Menembus Batas, Mengamati Komet Siding-Spring dari Indonesia

Peristiwa langka itu pun terjadilah. Komet Siding-Spring (C/2013 A1) akhirnya lewat juga di titik terdekatnya ke planet Mars pada Senin dinihari 20 Oktober 2014 Tarikh Umum (TU) waktu Indonesia. Observasi dari sekujur penjuru Bumi selama hari-hari menjelang peristiwa langka ini secara substansial telah menambahkan jumlah data posisi komet. Sehingga orbit komet dapat diperhitungkan dengan tingkat ketelitian jauh lebih baik. Sebagai implikasinya waktu saat sang komet tiba di titik terdekatnya ke planet merah pun sedikit mengalami revisi dari semula pukul 01:29 WIB menjadi 01:27 WIB atau dua menit lebih awal.

Gambar 1. Duet komet Siding-Spring dan planet Mars, diabadikan dari observatorium Imah Noong, Lembang, Kab. Bandung Barat (Jawa Barat) pada dua kesempatan berbeda menggunakan radas yang sama yakni teleskop refraktor Explore Scientific Triplet Apo 80 mm (f-ratio 6) dan kamera Nikon D5100 pada ISO 400. Inilah satu-satunya citra duet komet Siding-Spring dan planet Mars yang diabadikan dari Indonesia, di luar Observatorium Bosscha. Sumber: Imah Noong, 2014 diabadikan oleh Muflih Arisa Adnan & dilabeli oleh Muh. Ma'rufin Sudibyo.

Gambar 1. Duet komet Siding-Spring dan planet Mars, diabadikan dari observatorium Imah Noong, Lembang, Kab. Bandung Barat (Jawa Barat) pada dua kesempatan berbeda menggunakan radas yang sama yakni teleskop refraktor Explore Scientific Triplet Apo 80 mm (f-ratio 6) dan kamera Nikon D5100 pada ISO 400. Inilah satu-satunya citra duet komet Siding-Spring dan planet Mars yang diabadikan dari Indonesia, di luar Observatorium Bosscha. Sumber: Imah Noong, 2014 diabadikan oleh Muflih Arisa Adnan & dilabeli oleh Muh. Ma’rufin Sudibyo.

Peristiwa langit yang disebut-sebut sebagai peristiwa teramat langka yang belum tentu terulang kembali dalam ratusan atau bahkan ribuan tahun mendatang ini pun berlangsung relatif mulus. Sejumlah wahana antariksa aktif milik NASA (Amerika Serikat) di Mars, mulai dari si veteran Mars Odyssey dan Mars Reconaissance Orbiter hingga Mars Atmosphere and Volatile Environment (MAVEN) yang baru datang dilaporkan dalam keadaan sehat. Pun demikian wahana antariksa milik ESA (gabungan negara-negara Eropa) dan India, masing-masing Mars Express dan Manglayaan/Mars Orbiter Mission. Tak satupun dari kelimanya yang mengalami gangguan oleh semburan partikel-partikel debu berkecepatan sangat tinggi dari sang komet. Rupanya strategi penyelamatan yang telah diperbincangkan selama berbulan-bulan dan mencapai kulminasinya pada workshop Juni 2014 TU silam meraih suksesnya. Kala komet Siding-Spring melintasi titik terdekatnya ke planet Mars, seluruh wahana antariksa tersebut telah bermanuver demikian rupa menggunakan cadangan bahan bakar roketnya. Sehingga mereka semua berlindung di balik tubuh planet Mars tatkala memasuki saat-saat kritis.

Sembari bermanuver melindungi diri, mereka juga sempat mengamati komet Siding-Spring dari jarak dekat. Ini adalah kesempatan teramat langka yang setaraf nilainya dengan misi-misi antariksa terdahulu yang memang khusus ditujukan ke komet. Apalagi komet Siding-Spring merupakan komet yang diindikasikan berasal dari tepi tata surya, yakni dari awan komet Opik-Oort yang demikian besar dan dipenuhi oleh bayi-bayi komet yang siap melejit. Indikasi tersebut terlihat dari orbit komet ini yang begitu lonjong, dengan jarak rata-rata ke Matahari (setengah sumbu orbit) demikian besar hingga jauh melampaui benda langit anggota tata surya lainnya (kecuali komet) yang telah kita kenal. Karena orbitnya demikian rupa maka tak mengherankan bila periodenya amat sangat panjang. Komet Siding-Spring butuh waktu berjuta-juta tahun lamanya guna mengelilingi Matahari sekali putaran. Ia menghabiskan hampir seluruh waktunya melata di kegelapan tepian tata surya kita yang dingin membekukan. Karena itu peristiwa duet komet Siding-Spring dan planet Mars memberikan keberuntungan kosmik yang memungkinkan manusia menyelidiki sebuah komet dari awan komet Opik-Oort secara mendetail, untuk pertama kalinya. Seluruh misi antariksa ke komet terdahulu hanyalah ditujukan ke komet-komet yang berasal dari lingkungan lebih dekat ke kawasan planet-planet, yakni dari sabuk Kuiper-Edgeworth. Komet-komet dari sabuk yang mirip sabuk asteroid ini dikenal sebagai komet berperiode pendek dan berkecepatan jauh lebih rendah sehingga lebih mudah dijangkau.

Gambar 2. Komet Siding-Spring diamati dari jarak 138.000 kilometer oleh wahana Mars Reconaissance Orbiter. Setiap piksel citra ini mewakili 138 meter. Bagian terterang yang mengindikasikan inti komet dalam citra ini hanya mencakup area tiga piksel, menandakan bahwa inti komet Siding-Spring mungkin hanya berukuran 400 meter saja atau separuh lebih kecil dari yang semula diduga. Sumber: NASA, 2014.

Gambar 2. Komet Siding-Spring diamati dari jarak 138.000 kilometer oleh wahana Mars Reconaissance Orbiter. Setiap piksel citra ini mewakili 138 meter. Bagian terterang yang mengindikasikan inti komet dalam citra ini hanya mencakup area tiga piksel, menandakan bahwa inti komet Siding-Spring mungkin hanya berukuran 400 meter saja atau separuh lebih kecil dari yang semula diduga. Sumber: NASA, 2014.

Sejauh ini baru wahana Mars Reconaissance Orbiter yang sudah melaporkan hasil observasinya. Ia mengamati komet Siding-Spring pada jarak 138.000 kilometer dan menyajikan gambaran lebih utuh akan komet itu. Jika semula kita menduga ukuran inti komet siding-Spring sekitar 700 meter, maka kini lewat Mars Reconaissance Orbiter kita tahu ukurannya lebih kecil lagi, yakni berkisar 400 meter atau kurang. Komet yang cemerlang dengan inti komet relatif kecil menunjukkan bahwa komet Siding-Spring ternyata lebih aktif dibanding yang semula diduga. Sehingga menguatkan dugaan bahwa komet ini memang baru pertama kali berkunjung tata surya bagian dalam setelah dihentakkan keluar dari kungkungan awan komet Opik-Oort dalam berjuta tahun silam. Selain wahana Mars Reconaissance Orbiter, salah satu robot penjelajah aktif di Mars juga menyajikan hasil observasi yang positif akan komet itu. Adalah Opportunity (Mars Exploration Rover-B), robot penjelajah veteran yang telah lebih dari satu dekade ‘hidup’ di Mars, yang berhasil mengamati komet Siding-Spring tinggi di langit Mars. Ia mencitra lewat radas PanCam (Panoramic Camera), sepasang lensa kamera berdiameter 2,15 mm dengan f-ratio 20 yang sejatinya tidak dirancang untuk mengamati benda langit dari permukaan Mars. Di luar dugaan, ternyata ia mampu mengabadikan komet Siding-Spring dengan baik.

Gambar 3. Komet Siding-Spring diamati dari permukaan planet Mars oleh radas PanCam pada robot penjelajah Opportunity dengan waktu penyinaran 50 detik. Citra ini dibuat dalam 2,5 jam sebelum sang komet mencapai titik terdekatnya ke planet merah itu. Komet nampak cemerlang dibanding beberapa bintang terang yang ada dilatarbelakangnya. Inilah untuk pertama kalinya sebuah komet berhasil diamati dari permukaan planet lain. Sumber: NASA, 2014 dilabeli oleh Muh. Ma'rufin Sudibyo.

