Kupas-Hoax: Bila Bumi Datar, Maka Arah Kiblat di Indonesia (Hampir) ke Utara

Ada sebuah riakan yang sedang mencoba menggeliat pada  semesta Indonesia dalam setahun terakhir. Riakan tersebut bertajuk Bumi datar. Ya Bumi datar, gagasan yang sejatinya telah demikian lama ditinggalkan peradaban manusia seiring melimpahnya bukti-bukti ilmiah gagasan oposannya (yakni Bumi bulat) dalam rentangan masa. Terlebih di masakini, tatkala penerbangan antariksa sudah menjadi rutinitas khususnya bagi sejumlah bangsa dan ilmu pengetahuan telah melangkah demikian jauh keluar dari Bumi kita dan lingkungannya mengeksplorasi semesta yang seakan tak bertepi. Kini kita tak lagi memahami Bumi sebagai raksasa di jagat raya yang kecil, namun hanyalah setitik debu di sudut alam raya yang demikian luas.

Gagasan Bumi datar sejatinya tak pernah benar-benar hilang meski telah tersisih sepenuhnya dari dunia ilmu pengetahuan semenjak berabad silam. Ia tetap hidup dan mendapat asupan nutrisi memadai dalam sejumlah komunitas kecil yang ultra konservatif dan cenderung antisains. Terutama pada sekte-sekte Kristiani tertentu yang tumbuh subur di daratan Amerika Serikat. Gagasan itu hidup dalam lingkungan yang dipenuhi nada konspirasi akan segala hal, termasuk perkembangan ilmu pengetahuan. Dalam lingkungan tersebut, segala perkembangan maju ilmu pengetahuan yang diraih umat manusia pada zaman ini diklaim tak lebih dari pembohongan massif hasil konspirasi para cendekiawan sejagat.

Di tahun 1893 Tarikh Umum (TU), seorang konservatif bernama Orlando Ferguson menggambar peta Bumi datar. Peta inilah yang menjadi pijakan gagasan Bumi datar pada saat ini. Bedanya, Orlando Ferguson mengklaim Bumi datar berbentuk kotak dengan cekungan Bulat di tengahnya. Sementara gagasan Bumi datar masa kini secara diam-diam menghilangkan bentuk kotak itu.

Gambar 1. Peta Bumi datar menurut Orlando Ferguson, berangka tahun 1893 TU. Dalam peta yang bernafas Kristiani ini, seperti tersurat dari kutipan ayat-ayat Injil, Bumi dianggap berbentuk persegi panjang yang masing-masing sudutnya dijaga sesosok malaikat. Namun seluruh daratan dan lautan terletak dalam cekungan berbentuk lingkaran di dalam kotak. Sumber: Ferguson, 1893 dalam arsip Library of Congress, United States.

Gambar 1. Peta Bumi datar menurut Orlando Ferguson, berangka tahun 1893 TU. Dalam peta yang bernafas Kristiani ini, seperti tersurat dari kutipan ayat-ayat Injil, Bumi dianggap berbentuk persegi panjang yang masing-masing sudutnya dijaga sesosok malaikat. Namun seluruh daratan dan lautan terletak dalam cekungan berbentuk lingkaran di dalam kotak. Sumber: Ferguson, 1893 dalam arsip Library of Congress, United States.

Revolusi teknologi informasi dengan hadirnya internet di awal abad ke-21 membuat gagasan tersebut pun mulai tersebar keluar dalam aneka rupa cerita dan multimedia. Ia pun mulai disambut oleh kalangan di luar komunitas klasiknya, termasuk sejumlah pemeluk Islam. Bagi sejumlah kalangan Muslim, gagasan Bumi datar dirasa cocok dengan terjemah literal sejumlah ayat dalam al-Qur’an. Ia juga dianggap bersesuaian dengan pendapat sejumlah penafsir (mufassirin) Qur’an era klasik. Lebih lanjut lagi, gagasan Bumi datar dianggap bisa melengkapi gagasan aneh lainnya, yakni Matahari mengelilingi Bumi, sekaligus memperkukuh sikap ‘anti hegemoni Barat’ yang selama ini digaungkan.

Gagasan Bumi datar zaman ini mendeskripsikan bahwa Bumi adalah datar. Yup datar seperti papan raksasa. Titik pusat papan adalah kutub utara, sementara kutub selatan berupa tembok es yang membatasi bidang Bumi. Tembok es ini diklaim dijaga sangat ketat oleh sejumlah negara. Sementara langit berbentuk kubah dengan ketinggian tertentu. Matahari hanya berjarak 5.000 kilometer di atas paras Bumi datar. Matahari beredar dalam lintasannya yang mengelilingi proyeksi vertikal kutub utara menuju kubah langit. Demikian halnya Bulan dan benda-benda langit lainnya. Baik Bulan maupun Matahari diklaim tidaklah berukuran besar. Bersama bintang dan benda-benda langit lainnya, Matahari dan Bulan diklaim sebagai serakan api di dalam kubah langit.

Penggambaran akan bentuk Bumi yang datar dan dilingkupi (ditutupi) oleh kubah langit itu sekilas mengingatkan kita pada dongeng mitologis rakyat Jermania tentang raksasa Ymir. Ymir sang raksasa yang kemudian tewas dan tubuhnya membentuk daratan (datar). Sedangkan batok kepalanya menjadi kubah raksasa yang menutupi daratan. Sehingga daratan itu gelap sepenuhnya. Demikian halnya deskripsi Matahari, Bulan, bintang dan benda-benda langit sebagai serakan api untuk menghias dan menerangi kubah langit, yang sekali lagi mirip sekali dengan penggambaran mitologi yang sama. Dongeng rakyat Jermania itu menuturkan, agar daratan (Bumi) tidak kegelapan maka para dewa memungut api Muspelheim dan menyebarkannya ke dalam kubah batok kepala Ymir hingga menjadi percikan-percikan.

Gambar 2. Peta Bumi datar modern. Sejatinya ini adalah peta Bumi dalam proyeksi azimuthal sama-jarak (equidistant), namun oleh pemuja model Bumi datar dibajak dan diklaim sebagai gambaran sesungguhnya tentang Bumi. Perhatikan bahwa bentuk peta ini hampir sama persis dengan Peta Ferguson 1893, hanya saja pemuja model Bumi datar modern diam-diam menghilangkan bentuk persegi panjang di luar lingkaran. Sumber: Anonim, 2016.

Gambar 2. Peta Bumi datar modern. Sejatinya ini adalah peta Bumi dalam proyeksi azimuthal sama-jarak (equidistant), namun oleh pemuja model Bumi datar dibajak dan diklaim sebagai gambaran sesungguhnya tentang Bumi. Perhatikan bahwa bentuk peta ini hampir sama persis dengan Peta Ferguson 1893, hanya saja pemuja model Bumi datar modern diam-diam menghilangkan bentuk persegi panjang di luar lingkaran. Sumber: Anonim, 2016.

Baiklah, tulisan ini hanya ingin menekankan pada satu aspek semata. Yakni bagaimana arah kiblat Umat Islam khususnya di Indonesia dan Asia tenggara pada umumnya terkait gagasan Bumi datar. Riset yang saya lakukan, yang akan dipaparkan secara ringkas di bawah ini, menyimpulkan dengan gamblang betapa Umat Islam di Indonesia harus dipaksa menghadapkan wajah lebih ke utara pada saat menunaikan ibadah shalat jika mempercayai gagasan Bumi datar. Konsekuensinya sangat serius, sebab dengan demikian maka arah kiblat di Indonesia akan dipaksa melenceng mulai dari sebesar +14° di Banda Aceh hingga sebesar +38° di Merauke. Dalam kata-kata lain, jika kita mempercayai gagasan Bumi datar maka kita harus memaksa arah kiblat untuk melenceng sejauh antara 1.800 kilometer (Banda Aceh) hingga 4.300 kilometer (Merauke) dari lokasi Ka’bah yang sesungguhnya.

Konsep Arah Kiblat Bumi Datar

Menghadap kiblat merupakan satu hal yang esensial bagi Umat Islam sejagat. Sebab merupakan bagian dari syarat sahnya shalat. Dan menghadap kiblat sangat erat hubungannya dengan arah kiblat. Dalam situasi darurat yakni tatkala seorang Muslim mengalami kondisi buta arah, terdapat keringanan untuk menentukan arah kiblat sendiri ke arah manapun yang diyakini. Namun tidak demikian halnya bila ia tahu kedudukan dan arah mataangin yang tepat di lokasinya. Teladan dan tutur dari Rasulullah SAW menjadi pegangan betapa pentingnya menentukan arah kiblat secara tepat hingga ke tingkatan tertentu.

Gambar 3. Ilustrasi peristiwa pemindahan kiblat pada saat perintah berkiblat ke Ka'bah diturunkan, dengan latar belakang citra satelit Masjid Qiblatain masakini di kotasuci Madinah (Saudi Arabia). Sebelum surat al-Baqarah ayat 144 diturunkan, Rasulullah SAW dan para sahabat menunaikan shalat Dhuhur berjamaah dengan menghadap ke Masjidil Aqsha (utara). Namun begitu ayat tersebut diturunkan, mereka beralih dengan menghadap ke Ka'bah/Masjidil Haram (selatan) tanpa membatalkan shalat. Sumber: Sudibyo, 2012.

Gambar 3. Ilustrasi peristiwa pemindahan kiblat pada saat perintah berkiblat ke Ka’bah diturunkan, dengan latar belakang citra satelit Masjid Qiblatain masakini di kotasuci Madinah (Saudi Arabia). Sebelum surat al-Baqarah ayat 144 diturunkan, Rasulullah SAW dan para sahabat menunaikan shalat Dhuhur berjamaah dengan menghadap ke Masjidil Aqsha (utara). Namun begitu ayat tersebut diturunkan, mereka beralih dengan menghadap ke Ka’bah/Masjidil Haram (selatan) tanpa membatalkan shalat. Sumber: Sudibyo, 2012.

