Gerhana Bulan Penumbral 23 Maret 2016, Gerhana yang tak Diikuti Shalat Gerhana

Rabu 23 Maret 2016 senja. Jika Matahari terbenam, atau azan Maghrib telah berkumandang, layangkanlah pandangan mata anda ke arah timur. Bila langit cerah atau berbalut sedikit awan, akan terlihat Bulan mengapung rendah di atas ufuk timur. Sekilas pandang, kita akan melihatnya sebagai Bulan bulat bundar penuh khas purnama. Tetapi sesungguhnya sejak terbit hingga pukul 20:53 WIB nanti, Bulan sedang dalam kondisi gerhana Bulan. Inilah gerhana unik yang bernama resmi Gerhana Bulan Penumbral, atau kadang disebut juga gerhana Bulan samar. Inilah jenis Gerhana Bulan yang tak akrab bagi telinga kita. Sebab dalam gerhana jenis ini, jangankan menyaksikan Bulan menghilang sepenuhnya bergantikan obyek sangat redup berwarna kemerah-merahan dalam puncak gerhananya, Bulan setengah meredup pun tak bakal dijumpai.

Gambar 1. Bulan saat mengalami fase gerhana penumbral (kiri) dan purnama pasca gerhana (kanan), diabadikan dengan teleskop yang terangkai kamera dalam momen Gerhana Bulan 4 April 2015 silam. Nampak Bulan sedikit menggelap di sudut kanan atasnya pada saat fase penumbral terjadi. Secara kasat mata penggelapan ini tak teramati. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 1. Bulan saat mengalami fase gerhana penumbral (kiri) dan purnama pasca gerhana (kanan), diabadikan dengan teleskop yang terangkai kamera dalam momen Gerhana Bulan 4 April 2015 silam. Nampak Bulan sedikit menggelap di sudut kanan atasnya pada saat fase penumbral terjadi. Secara kasat mata penggelapan ini tak teramati. Sumber: Sudibyo, 2016.

Lah bagaimana bisa Bulan yang tampak sebagai purnama sesungguhnya sedang mengalami gerhana? Pada dasarnya peristiwa Gerhana Bulan terjadi tatkala tiga benda langit dalam tata surya kita yakni Matahari, Bulan dan Bumi tepat berada dalam satu garis lurus secara tiga dimensi. Atau dalam istilah teknisnya mereka membentuk konfigurasi syzygy. Di tengah-tengah konfigurasi tersebut terletak Bumi. Akibatnya pancaran sinar Matahari yang seharusnya tiba di paras Bulan terhalangi oleh Bumi. Sehingga membuat Bulan tak memperoleh sinar Matahari yang mencukupi. Atau bahkan tak mendapatkannya sama sekali untuk periode waktu tertentu.

Sebagai imbasnya, Bulan yang sejatinya sedang berada dalam fase Bulan purnama pun temaram atau bahkan sangat redup kemerah–merahan dalam beberapa jam kemudian. Sedikit berbeda dengan Gerhana Matahari, Gerhana Bulan memiliki wilayah gerhana cukup luas meliputi lebih dari separuh bola Bumi yang sedang berada dalam suasana malam. Karena garis tengah Matahari jauh lebih besar ketimbang Bumi, maka Bumi tak sepenuhnya menghalangi pancaran sinar Matahari yang menuju ke Bulan. Sehingga bakal masih ada bagian sinar Matahari yang lolos meski intensitasnya berkurang. Ini membuat wilayah gerhana Bulan pun terbagi ke dalam zona penumbra (bayangan tambahan) dan zona umbra (bayangan utama).

Jenis

Bagaimana gerhana samar yang unik ini bisa terjadi? Pada dasarnya ada tiga jenis Gerhana Bulan. Yang pertama adalah Gerhana Bulan Total (GBT), terjadi kala bayangan utama Bumi sepenuhnya menutupi cakram Bulan tanpa terkecuali. Sehingga Bulan akan nyaris menghilang sepenuhnya saat puncak gerhana tiba, menampakkan diri sebagai benda langit sangat redup berwarna kemerah–merahan. Yang kedua adalah Gerhana Bulan Sebagian (GBS), terjadi kala bayangan utama Bumi tak sepenuhnya menutupi cakram Bulan. Akibatnya Bulan hanya akan lebih redup dan terlihat ‘robek’ di salah satu sisinya dengan persentase tertentu di puncak gerhana. Dan yang terakhir adalah Gerhana Bulan Penumbral (GBP) atau gerhana Bulan samar, yang bisa terjadi kala hanya bayangan tambahan Bumi yang menutupi cakram Bulan, baik menutupi sepenuhnya maupun separo. Tak ada bayangan utama Bumi yang turut menutupi. Dalam gerhana samar ini, Bulan masih tetap mendapatkan sinar Matahari meski intensitasnya sedikit lebih rendah dibanding seharusnya.

