Ngaji Falak Ramadhan: Durasi Puasa di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan 1438 H sudah kita jalani hampir separuhnya. Salah satu pertanyaan menarik yang senantiasa muncul manakala Umat Islam memasuki suatu bulan Ramadhan adalah durasi puasa (atau lamanya berpuasa dalam satu hari) di bulan yang suci ini?

Ibadah puasa, baik yang wajib seperti halnya di bulan Ramadhan maupun yang sunat, memiliki batasan awal dan akhir yang tegas. Untuk setiap harinya, puasa dimulai saat awal Shubuh dan berakhir kala awal Maghrib. Awal Shubuh disepakati didefinisikan sebagai saat dimana cahaya fajar yang nyata (fajar shadiq) tepat mulai muncul dan merembang di kaki langit timur, jauh sebelum terbitnya Matahari. Sebaliknya disepakati pula bahwa awal Maghrib adalah saat kala Matahari tepat telah terbenam (ghurub). Ilmu falak kemudian menguraikan batasan tersebut lebih lanjut. Di Indonesia, cahaya fajar yang nyata disepakati mulai muncul manakala Matahari tepat menyentuh ketinggian minus 20º dari kaki langit timur. Sementara terbenamnya Matahari disepakati sebagai situasi saat sisi teratas cakram Matahari tepat mulai meninggalkan kaki langit barat, dimana kedudukan kaki langit barat ini bergantung kepada elevasi lokasi (terhitung dari paras air laut rata-rata).

Dengan definisi demikian, jelas bahwa durasi puasa Ramadhan pun dikendalikan sepenuhnya oleh kedudukan Matahari untuk suatu tempat. Hal ini menjadi lebih menarik lagi bilamana dikaitkan dengan ‘kelakuan’ Matahari. Yakni gerak semu tahunan Matahari, satu kondisi dimana Matahari seakan-akan bergeser ke utara dan ke selatan secara teratur sepanjang waktu dalam tahun Tarikh Umum (TU). Dalam ilmu falak, gerak semu tahunan itu ditandai dengan perubahan deklinasi Matahari dari 0º (terjadi pada sekitar tanggal 21 Maret) untuk kemudian secara berangsur-angsur meningkat menjadi +23,5º (terjadi pada sekitar tanggal 21 Juni) lalu berangsung-angsur menurun kembali ke 0º (terjadi pada sekitar tanggal 23 September) dan lalu beranjak terus hingga menjadi -23,5º (terjadi pada sekitar tanggal 22 Desember).

Dikombinasikan dengan fakta bahwa kalender Hijriyyah memiliki umur 354 hari (kalender basitah) dan 355 hari (kalender kabisat), sementara kalender Tarikh Umum memiliki umur 365 hari (basitah) dan 366 hari (kabisat), maka akan dijumpai fenomena unik. Yakni dari tahun ke tahun durasi puasa Ramadhan bagi sebuah lokasi selalu berubah-ubah secara dinamis, .

Dunia

Gambar 1. Peta durasi puasa Ramadhan 1438 H untuk tanggal 27 Mei 2017 TU bagi seluruh permukaan Bumi. Durasi puasa senilai 24 jam terjadi di garis lintang 57º LU. Sumber: Sudibyo, 2017.

Bulan Ramadhan tahun 1438 H (2017 TU) ini pun demikian. Bulan suci ini menjadi bagian dari situasi yang dialami bulan Ramadhan sejak tahun 1430 H (2009 TU) hingga kelak tahun 1445 H (2024 TU). Yakni terjadi manakala Matahari berkedudukan di atas hemisfer (belahan Bumi) utara. Sebagai konsekuensinya maka durasi puasa Ramadhan di hemisfer utara pun menjadi yang paling panjang. Sebaliknya durasi puasa Ramadhan bagi hemisfer selatan menjadi yang terpendek.

Saya mencoba memetakan durasi puasa Ramadhan 1438 H untuk seluruh permukaan Bumi ini pada dua saat. Yang pertama adalah pada tanggal 27 Mei 2017 TU, yang di Indonesia bertepatan dengan 1 Ramadhan 1438 H. Sementara yang kedua adalah pada tanggal 24 Juni 2017 TU kelak, yang juga bertepatan dengan tanggal 29 Ramadhan 1438 H bagi Indonesia. Pemetaan dibatasi pada kawasan yang terbentang di antara garis lintang 60º LU hingga 60º LS. Jadi kedua kawasan lingkaran kutub tak tercakup di sini.

Perhitungan dilaksanakan dengan program pemetaan, dalam hal ini saya menggunakan Surfer. Untuk lebih mempermudah, maka tinggi setiap titik kordinat yang disertakan dalam perhitungan ini diberi nilai nol (0) meter dpl.

Gambar 2. Peta durasi puasa Ramadhan 1438 H untuk tanggal 24 Juni 2017 TU bagi seluruh permukaan Bumi. Durasi puasa senilai 24 jam terjadi di garis lintang 48º LU hingga 51º LU. Sumber: Sudibyo, 2017.

Hasilnya, pada 27 Mei 2017 TU durasi puasa Ramadhan yang terpanjang ada di hemisfer utara berdekatan dengan garis 60º LU. Tepatnya pada sepanjang garis 57º LU. Disinilah durasi puasa tepat bernilai 24 jam. Sementara pada tanggal 24 Juni 2017 TU, durasi puasa Ramadhan yang terpanjang juga masih ada di hemisfer utara. Namun telah sedikit berpindah, yakni bervariasi di antara garis lintang 48º LU hingga garis lintang 51º LU.

Satu hari di Bumi memiliki durasi tepat 24 jam. Sehingga bilamana ada daerah yang memiliki durasi puasa Ramadhan tepat 24 jam, maka Umat Islam yang bertempat di sana ‘musti’ berpuasa sehari semalam suntuk jika mengacu pada kedudukan Matahari. Hal ini tentu sangat memberatkan. Makanya untuk negara-negara yang berada di batas kawasan subtropis dengan lingkar kutub (demikian halnya kawasan lingkar kutub itu sendiri) terdapat kekhususan dalam hal berpuasa Ramadhan bagi Umat Islam.

Indonesia

Bagaimana dengan Indonesia ?

