Erupsi Freatik di Kawah Sileri

Sejauh ini 11 orang dikabarkan mengalami luka-luka akibat jatuh saat lari berhamburan dalam peristiwa letusan yang terjadi di Kawah Sileri di kompleks Dataran Tinggi Dieng. Letusan itu terjadi pada Minggu 2 Juli 2017 Tarikh Umum (TU) sekitar pukul 12:00 WIB. Letusan ditandai dengan semburan material hingga setinggi sekitar 150 meter di atas kawah, diikuti dengan kepulan uap air pekat yang membumbung tinggi. Tak pelak pengunjung kawah yang juga adalah salah satu obyek wisata di kawasan Dieng ini pun dibikin panik. Terlebih peristiwa ini terjadi pada masa libur Lebaran 2017, kala Dataran Tinggi Dieng sedang padat-padatnya oleh wisatawan.

Dan kisah muram pun bergulir kembali dalam beberapa jam kemudian, meski dalam bentuk kejadian yang sama sekali berbeda. Yakni saat helikopter Basarnas (Badan SAR Nasional) yang sedang terbang menuju lokasi letusan usai menjalankan tugas pengawasan arus mudik dan balik Lebaran di pintu tol fungsional Gringsing (Kabupaten Batang) bernasib naas. Helikopter yang mengangkut sembilan orang itu menubruk tebing Bukit Butak, Candiroto (Kabupaten Temanggung) dan jatuh terbakar. Seluruh penumpangnya dipastikan tewas.

Gambar 1. Hembusan uap air panas pekat dari Kawah Sileri, sesaat setelah erupsi freatik terjadi pada 2 Juli 2017 TU pukul 12:00 WIB. Foto dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sumber: BNPB/Sutopo Purwo Nugroho, 2017.

Freatik

Kawah Sileri merupakan satu dari sekitar 100 kawah yang tersebar di sekujur Dataran Tinggi Dieng, yang dikenal juga sebagai kompleks vulkanik Dieng. Kawah ini merupakan cekungan seluas 4 hektar, menjadikannya kawah terluas di kompleks vulkanik Dieng. Kawah yang secara administratif terletak di desa Kepakisan, Batur (Kabupaten Banjarnegara) ini dalam kesehariannya digenangi air sebagai sebuah telaga. Pelepasan gas-gas vulkanik dari dasar kawah menyebabkan asap putih mirip kabut senantiasa mengepul dari paras air telaga ini. Airnya nampak berwarna putih abu-abu mirip air cucian beras, yang dalam istilah setempat disebut Leri. Karena itulah kawah ini mendapatkan namanya sebagai Kawah Sileri.

Erupsi (letusan) Sileri barusan tergolong erupsi freatik. Tanda-tandanya sangat jelas terhampar di sekeliling kawah sebagai endapan material letusan. Material tersebut merupakan lumpur bersuhu rendah yang melampar hingga sejauh 50 meter dari bibir kawah. Suhu rendah tersebut setidaknya setara dengan suhu lingkungan dan jauh lebih rendah ketimbang suhu air kawah (yang rata-rata sebesar 70º C), sehingga tidak menyebabkan luka bakar pada kulit manusia saat dipegang. Erupsi freatik diketahui menyemburkan material letusan dengan suhu yang relatif rendah (umumnya kurang dari 200º C) dibanding jenis erupsi magmatik.

Gambar 2. Citra satelit Dataran Tinggi Dieng dalam cahaya tampak, dengan sejumlah kawah ukuran besar yang tergenangi air sebagai telaga. Nampak Telaga Sileri (dimana Kawah Sileri berada), tergolong kecil dibanding telaga-telaga yang lain. Sumber: Sudibyo, 2017 berdasar peta Google Maps.

Berdasarkan tenaga penggeraknya, secara umum dikenal tiga jenis erupsi vulkanik. Yakni erupsi magmatik, erupsi freatik dan erupsi freatomagmatik. Erupsi magmatik adalah erupsi yang ditenagai oleh magma segar dengan kandungan gas-gas vulkaniknya yang besar. Magma segar ini menyeruak dari dapur magma di kedalaman. Inilah erupsi yang umumnya dikenal khalayak. Karena bertumpu pada magma segar, maka saat keluar dari lubang letusan dan bertransformasi menjadi material letusan (misalnya lava atau awan panas), suhunya masih sangat tinggi (lebih dari 700º C).

