Yogyakarta dan Kepungan Gunung-Gemunung Berapi Purba

Uap panas mengepul dari satu sudut di dusun Kayen desa Sampang, kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul (DIY) mulai Kamis pagi 15 Februari 2017 (TU) Tarikh Umum lalu. Hingga beberapa hari kemudian uap masih mengepul. Bersamanya menguar pula aroma Belerang yang khas. Khalayak setempat pun dibuat resah. Terlebih setelah salah satu penyebab potensial, yakni arus listrik melalui grounding yang bocor, telah dapat dikesampingkan mengingat saat aliran listrik ke rumah pak Trisno Wiyono dimatikan, uap panas itu tetap mengepul dari sudut pekarangannya.

Apalagi titik keluarnya uap panas tersebut tidak terlalu jauh dari Gunung Nglanggeran, kompleks gunung berapi purba yang kini menjadi obyek wisata. Tersebar cerita yang konon dari masa silam, bahwa kawah Gunung Nglanggeran pada masanya adalah berada di dusun itu. Maka saat saling dikait-kaitkan, mudah saja mendatangkan kesan bahwa kepulan uap tersebut ada hubungannya dengan Gunung Nglanggeran.

Gambar 1. Lokasi titik kepulan uap panas di dusun Kayen desa Sampang kecamatan Gedangsari, Gunungkidul. Uap tersebut keluar di dekat sudut bangunan di latar depan. Uap lantas disalurkan ke ketinggian dengan pipa logam, setelah pipa PVC yang digunakan sebelumnya rusak dan melengkung oleh panasnya uap. Sumber: Kabar Handayani, 2017.

Gambar 1. Lokasi titik kepulan uap panas di dusun Kayen desa Sampang kecamatan Gedangsari, Gunungkidul. Uap tersebut keluar di dekat sudut bangunan di latar depan. Uap lantas disalurkan ke ketinggian dengan pipa logam, setelah pipa PVC yang digunakan sebelumnya rusak dan melengkung oleh panasnya uap. Sumber: Kabar Handayani, 2017.

Apakah gunung berapi purba itu aktif lagi?

BPPTKG (Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknik Kebencanaan Geologi), lembaga yang berkedudukan di Yogyakarta dan berada di bawah payung Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral RI pun menerjunkan timnya ke desa Sampang. Tim ini sangat berkompeten mengingat tugas BPPTKG salah satunya adalah mengamati segenap perilaku Gunung Merapi, baik dalam kondisi normal maupun meletus. Pengukuran temperatur menunjukkan tepat di titik keluarnya uap, suhu mencapai 68º C.

Suhu ini tergolong tinggi sehingga mampu melengkungkan pipa PVC yang dipasang warga untuk menyalurkan uap hingga ke ketinggian tertentu. Sebalikya dalam radius 2 meter dari titik tersebut, suhu telah merosot drastis menjadi tinggal 30º C atau hampir sama dengan suhu rata-rata setempat. Sementara pengukuran gas menunjukkan adanya konsentrasi gas CO2 yang sedikit lebih besar dibanding normal, yakni mencapai 1 % (pada udara normal 0,3 %). Analisis lebih lanjut dikerjakan dalam laboratorium setelah tim mengambil sampel air hasil kondensasi uap tersebut.

Apakah sebuah gunung berapi purba dapat ‘bangun’ kembali setelah mati?

Tanpa mendahului kerja tim BPPTKG, dapat dikatakan bahwa peluang ‘bangun’ kembalinya sebuah gunung berapi purba adalah serupa dengan peluang hidupnya kembali seekor dinosaurus di masa kini (setelah mereka terbabat habis 65 juta tahun silam). Dengan kata lain, amat sangat kecil sehingga praktis bisa dikatakan mustahil. Gunung berapi purba pada dasarnya adalah fosil gunung berapi. Sebagai fosil, ia dapat disetarakan dengan fosil dinosaurus.

Dulu, dulu sekali nun jauh di masa silam, pada waktu berjuta hingga berpuluh juta tahun silam, gunung berapi purba itu adalah gunung berapi yang aktif. Tentu saat itu ia rajin meletus layaknya Gunung Merapi masa kini.Namun pada satu waktu, gunung berapi itu mati seiring usianya. terutama setelah pasokan magma dari dapur magmanya terputus total oleh sebab tertentu. Sehingga magma yang masih tersisa dalam diatrema (saluran magma utama)-nya pun kehilangan dorongan untuk ke atas. Apalagi keluar lewat kawah.

Perlahan-lahan sisa magma ini mulai membeku, membentuk batuan beku seperti granit atau diorit atau sejenisnya secara perlahan-lahan. Pada saat yang sama keseimbangan alamiah yang selama ini menopang tubuh gunung berapi itu dalam menjaga bentuknya, yakni antara pasokan magma yang menyeruak sebagai lava dengan kikisan air sebagai erosi, pun berantakan. Tinggal satu sisi yang terus bekerja, yakni yang secara perlahan-lahan menyayat, mengukir dan mengikis selapis demi selapis tubuh gunung.

Proses perusakan tubuh gunung itu terus berlangsung selama ratusan ribu hingga jutaan tahun kemudian. Sehingga sebagian besar tubuhnya pun habis dikikis. Yang masih nampak hanyalah bukit batuan beku keras eks-diatrema yang disebut leher vulkanik atau sumbat vulkanik. Dan sisa-sisa kakinya. Inilah fosil gunung berapi.

Gambar 2. Perbandingan penampang melintang antara gunung berapi aktif (atas) dengan gunung berapi purba. Penampang gunung berapi purba terbagi lagi menjadi gunung berapi purba yang tererosi dalam tingkat dewasa (tengah) dan yang tererosi tingkat lanjut (bawah). Jika hanya dilihat sekilas, maka sangat sulit untuk membedakan gunung berapi purba baik tingkat dewasa maupun lanjut dengan bukit-bukit non vulkanik pada umumnya. Sumber: Bronto, 2012.

Gambar 2. Perbandingan penampang melintang antara gunung berapi aktif (atas) dengan gunung berapi purba. Penampang gunung berapi purba terbagi lagi menjadi gunung berapi purba yang tererosi dalam tingkat dewasa (tengah) dan yang tererosi tingkat lanjut (bawah). Jika hanya dilihat sekilas, maka sangat sulit untuk membedakan gunung berapi purba baik tingkat dewasa maupun lanjut dengan bukit-bukit non vulkanik pada umumnya. Sumber: Bronto, 2012.

Gunung berapi purba jelas berbeda dengan gunung berapi tidur (dorman). Berbeda dengan gunung berapi purba, gunung berapi tidur tidaklah mati. Ia hanya tertidur panjang, namun masih tetap terhubung dengan dapur magmanya. Meski diatrema-nya umumnya tersumbat oleh magma sisa yang masih setengah plastis dan panas (meski beberapa bagian mulai membeku dan membatu). Perubahan dalam dapur magma (misalnya akibat guncangan gempa) akan membuat magma segar mengandung lebih banyak gas sehingga bertekanan sangat tinggi.

Maka sumbat diatrema pun bisa ditembus dan magma segar akan keluar sebagai lava yang penuh gas dari kawah. Inilah yang terjadi dalam letusan-letusan dahsyat gunung berapi, termasuk tiga peristiwa legendaris: Letusan Samalas-Rinjani 1257, Letusan Tambora 1815, Letusan Krakatau 1883. Pada umumnya sebuah gunung berapi dikatakan ‘tertidur’ jika letusan terakhirnya terjadi kurang dari 10.000 tahun terakhir. Terkecuali dalam kasus gunung-gemunung berapi super seperti Gunung Toba yang bisa tertidur jauh lebih lama lagi sebelum beraksi.

Sebaliknya gunung berapi purba sudah benar-benar putus hubungan dengan dapur magmanya. Andaikata jauh dibawahnya masih terdapat dapur magma, maka peluang bagi magma segar untuk bisa menyeruak ke paras Bumi telah tertutup oleh keberadaan sumbat sangat keras dan sangat panjang yang mengisi diatremanya. Bila dapur magmanya terletak di kedalaman 10 kilometer, maka sepanjang itu pulalah diatrema tersumbat total oleh batuan beku yang sangat keras.

Gunung Nglanggeran

Tidak jauh dari desa Sampang terdapat bukit-bukit yang berdinding terjal dan tersusun oleh batuan pejal. Bukit-bukit tersebut menempati area seluas 48 hektar yang berada di desa Nglanggeran, kecamatan Patuk (Gunungkidul). Inilah Gunung Nglanggeran. Bukit-bukit batu pejal itu sesungguhnya leher vulkanik. Ilmu kebumian menyebutnya tersusun oleh batuan beku terobosan (intrusi), karena sesungguhnya magma yang membentuk leher vulkanik ini tidak pernah tersingkap di paras Bumi kala dalam proses pembentukannya. Ia sepenuhnya mendingin hingga membeku di dalam tanah, tatkala segenap tubuh gunung ini masih ada.

Gambar 3. Rekonstruksi kasar bentuk tubuh Gunung Nglanggeran pada saat masih sebagai gunung berapi aktif, tanpa skala dan dianggap berbentuk kerucut sempurna dengan kawah di puncaknya. Lokasi kawah segaris lurus dengan kompleks Gunung Nglanggeran masakini. Pada masa aktifnya, sebagian tubuh gunung berapi ini berada di bawah paras air laut. Dibuat berdasarkan citra Google StreetView dari satu titik di desa Serut, kec. Gedangsari (Gunungkidul) yang terletak di sebelah utara Gunung Nglanggeran. Sumber: Sudibyo, 2017 dengan basis Google StreetView, 2017.

Gambar 3. Rekonstruksi kasar bentuk tubuh Gunung Nglanggeran pada saat masih sebagai gunung berapi aktif, tanpa skala dan dianggap berbentuk kerucut sempurna dengan kawah di puncaknya. Lokasi kawah segaris lurus dengan kompleks Gunung Nglanggeran masakini. Pada masa aktifnya, sebagian tubuh gunung berapi ini berada di bawah paras air laut. Dibuat berdasarkan citra Google StreetView dari satu titik di desa Serut, kec. Gedangsari (Gunungkidul) yang terletak di sebelah utara Gunung Nglanggeran. Sumber: Sudibyo, 2017 dengan basis Google StreetView, 2017.

Dimanakah letak kawah gunung berapi purba ini (atau setidaknya sisa kawahnya)? Pada umumnya kawah gunung berapi terletak di puncak gunung sekaligus menjadi muara dari diatrema. Mengingat bukit-bukit batu itu adalah leher vulkanik Nglanggeran, maka logikanya kawah gunung berapi purba tersebut ada di ujung atas leher vulkaniknya. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Sutikno Bronto (2009, 2010), vulkanolog legendaris Indonesia, bahwa sebagian besar bukit-bukit batu itu tersusun oleh aglomerat.

Aglomerat adalah batuan produk letusan gunung berapi yang banyak mengandung bom gunung berapi, yakni bongkahan batuan beku yang ukurannya besar. Saat sebuah gunung berapi meletus, bom gunung berapi akan dilontarkan kuat-kuat dari dalam lubang letusan atau kawah, lantas jatuh bebas di sekitar kawah dalam jarak yang tak jauh. Sisa-sisa bom gunung berapi Nglanggeran ditemukan berbentuk mirip buah salak, dengan bagian runcing di sebelah atas sementara bagian yang besar dan berat di sisi bawah.

Maka anggapan bahwa kawah gunung berapi purba Nglanggeran berada di desa Sampang, yang berjarak beberapa kilometer dari leher vulkanik Nglanggeran, menjadi kurang tepat. Memang pada saat Gunung Nglanggeran masih aktif dalam berpuluh juta tahun silam, area yang kini menjadi desa Sampang kemungkinan merupakan bagian dari tubuh gunung berapi itu. Namun area ini bukanlah bagian dari kawasan yang bersinggungan atau berdekatan dengan diatrema gunung berapi tersebut, dengan segala dinamikanya.

Pengukuran umur batuan beku menunjukkan Gunung Nglanggeran adalah gunung berapi aktif pada masa sekitar 58 juta tahun silam. Jika dikaitkan dengan sejarah geologi pulau Jawa, jelas Gunung Nglanggeran merupakan gunung berapi laut. Bagian kakinya berdiri di atas dasar Samudera Indonesia (Indian Ocean) dengan sebagian tubuhnya mungkin terbasuh permanen dalam air laut. Apakah puncaknya menyembul di atas paras laut dan menjadi sebuah pulau vulkanis? Kita tidak tahu. Namun yang jelas, dalam kurun 58 juta tahun terakhir Gunung Nglanggeran telah mati. Pergerakan tektonik seiring dorongan lempeng Australia yang oseanik lantas mendorongnya lebih ke utara, untuk kemudian terangkat dari dasar samudera seiring terbentuknya pulau Jawa dan akhirnya menyatu dengan kompleks Pegunungan Selatan di sisi selatan Jawadwipa.

Isu Gunung Nglanggeran aktif kembali sebenarnya bukan hal yang baru. Saat Gunung Merapi meletus besar dalam Letusan Merapi 2010 di bulan November 2010 TU, sejumlah orang yang bertempat tinggal di sekitar Gunung Nglanggeran mengaku merasa ada getaran dan mendengar suara gemuruh. Bahkan ada juga yang mengaku melihat kepulan asap dari bukit-bukit batu itu. Evaluasi lebih lanjut memperlihatkan getaran dan suara gemuruh itu sejatinya berasal dari Gunung Merapi, yang berjarak sekitar 40 kilometer dari Gunung Nglanggeran. Letusan Merapi 2010 itu memang luar biasa dan berbeda dengan letusan-letusan Merapi sebelumnya. Sehingga suara gemuruhnya pun terdengar hingga jarak yang cukup jauh, demikian halnya getaran-getaran gempa vulkaniknya.

Gambar 4. Bebatuan mirip pilar-pilar yang saling bertumpuk di ujung Tanjung Karangbata, Kebumen (Jawa Tengah). Bebatuan ini kemungkinan adalah bagian dari leher vulkanik Gunung Manganti, salah satu gunung berapi purba di Tanjung Karangbolong. Bebatuan khas semacam ini dinamakan kekar kolom dan acap dijumpai di lingkungan gunung berapi purba khususnya di eks-diatrema dan cabang-cabangnya. Diabadikan oleh geolog Bambang Mertani. Sumber: Mertani, 2013.

Gambar 4. Bebatuan mirip pilar-pilar yang saling bertumpuk di ujung Tanjung Karangbata, Kebumen (Jawa Tengah). Bebatuan ini kemungkinan adalah bagian dari leher vulkanik Gunung Manganti, salah satu gunung berapi purba di Tanjung Karangbolong. Bebatuan khas semacam ini dinamakan kekar kolom dan acap dijumpai di lingkungan gunung berapi purba khususnya di eks-diatrema dan cabang-cabangnya. Diabadikan oleh geolog Bambang Mertani. Sumber: Mertani, 2013.