Berbeda dengan negara-negara di dekat batas subtropis-lingkar kutub, Indonesia terletak di kawasan tropis. Bahkan negeri ini dibelah oleh garis khatulistiwa. Maka disini awal waktu Shubuh dan awal waktu Maghrib-nya masih tergolong normal, yakni tidak terlalu panjang namun juga tidak terlalu pendek. Pertanyaannya, apakah kedudukan Matahari berpengaruh terhadap durasi puasa Ramadhan 1438 H di Indonesia

Gambar 3. Peta durasi puasa Ramadhan 1438 H untuk tanggal 27 Mei 2017 TU bagi Indonesia. Durasi puasa rata-rata adalah 13 jam 21 menit. Durasi puasa terpendek terjadi di titik paling selatan sementara yang terpanjang terjadi di dekat titik paling utara (lintang 4º 43′ LU). Sumber: Sudibyo, 2017.

Seperti halnya langkah di atas, saya mencoba memetakan durasi puasa Ramadhan 1438 H untuk Indonesia pada dua saat. Yang pertama pada tanggal 27 Mei 2017 TU dan yang kedua pada tanggal 24 Juni 2017 TU. Pemetaan dibatasi pada kawasan yang terbentang di antara garis lintang 6º LU hingga 11º LS. Sebagai kuda kerja, juga digunakan program pemetaan berupa Surfer.

Berbeda dengan sebelumnya, maka di kali ini terdapat dua perhitungan. Pada perhitungan pertama, tinggi setiap titik kordinat yang disertakan dalam perhitungan diberi nilai nol (0) meter dpl untuk kemudian dipetakan. Sementara pada perhitungan kedua, digunakan titik-titik koordinat Masjid Agung di ibukota kabupaten/kota di seluruh Indonesia yang mencapai 520 buah itu. Data koordinat tersebut mencakup posisi lintang, bujur dan elevasi. Data bersumber dari BIG (Badan Informasi Geospasial) yang dipublikasikan terbatas di kalangan ahli falak Indonesia dalam momen Temu Kerja Hisab Rukyat Nasional 2017 kemarin. Hasil perhitungan kedua ini tidak dipetakan.

Gambar 4. Peta durasi puasa Ramadhan 1438 H untuk tanggal 24 Juni 2017 TU bagi Indonesia. Durasi puasa rata-rata adalah 13 jam 21 menit. Durasi puasa terpendek terjadi di titik paling selatan sementara yang terpanjang terjadi di titik paling utara. Sumber: Sudibyo, 2017.

Hasilnya, pada 27 Mei 2017 TU secara rata-rata durasi puasa untuk seluruh Indonesia adalah 13 jam 21 menit. Durasi puasa Ramadhan yang terpendek terjadi di Kabupaten Rote Ndao (Nusa Tenggara Timur), yakni 12 jam 57 menit. Lokasi ini merupakan daerah paling selatan di Indonesia, dengan Masjid al-Ikhwan di ibukota Baa terletak pada lintang 10º 43′ LS, hampir mendekati garis 11º LS. Sebaliknya durasi puasa terpanjang terjadi di Kabupaten Bener Meriah (Aceh) yakni 13 jam 51 menit. Meski bukan daerah paling utara di Indonesia, namun Masjid Babus Salaam di ibukota Simpang Tiga Redelong (lintang 4º 43′ LU) memiliki elevasi 1.392 meter dpl.

Sementara pada 24 Juni 2017 TU secara rata-rata durasi puasa untuk seluruh Indonesia adalah masih tetap bernilai 13 jam 21 menit. Durasi puasa Ramadhan yang terpendek juga tetap terjadi di Kabupaten Rote Ndao (Nusa Tenggara Timur), yakni 12 jam 55 menit. Namun lokasi dengan durasi puasa terpanjang berpindah tempat, yakni di Kota Sabang (Aceh) selama 13 jam 54 menit. Kota ini merupakan lokasi paling utara di Indonesia yang terletak pada garis lintang 5º 53′ LU.

Dapat dilihat, meski Indonesia terletak di kawasan tropis dan dibelah oleh garis khatulistiwa, pengaruh kedudukan Matahari terhadap durasi puasa Ramadhan 1438 H tetap terlihat. Durasi puasa terpendek berada di titik paling selatan, sementra durasi puasa terpanjang menempati titik paling utara. Selisih durasi puasa antara kedua tempat tersebut hampir mendekati sejam.

Idul Adha 1437 H, Kebersamaan di Tengah Dua Anomali (Kasus Unik Saudi Arabia dan Indonesia)

Hari raya Idul Adha 1437 H telah datang. Indonesia merayakannya pada Senin 12 September 2016 Tarikh Umum (TU), bertepatan dengan 10 Zulhijjah 1437 H. Dan tak seperti sebelumnya, kali ini tak ada yang berbeda. Kementerian Agama RI, sebagai representasi pemerintah, memutuskan 1 Zulhijjah bertepatan dengan Sabtu 3 September 2016 TU atas dasar sidang itsbat pada 1 September 2016 TU. Pada momen sidang itsbat tersebut, yang bertepatan dengan 29 Zulqaidah 1437 H dalam takwim standar Indonesia, seluruh sistem hisab (perhitungan astronomi) yang berkembang di Indonesia menyajikan data bahwa Bulan terbenam lebih dulu dibanding Matahari. Hal tersebut ditegaskan dari sisi rukyat (observasi) hilaal. Dalam momen yang bersamaan dengan terjadinya peristiwa Gerhana Matahari 1 September 2016 di 123 kota/kabupaten di Indonesia, rukyatul hilaal tak berhasil mendeteksi hilaal pada kesempatan tersebut. Sehingga bulan Zulqaidah 137 H pun harus digenapkan menjadi 30 hari (istikmal).

Keputusan senada juga disajikan oleh ormas-ormas Islam di Indonesia. Nahdlatul ‘Ulama, atas dasar rukyatul hilaal di banyak titik rukyat di berbagai penjuru Indonesia pada saat yang sama dan tak ada yang berhasil mendeteksi hilaal, menyampaikan ikhbar bahwa Idul Adha 10 Zulhijjah 1437 H bertepatan dengan Senin 12 September 2016 TU. Ikhbar tersebut dikeluarkan setelah sidang itsbat di Kementerian Agama RI usai. Demikian halnya Muhammadiyah. Jauh hari sebelumnya Muhammadiyah sudah memutuskan bahwa Idul Adha 1437 H bertepatan dengan Senin 12 September 2016 melalui maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah nomor 01/MLM/I.0/E/2016. Dasarnya adalah hisab sistem kontemporer dengan “kriteria” wujudul hilaal, dimana pada 1 September 2016 TU hilaal dinyatakan belum wujud di seluruh Indonesia karena tinggi Bulan pada saat Matahari terbenam berkisar antara minus 1o hingga 0o. Maklumat yang sama juga menetapkan 1 Ramadhan 1437 H bertepatan dengan Senin 6 Juni 2016 TU dan hari raya Idul Fitri 1 Syawwal 1437 H adalah Rabu 6 Juli 2016 TU. Demikian halnya Persatuan Islam (Persis), dengan dasar hisab sistem kontemporer berbasis “kriteria” LAPAN 2009.

