Melongok Saturnus ‘Ditelan’ Bulan

Nama resminya adalah okultasi Saturnus oleh Bulan, atau diringkas sebagai okultasi Bulan-Saturnus. Ini adalah peristiwa unik dimana sebuah benda langit dengan diameter tampak/diameter sudut jauh lebih kecil (dalam hal ini planet Saturnus) memiliki koordinat bujur ekliptika yang sama serta koordinat lintang ekliptika yang hampir sama dengan benda langit berdiameter sudut lebih besar (dalam hal ini Bulan). Dengan demikian okultasi merupakan kasus khusus dari konjungsi, dimana terdapat persyaratan tambahan terkait koordinat lintang ekliptika yang sama/hampir sama pula. Sebagai konsekuensinya jarak sudut (elongasi) antara keduanya amat sangat kecil dan dengan planet Saturnus terletak lebih jauh ketimbang Bulan maka planet ini akan terlihat menghilang untuk sementara waktu. Bisa dikatakan pada saat itu Saturnus sedang ‘tertelan’ oleh Bulan.

Gambar 1. Planet Saturnus (tanda panah kuning) sebagai segores garis cahaya redup di tengah langit yang masih terang benderang. Saturnus seakan mengambang di atas bagian Bulan yang hanya nampak sebagian saja di kawasan Mare Crisium dan sekitarnya. Diabadikan pada 4 Agustus 2014 dalam 10 menit sebelum terbenamnya Matahari dengan teknik afokal lewat eyepiece (okuler) 10 mm untuk kemudian diproses dengan GIMP 2. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 1. Planet Saturnus (tanda panah kuning) sebagai segores garis cahaya redup di tengah langit yang masih terang benderang. Saturnus seakan mengambang di atas bagian Bulan yang hanya nampak sebagian saja di kawasan Mare Crisium dan sekitarnya. Diabadikan pada 4 Agustus 2014 dalam 10 menit sebelum terbenamnya Matahari dengan teknik afokal lewat eyepiece (okuler) 10 mm untuk kemudian diproses dengan GIMP 2. Sumber: Sudibyo, 2014.

Peristiwa ini mirip gerhana sehingga kadang disebut pula dengan Gerhana Saturnus. Hanya saja karena Saturnus tampak jauh lebih kecil dibanding Bulan, penggunaan istilah gerhana menjadi tidak pas. Berbeda dengan Bulan dan Matahari, dimana keduanya nampak hampir sama besarnya (dilihat dari Bumi), maka terminologi gerhana bisa ditabalkan bagi keduanya. Dari sisi sosial budaya, istilah gerhana jauh lebih populer di mata publik dan jauh melampaui batas-batas astronomi hingga merangsek ke ranah religius dan budaya. Sebaliknya istilah okultasi nyaris tak dikenal.

Pemandangan dalam peristiwa okultasi adalah hampir menyerupai panorama gerhana. Pada okultasi Saturnus oleh Bulan, maka Saturnus secara gradual akan menghilang ‘tertelan’ Bulan. Dalam beberapa waktu kemudian, Saturnus akan kembali menampakkan diri seolah ‘dimuntahkan’ dari sisi lain Bulan. Detik-detik saat Saturnus ‘tertelan’ Bulan menjadi momen yang ditunggu-tunggu. Pun sebaliknya detik-detik saat Saturnus kembali ‘dimuntahkan’ Bulan.

Okultasi

Pada 2014 ini, salah satu peristiwa okultasi Saturnus oleh Bulan terjadi pada Senin 4 Agustus 2014. Seperti halnya gerhana Matahari, okultasi ini tidak bisa disaksikan di segenap penjuru permukaan Bumi, melainkan hanya di wilayah tertentu saja yang tercakup dalam kawasan umbra. Pada okultasi 4 Agustus 2014 ini, kawasan umbra itu membentang dari Samudera Pasifik ke Samudera Indonesia (Samudera Hindia). Daratan yang terlintasinya mencakup seluruh Timor Leste, hampir seluruh Australia, sebagian Indonesia, sebagian India, sebagian Papua Nugini, sebagian kecil Jazirah Arabia bagian selatan (mencakup Yaman dan Oman) serta kawasan tanduk Afrika (Ethiopia, Somalia, Somaliland dan sekitarnya).

