Bila Gunung Slamet Mencicil Letusan

Terhitung mulai Selasa 12 Agustus 2014 pukul 10:00 WIB Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia meningkatkan status Gunung Slamet (propinsi Jawa Tengah) dari semula Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III). Peningkatan ini didasari oleh cenderung meningkatnya aktivitas letusan gunung berapi tertinggi kedua di pulau Jawa itu seperti tercermin dalam ranah kegempaan, ketinggian semburan debu vulkanik letusan, suhu mata air panas di kakinya dan mulai terjadinya leleran lava pijar. Bagi sebagian besar kita peningkatan status ini terasa mengejutkan. Namun bagi saudara-saudara kita yang tinggal di sekitar gunung berapi aktif yang bertubuh terbesar seantero pulau Jawa itu peningkatan status lebih sebagai formalisasi terhadap apa yang mereka saksikan secara langsung pada Gunung Slamet dalam kurun sebulan terakhir.

Gambar 1. Pancuran api Gunung Slamet, yang adalah lontaran material vulkanik berpijar mirip air mancur dari kawah aktif Slamet untuk kemudian berjatuhan kembali ke dalam/sekitar kawah sebagai ciri khas erupsi Strombolian. Pada status Siaga (Level III) kali ini, selain erupsi Strombolian juga telah terjadi leleran lava pijar ke arah barat-barat daya (tanda panah). Sumber: Hendrasto (Kepala PVMBG), 2014.

Gambar 1. Pancuran api Gunung Slamet, yang adalah lontaran material vulkanik berpijar mirip air mancur dari kawah aktif Slamet untuk kemudian berjatuhan kembali ke dalam/sekitar kawah sebagai ciri khas erupsi Strombolian. Pada status Siaga (Level III) kali ini, selain erupsi Strombolian juga telah terjadi leleran lava pijar ke arah barat-barat daya (tanda panah). Sumber: Hendrasto (Kepala PVMBG), 2014.

Ya. Aktivitas Gunung Slamet memang sedang meningkat. Salah satu petunjuknya secara kasat mata nampak sebagai letusan debu. Pada paruh pertama Juli 2014 (yakni dari tanggal 1 hingga 15), Gunung Slamet hanya mengalami 31 letusan debu yang membumbung setinggi 300 hingga 1.500 meter dari puncak. Namun pada paruh kedua Juli 2014 meroket menjadi 148 letusan debu yang setinggi 300 hingga 2.000 meter dari puncak disertai 2 kali suara dentuman berintensitas sedang dan 1 kali pancuran api. Dan pada paruh pertama Agustus 2014 (hingga tanggal 12) telah terjadi 100 kali letusan debu (tinggi kolom letusan 300 hingga 800 meter dari puncak), disertai terdengarnya suara dentuman berintensitas sedang hingga kuat sebanyak 109 kali, terdengarnya suara gemuruh hingga 9 kali dan 37 kali pancuran api serta 2 kali luncuran lava pijar sejauh 1.500 meter ke arah barat-barat daya.

Petunjuk kasat mata ini beriringan dengan meningkatnya kegempaan vulkanik Gunung Slamet. Misalnya gempa letusan. Bila sepanjang Juni 2014 gunung berapi ini hanya menghasilkan 1 gempa letusan/hari (rata-rata), maka pada Juli 2014 meningkat menjadi 43 gempa letusan/hari (rata-rata). Dan pada paruh pertama Agustus 2014 (tepatnya semenjak tanggal 1 hingga 11), jumlah gempa letusannya meroket tajam menjadi 43 gempa letusan/hari (rata-rata). Demikian pula dengan gempa hembusan. Jika sepanjang Juni 2014 hanya terjadi 123 gempa hembusan/hari (rata-rata), maka sepanjang Juli 2014 meningkat menjadi 247 gempa hembusan/hari (rata-rata). Dan dalam paruh pertama Agustus 2014 terus membumbung tinggi sampai menyentuh angka 456 gempa hembusan/hari (rata-rata). Pun demikian dengan gempa vulkanik. Jika pada Juni 2014 hanya terjadi 3 gempa vulkanik dalam dan 4 gempa vulkanik dangkal, maka sepanjang Juli 2014 meningkat sedikit menjadi 6 gempa vulkanik dalam dan 8 gempa vulkanik dangkal.

Petunjuk lainnya datang dari mata air panas di kaki gunung. Pengukuran suhu mata air panas Pandansari dan Sicaya (7,5 km ke arah barat laut dari puncak Slamet) menunjukkan suhu air panas di kedua tempat tersebut cenderung naik dalam kurun sebulan terakhir, meski kenaikannya berfluktuasi. Dan petunjuk lain yang lebih jelas datang dari pengukuran EDM (electronic distance measurement). Semenjak awal Agustus 2014 terdeteksi terjadinya peningkatan tekanan dari dalam tubuh gunung melalui pengukuran EDM di titik Cilik (5,5, km sebelah utara puncak) dan titik Buncis (6 km sebelah barat laut puncak). Peningkatan tekanan tubuh gunung menunjukkan bahwa sepanjang paruh pertama Agustus 2014 ini tubuh Gunung Slamet sedang membengkak/menggelembung atau mengalami inflasi.

