Repihan Sejarah Sudut Nusantara berlatar Gerhana Sang Surya (1): Panjer

Sekeping daerah di Lembah Luk Ulo, di antara Sungai Luk Ulo dan Sungai Kedungbener yang menjadi anak sungai utamanya, di sisi selatan tanah Jawa bagian tengah. Saat itu Rabu 7 April 1502 TU (Tarikh Umum) yang bertepatan dengan 29 Ramadhan 907 H. Penghujung bulan suci. Masyarakat Muslim setempat sedang bersiap-siap merayakan Idul Fitri di bawah natural leader Sayyid Abdul Kahfi al-Hasani yang kelak populer dengan nama Syekh Abdul Kahfi Awwal. Kala waktu telah beranjak memasuki saat Dhuhur, mendadak di langit terjadi peristiwa yang sangat langka dan mengesankan. Selama hampir tiga jam kemudian terjadi Bagowong (Pagowong) atau Coblong, istilah Jawa Kuna untuk Gerhana Matahari Total. Peristiwa langit langka itu nampaknya demikian mempesona dan menginspirasi, hingga diabadikan menjadi nama lokasi.

Gambar 1. Rekonstruksi wilayah Gerhana Matahari Total 7 April 1502 di pulau Jawa dan sekitarnya. Angka-angka menunjukkan jam-jam terjadinya puncak gerhana dalam WIB. Nampak lokasi Panjer (kini Kebumen) berada di sumbu Zona Total gerhana ini. Peristiwa langit tersebut mungkin menginspirasi pemberian nama Panjer. Sumber: Sudibyo, 2019.

Terakhir kalinya Gerhana Matahari Total terjadi bagi daerah di antara Sungai Luk Ulo dan Sungai Kedungbener adalah hampir enam abad sebelumnya. Tepatnya pada 24 Februari 928 TU, kala tanah itu masih dalam naungan Kerajaan Medang yang sedang menjalani masa-masa turbulensi seiring kudeta silih berganti. Manakala Gerhana Matahari Total 7 April 1502 TU terjadi, tanah Jawa pun sedang menjalani metamorfosa dramatis. Di ujung timur Kerajaan Majapahit yang sudah tua masih bertahta namun kian berkeping-keping saja seakan sedang dipercepat menuju masa paripurnanya. Sedangkan di bagian tengah tanah Jawa kekuasaan bercorak lain mulai menanjak. Yakni Kesultanan Demak di bawah pimpinan Raden Patah yang menyandang gelar Sultan Alam Akbar al-Fattah.

Sayyid Abdul Kahfi al-Hasani memegang peranan penting dalam Kesultanan Demak. Datang sebagai pendakwah dari tanah Hadhramaut, beliau memiliki hubungan sangat erat dengan Sunan Ampel dan Sunan Kudus, dua dari Wali Sanga yang menjadi tulang punggung Kesultanan Demak. Pada tepian Sungai Kedungbener, Sayyid Abdul Kahfi al-Hasani babat alas membuka lahan yang disebut tsumma dha’u yang beraroma harum. Disinilah salah satu pondok pesantren tertua di Indonesia masakini, bahkan di Asia Tenggara, berdiri. Pesantren Somalangu secara resmi berdiri pada 25 Sya’ban 879 H (4 Januari 1475 TU) ditandai dengan sebuah prasasti berbahan batu zamrud yang kini masih ada dalam lingkungan pondok pesantren tersebut.

Manjer

Di penghujung suatu bulan Ramadhan, lebih dari seperempat abad setelah Pesantren Somalangu berdiri, peristiwa Gerhana Matahari Total yang mengesankan terjadi di langit setempat. Perhitungan astronomi modern yang termaktub dalam Five Millenium Canon of Solar Eclipses karya Fred Espenak (astronom NASA, Amerika Serikat) menunjukkan gerhana dimulai pada pukul 11:39 WIB. Mulai saat itu langit siang secara berangsur-angsur meredup dan menggelap selagi Matahari secara perlahan-lahan nampak ‘robek.’ Mulai pukul 13:04 WIB langit menjadi betul-betul gelap dimana Matahari berubah menjadi bundaran hitam bermahkota putih lembut. Bintang-bintang pun bertaburan menghiasi langit yang sesungguhnya masih siang bolong. Hal ini berlangsung selama hampir 5 menit kemudian. Setelah itu langit secara berangsur-angsur mulai bertambah terang dan Matahari pun kembali ke bentuk bundarnya sebagai penanda akhir gerhana pada pukul 14:31 WIB.

Perhitungan sederhana guna memprakirakan terjadinya Gerhana Matahari sudah dikenal sejak masa Yunani Kuno lewat Claudius Ptolomeus (100-170 TU) seperti termaktub dalam Almagest. Al-Battani (wafat 929 TU) memperbaikinya sehingga memungkinkan pengembangan prediksi Gerhana Matahari Cincin. Meski demikian belum ada bukti karya-karya ini telah masuk dan dipelajari di tanah Jawa terutama pada era transisi Kerajaan Majapahit – Kesultanan Demak. Sehingga dapat diperkirakan tak ada penduduk yang tinggal di antara Sungai Luk Ulo dan Sungai Kedungbener yang telah memprakirakan kejadian Gerhana Matahari sebelumnya.

Akan tetapi begitu gerhana mulai terjadi dan langit mulai menggelap, orang-orang pun riuh menabuh lesung mengikuti tradisi Jawa akan mitos Batara Kala menelan sang surya. Gerhana Matahari Total yang terjadi pada tengah siang bolong, saat Matahari sedang berkulminasi atas (istiwa’) yang menadai awal waktu Dhuhur, di penghujung bulan suci bagi Umat Islam, nampaknya memberikan kesan sangat mendalam bagi orang-orang yang tinggal di antara Sungai Luk Ulo hingga Sungai Kedungbener. Peristiwa luar biasa itu mungkin menginspirasi pemberian nama sebuah daerah di dekat Pesantren Somalangu sebagai Panjer.

Dalam Bahasa Jawa, kata Panjer memiliki kedudukan dan makna yang sama dengan kata Manjer. Berdasarkan riset pak Widya Sawitar, astronom senior di POJ (Planetarium dan Observatorium Jakarta), Orang Jawa mengenal sekitar 90 nama julukan untuk Matahari. Nama-nama julukan tersebut sebagian merupakan pengaruh dari bahasa Sansekerta dan umumnya terkait kalender pertanian (pranata mangsa), simbolisasi keseharian, penanda rentang waktu serta penanda fenomena alam tertentu. Kata Manjer adalah salah satu diantaranya. Manjer merupakan istilah bagi transit Matahari atau istiwa’, yaitu situasi saat Matahari mencapai titik kulminasi atas dalam peredaran semu hariannya. Nama julukan lain yang memiliki makna serupa Manjer adalah Panengahnikangrawi dan Suryasata.

