Idul Adha 1437 H, Kebersamaan di Tengah Dua Anomali (Kasus Unik Saudi Arabia dan Indonesia)

Hari raya Idul Adha 1437 H telah datang. Indonesia merayakannya pada Senin 12 September 2016 Tarikh Umum (TU), bertepatan dengan 10 Zulhijjah 1437 H. Dan tak seperti sebelumnya, kali ini tak ada yang berbeda. Kementerian Agama RI, sebagai representasi pemerintah, memutuskan 1 Zulhijjah bertepatan dengan Sabtu 3 September 2016 TU atas dasar sidang itsbat pada 1 September 2016 TU. Pada momen sidang itsbat tersebut, yang bertepatan dengan 29 Zulqaidah 1437 H dalam takwim standar Indonesia, seluruh sistem hisab (perhitungan astronomi) yang berkembang di Indonesia menyajikan data bahwa Bulan terbenam lebih dulu dibanding Matahari. Hal tersebut ditegaskan dari sisi rukyat (observasi) hilaal. Dalam momen yang bersamaan dengan terjadinya peristiwa Gerhana Matahari 1 September 2016 di 123 kota/kabupaten di Indonesia, rukyatul hilaal tak berhasil mendeteksi hilaal pada kesempatan tersebut. Sehingga bulan Zulqaidah 137 H pun harus digenapkan menjadi 30 hari (istikmal).

Keputusan senada juga disajikan oleh ormas-ormas Islam di Indonesia. Nahdlatul ‘Ulama, atas dasar rukyatul hilaal di banyak titik rukyat di berbagai penjuru Indonesia pada saat yang sama dan tak ada yang berhasil mendeteksi hilaal, menyampaikan ikhbar bahwa Idul Adha 10 Zulhijjah 1437 H bertepatan dengan Senin 12 September 2016 TU. Ikhbar tersebut dikeluarkan setelah sidang itsbat di Kementerian Agama RI usai. Demikian halnya Muhammadiyah. Jauh hari sebelumnya Muhammadiyah sudah memutuskan bahwa Idul Adha 1437 H bertepatan dengan Senin 12 September 2016 melalui maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah nomor 01/MLM/I.0/E/2016. Dasarnya adalah hisab sistem kontemporer dengan “kriteria” wujudul hilaal, dimana pada 1 September 2016 TU hilaal dinyatakan belum wujud di seluruh Indonesia karena tinggi Bulan pada saat Matahari terbenam berkisar antara minus 1o hingga 0o. Maklumat yang sama juga menetapkan 1 Ramadhan 1437 H bertepatan dengan Senin 6 Juni 2016 TU dan hari raya Idul Fitri 1 Syawwal 1437 H adalah Rabu 6 Juli 2016 TU. Demikian halnya Persatuan Islam (Persis), dengan dasar hisab sistem kontemporer berbasis “kriteria” LAPAN 2009.

Di mancanegara, keputusan penetapan hariraya Idul Adha 1437 H yang patut diperhatikan adalah keputusan Saudi Arabia. Pada hari yang sama dengan Indonesia, Saudi Arabia juga menggelar proses rukyat hilaal untuk menentukan Idul Adha 1437 H dan hari Arafah (hari wukuf) bagi jamaah haji. Hasilnya, wukuf di padang Arafah ditetapkan terjadi pada Minggu 11 September 2016 TU. Sementara hari raya Idul Adha di Saudi Arabia dirayakan pada hari berikutnya, yakni Senin 12 September 2016 TU. Keputusan ini segera menjadi rujukan bagi banyak negara Islam dan negara berpenduduk mayoritas Muslim serta komunitas Muslim di berbagai penjuru. Hanya sedikit yang berbeda dengannya. Misalnya Mesir, sebagian India dan Jerman yang merayakan Idul Adha pada Minggu 11 September 2016 TU. Sementara negara lain seperti sebagian India, Selandia Baru dan Pakistan baru akan menggelar shalat Idul Adha pada Selasa 13 September 2016 TU.

Penetapan 1 Zulhijjah adalah salah satu isu penting dalam perikehidupan Umat Islam di Indonesia karena terkait ibadah. Yakni hari raya Idul Adha pada tanggal 10 Zulhijjah yang didahului puasa Arafah sehari sebelumnya. Semenjak hari raya Idul Adha hingga empat hari kemudian, yakni pada hari-hari tasyrik (tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijjah), Umat Islam di Indonesia melaksanakan penyembelihan hewan kurban. Idul Adha menjadi satu dari dua hari raya Umat Islam di Indonesia, meski atmosfer budaya yang melingkupinya tak sekental momen hari raya Idul Fitri

Di tengah kebersamaan ini, sejatinya ada dua anomali yang menarik untuk dikupas terkait penetapan tersebut. Yakni anomali di Saudi Arabia dan (sebagian) Indonesia.

Saudi Arabia

Konjungsi geosentris Bulan dan Matahari (ijtima’ haqiqy), yakni momen saat Bulan dan Matahari menempati satu garis bujur ekliptika yang sama ditinjau dari titik pusat Bumi, terjadi pada Kamis 1 September 2016 TU pukul 16:03 WIB. Sementara konjungsi toposentris Bulan dan Matahari (ijtima’ mar’i), yakni momen yang sama dengan konjungsi geosentris Bulan dan Matahari namun ditinjau dari sebuah titik di paras (permukaan) Bumi terjadi lebih lambat dengan saat yang berbeda-beda. Di Indonesia, konjungsi toposentris terjadi jelang maghrib, seperti ternyata dari peristiwa Gerhana Matahari 1 September 2016. Di Saudi Arabia khususnya di kotasuci Makkah al-Mukarramah, Gerhana Matahari yang sama mencapai puncaknya pada pukul 11:23 waktu Saudi. Sehingga konjungsi toposentris di Makkah terjadi pada pukul 11:23 waktu Saudi, atau sebelum Matahari terbenam setempat.

Dalam kalender sipil Saudi Arabia, yang dikenal sebagai kalender Ummul Qura, 1 September 2016 TU juga bertepatan dengan 29 Zulqaidah 1437 H. Dan hari berikutnya merupakan tanggal 1 Zulhijjah 1437 H. Saudi Arabia menggunakan “kriteria” Ummul Qura dalam kalendernya. Secara sederhana “kriteria” ini mendeskripsikan:

awal bulan Hijriyyah terjadi tatkala seluruh cakram Bulan masih ada di atas horizon semu pada saat Matahari terbenam sempurna pasca konjungsi geosentrik Bulan dan Matahari.

Dalam bahasa astronomi, “kriteria” ini diformulasikan sebagai saat Lag Bulan > + 2 menit. Lag Bulan adalah selisih waktu keterlambatan terbenamnya Bulan terhadap terbenamnya Matahari. Lag Bulan bernilai positif saat Bulan terlambat terbenam dibanding Matahari dan sebaliknya bernilai negatif tatkala Bulan lebih dulu terbenam dibanding Matahari.

Gambar 1. Zona potensi ketampakan (visibilitas) hilaal per 1 September 2016 TU secara toposentrik berdasarkan kriteria Odeh (Audah). Warna merah tidak memenuhi moonset after sunset. Sementara warna selain merah sudah memenuhi moonset after sunset. Berdasar grafik ini Saudi Arabia sudah memenuhi syarat Ummul Qura, sementara sebagian pulau Sumatra (Indonesia) sudah memenuhi syarat wujudul hilaal. Sumber: Odeh, 2016.

Gambar 1. Zona potensi ketampakan (visibilitas) hilaal per 1 September 2016 TU secara toposentrik berdasarkan kriteria Odeh (Audah). Warna merah tidak memenuhi moonset after sunset. Sementara warna selain merah sudah memenuhi moonset after sunset. Berdasar grafik ini Saudi Arabia sudah memenuhi syarat Ummul Qura, sementara sebagian pulau Sumatra (Indonesia) sudah memenuhi syarat wujudul hilaal. Sumber: Odeh, 2016.

Namun harus digarisbawahi bahwa kalender Saudi Arabia dengan “kriteria” Ummul Qura-nya merupakan kalender sipil. Ia digunakan untuk kepentingan perikehidupan sehari-hari di negeri itu, mulai dari kepentingan ekonomi dan bisnis hingga politik ketatanegaraan. Sementara khusus untuk menentukan hari raya Idul Adha, Saudi Arabia menetapkannya berdasarkan rukyatul hilaal. Demikian halnya untuk menentukan awal puasa Ramadhan dan hari raya Idul Fitri. Sebab dalam pandangan Saudi Arabia, ketiga hal tersebut memiliki aspek ibadah yang kuat sehingga tidak mengacu pada kalender sipil yang mereka gunakan. Maka berpeluang terjadi situasi dimana Saudi Arabia memulai puasa Ramadhan saat kalendernya menunjukkan tanggal 2 Ramadhan, ber-Idul Fitri saat kalender menunjukkan tanggal 2 Syawwal dan ber-Idul Adha pada saat kalender menunjukkan tanggal 11 Zulhijjah. Inilah anomali itu.

Anomali tersebut terjadi pada tahun ini. Karena pada Kamis 1 September 2016 TU tidak terdeteksi hilaal di segenap penjuru Saudi Arabia, maka otoritas kerajaan ini menetapkan hari raya Idul Adha adalah pada Senin 12 September 2016 TU yang bertepatan dengan 11 Zulhijjah 1437 H. Konsekuensinya hari wukuf di padang Arafah, yang menjadi penentu pelaksanaan ibadah haji, adalah bertepatan dengan tanggal 10 Zulhijjah 1437 H. Konsekuensi ini merupakan hal yang tak terhindarkan manakala kalender Hijriyyah hendak dijadikan sebagai kalender sipil (muamalah) sebagaimana halnya kalender Tarikh Umum (Masehi/Gregorian) dengan kriteria yang tetap, sementara pendapat fikih mayoritas dalam penentuan waktu ibadah puasa Ramadhan dan dua hari raya adalah berdasarkan rukyatul hilaal.

Anomali semacam ini bukanlah yang pertama kali terjadi di Saudi Arabia. Konstelasinya sepanjang empat tahun terakhir adalah sebagai berikut:

  • Awal puasa Ramadhan 1434 H bertepatan dengan Kamis 2 Ramadhan 1434 H kalender Saudi Arabia (10 Juli 2014 TU).

  • Hari raya Idul Adha 1436 H bertepatan dengan Kamis 11 Zulhijjah 1436 H kalender Saudi Arabia (24 September 2015 TU).

  • Hari raya Idul Adha 1437 H bertepatan dengan Senin 11 Zulhijjah 1437 H kalender Saudi Arabia (12 September 2016 TU).

Saudi Arabia berpandangan mereka memiliki dasar yang kuat terkait anomali tersebut. Di masa Rasulullah SAW juga pernah terjadi shalat Idul Fitri digelar pada tanggal 2 Syawwal. Yakni bersandar hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah, dengan terjemahan sebagai berikut :

“Telah menceritakan kepada kami (Abu Bakr bin Abu Syaibah) berkata, telah menceritakan kepada kami (Husyaim) dari (Abu Bisyr) dari (Abu Umair bin Anas bin Malik) ia berkata; telah menceritakan kepadaku (paman-pamanku) dari kalangan Anshar -mereka adalah para sahabat Rasulullah SAW- mereka berkata, “Kami tidak dapat melihat hilal bulan Syawal, maka pada pagi harinya kami masih berpuasa, lalu datanglah kafilah di penghujung siang, mereka bersaksi di sisi Nabi SAW bahwa kemarin mereka melihat hilal. Maka Rasulullah SAW pun memerintahkan mereka berbuka, dan keluar untuk merayakan hari rayanya pada hari esok. ”
Hadits Imam Ibnu Majah nomor 1643.

Memang butuh kajian lebih lanjut melalui ilmu-ilmu terkait, namun hadits ini menyajikan kesan bahwa ibadah (hari raya Idul Fitri) boleh berselisih terhadap kalender (Hijriyyah).

Indonesia

Bagaimana dengan Indonesia? Anomali serupa ternyata juga terjadi meski kejadiannya adalah sebaliknya. Ini dialami oleh Muhammadiyah. Kalender Hijriyyah yang dpedomani Muhammadiyah merupakan kalender yang berdasarkan pada “kriteria” wujudul hilaal dan diberlakukan ke seluruh Indonesia melalui prinsip transfer wujudul hilaal (naklul wujud). Secara sederhana “kriteria” wujudul hilaal mendeskripsikan :

awal bulan Hijriyyah terjadi tatkala piringan teratas cakram Bulan masih ada di atas horizon semu pada saat Matahari terbenam sempurna pasca konjungsi geosentrik Bulan dan Matahari.

