Ledakan Besar di Gemeksekti Kebumen, Sebuah Catatan Singkat

Senin siang 19 Juni 2017 Tarikh Umum (TU), bertepatan dengan 24 Ramadhan 1438 H, menjelang waktu Dhuhur, warga kota Kebumen di Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah) digemparkan dengan gelegar suara ledakan yang sangat keras. Ledakan tersebut datang dari kawasan halaman-belakang kota sisi utara, terjadi sekitar pukul 10:30 WIB. Saksi mata melaporkan terdengar sedikitnya dua suara ledakan dengan yang terkeras adalah ledakan kedua. Akibat dari ledakan ini, sedikitnya 17 bangunan tempat tinggal dan masjid yang berlokasi dusun Semelang desa Gemeksekti mengalami aneka kerusakan ringan. Mulai dari pecahnya kaca-kaca jendela dan pintu hingga retaknya eternit dan dinding (tembok). Sebagian warga sempat dibikin panik dan membanjiri balai desa setempat.

Gambar 1. Detik-detik menjelang Ledakan Gemeksekti, saat mercon hasil razia mulai dimusnahkan dengan cara dibakar. Nampak ledakan pertama di sisi kanan, yang diduga memicu ledakan kedua dalam beberapa detik kemudian. Sumber: Kebumen Ekspres, 2017.

Catatan singkat ini dibangun melalui analisis jarak jauh, dengan kondisi yang diidealkan dan tanpa tinjauan ke lokasi. Sehingga kemungkinan terjadi kondisi yang berbeda antara hasil catatan ini dengan senyatanya tetap berpeluang terjadi.

Mercon

Penyebab ledakan tersebut tidaklah misterius dan sudah diketahui sejak awal. Yakni tumpukan petasan (mercon) dalam jumlah yang cukup banyak produk razia petasan yang digencarkan Polres Kebumen selama bulan Ramadhan 1438 H. Satu saksi mata melaporkan terdapat sekitar 10 karung petasan yang hendak dimusnahkan. Demam mercon selalu mewabah di Kebumen setiap kali bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri tiba. Namun dalam beberapa tahun terakhir Polres Kebumen menggencarkan razia terhadap ‘asesoris Lebaran’ yang sejatinya dikategorikan sebagai bahan peledak kelompok low explosives itu.

Sebagai titik pemusnahan seluruh mercon hasil razia, dipilih satu sudut di dusun Semelang desa Gemeksekti. Tepatnya pada lereng sebuah bukit batu kapur yang sedang ditambang hingga membentuk dinding tegak yang menyajikan lapisan-lapisan bebatuan khas formasi Penosogan dan juga ketampakan sesar (patahan) turun. Lokasi ini nampaknya dipilih karena selain dekat dengan kota Kebumen (dimana Markas Polres berada) juga dianggap terlindung. Karena berada di cekungan produk penambangan dan berjarak minimal 100 meter dari rumah terdekat. Sehingga dampak ledakannya dianggap akan ternetralisir oleh struktur cekungan. Pemusnahan dilakukan dengan cara menaruh seluruh mercon hasil razia di paras tanah di udara terbuka untuk kemudian dibakar.

Gambar 2. Lokasi titik ledak dalam Ledakan Gemeksekti dalam beberapa jam kemudian yang masih ramai dikunjungi warga. Nampak kertas sisa-sisa meron yang dimusnahkan masih berserakan. Di latar belakang nampak dinding tegak hasil penambangan batu kapur, menampilkan lapisan-lapisan bebatuan dan sebuah sesar turun. Sumber: Kebumen Ekspres, 2017.

Perhitungan Dampak

Siapa sangka, proses pemusnahan ini justru berujung dengan ledakan sangat keras. Dan merusak. Tak ada korban luka-luka, apalagi korban jiwa, yang ditimbulkannya. Namun sedikitnya 17 bangunan rumah dan 1 masjid mengalami kerusakan. Seluruh bangunan tersebut terletak di sisi timur hingga timur laut dari titik ledakan. Getaran mirip gempa terasakan hingga sekitar 1 kilometer dari lokasi ledakan.

Hampir dapat dipastikan bahwa kerusakan-kerusakan dan getaran tersebut diakibatkan oleh penjalaran gelombang kejut (shockwave) dari ledakan. Bukan karena konversi energi ledakan menjadi energi seismik yang lantas menjalar di tanah sebagai gelombang seismik (gempa), karena nilai konversi itu sangat kecil. Gelombang kejut adalah tekanan tak-kasat mata yang diekspresikan oleh nilai tekanan-lebih (overpressure), yakni selisih antara tekanan gelombang kejut terhadap tekanan atmosfer standar (diidealkan pada paras air laut rata-rata). Nilai overpressure itu bisa mulai dari sekecil 200 Pascal (Pa, 1 Pa = 1 Newton/meter2) dengan dampak minimal yakni hanya menggetarkan kaca jendela dan berkemungkinan meretakkan kisi-kisinya. Namun bisa juga sebesar 1 MegaPascal (1.000.000 Pa) dengan dampak sangat mematikan bagi manusia, karena mampu memutilasi tubuh kita tanpa ampun.Parah tidaknya dampak gelombang kejut bergantung kepada jaraknya terhadap titik ledakan. Sebab nilai overpressure berbanding terbalik dengan bertambahnya jarak. Dan dalam kondisi tertentu bahkan ia bisa berbanding terbalik dengan kuadrat jarak dari titik ledakan.

Masjid yang mengalami pecahnya kaca-kaca pintu dan jendela dalam ledakan ini berjarak 160 meter dari titik ledakan. Dengan anggapan bahwa ledakan terjadi di udara terbuka tanpa halangan, maka dapat perhitungan dengan persamaan-persamaan gelombang kejut memprakirakan bahwa kekuatan ledakan adalah sekitar 25 kg TNT. Perhitungan dengan persamaan yang sama memperlihatkan gelombang kejut ledakan sanggup memecahkan gendang telinga manusia jika berdiri pada jarak 14 meter dari titik ledak. Ia juga sanggup menjatuhkan orang yang sedang berdiri tegak, jika berada pada jarak 37 meter dari titik ledak. Gelombang kejut yang sama juga mampu meremukkan kaca-kaca jendela pada jarak 107 meter dari titik ledak. Bahkan gelombang kejut ini pun masih sanggup menggetarkan kaca-kaca jendela hingga jarak 875 meter dari titik ledak.

Gambar 3. Hasil perhitungan dampak papasan gelombang kejut Ledakan Gemeksekti, dipilih untuk dampak tertentu, yang diplot ke dalam peta. Sumber: Sudibyo, 2017.

Saat angka-angka hasil perhitungan tersebut diplot ke dalam peta, nyatalah bahwa saat radius 160 meter ditarik dari titik ledakan, terdapat sekurangnya 15 bangunan yang terdeteksi berada dalam radius tersebut. Termasuk sebuah masjid. Seluruh bangunan itu berada di sisi timur laut dari titik ledakan. Dari sini terlihat bahwa hasil perhitungan tersebut nampaknya bersesuaian dengan data bangunan yang mengalami kerusakan di lapangan.

Harus digarisbawahi bahwa perhitungan di atas bersandar pada kondisi ideal, yakni titik ledak di udara terbuka. Dalam realitanya, titik ledak pada Ledakan Gemeksekti ini berada tepat di sisi sebuah tebing tegak hasil penambangan batu kapur. Kontur tanah di sekeliling titik ledak juga lebih tinggi, kecuali ke arah timur laut yang lebih terbuka. Sehingga gelombang kejut ledakan nampaknya terfokus hanya mengarah ke sisi timur laut saja, tidak ke arah-arah mataangin yang lain. Gelombang kejut yang terfokus hanya ke satu sisi juga membawa implikasi bahwa peledak yang digunakan memiliki kekuatan lebih kecil. Artinya Ledakan Gemeksekti mungkin ditimbulkan oleh akumulasi mercon yang totalnya kekuatannya tak sampai mencapai 25 kilogram TNT.

Catatan

Mercon tergolong ke dalam peledak low explosives, karena memiliki kecepatan peledakan yang jauh lebih kecil ketimbang kecepatan suara. Namun di sisi lain, mercon dikenal takstabil. Paparan panas atau tekanan sedikit saja sudah cukup untuk membuatnya bereaksi dan mengalami peristiwa mirip detonasi yang disebut deflagrasi. Rekaman video dalam peristiwa Ledakan Gemeksekti memperlihatkan nampaknya terjadi semacam ‘reaksi berantai’ saat pembakaran pemusnahan mercon hasil razia tak berlangsung secara serempak di setiap titik. Akibatnya kala ledakan pertama terjadi, ia mengirimkan gelombang kejut yang cukup kuat kepada tumpukan mercon disebelahnya (yang belum terbakar). Paparan gelombang kejut ini membuat tumpukan tersebut spontan bereaksi dengan melibatkan massa peledak yang jauh lebih besar.

Razia dan pemusnahan mercon, di satu sisi memang memiliki dilema tersendiri. Dengan sifat takstabilnya, ia tak bisa disimpan di satu lokasi dalam jangka waktu lama. Sementara kegiatan pemusnahannya sendiri juga beresiko, terlebih bila dibakar. Berbelas tahun silam anggota Polres Purworejo (di sebelah timur Kebumen) gugur kala memusnahkan mercon hasil razia dengan pembakaran. Pemusnahan dengan cara lain, misalnya direndam air, juga tak efektif karena begitu kandungan air mengering maka mercon dapat memiliki kemampuan eksplosifnya kembali.

Mengingat sifat paparan gelombang kejutnya terlebih lagi jika massa merconnya cukup besar, maka kegiatan pemusnahan mercon seyogyanya dikelola sedemikian rupa sehingga meminimalkan dampak paparan gelombang kejut ke lingkungan sekitar khususnya dalam arah mendatar. Misalnya, dengan menempatkan mercon hasil razia ke dalam sebuah lubang mirip liang lahat. Sehingga tatkala terjadi deflagrasi, paparan gelombang kejut ke arah horizontal teredam sepenuhnya oleh dinding-dinding tanah liang tersebut. Hanya meloloskan gelombang kejut ke arah vertikal.

