Ledakan Besar di Gemeksekti Kebumen, Sebuah Catatan Singkat

Senin siang 19 Juni 2017 Tarikh Umum (TU), bertepatan dengan 24 Ramadhan 1438 H, menjelang waktu Dhuhur, warga kota Kebumen di Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah) digemparkan dengan gelegar suara ledakan yang sangat keras. Ledakan tersebut datang dari kawasan halaman-belakang kota sisi utara, terjadi sekitar pukul 10:30 WIB. Saksi mata melaporkan terdengar sedikitnya dua suara ledakan dengan yang terkeras adalah ledakan kedua. Akibat dari ledakan ini, sedikitnya 17 bangunan tempat tinggal dan masjid yang berlokasi dusun Semelang desa Gemeksekti mengalami aneka kerusakan ringan. Mulai dari pecahnya kaca-kaca jendela dan pintu hingga retaknya eternit dan dinding (tembok). Sebagian warga sempat dibikin panik dan membanjiri balai desa setempat.

Gambar 1. Detik-detik menjelang Ledakan Gemeksekti, saat mercon hasil razia mulai dimusnahkan dengan cara dibakar. Nampak ledakan pertama di sisi kanan, yang diduga memicu ledakan kedua dalam beberapa detik kemudian. Sumber: Kebumen Ekspres, 2017.

Catatan singkat ini dibangun melalui analisis jarak jauh, dengan kondisi yang diidealkan dan tanpa tinjauan ke lokasi. Sehingga kemungkinan terjadi kondisi yang berbeda antara hasil catatan ini dengan senyatanya tetap berpeluang terjadi.

Mercon

Penyebab ledakan tersebut tidaklah misterius dan sudah diketahui sejak awal. Yakni tumpukan petasan (mercon) dalam jumlah yang cukup banyak produk razia petasan yang digencarkan Polres Kebumen selama bulan Ramadhan 1438 H. Satu saksi mata melaporkan terdapat sekitar 10 karung petasan yang hendak dimusnahkan. Demam mercon selalu mewabah di Kebumen setiap kali bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri tiba. Namun dalam beberapa tahun terakhir Polres Kebumen menggencarkan razia terhadap ‘asesoris Lebaran’ yang sejatinya dikategorikan sebagai bahan peledak kelompok low explosives itu.

Sebagai titik pemusnahan seluruh mercon hasil razia, dipilih satu sudut di dusun Semelang desa Gemeksekti. Tepatnya pada lereng sebuah bukit batu kapur yang sedang ditambang hingga membentuk dinding tegak yang menyajikan lapisan-lapisan bebatuan khas formasi Penosogan dan juga ketampakan sesar (patahan) turun. Lokasi ini nampaknya dipilih karena selain dekat dengan kota Kebumen (dimana Markas Polres berada) juga dianggap terlindung. Karena berada di cekungan produk penambangan dan berjarak minimal 100 meter dari rumah terdekat. Sehingga dampak ledakannya dianggap akan ternetralisir oleh struktur cekungan. Pemusnahan dilakukan dengan cara menaruh seluruh mercon hasil razia di paras tanah di udara terbuka untuk kemudian dibakar.

Gambar 2. Lokasi titik ledak dalam Ledakan Gemeksekti dalam beberapa jam kemudian yang masih ramai dikunjungi warga. Nampak kertas sisa-sisa meron yang dimusnahkan masih berserakan. Di latar belakang nampak dinding tegak hasil penambangan batu kapur, menampilkan lapisan-lapisan bebatuan dan sebuah sesar turun. Sumber: Kebumen Ekspres, 2017.

Perhitungan Dampak

Siapa sangka, proses pemusnahan ini justru berujung dengan ledakan sangat keras. Dan merusak. Tak ada korban luka-luka, apalagi korban jiwa, yang ditimbulkannya. Namun sedikitnya 17 bangunan rumah dan 1 masjid mengalami kerusakan. Seluruh bangunan tersebut terletak di sisi timur hingga timur laut dari titik ledakan. Getaran mirip gempa terasakan hingga sekitar 1 kilometer dari lokasi ledakan.

Hampir dapat dipastikan bahwa kerusakan-kerusakan dan getaran tersebut diakibatkan oleh penjalaran gelombang kejut (shockwave) dari ledakan. Bukan karena konversi energi ledakan menjadi energi seismik yang lantas menjalar di tanah sebagai gelombang seismik (gempa), karena nilai konversi itu sangat kecil. Gelombang kejut adalah tekanan tak-kasat mata yang diekspresikan oleh nilai tekanan-lebih (overpressure), yakni selisih antara tekanan gelombang kejut terhadap tekanan atmosfer standar (diidealkan pada paras air laut rata-rata). Nilai overpressure itu bisa mulai dari sekecil 200 Pascal (Pa, 1 Pa = 1 Newton/meter2) dengan dampak minimal yakni hanya menggetarkan kaca jendela dan berkemungkinan meretakkan kisi-kisinya. Namun bisa juga sebesar 1 MegaPascal (1.000.000 Pa) dengan dampak sangat mematikan bagi manusia, karena mampu memutilasi tubuh kita tanpa ampun.Parah tidaknya dampak gelombang kejut bergantung kepada jaraknya terhadap titik ledakan. Sebab nilai overpressure berbanding terbalik dengan bertambahnya jarak. Dan dalam kondisi tertentu bahkan ia bisa berbanding terbalik dengan kuadrat jarak dari titik ledakan.

