Gunung Agung dan Letusan Terdahsyat se-Indonesia pasca Krakatau

Layangkan jemari anda di peta, tentu saja di era kekinian berarti peta digital dalam wujud program komputer maupun aplikasi pemetaan populer layaknya Google Earth atau Google Maps. Layangkan di atas sebagian Kepulauan Sunda Kecil, mulai dari pulau Bali di barat hingga pulau Sumbawa di timur. Akan kita saksikan jajaran pulau-pulau dengan rupabumi memukau, kombinasi produk subduksi lempeng Australia dengan mikrolempeng Sunda (bagian dari lempeng Eurasia) dengan pahatan erosi seiring curah hujan yang tinggi.

Aktivitas subduksi juga membuat jajaran pulau ini kaya akan gunung-gemunung berapi aktif dengan sejarah nan letusan dahsyat. Ubah tampilan peta ke moda medan (terrain) maka saat menelusuri pulau Sumbawa, kita akan bersirobok dengan ketampakan Gunung Tambora yang khas dengan kalderanya . Inilah gunung berapi dengan letusan terdahsyat sejagat dalam kurun 7,5 abad terakhir. Letusan Tambora 1815 sangat tercatat dalam sejarah karena menjadi salah satu penentu perubahan geopolitik Eropa yang pada akhirnya berimbas pula ke tanah Nusantara, salah satunya lewat meletusnya Perang Jawa (Perang Diponegoro).

Gambar 1. Gunung Agung dalam keremangan Matahari senja menjelang terbenam, diabadikan dari pantai Senggigi, pulau Lombok (Nusa Tenggara Barat). Gunung Agung demikian tinggi menjulang sehingga bisa disaksikan dari pulau lain. Sumber: Google/Panoramio/Bracker, 2007.

Lalu beranjaklah ke barat, menyusuri pulau Lombok. Disini Gunung Rinjani memukau dengan kalderanya yang berdanau kawah. Inilah gunung berapi dengan letusan terdahsyat sejagat untuk kurun waktu 7.000 tahun terakhir. Yakni pada Letusan Samalas 1257 dengan volume rempah letusan mendekati 200 kilometer3, sedikit lebih dahsyat ketimbang Letusan Tambora 1815 yang volume rempah letusannya 160 kilometer3. Kedahsyatan letusan ini baru terungkap pada 2013 TU (Tarikh Umum) silam. Bagaimana dampaknya dalam lingkup global masih diteliti, namun diperkirakan melebihi dampak Letusan Tambora 1815.

Mercusuar Bali

Lebih beranjak ke barat, kita sampai di pulau Bali. Di sini menjulang Gunung Agung, yang juga mudah dikenali. Dan seperti halnya ‘saudara’-nya di sebelah timur, Gunung Agung pun menyimpan sejarah kedahsyatan tersendiri. Inilah gunung berapi dengan letusan terdahsyat se-Indonesia untuk abad ke-20 TU.

Gunung Agung adalah ‘mercusuar’-nya Bali yang demikian mendominasi bentang lahan bagian timur pulau mirip berlian itu. Menjulang sebagai kerucut tunggal hingga setinggi 3.142 meter dpl (dari paras air laut rata-rata), puncak Gunung Agung adalah titik tertinggi seantero Bali. Demikian menjulangnya gunung ini sehingga tubuh gigantisnya mudah dilihat bahkan dari pesisir barat pulau Lombok. Tumbuh di wilayah administratif Kabupaten Karangasem, Gunung Agung berbataskan pada Gunung Batur di sisi barat dan baratlaut, Gunung Seroja nan tua di sisi timur dan sebuah gunung berapi purba disisi selatan. Hanya ke arah timurlaut dan tenggara saja lereng Gunung Agung bisa berkembang bebas sehingga bisa ‘membasuh’ kakinya dengan air asin Laut Flores dan Samudera Indonesia.

