Idul Adha 1437 H, Kebersamaan di Tengah Dua Anomali (Kasus Unik Saudi Arabia dan Indonesia)

Hari raya Idul Adha 1437 H telah datang. Indonesia merayakannya pada Senin 12 September 2016 Tarikh Umum (TU), bertepatan dengan 10 Zulhijjah 1437 H. Dan tak seperti sebelumnya, kali ini tak ada yang berbeda. Kementerian Agama RI, sebagai representasi pemerintah, memutuskan 1 Zulhijjah bertepatan dengan Sabtu 3 September 2016 TU atas dasar sidang itsbat pada 1 September 2016 TU. Pada momen sidang itsbat tersebut, yang bertepatan dengan 29 Zulqaidah 1437 H dalam takwim standar Indonesia, seluruh sistem hisab (perhitungan astronomi) yang berkembang di Indonesia menyajikan data bahwa Bulan terbenam lebih dulu dibanding Matahari. Hal tersebut ditegaskan dari sisi rukyat (observasi) hilaal. Dalam momen yang bersamaan dengan terjadinya peristiwa Gerhana Matahari 1 September 2016 di 123 kota/kabupaten di Indonesia, rukyatul hilaal tak berhasil mendeteksi hilaal pada kesempatan tersebut. Sehingga bulan Zulqaidah 137 H pun harus digenapkan menjadi 30 hari (istikmal).

Keputusan senada juga disajikan oleh ormas-ormas Islam di Indonesia. Nahdlatul ‘Ulama, atas dasar rukyatul hilaal di banyak titik rukyat di berbagai penjuru Indonesia pada saat yang sama dan tak ada yang berhasil mendeteksi hilaal, menyampaikan ikhbar bahwa Idul Adha 10 Zulhijjah 1437 H bertepatan dengan Senin 12 September 2016 TU. Ikhbar tersebut dikeluarkan setelah sidang itsbat di Kementerian Agama RI usai. Demikian halnya Muhammadiyah. Jauh hari sebelumnya Muhammadiyah sudah memutuskan bahwa Idul Adha 1437 H bertepatan dengan Senin 12 September 2016 melalui maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah nomor 01/MLM/I.0/E/2016. Dasarnya adalah hisab sistem kontemporer dengan “kriteria” wujudul hilaal, dimana pada 1 September 2016 TU hilaal dinyatakan belum wujud di seluruh Indonesia karena tinggi Bulan pada saat Matahari terbenam berkisar antara minus 1o hingga 0o. Maklumat yang sama juga menetapkan 1 Ramadhan 1437 H bertepatan dengan Senin 6 Juni 2016 TU dan hari raya Idul Fitri 1 Syawwal 1437 H adalah Rabu 6 Juli 2016 TU. Demikian halnya Persatuan Islam (Persis), dengan dasar hisab sistem kontemporer berbasis “kriteria” LAPAN 2009.

Di mancanegara, keputusan penetapan hariraya Idul Adha 1437 H yang patut diperhatikan adalah keputusan Saudi Arabia. Pada hari yang sama dengan Indonesia, Saudi Arabia juga menggelar proses rukyat hilaal untuk menentukan Idul Adha 1437 H dan hari Arafah (hari wukuf) bagi jamaah haji. Hasilnya, wukuf di padang Arafah ditetapkan terjadi pada Minggu 11 September 2016 TU. Sementara hari raya Idul Adha di Saudi Arabia dirayakan pada hari berikutnya, yakni Senin 12 September 2016 TU. Keputusan ini segera menjadi rujukan bagi banyak negara Islam dan negara berpenduduk mayoritas Muslim serta komunitas Muslim di berbagai penjuru. Hanya sedikit yang berbeda dengannya. Misalnya Mesir, sebagian India dan Jerman yang merayakan Idul Adha pada Minggu 11 September 2016 TU. Sementara negara lain seperti sebagian India, Selandia Baru dan Pakistan baru akan menggelar shalat Idul Adha pada Selasa 13 September 2016 TU.

Penetapan 1 Zulhijjah adalah salah satu isu penting dalam perikehidupan Umat Islam di Indonesia karena terkait ibadah. Yakni hari raya Idul Adha pada tanggal 10 Zulhijjah yang didahului puasa Arafah sehari sebelumnya. Semenjak hari raya Idul Adha hingga empat hari kemudian, yakni pada hari-hari tasyrik (tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijjah), Umat Islam di Indonesia melaksanakan penyembelihan hewan kurban. Idul Adha menjadi satu dari dua hari raya Umat Islam di Indonesia, meski atmosfer budaya yang melingkupinya tak sekental momen hari raya Idul Fitri

Di tengah kebersamaan ini, sejatinya ada dua anomali yang menarik untuk dikupas terkait penetapan tersebut. Yakni anomali di Saudi Arabia dan (sebagian) Indonesia.

Saudi Arabia

Konjungsi geosentris Bulan dan Matahari (ijtima’ haqiqy), yakni momen saat Bulan dan Matahari menempati satu garis bujur ekliptika yang sama ditinjau dari titik pusat Bumi, terjadi pada Kamis 1 September 2016 TU pukul 16:03 WIB. Sementara konjungsi toposentris Bulan dan Matahari (ijtima’ mar’i), yakni momen yang sama dengan konjungsi geosentris Bulan dan Matahari namun ditinjau dari sebuah titik di paras (permukaan) Bumi terjadi lebih lambat dengan saat yang berbeda-beda. Di Indonesia, konjungsi toposentris terjadi jelang maghrib, seperti ternyata dari peristiwa Gerhana Matahari 1 September 2016. Di Saudi Arabia khususnya di kotasuci Makkah al-Mukarramah, Gerhana Matahari yang sama mencapai puncaknya pada pukul 11:23 waktu Saudi. Sehingga konjungsi toposentris di Makkah terjadi pada pukul 11:23 waktu Saudi, atau sebelum Matahari terbenam setempat.

Dalam kalender sipil Saudi Arabia, yang dikenal sebagai kalender Ummul Qura, 1 September 2016 TU juga bertepatan dengan 29 Zulqaidah 1437 H. Dan hari berikutnya merupakan tanggal 1 Zulhijjah 1437 H. Saudi Arabia menggunakan “kriteria” Ummul Qura dalam kalendernya. Secara sederhana “kriteria” ini mendeskripsikan:

awal bulan Hijriyyah terjadi tatkala seluruh cakram Bulan masih ada di atas horizon semu pada saat Matahari terbenam sempurna pasca konjungsi geosentrik Bulan dan Matahari.

