Ledakan Besar di Gemeksekti Kebumen, Sebuah Catatan Singkat

Senin siang 19 Juni 2017 Tarikh Umum (TU), bertepatan dengan 24 Ramadhan 1438 H, menjelang waktu Dhuhur, warga kota Kebumen di Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah) digemparkan dengan gelegar suara ledakan yang sangat keras. Ledakan tersebut datang dari kawasan halaman-belakang kota sisi utara, terjadi sekitar pukul 10:30 WIB. Saksi mata melaporkan terdengar sedikitnya dua suara ledakan dengan yang terkeras adalah ledakan kedua. Akibat dari ledakan ini, sedikitnya 17 bangunan tempat tinggal dan masjid yang berlokasi dusun Semelang desa Gemeksekti mengalami aneka kerusakan ringan. Mulai dari pecahnya kaca-kaca jendela dan pintu hingga retaknya eternit dan dinding (tembok). Sebagian warga sempat dibikin panik dan membanjiri balai desa setempat.

Gambar 1. Detik-detik menjelang Ledakan Gemeksekti, saat mercon hasil razia mulai dimusnahkan dengan cara dibakar. Nampak ledakan pertama di sisi kanan, yang diduga memicu ledakan kedua dalam beberapa detik kemudian. Sumber: Kebumen Ekspres, 2017.

Catatan singkat ini dibangun melalui analisis jarak jauh, dengan kondisi yang diidealkan dan tanpa tinjauan ke lokasi. Sehingga kemungkinan terjadi kondisi yang berbeda antara hasil catatan ini dengan senyatanya tetap berpeluang terjadi.

Mercon

Penyebab ledakan tersebut tidaklah misterius dan sudah diketahui sejak awal. Yakni tumpukan petasan (mercon) dalam jumlah yang cukup banyak produk razia petasan yang digencarkan Polres Kebumen selama bulan Ramadhan 1438 H. Satu saksi mata melaporkan terdapat sekitar 10 karung petasan yang hendak dimusnahkan. Demam mercon selalu mewabah di Kebumen setiap kali bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri tiba. Namun dalam beberapa tahun terakhir Polres Kebumen menggencarkan razia terhadap ‘asesoris Lebaran’ yang sejatinya dikategorikan sebagai bahan peledak kelompok low explosives itu.

Sebagai titik pemusnahan seluruh mercon hasil razia, dipilih satu sudut di dusun Semelang desa Gemeksekti. Tepatnya pada lereng sebuah bukit batu kapur yang sedang ditambang hingga membentuk dinding tegak yang menyajikan lapisan-lapisan bebatuan khas formasi Penosogan dan juga ketampakan sesar (patahan) turun. Lokasi ini nampaknya dipilih karena selain dekat dengan kota Kebumen (dimana Markas Polres berada) juga dianggap terlindung. Karena berada di cekungan produk penambangan dan berjarak minimal 100 meter dari rumah terdekat. Sehingga dampak ledakannya dianggap akan ternetralisir oleh struktur cekungan. Pemusnahan dilakukan dengan cara menaruh seluruh mercon hasil razia di paras tanah di udara terbuka untuk kemudian dibakar.

Gambar 2. Lokasi titik ledak dalam Ledakan Gemeksekti dalam beberapa jam kemudian yang masih ramai dikunjungi warga. Nampak kertas sisa-sisa meron yang dimusnahkan masih berserakan. Di latar belakang nampak dinding tegak hasil penambangan batu kapur, menampilkan lapisan-lapisan bebatuan dan sebuah sesar turun. Sumber: Kebumen Ekspres, 2017.

Perhitungan Dampak

Siapa sangka, proses pemusnahan ini justru berujung dengan ledakan sangat keras. Dan merusak. Tak ada korban luka-luka, apalagi korban jiwa, yang ditimbulkannya. Namun sedikitnya 17 bangunan rumah dan 1 masjid mengalami kerusakan. Seluruh bangunan tersebut terletak di sisi timur hingga timur laut dari titik ledakan. Getaran mirip gempa terasakan hingga sekitar 1 kilometer dari lokasi ledakan.

