Ledakan Besar Akibat Petasan (Lagi) di Kebumen

Ledakan besar itu terjadi pada Sabtu 23 Juli 2017 TU (Tarikh Umum) sekitar pukul 21:30 WIB. Lokasinya pada suatu sudut di RT 05 RW 04 desa Krakal yang termasuk ke dalam kecamatan Alian Kab. Kebumen (Jawa Tengah). Titik pusat ledakan berada di sebuah rumah kosong yang difungsikan sebagai gudang. Gudang itu beralamatkan di jalan Pagerkemiri di sekitar koordinat 7º 36′ 31″ LS 109º 42′ 11″ BT dan secara fisik ada di sebelah barat Pasar Indrakila Alian, sejarak sekitar 250 meter. Dari lokasi mataair panas Krakal yang menjadi markah (icon) daerah ini, lokasi ledakan berjarak 1.200 meter.

Gambar 1. Lokasi di sekitar titik pusat Ledakan Krakal, sekitar 10 jam pasca kejadian. Titik pusat ledakan berada di rumah berdinding merah, yang menjadi rumah dengan kerusakan terparah. Secara keseluruhan 23 rumah mengalami kerusakan dengan 9 diantaranya berderajat rusak sedang hingga berat. Sumber: Lintas Kebumen, 2017.


Ledakan besar itu tidak melukai siapapun apalagi menelan korban jiwa. Namun terlepas dari ‘keberuntungan’ itu, ledakan menghasilkan dampak aneka kerusakan bagi rumah-rumah disekelilingnya mulai dari derajat rusak ringan hingga rusak berat. Secara keseluruhan 23 rumah mengalami kerusakan, dimana dua diantaranya rumah rusak berat, sembilan rumah rusak sedang dan sisanya rusak ringan. Radius kerusakan mencapai sekitar 50 meter dari titik pusat ledakan. Namun dalam kondisi tertentu pecahnya kaca jendela masih dijumpai hingga radius 500 meter ke arah tertentu.

Tak pelak ledakan besar jelang tengah malam ini menggegerkan daerah setempat. Dentuman suara ledakan terdengar hingga ke kecamatan tetangga, yakni Karangsambung, yang berjarak tak kurang dari 4 kilometer. Dentuman menggelegar itu juga diiringi dengan getaran tanah layaknya gempa. Warga sekitar pun sempat dibikin panik.

Ini adalah ledakan besar kedua di tanah Kebumen dalam kurun sebulan terakhir, setelah peristiwa Ledakan Gemeksekti. Dan seperti halnya Ledakan Gemeksekti, peristiwa ledakan besar di Krakal ini (yang untuk selanjutnya disebut Ledakan Krakal) pun disebabkan oleh bahan petasan alias mercon. Bedanya, peristiwa Ledakan Krakal ini mendapat perhatian lebih lanjut termasuk dengan melibatkan tim Laboratorium Forensik Polda Jawa Tengah. Sebaliknya dalam kejadian Ledakan Gemeksekti, penyebab dan pelakunya telah terang benderang sedari awal.

Gambar 2. Detik-detik awal bahan petasan mengalami ledakan (deflagrasi) dalam peristiwa Ledakan Gemeksekti, sebulan sebelum kejadian Ledakan Krakal. Dua peristiwa ledakan besar di Kabupaten Kebumen itu sama-sama disebabkan oleh bahan petasan. Sumber: Kebumen Ekspres, 2017.


Petasan

Seperti halnya dalam peristiwa ledakan-ledakan besar pada umumnya, kerusakan-kerusakan dan getaran yang mengiringi Ledakan Krakal diakibatkan oleh penjalaran gelombang kejut (shockwave) ledakan. Gelombang kejut adalah tekanan tak-kasat mata yang diekspresikan oleh nilai tekanan-lebih (overpressure), yakni selisih antara tekanan gelombang kejut terhadap tekanan atmosfer standar (diidealkan pada paras laut rata-rata). Nilai overpressure itu bisa mulai dari sekecil 200 Pascal (Pa, 1 Pa = 1 Newton/meter2) dengan dampak minimal yakni hanya menggetarkan kaca jendela dan berkemungkinan meretakkan kisi-kisinya. Namun bisa juga sebesar 1 MegaPascal (1.000.000 Pa) dengan dampak sangat mematikan bagi manusia, karena mampu memutilasi tubuh manusia tanpa ampun. Parah tidaknya dampak gelombang kejut bergantung kepada jaraknya terhadap titik pusat ledakan. Sebab nilai overpressure berbanding terbalik dengan bertambahnya jarak. Dan dalam kondisi tertentu bahkan ia bisa berbanding terbalik dengan pangkat dua (kuadrat) jarak dari titik pusat ledakan.