Dalam bahasa astronomi, “kriteria” ini diformulasikan sebagai saat Lag Bulan > + 2 menit. Lag Bulan adalah selisih waktu keterlambatan terbenamnya Bulan terhadap terbenamnya Matahari. Lag Bulan bernilai positif saat Bulan terlambat terbenam dibanding Matahari dan sebaliknya bernilai negatif tatkala Bulan lebih dulu terbenam dibanding Matahari.

Gambar 1. Zona potensi ketampakan (visibilitas) hilaal per 1 September 2016 TU secara toposentrik berdasarkan kriteria Odeh (Audah). Warna merah tidak memenuhi moonset after sunset. Sementara warna selain merah sudah memenuhi moonset after sunset. Berdasar grafik ini Saudi Arabia sudah memenuhi syarat Ummul Qura, sementara sebagian pulau Sumatra (Indonesia) sudah memenuhi syarat wujudul hilaal. Sumber: Odeh, 2016.

Gambar 1. Zona potensi ketampakan (visibilitas) hilaal per 1 September 2016 TU secara toposentrik berdasarkan kriteria Odeh (Audah). Warna merah tidak memenuhi moonset after sunset. Sementara warna selain merah sudah memenuhi moonset after sunset. Berdasar grafik ini Saudi Arabia sudah memenuhi syarat Ummul Qura, sementara sebagian pulau Sumatra (Indonesia) sudah memenuhi syarat wujudul hilaal. Sumber: Odeh, 2016.

Namun harus digarisbawahi bahwa kalender Saudi Arabia dengan “kriteria” Ummul Qura-nya merupakan kalender sipil. Ia digunakan untuk kepentingan perikehidupan sehari-hari di negeri itu, mulai dari kepentingan ekonomi dan bisnis hingga politik ketatanegaraan. Sementara khusus untuk menentukan hari raya Idul Adha, Saudi Arabia menetapkannya berdasarkan rukyatul hilaal. Demikian halnya untuk menentukan awal puasa Ramadhan dan hari raya Idul Fitri. Sebab dalam pandangan Saudi Arabia, ketiga hal tersebut memiliki aspek ibadah yang kuat sehingga tidak mengacu pada kalender sipil yang mereka gunakan. Maka berpeluang terjadi situasi dimana Saudi Arabia memulai puasa Ramadhan saat kalendernya menunjukkan tanggal 2 Ramadhan, ber-Idul Fitri saat kalender menunjukkan tanggal 2 Syawwal dan ber-Idul Adha pada saat kalender menunjukkan tanggal 11 Zulhijjah. Inilah anomali itu.

Anomali tersebut terjadi pada tahun ini. Karena pada Kamis 1 September 2016 TU tidak terdeteksi hilaal di segenap penjuru Saudi Arabia, maka otoritas kerajaan ini menetapkan hari raya Idul Adha adalah pada Senin 12 September 2016 TU yang bertepatan dengan 11 Zulhijjah 1437 H. Konsekuensinya hari wukuf di padang Arafah, yang menjadi penentu pelaksanaan ibadah haji, adalah bertepatan dengan tanggal 10 Zulhijjah 1437 H. Konsekuensi ini merupakan hal yang tak terhindarkan manakala kalender Hijriyyah hendak dijadikan sebagai kalender sipil (muamalah) sebagaimana halnya kalender Tarikh Umum (Masehi/Gregorian) dengan kriteria yang tetap, sementara pendapat fikih mayoritas dalam penentuan waktu ibadah puasa Ramadhan dan dua hari raya adalah berdasarkan rukyatul hilaal.

Anomali semacam ini bukanlah yang pertama kali terjadi di Saudi Arabia. Konstelasinya sepanjang empat tahun terakhir adalah sebagai berikut:

  • Awal puasa Ramadhan 1434 H bertepatan dengan Kamis 2 Ramadhan 1434 H kalender Saudi Arabia (10 Juli 2014 TU).

  • Hari raya Idul Adha 1436 H bertepatan dengan Kamis 11 Zulhijjah 1436 H kalender Saudi Arabia (24 September 2015 TU).

  • Hari raya Idul Adha 1437 H bertepatan dengan Senin 11 Zulhijjah 1437 H kalender Saudi Arabia (12 September 2016 TU).

Saudi Arabia berpandangan mereka memiliki dasar yang kuat terkait anomali tersebut. Di masa Rasulullah SAW juga pernah terjadi shalat Idul Fitri digelar pada tanggal 2 Syawwal. Yakni bersandar hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah, dengan terjemahan sebagai berikut :

“Telah menceritakan kepada kami (Abu Bakr bin Abu Syaibah) berkata, telah menceritakan kepada kami (Husyaim) dari (Abu Bisyr) dari (Abu Umair bin Anas bin Malik) ia berkata; telah menceritakan kepadaku (paman-pamanku) dari kalangan Anshar -mereka adalah para sahabat Rasulullah SAW- mereka berkata, “Kami tidak dapat melihat hilal bulan Syawal, maka pada pagi harinya kami masih berpuasa, lalu datanglah kafilah di penghujung siang, mereka bersaksi di sisi Nabi SAW bahwa kemarin mereka melihat hilal. Maka Rasulullah SAW pun memerintahkan mereka berbuka, dan keluar untuk merayakan hari rayanya pada hari esok. ”
Hadits Imam Ibnu Majah nomor 1643.

Memang butuh kajian lebih lanjut melalui ilmu-ilmu terkait, namun hadits ini menyajikan kesan bahwa ibadah (hari raya Idul Fitri) boleh berselisih terhadap kalender (Hijriyyah).

Indonesia

Bagaimana dengan Indonesia? Anomali serupa ternyata juga terjadi meski kejadiannya adalah sebaliknya. Ini dialami oleh Muhammadiyah. Kalender Hijriyyah yang dpedomani Muhammadiyah merupakan kalender yang berdasarkan pada “kriteria” wujudul hilaal dan diberlakukan ke seluruh Indonesia melalui prinsip transfer wujudul hilaal (naklul wujud). Secara sederhana “kriteria” wujudul hilaal mendeskripsikan :

awal bulan Hijriyyah terjadi tatkala piringan teratas cakram Bulan masih ada di atas horizon semu pada saat Matahari terbenam sempurna pasca konjungsi geosentrik Bulan dan Matahari.