Gambar 2. Gunung Agung dan Gunung Batur dalam peta tiga dimensi pulau Bali berdasar NASA Photojournal. Arah pandang ke selatan-baratdaya. Nampak tubuh Gunung Agung masih berbentuk kerucut utuh, tidak seperti Gunung Batur. Di latar belakang terlihat pula semenanjung Blambangan, ujung timur dari pulau Jawa. Sumber: Geiger, 2014.

Gunung Agung adalah satu dari empat gunung berapi muda yang tumbuh berkembang di pulau Bali. Tiga yang lainnya adalah Gunung Batukau, Bratan dan Batur. Dua yang terakhir dikenal sebagai dua gunung berapi berkaldera. Namun hanya Gunung Agung dan Gunung Batur yang memiliki catatan aktivitas pada masa sejarah. Gunung Batur jauh lebih rajin meletus. Sejak 1804 TU hingga 2000 TU, ia sudah memuntahkan debu vulkaniknya hingga 27 kali. Meski skala letusannya tergolong kecil.

Namun di masa silam ia pernah jauh lebih lasak. Sekitar 29.300 tahun silam, Gunung Batur purba meletus demikian dahsyat. Tak kurang dari 84 kilometer3 rempah letusan disemburkannya ke langit, membuat sebagian besar tubuhnya terpangkas menjadi kaldera lonjong sepanjang 14 kilometer dan lebar 10 kilometer. Pentas drama Gunung Batur tak hanya di situ saja. Berbelas ribu tahun kemudian, tepatnya sekitar 10.000 tahun yang lalu, gunung ini kembali meletus dahsyat. Meski kali ini skala kedahsyatannya sedikit berkurang karena ‘hanya’ memuntahkan 19 kilometer3 rempah letusan. Letusan dahsyat ini membentuk kaldera baru seukuran 7,5 kilometer di dalam kaldera lama Batur. Di dalam kaldera baru inilah Gunung Batur modern seperti yang kita lihat tumbuh. Sisi timur kaldera lama kini digenangi air sebagai Danau Batur.

Jika Gunung Batur (pernah) mendemonstrasikan kedahsyatannya, lantas bagaimana dengan Gunung Agung?

Letusan 1963

Gambar 3. Saat-saat erupsi Plinian yang pertama di Gunung Agung berlangsung pada 17 Maret 1963 TU. Kolom letusan nampak membumbung tinggi ke udara. Diabadikan dari desa Rendang sebelah selatan Gunung Agung dalam koleksi keluarga Denis Mathews. Sumber: Self & Rampino, 2012.

Tabuh sedang berada pada hari Senin 18 Februari 1863 TU kala penduduk Karangasem dikagetkan oleh dentuman suara menggelegar dari arah Gunung Agung. Sejurus kemudian mereka menyaksikan kepulan asap menyembur dari puncak gunung. Segera terjadi hujan debu. Tak ada keraguan lagi, Gunung Agung telah meletus setelah terdiam lelap selama 120 tahun (diselingi hembusan-hembusan asap tipis dalam tahun 1908, 1915 dan 1917 TU). Letusan ini adalah jawaban dari getaran dan guncangan yang dirasakan orang-orang di sekeliling gunung besar itu selama beberapa minggu terakhir. Namun tak satupun yang mengira bahwa letusan ini akan bencana yang tak pernah terbayangkan penduduk Bali.

Enam hari setelah awal letusan, Gunung Agung mulai melelerkan lava panas ke utara. Selama 20 hari kemudian lava bergerak perlahan hingga menjangkau 7,5 kilometer dari kawah. Tersaji panorama mirip lidah sehingga dikenal sebagai lidah lava. Lidah lava Agung memiliki lebar 500 hingga 800 meter, ketebalan 30 hingga 40 meter dan volume sekitar 100 juta meter3. Terbentuknya lidah lava umumnya menandakan erupsi yang terjadi adalah erupsi efusif (leleran). Jenis erupsi yang tak semerusak erupsi eksplosif (ledakan). Namun tidak demikian dengan Gunung Agung.