Gambar 3. Lokasi titik pusat Ledakan Krakal dalam peta Google Maps. Secara fisis titik pusat ledakan berada di sebelah barat Pasar Indrakila, pasar sentral di kecamatan Alian, dengan jarak sekitar 200 meter. Sumber: Sudibyo, 2017.


Dua rumah yang terkategori rusak berat mengalami kaca-kaca jendela yang hancur lebur dan tembok jebol. Satu dari rumah yang rusak berat ini adalah lokasi titik pusat ledakan. Sementara tujuh rumah yang terkategori rusak sedang memiliki kaca-kaca jendela yang pecah dan pintu jebol. Sembilan rumah ini bertebaran hingga radius sekitar 50 meter dari titik pusat ledakan. Dengan anggapan ledakan terjadi di udara terbuka tanpa halangan, maka perhitungan menggunakan persamaan-persamaan gelombang kejut memprakirakan bahwa kekuatan Ledakan Krakal adalah sekitar 3 kilogram TNT.

Hasil ini relatif tak berbeda dengan temuan Polres Kebumen, yang mengindikasikan ada sedikitnya 4 kilogram bahan peledak. Bahan peledak tersebut berupa bahan petasan (mercon), yang tergolong kelompok peledak low explosives. Dalam jumlah yang sama, bahan petasan memiliki kekuatan sedikit lebih kecil dibanding bahan peledak TNT (trinitrotoluena) yang menjadi standar kekuatan ledakan. Dengan demikian cukup beralasan untuk menyimpulkan bahwa Ledakan Krakal disebabkan oleh deflagrasi bahan petasan yang kekuatannya setara 3 kilogram TNT.

Perhitungan lebih lanjut dengan persamaan yang sama memperlihatkan bagaimana dampak gelombang kejut dari Ledakan Krakal ini. Dalam jarak hingga 12 meter, gelombang kejutnya masih sanggup merusak dinding beton. Dalam jarak 17 meter, gelombang kejut yang sama masih cukup kuat untuk melengkungkan lembaran logam. Dalam jarak 25 meter ia juga masih cukup kuat untuk menghancurkan kaca-kaca jendela sekaligus meretakkan dinding. Angka-angka ini sekaligus menyajikan gambaran seperti apa dampaknya jika ‘bahan peledak dalam bobot kecil’ diledakkan. Aksi terorisme masakini kerap melibatkan ‘bahan peledak dalam bobot kecil’ dengan daya rusak ditingkatkan seperti tergambar dalam peledak yang lebih populer sebagai bom panci.

Gambar 4. Hasil perhitungan dampak papasan gelombang kejut dalam peristiwa Ledakan Krakal yang telah dibandingkan dengan kondisi lapangan. Dampak gelombang kejut dipilih untuk sejumlah deskripsi dampak tertentu, yang lantas diplot ke dalam peta. Sumber: Sudibyo, 2017.


Harus digarisbawahi bahwa perhitungan dampak tersebut bersandar pada kondisi ideal, yakni titik pusat ledakan di udara terbuka. Realitanya titik pusat Ledakan Krakal berada dalam sebuah rumah kosong. Sehingga banyak dari dampaknya yang teredam oleh dinding-dinding rumah tersebut. Rumah kosong tersebut juga berjendela pada sisi tertentu dan ini yang mungkin menghasilkan dampak terpolarisasi (terkutub) ke satu arah. Sehingga sebuah rumah yang berjarak 500 meter dari titik pusat ledakan pun dijumpai mengalami pecahnya kaca-kaca jendela.

Peristiwa Ledakan Krakal, seperti halnya peristiwa Ledakan Gemeksekti, sekali lagi mendemonstrasikan seperti apa dampaknya jika bahan peledak low explosive seperti petasan ditumpuk dalam jumlah besar dan kemudian meledak (lebih tepatnya ter-deflagrasi). Baik Ledakan Gemeksekti maupun Ledakan Krakal sama-sama berakar pada tradisi yang mewabah di Kebumen sepanjang Ramadhan dan terutama saat hari raya Idul Fitri. Yakni petasan. Razia yang gencar dilaksanakan Polres Kebumen di bawah tajuk Operasi Ramadniya tidak sepenuhnya berhasil mengeliminasi ‘wabah’ tersebut. Pada satu sisi, razia tersebut bahkan berbalik memukul Polres Kebumen sendiri saat pemusnahan bahan petasan telah disita tak ditangani dengan baik sehingga berujung pada peristiwa Ledakan Gemeksekti.

Referensi:

Kinney & Graham. 1985. Explosive Shocks in the Air. Springer-Verlag, New York, 2nd edition.

