Robohnya Observatorium Kita, Catatan Idul Adha 1436 H yang Berbeda di Indonesia

Bagian keempat dari lima tulisan

Konjungsi geosentris Bulan-Matahari, yakni peristiwa saat titik pusat cakram Bulan dan titik pusat cakram Matahari menempati satu garis bujur ekliptika yang sama dipandang pusat Bumi, terjadi pada Minggu 13 September 2015 Tarikh Umum (TU) pukul 13:41 WIB. Sementara konjungsi toposentris Bulan-Matahari, yakni peristiwa sejenis namun dipandang dari salah satu titik di permukaan globe Bumi, justru terjadi lebih kemudian. Untuk Indonesia, konjungsi toposentrik tersebut berlangsung antara pukul 14:45 WIB (Medan, propinsi Sumatra Utara) hingga 15:32 WIB (Biak, propinsi Papua). Konjungsi toposentrik sejatinya lebih realistis, karena segenap manusia hidup di permukaan Bumi. Namun dalam praktiknya kalah populer dibanding konjungsi geosentrik.

Konjungsi geosentrik Bulan-Matahari menjadi patokan bagi elemen umur Bulan geosentrik. Yakni selang waktu antara saat konjungsi (geosentrik) hingga saat Matahari terbenam di sebuah titik. Umur Bulan bernilai positif jika konjungsi geosentris Bulan-Matahari telah terjadi. Jika sebaliknya maka bernilai negatif. Bagi Indonesia, pada Minggu 13 September 2015 TU senja umur Bulan geosentrik bervariasi antara +1,9 jam (Jayapura, propinsi Papua) hingga +4,9 jam (Lhoknga, propinsi Aceh). Selain umur Bulan geosentrik terdapat pula sejumlah elemen penting lainnya. Yang pertama adalah tinggi Bulan, yakni busur vertikal yang ditarik dari garis cakrawala (horizon) hingga berujung titik pusat cakram Bulan pada saat Matahari terbenam. Seperti halnya umur Bulan, tinggi Bulan pun mengenal nilai positif dan negatif. Tinggi Bulan bernilai positif jika Bulan masih berada di atas cakrawala saat Matahari terbenam. Sebaliknya jika Bulan terbenam lebih dulu ketimbang Matahari, maka tinggi Bulan bernilai negatif. Di Indonesia, pada saat itu tinggi Bulan bervariasi antara -1,3 derajat (Jayapura, propinsi Papua) hingga +0,3 derajat (Lhoknga, propinsi Aceh).

Elemen selanjutnya adalah elongasi Bulan, yakni jarak sudut antara titik pusat cakram Bulan dan Matahari pada saat Matahari terbenam. Elongasi Bulan selalu bernilai positif. Pada Minggu 13 September 2015 TU senja, elongasi Bulan di Indonesia bernilai antara 1,1 derajat (Merauke, propinsi Papua) hingga 1,9 derajat (Lhoknga, propinsi Aceh). Dan elemen yang terakhir adalah selisih waktu terbenamnya Bulan-Matahari. Yakni selisih waktu antara saat Bulan terbenam dibanding dengan saat Matahari terbenam. Selisih waktu terbenamnya Bulan-Matahari bernilai positif jika Bulan terbenam lebih kemudian dibanding Matahari. Jika yang terjadi sebaliknya, maka selisih waktu terbenamnya Bulan-Matahari akan bernilai negatif. Di Indonesia pada saat itu nilai waktu terbenamnya Bulan-Matahari bervariasi antara -1 menit 50 detik (Jayapura, propinsi Papua) hingga +3 menit 5 detik (Nias, propinsi Sumatra Utara).

Harap digarisbawahi bahwa semua angka di atas merupakan hasil komputasi berdasar sistem perhitungan (hisab) ELP 2000-82. Kondisi dalam perhitungannya pun diidealkan. Misalnya elevasi (ketinggian) setiap titik di Indonesia dianggap sama dengan paras (permukaan) air laut rata-rata.

Gambar 1. Peta garis-garis tinggi Bulan di Indonesia pada saat Matahari terbenam Minggu 13 September 2015 TU dalam penentuan 1 Zulhijjah 1436 H. Nampak bahwa Indonesia dibelah oleh garis nol (garis yang menunjukkan tinggi Bulan sama dengan nol derajat). Sumber: Sudibyo, 2015.

Gambar 1. Peta garis-garis tinggi Bulan di Indonesia pada saat Matahari terbenam Minggu 13 September 2015 TU dalam penentuan 1 Zulhijjah 1436 H. Nampak bahwa Indonesia dibelah oleh garis nol (garis yang menunjukkan tinggi Bulan sama dengan nol derajat). Sumber: Sudibyo, 2015.

Minggu 13 September 2015 TU bertepatan dengan 29 Zulqaidah 1436 H di Indonesia. Setiap takwim (kalender) di Indonesia menunjukkan tanggal yang sama. Baik dalam takwim resmi pemerintah Republik Indonesia (yang bernama takwim standar Indonesia), maupun dalam kalender ormas Islam seperti Muhammadiyah dan Nahdatul ‘Ulama (NU). Maka 13 September 2015 TU menjadi saat yang krusial, karena menjadi momen untuk menentukan kapan 1 Zulhijjah 1436 H. Yang berhubungan erat dengan kapan Hari Raya Idul Adha 10 Zulhijjah 1436 H ditetapkan di negeri ini. Dan sayangnya, 29 Zulqaidah 1436 H terjadi bersamaan waktunya dalam segenap kalender di Indonesia, namun Indonesia kembali berbeda dalam merayakan Idul Adha.

Mengapa? Seperti dijelaskan sebelumnya, khasanah perbedaan dalam berpuasa Ramadhan serta berhari raya Idul Fitri dan Idul Adha di Indonesia sangat dipengaruhi sikap dua ormas Islam terbesar. Yakni NU di satu sisi dan Muhammadiyah di sisi yang lain. Bagi NU, penentuan tersebut hanya bisa dilakukan dengan cara rukyat hilaal. Ormas ini tetap menggunakan hisab (perhitungan ilmu falak), namun hisab lebih diposisikan sebagai advisory (pendukung pelaksanaan rukyat). Hasil rukyat hilaal yang bisa diterima di lingkungan NU adalah hasil rukyat yang hisabnya melampaui batas “kriteria” Imkan rukyat. “Kriteria” Imkan rukyat adalah “kriteria” yang dikembangkan oleh Kementerian Agama RI dengan tujuan untuk menjembatani kubu hisab dan rukyat. Pada posisi tersebut NU bersikap untuk menunggu hasil-hasil rukyat sekaligus memaparkannya di sidang itsbat penetapan awal Ramadhan dan dua hari raya yang diselenggarakan Kementerian Agama RI.


Pada Minggu 13 September 2015 TU senja itu tak satupun titik di Indonesia yang memenuhi “kriteria” Imkan rukyat. Sehingga dalam pemaparannya di sidang itsbat penetapan awal Zulhijjah 1436 H, NU menyatakan tak satupun pos rukyat hilaal di bawah jejaring NU yang melaporkan keterdeteksian hilaal. Sehingga bulan kalender Zulqaidah 1436 H pun digenapkan menjadi 30 hari (istikmal) dan 1 Zulhijjah 1436 H bertepatan dengan Selasa 15 September 2015 TU.

Keputusan NU ternyata senada dengan keputusan sidang itsbat penetapan awal Zulhijjah 1436 H Kementerian Agama RI. Hingga saat ini mayoritas ormas Islam di Indonesia dalam forum sidang itsbat telah menyepakati implementasi “kriteria” Imkan rukyat. Khususnya dalam bentuk revisinya semenjak 1432 H (2011 TU). Ormas Islam yang belum menyepakati “kriteria” tersebut, misalnya Persatuan Islam (Persis) yang memilih mengadopsi “kriteria” LAPAN 2009 untuk kalendernya, pada praktiknya selalu senada dengan keputusan sidang itsbat. Atas dasar demi persatuan Umat Islam di Indonesia.

Sebaliknya Muhammadiyah tidak menunggu hasil rukyat hilaal. Muhammadiyah berpedoman pada hisab dengan “kriteria”-nya sendiri, yakni “kriteria” wujudul hilaal. Muhammadiyah tidak menempatkan rukyat hilaal sebagai, katakanlah, advisory bagi hisab. Dengan posisi demikian Muhammadiyah juga berpedoman untuk tidak berpatokan pada hasil sidang itsbat dalam menetapkan hari Raya Idul Adha 1436 H.

Pada Minggu 13 September 2015 TU senja itu sebagian titik di Indonesia telah memenuhi “kriteria” wujudul hilaal. Khususnya Indonesia bagian barat. Dengan menerapkan prinsip naklul wujud, yang telah diadopsi Muhammadiyah semenjak 1433 H (2012 TU), maka meski bagian timur Indonesia belum memenuhi syarat “kriteria” wujudul hilaal namun tetap menjadi satu kesatuan dengan bagian barat Indonesia. Sehingga Muhammadiyah menetapkan bulan kalender Zulqaidah 1436 H hanya berumur 29 hari dan 1 Zulhijjah 1436 H ditetapkannya jatuh pada Senin 14 September 2015 TU.

Dengan situasi demikian dan ditunjang dengan keputusan Menteri Agama RI yang didasari sidang itsbat penetapan awal Zulhijjah 1436 H, maka nampak jelas bahwa hampir semua ormas Islam akan menetapkan hari raya Idul Adha 1436 H bertepatan dengan Kamis 24 September 2015 TU. Hal ini juga yang naga-naganya bakal diputuskan Menteri Agama RI. Sebaliknya Muhammadiyah telah jauh-jauh hari menetapkan Idul Adha 1436 H bertepatan dengan Rabu 23 September 2015 TU.

