Trio Letusan Mirip-Krakatau di Io

Indonesia selalu mengenal Agustus sebagai bulan kalender bercita rasa nasionalis. Inilah bulan dimana manusia Indonesia memperingati kemerdekaan negerinya dari belenggu tirani. Maka Agustus pun senantiasa disongsong dengan penuh gairah dan suka cita. Warga di berbagai pelosok menggelar aneka lomba. Sebagian diantaranya bakal membikin siapapun yang bukan manusia Indonesia mengernyitkan dahi, sebab begitu unik dan takkan pernah terlintas dalam benak atlet-atlet olimpik. Apa mau dikata, lomba-lomba ini memang bukan dirancang untuk mengejar prestasi namun semata bertujuan mengundang rasa geli dan menghibur hati. Pada tanggal 16 malam, banyak pula yang menggelar malam tirakatan disertai tumpengan. Tak sedikit pula yang menghabiskan sisa malam itu dengan membuka mata nyaris semalam suntuk.

Gambar 1. Gunung Krakatau diabadikan pada Mei 188. Nampak debu vulkanik pekat mengepul dari puncak Perbuwatan, menandai mulai terjadinya erupsi magmatik di gunung berapi yang telah lama tidur ini. Dalam tiga bulan kemudian seluruh gunung ini menyemburkan material vulkanik dalam jumlah sangat besar yang ditembuskan hingga berpuluh kilometer ke atmosfer. Akibatnya hampir seluruh tubuh gunung hancur dan ambruk ke dasar laut menjadi kaldera, kecuali sebagian kecil lereng puncak Rakata. Sumber: USGS, 1982.

Gambar 1. Gunung Krakatau diabadikan pada Mei 1883. Nampak debu vulkanik pekat mengepul dari puncak Perbuwatan, menandai mulai terjadinya erupsi magmatik di gunung berapi yang telah lama tidur ini. Dalam tiga bulan kemudian seluruh gunung ini menyemburkan material vulkanik dalam jumlah sangat besar yang ditembuskan hingga berpuluh kilometer ke atmosfer. Akibatnya hampir seluruh tubuh gunung hancur dan ambruk ke dasar laut menjadi kaldera, kecuali sebagian kecil lereng puncak Rakata. Sumber: USGS, 1982.

Namun Agustus juga bakal selalu dikenang sebagai bulan kalender dimana kita seyogyanya menundukkan kepala, memanjatkan doa. Khususnya kepada 36.417 jiwa (angka resmi) atau hampir 120.000 nyawa (angka perkiraan) yang melayang dalam sebuah peristiwa kelam selama tiga hari kelam berturut-turut yang terjadi lebih dari seratus tahun silam. Korban jiwa dalam jumlah yang luar biasa besar ini jatuh terenggut kala Gunung Krakatau dengan puncak-puncak Rakata, Danan dan Perbuwatan meledakkan dirinya dalam sebuah letusan teramat dahsyat. Selama tiga hari berturut-turut pada 27 hingga 29 Agustus 1883 gunung berapi kecil mungil layaknya bisul di tengah-tengah Selat Sunda (kini termasuk propinsi Lampung) itu meletus dengan kedahsyatan tak terperi untuk ukuran manusia. Sebanyak 20 kilometer kubik (20.000 juta meter kubik) material vulkanik dimuntahkan keluar, seperlima diantaranya langsung tersembur ke langit pada kekuatan teramat tinggi sehingga menjangkau ketinggian 40 km lebih dari paras air laut.

Terlepasnya magma dengan volume sangat besar dalam kurun waktu yang cukup singkat membuat kantung magma dangkal di dasar Gunung Krakatau terkuras habis, meninggalkan ruang kosong. Ruang kosong ini tak mampu menahan bobot jutaan ton batuan yang ada diatasnya. Sehingga tubuh gunung pun runtuh, Terbentuklah cekungan besar yang adalah kaldera di dasar Selat Sunda, dengan garis tengah 7 km dan kedalaman hingga 250 meter dari paras air laut. Kombinasi runtuhnya tubuh gunung ke dalam laut dan hempasan awan panas (piroklastika) yang terbentuk kala material vulkanik sangat pekat kembali berjatuhan ke Bumi memproduksi tsunami yang demikian bergelora. Tsunami ini berderap lambat, butuh waktu hampir sejam sebelum bisa menjangkau kedua belah pesisir Selat Sunda yang terdekat ke Krakatau. Namun sebaliknya ia sungguh bergelora dengan ketinggian tak terkira yang tak terbayang di benak manusia. Gelombang setinggi 37 meter menghajar pesisir Merak tanpa ampun. Sementara kawasan Anyer dan Caringin lebur digempur tsunami setinggi hingga 15 meter. Di daratan Sumatra gelora yang menjulang setinggi 22 meter mencukur Teluk Betung. Sementara Blimbing dan Kalianda dihempas gelombang 15 meter. Hampir seluruh korban jiwa yang terenggut dalam tragedi Letusan Krakatau 1883 disebabkan oleh tsunami ini. Terkecuali sekitar 1.000 orang yang meregang nyawa di Katibung akibat hempasan awan panas yang menjalar demikian jauh akibat letusan lateral (mendatar) ke utara dalam salah satu episode amukan Krakatau.

Gambar 2. Jejak kedahsyatan tsunami Letusan Krakatau 1883, yang mencukur habis pesisir Anyer. Atas: bangkai gerbong kereta yang terguling dan terseret jauh dari stasiun oleh air tsunami. Bawah: bongkahan karang gigantis seberat 600 ton lebih, yang terangkat dan terbawa gelora tsunami menuju pantai. Bongkahan karang ini menghantam mercusuar Anyer tepat di kilometer nol jalan raya pos (jalan Daendels), membuat menara setinggi 40 meter itu ambruk. Sumber: History Channel, 2009.

Gambar 2. Jejak kedahsyatan tsunami Letusan Krakatau 1883, yang mencukur habis pesisir Anyer. Atas: bangkai gerbong kereta yang terguling dan terseret jauh dari stasiun oleh air tsunami. Bawah: bongkahan karang gigantis seberat 600 ton lebih, yang terangkat dan terbawa gelora tsunami menuju pantai. Bongkahan karang ini menghantam mercusuar Anyer tepat di kilometer nol jalan raya pos (jalan Daendels), membuat menara setinggi 40 meter itu ambruk. Sumber: History Channel, 2009.

Tsunami Krakatau merupakan bencana alam dengan korban jiwa manusia terbesar di Indonesia semenjak 1883. Rekor ini bertahan hingga 121 tahun kemudian sebelum kemudian dilampaui oleh bencana gempa akbar Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 dengan tsunami dahsyatnya. Sebaliknya Letusan Krakatau 1883 bukanlah letusan gunung berapi terdahsyat yang pernah berlangsung di tanah Nusantara sepanjang sejarah yang tercatat. Letusan ini hanyalah menempati peringkat ketiga, di bawah Letusan Samalas (Rinjani) 1257 dan Letusan Tambora 1815. Skala letusan Krakatau terpaku di angka 6 VEI (Volcanic Explosivity Index), setingkat di bawah skala letusan Samalas dan Tambora yang masing-masing menempati angka 7 VEI. Namun amukan Krakatau menjadi letusan gunung berapi dalam tingkat katastrofik pertama yang terekam dengan baik. Hanya beberapa minggu sebelum letusan ini terjadi kabel laut terakhir yang menautkan media sosial elektronik pertama bagi manusia, yakni telegraf, tersambung sudah. Untuk ukuran masakini media sosial ini tentu sangat primitif dan lambat. Namun pada era meletusnya Krakatau di tahun 1883 itu, ia tergolong cukup cepat dalam menyalurkan informasi. Sehingga sontak Krakatau pun menjadi buah bibir dalam lingkup global. Laporan demi laporan teramatinya gejala mirip tsunami, yang sejatinya adalah dampak gelombang kejut letusan terhadap paras air laut setempat, juga segera bermunculan dari berbagai penjuru. Bandingkan dengan Letusan Tambora 1815 yang kabar terawalnya baru tiba di daratan Eropa enam minggu setelah gunung berapi itu mempertontonkan kedahsyatannya.

Trio Io

Amukan gunung berapi seukuran Letusan Krakatau 1883 tentu menggetarkan dan menakutkan segenap manusia. Termasuk di masa kini. Nah bagaimana jika kita berhadapan dengan tak hanya satu, melainkan tiga letusan yang skala kedahsyatannya menyamai atau bahkan malah melebihi Letusan Krakatau 1883?

Gambar 3. Tiga letusan mirip Letusan Krakatau 1883 di Io sepanjang 15 hingga 29 Agustus 2013. Kiri: letusan Rarog Patera, diobservasi teleskop Keck II pada panjang gelombang 1,59 mikron. Tengah: letusan Rarog Patera dan Heno Patera, diobservasi teleskop Keck II pada panjang gelombang 2,27 mikron. Dan kanan: letusan 201308C dan Rarog Patera, diobservasi teleskop IRTF NASA pada panjang gelombang 3,78 mikron. Nampak bahwa letusan 201308C adalah yang terbesar, diikuti letusan Rarog Patera dan kemudian Heno Patera. Saat 201308C meletus dahsyat, letusan di Rarog Patera dan Heno Patera sudah berakhir. Sumber: NASA & Keck II Observatory, 2014.

Gambar 3. Tiga letusan mirip Letusan Krakatau 1883 di Io sepanjang 15 hingga 29 Agustus 2013. Kiri: letusan Rarog Patera, diobservasi teleskop Keck II pada panjang gelombang 1,59 mikron. Tengah: letusan Rarog Patera dan Heno Patera, diobservasi teleskop Keck II pada panjang gelombang 2,27 mikron. Dan kanan: letusan 201308C dan Rarog Patera, diobservasi teleskop IRTF NASA pada panjang gelombang 3,78 mikron. Nampak bahwa letusan 201308C adalah yang terbesar, diikuti letusan Rarog Patera dan kemudian Heno Patera. Saat 201308C meletus dahsyat, letusan di Rarog Patera dan Heno Patera sudah berakhir. Sumber: NASA & Keck II Observatory, 2014.

Ini bukan kabar burung. Trio letusan mirip Krakatau itu memang benar-benar terjadi. Namun jangan buru-buru cemas dan memacu adrenalin anda. Trio letusan tersebut mengambil lokasi yang sangat jauh dari Bumi, yakni pada sebuah benda langit lain yang ukurannya hanya sedikit lebih besar dibanding Bulan. Trio letusan itu terjadi di Io yang adalah salah satu satelit alamiah dari planet Jupiter. Demikian dahsyat ketiga letusan itu sehingga kilatan cahayanya dapat disaksikan dari Bumi, meski hanya dapat disaksikan lewat fasilitas teleskop tercanggih. Adalah tiga teleskop berpangkalan di puncak Gunung Mauna Kea, Kepulauan Hawaii (Amerika Serikat), yang merekam ketiga letusan tersebut. Ketiganya adalah teleskop Gemini North, Keck II dan IRTF (Infra Red Telecope Facility) NASA. Ketiga letusan terekam dalam rentang waktu antara 15 dan 29 Agustus 2013, saat Io berjarak 865 juta kilometer dari Bumi.

Dua letusan pertama terdeteksi oleh teleskop Keck II (diameter cermin 10 meter) saat diarahkan ke Io pada 15 Agustus 2013 pukul 22:30 WIB. Bekerja pada spektrum sinar inframerah dan dilengkapi sistem optik adaptif untuk mengoreksi gangguan optis akibat turbulensi dalam atmosfer Bumi, teleskop Keck II merekam dua titik berpendar terang di permukaan Io yang tak pernah ada sebelumnya. Titik pendar pertama berimpit dengan posisi Gunung Rarog Patera yang telah dikenal sebelumnya. Sementara titik letusan kedua bertepatan dengan Gunung Heno Patera, yang juga telah dikenali sebelumnya. Dan letusan terakhir terdeteksi dua minggu kemudian, yakni pada 29 Agustus 2013, lewat teleskop Gemini North dan IRTF NASA. Letusan ini terjadi di lokasi yang tak dikenal dan untuk sementara diberi kode sebagai 201308C.

Observasi lanjutan menunjukkan bahwa ketiganya merupakan erupsi eksplosif gunung berapi Io yang khas. Letusan Rarog Patera mengeluarkan lava sepanas hingga sekitar 750 derajat Celcius. Pada puncak letusannya ia melepaskan daya hingga 8 terawatt (8 juta megawatt). Lava lantas membanjir menutupi area seluas hingga 120 kilometer persegi disekeliling lubang letusan. Sementara letusan Heno Patera menyemburkan lava yang sedikit lebih dingin yakni 700 derajat Celcius sehingga daya puncaknya pun sedikit lebih rendah yakni 5 hingga 6 terawatt (5 juta hingga 6 juta megawatt). Namun letusan Heno Patera memuntahkan lava yang menutupi kawasan dua kali lipat lebih luas yakni 300 kilometer persegi. Dan letusan 201308C adalah yang terdahsyat. Pada puncaknya ia melepaskan daya antara 15 hingga 25 terawatt (15 juta hingga 25 juta megawatt) dengan lava panasnya hingga sepanas 1.600 derajat Celcius atau bahkan lebih.

Gambar 4. Peta permukaan Io berdasar citra komposit Voyager 1, Voyager 2 dan Galileo. Nampak lokasi Rarog Patera, Heno Patera dan 201308C, tiga gunung berapi yang terlibat dalam trio letusan besar Agustus 2013. Terlihat juga lokasi Gunung Loki dengan kalderanya yang terbesar di Io. Juga Gunung Pele, gunung berapi luar Bumi yang pertama kali terdeteksi. Sumber: Sudibyo 2014 dengan peta dasar USGS Astrogeology, 2014.

Gambar 4. Peta permukaan Io berdasar citra komposit Voyager 1, Voyager 2 dan Galileo. Nampak lokasi Rarog Patera, Heno Patera dan 201308C, tiga gunung berapi yang terlibat dalam trio letusan besar Agustus 2013. Terlihat juga lokasi Gunung Loki dengan kalderanya yang terbesar di Io. Juga Gunung Pele, gunung berapi luar Bumi yang pertama kali terdeteksi. Sumber: Sudibyo 2014 dengan peta dasar USGS Astrogeology, 2014.

Analisis lebih lanjut memperlihatkan trio letusan ini merupakan letusan besar karena memuntahkan magma dalam jumlah sangat banyak. Jumlah magma yang disemburkan letusan Rarog Patera dan Heno Patera berkisar antara 50.000 hingga 100.000 meter kubik per detik. Sebaliknya berapa magma yang dikeluarkan letusan 201308C belum jelas, namun dapat diduga jauh lebih besar ketimbang Rarog dan Heno Patera. Bandingkan dengan Letusan Krakatau 1883 di Bumi, yang pada puncak letusannya menghamburkan magma sebanyak ‘hanya’ 20.400 meter kubik per detik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kecepatan pengeluaran magma Rarog Patera dan Heno Patera adalah antara 2 hingga 4 kali lipat lebih tinggi ketimbang Krakatau. Namun tak demikian dengan dayanya, yakni jumlah energi yang dilepaskan dalam tiap satuan waktu. Jika suhu magma Krakatau 1883 dianggap 800 derajat Celcius, maka daya sebesar 14 terawatt terlepas dalam puncak letusannya. Ini lebih besar ketimbang daya letusan Rarog maupun Heno Patera, namun masih lebih kecil dibanding letusan 201308C.