Di mancanegara, keputusan penetapan hariraya Idul Adha 1437 H yang patut diperhatikan adalah keputusan Saudi Arabia. Pada hari yang sama dengan Indonesia, Saudi Arabia juga menggelar proses rukyat hilaal untuk menentukan Idul Adha 1437 H dan hari Arafah (hari wukuf) bagi jamaah haji. Hasilnya, wukuf di padang Arafah ditetapkan terjadi pada Minggu 11 September 2016 TU. Sementara hari raya Idul Adha di Saudi Arabia dirayakan pada hari berikutnya, yakni Senin 12 September 2016 TU. Keputusan ini segera menjadi rujukan bagi banyak negara Islam dan negara berpenduduk mayoritas Muslim serta komunitas Muslim di berbagai penjuru. Hanya sedikit yang berbeda dengannya. Misalnya Mesir, sebagian India dan Jerman yang merayakan Idul Adha pada Minggu 11 September 2016 TU. Sementara negara lain seperti sebagian India, Selandia Baru dan Pakistan baru akan menggelar shalat Idul Adha pada Selasa 13 September 2016 TU.

Penetapan 1 Zulhijjah adalah salah satu isu penting dalam perikehidupan Umat Islam di Indonesia karena terkait ibadah. Yakni hari raya Idul Adha pada tanggal 10 Zulhijjah yang didahului puasa Arafah sehari sebelumnya. Semenjak hari raya Idul Adha hingga empat hari kemudian, yakni pada hari-hari tasyrik (tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijjah), Umat Islam di Indonesia melaksanakan penyembelihan hewan kurban. Idul Adha menjadi satu dari dua hari raya Umat Islam di Indonesia, meski atmosfer budaya yang melingkupinya tak sekental momen hari raya Idul Fitri

Di tengah kebersamaan ini, sejatinya ada dua anomali yang menarik untuk dikupas terkait penetapan tersebut. Yakni anomali di Saudi Arabia dan (sebagian) Indonesia.

Saudi Arabia

Konjungsi geosentris Bulan dan Matahari (ijtima’ haqiqy), yakni momen saat Bulan dan Matahari menempati satu garis bujur ekliptika yang sama ditinjau dari titik pusat Bumi, terjadi pada Kamis 1 September 2016 TU pukul 16:03 WIB. Sementara konjungsi toposentris Bulan dan Matahari (ijtima’ mar’i), yakni momen yang sama dengan konjungsi geosentris Bulan dan Matahari namun ditinjau dari sebuah titik di paras (permukaan) Bumi terjadi lebih lambat dengan saat yang berbeda-beda. Di Indonesia, konjungsi toposentris terjadi jelang maghrib, seperti ternyata dari peristiwa Gerhana Matahari 1 September 2016. Di Saudi Arabia khususnya di kotasuci Makkah al-Mukarramah, Gerhana Matahari yang sama mencapai puncaknya pada pukul 11:23 waktu Saudi. Sehingga konjungsi toposentris di Makkah terjadi pada pukul 11:23 waktu Saudi, atau sebelum Matahari terbenam setempat.

Dalam kalender sipil Saudi Arabia, yang dikenal sebagai kalender Ummul Qura, 1 September 2016 TU juga bertepatan dengan 29 Zulqaidah 1437 H. Dan hari berikutnya merupakan tanggal 1 Zulhijjah 1437 H. Saudi Arabia menggunakan “kriteria” Ummul Qura dalam kalendernya. Secara sederhana “kriteria” ini mendeskripsikan:

awal bulan Hijriyyah terjadi tatkala seluruh cakram Bulan masih ada di atas horizon semu pada saat Matahari terbenam sempurna pasca konjungsi geosentrik Bulan dan Matahari.

Dalam bahasa astronomi, “kriteria” ini diformulasikan sebagai saat Lag Bulan > + 2 menit. Lag Bulan adalah selisih waktu keterlambatan terbenamnya Bulan terhadap terbenamnya Matahari. Lag Bulan bernilai positif saat Bulan terlambat terbenam dibanding Matahari dan sebaliknya bernilai negatif tatkala Bulan lebih dulu terbenam dibanding Matahari.

Gambar 1. Zona potensi ketampakan (visibilitas) hilaal per 1 September 2016 TU secara toposentrik berdasarkan kriteria Odeh (Audah). Warna merah tidak memenuhi moonset after sunset. Sementara warna selain merah sudah memenuhi moonset after sunset. Berdasar grafik ini Saudi Arabia sudah memenuhi syarat Ummul Qura, sementara sebagian pulau Sumatra (Indonesia) sudah memenuhi syarat wujudul hilaal. Sumber: Odeh, 2016.

Gambar 1. Zona potensi ketampakan (visibilitas) hilaal per 1 September 2016 TU secara toposentrik berdasarkan kriteria Odeh (Audah). Warna merah tidak memenuhi moonset after sunset. Sementara warna selain merah sudah memenuhi moonset after sunset. Berdasar grafik ini Saudi Arabia sudah memenuhi syarat Ummul Qura, sementara sebagian pulau Sumatra (Indonesia) sudah memenuhi syarat wujudul hilaal. Sumber: Odeh, 2016.

Namun harus digarisbawahi bahwa kalender Saudi Arabia dengan “kriteria” Ummul Qura-nya merupakan kalender sipil. Ia digunakan untuk kepentingan perikehidupan sehari-hari di negeri itu, mulai dari kepentingan ekonomi dan bisnis hingga politik ketatanegaraan. Sementara khusus untuk menentukan hari raya Idul Adha, Saudi Arabia menetapkannya berdasarkan rukyatul hilaal. Demikian halnya untuk menentukan awal puasa Ramadhan dan hari raya Idul Fitri. Sebab dalam pandangan Saudi Arabia, ketiga hal tersebut memiliki aspek ibadah yang kuat sehingga tidak mengacu pada kalender sipil yang mereka gunakan. Maka berpeluang terjadi situasi dimana Saudi Arabia memulai puasa Ramadhan saat kalendernya menunjukkan tanggal 2 Ramadhan, ber-Idul Fitri saat kalender menunjukkan tanggal 2 Syawwal dan ber-Idul Adha pada saat kalender menunjukkan tanggal 11 Zulhijjah. Inilah anomali itu.