Gambar 3. Komet Siding-Spring diamati dari permukaan planet Mars oleh radas PanCam pada robot penjelajah Opportunity dengan waktu penyinaran 50 detik. Citra ini dibuat dalam 2,5 jam sebelum sang komet mencapai titik terdekatnya ke planet merah itu. Komet nampak cemerlang dibanding beberapa bintang terang yang ada dilatarbelakangnya. Inilah untuk pertama kalinya sebuah komet berhasil diamati dari permukaan planet lain. Sumber: NASA, 2014 dilabeli oleh Muh. Ma’rufin Sudibyo.

Selain dari wahana dan robot penjelajah di Mars, citra-citra duet komet Siding-Spring dan planet Mars dari berbagai observatorium atau titik pengamatan di sekujur penjuru Bumi pun membanjiri linimasa media sosial. Nah adakah yang berasal dari Indonesia?

Menembus Batas

Beberapa titik pengamatan di Indonesia telah menyiapkan diri dalam menyambut duet komet Siding-Spring dan planet Mars yang langka ini. Antara lain Observatorium Bosscha di Lembang, Bandung Barat (Jawa Barat), observatorium pribadi Imah Noong di Kampung wisata Areng (juga di Lembang) dan observatorium pribadi Jogja Astro Club di Yogyakarta (DIY).

Persiapan pengamatan duet komet Siding-Spring dan planet Mars di observatorium Imah Noong telah dikerjakan semenjak beberapa waktu sebelumnya oleh astronom amatir Muflih Arisa Adnan. Imah Noong adalah observatorium pribadi yang berlokasi di kediaman Hendro Setyanto, astronom yang pernah bertugas di Observatorium Bosscha. Ia terletak di kampung wisata Areng, desa Wangunsari, Lembang, Kab, Bandung Barat (Jawa Barat). Radas yang disiapkan untuk mengamati duet komet Siding-Spring dan planet Mars adalah teleskop refraktor Explore Scientific Triplet Apo dengan lensa obyektif berdiameter 80 mm (8 cm). Teleskop ini memiliki dudukan (mounting) GOTO sehingga dapat mengikuti gerak benda langit yang disasarnya secara otomatis seiring waktu, sepanjang benda langit tersebut ada dalam basisdatanya. Teleskop kemudian dirangkai dengan radas kamera Nikon D5100 dengan teknik fokus prima yang disetel pada ISO 400 dan waktu penyinaran 15 detik.

Sedangkan penulis bertugas membantu identifikasi sang komet. Radas yang digunakan adalah komputer jinjing (laptop) yang terkoneksi ke internet. Laman Astrometry menjadi salah satu rujukan untuk mengidentifikasi posisi benda langit yang menjadi target, pun demikian laman-laman institusi/pribadi yang sedari awal sudah memproklamirkan akan menggelar siaran langsung observasi duet komet Siding-Spring dan planet Mars.

Teleskop berlensa 80 mm secara teoritis tak memungkinkan untuk mengidentifikasi komet Siding-Spring. Saat mencapai titik terdekatnya ke Mars, konsorsium Coordinated Investigations of Comets (CIOC) memprediksi magnitudo semunya berkisar +11 hingga +12. Sebaliknya teleskop 80 mm, di atas kertas, hanya akan sanggup menyasar benda langit seredup +10,5 saja. Sehingga masih ada defisit minimal +0,5 magnitudo. Namun di sisi lain penggunaan kamera yang disetel untuk waktu penyinaran cukup lama, setidaknya dibandingkan selang waktu kedipan mata manusia pada umumnya, mungkin mampu mengatasi defisit tersebut. Apalagi sensor kamera digital masakini bersifat mengumpulkan cahaya, sehingga obyek yang semula redup bakal terkesan menjadi lebih terang. Sifat ini berbeda dengan syaraf-syaraf penglihatan manusia, yang tak bersifat mengumpulkan cahaya, sehingga benda langit redup pun akan tetap terlihat redup meski telah kita tatap selam berjam-jam. Maka dapat dikatakan upaya mengamati komet Siding-Spring dengan radas-radas tersebut merupakan percobaan untuk menembus batas.

Gambar 4. Proses identifikasi komet Siding-Spring dengan membandingkan citra hasil observasi Peter Lake (kiri) dan Imah Noong (kanan). Keduanya berselisih waktu 3 jam saat pemotretan. Label HD 159865 dan HD 159845 adalah untuk dua bintang yang tercantum dalam katalog bintang. Sementara label A, B, C, D, E dan F adalah versi penulis untuk bintang-bintang yang tak tercantum dalam katalog. Bila antara bintang HD 159865, HD 159845 dan B ditarik garis lurus khayali (digambarkan sebagai garis putus-putus), maka komet berada di sekitar pertengahan garis ini. Komet ditandai dengan panah merah. SUmber: Sudibyo, 2014.

Gambar 4. Proses identifikasi komet Siding-Spring dengan membandingkan citra hasil observasi Peter Lake (kiri) dan Imah Noong (kanan). Keduanya berselisih waktu 3 jam saat pemotretan. Label HD 159865 dan HD 159845 adalah untuk dua bintang yang tercantum dalam katalog bintang. Sementara label A, B, C, D, E dan F adalah versi penulis untuk bintang-bintang yang tak tercantum dalam katalog. Bila antara bintang HD 159865, HD 159845 dan B ditarik garis lurus khayali (digambarkan sebagai garis putus-putus), maka komet berada di sekitar pertengahan garis ini. Komet ditandai dengan panah merah. SUmber: Sudibyo, 2014.

Percobaan pertama berlangsung pada Minggu 19 Oktober 2014 TU pukul 19:00 WIB, bertepatan dengan saat momen pra perlintasan-dekat komet Siding-Spring ke Mars. Seperti halnya langit bagian barat pulau Jawa pada umumnya, langit Lembang pun bertaburan awan yang berarak-arak. Namun masih tersisa celah-celah sempit diantaranya, sehingga Mars masih bisa dilihat meski hanya untuk selang waktu pendek. Pada salah satu momen teleskop berhasil menjejak Mars untuk waktu yang relatif lumayan sehingga kamera bisa merekam Mars dan lingkungannya dalam 8 frame secara berturut-turut, setara dengan waktu penyinaran (exposure time) 90 detik. Kedelapan citra yang didapat lantas digabungkan menjadi satu lewat teknik stacking.

Awalnya cukup sulit untuk mengidentifikasi komet Siding-Spring di percobaan pertama ini. Namun beruntung terdapat hasil observasi di mancanegara yang membantu mempercepat identifikasi. Berselang 3 jam sebelum observasi percobaan pertama di Imah Noong, astronom amatir Peter Lake juga mengamati duet komet Siding-Spring dan planet Mars dengan mengambil lokasi di observatorium iTelescope.net (Q62) dalam kompleks Observatorium Siding Spring (Australia), tempat sang komet terlihat manusia untuk pertama kalinya secara resmi. Peter Lake bersenjatakan teleskop Planewave dengan cermin obyektif berdiameter 50 cm yang secara teoritis mampu menyasar benda langit hingga seredup magnitudo +14,5 sehingga cukup mudah mendeteksi komet Siding-Spring. Ia membagikan hasil observasinya lewat Google+ dalam sebuah siaran langsung. Setelah dibandingkan dengan citra Peter Lake, kejutan pun terkuak. Komet Siding-Spring ternyata terekam dalam citra percobaan pertama tersebut! Komet terlihat sangat redup, ada di sebelah kiri (selatan) dari Mars dan nyaris tak terbedakan dibanding bintang-bintang disekelilingnya. Baru setelah dicermati lebih lanjut terlihat bahwa titik cahaya komet Siding-Spring tidaklah setegas bintang-bintang pada umumnya dan terkesan berkabut.

Gambar 5. Komet Siding-Spring dan planet Mars sebagai hasil observasi percobaan pertama, disajikan dalam warna nyata. Sumber: Imah Noong, 2014.

Gambar 5. Komet Siding-Spring dan planet Mars sebagai hasil observasi percobaan pertama, disajikan dalam warna nyata. Sumber: Imah Noong, 2014.