Io adalah benda langit yang sedikit lebih besar dari Bulan (diameter Io = 3.628 km dan diameter Bulan = 3.474 km). Maka dari itu gravitasinya pun cukup kecil yakni 5,5 kali lebih kecil ketimbang Bumi. Saat terjadi letusan sedahsyat Letusan Krakatau 1883 di Io, gravitasi kecilnya membuat material letusan sanggup tersembur hingga mencapai ketinggian beratus-ratus kilometer. Bandingkan dengan Bumi, dimana letusan gunung berapi terdahsyat sekalipun takkan sanggup menyemburkan debu vulkaniknya hingga melampaui ketinggian 100 km. Debu vulkanik gunung-gemunung berapi di Io bahkan sanggup melesat keluar dari lingkungan pengaruh satelit alamiah Jupiter itu dan lantas berubah haluan menjadi debu bermuatan listrik mengelilingi Jupiter sebagai plasma. Observasi dengan satelit HISAKI milik Jepang, yang dirancang khusus untuk mengamati plasma yang mengedari Jupiter dari kejauhan orbit Bumi, berhasil mendeteksi meningkatnya jumlah debu bermuatan listrik dalam lingkungan plasma tersebut setelah trio letusan ini terjadi.

Tidal

Sekilas adanya gunung berapi di luar Bumi bakal membuat dahi kita berkernyit. Apalagi di lingkungan sekecil Io. Apalagi saat gunung-gemunung berapi tersebut meletus dengan kekuatan yang luar biasa besar hingga menyamai atau bahkan melebihi Letusan Krakatau 1883 yang demikian populer. Gunung berapi aktif di luar Bumi memang baru diketahui eksistensinya pada 1979. Untuk pertama kalinya gunung berapi semacam itu memang ditemukan di Io, dalam satu babak eksplorasi antariksa takberawak yang bergelora.

Io adalah satelit alamiah Jupiter yang cukup populer. Astronom legendaris Galileo Galilei menjadi orang yang pertama kali menyaksikannya lewat teleskop pembias sederhana (perbesaran 20 kali) buatan sendiri pada 7 Januari 1610 malam. Observasi serupa di malam selanjutnya memastikan eksistensi Io. Inilah satu dari empat satelit Galilean Jupiter, sekaligus satelit alamiah terbesar yang berjarak paling dekat dengan planet gas raksasa itu. Io hanya membutuhkan 42 jam untuk beredar mengelilingi sang planet induk sekali putaran. Benda langit ini sejatinya dapat disaksikan mata manusia tanpa menggunakan alat bantu karena magnitudo semunya +5, atau setingkat lebih terang ketimbang ambang batas keterlihatan benda langit lewat mata manusia (yakni magnitudo semu +6). Namun benderangnya Jupiter persis disebelahnya membuat Io takkan dapat disaksikan dengan cara itu.

Gambar 5. Citra resolusi rendah terhadap lingkungan tiga gunung berapi yang terlibat dalam trio letusan besar Agustus 2013 diabadikan oleh wahana Voyager 1 (kiri) dan galileo (kanan). Ketiganya adalah Gunung Rarog Patera (lingkaran hijau), Heno Patera (lingkaran merah) dan 201308C (lingkaran ungu). Jelas terlihat bahwa ketiga gunung berapi ini pada dasarnya adalah kaldera. Sumber: NASA, 1979 & 1999.

Gambar 5. Citra resolusi rendah terhadap lingkungan tiga gunung berapi yang terlibat dalam trio letusan besar Agustus 2013 diabadikan oleh wahana Voyager 1 (kiri) dan galileo (kanan). Ketiganya adalah Gunung Rarog Patera (lingkaran hijau), Heno Patera (lingkaran merah) dan 201308C (lingkaran ungu). Jelas terlihat bahwa ketiga gunung berapi ini pada dasarnya adalah kaldera. Sumber: NASA, 1979 & 1999.

Hingga hampir empat abad kemudian Io hanya terlihat sebagai bintik cahaya mirip bintang. Namun seiring perkembangan zaman yang meningkatkan kemampuan teleskop-teleskop termutakhir, perlahan-lahan Io mulai tampil sebagai cakram redup. Meski demikian ada satu anggapan yang tak berubah merentang abad, yakni aktivitas geologisnya. Dengan ukuran hanya sedikit lebih besar dari Bulan, Io dianggap sebagai benda langit yang telah mati. Artinya, kondisi internalnya telah mendingin (hampir) sepenuhnya sehingga tak lagi tersisa cukup panas yang bisa keluar ke permukaan dalam rupa vulkanisme beserta aktivitas penyertanya. Hingga 1978 pandangan ini masih bertahan meski observasi teleskop inframerah termutakhir saat itu mengungkap adanya hal aneh di Io. Anomali itu sebanding dengan pancaran panas dari obyek bersuhu sekitar 300 derajat Celcius dari area seluas 8.000 kilometer persegi di Io, yang mengesankan sebagai aktivitas vulkanik.

Pandangan tersebut berubah total setelah wahana antariksa takberawak Voyager 1 melintas di dekat Io dalam perjalanannya mengarungi tata surya guna menuju ke planet Saturnus. Voyager 1 memperlihatkan betapa mulusnya permukaan Io, tanpa berhias kawah-kawah tumbukan benda langit (asteroid atau komet) disana-sini. Padahal kawah-kawah tumbukan dalam aneka ukuran amat umum dijumpai pada permukaan benda langit yang telah mati seperti misalnya Bulan dan planet Mars. Maka permukaan Io amat berbeda dibanding Bulan. Io memang memiliki atmosfer namun sangat tipis, sehingga permukaannya yang mulus jelas bukan hasil kerja gaya-gaya eksogen seiring cuaca. Permukaan Io lebih merupakan manifestasi dari gaya endogennya.

Dan heboh besar pun meledak begitu Voyager 1 bersiap meninggalkan lingkungan Io. Untuk kepentingan navigasi optikal guna mengetahui posisi wahana di langit, Voyager 1 mengarahkan kameranya ke Io pada 8 Maret 1979. Hasilnya mengejutkan. Voyager 1 tak hanya menangkap citra Io sebagai benda langit berbentuk sabit lebar mirip Bulan, namun juga merekam sejenis busur setengah lingkaran yang mengembang mirip payung di tepi cakram Io. Selidik punya selidik, bentuk mirip payung ini ternyata material vulkanik yang tersembur hebat dari suatu titik yang kemudian dinamakan Gunung Pele. Semburan material vulkanik yang demikian tinggi menandakan telah terjadi letusan besar. Tertangkap juga sebentuk kaldera raksasa yang di kemudian hari dinamakan Gunung Loki. Observasi selanjutnya dalam waktu yang berbeda melalui wahana Voyager 2 (1979), Galileo (1995-2003), Cassini-Huygens (2000) dan New Horizon (2007) menunjukkan bahwa dunia sekecil Io ternyata dijejali 150 gunung berapi dalam berbagai bentuk. Gunung Pele menjadi gunung berapi Io yang terbesar. Tapi angka itu diyakini hanyalah sebagian dari seluruh populasi gunung berapi di Io yang diduga mencapai 400 buah atau lebih.

Gambar 6. Video detik-detik letusan Gunung Tvashtar Patera seperti diabadikan wahana New Horizon (2007) saat melintas-dekat Jupiter dalam perjalanan menuju planet-kerdil Pluto. Material vulkanik terlihat disemburkan setinggi 330 km dan membentuk busur setengah bola mirip payung raksasa, ciri khas letusan besar. Sumber: NASA, 2007.

Gambar 6. Video detik-detik letusan Gunung Tvashtar Patera seperti diabadikan wahana New Horizon (2007) saat melintas-dekat Jupiter dalam perjalanan menuju planet-kerdil Pluto. Material vulkanik terlihat disemburkan setinggi 330 km dan membentuk busur setengah bola mirip payung raksasa, ciri khas letusan besar. Sumber: NASA, 2007.

Vulkanisme di Io semula diduga lebih menyemburkan magma yang didominasi senyawa-senyawa belerang sehingga suhunya lebih dingin ketimbang lava di Bumi. Namun observasi lebih lanjut menjungkirbalikkan anggapan itu. Banyak gunung berapi Io yang ternyata menyemburkan magma dengan dominasi senyawa-senyawa silikat, layaknya magma di Bumi. Sehingga magmanya setara atau bahkan lebih panas dibanding magma di Bumi. Gunung-gunung berapi Io kerap meletus dalam jangka panjang lewat erupsi efusif. Ini adalah letusan yang melelerkan lava tanpa disertai semburan material vulkanik yang cukup tinggi. Erupsi efusif di Io menghasilkan lava yang bergerak cepat, sehingga mampu menutupi area seluas 12,6 hingga 21,6 hektar dalam setiap jamnya (kasus letusan Prometheus dan Amirani). Sementara lava produk erupsi efusif di Bumi hanya sanggup menutupi area seluas 0,2 hektar saja dalam setiap jamnya (kasus letusan Kilauea di Kepulauan Hawaii). Namun pada saat-saat tertentu, dalam jangka pendek, gunung-gunung berapi ini juga dapat mengalami erupsi eksplosif. Erupsi eksplosif ini sungguh luar biasa. Iasanggup menyemburkan lava panas hingga setinggi 1 km laksana air mancur berapi gigantis. Sementara debu vulkaniknya mampu tersembur jauh lebih tinggi lagi. Kecepatan pengeluaran lavanya pun demikian besar sehingga sebanding dengan letusan gunung berapi model banjir lava basalt di Bumi, seperti misalnya Letusan Laki 1783 (Islandia).

Mengapa dunia kecil Io bisa sedahsyat dan seunik ini? Vulkanisme di Io digerakkan oleh sumber yang berbeda dibanding Bumi. Di Bumi, gunung-gemunung berapi muncul akibat adanya sumber panas internal dimana 90 % diantaranya berasal dari peluruhan radioaktif inti-inti atom berat sementara 10 % sisanya adalah panas-sisa proses pembentukan Bumi purba dari masa remaja tata surya. Panas tersebut menghasilkan sirkulasi dalam lapisan selubung (mantel) Bumi sehingga menggerakkan lempeng-lempeng tektonik di keraknya. Perbenturan dan pemisahan lempeng-lempeng inilah yang memproduksi vulkanisme. Namun hanya 1 % panas internal Bumi yang mewujud sebagai vulkanisme dan tektonisme, 99 % sisanya terlepas keluar melalui proses konduksi di kerak Bumi.

Di internal Io juga terjadi peluruhan radioaktif inti-inti atom berat, namun energi yang dihasilkannya hanya mencakup 0,5 % saja. 99,5 % panas internal Io disumbangkan oleh pemanasan tidal, seiring posisi Io yang unik dalam lingkungan planet Jupiter. Io berjarak relatif dekat dengan planet induknya. Dan dengan 2 satelit Galilean lainnya, yakni Europa dan Ganymede, Io mengalami resonansi orbital dalam bentuk resonansi Laplace. Maka kala Ganymede tepat menyelesaikan revolusinya terhadap Jupiter sekali, Io pun tepat empat kali berevolusi. Demikian halnya saat Europa sekali berevolusi, maka Io tepat dua kali berevolusi. Sifat ini membuat orbit Io sangat stabil dan nyaris berbentuk lingkaran sempurna. Di sisi lain kedekatannya dengan Jupiter membuat Io mengalami gaya tidal (gaya pasang surut) yang sangat besar. Sehingga permukaan Io menggelembung dan mengempis secara teratur dengan perbedaan ketinggian permukaan rata-rata bisa mencapai 100 meter. Bandingkan dengan Bumi, dimana gaya tidal Bulan hanya sanggup menghasilkan perbedaan setinggi 1 meter saja.

Mengembang dan mengempisnya Io pun dirasakan oleh struktur internalnya hingga menciptakan panas yang sangat besar. Panas ini tak bisa dimanifestasikan dalam perubahan orbit Io, akibat resonansi orbitalnya dengan Europa dan Ganymede. Maka panas itu pun akhirnya melelehkan sebagian lapisan selubung Io hingga membentuk lapisan magma (samudera magma) pada kedalaman 50 km dengan ketebalan rata-rata sekitar 50 km. Magma dari samudera magma inilah yang kemudian keluar ke permukaan, menciptakan vulkanisme yang sangat intensif.

Referensi:

de Pater dkk. 2014. Two New, Rare, High-effusion Outburst Eruptions at Rarog and Heno Paterae on Io. Icarus 2014.06.016

de Kleer dkk. 2014. Near-infrared Monitoring of Io and Detection of a Violent Outburst on 29 August 2013. Icarus 2014.06.006

Perry. 2014. Three Major Volcanic Eruptions Observed On Io in the Span of Two Weeks. Planetary Society 2014/08/12.

Antara Letusan Tambora, Waterloo dan Perang Diponegoro

Yogyakarta, Rabu 20 Juli 1825. Matahari kuning kemerah-merahan mengambang rendah di atas kaki langit barat saat jarum jam menunjuk pukul 17:00 setempat. Cahaya keemasannya melaburi langit senja dan juga pucuk-pucuk pepohonan di seantero kota, seakan hendak melipur lara para penduduknya yang menderita di bawah pendudukan Belanda. Namun keindahan senja itu tak sanggup menghapus amarah membara. Di kejauhan sana, di dekat kaki langit sebelah barat, asap mengepul pekat. Inilah saat pasukan gabungan Kasultanan Yogyakarta dan Belanda menyerbu Ndalem Tegalrejo, kediaman Pangeran Diponegoro di pedesaan sisi barat kota. Pasukan gabungan itu datang menghantam dengan satu tujuan: meringkus sang pangeran. Itulah jawaban atas sikap keras Pangeran Diponegoro yang dianggap membangkang karena menolak rencana pelebaran jalan raya (kelak menjadi bagian jalan raya Yogyakarta-Magelang) yang melintasi tapalbatas Ndalem Tegalrejo. Penyerbuan berlangsung kelewat batas. Ndalem Tegalrejo digedor, digeledah, diobrak-abrik dan lantas dibakar. Namun sang buruan tak tertangkap. Bersama sejumlah pengiringnya, Diponegoro meloloskan diri dari kepungan dan lantas menyingkir 10 km ke selatan, ke perbukitan Selarong yang dipenuhi goa-goa kapur.

Diponegoro. Kadang ditulis juga sebagai Dipanegara. Tak satupun orang Indonesia khususnya yang pernah mengenyam bangku sekolah yang asing akan namanya. Diponegoro adalah pahlawan nasional Indonesia. Sosoknya gampang terpatri dalam benak: berpakaian serba putih, bersorban putih pula dan menyandang keris didepan raga. Tak heran jika tampilan ini banyak ditiru khususnya dalam pentas perayaan peringatan kemerdekaan republik ini, baik di sekolah, di karnaval menyusuri jalan-jalan utama maupun di panggung serta layar perak. Tak berbilang pula kota-kota yang menabalkan salah satu ruas jalan utamanya dengan namanya. Namanya pun melekat pada daerah militer di Jawa Tengah (sebagai Kodam IV/Diponegoro), juga pada salah satu lembaga perguruan tinggi prestisius (Universitas Diponegoro). Sejumlah patung bernuansa kepahlawanan yang menggambarkan sosoknya pun berdiri dimana-mana. Bahkan dua buah kapal perang TNI-AL pun menyandang namanya, misalnya yang termutakhir KRI Diponegoro-365.

Gambar 1. Dinding berlubang di pagar sisi barat eks Ndalem Tegalrejo (kini Museum Sasana Wiratama Dipoengoro, Yogyakarta). Di sinilah Pangeran Diponegoro meloloskan diri saat kediamannya diserbu pasukan gabungan Kasultanan Yogyakarta dan Belanda, yang mengawali berkobarnya Perang Diponegoro. Sumber: Amangkuratprastono, 2014.

Gambar 1. Dinding berlubang di pagar sisi barat eks Ndalem Tegalrejo (kini Museum Sasana Wiratama Dipoengoro, Yogyakarta). Di sinilah Pangeran Diponegoro meloloskan diri saat kediamannya diserbu pasukan gabungan Kasultanan Yogyakarta dan Belanda, yang mengawali berkobarnya Perang Diponegoro. Sumber: Amangkuratprastono, 2014.