Dalam kondisi Gunung Nglanggeran seperti sekarang ini, apakah ia bisa aktif lagi? Peluangnya sangat kecil sehingga secara teknis bisa dikatakan mustahil. Leher vulkanik Nglanggeran merupakan ujung yang kasatmata dari batuan beku pejal sangat panjang yang menyumbat total diatrema gunung berapi purba tersebut. Mustahil bagi magma segar untuk bisa menjebolnya. Apalagi sebagai fluida, magma juga lebih menyukai untuk menembus/melewati titik-titik yang lebih lemah di kerak Bumi. Ketimbang harus bersusah-payah membobol batuan beku pejal yang sangat panjang yang menyumbat total diatrema Gunung Nglanggeran, mengapa tidak mencari titik yang lebih lemah disekitarnya?

Dalam bahasa yang lebih sederhana, andaikata saya adalah magma segar nun jauh di bawah Nglanggeran (pada kedalaman misalnya 30 kilometer), maka ketimbang susah-susah harus berjuang membobol sumbat sangat keras dan panjang di Nglanggeran, mengapa saya tidak sedikit beringsut ke utara saja dan keluar lewat Gunung Merapi?

Kepungan Gunung Berapi Purba

Pada aras yang lain, diskusi seputar Gunung Nglanggeran terkini dengan kepulan uap panas didekatnya membuat kita mau tak mau membuat kita menekuri kembali bumi Yogyakarta pada khususnya dan pulau Jawa bagian selatan pada umumnya dengan lebih cermat. Terutama terkait gunung berapi purba. Luar biasanya, dari perspektif ilmu kebumian, Yogyakarta boleh dikata sebagai kota yang ‘dikepung’ oleh gunung-gemunung berapi purba !

Gambar 5. Salah satu sudut Gunung Watuadeg, yakni gunung berapi purba yang berjarak cukup dekat dengan kota Yogyakarta. Diabadikan dari tepi timur Sungai Opak, nampak singkapan lava bantal di sisi barat dasar sungai dengan tampilan khasnya sebagai bongkah-bongkah batuan beku kehitaman yang saling terhubung. Diabadikan oleh Nova Aristianto pada 2014 TU. Sumber: Aristianto, 2014.

Gambar 5. Salah satu sudut Gunung Watuadeg, yakni gunung berapi purba yang berjarak cukup dekat dengan kota Yogyakarta. Diabadikan dari tepi timur Sungai Opak, nampak singkapan lava bantal di sisi barat dasar sungai dengan tampilan khasnya sebagai bongkah-bongkah batuan beku kehitaman yang saling terhubung. Diabadikan oleh Nova Aristianto pada 2014 TU. Sumber: Aristianto, 2014.

Mari lihat dua contoh berikut. Dari Yogyakarta, sempatkanlah menengok sudut kecil di sebelah tenggara Bandara Adisucipto dalam jarak tak lebih dari 5 kilometer. Susurilah jalan raya Berbah-Prambanan dari arah barat menuju lokasi situs Candi Abang. Di jalan ini anda akan melintasi jembatan Sungai Opak yang memiliki nama unik: Jembatan Gemblung. Lihatlah ke dasar sungai yang juga adalah batas antara desa Kalitirto (sisi barat) dan Jogotirto (sisi timur) di kecamatan Berbah (Sleman). Jika air surut, akan terlihat panorama bebatuan gamping di sisi timur sebaliknya di sisi barat terhampar bongkah-bongkah batuan beku membulat kehitaman yang saling terhubung. Bebatuan ini adalah lava bantal, maka lokasi ini populer sebagai Lava Bantal Geoheritage. Saat menatapnya, sadarkah bahwa anda sesungguhnya sedang berdiri di gunung berapi purba?

Gunung berapi purba itu adalah Gunung Watuadeg. Lava Bantal Geoheritage merupakan bagian dari tubuh gunung. Seluruh lava bantal itu memancar dari satu titik yang kini berupa bukit seukuran 75 x 50 meter2 dengan tinggi sekitar 15 meter yang terletak sejarak 150 meter di sebelah barat jembatan. Sisa-sisa sumbat vulkanik dijumpai di sisi selatan bukit yang bernama Bukit Sumberkulon ini. Analisis memperlihatkan Gunung Watuadeg aktif pada masa 57 juta tahun silam, atau sezaman dengan masa aktif Gunung Nglanggeran. Ia juga tumbuh di dasar Samudera Indonesia dan berdasar keberadaan lava bantalnya maka seluruh tubuhnya mungkin terendam air laut. Namun ukuran Gunung Watuadeg jauh lebih kecil ketimbang Gunung Nglanggeran.

Gambar 6. Bukit Gede (kiri) dan Bukit Gedang (kanan) di kecamatan Godean, Sleman (DIY). Dua bukit ini adaah bagian dari jejak gunung berapi purba yang dinamakan Gunung Godean. Diabadikan pada citra Google StreetView dari satu titik di jalan raya Godean-Seyegan. Sumber: Google StreetView, 2017.

Gambar 6. Bukit Gede (kiri) dan Bukit Gedang (kanan) di kecamatan Godean, Sleman (DIY). Dua bukit ini adaah bagian dari jejak gunung berapi purba yang dinamakan Gunung Godean. Diabadikan pada citra Google StreetView dari satu titik di jalan raya Godean-Seyegan. Sumber: Google StreetView, 2017.

Kembali ke Yogyakarta, dari tugu pal putih yang menjadi simbol kota ini, susurilah jalan raya ke arah barat hingga memasuki Jalan Godean. Susurilah terus ke barat hingga sejauh 6 kilometer, sampai bersua dengan sebuah pertigaan yang mengarah ke kiri dan ke kanan. Anda akan tiba di sebuah tempat yang juga bernama Godean dan menjadi bagian dari Kabupaten Sleman. Di sini anda akan bersua dengan sedikitnya 6 buah bukit yang letaknya saling berdekatan dan relatif lebih tinggi dibanding bukit-bukit kecil yang ada di sisi utaranya. Sekilas pandang tak ada yang istimewa dari keenam bukit ini. Namun bukit-bukit yang terlihat biasa saja ini sejatinya adalah sumbat vulkanik yang telah melapuk sebuah gunung berapi purba yang dinamakan Gunung Godean. Kapan Gunung Godean aktif di masa silam belum dapat diketahui dengan pasti.

Ada banyak gunung berapi purba yang bertebaran di sekitar Yogyakarta. Jika dibatasi pada yang telah diketahui umurnya seperti halnya Gunung Nglanggeran dan Gunung Watuadeg, kita bisa mulai dengan Gunung Parangtritis. Sesuai namanya, gunung berapi purba ini ‘duduk’ di lokasi obyek wisata pantai Parangtritis yang terkenal itu. Gunung berapi purba ini jauh lebih muda ketimbang Nglanggeran, yakni aktif sekitar 26 juta tahun silam. Namun ukuran tubuh gunungnya nampaknya serupa. Meski demikian dimana posisi sumbat vulkaniknya belum jelas. Lalu di sebelah utara Gunung Nglanggeran terserak jejak gunung berapi purba bertubuh raksasa, yang disebut Gunung Baturagung. Gunung berapi purba ini aktif antara 14 hingga 40 juta tahun silam. Di sebelah timur Gunung Baturagung, pada tempat yang kini menjadi bagian dari kota Wonogiri terdapat jejak gunung berapi purba lainnya yang tak kalah besarnya. Yakni Gunung Gajahmungkur, yang aktif antara 10 hingga 22 juta tahun silam.

Gambar 7. Lokasi gunung-gemunung berapi purba yang telah terpetakan dan dianalisis oleh sejumlah ilmuwan hingga saat ini. Gunung-gemunung berapi purba ditandai dengan lingkaran-lingkaran. Besar kecilnya lingkaran bergantung kepada dimensi tubuh gunung berapi purba yang bersangkutan. Pada sebagian gunung berapi purba tersebut disajikan pula umur relatifnya berdasarkan sampel batuan beku Sumber: Bronto, 2010 dalam Verdiansyah & Hartono, 2016.

Gambar 7. Lokasi gunung-gemunung berapi purba yang telah terpetakan dan dianalisis oleh sejumlah ilmuwan hingga saat ini. Gunung-gemunung berapi purba ditandai dengan lingkaran-lingkaran. Besar kecilnya lingkaran bergantung kepada dimensi tubuh gunung berapi purba yang bersangkutan. Pada sebagian gunung berapi purba tersebut disajikan pula umur relatifnya berdasarkan sampel batuan beku Sumber: Bronto, 2010 dalam Verdiansyah & Hartono, 2016.

Dari Gunung Gajahmungkur, jika kita bergerak ke selatan sejajar dengan garis tegak lurus sumbu orientasi pulau Jawa, kita akan bersirobok dengan Gunung Batur. Gunung berapi purba yang ‘duduk’ di obyek wisata Pantai Wediombo ini aktif sekitar 13 juta tahun silam dengan ukuran tubuh gunung setara Gunung Nglanggeran. Jajaran gunung-gemunung berapi purba pun menghiasi kaki langit Yogyakarta bagian barat. Dari Gunung Godean ke arah barat, kita akan bersua dengan Pegunungan Menoreh. Pegunungan ini sejatinya merupakan kompleks gunung berapi purba yang mencakup tiga gunung sekaligus. Masing-masing Gunung Menoreh, Gunung Ijo dan Gunung Gajah. Aktivitas vulkanik pada gunung-gunung tersebut terjadi dalam kurun antara 47 hingga 8 juta tahun silam. Dibanding gunung-gemunung berapi purba yang telah disebut sebelumnya, gunung berapi purba di Pegunungan Menoreh memiliki ukuran tubuh terbesar.

Sementara jika gunung-gemunung berapi purba yang belum diketahui umurnya seperti halnya Gunung Godean ditelusuri, jumlahnya akan membengkak lagi. Di antara Gunung Parangtritis dan Gunung Baturagung saja tercatat ada 4 gunung berapi purba yang belum diketahui umurnya. Salah satunya adalah Gunung Imogiri. Sementara di antara Gunung Gajahmungkur dan Gunung Batur terdapat 5 gunung berapi purba, salah satunya dinamakan Gunung Panggang.

Gambar 8. Busur vulkanik Jawa tua (garis merah putus-putus), yang terdiri dari gunung-gemunung berapi purba. Di sebelah utaranya terdapat busur vulkanik Jawa muda (garis kuning putus-putus), tempat gunung-gemunung berapi modern di pulau Jawa berada dengan sebagian besar diantaranya aktif. Sumber: Hall & Smyth, 2008 dalam Satyana, 2014.

Gambar 8. Busur vulkanik Jawa tua (garis merah putus-putus), yang terdiri dari gunung-gemunung berapi purba. Di sebelah utaranya terdapat busur vulkanik Jawa muda (garis kuning putus-putus), tempat gunung-gemunung berapi modern di pulau Jawa berada dengan sebagian besar diantaranya aktif. Sumber: Hall & Smyth, 2008 dalam Satyana, 2014.

Mayoritas gunung berapi purba di sekitar Yogyakarta pada masanya merupakan bagian dari busur vulkanik Jawa tua. Yakni jajaran gunung-gemunung berapi yang menjadi wajah aktivitas vulkanik pulau Jawa sejak 45 juta tahun silam. Aktivitas busur vulkanik tua itu dan mendadak berakhir pada masa sekitar 20 juta tahun silam, tanpa sebab yang jelas. Gunung-gemunung berapi yang lebih muda lantas terbentuk lebih ke utara dan membentuk busur vulkanik Jawa muda. Dalam busur vulkanik yang mulai aktif semenjak 5 juta tahun silam hingga kini terdapat 45 buah kerucut gunung berapi, yang membentang mulai dari Gunung Karang-Pulasari di barat (Banten) hingga Gunung Ijen di timur (Jawa Timur).

Selain menjadi artefak atas aktivitasnya sendiri di masa silam, gunung-gemunung berapi purba di sekitar Yogyakarta juga menjadi saksi bisu bagaimana sisi selatan pulau Jawa terangkat layaknya terdongkrak. Sehingga banyak dari gunung-gemunung purba yang semula tersembunyi dalam sepi di dasar Samudera Indonesia lantas terangkat dan muncul ke daratan. Selain sebagai bagian dari pengembangan ilmu pengetahuan terutama ilmu kebumian, eksistensi gunung-gemunung berapi purba juga bisa dikembangkan untuk menggamit minat publik akan eksotismenya. Gunung-gemunung berapi purba juga berpotensi memiliki nilai ekonomis tersendiri, mengingat sejumlah mineral barang tambang yang berharga (termasuk tembaga dan emas) berasosiasi dengan magma dan cairan hidrotermal dengan karakter tertentu yang telah membeku.

Referensi :

Kabar Handayani. 2017. Uap Panas Muncul dari Tanah di Gedangsari. Laman Kabar Handayani, diakses pada 21 Februari 2017.

Aristianto. 2014. Berhujan-hujan Ria ke Lava Bantal Berbah. Blog Tulisan Aris, diakses pada 21 Februari 2017.

DetikNews. 2010. BPPTK: Kecil Kemungkinan Gunung Purba Nglanggeran Meletus Kembali. Detik.com 11 November 2010, diakses pada 21 Februari 2017.

Bronto dkk. 2014. Longsoran Raksasa Gunung Api Merapi Yogyakarta-Jawa Tengah. Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral, vol. 15 no. 4 November 2014, hal. 165-183.

Verdiansyah & Hartono. 2016. Alterasi Hidrotermal Dan Mineralisasi Logam Berharga Di Cekungan Yogyakarta, Sebuah Pemikiran dari Kehadiran Sistem Hidrotermal Daerah Godean. Seminar Nasional ke-3 Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran, Bandung.

Debu Vulkanik Berhembus di Venus

Gunung Sinabung terus meraung. Memasuki separuh pertama tahun 2015 Tarikh Umum (TU) solah tingkah gunung berapi aktif yang berdiri di atas dataran Karo, propinsi Sumatra Utara, itu kian menjadi-jadi saja. Meski telah meletus hampir dua tahun lamanya, terhitung sejak Sinabung menyemburkan debu vulkanik pekatnya ke kegelapan udara Minggu dinihari 15 September 2013 TU, namun tak ada tanda-tanda Sinabung hendak beristirahat kembali. Sebaliknya letusan demi letusan yang mewujud dalam bentuk tumbuh dan gugurnya kubah lava terus terjadi secara berulang-ulang. Setiap guguran kubah lavanya memproduksi hempasan awan panas yang berkibar ke arah selatan dan tenggara. Dengan aktivitas yang tetap tinggi dan bahkan cenderung meningkat akhir-akhir ini, maka setelah lebih dari setahun berstatus Siaga (Level III) terhitung sejak 8 April 2014 TU, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang berkedudukan di bawah Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI memutuskan untuk menaikkan kembali status Gunung Sinabung ke level tertinggi. Yakni Awas (Level IV), semenjak 2 Juni 2015 TU. Peningkatan ini menjadikan Gunung Sinabung sebagai satu-satunya gunung berapi berstatus Awas (Level IV) di seantero Indonesia pada saat ini (hingga Juni 2015 TU).

Gambar 1.  Puncak Gunung Sinabung dengan dinamika kubah lavanya dalam selang waktu seminggu, diabadikan dari lokasi yang berbeda di kaki selatan. Pada 3 Juni 2015 TU, kubah lava Sinabung masih cukup buncit (kiri), namun pada 10 Juni 2015 TU sebagian diantaranya telah gugur (kanan). Sumber: Beidar Sinabung, 2015; Sadrach Peranginangin, 2015.