Sukses dengan percobaan pertama, percobaan kedua pun digelar pada Senin 20 Oktober 2014 TU, juga pada pukul 19:00 WIB. Momen observasi kali ini merupakan momen pasca perlintasan-dekat komet Siding-Spring dengan planet Mars. Kali ini observatorium pribadi Imah Noong ‘ditemani’ Observatorium Bosscha, yang juga mengarahkan teleskop reflektor Schmidt Bimasakti (diameter cermin 71 cm), meski masing-masing tetap bekerja sendiri-sendiri. Kali ini juga langit Lembang jauh lebih baik ketimbang sehari sebelumnya. Teleskop pun menjejak dan merekam Mars beserta lingkungannya dalam 9 frame berturut-turut, yang setara dengan waktu penyinaran 105 detik. Sama seperti sehari sebelumnya, kesembilan citra ini pun langsung digabungkan menjadi satu lewat teknik stacking.

Gambar 6. Komet Siding-Spring dan planet Mars sebagai hasil observasi percobaan kedua, disajikan dalam warna nyata. Sumber: Imah Noong, 2014.

Gambar 6. Komet Siding-Spring dan planet Mars sebagai hasil observasi percobaan kedua, disajikan dalam warna nyata. Sumber: Imah Noong, 2014.

Langit yang jauh lebih bagus kali ini membuat kualitas citra hasil percobaan kedua pun lebih baik ketimbang sebelumnya. Bintang-gemintang yang padat sebagai bagian dari selempang Bima Sakti pun terlihat jelas di latar belakang. Komet pun jauh lebih mudah diidentifikasi. Komet Siding-Spring teramati berada di sebelah kanan (utara) dari planet Mars. Sama seperti sebelumnya, komet juga tetap terlihat sebagai titik cahaya taktegas yang terkesan berkabut. Namun kali ini ekor komet bisa diidentifikasi. Pun demikian dengan warna kehijauan yang menyelubungi komet. Cahaya kehijauan ini diemisikan oleh senyawa karbon diatom (C2) dan sianogen (CN) yang berada dalam atmosfer temporer (coma) sang komet.

Gambar 7. Dua wajah berbeda komet Siding-Spring kala diabadikan dari observatorium Imah Noong saat langit kurang mendukung (kiri) dan saat relatif lebih mendukung (kanan). Kala langit lebih mendukung, komet nampak jelas berwarna kehijauan, sebagai hasil emisi senyawa-senyawa karbon diatom dan sianogen. KOmet juga mudah dibedakan dari bintang dilatarbelakangnya (misalnya HD 159746). Bintang terlihats ebagai titik cahaya tegas, sementara komet lebih samar dan seakan berkabut. Sumber: Imah Noong, 2014.

Gambar 7. Dua wajah berbeda komet Siding-Spring kala diabadikan dari observatorium Imah Noong saat langit kurang mendukung (kiri) dan saat relatif lebih mendukung (kanan). Kala langit lebih mendukung, komet nampak jelas berwarna kehijauan, sebagai hasil emisi senyawa-senyawa karbon diatom dan sianogen. Komet juga mudah dibedakan dari bintang dilatarbelakangnya (misalnya HD 159746). Bintang terlihats ebagai titik cahaya tegas, sementara komet lebih samar dan seakan berkabut. Sumber: Imah Noong, 2014.

Selain turut berpartisipasi dalam pengamatan duet komet Siding-Spring dan planet Mars, yang hasilnya pun telah dipublikasikan di laman konsorsium Coordinated Investigations of Comets dan mendapat sambutan cukup baik, pengamatan ini juga menunjukkan suksesnya upaya menembus batas. Dengan menggunakan radas yang lebih sederhana, yang secara teoritis takkan sanggup mendeteksi komet Siding-Spring saat itu, ternyata sang komet bisa diamati.

Menuju Gerhana Bulan Total Rabu 8 Oktober 2014

Seperti telah diduga Umat Islam di Indonesia pun mengumandangkan takbir merayakan Idul Adha 1435 H pada saat yang berbeda setelah Menteri Agama Lukman Saifuddin menetapkan 1 Zulhijjah 1435 H di Indonesia bertepatan dengan Jumat 26 September 2014. Keputusan ini berdasar pada hasil sidang itsbat penetapan Idul Adha 1435 H di Kementerian Agama RI yang kali ini kembali bersifat tertutup untuk umum. Dengan keputusan tersebut maka Kementerian Agama RI menetapkan Idul Adha 1435 H bertepatan dengan Minggu 5 Oktober 2014. Dalam konteks regional, keputusan Menteri Agama RI senada dengan keputusan sejumlah negara Asia Tenggara seperti Malaysia dan Brunei Darussalam maupun komunitas Umat Islam seperti di Singapura dan Filipina.

Namun sebagian Umat Islam Indonesia merayakannya lebih dulu pada Sabtu 4 Oktober 2014. Dasarnya adalah maklumat Pengurus Pusat Muhammadiyah terkait penetapan Idul Adha 1435 H (2014). Selain itu ada pula yang mengacu keputusan pemerintah kerajaan Saudi Arabia dimana 1 Zulhijjah 1435 H di Saudi Arabia bertepatan dengan Kamis 25 September 2014, atau sehari lebih awal ketimbang keputusan Menteri Agama RI. Dan ada pula yang berpatokan pada hasil rukyatul hilaal Cakung (DKI Jakarta) sebagai kalangan pengguna sistem hisab Sullam yang dikenal bersifat taqriby (aproksimasi) sehingga akurasinya lebih rendah. Mengulangi yang sudah-sudah, pada Rabu 24 September 2014 maghrib tim Cakung melaporkan “melihat” hilaal. “Melihat” di sini dalam tanda kutip, mengingat kesaksian tersebut (dan juga kesaksian-kesaksian Cakung sebelumnya) telah lama cukup diragukan seiring tiadanya landasan ilmiah yang menopangnya, bahkan saat dilakukan observasi pembanding di lokasi yang hampir sama dengan alat bantu standar observasi hilaal.

Meski terasa tak mengenakkan, perbedaan semacam ini sejatinya bukanlah yang pertama. Empat tahun silam. Idul Adha 1431 H (2010) pun dirayakan di Indonesia dengan berbeda. Saat itu pun keputusan Menteri Agama RI juga berbeda dengan keputusan pemerintah kerajaan Saudi Arabia. Namun waktu itu tak banyak yang meributkan. Apalagi membanding-bandingkan mana yang lebih dominan antara yang ber-Idul Adha pada Sabtu 4 Oktober 2014 dengan Minggu 5 Oktober 2014. Pembanding-bandingan itu ahistoris jika dikaitkan dengan fakta saat Ramadhan 1435 H (2014) lalu, dan juga Ramadhan 1434 H (2013). Saat itu baik Menteri Agama RI maupun pemerintah kerajaan Saudi Arabia menetapkan awal puasa Ramadhan pada hari yang sama. Dan pada kedua saat itu pun di Indonesia terdapat kalangan Umat Islam yang memulai berpuasa Ramadhan sehari lebih awal. Namun dalam kedua saat itu pun tak ada ribut-ribut.

Gambar 1. Wajah Bulan yang 'hilang' separo saat mengalami Gerhana Bulan dalam fase parsial (sebagian), diabadikan pada 16 Juni 2011 di Kebumen. Pada Gerhana Bulan 8 Oktober 2014, pemandangan seperti ini pun akan terulang. Sumber: Sudibyo, 2011.

Gambar 1. Wajah Bulan yang ‘hilang’ separo saat mengalami Gerhana Bulan dalam fase parsial (sebagian), diabadikan pada 16 Juni 2011 di Kebumen. Pada Gerhana Bulan 8 Oktober 2014, pemandangan seperti ini pun akan terulang. Sumber: Sudibyo, 2011.

Justru yang harus menjadi perhatian adalah apa yang terjadi setelah hari raya Idul Adha 1435 H. Setelah tiga hari menjalani hari tasyrik (hari Mina), dimana gema takbir senantiasa dikumandangkan pada hari-hari tersebut, kita akan bersua dengan satu peristiwa langit yang juga (dianjurkan) dirayakan kehadirannya dengan gema takbir. Inilah peristiwa Gerhana Bulan 8 Oktober 2014.

