Menelisik Letusan Krakatau 15 Abad Silam, Letusan yang Memisahkan Pulau Jawa dan Sumatra?

Selat sempit itu mirip benar dengan segitiga raksasa kala dilihat dari ketinggian udara. Saat itu, di dekat puncak segitiga ini berdiri kokoh sebuah gunung berapi. Ia tegak menjulang perkasa seakan memaku buana. Tubuhnya (mungkin) demikian besarnya sehingga kakinya membentang begitu lebar, nyaris menutup seluruh perairan laut yang ada di sana. Tak heran jika gunung berapi besar ini ibarat jembatan penyatu dua pulau besar itu, yang semula dipisahkan oleh selat sempit tersebut. Orang bisa menyeberang dari satu pulau ke pulau yang lain dengan berjalan menyusuri kaki gunung. Selat itu pun seakan berubah menjadi sebuah teluk nan besar.

Namun semuanya berubah total di suatu ketika 15 abad silam. Berawal dari getaran demi getaran yang terus mengguncang,disusul asap mengepul dari puncak sang gunung dan lama-kelamaan kian memekat, maka tibalah saat gunung berapi itu mempertontonkan kedahsyatannya. Letusan sangat dahsyat pun terjadilah. Pada puncak letusannya, sekitar 400.000 meter kubik magma disemburkan gunung berapi dalam setiap detiknya. Maka setiap detiknya gunung itu memuntahkan magma dalam jumlah yang cukup untuk mengisi 17.000 mobil tanki bahan bakar berkapasitas 24.000 liter. Uap panas, gas vulkanik nan mencekik, bebatuan membara dan debu vulkanik pekat disemburkan hingga ketinggian berpuluh kilometer ke atmosfer. Sebagian diantaranya berjatuhan kembali ke Bumi, menggelapkan langit kedua pulau besar yang ada didekatnya. Sebagian lagi melayang di dalam lapisan stratosfer dan memicu efek dramatik yang terasa dampaknya di segenap penjuru permukaan Bumi dalam jangka panjang. Bersamaan dengan gelap pekatnya langit kedua pulau besar didekatnya, tubuh gunung pun mulai ambruk ke dasar laut. Gelora raksasa pun tercipta, dengan tinggi luar biasa saat tiba di pesisir sehingga mampu menerjang berkilo-kilometer ke daratan. Gelora raksasa segera menyapu bersih apa dan siapa saja yang dilintasinya.

Gambar 1. Panorama Kepulauan Krakatau yang ikonik. Gundukan di latar depan adalah Gunung Anak Krakatau, dengan leleran lava produk letusan tahun 1975 yang telah membeku di bagian kanan bawah. Jauh di latar belakang terlihat pulau Rakata, yang adalah salah satu titik tertinggi dinding kaldera Letusan Krakatau 1883 yang mencuat di atas permukaan Laut. Kepulauan Krakatau mendunia lewat letusan dahsyatnya di tahun 1883. Namun jejak-jejak lapisan debu tebal yang tersingkap di berbagai pulau di kepulauan ini menunjukkan bahwa gunung berapi ini telah meletus dahsyat lebih dari sekali sepanjang sejarahnya. Sumber: Direktorat Vulkanologi (kini PVMBG), 1979.

Gambar 1. Panorama Kepulauan Krakatau yang ikonik. Gundukan di latar depan adalah Gunung Anak Krakatau, dengan leleran lava produk letusan tahun 1975 yang telah membeku di bagian kanan bawah. Jauh di latar belakang terlihat pulau Rakata, yang adalah salah satu titik tertinggi dinding kaldera Letusan Krakatau 1883 yang mencuat di atas permukaan Laut. Kepulauan Krakatau mendunia lewat letusan dahsyatnya di tahun 1883. Namun jejak-jejak lapisan debu tebal yang tersingkap di berbagai pulau di kepulauan ini menunjukkan bahwa gunung berapi ini telah meletus dahsyat lebih dari sekali sepanjang sejarahnya. Sumber: Direktorat Vulkanologi (kini PVMBG), 1979.

Begitu klimaks drama menggidikkan ini usai, pemandangan baru pun tersaji sudah. Gunung berapi besar itu lenyap hampir sepenuhnya. Apa yang semula menjadi tempat berdirinya gundukan tinggi besar ibarat paku buana itu pun kini berganti total menjadi pemandangan samudera. Dua pulau besar itu pun kembali terpisahkan. Tak ada lagi jembatan alamiah yang menjadi penghubung keduanya seperti sedia kala. Di kemudian hari salah satu pulau besar itu dikenal sebagai pulau Jawa, sementara pulau lainnya adalah pulau Sumatra. Dan kelak di kemudian hari, di tengah-tengah perairan dimana gunung berapi besar itu dahulu pernah ada, tumbuh sebentuk gunung berapi lainnya meski dimensinya jauh lebih kecil. Kelak kita mengenalnya sebagai Gunung Krakatau.

Petaka

Siapa yang tak kenal dengan Gunung Krakatau? Walaupun ia hanyalah sebentuk gundukan kecil mungil berasap di tengah-tengah keluasan perairan Selat Sunda, namun namanya sungguh meraksasa. Apalagi jika bukan karena Letusan Krakatau 1883 yang demikian menggetarkan. Letusan yang baru kita peringati kejadiannya untuk ke-131 kalinya di Agustus 2014 ini. Namun amukan Gunung Krakatau di tahun 1883 itu sejatinya bukanlah letusan terbesar yang pernah dialami si gunung lasak ini sepanjang sejarahnya.

Kala ilmu kegunungapian terus berkembang hingga menjadi seperti sekarang, para ahli kegunungapian pun berdatangan ke sudut-sudut kepulauan Krakatau ini. Mereka mengabadikan, menganalisis dan mendokumentasikan setiap singkapan bebatuan yang ada. Kini kita tahu bahwa lapisan-lapisan debu vulkanik yang bertumpukan di kepulauan ini menunjukkan betapa dalam setidaknya 8.000 tahun terakhir, gunung ini telah meletus dahsyat sebanyak sedikitnya tiga kali. Kedahsyatan tersebut tecermin lewat eksistensi tiga lapisan debu vulkanik yang cukup tebal dibanding lapisan-lapisan sejenis lainnya. Pada dasarnya semakin tebal lapisan debu vulkaniknya maka semakin besar pula skala letusannya.

Lapisan debu tebal teratas merupakan lapisan yang termuda yang dihasilkan Letusan Krakatau 1883. Namun letusan itu, yang dahsyatnya tak kepalang untuk ukuran manusia modern itu, sejatinya merupakan letusan terkecil dari ketiga letusan dahsyat dalam sejarah Krakatau. Peringkat kedua ditempati oleh Letusan Krakatau 1215, yang terjadi pada tahun 1215 berdasarkan pertanggalan radioaktif pada batang/ranting kayu yang mengarang (menjadi arang) di dalam lapisan debunya. Skala letusannya mungkin setara dengan letusan 1883, yakni sama-sama menempati 6 VEI (Volcanic Explosivity Index). Meski berdasarkan ketebalan lapisan debunya, Letusan Krakatau 1215 nampaknya menyemburkan material letusan dalam jumlah sedikit lebih besar ketimbang Letusan Krakatau 1883. Dan pemuncaknya adalah letusan sangat dahsyat yang menghasilkan lapisan debu demikian tebal, hingga setebal 25 meter. Belum ada sisa kayu yang telah mengarang yang berhasil dijumpai pada lapisan debu tebal ini, sehingga letusan pembentuknya terjadi belum bisa ditentukan berdasarkan teknik pertanggalan karbon radioaktif. Berdasarkan ketebalan debunya, letusan ini diperkirakan memiliki skala 7 VEI. Sejauh ini hanya Letusan Tambora 1815 dan Letusan Samalas (Rinjani) 1257 yang menyamai skala letusannya.

Gambar 2. Kiri: singkapan lapisan-lapisan debu tebal produk letusan dahsyat pada terbing terjal di salah satu sudut Kepulauan Krakatau. Nampak lapisan debu setebal 25 meter yang diduga merupakan produk letusan sangat dahsyat di abad ke-6. Kanan: vulkanolog Haraldur Sigurdsson nampak sedang menuruni tebing terjal itu guna menyelidiki lebih lanjut. Sumber: Wohletz, 2000.

Gambar 2. Kiri: singkapan lapisan-lapisan debu tebal produk letusan dahsyat pada terbing terjal di salah satu sudut Kepulauan Krakatau. Nampak lapisan debu setebal 25 meter yang diduga merupakan produk letusan sangat dahsyat di abad ke-6. Kanan: vulkanolog Haraldur Sigurdsson nampak sedang menuruni tebing terjal itu guna menyelidiki lebih lanjut. Sumber: Wohletz, 2000.

Tengara akan letusan sangat dahsyat yang membentuk lapisan debu setebal hingga 25 meter itu nampaknya datang dari sumber tertulis nan jauh di luar kepulauan Nusantara. Tepatnya di Cina. Sebuah berita Cina, yakni kronik Nan Shi, mencatat suara gemuruh mirip guntur di kejauhan yang terdengar dari barat daya pada suatu waktu di tahun 535. Peristiwa ini merupakan awal dari malapetaka besar yang menghantam imperium Cina sepanjang tahun 536-537. Kronik yang sama menuturkan betapa pada titimangsa Desember 536, debu kuning pekat mengguyur daratan di seluruh wilayah kekaisaran laksana hujan salju. Lantas sepanjang bulan Juli dan Agustus tahun berikutnya, udara membeku dan salju turun dengan derasnya di tengah-tengah masa yang seharusnya merupakan musim panas. Kronik Bei Shi pun mencatat hal senada. Akibatnya lahan pertanian pun hancur membuat produksi pangan merosot drastis. Kelaparan pun segera merebak dimana-mana dan merenggut korban-korbannya dalam jumlah sangat besar. Demikian parah situasinya sehingga kaisar sampai memberlakukan dekrit pengampunan pajak.

Namun petaka besar di tahun 535-536 itu ternyata tak hanya melanda Cina. Di Semenanjung Korea bagian utara, kerajaan Koguryo pun berjuang hidup mati mempertahankan diri setelah mendadak dihantam banjir besar. Banjir besar yang salah musim itu segera disusul dengan merebaknya wabah penyakit. Nada pesimisme yang sama juga dijumpai di Kepulauan Jepang lewat kronik Nihon Shoki. Kronik itu menuturkan betapa terjadi perubahan cuaca yang tak biasa yang disusul hancurnya lahan pertanian.

Tak hanya di Cina, Korea dan Jepang, malapetaka sejenis ternyata juga tercatat di kawasan pesisir Laut Tengah (Mediterania). Seorang uskup John dari Efesus (kini bagian dari Turki) menuliskan dalam kroniknya berapa pemandangan aneh terjadi di langit, saat Matahari seakan–akan kehilangan kecerahannya hingga hanya sedikit lebih terang saja dibanding Bulan. Situasi ini bertahan hingga 18 bulan lamanya. Bersamaan dengannya terjadi kelaparan besar menyusul hancurnya lahan pertanian akibat cuaca ekstrim yang salam musim. Tak hanya kelaparan yang melanda, wabah penyakit sampar (pes) pun bergentayangan mencari korban-korbannya. Hal senada juga diutarakan senator Cassiodorus di imperium Romawi pada saat yang hampir sama.

Gambar 3. Lokasi dimana terdapat catatan sejarah setempat terkait peristiwa dramatis di tahun 535, beserta data-data kronologis yang berhasil digali dari analisis lingkaran tahun kayu-kayu tua, sedimen dasar danau dan lembaran-lembaran es. Semua menunjukkan adanya gangguan iklim dramatis selama beberapa tahun, yang secara alamiah lebih mungkin disebabkan oleh letusan gunung berapi yang sangat dahsyat. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan data dari Wohletz, 2000.

Gambar 3. Lokasi dimana terdapat catatan sejarah setempat terkait peristiwa dramatis di tahun 535, beserta data-data kronologis yang berhasil digali dari analisis lingkaran tahun kayu-kayu tua, sedimen dasar danau dan lembaran-lembaran es. Semua menunjukkan adanya gangguan iklim dramatis selama beberapa tahun, yang secara alamiah lebih mungkin disebabkan oleh letusan gunung berapi yang sangat dahsyat. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan data dari Wohletz, 2000.