Kulminasi atas Matahari sesungguhnya merupakan peristiwa langit yang rutin terjadi setiap hari dan tidaklah cukup unik dalam perspektif astronomi. Namun manakala peristiwa Gerhana Matahari Total yang sangat langka terjadi kala sang Surya sedang manjer di penghujung bulan Ramadhan pada daerah yang sebagian besar penduduknya memeluk Islam, kesan yang ditimbulkannya akan luar biasa dan menginspirasi. Analisis astronomi menunjukkan pasca Gerhana Matahari Total 7 April 1502, selama setengah milenium (lima abad) kemudian tanah Panjer hanya mengalami dua Gerhana Matahari Total lainnya. Masing-masing Gerhana Matahari Total 24 Juli 1683 yang terjadi kala Matahari terbit dan Gerhana Matahari Total 11 Juni 1983 yang terjadi di pagi hari.

Lebih dari seabad kemudian pasca Gerhana Matahari Total 7 April 1502 yang bersejarah, Panjer telah berkembang meluas dan terstruktur melampaui ukuran sebuah desa. Panjer kemudian menyeruak ke pentas sejarah di era Kerajaan Mataram manakala Sultan Agung mempersiapkan invasi ke Batavia yang dikuasai VOC. Tersebut nama Ki Bagus Badranala yang menyiapkan keperluan logistik dan sumberdaya manusia guna mendukung invasi tersebut, dalam kurun 1627-1629 TU. Atas jasa-jasanya maka Ki Bagus Badranala dikukuhkan menjadi Ki Gede Panjer Roma pada 21 Agustus 1629 TU. Berselang 13 tahun kemudian Ki Gede Panjer Roma dilantik menjadi sebagai Bupati Panjer yang pertama dan menyandang nama baru: Panembahan Badranala. Bahwa dua abad kemudian terjadi gempa politik tanah Jawa seiring meletusnya Perang Jawa / Perang Dipanegara yang demikian menghancurkan, yang memaksa berubahnya nama Kabupaten Panjer menjadi Kabupaten Kebumen, itu tidak menghilangkan ketokohan Panembahan Badranala. Tanggal 21 Agustus 1629 TU pun kini ditetapkan sebagai Hari Jadi Kab. Kebumen berdasarkan Peraturan Daerah no. 3/2018.

Hingga saat ini belum ditemukan bukti tertulis maupun cerita tutur (lisan) terkait asal-usul nama Panjer dan peristiwa langit langka berupa Gerhana Matahari Total di tengah siang bolong. Namun dalam sudut pandang toponomi, yakni cabang ilmu pengetahuan yang mencari hubungan antara fenomena alam lokal dengan nama daerah setempat, hal itu tetap berterima. Terdapat banyak tempat di tanah Kebumen yang mengandung unsur nama karang- (misalnya Karangsambung, Karanggayam, Karangpoh, Karanganyar, Karangtanjung, Karangkembang dan sebagainya). Tempat-tempat tersebut secara tertulis maupun lisan juga belum diketahui asal-usulnya. Namun dengan pendekatan toponomi, kata karang- yang melekat pada nama tempat-tempat itu terbukti merepresentasikan fenomena alam setempat terkait pegunungan/perbukitan dan formasi-formasi batuan yang khas.

Seperti halnya bangsa-bangsa lainnya di dunia, leluhur manusia Indonesia di masa silam mempelajari astronomi sebagai bagian dari bertahan hidup. Guna mereduksi sebesar mungkin dampak dari fenomena-fenomena alam tertentu yang dipandang merugikan (misalnya musim kemarau) dan sebaliknya mengeksploitasi semaksimal mungkin terjadi fenomena-fenomena alam lainnya yang menguntungkan (misalnya musim hujan) untuk bercocok tanam dan mengembangkan peradaban. Dalam kesempatan yang sama pembelajaran itu juga mewariskan pengetahuan tersebut pada nama-nama daerah dan istilah-istilah unik bagi anak cucunya.

Referensi :

Sawitar. 2016.Tekang Adityamandala. Planetarium dan Observatorium Jakarta, diakses 25 Desember 2019 TU.

Mentari Menjadi Sabit Tebal, Gerhana Matahari 29 Rabiul Akhir 1441 H/26 Desember 2019

Kamis 29 Rabiul Akhir 1441 H atau 26 Desember 2019 TU (Tarikh Umum) akan terjadi peristiwa langit yang jarang terjadi. Gerhana Matahari Cincin atau Gerhana Matahari Annular namanya. Di puncak gerhana, Matahari akan terlihat menyerupai cincin bercahaya kuning-jingga di langit khususnya jika disaksikan dari Zona Antumbra dalam wilayah gerhana. Sedangkan wilayah gerhana lainnya, yakni Zona Penumbra, hanya akan menyaksikan sebagian wajah Matahari tertutupi oleh bundaran Bulan yang gelap di puncak gerhana dengan besarnya penutupan tergantung pada letak setiap tempat.

Kabar baiknya, segenap Indonesia tercakup ke dalam wilayah gerhana Matahari Cincin ini. Bahkan Zona Umbra melintasi sejumlah kabupaten/kota di tujuh propinsi.

Konfigurasi Gerhana

Gambar 1. Wajah Matahari yang nampak sebagian ditutupi bundaran Bulan sepanjang peristiwa Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 silam. Diabadikan di Kebumen, yang nampak sebagai gerhana sebagian. Sumber: Sudibyo, 2016.

Peristiwa Gerhana Matahari terjadi saat Bumi, Bulan dan Matahari benar–benar sejajar pada satu garis lurus dalam perspektif tiga–dimensi dimana Bulan menyelisip di tengah-tengah Bumi dan Matahari. Kesejajaran ini disebut syzygy. Dalam ilmu falak, Gerhana Matahari terjadi pada saat yang sama dengan peristiwa konjungsi Bulan–Matahari (ijtima’), yakni saat Bulan dan Matahari menempati satu garis bujur ekliptika yang sama di langit. Yang membedakan, Bulan dalam peristiwa Gerhana Matahari juga sedang menempati salah satu di antara dua titik nodal dalam orbitnya. Titik nodal adalah titik potong khayali antara orbit Bulan tepat dengan ekliptika (bidang edar Bumi dalam mengelilingi Matahari).

Maka meski dalam setiap tahun Hijriyyah terjadi 12 kali peristiwa konjungsi Bulan-Matahari, tidak setiap konjungsi tersebut menghasilkan Gerhana Matahari. Karena tidak setiap saat konjungsi Bulan-Matahari berlangsung bersamaan dengan Bulan sedang di dekat atau bahkan berada di salah satu titik nodalnya. Dalam setahun Hijriyyah umumnya hanya terjadi minimal 2 dan maksimal 4 peristiwa Gerhana Matahari.