Sekilas “kriteria” ini mirip dengan “kriteria” Ummul Qura dengan sedikit perbedaan dalam kedudukan cakram Bulan. Dalam bahasa astronomi, “kriteria” wujudul hilaal ini diformulasikan sebagai saat Lag Bulan > + 0 menit atau singkatnya moonset after sunset. Dan dengan prinsip transfer wujudul hilaal, apabila terjadi situasi dimana sebagian Indonesia sudah memenuhi kondisi wujudul hilaal (positif) sementara sebagian lainnya belum memenuhi (negatif) maka daerah-daerah yang masih negatif musti mengikuti daerah yang sudah positif. Sehingga terdapat satu kesatuan. Dalam hal ini prinsip transfer wujudul hilaal tak berbeda dengan konsep wilayatul hukmi yang dipergunakan Kementerian Agama RI maupun sejumlah ormas Islam di Indonesia lainnya. Hanya namanya saja yang berbeda.

adha-gb2-a_sdh-wujud

Gambar 2. Perbandingan posisi serta kedudukan cakram Bulan dan Matahari pada saat syarat wujudul hilaal sudah terpenuhi (atas) dan wujudul hilaal belum terpenuhi (bawah). Perhatikan bahwa dalam kedua contoh tersebut, tinggi Bulan (dihitung dari horizon sejati) adalah sudah negatif. Namun patokan wujudul hilaal adalah horizon semu (ufuk mar'i). Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 2. Perbandingan posisi serta kedudukan cakram Bulan dan Matahari pada saat syarat wujudul hilaal sudah terpenuhi (atas) dan wujudul hilaal belum terpenuhi (bawah). Perhatikan bahwa dalam kedua contoh tersebut, tinggi Bulan (dihitung dari horizon sejati) adalah sudah negatif. Namun patokan wujudul hilaal adalah horizon semu (ufuk mar’i). Sumber: Sudibyo, 2016.

Pada saat Matahari terbenam di hari Kamis 1 September 2016 TU, hampir di seluruh Indonesia sudah mengalami konjungsi geosentrik Bulan dan Matahari. Dan di seluruh Indonesia tinggi Bulan bervariasi antara minus 1o hingga 0o. Hampir di seluruh Indonesia pula kondisi moonset after sunset tak terpenuhi. Dalam grafik visibilitas Odeh secara global (gambar 1), kawasan yang tidak memenuhi syarat moonset after sunset adalah kawasan yang berwarna merah. Sementara kawasan yang sudah memenuhi syarat moonset after sunset adalah yang berwarna selain merah. Dapat dilihat dalam grafik tersebut bahwa mayoritas Indonesia berada dalam kawasan merah. Perkecualian adalah di sebagian pulau Sumatra khususnya bagian utara. Meski di sini tinggi Bulan sudah negatif (dihitung terhadap horizon sejati), namun terjadi situasi dimana moonset after sunset sudah potensial terpenuhi. Sehingga wilayah ini tercakup ke dalam kawasan berwarna putih.

adha-gb3_a-jakarta

Gambar 3. Perbandingan posisi serta kedudukan cakram Bulan dan Matahari untuk titik Jakarta (atas) dan Palembang (bawah) pada 1 September 2016 TU saat Matahari terbenam. Perhatikan bahwa di kedua titik tersebut, syarat wujudul hilaal belum terpenuhi. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 3. Perbandingan posisi serta kedudukan cakram Bulan dan Matahari untuk titik Jakarta (atas) dan Palembang (bawah) pada 1 September 2016 TU saat Matahari terbenam. Perhatikan bahwa di kedua titik tersebut, syarat wujudul hilaal belum terpenuhi. Sumber: Sudibyo, 2016.

Untuk mengevaluasi potensi tersebut maka diuji apakah Bulan telah sepenuhnya berada di bawah horizon semu ataukah tidak manakala Matahari terbenam untuk titik-titik tertentu di pulau Sumatra dan Jawa pada 1 September 2016 TU. Evaluasi dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Accurate Times 5.2 karya Mohammad Odeh dari ICOP (International Crescent’s Observation Project). Perhitungan di-setting secara toposentrik pada enam titik berbeda masing-masing lima di pulau Sumatra (Palembang, Medan, Banda Aceh, pulau Simeulue dan pulau Nias) serta satu di pulau Jawa (Jakarta). Titik di pulau Jawa sekaligus menjadi titik kontrol mengingat berada di wilayah Gerhana Matahari 1 September 2016.

Di titik Jakarta (propinsi DKI Jakarta), diperoleh bahwa pada saat Matahari terbenam sempurna maka Bulan juga sudah sepenuhnya terbenam. Mengingat piringan teratas Bulan sudah sepenuhnya berada di bawah horizon semu. Sehingga di sini moonset after sunset belum terjadi. Hal serupa juga terjadi di titik Palembang (propinsi Sumatra Selatan). Hal menarik yang dapat dicermati dari titik Jakarta adalah cakram Bulan yang beririsan dengan cakram Matahari. Ini menunjukkan pada saat terbenam di titik Jakarta, Matahari memang sedang mengalami Gerhana Matahari. Dan hal ini memang benar-benar terjadi, dimana dua lokasi di DKI Jakarta berhasil mengabadikan saat-saat awal gerhana tersebut. Yakni di titik rukyat hilaal pulau Karya, yang dilaksanakan oleh tim gabungan Kementerian Agama Kanwil Jakarta, Kementerian Agama Kep. Seribu, Lembaga Falakiyah PWNU Jakarta dan Jakarta Islamic Centre. Sementara yang kedua di titik rukyat hilaal Kemayoran, yang dilaksanakan oleh tim BMKG pusat.

adha-gb3_c-medan

Gambar 4. Perbandingan posisi serta kedudukan cakram Bulan dan Matahari untuk titik Medan (atas) dan Banda Aceh (bawah) pada 1 September 2016 TU saat Matahari terbenam. Perhatikan bahwa di kedua titik tersebut, syarat wujudul hilaal sudah terpenuhi. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 4. Perbandingan posisi serta kedudukan cakram Bulan dan Matahari untuk titik Medan (atas) dan Banda Aceh (bawah) pada 1 September 2016 TU saat Matahari terbenam. Perhatikan bahwa di kedua titik tersebut, syarat wujudul hilaal sudah terpenuhi. Sumber: Sudibyo, 2016.

Berbeda halnya dengan titik Medan (propinsi Sumatra Utara). Disini diperoleh bahwa pada saat Matahari terbenam sempurna Bulan ternyata belum sepenuhnya terbenam. Sebab piringan teratas Bulan masih ada di bawah horizon semu, meski bagian lainnya sudah di bawah horizon semu. Situasi serupa juga terjadi di titik Banda Aceh (propinsi Aceh), titik Sinabang di pulau Simeulue (propinsi Aceh) dan titik Gunungsitoli di pulau Nias (propinsi Sumatra Utara). Pada ketiga titik terakhir tersebut semuanya mengalami situasi Bulan belum sepenuhnya terbenam tatkala Matahari sudah terbenam sempurna, dimana masih ada bagian piringan teratas Bulan yang menyembul di atas horizon semu.

Dengan demikian syarat wujudul hilaal sejatinya telah terpenuhi di sebagian pulau Sumatra, setidaknya di propinsi Aceh dan Sumatra Utara. Seyogyanya dengan prinsip transfer wujudul hilaal maka daerah-daerah lain di Indonesia yang belum memenuhi syarat musti mengikuti Aceh dan Sumatra Utara (yang sudah memenuhi syarat wujudul hilaal). Bila hal ini diberlakukan maka seyogyanya 1 Zulhijjah 1437 H di Indonesia menurut “kriteria” wujudul hilaal bertepatan dengan Jumat 2 September 2016 TU. Dan hari raya Idul Adha seyogyanya bertepatan dengan Minggu 11 September 2016 TU.

adha-gb3_e-simeulue

Gambar 5. Perbandingan posisi serta kedudukan cakram Bulan dan Matahari untuk titik Sinabang di pulau Simeulue (atas) dan Gunungsitoli di pulau Nias (bawah) pada 1 September 2016 TU saat Matahari terbenam. Perhatikan bahwa di kedua titik tersebut, syarat wujudul hilaal sudah terpenuhi. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 5. Perbandingan posisi serta kedudukan cakram Bulan dan Matahari untuk titik Sinabang di pulau Simeulue (atas) dan Gunungsitoli di pulau Nias (bawah) pada 1 September 2016 TU saat Matahari terbenam. Perhatikan bahwa di kedua titik tersebut, syarat wujudul hilaal sudah terpenuhi. Sumber: Sudibyo, 2016.

Namun situasi tersebut tidak terjadi. Muhammadiyah dalam maklumatnya menetapkan hari raya Idul Adha bertepatan dengan Senin 12 September 2016 TU. Inilah anomali itu. Personalia pengurus pusat Muhammadiyah dalam penjelasan singkatnya (secara personal) menyebut bahwa situasi ini terjadi karena di titik acuan perhitungan (markaz), yakni di Yogyakarta, situasi moonset after sunset belum terpenuhi.

Meski penjelasan ini belum menjawab pertanyaan bagaimana dengan prinsip transfer wujudul hilaal, sebagaimana yang pernah diterapkan pada penentuan 1 Ramadhan 1434 H (2013 TU) di Indonesia. Dimana pada saat itu sebagian Indonesia (khususnya pulau-pulau Sumatra, Jawa, kepulauan Bali dan Nusa Tenggara serta sebagian pulau Kalimantan dan sebagian kecil Sulawesi) sudah memenuhi syarat wujudul hilaal pada Senin 8 Juli 2013 TU sementara sisanya belum. Namun Muhammadiyah memaklumatkan seluruh Indonesia sudah memasuki 1 Ramadhan 1434 H (menurut “kriteria” wujudul hilaal) pada keesokan harinya Selasa 9 Juli 2013 TU.

Gambar 6. Zona potensi ketampakan (visibilitas) hilaal per 8 Juli 2013 TU secara toposentrik berdasarkan kriteria Odeh (Audah). Warna merah tidak memenuhi moonset after sunset. Berdasar grafik ini sebagian Indonesia sudah memenuhi syarat wujudul hilaal. Dengan prinsip transfer wujudul hilaal, maka Muhammadiyah memaklumatkan bahwa saat tu seluruh Indonesia sudah memenuhi syarat wujudul hilaal. Sumber: Odeh, 2013.

Gambar 6. Zona potensi ketampakan (visibilitas) hilaal per 8 Juli 2013 TU secara toposentrik berdasarkan kriteria Odeh (Audah). Warna merah tidak memenuhi moonset after sunset. Berdasar grafik ini sebagian Indonesia sudah memenuhi syarat wujudul hilaal. Dengan prinsip transfer wujudul hilaal, maka Muhammadiyah memaklumatkan bahwa saat tu seluruh Indonesia sudah memenuhi syarat wujudul hilaal. Sumber: Odeh, 2013.

Di atas semua persoalan teknis tersebut, patut disyukuri bahwa kedua anomali itu menjadikan Idul Adha 1437 H dapat kita rayakan bersama-sama di Indonesia di sebagian besar dunia pada hari yang sama. Kebersamaan semacam ini yang telah lama didamba oleh Umat Islam dimanapun berada. Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah SAW bertutur bahwa hari raya adalah saat orang banyak berhari raya. Semoga kebersamaan ini dapat selalu terlaksana dalam hal waktu-waktu ibadah (awal Ramadhan dan dua hari raya) ke depan.

Robohnya Observatorium Kita, Catatan Idul Adha 1436 H yang Berbeda di Indonesia

Bagian keempat dari lima tulisan

Konjungsi geosentris Bulan-Matahari, yakni peristiwa saat titik pusat cakram Bulan dan titik pusat cakram Matahari menempati satu garis bujur ekliptika yang sama dipandang pusat Bumi, terjadi pada Minggu 13 September 2015 Tarikh Umum (TU) pukul 13:41 WIB. Sementara konjungsi toposentris Bulan-Matahari, yakni peristiwa sejenis namun dipandang dari salah satu titik di permukaan globe Bumi, justru terjadi lebih kemudian. Untuk Indonesia, konjungsi toposentrik tersebut berlangsung antara pukul 14:45 WIB (Medan, propinsi Sumatra Utara) hingga 15:32 WIB (Biak, propinsi Papua). Konjungsi toposentrik sejatinya lebih realistis, karena segenap manusia hidup di permukaan Bumi. Namun dalam praktiknya kalah populer dibanding konjungsi geosentrik.