Ya. Diponegoro memang pahlawan besar, sosok sentral dibalik Perang Diponegoro atau yang dikenal juga sebagai Perang Jawa dalam melawan penjajahan Belanda. Perang Diponegoro menjadi peperangan paling berdarah, paling mahal dan paling menguras tenaga sepanjang sejarah penjajahan Belanda di Indonesia. Hanya dalam tempo 5 tahun Belanda harus mengerahkan 50.000 serdadu dengan tak kurang dari 15.000 diantaranya tumpas berkalang tanah. Separuh korban tewas itu adalah pasukan terpilih yang didatangkan langsung dari tanah Eropa. Perkebunan-perkebunan yang selama ini menjadi lumbung uang dibakar dan dirusak. Total kerugiannya pun melangit, mencapai angka 20 juta gulden pada masa itu atau setara milyaran rupiah di masa kini. Dikombinasikan dengan duit yang harus dirogoh dalam perang Napoleon di daratan Eropa yang disusul pemberontakan Belgia dan perang Paderi di Sumatra, Perang Diponegoro membuat pemerintah Belanda maupun satelit seberang lautannya (yakni pemerintah kolonial Hindia Belanda) mendapati diri mereka bangkrut sebangkrut-bangkrutnya.

Diponegoro sejatinya bukan nama diri. Itu adalah gelar kepangeranan yang bukan main-main. Gelar bagi seorang pangeran yang menyebarkan pencerahan dan kekuatan bagi sebuah negara. Sebelum 1825 gelar ini acapkali dipakai sejumlah putra raja wangsa Mataram masa itu. Pangeran Diponegoro yang kita bicarakan ini lahir sebagai BRM (Bandoro Raden Mas) Mustahar, putra sulung Sri Sultan Hamengku Buwono III, di tahun 1785. Saat beranjak remaja, sesuai tradisi keraton maka namanya bersalin menjadi RM (Raden Mas) Ontowiryo. Dan pada tahun 1812 beliau dinobatkan sebagai pangeran dengan menyandang gelar BPH (Bandoro Pangeran Haryo) Diponegoro. Sebagai putra tertua sang raja yang sedang bertahta, Diponegoro pun memiliki kesempatan untuk menjadi raja berikutnya. Namun Diponegoro tahu diri, ia bukanlah putra permaisuri. Sebaliknya ia justru keluar dari lingkungan keraton dan tinggal di pedesaan untuk mendekatkan diri dengan rakyat Yogyakarta sembari memperdalam ilmu agama (Islam). Dalam saat-saat tertentu sang pangeran, dengan menyamar sebagai wong cilik, bahkan tak segan-segan blusukan ke pelosok tanah Mataram, dua abad sebelum kosakata blusukan menjadi trademark Jokowi.

Namun selepas Perang Diponegoro, tak satupun bangsawan wangsa Mataram baik di Kasultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta maupun Pakualaman dan Mangkunegaran yang bersedia menyandang nama Diponegoro lagi. Nama itu ibarat aib, pembawa kutukan. Bagi Kasultanan Yogyakarta sendiri, Pangeran Diponegoro bahkan dipandang sebagai sosok pengkhianat. Betapa tidak? Perang Diponegoro merenggut korban tak kepalang. Lebih dari seperlima juta orang Jawa meregang nyawa. Populasi warga Yogyakarta pun menyusut hingga tinggal separuh. Seluruh biaya peperangan di pihak Belanda dibebankan ke Kasultanan. Dan begitu perang usai, Belanda melucuti wilayah Kasultanan terutama di Bagelen (sekarang Purworejo), Banyumas dan Panjer (sekarang Kebumen) sebagai pampasan perang. Kasultanan pun nyaris bangkrut, hampir terhapus dari panggung sejarah. Tak heran jika kebencian pun berakar dalam. Bahkan keturunan Diponegoro dilarang untuk memasuki keraton, kapanpun dan atas alasan apapun. Larangan ini baru dicabut lebih dari seabad kemudian pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono IX, kala zaman sudah berubah. Apalagi setelah Presiden Soekarno berinisiatif menggelar peringatan satu abad wafatnya Pangeran Diponegoro pada 1955.

Faktor

Gambar 2. Pertempuran Nglengkong 30 Juli 1826 dalam sketsa. Pasukan gabungan Kasultanan Yogyakarta dan Belanda berhadapan dengan laskar Diponegoro, yang menghasilkan kemenangan terbesar bagi Pangeran Diponegoro pada saat itu. Sumber: Amangkuratprastono, 2014.

Gambar 2. Pertempuran Nglengkong 30 Juli 1826 dalam sketsa. Pasukan gabungan Kasultanan Yogyakarta dan Belanda berhadapan dengan laskar Diponegoro, yang menghasilkan kemenangan terbesar bagi Pangeran Diponegoro pada saat itu. Sumber: Amangkuratprastono, 2014.

Buku-buku sejarah di bangku sekolah menyebut penyerbuan Ndalem Tegalrejo itulah penyulut Perang Diponegoro. Ya. Perang Diponegoro memang dimulai dari Tegalrejo. Namun penyerbuan Tegalrejo bukanlah faktor utama penyebab perang. Sang pangeran sendiri dalam Babad Diponegoro, karya sastra biografis yang ditulis Diponegoro selama masa penawanan di pulau Sulawesi dan kini telah diakui secara internasional sebagai salah satu Memory of the World oleh UNESCO, menyebut bibit peperangan besar itu telah bersemi semenjak 12 tahun sebelumnya. Yakni saat kolonialisme Eropa mempertontonkan wajah kurangajarnya dengan mulai mencampuri urusan internal Kasultanan. Inggris, yang saat itu menguasai pulau Jawa sebagai ekses perang Napoleon, mengacak-acak keraton, memprovokasi terbentuknya kadipaten Pakualaman (sebagai pecahan Kasultanan) dan bahkan pada puncaknya melakukan penjarahan akbar pada 1812.

Inggris tak bertahan lama di Yogyakarta. Mulai pertengahan 1816, Belanda kembali dan mengambil-alih seluruh wilayah jajahannya. Dalam keadaan hampir bangkrut, Belanda meneruskan praktik provokasi Inggris. Keraton makin diacak-acak. Minuman keras bergentayangan dimana-mana, membuat para pangeran muda dan tua mabuk tanpa kenal ruang dan waktu. Perselingkuhan opsir-opsir Belanda dengan para putri keraton pun merebak. Sedemikian parah situasinya sehingga Mahandis Y. Thamrin dalam National Geographic Indonesia edisi Agustus 2014 bahkan menyebut Belanda memperlakukan keraton tak ubahnya seperti tempat pelacuran. Di luar keraton, Belanda melakoni model penjajahan gaya batu dengan membebani setiap orang lewat aneka macam pajak yang mencekik leher. Di wilayah Bagelen saja setiap orang dibebani membayar 13 jenis pajak sekaligus! Zaman pun menjadi edan.

Lambat laun kekurangajaran Belanda di dalam dan di luar keraton laksana menyulut bara dalam sekam. Ketidaksukaan dan kebencian merebak dimana-mana, baik di kalangan bangsawan, prajurit, ulama, bupati, demang, santri, petani maupun rakyat kecil pemberani. Kegemaran blusukannya membuat Diponegoro mampu mencermati ketidaksukaan itu. Dan beliau tidak menulikan diri. Sebaliknya, Diponegoro justru mulai membentuk jaringan rahasia dengan mereka untuk membangun kekuatan. Dana pun mulai mengalir, terutama dari para bangsawan dan dari pencegatan demi pencegatan konvoi logistik Belanda yang sekilas terkesan sebagai tindakan sporadis. Dengan dana tersebut dibangunlah kilang mesiu rahasia di pinggiran Yogyakarta dan tempat-tempat lain. Senapan pun mulai dibeli dari Prusia. Organisasi militer mulai dibentuk dengan mengacu pada struktur tentara imperium Turki Utsmani.

Dengan semua persiapan nan senyap itu Perang Jawa memang benar-benar tinggal menunggu waktu. Dan si pemicu pun datanglah, kala Ndalem Tegalrejo diserbu. Tak heran jika hanya dalam dua minggu pasca penyerbuan Tegalrejo, Diponegoro kembali ke kota Yogyakarta, kali ini bersama 6.000 prajurit. Kota dikepung dari segenap penjuru selama sebulan lebih semenjak 7 Agustus 1825. Tak sekedar mengepung dan memutuskan seluruh akses jalan masuk kota, pasukan Diponegoro secara sistematis juga menghujani Yogyakarta dengan mesiu khususnya ke target-target strategis milik Belanda. Yogyakarta menjadi lautan api. Belanda pun kewalahan dan memilih bertahan sekuat tenaga di dalam Benteng Vredeburg sembari menunggu bala bantuan dari Batavia.

Waterloo

Selain faktor-faktor yang bersifat lokal itu, faktor global turut menjadi penyebab Perang Diponegoro. Seperti berkecamuknya Pertempuran Waterloo (1815) di daratan Eropa dan disusul berjangkitnya penyakit demikian rupa hingga menciptakan wabah berskala besar yang berujung pandemi (1817-1824). Cukup menarik bahwa dua faktor global tersebut nampaknya sangat dipengaruhi sebuah peristiwa alamiah dalam skala yang sungguh luar biasa, yakni Letusan Tambora 1815.

Bagaimana bisa demikian?

Gambar 3. Pertempuran Waterloo dalam lukisan William Sadler. Kekalahan Perancis dalam perang besar ini mengubah geopolitik Eropa dan berpengaruh global, termasuk memicu Perang Diponegoro.

Gambar 3. Pertempuran Waterloo dalam lukisan William Sadler. Kekalahan Perancis dalam perang besar ini mengubah geopolitik Eropa dan berpengaruh global, termasuk memicu Perang Diponegoro.

Pertempuran Waterloo adalah perang yang menentukan kejatuhan kekaisaran Napoleon Bonaparte. Napoleon adalah produk ajaib revolusi Perancis, revolusi yang semula bertujuan meruntuhkan kekuasaan monarki absolut (mutlak) namun belakangan justru berbuah tegaknya kembali kekuasaan monarki absolut yang lain. Selagi menjabat kaisar Perancis, Napoleon berusaha mewujudkan ambisinya menyatukan seluruh daratan Eropa di tangannya. Ambisi ini menyebabkan Perancis terus-menerus bertempur dengan negara-negara tetangganya, terutama Inggris dan Prusia, yang mewujud dalam sejumlah episode Perang Koalisi. Mulai Perang Koalisi Ketiga (1805) hingga Perang Koalisi Kelima (1809), Perancis memetik banyak kemenangan. Sehingga pada 1812 imperium Perancis mencapai puncak kejayaannya dengan wilayah membentang luas meliputi hampir seluruh daratan Eropa barat, kecuali Portugis dan Eropa tenggara menjadi wilayah imperium Turki Utsmani, yang dianggap sekutu Perancis. Sebaliknya Eropa timur sepenuhnya ada di bawah kekaisaran Rusia. Maka Napoleon dan pasukannya pun bermanuver ke timur.

Namun invasi Napoleon ke Rusia justru membuatnya tersungkur telak. Taktik yang salah, musim dingin yang demikian menggigil membekukan dan sengatan wabah tipus membuat Perancis mengalami kekalahan besar-besaran. Napoleon terpaksa pulang dengan memalukan dari Moskow sembari membawa hanya 4 % dari sisa pasukannya, setara 27.000 orang. Sebagian besar lainnya tewas atau malah tertangkap lawan. Demoralisasi pun menyebar di sekujur Perancis. Akibatnya saat koalisi Prusia, Swedia, Austria dan Jerman bangkit mengeroyok Perancis dengan bantuan Rusia dalam Perang Koalisi Keenam (1812-1814), Napoleon dipaksa bertekuk lutut. Setengah juta pasukan koalisi berbaris rapi memasuki kota Paris pada 30 Maret 1814 dan sang kaisar yang terguling dipaksa pergi ke pengasingan di pulau Elba, lepas pantai barat Italia. Koalisi mendudukkan raja Louis XVIII, monarki sebelumnya, sebagai penguasa Perancis yang baru. Bersama Inggris Raya koalisi pun mulai merancang pertemuan di Wina guna menata ulang geopolitik Eropa sesuai monarki-monarki yang ada sebelum meletusnya perang Napoleon. Pertemuan mulai terlaksana setengah tahun kemudian dan lantas populer sebagai Kongres Wina.

Mendadak berhembus kabar Napoleon Bonaparte meloloskan diri dari pulau Elba. Kabar itu ternyata benar dan sejatinya tak mengejutkan seiring lemahnya penjagaan di pulau Elba. Napoleon mendarat di Perancis pada 1 Maret 1815 dan segera memperoleh dukungan luas dari publik untuk merengkuh kembali tahta kekaisarannya. Raja Louis XVIII terpaksa lari terbirit-birit dari Paris. Begitu imperium Perancis kembali, sasaran pertamanya adalah menghabisi seluruh musuhnya. Maka 280.000 prajurit baru pun disiapkan ditambah dengan 250.000 veteran perang. Napoleon juga mengeluarkan dekrit baru yang memungkinkan 2,5 juta penduduk memasuki legiun-legiun Perancis. Di luar sana, koalisi Austria, Prusia, Rusia dan Inggris Raya pun segera mengorganisir diri. Pasukan besar juga dibentuk dan siap dibenturkan. Perang Koalisi Ketujuh pun siap berkobar.

Malang, kali ini Napoleon (kembali) harus jatuh tersungkur. Serangan dadakannya ke pusat konsentrasi pasukan koalisi di Brussels (Belgia) yang belum sempat menata diri berujung petaka di Waterloo. Hujan sangat deras yang salah musim mendadak mengguyur, membuat jalanan menjadi demikian berlumpur sehingga artileri berat yang menjadi tulang punggung pasukan Perancis tak bisa bergerak leluasa. Tak lama kemudian udara kian mendingin, fenomena aneh untuk rentang waktu yang seharusnya adalah musim panas. Udara yang kian mendingin membuat pasukan Perancis terserang radang dingin hingga menyulitkan gerakannya. Demikian dinginnya sehingga pasukan Perancis sampai-sampai terpaksa membakar setiap sepatu tak terpakai sekedar untuk menghangatkan badan. Ambisi Napoleon membuat lawan-lawannya kocar-kacir sembari berharap Inggris pulang kembali ke negerinya dan Prusia keluar dari koalisi pun lenyap laksana kabut dipanggang sinar Matahari. Justru sebaliknya pasukan Perancis yang mendapat pukulan sangat telak hingga segenap sayapnya lumpuh. Korban pun sangat besar, dari 72.000 prajurit Perancis hanya 29 % yang selamat di akhir pertempuran. Bandingkan dengan kekuatan koalisi, yang masih menyisakan 80 % pasukannya dari yang semula berkekuatan 118.000 prajurit.

Akumulasi faktor-faktor yang tak menguntungkan membuat Perancis tak lagi punya keunggulan hingga terpaksa harus bertekuk lutut di bawah kaki pasukan koalisi di akhir pertempuran pada 18 Juni 1815. Sebagai konsekuensinya Napoleon pun mundur dari tahta dan menyerahkan diri ke Inggris. Inggris lantas mengasingkannya ke pulau Saint Helena di tengah-tengah Samudra Atlantik lepas pantai barat Afrika hingga akhir hayatnya. Kongres Wina pun kembali digelar dan menghasilkan sejumlah keputusan. Salah satunya adalah dikembalikannya tanah Nusantara ke tangan Belanda sekaligus menegakkan kembali pemerintah kolonial Hindia Belanda menggantikan pemerintahan pendudukan Inggris.

Tambora

Gambar 4. Letusan Gunung Pinatubo pada Juni 1991, menjelang puncak letusan katastrofiknya. Debu vulkanik Pinatubo disemburkan jauh tingga hingga memasuki lapisan stratosfer dan sempat menciptakan tabir surya vulkanik meski tak berdampak besar bagi iklim Bumi. Letusan Tambora 1815 pada dasarnya juga demikian, hanya saja 16 kali lipat lebih dahsyat ketimbang Pinatubo. Sehingga dampaknya pun sangat besar. Sumber: USGS, 1991.