Gambar 2. Kegempaan Gunung Slamet sepanjang tahun 2014 (hingga 11 Agustus 2014). Area di antara sepasang garis hitam tegak menunjukkan situasi saat Gunung Slamet berstatus Siaga (Level III) pada periode yang pertama (yakni antara 30 April hingga 12 Mei 2014). Sementara kotak bergaris merah menunjukkan aneka kegempaan semenjak awal Juli 2014, yakni pada saat letusan debu dan gempa letusan kembali mulai terjadi. Dalam kotak merah ini nampak gempa letusan, gempa hembusan dan dua gempa vulkanik cenderung meningkat. Sumber: PVMBG, 2014.

Gambar 2. Kegempaan Gunung Slamet sepanjang tahun 2014 (hingga 11 Agustus 2014). Area di antara sepasang garis hitam tegak menunjukkan situasi saat Gunung Slamet berstatus Siaga (Level III) pada periode yang pertama (yakni antara 30 April hingga 12 Mei 2014). Sementara kotak bergaris merah menunjukkan aneka kegempaan semenjak awal Juli 2014, yakni pada saat letusan debu dan gempa letusan kembali mulai terjadi. Dalam kotak merah ini nampak gempa letusan, gempa hembusan dan dua gempa vulkanik cenderung meningkat. Sumber: PVMBG, 2014.

Dengan data-data tersebut, apa yang yang sebenarnya sedang terjadi di Gunung Slamet? Apakah aktivitasnya bakal terus meningkat? Apakah gunung ini akan meletus? Apakah ia akan meletus lebih besar lagi sebagaimana dahsyatnya letusan Gunung Kelud 13 Februari 2014 maupun letusan Gunung Sangeang Api 30 Mei 2014 lalu? Apakah letusan ini akan memenuhi mitos bahwa Gunung Slamet memang bakal membelah pulau Jawa? Mengapa peningkatan status ini terjadi hanya sehari pasca peristiwa Bulan purnama perigean atau supermoon?

Apakah Gunung Slamet Akan Meletus?

Gunung Slamet sejatinya sudah meletus sejak Maret 2014 lalu yakni kala statusnya ditingkatkan menjadi Waspada (Level II) mulai 10 Maret 2014. Secara kasat mata letusan itu terlihat sebagai semburan debu vulkanik bertekanan lemah sehingga hanya membumbung setinggi maksimum beberapa ratus meter saja di atas puncak. Di malam hari pemandangan semburan debu ini tergantikan oleh pancuran material pijar dari kawah (pancuran api), sebuah ciri khas erupsi strombolian. Pada saat yang sama instrumen seismometer (pengukur gempa) akan merekam getaran khas. Inilah gempa letusan. Di waktu yang lain, seismometer kerap pula merekam getaran yang mirip namun hanya dibarengi semburan asap putih/uap air dari kawah aktif, fenomena yang dikenal sebagai gempa hembusan.

Namun harus digarisbawahi bahwa meskipun letusan sudah terjadi sejak Maret 2014, sepanjang itu melulu berbentuk semburan debu tanpa disertai penumpukan lava. Sehingga tak terbentuk aliran lava pijar atau bahkan malah awan panas (aliran piroklastika). Atas dasar inilah dalam status Waspada (Level II), PVMBG hanya merekomendasikan tak ada aktivitas manusia dalam bentuk apapun di tubuh gunung hingga radius mendatar (horizontal) 2 km dari kawah aktif.

Semenjak dinyatakan berstatus Waspada (Level II) pada Maret 2014 itu Gunung Slamet memang terus memperlihatkan peningkatan aktivitas seperti terlihat pada melonjaknya jumlah gempa letusan dan gempa hembusannya. Belakangan bahkan terjadi deformasi tubuh gunung dalam rupa inflasi atau pembengkakan/penggelembungan tubuh gunung. Inflasi selalu menandai masuknya magma segar ke kantung magma dangkal di dasar tubuh gunung. Besar kecilnya volume magma segar yang diinjeksikan ke dalam kantung magma itu sebanding dengan tinggi rendahnya derajat inflasi tubuh gunung. Inilah yang menjadi alasan PVMBG untuk kembali meningkatkan status Gunung Slamet menjadi Siaga (Level III) mulai 30 April 2014. Konsekuensinya daerah terlarang pun diperluas menjadi radius mendatar 4 km dari kawah aktif.

Namun uniknya status Siaga (Level III) ini hanya disandang Gunung Slamet selama 12 hari. Meski berstatus Siaga (Level III), pasokan magma segar ke dalam tubuh gunung justru menurun seperti diperlihatkan oleh menurunnya gempa vulkanik dalam dan dangkalnya. Dengan letusan demi letusan debu terus berlangsung sementara pasokan magma segar berkurang, maka jumlah magma segar yang masih terkandung dalam kantung magma dangkal di dasar gunung kian menipis. Akibatnya pelan namun pasti letusan debu pun mulai menyurut. Bahkan mulai 6 Mei 2014 sudah tak terjadi letusan debu lagi sehingga gempa letusan pun nihil. Itulah saat hari-hari aktivitas Gunung Slamet ditandai hanya dengan hembusan asap putih/uap air, itu pun dengan kekerapan (jumlah kejadian) yang cenderung menurun. Demikian halnya gempa hembusannya. Atas dasar inilah PVMBG kemudian menurunkan status Gunung Slamet menjadi Waspada (Level II). Status tersebut bertahan hingga 10 Agustus 2014. Meski cenderung menurun, PVMBG tetap melaksanakan pemantauan secara menerus sebagai bagian untuk berjaga-jaga sekaligus mendeteksi kemungkinan ia keluar dari tabiatnya yang telah dikenal secara lebih dini.