Bila Gerhana Bulan Total dan Gerhana Bulan Sebagian mudah diidentifikasi secara kasat mata, tidak demikian halnya dengan Gerhana Bulan Penumbral. Dalam pandangan mata kita, kala Gerhana Bulan Penumbral terjadi Bulan akan tetap terlihat bulat bundar penuh sebagai purnama. Hanya melalui teleskop yang dilengkapi kamera memadai sajalah fenomena gerhana Bulan samar ini bisa disaksikan.

Gerhana Bulan 23 Maret 2016 merupakan gerhana Bulan samar, yang terjadi sebagai konsekuensi dari Gerhana Matahari 9 Maret 2016 tepat 14 hari sebelumnya. Ya, ada hubungan antara dua gerhana tersebut. Pada dasarnya tidak setiap saat purnama diikuti dengan peristiwa Gerhana Bulan, meskipun Gerhana Bulan selalu terjadi tepat pada saat Bulan purnama. Musababnya adalah orbit Bulan yang tak berimpit dengan ekliptika (bidang edar Bumi mengelilingi Matahari), melainkan membentuk sudut sebesar 5°. Karena menyudut seperti ini maka terdapat dua titik potong antara orbit Bulan dan ekliptika, yang dinamakan titik nodal. Mengikuti arah gerak Bulan dalam mengelilingi Bumi, maka kedua titik nodal tersebut terdiri dari titik nodal naik (ascending node) dan titik nodal turun (descending node).

Gambar 2. Peta wilayah Gerhana Bulan Penumbral 23 Maret 2016 untuk lingkup global. Perhatikan bahwa hanya di wilayah A dan B (baik B1 maupun B2) saja Gerhana Bulan ini bisa dilihat, sepanjang langit tak berawan. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 2. Peta wilayah Gerhana Bulan Penumbral 23 Maret 2016 untuk lingkup global. Perhatikan bahwa hanya di wilayah A dan B (baik B1 maupun B2) saja Gerhana Bulan ini bisa dilihat, sepanjang langit tak berawan. Sumber: Sudibyo, 2016.

Tidak setiap saat purnama terjadi bertepatan dengan Bulan menempati salah satu dari dua titik nodal ini. Namun begitu Bulan berada di titik ini atau hanya didekatnya saja saat purnama terjadi, peristiwa Gerhana Bulan pun berlangsung. Saat Bulan menempati salah satu titik nodalnya pada saat purnama, maka berselisih setengah bulan kalender kemudian maupun sebelumnya Bulan juga menempati titik nodalnya yang lain bertepatan dengan momen Bulan baru. Inilah yang menyebabkan peristiwa Gerhana Matahari. Dengan kekhasan tersebut, tiap kali terjadi sebuah peristiwa Gerhana Matahari (dimanapun tempatnya di Bumi), maka 14 hari sebelumnya atau 14 hari sesudahnya bakal terjadi Gerhana Bulan. Pada saat tertentu yang jarang terjadi, sebuah peristiwa Gerhana Matahari bahkan bisa didahului dengan Gerhana Bulan pada 14 hari sebelumnya dan diikuti lagi dengan Gerhana Bulan yang lain 14 hari sesudahnya. Jadi ada tiga gerhana berturut-turut, membentuk sebuah parade gerhana.

Indonesia

Gerhana Bulan Penumbral 23 Maret 2016 hanya terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama adalah awal gerhana atau kontak awal penumbra (P1) yang terjadi pada pukul 16:40 WIB. Sementara tahap kedua adalah puncak gerhana, yang terjadi pada pukul 18:47 WIB. Magnitudo gerhana saat puncak adalah 0,77. Artinya 77 % cakram Bulan pada saat itu tercakup ke dalam bayangan tambahan Bumi. Dan yang terakhir adalah tahap akhir gerhana atau kontak akhir penumbra (P4) yang terjadi pukul 20:53 WIB. Dengan demikian durasi gerhana Bulan samar ini mencapai 4 jam 13 menit.

Wilayah gerhana untuk Gerhana Bulan Penumbral 23 Maret 2016 melingkupi sebagian besar benua Asia, Australia dan sebagian besar benua Amerika. Hanya Eropa, Afrika, kawasan Timur Tengah dan separuh Brazil yang tak tercakup ke dalam zona gerhana ini. Jika ditelaah lebih detil lagi, wilayah gerhana terbagi menjadi tiga sub-area. Sub-area pertama (sub area A) mengalami seluruh tahap gerhana secara utuh sehingga durasi-tampak di sini setara dengan durasi gerhana. Sub-area ini hanya meliputi Jepang, Indonesia bagian timur, Papua Nugini, sebagian besar Australia, Selandia Baru, Alaska (Amerika Serikat) dan sebagian Canada. Sementara sub-area kedua adalah yang mengalami gerhana secara tak utuh karena gerhana sudah terjadi sebelum Bulan terbit setempat (sub-area B1). Dengan demikian durasi-tampak gerhana pun lebih kecil ketimbang durasi gerhana. Sub-area ini meliputi mayoritas Asia dan sebagian Australia (bagian barat). Dan sub-area ketiga juga mengalami gerhana secara tak utuh, namun karena gerhana belum berakhir meski Bulan sudah terbenam setempat (sub-area B2). Dengan demikian durasi-tampak gerhana pun lebih kecil ketimbang durasi gerhana. Sub-area ini meliputi mayoritas Amerika saja.

