Pesawat ATR 42 Trigana Terhempas di Jayawijaya

Inilah kecelakaan pesawat terbang besar ketiga di Indonesia hanya dalam sepuluh bulan kalender terakhir terhitung sejak Desember 2014 Tarikh Umum (TU). Kecelakaan tersebut melibatkan pesawat turboprop (berbaling-baling) ATR 42-300 nomor registrasi PK-YRN yang telah berumur 27 tahun (terbang perdana 28 Mei 1988 TU). Pesawat milik maskapai Trigana Air Service dalam penerbangan TGN267 atau IL267 yang melayani rute perintis Jayapura-Oksibil itu ditemukan hancur terbakar di lereng curam berhutan perawan di salah satu sudut Pegunungan Jayawijaya kala Indonesia dalam euforia merayakan kemerdekaannya yang ke-70. Dari 54 orang yang ada didalamnya, mencakup 49 penumpang dan 5 awak pesawat, dipastikan tak ada satupun yang selamat.

Gambar 1. Pesawat ATR 42-300 PK-YRN Trigana Air Service, saat diparkir di apron bandara Mutiara, Labuhan Bajo (propinsi Nusa Tenggara Timur) pada 29 September 2008 TU usai bertugas (atas). Inilah pesawat yang mengangkut 54 orang dan jatuh di salah satu sudut Pegunungan Jayawijaya pada 16 Agustus 2015 TU. Lokasi jatukecelakaan ditemukan sehari kemudian, namun tim SAR darat baru bisa menjangkaunya dalam dua hari kemudian (bawah). Sumber: AviationSafetyNetwork, 2015 & Agence France-Presse, 2015.

Gambar 1. Pesawat ATR 42-300 PK-YRN Trigana Air Service, saat diparkir di apron bandara Mutiara, Labuhan Bajo (propinsi Nusa Tenggara Timur) pada 29 September 2008 TU usai bertugas (atas). Inilah pesawat yang mengangkut 54 orang dan jatuh di salah satu sudut Pegunungan Jayawijaya pada 16 Agustus 2015 TU. Lokasi jatukecelakaan ditemukan sehari kemudian, namun tim SAR darat baru bisa menjangkaunya dalam dua hari kemudian (bawah). Sumber: AviationSafetyNetwork, 2015 & Agence France-Presse, 2015.

Dunia penerbangan Indonesia pun kembali berduka, setelah sebelumnya diharu-birukan kecelakaan AirAsia Penerbangan QZ8501 28 Desember 2014 TU yang menewaskan 166 orang dan kecelakaan Hercules C-130 A-1310 TNI-AU 30 Juni 2015 TU dengan korban tewas 139 orang. Dua kecelakaan tersebut pun sampai saat ini masih dalam tahap penyelidikan. KNKT (Komisi Nasional Keselamatan Transportasi) rencananya baru akan menyampaikan laporan final penyelidikan kecelakaan AirAsia Penerbangan QZ8501 pada Oktober 2015 TU mendatang. Sebaliknya belum ada informasi kapan PPKPT (Panitia Penyelidik Kecelakaan Pesawat Terbang) atau tim penyelidik ad-hoc sejenis yang dibentuk TNI-AU bakal menyampaikan laporan kecelakaan Hercules C-130 A-1310, meski tak ada keharusan untuk memaparkannya ke publik karena faktor rahasia militer.

Apa yang terjadi dengan Trigana Penerbangan IL267?

Jatuh di Celah

Pesawat berbaling-baling bermesin dua ini lepas landas dari bandara Sentani, kota Jayapura (propinsi Papua) pada Minggu 16 Agustus 2015 TU pukul 14:21 WIT. Ia melesat ke arah selatan melewati bentanglahan pucuk-pucuk Pegunungan Jayawijaya untuk mendarat di bandara Oksibil, kabupaten Pegunungan Bintang (propinsi Papua). Seharusnya pesawat ini sudah tiba di Oksibil pada pukul 15:16 WIT. Namun 21 menit sebelum dijadwalkan tiba, tepatnya pada pukul 14:55 WIT, menara bandara Oksibil kehilangan komunikasi dengan pesawat. Setelah menanti waktu hingga prakiraan habisnya bahan bakar pesawat dan tidak mendapat kabar pendaratan darurat di bandara-bandara perintis lainnya di kawasan Pegunungan Jayawijaya, Trigana Air Service penerbangan IL267 pun dinyatakan hilang.

Gambar 2. Lokasi jatuhnya pesawat ATR 42-300 PK-YRN Trigana Air Service dalam peta berbasis citra satelit. Di dekatnya juga terdapat lokasi jatuhnya pesawat Twin Otter PK-NVC Merpati Nusantara yang terjadi pada 2 Agustus 2009 TU silam. Garis putus-putus menandakan lintasan yang seyogyanya ditempuh setiap pesawat kala melintasi celah guna mendarat di bandara Oksibil. Sumber: Sudibyo, 2015 berbasis Google Earth.

Gambar 2. Lokasi jatuhnya pesawat ATR 42-300 PK-YRN Trigana Air Service dalam peta berbasis citra satelit. Di dekatnya juga terdapat lokasi jatuhnya pesawat Twin Otter PK-NVC Merpati Nusantara yang terjadi pada 2 Agustus 2009 TU silam. Garis putus-putus menandakan lintasan yang seyogyanya ditempuh setiap pesawat kala melintasi celah guna mendarat di bandara Oksibil. Sumber: Sudibyo, 2015 berbasis Google Earth.

Tanpa membuang waktu, BASARNAS (Badan SAR Nasional) lewat Kantor SAR Jayapura segera menggelar pencarian melalui udara sejak pukul 15:30 WITA. Pencarian hari itu tak membuahkan hasil seiring turunnya kabut tebal yang menyelimuti hutan di area pencarian. Di hari berikutnya, barulah pencarian udara menemukan titik terang. Pada koordinat 4°49’26” LS 140°29’4″ BT terdeteksi adanya bagian hutan yang terbakar seluas sekitar 20 x 100 meter persegi pada elevasi 2.700 meter dpl (dari paras laut rata-rata). Didalamnya terlihat sejumlah keping berserakan. Titik ini terletak di lereng curam (kemiringan sekitar 45°) dalam jarak 19 kilometer (10 nautical mil) sebelah barat laut bandara Oksibil. Lokasi ini masih menjadi bagian dari lembah memanjang yang menerus ke arah bandara Oksibil. Lembah ini merupakan celah yang menjadi jalan masuk bagi pesawat-pesawat yang hendak mendarat di bandara maupun yang hendak keluar darinya. Tim evakuasi yang menyusuri jalur darat dari bandara Oksibil baru mencapai lokasi reruntuhan pada Selasa 18 Agustus 2015 TU. Didapati pesawat telah hancur total dan tak ada satupun penumpang/awaknya yang selamat.

Selain para korban, tim evakuasi juga telah menemukan kedua komponen kotak hitam pesawat. Komponen pertama berupa CVR (cockpit voice recorder) atau perekam suara kokpit ditemukan pada Rabu 19 Agustus 2015 TU. Sementara komponen kedua yakni FDR (flight data recorder) atau perekam data penerbangan menyusul ditemukan sehari kemudian. BASARNAS telah menyerahkan kedua temuan ini kepada KNKT. Selanjutnya menjadi tugas KNKT untuk menguak faktor-faktor penyebab jatuhnya pesawat ATR 42-300 ini. Selain mengandalkan kotak hitam, idealnya penyelidikan juga melibatkan analisa kepingan-kepingan pesawat. Namun dengan lokasi kejadian di belantara Pegunungan Jawawijaya yang sulit dijangkau, hampir tak mungkin untuk mengangkut kepingan-kepingan pesawat ATR 42-300 yang naas itu ke bandara terdekat. Kecuali komponen-komponen kunci. Sehingga penyelidikan KNKT mungkin akan lebih bertumpu pada hasil analisis CVR dan FDR.

Gambar 3. Penampang rupabumi Pegunungan Jayawijaya dalam garis lurus di antara bandara Oksibil hingga lokasi kecelakaan pesawat ATR 42-300 PK-YRN Trigana Air Service. Angka-angka horizontal menunjukkan jarak dari bandara (dalam meter), sementara angka-angka vertikal adalah elevasi dari paras laut rata-rata (dalam meter). Garis putus-putus menunjukkan prakiraan penurunan ketinggian yang seharusnya dijalani pesawat bila hendak mendarat dengan aman di bandara Oksibil. Sumber: Sudibyo, 2015 berbasis Google Earth.

Gambar 3. Penampang rupabumi Pegunungan Jayawijaya dalam garis lurus di antara bandara Oksibil hingga lokasi kecelakaan pesawat ATR 42-300 PK-YRN Trigana Air Service. Angka-angka horizontal menunjukkan jarak dari bandara (dalam meter), sementara angka-angka vertikal adalah elevasi dari paras laut rata-rata (dalam meter). Garis putus-putus menunjukkan prakiraan penurunan ketinggian yang seharusnya dijalani pesawat bila hendak mendarat dengan aman di bandara Oksibil. Sumber: Sudibyo, 2015 berbasis Google Earth.

Tanpa bermaksud mendahului kerja KNKT, umumnya analisis kecelakaan pesawat terbang melibatkan analisis cuaca setempat saat kejadian. Sayangnya kawasan di antara bandara Sentani dan Oksibil tidak tercakup dalam layanan informasi cuaca penerbangan yang disajikan Kantor BMKG Jayapura. Padahal sebagai kawasan pegunungan, sistem cuaca di sini kerap terlokalisir atau hanya terjadi pada satu kawasan sempit saja. Misalnya kabut, yang kerap hanya menutupi lembah-lembah pegunungan saja tanpa menutupi puncaknya, Padahal kabut sangat membatasi jarak pandang disana. Secara umum, citra satelit cuaca dalam kanal inframerah seperti disajikan RealEarth menunjukkan kawasan di antara bandara Sentani dan Oksibil pada saat kejadian tidak ditutupi awan tebal. Tutupan awan tipis memang terdeteksi di kawasan Pegunungan Jayawijaya (termasuk Oksibil) hingga ke dataran rendah di sebelah selatannya. Namun satelit cuaca tidak berkemampuan mendeteksi kabut, apalagi yang terlokalisir di lembah pegunungan.

Selain cuaca setempat saat kejadian, sejarah pesawat yang naas umumnya juga menjadi bahan penyelidikan tim KNKT. Dan sejarah pesawat ATR 42-300 ini menarik. Sebelum dimiliki maskapai Trigana Air Service dan menyandang nomor registrasi PK-YRN semenjak 21 Januari 2005 TU, pesawat ini sehari-harinya bertugas di daratan Amerika Serikat. Ia melayani penerbangan domestik dengan nomor registrasi N421TE dan dimiliki oleh maskapai Trans States Airlines semenjak 1 Oktober 1989 TU. Dalam catatan AviationSafetyNetwork, selama dioperasikan Trans States Airlines pesawat ini telah mengalami enam kali insiden.

Gambar 4. Citra satelit cuaca dalam kanal inframerah untuk pulau Irian pada 16 Agustus 2015 TU antara pukul 04:00 hingga 06:00 UTC (13:00 hingga 15:00 WIT). Nampak Pegunungan Jayawijaya bagian timur ditutupi awan tipis hingga ke dataran rendah di sisi selatannya. Sumber: RealEarth, 2015.

Gambar 4. Citra satelit cuaca dalam kanal inframerah untuk pulau Irian pada 16 Agustus 2015 TU antara pukul 04:00 hingga 06:00 UTC (13:00 hingga 15:00 WIT). Nampak Pegunungan Jayawijaya bagian timur ditutupi awan tipis hingga ke dataran rendah di sisi selatannya. Sumber: RealEarth, 2015.

Pada 13 Desember 1990 TU, dua rodanya meletus kala pesawat mendarat tak mulus di bandara Madison (negara bagian Wisconsin). Selanjutnya pada 16 Juni 1997 terjadi kebocoran pada saluran udara bertekanan dari mesin kiri saat pesawat hendak mengudara dari bandara St. Louis (negara bagian Missouri). Kebocoran mengecoh alarm peringatan dini kebakaran, sehingga memaksa penumpang dievakuasi. Mesin kiri pesawat ini kembali bermasalah pada 8 Agustus 199 TU saat alarm peringatan menyala akibat rendahnya tekanan oli mesin. Sehingga mesin kiri terpaksa dimatikan dan pesawat dialihkan untuk mendarat di Springfield (negara bagian Illinois). Pada 23 Juli 200 TU, pesawat dipaksa mendarat darurat kembali setelah kru pesawat mengalami kesulitan dalam mengemudikan pesawat. Penyelidikan menunjukkan terjadi kegagalan pada aileron akibat kontaminasi bahan asing. Pendaratan darurat lagi-lagi terjadi pada 5 Februari 2003 TU di bandara Bloomington (negara bagian Illinois). Kali ini setelah kru pesawat melihat kepulan asap dan mencium baunya. hanya setengah bulan kalender kemudian, tepatnya pada 23 Februari 2003 TU, pesawat kembali mengalami insiden. Kala bersiap terbang dari bandara St. Louis, poros roda depan pesawat mendadak pecah hingga roda kanannya pun mencelat lepas.

Pembanding: Merpati

19 kilometer sebelah timur laut dari lokasi jatuhnya pesawat ATR 42-300 PK-YRN ini terdapat titik jatuhnya pesawat lain dalam kecelakaan di masa silam. Yakni pesawat turboprop DHC-6 Twin Otter nomor registrasi PK-NVC milik maskapai Merpati Nusantara Airline. Pada Minggu 2 Agustus 2009 TU, pesawat yang sedang dalam Penerbangan MZ9760D dari bandara Sentani menghilang di tengah perjalanan hanya sekitar 15 menit sebelum tiba di bandara Oksibil. Dua hari kemudian reruntuhannya ditemukan di hutan belantara pada ketinggian 2.800 meter dpl sejarak 23 kilometer sebelah utara bandara Oksibil. Seluruh 15 orang didalamnya tewas.

Pesawat Twin Otter naas itu tak dilengkapi FDR. Ia hanya mengangkut CVR, mengikuti peraturan yang ditetapkan di Indonesia. Meski hanya bertumpu pada CVR ini, investigasi KNKT berhasil menguak mengapa Twin Otter PK-NVC ini jatuh. Penerbangan menuju bandara Oksibil pada dasarnya berbasis aturan penerbangan visual (mengandalkan mata). Sebab kinerja radas (instrumen) bantu pengingat ketinggian jelajah seperti EGPWS (enhanced ground proximity warning systems) yang berbasis radar, GPS (global positioning system) yang berbasis satelit navigasi maupun altimeter radio (radar) tidak efektif di sini. Penerbangan MZ9760D yang naas itu pun merupakan penerbangan visual.

Gambar 5. Reruntuhan pesawat Twin Otter PK-NVC Merpati Nusantara, yang jatuh pada 2 Agustus 2009 TU di sudut Pegunungan Jayawijaya dalam jarak sekitar 19 kilometer dari lokasi kecelakaan ATR 42-300 PK-YRN Trigana Air Service. Kedua kecelakaan tersebut terjadi tatkala kedua pesawat juga sama-sama sedang memasuki celah yang mengarah ke bandara Oksibil. Kecelakaan Merpati merupakan kasus controlloed flight into terrain. Sumber: KNKT, 2010.

Gambar 5. Reruntuhan pesawat Twin Otter PK-NVC Merpati Nusantara, yang jatuh pada 2 Agustus 2009 TU di sudut Pegunungan Jayawijaya dalam jarak sekitar 19 kilometer dari lokasi kecelakaan ATR 42-300 PK-YRN Trigana Air Service. Kedua kecelakaan tersebut terjadi tatkala kedua pesawat juga sama-sama sedang memasuki celah yang mengarah ke bandara Oksibil. Kecelakaan Merpati merupakan kasus controlloed flight into terrain. Sumber: KNKT, 2010.

Rekaman suara CVR menunjukkan sekitar 20 menit sebelum jatuh, kru Twin Otter PK-NVC berkomunikasi dengan pesawat Hercules C-130 TNI-AU yang baru saja mengudara dari Oksibil. Kru Hercules menginformasikan sebagian langit Oksibil ditutupi awan, dengan dasar awan pada ketinggian 1.800 hingga 2.100 meter dpl. Mereka juga menginformasikan celah di utara Oksibil pun ditutupi awan mengingat pucuk awan yang menutupi Oksibil menjulang hingga ketinggian 3.800 meter dpl. Praktis Penerbangan MZ9760D saat itu akan memasuki awan. Kru Hercules menyarankan agar Twin Otter PK-NVC memutar melalui waypoint Kiwirok yang langitnya relatif lebih cerah. 10 menit kemudian pilot Twin Otter PK-NVC memutuskan akan melewati waypoint Kiwirok bila mereka gagal menemukan celah secara visual. Akan tetapi hingga 8 menit kemudian kopilot masih kesulitan menemukan lokasi celah seiring tutupan awan dan kabut. Kepungan awan juga nampaknya membuat kru Twin Otter PK-NVC kesulitan menentukan posisi mereka. Hanya 50 detik sebelum jatuh, pilot memutuskan berbelok ke kiri dan lantas naik ke ketinggian jelajah 3.050 meter dpl. Eksekusinya dilaksanakan hanya dalam 13 detik sebelum jatuh, ditandai dengan mengerasnya suara mesin. Keputusan diambil tanpa menyadari bahwa pesawat sebenarnya langsung mengarah ke tebing. Dari jejak reruntuhannya, terlihat Twin Otter PK-NVC ini memang sedang menikung ke kiri pada saat menubruk tebing.

KNKT mengkategorikan kecelakaan Twin Otter PK-NVC Penerbangan MZ9760D ini sebagai kasus controlled flight into terrain. Yakni kecelakaan dimana kru pesawat (khususnya pilot dan kopilot) masih tetap sepenuhnya mengendalikan pesawatnya namun secara tak sengaja justru mengarahkan pesawatnya ke tanah, gunung, perairan atau penghambat (obstacles) tertentu. Kru pesawat umumnya baru sadar akan terjadi kecelakaan pada detik-detik terakhir, atau malah tak pernah menyadarinya sama sekali. Dalam kecelakaan controlled flight into terrain ini, pesawat sepenuhnya laik terbang dan sama sekali tak mengalami kerusakan teknis. Kru pesawat juga tak melakukan kesalahan insani. Contoh kecelakaan controlled flight into terrain di Indonesia adalah saat pesawat Airbus A300 B4-220 nomor registrasi PK-GAI Garuda Indonesia Penerbangan GA152 menubruk bukit di Buah Nabar, dekat Medan (propinsi Sumatra Utara) pada 26 September 1997 TU. Sampai saat ini kecelakaan tersebut masih menjadi kecelakaan pesawat paling mematikan di Indonesia dengan korban jiwa 234 orang. Kasus terkini kecelakaan controlled flight into terrain adalah saat pesawat Sukhoi SuperJet-100 RRJ-95B nomor registrasi 97004 yang menubruk puncak Gunung Salak di dekat Bogor (propinsi Jawa Barat) pada 9 Mei 2012 TU dengan korban jiwa 45 orang.
KNKT menyimpulkan kecelakaan Twin Otter PK-NVC Merpati Nusantara penerbangan MZ9760D terjadi akibat pesawat, yang terbang dalam aturan penerbangan visual, melaju ke dalam awan saat hendak memulai prosedur pendaratan ke bandara Oksibil yang terletak pada lembah di tengah-tengah Pegunungan Jayawijaya. Selagi di dalam awan, kru pesawat tidak mempertahankan prosedur penerbangan visual secara cermat, terlebih pesawat sedang melaju ke arah celah yang menjadi pintu masuk ke bandara Oksibil.

Gambar 6. Contoh awan yang menutupi lembah antar pegunungan (celah), yang kerap ditemui di lingkungan Pegunungan Jayawijaya. Tutupan awan semacam ini membuat penerbangan visual menuju ke bandara yang (misalnya) terletak dalam lembah tersebut menjadi mustahil dilaksanakan. Sumber: KNKT, 2010.

Gambar 6. Contoh awan yang menutupi lembah antar pegunungan (celah), yang kerap ditemui di lingkungan Pegunungan Jayawijaya. Tutupan awan semacam ini membuat penerbangan visual menuju ke bandara yang (misalnya) terletak dalam lembah tersebut menjadi mustahil dilaksanakan. Sumber: KNKT, 2010.

Apakah kecelakaan ATR 42-300 PK-YRN Trigana Air Service penerbangan IL267 serupa dengan kecelakaan Twin Otter PK-NVC Merpati Nusantara penerbangan MZ9760D? KNKT lah yang akan menjawabnya. Yang jelas kecelakaan ini kembali mengingatkan pada sejumlah rekomendasi KNKT dalam menyikapi kejadian kecelakaan Twin Otter PK-NVC penerbangan MZ9760D. Di antaranya karakteristik penerbangan sipil di Papua yang khas. Banyak distrik/daerah di pedalaman Papua yang hanya bisa dijangkau dengan lalu lintas udara. Dan di distrik/daerah tersebut hanya tersedia landasan udara yang sangat sederhana dan menantang. Ada yang memiliki landasan pendek dan miring pada elevasi yang cukup tinggi dipagari bukit-bukit yang puncaknya kerap tertutupi awan. Ada pula yang terletak di dalam sebuah ceruk berlereng dipagari bukit-bukit di kanan-kirinya. Ada juga yang terletak di dalam lembah antar pegunungan. Karakteristik demikian memaksa penerbangan yang melayaninya bertumpu pada aturan penerbangan visual, yang membutuhkan cuaca cerah. Salah satu rekomendasi KNKT adalah untuk menyediakan layanan informasi cuaca pada segenap area yang dilayani penerbangan sipil. Termasuk kawasan di antara bandara Sentani dan Oksibil.