Apa yang Terjadi Saat Ini?

Gambar 3. Citra satelit SPOT kanal cahaya tampak akan kawasan puncak Gunung Slamet. Nampak jejak aliran lava masa silam, kemungkinan dari Letusan Slamet 1934 (tanda panah) di sisi barat daya kawah. Sumber: Google Earth, 2014 dengan label oleh Sudibyo.

Gambar 3. Citra satelit SPOT kanal cahaya tampak akan kawasan puncak Gunung Slamet. Nampak jejak aliran lava masa silam, kemungkinan dari Letusan Slamet 1934 (tanda panah) di sisi barat daya kawah. Sumber: Google Earth, 2014 dengan label oleh Sudibyo.

Pada saat ini, di bulan Agustus 2014 ini, Gunung Slamet memang mengalami peningkatan aktivitas kembali. Parameternya cukup jelas, yakni melonjaknya jumlah gempa letusan dan gempa hembusan. Letusan debu mulai terjadi pada awal Juli 2014, sehingga mulai saat itu gempa letusan kembali terjadi di Gunung Slamet. Pada saat yang sama hembusan asap putih/uap air juga cenderung meningkat, meski berfluktuasi. Peningkatan ini jelas terkait dengan naiknya kembali pasokan magma segar dari perutbumi ke dalam tubuh gunung, yang juga mulai terdeteksi pada awal Juli 2014 lewat adanya gempa vulkanik dalam dan dangkal. Saat itu kedua gempa vulkanik tersebut memang tak seriuh gempa yang sama pada paruh pertama Maret 2014 lalu.

Gempa vulkanik merupakan getaran yang terjadi tatkala magma segar yang menanjak naik dari perutbumi mulai meretakkan/memecahkan batuan-batuan yang menghalang dalam saluran magma. Batuan-batuan penghalang itu pun sejatinya magma juga, namun dari periode erupsi sebelumnya (yakni 2009 atau lebih dulu lagi) sehingga adalah magma tua yang telah membeku dan mulai membatu. Begitu batuan-batuan itu terpecahkan maka jalan pun terbuka sehingga magma dapat memasuki kantung magma dangkal di dasar gunung dan kemudian terus bergerak naik hingga menyembur keluar dari kawah aktif di puncak. Saat magma segar yang baru kembali menanjak naik dari perutbumi pada awal Juli 2014 lalu, jalan yang hendak dilaluinya relatif tak terhambat lagi. Sehingga magma segar ini pun tak harus memecahkan lapisan-lapisan batuan penghalang dalam jumlah yang besar. Inilah kemungkinan penyebab kecilnya gempa vulkanik (dalam dan dangkal) Gunung Slamet pada Juli 2014.

Parameter paling jelas bahwa terjadi pasokan magma segar yang baru ke dalam tubuh gunung terlihat pada deformasinya. Dengan Gunung Slamet mengalami inflasi pada saat ini, maka jelas magma segar yang baru dalam volume tertentu telah dipasok ke dalam kantung magma dangkal di dasar Gunung Slamet. Berikutnya sebagian atau bahkan hampir seluruh magma segar ini tentu akan dikeluarkan melalui kawah aktif di puncak. Maka tidaklah mengherankan jika aktivitas letusan Gunung Slamet cenderung meningkat, seperti diperlihatkan oleh meningkatnya letusan debu dan hembusan asap putih/uap airnya.

Satu hal yang membedakan status Siaga (Level III) Gunung Slamet saat ini dengan status sejenis sebelumnya (yakni status periode 30 April hingga 12 Mei 2014) adalah lava. Dalam Siaga (Level III) Gunung Slamet kali ini, lava pijar meleler ke arah barat-barat daya hingga sejauh 1.500 meter dari kawah. Sebaliknya status yang sama di periode sebelumnya tak disertai aksi lava. Lava pijar ini keluar ke barat-barat daya mengikuti aliran lava pijar yang pernah terjadi pada periode erupsi sebelumnya, yang terakhir pada Letusan Slamet 1934. Lava mengalir ke arah barat-barat daya mengikuti lekukan pada bibir kawah aktif Gunung Slamet di sisi barat daya ini. Citra satelit Spot pada kanal cahaya tampak dalam basisdata Google Earth jelas memperlihatkan bagaimana jejak-jejak aliran lava masa silam di puncak sektor barat daya ini.

Belum jelas mengapa kali ini Gunung Slamet melelerkan lava pijar. Bisa jadi aktivitas letusan debu Gunung Slamet selama ini, melalui erupsi strombolian secara terus-menerus dalam kurun hampir setengah tahun terakhir, membuat cekungan kawah aktif dipenuhi material vulkanik sehingga lava mulai ‘tumpah’ lewat sisi yang lebih rendah/berlekuk. Namun bisa juga telah terbentuk lubang letusan yang baru di dekat lekukan dinding kawah aktif ini, sehingga magma yang menyeruak keluar darinya langsung mengalir ke lereng sebagai lava pijar.

Apakah Akan Terjadi Letusan Besar?

Pada saat ini tubuh Gunung Slamet memang sedang mengandung sejumlah magma segar yang baru. Cepat atau lambat, magma segar ini tentu akan dimuntahkan sebagai letusan. Permasalahannya, apakah pengeluaran magma segar yang baru ini bisa berujung pada terjadinya letusan besar? Apakah akan terjadi letusan seperti letusan Gunung Kelud (propinsi Jawa Timur) 13 Februari 2014 maupun letusan Gunung Sangeang Api (propinsi Nusa Tenggara Barat) 30 Mei 2014 ?