Gambar 3. Peta wilayah Gerhana Bulan Penumbral 23 Maret 2016 untuk Indonesia. Garis P1 adalah garis yang menghubungkan titik-titik dimana kontak awal penumbra terjadi tepat pada saat Bulan terbit. Sementara garis puncak menghubungkan titik-titik yang mengalami puncak gerhana tepat pada saat Bulan terbit. Seluruh Indonesia mampu menyaksikan peristiwa Gerhana Bulan ini, sepanjang langit tak berawan. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 3. Peta wilayah Gerhana Bulan Penumbral 23 Maret 2016 untuk Indonesia. Garis P1 adalah garis yang menghubungkan titik-titik dimana kontak awal penumbra terjadi tepat pada saat Bulan terbit. Sementara garis puncak menghubungkan titik-titik yang mengalami puncak gerhana tepat pada saat Bulan terbit. Seluruh Indonesia mampu menyaksikan peristiwa Gerhana Bulan ini, sepanjang langit tak berawan. Sumber: Sudibyo, 2016.

Indonesia secara umum terbelah menjadi dua. Garis P4, yakni himpunan titik-titik yang mengalami terbitnya Bulan bersamaan dengan awal gerhana, melintas mulai dari sisi barat kepulauan Halmahera di utara, sisi timur Pulau Buru di tengah dan ujung timor pulau Timor di selatan. Seluruh wilayah yang terletak di sebelah timur garis ini tercakup ke dalam sub-area A sehingga mengalami gerhana secara utuh. Termasuk ke dalam kawasan ini adalah segenap pulau Irian, kepulauan Halmahera dan kepulauan Maluku. Hanya di tempat–tempat inilah gerhana terjadi setelah Bulan terbit (atau setelah Matahari terbenam). Sementara sisa Indonesia lainnya harus berpuas diri mengalami gerhana Bulan samar yang tak utuh karena tergolong ke dalam sub-area B1. Bahkan di kota Aceh (propinsi Aceh), Bulan terbit bersamaan dengan puncak gerhana.

Sesuai namanya, gerhana Bulan samar ini nyaris tak dapat dibedakan dengan Bulan purnama biasa. Butuh teleskop dengan kemampuan baik untuk dapat melihatnya. Untuk memotretnya, butuh kamera dengan pengaturan (setting) yang lebih kompleks dan bisa disetel secara manual. Dalam puncak gerhana Bulan samar, jika cara pengaturan kamera kita tepat maka Bulan akan terlihat menggelap di salah satu sudutnya. Detail teknis pemotretan untuk mengabadikan gerhana ini dengan menggunakan kamera DSLR (digital single lens reflex) tersaji berikut ini :

Sayangnya, prakiraan cuaca mengindikasikan sebagian besar Indonesia mungkin tak berpeluang menyaksikan gerhana unik ini. Kanal SADEWA (Satellite Disaster Early Warning System) dari LAPAN (Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional) mengindikasikan bahwa pada 23 Maret 2016 senja sebagian besar Indonesia diliputi tutupan awan. Tak hanya itu, potensi hujan pun ada dan bahkan di beberapa tempat diprakirakan mengalami hujan deras.

Gambar 4. Prakiraan tutupan awan di Indonesia pada 23 Maret 2016 TU pukul 18:00 WIB berdasarkan analisis kanal SADEWA di LAPAN. Nampak sebagian besar Indonesia tertutupi awan. Sumber: LAPAN, 2016.

Gambar 4. Prakiraan tutupan awan di Indonesia pada 23 Maret 2016 TU pukul 18:00 WIB berdasarkan analisis kanal SADEWA di LAPAN. Nampak sebagian besar Indonesia tertutupi awan. Sumber: LAPAN, 2016.

Tanpa Shalat Gerhana

Meski tak familiar di telinga kita, namun gerhana Bulan samar bukanlah fenomena yang jarang terjadi. Sepanjang 2016 Tarikh Umum (TU) ini akan terjadi empat gerhana, masing–masing dua gerhana Bulan dan dua gerhana Matahari. Dan seluruh gerhana Bulan di tahun ini merupakan gerhana Bulan samar.