Gambar 1.
Puncak Gunung Sinabung dengan dinamika kubah lavanya dalam selang waktu seminggu, diabadikan dari lokasi yang berbeda di kaki selatan. Pada 3 Juni 2015 TU, kubah lava Sinabung masih cukup buncit (kiri), namun pada 10 Juni 2015 TU sebagian diantaranya telah gugur (kanan). Sumber: Beidar Sinabung, 2015; Sadrach Peranginangin, 2015.

Seakan hendak menyambut peningkatan statusnya, Gunung Sinabung terus membengkakkan volume kubah lavanya dengan penambahan rata-rata 100.000 meter kubik lava segar setiap harinya. Pada akhirnya kubah lava yang telah demikian membuncit pun mulai kehilangan stabilitasnya. Pada 13 Juni 2015 TU, sebagian mulai gugur dan memproduksi 10 kejadian awan panas relatif besar yang menghempas ke selatan dan tenggara hingga sejauh maksimum 3 kilometer. Bersamanya membumbung pula debu vulkanik setinggi 2 kilometer ke udara. Hujan debu sempat mengguyur hingga sejauh kota Medan. Letusan ini memaksa sekitar 200 jiwa warga Desa Sukanalu mengungsi. Secara keseluruhan Gunung Sinabung telah ‘memaksa’ 2.785 orang mengungsi. Masing-masing adalah penduduk Desa Guru Kinayan, Tiga Pancur, Pintu Besi, Berastepu dan Sukanalu. Disamping itu juga masih ada 6.179 orang yang tinggal di hunian sementara (huntara) semenjak Juni 2014 TU. Mereka adalah penduduk Desa Sukameriah, Bekerah, Simacem, Kuta Tunggal, Berastepu dan Gamber.

Gambar 2.  Salah satu dari 10 awan panas yang diluncurkan Gunung Sinabung pada 13 Juni 2015 TU. Ia berkibar ke arah selatan-tenggara hingga sejauh 3 kilometer dan membumbungkan debu vulkanik hingga setinggi 2 kilometer. Sumber: Sadrach Peranginangin, 2015.

Gambar 2.
Salah satu dari 10 awan panas yang diluncurkan Gunung Sinabung pada 13 Juni 2015 TU. Ia berkibar ke arah selatan-tenggara hingga sejauh 3 kilometer dan membumbungkan debu vulkanik hingga setinggi 2 kilometer. Sumber: Sadrach Peranginangin, 2015.

Selain membuat secara keseluruhan 8.964 orang tergusur dari tanah tumpah darahnya masing-masing yang terletak kaki selatan dan tenggara gunung, hingga akhir 2014 TU letusan Sinabung juga telah menyebabkan kerugian sangat besar. Yakni sekitar Rp 1.490 milyar. Harus dicatat bahwa angka kerugian ini belum termasuk potensi kerugian yang masih membayang seiring eksistensi sekitar 3 juta meter kubik material vulkanik lepas di sekujur tubuh Gunung Sinabung. Hujan deras mampu mengubah material vulkanik yang terakumulasi di sejumlah bagian lereng itu menjadi banjir lahar hujan. Seperti diketahui, lahar hujan memiliki daya rusak yang tak kalah ganas dibanding awan panas.

Venus

Selagi Indonesia terus diharu-birukan Gunung Sinabung dengan letusannya yang tak kunjung usai, gunung berapi aktif lainnya juga sedang mengguncang jagat astronomi saat ini. Gunung berapi aktif yang meletus itu berlokasi di dunia lain, di bagian lain tata surya kita. Yakni di Venus, planet tetangga terdekat ke Bumi. Gunung berapi Venus tersebut diduga meletus pada Juni 2008 TU atau tujuh tahun silam. Namun fakta terkait letusannya baru terkuak saat ini. Sekaligus membuktikan bahwa planet tetangga yang terlihat cantik namun sesungguhnya panas membara itu pun aktif secara geologis, layaknya Bumi.

Bagi umat manusia, Venus adalah bintang kejora. Ia kerap terlihat berbinar sangat terang di atas kaki langit barat kala senja selepas Matahari terbenam. Kerap juga ia terlihat di kala fajar di atas kaki langit timur sebelum Matahari terbit. Venus mendapatkan namanya yang megah mengingat ia adalah benda langit terterang ketiga setelah Matahari dan Bulan purnama. Bercahaya sangat terang dengan warna putih layaknya salju nan sejuk, Venus terlihat cantik dan indah dipandang. Sehingga aura feminin pun dilekatkan umat manusia padanya semenjak awal peradaban. Persepsi yang bertahan sangat lama ini sejatinya sangat bertolak belakang dengan realitas. Ya, Venus menjadi salah satu obyek yang mengesahkan adagium don’t judge a book by it cover (jangan menilai sebuah buku hanya berdasarkan sampulnya).

Gambar 3.  Permukaan Venus, diproyeksikan dalam globe, berdasarkan citra radar wahana antariksa takberawak Magellan. Tanda panah menunjukkan kawasan Alta Regio. Sumber: NASA, 1994.

Gambar 3.
Permukaan Venus, diproyeksikan dalam globe, berdasarkan citra radar wahana antariksa takberawak Magellan. Tanda panah menunjukkan kawasan Alta Regio. Sumber: NASA, 1994.

Penjelajahan antariksa ke Venus semenjak paruh kedua abad ke-20 TU membuktikan bahwa warna putih nan sejuk Venus hanyalah selimut bagi suasana menggidikkan yang terselubunginya. Ya, Venus ternyata adalah salah satu tempat terhoror dalam tata surya kita. Planet yang diameternya hanya 650 kilometer lebih kecil ketimbang Bumi ternyata adalah planet terpanas dalam tata surya, dengen temperatur permukaan rata-rata 462° Celcius. Atmosfernya pun demikian berat, dengan tekanan udara di permukaannya 92 kali lipat tekanan atmosfer Bumi kita. Udara yang berat itu hampir sepenuhnya berisikan gas karbondioksida, dengan komposisi hingga 96,5 %. Sisanya adalah campuran gas-gas nitrogen, sulfurdioksida, argon, uap air, karbon monoksida, helium dan neon. Hampir 80 % permukaan planet nan ganas ini merupakan bentanglahan yang dibentuk oleh bekuan lava Venus. Namun yang mengejutkan, tak satupun aliran lava Venus terkini yang pernah dijumpai wahana-wahana antariksa takberawak yang pernah dikirim ke sana. Hingga Juni 2015 TU ini.

Ganiki Chasma

Eugene Shalygin sedang mengompilasi citra-citra kanal inframerah yang diproduksi radas kamera VMC (Venus Monitoring Camera) dari wahana antariksa takberawak Venus Express saat matanya bersirobok hal tak biasa. Rutinitas yang dikerjakan astronom Jerman dan timnya itu merupakan bagian dari kolaborasi internasional untuk menciptakan peta emisi termal permukaan Venus. Agar bisa menembusi atmosfer Venus nan tebal itu, mereka harus memanfaatkan radas kamera yang bekerja pada sepktrum sinar inframerah. Dan Venus Express memang mengangkut kamera semacam itu. Diorbitkan badan antariksa gabungan negara-negara Eropa (ESA) ke Venus pada 9 November 2005 TU silam dari kosmodrom Baikonur, semula Venus Express hanya dirancang untuk bekerja selama 2 tahun saja. Faktanya, ia sanggup bertugas hingga lebih dari 9 tahun kemudian, hingga sinyal terakhir darinya diterima stasiun bumi ESA per 18 Januari 2015 TU sebelum Venus Express menjatuhkan diri ke permukaan Venus seiring habisnya bahan bakarnya.

Gambar 4. Lembah retakan besar Ganiki Chasma di kawasan Alta Regio, Venus. Diabadikan dengan citra radar Magellan. Sumber: NASA, 1994.

Gambar 4.
Lembah retakan besar Ganiki Chasma di kawasan Alta Regio, Venus. Diabadikan dengan citra radar Magellan. Sumber: NASA, 1994.

Hal takbiasa yang dijumpai Shalygin berada di kawasan Alta Regio, tepatnya di Ganiki Chasma. Citra radar wahana takberawak Magellan milik NASA (Amerika Serikat), yang mengorbit Venus antara 1989 hingga 1994 TU, memperlihatkan Ganiki Chasma adalah lembah retakan besar mirip Laut Merah di Bumi. Di Bumi kita, lembah retakan besar merupakan produk peregangan kerak bumi setempat seiring membumbungnya magma dari lapisan selubung mengikuti arus konveksi. Bumbungan magma nantinya akan mendorong kerak bumi sebelah menyebelah jalur yang meregang tersebut ke arah saling berlawanan sebagai dua lempeng tektonik terpisah. Proses ini akan memperlebar dimensi lembah retakan secara perlahan-lahan hingga kelak akan cukup luas dan dibanjiri air laut sebagai samudera baru. Inilah yang sedang terjadi di Laut Merah semenjak 30 juta tahun terakhir. Membumbungnya magma juga bisa meluapkannya ke sejumlah titik di dalam regangan, hingga membentuk gunung-gemunung berapi unik yang mirip tameng sebagai produk pendinginan lava sangat encer/cair. Gunung Erta Ale (Ethiopia) dengan danau lavanya adalah salah satu dari gunung unik yang sejalur dengan lembah retakan Laut Merah.

Gambar 5. Dinamika pancaran panas di Obyek A dalam pantauan kamera VMC Venus Express antara Juni hingga Oktober 2008 TU. Obyek A adalah salah titik yang diduga merupakan gunung berapi di dalam lembah retakan Ganiki Chasma. Sumber: Shalygin dkk, 2015.

Gambar 5.
Dinamika pancaran panas di Obyek A dalam pantauan kamera VMC Venus Express antara Juni hingga Oktober 2008 TU. Obyek A adalah salah titik yang diduga merupakan gunung berapi di dalam lembah retakan Ganiki Chasma. Sumber: Shalygin dkk, 2015.

Pada peta emisi termal permukaan Venus yang sedang dikerjakannya, Shalygin mendapati sejumlah titik dalam Ganiki Chasma nampak lebih panas. Namun hanya dalam beberapa hari kemudian temperaturnya telah mendingin kembali. Naik turunnya temperatur tersebut nampak jelas misalnya dalam citra 22 Juni dan 24 Juni 2008 TU bagi titik yang disebut Shalygin sebagai Obyek A. Tutupan awan di atas Ganiki Chasma saat Venus Express mencitra kawasan ini membuat Obyek A terlihat cukup lebar, dengan diameter sekitar 100 kilometer. Namun Shalygin dan timnya percaya ukuran Obyek A sejatinya cukup kecil, berkisar 1 kilometer persegi. Pada puncaknya, Obyek A melepaskan material bersuhu hingga 830° Celcius. Suhu setinggi ini mirip dengan suhu lava segar yang baru saja dimuntahkan gunung berapi daratan (andesitik) di Bumi. Obyek A hanyalah salah satu titik saja di antara empat titik yang dideteksi Shalygin dan timnya. Tiga lainnya masing-masing adalah Obyek B, Obyek C dan Obyek D.

Gambar 6. Keempat titik yang diduga gunung berapi aktif dalam lembah retakan Ganiki Chasma. Masing-masing Obyek A, Obyek B, Obyek C dan Obyek D. Sumber: Shalygin dkk, 2015.

Gambar 6.
Keempat titik yang diduga gunung berapi aktif dalam lembah retakan Ganiki Chasma. Masing-masing Obyek A, Obyek B, Obyek C dan Obyek D. Sumber: Shalygin dkk, 2015.

Selain deteksi titik-titik bersuhu tinggi yang mungkin merupakan ekspresi luapan lava Venus, Shalygin dan timnya juga mendapati perubahan signifikan dalam atmosfer Venus. Sepanjang 1985 hingga 1995 TU konsentrasi gas sulfurdioksida di atmosfer Venus bervariasi di antara 50 hingga 100 bpm (bagian per milyar) volume, berdasarkan pengukuran dengan Pioneer Venus dan wahana antariksa takberawak generasi berikutnya. Namun pengukuran sejenis oleh Venus Express menunjukkan lonjakan kadar sulfurdioksida yang cukup signifikan pada 2007-2008 TU hingga hampir 400 bpm. Membutuhkan waktu antara 3 hingga 4 tahun kemudian agar kadar sulfurdioksida di atmosfer Venus meluruh hingga menyentuh kembali angka 50 bpm. Di Bumi, lonjakan kadar gas sejenis di atmosfer selalu berhubungan dengan aktivitas vulkanisme dalam rupa letusan gunung berapi.

Jadi, apakah ada gunung berapi aktif di Venus? Apakah gunung berapi tersebut pernah/sedang meletus? Jawabannya masih mungkin. Kemungkinan eksistensi gunung berapi aktif di venus akan mendatangkan banyak pertanyaan lebih lanjut. Misalnya, bagaimana gunung berapi itu mendapatkan pasokan magmanya? Bagaimana kadar keenceran lava segar yang dimuntahkannya? Dan apakah gunung api aktif di Venus merupakan produk vulkanisme yang berkaitan dengan sistem lempeng tektonik layaknya di Bumi?

Gambar 7.  Gunung berapi Erta Ale (Ethiopia). Puncaknya berelevasi 613 meter dpl dan berbentuk rupa kaldera lonjong berukuran 700 x 1.600 meter yang terdiri dari dua kawah dan masing-masing memiliki danau lava. Danau lava selatan (kanan) masih terus aktif hingga kini. Gunung Erta Ale adalah gunung berapi yang berdiri di atas lembah retakan besar terusan Laut Merah. Ada kemungkinan gunung-gunung berapi di Ganiki Chasma di Venus bersifat seperti Gunung Erta Ale. Sumber: Global Volcanism Program, 2015.

Gambar 7.
Gunung berapi Erta Ale (Ethiopia). Puncaknya berelevasi 613 meter dpl dan berbentuk rupa kaldera lonjong berukuran 700 x 1.600 meter yang terdiri dari dua kawah dan masing-masing memiliki danau lava. Danau lava selatan (kanan) masih terus aktif hingga kini. Gunung Erta Ale adalah gunung berapi yang berdiri di atas lembah retakan besar terusan Laut Merah. Ada kemungkinan gunung-gunung berapi di Ganiki Chasma di Venus bersifat seperti Gunung Erta Ale. Sumber: Global Volcanism Program, 2015.

Yang jelas, jika keempat titik di dalam Ganiki Chasma benar-benar merupakan gunung berapi aktif, Venus akan berdiri bersama Bumi dan Io dalam jajaran benda langit anggota tata surya kita yang mengalami peristiwa vulkanisme panas. Yakni jenis vulkanisme yang menyemburkan material vulkanik bersuhu sangat tinggi hingga mampu melelehkan batu.

Referensi :

Shalygin dkk. 2015. Active volcanism on Venus in the Ganiki Chasma rift zone. Geophysical Research Letter, June 17th 2015.

Global Volcanism Program. 2015. Erta Ale. Smithsonian Institution.