Gerhana

Gerhana Bulan 8 Oktober 2014 merupakan Gerhana Bulan Total (GBT), dimana Bulan tak terkena sinar Matahari secara langsung pada saat puncak gerhananya. Perhitungan dengan algoritma gerhana Jean Meeus memperlihatkan gerhana ini akan dimulai pada Rabu 8 Oktober 2014 pukul 15:16 WIB saat terjadi kontak awal penumbra (P1) yang memandakan awal fase penumbra. Selanjutnya disusul kontak awal umbra (U1) pada pukul 16:15 WIB sebagai awal fase parsial (sebagian). Totalitas gerhana dimulai pada pukul 17:26 WIB sebagai kontak awal totalitas (U2) dan mencapai puncaknya pada pukul 17:55 WIB. Pada saat puncak, magnitudo gerhana adalah 1,152 yang bermakna bahwa diameter sudut lingkaran umbra (bayangan inti) gerhana adalah 1,152 kali lipat lebih besar ketimbang diameter sudut Bulan. Dengan diameter lingkaran umbra gerhana sebesar itu dan lintasan Bulan pada saat itu, maka totalitas gerhana yakni durasi tatkala Bulan benar-benar tak terpapar sinar Matahari secara langsung terjadi selama 58 menit. Totalitas berakhir dengan kontak akhir totalitas (U3) pada pukul 18:24 WIB. Setelah itu Bulan kembali memasuki gerhana dalam fase parsial (sebagian) hingga pukul 19:34 WIB saat terjadi kontak akhir umbra (U4). Selepas itu Bulan tinggal menyusuri lingkaran penumbra (bayangan tambahan) gerhana sebagai fase penumbra hingga saat terjadi kontak akhir penumbra (P4) pada pukul 20:33 WIB.

Jika dihitung dari saat kontak awal penumbra (P1) hingga kontak akhir penumbra (P4), maka durasi Gerhana Bulan Total 8 Oktober 2014 ini adalah sebesar 5 jam 17 menit. Namun gerhana yang kasatmata hanya berdurasi 3 jam 19 menit, yakni semenjak awal kontak umbra (U1) hingga akhir kontak umbra (U4). Sepanjang 3 jam 19 menit itu kita akan menyaksikan Bulan mengalami fase parsial (sebagian) dan disusul totalitas dalam menjalani gerhananya. Bila durasi keseluruhan gerhana dikurangi durasi gerhana yang kasatmata, maka akan kita peroleh sisanya sebesar 1 jam 58 menit. Inilah durasi dimana Bulan berada dalam fase penumbra dalam menjalani gerhananya kali ini. Dalam fase penumnbra, secara kasat mata kita hanya akan melihatnya sebagai Bulan yang nyaris bundar utuh sebagai ciri khas Hanya dengan menggunakan alat bantu optik yang memadai (misalnya teleskop dilengkapi kamera tertentu) sajalah gerhana dalam fase penumbra bisa kita saksikan.

Gambar 2. Peta wilayah Gerhana Bulan Total 8 Oktober 2014 secara global. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 2. Peta wilayah Gerhana Bulan Total 8 Oktober 2014 secara global. Sumber: Sudibyo, 2014.

Dalam lingkup global, Gerhana Bulan Total 8 Oktober 2014 dapat disaksikan di Australia, sebagian besar Asia serta hampir seluruh Amerika. Hanya Eropa dan Afrika serta Asia barat (timur Tengah) saja yang tak berkesempatan menikmati gerhana ini. Namun wilayah yang dapat menyaksikan gerhana ini secara penuh dalam setiap fasenya tanpa terganggu aktivitas terbit ataupun terbenamnya Bulan hanyalah Amerika Serikat bagian barat, Canada bagian barat, Australia bagian timur, Rusia bagian timur, separuh Jepang dan Papua Nugini.

Shalat Gerhana dan Observasi

Gambar 3. Peta wilayah Gerhana Bulan Total 8 Oktober 2014 untuk Indonesia. Garis U1 adalah garis dimana kontak awal umbra bertepatan dengan saat Bulan terbit setempat, garis U2 adalah garis saat awal totalitas bertepatan dengan saat Bulan terbit setempat, garis puncak adalah garis saat kontak puncak gerhana bertepatan dengan saat Bulan terbit setempat dan garis U3 adalah garis saat akhir totalitas bertepatan dengan saat Bulan terbit setempat. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 3. Peta wilayah Gerhana Bulan Total 8 Oktober 2014 untuk Indonesia. Garis U1 adalah garis dimana kontak awal umbra bertepatan dengan saat Bulan terbit setempat, garis U2 adalah garis saat awal totalitas bertepatan dengan saat Bulan terbit setempat, garis puncak adalah garis saat kontak puncak gerhana bertepatan dengan saat Bulan terbit setempat dan garis U3 adalah garis saat akhir totalitas bertepatan dengan saat Bulan terbit setempat. Sumber: Sudibyo, 2014.

Seluruh Indonesia berkesempatan menyaksikan Gerhana Bulan Total ini, meski berbeda-beda dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Indonesia bagian timur khususnya propinsi Papua, Irian Jaya Barat, Maluku dan Maluku Utara mampu menyaksikan gerhana semenjak fase penumbra (tidak utuh) hingga usai begitu Matahari terbenam karena lokasinya berada di sisi barat garis P1. Sisanya menyaksikan gerhana hanya setelah memasuki fase parsial ataupun totalitas. Bulan terbit sebagai gerhana fase parsial dapat dinikmati di tempat-tempat yang berada di sebelah barat garis U1, meliputi pulau Sulawesi, seluruh kepulauan Nusa Tenggara dan sebagian besar pulau Kalimantan (kecuali Kalimantan Barat) serta Jawa bagian timur. Sementara Bulan terbit sebagai gerhana dalam fase totalitas dapat dilihat di hampir segenap pulau Jawa (kecuali Jawa Timur), propinsi Kalimantan Barat, propinsi Lampung dan Sumatra Selatan karena tempat-tempat ini berada di sebelah barat garis U2. Sementara sebagian besar pulau Sumatra mengalami situasi dimana Bulan terbit tepat setelah puncak gerhana (berada di sebelah barat garis puncak). Bahkan di kota Banda Aceh, garis U3 tepat melintasi kota ini sehingga di sini terjadi situasi dimana Bulan terbit bertepatan dengan berakhirnya gerhana fase totalitas. Sehingga Banda Aceh hanya menikmati gerhana fase sebagian sampai usai.

Seluruh Indonesia berada dalam kawasan Gerhana Bulan Total 8 Oktober 2014 ini Dan seluruhnya mampu menikmati gerhana secara kasat mata, baik fase parsial maupun totalitas. Sehingga Umat Islam di seluruh Indonesia berkesempatan menunaikan ibadah shalat gerhana bulan, tanpa terkecuali. Dan sebelum menunaikan shalat gerhana, dianjurkan untuk mengumandangkan gema takbir. Di samping itu alangkah baiknya jika turut mengamati gerhana ini, sebagai bagian dari mengagumi kebesaran Illahi dan memahami bagaimana semesta bekerja. Fase gerhana yang kasatmata berakhir pada pukul 19:34 WIB, sehingga kesempatan untuk menunaikan shalat gerhana bulan pun berakhir pada pukul 19:34 WIB, Untuk itu perlu disusun strategi kapan mengamati gerhana dan kapan melaksanakan shalat gerhana bulan. Fase totalitas adalah tahap gerhana yang paling mengesankan, maka dianjurkan meletakkan waktu observasi bersamaan dengan fase totalitas ini. Dengan demikian untuk pulau-pulau Irian, Sulawesi, Kalimantan, Sumatra bagian barat dan pulau-pulau kecil disekitarnya serta kepulauan Nusa Tenggara, shalat gerhana bulan dapat dilaksanakan segera selepas usai shalat maghrib berjamaah di masjid. Sebaliknya untuk pulau Jawa dan pulau Sumatra bagian timur, shalat gerhana dapat dilaksanakan tepat setelah shalat isya berjamaah.

Gambar 4. Posisi Bulan semenjak terbit hingga ke fase gerhana selanjutnya seperti disimulasikan untuk Kebumen (Jawa Tengah). Angka-angka di sumbu mendatar (kaki langit timur) menunjukkan azimuth, dimana azimuth 45 = titik timur laut dan azimuth 90 = titik timur. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 4. Posisi Bulan semenjak terbit hingga ke fase gerhana selanjutnya seperti disimulasikan untuk Kebumen (Jawa Tengah). Angka-angka di sumbu mendatar (kaki langit timur) menunjukkan azimuth, dimana azimuth 45 = titik timur laut dan azimuth 90 = titik timur. Sumber: Sudibyo, 2014.