Bagi Umat Islam ada anjuran untuk menyelenggarakan shalat gerhana baik di kala terjadi peristiwa Gerhana Matahari maupun Gerhana Bulan. Tapi hal tersebut tak berlaku dalam kejadian Gerhana Bulan Penumbral ini. Musababnya gerhana Bulan samar dapat dikatakan mustahil untuk bisa diindra dengan mata manusia secara langsung. Padahal dasar penyelenggaraan shalat gerhana adalah saat gerhana tersebut dapat dilihat, seperti dinyatakan dalam hadits Bukhari, Muslim dan Malik yang bersumber dari Aisyah RA. Pendapat ini pula yang dipegang oleh dua ormas Islam terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul ‘Ulama dan Muhammadiyah. Keduanya sepakat bahwa saat gerhana tak bisa disaksikan (secara langsung), maka shalat gerhana tak dilaksanakan.

Gambar 5. Prakiraan curah hujan (resolusi 5 kilometer) di Indonesia pada 23 Maret 2016 TU pukul 18:00 WIB berdasarkan analisis kanal SADEWA di LAPAN. Semakin gelap maka semakin deras hujan yang diprakirakan bakal turun. Nampak hujan diprakirakan bakal terjadi di hampir segenap pulau Sumatra dan sebagian pulau Jawa (kecuali Jawa bagian tengah). Sumber: LAPAN, 2016.

Gambar 5. Prakiraan curah hujan (resolusi 5 kilometer) di Indonesia pada 23 Maret 2016 TU pukul 18:00 WIB berdasarkan analisis kanal SADEWA di LAPAN. Semakin gelap maka semakin deras hujan yang diprakirakan bakal turun. Nampak hujan diprakirakan bakal terjadi di hampir segenap pulau Sumatra dan sebagian pulau Jawa (kecuali Jawa bagian tengah). Sumber: LAPAN, 2016.

Sekilas, tak diselenggarakannya shalat gerhana dalam Gerhana Bulan Penumbral terkesan sedikit mengganjal. Sebab jika dibandingkan dengan penilaian terhadap fenomena alam lainnya, yakni hilaal yang berperanan dalam penentuan awal bulan kalender Hijriyyah khususnya bulan suci Ramadhan dan hari raya Idul Fitri/Idul Adha, sebagian kalangan Umat Islam di Indonesia memiliki tafsiran yang ‘lebih maju’ dari batasan literal. Misalnya Muhammadiyah, yang berpendapat bahwa kosakata “melihat hilaal” dapat disubstitusi menjadi “memperhitungkan“. Sehingga dalam praktiknya penentuan awal bulan kalender Hijriyyah cukup dilakukan dengan perhitungan (hisab). Di sisi lain ada juga Kementerian Agama RI, yang berpendapat kosakata “melihat hilaal” dapat dipertajam menjadi “melihat hilaal dengan peralatan” dan belakangan bahkan “melihat hilaal dengan peralatan dan pengolahan citra/foto.”

Tafsir-tafsir tersebut itu terkesan inkonsisten bila mengantisipasi peristiwa Gerhana Bulan Penumbral ini tak dianjurkan menyelenggarakan shalat gerhana. Secara kasat mata gerhana ini memang sangat sulit disaksikan, bahkan andaikata kita menggunakan teleskop sekalipun. Namun secara perhitungan, Gerhana Bulan sudah terjadi lho (entah apapun jenisnya). Dan jika pengamatan dilengkapi dengan teknik pengolahan citra yang menjadi standar bagi astronomi, gerhana yang samar ini juga bakal terlihat lho. Jadi?

Menuju Gerhana Bulan Total Rabu 8 Oktober 2014

Seperti telah diduga Umat Islam di Indonesia pun mengumandangkan takbir merayakan Idul Adha 1435 H pada saat yang berbeda setelah Menteri Agama Lukman Saifuddin menetapkan 1 Zulhijjah 1435 H di Indonesia bertepatan dengan Jumat 26 September 2014. Keputusan ini berdasar pada hasil sidang itsbat penetapan Idul Adha 1435 H di Kementerian Agama RI yang kali ini kembali bersifat tertutup untuk umum. Dengan keputusan tersebut maka Kementerian Agama RI menetapkan Idul Adha 1435 H bertepatan dengan Minggu 5 Oktober 2014. Dalam konteks regional, keputusan Menteri Agama RI senada dengan keputusan sejumlah negara Asia Tenggara seperti Malaysia dan Brunei Darussalam maupun komunitas Umat Islam seperti di Singapura dan Filipina.