Dalam situasi seperti ini patut diperhatikan pula bahwa Saudi Arabia menetapkan Idul Adha 1436 H bertepatan dengan Kamis 24 September 2015 TU. Harus digarisbawahi bahwa hari Kamis itu akan bertepatan dengan tanggal 11 Zulhijjah 1436 H dalam kalender Ummul Qura yang digunakan pemerintah Kerajaan Saudi Arabia sebagai kalender sipil. Mengingat dengan basis “kriteria” Ummul Qura (yang mirip-mirip dengan “kriteria” wujudul hilaal), sejatinya 1 Zulhijjah 1436 H di Saudi Arabia bertepatan dengan Senin 14 September 2015 TU. Namun penentuan awal Ramadhan serta dua hari raya di Saudi Arabia tidak berdasarkan atas hisab, melainkan rukyat. Dan jika hasil rukyatnya tidak mendukung, bagi pemerintah Kerajaan Saudi Arabia tidak menjadi persoalan bilamana puasa Ramadhan dimulai pada 2 Ramadhan, atau hari raya Idul Fitri dilaksanakan pada 2 Syawwal, ataupun hari raya Idul Adha bertepatan dengan 11 Zulhijjah.

Gambar 2. Peta tinggi Bulan di segenap permukaan Bumi pada saat Matahari terbenam Minggu 13 September 2015 TU. Garis kuning menunjukkan garis nol (garis dimana tinggi Bulan sama dengan nol derajat). Di sebelah barat garis nol ini semua lokasi memiliki tinggi Bulan positif (+), sementara di timurnya memiliki tinggi Bulan negatif (-). Nampak bahwa seluruh Saudi Arabia berada di kawasan yang memiliki tinggi Bulan positif. Sehingga dalam kalender Ummul Qura dinyatakan bahwa 1 Zulhijjah 1436 H di Saudi Arabia bertepatan dengan 14 September 2015 TU. Namun karena rukyat hilaal di Saudi Arabia gagal mendeteksi hilaal (terutama akibat tutupan badai pasir), maka Idul Adha di Saudi Arabia jatuh pada Kamis 24 September 2015 TU yang bertepatan dengan 11 Zulhijjah 1436 H. Sumber: Sudibyo, 2015.

Gambar 2. Peta tinggi Bulan di segenap permukaan Bumi pada saat Matahari terbenam Minggu 13 September 2015 TU. Garis kuning menunjukkan garis nol (garis dimana tinggi Bulan sama dengan nol derajat). Di sebelah barat garis nol ini semua lokasi memiliki tinggi Bulan positif (+), sementara di timurnya memiliki tinggi Bulan negatif (-). Nampak bahwa seluruh Saudi Arabia berada di kawasan yang memiliki tinggi Bulan positif. Sehingga dalam kalender Ummul Qura dinyatakan bahwa 1 Zulhijjah 1436 H di Saudi Arabia bertepatan dengan 14 September 2015 TU. Namun karena rukyat hilaal di Saudi Arabia gagal mendeteksi hilaal (terutama akibat tutupan badai pasir), maka Idul Adha di Saudi Arabia jatuh pada Kamis 24 September 2015 TU yang bertepatan dengan 11 Zulhijjah 1436 H. Sumber: Sudibyo, 2015.

Inilah perbedaan tersebut. Khasanah perbedaan ini memang telah klasik, telah terjadi sejak berpuluh tahun silam di Indonesia. Pokok permasalahannya juga berkutat pada hal yang itu-itu saja. Dalam kala termutakhir masalah ini menjadi lebih menarik lagi saat diperbandingkan dengan dua cerita yang berasal dua masa berbeda dari satu tempat yang sama. Yakni Istanbul.

Observatorium

Istanbul adalah kota kuna yang berdiri di tubir dua benua. Sisi barat kota ini tumbuh di atas tanah benua Eropa sementara sisi timurnya mengembang di tepian benua Asia. Selat Bosporus yang tepat berada di tengah-tengah kota ini merupakan jalan air alamiah penghubung Laut Hitam dan Laut Marmara yang juga batas alamiah Asia dan Eropa. Istanbul juga sekaligus kota yang dianggap sebagai ibukota negara besar Islam terakhir: imperium Turki Utsmani. Jejak kebesaran tersebut masih terserak dimana-mana. Salah satunya di sisi barat kota, tempat berdirinya istana Topkapi sebagai salah satu istana utama Turki Utsmani pada masa kejayaannya. Dari istana ini beringsutlah ke utara menyusuri jalan raya hingga tiba di distrik Kasimpassa. Akan dijumpai sebuah stadion besar yang baru saja direnovasi dan kini menyandang nama presiden Turki petahana (incumbent), yakni Stadion Recep Tayyip Erdogan. Inilah markas klub Kasimpassa, klub sepakbola lokal yang bila saja dikembangkan dengan baik bukan tak mungkin dapat menjadi pesaing kuat klub raksasa sekotanya: Galatasaray.

Dari tempat parkir nan luas di sebelah timur stadion Erdogan, berjalanlah ke timur menyusuri jalan Kallavi nan sempit. Teruslah melangkah hingga anda sampai di persimpangannya dengan jalan Istiklal yang besar. Berhentilah di perempatan ini. Layangkan pandangan ke sekelilingnya secara seksama. Di tengah-tengah hutan beton yang mencirikan kota besar peradaban manusia masakini, anda akan menemukan sebuah plakat unik menempel di salah satu dinding gedung di pinggir jalan. Berbentuk persegi, namun didalamnya terdapat bentuk geometris mirip busur derajat yang sering kita gunakan kala masih duduk di bangku sekolah. Di tengah-tengahnya terdapat tali busur dengan pemberat di ujungnya. Plakat tersebut belum lama dipasang. Adalah Turkish Astronomical Society bekerja sama dengan Komisi Nasional UNESCO untuk Turki dan Universitas Koc yang punya gawe memasangnya, dalam rangka Tahun Astronomi Internasional 2009. Plakat inilah satu-satunya jejak modern yang menandakan bahwa di tempat ini dulu pernah berdiri sebuah Observatorium Istanbul.

Pada masanya, Observatorium Istanbul adalah observatorium terbesar sedunia. Itu adalah masa kala dunia sedang gencar-gencarnya menyelenggarakan penjelajahan samudera. Kapal-kapal layar besar mengarung samudera kemana-mana, menuju ke bagian dunia yang (dianggap) belum dikenal. Pembangunan dan pengoperasian armada kapal-kapal layar besar masa itu dapat disetarakan dengan peluncuran pesawat antariksa ulang-alik masa kini. Maka tak berlebihan bila magnitud Observatorium Istanbul pun bisa disetarakan dengan teleskop antariksa Hubble saat ini. Inilah salah satu bangunan monumental di masa keemasan dunia Islam. Gagasan pembangunan Observatorium Istanbul ditelurkan Taqi al-Din Muhammad ibn Ma’ruf, astronom yang dekat dengan sang putra mahkota Syahzada Murad. Kala putra mahkota naik tahta sebagai Sultan Murad III pada 1574 TU, Taqi al-Din pun ngompori sahabatnya itu agar berkenan membangun observatorium besar. Taqi al-Din sering membandingkan Turki Utsmani dengan Timurid, negeri kecil di Asia tengah yang kerap dikoyak peperangan. Namun begitu Timurid pernah memiliki sebuah observatorium besar, lengkap dengan madrasahnya. Yakni Observatorium Samarkand atau lebih populer dengan nama Observatorium UlughBeg. Observatorium Samarkand beroperasi hingga hampir seabad lamanya. Sebaliknya Turki Utsmani yang jauh lebih besar dan lebih gilang gemilang tidaklah demikian.

Gagasan Taqi al-Din memikat sultan. Dan mulailah megaproyek pembangunan Observatorium Istanbul bergulir. Butuh waktu tiga tahun sebelum seluruh bangunan observatorium benar-benar berhasil diselesaikan. Termasuk perpustakaan dan perumahan untuk para staf. Dengan fasilitas ini, Taqi al-Din tak sekedar ingin melampaui pencapaian Observatorium Samarkand, namun juga berambisi menciptakan tabel astronomis terbaru dan terlengkap bagi Matahari, Bulan serta planet-planet. Untuk itu Observatorium Istanbul dilengkapi dengan sejumlah radas (instrumen) tercanggih untuk ukuran zamannya. Seperti bola armillari raksasa, jam astronomis berketelitian tinggi, rubu’ (sextant) raksasa dan sebagainya. Di sisi lain, kompleks Observatorium Istanbul segera menyedot perhatian besar di daratan Eropa. Astronom Tycho Brahe (Denmark) demikian terpesona dengannya. Sehingga kala Brahe memutuskan membangun kompleks Observatorium Uraniborg (atas dukungan raja Denmark) hanya berselang beberapa tahun kemudian, sebagian desain dan radasnya mengacu Observatorium Istanbul.

Gambar 3. Plakat memorial Observatorium Istanbul yang ditempel di bangunan pada salah satu sudut perempatan jalan Kallavi dan Istiklal di Istanbul (Turki). Inilah satu-satunya penanda modern bahwa di sini dulu pernah berdiri observatorium terbesar di dunia pada masanya, Observatorium Istanbul. Sumber: WayMarking.com, 2014.

Gambar 3. Plakat memorial Observatorium Istanbul yang ditempel di bangunan pada salah satu sudut perempatan jalan Kallavi dan Istiklal di Istanbul (Turki). Inilah satu-satunya penanda modern bahwa di sini dulu pernah berdiri observatorium terbesar di dunia pada masanya, Observatorium Istanbul. Sumber: WayMarking.com, 2014.