Gambar 4. Sisa lidah lava letusan Gunung Agung pada 54 tahun silam, nampak membukit dan gersang dengan bongkahan batuan beku di sana-sini. Pasca melelerkan lava ini, Gunung Agung lalu meletus dahsyat. Sumber: Geiger, 2014.

Karakter letusan berubah total pada Minggu 17 Maret 1963 TU. Selama 3,5 jam penuh gunung ini menampakkan wajah angkernya dengan erupsi eksplosif nan dahsyat. Tak kurang dari 40.000 ton rempah letusan dimuntahkan dari kawahnya dalam setiap detik. Mereka disemburkan dahsyat hingga mencapai ketinggian 26 kilometer dpl. Selama beberapa saat tampak pemandangan awan cendawan/bunga kol yang indah namun mengerikan. Awan cendawan ini merupakan ciri khas erupsi tipe Plinian, yang terjadi tatkala dorongan sangat tinggi yang membawa rempah letusan bergerak vertikal sebagai kolom letusan mulai melambat. Sehingga ujung kolom mulai melebar di ketinggian udara. Lalu berjatuhan kembali ke tubuh gunung. Erupsi sedahsyat ini kembali terulang pada Kamis 16 Mei 1963 TU. Kali ini Gunung Agung memuntahkan 23.000 ton rempah letusan per detik selama 4 jam penuh. Kolom letusan menyembur hingga setinggi 20 kilometer dpl. Pasca 16 Mei 1963 TU letusan Agung kembali berubah menjadi letusan demi letusan kecil yang terus meluruh hingga akhirnya berhenti sepenuhnya pada 24 Januari 1964 TU.

Baik pada erupsi Plinian pertama maupun yang kedua, debu dan batu yang berjatuhan kembali ke tubuh gunung hingga menghasilkan awan panas letusan. Ia menderu secepat 60 kilometer per jam ke arah utara, tenggara dan baratdaya, melalui lembah-lembah sungai hingga sejauh 15 kilometer dari kawah. Selain diterjang awan panas letusan dan dibedaki debu vulkanik tebal, nestapa di pulau Bali bagian timur bertambah seiring letusan berlangsung dalam musim hujan. Hujan membuat sejumlah endapan lava dan debu vulkanik terlarut menjadi lahar, yang mengaliri sungai-sungai di lereng utara dan tenggara dengan demikian deras hingga berujung ke laut.

Dapur dan Kantung Magma

Gambar 5. Sebaran debu vulkanik letusan Gunung Agung khususnya pada erupsi Plinian pertama 17 Maret 1963 TU. Atas: distribusi debu dalam lingkup regional yang menjangkau hampir segenap pulau Jawa menurut Zen & Hadikusumo (1964) serta Soerjo (1981). Bawah: tebal endapan debu vulkanik dalam lingkup lokal pulau Bali, dinyatakan dalam sentimeter, menurut Soerjo (1981). S = Singaraja, K = Klungkung, Ka = Karangasem, R = pos PGA Agung di Rendang. Sumber: Self & Rampino, 2012.

Indonesia menyaksikan Letusan Agung 1963-1964 sebagai letusan gunung berapi terdahsyat di negeri ini pasca amukan Krakatau 1883). Di kemudian hari letusan ini juga adalah letusan terdahsyat se-Indonesia sepanjang abad ke-20 TU. Selama letusannya itu Gunung Agung memuntahkan sekitar 0,95 kilometer3 magma padat setara batuan. Bila sifat magmanya dianggap sama dengan magma Letusan Tambora 1815, maka Letusan Agung 1963-1964 memuntahkan sekitar 4 kilometer3 (4 milyar meter3) rempah letusan. Inilah yang membuatnya memiliki skala letusan 5 VEI (Volcanic Explosivity Index). Bandingkan dengan Letusan Merapi 2010, yang ‘hanya’ memuntahkan 150 juta meter3. Bahkan apabila seluruh volume letusan Gunung Kelud, salah satu gunung berapi terlasak Indonesia selain Merapi, sejak abad ke-20 TU (yakni letusan 1919, 1966, 1990 dan 2014) digabungkan, ia masih kalah jauh dibanding Gunung Agung.