Catatan Tambahan

Informasi dari Polres Kebumen: terdapat ribuan mercon yang berhasil disita dalam razia sejak awal Ramadhan 1438 H di Kabupaten Kebumen. Hampir semuanya diperlakukan sebagai bahan peledak low explosive, sehingga isinya (bahan mercon) dikeluarkan. Secara akumulatif terkumpul tak kurang dari 287 kilogram bahan mercon. Pemusnahan dilaksanakan dengan cara menabur bahan mercon di permukaan tanah dalam dua kelompok, untuk kemudian dibakar.

Normalnya pada proses pembakaran di udara terbuka, bahan mercon hanya akan terbakar saja tanpa meledak (berbeda jika berada di dalam selongsong). Namun diindikasikan ketebalan bahan mercon yang ditabur pada kelompok kedua masih terlalu tebal. Sehingga tatkala lapisan bagian atas terbakar, bagian bawahnya masih cukup terkungkung saat tersambar api sehingga masih mampu meledak. Maka cukup rasional untuk mengatakan bahwa Ledakan Gemeksekti diakibatkan oleh deflagrasi peledak low explosive yang kekuatannya setara dengan 25 kilogram trinitrotoluena (TNT).

Referensi:

Kinney & Graham. 1985. Explosive Shocks in the Air. Springer-Verlag, New York, 2nd edition.

Laman Kebumen Ekspres. Detik-Detik Ledakan Gemeksekti. 19 Juni 2017.

Sang Surya Meredup di Kebumen, Notasi Gerhana Matahari 9 Maret 2016

Gelaran Nonton Bareng dan Shalat Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 yang dihelat di kompleks Masjid al Mujahidin Kauman, Karanganyar Kab. Kebumen (propinsi Jawa Tengah) akhirnya terlaksana dengan sukses pada Rabu 9 Maret 2016 Tarikh Umum (TU) lalu. Sebelumnya gelaran yang diselenggarakan oleh lajnah falakiyyah al-Kawaakib pondok pesantren Mamba’ul Ihsan Karanganyar bekerja sama dengan Badan Hisab dan Rukyat (BHR) Daerah Kebumen dan lembaga falakiyyah PCNU Kebumen itu telah disosialisasikan ke publik lewat beragam cara. Mulai dari media sosial di bawah tagar (hashtag) #GerhanadiKebumen, media cetak melalui wawancara dan opini hingga media elektronik melalui siaran televisi lokal.

Gambar 1. Matahari dalam berbagai waktu yang berbeda sepanjang durasi Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016, yang nampak di Kebumen sebagai gerhana sebagian. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 1. Matahari dalam berbagai waktu yang berbeda sepanjang durasi Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016, yang nampak di Kebumen sebagai gerhana sebagian. Sumber: Sudibyo, 2016.

Sosialisasi dan publikasi yang lumayan massif dikombinasikan dengan intensifnya publikasi even GMT 2016 dalam lingkup nasional nampaknya menggamit ketertarikan masyarakat Kabupaten Kebumen. Rencana shalat Gerhana Matahari siap digelar dimana-mana mengacu pada jadwal yang panitia publikasikan. Bahkan calon-calon khatib shalat gerhana pun ramai menghubungi panitia, mencoba mencari bahan-bahan untuk pelaksanaan khutbah shalat Gerhana Matahari nanti.

Gelaran Nonton Bareng dan Shalat Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 ini mengambil bentuk berbeda dibandingkan even astronomi/ilmu falak sebelumnya di Kabupaten Kebumen. Kali ini pelibatan publik yang lebih luas lebih dimaksimalkan. Undangan untuk kalangan tertentu juga diajukan. Termasuk untuk sosok nomor satu di Kabupaten Kebumen, yakni Bupati Kebumen. Meski bupati tak hadir hingga gelaran berakhir, namun acara ini menggaet tak kurang dari seribuan orang. Menjadikannya even astronomi/iilmu falak terbesar sepanjang sejarah Kabupaten Kebumen.

GMT_gbr2_teleskop-gerhana

Gambar 2. Atas: salah satu teleskop iOptron Cube E-R80 yang digunakan untuk pengamatan. Teleskop ini dihubungkan dengan kamera CCD yang dicolokkan ke komputer jinjing. Bawah: hasil observasi teleskop yang langsung disajikan ke layar melalui proyektor. Nampak terlihat citra Matahari yang sudah 'robek' di bagian atas (sisi barat) karena tutupan cakram Bulan. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 2. Atas: salah satu teleskop iOptron Cube E-R80 yang digunakan untuk pengamatan. Teleskop ini dihubungkan dengan kamera CCD yang dicolokkan ke komputer jinjing. Bawah: hasil observasi teleskop yang langsung disajikan ke layar melalui proyektor. Nampak terlihat citra Matahari yang sudah ‘robek’ di bagian atas (sisi barat) karena tutupan cakram Bulan. Sumber: Sudibyo, 2016.

Agar mampu melayani publik dalam jumlah besar, dua teleskop semi-robotik refraktor yakni iOptron Cube E-R80 pun dikerahkan, masing-masing di dua titik yang berbeda. Di salah satu titik, teleskop tersebut dilengkapi dengan kamera CCD yang langsung tersambung dengan perangkat komputer jinjing dan proyektor, sehingga hasil bidikan teleskop langsung tersaji pada satu titik di dalam kompleks masjid. Selain mengujicoba sistem observasi secara elektronik, konfigurasi ini juga ditujukan agar kelak bisa dikembangkan ke arah live streaming untuk peristiwa astronomi/ilmu falak di masa depan. Disamping kedua teleskop tersebut, sebuah teleskop manual Celestron Astromaster 130EQ juga dipasang. Kacamata Matahari pun turut disediakan dalam tempat tersendiri.

Gambar 3. Citra radar cuaca dari stasiun geofisika BMKG Yogyakarta untuk 9 Maret 2016 TU pukul 07:00 WIB. Nampak segenap Kabupaten kebumen bebas dari tutupan awan maupun kabut. Sumber: BMKG, 2016.

Gambar 3. Citra radar cuaca dari stasiun geofisika BMKG Yogyakarta untuk 9 Maret 2016 TU pukul 07:00 WIB. Nampak segenap Kabupaten Kebumen bebas dari tutupan awan maupun kabut. Sumber: BMKG, 2016.

Langit yang cerah mendukung suksesnya gelaran ini. Meski gerimis sempat mengguyur di malam sebelumnya, namun sejak Rabu dinihari awan-awan telah menyibak. Bintang-bintang dan beberapa planet terang pun terlihat, memudahkan panitia dalam mengkalibrasi radas-radas. Citra radar cuaca dari stasiun geofisika BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) Yogyakarta per pukul 07:00 WIB memperlihatkan ruang udara Kabupaten Kebumen relatif bersih dari awan. Ini kontras bila dibandingkan misalnya dengan Yogyakarta dan sekitarnya yang ditutupi kabut tipis. Langit yang cerah membuat publik pun berduyun-duyun mendatangi kompleks Masjid al-Mujahidin sejak sebelum pukul 06:00 WIB. Shalat Gerhana Matahari diselenggarakan pukul 06:30 WIB, atau hanya sepuluh menit setelah cakram Bulan terdeteksi mulai bersentuhan dengan bundaran Matahari dalam layar proyeksi. Shalat gerhana lantas disusul dengan khutbah gerhana yang secara keseluruhan memakan waktu 30 menit.

Gambar 4. Pelaksanaan shalat gerhana dalam gelaran Nonton Bareng dan Shalat Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 di Masjid al-Mujahidin Karanganyar, Kebumen (Jawa Tengah). Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 4. Pelaksanaan shalat gerhana dalam gelaran Nonton Bareng dan Shalat Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 di Masjid al-Mujahidin Karanganyar, Kebumen (Jawa Tengah). Sumber: Sudibyo, 2016.

Tahap-tahap Gerhana Matahari yang teramati dalam gelaran ini relatif konsisten dengan apa yang sebelumnya diperhitungkan dengan bantuan perangkat lunak Emapwin 1.21 karya Shinobu Takesako. Awal gerhana terdeteksi terjadi pada pukul 06:20 WIB atau konsisten dengan hasil perhitungan. Sementara akhir gerhana terdeteksi terjadi semenit lebih cepat dibanding hasil perhitungan, yakni pukul 08:33 WIB. Dengan demikian durasi gerhana yang terlihat adalah 133 menit. Kendala teknis yang mendadak muncul saat perekaman sedang dilakukan membuat kapan puncak gerhana terjadi tak bisa terdeteksi dengan baik.

Gambar 5. Salah satu hasil rekaman video dalam gelaran Nonton Bareng dan Shalat Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016. Nampak bundaran Matahari kian 'robek' akibat cakram Bulan yang terus merasuk. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 5. Salah satu hasil rekaman video dalam gelaran Nonton Bareng dan Shalat Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016. Nampak bundaran Matahari kian ‘robek’ akibat cakram Bulan yang terus merasuk. Sumber: Sudibyo, 2016.

Fenomena lain yang juga konsisten dengan apa yang telah diprakirakan sebelumnya adalah meredupnya langit. Perbandingan antara citra (foto) lingkungan saat diperhitungkan puncak gerhana terjadi dengan lingkungan yang sama setengah jam sebelumnya secara gamblang memperlihatkan bagaimana langit memang meredup.

Gambar 6. Dua citra yang diambil lewat kamera dengan setting yang sama dan lokasi yang sama namun pada jam yang berbeda dengan jelas menunjukkan bagaimana perubahan dramatis pencahayaan Matahari selama gerhana. Kiri: 20 menit sebelum puncak gerhana. Kanan: tepat saat puncak gerhana. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 6. Dua citra yang diambil lewat kamera dengan setting yang sama dan lokasi yang sama namun pada jam yang berbeda dengan jelas menunjukkan bagaimana perubahan dramatis pencahayaan Matahari selama gerhana. Kiri: 20 menit sebelum puncak gerhana. Kanan: tepat saat puncak gerhana. Sumber: Sudibyo, 2016.