Gambar 4. Letusan Gunung Pinatubo pada Juni 1991, menjelang puncak letusan katastrofiknya. Debu vulkanik Pinatubo disemburkan jauh tingga hingga memasuki lapisan stratosfer dan sempat menciptakan tabir surya vulkanik meski tak berdampak besar bagi iklim Bumi. Letusan Tambora 1815 pada dasarnya juga demikian, hanya saja 16 kali lipat lebih dahsyat ketimbang Pinatubo. Sehingga dampaknya pun sangat besar. Sumber: USGS, 1991.

Tak sulit untuk melihat hujan sangat deras dan udara yang mendadak mendingin adalah salah satu faktor krusial yang menentukan kekalahan Perancis di medan perang Waterloo. Mengapa kedua hal yang tak menguntungkan Perancis itu terjadi? Pertempuran Waterloo berkecamuk pada 15 Juni 1815. Maka tak sulit untuk mengaitkan jalannya pertempuran dengan peristiwa alamiah berskala luar biasa yang terjadi dua bulan sebelumnya mengambil tempat ribuan kilometer dari Waterloo, yakni di kepulauan Nusantara. Itu adalah meletusnya Gunung Tambora, yang mencapai puncak kedahsyatannya dalam kurun 5 hingga 15 April 1815. Letusan ini menyemburkan 160 kilometer kubik (160.000 juta meter kubik) material vulkanik. Milyaran ton debu vulkanik sangat halus menyembur tinggi hingga mencapai lapisan stratosfer. Bersamanya terbawa serta ratusan juta ton gas belerang, yang lantas bereaksi dengan air membentuk tetes-tetes asam sulfat. Paduan keduanya membentuk tabir surya vulkanik yang menyelubungi sekujur penjuru atmosfer Bumi pada ketinggian antara 10 hingga 30 km. Tabir surya ini membuat 25 % cahaya Matahari tereduksi sehingga hanya 75 % saja yang berhasil ditransmisikan ke Bumi. Akibatnya suhu rata-rata permukaan Bumi pun menurun dengan segala akibatnya.

Mudah untuk melihat bahwa hujan salah musim dan sangat deras merupakan bagian dari kacau-balaunya cuaca akibat penurunan suhu rata-rata permukaan. Pun demikian dalam hal udara yang kian mendingin. Hal yang sama juga bertanggungjawab atas terjadinya wabah penyakit berskala global. Udara yang lebih dingin, tebaran debu vulkanik dan cuaca yang kacau membuat sanitasi lingkungan memburuk. Bibit penyakit yang semula hanya endemis di daerah tertentu pun sanggup menyebar lebih jauh. Inilah yang terjadi dengan kolera, yang semula hanya berjangkit di kawasan lembah Sungai Gangga (India). Namun semenjak 1817 kolera mulai tersebar ke kawasan lain. Pada puncaknya hampir seluruh Asia tersapu wabah penyakit mematikan ini, bersama dengan sisi timur Afrika dan sebagian Eropa Timur. Wabah kolera inilah yang menyebabkan kematian massal di tanah Jawa. Demikian banyak penduduk yang meninggal sehingga lahan pertanian tak terurus. Akibatnya bencana kelaparan pun merebak. Wabah ini tak pandang bulu dalam memilih korbannya, kalangan bangsawan dan bahkan Sri Sultan Hamengku Buwono IV pun turut menjadi sasaran. Tak pelak bencana ini pun berimbas ke ranah sosial-politis, terutama setelah Belanda memilih putra raja (yang baru berusia 3 tahun) menjadi raja selanjutnya bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono V. Karena belum cukup umur, Pangeran Diponegoro ditunjuk sebagai wali raja namun pemerintahan sehari-hari sejatinya dikendalikan Residen Belanda bersama Patih Danurejo IV.

Gambar 5. Kaldera Gunung Tambora yang demikian luas dan dalam. Cekungan air berwarna kehijauan didasarnya adalah Danau Motilahalo. Kaldera ini terbentuk dalam Letusan Tambora 1815 yang dahsyat, hampir 2 abad silam. Kedahsyatannya memicu beragam dampak sosial-politis, termasuk Pertempuran Waterloo dan juga Perang Diponegoro. Sumber: Wahibur Rahman, dalam Geomagz vol. 4 no. 2 (Juni 2014).

Gambar 5. Kaldera Gunung Tambora yang demikian luas dan dalam. Cekungan air berwarna kehijauan didasarnya adalah Danau Motilahalo. Kaldera ini terbentuk dalam Letusan Tambora 1815 yang dahsyat, hampir 2 abad silam. Kedahsyatannya memicu beragam dampak sosial-politis, termasuk Pertempuran Waterloo dan juga Perang Diponegoro. Sumber: Wahibur Rahman, dalam Geomagz vol. 4 no. 2 (Juni 2014).

Kita bisa beranda-andai bagaimana jika pada saat itu Gunung Tambora tak meletus dahsyat? Takdir memang adalah garis nasib yang sepenuhnya menjadi kuasa Allah SWT. Namun jika Letusan Tambora 1815 tak terjadi, jalannya Pertempuran Waterloo mungkin bakal berbeda. Mengingat sebelum pasukan Prusia berhasil berkonsolidasi dengan rekan-rekan koalisinya, kekuatan koalisi di Waterloo hanyalah berjumlah 68.000 prajurit. Sementara Perancis sedikit lebih unggul dengan 72.000 prajurit dan masih dilengkapi artileri berat yang lebih baik. Maka andaikata letusan dahsyat itu tak berlangsung, Perancis mungkin bisa mengungguli kekuatan koalisi. Sejarah berkemungkinan berubah total. Kongres Wina bisa urung mencapai hasilnya dan Belanda dengan penjajahan gaya batunya mungkin takkan datang ke tanah Jawa pada pertengahan 1816 itu.

Referensi:

Djamhari. 2003. Strategi Menjinakkan Diponegoro: Stelsel-Benteng 1827-1830. Jakarta: Komunitas Bambu.

Penadi. 2000. Riwayat Kota Purworejo dan Perang Bharatayudha di Tanah Bagelen Abad XIX. Purworejo: Lembaga Studi Pengembangan Sosial dan Budaya.

Thamrin. 2014. Kecamuk Perang Jawa. National Geographic Indonesia edisi Agustus 2014, hal. 28-49.

Blog Amangkurat Prastono.

Indonesia ‘Menaklukkan’ Australia (Menyaksikan Letusan Sangeang Api dari Langit)

Sekilas judul tulisan ini kelewat bombastis. Indonesia menaklukkan Australia? Kedua negara tidak sedang dalam keadaan berperang, meski hubungan kita dengan negeri kanguru kerap diterpa gelombang pasang-surut sepanjang sejarah. Pada saat tertentu pasang-surut itu bahkan mencapai titik ekstrimnya. Misalnya kala aksi penyadapan intel Australia terhadap pejabat-pejabat Indonesia terungkap. Jakarta lantas membalasnya dengan memanggil pulang duta besar Indonesia untuk Australia, sebuah tamparan terkeras dalam etika hubungan internasional. Meski demikian belum ada ceritanya militer Indonesia saling berhadap-hadapan dengan Australia dalam teater konfrontasi.

Gambar 1. Laksana ledakan bom nuklir Hiroshima, saat puncak kolom letusan Sangeang Api telah demikian melebar dan membentuk payung/jamur raksasa yang terlihat jelas dari jarak 40 km. Diabadikan oleh M. Taufiqurrahman (twitter @tofifoto) dari pusat kota Bima, Kabupaten Bima (Nusa Tenggara Barat) pada Jumat 30 Mei 2014 sore. Sumber: Taufiqurrahman, 2014.

Gambar 1. Laksana ledakan bom nuklir Hiroshima, saat puncak kolom letusan Sangeang Api telah demikian melebar dan membentuk payung/jamur raksasa yang terlihat jelas dari jarak 40 km. Diabadikan oleh M. Taufiqurrahman (twitter @tofifoto) dari pusat kota Bima, Kabupaten Bima (Nusa Tenggara Barat) pada Jumat 30 Mei 2014 sore. Sumber: Taufiqurrahman, 2014.

Namun penaklukan itu benar adanya, meski dalam bentuk lain yang sungguh tak pernah diduga. Adalah letusan besar Gunung Sangeang Api pada 30 Mei 2014 yang menjadi penyebabnya. Apalagi aktivitas letusan Sangeang Api terus berlanjut hingga dua hari kemudian. Letusan-letusan itu secara akumulatif menyemburkan jutaan meter kubik debu vulkanik ke udara, dalam letusan pertama bahkan mencapai ketinggian sekitar 20.000 meter dpl (dari paras air laut rata-rata), lantas terbawa angin regional ke arah tenggara. Maka debu vulkanik Sangeang Api pun terbawa cukup jauh sampai sejauh sekitar 3.000 km hingga menyerbu udara Australia bagian utara.

Hujan debu yang dialami daratan Australia bagian utara memang tak separah guyuran debu dan pasir yang merejam sebagian propinsi Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur di Indonesia. Namun konsentrasi debu vulkanik Sangeang Api di atas Australia utara tergolong cukup besar dan berpotensi membahayakan lalu lintas penerbangan, baik sipil maupun militer. Di waktu lalu, Australia menyaksikan sendiri bagaimana dampak debu vulkanik terhadap kinerja mesin jet seperti dialami pesawat Boeing-747 British Airways penerbangan 009 (nomor pesawat G-BDXH, kode panggil Speedbird 9, rute London-Auckland) pada 24 Juni 1983. Saat terbang di atas pulau Jawa, pesawat sempat terperangkap dalam kolom debu vulkanik salah satu letusan Gunung Galunggung sehingga terjadi gangguan berat yang sempat mematikan keempat mesinnya. Sehingga pesawat pun terjun bebas dari ketinggian 11.500 meter dpl menuju permukaan Samudera Indonesia (Samudera Hindia) dibawahnya. Beruntung, pada ketinggian lebih rendah satu-persatu mesin jetnya berhasil dinyalakan ulang sehingga pilot berhasil menghindari lautan dan memutuskan untuk mendarat darurat di bandara Halim Perdanakusuma (Jakarta).

Gambar 2. Kiri: pulau Sangeang (puncak Gunung Sangeang Api) yang impresif di tengah-tengah Laut Flores yang permai, diabadikan oleh astronot pesawat ulang-alik Atlantis saat menjalani misi antariksa STS 112 pada 7 hingga 18 Oktober 2001. Kanan: wajah kawah aktif Doro Api dan lingkungan sekitarnya, diabadikan oleh satelit Quickbird dengan warna nyata pada 2 Oktober 2005 dan kemudian diproses oleh LAPAN. Terlihat kubahlava 1985, yang kini telah jebol/hilang dalam letusan 30 Mei 2014 lalu. Sumber: NASA, 2002; LAPAN, 2014.

Gambar 2. Kiri: pulau Sangeang (puncak Gunung Sangeang Api) yang impresif di tengah-tengah Laut Flores yang permai, diabadikan oleh astronot pesawat ulang-alik Atlantis saat menjalani misi antariksa STS 112 pada 7 hingga 18 Oktober 2001. Kanan: wajah kawah aktif Doro Api dan lingkungan sekitarnya, diabadikan oleh satelit Quickbird dengan warna nyata pada 2 Oktober 2005 dan kemudian diproses oleh LAPAN. Terlihat kubahlava 1985, yang kini telah jebol/hilang dalam letusan 30 Mei 2014 lalu. Sumber: NASA, 2002; LAPAN, 2014.

Guna menghindari petaka serupa, maka VAAC (Volcanic Ash Advisory Committee) Darwin pun menerbitkan kode merah bagi ruang udara Australia bagian utara, yang melarang lalu lintas pesawat berawak apapun di sini khususnya untuk penerbangan sipil. Sebagai imbasnya, ratusan penerbangan dari dan ke bandara Darwin pun dibatalkan. Belakangan sejumlah penerbangan lainnya khususnya yang menuju ke Denpasar (Bali), misalnya dari Melbourne, pun turut dibatalkan. Kerugian pun tercetak dan ditaksir mencapai milyaran rupiah. Namun apa boleh buat, hal itu dianggap masih lebih baik ketimbang menjerumuskan lalu lintas udara ke dalam bencana yang bakal menyedot kerugian material jauh lebih besar. Cukup menarik bahwa keputusan ini berdasar atas kerja keras dari langit dalam memantau apa yang terjadi dengan Gunung Sangeang Api dan lingkungannya.

MTSAT-2 dan Landsat-8

Sebelum meletus kemarin, Gunung Sangeang Api telah berulangkali menjadi target menarik untuk dibidik dari langit, baik oleh satelit-satelit penginderaan dan sumberdaya Bumi maupun oleh sejumlah astronot dalam beberapa misi penerbangan antariksa berawak. Ketertarikan itu didasari impresifnya bentuk gunung berapi ini saat dilihat dari langit, yakni sebagai pulau yang membulat yang khas pulau vulkanik. Sejatinya pulau ini memang merupakan puncak sebuah gunung berapi aktif yang menyembul di atas paras air laut.

Gambar 3. Letusan Sangeang Api dalam empat jam pertamanya, diabadikan satelit MTSAT-2 dalam kanal inframerah pada resolusi rendah. Pukul 17:00 WITA nampak titik putih mendekati sferis muncul di atas lokasi Sangeang Api (panah kuning), pertanda puncak kolom letusan membumbung tinggi dan mulai melebar membentuk awan payung/jamur raksasa. Dalam tiga jam berikutnya, awan debu vulkanik tersebut terus melebar dan melonjong sembari beringsut ke arah timur-tenggara. Sumber: JMA, 2014.

Gambar 3. Letusan Sangeang Api dalam empat jam pertamanya, diabadikan satelit MTSAT-2 dalam kanal inframerah pada resolusi rendah. Pukul 17:00 WITA nampak titik putih mendekati sferis muncul di atas lokasi Sangeang Api (panah kuning), pertanda puncak kolom letusan membumbung tinggi dan mulai melebar membentuk awan payung/jamur raksasa. Dalam tiga jam berikutnya, awan debu vulkanik tersebut terus melebar dan melonjong sembari beringsut ke arah timur-tenggara. Sumber: JMA, 2014.

Letusan Sangeang Api pertama kali terdeteksi oleh satelit Himawari-7 atau dikenal juga sebagai satelit MTSAT-2 (Multifunction Transport Satellite-2). MTSAT-2 adalah satelit cuaca dan komunikasi milik Badan Meteorologi Jepang yang ditempatkan di orbit geostasioner, sehingga memiliki periode revolusi yang sama dengan periode rotasi Bumi yang menjadikannya selalu berada di atas permukaan Bumi yang sama. Dengan berkedudukan di atas Samudera Pasifik, maka satelit ini mampu mengamati kawasan Pasifik, Asia Timur, Asia tenggara dan Australia secara terus-menerus.

Pada resolusi rendah, letusan Sangeang Api pertama kali terlihat di citra MTSAT-2 pada pukul 17:00 WITA kanal inframerah sebagai titik putih yang nyaris membulat di atas pulau Sumbawa bagian timur. Titik putih ini cukup kontras bila dibandingkan dengan lingkungan sekitarnya yang nyaris tak berawan, khususnya di hampir seluruh kepulauan Sunda Kecil dan sebagian pulau Jawa. Dalam jam-jam berikutnya titik putih ini terus melebar dan melonjong untuk kemudian bergerak ke arah tenggara mengikuti angin regional. Dalam resolusi yang lebih tinggi, letusan Sangeang Api pertama kali terlihat di citra MTSAT-2 pada pukul 16:32 WITA, juga sebagai obyek putih mirip awan namun lebih padat. Pemandangan ini mengingatkan pada citra Letusan Kelud 2014 kemarin, hanya saja dimensi awan letusan Sangeang Api nampak lebih kecil. Selain itu juga tak terlihat pola bow shock-wave, yakni pola bergelombang yang disebabkan oleh interaksi tekanan gas vulkanik yang sangat tinggi dengan hembusan angin regional yang mencoba menggeser seluruh debu vulkanik menjauh, seperti halnya yang terjadi pada Letusan kelud 2014. Karena itu untuk sementara dapat dikatakan bahwa skala dan muntahan material vulkanik dalam Letusan Sangeang Api 2014 mungkin lebih kecil dibanding Letusan Kelud 2014, setidaknya menurut citra satelit MTSAT-2.