Akibat kesejajaran tersebut maka pancaran sinar Matahari yang mengarah ke Bumi bakal diblokir sedikit oleh bundaran Bulan. Menjadikan peristiwa Gerhana Matahari selalu berlangsung di siang hari. Karena ukuran Bulan lebih kecil dibandingkan Bumi, maka pemblokiran tersebut tidak terjadi secara tidak merata di sekujur paras Bumi yang sedang terpapar sinar Matahari saat itu. Melainkan hanya di sektor–sektor tertentu saja bergantung pada geometri orbit Bulan kala kesejajaran tersebut terjadi.

Gambar 2. Konfigurasi posisi Matahari, Bumi dan Bulan yang melahirkan peristiwa Gerhana Matahari Total dan Gerhana Matahari Cincin (tanpa skala jarak antar benda langit). Sumber: Sudibyo, 2019.

Ada tiga jenis Gerhana Matahari. Yang pertama adalah Gerhana Matahari Total (GMT). Terjadi saat Bulan menempati titik nodal kala konjungsi Bulan-Matahari dan jaraknya relatif dekat ke Bumi, yakni menempati atau berdekatan dengan titik perigee (titik terdekat orbit Bulan ke Bumi). Sehingga ukuran–tampak Bulan relatif sama atau sedikit lebih besar ketimbang Matahari, yakni 0º 30’. Maka cakram Bulan sepenuhnya menutupi cakram Matahari di puncak gerhana dan terbentuk dua bayangan, yaitu umbra (bayangan inti total) dan penumbra (bayangan tambahan). Lokasi yang dilintasi umbra akan menyaksikan Gerhana Matahari Total sementara lokasi penumbra hanya menyaksikan gerhana sebagian.

Yang kedua adalah Gerhana Matahari Cincin (GMC). Konfigurasinya mirip dengan GMT hanya bedanya Bulan berjarak relatif jauh dari Bumi, yakni berdekatan atau bahkan menempati titik apogee (titik terjauh orbit Bulan ke Bumi). Imbasnya ukuran–tampak Bulan lebih kecil ketimbang Matahari, membuat cakram Bulan tidak sepenuhnya menutupi cakram Matahari di puncak gerhana. Pada konfigurasi ini juga terbentuk dua bayangan, yaitu antumbra (bayangan inti cincin) dan penumbra. Lokasi yang dilintasi antumbra akan menyaksikan Gerhana Matahari Cincin sedangkan lokasi penumbra hanya menyaksikan gerhana

Dan yang ketiga, Gerhana Matahari Sebagian (GMS). Berbeda halnya dengan GMT dan GMC, GMS terjadi saat Bulan hanya berdekatan saja dengan salah satu titik nodalnya di saat konjungsi Bulan-Matahari. Sehingga cakram Bulan tidak sepenuhnya menutupi cakram Matahari pada puncak gerhana. Dalam konfigurasi ini cahaya Matahari yang terblokir Bulan hanya akan membentuk satu bayangan, yaitu penumbra. Karenanya dimanapun berada di lokasi penumbra, hanya akan terlihat gerhana sebagian.

Data Perhitungan Gerhana

Perhitungan astronomi menunjukkan wilayah Gerhana Matahari Cincin 29 Rabiul Akhir 1441 H akan meingkupi hampir seluruh benua Asia, sebagian kecil benua Afrika dan sebagian besar benua Australia. Zona antumbranya melintasi daratan Arab Saudi di barat melintasi Qatar, Uni Emirat Arab, India, Sri Lanka, Indonesia, Malaysia, Singapura dan Filipina. Indonesia menjadi negara sentral dalam Gerhana Matahari ini karena ditempati titik greatest eclipse, titik yang memiliki durasi anularitas (durasi Matahari nampak sebagai cincin bercahaya) terpanjang. Titik tersebut terletak di Kab. Siak (propinsi Riau) dengan durasi annularitas 3 menit 40 detik.

Gambar 3. Wilayah Gerhana Matahari Cincin 29 Rabiul Akhir 1441 H di Indonesia. Perhatikan zona antumbra yang disebut Zona Cincin. Sisa wilayah Indonesia yang ada di luar Zona Cincin adalah zona penumbra dan mengalami gerhana sebagian. Garis-garis menunjukkan titik-titik yang mengalami magnitudo gerhana yang sama (dinyatakan dalam persen). Sumber: Sudibyo, 2019.

Selain Kab. Siak, zona umbra Gerhana Matahari ini melintasi sejumlah ibukota kabupaten/kota di Indonesia yang tersebar ke dalam tujuh propinsi. Di propinsi Aceh, zona umbra melewati kota Sinabang (Kab. Simeulue) dan Singkil (Kab. Aceh Singkil). Di propinsi Sumatra Utara, zona umbra melintasi Kota Sibolga, Pandan (Kab. Tapanuli Tengah), Tarutung (Kab. Tapanuli Utara), Sipirok (Kab. Tapanuli Selatan), Panyambungan (Kab. Mandailing Natal),Kota Pinang (Kab. Labuhanbatu Selatan) dan Kota Padang Sidempuan. Di propinsi Riau, selain Siak Sri Indrapura (Kab. Siak) zona umbra juga melewati Pasir Pengaraian (Kab. Rokan Hulu), sebagian Kota Dumai dan sebagian Kota Pekanbaru. Bagi propinsi Kepulauan Riau, zona umbra melewati Kota Batam, Kota Kijang (Kab. Bintan), Tanjung Balai Karimun (Kab. Karimun) dan Kota Tanjung Pinang (ibukota propinsi).

Untuk propinsi Kalimantan Barat, zona umbra melintasi Kota Singkawang, Bengkayang (Kab. Bengkayang), Mempawah (Kab. Mempawah) dan Sambas (Kab. Sambas). Sedangkan di propinsi Kalimantan Timur, zona umbra melewati Berau (Kab. Berau). Dan di propinsi Kalimantan Utara zona umbra melintasi Kota Tanjung Selor (ibukota propinsi). Sisa wilayah Indonesia lainnya tercakup ke dalam Zona Penumbra sehingga hanya akan menyaksikan gerhana sebagian dengan magnitudo gerhana bergantung kepada lokasi masing–masing.

Dari semua tempat tersebut, durasi Gerhana Matahari terpanjang terletak pada kota yang berdekatan dengan titik greatest eclipse, yakni 3 jam 52 menit di Kota Tanjung Pinang dan Siak Sri Indrapura. Sedangkan durasi Gerhana Matahari terpendek terjadi di tempat yang memiliki magnitudo gerhana terkecil, yakni di Merauke (Kab. Merauke propinsi Papua) yang lamanya hanya 2 jam 12 menit. Bagi pulau Jawa, magnitudo gerhana bervariasi mulai dari 68,8 % (durasi 3 jam 24 menit) di Blambangan hingga 79,4 % (durasi 3 jam 41 menit) di Merak (propinsi Banten).