Hampir dapat dipastikan bahwa kerusakan-kerusakan dan getaran tersebut diakibatkan oleh penjalaran gelombang kejut (shockwave) dari ledakan. Bukan karena konversi energi ledakan menjadi energi seismik yang lantas menjalar di tanah sebagai gelombang seismik (gempa), karena nilai konversi itu sangat kecil. Gelombang kejut adalah tekanan tak-kasat mata yang diekspresikan oleh nilai tekanan-lebih (overpressure), yakni selisih antara tekanan gelombang kejut terhadap tekanan atmosfer standar (diidealkan pada paras air laut rata-rata). Nilai overpressure itu bisa mulai dari sekecil 200 Pascal (Pa, 1 Pa = 1 Newton/meter2) dengan dampak minimal yakni hanya menggetarkan kaca jendela dan berkemungkinan meretakkan kisi-kisinya. Namun bisa juga sebesar 1 MegaPascal (1.000.000 Pa) dengan dampak sangat mematikan bagi manusia, karena mampu memutilasi tubuh kita tanpa ampun.Parah tidaknya dampak gelombang kejut bergantung kepada jaraknya terhadap titik ledakan. Sebab nilai overpressure berbanding terbalik dengan bertambahnya jarak. Dan dalam kondisi tertentu bahkan ia bisa berbanding terbalik dengan kuadrat jarak dari titik ledakan.

Masjid yang mengalami pecahnya kaca-kaca pintu dan jendela dalam ledakan ini berjarak 160 meter dari titik ledakan. Dengan anggapan bahwa ledakan terjadi di udara terbuka tanpa halangan, maka dapat perhitungan dengan persamaan-persamaan gelombang kejut memprakirakan bahwa kekuatan ledakan adalah sekitar 25 kg TNT. Perhitungan dengan persamaan yang sama memperlihatkan gelombang kejut ledakan sanggup memecahkan gendang telinga manusia jika berdiri pada jarak 14 meter dari titik ledak. Ia juga sanggup menjatuhkan orang yang sedang berdiri tegak, jika berada pada jarak 37 meter dari titik ledak. Gelombang kejut yang sama juga mampu meremukkan kaca-kaca jendela pada jarak 107 meter dari titik ledak. Bahkan gelombang kejut ini pun masih sanggup menggetarkan kaca-kaca jendela hingga jarak 875 meter dari titik ledak.

Gambar 3. Hasil perhitungan dampak papasan gelombang kejut Ledakan Gemeksekti, dipilih untuk dampak tertentu, yang diplot ke dalam peta. Sumber: Sudibyo, 2017.

Saat angka-angka hasil perhitungan tersebut diplot ke dalam peta, nyatalah bahwa saat radius 160 meter ditarik dari titik ledakan, terdapat sekurangnya 15 bangunan yang terdeteksi berada dalam radius tersebut. Termasuk sebuah masjid. Seluruh bangunan itu berada di sisi timur laut dari titik ledakan. Dari sini terlihat bahwa hasil perhitungan tersebut nampaknya bersesuaian dengan data bangunan yang mengalami kerusakan di lapangan.

Harus digarisbawahi bahwa perhitungan di atas bersandar pada kondisi ideal, yakni titik ledak di udara terbuka. Dalam realitanya, titik ledak pada Ledakan Gemeksekti ini berada tepat di sisi sebuah tebing tegak hasil penambangan batu kapur. Kontur tanah di sekeliling titik ledak juga lebih tinggi, kecuali ke arah timur laut yang lebih terbuka. Sehingga gelombang kejut ledakan nampaknya terfokus hanya mengarah ke sisi timur laut saja, tidak ke arah-arah mataangin yang lain. Gelombang kejut yang terfokus hanya ke satu sisi juga membawa implikasi bahwa peledak yang digunakan memiliki kekuatan lebih kecil. Artinya Ledakan Gemeksekti mungkin ditimbulkan oleh akumulasi mercon yang totalnya kekuatannya tak sampai mencapai 25 kilogram TNT.