Gambar 2. Peta kawasan umbra untuk peristiwa okultasi Saturnus oleh Bulan pada 4 Agustus 2014 dalam lingkup global. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan data dari LunarOccultations.com

Gambar 2. Peta kawasan umbra untuk peristiwa okultasi Saturnus oleh Bulan pada 4 Agustus 2014 dalam lingkup global. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan data dari LunarOccultations.com

Okultasi ini terjadi saat Bulan memiliki wajah separuh (fase 54 %), sehingga cahaya Bulan belum terlalu benderang. Bulan berwajah separuh ini secara teoritis memiliki magnitudo semu -10,3 sehingga dengan mudah dapat dilihat bahkan di kala siang bolong. Sebaliknya Saturnus jauh lebih redup dengan magnitudo semu hanya +0,5 atau hampir 21.000 kali lebih redup dibanding Bulan pada saat yang sama. Di malam hari, Saturnus pun mudah dilihat mata bahkan tanpa menggunakan alat bantu optik sekalipun karena relatif cukup terang. Namun tidak demikian halnya di siang hari, kecuali menggunakan teleskop tertentu. Hal ini membatasi kemampuan untuk menyaksikan peristiwa okultasi ini.

Jika tak menggunakan alat bantu optik, maka okultasi Saturnus oleh Bulan pada 4 Agustus 2014 hanya akan bisa diamati pada malam hari, paling tidak saat langit masih bergelimang cahaya senja. Cahaya senja melaburi langit barat pada saat Matahari telah terbenam hingga berkedudukan 18 derajat di bawah horizon. Sementara jika dibantu alat optik seperti teleskop, okultasi Saturnus oleh Bulan berkemungkinan terlihat sejak sebelum terbenamnya Matahari.

Gambar 3. Peta kawasan umbra untuk peristiwa okultasi Saturnus oleh Bulan pada 4 Agustus 2014 untuk Indonesia. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan data dari LunarOccultations.com

Gambar 3. Peta kawasan umbra untuk peristiwa okultasi Saturnus oleh Bulan pada 4 Agustus 2014 untuk Indonesia. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan data dari LunarOccultations.com

Di Indonesia, wilayah umbra okultasi Saturnus oleh Bulan pada 4 Agustus 2014 meliputi seluruh pulau Sumatra, Jawa dan kepulauan Nusa Tenggara, sebagian kecil pulau Kalimantan, sebagian Kepulauan Aru, ujung selatan pulau Sulawesi dan ujung selatan pulau Irian. Namun wilayah yang sepenuhnya mengalami okultasi pada malam hari hanyalah dari pulau Flores dan pulau Sumba ke arah timur. Wilayah di antara pulau Jawa bagian timur hingga pulau Flores dan Sumba mengalami okultasi pada saat langit dikemuli cahaya senja. Sementara sisanya mengalami okultasi pada siang hari, sehingga sulit untuk diamati.

Observasi

Jika mencermati kalender astronomi maka informasi okultasi Saturnus oleh Bulan pada 4 Agustus 2014 sejatinya telah tercantum semenjak awal 2014. Namun dalam praktiknya ia baru beredar dalam seminggu terakhir. Karena peristiwanya dapat diprediksi, maka persiapan observasinya bisa dilakukan sejak jauh-jauh hari sebelumnya. Tantangannya, Indonesia baru saja usai merayakan Idul Fitri 1435 H, sehingga para pengamat mungkin belum sempat tiba di lokasinya masing-masing selama ini. Tantangan berikutnya terkait cuaca, dimana BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) telah meramalkan langit pulau Jawa bakal ditutupi awan/mendung dan ada potensi hujan ringan/sedang di beberapa daerah.

Gambar 4. Planet Saturnus dan Bulan, empat jam setelah Matahari terbenam pada 4 Agustus 2014 lewat celah di antara awan yang berarak-arak. Saat itu kedua benda langit tersebut terpisahkan jarak sudut (elongasi) sebesar 1,5 derajat menurut Starry Night. Diabadikan dengan teknik fokus prima dengan waktu penyinaran (exposure time) 4 kali lipat lebih lambat dibanding seharusnya, sehingga Saturnus dapat terekam cukup terang. Konsekuensinya Bulan nampak sedikit kelebihan paparan cahaya (overexposure) sehingga sedikit memutih. Sumber; Sudibyo, 2014.