Letusan Gunung Slamet, Antara Mitos dan Realitas

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM yang berkedudukan di Bandung menaikkan status aktivitas Gunung Slamet (Jawa Tengah) dari semula Aktif Normal (Level I) menjadi Waspada (Level II) semenjak Senin 10 Maret 2014 pukul 21:00 WIB. Peningkatan status dilaksanakan setelah Gunung Slamet mengalami lonjakan kegempaan vulkanik. Dari 1 hingga 10 Maret 2014 pukul 13:00 telah terjadi 1.650 gempa hembusan, 1 gempa vulkanik dalam dan 13 gempa vulkanik dangkal di Gunung Slamet. Gempa hembusan menjadi pertanda pelepasan gas vulkanik di dalam tubuh gunung, sementara gempa vulkanik dalam adalah indikator aliran fluida (magma ataupun gas) di perutbumi jauh di bawah tubuh gunung yang sedang bergerak menuju kantung magma dangkal. Dan gempa vulkanik dangkal menjadi pertanda aliran fluida dari kantung magma dangkal menuju kawah namun dengan kedalaman lebih besar dibanding sumber gempa hembusan.

Gambar 1. Gunung Slamet di kala senja senin 10 Maret 2014 pukul 18:07-18:15 WIB dari arah tenggara, diabadikan oleh Sabet Martian Fatrurrizal dari Desa Mangunegara, Kec. Mrebet (Purbalingga). Sumber: Fatrurrizal, 2014.

Gambar 1. Gunung Slamet di kala senja senin 10 Maret 2014 pukul 18:07-18:15 WIB dari arah tenggara, diabadikan oleh Sabet Martian Fatrurrizal dari Desa Mangunegara, Kec. Mrebet (Purbalingga). Sumber: Fatrurrizal, 2014.

Peningkatan status Gunung Slamet membawa konsekuensi adanya zona terlarang hingga sejauh 2 km dari kawah. Peningkatan ini mengejutkan Jawa Tengah khususnya eks-karesidenan Banyumas yang berada di bawah bayang-bayang gunung berapi aktif tersebut. Terlebih kenangan akan dahsyatnya letusan Gunung Kelud (Jawa Timur) yang membuat Jawa Tengah bagian selatan dibedaki debu tebal pada 14 Februari 2014 lalu masih kuat mencekam. Pun demikian saat Gunung Merapi (Jawa Tengah-DIY) meletus besar pada 2010 lalu. Apalagi kemudian Gunung Slamet menghembuskan debu vulkaniknya hingga beratus meter ke udara dari kawah, lantas menghujani lereng gunung sektor timur dan utara sebagai hujan debu tipis. Berikutnya Gunung Slamet bahkan memancurkan lava-nya ke udara menyerupai kembang api yang terlihat jelas kala malam. Pancuran itu menghambur hingga sejauh 100-200 meter dari kawah. Tak ayal, peningkatan status Gunung Slamet segera diikuti melonjaknya kegelisahan publik. Aneka rumor tak berdasar pun berkesiur lewat pesan singkat maupun broadcast. Terlebih Gunung Slamet pun berbalut sekian mitos. Salah satunya mengatakan jika gunung berapi ini meletus, maka letusannya bakal demikian besarnya sehingga sanggup membelah pulau Jawa.

Agung dan Luhur

Gunung Slamet adalah sebuah gunung berapi aktif yang menjulang setinggi 3.428 meter dpl (dari permukaan laut), menjadikannya gunung berapi aktif tertinggi di propinsi Jawa Tengah sekaligus gunung berapi aktif tertinggi kedua di pulau Jawa setelah Gunung Semeru (Jawa Timur). Gunung Slamet juga merupakan ujung terbarat dari jajaran gunung-gemunung berapi yang menghiasi daratan Jawa Tengah dan menjadi batas wilayah dari lima kabupaten, masing-masing Purbalingga, Banyumas, Brebes, Tegal dan Pemalang,

Gunung berapi ini merupakan satu-satunya gunung berapi di pulau Jawa dan bahkan di Indonesia yang namanya beraroma Islam. Nama Slamet berasal dari kata “Salamatan” dalam Bahasa Arab, yang bermakna “keselamatan.” Nama “Slamet” diduga baru disematkan pada gunung berapi ini 5 abad silam, kala pengaruh agama Islam mulai merasuk di Jawa Tengah bagian selatan. Sebelumnya ia menyandang nama Gunung Agung, seperti tertera dalam naskah Perjalanan Bujangga Manik. Naskah kuno berbahasa Sunda ini mengisahkan penjelajahan Prabu Jaya Pakuan atau Bujangga Manik, seorang bangsawan Pakuan Pajajaran sekaligus brahmana yang mengelilingi Jawa dan Bali yang terjadi di sekitar awal 1500-an dan kini tersimpan di perpustakaan Bodleian, Universitas Oxford (Inggris). Sumber lain menyebut nama gunung berapi tersebut semula adalah Pasir Luhur, sebuah nama bercorak Sunda yang bermakna mirip dengan Gunung Agung (pasir = bukit/gunung). Nama Pasir Luhur menjadi pertanda bahwa kawasan ini mendapatkan pengaruh budaya Sunda. Tapalbatas budaya Sunda dan Jawa membentang dari Cipamali di utara (kini Sungai Pemali di kabupaten Brebes) melintasi Gunung Agung (Gunung Slamet) hingga ke Cisarayu di selatan (kini Sungai Serayu di Kabupaten Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas dan Cilacap). Sebuah kerajaan kecil bernama kerajaan Pasir Luhur bahkan sempat berdiri di kaki gunung berapi ini, dengan ibukota di sisi barat kota Purwokerto masakini

Gambar 2. Topografi Gunung Slamet berdasarkan citra Google Maps classic mode terrain. Nampak tubuh Slamet tua yang berpuncak di igir Cowet dan tubuh Slamet muda yang berpuncak di puncak Slamet dengan kawah aktifnya. Nampak pula lembah besar yang membuka ke arah Guci dari kawah, yang diduga adalah jejak letusan lateral masa silam. Beberapa obyek wisata di sekitar lereng dan kaki gunung adalah kawasan Baturaden, Guci (pemandian air panas) dan Waduk Penjalin. Kawah Gunung Slamet berjarak mendatar masing-masing 20 dan 21 km terhadap kota Purwokerto dan Purbalingga. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan peta dari Google Maps.

Gambar 2. Topografi Gunung Slamet berdasarkan citra Google Maps classic mode terrain. Nampak tubuh Slamet tua yang berpuncak di igir Cowet dan tubuh Slamet muda yang berpuncak di puncak Slamet dengan kawah aktifnya. Nampak pula lembah besar yang membuka ke arah Guci dari kawah, yang diduga adalah jejak letusan lateral masa silam. Beberapa obyek wisata di sekitar lereng dan kaki gunung adalah kawasan Baturaden, Guci (pemandian air panas) dan Waduk Penjalin. Kawah Gunung Slamet berjarak mendatar masing-masing 20 dan 21 km terhadap kota Purwokerto dan Purbalingga. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan peta dari Google Maps.

Selain pengaruh agama, transformasi nama Gunung Agung ataupun Pasir Luhur menjadi Gunung Slamet nampaknya juga didasari pesan mitigasi bagi masa depan, mengingat nama baru yang bermakna keselamatan tersebut mungkin berlatarbelakang terjadinya peristiwa kehancuran (bencana) akibat letusan gunung berapi tersebut. Kemungkinan ini ditunjang dengan adanya endapan lahar yang tebal dan menutupi kawasan cukup luas di kaki gunung sektor selatan, tempat dimana kota besar Purwokerto dan kota kecil Wangon kini berdiri. Letusan yang menghasilkan endapan lahar seluas itu jelas berkualifikasi letusan besar dan kemungkinan berdampak pada peradaban manusia disekelilingnya pada saat itu, bahkan mungkin melenyapkan kerajaan kecil Pasir Luhur dari panggung sejarah. Letusan besar itu pula mungkin yang melahirkan mitos bahwa letusan (besar) Gunung Slamet selanjutnya bakal membelah pulau Jawa. Meski kata-kata “membelah pulau Jawa” ini sebaiknya dipahami secara simbolis, mengingat Gunung Slamet sendiri memang berdiri di atas garis tapalbatas tak kasat mata yang membelah pulau Jawa menjadi dua bagian utama, yakni yang bercorak budaya Sunda di sisi barat dan yang bercorak budaya Jawa di sisi timur. Tentu saja dibutuhkan penyelidikan lebih lanjut dan multidisplin ilmu guna mengetahui apakah anggapan ini benar atau tidak.

Kaldera

Secara geologis tubuh Gunung Slamet terdiri dari tubuh Slamet tua dan muda. Tubuh Slamet tua mencakup bagian sebelah barat dan mudah dikenali dalam citra satelit seperti dalam Google Maps classic mode terrain, karena terlihat kasar dan dipenuhi dengan lembah-lembah dalam hasil pahatan air terus-menerus selama berabad-abad. Titik tertingginya adalah Igir Cowet (puncak Cowet) dengan elevasi 2.539 meter dpl. Igir Cowet sekaligus menjadi titik tertinggi dari lengkungan yang mengesankan sebagai bagian kawah Slamet tua yang bergaris tengah sekitar 6 km, sehingga berkualifikasi sebagai kaldera (kawah raksasa). Sebagian besar lengkungan kaldera ini tertimbun di bawah tubuh Slamet muda yang juga mewarnai sisi timur Gunung Slamet. Berbeda dengan tubuh Slamet tua, tubuh Slamet muda terlihat lebih mulus dalam citra satelit. Hal ini karena tubuh Slamet muda masih terus menerima lontaran material vulkanik produk aktivitas Gunung Slamet. Kecuali di lereng sebelah timur dan timur laut dimana terlihat sejumlah tonjolan mirip bisul. Tubuh Slamet muda berpuncak pada puncak Slamet saat ini yang sekaligus menjadi titik tertinggi dari gunung berapi ini.

Kaldera di tubuh Gunung Slamet mengesankan gunung berapi ini pernah meletus besar, mungkin ribuan hingga puluhan ribu tahun silam. Hal ini diperkuat dengan adanya lembah besar yang mengarah ke barat laut dari kaldera hingga ke kawasan kaki gunung di sekitar pemandian air panas Guci. Tepat di ujungnya lembah besar ini berhadapan dengan perbukitan besar. Maka dapat diperkirakan letusan besar Gunung Slamet di masa silam bertipe letusan terarah/mendatar (directed/lateral) menuju ke barat laut. Letusan lateral merupakan kombinasi dari magma yang terus mendesak dalam tubuh sebuah gunung berapi dengan ukuran tubuh gunung yang terlalu tinggi dan tambun. Keduanya menciptakan titik-titik lemah di salah satu sektor lereng gunung sehingga kemudian terjadilah rapun/longsoran berskala gigantis yang diikuti hempasan rempah vulkanik berkekuatan tinggi secara mendatar. Material longsoran lantas akan menggunduk di kaki gunung, menghasilkan perbukitan yang khas. Letusan lateral selalu mengubah wajah gunung berapi secara dramatis dengan ciri utama adalah kaldera tapal kuda. Letusan ini sangat jarang terjadi, namun menjadi tahapan yang kerap dilewati gunung-gemunung berapi di Indonesia karena berdiri di atas sedimen yang lunak. Indonesia terakhir kali menyaksikan letusan lateral pada Gunung Papandayan di tahun 1772. Jauh hari sebelumnya letusan yang sama juga terjadi di Gunung Galunggung sekitar 4.000 tahun silam, yang menghasilkan kompleks perbukitan Sapuluh Rebu di sekitar kota Tasikmalaya. Di Jawa Tengah, letusan serupa di masa silam pernah terjadi di Gunung Telomoyo dan Gunung Merapi serta kemungkinan juga pernah terjadi di Gunung Sindoro dan Sumbing.

Gambar 3. Pancuran lava yang menyerupai kembang api sebagai pertanda letusan tipe Strombolian pada saat Gunung Slamet meletus di April-Mei 2009 silam, diabadikan oleh Th Boeckel dan M. Rietze langsung dari bibir kawah IV. Sumber: Boeckel & Rietze, 2009.

Gambar 3. Pancuran lava yang menyerupai kembang api sebagai pertanda letusan tipe Strombolian pada saat Gunung Slamet meletus di April-Mei 2009 silam, diabadikan oleh Th Boeckel dan M. Rietze langsung dari bibir kawah IV. Sumber: Boeckel & Rietze, 2009.

Pasca letusan lateralnya, Gunung Slamet kembali tumbuh dan beraktivitas meski dalam skala lebih kecil dan terpusat di sisi kaldera bagian timur. Aktivitas terus berlangsung hingga membentuk kerucut vulkanis baru yang kian meninggi dan pada akhirnya menutupi sebagian kaldera tapal kuda hingga menjadi puncak Gunung Slamet yang baru seperti terlihat di masa kini, sekaligus membentuk tubuh Slamet muda. Puncak Slamet terdiri dari empat buah kawah dengan kawah aktif masa kini adalah kawah IV yang terletak di sisi barat daya. Selain lewat kawah di puncak, di masa silam Gunung Slamet juga pernah mewujudkan aktivitas vulkaniknya melalui letusan-letusan di lereng khususnya lereng timur laut-timur-tenggara. 35 tonjolan mirip bisul di area ini merupakan jejak aktivitas letusan lereng, yang menghasilkan gundukan membukit sebagai kerucut debu (cinder cone) dengan beraneka ragam ukuran, mulai dari yang volumenya 12 juta meter kubik hingga 7,9 milyar meter kubik. Jejak-jejak kerucut debu ini sekaligus menjadi pertanda kecenderungan berpindahnya pusat aktivitas Gunung Slamet dari timur laut menuju barat daya.

Letusan Masa Kini

Catatan tentang letusan Gunung Slamet telah ada semenjak tahun 1772 hingga sekarang. Sepanjang lebih dari dua abad terakhir, Gunung Slamet telah meletus sebanyak 38 kali (termasuk letusan tahun ini). Masa istirahatnya, yakni selang waktu di antara dua letusan yang berurutan, bervariasi mulai dari yang terpendek hanya 1 tahun hingga yang terpanjang sampai 53 tahun. Tiap kali meletus, Gunung Slamet hanya menghamburkan debu vulkanik dengan ketinggian beberapa ratus hingga 1-2 km dari puncak untuk kemudian menghujani lereng dan kaki gunungnya. Pada Letusan Slamet 1904, 1923, 1926, 1927, 1928, 1929, 1930, 1932 dan 1934, semburan debu vulkanik juga diikuti dengan mengalirnya lava walaupun volumenya cukup kecil sehingga radius penjalarannya pendek. Lava kembali keluar dalam letusan 1971 dan 2009 sebagai pancuran lava mirip kembang api. Masing-masing letusan Gunung Slamet yang tercatat memiliki skala letusan yang tergolong kecil, yakni hanya 2 VEI (Volcanic Explosivity Index) sehingga hanya memuntahkan rempah vulkanik dalam jumlah kurang dari 10 juta meter kubik. Angka ini tergolong kecil untuk ukuran letusan gunung berapi di Indonesia pada umumnya, katakanlah jika dibandingkan dengan Letusan Galunggung 1982-1983 (300 juta meter kubik), maupun Letusan Merapi 2010 (150 juta meter kubik) dan Letusan Kelud 2014 (120 juta meter kubik).