Gambar 7. Contoh landasan udara khas yang hanya dijumpai di kawasan Pegunungan Jayawijaya, pulau Irian. Mulai dari landasan pendek miring pada elevasi cukup tinggi dan dipagari bukit-bukit yang puncaknya kerap tertutupi awan (kiri). Hingga landasan yang terletak dalam lembah antar pegunungan di tepi sungai (kanan). Sumber: KNKT, 2010.

Gambar 7. Contoh landasan udara khas yang hanya dijumpai di kawasan Pegunungan Jayawijaya, pulau Irian. Mulai dari landasan pendek miring pada elevasi cukup tinggi dan dipagari bukit-bukit yang puncaknya kerap tertutupi awan (kiri). Hingga landasan yang terletak dalam lembah antar pegunungan di tepi sungai (kanan). Sumber: KNKT, 2010.

Di sisi lain, kecelakaan Trigana Air Service penerbangan IL267 kembali mengingatkan bahwa dunia penerbangan sipil di Indonesia masih berada di bawah nilai rata-rata keselamatan global. Tingkat insiden dan kecelakaan disini tergolong tinggi. Dalam catatan Arnold Barnet, statistikawan MIT (Massachussetts Institute of Techology), dalam sepuluh tahun terakhir tingkat kematian penumpang penerbangan sipil di Indonesia adalah 25 kali lipat lebih tinggi ketimbang Amerika Serikat. Yakni rata-rata seorang per sejuta penumpang. Catatan lain yang disodorkan Tony Tyler dari IATA (International Air Transport Association) tak kalah mengenaskannya. Dikatakan, Indonesia kehilangan sedikitnya satu pesawat berukuran besar dalam setiap tahunnya terhitung sejak 2010 TU. Langkah-langkah perbaikan tentu harus dilakukan. Bagi Trigana Air Service sendiri, kecelakaan ini adalah yang paling mematikan sepanjang sejarah berdirinya maskapai tersebut dalam kurun seperempat abad terakhir. Sedangkan bagi pesawat ATR 42 dan variannya, kecelakaan ini juga menjadi kecelakaan yang paling mematikan semenjak ATR 42 mulai mengudara 31 tahun silam.

Referensi :

AviationSafetyNetwork. 2015. ASN Aircraft Accident ATR 42-300 PK-YRN Oksibil.

CNN. 2015. Trigana Plane Crash, How Safe are Indonesian Airlines? Reportase Tiffany Ap, 17 Agustus 2015.

KNKT. 2010. Aircraft Accident Investigation Report, PT Merpati Nusantara Airline De Haviland DHC6 Twin Otter PK-NVC, Near Ambisil/Okbibab Papua, Republic of Indonesia, 2 August 2009.

Ledakan Dahsyat Tianjin, Cina

Empat hari pasca peristiwa ledakan dahsyat di kompleks pelabuhan Tianjin (Cina), korban tewas tercatat mencapai 104 orang. Sementara korban luka-lukanya, baik berat maupun ringan, membengkak menjadi 720 orang lebih. Statistik ini hanyalah sementara dan dikhawatirkan masih akan terus membengkak. Apalagi masih banyak yang dinyatakan hilang, termasuk diantaranya 85 petugas pemadam kebakaran yang berada di lokasi tepat sebelum ledakan kedua. Ribuan penduduk mengungsi, yang membikin macet jalan-jalan raya kota itu pada jam-jam pertama pasca ledakan. Beragam isu khas bencana pun berseliweran. Salah satunya (yang terbukti benar) adalah kebocoran gas sianida, gas beracun yang memiliki reputasi mematikan.

Gambar 1. Pemandangan lokasi ledakan dahsyat di kompleks pelabuhan Tianjin, diabadikan dari udara. Titik pusat ledakan terdahsyat nampak ditandai dengan cekungan (kawah) yang tergenangi cairan. Disekelilingnya terlihat tumpukan petikemas yang berantakan dan jajaran mobil siap ekspor yang berubah menjadi puing-puing. Sumber: News.cn, 2015.

Gambar 1. Pemandangan lokasi ledakan dahsyat di kompleks pelabuhan Tianjin, diabadikan dari udara. Titik pusat ledakan terdahsyat nampak ditandai dengan cekungan (kawah) yang tergenangi cairan. Disekelilingnya terlihat tumpukan petikemas yang berantakan dan jajaran mobil siap ekspor yang berubah menjadi puing-puing. Sumber: News.cn, 2015.

Bencana ini terjadi di distrik Binhai Baru yang menjadi bagian dari kawasan ekonomi khusus terbuka Tanggu di Tianjin. Kompleks pelabuhan tersebut hanya berjarak sekitar 100 kilometer di tenggara Beijing, ibukota Cina. Bencana dimulai pada Selasa malam 12 Agustus 2015 Tarikh Umum (TU). Hingga tiga hari kemudian tercatat telah terjadi sepuluh ledakan di kompleks lapangan petikemas pelabuhan Tianjin ini. Ledakan yang terbesar adalah ledakan ganda pada 12 Agustus 2015 TU pukul 22:30 WIB (23:30 waktu Cina), masing-masing berselisih waktu hanya 30 detik. Ledakan kedua adalah yang terdahsyat, menghasilkan bolaapi ledakan (fireball) sangat besar dan sangat terang. Ia kemudian berkembang menjadi awan jamur (mushroom cloud) yang membumbung tinggi ke langit. Dalam waktu bersamaan Bumi bergetar. Sementara udara tertekan demikian hebat akibat penjalaran gelombang kejut (shockwave), yakni energi ledakan yang ditransfer ke udara sekitar dalam bentuk tekanan dengan kuat tekanan berbanding terbalik terhadap kuadrat jaraknya dari titik pusat ledakan (ground zero).

Gambar 2. Awan jamur (mushroom cloud) terlihat jelas dari kejauhan sesaat setelah ledakan kedua terjadi di kompleks pelabuhan Tianjin. Ketampakan awan jamur berskala relatif besar menjadi salah satu indikasi bahwa ledakan Tianjin melepaskan energi yang besar. Sumber: Anonim, 2015.

Gambar 2. Awan jamur (mushroom cloud) terlihat jelas dari kejauhan sesaat setelah ledakan kedua terjadi di kompleks pelabuhan Tianjin. Ketampakan awan jamur berskala relatif besar menjadi salah satu indikasi bahwa ledakan Tianjin melepaskan energi yang besar. Sumber: Anonim, 2015.

Di sekitar ground zero, gelombang kejutnya demikian bertenaga sehingga mampu memorak-porandakan tumpukan petikemas yang tersusun rapi. Ia juga berkemampuan meremukkan (sebagian) bangunan yang ada di jalurnya. Tak kurang dari 17.000 unit apartemen rusak berat, khususnya yang berjarak hingga 2 kilometer dari ground zero. Di samping itu masih ada sekitar 800 buah mobil baru siap ekspor dari berbagai pabrikan yang hancur menjadi puing-puing karena terparkir tepat di sebelah ground zero. Hingga radius sekitar 10 kilometer dari ground zero, gelombang kejutnya masih sanggup menggetarkan kaca jendela. Jumlah kerugian material pun melangit, diperkirakan mencapai trilyunan rupiah.

Hingga ratusan bahkan ribuan kilometer dari ground zero, gelombang kejut ledakan ini masih sanggup dideteksi oleh radas (instrumen) mikrobarometer. Meskipun kuat tekanannya sudah sangat lemah dan kini menjalar sebagai gelombang infrasonik. Sejumlah radas mikrobarometer ultrasensitif yang terpasang di stasiun-stasiun IMS (International Monitoring System) yang menjadi bagian dari pengawasan larangan ujicoba nuklir global di bawah payung CTBTO (Comprehensive nuclear Test Ban Treaty Organisation) merekam ledakan Tianjin ini. Mikrobarometer terjauh yang mengendusnya berlokasi di Tonga (Samudera Pasifik) dan Kazakhstan, ribuan kilometer jauhnya dari ground zero.

Gambar 3. Beberapa stasiun IMS dalam jejaring CTBTO yang mendeteksi ledakan dahsyat Tianjin pada radas mikrobarometernya. Gelombang kejut ledakan dahsyat Tianjin menjalar demikian jauh hingga sanggup terekam oleh radas-radas mikrobarometer yang berjarak ratusan atau bahkan ribuan kilometer dari Tianjin. Sumber: CTBTO, 2015.

Gambar 3. Beberapa stasiun IMS dalam jejaring CTBTO yang mendeteksi ledakan dahsyat Tianjin pada radas mikrobarometernya. Gelombang kejut ledakan dahsyat Tianjin menjalar demikian jauh hingga sanggup terekam oleh radas-radas mikrobarometer yang berjarak ratusan atau bahkan ribuan kilometer dari Tianjin. Sumber: CTBTO, 2015.

Dalam tulisan ini, yang disebut dengan ledakan dahsyat Tianjin adalah peristiwa ledakan terkuat (yakni ledakan kedua) di kompleks pelabuhan Tianjin. Seberapa kuat ledakan dahsyat Tianjin ini?

40 ton TNT

Meski terendus oleh sejumlah stasiun IMS di CTBTO, namun lembaga pengawas larangan ujicoba nuklir global tersebut memastikan bahwa ledakan dahsyat Tianjin tidak mengandung ciri-ciri khas ledakan nuklir. Terutama karena tiadanya emisi gas-gas radioaktif khas produk ledakan nuklir. Ia hanyalah ledakan dari bahan-bahan kimia (ledakan konvensional) semata. Selain produk ledakan nuklir, gelombang infrasonik yang menjalar sangat jauh juga dapat diproduksi dari aksi pelepasan energi tinggi lainnya, seperti detonasi bahan eksplosif (peledak) konvensional maupun bencana alam seperti letusan besar gunung berapi. Hal tersebut dapat dilihat misalnya dalam Letusan Kelud 2014 dan Letusan Sangeang Api 2014, keduanya mengambil lokasi di Indonesia.

Dua ledakan pertama di pelabuhan Tianjin memproduksi getaran di kerak bumi. Getaran ini adalah hasil konversi energi ledakan menjadi energi seismik. Seperti halnya gempa bumi, getaran ini pun terekam dalam seismometer (radas/instrumen pengukur gempa) sebagai seismogram. Sekilas terlihat mirip seismogram gempa bumi umumnya, namun sejatinya sangat berbeda karena mengandung pola khas ledakan. Analisis memperlihatkan kedua ledakan pertama tersebut memiliki magnitudo lokal masing-masing 2,3 dan 2,9 skala Richter.

Pada dasarnya magnitudo gempa adalah ekspresi besarnya energi seismik. Energi seismik dalam peristiwa ledakan dahsyat Tianjin berasal dari konversi energi total ledakan itu sendiri . Dengan mempertimbangkan rasio energi seismik terhadap energi total ledakan yang bernilai (rata-rata) 1 banding 63, maka dapat diprakirakan kedua ledakan tersebut melepaskan energi masing-masing 3 dan 21 ton TNT. Terminologi ton TNT adalah satuan tak-resmi energi dalam kaitannya dengan bahan ledakan ataupun detonasi (peristiwa ledakan). 1 ton TNT merupakan jumlah energi yang setara 4,186 GigaJoule dan (dianggap) setara jumlah energi yang dilepaskan dari pembakaran 1.000 kilogram bahan peledak tingkat tinggi trinitrotoluena (TNT). Satuan ton TNT diderivasikan dari satuan kiloton TNT, yang acap digunakan untuk menggambarkan energi dan dampak ledakan nuklir.

Gambar 4. Rekaman ledakan dahsyat Tianjin pada salah satu seismometer di dalam jejaring pemantau gempa di Cina. Usikan rapat nan kecil di sisi kiri merupakan rekaman ledakan pertama yang menghasilkan getaran bermagnitudo 2,3 skala Richter. Sedangkan usikan rapat yang lebih besar (sisi kanan) dihasilkan dari getaran akibat ledakan kedua, dengan magnitudo 2,9 skala Richter. Sumber: Weibo, 2015.

Gambar 4. Rekaman ledakan dahsyat Tianjin pada salah satu seismometer di dalam jejaring pemantau gempa di Cina. Usikan rapat nan kecil di sisi kiri merupakan rekaman ledakan pertama yang menghasilkan getaran bermagnitudo 2,3 skala Richter. Sedangkan usikan rapat yang lebih besar (sisi kanan) dihasilkan dari getaran akibat ledakan kedua, dengan magnitudo 2,9 skala Richter. Sumber: Weibo, 2015.

Jumlah energi yang dilepaskan pada ledakan dahsyat Tianjin juga dapat diprakirakan dari dampak gelombang kejutnya ke lingkungan sekitar. Hingga radius 10 kilometer dari ground zero, hempasan gelombang kejut diinformasikan masih sanggup menggetarkan kaca jendela bangunan. Efek ini muncul akibat overpressure (tekanan lebih) sebesar 200 Pascal (0,03 psi). Perhitungan sederhana mengacu persamaan-persamaan matematis yang disajikan Kinney dan Graham (Kinney & Graham, 1985) memprakirakan, secara kasar energi ledakan (yield) berkisar 40 ton TNT. Pada tingkat energi ini persamaan serupa memprakirakan di ground zero bakal terbentuk kawah (cekungan) dengan prakiraan garis tengah 50 meter. Cekungan terbentuk sebagai akibat overpressure yang sangat besar, yakni melebihi 25 MegaPascal (362 psi). Cukup mengesankan pemotretan (pencitraan) udara di atas lokasi ledakan dengan menggunakan pesawat udara nir-awak (drone) memperlihatkan memang ada cekungan besar di ground zero. Cekungan tersebut kini tergenangi cairan dan memiliki perkiraan diameter sekitar 50 meter. Sejumlah dampak hempasan gelombang kejut lainnya pun sejauh ini konsisten dengan ledakan non-nuklir yang memiliki yield 40 ton TNT.

Indikasi lain besarnya energi ledakan dahsyat Tianjin datang dari langit. Sedikitnya tiga satelit cuaca yang berpangkalan di orbit geostasioner (ketinggian 35.782 kilometer di atas garis khatulistiwa) dan bertugas meliput dinamika cuaca di kawasan Asia Timur Jauh merekam pemandangan takbiasa di atas Tianjin pada saat bencana. Ketiganya masing-masing adalah satelit Himawari-8 (Jepang), Himawari-7 atau MTSAT-2 (Jepang) dan Chollian atau Coms-1 (Korea Selatan). Ketiga satelit itu merekam apa yang dikenal sebagai fenomena titik-panas (hotspot), tepat di atas pelabuhan Tianjin. Bersamaan dengan hadirnya titik-panas, terekam pula awan-awan yang bergerak menjauh darinya. Titik-panas tersebut merupakan bagian udara yang suhunya lebih tinggi dibanding sekelilingnya dan merupakan produk lebih lanjut dari mengembangnya gas-gas panas yang semula membentuk awan jamur. Sembari mengembang, gas-gas tersebut terus mendingin. Tapi suhunya masih lebih tinggi ketimbang udara sekelilingnya. Terdeteksinya titik-panas oleh satelit dalam waktu bersamaan dengan ledakan dahsyat Tianjin menjadi pertanda besarnya energi ledakan.

Gambar 5. Ledakan dahsyat Tianjin seperti teramati dari satelit cuaca Himawari-8 pada kanal 3,9 mikron dalam selisih waktu 40 menit. Terlihat hotspot (titik-panas) yang menunjukkan lokasi ledakan. Juga awan yang terlihat menyibak menjauhi hotspot , mungkin akibat dorongan gelombang kejut ledakan. Sumber: JMA, 2015.

Gambar 5. Ledakan dahsyat Tianjin seperti teramati dari satelit cuaca Himawari-8 pada kanal 3,9 mikron dalam selisih waktu 40 menit. Terlihat hotspot (titik-panas) yang menunjukkan lokasi ledakan. Juga awan yang terlihat menyibak menjauhi hotspot , mungkin akibat dorongan gelombang kejut ledakan. Sumber: JMA, 2015.

Penyebab ?

Jika ledakan dahsyat Tianjin adalah benar melepaskan energi 40 ton TNT maka kedahsyatannya setara dengan ledakan bom non-nuklir terkuat saat ini. Yakni bom FOAB yang ada dalam arsenal Angkatan Udara Russia. Bila diperbandingkan dengan bom non-nuklir terkuat milik AU Amerika Serikat, yakni GBUI-43/B MOAB (massive ordnance air blast), maka ledakan dahsyat Tianjin adalah empat kali lebih bertenaga. Meski begitu ledakan dahsyat Tianjin bukanlah yang terkuat sepanjang sejarah ledakan non-nuklir. Ia masih kalah jauh ketimbang bencana meledaknya roket N-1 (Russia) pada 3 Juli 1969 TU. N-1 adalah roket raksasa yang ditujukan untuk mendaratkan manusia Russia (saat itu Uni Soviet) di Bulan, namun meledak di landasan dalam penerbangan ujicoba tak-berawak dengan menghempaskan energi 7.000 ton TNT. Bahkan dibandingkan bencana industrial terbesar terakhir, yakni meledaknya gudang penyimpanan kembang api di kota Enschede (Belanda) pada 13 Mei 2000 TU yang melepaskan energi antara 4.000 hingga 5.000 ton TNT, ledakan dahsyat Tianjin masih kalah jauh.

tianjin-blast_modelling-deskripsi

Gambar 6. Atas: deskripsi dampak gelombang kejut ledakan dahsyat Tianjin dan radius maksimum setiap dampaknya berdasarkan pemodelan ledakan non-nuklir berenergi 40 ton TNT. Bawah: Plot sebagian hasil pemodelan radius maksimum dampak gelombang kejut ledakan dahsyat Tianjin ke dalam citra satelit pelabuhan Tianjin dan sekitarnya. Titik biru = ground zero, 2 = radius maksimum kerusakan kaca jendela (1.945 meter dari ground zero), 3 = batas puing-puing dan (1.265 meter dari ground zero) 8 = kerusakan blok beton/dinding bata (276 meter dari ground zero). Sumber: Sudibyo, 2015 berbasis Google Earth serta Kinney & Graham, 1985

Gambar 6. Atas: deskripsi dampak gelombang kejut ledakan dahsyat Tianjin dan radius maksimum setiap dampaknya berdasarkan pemodelan ledakan non-nuklir berenergi 40 ton TNT. Bawah: Plot sebagian hasil pemodelan radius maksimum dampak gelombang kejut ledakan dahsyat Tianjin ke dalam citra satelit pelabuhan Tianjin dan sekitarnya. Titik biru = ground zero, 2 = radius maksimum kerusakan kaca jendela (1.945 meter dari ground zero), 3 = batas puing-puing dan (1.265 meter dari ground zero) 8 = kerusakan blok beton/dinding bata (276 meter dari ground zero). Sumber: Sudibyo, 2015 berbasis Google Earth serta Kinney & Graham, 1985

Bagaimana ledakan dahsyat Tianjin bisa terjadi? Inilah yang masih terus diselidiki. Informasi yang berkembang masih simpang-siur. Awalnya peristiwa di pelabuhan Tianjin ini diduga merupakan ledakan gas yang merembet ke gudang penyimpanan bahan kimia mudah meledak milik sebuah perusahaan logistik. Ledakan di bahan kimia itu lantas menyulut cairan gampang terbakar (seperti etanol/alkohol) yang tertimbun dalam jumlah besar disekitarnya. Namun beberapa hari kemudian muncul versi lain. Yakni terjadi kebakaran, dengan sebab yang belum jelas, semenjak 40 menit sebelum ledakan pertama dimulai. Pemadam kebakaran menyemprotkan air dalam jumlah besar ke titik kebakaran dan ke lingkungan sekitar (untuk pendinginan), tanpa menyadari terdapat timbunan karbit (kalsium karbida) dalam jumlah besar hingga ratusan ton. Reaksi air yang berlimpah dengan karbit dalam jumlah besar menghasilkan gas asetilena (etuna) demikian berlimpah. Asetilena adalah gas mudah terbakar yang umum digunakan gas dalam pengelasan. Di Cina, gas asetilena juga dimanfaatkan dalam industri petrokimia khususnya sebagai bahan baku pembuatan polivinil klorida (PVC) yang berbiaya lebih murah ketimbang harus mengimpor minyak mentah. Tak heran jika pertumbuhan penggunaan karbit kian meningkat (mencapai hampir 9 juta ton per 2005 TU). Diduga terjadi pelepasan gas asetilena dalam jumlah besar dan sontak terbakar (meledak) oleh percikan api.

Terakhir muncul versi lain. Selain karbit, pergudangan di kompleks pelabuhan Tianjin juga menyimpan tak kurang dari 40 jenis bahan kimia gampang terbakar lainnya. Salah satunya amonium nitrat, dalam jumlah tak kurang dari 800 ton. Amonium nitrat adalah bahan baku pupuk, namun juga populer sebagai salah satu bahan utama untuk meracik bahan peledak kelas rendah (low explosive). Ada dugaan saat gas asetilen terbakar dan meledak, apinya menyulut amonium nitrat dalam jumlah besar hingga akhirnya meledak dahsyat.