Gambar 4. Planet Saturnus dan Bulan, empat jam setelah Matahari terbenam pada 4 Agustus 2014 lewat celah di antara awan yang berarak-arak. Saat itu kedua benda langit tersebut terpisahkan jarak sudut (elongasi) sebesar 1,5 derajat menurut Starry Night. Diabadikan dengan teknik fokus prima dengan waktu penyinaran (exposure time) 4 kali lipat lebih lambat dibanding seharusnya, sehingga Saturnus dapat terekam cukup terang. Konsekuensinya Bulan nampak sedikit kelebihan paparan cahaya (overexposure) sehingga sedikit memutih. Sumber; Sudibyo, 2014.

Syukurlah dalam realitanya Senin sore 4 Agustus 2014 berlalu tanpa rintik-rintik hujan, hanya awan nampak bergerombol di sudut-sudut tertentu. Maka ‘peralatan perang’, yang mencakup teleskop refraktor (pembias) 70 mm beserta kamera poket Sony DSC S-600 dan kamera DSLR Nikon D-60, pun disiapkan. Walau rutinitas harian membuat penulis baru bisa melaksanakan observasi sekira setengah jam sebelum Matahari terbenam.

Gambar 5. Bulan dalam wajah separuh, empat jam setelah terbenamnya Matahari pada 4 Agustus 2014. Diabadikan dengan waktu penyinaran dua kali lipat lebih lambat dari seharusnya, namun sapuan awan tipis yang berarak di latar depannya membuat Bulan nampak lebih redup. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 5. Bulan dalam wajah separuh, empat jam setelah terbenamnya Matahari pada 4 Agustus 2014. Diabadikan dengan waktu penyinaran dua kali lipat lebih lambat dari seharusnya, namun sapuan awan tipis yang berarak di latar depannya membuat Bulan nampak lebih redup. Sumber: Sudibyo, 2014.

Setengah jam sebelum terbenamnya Matahari, langit masih cukup benderang bila dilihat dengan teleskop meski Bulan terlihat jelas. Tak ada tanda-tanda Saturnus. Namun dalam 10 menit kemudian Saturnus mulai terdeteksi dengan jarak demikian dekat dari Bulan, seolah-olah baru saja ‘dimuntahkan’ sang pengawal setia Bumi itu. Di tengah langit yang masih benderang, Saturnus hanya terlihat sebagai segores cahaya redup. Dengan mengatur fokus teleskop secara halus dan perlahan, maka planet ini pun dapat dilihat dengan lebih jelas, termasuk cincinnya. Tantangan terbesar dalam observasi ini adalah posisi Bulan dan Saturnus yang nyaris tegak di atas kepala (berdekatan dengan titik zenith). Sehingga teleskop harus diarahkan demikian mendongak dan ini menyulitkan posisi kamera DSLR. Maka kamera poket pun digunakan untuk mencitra dengan teknik afokal.

Gambar 6. Planet Saturnus, empat jam setelah terbenamnya Matahari pada 4 Agustus 2014. Diabadikan sendirian tanpa menyertakan Bulan yang ada didekatnya. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 6. Planet Saturnus, empat jam setelah terbenamnya Matahari pada 4 Agustus 2014. Diabadikan sendirian tanpa menyertakan Bulan yang ada didekatnya. Sumber: Sudibyo, 2014.

Hampir empat jam kemudian, usai menjalani rutinitas harian, observasi pun kembali diulang. Kali ini langit telah betul-betul gelap dan Bulan telah demikian condong ke barat sehingga kamera DSLR untuk mencitra dengan teknik fokus prima bisa dipasang. Tantangannya ada pada tabiat langit yang cepat berubah. Gelombang demi gelombang awan seakan-akan menyerbu dari utara, berduyun-duyun menutupi pandangan ke arah Bulan dan Saturnus. Observasi pun benar-benar harus dilakukan dengan memanfaatkan celah di antara awan. Dan celah tersebut tidak bertahan lama. Tantangan lainnya ada pada teknik astrofotografinya. Pada ISO 200 dan f-ratio/f-stop sebesar 12,9 maka Bulan berwajah separuh paling baik dicitra (difoto) dengan waktu penyinaran (exposure time) 1/48 detik. Sebaliknya planet Saturnus paling baik difoto pada waktu penyinaran 1/12 detik. Setelah melalui serangkaian eksperimen pencitraan, maka Bulan dan Saturnus pun diabadikan dengan waktu penyinaran antara 1/8 detik hingga 1/10 detik. Meski baru berselang 4 jam pasca okultasi, Bulan ternyata telah beringsut cukup jauh dari Saturnus yakni hingga 1,5 derajat busur.