Twitter Lintas Kebumen. diakses 22 Juli 2017 2017.

Ledakan Besar di Gemeksekti Kebumen, Sebuah Catatan Singkat

Senin siang 19 Juni 2017 Tarikh Umum (TU), bertepatan dengan 24 Ramadhan 1438 H, menjelang waktu Dhuhur, warga kota Kebumen di Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah) digemparkan dengan gelegar suara ledakan yang sangat keras. Ledakan tersebut datang dari kawasan halaman-belakang kota sisi utara, terjadi sekitar pukul 10:30 WIB. Saksi mata melaporkan terdengar sedikitnya dua suara ledakan dengan yang terkeras adalah ledakan kedua. Akibat dari ledakan ini, sedikitnya 17 bangunan tempat tinggal dan masjid yang berlokasi dusun Semelang desa Gemeksekti mengalami aneka kerusakan ringan. Mulai dari pecahnya kaca-kaca jendela dan pintu hingga retaknya eternit dan dinding (tembok). Sebagian warga sempat dibikin panik dan membanjiri balai desa setempat.

Gambar 1. Detik-detik menjelang Ledakan Gemeksekti, saat mercon hasil razia mulai dimusnahkan dengan cara dibakar. Nampak ledakan pertama di sisi kanan, yang diduga memicu ledakan kedua dalam beberapa detik kemudian. Sumber: Kebumen Ekspres, 2017.

Catatan singkat ini dibangun melalui analisis jarak jauh, dengan kondisi yang diidealkan dan tanpa tinjauan ke lokasi. Sehingga kemungkinan terjadi kondisi yang berbeda antara hasil catatan ini dengan senyatanya tetap berpeluang terjadi.

Mercon

Penyebab ledakan tersebut tidaklah misterius dan sudah diketahui sejak awal. Yakni tumpukan petasan (mercon) dalam jumlah yang cukup banyak produk razia petasan yang digencarkan Polres Kebumen selama bulan Ramadhan 1438 H. Satu saksi mata melaporkan terdapat sekitar 10 karung petasan yang hendak dimusnahkan. Demam mercon selalu mewabah di Kebumen setiap kali bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri tiba. Namun dalam beberapa tahun terakhir Polres Kebumen menggencarkan razia terhadap ‘asesoris Lebaran’ yang sejatinya dikategorikan sebagai bahan peledak kelompok low explosives itu.

Sebagai titik pemusnahan seluruh mercon hasil razia, dipilih satu sudut di dusun Semelang desa Gemeksekti. Tepatnya pada lereng sebuah bukit batu kapur yang sedang ditambang hingga membentuk dinding tegak yang menyajikan lapisan-lapisan bebatuan khas formasi Penosogan dan juga ketampakan sesar (patahan) turun. Lokasi ini nampaknya dipilih karena selain dekat dengan kota Kebumen (dimana Markas Polres berada) juga dianggap terlindung. Karena berada di cekungan produk penambangan dan berjarak minimal 100 meter dari rumah terdekat. Sehingga dampak ledakannya dianggap akan ternetralisir oleh struktur cekungan. Pemusnahan dilakukan dengan cara menaruh seluruh mercon hasil razia di paras tanah di udara terbuka untuk kemudian dibakar.

Gambar 2. Lokasi titik ledak dalam Ledakan Gemeksekti dalam beberapa jam kemudian yang masih ramai dikunjungi warga. Nampak kertas sisa-sisa meron yang dimusnahkan masih berserakan. Di latar belakang nampak dinding tegak hasil penambangan batu kapur, menampilkan lapisan-lapisan bebatuan dan sebuah sesar turun. Sumber: Kebumen Ekspres, 2017.

Perhitungan Dampak

Siapa sangka, proses pemusnahan ini justru berujung dengan ledakan sangat keras. Dan merusak. Tak ada korban luka-luka, apalagi korban jiwa, yang ditimbulkannya. Namun sedikitnya 17 bangunan rumah dan 1 masjid mengalami kerusakan. Seluruh bangunan tersebut terletak di sisi timur hingga timur laut dari titik ledakan. Getaran mirip gempa terasakan hingga sekitar 1 kilometer dari lokasi ledakan.