Konjungsi geosentrik Bulan-Matahari menjadi patokan bagi elemen umur Bulan geosentrik. Yakni selang waktu antara saat konjungsi (geosentrik) hingga saat Matahari terbenam di sebuah titik. Umur Bulan bernilai positif jika konjungsi geosentris Bulan-Matahari telah terjadi. Jika sebaliknya maka bernilai negatif. Bagi Indonesia, pada Minggu 13 September 2015 TU senja umur Bulan geosentrik bervariasi antara +1,9 jam (Jayapura, propinsi Papua) hingga +4,9 jam (Lhoknga, propinsi Aceh). Selain umur Bulan geosentrik terdapat pula sejumlah elemen penting lainnya. Yang pertama adalah tinggi Bulan, yakni busur vertikal yang ditarik dari garis cakrawala (horizon) hingga berujung titik pusat cakram Bulan pada saat Matahari terbenam. Seperti halnya umur Bulan, tinggi Bulan pun mengenal nilai positif dan negatif. Tinggi Bulan bernilai positif jika Bulan masih berada di atas cakrawala saat Matahari terbenam. Sebaliknya jika Bulan terbenam lebih dulu ketimbang Matahari, maka tinggi Bulan bernilai negatif. Di Indonesia, pada saat itu tinggi Bulan bervariasi antara -1,3 derajat (Jayapura, propinsi Papua) hingga +0,3 derajat (Lhoknga, propinsi Aceh).

Elemen selanjutnya adalah elongasi Bulan, yakni jarak sudut antara titik pusat cakram Bulan dan Matahari pada saat Matahari terbenam. Elongasi Bulan selalu bernilai positif. Pada Minggu 13 September 2015 TU senja, elongasi Bulan di Indonesia bernilai antara 1,1 derajat (Merauke, propinsi Papua) hingga 1,9 derajat (Lhoknga, propinsi Aceh). Dan elemen yang terakhir adalah selisih waktu terbenamnya Bulan-Matahari. Yakni selisih waktu antara saat Bulan terbenam dibanding dengan saat Matahari terbenam. Selisih waktu terbenamnya Bulan-Matahari bernilai positif jika Bulan terbenam lebih kemudian dibanding Matahari. Jika yang terjadi sebaliknya, maka selisih waktu terbenamnya Bulan-Matahari akan bernilai negatif. Di Indonesia pada saat itu nilai waktu terbenamnya Bulan-Matahari bervariasi antara -1 menit 50 detik (Jayapura, propinsi Papua) hingga +3 menit 5 detik (Nias, propinsi Sumatra Utara).

Harap digarisbawahi bahwa semua angka di atas merupakan hasil komputasi berdasar sistem perhitungan (hisab) ELP 2000-82. Kondisi dalam perhitungannya pun diidealkan. Misalnya elevasi (ketinggian) setiap titik di Indonesia dianggap sama dengan paras (permukaan) air laut rata-rata.

Gambar 1. Peta garis-garis tinggi Bulan di Indonesia pada saat Matahari terbenam Minggu 13 September 2015 TU dalam penentuan 1 Zulhijjah 1436 H. Nampak bahwa Indonesia dibelah oleh garis nol (garis yang menunjukkan tinggi Bulan sama dengan nol derajat). Sumber: Sudibyo, 2015.

Gambar 1. Peta garis-garis tinggi Bulan di Indonesia pada saat Matahari terbenam Minggu 13 September 2015 TU dalam penentuan 1 Zulhijjah 1436 H. Nampak bahwa Indonesia dibelah oleh garis nol (garis yang menunjukkan tinggi Bulan sama dengan nol derajat). Sumber: Sudibyo, 2015.

Minggu 13 September 2015 TU bertepatan dengan 29 Zulqaidah 1436 H di Indonesia. Setiap takwim (kalender) di Indonesia menunjukkan tanggal yang sama. Baik dalam takwim resmi pemerintah Republik Indonesia (yang bernama takwim standar Indonesia), maupun dalam kalender ormas Islam seperti Muhammadiyah dan Nahdatul ‘Ulama (NU). Maka 13 September 2015 TU menjadi saat yang krusial, karena menjadi momen untuk menentukan kapan 1 Zulhijjah 1436 H. Yang berhubungan erat dengan kapan Hari Raya Idul Adha 10 Zulhijjah 1436 H ditetapkan di negeri ini. Dan sayangnya, 29 Zulqaidah 1436 H terjadi bersamaan waktunya dalam segenap kalender di Indonesia, namun Indonesia kembali berbeda dalam merayakan Idul Adha.

Mengapa? Seperti dijelaskan sebelumnya, khasanah perbedaan dalam berpuasa Ramadhan serta berhari raya Idul Fitri dan Idul Adha di Indonesia sangat dipengaruhi sikap dua ormas Islam terbesar. Yakni NU di satu sisi dan Muhammadiyah di sisi yang lain. Bagi NU, penentuan tersebut hanya bisa dilakukan dengan cara rukyat hilaal. Ormas ini tetap menggunakan hisab (perhitungan ilmu falak), namun hisab lebih diposisikan sebagai advisory (pendukung pelaksanaan rukyat). Hasil rukyat hilaal yang bisa diterima di lingkungan NU adalah hasil rukyat yang hisabnya melampaui batas “kriteria” Imkan rukyat. “Kriteria” Imkan rukyat adalah “kriteria” yang dikembangkan oleh Kementerian Agama RI dengan tujuan untuk menjembatani kubu hisab dan rukyat. Pada posisi tersebut NU bersikap untuk menunggu hasil-hasil rukyat sekaligus memaparkannya di sidang itsbat penetapan awal Ramadhan dan dua hari raya yang diselenggarakan Kementerian Agama RI.


Pada Minggu 13 September 2015 TU senja itu tak satupun titik di Indonesia yang memenuhi “kriteria” Imkan rukyat. Sehingga dalam pemaparannya di sidang itsbat penetapan awal Zulhijjah 1436 H, NU menyatakan tak satupun pos rukyat hilaal di bawah jejaring NU yang melaporkan keterdeteksian hilaal. Sehingga bulan kalender Zulqaidah 1436 H pun digenapkan menjadi 30 hari (istikmal) dan 1 Zulhijjah 1436 H bertepatan dengan Selasa 15 September 2015 TU.

Keputusan NU ternyata senada dengan keputusan sidang itsbat penetapan awal Zulhijjah 1436 H Kementerian Agama RI. Hingga saat ini mayoritas ormas Islam di Indonesia dalam forum sidang itsbat telah menyepakati implementasi “kriteria” Imkan rukyat. Khususnya dalam bentuk revisinya semenjak 1432 H (2011 TU). Ormas Islam yang belum menyepakati “kriteria” tersebut, misalnya Persatuan Islam (Persis) yang memilih mengadopsi “kriteria” LAPAN 2009 untuk kalendernya, pada praktiknya selalu senada dengan keputusan sidang itsbat. Atas dasar demi persatuan Umat Islam di Indonesia.

Sebaliknya Muhammadiyah tidak menunggu hasil rukyat hilaal. Muhammadiyah berpedoman pada hisab dengan “kriteria”-nya sendiri, yakni “kriteria” wujudul hilaal. Muhammadiyah tidak menempatkan rukyat hilaal sebagai, katakanlah, advisory bagi hisab. Dengan posisi demikian Muhammadiyah juga berpedoman untuk tidak berpatokan pada hasil sidang itsbat dalam menetapkan hari Raya Idul Adha 1436 H.

Pada Minggu 13 September 2015 TU senja itu sebagian titik di Indonesia telah memenuhi “kriteria” wujudul hilaal. Khususnya Indonesia bagian barat. Dengan menerapkan prinsip naklul wujud, yang telah diadopsi Muhammadiyah semenjak 1433 H (2012 TU), maka meski bagian timur Indonesia belum memenuhi syarat “kriteria” wujudul hilaal namun tetap menjadi satu kesatuan dengan bagian barat Indonesia. Sehingga Muhammadiyah menetapkan bulan kalender Zulqaidah 1436 H hanya berumur 29 hari dan 1 Zulhijjah 1436 H ditetapkannya jatuh pada Senin 14 September 2015 TU.

Dengan situasi demikian dan ditunjang dengan keputusan Menteri Agama RI yang didasari sidang itsbat penetapan awal Zulhijjah 1436 H, maka nampak jelas bahwa hampir semua ormas Islam akan menetapkan hari raya Idul Adha 1436 H bertepatan dengan Kamis 24 September 2015 TU. Hal ini juga yang naga-naganya bakal diputuskan Menteri Agama RI. Sebaliknya Muhammadiyah telah jauh-jauh hari menetapkan Idul Adha 1436 H bertepatan dengan Rabu 23 September 2015 TU.

Dalam situasi seperti ini patut diperhatikan pula bahwa Saudi Arabia menetapkan Idul Adha 1436 H bertepatan dengan Kamis 24 September 2015 TU. Harus digarisbawahi bahwa hari Kamis itu akan bertepatan dengan tanggal 11 Zulhijjah 1436 H dalam kalender Ummul Qura yang digunakan pemerintah Kerajaan Saudi Arabia sebagai kalender sipil. Mengingat dengan basis “kriteria” Ummul Qura (yang mirip-mirip dengan “kriteria” wujudul hilaal), sejatinya 1 Zulhijjah 1436 H di Saudi Arabia bertepatan dengan Senin 14 September 2015 TU. Namun penentuan awal Ramadhan serta dua hari raya di Saudi Arabia tidak berdasarkan atas hisab, melainkan rukyat. Dan jika hasil rukyatnya tidak mendukung, bagi pemerintah Kerajaan Saudi Arabia tidak menjadi persoalan bilamana puasa Ramadhan dimulai pada 2 Ramadhan, atau hari raya Idul Fitri dilaksanakan pada 2 Syawwal, ataupun hari raya Idul Adha bertepatan dengan 11 Zulhijjah.

Gambar 2. Peta tinggi Bulan di segenap permukaan Bumi pada saat Matahari terbenam Minggu 13 September 2015 TU. Garis kuning menunjukkan garis nol (garis dimana tinggi Bulan sama dengan nol derajat). Di sebelah barat garis nol ini semua lokasi memiliki tinggi Bulan positif (+), sementara di timurnya memiliki tinggi Bulan negatif (-). Nampak bahwa seluruh Saudi Arabia berada di kawasan yang memiliki tinggi Bulan positif. Sehingga dalam kalender Ummul Qura dinyatakan bahwa 1 Zulhijjah 1436 H di Saudi Arabia bertepatan dengan 14 September 2015 TU. Namun karena rukyat hilaal di Saudi Arabia gagal mendeteksi hilaal (terutama akibat tutupan badai pasir), maka Idul Adha di Saudi Arabia jatuh pada Kamis 24 September 2015 TU yang bertepatan dengan 11 Zulhijjah 1436 H. Sumber: Sudibyo, 2015.

Gambar 2. Peta tinggi Bulan di segenap permukaan Bumi pada saat Matahari terbenam Minggu 13 September 2015 TU. Garis kuning menunjukkan garis nol (garis dimana tinggi Bulan sama dengan nol derajat). Di sebelah barat garis nol ini semua lokasi memiliki tinggi Bulan positif (+), sementara di timurnya memiliki tinggi Bulan negatif (-). Nampak bahwa seluruh Saudi Arabia berada di kawasan yang memiliki tinggi Bulan positif. Sehingga dalam kalender Ummul Qura dinyatakan bahwa 1 Zulhijjah 1436 H di Saudi Arabia bertepatan dengan 14 September 2015 TU. Namun karena rukyat hilaal di Saudi Arabia gagal mendeteksi hilaal (terutama akibat tutupan badai pasir), maka Idul Adha di Saudi Arabia jatuh pada Kamis 24 September 2015 TU yang bertepatan dengan 11 Zulhijjah 1436 H. Sumber: Sudibyo, 2015.

Inilah perbedaan tersebut. Khasanah perbedaan ini memang telah klasik, telah terjadi sejak berpuluh tahun silam di Indonesia. Pokok permasalahannya juga berkutat pada hal yang itu-itu saja. Dalam kala termutakhir masalah ini menjadi lebih menarik lagi saat diperbandingkan dengan dua cerita yang berasal dua masa berbeda dari satu tempat yang sama. Yakni Istanbul.