Masjid yang mengalami pecahnya kaca-kaca pintu dan jendela dalam ledakan ini berjarak 160 meter dari titik ledakan. Dengan anggapan bahwa ledakan terjadi di udara terbuka tanpa halangan, maka dapat perhitungan dengan persamaan-persamaan gelombang kejut memprakirakan bahwa kekuatan ledakan adalah sekitar 25 kg TNT. Perhitungan dengan persamaan yang sama memperlihatkan gelombang kejut ledakan sanggup memecahkan gendang telinga manusia jika berdiri pada jarak 14 meter dari titik ledak. Ia juga sanggup menjatuhkan orang yang sedang berdiri tegak, jika berada pada jarak 37 meter dari titik ledak. Gelombang kejut yang sama juga mampu meremukkan kaca-kaca jendela pada jarak 107 meter dari titik ledak. Bahkan gelombang kejut ini pun masih sanggup menggetarkan kaca-kaca jendela hingga jarak 875 meter dari titik ledak.

Gambar 3. Hasil perhitungan dampak papasan gelombang kejut Ledakan Gemeksekti, dipilih untuk dampak tertentu, yang diplot ke dalam peta. Sumber: Sudibyo, 2017.

Saat angka-angka hasil perhitungan tersebut diplot ke dalam peta, nyatalah bahwa saat radius 160 meter ditarik dari titik ledakan, terdapat sekurangnya 15 bangunan yang terdeteksi berada dalam radius tersebut. Termasuk sebuah masjid. Seluruh bangunan itu berada di sisi timur laut dari titik ledakan. Dari sini terlihat bahwa hasil perhitungan tersebut nampaknya bersesuaian dengan data bangunan yang mengalami kerusakan di lapangan.

Harus digarisbawahi bahwa perhitungan di atas bersandar pada kondisi ideal, yakni titik ledak di udara terbuka. Dalam realitanya, titik ledak pada Ledakan Gemeksekti ini berada tepat di sisi sebuah tebing tegak hasil penambangan batu kapur. Kontur tanah di sekeliling titik ledak juga lebih tinggi, kecuali ke arah timur laut yang lebih terbuka. Sehingga gelombang kejut ledakan nampaknya terfokus hanya mengarah ke sisi timur laut saja, tidak ke arah-arah mataangin yang lain. Gelombang kejut yang terfokus hanya ke satu sisi juga membawa implikasi bahwa peledak yang digunakan memiliki kekuatan lebih kecil. Artinya Ledakan Gemeksekti mungkin ditimbulkan oleh akumulasi mercon yang totalnya kekuatannya tak sampai mencapai 25 kilogram TNT.

Catatan

Mercon tergolong ke dalam peledak low explosives, karena memiliki kecepatan peledakan yang jauh lebih kecil ketimbang kecepatan suara. Namun di sisi lain, mercon dikenal takstabil. Paparan panas atau tekanan sedikit saja sudah cukup untuk membuatnya bereaksi dan mengalami peristiwa mirip detonasi yang disebut deflagrasi. Rekaman video dalam peristiwa Ledakan Gemeksekti memperlihatkan nampaknya terjadi semacam ‘reaksi berantai’ saat pembakaran pemusnahan mercon hasil razia tak berlangsung secara serempak di setiap titik. Akibatnya kala ledakan pertama terjadi, ia mengirimkan gelombang kejut yang cukup kuat kepada tumpukan mercon disebelahnya (yang belum terbakar). Paparan gelombang kejut ini membuat tumpukan tersebut spontan bereaksi dengan melibatkan massa peledak yang jauh lebih besar.

Razia dan pemusnahan mercon, di satu sisi memang memiliki dilema tersendiri. Dengan sifat takstabilnya, ia tak bisa disimpan di satu lokasi dalam jangka waktu lama. Sementara kegiatan pemusnahannya sendiri juga beresiko, terlebih bila dibakar. Berbelas tahun silam anggota Polres Purworejo (di sebelah timur Kebumen) gugur kala memusnahkan mercon hasil razia dengan pembakaran. Pemusnahan dengan cara lain, misalnya direndam air, juga tak efektif karena begitu kandungan air mengering maka mercon dapat memiliki kemampuan eksplosifnya kembali.

Mengingat sifat paparan gelombang kejutnya terlebih lagi jika massa merconnya cukup besar, maka kegiatan pemusnahan mercon seyogyanya dikelola sedemikian rupa sehingga meminimalkan dampak paparan gelombang kejut ke lingkungan sekitar khususnya dalam arah mendatar. Misalnya, dengan menempatkan mercon hasil razia ke dalam sebuah lubang mirip liang lahat. Sehingga tatkala terjadi deflagrasi, paparan gelombang kejut ke arah horizontal teredam sepenuhnya oleh dinding-dinding tanah liang tersebut. Hanya meloloskan gelombang kejut ke arah vertikal.

Catatan Tambahan

Informasi dari Polres Kebumen: terdapat ribuan mercon yang berhasil disita dalam razia sejak awal Ramadhan 1438 H di Kabupaten Kebumen. Hampir semuanya diperlakukan sebagai bahan peledak low explosive, sehingga isinya (bahan mercon) dikeluarkan. Secara akumulatif terkumpul tak kurang dari 287 kilogram bahan mercon. Pemusnahan dilaksanakan dengan cara menabur bahan mercon di permukaan tanah dalam dua kelompok, untuk kemudian dibakar.

Normalnya pada proses pembakaran di udara terbuka, bahan mercon hanya akan terbakar saja tanpa meledak (berbeda jika berada di dalam selongsong). Namun diindikasikan ketebalan bahan mercon yang ditabur pada kelompok kedua masih terlalu tebal. Sehingga tatkala lapisan bagian atas terbakar, bagian bawahnya masih cukup terkungkung saat tersambar api sehingga masih mampu meledak. Maka cukup rasional untuk mengatakan bahwa Ledakan Gemeksekti diakibatkan oleh deflagrasi peledak low explosive yang kekuatannya setara dengan 25 kilogram trinitrotoluena (TNT).

Referensi:

Kinney & Graham. 1985. Explosive Shocks in the Air. Springer-Verlag, New York, 2nd edition.