Namun sebagian Umat Islam Indonesia merayakannya lebih dulu pada Sabtu 4 Oktober 2014. Dasarnya adalah maklumat Pengurus Pusat Muhammadiyah terkait penetapan Idul Adha 1435 H (2014). Selain itu ada pula yang mengacu keputusan pemerintah kerajaan Saudi Arabia dimana 1 Zulhijjah 1435 H di Saudi Arabia bertepatan dengan Kamis 25 September 2014, atau sehari lebih awal ketimbang keputusan Menteri Agama RI. Dan ada pula yang berpatokan pada hasil rukyatul hilaal Cakung (DKI Jakarta) sebagai kalangan pengguna sistem hisab Sullam yang dikenal bersifat taqriby (aproksimasi) sehingga akurasinya lebih rendah. Mengulangi yang sudah-sudah, pada Rabu 24 September 2014 maghrib tim Cakung melaporkan “melihat” hilaal. “Melihat” di sini dalam tanda kutip, mengingat kesaksian tersebut (dan juga kesaksian-kesaksian Cakung sebelumnya) telah lama cukup diragukan seiring tiadanya landasan ilmiah yang menopangnya, bahkan saat dilakukan observasi pembanding di lokasi yang hampir sama dengan alat bantu standar observasi hilaal.

Meski terasa tak mengenakkan, perbedaan semacam ini sejatinya bukanlah yang pertama. Empat tahun silam. Idul Adha 1431 H (2010) pun dirayakan di Indonesia dengan berbeda. Saat itu pun keputusan Menteri Agama RI juga berbeda dengan keputusan pemerintah kerajaan Saudi Arabia. Namun waktu itu tak banyak yang meributkan. Apalagi membanding-bandingkan mana yang lebih dominan antara yang ber-Idul Adha pada Sabtu 4 Oktober 2014 dengan Minggu 5 Oktober 2014. Pembanding-bandingan itu ahistoris jika dikaitkan dengan fakta saat Ramadhan 1435 H (2014) lalu, dan juga Ramadhan 1434 H (2013). Saat itu baik Menteri Agama RI maupun pemerintah kerajaan Saudi Arabia menetapkan awal puasa Ramadhan pada hari yang sama. Dan pada kedua saat itu pun di Indonesia terdapat kalangan Umat Islam yang memulai berpuasa Ramadhan sehari lebih awal. Namun dalam kedua saat itu pun tak ada ribut-ribut.

Gambar 1. Wajah Bulan yang 'hilang' separo saat mengalami Gerhana Bulan dalam fase parsial (sebagian), diabadikan pada 16 Juni 2011 di Kebumen. Pada Gerhana Bulan 8 Oktober 2014, pemandangan seperti ini pun akan terulang. Sumber: Sudibyo, 2011.

Gambar 1. Wajah Bulan yang ‘hilang’ separo saat mengalami Gerhana Bulan dalam fase parsial (sebagian), diabadikan pada 16 Juni 2011 di Kebumen. Pada Gerhana Bulan 8 Oktober 2014, pemandangan seperti ini pun akan terulang. Sumber: Sudibyo, 2011.

Justru yang harus menjadi perhatian adalah apa yang terjadi setelah hari raya Idul Adha 1435 H. Setelah tiga hari menjalani hari tasyrik (hari Mina), dimana gema takbir senantiasa dikumandangkan pada hari-hari tersebut, kita akan bersua dengan satu peristiwa langit yang juga (dianjurkan) dirayakan kehadirannya dengan gema takbir. Inilah peristiwa Gerhana Bulan 8 Oktober 2014.

Gerhana

Gerhana Bulan 8 Oktober 2014 merupakan Gerhana Bulan Total (GBT), dimana Bulan tak terkena sinar Matahari secara langsung pada saat puncak gerhananya. Perhitungan dengan algoritma gerhana Jean Meeus memperlihatkan gerhana ini akan dimulai pada Rabu 8 Oktober 2014 pukul 15:16 WIB saat terjadi kontak awal penumbra (P1) yang memandakan awal fase penumbra. Selanjutnya disusul kontak awal umbra (U1) pada pukul 16:15 WIB sebagai awal fase parsial (sebagian). Totalitas gerhana dimulai pada pukul 17:26 WIB sebagai kontak awal totalitas (U2) dan mencapai puncaknya pada pukul 17:55 WIB. Pada saat puncak, magnitudo gerhana adalah 1,152 yang bermakna bahwa diameter sudut lingkaran umbra (bayangan inti) gerhana adalah 1,152 kali lipat lebih besar ketimbang diameter sudut Bulan. Dengan diameter lingkaran umbra gerhana sebesar itu dan lintasan Bulan pada saat itu, maka totalitas gerhana yakni durasi tatkala Bulan benar-benar tak terpapar sinar Matahari secara langsung terjadi selama 58 menit. Totalitas berakhir dengan kontak akhir totalitas (U3) pada pukul 18:24 WIB. Setelah itu Bulan kembali memasuki gerhana dalam fase parsial (sebagian) hingga pukul 19:34 WIB saat terjadi kontak akhir umbra (U4). Selepas itu Bulan tinggal menyusuri lingkaran penumbra (bayangan tambahan) gerhana sebagai fase penumbra hingga saat terjadi kontak akhir penumbra (P4) pada pukul 20:33 WIB.