Pembaharuan: Gerhana Matahari dan Konjungsi (Ijtima’)

Salah satu temuan menarik dalam gelaran ini adalah hubungan Gerhana Matahari dengan konjungsi Bulan-Matahari (ijtima’). Telah menjadi pengetahuan bersama bahwa dalam kondisi normal, peristiwa konjungsi Bulan-Matahari nyaris mustahil untuk disaksikan, kecuali dalam kasus khusus. Nah Gerhana Matahari kerap disebut sebagai kasus khusus tersebut, menjadikannya peristiwa konjungsi Bulan-Matahari yang bisa disaksikan manusia.

Dalam peradaban manusia konjungsi Bulan-Matahari memiliki peranan penting khususnya dalam ranah kultural dan religius, yakni untuk kepentingan sistem penanggalan (kalender). Misalnya bagi Umat Islam, peristiwa konjungsi Bulan-Matahari merupakan titik acuan (titik nol) bagi parameter umur Bulan. Umur Bulan didefinisikan sebagai selang masa (waktu) sejak peristiwa konjungsi Bulan-Matahari hingga saat tertentu yang umumnya adalah saat Matahari terbenam (ghurub). Di Indonesia, penentuan awal bulan kalender Hijriyyah yang berbasis hisab (perhitungan) dengan acuan “kriteria” imkan rukyat revisi menyertakan elemen umur Bulan sebagai salah satu syarat. Dimana umur Bulan harus minimal 8 jam. Sementara hisab yang lain yang mengacu “kriteria” wujudul hilaal pun menjadikan umur Bulan sebagai salah satu syarat, meski tak langsung. Yakni umur Bulan harus lebih besar dari 0 (nol) jam.

Dalam hisab dikenal ada tiga kelompok sistem hisab. Kelompok termutakhir dinamakan sistem hisab kontemporer (haqiqi bittahqiq), yang perhitungannya telah melibatkan serangkaian persamaan kompleks yang membentuk algoritma. Pada dasarnya hisab kontemporer adalah perhitungan astronomi modern yang telah disesuaikan untuk aspek-aspek ilmu falak. Sistem hisab kontemporer didaku sebagai sistem hisab yang paling akurat, dengan kemelesetan terhadap observasi hanya dalam orde detik.

Beragam sistem hisab kontemporer memperlihatkan konjungsi Bulan-Matahari akan terjadi pada Rabu 9 Maret 2016 TU pukul 08:54 WIB. Peristiwa ini berlaku universal untuk semua titik di paras Bumi. Sementara perhitungan berbasis Emapwin 1.21 dengan titik acu di kota Kebumen, Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah) memberikan hasil bahwa awal gerhana akan terjadi pukul 06:20 WIB. Sedangkan puncak gerhana pada pukul 07:23 WIB dan akhir gerhana pada pukul 08:34 WIB. Hasil observasi dalam gelaran Nonton Bareng & Shalat Gerhana Matahari 9 Maret 2016 di kompleks Masjid al-Mujahidin Karanganyar Kebumen memperlihatkan awal gerhana terjadi sesuai perhitungan, yakni pukul 06:20 WIB. Sementara akhir gerhana pada pukul 08:33 WIB atau semenit lebih cepat ketimbang hasil perhitungan.

Terlihat jelas bahwa bahkan pada saat Gerhana Matahari sudah usai di Kebumen, ternyata konjungsi Bulan-Matahari belum terjadi (!) Padahal peristiwa langka inilah yang kerap digadang-gadang sebagai momen dimana konjungsi Bulan-Matahari dapat dilihat. Sepanjang pengalaman saya pribadi, ini bukan yang pertama. Dalam Gerhana Matahari 26 Januari 2009 pun terjadi hal serupa. dengan titik observasi di kota Cirebon (propinsi Jawa Barat), saat itu awal gerhana teramati terjadi pada pukul 15:21 WIB. Perhitungan berbasis Emapwin 1.21 juga menyajikan angka serupa. Puncak gerhana diperhitungkan terjadi pada pukul 16:40 WIB yang juga terdeteksi dalam observasi meski Matahari mulai ditutupi awan. Tutupan awan pula yang membuat akhir gerhana tidak teramati. Sebaliknya perhitungan sistem hisab kontemporer menunjukkan konjungsi Bulan-Matahari terjadi pada pukul 14:55 WIB atau sebelum Gerhana Matahari terjadi (!)

Gambar 7. Perbandingan observasi dua Gerhana Matahari, yakni antara Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 (terlihat di karanganyar Kebumen sebagai gerhana sebagian) dan Gerhana Matahari Cincin 26 Januari 2009 (terlihat di Cirebon sebagai gerhana sebagian). Dua observasi ini memperlihatkan dengan jelas bahwa konjungsi (dalam hal ini sejatinya konjungsi geosentrik) berselisih waktu terhadap peristiwa Gerhana Matahari. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 7. Perbandingan observasi dua Gerhana Matahari, yakni antara Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 (terlihat di karanganyar Kebumen sebagai gerhana sebagian) dan Gerhana Matahari Cincin 26 Januari 2009 (terlihat di Cirebon sebagai gerhana sebagian). Dua observasi ini memperlihatkan dengan jelas bahwa konjungsi (dalam hal ini sejatinya konjungsi geosentrik) berselisih waktu terhadap peristiwa Gerhana Matahari. Sumber: Sudibyo, 2016.

Mengapa ketidaksesuaian ini terjadi?

Masalahnya bukan pada sistem hisabnya. Namun lebih pada bagaimana kita mendefinisikan peristiwa konjungsi Bulan-Matahari. Sejatinya terdapat dua jenis konjungsi Bulan-Matahari. Yang pertama adalah konjungsi geosentris Bulan-Matahari (ijtima’ hakiki), yakni peristiwa dimana Matahari dan Bulan terletak dalam satu garis bujur ekliptika yang sama ditinjau dari titik di pusat (inti) Bumi. Dalam terminologi ini Bumi dianggap sebagai titik kecil tanpa volume. Sehingga saat terjadinya konjungsi geosentris Bulan-Matahari adalah sama bagi segenap koordinat manapun di paras (permukaan) Bumi. Dan yang kedua konjungsi toposentris Bulan-Matahari (ijtima’ mar’i), sebagai peristiwa dimana Matahari dan Bulan terletak dalam satu garis bujur ekliptika yang sama ditinjau dari satu titik di paras Bumi. Dalam konjungsi toposentris ini Bumi dianggap sebagai bola besar bervolume dengan jari-jari 6.378 kilometer. Konjungsi toposentris bersifat khas untuk suatu titik koordinat, sehingga antara suatu tempat dengan tempat yang lain akan berbeda.

Konjungsi geosentris Bulan-Matahari jauh lebih populer ketimbang konjungsi toposentris Bulan-Matahari. Saat berbicara awal bulan suci Ramadhan dan/atau dua hari raya (Idul Fitri/Idul Adha), yang dimaksud “konjungsi” selalu mengacu pada konjungsi geosentris. Namun observasi Gerhana Matahari memperlihatkan konjungsi geosentris tak berlaku bagi setiap titik koordinat di paras Bumi. Konjungsi toposentris-lah yang berlaku (dan lebih rasional). Hal ini seyogyanya berimplikasi pada redefinisi (pendefinisian ulang) konsep konjungsi (ijtima’) yang selama ini diterapkan dalam penentuan awal bulan kalender Hijriyyah. Baik di Indonesia maupun negara-negara Islam/berpenduduk mayoritas Muslim lainnya.

Mitigasi Tsunami Kabupaten Kebumen, Mengelola Ancaman dari balik Pegunungan yang Tenggelam

Bagian kedua dari dua tulisan

Kabupaten Kebumen adalah sebuah wilayah administratif yang terletak di propinsi Jawa Tengah bagian selatan. Uratnadi utama pulau Jawa bagian selatan, baik jalur jalan raya nasional maupun jalan kereta api, melintas di dalam kabupaten yang berbatasan dengan Kabupaten Banyumas dan Cilacap di sisi barat serta Kabupaten Purworejo di sebelah timur ini. Di selatannya membentang luas perairan Samudera Indonesia (Hindia). Dalam perspektif ilmu kebumian Kabupaten Kebumen merupakan ‘surga’. Sebab pada sebuah zona sempit di dalam kawasan Pegunungan Serayu Selatan yang membentang di sisi utara kabupaten inilah, yang melingkupi wilayah kecamatan Karanggayam, Karangsambung dan Sadang, tersingkap bebatuan yang demikian penting artinya dalam ilmu kebumian. Berbagai batuan sedimen (endapan) dengan lapisan-lapisan yang kadang nyaris vertikal berjejeran dengan batuan malihan (metamorf) dan bongkahan-bongkahan batuan beku yang terlampar dalam wilayah tak terlalu luas. Normalnya pemandangan seperti ini hampir mustahil dijumpai.

Keunikan itu telah memukau cendekiawan sekelas Junghunn sejak satu setengah abad silam. Namun barulah mulai setengah abad lalu penyebabnya ditemukan, lewat kerja keras seorang Sukendar Asikin. Bebatuan campur aduk di Kebumen utara ternyata adalah bukti langsung dari teori tektonik lempeng. Inilah teori ‘aneh’ yang dikembangkan dari gagasan seorang Alfred Wegener sejak menjelang Perang Dunia pertama, namun baru menjumpai bukti-bukti penyokongnya berpuluh tahun kemudian. Bebatuan campur aduk itu seharusnya hanya bisa dijumpai di palung laut, salah satu ekspresi permukaan dari subduksi lempeng oseanik yang berberat jenis lebih tinggi dengan lempeng kontinental yang berat jenisnya lebih rendah. Maka jelas, Kebumen utara dulu-dulunya pernah merupakan palung laut purba.