Hal itu dapat dilihat misalnya dalam peristiwa berbaliknya Rasulullah SAW dan para sahabat di Madinah dari semula menghadap ke utara menjadi menghadap ke selatan tatkala menunaikan ibadah shalat Dhuhur bersamaan dengan turunnya ketetapan  Ka’bah adalah kiblat Umat Islam. Begitu halnya dengan perintah Rasulullah SAW kepada sahabat Wabir ibn Yuhannas al-Khuza’i RA yang hendak berangkat ke Yaman. Perintah tersebut menekankan bahwa arah kiblat bagi penduduk kota adalah dengan jalan memandang lurus ke arah Gunung Jabal Dayn tatkala mereka berdiri di Bathan, salah satu bagian kota yang saat itu berupa taman. Pengukuran modern di lokasi tersebut melalui fenomena Istiwa’ Azzam memperlihatkan kebenaran sabda Rasulullah SAW, dimana antara taman Bathan dengan Gunung Jabal Dayn dan Ka’bah tepat berada dalam satu garis lurus.

Gambar 4. Citra satelit yang menggambarkan bagaimana jika penduduk kota San'a berdiri di taman Bathan (kini Masjid Jami' al-Kabir) dengan menghadap ke arah Gunung Jabal Dayn (atas), maka pada hakikatnya mereka tepat menghadap ke Ka'bah (bawah). Garis lurus merupakan garis sepanjang 815 kilometer yang menghubungkan taman Bathan dengan Ka'bah, dimana garis tersebut tepat melintas di lokasi Gunung Jabal Dayn. Sumber: Sudibyo, 2012.

Gambar 4. Citra satelit yang menggambarkan bagaimana jika penduduk kota San’a berdiri di taman Bathan (kini Masjid Jami’ al-Kabir) dengan menghadap ke arah Gunung Jabal Dayn (atas), maka pada hakikatnya mereka tepat menghadap ke Ka’bah (bawah). Garis lurus merupakan garis sepanjang 815 kilometer yang menghubungkan taman Bathan dengan Ka’bah, dimana garis tersebut tepat melintas di lokasi Gunung Jabal Dayn. Sumber: Sudibyo, 2012.

Arah kiblat pada dasarnya merupakan arah menuju ke kiblat yang mengikuti jarak terpendek antara sebuah tempat terhadap kiblat. Pengertian arah disini sejatinya merupakan pengertian umum. Misalnya seseorang yang sedang berada di kota Bandung hendak mencari arah Jakarta. Maka arah yang logis ditempuhnya adalah ke barat laut, sebab itulah jarak terpendek antara Bandung dengan Jakarta  secara geometris. Jika ia mengambil arah yang berlawanan, yakni ke tenggara, maka ia justru mengambil jarak yang terjauh. Apabila tetap memaksakan diri ke tenggara, ia tetap akan tiba di Jakarta namun dalam waktu tempuh yang amat sangat lama. Sebaliknya jika ia mengambil arah ke utara atau ke selatan maka sampai kapanpun ia mustahil tiba di Jakarta. Karena arahnya keliru.

Dalam perspektif geometri, cara menentukan arah dari suatu titik menuju ke suatu tempat adalah dengan menggunakan segitiga. Baik di permukaan datar (seperti halnya gagasan Bumi datar) maupun di permukaan lengkung. Dari segitiga tersebut, maka arah dapat ditentukan sebagai sebuah sudut yang dihitung dari garis referensi universal (misalnya arah Utara sejati). Nilai arah diturunkan dari persamaan-persamaan trigonometri, dimana untuk permukaan datar berlaku trigonometri segitiga planar (datar) sementara pada permukaan melengkung seperti bola berlaku trigonometri segitiga bola. Cendekiawan Muslim di era keemasannya memberikan sumbangan yang sangat signifikan dalam pembentukan pengetahuan trigonometri yang kini kita pahami dalam geometri.

Gambar 5. Ilustrasi arah ke Jakarta jika hendak berangkat dari Bandung dalam peta. Panah kuning utuh menunjukkan jarak terdekat Bandung-Jakarta yang menjadikannya arah ke Jakarta paling rasional, yakni ke barat laut. Panah kuning putus-putus menunjukkan jarak terjauh Bandung-Jakarta, rute yang tidak rasional namun masih akan tiba di Jakarta dalam waktu yang sangat lama (ke tenggara). Sebaliknya kedua panah merah utuh menunjukkan arah ke Jakarta yang mustahil, karena sampai kapanpun bila mengikuti kedua arah tersebut maka takkan tiba di tempat tujuan. Sumber: Sudibyo, 2016 dengan basis Google Maps.

Gambar 5. Ilustrasi arah ke Jakarta jika hendak berangkat dari Bandung dalam peta. Panah kuning utuh menunjukkan jarak terdekat Bandung-Jakarta yang menjadikannya arah ke Jakarta paling rasional, yakni ke barat laut. Panah kuning putus-putus menunjukkan jarak terjauh Bandung-Jakarta, rute yang tidak rasional namun masih akan tiba di Jakarta dalam waktu yang sangat lama (ke tenggara). Sebaliknya kedua panah merah utuh menunjukkan arah ke Jakarta yang mustahil, karena sampai kapanpun bila mengikuti kedua arah tersebut maka takkan tiba di tempat tujuan. Sumber: Sudibyo, 2016 dengan basis Google Maps.

Dalam hal arah kiblat, baik di permukaan datar maupun melengkung, kita membutuhkan informasi tentang tiga titik. Yakni titik lokasi yang hendak kita tentukan arah kiblatnya, lalu titik Kutub Utara dan selanjutnya titik Makkah (dimana Ka’bah berada). Informasi terkait titik-titik tersebut dicerminkan oleh koordinat geografisnya. Dalam gagasan Bumi datar, masalah koordinat geografis ini lumayan ribet mengingat koordinat garis lintang dan garis bujur yang tersaji pada saat ini adalah yang bertumpu pada konsep Bumi bulat. Karena itu saya mengembangkan sistem koordinat tersendiri dengan bertumpu pada koordinat Cartesian, yang lantas dikorelasikan (disetarakan) dengan koordinat garis lintang dan garis bujur.

Dengan telah diketahuinya koordinat titik-titik Kutub Utara dan Makkah, maka tinggal berkonsentrasi pada penentuan nilai sudut arah. Dalam gagasan Bumi datar (atau secara matematis disebut model Bumi datar), karena berbasis trigonometri segitiga planar maka digunakan aturan cosinus sebagai berikut :

Gambar 6. Geometri segitiga planar, koordinat dan persamaan aturan cosinus untuk menghitung arah kiblat model Bumi datar. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 6. Geometri segitiga planar, koordinat dan persamaan aturan cosinus untuk menghitung arah kiblat model Bumi datar. Sumber: Sudibyo, 2016.

Sedangkan pada konsep Bumi bulat (atau secara matematis disebut model Bumi bulat), maka basisnya adalah trigonometri segitiga bola dengan salah satu rumus yang digunakan sebagai berikut :

Gambar 7. Geometri segitiga bola, koordinat dan persamaan untuk menghitung arah kiblat model Bumi bulat. Sumber: Sudibyo, 016 dengan basis Google Earth.

Gambar 7. Geometri segitiga bola, koordinat dan persamaan untuk menghitung arah kiblat model Bumi bulat. Sumber: Sudibyo, 016 dengan basis Google Earth.

Penelitian

Area penelitian dibatasi pada  bagian Bumi yang terletak di antara garis lintang 15° LU hingga 15° LS dan di antara garis bujur 90° BT hingga 150° BT. Area tersebut mencakup segenap Indonesia dan sejumlah negara tetangga seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, Singapura, sebagian Papua Nugini, sebagian Thailand, sebagian Myanmar, sebagian Vietnam, sebagian India (khususnya kepulauan Andaman dan Nicobar) dan sedikit Australia bagian utara.

Nilai arah kiblat dalam penelitian ini adalah nilai sudut antara arah Utara sejati dengan arah menuju kiblat di lokasi tersebut. Nilai itu lantas dinyatakan sesuai standar astronomi sebagai nilai azimuth. Azimuth adalah busur yang ditarik dari arah Utara sejati menuju ke timur hingga tiba di posisi arah kiblat yang dimaksud. Dalam sistem ini, Utara sejati memiliki azimuth 0 (nol) atau 360, sementara Timur berazimuth 90, Selatan berazimuth 180 dan Barat berazimuth 270. Jika misalnya arah kiblat adalah 25° ke sebelah utara dari arah Barat, maka dalam sistem azimuth dinyatakan sebagai azimuth kiblat 295.

Hasil perhitungan azimuth kiblat model Bumi datar dan perbandingannya dengan azimuth kiblat model Bumi bulat untuk area penelitian dinyatakan dalam tabel berikut :fe-tabel1_perbandingan-aq

Terlihat jelas ada selisih yang signifikan antara azimuth kiblat model Bumi datar dengan azimuth kiblat dalam konsep Bumi bulat. Dimana seluruh nilai azimuth kiblat Bumi datar adalah lebih besar. Selisihnya berkisar mulai yang terkecil +8,3° di koordinat 15° LU 105° BT hingga yang terbesar  +46,3° di koordinat 15° LS 150° BT (tanda + menunjukkan nilai azimuth kiblat Bumi datar lebih besar ketimbang azimuth kiblat Bumi bulat).