Pada saat ini, potensi Gunung Slamet untuk meletus besar adalah kecil dan mungkin bahkan sangat kecil. Sedikitnya ada dua alasan yang mendasarinya. Pertama, seberapa banyak volume magma segar yang memasuki tubuh Gunung Slamet. Dahsyat tidaknya letusan sebuah gunung berapi sangat bergantung pada volume magma segar yang memasuki kantung magma dangkal di dasar tubuh gunung. Semakin banyak magma segarnya maka akan semakin besar dan dahsyat letusannya. Letusan Kelud 2014 menjadi dahsyat karena magma segar yang terlibat mencapai 120 juta meter kubik. Pun demikian Letusan Merapi 2010, yang menghamburkan magma segar hingga 150 juta meter kubik. Gunung Krakatau menjadi legenda dengan kedahsyatannya nan menggetarkan, karena Letusan Krakatau 1883 memuntahkan 20 kilometer kubik (20.000 juta meter kubik) magma segar. Dan Gunung Tambora menciptakan malapetaka berskala global saat menghamburkan tak kurang dari 160 kilometer kubik (160.000 juta meter kubik) magma segar dalam Letusan Tambora 1815.

Seperti tersebut di atas, volume magma segar yang terinjeksi ke dalam tubuh gunung akan berbanding lurus dengan derajat inlfasinya. Dengan kata lain, makin banyak magma segar yang masuk maka tubuh gunung akan kian membengkak/menggelembung. Dalam hal Gunung Slamet memang telah terjadi inflasi dan sejauh ini datanya masih terus dicermati oleh para peneliti Badan Geologi khususnya peneliti PVMBG. Namun melihat kecenderungan yang terjadi pada periode April-Mei 2014 lalu (yakni tatkala tubuh Gunung Slamet juga mengalami inflasi), derajat inflasinya tergolong kecil. Sehingga volume magma segar yang masuk ke dalam tubuhnya pun boleh jadi berkisar beberapa juta meter kubik saja. Untuk ukuran gunung berapi aktif, akumulasi magma segar sebanyak beberapa juta meter kubik itu tergolong menengah dan jauh dari ambang batas yang diperlukan untuk menghasilkan letusan besar.

Alasan kedua terletak pada karakteristik jalan/saluran magma Gunung Slamet. Gunung Slamet memiliki sistem yang terbuka, dimana di antara kantung magma dangkalnya dengan kawah aktif dipuncaknya tak ada penghalang yang berarti. Hal ini sangat berbeda bila dibandingkan dengan Gunung Kelud sebelum letusan 13 Februari 2014, dimana dasar kawahnya disumbat pekat oleh kubah lava produk erupsi 2007 yang mulai membeku/membatu dengan volume 16 juta meter kubik dan bermassa sekitar 23 juta ton. Pun demikian Gunung Merapi sebelum letusan 26 Oktober 2010, yang puncaknya dipenuhi kubah-kubah lava dari beragam periode erupsi semenjak 2 abad sebelumnya. Sehingga praktis Gunung Merapi pra-2010 bahkan tak memiliki kawah, karena seluruhnnya disumbat oleh kubah-kubah lava beragam usia yang telah menua dan membatu. Dengan saluran yang terbuka, maka magma segar dalam tubuh Gunung Slamet pun tak harus tertahan dulu untuk kemudian mengalami peningkatan volume dan tekanan. Maka begitu magma segar memasuki tubuh gunung, dalam tempo yang tak terlalu lama pun ia pun dimuntahkan melalui kawah aktif yang sudah terbuka. Sehingga tak terjadi peningkatan tekanan secara dramatis ataupun akumulasi magma yang siap dimuntahkan.

Gambar 4. Kawasan rawan bencana Gunung Slamet dalam status Siaga (Level III). Lingkaran berangka 4 menunjukkan kawasan beradius mendatar 4 km dari kawah aktif. Sementara area kuning menunjukkan area yang berpotensi terlanda aliran lava dan awan panas. Sumber: digambar ulang oleh Sudibyo, 2014 dengan data PVMBG dan peta Google Maps terrain.

Gambar 4. Kawasan rawan bencana Gunung Slamet dalam status Siaga (Level III). Lingkaran berangka 4 menunjukkan kawasan beradius mendatar 4 km dari kawah aktif. Sementara area kuning menunjukkan area yang berpotensi terlanda aliran lava dan awan panas. Sumber: digambar ulang oleh Sudibyo, 2014 dengan data PVMBG dan peta Google Maps terrain.

Dua alasan tersebut menjadikan potensi terjadinya letusan Gunung Slamet yang lebih besar pun cukup kecil. Maka tak perlu ada kekhawatiran berlebihan. Apalagi dikait-kaitkan dengan mitos bahwa letusan Gunung Slamet kali ini bakal membelah pulau Jawa. Memang pada beberapa ratus tahun silam gunung berapi ini mungkin pernah meletus besar hingga mengubur ibukota kerajaan kecil bernama Kerajaan Pasirluhur di kaki selatannya. Peristiwa itu pula yang mungkin menyebabkan nama gunung berapi aktif ini mengalami transformasi menjadi Gunung Slamet (dari yang semula diduga bernama Gunung Pasir Luhur). Semua itu memang perlu untuk diteliti lebih lanjut, oleh pihak-pihak yang berkompeten. Namun pada saat ini, dalam status Siaga (Level III) Gunung Slamet kali ini, dapat dikatakan bahwa potensi terjadinya letusan besar adalah sangat kecil.