Gambar 4. Kawasan terlarang kala Gunung Slamet berstatus Waspada (Level II) dalam warna merah. Kawasan ini beradius 2 km dari kawah ditambah radius 5 km (sektor barat laut) dan 4 km (utara) dari kawah khusus untuk lembah-lembah besar yang terhubung langsung dengan kawah. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan peta dari Google Maps dan data dari PVMBG.

Gambar 4. Kawasan terlarang kala Gunung Slamet berstatus Waspada (Level II) dalam warna merah. Kawasan ini beradius 2 km dari kawah ditambah radius 5 km (sektor barat laut) dan 4 km (utara) dari kawah khusus untuk lembah-lembah besar yang terhubung langsung dengan kawah. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan peta dari Google Maps dan data dari PVMBG.

Letusan Slamet 2009 yang terjadi sepanjang April hingga Mei 2009 menjadi gambaran kecilnya skala letusan gunung berapi ini. Pada dasarnya saat sebuah gunung berapi bersiap meletus, magma segar mulai memasuki kantung magma dangkal tepat di dalam tubuh gunung sehingga tubuh gunung mulai membengkak. Pembengkakan ini dapat diukur dengan pengukuran deformasi di sekitar puncak menggunakan instrumen EDM (electronic distance measurement) ataupun perubahan kemiringan lereng yang diukur menggunakan tiltmeter. Dari pengukuran EDM diketahui bahwa kantung magma dangkal Slamet terletak pada kedalaman 3 km di bawah puncak. Dan letusannya selama bulan April-Mei 2009 itu memuntahkan rempah vulkanik sebanyak 1,5 juta meter kubik. Bandingkan dengan letusan Gunung Sinabung, yang hingga Januari 2014 telah memuntahkan 2,4 juta meter kubik rempah vulkanik. Mayoritas rempah vulkanik Gunung Slamet disemburkan sebagai debu vulkanik, sementara sisanya berupa lava yang dipancurkan setinggi 100 hingga 400 meter dan kemudian berjatuhan di dalam dan sekitar kawah. Letusan yang memancurkan lava seperti ini merupakan letusan tipe Strombolian dan dikenal sebagai letusan pembangun tubuh gunung. Karena rempah vulkanik yang dimuntahkannya hanya mengendap di sekitar kawah dana lama kelamaan kian meninggi. Letusan Strombolian pada Gunung Slamet menjadi indikasi bahwa tekanan gas vulkanik yang menggerakkan letusan gunung berapi ini tergolong kecil.

Bagaimana dengan letusan 2014 ini? PVMBG masih melakukan pengukuran EDM hingga beberapa waktu ke depan. Namun berdasar dinamika kegempaan vulkanik dan pengamatan langsung, terlihat bahwa letusan Gunung Slamet kali ini pun berupa letusan Strombolian. Setiap gempa vulkanik dangkal di Gunung Slamet langsung diimbangi dengan hembusan asap dan debu yang ketinggiannya bervariasi. Fenomena ini menunjukkan bahwa gas-gas vulkanik dalam tubuh gunung Slamet tak sempat terakumulasi dan langsung dilepaskan ke udara bebas sebagai hembusan asap. Ini adalah kabar baik, sebab dengan demikian Gunung Slamet tak sempat menghimpun tenaga dalam jumlah besar. Sehingga potensi terjadinya letusan besar dalam waktu dekat adalah sangat kecil. Kabar baik berikutnya, Gunung Slamet juga tak sempat menghimpun lava dalam jumlah besar sehingga potensi timbulnya awan panas (aliran piroklastika), yakni luncuran material vulkanik bersuhu tinggi mengikuti alur-alur lembah di lereng gunung sektor tertentu, juga sangat kecil.

Gambar 5. Kawasan terlarang bila Gunung Slamet berstatus Siaga (Level III) dalam warna kuning. Kawasan ini beradius 4 km dari kawah, kecuali sektor barat laut, utara dan selatan yang meluas hingga radius 8 km dari kawah. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan peta dari Google Maps dan data dari PVMBG.

Gambar 5. Kawasan terlarang bila Gunung Slamet berstatus Siaga (Level III) dalam warna kuning. Kawasan ini beradius 4 km dari kawah, kecuali sektor barat laut, utara dan selatan yang meluas hingga radius 8 km dari kawah. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan peta dari Google Maps dan data dari PVMBG.

Meski demikian PVMBG tetap berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan mengingat sifat dasar gunung berapi adalah menyerupai manusia, yakni dapat berubah seiring waktu. Karena itu pemantauan secara berkelanjutan terus berlangsung. Pada saat yang sama peta kawasan rawan bencana Gunung Slamet pun diberakukan. Dalam status Waspada (Level II), kawasan terlarang adalah kawasan yang beradius 2 km dari kawah. Kecuali pada sektor barat laut dan utara dimana radius kawasan terlarang menjangkau 5 dan 4 km dari kawah karena terdapat lembah-lembah yang langsung terhubung dengan kawah di sini. Kawasan ini selalu terancam oleh leleran lava dan aliran awan panas, jika memang terjadi. Bila aktivitas Gunung Slamet kian meningkat, maka status Siaga (Level III) akan diberlakukan. Dalam status ini, kawasan terlarang meluas hingga radius 4 km dari kawah, kecuali sektor barat laut (arah Guci), utara dan selatan (arah Baturaden) yang meluas hingga radius 8 km dari kawah. Kawasan tersebut dinyatakan tertutup hanya jika Gunung Slamet berstaus Siaga (Level III) karena berpotensi terlanda leleran lava dan aliran awan panas.

Dengan gambaran seperti itu kita bisa melihat bahwa, bertentangan dengan mitos bahwa Gunung Slamet bakal meletus besar, dalam realitasnya sepanjang lebih dari 200 tahun terakhir letusan Gunung Slamet selalu berbentuk letusan-letusan kecil yang dampaknya hanya dirasakan di sekujur tubuh gunung semata tanpa menjalar jauh. Maka dari itu tak ada yang perlu dikhawatirkan dari letusan Gunung Slamet, hingga sejauh ini. Mari patuhi kawasan terlarang yang sudah diberlakukan dan berikan Gunung Slamet ruang dan waktu guna menuntaskan aktivitasnya, sebagai bagian dari siklus kehidupan yang dijalaninya. Yang penting kita tetap waspada, tetap merujuk informasi dari institusi yang berkompeten didalamnya serta tetap mengikuti rekomendasi yang diberikannya melalui organ-organ pemerintah daerah setempat berupa BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) masing-masing kabupaten.

Referensi:

1. Oman Abdurrahman. 2013. Geologi Linewatan dari Tasikmalaya hingga Banjarnegara. Majalah Geomagz vol. 3 no. 1 Maret 2013, hal. 54-79.

2. Kriswati & Prambada. 2009. Korelasi Parameter Suhu Air Panas, Kegempaan dan Letusan Gunung Slamet April-Mei 2009. Buletin Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, vol. 4 no. 2 Agustus 2009, hal. 19-26.

3. Sutawidjaja & Sukhyar. 2009. Cinder Cones of Mount Slamet, Central Java, Indonesia. Jurnal Geologi Indonesia, vol. 4 no. 1 Maret 2009, hal. 57-75.

4. Boeckel & Rietze. 2009. Volcano Slamet.

Menyaksikan Letusan Plinian Gunung Kelud dari Keluasan Langit

Gunung Kelud (Jawa Timur) akhirnya meletus. Setelah ditingkatkan dari status Aktif Normal (level I) menjadi Waspada (Level II) sejak 2 Februari 2014 seiring migrasi magma segar ke tubuh gunung yang membuat kegempaan vulkaniknya meningkat di atas normal dan lantas diikuti status Siaga (Level III) pada 10 Februari 2014 menyusul injeksi magma segar ke kantung magma dangkal dan tubuh gunung sehingga kegempaan vulkaniknya kian riuh dan bahkan tubuh Gunung Kelud mulai menggelembung, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) akhirnya menetapkan Gunung Kelud dalam status Awas (Level IV) pada 13 Februari 2014 pukul 21:15 WIB. Dan hanya berselang 95 menit kemudian Gunung Kelud pun memuntahkan magma segarnya sebagai letusan yang bergelora menjelang tengah malam. Gemuruh suara letusan terdengar hingga pelosok Jawa Tengah seperti di Kebumen dan Purbalingga, meski berjarak ratusan kilometer dari Gunung Kelud. Debu vulkaniknya pun melumuri sebagian besar pulau Jawa hingga sempat menghentikan aktivitas sehari-hari sebagian besar penduduk pulau terpadat di Indonesia ini. Delapan bandara pun turut ditutup sementara, mulai dari Juanda (Sidoarjo) di sisi timur hingga Husein Sastranegara (Bandung) di sisi barat. Sebagai imbasnya ratusan penerbangan domestik dan internasional pun dibatalkan. Angka kerugian masih dihitung, namun diduga mencapai trilyunan rupiah.

PVMBG mencatat letusan Gunung Kelud kali ini menghamburkan paling tidak 120 juta meter kubik rempah vulkanik atau hampir sama dengan apa yang disemburkan Gunung Merapi (Jawa Tengah-DIY) dalam letusan 2010-nya. Bedanya durasi letusan Gunung Kelud sangat singkat, yakni hanya beberapa jam saja, dibandingkan Merapi yang selama 1,5 bulan. Perbedaan tajam ini menunjukkan kecepatan pengeluaran rempah vulkanik Kelud jauh lebih besar. Singkatnya durasi letusan juga memperlihatkan bahwa gunung berapi yang galak ini kembali ke tabiatnya semula yang sudah dikenal sepanjang abad ke-20. Tabiat itu berupa cepatnya migrasi magma segar yang ditandai oleh cepatnya perubahan status aktivitasnya, durasi letusan cukup singkat sebagai indikasi dari kecilnya volume kantung magma dangkalnya (sehingga cepat terkuras habis) dan letusannya langsung besar atau besar sekali. Hanya satu sifat yang tak muncul, yakni lahar letusan yang umumnya terjadi kala magma segar yang dimuntahkan langsung bercampur dengan air danau kawah yang volumenya bisa puluhan juta meter kubik jika tak dikontrol. Danau kawah Kelud sendiri menghilang pasca November 2007 kala aktivitas gunung berapi ini di luar dugaan justru demikian kalem dan hanya berakhir dengan gundukan lava yang disebut kubah lava 2007. Kubah lava ini mengambil bentuk kerucut yang tingginya 215 meter dengan dasar selebar 470 meter dan bervolume 16 juta meter kubik.

Gambar 1.  Perkembangan awan debu vulkanik Kelud (panah kuning) dalam empat jam pertama letusannya seperti diabadikan satelit MTSAT-2 dalam kanal inframerah. Terlihat pada jam 00:00 WIB (sejam setelah mulai meletus), awan debunya masih kecil, sferis dan lebih padat dibanding tekstur awan disekelilingnya. Pada jam-jam berikutnya nampak awan debu semakin meluas dan kian melonjong mengikuti hembusan angin. Sumber: JMA, 2014.

Gambar 1. Perkembangan awan debu vulkanik Kelud (panah kuning) dalam empat jam pertama letusannya seperti diabadikan satelit MTSAT-2 dalam kanal inframerah. Terlihat pada jam 00:00 WIB (sejam setelah mulai meletus), awan debunya masih kecil, sferis dan lebih padat dibanding tekstur awan disekelilingnya. Pada jam-jam berikutnya nampak awan debu semakin meluas dan kian melonjong mengikuti hembusan angin. Sumber: JMA, 2014.

Awan Debu

Letusan Gunung Kelud terjadi di tengah malam waktu Indonesia. Kecuali daerah sekitar gunung yang bisa melihat langsung kolom debu vulkanik pekat yang menjulang vertikal menembus awan disertai kilat yang menyambar-nyambar dalam menit-menit pertama letusan, daerah lain yang lebih jauh tak bisa melihatnya dengan leluasa seiring gelapnya malam. Sehingga bagaimana sifat-sifat letusan sulit untuk diketahui secara kasat mata, termasuk tipe letusan.

Beruntung, keterbatasan mata manusia dalam gelapnya malam bisa digantikan oleh ketersediaan mata tajam di langit, dalam rupa armada satelit cuaca dan observasi Bumi. Keberadaan satelit-satelit ini menyajikan keuntungan tersendiri dalam mengamati letusan gunung berapi, sebab berada pada ketinggian cukup besar sehingga jauh lebih aman terhadap dampak langsung maupun tak langsung dari letusan tersebut. Posisi di ketinggian juga memungkinkan satelit memiliki cakupan area yang cukup luas sehingga mampu memantau dinamika awan debu letusan yang menjauh dari sumbernya hingga jarak ratusan atau bahkan ribuan kilometer. Dan mata tajam satelit memungkinkan kita mengamati kawah gunung berapi yang sedang meletus dalam resolusi yang cukup tinggi, bahkan kala gunung berapi tersebut masih cukup berbahaya untuk bisa didekati manusia.

Debu vulkanik Kelud pertama kali terdeteksi lewat satelit MTSAT-2 (Multifunctional Transport Satellite-2) atau yang dikenal juga sebagai satelit Himawari-7 (Jepang). Satelit yang berfungsi ganda guna kepentingan komunikasi dan pemantauan cuaca ini bertempat di obit geostasioner pada garis bujur 145 BT sehingga mampu memantau Asia timur, Asia tenggara, Australia dan Samudera Pasifik dengan leluasa dan menerus. Debu vulkanik Kelud pertama kali terdeteksi pada pukul 23:09 WIB, hanya 20 menit setelah letusan dimulai, melalui instrumen pencitra pada kanal inframerah yang memiliki resolusi spasial 5 km. Awan debu Kelud semula berukuran kecil dan bergeometri sferis. Namun seiring perjalanan waktu, ukurannya membesar hingga bergaris tengah lebih dari 100 km dengan bentuk sedikit lonjong, sebelum kemudian kian memanjang seiring hembusan angin. Pengukuran suhu awan debu ini menunjukkan bagian inti awan sedikit lebih hangat dibanding bagian tepinya, namun secara keseluruhan temperatur awan debu jauh di bawah titik nol derajat Celcius. Ini menjadi indikasi bahwa awan debu Kelud telah membumbung sedemikian tinggi sehingga memasuki lapisan stratosfer.

Pemandangan lebih menarik diperlihatkan oleh instrumen pada kanal cahaya tampak di satelit yang sama. Instrumen ini hanya berfungsi kala sinar Matahari mulai menerangi permukaan Bumi yang hendak dicitrakannya, sehingga baru bisa bekerja dalam enam jam setelah letusan dimulai. Meski telah enam jam berlalu, namun kedahsyatan letusan Kelud masih terlihat jelas. Pekat dan massifnya debu vulkanik yang disemburkan Gunung Kelud menghasilkan fenomena bow shock-wave di puncak awan debunya khususnya di sisi timur sehingga nampak bergelombang sekaligus menghalangi angin timuran untuk mengubah bentuknya. Hasil pencitraan kanal visual yang dipadukan dengan GOES-R Volcanic Ash Height menunjukkan terdapat bagian awan debu Kelud yang memasuki ketinggian 18 hingga 20 km dpl (dari permukaan laut), atau cukup jauh memasuki lapisan stratosfer.