Gambar 4. Perkembangan letusan Sangeang Api pada 30 Mei 2014 pukul 19:32 WITA, diabadikan satelit MTSAT-2 dalam kanal komposit cahaya tampak/inframerah pada resolusi tinggi, dipadukan dengan analisis NOAA/CIMSS Volcanic Ash Height. Nampak debu vulkanik masih terus membumbung dari Gunung Sangeang Api meski letusan telah berlangsung selama 4 jam lebih. Di atas pulau Sumba, debu vulkanik Sangeang Api bahkan membumbung hingga mendekati ketinggian 14.000 meter dpl. Sumber: CIMSS, 2014.

Gambar 4. Perkembangan letusan Sangeang Api pada 30 Mei 2014 pukul 19:32 WITA, diabadikan satelit MTSAT-2 dalam kanal komposit cahaya tampak/inframerah pada resolusi tinggi, dipadukan dengan analisis NOAA/CIMSS Volcanic Ash Height. Nampak debu vulkanik masih terus membumbung dari Gunung Sangeang Api meski letusan telah berlangsung selama 4 jam lebih. Di atas pulau Sumba, debu vulkanik Sangeang Api bahkan membumbung hingga mendekati ketinggian 14.000 meter dpl. Sumber: CIMSS, 2014.

Puncak kolom letusan Sangeang Api jauh menembus ke dalam lapisan atmosfer yang lebih tinggi membuat suhunya merosot dramatis hingga di bawah minus 70 derajat Celcius seperti diperlihatkan oleh pengukuran radiometer. Dengan demikian ia telah memasuki lapisan stratosfer. Berbekal fakta tersebut maka NOAA/CIMSS Volcanic Ash Height memperkirakan debu vulkanik Sangeang Api membumbung hingga mencapai ketinggian setidaknya 14.000 meter dpl. Satelit MTSAT-2 juga memperlihatkan letusan Sangeang Api berlangsung berulang-ulang sepanjang 30 Mei 2014 tersebut. Berselang 10 jam setelah letusan pertama yang cukup besar, tepatnya pada 31 Mei 2014 pukul 02:00 WITA, terpantau debu vulkanik dari letusan berikutnya yang lebih kecil. Letusan kedua ini nampaknya telah terjadi setengah jam sebelumnya, seperti dilaporkan PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi). Dan berselang empat jam kemudian, yakni pada pukul 06:00 WITA, terjadi letusan ketiga yang tergolong cukup besar sehingga kembali melontarkan debu vulkaniknya sampai setinggi 14.000 meter dpl.

Gambar 5. Perkembangan letusan Sangeang Api pada 31 Mei 2014 pukul 07:32 WITA, diabadikan satelit MTSAT-2 dalam kanal komposit cahaya tampak/inframerah pada resolusi tinggi, dipadukan dengan analisis NOAA/CIMSS Volcanic Ash Height. Nampak debu vulkanik kembali membumbung dari Gunung Sangeang hingga mendekati ketinggian 14.000 meter dpl tepat di atas gunung. Debu vulkanik ini merupakan bagian dari letusan ketiga. Sumber: CIMSS, 2014.

Gambar 5. Perkembangan letusan Sangeang Api pada 31 Mei 2014 pukul 07:32 WITA, diabadikan satelit MTSAT-2 dalam kanal komposit cahaya tampak/inframerah pada resolusi tinggi, dipadukan dengan analisis NOAA/CIMSS Volcanic Ash Height. Nampak debu vulkanik kembali membumbung dari Gunung Sangeang hingga mendekati ketinggian 14.000 meter dpl tepat di atas gunung. Debu vulkanik ini merupakan bagian dari letusan ketiga. Sumber: CIMSS, 2014.

Selain MTSAT-2, letusan Sangeang Api juga dipantau melalui satelit Terra, sebuah satelit penginderaan Bumi yang dimiliki Badan Antariksa AS (NASA), khususnya lewat instrumen MODIS dalam kanal cahaya tampak. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) memanfaatkan sinyal satelit ini untuk merekonstruksi sejauh mana dampak letusan Sangeang Api. Pada 31 Mei 2014 pukul 10:27 WITA, debu vulkanik Sangeang Api terlihat telah menyelimuti sebagian pulau Sumbawa, seluruh pulau Sumba, Flores dan Rote serta ujung barat daya pulau Timor. Sangeang Api sendiri terlihat masih menyemburkan debu vulkanik ke arah tenggara. Tiga jam kemudian Sangeang Api terlihat sudah tak menyemburkan debu vulkanik lagi, namun kawasan yang terselimuti debu vulkanik justru meluas.

Gambar 6. Panorama sebagian kepulauan Nusa tenggara dalam dua kesempatan berbeda, diabadikan oleh instrumen MODIS pada satelit Terra dan kemudian diproses oleh LAPAN, masing-masing pada 31 Mei 2014 pukul 10:27 WITA dan 13:22 WITA. Pada pukul 10:27 WITA, nampak Gunung Sangeang Api menyemburkan debu vulkanik pekat ke arah tenggara, dengan sebaran debu vulkanik menyelimuti sebagian pulau Sumbawa, hampir seluruh pulau Flores, seluruh pulau Sumba dan Rote serta ujung barat daya pulau Timor. Pada pukul 13:22 WITA, semburan debu vulkanik yang sama sudah tak terpantau, namun luas kawasan yang terselimuti debu vulkanik justru makin membesar. Sumber: LAPAN, 2014.

Gambar 6. Panorama sebagian kepulauan Nusa tenggara dalam dua kesempatan berbeda, diabadikan oleh instrumen MODIS pada satelit Terra dan kemudian diproses oleh LAPAN, masing-masing pada 31 Mei 2014 pukul 10:27 WITA dan 13:22 WITA. Pada pukul 10:27 WITA, nampak Gunung Sangeang Api menyemburkan debu vulkanik pekat ke arah tenggara, dengan sebaran debu vulkanik menyelimuti sebagian pulau Sumbawa, hampir seluruh pulau Flores, seluruh pulau Sumba dan Rote serta ujung barat daya pulau Timor. Pada pukul 13:22 WITA, semburan debu vulkanik yang sama sudah tak terpantau, namun luas kawasan yang terselimuti debu vulkanik justru makin membesar. Sumber: LAPAN, 2014.

Sehari berikutnya (1 Juni 2014), LAPAN kembali memantau Gunung Sangeang Api dengan memanfaatkan sinyal satelit penginderaan Bumi lainnya, yakni Landsat-8 yang dioperasikan oleh Badan Survei Geologi AS (USGS). Pada kanal cahaya tampak, berhasil diperoleh citra Gunung Sangeang Api dalam warna nyata. Gunung itu terlihat masih menyemburkan asap tebal namun kini berwarna keputihan ke arah barat-barat daya, atau berkebalikan arah dibanding saat letusan pertamanya. Jejak hempasan awan panas letusan pun terlihat di sisi selatan dan tenggara. Luncuran awan panas ke arah tenggara bahkan sampai ke bibir pantai dan nampaknya terus masuk ke dalam Laut Flores. Meski demikian volumenya mungkin cukup kecil sehingga tak mampu membangkitkan usikan air laut dalam bentuk tsunami.

Gambar 7. Pulau Sangeang (puncak Gunung Sangeang Api), diabadikan oleh satelit Landsat 8 pada 1 Juni 2014 dan kemudian diproses oleh LAPAN. Nampak debu vulkanik bercampur gas vulkanik masih menyembur dari kawah Doro Api, memastikan bahwa pusat Letusan Sangeang Api 2014 memang bersumber dari kawah tersebut. Debu dan gas vulkanik berhembus ke barat, atau berlawanan arah dibanding letusan pertama dua hari sebelumnya. Nampak sisi tenggara gunung berwarna abu-abu, pertanda telah terendapkannya material letusan di sana sebagai awan panas yang meluncur jauh hingga menyentuh bibir pantai. Sumber: LAPAN, 2014.

Gambar 7. Pulau Sangeang (puncak Gunung Sangeang Api), diabadikan oleh satelit Landsat 8 pada 1 Juni 2014 dan kemudian diproses oleh LAPAN. Nampak debu vulkanik bercampur gas vulkanik masih menyembur dari kawah Doro Api, memastikan bahwa pusat Letusan Sangeang Api 2014 memang bersumber dari kawah tersebut. Debu dan gas vulkanik berhembus ke barat, atau berlawanan arah dibanding letusan pertama dua hari sebelumnya. Nampak sisi tenggara gunung berwarna abu-abu, pertanda telah terendapkannya material letusan di sana sebagai awan panas yang meluncur jauh hingga menyentuh bibir pantai. Sumber: LAPAN, 2014.

Sementara Biro Meteorologi Australia khususnya VAAC Darwin memantau letusan Sangeang Api secara menerus dengan memanfaatkan satelit MetOp-A dan MetOp-B, sepasang satelit cuaca milik organisasi Eropa untuk satelit-satelit meteorologi (Eumetsat). Instrumen yang digunakan pada satelit tersebut terutama adalah GOME, yang aslinya digunakan untuk memantau distribusi lapisan Ozon di stratosfer secara kontinu. Namun dalam kasus letusan gunung berapi, GOME juga bisa dimanfaatkan untuk merekam pergerakan aerosol sulfat, yakni gas sulfurdioksida yang lantas bereaksi dengan uap air di atmosfer membentuk butir-butir asam sulfat yang bersifat koloid. Dengan kata lain instrumen GOME pun berkemampuan mendeteksi pergerakan debu vulkanik letusan sebuah gunung berapi dengan lebih baik dibanding instrumen/kamera yang bekerja kanal cahaya tampak.

Hingga 1 Juni 2014, instrumen GOME satelit MetOp-A dan MetOp-B secara berkesinambungan memperlihatkan bahwa aerosol sulfat letusan Sangeang Api masih terbentuk. Aerosol tersebut memang menyebar jauh ke arah timur dan tenggara hingga mencapai daratan Australia. Namun Konsentrasi aerosol sulfat terbesar ada di atas pulau Timor. Sekilas kuantitas aerosol sulfat letusan Sangeang Api memang jauh lebih lemah ketimbang letusan Kelud. Sehingga menguatkan dugaan yang telah terbentuk melalui observasi satelit MTSAT-2, bahwa Letusan Sangeang Api 2014 memang menyemburkan material vulkanik dalam jumlah lebih kecil ketimbang Letusan Kelud 2014.

Gambar 8. Sebaran aerosol sulfat letusan Sangeang Api, diabadikan oleh instrumen GOME pada satelit MetOp-A dan MetOp-B pada 1 Juni 2014. Nampak aerosol tersebar jauh hingga mencapai daratan Australia bagian utara, yang memaksa ditutupnya bandara Darwin untuk sementara. Panah merah dan kurva lonjong dengan garis merah putus-putus menunjukkan estimasi bilamana arah angin regional pada saat letusan terjadi menuju ke barat-barat laut, yang bakal membuat pulau Jawa terselimuti debu vulkanik. Sumber: Eumetsat, 2014.

Gambar 8. Sebaran aerosol sulfat letusan Sangeang Api, diabadikan oleh instrumen GOME pada satelit MetOp-A dan MetOp-B pada 1 Juni 2014. Nampak aerosol tersebar jauh hingga mencapai daratan Australia bagian utara, yang memaksa ditutupnya bandara Darwin untuk sementara. Panah merah dan kurva lonjong dengan garis merah putus-putus menunjukkan estimasi bilamana arah angin regional pada saat letusan terjadi menuju ke barat-barat laut, yang bakal membuat pulau Jawa terselimuti debu vulkanik. Sumber: Eumetsat, 2014.

Dampak

Berselang 3 hari pasca letusan pertamanya, Gunung Sangeang Api berangsur-angsur mereda. Semburan asap dan debu vulkanik memang masih terjadi berkali-kali, namun kini dengan tekanan jauh lebih lemah. Sehingga asap dan debu hanya menyembur hingga beberapa ratus meter saja di atas kawah Doro Api. Hujan debu juga sudah tidak terjadi lagi, baik di Kabupaten Bima maupun kabupaten-kabupaten di Nusa Tenggara yang tepat ada di sebelah tenggara Gunung Sangeang Api seperti Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat dan Sumba Timur.

Meski mengejutkan dan tergolong besar, namun letusan Sangeang Api ternyata tidak diikuti dengan pengungsian penduduk khususnya yang bertempat-tinggal di Kecamatan Wera (Kabupaten Bima) yang menjadi lokasi terdekat ke gunung. Sebab selain sebagai gunung berapi laut, kawah aktif Gunung Sangeang Api juga berjarak cukup besar terhadap kampung Sangeang Darat sebagai pemukiman terdekat, yakni hampir 20 km. Sementara dalam status Siaga (Level III), PVMBG menetapkan daerah terlarang bagi Gunung Sangeang adalah hingga radius 5 km saja dari kawah aktif. Pada Sabtu 31 Mei 2014, sekitar 3.000 orang memang mengungsi secara mandiri ke perbukitan setelah letusan kedua dan ketiga terjadi, namun lebih didasari kehawatiran akan timbulnya tsunami. Kekhawatiran ini memang beralasan mengingat citra Landsat-8 memperlihatkan sebagian material vulkanik Letusan Sangeang Api 2014 meluncur sebagai awan panas letusan ke arah tenggara hingga menjangkau bibir pantai. Namun dengan material awan panas yang kecil, tsunami yang dikhawatirkan seperti diperlihatkan Letusan Krakatau 1883 maupun Letusan Tambora 1815 tidak terjadi. Pengungsian mandiri ini sekaligus memperlihatkan bahwa penduduk telah cukup memahami potensi bencana Gunung Sangeang Api.

Setelah dievaluasi lebih lanjut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan meskipun cukup besar namun letusan ini tidak menimbulkan korban jiwa. Penduduk yang sempat disangka hilang saat berladang di pulau Sangeang akhirnya berhasil ditemukan dalam kondisi selamat. Namun meski tiada pengungsi, dampak letusan Sangeang Api di Kabupaten Bima cukup telak. Selain membuat bandara Bima sempat ditutup (meski akhirnya dibuka kembali pada 1 Juni 2014), ribuan penduduk pun terpapar debu vulkanik yang lumayan pekat. Selain menyebabkan gangguan pernafasan ringan, paparan debu vulkanik juga mencemari sumber air setempat.

Bagaimanapun, patut disyukuri bahwa letusan Sangeang Api 2014 ini tidak menghamburkan debunya ke arah yang berlawanan. Andaikata angin regional pada Jumat sore 30 Mei 2014 itu mengarah ke barat-barat daya, maka niscaya debu vulkanik Sangeang Api akan menyelimuti hingga ke pulau Jawa. Meski tak sedahsyat horor akibat Letusan Kelud 2014, namun paparan debu vulkanik Sangeang Api tersebut jelas bakal bisa melumpuhkan bandara-bandara sibuk di pulau Jawa. Jika hal itu terjadi, lalu lintas udara dari dan ke pulau Jawa akan lumpuh untuk sementara dan berakibat pada kerugian yang luar biasa besar.

Referensi :

CIMSS. 2014. Eruption of the Sangeang Api volcano in Indonesia.