Catatan

Mercon tergolong ke dalam peledak low explosives, karena memiliki kecepatan peledakan yang jauh lebih kecil ketimbang kecepatan suara. Namun di sisi lain, mercon dikenal takstabil. Paparan panas atau tekanan sedikit saja sudah cukup untuk membuatnya bereaksi dan mengalami peristiwa mirip detonasi yang disebut deflagrasi. Rekaman video dalam peristiwa Ledakan Gemeksekti memperlihatkan nampaknya terjadi semacam ‘reaksi berantai’ saat pembakaran pemusnahan mercon hasil razia tak berlangsung secara serempak di setiap titik. Akibatnya kala ledakan pertama terjadi, ia mengirimkan gelombang kejut yang cukup kuat kepada tumpukan mercon disebelahnya (yang belum terbakar). Paparan gelombang kejut ini membuat tumpukan tersebut spontan bereaksi dengan melibatkan massa peledak yang jauh lebih besar.

Razia dan pemusnahan mercon, di satu sisi memang memiliki dilema tersendiri. Dengan sifat takstabilnya, ia tak bisa disimpan di satu lokasi dalam jangka waktu lama. Sementara kegiatan pemusnahannya sendiri juga beresiko, terlebih bila dibakar. Berbelas tahun silam anggota Polres Purworejo (di sebelah timur Kebumen) gugur kala memusnahkan mercon hasil razia dengan pembakaran. Pemusnahan dengan cara lain, misalnya direndam air, juga tak efektif karena begitu kandungan air mengering maka mercon dapat memiliki kemampuan eksplosifnya kembali.

Mengingat sifat paparan gelombang kejutnya terlebih lagi jika massa merconnya cukup besar, maka kegiatan pemusnahan mercon seyogyanya dikelola sedemikian rupa sehingga meminimalkan dampak paparan gelombang kejut ke lingkungan sekitar khususnya dalam arah mendatar. Misalnya, dengan menempatkan mercon hasil razia ke dalam sebuah lubang mirip liang lahat. Sehingga tatkala terjadi deflagrasi, paparan gelombang kejut ke arah horizontal teredam sepenuhnya oleh dinding-dinding tanah liang tersebut. Hanya meloloskan gelombang kejut ke arah vertikal.

Catatan Tambahan

Informasi dari Polres Kebumen: terdapat ribuan mercon yang berhasil disita dalam razia sejak awal Ramadhan 1438 H di Kabupaten Kebumen. Hampir semuanya diperlakukan sebagai bahan peledak low explosive, sehingga isinya (bahan mercon) dikeluarkan. Secara akumulatif terkumpul tak kurang dari 287 kilogram bahan mercon. Pemusnahan dilaksanakan dengan cara menabur bahan mercon di permukaan tanah dalam dua kelompok, untuk kemudian dibakar.

Normalnya pada proses pembakaran di udara terbuka, bahan mercon hanya akan terbakar saja tanpa meledak (berbeda jika berada di dalam selongsong). Namun diindikasikan ketebalan bahan mercon yang ditabur pada kelompok kedua masih terlalu tebal. Sehingga tatkala lapisan bagian atas terbakar, bagian bawahnya masih cukup terkungkung saat tersambar api sehingga masih mampu meledak. Maka cukup rasional untuk mengatakan bahwa Ledakan Gemeksekti diakibatkan oleh deflagrasi peledak low explosive yang kekuatannya setara dengan 25 kilogram trinitrotoluena (TNT).

Referensi:

Kinney & Graham. 1985. Explosive Shocks in the Air. Springer-Verlag, New York, 2nd edition.

Laman Kebumen Ekspres. Detik-Detik Ledakan Gemeksekti. 19 Juni 2017.