Apa lacur, impian Taqi al-Din ibarat pungguk merindukan Jupiter. Segera intrik dan konlik meletup dengan para mufti (ulama). Selain merasa dianaktirikan, para mufti berang dengan sosok Taqi al-Din yang gemar menyerempet dunia astrologi, wilayah yang diharamkan dalam Islam. Puncaknya adalah tatkala sebuah komet sangat terang menampakkan diri di langit Istanbul. Komet tersebut, kini dikenal sebagai Komet Terang 1577 atau komet C/1577 V1, berbinar demikian terang hingga melebihi terangnya Venus. Komet itu nampak di langit Istanbul semenjak November 1577 dan terus bertahan hingga tahun itu berakhir. Sultan Murad III segera memerintahkan Taqi al-Din dan para stafnya untuk mengamati komet C/1577 V1 terus-menerus. Baik siang maupun malam. Sekaligus menafsiri apa pengaruhnya bagi manusia khususnya untuk sultan dan kerajaannya. Setelah beberapa lama mengamati, Taqi al-Din menyajikan laporan berbau astrologi yang berbunga-bunga pada sultan. Intinya komet tersebut adalah pertanda baik. Pertanda Turki Utsmani akan terus berjaya. Pertanda Turki Utsmani akan terus bertambah besar. Bahkan laporannya menyebut bahwa komet inilah pertanda kemenangan Turki Utsmani atas Persia, jikalau sultan berkehendak melancarkan invasi ke sana.

Tragisnya, hanya beberapa waktu pasca laporan tersebut wabah penyakit justru berkecamuk hebat. Sebagian Turki Utsmani tergerogoti. Beberapa tokoh penting negeri turut berkalang tanah, menjadi korban. Maka jangankan menginvasi Persia, Turki Utsmani justru sibuk sendiri mencoba mengatasi wabah. Mulai saat itu perhatian sultan terhadap Taqi al-Din sontak memudar. Kini giliran para mufti yang mengambil hati sang sultan. Sebagai kulminasinya, pada 1580 TU mufti kepala Syaikh Qazidada mengajukan saran agar Taqi al-Din disingkirkan sepenuhnya dari istana dan observatoriumnya dibongkar. Gayung bersambut. Sultan Murad III menyetujui sepenuhnya. Maka palu godam pun berayun-ayun, merobohkan Observatorium Istanbul hingga tak berbekas.

Observatorium yang (di)-roboh-(kan) sejatinya bukan hanya monopoli Istanbul. Hal serupa juga dialami Observatorium Uraniborg dalam satu dasawarsa kemudian. Begitu dukungan kerajaan menyurut seiring mangkatnya raja tua dan bertahtanya raja baru yang tak peduli ilmu, Tycho Brahe pun menyingkir. Ia pindah ke Praha (Ceko) dan meneruskan kerja astronominya dengan mendirikan observatorium baru. Disinilah Johannes Kepler datang mengabdi sebagai asisten yang produktif dan kreatif. Kelak berbekal data-data observasi Brahe inilah Kepler menelurkan ketiga hukum pergerakan planetnya yang legendaris sepeninggal Brahe. Uraniborg yang terlantar akhirnya benar-benar dirobohkan (hingga tinggal pondasinya) begitu Brahe wafat. Namun sebaliknya astronomi justru bersemi di tanah Eropa. Fajar astronomi modern akhirnya benar-benar menyembul tatkala hanya dalam beberapa dekade kemudian Galileo Galilei memperkenalkan radas teropong (teleskop) untuk observasi benda-benda langit.

Tidak demikian dengan dunia Islam. Imperium Turki Utsmani masih tetap berdiri hingga tiga setengah abad kemudian meski kian tertatih-tatih. Ia baru benar-benar lenyap dari panggung sejarah pada 1922 TU. Namun sepanjang masa tersebut tak pernah lagi berdiri kompleks observatorium besar nan monumental, yang dioperasikan dengan tekun oleh astronom-astronom Muslim yang disegani. Entah di wilayah Turki Utsmani, maupun di negara-negara Islam lainnya yang semasa seperti Mughal (India) maupun Qajar (Persia). Produk-produk observasi dalam wujud tabel astronomi (zij) maupun katalog bintang dengan tingkat akurasi yang lebih baik seiring perkembangan zaman pun tak pernah lahir. Pun turunan monumentalnya, seperti misalnya garis meridian acuan. Tak mengherankan bila dalam momen sepenting Konferensi Meridian Internasional 1884 yang digelar guna menentukan garis meridian utama yang menjadi acuan titik koordinat dan jam sejagat, Turki Utsmani (sebagai satu-satunya representasi dunia Islam saat itu) justru memberikan suaranya kepada meridian Greenwich dari Inggris. Padahal meridian Greenwich harus bersaing ketat dengan meridian Washington dari Amerika Serikat dan meridian Paris dari Perancis.

Saya menempatkan peristiwa robohnya Observatorium Istanbul sebagai sebuah penanda penting dalam perkembangan ilmu falak. Yakni sebagai transisi dari ilmu falak era klasik ke era kegelapan yang berlanjut hingga nyaris tiga abad kemudian. Segenap kemegahan ilmu falak era klasik terjungkal hingga ke titik nadirnya begitu memasuki era kegelapan. Nyaris tak ada lagi observatorium yang disegani di dunia Islam. Apalagi observatorium yang melengkapi dirinya dengan radas teropong. Tak ada lagi aktivitas observasi benda langit yang sistematis dan berkesinambungan. Tak ada lagi perdebatan ilmiah nan riuh dari teori yang dilontarkan. Tiada lagi manuskrip yang ditulis. Era klasik mewariskan tak kurang dari 10.000 buah manuskrip yang terserak di segenap penjuru. Jumlah itu diyakini hanyalah sebagian kecil dari karya produktif astronom Muslim era klasik. Peperangan, penaklukan dan penghancuran kota-kota beserta segenap isinya yang kerap terjadi pada masa itu membuat banyak manuskrip, dari bermacam bidang ilmu pengetahuan, yang termusnahkan. Baik sengaja maupun tidak. Pemusnahan paling menonjol adalah tatkala Baghdad (ibukota imperium Abbasiyah), diserbu dan ditaklukkan pasukan Mongol. Perpustakaan Baghdad turut diserbu dan banyak manuskrip yang dibuang ke sungai Tigris, hingga air sungai menghitam sampai ke muaranya akibat tinta yang luntur.

Dan hal yang paling menonjol, adalah terceraikannya hisab dengan rukyat. Rukyat, lebih spesifiknya rukyat hilaal, menurun kualitasnya dan hanya dipandang sebagai bagian dari tradisi. Tanpa pencatatan untuk kepentingan pengetahuan. Ironis memang. Apalagi di saat dunia Islam demikian terpuruk dalam era kegelapan ilmu falak, astronomi modern justru berkembang pesat di daratan Eropa (dan kemudian Amerika) dalam era pencerahan mereka. Dan astronomi modern pun seakan terlepas dari sentuhan Umat Islam khususnya cendekiawan-cendekiawannya. Meski kemudian ilmu falak era modern berkembang dalam satu setengah abad terakhir, namun dampak yang menyakitkan dari keterpurukan di era kegelapan masih kita rasakan (sebagian).

Perjanjian Internasional

Istanbul kembali mengemuka di masa berikutnya, berselang empat abad setelah robohnya Observatorium Istanbul. Pada 27 hingga 30 November 1978 TU berlangsung sebuah konferensi internasional di kota ini. Topiknya bukan main, yakni tentang kalender Hijriyyah internasional. Pesertanya pun bukan main, yakni para ahli falak utusan dari sejumlah negara Islam ataupun negara berpenduduk mayoritas Muslim. Keputusannya juga bukan main, yakni memperkenalkan sebuah “kriteria” yang menjadi dasar operasi kalender Hijriyyah dalam lingkup global. “Kriteria” tersebut bernama “kriteria” Istanbul. “Kriteria” Istanbul terdiri dari tiga syarat yang harus terpenuhi seluruhnya. Yakni beda tinggi Bulan-Matahari minimal 5 derajat (tinggi Bulan minimal 4 derajat), elongasi Bulan minimal 8 derajat dan umur Bulan geosentrik minimal 8 jam. “Kriteria” ini dinyatakan berlaku global. Bilamana ada satu titik saja dimanapun di globe Bumi yang terletak di antara garis bujur 180 BB di sisi barat hingga 180 BT di sisi timur yang telah memenuhi ketiga syarat “kriteria” Istanbul, maka seluruh Bumi telah memasuki tanggal 1 bulan kalender Hijriyyah yang baru, tanpa terkecuali.

Konferensi Istanbul menjadi salah satu momen penting dalam khasanah ilmu falak era modern. Inilah saat pertama kalinya kalender Hijriyyah internasional digaungkan, setelah menjadi impian seabad lebih. Tentu saja masih ada banyak keterbatasan dalam konferensi ini. Misalnya, konferensi tersebut ternyata bukanlah perjanjian internasional yang mengikat negara-negara pesertanya, seperti halnya Konferensi Meridian 1884 yang tersohor. Delegasi yang menghadirinya juga bukanlah utusan diplomatik. Dan yang lebih krusial lagi, konferensi ini tidak didului dengan rangkaian pertemuan pendahuluan (preparatory) untuk menyiapkan butir-butir masalah dan usulan yang hendak dibicarakan dalam konferensi tersebut. Namun di sisi lain, inilah untuk pertama kalinya Umat Islam sejagat boleh berharap bahwa kalender Hijriyyah internasional sudah dimiliki.

Namun harapan itu memudar seiring waktu. Dari segenap kawasan (region) Umat Islam sejagat, tak satupun yang hirau dengan konferensi Istanbul. Termasuk kawasan Timur Tengah sekalipun, yang menjadi episentrum Umat Islam masa kini. Terkecuali satu kawasan, yakni Asia Tenggara. Ya, Asia Tenggara dengan Indonesia sebagai jantungnya. Selagi kawasan-kawasan yang lain tak hirau dengan hasil-hasil konferensi Istanbul, Asia Tenggara mencoba mematuhinya. Bahkan tatkala pembahasan lanjutan hasil konferensi Istanbul mengalami kemacetan seiring deraan masalah-masalah politis di kawasan Timur Tengah, misalnya Perang Iran-Irak 1980-1988 dan Perang Irak 1991 seiring invasi Irak ke Kuwait, kawasan Asia Tenggara berinisiatif melanjutkan pembahasan tersebut. Inilah yang melahirkan forum MABIMS, sebagai forum setengah resmi bagi Menteri-menteri agama/urusan agama Islam dari Malaysia, Brunei Darussalam, Indonesia dan Singapura. Inilah forum yang melahirkan “kriteria” MABIMS yang dikemudian hari dikenal pula sebagai “kriteria” Imkan rukyat. Meski mengalami modifikasi sesuai dengan lingkup Asia Tenggara, namun pada dasarnya “kriteria” Imkan rukyat adalah derivasi (turunan) dari “kriteria” Istanbul. Hal tersebut nampak dari penggunaan elemen-elemen umur Bulan geosentrik, tinggi Bulan dan elongasi Bulan.

