Mendongengi Pendongeng Geologi, Mengenang Rovicky Dwi Putrohari (1963-2019)

“Hambok aku diewangi,” begitu perbincangan pertama saya dan pakdhe dalam beberapa jam setelah kami berbagi nomor ponsel per-email. Ya, lawan bicara saya adalah almarhum Rovicky Dwi Putrohari, sang pendongeng kebumian legendaris yang baru berpulang itu. Perbincangan itu berlangsung pada medio Juni 2006, sekira 2 atau 3 minggu selepas Gempa Yogya 2006 nan mengharu-biru. Bencana yang menyayat hati, saya bersama banyak saudara menyaksikan langsung kala bumi laksana diguncang angkara. Malapetaka yang merenggut nyawa 6.234 orang, membuat 36.299 orang lainnya luka-luka berat maupun ringan serta memaksa lebih dari 1,5 juta orang menjadi pengungsi seiring rusaknya 616.458 unit bangunan di Bantul, Klaten, kota Yogyakarta, Kulonprogo dan Gunungkidul.

Gambar 1. Pertemuan terakhir dengan pakdhe dalam satu forum kebencanaan di Yogyakarta, medio Oktober 2018 TU. Dari kiri ke kanan adalah mas Budi (Muhammadiyah Disaster Management Centre), pak Suharko (geolog, kawan karib pakdhe), pakdhe, saya dan mas Fahmi (geolog muda yang baru pulang dari kota Palu). Dokumentasi pribadi.

Di sela-sela kegiatan ber-relawan, iseng saya kirimkan ringkasan hasil perhitungan energetika Gempa Yogya ke Dongeng Geologi. Energetika itu mengupas seberapa besar energi seismik Gempa Yogya 2006 sekaligus menjadi bantahan bencana itu adalah ulah kotor tangan-tangan manusia. Karena butuh senjata nuklir berkekuatan besar untuk bisa melepaskan energi sebesar Gempa Yogya dan jelas bakal ada efek samping detonasi nuklir yang tak bisa dinegasikan, mulai tsunami hingga masalah pencemaran radiasi nuklir. Saat itu memang berkembang hoaks adanya tangan-tangan jahat yang meledakkan senjata nuklir di dasar laut di selatan Parangtritis hingga memproduksi Gempa Yogya. Perhitungan energetika serupa pernah saya kerjakan pada momen Gempa Aceh 2004 nan fenomenal itu. Meski hasilnya dibagi terbatas ke sejumlah sejawat (dan sepi tanggapan), sementara versi yang lebih lunak (yang tak berhias aneka angka dan persamaan matematika) sambil lalu saya kirim ke satu koran Jawa Tengah (dan entah bagaimana ceritanya malah naik cetak).

“Ngewangi pakdhe? Lah apa ndak nguyahi segara?” Ya, saya selalu memanggilnya pakdhe sedari awal perkenalan kami. Sebaliknya panggilan untuk saya-lah yang berubah-ubah laksana gayut alur evolusi geologis. Mulai dari thole yang jadi ciri khasnya, hingga mas dan belakangan malah pak. Diajak membantu sang pendongeng geologi yang saya kagumi, yang tulisan-tulisan di blognya saya ikuti bertahun-tahun terutama semenjak peristiwa Gempa Aceh 2004? Itu laksana menggarami lautan. Ngajari wong pinter. Lagipula energetika gempa bumi bukanlah perkara sulit. Itu sekedar memainkan kalkulator pada persamaan umum Gutenberg-Richter (log E = aM + b) yang telah diderivasikan ke berbagai bentuk. Diikuti seni mengubah besaran satuan.

Saya lebih menyukai penggunaan satuan kiloton TNT maupun megaton TNT karena lebih ‘nendang,’ lebih kontekstual. Bukannya Joule apalagi Erg yang relatif ‘kering.’ Kiloton/megaton TNT banyak digunakan dalam cabang ilmu fisika energi tinggi dan awalnya digunakan menjelaskan kekuatan ledakan nuklir. Bom nuklir yang meluluhlantakkan Hiroshima memiliki energi 12 kiloton TNT, sementara kembaran-beda-bentuk -nya di Nagasaki berkekuatan 20 kiloton TNT. Belakangan satuan ini digunakan pula dalam ilmu kebencanaan, misalnya mendeskripsikan besarnya energi letusan gunung berapi maupun gempa bumi/tsunami.