Sementara erupsi freatik ditenagai oleh uap air bertekanan tinggi. Uap air tersebut terbentuk seiring pemanasan air bawah tanah oleh sumber panas, yang bisa berasal dari magma segar maupun magma tua. Magma tua adalah magma yang tersisa dari episode letusan sebelumnya dan tetap berada di dalam saluran magma (diatrema). Karena sifatnya sebagai penghantar panas yang buruk, maka magma tua tetap memiliki suhu cukup tinggi yang mampu memanaskan air bawah tanah hingga menjadi uap. Bila tekanannya sudah sangat tinggi maka sumbat batuan yang selama ini menyekap uap air tersebut dalam reservoirnya pun dapat bobol. Sepanjang perjalanannya ke atas, uap air bertekanan tinggi ini menyeret pula bagian-bagian sumbat batuan maupun magma tua, menjadikannya material letusan. Maka material letusan freatik berciri khas suhu relatif lebih rendah dan diiringi dengan adanya fragmen-fragmen batuan tua dalam beragam ukuran yang mulai memperlihatkan tanda-tanda melapuk.

Sedangkan erupsi freatomagmatik terjadi tatkala magma segar langsung bersentuhan dengan air bawah tanah. Akibatnya terjadi pendinginan cepat di ‘kulit’ (permukaan) tubuh magma segar itu, sehingga membentuk batu-batuan seukuran kerikil. Uap air bertekanan tinggi pun sontak terbentuk. Sehingga material letusannya terdiri dari batuan segar dan uap air dengan suhu relatif tinggi.

Dengan karakter demikian maka erupsi freatik bisa menjadi peristiwa yang mengawali episode letusan sebuah gunung berapi. Misalnya pada Gunung Sinabung dalam Letusan Sinabung 2010 dan awal-awal Letusan Sinabung 2013 – sekarang. Dalam hal ini maka durasi erupsinya dapat cukup panjang, mulai dari beberapa hari hingga berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun kemudian. Di sini erupsi freatik menjadi pendahulu dari erupsi magmatik. Sebaliknya erupsi freatik pun dapat berdiri sendiri tanpa erupsi magmatik. Misalnya pada Gunung Merapi, terutama dalam aktivitas 2012-2014-nya. Erupsi freatik yang berdiri sendiri umumnya berdurasi sangat singkat, tak sampai sejam.

Erupsi Freatik Dieng

Erupsi freatik merupakan ciri khas dari aktivitas vulkanik di Dataran Tinggi Dieng. Selama 200 tahun terakhir terjadi setidaknya 10 kejadian erupsi freatik, atau rata-rata sekali erupsi per 20 tahun. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang bernaung di bawah Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral membagi erupsi freatik di Dieng ke dalam dua kategori. Yang pertama adalah erupsi freatik tanpa tanda awal seismik. terjadi karena terjadi sumbatan mendadak pada fumarol (sumber uap air) atau solfatara (sumber gas SO2).

Gambar 3. Material letusan berupa lumpur dingin yang melampar hingga 50 meter dari bibir kawah Sileri. Lokasi Kawah Sileri adalah di sisi kanan dari foto. Bersumber dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sumber: BNPB/Sutopo Purwo Nugroho, 2017.

Sementara yang kedua adalah erupsi freatik dengan tanda awal seismik, baik berupa gempa tektonik lokal maupun regional. Termasuk ke dalam kategori kedua adalah erupsi freatik yang muncul dari retakan di paras Bumi dimana tidak ada indikasi panasbumi (dalam bentuk kawah maupun alterasi batuan) disitu. Kategori kedua ini lebih sering terjadi di kompleks vulkanik Dieng bagian barat. Yakni di kawasan yang dikenal sebagai graben Batur.

Erupsi Sileri barusan nampaknya lebih condong ke kategori pertama. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan tidak ada tanda-tanda awal seismik yang terekam pada seismometer di stasiun-stasiun geofisika yang berdekatan dengan kompleks vulkanik Dieng. Baik pada stasiun yang relatif jauh seperti stasiun Yogyakarta (YOGI), Semarang (SMRI) dan Karangpucung (KPJI). Maupun pada stasiun yang relatif dekat seperti Slawi (CTJI) dan Banjarnegara (BJI), dimana stasiun Banjarnegara sedang diluar jaringan (offline).