Laman Kebumen Ekspres. Detik-Detik Ledakan Gemeksekti. 19 Juni 2017.

Ngaji Falak Ramadhan: Durasi Puasa di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan 1438 H sudah kita jalani hampir separuhnya. Salah satu pertanyaan menarik yang senantiasa muncul manakala Umat Islam memasuki suatu bulan Ramadhan adalah durasi puasa (atau lamanya berpuasa dalam satu hari) di bulan yang suci ini?

Ibadah puasa, baik yang wajib seperti halnya di bulan Ramadhan maupun yang sunat, memiliki batasan awal dan akhir yang tegas. Untuk setiap harinya, puasa dimulai saat awal Shubuh dan berakhir kala awal Maghrib. Awal Shubuh disepakati didefinisikan sebagai saat dimana cahaya fajar yang nyata (fajar shadiq) tepat mulai muncul dan merembang di kaki langit timur, jauh sebelum terbitnya Matahari. Sebaliknya disepakati pula bahwa awal Maghrib adalah saat kala Matahari tepat telah terbenam (ghurub). Ilmu falak kemudian menguraikan batasan tersebut lebih lanjut. Di Indonesia, cahaya fajar yang nyata disepakati mulai muncul manakala Matahari tepat menyentuh ketinggian minus 20º dari kaki langit timur. Sementara terbenamnya Matahari disepakati sebagai situasi saat sisi teratas cakram Matahari tepat mulai meninggalkan kaki langit barat, dimana kedudukan kaki langit barat ini bergantung kepada elevasi lokasi (terhitung dari paras air laut rata-rata).

Dengan definisi demikian, jelas bahwa durasi puasa Ramadhan pun dikendalikan sepenuhnya oleh kedudukan Matahari untuk suatu tempat. Hal ini menjadi lebih menarik lagi bilamana dikaitkan dengan ‘kelakuan’ Matahari. Yakni gerak semu tahunan Matahari, satu kondisi dimana Matahari seakan-akan bergeser ke utara dan ke selatan secara teratur sepanjang waktu dalam tahun Tarikh Umum (TU). Dalam ilmu falak, gerak semu tahunan itu ditandai dengan perubahan deklinasi Matahari dari 0º (terjadi pada sekitar tanggal 21 Maret) untuk kemudian secara berangsur-angsur meningkat menjadi +23,5º (terjadi pada sekitar tanggal 21 Juni) lalu berangsung-angsur menurun kembali ke 0º (terjadi pada sekitar tanggal 23 September) dan lalu beranjak terus hingga menjadi -23,5º (terjadi pada sekitar tanggal 22 Desember).

Dikombinasikan dengan fakta bahwa kalender Hijriyyah memiliki umur 354 hari (kalender basitah) dan 355 hari (kalender kabisat), sementara kalender Tarikh Umum memiliki umur 365 hari (basitah) dan 366 hari (kabisat), maka akan dijumpai fenomena unik. Yakni dari tahun ke tahun durasi puasa Ramadhan bagi sebuah lokasi selalu berubah-ubah secara dinamis, .

Dunia

Gambar 1. Peta durasi puasa Ramadhan 1438 H untuk tanggal 27 Mei 2017 TU bagi seluruh permukaan Bumi. Durasi puasa senilai 24 jam terjadi di garis lintang 57º LU. Sumber: Sudibyo, 2017.

Bulan Ramadhan tahun 1438 H (2017 TU) ini pun demikian. Bulan suci ini menjadi bagian dari situasi yang dialami bulan Ramadhan sejak tahun 1430 H (2009 TU) hingga kelak tahun 1445 H (2024 TU). Yakni terjadi manakala Matahari berkedudukan di atas hemisfer (belahan Bumi) utara. Sebagai konsekuensinya maka durasi puasa Ramadhan di hemisfer utara pun menjadi yang paling panjang. Sebaliknya durasi puasa Ramadhan bagi hemisfer selatan menjadi yang terpendek.

Saya mencoba memetakan durasi puasa Ramadhan 1438 H untuk seluruh permukaan Bumi ini pada dua saat. Yang pertama adalah pada tanggal 27 Mei 2017 TU, yang di Indonesia bertepatan dengan 1 Ramadhan 1438 H. Sementara yang kedua adalah pada tanggal 24 Juni 2017 TU kelak, yang juga bertepatan dengan tanggal 29 Ramadhan 1438 H bagi Indonesia. Pemetaan dibatasi pada kawasan yang terbentang di antara garis lintang 60º LU hingga 60º LS. Jadi kedua kawasan lingkaran kutub tak tercakup di sini.

Perhitungan dilaksanakan dengan program pemetaan, dalam hal ini saya menggunakan Surfer. Untuk lebih mempermudah, maka tinggi setiap titik kordinat yang disertakan dalam perhitungan ini diberi nilai nol (0) meter dpl.

Gambar 2. Peta durasi puasa Ramadhan 1438 H untuk tanggal 24 Juni 2017 TU bagi seluruh permukaan Bumi. Durasi puasa senilai 24 jam terjadi di garis lintang 48º LU hingga 51º LU. Sumber: Sudibyo, 2017.

Hasilnya, pada 27 Mei 2017 TU durasi puasa Ramadhan yang terpanjang ada di hemisfer utara berdekatan dengan garis 60º LU. Tepatnya pada sepanjang garis 57º LU. Disinilah durasi puasa tepat bernilai 24 jam. Sementara pada tanggal 24 Juni 2017 TU, durasi puasa Ramadhan yang terpanjang juga masih ada di hemisfer utara. Namun telah sedikit berpindah, yakni bervariasi di antara garis lintang 48º LU hingga garis lintang 51º LU.