Gambar 2. Hasil pengukuran lidar satelit CALIPSO terhadap awan debu Kelud dalam 1,5 jam sejak mulai meletus dipadukan dengan citra instrumen MODIS dari satelit Aqua dalam kanal cahaya tampak yang jelas memperlihatkan awan debu Kelud (plume) dan awan-awan disekelilingnya. Hasil pengukuran memperlihatkan sebagian besar awan debu Kelud membumbung hingga 20 km dpl, namun puncaknya menjangkau ketinggian 26 km dpl. Sumber: NASA, 2014.

Gambar 2. Hasil pengukuran lidar satelit CALIPSO terhadap awan debu Kelud dalam 1,5 jam sejak mulai meletus dipadukan dengan citra instrumen MODIS dari satelit Aqua dalam kanal cahaya tampak yang jelas memperlihatkan awan debu Kelud (plume) dan awan-awan disekelilingnya. Hasil pengukuran memperlihatkan sebagian besar awan debu Kelud membumbung hingga 20 km dpl, namun puncaknya menjangkau ketinggian 26 km dpl. Sumber: NASA, 2014.

Informasi lebih detil diperoleh satelit CALIPSO (Cloud-Aerosol Lidar dan Infrared Pathfinder Satellite Observation), satelit cuaca hasil kerjasama AS dan Perancis yang ditempatkan di orbit polar setinggi 676 hingga 687 km dpl dengan inklinasi 98,2 derajat. CALIPSO bertumpu pada teknologi lidar (laser imaging detection and ranging) berbasis cahaya tampak dan inframerah terpolarisasi, masing-masing pada panjang gelombang berbeda masing-masing 5.320 dan 10.640 Angstrom. CALIPSO melintas di atas Indonesia dalam 1,5 jam setelah letusan dimulai dan berkesempatan melakukan pengukuran lidar pada awan debu Kelud. Hasilnya mengonfirmasi temuan satelit MTSAT-2, bahwa sebagian besar debu vulkanik Kelud membumbung hingga setinggi 20 km dpl. Namun puncak awan debunya lebih tinggi lagi karena menjangkau ketinggian 26 km dpl.

Plinian

Satelit hanya sanggup mencitra bagian atas dan puncak awan debu Kelud pada jam-jam pertama letusan saat memperlihatkan awan debu Kelud bergeometri sferis yang kemudian menjadi sedikit lonjong saat ukurannya meraksasa. Kita tak bisa melihat kolom debunya saat sedang menanjak di lapisan atmosfer terbawah sebelum kemudian menjadi awan debu. Namun dapat diperkirakan bahwa ukuran kolom debu letusan jauh lebih kecil ketimbang awan debunya. Sehingga secara keseluruhan semburan rempah vulkanik Kelud dalam jam-jam pertama letusan menampilkan pemandangan menyerupai payung atau jamur. Sehingga awan debu semacam ini dikenal sebagai awan jamur (mushroom clouds) yang kemudian akan berkembang menjadi awan bunga kol (cauliflower clouds) sebelum kemudian tersebar mengikuti hembusan angin. Awan jamur merupakan ciri khas pelepasan energi sangat tinggi dalam singkat, baik alamiah maupun buatan (manusia). Kita bisa melihat pola awan jamur ini misalnya dalam ledakan nuklir, khususnya dengan titik ledak di atmosfer, atau permukaan tanah, ataupun bawah tanah dangkal. Sementara secara alamiah awan jamur tercipta dalam letusan gunung berapi berskala tinggi dan tumbukan benda langit (komet/asteroid).

Gambar 3. Bentuk awan jamur dari rempah vulkanik yang disemburkan dalam jam pertama letusan bertipe plinian, dalam hal ini di Gunung Pinatubo (Filipina) pada tahun 1991. Sumber: USGS, 1991.

Gambar 3. Bentuk awan jamur dari rempah vulkanik yang disemburkan dalam jam pertama letusan bertipe plinian, dalam hal ini di Gunung Pinatubo (Filipina) pada tahun 1991. Sumber: USGS, 1991.

Terbentuknya awan jamur pada letusan Gunung Kelud dan dipadukan dengan data ketinggian puncak awan debunya berdasarkan citra satelit MTSAT-2 dan CALIPSO memastikan bahwa letusan tersebut merupakan letusan plinian. Inilah letusan yang melibatkan gas-gas vulkanik bertekanan sangat tinggi sehingga dampaknya dirasakan dalam daerah cukup luas. Dengan rempah vulkanik yang diletuskan mencapai 120 juta meter kubik, maka amukan Gunung Kelud kali ini memiliki skala 4 VEI (Volcanic Explosivity Index), setara dengan skala Letusan Merapi 2010 maupun Letusan Galunggung 1982-1983. Letusan gunung berapi pada skala tersebut memang bisa bertipe vulkanian (tinggi awan debu di bawah 20 km dpl) namun bisa pula plinian. Semuanya bergantung kepada besarnya tekanan gas vulkanik dalam kantung magma gunung berapi itu tepat sebelum letusan terjadi. Menurut Walker (1980), tekanan gas vulkanik dalam kantung magma jelang letusan plinian terjadi bisa lebih besar dari 1 MPa. Sehingga begitu letusan terjadi, gas vulkanik segera berhembus kencang sembari mendorong rempah vulkanik menyembur keluar dengan kecepatan awal melebihi kecepatan suara. Besarnya tekanan gas vulkanik juga mampu memecah dan bahkan menghancurkan sumbat lava ataupun kubah lava yang semula menutupi ujung saluran magma. Hal ini pula yang terjadi pada Gunung Kelud, dimana kubah lava 2007 telah hancur lebur dan tak berbekas dalam letusan plinian ini.

Letusan plinian tergolong jarang terjadi. Dalam catatan Global Volcanism Program, secara statistik letusan tipe ini yang berskala 4 VEI terjadi rata-rata sekali setiap 10 tahun. Terakhir kali letusan tipe ini terjadi di Indonesia pada 1982 saat Gunung Galunggung (Jawa Barat) meletus. Sedangkan untuk kawasan Asia Tenggara letusan ini terakhir kali terjadi pada tahun 1991 di Gunung Pinatubo (Filipina). Dengan jarangnya peristiwa ini, maka citra-citra satelit yang memonitor Gunung Kelud selama jam-jam pertama letusannya sangat membantu memahami apa letusan plinian sekaligus bagaimana persebaran debu vulkaniknya sehingga langkah antisipasi yang lebih baik bisa disiapkan lebih dini. Di samping itu, pengetahuan tentang letusan plinian juga membantu kita dalam memahami bagaimana letusan gunung berapi di planet lain atau satelit alaminya. Misalnya di Io, salah satu satelit alami Jupiter, yang kerap meletuskan gunung berapinya dan memuntahkan rempah vulkanik hingga setinggi 100km atau lebih.

Catatan: ditulis juga di LangitSelatan.

Referensi:

Global Volcanism Program Smithsonian Institution, http://volcano.si.edu/

Walker, G.P.L. 1980 The Taupo pumice: product of the most powerful known (ultraplinian) eruption. Journal of Volcanology and Geothermal Research, 8 (1980) 69-94.

Ada Gempa, Namun Gunung Merbabu Tidak Meletus

Sebuah getaran mengagetkan penduduk yang berdiam di kaki Gunung Merbabu (Jawa Tengah) bagian utara pada Senin 17 Februari 2014 pukul 06:01 WIB. Getaran berlangsung hanya dalam beberapa detik namun sempat juga dirasakan oleh sebagian warga kota Salatiga. Getaran terkeras dirasakan warga Dusun Wiji, Desa Sumogawe, Kecamatan Getasan (Kabupaten Semarang). Sehingga di sini sedikitnya 46 rumah mengalami kerusakan ringan. Publik pun resah, apalagi bersamaan dengan getaran tersebut terdengar suara dentuman dan ada pula yang mengaku menyaksikan kilatan cahaya dari arah puncak Gunung Merbabu. Baru beberapa hari yang lalu Gunung Kelud meletus besar, menyemburkan debu vulkanik bergulung-gulung ke langit yang diiringi dengan sambaran kilat. Sebagian besar pulau Jawa pun terkena dampaknya, dengan Jawa Tengah menjadi salah satu kawasan terparah yang dihujani debu vulkanik Gunung Kelud.

Gambar 1. Posisi Gunung Merbabu, desa Sumogawe, kota Salatiga dan gunung-gemunung disekitarnya dalam peta topografi. Di kaki Gunung Merbabu bagian utara inilah terjadi getaran pada Senin 17 Februari 2014 lalu, yang menyebabkan sejumlah rumah di desa Sumogawe mengalami kerusakan ringan. Nampak posisi episentrum gempa menurut BMKG. Garis putus-putus bersaput merah merupakan batas geografis Kabupaten Semarang. Sumber: Google Maps, 2014.

Gambar 1. Posisi Gunung Merbabu, desa Sumogawe, kota Salatiga dan gunung-gemunung disekitarnya dalam peta topografi. Di kaki Gunung Merbabu bagian utara inilah terjadi getaran pada Senin 17 Februari 2014 lalu, yang menyebabkan sejumlah rumah di desa Sumogawe mengalami kerusakan ringan. Nampak posisi episentrum gempa menurut BMKG. Garis putus-putus bersaput merah merupakan batas geografis Kabupaten Semarang. Sumber: Google Maps, 2014.

Apakah getaran itu terkait dengan kelakuan Gunung Merbabu? Apakah Gunung Merbabu mulai menggeliat lagi? Apakah ia mulai meletus? Akankah letusannya sama dahsyatnya dengan Gunung Kelud?

Tak Meletus

Gunung Merbabu merupakan gunung berapi setinggi 3.145 meter dari permukaan laut (dpl) yang berdiri di tengah-tengah Jawa Tengah tepat di sebelah utara Gunung Merapi. Ia masih tetap digolongkan sebagai gunung berapi aktif tipe B oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Nama “Merbabu” baru melekat di gunung berapi ini pada masa Hindia Belanda dan sesudahnya. Sebelumnya gunung ini lebih dikenal sebagai Gunung Damalung atau Gunung Pamrihan (Pamarihan). Posisinya demikian rupa sehingga Gunung Merapi dan Merbabu kerap disebut sebagai gunung kembar. Meski tepat bersebelahan dengan Merapi, namun tubuh dan polah-tingkah Merbabu sungguh bertolak belakang. Jika kita melihat Gunung Merbabu dalam citra satelit khususnya citra topografinya, terlihat jelas betapa gunung berapi ini dipenuhi oleh rekahan-rekahan besar. Salah satu rekahan muncul dari kaki gunung bagian utara-timur laut dan melintas memotong puncak hingga kemudian berakhir di kaki gunung bagian selatan-tenggara. Lewat rekahan inilah khususnya di bagian puncak gunung, aktivitas Gunung Merbabu berpusat.

Dalam catatan Global Volcanism Program Simthsonian Institution, aktivitas terakhir Gunung Merbabu terjadi lebih dari dua abad silam, tepatnya pada tahun 1797. Saat itu Gunung Merbabu meletus dengan skala 2 VEI (Volcanic Explosivity Index), dengan memuntahkan rempah letusan sebanyak kurang dari 1 juta meter kubik. Magmanya menyeruak sebagai lava yang kemudian mengalir menyusuri rekahan besar menuju utara-timur laut sebagai aliran lava Kopeng dan ke selatan-tenggara sebagai aliran lava Kajor. Letusan sebelumnya terjadi pada tahun 1560 namun dengan skala letusan yang tak diketahui. Untuk ukuran sebuah gunung berapi, Letusan Merbabu 1797 tergolong kecil. Bandingkan misalnya dengan Gunung Merapi, yang dalam letusan-letusannya di abad ke-20 dan 21 (kecuali letusan 1930 dan letusan 2010) biasa mengeluarkan lebih dari 5 juta meter kubik rempah letusan. Apalagi jika dibandingkan Letusan Merapi 2010 yang volume rempah letusannya sampai sebesar 150 juta meter kubik.

Nah, apakah Gunung Merbabu sedang mulai menggeliat lagi setelah sekian lama tertidur lelap?

Gambar 2. Gelombang seismik dari Gempa Sumogawe yang terekam di stasiun seismik Karangkates, Malang (atas) dan Sawahan, Nganjuk (bawah) melalui JSView yang dikembangkan Januar Arifin di BMKG. Gelombang seismik ini mengandung ciri khas gempa tektonik. Sumber: BMKG, 2014.

Gambar 2. Gelombang seismik dari Gempa Sumogawe yang terekam di stasiun seismik Karangkates, Malang (atas) dan Sawahan, Nganjuk (bawah) melalui JISView yang dikembangkan Januar Arifin di BMKG. Gelombang seismik ini mengandung ciri khas gempa tektonik. Sumber: BMKG, 2014.

Sampai saat ini Gunung Merbabu masih dinyatakan sebagai gunung berapi aktif tipe B sehingga tak dipantau secara khusus seperti halnya gunung-gemunung berapi tipe A. Namun karena persis berdampingan dengan Gunung Merapi, maka Gunung Merbabu bisa dipantau melalui pos-pos Pengamatan Gunung Merapi (PGM) yang berada di bawah Balai Penelitian dan Pengembangan Teknik Kebencanaan Geologi (BPPTKG) yang berada di bawah naungan PVMBG.

Menarik bahwa pada Senin pagi 17 Februari 2014 pukul 06:01 WIB itu stasiun-stasiun seismik pemantau Merapi di Pusunglondon, Deles dan Plawangan sama sekali tak merekam adanya gempa vulkanik yang berasal dari Gunung Merbabu, baik vulkanik dalam maupun dangkal. Sebaliknya justru terekam adanya gelombang gempa tektonik yang bersifat lokal dengan durasi dan amplitudo gelombang yang kecil. Sensitivitas alat sudah teruji dalam Letusan Kelud 2014 kemarin, kala gempa-gempa yang mengiringi meletusnya Gunung Kelud dalam sejam pertamanya, yakni kala kubah lava 2007 mulai dihancurkan, terekam jelas di stasiun-stasiun seismik ini. Ketiadaan gempa vulkanik dalam dan dangkal dari Gunung Merbabu juga ditunjang oleh pengamatan visual dari pos PGM Selo, pos terdekat dengan Gunung Merbabu. Pos PGM Selo tak mendeteksi adanya kepulan asap yang tak biasa ataupun suara dentuman dari arah Gunung Merbabu. Maka jelas bahwa Gunung Merbabu sama sekali tidak mengalami lonjakan aktivitas sehingga tak ada yang perlu dikhawatirkan pada saat ini.

Tektonik

Lalu, apa penyebab getaran di kaki Gunung Merbabu bagian utara itu? Apa pula yang menyebabkan terdengarnya suara dentuman? Mengapa rumah-rumah penduduk Sumogawe mengalami kerusakan?

Gambar 3. Posisi episentrum dan parameter Gempa Sumogawe berdasarkan rekaman stasiun-stasiun seismik Wanagama (UGM), Semarang (SMRI), Tegal (CTJI), Karangpucung (KPJI), Pacitan (PCJI) dan Sawahan (SWJI) melalui JSView yang dikembangkan Januar Arifin di BMKG. Nampak episentrum gempa berlokasi di kawasan Gunung Merbabu. Sumber: BMKG, 2014.