Anomali tersebut terjadi pada tahun ini. Karena pada Kamis 1 September 2016 TU tidak terdeteksi hilaal di segenap penjuru Saudi Arabia, maka otoritas kerajaan ini menetapkan hari raya Idul Adha adalah pada Senin 12 September 2016 TU yang bertepatan dengan 11 Zulhijjah 1437 H. Konsekuensinya hari wukuf di padang Arafah, yang menjadi penentu pelaksanaan ibadah haji, adalah bertepatan dengan tanggal 10 Zulhijjah 1437 H. Konsekuensi ini merupakan hal yang tak terhindarkan manakala kalender Hijriyyah hendak dijadikan sebagai kalender sipil (muamalah) sebagaimana halnya kalender Tarikh Umum (Masehi/Gregorian) dengan kriteria yang tetap, sementara pendapat fikih mayoritas dalam penentuan waktu ibadah puasa Ramadhan dan dua hari raya adalah berdasarkan rukyatul hilaal.

Anomali semacam ini bukanlah yang pertama kali terjadi di Saudi Arabia. Konstelasinya sepanjang empat tahun terakhir adalah sebagai berikut:

  • Awal puasa Ramadhan 1434 H bertepatan dengan Kamis 2 Ramadhan 1434 H kalender Saudi Arabia (10 Juli 2014 TU).

  • Hari raya Idul Adha 1436 H bertepatan dengan Kamis 11 Zulhijjah 1436 H kalender Saudi Arabia (24 September 2015 TU).

  • Hari raya Idul Adha 1437 H bertepatan dengan Senin 11 Zulhijjah 1437 H kalender Saudi Arabia (12 September 2016 TU).

Saudi Arabia berpandangan mereka memiliki dasar yang kuat terkait anomali tersebut. Di masa Rasulullah SAW juga pernah terjadi shalat Idul Fitri digelar pada tanggal 2 Syawwal. Yakni bersandar hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah, dengan terjemahan sebagai berikut :

“Telah menceritakan kepada kami (Abu Bakr bin Abu Syaibah) berkata, telah menceritakan kepada kami (Husyaim) dari (Abu Bisyr) dari (Abu Umair bin Anas bin Malik) ia berkata; telah menceritakan kepadaku (paman-pamanku) dari kalangan Anshar -mereka adalah para sahabat Rasulullah SAW- mereka berkata, “Kami tidak dapat melihat hilal bulan Syawal, maka pada pagi harinya kami masih berpuasa, lalu datanglah kafilah di penghujung siang, mereka bersaksi di sisi Nabi SAW bahwa kemarin mereka melihat hilal. Maka Rasulullah SAW pun memerintahkan mereka berbuka, dan keluar untuk merayakan hari rayanya pada hari esok. ”
Hadits Imam Ibnu Majah nomor 1643.

Memang butuh kajian lebih lanjut melalui ilmu-ilmu terkait, namun hadits ini menyajikan kesan bahwa ibadah (hari raya Idul Fitri) boleh berselisih terhadap kalender (Hijriyyah).

Indonesia

Bagaimana dengan Indonesia? Anomali serupa ternyata juga terjadi meski kejadiannya adalah sebaliknya. Ini dialami oleh Muhammadiyah. Kalender Hijriyyah yang dpedomani Muhammadiyah merupakan kalender yang berdasarkan pada “kriteria” wujudul hilaal dan diberlakukan ke seluruh Indonesia melalui prinsip transfer wujudul hilaal (naklul wujud). Secara sederhana “kriteria” wujudul hilaal mendeskripsikan :

awal bulan Hijriyyah terjadi tatkala piringan teratas cakram Bulan masih ada di atas horizon semu pada saat Matahari terbenam sempurna pasca konjungsi geosentrik Bulan dan Matahari.

Sekilas “kriteria” ini mirip dengan “kriteria” Ummul Qura dengan sedikit perbedaan dalam kedudukan cakram Bulan. Dalam bahasa astronomi, “kriteria” wujudul hilaal ini diformulasikan sebagai saat Lag Bulan > + 0 menit atau singkatnya moonset after sunset. Dan dengan prinsip transfer wujudul hilaal, apabila terjadi situasi dimana sebagian Indonesia sudah memenuhi kondisi wujudul hilaal (positif) sementara sebagian lainnya belum memenuhi (negatif) maka daerah-daerah yang masih negatif musti mengikuti daerah yang sudah positif. Sehingga terdapat satu kesatuan. Dalam hal ini prinsip transfer wujudul hilaal tak berbeda dengan konsep wilayatul hukmi yang dipergunakan Kementerian Agama RI maupun sejumlah ormas Islam di Indonesia lainnya. Hanya namanya saja yang berbeda.

adha-gb2-a_sdh-wujud

Gambar 2. Perbandingan posisi serta kedudukan cakram Bulan dan Matahari pada saat syarat wujudul hilaal sudah terpenuhi (atas) dan wujudul hilaal belum terpenuhi (bawah). Perhatikan bahwa dalam kedua contoh tersebut, tinggi Bulan (dihitung dari horizon sejati) adalah sudah negatif. Namun patokan wujudul hilaal adalah horizon semu (ufuk mar'i). Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 2. Perbandingan posisi serta kedudukan cakram Bulan dan Matahari pada saat syarat wujudul hilaal sudah terpenuhi (atas) dan wujudul hilaal belum terpenuhi (bawah). Perhatikan bahwa dalam kedua contoh tersebut, tinggi Bulan (dihitung dari horizon sejati) adalah sudah negatif. Namun patokan wujudul hilaal adalah horizon semu (ufuk mar’i). Sumber: Sudibyo, 2016.