Jika dihitung dari saat kontak awal penumbra (P1) hingga kontak akhir penumbra (P4), maka durasi Gerhana Bulan Total 8 Oktober 2014 ini adalah sebesar 5 jam 17 menit. Namun gerhana yang kasatmata hanya berdurasi 3 jam 19 menit, yakni semenjak awal kontak umbra (U1) hingga akhir kontak umbra (U4). Sepanjang 3 jam 19 menit itu kita akan menyaksikan Bulan mengalami fase parsial (sebagian) dan disusul totalitas dalam menjalani gerhananya. Bila durasi keseluruhan gerhana dikurangi durasi gerhana yang kasatmata, maka akan kita peroleh sisanya sebesar 1 jam 58 menit. Inilah durasi dimana Bulan berada dalam fase penumbra dalam menjalani gerhananya kali ini. Dalam fase penumnbra, secara kasat mata kita hanya akan melihatnya sebagai Bulan yang nyaris bundar utuh sebagai ciri khas Hanya dengan menggunakan alat bantu optik yang memadai (misalnya teleskop dilengkapi kamera tertentu) sajalah gerhana dalam fase penumbra bisa kita saksikan.

Gambar 2. Peta wilayah Gerhana Bulan Total 8 Oktober 2014 secara global. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 2. Peta wilayah Gerhana Bulan Total 8 Oktober 2014 secara global. Sumber: Sudibyo, 2014.

Dalam lingkup global, Gerhana Bulan Total 8 Oktober 2014 dapat disaksikan di Australia, sebagian besar Asia serta hampir seluruh Amerika. Hanya Eropa dan Afrika serta Asia barat (timur Tengah) saja yang tak berkesempatan menikmati gerhana ini. Namun wilayah yang dapat menyaksikan gerhana ini secara penuh dalam setiap fasenya tanpa terganggu aktivitas terbit ataupun terbenamnya Bulan hanyalah Amerika Serikat bagian barat, Canada bagian barat, Australia bagian timur, Rusia bagian timur, separuh Jepang dan Papua Nugini.

Shalat Gerhana dan Observasi

Gambar 3. Peta wilayah Gerhana Bulan Total 8 Oktober 2014 untuk Indonesia. Garis U1 adalah garis dimana kontak awal umbra bertepatan dengan saat Bulan terbit setempat, garis U2 adalah garis saat awal totalitas bertepatan dengan saat Bulan terbit setempat, garis puncak adalah garis saat kontak puncak gerhana bertepatan dengan saat Bulan terbit setempat dan garis U3 adalah garis saat akhir totalitas bertepatan dengan saat Bulan terbit setempat. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 3. Peta wilayah Gerhana Bulan Total 8 Oktober 2014 untuk Indonesia. Garis U1 adalah garis dimana kontak awal umbra bertepatan dengan saat Bulan terbit setempat, garis U2 adalah garis saat awal totalitas bertepatan dengan saat Bulan terbit setempat, garis puncak adalah garis saat kontak puncak gerhana bertepatan dengan saat Bulan terbit setempat dan garis U3 adalah garis saat akhir totalitas bertepatan dengan saat Bulan terbit setempat. Sumber: Sudibyo, 2014.

Seluruh Indonesia berkesempatan menyaksikan Gerhana Bulan Total ini, meski berbeda-beda dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Indonesia bagian timur khususnya propinsi Papua, Irian Jaya Barat, Maluku dan Maluku Utara mampu menyaksikan gerhana semenjak fase penumbra (tidak utuh) hingga usai begitu Matahari terbenam karena lokasinya berada di sisi barat garis P1. Sisanya menyaksikan gerhana hanya setelah memasuki fase parsial ataupun totalitas. Bulan terbit sebagai gerhana fase parsial dapat dinikmati di tempat-tempat yang berada di sebelah barat garis U1, meliputi pulau Sulawesi, seluruh kepulauan Nusa Tenggara dan sebagian besar pulau Kalimantan (kecuali Kalimantan Barat) serta Jawa bagian timur. Sementara Bulan terbit sebagai gerhana dalam fase totalitas dapat dilihat di hampir segenap pulau Jawa (kecuali Jawa Timur), propinsi Kalimantan Barat, propinsi Lampung dan Sumatra Selatan karena tempat-tempat ini berada di sebelah barat garis U2. Sementara sebagian besar pulau Sumatra mengalami situasi dimana Bulan terbit tepat setelah puncak gerhana (berada di sebelah barat garis puncak). Bahkan di kota Banda Aceh, garis U3 tepat melintasi kota ini sehingga di sini terjadi situasi dimana Bulan terbit bertepatan dengan berakhirnya gerhana fase totalitas. Sehingga Banda Aceh hanya menikmati gerhana fase sebagian sampai usai.