Gambar 3. Posisi episentrum dan parameter Gempa Sumogawe berdasarkan rekaman stasiun-stasiun seismik Wanagama (UGM), Semarang (SMRI), Tegal (CTJI), Karangpucung (KPJI), Pacitan (PCJI) dan Sawahan (SWJI) melalui JISView yang dikembangkan Januar Arifin di BMKG. Nampak episentrum gempa berlokasi di kawasan Gunung Merbabu. Sumber: BMKG, 2014.

Cukup menarik pula bahwa Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) ternyata merekam adanya gelombang seismik pada Senin 17 Februari 2014 pukul 06:01 WIB itu. Gelombang tersebut terekam di berbagai stasiun BMKG di pulau Jawa, termasuk stasiun Sawahan (Nganjuk) dan stasiun Karangkates (Malang), keduanya di Jawa Timur. Gelombang seismik ini menunjukkan pola khas gempa tektonik. Analisis yang dilakukan rekan-rekan dalam Sistem Monitoring Gempabumi BMKG menunjukkan gempa tektonik tersebut berkekuatan 2,5 skala Richter dengan episentrum di lereng utara Gunung Merbabu. Jarak antara episentrum terhadap desa Sumogawe berkisar 6 km, sementara terhadap kota Salatiga berkisar 10 km. Namun jika galat pengukuran magnitudo dan koordinat episentrum dimasukkan, nyatalah bahwa desa Sumogawe masih berada dalam radius galat penentuan epiusentrum ini.

Gempa tektonik ini tergolong gempa dangkal karena sumbernya hanya sedalam 10 km. Untuk ukuran gempa bumi, magnitudo 2,5 skala Richter ini tergolong gempa kecil/lemah dan selalu bersifat/dirasakan dalam lingkup lokal saja. Maka wajar tatkala getaran gempa ini hanya dirasakan di kaki Gunung Merbabu bagian utara hingga kota Salatiga. Karena kerusakan terjadi di desa Sumogawe, tak salah jika gempa ini disebut sebagai Gempa Sumogawe.

Analisis kasar yang sempat saya kerjakan menunjukkan kecilnya kekuatan Gempa Sumogawe juga berimbas pada kecilnya intensitas getaran yang dihasilkan. Radius kawasan yang mengalami getaran berintensitas 2 MMI (Modified Mercalli Intensity) adalah hingga 10 km dari episentrum, sementara kawasan yang tergetarkan dengan intensitas 1 MMI adalah hingga radius 36 km dari episentrum. Getaran dengan intensitas 2 MMI ini sesungguhnya getaran yang kecil, karena hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang sedang berbaring, atau sedang duduk di lantai, ataupun yang sedang berada di lantai teratas gedung bertingkat. Sementara getaran 1 MMI bahkan tak bisa dirasakan oleh manusia dalam kondisi apapun dan hanya bisa diindra oleh instrumen pegukur gempa (seismometer). Getaran berintensitas 2 MMI sejatinya bukan getaran yang merusak bangunan. Kerusakan ringan (dalam bentuk retak-retak di dinding) baru terjadi jika getaran memiliki intensitas minimal 4 MMI. Dan kerusakan parah terjadi bila gempa menghasilkan getaran berintensitas 6 MMI atau lebih, meski semuanya masih bergantung kepada mutu bangunannya. Maka Gempa Sumogawe secara teoritis seungguhnya tidak menghasilkan getaran yang bisa merusak bangunan.

Gambar 4. Simulasi intensitas getaran yang dihasilkan oleh Gempa Sumogawe terhadap lingkungan sekitarnya. Angka-angka 2 dan 1 masing-masing menunjukkan radius getaran berintensitas 2 MMI dan 1 MMI terhitung dari episentrum. Secara teoritis getaran yang disebabkan oleh Gempa Sumogawe sejatinya tidak berpotensi merusak bangunan. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 4. Simulasi intensitas getaran yang dihasilkan oleh Gempa Sumogawe terhadap lingkungan sekitarnya. Angka-angka 2 dan 1 masing-masing menunjukkan radius getaran berintensitas 2 MMI dan 1 MMI terhitung dari episentrum. Secara teoritis getaran yang disebabkan oleh Gempa Sumogawe sejatinya tidak berpotensi merusak bangunan. Sumber: Sudibyo, 2014.

Penyebab rusaknya rumah-rumah warga di dusun Wiji desa Sumogawe mungkin terkait dengan struktur tanah setempat yang lebih lunak dibanding kawasan sekelilingnya. Tanah yang lebih lunak bersifat memperkuat getaran gelombang gempa yang melintasinya sehingga intensitas getarannya menjadi lebih besar ketimbang hasil prediksi. Dapat pula yang terjadi adalah pergeseran tanah (rayapan tanah) secara mendadak sebagai imbas dari getaran gempa, khususnya jika tanah setempat berkontur miring dan jenuh dengan air Sehingga lebih berat dibanding normalnya. Indikasi terjadinya pergeseran tanah salah satunya bisa dilihat dari terdengarnya suara dentuman, yang kerap kali terjadi di awal sebuah peristiwa pergeseran atau longsoran tanah. Namun untuk memastikannya perlu dilakukan penyelidikan langsung ke desa Sumogawe.

Yang jelas, getaran yang dialami penduduk kaki Gunung Merbabu bagian utara sama sekali tak terkait dengan aktivitas Gunung Merbabu. Getaran tersebut diakibatkan oleh peristiwa tektonik, yakni pematahan batuan dalam luasan tertentu di sebuah patahah (sesar) lokal setelah tak sanggup lagi menahan tekanan yang dideritanya secara terus-menerus akibat pergerakan tektonik regional.

Catatan: terima kasih untuk mas Januar Arifin dan rekan-rekannya di BMKG yang telah berbagi data.

The Burning Ash of Katimbang, Kisah Panas dalam Letusan Dahsyat Krakatau 130 Tahun Silam

Agustus selalu menjadi bulan kalender yang penuh arti bagi Indonesia. Setiap tanggal 17 Agustus, negeri ini memperingati saat-saat kelahirannya yang membahana dan pada tahun 2013 ini telah diperingati untuk ke-68 kalinya. Dan berselang sepuluh hari kemudian, negeri ini kembali “memperingati” salah satu momen tergelap sepanjang sejarahnya. Ya. Pada 27 Agustus 2013 tepat 130 tahun silam Gunung Krakatau di selat Sunda yang kini menjadi bagian administratif propinsi Lampung, mencapai puncak letusannya dalam sebuah drama letusan gunung berapi dengan kedahsyatan yang tak tertanggungkan lagi bahkan untuk ukuran manusia modern.

Gambar 1. Awal letusan pulau Krakatau yang bersumber dari puncak Perbuwatan pada Mei 1883, diabadikan dalam foto hitam putih. Sumber : Simkin & Fiske, 1983.

Gambar 1. Awal letusan pulau Krakatau yang bersumber dari puncak Perbuwatan pada Mei 1883, diabadikan dalam foto hitam putih. Sumber : Simkin & Fiske, 1983.

Ada suasana penyambutan nan jauh berbeda bagi kedua hari istimewa itu. Bila 17 Agustus menjadi momen yang senantiasa dinanti dan dirayakan dengan penuh kegembiraan baik lewat rangkaian pesta rakyat di berbagai tempat maupun upacara formal dengan petatah-petitih para pejabat, sebaliknya 27 Agustus hanya terdengar sayup-sayup dikenang segelintir kalangan. Mungkin inilah imbas gayahidup manusia modern khususnya di Indonesia yang enggan mengingat apalagi mengenang bencana menyakitkan dan peristiwa kematian. Padahal di balik bencana selalu tersembunyi sejumlah pelajaran penting yang sangat berharga bagi kualitas kehidupan manusia masa depan masa depan, khususnya tatkala berhadapan kembali dengan petaka sejenis.

Gunung Krakatau menjadi gunung berapi terpopuler bagi manusia Indonesia khususnya lewat kedahsyatan letusannya pada 1883. Dalam persepsi umum, inilah amukan gunung berapi terdahsyat dalam era sejarah, meski sejatinya tidak demikian. Hanya 68 tahun sebelum Krakatau melepaskan amarahnya, Gunung Tambora di pulau Sumbawa (kini bagian propinsi Nusa Tenggara Barat) meletus demikian dahsyatnya dengan puncaknya pada 11 April 1815. Ia memuntahkan magma panas membara dalam jumlah delapan kali lipat lebih banyak ketimbang Krakatau 1883. Energi letusannya pun demikian besar. Kumpulkan seluruh hululedak nuklir di dua negara adidaya pada puncak Perang Dingin (yakni AS dan Uni Soviet) lalu ledakkan di satu secara bersama-sama, maka energi ledakan itu masih belum melampaui kedahsyatan Letusan Tambora 1815.

Namun, mari abaikan Tambora untuk sementara dan kita fokuskan perhatian ke Krakatau. Sebelum Agustus 1883, gunung berapi ini hanyalah sebentuk pulau kecil biasa saja yang berjajar dengan sejumlah pulau-pulau lainnya di Selat Sunda seperti pulau Sertung (Verlaten), Rakata Kecil (Lang), Sebesi dan Sebuku. Pulau Krakatau berbentuk lonjong sepanjang sekitar 7 kilometer dan berhias tiga gundukan mirip bukit. Berderet dari tenggara ke baratlaut, ketiganya adalah puncak Rakata (798 meter dpl), Danan (500 meter dpl) dan Perbuwatan (130 meter dpl). Ketiga gundukan ini sejatinya merupakan gunung berapi bawah laut, yang tumbuh pasca letusan dahsyat 1200 (tahun pastinya belum diketahui) di kawasan ini. Dalam perkembangannya ketiga gunung berapi bawah laut itu kian membesar sehingga akhirnya menyembul di atas Selat Sunda dan lama-kelamaan tubuh ketiganya pun menyatu menjadi pulau Krakatau. Pulau kecil ini sempat dihuni manusia dengan kehidupan agrarisnya, lengkap dengan persawahan dan perkebunan. Angkatan Laut kolonial Hindia Belanda bahkan sempat membangun galangan kapal di sini. Namun di awal abad ke-19 saat Indonesia beralih ke penjajahan Inggris yang singkat, pulau Krakatau ditinggalkan tanpa alasan yang jelas. Sehingga lambat laun semuanya berubah menjadi hutan belantara yang indah dan permai laksana surga. Namun pada Agustus 1883, surga nan indah itu sontak berubah menjadi neraka panas membara saat ketiga puncak di pulau Krakatau meletus dengan dahsyatnya.

Gambar 2. Topografi pulau Krakatau hanya dua minggu sebelum lenyap dalam puncak letusan dahsyatnya, berdasarkan data-data pengukuran Kapten Firzenaar pada 11 Agustus 1883. Sumber: Carayannis, 2010.

Gambar 2. Topografi pulau Krakatau hanya dua minggu sebelum lenyap dalam puncak letusan dahsyatnya, berdasarkan data-data pengukuran Kapten Firzenaar pada 11 Agustus 1883. Sumber: Carayannis, 2010.

Letusan Krakatau 1883 amat populer sebagai bencana alam terdahsyat bagi Indonesia pasca Letusan Tambora 1815 dan bertahan hingga lebih dari seabad kemudian. Rekornya baru ditumbangkan pada akhir 2004 saat bencana gempa akbar Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 meletup. Korban jiwa yang direnggut letusan dahsyat ini mencapai 36.417 orang, berdasarkan catatan resmi pemerintah kolonial Hindia Belanda. Namun para ilmuwan terkini memperkirakan korban sesungguhnya jauh lebih besar, mungkin bahkan mencapai angka 120.000 orang. Hampir seluruhnya meregang nyawa oleh terjangan tsunami luar biasa yang terbentuk sebagai akibat ambruknya pulau Krakatau diiringi pembentukan kaldera besar dan injeksi material vulkanik dalam jumlah sangat besar ke dasar Selat Sunda. Tetapi di antara korban-korban itu, ada sekitar 1.000 jiwa yang tewas terpapar material vulkanik muntahan Krakatau. Seluruhnya berasal dari Katimbang yang kini dikenal sebagai Katibung, berdekatan dengan Kalianda dan menjadi bagian dari propinsi Lampung. Inilah kisah panas yang memilukan, yang betul-betul panas karena melibatkan suhu yang demikian tinggi dan membakar.

Katimbang

Katimbang adalah satu kawasan pesisir Selat Sunda di kaki barat Gunung Rajabasa yang dikenal subur sehingga menjadi kawasan perkebunan produktif. Ia berjarak sekitar 37 kilometer di sebelah utara pulau Krakatau. Katimbang bukanlah pemukiman terdekat ke gunung berapi kolosal tersebut, sebab masih ada pulau Sebuku yang berpenduduk sekitar 3.000 orang dan hanya sejauh 20 kilometer dari pulau Krakatau. Perkebunan Katimbang berada di bawah kendali kontrolir Willem Beijerinck, seorang Belanda muda belia yang dibebani menangani administrasi daerah kolonial nan liar dengan gaji kecil. Meski kurang berpengalaman dan kerap dipandang sebelah mata oleh sesama kontrolir lainnya, Willem Beijerinck dan istrinya Johanna Beijerinck dikenal rajin menulis. Catatan-catatan merekalah yang menjadi saksi bisu berharga tentang apa yang terjadi di Katimbang, baik sebelum maupun selama letusan dahsyat Krakatau 1883.

Pada Februari 1883 telah terjadi getaran demi getaran yang terasa di Katimbang. Getaran itu berintensitas kecil dan tak menyebabkan kerusakan maupun kepanikan, namun berlangsung secara kontinu dalam jangka waktu tertentu untuk kemudian berhenti. Kini ilmu kegunungapian modern mengetahui bahwa pada saat itu magma segar dalam jumlah sangat besar dan sangat kental sedang mulai mengalir dari dapur magma Krakatau nun jauh di kedalaman puluhan kilometer menuju ke kantung magma yang lokasinya tepat di bawah gunung.

Gambar 3. Posisi pulau Krakatau di tengah Selat Sunda terhadap daratan Sumatra dan Jawa serta titik-titik yang melaporkan dampak letusan Krakatau di lokasi masing-masing, yakni Katimbang serta tiga kapal uap (Charles Baal, Loudon dan WH Besse). Nampak jejak-jejak aliran 'awan panas bawah air' (submarine pyroclastic flow deposit) dan bagian awan panas yang menjalar di atas permukaan air Selat Sunda (pyroclastic current travelling over the sea). Dengan posisinya yang paling dekat ke Krakatau, Katimbang menerima bagian awan panas yang masih pekat dan bersuhu tinggi. Sumber: Pratomo, 2006.

Gambar 3. Posisi pulau Krakatau di tengah Selat Sunda terhadap daratan Sumatra dan Jawa serta titik-titik yang melaporkan dampak letusan Krakatau di lokasi masing-masing, yakni Katimbang serta tiga kapal uap (Charles Baal, Loudon dan WH Besse). Nampak jejak-jejak aliran ‘awan panas bawah air’ (submarine pyroclastic flow deposit) dan bagian awan panas yang menjalar di atas permukaan air Selat Sunda (pyroclastic current travelling over the sea). Dengan posisinya yang paling dekat ke Krakatau, Katimbang menerima bagian awan panas yang masih pekat dan bersuhu tinggi. Sumber: Pratomo, 2006.