Palung laut purba di Kebumen utara terbentuk setidaknya semenjak 120 juta tahun silam seiring subduksi lempeng Australia yang bergerak ke utara dengan lempeng Eurasia yang stabil. Subduksi purba ini aktif setidaknya hingga 65 juta tahun yang lalu. Sebelum kemudian bergeser tigaratusan kilometer lebih ke selatan, ke lokasi yang sekarang. Semenjak itu lambat laun kawasan ini mulai terangkat. Dari yang semula berada di dasar palung kemudian menjadi bagian dasar samudera nan dalam. Lantas terus terangkat menjadi bagian laut dangkal. Dan akhirnya tersembullah seluruhnya ke atas permukaan samudera bersamaan dengan terdongkraknya pulau Jawa hingga seperti sekarang. Aktivitas inilah yang membentuk bentanglahan Kebumen masakini dengan segala eksotikanya. Inilah yang menjadikan Kebumen sebagai laboratorium alam dan pusat pendidikan calon-calon ahli kebumian se-Indonesia bahkan se-Asia tenggara.

Palung laut lokasi subduksi modern yang aktif pada saat ini merentang sepanjang lepas pantai selatan Pulau Jawa sebagai kelanjutan dari palung laut sejenis di lepas pantai barat Pulau Sumatra. Dari pesisir selatan Kebumen, bentangan palung laut itu berjarak sekitar 250 kilometer. Nyaris tak ada penghalang alamiah apapun antara palung laut dengan daratan Kebumen, baik berupa jajaran pegunungan maupun perbukitan. Faktor inilah yang membuat Kabupaten Kebumen rentan terhadap bencana tsunami. Termasuk ancaman tsunami dahsyat produk gempa akbar (megathrust) yang bisa dibangkitkan zona subduksi Jawa. Dalam catatan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), Kabupaten Kebumen merupakan wilayah administratif terentan kedua terhadap bencana tsunami di antara 19 kabupaten/kota di seantero pesisir selatan pulau Jawa setelah kota Cilacap. Terdapat 220.800 jiwa penduduk Kebumen khususnya di 8 kecamatan yang beresiko terpapar tsunami. Dari barat ke timur, kedelapan kecamatan tersebut masing-masing adalah kecamatan Ayah, Buayan, Puring, Petanahan, Klirong, Buluspesantren, Ambal dan Mirit. Inilah yang membuat pengenalan akan peta bahaya tsunami dan peta evakuasi tsunami Kabupaten Kebumen serta langkah-langkah evakuasinya menjadi penting.

Pegunungan yang Tenggelam

Mengapa Kabupaten Kebumen demikian beresiko terhadap bencana tsunami?

Saat membuka peta pulau Jawa layangkan jemari anda di sepanjang pesisir selatan. Akan lebih baik jika peta tersebut adalah peta geografis atau peta rupabumi. Akan kita jumpai jajaran pegunungan yang membentang di mayoritas pesisir selatan pulau Jawa mulai dari Pelabuhan Ratu di sebelah barat hingga Semenanjung Blambangan di sebelah timur. Inilah jajaran Pegunungan Selatan, atau yang di Jawa bagian tengah dikenal pula sebagai Pegunungan Sewu. Kaki selatan pegunungan ini langsung menjadi garis pantai selatan pulau Jawa. Namun tidak dengan bentangan antara pantai Pangandaran di sebelah barat hingga pantai Parangtritis di sebelah timur. Di sini Pegunungan Selatan menghilang. Kecuali di Tanjung Karangbolong dan Pegunungan Menoreh (Kulonprogo) segenap bentangan ini merupakan dataran rendah luas yang cukup lebar. Dataran rendah semacam ini sangat jarang dijumpai di pulau Jawa bagian selatan. Inilah dataran rendah tempat berdirinya Kabupaten Kebumen, Cilacap, Purworejo, Kulonprogo, Bantul dan Kota Cilacap. Kenapa bisa demikian?

Gambar 1. Rona keseluruhan pulau Jawa seperti terlihat dalam citra satelit pada kanal cahaya tampak yang disajikan laman GoogleMaps. Garis putus-putus menunjukkan bila pesisir utara maupun selatan Jawa Barat (kecuali area Banten) diproyeksikan hingga Jawa Timur (kecuali area tapal kuda). Terlihat jelas betapa pesisir utara Jawa Tengah menjorok ke selatan dari garis proyeksi. Sebaliknya pesisir selatan Jawa Tengah menjorok ke utara dan Pegunungan Selatan menghilang, berganti dataran rendah Cilacap-Kebumen-Purworejo-Kulonprogo. Sumber: Sudibyo, 2015 dengan basis GoogleMaps.

Gambar 1. Rona keseluruhan pulau Jawa seperti terlihat dalam citra satelit pada kanal cahaya tampak yang disajikan laman GoogleMaps. Garis putus-putus menunjukkan bila pesisir utara maupun selatan Jawa Barat (kecuali area Banten) diproyeksikan hingga Jawa Timur (kecuali area tapal kuda). Terlihat jelas betapa pesisir utara Jawa Tengah menjorok ke selatan dari garis proyeksi. Sebaliknya pesisir selatan Jawa Tengah menjorok ke utara dan Pegunungan Selatan menghilang, berganti dataran rendah Cilacap-Kebumen-Purworejo-Kulonprogo. Sumber: Sudibyo, 2015 dengan basis GoogleMaps.

Di lain kesempatan, layangkan jemari anda menyusuri pesisir selatan pulau Jawa di tempat yang sama. Akan kita jumpai garis pantai yang membentang di antara pantai Pangandaran hingga pantai Parangtritis cukup ‘aneh.’ Sebab mereka melekuk/menjorok lebih ke utara ketimbang garis pantai selatan pulau Jawa sebelah-menyebelahnya. Lalu layangkan lagi jemari anda, kali ini susuri pesisir utara pulau Jawa mulai dari Jakarta hingga Surabaya. Lagi-lagi akan kita jumpai keanehan serupa di antara pantai Cirebon hingga pantai Semarang. Berkebalikan terhadap garis pantai di pesisir selatan kawasan yang sama, garis pantai pesisir utara di sini menjorok jauh ke selatan. Bila semenanjung Muria kita pisahkan dari konteks pembahasan pesisir utara pulau Jawa mengingat kedudukannya sebagai pulau vulkanis tersendiri yang awalnya terpisah dari daratan utama Jawa, maka keanehan itu akan kita jumpai mulai dari pantai Cirebon hingga pantai (purba) Rembang. Dengan mengecualikan kawasan Banten dan tapal kuda Jawa Timur, sepasang keanehan itu membuat bagian tengah pulau Jawa lebih ramping ketimbang tetangga sebelah barat maupun timurnya. Ada apa ini?

Sekarang mari bayangkan kita menyelami Samudera Indonesia di sebelah selatan Jawa Tengah. Bayangkan penyelaman dilakukan hingga ke dasar laut, hingga sejauh 50 km dari garis pantai. Akan kita dapati dasar laut di kawasan ini lebih dalam jika dibandingkan lepas pantai selatan Jawa Barat maupun Jawa Timur untuk jarak yang sama. Namun tidak seluruhnya dalam. Ada bagian yang lebih dangkal yang berbentuk segitiga dengan puncak segitiga tepat ujung Tanjung Karangbolong. Tepat di sisi barat segitiga ini merupakan dasar laut lebih dalam yang dinamakan Dalaman Barat (western deep), yang meliputi lepas pantai Cilacap hingga Pangandaran. Sebaliknya tepat di sisi timur segitiga itu terdapat Dalaman Timur (eastern deep), yang mencakup lepas pantai Kebumen hingga Bantul. Mengapa bisa seperti ini?

Keunikan ini telah menggayuti benak para ahli kebumian sejak lebih dari setengah abad silam, tepatnya sejak era van Bemmelen di tahun 1949 Tarikh Umum (TU). Namun baru di awal abad ke-21 TU ini jawabannya terkuak lewat kerja keras Awang Harun Satyana. Keunikan tersebut ternyata ditatah oleh aktivitas tektonik masa silam. Yakni lewat aktifnya sistem patahan besar Kebumen-Muria-Meratus dan sistem patahan besar Cilacap-Pamanukan-Lematang. Patahan besar Kebumen-Muria-Meratus membentang sepanjang lebih dari 1.000 kilometer. Ia bermula dari Tanjung Karangbolong masakini dan menerus ke arah timur laut melewati Semenanjung Muria dan dasar Laut Jawa hingga akhirnya berujung di Pegunungan Meratus (Kalimantan Selatan). Patahan besar ini bersifat geser kiri (left lateral). Artinya bila kita berdiri tepat di satu sisinya, maka sisi yang berseberangan dengan kita akan terlihat bergerak ke kiri. Seperti halnya semua patahan maupun patahan besar modern, gerakan ini senilai beberapa milimeter saja setahunnya. Namun dalam jangka waktu geologi, yakni jutaan tahun, nilai pergerakan itu akan menghasilkan pergeseran hingga puluhan atau bahkan ratusan kilometer.

Sementara sistem patahan besar Cilacap-Pamanukan-Lematang pun membentang hingga lebih dari 1.000 kilometer. Dimulai pulau Nusakambangan masa kini dan merentang ke arah barat laut melewati Pamanukan (Jawa Barat), dasar Laut Jawa, sisi utara Kepulauan Seribu dan berujung di Lematang (Sumatra Selatan). Berbeda dengan patahan besar Kebumen-Muria-Meratus, sistem patahan besar Cilacap-Pamanukan-Lematang ini bersifat geser kanan (right lateral). Beberapa bagian dari sistem patahan besar ini mungkin masih aktif di masakini, misalnya sesar Kroya (Cilacap) maupun sesar Baribis (Subang). Hal tersebut berbeda dengan sistem patahan besar Kebumen-Muria-Meratus, yang aktif mulai sekitar 65 juta tahun silam sehingga kini sudah sangat tua dan sepenuhnya mati.