Pada saat Matahari terbenam di hari Kamis 1 September 2016 TU, hampir di seluruh Indonesia sudah mengalami konjungsi geosentrik Bulan dan Matahari. Dan di seluruh Indonesia tinggi Bulan bervariasi antara minus 1o hingga 0o. Hampir di seluruh Indonesia pula kondisi moonset after sunset tak terpenuhi. Dalam grafik visibilitas Odeh secara global (gambar 1), kawasan yang tidak memenuhi syarat moonset after sunset adalah kawasan yang berwarna merah. Sementara kawasan yang sudah memenuhi syarat moonset after sunset adalah yang berwarna selain merah. Dapat dilihat dalam grafik tersebut bahwa mayoritas Indonesia berada dalam kawasan merah. Perkecualian adalah di sebagian pulau Sumatra khususnya bagian utara. Meski di sini tinggi Bulan sudah negatif (dihitung terhadap horizon sejati), namun terjadi situasi dimana moonset after sunset sudah potensial terpenuhi. Sehingga wilayah ini tercakup ke dalam kawasan berwarna putih.

adha-gb3_a-jakarta

Gambar 3. Perbandingan posisi serta kedudukan cakram Bulan dan Matahari untuk titik Jakarta (atas) dan Palembang (bawah) pada 1 September 2016 TU saat Matahari terbenam. Perhatikan bahwa di kedua titik tersebut, syarat wujudul hilaal belum terpenuhi. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 3. Perbandingan posisi serta kedudukan cakram Bulan dan Matahari untuk titik Jakarta (atas) dan Palembang (bawah) pada 1 September 2016 TU saat Matahari terbenam. Perhatikan bahwa di kedua titik tersebut, syarat wujudul hilaal belum terpenuhi. Sumber: Sudibyo, 2016.

Untuk mengevaluasi potensi tersebut maka diuji apakah Bulan telah sepenuhnya berada di bawah horizon semu ataukah tidak manakala Matahari terbenam untuk titik-titik tertentu di pulau Sumatra dan Jawa pada 1 September 2016 TU. Evaluasi dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Accurate Times 5.2 karya Mohammad Odeh dari ICOP (International Crescent’s Observation Project). Perhitungan di-setting secara toposentrik pada enam titik berbeda masing-masing lima di pulau Sumatra (Palembang, Medan, Banda Aceh, pulau Simeulue dan pulau Nias) serta satu di pulau Jawa (Jakarta). Titik di pulau Jawa sekaligus menjadi titik kontrol mengingat berada di wilayah Gerhana Matahari 1 September 2016.

Di titik Jakarta (propinsi DKI Jakarta), diperoleh bahwa pada saat Matahari terbenam sempurna maka Bulan juga sudah sepenuhnya terbenam. Mengingat piringan teratas Bulan sudah sepenuhnya berada di bawah horizon semu. Sehingga di sini moonset after sunset belum terjadi. Hal serupa juga terjadi di titik Palembang (propinsi Sumatra Selatan). Hal menarik yang dapat dicermati dari titik Jakarta adalah cakram Bulan yang beririsan dengan cakram Matahari. Ini menunjukkan pada saat terbenam di titik Jakarta, Matahari memang sedang mengalami Gerhana Matahari. Dan hal ini memang benar-benar terjadi, dimana dua lokasi di DKI Jakarta berhasil mengabadikan saat-saat awal gerhana tersebut. Yakni di titik rukyat hilaal pulau Karya, yang dilaksanakan oleh tim gabungan Kementerian Agama Kanwil Jakarta, Kementerian Agama Kep. Seribu, Lembaga Falakiyah PWNU Jakarta dan Jakarta Islamic Centre. Sementara yang kedua di titik rukyat hilaal Kemayoran, yang dilaksanakan oleh tim BMKG pusat.

adha-gb3_c-medan

Gambar 4. Perbandingan posisi serta kedudukan cakram Bulan dan Matahari untuk titik Medan (atas) dan Banda Aceh (bawah) pada 1 September 2016 TU saat Matahari terbenam. Perhatikan bahwa di kedua titik tersebut, syarat wujudul hilaal sudah terpenuhi. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 4. Perbandingan posisi serta kedudukan cakram Bulan dan Matahari untuk titik Medan (atas) dan Banda Aceh (bawah) pada 1 September 2016 TU saat Matahari terbenam. Perhatikan bahwa di kedua titik tersebut, syarat wujudul hilaal sudah terpenuhi. Sumber: Sudibyo, 2016.

Berbeda halnya dengan titik Medan (propinsi Sumatra Utara). Disini diperoleh bahwa pada saat Matahari terbenam sempurna Bulan ternyata belum sepenuhnya terbenam. Sebab piringan teratas Bulan masih ada di bawah horizon semu, meski bagian lainnya sudah di bawah horizon semu. Situasi serupa juga terjadi di titik Banda Aceh (propinsi Aceh), titik Sinabang di pulau Simeulue (propinsi Aceh) dan titik Gunungsitoli di pulau Nias (propinsi Sumatra Utara). Pada ketiga titik terakhir tersebut semuanya mengalami situasi Bulan belum sepenuhnya terbenam tatkala Matahari sudah terbenam sempurna, dimana masih ada bagian piringan teratas Bulan yang menyembul di atas horizon semu.

Dengan demikian syarat wujudul hilaal sejatinya telah terpenuhi di sebagian pulau Sumatra, setidaknya di propinsi Aceh dan Sumatra Utara. Seyogyanya dengan prinsip transfer wujudul hilaal maka daerah-daerah lain di Indonesia yang belum memenuhi syarat musti mengikuti Aceh dan Sumatra Utara (yang sudah memenuhi syarat wujudul hilaal). Bila hal ini diberlakukan maka seyogyanya 1 Zulhijjah 1437 H di Indonesia menurut “kriteria” wujudul hilaal bertepatan dengan Jumat 2 September 2016 TU. Dan hari raya Idul Adha seyogyanya bertepatan dengan Minggu 11 September 2016 TU.

adha-gb3_e-simeulue

Gambar 5. Perbandingan posisi serta kedudukan cakram Bulan dan Matahari untuk titik Sinabang di pulau Simeulue (atas) dan Gunungsitoli di pulau Nias (bawah) pada 1 September 2016 TU saat Matahari terbenam. Perhatikan bahwa di kedua titik tersebut, syarat wujudul hilaal sudah terpenuhi. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 5. Perbandingan posisi serta kedudukan cakram Bulan dan Matahari untuk titik Sinabang di pulau Simeulue (atas) dan Gunungsitoli di pulau Nias (bawah) pada 1 September 2016 TU saat Matahari terbenam. Perhatikan bahwa di kedua titik tersebut, syarat wujudul hilaal sudah terpenuhi. Sumber: Sudibyo, 2016.