Sekilas “kriteria” ini mirip dengan “kriteria” Ummul Qura dengan sedikit perbedaan dalam kedudukan cakram Bulan. Dalam bahasa astronomi, “kriteria” wujudul hilaal ini diformulasikan sebagai saat Lag Bulan > + 0 menit atau singkatnya moonset after sunset. Dan dengan prinsip transfer wujudul hilaal, apabila terjadi situasi dimana sebagian Indonesia sudah memenuhi kondisi wujudul hilaal (positif) sementara sebagian lainnya belum memenuhi (negatif) maka daerah-daerah yang masih negatif musti mengikuti daerah yang sudah positif. Sehingga terdapat satu kesatuan. Dalam hal ini prinsip transfer wujudul hilaal tak berbeda dengan konsep wilayatul hukmi yang dipergunakan Kementerian Agama RI maupun sejumlah ormas Islam di Indonesia lainnya. Hanya namanya saja yang berbeda.

adha-gb2-a_sdh-wujud

Gambar 2. Perbandingan posisi serta kedudukan cakram Bulan dan Matahari pada saat syarat wujudul hilaal sudah terpenuhi (atas) dan wujudul hilaal belum terpenuhi (bawah). Perhatikan bahwa dalam kedua contoh tersebut, tinggi Bulan (dihitung dari horizon sejati) adalah sudah negatif. Namun patokan wujudul hilaal adalah horizon semu (ufuk mar'i). Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 2. Perbandingan posisi serta kedudukan cakram Bulan dan Matahari pada saat syarat wujudul hilaal sudah terpenuhi (atas) dan wujudul hilaal belum terpenuhi (bawah). Perhatikan bahwa dalam kedua contoh tersebut, tinggi Bulan (dihitung dari horizon sejati) adalah sudah negatif. Namun patokan wujudul hilaal adalah horizon semu (ufuk mar’i). Sumber: Sudibyo, 2016.

Pada saat Matahari terbenam di hari Kamis 1 September 2016 TU, hampir di seluruh Indonesia sudah mengalami konjungsi geosentrik Bulan dan Matahari. Dan di seluruh Indonesia tinggi Bulan bervariasi antara minus 1o hingga 0o. Hampir di seluruh Indonesia pula kondisi moonset after sunset tak terpenuhi. Dalam grafik visibilitas Odeh secara global (gambar 1), kawasan yang tidak memenuhi syarat moonset after sunset adalah kawasan yang berwarna merah. Sementara kawasan yang sudah memenuhi syarat moonset after sunset adalah yang berwarna selain merah. Dapat dilihat dalam grafik tersebut bahwa mayoritas Indonesia berada dalam kawasan merah. Perkecualian adalah di sebagian pulau Sumatra khususnya bagian utara. Meski di sini tinggi Bulan sudah negatif (dihitung terhadap horizon sejati), namun terjadi situasi dimana moonset after sunset sudah potensial terpenuhi. Sehingga wilayah ini tercakup ke dalam kawasan berwarna putih.

adha-gb3_a-jakarta

Gambar 3. Perbandingan posisi serta kedudukan cakram Bulan dan Matahari untuk titik Jakarta (atas) dan Palembang (bawah) pada 1 September 2016 TU saat Matahari terbenam. Perhatikan bahwa di kedua titik tersebut, syarat wujudul hilaal belum terpenuhi. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 3. Perbandingan posisi serta kedudukan cakram Bulan dan Matahari untuk titik Jakarta (atas) dan Palembang (bawah) pada 1 September 2016 TU saat Matahari terbenam. Perhatikan bahwa di kedua titik tersebut, syarat wujudul hilaal belum terpenuhi. Sumber: Sudibyo, 2016.

Untuk mengevaluasi potensi tersebut maka diuji apakah Bulan telah sepenuhnya berada di bawah horizon semu ataukah tidak manakala Matahari terbenam untuk titik-titik tertentu di pulau Sumatra dan Jawa pada 1 September 2016 TU. Evaluasi dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Accurate Times 5.2 karya Mohammad Odeh dari ICOP (International Crescent’s Observation Project). Perhitungan di-setting secara toposentrik pada enam titik berbeda masing-masing lima di pulau Sumatra (Palembang, Medan, Banda Aceh, pulau Simeulue dan pulau Nias) serta satu di pulau Jawa (Jakarta). Titik di pulau Jawa sekaligus menjadi titik kontrol mengingat berada di wilayah Gerhana Matahari 1 September 2016.

Di titik Jakarta (propinsi DKI Jakarta), diperoleh bahwa pada saat Matahari terbenam sempurna maka Bulan juga sudah sepenuhnya terbenam. Mengingat piringan teratas Bulan sudah sepenuhnya berada di bawah horizon semu. Sehingga di sini moonset after sunset belum terjadi. Hal serupa juga terjadi di titik Palembang (propinsi Sumatra Selatan). Hal menarik yang dapat dicermati dari titik Jakarta adalah cakram Bulan yang beririsan dengan cakram Matahari. Ini menunjukkan pada saat terbenam di titik Jakarta, Matahari memang sedang mengalami Gerhana Matahari. Dan hal ini memang benar-benar terjadi, dimana dua lokasi di DKI Jakarta berhasil mengabadikan saat-saat awal gerhana tersebut. Yakni di titik rukyat hilaal pulau Karya, yang dilaksanakan oleh tim gabungan Kementerian Agama Kanwil Jakarta, Kementerian Agama Kep. Seribu, Lembaga Falakiyah PWNU Jakarta dan Jakarta Islamic Centre. Sementara yang kedua di titik rukyat hilaal Kemayoran, yang dilaksanakan oleh tim BMKG pusat.

adha-gb3_c-medan

Gambar 4. Perbandingan posisi serta kedudukan cakram Bulan dan Matahari untuk titik Medan (atas) dan Banda Aceh (bawah) pada 1 September 2016 TU saat Matahari terbenam. Perhatikan bahwa di kedua titik tersebut, syarat wujudul hilaal sudah terpenuhi. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 4. Perbandingan posisi serta kedudukan cakram Bulan dan Matahari untuk titik Medan (atas) dan Banda Aceh (bawah) pada 1 September 2016 TU saat Matahari terbenam. Perhatikan bahwa di kedua titik tersebut, syarat wujudul hilaal sudah terpenuhi. Sumber: Sudibyo, 2016.