Ledakan Dahsyat Tianjin, Cina

Empat hari pasca peristiwa ledakan dahsyat di kompleks pelabuhan Tianjin (Cina), korban tewas tercatat mencapai 104 orang. Sementara korban luka-lukanya, baik berat maupun ringan, membengkak menjadi 720 orang lebih. Statistik ini hanyalah sementara dan dikhawatirkan masih akan terus membengkak. Apalagi masih banyak yang dinyatakan hilang, termasuk diantaranya 85 petugas pemadam kebakaran yang berada di lokasi tepat sebelum ledakan kedua. Ribuan penduduk mengungsi, yang membikin macet jalan-jalan raya kota itu pada jam-jam pertama pasca ledakan. Beragam isu khas bencana pun berseliweran. Salah satunya (yang terbukti benar) adalah kebocoran gas sianida, gas beracun yang memiliki reputasi mematikan.

Gambar 1. Pemandangan lokasi ledakan dahsyat di kompleks pelabuhan Tianjin, diabadikan dari udara. Titik pusat ledakan terdahsyat nampak ditandai dengan cekungan (kawah) yang tergenangi cairan. Disekelilingnya terlihat tumpukan petikemas yang berantakan dan jajaran mobil siap ekspor yang berubah menjadi puing-puing. Sumber: News.cn, 2015.

Gambar 1. Pemandangan lokasi ledakan dahsyat di kompleks pelabuhan Tianjin, diabadikan dari udara. Titik pusat ledakan terdahsyat nampak ditandai dengan cekungan (kawah) yang tergenangi cairan. Disekelilingnya terlihat tumpukan petikemas yang berantakan dan jajaran mobil siap ekspor yang berubah menjadi puing-puing. Sumber: News.cn, 2015.

Bencana ini terjadi di distrik Binhai Baru yang menjadi bagian dari kawasan ekonomi khusus terbuka Tanggu di Tianjin. Kompleks pelabuhan tersebut hanya berjarak sekitar 100 kilometer di tenggara Beijing, ibukota Cina. Bencana dimulai pada Selasa malam 12 Agustus 2015 Tarikh Umum (TU). Hingga tiga hari kemudian tercatat telah terjadi sepuluh ledakan di kompleks lapangan petikemas pelabuhan Tianjin ini. Ledakan yang terbesar adalah ledakan ganda pada 12 Agustus 2015 TU pukul 22:30 WIB (23:30 waktu Cina), masing-masing berselisih waktu hanya 30 detik. Ledakan kedua adalah yang terdahsyat, menghasilkan bolaapi ledakan (fireball) sangat besar dan sangat terang. Ia kemudian berkembang menjadi awan jamur (mushroom cloud) yang membumbung tinggi ke langit. Dalam waktu bersamaan Bumi bergetar. Sementara udara tertekan demikian hebat akibat penjalaran gelombang kejut (shockwave), yakni energi ledakan yang ditransfer ke udara sekitar dalam bentuk tekanan dengan kuat tekanan berbanding terbalik terhadap kuadrat jaraknya dari titik pusat ledakan (ground zero).

Gambar 2. Awan jamur (mushroom cloud) terlihat jelas dari kejauhan sesaat setelah ledakan kedua terjadi di kompleks pelabuhan Tianjin. Ketampakan awan jamur berskala relatif besar menjadi salah satu indikasi bahwa ledakan Tianjin melepaskan energi yang besar. Sumber: Anonim, 2015.

Gambar 2. Awan jamur (mushroom cloud) terlihat jelas dari kejauhan sesaat setelah ledakan kedua terjadi di kompleks pelabuhan Tianjin. Ketampakan awan jamur berskala relatif besar menjadi salah satu indikasi bahwa ledakan Tianjin melepaskan energi yang besar. Sumber: Anonim, 2015.