Observatorium

Istanbul adalah kota kuna yang berdiri di tubir dua benua. Sisi barat kota ini tumbuh di atas tanah benua Eropa sementara sisi timurnya mengembang di tepian benua Asia. Selat Bosporus yang tepat berada di tengah-tengah kota ini merupakan jalan air alamiah penghubung Laut Hitam dan Laut Marmara yang juga batas alamiah Asia dan Eropa. Istanbul juga sekaligus kota yang dianggap sebagai ibukota negara besar Islam terakhir: imperium Turki Utsmani. Jejak kebesaran tersebut masih terserak dimana-mana. Salah satunya di sisi barat kota, tempat berdirinya istana Topkapi sebagai salah satu istana utama Turki Utsmani pada masa kejayaannya. Dari istana ini beringsutlah ke utara menyusuri jalan raya hingga tiba di distrik Kasimpassa. Akan dijumpai sebuah stadion besar yang baru saja direnovasi dan kini menyandang nama presiden Turki petahana (incumbent), yakni Stadion Recep Tayyip Erdogan. Inilah markas klub Kasimpassa, klub sepakbola lokal yang bila saja dikembangkan dengan baik bukan tak mungkin dapat menjadi pesaing kuat klub raksasa sekotanya: Galatasaray.

Dari tempat parkir nan luas di sebelah timur stadion Erdogan, berjalanlah ke timur menyusuri jalan Kallavi nan sempit. Teruslah melangkah hingga anda sampai di persimpangannya dengan jalan Istiklal yang besar. Berhentilah di perempatan ini. Layangkan pandangan ke sekelilingnya secara seksama. Di tengah-tengah hutan beton yang mencirikan kota besar peradaban manusia masakini, anda akan menemukan sebuah plakat unik menempel di salah satu dinding gedung di pinggir jalan. Berbentuk persegi, namun didalamnya terdapat bentuk geometris mirip busur derajat yang sering kita gunakan kala masih duduk di bangku sekolah. Di tengah-tengahnya terdapat tali busur dengan pemberat di ujungnya. Plakat tersebut belum lama dipasang. Adalah Turkish Astronomical Society bekerja sama dengan Komisi Nasional UNESCO untuk Turki dan Universitas Koc yang punya gawe memasangnya, dalam rangka Tahun Astronomi Internasional 2009. Plakat inilah satu-satunya jejak modern yang menandakan bahwa di tempat ini dulu pernah berdiri sebuah Observatorium Istanbul.

Pada masanya, Observatorium Istanbul adalah observatorium terbesar sedunia. Itu adalah masa kala dunia sedang gencar-gencarnya menyelenggarakan penjelajahan samudera. Kapal-kapal layar besar mengarung samudera kemana-mana, menuju ke bagian dunia yang (dianggap) belum dikenal. Pembangunan dan pengoperasian armada kapal-kapal layar besar masa itu dapat disetarakan dengan peluncuran pesawat antariksa ulang-alik masa kini. Maka tak berlebihan bila magnitud Observatorium Istanbul pun bisa disetarakan dengan teleskop antariksa Hubble saat ini. Inilah salah satu bangunan monumental di masa keemasan dunia Islam. Gagasan pembangunan Observatorium Istanbul ditelurkan Taqi al-Din Muhammad ibn Ma’ruf, astronom yang dekat dengan sang putra mahkota Syahzada Murad. Kala putra mahkota naik tahta sebagai Sultan Murad III pada 1574 TU, Taqi al-Din pun ngompori sahabatnya itu agar berkenan membangun observatorium besar. Taqi al-Din sering membandingkan Turki Utsmani dengan Timurid, negeri kecil di Asia tengah yang kerap dikoyak peperangan. Namun begitu Timurid pernah memiliki sebuah observatorium besar, lengkap dengan madrasahnya. Yakni Observatorium Samarkand atau lebih populer dengan nama Observatorium UlughBeg. Observatorium Samarkand beroperasi hingga hampir seabad lamanya. Sebaliknya Turki Utsmani yang jauh lebih besar dan lebih gilang gemilang tidaklah demikian.

Gagasan Taqi al-Din memikat sultan. Dan mulailah megaproyek pembangunan Observatorium Istanbul bergulir. Butuh waktu tiga tahun sebelum seluruh bangunan observatorium benar-benar berhasil diselesaikan. Termasuk perpustakaan dan perumahan untuk para staf. Dengan fasilitas ini, Taqi al-Din tak sekedar ingin melampaui pencapaian Observatorium Samarkand, namun juga berambisi menciptakan tabel astronomis terbaru dan terlengkap bagi Matahari, Bulan serta planet-planet. Untuk itu Observatorium Istanbul dilengkapi dengan sejumlah radas (instrumen) tercanggih untuk ukuran zamannya. Seperti bola armillari raksasa, jam astronomis berketelitian tinggi, rubu’ (sextant) raksasa dan sebagainya. Di sisi lain, kompleks Observatorium Istanbul segera menyedot perhatian besar di daratan Eropa. Astronom Tycho Brahe (Denmark) demikian terpesona dengannya. Sehingga kala Brahe memutuskan membangun kompleks Observatorium Uraniborg (atas dukungan raja Denmark) hanya berselang beberapa tahun kemudian, sebagian desain dan radasnya mengacu Observatorium Istanbul.

Gambar 3. Plakat memorial Observatorium Istanbul yang ditempel di bangunan pada salah satu sudut perempatan jalan Kallavi dan Istiklal di Istanbul (Turki). Inilah satu-satunya penanda modern bahwa di sini dulu pernah berdiri observatorium terbesar di dunia pada masanya, Observatorium Istanbul. Sumber: WayMarking.com, 2014.

Gambar 3. Plakat memorial Observatorium Istanbul yang ditempel di bangunan pada salah satu sudut perempatan jalan Kallavi dan Istiklal di Istanbul (Turki). Inilah satu-satunya penanda modern bahwa di sini dulu pernah berdiri observatorium terbesar di dunia pada masanya, Observatorium Istanbul. Sumber: WayMarking.com, 2014.

Apa lacur, impian Taqi al-Din ibarat pungguk merindukan Jupiter. Segera intrik dan konlik meletup dengan para mufti (ulama). Selain merasa dianaktirikan, para mufti berang dengan sosok Taqi al-Din yang gemar menyerempet dunia astrologi, wilayah yang diharamkan dalam Islam. Puncaknya adalah tatkala sebuah komet sangat terang menampakkan diri di langit Istanbul. Komet tersebut, kini dikenal sebagai Komet Terang 1577 atau komet C/1577 V1, berbinar demikian terang hingga melebihi terangnya Venus. Komet itu nampak di langit Istanbul semenjak November 1577 dan terus bertahan hingga tahun itu berakhir. Sultan Murad III segera memerintahkan Taqi al-Din dan para stafnya untuk mengamati komet C/1577 V1 terus-menerus. Baik siang maupun malam. Sekaligus menafsiri apa pengaruhnya bagi manusia khususnya untuk sultan dan kerajaannya. Setelah beberapa lama mengamati, Taqi al-Din menyajikan laporan berbau astrologi yang berbunga-bunga pada sultan. Intinya komet tersebut adalah pertanda baik. Pertanda Turki Utsmani akan terus berjaya. Pertanda Turki Utsmani akan terus bertambah besar. Bahkan laporannya menyebut bahwa komet inilah pertanda kemenangan Turki Utsmani atas Persia, jikalau sultan berkehendak melancarkan invasi ke sana.

Tragisnya, hanya beberapa waktu pasca laporan tersebut wabah penyakit justru berkecamuk hebat. Sebagian Turki Utsmani tergerogoti. Beberapa tokoh penting negeri turut berkalang tanah, menjadi korban. Maka jangankan menginvasi Persia, Turki Utsmani justru sibuk sendiri mencoba mengatasi wabah. Mulai saat itu perhatian sultan terhadap Taqi al-Din sontak memudar. Kini giliran para mufti yang mengambil hati sang sultan. Sebagai kulminasinya, pada 1580 TU mufti kepala Syaikh Qazidada mengajukan saran agar Taqi al-Din disingkirkan sepenuhnya dari istana dan observatoriumnya dibongkar. Gayung bersambut. Sultan Murad III menyetujui sepenuhnya. Maka palu godam pun berayun-ayun, merobohkan Observatorium Istanbul hingga tak berbekas.

Observatorium yang (di)-roboh-(kan) sejatinya bukan hanya monopoli Istanbul. Hal serupa juga dialami Observatorium Uraniborg dalam satu dasawarsa kemudian. Begitu dukungan kerajaan menyurut seiring mangkatnya raja tua dan bertahtanya raja baru yang tak peduli ilmu, Tycho Brahe pun menyingkir. Ia pindah ke Praha (Ceko) dan meneruskan kerja astronominya dengan mendirikan observatorium baru. Disinilah Johannes Kepler datang mengabdi sebagai asisten yang produktif dan kreatif. Kelak berbekal data-data observasi Brahe inilah Kepler menelurkan ketiga hukum pergerakan planetnya yang legendaris sepeninggal Brahe. Uraniborg yang terlantar akhirnya benar-benar dirobohkan (hingga tinggal pondasinya) begitu Brahe wafat. Namun sebaliknya astronomi justru bersemi di tanah Eropa. Fajar astronomi modern akhirnya benar-benar menyembul tatkala hanya dalam beberapa dekade kemudian Galileo Galilei memperkenalkan radas teropong (teleskop) untuk observasi benda-benda langit.

Tidak demikian dengan dunia Islam. Imperium Turki Utsmani masih tetap berdiri hingga tiga setengah abad kemudian meski kian tertatih-tatih. Ia baru benar-benar lenyap dari panggung sejarah pada 1922 TU. Namun sepanjang masa tersebut tak pernah lagi berdiri kompleks observatorium besar nan monumental, yang dioperasikan dengan tekun oleh astronom-astronom Muslim yang disegani. Entah di wilayah Turki Utsmani, maupun di negara-negara Islam lainnya yang semasa seperti Mughal (India) maupun Qajar (Persia). Produk-produk observasi dalam wujud tabel astronomi (zij) maupun katalog bintang dengan tingkat akurasi yang lebih baik seiring perkembangan zaman pun tak pernah lahir. Pun turunan monumentalnya, seperti misalnya garis meridian acuan. Tak mengherankan bila dalam momen sepenting Konferensi Meridian Internasional 1884 yang digelar guna menentukan garis meridian utama yang menjadi acuan titik koordinat dan jam sejagat, Turki Utsmani (sebagai satu-satunya representasi dunia Islam saat itu) justru memberikan suaranya kepada meridian Greenwich dari Inggris. Padahal meridian Greenwich harus bersaing ketat dengan meridian Washington dari Amerika Serikat dan meridian Paris dari Perancis.

Saya menempatkan peristiwa robohnya Observatorium Istanbul sebagai sebuah penanda penting dalam perkembangan ilmu falak. Yakni sebagai transisi dari ilmu falak era klasik ke era kegelapan yang berlanjut hingga nyaris tiga abad kemudian. Segenap kemegahan ilmu falak era klasik terjungkal hingga ke titik nadirnya begitu memasuki era kegelapan. Nyaris tak ada lagi observatorium yang disegani di dunia Islam. Apalagi observatorium yang melengkapi dirinya dengan radas teropong. Tak ada lagi aktivitas observasi benda langit yang sistematis dan berkesinambungan. Tak ada lagi perdebatan ilmiah nan riuh dari teori yang dilontarkan. Tiada lagi manuskrip yang ditulis. Era klasik mewariskan tak kurang dari 10.000 buah manuskrip yang terserak di segenap penjuru. Jumlah itu diyakini hanyalah sebagian kecil dari karya produktif astronom Muslim era klasik. Peperangan, penaklukan dan penghancuran kota-kota beserta segenap isinya yang kerap terjadi pada masa itu membuat banyak manuskrip, dari bermacam bidang ilmu pengetahuan, yang termusnahkan. Baik sengaja maupun tidak. Pemusnahan paling menonjol adalah tatkala Baghdad (ibukota imperium Abbasiyah), diserbu dan ditaklukkan pasukan Mongol. Perpustakaan Baghdad turut diserbu dan banyak manuskrip yang dibuang ke sungai Tigris, hingga air sungai menghitam sampai ke muaranya akibat tinta yang luntur.