Satu hari di Bumi memiliki durasi tepat 24 jam. Sehingga bilamana ada daerah yang memiliki durasi puasa Ramadhan tepat 24 jam, maka Umat Islam yang bertempat di sana ‘musti’ berpuasa sehari semalam suntuk jika mengacu pada kedudukan Matahari. Hal ini tentu sangat memberatkan. Makanya untuk negara-negara yang berada di batas kawasan subtropis dengan lingkar kutub (demikian halnya kawasan lingkar kutub itu sendiri) terdapat kekhususan dalam hal berpuasa Ramadhan bagi Umat Islam.

Indonesia

Bagaimana dengan Indonesia ?

Berbeda dengan negara-negara di dekat batas subtropis-lingkar kutub, Indonesia terletak di kawasan tropis. Bahkan negeri ini dibelah oleh garis khatulistiwa. Maka disini awal waktu Shubuh dan awal waktu Maghrib-nya masih tergolong normal, yakni tidak terlalu panjang namun juga tidak terlalu pendek. Pertanyaannya, apakah kedudukan Matahari berpengaruh terhadap durasi puasa Ramadhan 1438 H di Indonesia

Gambar 3. Peta durasi puasa Ramadhan 1438 H untuk tanggal 27 Mei 2017 TU bagi Indonesia. Durasi puasa rata-rata adalah 13 jam 21 menit. Durasi puasa terpendek terjadi di titik paling selatan sementara yang terpanjang terjadi di dekat titik paling utara (lintang 4º 43′ LU). Sumber: Sudibyo, 2017.

Seperti halnya langkah di atas, saya mencoba memetakan durasi puasa Ramadhan 1438 H untuk Indonesia pada dua saat. Yang pertama pada tanggal 27 Mei 2017 TU dan yang kedua pada tanggal 24 Juni 2017 TU. Pemetaan dibatasi pada kawasan yang terbentang di antara garis lintang 6º LU hingga 11º LS. Sebagai kuda kerja, juga digunakan program pemetaan berupa Surfer.

Berbeda dengan sebelumnya, maka di kali ini terdapat dua perhitungan. Pada perhitungan pertama, tinggi setiap titik kordinat yang disertakan dalam perhitungan diberi nilai nol (0) meter dpl untuk kemudian dipetakan. Sementara pada perhitungan kedua, digunakan titik-titik koordinat Masjid Agung di ibukota kabupaten/kota di seluruh Indonesia yang mencapai 520 buah itu. Data koordinat tersebut mencakup posisi lintang, bujur dan elevasi. Data bersumber dari BIG (Badan Informasi Geospasial) yang dipublikasikan terbatas di kalangan ahli falak Indonesia dalam momen Temu Kerja Hisab Rukyat Nasional 2017 kemarin. Hasil perhitungan kedua ini tidak dipetakan.

Gambar 4. Peta durasi puasa Ramadhan 1438 H untuk tanggal 24 Juni 2017 TU bagi Indonesia. Durasi puasa rata-rata adalah 13 jam 21 menit. Durasi puasa terpendek terjadi di titik paling selatan sementara yang terpanjang terjadi di titik paling utara. Sumber: Sudibyo, 2017.

Hasilnya, pada 27 Mei 2017 TU secara rata-rata durasi puasa untuk seluruh Indonesia adalah 13 jam 21 menit. Durasi puasa Ramadhan yang terpendek terjadi di Kabupaten Rote Ndao (Nusa Tenggara Timur), yakni 12 jam 57 menit. Lokasi ini merupakan daerah paling selatan di Indonesia, dengan Masjid al-Ikhwan di ibukota Baa terletak pada lintang 10º 43′ LS, hampir mendekati garis 11º LS. Sebaliknya durasi puasa terpanjang terjadi di Kabupaten Bener Meriah (Aceh) yakni 13 jam 51 menit. Meski bukan daerah paling utara di Indonesia, namun Masjid Babus Salaam di ibukota Simpang Tiga Redelong (lintang 4º 43′ LU) memiliki elevasi 1.392 meter dpl.

Sementara pada 24 Juni 2017 TU secara rata-rata durasi puasa untuk seluruh Indonesia adalah masih tetap bernilai 13 jam 21 menit. Durasi puasa Ramadhan yang terpendek juga tetap terjadi di Kabupaten Rote Ndao (Nusa Tenggara Timur), yakni 12 jam 55 menit. Namun lokasi dengan durasi puasa terpanjang berpindah tempat, yakni di Kota Sabang (Aceh) selama 13 jam 54 menit. Kota ini merupakan lokasi paling utara di Indonesia yang terletak pada garis lintang 5º 53′ LU.

Dapat dilihat, meski Indonesia terletak di kawasan tropis dan dibelah oleh garis khatulistiwa, pengaruh kedudukan Matahari terhadap durasi puasa Ramadhan 1438 H tetap terlihat. Durasi puasa terpendek berada di titik paling selatan, sementra durasi puasa terpanjang menempati titik paling utara. Selisih durasi puasa antara kedua tempat tersebut hampir mendekati sejam.

Kupas-Hoax: Ekuinoks dan Gelombang Panas di Indonesia

‘Kabar’ itu sudah menyeruak kemana-mana melalui aneka rupa media. Terutama media sosial. Kabar itu sudah menyebar liar tak terkendali, laksana api yang membakar ilalang kering kerontang. Bentuknya bermacam-macam, namun semuanya memiliki satu kemiripan. Intinya bakal terjadi bencana gelombang panas (heat wave) di negara-negara Asia Tenggara seiring bakal berlangsungnya peristiwa ekuinoks (equinox). Termasuk di Indonesia.

Lebih jelasnya, ‘kabar’ tersebut mewartakan bahwa selama lima hari berturut-turut, yakni sejak Selasa hingga Sabtu, 21-25 Maret 2017 TU (Tarikh Umum), gelombang panas akan melanda negara-negara seperti Indonesia, Malaysia dan Singapura. Suhu udara maksimum di siang hari akan meroket hingga mencapai angka fantastis, 40º Celcius ! Temperatur yang laksana panas membakar ini akan terjadi di hari-hari tersebut khususnya di antara rentang waktu pukul 12:00 hingga pukul 15:00 setempat. Dan semua itu terjadi karena peristiwa ekuinoks.