Namun situasi tersebut tidak terjadi. Muhammadiyah dalam maklumatnya menetapkan hari raya Idul Adha bertepatan dengan Senin 12 September 2016 TU. Inilah anomali itu. Personalia pengurus pusat Muhammadiyah dalam penjelasan singkatnya (secara personal) menyebut bahwa situasi ini terjadi karena di titik acuan perhitungan (markaz), yakni di Yogyakarta, situasi moonset after sunset belum terpenuhi.

Meski penjelasan ini belum menjawab pertanyaan bagaimana dengan prinsip transfer wujudul hilaal, sebagaimana yang pernah diterapkan pada penentuan 1 Ramadhan 1434 H (2013 TU) di Indonesia. Dimana pada saat itu sebagian Indonesia (khususnya pulau-pulau Sumatra, Jawa, kepulauan Bali dan Nusa Tenggara serta sebagian pulau Kalimantan dan sebagian kecil Sulawesi) sudah memenuhi syarat wujudul hilaal pada Senin 8 Juli 2013 TU sementara sisanya belum. Namun Muhammadiyah memaklumatkan seluruh Indonesia sudah memasuki 1 Ramadhan 1434 H (menurut “kriteria” wujudul hilaal) pada keesokan harinya Selasa 9 Juli 2013 TU.

Gambar 6. Zona potensi ketampakan (visibilitas) hilaal per 8 Juli 2013 TU secara toposentrik berdasarkan kriteria Odeh (Audah). Warna merah tidak memenuhi moonset after sunset. Berdasar grafik ini sebagian Indonesia sudah memenuhi syarat wujudul hilaal. Dengan prinsip transfer wujudul hilaal, maka Muhammadiyah memaklumatkan bahwa saat tu seluruh Indonesia sudah memenuhi syarat wujudul hilaal. Sumber: Odeh, 2013.

Gambar 6. Zona potensi ketampakan (visibilitas) hilaal per 8 Juli 2013 TU secara toposentrik berdasarkan kriteria Odeh (Audah). Warna merah tidak memenuhi moonset after sunset. Berdasar grafik ini sebagian Indonesia sudah memenuhi syarat wujudul hilaal. Dengan prinsip transfer wujudul hilaal, maka Muhammadiyah memaklumatkan bahwa saat tu seluruh Indonesia sudah memenuhi syarat wujudul hilaal. Sumber: Odeh, 2013.

Di atas semua persoalan teknis tersebut, patut disyukuri bahwa kedua anomali itu menjadikan Idul Adha 1437 H dapat kita rayakan bersama-sama di Indonesia di sebagian besar dunia pada hari yang sama. Kebersamaan semacam ini yang telah lama didamba oleh Umat Islam dimanapun berada. Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah SAW bertutur bahwa hari raya adalah saat orang banyak berhari raya. Semoga kebersamaan ini dapat selalu terlaksana dalam hal waktu-waktu ibadah (awal Ramadhan dan dua hari raya) ke depan.

Posisi Bulan dan Ramadhan 1435 H yang (Bakal) Diawali Berbeda

Bagian pertama dari lima tulisan

Bulan suci Ramadhan 1435 H tinggal berbilang hari. Sebagian besar Umat Islam di Indonesia pun sedang bersiap menyambutnya. Dan seperti yang sudah-sudah, perkara penentuan awal bulan kalender Hijriyyah pada umumnya dan awal Ramadhan/dua hari raya pun kembali mengemuka. Layaknya tahun silam, potensi (kembali) berbedanya Umat Islam Indonesia dalam memulai ibadah puasa Ramadhan di tahun 1435 H kali ini pun sangat terbuka.

Pada satu sisi, PP Muhammadiyah telah mengumumkan bahwa bagi mereka 1 Ramadhan 1435 H bertepatan dengan Sabtu 28 Juni 2014. Atas dasar prinsip naklul wujud (harfiahnya peminjaman status wujudul hilaal), yang pada galibnya setara dengan konsep wilayatul hukmi, maka seluruh wilayah Indonesia dianggap telah memenuhi “kriteria” wujudul hilaal pada Jumat senja 27 Juni 2014. Sementara di sisi yang lain, meski masih menanti hasil sidang itsbat penetapan awal Ramadhan 1435 H yang salah satunya mengagendakan mendengarkan laporan-laporan observasi hilaal dari seluruh penjuru negeri, namun hampir pasti Menteri Agama bakal memutuskan bahwa 1 Ramadhan 1435 H bertepatan dengan Minggu 29 Juni 2014 jika mengacu pada kesepakatan selama ini, kecuali jika menggunakan pendekatan lain yang sama sekali baru.

Di waktu yang telah berlalu, urusan perbedaan dalam mengawali puasa Ramadhan maupun dalam berhari raya telah menyebabkan internal Umat Islam Indonesia bagaikan saling sikut dan sodok. Bagaimana dengan tahun ini? Menteri Agama yang baru memang telah memutuskan bahwa sidang itsbat penetapan awal Ramadhan 1435 H adalah sidang yang tertutup bagi akses media terkecuali pada saat konferensi pers penyampaian hasil sidang. Nampaknya sikap ini diambil untuk menghindari keriuhan yang tak perlu sepanjang Ramadhan seperti yang sudah-sudah. Namun di sisi lain ada juga yang berpendapat sikap demikian sebagai keputusan politis terkait suksesi kepemimpinan nasional dalam pilpres 9 Juli 2014 mendatang. Kali ini partai pak Menteri berada dalam satu kubu yang sama dengan partai yang menjadi saluran politik (tak-resmi) sebagian eksponen pengguna “kriteria” wujudul hilaal. Sehingga friksi di antara sesama eksponen koalisi perlu diredam, terlebih di tengah persaingan elektabilitas antar capres yang semakin ketat. Sebab harus diakui, meski sebagian kecil kita menganggap urusan perbedaan awal Ramadhan dan hari raya ibarat kaset bernada serupa yang hanya diputar berulang-ulang, namun di kalangan akar rumput masalah perbedaan ini jauh lebih menonjol dan mengemuka dibanding isu panas seperti korupsi sekalipun. Ya, perbedaan dalam mengawali bulan suci Ramadhan maupun hari raya dengan mudah menjadi bagian dalam mengidentifikasi antara “kita” dan “mereka.”