Mencicil

Jelas bahwa gejolak Gunung Slamet kali ini hingga menjadi berstatus Siaga (Level III), status yang untuk kedua kalinya disandang gunung itu dalam tahun 2014 ini, telah dimulai semenjak awal Juli 2014. Maka meski secara formal baru ditetapkan berstatus Siaga (Level III) pada Selasa 12 Agustus 2014 kemarin, dapat dikatakan bahwa gejolak Gunung Slamet kali ini tidak berada dalam pengaruh fenomena astronomis yang disebut Bulan purnama perigean atau supermoon. Tahun 2014 ini memang mencatat terjadinya tiga peristiwa Bulan purnama perigean yang berurutan, masing-masing pada Sabtu 12 Juli 2014, Minggu 11 Agustus 2014 dan kelak pada Selasa 9 September 2014.

Bulan dalam status purnama maupun kebalikannya (yakni Bulan dalam status Bulan baru) memang menempati posisi unik, karena nyaris segaris dengan posisi Bumi dan Matahari. Akibatnya pada saat itu gaya tidal Bulan pun berkolaborasi dengan gaya tidal Matahari, sehingga Bumi merasakan tarikan yang lebih kuat. Air laut adalah bagian Bumi yang paling menderita kolaborasi gaya tersebut, yang mewujud dalam rupa pasang naik yang tertinggi. Namun sejatinya tak hanya air laut yang merasakannya. Kulit Bumi pun demikian, meski tak sekasat mata pasang surut air laut. Naik turunnya kulit Bumi akibat kolaborasi gaya tidal tersebut bisa saja meningkatkan tekanan di dalam kulit Bumi, yang dapat bermanifestasi entah menjadi pemicu gempa bumi ataupun pemicu letusan gunung berapi (pada gunung berapi yang sedang kritis, yakni yang sudah menimbun magma segar dalam tubuhnya). Namun dari data di atas terlihat bahwa lonjakan aktivitas Gunung Slamet sudah terjadi bahkan sebelum Bulan purnama perigean yang pertama (yakni pada Sabtu 12 Juli 2014) terjadi. Sehingga untuk sementara dapat dikatakan bahwa tak ada kaitan peningkatan aktivitas Gunung Slamet dengan supermoon.

Menguat, melemah dan menguatnya lagi aktivitasnya menunjukkan bahwa Gunung Slamet mengeluarkan material vulkaniknya secara mencicil. Ia tak sekonyong-konyong mengeluarkan material vulkaniknya dalam tempo relatif singkat sebagaimana halnya Gunung Kelud (dalam Letusan 2014) maupun Gunung Merapi (dalam Letusan 2010) dan Gunung Sangeang Api (dalam Letusan 2014). Letusan yang dicicil menjadikan aktivitas Gunung Slamet kali ini lebih mirip dengan aktivitas Gunung Sinabung, bedanya material vulkanik yang dimuntahkan Slamet lebih kecil dan didominasi debu vulkanik (bukan lava). Mencicil letusan memang bukan tabiat Gunung Slamet yang kita kenal setidaknya dalam seperempat abad terakhir, namun itu bukannya tak mungkin. Mengingat seperti halnya manusia, tabiat sebuah gunung berapi pun dapat berubah seiring waktu. Pada saat ini Gunung Slamet bisa diibaratkan tidak sedang mengajak kita untuk sprint (berlari jarak pendek) melainkan untuk berlari maraton. Dibutuhkan kesabaran, daya tahan dan waktu yang lebih panjang untuk menyikapi gejolaknya.

Dalam status Siaga (Level III) kali ini kawasan terlarang di Gunung Slamet pun diperluas menjadi radius mendatar 4 km dari kawah aktif. Hanya di kawasan inilah tidak direkomendasikan adanya aktivitas manusia dalam bentuk apapun, entah masyarakat setempat, para pendaki gunung maupun wisatawan. Sebab hanya di kawasan inilah yang berpotensi terbesar bagi terjadinya hujan debu dan kerikil panas Gunung Slamet. Dan hanya di kawasan ini pula leleran lava pijar ataupun awan panas berpotensi melanda. Di luar radius tersebut adalah kawasan yang aman, termasuk sejumlah kota dan lokasi penting di sekitar Gunung Slamet ini seperti kota Purwokerto, Purbalingga dan Bumiayu serta Baturaden dan Guci.

Referensi :

PVMBG. 2014. Peningkatan Tingkat Aktivitas Gunung Slamet Dari Waspada (Level II) ke Siaga (Level III), 12 Agustus 2014.

Gunung Merapi Berstatus Waspada (Level II), Gunung Slamet Meningkat ke Siaga (Level III)

Hanya dalam tempo kurang dari 12 jam, dua gunung berapi di propinsi Jawa Tengah mengalami kenaikan status kegiatan (aktivitas) setingkat lebih tinggi dibanding semula. Masing-masing adalah Gunung Merapi yang terletak perbatasan Jawa Tengah dan DIY serta Gunung Slamet yang berada di Jawa Tengah bagian barat.