Berbeda halnya dengan titik Medan (propinsi Sumatra Utara). Disini diperoleh bahwa pada saat Matahari terbenam sempurna Bulan ternyata belum sepenuhnya terbenam. Sebab piringan teratas Bulan masih ada di bawah horizon semu, meski bagian lainnya sudah di bawah horizon semu. Situasi serupa juga terjadi di titik Banda Aceh (propinsi Aceh), titik Sinabang di pulau Simeulue (propinsi Aceh) dan titik Gunungsitoli di pulau Nias (propinsi Sumatra Utara). Pada ketiga titik terakhir tersebut semuanya mengalami situasi Bulan belum sepenuhnya terbenam tatkala Matahari sudah terbenam sempurna, dimana masih ada bagian piringan teratas Bulan yang menyembul di atas horizon semu.

Dengan demikian syarat wujudul hilaal sejatinya telah terpenuhi di sebagian pulau Sumatra, setidaknya di propinsi Aceh dan Sumatra Utara. Seyogyanya dengan prinsip transfer wujudul hilaal maka daerah-daerah lain di Indonesia yang belum memenuhi syarat musti mengikuti Aceh dan Sumatra Utara (yang sudah memenuhi syarat wujudul hilaal). Bila hal ini diberlakukan maka seyogyanya 1 Zulhijjah 1437 H di Indonesia menurut “kriteria” wujudul hilaal bertepatan dengan Jumat 2 September 2016 TU. Dan hari raya Idul Adha seyogyanya bertepatan dengan Minggu 11 September 2016 TU.

adha-gb3_e-simeulue

Gambar 5. Perbandingan posisi serta kedudukan cakram Bulan dan Matahari untuk titik Sinabang di pulau Simeulue (atas) dan Gunungsitoli di pulau Nias (bawah) pada 1 September 2016 TU saat Matahari terbenam. Perhatikan bahwa di kedua titik tersebut, syarat wujudul hilaal sudah terpenuhi. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 5. Perbandingan posisi serta kedudukan cakram Bulan dan Matahari untuk titik Sinabang di pulau Simeulue (atas) dan Gunungsitoli di pulau Nias (bawah) pada 1 September 2016 TU saat Matahari terbenam. Perhatikan bahwa di kedua titik tersebut, syarat wujudul hilaal sudah terpenuhi. Sumber: Sudibyo, 2016.

Namun situasi tersebut tidak terjadi. Muhammadiyah dalam maklumatnya menetapkan hari raya Idul Adha bertepatan dengan Senin 12 September 2016 TU. Inilah anomali itu. Personalia pengurus pusat Muhammadiyah dalam penjelasan singkatnya (secara personal) menyebut bahwa situasi ini terjadi karena di titik acuan perhitungan (markaz), yakni di Yogyakarta, situasi moonset after sunset belum terpenuhi.

Meski penjelasan ini belum menjawab pertanyaan bagaimana dengan prinsip transfer wujudul hilaal, sebagaimana yang pernah diterapkan pada penentuan 1 Ramadhan 1434 H (2013 TU) di Indonesia. Dimana pada saat itu sebagian Indonesia (khususnya pulau-pulau Sumatra, Jawa, kepulauan Bali dan Nusa Tenggara serta sebagian pulau Kalimantan dan sebagian kecil Sulawesi) sudah memenuhi syarat wujudul hilaal pada Senin 8 Juli 2013 TU sementara sisanya belum. Namun Muhammadiyah memaklumatkan seluruh Indonesia sudah memasuki 1 Ramadhan 1434 H (menurut “kriteria” wujudul hilaal) pada keesokan harinya Selasa 9 Juli 2013 TU.

Gambar 6. Zona potensi ketampakan (visibilitas) hilaal per 8 Juli 2013 TU secara toposentrik berdasarkan kriteria Odeh (Audah). Warna merah tidak memenuhi moonset after sunset. Berdasar grafik ini sebagian Indonesia sudah memenuhi syarat wujudul hilaal. Dengan prinsip transfer wujudul hilaal, maka Muhammadiyah memaklumatkan bahwa saat tu seluruh Indonesia sudah memenuhi syarat wujudul hilaal. Sumber: Odeh, 2013.

Gambar 6. Zona potensi ketampakan (visibilitas) hilaal per 8 Juli 2013 TU secara toposentrik berdasarkan kriteria Odeh (Audah). Warna merah tidak memenuhi moonset after sunset. Berdasar grafik ini sebagian Indonesia sudah memenuhi syarat wujudul hilaal. Dengan prinsip transfer wujudul hilaal, maka Muhammadiyah memaklumatkan bahwa saat tu seluruh Indonesia sudah memenuhi syarat wujudul hilaal. Sumber: Odeh, 2013.

Di atas semua persoalan teknis tersebut, patut disyukuri bahwa kedua anomali itu menjadikan Idul Adha 1437 H dapat kita rayakan bersama-sama di Indonesia di sebagian besar dunia pada hari yang sama. Kebersamaan semacam ini yang telah lama didamba oleh Umat Islam dimanapun berada. Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah SAW bertutur bahwa hari raya adalah saat orang banyak berhari raya. Semoga kebersamaan ini dapat selalu terlaksana dalam hal waktu-waktu ibadah (awal Ramadhan dan dua hari raya) ke depan.

Idul Fitri 1435 H di Indonesia yang (Kemungkinan Besar) Bersamaan

Bagian kedua dari lima tulisan

Bulan suci Ramadhan 1435 H telah memasuki persepuluhan harinya yang terakhir. Aroma lebaran telah mengambang pekat di udara. Seluruh moda transportasi telah disesaki segenap insan yang berarak ke segenap tujuan. Kemacetan pun tak terhindarkan di jalan-jalan raya, demikian panjang membentang. Wajah-wajah kuyu, lelah dan pasrah bertebaran di setiap sudut. Namun tidak ada yang menyesali mengikuti tradisi mudik dalam rangka bersilaturahmi dengan sanak saudara di kampung halaman meski harus melalui ‘siksaan’ di jalan raya. Pasar-pasar tradisional dan modern kian penuh sesak saja dengan aliran pengunjung terus mengalir dan berjubel, menggerakkan roda perekonomian lokal. Namun juga sukses membuat banyak orang pingsan, terhimpit dan berdesak-desakan. Semua ini dalam rangka menyambut satu hari istimewa: hari raya Idul Fitri 1435 H.