Posisi Bulan

Bagaimana sesungguhnya posisi Bulan pada Jumat senja 27 Juni 2014 sehingga potensi perbedaan awal Ramadhan 1435 H di Indonesia demikian terbuka lebar ?

Salah satu parameter penting bagi penentuan awal bulan kalender Hijriyyah adalah konjungsi Bulan-Matahari (ijtima’). Peristiwa konjungsi Bulan dan Matahari pada hakikatnya adalah peristiwa dimana pusat cakram Matahari tepat berada dalam satu garis bujur ekliptika yang sama dengan pusat cakram Bulan ditinjau dari titik referensi tertentu. Dalam peristiwa ini Bulan bisa saja seakan-akan ‘menindih’ Matahari dalam situasi khusus yang kita kenal sebagai Gerhana Matahari. Namun yang sering dijumpai adalah Bulan berjarak terhadap Matahari sehingga antara Matahari dan Bulan hanyalah berada dalam satu garis lurus. Garis lurus ini tidak harus mendatar (horizontal) ataupun tegak (vertikal). Di Indonesia, konjungsi Bulan dan Matahari lebih sering terjadi saat kedua raksasa langit tersebut terletak pada satu garis lurus yang relatif miring terhadap cakrawala (horizon).

Gambar 1. Posisi Bulan dan Matahari pada saat terjadi konjungsi geosentris Bulan-Matahari 27 Juni 2014 pukul 15:09 WIB, ditinjau dari pantai Logending, Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah). Garis putus-putus menandakan garis bujur ekliptika yang pada saat itu ditempati baik oleh Bulan maupun Matahari. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 1. Posisi Bulan dan Matahari pada saat terjadi konjungsi geosentris Bulan-Matahari 27 Juni 2014 pukul 15:09 WIB, ditinjau dari pantai Logending, Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah). Garis putus-putus menandakan garis bujur ekliptika yang pada saat itu ditempati baik oleh Bulan maupun Matahari. Sumber: Sudibyo, 2014.

Dengan menggunakan sistem perhitungan (sistem hisab) ELP 2000-82 diketahui bahwa jika ditinjau dari titik pusat Bumi (geosentrik), konjungsi Bulan dan Matahari akan terjadi pada Jumat 27 Juni 2014 pukul 15:09 WIB. Sebaliknya bila ditinjau dari titik-titik di permukaan Bumi (toposentrik), konjungsi baru akan terjadi dalam rentang waktu antara pukul 16:56 WIB (bagi kota Medan) hingga pukul 17:03 WIB (bagi kota Jakarta). Konjungsi toposentrik sejatinya lebih realistis, mengingat segenap umat manusia hidup di permukaan Bumi. Namun ia kalah populer, sehingga yang dijadikan patokan dalam perhitungan ilmu falak adalah konjungsi geosentrik.

Konjungsi geosentrik Bulan-Matahari menentukan elemen umur Bulan, yakni selang waktu antara saat konjungsi (geosentrik) terjadi hingga saat Matahari terbenam di masing-masing titik pada satu negara tertentu. Di Indonesia, pada 27 Juni 2014 senja umur Bulan bervariasi antara +0,52 jam yang terjadi di Jayapura (Papua) hingga +3,78 jam di Lhoknga (Aceh).

Gambar 2. Peta umur Bulan di Indonesia pada Jumat senja 27 Juni 2014. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 2. Peta umur Bulan di Indonesia pada Jumat senja 27 Juni 2014. Sumber: Sudibyo, 2014.

Parameter lainnya yang tak kalah pentingnya adalah tinggi Bulan, yakni tinggi pusat cakram Bulan terhadap garis cakrawala pada saat Matahari terbenam. Di Indonesia, pada saat yang sama tinggi Bulan bervariasi antara -0,83 derajat di Jayapura (Papua) hingga +0,16 derajat di Pelabuhan Ratu (Jawa Barat). Meskipun menjadi titik terbarat di Indonesia, namun geometri posisi Bulan dan Matahari saat ini menyebabkan tinggi Bulan di Lhoknga justru bernilai negatif, yakni hanya -0,17 derajat. Tinggi Bulan bernilai negatif menunjukkan Bulan telah lebih dulu terbenam pada saat Matahari tepat terbenam sepenuhnya.

Gambar 3. Peta tinggi Bulan di Indonesia pada Jumat senja 27 Juni 2014. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 3. Peta tinggi Bulan di Indonesia pada Jumat senja 27 Juni 2014. Sumber: Sudibyo, 2014.

Dan parameter berikutnya yang juga menentukan adalah elongasi Bulan, yakni jarak sudut antara titik pusat cakram Bulan dan Matahari pada saat Matahari terbenam. Pada saat tersebut, elongasi Bulan di Indonesia bernilai antara 4,6 derajat di pulau Rote (NTT) hingga 4,99 derajat di pulau Sabang (Aceh).

Bagaimana cara membaca data-data ini sehingga kita bisa mengetahui bahwa secara teknis awal Ramadhan 1435 H di Indonesia hampir pasti bakal berbeda?

Untuk itu kita harus melihat dinamika Umat Islam Indonesia masa kini. Dari 240 juta penduduk Indonesia, mayoritas adalah Umat Islam dan sekitar 60 juta diantaranya terdaftar sebagai anggota dua ormas Islam terbesar, masing-masing Nahdlatul ‘Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Belum lagi yang tak terdaftar namun bersimpati pada salah satu dari keduanya. Kedua ormas ini memiliki cara berbeda dalam menentukan awal bulan kalender Hijriyyah. Sehingga perbedaan hasil penentuan awal bulan kalender Hijriyyah di antara mereka akan berimbas pada perbedaan di kalangan Umat Islam di Indonesia.