Baik “kriteria” Istanbul maupun turunannya dalam bentuk “kriteria” Imkan rukyat sejatinya bukanlah kriteria visibilitas yang benar-benar ilmiah murni. Keduanya hanyalah kriteria visibilitas yang dibentuk atas dasar kesepakatan terhadap usulan-usulan. Dalam kasus “kriteria” Istanbul, beberapa syaratnya memang berlatar belakang ilmiah. Yakni elongasi Bulan minimal 8 derajat, yang diturunkan langsung dari batas Danjon (Danjon limit). Batas Danjon adalah batas minimal dalam elongasi Bulan dimana lengkung sabit Bulan tertipis (baik pra atau pasca konjungsi geosentris) masih bisa teramati khususnya dengan teropong. Terminologi batas Danjon diapungkan oleh Andre Danjon, direktur Observatorium Paris, setelah penelitian ekstensif sepanjang 1932 hingga 1936 TU. Danjon menemukan bahwa panjang busur sabit Bulan sebelum terjadinya fase Bulan separuh adalah berbanding lurus dengan elongasi Bulan. Semakin kecil nilai elongasi Bulan-nya, maka semakin pendek busur sabit Bulan-nya. Dari data yang tersedia, Danjon menyimpulkan bahwa sabit Bulan akan tepat menghilang (panjang busur sabit tepat sama dengan nol) saat elongasi Bulan tepat 7 derajat. Dengan kata lain, sabit Bulan takkan pernah kasat mata saat elongasi Bulan lebih kecil dari 7 derajat, meskipun diamati dengan teropong. Syarat lainnya yang berlatar belakang ilmiah adalah beda tinggi Bulan-Matahari minimal, yang diturunkan dari kesimpulan kriteria Fotheringham 1911, sebagai satu-satunya kriteria empiris yang tersedia pada saat itu. Sebaliknya syarat umur Bulan geosentrik minimal tidak memiliki basis ilmiah yang kukuh.

Gambar 4. Relik Observatorium UlughBeg yang masih tersisa di Samarkand (Uzbekistan). Inilah observatorium terbesar di dunia pada masanya sebelum berdirinya Observatorium Istanbul. Dari tempat inilah tabel astronomi (zij) maupun katalog bintang yang paling akurat sepanjang sejarah ilmu falak di dunia Islam lahir. Beberapa masih menggunakan tabel tersebut di masa kini. Sumber: Nidhal Guessom, 2013.

Gambar 4. Relik Observatorium UlughBeg yang masih tersisa di Samarkand (Uzbekistan). Inilah observatorium terbesar di dunia pada masanya sebelum berdirinya Observatorium Istanbul. Dari tempat inilah tabel astronomi (zij) maupun katalog bintang yang paling akurat sepanjang sejarah ilmu falak di dunia Islam lahir. Beberapa masih menggunakan tabel tersebut di masa kini. Sumber: Nidhal Guessom, 2013.

Hari-hari ini banyak yang mempertanyakan posisi “kriteria” Imkan rukyat. Salah satunya terkait sifat lokalitasnya yang hanya berlaku di lingkup regional. Bukan global. Sebagai antitesisnya kemudian diapungkan gagasan pembentukan kalender Hijriyyah internasional. Tanpa menyadari bahwa hal itu sudah pernah dilakukan dalam konferensi Istanbul, yang seiring aliran masa kemudian berujung pada terbentuknya “kriteria” Imkan rukyat.

Kalender Hijriyyah internasional memang menjadi impian setiap Umat Islam. Dalam fatwanya terkait penetapan awal Ramadhan dan dua hari raya di Indonesia yang diletakkan di tangan pemerintah melalui Menteri Agama, Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun menyinggung soal kalender Hijriyyah internasional. Dalam hemat MUI, pengawasan dan operasi kalender internasional semacam itu perlu ditempatkan di sebuah entitas tersendiri, yang disebut sebagai qadi internasional. Namun hingga kini negara-negara Islam atau berpenduduk mayoritas Muslim sejagat yang berhimpun dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI) belum jua bisa membentuk entitas tersebut. Maka untuk mengisi kekosongan, peran itu sementara didelegasikan ke setiap kawasan dan di Asia Tenggara disepakati terletak di tangan forum MABIMS.

Membuka kembali perbincangan dan pembentukan kalender Hijriyyah internasional itu sah-sah saja. Apalagi memang konferensi Istanbul itu belum selesai. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Permasalahannya, siapkah mengerahkan segenap tenaga untuk menuju ke sana? Sebab berkaca dari macetnya pembahasan lanjutan konferensi Istanbul dan sebaliknya suksesnya Konferensi Meridian 1884, ada banyak langkah yang perlu dilakukan. Konferensi Meridian Internasional 1884, yang menjadi landasan operasi kalender Tarikh Umum (Gregorian) hingga saat ini, tidaklah berlangsung sekonyong-konyong. Ia dilatarbelakangi oleh kebutuhan bersama untuk menetapkan garis meridian utama (bujur nol) untuk patokan awal waktu se-Bumi. Kesadaran bersama ini dituangkan dalam Konferensi Geografi Internasional 1871 di Antwerp (Belgia). Butuh dua konferensi geografi internasional lanjutan, terakhir di Venesia (Italia) pada 1881 TU, untuk menyepakati bersama bahwa penetapan garis bujur nol atau garis bujur utama (meridian utama) yang universal dan penyatuan waktu standar adalah sebuah kebutuhan mutlak. Keputusan ini lantas ditindaklanjuti dalam Konferensi Geodesi Internasional ketujuh yang diselenggarakan di Roma (Italia) pada Oktober 1883 TU, dengan membahas detail teknisnya terkait masalah tersebut lebih lanjut. Hasilnya adalah butir-butir pembahasan diplomatik bagi perjanjian internasional yang bakal dilaksanakan pada pertemuan selanjutnya.

Puncaknya adalah Konferensi Meridian Internasional 1884 yang diselenggarakan di Washington (Amerika Serikat) pada Oktober 1884 TU. Konferensi pemuncak itu dihadiri oleh 41 diplomat dari 26 negara yang merepresentasikan dunia masa itu. Dunia Islam diwakili oleh imperium Turki Utsmani, satu-satunya negara Islam yang representatif saat itu. Konferensi tersebut menyepakati tujuh resolusi. Diantaranya resolusi mengenai garis bujur nol atau garis bujur utama tunggal untuk semua negara di dunia. Garis bujur nol tunggal itu ditetapkan (atas dasar voting) sebagai garis bujur yang melintasi Royal Observatory of Greenwich, London (Inggris). Juga resolusi tentang definisi hari universal, yang dimulai tepat tengah malam sebagai pukul 00:00 dan diakhiri tepat tengah malam berikutnya sebagai pukul 24:00. Hari universal berpatokan pada hari Matahari rata-rata (mean solar day). Satu hari didefinisikan berumur 24 jam dengan 1 jam berumur 60 menit dan 1 menit berumur 60 detik. Sehingga dalam sehari terdapat 86.400 detik. Entitas waktu universal pun terbentuk, saat itu disebut GMT (Greenwich Mean Time). Inilah landasan bagi kalender Tarikh Umum atau kalender Gregorian seperti kita kenal pada hari ini.

Setelah perjanjian internasional tersebut, langkah kalender Tarikh Umum pun masih panjang. Tiap-tiap negara tidak segera mengadopsinya. Butuh waktu hingga puluhan tahun lamanya sebelum resolusi-resolusi dalam konferensi ini bisa diterima oleh negara-negara di dunia. Perancis misalnya, meski menghadiri Konferensi Meridian Internasional 1884, baru mengadopsi seluruh resolusinya pasca Perang Dunia 1. Selama waktu itu Perancis tetap bersetia dengan meridian Paris-nya.

Berkaca dari pengalaman kalender Tarikh Umum, maka untuk membentuk kalender Hijriyyah internasional pun butuh langkah yang sistematis. Tak cukup hanya satu pertemuan internasional, yang bersifat ad-hoc, namun butuh rangkaian pertemuan-pertemuan internasional untuk membentuknya. Termasuk dengan rangkaian pertemuan pendahuluan. Aktor negara, dalam hal ini negara-negara Islam atau berpenduduk mayoritas Muslim, musti dilibatkan. Bukan sekedar delegasi biasa, namun utusan setingkat diplomat dibutuhkan dari tiap negara tersebut.