NASA. 2002. The Gateway to Astronaut Photography of Earth. NASA Earth Observatory Laboratory.

Volcano Planet. 2014. Sangeang Api Latest, 1 June 2014.

Pusdatin BNPB. 2014. Ribuan Warga Terdampak Abu Gunung Sangeang Api Membutuhkan Masker. Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

LAPAN. 2014. Letusan Gunungapi Sangeang Api. Respon Tanggap Darurat Bencana Berbasis Satelit, Kedeputian Penginderaan Jauh, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional.

Sudibyo. 2014. Mengamati Letusan Kelud dari Angkasa. Majalah Geomagz, vol. 4 no. 1, Maret 2014, hal. 33-35.

Letusan Besar Gunung Sangeang Api (Nusa Tenggara Barat), 30 Mei 2014

Sangeang Api. Ada yang pernah mendengar namanya? Ia adalah sebuah gunung berapi yang bertempat di sudut timur laut pulau Sumbawa (propinsi Nusa Tenggara Barat) dan secara administratif menjadi bagian dari Kabupaten Bima. Gunung Sangeang Api adalah sebuah pulau vulkanis (pulau gunung berapi) yang seakan-akan menyembul begitu saja di tengah ketenangan Laut Flores yang permai. Gunung Sangeang Api ini kecil mungil, ibarat bisul yang menyembul di pinggul gajah jika dibandingkan dengan nama-nama tenar gunung-gemunung berapi Indonesia seperti Krakatau, Tambora, Merapi dan juga Kelud. Tak heran bila tak banyak yang mengenalnya, kecuali bagi mereka yang mencoba memahami geografi dan geologi Indonesia lebih baik.

Gambar 1. Letusan Sangeang Api dalam menit-menit pertamanya diabadikan dari udara. Citra ini diambil oleh Sofyan Efendi, fotografer profesional yang kebetulan sedang menjadi penumpang salah satu penerbangan komersial dari Denpasar (Bali) ke Labuhan Bajo (Nusa Tenggara Barat). Letusan nampak bersumber dari tengah-tengah pulau Sangeang, lokasi dimana kawah Doro Api yang tersumbat kubah lava 1985 berada. Daratan di latar depan adalah bagian timur pulau Sumbawa. Sumber: Eefendi, 2014 dalam MailOnline, 2014.

Gambar 1. Letusan Sangeang Api dalam menit-menit pertamanya diabadikan dari udara. Citra ini diambil oleh Sofyan Efendi, fotografer profesional yang kebetulan sedang menjadi penumpang salah satu penerbangan komersial dari Denpasar (Bali) ke Labuhan Bajo (Nusa Tenggara Barat). Letusan nampak bersumber dari tengah-tengah pulau Sangeang, lokasi dimana kawah Doro Api yang tersumbat kubah lava 1985 berada. Daratan di latar depan adalah bagian timur pulau Sumbawa. Sumber: Eefendi, 2014 dalam MailOnline, 2014.

Pada Jumat 30 Mei 2014 kemarin, bisul kecil ini pecah. Pukul 15:55 WITA, Gunung Sangeang Api mendadak menyemburkan jutaan meter kubik debu vulkaniknya menuju ketinggian langit membentuk kolom letusan berukuran besar. Semburan ini disertai suara bergemuruh dan terjadi pada saat langit bersih oleh cuaca yang cerah di bagian timur pulau Sumbawa, sehingga mengejutkan semuanya meski di sisi lain pun menjadi panorama langka yang memukau. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI mencatat tinggi kolom letusan mencapai setidaknya 3.000 meter dari paras air laut rata-rata (dpl). Namun analisis citra satelit penginderaan Bumi memperlihatkan kolom letusan menanjak naik hingga setinggi setidaknya 14.000 meter dpl, atau hampir menyamai ketinggian kolom letusan pada puncak Letusan Merapi 2010. Bahkan laporan sejumlah pilot dan penumpang penerbangan komersial yang kebetulan melintas di ruang udara Sumbawa kala letusan terjadi mengindikasikan kolom letusan membumbung hingga setinggi 20.000 meter dpl, alias sedikit lebih rendah dibanding tinggi kolom Letusan Kelud 2014.

Kolom letusan yang membumbung untuk kemudian perlahan melebar membentuk panorama mirip payung/cendawan raksasa disertai dengan tingginya puncak kolom letusan menjadi indikasi bahwa letusan Gunung Sangeang Api ini digerakkan oleh gas-gas vulkanik bertekanan sangat tinggi, yang menjadi ciri khas letusan Plinian. Karena tingginya kurang atau sama dengan 20.000 meter dpl, maka letusan Sangeang Api ini dikategorikan lebih lanjut sebagai letusan sub-plinian. Dengan ciri tersebut maka letusan Sangeang Api adalah serupa dengan apa yang terjadi dalam Letusan Kelud 2014 ataupun di masa silam pada Letusan Krakatau 1883 dan Letusan Tambora 1815. Hanya saja skala kedahsyatan Letusan Sangeang Api 2014 ini nampaknya lebih kecil dibanding ketiga gunung berapi legendaris itu.

Gambar 2. Letusan Sangeang Api diabadikan dari laut oleh Adam Malec. Nampak seluruh pulau Sangeang telah 'lenyap' di balik kepulan debu vulkanik, sementara kolom letusan membumbung tinggi dan mulai membentuk diri mirip payung/jamur raksasa. Bentuk ini merupakan ciri khas letusan-letusan besar dan yang ditenagai oleh gas-gas vulkanik bertekanan sangat tinggi. Pekatnya debu vulkanik dalam kolom letusan membuat Matahari, yang berada di latar belakang jamur raksasa ini, menghilang sepenuhnya dari pandangan. Sumber: Malec, 2014 dalam Volcano Planet, 2014.

Gambar 2. Letusan Sangeang Api diabadikan dari laut oleh Adam Malec. Nampak seluruh pulau Sangeang telah ‘lenyap’ di balik kepulan debu vulkanik, sementara kolom letusan membumbung tinggi dan mulai membentuk diri mirip payung/jamur raksasa. Bentuk ini merupakan ciri khas letusan-letusan besar dan yang ditenagai oleh gas-gas vulkanik bertekanan sangat tinggi. Pekatnya debu vulkanik dalam kolom letusan membuat Matahari, yang berada di latar belakang jamur raksasa ini, menghilang sepenuhnya dari pandangan. Sumber: Malec, 2014 dalam Volcano Planet, 2014.

Begitupun, amukan Gunung Sangeang Api sontak menyibukkan banyak orang. Bahkan bagi mereka yang ada di seberang lautan. Armada satelit cuaca, penginderaan dan sumberdaya Bumi pun segera dikerahkan, sebuah pengerahan berskala besar kedua bagi gunung berapi Indonesia dalam kurun kurang dari setengah tahun terakhir setelah Gunung Kelud. Begitu menyadari bahwa kolom letuan membumbung cukup tinggi dan kemudian hanyut ke arah timur-tenggara mengikuti hembusan angin regional hingga bakal menjangkau daratan Australia bagian utara, VAAC (Volcanic Ash Advisory Commitee) Darwin yang berada di bawah Biro Meteorologi Australia pun segera menerbitkan peringatan kode merah. Bandara Darwin pun segera ditutup, membuat ratusan penerbangan dari dan ke Darwin terpaksa dibatalkan, baik penerbangan domestik maupun internasional. Belakangan otoritas Indonesia melalui Kementerian Perhubungan RI pun mengambil langkah serupa, dengan menutup bandara Bima (Nusa Tenggara Barat) dan Tambolaka (Nusa Tenggara Timur). Akibatnya 10 penerbangan ke dan dari kedua bandara tersebut pun terpaksa dibatalkan.

Ironisnya, meski menyedot banyak perhatian di mancanegara, meletusnya Gunung Sangeang Api nyaris tak bergema di negeri sendiri. Atmosfer pemberitaan dan lalu lintas pembicaraan terutama di media-media sosial masih saja berputar-putar di sekitar pilpres disertai isu-isu yang kian lama kian tak bermutu dan tak jua mencerahkan, namun terus saja berseliweran. Bahkan dari kubu kedua capres pun tak sepatah kata terucap menyikapi Letusan Sangeang Api 2014 ini, bahkan sekedar ungkapan simpati dan empati sekalipun. Maka jangan heran kalau kita bertanya apakah orang yang menjanjikan bakal mengurus negara ini sebaik-baiknya benar-benar mengenali sudut-sudut negeri ini sebaik-baiknya sehingga mampu merancang aksi yang sesuai dengan lokasi tersebut? Indonesia bukan hanya Jakarta, pun bukan hanya pulau Jawa, pak!

Kaldera

Nama Sangeang Api sudah dikenal sejak masa Majapahit di abad ke-14. Kitab Negarakertagama pupuh 14 baris 3 menyebutnya sebagai Sanghyang Api dan menjadi salah satu daerah pendudukan sebagai amanat Sumpah Palapa yang dikumandangkan Mahapatih Gajah Mada. Walaupun ada berpendapat bahwa nama Sanghyang Api yang dimaksud di sini diperuntukkan untuk bagian tengah pulau Dompo (Sumbawa), tempat Gunung Tambora berada. Sanghyang merupakan penggabungan Sang Hyang yang bermakna dewa atau dewa-dewa. Nampaknya nama ini tersemat sebab dalam bagi negeri ini dalam masa berabad-abad silam, gunung dianggap sebagai tanah tinggi yang menjadi tempat kediaman dewa-dewa.

Nama Sanghyang Api mungkin juga melekat sebagai wujud kekaguman pada gunung tersebut, yang ibarat mercusuar raksasa yang menerangi perairan disekelilingnya kala memuntahkan lavanya. Kekaguman serupa nampaknya juga menghinggapi orang-orang Eropa yang mulai melayari perairan ini berabad kemudian. Nama Etna van Banda pun ditabalkan padanya, mengingat aksi gunung berapi ini mirip-mirip dengan Gunung Etna di kepulauan Lipari (Italia) yang juga menjadi mercusuar bagi perairan sekitarnya di kala malam selama berabad-abad. Bagi orang Eropa, Sangeang Api memang menyembul dari kedalaman laut Banda. Meski peta administratif kontemporer menunjukkan keberadaan gunung berapi ini masih berada di lingkungan perairan Laut Flores.

Gambar 3. Sebagian busur kepulauan Sunda Kecil dalam citra satelit. Busur kepulauan ini nampak diapit oleh dua sumber gempa kuat/besar, masing-masing palung Sunda (zona subduksi) di sisi selatan dan sesar sungkup Flores di sisi utara. Kotak merah berangka 1977 dan 1992 masing-masing menunjukkan sumber gempa besar 10 Agustus 1977 dan 12 Desember 1992 yang menghasilkan tsunami merusak. Gunung Sangeang Api nampak hampir segaris lintang yang sama dengan Gunung Tambora yang legendaris. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan peta dari Google Maps.

Gambar 3. Sebagian busur kepulauan Sunda Kecil dalam citra satelit. Busur kepulauan ini nampak diapit oleh dua sumber gempa kuat/besar, masing-masing palung Sunda (zona subduksi) di sisi selatan dan sesar sungkup Flores di sisi utara. Kotak merah berangka 1977 dan 1992 masing-masing menunjukkan sumber gempa besar 10 Agustus 1977 dan 12 Desember 1992 yang menghasilkan tsunami merusak. Gunung Sangeang Api nampak hampir segaris lintang yang sama dengan Gunung Tambora yang legendaris. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan peta dari Google Maps.

Secara geologis Gunung Sangeang Api berada di busur kepulauan Sunda Kecil, yang mencakup Bali dan Kepulauan Nusa tenggara. Busur kepulauan ini unik, sebab meski terbentuk sebagai hasil pertemuan lempeng tektonik Sunda (Eurasia) dengan Australia, namun interaksi kedua lempeng itu demikian rupa sehingga di sepanjang sisi utaranya terbentuk patahan sungkup busur belakang (back-arc thrust), masing-masing sesar Flores di sisi barat dan sesar Alor di sisi timur. Maka busur kepulauan ini dikepung oleh sumber-sumber gempa tektonik besar baik di sepanjang sisi selatannya (yakni di zona subduksi) maupun di sisi utaranya (sesar sungkup).

Zona subduksi ini pernah meletupkan Gempa Sumba 10 Agustus 1977 (Mw 8,3). Ia memproduksi tsunami besar hingga setinggi 8 meter yang menerjang pesisir selatan pulau Sumba dan menewaskan ratusan orang. Tsunami yang sama juga terdeteksi menjalar hingga ke pesisir selatan pulau Jawa di sebelah barat dan pesisir utara Australia dis ebelah selatan, meski tak menimbulkan kerusakan maupun korban. Sementara sesar Flores bertanggung jawab antara lain atas Gempa Flores 12 Desember 1992 (Ms 7,5 skala Richter) yang juga memproduksi tsunami namun dengan ketinggian lebih besar, yakni hingga 26 meter. Tsunami menerjang seluruh pesisir utara pulau Flores dengan kota Maumere sebagai lokasi terparah. Tsunami ini merenggut lebih dari 2.000 nyawa, menjadikannya sebagai bencana tsunami paling mematikan di Indonesia sepanjang abad ke-20.

Selain riuh dengan kegempaannya, posisi kepulauan Sunda Kecil yang unik mungkin turut pula berkontribusi pada galaknya gunung-gemunung berapi di sini, yang tecermin dari banyaknya gunung-gemunung berkaldera/berkawah sangat besar sebagai jejak letusan besar. Di pulau Bali, kaldera dapat dijumpai di Gunung Batur (sebagai Danau Batur) dan di Gunung Buyan-Bratan (sebagai Danau Buyan dan Danau Bratan). Di pulau Lombok terdapat kaldera Rinjani yang terbentuk 8 abad silam dalam sebuah letusan dahsyat yang kini ditabalkan sebagai letusan terdahsyat yang pernah disaksikan umat manusia sepanjang sejarah yang tercatat. Sementara di pulau Sumbawa terdapat Gunung Tambora, yang kalderanya terbentuk dalam letusan dahsyat 1815 nan legendaris dan menjadi letusan terdahsyat kedua yang pernah kita alami sepanjang sejarah tercatat.

Gunung Sangeang api pun sejatinya gunung berapi yang tumbuh di tengah kaldera tua di dasar laut, yang boleh kita namakan kaldera Sangeang Api Tua. Kaldera tersebut terbentuk berpuluh hingga beratus ribu tahun silam dalam sebuah letusan dahsyat yang menggetarkan. Di kemudian hari di tengah kaldera tua ini terbentuk sebuah gunung berapi anak. Pertumbuhan yang terus berlangsung membuat sang anak lama-kelamaan kian membesar dan akhirnya menyembul di permukaan laut melampaui garis pasang tertinggi, menjadikannya sebuah pulau permanen sekaligus pulau vulkanis. Kini gunung tersebut telah demikian besar sebagai Gunung Sangeang Api sekaligus pulau Sangeang, yang menutupi area seluas 153 kilometer persegi dengan garis tengah 13 km. Ia memiliki dua puncak, yakni Doro Sangeang/Doro Api (1.949 meter dpl) dan Doro Mantoi (1.795 meter dpl). Kawah aktif masa kini terletak di puncak Doro Api, tersumbat oleh kubah lava sisa letusan 1985.

Gambar 4. Panorama titik-titik tertinggi pulau Sangeang yang sekaligus adalah puncak-puncak Gunung Sangeang Api, diabadikan dari daratan pulau Sumbawa. Kawah aktif masa kini terletak di puncak Doro Api, yang terlihat mengepulkan asap dan berhias leleran lava di sisi barat dayanya. Letusan besar Sangeang Api 2014 berpusat dari kawah ini dan kemungkinan menjebil kubah lava 1985 yang menutupi dasar kawah. Diabadikan oleh Heryadi Rahmat. Sumber: Rahmat, 1998 dalam Pratomo, 2006.