Tak ayal ‘kabar’ ini menggegerkan publik Indonesia. Horor akan petaka gelombang panas seperti yang meluluhlantakkan sebagian India di tahun 2015 TU pun segera membayang. Bencana gelombang panas India merenggut korban jiwa tak kurang dari 2.500 orang. Foto-foto aspal jalanan yang meleleh hingga membuat garis-garis marka jalan yang seharusnya lurus menjadi kusut masai tak keruan pun menjadi penanda ikonis bagi bencana gelombang panas India.

Gambar 1. Marka jalan di sudut kota New Delhi (India) yang kusut masai seiring melelehnya lapisan aspal jalan akibat paparan suhu tinggi dalam peristiwa gelombang panas India 2015. Bencana tersebut menewaskan tak kurang dari 2.500 orang. Sumber: Mail Online, 27 Mei 2015 TU.

Sayangnya ‘kabar’ tersebut ternyata tak benar. Ekuinoks memang akan terjadi di Indonesia, namun ia tak bakal disusul oleh peristiwa gelombang panas. Berikut penjelasannya.

Ekuinoks Musim Semi dan Musim Gugur

Ekuinoks adalah sebuah peristiwa langit teratur dimana kedudukan Matahari persis berada di atas garis khatulistiwa’. Dalam bahasa astronominya, ekuinoks adalah peristiwa pada saat Matahari ‘menyeberang’ dari hemisfer langit selatan menuju ke hemisfer langit utara atau sebaliknya dengan melintasi garis ekuator langit dalam gerak semu tahunannya. Ekuator langit adalah garis khayali yang lokasinya memang persis ada di atas garis khatulistiwa’. Karena Matahari sedang berkedudukan tepat di atas garis khatulistiwa’ pada saat ekuinoks, maka kita yang berdiri tegak di garis tersebut takkan memiliki bayang-bayang tepat pada saat Matahari mencapai titik kulminasi atasnya.

Astronomi menggolongkan ekuinoks sebagai peristiwa langit yang terjadi secara teratur dengan keistimewaan tersendiri. Karena hanya pada saat ekuinoks-lah hampir segenap paras Bumi, tepatnya yang terletak di antara garis lintang 80º LU hingga 80º LS, memiliki panjang durasi siang yang hampir sama dengan malam. Yakni sama-sama hampir 12 jam. Karena itulah ia mendapatkan nama ekuinoks, berasal dari kata aequinoctium dalam bahasa Latin (aequus = sama, nox = noctis = malam). Di luar peristiwa ekuinoks, panjang durasi siang dan malam bisa jauh berbeda khususnya di daerah yang tergolong kawasan subtropis dan lingkar kutub.

Sebagai peristiwa yang teratur, maka dalam setiap tahun Tarikh Umum selalu tersedia dua kejadian ekuinoks. Yakni ekuinoks pertama (vernal equinox), atau ekuinoks musim semi, yang terjadi di antara tanggal 19, 20 atau 21 Maret. Karena itu dinamakan pula sebagai Ekuinoks Maret. Ekuinoks Maret terjadi manakala Matahari bergerak dari hemisfer langit selatan menuju hemisfer langit utara dalam gerak semu tahunannya. Dan selanjutnya adalah peristiwa ekuinoks kedua (autumnal equinox), atau ekuinoks musim gugur, yang terjadi di antara tanggal 21, 22 atau 23 September. Sehingga disebut juga Ekuinoks September. Berkebalikan dengan Ekuinoks Maret, maka Ekuinoks September hanya terjadi bilamana Matahari bergerak dari hemisfer langit utara menuju hemisfer langit selatan dalam gerak semu tahunannya.

Gambar 2. Saya (menghadap ke selatan) di latar depan Tugu Khatulistiwa Pontianak yang ikonik. Garis khatulistiwa’ yang sesungguhnya adalah yang melintas tepat di tempat saya berdiri, berdasarkan pengukuran berbasis satelit. Pada saat ekuinoks terjadi maka Matahari akan tepat berada di atas garis khatulistiwa’ ini. Sumber: Sudibyo, 2012.

Penyebab terjadinya kedua peristiwa ekuinoks itu adalah kedudukan Bumi kita terhadap Matahari dalam konstelasi tata surya. Sebagai planet, Bumi berputar mengelilingi Matahari melewati orbitnya yang khas, yang disebut revolusi, dengan periode revolusi satu tahun. Bidang datar khayali tempat orbit Bumi mengelilingi Matahari dinamakan bidang ekliptika. Kita yang tinggal di paras Bumi akan melihat bidang ekliptika sebagai tempat berderetnya ketiga belas rasi zodiak. Revolusi Bumi membuat Matahari seakan-akan beringsut perlahan dalam masing-masing dari ketiga belas rasi bintang ini pada rentang tanggal tertentu sepanjang tahun.

Di saat yang sama Bumi juga berputar mengelilingi sumbunya sendiri, yang disebut rotasi, dengan periode rotasi 23 jam 56 menit. Namun sumbu rotasi Bumi tidaklah tegak lurus (membentuk sudut 90º), melainkan menyudut sebesar 66º 33′ terhadap bidang ekliptika. Kombinasi revolusi Bumi dan miringnya sumbu rotasi Bumi inilah yang menyebabkan Matahari seakan-akan berpindah-pindah tempat di antara garis lintang 23º 27′ LU dan 23º 27′ LS secara menerus dan konsisten. Sehingga nilai deklinasi Matahari pun bervariasi secara teratur dari -23º 27′ hingga yang terbesar +23º 27′ (tanda negatif menunjukkan di langit selatan sementara tanda positif di langit utara). Maka dalam istilah lain, ekuinoks adalah peristiwa dimana deklinasi Matahari tepat bernilai 0º.