Dan hal yang paling menonjol, adalah terceraikannya hisab dengan rukyat. Rukyat, lebih spesifiknya rukyat hilaal, menurun kualitasnya dan hanya dipandang sebagai bagian dari tradisi. Tanpa pencatatan untuk kepentingan pengetahuan. Ironis memang. Apalagi di saat dunia Islam demikian terpuruk dalam era kegelapan ilmu falak, astronomi modern justru berkembang pesat di daratan Eropa (dan kemudian Amerika) dalam era pencerahan mereka. Dan astronomi modern pun seakan terlepas dari sentuhan Umat Islam khususnya cendekiawan-cendekiawannya. Meski kemudian ilmu falak era modern berkembang dalam satu setengah abad terakhir, namun dampak yang menyakitkan dari keterpurukan di era kegelapan masih kita rasakan (sebagian).

Perjanjian Internasional

Istanbul kembali mengemuka di masa berikutnya, berselang empat abad setelah robohnya Observatorium Istanbul. Pada 27 hingga 30 November 1978 TU berlangsung sebuah konferensi internasional di kota ini. Topiknya bukan main, yakni tentang kalender Hijriyyah internasional. Pesertanya pun bukan main, yakni para ahli falak utusan dari sejumlah negara Islam ataupun negara berpenduduk mayoritas Muslim. Keputusannya juga bukan main, yakni memperkenalkan sebuah “kriteria” yang menjadi dasar operasi kalender Hijriyyah dalam lingkup global. “Kriteria” tersebut bernama “kriteria” Istanbul. “Kriteria” Istanbul terdiri dari tiga syarat yang harus terpenuhi seluruhnya. Yakni beda tinggi Bulan-Matahari minimal 5 derajat (tinggi Bulan minimal 4 derajat), elongasi Bulan minimal 8 derajat dan umur Bulan geosentrik minimal 8 jam. “Kriteria” ini dinyatakan berlaku global. Bilamana ada satu titik saja dimanapun di globe Bumi yang terletak di antara garis bujur 180 BB di sisi barat hingga 180 BT di sisi timur yang telah memenuhi ketiga syarat “kriteria” Istanbul, maka seluruh Bumi telah memasuki tanggal 1 bulan kalender Hijriyyah yang baru, tanpa terkecuali.

Konferensi Istanbul menjadi salah satu momen penting dalam khasanah ilmu falak era modern. Inilah saat pertama kalinya kalender Hijriyyah internasional digaungkan, setelah menjadi impian seabad lebih. Tentu saja masih ada banyak keterbatasan dalam konferensi ini. Misalnya, konferensi tersebut ternyata bukanlah perjanjian internasional yang mengikat negara-negara pesertanya, seperti halnya Konferensi Meridian 1884 yang tersohor. Delegasi yang menghadirinya juga bukanlah utusan diplomatik. Dan yang lebih krusial lagi, konferensi ini tidak didului dengan rangkaian pertemuan pendahuluan (preparatory) untuk menyiapkan butir-butir masalah dan usulan yang hendak dibicarakan dalam konferensi tersebut. Namun di sisi lain, inilah untuk pertama kalinya Umat Islam sejagat boleh berharap bahwa kalender Hijriyyah internasional sudah dimiliki.

Namun harapan itu memudar seiring waktu. Dari segenap kawasan (region) Umat Islam sejagat, tak satupun yang hirau dengan konferensi Istanbul. Termasuk kawasan Timur Tengah sekalipun, yang menjadi episentrum Umat Islam masa kini. Terkecuali satu kawasan, yakni Asia Tenggara. Ya, Asia Tenggara dengan Indonesia sebagai jantungnya. Selagi kawasan-kawasan yang lain tak hirau dengan hasil-hasil konferensi Istanbul, Asia Tenggara mencoba mematuhinya. Bahkan tatkala pembahasan lanjutan hasil konferensi Istanbul mengalami kemacetan seiring deraan masalah-masalah politis di kawasan Timur Tengah, misalnya Perang Iran-Irak 1980-1988 dan Perang Irak 1991 seiring invasi Irak ke Kuwait, kawasan Asia Tenggara berinisiatif melanjutkan pembahasan tersebut. Inilah yang melahirkan forum MABIMS, sebagai forum setengah resmi bagi Menteri-menteri agama/urusan agama Islam dari Malaysia, Brunei Darussalam, Indonesia dan Singapura. Inilah forum yang melahirkan “kriteria” MABIMS yang dikemudian hari dikenal pula sebagai “kriteria” Imkan rukyat. Meski mengalami modifikasi sesuai dengan lingkup Asia Tenggara, namun pada dasarnya “kriteria” Imkan rukyat adalah derivasi (turunan) dari “kriteria” Istanbul. Hal tersebut nampak dari penggunaan elemen-elemen umur Bulan geosentrik, tinggi Bulan dan elongasi Bulan.

Baik “kriteria” Istanbul maupun turunannya dalam bentuk “kriteria” Imkan rukyat sejatinya bukanlah kriteria visibilitas yang benar-benar ilmiah murni. Keduanya hanyalah kriteria visibilitas yang dibentuk atas dasar kesepakatan terhadap usulan-usulan. Dalam kasus “kriteria” Istanbul, beberapa syaratnya memang berlatar belakang ilmiah. Yakni elongasi Bulan minimal 8 derajat, yang diturunkan langsung dari batas Danjon (Danjon limit). Batas Danjon adalah batas minimal dalam elongasi Bulan dimana lengkung sabit Bulan tertipis (baik pra atau pasca konjungsi geosentris) masih bisa teramati khususnya dengan teropong. Terminologi batas Danjon diapungkan oleh Andre Danjon, direktur Observatorium Paris, setelah penelitian ekstensif sepanjang 1932 hingga 1936 TU. Danjon menemukan bahwa panjang busur sabit Bulan sebelum terjadinya fase Bulan separuh adalah berbanding lurus dengan elongasi Bulan. Semakin kecil nilai elongasi Bulan-nya, maka semakin pendek busur sabit Bulan-nya. Dari data yang tersedia, Danjon menyimpulkan bahwa sabit Bulan akan tepat menghilang (panjang busur sabit tepat sama dengan nol) saat elongasi Bulan tepat 7 derajat. Dengan kata lain, sabit Bulan takkan pernah kasat mata saat elongasi Bulan lebih kecil dari 7 derajat, meskipun diamati dengan teropong. Syarat lainnya yang berlatar belakang ilmiah adalah beda tinggi Bulan-Matahari minimal, yang diturunkan dari kesimpulan kriteria Fotheringham 1911, sebagai satu-satunya kriteria empiris yang tersedia pada saat itu. Sebaliknya syarat umur Bulan geosentrik minimal tidak memiliki basis ilmiah yang kukuh.

Gambar 4. Relik Observatorium UlughBeg yang masih tersisa di Samarkand (Uzbekistan). Inilah observatorium terbesar di dunia pada masanya sebelum berdirinya Observatorium Istanbul. Dari tempat inilah tabel astronomi (zij) maupun katalog bintang yang paling akurat sepanjang sejarah ilmu falak di dunia Islam lahir. Beberapa masih menggunakan tabel tersebut di masa kini. Sumber: Nidhal Guessom, 2013.

Gambar 4. Relik Observatorium UlughBeg yang masih tersisa di Samarkand (Uzbekistan). Inilah observatorium terbesar di dunia pada masanya sebelum berdirinya Observatorium Istanbul. Dari tempat inilah tabel astronomi (zij) maupun katalog bintang yang paling akurat sepanjang sejarah ilmu falak di dunia Islam lahir. Beberapa masih menggunakan tabel tersebut di masa kini. Sumber: Nidhal Guessom, 2013.

Hari-hari ini banyak yang mempertanyakan posisi “kriteria” Imkan rukyat. Salah satunya terkait sifat lokalitasnya yang hanya berlaku di lingkup regional. Bukan global. Sebagai antitesisnya kemudian diapungkan gagasan pembentukan kalender Hijriyyah internasional. Tanpa menyadari bahwa hal itu sudah pernah dilakukan dalam konferensi Istanbul, yang seiring aliran masa kemudian berujung pada terbentuknya “kriteria” Imkan rukyat.

Kalender Hijriyyah internasional memang menjadi impian setiap Umat Islam. Dalam fatwanya terkait penetapan awal Ramadhan dan dua hari raya di Indonesia yang diletakkan di tangan pemerintah melalui Menteri Agama, Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun menyinggung soal kalender Hijriyyah internasional. Dalam hemat MUI, pengawasan dan operasi kalender internasional semacam itu perlu ditempatkan di sebuah entitas tersendiri, yang disebut sebagai qadi internasional. Namun hingga kini negara-negara Islam atau berpenduduk mayoritas Muslim sejagat yang berhimpun dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI) belum jua bisa membentuk entitas tersebut. Maka untuk mengisi kekosongan, peran itu sementara didelegasikan ke setiap kawasan dan di Asia Tenggara disepakati terletak di tangan forum MABIMS.

Membuka kembali perbincangan dan pembentukan kalender Hijriyyah internasional itu sah-sah saja. Apalagi memang konferensi Istanbul itu belum selesai. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Permasalahannya, siapkah mengerahkan segenap tenaga untuk menuju ke sana? Sebab berkaca dari macetnya pembahasan lanjutan konferensi Istanbul dan sebaliknya suksesnya Konferensi Meridian 1884, ada banyak langkah yang perlu dilakukan. Konferensi Meridian Internasional 1884, yang menjadi landasan operasi kalender Tarikh Umum (Gregorian) hingga saat ini, tidaklah berlangsung sekonyong-konyong. Ia dilatarbelakangi oleh kebutuhan bersama untuk menetapkan garis meridian utama (bujur nol) untuk patokan awal waktu se-Bumi. Kesadaran bersama ini dituangkan dalam Konferensi Geografi Internasional 1871 di Antwerp (Belgia). Butuh dua konferensi geografi internasional lanjutan, terakhir di Venesia (Italia) pada 1881 TU, untuk menyepakati bersama bahwa penetapan garis bujur nol atau garis bujur utama (meridian utama) yang universal dan penyatuan waktu standar adalah sebuah kebutuhan mutlak. Keputusan ini lantas ditindaklanjuti dalam Konferensi Geodesi Internasional ketujuh yang diselenggarakan di Roma (Italia) pada Oktober 1883 TU, dengan membahas detail teknisnya terkait masalah tersebut lebih lanjut. Hasilnya adalah butir-butir pembahasan diplomatik bagi perjanjian internasional yang bakal dilaksanakan pada pertemuan selanjutnya.

Puncaknya adalah Konferensi Meridian Internasional 1884 yang diselenggarakan di Washington (Amerika Serikat) pada Oktober 1884 TU. Konferensi pemuncak itu dihadiri oleh 41 diplomat dari 26 negara yang merepresentasikan dunia masa itu. Dunia Islam diwakili oleh imperium Turki Utsmani, satu-satunya negara Islam yang representatif saat itu. Konferensi tersebut menyepakati tujuh resolusi. Diantaranya resolusi mengenai garis bujur nol atau garis bujur utama tunggal untuk semua negara di dunia. Garis bujur nol tunggal itu ditetapkan (atas dasar voting) sebagai garis bujur yang melintasi Royal Observatory of Greenwich, London (Inggris). Juga resolusi tentang definisi hari universal, yang dimulai tepat tengah malam sebagai pukul 00:00 dan diakhiri tepat tengah malam berikutnya sebagai pukul 24:00. Hari universal berpatokan pada hari Matahari rata-rata (mean solar day). Satu hari didefinisikan berumur 24 jam dengan 1 jam berumur 60 menit dan 1 menit berumur 60 detik. Sehingga dalam sehari terdapat 86.400 detik. Entitas waktu universal pun terbentuk, saat itu disebut GMT (Greenwich Mean Time). Inilah landasan bagi kalender Tarikh Umum atau kalender Gregorian seperti kita kenal pada hari ini.

Setelah perjanjian internasional tersebut, langkah kalender Tarikh Umum pun masih panjang. Tiap-tiap negara tidak segera mengadopsinya. Butuh waktu hingga puluhan tahun lamanya sebelum resolusi-resolusi dalam konferensi ini bisa diterima oleh negara-negara di dunia. Perancis misalnya, meski menghadiri Konferensi Meridian Internasional 1884, baru mengadopsi seluruh resolusinya pasca Perang Dunia 1. Selama waktu itu Perancis tetap bersetia dengan meridian Paris-nya.