Dan di atas dari semua rangkaian pertemuan yang sifatnya prosedural itu, bagaimana posisi hisab dan rukyat didudukkan dalam konteks kalender Hijriyyah pun musti jelas. Tak bisa menyusun kalender semata atas dasar rukyat. Sebaliknya juga tak bisa menyusun kalender semata atas dasar hisab saja. Baik hisab ataupun rukyat harus digunakan bersama-sama untuk mengontrol kualitas kalender. Praktik ini juga tetap dijalankan dalam kalender Tarikh Umum. Meski sekilas terlihat sebagai kalender yang semata hanya berdasar hisab dan bisa diperhitungkan di atas kertas saja, dalam praktiknya astronomi modern terlibat penuh untuk melakukan pengamatan benda-benda langit yang diperlukan guna menentukan perilaku rotasi Bumi dan detik standar (yang menjadi dasar kalender Tarikh Umum). Dipelopori oleh Danjon (1929 TU) dengan pengamatan posisi Bulan, Matahari dan planet-planet, kini pemantauan rotasi Bumi dan detik standar telah melangkah jauh dengan penggunaan radas-radas kompleks dan di luar dugaan. Misalnya penggunaan teleskop radio untuk memantau sinyal-sinyal elektromagnetik yang dipancarkan benda langit seperti quasar (yang terletak di luar galaksi Bima Sakti kita) dengan menggunakan teknik VLBI (Very Long Baseline Interferometry) secara rutin. Atau menggunakan teleskop dengan pembangkit laser untuk dibidikkan ke titik-titik di Bulan dimana cermin-cermin retroreflektor berada, juga secara rutin. Semua upaya ini yang dilakukan di bawah koordinasi organisasi transnasional bertajuk International Earth Rotation and Reference System Service (IERS).

Di sinilah tantangan terbesarnya. Pasca robohnya Observatorium Istanbul dan khususnya setelah era modern ilmu falak bermula, pertumbuhan observatorium astronomi di dunia Islam masa kini terbilang lambat. Jumlah observatorium yang dimiliki oleh negara-negara Islam atau berpenduduk mayoritas Muslim saat ini masih berbilang 12 buah, dari 600-an lebih observatorium astronomi aktif yang terdaftar di dunia. Padahal observatorium menjadi kunci untuk menyajikan data guna membentuk kalender. Dan observatorium yang tersebar di banyak titik di negara-negara Islam/berpenduduk mayoritas Muslim di segenap penjuru seyogyanya akan menyajikan lebih banyak data yang sangat bermanfaat dalam pembentukan kalender. Jelas, hingga saat ini dampak robohnya Observatorium Istanbul masih terasa meski telah empat abad lamanya. Dampak yang harus diatasi bilamana kalender Hijriyyah internasional memang hendak dibangun di masa kini.

Catatan: diinspirasikan dari kumpulan cerita pendek Robohnya Surau Kami dari Ali Akbar Navis.

Iklan

Idul Fitri 1435 H di Indonesia yang (Kemungkinan Besar) Bersamaan

Bagian kedua dari lima tulisan

Bulan suci Ramadhan 1435 H telah memasuki persepuluhan harinya yang terakhir. Aroma lebaran telah mengambang pekat di udara. Seluruh moda transportasi telah disesaki segenap insan yang berarak ke segenap tujuan. Kemacetan pun tak terhindarkan di jalan-jalan raya, demikian panjang membentang. Wajah-wajah kuyu, lelah dan pasrah bertebaran di setiap sudut. Namun tidak ada yang menyesali mengikuti tradisi mudik dalam rangka bersilaturahmi dengan sanak saudara di kampung halaman meski harus melalui ‘siksaan’ di jalan raya. Pasar-pasar tradisional dan modern kian penuh sesak saja dengan aliran pengunjung terus mengalir dan berjubel, menggerakkan roda perekonomian lokal. Namun juga sukses membuat banyak orang pingsan, terhimpit dan berdesak-desakan. Semua ini dalam rangka menyambut satu hari istimewa: hari raya Idul Fitri 1435 H.

Gambar 1. Bulan sabit selepas senja tiga hari setelah konjungsi. Nampak ia berbentuk busur setengah lingkaran dengan bagian tengahnya yang tebal. Jika bagian tengahnya berada dalam kondisi paling tipis, Bulan sabit seperti ini akan bersalin nama sebagai hilaal, benda langit yang menjadi penentu Ramadhan dan hari raya Idul Fitri 1435 H. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 1. Bulan sabit selepas senja tiga hari setelah konjungsi. Nampak ia berbentuk busur setengah lingkaran dengan bagian tengahnya yang tebal. Jika bagian tengahnya berada dalam kondisi paling tipis, Bulan sabit seperti ini akan bersalin nama sebagai hilaal, benda langit yang menjadi penentu Ramadhan dan hari raya Idul Fitri 1435 H. Sumber: Sudibyo, 2014.

Ya. Di Indonesia, hari raya Idul Fitri bukanlah sekedar hari raya yang bernafaskan religi. Lebih dari itu, ia juga menjadi peristiwa sosial dan budaya dalam skala yang amat massif. Mari cermati sejarah kontemporer negeri ini, adakah peristiwa lain yang mampu memindahkan manusia dalam skala luar biasa besar selain hari raya Idul Fitri? Di tahun 1435 H (2014) ini saja, diperkirakan 27 juta orang menjadi bagian dalam tradisi mudik. 27 juta orang itu setara dengan 11,25 % penduduk Indonesia saat ini. Dengan kata lain, 1 dari 10 orang Indonesia saat ini terlibat dalam pergerakan mudik. Pergerakan manusia dalam jumlah itu tentu membawa amat banyak implikasi, baik dari sisi positif maupun negatif. Yang jelas, pergerakan ini menunjukkan betapa posisi hari raya Idul Fitri di Indonesia demikian penting bagi segenap rakyat banyak.

Atas dasar itu pula, urusan penetapan hari raya Idul Fitri menjadi hal yang krusial di tingkat akar rumput, termasuk di tahun 1435 H. dan layaknya tahun silam, potensi (kembali) bersamanya Umat Islam Indonesia dalam merayakan Idul Fitri 1435 H pun sangat terbuka.

Di satu sisi, PP Muhammadiyah telah jauh-jauh hari memaklumatkan bahwa bagi mereka 1 Syawwal 1435 H bertepatan dengan Senin 28 Juli 2014. Dasarnya, pada Minggu 27 Juli 2014 seluruh Indonesia telah memenuhi “kriteria” wujudul hilaal tanpa terkecuali. Di sisi yang lain, meski masih tetap menantikan hasil sidang itsbat penetapan Idul Fitri 1435 H yang salah satunya mengagendakan mendengar dan menerima/menolak laporan-laporan observasi hilaal dari seluruh penjuru Indonesia (yang mencakup 111 titik rukyat), namun kemungkinan besar Menteri Agama bakal memutuskan 1 Syawwal 1435 H juga bertepatan dengan Senin 28 Juli 2014 bila mengacu kesepakatan selama ini. Sebab pada Minggu 27 Juli 2014 itu hampir seluruh wilayah Indonesia telah memenuhi “kriteria” Imkan Rukyat.

Sisi Hisab

Bagaimana sesungguhnya posisi Bulan pada Minggu senja 27 Juli 2014 sehingga hari raya Idul Fitri 1435 H bakal berpotensi besar berlangsung bersamaan di Indonesia ?

Gambar 2. Peta tinggi Bulan di Indonesia pada Minggu senja 27 Juli 2014. Tinggi terkecil ada di pulau Miangas (Sulawesi Utara) sementara tinggi terbesar di Pelabuhan Ratu (Jawa Barat). Sumber: BMKG, 2014.

Gambar 2. Peta tinggi Bulan di Indonesia pada Minggu senja 27 Juli 2014. Tinggi terkecil ada di pulau Miangas (Sulawesi Utara) sementara tinggi terbesar di Pelabuhan Ratu (Jawa Barat). Sumber: BMKG, 2014.

Salah satu parameter penting bagi penentuan awal bulan kalender Hijriyyah adalah konjungsi Bulan-Matahari (ijtima’). Peristiwa konjungsi Bulan dan Matahari pada hakikatnya adalah peristiwa dimana pusat cakram Matahari tepat berada dalam satu garis bujur ekliptika yang sama dengan pusat cakram Bulan ditinjau dari titik referensi tertentu. Dalam peristiwa ini Bulan bisa saja seakan-akan ‘menindih’ Matahari dalam situasi khusus yang kita kenal sebagai Gerhana Matahari. Namun yang sering dijumpai adalah Bulan berjarak terhadap Matahari sehingga antara Matahari dan Bulan hanyalah berada dalam satu garis lurus. Garis lurus ini tidak harus mendatar (horizontal) ataupun tegak (vertikal). Di Indonesia, konjungsi Bulan dan Matahari lebih sering terjadi saat kedua raksasa langit tersebut terletak pada satu garis lurus yang relatif miring terhadap cakrawala (horizon).

Dengan menggunakan sistem perhitungan (sistem hisab) ELP 2000-82 diketahui bahwa jika ditinjau dari titik pusat Bumi (geosentrik), konjungsi Bulan dan Matahari akan terjadi pada Minggu 27 Juli 2014 pukul 05:42 WIB. Sebaliknya bila ditinjau dari titik-titik di permukaan Bumi (toposentrik), konjungsi justru terjadi lebih dulu yakni dalam rentang waktu antara pukul 03:47 WIB (bagi kota Manado dan Biak) hingga pukul 04:03 WIB (bagi kota Medan). Meski konjungsi toposentrik sejatinya lebih realistis, mengingat segenap umat manusia hidup di permukaan Bumi, namun dalam praktiknya ia kalah populer dibanding konjungsi geosentrik. Sehingga yang dijadikan patokan dalam perhitungan ilmu falak adalah konjungsi geosentrik.

Konjungsi geosentrik Bulan-Matahari menentukan elemen umur Bulan, yakni selang waktu antara saat konjungsi (geosentrik) terjadi hingga saat Matahari terbenam di masing-masing titik pada satu wilayah negeri tertentu. Bagi Indonesia pada 27 Juli 2014 senja umur Bulan bervariasi antara +9,91 jam yang terjadi di Jayapura (Papua) hingga +13,25 jam di Lhoknga (Aceh). Selain umur Bulan, terdapat parameter signifikan lainnya yang disebut tinggi Bulan, yakni tinggi pusat cakram Bulan terhadap garis cakrawala (horizon) pada saat Matahari terbenam. Di Indonesia, pada saat yang sama tinggi Bulan bervariasi antara +1,74 derajat di pulau Miangas (Sulawesi Utara) hingga +3,47 derajat di Pelabuhan Ratu (Jawa Barat). Dan parameter berikutnya yang juga menentukan adalah elongasi Bulan, yakni jarak sudut antara titik pusat cakram Bulan dan Matahari pada saat Matahari terbenam. Pada saat tersebut, elongasi Bulan di Indonesia bernilai antara 6,08 derajat di Merauke (Papua) hingga 7,26 derajat di pulau Sabang (Aceh). Harus digarisbawahi bahwa semua ini merupakan perhitungan yang didasarkan pada kondisi ideal, dimana elevasi (ketinggian) setiap titik dianggap sama dengan rata-rata permukaan air laut.