Apapun penyebabnya, ledakan dahsyat Tianjin menjadi indikasi adanya masalah dalam pengelolaan bahan kimi berbahaya di tanah Cina. Dengan pertumbuhan ekonomi yang fantastis, konsumsi bahan-bahan kimia gampang meledak pun meroket. Namun tak diimbangi dengan peningkatan pengawasan maupun pelatihan untuk menanganinya, termasuk dalam situasi kritis seperti terjadinya kebakaran gudang penyimpanan. Sebagai imbasnya, pemerintah Cina mengancam akan memenjarakan siapapun yang bertanggung jawab dalam peristiwa ledakan dahsyat Tianjin. Mereka juga bersiap untuk mulai menginspeksi setiap perusahaan yang mengelola bisnis sejenis di seantero negeri, sebagai langkah preventif.

Referensi :
Kinney & Graham. 1985. Explosive Shocks in the Air. Springer-Verlag, New York, 2nd edition.

Hiroshima, Nagasaki dan Indonesia Merdeka

Pertanyaan ini menggelitik: andaikata kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang tidak dibom nuklir, akankah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945 Tarikh Umum (TU)?

Duo proklamator kita Ir. Soekarno dan Drs. Moh Hatta membacakan naskah proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta pada waktu yang sungguh langka dan tepat. Indonesia secara faktual sedang mengalami kekosongan kekuasaan pada saat itu. Tatanan geopolitik regional sedang berubah dramatis akibat pemboman nuklir Hiroshima (6 Agustus 1945 TU) dan Nagasaki (9 Agustus 1945 TU) yang dibarengi invasi Uni Soviet ke pendudukan Jepang di Mansyuria (sejak 9 Agustus 1945 TU). Tiga peristiwa beruntun itu memaksa kaisar Hirohito mengambil langkah tak terduga, berpidato untuk pertama kalinya di radio nasional Jepang. Hirohito memaklumatkan kekaisaran Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, tepatnya kepada Amerika Serikat. Penyerahan diri tersebut efektif per 15 Agustus 1945 TU. Meski secara formal penyerahan diri Jepang baru terlaksana setengah bulan lebih kemudian. Tepatnya pada 2 September 1945 TU dalam sebuah upacara di geladak kapal perang USS Missouri milik Angkatan Laut Amerika yang berlabuh di Teluk Tokyo.

Menyusul penyerahan diri di Teluk Tokyo, pemerintahan pendudukan Jepang di Asia Tenggara pun menyerahkan diri pada 12 September 1945 TU lewat upacara di Singapura. Pasukan Sekutu baru mulai mendarat di Indonesia per 29 September 1945 TU sebagai AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies), yang terdiri dari tentara Inggris dan Australia. Belakangan ketahuan tentara Belanda pun membonceng AFNEI secara diam-diam. Praktis sepanjang periode 15 Agustus hingga 29 September 1945 TU terjadi kekosongan kekuasaan di Indonesia. Ya, secara formal negeri ini saat itu masih berada di bawah cengkeraman pemerintahan pendudukan Jepang. Namun dengan moral prajurit yang ambrol cukup dalam dan hancur lebur akibat kalah perang yang memalukan dan menyesakkan seiring penyerahan diri tanpa syarat, pemerintahan pendudukan Jepang di Indonesia tak bisa berbuat banyak. Sehingga secara faktual Indonesia berada dalam periode kekosongan kekuasaan. Ini yang menjadikan kemerdekaan Indonesia berbeda dibanding negara-negara lain yang memproklamasikan kemerdekaannya pada saat yang hampir sama.

Gambar 1. Awan cendawan raksasa khas ledakan nuklir sedang mengembang di atas udara Nagasaki, hanya beberapa detik setelah bom nuklir berkode Fatman diledakkan di atas kota ini pada 9 Agustus 1945 Tu pukul 11:02 setempat. Sumber: Nagasaki Atomic Bomb Museum.

Gambar 1. Awan cendawan raksasa khas ledakan nuklir sedang mengembang di atas udara Nagasaki, hanya beberapa detik setelah bom nuklir berkode Fatman diledakkan di atas kota ini pada 9 Agustus 1945 Tu pukul 11:02 setempat. Sumber: Nagasaki Atomic Bomb Museum.

Bagaimana jika Hiroshima dan Nagasaki tidak dibom nuklir?

Usai kemenangan di teater peperangan Eropa dengan bertekuk lututnya Jerman tanpa syarat di hadapan Sekutu lewat upacara di Rheims (Perancis) pada 8 Mei 1945 TU, Amerika Serikat bersiap menghabisi Jepang dengan cara apapun. Meski Amerika merasa berat melakukannya karena harus bertempur sendirian di teater peperangan Pasifik. Beruntung Uni Soviet kemudian menawarkan bantuan, siap bersama-sama memerangi kekaisaran Jepang. Meski tawaran bantuan ini kemudian dipandang dengan penuh curiga dan dianggap memiliki maksud terselubung. Tidak seperti Soviet, Amerika tidak tertarik menguasai tanah-tanah pendudukan Jepang terlebih dahulu sebelum menyerang negeri induknya. Termasuk Indonesia. Jenderal Douglas McArthur pernah mengusulkan menyerbu pulau Jawa di tahun 1944-1945 TU sebagai bagian dari taktik lompatan kataknya. Namun usulan ini ditolak presiden Roosevelt. Sehingga balatentara Amerika hanya melipir di pinggiran saja dengan menguasai pulau Irian dan Kepulauan Halmahera sebagai pangkalan untuk menyerbu pendudukan Jepang di Filipina.

Operasi Downfall pun dirancang. Inilah serbuan langsung ke pulau-pulau utama Jepang bergaya perang amfibi. Ia mencoba meniru sukses Operasi Overlord di teater Eropa. Overlord adalah pendaratan pasukan Sekutu secara besar-besaran di pesisir Normandia (Perancis) semenjak 6 Juni 1944 TU yang berlanjut dengan serangan darat ke posisi-posisi Jerman di Perancis, Belanda dan Belgia. Serangan darat tersebut akhirnya berujung pada serbuan langsung ke Jerman terutama ke jantungnya: Berlin. Kemenangan pun diraih lebih cepat setelah Uni Soviet menyerbu ke barat, sehingga Jerman dijepit baik dari timur maupun barat. Nah, Downfall bakal mencoba mereplikasinya. Downfall terdiri dari dua bagian. Pertama, invasi Olympic guna menundukkan pulau Kyushu, yang bakal dilaksanakan 1 November 1945 TU. Dan yang kedua invasi Coronet, yang bakal dieksekusi 1 Maret 1946 TU dengan tujuan menaklukkan pulau Honshu sekaligus menguasai Tokyo. Jika semua berlangsung sesuai rencana, Jepang akan dipaksa menyerah sekitar Mei/Juni 1946 TU.

Amerika membutuhkan kemenangan cepat. Untuk itu Operasi Downfall bakal dilaksanakan dengan balatentara yang berlimpah-limpah, hingga tak kurang dari 39 divisi. Tetapi prakiraan korban yang bakal berjatuhan membikin ngeri. Seperti halnya Jerman dalam menghadapi Overlord, Jepang pun telah lama menanti-nantikan kehadiran Downfall. Namun skala pertempurannya diyakini bakal lebih sengit. Jika Jerman mendirikan tembok Atlantik yang kukuh namun bersiap setengah hati namun cenderung meremehkan kemampuan lawannya, maka Jepang jauh lebih siap dengan merancang pertahanan lewat Operasi Ketsugo. Pertempuran Okinawa memperlihatkan betapa Amerika harus membayar mahal setiap jengkal tanah Jepang yang direbutnya. Dalam pertempuran paling berdarah di teater Pasifik itu Amerika harus kehilangan 20.000 prajuritnya dari total 541.000 tentara yang diterjunkan merebut Okinawa. Selain itu masih ada 55.000 orang yang terluka. Bila hasil ini diekstrapolasikan ke dalam Operasi Downfall, korban jiwa akan mencapai hampir setengah juta orang dan sejuta lainnya luka-luka. Prediksi ini tentu tak menyenangkan jenderal-jenderal Amerika. Termasuk McArthur.

Gambar 2. Bayangan manusia di anak tangga. Saat bom nuklir bertajuk Little Boy meledak di ketinggian udara Hiroshima, sosok paruh baya bertongkat ini sedang berdiri di tepi jalan, di ujung anak tangga sebuah bangunan. Ia terlalu dekat dengan ground zero (episentrum titik ledakan), sehingga menderita paparan panas yang sangat tinggi dan sangat kuat. Demikian kuatnya sehingga bayangannya pun tercetak di anak tangga. Sosok ini menjadi salah satu korban tewas akibat paparan panas berlebihan, yang membuat tubuhnya sontak menjadi arang atau bahkan menjadi abu. Sumber: Hiroshima Atomic Bomb Museum.

Gambar 2. Bayangan manusia di anak tangga. Saat bom nuklir bertajuk Little Boy meledak di ketinggian udara Hiroshima, sosok paruh baya bertongkat ini sedang berdiri di tepi jalan, di ujung anak tangga sebuah bangunan. Ia terlalu dekat dengan ground zero (episentrum titik ledakan), sehingga menderita paparan panas yang sangat tinggi dan sangat kuat. Demikian kuatnya sehingga bayangannya pun tercetak di anak tangga. Sosok ini menjadi salah satu korban tewas akibat paparan panas berlebihan, yang membuat tubuhnya sontak menjadi arang atau bahkan menjadi abu. Sumber: Hiroshima Atomic Bomb Museum.

Di kala para jenderal itu dibikin puyeng dengan upaya persiapan Operasi Downfall sekaligus mereduksi sedikit mungkin korban, solusi tak terduga (dan menggembirakan) datang dari jenderal Leslie R. Grooves. Inilah pucuk pimpinan Proyek Manhattan yang super-rahasia di daratan Amerika, yang telah berlangsung sejak 1942 TU. Kerja keras mereka telah berbuah, Amerika berhasil membangun senjata jenis baru yang bernama bom nuklir. Sebuah pengujian telah dilakukan di Alomogordo (New Mexico) pada 16 Juli 1945 TU dinihari. Bom nuklir berkode Trinity yang terbuat dari 6,5 kilogram Plutonium dan dipermak dalam bentuk bola sempurna diledakkan. Hasilnya memuaskan, sekaligus menggidikkan. Trinity melepaskan energi tak kurang dari 20 kiloton TNT, atau setara dengan 20.000 ton batang dinamit. Kemampuan nan dahsyat ini membuka peluang Amerika untuk menghancurkan infrastruktur dan moral bangsa Jepang tanpa harus melaksanakan Operasi Downfall.

Proyek Manhattan telah menyediakan minimal tiga bom nuklir yang siap pakai. Dua bom pertama pun dikirim ke pulau Tinian, pulau kecil di tengah-tengah Samudera Pasifik bagian barat yang berhasil direbut dan menjadi menjadi landasan utama pemboman intensif ke Jepang. Setelah dirakit dan dimuat ke perut pesawat pembom B-29 Superfortress yang disiapkan khusus, bom pertama yang bertajuk Little Boy (berat 4 ton, mengandung 64 kilogram Uranium) pun diterbangkan ke sasaran utama (kota Hiroshima) pada 6 Agustus 1945 TU pagi buta. Tiga hari kemudian giliran bom kedua yang bernama Fatman (berat 4,6 ton yang mengandung 6,5 kilogram Plutonium) yang dipersiapkan dan diterbangkan ke sasaran utama: kota Kokura. Bila pemboman pertama berlangsung mulus, tidak demikian dengan yang kedua. Kokura ternyata terselubungi awan sepenuhnya sehingga menyulitkan pengeboman. Pesawat B-29 pun beralih ke kota Nagasaki sebagai target cadangan. Awalnya Nagasaki pun tertuttupi awan, namun mendadak sebuah celah menyibak. Di celah itulah Fatman dijatuhkan, lalu meledak.

Kita tahu bagaimana akhir cerita pengeboman nuklir ini. Baik Hiroshima maupun Nagasaki luluh lantak, setelah dihempas ledakan berkekuatan masing-masing 15 kiloton TNT dan 20 kiloton TNT. Tak kurang dari 140.000 warga sipil Hiroshima menjadi korban dan demikian pula 74.000 warga sipil Nagasaki. Digabungkan dengan tak kurang dari 300.000 warga sipil di seantero Jepang yang tewas akibat kampanye pemboman strategis (dengan bom konvensional dan kemudian bom bakar/napalm), tak kurang dari setengah juta warga sipil Jepang yang meregang nyawa sebagai korban serangan udara. Baik pemboman non nuklir maupun nuklir.

Korban jiwa yang melangit tak menggoyahkan keteguhan hati tentara kekaisaran Jepang. Mereka tetap enggan menyerah. Mereka tetap patuh dan bersiap dengan Operasi Ketsugo untuk menangkis serangan amfibi dan pendaratan besar-besaran di pesisir timur. Namun tak demikian dengan kaisar Hirohito. Tergetar oleh demikian besarnya korban jiwa sipil dalam pemboman Hiroshima dan Nagasaki serta ngeri membaca propaganda Amerika yang siap melumat kota-kota Jepang lainnya dengan bom nuklir (padahal stoknya tinggal tersisa sebutir), kaisar pun bersikap. Apalagi setelah Uni Soviet pun menyatakan perang pada Jepang dan mulai menyapu kekuatan darat tentara kekaisaran Jepang di Mansyuria. Pidato radio kaisar pun memerintahkan penghentian tembak menembak dan memastikan Jepang menyerah tanpa syarat. Jenderal-jenderal Amerika pun bersuka cita, sebab Operasi Downfall praktis batal. Dan Amerika tak perlu kehilangan lebih banyak tentaranya lagi. Sementara bagi Hirohito, dihadapkan pada pilihan yang sama-sama tak enak, lebih baik bila Jepang menyerah ke Amerika karena sistem kekaisaran akan tetap terjaga. Sebaliknya jika bertekuk lutut ke Uni Soviet, gaya revolusi mereka akan menghapus sistem kekaisaran sepenuhnya dari muka bumi.

Kita bisa berandai-andai. Jika bom nuklir tak pernah ada di kancah Perang Dunia 2, kekaisaran Jepang masih sangat kuat di pertengahan tahun 1945 TU itu. Operasi Downfall pun mau tak mau harus dilaksanakan, dengan segenap konsekuensinya. Jika berjalan lancar, Jepang baru dapat ditaklukkan di sekitar pertengahan 1946 TU. Rentang waktu setahun (pasca penyerahan diri Jerman) memungkinkan negara-negara Eropa memulihkan kekuatannya dan turut berpartisipasi dalam teater peperangan Pasifik. Termasuk Belanda. Bila hal itu terjadi, jalannya sejarah Indonesia akan mengambil rute yang sangat berbeda dibandingkan apa yang kita lihat pada hari ini. Singkatnya, tanpa pemboman nuklir di Perang Dunia 2, Indonesia merdeka tidak terjadi pada 17 Agustus 1945 TU.

Mengenal Kandidat Sumber Gempa Bumi dan Tsunami di Pulau Jawa

Pantai Logending di Kecamatan Ayah Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah) bersiap menuju momen Matahari terbenam pada Senin 17 Juli 2006 Tarikh Umum (TU) sore. Obyek wisata pantai ini masih satu lokasi dengan Goa Jatijajar dan Goa Petruk di lingkungan karst Karangbolong, Gombong selatan. Inilah trio obyek wisata populer andalan Kabupaten Kebumen. Sore itu Pantai Logending relatif lengang. Hari itu adalah hari pertama masuk sekolah di tahun ajaran yang baru (2006-2007 TU). Hanya ada puluhan wisatawan lokal. Di hari-hari sebelumnya, pengunjung pantai ini setiap harinya bisa mencapai ribuan orang dalam beragam usia. Selain memiliki pantai datar bermuara sungai yang tepat berdampingan dengan Tanjung Karangbolong di sisi timur dan Teluk Penyu di sisi barat, pantai Logending juga memiliki bumi perkemahan yang kerap menjadi arena perkemahan para pelajar di musim liburan. Ditambah dengan aksesnya yang mudah, tempat yang rindang (penuh pepohonan) dan ketersediaan sarana prasarana yang memadai, tak pelak pantai ini menjadi pantai favorit bagi penduduk Kabupaten Kebumen dan kabupaten/kota tetangganya.

Gambar 1. Jejak kedahsyatan terjangan Tsunami 17 Juli 2006 di pantai Logending (Kabupaten Kebumen). Kiri: sebagian dinding bangunan WC umum yang ambrol dan terhempas hingga 2 meter ke utara dari semula. Kanan: tebing sungai yang tererosi berat hingga menghancurkan taludnya. Di latar belakang nampak bangunan pos TNI AL Logending. Tsunami yang menghantam pantai ini memiliki tinggi maksimum 7 meter dpl. Sumber: Sudibyo, 2006.

Gambar 1. Jejak kedahsyatan terjangan Tsunami 17 Juli 2006 di pantai Logending (Kabupaten Kebumen). Kiri: sebagian dinding bangunan WC umum yang ambrol dan terhempas hingga 2 meter ke utara dari semula. Kanan: tebing sungai yang tererosi berat hingga menghancurkan taludnya. Di latar belakang nampak bangunan pos TNI AL Logending. Tsunami yang menghantam pantai ini memiliki tinggi maksimum 7 meter dpl. Sumber: Sudibyo, 2006.

Siapa sangka, Senin sore itu adalah hari yang tak biasa dan bakal dikenang seterusnya bagi pantai Logending dan Kabupaten Kebumen. Sejarak 230 kilometer ke arah selatan-barat daya, Bumi sedang bergolak. Bagian kerak Samudera Indonesia (atau Samudera Hindia) yang bersisian dengan palung Jawa dalam segmen sepanjang 200 kilometer mendadak terpatahkan pada pukul 15:19 WIB. Gempa tektonik pun terjadilah, dengan magnitudo momen 7,7. Sehingga tergolong gempa besar. Karena daratan terdekat dengan episentrum adalah pantai Pangandaran, maka gempa ini acap disebut Gempa Pangandaran 17 Juli 2006. Meski ada pula yang menyebutnya Gempa Jawa 17 Juli 2006 atau Gempa Samudera Hindia 17 Juli 2006.

Namun pematahan kerak samudera pada gempa ini berlangsung lebih lambat ketimbang pematahan penyebab gempa bumi tektonik umumnya. Sehingga gempa besar ini merupakan gempa-ayun atau gempa-lambat (slow-quake). Akibatnya getarannya relatif tak terasa khususnya di daratan pulau Jawa bagian selatan. Tapi di sekeliling sumber gempa, getarannya demikian keras. Sehingga mampu menyebabkan longsoran berskala besar pada lereng curam di sisi utara Palung Jawa. Longsoran ini menyebabkan kolom air segara, yang sudah bergolak akibat terangkatnya dasar laut di atas sumber gempa, menjadi kian bergolak saja. Terbentuklah tsunami besar yang magnitudonya setingkat lebih tinggi dibanding magnitudo gempanya, satu ciri khas lain lagi dari gempa-lambat. Dengan segera gelora yang mematikan ini berderap ke dua arah berlawanan, yakni timur laut dan barat daya. Tsunami yang melejit ke timur laut melaju pada kecepatan antara 230 hingga 260 km/jam, berderap langsung ke arah sebagian pesisir selatan pulau Jawa yang berhadapan. Namun tak satupun penduduk di sana yang menyadari bahwa bencana hendak tiba. Demikian halnya di pantai Logending.

Didahului dua dentuman keras, tsunami menyerbu pantai Logending mulai pukul 16:09 WIB atau hampir sejam pascagempa. Lima gelora menggempur susul-menyusul, dengan gelombang pertama sebagai yang terbesar (tertinggi). Airbah segera menggenang hingga 1 meter dari permukaan tanah dan menderu deras hingga sejauh tak kurang 200 meter ke darat. Arus airbah demikian kuat hingga menyeret puluhan kapal nelayan ke daratan sampai berlubang-lubang atau malah patah terbelah. Arus airbah bahkan sanggup menjebol tembok bangunan seperti WC umum dan melubangi dinding pos TNI AL Logending. Warung-warung semi permanen kuliner khas Logending pun tak luput dari terjangan airbah tsunami. Kepanikan dan kekacauan sontak merebak. Orang-orang berlarian lintang-pukang menuju bukit. Tetapi puluhan orang gagal menyelamatkan diri. Mereka terseret arus airbah dan beberapa diantaranya menjadi korban. Salah satu korban bahkan ditemukan terdampar di pantai Parangtritis, Bantul (propinsi DI Yogyakarta), seratusan kilometer dari Logending.

Gambar 2. Menit-menit terjangan Tsunami 17 Juli 2006 di kolam PLTU Bunton (Kabupaten Cilacap) seperti yang direkam kamera sirkuit tertutup (CCTV). Air bah Tsunami terekam mulai memasuki kolam pada pukul 16:08 WIB. Pukul 16:19 WIB (kiri), gelombang ketiga mulai memasuki kolam hingga meluber dalam beberapa detik kemudian. Selang 9 menit kemudian (kanan), paras kolam telah kembali seperti semula sebelum tsunami melanda. Sumber: PLTU Bunton, 2006 dalam Lavigne dkk, 2007.