Seluruh Indonesia berada dalam kawasan Gerhana Bulan Total 8 Oktober 2014 ini Dan seluruhnya mampu menikmati gerhana secara kasat mata, baik fase parsial maupun totalitas. Sehingga Umat Islam di seluruh Indonesia berkesempatan menunaikan ibadah shalat gerhana bulan, tanpa terkecuali. Dan sebelum menunaikan shalat gerhana, dianjurkan untuk mengumandangkan gema takbir. Di samping itu alangkah baiknya jika turut mengamati gerhana ini, sebagai bagian dari mengagumi kebesaran Illahi dan memahami bagaimana semesta bekerja. Fase gerhana yang kasatmata berakhir pada pukul 19:34 WIB, sehingga kesempatan untuk menunaikan shalat gerhana bulan pun berakhir pada pukul 19:34 WIB, Untuk itu perlu disusun strategi kapan mengamati gerhana dan kapan melaksanakan shalat gerhana bulan. Fase totalitas adalah tahap gerhana yang paling mengesankan, maka dianjurkan meletakkan waktu observasi bersamaan dengan fase totalitas ini. Dengan demikian untuk pulau-pulau Irian, Sulawesi, Kalimantan, Sumatra bagian barat dan pulau-pulau kecil disekitarnya serta kepulauan Nusa Tenggara, shalat gerhana bulan dapat dilaksanakan segera selepas usai shalat maghrib berjamaah di masjid. Sebaliknya untuk pulau Jawa dan pulau Sumatra bagian timur, shalat gerhana dapat dilaksanakan tepat setelah shalat isya berjamaah.

Gambar 4. Posisi Bulan semenjak terbit hingga ke fase gerhana selanjutnya seperti disimulasikan untuk Kebumen (Jawa Tengah). Angka-angka di sumbu mendatar (kaki langit timur) menunjukkan azimuth, dimana azimuth 45 = titik timur laut dan azimuth 90 = titik timur. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 4. Posisi Bulan semenjak terbit hingga ke fase gerhana selanjutnya seperti disimulasikan untuk Kebumen (Jawa Tengah). Angka-angka di sumbu mendatar (kaki langit timur) menunjukkan azimuth, dimana azimuth 45 = titik timur laut dan azimuth 90 = titik timur. Sumber: Sudibyo, 2014.

Seiring sebagian Indonesia masih berada dalam situasi musim kemarau dengan langit malam relatif cerah, maka Gerhana Bulan Total ini relatif bisa diamati dengan mudah dimana saja, termasuk di lingkungan perkotaan sekalipun. Namun ada teknik tersendiri untuk mengabadikan peristiwa langit ini. Prinsip dasarnya, Gerhana Bulan menyebabkan adanya perubahan pencahayaan Bulan dari yang semula cukup benderang (sebagai purnama) menjadi jauh lebih redup ketimbang Bulan sabit (pada puncak gerhana). Perubahan pencahayaan ini memerlukan pengaturan khusus. Jika anda menggunakan kamera jenis DSLR (digital single lens reflex), maka atur kamera ke kondisi manual dan fokus lensa juga ke posisi manual. Pilih panjang fokus tertentu saja. Juga pilih f-ratio pada satu nilai tertentu dan demikian pula ISO-nya. Lalu arahkan ke Bulan dan atur waktu penyinarannya (exposure time) mengikut fase gerhana seperti diperlihatkan tabel di bawah ini:

gbt081014_fotografi_dslr

Salah satu kelebihan kamera DSLR adalah dapat dihubungkan ke teleskop dengan penambahan adapter dan t-ring yang tepat sehingga menghasilkan teknik fotografi fokus prima. Namun bila disambungkan dengan teleskop, maka nilai f-ratio dan panjang fokusnya menjadi tetap seperti apa yang dimiliki oleh teleskop tersebut tanpa bisa diubah-ubah. Jika kamera DSLR ini disambungkan ke teleskop menghasilkan teknik fokus prima, maka nilai waktu penyinarannya (exposure time) bergantung pada ISO yang dipilih. Misalkan teleskop yang digunakan adalah teleskop pembias 70 mm dengan panjang fokus 900 mm, maka nilai ISO dan waktu penyinarannya mengikuti fase gerhana diperlihatkan tabel berikut :

gbt081014_fotografi_teleskop

Bagaimana jika anda tak memiliki kamera DSLR dan juga tak mempunyai teleskop? Jangan khawatir, Gerhana Bulan Total ini tetap dapat diabadikan meski dengan kamera digital sederhana atau bahkan kamera ponsel/ponsel pintar sekalipun. Kuncinya adalah mengeset kamera dengan nilai ISO yang besar (bila memungkinkan). Juga mengatur nilai EV ke yang terbesar (bila memungkinkan). Jika pilihan-pilihan tersebut tak tersedia, masih terbuka jalan untuk mengabadikannya dengan mengeset pencahayaan kamera lewat daylight atau sejenisnya saat fase penumbra dan fase parsial serta mengeset ke night atau sejenisnya saat fase totalitas gerhana.

