Menanti Tranformasi Sang Surya Menjadi Sabit (Gerhana Matahari 9 Maret 2016 di Tanah Jawa)

Rabu 9 Maret 2016 Tarikh Umum (TU), bertepatan dengan 29 Jumadal Ula 1437 H. Inilah masa kala dua benda langit yang mendominasi peradaban manusia bersua di angkasa. Itulah Bulan dan Matahari. Keduanya berjumpa di titik yang sama. Kita akan menyaksikannya sebagai situasi kala Matahari tertutupi Bulan hingga persentase tertentu. Bahkan apabila kita berada di tempat yang tepat, penutupan tersebut akan tepat sempurna. Menjadikan wajah Matahari yang terik menyilaukan pandangan menghilang sesaat, tertutupi sepenuhnya selama 2 hingga 3 menit kemudian. Panorama Matahari pun berganti dengan nampaknya mahkota Matahari atau korona, yakni bagian teratas atmosfer Matahari yang bersuhu jutaan derajat Celcius dan sehari–harinya mustahil terlihat. Inilah Gerhana Matahari Total, peristiwa alamiah yang langka, menakjubkan serta senantiasa mengundang puji syukur dan decak kagum.

Gambar 1. Wajah Matahari yang 'robek' oleh cakram Bulan. Diamati dalam Gerhana Matahari Cincin 26 Januari 2009 di Cirebon, Jawa Barat (saat itu nampak sebagai gerhana sebagian). Diabadikan dengan kamera Nikon D60 dilengkapi filter buatan sendiri. Sumber : Sudibyo, 2009.

Gambar 1. Wajah Matahari yang ‘robek’ oleh cakram Bulan. Diamati dalam Gerhana Matahari Cincin 26 Januari 2009 di Cirebon, Jawa Barat (saat itu nampak sebagai gerhana sebagian). Diabadikan dengan kamera Nikon D60 dilengkapi filter buatan sendiri. Sumber : Sudibyo, 2009.

Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 merupakan peristiwa gerhana pertama dalam musim gerhana 2016. Sepanjang tahun ini akan terjadi empat gerhana, masing-masing dua Gerhana Matahari dan dua Gerhana Bulan. Istimewanya, seluruh gerhana tersebut menghampiri Indonesia. Tetapi, hanya Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 yang bakal menyajikan panorama paling elok. Sisa tiga gerhana berikutnya terdiri dari Gerhana Matahari Cincin (yang nampak di Indonesia hanya sebagai gerhana sebagian) dan dua Gerhana Bulan Samar (penumbral).

Gerhana Matahari terjadi tatkala tiga benda langit dalam tata surya kita yakni Matahari, Bulan dan Bumi tepat berada dalam satu garis lurus secara tiga dimensi (dari tiga sumbu ruang sekaligus). Atau dalam istilah astronominya, mereka bertiga membentuk konfigurasi syzygy. Konfigurasi tersebut terjadi karena pada saat itu Bulan sedang menempati titik nodal (titik potong orbit Bulan dengan bidang ekliptika) dan Bulan sedang dalam situasi konjungsi Bulan-Matahari (ijtima’).

Gambar 2. Peristiwa Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan dalam musim gerhana 2016 berdasarkan titik acu kota Kebumen, Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah). Terlihat seluruh gerhana tersebut memiliki wilayah yang melintas di Indonesia. Tetapi hanya Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 saja yang berpotensi menyajikan panorama spektakuler. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 2. Peristiwa Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan dalam musim gerhana 2016 berdasarkan titik acu kota Kebumen, Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah). Terlihat seluruh gerhana tersebut memiliki wilayah yang melintas di Indonesia. Tetapi hanya Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 saja yang berpotensi menyajikan panorama spektakuler. Sumber: Sudibyo, 2016.

Dengan Bulan berkedudukan di tengah–tengah, maka ia menghalangi sinar Matahari yang seharusnya menuju ke Bumi. Sehingga bagian Bumi tertentu yang seharusnya mengalami siang hari mendadak temaram atau bahkan gelap sesaat. Bagian tersebut dinamakan wilayah gerhana. Karena diameter Matahari yang jauh lebih besar ketimbang Bulan, maka halangan dari Bulan tak sepenuhnya menghambat sinar Matahari. Masih tetap ada bagian sinar Matahari yang lolos meski dengan intensitas sinar sedikit berkurang. Sehingga wilayah gerhana pun terbagi ke dalam dua zona, yakni zona penumbra (bayangan tambahan) dan zona umbra (bayangan inti).

GMT 9 Maret 2016

Pada dasarnya ada tiga jenis Gerhana Matahari. Pertama adalah Gerhana Matahari Sebagian (GMS). Gerhana ini terjadi tatkala cakram Bulan tak sepenuhnya menutupi bundaran Matahari di seluruh wilayah gerhana. Akibatnya Matahari hanya akan terlihat ‘robek’ di salah satu sisinya dengan persentase tertentu. Sehingga wilayah gerhana bagi GMS pun hanya berupa zona penumbra. Yang kedua adalah Gerhana Matahari Cincin (GMC), yang terjadi tatkala cakram Bulan sudah sepenuhnya menutupi bundaran Matahari namun Bulan sedang berada di titik terjauh orbitnya (titik apogee). Sehingga di wilayah gerhana, tak hanya akan melihat Matahari yang ‘robek.’ Namun daerah-daerah tertentu juga akan melihat Matahari yang tak sepenuhnya tertutupi dan masih menyisakan secuil bagian terang yang mengemuka sebagai lingkaran bersinar mirip cincin pada puncaknya. Saat bentuk cincin ini muncul disebut tahap anularitas. Dengan demikian wilayah gerhana bagi GMC terdiri dari zona penumbra dan zona umbra (atau lebih tepatnya zona antumbra). Dan yang terakhir (ketiga) adalah Gerhana Matahari Total (GMT). Konfigurasinya seperti GMC dengan satu perbedaan mendasar: GMT terjadi tatkala Bulan berada dalam titik terdekatnya orbitnya (titik perigee). Sehingga pada daerah-daerah tertentu akan melihat Matahari sepenuhnya tertutupi Bulan dan menampakkan korona pada puncaknya. Momen ini terjadi pada tahap totalitas. Seperti halnya GMC, wilayah GMT pun terdiri dari zona penumbra dan umbra.

Gambar 3. Peta wilayah Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 dalam lingkup global. Wilayah gerhana ditandai dengan garis putih tak terputus dan putus-putus. Angka-angka menunjukkan waktu puncak gerhana dalam UTC (GMT). Peta diproses dengan software Solar Eclipse Viewer 1.0 karya Andrzej Okrasinki (Polandia). Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 3. Peta wilayah Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 dalam lingkup global. Wilayah gerhana ditandai dengan garis putih tak terputus dan putus-putus. Angka-angka menunjukkan waktu puncak gerhana dalam UTC (GMT). Peta diproses dengan software Solar Eclipse Viewer 1.0 karya Andrzej Okrasinki (Polandia). Sumber: Sudibyo, 2016.

Dalam setiap jenis gerhana tersebut, zona penumbra menjadi kawasan yang bakal temaram sejak awal hingga akhir gerhana yang umumnya berlangsung selama 2 hingga 3 jam. Di zona ini bundaran Matahari akan terlihat ditutupi sebagian oleh cakram Bulan. Puncak gerhana ditandai dengan parsialitas, dimana wajah Matahari tertutupi cakram Bulan dengan persentase bervariasi mulai dari 1 hingga lebih dari 90 %. Di zona penumbra siang hari akan lebih redup, tetapi langit cukup benderang sehingga hanya Matahari yang terlihat. Sebaliknya zona umbra adalah kawasan yang tak hanya temaram, melainkan juga mengalami remang–remang (untuk GMC) atau kegelapan (untuk GMT) pada puncak gerhana. Remang–remang atau kegelapan itu umumnya terjadi selama 2 hingga 4 menit. Khusus untuk GMT, saat totalitas terjadi langit cukup gelap sehingga bintang–bintang dan planet–planet pun berpeluang terlihat.

Apapun jenis gerhananya, pada dasarnya ia terbagi ke dalam tiga tahap. Yakni tahap awal gerhana (kontak pertama penumbra), tahap puncak gerhana dan tahap akhir gerhana (kontak akhir penumbra). Awal gerhana ditandai dengan tepat mulai bersentuhannya cakram Bulan dengan bundaran Matahari. Sementara puncak gerhana adalah saat magnitudo gerhana atau persentase penutupan Matahari oleh Bulan mencapai nilai terbesar. Dan akhir gerhana adalah saat cakram Bulan tepat mulai meninggalkan bundaran Matahari. Khusus di zona umbra terdapat tambahan. Yakni tahap awal umbra dan tahap akhir umbra. Rentang waktu saat tahap awal hingga tahap akhir umbra merupakan durasi totalitas gerhana (untuk GMT) atau durasi anularitas gerhana (untuk GMC). Sementara durasi gerhana adalah rentang waktu sejak tahap awal hingga akhir gerhana.

Wilayah gerhana dalam GMT 9 Maret 2016 sejatinya cukup luas. Ia melingkupi tak kurang dari 25 negara berdaulat yang tersebar di kawasan Asia timur, Asia tenggara, Australia hingga Amerika utara. Negara–negara tersebut adalah India, Nepal, Bhutan, Sri Lanka, Myanmar, Thailand, Laos, Vietnam, Kamboja, Malaysia, Singapura, Indonesia, Brunei Darusalam, Timor Leste, Filipina, Papua Nugini, Australia, Palau, Cina (bagian timur dan selatan), Korea Selatan, Korea Utara, Jepang, Russia (pesisir Samudera Pasifik), Kanada (bagian barat) dan Amerika Serikat (negara bagian Alaska). Namun zona umbranya hanya melintasi satu negara, yakni Indonesia.

Gambar 4. Peta zona umbra dalam Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016. Perhatikan nama kota-kota penting yang terlintasi zona umbra, sehingga secara tak resmi zona ini kadang disebut sebagai jalur P-P-P-P-P atau jalur 5P. Sumber: Sudibyo, 2016 dengan basis Google Earth.

Gambar 4. Peta zona umbra dalam Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016. Perhatikan nama kota-kota penting yang terlintasi zona umbra, sehingga secara tak resmi zona ini kadang disebut sebagai jalur P-P-P-P-P atau jalur 5P. Sumber: Sudibyo, 2016 dengan basis Google Earth.

Zona umbra GMT 9 Maret 2016 hanya selebar 150 km yang melintasi daerah-daerah tertentu dari 12 propinsi. Masing–masing adalah empat propinsi di pulau Sumatra (meliputi propinsi Sumatra Barat, Bengkulu, Riau, Sumatra Selatan), propinsi Kepulauan Bangka Belitung, empat propinsi di pulau Kalimantan (meliputi propinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur), dua propinsi di pulau Sulawesi (masing-masing propinsi Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah) serta propinsi Maluku Utara. Kota–kota penting yang terletak di zona umbra diantaranya Palembang, Pangkalpinang, Pangkalan Bun, Palangka Raya dan Palu. Tak mengherankan bila zona umbra GMT 9 Maret 2016 kadang disebut “jalur 5 P” atau “jalur P-P-P-P-P”, mengikuti huruf pertama dari keenam kota tersebut.

Sepanjang zona umbra inilah yang akan mengalami situasi langit siang hari yang berubah menjadi gelap saat totalitas terjadi. Panorama perubahan langit tersebut akan menyerupai apa yang pernah direkam di Afrika (dalam durasi panjang) pada saat Gerhana Matahari Total 29 Maret 2006


Tanah Jawa

Gambar 5. Peta wilayah Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 untuk pulau Jawa. Setiap garis kuning menghubungkan titik-titik yang memiliki persentase penutupan Matahari pada saat puncak gerhana yang nilainya sama. Perhatikan tak satupun titik di pulau Jawa yang berada dalam zona umbra. Sumber: Sudibyo, 2016 dengan basis Google Earth.

Gambar 5. Peta wilayah Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 untuk pulau Jawa. Setiap garis kuning menghubungkan titik-titik yang memiliki persentase penutupan Matahari pada saat puncak gerhana yang nilainya sama. Perhatikan tak satupun titik di pulau Jawa yang berada dalam zona umbra. Sumber: Sudibyo, 2016 dengan basis Google Earth.

Di luar zona umbra, sisa Indonesia lainnya berposisi di dalam zona penumbra. Di antara lima pulau besar di Kepulauan Nusantara ini, hanya pulau Irian dan pulau Jawa yang sepenuhnya menempati zona penumbra. Sehingga kita yang bertempat tinggal di kedua pulau tersebut hanya berkesempatan menikmati GMT 9 Maret 2016 dalam bentuk gerhana sebagian. Persentase penutupan Matahari dalam puncak gerhana yang terjadi di pulau Irian bervariasi mulai dari 51 % di Merauke hingga 94 % di Kep. Raja Ampat.

Sementara di tanah Jawa persentasenya bervariasi mulai dari 88 % di Banyuwangi (Jawa Timur) hingga 91 % di Merak (Banten). Namun durasi gerhana yang terpendek di tanah Jawa justru terjadi di Merak, yakni hanya 2 jam 11 menit. Sementara durasi terpanjang se-tanah Jawa terjadi di Banyuwangi, yakni 2 jam 19 menit.