Di sisi lain saya saat itu hanya ingin menulis. Cuma berhasrat menata kata dalam guratan pena. Berharap bisa menuangkan penat dalam hati. Sembari merintis jalan menuju cahaya, mencari kekuatan penyembuh bagi luka dalam jiwa setelah anugerah kehidupan yang susul-menyusul. Kata seorang sejawat, menulislah agar tak ada lagi bisul dalam sukma. Bukan untuk berargumen atau berdebat dalam koridor sains tertentu guna mencari kebenaran ilmiah. Apalagi mengunduh popularitas.

Aku belajar geologi di Yogya lalu lanjut studi geofisika di Depok, tukasnya. Bahasan energi adalah makanan sehari-hari. Tapi aspek energi yang kupahami ya melulu seluk-beluk minyak bumi, gas alam dan batubara. Kadang geotermal. Bagaimana gempa terjadi, aku tahu mekanismenya. Aku bisa jelaskan tentang sesar (patahan), gejala-gejalanya dan kemungkinan pergerakannya. Tapi ya hanya sebatas itu. Tidak dengan aspek energinya. Berapa besar energi seismik yang dilepaskan? Berapa besar energi total gempa itu (istilah kerennya momen-seismik)? Seberapa besar fraksi energi yang berubah menjadi getaran dan bagaimana intensitas getarannya? Berapa yang berubah menjadi energi tsunami? Apakah energi sebesar itu bisa dipicu dari luar dengan tetap mempertahankan prinsip kekekalan energi? Itu semua di luar pengetahuanku.

Gambar 2. Diagram sederhana sumber Gempa Yogya 2006 berdasarkan analisis episentrum gempa-gempa susulan dan interferometri satelit. Pematahan pada sesar Oya melepaskan energi yang merambat kemana-mana, terutama melalui sesar Siluk sebagai jalan tol-nya. Bentang lahan lunak di antara sesar Opak dan sesar Progo tergetarkan hebat hingga mengalami amplifikasi getaran. Kerusakan terparah terjadi di sini. Sumber: Tsuji dkk, 2009 digambar ulang Sudibyo, 2015.

Geologi memandang gempa bumi hanya dari satu sisi, sedangkan peristiwa gempa bumi sendiri jelas multidimensi pengetahuan. Baik ilmu alam maupun sosial. Memandang gempa bumi dalam berbagai dimensi membuat kita bisa tahu fenomena itu secara lebih komprehensif. Untuk saat sekarang, itu bisa mengeliminasi hoaks yang tak berkeruncingan dan membantu menenangkan khalayak. Dalam jangka panjang, semoga membantu anak cucu kita dalam menyiapkan diri menghadapi peristiwa yang sama. Karena gempa bumi selalu berulang di satu lokasi setelah sekian waktu. Dan thole kan ngerti, geologi kadang sulit memberi penjelasan jika tak dibantu kacamata bersudut pandang lebih lebar.

Makanya astronomi pernah menjadi kacamatanya, tukas saya sambil mengutip cerita Alfred Wegener. Kami pun ngakak. Ya, Alfred Wegener sang pencetus gagasan pengapungan benua yang menjadi pondasi tektonik lempeng, sejatinya seorang astronom. Dialah yang pertama kali menyadari kemiripan bentuk pesisir timur benua Amerika bagian selatan dengan pesisir barat benua Afrika sebagai kepingan puzzle yang bisa dipersatukan. Maka pada tahun 1912 TU Wegener pun mengungkapkan gagasan pengapungan benuanya, hanya untuk melihatnya ‘dibantai’ habis-habisan oleh para pesohor dunia ilmu kebumian saat itu. Butuh waktu hampir setengah abad kemudian atau dua dasawarsa selepas berpulangnya Wegener dalam ekspedisi kutub utara, setelah melalui serangkaian survei bawahlaut Samudera Atlantik dan survei magnetik, untuk menyatakan Wegener memang benar. Benua-benua memang saling mengapung dan bergerak. Segenap kerak bumi kita yang padat dan kaku itu mengapung di atas bubur panas sangat kental yang dipenuhi gerakan berskala besar arus konvektif. Itulah lapisan selubung (mantel) Bumi. Dan dahulu semua benua pernah menjadi satu, sebagai superbenua Pangaea.