Gambar 2. Diagram skematik sederhana yang memperlihatkan keberadaan sistem patahan besar Kebumen-Muria-Meratus dan Cilacap-Pamanukan-Lematang. Berpuluh juta tahun silam saat keduanya itu masih aktif sepenuhnya dengan arah gerak ditunjukkan oleh tanda panah kuning, gabungan aktivitas keduanya membuat sebagian pesisir selatan Jawa Tengah terangkat hingga 2.000 meter lalu terkunci (panah hitam). Sebagian zona pengangkatan kini tersisa sebagai karst Tanjung Karangbolong. Sementara sisi timur dan baratnya terbenam ke dasar laut. Sebaliknya pesisir utara Jawa Tengah juga turut terbenam, sebagai kompensasi isostatik. Sumber: Sudibyo, 2015 diadaptasi dari Satyana & Purwaningsih, 2002.

Gambar 2. Diagram skematik sederhana yang memperlihatkan keberadaan sistem patahan besar Kebumen-Muria-Meratus dan Cilacap-Pamanukan-Lematang. Berpuluh juta tahun silam saat keduanya itu masih aktif sepenuhnya dengan arah gerak ditunjukkan oleh tanda panah kuning, gabungan aktivitas keduanya membuat sebagian pesisir selatan Jawa Tengah terangkat hingga 2.000 meter lalu terkunci (panah hitam). Sebagian zona pengangkatan kini tersisa sebagai karst Tanjung Karangbolong. Sementara sisi timur dan baratnya terbenam ke dasar laut. Sebaliknya pesisir utara Jawa Tengah juga turut terbenam, sebagai kompensasi isostatik. Sumber: Sudibyo, 2015 diadaptasi dari Satyana & Purwaningsih, 2002.

Mari bayangkan kita kembali ke masa berjuta tahun silam, tatkala kedua sistem patahan besar yang berbeda itu masih aktif sepenuhnya. Kedua sistem patahan besar itu seakan membentuk sisi-sisi segitiga raksasa. Segitiga tersebut meliputi mayoritas daratan Jawa Tengah dan sisi timur daratan Jawa Barat. Seluruh segitiga ini didorong oleh kedua sistem patahan besar itu ke arah selatan. Akibatnya puncak segitiga raksasa itu, yang terletak di Tanjung Karangbolong masakini, pun didesak perlahan hingga membumbung naik sampai terkunci. Terjadilah pengangkatan hingga setinggi 2.000 meter dari posisinya semula. Sebagai konsekuensinya maka alas segitiga, yakni bentangan pesisir utara Jawa Tengah, terkena kompensasi isostatik yang membuatnya secara perlahan-lahan terbenam hingga di bawah paras Laut Jawa. Inilah yang menyebabkan garis pantai utara Jawa Tengah menjorok ke selatan.

Erosi selama berjuta tahun lantas memahat dan mengikis kawasan puncak segitiga raksasa ini. Namun saat ini pun kita masih bisa melihat sisa-sisanya sebagai karst Tanjung Karangbolong dengan puncak tertingginya 600 meter dpl (dari paras air laut). Dorongan yang sama juga yang membuat bebatuan campur aduk jejak palung purba terangkat dan tersingkap di Karangsambung-Karanggayam-Sadang. Lebih ke selatan lagi, aktivitas kedua sistem patahan besar itu membuat Pegunungan Selatan di bentangan Pangandaran-Parangtritis pun merosot jauh secara perlahan-lahan hingga akhirnya tenggelam di bawah paras air laut.

Aktivitas tektonik dan erosi terus membentuk rona rupabumi Kebumen. Erosi mengikis gunung dan pegunungan untuk kemudian menghanyutkan tanahnya ke sejumlah sungai. Saat sungai-sungai tersebut menuangkan airnya ke Samudera Indonesia, tanah pun turut terhanyut untuk kemudian mengendap sebagai massa tanah bergeometri menyerupai kipas. Sehingga dinamakan kipas endapan/kipas aluvial. Di ujung utara Tanjung Karangbolong terdapat kipas aluvial Gombong (KAG), hasil pengendapan sungai Jatinegara, Gombong, Kemit dan Kejawang (Karanganyar). Kota Gombong berdiri di atas kipas aluvial ini dengan elevasi 19 meter dpl. Di sebelah timurnya terdapat kipas aluvial Kebumen (KAK) yang membentang luas mulai dari Karanganyar, Buluspesantren utara hingga Kutowinangun. Kipas aluvial ini dibentuk sungai Luk Ulo. Ia tersusun dari batuan sedimen lempung berpasir (lempung pasiran) yang sangat baik untuk bahan baku batubata dan genteng. Maka tak mengherankan industri batubata dan genteng tumbuh dengan baik di sini. Kipas aluvial Kebumen juga menjadi landasan bagi berdirinya kota Kebumen, yang menempati elevasi 21 meter dpl. Dan di sebelah timurnya terdapat kipas aluvial Prembun (KAP), yang membentang hingga ke perbatasan Kebumen-Purworejo. Sungai membentuk kipas aluvial ini diantaranya adalah sungai Bedegolan dan Wawar.

Gambar 3. Rona dataran rendah Kabupaten Kebumen dalam citra satelit pada kanal cahaya tampak yang disajikan GoogleEarth. Terlihat lokasi delta purba yang kini merupakan kipas aluvial Gombong, kipas aluvial Kebumen dan kipas aluvial Prembun. Di sebelah selatan kipas-kipas aluvial ini terlihat kawasan pantai tua dan pantau muda. Kawasan rawan bencana tsunami di Kabupaten Kebumen mencakup kawasan pantai muda dan (sebagian) pantai tua ini. Sumber: Sudibyo, 2015 diadaptasi dari Ansori dkk, 2010.

Gambar 3. Rona dataran rendah Kabupaten Kebumen dalam citra satelit pada kanal cahaya tampak yang disajikan GoogleEarth. Terlihat lokasi delta purba yang kini merupakan kipas aluvial Gombong, kipas aluvial Kebumen dan kipas aluvial Prembun. Di sebelah selatan kipas-kipas aluvial ini terlihat kawasan pantai tua dan pantau muda. Kawasan rawan bencana tsunami di Kabupaten Kebumen mencakup kawasan pantai muda dan (sebagian) pantai tua ini. Sumber: Sudibyo, 2015 diadaptasi dari Ansori dkk, 2010.

Pada waktu yang sama aktivitas tektonik secara perlahan-lahan mengangkat sisi selatan pulau Jawa hingga menyembul ke atas paras air laut. Pertumbuhan kipas-kipas aluvial itu pun terhenti. Muara sungai-sungai pun bergeser lebih jauh ke selatan. Rawa-rawa sempat terbentuk di sana-sini. Namun lama kelamaan semuanya mengering dan tertimbun tanah yang terus dipasok sungai-sungai. Terbentuklah dataran rendah. Hembusan angin laut secara terus-menerus membentuk sejumlah pematang pantai, yakni bukit-bukit pasir yang merentang cukup panjang sejajar pantai. Di sela-sela pematang pantai terdapat lembah-lembah kecil. Dari garis pantai hingga 4 kilometer ke daratan merupakan kawasan pantai muda. Di sini terdapat 3 hingga 4 pematang pantai yang tingginya bervariasi antara 1 hingga 3 meter dari lembah disampingnya. Lembah-lembah tersebut umumnya menjadi kebun/sawah atau pemukiman. Namun ada pula yang dialiri sungai-sungai kecil. Seperti sungai Kejawan dan Rama di Puring yang mengalir ke kanal/sungai Telomoyo di barat. Juga sungai Aren dan Kating di Klirong yang mengalir ke timur menuju sungai Luk Ulo. Serta sungai Pucang dan Gede di Ambal dan Mirit, yang juga mengalir ke timur hingga bermuara ke sungai Wawar. Sementara antara 4 hingga 7 kilometer dari garis pantai ke daratan merupakan kawasan pantai tua. Terdapat sejumlah pematang pantai pula di sini, namun lebih landai. Di banyak tempat bahkan pematang-pematang pantainya sudah diratakan/didatarkan untuk pemukiman.

Pantai berdataran rendah inilah wajah dominan pesisir selatan Kabupaten Kebumen. Dari 58 kilometer garis pantai di kabupaten ini, 45 kilometer diantaranya merupakan pantai berdataran rendah. Inilah garis pantai yang menjadikan Kabupaten Kebumen demikian rentan akan tsunami.

Peta Bahaya dan Evakuasi

Pasca bencana tsunami 2006 yang menewaskan puluhan penduduk Kabupaten Kebumen serta menimbulkan kerugian material cukup besar, kebutuhan akan mitigasi bencana tsunami mulai mengemuka. Termasuk kebutuhan akan peta bahaya tsunami, yang hingga 2006 TU itu belum dimiliki Kabupaten Kebumen. Sebagai tindak lanjut kerjasama pemerintah Jerman (melalui Departemen Pendidikan dan Penelitian) dan Indonesia (melalui Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi) dalam payung GITEWS (German-Indonesia Tsunami Early Warning System), maka dibentuklah Kelompok Kerja Kebumen untuk Pemetaan Bahaya Tsunami. Kelompok kerja tersebut bertugas pada 2009 hingga 2010 TU dengan tujuan untuk menghasilkan dua peta. Peta pertama adalah peta bahaya tsunami (PBT) multiskenario bagi Kabupaten Kebumen hingga skala 1:25.000. Sementara peta kedua adalah peta evakuasi tsunami (PET) bagi Kabupaten Kebumen.