Gambar 6. Prakiraan lintasan Matahari (garis putus-putus) dan kedudukan Matahari (titik-titik kuning) dalam Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 di ufuk timur kota Kebumen (Jawa Tengah). Masing-masing titik menunjukkan posisi dan wajah Matahari dalam jam-jam tertentu yang disajikan di sisi kanan. Sumber: Sudibyo, 2016

Gambar 6. Prakiraan lintasan Matahari (garis putus-putus) dan kedudukan Matahari (titik-titik kuning) dalam Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 di ufuk timur kota Kebumen (Jawa Tengah). Masing-masing titik menunjukkan posisi dan wajah Matahari dalam jam-jam tertentu yang disajikan di sisi kanan. Sumber: Sudibyo, 2016

Berikut adalah salah satu contoh bagaimana panorama Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 di tanah Jawa, dengan mengambil tempat di Kabupaten Kebumen. Sebagai salah satu daerah administratif di lingkungan propinsi Jawa Tengah, Kabupaten Kebumen juga turut berada dalam zona penumbra GMT 9 Maret 2016. Perhitungan dengan titik acu di kota Kebumen (ibukota kabupaten) memprakirakan awal gerhana bakal terjadi pukul 06:20 WIB. Saat itu Matahari relatif masih rendah di atas ufuk timur, dengan tinggi hanya 8° dari dan azimuth 93° (di selatan titik timur). Pergerakan Bulan yang memiliki kecepatan rata–rata hingga 1,02 km/detik membuat cakram Bulan kian jauh ‘menjajah’ wajah Matahari. Sehingga sang surya pun mulai ‘robek’ di sisi atasnya. Pada saat yang sama Matahari juga nampak kian meredup, pelan tapi pasti.

Hingga tibalah pada puncak gerhana yang diprakirakan terjadi pukul 07:23 WIB. Waktu itu Matahari sudah lumayan tinggi, bertengger di ketinggian 23° pada azimuth 91°. Dengan persentase penutupan Matahari diprakirakan mencapai 85,4 % maka hanya tersisa 14,6 % saja wajah Matahari yang masih terlihat (dan memancarkan sinar). Matahari pun seakan–akan berubah wujud menjadi bentuk sabit yang menghadap ke utara. Intensitas sinarnya di bumi Kabupaten Kebumen pun diprakirakan tinggal 15 % dari normal. Dalam istilah astronominya, puncak gerhana di Kabupaten Kebumen bakal ditandai dengan terjadinya penurunan magnitudo Matahari hingga 2,1 di bawah normal. Akibatnya langit pun bakal lebih temaram. Tetapi tak perlu khawatir, situasi semacam itu tak bertahan lama. Pergerakan Bulan yang teratur membuat cakram Bulan berangsur-angsur meninggalkan bundaran Matahari setelah puncak gerhana tercapai. Sehingga rona sang surya perlahan–lahan mulai meluas lagi. Pada pukul 08:00 WIB, rona Matahari yang ‘robek’ tinggallah sudut kiri bawahnya. Akhirnya tibalah akhir gerhana yang diprakirakan terjadi pukul 08:34 WIB kala Matahari berketinggian 41°. Dengan demikian durasi Gerhana Matahari di Kabupaten Kebumen adalah 2 jam 14 menit (134 menit).

Melihat Gerhana, Yang Boleh dan Tak Boleh

Dibanding peristiwa Gerhana Bulan, kesempatan mengalami Gerhana Matahari cukup langka. Gerhana Matahari Total terakhir dengan zona umbra yang melintasi sebagian tanah Jawa terjadi pada GMT 11 Juni 1983. Dan setelah itu tanah Jawa masih harus menunggu berabad-abad lagi sebelum bisa bersentuhan dengan zona umbra dalam peristiwa Gerhana Matahari Total yang akan datang.

Beberapa Gerhana Matahari yang non total singgah di tanah Jawa pasca 1983 hingga 2014 lalu. Namun tak semuanya memiliki konfigurasi yang menguntungkan untuk diamati. Secara kasat mata Gerhana Matahari terakhir di tanah Jawa terjadi pada 29 Januari 2009 sebagai Gerhana Matahari Cincin. Zona umbra bersentuhan dengan ujung barat pulau Jawa, sementara sisanya tergabung ke dalam zona penumbra. Di Kabupaten Kebumen, pada saat itu persentase penutupan Matahari mencapai 85 %. Berikutnya pada 15 Januari 2010 juga terjadi Gerhana Matahari Cincin. Namun satupun daerah di Indonesia yang berada pada zona umbra, sementara zona penumbra hanya meliputi pulau Sumatra, Kalimantan, Jawa (sebagian) dan Sulawesi (sebagian). Di Kabupaten Kebumen saat itu, persentase penutupan Matahari hanya sebesar 3 %. Sehingga sangat sulit untuk diamati.

Berikutnya pada 10 Mei 2013 juga terjadi Gerhana Matahari Cincin. Lagi-lagi tak satupun daerah di Indonesia yang tercakup zona umbranya, meski hampir seluruh Indonesia berkesempatan berada dalam zona penumbra. Namun dengan gerhana terjadi tepat pada saat Matahari terbit, maka upaya untuk mengamatinya juga sulit. Di Kabupaten Kebumen misalnya, persentase penutupan Mataharinya saat terbit mencapai 39 %. Namun dengan langit berkabut di ufuk timur, apa yang mau dilihat? Demikian halnya dengan Gerhana Matahari Sebagian 29 April 2014. Gerhana juga terjadi saat Matahari terbit.

Gambar 7. "Sabit Matahari" yang nampak puncak sebuah Gerhana Matahari, dalam hal ini adalah Gerhana Matahari Cincin 26 Januari 2009 yang diamati di Cirebon, Jawa Barat (saat itu nampak sebagai gerhana sebagian). Wajah Matahari dalam puncak Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 pun bakal menyerupai pemandangan ini. Diabadikan dengan kamera Nikon D60 tanpa filter apapun (karena cuaca mendung). Sumber : Sudibyo, 2009.

Gambar 7. “Sabit Matahari” yang nampak puncak sebuah Gerhana Matahari, dalam hal ini adalah Gerhana Matahari Cincin 26 Januari 2009 yang diamati di Cirebon, Jawa Barat (saat itu nampak sebagai gerhana sebagian). Wajah Matahari dalam puncak Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 pun bakal menyerupai pemandangan ini. Diabadikan dengan kamera Nikon D60 tanpa filter apapun (karena cuaca mendung). Sumber : Sudibyo, 2009.

Maka sah–sah saja bila kita ingin berpartisipasi secara langsung mengamati. Apalagi mengabadikan GMT 9 Maret 2016 dengan kamera. Namun ada beberapa hal yang harus digarisbawahi. Pada dasarnya kita dilarang menatap langsung ke arah Matahari. Demikian pula mengarahkan kamera secara secara langsung ke sang surya. Selain intensitas sinarnya begitu besarnya hingga terlalu benderang menyilaukan, salah satu gelombang elektromagnetik berenergi tinggi yang dipancarkan Matahari dan bisa tiba di permukaan Bumi adalah berkas sinar ultraungu. Intensitasnya juga tinggi. Dengan tingginya energinya, sinar ultraungu bisa menyebabkan perubahan kimia pada sel–sel retina apabila terpapar terlalu lama. Pada dasarnya menatap Matahari terlalu lama sama merusaknya dengan melihat pengelasan las listrik tanpa pelindung mata sama sekali. Gangguan penglihatan bisa terjadi.

Dalam situasi normal, mata kita memiliki respon spontan untuk menyipit dan mengerjap saat menatap Matahari. Inilah alarm kewaspadaan sekaligus pengaman mata kita. Namun pada saat Gerhana Matahari, khususnya dengan persentase penutupan Matahari yang besar, situasi unik terjadi. Meredupnya Matahari sepanjang durasi gerhana akan membuat langit lebih temaram. Alarm kewaspadaan kita pun mengendor. Kini Matahari jadi lebih enak dipandang tanpa harus banyak menyipitkan mata. Pada saat yang sama, temaramnya langit juga membuat mata kita meresponnya dengan membuka pupil lebih lebar untuk memungkinkan lebih banyak sinar yang masuk. Sehingga kualitas penglihatan tetap terjaga. Kombinasi dua hal ini berpotensi membuat lebih banyak sinar ultraungu Matahari yang masuk ke bola mata dibanding normal. Disinilah bahaya itu muncul.

Cara aman

Jadi bagaimana cara melihat Matahari yang aman? Juga bagaimana cara melihat Gerhana Matahari yang aman? Pada dasarnya Matahari cukup aman untuk dipandang apabila intensitas sinarnya telah diperlemah hingga minimal 50.000 kali lipat dari semula sebelum memasuki mata kita. Melihat Matahari dengan pantulan sinarnya melalui permukaan air yang tenang sama sekali tak disarankan. Sebab intensitas sinar hasil pemantulan hanyalah diperlemah 50 kali dari semula. Dengan dasar tersebut maka perlu adanya filter (penapis) yang tepat di antara mata kita dan Matahari. Filter yang dianjurkan adalah yang memperlemah sinar Matahari hingga 100.000 kali dari semula (0,001 %), yang teknisnya dikenal sebagai filter ND 5 (neutral density 5). Filter semacam ini secara komersial dipasarkan sebagai kacamata Matahari.

Gambar 8. Filter Matahari buatan sendiri, dibuat dengan menggunakan kotak kardus bekas wadah dompet yang dilubangi mirip kacamata lalu ditempeli negatif film yang telah dicuci. Sumber: Sudibyo, 2009.

Gambar 8. Filter Matahari buatan sendiri, dibuat dengan menggunakan kotak kardus bekas wadah dompet yang dilubangi mirip kacamata lalu ditempeli negatif film yang telah dicuci. Sumber: Sudibyo, 2009.

Bagaimana jika tak ada filter ND 5? Kita pun tetap bisa mengamati Gerhana Matahari dengan cara membuat filter sendiri. Carilah negatif film hitam putih yang telah ‘terbakar’ (dipapar sinar Matahari lalu dicuci di studio foto). Potong–potong menjadi 3 helai lalu rekatkan/tumpuk menjadi satu. Agar lebih mudah dipegang, tempatkanlah dalam misalnya kertas karton yang telah dilubangi demikian rupa agar mirip kacamata. Inilah filter Matahari–buatan–sendiri yang tak kalah ampuhnya dengan filter komersial. Bisa juga menggunakan kacamata las bernomor 14. Dengan filter semacam ini maka mata (atau kamera) anda akan tetap leluasa mengamati Gerhana Matahari tanpa khawatir cedera.

Selain itu melihat gerhana Matahari juga bisa dilakukan dengan teknik tak langsung. Yang terpopuler adalah menggunakan kamera lubang jarum (pinhole). Kamera ini bisa kita buat sendiri. Carilah sebuah kotak kertas yang berbentuk balok, misalnya kotak sepatu ataupun kardus bahan makanan. Lubangi salah satu ujung baloknya seukuran koin logam. Lalu rekatkan lembaran alumunium foil di lubang ini. Tepat di tengah–tengah lembaran alumunium foil, tusukkan jarum hingga membentuk lubang sangat kecil. Selanjutnya lubangi pula ujung yang berseberangan, kali ini dengan bentuk persegi/bujursangkar. Rekatkan sehelai kertas putih polos tipis disini yang akan berfungsi sebagai layar. Nah kita tinggal mengarahkan kamera ini ke Matahari, dengan bagian yang berlembaran alumunium foil di sisi Matahari. Bayangan Gerhana Matahari akan terproyeksikan oleh lubang jarum ke layar dengan jelas dan aman untuk disaksikan

Cara Terlarang

Ada banyak cara yang sesungguhnya tergolong tak aman dan bahkan terlarang untuk mengamati Gerhana Matahari, meski melingkupi beberapa hal yang telah melegenda. Misalnya dengan meletakkan sebaskom atau sepanci air di luar ruangan dan melihat Gerhana Matahari melalui pantulan di permukaan air tenangnya. Cara ini terlarang dengan alasan yang telah dipaparkan di atas. Begitu pula jika kita berinisiatif melihat melalui “filter” dari selembar film sinar–X / Roentgen bekas. Cara ini pun terlarang karena film sinar–X tak memiliki senyawa perak setinggi negatif film hitam putih. Demikian pula bila menggunakan negatif film berwarna yang sudah dicuci fotografis. Bahkan menggunakan negatif film hitam putih yang juga sudah dicuci secara fotografis pun bisa tak dianjurkan jika hanya selembar. Apalagi jika belum dicuci. Cara tak aman lainnya misalnya melihat gerhana dengan “filter” yang terbuat dari CD (compact disk) bekas. Atau melihat gerhana dengan “filter” dari media penyimpanan jadul seperti disket (floppy disk).

Mengapa cara-cara tersebut tak aman? Karena meski memperlemah cahaya Matahari yang melewatinya, namun jumlah cahaya Matahari yang ditransmisikan masih jauh lebih besar dibanding ambang batas yang diperkenankan.

Shalat Gerhana

Bagi Umat Islam, sangat dianjurkan untuk menyelenggarakan shalat gerhana tatkala peristiwa gerhana terjadi, baik Gerhana Matahari maupun Gerhana Bulan. Nah tulisan ini tak hendak menyentuh tata cara pelaksanaan shalat gerhana atau khutbah yang dianjurkan. Namun hanya mengupas kapan waktunya.

Ada sebagian kalangan yang mempertanyakan (sekaligus mempersoalkan) mengapa peristiwa GMT 9 Maret 2016 disambut dengan demikian gegap gempita di Indonesia. Mengapa tak mendirikan shalat gerhana saja? Mengapa justru mengamati dan seabrek kegiatan pendukung yang ditonjolkan?