Berhari kemudian ada saudara mampir ke rumah mengangsurkan koran sembari nyengir menyebalkan. Di halaman depan bagian bawah terpampang artikel energetika Gempa Yogya berciri khas tulisan saya, lengkap dengan foto bertampang culun dalam ukuran kecil. Astaga! Ini kan yang kemarin kukirim ke Dongeng Geologi? Dikutip utuh bulat-bulat, plek-jiplek kata orang Kebumen. Pakdhe ketawa saja saat kami berbincang per telepon, memaparkan betapa kenalan jurnalisnya tertarik dengan lika-liku perbincangan seputar Gempa Yogya 2006 dan telah mohon izin untuk dimuat secara bersambung.

Gambar 3. Saat-saat tsunami Pangandaran 2006 menggempur kolam PLTU Bunton, Cilacap (Jawa Tengah). Tsunami ini dibangkitkan oleh Gempa Pangandaran 17 Juli 2006 (magnitudo 7,7) yang terjadi 45 menit sebelumnya. Gempa tersebut merupakan gempa-lambat sehingga meproduksi tsunami besar. Sumber: PLTU Bunton, 2006 dalam Lavigne, 2007.

Pancawarsa pasca perkenalan kami menjadi masa yang amat sibuk dan juga produktif bagi Dongeng Geologi. Sejumlah fenomena alam terjadi secara beruntun. Sebutlah Gempa Pangandaran 2006 yang tsunamigenik dan bersifat gempa-lambat (tsunami-earthquake) sehingga nyaris tak terasa getarannya, namun tanpa diduga samudera mendadak bergelora dalam sejam pascagempa. Juga Gempa Solok 2007, gempa ganda (doublet) yang sama energetiknya dengan Gempa Yogya 2006 dan meninggalkan banyak retakan tanah menarik di sekitar Danau Singkarak. Lantas Gempa Bengkulu 2007, yang meletup di zona megathrust Sunda di Sumatera terutama pada segmen Mentawai bagian selatan. Gempa yang menjadi bagian dari dekade teror gempa Sumatera (dalam istilah geolog legendaris pak Danny Hilman Natawidjaja) dan diduga adalah babak pertama dari perulangan doublet gempa megathrust 1797 – 1833.

Ada juga Gempa Laut Jawa 2007, episentrumnya berdekatan dengan Jakarta dan getarannya mengguncang luas seantero pulau Jawa, sebuah ciri khas gempa intralempeng berhiposentrum sangat dalam. Meski episentrumnya ada di lepas pantai utara Jawa, uniknya getarannya justru menyebabkan puluhan rumah rusak di Cianjur yang berada di pesisir selatan Jawa. Si ‘intra’ lain datang menerjang dua tahun kemudian dalam dua kejadian, tepatnya pada bulan September 2009. Diawali Gempa Tasikmalaya 2007 pada senja menjelang buka puasa, yang memicu tanah longsor Cikangkareng yang menewaskan puluhan orang. Disusul Gempa Padang 2009, hanya beberapa hari selepas Idul Fitri. Ratusan nyawa meregang dalam peristiwa gempa yang sama sekali tak diduga dan bukanlah bagian dekade teror gempa Sumatera. Dan berikutnya Gempa Mentawai 2010 naik ke panggung, sebuah gempa-lambat tsunamigenik dengan getaran yang ringan namun diikuti terjangan tsunami besar yang merenggut nyawa hampir 500 orang.