Gambar 4. Panorama titik-titik tertinggi pulau Sangeang yang sekaligus adalah puncak-puncak Gunung Sangeang Api, diabadikan dari daratan pulau Sumbawa. Kawah aktif masa kini terletak di puncak Doro Api, yang terlihat mengepulkan asap dan berhias leleran lava di sisi barat dayanya. Letusan besar Sangeang Api 2014 berpusat dari kawah ini dan kemungkinan menjebil kubah lava 1985 yang menutupi dasar kawah. Diabadikan oleh Heryadi Rahmat. Sumber: Rahmat, 1998 dalam Pratomo, 2006.

Meski tak terkenal, sejatinya Gunung Sangeang Api tergolong rajin meletus. Semenjak pertama kali tercatat pada tahun 1512, ia telah meletus sedikitnya 17 kali hingga tahun 1989, atau rata-rata sekali meletus setiap 28 tahun. Dari 17 letusan tersebut, 1 diantaranya tergolong berukuran menengah dengan skala hingga 2 VEI (Volcanic Explosivity Index) atau dengan muntahan magma maksimum 10 juta meter kubik. Namun 4 diantaranya tergolong besar, yakni dengan skala hingga 3 VEI atau dengan muntahan magma di antara 10 hingga 100 juta meter kubik. Dari keempat letusan besar tersebut, dua diantaranya terjadi di abad ke-20 masing-masing pada tahun 1953 dan 1985.

Seperti halnya pulau-pulau vulkanis di sekitarnya, misalnya pulau Palue, kesuburan lahan pulau Sangeang menjadikannya tempat hunian manusia khususnya di sisi selatan. Namun letusan tahun 1985 yang berlanjut hingga 1988 memaksa seluruh penduduk Sangeang dievakuasi secara permanen ke daratan pulau Sumbawa. Sebab letusan besar tersebut menghamburkan lava, awan panas, hujan batu dan lahar yang mengalir ke sisi barat daya hingga mengubur lembah Sori Oi dan ke arah timur laut menimbuni lembah Sori Berano. Semenjak saat itu pulau Sangeang boleh dikata tak berpenghuni. Namun penduduk masih rutin menyambanginya di siang hari, terutama yang masih memiliki lahan pertanian di sana.

Letusan 2014

Gunung Sangeang Api tak pernah benar-benar tenang selama dua tahun terakhir. Pada Oktober 2012 silam, status gunung ini dinaikkan ke Siaga (Level III) seiring terjadinya peningkatan kegempaan dan emisi gas-gas vulkaniknya. Namun kenaikan ini tak kunjung diikuti dengan letusan. Hanya terdeteksi kepulan asap tipis bertekanan lemah yang melayang setinggi hanya antara 5 sampai 15 meter dari kawah. Justru setelah berstatus Siaga (Level III), aktivitas Sangeang Api cenderung menruun. Sehingga statusnya pun kembali diturunkan ke Waspada (Level II) pada 21 Desember 2012. Kisah serupa terulang kembali pada 21 April 2013 seiring peningkatan kegempaannya. Namun status Siaga (Level III) pada Gunung Sangeang Api pun hanya bertahan hingga 15 Juni 2013 tanpa letusan apapun, sehingga kembali diturunkan ke Waspada (Level II).

Tengara letusan besar Gunung Sangeang Api mulai terlihat melalui instrumen-instrumen seismik pada 30 Mei 2014 pagi. Sepanjang 2014 hingga pagi itu, kegempaan Gunung Sangeang Api memang berfluktuasi baik dalam hal gempa hembusan (getaran yang diikuti dengan semburan asap putih dari kawah), gempa vulkanik dalam (getaran akibat migrasi magma segar dari perutbumi menuju kantung magma dangkal di dasar gunung) dan gempa vulkanik dangkal (getaran akibat migrasi fluida, entah magma maupun gas vulkanik, dari kantung magma dangkal menuju kawah). Namun tak ada lonjakan yang berarti. Tetapi situasi berubah dramatis pada Jumat pagi tersebut, saat terdeteksi tremor menerus semenjak pukul 05:00 WITA. Tremor menerus lantas diikuti swarm (gempa vulkanik yang berlangsung terus-menerus) mulai pukul 1:48 WITA. Baik tremor maupun swarm menjadi indikasi bahwa Gunung Sangeang Api mulai memasuki tahap yang lebih membahayakan. Dan puncaknya pun pada pukul 15:55 WITA saat gunung berapi ini benar-benar meletus besar. Sehingga statusnya pun ditingkatkan menjadi Siaga (Level III) semenjak pukul 16:00 WITA.

Gambar 5. Letusan Sangeang Api dalam dua jam pertamanya, diabadikan oleh satelit cuaca Himawari (MTSAT-2) milik Badan Meteorologi Jepang dalam kanal inframerah. Pada pukul 17:00 WITA nampak titik putih mendekati sferis muncul di atas lokasi Sangeang Api (panah kuning), sebagai pertanda puncak kolom letusan sudah membumbung tinggi dan mulai melebar membentuk awan payung/jamur raksasa. Sejam kemudian (pukul 18:00 WITA) awan debu vulkanik yang sama telah melebar dan mulai bergeser ke arah timur-tenggara. Sumber: JMA, 2014.

Gambar 5. Letusan Sangeang Api dalam dua jam pertamanya, diabadikan oleh satelit cuaca Himawari (MTSAT-2) milik Badan Meteorologi Jepang dalam kanal inframerah. Pada pukul 17:00 WITA nampak titik putih mendekati sferis muncul di atas lokasi Sangeang Api (panah kuning), sebagai pertanda puncak kolom letusan sudah membumbung tinggi dan mulai melebar membentuk awan payung/jamur raksasa. Sejam kemudian (pukul 18:00 WITA) awan debu vulkanik yang sama telah melebar dan mulai bergeser ke arah timur-tenggara. Sumber: JMA, 2014.

PVMBG mencatat tinggi kolom letusan Sangeang Api ini mencapai sekitar 3.000 meter dpl. Sementara menurut VAAC Darwin, puncak kolom letusan telah memasuki lapisan stratosfer karena mencapai ketinggian antara 14.000 hingga 20.000 meter dpl. Letusan sub-plinian tersebut nampaknya menghancurkan kubah lava 1985 yang menyumbat di dasar kawah. Namun seberapa besar lubang letusan yang ditimbulkannya belum bisa ditentukan. Pun demikian seberapa banyak material vulkanik yang disemburkannya. Yang jelas hingga saat ini (Minggu 1 Juni 2014) letusan demi letusan di Gunung Sangeang Api masih terus terjadi.

Akibat letusan, debu vulkanik pun memebdaki pulau Sumbawa bagian timur dan pulau Sumba. Debu vulkanik bahkan terbawa angin sampai sejauh 3.000 km ke arah tenggara, hingga mencapai daratan Australia bagian utara. Sejauh ini 14 orang dikabarkan hilang, sementara sekitar 3.000 orang lainnya dievakuasi dari daratan pulau Sumbawa bagian timur. Sempat dikabarkan 133 orang terjebak di pulau ini saat mereka sedang di lahan pertaniannya masing-masing kala letusan terjadi. Namun hampir seluruhnya telah dapat dievakuasi ke daratan. Selama Gunung Sangeang Api masih meletus, PVMBG menyatakan seluruh bagian pulau Sangeang sebagai kawasan terlarang. Penduduk tidak diperkenankan singgah di pulau ini untuk keperluan apapun.

Referensi :

PVMBG. 2014. Peningkatan Status G. Sangeangapi Dari Waspada Menjadi Siaga, 30 Mei 2014.

Global Volcanism Program Smithsonian Institusion. 2014. Sangeang Api.

Pratomo. 2006. Klasifikasi Gunung Api Aktif Indonesia, Studi Kasus dari Beberapa Letusan Gunung Api dalam Sejarah. Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 1 No. 4 Desember 2006, hal. 209-227.

Volcano Planet. 2014. Sangeang Api, News & Updates.

Turner dkk. 2003. Rates and Processes of Potassic Magma Evolution Beneath Sangeang Api Volcano, East Sunda Arc, Indonesia. Journal of Petrology, Vol. 44 No. 3, page 491-515.

Hall. 2014. Pictured from a Passenger Plane: Menacing 12-mile-high Ash Cloud Looms over Indonesia’s ‘Mountain of Spirits’ after Volcano Erupts. Mail Online.

Gerhana Bulan Total, Pemanasan Global dan Letusan Gunung Berapi

Gerhana Bulan Total 15 April 2014 usai sudah. Citra-citra mengagumkan dan eksotis Bulan dalam setiap tahap gerhananya mulai muncul dari berbagai tempat. Indonesia, khususnya bagian timur sejatinya pun tercakup ke dalam wilayah gerhana pada zona umbra yang sama dengan Jepang dan Australia (sebagian), yang sama-sama berada di pesisir Samudera Pasifik bagian barat. Yakni sama-sama hanya mengalami separuh tahap gerhana karena sisanya telah terjadi sebelum Bulan terbit.

Gambar 1. Atas: peta global wilayah Gerhana Bulan Total 15 April 2014 dengan B1 = wilayah yang hanya dapat menyaksikan sebagian tahap gerhana kala Bulan terbit yang mencakup sebagian Asia timur dan tenggara (termasuk Indonesia) dan Australia. NSW = New South Wales, lokasi dimana salah satu citra gerhana dari wilayah B1 diperoleh. Bawah: Bulan pasca puncak gerhana, berdampingan dengan Mars di sebelah kiri dan bintang terang Spica diatasya, diabadikan oleh Alan Dyer dari tepian Danau Macquarie, negara bagian New South Wales (Australia). Sumber: Sudibyo, 2014; Dyer, 2014.

Gambar 1. Atas: peta global wilayah Gerhana Bulan Total 15 April 2014 dengan B1 = wilayah yang hanya dapat menyaksikan sebagian tahap gerhana kala Bulan terbit yang mencakup sebagian Asia timur dan tenggara (termasuk Indonesia) dan Australia. NSW = New South Wales, lokasi dimana salah satu citra gerhana dari wilayah B1 diperoleh. Bawah: Bulan pasca puncak gerhana, berdampingan dengan Mars di sebelah kiri dan bintang terang Spica diatasya, diabadikan oleh Alan Dyer dari tepian Danau Macquarie, negara bagian New South Wales (Australia). Sumber: Sudibyo, 2014; Dyer, 2014.

Namun sejauh ini belum ada satupun citra Gerhana Bulan Total itu yang berasal dari Indonesia. Ketiadaan ini dapat dipahami mengingat sangat jarangnya astronom amatir maupun komunitas astronomi yang bertempat di Indonesia bagian timur. Maka meskipun kota Jayapura (Papua) secara teoritis dapat menikmati gerhana yang kasat mata (tahap umbra) selama 54 menit terhitung semenjak terbenamnya Matahari, nampaknya tak ada yang melakukan observasi di sana. Apalagi di Ambon (Maluku) yang hanya mengalami gerhana kasat mata selama 5 menit saja sejak terbenamnya Matahari (secara teoritis), maka dalam praktiknya observasi pun sulit dilakukan seiring waktu yang singkat meskipun terdapat komunitas Amboina Astronomy Club di sana. Pun demikian halnya di Jepang.

Hanya di Australia bagian timur, tepatnya kawasan New South Wales, sejumlah citra gerhana berhasil diperoleh. Ini memang kontras sekali dibandingkan dengan banjir citra gerhana dari pesisir timur Samudera Pasifik, seperti dari Amerika Serikat, Canada, Meksiko, Brazil dan sejumlah negara lainnya. Bagaimanapun, secara global dapat diketahui bahwa pada saat puncak gerhana terjadi, yakni saat totalitas berlangsung, cakram Bulan tak benar-benar gelap. Melainkan tetap benderang meski seakan mengenakan jubah kemerah-merahan transparan menyerupai darah. Bulan yang kemerah-merahan di kala puncak gerhana ini menjadi penanda bahwa atmosfer kita relatif bersih dari aerosol sulfat meskipun baru saja terjadi letusan Gunung Kelud pada 13 Februari 2014 lalu. Dalam kurun setidaknya tiga dasawarsa terakhir, atmosfer yang bebas dari aerosol sulfat memiliki makna lain, yakni bahwa Bumi terus memanas seiring peristiwa pemanasan global yang melaju tanpa rem.

Aerosol

Gambar 2. Diagram sederhana yang memperlihatkan bagaimana berkas sinar Matahari yang didominasi cahaya kemerahan tetap dapat sampai ke permukaan Bulan setelah melewati atmosfer Bumi, meskipun sedang dalam puncak Gerhana Bulan Total. Sumber: Keen, 2013 dengan modifikasi seperlunya.

Gambar 2. Diagram sederhana yang memperlihatkan bagaimana berkas sinar Matahari yang didominasi cahaya kemerahan tetap dapat sampai ke permukaan Bulan setelah melewati atmosfer Bumi, meskipun sedang dalam puncak Gerhana Bulan Total. Sumber: Keen, 2013 dengan modifikasi seperlunya.

Mungkin kita beranggapan kala sebuah gerhana Bulan total terjadi, sinar Matahari yang jatuh ke permukaan Bulan akan benar-benar terhalangi Bumi. Sehingga Bulan akan benar-benar gelap akibat tak menerima secercah sinar Matahari sedikitpun. Sesungguhnya tidak demikian. Kala posisi Bumi berada di antara antara Bulan dan Matahari dalam konfigurasi gerhana Bulan total, yang benar-benar terblokir hanyalah sinar Matahari langsung. Sementara sinar Matahari tak langsung, yakni berkas sinar yang lebih dulu melewati atmosfer Bumi, masih dapat mencapai permukaan Bulan setelah mengalami pembiasan oleh lapisan-lapisan atmosfer. Namun atmosfer Bumi membuat berkas-berkas sinar Matahari ini harus mengalami hamburan dan serapan oleh molekul-molekul udara, uap air dan ozon, khususnya pada cahaya dengan panjang gelombang lebih pendek (warna kebiru-biruan). Sehingga intensitas sinar Matahari yang diteruskan atmosfer menuju ke Bulan di kala puncak gerhana adalah jauh lebih rendah dibanding semula dan didominasi cahaya dengan panjang gelombang lebih panjang (warna kemerah-merahan).

Fenomena ini sudah dipahami Johannes Kepler semenjak fajar astronomi modern bersemi lebih dari 4 abad silam seperti tertera dalam “Astronomiae pars Optica” (1604). Inilah penyebab mengapa dalam puncak gerhana, Bulan tetap terlihat meski jauh lebih redup dibanding Bulan purnama pada umumnya dan berwarna kemerah-merahan layaknya dilaburi darah. Meski nampak redup bagi kita, namun untuk ukuran benda langit maka Bulan pada saat puncak gerhana tergolong benderang dengan magnitudo semu bisa mendekati -3 atau lebih cerlang ketimbang Jupiter. Di saat yang sama, andaikata kita sedang berada di Bulan pada saat yang sama dan memandang ke arah Bumi, maka Bumi pun tak benar-benar gelap sepenuhnya melainkan nampak dikelilingi lingkaran berwarna kemerah-merahan laksana pemandangan kala puncak gerhana Matahari cincin. Bukti fotografisnya pertama kali muncul pada 1967 berdasarkan citra wahana pendarat Surveyor 3 milik NASA (AS), disusul kemudian dengan citra wahana pengorbit Kaguya milik JAXA (Jepang) pada 2009.

Gambar 3. Bumi terlihat bercincin jika dilihat dari Bulan pada sat-saat puncak gerhana Bulan total, sebagaimana diabadikan wahana pendarat Surveyor 3 pada 1967 (kiri) dan wahana pengorbit Kaguya pada 2009 (kanan). Sumber: NASA, 2003; JAXA, 2009.