Noktah Biru Pucat, Bumi Dilihat dari Saturnus

Bumi dan Bulan, diabadikan dengan kamera medan sempit instrumen ISS Cassini pada Jumat 19 Juli 2013 dari jarak 1,445 milyar kilometer, sebagai bagian dari kampanye Wave at Saturn yang digalang NASA. Jarak sudut Bumi dan Bulan adalah 0,012 derajat dengan Bumi 40 kali lebih terang dibanding Bulan. Kilatan cahaya yang memancar dari Bumi merupakan artifak, sebagai implikasi dari waktu paparan (exposure) kamera yang diatur sedikit lebih besar. Sumber : NASA/JPL/Space Science Institue, 2013.

Bumi dan Bulan, diabadikan dengan kamera medan sempit instrumen ISS Cassini pada Jumat 19 Juli 2013 dari jarak 1,445 milyar kilometer, sebagai bagian dari kampanye Wave at Saturn yang digalang NASA. Jarak sudut Bumi dan Bulan adalah 0,012 derajat dengan Bumi 40 kali lebih terang dibanding Bulan. Kilatan cahaya yang memancar dari Bumi merupakan artifak, sebagai implikasi dari waktu paparan (exposure) kamera yang diatur sedikit lebih besar.
Sumber : NASA/JPL/Space Science Institue, 2013.

Dari jarak 1.445 juta kilometer Bumi kita hanya terlihat sebagai noktah redup kebiruan. Jika kita berdiri di lokasi tersebut dan menatap langit tanpa menggunakan teleskop apapun, kita hanya akan menyaksikan Bumi sebagai satu bintik kecil yang tak terbedakan dengan bintang-bintang lainnya yang terserak di langit dalam keluasan jagat raya. Sekilas pandang tak ada yang membuat bintik putih redup ini istimewa dibandingkan bintik-bintik redup lainnya. Namun inilah Bumi, satu-satunya tempat dalam tata surya kita dan bahkan mungkin dalam keluasan jagat raya yang mengandung kehidupan (hingga kini). Termasuk kehidupan kita, bagian dari 6 milyar umat manusia yang menyesaki planet ini dengan segala tingkah lakunya.

Planet Saturnus adalah salah satu permata gemerlap di langit malam. Planet ini telah dikenal umat manusia semenjak awal peradaban sebagai salah satu dari lima bintang kembara (planet) yang kasat mata sebelum hadirnya era teleskop. Keempat bintang kembara lainnya adalah Merkurius, Venus, Mars dan Jupiter. Begitu teleskop ditemukan, Saturnus berulang kali menjadi obyek kekaguman, misalnya saat planet ini diketahui memiliki cincin raksasa yang melayang jauh tinggi di atas khatulistiwa’nya, seperti pertama kali disaksikan astronom Christiaan Huygens (Belanda) pada 1665. Kegemparan besar meledak setelah astronom Giovanni Domenico Cassini (Italia-Perancis) sepanjang 1671-1684 menunjukkan Saturnus dikitari oleh empat satelit alami (Bulan) yang setia, layaknya Jupiter dengan empat Bulan Galileannya sebagaimana pertama kali dilihat Galileo Galilei (Italia) pada 1610. Penemuan ini menjadikan Saturnus menempati status yang sama dengan Jupiter sebagai proyeksi tata surya dalam bentuk mini sehingga turut mengukuhkan ide heliosentrik Copernicus.

Kini kita tahu bahwa planet Saturnus memiliki sedikitnya 63 buah Bulan, catatan rekor yang hanya sanggup ditumbangkan oleh Jupiter. Salah satu Bulannya, yakni Titan, berukuran 1,5 kali lebih besar dibanding Bulan milik kita di Bumi dan bahkan masih lebih besar ketimbang planet Merkurius. Kini Saturnus pun diketahui memiliki 12 lapisan cincin yang berbeda-beda baik dalam hal ketebalan maupun karakteristiknya. Namun Saturnus bukanlah planet cincin yang sendirian lagi, sebab kini kita mengetahui bahwa ketiga planet raksasa gas lainnya (yakni Jupiter, Uranus dan Neptunus) pun dikitari oleh cincinnya masing-masing meski jauh lebih tipis dan redup ketimbang cincin-cincin Saturnus.