Berkaca dari pengalaman kalender Tarikh Umum, maka untuk membentuk kalender Hijriyyah internasional pun butuh langkah yang sistematis. Tak cukup hanya satu pertemuan internasional, yang bersifat ad-hoc, namun butuh rangkaian pertemuan-pertemuan internasional untuk membentuknya. Termasuk dengan rangkaian pertemuan pendahuluan. Aktor negara, dalam hal ini negara-negara Islam atau berpenduduk mayoritas Muslim, musti dilibatkan. Bukan sekedar delegasi biasa, namun utusan setingkat diplomat dibutuhkan dari tiap negara tersebut.

Dan di atas dari semua rangkaian pertemuan yang sifatnya prosedural itu, bagaimana posisi hisab dan rukyat didudukkan dalam konteks kalender Hijriyyah pun musti jelas. Tak bisa menyusun kalender semata atas dasar rukyat. Sebaliknya juga tak bisa menyusun kalender semata atas dasar hisab saja. Baik hisab ataupun rukyat harus digunakan bersama-sama untuk mengontrol kualitas kalender. Praktik ini juga tetap dijalankan dalam kalender Tarikh Umum. Meski sekilas terlihat sebagai kalender yang semata hanya berdasar hisab dan bisa diperhitungkan di atas kertas saja, dalam praktiknya astronomi modern terlibat penuh untuk melakukan pengamatan benda-benda langit yang diperlukan guna menentukan perilaku rotasi Bumi dan detik standar (yang menjadi dasar kalender Tarikh Umum). Dipelopori oleh Danjon (1929 TU) dengan pengamatan posisi Bulan, Matahari dan planet-planet, kini pemantauan rotasi Bumi dan detik standar telah melangkah jauh dengan penggunaan radas-radas kompleks dan di luar dugaan. Misalnya penggunaan teleskop radio untuk memantau sinyal-sinyal elektromagnetik yang dipancarkan benda langit seperti quasar (yang terletak di luar galaksi Bima Sakti kita) dengan menggunakan teknik VLBI (Very Long Baseline Interferometry) secara rutin. Atau menggunakan teleskop dengan pembangkit laser untuk dibidikkan ke titik-titik di Bulan dimana cermin-cermin retroreflektor berada, juga secara rutin. Semua upaya ini yang dilakukan di bawah koordinasi organisasi transnasional bertajuk International Earth Rotation and Reference System Service (IERS).

Di sinilah tantangan terbesarnya. Pasca robohnya Observatorium Istanbul dan khususnya setelah era modern ilmu falak bermula, pertumbuhan observatorium astronomi di dunia Islam masa kini terbilang lambat. Jumlah observatorium yang dimiliki oleh negara-negara Islam atau berpenduduk mayoritas Muslim saat ini masih berbilang 12 buah, dari 600-an lebih observatorium astronomi aktif yang terdaftar di dunia. Padahal observatorium menjadi kunci untuk menyajikan data guna membentuk kalender. Dan observatorium yang tersebar di banyak titik di negara-negara Islam/berpenduduk mayoritas Muslim di segenap penjuru seyogyanya akan menyajikan lebih banyak data yang sangat bermanfaat dalam pembentukan kalender. Jelas, hingga saat ini dampak robohnya Observatorium Istanbul masih terasa meski telah empat abad lamanya. Dampak yang harus diatasi bilamana kalender Hijriyyah internasional memang hendak dibangun di masa kini.

Catatan: diinspirasikan dari kumpulan cerita pendek Robohnya Surau Kami dari Ali Akbar Navis.

Konstelasi Idul Adha 1435 H di Indonesia dan Saudi Arabia

Bagian ketiga dari lima tulisan

Lembaran kalender 1435 Hijriyyah telah hampir memasuki bulan kalender pamungkasnya, yakni Zulhijjah. Inilah salah satu bulan kalender yang tinggi kedudukannya di mata Umat Islam sejagat. Karena di saat inilah terdapat ibadah yang menjadi bagian Rukun Islam, yakni haji. Dan momen menentukan bagi ibadah haji terjadi setiap tanggal 9 Zulhijjah dalam prosesi wukuf di padang Arafah. Sementara jamaah calon haji berkumpul di padang Arafah untuk wukuf, umat Islam di segenap penjuru jagat lainnya dianjurkan untuk menunaikan ibadah puasa Arafah yang bersifat sunat. Dan di esok harinya, yakni pada 10 Zulhijjah, Idul Adha pun datanglah. Disusul dengan hari-hari tasyrik yang datang beruntun dalam tiga hari berikutnya. Inilah saat-saat dimana hewan-hewan kurban disembelih, sebagai pengingat akan pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS kala baru beberapa waktu memasuki lembah Bakka (kini Makkah).

Di Indonesia, popularitas hari raya Idul Adha memang tidaklah setinggi hari raya Idul Fitri. Meski sama-sama menjadi hari raya yang memiliki makna budaya, namun magnitud Idul Adha sebagai peristiwa budaya tidaklah semassif Idul Fitri. Pergerakan massa menjelang dan selepas Idul Adha jauh lebih kecil dibanding Idul Fitri. Banyak orang Indonesia yang tetap memilih untuk merayakan Idul Adha di tempat tinggalnya masing-masing tanpa merasa perlu menyempatkan pulang ke tanah tumpah darah nenek moyang. Apalagi penyembelihan hewan kurban dapat dilaksanakan kapanpun selama empat hari berturut-turut semenjak saat Idul Adha. Meski demikian diskursus seputar perbedaan atau persamaan dalam penetapan hari raya Idul Adha tetap mendapat banyak perhatian seperti halnya Idul Fitri.

Bagaimana seputar penetapan hari raya Idul Adha 10 Zulhijjah 1435 H di Indonesia?

Gambar 1. Hilaal tua (Bulan sabit tua) diabadikan pada Selasa 23 September 2014 pukul 04:55 WIB dari Bangil, Pasuruan (Jawa Timur) oleh Agus Siswanto. Hilaal tua adalah fase Bulan yang menjadi pasangan dari hilaal. Secara astronomis hilaal tua sama pentingnya dengan hilaal, namun secara syari hanya hilaal yang berperan menjadi penentu pergantian kalender Hijriyyah. Sumber: Siswanto, 2014.

Gambar 1. Hilaal tua (Bulan sabit tua) diabadikan pada Selasa 23 September 2014 pukul 04:55 WIB dari Bangil, Pasuruan (Jawa Timur) oleh Agus Siswanto. Hilaal tua adalah fase Bulan yang menjadi pasangan dari hilaal. Secara astronomis hilaal tua sama pentingnya dengan hilaal, namun secara syari hanya hilaal yang berperan menjadi penentu pergantian kalender Hijriyyah. Sumber: Siswanto, 2014.

Idul Adha 1435 H sangat bergantung pada kapan tanggal 1 Zulhijjah 1435 H ditetapkan. Dan penetapan tanggal tersebut bergantung kepada kapan 29 Zulqaidah 1435 H terjadi. Bagi segenap Indonesia, 29 Zulqaidah 1435 H bertepatan dengan Rabu 24 September 2014. Sehingga elemen-elemen Bulan saat Matahari terbenam pada tanggal tersebutlah yang menjadi penentu.

Di satu sisi ormas Muhammadiyah melalui Pimpinan Pusat-nya telah jauh-jauh hari memaklumatkan bahwa bagi mereka tanggal 1 Zulhijjah 1435 H bertepatan dengan Kamis 25 September 2014. Sehingga Idul Adha 1435 H terjadi pada Sabtu 4 Oktober 2014. Yang menjadi dasarnya adalah sebagian Indonesia telah memenuhi “kriteria” wujudul hilaal, khususnya Indonesia bagian barat. Sementara di sisi yang lain, meski masih tetap menantikan hasil sidang itsbat penetapan Idul Adha 1435 H yang salah satunya mengagendakan untuk mendengar dan menerima/menolak laporan-laporan observasi hilaal dari seluruh penjuru Indonesia, namun kemungkinan besar Menteri Agama bakal memutuskan 1 Zulhijjah 1435 H bertepatan dengan Jumat 26 September 2014 bila mengacu “kriteria” kesepakatan yang berlaku pada saat ini. Sebab tak satupun titik di wilayah Indonesia yang memenuhi “kriteria” imkan rukyat. Maka hampir dapat dipastikan Menteri Agama juga bakal mengumumkan Idul Adha 1435 terjadi pada Minggu 5 Oktober 2014.

Bagaimana dengan ormas besar lainnya, yakni Nahdlatul ‘Ulama (NU)? Sikap Pengurus Besar-nya jelas, yakni NU tetap menunggu hasil-hasil rukyat dan memverifikasinya. Namun melihat elemen-elemen Bulan pada 29 Zulqaidah 1435 H, juga hampir dapat dipastikan NU bakal ber-Idul Adha 1435 H pada Minggu 5 Oktober 2014. Musababnya pada Rabu senja itu hilaal mustahil dapat dirukyat, bahkan menggunakan teleskop termutakhir sekalipun. Meski demikian, dengan ‘kekuasaan’ di tubuh NU tidak berada di tangan Pengurus Besar-nya melainkan terdistribusi ke ulama/pondok pesantren kharismatis, tetap bakal ada beberapa kalangan yang menyelisihi keputusan Pengurus Besar dan ber-Idul Adha sehari lebih dini. Terutama kalangan yang masih mempergunakan sistem perhitungan (sistem hisab) Sullam, misalnya di Cakung (DKI Jakarta). Hal yang sama pun bakal dijumpai di tubuh Muhammadiyah. Meski di sini ‘kekuasaan’ berada di tangan Pengurus Pusat, namun tetap bakal ada beberapa kalangan yang menyelisihi keputusannya dan ber-Idul Adha sehari kemudian. Faktor bagaimana Saudi Arabia memutuskan Idul Adha-nya sangat menentukan sikap kalangan ini.

Elemen Bulan

Bagaimana sesungguhnya posisi Bulan pada Rabu senja 24 September 2014 sehingga hari raya Idul Adha 1435 H bakal berpotensi besar berbeda di Indonesia?

Satu parameter penting penentuan awal bulan kalender Hijriyyah adalah konjungsi Bulan-Matahari (ijtima’). Ini adalah peristiwa dimana pusat cakram Matahari tepat segaris bujur ekliptika dengan pusat cakram Bulan ditinjau dari titik referensi tertentu. Dalam peristiwa ini Bulan bisa saja seakan-akan ‘menindih’ Matahari dalam situasi khusus yang disebut Gerhana Matahari. Namun yang kerapkali terjadi adalah Bulan tetap mengambil jarak sudut tertentu terhadap Matahari, sehingga Matahari dan Bulan terlihat berjauhan dan hanya berada dalam satu garis lurus. Garis lurus ini tidak harus mendatar (horizontal) ataupun tegak (vertikal). Di Indonesia, konjungsi Bulan dan Matahari lebih sering terjadi saat kedua raksasa langit tersebut terletak pada satu garis lurus yang relatif miring terhadap cakrawala (horizon).

Dengan menggunakan sistem hisab kontemporer khususnya sistem perhitungan ELP 2000-82 diketahui bahwa bila ditinjau dari titik pusat Bumi (geosentrik), konjungsi terjadi pada Rabu 24 September 2014 pukul 13:14 WIB. Sebaliknya bila ditinjau dari titik permukaan Bumi (toposentrik), konjungsi justru terjadi lebih kemudian. Yakni dalam rentang waktu antara pukul 13:55 WIB (bagi kota Medan, propinsi Sumatra Utara) hingga pukul 15:00 WIB (bagi kota Biak, propinsi Papua). Konjungsi toposentrik sejatinya lebih realistis mengingat segenap umat manusia hidup di permukaan Bumi. Namun dalam praktiknya kalah populer dibanding konjungsi geosentrik. Sehingga yang populer menjadi patokan perhitungan ilmu falak adalah konjungsi geosentrik.

Gambar 2. Peta tinggi Bulan di Indonesia pada saat Matahari terbenam Rabu 24 September 2014. Nampak bahwa Indonesia dibelah oleh garis nol (garis yang menunjukkan tinggi Bulan sama dengan nol derajat). Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 2. Peta tinggi Bulan di Indonesia pada saat Matahari terbenam Rabu 24 September 2014. Nampak bahwa Indonesia dibelah oleh garis nol (garis yang menunjukkan tinggi Bulan sama dengan nol derajat). Sumber: Sudibyo, 2014.