Hampir dapat dipastikan bahwa kerusakan-kerusakan dan getaran tersebut diakibatkan oleh penjalaran gelombang kejut (shockwave) dari ledakan. Bukan karena konversi energi ledakan menjadi energi seismik yang lantas menjalar di tanah sebagai gelombang seismik (gempa), karena nilai konversi itu sangat kecil. Gelombang kejut adalah tekanan tak-kasat mata yang diekspresikan oleh nilai tekanan-lebih (overpressure), yakni selisih antara tekanan gelombang kejut terhadap tekanan atmosfer standar (diidealkan pada paras air laut rata-rata). Nilai overpressure itu bisa mulai dari sekecil 200 Pascal (Pa, 1 Pa = 1 Newton/meter2) dengan dampak minimal yakni hanya menggetarkan kaca jendela dan berkemungkinan meretakkan kisi-kisinya. Namun bisa juga sebesar 1 MegaPascal (1.000.000 Pa) dengan dampak sangat mematikan bagi manusia, karena mampu memutilasi tubuh kita tanpa ampun.Parah tidaknya dampak gelombang kejut bergantung kepada jaraknya terhadap titik ledakan. Sebab nilai overpressure berbanding terbalik dengan bertambahnya jarak. Dan dalam kondisi tertentu bahkan ia bisa berbanding terbalik dengan kuadrat jarak dari titik ledakan.

Masjid yang mengalami pecahnya kaca-kaca pintu dan jendela dalam ledakan ini berjarak 160 meter dari titik ledakan. Dengan anggapan bahwa ledakan terjadi di udara terbuka tanpa halangan, maka dapat perhitungan dengan persamaan-persamaan gelombang kejut memprakirakan bahwa kekuatan ledakan adalah sekitar 25 kg TNT. Perhitungan dengan persamaan yang sama memperlihatkan gelombang kejut ledakan sanggup memecahkan gendang telinga manusia jika berdiri pada jarak 14 meter dari titik ledak. Ia juga sanggup menjatuhkan orang yang sedang berdiri tegak, jika berada pada jarak 37 meter dari titik ledak. Gelombang kejut yang sama juga mampu meremukkan kaca-kaca jendela pada jarak 107 meter dari titik ledak. Bahkan gelombang kejut ini pun masih sanggup menggetarkan kaca-kaca jendela hingga jarak 875 meter dari titik ledak.

Gambar 3. Hasil perhitungan dampak papasan gelombang kejut Ledakan Gemeksekti, dipilih untuk dampak tertentu, yang diplot ke dalam peta. Sumber: Sudibyo, 2017.

Saat angka-angka hasil perhitungan tersebut diplot ke dalam peta, nyatalah bahwa saat radius 160 meter ditarik dari titik ledakan, terdapat sekurangnya 15 bangunan yang terdeteksi berada dalam radius tersebut. Termasuk sebuah masjid. Seluruh bangunan itu berada di sisi timur laut dari titik ledakan. Dari sini terlihat bahwa hasil perhitungan tersebut nampaknya bersesuaian dengan data bangunan yang mengalami kerusakan di lapangan.

Harus digarisbawahi bahwa perhitungan di atas bersandar pada kondisi ideal, yakni titik ledak di udara terbuka. Dalam realitanya, titik ledak pada Ledakan Gemeksekti ini berada tepat di sisi sebuah tebing tegak hasil penambangan batu kapur. Kontur tanah di sekeliling titik ledak juga lebih tinggi, kecuali ke arah timur laut yang lebih terbuka. Sehingga gelombang kejut ledakan nampaknya terfokus hanya mengarah ke sisi timur laut saja, tidak ke arah-arah mataangin yang lain. Gelombang kejut yang terfokus hanya ke satu sisi juga membawa implikasi bahwa peledak yang digunakan memiliki kekuatan lebih kecil. Artinya Ledakan Gemeksekti mungkin ditimbulkan oleh akumulasi mercon yang totalnya kekuatannya tak sampai mencapai 25 kilogram TNT.

Catatan

Mercon tergolong ke dalam peledak low explosives, karena memiliki kecepatan peledakan yang jauh lebih kecil ketimbang kecepatan suara. Namun di sisi lain, mercon dikenal takstabil. Paparan panas atau tekanan sedikit saja sudah cukup untuk membuatnya bereaksi dan mengalami peristiwa mirip detonasi yang disebut deflagrasi. Rekaman video dalam peristiwa Ledakan Gemeksekti memperlihatkan nampaknya terjadi semacam ‘reaksi berantai’ saat pembakaran pemusnahan mercon hasil razia tak berlangsung secara serempak di setiap titik. Akibatnya kala ledakan pertama terjadi, ia mengirimkan gelombang kejut yang cukup kuat kepada tumpukan mercon disebelahnya (yang belum terbakar). Paparan gelombang kejut ini membuat tumpukan tersebut spontan bereaksi dengan melibatkan massa peledak yang jauh lebih besar.