Temuan menarik lainnya adalah pola pada garis-garis isokiblatnya. Garis isokiblat adalah sebuah garis yang menghubungkan titik-titik di paras Bumi yang memiliki nilai azimuth kiblat yang persis sama. Garis-garis isokiblat untuk area penelitian baik dalam model Bumi datar maupun model Bumi bulat disajikan sebagai berikut :

Gambar 8. Perbandingan garis-garis isokiblat untuk area penelitian antara model Bumi datar (atas) dan model Bumi bulat (bawah). Perhatikan kedua model menghasilkan garis-garis isokiblat dengan orientasi yang sangat berbeda. Perbedaan tersebut menjadi indikasi bahwa arah kiblat dalam model Bumi datar memiliki perbedaan dengan arah kiblat dalam model Bumi bulat. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 8. Perbandingan garis-garis isokiblat untuk area penelitian antara model Bumi datar (atas) dan model Bumi bulat (bawah). Perhatikan kedua model menghasilkan garis-garis isokiblat dengan orientasi yang sangat berbeda. Perbedaan tersebut menjadi indikasi bahwa arah kiblat dalam model Bumi datar memiliki perbedaan dengan arah kiblat dalam model Bumi bulat. Sumber: Sudibyo, 2016.

Terlihat jelas bahwa pola garis-garis isokiblat model Bumi datar jauh berbeda dengan garis isokiblat model Bumi bulat. Dalam model Bumi datar, orientasi garis isokiblatnya adalah seragam dari barat daya menuju timur laut. Sementara dalam model Bumi bulat, orientasi garis isokiblatnya bervariasi dan unik. Sebagian berorientasi dari selatan dan tenggara menuju barat laut. Sebagian lagi dari utara dan timur laut menuju barat laut. Bahkan ada yang berorientasi dari selatan menuju tenggara dan juga dari utara menuju tenggara. Keunikan ini terjadi karena Indonesia menjadi salah satu dari hanya dua tempat unik di Bumi terkait arah kiblat. Yakni karena memiliki lokasi di garis khatulistiwa yang tepat berjarak 90° (seperempat belahan bola Bumi) dari Ka’bah. Lokasi tersebut berada di Indonesia bagian timur , tepatnya di garis bujur 130° BT yang terletak di dekat pulau Waigeo dan termasuk ke dalam kawasan kabupaten Raja Ampat (Papua Barat). Satu titik istimewa lainnya terletak di muara Sungai Amazon (Brazil) di benua Amerika bagian selatan.

Selisih angka yang signifikan dalam nilai azimuth kiblat dan perbedaan mendasar orientasi garis-garis isokiblatnya memperlihatkan bahwa arah kiblat model Bumi datar adalah berbeda dibandingkan dengan arah kiblat model Bumi bulat. Dengan kata lain, meski sama-sama berkiblat ke titik yang satu dalam hal ini Ka’bah atau Masjidil Haram atau wilayah tanah haram Makkah al-Mukarramah jika mengacu pada klasifikasi kiblat (lihat Sudibyo, 2012), namun arah kiblat model Bumi datar ternyata berbeda dibanding arah kiblat model Bumi bulat. Perbedaan antara keduanya berimplikasi pada satu konsekuensi pahit: tentu ada model yang benar sementara model lainnya keliru.

Maka, mana yang benar? Apakah arah kiblat model Bumi datar? Ataukah arah kiblat model Bumi bulat?

Bumi Datar Keliru

Astronomi atau ilmu falak tak hanya sekedar berkemampuan menghasilkan model dan menyajikan perhitungan matematis terkait azimuth kiblat, baik dalam model Bumi datar maupun model Bumi bulat. Melainkan juga berkemampuan mengujinya secara empiris, berdasarkan pengukuran langsung di lapangan. Ada beragam cara guna mengukur arah kiblat bagi suatu tempat. Pada prinsipnya cara pengukuran arah kiblat adalah dengan mengukur kedudukan arah-arah mataangin tertentu di lokasi tersebut, pengukuran yang bisa dilakukan misalnya dengan bantuan kompas magnetik ataupun dengan posisi benda langit.

Pengukuran dengan kompas magnetik memungkinkan kita untuk mengetahui kedudukan arah Utara sejati, tentunya setelah faktor-faktor pengganggu dieliminasi mulai dari deklinasi magnetik hingga badai Matahari. Hal serupa juga dapat dilakukan dengan pengukuran terhadap posisi benda-benda langit. Namun dalam hal benda langit, terdapat satu keistimewaan. Yakni kita bisa memperoleh langsung nilai azimuth kiblat suatu tempat manakala benda langit tersebut tepat berada di titik zenith kiblat. Atau dalam bahasa ilmu falak, saat benda langit tersebut mengalami Istiwa’ Azzam di kiblat.

Gambar 9. Citra fenomena Istiwa' Azzam di kota Surakarta (Jawa Tengah) pada 13 Oktober 2010 TU pada radas jam Matahari bencet) di Masjid Tegalsari. Jam Matahari ini memungkinkan berkas sinar Matahari masuk ke dalam masjid sehingga proyeksinya bisa disaksikan secara langsung di lantai masjid. Nampak proyeksi cakram Matahari tepat sedang menyentuh titik proyeksi zenith Surakarta, fenomena yang hanya terjadi dua kali setahun di tempat itu. Sumber: Sugeng Riyadi, 2010.

Gambar 9. Citra fenomena Istiwa’ Azzam di kota Surakarta (Jawa Tengah) pada 13 Oktober 2010 TU pada radas jam Matahari bencet) di Masjid Tegalsari. Jam Matahari ini memungkinkan berkas sinar Matahari masuk ke dalam masjid sehingga proyeksinya bisa disaksikan secara langsung di lantai masjid. Nampak proyeksi cakram Matahari tepat sedang menyentuh titik proyeksi zenith Surakarta, fenomena yang hanya terjadi dua kali setahun di tempat itu. Sumber: Sugeng Riyadi, 2010.

Salah satu benda langit yang berkemampuan seperti itu adalah Matahari. Setiap tahun Tarikh Umum, yakni pada tanggal 28 Mei pukul 12:16 waktu Arab Saudi dan tanggal 16 Juli pukul pukul 12:26 waktu Arab Saudi, Matahari akan berkedudukan di titik zenith kotasuci Makkah. Hal itu berlaku untuk tahun basitas (tahun biasa), sementara untuk tahun kabisat tanggalnya maju sehari lebih awal. Pada saat itu sebuah benda panjang (misal tiang) yang didirikan demikian rupa di kotasuci Makkah sehingga berkedudukan tegak lurus paras air rata-rata setempat akan kehilangan bayang-bayangnya tepat pada saat Matahari berada di titik zenith Makkah.

Inilah hari tanpa bayang Matahari atau Istiwa’ Azzam di kotasuci Makkah. Fenomena menghilangnya bayang-bayang akibat Istiwa’ Azzam sejatinya tidak hanya terjadi di kotasuci Makkah saja. Namun juga dialami setiap tempat dimanapun di Bumi sepanjang terletak di antara garis lintang 23° 27′ LU hingga 23° 27′ LS. Misalnya kota Kebumen (propinsi Jawa Tengah), dengan posisinya di garis bujur 7° 40′ LS maka ia juga mengalami situasi hari tanpa bayang Matahari yang terjadi setiap tanggal 1 Maret dan 13 Oktober. Jadi tak hanya titik-titik lokasi di sepanjang garis khatulistiwa’ saja yang bisa mengalaminya seperti  tuturan urban legend.

Gambar 10. Ilustrasi fenomena Hari Kiblat, yakni Istiwa' Azzam di Ka'bah. Tatkala Matahari dalam kondisi demikian, yang terjadi dua kali setiap tahunnya, maka bayang-bayang obyek yang terpasang tegaklurus paras air rata-rata setempat akan tepat berimpit dengan azimuth kiblat setempat. Fenomena ini juga menyajikan peluang pengukuran arah kiblat dengan ketelitian sangat tinggi. Sumber: Mutoha Arkanuddin, 2006.

Gambar 10. Ilustrasi fenomena Hari Kiblat, yakni Istiwa’ Azzam di Ka’bah. Tatkala Matahari dalam kondisi demikian, yang terjadi dua kali setiap tahunnya, maka bayang-bayang obyek yang terpasang tegaklurus paras air rata-rata setempat akan tepat berimpit dengan azimuth kiblat setempat. Fenomena ini juga menyajikan peluang pengukuran arah kiblat dengan ketelitian sangat tinggi. Sumber: Mutoha Arkanuddin, 2006.

Pada saat kotasuci Makkah mengalami Istiwa’  Azzam, maka pada dimanapun tempatnya di Bumi sepanjang tersinari cahaya Matahari pada saat itu akan mengalami situasi unik. Yakni bayang-bayang benda yang didirikan tegaklurus paras air rata-rata setempat akan tepat berimpit dengan arah kiblat setempat. Inilah yang kemudian menjadi populer sebagai Hari Kiblat. Hari Kiblat adalah waktu yang istimewa karena hanya pada saat itu pengukuran kiblat dapat dilaksanakan dengan akurasi sangat tinggi dengan cara yang paling sederhana. Dengan membandingkan nilai hasil pengukuran azimuth kiblat pada saat Hari Kiblat terhadap hasil perhitungan azimuth kiblat, maka akan dapat diuji mana yang lebih tepat apakah model Bumi datar ataukah model Bumi bulat.