Lokasi dimana Matahari berada pada saat ekuinoks terjadi pada hakikatnya merupakan titik potong antara bidang ekliptika dengan ekuator langit. Saat pertama kali diidentifikasi pada 20 abad silam, titik tersebut dinamakan titik Aries untuk peristiwa Ekuinoks Maret. Karena pada saat itu terletak di dalam rasi Aries, meski kini telah bergeser jauh ke dalam rasi Pisces seiring gerak presesi sumbu rotasi Bumi. Sementara bagi Ekuinoks September, titik itu diberi nama titik Libra meski sejatinya kini bertempat di di dalam rasi Virgo.

Perubahan Musim dan Gelombang Panas

Peristiwa ekuinoks telah dikenal umat manusia sejak fajar prasejarah dan telah digunakan sebagai penanda sistem penanggalan (kalender) pada sejumlah peradaban. Kini beberapa kalender masih menggunakan ekuinoks sebagai penanda awalnya, khususnya Ekuinoks Maret. Misalnya kalender Persia dan kalender India. Kalender global terpopuler pun, yakni kalender Tarikh Umum, masih mengandung jejak penanda yang terkait peristiwa ekuinoks, tepatnya Ekuinoks Maret.

Gambar 3. Peta penyinaran Matahari pada saat peristiwa Ekuinoks Maret. Area gelap merupakan bagian Bumi yang sepenuhnya telah memasuki malam hari. Sementara tiga area abu-abu yang mengelilinginya masing-masing adalah area dimana fajar/senja sipil (abu-abu terluar, terjadi kala Matahari terbenam hingga 6º di bawah horizon), fajar/senja nautikal (abu-abu tengah, terjadi kala Matahari terbenam hingga 12º di bawah horizon) dan fajar/senja astronomis (abu-abu terdalam, terjadi kala Matahari terbenam hingga 18º di bawah horizon) berlangsung. Sumber: Timeanddate.com, 2017.

Dalam sejarahnya sebelum dekrit Pontifex Maximus oleh kaisar Julius Caesar (tahun 46 STU), kalender Tarikh Umum adalah kalender Romawi. Awalnya kalender Romawi hanya terdiri dari 10 bulan kalender dengan Maret sebagai bulan kalender pertama seiring terjadinya peristiwa Ekuinoks Maret. Reformasi demi reformasi kalender berikutnya hingga dikeluarkannya dekrit Pontifex Maximus memberi dua bulan kalender tambahan (yakni Januari dan Februari) serta mengukuhkan peristiwa Ekuinoks Maret harus terjadi di sekitar tanggal 21 Maret. Inilah sistem penanggalan yang disebut kalender Julian. Dasar dari kalender Julian adalah periode tropis Matahari, yakni selang waktu yang dibutuhkan Matahari untuk menempati dua titik Aries yang berurutan.

Di kemudian hari muncul kesadaran bahwa perhitungan kalender Julian sedikit berbeda dengan nilai periode tropis Matahari yang sesungguhnya berdasarkan pengukuran yang lebih akurat. Maka menjelang tahun 1582 TU, terjadi situasi dimana peristiwa Ekuinoks Maret sesungguhnya telah terjadi pada tanggal 10 Maret. Bukan pada tanggal 21 Maret seperti yang menjadi patokan. Karena itu berlangsung reformasi Gregorian lewat sebuah dekrit Inter Gravissimas yang dikeluarkan Paus Gregoris XIII pada 24 Februari 1582 TU. Dekrit ini menekankan penghapusan 10 hari, sehingga setelah tanggal 4 Oktober 1582 TU maka keesokan harinya akan langsung melompat ke tanggal 15 Oktober 1582 TU. Inilah kalender Tarikh Umum yang kita gunakan hingga saat ini.

Selain sebagai penanda waktu dalam berbagai kalender, peristiwa ekuinoks juga menjadi penanda bagi rutinitas perubahan musim. Di kawasan subtropis khususnya di hemisfer utara (meliputi Eropa barat dan Timur, Asia utara dan Amerika utara), Ekuinoks Maret menjadi penanda bahwa musim semi akan segera tiba. Karena itu ia mendapatkan nama ekuinoks musim semi (sebaliknya kawasan subtropis di hemisfer selatan justru sedang bersiap-siap memasuki musim gugur). Sementara di negara tropis seperti Indonesia, peristiwa Ekuinoks Maret menjadi penanda bahwa musim kemarau akan segera tiba. Walaupun demikian harus digarisbawahi bahwa, meskipun posisi Matahari menjadi faktor utama penggerak cuaca di Indonesia, namun terdapat faktor-faktor lain yang menyebabkan cuaca menjadi dinamis. Seperti fenomena osilasi selatan el-Nino, osilasi dwikutub Samudera Indonesia, osilasi Madden-Julian.

Rutinitas perubahan musim terjadi karena gerak semu tahunan Matahari menyebabkan area yang terpanasi cahaya Matahari pun turut bergeser secara teratur. Di kawasan tropis, pergeseran teratur ini tecermin pada berpindah-pindahnya zona ITCZ (intertropical convergence zone). ITCZ adalah sebuah daerah sempit yang sama panjangnya dengan keliling Bumi dan menjadi tempat bertemunya angin pasat barat daya (dari hemisfer utara) dan angin pasat barat laut (dari hemisfer selatan). ITCZ sekaligus menjadi lokasi dimana udara membumbung ke atas seiring pemanasan Matahari. Gerakan tersebut adalah bagian dari sirkulasi udara dari kawasan khatulistiwa’ ke arah kawasan subtropis (baik utara maupun selatan) yang disebut sel Hadley. Sirkulasi konvektif ini menyebabkan daerah ITCZ menjadi padang subur bagi tumbuh kembangnya awan-awan badai dan hujan deras.