Bagi Eropa dan Asia, peristiwa aneh di tahun 535-536 ini adalah momen yang mengantarkan peradaban mereka memasuki abad kegelapan. Kekuasaan imperium Romawi mulai melemah sehingga sebagian wilayahnya mulai diambil-alih suku-suku Jermania nan perkasa yang bermigrasi dari Mongolia akibat bencana kelaparan. Pada saat yang sama peradaban Kristen Arian (rival terbesar Katolik Roma) pun berakhir secara misterius. Di Jazirah Arabia bagian selatan, peristiwa aneh itu memperparah situasi dalam peradaban Himyarit yang telah melemah seiring bobolnya bendungan Ma’rib. Kelaparan berkepanjangan dan wabah sampar kian melemahkannya hingga pada puncaknya mengambrukkan peradaban itu. Sampar semula hanya terkonsentrasi di Afrika timur. Namun kekeringan dahsyat menyebabkan populasi tikus merajalela tanpa bisa dikontrol lagi oleh para predatornya yang keburu mati kelaparan. Tikus-tikus pembawa kutu-kutu inang sampar selanjutnya memasuki pelabuhan–pelabuhan di pesisir Afrika timur dan terbawa armada kapal dagang yang berlayar melintasi Laut Merah dan terusan Trajanus ke Laut Tengah. Dengan cara inilah wabah sampar bergentayangan hingga mencapai Arabia selatan, Mediterania dan bahkan kepulauan Inggris serta lembah Mesopotamia.

Data

Baiklah, semua itu adalah catatan sejarah. Dan sejarah kerap bersifat multitafsir kala dipandang kembali dari masa yang lebih kemudian, dari zaman yang telah berubah. Namun bagaimana dengan catatan-catatan yang lebih independen, yakni jejak-jejak yang tak terkotori campur tangan manusia?

Petunjuk menarik datang dari lingkaran tahunan di dalam batang-batang kayu yang sangat tua. Lingkaran tahunan adalah lapisan kambium yang telah menjadi lapisan kayu pada tumbuhan berkayu keras. Sifat lapisan kambium ini khas, dimana tebal tipisnya dipengaruhi oleh normal tidaknya kehidupan tumbuhan bersangkutan terkait banyak sedikitnya jumlah air dan pencahayaan Matahari yang bisa diserap. Pada dasarnya berkurangnya jumlah air dan penyinaran Matahari akan menghasilkan lapisan kayu lebih tipis, demikian sebaliknya.

Analisis yang telah dilakukan terhadap lingkaran tahunan kayu-kayu tua di daratan Irlandia menunjukkan pada abad ke-6 dijumpai lapisan-lapisan kayu yang lebih tipis, terjadi semenjak tahun 535 dan berlangsung hingga 10 tahun kemudian. Analisis perbandingan dengan kayu-kayu tua di tempat lainnya menunjukkan fenomena ini bukanlah khas Irlandia semata. Sebab dijumpai pula di bagian Eropa lainnya seperti Swedia barat laut, Finlandia utara, Semenanjung Yamal (Rusia), Yunani dan Polandia. Juga didapati di daratan Amerika utara seperti di Sierra Nevada dan Carolina utara, maupun di Amerika selatan seperti di Chile selatan dan Argentina selatan. Bahkan di tempat sejauh dan seterpencil Tasmania (Australia) juga dijumpai hal serupa. Maka dapat dikatakan bahwa pasca tahun 535 hingga beberapa tahun kemudian iklim Bumi secara umum mengalami gangguan lumayan berat, sehingga jumlah air (dalam wujud curah hujan) merosot drastis bersamaan dengan berkurangnya penyinaran Matahari.

Gambar 4. Atas: dinamika ketebalan lingkaran kayu pada lingkaran tahunan kayu-kayu tua yang berhasil diekstrak dari Siberia (Rusia), Finlandia dan Swedia dalam rentang kronologi sejak tahun 1 hingga 1997. Garis merah menunjukkan lapisan kayu dari tahun 535 hingga beberapa tahun kemudian, nampak memiliki ketebalan paling kecil dibanding yang lain. Bawah:  dinamika kadar asam sulfat yang berhasil diekstrak dari lembaran es di proyek pengeboran GRIP (Greenland). Kadara asam sulfat tertinggi adalah pada tahun 535 hingga beberapa tahun kemudian (ditunjukkan dengan pensil). Sumber: Wohletz, 2000.

Gambar 4. Atas: dinamika ketebalan lingkaran kayu pada lingkaran tahunan kayu-kayu tua yang berhasil diekstrak dari Siberia (Rusia), Finlandia dan Swedia dalam rentang kronologi sejak tahun 1 hingga 1997. Garis merah menunjukkan lapisan kayu dari tahun 535 hingga beberapa tahun kemudian, nampak memiliki ketebalan paling kecil dibanding yang lain. Bawah:dinamika kadar asam sulfat yang berhasil diekstrak dari lembaran es di proyek pengeboran GRIP (Greenland). Kadara asam sulfat tertinggi adalah pada tahun 535 hingga beberapa tahun kemudian (ditunjukkan dengan pensil). Sumber: Wohletz, 2000.

Petunjuk lain gangguan iklim Bumi pada saat itu datang dari dasar sejumlah danau di berbagai penjuru. Sebuah danau mendapatkan airnya dari kawasan tangkapan air yang ada disekitarnya. Kala hujan mengguyur, air jatuh ke kawasan ini sembari menyeret partikel-partikel tumbuhan (umumnya bulir serbuk sari) lantas mengalir ke danau melalui alur parit-parit kecil dengan membawa serta partikel-partikel tanah. Seluruh partikel itu lalu diendapkan di dasar danau dan pengendapan berlangsungs ecara berkesinambungan. Pada saat gangguan iklim terjadi, berkurangnya curah hujan akan membuat tumbuh-tumbuhan hidup di bawah normal. Sehingga jumlah serbuk sari yang diproduksinya akan menyusut, pun demikian serbuk sari yang mengendap di dasar danau. Pengeboran terhadap dasar danau-danau di benua Amerika seperti danau Titicaca dan Marcachoca (keduanya di Amerika selatan) serta danau Chichancanab dan Punta Laguna (keduanya di Amerika tengah) memperlihatkan gejala itu. Dibantu dengan teknik pertanggalan radioaktif, maka terkuak bahwa mulai tahun 535 hingga beberapa tahun kemudian jumlah serbuk sari yang mengendap di dasar danau jauh lebih sedikit dibanding sebelumnya maupun sesudahnya. Hal ini menunjukkan dengan jelas terjadinya gangguan iklim Bumi, terutama lewat menurunnya jumlah curah hujan.

Baiklah, dari data lingkaran tahunan di kayu-kayu tua dan endapan dasar danau tersebut, kita tahu ada sesuatu yang terjadi di tahun 535 yang dampaknya menghantam sistem iklim Bumi dengan begitu telak. Namun apa penyebabnya? Di sinilah kita berhutang kepada para ahli glasiologi, yang bertekun diri menantang bahaya pergi ke tempat-tempat terpencil yang sangat dingin baik, di kawasan kutub maupun di pucuk-pucuk pegunungan bersalju. Bukan untuk berwisata maupun memompa adrenalin sekuat tenaga, namun untuk mengebor lembaran-lembaran es di sana dan membawanya pulang ke laboratorium berpendingin khusus. Lapisan-lapisan es pada dasarnya terbentuk dari guyuran hujan salju yang terus terakumulasi selama bertahun-tahun. Saat jatuh ke Bumi, butir-butir salju membawa serta partikulat dan gas apapun yang ada di udara pada saat itu. Maka es beku dalam lembaran-lembaran es dimanapun berada sejatinya memuat informasi tentang apa yang dialami atmosfer Bumi kita hingga kurun waktu ribuan atau bahkan puluhan ribu tahun silam.

Saat lembaran–lembaran es di Greenland (lewat proyek GRIP dan Dye 3) serta Antartika (lewat proyek Byrd) dibor, analisisnya menghasilkan temuan menarik yang terkait langsung peristiwa tahun 535. Dengan dibantu teknik pertanggalan karbon radioaktif, diketahui bahwa pada lapisan es yang berasal dari tahun 535 terkandung asam sulfat dalam jumlah besar, yang mencapai 5 kali lipat di atas normal. Asam sulfat umum dijumpai dalam atmosfer Bumi dalam wujud aerosol sebagai produk aktivitas vulkanisme. Namun kadar asam sulfat yang sangat besar menandakan terjadi sesuatu yang di luar kebiasaan, baik berupa letusan gunung berapi yang dahsyat maupun tumbukan benda langit (komet atau asteroid) yang cukup besar. Kadar asam sulfat dari tahun 535 itu adalah yang tertinggi sepanjang 2.000 tahun terakhir. Ia masih lebih tinggi dibanding kadar asam sulfat dari tahun 1815 (produk Letusan Tambora 1815), apalagi dari tahun 1883 (produk Letusan Krakatau 1883). Belakangan pengeboran lembaran es di gletser Quelccaya di Pegunungan Andes (Amerika selatan) juga menjumpai hal senada. Bahwa lonjakan asam sulfat itu dijumpai baik di lingkaran kutub utara (yakni di Greenland) maupun selatan (yakni Antartika) menandakan bahwa peristiwa yang menjadi penyebabnya haruslah berlokasi di kawasan khatulistiwa’ dan sekitarnya.

Saat semua data tersebut dibandingkan dengan catatan sejarah, terkuaklah sebuah fakta: terjadi sebuah peristiwa di luar normal (entah dalam wujud letusan gunung berapi yang sangat dahsyat ataupun tumbukan benda langit) mengambil tempat di kepulauan Nusantara, khususnya yang berada di arah barat daya dari Nanking/Nanjing (ibukota imperium Cina di abad ke-6 dan tempat kronik Nan shi ditulis). Peristiwa itu menghembuskan partikulat debu dalam jumlah sangat banyak ke atmosfer hingga demikian tinggi untuk kemudian terdistribusi ke segenap penjuru lapisan stratosfer. Maka tercipta lapisan debu bercampur aerosol asam sulfat, entah sebagai tabir surya vulkanik maupun tabir surya tumbukan, yang berkemampuan sangat efektif dalam mereduksi pancaran sinar Matahari yang seharusnya dihantarkan ke permukaan Bumi tanpa gangguan.

Maka Matahari pun nampak seakan-akan lebih redup. Penurunan suhu rata-rata permukaan Bumi pun terjadilah. Es meluas dimana-mana. Produksi uap air secara umum berkurang sehingga curah hujan pun turut berkurang. Iklim jadi kacau. Akibatnya lahan pertanian hancur. Produksi tanaman pangan merosot drastis, membuat dunia kelaparan. Suhu udara yang lebih dingin dan orang-orang yang daya tahan tubuhnya menurun (akibat kelaparan) memudahkan bakteri patogen menyebar melampaui area tradisionalnya. Maka abad kegelapan pun terjadilah. Tak sulit membayangkan bahwa jutaan orang, angka yang sangat signifikan bagi populasi penduduk Bumi masa itu, meregang nyawa menjadi korbannya. Tak heran jika ada yang berpendapat, surga seakan sedang menjauh dari dunia. Murka-Nya seakan sedang menjelma.

Simulasi

Bagian kepulauan Nusantara yang berada di arah barat daya dari kota Nanking mencakup pulau Sumatra dan Jawa serta pulau-pulau kecil disekitarnya sekarang. Sampai saat ini di kawasan ini belum dijumpai eksistensi kawah produk tumbukan benda langit, khususnya yang berasal dari abad ke-6. Sehingga penyebab peristiwa di tahun 535 itu lebih mungkin adalah letusan gunung berapi sanga dahsyat. Pulau Sumatra dan Jawa memang dipadati oleh gunung-gemunung berapi aktif. Namun saat kita mencari gunung berapi mana yang meletus demikian dahsyatnya di abad ke-6, telunjuk akan terarah ke satu titik: Gunung Krakatau.