Berselang tiga bulan kemudian, tepatnya 9 Mei 1883, Beijerinck kembali mencatat terjadinya getaran demi getaran di Katimbang, namun kali ini terasa cukup keras dan mulai menakutkan. Tak ada yang tahu apa penyebabnya. Tapi kini kita tahu, saat itu magma segar telah mencapai kantung magma dan sedang berjuang keras meretakkan lapisan-lapisan bebatuan yang menghalangi jalannya menuju ke puncak. Getaran demi getaran itu berpuncak pada terjadinya letusan pertama, yang menyembur dari puncak Perbuwatan pada 20 Mei 1883. Kepulan debu vulkanik pekat dan gas menyembur hingga setinggi 11 kilometer. Para nelayan di Selat Sunda, juga para penebang kayu untuk bahan pembuatan kapal di Katimbang menjadi saksinya, pun kapten Lindeman bersama awak kapal uap Loudon. Dan hanya berselang beberapa saat kemudian hempasan tekanan udara yang kuat menerjang Katimbang, tanpa dampak apapun. Hempasan serupa pun dirasakan instrumen barometer stasiun cuaca Dr. Vanderstock di Batavia, 160 kilometer dari Krakatau. Namun tak ada dampak berarti yang diderita Katimbang pasca letusan pertama ini. Pulau Krakatau kemudian terus aktif menyemburkan gas dan debu vulkaniknya selama empat bulan kemudian.

Katimbang baru benar-benar merasakan kedahsyatan letusan Krakatau pada Minggu sore 26 Agustus 1883. Pada pukul 17:07 setempat, pulau Krakatau memasuki babak sangat mematikan dimulai dengan gelegar dentuman sangat keras dari arah puncak Perbuwatan yang terdengar ke segala arah, bahkan hingga sejauh 5.000 kilometer dari gunung. Suara ini tercatat sebagai suara terkeras yang pernah terjadi di Bumi sampai sekarang. Debu vulkanik pekat dan gas disemburkan hingga setinggi 27 kilometer. Sebagian pulau Krakatau khususnya di sekitar puncak Perbuwatan hancur hingga hanya tersisa kawah raksasa bergaris tengah sekitar 1 kilometer. Gelombang tekanan udara (gelombang kejut) yang dilepaskannya yang dikombinasikan dengan rangkaian letusan demi letusan bawah laut berikutnya menghasilkan gelombang tinggi yang berderap sebagai tsunami. Maka hanya dalam sejam kemudian, kala Matahari beranjak terbenam, Katimbang menerima terjangan tsunaminya. Akibatnya rumah-rumah penduduk dan fasilitas apa saja di dekat garis pantai hancur. Mujur bahwa sebagian besar penduduk Katimbang telah mengungsi lebih dulu menuju hutan lebat di lereng bawah Gunung Rajabasa yang lokasinya lebih tinggi atas perintah Willem Beijerinck sebelum terlalap tsunami. Namun tak satupun yang tahu bahwa hanya dalam beberapa belas jam kemudian mereka bakal berhadapan dengan situasi yang paling menggidikkan dalam letusan Krakatau.

Setelah melewati malam yang riuh dan membara oleh rentetan letusan demi letusan Krakatau yang saling susul-menyusul setiap 10 menit sekali layaknya tembakan mitraliur, pada Senin 27 Agustus 1883 gunung ini mencapai puncak letusannya. Letusan teramat dahsyat, yang menghamburkan lebih dari 15 kilometer kubik rempah vulkanik yang mencakup lebih dari 75 % total magma yang dimuntahkan Letusan Krakatau 1883, terjadi pada pukul 10:02 setempat. Tsunami dahsyat pun terbentuk, dengan tinggi gelombang hingga seratusan meter di awal mulanya dan segera berderap ke segenap sisi Selat Sunda dengan kecepatan kurang dari 100 km/jam. Sembari menjalar, ia juga mengaduk-aduk isi perairan laut sempit itu hingga bongkah-bongkah karang tercabut dari akarnya. Baik pesisir Jawa maupun Sumatera segera direndam terjangan tsunami dengan ketinggian antara 15 hingga 33 meter.

Tsunami tidak berdampak bagi penduduk Katimbang yang telah mengungsi ke hutan. Air laut tak sanggup menjangkau mereka. Namun petaka dalam bentuk lain segera datang menerpa. Mendadak angin kencang menerjang diikuti hempasan debu-debu sehalus bedak yang teramat panas yang segera melumat tempat pengungsian di lereng gunung itu. Dampaknya cukup mematikan. Dari 3.000 warga Katimbang yang turut mengungsi di hutan belantara itu, sekitar 1.000 orang diantaranya langsung tewas meregang nyawa dengan tubuh terpanggang bara atau menghilang di bawah timbunan debu. Sementara sisanya tak luput dari lara, penuh dengan luka-luka bakar di sekujur tubuh dalam berbagai tingkatan. Termasuk Willem dan Johanna Beijerinck, yang beruntung sedang berada di dalam salah satu rumah pengungsian sehingga terpaan debu panas yang mengenainya relatif sedikit. Namun keduanya kehilangan salah satu bayi mereka dalam petaka tersebut.

Letusan Mendatar

Gambar 4. Detik-detik letusan lateral Gunung St Helena pada 18 Mei 1980 hanya dalam tempo 31 detik semenjak pukul 08:32:47,0 hingga pukul 08:33:18,8 setempat. Nampak hanya sedikit kepulan gas dan debu vulkanik yang membumbung vertikal, sebagian besar diletuskan mendatar ke arah kanan dari bidang foto ini. Sumber: USGS, 1980.

Gambar 4. Detik-detik letusan lateral Gunung St Helena pada 18 Mei 1980 hanya dalam tempo 31 detik semenjak pukul 08:32:47,0 hingga pukul 08:33:18,8 setempat. Nampak hanya sedikit kepulan gas dan debu vulkanik yang membumbung vertikal, sebagian besar diletuskan mendatar ke arah kanan dari bidang foto ini. Sumber: USGS, 1980.

Catatan-catatan dari Willem dan Johanna Beijerinck segera diterbitkan selepas tahun 1883. Hempasan debu panas membara yang menyelimuti Katimbang pun sontak mendunia dan populer sebagai peristiwa the Burning Ash of Katimbang. Peristiwa ini sempat membikin pening para ahli kebumian dan kegunungapian masa itu. Betapa tidak. Tak ada keraguan bahwa debu-debu superpanas sehalus bedak yang menerpa Katimbang merupakan bagian dari awan panas, yakni material vulkanik produk letusan dalam bentuk pasir dan debu bercampur gas vulkanik yang semuanya bersuhu tinggi. Seluruh materi tersebut meluncur bergulung-gulung hingga berbentuk mirip awan dan dari sinilah kata ‘awan panas’ itu bermula. Penyelidikan geolog RDM Verbeek dan dilanjutkan oleh geolog-geolog lainnya memperlihatkan awan panas Krakatau tak hanya menghantam Katimbang, namun bahkan meluncur hingga 10 kilometer lebih dari garis pantai. Jangkauan awan panas mencapai 48 kilometer dan sepenuhnya terpusat ke arah utara.

Apakah peristiwa ini adalah salah satu ciri khas letusan gunung berapi yang sangat dahsyat? Nampaknya tidak juga. Dalam Letusan Pinatubo 1991 (Filipina) yang memuntahkan magma hingga lebih dari separuh Letusan Krakatau 1883, awan panasnya tak sempat melampaui jarak 16 kilometer dari kawah. Jelas ada penyebab lain yang membuat awan panas Krakatau melejit demikian jauh.

Pencerahan pertama datang hampir seabad kemudian, yakni kala Gunung St Helena di negara bagian Washington (AS) meletus dahsyat di 18 Mei 1980 meski skala kedahsyatannya masih 20 kali lebih lemah dibanding Krakatau 1883. Yang istimewa Letusan St Helena 1980 diawali dengan runtuhnya lereng utara gunung sehingga magma yang telah tersimpan di tubuh gunung tak tersembur secara vertikal melainkan horizontal (mendatar) dan menuju ke satu sisi saja, yakni ke arah utara. Inilah fenomena letusan mendatar (lateral) yang telah diteorikan semenjak berpuluh-puluh tahun sebelumnya namun baru pada saat itulah menjumpai bukti langsungnya.

Gambar 5. Kiri : bagaimana awan panas letusan Soufriere Hills mulai mengalir menuju ke Laut Karibia dalam letusannya di tahun 1995 dan kemudian terus menjalar menyeberangi laut hingga sejauh 1 kilometer lebih. Kanan: delta vulkanik seluas sekitar 100 hektar yang terbentuk pasca hempasan awan panas. Sumber: USGS, 1995.

Gambar 5. Kiri : bagaimana awan panas letusan Soufriere Hills mulai mengalir menuju ke Laut Karibia dalam letusannya di tahun 1995 dan kemudian terus menjalar menyeberangi laut hingga sejauh 1 kilometer lebih. Kanan: delta vulkanik seluas sekitar 100 hektar yang terbentuk pasca hempasan awan panas. Sumber: USGS, 1995.

Sementara pencerahan kedua datang pada saat Gunung Soufriere Hills di pulau Montserrat (teritori Inggris seberang lautan) di perairan Karibia meletus pada 18 Juli 1995. Letusan besar tersebut cukup fenomenal karena mengubur ibukota Plymouth hingga bermeter-meter di bawah timbunan batu dan pasir vulkanik. Pulau Montserrat merupakan pulau gunung berapi dan Soufriere Hills adalah salah satu puncaknya. Sehingga tatkala meletus, Soufriere Hills pun mengalirkan awan panasnya hingga melampaui batas garis pantai. Dan tatkala hempasan awan panas Soufriere Hills memasuki Laut Karibia, terjadilah peristiwa yang tak biasa. Awan panas itu ternyata terus menjalar seakan-akan berjalan di atas permukaan air laut dan baru berhenti setelah melampaui jarak lebih dari 1 kilometer terhadap garis pantai. Pasca peristiwa ini terbentuk daratan baru yang mirip delta (sehingga disebut delta vulkanik) seluas sekitar 100 hektar.

Bagaimana awan panas bisa menjalar di permukaan air laut? Jawabannya ditemukan dalam eksperimen Armin Freundt (2001) di Geomar Research Center for Marine Geosciences di kota Kiel (Jerman). Saat awan panas yang semula menjalar di darat mulai memasuki laut, terjadilah letupan uap yang diikuti terpisahnya butir-butir pasir dan batuan (yang massa jenisnya lebih besar dibanding air) dengan butir-butir debu halus (yang massa jenisnya lebih kecil dari air). Bagian awan panas dengan massa jenis lebih besar terbenam ke dasar laut namun tetap melaju sebagai ‘awan panas bawah air’ yang kemudian berubah menjadi arus turbidit. Pergerakan ini menciptakan olakan besar pada kolom air laut di atasnya, yang kemudian menjalar sebagai tsunami. Sementara bagian awan panas yang massa jenisnya lebih kecil tetap melaju di atas permukaan air laut sampai jarak tertentu sebelum kehilangan seluruh kecepatannya dan kemudian membumbung tinggi ke udara sebagai abu vulkanik.

Pelajaran Ke Depan

Gambar 6. Skema perilaku awan panas bila memasuki air/laut, berdasarkan eksperimen Freundt (2001). Saat awan panas yang menjalar dari lereng gunung mulai memasuki laut, terjadi letusan uap di pesisir (littoral explosion) dan awan panas terbagi menjadi dua bagian. Bagian yang lebih berat menjadi awan panas bawah air (pyroclastic flow underwater) sementara yang lebih ringan tetap mengapung di permukaan sembari menjalar dengan kecepatan tinggi (pyroclastic flow over water). Sumber: Freundt, 2003.

Gambar 6. Skema perilaku awan panas bila memasuki air/laut, berdasarkan eksperimen Freundt (2001). Saat awan panas yang menjalar dari lereng gunung mulai memasuki laut, terjadi letusan uap di pesisir (littoral explosion) dan awan panas terbagi menjadi dua bagian. Bagian yang lebih berat menjadi awan panas bawah air (pyroclastic flow underwater) sementara yang lebih ringan tetap mengapung di permukaan sembari menjalar dengan kecepatan tinggi (pyroclastic flow over water). Sumber: Freundt, 2003.

Berdasarkan pencerahan-pencerahan tersebut, kini kita bisa menyibak lebih jauh ke dalam misteri yang selama ini menyelubungi peristiwa the Burning Ash of Katimbang. Rupanya kejadian tersebut merupakan hasil kombinasi letusan lateral Krakatau dengan penjalaran awan panas di permukaan Selat Sunda. Saat pulau Krakatau mulai memasuki fase penghancuran seiring letusan demi letusan teramat dahsyatnya, struktur lereng gunung kian lama kian melemah.

Pada satu titik, lereng gunung telah demikian lemahnya sehingga magma segar yang sedang mencari jalan keluar didalamnya mendadak berjumpa dengan udara segar. Terjadilah letusan lateral yang mengarah ke utara. Di awal mula kecepatan kolom gas dan material vulkanik yang dihempaskan itu mungkin melampaui kecepatan suara, namun lama kelamaan kian melambat. Setelah meluncur sejauh 15 hingga 20 kilometer dari gunung, kolom material vulkanik yang telah melambat lalu bertransformasi menjadi awan panas. Sebagian awan panas tenggelam ke dasar Selat Sunda (yang kedalamannya antara 20 hingga 60 meter) dan berubah menjadi ‘awan panas bawah air’ yang melaju sejauh beberapa kilometer kemudian. Sementara sebagian lainnya tetap mengapung di atas permukaan Selat Sunda, masih bersuhu tinggi (hingga sekitar 500 derajat Celcius) dan tetap menderu dengan kecepatan yang tergolong tinggi untuk ukuran manusia (mungkin sekitar 100 km/jam). Inilah yang melejit hingga sekitar 28 kilometer kemudian dan menciptakan neraka di Katimbang.

Satu pelajaran berharga yang bisa diambil dari peristiwa the Burning Ash of Katimbang adalah, jangan mengabaikan gunung berapi laut meskipun jaraknya tergolong ‘jauh’ untuk ukuran kita. Sebab tatkala meletus, apalagi jika letusannya berjenis letusan katastrofik yang menghancurkan tubuh gunung, potensi terbentuknya tsunami mematikan dan peristiwa mirip the Burning Ash of Katimbang adalah sangat besar. Inilah pelajaran berharga yang diambil dunia ilmu kegunungapian moder dari Letusan Krakatau 1883.

Sumber :

Johanna Beijerinck, 1884 dalam Discovery Channel. 2010. Krakatoa, Survivor Diary: Johanna Beijerinck,

Pratomo. 2006. Klasifikasi Gunung Api Indonesia, Studi Kasus dari Beberapa Letusan Gunung Api dalam Sejarah. Jurnal Geologi Indonesia vol. 1 no. 4 Desember 2006 halaman 209-227.

Freundt. 2003. Entrance of Hot Pyroclastic Flows into the Sea, Experimental Observations. Bulletin of Vocanology no. 65 (2003) pp 144-164.

Sutawidjaja. 2006. Pertumbuhan Gunung Api Anak Krakatau Setelah Letusan Katastrofik 1883. Jurnal Geologi Indonesia vol. 1 no. 3 September 2006 halaman 143-153.