Kondisi berbeda terjadi di kawasan subtropis. Di hemisfer utara, penyinaran Matahari di antara peristiwa Ekuinoks Maret dan Ekuinoks September menciptakan musim semi dan musim panas. Sementara di sini terdapat daerah sempit mirip ITCZ, namun bedanya udara mengalir turun. Persis di atas puncak aliran udara yang menurun ini terdapat arus jet subtropis, yakni arus udara yang menderu ke arah timur pada ketinggian 9.000 hingga 12.000 meter membentuk lintasan melingkar dengan titik pusat di kawasan kutub utara. Seperti halnya ITCZ, posisi arus jet juga berpindah-pindah secara teratur mengikuti gerak semu tahunan Matahari.

Gambar 4. Gambaran sederhana mekanisme terjadinya peristiwa gelombang panas. Diawali dengan terbentuknya kawasan bertekanan udara tinggi (zona abu-abu) pada ketinggian 3 hingga 7,5 km. Kawasan ini menyebabkan udara mengalir ke bawah sembari menghangat dan mengering secara adiabatis sehingga membentuk kawasan tudung (zona jingga kekuningan) yang menyekap udara di bagian terbawah hingga sangat lembab, hangat dan tak mengalir. Sumber: NOAA, 2017

Kawasan di sisi selatan arus jet ini, tepatnya pada ketinggian 3.000 hingga 7.500 meter, merupakan area bertekanan udara lebih tinggi dibanding tekanan udara paras Bumi. Di bawah pengaruh tekanan tinggi ini, udara setempat bisa mengalir ke bawah menuju paras Bumi sembari menghangat dan mengering secara adiabatis. Aliran udara ke bawah yang menghangat ini lantas mengambil peran sebagai kubah raksasa tak kasat mata, yang berperan menyungkup kolom udara di lapisan terbawah.

Akibatnya kolom udara terbawah tidak bisa mengalami konveksi sehingga kelembaban udaranya meroket tinggi dengan suhu lebih hangat. Kita pun dibikin gerah. Situasinya sangat mirip dengan udara gerah menjelang tibanya hujan lebat. Gelombang panas adalah rasa gerah tersebut yang berlangsung berkepanjangan, dimana dalam definisi umum terjadi selama minimal lima hari berturut-turut dengan suhu udara maksimum harian rata-rata 5º Celcius lebih tinggi dibanding normal (yakni suhu udara rata-rata normal dalam rentang waktu 1961 hingga 1990 TU). Definisi sesungguhnya atas gelombang panas adalah berbeda-beda antara satu tempat dengan lainnya. Di benua Eropa, gelombang panas dinyatakan terjadi jika suhu udara harian melampaui angka 25 hingga 28º Celcius. Sementara di benua Amerika bagian utara, batasnya adalah 32º Celcius. Sebaliknya di benua Australia, batasnya adalah 35º Celcius.

Jelas terlihat bahwa meski dikendalikan oleh gerak semu tahunan Matahari, peristiwa gelombang panas hanya bisa terjadi di kawasan subtropis. Catatan sejarah menegaskan hal tersebut. Belum pernah terjadi peristiwa gelombang panas di kawasan tropis, atau lebih spesifiknya kawasan yang terletak di sekitar garis khatulistiwa’. Sebab sirkulasi udara memang tidak memungkinkan peristiwa semacam itu terjadi di kawasan khatulistiwa’. Termasuk di Indonesia.

Karena itulah ‘kabar’ bahwa ekuinoks akan diikuti dengan peristiwa gelombang panas di Indonesia saya kategorikan sebagai kabar-bohong (hoax). Sebagai catatan, ‘kabar’ semacam ini sudah muncul sejak 2016 TU dan nampaknya akan bermutasi menjadi kabar-bohong tahunan.

Referensi :

NOAA. 2017. Heat Index. National Weather Service NOAA, diakses 20 Maret 2017.

Yogyakarta dan Kepungan Gunung-Gemunung Berapi Purba

Uap panas mengepul dari satu sudut di dusun Kayen desa Sampang, kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul (DIY) mulai Kamis pagi 15 Februari 2017 (TU) Tarikh Umum lalu. Hingga beberapa hari kemudian uap masih mengepul. Bersamanya menguar pula aroma Belerang yang khas. Khalayak setempat pun dibuat resah. Terlebih setelah salah satu penyebab potensial, yakni arus listrik melalui grounding yang bocor, telah dapat dikesampingkan mengingat saat aliran listrik ke rumah pak Trisno Wiyono dimatikan, uap panas itu tetap mengepul dari sudut pekarangannya.

Apalagi titik keluarnya uap panas tersebut tidak terlalu jauh dari Gunung Nglanggeran, kompleks gunung berapi purba yang kini menjadi obyek wisata. Tersebar cerita yang konon dari masa silam, bahwa kawah Gunung Nglanggeran pada masanya adalah berada di dusun itu. Maka saat saling dikait-kaitkan, mudah saja mendatangkan kesan bahwa kepulan uap tersebut ada hubungannya dengan Gunung Nglanggeran.

Gambar 1. Lokasi titik kepulan uap panas di dusun Kayen desa Sampang kecamatan Gedangsari, Gunungkidul. Uap tersebut keluar di dekat sudut bangunan di latar depan. Uap lantas disalurkan ke ketinggian dengan pipa logam, setelah pipa PVC yang digunakan sebelumnya rusak dan melengkung oleh panasnya uap. Sumber: Kabar Handayani, 2017.

Gambar 1. Lokasi titik kepulan uap panas di dusun Kayen desa Sampang kecamatan Gedangsari, Gunungkidul. Uap tersebut keluar di dekat sudut bangunan di latar depan. Uap lantas disalurkan ke ketinggian dengan pipa logam, setelah pipa PVC yang digunakan sebelumnya rusak dan melengkung oleh panasnya uap. Sumber: Kabar Handayani, 2017.