Melihat Gerhana

Dibanding peristiwa Gerhana Bulan, kesempatan mengalami Gerhana Matahari cukup langka. Gerhana Matahari Cincin terakhir dengan zona umbra yang melintasi sebagian besar Indonesia terjadi pada Gerhana Matahari Cincin 29 Januari 2009. Dan setelah itu Gerhana Matahari Cincin serupa baru akan terjadi lagi dalam Gerhana Matahari Cincin 21 Mei 2031 yang akan datang. Kejarangan ini cukup berbeda dibanding peristiwa Gerhana Bulan Total yang lebih sering terjadi.

Beberapa Gerhana Matahari yang nampak sebagai gerhana sebagian memang singgah di Indonesia di antara tahun 2009 hingga 2019 TU ini. Namun tak semuanya memiliki konfigurasi menguntungkan guna diamati. Misalnya Gerhana Matahari Cincin 15 Januari 2010, tak satupun Indonesia yang berada pada zona umbra sementara zona penumbra hanya meliputi pulau Sumatra, Kalimantan, Jawa (sebagian) dan Sulawesi (sebagian). Berikutnya Gerhana Matahari Cincin 10 Mei 2013 yang juga tak menyertakan satupun bagian Indonesia dalam zona umbranya, meski hampir seluruh Indonesia berkesempatan dalam zona penumbra. Namun dengan gerhana terjadi tepat pada saat Matahari terbit, maka upaya mengamatinya juga sulit. Demikian halnya Gerhana Matahari Sebagian 29 April 2014, meski terjadi di tengah hari namun magnitudo gerhananya di Indonesia sangat kecil. Hanya sebagian pulau Jawa dan kepulauan Nusa Tenggara saja yang masuk ke dalam zona penumbra.

Sah–sah saja bila ingin berpartisipasi langsung dalam gerhana dan mengabadikannya dengan kamera. Namun beberapa hal yang harus digarisbawahi. Pada dasarnya kita dilarang menatap langsung ke Matahari, juga mengarahkan kamera secara langsung. Selain intensitas sinarnya begitu besar hingga terlalu benderang menyilaukan, salah satu gelombang elektromagnetik berenergi tinggi yang dipancarkan adalah berkas sinar ultraungu. Dengan tingginya energinya, sinar ultraungu bisa menyebabkan perubahan kimia pada sel–sel retina apabila terpapar terlalu lama. Pada dasarnya menatap Matahari terlalu lama sama merusaknya dengan melihat pengelasan las listrik tanpa pelindung mata sama sekali. Gangguan penglihatan bisa terjadi.

Dalam situasi normal, mata kita memiliki respon spontan untuk menyipit dan mengerjap saat menatap Matahari. Inilah alarm kewaspadaan sekaligus pengaman mata kita. Namun pada saat Gerhana Matahari, khususnya dengan persentase penutupan Matahari yang besar, situasi unik terjadi. Meredupnya Matahari sepanjang durasi gerhana akan membuat langit lebih temaram. Alarm kewaspadaan tubuh pun mengendor. Kini Matahari jadi lebih enak dipandang tanpa harus banyak menyipitkan mata. Pada saat yang sama, temaramnya langit juga membuat mata kita meresponnya dengan membuka pupil lebih lebar untuk memungkinkan lebih banyak sinar yang masuk. Sehingga kualitas penglihatan tetap terjaga. Kombinasi dua hal ini berpotensi membuat lebih banyak sinar ultraungu Matahari yang masuk ke bola mata dibanding normal. Disinilah bahaya itu muncul.

Bagaimana cara melihat Gerhana Matahari yang aman? Pada dasarnya Matahari cukup aman untuk dipandang apabila intensitas sinarnya telah diperlemah hingga minimal 50.000 kali lipat dari semula sebelum memasuki mata kita. Melihat Matahari dengan pantulan sinarnya melalui permukaan air yang tenang sama sekali tak disarankan. Sebab intensitas sinar hasil pemantulan hanyalah diperlemah 50 kali dari semula. Dengan dasar tersebut maka perlu adanya filter (penapis) yang tepat di antara mata kita dan Matahari. Filter yang dianjurkan adalah yang memperlemah sinar Matahari hingga 100.000 kali dari semula (0,001 %), yang teknisnya dikenal sebagai filter ND 5 (neutral density 5). Filter semacam ini secara komersial dipasarkan sebagai kacamata Matahari.

Bagaimana jika tak ada filter ND 5? Kita pun tetap bisa mengamati Gerhana Matahari lewat filter-buatan-sendiri sendiri. Cari negatif film hitam putih yang telah ‘terbakar’ (dipapar sinar Matahari lalu dicuci di studio foto). Potong–potong menjadi 3 helai lalu rekatkan/tumpuk menjadi satu. Agar lebih mudah dipegang, tempatkanlah dalam misalnya kertas karton yang telah dilubangi demikian rupa agar mirip kacamata. Inilah filter Matahari–buatan–sendiri yang tak kalah ampuhnya dengan filter komersial. Bisa juga menggunakan kacamata las bernomor 14. Dengan piranti semacam ini maka mata (atau kamera) anda akan tetap leluasa mengamati Gerhana Matahari tanpa khawatir cedera (atau rusak).

Shalat Gerhana

Gambar 4. Kontur waktu tengah (waktu puncak) Gerhana Matahari Cincin 29 Rabiul Akhir 1441 H di Indonesia. Setiap garis menghubungkan titik-titik yang mengalami puncak gerhana pada saat yang sama, dinyatakan dalam waktu Indonesia bagian barat (WIB). Sumber: Sudibyo, 2019.

Bagi Umat Islam, sangat dianjurkan menyelenggarakan shalat Gerhana Matahari tatkala peristiwa langit yang langka ini terjadi. Tulisan ini tak hendak menyentuh tata cara pelaksanaan shalat gerhana atau contoh khutbah gerhana. Namun hanya mengupas kapan waktunya.

Beberapa kalangan mempertanyakan (sekaligus mempersoalkan) mengapa peristiwa Gerhana Matahari Cincin 29 Rabiul Akhir 1441 H disambut dengan demikian gegap gempita? Mengapa tak mendirikan shalat gerhana saja? Mengapa justru menonjolkan pengamatan?