Bagi NU, awal bulan kalender Hijriyyah hanya bisa ditentukan dengan cara rukyat (observasi) hilaal, sementara hisab (perhitungan ilmu falak) hanya dijadikan sebagai faktor pendukung rukyat. Bagi NU, saat rukyat tidak berhasil mendeteksi hilaal atas sebab apapun maka harus dilakukan istikmal, yakni penggenapan bulan kalender Hijriyyah yang telah berjalan menjadi 30 hari. Semenjak beberapa tahun terakhir NU mencoba konsisten untuk melakukan rukyat hilaal pada setiap awal bulan kalender Hijriyyah, tak semata pada awal Ramadhan dan hari raya saja. Seiring beragamnya sistem hisab yang beredar di tubuh NU dengan hasil yang sangat bervariasi pula, maka ormas ini memiliki parameter sendiri untuk menentukan apakah hasil rukyat bisa diterima ataukah tidak. Parameter tersebut adalah “kriteria” Imkan Rukyat yang diformulasikan Kementerian Agama RI, khususnya pada faktor tinggi Bulan minimal dalam sistem hisab kontemporer. “Kriteria” Imkan Rukyat itu sendiri, khususnya bentuk revisi 2011, adalah sebagai berikut :

rmd1435_IRSebaliknya bagi Muhammadiyah, awal bulan kalender Hijriyyah cukup ditentukan dengan cara hisab tanpa perlu melakukan rukyat. Kriteria yang digunakan adalah “kriteria” wujudul hilaal, yang pada saat ini memiliki formulasi sebagai berikut :

rmd1435_WHMaka dengan mudah dapat dilihat bahwa pada Jumat senja 27 Juni 2014, sebagian wilayah Indonesia telah memenuhi “kriteria” wujudul hilaal karena memiliki tinggi Bulan positif (lebih besar dari nol). Sehingga dengan mengaplikasikan prinsip naklul wujud, maka 1 Ramadhan 1435 H bagi Muhammadiyah bertepatan dengan Sabtu 28 Juni 2014. Sebaliknya pada Jumat senja 27 Juni 2014 itu tak satupun lokasi di Indonesia yang memenuhi “kriteria” Imkan Rukyat karena tak ada yang memiliki tinggi Bulan lebih dari atau sama dengan +2,25 derajat. Sehingga, tanpa mendului apa yang akan terjadi pada rukyat hilaal, bulan Sya’ban 1435 H akan digenapkan menjadi 30 hari dan 1 Ramadhan 1435 H bakal bertepatan dengan Minggu 29 Juni 2014. Inilah potensi perbedaan itu.

Referensi :

Sudibyo. 2013. Ramadhan 1435 H (2014), Kertas Kerja dalam Temu Kerja Nasional Hisab Rukyat 2013. Batam (Kepulauan Riau), Juni 2013.

Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1434 H untuk Kabupaten/Kota di Indonesia

Jadwal Imsakiyah menjadi sebuah kebutuhan tersendiri bagi insan muslim selama menjalani bulan suci Ramadhan, termasuk di Indonesia. Jadwal imsakiyah sebenarnya sama dengan jadwal waktu shalat harian/bulanan pada umumnya sehingga juga menampilkan awal waktu untuk kelima ibadah shalat wajib. Sebagai tambahan terdapat waktu Imsak, yang sejatinya bukan bagian dari waktu shalat namun lebih merupakan pengingat bahwa sebentar lagi waktu Shubuh akan tiba, serta waktu terbit (Matahari). Namun dengan kewajiban menunaikan ibadah puasa Ramadhan selama sebulan Hijriyyah penuh yang setiap harinya dimulai pada awal waktu Shubuh dan diakhiri pada awal waktu Maghrib (terbenamnya Matahari), maka jadwal imsakiyah menjadi hal esensial. Terlebih jika dikaitkan dengan ketentuan untuk mengakhirkan waktu sahur dan menyegerakan waktu berbuka puasa.

Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1434 H dalam lampiran-lampiran ini disusun berdasarkan algoritma Jean Meeus untuk posisi Matahari yang tingkat akurasinya tergolong cukup tinggi dan telah terbuktikan lewat beragam fenomena langit dalam rupa Gerhana Matahari, khususnya sejak tahun 2010 hingga 2013. Bagi setiap kabupaten/kota (kecuali DKI Jakarta) Jadwal Imsakiyah dihitung berdasarkan titik referensi kabupaten/kota yang bersangkutan yang terletak di ibukotanya. Koordinat dan elevasi (ketinggian dihitung dari permukaan air laut rata-rata) setiap titik referensi ditentukan berdasarkan peta tematik terkini yang dipublikasikan Google baik lewat laman Google Map maupun perangkat lunak Google Earth.

Acuan untuk awal Ramadhan 1434 H dalam setiap Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1434 H di sini adalah “kriteria” Imkan Rukyat revisi, kriteria sementara yang diadopsi Kementerian Agama RI semenjak 2011. Waktu-waktu shalat dinyatakan dalam korelasi tanggal-bulan-tahun Mataharinya dalam konsepsi tahun Tarikh Umum (TU). Istilah Tarikh Umum adalah pengindonesiaan dari kosakata Common Era (CE) yang dulu dinisbatkan bagi penanggalan Masehi atau Anno Domini (AD) namun kini disarankan untuk tidak dipergunakan lagi.

Terkecuali untuk Kabupaten Kebumen, Banjarnegara dan Cilacap (semuanya di Propinsi Jawa Tengah), seluruh Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1434 H yang dilampirkan di sini diimplementasikan berdasarkan pendekatan (aproksimasi) terhadap kewilayahan masing-masing kabupaten/kota dengan menganggap semuanya memiliki karakter geografis serupa sehingga dapat diterapkan batas toleransi (ihtiyaath) sebesar 2 menit. Dalam realitanya, setiap kabupaten/kota adalah unik sehingga memiliki karakter geografinya masing-masing baik terkait lebar bujur (yakni batas garis bujur untuk titik terbarat dan titik tertimurnya) serta lebar elevasi (yakni batas elevasi antara pemukiman penduduk terendah dengan yang tertinggi). Jika hal tersebut diperhitungkan maka ihtiyaath masing-masing kabupaten/kota belum tentu sama dengan 2 menit. Namun dengan terbatasnya informasi, maka (untuk sementara) kekhasan karakter geografis tersebut dikesampingkan.

Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1434 H ini disusun dengan format yang bisa langsung dicetak (via printer). Diperkenankan untuk dipergunakan bagi keperluan yang terkait, sepanjang tetap mencantumkan nama dan identitas penyusunnya.

Hingga 25 Juni 2013, baru kabupaten/kota bagi seluruh propinsi di Pulau Jawa saja yang telah berhasil disusun Jadwal Imsakiyah-nya. Untuk pulau-pulau lainnya, Insya’ Alloh menyusul.

Pulau Jawa :
Propinsi Banten
Propinsi DKI Jakarta
Propinsi Jawa Barat
Propinsi Jawa Tengah
Propinsi DI Yogyakarta
Propinsi Jawa Timur