Gambar 1. Bulan sabit selepas senja tiga hari setelah konjungsi. Nampak ia berbentuk busur setengah lingkaran dengan bagian tengahnya yang tebal. Jika bagian tengahnya berada dalam kondisi paling tipis, Bulan sabit seperti ini akan bersalin nama sebagai hilaal, benda langit yang menjadi penentu Ramadhan dan hari raya Idul Fitri 1435 H. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 1. Bulan sabit selepas senja tiga hari setelah konjungsi. Nampak ia berbentuk busur setengah lingkaran dengan bagian tengahnya yang tebal. Jika bagian tengahnya berada dalam kondisi paling tipis, Bulan sabit seperti ini akan bersalin nama sebagai hilaal, benda langit yang menjadi penentu Ramadhan dan hari raya Idul Fitri 1435 H. Sumber: Sudibyo, 2014.

Ya. Di Indonesia, hari raya Idul Fitri bukanlah sekedar hari raya yang bernafaskan religi. Lebih dari itu, ia juga menjadi peristiwa sosial dan budaya dalam skala yang amat massif. Mari cermati sejarah kontemporer negeri ini, adakah peristiwa lain yang mampu memindahkan manusia dalam skala luar biasa besar selain hari raya Idul Fitri? Di tahun 1435 H (2014) ini saja, diperkirakan 27 juta orang menjadi bagian dalam tradisi mudik. 27 juta orang itu setara dengan 11,25 % penduduk Indonesia saat ini. Dengan kata lain, 1 dari 10 orang Indonesia saat ini terlibat dalam pergerakan mudik. Pergerakan manusia dalam jumlah itu tentu membawa amat banyak implikasi, baik dari sisi positif maupun negatif. Yang jelas, pergerakan ini menunjukkan betapa posisi hari raya Idul Fitri di Indonesia demikian penting bagi segenap rakyat banyak.

Atas dasar itu pula, urusan penetapan hari raya Idul Fitri menjadi hal yang krusial di tingkat akar rumput, termasuk di tahun 1435 H. dan layaknya tahun silam, potensi (kembali) bersamanya Umat Islam Indonesia dalam merayakan Idul Fitri 1435 H pun sangat terbuka.

Di satu sisi, PP Muhammadiyah telah jauh-jauh hari memaklumatkan bahwa bagi mereka 1 Syawwal 1435 H bertepatan dengan Senin 28 Juli 2014. Dasarnya, pada Minggu 27 Juli 2014 seluruh Indonesia telah memenuhi “kriteria” wujudul hilaal tanpa terkecuali. Di sisi yang lain, meski masih tetap menantikan hasil sidang itsbat penetapan Idul Fitri 1435 H yang salah satunya mengagendakan mendengar dan menerima/menolak laporan-laporan observasi hilaal dari seluruh penjuru Indonesia (yang mencakup 111 titik rukyat), namun kemungkinan besar Menteri Agama bakal memutuskan 1 Syawwal 1435 H juga bertepatan dengan Senin 28 Juli 2014 bila mengacu kesepakatan selama ini. Sebab pada Minggu 27 Juli 2014 itu hampir seluruh wilayah Indonesia telah memenuhi “kriteria” Imkan Rukyat.

Sisi Hisab

Bagaimana sesungguhnya posisi Bulan pada Minggu senja 27 Juli 2014 sehingga hari raya Idul Fitri 1435 H bakal berpotensi besar berlangsung bersamaan di Indonesia ?

Gambar 2. Peta tinggi Bulan di Indonesia pada Minggu senja 27 Juli 2014. Tinggi terkecil ada di pulau Miangas (Sulawesi Utara) sementara tinggi terbesar di Pelabuhan Ratu (Jawa Barat). Sumber: BMKG, 2014.

Gambar 2. Peta tinggi Bulan di Indonesia pada Minggu senja 27 Juli 2014. Tinggi terkecil ada di pulau Miangas (Sulawesi Utara) sementara tinggi terbesar di Pelabuhan Ratu (Jawa Barat). Sumber: BMKG, 2014.

Salah satu parameter penting bagi penentuan awal bulan kalender Hijriyyah adalah konjungsi Bulan-Matahari (ijtima’). Peristiwa konjungsi Bulan dan Matahari pada hakikatnya adalah peristiwa dimana pusat cakram Matahari tepat berada dalam satu garis bujur ekliptika yang sama dengan pusat cakram Bulan ditinjau dari titik referensi tertentu. Dalam peristiwa ini Bulan bisa saja seakan-akan ‘menindih’ Matahari dalam situasi khusus yang kita kenal sebagai Gerhana Matahari. Namun yang sering dijumpai adalah Bulan berjarak terhadap Matahari sehingga antara Matahari dan Bulan hanyalah berada dalam satu garis lurus. Garis lurus ini tidak harus mendatar (horizontal) ataupun tegak (vertikal). Di Indonesia, konjungsi Bulan dan Matahari lebih sering terjadi saat kedua raksasa langit tersebut terletak pada satu garis lurus yang relatif miring terhadap cakrawala (horizon).

Dengan menggunakan sistem perhitungan (sistem hisab) ELP 2000-82 diketahui bahwa jika ditinjau dari titik pusat Bumi (geosentrik), konjungsi Bulan dan Matahari akan terjadi pada Minggu 27 Juli 2014 pukul 05:42 WIB. Sebaliknya bila ditinjau dari titik-titik di permukaan Bumi (toposentrik), konjungsi justru terjadi lebih dulu yakni dalam rentang waktu antara pukul 03:47 WIB (bagi kota Manado dan Biak) hingga pukul 04:03 WIB (bagi kota Medan). Meski konjungsi toposentrik sejatinya lebih realistis, mengingat segenap umat manusia hidup di permukaan Bumi, namun dalam praktiknya ia kalah populer dibanding konjungsi geosentrik. Sehingga yang dijadikan patokan dalam perhitungan ilmu falak adalah konjungsi geosentrik.