Wave at Saturn

Saturnus kian seksi bagi umat manusia seiring berseminya era penerbangan antariksa. Penjelajahan dua pasang wahana antariksa tak berawak milik badan antariksa AS (NASA) sepanjang dekade 1970-an dan awal 1980-an, yakni Pioneer 10 dan Pioneeer 11 serta Voyager 1 dan Voyager 2, yang terbang melintas planet ini lewat rutenya masing-masing menyuguhkan imaji baru yang menakjubkan dari planet ini. Namun semuanya hanya numpang lewat, sehingga hanya sedikit saja waktu yang dialokasikan untuk menyelidiki planet ini sepanjang perjalanannya. Atas alasan itulah maka pada 1983 silam NASA bersama badan antariksa gabungan 12 negara Eropa (ESA) meluncurkan ide pembangunan wahana antariksa tak berawak yang bakal mengorbit Saturnus sehingga berkemampuan menyelidiki planet itu dengan lebih ambisius.

Dalam perjalannya ide ini terantuk-antuk sejumlah badai teknis dan politis, mulai dari pemotongan brutal terhadap anggaran NASA oleh Kongres AS, berubahnya lansekap program antariksa AS secara dramatis seiring tragedi Challenger, perlawanan pegiat lingkungan hidup seiring dibawanya 33 kg bahan radioaktif Plutonium-238 (sebagai sumber listrik melalui mekanisme transfer panas) hingga turbulensi politik yang melanda Eropa dan AS menjelang kejatuhan Uni Soviet dan ambruknya blok Timur. Pada akhirnya semua dapat dilewati sehingga wahana Cassini-Huygens, sebagai penghormatan atas pencapaian Giovanni Domenico Cassini dan Christiaan Huygens, berhasil terbang ke langit pada 15 Oktober 1997 dengan dorongan roket Titan IV B ditambah booster Centaur. Setelah melewati lintasan yang rumit dan berliku-liku, wahana antariksa seberat 5.600 kg dengan kabel-kabel di badannya bisa merentang sepanjang 14 km ini akhirnya tiba di lingkungan Saturnus pada 1 Juli 2004 dan terus aktif menyelidiki planet dan lingkungannya yang dingin membekukan namun menakjubkan, hingga kini.

Pada Jumat 19 Juli 2013 wahana Cassini mencetak sejarah baru dengan mengabadikan Bumi. Ini langkah sulit sebab jika dilihat dari Saturnus, Bumi berkedudukan sangat dekat dengan Matahari sehingga amat menyulitkan kamera-kamera Cassini dalam mengabadikannya seiring benderangnya mentari. Salah-salah kamera-kamera Cassini justru bakal rusak, sama seperti rusaknya mata kita bila terlalu lama menatap Matahari. Namun pada saat-saat tertentu terjadi situasi dimana bundaran Matahari sepenuhnya tergerhanai Saturnus sementara Bumi tetap berada di medan pandang Cassini. Kesempatan serupa telah berkali-kali datang sebelumnya, misalnya pada 2006 silam saat Cassini mengabadikan seluruh lapisan cincin Saturnus. Namun baru kali ini kamera Cassini sengaja diarahkan ke Bumi, bersamaan dengan kampanye Wave at Saturn yang digelar NASA. Inilah kampanye untuk bersama-sama menyaksikan Saturnus yang dikaitkan dengan aktivitas keseharian kita di Bumi. Wave at Saturn mendapat sambutan meriah dan mewujud dalam beragam cara, mulai dari pantauan teleskop live Slooh yang terhubung dunia maya lewat lamannya, observasi Saturnus oleh klub-klub dan komunitas astronomi di berbagai penjuru, flashmob di jalanan Columbus New York (AS) hingga menerbangkan balon helium untuk mengangkut muatan tertentu ke batas atmosfer Bumi.

Bumi sebagai bintik kecil redup dibalik lapisan G cincin Saturnus saat diabadikan dari wahana Cassini pada 2006 silam tatkala Saturnus menggerhanai Matahari dilihat dari titik Cassini berada dalam orbitnya.  Sumber : NASA/JPL, 2006.

Bumi sebagai bintik kecil redup dibalik lapisan G cincin Saturnus saat diabadikan dari wahana Cassini pada 2006 silam tatkala Saturnus menggerhanai Matahari dilihat dari titik Cassini berada dalam orbitnya.
Sumber : NASA/JPL, 2006.

Carl Sagan

Cassini akhirnya benar-benar mengabadikan Bumi dari jarak 1.445.851.000 km pada Jumat 19 Juli 2013 menggunakan kamera medan pandang sempit instrumen ISS (Imaging Science Subsystem)-nya. Serangkaian foto Bumi pun diperoleh namun hasilnya baru kita ketahui sehari kemudian setelah komputer pengendali Cassini mengirimkannya sebagai berkas gelombang elektromagnetik yang membutuhkan waktu 1 jam 20 menit 22 detik untuk tiba di Bumi.