Sejatinya tak perlu ada dikotomi seperti itu. Durasi Gerhana Matahari Cincin 29 Rabiul Akhir 1441 H di Indonesia cukup lama dengan durasi terpanjang 3 jam 52 menit dan durasi terpendek 2 jam 12 menit. Shalat Gerhana Matahari memang ditegakkan pada saat gerhana sudah terjadi. Sekarang mari kita lihat lamanya waktu yang dibutuhkan guna mendirikan shalat Gerhana Matahari. Shalat dua raka’at itu umumnya bisa dilaksanakan dalam tempo 10 menit. Kemudian khutbah gerhana sesudahnya juga seyogyanya berlaku 10 menit (tidak lebih panjang, sesuai dengan yang disunnahkan). Dengan demikian secara keseluruhan pelaksanaan shalat gerhana membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Katakanlah maksimal 30 menit.

Nah dengan waktu maksimum 30 menit maka di daerah yang memiliki durasi terpanjang gerhana masih menyisakan waktu mendekati 3,5 jam sementara di daerah dengan durasi gerhana terpendek pun masih menyisakan waktu mendekati 1,75 jam bukan? Mengapa sisa waktu tersebut tidak dimanfaatkan untuk aneka kegiatan pendukung, mulai dari kegiatan ilmiah hingga kesenian? Terlebih Gerhana Matahari adalah salah satu ayat kauniyah yang perlu diajarkan kepada anak cucu kita. Dalam perpsektif ayat qauliyah sekalipun,bukankah terdapat sekurangnya 750 ayat al–Qur’an yang membahas dan mendeskripsikan beragam fenomena dalam jagat raya seperti dipaparkan oleh Syeh Jauhari Thanthawi sekitar tujuh dasawarsa silam?

Gerhana Matahari dan Kisah Kenabian: Yusya’ AS dan Rasulullah SAW

Gerhana kerap membawa kisah menarik yang mengiringi kehadirannya. Baik pada peristiwa Gerhana Matahari maupun Gerhana Bulan. Baik di masa kini, apalagi masa silam kala kehadiran gerhana kerap dianggap sebagai pertanda dari langit. Termasuk dalam peristiwa sejarah yang menentukan nasib sebuah negeri.

Di masa Yunani Kuno, kota Syracuse dikepung rapat oleh pasukan Athena selama Perang Peloponnesia. Mereka hampir kalah. Namun sebuah titik balik tak terduga datang pada 28 Agustus 413 STU (Sebelum Tarikh Umum) saat Bulan purnama mendadak meredup, ‘robek’ dan bahkan bersalin warna menjadi merah darah sangat redup hanya dalam 2 jam setelah terbit. Pasukan Athena, yang dihinggapi tahayul, menganggap gerhana itu pertanda buruk dan memutuskan menunda serangan ke posisi-posisi pasukan Syracuse. Syracuse pun memanfaatkan kesempatan ini dengan baik, sehingga gantian mereka yang melancarkan serangan dadakan ke pasukan Athena. Athena pun hancur lebur.

Delapan belas abad kemudian kisah yang mirip pun berulang. Selagi pasukan besar Utsmaniy mengepung kota Konstantinopel, ibukota kekaisaran Romawi Timur (Byzantium), pada 22 Mei 1453 TU Bulan terbit dalam kondisi setengah ‘robek’ sebagai Gerhana Bulan Sebagian di kaki langit timur kota. Saat itu Bulan menampakkan wajahnya dengan sekitar 70 % cakram Bulan tertutupi oleh umbra Bumi. Saat itu Konstantinopel sudah dikepung pasukan Utsmaniy sebulan lamanya. Gerhana ini menerbitkan rasa takut dan merosotkan moral penduduk Konstantinopel. Apalagi tersiar legenda bahwa kejatuhan kekaisaran mereka telah lama diramalkan dan akan ditandai oleh gerhana. Benar, tujuh hari kemudian kota itu takluk dan imperium Byzantium yang pernah perkasa itu pun tinggal sejarah.

Gambar 1. Beberapa bagian tahap Gerhana Matahari, seperti yang diabadikan dalam peristiwa Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016. Sejumlah peristiwa gerhana, termasuk Gerhana Matahari, kerap bersesuaian dengan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah sebuah negeri. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 1. Beberapa bagian tahap Gerhana Matahari, seperti yang diabadikan dalam peristiwa Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016. Sejumlah peristiwa gerhana, termasuk Gerhana Matahari, kerap bersesuaian dengan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah sebuah negeri. Sumber: Sudibyo, 2016.

Dalam tulisan ini fenomena gerhana di masa silam dibatasi pada peristiwa Gerhana Matahari di masa kenabian, yakni di era Nabi Yusya’ AS dan Rasulullah Muhammad SAW.

Gerhana dan Legenda Berhentinya Matahari

Pertempuran menentukan itu nampaknya terjadi sekitar 32 abad silam. Ringkasnya: pasukan Bani Israil yang sedang berjuang memasuki negeri Kanaan yang dijanjikan harus berhadapan dengan pasukan suku Hivit (bagian dari sukubangsa Amorit) yang berkekuatan besar pada suatu tempat di luar kota al-Jib (Gibeon). Suku Hivit adalah orang-orang yang berbadan besar dan perkasa, yang mendiami dataran luas di sisi barat Laut Mati hingga ke pesisir Laut Tengah. Tak tanggung-tanggung, di hari itu orang-orang Hivit mengerahkan kekuatan dalam jumlah besar dari lima negara kota sekaligus, kekuatan yang sanggup menggetarkan siapapun .

Pertempuran al-Jib pun meletus hari itu hingga ke rembang petang. Dan tak ada yang mengira kalau pasukan Bani Israil ternyata berhasil mengangkangi keperkasaan pasukan Hivit yang semula dikenal tak terkalahkan. Di bawah pimpinan Yusya’, yang  merupakan seorang nabi, pasukan Bani Israil pun menghancurkan pasukan Hivit dalam pertempuran al-Jib. Jalan bagi Bani Israil untuk menancapkan kakinya di negeri Kanaan yang dijanjikan pun kian terbuka. Pertempuran ini juga mewariskan kisah legendaris, yang menuturkan Yusya’ berseru kepada Matahari dan Bulan untuk berdiam di posisinya masing-masing hingga pertempuran usai. Atau dalam kata-kata lain, inilah nabi yang menahan gerak Matahari (dan juga Bulan).

Gambar 2. Ilustrasi artistik yang menggambarkan Nabi Yusya' AS (Joshua) menghentikan Matahari di atas kota al-Jib (Gibeon) pada saat pertempuran berlangsung, menurut lukisan John Martin pada 1816 TU. Riset terbaru memperlihatkan peristiwa 'berhentinya Matahari' tersebut sesungguhnya mungkin merupakan Gerhana Matahari Cincin. Sumber: John Martin, 1816 dalam Wikipedia, 2017.