Gambar 3. Peta tinggi Bulan di lingkup global pada Minggu senja 27 Juli 2014. Perhatikan, meski kotasuci Makkah terletak jauh lebih ke barat dibanding Indonesia, faktanya tinggi Bulan di Makkah sama dengan tinggi Bulan di Indonesia (tepatnya di pulau Morotai, Maluku Utara). Sumber: BMKG, 2014.

Gambar 3. Peta tinggi Bulan di lingkup global pada Minggu senja 27 Juli 2014. Perhatikan, meski kotasuci Makkah terletak jauh lebih ke barat dibanding Indonesia, faktanya tinggi Bulan di Makkah sama dengan tinggi Bulan di Indonesia (tepatnya di pulau Morotai, Maluku Utara). Sumber: BMKG, 2014.

Dari pemaparan data tersebut terlihat, bahwa parameter tinggi Bulan ternyata tidaklah mengikuti bentuk geografis Indonesia. Sehingga posisi Bulan dan Matahari saat ini menjadikan titik Lhoknga (Aceh), yang menjadi titik terbarat Indonesia, tidak memiliki tinggi Bulan terbesar bagi seluruh negeri. Sebaliknya geometri posisi Bulan dan Matahari adalah demikian rupa sehingga justru di titik Pelabuhan Ratu-lah tinggi Bulan mencapai nilai maksimumnya bagi segenap Indonesia. Hal ini pun berlaku dalam lingkup global. Kita bisa melihat misalnya di Saudi Arabia, negeri yang secara teknis terletak jauh lebih ke barat dibanding Indonesia. Namun pada Minggu senja 27 Juli 2014, tinggi Bulan di sekitar kotasuci Makkah adalah sama dengan tinggi Bulan di pulau Morotai, Halmahera bagian utara (Maluku Utara). Yakni sama-sama 2 derajat.

Gambar 4. Simulasi posisi Bulan di Pos Observasi Logending, Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah) pada Minggu senja 27 Juli 2014 saat Matahari terbenam. Garis tak putus-putus menunjukkan cakrawala, tepatnya cakrawala semu (horizon semu). Sementara garis putus-putus menunjukkan ambang batas "kriteria" Imkan Rukyat. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 4. Simulasi posisi Bulan di Pos Observasi Logending, Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah) pada Minggu senja 27 Juli 2014 saat Matahari terbenam. Garis tak putus-putus menunjukkan cakrawala, tepatnya cakrawala semu (horizon semu). Sementara garis putus-putus menunjukkan ambang batas “kriteria” Imkan Rukyat. Sumber: Sudibyo, 2014.

Bagaimana cara membaca data-data ini sehingga kita bisa mengetahui bahwa secara teknis Idul Fitri 1435 H di Indonesia berkemungkinan besar jatuh pada saat yang sama ?

Seperti telah tertuang dalam tulisan yang lalu, khasanah perbedaan atau persamaan dalam berpuasa Ramadhan dan berhari raya Idul Fitri di Indonesia sangat dipengaruhi oleh bagaimana sikap dua ormas Islam terbesar, masing-masing NU di satu sisi dan Muhammadiyah di sisi yang lain. Dan keduanya memiliki cara berbeda guna menentukan awal Ramadhan maupun hari raya Idul Fitri. Bagi NU, penentuan tersebut hanya bisa dilakukan dengan cara rukyat hilaal dengan hisab (perhitungan ilmu falak) sebagai sebagai faktor pendukung pelaksanaan rukyat. Semenjak beberapa tahun belakangan NU telah mulai konsisten melakukan rukyat hilaal bagi penentuan setiap awal bulan kalender Hijriyyah. Seiring beragamnya sistem hisab di lingkungan NU yang hasilnya pun sangat bervariasi, ormas ini memiliki parameter sendiri untuk menentukan apakah hasil rukyat hilaal bisa diterima ataukah tidak. Parameter tersebut mengacu pada “kriteria” Imkan Rukyat yang diformulasikan Kementerian Agama RI, khususnya pada faktor tinggi Bulan minimal dalam sistem hisab kontemporer.

rmd1435_IRSebaliknya bagi Muhammadiyah, awal bulan kalender Hijriyyah cukup ditentukan dengan cara hisab tanpa perlu melaksanakan rukyat hilaal. Kriteria yang digunakan adalah “kriteria” wujudul hilaal, yang pada saat ini memiliki formulasi sebagai berikut :

rmd1435_WHDengan membandingkan dua “kriteria” tersebut terhadap realitas perhitungan posisi Bulan pada Minggu senja 27 Juli 2014, maka dengan mudah dapat dilihat seluruh wilayah Indonesia telah memenuhi “kriteria” wujudul hilaal karena seluruh titik memiliki tinggi Bulan positif (lebih besar dari nol) tanpa terkecuali. Sementara jika dipandang dari “kriteria” Imkan Rukyat, hampir seluruh Indonesia telah memenuhi syarat karena memiliki tinggi Bulan lebih dari atau sama dengan +2 derajat (terkecuali Kepulauan Sangir-Talaud di Sulawesi Utara). Dengan menerapkan prinsip wilayatul hukmi, maka konstelasi tersebut kemudian diterjemahkan sebagai seluruh wilayah Indonesia telah memenuhi “kriteria” Imkan Rukyat. Sehingga 1 Syawwal 1435 H bakal bertepatan dengan Senin 28 Juli 2014. Inilah potensi persamaan itu.

Sisi Rukyat

Uraian tersebut di atas berdasarkan pada perspektif hisab. Namun bagaimana jika berdasarkan perspektif rukyat itu sendiri?

Sebelum 2013, paparan di atas hanya bermakna dari sisi hisab namun tidak demikian dari sisi rukyat. Di Indonesia, saat tinggi Bulan setara atau melebihi 2 derajat memang sudah mulai muncul laporan rukyatul hilaal yang menyatakan terlihatnya hilaal. Laporan ini memang dapat divalidasi di tingkat sidang itsbat karena dianggap telah memenuhi “kriteria” Imkan Rukyat, namun tidak demikian dari sisi ilmiah. Laporan-laporan tersebut selalu hanya menyatakan “hilaal terlihat” tanpa adanya parameter-parameter hasil observasi yang bisa dijadikan rujukan, apalagi menyertakan citra (foto) sebagai bukti fisik.

Gambar 5. Perbandingan visibilitas menurut kriteria Odeh dan RHI pada Rabu 7 Agustus 2013 saat Matahari terbenam dalam lingkup global, dibatasi di antara garis lintang 20 LU hingga 20 LS. Pada kriteria Odeh, A = hilaal mudah diamati dengan mata tanpa alat bantu optik, B = hilaal mudah diamati dengan binokular/teleskop dan mungkin bisa diamati dengan mata tanpa alat bantu optik, C = hilaal hanya bisa diamati hilaal dengan binokular/teleskop dan D = hilaal mustahil diamati. Sementara pada kriteria RHI, T = hilaal teramati dengan binokular/teleskop dan mungkin dengan mata tanpa alat bantu optik, TT = hilaal mustahil diamati. Perhatikan kota Makassar, Sulawesi Selatan (Indonesia) berada dalam wilayah hilaal mustahil diamati baik menurut Odeh (wilayah D) maupun RHI (wilayah TT). Namun rukyat pencitraan saat itu secara gemilang berhasil menyajikan citra hilaal. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan bantuan software Accurate Hijri Calculator 2.2 dari Abdurro'uf.

Gambar 5. Perbandingan visibilitas menurut kriteria Odeh dan RHI pada Rabu 7 Agustus 2013 saat Matahari terbenam dalam lingkup global, dibatasi di antara garis lintang 20 LU hingga 20 LS. Pada kriteria Odeh, A = hilaal mudah diamati dengan mata tanpa alat bantu optik, B = hilaal mudah diamati dengan binokular/teleskop dan mungkin bisa diamati dengan mata tanpa alat bantu optik, C = hilaal hanya bisa diamati hilaal dengan binokular/teleskop dan D = hilaal mustahil diamati. Sementara pada kriteria RHI, T = hilaal teramati dengan binokular/teleskop dan mungkin dengan mata tanpa alat bantu optik, TT = hilaal mustahil diamati. Perhatikan kota Makassar, Sulawesi Selatan (Indonesia) berada dalam wilayah hilaal mustahil diamati baik menurut Odeh (wilayah D) maupun RHI (wilayah TT). Namun rukyat pencitraan saat itu secara gemilang berhasil menyajikan citra hilaal. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan bantuan software Accurate Hijri Calculator 2.2 dari Abdurro’uf.

Di sisi lain, rekapitulasi rukyat hilaal yang merentang masa baik dalam lingkup global seperti dilakukan ICOP (International Crescent Observation Project) maupun lingkup lokal Indonesia yang dihimpun RHI (Rukyatul Hilal Indonesia) tidak mendukung “kriteria” Imkan Rukyat. Pekerjaan ICOP mewujud pada persamaan batas yang dikenal sebagai kriteria empirik Audah (atau kriteria Odeh). Sementara kerja keras RHI mengemuka sebagai kriteria empirik RHI (atau kriteria RHI). Baik kriteria Odeh maupun kriteria RHI memiliki bentuk yang mirip (jika dibatasi pada kawasan tropis semata) dan memiliki nilai ambang batas yang lebih besar ketimbang “kriteria” Imkan Rukyat, apalagi wujudul hilaal. Harus digarisbawahi bahwa baik kriteria Odeh maupun kriteria RHI dibentuk oleh laporan-laporan observasi hilaal baik dengan mata dibantu oleh alat bantu optik (teleskop/binokular) maupun tidak.