Seiring sebagian Indonesia masih berada dalam situasi musim kemarau dengan langit malam relatif cerah, maka Gerhana Bulan Total ini relatif bisa diamati dengan mudah dimana saja, termasuk di lingkungan perkotaan sekalipun. Namun ada teknik tersendiri untuk mengabadikan peristiwa langit ini. Prinsip dasarnya, Gerhana Bulan menyebabkan adanya perubahan pencahayaan Bulan dari yang semula cukup benderang (sebagai purnama) menjadi jauh lebih redup ketimbang Bulan sabit (pada puncak gerhana). Perubahan pencahayaan ini memerlukan pengaturan khusus. Jika anda menggunakan kamera jenis DSLR (digital single lens reflex), maka atur kamera ke kondisi manual dan fokus lensa juga ke posisi manual. Pilih panjang fokus tertentu saja. Juga pilih f-ratio pada satu nilai tertentu dan demikian pula ISO-nya. Lalu arahkan ke Bulan dan atur waktu penyinarannya (exposure time) mengikut fase gerhana seperti diperlihatkan tabel di bawah ini:

gbt081014_fotografi_dslr

Salah satu kelebihan kamera DSLR adalah dapat dihubungkan ke teleskop dengan penambahan adapter dan t-ring yang tepat sehingga menghasilkan teknik fotografi fokus prima. Namun bila disambungkan dengan teleskop, maka nilai f-ratio dan panjang fokusnya menjadi tetap seperti apa yang dimiliki oleh teleskop tersebut tanpa bisa diubah-ubah. Jika kamera DSLR ini disambungkan ke teleskop menghasilkan teknik fokus prima, maka nilai waktu penyinarannya (exposure time) bergantung pada ISO yang dipilih. Misalkan teleskop yang digunakan adalah teleskop pembias 70 mm dengan panjang fokus 900 mm, maka nilai ISO dan waktu penyinarannya mengikuti fase gerhana diperlihatkan tabel berikut :

gbt081014_fotografi_teleskop

Bagaimana jika anda tak memiliki kamera DSLR dan juga tak mempunyai teleskop? Jangan khawatir, Gerhana Bulan Total ini tetap dapat diabadikan meski dengan kamera digital sederhana atau bahkan kamera ponsel/ponsel pintar sekalipun. Kuncinya adalah mengeset kamera dengan nilai ISO yang besar (bila memungkinkan). Juga mengatur nilai EV ke yang terbesar (bila memungkinkan). Jika pilihan-pilihan tersebut tak tersedia, masih terbuka jalan untuk mengabadikannya dengan mengeset pencahayaan kamera lewat daylight atau sejenisnya saat fase penumbra dan fase parsial serta mengeset ke night atau sejenisnya saat fase totalitas gerhana.

Bulan Merah Darah dan Bonus Uranus

Satu hal yang akan diuji dalam Gerhana Bulan Total 8 Oktober 2014 ini adalah kualitas udara global. Jika udara relatif bersih (maksudnya bebas dari partikulat dan aerosol pengotor hingga kadar tertentu), maka tatkala Gerhana Bulan Total terjadi sinar Matahari yang sempat menerobos atmosfer Bumi (bersinggungan dengan tepi cakram Bumi) akan dibiaskan demikian rupa. Sehingga saat berkas cahaya (khususnya cahaya dengan komponen kemerah-merahan) ini keluar dari atmosfer, lintasannya telah berbelok demikian rupa sehingga akan jatuh ke permukaan Bulan. Maka Bulan akan terlihat berwana kemerah-merahan yang redup mirip warna darah bahkan tatkala puncak gerhana sekalipun. Lain persoalannya jika udara Bumi dalam keadaan relatif kotor, membuat cahaya yang masuk ke atmosfer mengalami penyerapan dan hamburan demikian rupa oleh partikulat dan aerosol pengotor. Akibatnya jumlah cahaya terbiaskan yang jatuh ke permukaan Bulan sangat sedikit sehingga Bulan bakal terlihat betul-betul gelap di saat puncak gerhana. Pengotoran atmosfer Bumi dalam jumlah yang cukup signifikan untuk mengubah tampilan Bulan saat puncak gerhana bisa diakibatkan oleh letusan dahsyat gunung berapi, atau tumbukan benda langit (komet/asteroid) berdiameter besar (minimal 500 meter).

Gambar 5. Dramatisnya perbedaan wajah Bulan yang terabadikan saat puncak Gerhana Bulan Total 30 Januari 1972 kala atmosfer relatif bersih (kiri) dengan saat puncak Gerhana Bulan Total 30 Desember 1982 pasca letusan el-Chichon (kanan). Kedua citra diambil dengan menggunakan teleskop, kamera, film dan waktu penyinaran (exposure time) yang sama. Citra Bulan sebelah kiri adalah 400 kali lebih benderang (6,5 magnitudo lebih cerlang) dibanding citra Bulan sebelah kanan. Sumber: Keen, 2008.

Gambar 5. Dramatisnya perbedaan wajah Bulan yang terabadikan saat puncak Gerhana Bulan Total 30 Januari 1972 kala atmosfer relatif bersih (kiri) dengan saat puncak Gerhana Bulan Total 30 Desember 1982 pasca letusan el-Chichon (kanan). Kedua citra diambil dengan menggunakan teleskop, kamera, film dan waktu penyinaran (exposure time) yang sama. Citra Bulan sebelah kiri adalah 400 kali lebih benderang (6,5 magnitudo lebih cerlang) dibanding citra Bulan sebelah kanan. Sumber: Keen, 2008.

Bagaimana dengan Gerhana Bulan Total 8 Oktober 2014 ini? Pada saat ini kita pun sedang mengalami letusan gunung berapi, yang terbesar adalah letusan Holuhraun di Islandia. Dimulai semenjak 29 Agustus 2014, hingga 1 Oktober 2014 letusan ini sudah memuntahkan tak kurang dari 650 juta meter kubik magma atau lima kali lipat volume Letusan Kelud 2014. Namun tak ada partikulat debu vulkanik dalam jumlah signifikan yang tersembur ke ketinggian atmosfer dalam letusan ini, mengingat sifat letusannya yang efusif (leleran). Letusan Holuhraun juga menyemburkan gas belerang namun dalam jumlah 30.000 ton per hari, angka yang terhitung relatif kecil untuk letusan gunung berapi. Maka pengotoran atmosfer dalam jumlah signifikan pada saat ini nampaknya tak terjadi. Sehingga Bulan pada saat puncak Gerhana Bulan Total 8 Oktober 2014 diprakirakan tetap akan berwarna kemerah-merahan redup menyerupai darah.

Gambar 6. Bulan dan lingkungan sekitarnya tepat setelah akhir totalitas gerhana, disimulasikan dengan Starry Night Backyard v 3.0 untuk Kebumen (Jawa Tengah). Planet Uranus nampak di sisi kanan atas Bulan. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 6. Bulan dan lingkungan sekitarnya tepat setelah akhir totalitas gerhana, disimulasikan dengan Starry Night Backyard v 3.0 untuk Kebumen (Jawa Tengah). Planet Uranus nampak di sisi kanan atas Bulan. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gerhana Bulan kali ini pun bakal berbonus peluang langka, yakni kesempatan untuk mengamati planet Uranus. Planet ketujuh di lingkungan tata surya kita dan planet pertama yang ditemukan manusia sepanjang sejarah lewat teleskop ini akan berbinar di sudut kanan atas Bulan selama fase gerhana. Dengan magnitudo semu +5,7 maka planet ini bahkan berkemungkinan terlihat mata manusia tanpa alat bantu, asalkan berada di lingkungan yang betul-betul gelap dan langit dalam kondisi sempurna.

Streaming Gerhana Matahari 29 April 2014 di Indonesia

Tampilan laman Sistem Informasi Pengamatan Hilal Kemeterian Komunikasi dan Informasi. Streaming Gerhana Matahari 29 April 2014 bakal berlangsung di sini.