Gambar 2. Menit-menit terjangan Tsunami 17 Juli 2006 di kolam PLTU Bunton (Kabupaten Cilacap) seperti yang direkam kamera sirkuit tertutup (CCTV). Air bah Tsunami terekam mulai memasuki kolam pada pukul 16:08 WIB. Pukul 16:19 WIB (kiri), gelombang ketiga mulai memasuki kolam hingga meluber dalam beberapa detik kemudian. Selang 9 menit kemudian (kanan), paras kolam telah kembali seperti semula sebelum tsunami melanda. Sumber: PLTU Bunton, 2006 dalam Lavigne dkk, 2007.

Jarang

Tsunami ini menewaskan 16 warga Kabupaten Kebumen dengan 41 orang lainnya dinyatakan hilang. Dihitung dari paras air laut (dpl) saat itu, tinggi tsunami yang menggempur pantai Logending adalah 7 meter. Di antara sekujur pesisir Kabupaten Kebumen yang terhajar tsunami pada waktu yang sama, tinggi tsunami yang menerpa pantai Logending adalah yang terbesar (terkecil di pantai Suwuk sisi timur setinggi 2,5 meter dpl). Namun hal itu belum seberapa bila dibandingkan dengan hempasan tsunami di Kabupaten/Kota Cilacap. Pesisir Teluk Penyu di antara pantai Logending dan kota Cilacap diterjang tsunami dengan ketinggian bervariasi antara 2 hingga 5,5 meter dpl. Namun korban jiwa yang direnggutnya jauh lebih besar, yakni mencapai 157 orang. Meski demikian kota Cilacap patut bersyukur karena terhindar dari malapetaka yang jauh lebih buruk. Sebab sejatinya tsunami yang mengarah ke kota ini memiliki ketinggian sangat besar, yakni 21 meter dpl! Itu setara dengan gedung empat lantai. Beruntung gelombang pembunuh yang menggidikkan ini teredam sepenuhnya oleh keberadaan pulau Nusakambangan, sehingga kota Cilacap terlindungi. Secara akumulatif bencana tsunami ini merenggut nyawa 653 orang dan melukai 1.526 orang. Sebanyak 120 orang juga dinyatakan hilang. Lebih dari 1.600 bangunan rusak dalam beragam tingkat keparahan.

Bencana Gempa Pangandaran 17 Juli 2006 dan tsunami yang menyertainya seakan mengulangi bencana sejenis yang terjadi di pesisir selatan Jawa Timur 12 tahun sebelumnya. Saat itu, Jumat 3 Juni 1994 TU dinihari pukul 01:17 WIB, segmen sepanjang 160 kilometer yang berjarak 220 kilometer dari garis pantai Kabupaten Malang, Lumajang, Jember dan Banyuwangi mendadak terpatahkan. Terjadilah Gempa Banyuwangi 3 Juni 1994 yang tergolong gempa besar, karena magnitudo momennya 7,8. Tetapi ia juga bersifat gempa-ayun. Maka getaran gempa besar ini tak terasakan di daratan Jawa bagian timur. Apalagi merusak bangunan. Sebaliknya di sekeliling sumber gempa, getarannya demikian keras. Hingga mampu melongsorkan tebing curam di dasar laut dalam skala yang luar biasa.

Gambar 3. Bibir pantai yang tererosi berat hingga tergerus akibat terjangan Tsunami 3 Juni 1994 di pantai Rajegwesi (Kabupaten Banyuwangi). Tsunami setinggi maksimum 14 meter dpl menggempur pantai ini dan menggenang hingga 400 meter ke daratan. Sumber: Synolakis dkk, 1995.

Gambar 3. Bibir pantai yang tererosi berat hingga tergerus akibat terjangan Tsunami 3 Juni 1994 di pantai Rajegwesi (Kabupaten Banyuwangi). Tsunami setinggi maksimum 14 meter dpl menggempur pantai ini dan menggenang hingga 400 meter ke daratan. Sumber: Synolakis dkk, 1995.

Kisah selanjutnya pun menyerupai Gempa Pangandaran 17 Juli 2006. Dalam 50 menit pasca gempa, gelora tsunami menggempur pesisir Kabupaten Malang, Lumajang, Jember dan Banyuwangi serta sebagian pesisir selatan Bali. Tanpa peringatan dan tanpa ampun. Bentuk pantai yang berlekuk-lekuk dengan teluk-teluk kecilnya membuat tsunami terakumulasi di teluk-teluk kecil tersebut. Sehingga tingginya kembali berlipat ganda. Tinggi tsunami terbesar mencapai 15 meter dpl. Akibatnya sejumlah pesisir pun terhantam telak dan terbabat beserta penghuninya. Dalam petaka pagi buta itu, paling tidak 223 jiwa melayang dengan lebih dari 400 orang luka-luka berat dan ringan. Selain itu tak kurang dari 1.000 rumah hancur.

Sebelum dua bencana tsunami tersebut, pulau Jawa terhitung sangat jarang dilimbur airbah tsunami yang signifikan dan berdampak. Tsunami bersejarah terakhir yang menghantam pulau Jawa adalah tsunami produk Letusan dahsyat Krakatau 1883. Peristiwa tersebut menciptakan tsunami raksasa setinggi maksimum 33 meter dpl yang menghancurkan pesisir barat pulau Jawa yang berhadapan dengan selat Sunda. Korban yang direnggutnya mencapai tak kurang dari 36.000 jiwa. Namun tsunami ini disebabkan oleh letusan dahsyat gunung berapi, jenis peristiwa yang tergolong jarang terjadi. Sebaliknya tsunami yang ditimbulkan oleh gempa tektonik, yang lebih kerap terjadi, justru belum pernah ditemukan catatan sejarahnya di pulau Jawa hingga 1994 TU.

Jadi bagaimana tsunami 1994 dan tsunami 2006 bisa terjadi di pesisir selatan pulau Jawa? Dan masih adakah sumber gempa bumi dan tsunami potensial sejenis nun jauh di dasar samudera lepas pantai selatan pulau Jawa?

Zona Rekahan

Semua berpangkal dari geologi pulau Jawa yang khas. Pulau terpadat penduduknya di dunia ini dibentuk oleh interaksi konvergen antara dua lempeng tektonik besar dunia. Yang pertama adalah lempeng Sunda (Eurasia) yang bersifat kontinental (kerak benua) dan relatif stabil. Dan yang kedua adalah lempeng Australia yang oseanik (kerak samudera) dan bergerak relatif ke utara pada kecepatan antara 60 hingga 70 mm/tahun. Interaksi konvergen antara kedua lempeng tektonik besar ini menghasilkan subduksi (penyelusupan atau tunjaman). Karena berat jenis lempeng Australia lebih besar dibanding lempeng Sunda, maka lempeng Australia melekuk di sepanjang batas konvergensi untuk kemudian menunjam di bawah lempeng Sunda dengan membentuk sudut miring terhadap paras Bumi. Di sisi lempeng Sunda, subduksi tersebut membuat bagian lempeng Sunda di sini menjadi membengkak (menggelembung). Inilah yang kemudian muncul di atas paras air laut sebagai pulau Jawa. Batas konvergensi tersebut secara kasat mata terlihat sebagai palung laut. Yakni bagian dasar laut yang sempit mirip parit namun sangat dalam. Palung tersebut dikenal sebagai palung Jawa dengan titik terdalam (7.725 meter dpl) di lepas pantai Kebumen-Purworejo sejarak 260 km dari garis pantai. Titik ini sekaligus merupakan titik terdalam di Samudera Indonesia.

Gambar 4. Penampang melintang sederhana zona subduksi Jawa dengan sejumlah gejala khas subduksi didalamnya. Sumber: Sudibyo, 2015 berbasis peta Google Earth.

Gambar 4. Penampang melintang sederhana zona subduksi Jawa dengan sejumlah gejala khas subduksi didalamnya. Sumber: Sudibyo, 2015 berbasis peta Google Earth.

Seperti halnya subduksi di tempat lain, subduksi Jawa pun menampakkan sejumlah gejala yang khas. Misalnya busur pegunungan bawah laut yang sejajar dengan palung Jawa, yang dikenal sebagai busur luar Jawa. Busur luar Jawa terletak tepat di sisi utara palung Jawa dan sebagian diantaranya merupakan prisma/baji akresi. Prisma akresi merupakan akumulasi batuan sedimen campur-aduk yang tertumpuk dan tertekan kuat. Di antara busur luar dan daratan pulau Jawa terbentang cekungan yang juga ditimbuni sedimen, sebagai cekungan busur muka (forearc basin). Gejala lainnya adalah eksistensi vulkanisme yang memunculkan jajaran gunung-gemunung berapi andesitik. Jajaran tersebut membentuk busur dalam Jawa yang vulkanis (busur luar Jawa bersifat non vulkanis). Dan zona Benioff-Wadati sebagai zona sumber gempa bumi tektonik dengan kedalaman hiposentrum yang kian bertambah seiring kian menjauh dari palung. Gejala-gejala tersebut disebabkan oleh pergesekan antara sisi atas lempeng Australia yang telah menyelusup dengan sisi bawah lempeng Sunda yang membengkak. Kawasan pergesekan ini dikenal pula sebagai zona subduksi dan eksis hingga kedalaman 60 km dpl.

Zona subduksi Jawa merupakan sistem penunjaman yang bersifat tegak (frontal). Maksudnya, sumbu palung Jawa (yang berarah barat-timur) adalah relatif tegak lurus terhadap arah gerak lempeng Australia (yang berarah ke utara). Subduksi semacam ini membuat segenap gerakan lempeng Australia diakokmodasi sepenuhnya oleh zona subduksi Jawa. Sebagai akibatnya, maka tidak sempat terbentuk sistem patahan besar yang aktif di cekungan busur muka maupun daratan pulau Jawa sebagaimana halnya yang dialami pulau Sumatra. Sistem patahan besar aktif merupakan pusat konsentrasi gempa-gempa tektonik dangkal di daratan. Ini membawa pulau Jawa pada konsekuensi berikutnya, dimana gempa-gempa tektonik dangkal di daratan pulau Jawa tersebar di sejumlah titik, mengikuti sesar-sesar aktif nan pendek yang terbentuk di sana-sini.

Sekujur zona subduksi Jawa merupakan sumber gempa bumi tektonik potensial. Ia juga menjadi sumber potensial bagi tsunami, sepanjang syarat-syaratnya terpenuhi. Sebabnya adalah pergesekan antarlempeng (interplate), antara sisi atas lempeng Australia yang telah menyelusup dengan sisi bawah lempeng Sunda yang membengkak. Area pergesekan tersebut tidak memiliki pelumas sehingga subduksi kerap tersendat-sendat atau malah bahkan tertahan, bergantung pada sifat batuannya. Istilah teknisnya terkunci (locked). Bila subduksi terkunci sementara dorongan dari lempeng Australia selalu terjadi, maka zona subduksi akan turut terdorong ke mendekati daratan pulau Jawa (terdorong ke utara) secara perlahan mengikuti gerakan lempeng Australia. Gerakan tersebut tak dapat dirasakan manusia, namun bisa diindra dengan mudah melalui radas (instrumen) pengukur koordinat berakurasi tinggi. Situasi berbeda akan dijumpai bila subduksinya tak terkunci, maka zona subduksinya akan bergerak relatif berlawanan arah dibanding arah gerak lempeng Australia, yakni menuju samudera (ke arah selatan).

Gambar 5. Ilustrasi sederhana pematahan naik miring (oblique thrust) pada kerak bumi, antara sebelum pematahan (A) dan sesudah pematahan (B). Tanda panah hitam merupakan arah tegasan. Angka (1) menunjukkan besarnya lentingan (slip) sementara angka (2) menunjukkan besarnya gerak vertikal. Pematahan jenis inilah yang kerap terjadi pada zona subduksi dan bila melibatkan area yang sangat luas akan menghasilkan gempa besar atau gempa akbar yang disertai tsunami. Sumber: Sudibyo, 2015.

Gambar 5. Ilustrasi sederhana pematahan naik miring (oblique thrust) pada kerak bumi, antara sebelum pematahan (A) dan sesudah pematahan (B). Tanda panah hitam merupakan arah tegasan. Angka (1) menunjukkan besarnya lentingan (slip) sementara angka (2) menunjukkan besarnya gerak vertikal. Pematahan jenis inilah yang kerap terjadi pada zona subduksi dan bila melibatkan area yang sangat luas akan menghasilkan gempa besar atau gempa akbar yang disertai tsunami. Sumber: Sudibyo, 2015.

Subduksi yang terkunci ini tak bisa berlangsung untuk seterusnya. Apabila akumulasi dorongan lempeng Australia telah mulai melebihi ambang batas daya tahan batuan di area pergesekan antarlempeng, maka pematahan pun terjadilah. Terbitlah apa yang kita kenal sebagai gempa bumi tektonik. Gempa tektonik di zona subduksi umumnya memiliki sifat pematahan anjak miring (oblique thrust), mengikuti kemiringan lempeng Australia yang menyelusup. Saat gempa ini terjadi, maka kuncian pada subduksi sontak terlepas. Sehingga zona subduksi terdorong ke arah berlawanan dibanding semula, yakni ke arah samudera (menjauhi daratan pulau Jawa), dalam waktu relatif singkat. Jarak yang ditempuh zona subduksi kala terdorong ini disebut jarak lentingan (slip). Magnitudo (kekuatan) gempanya sangat bergantung pada zona rekahan atau zona-pecah, yakni luas area yang terpatahkan, dan besarnya pelentingan. Semakin luas area yang terpatahkan, maka semakin besar lentingan zona subduksinya dan semakin besar pula magnitudo gempanya.

Sebagai gambaran, gempa tektonik bermagnitudo 6 disebabkan oleh terbentuknya zona rekahan seluas 20 x 10 kilometer persegi yang melenting sejauh rata-rata 20 cm. Sementara gempa bermagnitudo 7 disebabkan oleh timbulnya zona-pecah yang lebih besar yakni seluas 50 x 25 kilometer persegi dengan lentingan rata-rata sebesar 100 cm. Dan gempa magnitudo 8 disebabkan oleh terbentuknya zona rekahan yang lebih luas lagi, yakni seluas 200 x 100 kilometer persegi, dengan jarak lentingan rata-rata adalah 200 cm. Mulai dari magnitudo 8 atau lebih, gempa tektonik di zona subduksi mendapatkan kehormatan menyandang nama gempa akbar atau gempa megathrust. Nama tersebut melekat karena pada magnitudo itu zona-pecahnya demikian besar dan begitu pula lentingannya.

Dengan sifat pematahan anjak miring, maka pelentingan pada gempa tektonik di zona subduksi selalu diimbangi oleh gerak vertikal (pengangkatan). Bila magnitudo gempanya besar (melebihi 6,5) dan sumber gempanya dangkal (kurang dari 50 kilometer dpl), maka gerak vertikal akan menyebabkan dasar laut di atas sumber gempa terangkat. Pengangkatan dasar laut inilah yang bisa memproduksi tsunami. Yakni saat kolom air laut di atas sumber gempa berolak dan berusaha memulihkan kembali kesetimbangannya. Pada dasarnya semakin besar magnitudo gempa di zona subduksi Jawa, maka akan semakin luas area dasar laut yang terangkat dan semakin besar pula pengangkatannya. Sehingga magnitudo tsunaminya pun akan semakin besar. Tetapi ada perkecualian. Sebuah gempa tektonik di zona subduksi dengan magnitudo yang lebih kecil dapat menghasilkan tsunami yang magnitudonya lebih besar. Inilah gempa-ayun. Mengacu pada kejadian tsunami 1994 dan 2006 di pulau Jawa serta tsunami 2010 di pulau Sumatra, maka perkecualian ini hanya akan terjadi apabila sumber gempa berada di prisma akresi. Dengan kata lain, perkecualian ini hanya muncul apabila episentrum gempa tepat berada di sisi palung.

Tiga Seismic Gap

Subduksi yang membentuk pulau Jawa telah berlangsung sejak 150 juta tahun silam. Dengan usia demikian tua maka subduksi Jawa dapat dikatakan relatif lebih padat dan stabil dibandingkan, katakanlah, subduksi sejenis di Samudera Pasifik seperti subduksi Chile maupun Alaska. Baik subduksi Chile atau Alaska dikenal sebagai pembangkit gempa akbar, masing-masing Gempa Chile 22 Mei 1960 (magnitudo 9,6) dan Gempa Alaska 27 Maret 1964 (magnitudo 9,2). Keduanya juga memproduksi tsunami dahsyat berenergi tinggi sehingga berkemampuan menyeberangi Samudera Pasifik tanpa mengalami susut energi signifikan. Akibatnya ia sanggup menghasilkan kehancuran dan kerusakan signifikan di pesisir yang berseberangan dari sumber tsunaminya, ribuan kilometer jauhnya.

Subduksi Jawa diperkirakan tidak memiliki potensi melepaskan gempa dan tsunami semacam itu. Jika umur subduksi dan kecepatan subduksi dipertimbangkan dengan menggunakan persamaan empiris Kanamori (Kanamori, 1986), maka dapat diprakirakan bahwa magnitudo maksimum dari gempa tektonik di zona subduksi Jawa adalah 7,5. Cukup mengesankan bahwa prakiraan ini ternyata hampir mendekati realitas, seperti diperlihatkan Gempa Banyuwangi 3 Juni 1994 (magnitudo 7,8) dan Gempa Pangandaran 17 Juli 2006 (magnitudo 7,7). Harus digarisbawahi bahwa prakiraan ini berdasar persamaan empiris. Sehingga tetap ada peluang subduksi Jawa untuk melepaskan gempa yang lebih besar bahkan hingga gempa akbar sekalipun.

Apalagi setelah kejadian Gempa akbar Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 yang meluluhlantakkan propinsi Aceh dan merenggut korban jiwa sangat besar, terdapat konsensus di di kalangan ilmuwan kegempaan bahwa zona subduksi dimanapun kini harus dipandang berbahaya (berpotensi melepaskan gempa besar/akbar dan tsunaminya) sebelum benar-benar terbukti tak berbahaya. Sebab dalam kasus Gempa Sumatra-Andaman 26 Desember 2004, zona subduksinya pun tergolong tua (yakni 55 hingga 90 juta tahun). Dan persamaan empiris Kanamori memprakirakan magnitudo maksimum dari gempa tektonik yang bisa dilepaskan zona subduksi Aceh berkisar pada 7 hingga 8. Nyatanya Gempa Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 justru jauh lebih besar, dengan magnitudo antara 9,1 hingga 9,3. Dari realitas inilah tak mengherankan bila dalam menyusun peta bahaya tsunami dan peta evakuasi tsunami di pesisir selatan pulau Jawa, magnitudo maksimum dari gempa hipotetis yang dijadikan dasar penyusunan peta (dengan multiskenario sumber) adalah 8,5.

Gambar 6. Distribusi episentrum gempa-gempa tektonik di pulau Jawa dan zona subduksinya, terhitung sejak 1 Januari 1980 TU hingga 1 Januari 2015 TU oleh Incorporated Research Institutions for Seismology (IRIS). Data dibatasi hanya pada gempa tektonik dengan kedalaman sumber kurang dari 70 kilometer dpl. Angka 2006 dan 1994 masing-masing menunjukkan dua sumber gempa masalalu di busur luar Jawa, yakni Gempa Pangandaran 17 Juli 2006 dan Gempa Bangyuwangi 3 Juni 1994. Sementara angka 2009 merupakan sumber gempa masalalu di cekungan busur muka, yakni Gempa Tasikmalaya 2 September 2009. Sumber: IRIS, 2015.

Gambar 6. Distribusi episentrum gempa-gempa tektonik di pulau Jawa dan zona subduksinya, terhitung sejak 1 Januari 1980 TU hingga 1 Januari 2015 TU oleh Incorporated Research Institutions for Seismology (IRIS). Data dibatasi hanya pada gempa tektonik dengan kedalaman sumber kurang dari 70 kilometer dpl. Angka 2006 dan 1994 masing-masing menunjukkan dua sumber gempa masalalu di busur luar Jawa, yakni Gempa Pangandaran 17 Juli 2006 dan Gempa Bangyuwangi 3 Juni 1994. Sementara angka 2009 merupakan sumber gempa masalalu di cekungan busur muka, yakni Gempa Tasikmalaya 2 September 2009. Sumber: IRIS, 2015.

Terhitung dari Selat Sunda di sebelah barat hingga Selat Bali di sebelah timur, panjang zona subduksi Jawa adalah 1.100 kilometer. Ini hanya sedikit lebih pendek ketimbang panjang zona rekahan Gempa Sumatra Andaman 26 Desember 2004 (yakni 1.300 kilometer). Bila segenap zona subduksi Jawa terpatahkan dalam satu peristiwa tunggal, dengan perkiraan lebar zona subduksinya 200 kilometer, maka gempa akbar yang dihasilkannya bisa mencapai magnitudo 9,2. Namun berkaca pada peristiwa tsunami (Tsunami 1994 dan Tsunami 2006) serta gempa-gempa besar abad ke-19 TU (Gempa 1840, Gempa 1867 dan Gempa 1875), maka patut diduga bahwa zona subduksi Jawa pun tersegmentasi (tersekat-sekat). Ini serupa dengan zona subduksi Sumatra.