Bencana gempa bumi di mancanegara tak kalah menarik perhatian Dongeng Geologi. Sebut saja Gempa Wenchuan 2008 di sudut barat China, yang meletup di area konservasi kawanan panda. Gempa darat sangat kuat akibat patahnya sesar Longmenshan itu menelan korban jiwa tak kurang dari 60.000 orang. Lalu Gempa megathrust Chile 2010, yang sedikit lebih kuat ketimbang Gempa Nias 2005. Gempa yang melepaskan tsunami ke sekujur pesisir Samudera Pasifik, mulai dari California (AS) hingga Jepang dan Russia. Demikian halnya Gempa Hati 2010, gempa kuat yang tidak begitu besar namun menohok langsung ibukota sebuah negara miskin berpenduduk padat. Korban jiwa yang jatuh tak kurang dari 100.000 orang. Meski pemerintah Haiti sendiri mengklaim korban jiwa mencapai 316.000 orang, angka yang dianggap terlalu dibesar-besarkan untuk tujuan tertentu.

Dan yang paling fenomenal tentulah Gempa megathrust Tohoku-Oki 2011 di Jepang, yang setara kuatnya dengan gempa Aceh 2004. Gempa yang melepaskan tsunami raksasa ke seantero pesisir Samudera Pasifik dan merenggut nyawa tak kurang dari 16.000 orang. Tak sekedar merenggut korban jiwa, gempa itu juga memicu aneka krisis di Jepang. Yang paling menonjol tentulah krisis nuklir di keempat reaktor nuklir PLTN Fukushima Daichi. Keempatnya kehilangan aliran pendingin seiring putusnya catudaya listrik akibat matinya generator oleh terjangan tsunami. Reaktor-reaktor yang memanas, meleleh dan (sebagian) berujung pada ledakan Hidrogen menjadi panorama menggidikkan yang menghantui dunia.

Selain peristiwa gempa bumi, letusan sejumlah gunung berapi pun menggamit minat. Misalnya Gunung Merapi, yang letusannya pada 2006 TU meluncurkan awan panas dan lava pijar hingga mengubur bunker Kaliadem. Gunung Merapi meletus kembali empat tahun berikutnya, dengan letusan aneh yang menyebal dari kebiasaan umum. Letusan Merapi 2010 menjadi amukan gunung berapi terdahsyat di Indonesia dalam kurun seperempat abad terakhir, semenjak letusan Gunung Galunggung. Dua letusan itu diselingi oleh letusan Gunung Kelud di tahun 2007. Letusan ini semula dikhawatirkan bakal sangat merusak, seperti hikayat amukan Gunung Kelud sebelumnya. Tapi semesta raya selalu punya cara sendiri dalam menggoda kita manusia. Di tahun itu Gunung Kelud ternyata hanya menyembulkan gundukan kubahlava dari danau kawahnya secara berangsur-angsur hingga sebesar bukit. Tanpa ada pasir dan debu vulkanik menghujani kawasan sekitar. Tujuh tahun berikutnya barulah Gunung Kelud kembali ke perilaku aslinya dengan letusan dahsyat katastrofik, meremukkan kubahlavanya berkeping-keping dan melontarkannya ke langit untuk kemudian membedaki separo pulau Jawa.

Pakdhe selalu hadir dalam peristiwa-peristiwa tersebut. Tak hanya sebatas satu, kerap pakdhe menghadirkan rentetan artikel berkesinambungan bagi satu peristiwa. Semua tersaji dengan gayanya yang khas: ringan, renyah, bernas dan hidup. Tak seperti umumnya artikel ilmiah populer yang melulu datar dan kering dengan sedikit nuansa. Tak heran, meski terdapat sekian banyak blogger yang menggumuli popularisasi ilmu kebumian, perlahan namun pasti pakdhe menjadi selebriti. Pesohor geologi. Media darling. Kunjungan ke Dongeng Geologi pun melonjak pesat. Hingga pakdhe wafat sudah menyentuh angka 9 juta kunjungan, jauh di atas blog saya (Ekliptika) yang baru berkutat di angka 700 ribuan.

Gambar 3. Lubang Letusan Kelud 2014 di dalam kawah aktif Gunung Kelud, nampak masih berasap dan kering pascaletusan. Sebelum 2007 TU lubang ini tergenangi air sebagai danau kawah Kelud. Setelah 2007 TU danau kawah menghilang hampir sepenuhnya, digantikan oleh gundukan kubahlava sebesar bukit. Sumber: PVMBG, 2014.