Tampilan laman Sistem Informasi Pengamatan Hilal Kemeterian Komunikasi dan Informasi. Streaming Gerhana Matahari 29 April 2014 bakal berlangsung di sini.

Seperti diketahui, pada Selasa 29 April 2014 ini akan terjadi Gerhana Matahari. Di Indonesia, gerhana ini hanya akan nampak sebagai Gerhana Matahari Sebagian. Maka entah mau diamati dengan cara dan alat apapun, Matahari hanya akan terlihat tercuwil/teriris pada saat puncak gerhana di Indonesia. Tak ada bentuk cincin seperti yang dihebohkan sebagian kalangan dalam 1-2 hari terakhir.

Meski kebagian wilayah gerhananya, namun Indonesia sejatinya tidak begitu beruntung. Magnitudo gerhana di seluruh kabupaten/kota yang tercakup dalam wilayah gerhana di enam propinsi cukup kecil. Sehingga gerhana ini sangat sulit untuk bisa disaksikan dengan mata tanpa alat bantu apapun.

Namun jangan khawatir, ada sejumlah institusi dan komunitas yang telah bersiap menyambut gerhana Matahari ini dengan perlengkapan masing-masing, minimal teleskop. Mereka adalah :

1. Observatorium dan klub astronomi as-Salam (CASA) dari pondok pesantren modern as-Salam Surakarta (Jawa Tengah), dengan titik observasi di Pacitan (Jawa Timur).

2. Lajnah Falakiyyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) bersama Kementerian Agama Kanwil Jawa Timur serta sejumlah pondok pesantren di Jawa Timur, dengan titik observasi di Krasak, Tegalsari, Banyuwangi (Jawa Timur).

3. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Balai 3 Denpasar, dengan titik observasi di Denpasar (Bali).

4. BMKG Pusat bidang Gravitasi dan Tanda Waktu bersama Stasiun Geofisika Pusat, dengan titik observasi di Kupang (NTT).

5. Surabaya Astronomy Club (SAC) bersama Stasiun LAPAN Watukosek, dengan titik observasi di Watukosek, Pasuruan (Jawa Timur).

6. Jogja Astro Club (JAC) dengan titik observasi di pantai Parangkusumo (DIY), namun konfirmasi terakhir memastikan batal menyelenggarakan observasi.

Dari kelima titik observasi itu, salah satu diantaranya (yakni dari titik Kupang) bakal menyajikan hasilnya secara langsung lewat streaming melalui laman Sistem Informasi Pengamatan Hilal Kementerian Komunikasi dan Informasi. Silahkan lihat di sini. Jadi bila anda tak sedang bertempat di pojok tenggara Jawa Tengah, sebagian DIY, sebagian Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat maupun Nusa Tenggara Timur, tak perlu merasa kecewa. Observasi Gerhana Matahari di Indonesia dapat disaksikan melalui streaming tersebut.

Bagaimana Mengamati Gerhana Matahari 29 April 2014

Hari Selasa 29 April 2014 besok kita akan bersua dengan peristiwa Gerhana Matahari Cincin, yang di Indonesia hanya akan nampak sebagai gerhana sebagian. Sebanyak 62 kabupaten/kota di Indonesia yang tersebar dalam 6 propinsi masing-masing Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur tercakup ke dalam wilayah gerhana ini. Di atas kertas, sebagian dari kita yang sedang berada di 62 kabupaten/kota tersebut dan mengarahkan pandangan ke Matahari sesuai dengan tabel waktu yang telah diperhitungkan akan dapat menyaksikan gerhana tersebut. Namun bagaimana dalam praktiknya?

Lokasi Favorit

Salah satu tolok ukur untuk menilai gampang tidaknya suatu gerhana Matahari bisa diamati dari suatu lokasi adalah pada magnitudo gerhananya. Magnitudo gerhana merupakan luas bagian Matahari yang tertutupi oleh cakram Bulan di kala puncak gerhana Matahari berbanding dengan luas bundaran Matahari secara keseluruhan, yang dinyatakan dalam persentase. Sehingga bilamana magnitudo gerhana mencapai 100 %, maka seluruh bundaran Matahari tertutupi sepenuhnya oleh cakram Bulan. Saat itu kita akan melihatnya sebagai Gerhana Matahari Total. Sedangkan bila magnitudo gerhana di antara 90 hingga 100 %, maka masih ada bagian bundaran Matahari yang menyembul dari tepian cakram Bulan. Kita akan menyaksikannya sebagai Gerhana Matahari Cincin (Anular). Sementara bila magnitudo gerhana di antara 50 hingga 90 %, Matahari akan terlihat menyerupai sabit. Dan bila magnitudo gerhana kurang dari 50 %, maka Matahari akan terlihat sebagai lingkaran yang teriris/terobek pada salah satu sisinya.

Gambar 1. Hasil simulasi ketampakan Matahari di kota Malang (Jawa Timur) pada puncak Gerhana Matahari 29 April 2014 menggunakan teleskop sedang. Patokan arah, kanan = utara, bawah = barat. Meski telah memanfaatkan teleskop, sangat sulit untuk mendapati bundaran Matahari yang 'teriris' cakram Bulan di saat puncak gerhana (magnitudo gerhana 1 %). Sumber: Sudibyo, 2014 dengan bantuan Starry Night Backyard 3.0.

Gambar 1. Hasil simulasi ketampakan Matahari di kota Malang (Jawa Timur) pada puncak Gerhana Matahari 29 April 2014 menggunakan teleskop sedang. Patokan arah, kanan = utara, bawah = barat. Meski telah memanfaatkan teleskop, sangat sulit untuk mendapati bundaran Matahari yang ‘teriris’ cakram Bulan di saat puncak gerhana (magnitudo gerhana 1 %). Sumber: Sudibyo, 2014 dengan bantuan Starry Night Backyard 3.0.

Dalam gerhana Matahari 29 April 2014 besok, magnitudo gerhana di pulau Jawa bernilai antara 0 % hingga 1,8 % dengan nilai terbesar terletak di kota Banyuwangi (Jawa Timur). Sementara di pulau Bali magnitudo gerhananya di antara 1,5 % hingga 3 % dengan magnitudo terbesar di kota Denpasar. Di Nusa Tenggara Barat, magnitudo gerhana di antara 2,2 % hingga 3,2 %. Dan di Nusa Tenggara Timur, magnitudo gerhana berkisar di antara 0,3 % hingga 7,6 % dengan magnitudo tertinggi berada di kota Baa. Dengan demikian magnitudo gerhana di seluruh Indonesia adalah relatif kecil, katakanlah bila dibandingkan dengan daratan Australia yang berkesempatan menikmati gerhana Matahari ini dengan nilai magnitudo gerhana di antara 10 hingga 60 %.

Magnitudo gerhana yang kecil berpengaruh besar terhadap cara mengamati gerhana Matahari ini. Simulasi dengan menggunakan software Starry Night Backyard 3.0 memperlihatkan betapa sulitnya menyaksikan situasi Matahari di kala puncak gerhananya meski telah dibantu teleskop sedang yang memiliki medan pandang (field of view) sebesar 2 derajat. Hasil simulasi memperlihatkan masih sangat sulit menyaksikan puncak gerhana Matahari dengan magnitudo gerhana 1 % seperti di Malang (Jawa Timur). Jangan tanya bagaimana jika menggunakan teropong kelas binokuler, apalagi jika tak menggunakan alat bantu optik sama sekali. Secara umum dapat dikatakan bahwa pada segenap lokasi di pulau Jawa yang tercakup dalam wilayah gerhana, pada praktiknya gerhana ini amat sulit diobservasi. Terkecuali jika anda bersenjatakan teleskop berkualitas bagus, dengan kemampuan lebih besar (sehingga medan pandangnya lebih kecil dari 2 derajat) dan masih dilengkapi kamera dan filter yang sesuai untuk keperluan observasi Matahari serta pengetahuan teknik astrofotografi yang bagus.

Gambar 2. Hasil simulasi ketampakan Matahari di kota Denpasar (Bali) pada puncak Gerhana Matahari 29 April 2014 menggunakan teleskop sedang. Patokan arah, kanan = utara, bawah = barat. Nampak bundaran Matahari 'teriris' cakram Bulan di saat puncak gerhana (magnitudo gerhana 3 %). Namun jika observasi dilaksanakan menggunakan binokuler, bagian Matahari yang 'teriris' tidak terlihat. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan bantuan Starry Night Backyard 3.0.