Hanya saja jika segmentasi subduksi Sumatra telah teridentifikasi relatif lebih baik lengkap dengan siklus kegempaan maksimal tiap segmen, yang berulang setiap antara dua hingga enam abad sekali, tidak demikian halnya dengan Jawa. Busur luar Jawa yang sepenuhnya berada di bawah air laut, berbeda dengan busur luar Sumatra yang muncul di sejumlah lokasi sebagai pulau Simeulue, Nias, Enggano dan Kepulauan Mentawai. Akibatnya tiada radas pengukur koordinat geodetik (yakni GPS berpresisi sangat tinggi yang khusus digunakan untuk survei geodesi) yang bisa ditempatkan di busur luar Jawa untuk mengukur naik-turunnya busur luar Jawa dari waktu ke waktu. Juga tidak terdapat karang atol kecil (mikroatol) yang bisa digunakan untuk pengukuran serupa hingga ratusan atau bahkan ribuan tahun ke masa silam. Ketiadaan ini membuat para ilmuwan kegempaan dipaksa bersandar hanya pada lapisan-lapisan endapan tsunami purba. Aktivitas pencarian endapan tsunami purba dan pengukuran waktu pengendapannya (dengan teknik pertanggalan radioaktif) kini sedang gencar-gencarnya dilakukan di pesisir selatan Jawa oleh sejumlah lembaga terkait.

Beberapan temuan yang telah mengemuka misalnya bukti terjadinya peristiwa Tsunami 1921 dan Tsunami 1930 seperti dipaparkan tim ilmuwan gabungan BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) dan ITB (Institut Teknologi Bandung). Endapan kedua peristiwa tersebut tersingkap baik di pantai Teleng (Kabupaten Pacitan) dan pantai Prigi (Kabupaten Trenggalek). Juga endapan dari peristiwa tsunami besar empat abad silam yang tersingkap di pantai Cikembulan di dekat Pangandaran (Kabupaten Ciamis), seperti ditemukan oleh tim LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Tsunami besar yang menghasilkan endapan di Cikembulan dipastikan lebih besar ketimbang Tsunami 2006. Kandidat endapan tsunami purba juga telah ditemukan pada tiga pantai di Kabupaten Gunungkidul dan Pacitan oleh tim gabungan Maipark Indonesia dan ITB. Ketiga lokasi endapan tsunami purba tersebut adalah di pantai Sepanjang (kedalaman 1,8 meter), pantai Baron (kedalaman 1,7 meter) dan pantai Teleng (kedalaman 0,6 meter). Kandidat endapat tsunami purba juga telah diidentifikasi tim BMKG di pesisir Teluk Penyu. Di pantai Logending, endapan tersebut terletak pada jarak sekitar 1 kilometer dari garis pantai.

Gambar 7. Dua contoh endapan paleotsunami. Kiri: endapan paleotsunami di tepi sungai Cikembulan, Pangandaran (Kabupaten Ciamis), produk tsunami besar empat abad silam. Kanan: kandidat endapan paleotsunami di pesisir Teluk Penyu (Kabupaten Cilacap) sejauh sekitar 1 kilometer dari garis pantai (kanan). Sumber: Yulianto dkk, 2010 & Daryono, 2015.

Gambar 7. Dua contoh endapan paleotsunami. Kiri: endapan paleotsunami di tepi sungai Cikembulan, Pangandaran (Kabupaten Ciamis), produk tsunami besar empat abad silam. Kanan: kandidat endapan paleotsunami di pesisir Teluk Penyu (Kabupaten Cilacap) sejauh sekitar 1 kilometer dari garis pantai (kanan). Sumber: Yulianto dkk, 2010 & Daryono, 2015.

Dengan penelitian yang sedang berjalan, tentu masih jauh dari pengambilan kesimpulan tentang segmentasi zona subduksi Jawa dan karakteristiknya. Tetapi pada saat ini, secara kasar, dapatlah dikatakan bahwa zona subduksi Jawa khususnya di busur luar terbagi ke dalam sedikitnya empat segmen berbeda. Segmen pertama terletak di selatan Jawa Barat, membentang dari tepian Selat Sunda hingga ke segmen kedua. Segmen pertama ini dapat disebut sebagai segmen Sunda, karena berhadapan dengan selat Sunda. Sementara segmen kedua, sebutlah segmen Pangandaran, adalah segmen sepanjang sekitar 200 kilometer yang menjadi lokasi sumber Gempa Pangandaran 17 Juli 2006. Segmen ketiga terletak di selatan Jawa Tengah dan DIY serta (sebagian) Jawa Timur. Segmen ketiga ini dapatlah disebut segmen Jawa Tengah. Dan yang keempat adalah segmen sepanjang sekitar 200 kilometer yang menjadi sumber Gempa Banyuwangi 3 Juni 1994. Segmen ini juga bisa dinamakan segmen Banyuwangi.

Di antara keempat segmen tersebut, segmen Pangandaran dan segmen Banyuwangi telah melepaskan energinya dalam gempa tektonik besar yang juga memproduksi tsunami signifikan dan mematikan. Sementara segmen Sunda dan Jawa Tengah belum. Kedua segmen tersebut memiliki perbedaan yang sangat jelas dibanding segmen Pangandaran dan Banyuwangi dalam peta seismisitas regional. Karena jarang terjadi gempa tektonik di segmen Sunda maupun Jawa Tengah, khususnya sejak pencatatan gempa modern dimulai pada 1960-an TU, apabila dibandingkan dengan kawasan sekitarnya. Area di zona subduksi yang jarang mengalami gempa tektonik dikenal sebagai kawasan kesenjangan seismik atau seismic gap. Kawasan semacam ini dicurigai sedang menimbun energi, yang kelak bakal dilepaskan dalam gempa kuat ataupun malah gempa besar.

Gambar 8. Estimasi tiga kawasan kesenjangan seismik (seismic gap) di zona subduksi Jawa, semata berdasar pada rendahnya frekuensi kegempaan di tiga lokasi tersebut. Tiga seismic gap ini memiliki potensi untuk menjadi sumber gempa besar (atau bahkan malah gempa akbar) dan tsunami merusak bagi pesisir selatan pulau Jawa di masa yang akan datang. Sumber: Sudibyo, 2015 berbasis data IRIS, 2015 dan Natawidjaja, 2007.

Gambar 8. Estimasi tiga kawasan kesenjangan seismik (seismic gap) di zona subduksi Jawa, semata berdasar pada rendahnya frekuensi kegempaan di tiga lokasi tersebut. Tiga seismic gap ini memiliki potensi untuk menjadi sumber gempa besar (atau bahkan malah gempa akbar) dan tsunami merusak bagi pesisir selatan pulau Jawa di masa yang akan datang. Sumber: Sudibyo, 2015 berbasis data IRIS, 2015 dan Natawidjaja, 2007.

Seismic gap pada segmen Sunda memiliki panjang sekitar 260 kilometer. Bila lebarnya dianggap 100 kilometer, maka magnitudo maksimum gempa tektonik yang bisa dilepaskannya mencapai 8,4. Sementara seismic gap di segmen Jawa Tengah panjangnya pun hampir sama, yakni sekitar 250 kilometer. Dengan lebar seismic gap ini juga dianggap 100 kilometer, maka magnitudo maksimum gempanya juga berkisar pada angka 8,4. Selain kedua segmen tersebut, ada pula kawasan menyerupai seismic gap namun berposisi lebih dekat ke daratan, yakni di cekungan busur muka. Kawasan tersebut berlokasi di lepas pantai Kabupaten Cilacap, Kebumen, Purworejo dan Kulonprogo. Karena juga berada di selatan Jawa Tengah, maka kawasan seismic gap ini dapatlah disebut sebagai segmen Jawa Tengah 2. Luas seismic gap pada segmen Jawa Tengah 2 lebih kecil, dengan panjang sekitar 150 kilometer dan lebar sekitar 100 kilometer. Dengan dimensi tersebut magnitudo maksimum untuk gempa tektonik yang bisa dilepaskan dari segmen Jawa Tengah 2 bisa mencapai 8,2. Dari angka-angka prakiraan ini dapat dimengerti mengapa ilmuwan kegempaan menempatkan gempa hipotetik dengan magnitudo maksimum 8,5 sebagai basis penyusunan peta bahaya tsunami dan peta evakuasi tsunami di pesisir selatan pulau Jawa.

Dengan ketiga seismic gap tersebut, maka pulau Jawa khususnya bagian selatan lebih rentan akan guncangan oleh gempa tektonik kuat atau malah gempa besar. Pesisir selatan pulau Jawa juga tetap berpotensi dilimbur tsunami. Bila segmen Sunda melepaskan energinya, tsunami merusak yang dibentuknya berpotensi menghantam pesisir selatan Jawa Barat, mulai dari Ujungkulon hingga Garut. Sebaliknya bila segmen Jawa Tengah yang melepaskan energinya, tsunami merusak berpotensi menghajar garis pantai selatan Jawa Tengah dan DI Yogyakarta serta sebagian Jawa Timur. Yakni mulai dari Cilacap hingga Blitar. Pesisir selatan Jawa Tengah dan DIY khususnya di antara Cilacap hingga Bantul juga berpotensi terkena hantaman tsunami merusak bilamana segmen Jawa Tengah 2 melepaskan energinya.

Gambar 9. Peta tingkat risiko bencana tsunami bagi pulau Jawa seperti dipublikasikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Nampak jelas hampir segenap kabupaten/kota yang terletak di pesisir selatan pulau Jawa berisiko tinggi terhadap bencana tsunami. Sumber: BNPB, 2012.

Gambar 9. Peta tingkat risiko bencana tsunami bagi pulau Jawa seperti dipublikasikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Nampak jelas hampir segenap kabupaten/kota yang terletak di pesisir selatan pulau Jawa berisiko tinggi terhadap bencana tsunami. Sumber: BNPB, 2012.

Meski karakteristik lebih lengkap dari zona subduksi Jawa belum sepenuhnya dipahami, namun kemungkinan eksistensi tiga seismic gap tersebut telah memberikan gambaran risiko pesisir selatan pulau Jawa terhadap ancaman bencana alam gempa bumi tektonik (khususnya gempa kuat atau bahkan gempa besar) dan bencana tsunami. Dengan risiko tersebut, langkah-langkah mitigasi pun mulai disusun. Khususnya dalam hal mitigasi bencana tsunami, yang memang lebih terprediksi, dalam aras mitigasi non fisik. Kabupaten dan kota yang berbatasan langsung dengan garis pantai selatan pulau Jawa telah mulai menyusun peta bahaya tsunami dan peta evakuasi tsunaminya masing-masing.

Secara akumulatif BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) mencatat terdapat 23 kabupaten/kota yang berisiko terkena bencana tsunami di pulau Jawa. Secara akumulatif terdapat hampir 1,7 juta jiwa yang tinggal di pesisir kabupaten/kota yang berisiko tersebut. Berdasarkan jumlah jiwa yang berpotensi terpapar tsunami, Kota Cilacap (propinsi Jawa Tengah) adalah kawasan paling berisiko tsunami di pulau Jawa. Disusul dengan Kabupaten kebumen (juga di propinsi Jawa Tengah) pada peringkat kedua.

tsunami-jawa_kabupaten-terpaparBahan acuan:
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat; 2006; Rehabilitasi Bencana Alam Gempa Bumi dan Tsunami di Selatan Pulau Jawa ; 25 Juli 2006

Anugrah dkk; 2015; A Preliminary Study of Paleotsunami Deposit Along the South Coast of East Java: Pacitan-Banyuwangi; AIP Conf. Proc. 1658, 050003 (2015). Bandung, Indonesia, 11–12 November 2014.

Adriansyah dkk; 2011; Pre-eliminary Results of Paleotsunami Investigation on Gunungkidul and Pacitan; Joint Convention IAGI-HAGI 2011, Makassar, Indonesia, 26-29 September 2011.

Kanamori; 2006; Seismological Aspects of the December 2004 Great Sumatta-Andaman Earthquake; Earthquake Spectra, 22 (S3). S1-S12. ISSN 8755-2930.

BNPB; 2012; Masterplan Pengurangan Risiko Bencana Tsunami; Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Juni 2012.

Natawidjaja; 2007; Tectonic Setting Indonesia dan Pemodelan Gempa dan Tsunami; Pelatihan Pemodelan Tsunami Run-up, Kementerian Negara Riset dan Teknologi RI, 20 Agustus 2007.

Lavigne dkk; 2007; Field Observations of the 17 July 2006 Tsunami in Java; Nat. Hazards Earth Syst. Sci., 7 (2007), 177–183.

Synolakis dkk; 1995; Damage, Conditions of East Java 1994 of Tsunami Analyzed. Eos. Trans. AGU, vol. 76 no. 26 (June 1995), 257 & 261-261.

Yulianto dkk; 2010; Where the First Wave Arrives in Minutes, Indonesian Lessons on Surviving Tsunamis Near Their Sources; Intergovernmental Oceanographic Commission, United Nations Educational Scientific and Cultural Organisation, IOC-Brochure 2010-4.

Ramadhan: Gempa Madiun Utara, Cerita 4,2 skala Richter dari Klangon

Peristiwanya terjadi jelang akhir Juni kemarin, tepatnya pada Kamis 25 Juni 2015 Tarikh Umum (TU) bertepatan dengan 8 Ramadhan 1436 H. Menjelang tengah hari, tepatnya pukul 10:35 WIB, sebuah getaran lumayan mengguncang sebagian utara Kabupaten Madiun (propinsi Jawa Timur), tepatnya di kecamatan Saradan. Di desa Klangon, yang terletak di lereng selatan Gunung Pandan dan berdekatan dengan tapalbatas Madiun-Bojonegoro, getaran tersebut bahkan dirasakan cukup keras. Sehingga 58 unit rumah di dusun Pohulung di sisi barat desa Klangon dibikin retak-retak pada dinding dan lantainya. Retakan juga terlihat di beberapa bagian jalan raya di desa bersahaja tersebut. Tak pelak penduduk pun dibikin heboh, berlarian keluar dari kediaman masing-masing. Patut disyukuri bahwa meskipun gempa itu memproduksi sejumlah kerusakan ringan, namun belum sanggup merobohkan bangunan. Sehingga tak ada penduduk Klangon yang terluka. Getaran serupa dilaporkan juga dirasakan penduduk desa Klumutan, masih di kecamatan Saradan.

Gambar 1. Peta daratan Madiun bagian timur yang diapit oleh Gunung Wilis di selatan dan Gunung Pandan di utara. Epic_awal merupakan posisi episentrum gempa 25 Juni 2015 TU berdasarkan publikasi awal BMKG. Sedangkan epic_JISView adalah posisi episentrum hasil analisis lanjutan BMKG yang bertumpu pada perangkat lunak JISView. Desa Klangon dan Klumutan nampak cukup dekat dengan posisi episentrum hasil analisis lanjutan. Sumber: Sudibyo, 2015 dengan peta Google Earth dan data BMKG.

Gambar 1. Peta daratan Madiun bagian timur yang diapit oleh Gunung Wilis di selatan dan Gunung Pandan di utara. Epic_awal merupakan posisi episentrum gempa 25 Juni 2015 TU berdasarkan publikasi awal BMKG. Sedangkan epic_JISView adalah posisi episentrum hasil analisis lanjutan BMKG yang bertumpu pada perangkat lunak JISView. Desa Klangon dan Klumutan nampak cukup dekat dengan posisi episentrum hasil analisis lanjutan. Sumber: Sudibyo, 2015 dengan peta Google Earth dan data BMKG.

Sedikit kebingungan sempat menyeruak di jam-jam pertama pasca gempa. Publikasi awal Pusat Gempa Nasional (PGN) Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperlihatkan gempa tersebut memiliki magnitudo 4,2 skala Richter dengan episentrum terletak pada koordinat 7,73° LS 111,69° BT dan kedalaman sumber gempa 10 kilometer di bawah paras Bumi. Secara geografis episentrum tersebut terletak di kawasan Gunung Wilis, sebuah gunung berapi tua yang membayangi Kabupaten Madiun di sisi timur. Secara teoritis gempa tersebut menghasilkan getaran berintensitas 4 MMI (modified mercalli intensity) di sekujur Gunung Wilis dan dataran rendah sebelah utaranya. Serta getaran 2 hingga 3 MMI yang melampar hingga sejauh kawasan Gunung Lawu di sebelah barat, kawasan Gunung Kelud di sebelah timur, pesisir Samudera Indonesia (Hindia) di sebelah selatan dan daratan Bojonegoro di sebelah utara. Getaran 4 MMI tergolong getaran ringan, terasa oleh segenap orang yang ada dalam rumah baik dalam keadaan duduk maupun berdiri. Getaran yang sama juga bisa dirasakan oleh sejumlah orang (tidak semua) yang sedang beraktivitas di luar rumah. Sedangkan getaran 3 MMI tergolong lemah, hanya dirasakan sejumlah orang (tidak semua) di dalam rumah. Getarannya mirip dengan getaran yang diakibatkan melintasnya sebuah truk kala kita berdiri di pinggir jalan.

Baik getaran 4 MMI maupun 3 MMI tidak berpotensi merusak bangunan, meski dalam bentuk kerusakan ringan sekalipun. Inilah yang membingungkan. Desa Klangon berjarak sekitar 30 kilometer ke utara dari titik episentrum dan secara teoritis berada kawasan yang tergetarkan dengan skala 3 MMI. Seharusnya getaran tersebut tidak sampai merusak bangunan. Namun mengapa di dusun Pohulung terjadi kerusakan? Dan apa yang bisa Indonesia pelajari dari hal ini?

klangon-gempa_lantai-pvmbg-atas

Gambar 2. Retakan yang sangat kentara di lantai teras salah satu unit rumah yang terkena dampak gempa di dusun Pohulung, Klangon (atas). Retakan sejenis, namun membelah jalan beraspal secara diagonal di depan stasiun transmisi TVRI Gunung Pandan. Di tepi jalan sisi kanan nampak dinding pondasi pagar kompleks stasiun transmisi tersebut. Sumber: PVMBG, 2015.

Gambar 2. Retakan yang sangat kentara di lantai teras salah satu unit rumah yang terkena dampak gempa di dusun Pohulung, Klangon (atas). Retakan sejenis, namun membelah jalan beraspal secara diagonal di depan stasiun transmisi TVRI Gunung Pandan. Di tepi jalan sisi kanan nampak dinding pondasi pagar kompleks stasiun transmisi tersebut. Sumber: PVMBG, 2015.

Dua tim tanggap darurat bencana gempa bumi dari dua institusi yang berbeda, masing-masing dari BMKG serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), segera bergerak untuk menyelidiki. Dari kedua tim tersebutlah terkuak, gempa bumi itu sesungguhnya ber-episentrum tepat di desa Klangon.

Pematahan

Pasca publikasi awalnya, BMKG melanjutkan analisisnya akan gempa tersebut. Ini adalah prosedur standar yang dijalankan oleh lembaga-lembaga geofisika sejenis manapun di seluruh dunia. Analisis lanjutan bertujuan untuk mempertajam hasil analisis sebelumnya dengan melibatkan lebih banyak data yang disumbangkan jaringan seismometer. Dalam gempa yang merusak desa Klangon, analisis lanjutan dilaksanakan dengan berbasis perangkat lunak JISView dan data dari 12 stasiun geofisika di sekujur pulau Jawa bagian tengah dan timur serta pulau Madura. Hasilnya, magnitudo gempa relatif serupa dibanding publikasi awal (yakni 4,16 skala Richter). Namun posisi episentrumnya mengalami relokasi (pemindahan) menjadi ke koordinat 7,49° LS 111,736° BT. Kedalaman sumber gempanya juga mengalami relokasi, yakni hanya sedalam 1 kilometer dari paras Bumi. Secara geografis koordinat episentrum yang telah direlokasi itu kini berjarak hanya sekitar 7 kilometer dari desa Klangon.

Kedekatan ini mencurigakan. Apalagi jika memperhitungkan zona ketidakpastiannya, desa Klangon ternyata tercakup pula ke dalam kawasan episentrum. Mengingat terjadi kerusakan pada sejumlah rumah di dusun Pohulung, maka tim tanggap darurat BMKG dan PVMBG segera berkunjung ke sana untuk melakukan penyelidikan lapangan. Dijumpai temuan yang menarik. Selain di rumah-rumah penduduk, retakan-retakan juga nampak terlihat di halaman dan jalan. Retakan paling menonjol adalah yang melintang jalan demikian rupa di dekat stasiun transmisi TVRI Gunung Pandan. Bahkan pagar kompleks stasiun tersebut pun retak-retak. Menariknya lagi, kala titik-titik rumah yang rusak serta retakan-retakan di halaman dan jalan itu diplot ke dalam peta, semuanya berada dalam satu garis lurus. Garis tersebut berorientasi dari timur laut ke barat daya.

Gambar 3. Desa Klangon dari udara, dilihat dari selatan dengan arah pandang miring. Garis kuning takterputus menghubungkan unit-unit rumah yang retak-retak akibat gempa. Sementara garis titik-titik menandai estimasi lokasi zona rekahan sumber Gempa Klangon, dihitung dari posisi stasiun transmisi TVRI Gunung Pandan. Sumber: Sudibyo, 2015 dengan peta Google Earth dan data PVMBG.

Gambar 3. Desa Klangon dari udara, dilihat dari selatan dengan arah pandang miring. Garis kuning takterputus menghubungkan unit-unit rumah yang retak-retak akibat gempa. Sementara garis titik-titik menandai estimasi lokasi zona rekahan sumber Gempa Klangon, dihitung dari posisi stasiun transmisi TVRI Gunung Pandan. Sumber: Sudibyo, 2015 dengan peta Google Earth dan data PVMBG.