Dalam masa tersebut pula diskusi kami menjadi kian intensif dengan memanfaatkan semua media yang memungkinkan. Mulai dari email dan media sosial saat itu (terutama facebook), telepon hingga layanan pesan singkat (SMS). Tak jarang kami masih berdiskusi hingga lepas tengah malam. Seperti kala Letusan Merapi 2010. Hingga sehari sebelum erupsi terjadi, kami mulai menyadari akan terjadi peristiwa yang tak biasa. Saat itu energi seismik akumulatif Merapi membumbung tinggi hingga tiga kali lipat energi pra-letusan Merapi 2006. Akan tetapi secara visual tak terlihat perubahan berarti di puncak selayaknya peristiwa letusan-letusan sebelumnya. Saya sudah khawatir akumulasi energi luar biasa besar itu akan keluar dari Gunung Merapi dalam tempo singkat sebagai erupsi eksplosif yang melepaskan gelombang kejut (shockwave), hempasan udara bertekanan sangat tinggi dan menjalar cepat yang khas pada kejadian-kejadian eksplosif. Berhari-hari hari kemudian kekhawatiran itu terbukti. Dan hingga Desember 2010, amukan Gunung Merapi telah melepaskan 27 megaton TNT energi, yang tak pernah terjadi dalam letusan-letusan Merapi sebelumnya (kecuali 1930).

Namun minat pakdhe tak hanya sebatas itu. Fenomena geologi lainnya pun menggamitnya untuk dibahas di Dongeng Geologi. Paling menonjol adalah kejadian semburan lumpur di dekat area pengeboran eksplorasi Lapindo Brantas di Porong, Sidoarjo (Jawa Timur). Peristiwa yang kini dipahami sebagai erupsi gunung lumpur (mud volcano) terbesar di dunia. Begitu intensifnya diskusi didalamnya sampai-sampai pakdhe memutuskan membuat spin-off Dongeng Geologi. Lahirlah blog khusus bertema HotMudFlow. Diskusi, pertarungan ide dan gagasan hingga otot-ototan argumentasi pun berlangsung seru di HotMudFlow. Baik dari kutub yang berpendapat mud volcano ini sebagai bencana alam yang dipicu getaran Gempa Yogya 2006, hingga kutub yang berargumen mud volcano ini sebagai kecelakaan industri akibat kelalaian manusia. Sependek amatan saya inilah satu-satunya platform yang secara konsisten dan berkelanjutan membahas kejadian mud volcano Sidoarjo hingga bertahun-tahun. Bukan sekedar hangat-hangat tahi ayam.

Minat pakdhe pun berkembang meluas. Bagaimana mataair zamzam eksis di kotasuci Makkah disertai cekungan air tanah yang menopang, dikupasnya dalam artikel yang ringan namun berkelas dan berbobot. Beliau juga tertarik pada hal-hal di luar lingkup ilmu kebumian seperti beberapa hal yang saya pelajari, mulai dari aneka benda langit hingga bagaimana cara kerja semesta raya beserta realitas fisik didalamnya. Dalam ranah ini saya laksana mendongengi sang pendongeng.

Peristiwa-peristiwa Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan dikupas dan didokumentasikannya dengan baik. Dan sebagai sosok Muslim, pakdhe secara khusus menaruh perhatian besar bagaimana fenomena-fenomena alam (baik dalam astronomi maupun geologi) bisa dideskripsikan dalam rangka mempertebal keimanan. Termasuk dalam diskursus penentuan awal bulan Hijriyyah dan penyatuan kalender Hijriyyah di Indonesia, bidang khusus yang di kemudian hari saya garap dengan serius dan formal.

Gambar 4. Rekaman naik-turunnya paras (permukaan) air laut saat peristiwa Tsunami Selat Sunda 2018. Nampak paras laut yang tadinya mengalami kenaikan secara bertahap dan lama mendadak naik dan turun dalam tempo jauh lebih singkat, sebuah ciri khas tsunami. Sumber: BIG, 2018.