Kedua peta tersebut disusun sebagai bagian dari kerangka sistem peringatan dini tsunami Indonesia atau InaTEWS (Indonesia tsunami early warning system) di bawah BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika). Sistem peringatan dini ini mengenal tiga status. Status pertama adalah “Waspada” yang hanya berlaku untuk garis pantai dan tepi sungai. Status kedua adalah “Siaga” yang berlaku untuk kawasan zona merah. Dan status ketiga adalah “Awas” yang berlaku untuk kawasan zona kuning. Baik dalam peta bahaya tsunami maupun peta evakuasi tsunami Kabupaten Kebumen terdapat dua zona, yang dibentuk mengikuti tingkat peringatan BMKG. Zona pertama adalah zona merah, yang berlaku untuk status “Siaga.” Sementara zona kedua adalah zona kuning, berlaku bila BMKG mengeluarkan status “Awas.” Kedua peta tersebut disusun dengan memperhitungkan sejumlah aspek (geomorfologi, elevasi dan jarak dari pantai) tanpa mempertimbangkan hasil pemodelan genangan akibat invasi tsunami ke daratan.

Gambar 4. Tingkatan status tsunami beserta kode warnanya seperti disajikan sistem peringatan dini tsunami Indonesia (InaTEWS) yang berada di bawah Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Sumber: BMKG, 2015.

Gambar 4. Tingkatan status tsunami beserta kode warnanya seperti disajikan sistem peringatan dini tsunami Indonesia (InaTEWS) yang berada di bawah Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Sumber: BMKG, 2015.

Peta bahaya dan evakuasi tsunami Kabupaten Kebumen merupakan peta multiskenario. Gempa akbar (megathrust) menjadi salah satunya lewat tiga skenario gempa besar/akbar. Masing-masing adalah gempa hipotetik berkekuatan 7,5 skala magnitudo (SM), 8 SM dan 8,5 SM. Skenario lainnya yang dimasukkan adalah potensi tsunami dari longsoran besar bawah laut, baik yang menyertai kejadian gempa besar (seperti kasus Gempa Pangandaran 2006) maupun yang tidak. Faktor lainnya yang dipertimbangkan adalah invasinya ke daratan hingga menghasilkan genangan (inundation). Melambatnya kecepatan sisi muka tsunami, sementara sisi belakangnya masih melaju lebih cepat, membuat tinggi gelombang saat tiba di garis pantai mengalami run-up hingga belasan atau bahkan puluhan kali lipat lebih tinggi dibanding semula. Tsunami yang sudah meninggi inilah yang bakal menginvasi daratan yang tepat berhadapan dengan garis pantai.

Seberapa jauh invasi ke daratan terjadi sangat dipengaruhi oleh tinggi gelombang di garis pantai, bentuk pantai, topografi daratan di belakang pantai dan rapat tidaknya vegetasi (tumbuhan) di pantai. Makin tinggi tsunami saat tiba di garis pantai, maka makin jauh invasinya ke daratan. Pantai yang berlekuk-lekuk (berteluk) akan mengalami invasi tsunami lebih besar dibanding pantai datar, karena tsunami menjadi terakumulasi (terkumpul) dalam lekuk-lekuk tersebut. Demikian halnya pantai bermuara sungai akan mengalami invasi tsunami lebih besar, apalagi sungai menjadi jalan bebas hambatan bagi tsunami untuk merangsek ke darat. Dan dua pantai dengan bentuk sama persis akan bernasib berbeda kala tsunami melanda jika terdapat perbedaan dalam kerapatan tumbuhan di pantai. Semakin rapat tumbuhannya, maka peranannya mereduksi energi tsunami kian besar sehingga invasinya kian berkurang.

Zonasi

Peta bahaya tsunami dan peta evakuasi Kabupaten Kebumen telah memasukkan faktor-faktor tersebut. Saat diterapkan ke segenap garis pantai Kabupaten Kebumen, dijumpai tiga kawasan. Kawasan pertama adalah Tanjung Karangbolong. Di sini zona merah dan zona kuning hanya mencakup area sempit selebar garis pantai. Bila terjadi tsunami dengan status “Siaga” maupun “Awas”, maka siapa saja yang sedang berada di pantai-pantai Pedalen, Menganti, Karangbata, Pecaron (Srati) dan Pasir bisa langsung mengevakuasi diri ke bukit-bukit yang ada di belakang setiap pantai tersebut. Jarak yang harus ditempuh pun tak jauh.

Gambar 5. Pantai Petanahan (Karanggadung), contoh pantai datar di Kabupaten Kebumen. Di sebelah kiri nampak bukit-bukit pasir yang membentuk pematang pantai, sementara di sebelah kanan terlihat perairan Samudera Indonesia. Tanda panah menunjukkan invasi maksimum/genangan terjauh akibat bencana tsunami 2006, yang mencapai 60 meter dari garis pantai. Sumber: Sudibyo, 2006.

Gambar 5. Pantai Petanahan (Karanggadung), contoh pantai datar di Kabupaten Kebumen. Di sebelah kiri nampak bukit-bukit pasir yang membentuk pematang pantai, sementara di sebelah kanan terlihat perairan Samudera Indonesia. Tanda panah menunjukkan invasi maksimum/genangan terjauh akibat bencana tsunami 2006, yang mencapai 60 meter dari garis pantai. Sumber: Sudibyo, 2006.

Sementara kawasan kedua adalah kawasan pantai datar yang ada di dua tempat. Tempat pertama ada di antara muara sungai Telomoyo dan Luk Ulo. Di sini zona merah mencakup area selebar hingga 300 meter dari garis pantai. Sementara zona kuning mencakup area hingga selebar 1.000 meter dari garis pantai. Maka baik zona merah ataupun zona kuning berada di kawasan pantai muda. Zona merah dan kuning di sini meliputi kecamatan Puring, Petanahan dan Klirong. Desa-desa yang tercakup adalah Surorejan, Puring, Sidoharjo, Karangrejo, Karanggadung dan Tegalretno. Obyek wisata yang tercakup meliputi pantai Petanahan (Karanggadung). Tidak ada bukit di kawasan ini. Sehingga kala BMKG menyatakan terjadi tsunami dengan status “Siaga”, evakuasi hanya bisa dilakukan ke arah utara hingga sejauh minimal 200 meter. Sementara saat statusnya “Awas”, evakuasi pun ke arah utara namun hingga sejauh minimal 1.000 meter.

Sementara pantai datar yang kedua ada di antara muara sungai Luk Ulo dan Wawar. Berbeda dengan pantai datar di antara muara sungai Telomoyo dan Luk Ulo, di sini situasinya lebih kompleks seiring adanya sungai Pucang dan Gede yang cukup panjang dan mengalir ke timur hingga bermuara di sungai Wawar. Zona merah memang tetap mencakup area selebar hingga 300 meter dari garis pantai. Namun zona kuning-nya jauh lebih lebar, yakni mencakup area hingga selebar 4.000 meter dari garis pantai. Meski demikian harus dicatat bahwa zona kuning selebar 4.000 meter ini hanya berlaku dalam skenario terburuk, yakni bila terjadi gempa akbar yang setara gempa-akbar Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 (berkekuatan 9,3 SM). Di luar skenario terburuk, zona kuning tetap selebar 1.000 meter dari garis pantai.

Zona merah maupun zona kuning (baik dalam skenario terburuk maupun bukan) merupakan kawasan pantai muda yang meliputi kecamatan Buluspesantren, Ambal dan Mirit. Desa-desa yang tercakup diantaranya Setrojenar, Brecong, Entak, Ambalresmi, Petangkuran, Miritpetikusan dan Tlogodepok. Obyek wisata yang tercakup meliputi pantai Bocor (Setrojenar). Di kawasan ini pun tidak ada bukit. Sehingga bila BMKG menyatakan terjadi tsunami dengan status “Siaga”, evakuasi hanya bisa dilakukan ke arah utara hingga sejauh minimal 200 meter. Sementara saat statusnya “Awas”, evakuasi pun ke arah utara namun hingga sejauh minimal 1.000 meter.

Dan kawasan yang ketiga atau yang terakhir adalah pantai bermuara sungai. Terdapat empat lokasi demikian, masing-masing adalah muara sungai Bodo, Telomoyo, Luk Ulo dan Wawar. Muara sungai Bodo terletak di kecamatan Ayah sekaligus menjadi tapalbatas antara Kabupaten Kebumen dan Cilacap. Di sini terdapat pantai Logending atau pantai Ayah yang demikian populer. Zona merah di sini merentang hingga sejauh 1.700 meter dari muara, atau hingga 2.600 meter dari muara untuk di tepi sungai. Sementara zona kuning merentang hingga sejauh 6.000 meter dari muara. Desa-desa yang tercakup adalah Ayah dan Candirenggo. Prinsip utama evakuasi di kawasan muara sungai adalah sebisa mungkin menghindar dari tepi sungai hingga sejarak minimal 500 meter dan tidak boleh melewati jembatan yang melintas di sungai tersebut. Karena muara sungai Bodo terletak tepat di sisi barat Tanjung Karangbolong, maka bila BMKG menyatakan terjadi tsunami baik dengan status “Siaga” maupun “Awas”, maka penduduk atau pengunjung harus mengevakuasi diri ke arah timur menuju bukit-bukit gamping Tanjung Karangbolong. Karena cukup dekat, maka jarak evakuasinya relatif pendek.

Situasi yang mirip juga dijumpai di lokasi kedua, yakni muara sungai Telomoyo. Sisi barat muara sungai ini merupakan bagian dari kecamatan Buayan sekaligus sisi timur Tanjung Karangbolong. Zona merah di sini merentang hingga 900 meter dari muara. Sementara zona kuning menjulur hingga 5.000 meter dari muara. Desa-desa yang tercakup adalah Karangbolong, Jladri dan Adiwarno. Saat terjadi tsunami baik dalam status “Siaga” atau “Awas”, maka evakuasi ke bukit-bukit Tanjung Karangbolong adalah pilihan terbaik dengan jarak evakuasi yang relatif pendek.