Konjungsi geosentrik Bulan-Matahari menentukan elemen umur Bulan, yakni selang waktu antara saat konjungsi (geosentrik) terjadi hingga saat Matahari terbenam di masing-masing titik pada satu wilayah negeri tertentu. Bagi Indonesia pada 27 Juli 2014 senja umur Bulan bervariasi antara +9,91 jam yang terjadi di Jayapura (Papua) hingga +13,25 jam di Lhoknga (Aceh). Selain umur Bulan, terdapat parameter signifikan lainnya yang disebut tinggi Bulan, yakni tinggi pusat cakram Bulan terhadap garis cakrawala (horizon) pada saat Matahari terbenam. Di Indonesia, pada saat yang sama tinggi Bulan bervariasi antara +1,74 derajat di pulau Miangas (Sulawesi Utara) hingga +3,47 derajat di Pelabuhan Ratu (Jawa Barat). Dan parameter berikutnya yang juga menentukan adalah elongasi Bulan, yakni jarak sudut antara titik pusat cakram Bulan dan Matahari pada saat Matahari terbenam. Pada saat tersebut, elongasi Bulan di Indonesia bernilai antara 6,08 derajat di Merauke (Papua) hingga 7,26 derajat di pulau Sabang (Aceh). Harus digarisbawahi bahwa semua ini merupakan perhitungan yang didasarkan pada kondisi ideal, dimana elevasi (ketinggian) setiap titik dianggap sama dengan rata-rata permukaan air laut.

Gambar 3. Peta tinggi Bulan di lingkup global pada Minggu senja 27 Juli 2014. Perhatikan, meski kotasuci Makkah terletak jauh lebih ke barat dibanding Indonesia, faktanya tinggi Bulan di Makkah sama dengan tinggi Bulan di Indonesia (tepatnya di pulau Morotai, Maluku Utara). Sumber: BMKG, 2014.

Gambar 3. Peta tinggi Bulan di lingkup global pada Minggu senja 27 Juli 2014. Perhatikan, meski kotasuci Makkah terletak jauh lebih ke barat dibanding Indonesia, faktanya tinggi Bulan di Makkah sama dengan tinggi Bulan di Indonesia (tepatnya di pulau Morotai, Maluku Utara). Sumber: BMKG, 2014.

Dari pemaparan data tersebut terlihat, bahwa parameter tinggi Bulan ternyata tidaklah mengikuti bentuk geografis Indonesia. Sehingga posisi Bulan dan Matahari saat ini menjadikan titik Lhoknga (Aceh), yang menjadi titik terbarat Indonesia, tidak memiliki tinggi Bulan terbesar bagi seluruh negeri. Sebaliknya geometri posisi Bulan dan Matahari adalah demikian rupa sehingga justru di titik Pelabuhan Ratu-lah tinggi Bulan mencapai nilai maksimumnya bagi segenap Indonesia. Hal ini pun berlaku dalam lingkup global. Kita bisa melihat misalnya di Saudi Arabia, negeri yang secara teknis terletak jauh lebih ke barat dibanding Indonesia. Namun pada Minggu senja 27 Juli 2014, tinggi Bulan di sekitar kotasuci Makkah adalah sama dengan tinggi Bulan di pulau Morotai, Halmahera bagian utara (Maluku Utara). Yakni sama-sama 2 derajat.

Gambar 4. Simulasi posisi Bulan di Pos Observasi Logending, Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah) pada Minggu senja 27 Juli 2014 saat Matahari terbenam. Garis tak putus-putus menunjukkan cakrawala, tepatnya cakrawala semu (horizon semu). Sementara garis putus-putus menunjukkan ambang batas "kriteria" Imkan Rukyat. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 4. Simulasi posisi Bulan di Pos Observasi Logending, Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah) pada Minggu senja 27 Juli 2014 saat Matahari terbenam. Garis tak putus-putus menunjukkan cakrawala, tepatnya cakrawala semu (horizon semu). Sementara garis putus-putus menunjukkan ambang batas “kriteria” Imkan Rukyat. Sumber: Sudibyo, 2014.

Bagaimana cara membaca data-data ini sehingga kita bisa mengetahui bahwa secara teknis Idul Fitri 1435 H di Indonesia berkemungkinan besar jatuh pada saat yang sama ?

Seperti telah tertuang dalam tulisan yang lalu, khasanah perbedaan atau persamaan dalam berpuasa Ramadhan dan berhari raya Idul Fitri di Indonesia sangat dipengaruhi oleh bagaimana sikap dua ormas Islam terbesar, masing-masing NU di satu sisi dan Muhammadiyah di sisi yang lain. Dan keduanya memiliki cara berbeda guna menentukan awal Ramadhan maupun hari raya Idul Fitri. Bagi NU, penentuan tersebut hanya bisa dilakukan dengan cara rukyat hilaal dengan hisab (perhitungan ilmu falak) sebagai sebagai faktor pendukung pelaksanaan rukyat. Semenjak beberapa tahun belakangan NU telah mulai konsisten melakukan rukyat hilaal bagi penentuan setiap awal bulan kalender Hijriyyah. Seiring beragamnya sistem hisab di lingkungan NU yang hasilnya pun sangat bervariasi, ormas ini memiliki parameter sendiri untuk menentukan apakah hasil rukyat hilaal bisa diterima ataukah tidak. Parameter tersebut mengacu pada “kriteria” Imkan Rukyat yang diformulasikan Kementerian Agama RI, khususnya pada faktor tinggi Bulan minimal dalam sistem hisab kontemporer.

rmd1435_IRSebaliknya bagi Muhammadiyah, awal bulan kalender Hijriyyah cukup ditentukan dengan cara hisab tanpa perlu melaksanakan rukyat hilaal. Kriteria yang digunakan adalah “kriteria” wujudul hilaal, yang pada saat ini memiliki formulasi sebagai berikut :

rmd1435_WHDengan membandingkan dua “kriteria” tersebut terhadap realitas perhitungan posisi Bulan pada Minggu senja 27 Juli 2014, maka dengan mudah dapat dilihat seluruh wilayah Indonesia telah memenuhi “kriteria” wujudul hilaal karena seluruh titik memiliki tinggi Bulan positif (lebih besar dari nol) tanpa terkecuali. Sementara jika dipandang dari “kriteria” Imkan Rukyat, hampir seluruh Indonesia telah memenuhi syarat karena memiliki tinggi Bulan lebih dari atau sama dengan +2 derajat (terkecuali Kepulauan Sangir-Talaud di Sulawesi Utara). Dengan menerapkan prinsip wilayatul hukmi, maka konstelasi tersebut kemudian diterjemahkan sebagai seluruh wilayah Indonesia telah memenuhi “kriteria” Imkan Rukyat. Sehingga 1 Syawwal 1435 H bakal bertepatan dengan Senin 28 Juli 2014. Inilah potensi persamaan itu.