Letusan Krakatau di abad ke-6 merupakan letusan yang paling samar datanya. Ada lapisan debu sangat tebal (setebal 25 meter) yang tertinggal di kepulauan Krakatau, namun belum bisa diketahui umurnya mengingat tiadanya jejak kayu yang mengarang yang bisa digunakan untuk penentuan umur dengan teknik pertanggalan karbon radioaktif. Di sisi lain, data sejarah memperlihatkan adanya keterputusan peradaban di abad ke-6, yang ditandai dengan punahnya kebudayaan Pasemah (Lampung) dan Aruteun/Holotan (Jawa Barat). Di luar Indonesia, sejumlah peradaban juga diketahui berakhir kala memasuki abad ke-6, misalnya Beikthano (Myanmar), peradaban pantai barat Malaya (Malaysia) dan peradaban Oc Eo (Kampuchea). Ada banyak faktor yang menyebabkan sebuah peradaban berakhir. Dan letusan dahsyat gunung berapi dapat menjadi salah satu faktornya, seperti terlihat pada berakhirnya peradaban Papekat dan Tambora di pulau Sumbawa akibat Letusan Tambora 1815.

Ada sebuah karya sastra klasik di tanah Jawa yang samar-samar menyajikan penggambaran mencekam akan peristiwa letusan dahsyat sebuah gunung berapi di masa silam. Yakni kitab Pustaka Raja Purwa, yang ditulis oleh R Ng (Raden Ngabehi) Ranggawarsita sang pujangga besar terakhir di tanah Jawa pada 1869 di istana Kasunanan Surakarta. Kitab ini sejatinya merupakan kumpulan cerita yang berakar dari kitab Mahabharata dan Ramayana nan tersohor. Sehingag kisah-kisah didalamnya berakar dari awal milenium di tanah India, dengan beberapa bagiannya telah dimodifikasi agar sesuai dengan situasi tanah Jawa. Di salah satu bagian kitab yang menjadi acuan para dalang wayang kulit itu tersurat kisah menggetarkan. Tertera, betapa pada suatu waktu bumi Jawa dikejutkan oleh dentuman keras melebihi halilintar yang datang dari arah Gunung Batuwara dan Gunung Kapi. Tanah pun bergetar keras yang segera diikuti amukan petir dan halilintar. Suasana menjadi gulita bahkan meski di siang hari. Hujan mengguyur sangat deras. Dan beberapa saat kemudian air bah yang tak biasa pun menggenang hebat, menjalar dari Gunung Kapi di barat hingga Gunung Kamula di timur. Setelah semua itu usai, Jawa terpisah dari Sumatra.

Gunung Batuwara kini kita kenal sebagai Gunung Pulosari, salah satu gunung berapi anak di lingkungan kaldera Dano (Banten). Gunung Kapi terletak di sisi barat Gunung Batuwara. Hanya ada satu gunung berapi yang sesuai dengan ciri-ciri Gunung Kapi ini, yakni Gunung Krakatau.

Baik, mari anggap Gunung Krakatau menjadi biang keladi perubahan iklim dramatis di tahun 535, yang menggiring segenap dunia berperadaban menuju ke abad kegelapan lewat letusan sangat dahsyatnya. Nah seberapa besar letusan tersebut?

Gambar 5. Peta kedalaman dasar Selat Sunda berdasar arsip Angkatan Laut Inggris di era perang Napoleon, dipadukan dengan peta topografi daratan Sumatra dan Jawa. Nampak cekungan nyaris membulat selebar sekitar 50 km yang diduga adalah kaldera raksasa produk Letusan Krakatau Purba. Sumber: Wohletz, 2000.

Gambar 5. Peta kedalaman dasar Selat Sunda berdasar arsip Angkatan Laut Inggris di era perang Napoleon, dipadukan dengan peta topografi daratan Sumatra dan Jawa. Nampak cekungan nyaris membulat selebar sekitar 50 km yang diduga adalah kaldera raksasa produk Letusan Krakatau Purba. Sumber: Wohletz, 2000.

Inilah yang ditelusuri seorang Ken Wohletz, ahli kegunungapian (vulkanolog) di Laboratorium Nasional Los Alamos (Amerika Serikat), tempat senjata nuklir pertama dirakit dan diledakkan. Para ahli kegunungapian pada umumnya telah dapat menerima bahwa apa yang kini kita kenal sebagai Kepulauan Krakatau sejatinya merupakan relik (sisa) dari Gunung Krakatau Purba yang demikian besar. Gunung tersebut mungkin menjulang setinggi hingga 2.000 meter dari permukaan laut dengan bentangan kakinya melampar hingga selebar 12 km. Letusan sangat dahsyat di masa silam melenyapkan hampir seluruh tubuhnya dan membentuk kaldera berdiameter sekitar 7 km. Sebagian dinding kaldera yang masih tersembul di atas Selat Sunda sebagai pulau Rakata, Sertung dan Panjang. Pada satu titik di pulau Rakata, kelak di kemudian hari tumbuh Gunung Krakatau yang pada klimaksnya berkembang membesar dengan tiga puncak utamanya: Rakata, Danan dan Perbuwatan. Pasca letusan 1883, seluruh tubuh Gunung Krakatau lenyap menjadi kaldera, kecuali sebagian pulau Rakata. Di tengah-tengah kaldera letusan 1883 inilah tumbuh Gunung Anak Krakatau yang kita kenal sekarang.

Tapi menurut Wohletz, ukuran Gunung Krakatau Purba mungkin lebih besar. Merujuk peta kedalaman Selat Sunda dalam arsip Angkatan Laut Inggris yang berasal dari masa pendudukan di tanah Jawa pada era perang Napoleon, Wohletz mendapati adanya cekungan besar (bergaris tengah sekitar 50 km). Cekungan ini dipagari oleh Kepulauan Krakatau, pulau Sebesi, pulau Sebuku, kaki Gunung Rajabasa dan pulau Sangiang. Jejak tepian cekungan ini di Pulau Sangiang nampak sebagai tebing terjal yang menyayat sebagian tubuh gunung berapi purba pembentuk pulau itu. Terletak tepat di lokasi gunung berapi aktif, tafsiran terbaik akan eksistensi cekungan ini adalah kemungkinan besar merupakan kaldera, lubang besar yang ditinggalkan di permukaan Bumi (dalam hal ini di dasar Selat Sunda) akibat letusan yang teramat dahsyat. Jika kalderanya sebesar ini maka jelas Gunung Krakatau Purba bertubuh jauh lebih besar. Kaki gunungnya mungkin membentang hingga mencakup area berdiameter 50 km atau lebih. Ketinggiannya nampaknya melebihi tinggi Gunung Rajabasa (1.281 meter dpl), mungkin hingga setinggi 3.000 meter atau bahkan lebih.

Gambar 6. Tebing terjal di Pulau Sangiang, yang secara menakjubkan memperlihatkan penampang bagian puncak gunung berapi purba dengan dua kawahnya. Tebing terjal ini kemungkinan merupakan salah satu titik tertinggi dari (dugaan) dinding kaldera raksasa Krakatau Purba yang lebarnya sekitar 50 km. Sumber: Bronto, 2012.

Gambar 6. Tebing terjal di Pulau Sangiang, yang secara menakjubkan memperlihatkan penampang bagian puncak gunung berapi purba dengan dua kawahnya. Tebing terjal ini kemungkinan merupakan salah satu titik tertinggi dari (dugaan) dinding kaldera raksasa Krakatau Purba yang lebarnya sekitar 50 km. Sumber: Bronto, 2012.

Agar sebuah gunung sebesar ini bisa ambruk dan lenyap menjadi kaldera yang berada di bawah permukaan laut, maka harus terjadi subsidens (amblesan) sebesar sekitar 100 meter. Subsidens ini disebabkan oleh kosongnya kantung magma dangkal di dasar gunung seiring dimuntahkannya magma secara besar-besaran dalam letusan yang sangat dahsyat. Jika dianggap diameter kantung magma dangkal tersebut sekitar 50 km, maka subsidens sebesar 100 meter ini hanya bisa disebabkan oleh tersemburnya magma menjadi rempah letusan sebanyak sekitar 200 kilometer kubik (200.000 juta meter kubik).

Lewat program komputer Erupt3 yang dikembangkannya, Wohletz pun telah menyimulasikan sejumlah aspek dalam letusan dahsyat tersebut, dengan bersandar pada beberapa anggapan. Sebelum meletus dahsyat, tubuh Gunung Krakatau Purba demikian besar sehingga menyembul ke atas permukaan Selat Sunda sebagai pulau vulkanis. Pulau ini demikian besar sehingga menutupi hampir seluruh bagian perairan Selat Sunda yang membentang di antara kaki Gunung Rajabasa (Sumatra) hingga Anyer (Jawa). Sebagai gunung berapi laut, perilaku Gunung Krakatau Purba sangat dipengaruhi berlimpahnya air laut yang mengepungnya dari segenap penjuru. Saat letusan mulai terjadi rempah letusan disemburkan Gunung Krakatau Purba hingga setinggi sekitar 20 km dari paras Selat Sunda, sebagai erupsi freatik. Erupsi freatik ini terjadi saat magma segar yang sedang mendesak naik mulai bertemu dengan air laut yang meresap di dalam tubuh gunung, menghasilkan uap panas bertekanan tinggi yang lantas mendobrak titik lemah di sekitar puncak. Tersemburlah uap air bersama debu vulkanik dari magma tua yang sudah membatu.

Erupsi freatik menciptakan lubang letusan, memperlebarnya dan mengawali retak-retak ke segenap arah hingga mulai melemahkan kekuatan batuan penyusun tubuh gunung. Kekuatan yang melemah memungkinkan magma mulai tersembur, lama-kelamaan dalam jumlah kian membesar dan bertekanan sangat tinggi. Terjadilah erupsi magmatik dalam tipe erupsi ultraplinian. Menyeruak dengan suhu sekitar 900 derajat Celcius, magma yang keluar sebagai batuapung dan debu vulkanik melesat dengan kecepatan awal sangat tinggi, sekitar dua kali lipat kecepatan suara, kala terlepas dari lubang letusan. Akibatnya mereka tersembur hingga setinggi 50 km dari paras selat Sunda dan lantas membentuk struktur menyerupai cendawan raksasa, untuk kemudian berjatuhan kembali ke Bumi. Hujan debu vulkanik pekat dan batuapung mengguyur deras hingga radius sekitar 60 km dari lubang letusan.

Gambar 7. Salah satu hasil simulasi program Erupt3 tentang karakter (kemungkinan) Letusan Krakatau Purba 535. Atas: saat letusan hendak mencapai puncaknya sebagai tipe ultraplinian yang menyemburkan material setinggi 60 km dan membentuk awan cendawan raksasa. Bawah: klimaks letusan ditandai dengan letusan tipe freatoplinian akbar dengan semburan material setinggi  30 km dan membentuk awan panas. Kombinasi dua tipe letusan inilah yang membentuk kaldera selebar 50 km dengan memuntahkan 200 kilometer kubik magma. Sumber: Wohletz, 2000.

Gambar 7. Salah satu hasil simulasi program Erupt3 tentang karakter (kemungkinan) Letusan Krakatau Purba 535. Atas: saat letusan hendak mencapai puncaknya sebagai tipe ultraplinian yang menyemburkan material setinggi 60 km dan membentuk awan cendawan raksasa. Bawah: klimaks letusan ditandai dengan letusan tipe freatoplinian akbar dengan semburan material setinggi 30 km dan membentuk awan panas. Kombinasi dua tipe letusan inilah yang membentuk kaldera selebar 50 km dengan memuntahkan 200 kilometer kubik magma. Sumber: Wohletz, 2000.

Pengeluaran magma secara besar-besaran dalam tahap ini membuat kantung magma dangkal di dasar gunung mulai terkosongkan. Bobot tubuh gunung yang sangat besar membuat retak-retak di sekujur tubuhnya kian bertambah. Subsidens pun mulai terjadi. membuat kian banyak saja air laut yang merasuk. Pada saat yang sama tubuh gunung yang kian melemah memungkinkannya memuntahkan magma dalam jumlah lebih besar. Maka klimaks letusan pun terjadilah, saat air laut bercampur langsung dengan magma panas membara membentuk erupsi bertipe freatoplinian akbar. Gelegar suara letusannya terdengar jauh hingga ke daratan Cina. Setiap detiknya gunung ini memuntahkan sekitar 400.000 meter kubik magma yang membentuk debu, lapili (kerikil), bom vulkanik (bongkahan besar) dan batuapung. Rempah vulkanik yang lebih besar dan berat dari debu dan batuapung menyembur hingga ketinggian sekitar 30 km. Setelah membentuk struktur cendawan raksasa, rempah letusan ini pun berjatuhan kembali ke Bumi dalam kondisi masih cukup panas sehingga menjadi awan panas (piroklastika) letusan. Awan panas diperkirakan menjalar hingga sejauh 60 km dari lubang letusan memanggang benda apa saja yang dilewatinya. Setelah klimaks letusan terlampaui, intensitas letusan pun berkecenderungan menurun. Pada saat yang sama tubuh gunung pun terus menghancur dan melesak ke dalam laut membentuk kaldera. Air laut yang masih terus merasuk terus bercampur dengan sisa-sisa magma yang tak tersembur, menghasilkan semburan uap panas bertekanan tinggi bercampur debu vulkanik yang kembali menghambur hingga setinggi sekitar 20 km. Erupsi freatik ini menjadi bab penutup dari kedahsyatan letusan itu.