Namun tidak demikian dengan sisi timurnya. Bentang lahan di sini tergolong dataran rendah, sementara guna menuju bukit-bukit di Tanjung Karangbolong mau tak mau harus melewati jembatan (yang terlarang dalam evakuasi tsunami). Zona merah dan kuning di sini masing-masing merentang 900 dan 5.000 meter dari muara. Desa-desa yang tercakup adalah Tambakmulyo dan Weton Kulon, yang menjadi bagian kecamatan Puring. Sebuah obyek wisata yang baru tumbuh dan populer ada pula di sini, yakni pantai Suwuk. Prinsip evakuasi tsunami di sini tetap adalah menjauhi pantai dan tepi sungai. Maka bila BMKG menyatakan terjadi tsunami dengan status “Siaga” penduduk dan pengunjung harus mengevakuasi diri ke arah timur untuk kemudian ke utara menuju perbatasan desa Tambakmulyo dan Weton Kulon. Sedangkan jika tsunami berstatus “Awas”, maka evakuasi harus dilakukan hingga mencapai desa Kedaleman Wetan.

Hal serupa juga berlaku di lokasi ketiga, yakni muara sungai Luk Ulo. Sisi barat muara sungai ini merupakan bagian kecamatan Klirong sementara sisi timurnya masuk kecamatan Buluspesantren. Desa-desa yang tercakup adalah Tanggulangin, Pandan Lor dan Ayamputih. Karena sungai Luk Ulo berbelok ke barat sebelum bermuara, maka patokan jarak untuk zona merah dan kuning adalah garis pantai yang lurus dengan tepi sungai. Zona merahnya merentang hingga sejauh 1.000 meter dari garis pantai. Sementara zona kuning menjulur hingga 4.200 meter dari garis pantai, atau hingga ke sekitar titik pertemuan sungai Luk Ulo dengan sungai Kedungbener.

Prinsip evakuasi tsunaminya tetap sama, yakni menjauhi pantai dan tepi sungai. Saat BMKG menyatakan terjadi tsunami dengan status “Siaga”, penduduk Tanggulangin harus mengevakuasi diri ke arah utara menuju desa Tambakprogaten. Sementara bila tsunami berstatus “Awas”, evakuasi penduduk Tanggulangin dan Pandan Lor diarahkan menuju ke desa Tambakprogaten atau ke sebelah baratnya lagi. Di sisi timur muara sungai Luk Ulo, penduduk Ayamputih diarahkan mengevakuasi diri ke utara kemudian ke timur menuju desa Setrojenar bagian utara baik pada saat status “Siaga” maupun “Awas.”

Gambar 6. Pantai Suwuk, contoh pantai bermuara di Kabupaten Kebumen. Di latar belakang nampak bukit-bukit yang menjadi bagian pantai Karangbolong. Sementara di latar depan aliran sungai Telomoyo sedang mengalir menuju Samudera Indonesia. Dalam bencana tsunami 2006, invasi maksimumnya mencapai 300 meter terhitung dari muara sungai. Sumber: Sudibyo, 2006.

Gambar 6. Pantai Suwuk, contoh pantai bermuara di Kabupaten Kebumen. Di latar belakang nampak bukit-bukit yang menjadi bagian pantai Karangbolong. Sementara di latar depan aliran sungai Telomoyo sedang mengalir menuju Samudera Indonesia. Dalam bencana tsunami 2006, invasi maksimumnya mencapai 300 meter terhitung dari muara sungai. Sumber: Sudibyo, 2006.

Dan hal yang sama pun diterapkan di lokasi keempat. Yakni muara sungai Wawar, yang juga tapalbatas Kabupaten Kebumen dengan Purworejo. Seperti halnya sungai Luk Ulo, sungai Wawar pun berbelok ke barats ebelum bermuara. Dan bahkan di dekat muaranya terdapat laguna, yang kini menjadi bagian dari tempat wisata baru bernama pantai Lembupurwo. Maka patokan jarak untuk zona merah dan kuning adalah garis pantai yang lurus dengan tepi sungai. Zona merahnya menjulur hingga 1.500 meter dari garis pantai. Sementara zona kuningnya hingga 4.500 meter dari garis pantai. Seluruhnya merupakan bagian dari kecamatan Mirit, yang mencakup desa-desa Mirit, Tlogopragoto, Lembupurwo, Wiromartan dan Rowo.

Bila BMKG menyatakan terjadi tsunami dengan status “Siaga”, maka penduduk desa Tlogopragoto, Lembupurwo dan Wiromartan serta pengunjung pantai Lembupurwo harus mengevakuasi diri ke utara lalu ke barat hingga desa Wergonayan. Langkah serupa juga berlaku pada saat statusnya “Awas”, hanya saja kini melibatkan pula desa Mirit dan Rowo.

Penutup

Peta bahaya dan peta evakuasi tsunami Kabupaten Kebumen sejatinya telah cukup lengkap. Selain membagi kawasan pesisir Kabupaten Kebumen ke dalam dua zona sesuai dengan tingkatan status yang bisa disajikan sistem peringatan dini tsunami Indonesia di bawah BMKG, jalur-jalur evakuasi dan titik-titik penerimaan pengungsi (titik kumpul) juga sudah ditetapkan.

Masalah utama tinggal bagaimana penerapannya? Khususnya bagi 220.800 penduduk yang tinggal di kawasan pesisir Kebumen. Bagaimana agar penduduk yang berpotensi terdampak bisa memahami dan mengimplementasikan apa yang telah disusun dalam kedua peta tersebut? Hanya ada tiga jalan, yakni sosialisasi, latihan dan pendidikan. Peta bahaya dan peta evakuasi tsunami Kabupaten Kebumen takkan bermanfaat bila tak disosialisasikan ke masyarakat. Langkah sosialisasi memang sudah dilakukan, misalnya oleh BPBD Kabupaten Kebumen dan PMI Cabang Kebumen. Sosialisasi akan lebih bagus lagi tatkala menyertakan media, khususnya media sosial yang penetrasinya lebih jauh ke publik. Sementara jalan kedua adalah latihan. Sosialisasi akan lebih bagus lagi tatkala masyarakat di kawasan pesisir juga diajak berlatih simulasi tsunami. Sehingga jalur-jalur evakuasi dan titik-titik penerimaan pengungsi bisa lebih melekat dalam benak setiap insan. Sementara jalan yang ketiga adalah lewat pendidikan, khususnya bagi generasi muda. Pendidikan tentang bencana alam khususnya tsunami sekaligus pengenalan peta bahaya dan peta evakuasi serta simulasinya seyogyanya bisa dilakukan pada siswa-siswi di sekolah-sekolah yang ada di kawasan pesisir Kebumen. Sebab mitigasi terbaik dalam menghadapi tsunami adalah apa yang telah tertanam dalam benak tiap insan.

Akhir kata, tak satupun insan yang berharap bahwa zona subduksi di Samudera Indonesia lepas pantai selatan Jawa Tengah akan melepaskan energinya. Prinsip utama mitigasi adalah selalu berharap yang terbaik. Namun di saat yang sama, bersiaplah untuk hal-hal yang terburuk. Andaikata pelepasan itu kelak terjadi dalam wujud gempa besar/akbar beserta tsunaminya, Kabupaten Kebumen seyogyanya bisa mengantisipasi efek terburuk yang datang sebagai gelora tsunami.

Seperti apa peta bahaya tsunami dan peta evakuasi tsunami Kabupaten Kebumen dalam format yang lengkap? Silahkan lihat di sini.

Referensi :

Ansori dkk. 2010. Evaluasi Potensi dan Konservasi Kawasan Tambang Pasir Besi pada Jalur Pantai Selatan Di Kabupaten Purworejo-Kebumen, Jawa Tengah. UPT Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung LIPI.

Satyana & Purwaningsih. 2002. Lekukan Struktur Jawa Tengah, Suatu Segmentasi Sesar Mendatar. Makalah Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Yogyakarta-Central Java Section, Basement Tectonics of Central Java, Maret 2002.

Raditya dkk. 2010. Catatan Proses Pemetaan Bahaya Tsunami Kabupaten Purworejo. Kerjasama Pemkab Purworejo dan GITEWS (German-Indonesia Tsunami Early Warning System).

Semburan Lumpur Butuh Purworejo (Jawa Tengah), Sebuah Pendahuluan

Air bercampur lumpur hitam mendadak menyembur di kebun pak Ponco Sumarno (52 tahun), warga RT 02 RW 01 dusun Jogomudo desa Lubang Kidul, kecamatan Butuh, kabupaten Purworejo (Jawa Tengah) semenjak Kamis sore 5 September 2013. Semburan terjadi dari sebuah lubang sumur bor yang sedang dibuat pemilik kebun dengan tujuan untuk mengairi kolam ikan guramenya yang kekurangan air. Pekerjaan pembuatan sumur bor dilakukan oleh Eko Siswanto (37 tahun), warga desa Boto Daleman kecamatan Bayan (dari kabupaten yang sama), sebagai tukang pembuat sumur bersama tiga orang pekerjanya. Saat pengeboran mencapai kedalaman 8 meter, mendadak air mulai mengalir keluar dari lubang bor. Salah seorang pekerja sempat mencoba merasainya dan air dingin ini ternyata berasa asin layaknya air laut. Pada saat yang sama pula terasa ada tekanan kuat dari dalam lubang bor, sehingga pengeboran disepakati dihentikan dengan anggapan sumber air sudah ditemukan.

Gambar 1. Semburan lumpur Butuh Purworejo di kala siang, hanya beberapa jam setelah berawal. Nampak semburan masih setinggi pohon pisang. Sumber: Wewed Urip Widodo, 2013

Gambar 1. Semburan lumpur Butuh Purworejo di kala siang, hanya beberapa jam setelah berawal. Nampak semburan masih setinggi pohon pisang. Sumber: Wewed Urip Widodo, 2013

Namun dengan tujuan memperbanyak jumlah cadangan air, Eko berinisiatif menambah kedalaman sumur sepanjang satu pipa lagi. Dan pak Ponco pun menyetujuinya. Begitu pengeboran dilanjutkan, tekanan dari dalam lubang bor jutru terasa kian menguat. Dan saat pengeboran mencapai kedalaman 15 meter, air bercampur lumpur hitam pun mulai mengalir dan akhirnya menyembur. Di awal mula semburan lumpur yang laksana air mancur mencapai ketinggian 6 meter, namun berselang beberapa saat kemudian merosot menjadi tinggal 3-4 meter. Di malam hari bahkan terlihat api menyala-nyala dari lubang bor, sehingga suasana jadi mencekam.