Berdasarkan pengukuran di dua lokasi berbeda dalam waktu yang berbeda pula, diketahui bahwa arah kiblat model Bumi bulat adalah konsisten. Untuk kota Kebumen (Jawa Tengah) misalnya, hasil perhitungan menunjukkan azimuth kiblatnya 295. Pengukuran dengan menggunakan bayang Matahari pada saat Hari Kiblat juga menghasilkan azimuth kiblat 295, dalam batas ketelitian pengukuran setelah dikomparasikan dengan kompas magnetik. Demikian halnya di Jakarta. Perhitungan menunjukkan azimuth kiblatnya juga 295. Sementara pengukuran pengukuran bayang Matahari saat Hari Kiblat juga menghasilkan azimuth kiblat 295.

Sebaliknya arah kiblat model Bumi datar sangat tidak konsisten. Perhitungan di kota Kebumen menghasilkan nilai azimuth kiblat model Bumi datar sebesar 320. Namun saat diukur dengan bayang Matahari pada saat Hari Kiblat, ternyata bayang-bayang tersebut (yang berimpit dengan arah kiblat Kebumen) jatuh pada azimuth 295. Demikian halnya di Jakarta. Perhitungan menghasilkan nilai azimuth kiblat sebesar 318, namun pengukuran bayang Matahari saat Hari Kiblat menghasilkan bayang-bayang (yang adalah arah kiblat Jakarta) yang jatuh pada azimuth 295.

Gambar 11. Diagram azimuth kiblat model Bumi datar (warna biru) dan model Bumi bulat (warna merah) untuk lokasi Kebumen (propinsi Jawa Tengah) dan Jakarta (propinsi DKI Jakarta) beserta hasil perhitungan dan pengukuran pada saat Hari Kiblat. Terlihat jelas bahwa hasil pengukuran hanya bersesuaian dengan perhitungan arah kiblat dalam model Bumi bulat. Sementara perhitungan dengan model Bumi datar memiliki selisih cukup besar dibanding hasil pengukurannya. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 11. Diagram azimuth kiblat model Bumi datar (warna biru) dan model Bumi bulat (warna merah) untuk lokasi Kebumen (propinsi Jawa Tengah) dan Jakarta (propinsi DKI Jakarta) beserta hasil perhitungan dan pengukuran pada saat Hari Kiblat. Terlihat jelas bahwa hasil pengukuran hanya bersesuaian dengan perhitungan arah kiblat dalam model Bumi bulat. Sementara perhitungan dengan model Bumi datar memiliki selisih cukup besar dibanding hasil pengukurannya. Sumber: Sudibyo, 2016.

Analisis lebih lanjut memperlihatkan bahwa untuk kota Kebumen, bayang Matahari saat Istiwa’ Azzam akan berada di azimuth 320 hanya jika posisi kotasuci Makkah jauh lebih ke utara dibanding sekarang. Demikian halnya untuk kota Jakarta. Ekstrapolasi dari azimuth 320 (Kebumen) dan azimuth 318 (Jakarta) menghasilkan titik koordinat di sekitar Laut Kaspia, berdekatan dengan negara bagian  Chechnya (Rusia). Dengan kata lain, agar hasil pengukuran bayang Matahari saat Istiwa’ Azzam bersesuaian dengan hasil perhitungan azimuth kiblat model Bumi datar untuk Jakarta dan Kebumen, maka posisi Ka’bah harus berada di sekitar Laut Kaspia. Tentu ini mustahil.  Di sisi yang lain, Matahari juga tidak mungkin mengalami Istiwa’ Azzam di atas Laut Kaspia, mengingat gerak semu tahunan Matahari membatasinya hanya bisa mengalami Istiwa’ Azzam di  antara Garis Balik Utara atau Tropic of Cancer (yakni garis lintang 23° 27′ LU) hingga Garis Balik Selatan atau Tropic of Capricorn (yakni garis lintang 23° 27′ LS) saja.

Ketidakkonsistenan ini menunjukkan bahwa ada yang keliru dalam model Bumi datar. Penelitian lanjutan, yang akan dipaparkan dalam tulisan berikutnya (tidak dalam artikel ini), juga memperlihatkan besarnya inkonsistensi model Bumi datar antara perhitungan dengan hasil pengamatan/pengukuran dalam aspek-aspek ibadah Umat Islam lainnya. Yakni dalam hal waktu shalat, hilaal dan gerhana.

Implikasi dan Kesimpulan

Kelirunya model Bumi datar dalam hal arah kiblat membawa implikasi yang jauh lebih serius. Seorang Muslim yang meyakini bahwa model Bumi datar adalah benar seharusnya juga konsisten untuk mengubah arah kiblat shalatnya menjadi lebih ke utara dibanding yang dipedomani di Indonesia saat ini.

Misalnya di Kebumen, seharusnya ia mengarah ke azimuth 320 yang berarti lebih miring atau bergeser 25° ke utara dibanding arah kiblat yang tepat. Demikian halnya di Jakarta, seharusnya ia juga mengarah ke azimuth 318 atau bergeser 23° lebih ke utara.  Namun pergeseran ini  akan berimplikasi serius. Mengingat model Bumi datar adalah keliru kala ditinjau dari persoalan arah kiblat seperti diulas di atas, maka menyengaja menghadap ke azimuth 320 (Kebumen) atau azimuth 318 (Jakarta) sama halnya dengan menyengaja menyimpang dari arah kiblat sesungguhnya. Perbuatan menyengaja untuk menyimpang dari arah kiblat tentu memiliki konsekuensi syar’i tersendiri.

Seperti apa besarnya penyimpangan atau pergeseran arah terhadap azimuth kiblat yang sebenarnya sebagai akibat penerapan model Bumi datar?  Untuk area penelitian, hal tersebut dapat dilihat dalam peta berikut :

Gambar 12. Garis-garis yang menunjukkan besarnya penyimpangan arah dari arah kiblat yang sebenarnya (dalam satuan derajat) akibat model Bumi datar bagi area penelitian. Nilai terkecil adalah +14° yang terjadi di Banda Aceh (propinsi Aceh), ujung barat Indonesia. Nampak bahwa semakin ke Indonesia timur, penyimpangan arahnya kian besar. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 12. Garis-garis yang menunjukkan besarnya penyimpangan arah dari arah kiblat yang sebenarnya (dalam satuan derajat) akibat model Bumi datar bagi area penelitian. Nilai terkecil adalah +14° yang terjadi di Banda Aceh (propinsi Aceh), ujung barat Indonesia. Nampak bahwa semakin ke Indonesia timur, penyimpangan arahnya kian besar. Sumber: Sudibyo, 2016.

Dapat dilihat dalam peta bahwa untuk Indonesia, besarnya penyimpangan arah terhadap arah kiblat yang tepat akibat aplikasi model Bumi datar  adalah bervariasi. Yang terkecil adalah +14° di Banda Aceh (propinsi Aceh). Sementara yang terbesar adalah  +39° di Merauke (propinsi Papua). Khusus di pulau Jawa, besar penyimpangan arahnya bervariasi antara +26° hingga +29°.

Saat seorang Muslim menyimpang dari arah kiblat, maka pada hakikatnya ia telah bergeser dari Ka’bah hingga jarak tertentu yang bergantung kepada besarnya nilai sudut simpangannya. Semakin besar sudut penyimpangan arahnya maka semakin jauh ia bergeser dari Ka’bah. Dalam kasus kota Jakarta, dengan sudut penyimpangan arah sebesar +23° maka titik proyeksi model Bumi datar adalah bergeser sejauh 2.500 kilometer dari Ka’bah. Untuk area penelitian, besarnya jarak antara titik proyeksi model Bumi datar dengan Ka’bah dapat dilihat dalam peta berikut :

Gambar 13. Garis-garis yang menunjukkan besarnya jarak pergeseran dari Ka'bah (dalam satuan kilometer) akibat model Bumi datar bagi area penelitian. Nilai terkecil adalah +1.800 kilometer di Sabang (propinsi Aceh), ujung barat Indonesia. Nampak bahwa semakin ke Indonesia timur, jarak pergeserannya pun kian membengkak. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 13. Garis-garis yang menunjukkan besarnya jarak pergeseran dari Ka’bah (dalam satuan kilometer) akibat model Bumi datar bagi area penelitian. Nilai terkecil adalah +1.800 kilometer di Sabang (propinsi Aceh), ujung barat Indonesia. Nampak bahwa semakin ke Indonesia timur, jarak pergeserannya pun kian membengkak. Sumber: Sudibyo, 2016.

Dapat dilihat dalam peta bahwa untuk Indonesia, jarak antara titik proyeksi model Bumi datar dengan Ka’bah juga bervariasi. Yang terkecil senilai 1.800 kilometer di Sabang (propinsi Aceh). Sementara yang terbesar adalah senilai 4.300 kilometer di Merauke (propinsi Papua). Di pulau Jawa, jarak antara titik proyeksi arah kiblat Bumi datar dengan Ka’bah bervariasi antara 2.450 kilometer hingga 3.000 kilometer. Jarak penyimpangan ini sangat besar, jauh lebih besar ketimbang jarak maksimum yang dapat ditoleransi yakni maksimum 45 kilometer dari Ka’bah (lihat Sudibyo, 2012).

Jadi, berdasarkan penelitian ini, saya mengkategorikan model Bumi datar sebagai kabar-bohong atau hoax. Model tersebut sama sekali tidak konsisten dengan aspek-aspek ibadah Umat Islam yang bertumpu pada ruang dan waktu, dalam hal ini arah kiblat.

Referensi :

Sudibyo. 2012. Sang Nabi Pun Berputar, Arah Kiblat dan Tata Cara Pengukurannya. Surakarta : Tinta Medina Tiga Serangkai.

Sugeng Riyadi. 2010. Dauroh I Ilmu Falak RHI Surakarta. Blog Pak AR Guru Fisika, 23 Oktober 2010.