Perubahan dramatis terjadi pada 2013, tepatnya pada saat penentuan Idul Fitri 1434 H (2013) melalui rukyat hilaal pada Rabu senja 7 Agustus 2013. Meski baik kriteria Odeh maupun kriteria RHI menunjukkan bahwa hilaal tidak mungkin teramati pada saat itu di segenap penjuru Indonesia, namun tim Observatorium Bosscha yang ditempatkan di Makassar (Sulawesi Selatan) secara gemilang berhasil mengobservasinya sekaligus melampirkan citra (foto) hilaal tersebut, sebagai bukti fisik. Sukses ini merupakan kulminasi dari kerja keras para perukyat hilaal kontemporer (yang mencakup observatorium Bosscha, sejumlah institusi pendidikan dan ormas terkait) untuk mencari dan mengembangkan teknik-teknik observasi yang bisa dijadikan pegangan sekaligus menyajikan bukti yang kuat semenjak 2009.

Gambar 6. Kiri: citra asli hilaal Makassar 2013 hasil rukyat pencitraan yang terdiri dari 10 citra berbeda dan kemudian ditumpuk (di-stacking) lewat software pengolah citra, hal yang telah menjadi standar dalam astronomi modern. Kanan: citra hilaal Makassar 2013 yang telah dipermak lebih lanjut dengan software pengolah citra, yang diperuntukkan bagi kalangan umum (non perukyat). Nampak jelas goresan tipis sedikit melengkung, yang adalah hilaal. Sumber: Observatorium Bosscha, 2013 dan Cecep Nurwendaya, 2013.

Gambar 6. Kiri: citra asli hilaal Makassar 2013 hasil rukyat pencitraan yang terdiri dari 10 citra berbeda dan kemudian ditumpuk (di-stacking) lewat software pengolah citra, hal yang telah menjadi standar dalam astronomi modern. Kanan: citra hilaal Makassar 2013 yang telah dipermak lebih lanjut dengan software pengolah citra, yang diperuntukkan bagi kalangan umum (non perukyat). Nampak jelas goresan tipis sedikit melengkung, yang adalah hilaal. Sumber: Observatorium Bosscha, 2013 dan Cecep Nurwendaya, 2013.

Sukses observasi hilaal Makassar 2013 itu merupakan buah dari penggunaan teleskop (untuk memperkuat intensitas cahaya sabit Bulan) yang ditempatkan pada dudukan (mounting) robotik (sehingga teleskop senantiasa terus mengarah ke posisi Bulan dari waktu ke waktu) disertai penggunaan filter (untuk meningkatkan kontras antara sabit Bulan dengan langit di latar belakangnya) dan kamera beresolusi tinggi (untuk merekam citra sabit Bulan sebagai data elektronis) yang disertai dengan pengolahan citra (guna mempertajam citra/foto mentah dengan teknik stacking sehingga menyajikan hasil yang ramah mata). Hilaal Makassar 2013 ini terekam pada pukul 18:11 WITA, atau 5 menit setelah Matahari terbenam di lokasi tersebut.

Di tempat lain, penggunaan instrumen serupa (teleskop + mounting + filter + kamera) pun berhasil merekam sabit Bulan dalam waktu berjam-jam sebelum Matahari terbenam, seperti yang dilakukan tim observatorium as-Salam, Surakarta (Jawa Tengah) dan observatorium al-Buruj, Kudus (Jawa Tengah). Kedua tim tersebut merupakan bagian dari jejaring RHI. Sukses ini menunjukkan bahwa tanpa harus mengundang pakar astrofotografi dari mancanegara, para perukyat kontemporer Indonesia telah mampu mencetak prestasi yang hampir sama. Hanya kerendahhatian mereka saja yang membuat semua terasa sunyi.

Gambar 7. Perbandingan visibilitas menurut kriteria RHI bagi penentuan Idul Fitri 1434 H (2013) dengan Idul Fitri 1435 H (2014) saat Matahari terbenam dalam lingkup global, dibatasi di antara garis lintang 20 LU hingga 20 LS. T = hilaal teramati dengan binokular/teleskop dan mungkin dengan mata tanpa alat bantu optik, TT = hilaal mustahil diamati. Pada 2013, wilayah T hanya menyentuh Jawa bagian selatan namun faktanya rukyat pencitraan berhasil merekam hilaal dari Makassar. Dengan menggunakan linieritas tersebut, maka pada 2014 ini wilayah Jawa bagian selatan memiliki potensi lebih besar dalam merekam hilaal melalui rukyat pencitraan, meskipun terletak di luar wilayah T. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan bantuan software Accurate Hijri Calculator 2.2 dari Abdurro'uf.

Gambar 7. Perbandingan visibilitas menurut kriteria RHI bagi penentuan Idul Fitri 1434 H (2013) dengan Idul Fitri 1435 H (2014) saat Matahari terbenam dalam lingkup global, dibatasi di antara garis lintang 20 LU hingga 20 LS. T = hilaal teramati dengan binokular/teleskop dan mungkin dengan mata tanpa alat bantu optik, TT = hilaal mustahil diamati. Pada 2013, wilayah T hanya menyentuh Jawa bagian selatan namun faktanya rukyat pencitraan berhasil merekam hilaal dari Makassar. Dengan menggunakan linieritas tersebut, maka pada 2014 ini wilayah Jawa bagian selatan memiliki potensi lebih besar dalam merekam hilaal melalui rukyat pencitraan, meskipun terletak di luar wilayah T. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan bantuan software Accurate Hijri Calculator 2.2 dari Abdurro’uf.

Hasil hilaal Makassar 2013 menjadikan sidang itsbat penetapan Idul Fitri 1434 H (2013) mengeluarkan yurisprudensi baru, yakni menerima hasil rukyat pencitraan (yakni rukyat hilaal yang berbasis teleskop, kamera dan pengolahan citra). Ini menjadikan Indonesia sebagai negara (berpenduduk mayoritas) Muslim pertama di dunia yang mengambil langkah tersebut. Kini, bagaimana dengan penentuan Idul Fitri 1435 H (2014)? Parameter posisi Bulan dan Matahari yang diperbandingkan dengan penentuan Idul Fitri setahun silam menunjukkan adanya kemiripan. Maka potensi terekamnya hilaal lewat rukyat pencitraan pun terbuka, dengan lokasi yang berpotensi terbaik terletak di sepanjang pantai selatan pulau Jawa. Tentu, keberhasilan ini akan terjadi bilamana cuaca cerah.

Gambar 8. Estimasi bentuk hilaal (goresan merah) dalam rukyat pencitraan, disimulasikan dari Pos Observasi Logending, Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah) pada Minggu senja 27 Juli 2014 saat Matahari terbenam. Goresan merah tersebut sejatinya merupakan bagian dari busur lingkaran, dengan panjang busur hanya 10 derajat. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 8. Estimasi bentuk hilaal (goresan merah) dalam rukyat pencitraan, disimulasikan dari Pos Observasi Logending, Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah) pada Minggu senja 27 Juli 2014 saat Matahari terbenam. Goresan merah tersebut sejatinya merupakan bagian dari busur lingkaran, dengan panjang busur hanya 10 derajat. Sumber: Sudibyo, 2014.

Referensi :

Sudibyo. 2013. Syawwal 1435 H (2014). Kertas Kerja dalam Temu Kerja Nasional Hisab Rukyat 2013. Batam (Kepulauan Riau), Juni 2013.

Nurwendaya. 2013. Sidang Itsbat Awal Zulhijjah 1434 H. Bahan Sidang Itsbat Kementerian Agama RI 5 Oktober 2013 (29 Zulqaidah 1434 H).

BMKG. 2014. Informasi Hilal Saat Matahari Terbenam Ahad 27 Juli 2014 M Penentu Awal Bulan Syawwal 1435 H.

Tulisan bagian pertama.

Posisi Bulan dan Ramadhan 1435 H yang (Bakal) Diawali Berbeda

Bagian pertama dari lima tulisan

Bulan suci Ramadhan 1435 H tinggal berbilang hari. Sebagian besar Umat Islam di Indonesia pun sedang bersiap menyambutnya. Dan seperti yang sudah-sudah, perkara penentuan awal bulan kalender Hijriyyah pada umumnya dan awal Ramadhan/dua hari raya pun kembali mengemuka. Layaknya tahun silam, potensi (kembali) berbedanya Umat Islam Indonesia dalam memulai ibadah puasa Ramadhan di tahun 1435 H kali ini pun sangat terbuka.

Pada satu sisi, PP Muhammadiyah telah mengumumkan bahwa bagi mereka 1 Ramadhan 1435 H bertepatan dengan Sabtu 28 Juni 2014. Atas dasar prinsip naklul wujud (harfiahnya peminjaman status wujudul hilaal), yang pada galibnya setara dengan konsep wilayatul hukmi, maka seluruh wilayah Indonesia dianggap telah memenuhi “kriteria” wujudul hilaal pada Jumat senja 27 Juni 2014. Sementara di sisi yang lain, meski masih menanti hasil sidang itsbat penetapan awal Ramadhan 1435 H yang salah satunya mengagendakan mendengarkan laporan-laporan observasi hilaal dari seluruh penjuru negeri, namun hampir pasti Menteri Agama bakal memutuskan bahwa 1 Ramadhan 1435 H bertepatan dengan Minggu 29 Juni 2014 jika mengacu pada kesepakatan selama ini, kecuali jika menggunakan pendekatan lain yang sama sekali baru.