Dengan memuntahkan sekitar 200 kilometer kubik magma, Letusan Krakatau Purba adalah 25 % lebih besar ketimbang Letusan Tambora 1815 (volume magma 160 kilometer kubik) dan 10 kali lebih dahsyat dari Letusan Krakatau 1883 (volume magma 20 kilometer kubik). Lewat program Erupt3-nya, Wohletz menyimpulkan terkurasnya magma sebanyak itu menyebabkan Gunung Krakatau Purba mengalami subsidens dan mengubah topografinya secara dramatis. Hampir segenap tubuh gunung lenyap terbenam menjadi kaldera, kecuali sebagian kecil area puncak yang masih menyembul di atas permukaan Selat Sunda sebagai pulau kecil. Maka bentang lahan yang selama ini seakan menjembatani pulau Jawa dan Sumatra pun terputus sudah.

Gambar 8. Hasil simulasi program Erupt3 terkait (kemungkinan) perubahan topografi Gunung Krakatau Purba antara sebelum dan sesudah letusan dahsyatnya di tahun 535. Sebelum letusan, tubuh gunung merentang demikian lebar hingga berperan sebagai jembatan alamiah penghubung daratan pulau Sumatra dan Jawa. Setelah letusan, jembatan tersebut menghilang berganti dengan kaldera 50 km yang tergenangi air laut sebagai bagian dari Selat Sunda. Sumber: Wohletz, 2000.

Gambar 8. Hasil simulasi program Erupt3 terkait (kemungkinan) perubahan topografi Gunung Krakatau Purba antara sebelum dan sesudah letusan dahsyatnya di tahun 535. Sebelum letusan, tubuh gunung merentang demikian lebar hingga berperan sebagai jembatan alamiah penghubung daratan pulau Sumatra dan Jawa. Setelah letusan, jembatan tersebut menghilang berganti dengan kaldera 50 km yang tergenangi air laut sebagai bagian dari Selat Sunda. Sumber: Wohletz, 2000.

Letusan sangat dahsyat yang mengambil tempat di sebuah pulau vulkanis ini jelas membentuk gelora raksasa atau tsunami. Tsunami terbentuk seiring ambruknya tubuh gunung ke dasar laut bersamaan dengan hempasan awan panas yang menjalar di dasar laut. Seberapa besar daya hancur tsunaminya belum bisa diketahui. Di sisi lain, dampak letusan sangat dahsyat ini sangat terasa di sekujur penjuru Bumi. Dari 200 kilometer kubik magma, 10 hingga 80 kilometer kubik diantaranya berupa debu vulkanik halus yang terinjeksi demikian tinggi hingga memasuki lapisan stratosfer. Namun tak hanya debu. Letusan juga mengubah sekitar 150 meter kubik air laut menjadi uap sebanyak sekitar 200.000 kilometer kubik. Separuh diantaranya mengembun kembali di ketinggian rendah, namun sisanya membumbung tinggi memasuki lapisan stratosfer dan berubah menjadi kristal-kristal es. Pada saat yang sama juga tersembur sekitar 180 juta ton gas belerang, yang lantas bereaksi dengan uap air membentuk tetes-tetes asam sulfat. Sirkulasi atmosferik di lapisan stratosfer membuat debu, aerosol asam sulfat dan kristal es tersebar ke segenap penjuru dan menciptakan tabir surya vulkanik demikian tebal. Ketebalannya mencapai sekitar 20 hingga 150 meter, yang melayang di ketinggian 30 km tanpa bisa dicuci oleh proses cuaca.

Dampaknya sangat menyiksa Bumi hingga beberapa tahun kemudian. Tabir surya vulkanik nan tebal ini menghalangi 50 % cahaya Matahari yang seharusnya diteruskan ke Bumi. Terjadilah penurunan suhu rata-rata permukaan Bumi, yang bisa mencapai 5 derajat Celcius di bawah normal. Imbasnya udara menjadi lebih dingin, tutupan es pun menyebar keluar dari lingkaran kutub dan jumlah uap air yang diproduksi dari lautan pun menurun. Akibat lebih lanjutnya, cuaca pun sangat terganggu. Kekeringan berlangsung dimana-mana, meski tak jarang juga terjadi hujan sangat lebat hingga badai yang salah musim. Keberadaan kristal-kristal es di lapisan stratosfer pun berdampak pada hancurnya lapisan Ozon. Sinar ultraviolet beta dari Matahari pun membanjir deras tanpa terhalangi dan bekerja merusak sel-sel makhluk hidup. Secara keseluruhan letusan ini benar-benar membuat Bumi menjadi tak nyaman ditinggali makhluk hidup, khususnya manusia. Tak heran jika abad kegelapan pun terjadilah.

Masa Depan

Di atas kertas, seperti itulah kedahsyatan Letusan Krakatau Purba, yang diperkirakan terjadi pada tahun 535. Tentu saja butuh penelitian lebih lanjut guna memastikan apakah semua atau sebagian hasil simulasi itu memang benar-benar terjadi ataukah tidak. Yang jelas, lapisan debu setebal 20 meter yang terjepit di antara lapisan produk letusan 8.000 tahun silam dan lapisan produk Letusan Krakatau 1215 memastikan bahwa pada suatu waktu di masa silam Gunung Krakatau memang pernah meletus dengan kedahsyatan letusan yang jauh lebih besar ketimbang Letusan Krakatau 1883.

Sifat Gunung Krakatau yang gemar meletus dahsyat dan menghancurkan dirinya sendiri, setidaknya sudah tiga kali terjadi, tentu harus menjadi perhatian. Terlebih kawasan Selat Sunda kian memegang peranan penting. Perairan ini menjadi salah satu urat nadi terpenting bagi Indonesia modern, sebagai jalur penghubung antara pulau Sumatra dan Jawa lewat laut. Bahkan kelak jalur darat pun bakal tersambung dengan Jembatan Selat Sunda, meski pembangunannya masih dalam rencana dan terus menuai kontroversi. Pusat-pusat pertumbuhan ekonomi juga terus berdiri di sini. Alangkah baiknya jika segenap kepentingan manusia yang didirikan di kawasan ini tetap menyesuaikan diri dengan sifat alamiah Gunung Krakatau. Itu untuk kebaikan kita sendiri. Karena kita manusialah yang harus menyesuaikan diri dengan dinamika alam semesta, bukan sebaliknya. Dalam kasus Gunung Krakatau, kitalah yang harus bersiap semenjak dini andaikata gunung berapi lasak ini kembali mempertontonkan kedahsyatannya di masa depan.

Referensi:

Wohletz. 2000. Were the Dark Ages Triggered by Volcano-related Climate Changes in the 6th Century? EOS Trans Amer Geophys Union 48(81), F1305.

Bronto. 2012. Gunung Padang Berdasarkan Pandangan Geologi Gunung Api. Kertas Kerja Rembug Nasional Gunung Padang, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Trio Letusan Mirip-Krakatau di Io

Indonesia selalu mengenal Agustus sebagai bulan kalender bercita rasa nasionalis. Inilah bulan dimana manusia Indonesia memperingati kemerdekaan negerinya dari belenggu tirani. Maka Agustus pun senantiasa disongsong dengan penuh gairah dan suka cita. Warga di berbagai pelosok menggelar aneka lomba. Sebagian diantaranya bakal membikin siapapun yang bukan manusia Indonesia mengernyitkan dahi, sebab begitu unik dan takkan pernah terlintas dalam benak atlet-atlet olimpik. Apa mau dikata, lomba-lomba ini memang bukan dirancang untuk mengejar prestasi namun semata bertujuan mengundang rasa geli dan menghibur hati. Pada tanggal 16 malam, banyak pula yang menggelar malam tirakatan disertai tumpengan. Tak sedikit pula yang menghabiskan sisa malam itu dengan membuka mata nyaris semalam suntuk.

Gambar 1. Gunung Krakatau diabadikan pada Mei 188. Nampak debu vulkanik pekat mengepul dari puncak Perbuwatan, menandai mulai terjadinya erupsi magmatik di gunung berapi yang telah lama tidur ini. Dalam tiga bulan kemudian seluruh gunung ini menyemburkan material vulkanik dalam jumlah sangat besar yang ditembuskan hingga berpuluh kilometer ke atmosfer. Akibatnya hampir seluruh tubuh gunung hancur dan ambruk ke dasar laut menjadi kaldera, kecuali sebagian kecil lereng puncak Rakata. Sumber: USGS, 1982.

Gambar 1. Gunung Krakatau diabadikan pada Mei 1883. Nampak debu vulkanik pekat mengepul dari puncak Perbuwatan, menandai mulai terjadinya erupsi magmatik di gunung berapi yang telah lama tidur ini. Dalam tiga bulan kemudian seluruh gunung ini menyemburkan material vulkanik dalam jumlah sangat besar yang ditembuskan hingga berpuluh kilometer ke atmosfer. Akibatnya hampir seluruh tubuh gunung hancur dan ambruk ke dasar laut menjadi kaldera, kecuali sebagian kecil lereng puncak Rakata. Sumber: USGS, 1982.

Namun Agustus juga bakal selalu dikenang sebagai bulan kalender dimana kita seyogyanya menundukkan kepala, memanjatkan doa. Khususnya kepada 36.417 jiwa (angka resmi) atau hampir 120.000 nyawa (angka perkiraan) yang melayang dalam sebuah peristiwa kelam selama tiga hari kelam berturut-turut yang terjadi lebih dari seratus tahun silam. Korban jiwa dalam jumlah yang luar biasa besar ini jatuh terenggut kala Gunung Krakatau dengan puncak-puncak Rakata, Danan dan Perbuwatan meledakkan dirinya dalam sebuah letusan teramat dahsyat. Selama tiga hari berturut-turut pada 27 hingga 29 Agustus 1883 gunung berapi kecil mungil layaknya bisul di tengah-tengah Selat Sunda (kini termasuk propinsi Lampung) itu meletus dengan kedahsyatan tak terperi untuk ukuran manusia. Sebanyak 20 kilometer kubik (20.000 juta meter kubik) material vulkanik dimuntahkan keluar, seperlima diantaranya langsung tersembur ke langit pada kekuatan teramat tinggi sehingga menjangkau ketinggian 40 km lebih dari paras air laut.

Terlepasnya magma dengan volume sangat besar dalam kurun waktu yang cukup singkat membuat kantung magma dangkal di dasar Gunung Krakatau terkuras habis, meninggalkan ruang kosong. Ruang kosong ini tak mampu menahan bobot jutaan ton batuan yang ada diatasnya. Sehingga tubuh gunung pun runtuh, Terbentuklah cekungan besar yang adalah kaldera di dasar Selat Sunda, dengan garis tengah 7 km dan kedalaman hingga 250 meter dari paras air laut. Kombinasi runtuhnya tubuh gunung ke dalam laut dan hempasan awan panas (piroklastika) yang terbentuk kala material vulkanik sangat pekat kembali berjatuhan ke Bumi memproduksi tsunami yang demikian bergelora. Tsunami ini berderap lambat, butuh waktu hampir sejam sebelum bisa menjangkau kedua belah pesisir Selat Sunda yang terdekat ke Krakatau. Namun sebaliknya ia sungguh bergelora dengan ketinggian tak terkira yang tak terbayang di benak manusia. Gelombang setinggi 37 meter menghajar pesisir Merak tanpa ampun. Sementara kawasan Anyer dan Caringin lebur digempur tsunami setinggi hingga 15 meter. Di daratan Sumatra gelora yang menjulang setinggi 22 meter mencukur Teluk Betung. Sementara Blimbing dan Kalianda dihempas gelombang 15 meter. Hampir seluruh korban jiwa yang terenggut dalam tragedi Letusan Krakatau 1883 disebabkan oleh tsunami ini. Terkecuali sekitar 1.000 orang yang meregang nyawa di Katibung akibat hempasan awan panas yang menjalar demikian jauh akibat letusan lateral (mendatar) ke utara dalam salah satu episode amukan Krakatau.