Razia dan pemusnahan mercon, di satu sisi memang memiliki dilema tersendiri. Dengan sifat takstabilnya, ia tak bisa disimpan di satu lokasi dalam jangka waktu lama. Sementara kegiatan pemusnahannya sendiri juga beresiko, terlebih bila dibakar. Berbelas tahun silam anggota Polres Purworejo (di sebelah timur Kebumen) gugur kala memusnahkan mercon hasil razia dengan pembakaran. Pemusnahan dengan cara lain, misalnya direndam air, juga tak efektif karena begitu kandungan air mengering maka mercon dapat memiliki kemampuan eksplosifnya kembali.

Mengingat sifat paparan gelombang kejutnya terlebih lagi jika massa merconnya cukup besar, maka kegiatan pemusnahan mercon seyogyanya dikelola sedemikian rupa sehingga meminimalkan dampak paparan gelombang kejut ke lingkungan sekitar khususnya dalam arah mendatar. Misalnya, dengan menempatkan mercon hasil razia ke dalam sebuah lubang mirip liang lahat. Sehingga tatkala terjadi deflagrasi, paparan gelombang kejut ke arah horizontal teredam sepenuhnya oleh dinding-dinding tanah liang tersebut. Hanya meloloskan gelombang kejut ke arah vertikal.

Catatan Tambahan

Informasi dari Polres Kebumen: terdapat ribuan mercon yang berhasil disita dalam razia sejak awal Ramadhan 1438 H di Kabupaten Kebumen. Hampir semuanya diperlakukan sebagai bahan peledak low explosive, sehingga isinya (bahan mercon) dikeluarkan. Secara akumulatif terkumpul tak kurang dari 287 kilogram bahan mercon. Pemusnahan dilaksanakan dengan cara menabur bahan mercon di permukaan tanah dalam dua kelompok, untuk kemudian dibakar.

Normalnya pada proses pembakaran di udara terbuka, bahan mercon hanya akan terbakar saja tanpa meledak (berbeda jika berada di dalam selongsong). Namun diindikasikan ketebalan bahan mercon yang ditabur pada kelompok kedua masih terlalu tebal. Sehingga tatkala lapisan bagian atas terbakar, bagian bawahnya masih cukup terkungkung saat tersambar api sehingga masih mampu meledak. Maka cukup rasional untuk mengatakan bahwa Ledakan Gemeksekti diakibatkan oleh deflagrasi peledak low explosive yang kekuatannya setara dengan 25 kilogram trinitrotoluena (TNT).

Referensi:

Kinney & Graham. 1985. Explosive Shocks in the Air. Springer-Verlag, New York, 2nd edition.

Laman Kebumen Ekspres. Detik-Detik Ledakan Gemeksekti. 19 Juni 2017.

Sang Surya Meredup di Kebumen, Notasi Gerhana Matahari 9 Maret 2016

Gelaran Nonton Bareng dan Shalat Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 yang dihelat di kompleks Masjid al Mujahidin Kauman, Karanganyar Kab. Kebumen (propinsi Jawa Tengah) akhirnya terlaksana dengan sukses pada Rabu 9 Maret 2016 Tarikh Umum (TU) lalu. Sebelumnya gelaran yang diselenggarakan oleh lajnah falakiyyah al-Kawaakib pondok pesantren Mamba’ul Ihsan Karanganyar bekerja sama dengan Badan Hisab dan Rukyat (BHR) Daerah Kebumen dan lembaga falakiyyah PCNU Kebumen itu telah disosialisasikan ke publik lewat beragam cara. Mulai dari media sosial di bawah tagar (hashtag) #GerhanadiKebumen, media cetak melalui wawancara dan opini hingga media elektronik melalui siaran televisi lokal.

Gambar 1. Matahari dalam berbagai waktu yang berbeda sepanjang durasi Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016, yang nampak di Kebumen sebagai gerhana sebagian. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 1. Matahari dalam berbagai waktu yang berbeda sepanjang durasi Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016, yang nampak di Kebumen sebagai gerhana sebagian. Sumber: Sudibyo, 2016.

Sosialisasi dan publikasi yang lumayan massif dikombinasikan dengan intensifnya publikasi even GMT 2016 dalam lingkup nasional nampaknya menggamit ketertarikan masyarakat Kabupaten Kebumen. Rencana shalat Gerhana Matahari siap digelar dimana-mana mengacu pada jadwal yang panitia publikasikan. Bahkan calon-calon khatib shalat gerhana pun ramai menghubungi panitia, mencoba mencari bahan-bahan untuk pelaksanaan khutbah shalat Gerhana Matahari nanti.

Gelaran Nonton Bareng dan Shalat Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 ini mengambil bentuk berbeda dibandingkan even astronomi/ilmu falak sebelumnya di Kabupaten Kebumen. Kali ini pelibatan publik yang lebih luas lebih dimaksimalkan. Undangan untuk kalangan tertentu juga diajukan. Termasuk untuk sosok nomor satu di Kabupaten Kebumen, yakni Bupati Kebumen. Meski bupati tak hadir hingga gelaran berakhir, namun acara ini menggaet tak kurang dari seribuan orang. Menjadikannya even astronomi/iilmu falak terbesar sepanjang sejarah Kabupaten Kebumen.