Di sekitar ground zero, gelombang kejutnya demikian bertenaga sehingga mampu memorak-porandakan tumpukan petikemas yang tersusun rapi. Ia juga berkemampuan meremukkan (sebagian) bangunan yang ada di jalurnya. Tak kurang dari 17.000 unit apartemen rusak berat, khususnya yang berjarak hingga 2 kilometer dari ground zero. Di samping itu masih ada sekitar 800 buah mobil baru siap ekspor dari berbagai pabrikan yang hancur menjadi puing-puing karena terparkir tepat di sebelah ground zero. Hingga radius sekitar 10 kilometer dari ground zero, gelombang kejutnya masih sanggup menggetarkan kaca jendela. Jumlah kerugian material pun melangit, diperkirakan mencapai trilyunan rupiah.

Hingga ratusan bahkan ribuan kilometer dari ground zero, gelombang kejut ledakan ini masih sanggup dideteksi oleh radas (instrumen) mikrobarometer. Meskipun kuat tekanannya sudah sangat lemah dan kini menjalar sebagai gelombang infrasonik. Sejumlah radas mikrobarometer ultrasensitif yang terpasang di stasiun-stasiun IMS (International Monitoring System) yang menjadi bagian dari pengawasan larangan ujicoba nuklir global di bawah payung CTBTO (Comprehensive nuclear Test Ban Treaty Organisation) merekam ledakan Tianjin ini. Mikrobarometer terjauh yang mengendusnya berlokasi di Tonga (Samudera Pasifik) dan Kazakhstan, ribuan kilometer jauhnya dari ground zero.

Gambar 3. Beberapa stasiun IMS dalam jejaring CTBTO yang mendeteksi ledakan dahsyat Tianjin pada radas mikrobarometernya. Gelombang kejut ledakan dahsyat Tianjin menjalar demikian jauh hingga sanggup terekam oleh radas-radas mikrobarometer yang berjarak ratusan atau bahkan ribuan kilometer dari Tianjin. Sumber: CTBTO, 2015.

Gambar 3. Beberapa stasiun IMS dalam jejaring CTBTO yang mendeteksi ledakan dahsyat Tianjin pada radas mikrobarometernya. Gelombang kejut ledakan dahsyat Tianjin menjalar demikian jauh hingga sanggup terekam oleh radas-radas mikrobarometer yang berjarak ratusan atau bahkan ribuan kilometer dari Tianjin. Sumber: CTBTO, 2015.

Dalam tulisan ini, yang disebut dengan ledakan dahsyat Tianjin adalah peristiwa ledakan terkuat (yakni ledakan kedua) di kompleks pelabuhan Tianjin. Seberapa kuat ledakan dahsyat Tianjin ini?

40 ton TNT

Meski terendus oleh sejumlah stasiun IMS di CTBTO, namun lembaga pengawas larangan ujicoba nuklir global tersebut memastikan bahwa ledakan dahsyat Tianjin tidak mengandung ciri-ciri khas ledakan nuklir. Terutama karena tiadanya emisi gas-gas radioaktif khas produk ledakan nuklir. Ia hanyalah ledakan dari bahan-bahan kimia (ledakan konvensional) semata. Selain produk ledakan nuklir, gelombang infrasonik yang menjalar sangat jauh juga dapat diproduksi dari aksi pelepasan energi tinggi lainnya, seperti detonasi bahan eksplosif (peledak) konvensional maupun bencana alam seperti letusan besar gunung berapi. Hal tersebut dapat dilihat misalnya dalam Letusan Kelud 2014 dan Letusan Sangeang Api 2014, keduanya mengambil lokasi di Indonesia.

Dua ledakan pertama di pelabuhan Tianjin memproduksi getaran di kerak bumi. Getaran ini adalah hasil konversi energi ledakan menjadi energi seismik. Seperti halnya gempa bumi, getaran ini pun terekam dalam seismometer (radas/instrumen pengukur gempa) sebagai seismogram. Sekilas terlihat mirip seismogram gempa bumi umumnya, namun sejatinya sangat berbeda karena mengandung pola khas ledakan. Analisis memperlihatkan kedua ledakan pertama tersebut memiliki magnitudo lokal masing-masing 2,3 dan 2,9 skala Richter.