Gambar 2. Ilustrasi artistik yang menggambarkan Nabi Yusya’ AS (Joshua) menghentikan Matahari di atas kota al-Jib (Gibeon) pada saat pertempuran berlangsung, menurut lukisan John Martin pada 1816 TU. Riset terbaru memperlihatkan peristiwa ‘berhentinya Matahari’ tersebut sesungguhnya mungkin merupakan Gerhana Matahari Cincin. Sumber: John Martin, 1816 dalam Wikipedia, 2017.

Kini, kapan Pertempuran al-Jib itu terjadi nampaknya sudah bisa ditetapkan tanggalnya. Riset multidisiplin ilmu oleh tim cendekiawan Universitas Ben Gurion (Israel) yang dipimpin Hezi Yitzhak menyimpulkan Pertempuran al-Jib itu mungkin terjadi pada 30 Oktober 1207 STU (Sebelum Tarikh Umum), bertepatan dengan peristiwa Gerhana Matahari Cincin. Dan lokasi dimana pertempuran tersebut berlangsung merupakan bagian dari zona antumbra (zona yang mampu melihat bentuk cincin/anularitas pada puncak gerhana) dalam wilayah Gerhana Matahari Cincin 30 Oktober 1206 STU tersebut.

Kisah kenabian Yusya’ atau Yosua (Joshua) lebih banyak tersurat dalam alkitab Ibrani dan alkitab Kristiani Perjanjian Lama, bahkan beliau menjadi tokoh sentral Kitab Yosua di kedua alkitab tersebut. Sebaliknya al-Qur’an tidak secara eksplisit menyebut nama Nabi Yusya’ AS. Beliau hanya disebut sebagai murid Nabi Musa AS khususnya yang menyertai Nabi Musa AS selama dalam perjalanan mencari Nabi Khidir AS seperti ternyata dalam surat al-Kahfi ayat 60-62. Namun sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Ubay ibn Ka’ab RA memastikan bahwa murid yang dimaksud dalam ayat-ayat tersebut memang sosok Nabi Yusya’ AS.

Yusya’ AS merupakan sosok kepercayaan Nabi Musa AS. Namanya mulai muncul selepas eksodusnya Bani Israil dari negeri Mesir menuju negeri Kanaan, tanah yang dijanjikan Allah SWT seperti yang diwahyukan-Nya kepada Musa AS. Begitu lolos dari kejaran Firaun dan pasukannya lewat mukjizat terbelahnya Laut Merah, Bani Israil segera beringsut melangkahkan kakinya menuju negeri Kanaan. Namun lama-kelamaan terbit rasa gentar dalam kalbu mereka seiring tersiarnya kabar bahwa negeri yang hendak mereka tuju dan taklukkan itu ternyata dihuni sukubangsa Amorit, orang-orang yang terkenal bertubuh perkasa tanpa tanding dalam setiap medan pertempuran. Rasa gentar itu kian meluap hingga akhirnya mencapai puncaknya, menjangkiti hampir semua orang. Mereka pun memutuskan untuk berhenti, enggan melanjutkan perjalanan ke negeri Kanaan meski telah dijanjikan kemenangan. Upaya Yusya’ dan Qalib untuk menyemangati mereka tiada henti tidak juga membuahkan hasil.

Akibatnya Bani Israil pun mendapat murka Allah SWT dan dihukum untuk terjebak di gurun pasir di antara negeri Mesir dan Kanaan hingga 40 tahun kemudian. Selama masa hukuman ini Yusya’ menjadi pengawal Nabi Musa AS yang setia. Sehingga menjelang wafatnya, Nabi Musa AS pun mewariskan kepemimpinan Bani Israil ke tangan Yusya’. Segera setelah menerima tampuk kepemimpinan, Yusya’ pun menjadi nabi setelah menerima wahyu Illahi yang memerintahkannya menyeberangi Sungai Yordan untuk memulai penaklukan negeri Kanaan yang telah dijanjikan-Nya. Dari kamp pasukannya di Gilgal, secara berturut-turut Yusya’ AS menggerakkan pasukannya menaklukkan negeri Ariha (Jericho) dan Ai. Selepas itu, setelah menggerakkan pasukannya diam-diam di tengah malam menempuh jarak 30 kilometer hingga tiba di perkemahan pasukan Hivit di dekat kota Yerusalem, maka Pertempuran al-Jib pun berkobar dahsyat mulai keesokan paginya.

Gambar 3. Matahari yang berbentuk menyerupai sabit dalam puncak sebuah peristiwa Gerhana Matahari Cincin, yang hanya terlihat sebagai gerhana sebagian di lokasi pemotretan. Meski dalam berawan tebal dan hampir mendung, namun bentuk sabit tersebut mudah dilihat terutama tatkala sinar Matahari berhasil menerobos sela-sela awan. Jika langit cerah, Gerhana Matahari pada puncaknya tentu lebih mudah diidentifikasi dan menarik perhatian khalayak, baik di masa kini maupun silam. Baik di masa damai maupun peperangan. Sumber: Sudibyo, 2009.

Gambar 3. Matahari yang berbentuk menyerupai sabit dalam puncak sebuah peristiwa Gerhana Matahari Cincin, yang hanya terlihat sebagai gerhana sebagian di lokasi pemotretan. Meski dalam berawan tebal dan hampir mendung, namun bentuk sabit tersebut mudah dilihat terutama tatkala sinar Matahari berhasil menerobos sela-sela awan. Jika langit cerah, Gerhana Matahari pada puncaknya tentu lebih mudah diidentifikasi dan menarik perhatian khalayak, baik di masa kini maupun silam. Baik di masa damai maupun peperangan. Sumber: Sudibyo, 2009.

Tim cendekiawan Ben Gurion tersebut tiba pada kesimpulan mengenai tanggal Pertempuran al-Jib setelah melalui pendekatan astronomi dan reinterpretasi teks ayat Yoshua 10:12. Terjemah dalam Bahasa Indonesia dari ayat tersebut adalah “…Matahari, berhentilah di atas Gibeon dan engkau, Bulan, di atas lembah Ayalon !” Namun tim cendekiawan Ben Gurion berpendapat bahwa kata Ibrani “dom (do.wm)” (yang secara tradisional diterjemahkan sebagai “berhenti”) juga bisa diterjemahkan sebagai “menjadi gelap.” Sehingga terjemahannya bisa menjadi “…Matahari, menjadi gelap di atas Gibeon dan engkau, Bulan, di atas lembah Ayalon !” Dari terjemah ini muncul kesan bahwa pada saat itu Matahari dan Bulan hadir bersamaan di langit dengan Matahari menjadi gelap.

Dari sisi astronomi ada satu peristiwa langit yang bersesuaian dengan deskripsi tersebut, yakni Gerhana Matahari. Dengan kata lain, Pertempuran al-Jib yang mengambil tempat di dekat kota Yerusalem itu nampaknya bertepatan dengan peristiwa Gerhana Matahari dengan Yerusalem dan sekitarnya menjadi bagian dari wilayah gerhana, khususnya zona umbra atau antumbra.