Gambar 2. Jejak kedahsyatan tsunami Letusan Krakatau 1883, yang mencukur habis pesisir Anyer. Atas: bangkai gerbong kereta yang terguling dan terseret jauh dari stasiun oleh air tsunami. Bawah: bongkahan karang gigantis seberat 600 ton lebih, yang terangkat dan terbawa gelora tsunami menuju pantai. Bongkahan karang ini menghantam mercusuar Anyer tepat di kilometer nol jalan raya pos (jalan Daendels), membuat menara setinggi 40 meter itu ambruk. Sumber: History Channel, 2009.

Gambar 2. Jejak kedahsyatan tsunami Letusan Krakatau 1883, yang mencukur habis pesisir Anyer. Atas: bangkai gerbong kereta yang terguling dan terseret jauh dari stasiun oleh air tsunami. Bawah: bongkahan karang gigantis seberat 600 ton lebih, yang terangkat dan terbawa gelora tsunami menuju pantai. Bongkahan karang ini menghantam mercusuar Anyer tepat di kilometer nol jalan raya pos (jalan Daendels), membuat menara setinggi 40 meter itu ambruk. Sumber: History Channel, 2009.

Tsunami Krakatau merupakan bencana alam dengan korban jiwa manusia terbesar di Indonesia semenjak 1883. Rekor ini bertahan hingga 121 tahun kemudian sebelum kemudian dilampaui oleh bencana gempa akbar Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 dengan tsunami dahsyatnya. Sebaliknya Letusan Krakatau 1883 bukanlah letusan gunung berapi terdahsyat yang pernah berlangsung di tanah Nusantara sepanjang sejarah yang tercatat. Letusan ini hanyalah menempati peringkat ketiga, di bawah Letusan Samalas (Rinjani) 1257 dan Letusan Tambora 1815. Skala letusan Krakatau terpaku di angka 6 VEI (Volcanic Explosivity Index), setingkat di bawah skala letusan Samalas dan Tambora yang masing-masing menempati angka 7 VEI. Namun amukan Krakatau menjadi letusan gunung berapi dalam tingkat katastrofik pertama yang terekam dengan baik. Hanya beberapa minggu sebelum letusan ini terjadi kabel laut terakhir yang menautkan media sosial elektronik pertama bagi manusia, yakni telegraf, tersambung sudah. Untuk ukuran masakini media sosial ini tentu sangat primitif dan lambat. Namun pada era meletusnya Krakatau di tahun 1883 itu, ia tergolong cukup cepat dalam menyalurkan informasi. Sehingga sontak Krakatau pun menjadi buah bibir dalam lingkup global. Laporan demi laporan teramatinya gejala mirip tsunami, yang sejatinya adalah dampak gelombang kejut letusan terhadap paras air laut setempat, juga segera bermunculan dari berbagai penjuru. Bandingkan dengan Letusan Tambora 1815 yang kabar terawalnya baru tiba di daratan Eropa enam minggu setelah gunung berapi itu mempertontonkan kedahsyatannya.

Trio Io

Amukan gunung berapi seukuran Letusan Krakatau 1883 tentu menggetarkan dan menakutkan segenap manusia. Termasuk di masa kini. Nah bagaimana jika kita berhadapan dengan tak hanya satu, melainkan tiga letusan yang skala kedahsyatannya menyamai atau bahkan malah melebihi Letusan Krakatau 1883?

Gambar 3. Tiga letusan mirip Letusan Krakatau 1883 di Io sepanjang 15 hingga 29 Agustus 2013. Kiri: letusan Rarog Patera, diobservasi teleskop Keck II pada panjang gelombang 1,59 mikron. Tengah: letusan Rarog Patera dan Heno Patera, diobservasi teleskop Keck II pada panjang gelombang 2,27 mikron. Dan kanan: letusan 201308C dan Rarog Patera, diobservasi teleskop IRTF NASA pada panjang gelombang 3,78 mikron. Nampak bahwa letusan 201308C adalah yang terbesar, diikuti letusan Rarog Patera dan kemudian Heno Patera. Saat 201308C meletus dahsyat, letusan di Rarog Patera dan Heno Patera sudah berakhir. Sumber: NASA & Keck II Observatory, 2014.

Gambar 3. Tiga letusan mirip Letusan Krakatau 1883 di Io sepanjang 15 hingga 29 Agustus 2013. Kiri: letusan Rarog Patera, diobservasi teleskop Keck II pada panjang gelombang 1,59 mikron. Tengah: letusan Rarog Patera dan Heno Patera, diobservasi teleskop Keck II pada panjang gelombang 2,27 mikron. Dan kanan: letusan 201308C dan Rarog Patera, diobservasi teleskop IRTF NASA pada panjang gelombang 3,78 mikron. Nampak bahwa letusan 201308C adalah yang terbesar, diikuti letusan Rarog Patera dan kemudian Heno Patera. Saat 201308C meletus dahsyat, letusan di Rarog Patera dan Heno Patera sudah berakhir. Sumber: NASA & Keck II Observatory, 2014.

Ini bukan kabar burung. Trio letusan mirip Krakatau itu memang benar-benar terjadi. Namun jangan buru-buru cemas dan memacu adrenalin anda. Trio letusan tersebut mengambil lokasi yang sangat jauh dari Bumi, yakni pada sebuah benda langit lain yang ukurannya hanya sedikit lebih besar dibanding Bulan. Trio letusan itu terjadi di Io yang adalah salah satu satelit alamiah dari planet Jupiter. Demikian dahsyat ketiga letusan itu sehingga kilatan cahayanya dapat disaksikan dari Bumi, meski hanya dapat disaksikan lewat fasilitas teleskop tercanggih. Adalah tiga teleskop berpangkalan di puncak Gunung Mauna Kea, Kepulauan Hawaii (Amerika Serikat), yang merekam ketiga letusan tersebut. Ketiganya adalah teleskop Gemini North, Keck II dan IRTF (Infra Red Telecope Facility) NASA. Ketiga letusan terekam dalam rentang waktu antara 15 dan 29 Agustus 2013, saat Io berjarak 865 juta kilometer dari Bumi.

Dua letusan pertama terdeteksi oleh teleskop Keck II (diameter cermin 10 meter) saat diarahkan ke Io pada 15 Agustus 2013 pukul 22:30 WIB. Bekerja pada spektrum sinar inframerah dan dilengkapi sistem optik adaptif untuk mengoreksi gangguan optis akibat turbulensi dalam atmosfer Bumi, teleskop Keck II merekam dua titik berpendar terang di permukaan Io yang tak pernah ada sebelumnya. Titik pendar pertama berimpit dengan posisi Gunung Rarog Patera yang telah dikenal sebelumnya. Sementara titik letusan kedua bertepatan dengan Gunung Heno Patera, yang juga telah dikenali sebelumnya. Dan letusan terakhir terdeteksi dua minggu kemudian, yakni pada 29 Agustus 2013, lewat teleskop Gemini North dan IRTF NASA. Letusan ini terjadi di lokasi yang tak dikenal dan untuk sementara diberi kode sebagai 201308C.

Observasi lanjutan menunjukkan bahwa ketiganya merupakan erupsi eksplosif gunung berapi Io yang khas. Letusan Rarog Patera mengeluarkan lava sepanas hingga sekitar 750 derajat Celcius. Pada puncak letusannya ia melepaskan daya hingga 8 terawatt (8 juta megawatt). Lava lantas membanjir menutupi area seluas hingga 120 kilometer persegi disekeliling lubang letusan. Sementara letusan Heno Patera menyemburkan lava yang sedikit lebih dingin yakni 700 derajat Celcius sehingga daya puncaknya pun sedikit lebih rendah yakni 5 hingga 6 terawatt (5 juta hingga 6 juta megawatt). Namun letusan Heno Patera memuntahkan lava yang menutupi kawasan dua kali lipat lebih luas yakni 300 kilometer persegi. Dan letusan 201308C adalah yang terdahsyat. Pada puncaknya ia melepaskan daya antara 15 hingga 25 terawatt (15 juta hingga 25 juta megawatt) dengan lava panasnya hingga sepanas 1.600 derajat Celcius atau bahkan lebih.

Gambar 4. Peta permukaan Io berdasar citra komposit Voyager 1, Voyager 2 dan Galileo. Nampak lokasi Rarog Patera, Heno Patera dan 201308C, tiga gunung berapi yang terlibat dalam trio letusan besar Agustus 2013. Terlihat juga lokasi Gunung Loki dengan kalderanya yang terbesar di Io. Juga Gunung Pele, gunung berapi luar Bumi yang pertama kali terdeteksi. Sumber: Sudibyo 2014 dengan peta dasar USGS Astrogeology, 2014.

Gambar 4. Peta permukaan Io berdasar citra komposit Voyager 1, Voyager 2 dan Galileo. Nampak lokasi Rarog Patera, Heno Patera dan 201308C, tiga gunung berapi yang terlibat dalam trio letusan besar Agustus 2013. Terlihat juga lokasi Gunung Loki dengan kalderanya yang terbesar di Io. Juga Gunung Pele, gunung berapi luar Bumi yang pertama kali terdeteksi. Sumber: Sudibyo 2014 dengan peta dasar USGS Astrogeology, 2014.

Analisis lebih lanjut memperlihatkan trio letusan ini merupakan letusan besar karena memuntahkan magma dalam jumlah sangat banyak. Jumlah magma yang disemburkan letusan Rarog Patera dan Heno Patera berkisar antara 50.000 hingga 100.000 meter kubik per detik. Sebaliknya berapa magma yang dikeluarkan letusan 201308C belum jelas, namun dapat diduga jauh lebih besar ketimbang Rarog dan Heno Patera. Bandingkan dengan Letusan Krakatau 1883 di Bumi, yang pada puncak letusannya menghamburkan magma sebanyak ‘hanya’ 20.400 meter kubik per detik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kecepatan pengeluaran magma Rarog Patera dan Heno Patera adalah antara 2 hingga 4 kali lipat lebih tinggi ketimbang Krakatau. Namun tak demikian dengan dayanya, yakni jumlah energi yang dilepaskan dalam tiap satuan waktu. Jika suhu magma Krakatau 1883 dianggap 800 derajat Celcius, maka daya sebesar 14 terawatt terlepas dalam puncak letusannya. Ini lebih besar ketimbang daya letusan Rarog maupun Heno Patera, namun masih lebih kecil dibanding letusan 201308C.

Io adalah benda langit yang sedikit lebih besar dari Bulan (diameter Io = 3.628 km dan diameter Bulan = 3.474 km). Maka dari itu gravitasinya pun cukup kecil yakni 5,5 kali lebih kecil ketimbang Bumi. Saat terjadi letusan sedahsyat Letusan Krakatau 1883 di Io, gravitasi kecilnya membuat material letusan sanggup tersembur hingga mencapai ketinggian beratus-ratus kilometer. Bandingkan dengan Bumi, dimana letusan gunung berapi terdahsyat sekalipun takkan sanggup menyemburkan debu vulkaniknya hingga melampaui ketinggian 100 km. Debu vulkanik gunung-gemunung berapi di Io bahkan sanggup melesat keluar dari lingkungan pengaruh satelit alamiah Jupiter itu dan lantas berubah haluan menjadi debu bermuatan listrik mengelilingi Jupiter sebagai plasma. Observasi dengan satelit HISAKI milik Jepang, yang dirancang khusus untuk mengamati plasma yang mengedari Jupiter dari kejauhan orbit Bumi, berhasil mendeteksi meningkatnya jumlah debu bermuatan listrik dalam lingkungan plasma tersebut setelah trio letusan ini terjadi.

Tidal

Sekilas adanya gunung berapi di luar Bumi bakal membuat dahi kita berkernyit. Apalagi di lingkungan sekecil Io. Apalagi saat gunung-gemunung berapi tersebut meletus dengan kekuatan yang luar biasa besar hingga menyamai atau bahkan melebihi Letusan Krakatau 1883 yang demikian populer. Gunung berapi aktif di luar Bumi memang baru diketahui eksistensinya pada 1979. Untuk pertama kalinya gunung berapi semacam itu memang ditemukan di Io, dalam satu babak eksplorasi antariksa takberawak yang bergelora.