Erupsi Plinian pertama menyemburkan debu vulkanik sangat berlimpah yang lantas terdorong angin regional ke arah barat-barat laut, menyebar hingga jarak yang cukup jauh. Hujan debu menyirami pulau Jawa hingga menjangkau DKI Jakarta. Lapisan debu (produk pengendapan dari hujan debu) dengan ketebalan hingga 10 sentimeter terdistribusi sampai radius 50 kilometer dari Gunung Agung. Sementara erupsi Plinian kedua sedikit lebih ramah. Debunya tersebar ke arah utara, dengan lapisan debu 10 sentimeter hanya menjangkau 20 kilometer dari Gunung Agung.

Terjangan awan panas dan lahar berdampak luar biasa untuk kehidupan manusia sekitar Gunung Agung. Tak kurang dari 10 desa yang dirusak olehnya. Korban jiwa yang jatuh mencapai hampir 2.000 orang. Sekitar 1.186 jiwa diantaranya meregang nyawa akibat terjangan bara awan panas letusan dalam erupsi Plinian yang pertama.

Bagi dunia, Letusan Agung 1963-1964 selalu dikenang sebagai salah satu letusan dahsyat di abad ke-20 TU yang berdampak pada terganggunya atmosfer global. Letusan ini melepaskan tak kurang dari 7 juta ton gas belerang (SO2) ke atmosfer. Di udara, gas ini bereaksi dengan uap air membentuk sulfat (H2SO4) sehingga terbentuk tak kurang dari 11 juta ton butir-butir aerosol sulfat. Bersamanya terlepas pula tak kurang dari 3 juta ton gas khlor, salah satu substansi yang dikenal sebagai perusak lapisan Ozon.

Gambar 6. Sebagian dari endapan Letusan Agung 1963-1964 di Suter, 12 kilometer sebelah barat kawah Gunung Agung. Panjang papan skala (hitam putih) pada sisi kiri foto adalah 10 sentimeter. Fall Unit 1 = kerikil dan pasir produk letusan sejak 18 Februari hingga 15 Maret 1963 TU. Fall Unit 2 = debu sangat halus produk letusan 16 Maret 1963 TU. Fall Unit 3 = kerikil, debu dan pasir produk erupsi Plinian pertama 17 Maret 1963 TU. Sumber: Self & Rampino, 2012.

Layaknya narasi yang selalu didaras letusan-letusan dahsyat umumnya, Letusan Agung 1963-1964 menyemburkan aerosol sulfatnya demikian tinggi hingga memasuki lapisan stratosfer, lalu terdistribusi secara global. Di sini aerosol sulfat itu membentuk tabir surya alamiah yang memantulkan kembali sinar Matahari ke antariksa. Sehingga mengurangi intensitas sinar Matahari yang seharusnya menjangkau paras Bumi. Berkurangnya penyinaran menyebabkan paras Bumi sedikit lebih dingin dibanding normal. Belahan Bumi utara mencatat penurunan suhu pasca Letusan Agung 1963-1964 mencapai 0,3º C. Penurunan suhu ini memang relatif kecil, tak semerusak dampak global Letusan Tambora 1815. Gangguan atmosfer akibat Letusan Agung 1963-1964 adalah yang terbesar keempat yang dialami Bumi kita sepanjang abad ke-20 TU setelah Letusan Novarupta 1912 (Alaska, Amerika Serikat), Letusan El Chichon 1982 (Meksiko) dan Letusan Pinatubo 1991 (Filipina).

Mengapa Gunung Agung bisa seperti itu?