[Menyongsong Minggu Kiblat] Meluruskan Arah Kiblat Tak Harus Pada 28 Mei 2014

Rabu 28 Mei 2014, linimasa (sebagian) pengguna media sosial dipenuhi oleh informasi tentang fenomena Matahari berada di atas Ka’bah sehingga menjadi momen yang tepat untuk melakukan kalibrasi/pengukuran ulang arah kiblat dimanapun berada sepanjang masih tersinari cahaya Matahari. Pun demikian di Indonesia.

Secara teoritis posisi Matahari saat ini adalah demikian rupa, sehingga ia akan berkedudukan tepat di atas kiblat dalam lima hari berturut-turut, mulai dari Senin 26 Mei 2014 hingga Jumat 30 Mei 2014 dan masing-masing terjadi pada pukul 16:18 WIB. Puncaknya memang pada Rabu 28 Mei 2014 pukul 16:18 WIB, saat kedudukan Matahari (nyaris) tepat di atas Ka’bah. Karena terjadi selama lima hari berturut-turut, bukan tiga hari seperti yang pernah ditulis sebelumnya, maka peristiwa ini boleh disebut sebagai Minggu Kiblat.

kiblat_narasi-zenith_kiblatMengapa Minggu Kiblat bisa terjadi? Semua karena Matahari. Seiring miringnya sumbu rotasi Bumi sebesar 23,5 derajat terhadap bidang tegaklurus ekliptika (bidang edar Bumi dalam mengelilingi Matahari) sementara Bumi tetap menjalankan kewajibannya mengedari sang surya, maka kita yang tinggal di Bumi akan menyaksikan Matahari berpindah-pindah posisi dari utara ke selatan dan sebaliknya sepanjang tahun. Inilah gerak semu tahunan Matahari. Gerak semu tahunan itu membuat deklinasi Matahari berubah-ubah secara periodis dari -23,5 hingga +23,5 derajat dan sebaliknya. Di Bumi, perubahan deklinasi tersebut membuat Matahari nampak berpindah tempat di antara garis lintang 23,5 LS (yakni Garis Balik Selatan) hingga garis lintang 23,5 LU (yakni Garis Balik Utara). Gerak semu tahunan ini berpola khas, sehingga pada 21 Maret dan 23 September Matahari akan berposisi di atas garis khatulistiwa. Sementara pada 21 Juni akan berposisi di atas Garis Balik Utara dan pada 22 Desember akan menempatkan diri di atas Garis Balik Selatan.

Gambar 1. Ilustrasi gerak semu tahunan Matahari di permukaan Bumi. Garis kuning putus-putus menandakan kedua Garis Balik, sementara garis tak terputus merupakan garis khatulistiwa'. Dan garis merah tak terputus adalah garis lintang Ka'bah. Bundaran kuning mengilustrasikan Matahari, yang nampak bergerak ke utara di antara 21 Maret hingga 21 Juni dan bergerak kembali ke selatan di antara 21 Juni hingga 22 Desember. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 1. Ilustrasi gerak semu tahunan Matahari di permukaan Bumi. Garis kuning putus-putus menandakan kedua Garis Balik, sementara garis tak terputus merupakan garis khatulistiwa’. Dan garis merah tak terputus adalah garis lintang Ka’bah. Bundaran kuning mengilustrasikan Matahari, yang nampak bergerak ke utara di antara 21 Maret hingga 21 Juni dan bergerak kembali ke selatan di antara 21 Juni hingga 22 Desember. Sumber: Sudibyo, 2014.

Kawasan yang berada di antara kedua garis balik itu disebut kawasan tropis. Mari tinjau sebuah lokasi (dimanapun berada) di sini. Tentukan arah-arah mataanginnya dan akan kita dapatkan titik utara sejati (titik U) di arah utara sejati dan sebaliknya titik selatan sejati (titik S) di arah selatan sejati. Silahkan berdiri tegak dengan sikap sempurna menghadap titik U (membelakangi titik S) dengan kedua tangan direntangkan. Maka tangan kiri kita akan menunjuk titik barat sejati (titik B) dan sebaliknya tangan kanan mengarah ke titik timur sejati (titik T). Sementara jika dari kepala kita ditarik garis vertikal imajiner sampai ketinggian tak berhingga menembus langit, maka garis tersebut akan berujung di titik zenith (titik Z). Titik zenith adalah titik puncak kubah/bola langit yang memiliki tinggi (altitud) selalu 90 derajat dihitung dari arah mataangin manapun. Nah, selanjutnya tarik garis imajiner dari titik S ke atas menyusuri kubah langit hingga tepat melintas di titik Z untuk kemudian menurun kembali hingga berujung di titik U. Inilah garis meridian (bujur) langit, yang nilainya tepat sama persis dengan garis bujur lokasi tersebut.

Matahari akan selalu melintasi garis meridian langit ini setiap harinya dalam peristiwa yang dinamakan transit Matahari (istiwa’). Saat transit Matahari terjadi, praktis bayang-bayang yang dibentuk dari benda yang terpasang tegaklurus permukaan air tenang rata-rata di Bumi dan tersinari Matahari saat itu akan tepat berimpit dengan arah utara-selatan sejati. Saat transit Matahari ini terjadi di siang hari, maka Matahari disebut sedang berkulminasi atas entah dengan tinggi (altitud) berapapun. Nah bagi kawasan tropis, terdapat momen dimana kulminasi atas Matahari terjadi dalam kondisi Matahari tepat berada di titik Z. Di Indonesia, momen ini secara tak resmi disebut sebagai hari tanpa bayangan. Sebab kala Matahari menempati titik zenith suatu lokasi, maka setiap benda apapun yang terpasang tegaklurus permukaan air tenang rata-rata di Bumi akan kehilangan bayang-bayangnya. Peristiwa langka ini dapat terjadi pada lokasi manapun di kawasan tropis dan terjadi sebanyak dua kali (dalam waktu yang berbeda) dalam setiap tahun (Gregorian).

Gambar 2. Ilustrasi kubah/bola langit dengan arah-arah mataangin dan titik zenith. Saat Matahari berada tepat di titik zenith, tak satupun benda yang tersinarinya dibawahnya yang memiliki bayang-bayang. Sumber: Anonim.

Gambar 2. Ilustrasi kubah/bola langit dengan arah-arah mataangin dan titik zenith. Saat Matahari berada tepat di titik zenith, tak satupun benda yang tersinarinya dibawahnya yang memiliki bayang-bayang. Sumber: Anonim.

Ka’bah terletak pada garis lintang 21,4167 LU sehingga masih berada di kawasan tropis meski berdekatan dengan lintasan Garis Balik Utara. Konsekuensinya Matahari pun dapat menempati titik zenith Ka’bah, yang terjadi sebanyak dua kali dalam setahun (Gregorian). Momen tersebut selalu terjadi pada akhir Mei dan pertengahan Juli. Saat hal itu terjadi, maka Ka’bah dan wilayah sekitarnya akan mengalami situasi hari tanpa bayangan. Sebaliknya wilayah-wilayah yang berjarak jauh darinya namun masih terpapar sinar Matahari akan mengalami situasi dimana bayang-bayang benda apapun yang terpasang tegaklurus permukaan air tenang rata-rata di Bumi akan tepat berimpit dengan arah kiblat setempat dalam tingkat ketelitian sangat tinggi. Dengan memperhitungkan konsep kiblat dan toleransinya, yang akan dipaparkan di bagian selanjutnya dari tulisan ini, maka secara konseptual bayang-bayang tersebut tepat berimpit dengan arah kiblat setempat selama lima hari berturut-turut.

Gambar 3. Ilustrasi Matahari saat menempati titik zenith Ka'bah. Tatkala Matahari dalam posisi demikian, maka seluruh bayang-bayang benda yang terpasang tegaklurus permukaan air rata-rata akan tepat mengahadp kiblat (tepat berimpit dengan arah kiblat setempat). Sumber: Arkanuddin, 2006.

Gambar 3. Ilustrasi Matahari saat menempati titik zenith Ka’bah. Tatkala Matahari dalam posisi demikian, maka seluruh bayang-bayang benda yang terpasang tegaklurus permukaan air rata-rata akan tepat mengahadp kiblat (tepat berimpit dengan arah kiblat setempat). Sumber: Arkanuddin, 2006.

Perpindahan Kiblat

Beberapa waktu lalu kita dibikin terkesan dengan aktivitas petugas maskapai nasional (flag carrier) Indonesia, yang tetap menjalankan kewajibannya menunaikan ibadah shalat meski tengah berada di dalam pesawat yang sedang mengudara. Foto dan informasinya kemudian tersebar secara viral. Bagi sebagian kita, aktivitas tersebut tidaklah aneh mengingat ibadah shalat wajib lima waktu tetap berlaku meski sedang bepergian dan berada dalam kendaraan, terlepas dari beda pendapat tentang berkiblat ke mana dan bagaimana cara menunaikannya. Berdasar pendapat sebagian ulama, saat kita sedang bepergian dan dalam kendaraan maka terdapat keringanan dalam hal tata cara ibadah shalat dan bagaimana berkiblat.