Kontan peristiwa ini segera menghebohkan masyarakat Butuh. Kabar pun terus meluas ke segenap penjuru dan masyarakat pun mulai datang berbondong-bondong ke lokasi. Muncul kekhawatiran bahwa semburan lumpur Butuh ini (demikian saja kita namakan) akan membesar dan meluas hingga menjadi petaka yang tak kalah besarnya dengan kasus semburan Lumpur Lapindo Sidoarjo (Jawa Timur) yang masih terus berlangsung hingga kini meski telah berjalan lebih dari 7 tahun. Apalagi lokasi semburan lumpur Butuh tepat di tengah-tengah pemukiman penduduk.

Kebumen Low

Lokasi semburan lumpur Butuh terletak di dataran rendah sejauh sekitar setengah kilometer di sebelah timur aliran sungai Butuh atau sekitar 9 kilometer di sebelah utara pesisir Samudera Hindia. Dari jalur jalan raya utama yang menjadi poros selatan Jawa Tengah khususnya dari Pasar Butuh yang terkenal dengan kuliner dawetnya, lokasi semburan lumpur masih berjarak sekitar 1 kilometer ke selatan.

Apa yang sebenarnya menyebabkan semburan lumpur Butuh masih harus menanti hasil analisis kandungan gas-gas dan cairan yang dikeluarkan. Namun meninjau geologi setempat, apa penyebab peristiwa ini bisa diperkirakan. Mengutip penjelasan pak Awang Harun Satyana, geolog senior yang kini bertugas di SKK Migas, yang di-cross-check-an dengan sumber-sumber lain diketahui bahwa dataran rendah yang membentang di Kabupaten Kebumen dan Purworejo secara geologis dikenal sebagai Rendahan Kebumen (Kebumen Low). Dataran rendah ini berbataskan pada Tinggian/Pegunungan karst Karangbolong di barat, Pegunungan Serayu Selatan di utara dan Tinggian/Pegunungan Menoreh di timur. Pegunungan karst Karangbolong merupakan tinggian yang terbentuk sebagai hasil aktifnya sistem patahan besar yang membentang dari Kebumen hingga ke Pegunungan Meratus (Kalimantan Selatan) bersama dengan sistem patahan yang membentang dari Cilacap hingga Lematang (Sumatra Selatan). Kedua patahan besar ini aktif di zaman purba (yakni sekitar 65 juta tahun silam) dan kini telah mati, namun jejak aktivitasnya masih membekas dalam banyak hal, salah satunya adalah terangkatnya daerah Gombong selatan hingga Karangbolong sampai setinggi 2.000 meter lebih, meski kini telah tererosi berat dan tinggal setinggi 600-an meter. Sementara Pegunungan Menoreh dibentuk oleh aktivitas vulkanik jutaan tahun silam yang memunculkan tiga gunung berapi tua yang kini telah padam/mati dan kini hanya menyisakan fosilnya semata.

Rendahan Kebumen di masa silam dalam era sejarah merupakan perairan laut pedalaman. Apa yang kini menjadi lokasi kota Kebumen di masa silam merupakan muara sungai Lukulo purba. Intensifnya sungai Lukulo purba mengalirkan sedimen yang dikikis dari Pegunungan Serayu Selatan menyebabkan terbentuknya delta di muaranya. Kini bekas delta tersebut menjadi kawasan dengan kandungan tanah liat bermutu tinggi yang menghidupi industri genteng, sehingga hanya terbatasi mulai dari sisi timur kota Kebumen (Tanahsari) hingga sisi barat (Soka). Sungai-sungai besar lainnya pun demikian. Laut pedalaman ini pun mungkin mendapatkan materi sedimen tambahan dari sungai Progo purba, yang menghanyutkan material vulkanik produk letusan Merapi, Merbabu, Sindoro dan Sumbing. Konsekuensinya laut pedalaman itu kian mendangkal dan lama-kelamaan berubah menjadi daratan dengan rawa-rawa di sana-sini. Rawa-rawa itu menghidupi banyak tumbuhan, yang lantas membentuk lapisan tanah gambut. Saat pemadatan dan pengendapan terus-menerus terjadi, tanah gambut yang berlapis-lapis tertimbun sehingga menjadi sumber zat-zat organik tempat bakteri tumbuh subur. Aktivitas bakteri menyebabkan zat-zat organik terurai menjadi beraneka-ragam gas, terutama metana.

Gambar 2. Semburan lumpur Butuh Purworejo di kala malam, hanya beberapa jam setelah berawal. Nampak lidah api menyala-nyala tepat dari lubang semburan. Sumber: Wewed Urip Widodo, 2013

Gambar 2. Semburan lumpur Butuh Purworejo di kala malam, hanya beberapa jam setelah berawal. Nampak lidah api menyala-nyala tepat dari lubang semburan. Sumber: Wewed Urip Widodo, 2013

Produksi metana yang terus-menerus membuat gas ini kian banyak sehingga lama-kelamaan membentuk sejenis reservoar atau kantung gas bawahtanah, dalam berbagai ukuran dan bertekanan tinggi. Sepanjang tak ada jalan yang menghubungkan kantung gas ini dengan udara luar, metana bakal seterusnya terjebak didalamnya. Namun begitu kantung gas ini tertembus lubang sumur maupun penyebab alamiah seperti misalnya terobekkan oleh reaktivasi patahan (dalam gempa bumi), maka jadilah metana menemukan jalan tol-nya ke permukaan. Semburan gas metana bertekanan tinggi pun akan terjadi, yang sanggup mendorong air dan segala partikulat sedimen yang dilaluinya sehingga membentuk pancuran lumpur. Keberadaan metana pun ditunjang secara kasat mata dengan adanya nyala api yang terlihat dari semburan tersebut.

Berbeda

Dengan kondisi geologi semacam itu maka semburan lumpur Butuh jauh berbeda dibandingkan yang terjadi pada kasus Lapindo Sidoarjo (Jawa Timur). Meski terdapat dua kubu yang berbeda pandangan tentang penyebabnya yakni antara pengeboran eksplorasi migas yang tak taat prosedur di satu sisi dan bencana gempa Yogya 2006 di sisi lain, namun kedua kubu mengamini bahwa air yang terlibat dalam kasus Sidoarjo berasal dari kedalaman berkilo-kilometer di bawah tanah. Air tersebut terdorong ke permukaan Bumi bukan oleh tekanan gas metana, melainkan oleh aksi vulkanik terutama lewat pemanasan magma dari Gunung Penanggungan di dekatnya. Maka bila kasus Sidoarjo merupakan fenomena gunung lumpur (mud volcano) yang tetap bertahan hingga sekarang meski telah berlangsung lebih dari 7 tahun sebagai akibat ketersediaan lapisan sedimen sumber lumpur yang mampu menjaga pasokan tetap stabil serta stabilnya sumber tenaga penggeraknya di bawah Gunung Penanggungan, maka semburan lumpur Butuh hanya ditenagai dorongan gas metana yang jumlahnya terbatas.

Karena itu seiring berjalannya waktu, aliran gas metana di semburan lumpur Butuh bakal kian mengecil sehingga tekanannya pun kian rendahnya. Dan pada akhirnya semburan bakal berhenti dengan sendirinya, mungkin dalam beberapa hari atau beberapa minggu. Semburan semacam ini sebenarnya bukan yang aneh untuk kawasan Rendahan Kebumen. Pada tahun 1996 silam, sebuah sumur bor yang sedang digali di dekat Kantor Pos Kutowinangun (Kebumen) mendadak juga menyemburkan air setelah mencapai kedalaman tertentu. Namun berselang beberapa hari kemudian semburan pun berhenti.

Air produk semburan yang terasa asin menjadi indikasi bahwa daerah Butuh sebagai bagian dari Rendahan Kebumen dulunya memang laut. Mengingat intrusi air laut tak terjadi di sini, setidaknya berdasarkan ketiadaan gejala-gejala yang nampak di permukaan tanah, maka air asin tersebut mungkin merupakan air laut purba (connate water) yang terjebak saat Rendahan Kebumen masih berupa laut.

Gambar 3. Peta topografi Rendahan Kebumen (Kebumen Low) yang 'dipagari' Pegunungan Karangbolong (barat), Serayu Selatan (utara) dan Menoreh (timur). Lokasi semburan lumpur Butuh ditandia dengan anak panah. Sumber: Sudibyo, 2013 dengan peta dari Google Maps.

Gambar 3. Peta topografi Rendahan Kebumen (Kebumen Low) yang ‘dipagari’ Pegunungan Karangbolong (barat), Serayu Selatan (utara) dan Menoreh (timur). Lokasi semburan lumpur Butuh ditandia dengan anak panah. Sumber: Sudibyo, 2013 dengan peta dari Google Maps.

Mengingat semburan berkemungkinan besar bakal berhenti dengan sendirinya, tak ada yang perlu dikhawatirkan di Butuh, Purworejo. Namun sebagai upaya pengamanan, pihak berwenang dapat memasang pipa penyalur vertikal langsung dari lubang semburan, sehingga gas metana langsung terbuang ke udara hingga ketinggian tertentu tanpa sempat menyebar horizontal dan terkonsentrasi. Mengingat gas ini dapat terbakar pada situasi tertentu. Pipa penyalur juga bermanfaat untuk menghembuskan gas-gas lain (seandainya) ada ke ketinggian, misalnya Hidrogen Sulfida yang berbau busuk dan beracun pada kadar tertentu.