Jajaran pulau Bali, Lombok dan Sumbawa dibentuk oleh proses interaksi lempeng Australia dengan mikrolempeng Sunda. Lempeng Australia mendesak relatif ke utara secepat 60 hingga 70 milimeter pertahun. Karena berat jenisnya lebih besar maka interaksinya dengan mikrolempeng Sunda mewujud sebagai subduksi, dimana lempeng Australia melekuk dan menelusup ke bawah mikrolempeng Sunda. Subduksi ini menghasilkan sejumah gejala, termasuk pembengkakan margin mikrolempeng Sunda yang mewujud sebagai pulau-pulau yang menyembul di tepian Samudera Indonesia. Pulau Bali, Lombok dan Sumbawa tumbuh di atas tepian mikrolempeng Sunda, yang bergerak relatif ke timur dengan kecepatan 11 milimeter per tahun. Di sisi timur mikrolempeng Sunda berbatasan dengan mikrolempeng Timor dan mikrolempeng Laut Banda yang menjadi bagian dari tatanan tektonik Indonesia bagian timur nan rumit.

Kerak bumi yang mengalasi pulau Bali relatif tipis, hanya 18 hingga 20 kilometer tebalnya. Sebagai pembanding, ketebalan kerak bumi di pulau Jawa mencapai 30 kilometer. Selain tipis, kerak bumi pulau Bali juga menunjukkan sifat kerak samudera. Bagian 4 kilometer teratas dari kerak samudera ini adalah lapisan sedimen yang sangat tebal. Pada kedalaman 18 hingga 20 kilometer di bawah pulau Bali terdapat zona Moho, batas antara lapisan kerak di bagian atas dengan lapisan selubung di bagian bawah. Di zona Moho inilah dapur magma Gunung Agung berada, sebagai tempat penampungan untuk magma yang bermigrasi dari sumber lebih dalam (kedalaman sekitar 150 kilometer).

Gambar 7. Penampang vertikal Gunung Agung dan batuan dibawahnya. Nampak dapur magmanya (kedalaman 20 kilometer) dan kantung magmanya (kedalaman 4 kilometer). Migrasi magma segar dari dapur magma ke kantung magma inilah yang menghasilkan gempa-gempa vulkanik dalam dan dangkal. Sumber: Geiger, 2014 dengan teks oleh Sudibyo, 2017.

Sementara di kedalaman 4 kilometer, yakni batas antara lapisan endapan dengan kerak pulau Bali, terdapat kantung magma Gunung Agung. Kantung magma berperan sebagai tenpat penampungan sementara magma yang bermigrasi dari dapur magma di kedalaman, sebelum kemudian mengalir lagi menuju ke moncong saluran magma di puncak gunung. Eksistensi dapur magma dan kantung magma ini terkuat lewat penyelidikan intensif dan komprehensif akan sifat-sifat magma yang dimuntahkan dalam Letusan Agung 1963-1964. Sistem serupa ternyata juga dijumpai pada tetangganya, Gunung Batur.

Meletus 2017?

Sistem magma Gunung Agung inilah yang menyedot perhatian besar pada September 2017 TU ini. Hingga Agustus 2017 TU lalu Gunung Agung masih tenang-tenang saja. Seismometer (radas pengukur gempa) yang ditanam di kaki gunung memang merekam aneka getaran tanah di lingkungan Gunung Agung. Namun semua masih dalam nilai wajar. Memang beberapa kali terdeteksi gempa vulkanik dalam (VT-A). Namun gempa khas ini tidak kontinu setiap hari, hanya muncul pada 5 Juli, 6 Juli, 28 Juli dan 5 Agustus 2017 TU. Geliat magma segar dari dapur magma mulai terdeteksi pada 10 Agustus 2017 TU, saat gempa vulkanik dalam terjadi setiap hari. Magma segar yang sedang mencoba naik ini sekaligus berusaha memecah dan menembus magma sisa letusan 1963 penyumbat saluran magma di antara dapur dan kantung magma Agung. Pemecahan itulah yang menghasilkan gempa vulkanik dalam.