Pada dasarnya magnitudo gempa adalah ekspresi besarnya energi seismik. Energi seismik dalam peristiwa ledakan dahsyat Tianjin berasal dari konversi energi total ledakan itu sendiri . Dengan mempertimbangkan rasio energi seismik terhadap energi total ledakan yang bernilai (rata-rata) 1 banding 63, maka dapat diprakirakan kedua ledakan tersebut melepaskan energi masing-masing 3 dan 21 ton TNT. Terminologi ton TNT adalah satuan tak-resmi energi dalam kaitannya dengan bahan ledakan ataupun detonasi (peristiwa ledakan). 1 ton TNT merupakan jumlah energi yang setara 4,186 GigaJoule dan (dianggap) setara jumlah energi yang dilepaskan dari pembakaran 1.000 kilogram bahan peledak tingkat tinggi trinitrotoluena (TNT). Satuan ton TNT diderivasikan dari satuan kiloton TNT, yang acap digunakan untuk menggambarkan energi dan dampak ledakan nuklir.

Gambar 4. Rekaman ledakan dahsyat Tianjin pada salah satu seismometer di dalam jejaring pemantau gempa di Cina. Usikan rapat nan kecil di sisi kiri merupakan rekaman ledakan pertama yang menghasilkan getaran bermagnitudo 2,3 skala Richter. Sedangkan usikan rapat yang lebih besar (sisi kanan) dihasilkan dari getaran akibat ledakan kedua, dengan magnitudo 2,9 skala Richter. Sumber: Weibo, 2015.

Gambar 4. Rekaman ledakan dahsyat Tianjin pada salah satu seismometer di dalam jejaring pemantau gempa di Cina. Usikan rapat nan kecil di sisi kiri merupakan rekaman ledakan pertama yang menghasilkan getaran bermagnitudo 2,3 skala Richter. Sedangkan usikan rapat yang lebih besar (sisi kanan) dihasilkan dari getaran akibat ledakan kedua, dengan magnitudo 2,9 skala Richter. Sumber: Weibo, 2015.

Jumlah energi yang dilepaskan pada ledakan dahsyat Tianjin juga dapat diprakirakan dari dampak gelombang kejutnya ke lingkungan sekitar. Hingga radius 10 kilometer dari ground zero, hempasan gelombang kejut diinformasikan masih sanggup menggetarkan kaca jendela bangunan. Efek ini muncul akibat overpressure (tekanan lebih) sebesar 200 Pascal (0,03 psi). Perhitungan sederhana mengacu persamaan-persamaan matematis yang disajikan Kinney dan Graham (Kinney & Graham, 1985) memprakirakan, secara kasar energi ledakan (yield) berkisar 40 ton TNT. Pada tingkat energi ini persamaan serupa memprakirakan di ground zero bakal terbentuk kawah (cekungan) dengan prakiraan garis tengah 50 meter. Cekungan terbentuk sebagai akibat overpressure yang sangat besar, yakni melebihi 25 MegaPascal (362 psi). Cukup mengesankan pemotretan (pencitraan) udara di atas lokasi ledakan dengan menggunakan pesawat udara nir-awak (drone) memperlihatkan memang ada cekungan besar di ground zero. Cekungan tersebut kini tergenangi cairan dan memiliki perkiraan diameter sekitar 50 meter. Sejumlah dampak hempasan gelombang kejut lainnya pun sejauh ini konsisten dengan ledakan non-nuklir yang memiliki yield 40 ton TNT.