Bila Erupsi Sileri barusan merupakan erupsi freatik kategori pertama, maka curah hujan yang tinggi yang mengguyur sebagian kawasan Jawa Tengah sepanjang Juni 2017 TU lalu mungkin menjadi salah satu faktor yang berperan penting. Hujan deras mungkin menyebabkan ada bagian lereng kawah yang longsor hingga menimbuni fumarol atau solfatara di dasar Kawah Sileri. Hujan juga memberi pasokan air yang berlimpah ke kawah, menjadikan cukup banyak air yang bisa meresap menjadi air bawah tanah dan dididihkan oleh magma tua di bawah Kawah Sileri. Begitu fumarol tersumbat, maka uap air tak menemukan jalan keluarnya sehingga tekanannya pun meningkat. Dan pada akhirnya erupsi pun terjadilah.

Menurut catatan PVMBG, sepanjang 2017 TU ini Kawah Sileri ternyata sudah tiga kali mengalami erupsi freatik. Kejadian pertama adalah pada 3 April 2017 TU silam. Yang disusul dengan kejadian kedua pada 24 April 2017 TU. Sementara kejadian ketiga, pada 2 Juli 2017 TU, adalah yang terbesar. Baik pada erupsi freatik yang pertama maupun yang kedua juga tidak diikuti dengan tanda-tanda awal seismik. Atas dua kejadian erupsi tersebut PVMBG merekomendasikan agar pengelola obyek wisata Dieng membatasi jangkauan pengunjung hingga radius 100 meter dari kawah. Rupanya rekomendasi tersebut tak dijalankan. Pada saat Erupsi Sileri barusan terjadi, pengunjung bahkan mendekat hingga hanya 15 meter dari bibir kawah.

Gambar 4. Tampak dekat lumpur yang disemburkan dan diendapkan di sekitar Kawah Sileri. Karakteristik lumpur ini membuktikan bahwa Erupsi Sileri adalah erupsi freatik. Foto dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sumber: BNPB/Sutopo Purwo Nugroho, 2017.

Mujur bahwa Erupsi Sileri kali ini tidak diikuti dengan pelepasan gas CO2 dalam jumlah besar dengan konsentrasi pekat. Sehingga bencana memilukan seperti Tragedi Sinila 1979 yang menewaskan 149 orang dapat dihindari. Namun Kawah Sileri juga bukannya kawah yang anteng. Sepanjang delapan dasawarsa terakhir, Kawah Sileri menjadi kawah yang paling aktif di kompleks vulkanik Dieng. Ia telah delapan kali meletus, atau rata-rata meletus setiap 10 tahun sekali. Letusan 1944 tercatat apik dalam sejarah karena menewaskan tak kurang dari 144 orang. Aktivitas berikutnya adalah Letusan 1964 yang berupa erupsi freatik disertai semburan lumpur. Demikian halnya Letusan 1984 dan Letusan 1986. Sebaliknya Letusan 2003, Letusan 2006 dan Letusan 2009 merupakan erupsi freatik tanpa semburan lumpur yang signifikan.

Dan akhirnya, Erupsi Sileri mempertontonkan dengan telanjang satu dari dua sisi Dataran Tinggi Dieng. Yakni sisi ancaman. Sementara sisi yang berseberangan adalah sisi keindahan, yang telah banyak menggamit hati para insan dan menjadikan mereka berduyun-duyun mendatangi tanah di atas awan ini. Mengutip kata-kata seorang geografer legendaris T Bachtiar, Dataran Tinggi Dieng adalah sekolah tentang semesta. Inilah tempat belajar tentang keindahan, kehidupan dan kewaspadaan. Di sini, antara pesona dan keberkahan berhimpitan dengan ancaman, layaknya dua sisi dari sebuah mata pisau.

Referensi :

IAVCEI. 2000. Crater Lakes of Java: Dieng, Kelud and Ijen, Excursion Guidebook. International Association of Volcanology and Chemistry of the Earth’s Interior, 2000 General Assembly. Bali: Denpasar.

Rizal. 2014. Kajian Sebaran dan Karakteristik Kawah di Gunungapi Dieng. Kuliah Kerja Lapangan 3, Fakultas Geografi UGM, Yogyakarta.

Tempo.co. 2017. PVMBG Sudah Ingatkan Pengelola Dieng Soal Letusan Kawah Sileri. Tempo.co Minggu 2 Juli 2017.

Daryono Sutopawiro. 2017. komunikasi personal.

Andri Sulistyo. 2017. komunikasi personal.