Gempa khas yang lain, yakni gempa vulkanik dangkal (VT-B) mulai terdeteksi pada 24 Agustus 2017 TU. Awalnya juga tidak terjadi setiap hari, hanya muncul pada 24 Agustus, 25 Agustus, 29 Agustus dan 4 September 2017 TU. Namun mulai 8 September 2017 TU ia terjadi setiap hari. Gempa vulkanik dangkal ini adalah indikasi terjadi gerakan fluida pada kantung magma Agung. Dikombinasikan dengan kejadian gempa-gempa vulkanik dalam yang kian meningkat, maka secara keseluruhan Gunung Agung memperlihatkan peningkatan kegempaan secara konsisten. Inilah yang menjadi dasar Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral RI untuk menaikkan status aktivitas Gunung Agung menjadi Waspada (Level II) pada 14 September 2017 TU.

Gambar 8. Indikasi mulai menggelembungnya tubuh Gunung Agung berdasar analisis InSAR dengan satelit Sentinel-1. Nampak pada lokasi Gunung Agung terdapat pola warna berulang (fringe), indikasinya terjadinya kenaikan paras tanah setempat dibanding observasi satelit yang sama pada periode sebelumnya. Hal tersebut tak dijumpai pada posisi Gunung Batur. Sumber: PVMBG, 2017.

Hatta kegempaan Gunung Agung kian riuh dan mengarah ke krisis seismik, baik pada gempa vulkanik dalam, vulkanik dangkal maupun tektonik lokal. Hanya dalam empat hari saja telah terjadi 602 gempa vulkanik dalam, 21 gempa vulkanik dangkal dan 12 gempa tektonik lokal. Dalam delapan hari kemudian gempa vulkanik dalamnya meroket menjadi 2.547 kejadian, sementara gempa vulkanik dangkal juga membumbung tinggi ke 134 kejadian dan gempa tektonik lokal melonjak hebat ke angka 97 kejadian. Krisis seismik yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah pemantauan Gunung Agung ini menjadi pertanda kian intensifnya aliran magma segar dari dapur magma ke kantung magma. Juga menandakan mulai terjadinya peretakan batuan dasar gunung akibat terus mendesaknya magma segar memasuki kantung magma bersamaan dengan upaya magma segar keluar dari kantung magma menuju ke atas, seperti diperlihatkan gempa-gempa tektonik lokal.

Mulai masuknya magma segar ke dasar gunung juga diperlihatkan oleh mulai membengkaknya tubuh Gunung Agung, berdasarkan analisis data radar dari satelit Sentinel-1 dengan teknik InSAR sejak Agustus 2017 TU. Tubuh gunung yang mulai menggelembung menunjukkan magma segar sudah mencapai dasar gunung. Satelit lain, yakni ASTER dalam kanal inframerah, memperlihatkan berkembangnya titik-panas di kawah (puncak) Gunung Agung sejak Juli 2017 TU. Titik-panas itu semakin meluas memasuki Agustus dan September 2017 TU. Perluasan titik-panas disebabkan oleh lebih banyak panas yang memancar dari kawah, indikasi tak langsung bahwa magma segar sudah memasuki dasar gunung. Pengamatan dari pos PGA (Pengamatan Gunung Api) Agung di Rendang (13 kilometer dari kawah) juga mendeteksi hembusan asap solfatara. Awalnya setinggi 50 meter dari kawah, lalu berkembang menjadi 200 meter.

Krisis seismik dan sejumlah perkembangan itu memaksa PVMBG meningkatkan status Gunung Agung menjadi Siaga (Level III) yang disusul status tertinggi: Awas (Level IV), masing-masing pada 18 dan 22 September 2017 TU. Keputusan ini disertai pembentukan Daerah Bahaya (Zona Merah) hingga jarak mendatar 9 kilometer dari kawah. Berikut adalah peta Daerah Bahaya Gunung Agung yang dipublikasikan PVMBG :

Khusus untuk lereng sektor utara-timur laut dan sektor tenggara-selatan-baratdaya, Daerah Bahaya Gunung Agung sedikit lebih jauh, yakni hingga jarak mendatar 12 kilometer dari kawah. Kawasan yang diperkirakan dhuni oleh tak kurang dari 100 ribu jiwa ini diputuskan musti kosong dari kegiatan penduduk. Konsekuensinya penduduk pun mulai dievakuasi. Hingga 24 September 2017 TU sore, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah pengungsi telah mencapai tak kurang dari 42.000 jiwa yang tersebar di lebih dari 300 pusat pengungsian. Pengungsian sudah terjadi sebelum sang gunung meletus, sebagai langkah antisipasi dengan bersandar pada kejadian letusan 54 tahun silam.