Sejatinya tak perlu ada dikotomi semacam itu. Durasi Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 di Indonesia cukup panjang. Rata-rata 2 jam lebih. Nah sekarang mari kita lihat berapa waktu yang dibutuhkan untuk mendirikan shalat gerhana. Shalat dua raka’at itu umumnya terlaksana dalam tempo 10 menit. Kemudian khutbah gerhana sesudahnya juga seyogyanya berlaku 10 menit (tidak lebih panjang, sesuai dengan yang disunnahkan). Dengan demikian secara keseluruhan pelaksanaan shalat gerhana membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Nah, masih tersisa 1,5 jam lebih dari durasi gerhana bukan? Mengapa tak dimanfaatkan untuk kegiatan pendukung, mulai dari kegiatan ilmiah hingga kesenian ? Terlebih Gerhana Matahari adalah salah satu ayat kauniyah. Bukankah ada sekurang–kurangnya 750 ayat al–Qur’an yang membahas dan mendeskripsikan beragam fenomena dalam jagat raya seperti dipaparkan Syeh Jauhari Thanthawi pada 7 dasawarsa silam? Ayat-ayat tersebut 5 kali lipat lebih banyak dibanding ayat-ayat yang mengupas masalah hukum lho.

Mengenal Kandidat Sumber Gempa Bumi dan Tsunami di Pulau Jawa

Pantai Logending di Kecamatan Ayah Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah) bersiap menuju momen Matahari terbenam pada Senin 17 Juli 2006 Tarikh Umum (TU) sore. Obyek wisata pantai ini masih satu lokasi dengan Goa Jatijajar dan Goa Petruk di lingkungan karst Karangbolong, Gombong selatan. Inilah trio obyek wisata populer andalan Kabupaten Kebumen. Sore itu Pantai Logending relatif lengang. Hari itu adalah hari pertama masuk sekolah di tahun ajaran yang baru (2006-2007 TU). Hanya ada puluhan wisatawan lokal. Di hari-hari sebelumnya, pengunjung pantai ini setiap harinya bisa mencapai ribuan orang dalam beragam usia. Selain memiliki pantai datar bermuara sungai yang tepat berdampingan dengan Tanjung Karangbolong di sisi timur dan Teluk Penyu di sisi barat, pantai Logending juga memiliki bumi perkemahan yang kerap menjadi arena perkemahan para pelajar di musim liburan. Ditambah dengan aksesnya yang mudah, tempat yang rindang (penuh pepohonan) dan ketersediaan sarana prasarana yang memadai, tak pelak pantai ini menjadi pantai favorit bagi penduduk Kabupaten Kebumen dan kabupaten/kota tetangganya.

Gambar 1. Jejak kedahsyatan terjangan Tsunami 17 Juli 2006 di pantai Logending (Kabupaten Kebumen). Kiri: sebagian dinding bangunan WC umum yang ambrol dan terhempas hingga 2 meter ke utara dari semula. Kanan: tebing sungai yang tererosi berat hingga menghancurkan taludnya. Di latar belakang nampak bangunan pos TNI AL Logending. Tsunami yang menghantam pantai ini memiliki tinggi maksimum 7 meter dpl. Sumber: Sudibyo, 2006.

Gambar 1. Jejak kedahsyatan terjangan Tsunami 17 Juli 2006 di pantai Logending (Kabupaten Kebumen). Kiri: sebagian dinding bangunan WC umum yang ambrol dan terhempas hingga 2 meter ke utara dari semula. Kanan: tebing sungai yang tererosi berat hingga menghancurkan taludnya. Di latar belakang nampak bangunan pos TNI AL Logending. Tsunami yang menghantam pantai ini memiliki tinggi maksimum 7 meter dpl. Sumber: Sudibyo, 2006.

Siapa sangka, Senin sore itu adalah hari yang tak biasa dan bakal dikenang seterusnya bagi pantai Logending dan Kabupaten Kebumen. Sejarak 230 kilometer ke arah selatan-barat daya, Bumi sedang bergolak. Bagian kerak Samudera Indonesia (atau Samudera Hindia) yang bersisian dengan palung Jawa dalam segmen sepanjang 200 kilometer mendadak terpatahkan pada pukul 15:19 WIB. Gempa tektonik pun terjadilah, dengan magnitudo momen 7,7. Sehingga tergolong gempa besar. Karena daratan terdekat dengan episentrum adalah pantai Pangandaran, maka gempa ini acap disebut Gempa Pangandaran 17 Juli 2006. Meski ada pula yang menyebutnya Gempa Jawa 17 Juli 2006 atau Gempa Samudera Hindia 17 Juli 2006.

Namun pematahan kerak samudera pada gempa ini berlangsung lebih lambat ketimbang pematahan penyebab gempa bumi tektonik umumnya. Sehingga gempa besar ini merupakan gempa-ayun atau gempa-lambat (slow-quake). Akibatnya getarannya relatif tak terasa khususnya di daratan pulau Jawa bagian selatan. Tapi di sekeliling sumber gempa, getarannya demikian keras. Sehingga mampu menyebabkan longsoran berskala besar pada lereng curam di sisi utara Palung Jawa. Longsoran ini menyebabkan kolom air segara, yang sudah bergolak akibat terangkatnya dasar laut di atas sumber gempa, menjadi kian bergolak saja. Terbentuklah tsunami besar yang magnitudonya setingkat lebih tinggi dibanding magnitudo gempanya, satu ciri khas lain lagi dari gempa-lambat. Dengan segera gelora yang mematikan ini berderap ke dua arah berlawanan, yakni timur laut dan barat daya. Tsunami yang melejit ke timur laut melaju pada kecepatan antara 230 hingga 260 km/jam, berderap langsung ke arah sebagian pesisir selatan pulau Jawa yang berhadapan. Namun tak satupun penduduk di sana yang menyadari bahwa bencana hendak tiba. Demikian halnya di pantai Logending.

Didahului dua dentuman keras, tsunami menyerbu pantai Logending mulai pukul 16:09 WIB atau hampir sejam pascagempa. Lima gelora menggempur susul-menyusul, dengan gelombang pertama sebagai yang terbesar (tertinggi). Airbah segera menggenang hingga 1 meter dari permukaan tanah dan menderu deras hingga sejauh tak kurang 200 meter ke darat. Arus airbah demikian kuat hingga menyeret puluhan kapal nelayan ke daratan sampai berlubang-lubang atau malah patah terbelah. Arus airbah bahkan sanggup menjebol tembok bangunan seperti WC umum dan melubangi dinding pos TNI AL Logending. Warung-warung semi permanen kuliner khas Logending pun tak luput dari terjangan airbah tsunami. Kepanikan dan kekacauan sontak merebak. Orang-orang berlarian lintang-pukang menuju bukit. Tetapi puluhan orang gagal menyelamatkan diri. Mereka terseret arus airbah dan beberapa diantaranya menjadi korban. Salah satu korban bahkan ditemukan terdampar di pantai Parangtritis, Bantul (propinsi DI Yogyakarta), seratusan kilometer dari Logending.

Gambar 2. Menit-menit terjangan Tsunami 17 Juli 2006 di kolam PLTU Bunton (Kabupaten Cilacap) seperti yang direkam kamera sirkuit tertutup (CCTV). Air bah Tsunami terekam mulai memasuki kolam pada pukul 16:08 WIB. Pukul 16:19 WIB (kiri), gelombang ketiga mulai memasuki kolam hingga meluber dalam beberapa detik kemudian. Selang 9 menit kemudian (kanan), paras kolam telah kembali seperti semula sebelum tsunami melanda. Sumber: PLTU Bunton, 2006 dalam Lavigne dkk, 2007.

Gambar 2. Menit-menit terjangan Tsunami 17 Juli 2006 di kolam PLTU Bunton (Kabupaten Cilacap) seperti yang direkam kamera sirkuit tertutup (CCTV). Air bah Tsunami terekam mulai memasuki kolam pada pukul 16:08 WIB. Pukul 16:19 WIB (kiri), gelombang ketiga mulai memasuki kolam hingga meluber dalam beberapa detik kemudian. Selang 9 menit kemudian (kanan), paras kolam telah kembali seperti semula sebelum tsunami melanda. Sumber: PLTU Bunton, 2006 dalam Lavigne dkk, 2007.

Jarang

Tsunami ini menewaskan 16 warga Kabupaten Kebumen dengan 41 orang lainnya dinyatakan hilang. Dihitung dari paras air laut (dpl) saat itu, tinggi tsunami yang menggempur pantai Logending adalah 7 meter. Di antara sekujur pesisir Kabupaten Kebumen yang terhajar tsunami pada waktu yang sama, tinggi tsunami yang menerpa pantai Logending adalah yang terbesar (terkecil di pantai Suwuk sisi timur setinggi 2,5 meter dpl). Namun hal itu belum seberapa bila dibandingkan dengan hempasan tsunami di Kabupaten/Kota Cilacap. Pesisir Teluk Penyu di antara pantai Logending dan kota Cilacap diterjang tsunami dengan ketinggian bervariasi antara 2 hingga 5,5 meter dpl. Namun korban jiwa yang direnggutnya jauh lebih besar, yakni mencapai 157 orang. Meski demikian kota Cilacap patut bersyukur karena terhindar dari malapetaka yang jauh lebih buruk. Sebab sejatinya tsunami yang mengarah ke kota ini memiliki ketinggian sangat besar, yakni 21 meter dpl! Itu setara dengan gedung empat lantai. Beruntung gelombang pembunuh yang menggidikkan ini teredam sepenuhnya oleh keberadaan pulau Nusakambangan, sehingga kota Cilacap terlindungi. Secara akumulatif bencana tsunami ini merenggut nyawa 653 orang dan melukai 1.526 orang. Sebanyak 120 orang juga dinyatakan hilang. Lebih dari 1.600 bangunan rusak dalam beragam tingkat keparahan.

Bencana Gempa Pangandaran 17 Juli 2006 dan tsunami yang menyertainya seakan mengulangi bencana sejenis yang terjadi di pesisir selatan Jawa Timur 12 tahun sebelumnya. Saat itu, Jumat 3 Juni 1994 TU dinihari pukul 01:17 WIB, segmen sepanjang 160 kilometer yang berjarak 220 kilometer dari garis pantai Kabupaten Malang, Lumajang, Jember dan Banyuwangi mendadak terpatahkan. Terjadilah Gempa Banyuwangi 3 Juni 1994 yang tergolong gempa besar, karena magnitudo momennya 7,8. Tetapi ia juga bersifat gempa-ayun. Maka getaran gempa besar ini tak terasakan di daratan Jawa bagian timur. Apalagi merusak bangunan. Sebaliknya di sekeliling sumber gempa, getarannya demikian keras. Hingga mampu melongsorkan tebing curam di dasar laut dalam skala yang luar biasa.

Gambar 3. Bibir pantai yang tererosi berat hingga tergerus akibat terjangan Tsunami 3 Juni 1994 di pantai Rajegwesi (Kabupaten Banyuwangi). Tsunami setinggi maksimum 14 meter dpl menggempur pantai ini dan menggenang hingga 400 meter ke daratan. Sumber: Synolakis dkk, 1995.

Gambar 3. Bibir pantai yang tererosi berat hingga tergerus akibat terjangan Tsunami 3 Juni 1994 di pantai Rajegwesi (Kabupaten Banyuwangi). Tsunami setinggi maksimum 14 meter dpl menggempur pantai ini dan menggenang hingga 400 meter ke daratan. Sumber: Synolakis dkk, 1995.

Kisah selanjutnya pun menyerupai Gempa Pangandaran 17 Juli 2006. Dalam 50 menit pasca gempa, gelora tsunami menggempur pesisir Kabupaten Malang, Lumajang, Jember dan Banyuwangi serta sebagian pesisir selatan Bali. Tanpa peringatan dan tanpa ampun. Bentuk pantai yang berlekuk-lekuk dengan teluk-teluk kecilnya membuat tsunami terakumulasi di teluk-teluk kecil tersebut. Sehingga tingginya kembali berlipat ganda. Tinggi tsunami terbesar mencapai 15 meter dpl. Akibatnya sejumlah pesisir pun terhantam telak dan terbabat beserta penghuninya. Dalam petaka pagi buta itu, paling tidak 223 jiwa melayang dengan lebih dari 400 orang luka-luka berat dan ringan. Selain itu tak kurang dari 1.000 rumah hancur.

Sebelum dua bencana tsunami tersebut, pulau Jawa terhitung sangat jarang dilimbur airbah tsunami yang signifikan dan berdampak. Tsunami bersejarah terakhir yang menghantam pulau Jawa adalah tsunami produk Letusan dahsyat Krakatau 1883. Peristiwa tersebut menciptakan tsunami raksasa setinggi maksimum 33 meter dpl yang menghancurkan pesisir barat pulau Jawa yang berhadapan dengan selat Sunda. Korban yang direnggutnya mencapai tak kurang dari 36.000 jiwa. Namun tsunami ini disebabkan oleh letusan dahsyat gunung berapi, jenis peristiwa yang tergolong jarang terjadi. Sebaliknya tsunami yang ditimbulkan oleh gempa tektonik, yang lebih kerap terjadi, justru belum pernah ditemukan catatan sejarahnya di pulau Jawa hingga 1994 TU.

Jadi bagaimana tsunami 1994 dan tsunami 2006 bisa terjadi di pesisir selatan pulau Jawa? Dan masih adakah sumber gempa bumi dan tsunami potensial sejenis nun jauh di dasar samudera lepas pantai selatan pulau Jawa?