Dari Cassini, Bumi hanya terlihat sebagai noktah kebiruan selebar beberapa piksel saja dalam bidang foto Cassini. Dan noktah kebiruan itu redup, dengan tingkat terang (magnitudo) hanya +2. Sementara Bulan sang pengiring setia bahkan lebih redup lagi, yakni pada magnitudo +6 atau 40 kali lebih redup dari Bumi. Saat itu Bumi berjarak sudut (berelongasi) hanya 5 derajat terhadap Matahari, sementara jarak sudut Bumi-Bulan bahkan jauh lebih kecil lagi, yakni hanya 44 detik busur (0,012 derajat). Hanya ketajaman mata Cassini-lah yang membuat Baik Bumi maupun Bulan dapat diabadikan dengan baik dari lingkungan Saturnus. Pencapaian ini melengkapi apa yang telah dilakukan Voyager 1 berbelas tahun silam, tepatnya antara 14 Februari hingga 6 Juni 1990, saat penjelajah antarplanet ini mengabadikan Bumi dari posisinya saat itu yang berjarak lebih jauh lagi, yakni antara 6.055 hingga 6.086 juta kilometer dari Bumi. Dalam foto Voyager, Bumi bahkan nampak lebih redup lagi dan hanya selebar kurang dari 1 piksel saja (tepatnya 0,12 piksel) dalam bidang foto Voyager-1.

Foto-foto Cassini dan juga Voyager-1 tak hanya penting secara teknis sebagai bagian untuk menguji kemampuan instrumen pencitranya, namun juga memiliki arti lebih mendalam seiring kedudukan manusia dalam jagat raya. Dari jarak 1,445 milyar kilometer itu Bumi hanya terlihat sebagai sebuah bintik cahaya redup saja. Apalagi dari jarak 6 milyar kilometer, ia nampak jauh lebih redup lagi. Dari jarak pandang ini tak ada yang membuat Bumi terlihat istimewa di tengah-tengah kekosongan langit tata surya kita. Apalagi di tengah-tengah jagat raya yang mahaluas, Bumi tak lebih dari setitik debu. Namun bagi kita, umat manusia, pandangan itu sangat kontras.

Bumi sebagai bintik sangat kecil dan amat redup, diabadikan oleh instrumen pencitra Voyager-1 dari jarak 6 milyar kilometer. Sumber : NASA, 1990.

Bumi sebagai bintik sangat kecil dan amat redup, diabadikan oleh instrumen pencitra Voyager-1 dari jarak 6 milyar kilometer. Sumber : NASA, 1990.

Mengutip kata-kata astronom legendaris (mendiang) Carl Sagan, Bumi adalah tempat tinggal kita. Inilah tempat siapapun yang kita cintai, siapapun yang kita benci, siapapun pernah kita ketahui hingga siapapun yang pernah kita dengar tinggal dan menjalani tahapan kehidupannya. Inilah tempat dimana canda bahagia dan lara duka bercampur aduk menjadi satu, pun demikian beragam ideologi, doktrin, kepercayaan, agama, pahlawan dan penghianat, pembangun dan penghancur peradaban, raja dan rakyat hingga orang-orang hebat dan orang-orang bejat. Semua tinggal pada tempat yang hanya setitik debu yang mengapung-apung di gelimang sinar mentari.

Inilah Bumi kita, satu-satunya lokasi dalam tata surya dan bahkan mungkin satu-satunya titik di jagat raya (hingga) kini yang menjadi tempat manusia hidup dan berkembang biak, yang kini telah mencapai populasi 6 milyar orang. Inilah anugerah terberi dari Illahi yang Maha Tinggi, yang jarang sekali dipahami. Kita bisa saja berangan-angan untuk pergi berkunjung ke Bulan, ataupun ke Mars, ataupun ke asteroid, dalam waktu dekat. Ya. Namun cuma berkunjung. Tidak untuk bertempat tinggal. Hanya Bumi-lah yang bisa mendukung kehidupan, sebagai kombinasi unik akan posisinya di lingkup tata surya dan jagat raya, yang membuatnya tidak terlalu dingin namun juga tak terlalu panas, tidak terlalu banyak menerima radiasi kosmik galaktik namun juga tak kekurangan radiasi. Inilah Bumi kita, tempat yang sedari awal tercipta untuk manusia.