Dalam ilmu kegempaan, retakan-retakan di tanah (halaman dan jalan) yang berada dalam satu garis lurus merupakan ekspresi dari zona rekahan atau zona-pecah (rupture zone) dalam gempa bumi tektonik. Dan zona pecah tak lain merupakan ekspresi di paras bumi dari patahan sumber gempa. Gempa bumi tektonik memang disebabkan oleh terpatahkannya segmen kerak bumi dengan luasan tertentu di sepanjang garis sesar pada kedalaman tertentu. Pematahan tersebut menyebabkan lapisan-lapisan bebatuan dalam segmen tersebut saling bergeser atau melenting (slip), dengan orientasi pergeseran bergantung pada sifat pematahannya. Pada dasarnya semakin luas area yang terpatahkan, maka semakin besar pergeseran yang ditimbulkannya dan semakin besar pula magnitudo gempa tektoniknya. Pada umumnya gempa tektonik dengan magnitud antara 6 hingga 7 menyebabkan pergeseran hingga 1 meter. Sementara pada magnitudo 7 hingga 8 pergeserannya hingga 10 meter atau lebih. Zona rekahan umum dijumpai dalam gempa dangkal (gempa dengan kedalaman sumber kurang dari 60 kilometer), meski tak setiap gempa dangkal selalu memproduksi zona rekahan di paras Bumi diatasnya.

Retakan-retakan yang membentuk garis lurus kadang disebut pula sebagai moletrack. Sebab bentuknya menyerupai gundukan memanjang layaknya yang dihasilkan dari aktivitas tikus tanah atau hewan sejenis. Moletrack bisa berbentuk seperti itu apabila dalam orientasi pergeserannya terdapat komponen pergeseran naik (thrust) maupun turun (normal). Di Indonesia, contoh moletrack semacam ini dapat dijumpai misalnya dalam gempa ganda 6 Maret 2007 TU di propinsi Sumatra Barat. Dalam kasus Klangon, zona rekahannya tidak terlihat sebagai moletrack. Ia hanya berupa retakan saja. Sehingga tak ada dominasi komponen pergeseran naik maupun turun. Dan bisa dipastikan bahwa pergerakan zona rekahan tersebut didominasi sepenuhnya oleh komponen mendatar (strike-slip) yang bersifat mengiri (sinistral). Karena kedua sisi tanah di sepanjang zona rekahan ini bergerak mendatar dengan arah yang berlawanan, maka wajar bila bangunan yang berdiri tepat diatasnya akan retak-retak dindingnya. Fakta ini ditunjang pula oleh hasil analisis lanjutan BMKG, yang juga menyimpulkan bahwa gempa tersebut disebabkan oleh pematahan mendatar.

Gambar 4. Moletrack (panah putih) di sepanjang sesar besar Sumatra segmen Sumani yang terdeteksi di Kasiak (propinsi Sumatra Barat) dalam Gempa ganda Sumatra 6 Maret 2007 TU. Dua panah hitam menunjukkan arah pergeseran masing-masing segmen permukaan kerak bumi sebelah menyebelah moletrack. Dari moletrack ini diketahui bahwa di lokasi tersebut telah terjadi pergeseran mendatar sebesar 30 cm dan penurunan (di latar depan) sebesar 20 cm. Sumber: Daryono dkk, 2012.

Gambar 4. Moletrack (panah putih) di sepanjang sesar besar Sumatra segmen Sumani yang terdeteksi di Kasiak (propinsi Sumatra Barat) dalam Gempa ganda Sumatra 6 Maret 2007 TU. Dua panah hitam menunjukkan arah pergeseran masing-masing segmen permukaan kerak bumi sebelah menyebelah moletrack. Dari moletrack ini diketahui bahwa di lokasi tersebut telah terjadi pergeseran mendatar sebesar 30 cm dan penurunan (di latar depan) sebesar 20 cm. Sumber: Daryono dkk, 2012.

Di sisi lain, dengan eksistensi zona rekahan di dusun Pohulung desa Klangon, maka dapat dipastikan bahwa sumber gempa yang menggetarkan Kabupaten Madiun bagian utara tersebut berada di desa Klangon. Maka tak berlebihan jika gempa bumi tektonik itu disebut sebagai Gempa Klangon.

Bukan Vulkanik

Gempa Klangon tergolong unik. Jika hanya berdasar magnitudonya, gempa ini merupakan gempa yang kecil dan seharusnya tak menimbulkan kerusakan. Bahkan tepat di paras Bumi di atas sumber gempa sekalipun. Perhitungan menunjukkan getaran maksimum yang terjadi hanyalah berskala 5 MMI pada titik yang berada tepat di atas sumber gempa. Itu getaran yang cukup keras dan bisa dirasakan siapapun, namun belum sanggup untuk menghasilkan kerusakan ringan pada bangunan. Apalagi memproduksi retakan-retakan di jalan. Kerusakan yang terjadi lebih disebabkan karena adanya zona rekahan.

Gambar 5. Kiri: peta topografi daratan sebelah utara kota Bandung (propinsi Jawa Barat). Panah-panah hitam menunjukkan jejak sesar Lembang yang legendaris. Sesar ini terlihat sangat jelas sebagai jajaran bukit-bukit yang hampir lurus dalam arah barat-timur. Kanan: salah satu unit rumah di kampung Muril, desa Jambudipa, yang rusak berat akibat Gempa 28 Agustus 2011 TU meski gempanya tergolong ringan (3,3 skala Richter). Lokasi kampung Muril dinyatakan dalam tanda panah merah. Sumber: Asuh Umat Foundation, 2011.

Gambar 5. Kiri: peta topografi daratan sebelah utara kota Bandung (propinsi Jawa Barat). Panah-panah hitam menunjukkan jejak sesar Lembang yang legendaris. Sesar ini terlihat sangat jelas sebagai jajaran bukit-bukit yang hampir lurus dalam arah barat-timur. Kanan: salah satu unit rumah di kampung Muril, desa Jambudipa, yang rusak berat akibat Gempa 28 Agustus 2011 TU meski gempanya tergolong ringan (3,3 skala Richter). Lokasi kampung Muril dinyatakan dalam tanda panah merah. Sumber: Asuh Umat Foundation, 2011.

Selain penemuan zona rekahan, kedua tim juga menjumpai bahwa pada saat kejadian segenap warga Klangon merasakan getaran gempa. Sebaliknya di desa Klumutan, hanya sebagian warga yang merasakannya. Sementara sebagian lainnya bahkan tidak menyadari bahwa telah terjadi gempa. Sebelum Gempa Klangon ini selama sebulan terakhir warga Klangon telah merasakan sekurangnya 8 kali getaran gempa. Seluruhnya getaran yang ringan dan tidak menakutkan. Hanya getaran Gempa Klangon saja yang paling keras. Nampaknya getaran-getaran kecil sebelum Gempa Klangon merupakan gempa pendahuluan (foreshock). Dan pasca Gempa Klangon, juga dirasakan getaran-getaran yang kecil sebagai gempa susulan (aftershock).

Gempa kecil yang berdampak pada kerusakan dalam lingkup satuan administratif tertentu seperti desa tak hanya terjadi di Klangon saja. Di akhir Agustus 2011 TU, gempa sejenis juga merusak sejumlah rumah di lembur (kampung) Muril di desa Jambudipa, Kabupaten Bandung Barat (propinsi Jawa Barat). Dalam 24 jam sejak 28 Agustus 2011 TU, tiga gempa mengguncang dan menghasilkan getaran keras. Gempa terkeras memiliki magnitudo hanya 3,3 skala Richter sehingga merupakan gempa lemah. Namun getarannya telah sanggup merusak 103 unit bangunan dengan 30 diantaranya rusak parah. Kampung ini terletak di ujung barat sesar Lembang nan legendaris. Sesar Lembang merupakan sesar aktif yang membentang di sebelah utara kota Bandung. Sesar aktif yang menjuulur dari barat ke timur ini merupakan pembangkit gempa bumi tektonik potensial yang bisa dampaknya bisa terasakan sangat dalam di kota Bandung. Penelitian lebih terkait pergerakan, aktivitas, sejarah kegempaan dan potensi dampak gempa bumi mendatang dari sesar Lembang masih giat dilaksanakan.

Bagaimana dengan Gempa Klangon? Zona rekahan yang dihasilkannya merupakan penanda yang jelas bahwa gempa tersebut disebabkan oleh aktivitas pematahan pada sesar. Jadi bukan akibat aktivitas vulkanik maupun penyebab lainnya. Desa Klangon memang berada di lereng selatan Gunung Pandan. Namun status gunung tersebut adalah gunung berapi tua. Gunung berapi tua merupakan gunung berapi yang tak lagi memperlihatkan aktivitas pergerakan magmanya baik di permukaan maupun bawah permukaan. Namun begitu bentuk tubuhnya masih cukup jelas meskipun mulai dikikis erosi. Pada gunung berapi tua, magma mungkin masih ada dibawahnya. Namun ia tak sanggup lagi menerobos naik ke atas untuk menciptakan aktivitas vulkanik. Magma hanya sanggup memanaskan batuan disekelilingnya, yang lantas terhantar jauh sebagai panas bumi hingga akhirnya memanaskan air bawah tanah. Air yang terpanaskan lantas keluar dalam bentuk mata air panas/hangat sebagai salah satu gejala pasca vulkanik.

Gambar 6. Gunung Pandan dari kejauhan, diabadikan dari tepi jalan raya Caruban-Ngawi. Gunung Pandan merupakan salah satu gunung berapi tua Jawa Timur yang memiliki potensi panas bumi, meski belum diselidiki lebih lanjut dari sisi geologi, geofisika dan geokimia. Sebagai gunung berapi tua, Gunung Pandan tidak memiliki tanda-tanda aktivitas vulkanik. Sumber: Sudibyo, 2015.

Gambar 6. Gunung Pandan dari kejauhan, diabadikan dari tepi jalan raya Caruban-Ngawi. Gunung Pandan merupakan salah satu gunung berapi tua Jawa Timur yang memiliki potensi panas bumi, meski belum diselidiki lebih lanjut dari sisi geologi, geofisika dan geokimia. Sebagai gunung berapi tua, Gunung Pandan tidak memiliki tanda-tanda aktivitas vulkanik. Sumber: Sudibyo, 2015.

Terdapat empat mata air hangat di Gunung Pandan, dengan luah (debit) terbesar 2 liter per detik dan temperatur air permukaan tertinggi 36° Celcius (suhu udara berkisar 29 hingga 30° Celcius). Selain mata-mata air hangat, potensi panas bumi di Gunung pandan juga menyeruak dari keberadaan tanah hangat, yakni bagian tanah di permukaan yang suhunya lebih tinggi dibanding sekitarnya. Terdapat empat titik tanah hangat di Gunung Pandan. Dengan semua gejala panas bumi tersebut, perhitungan kasar memperlihatkan Gunung Pandan memiliki potensi menghasilkan energi panas bumi sebesar 50 MWe (megawatt elektrik). Namun sejauh ini belum dilakukan penyelidikan terkait lebih lanjut, khususnya dalam hal geologi, geofisika dan geokimianya.

Kembali ke Gempa Klangon, jika gempa ini disebabkan oleh pematahan pada sesar, sesar apa yang bertanggung jawab? Sejauh ini sesar tersebut belum bernama. Dalam peta geologi Gunung Pandan dan sekelilingnya memang terdapat sesar yang membujur dari timur laut ke barat daya. Sesar tersebut ada di sektor timur laut Gunung Pandan, sejarak sekitar 10 kilometer dari desa Klangon. Mungkin sesar tersebut sejatinya menerus hingga ke tanah dimana desa Klangon berdiri. Dari penuturan para sesepuh desa, getaran sekeras Gempa Klangon kali ini juga pernah mereka rasakan (di desa yang sama) antara 50 hingga 60 tahun silam. Jika getaran tersebut pun berasal dari sesar pembangkit Gempa Klangon kali ini, nampaknya sesar tersebut merupakan sesar aktif. Sehingga kelak di masa depan juga berpotensi melepaskan energinya kembali sebagai gempa tektonik.

Gambar 7. Retakan di depan stasiun transmisi Gunung Pandan. Tanda panah ditambahkan untuk menyajikan persepsi gerakan mendatar mengiri (sinistral) dalam Gempa Klangon. Sumber: Sumberharto (BMKG), 2015.

Gambar 7. Retakan di depan stasiun transmisi Gunung Pandan. Tanda panah ditambahkan untuk menyajikan persepsi gerakan mendatar mengiri (sinistral) dalam Gempa Klangon. Sumber: Sumberharto (BMKG), 2015.

Menyikapi hal tersebut, PVMBG mengeluarkan tiga rekomendasi yang ditujukan untuk penduduk desa Klangon pada khususnya dan masyarakat Kabupaten Madiun pada umumnya. Pertama, masyarakat dihimbau untuk tetap tenang serta mengikuti arahan dan informasi dari Pemerintah Kabupaten Madiun dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Madiun. Jangan terpancing isu yang tak bertanggung jawab. Kedua, agar masyarakat tetap waspada dengan kejadian gempa susulan. Dan yang ketiga, dengan adanya potensi kembali terjadinya gempa tektonik di desa Klangon dalam masa berpuluh tahun mendatang, maka penduduk desa Klangon diharapkan untuk mengikuti kaidah bangunan tahan gempa dalam mendirikan rumah atau bangunan lainnya.

Tambahan

Dalam catatan pak Salahuddin Husein, geolog dan staf pengajar Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada, sesar yang menjadi sumber Gempa Klangon mungkin berasosiasi (berhubungan) dengan sesar Pacul (Sumberejo). Sesar Pacul terpetakan di daerah Sumberejo, kecamatan Gonndang (Kabupaten Bojonegoro) di sektor timur laut Gunung Pandan oleh Evi Kurniawati (2014). Indikasi sesar Pacul dan sifat pergeserannya yang mengiri (sinistral) terlihat pada adanya bidang sesar, striasi (gores garis) dan zona breksiasi. Analisis kinematik memperlihatkan sesar Pacul nampaknya terbentuk oleh tegasan purba (paleostress) kompresif yang berarah utara-selatan.

Gambar 8. (a). Bidang sesar Pacul (garis kuning) dan zona breksiasinya seperti tersingkap dalam batu gamping lempung formasi Kalibeng di Sumberejo, sektor timur laut Gunung Pandan. Tanda (x) menunjukkan arah gerak segmen batuan di sisi bidang sesar yang tegaklurus memasuki bidang foto, sementara tanda (.) keluar dari bidang foto. (b). Striasi di dekat bidang sesar Pacul. Analisis kinematika menunjukkan gores-gores ini disebabkan oleh tegasan purba berorientasi utara-selatan. Sumber: Kurniawati, 2014 dalam Salahuddin Husein, 2015.

Gambar 8. (a). Bidang sesar Pacul (garis kuning) dan zona breksiasinya seperti tersingkap dalam batu gamping lempung formasi Kalibeng di Sumberejo, sektor timur laut Gunung Pandan. Tanda (x) menunjukkan arah gerak segmen batuan di sisi bidang sesar yang tegaklurus memasuki bidang foto, sementara tanda (.) keluar dari bidang foto. (b). Striasi di dekat bidang sesar Pacul. Analisis kinematika menunjukkan gores-gores ini disebabkan oleh tegasan purba berorientasi utara-selatan. Sumber: Kurniawati, 2014 dalam Salahuddin Husein, 2015.

Kemunculan sesar Pacul tak lepas dari gaya kompresi yang diterima pulau Jawa dari arah selatan. Gaya tersebut merupakan akibat dari desakan lempeng Australia khususnya di kala Pliosen (antara 5,3 hingga 3,6 juta tahun silam). Sesar Pacul juga tak bisa dilepaskan dari terbentuknya Gunung Pandan. Tumbuh dan berkembangnya Gunung Pandan menyebabkan daerah disekelilingnya bersifat elastis sehingga mampu meredam pergeseran blok-blok batuan di sekitar zona sesar. Akibatnya muncul deviasi lokal, yang membuat lipatan dan sesar di sekeliling Gunung Pandan meliuk-liuk memusat ke gunung. Di masa kini deviasi tersebut terlihat sangat jelas dalam rupa liukan-liukan jajaran perbukitan disekitarnya, yang membentuk struktur memusat ke arah Gunung Pandan.

Gambar 8. Peta topografi Gunung Pandan dan kawasan sekitarnya. Garis abu-abu putus-putus menunjukkan jajaran perbukitan yang seharusnya lurus, namun kemudian terbelokkan oleh tumbuh kembangnya Gunung Pandan pada masa aktifnya. Sedangkan garis merah menunjukkan posisi sesar Pacul, yang ditengarai berasosiasi dengan sesar penyebab Gempa Klangon. Sumber: Sudibyo, 2015 dengan peta Google Maps dan data dari Salahuddin Husein, 2015.

Gambar 8. Peta topografi Gunung Pandan dan kawasan sekitarnya. Garis abu-abu putus-putus menunjukkan jajaran perbukitan yang seharusnya lurus, namun kemudian terbelokkan oleh tumbuh kembangnya Gunung Pandan pada masa aktifnya. Sedangkan garis merah menunjukkan posisi sesar Pacul, yang ditengarai berasosiasi dengan sesar penyebab Gempa Klangon. Sumber: Sudibyo, 2015 dengan peta Google Maps dan data dari Salahuddin Husein, 2015.

Magma yang terus menyeruak sepanjang masa aktifnya Gunung Pandan, yakni hingga kala Pleistosen (antara 2,5 hingga 0,12 juta tahun silam), membuat kawasan di sebelah baratnya relatif stabil. Sebaliknya kawasan di sisi timurnya tidak sehingga masih terus bereaksi terhadap gaya kompresi dari selatan. Sebagai akibatnya lipatan dan sesar yang telah ada terdorong demikian rupa ke utara. Dorongan yang sama juga menyebabkan terbentuknya sesar-sesar baru di sisi timur Gunung Pandan

Referensi :

PVMBG. 2015. Laporan Singkat Tim Tanggap Darurat Gempabumi Madiun, 25 Juni 2015. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, 6 Juli 2015.

Daryono dkk. 2012. Twin Surface Ruptures of The March 2007 M>6 Earthquake Doublet on the Sumatran Fault. Bulletin of the Seismological Society of America, vol. 102 (Dec 2012) no. 6, 2356-2367.

Asah Umat Foundation. 2011. Cisarua Pasca Gempa.

Nestapa Hercules Tersungkur di Medan

Awalnya semua terlihat berjalan seperti biasa saja di Pangkalan TNI AU (Lanud) Soewondo, Medan (propinsi Sumatra Utara). Selasa 30 Juni 2015 Tarikh Umum (TU) jelang tengah hari, sebuah pesawat Hercules C-130B dengan nomor ekor A-1310 sedang meninggalkan apron menuju landas pacu. Ia bersiap mengudara meninggalkan Lanud yang dulunya juga melayani penerbangan sipil sebagai bandara Polonia, sebelum berpindah ke bandara Kuala Namu yang lebih representatif. Penerbangan ini adalah bagian dari penerbangan rutin angkutan udara militer TNI AU, yang bermula dari Lanud Utama (Lanuma) Abdulrahman Saleh, Malang (propinsi Jawa Timur). Sebelum Herky (nama populer Hercules C-130 di kalangan militer) tiba di Medan, ia singgah di Lanuma Halim Perdanakusuma (propinsi DKI Jakarta) serta Lanud Roesmin Noerjadin, Pekanbaru dan Lanud Dumai (keduanya di propinsi Riau). Dari Medan, Herky berencana melanjutkan perjalanannya ke Lanud Tanjung Pinang di pulau Bintan dan Lanud Ranai di pulau Ranai (keduanya di propinsi Kepulauan Riau) sebelum mengakhiri perjalanan di Lanud Supadio, Pontianak (propinsi Kalimantan Barat). Selain mengangkut logistik, Herky juga mengangkut pasukan TNI AU untuk pengamanan perbatasan.

Gambar 1. Bangkai pesawat Hercules C-130B A-1310 TNI AU dilihat dari udara. Pesawat naas ini jatuh dalam kawasan yang relatif sempit dalam posisi terbalik di jalan Jamin Ginting, Medan (propinsi Sumatra Utara) pada Selasa 30 Juni 2015 TU. Ia hanya menyisakan bagian ekornya sebagai puing terbesar. Sumber: Reuters, 2015.

Gambar 1. Bangkai pesawat Hercules C-130B A-1310 TNI AU dilihat dari udara. Pesawat naas ini jatuh dalam kawasan yang relatif sempit dalam posisi terbalik di jalan Jamin Ginting, Medan (propinsi Sumatra Utara) pada Selasa 30 Juni 2015 TU. Ia hanya menyisakan bagian ekornya sebagai puing terbesar. Sumber: Reuters, 2015.

Jarum jam beringsut sedikit dari pukul 12:08 WIB saat menara Lanud Soewondo mempersilahkan burung besi berbobot mati 34,4 ton ini lepas landas. Segera Herky berlari di landas pacu, kian lama kian kencang hingga akhirnya melampaui V1. V1 adalah ambang batas kecepatan minimal sebuah pesawat apapun saat masih di landas pacu yang menentukan apakah pesawat bisa membatalkan lepas landas ataukah tidak. Saat kecepatannya kurang dari V1, sebuah pesawat masih bisa direm hingga berhenti sempurna dalam kondisi tetap di landas pacu. sebaliknya kala kecepatannya melebihi V1 maka pesawat itu harus lepas landas, apapun yang terjadi. Sebab jika direm maka pesawat takkan kunjung berhenti meski landas pacu telah terlampaui. Begitu kecepatan V1 terlampaui maka pesawat segera mencapai kecepatan Vr (rotary), yakni ambang batas kecepatan dimana hidung pesawat mulai terangkat sebagai pertanda awal ia mengudara. Saat itu si Herky aman-aman saja melewati V1 maupun Vr. Ia pun mengudara dari landas pacu 23 menuju ke arah barat daya.