GMT_gbr2_teleskop-gerhana

Gambar 2. Atas: salah satu teleskop iOptron Cube E-R80 yang digunakan untuk pengamatan. Teleskop ini dihubungkan dengan kamera CCD yang dicolokkan ke komputer jinjing. Bawah: hasil observasi teleskop yang langsung disajikan ke layar melalui proyektor. Nampak terlihat citra Matahari yang sudah 'robek' di bagian atas (sisi barat) karena tutupan cakram Bulan. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 2. Atas: salah satu teleskop iOptron Cube E-R80 yang digunakan untuk pengamatan. Teleskop ini dihubungkan dengan kamera CCD yang dicolokkan ke komputer jinjing. Bawah: hasil observasi teleskop yang langsung disajikan ke layar melalui proyektor. Nampak terlihat citra Matahari yang sudah ‘robek’ di bagian atas (sisi barat) karena tutupan cakram Bulan. Sumber: Sudibyo, 2016.

Agar mampu melayani publik dalam jumlah besar, dua teleskop semi-robotik refraktor yakni iOptron Cube E-R80 pun dikerahkan, masing-masing di dua titik yang berbeda. Di salah satu titik, teleskop tersebut dilengkapi dengan kamera CCD yang langsung tersambung dengan perangkat komputer jinjing dan proyektor, sehingga hasil bidikan teleskop langsung tersaji pada satu titik di dalam kompleks masjid. Selain mengujicoba sistem observasi secara elektronik, konfigurasi ini juga ditujukan agar kelak bisa dikembangkan ke arah live streaming untuk peristiwa astronomi/ilmu falak di masa depan. Disamping kedua teleskop tersebut, sebuah teleskop manual Celestron Astromaster 130EQ juga dipasang. Kacamata Matahari pun turut disediakan dalam tempat tersendiri.

Gambar 3. Citra radar cuaca dari stasiun geofisika BMKG Yogyakarta untuk 9 Maret 2016 TU pukul 07:00 WIB. Nampak segenap Kabupaten kebumen bebas dari tutupan awan maupun kabut. Sumber: BMKG, 2016.

Gambar 3. Citra radar cuaca dari stasiun geofisika BMKG Yogyakarta untuk 9 Maret 2016 TU pukul 07:00 WIB. Nampak segenap Kabupaten Kebumen bebas dari tutupan awan maupun kabut. Sumber: BMKG, 2016.

Langit yang cerah mendukung suksesnya gelaran ini. Meski gerimis sempat mengguyur di malam sebelumnya, namun sejak Rabu dinihari awan-awan telah menyibak. Bintang-bintang dan beberapa planet terang pun terlihat, memudahkan panitia dalam mengkalibrasi radas-radas. Citra radar cuaca dari stasiun geofisika BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) Yogyakarta per pukul 07:00 WIB memperlihatkan ruang udara Kabupaten Kebumen relatif bersih dari awan. Ini kontras bila dibandingkan misalnya dengan Yogyakarta dan sekitarnya yang ditutupi kabut tipis. Langit yang cerah membuat publik pun berduyun-duyun mendatangi kompleks Masjid al-Mujahidin sejak sebelum pukul 06:00 WIB. Shalat Gerhana Matahari diselenggarakan pukul 06:30 WIB, atau hanya sepuluh menit setelah cakram Bulan terdeteksi mulai bersentuhan dengan bundaran Matahari dalam layar proyeksi. Shalat gerhana lantas disusul dengan khutbah gerhana yang secara keseluruhan memakan waktu 30 menit.

Gambar 4. Pelaksanaan shalat gerhana dalam gelaran Nonton Bareng dan Shalat Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 di Masjid al-Mujahidin Karanganyar, Kebumen (Jawa Tengah). Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 4. Pelaksanaan shalat gerhana dalam gelaran Nonton Bareng dan Shalat Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 di Masjid al-Mujahidin Karanganyar, Kebumen (Jawa Tengah). Sumber: Sudibyo, 2016.

Tahap-tahap Gerhana Matahari yang teramati dalam gelaran ini relatif konsisten dengan apa yang sebelumnya diperhitungkan dengan bantuan perangkat lunak Emapwin 1.21 karya Shinobu Takesako. Awal gerhana terdeteksi terjadi pada pukul 06:20 WIB atau konsisten dengan hasil perhitungan. Sementara akhir gerhana terdeteksi terjadi semenit lebih cepat dibanding hasil perhitungan, yakni pukul 08:33 WIB. Dengan demikian durasi gerhana yang terlihat adalah 133 menit. Kendala teknis yang mendadak muncul saat perekaman sedang dilakukan membuat kapan puncak gerhana terjadi tak bisa terdeteksi dengan baik.