Namun masalah berkiblat dalam shalat ini menjadi berbeda tatkala kita tak sedang berkendara. Sebagian kita mungkin memegangi pendapat bahwa berkiblat itu cukup di dalam hati.Apakah berkiblat dalam shalat cukup dilakukan di dalam hati? Dalam hal ini ada peristiwa menarik yang terjadi pada 1433 tahun Hijriyyah yang lalu. Tepatnya pada bulan Sya’ban tahun 2 H atau 16 bulan setelah peristiwa Hijrah, kala Rasulullah Muhammad SAW beserta sejumlah sahabat bertakziyah ke kampung Bani Salamah yang terletak di pinggiran kotasuci Madinah bagian utara. Saat telah tiba waktunya, shalat dhuhur berjamaah pun ditunaikan dengan Rasulullah SAW sebagai imam. Seluruhnya berkiblat ke arah barat laut, mengarah ke Batul Maqdis di Palestina. Namun pada saat rakaat kedua telah dilalui, turunlah perintah untuk mengubah kiblat menjadi ke Baitullah di kotasuci Makkah seperti dinyatakan dalam surat al-Baqarah ayat 144. Dari kotasuci Madinah pada umumnya, agar bisa menghadap ke Baitullah maka harus menghadap ke arah selatan. Sehingga sisa dua rakaat berikutnya ditunaikan dengan merubah arah menjadi menghadap Baitullah, tanpa membatalkan aktivitas shalat dhuhur tersebut.

Gambar 4. Citra satelit Masjid Qiblatain di kotasuci Madinah, lokasi dimana perintah pemindahan kiblat diturunkan (surat al Baqarah ayat 144). Panduan arah, atas = utara, kanan = timur. Sebelum pemindahan kiblat, shalat menghadap ke arah barat laut. Namun begitu kiblat dipindakan, maka shalat pun beralih arah menjadi ke arah selatan. Sumber; Sudibyo, 2012 dengan peta dari Qibla Locator.

Gambar 4. Citra satelit Masjid Qiblatain di kotasuci Madinah, lokasi dimana perintah pemindahan kiblat diturunkan (surat al Baqarah ayat 144). Panduan arah, atas = utara, kanan = timur. Sebelum pemindahan kiblat, shalat menghadap ke arah barat laut. Namun begitu kiblat dipindakan, maka shalat pun beralih arah menjadi ke arah selatan. Sumber; Sudibyo, 2012 dengan peta dari Qibla Locator.

Perubahan ini dramatis untuk ukuran kita. Bayangkan, Muhammad SAW dan para sahabat kala bertakbiratul ihram masih menghadap ke barat laut. Namun begitu memasuki rakaat ketiga, semuanya berputar nyaris setengah lingkaran sehingga berubah arah menjadi menghadap ke selatan, ke arah Baitullah. Luar biasanya, ‘shalat yang berputar’ ini pun terulang lagi di kala ‘Ashar meski kali ini mengambil lokasi di Masjid Bani Haritsah, juga di pinggiran Madinah. Saat itu jamaah shalat ‘Ashar Masjid Bani Haritsah baru saja menyelesaikan dua rakaat pertama kala informasi perpindahan kiblat datang dan disuarakan. Begitu pula pada pagi berikutnya di Masjid Quba’, juga di pinggiran Madinah, kala jamaah baru menunaikan rakaat pertama dari shalat Shubuh dan informasi perpindahan kiblat disuarakan seseorang dengan lantang.

Perpindahan dramatis ini menjadi gambaran betapa saat berkiblat dalam shalat, tak hanya cukup di dalam hati saja namun juga harus mewujud dalam aksi (tindakan). Jika berkiblat cukup dalam hati, maka saat itu Muhammad SAW dan para sahabatnya tentu tak perlu melakukan ‘shalat yang berputar’ kala perintah pemindahan kiblat turun. Berkiblat dengan aksi juga tecermin dari pesan Muhammad SAW kepada Wabir ibn Yuhannas al-Khuza’i RA yang hendak berangkat ke Yaman. Yakni agar penduduk kota San’a berkiblat melalui cara menghadapkan wajah ke arah Gunung (Jabal) Dayn. Evaluasi dengan menggunakan perangkat visualisasi arah kiblat seperti program Google Earth maupun laman Qibla Locator memperlihatkan bahwa dengan menghadap (mengarah) ke Gunung Dayn maka penduduk kota San’a tepat menghadap kiblat.

Gambar 5. Citra satelit yang memperlihatkan kota San'a dan sekitarnya dengan Gunung (Jabal) Dayn berjarak sekitar 30 km dari kota ini (atas). Andaikata ditarik sebuah garis lurus imajiner dari suatu titik dalam kota San'a menuju Gunung Dayn, maka bila garis tersebut diperpanjang hingga sejauh 815 km dari kota San'a, ujung garis tersebut akan tepat berimpit dengan Ka'bah (bawah). Panduan arah, kiri atas = utara, kanan bawah = selatan. Sumber: Sudibyo, 2012 dengan peta dari Google Earth.

Gambar 5. Citra satelit yang memperlihatkan kota San’a dan sekitarnya dengan Gunung (Jabal) Dayn berjarak sekitar 30 km dari kota ini (atas). Andaikata ditarik sebuah garis lurus imajiner dari suatu titik dalam kota San’a menuju Gunung Dayn, maka bila garis tersebut diperpanjang hingga sejauh 815 km dari kota San’a, ujung garis tersebut akan tepat berimpit dengan Ka’bah (bawah). Panduan arah, kiri atas = utara, kanan bawah = selatan. Sumber: Sudibyo, 2012 dengan peta dari Google Earth.

Persoalan bahwa ternyata arah Masjid Nabawi dan Masjid Quba’ ternyata tak tepat menuju Ka’bah, setidaknya pada bangunan yang tersisa pada saat ini seperti tecermin lewat Google Earth/Qibla Locator, adalah hal lain. Rasulullah Muhammad SAW merupakan sosok yang ma’shum dan kedua masjid bersejarah tersebut dibangun langsung lewat bimbingannya, termasuk arah kiblatnya. Maka tidak tepatnya arah Masjid Nabawi dan Masjid Quba’ ke Ka’bah harus dipandang dalam perspektif lain, yakni sebagai tersedianya ruang yang memungkinkan untuk bertoleransi dalam arah kiblat. Toleransi ini memungkinkan kita mendapatkan arah kiblat di suatu tempat dimanapun di permukaan Bumi dalam ketelitian tinggi tanpa harus terjebak untuk seteliti mungkin (yang tidak praktis).

Dengan kata lain, kiblat dapat dikonsepkan sebagai area disekitar Ka’bah hingga ke radius maksimum tertentu yang tepat berimpit dengan proyeksi arah dari masjid Nabawi dan Quba’. Penulis menyebut kiblat semacam itu sebagai konsep toleransi arah kiblat (ihtiyaath al-qiblat). Dengan konsep semacam ini maka kiblat pada hakikatnya adalah kawasan berbentuk lingkaran dengan pusat di Ka’bah dan merentang hingga radius (jari-jari) 45 km dari Ka’bah. Dengan konsep ini maka pada hakikatnya kala Matahari berada di atas kiblat, yang berlangsung dalam lima hari berturut-turut (tentu saja dalam jam tertentu), maka Matahari bertempat tepat di atas sisi selatan kiblat pada hari pertama dan kedua, sementara di hari ketiga berlokasi nyaris/tepat di atas Ka’bah serta di hari keempat dan kelima bertempat di atas sisi utara kiblat.

Gambar 6. Citra satelit yang memperlihatkan kawasan Jazirah Arabia bagian barat di sekitar kotasuci Makkah. Nampak Ka'bah menjadi pusat dari lingkaran bergaris tengah 45 km. Seluruh bagian lingkaran ini merupakan kiblat, menurut konsep ihtiyath al-qiblat dari Sudibyo (2011). Garis putus-putus memperlihatkan lintasan gerak semu Matahari yang diproyeksikan ke dalam garis-garis lintang. Terlihat bahwa pada 26 hingga 30 Mei 2014 pergerakan semu Matahari tepat melintas di kiblat. Sehingga kala Matahari berkulminasi atas di sana, yang terjadi pada pukul 16:18 WIB, pada hakikatnya Matahari sedang tepat berada di atas kiblat. SUmber: Sudibyo, 2014 dengan peta dari Google Maps.

Gambar 6. Citra satelit yang memperlihatkan kawasan Jazirah Arabia bagian barat di sekitar kotasuci Makkah. Nampak Ka’bah menjadi pusat dari lingkaran bergaris tengah 45 km. Seluruh bagian lingkaran ini merupakan kiblat, menurut konsep ihtiyath al-qiblat dari Sudibyo (2011). Garis putus-putus memperlihatkan lintasan gerak semu Matahari yang diproyeksikan ke dalam garis-garis lintang. Terlihat bahwa pada 26 hingga 30 Mei 2014 pergerakan semu Matahari tepat melintas di kiblat. Sehingga kala Matahari berkulminasi atas di sana, yang terjadi pada pukul 16:18 WIB, pada hakikatnya Matahari sedang tepat berada di atas kiblat. SUmber: Sudibyo, 2014 dengan peta dari Google Maps.

Kalkulator

Kala Matahari berkedudukan di atas kiblat, maka kita cukup memasang benda apapun yang asal bisa berposisi tegaklurus permukaan air tenang rata-rata di Bumi. Paling disarankan adalah bandul (lot) yang digantung dengan tali yang kuat pada statif tertentu dan distabilkan sehingga tidak bergerak sama-sekali. Juga dibutuhkan petunjuk waktu (jam) yang telah dikalibrasi dengan waktu referensi. Kalibrasi bisa dilakukan misalnya dengan men-dial (menghubungi) nomor 103 lewat telpon tertentu. Saat waktu tepat menunjukkan jam 16:18 WIB pada salah satu dari kelima hari dalam Minggu Kiblat, maka tandai bayang-bayang tali di lantai/tanah pada dua titik berbeda. Lantas tarik garis lurus melalui kedua titik tersebut. Inilah garis arah kiblat yang tepat.