Tapi dua menit kemudian semua berubah menjadi petaka. Hanya sekitar 5 kilometer dari landas pacu, Herky tersungkur mencium Bumi. Petaka terjadi.

Tangguh

Hercules C-130 adalah salah satu pesawat militer terpopuler dan digunakan di lebih dari 60 negara di dunia. Dibangun Lockheed (kini Lockheed Martin) pada 1956 TU sebagai pesawat angkut berat taktis intrateater berjangkauan maksimum 3.800 kilometer, Herky memiliki sayap lurus yang dicantoli empat mesin turboprop bertenaga besar sehingga mampu mengangkut muatan hingga seberat 33 ton. Bila awalnya Herky dibangun sebatas untuk angkutan militer, kini ia telah berkembang menjadi tak kurang dari 40 varian dengan beragam tujuan. Mulai dari pesawat penyadap sinyal elektronik, peringatan dini, tanker (pengisi bahan bakar) udara, patroli maritim, pengintai, pesawat bersenjata berat (gunship), pesawat induk bagi PUNA (pesawat udara nir awak) atau drone hingga sebagai pesawat medis maupun stasiun radio/televisi terbang untuk keperluan perang urat syaraf.

Gambar 2. 7 pesawat Hercules C-130 TNI AU dari berbagai generasi nampak berbaris di Lanuma Halim Perdanakusuma (propinsi DKI Jakarta) pada satu kesempatan. Ketujuh pesawat ini adalah bagian dari armada Hercules C-130 yang dimiliki TNI AU, menjadikan Indonesia sebagai operator Hercules C-130 terbesar di belahan Bumi selatan. Sumber: Defense Studies, 2014

Gambar 2. 7 pesawat Hercules C-130 TNI AU dari berbagai generasi nampak berbaris di Lanuma Halim Perdanakusuma (propinsi DKI Jakarta) pada satu kesempatan. Ketujuh pesawat ini adalah bagian dari armada Hercules C-130 yang dimiliki TNI AU, menjadikan Indonesia sebagai operator Hercules C-130 terbesar di belahan Bumi selatan. Sumber: Defense Studies, 2014

Meski fungsi utamanya adalah pesawat militer, namun dengan beban yang dapat diangkutnya dan kemampuannya untuk lepas landas/mendarat di berbagai tipe landasan membuat Hercules C-130 juga menjadi pesawat favorit untuk melayani kepentingan sipil. Misalnya dalam tahap tanggap darurat sebuah bencana berskala besar, Herky banyak berperan mengangkut bantuan kemanusiaan dan relawan ke lokasi terdampak. Bahkan Herky juga menjadi kuda beban bagi misi-misi penyelidikan yang berbahaya. Misalnya seperti yang dilakukan badan kelautan dan cuaca Amerika Serikat atau NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration), yang memanfaatkan salah satu varian Hercules C-130 untuk terbang menembus ke dalam pusat (mata badai) sebuah badai tropis guna mengestimasi kekuatan, arah gerakan dan potensi bahayanya.

Hercules C-130 merupakan salah satu pesawat militer yang tahan banting. Keamanannya teruji. Dalam catatan AU Inggris (Royal Air Force), tingkat kecelakaan yang dimiliki Herky adalah 1 kejadian dalam tiap 250.000 jam terbang, menjadikannya salah satu pesawat teraman yang pernah mereka operasikan. Catatan dari AU Amerika Serikat (US Air Force) pun hampir senada. Di negeri Paman Sam itu, tingkat kehilangan Herky sejak dioperasikan hingga tahun 1989 TU adalah berkisar 5 %. Ini hampir sebanding dengan tingkat kehilangan pesawat-pesawat sipil komersial di daratan Amerika Serikat yang sebesar 1 hingga 2 %. Bandingkan dengan tingkat kehilangan pesawat pembom strategis B-52 Stratofortress, yang mencapai 10 %. Bahkan jet-jet tempur seperti F-4 dan F-111 memiliki tingkat kehilangan jauh lebih tinggi, yakni 20 %.

Dengan cerita sukses dan daya tahan seperti itu, bagaimana Herky bisa mencium bumi di Medan?

Mesin

Sejauh ini berdasarkan keterangan para saksi mata dan pernyataan-pernyataan TNI AU yang dipublikasikan di media massa, musibah Hercules C-130 di Medan terjadi hanya sekitar 2 menit pasca lepas landas. Awalnya semua terlihat normal, Herky mengudara ke barat daya. Ia nampak hendak mengikuti lintasan pesawat-pesawat yang mengudara dari Lanud Soewondo pada umumnya, yakni menempuh sisi selatan Jalan Jamin Ginting (sisi kiri jalan, jika dilihat dari Lanud). Namun segera menara Lanud menerima pesan dari pilot bahwa Herky hendak return-to-base, sebuah prosedur standar untuk secepatnya kembali ke landas pacu karena adanya masalah teknis yang tak bisa ditangani selagi pesawat tetap di udara. Segera sesudahnya komunikasi terputus. Sejurus kemudian kabar beredar bahwa sebuah pesawat telah jatuh di jalan Jamin Ginting.

Gambar 3. Perkiraan lintasan yang ditempuh Hercules C-10B A-1310 dalam penerbangan terakhirnya yang berujung bencana di Medan, direkonstruksi berdasarkan keterangan para saksi mata yang dipublikasikan di sejumlah media massa. Awalnya pesawat mengikuti lintasan di sisi selatan jalan Jamin Ginting. Namun di atas perumahan Royal Garden, ia mulai menikung ke kanan dan mulai kehilangan ketinggian. Tepat di atas gedung Sekolah Bethany Medan, pesawat memapas antena radio Joy FM sebelum kemudian jatuh sejarak 260 meter kemudian. Sumber: Sudibyo, 2015 dengan basis peta Google Earth.

Gambar 3. Perkiraan lintasan yang ditempuh Hercules C-10B A-1310 dalam penerbangan terakhirnya yang berujung bencana di Medan, direkonstruksi berdasarkan keterangan para saksi mata yang dipublikasikan di sejumlah media massa. Awalnya pesawat mengikuti lintasan di sisi selatan jalan Jamin Ginting. Namun di atas perumahan Royal Garden, ia mulai menikung ke kanan dan mulai kehilangan ketinggian. Tepat di atas gedung Sekolah Bethany Medan, pesawat memapas antena radio Joy FM sebelum kemudian jatuh sejarak 260 meter kemudian. Sumber: Sudibyo, 2015 dengan basis peta Google Earth.

Saksi mata menyebut Herky mulai berbelok ke kanan saat ia tiba di atas perumahan Royal Garden. Selain bertukar arah menjadi terbang ke barat laut, Herky juga terus menurun. Tepat sebelum melintas di atas jalan Jamin Ginting, Hercules C-130 itu memapas antena radio Joy FM (tinggi sekitar 35 meter dari tanah) yang berdiri di atas gedung Sekolah Bethany Medan yang berlantai 4. Herky lantas berguling di udara lalu menukik hingga jatuh di sisi utara jalan, menimpa kompleks ruko yang sedang dibangun dan oukup (spa/mandi uap tradisional suku Karo) BS 1. Herky jatuh dalam posisi terbalik.

Karena Hercules C-130 A-1310 adalah pesawat militer, maka penyelidikan terhadap kecelakaannya dilaksanakan oleh Panitia Penyelidik Kecelakaan Pesawat Terbang (PPKPT) atau sejenisnya yang dibentuk oleh TNI AU. Sehingga tidak diselidiki Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Kementerian Perhubungan RI, karena wewenang KNKT terbatas hanya pada kejadian-kejadian di lingkup penerbangan sipil. Dan tidak seperti penyelidikan KNKT yang laporan finalnya selalu disampaikan ke publik, hasil penyelidikan PPKPT hanya disampaikan secara tertutup ke lingkup militer khususnya TNI AU. Namun demikian prosedur penyelidikannya relatif sama. Kecuali tanpa analisis kotak hitam baik perekam data penerbangan (FDR) maupun perekam suara di kokpit (CVR), karena keduanya memang tak dipasang pada pesawat-pesawat militer Indonesia. Maka penyelidik harus berkonsentrasi penuh dalam menganalisis puing-puing pesawat sembari merekonstruksi keterangan saksi-saksi mata.

Gambar 4. Perkiraan lintasan yang ditempuh Hercules C-10B A-1310 khususnya pada ruas antara gedung Sekolah Bethany Medan dan titik jatuhnya yang berjarak lurus 260 meter dalam pandangan miring. Saat lewat di atas Bethany, pesawat memapas antena radio Joy FM dan mungkin membuatnya terguling di udara sebelum kemudian jatuh. Terbuka juga kemungkinan bahwa pilot hendak mendaratkan pesawat naas tersebut di lahan kosong. Sumber: Sudibyo, 2015 dengan basis peta Google Earth.

Gambar 4. Perkiraan lintasan yang ditempuh Hercules C-10B A-1310 khususnya pada ruas antara gedung Sekolah Bethany Medan dan titik jatuhnya yang berjarak lurus 260 meter dalam pandangan miring. Saat lewat di atas Bethany, pesawat memapas antena radio Joy FM dan mungkin membuatnya terguling di udara sebelum kemudian jatuh. Terbuka juga kemungkinan bahwa pilot hendak mendaratkan pesawat naas tersebut di lahan kosong. Sumber: Sudibyo, 2015 dengan basis peta Google Earth.

Puing-puing Herky di Medan hanya menyisakan bagian ekor saja sebagai satu-satunya puing berukuran besar. Namun dari posisi keempat sudut pesawat (yakni ekor, kedua ujung sayap dan hidung pesawat), seluruh puingnya terkonsentrasi di kawasan yang sempit, katakanlah jika dibandingkan dengan puing-puing AirAsia QZ8501. Sehingga pesawat dalam keadaan utuh saat mencium Bumi. Ia tidak terpecah-belah di udara, seperti misalnya yang terjadi dalam kecelakaan Malaysia Airlines MH17 yang dihajar rudal antipesawat. Kawasan yang sempit tersebut juga mengindikasikan bahwa Herky jatuh dalam kecepatan yang relatif rendah. Berdasarkan puing mesin-mesinnya, TNI AU juga melansir bahwa Herky mungkin mengalami mati mesin di sayap sebelah kanan. Sehingga pesawat pun perlahan menikung ke kanan dan mulai kehilangan ketinggian. Ini nampaknya yang mendasari pilot meminta izin untuk return-to-base. Antena radio Joy FM dianggap memperparah situasi saat Herky bermasalah itu memapasnya, karena dianggap menyebabkan Herky bermasalah itu kehilangan keseimbangannya di udara hingga mempercepat kejatuhannya. Meski di sisi lain terbuka juga kemungkinan bahwa pilot dan kru Herky mencoba mengarahkan pesawat naas itu ke sini karena di sebelah timur kompleks ruko tersebut terdapat lahan kosong yang luas. Bila kemungkinan ini yang terjadi, nampaknya pilot menyadari pesawaat naas itu sulit untuk kembali ke landas pacu sehingga ia berusaha untuk mendarat darurat di lahan apapun yang tersedia. Sekaligus mengurangi seminimal mungkin potensi korban di darat, sebuah harapan yang tak terjadi.

Dengan adanya dugaan kerusakan mesin, nampaknya musibah Hercules C-130 di Medan mirip dengan musibah di Condet (propinsi DKI Jakarta) pada 5 Oktober 1991 TU silam. Selain kemiripan dalam hal korban jiwa (Condet: 135 orang, Medan: untuk sementara 130 orang), jatuhnya Hercules C-130 dengan nomor ekor A-1324 di Condet pun diawali oleh kerusakan mesin. Sesaat setelah mengudara dari landas pacu Lanuma Halim Perdanakusuma ke arah barat daya, mesin di sayap kiri rusak. Pesawat pun menikung ke kiri dan kehilangan ketinggian. Setelah lewat di dekat SMP 49 Jakarta dan nyaris memapas pucuk-pucuk pohon, Herky jatuh ke kompleks balai latihan kerja (BLK) khusus las di Condet.

Gambar 5. Perkiraan lintasan Hercules C-10 A-124 yang jatuh di Condet, Jakarta Timur (propinsi DKI Jakarta) pada 5 Oktober 1991 TU. Salah satu faktor yang membuat pesawat naas pengangkut pasukan yang baru saja usai mengikuti peringatan HUT TNI (dulu ABRI) itu jatuh adalah kerusakan mesin sebelah kiri. Sumber: Sudibyo, 2015 dengan basis peta Google Earth.

Gambar 5. Perkiraan lintasan Hercules C-10 A-124 yang jatuh di Condet, Jakarta Timur (propinsi DKI Jakarta) pada 5 Oktober 1991 TU. Salah satu faktor yang membuat pesawat naas pengangkut pasukan yang baru saja usai mengikuti peringatan HUT TNI (dulu ABRI) itu jatuh adalah kerusakan mesin sebelah kiri. Sumber: Sudibyo, 2015 dengan basis peta Google Earth.

Kinerja PPKT atau tim sejenisnya diharapkan mampu untuk menjawab faktor-faktor yang berkontribusi dalam musibah Hercules di Medan. Mengingat kecelakaan pesawat terbang, baik di lingkup sipil maupun militer, tak pernah disebabkan oleh faktor tunggal. selalu ada beragam faktor yang berbelit dan berkoalisi hingga akhirnya berujung petaka. PPKPT atau tim sejenis diharapkan juga mampu menguak adakah relasi antara usia pesawat dengan potensi kecelakaan. Sebab dalam inventori TNI AU saat ini masih terdapat 8 Herky yang usianya setara dengan Herky yang jatuh di Medan. Ke-8 Hercules C-130B tersebut saat ini dikandangkan (grounded) hingga kelak PPKPT atau tim sejenisnya telah mengambil kesimpulan final akan musibah Hercules C-130 di Medan.

Referensi :

Defense Studies. 2014. Beberapa Fakta C-130 Hercules TNI AU. Publikasi 21 Februari 2014, diakses 3 Juli 2015.

Ramelan. 2012. Yang Tersisa dari Musibah Sukhoi. RamalanIntelejen.Net, publikasi 12 Mei 2012, diakses 3 Juli 2015.

Ramadhan: Narasi Detik Kabisat di akhir Juni

Rabu, 1 Juli 2015 Tarikh Umum (TU) pagi. Mari perhatikan laman jam atom di dunia maya. Misalnya yang dikelola NIST (National Institute of Standards and Technology) dan USNO (United States Naval Observatory) dari Amerika Serikat di sini. Jangan lupa sesuaikan zona waktunya, bagi Indonesia ada tiga yakni WIB (Waktu Indonesia bagian Barat) yang setara UTC + 7, WITA (Waktu Indonesia bagian Tengah) yang setara UTC + 8 dan WIT (Waktu Indonesia bagian Timur) yang setara UTC + 9. Atau bisa juga melongok laman jam atom Indonesia yang dikelola BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) di sini.

Perhatikan baik-baik terutama saat jelang pukul 07:00 WIB pagi. Akan muncul tampilan aneh, dimana setelah pukul 06:59:59 WIB (07:59:59 WITA atau 08:59:59 WIT) maka akan disusul dengan pukul 06:59:60 WIB (07:59:60 WITA atau 08:59:60 WIT). Setelah itu barulah berlanjut dengan pukul 07:00:00 WIB (08:00:00 WITA atau 09:00:00 WIT). Keanehan ini hanya akan terjadi pada hari itu saja. Dan di hari itu pula, sehari semalam akan terdiri dari 86.401 detik. Bukan 86.400 detik seperti hari-hari sebelum ataupun sesudahnya. Aneh? Ya, inilah fenomena yang disebut sebagai detik kabisat atau leap second. Fenomena yang hari-hari ini sedang (mencoba) membikin heboh jagat.

Gambar 1. Bagaimana detik kabisat akan terjadi pada Rabu 1 Juli 2015 TU. Dalam ilustrasi ini untuk wilayah waktu Indonesia bagian Barat (WIB), dimana detik kabisat akan ditambahkan sebelum pukul 07:00:00 WIB. Sumber: Sudibyo, 2015.

Gambar 1. Bagaimana detik kabisat akan terjadi pada Rabu 1 Juli 2015 TU. Dalam ilustrasi ini untuk wilayah waktu Indonesia bagian Barat (WIB), dimana detik kabisat akan ditambahkan sebelum pukul 07:00:00 WIB. Sumber: Sudibyo, 2015.

Bujur Utama

Ada detik kabisat, ada pula tahun kabisat. Kabisat secara harfiah bermakna ‘panjang’ atau ‘tambahan.’ Sehingga tahun kabisat adalah tahun yang lebih panjang (dibandingkan normalnya). Terminologi tahun kabisat tentu lebih familier di telinga kita. Di bangku sekolah kita belajar bahwa untuk kalender Tarikh Umum (kalender Masehi atau Gregorian) yang berbasis penanggalan Matahari (solar), tahun kabisat adalah tahun yang jumlahnya harinya 366 hari. Tahun kabisat tersebut yang terjadi setiap 4 tahun sekali pada angka tahun yang habis dibagi 4. Kecuali bagi tahun abad (yakni tahun-tahun yang dua angka terakhirnya adalah nol dan nol), yang hanya terjadi saat angka tahun tersebut habis dibagi 400. Bagi kalender Hijriyyah yang berbasis penanggalan Bulan (lunar), tahun kabisat adalah tahun yang berumur 355 hari (normalnya 354 hari). Dan bagi kalender bangsa Cina yang berbasis penanggalan Bulan-Matahari (lunisolar), tahun kabisatnya adalah saat dalam setahun terdapat 13 bulan kalender (normalnya 12 bulan kalender).

Sebaliknya istilah detik kabisat jauh kurang populer. Apalagi ia baru diperkenalkan pada empat dasawarsa silam, tepatnya pada 1972 TU. Detik kabisat secara harfiah bermaka detik tambahan (detik yang ditambahkan). Sehingga hari itu akan sedetik lebih lama ketimbang hari yang normal. Mengapa sedetik lebih lama? Adakah konsekuensinya?

Detik kabisat memang baru berlaku dalam empat dasawarsa terakhir. Namun akarnya menjulur hingga ke lebih seabad silam. Tepatnya ke tahun 1884 TU. Inilah masa tatkala dunia sedang bersemangat untuk bergerak lebih cepat. Transportasi jarak jauh telah menjadi kebutuhan dengan bertulangpunggungkan pada armada kapal bermesin. Di darat, jaringan rel kereta api mulai bertumbuh antar negara menyeberangi benua. Jaringan komunikasi global pun mulai lahir meski dalam wujudnya yang paling sederhana: telegraf. Sehingga informasi dari suatu tempat bisa cepat tersalurkan ke penjuru dunia. Kala Gunung Krakatau di Selat Sunda (Indonesia) meletus sangat dahsyat pada 27-29 Agustus 1883 TU sebagai Letusan Krakatau 1883, informasinya tiba di London (Inggris) hanya dalam beberapa jam kemudian. Berbeda halnya dengan Letusan Tambora 1815 pada 68 tahun sebelumnya, yang butuh waktu berminggu-minggu untuk tiba informasinya di tanah Eropa.

Berbagai masalah terkait sistem waktu pun mulai dirasakan pada saat itu. Ya, penggunaan kalender Tarikh Umum (yang semula lebih merupakan kalender religius) mulai meluas dengan tetap mengacu pada aturan-aturan yang dibakukan dalam reformasi Gregorian pada 1582 TU. Problema muncul seiring berkembangnya penjelajahan samudera hingga mengelilingi dunia. Kala kapal-kapal pengeliling dunia kembali ke pelabuhan tempat mereka bertolak sebelumnya, awaknya mendapati bahwa hari dan tanggal yang mereka perhitungkan selama pelayaran keliling dunia selalu berselisih sehari dibandingkan hari dan tanggal di pelabuhan. Pada aras yang sama, setiap negara yang memiliki armada kapal jarak jauh menggunakan garis bujur acuan sendiri-sendiri. Maka tak jarang dua kapal dari dua negara berbeda yang sedang singgah di pelabuhan yang sama memiliki koordinat geografis yang sangat berbeda bagi pelabuhan tersebut. Problema yang mirip juga dijumpai dalam transportasi kereta api. Kereta api menghubungkan banyak kota, yang masing-masing memiliki waktu lokalnya sendiri-sendiri.

Muncul kebutuhan untuk menggabungkan segenap waktu lokal tersebut dalam satu kesatuan. Waktu lokal terkait dengan garis-garis bujur. Sementara tak ada metode obyektif untuk menetapkan garis-garis bujur Bumi, sebagaimana halnya penetapan garis-garis lintang yang dapat dilakukan secara eksak dengan pengamatan kedudukan benda-benda langit. Maka penetapan garis-garis bujur Bumi beserta segenap implikasinya hanya bisa dilakukan atas dasar kesepakatan antar manusia belaka.