Indikasi lain besarnya energi ledakan dahsyat Tianjin datang dari langit. Sedikitnya tiga satelit cuaca yang berpangkalan di orbit geostasioner (ketinggian 35.782 kilometer di atas garis khatulistiwa) dan bertugas meliput dinamika cuaca di kawasan Asia Timur Jauh merekam pemandangan takbiasa di atas Tianjin pada saat bencana. Ketiganya masing-masing adalah satelit Himawari-8 (Jepang), Himawari-7 atau MTSAT-2 (Jepang) dan Chollian atau Coms-1 (Korea Selatan). Ketiga satelit itu merekam apa yang dikenal sebagai fenomena titik-panas (hotspot), tepat di atas pelabuhan Tianjin. Bersamaan dengan hadirnya titik-panas, terekam pula awan-awan yang bergerak menjauh darinya. Titik-panas tersebut merupakan bagian udara yang suhunya lebih tinggi dibanding sekelilingnya dan merupakan produk lebih lanjut dari mengembangnya gas-gas panas yang semula membentuk awan jamur. Sembari mengembang, gas-gas tersebut terus mendingin. Tapi suhunya masih lebih tinggi ketimbang udara sekelilingnya. Terdeteksinya titik-panas oleh satelit dalam waktu bersamaan dengan ledakan dahsyat Tianjin menjadi pertanda besarnya energi ledakan.

Gambar 5. Ledakan dahsyat Tianjin seperti teramati dari satelit cuaca Himawari-8 pada kanal 3,9 mikron dalam selisih waktu 40 menit. Terlihat hotspot (titik-panas) yang menunjukkan lokasi ledakan. Juga awan yang terlihat menyibak menjauhi hotspot , mungkin akibat dorongan gelombang kejut ledakan. Sumber: JMA, 2015.

Gambar 5. Ledakan dahsyat Tianjin seperti teramati dari satelit cuaca Himawari-8 pada kanal 3,9 mikron dalam selisih waktu 40 menit. Terlihat hotspot (titik-panas) yang menunjukkan lokasi ledakan. Juga awan yang terlihat menyibak menjauhi hotspot , mungkin akibat dorongan gelombang kejut ledakan. Sumber: JMA, 2015.

Penyebab ?

Jika ledakan dahsyat Tianjin adalah benar melepaskan energi 40 ton TNT maka kedahsyatannya setara dengan ledakan bom non-nuklir terkuat saat ini. Yakni bom FOAB yang ada dalam arsenal Angkatan Udara Russia. Bila diperbandingkan dengan bom non-nuklir terkuat milik AU Amerika Serikat, yakni GBUI-43/B MOAB (massive ordnance air blast), maka ledakan dahsyat Tianjin adalah empat kali lebih bertenaga. Meski begitu ledakan dahsyat Tianjin bukanlah yang terkuat sepanjang sejarah ledakan non-nuklir. Ia masih kalah jauh ketimbang bencana meledaknya roket N-1 (Russia) pada 3 Juli 1969 TU. N-1 adalah roket raksasa yang ditujukan untuk mendaratkan manusia Russia (saat itu Uni Soviet) di Bulan, namun meledak di landasan dalam penerbangan ujicoba tak-berawak dengan menghempaskan energi 7.000 ton TNT. Bahkan dibandingkan bencana industrial terbesar terakhir, yakni meledaknya gudang penyimpanan kembang api di kota Enschede (Belanda) pada 13 Mei 2000 TU yang melepaskan energi antara 4.000 hingga 5.000 ton TNT, ledakan dahsyat Tianjin masih kalah jauh.

tianjin-blast_modelling-deskripsi

Gambar 6. Atas: deskripsi dampak gelombang kejut ledakan dahsyat Tianjin dan radius maksimum setiap dampaknya berdasarkan pemodelan ledakan non-nuklir berenergi 40 ton TNT. Bawah: Plot sebagian hasil pemodelan radius maksimum dampak gelombang kejut ledakan dahsyat Tianjin ke dalam citra satelit pelabuhan Tianjin dan sekitarnya. Titik biru = ground zero, 2 = radius maksimum kerusakan kaca jendela (1.945 meter dari ground zero), 3 = batas puing-puing dan (1.265 meter dari ground zero) 8 = kerusakan blok beton/dinding bata (276 meter dari ground zero). Sumber: Sudibyo, 2015 berbasis Google Earth serta Kinney & Graham, 1985