Balai Penelitian dan Pengembangan Teknik Kebencanaan Geologi (BPPTKG) memutuskan menaikkan status Gunung Merapi dari yang semula Aktif Normal (Level I) menjadi Waspada (Level II) mulai Selasa 29 April 2014 pukul 23:50 WIB. Alasannya adalah meningkatnya jumlah kegempaan Gunung Merapi terhitung semenjak 20 April 2014 atau sejak terjadinya erupsi freatik Merapi yang terakhir. Dalam kurun waktu 20 hingga 29 April 2014 telah terjadi 37 kali gempa guguran, 13 kali gempa fase banyak (multiphase), 4 kali gempa hembusan dan 29 kali gempa LF (low frequency).

Gambar 1. Hembusan di Gunung Merapi pada Jumat pagi 25 April 2014, diabadikan dari Observatorium as-Salam, kompleks pondok pesantren modern as-Salam, Pabelan, Surakarta (Jawa Tengah). Sumber: AR Sugeng Riyadi, 2014.

Gambar 1. Hembusan di Gunung Merapi pada Jumat pagi 25 April 2014, diabadikan dari Observatorium as-Salam, kompleks pondok pesantren modern as-Salam, Pabelan, Surakarta (Jawa Tengah). Sumber: AR Sugeng Riyadi, 2014.

Gempa guguran adalah getaran yang terjadi kala bongkahan-bongkahan batuan berukuran besar terlepas dari kubah lava Merapi dan jatuh menggelinding menuruni lereng hingga jarak tertentu. Sementara gempa fase banyak merupakan getaran yang terkait dengan aktivitas internal kubah lava. Sedangkan gempa hembusan merupakan getaran yang segera disusul dengan pelepasan uap air dan/atau gas vulkanik dari kawah yang membumbung ke udara yang nampak sebagai semburan asap berwarna cerah (putih). Dan gempa low frequency merupakan getaran yang terkait dengan peningkatan jumlah fluida dalam tubuh gunung, yang dalam hal ini adalah gas vulkanik.

Peningkatan status Gunung Merapi terutama didasarkan pada melonjaknya jumlah gempa low frequency yang dramatis. Sebelumnya sejak 1 Januari 2012 hingga 27 April 2014 tidak terjadi gempa low frequency sekali pun. Namun mulai 28 April 2014 gempa ini mulai terjadi dan terus meningkat. Uniknya, lonjakan gempa low frequency ternyata tidak dibarengi munculnya gempa vulkanik ataupun deformasi tubuh gunung. Gempa vulkanik adalah getaran yang terjadi seiring pergerakan fluida di kedalaman tertentu di bawah gunung, dalam hal ini adalah magma segar. Nihilnya gempa vulkanik Merapi khususnya gempa vulkanik dalam (VTA) menunjukkan tak adanya aliran magma segar dari dapur magma nun jauh di kedalaman menuju kantung magma dangkal di internal tubuh gunung. Dalam aras yang sama, nihilnya gempa vulkanik khususnya dalam bentuk gempa vulkanik dangkal (VTB) memperlihatkan pada saat ini tak adanya tanda-tanda mulai terisinya kantung magma dangkal Merapi oleh magma segar dan tiadanya aliran magma segar dari kantung magma dangkal menuju puncak.

Gambar 2. Kegempaan Gunung Merapi semenjak 1 Januari 2012 hingga sekarang. Perhatikan komponen gempa low frequency (LF), nomor dua dari atas, yang melonjak tajam mulai 28 April 2014. Sumber: BPPTKG, 2014.

Gambar 2. Kegempaan Gunung Merapi semenjak 1 Januari 2012 hingga sekarang. Perhatikan komponen gempa low frequency (LF), nomor dua dari atas, yang melonjak tajam mulai 28 April 2014. Sumber: BPPTKG, 2014.

Selain diperlihatkan oleh nihilnya gempa-gempa vulkanik, ketiadaan aliran magma segar di perutbumi Merapi juga ditunjang dengan nihilnya deformasi tubuh gunung khususnya penggelembungan (inflasi). Saat magma segar memasuki tubuh gunung khususnya kantung magma dangkal (yang masih terisi magma sisa periode letusan sebelumnya), magma segar mendorong tubuh gunung sedemikian rupa sehingga tubuh gunung akan membengkak/menggelembung. Peristiwa ini bisa diibaratkan dengan balon yang membesar kala ditiup. Pembengkakan tubuh gunung ini tak kasat mata, namun bisa diukur dengan sejumlah instrumen deformasi seperti tiltmeter (pengukur kemiringan lereng) maupun EDM (pengukur jarak tunjam antara titik referensi dengan titik-titik di puncak). Pengukuran tiltmeter maupun EDM menunjukkan Gunung Merapi pada saat ini tidak mengalami inflasi.

Dengan demikian peningkatan status Gunung Merapi pada saat ini lebih didasari oleh meningkatnya jumlah gas vulkanik dalam tubuh gunung. Selain tercermin melalui gempa low frequency, peningkatan gas vulkanik nampaknya juga terindikasi lewat terjadinya dentuman yang berulang-ulang di Gunung Merapi, tanpa disertai semburan material vulkanik. Suara dentuman tersebut terdengar dari pos-pos pengamatan Gunung Merapi hingga jarak 8 km dari puncak.

Harus digarisbawahi bahwa gas-gas vulkanik ini berasal dari kantung magma dangkal Merapi sehingga masih cukup panas. Andaikata ia bertemu dengan air bawah tanah maka gas-gas vulkanik panas ini sanggup menguapkannya lewat rangkaian proses yang bisa berujung pada terjadinya erupsi freatik. Dan dengan jumlah gas vulkanik yang lebih besar ketimbang dalam situasi normal, maka erupsi freatiknya berkemungkinan menyemburkan material vulkanik lebih tinggi dan lebih banyak ketimbang erupsi-erupsi freatik yang telah terjadi selama ini. Sehingga wajar jika BPPTKG kemudian menaikkan statusnya menjadi Waspada (Level II).