Zona Rekahan

Semua berpangkal dari geologi pulau Jawa yang khas. Pulau terpadat penduduknya di dunia ini dibentuk oleh interaksi konvergen antara dua lempeng tektonik besar dunia. Yang pertama adalah lempeng Sunda (Eurasia) yang bersifat kontinental (kerak benua) dan relatif stabil. Dan yang kedua adalah lempeng Australia yang oseanik (kerak samudera) dan bergerak relatif ke utara pada kecepatan antara 60 hingga 70 mm/tahun. Interaksi konvergen antara kedua lempeng tektonik besar ini menghasilkan subduksi (penyelusupan atau tunjaman). Karena berat jenis lempeng Australia lebih besar dibanding lempeng Sunda, maka lempeng Australia melekuk di sepanjang batas konvergensi untuk kemudian menunjam di bawah lempeng Sunda dengan membentuk sudut miring terhadap paras Bumi. Di sisi lempeng Sunda, subduksi tersebut membuat bagian lempeng Sunda di sini menjadi membengkak (menggelembung). Inilah yang kemudian muncul di atas paras air laut sebagai pulau Jawa. Batas konvergensi tersebut secara kasat mata terlihat sebagai palung laut. Yakni bagian dasar laut yang sempit mirip parit namun sangat dalam. Palung tersebut dikenal sebagai palung Jawa dengan titik terdalam (7.725 meter dpl) di lepas pantai Kebumen-Purworejo sejarak 260 km dari garis pantai. Titik ini sekaligus merupakan titik terdalam di Samudera Indonesia.

Gambar 4. Penampang melintang sederhana zona subduksi Jawa dengan sejumlah gejala khas subduksi didalamnya. Sumber: Sudibyo, 2015 berbasis peta Google Earth.

Gambar 4. Penampang melintang sederhana zona subduksi Jawa dengan sejumlah gejala khas subduksi didalamnya. Sumber: Sudibyo, 2015 berbasis peta Google Earth.

Seperti halnya subduksi di tempat lain, subduksi Jawa pun menampakkan sejumlah gejala yang khas. Misalnya busur pegunungan bawah laut yang sejajar dengan palung Jawa, yang dikenal sebagai busur luar Jawa. Busur luar Jawa terletak tepat di sisi utara palung Jawa dan sebagian diantaranya merupakan prisma/baji akresi. Prisma akresi merupakan akumulasi batuan sedimen campur-aduk yang tertumpuk dan tertekan kuat. Di antara busur luar dan daratan pulau Jawa terbentang cekungan yang juga ditimbuni sedimen, sebagai cekungan busur muka (forearc basin). Gejala lainnya adalah eksistensi vulkanisme yang memunculkan jajaran gunung-gemunung berapi andesitik. Jajaran tersebut membentuk busur dalam Jawa yang vulkanis (busur luar Jawa bersifat non vulkanis). Dan zona Benioff-Wadati sebagai zona sumber gempa bumi tektonik dengan kedalaman hiposentrum yang kian bertambah seiring kian menjauh dari palung. Gejala-gejala tersebut disebabkan oleh pergesekan antara sisi atas lempeng Australia yang telah menyelusup dengan sisi bawah lempeng Sunda yang membengkak. Kawasan pergesekan ini dikenal pula sebagai zona subduksi dan eksis hingga kedalaman 60 km dpl.

Zona subduksi Jawa merupakan sistem penunjaman yang bersifat tegak (frontal). Maksudnya, sumbu palung Jawa (yang berarah barat-timur) adalah relatif tegak lurus terhadap arah gerak lempeng Australia (yang berarah ke utara). Subduksi semacam ini membuat segenap gerakan lempeng Australia diakokmodasi sepenuhnya oleh zona subduksi Jawa. Sebagai akibatnya, maka tidak sempat terbentuk sistem patahan besar yang aktif di cekungan busur muka maupun daratan pulau Jawa sebagaimana halnya yang dialami pulau Sumatra. Sistem patahan besar aktif merupakan pusat konsentrasi gempa-gempa tektonik dangkal di daratan. Ini membawa pulau Jawa pada konsekuensi berikutnya, dimana gempa-gempa tektonik dangkal di daratan pulau Jawa tersebar di sejumlah titik, mengikuti sesar-sesar aktif nan pendek yang terbentuk di sana-sini.

Sekujur zona subduksi Jawa merupakan sumber gempa bumi tektonik potensial. Ia juga menjadi sumber potensial bagi tsunami, sepanjang syarat-syaratnya terpenuhi. Sebabnya adalah pergesekan antarlempeng (interplate), antara sisi atas lempeng Australia yang telah menyelusup dengan sisi bawah lempeng Sunda yang membengkak. Area pergesekan tersebut tidak memiliki pelumas sehingga subduksi kerap tersendat-sendat atau malah bahkan tertahan, bergantung pada sifat batuannya. Istilah teknisnya terkunci (locked). Bila subduksi terkunci sementara dorongan dari lempeng Australia selalu terjadi, maka zona subduksi akan turut terdorong ke mendekati daratan pulau Jawa (terdorong ke utara) secara perlahan mengikuti gerakan lempeng Australia. Gerakan tersebut tak dapat dirasakan manusia, namun bisa diindra dengan mudah melalui radas (instrumen) pengukur koordinat berakurasi tinggi. Situasi berbeda akan dijumpai bila subduksinya tak terkunci, maka zona subduksinya akan bergerak relatif berlawanan arah dibanding arah gerak lempeng Australia, yakni menuju samudera (ke arah selatan).

Gambar 5. Ilustrasi sederhana pematahan naik miring (oblique thrust) pada kerak bumi, antara sebelum pematahan (A) dan sesudah pematahan (B). Tanda panah hitam merupakan arah tegasan. Angka (1) menunjukkan besarnya lentingan (slip) sementara angka (2) menunjukkan besarnya gerak vertikal. Pematahan jenis inilah yang kerap terjadi pada zona subduksi dan bila melibatkan area yang sangat luas akan menghasilkan gempa besar atau gempa akbar yang disertai tsunami. Sumber: Sudibyo, 2015.

Gambar 5. Ilustrasi sederhana pematahan naik miring (oblique thrust) pada kerak bumi, antara sebelum pematahan (A) dan sesudah pematahan (B). Tanda panah hitam merupakan arah tegasan. Angka (1) menunjukkan besarnya lentingan (slip) sementara angka (2) menunjukkan besarnya gerak vertikal. Pematahan jenis inilah yang kerap terjadi pada zona subduksi dan bila melibatkan area yang sangat luas akan menghasilkan gempa besar atau gempa akbar yang disertai tsunami. Sumber: Sudibyo, 2015.

Subduksi yang terkunci ini tak bisa berlangsung untuk seterusnya. Apabila akumulasi dorongan lempeng Australia telah mulai melebihi ambang batas daya tahan batuan di area pergesekan antarlempeng, maka pematahan pun terjadilah. Terbitlah apa yang kita kenal sebagai gempa bumi tektonik. Gempa tektonik di zona subduksi umumnya memiliki sifat pematahan anjak miring (oblique thrust), mengikuti kemiringan lempeng Australia yang menyelusup. Saat gempa ini terjadi, maka kuncian pada subduksi sontak terlepas. Sehingga zona subduksi terdorong ke arah berlawanan dibanding semula, yakni ke arah samudera (menjauhi daratan pulau Jawa), dalam waktu relatif singkat. Jarak yang ditempuh zona subduksi kala terdorong ini disebut jarak lentingan (slip). Magnitudo (kekuatan) gempanya sangat bergantung pada zona rekahan atau zona-pecah, yakni luas area yang terpatahkan, dan besarnya pelentingan. Semakin luas area yang terpatahkan, maka semakin besar lentingan zona subduksinya dan semakin besar pula magnitudo gempanya.

Sebagai gambaran, gempa tektonik bermagnitudo 6 disebabkan oleh terbentuknya zona rekahan seluas 20 x 10 kilometer persegi yang melenting sejauh rata-rata 20 cm. Sementara gempa bermagnitudo 7 disebabkan oleh timbulnya zona-pecah yang lebih besar yakni seluas 50 x 25 kilometer persegi dengan lentingan rata-rata sebesar 100 cm. Dan gempa magnitudo 8 disebabkan oleh terbentuknya zona rekahan yang lebih luas lagi, yakni seluas 200 x 100 kilometer persegi, dengan jarak lentingan rata-rata adalah 200 cm. Mulai dari magnitudo 8 atau lebih, gempa tektonik di zona subduksi mendapatkan kehormatan menyandang nama gempa akbar atau gempa megathrust. Nama tersebut melekat karena pada magnitudo itu zona-pecahnya demikian besar dan begitu pula lentingannya.

Dengan sifat pematahan anjak miring, maka pelentingan pada gempa tektonik di zona subduksi selalu diimbangi oleh gerak vertikal (pengangkatan). Bila magnitudo gempanya besar (melebihi 6,5) dan sumber gempanya dangkal (kurang dari 50 kilometer dpl), maka gerak vertikal akan menyebabkan dasar laut di atas sumber gempa terangkat. Pengangkatan dasar laut inilah yang bisa memproduksi tsunami. Yakni saat kolom air laut di atas sumber gempa berolak dan berusaha memulihkan kembali kesetimbangannya. Pada dasarnya semakin besar magnitudo gempa di zona subduksi Jawa, maka akan semakin luas area dasar laut yang terangkat dan semakin besar pula pengangkatannya. Sehingga magnitudo tsunaminya pun akan semakin besar. Tetapi ada perkecualian. Sebuah gempa tektonik di zona subduksi dengan magnitudo yang lebih kecil dapat menghasilkan tsunami yang magnitudonya lebih besar. Inilah gempa-ayun. Mengacu pada kejadian tsunami 1994 dan 2006 di pulau Jawa serta tsunami 2010 di pulau Sumatra, maka perkecualian ini hanya akan terjadi apabila sumber gempa berada di prisma akresi. Dengan kata lain, perkecualian ini hanya muncul apabila episentrum gempa tepat berada di sisi palung.

Tiga Seismic Gap

Subduksi yang membentuk pulau Jawa telah berlangsung sejak 150 juta tahun silam. Dengan usia demikian tua maka subduksi Jawa dapat dikatakan relatif lebih padat dan stabil dibandingkan, katakanlah, subduksi sejenis di Samudera Pasifik seperti subduksi Chile maupun Alaska. Baik subduksi Chile atau Alaska dikenal sebagai pembangkit gempa akbar, masing-masing Gempa Chile 22 Mei 1960 (magnitudo 9,6) dan Gempa Alaska 27 Maret 1964 (magnitudo 9,2). Keduanya juga memproduksi tsunami dahsyat berenergi tinggi sehingga berkemampuan menyeberangi Samudera Pasifik tanpa mengalami susut energi signifikan. Akibatnya ia sanggup menghasilkan kehancuran dan kerusakan signifikan di pesisir yang berseberangan dari sumber tsunaminya, ribuan kilometer jauhnya.

Subduksi Jawa diperkirakan tidak memiliki potensi melepaskan gempa dan tsunami semacam itu. Jika umur subduksi dan kecepatan subduksi dipertimbangkan dengan menggunakan persamaan empiris Kanamori (Kanamori, 1986), maka dapat diprakirakan bahwa magnitudo maksimum dari gempa tektonik di zona subduksi Jawa adalah 7,5. Cukup mengesankan bahwa prakiraan ini ternyata hampir mendekati realitas, seperti diperlihatkan Gempa Banyuwangi 3 Juni 1994 (magnitudo 7,8) dan Gempa Pangandaran 17 Juli 2006 (magnitudo 7,7). Harus digarisbawahi bahwa prakiraan ini berdasar persamaan empiris. Sehingga tetap ada peluang subduksi Jawa untuk melepaskan gempa yang lebih besar bahkan hingga gempa akbar sekalipun.

Apalagi setelah kejadian Gempa akbar Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 yang meluluhlantakkan propinsi Aceh dan merenggut korban jiwa sangat besar, terdapat konsensus di di kalangan ilmuwan kegempaan bahwa zona subduksi dimanapun kini harus dipandang berbahaya (berpotensi melepaskan gempa besar/akbar dan tsunaminya) sebelum benar-benar terbukti tak berbahaya. Sebab dalam kasus Gempa Sumatra-Andaman 26 Desember 2004, zona subduksinya pun tergolong tua (yakni 55 hingga 90 juta tahun). Dan persamaan empiris Kanamori memprakirakan magnitudo maksimum dari gempa tektonik yang bisa dilepaskan zona subduksi Aceh berkisar pada 7 hingga 8. Nyatanya Gempa Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 justru jauh lebih besar, dengan magnitudo antara 9,1 hingga 9,3. Dari realitas inilah tak mengherankan bila dalam menyusun peta bahaya tsunami dan peta evakuasi tsunami di pesisir selatan pulau Jawa, magnitudo maksimum dari gempa hipotetis yang dijadikan dasar penyusunan peta (dengan multiskenario sumber) adalah 8,5.

Gambar 6. Distribusi episentrum gempa-gempa tektonik di pulau Jawa dan zona subduksinya, terhitung sejak 1 Januari 1980 TU hingga 1 Januari 2015 TU oleh Incorporated Research Institutions for Seismology (IRIS). Data dibatasi hanya pada gempa tektonik dengan kedalaman sumber kurang dari 70 kilometer dpl. Angka 2006 dan 1994 masing-masing menunjukkan dua sumber gempa masalalu di busur luar Jawa, yakni Gempa Pangandaran 17 Juli 2006 dan Gempa Bangyuwangi 3 Juni 1994. Sementara angka 2009 merupakan sumber gempa masalalu di cekungan busur muka, yakni Gempa Tasikmalaya 2 September 2009. Sumber: IRIS, 2015.