Gambar 2. Hasil simulasi ketampakan Matahari di kota Denpasar (Bali) pada puncak Gerhana Matahari 29 April 2014 menggunakan teleskop sedang. Patokan arah, kanan = utara, bawah = barat. Nampak bundaran Matahari ‘teriris’ cakram Bulan di saat puncak gerhana (magnitudo gerhana 3 %). Namun jika observasi dilaksanakan menggunakan binokuler, bagian Matahari yang ‘teriris’ tidak terlihat. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan bantuan Starry Night Backyard 3.0.

Bagaimana dengan pulau Bali? Dengan magnitudo gerhana bernilai antara 1,5 % hingga 3 %, maka jika observasi bertumpu pada binokuler ataupun tanpa alat bantu sama sekali, hasilnya ya sami mawon (sama saja) dengan pulau Jawa. Demikian halnya dengan Nusa Tenggara Barat. Baru jika observasi dilangsungkan dengan menggunakan teleskop sedang, maka pemandangan cakram Matahari yang ‘teriris’ kala puncak gerhana dapat dinikmati. Apalagi jika diabadikan dengan teleskop berkualitas bagus ditambah teknik astrofotografi yang baik.

Hasil simulasi juga memperlihatkan bahwa satu-satunya lokasi yang bagus untuk mengamati gerhana Matahari kali ini adalah Nusa Tenggara Timur, itupun terbatas di bagian selatan tepatnya di ujung barat daya pulau Timor dan pulau Rote. Di sini magnitudo gerhananya bernilai lebih dari 7 %. Sehingga telah memungkinkan untuk diamati dengan leluasa baik menggunakan teleskop maupun binokuler. Dan ada kemungkinan disini gerhana juga bisa disaksikan dengan mata saja tanpa alat bantu. Ditunjang dengan langit pulau Timor dan sekitarnya yang tergolong paling bersih untuk ukuran Indonesia, dengan hari cerah (tanpa tutupan awan) bisa mencapai lebih dari 200 hari per tahun seperti diperlihatkan hasil survei rekan-rekan Astronomi ITB, maka ujung barat daya pulau Timor menjadi lokasi ideal untuk observasi Gerhana Matahari 29 April 2014.

Gambar 3. Hasil simulasi ketampakan Matahari di kota Kupang (NTT) pada puncak Gerhana Matahari 29 April 2014 menggunakan teleskop sedang. Patokan arah, kanan = utara, bawah = barat. Bundaran Matahari yang 'teriris' cakram Bulan di saat puncak gerhana terlihat jelas (magnitudo gerhana 7,4 %) demikian halnya jika observasi menggunakan binokuler. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan bantuan Starry Night Backyard 3.0.

Gambar 3. Hasil simulasi ketampakan Matahari di kota Kupang (NTT) pada puncak Gerhana Matahari 29 April 2014 menggunakan teleskop sedang. Patokan arah, kanan = utara, bawah = barat. Bundaran Matahari yang ‘teriris’ cakram Bulan di saat puncak gerhana terlihat jelas (magnitudo gerhana 7,4 %) demikian halnya jika observasi menggunakan binokuler. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan bantuan Starry Night Backyard 3.0.

Jangan Menatap !

Salah satu tantangan besar dalam observasi Gerhana Matahari 29 April 2014 adalah bagaimana cara mengatasi benderangnya cahaya Matahari di kala puncak gerhana. Saat bundaran Matahari tertutupi cakram Bulan di kala gerhana, maka intensitas sinar Matahari yang tiba di Bumi akan mengecil yang bergantung pada nilai magnitudo gerhananya. Sehingga bakal terjadi penurunan magnitudo semu Matahari. Namun dengan magnitudo gerhana yang kecil, maka penurunan magnitudo semu Matahari pun sangat kecil.

Di pulau Jawa, kala puncak gerhana terjadi maka penurunan magnitudo semu Matahari bernilai antara 0,00 hingga 0,02, sehingga pada hakikatnya Matahari adalah 1,00 hingga 1,02 kali lipat lebih redup dibanding normal (tanpa gerhana). Sementara di pulau Bali penurunan magnitudo semu Matahari bernilai antara 0,016 sampai 0,033 sehingga Matahari adalah 1,02 hingga 1,03 kali lipat lebih redup dibanding normal. Di Nusa Tenggara Barat penurunan magnitudo semu Matahari adalah antara 0,024 sampai 0,035 sehingga Matahari adalah 1,02 hingga 1,03 kali lipat lebih redup. Dan di Nusa Tenggara Timur penurunan magnitudo semu Matahari berkisar antara 0,003 sampai 0,086 sehingga Matahari adalah 1,00 hingga 1,08 kali lipat lebih redup dibanding normal. Angka-angka ini jauh lebih kecil dibanding situasi di Antartika pada koordinat 70,7 LS 131,15 BT dimana terjadi penurunan magnitudo semu Matahari hingga 4,7 yang membuat Matahari bakal 77 kali lebih redup dibanding normal pada saat puncak purnama.

Meredupnya Matahari namun dalam nilai yang sangat kecil tak memungkinkan kita menatap Matahari langsung karena menyilaukan sehingga mata kita secara refleks langsung menyipit. Pun demikian bila menggunakan teleskop, apalagi terdapat bahaya yang lebih besar. Pada prinsipnya teleskop berfungi mengumpulkan cahaya jauh lebih banyak ketimbang mata manusia. Sebuah teleskop dengan lensa berdiameter 5 cm akan mengumpulkan cahaya hingga 100 kali lipat lebih banyak dibanding yang bisa ditangkap mata tanpa alat bantu (lensa mata diasumsikan berdiameter 5 mm). Bila diarahkan ke Matahari, maka jumlah sinar Matahari yang ditangkap teleskop dan diteruskan ke mata akan jauh lebih besar. Sehingga potensi kerusakan sel-sel penglihatan kita terbuka sampai ke titik yang tak dapat diperbaiki kembali.

Gambar 4. Contoh konfigurasi teleskop untuk mengamati Gerhana Matahari dengan teknik proyeksi, dengan menggunakan teleskop reflektor (pemantul). Nampak bayangan Matahari terlihat di layar proyeksi. Sumber: Sudibyo, 2010.

Gambar 4. Contoh konfigurasi teleskop untuk mengamati Gerhana Matahari dengan teknik proyeksi, dengan menggunakan teleskop reflektor (pemantul). Nampak bayangan Matahari terlihat di layar proyeksi. Sumber: Sudibyo, 2010.

Bagaimana jika gerhana Matahari ini disaksikan secara tak langsung dengan melihat pantulan sinar Matahari melalui permukaan air yang tenang? Sami mawon. Meskipun teknik observasi ini amat legendaris, namun sejatinya berbahaya. Sebab intensitas sinar pantul Matahari tersebut masih 0,02 kali lipat normalnya. Angka ini masih 1.000 kali lipat lebih besar dibanding batas aman yang direkomendasikan, yakni intensitas sebesar 0,00002 kali lebih rendah dibanding normal. Intensitas tersebut sepadan dengan penurunan magnitudo semu Matahari sebesar 11,76. Situasi tersebut hanya bisa terjadi bilamana magnitudo gerhana mencapai 99,998 %. Padahal magnitudo gerhana ini di Indonesia tak sampai mencapai 8 %.

Sehingga, inilah aturan dasar dalam observasi Gerhana Matahari 29 April 2014 di Indonesia. Jangan menatap Matahari, baik langsung maupun tak langsung! Baik memakai teleskop maupun tidak!

Proyeksi

Magnitudo gerhana yang kecil membuat Gerhana Matahari 29 April 2014 hanya bisa diamati dengan menggunakan teleskop di sebagian besar wilayah gerhana di Indonesia. Dengan tidak diperkenankannya kita menatap Matahari secara langsung menggunakan teleskop, maka teknik observasi gerhana bisa dilakukan dengan cara mereduksi sinar Matahari yang memasuki teleskop demikian rupa hingga intensitasnya tinggal 0,01 % dari semula dengan menggunakan filter Matahari ND-5 (neutral density 5). Atau bisa juga dengan menggunakan cara tak langsung, salah satunya berupa teknik proyeksi yang relatif lebih murah dan terjangkau.