Di waktu yang telah berlalu, urusan perbedaan dalam mengawali puasa Ramadhan maupun dalam berhari raya telah menyebabkan internal Umat Islam Indonesia bagaikan saling sikut dan sodok. Bagaimana dengan tahun ini? Menteri Agama yang baru memang telah memutuskan bahwa sidang itsbat penetapan awal Ramadhan 1435 H adalah sidang yang tertutup bagi akses media terkecuali pada saat konferensi pers penyampaian hasil sidang. Nampaknya sikap ini diambil untuk menghindari keriuhan yang tak perlu sepanjang Ramadhan seperti yang sudah-sudah. Namun di sisi lain ada juga yang berpendapat sikap demikian sebagai keputusan politis terkait suksesi kepemimpinan nasional dalam pilpres 9 Juli 2014 mendatang. Kali ini partai pak Menteri berada dalam satu kubu yang sama dengan partai yang menjadi saluran politik (tak-resmi) sebagian eksponen pengguna “kriteria” wujudul hilaal. Sehingga friksi di antara sesama eksponen koalisi perlu diredam, terlebih di tengah persaingan elektabilitas antar capres yang semakin ketat. Sebab harus diakui, meski sebagian kecil kita menganggap urusan perbedaan awal Ramadhan dan hari raya ibarat kaset bernada serupa yang hanya diputar berulang-ulang, namun di kalangan akar rumput masalah perbedaan ini jauh lebih menonjol dan mengemuka dibanding isu panas seperti korupsi sekalipun. Ya, perbedaan dalam mengawali bulan suci Ramadhan maupun hari raya dengan mudah menjadi bagian dalam mengidentifikasi antara “kita” dan “mereka.”

Posisi Bulan

Bagaimana sesungguhnya posisi Bulan pada Jumat senja 27 Juni 2014 sehingga potensi perbedaan awal Ramadhan 1435 H di Indonesia demikian terbuka lebar ?

Salah satu parameter penting bagi penentuan awal bulan kalender Hijriyyah adalah konjungsi Bulan-Matahari (ijtima’). Peristiwa konjungsi Bulan dan Matahari pada hakikatnya adalah peristiwa dimana pusat cakram Matahari tepat berada dalam satu garis bujur ekliptika yang sama dengan pusat cakram Bulan ditinjau dari titik referensi tertentu. Dalam peristiwa ini Bulan bisa saja seakan-akan ‘menindih’ Matahari dalam situasi khusus yang kita kenal sebagai Gerhana Matahari. Namun yang sering dijumpai adalah Bulan berjarak terhadap Matahari sehingga antara Matahari dan Bulan hanyalah berada dalam satu garis lurus. Garis lurus ini tidak harus mendatar (horizontal) ataupun tegak (vertikal). Di Indonesia, konjungsi Bulan dan Matahari lebih sering terjadi saat kedua raksasa langit tersebut terletak pada satu garis lurus yang relatif miring terhadap cakrawala (horizon).

Gambar 1. Posisi Bulan dan Matahari pada saat terjadi konjungsi geosentris Bulan-Matahari 27 Juni 2014 pukul 15:09 WIB, ditinjau dari pantai Logending, Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah). Garis putus-putus menandakan garis bujur ekliptika yang pada saat itu ditempati baik oleh Bulan maupun Matahari. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 1. Posisi Bulan dan Matahari pada saat terjadi konjungsi geosentris Bulan-Matahari 27 Juni 2014 pukul 15:09 WIB, ditinjau dari pantai Logending, Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah). Garis putus-putus menandakan garis bujur ekliptika yang pada saat itu ditempati baik oleh Bulan maupun Matahari. Sumber: Sudibyo, 2014.

Dengan menggunakan sistem perhitungan (sistem hisab) ELP 2000-82 diketahui bahwa jika ditinjau dari titik pusat Bumi (geosentrik), konjungsi Bulan dan Matahari akan terjadi pada Jumat 27 Juni 2014 pukul 15:09 WIB. Sebaliknya bila ditinjau dari titik-titik di permukaan Bumi (toposentrik), konjungsi baru akan terjadi dalam rentang waktu antara pukul 16:56 WIB (bagi kota Medan) hingga pukul 17:03 WIB (bagi kota Jakarta). Konjungsi toposentrik sejatinya lebih realistis, mengingat segenap umat manusia hidup di permukaan Bumi. Namun ia kalah populer, sehingga yang dijadikan patokan dalam perhitungan ilmu falak adalah konjungsi geosentrik.

Konjungsi geosentrik Bulan-Matahari menentukan elemen umur Bulan, yakni selang waktu antara saat konjungsi (geosentrik) terjadi hingga saat Matahari terbenam di masing-masing titik pada satu negara tertentu. Di Indonesia, pada 27 Juni 2014 senja umur Bulan bervariasi antara +0,52 jam yang terjadi di Jayapura (Papua) hingga +3,78 jam di Lhoknga (Aceh).

Gambar 2. Peta umur Bulan di Indonesia pada Jumat senja 27 Juni 2014. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 2. Peta umur Bulan di Indonesia pada Jumat senja 27 Juni 2014. Sumber: Sudibyo, 2014.

Parameter lainnya yang tak kalah pentingnya adalah tinggi Bulan, yakni tinggi pusat cakram Bulan terhadap garis cakrawala pada saat Matahari terbenam. Di Indonesia, pada saat yang sama tinggi Bulan bervariasi antara -0,83 derajat di Jayapura (Papua) hingga +0,16 derajat di Pelabuhan Ratu (Jawa Barat). Meskipun menjadi titik terbarat di Indonesia, namun geometri posisi Bulan dan Matahari saat ini menyebabkan tinggi Bulan di Lhoknga justru bernilai negatif, yakni hanya -0,17 derajat. Tinggi Bulan bernilai negatif menunjukkan Bulan telah lebih dulu terbenam pada saat Matahari tepat terbenam sepenuhnya.

Gambar 3. Peta tinggi Bulan di Indonesia pada Jumat senja 27 Juni 2014. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 3. Peta tinggi Bulan di Indonesia pada Jumat senja 27 Juni 2014. Sumber: Sudibyo, 2014.

Dan parameter berikutnya yang juga menentukan adalah elongasi Bulan, yakni jarak sudut antara titik pusat cakram Bulan dan Matahari pada saat Matahari terbenam. Pada saat tersebut, elongasi Bulan di Indonesia bernilai antara 4,6 derajat di pulau Rote (NTT) hingga 4,99 derajat di pulau Sabang (Aceh).

Bagaimana cara membaca data-data ini sehingga kita bisa mengetahui bahwa secara teknis awal Ramadhan 1435 H di Indonesia hampir pasti bakal berbeda?

Untuk itu kita harus melihat dinamika Umat Islam Indonesia masa kini. Dari 240 juta penduduk Indonesia, mayoritas adalah Umat Islam dan sekitar 60 juta diantaranya terdaftar sebagai anggota dua ormas Islam terbesar, masing-masing Nahdlatul ‘Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Belum lagi yang tak terdaftar namun bersimpati pada salah satu dari keduanya. Kedua ormas ini memiliki cara berbeda dalam menentukan awal bulan kalender Hijriyyah. Sehingga perbedaan hasil penentuan awal bulan kalender Hijriyyah di antara mereka akan berimbas pada perbedaan di kalangan Umat Islam di Indonesia.

Bagi NU, awal bulan kalender Hijriyyah hanya bisa ditentukan dengan cara rukyat (observasi) hilaal, sementara hisab (perhitungan ilmu falak) hanya dijadikan sebagai faktor pendukung rukyat. Bagi NU, saat rukyat tidak berhasil mendeteksi hilaal atas sebab apapun maka harus dilakukan istikmal, yakni penggenapan bulan kalender Hijriyyah yang telah berjalan menjadi 30 hari. Semenjak beberapa tahun terakhir NU mencoba konsisten untuk melakukan rukyat hilaal pada setiap awal bulan kalender Hijriyyah, tak semata pada awal Ramadhan dan hari raya saja. Seiring beragamnya sistem hisab yang beredar di tubuh NU dengan hasil yang sangat bervariasi pula, maka ormas ini memiliki parameter sendiri untuk menentukan apakah hasil rukyat bisa diterima ataukah tidak. Parameter tersebut adalah “kriteria” Imkan Rukyat yang diformulasikan Kementerian Agama RI, khususnya pada faktor tinggi Bulan minimal dalam sistem hisab kontemporer. “Kriteria” Imkan Rukyat itu sendiri, khususnya bentuk revisi 2011, adalah sebagai berikut :

rmd1435_IRSebaliknya bagi Muhammadiyah, awal bulan kalender Hijriyyah cukup ditentukan dengan cara hisab tanpa perlu melakukan rukyat. Kriteria yang digunakan adalah “kriteria” wujudul hilaal, yang pada saat ini memiliki formulasi sebagai berikut :

rmd1435_WHMaka dengan mudah dapat dilihat bahwa pada Jumat senja 27 Juni 2014, sebagian wilayah Indonesia telah memenuhi “kriteria” wujudul hilaal karena memiliki tinggi Bulan positif (lebih besar dari nol). Sehingga dengan mengaplikasikan prinsip naklul wujud, maka 1 Ramadhan 1435 H bagi Muhammadiyah bertepatan dengan Sabtu 28 Juni 2014. Sebaliknya pada Jumat senja 27 Juni 2014 itu tak satupun lokasi di Indonesia yang memenuhi “kriteria” Imkan Rukyat karena tak ada yang memiliki tinggi Bulan lebih dari atau sama dengan +2,25 derajat. Sehingga, tanpa mendului apa yang akan terjadi pada rukyat hilaal, bulan Sya’ban 1435 H akan digenapkan menjadi 30 hari dan 1 Ramadhan 1435 H bakal bertepatan dengan Minggu 29 Juni 2014. Inilah potensi perbedaan itu.

Referensi :

Sudibyo. 2013. Ramadhan 1435 H (2014), Kertas Kerja dalam Temu Kerja Nasional Hisab Rukyat 2013. Batam (Kepulauan Riau), Juni 2013.