Gambar 6. Distribusi episentrum gempa-gempa tektonik di pulau Jawa dan zona subduksinya, terhitung sejak 1 Januari 1980 TU hingga 1 Januari 2015 TU oleh Incorporated Research Institutions for Seismology (IRIS). Data dibatasi hanya pada gempa tektonik dengan kedalaman sumber kurang dari 70 kilometer dpl. Angka 2006 dan 1994 masing-masing menunjukkan dua sumber gempa masalalu di busur luar Jawa, yakni Gempa Pangandaran 17 Juli 2006 dan Gempa Bangyuwangi 3 Juni 1994. Sementara angka 2009 merupakan sumber gempa masalalu di cekungan busur muka, yakni Gempa Tasikmalaya 2 September 2009. Sumber: IRIS, 2015.

Terhitung dari Selat Sunda di sebelah barat hingga Selat Bali di sebelah timur, panjang zona subduksi Jawa adalah 1.100 kilometer. Ini hanya sedikit lebih pendek ketimbang panjang zona rekahan Gempa Sumatra Andaman 26 Desember 2004 (yakni 1.300 kilometer). Bila segenap zona subduksi Jawa terpatahkan dalam satu peristiwa tunggal, dengan perkiraan lebar zona subduksinya 200 kilometer, maka gempa akbar yang dihasilkannya bisa mencapai magnitudo 9,2. Namun berkaca pada peristiwa tsunami (Tsunami 1994 dan Tsunami 2006) serta gempa-gempa besar abad ke-19 TU (Gempa 1840, Gempa 1867 dan Gempa 1875), maka patut diduga bahwa zona subduksi Jawa pun tersegmentasi (tersekat-sekat). Ini serupa dengan zona subduksi Sumatra.

Hanya saja jika segmentasi subduksi Sumatra telah teridentifikasi relatif lebih baik lengkap dengan siklus kegempaan maksimal tiap segmen, yang berulang setiap antara dua hingga enam abad sekali, tidak demikian halnya dengan Jawa. Busur luar Jawa yang sepenuhnya berada di bawah air laut, berbeda dengan busur luar Sumatra yang muncul di sejumlah lokasi sebagai pulau Simeulue, Nias, Enggano dan Kepulauan Mentawai. Akibatnya tiada radas pengukur koordinat geodetik (yakni GPS berpresisi sangat tinggi yang khusus digunakan untuk survei geodesi) yang bisa ditempatkan di busur luar Jawa untuk mengukur naik-turunnya busur luar Jawa dari waktu ke waktu. Juga tidak terdapat karang atol kecil (mikroatol) yang bisa digunakan untuk pengukuran serupa hingga ratusan atau bahkan ribuan tahun ke masa silam. Ketiadaan ini membuat para ilmuwan kegempaan dipaksa bersandar hanya pada lapisan-lapisan endapan tsunami purba. Aktivitas pencarian endapan tsunami purba dan pengukuran waktu pengendapannya (dengan teknik pertanggalan radioaktif) kini sedang gencar-gencarnya dilakukan di pesisir selatan Jawa oleh sejumlah lembaga terkait.

Beberapan temuan yang telah mengemuka misalnya bukti terjadinya peristiwa Tsunami 1921 dan Tsunami 1930 seperti dipaparkan tim ilmuwan gabungan BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) dan ITB (Institut Teknologi Bandung). Endapan kedua peristiwa tersebut tersingkap baik di pantai Teleng (Kabupaten Pacitan) dan pantai Prigi (Kabupaten Trenggalek). Juga endapan dari peristiwa tsunami besar empat abad silam yang tersingkap di pantai Cikembulan di dekat Pangandaran (Kabupaten Ciamis), seperti ditemukan oleh tim LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Tsunami besar yang menghasilkan endapan di Cikembulan dipastikan lebih besar ketimbang Tsunami 2006. Kandidat endapan tsunami purba juga telah ditemukan pada tiga pantai di Kabupaten Gunungkidul dan Pacitan oleh tim gabungan Maipark Indonesia dan ITB. Ketiga lokasi endapan tsunami purba tersebut adalah di pantai Sepanjang (kedalaman 1,8 meter), pantai Baron (kedalaman 1,7 meter) dan pantai Teleng (kedalaman 0,6 meter). Kandidat endapat tsunami purba juga telah diidentifikasi tim BMKG di pesisir Teluk Penyu. Di pantai Logending, endapan tersebut terletak pada jarak sekitar 1 kilometer dari garis pantai.

Gambar 7. Dua contoh endapan paleotsunami. Kiri: endapan paleotsunami di tepi sungai Cikembulan, Pangandaran (Kabupaten Ciamis), produk tsunami besar empat abad silam. Kanan: kandidat endapan paleotsunami di pesisir Teluk Penyu (Kabupaten Cilacap) sejauh sekitar 1 kilometer dari garis pantai (kanan). Sumber: Yulianto dkk, 2010 & Daryono, 2015.

Gambar 7. Dua contoh endapan paleotsunami. Kiri: endapan paleotsunami di tepi sungai Cikembulan, Pangandaran (Kabupaten Ciamis), produk tsunami besar empat abad silam. Kanan: kandidat endapan paleotsunami di pesisir Teluk Penyu (Kabupaten Cilacap) sejauh sekitar 1 kilometer dari garis pantai (kanan). Sumber: Yulianto dkk, 2010 & Daryono, 2015.

Dengan penelitian yang sedang berjalan, tentu masih jauh dari pengambilan kesimpulan tentang segmentasi zona subduksi Jawa dan karakteristiknya. Tetapi pada saat ini, secara kasar, dapatlah dikatakan bahwa zona subduksi Jawa khususnya di busur luar terbagi ke dalam sedikitnya empat segmen berbeda. Segmen pertama terletak di selatan Jawa Barat, membentang dari tepian Selat Sunda hingga ke segmen kedua. Segmen pertama ini dapat disebut sebagai segmen Sunda, karena berhadapan dengan selat Sunda. Sementara segmen kedua, sebutlah segmen Pangandaran, adalah segmen sepanjang sekitar 200 kilometer yang menjadi lokasi sumber Gempa Pangandaran 17 Juli 2006. Segmen ketiga terletak di selatan Jawa Tengah dan DIY serta (sebagian) Jawa Timur. Segmen ketiga ini dapatlah disebut segmen Jawa Tengah. Dan yang keempat adalah segmen sepanjang sekitar 200 kilometer yang menjadi sumber Gempa Banyuwangi 3 Juni 1994. Segmen ini juga bisa dinamakan segmen Banyuwangi.

Di antara keempat segmen tersebut, segmen Pangandaran dan segmen Banyuwangi telah melepaskan energinya dalam gempa tektonik besar yang juga memproduksi tsunami signifikan dan mematikan. Sementara segmen Sunda dan Jawa Tengah belum. Kedua segmen tersebut memiliki perbedaan yang sangat jelas dibanding segmen Pangandaran dan Banyuwangi dalam peta seismisitas regional. Karena jarang terjadi gempa tektonik di segmen Sunda maupun Jawa Tengah, khususnya sejak pencatatan gempa modern dimulai pada 1960-an TU, apabila dibandingkan dengan kawasan sekitarnya. Area di zona subduksi yang jarang mengalami gempa tektonik dikenal sebagai kawasan kesenjangan seismik atau seismic gap. Kawasan semacam ini dicurigai sedang menimbun energi, yang kelak bakal dilepaskan dalam gempa kuat ataupun malah gempa besar.

Gambar 8. Estimasi tiga kawasan kesenjangan seismik (seismic gap) di zona subduksi Jawa, semata berdasar pada rendahnya frekuensi kegempaan di tiga lokasi tersebut. Tiga seismic gap ini memiliki potensi untuk menjadi sumber gempa besar (atau bahkan malah gempa akbar) dan tsunami merusak bagi pesisir selatan pulau Jawa di masa yang akan datang. Sumber: Sudibyo, 2015 berbasis data IRIS, 2015 dan Natawidjaja, 2007.

Gambar 8. Estimasi tiga kawasan kesenjangan seismik (seismic gap) di zona subduksi Jawa, semata berdasar pada rendahnya frekuensi kegempaan di tiga lokasi tersebut. Tiga seismic gap ini memiliki potensi untuk menjadi sumber gempa besar (atau bahkan malah gempa akbar) dan tsunami merusak bagi pesisir selatan pulau Jawa di masa yang akan datang. Sumber: Sudibyo, 2015 berbasis data IRIS, 2015 dan Natawidjaja, 2007.

Seismic gap pada segmen Sunda memiliki panjang sekitar 260 kilometer. Bila lebarnya dianggap 100 kilometer, maka magnitudo maksimum gempa tektonik yang bisa dilepaskannya mencapai 8,4. Sementara seismic gap di segmen Jawa Tengah panjangnya pun hampir sama, yakni sekitar 250 kilometer. Dengan lebar seismic gap ini juga dianggap 100 kilometer, maka magnitudo maksimum gempanya juga berkisar pada angka 8,4. Selain kedua segmen tersebut, ada pula kawasan menyerupai seismic gap namun berposisi lebih dekat ke daratan, yakni di cekungan busur muka. Kawasan tersebut berlokasi di lepas pantai Kabupaten Cilacap, Kebumen, Purworejo dan Kulonprogo. Karena juga berada di selatan Jawa Tengah, maka kawasan seismic gap ini dapatlah disebut sebagai segmen Jawa Tengah 2. Luas seismic gap pada segmen Jawa Tengah 2 lebih kecil, dengan panjang sekitar 150 kilometer dan lebar sekitar 100 kilometer. Dengan dimensi tersebut magnitudo maksimum untuk gempa tektonik yang bisa dilepaskan dari segmen Jawa Tengah 2 bisa mencapai 8,2. Dari angka-angka prakiraan ini dapat dimengerti mengapa ilmuwan kegempaan menempatkan gempa hipotetik dengan magnitudo maksimum 8,5 sebagai basis penyusunan peta bahaya tsunami dan peta evakuasi tsunami di pesisir selatan pulau Jawa.

Dengan ketiga seismic gap tersebut, maka pulau Jawa khususnya bagian selatan lebih rentan akan guncangan oleh gempa tektonik kuat atau malah gempa besar. Pesisir selatan pulau Jawa juga tetap berpotensi dilimbur tsunami. Bila segmen Sunda melepaskan energinya, tsunami merusak yang dibentuknya berpotensi menghantam pesisir selatan Jawa Barat, mulai dari Ujungkulon hingga Garut. Sebaliknya bila segmen Jawa Tengah yang melepaskan energinya, tsunami merusak berpotensi menghajar garis pantai selatan Jawa Tengah dan DI Yogyakarta serta sebagian Jawa Timur. Yakni mulai dari Cilacap hingga Blitar. Pesisir selatan Jawa Tengah dan DIY khususnya di antara Cilacap hingga Bantul juga berpotensi terkena hantaman tsunami merusak bilamana segmen Jawa Tengah 2 melepaskan energinya.

Gambar 9. Peta tingkat risiko bencana tsunami bagi pulau Jawa seperti dipublikasikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Nampak jelas hampir segenap kabupaten/kota yang terletak di pesisir selatan pulau Jawa berisiko tinggi terhadap bencana tsunami. Sumber: BNPB, 2012.

Gambar 9. Peta tingkat risiko bencana tsunami bagi pulau Jawa seperti dipublikasikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Nampak jelas hampir segenap kabupaten/kota yang terletak di pesisir selatan pulau Jawa berisiko tinggi terhadap bencana tsunami. Sumber: BNPB, 2012.

Meski karakteristik lebih lengkap dari zona subduksi Jawa belum sepenuhnya dipahami, namun kemungkinan eksistensi tiga seismic gap tersebut telah memberikan gambaran risiko pesisir selatan pulau Jawa terhadap ancaman bencana alam gempa bumi tektonik (khususnya gempa kuat atau bahkan gempa besar) dan bencana tsunami. Dengan risiko tersebut, langkah-langkah mitigasi pun mulai disusun. Khususnya dalam hal mitigasi bencana tsunami, yang memang lebih terprediksi, dalam aras mitigasi non fisik. Kabupaten dan kota yang berbatasan langsung dengan garis pantai selatan pulau Jawa telah mulai menyusun peta bahaya tsunami dan peta evakuasi tsunaminya masing-masing.

Secara akumulatif BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) mencatat terdapat 23 kabupaten/kota yang berisiko terkena bencana tsunami di pulau Jawa. Secara akumulatif terdapat hampir 1,7 juta jiwa yang tinggal di pesisir kabupaten/kota yang berisiko tersebut. Berdasarkan jumlah jiwa yang berpotensi terpapar tsunami, Kota Cilacap (propinsi Jawa Tengah) adalah kawasan paling berisiko tsunami di pulau Jawa. Disusul dengan Kabupaten kebumen (juga di propinsi Jawa Tengah) pada peringkat kedua.

tsunami-jawa_kabupaten-terpaparBahan acuan:
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat; 2006; Rehabilitasi Bencana Alam Gempa Bumi dan Tsunami di Selatan Pulau Jawa ; 25 Juli 2006

Anugrah dkk; 2015; A Preliminary Study of Paleotsunami Deposit Along the South Coast of East Java: Pacitan-Banyuwangi; AIP Conf. Proc. 1658, 050003 (2015). Bandung, Indonesia, 11–12 November 2014.

Adriansyah dkk; 2011; Pre-eliminary Results of Paleotsunami Investigation on Gunungkidul and Pacitan; Joint Convention IAGI-HAGI 2011, Makassar, Indonesia, 26-29 September 2011.

Kanamori; 2006; Seismological Aspects of the December 2004 Great Sumatta-Andaman Earthquake; Earthquake Spectra, 22 (S3). S1-S12. ISSN 8755-2930.