Gambar 6. Atas: deskripsi dampak gelombang kejut ledakan dahsyat Tianjin dan radius maksimum setiap dampaknya berdasarkan pemodelan ledakan non-nuklir berenergi 40 ton TNT. Bawah: Plot sebagian hasil pemodelan radius maksimum dampak gelombang kejut ledakan dahsyat Tianjin ke dalam citra satelit pelabuhan Tianjin dan sekitarnya. Titik biru = ground zero, 2 = radius maksimum kerusakan kaca jendela (1.945 meter dari ground zero), 3 = batas puing-puing dan (1.265 meter dari ground zero) 8 = kerusakan blok beton/dinding bata (276 meter dari ground zero). Sumber: Sudibyo, 2015 berbasis Google Earth serta Kinney & Graham, 1985

Bagaimana ledakan dahsyat Tianjin bisa terjadi? Inilah yang masih terus diselidiki. Informasi yang berkembang masih simpang-siur. Awalnya peristiwa di pelabuhan Tianjin ini diduga merupakan ledakan gas yang merembet ke gudang penyimpanan bahan kimia mudah meledak milik sebuah perusahaan logistik. Ledakan di bahan kimia itu lantas menyulut cairan gampang terbakar (seperti etanol/alkohol) yang tertimbun dalam jumlah besar disekitarnya. Namun beberapa hari kemudian muncul versi lain. Yakni terjadi kebakaran, dengan sebab yang belum jelas, semenjak 40 menit sebelum ledakan pertama dimulai. Pemadam kebakaran menyemprotkan air dalam jumlah besar ke titik kebakaran dan ke lingkungan sekitar (untuk pendinginan), tanpa menyadari terdapat timbunan karbit (kalsium karbida) dalam jumlah besar hingga ratusan ton. Reaksi air yang berlimpah dengan karbit dalam jumlah besar menghasilkan gas asetilena (etuna) demikian berlimpah. Asetilena adalah gas mudah terbakar yang umum digunakan gas dalam pengelasan. Di Cina, gas asetilena juga dimanfaatkan dalam industri petrokimia khususnya sebagai bahan baku pembuatan polivinil klorida (PVC) yang berbiaya lebih murah ketimbang harus mengimpor minyak mentah. Tak heran jika pertumbuhan penggunaan karbit kian meningkat (mencapai hampir 9 juta ton per 2005 TU). Diduga terjadi pelepasan gas asetilena dalam jumlah besar dan sontak terbakar (meledak) oleh percikan api.

Terakhir muncul versi lain. Selain karbit, pergudangan di kompleks pelabuhan Tianjin juga menyimpan tak kurang dari 40 jenis bahan kimia gampang terbakar lainnya. Salah satunya amonium nitrat, dalam jumlah tak kurang dari 800 ton. Amonium nitrat adalah bahan baku pupuk, namun juga populer sebagai salah satu bahan utama untuk meracik bahan peledak kelas rendah (low explosive). Ada dugaan saat gas asetilen terbakar dan meledak, apinya menyulut amonium nitrat dalam jumlah besar hingga akhirnya meledak dahsyat.

Apapun penyebabnya, ledakan dahsyat Tianjin menjadi indikasi adanya masalah dalam pengelolaan bahan kimi berbahaya di tanah Cina. Dengan pertumbuhan ekonomi yang fantastis, konsumsi bahan-bahan kimia gampang meledak pun meroket. Namun tak diimbangi dengan peningkatan pengawasan maupun pelatihan untuk menanganinya, termasuk dalam situasi kritis seperti terjadinya kebakaran gudang penyimpanan. Sebagai imbasnya, pemerintah Cina mengancam akan memenjarakan siapapun yang bertanggung jawab dalam peristiwa ledakan dahsyat Tianjin. Mereka juga bersiap untuk mulai menginspeksi setiap perusahaan yang mengelola bisnis sejenis di seantero negeri, sebagai langkah preventif.

Referensi :
Kinney & Graham. 1985. Explosive Shocks in the Air. Springer-Verlag, New York, 2nd edition.