Konjungsi geosentrik Bulan-Matahari menentukan elemen umur Bulan geosentrik, yakni selang waktu antara saat konjungsi (geosentrik) hingga saat Matahari terbenam di masing-masing titik pada satu wilayah negeri tertentu. Bagi Indonesia pada 24 September 2014 senja umur Bulan bervariasi antara +2,3 jam di Jayapura (propinsi Papua) hingga +5,3 jam di Lhoknga (propinsi Aceh). Selain umur Bulan, terdapat parameter signifikan lainnya yang disebut tinggi Bulan, yakni tinggi pusat cakram Bulan terhadap garis cakrawala (horizon) pada saat Matahari terbenam. Di Indonesia, pada saat yang sama tinggi Bulan bervariasi antara -0,7 derajat di Jayapura (propinsi Papua) hingga +0,5 derajat di Pelabuhan Ratu (propinsi Jawa Barat). Dan parameter berikutnya yang juga menentukan adalah elongasi Bulan, yakni jarak sudut antara titik pusat cakram Bulan dan Matahari pada saat Matahari terbenam. Pada saat tersebut, elongasi Bulan di Indonesia bernilai antara 1,8 derajat di Merauke (propinsi Papua) hingga 2,5 derajat di pulau Sabang (propinsi Aceh). Harus digarisbawahi bahwa semua angka merupakan hasil perhitungan berdasar kondisi ideal, dimana elevasi (ketinggian) setiap titik dianggap sama dengan paras (permukaan) air laut rata-rata.

Dari pemaparan data tersebut terlihat, bahwa parameter tinggi Bulan ternyata tidaklah mengikuti bentuk geografis Indonesia. Sehingga posisi Bulan dan Matahari saat ini menjadikan titik Lhoknga (Aceh), yang menjadi titik terbarat Indonesia, tidak memiliki tinggi Bulan terbesar bagi seluruh negeri. Sebaliknya geometri posisi Bulan dan Matahari adalah demikian rupa sehingga justru di titik Pelabuhan Ratu-lah tinggi Bulan mencapai nilai maksimumnya bagi segenap Indonesia. Hal ini pun berlaku dalam lingkup global. Kita bisa melihat misalnya di Saudi Arabia, negeri yang secara teknis terletak jauh lebih ke barat dibanding Indonesia. Namun pada Rabu senja 24 September 2014, tinggi Bulan di kotasuci Makkah adalah setara tinggi Bulan di Pelabuhan Ratu. Yakni sama-sama +0,5 derajat.

Sisi Hisab

Bagaimana cara membaca data-data ini sehingga kita bisa mengetahui bahwa secara teknis Idul Adha 1435 H di Indonesia berkemungkinan besar bakal terlaksana secara berbeda?

Gambar 3. Peta umur Bulan (selisih antara saat konjungsi Bulan-Matahari geosentris dengan terbenamnya Matahari setempat) di Indonesia pada saat Matahari terbenam Rabu 24 September 2014. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 3. Peta umur Bulan (selisih antara saat konjungsi Bulan-Matahari geosentris dengan terbenamnya Matahari setempat) di Indonesia pada saat Matahari terbenam Rabu 24 September 2014. Sumber: Sudibyo, 2014.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, khasanah perbedaan atau persamaan dalam berpuasa Ramadhan serta berhari raya Idul Fitri dan Idul Adha di Indonesia sangat dipengaruhi oleh bagaimana sikap dua ormas Islam terbesar, yakni NU di satu sisi dan Muhammadiyah di sisi yang lain. Dan keduanya memiliki cara berbeda dalam penentuan itu. Bagi NU, penentuan tersebut hanya bisa dilakukan dengan cara rukyat hilaal dengan hisab (perhitungan ilmu falak) sebagai sebagai faktor pendukung pelaksanaan rukyat. Semenjak beberapa tahun belakangan NU telah mulai konsisten melakukan rukyat hilaal bagi penentuan setiap awal bulan kalender Hijriyyah. Seiring beragamnya sistem hisab di tubuh NU yang hasilnya pun sangat bervariasi, ormas ini memiliki parameter sendiri untuk menentukan apakah hasil rukyat hilaal bisa diterima ataukah tidak. Parameter tersebut mengacu pada “kriteria” imkan rukyat yang diformulasikan Kementerian Agama RI, khususnya pada faktor tinggi Bulan minimal yang dinyatakan sistem hisab kontemporer.

rmd1435_IR

Sebaliknya bagi Muhammadiyah, awal bulan kalender Hijriyyah cukup ditentukan dengan cara hisab tanpa perlu melakukan rukyat hilaal. Kriteria yang digunakan adalah “kriteria” wujudul hilaal, yang pada saat ini memiliki formulasi sebagai berikut :

rmd1435_WH

Dengan membandingkan dua “kriteria” tersebut terhadap elemen posisi Bulan pada Rabu senja 24 September 2014, maka dengan mudah dapat dilihat sebagian wilayah Indonesia telah memenuhi “kriteria” wujudul hilaal khususnya bagian sebelah barat. Sementara bagian timur belum memenuhi. Ini terjadi akibat garis nol (yakni garis yang menghubungkan titik-titik yang memiliki tinggi Bulan tepat sama dengan nol derajat saat Matahari terbenam) memang ‘membelah’ Indonesia. Di sisi barat garis ini tinggi Bulan telah bernilai positif. Sebaliknya di sisi timur negatif. Namun dengan berdasar prinsip naklul wujud, yang mulai digunakan Muhammadiyah semenjak 2013 lalu, maka bagian timur Indonesia pun dianggap sudah memenuhi “kriteria” mengingat kedudukannya sebagai satu kesatuan wilayah negara ini. Sehingga 1 Zulhijjah bagi Muhammadiyah bertepatan dengan Kamis 25 September 2014 dan hari raya Idul Adha jatuh pada Sabtu 4 Oktober 2014.

Sementara bila dipandang dari “kriteria” imkan rukyat, tiada satupun titik di segenap wilayah Indonesia yang memenuhi syarat karena seluruhnya memiliki tinggi Bulan kurang dari +2 derajat. Dengan demikian tak satupun bagian wilayah Indonesia yang memenuhi “kriteria” Imkan Rukyat. Sehingga 1 Zulhijjah 1435 H bakal bertepatan dengan Jumat 25 September 2014 dan hari raya Idul Adha bertepatan dengan Minggu 5 Oktober 2014. Inilah potensi perbedaan itu.

Sisi Rukyat

Uraian di atas mendasarkan pada perspektif hisab. Nah bagaimana jika berdasar pada perspektif rukyat?

Di Indonesia, saat tinggi Bulan setara atau lebih dari 2 derajat memang sudah mulai muncul laporan rukyatul hilaal yang menyatakan terlihatnya hilaal. Laporan ini memang dapat divalidasi di tingkat sidang itsbat karena dianggap telah memenuhi “kriteria” imkan rukyat, namun tidak demikian dari sisi ilmiah. Laporan-laporan tersebut selalu hanya menyatakan “hilaal terlihat” tanpa adanya parameter-parameter hasil observasi yang bisa dievaluasi dalam ruang dan waktu yang berbeda. Apalagi rukyat yang menyertakan citra (foto) sebagai bukti fisik.

Di sisi lain, rekapitulasi rukyat hilaal yang merentang masa baik dalam lingkup global seperti dilakukan ICOP (International Crescent Observation Project) maupun lingkup lokal Indonesia yang dihimpun RHI (Rukyatul Hilal Indonesia) tidak mendukung “kriteria” imkan rukyat. Pekerjaan ICOP mewujud pada persamaan batas yang dikenal sebagai kriteria empirik Audah (atau kriteria Odeh). Sementara kerja keras RHI mengemuka sebagai kriteria empirik RHI (atau kriteria RHI). Baik kriteria Odeh maupun kriteria RHI memiliki bentuk yang mirip (jika dibatasi pada kawasan tropis semata) dan memiliki nilai ambang batas yang lebih besar ketimbang “kriteria” imkan rukyat, apalagi wujudul hilaal. Harus digarisbawahi bahwa baik kriteria Odeh maupun kriteria RHI dibentuk oleh laporan-laporan observasi hilaal baik dengan mata dibantu oleh alat bantu optik (teleskop/binokular) maupun tidak.

Gambar 4. Kiri: citra asli hilaal Makassar 2013 hasil rukyat pencitraan yang terdiri dari 10 citra berbeda dan kemudian ditumpuk (di-stacking) lewat software pengolah citra, hal standar dalam astronomi modern. Kanan: citra hilaal Makassar 2013 yang telah dipermak lebih lanjut dengan software pengolah citra, yang diperuntukkan bagi kalangan umum (non perukyat). Nampak jelas goresan tipis sedikit melengkung, yang adalah hilaal. Sumber: Observatorium Bosscha, 2013 dan Cecep Nurwendaya, 2013.

Gambar 4. Kiri: citra asli hilaal Makassar 2013 hasil rukyat pencitraan yang terdiri dari 10 citra berbeda dan kemudian ditumpuk (di-stacking) lewat software pengolah citra, hal standar dalam astronomi modern. Kanan: citra hilaal Makassar 2013 yang telah dipermak lebih lanjut dengan software pengolah citra, yang diperuntukkan bagi kalangan umum (non perukyat). Nampak jelas goresan tipis sedikit melengkung, yang adalah hilaal. Sumber: Observatorium Bosscha, 2013 dan Cecep Nurwendaya, 2013.

Perubahan dramatis terjadi pada 2013 tepatnya saat penentuan Idul Fitri 1434 H (2013) melalui rukyat hilaal Rabu senja 7 Agustus 2013. Meski baik kriteria Odeh maupun RHI menunjukkan hilaal tidak mungkin teramati pada saat itu di segenap Indonesia, namun tim Observatorium Bosscha yang ditempatkan di Makassar (propinsi Sulawesi Selatan) secara gemilang berhasil mengobservasinya sekaligus melampirkan citra (foto) hilaal tersebut, sebagai bukti fisik. Sukses ini merupakan kulminasi dari kerja keras para perukyat hilaal kontemporer (yang mencakup observatorium Bosscha, sejumlah institusi pendidikan dan ormas terkait) untuk mencari dan mengembangkan teknik-teknik observasi yang bisa dijadikan acuan sekaligus menyajikan bukti kuat semenjak 2009.

Sukses observasi hilaal Makassar 2013 itu merupakan buah dari penggunaan teleskop (untuk memperkuat intensitas cahaya sabit Bulan) yang ditempatkan pada dudukan (mounting) robotik (sehingga teleskop senantiasa terus mengarah ke posisi Bulan dari waktu ke waktu) disertai penggunaan filter (untuk meningkatkan kontras antara sabit Bulan dengan langit latar belakangnya) dan kamera beresolusi tinggi (untuk merekam citra sabit Bulan sebagai data elektronis) yang disertai pengolahan citra (guna mempertajam citra/foto mentah dengan teknik stacking sehingga menyajikan hasil yang ramah mata). Hilaal Makassar 2013 terekam pada pukul 18:11 WITA, atau 5 menit setelah Matahari terbenam di lokasi tersebut. Di tempat lain, penggunaan instrumen serupa (teleskop + mounting + filter + kamera) pun berhasil merekam sabit Bulan dalam waktu berjam-jam sebelum Matahari terbenam, seperti yang dilakukan tim observatorium as-Salam, Surakarta (Jawa Tengah) dan observatorium al-Buruj, Kudus (Jawa Tengah). Kedua tim tersebut merupakan bagian dari jejaring RHI. Meski status sabit Bulan yang terekam sebelum terbenamnya Matahari tetap dipahami bukan sebagai hilaal yang memiliki kekuatan hukum, melainkan hanya sabit Bulan semata. Hilaal Makassar 2013 menjadikan sidang itsbat saat itu memiliki yurisprudensi baru, yakni menerima hasil rukyat pencitraan (rukyat hilaal yang berbasis teleskop, kamera dan pengolahan citra).

Kini bagaimana dengan penentuan Idul Adha 1435 H (2014)? Sayangnya parameter posisi Bulan dan Matahari pada saat hilaal Makassar 2013 sukses teramati sangat berbeda dengan elemen-elemen Bulan untuk penentuan 1 Zulhijjah 1435 H. Hilaal Makassar 2013 teramati saat elongasi Bulan bernilai 7 derajat. Sementara dalam penentuan Idul Adha 145 H ini elongasi Bulan hanyalah bernilai maksimum 2,5 derajat. Jauh di bawah angka 7 derajat. Maka dapat dikatakan potensi terekamnya hilaal lewat rukyat pencitraan adalah mustahil.