Tim cendekiawan Ben Gurion lantas memutuskan menggali data Gerhana Matahari masa silam, khususnya melalui basisdata badan antariksa Amerika Serikat (NASA) yang legendaris di bawah tajuk Five Millenium (-1999 to +3000) Canon of Solar Eclipse Database. Basisdata ini memuat segala peristiwa Gerhana Matahari dalam kurun 5.000 tahun mulai dari tahun 2000 STU hingga tahun 3000 TU. Selama rentang waktu tersebut Bumi kita akan mengalami 11.898 peristiwa Gerhana Matahari, yang terdiri dari 4.200 Gerhana Matahari Sebagian, 3.956 Gerhana Matahari Cincin, 3.173 Gerhana Matahari Total dan 569 Gerhana Matahari Hibrid. Tim memutuskan untuk berkonsentrasi pada rentang waktu antara 1500 STU hingga 1000 STU. Mereka mendapati bahwa dalam rentang waktu tersebut, hanya ada tiga peristiwa Gerhana Matahari yang menjadikan kota Yerusalem dan sekitarnya dilintasi zona umbra atau antumbra. Yakni satu kejadian Gerhana Matahari Total dan dua kejadian Gerhana Matahari Cincin.

Dalam rentang waktu tersebut, peristiwa Gerhana Matahari yang paling menarik adalah Gerhana Matahari Cincin 30 Oktober 1207 STU. Dari kota Yerusalem dan sekitarnya, peristiwa langit ini terjadi pada sore hari dan dapat disaksikan hampir pada seluruh tahapnya. Awal gerhana terjadi pada pukul 15:07 waktu setempat saat Matahari berkedudukan 23,0º di atas horizon barat. Anularitas gerhana, yakni periode ketampakan bentuk cincin, mulai terjadi pada pukul 16:26 waktu setempat dan berlangsung hingga 5 menit kemudian (lebih detilnya 5 menit 13 detik). Puncak gerhana terjadi pada pukul 16:28 waktu setempat dengan tinggi Matahari 7,0º di atas horizon barat. Gerhana masih berlangsung kala Matahari terbenam pada pukul 17:05 waktu setempat, karena akhir gerhana terjadi pada pukul 17:39 waktu setempat. Durasi tampak dari Gerhana Matahari ini di kota Yerusalem dan sekitarnya adalah 1 jam 58 menit.

Gambar 4. Peta zona antumbra dalam wilayah Gerhana Matahari Cincin 30 Oktober 1207 STU. Nampak zona antumbra (lebar 360 kilometer) melintasi kota Yerusalem dan lingkungan sekitarnya, termasuk lokasi pertempuran al-Jib (Gibeon). Atas dasar inilah tim cendekiawan Universitas Ben Gurion menyimpulkan bahwa Pertempuran al-Jib terjadi pada tanggal itu. Sumber: Xavier Jubier, 2017 dengan basis NASA, 2006.

Gambar 4. Peta zona antumbra dalam wilayah Gerhana Matahari Cincin 30 Oktober 1207 STU. Nampak zona antumbra (lebar 360 kilometer) melintasi kota Yerusalem dan lingkungan sekitarnya, termasuk lokasi pertempuran al-Jib (Gibeon). Atas dasar inilah tim cendekiawan Universitas Ben Gurion menyimpulkan bahwa Pertempuran al-Jib terjadi pada tanggal itu. Sumber: Xavier Jubier, 2017 dengan basis NASA, 2006.

Peristiwa Gerhana Matahari Cincin ini membuat langit sore 30 Oktober 1207 STU di kota Yerusalem dan sekitarnya meremang lebih awal dibanding hari-hari normal. Langit setempat akan mulai terasa lebih gelap pada, katakanlah, pukul 16:30 waktu setempat. Puncak gerhana ini memang tidak menjadikan kota Yerusalem dan sekitarnya menjadi gelap gulita. Namun dengan intensitas sinar Matahari yang tiba di paras Bumi setempat tinggal 5 % dari normal pada saat puncak gerhana, jelas situasinya cukup remang-remang. Puncak gerhana juga akan menyajikan panorama unik saat Matahari terlihat sebagai cincin bercahaya yang ganjil, bukan sebagai lingkaran sangat terang yang menyilaukan mata. Jelas pemandangan ganjil ini akan menarik perhatian, termasuk pada kedua belah pasukan yang sedang bertempur di medan al-Jib.

Bagaimana peristiwa Gerhana Matahari pada Pertempuran al-Jib lantas ditafsirkan sebagai peristiwa ‘berhenti’-nya Matahari di jauh kemudian hari? David Dickinson, jurnalis di Universe Today, menduga persoalannya ada pada paham geosentrisme yang mendominasi dunia hingga abad ke-16 TU. Paham tersebut bertumpu pada Bumi sebagai pusat semesta dan pusat pergerakan segala benda langit. Demikian mendalamnya dominasi paham ini sehingga dua agama besar, yakni Kristen dan Islam, pun mengadopsinya di masa itu. Gereja mengadopsi geosentrisme karena, selain menyajikan tujuh buah langit yang ditempati setiap planet (termasuk Matahari dan Bulan) dengan masing-masing langit berbentuk bola sempurna sebagai refleksi kesempurnaan ilahiah, juga karena menyediakan ruang di luar bola bintang-bintang tetap untuk lokasi surga dan neraka. Maka ‘berhenti’-nya Matahari menjadi salah satu ‘bukti’ yang menyokong paham geosentrisme.

Gerhana Pagi di Kotasuci Madinah

Peristiwa gerhana dalam kisah kenabian juga terjadi pada era lebih kemudian, yakni pada masa Rasulullah Muhammad SAW. Tepatnya hanya beberapa bulan sebelum beliau wafat. Gerhana tersebut terjadi pada hari yang sama dengan wafatnya Ibrahim, putra Rasulullah SAW yang masih bayi. Wafatnya Ibrahim yang bersamaan dengan menggelapnya langit membuat sebagian penduduk kotasuci Madinah menduga-duga bahwa kedua peristiwa itu berhubungan. Ada juga yang menduga bahwa alam raya turut berduka. Mendengar hal itu, usai memakamkan putranya Rasulullah SAW pun menjelaskan peristiwa gerhana tidaklah berhubungan dengan hidup matinya seseorang. Karena Bulan dan Matahari adalah dua dari sekian banyak tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Dan Umat Islam agar segera berzikir dengan menunaikan shalat gerhana tatkala menyaksikan peristiwa gerhana.