Gambar 3. Gambaran sederhana mengenai deformasi tubuh gunung berapi dalam bentuk inflasi (penggelembungan/pembengkakan) dan deflasi (pengempisan). Hingga 1 Mei 2014, Gunung Merapi tidak mengalami inflasi. Sebaliknya Gunung Slamet telah mengalami inflasi. Sumber: Suganda dkk, 2007 diadaptasi dari Abidin, 2001.

Gambar 3. Gambaran sederhana mengenai deformasi tubuh gunung berapi dalam bentuk inflasi (penggelembungan/pembengkakan) dan deflasi (pengempisan). Hingga 1 Mei 2014, Gunung Merapi tidak mengalami inflasi. Sebaliknya Gunung Slamet telah mengalami inflasi. Sumber: Suganda dkk, 2007 diadaptasi dari Abidin, 2001.

Kenaikan status ini tidak berimbas pada terbentuknya daerah terlarang. Namun pendakian Gunung Merapi untuk sementara waktu tidak direkomendasikan. Gunung ini hanya boleh didaki untuk kepentingan penelitian dan penyelidikan dalam rangka mitigasi bencana. Dalam status ini, penduduk yang tinggal di lereng dan kaki gunung diharap untuk menyiapkan barang-barang penting yang harus dibawa dalam evakuasi. Sehingga apabila di kemudian hari Gunung Merapi ditetapkan dinaikkan kembali statusnya, evakuasi sudah siap dilaksanakan.

Slamet

Berselang 10 jam dari penetapan status Waspada (Level II) di Gunung Merapi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memutuskan untuk menaikkan status Gunung Slamet menjadi Siaga (Level III). Sebelumnya Gunung Slamet telah menyandang status Waspada (Level II) terhitung semenjak tanggal 10 Maret 2014. Berbeda dengan Gunung Merapi, peningkatan status Gunung Slamet didasari oleh gempa hembusan dan gempa letusan yang cenderung melonjak serta terjadinya deformasi.

Gambar 4. Semburan material vulkanik pijar menyerupai pancuran kembang api, ciri khas erupsi strombolian, di kawah Gunung Slamet, diabadikan dari obyek wisata Baturaden. Sumber: AP, 2014.

Gambar 4. Semburan material vulkanik pijar menyerupai pancuran kembang api, ciri khas erupsi strombolian, di kawah Gunung Slamet, diabadikan dari obyek wisata Baturaden. Sumber: AP, 2014.

Gempa hembusan merupakan getaran yang segera disusul dengan pelepasan uap air dan/atau gas vulkanik dari kawah yang membumbung ke udara yang nampak sebagai semburan asap berwarna cerah (putih). Sementara gempa letusan mirip gempa hembusan namun dengan jumlah uap air/gas vulkanik yang terlepas lebih banyak dan membawa material vulkanik sehingga berwarna lebih gelap/abu-abu. Di malam hari, gempa letusan diikuti dengan ketampakan semburan material pijar menyerupai pancuran kembang api dari kawah, sebagai ciri khas erupsi strombolian.

Dalam kurun waktu 8 hingga 28 Maret 2014, Gunung Slamet mengalami rata-rata 180 gempa hembusan/hari dan 47 gempa letusan/hari. Sementara dalam kurun waktu 29 Maret hingga 29 April 2014, gempa hembusannya melonjak menjadi rata-rata 334 kejadian/hari. Demikian pula gempa letusan yang melonjak ke angka rata-rata 78 kejadian/hari. Lonjakan ini menandakan meningkatnya intensitas letusan, meskipun tekanan gas vulkanik (sebagai penggerak terjadinya letusan) cenderung tetap seperti diperlihatkan dari tinggi setiap kolom asap (semburan material vulkanik letusan) yang relatif sama, yakni maksimum 1.800 meter di atas kawah. Di malam hari, letusan teramati sebagai pancuran pijar mirip kembang api yang terlontar hingga setinggi 700 meter dari kawah.

Gambar 5. Kegempaan Gunung Slamet semenjak 1 Januari 2014 hingga sekarang. Perhatikan komponen gempa letusan dan hembusan, masing-masing nomor satu dan dua dari atas, yang cenderung terus meningkat. Sumber: PVMBG, 2014.

Gambar 5. Kegempaan Gunung Slamet semenjak 1 Januari 2014 hingga sekarang. Perhatikan komponen gempa letusan dan hembusan, masing-masing nomor satu dan dua dari atas, yang cenderung terus meningkat. Sumber: PVMBG, 2014.

Meningkatnya intensitas letusan Gunung Slamet juga diperlihatkan oleh lonjakan energi gempa akumulatifnya yang diperlihatkan oleh instrumen RSAM (real-time seismic amplitude measurement) yang telah dipasang di bukit Cilik, yang berlokasi 5,5 km di sebelah utara puncak Slamet. Lonjakan ini terdeteksi semenjak 17 April 2014. Pada saat yang sama terdeteksi terjadinya deformasi tubuh Gunung Slamet dalam wujud inflasi (penggelembungan/pembengkakan). Inflasi terdeteksi melaui instrumen EDM dengan refletor yang terpasang di bukit Cilik dan bukit Buncis (6 km sebelah barat laut puncak Slamet). Inflasi menunjukkan telah masuknya magma segar ke dalam kantung magma dangkal di dasar Gunung Slamet dan tinggal menunggu waktu untuk diletuskan.