Io adalah satelit alamiah Jupiter yang cukup populer. Astronom legendaris Galileo Galilei menjadi orang yang pertama kali menyaksikannya lewat teleskop pembias sederhana (perbesaran 20 kali) buatan sendiri pada 7 Januari 1610 malam. Observasi serupa di malam selanjutnya memastikan eksistensi Io. Inilah satu dari empat satelit Galilean Jupiter, sekaligus satelit alamiah terbesar yang berjarak paling dekat dengan planet gas raksasa itu. Io hanya membutuhkan 42 jam untuk beredar mengelilingi sang planet induk sekali putaran. Benda langit ini sejatinya dapat disaksikan mata manusia tanpa menggunakan alat bantu karena magnitudo semunya +5, atau setingkat lebih terang ketimbang ambang batas keterlihatan benda langit lewat mata manusia (yakni magnitudo semu +6). Namun benderangnya Jupiter persis disebelahnya membuat Io takkan dapat disaksikan dengan cara itu.

Gambar 5. Citra resolusi rendah terhadap lingkungan tiga gunung berapi yang terlibat dalam trio letusan besar Agustus 2013 diabadikan oleh wahana Voyager 1 (kiri) dan galileo (kanan). Ketiganya adalah Gunung Rarog Patera (lingkaran hijau), Heno Patera (lingkaran merah) dan 201308C (lingkaran ungu). Jelas terlihat bahwa ketiga gunung berapi ini pada dasarnya adalah kaldera. Sumber: NASA, 1979 & 1999.

Gambar 5. Citra resolusi rendah terhadap lingkungan tiga gunung berapi yang terlibat dalam trio letusan besar Agustus 2013 diabadikan oleh wahana Voyager 1 (kiri) dan galileo (kanan). Ketiganya adalah Gunung Rarog Patera (lingkaran hijau), Heno Patera (lingkaran merah) dan 201308C (lingkaran ungu). Jelas terlihat bahwa ketiga gunung berapi ini pada dasarnya adalah kaldera. Sumber: NASA, 1979 & 1999.

Hingga hampir empat abad kemudian Io hanya terlihat sebagai bintik cahaya mirip bintang. Namun seiring perkembangan zaman yang meningkatkan kemampuan teleskop-teleskop termutakhir, perlahan-lahan Io mulai tampil sebagai cakram redup. Meski demikian ada satu anggapan yang tak berubah merentang abad, yakni aktivitas geologisnya. Dengan ukuran hanya sedikit lebih besar dari Bulan, Io dianggap sebagai benda langit yang telah mati. Artinya, kondisi internalnya telah mendingin (hampir) sepenuhnya sehingga tak lagi tersisa cukup panas yang bisa keluar ke permukaan dalam rupa vulkanisme beserta aktivitas penyertanya. Hingga 1978 pandangan ini masih bertahan meski observasi teleskop inframerah termutakhir saat itu mengungkap adanya hal aneh di Io. Anomali itu sebanding dengan pancaran panas dari obyek bersuhu sekitar 300 derajat Celcius dari area seluas 8.000 kilometer persegi di Io, yang mengesankan sebagai aktivitas vulkanik.

Pandangan tersebut berubah total setelah wahana antariksa takberawak Voyager 1 melintas di dekat Io dalam perjalanannya mengarungi tata surya guna menuju ke planet Saturnus. Voyager 1 memperlihatkan betapa mulusnya permukaan Io, tanpa berhias kawah-kawah tumbukan benda langit (asteroid atau komet) disana-sini. Padahal kawah-kawah tumbukan dalam aneka ukuran amat umum dijumpai pada permukaan benda langit yang telah mati seperti misalnya Bulan dan planet Mars. Maka permukaan Io amat berbeda dibanding Bulan. Io memang memiliki atmosfer namun sangat tipis, sehingga permukaannya yang mulus jelas bukan hasil kerja gaya-gaya eksogen seiring cuaca. Permukaan Io lebih merupakan manifestasi dari gaya endogennya.

Dan heboh besar pun meledak begitu Voyager 1 bersiap meninggalkan lingkungan Io. Untuk kepentingan navigasi optikal guna mengetahui posisi wahana di langit, Voyager 1 mengarahkan kameranya ke Io pada 8 Maret 1979. Hasilnya mengejutkan. Voyager 1 tak hanya menangkap citra Io sebagai benda langit berbentuk sabit lebar mirip Bulan, namun juga merekam sejenis busur setengah lingkaran yang mengembang mirip payung di tepi cakram Io. Selidik punya selidik, bentuk mirip payung ini ternyata material vulkanik yang tersembur hebat dari suatu titik yang kemudian dinamakan Gunung Pele. Semburan material vulkanik yang demikian tinggi menandakan telah terjadi letusan besar. Tertangkap juga sebentuk kaldera raksasa yang di kemudian hari dinamakan Gunung Loki. Observasi selanjutnya dalam waktu yang berbeda melalui wahana Voyager 2 (1979), Galileo (1995-2003), Cassini-Huygens (2000) dan New Horizon (2007) menunjukkan bahwa dunia sekecil Io ternyata dijejali 150 gunung berapi dalam berbagai bentuk. Gunung Pele menjadi gunung berapi Io yang terbesar. Tapi angka itu diyakini hanyalah sebagian dari seluruh populasi gunung berapi di Io yang diduga mencapai 400 buah atau lebih.

Gambar 6. Video detik-detik letusan Gunung Tvashtar Patera seperti diabadikan wahana New Horizon (2007) saat melintas-dekat Jupiter dalam perjalanan menuju planet-kerdil Pluto. Material vulkanik terlihat disemburkan setinggi 330 km dan membentuk busur setengah bola mirip payung raksasa, ciri khas letusan besar. Sumber: NASA, 2007.

Gambar 6. Video detik-detik letusan Gunung Tvashtar Patera seperti diabadikan wahana New Horizon (2007) saat melintas-dekat Jupiter dalam perjalanan menuju planet-kerdil Pluto. Material vulkanik terlihat disemburkan setinggi 330 km dan membentuk busur setengah bola mirip payung raksasa, ciri khas letusan besar. Sumber: NASA, 2007.

Vulkanisme di Io semula diduga lebih menyemburkan magma yang didominasi senyawa-senyawa belerang sehingga suhunya lebih dingin ketimbang lava di Bumi. Namun observasi lebih lanjut menjungkirbalikkan anggapan itu. Banyak gunung berapi Io yang ternyata menyemburkan magma dengan dominasi senyawa-senyawa silikat, layaknya magma di Bumi. Sehingga magmanya setara atau bahkan lebih panas dibanding magma di Bumi. Gunung-gunung berapi Io kerap meletus dalam jangka panjang lewat erupsi efusif. Ini adalah letusan yang melelerkan lava tanpa disertai semburan material vulkanik yang cukup tinggi. Erupsi efusif di Io menghasilkan lava yang bergerak cepat, sehingga mampu menutupi area seluas 12,6 hingga 21,6 hektar dalam setiap jamnya (kasus letusan Prometheus dan Amirani). Sementara lava produk erupsi efusif di Bumi hanya sanggup menutupi area seluas 0,2 hektar saja dalam setiap jamnya (kasus letusan Kilauea di Kepulauan Hawaii). Namun pada saat-saat tertentu, dalam jangka pendek, gunung-gunung berapi ini juga dapat mengalami erupsi eksplosif. Erupsi eksplosif ini sungguh luar biasa. Iasanggup menyemburkan lava panas hingga setinggi 1 km laksana air mancur berapi gigantis. Sementara debu vulkaniknya mampu tersembur jauh lebih tinggi lagi. Kecepatan pengeluaran lavanya pun demikian besar sehingga sebanding dengan letusan gunung berapi model banjir lava basalt di Bumi, seperti misalnya Letusan Laki 1783 (Islandia).

Mengapa dunia kecil Io bisa sedahsyat dan seunik ini? Vulkanisme di Io digerakkan oleh sumber yang berbeda dibanding Bumi. Di Bumi, gunung-gemunung berapi muncul akibat adanya sumber panas internal dimana 90 % diantaranya berasal dari peluruhan radioaktif inti-inti atom berat sementara 10 % sisanya adalah panas-sisa proses pembentukan Bumi purba dari masa remaja tata surya. Panas tersebut menghasilkan sirkulasi dalam lapisan selubung (mantel) Bumi sehingga menggerakkan lempeng-lempeng tektonik di keraknya. Perbenturan dan pemisahan lempeng-lempeng inilah yang memproduksi vulkanisme. Namun hanya 1 % panas internal Bumi yang mewujud sebagai vulkanisme dan tektonisme, 99 % sisanya terlepas keluar melalui proses konduksi di kerak Bumi.

Di internal Io juga terjadi peluruhan radioaktif inti-inti atom berat, namun energi yang dihasilkannya hanya mencakup 0,5 % saja. 99,5 % panas internal Io disumbangkan oleh pemanasan tidal, seiring posisi Io yang unik dalam lingkungan planet Jupiter. Io berjarak relatif dekat dengan planet induknya. Dan dengan 2 satelit Galilean lainnya, yakni Europa dan Ganymede, Io mengalami resonansi orbital dalam bentuk resonansi Laplace. Maka kala Ganymede tepat menyelesaikan revolusinya terhadap Jupiter sekali, Io pun tepat empat kali berevolusi. Demikian halnya saat Europa sekali berevolusi, maka Io tepat dua kali berevolusi. Sifat ini membuat orbit Io sangat stabil dan nyaris berbentuk lingkaran sempurna. Di sisi lain kedekatannya dengan Jupiter membuat Io mengalami gaya tidal (gaya pasang surut) yang sangat besar. Sehingga permukaan Io menggelembung dan mengempis secara teratur dengan perbedaan ketinggian permukaan rata-rata bisa mencapai 100 meter. Bandingkan dengan Bumi, dimana gaya tidal Bulan hanya sanggup menghasilkan perbedaan setinggi 1 meter saja.

Mengembang dan mengempisnya Io pun dirasakan oleh struktur internalnya hingga menciptakan panas yang sangat besar. Panas ini tak bisa dimanifestasikan dalam perubahan orbit Io, akibat resonansi orbitalnya dengan Europa dan Ganymede. Maka panas itu pun akhirnya melelehkan sebagian lapisan selubung Io hingga membentuk lapisan magma (samudera magma) pada kedalaman 50 km dengan ketebalan rata-rata sekitar 50 km. Magma dari samudera magma inilah yang kemudian keluar ke permukaan, menciptakan vulkanisme yang sangat intensif.

Referensi:

de Pater dkk. 2014. Two New, Rare, High-effusion Outburst Eruptions at Rarog and Heno Paterae on Io. Icarus 2014.06.016

de Kleer dkk. 2014. Near-infrared Monitoring of Io and Detection of a Violent Outburst on 29 August 2013. Icarus 2014.06.006

Perry. 2014. Three Major Volcanic Eruptions Observed On Io in the Span of Two Weeks. Planetary Society 2014/08/12.

Antara Letusan Tambora, Waterloo dan Perang Diponegoro

Yogyakarta, Rabu 20 Juli 1825. Matahari kuning kemerah-merahan mengambang rendah di atas kaki langit barat saat jarum jam menunjuk pukul 17:00 setempat. Cahaya keemasannya melaburi langit senja dan juga pucuk-pucuk pepohonan di seantero kota, seakan hendak melipur lara para penduduknya yang menderita di bawah pendudukan Belanda. Namun keindahan senja itu tak sanggup menghapus amarah membara. Di kejauhan sana, di dekat kaki langit sebelah barat, asap mengepul pekat. Inilah saat pasukan gabungan Kasultanan Yogyakarta dan Belanda menyerbu Ndalem Tegalrejo, kediaman Pangeran Diponegoro di pedesaan sisi barat kota. Pasukan gabungan itu datang menghantam dengan satu tujuan: meringkus sang pangeran. Itulah jawaban atas sikap keras Pangeran Diponegoro yang dianggap membangkang karena menolak rencana pelebaran jalan raya (kelak menjadi bagian jalan raya Yogyakarta-Magelang) yang melintasi tapalbatas Ndalem Tegalrejo. Penyerbuan berlangsung kelewat batas. Ndalem Tegalrejo digedor, digeledah, diobrak-abrik dan lantas dibakar. Namun sang buruan tak tertangkap. Bersama sejumlah pengiringnya, Diponegoro meloloskan diri dari kepungan dan lantas menyingkir 10 km ke selatan, ke perbukitan Selarong yang dipenuhi goa-goa kapur.