Gambar 3. Bumi terlihat bercincin jika dilihat dari Bulan pada sat-saat puncak gerhana Bulan total, sebagaimana diabadikan wahana pendarat Surveyor 3 pada 1967 (kiri) dan wahana pengorbit Kaguya pada 2009 (kanan). Sumber: NASA, 2003; JAXA, 2009.

Persoalannya, atmosfer Bumi tidak selalu bertingkah laku demikian pada setiap peristiwa gerhana Bulan total. Jika atmosfer dalam kondisi “kotor,” yakni dipenuhi oleh aerosol sulfat, transmisi sinar Matahari melalui atmosfer Bumi akan sangat terganggu. Maka berkas sinar Matahari yang sempat diteruskan ke Bulan pada saat puncak gerhana akan memiliki intensitas jauh lebih rendah dibanding dalam kondisi atmosfer “bersih.” Sebab aerosol sulfat merupakan penyerap sinar Matahari yang sangat efektif sehingga dijuluki sebagai tabir surya. Hanya ada tiga peristiwa yang sanggup membuat atmosfer dilimpahi aerosol sulfat dalam jumlah besar, yakni perang nuklir habis-habisan, letusan besar/dahyat gunung berapi dan tumbukan benda langit (komet/asteroid) berdiameter besar.

Dua yang terakhir merupakan peristiwa alamiah. Dan di antara keduanya, kekerapan letusan besar/dahsyat gunung berapi jauh lebih tinggi ketimbang tumbukan benda langit berdiameter besar. Karena itu kelimpahan aerosol sulfat di atmosfer kerap dihubungkan dengan aktivitas gunung berapi. Dimana letusan menghamburkan gas belerang (SO2), sebagai salah satu komponen gas vulkanik, dalam jumlah besar ke atmosfer. Selanjutnya terjadilah reaksi dengan butir-butir uap air dan gas oksigen sehingga terbentuk tetes-tetes asam sulfat yang bersifat koloid sehingga berbentuk aerosol. Aerosol sulfat tak hanya bertebaran di dalam lapisan troposfer saja, melainkan juga membumbung tinggi dan merata di dalam lapisan stratosfer. Aerosol sulfat yang memasuki lapisan stratosfer tak bisa dijangkau proses-proses cuaca sehingga tak turut lurut di kala hujan. Ia akan bertahan hingga beberapa tahun lamanya sebelum gravitasi Bumi secara perlahan-lahan memaksanya turun ke dalam lapisan troposfer dan kemudian jatuh kembali ke permukaan Bumi bersama dengan air hujan.

Penyerapan sinar Matahari yang ditransimisikan atmosfer Bumi menuju Bulan berimplikasi pada lebih gelap/redupnya Bulan di kala puncak gerhana. Warna merah darahnya yang khas pun bahkan bisa lenyap, digantikan oleh warna-warna yang lebih pucat. Secara umum, semakin besar kuantitas aerosol sulfat dalam atmosfer, maka Bulan pun semakin redup di kala puncak gerhananya sehingga kecerlangannya semakin kecil. Dengan mengukur kecerlangan Bulan pada saat puncak gerhana dengan menggunakan instrumen fotometer atau sejenisnya dan membandingkannya dengan kecerlangan Bulan yang diperhitungkan dalam kondisi atmosfer “bersih” (tutupan awan diasumsikan 50 %), maka kuantitas aerosol sulfat di atmosfer yang diistilahkan sebagai AOD (aerosol optical depth) dan dinyatakan dalam parameter tau dapat diketahui. Secara umum besarnya nilai AOD setara dengan penurunan magnitudo semu Bulan di puncak gerhana relatif terhadap kondisi serupa kala atmosfer “bersih” dibagi 40.

Gambar 4. Dramatisnya perbedaan panorama atmosfer Bumi pada situasi saat normal/bersih (kiri) dan "kotor" (kanan), diabadikan melalui pesawat ulang-alik. O = lapisan ozon dan Cb = puncak awan cumulonimbus (awan hujan). Pada saat "kotor", nampak terlihat adanya aerosol sulfat (A) yang membentuk lapisan ganda di bawah lapisan ozon, jauh di ketinggian stratosfer. Sumber: NASA, 1992 & 1997.

Gambar 4. Dramatisnya perbedaan panorama atmosfer Bumi pada situasi saat normal/bersih (kiri) dan “kotor” (kanan), diabadikan melalui pesawat ulang-alik. O = lapisan ozon dan Cb = puncak awan cumulonimbus (awan hujan). Pada saat “kotor”, nampak terlihat adanya aerosol sulfat (A) yang membentuk lapisan ganda di bawah lapisan ozon, jauh di ketinggian stratosfer. Sumber: NASA, 1992 & 1997.

Pemanasan Global

Bulan sangat redup di kala puncak gerhana telah disadari pasca Letusan Tambora 1815 yang bersumber ddari Gunung Tambora, pulau Sumbawa (Indonesia). Letusan Tambora 1815 melepaskan 150 kilometer kubik material vulkanik (skala 7 VEI) dan berdampak global dalam bentuk kacau-balaunya cuaca di segenap penjuru dengan segala imbasnya bagi peradaban manusia saat itu. Namun bukti fotografisnya baru muncul pasca Letusan Krakatau 1883, yang bersumber dari Gunung Krakatau di Selat Sunda (juga di Indonesia). Meski lebih kecil dengan volume material vulkanik yang dimuntahkan ‘hanya’ 20 kilometer kubik (skala 6 VEI), mulai berkembangnya teknologi fotografi memungkinkan Gerhana Bulan Total pasca letusan diabadikan, yakni pada 4 Oktober 1884 dan 28 Januari 1888. Namun pengukuran AOD secara menerus dengan memanfaatkan peristiwa gerhana Bulan total baru mulai berlangsung semenjak 1963, yakni pasca Letusan Agung 1963 yang bersumber dari Gunung Agung di pulau Bali (juga di Indonesia). Letusan Krakatau 1883 menghasilkan nilai AOD maksimum 0,13 yang setara dengan penurunan magnitudo semu Bulan sebesar 5,2. Sementara Letusan Agung 1963 menghasilkan nilai AOD maksimum 0,1 yang setara dengan penurunan magnitudo semu sebesar 4,0.

Apa sih pentingnya mengetahui nilai AOD ?

Aerosol sulfat berlimpah yang bercokol dalam lapisan stratosfer sebagai tabir surya tak hanya menyerap sinar Matahari yang seharusnya ditransmisikan menuju Bulan di puncak gerhana, namun juga menyerap sinar Matahari yang hendak menuju permukaan Bumi. Penyerapan ini menjadikan intensitas penyinaran Matahari di permukaan Bumi menjadi menurun dibanding normalnya. Konsekuensinya suhu rata-rata permukaan Bumi pun turut menurun, fenomena yang dikenal sebagai pendinginan global. Besarnya penurunan suhu berbanding lurus dengan nilai AOD, dimana setiap kenaikan nilai AOD sebesar 0,1 akan berimplikasi pada penurunan suhu (pendinginan global) sebesar 0,4 derajat Celcius. Dengan rumusan ini maka dapat diketahui bahwa Letusan Krakatau 1883 berdampak pada penurunan suhu 0,5 derajat Celcius. Sedangkan Letusan Agung 1963 berdampak pada penurunan suhu 0,4 derajat Celcius.

Gambar 5. Dramatisnya wajah Bulan sesaat setelah puncak gerhana Bulan total pasca Letusan Krakatau 1883. Saat Gerhana Bulan Total 4 Oktober 1884 (kiri), atmosfer masih mengandung aerosol sulfat Krakatau dalam jumlah berlimpah sehingga menyebabkan Bulan cukup redup pasca puncak gerhananya. Aerosol sulfat Krakatau bertahan di atmosfer hingga 4 tahun pasca letusan sebelum kemudian berjatuhan lagi ke permukaan Bumi secara bertahap. Maka pada Gerhana Bulan Total 28 Januari 1888, Bulan relatif lebih terang dan berwarna kemerah-merahan karena atmosfer sudah bersih kembali. Sumber: Keen, 2013.

Gambar 5. Dramatisnya wajah Bulan sesaat setelah puncak gerhana Bulan total pasca Letusan Krakatau 1883. Saat Gerhana Bulan Total 4 Oktober 1884 (kiri), atmosfer masih mengandung aerosol sulfat Krakatau dalam jumlah berlimpah sehingga menyebabkan Bulan cukup redup pasca puncak gerhananya. Aerosol sulfat Krakatau bertahan di atmosfer hingga 4 tahun pasca letusan sebelum kemudian berjatuhan lagi ke permukaan Bumi secara bertahap. Maka pada Gerhana Bulan Total 28 Januari 1888, Bulan relatif lebih terang dan berwarna kemerah-merahan karena atmosfer sudah bersih kembali. Sumber: Keen, 2013.

Pendinginan global akibat letusan besar/dahsyat gunung berapi memang dapat menyebabkan malapetaka berskala luas, seperti terlihat dalam Letusan Tambora 1815. Namun bagi Bumi yang sudah mulai memanas semenjak revolusi industri seiring eksploitasi bahan bakar fosil secara massif beserta dengan emisi gas-gas rumah kaca dalam jumlah besar, pendinginan global itu adalah rahmat tersembunyi yang ditunggu-tunggu. Karena pendinginan global mampu mengurangi kuantitas pemanasan global meski hanya untuk sejenak. Dengan kata lain, letusan besar/dahsyat gunung berapi merupakan faktor yang turut mengerem laju kenaikan suhu rata-rata permukaan Bumi akibat aktivitas manusia, tanpa harus disertai intervensi apapun.

Fakta tersebut dapat dilihat pada pengukuran menerus semenjak 1979 hingga kini. Pada periode 1979 hingga 1995, Bumi direjam oleh serangkaian letusan besar gunung berapi, misalnya Letusan St Helena 1980, Letusan el-Chichon 1982 dan puncaknya adalah Letusan Pinatubo 1991. Letusan St Helena 1980 bersumber dari Gunung St Helena di negara bagian Washington (AS), yang melepaskan 1 kilometer kubik material vulkanik (skala 5 VEI). Sementara Letusan el-Chichon 1985 bersumber dari Gunung el-Chichon (Meksiko) yang melepaskan 2 kilometer kubik material vulkanik (skala 5 VEI). Dan Letusan Pinatubo 1991 bersumber dari Gunung Pinatubo (Filipina) yang melepaskan 10 kilometer kubik material vulkanik (skala 6 VEI). Di antara letusan-letusan besar tersebut patut disebut juga letusan yang sedikit lebih kecil seperti Letusan Galunggung 1982-1983 yang bersumber dari Gunung Galunggung (Indonesia) dengan volume material vulkanik sekitar 0,4 kilometer kubik (skala 4 VEI).

Letusan-letusan tersebut menyebabkan atmosfer Bumi relatif “kotor” seperti terlihat pada nilai AOD rata-rata yang sebesar 0,035. Pasca Pinatubo, tak ada lagi letusan besar/dahsyat gunung berapi hingga saat ini kecuali sejumlah letusan berskala 4 VEI seperti misalnya Letusan Eyjafjallajokull 2010 dan Letusan Merapi 2010. Maka pada periode 1996 hingga 2012, atmosfer Bumi relatif lebih bersih seperti terlihat pada nilai AOD rata-rata sebesar 0,002. Dengan demikian terjadi perubahan nilai sebesar minus 0,033 yang berkorelasi dengan peningkatan suhu 0,13 derajat Celcius. Pada saat yang sama terjadi pula penambahan kuantitas gas-gas rumah kaca yang berkontribusi pada peningkatan suhu 0,11 derajat Celcius. Dari gas-gas rumah kaca tersebut, gas karbondioksida (CO2) saja berkontribusi pada peningkatan suhu 0,08 derajat Celcius. Maka terhitung pada tahun 2012 telah terjadi peningkatan suhu total sebesar 0,27 derajat Celcius dibanding situasi tahun 1995. Separuh diantaranya akibat kian bersihnya atmosfer seiring nihilnya letusan besar/dahsyat gunung berapi.

Kelud

Bagaimana dengan Gerhana Bulan Total 15 April 2014 ?

Tepat dua bulan sebelumnya terjadi Letusan Kelud 2014 yang bersumber di Gunung Kelud, Jawa Timur (Indonesia). Sedikitnya 0,12 kilometer kubik (120 juta meter kubik) material vulkanik dimuntahkan Gunung Kelud dalam letusan bertipe Plinian dan disemburkan hingga setinggi 26 km dari paras laut (dpl). Di atas kertas letusan ini memproduksi 1,4 juta ton aerosol, yang akan berkorelasi dengan nilai AOD maksimum sebesar 0,009. Nilai tersebut sedikit lebih besar dibanding nilai AOD rata-rata periode 1996-2012 yang sebesar 0,002.

Gambar 6. Kiri: dinamika suhu permukaan Bumi secara global dalam periode 1979 hingga 2012, relatif terhadap rata-ratanya dalam 34 tahun terakhir. Batang biru menunjukkan penurunan suhu (suhu lebih rendah dibanding rata-rata), sementara batangmerah adalah kenaikan suhu (suhu lebih tinggi dibanding rata-rata). Kanan: dinamika suhu permukaan Bumi oleh pengaruh aerosol sulfat akibat Letusan el-Chichon 1982 dan Letusan Pinatubo 1991. Sumber: NOAA, 2012 dalam Keen, 2013.

Gambar 6. Kiri: dinamika suhu permukaan Bumi secara global dalam periode 1979 hingga 2012, relatif terhadap rata-ratanya dalam 34 tahun terakhir. Batang biru menunjukkan penurunan suhu (suhu lebih rendah dibanding rata-rata), sementara batangmerah adalah kenaikan suhu (suhu lebih tinggi dibanding rata-rata). Kanan: dinamika suhu permukaan Bumi oleh pengaruh aerosol sulfat akibat Letusan el-Chichon 1982 dan Letusan Pinatubo 1991. Sumber: NOAA, 2012 dalam Keen, 2013.

Dengan AOD maksimum 0,009 maka perubahan magnitudo semu Bulan pada saat puncak gerhananya secara teoritis sebesar 0,4. Kecuali menggunakan fotometer, perubahan magnitudo semu ini sangat sulit diidentifikasi secara kasat mata. Karena itu citra-citra Bulan pada saat puncak gerhana yang tersaji pada saat ini selalu memperlihatkan Bulan berwarna kemerah-merahan dan relatif terang. Dan bila nilai AOD maksimum dibandingkan dengan nilai AOD rata-rata periode 1996-2012, nyatalah bahwa di atas kertas terjadi perubahan sebesar 0,007. Secara teoritis perubahan tersebut bakal berkorelasi dengan penurunan suhu 0,03 derajat Celcius. Penurunan suhu ini cukup kecil sehingga mungkin tak signifikan dalam berhadapan dengan laju pemanasan global. Namun itu semua masih perlu diselidiki lebih lanjut.

Terlepas apapun hasilnya, cukup mengagumkan bahwa peristiwa Gerhana Bulan Total tak hanya sekedar peristiwa langit yang mengesankan. Namun ia juga sarat manfaat. Kini manfaatnya bertambah satu, dimana Gerhana Bulan Total memungkinkan kita untuk mengukur kualitas atmosfer Bumi dalam hubungannya dengan perubahan iklim dalam rupa pemanasan maupun pendinginan global.

Referensi:

1. Keen. 2013. Earth (and Lunar) Based Observations of Volcanic Emmissions to the Stratosphere, an Update through 2011. NOAA Earth System Research Laboratory, Global Monitoring Annual Conference, May 21-22, 2013.

2. Hofmann dkk. 2003. Surface-based Observations of Volcanic Emission to the Stratosphere. Volcanism & the Earth’s Atmosphere, Geophysical Monograph 139, American Geophysical Union.

Catatan : ditulis juga di Langitselatan.

Update: Gerhana Bulan Total 15 April 2014 ternyata berhasil diamati di Jayapura (Indonesia), simak di sini.