Selain teleskop lengkap dengan penyangganya, teknik proyeksi membutuhkan sehelai kertas putih tak tembus cahaya yang bakal difungsikan sebagai layar proyeksi, sebuah penyangga (bisa tripod atau meja/kursi), sebuah payung dan kertas karton secukupnya. Kertas karton dipotong demikian rupa sehingga kertas putih tak tembus cahaya bisa direkatkan padanya dengan baik. Gabungan kertas ini lalu difungsikan sebagai layar proyeksi. Siapkan teleskop pada penyangganya demikian rupa untuk tujuan pengamatan Matahari. Arahkan teleskop menghadap Matahari sehingga sinar Matahari memasuki tabung teleskop dan diloloskan secara utuh oleh lensa okuler (eyepiece). Pasang layar proyeksi di belakang okuler untuk menghadang sinar Matahari yang keluar dari teleskop. Atur lensa okuler demikian rupa (gerakkan maju atau mundur) sehingga berkas sinar yang keluar darinya akan membentuk bayangan cakram Matahari yang bundar, tajam dan utuh di layar proyeksi. Selain berkemungkinan menangkap saat-saat cakram Bulan melintas di depan bundaran Matahari, observasi dengan teknik proyeksi juga berpeluang mengamati fenomena lain di permukaan Matahari, yakni bintik Matahari (sunspot).

Berikut adalah tabel magnitudo gerhana, penurunan magnitudo semu Matahari, peredupan Matahari dan saran alat bantu optik untuk keperluan observasi Gerhana Matahari 29 April 2014 bagi 58 kota di Indonesia, yang merepresentasikan 62 kabupaten/kota dalam 6 propinsi yang tercakup pada wilayah gerhana. Tabel disusun lewat perhitungan yang dibantu software Emapwin 1.21 dari Shinobu Takesako.

Jawa
GMSapr14_observasi_jawaBali dan NTB
GMSapr14_observasi_bali-ntbNTT

GMSapr14_observasi_ntt

Observasi Gerhana Bulan Total 15 April 2014 dari Jayapura, Papua (Indonesia)

Meski hanya sebagian saja yang tercakup ke dalam wilayah gerhana, Gerhana Bulan Total 15 April 2014 ternyata berhasil diamati juga dari Indonesia. Tak tanggung-tanggung, pengamatan berlokasi di salah satu titik paling timur negeri ini, yakni di Jayapura (propinsi Papua). Observasi berlangsung di lokasi yang berjarak tidak terlalu jauh dari garis pantai, tepatnya di Pasir Dua, Jayapura, yang diselenggarakan oleh BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) Pusat khususnya Bidang Geofisika Potensial dan Tanda Waktu bersama dengan Stasiun Geofisika Angkasapura Jayapura dan BMKG Wilayah V, Jayapura.

Secara teoritis Bulan terbit di horizon timur Jayapura pada pukul 17:38 WIT. Padahal totalitas gerhana ini sudah berakhir pada pukul 17:25 WIT. Maka observasi tak bakal bertemu dengan situasi Bulan dalam puncak gerhana, namun hanya berjumpa dengan tahap gerhana sebagian dan gerhana penumbra. Kontak akhir umbra yang menandai berakhirnya tahap gerhana sebagian akan terjadi pada pukul 18:33 WIT, sehingga di atas kertas kota Jayapura mengalami tahap gerhana sebagian atau memiliki durasi umbra selama 55 menit. Maka selama 55 menit inilah Gerhana Bulan dapat disaksikan secara kasat mata bagi kota Jayapura. Sementara kontak akhir penumbra, yang menandai berakhirnya tahap gerhana umbra sekaligus berakhirnya gerhana secara keseluruhan, bakal terjadi pada pukul 19:37 WIT sehingga durasi penumbra adalah selama 1 jam 4 menit. Secara keseluruhan kota Jayapura akan menyaksikan Bulan berada dalam kondisi gerhana selama 1 jam 59 menit terhitung semenjak Bulan terbit (Matahari terbenam) hingga kontak akhir penumbra.

Gambar 1. Citra Bulan saat masih dalam tahap gerhana sebagian pasca terbit dengan ketinggian sangat rendah (3,3 derajat) sehingga masih berwarna merah jingga, diabadikan pada pukul 17:54 WIT atau 15 menit setelah terbit. Panduan arah: kanan = selatan, bawah = timur. Sumber: BMKG, 2014.

Gambar 1. Citra Bulan saat masih dalam tahap gerhana sebagian pasca terbit dengan ketinggian sangat rendah (3,3 derajat) sehingga masih berwarna merah jingga, diabadikan pada pukul 17:54 WIT atau 15 menit setelah terbit. Panduan arah: kanan = selatan, bawah = timur. Sumber: BMKG, 2014.

Langit relatif mendukung pada saat observasi, dengan sedikitnya tutupan awan. Tatkala Bulan muncul di horizon timur, ia sudah berada dalam tahap gerhana sebagian. Saat ketinggiannya masih sangat rendah (masih sangat dekat dengan horizon) cakram Bulan yang hanya menyembul sebagian nampak berwarna merah jingga. Hal ini bukan akibat bekerjanya mekanisme transmisi berkas sinar Matahari melalui atmosfer Bumi di kala puncak gerhana , melainkan akibat kedudukan Bulan yang terlalu rendah. Sehingga cahaya Bulan (yang sejatinya adalah cahaya Matahari yang dipantulkan oleh Bulan) mengalami serapan lebih kuat kala melintasi atmosfer Bumi sehingga kesan yang tertangkap di mata kita adalah Bulan berwarna kemerah-merahan. Hal yang sama sesungguhnya juga terjadi kala Bulan baru saja terbit ataupun menjelang terbenam dalam kondisi normal (bukan gerhana). Hal serupa pun dialami Matahari, juga sesaat setelah terbit maupun jelang terbenam. Saat waktu terus berlalu dan Bulan kian meninggi, maka jejak warna kemerah-merahan pun memudar. Langit yang tetap cerah membuat tahap gerhana sebagian teramati hingga usai. Demikian juga tahap gerhana penumbra hingga usai.

Gambar 2. Citra Bulan, juga pada tahap gerhana sebagian, diabadikan pada pukul 18:29 WIT pada ketinggian yang lebih besar (11,5 derajat). Nampak bagian cakram Bulan yang masih tergelapkan (sektor kiri atas) tinggal sedikit, mengingat kontak akhir umbra bakal berlangsung sebentar lagi (yakni pukul 18:33 WIT atau 4 menit lagi). Panduan arah: kanan = selatan, bawah = timur. Sumber: BMKG, 2014.

Gambar 2. Citra Bulan, juga pada tahap gerhana sebagian, diabadikan pada pukul 18:29 WIT pada ketinggian yang lebih besar (11,5 derajat). Nampak bagian cakram Bulan yang masih tergelapkan (sektor kiri atas) tinggal sedikit, mengingat kontak akhir umbra bakal berlangsung sebentar lagi (yakni pukul 18:33 WIT atau 4 menit lagi). Panduan arah: kanan = selatan, bawah = timur. Sumber: BMKG, 2014.

Gambar 3. Citra Bulan dalam tahap gerhana penumbra, diabadikan pada pukul 18:58 WIT (tinggi Bulan 18,5 derajat) menggunakan teleskop. Nampak terdapat bagian yang sedikit lebih gelap di sektor kiri atas sebagai penanda gerhana penumbra, yang hanya bisa disaksikan dengan alat bantu optik memadai. Panduan arah: kanan = selatan, bawah = timur. Sumber: BMKG, 2014.

Gambar 3. Citra Bulan dalam tahap gerhana penumbra, diabadikan pada pukul 18:58 WIT (tinggi Bulan 18,5 derajat) menggunakan teleskop. Nampak terdapat bagian yang sedikit lebih gelap di sektor kiri atas sebagai penanda gerhana penumbra, yang hanya bisa disaksikan dengan alat bantu optik memadai. Panduan arah: kanan = selatan, bawah = timur. Sumber: BMKG, 2014.

Referensi :
BMKG. 2014. Pengamatan Gerhana Bulan Total 15 April 2014