Sisi Rukyat

Uraian tersebut di atas berdasarkan pada perspektif hisab. Namun bagaimana jika berdasarkan perspektif rukyat itu sendiri?

Sebelum 2013, paparan di atas hanya bermakna dari sisi hisab namun tidak demikian dari sisi rukyat. Di Indonesia, saat tinggi Bulan setara atau melebihi 2 derajat memang sudah mulai muncul laporan rukyatul hilaal yang menyatakan terlihatnya hilaal. Laporan ini memang dapat divalidasi di tingkat sidang itsbat karena dianggap telah memenuhi “kriteria” Imkan Rukyat, namun tidak demikian dari sisi ilmiah. Laporan-laporan tersebut selalu hanya menyatakan “hilaal terlihat” tanpa adanya parameter-parameter hasil observasi yang bisa dijadikan rujukan, apalagi menyertakan citra (foto) sebagai bukti fisik.

Gambar 5. Perbandingan visibilitas menurut kriteria Odeh dan RHI pada Rabu 7 Agustus 2013 saat Matahari terbenam dalam lingkup global, dibatasi di antara garis lintang 20 LU hingga 20 LS. Pada kriteria Odeh, A = hilaal mudah diamati dengan mata tanpa alat bantu optik, B = hilaal mudah diamati dengan binokular/teleskop dan mungkin bisa diamati dengan mata tanpa alat bantu optik, C = hilaal hanya bisa diamati hilaal dengan binokular/teleskop dan D = hilaal mustahil diamati. Sementara pada kriteria RHI, T = hilaal teramati dengan binokular/teleskop dan mungkin dengan mata tanpa alat bantu optik, TT = hilaal mustahil diamati. Perhatikan kota Makassar, Sulawesi Selatan (Indonesia) berada dalam wilayah hilaal mustahil diamati baik menurut Odeh (wilayah D) maupun RHI (wilayah TT). Namun rukyat pencitraan saat itu secara gemilang berhasil menyajikan citra hilaal. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan bantuan software Accurate Hijri Calculator 2.2 dari Abdurro'uf.

Gambar 5. Perbandingan visibilitas menurut kriteria Odeh dan RHI pada Rabu 7 Agustus 2013 saat Matahari terbenam dalam lingkup global, dibatasi di antara garis lintang 20 LU hingga 20 LS. Pada kriteria Odeh, A = hilaal mudah diamati dengan mata tanpa alat bantu optik, B = hilaal mudah diamati dengan binokular/teleskop dan mungkin bisa diamati dengan mata tanpa alat bantu optik, C = hilaal hanya bisa diamati hilaal dengan binokular/teleskop dan D = hilaal mustahil diamati. Sementara pada kriteria RHI, T = hilaal teramati dengan binokular/teleskop dan mungkin dengan mata tanpa alat bantu optik, TT = hilaal mustahil diamati. Perhatikan kota Makassar, Sulawesi Selatan (Indonesia) berada dalam wilayah hilaal mustahil diamati baik menurut Odeh (wilayah D) maupun RHI (wilayah TT). Namun rukyat pencitraan saat itu secara gemilang berhasil menyajikan citra hilaal. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan bantuan software Accurate Hijri Calculator 2.2 dari Abdurro’uf.

Di sisi lain, rekapitulasi rukyat hilaal yang merentang masa baik dalam lingkup global seperti dilakukan ICOP (International Crescent Observation Project) maupun lingkup lokal Indonesia yang dihimpun RHI (Rukyatul Hilal Indonesia) tidak mendukung “kriteria” Imkan Rukyat. Pekerjaan ICOP mewujud pada persamaan batas yang dikenal sebagai kriteria empirik Audah (atau kriteria Odeh). Sementara kerja keras RHI mengemuka sebagai kriteria empirik RHI (atau kriteria RHI). Baik kriteria Odeh maupun kriteria RHI memiliki bentuk yang mirip (jika dibatasi pada kawasan tropis semata) dan memiliki nilai ambang batas yang lebih besar ketimbang “kriteria” Imkan Rukyat, apalagi wujudul hilaal. Harus digarisbawahi bahwa baik kriteria Odeh maupun kriteria RHI dibentuk oleh laporan-laporan observasi hilaal baik dengan mata dibantu oleh alat bantu optik (teleskop/binokular) maupun tidak.

Perubahan dramatis terjadi pada 2013, tepatnya pada saat penentuan Idul Fitri 1434 H (2013) melalui rukyat hilaal pada Rabu senja 7 Agustus 2013. Meski baik kriteria Odeh maupun kriteria RHI menunjukkan bahwa hilaal tidak mungkin teramati pada saat itu di segenap penjuru Indonesia, namun tim Observatorium Bosscha yang ditempatkan di Makassar (Sulawesi Selatan) secara gemilang berhasil mengobservasinya sekaligus melampirkan citra (foto) hilaal tersebut, sebagai bukti fisik. Sukses ini merupakan kulminasi dari kerja keras para perukyat hilaal kontemporer (yang mencakup observatorium Bosscha, sejumlah institusi pendidikan dan ormas terkait) untuk mencari dan mengembangkan teknik-teknik observasi yang bisa dijadikan pegangan sekaligus menyajikan bukti yang kuat semenjak 2009.

Gambar 6. Kiri: citra asli hilaal Makassar 2013 hasil rukyat pencitraan yang terdiri dari 10 citra berbeda dan kemudian ditumpuk (di-stacking) lewat software pengolah citra, hal yang telah menjadi standar dalam astronomi modern. Kanan: citra hilaal Makassar 2013 yang telah dipermak lebih lanjut dengan software pengolah citra, yang diperuntukkan bagi kalangan umum (non perukyat). Nampak jelas goresan tipis sedikit melengkung, yang adalah hilaal. Sumber: Observatorium Bosscha, 2013 dan Cecep Nurwendaya, 2013.