Gambar 2. Halaman utara kompleks Royal Observatory of Greenwich, London (Inggris). Garis meridian Greenwich nampak divisualisasikan dengan lempengan baja di tanah. Sementara seberkas sinar laser hijau (panjang gelombang 5.20 Angstrom) disorotkan tepat di atasnya, berimpit dengan meridian Greenwich (atas). Berkas laser tersebut dapat dilihat hingga sejauh 58 kilometer, bila cuaca cerah. Berkas laser yang disorotkan ke utara tepat lewat di atas Lapangan Meridian di dekat stasiun Stradford. Sebuah monumen penanda garis meridian Greenwich didirikan di sini (bawah). Sumber: The Greenwich Meridian, diakses 29 Juni 2015 TU.

Gambar 2. Halaman utara kompleks Royal Observatory of Greenwich, London (Inggris). Garis meridian Greenwich nampak divisualisasikan dengan lempengan baja di tanah. Sementara seberkas sinar laser hijau (panjang gelombang 5.20 Angstrom) disorotkan tepat di atasnya, berimpit dengan meridian Greenwich (atas). Berkas laser tersebut dapat dilihat hingga sejauh 58 kilometer, bila cuaca cerah. Berkas laser yang disorotkan ke utara tepat lewat di atas Lapangan Meridian di dekat stasiun Stradford. Sebuah monumen penanda garis meridian Greenwich didirikan di sini (bawah). Sumber: The Greenwich Meridian, diakses 29 Juni 2015 TU.

Itulah yang melandasi terselenggaranya rangkaian pertemuan internasional terkait. Diawali dengan Konferensi Geografi Internasional 1871 di Antwerp (Belgia). Dalam konferensi yang ketiga, yang dilaksanakan di Venesia (Italia) pada 1881 TU, penetapan garis bujur nol atau garis bujur utama (meridian utama) yang universal dan penyatuan waktu standar disepakati sebagai sebuah kebutuhan mutlak. Konferensi Geodesi Internasional ketujuh yang diselenggarakan di Roma (Italia) pada Oktober 1883 TU membahas detail teknisnya terkait masalah tersebut lebih lanjut dan menelurkan butir-butir pembahasan diplomatik bagi pertemuan selanjutnya. Puncaknya adalah Konferensi Meridian Internasional 1884 yang diselenggarakan di Washington (Amerika Serikat) pada Oktober 1884 TU. Konferensi pemuncak itu dihadiri oleh 41 diplomat dari 26 negara yang merepresentasikan dunia masa itu. Dunia Islam diwakili oleh imperium Turki Utsmani, satu-satunya negara Islam yang dianggap representatif saat itu setelah ambruknya imperium Mughal (India). Sementara dinasti Qajar (Iran) mungkin tidak dianggap mewakili kawasan.

Konferensi tersebut menyepakati tujuh resolusi. Diantaranya resolusi mengenai garis bujur nol atau garis bujur utama tunggal untuk semua negara di dunia. Garis bujur nol tunggal itu ditetapkan (atas dasar voting) sebagai garis bujur yang melintasi Royal Observatory of Greenwich, London (Inggris). Dari garis ini dibentuk 180 garis bujur ke timur dan 180 garis bujur ke barat. Juga resolusi tentang definisi hari universal, yang dimulai tepat tengah malam sebagai pukul 00:00 dan diakhiri tepat tengah malam berikutnya sebagai pukul 24:00. Hari universal berpatokan pada hari Matahari rata-rata (mean solar day). Satu hari didefinisikan berumur 24 jam dengan 1 jam berumur 60 menit dan 1 menit berumur 60 detik. Sehingga dalam sehari terdapat 86.400 detik. Entitas waktu universal pun terbentuk, saat itu disebut GMT (Greenwich Mean Time). Sinkronisasinya dilakukan dengan memanfaatkan jaringan telegraf.

Detik

Dengan kesepakatan dalam perjanjian internasional tersebut, maka kalender Tarikh Umum telah selangkah lebih maju. Bila saudaranya seperti kalender Hijriyyah masih berkutat pada perdebatan pergantian bulan kalender, bahkan hingga kini, maka kalender Tarikh Umum sudah menjadi baku. Aturan-aturan baku itu terkait jenis tahun (kabisat atau biasa), jumlah bulan kalender, jumlah hari (baik dalam tahun kabisat maupun biasa), jumlah jam dalam sehari (serta turunannya) dan posisi garis batas penanggalan internasional (international date line atau IDL)-nya. Kini mereka tinggal berkonsentrasi dalam hal elemen terdasar dari kalender tersebut, yakni satuan detik. Namun, disinilah problema kembali muncul. Yang sekali lagi menunjukkan tiada kreasi manusia yang sempurna, termasuk dalam hal kalender.

Dasar dari kalender Tarikh Umum adalah periode tropis Matahari, yakni selang waktu yang dibutuhkan Matahari untuk bergerak semu tahunan dari titik tropis pertama ke titik tropis pertama berikutnya yang berurutan. Titik tropis adalah titik potong antara garis ekuator langit dengan garis ekliptika, atau lebih dikenal sebagai titik Aries. Periode tropis itu mengandung elemen hari, jam, menit dan detik. Sementara hari sendiri didefinisikan sebagai selang waktu di antara dua situasi transit meridian Matahari (istiwa’) yang berurutan, yang sedikit berbeda dan dipengaruhi oleh periode rotasi Bumi.

Lewat perkembangan radas astronomi dan pengukuran yang lebih teliti, di penghujung abad ke-19 dan awal abad ke-20 TU ketahuan bahwa periode rotasi Bumi (dalam orde detik) sesungguhnya tidak tetap. Ia bervariasi secara irregular. Bahkan dalam jangka panjang, periode rotasi Bumi cenderung kian melambat. Faktor penyebabnya beragam, mulai dari ulah manusia akibat pembangunan bendungan-bendungan raksasa yang menciptakan danau-danau buatan berskala besar hingga yang paling dominan adalah kian menjauhnya Bulan dari Bumi. Pengukuran laser khususnya berbasis cermin retroreflektor yang ditempatkan para astronot di Bulan mengesahkan bahwa Bulan memang terus menjauhi Bumi, saat ini dengan kelajuan 3,8 cm per tahun. Fenomena kuncian gravitasi membuat kian menjauhnya Bulan diimbangi dengan kian melambatnya rotasi Bumi. Untuk setiap abadnya, hari Matahari rata-rata mengalami perlambatan hingga 2,3 milidetik.

Gambar 3. Jajaran teleskop radio Smithsonian Submilimeter Array di kawasan puncak Gunung Mauna Kea, Hawaii (Amerika Serikat). Lewat jajaran teleskop radio semacam inilah dengan teknik VLBI, astronomi modern mengukur variasi rotasi Bumi setiap harinya dan waktu astronomik dengan bertumpu pada sinyal-sinyal gelombang elektromagnetik yang dipancarkan dari sumber kuat di luar galaksi Bima Sakti kita (quasar). Sumber: Darian, 2010.

Gambar 3. Jajaran teleskop radio Smithsonian Submilimeter Array di kawasan puncak Gunung Mauna Kea, Hawaii (Amerika Serikat). Lewat jajaran teleskop radio semacam inilah dengan teknik VLBI, astronomi modern mengukur variasi rotasi Bumi setiap harinya dan waktu astronomik dengan bertumpu pada sinyal-sinyal gelombang elektromagnetik yang dipancarkan dari sumber kuat di luar galaksi Bima Sakti kita (quasar). Sumber: Darian, 2010.

Dengan pengetahuan itu maka pengukuran kedudukan benda-benda langit untuk menentukan rotasi Bumi dan detik standar pun digelar. Awalnya sebatas pada posisi Bulan, Matahari dan planet-planet seperti dipelopori Andre Danjon (1929 TU). Kini pemantauan rotasi Bumi dan detik standar dilaksanakan dengan radas-radas jauh lebih kompleks dan di luar dugaan publik. Misalnya menggunakan sejumlah teleskop radio untuk memantau sinyal-sinyal elektromagnetik yang dipancarkan quasar di luar galaksi Bima Sakti kita dengan menggunakan teknik VLBI (Very Long Baseline Interferometry) secara rutin. Atau menggunakan teleskop yang dilengkapi pembangkit laser untuk dibidikkan ke titik-titik di Bulan dimana cermin-cermin retroreflektor berada, juga secara rutin. Dengan semua upaya ini, yang dilakukan di bawah koordinasi IERS (International Earth Rotation and Reference System Service), maka pada galibnya kalender Tarikh Umum tetaplah merupakan kalender yang bertulangpunggungkan pada observasi (rukyat). Observasi dilaksanakan sebagai bagian dari penjagaan-waktu (time-keeping). Bukan sebagai kalender yang hanya diperhitungkan di atas kertas (hisab), meski aturan-aturan dalam kalender ini cenderung membuat kita terjeblos berkesimpulan demikian.

Gambar 4. Satu dari lima cermin retroreflektor yang ditempatkan manusia di Bulan. Di sini dipasang oleh para astronot Apollo 11. Teleskop-teleskop khusus di Bumi akan menembakkan berkas laser ke cermin ini hingga dipantulkan balik ke lokasi teleskop tersebut berada, guna mengukur jarak Bumi-Bulan tepat saat ini. Lewat cara inilah astronomi modern mengukur variasi rotasi Bumi dan waktu astronomik setiap harinya. Sumber: NASA, 1969.

Gambar 4. Satu dari lima cermin retroreflektor yang ditempatkan manusia di Bulan. Di sini dipasang oleh para astronot Apollo 11. Teleskop-teleskop khusus di Bumi akan menembakkan berkas laser ke cermin ini hingga dipantulkan balik ke lokasi teleskop tersebut berada, guna mengukur jarak Bumi-Bulan tepat saat ini. Lewat cara inilah astronomi modern mengukur variasi rotasi Bumi dan waktu astronomik setiap harinya. Sumber: NASA, 1969.

Semua kemajuan itu mendorong lahirnya entitas waktu universal astronomik (UT1) untuk menggantikan entitas GMT. Karena jumlah detik dalam setiap tahun Tarikh Umum selalu berbeda-beda (meski perbedaannya sejatinya relatif sedikit), maka detik standar pun mengacu hanya pada satu tahun tertentu. Sepanjang tahun 1900 TU jumlah detiknya adalah 31.556.925,9747 detik. Sehingga sejak 1956 TU, 1 detik standar didefinisikan sebagai :

grafik_wktu-astronomikSelain berdasar observasi astronomi, detik standar juga dicoba untuk dihampiri dengan cara lain. Pada pertengahan abad ke-20 TU mulai giat dilakukan upaya perangsangan (stimulasi) atom-atom dengan sumber energi eksternal, meski aspek teoritisnya telah digulirkan Albert Einstein sejak 1918 TU. Perangsangan ini bertujuan untuk menghasilkan emisi foton nan berlimpah dengan masing-masing foton berada pada energi yang sama persis sehingga merambat pada panjang gelombang yang persis sama. Inilah yang melahirkan laser (light amplification by stimulated emission of radiation) dan maser (microwave amplification by stimulated emission of radiation). Baik laser maupun maser sesungguhnya bersaudara dekat. Perbedaannya, laser memancarkan foton-foton seragam dalam spektrum cahaya tampak, sementara maser dalam spektrum gelombang mikro.

Terciptanya maser memungkinkan untuk merangsang atom-atom tertentu agar beresonansi. Sehingga atom-atom tersebut akan melepaskan foton dengan energi tertentu lewat proses transisi sangat halus (hyperfine). Dengan basis inilah jam atom pun lahir dan memiliki presisi yang sangat tinggi. Jam atom pertama yang berbasis maser amonia dibangun oleh NBT (National Bureau of Standards) di Amerika Serikat pada 1949 TU. Namun jam atom yang sepenuhnya beroperasi mulai muncul pada 1955 TU, yang berbasis maser isotop Cesium-133. Jam atom Cesium tersebut dibangun di NPL (National Physical Laboratory) di Inggris. Jam atom begitu presisi sehingga bila dua jam atom identik dijalankan secara bersama-sama, mereka baru akan memiliki selisih 1 detik antara satu dengan lainnya setelah beroperasi selama 30 juta tahun penuh.

Astronomi segera melihat peluang untuk menerapkan jam atom dengan tingkat presisinya ke dalam detik standar. Memperbandingkan kinerja jam atom Cesium dengan pengamatan Bulan selama tiga tahun penuh sejak 1955 TU, maka Markowitz dkk (1958 TU) memperlihatkan bahwa 1 detik standar yang diderivasikan dari observasi astronomi identik dengan 9.192.631.770 ± 20 siklus resonan isotop Cesium-133. Upaya ini sangat menyita perhatian. Sebab dari sisi kepraktisan, isotop Cesium-13 dapat dicari dan dirangsang di berbagai tempat dimanapun di paras Bumi dengan mudah. Sehingga pada Konferensi Umum tentang Berat dan Pengukuran 1967/1968 disepakati 1 detik standar didefinisikan sebagai :

grafik_wktu-atomik

Kesulitan dan Masa Depan

Presisi yang didemonstrasikan jam atom, khususnya jam atom Cesium, segera menarik perhatian dunia. Kini tak kurang dari 50 laboratorium nasional di sejumlah negara yang telah mengoperasikannya. Jumlah keseluruhan jam atom yang beroperasi di duni pada saat ini telah melebihi 400 buah. Hasil pembacaan masing-masing jam atom yang kemudian dirata-ratakan membentuk sebuah entitas waktu tersendiri yang disebut waktu universal atomik atau TAI (Temps Atomique International). Maka pada suatu masa sempat ada dua entitas waktu, yakni waktu atomik dan waktu astronomik. Untuk mengatasi dualisme tersebut diperkenalkanlah sebuah entitas tunggal, yakni waktu universal terkoordinasi atau UTC (universal time coordinated) yang mulai berjalan sejak 1960 TU. Waktu universal terkoordinasi bertopang di atas waktu atomik, namun disinkronkan dengan waktu astronomik. Sinkronisasi inilah yang menghasilkan terminologi baru yang dinamakan detik kabisat.

Gambar 5. Contoh jam atom Cesium-133, beroperasi semenjak 1975 TU, yang ditempatkan di Observatorium La Silla (Chile) dan dikelola oleh ESO (European Southern Observatory). Operasional jam-jam atom di segenap penjuru membentuk entitas waktu sendiri yang disebut waktu atomik. Sumber: ESO, 2013.

Gambar 5. Contoh jam atom Cesium-133, beroperasi semenjak 1975 TU, yang ditempatkan di Observatorium La Silla (Chile) dan dikelola oleh ESO (European Southern Observatory). Operasional jam-jam atom di segenap penjuru membentuk entitas waktu sendiri yang disebut waktu atomik. Sumber: ESO, 2013.

Detik kabisat mulai diimplementasikan pada 1972 TU. Pelaksanaannya didelegasikan pada BIH (Bureau International de l’Heure) yang berkedudukan di Observatorium Paris (Perancis). Detik kabisat ditambahkan hanya pada tanggal 30 Juni atau 31 Desember dalam suatu tahun dan berlaku hanya setelah pukul 23:59:59 UTC. Zona waktu yang lain menyesuaikan diri dengan UTC seperti halnya penyesuaiannya dengan GMT. Maka bagi Indonesia, detik kabisat hanya bisa terjadi pada 1 Juli atau 1 Januari setelah pukul 06:59:59 WIB (07:59:59 WITA atau 08:59:59 WIB). Detik kabisat akan ditambahkan bilamana selisih antara waktu atomik dengan waktu astronomik menghampiri nilai 0,6 detik. Sebab konsep detik kabisat bertujuan agar kedua entitas waktu tersebut tidak memiliki selisih melebihi 0,9 detik.

Sejak 1972 hingga 2012 TU telah ditambahkan 24 detik kabisat. Pola penambahannya acak (tidak beraturan). Pada dekade 1970-an, detik kabisat ditambahkan setiap tahun (hingga 1979 TU). Kecuali pada 1972 TU, yang ditambahkan dua kali setahun. Sehingga dalam dekade itu secara akumulatif terjadi 9 detik kabisat. Pada dekade 1980-an, jumlah akumulatifnya menyusut menjadi 6 detik kabisat. Di dekade ini pula BIH dibubarkan dan pelaksanaan penambahan detik kabisat diserahkan kepada IERS semenjak 1 Januari 1988 TU. Pada dekade 1990-an terdapat penambahan 7 detik kabisat. Dan angka jumlah paling sedikit terjadi di dekade 2000-an, yakni hanya 2 detik kabisat.

Pada awalnya detik kabisat lebih merupakan isu bagi segelintir orang, khususnya para penjaga-waktu. Masalah belum muncul, apalagi bagi publik. Tetapi setelah munculnya revolusi teknologi informasi yang melahirkan internet dengan segala pernak-perniknya, detik kabisat mulai menjadi masalah dan menimbulkan beberapa kesulitan. Dunia maya yang dibentuk internet memungkinkan komputer saling berkomunikasi dengan patokan waktu atomik. Namun beberapa pengembang perangkat lunak nampaknya lupa atau malah tidak mengetahui bahwa dalam sistem waktu saat ini terdapat konsep detik kabisat. Akibatnya tatkala detik kabisat terjadi, perangkat lunak tersebut pun macet (crash). Maka terjadilah leap second bug.

Leap second bug ini sangat menonjol tatkala detik kabisat terakhir terjadi pada 2012 TU lalu. Kemacetan dialami oleh Reddit (Apache Cassandra), Mozilla (Hadoop) dan sejumlah platform Linux. Laman-laman populer seperti LinkedIn, Forsquare, Amazon dan Yelp juga mengalami crash. Perangkat lunak yang macet juga dialami maskapai Qantas Airways (Australia). Detik kabisat membuat perangkat lunak Amadeus, yang berfungsi untuk memonitor penerbangan dan reservasi Qantas, terganggu. 50 penerbangan Qantas terpaksa ditunda sementara ratusan calon penumpang terlantar di sejumlah bandara di segenap penjuru Australia. Selain itu juga banyak perangkat lunak yang ditanamkan dalam radas penerima GPS model lama yang juga macet. Meski detik kabisat hanyalah menambahkan 1 detik saja, namun kemacetan akibat terganggunya perangkat lunak tersebut berlangsung antara beberapa puluh menit hingga berjam-jam kemudian. Publik pun ikut dibikin repot.

Gambar 6. Calon penumpang Qantas Airways yang terlantar berjam-jam di bandara Sydney (Australia) pada 1 Juli 2012 TU seiring kekacauan leap second bug akibat detik kabisat. Sumber: Daily Telegraph, diakses 29 Juni 2015 TU.

Gambar 6. Calon penumpang Qantas Airways yang terlantar berjam-jam di bandara Sydney (Australia) pada 1 Juli 2012 TU seiring kekacauan leap second bug akibat detik kabisat. Sumber: Daily Telegraph, diakses 29 Juni 2015 TU.

Leap second bug ini sejatinya analog dengan leap year bug, kekacauan komputasi akibat tahun kabisat. Saat tahun kabisat terjadi pada 2012 TU lalu, misalnya, sejumlah perangkat lunak pun macet pada tanggal 29 Februari 2012 TU. Raksasa teknologi informasi sekelas Microsoft pun mengalaminya. Misalnya Azure, cloud computing Microsoft, yang macet hingga 8 jam lamanya. Juga sejumlah program akuntansi, yang selain tak bisa bekerja pada saat itu, juga kesulitan memroses data orang-orang yang lahir di tanggal 29 Februari. Telah muncul usulan untuk menghentikan (abolisi) praktik tahun kabisat agar leap year bug tak lagi terjadi. Namun usulan ini tak mendapat respons, salah satunya karena juga takkan mengatasi masalah eksistensi tahun kabisat di masa silam.

Layaknya leap year bug, juga telah ada usulan bagi masa depan detik kabisat. Yakni dengan menghentikannya agar potensi masalah seperti leap second bug dapat dieliminasi sepenuhnya. Usulan ini mulai diapungkan dalam lingkup ITU (International Telecommunication Union) pada 2005 TU silam dan mendapatkan pembahasan serius. Diharapkan dalam tujuh tahun kemudian keputusan dihentikan atau tidaknya detik kabisat telah dapat diambil. Namun pada Januari 2012 TU lalu ITU memutuskan untuk menunda pengambilan keputusan tentang nasib detik kabisat hingga tahun ini. Keputusan tersebut baru akan dibicarakan dalam Konferensi Radio Komunikasi Sedunia 2015 yang bakal diselenggarakan pada 2-27 November 2015 TU di Jenewa (Swiss). Sejauh ini Perancis, Italia, Jepang, Meksiko dan Amerika Serikat berdiri di kubu yang menyetujui penghapusan detik kabisat. Sebaliknya Canada, China, Jerman dan Inggris berada di kubu yang menentang. Sementara kubu yang ketiga, yang saat ini beranggotakan Nigeria, Russia dan Turki, menyerukan untuk melakukan penelitian lebih lanjut dalam segala aspeknya sebelum mengambil keputusan.

Jadi bagaimana detik kabisat 2015 ini? Akankah ia (kembali) menimbulkan leap second bug dengan potensi kerugian hingga milyaran rupiah di segenap penjuru dunia? Apakah nasibnya akan berakhir di tahun ini? Kita tunggu.

Bahan acuan :

The Greenwich Meridian. 2015. Where East Meets West. 

Jacob 2012. Leap Second Crashes Qantas and Leaves Passengers Stranded. The Daily Telegraph, July 2 2012