BNPB; 2012; Masterplan Pengurangan Risiko Bencana Tsunami; Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Juni 2012.

Natawidjaja; 2007; Tectonic Setting Indonesia dan Pemodelan Gempa dan Tsunami; Pelatihan Pemodelan Tsunami Run-up, Kementerian Negara Riset dan Teknologi RI, 20 Agustus 2007.

Lavigne dkk; 2007; Field Observations of the 17 July 2006 Tsunami in Java; Nat. Hazards Earth Syst. Sci., 7 (2007), 177–183.

Synolakis dkk; 1995; Damage, Conditions of East Java 1994 of Tsunami Analyzed. Eos. Trans. AGU, vol. 76 no. 26 (June 1995), 257 & 261-261.

Yulianto dkk; 2010; Where the First Wave Arrives in Minutes, Indonesian Lessons on Surviving Tsunamis Near Their Sources; Intergovernmental Oceanographic Commission, United Nations Educational Scientific and Cultural Organisation, IOC-Brochure 2010-4.

Mitigasi Tsunami Kabupaten Kebumen, Mengelola Ancaman dari balik Pegunungan yang Tenggelam

Bagian kedua dari dua tulisan

Kabupaten Kebumen adalah sebuah wilayah administratif yang terletak di propinsi Jawa Tengah bagian selatan. Uratnadi utama pulau Jawa bagian selatan, baik jalur jalan raya nasional maupun jalan kereta api, melintas di dalam kabupaten yang berbatasan dengan Kabupaten Banyumas dan Cilacap di sisi barat serta Kabupaten Purworejo di sebelah timur ini. Di selatannya membentang luas perairan Samudera Indonesia (Hindia). Dalam perspektif ilmu kebumian Kabupaten Kebumen merupakan ‘surga’. Sebab pada sebuah zona sempit di dalam kawasan Pegunungan Serayu Selatan yang membentang di sisi utara kabupaten inilah, yang melingkupi wilayah kecamatan Karanggayam, Karangsambung dan Sadang, tersingkap bebatuan yang demikian penting artinya dalam ilmu kebumian. Berbagai batuan sedimen (endapan) dengan lapisan-lapisan yang kadang nyaris vertikal berjejeran dengan batuan malihan (metamorf) dan bongkahan-bongkahan batuan beku yang terlampar dalam wilayah tak terlalu luas. Normalnya pemandangan seperti ini hampir mustahil dijumpai.

Keunikan itu telah memukau cendekiawan sekelas Junghunn sejak satu setengah abad silam. Namun barulah mulai setengah abad lalu penyebabnya ditemukan, lewat kerja keras seorang Sukendar Asikin. Bebatuan campur aduk di Kebumen utara ternyata adalah bukti langsung dari teori tektonik lempeng. Inilah teori ‘aneh’ yang dikembangkan dari gagasan seorang Alfred Wegener sejak menjelang Perang Dunia pertama, namun baru menjumpai bukti-bukti penyokongnya berpuluh tahun kemudian. Bebatuan campur aduk itu seharusnya hanya bisa dijumpai di palung laut, salah satu ekspresi permukaan dari subduksi lempeng oseanik yang berberat jenis lebih tinggi dengan lempeng kontinental yang berat jenisnya lebih rendah. Maka jelas, Kebumen utara dulu-dulunya pernah merupakan palung laut purba.

Palung laut purba di Kebumen utara terbentuk setidaknya semenjak 120 juta tahun silam seiring subduksi lempeng Australia yang bergerak ke utara dengan lempeng Eurasia yang stabil. Subduksi purba ini aktif setidaknya hingga 65 juta tahun yang lalu. Sebelum kemudian bergeser tigaratusan kilometer lebih ke selatan, ke lokasi yang sekarang. Semenjak itu lambat laun kawasan ini mulai terangkat. Dari yang semula berada di dasar palung kemudian menjadi bagian dasar samudera nan dalam. Lantas terus terangkat menjadi bagian laut dangkal. Dan akhirnya tersembullah seluruhnya ke atas permukaan samudera bersamaan dengan terdongkraknya pulau Jawa hingga seperti sekarang. Aktivitas inilah yang membentuk bentanglahan Kebumen masakini dengan segala eksotikanya. Inilah yang menjadikan Kebumen sebagai laboratorium alam dan pusat pendidikan calon-calon ahli kebumian se-Indonesia bahkan se-Asia tenggara.

Palung laut lokasi subduksi modern yang aktif pada saat ini merentang sepanjang lepas pantai selatan Pulau Jawa sebagai kelanjutan dari palung laut sejenis di lepas pantai barat Pulau Sumatra. Dari pesisir selatan Kebumen, bentangan palung laut itu berjarak sekitar 250 kilometer. Nyaris tak ada penghalang alamiah apapun antara palung laut dengan daratan Kebumen, baik berupa jajaran pegunungan maupun perbukitan. Faktor inilah yang membuat Kabupaten Kebumen rentan terhadap bencana tsunami. Termasuk ancaman tsunami dahsyat produk gempa akbar (megathrust) yang bisa dibangkitkan zona subduksi Jawa. Dalam catatan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), Kabupaten Kebumen merupakan wilayah administratif terentan kedua terhadap bencana tsunami di antara 19 kabupaten/kota di seantero pesisir selatan pulau Jawa setelah kota Cilacap. Terdapat 220.800 jiwa penduduk Kebumen khususnya di 8 kecamatan yang beresiko terpapar tsunami. Dari barat ke timur, kedelapan kecamatan tersebut masing-masing adalah kecamatan Ayah, Buayan, Puring, Petanahan, Klirong, Buluspesantren, Ambal dan Mirit. Inilah yang membuat pengenalan akan peta bahaya tsunami dan peta evakuasi tsunami Kabupaten Kebumen serta langkah-langkah evakuasinya menjadi penting.

Pegunungan yang Tenggelam

Mengapa Kabupaten Kebumen demikian beresiko terhadap bencana tsunami?

Saat membuka peta pulau Jawa layangkan jemari anda di sepanjang pesisir selatan. Akan lebih baik jika peta tersebut adalah peta geografis atau peta rupabumi. Akan kita jumpai jajaran pegunungan yang membentang di mayoritas pesisir selatan pulau Jawa mulai dari Pelabuhan Ratu di sebelah barat hingga Semenanjung Blambangan di sebelah timur. Inilah jajaran Pegunungan Selatan, atau yang di Jawa bagian tengah dikenal pula sebagai Pegunungan Sewu. Kaki selatan pegunungan ini langsung menjadi garis pantai selatan pulau Jawa. Namun tidak dengan bentangan antara pantai Pangandaran di sebelah barat hingga pantai Parangtritis di sebelah timur. Di sini Pegunungan Selatan menghilang. Kecuali di Tanjung Karangbolong dan Pegunungan Menoreh (Kulonprogo) segenap bentangan ini merupakan dataran rendah luas yang cukup lebar. Dataran rendah semacam ini sangat jarang dijumpai di pulau Jawa bagian selatan. Inilah dataran rendah tempat berdirinya Kabupaten Kebumen, Cilacap, Purworejo, Kulonprogo, Bantul dan Kota Cilacap. Kenapa bisa demikian?

Gambar 1. Rona keseluruhan pulau Jawa seperti terlihat dalam citra satelit pada kanal cahaya tampak yang disajikan laman GoogleMaps. Garis putus-putus menunjukkan bila pesisir utara maupun selatan Jawa Barat (kecuali area Banten) diproyeksikan hingga Jawa Timur (kecuali area tapal kuda). Terlihat jelas betapa pesisir utara Jawa Tengah menjorok ke selatan dari garis proyeksi. Sebaliknya pesisir selatan Jawa Tengah menjorok ke utara dan Pegunungan Selatan menghilang, berganti dataran rendah Cilacap-Kebumen-Purworejo-Kulonprogo. Sumber: Sudibyo, 2015 dengan basis GoogleMaps.

Gambar 1. Rona keseluruhan pulau Jawa seperti terlihat dalam citra satelit pada kanal cahaya tampak yang disajikan laman GoogleMaps. Garis putus-putus menunjukkan bila pesisir utara maupun selatan Jawa Barat (kecuali area Banten) diproyeksikan hingga Jawa Timur (kecuali area tapal kuda). Terlihat jelas betapa pesisir utara Jawa Tengah menjorok ke selatan dari garis proyeksi. Sebaliknya pesisir selatan Jawa Tengah menjorok ke utara dan Pegunungan Selatan menghilang, berganti dataran rendah Cilacap-Kebumen-Purworejo-Kulonprogo. Sumber: Sudibyo, 2015 dengan basis GoogleMaps.

Di lain kesempatan, layangkan jemari anda menyusuri pesisir selatan pulau Jawa di tempat yang sama. Akan kita jumpai garis pantai yang membentang di antara pantai Pangandaran hingga pantai Parangtritis cukup ‘aneh.’ Sebab mereka melekuk/menjorok lebih ke utara ketimbang garis pantai selatan pulau Jawa sebelah-menyebelahnya. Lalu layangkan lagi jemari anda, kali ini susuri pesisir utara pulau Jawa mulai dari Jakarta hingga Surabaya. Lagi-lagi akan kita jumpai keanehan serupa di antara pantai Cirebon hingga pantai Semarang. Berkebalikan terhadap garis pantai di pesisir selatan kawasan yang sama, garis pantai pesisir utara di sini menjorok jauh ke selatan. Bila semenanjung Muria kita pisahkan dari konteks pembahasan pesisir utara pulau Jawa mengingat kedudukannya sebagai pulau vulkanis tersendiri yang awalnya terpisah dari daratan utama Jawa, maka keanehan itu akan kita jumpai mulai dari pantai Cirebon hingga pantai (purba) Rembang. Dengan mengecualikan kawasan Banten dan tapal kuda Jawa Timur, sepasang keanehan itu membuat bagian tengah pulau Jawa lebih ramping ketimbang tetangga sebelah barat maupun timurnya. Ada apa ini?

Sekarang mari bayangkan kita menyelami Samudera Indonesia di sebelah selatan Jawa Tengah. Bayangkan penyelaman dilakukan hingga ke dasar laut, hingga sejauh 50 km dari garis pantai. Akan kita dapati dasar laut di kawasan ini lebih dalam jika dibandingkan lepas pantai selatan Jawa Barat maupun Jawa Timur untuk jarak yang sama. Namun tidak seluruhnya dalam. Ada bagian yang lebih dangkal yang berbentuk segitiga dengan puncak segitiga tepat ujung Tanjung Karangbolong. Tepat di sisi barat segitiga ini merupakan dasar laut lebih dalam yang dinamakan Dalaman Barat (western deep), yang meliputi lepas pantai Cilacap hingga Pangandaran. Sebaliknya tepat di sisi timur segitiga itu terdapat Dalaman Timur (eastern deep), yang mencakup lepas pantai Kebumen hingga Bantul. Mengapa bisa seperti ini?

Keunikan ini telah menggayuti benak para ahli kebumian sejak lebih dari setengah abad silam, tepatnya sejak era van Bemmelen di tahun 1949 Tarikh Umum (TU). Namun baru di awal abad ke-21 TU ini jawabannya terkuak lewat kerja keras Awang Harun Satyana. Keunikan tersebut ternyata ditatah oleh aktivitas tektonik masa silam. Yakni lewat aktifnya sistem patahan besar Kebumen-Muria-Meratus dan sistem patahan besar Cilacap-Pamanukan-Lematang. Patahan besar Kebumen-Muria-Meratus membentang sepanjang lebih dari 1.000 kilometer. Ia bermula dari Tanjung Karangbolong masakini dan menerus ke arah timur laut melewati Semenanjung Muria dan dasar Laut Jawa hingga akhirnya berujung di Pegunungan Meratus (Kalimantan Selatan). Patahan besar ini bersifat geser kiri (left lateral). Artinya bila kita berdiri tepat di satu sisinya, maka sisi yang berseberangan dengan kita akan terlihat bergerak ke kiri. Seperti halnya semua patahan maupun patahan besar modern, gerakan ini senilai beberapa milimeter saja setahunnya. Namun dalam jangka waktu geologi, yakni jutaan tahun, nilai pergerakan itu akan menghasilkan pergeseran hingga puluhan atau bahkan ratusan kilometer.

Sementara sistem patahan besar Cilacap-Pamanukan-Lematang pun membentang hingga lebih dari 1.000 kilometer. Dimulai pulau Nusakambangan masa kini dan merentang ke arah barat laut melewati Pamanukan (Jawa Barat), dasar Laut Jawa, sisi utara Kepulauan Seribu dan berujung di Lematang (Sumatra Selatan). Berbeda dengan patahan besar Kebumen-Muria-Meratus, sistem patahan besar Cilacap-Pamanukan-Lematang ini bersifat geser kanan (right lateral). Beberapa bagian dari sistem patahan besar ini mungkin masih aktif di masakini, misalnya sesar Kroya (Cilacap) maupun sesar Baribis (Subang). Hal tersebut berbeda dengan sistem patahan besar Kebumen-Muria-Meratus, yang aktif mulai sekitar 65 juta tahun silam sehingga kini sudah sangat tua dan sepenuhnya mati.