Gambar 5. Salah satu hasil rekaman video dalam gelaran Nonton Bareng dan Shalat Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016. Nampak bundaran Matahari kian 'robek' akibat cakram Bulan yang terus merasuk. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 5. Salah satu hasil rekaman video dalam gelaran Nonton Bareng dan Shalat Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016. Nampak bundaran Matahari kian ‘robek’ akibat cakram Bulan yang terus merasuk. Sumber: Sudibyo, 2016.

Fenomena lain yang juga konsisten dengan apa yang telah diprakirakan sebelumnya adalah meredupnya langit. Perbandingan antara citra (foto) lingkungan saat diperhitungkan puncak gerhana terjadi dengan lingkungan yang sama setengah jam sebelumnya secara gamblang memperlihatkan bagaimana langit memang meredup.

Gambar 6. Dua citra yang diambil lewat kamera dengan setting yang sama dan lokasi yang sama namun pada jam yang berbeda dengan jelas menunjukkan bagaimana perubahan dramatis pencahayaan Matahari selama gerhana. Kiri: 20 menit sebelum puncak gerhana. Kanan: tepat saat puncak gerhana. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 6. Dua citra yang diambil lewat kamera dengan setting yang sama dan lokasi yang sama namun pada jam yang berbeda dengan jelas menunjukkan bagaimana perubahan dramatis pencahayaan Matahari selama gerhana. Kiri: 20 menit sebelum puncak gerhana. Kanan: tepat saat puncak gerhana. Sumber: Sudibyo, 2016.

Pembaharuan: Gerhana Matahari dan Konjungsi (Ijtima’)

Salah satu temuan menarik dalam gelaran ini adalah hubungan Gerhana Matahari dengan konjungsi Bulan-Matahari (ijtima’). Telah menjadi pengetahuan bersama bahwa dalam kondisi normal, peristiwa konjungsi Bulan-Matahari nyaris mustahil untuk disaksikan, kecuali dalam kasus khusus. Nah Gerhana Matahari kerap disebut sebagai kasus khusus tersebut, menjadikannya peristiwa konjungsi Bulan-Matahari yang bisa disaksikan manusia.

Dalam peradaban manusia konjungsi Bulan-Matahari memiliki peranan penting khususnya dalam ranah kultural dan religius, yakni untuk kepentingan sistem penanggalan (kalender). Misalnya bagi Umat Islam, peristiwa konjungsi Bulan-Matahari merupakan titik acuan (titik nol) bagi parameter umur Bulan. Umur Bulan didefinisikan sebagai selang masa (waktu) sejak peristiwa konjungsi Bulan-Matahari hingga saat tertentu yang umumnya adalah saat Matahari terbenam (ghurub). Di Indonesia, penentuan awal bulan kalender Hijriyyah yang berbasis hisab (perhitungan) dengan acuan “kriteria” imkan rukyat revisi menyertakan elemen umur Bulan sebagai salah satu syarat. Dimana umur Bulan harus minimal 8 jam. Sementara hisab yang lain yang mengacu “kriteria” wujudul hilaal pun menjadikan umur Bulan sebagai salah satu syarat, meski tak langsung. Yakni umur Bulan harus lebih besar dari 0 (nol) jam.

Dalam hisab dikenal ada tiga kelompok sistem hisab. Kelompok termutakhir dinamakan sistem hisab kontemporer (haqiqi bittahqiq), yang perhitungannya telah melibatkan serangkaian persamaan kompleks yang membentuk algoritma. Pada dasarnya hisab kontemporer adalah perhitungan astronomi modern yang telah disesuaikan untuk aspek-aspek ilmu falak. Sistem hisab kontemporer didaku sebagai sistem hisab yang paling akurat, dengan kemelesetan terhadap observasi hanya dalam orde detik.

Beragam sistem hisab kontemporer memperlihatkan konjungsi Bulan-Matahari akan terjadi pada Rabu 9 Maret 2016 TU pukul 08:54 WIB. Peristiwa ini berlaku universal untuk semua titik di paras Bumi. Sementara perhitungan berbasis Emapwin 1.21 dengan titik acu di kota Kebumen, Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah) memberikan hasil bahwa awal gerhana akan terjadi pukul 06:20 WIB. Sedangkan puncak gerhana pada pukul 07:23 WIB dan akhir gerhana pada pukul 08:34 WIB. Hasil observasi dalam gelaran Nonton Bareng & Shalat Gerhana Matahari 9 Maret 2016 di kompleks Masjid al-Mujahidin Karanganyar Kebumen memperlihatkan awal gerhana terjadi sesuai perhitungan, yakni pukul 06:20 WIB. Sementara akhir gerhana pada pukul 08:33 WIB atau semenit lebih cepat ketimbang hasil perhitungan.