Gambar 6. Kiri: citra asli hilaal Makassar 2013 hasil rukyat pencitraan yang terdiri dari 10 citra berbeda dan kemudian ditumpuk (di-stacking) lewat software pengolah citra, hal yang telah menjadi standar dalam astronomi modern. Kanan: citra hilaal Makassar 2013 yang telah dipermak lebih lanjut dengan software pengolah citra, yang diperuntukkan bagi kalangan umum (non perukyat). Nampak jelas goresan tipis sedikit melengkung, yang adalah hilaal. Sumber: Observatorium Bosscha, 2013 dan Cecep Nurwendaya, 2013.

Sukses observasi hilaal Makassar 2013 itu merupakan buah dari penggunaan teleskop (untuk memperkuat intensitas cahaya sabit Bulan) yang ditempatkan pada dudukan (mounting) robotik (sehingga teleskop senantiasa terus mengarah ke posisi Bulan dari waktu ke waktu) disertai penggunaan filter (untuk meningkatkan kontras antara sabit Bulan dengan langit di latar belakangnya) dan kamera beresolusi tinggi (untuk merekam citra sabit Bulan sebagai data elektronis) yang disertai dengan pengolahan citra (guna mempertajam citra/foto mentah dengan teknik stacking sehingga menyajikan hasil yang ramah mata). Hilaal Makassar 2013 ini terekam pada pukul 18:11 WITA, atau 5 menit setelah Matahari terbenam di lokasi tersebut.

Di tempat lain, penggunaan instrumen serupa (teleskop + mounting + filter + kamera) pun berhasil merekam sabit Bulan dalam waktu berjam-jam sebelum Matahari terbenam, seperti yang dilakukan tim observatorium as-Salam, Surakarta (Jawa Tengah) dan observatorium al-Buruj, Kudus (Jawa Tengah). Kedua tim tersebut merupakan bagian dari jejaring RHI. Sukses ini menunjukkan bahwa tanpa harus mengundang pakar astrofotografi dari mancanegara, para perukyat kontemporer Indonesia telah mampu mencetak prestasi yang hampir sama. Hanya kerendahhatian mereka saja yang membuat semua terasa sunyi.

Gambar 7. Perbandingan visibilitas menurut kriteria RHI bagi penentuan Idul Fitri 1434 H (2013) dengan Idul Fitri 1435 H (2014) saat Matahari terbenam dalam lingkup global, dibatasi di antara garis lintang 20 LU hingga 20 LS. T = hilaal teramati dengan binokular/teleskop dan mungkin dengan mata tanpa alat bantu optik, TT = hilaal mustahil diamati. Pada 2013, wilayah T hanya menyentuh Jawa bagian selatan namun faktanya rukyat pencitraan berhasil merekam hilaal dari Makassar. Dengan menggunakan linieritas tersebut, maka pada 2014 ini wilayah Jawa bagian selatan memiliki potensi lebih besar dalam merekam hilaal melalui rukyat pencitraan, meskipun terletak di luar wilayah T. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan bantuan software Accurate Hijri Calculator 2.2 dari Abdurro'uf.

Gambar 7. Perbandingan visibilitas menurut kriteria RHI bagi penentuan Idul Fitri 1434 H (2013) dengan Idul Fitri 1435 H (2014) saat Matahari terbenam dalam lingkup global, dibatasi di antara garis lintang 20 LU hingga 20 LS. T = hilaal teramati dengan binokular/teleskop dan mungkin dengan mata tanpa alat bantu optik, TT = hilaal mustahil diamati. Pada 2013, wilayah T hanya menyentuh Jawa bagian selatan namun faktanya rukyat pencitraan berhasil merekam hilaal dari Makassar. Dengan menggunakan linieritas tersebut, maka pada 2014 ini wilayah Jawa bagian selatan memiliki potensi lebih besar dalam merekam hilaal melalui rukyat pencitraan, meskipun terletak di luar wilayah T. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan bantuan software Accurate Hijri Calculator 2.2 dari Abdurro’uf.

Hasil hilaal Makassar 2013 menjadikan sidang itsbat penetapan Idul Fitri 1434 H (2013) mengeluarkan yurisprudensi baru, yakni menerima hasil rukyat pencitraan (yakni rukyat hilaal yang berbasis teleskop, kamera dan pengolahan citra). Ini menjadikan Indonesia sebagai negara (berpenduduk mayoritas) Muslim pertama di dunia yang mengambil langkah tersebut. Kini, bagaimana dengan penentuan Idul Fitri 1435 H (2014)? Parameter posisi Bulan dan Matahari yang diperbandingkan dengan penentuan Idul Fitri setahun silam menunjukkan adanya kemiripan. Maka potensi terekamnya hilaal lewat rukyat pencitraan pun terbuka, dengan lokasi yang berpotensi terbaik terletak di sepanjang pantai selatan pulau Jawa. Tentu, keberhasilan ini akan terjadi bilamana cuaca cerah.

Gambar 8. Estimasi bentuk hilaal (goresan merah) dalam rukyat pencitraan, disimulasikan dari Pos Observasi Logending, Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah) pada Minggu senja 27 Juli 2014 saat Matahari terbenam. Goresan merah tersebut sejatinya merupakan bagian dari busur lingkaran, dengan panjang busur hanya 10 derajat. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 8. Estimasi bentuk hilaal (goresan merah) dalam rukyat pencitraan, disimulasikan dari Pos Observasi Logending, Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah) pada Minggu senja 27 Juli 2014 saat Matahari terbenam. Goresan merah tersebut sejatinya merupakan bagian dari busur lingkaran, dengan panjang busur hanya 10 derajat. Sumber: Sudibyo, 2014.

Referensi :

Sudibyo. 2013. Syawwal 1435 H (2014). Kertas Kerja dalam Temu Kerja Nasional Hisab Rukyat 2013. Batam (Kepulauan Riau), Juni 2013.

Nurwendaya. 2013. Sidang Itsbat Awal Zulhijjah 1434 H. Bahan Sidang Itsbat Kementerian Agama RI 5 Oktober 2013 (29 Zulqaidah 1434 H).

BMKG. 2014. Informasi Hilal Saat Matahari Terbenam Ahad 27 Juli 2014 M Penentu Awal Bulan Syawwal 1435 H.

Tulisan bagian pertama.