Diponegoro. Kadang ditulis juga sebagai Dipanegara. Tak satupun orang Indonesia khususnya yang pernah mengenyam bangku sekolah yang asing akan namanya. Diponegoro adalah pahlawan nasional Indonesia. Sosoknya gampang terpatri dalam benak: berpakaian serba putih, bersorban putih pula dan menyandang keris didepan raga. Tak heran jika tampilan ini banyak ditiru khususnya dalam pentas perayaan peringatan kemerdekaan republik ini, baik di sekolah, di karnaval menyusuri jalan-jalan utama maupun di panggung serta layar perak. Tak berbilang pula kota-kota yang menabalkan salah satu ruas jalan utamanya dengan namanya. Namanya pun melekat pada daerah militer di Jawa Tengah (sebagai Kodam IV/Diponegoro), juga pada salah satu lembaga perguruan tinggi prestisius (Universitas Diponegoro). Sejumlah patung bernuansa kepahlawanan yang menggambarkan sosoknya pun berdiri dimana-mana. Bahkan dua buah kapal perang TNI-AL pun menyandang namanya, misalnya yang termutakhir KRI Diponegoro-365.

Gambar 1. Dinding berlubang di pagar sisi barat eks Ndalem Tegalrejo (kini Museum Sasana Wiratama Dipoengoro, Yogyakarta). Di sinilah Pangeran Diponegoro meloloskan diri saat kediamannya diserbu pasukan gabungan Kasultanan Yogyakarta dan Belanda, yang mengawali berkobarnya Perang Diponegoro. Sumber: Amangkuratprastono, 2014.

Gambar 1. Dinding berlubang di pagar sisi barat eks Ndalem Tegalrejo (kini Museum Sasana Wiratama Dipoengoro, Yogyakarta). Di sinilah Pangeran Diponegoro meloloskan diri saat kediamannya diserbu pasukan gabungan Kasultanan Yogyakarta dan Belanda, yang mengawali berkobarnya Perang Diponegoro. Sumber: Amangkuratprastono, 2014.

Ya. Diponegoro memang pahlawan besar, sosok sentral dibalik Perang Diponegoro atau yang dikenal juga sebagai Perang Jawa dalam melawan penjajahan Belanda. Perang Diponegoro menjadi peperangan paling berdarah, paling mahal dan paling menguras tenaga sepanjang sejarah penjajahan Belanda di Indonesia. Hanya dalam tempo 5 tahun Belanda harus mengerahkan 50.000 serdadu dengan tak kurang dari 15.000 diantaranya tumpas berkalang tanah. Separuh korban tewas itu adalah pasukan terpilih yang didatangkan langsung dari tanah Eropa. Perkebunan-perkebunan yang selama ini menjadi lumbung uang dibakar dan dirusak. Total kerugiannya pun melangit, mencapai angka 20 juta gulden pada masa itu atau setara milyaran rupiah di masa kini. Dikombinasikan dengan duit yang harus dirogoh dalam perang Napoleon di daratan Eropa yang disusul pemberontakan Belgia dan perang Paderi di Sumatra, Perang Diponegoro membuat pemerintah Belanda maupun satelit seberang lautannya (yakni pemerintah kolonial Hindia Belanda) mendapati diri mereka bangkrut sebangkrut-bangkrutnya.

Diponegoro sejatinya bukan nama diri. Itu adalah gelar kepangeranan yang bukan main-main. Gelar bagi seorang pangeran yang menyebarkan pencerahan dan kekuatan bagi sebuah negara. Sebelum 1825 gelar ini acapkali dipakai sejumlah putra raja wangsa Mataram masa itu. Pangeran Diponegoro yang kita bicarakan ini lahir sebagai BRM (Bandoro Raden Mas) Mustahar, putra sulung Sri Sultan Hamengku Buwono III, di tahun 1785. Saat beranjak remaja, sesuai tradisi keraton maka namanya bersalin menjadi RM (Raden Mas) Ontowiryo. Dan pada tahun 1812 beliau dinobatkan sebagai pangeran dengan menyandang gelar BPH (Bandoro Pangeran Haryo) Diponegoro. Sebagai putra tertua sang raja yang sedang bertahta, Diponegoro pun memiliki kesempatan untuk menjadi raja berikutnya. Namun Diponegoro tahu diri, ia bukanlah putra permaisuri. Sebaliknya ia justru keluar dari lingkungan keraton dan tinggal di pedesaan untuk mendekatkan diri dengan rakyat Yogyakarta sembari memperdalam ilmu agama (Islam). Dalam saat-saat tertentu sang pangeran, dengan menyamar sebagai wong cilik, bahkan tak segan-segan blusukan ke pelosok tanah Mataram, dua abad sebelum kosakata blusukan menjadi trademark Jokowi.

Namun selepas Perang Diponegoro, tak satupun bangsawan wangsa Mataram baik di Kasultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta maupun Pakualaman dan Mangkunegaran yang bersedia menyandang nama Diponegoro lagi. Nama itu ibarat aib, pembawa kutukan. Bagi Kasultanan Yogyakarta sendiri, Pangeran Diponegoro bahkan dipandang sebagai sosok pengkhianat. Betapa tidak? Perang Diponegoro merenggut korban tak kepalang. Lebih dari seperlima juta orang Jawa meregang nyawa. Populasi warga Yogyakarta pun menyusut hingga tinggal separuh. Seluruh biaya peperangan di pihak Belanda dibebankan ke Kasultanan. Dan begitu perang usai, Belanda melucuti wilayah Kasultanan terutama di Bagelen (sekarang Purworejo), Banyumas dan Panjer (sekarang Kebumen) sebagai pampasan perang. Kasultanan pun nyaris bangkrut, hampir terhapus dari panggung sejarah. Tak heran jika kebencian pun berakar dalam. Bahkan keturunan Diponegoro dilarang untuk memasuki keraton, kapanpun dan atas alasan apapun. Larangan ini baru dicabut lebih dari seabad kemudian pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono IX, kala zaman sudah berubah. Apalagi setelah Presiden Soekarno berinisiatif menggelar peringatan satu abad wafatnya Pangeran Diponegoro pada 1955.

Faktor

Gambar 2. Pertempuran Nglengkong 30 Juli 1826 dalam sketsa. Pasukan gabungan Kasultanan Yogyakarta dan Belanda berhadapan dengan laskar Diponegoro, yang menghasilkan kemenangan terbesar bagi Pangeran Diponegoro pada saat itu. Sumber: Amangkuratprastono, 2014.

Gambar 2. Pertempuran Nglengkong 30 Juli 1826 dalam sketsa. Pasukan gabungan Kasultanan Yogyakarta dan Belanda berhadapan dengan laskar Diponegoro, yang menghasilkan kemenangan terbesar bagi Pangeran Diponegoro pada saat itu. Sumber: Amangkuratprastono, 2014.

Buku-buku sejarah di bangku sekolah menyebut penyerbuan Ndalem Tegalrejo itulah penyulut Perang Diponegoro. Ya. Perang Diponegoro memang dimulai dari Tegalrejo. Namun penyerbuan Tegalrejo bukanlah faktor utama penyebab perang. Sang pangeran sendiri dalam Babad Diponegoro, karya sastra biografis yang ditulis Diponegoro selama masa penawanan di pulau Sulawesi dan kini telah diakui secara internasional sebagai salah satu Memory of the World oleh UNESCO, menyebut bibit peperangan besar itu telah bersemi semenjak 12 tahun sebelumnya. Yakni saat kolonialisme Eropa mempertontonkan wajah kurangajarnya dengan mulai mencampuri urusan internal Kasultanan. Inggris, yang saat itu menguasai pulau Jawa sebagai ekses perang Napoleon, mengacak-acak keraton, memprovokasi terbentuknya kadipaten Pakualaman (sebagai pecahan Kasultanan) dan bahkan pada puncaknya melakukan penjarahan akbar pada 1812.

Inggris tak bertahan lama di Yogyakarta. Mulai pertengahan 1816, Belanda kembali dan mengambil-alih seluruh wilayah jajahannya. Dalam keadaan hampir bangkrut, Belanda meneruskan praktik provokasi Inggris. Keraton makin diacak-acak. Minuman keras bergentayangan dimana-mana, membuat para pangeran muda dan tua mabuk tanpa kenal ruang dan waktu. Perselingkuhan opsir-opsir Belanda dengan para putri keraton pun merebak. Sedemikian parah situasinya sehingga Mahandis Y. Thamrin dalam National Geographic Indonesia edisi Agustus 2014 bahkan menyebut Belanda memperlakukan keraton tak ubahnya seperti tempat pelacuran. Di luar keraton, Belanda melakoni model penjajahan gaya batu dengan membebani setiap orang lewat aneka macam pajak yang mencekik leher. Di wilayah Bagelen saja setiap orang dibebani membayar 13 jenis pajak sekaligus! Zaman pun menjadi edan.

Lambat laun kekurangajaran Belanda di dalam dan di luar keraton laksana menyulut bara dalam sekam. Ketidaksukaan dan kebencian merebak dimana-mana, baik di kalangan bangsawan, prajurit, ulama, bupati, demang, santri, petani maupun rakyat kecil pemberani. Kegemaran blusukannya membuat Diponegoro mampu mencermati ketidaksukaan itu. Dan beliau tidak menulikan diri. Sebaliknya, Diponegoro justru mulai membentuk jaringan rahasia dengan mereka untuk membangun kekuatan. Dana pun mulai mengalir, terutama dari para bangsawan dan dari pencegatan demi pencegatan konvoi logistik Belanda yang sekilas terkesan sebagai tindakan sporadis. Dengan dana tersebut dibangunlah kilang mesiu rahasia di pinggiran Yogyakarta dan tempat-tempat lain. Senapan pun mulai dibeli dari Prusia. Organisasi militer mulai dibentuk dengan mengacu pada struktur tentara imperium Turki Utsmani.

Dengan semua persiapan nan senyap itu Perang Jawa memang benar-benar tinggal menunggu waktu. Dan si pemicu pun datanglah, kala Ndalem Tegalrejo diserbu. Tak heran jika hanya dalam dua minggu pasca penyerbuan Tegalrejo, Diponegoro kembali ke kota Yogyakarta, kali ini bersama 6.000 prajurit. Kota dikepung dari segenap penjuru selama sebulan lebih semenjak 7 Agustus 1825. Tak sekedar mengepung dan memutuskan seluruh akses jalan masuk kota, pasukan Diponegoro secara sistematis juga menghujani Yogyakarta dengan mesiu khususnya ke target-target strategis milik Belanda. Yogyakarta menjadi lautan api. Belanda pun kewalahan dan memilih bertahan sekuat tenaga di dalam Benteng Vredeburg sembari menunggu bala bantuan dari Batavia.

Waterloo

Selain faktor-faktor yang bersifat lokal itu, faktor global turut menjadi penyebab Perang Diponegoro. Seperti berkecamuknya Pertempuran Waterloo (1815) di daratan Eropa dan disusul berjangkitnya penyakit demikian rupa hingga menciptakan wabah berskala besar yang berujung pandemi (1817-1824). Cukup menarik bahwa dua faktor global tersebut nampaknya sangat dipengaruhi sebuah peristiwa alamiah dalam skala yang sungguh luar biasa, yakni Letusan Tambora 1815.

Bagaimana bisa demikian?

Gambar 3. Pertempuran Waterloo dalam lukisan William Sadler. Kekalahan Perancis dalam perang besar ini mengubah geopolitik Eropa dan berpengaruh global, termasuk memicu Perang Diponegoro.

Gambar 3. Pertempuran Waterloo dalam lukisan William Sadler. Kekalahan Perancis dalam perang besar ini mengubah geopolitik Eropa dan berpengaruh global, termasuk memicu Perang Diponegoro.