Bagaimana jika pada hari-hari Minggu Kiblat itu kita justru berhadapan dengan langit berawan/mendung sehingga Matahari tidak nampak? Pengukuran arah kiblat yang akurat dengan menggunakan bayang-bayang Matahari sejatinya dapat dilakukan setiap hari sepanjang tahun. Jadi tanpa harus menunggu momen Minggu Kiblat yang hanya terjadi dua kali dalam setahun. Tata cara pengukurannya pun serupa. Bedanya, pengukuran semacam ini bertumpu pada prinsip azimuth (arah) Matahari tepat berimpit dengan arah kiblat setempat. Untuk Indonesia, momen tersebut dapat terjadi di pagi hari hingga jelang siang (yakni antara bulan Oktober hingga bulan Maret tahun berikutnya) ataupun siang hingga sore hari (yakni antara bulan Maret hingga bulan Oktober di tahun yang sama). Sehingga waktu persisnya (jam dan menit) selalu berubah-ubah dari hari ke hari. Kapan hal itu terjadi? Kita bisa melakukan perhitungan terperinci untuknya. Namun bisa juga kita memanfaatkan program yang telah baku seperti spreadsheet Kalkulator Qiblat 1.2.

Gambar 7. Contoh tampilan keluaran (output) program jadwal shalat, disini menggunakan spreadsheet Jadwal Shalat Hijriyyah versi 1.4 yang belum dipublikasikan. Selain pencantuman lima waktu shalat utama, juga disertakan waktu-waktu penting lainnya seperti waktu terbit, waktu dhuha dan waktu rasydul qiblat. Waktu rasydul qiblat (kotak merah) merupakan waktu saat posisi Matahari tepat berimpitan dengan garis arah kiblat setempat, sehingga bisa dijadikan sebagai pedoman untuk mengkalibrasi arah kiblat untuk bangunan yang dibutuhkan di sekitar tempat tersebut. Dalam contoh ini, waktu rasydul qiblat terjadi di pagi hari. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 7. Contoh tampilan keluaran (output) program jadwal shalat, disini menggunakan spreadsheet Jadwal Shalat Hijriyyah versi 1.4 yang belum dipublikasikan. Selain pencantuman lima waktu shalat utama, juga disertakan waktu-waktu penting lainnya seperti waktu terbit, waktu dhuha dan waktu rasydul qiblat. Waktu rasydul qiblat (kotak merah) merupakan waktu saat posisi Matahari tepat berimpitan dengan garis arah kiblat setempat, sehingga bisa dijadikan sebagai pedoman untuk mengkalibrasi arah kiblat untuk bangunan yang dibutuhkan di sekitar tempat tersebut. Dalam contoh ini, waktu rasydul qiblat terjadi di pagi hari. Sumber: Sudibyo, 2014.

Mengapa fenomena Minggu Kiblat dan persoalan pengukuran arah kiblat yang akurat senantiasa diangkat dari tahun ke tahun? Sederhana saja. Pada 2010 silam masalah arah kiblat pernah menjadi kehebohan bertingkat nasional seiring besarnya persentase masjid di Indonesia yang tak tepat menghadap kiblat, berdasar pengukuran di sejumlah daerah. Kini kehebohan itu telah usai, berganti dengan hiruk-pikuk pemilu. Namun masalahnya sejatinya belum terselesaikan dengan sesungguhnya. Dalam catatan Kementerian Agama RI, terdapat sekitar 700.000 buah masjid yang terdaftar di Indonesia. Jika 60 hingga 80 % diantaranya tidak tepat menghadap kiblat, maka terdapat lebih dari 420.000 hingga lebih dari 560.000 buah masjid Indonesia yang tak tepat menghadap kiblat.

Itu baru berdasarkan jumlah masjid yang terdaftar. Yang terdaftar masih banyak dan memiliki problem yang sama. Belum lagi jika kita memperhitungkan musala, baik musala publik (untuk kepentingan umum) maupun musala pribadi (untuk kepentingan keluarga di kediaman masing-masing). Di sisi lain, satu-satunya cara untuk mengurangi proporsi tersebut adalah dengan melakukan pengukuran arah kiblat di masing-masing masjid/musala sekaligus menera garis shaff (garis tegak lurus garis arah kiblat setempat) guna mengompensasinya.

Referensi:

Sudibyo. 2012. Sang Nabi pun Berputar, Arah Kiblat dan Tata Cara Pengukurannya. Surakarta: Tinta Medina, cetakan pertama.

Catatan :
Kalkulator Qiblat 1.2 dapat diunduh di sini (versi 1997-2003) atau di sini (versi 2007). Program ini belum sepenuhnya sempurna sehingga mungkin menjumpai masalah tertentu bila dijalankan pada komputer meja/jinjing (laptop) tertentu ataupun dijalankan pada sistem operasi non-Windows.

[Menyongsong Minggu Kiblat] Kiblat dan Kisah Para Sahabat

Mei selalu menjadi salah satu bulan kalender yang istimewa bagi ilmu falak. Sebab pada bulan inilah sebuah momen langka sudah menunggu, yakni kala Matahari memiliki kedudukan demikian rupa sehingga tepat berada di atas kiblat. Di tahun 2014 ini, salah satu momen tersebut bakal terjadi pada hari Rabu tanggal 28 Mei 2014 pukul 16:18 WIB. Sementara momen berikutnya bakal terjadi di pertengahan Juli mendatang. Ilmu falak menyebut momen istimewa ini sebagai peristiwa Istiwa’ Azzam. Jika ditransliterasikan ke dalam bahasa Indonesia, maka istilahnya adalah Transit Utama. Sementara hari terjadinya peristiwa tersebut, secara informal, dinamakan Hari Kiblat. Namun peristiwa Istiwa Utama sejatinya tak hanya terjadi di hari itu saja, melainkan juga terjadi sehari sebelum dan sesudahnya selama tiga hari berturut-turut pada jam yang sama (16:18 WIB), yakni pada hari Selasa 27 Mei 2014, Rabu 28 Mei 2014 dan Kamis 29 Mei 2014. Karena itu menurut penulis, istilah yang lebih tepat barangkali adalah Minggu Kiblat.

Gambar 1. Citra satelit Ka'bah dan Masjidil Haram masa kini beserta titik-titik fenomena langit yang berhadapan langsung dengan masing-masing dinding Ka'bah. Citra bersumber dari Google Maps classic mode satellite. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 1. Citra satelit Ka’bah dan Masjidil Haram masa kini beserta titik-titik fenomena langit yang berhadapan langsung dengan masing-masing dinding Ka’bah. Citra bersumber dari Google Maps classic mode satellite. Sumber: Sudibyo, 2014.

Dalam Minggu Kiblat, setiap benda apa saja yang didirikan/tergantung tepat tegaklurus permukaan air tenang di Bumi dan tersinari Matahari pada saat jam yang terkalibrasi menunjukkan pukul 16:18 WIB tersebut, maka bayang-bayangnya tepat akan berimpit dengan arah kiblat setempat. Sehingga momen ini banyak dinanti sebagai salah satu kesempatan untuk meluruskan kembali atau mengkalibrasi ulang arah kiblat di suatu tempat baik di bangunan ibadah (masjid/musala) maupun bangunan lainnya, dengan instrumen dan metode yang sederhana, namun memiliki tingkat ketelitian sangat tinggi. Pada umumnya hanya dibutuhkan tali kokoh dengan pemberat diujungnya yang digantung stabil dan jam jenis apapun yang telah dikalibrasi.

Kini peristiwa Minggu Kiblat telah menjadi pengetahuan umum. Namun tidak demikian halnya dengan 14 abad silam. Kala Rasulullah SAW telah wafat dan khalif Abu Bakar RA mencanangkan perluasan dakwah Islam ke segala penjuru yang berepisentrum di kotasuci Madinah, permasalahan baru menggayuti para sahabat yang turut berpartisipasi. Yakni bagaimana caranya menghadap ke kiblat di wilayah yang baru, yang berjarak sangat jauh dari kotasuci Makkah dan Madinah? Padahal menghadap ke kiblat menjadi bagian dari syarat sahnya shalat. Arah kiblat juga menjadi hal yang esensial pada saat berdo’a, berzikir dan memakamkan jenazah. Di sisi lain, Rasulullah SAW sendiri tidak menekankan bagaimana caranya. Lewat dua sabdanya beliau hanya menunjukkan arah kiblat bagi kotasuci Madinah dan arah kiblat bagi penduduk kota San’a (Yaman).

Jadi bagaimana caranya? Menggunakan kompas magnetik jelas tak mungkin, karena instrumen ini baru dikenal dalam peradaban Islam sejak tahun 1232 berdasarkan catatan dari Persia (kini Iran). Sementara implementasinya guna pengukuran arah kiblat baru terjadi hampir seabad kemudian, dipelopori oleh ibn Sim’un dari Mesir. Ilmu falak pada saat itu pun belum berkembang sehingga metode, prosedur dan tatacara pengukuran arah kiblat pun belum dibakukan. Apa yang harus dilakukan?

Kreatif

Gambar 2. Citra satelit Timur Tengah masa kini dalam proyeksi Mercator beserta lokasi Ka'bah (Makkah), Fusthat (Kairo), Baghdad dan Wasith. Citra bersumber dari Google Maps classic mode satellite. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 2. Citra satelit Timur Tengah masa kini dalam proyeksi Mercator beserta lokasi Ka’bah (Makkah), Fusthat (Kairo), Baghdad dan Wasith. Citra bersumber dari Google Maps classic mode satellite. Sumber: Sudibyo, 2014.

