dalam pendapat saya, dalam mengatur waktu penyelenggaraan shalat gerhana, maka sebaiknya shalat gerhana ini ditunaikan segera setelah shalat wajib berjamaah yang berdekatan, yakni shalat maghrib atau isya’. Shalat gerhana bulan dalam Gerhana Bulan Total 4 April 2015 ini baru bisa diselenggarakan setelah kontak awal umbra (U1) terjadi. Maka bagi wilayah-wilayah di Indonesia yang terletak di sebelah timur garis U1, shalat gerhana bisa diselenggarakan segera setelah shalat Isya’. Demikian halnya bagi propinsi Sumatra Utara dan Aceh. Sebaliknya wilayah-wilayah di sebelah barat garis U1 hingga propinsi Sumatra Utara dan Aceh dapat menyelenggarakan shalat gerhana bulan segera setelah shalat Maghrib. Dengan pengaturan waktu demikian, maka shalat gerhana bulan dapat ditunaikan sementara observasi Gerhana Bulan khususnya dalam fase totalitas juga tetap dapat berlangsung.

Seperti peristiwa sejenis sebelumnya, Gerhana Bulan Total 4 April 2015 sejatinya relatif bisa diamati dengan mudah dari lokasi dimana saja, termasuk lingkungan perkotaan sekalipun. Namun ada teknik tersendiri untuk mengabadikan peristiwa langit ini. Prinsip dasarnya, Gerhana Bulan menyebabkan adanya perubahan pencahayaan Bulan dari yang semula cukup benderang (sebagai purnama) menjadi jauh lebih redup ketimbang Bulan sabit (pada puncak gerhana). Perubahan pencahayaan ini memerlukan pengaturan khusus. Jika anda menggunakan kamera jenis DSLR (digital single lens reflex), maka atur kamera ke kondisi manual dan fokus lensa juga ke posisi manual. Pilih panjang fokus tertentu saja. Juga pilih f-ratio pada satu nilai tertentu dan demikian pula ISO-nya. Lalu arahkan ke Bulan dan atur waktu penyinarannya (exposure time) mengikut fase gerhana seperti diperlihatkan tabel di bawah ini:

Salah satu kelebihan kamera DSLR adalah dapat dihubungkan ke teleskop dengan penambahan adapter dan t-ring yang tepat sehingga menghasilkan teknik fotografi fokus prima. Namun bila disambungkan dengan teleskop, maka nilai f-ratio dan panjang fokusnya menjadi tetap seperti apa yang dimiliki oleh teleskop tersebut tanpa bisa diubah-ubah. Jika kamera DSLR ini disambungkan ke teleskop menghasilkan teknik fokus prima, maka nilai waktu penyinarannya (exposure time) bergantung pada ISO yang dipilih. Misalkan teleskop yang digunakan adalah teleskop pembias Celestron 70 mm dengan panjang fokus 900 mm, maka nilai ISO dan waktu penyinarannya mengikuti fase gerhana diperlihatkan tabel berikut :

Bagaimana jika anda tak memiliki kamera DSLR dan juga tak mempunyai teleskop? Jangan khawatir, Gerhana Bulan Total ini tetap dapat diabadikan meski dengan kamera digital sederhana atau bahkan kamera ponsel/ponsel pintar sekalipun. Kuncinya adalah mengeset kamera dengan nilai ISO yang besar (bila memungkinkan). Juga mengatur nilai EV (exposure value) ke yang terbesar (bila memungkinkan). Jika pilihan-pilihan tersebut tak tersedia, masih terbuka jalan untuk mengabadikannya dengan mengeset pencahayaan kamera lewat daylight atau sejenisnya saat fase penumbra dan fase umbra serta mengeset ke night atau sejenisnya saat fase totalitas.

Tak seperti Gerhana Bulan sebelumnya yang berbonus kesempatan mengamati planet Uranus, dalam Gerhana Bulan Total 4 April 2015 ini kita harus gigit jari. Tak ada satupun planet yang terlihat berdekatan dengan Bulan di saat gerhana. Kala Gerhana Bulan ini terjadi, bola langit hanya dihiasi planet Jupiter di dekat zenith dan planet Mars yang mengapung di atas kaki langit barat. Walau demikian ada yang relatif sama. Meski fase totalitasnya jauh lebih singkat, Gerhana Bulan Total 4 April 2015 berkemungkinan besar akan menampilkan wajah Bulan yang sama seperti gerhana-gerhana Bulan sebelumnya dalam puncaknya. Yakni tidak benar-benar gelap (menghilang), melainkan menjadi amat redup dengan laburan warna kemerah-merahan yang mirip darah.

Gambar 7. Letusan Holuhraun di Gunung Bardarbunga (Islandia). Meski menjadi letusan gunung berapi termutakhir dengan volume keluaran magma terbesar, namun jumlah partikulat dan aerosol sulfat yang dilepaskannya ke udara dianggap belum cukup mampu untuk membuat Bulan menjadi benar-benar gelap di puncak gerhana. Kiri: kawasan seluas 85 kilometer persegi yang telah ditutupi oleh magma basaltik produk letusan Holuhraun. tebal magma di kawasan ini mencapai rata-rata 7 meter. Kanan: pantauan salah satu titik letusan Holuhraun dari udara. Magma basaltik encer meluap dari pusat letusan yang berbentuk retakan sepanjang ratusan meter, untuk kemudian mengalir ke arah tertentu layaknya sungai api. Darinya gas vulkanik mengepul, tanpa debu vulkanik yang signifikan. Sumber: University of Iceland, 2015.

Gambar 7. Letusan Holuhraun di Gunung Bardarbunga (Islandia). Meski menjadi letusan gunung berapi termutakhir dengan volume keluaran magma terbesar, namun jumlah partikulat dan aerosol sulfat yang dilepaskannya ke udara dianggap belum cukup mampu untuk membuat Bulan menjadi benar-benar gelap di puncak gerhana. Kiri: kawasan seluas 85 kilometer persegi yang telah ditutupi oleh magma basaltik produk letusan Holuhraun. tebal magma di kawasan ini mencapai rata-rata 7 meter. Kanan: pantauan salah satu titik letusan Holuhraun dari udara. Magma basaltik encer meluap dari pusat letusan yang berbentuk retakan sepanjang ratusan meter, untuk kemudian mengalir ke arah tertentu layaknya sungai api. Darinya gas vulkanik mengepul, tanpa debu vulkanik yang signifikan. Sumber: University of Iceland, 2015.

Musababnya pada saat ini atmosfer Bumi pun relatif bersih, tidak terkotori oleh partikulat dan aerosol sulfat dalam jumlah signifikan yang dihasilkan letusan dahsyat/mahadahsyat gunung berapi.  Pada saat ini kita masih menyaksikan letusan besar Holuhraun di Gunung Bardarbunga (Islandia). Letusan ini telah berkecamuk semenjak 31 Agustus 2014 TU silam dan hingga kini telah memuntahkan tak kurang dari 1,5 kilometer kubik magma (10 kali lipat volume Letusan Merapi 2010). Namun partikulat dan aerosol sulfat yang dilepaskannya ke atmosfer masih terlalu kecil untuk membuat Bulan menjadi gelap pekat di kala puncak Gerhana Bulan Total.