Gambar 5. Perbandingan situasi lingkungan pada saat tahap awal sebuah gerhana (kiri) dengan pada saat puncak gerhana (kanan). Kejadian ini diabadikan pada peristiwa Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016, dimana di lokasi pemotretan di Karanganyar (Kebumen) hanya nampak sebagai gerhana sebagian. Situasi langit cerah. Peredupan semacam ini mudah dikenali khalayak ramai dalam gerhana, baik di masa kini maupun silam. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 5. Perbandingan situasi lingkungan pada saat tahap awal sebuah gerhana (kiri) dengan pada saat puncak gerhana (kanan). Kejadian ini diabadikan pada peristiwa Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016, dimana di lokasi pemotretan di Karanganyar (Kebumen) hanya nampak sebagai gerhana sebagian. Situasi langit cerah. Peredupan semacam ini mudah dikenali khalayak ramai dalam gerhana, baik di masa kini maupun silam. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gerhana yang terjadi pada saat wafatnya Ibrahim adalah Gerhana Matahari. Analisis astronomi, juga dengan menelaah Five Millenium (-1999 to +3000) Canon of Solar Eclipse Database memperlihatkan satu-satunya peristiwa Gerhana Matahari yang terjadi pada masa Rasulullah SAW tinggal di Madinah hingga wafatnya adalah Gerhana Matahari Cincin 27 Januari 632 TU. Kotasuci Madinah dan sekitarnya menjadi bagian dari wilayah gerhana ini, tepatnya bagian dari zona penumbranya. Sehingga yang terlihat hanyalah gerhana sebagian. Dari kotasuci Madinah dan lingkungan sekitarnya, gerhana ini akan dapat dilihat hanya dalam beberapa saat pasca terbitnya Matahari. Basisdata di atas memperlihatkan bahwa awal gerhana di kotasuci Madinah dan sekitarnya terjadi pada pukul 07:16 waktu setempat, saat Matahari hanyalah setinggi 0,9º dari horizon timur. Puncak gerhana terjadi pada pukul 08:29 waktu setempat, saat Matahari sudah setinggi 16,0º dari horizon timur.Dan gerhana berakhir pada pukul 09:54 waktu setempat kala Matahari sudah berkedudukan cukup tinggi, yakni 31,8º dari horizon timur. Persentase penutupan cakram Matahari di saat puncak gerhana mencapai 76,4 %. Sehingga intensitas sinar Matahari yang tiba di kotasuci Madinah dan sekitarnya tinggal 24 % saja dari normalnya pada saat puncak gerhana. Situasi ini jelas membuat suasana menjadi remang-remang yang mudah diindra oleh orang-orang.

Gambar 6.  Peta zona antumbra dalam wilayah Gerhana Matahari Cincin 27 Januari 632 TU. Nampak zona antumbra (lebar 70 kilometer) melintas jauh di selatan dari lokasi kotasuci Madinah. Garis kuning menandakan garis yang menghubungkan titik-titik yang mengalami Matahari terbit tepat pada saat awal gerhana. Kotasuci Madinah dan lingkungan sekitarnya hanya melihat gerhana sebagian yang dimulai hanya beberapa saat dari terbitnya Matahari. Sumber: Xavier Jubier, 2017 dengan basis NASA, 2006.

Gambar 6. Peta zona antumbra dalam wilayah Gerhana Matahari Cincin 27 Januari 632 TU. Nampak zona antumbra (lebar 70 kilometer) melintas jauh di selatan dari lokasi kotasuci Madinah. Garis kuning menandakan garis yang menghubungkan titik-titik yang mengalami Matahari terbit tepat pada saat awal gerhana. Kotasuci Madinah dan lingkungan sekitarnya hanya melihat gerhana sebagian yang dimulai hanya beberapa saat dari terbitnya Matahari. Sumber: Xavier Jubier, 2017 dengan basis NASA, 2006.

Konversi kalender memperlihatkan tanggal 27 Januari 632 TU bertepatan dengan tahun 10 H, yakni tahun terjadinya haji wada’ (haji perpisahan). Dalam haji wada’ itu Rasulullah SAW menerima sejumlah wahyu, salah satunya adalah perintah untuk menjadikan kalender Umat Islam (yang dikemudian hari dinamakan kalender Hijriyyah) sebagai kalender lunar murni, kalender yang sepenuhnya berbasis pergerakan Bulan. Sehingga setahun kalender Hijriyyah selalu terdiri dari 12 bulan tanpa ada lagi interkalasi (bulan kabisat atau bulan sisipan) yang dipraktikkan sebagai Naasi’ seperti sebelumnya.

Maka dapat disimpulkan bahwa tahun 10 H terdiri dari 12 bulan saja seperti tahun-tahun berikutnya sehingga 27 Januari 632 TU ekivalen dengan 29 Syawwal 10 H. Tarikh ath-Thabari menyebutkan Ibrahim lahir di sekitar bulan Zulhijjah 8 H, demikian halnya menurut Ibn Katsir dengan mengutip Ibn Saad. Maka pada saat wafatnya, Ibrahim berusia 21 bulan, angka yang sesuai dengan Tarikh ath-Thabari.

jib_tabel-gm-rasulullahsawSepanjang masa kenabiannya, Rasulullah SAW bersua dengan sembilan peristiwa Gerhana Matahari. Yakni empat Gerhana Matahari Total dan lima Gerhana Matahari Cincin. Lima peristiwa Gerhana Matahari terjadi tatkala Rasulullah SAW masih tinggal di kotasuci Makkah, sementara empat lainnya terjadi setelah berhijrah ke kotasuci Madinah.

Dan seluruh peristiwa gerhana tersebut menjadikan kotasuci Makkah dan Madinah hanya sebagai bagian dari zona penumbra saja. Namun dari sembilan Gerhana Matahari tersebut, kemungkinan besar hanya lima diantaranya yang benar-benar bisa diindra oleh orang-orang pada saat itu. Karena hanya kelima Gerhana Matahari inilah yang memiliki nilai persentase tutupan cakram Matahari yang cukup besar pada saat puncak gerhana terjadi. Dari kelimanya hanya satu yang terjadi pada saat Rasulullah SAW sudah tinggal di kotasuci Madinah, yakni Gerhana Matahari Cincin 27 Januari 632 TU. Sementara empat lainnya, masing-masing Gerhana Matahari Total 23 Juli 413 TU, Gerhana Matahari Cincin 21 Mei 616 TU, Gerhana Matahari Cincin 4 November 617 TU dan Gerhana Matahari Total 2 September 620 TU terjadi tatkala Rasulullah SAW masih tinggal di kotasuci Makkah.

Referensi :

Fred Espenak & Jean Meeus. 2006. Five Millenium (-1999 to +3000) Canon of Solar Eclipse Database. NASA/TP-2006-214141, Oktober 2006.

Dickinson. 2017. Ancient Annular, Dating Joshua’s Eclipse. Universe Today, 6 Feb 2017.