Saudi Arabia

Parameter lain yang perlu dilihat dalam konstelasi penentuan Idul Adha 1435 H di Indonesia adalah bagaimana keputusan Saudi Arabia. Keputusan negeri mancanegara tersebut cukup penting, setidaknya bagi sejumlah kalangan, mengingat Saudi Arabia adalah negeri dimana haramain (dua tanah haram, yakni Makkah dan Madinah) berada. Dengan demikian Saudi Arabia memegang peranan sentral dalam sejumlah aspek, termasuk urusan penentuan awal bulan kalender Hijriyyah. Ada banyak negara Islam atau negara yang berpenduduk mayoritas Muslim maupun komunitas-komunitas Muslim yang menyandarkan dirinya pada apapun keputusan Saudi Arabia.

Saudi Arabia menggunakan kalender Hijriyyah sebagai kalender sipil, yakni kalender yang mengatur keseharian kehidupan di negeri tersebut baik untuk urusan birokrasi, bisnis/perdagangan maupun komunikasi. Namun bukan untuk kepentingan ibadah. Kalender tersebut dikenal sebagai kalender Ummul Qura, yang bekerja berdasarkan “kriteria” Ummul Qura. Kriteria ini mirip “kriteria” wujudul hilaal yang digunakan Muhammadiyah, dengan sedikit perbedaan kecil. Tetapi, dalam hal penentuan awal Ramadhan dan dua hari raya, Saudi Arabia berpatokan pada rukyatul hilaal. Jika hilaal tak teramati, maka dilakukan istikmal tanpa harus mengubah tanggal dalam kalendernya. Sehingga bagi Saudi Arabia adalah sah-sah saja saat ibadah puasa Ramadhan dimulai pada tanggal 2 Ramadhan, atau hari raya Idul Fitri berlangsung pada tanggal 2 Syawwal dan hari raya Idul Adha pada tanggal 11 Zulhijjah.

Semenjak 2013 muncul gejala Saudi Arabia cukup selektif dalam menerima hasil rukyatul hilaal. Dengan mengacu sistem hisab kontemporer, maka bilamana terdapat laporan rukyatul hilaal dari titik-titik tertentu sementara hasil perhitungan menunjukkan posisi Bulan berada di atau bahkan malah di bawah horizon tatkala Matahari terbenam, maka laporan itu ditolak. Di masa silam laporan semacam ini seringkali diterima begitu saja, hal yang kerap membuat keputusan-keputusan Saudi Arabia dipertanyakan oleh negara-negara tetangganya yang kritis, seperti Mesir. Kini laporan rukyatul hilaal yang diterima hanyalah laporan yang terjadi saat hasil perhitungan menunjukkan Bulan berada di atas horizon (tinggi positif). Dan keputusan dinyatakan oleh Mahkamah Agung Kerajaan.

Bagaimana dalam penentuan Idul Adha 1435 H?

Gambar 5. Peta tinggi Bulan di segenap permukaan Bumi pada saat Matahari terbenam Rabu 24 September 2014. Garis kuning menunjukkan garis nol (garis dimana tinggi Bulan sama dengan nol derajat). Selain membelah Indonesia, garis nol juga sedikit memotong wilayah Saudi Arabia. Di sebelah barat garis nol ini semua lokasi memiliki tinggi Bulan positif (+), sementara di timurnya memiliki tinggi Bulan negatif (-). Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 5. Peta tinggi Bulan di segenap permukaan Bumi pada saat Matahari terbenam Rabu 24 September 2014. Garis kuning menunjukkan garis nol (garis dimana tinggi Bulan sama dengan nol derajat). Selain membelah Indonesia, garis nol juga sedikit memotong wilayah Saudi Arabia. Di sebelah barat garis nol ini semua lokasi memiliki tinggi Bulan positif (+), sementara di timurnya memiliki tinggi Bulan negatif (-). Sumber: Sudibyo, 2014.

Perhitungan menunjukkan segenap wilayah Saudi Arabia berada di sisi barat garis nol. Sehingga semuanya memiliki tinggi Bulan positif, jika elevasi lokasi sejajar dengan paras air laut rata-rata. Namun hasil perhitungan lebih lanjut mencerminkan bahwa tinggi Bulan di Saudi Arabia demikian kecil. Karena posisi Bulan berada di atau bahkan di bawah horizon tatkala Matahari terbenam pada Rabu senja 24 September 2014. Di Saudi Arabia bagian utara, Bulan berada di bawah horizon. Sementara di Saudi Arabia bagian selatan Bulan berada tepat atau sedikit di atas horizon dengan tinggi Bulan tak sampai +0,5 derajat. Situasi ini agak mirip dengan elemen Bulan saat penentuan 1 Ramadhan 1435 H lalu. Sehingga diprediksikan Saudi Arabia bakal mengambil keputusan yang senada dengan saat Ramadhan lalu. Meski kemungkinan sebaliknya pun tetap terbuka.

Faktor lain yang menjadi pertimbangan dalam menetapkan Idul Adha di Saudi Arabia berada di luar ranah astronomi, yakni haji akbar. Dalam pengertian yang dipedomani kerajaan tersebut, haji akbar terjadi tatkala wukuf bertepatan dengan hari Jumat. Sesuai tradisi, bila haji akbar terjadi maka pemerintah Saudi Arabia berkewajiban membiayai perjalanan haji seluruh warganegaranya sekaligus meliburkannya dari rutinitas hariannya. Sejatinya hal ini sedikit merepotkan, karena memakan sumber daya dan finansial yang cukup besar. Di masa silam Saudi Arabia kerap terlihat mencoba menggeser waktu pelaksanaan wukuf bilamana mereka tak siap dalam penyelenggaraan haji akbar.

Konsekuensinya, Kamis 25 September 2014 memang bertepatan dengan 1 Zulhijjah 1435 H menurut kalender Ummul Qura. Namun Saudi Arabia kemungkinan akan ber-Idul Adha pada Minggu 5 Oktober 2014 yang bertepatan dengan 11 Zulhijjah 145 H. Jika demikian, maka wukuf di padang Arafah kemungkinan bakal terjadi pada Sabtu 4 Oktober 2014.

Situasi tersebut pun disikapi oleh Muhammadiyah melalui Pengurus Pusat-nya. Menyikapi potensi perbedaan ber-Idul Adha antara Muhammadiyah dan Saudi Arabia, maka dalam pertemuan di Yogyakarta pada 9-10 September 2014 tempo hari, Muhammadiyah tetap menekankan pimpinannya dari tingkat pusat hingga tingkat ranting untuk mematuhi apa yang telah menjadi ketetapan Pengurus Pusat. Terhadap warganya Muhammadiyah pun menganjurkan demikian. Namun andaikata merasa ragu-ragu, diberikan keleluasaan untuk memilih apa yang menurutnya diyakininya meski berbeda dengan ketetapan Pengurus Pusat.

Cakung

Ketidakutuhan pun bakal dijumpai di tubuh NU mengingat masih banyaknya ulama/pondok pesantren karismatis yang mengacu pada sistem hisab Sullam. Meski Pengurus Besar telah menyebut sistem hisab ini kurang akurat dan digolongkan ke dalam sistem hisab taqriby (pendekatan/approksimasi), masih banyak warga NU yang berpedoman kepadanya. Hal ini didasari oleh sejarah, dimana sistem hisab ini berpatokan pada kitab Sullam al-Nayyirain. Inilah kitab ilmu falak tertua di era Indonesia kontemporer (dicetak pada 1930-an) yang ditulis Guru Mansyur dari Jembatan Lima (propinsi DKI Jakarta). Guru Mansyur adalah salah satu tokoh ilmu falak tersohor sekaligus eksponen NU di awal mula, sehingga cukup dihormati. Selain penghormatan ini, kitab Sullam al-Nayyirain banyak dipelajari karena kemudahannya dibandingkan sistem hisab lainnnya di tubuh NU.

Dalam perkembangannya, pengguna sistem hisab Sullam mencoba mengadopsi “kriteria” imkan rukyat ke dalam sistem hisab mereka. Namun adopsi ini berkesan serampangan. Maka saat hasil perhitungan sistem hisab ini menunjukkan tinggi Bulan (irtifa’) sudah melewati 2 derajat pada suatu senja, keesokan paginya sudah memasuki bulan kalender Hijriyyah yang baru. Adopsi ini mengesampingkan peringatan yang diberikan Guru Mansyur sendiri, yang menyebut bahwa batas tinggi Bulan untuk memasuki bulan kalender yang baru adalah 5 derajat. Di samping itu sistem hisab ini pun ditekankan harus sering dikalibrasi dengan mengacu pada peristiwa Gerhana Matahari, yang nyaris tak pernah dilakukan.

Bagi para penggunanya, sistem hisab Sullam merupakan pedoman untuk pelaksanaan rukyat seperti yang dimotori Cakung dan Basmol (keduanya di propinsi DKI Jakarta). Namun hampir selalu terjadi bahwa saat hasil perhitungan sistem hisab Sullam menunjukkan tinggi Bulan menurut Sullam sebesar 2 derajat atau lebih, maka rukyat mendadak menyajikan hasil positif (berhasil melihat). Bahkan meski langit tersaput awan sekalipun. Bahkan meski lokasi DKI Jakarta sudah tak lagi memenuhi syarat seiring banyaknya bangunan tinggi dan polusi cahaya yang benderang, yang sejatinya sangat mengganggu dalam observasi benda langit. Karena itu tak mengherankan jika hasil rukyat Cakung (dan juga Basmol) kerap mendapat kritikan di lingkungan NU sendiri.

Bagaimana dengan Idul Adha 1435 H?

Berbeda dengan sistem hisab kontemporer (yang telah terbukti saat dibandingkan dengan Gerhana Matahari), sistem hisab Sullam memprediksi konjungsi Bulan dan Matahari (geosentris) akan terjadi pada Rabu 24 September 2014 pukul 12:19 WIB. Tinggi Bulan (irtifa’) dalam sistem hisab Sullam mengacu pada rumus sederhana, yakni selisih antra saat konjungsi dan terbenamnya Matahari dibagi dua. Maka bilamana Matahari terbenam pada pukul 17:30 WIB (terjadi di propinsi Jawa Barat), sistem hisab Sullam akan menyajikan tinggi Bulan = (17:30 – 12:19)/2 = +2,5 derajat. Evaluasi lebih lanjut memperlihatkan bahwa hampir segenap wilayah Indonesia (kecuali pulau Irian) telah memiliki tinggi Bulan versi Sulam lebih dari 2 derajat. Maka terlepas dari bagaimana mereka melakukan rukyatul hilaal, dapat diprediksi bahwa bagi pengguna sistem hisab ini, 1 Zulhijjah 1435 H bertepatan dengan Kamis 25 September 2014. Sehingga mereka akan ber-Idul Adha pada Sabtu 4 Oktober 2014.

Kesimpulan

Berdasar ulasan di atas, kita bisa mengatakan bahwa sebagian besar Umat Islam di Indonesia kemungkinan besar akan ber-Idul Adha 1435 H pada saat yang berbeda. Sebagian pada Sabtu 4 Oktober 2014, yakni warga Muhammadiyah yang mengikuti keputusan Pengurus Pusat maupun warga NU pengguna sistem hisab Sullam. Sementara sebagian lagi pada Minggu 5 Oktober 2014, yakni warga NU yang merujuk hasil rukyatul hilaal terverifikasi dan (mungkin warga Muhammadiyah) yang mengacu keputusan kerajaan Saudi Arabia.

Wallahualam.

Referensi :

Sudibyo. 2013. Zulhijjah 1435 H (2014). Kertas Kerja dalam Temu Kerja Nasional Hisab Rukyat 2013. Batam (Kepulauan Riau), Juni 2013.

Sudibyo. 2013. Zulhijjah 1435 H (2014), Tinjauan Kembali. Kertas Kerja dalam Temu Kerja Nasional Hisab Rukyat 2014. Bogor (Jawa Barat), Maret 2014.

Nurwendaya. 2013. Sidang Itsbat Awal Zulhijjah 1434 H. Bahan Sidang Itsbat Kementerian Agama RI 5 Oktober 2013 (29 Zulqaidah 1434 H).

BMKG. 2014. Informasi Hilal Saat Matahari Terbenam Rabu 24 September 2014 M Penentu Awal Bulan Zulhijjah 1435 H.

Lihat tulisan pertama.

Lihat tulisan kedua.