Gambar 2. Diagram skematik sederhana yang memperlihatkan keberadaan sistem patahan besar Kebumen-Muria-Meratus dan Cilacap-Pamanukan-Lematang. Berpuluh juta tahun silam saat keduanya itu masih aktif sepenuhnya dengan arah gerak ditunjukkan oleh tanda panah kuning, gabungan aktivitas keduanya membuat sebagian pesisir selatan Jawa Tengah terangkat hingga 2.000 meter lalu terkunci (panah hitam). Sebagian zona pengangkatan kini tersisa sebagai karst Tanjung Karangbolong. Sementara sisi timur dan baratnya terbenam ke dasar laut. Sebaliknya pesisir utara Jawa Tengah juga turut terbenam, sebagai kompensasi isostatik. Sumber: Sudibyo, 2015 diadaptasi dari Satyana & Purwaningsih, 2002.

Gambar 2. Diagram skematik sederhana yang memperlihatkan keberadaan sistem patahan besar Kebumen-Muria-Meratus dan Cilacap-Pamanukan-Lematang. Berpuluh juta tahun silam saat keduanya itu masih aktif sepenuhnya dengan arah gerak ditunjukkan oleh tanda panah kuning, gabungan aktivitas keduanya membuat sebagian pesisir selatan Jawa Tengah terangkat hingga 2.000 meter lalu terkunci (panah hitam). Sebagian zona pengangkatan kini tersisa sebagai karst Tanjung Karangbolong. Sementara sisi timur dan baratnya terbenam ke dasar laut. Sebaliknya pesisir utara Jawa Tengah juga turut terbenam, sebagai kompensasi isostatik. Sumber: Sudibyo, 2015 diadaptasi dari Satyana & Purwaningsih, 2002.

Mari bayangkan kita kembali ke masa berjuta tahun silam, tatkala kedua sistem patahan besar yang berbeda itu masih aktif sepenuhnya. Kedua sistem patahan besar itu seakan membentuk sisi-sisi segitiga raksasa. Segitiga tersebut meliputi mayoritas daratan Jawa Tengah dan sisi timur daratan Jawa Barat. Seluruh segitiga ini didorong oleh kedua sistem patahan besar itu ke arah selatan. Akibatnya puncak segitiga raksasa itu, yang terletak di Tanjung Karangbolong masakini, pun didesak perlahan hingga membumbung naik sampai terkunci. Terjadilah pengangkatan hingga setinggi 2.000 meter dari posisinya semula. Sebagai konsekuensinya maka alas segitiga, yakni bentangan pesisir utara Jawa Tengah, terkena kompensasi isostatik yang membuatnya secara perlahan-lahan terbenam hingga di bawah paras Laut Jawa. Inilah yang menyebabkan garis pantai utara Jawa Tengah menjorok ke selatan.

Erosi selama berjuta tahun lantas memahat dan mengikis kawasan puncak segitiga raksasa ini. Namun saat ini pun kita masih bisa melihat sisa-sisanya sebagai karst Tanjung Karangbolong dengan puncak tertingginya 600 meter dpl (dari paras air laut). Dorongan yang sama juga yang membuat bebatuan campur aduk jejak palung purba terangkat dan tersingkap di Karangsambung-Karanggayam-Sadang. Lebih ke selatan lagi, aktivitas kedua sistem patahan besar itu membuat Pegunungan Selatan di bentangan Pangandaran-Parangtritis pun merosot jauh secara perlahan-lahan hingga akhirnya tenggelam di bawah paras air laut.

Aktivitas tektonik dan erosi terus membentuk rona rupabumi Kebumen. Erosi mengikis gunung dan pegunungan untuk kemudian menghanyutkan tanahnya ke sejumlah sungai. Saat sungai-sungai tersebut menuangkan airnya ke Samudera Indonesia, tanah pun turut terhanyut untuk kemudian mengendap sebagai massa tanah bergeometri menyerupai kipas. Sehingga dinamakan kipas endapan/kipas aluvial. Di ujung utara Tanjung Karangbolong terdapat kipas aluvial Gombong (KAG), hasil pengendapan sungai Jatinegara, Gombong, Kemit dan Kejawang (Karanganyar). Kota Gombong berdiri di atas kipas aluvial ini dengan elevasi 19 meter dpl. Di sebelah timurnya terdapat kipas aluvial Kebumen (KAK) yang membentang luas mulai dari Karanganyar, Buluspesantren utara hingga Kutowinangun. Kipas aluvial ini dibentuk sungai Luk Ulo. Ia tersusun dari batuan sedimen lempung berpasir (lempung pasiran) yang sangat baik untuk bahan baku batubata dan genteng. Maka tak mengherankan industri batubata dan genteng tumbuh dengan baik di sini. Kipas aluvial Kebumen juga menjadi landasan bagi berdirinya kota Kebumen, yang menempati elevasi 21 meter dpl. Dan di sebelah timurnya terdapat kipas aluvial Prembun (KAP), yang membentang hingga ke perbatasan Kebumen-Purworejo. Sungai membentuk kipas aluvial ini diantaranya adalah sungai Bedegolan dan Wawar.

Gambar 3. Rona dataran rendah Kabupaten Kebumen dalam citra satelit pada kanal cahaya tampak yang disajikan GoogleEarth. Terlihat lokasi delta purba yang kini merupakan kipas aluvial Gombong, kipas aluvial Kebumen dan kipas aluvial Prembun. Di sebelah selatan kipas-kipas aluvial ini terlihat kawasan pantai tua dan pantau muda. Kawasan rawan bencana tsunami di Kabupaten Kebumen mencakup kawasan pantai muda dan (sebagian) pantai tua ini. Sumber: Sudibyo, 2015 diadaptasi dari Ansori dkk, 2010.

Gambar 3. Rona dataran rendah Kabupaten Kebumen dalam citra satelit pada kanal cahaya tampak yang disajikan GoogleEarth. Terlihat lokasi delta purba yang kini merupakan kipas aluvial Gombong, kipas aluvial Kebumen dan kipas aluvial Prembun. Di sebelah selatan kipas-kipas aluvial ini terlihat kawasan pantai tua dan pantau muda. Kawasan rawan bencana tsunami di Kabupaten Kebumen mencakup kawasan pantai muda dan (sebagian) pantai tua ini. Sumber: Sudibyo, 2015 diadaptasi dari Ansori dkk, 2010.

Pada waktu yang sama aktivitas tektonik secara perlahan-lahan mengangkat sisi selatan pulau Jawa hingga menyembul ke atas paras air laut. Pertumbuhan kipas-kipas aluvial itu pun terhenti. Muara sungai-sungai pun bergeser lebih jauh ke selatan. Rawa-rawa sempat terbentuk di sana-sini. Namun lama kelamaan semuanya mengering dan tertimbun tanah yang terus dipasok sungai-sungai. Terbentuklah dataran rendah. Hembusan angin laut secara terus-menerus membentuk sejumlah pematang pantai, yakni bukit-bukit pasir yang merentang cukup panjang sejajar pantai. Di sela-sela pematang pantai terdapat lembah-lembah kecil. Dari garis pantai hingga 4 kilometer ke daratan merupakan kawasan pantai muda. Di sini terdapat 3 hingga 4 pematang pantai yang tingginya bervariasi antara 1 hingga 3 meter dari lembah disampingnya. Lembah-lembah tersebut umumnya menjadi kebun/sawah atau pemukiman. Namun ada pula yang dialiri sungai-sungai kecil. Seperti sungai Kejawan dan Rama di Puring yang mengalir ke kanal/sungai Telomoyo di barat. Juga sungai Aren dan Kating di Klirong yang mengalir ke timur menuju sungai Luk Ulo. Serta sungai Pucang dan Gede di Ambal dan Mirit, yang juga mengalir ke timur hingga bermuara ke sungai Wawar. Sementara antara 4 hingga 7 kilometer dari garis pantai ke daratan merupakan kawasan pantai tua. Terdapat sejumlah pematang pantai pula di sini, namun lebih landai. Di banyak tempat bahkan pematang-pematang pantainya sudah diratakan/didatarkan untuk pemukiman.

Pantai berdataran rendah inilah wajah dominan pesisir selatan Kabupaten Kebumen. Dari 58 kilometer garis pantai di kabupaten ini, 45 kilometer diantaranya merupakan pantai berdataran rendah. Inilah garis pantai yang menjadikan Kabupaten Kebumen demikian rentan akan tsunami.

Peta Bahaya dan Evakuasi

Pasca bencana tsunami 2006 yang menewaskan puluhan penduduk Kabupaten Kebumen serta menimbulkan kerugian material cukup besar, kebutuhan akan mitigasi bencana tsunami mulai mengemuka. Termasuk kebutuhan akan peta bahaya tsunami, yang hingga 2006 TU itu belum dimiliki Kabupaten Kebumen. Sebagai tindak lanjut kerjasama pemerintah Jerman (melalui Departemen Pendidikan dan Penelitian) dan Indonesia (melalui Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi) dalam payung GITEWS (German-Indonesia Tsunami Early Warning System), maka dibentuklah Kelompok Kerja Kebumen untuk Pemetaan Bahaya Tsunami. Kelompok kerja tersebut bertugas pada 2009 hingga 2010 TU dengan tujuan untuk menghasilkan dua peta. Peta pertama adalah peta bahaya tsunami (PBT) multiskenario bagi Kabupaten Kebumen hingga skala 1:25.000. Sementara peta kedua adalah peta evakuasi tsunami (PET) bagi Kabupaten Kebumen.

Kedua peta tersebut disusun sebagai bagian dari kerangka sistem peringatan dini tsunami Indonesia atau InaTEWS (Indonesia tsunami early warning system) di bawah BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika). Sistem peringatan dini ini mengenal tiga status. Status pertama adalah “Waspada” yang hanya berlaku untuk garis pantai dan tepi sungai. Status kedua adalah “Siaga” yang berlaku untuk kawasan zona merah. Dan status ketiga adalah “Awas” yang berlaku untuk kawasan zona kuning. Baik dalam peta bahaya tsunami maupun peta evakuasi tsunami Kabupaten Kebumen terdapat dua zona, yang dibentuk mengikuti tingkat peringatan BMKG. Zona pertama adalah zona merah, yang berlaku untuk status “Siaga.” Sementara zona kedua adalah zona kuning, berlaku bila BMKG mengeluarkan status “Awas.” Kedua peta tersebut disusun dengan memperhitungkan sejumlah aspek (geomorfologi, elevasi dan jarak dari pantai) tanpa mempertimbangkan hasil pemodelan genangan akibat invasi tsunami ke daratan.

Gambar 4. Tingkatan status tsunami beserta kode warnanya seperti disajikan sistem peringatan dini tsunami Indonesia (InaTEWS) yang berada di bawah Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Sumber: BMKG, 2015.

Gambar 4. Tingkatan status tsunami beserta kode warnanya seperti disajikan sistem peringatan dini tsunami Indonesia (InaTEWS) yang berada di bawah Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Sumber: BMKG, 2015.

Peta bahaya dan evakuasi tsunami Kabupaten Kebumen merupakan peta multiskenario. Gempa akbar (megathrust) menjadi salah satunya lewat tiga skenario gempa besar/akbar. Masing-masing adalah gempa hipotetik berkekuatan 7,5 skala magnitudo (SM), 8 SM dan 8,5 SM. Skenario lainnya yang dimasukkan adalah potensi tsunami dari longsoran besar bawah laut, baik yang menyertai kejadian gempa besar (seperti kasus Gempa Pangandaran 2006) maupun yang tidak. Faktor lainnya yang dipertimbangkan adalah invasinya ke daratan hingga menghasilkan genangan (inundation). Melambatnya kecepatan sisi muka tsunami, sementara sisi belakangnya masih melaju lebih cepat, membuat tinggi gelombang saat tiba di garis pantai mengalami run-up hingga belasan atau bahkan puluhan kali lipat lebih tinggi dibanding semula. Tsunami yang sudah meninggi inilah yang bakal menginvasi daratan yang tepat berhadapan dengan garis pantai.

Seberapa jauh invasi ke daratan terjadi sangat dipengaruhi oleh tinggi gelombang di garis pantai, bentuk pantai, topografi daratan di belakang pantai dan rapat tidaknya vegetasi (tumbuhan) di pantai. Makin tinggi tsunami saat tiba di garis pantai, maka makin jauh invasinya ke daratan. Pantai yang berlekuk-lekuk (berteluk) akan mengalami invasi tsunami lebih besar dibanding pantai datar, karena tsunami menjadi terakumulasi (terkumpul) dalam lekuk-lekuk tersebut. Demikian halnya pantai bermuara sungai akan mengalami invasi tsunami lebih besar, apalagi sungai menjadi jalan bebas hambatan bagi tsunami untuk merangsek ke darat. Dan dua pantai dengan bentuk sama persis akan bernasib berbeda kala tsunami melanda jika terdapat perbedaan dalam kerapatan tumbuhan di pantai. Semakin rapat tumbuhannya, maka peranannya mereduksi energi tsunami kian besar sehingga invasinya kian berkurang.

Zonasi

Peta bahaya tsunami dan peta evakuasi Kabupaten Kebumen telah memasukkan faktor-faktor tersebut. Saat diterapkan ke segenap garis pantai Kabupaten Kebumen, dijumpai tiga kawasan. Kawasan pertama adalah Tanjung Karangbolong. Di sini zona merah dan zona kuning hanya mencakup area sempit selebar garis pantai. Bila terjadi tsunami dengan status “Siaga” maupun “Awas”, maka siapa saja yang sedang berada di pantai-pantai Pedalen, Menganti, Karangbata, Pecaron (Srati) dan Pasir bisa langsung mengevakuasi diri ke bukit-bukit yang ada di belakang setiap pantai tersebut. Jarak yang harus ditempuh pun tak jauh.