Cukup menarik bahwa setelah ditetapkan berstatus Waspada (Level II), Gunung Slamet justru relatif sepi dari aktivitas gempa vulkanik. Gempa vulkanik yang relatif sedikit, baik gempa vulkanik dalam maupun dangkal, mungkin menjadi indikasi bahwa pasokan magma segar dari dapur magma nun jauh di kedalaman perutbumi Gunung Slamet telah berkurang.

Sebagai implikasi dari naiknya status Gunung Slamet menjadi Siaga (Level III), maka daerah terlarang Gunung Slamet pun diperluas dari semula secara umum beradius 2 km menjadi 4 km dari kawah aktif. Daerah bahaya ini mencakup KRB (kawasan rawan bahaya) 2 Gunung Slamet. Daerah ini dinyatakan terlarang karena selalu berpotensi terkena guyuran debu vulkanik pekat disertai lapili (kerikil) dengan diameter antara 1 hingga 4 cm. Selain itu daerah ini juga berpotensi terlanda aliran awan panas maupun lava khususnya melalui lembah-lembah sungai yang mengarah ke puncak Slamet.

Kewaspadaan

Pertanyaan yang spontan terucap seiring peningkatan status Gunung Merapi dan Gunung Slamet adalah apakah keduanya akan meletus? Seberapa dahsyat letusannya? Akankah sedahsyat Gunung Kelud ?

Jawabannya tentu saja harus melihat perkembangan aktivitas kedua gunung berapi tersebut dari waktu ke waktu. Mari fokus ke Gunung Slamet. Secara teknis semenjak dinaikkan statusnya menjadi Waspada (Level II), Gunung Slamet sebenarnya telah meletus. Namun letusannya merupakan letusan-letusan kecil dengan tipe erupsi strombolian. Erupsi strombolian menyemburkan material vulkaniknya mirip pancuran kembang api hingga ketinggian tertentu. Namun hampir seluruh material vulkanik ini kemudian berjatuhan kembali ke dasar kawah. Hanya beberapa yang sempat terlontar jauh sehingga jath di luar dinding kawah dan selanjutnya menggelinding menuruni lereng, namun itupun tidak jauh. Maka ancaman terbesar erupsi strombolian Gunung Slamet sejatinya hanya di seputar kawah aktif gunung ini. Meski demikian daerah terlarang hingga 4 km dari kawah diberlakukan untuk mengantisipasi bongkah-bongkah material vulkanik yang sempat terlontar lebih jauh sehingga jatuh di luar kawah dan menuruni lereng. Daerah bahaya tersebut juga untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya awan panas maupun guguran lava pijar. Meski sejauh ini Gunung Slamet tidak menunjukkan tanda-tanda pembentukan awan panas maupun lava pijar.

Sampai saat ini (1 Mei 2014), kegempaan vulkanik Gunung Slamet menunjukkan kecenderungan bahwa letusan kali ini pun mirip dengan Letusan Slamet 2009. Sehingga potensi terjadinya letusan yang lebih besar adalah cukup kecil. Dengan kata lain, aktivitas Gunung Slamet kali ini nampaknya tidak akan menjangkau kawasan berpenduduk padat di kaki gunung seperti halnya kota Purwokerto maupun Purbalingga. Apalagi untuk lokasi yang lebih jauh. Sehingga untuk saat ini dapat dikatakan bahwa Gunung Slamet tidak akan seperti Gunung Kelud. Meski demikian kewaspadaan harus tetap dijaga seiring pemantauan ketat PVMBG melalui pos pengamatan Gunung Slamet di Gambuhan (Pemalang). Setiap rekomendasi PVMBG mengenai Gunung Slamet sebaiknya dipatuhi, demi keselamatan bersama.

Bagaimana dengan Gunung Merapi? Hingga saat ini (1 Mei 2014) aktivitas Gunung Merapi masih cenderung pada bertambahnya jumlah gas vulkanik dalam tubuh gunung. Belum disertai dengan pergerakan magma segar. Namun demikian kewaspadaan harus ditingkatkan mengantisipasi kemungkinan terjadinya pergerakan magma segar ke permukaan yang bakal dipungkasi dengan erupsi magmatik. Peningkatan jumlah gas vulkanik juga harus dicermati sebagai peningkatan potensi terjadinya erupsi freatik dibanding apa yang telah terjadi selama ini. Pemantauan ketat BPPTKG dilakukan melalui pos pengamatan Gunung Merapi yang ada di Kaliurang, Jrakah, Babadan, Selo dan Ngepos. Setiap rekomendasi PVMBG mengenai Gunung Slamet sebaiknya dipatuhi, demi keselamatan bersama. Terlebih setelah Letusan Merapi 2010, gunung berapi ini telah berubah. Sehingga kebiasaan (titen) yang berlaku di masa lalu mungkin sudah tak bisa diterapkan lagi pada waktu kini.

Referensi :

1. PVMBG. 2014. Peningkatan Status Kegiatan G. Merapi Dari Normal (level I) Menjadi Waspada (level II), 29 April 2014.

2. PVMBG. 2014. Peningkatan Status Kegiatan G. Slamet Dari Waspada (level II) Ke Siaga (level III), 30 April 2014.