Pakdhe adalah kawan diskusi yang menyenangkan. Kadangkala juga menjadi lawan diskusi yang tangguh dan susah ditaklukkan. Tak jarang kami berselisih pendapat pada berbagai hal hingga berujung pada diktum sepakat untuk tidak sepakat. Terutama jika diskusi sudah menyentuh masalah politik, kebijakan dan ketatanegaraan. Seperti persoalan blue energy yang mencuat di masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Pakdhe mengulasnya dengan antusias, menganggap sebagai salah satu solusi bagi energi Indonesia di tengah menyusutnya produksi minyak dan gas nasional (sementara konsumsi terus membengkak) dan belum jua ditemukan lapangan-lapangan raksasa minyak dan gas baru. Sebaliknya saya skeptis sedari awal, terutama karena memicu ‘radar’ too good to be true yang menjadi pedoman saya dalam mengidentifikasi hoaks. Aspek-aspek blue energy bertentangan dengan pengetahuan akan kekekalan dan perubahan energi.

Belakangan skandal meruak di Yogyakarta atas klaim menyadap energi listrik secara langsung dari fenomena peluruhan radioaktif. Klaim terbukti bohong dan memaksa pucuk pimpinan satu perguruan tinggi mengundurkan diri. Dan beliau adalah kawan pakdhe. “Sampeyan bener mas,” tukas pakdhe kala itu. Saya kalem saja. Karena ini bukanlah kemenangan yang patut dirayakan. Memprihatinkan bahwa perguruan tinggi yang menjadi tempat ilmu pengetahuan teknologi disemaikan, dikembangkan dan diajarkan bisa terperosok dalam situasi tersebut. Dalam beberapa hal saya masih bisa menerima bilamana hoaks berkembang di lingkungan masyarakat umum. Bukan pada masyarakat kampus yang sesungguhnya sangat terdidik.

Energi dan semangat pakdhe tak surut meski di tahun-tahun terakhir kondisi kesehatannya kian menurun seiring pergulatannya melawan sigmoid diverticulosis beserta segenap implikasinya. Kita harus terus menyampaikan seperti apa sesungguhnya bencana geologi semacam gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi dan gerakan tanah. Bukan menyebarkan rasa pesimis dan sikap tanpa harapan, meski ulasan tentang kebencanaan memang sering-seringnya seperti itu. Tapi dengan harapan membangun sikap kesiapsiagaan dan mental positif. Karena sebagai negara yang berdiri di atas pertemuan tiga lempeng inilah high risk high gain bagi Indonesia. Negeri yang beresiko besar terhadap aneka bencana geologi, namun juga dianugerahi sekian banyak kelebihan sumberdaya alam dibanding para tetangga. Dalam setiap kalimat dan kata, mari tempatkan semuanya di bawah payung besar agar berharap yang terbaik akan tetapi tetap bersiap untuk yang terburuk. Ya, jargon pengurangan resiko bencana.

Lewat semangat itulah pakdhe tetap tampil dimana-mana kala terjadi bencana Gempa Lombok 2018, Gempa dan tsunami Palu 2018 serta Tsunami Selat Sunda 2018. Pakdhe berkibar dimana-mana hingga kesulitan mengatur waktu wawancara dari satu stasiun televisi ke stasiun berikutnya. Sebaliknya beliau enggan menuangkan gagasannya di suratkabar. “Itu wilayah panjenengan pak,” tukasnya ketika itu. Sepanjang masa itu kami tak hanya bertukar pikiran akan hal-hal teknis semacam energetika maupun mekanisme bencana. Tetapi juga pada ranah strategis seperti saat mencorat-coreti dan menambahkurangi draft rancangan Sisnas-Perdimana. Tak peduli bahwa selama periode itu pakdhe bolak-balik ke rumah sakit. Tetap semangat hingga tiba di garis akhir.

Sugeng tindak pakdhe. Panjenengan saestu piyantun sae. Terimakasih atas semua ilmumu. Doa kami menyertaimu. Akan kami teruskan perjuanganmu…