Bulan Merah Darah dan Bonus Uranus

Satu hal yang akan diuji dalam Gerhana Bulan Total 8 Oktober 2014 ini adalah kualitas udara global. Jika udara relatif bersih (maksudnya bebas dari partikulat dan aerosol pengotor hingga kadar tertentu), maka tatkala Gerhana Bulan Total terjadi sinar Matahari yang sempat menerobos atmosfer Bumi (bersinggungan dengan tepi cakram Bumi) akan dibiaskan demikian rupa. Sehingga saat berkas cahaya (khususnya cahaya dengan komponen kemerah-merahan) ini keluar dari atmosfer, lintasannya telah berbelok demikian rupa sehingga akan jatuh ke permukaan Bulan. Maka Bulan akan terlihat berwana kemerah-merahan yang redup mirip warna darah bahkan tatkala puncak gerhana sekalipun. Lain persoalannya jika udara Bumi dalam keadaan relatif kotor, membuat cahaya yang masuk ke atmosfer mengalami penyerapan dan hamburan demikian rupa oleh partikulat dan aerosol pengotor. Akibatnya jumlah cahaya terbiaskan yang jatuh ke permukaan Bulan sangat sedikit sehingga Bulan bakal terlihat betul-betul gelap di saat puncak gerhana. Pengotoran atmosfer Bumi dalam jumlah yang cukup signifikan untuk mengubah tampilan Bulan saat puncak gerhana bisa diakibatkan oleh letusan dahsyat gunung berapi, atau tumbukan benda langit (komet/asteroid) berdiameter besar (minimal 500 meter).

Gambar 5. Dramatisnya perbedaan wajah Bulan yang terabadikan saat puncak Gerhana Bulan Total 30 Januari 1972 kala atmosfer relatif bersih (kiri) dengan saat puncak Gerhana Bulan Total 30 Desember 1982 pasca letusan el-Chichon (kanan). Kedua citra diambil dengan menggunakan teleskop, kamera, film dan waktu penyinaran (exposure time) yang sama. Citra Bulan sebelah kiri adalah 400 kali lebih benderang (6,5 magnitudo lebih cerlang) dibanding citra Bulan sebelah kanan. Sumber: Keen, 2008.

Gambar 5. Dramatisnya perbedaan wajah Bulan yang terabadikan saat puncak Gerhana Bulan Total 30 Januari 1972 kala atmosfer relatif bersih (kiri) dengan saat puncak Gerhana Bulan Total 30 Desember 1982 pasca letusan el-Chichon (kanan). Kedua citra diambil dengan menggunakan teleskop, kamera, film dan waktu penyinaran (exposure time) yang sama. Citra Bulan sebelah kiri adalah 400 kali lebih benderang (6,5 magnitudo lebih cerlang) dibanding citra Bulan sebelah kanan. Sumber: Keen, 2008.

Bagaimana dengan Gerhana Bulan Total 8 Oktober 2014 ini? Pada saat ini kita pun sedang mengalami letusan gunung berapi, yang terbesar adalah letusan Holuhraun di Islandia. Dimulai semenjak 29 Agustus 2014, hingga 1 Oktober 2014 letusan ini sudah memuntahkan tak kurang dari 650 juta meter kubik magma atau lima kali lipat volume Letusan Kelud 2014. Namun tak ada partikulat debu vulkanik dalam jumlah signifikan yang tersembur ke ketinggian atmosfer dalam letusan ini, mengingat sifat letusannya yang efusif (leleran). Letusan Holuhraun juga menyemburkan gas belerang namun dalam jumlah 30.000 ton per hari, angka yang terhitung relatif kecil untuk letusan gunung berapi. Maka pengotoran atmosfer dalam jumlah signifikan pada saat ini nampaknya tak terjadi. Sehingga Bulan pada saat puncak Gerhana Bulan Total 8 Oktober 2014 diprakirakan tetap akan berwarna kemerah-merahan redup menyerupai darah.

Gambar 6. Bulan dan lingkungan sekitarnya tepat setelah akhir totalitas gerhana, disimulasikan dengan Starry Night Backyard v 3.0 untuk Kebumen (Jawa Tengah). Planet Uranus nampak di sisi kanan atas Bulan. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 6. Bulan dan lingkungan sekitarnya tepat setelah akhir totalitas gerhana, disimulasikan dengan Starry Night Backyard v 3.0 untuk Kebumen (Jawa Tengah). Planet Uranus nampak di sisi kanan atas Bulan. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gerhana Bulan kali ini pun bakal berbonus peluang langka, yakni kesempatan untuk mengamati planet Uranus. Planet ketujuh di lingkungan tata surya kita dan planet pertama yang ditemukan manusia sepanjang sejarah lewat teleskop ini akan berbinar di sudut kanan atas Bulan selama fase gerhana. Dengan magnitudo semu +5,7 maka planet ini bahkan berkemungkinan terlihat mata manusia tanpa alat bantu, asalkan berada di lingkungan yang betul-betul gelap dan langit dalam kondisi sempurna.