Pertempuran Waterloo adalah perang yang menentukan kejatuhan kekaisaran Napoleon Bonaparte. Napoleon adalah produk ajaib revolusi Perancis, revolusi yang semula bertujuan meruntuhkan kekuasaan monarki absolut (mutlak) namun belakangan justru berbuah tegaknya kembali kekuasaan monarki absolut yang lain. Selagi menjabat kaisar Perancis, Napoleon berusaha mewujudkan ambisinya menyatukan seluruh daratan Eropa di tangannya. Ambisi ini menyebabkan Perancis terus-menerus bertempur dengan negara-negara tetangganya, terutama Inggris dan Prusia, yang mewujud dalam sejumlah episode Perang Koalisi. Mulai Perang Koalisi Ketiga (1805) hingga Perang Koalisi Kelima (1809), Perancis memetik banyak kemenangan. Sehingga pada 1812 imperium Perancis mencapai puncak kejayaannya dengan wilayah membentang luas meliputi hampir seluruh daratan Eropa barat, kecuali Portugis dan Eropa tenggara menjadi wilayah imperium Turki Utsmani, yang dianggap sekutu Perancis. Sebaliknya Eropa timur sepenuhnya ada di bawah kekaisaran Rusia. Maka Napoleon dan pasukannya pun bermanuver ke timur.

Namun invasi Napoleon ke Rusia justru membuatnya tersungkur telak. Taktik yang salah, musim dingin yang demikian menggigil membekukan dan sengatan wabah tipus membuat Perancis mengalami kekalahan besar-besaran. Napoleon terpaksa pulang dengan memalukan dari Moskow sembari membawa hanya 4 % dari sisa pasukannya, setara 27.000 orang. Sebagian besar lainnya tewas atau malah tertangkap lawan. Demoralisasi pun menyebar di sekujur Perancis. Akibatnya saat koalisi Prusia, Swedia, Austria dan Jerman bangkit mengeroyok Perancis dengan bantuan Rusia dalam Perang Koalisi Keenam (1812-1814), Napoleon dipaksa bertekuk lutut. Setengah juta pasukan koalisi berbaris rapi memasuki kota Paris pada 30 Maret 1814 dan sang kaisar yang terguling dipaksa pergi ke pengasingan di pulau Elba, lepas pantai barat Italia. Koalisi mendudukkan raja Louis XVIII, monarki sebelumnya, sebagai penguasa Perancis yang baru. Bersama Inggris Raya koalisi pun mulai merancang pertemuan di Wina guna menata ulang geopolitik Eropa sesuai monarki-monarki yang ada sebelum meletusnya perang Napoleon. Pertemuan mulai terlaksana setengah tahun kemudian dan lantas populer sebagai Kongres Wina.

Mendadak berhembus kabar Napoleon Bonaparte meloloskan diri dari pulau Elba. Kabar itu ternyata benar dan sejatinya tak mengejutkan seiring lemahnya penjagaan di pulau Elba. Napoleon mendarat di Perancis pada 1 Maret 1815 dan segera memperoleh dukungan luas dari publik untuk merengkuh kembali tahta kekaisarannya. Raja Louis XVIII terpaksa lari terbirit-birit dari Paris. Begitu imperium Perancis kembali, sasaran pertamanya adalah menghabisi seluruh musuhnya. Maka 280.000 prajurit baru pun disiapkan ditambah dengan 250.000 veteran perang. Napoleon juga mengeluarkan dekrit baru yang memungkinkan 2,5 juta penduduk memasuki legiun-legiun Perancis. Di luar sana, koalisi Austria, Prusia, Rusia dan Inggris Raya pun segera mengorganisir diri. Pasukan besar juga dibentuk dan siap dibenturkan. Perang Koalisi Ketujuh pun siap berkobar.

Malang, kali ini Napoleon (kembali) harus jatuh tersungkur. Serangan dadakannya ke pusat konsentrasi pasukan koalisi di Brussels (Belgia) yang belum sempat menata diri berujung petaka di Waterloo. Hujan sangat deras yang salah musim mendadak mengguyur, membuat jalanan menjadi demikian berlumpur sehingga artileri berat yang menjadi tulang punggung pasukan Perancis tak bisa bergerak leluasa. Tak lama kemudian udara kian mendingin, fenomena aneh untuk rentang waktu yang seharusnya adalah musim panas. Udara yang kian mendingin membuat pasukan Perancis terserang radang dingin hingga menyulitkan gerakannya. Demikian dinginnya sehingga pasukan Perancis sampai-sampai terpaksa membakar setiap sepatu tak terpakai sekedar untuk menghangatkan badan. Ambisi Napoleon membuat lawan-lawannya kocar-kacir sembari berharap Inggris pulang kembali ke negerinya dan Prusia keluar dari koalisi pun lenyap laksana kabut dipanggang sinar Matahari. Justru sebaliknya pasukan Perancis yang mendapat pukulan sangat telak hingga segenap sayapnya lumpuh. Korban pun sangat besar, dari 72.000 prajurit Perancis hanya 29 % yang selamat di akhir pertempuran. Bandingkan dengan kekuatan koalisi, yang masih menyisakan 80 % pasukannya dari yang semula berkekuatan 118.000 prajurit.

Akumulasi faktor-faktor yang tak menguntungkan membuat Perancis tak lagi punya keunggulan hingga terpaksa harus bertekuk lutut di bawah kaki pasukan koalisi di akhir pertempuran pada 18 Juni 1815. Sebagai konsekuensinya Napoleon pun mundur dari tahta dan menyerahkan diri ke Inggris. Inggris lantas mengasingkannya ke pulau Saint Helena di tengah-tengah Samudra Atlantik lepas pantai barat Afrika hingga akhir hayatnya. Kongres Wina pun kembali digelar dan menghasilkan sejumlah keputusan. Salah satunya adalah dikembalikannya tanah Nusantara ke tangan Belanda sekaligus menegakkan kembali pemerintah kolonial Hindia Belanda menggantikan pemerintahan pendudukan Inggris.

Tambora

Gambar 4. Letusan Gunung Pinatubo pada Juni 1991, menjelang puncak letusan katastrofiknya. Debu vulkanik Pinatubo disemburkan jauh tingga hingga memasuki lapisan stratosfer dan sempat menciptakan tabir surya vulkanik meski tak berdampak besar bagi iklim Bumi. Letusan Tambora 1815 pada dasarnya juga demikian, hanya saja 16 kali lipat lebih dahsyat ketimbang Pinatubo. Sehingga dampaknya pun sangat besar. Sumber: USGS, 1991.

Gambar 4. Letusan Gunung Pinatubo pada Juni 1991, menjelang puncak letusan katastrofiknya. Debu vulkanik Pinatubo disemburkan jauh tingga hingga memasuki lapisan stratosfer dan sempat menciptakan tabir surya vulkanik meski tak berdampak besar bagi iklim Bumi. Letusan Tambora 1815 pada dasarnya juga demikian, hanya saja 16 kali lipat lebih dahsyat ketimbang Pinatubo. Sehingga dampaknya pun sangat besar. Sumber: USGS, 1991.

Tak sulit untuk melihat hujan sangat deras dan udara yang mendadak mendingin adalah salah satu faktor krusial yang menentukan kekalahan Perancis di medan perang Waterloo. Mengapa kedua hal yang tak menguntungkan Perancis itu terjadi? Pertempuran Waterloo berkecamuk pada 15 Juni 1815. Maka tak sulit untuk mengaitkan jalannya pertempuran dengan peristiwa alamiah berskala luar biasa yang terjadi dua bulan sebelumnya mengambil tempat ribuan kilometer dari Waterloo, yakni di kepulauan Nusantara. Itu adalah meletusnya Gunung Tambora, yang mencapai puncak kedahsyatannya dalam kurun 5 hingga 15 April 1815. Letusan ini menyemburkan 160 kilometer kubik (160.000 juta meter kubik) material vulkanik. Milyaran ton debu vulkanik sangat halus menyembur tinggi hingga mencapai lapisan stratosfer. Bersamanya terbawa serta ratusan juta ton gas belerang, yang lantas bereaksi dengan air membentuk tetes-tetes asam sulfat. Paduan keduanya membentuk tabir surya vulkanik yang menyelubungi sekujur penjuru atmosfer Bumi pada ketinggian antara 10 hingga 30 km. Tabir surya ini membuat 25 % cahaya Matahari tereduksi sehingga hanya 75 % saja yang berhasil ditransmisikan ke Bumi. Akibatnya suhu rata-rata permukaan Bumi pun menurun dengan segala akibatnya.

Mudah untuk melihat bahwa hujan salah musim dan sangat deras merupakan bagian dari kacau-balaunya cuaca akibat penurunan suhu rata-rata permukaan. Pun demikian dalam hal udara yang kian mendingin. Hal yang sama juga bertanggungjawab atas terjadinya wabah penyakit berskala global. Udara yang lebih dingin, tebaran debu vulkanik dan cuaca yang kacau membuat sanitasi lingkungan memburuk. Bibit penyakit yang semula hanya endemis di daerah tertentu pun sanggup menyebar lebih jauh. Inilah yang terjadi dengan kolera, yang semula hanya berjangkit di kawasan lembah Sungai Gangga (India). Namun semenjak 1817 kolera mulai tersebar ke kawasan lain. Pada puncaknya hampir seluruh Asia tersapu wabah penyakit mematikan ini, bersama dengan sisi timur Afrika dan sebagian Eropa Timur. Wabah kolera inilah yang menyebabkan kematian massal di tanah Jawa. Demikian banyak penduduk yang meninggal sehingga lahan pertanian tak terurus. Akibatnya bencana kelaparan pun merebak. Wabah ini tak pandang bulu dalam memilih korbannya, kalangan bangsawan dan bahkan Sri Sultan Hamengku Buwono IV pun turut menjadi sasaran. Tak pelak bencana ini pun berimbas ke ranah sosial-politis, terutama setelah Belanda memilih putra raja (yang baru berusia 3 tahun) menjadi raja selanjutnya bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono V. Karena belum cukup umur, Pangeran Diponegoro ditunjuk sebagai wali raja namun pemerintahan sehari-hari sejatinya dikendalikan Residen Belanda bersama Patih Danurejo IV.

Gambar 5. Kaldera Gunung Tambora yang demikian luas dan dalam. Cekungan air berwarna kehijauan didasarnya adalah Danau Motilahalo. Kaldera ini terbentuk dalam Letusan Tambora 1815 yang dahsyat, hampir 2 abad silam. Kedahsyatannya memicu beragam dampak sosial-politis, termasuk Pertempuran Waterloo dan juga Perang Diponegoro. Sumber: Wahibur Rahman, dalam Geomagz vol. 4 no. 2 (Juni 2014).

Gambar 5. Kaldera Gunung Tambora yang demikian luas dan dalam. Cekungan air berwarna kehijauan didasarnya adalah Danau Motilahalo. Kaldera ini terbentuk dalam Letusan Tambora 1815 yang dahsyat, hampir 2 abad silam. Kedahsyatannya memicu beragam dampak sosial-politis, termasuk Pertempuran Waterloo dan juga Perang Diponegoro. Sumber: Wahibur Rahman, dalam Geomagz vol. 4 no. 2 (Juni 2014).

Kita bisa beranda-andai bagaimana jika pada saat itu Gunung Tambora tak meletus dahsyat? Takdir memang adalah garis nasib yang sepenuhnya menjadi kuasa Allah SWT. Namun jika Letusan Tambora 1815 tak terjadi, jalannya Pertempuran Waterloo mungkin bakal berbeda. Mengingat sebelum pasukan Prusia berhasil berkonsolidasi dengan rekan-rekan koalisinya, kekuatan koalisi di Waterloo hanyalah berjumlah 68.000 prajurit. Sementara Perancis sedikit lebih unggul dengan 72.000 prajurit dan masih dilengkapi artileri berat yang lebih baik. Maka andaikata letusan dahsyat itu tak berlangsung, Perancis mungkin bisa mengungguli kekuatan koalisi. Sejarah berkemungkinan berubah total. Kongres Wina bisa urung mencapai hasilnya dan Belanda dengan penjajahan gaya batunya mungkin takkan datang ke tanah Jawa pada pertengahan 1816 itu.

Referensi:

Djamhari. 2003. Strategi Menjinakkan Diponegoro: Stelsel-Benteng 1827-1830. Jakarta: Komunitas Bambu.

Penadi. 2000. Riwayat Kota Purworejo dan Perang Bharatayudha di Tanah Bagelen Abad XIX. Purworejo: Lembaga Studi Pengembangan Sosial dan Budaya.

Thamrin. 2014. Kecamuk Perang Jawa. National Geographic Indonesia edisi Agustus 2014, hal. 28-49.

Blog Amangkurat Prastono.