Cukup mengesankan, saat itu sebagian sahabat ber-ijtihad kreatif dengan mendasarkan diri pada apa yang ada di langit, yakni fenomena langit tertentu baik di saat siang maupun malam hari. Bangsa Arab termasuk suku Quraisy memang telah memiliki pengetahuan astronomi semenjak masa pra-Islam, meski sebatas pada kepentingan praktis. Dengan memahami konfigurasi benda-benda langit, suku Quraisy mampu memprakirakan kapan datangnya musim hujan. Di wilayah beriklim gurun, musim hujan berumur sangat pendek namun selalu dinanti karena membuat padang rumput bermunculan, meski hanya sebentar. Tumbuhnya rerumputan merupakan kabar bagus bagi para peternak, sehingga mereka akan mengiring hewan-hewan ternaknya ke sana.

Pengetahuan benda-benda langit khususnya rasi-rasi bintang juga sangat bermanfaat untuk memandu arah dalam perjalanan malam hari di kawasan padang pasir, seiring tiadanya tapak jalan yang jelas bagi lalu-lintas karavan. Padahal lintasan di sepanjang pesisir timur Laut Merah merupakan bagian dari jalur perdagangan global yang sibuk.

Dan seperti halnya peradaban lainnya, posisi benda-benda langit juga dimanfaatkan bangsa Arab untuk membangun sistem penanggalan (kalender). Walaupun kalender antara satu suku dengan suku lainnya dalam bangsa Arab adalah berbeda-beda. Misalnya, kalender suku Quraisy (Makkah) berbentuk lunisolar yang disebut sistem Naasi’. Kalender ini bertumpu peredaran Bulan dan Matahari sekaligus, sehingga setahun bisa terdiri dari 12 atau 13 bulan kalender, mirip dengan kalender bangsa Cina. Sementara kalender suku-suku Yastrib (Madinah) berbentuk kalender lunar, yang murni bertumpu pada peredaran Bulan saja dengan setahun terdiri dari 12 bulan kalender.

Dalam aras yang sama, sebagian sahabat khususnya yang pernah menghabiskan sebagian usianya di kotasuci Makkah juga mengetahui bahwa jika mereka berdiri di atas setiap dinding Ka’bah dan menatap kaki langit yang berhadapan dengannya, pada waktu-waktu tertentu terdapat benda-benda langit tertentu yang muncul secara teratur. Berhadapan dengan dinding tenggara Ka’bah terdapat titik terbitnya bintang Canopus, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai bintang Suhail. Bintang ini adalah bintang terterang kedua di langit malam setelah Sirius (Syi’raa). Sementara dinding timur laut berhadapan dengan titik terbitnya Matahari pada saat istimewa, yakni titik balik musim panas (summer soltice).

Sedangkan berhadapan dengan dinding barat laut ada dua fenomena sekaligus, yakni titik terbenamnya tiga bintang di lengan bajak rasi bintang Biduk/Ursa Mayor (bahasa Arab: ad-Dubb) dan titik terbenamnya Bulan sabit muda (hilaal) di saat/sekitar summer solstice. Tiga bintang Biduk itu adalah Alioth (bahasa Arab: al-Yat), Dubhe (bahasa Arab: ad-Dubb) dan Merak (bahasa Arab: al-Maraqq). Dan dinding barat daya bahkan berhadapan dengan tiga fenomena sekaligus, masing-masing titik terbenamnya Matahari saat titik balik musim dingin (winter solstice), titik terbenamnya hilaal di saat/sekitar winter solstice dan titik terbenamnya Bulan paling selatan.

Pengetahuan inilah yang kemudian diterapkan kala para sahabat berpartisipasi dalam penyiaran Islam keluar lingkungan kotasuci Makkah dan tanah Hijaz, yang pada akhirnya membentang di daerah yang sangat luas mulai dari Mesir di sebelah barat hingga Mesopotamia di timur dan dari Syria di utara hingga Yaman di selatan. Dinding-dinding masjid yang dibangun pada saat itu pun disesuaikan fenomena-fenomena langit tersebut.

Gambar 3. Diagram azimuth kiblat (Q), azimuth ke Masjidil Aqsha (J) dan arah-arah mataangin utama (N = North, E = East, S = South, W = West) untuk kota-kota Fusthat/Kairo, Wasith dan Baghdad. Tanda panah biru menunjukkan azimuth bangunan masjid raya di masing-masing kota. Sumber: Saifullah dkk, 2001.

Gambar 3. Diagram azimuth kiblat (Q), azimuth ke Masjidil Aqsha (J) dan arah-arah mataangin utama (N = North, E = East, S = South, W = West) untuk kota-kota Fusthat/Kairo, Wasith dan Baghdad. Tanda panah biru menunjukkan azimuth bangunan masjid raya di masing-masing kota. Sumber: Saifullah dkk, 2001.

Evaluasi masa kini menunjukkan, meski upaya pengukuran arah kiblat pada masa itu belum berjumpa dengan teknik dan metode pengukuran presisi, ijtihad kreatif parab sahabat ini relatif cukup baik untuk ukuran zamannya. Sehingga orientasi dari bangunan-bangunan masjid yang dibangun pada masa tersebut relatif tidak berbeda besar dibandingkan perhitungan arah kiblat di masa kini. Hal tersebut terlihat pada masjid-masjid raya yang didirikan pada masa itu Fustat (kini bagian dari Kairo, Mesir), Baghdad dan Kufah (keduanya di Irak).

Gambar 4. Tabel posisi kota-kota Baghdad, Cairo dan Wasith beserta azimuth kiblat dan azimuth bangunan masjid raya di masing-masing kota, yang rata-rata dibangun sebelum tahun 670. Azimuth Matahari terbit saat musim dingin (winter sunrise) dan terbenam juga saat musim dingin (winter sunset) pun disertakan. Kolom hijau menunjukkan selisih antara azimuth bangunan terhadap Matahari terbit/terbenam musim dingin, yang semuanya bernilai kecil menandakan bahwa fenomena terbit/terbenamnya Matahari dijadikan patokan untuk pengukuran arah kiblat masa itu. Sumber: Saifullah dkk, 2001.

Gambar 4. Tabel posisi kota-kota Baghdad, Cairo dan Wasith beserta azimuth kiblat dan azimuth bangunan masjid raya di masing-masing kota, yang rata-rata dibangun sebelum tahun 670. Azimuth Matahari terbit saat musim dingin (winter sunrise) dan terbenam juga saat musim dingin (winter sunset) pun disertakan. Kolom hijau menunjukkan selisih antara azimuth bangunan terhadap Matahari terbit/terbenam musim dingin, yang semuanya bernilai kecil menandakan bahwa fenomena terbit/terbenamnya Matahari dijadikan patokan untuk pengukuran arah kiblat masa itu. Sumber: Saifullah dkk, 2001.

Pemanfaatan benda-benda langit tertentu guna menentukan arah kiblat merupakan derivasi dari pengetahuan posisi benda-benda langit bagi kepentingan praktis peradaban manusia, yakni sebagai alat bantu penentuan arah mataangin dan musim. Telah diketahui bahwa rasi-rasi bintang tertentu juga berfungsi sebagai petunjuk arah. Misalnya rasi bintang Crux di langit selatan, di Indonesia lebih populer sebagai rasi Pari atau Gubug Penceng, merupakan penunjuk arah selatan. Bila kita menarik garis khayali antara bintang alpha Crucis (atas) dan gamma Crucis (bawah), maka perpanjangannya ke arah kaki langit akan tepat berimpit dengan titik selatan sejati. Demikian halnya rasi bintang Ursa Mayor di langit utara, di Indonesia lebih dikenal sebagai rasi Biduk. Rasi bintang ini dikenal sebagai penunjuk arah utara, dimana bila kita menarik garis lurus khayali antara bintang Merak (atas) dan Dubhe (bawah) hingga menembus kaki langit, maka tepat di situlah titik utara sejati berada.

Dalam hal arah kiblat, beberapa rasi bintang juga bisa digunakan sebagai patokan langsung. Misalnya rasi bintang Orion, yang di Indonesia dikenal sebagai Waluku. Fokuskan perhatian pada tiga bintang berdampingan di pinggang rasi ini, yakni Alnitak, Alnilam dan Mintaka, dan tunggu saat rasi Waluku menempati langit barat. Lantas tariklah garis khayali melintasi ketiga bintang itu dan terus menembus hingga ke kaki langit, maka di kaki langit itulah arah kiblatnya khususnya untuk Indonesia.

Namun kini pemanfaatan benda-benda langit untuk keperluan tersebut kian meluas, tak hanya sebatas pada posisi rasi-rasi bintang tertentu. Bintang-bintang terang tertentu, pun planet-planet terang tertentu dan bahkan Bulan dan Matahari pun kini dilibatkan guna pengukuran arah kiblat. Pengukuran dengan basis (bayang-bayang) Matahari kini menjadi pengukuran terpopuler karena beragam kelebihannya, seperti terlaksana di siang hari, bayang-bayang yang dibentuk sangat tajam (sepanjang langit mendukung tanpa tertutup mendung) dan relatif mudah.

Referensi :

1. Sudibyo. 2012. Ensiklopedia Fenomena Alam dalam al-Qur’an, Menguak Rahasia Ayat-Ayat Kauniyah. Surakarta: Tinta Medina, cetakan pertama.

2. Sudibyo. 2012. Sang Nabi pun Berputar, Arah Kiblat dan tata Cara Pengukurannya. Surakarta: Tinta Medina, cetakan pertama.

3. Sudibyo. 2013. Kembali ke Langit, Narasi Pengukuran Kiblat di Masa Kini. Makalah dalam Seminar Nasional Uji Kelayakan Istiwaain Sebagai Alat Bantu Menentukan Arah Kiblat yang Akurat, Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo, 5 Desember 2013.

4. Thaha. 1983. Astronomi dalam Islam. Jakarta: Bina Ilmu.

5. Saifullah dkk. The Qiblah of Early Mosques : Jerusalem or Makkah? Islamic Awareness, diunduh 22 Desember 2001.