Gambar 5. Pantai Petanahan (Karanggadung), contoh pantai datar di Kabupaten Kebumen. Di sebelah kiri nampak bukit-bukit pasir yang membentuk pematang pantai, sementara di sebelah kanan terlihat perairan Samudera Indonesia. Tanda panah menunjukkan invasi maksimum/genangan terjauh akibat bencana tsunami 2006, yang mencapai 60 meter dari garis pantai. Sumber: Sudibyo, 2006.

Gambar 5. Pantai Petanahan (Karanggadung), contoh pantai datar di Kabupaten Kebumen. Di sebelah kiri nampak bukit-bukit pasir yang membentuk pematang pantai, sementara di sebelah kanan terlihat perairan Samudera Indonesia. Tanda panah menunjukkan invasi maksimum/genangan terjauh akibat bencana tsunami 2006, yang mencapai 60 meter dari garis pantai. Sumber: Sudibyo, 2006.

Sementara kawasan kedua adalah kawasan pantai datar yang ada di dua tempat. Tempat pertama ada di antara muara sungai Telomoyo dan Luk Ulo. Di sini zona merah mencakup area selebar hingga 300 meter dari garis pantai. Sementara zona kuning mencakup area hingga selebar 1.000 meter dari garis pantai. Maka baik zona merah ataupun zona kuning berada di kawasan pantai muda. Zona merah dan kuning di sini meliputi kecamatan Puring, Petanahan dan Klirong. Desa-desa yang tercakup adalah Surorejan, Puring, Sidoharjo, Karangrejo, Karanggadung dan Tegalretno. Obyek wisata yang tercakup meliputi pantai Petanahan (Karanggadung). Tidak ada bukit di kawasan ini. Sehingga kala BMKG menyatakan terjadi tsunami dengan status “Siaga”, evakuasi hanya bisa dilakukan ke arah utara hingga sejauh minimal 200 meter. Sementara saat statusnya “Awas”, evakuasi pun ke arah utara namun hingga sejauh minimal 1.000 meter.

Sementara pantai datar yang kedua ada di antara muara sungai Luk Ulo dan Wawar. Berbeda dengan pantai datar di antara muara sungai Telomoyo dan Luk Ulo, di sini situasinya lebih kompleks seiring adanya sungai Pucang dan Gede yang cukup panjang dan mengalir ke timur hingga bermuara di sungai Wawar. Zona merah memang tetap mencakup area selebar hingga 300 meter dari garis pantai. Namun zona kuning-nya jauh lebih lebar, yakni mencakup area hingga selebar 4.000 meter dari garis pantai. Meski demikian harus dicatat bahwa zona kuning selebar 4.000 meter ini hanya berlaku dalam skenario terburuk, yakni bila terjadi gempa akbar yang setara gempa-akbar Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 (berkekuatan 9,3 SM). Di luar skenario terburuk, zona kuning tetap selebar 1.000 meter dari garis pantai.

Zona merah maupun zona kuning (baik dalam skenario terburuk maupun bukan) merupakan kawasan pantai muda yang meliputi kecamatan Buluspesantren, Ambal dan Mirit. Desa-desa yang tercakup diantaranya Setrojenar, Brecong, Entak, Ambalresmi, Petangkuran, Miritpetikusan dan Tlogodepok. Obyek wisata yang tercakup meliputi pantai Bocor (Setrojenar). Di kawasan ini pun tidak ada bukit. Sehingga bila BMKG menyatakan terjadi tsunami dengan status “Siaga”, evakuasi hanya bisa dilakukan ke arah utara hingga sejauh minimal 200 meter. Sementara saat statusnya “Awas”, evakuasi pun ke arah utara namun hingga sejauh minimal 1.000 meter.

Dan kawasan yang ketiga atau yang terakhir adalah pantai bermuara sungai. Terdapat empat lokasi demikian, masing-masing adalah muara sungai Bodo, Telomoyo, Luk Ulo dan Wawar. Muara sungai Bodo terletak di kecamatan Ayah sekaligus menjadi tapalbatas antara Kabupaten Kebumen dan Cilacap. Di sini terdapat pantai Logending atau pantai Ayah yang demikian populer. Zona merah di sini merentang hingga sejauh 1.700 meter dari muara, atau hingga 2.600 meter dari muara untuk di tepi sungai. Sementara zona kuning merentang hingga sejauh 6.000 meter dari muara. Desa-desa yang tercakup adalah Ayah dan Candirenggo. Prinsip utama evakuasi di kawasan muara sungai adalah sebisa mungkin menghindar dari tepi sungai hingga sejarak minimal 500 meter dan tidak boleh melewati jembatan yang melintas di sungai tersebut. Karena muara sungai Bodo terletak tepat di sisi barat Tanjung Karangbolong, maka bila BMKG menyatakan terjadi tsunami baik dengan status “Siaga” maupun “Awas”, maka penduduk atau pengunjung harus mengevakuasi diri ke arah timur menuju bukit-bukit gamping Tanjung Karangbolong. Karena cukup dekat, maka jarak evakuasinya relatif pendek.

Situasi yang mirip juga dijumpai di lokasi kedua, yakni muara sungai Telomoyo. Sisi barat muara sungai ini merupakan bagian dari kecamatan Buayan sekaligus sisi timur Tanjung Karangbolong. Zona merah di sini merentang hingga 900 meter dari muara. Sementara zona kuning menjulur hingga 5.000 meter dari muara. Desa-desa yang tercakup adalah Karangbolong, Jladri dan Adiwarno. Saat terjadi tsunami baik dalam status “Siaga” atau “Awas”, maka evakuasi ke bukit-bukit Tanjung Karangbolong adalah pilihan terbaik dengan jarak evakuasi yang relatif pendek.

Namun tidak demikian dengan sisi timurnya. Bentang lahan di sini tergolong dataran rendah, sementara guna menuju bukit-bukit di Tanjung Karangbolong mau tak mau harus melewati jembatan (yang terlarang dalam evakuasi tsunami). Zona merah dan kuning di sini masing-masing merentang 900 dan 5.000 meter dari muara. Desa-desa yang tercakup adalah Tambakmulyo dan Weton Kulon, yang menjadi bagian kecamatan Puring. Sebuah obyek wisata yang baru tumbuh dan populer ada pula di sini, yakni pantai Suwuk. Prinsip evakuasi tsunami di sini tetap adalah menjauhi pantai dan tepi sungai. Maka bila BMKG menyatakan terjadi tsunami dengan status “Siaga” penduduk dan pengunjung harus mengevakuasi diri ke arah timur untuk kemudian ke utara menuju perbatasan desa Tambakmulyo dan Weton Kulon. Sedangkan jika tsunami berstatus “Awas”, maka evakuasi harus dilakukan hingga mencapai desa Kedaleman Wetan.

Hal serupa juga berlaku di lokasi ketiga, yakni muara sungai Luk Ulo. Sisi barat muara sungai ini merupakan bagian kecamatan Klirong sementara sisi timurnya masuk kecamatan Buluspesantren. Desa-desa yang tercakup adalah Tanggulangin, Pandan Lor dan Ayamputih. Karena sungai Luk Ulo berbelok ke barat sebelum bermuara, maka patokan jarak untuk zona merah dan kuning adalah garis pantai yang lurus dengan tepi sungai. Zona merahnya merentang hingga sejauh 1.000 meter dari garis pantai. Sementara zona kuning menjulur hingga 4.200 meter dari garis pantai, atau hingga ke sekitar titik pertemuan sungai Luk Ulo dengan sungai Kedungbener.

Prinsip evakuasi tsunaminya tetap sama, yakni menjauhi pantai dan tepi sungai. Saat BMKG menyatakan terjadi tsunami dengan status “Siaga”, penduduk Tanggulangin harus mengevakuasi diri ke arah utara menuju desa Tambakprogaten. Sementara bila tsunami berstatus “Awas”, evakuasi penduduk Tanggulangin dan Pandan Lor diarahkan menuju ke desa Tambakprogaten atau ke sebelah baratnya lagi. Di sisi timur muara sungai Luk Ulo, penduduk Ayamputih diarahkan mengevakuasi diri ke utara kemudian ke timur menuju desa Setrojenar bagian utara baik pada saat status “Siaga” maupun “Awas.”

Gambar 6. Pantai Suwuk, contoh pantai bermuara di Kabupaten Kebumen. Di latar belakang nampak bukit-bukit yang menjadi bagian pantai Karangbolong. Sementara di latar depan aliran sungai Telomoyo sedang mengalir menuju Samudera Indonesia. Dalam bencana tsunami 2006, invasi maksimumnya mencapai 300 meter terhitung dari muara sungai. Sumber: Sudibyo, 2006.

Gambar 6. Pantai Suwuk, contoh pantai bermuara di Kabupaten Kebumen. Di latar belakang nampak bukit-bukit yang menjadi bagian pantai Karangbolong. Sementara di latar depan aliran sungai Telomoyo sedang mengalir menuju Samudera Indonesia. Dalam bencana tsunami 2006, invasi maksimumnya mencapai 300 meter terhitung dari muara sungai. Sumber: Sudibyo, 2006.

Dan hal yang sama pun diterapkan di lokasi keempat. Yakni muara sungai Wawar, yang juga tapalbatas Kabupaten Kebumen dengan Purworejo. Seperti halnya sungai Luk Ulo, sungai Wawar pun berbelok ke barats ebelum bermuara. Dan bahkan di dekat muaranya terdapat laguna, yang kini menjadi bagian dari tempat wisata baru bernama pantai Lembupurwo. Maka patokan jarak untuk zona merah dan kuning adalah garis pantai yang lurus dengan tepi sungai. Zona merahnya menjulur hingga 1.500 meter dari garis pantai. Sementara zona kuningnya hingga 4.500 meter dari garis pantai. Seluruhnya merupakan bagian dari kecamatan Mirit, yang mencakup desa-desa Mirit, Tlogopragoto, Lembupurwo, Wiromartan dan Rowo.

Bila BMKG menyatakan terjadi tsunami dengan status “Siaga”, maka penduduk desa Tlogopragoto, Lembupurwo dan Wiromartan serta pengunjung pantai Lembupurwo harus mengevakuasi diri ke utara lalu ke barat hingga desa Wergonayan. Langkah serupa juga berlaku pada saat statusnya “Awas”, hanya saja kini melibatkan pula desa Mirit dan Rowo.

Penutup

Peta bahaya dan peta evakuasi tsunami Kabupaten Kebumen sejatinya telah cukup lengkap. Selain membagi kawasan pesisir Kabupaten Kebumen ke dalam dua zona sesuai dengan tingkatan status yang bisa disajikan sistem peringatan dini tsunami Indonesia di bawah BMKG, jalur-jalur evakuasi dan titik-titik penerimaan pengungsi (titik kumpul) juga sudah ditetapkan.

Masalah utama tinggal bagaimana penerapannya? Khususnya bagi 220.800 penduduk yang tinggal di kawasan pesisir Kebumen. Bagaimana agar penduduk yang berpotensi terdampak bisa memahami dan mengimplementasikan apa yang telah disusun dalam kedua peta tersebut? Hanya ada tiga jalan, yakni sosialisasi, latihan dan pendidikan. Peta bahaya dan peta evakuasi tsunami Kabupaten Kebumen takkan bermanfaat bila tak disosialisasikan ke masyarakat. Langkah sosialisasi memang sudah dilakukan, misalnya oleh BPBD Kabupaten Kebumen dan PMI Cabang Kebumen. Sosialisasi akan lebih bagus lagi tatkala menyertakan media, khususnya media sosial yang penetrasinya lebih jauh ke publik. Sementara jalan kedua adalah latihan. Sosialisasi akan lebih bagus lagi tatkala masyarakat di kawasan pesisir juga diajak berlatih simulasi tsunami. Sehingga jalur-jalur evakuasi dan titik-titik penerimaan pengungsi bisa lebih melekat dalam benak setiap insan. Sementara jalan yang ketiga adalah lewat pendidikan, khususnya bagi generasi muda. Pendidikan tentang bencana alam khususnya tsunami sekaligus pengenalan peta bahaya dan peta evakuasi serta simulasinya seyogyanya bisa dilakukan pada siswa-siswi di sekolah-sekolah yang ada di kawasan pesisir Kebumen. Sebab mitigasi terbaik dalam menghadapi tsunami adalah apa yang telah tertanam dalam benak tiap insan.

Akhir kata, tak satupun insan yang berharap bahwa zona subduksi di Samudera Indonesia lepas pantai selatan Jawa Tengah akan melepaskan energinya. Prinsip utama mitigasi adalah selalu berharap yang terbaik. Namun di saat yang sama, bersiaplah untuk hal-hal yang terburuk. Andaikata pelepasan itu kelak terjadi dalam wujud gempa besar/akbar beserta tsunaminya, Kabupaten Kebumen seyogyanya bisa mengantisipasi efek terburuk yang datang sebagai gelora tsunami.

Seperti apa peta bahaya tsunami dan peta evakuasi tsunami Kabupaten Kebumen dalam format yang lengkap? Silahkan lihat di sini.

Referensi :

Ansori dkk. 2010. Evaluasi Potensi dan Konservasi Kawasan Tambang Pasir Besi pada Jalur Pantai Selatan Di Kabupaten Purworejo-Kebumen, Jawa Tengah. UPT Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung LIPI.

Satyana & Purwaningsih. 2002. Lekukan Struktur Jawa Tengah, Suatu Segmentasi Sesar Mendatar. Makalah Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Yogyakarta-Central Java Section, Basement Tectonics of Central Java, Maret 2002.

Raditya dkk. 2010. Catatan Proses Pemetaan Bahaya Tsunami Kabupaten Purworejo. Kerjasama Pemkab Purworejo dan GITEWS (German-Indonesia Tsunami Early Warning System).