Bagaimana jika Gunung Agung benar-benar meletus?

Gambar 9. Prakiraan ketebalan debu vulkanik di sekitar Gunung Agung apabila terjadi letusan dengan skala 3 VEI. Hingga 30 kilometer ke arah barat daya dari kawah, debu vulkaniknya setebal 40 sentimeter. Sumber: PVMBG, 2017.

PVMBG telah membentuk model hipotetik Gunung Agung untuk memerikan potensi dampak ke lingkungan. Model ini berlandaskan pada skenario optimistik (bukan worst-case scenario), jadi tak sepenuhnya mengacu sejarah letusan Gunung Agung 54 tahun silam. Volume rempah letusan yang dimuntahkan dihipotesiskan lebih kecil dari Letusan Agung 1963-1964, yakni pada skala letusan 3 VEI (volume antara 10 hingga 100 juta meter3). Pada skala tersebut dan dengan vektor angin regional saat ini, maka hujan debu akan berpotensi mengarah ke baratlaut serta barat dan utara. Dalam jarak 15 kilometer dari kawah, hujan debu lebat akan menghasilkan lapisan debu setebal 160 sentimeter, sementara dalam jarak 30 kilometer masih setebal 40 sentimeter.

Berbeda halnya dengan potensi awan panas letusan. Awan panas lebih berat dibanding debu sehingga arah geraknya tidak dipengaruhi oleh angin, hanya dikontrol gravitasi. Bila letusan pendahuluan memuntahkan 10 juta meter3 rempah letusan, maka awan panas akan meluncur ke lembah-lembah sungai di lereng utara-timurlaut, tenggara dan selatan-baratdaya. Daya jangkau maksimum sekitar 10 kilometer dari kawah. Namun jika volumenya lebih besar dari 10 juta meter3, maka jangkauan awan panas letusan juga akan lebih jauh. Sedangkan potensi hujan batu dengan ukuran 6 sentimeter akan terjadi pada radius hingga 9 kilometer dari kawah ke segala arah.

Gambar 10. Prakiraan ketebalan dan arah hempasan awan panas letusan di lereng Gunung Agung apabila terjadi letusan dengan skala 3 VEI dan dengan volume letusan pembuka sebesar 10 juta meter3 . Awan panas letusan akan menjangkau radius 10 kilometer dari kawah. Sumber: PVMBG, 2017.

Sepanjang sejarah pencatatan gunung berapi di Indonesia, Gunung Agung telah tiga kali meletus. Dan dua letusan terakhirnya, masing-masing Letusan Agung 1843 dan Letusan Agung 1963-1964, demikian besar dengan skala letusan 5 VEI. Karena itu tak berlebihan jika dikatakan Gunung Agung tak pernah meletus kecil. Memahami karakter Gunung Agung yang demikian menjadi kunci agar nestapa 54 tahun silam tak lagi terulang.

Referensi :

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. 2017. Peningkatan Status G. Agung Dari Siaga (Level III) Ke Awas (Level IV) 22 September 2017 Pkl. 20.30 WITA. Diakses 22 September 2017.

Self & Rampino. 2012. The 1963-1964 Eruption of Agung Volcano (Bali, Indonesia). Bulletin of Volcanology, vol. 74 (2012), p 1521-1536.

Geiger. 2014. Characterising the Magma Supply System of Agung and Batur Volcanoes on Bali, Indonesia. Department of Earth Sciences, Uppsala University, Sweden.