Terlihat jelas bahwa bahkan pada saat Gerhana Matahari sudah usai di Kebumen, ternyata konjungsi Bulan-Matahari belum terjadi (!) Padahal peristiwa langka inilah yang kerap digadang-gadang sebagai momen dimana konjungsi Bulan-Matahari dapat dilihat. Sepanjang pengalaman saya pribadi, ini bukan yang pertama. Dalam Gerhana Matahari 26 Januari 2009 pun terjadi hal serupa. dengan titik observasi di kota Cirebon (propinsi Jawa Barat), saat itu awal gerhana teramati terjadi pada pukul 15:21 WIB. Perhitungan berbasis Emapwin 1.21 juga menyajikan angka serupa. Puncak gerhana diperhitungkan terjadi pada pukul 16:40 WIB yang juga terdeteksi dalam observasi meski Matahari mulai ditutupi awan. Tutupan awan pula yang membuat akhir gerhana tidak teramati. Sebaliknya perhitungan sistem hisab kontemporer menunjukkan konjungsi Bulan-Matahari terjadi pada pukul 14:55 WIB atau sebelum Gerhana Matahari terjadi (!)

Gambar 7. Perbandingan observasi dua Gerhana Matahari, yakni antara Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 (terlihat di karanganyar Kebumen sebagai gerhana sebagian) dan Gerhana Matahari Cincin 26 Januari 2009 (terlihat di Cirebon sebagai gerhana sebagian). Dua observasi ini memperlihatkan dengan jelas bahwa konjungsi (dalam hal ini sejatinya konjungsi geosentrik) berselisih waktu terhadap peristiwa Gerhana Matahari. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 7. Perbandingan observasi dua Gerhana Matahari, yakni antara Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 (terlihat di karanganyar Kebumen sebagai gerhana sebagian) dan Gerhana Matahari Cincin 26 Januari 2009 (terlihat di Cirebon sebagai gerhana sebagian). Dua observasi ini memperlihatkan dengan jelas bahwa konjungsi (dalam hal ini sejatinya konjungsi geosentrik) berselisih waktu terhadap peristiwa Gerhana Matahari. Sumber: Sudibyo, 2016.

Mengapa ketidaksesuaian ini terjadi?

Masalahnya bukan pada sistem hisabnya. Namun lebih pada bagaimana kita mendefinisikan peristiwa konjungsi Bulan-Matahari. Sejatinya terdapat dua jenis konjungsi Bulan-Matahari. Yang pertama adalah konjungsi geosentris Bulan-Matahari (ijtima’ hakiki), yakni peristiwa dimana Matahari dan Bulan terletak dalam satu garis bujur ekliptika yang sama ditinjau dari titik di pusat (inti) Bumi. Dalam terminologi ini Bumi dianggap sebagai titik kecil tanpa volume. Sehingga saat terjadinya konjungsi geosentris Bulan-Matahari adalah sama bagi segenap koordinat manapun di paras (permukaan) Bumi. Dan yang kedua konjungsi toposentris Bulan-Matahari (ijtima’ mar’i), sebagai peristiwa dimana Matahari dan Bulan terletak dalam satu garis bujur ekliptika yang sama ditinjau dari satu titik di paras Bumi. Dalam konjungsi toposentris ini Bumi dianggap sebagai bola besar bervolume dengan jari-jari 6.378 kilometer. Konjungsi toposentris bersifat khas untuk suatu titik koordinat, sehingga antara suatu tempat dengan tempat yang lain akan berbeda.

Konjungsi geosentris Bulan-Matahari jauh lebih populer ketimbang konjungsi toposentris Bulan-Matahari. Saat berbicara awal bulan suci Ramadhan dan/atau dua hari raya (Idul Fitri/Idul Adha), yang dimaksud “konjungsi” selalu mengacu pada konjungsi geosentris. Namun observasi Gerhana Matahari memperlihatkan konjungsi geosentris tak berlaku bagi setiap titik koordinat di paras Bumi. Konjungsi toposentris-lah yang berlaku (dan lebih rasional). Hal ini seyogyanya berimplikasi pada redefinisi (pendefinisian ulang) konsep konjungsi (ijtima’) yang selama ini diterapkan dalam penentuan awal bulan kalender Hijriyyah. Baik di Indonesia maupun negara-negara Islam/berpenduduk mayoritas Muslim lainnya.