Apakah gunung berapi purba itu aktif lagi?

BPPTKG (Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknik Kebencanaan Geologi), lembaga yang berkedudukan di Yogyakarta dan berada di bawah payung Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral RI pun menerjunkan timnya ke desa Sampang. Tim ini sangat berkompeten mengingat tugas BPPTKG salah satunya adalah mengamati segenap perilaku Gunung Merapi, baik dalam kondisi normal maupun meletus. Pengukuran temperatur menunjukkan tepat di titik keluarnya uap, suhu mencapai 68º C.

Suhu ini tergolong tinggi sehingga mampu melengkungkan pipa PVC yang dipasang warga untuk menyalurkan uap hingga ke ketinggian tertentu. Sebalikya dalam radius 2 meter dari titik tersebut, suhu telah merosot drastis menjadi tinggal 30º C atau hampir sama dengan suhu rata-rata setempat. Sementara pengukuran gas menunjukkan adanya konsentrasi gas CO2 yang sedikit lebih besar dibanding normal, yakni mencapai 1 % (pada udara normal 0,3 %). Analisis lebih lanjut dikerjakan dalam laboratorium setelah tim mengambil sampel air hasil kondensasi uap tersebut.

Apakah sebuah gunung berapi purba dapat ‘bangun’ kembali setelah mati?

Tanpa mendahului kerja tim BPPTKG, dapat dikatakan bahwa peluang ‘bangun’ kembalinya sebuah gunung berapi purba adalah serupa dengan peluang hidupnya kembali seekor dinosaurus di masa kini (setelah mereka terbabat habis 65 juta tahun silam). Dengan kata lain, amat sangat kecil sehingga praktis bisa dikatakan mustahil. Gunung berapi purba pada dasarnya adalah fosil gunung berapi. Sebagai fosil, ia dapat disetarakan dengan fosil dinosaurus.

Dulu, dulu sekali nun jauh di masa silam, pada waktu berjuta hingga berpuluh juta tahun silam, gunung berapi purba itu adalah gunung berapi yang aktif. Tentu saat itu ia rajin meletus layaknya Gunung Merapi masa kini.Namun pada satu waktu, gunung berapi itu mati seiring usianya. terutama setelah pasokan magma dari dapur magmanya terputus total oleh sebab tertentu. Sehingga magma yang masih tersisa dalam diatrema (saluran magma utama)-nya pun kehilangan dorongan untuk ke atas. Apalagi keluar lewat kawah.

Perlahan-lahan sisa magma ini mulai membeku, membentuk batuan beku seperti granit atau diorit atau sejenisnya secara perlahan-lahan. Pada saat yang sama keseimbangan alamiah yang selama ini menopang tubuh gunung berapi itu dalam menjaga bentuknya, yakni antara pasokan magma yang menyeruak sebagai lava dengan kikisan air sebagai erosi, pun berantakan. Tinggal satu sisi yang terus bekerja, yakni yang secara perlahan-lahan menyayat, mengukir dan mengikis selapis demi selapis tubuh gunung.

Proses perusakan tubuh gunung itu terus berlangsung selama ratusan ribu hingga jutaan tahun kemudian. Sehingga sebagian besar tubuhnya pun habis dikikis. Yang masih nampak hanyalah bukit batuan beku keras eks-diatrema yang disebut leher vulkanik atau sumbat vulkanik. Dan sisa-sisa kakinya. Inilah fosil gunung berapi.

Gambar 2. Perbandingan penampang melintang antara gunung berapi aktif (atas) dengan gunung berapi purba. Penampang gunung berapi purba terbagi lagi menjadi gunung berapi purba yang tererosi dalam tingkat dewasa (tengah) dan yang tererosi tingkat lanjut (bawah). Jika hanya dilihat sekilas, maka sangat sulit untuk membedakan gunung berapi purba baik tingkat dewasa maupun lanjut dengan bukit-bukit non vulkanik pada umumnya. Sumber: Bronto, 2012.

Gambar 2. Perbandingan penampang melintang antara gunung berapi aktif (atas) dengan gunung berapi purba. Penampang gunung berapi purba terbagi lagi menjadi gunung berapi purba yang tererosi dalam tingkat dewasa (tengah) dan yang tererosi tingkat lanjut (bawah). Jika hanya dilihat sekilas, maka sangat sulit untuk membedakan gunung berapi purba baik tingkat dewasa maupun lanjut dengan bukit-bukit non vulkanik pada umumnya. Sumber: Bronto, 2012.

Gunung berapi purba jelas berbeda dengan gunung berapi tidur (dorman). Berbeda dengan gunung berapi purba, gunung berapi tidur tidaklah mati. Ia hanya tertidur panjang, namun masih tetap terhubung dengan dapur magmanya. Meski diatrema-nya umumnya tersumbat oleh magma sisa yang masih setengah plastis dan panas (meski beberapa bagian mulai membeku dan membatu). Perubahan dalam dapur magma (misalnya akibat guncangan gempa) akan membuat magma segar mengandung lebih banyak gas sehingga bertekanan sangat tinggi.

Maka sumbat diatrema pun bisa ditembus dan magma segar akan keluar sebagai lava yang penuh gas dari kawah. Inilah yang terjadi dalam letusan-letusan dahsyat gunung berapi, termasuk tiga peristiwa legendaris: Letusan Samalas-Rinjani 1257, Letusan Tambora 1815, Letusan Krakatau 1883. Pada umumnya sebuah gunung berapi dikatakan ‘tertidur’ jika letusan terakhirnya terjadi kurang dari 10.000 tahun terakhir. Terkecuali dalam kasus gunung-gemunung berapi super seperti Gunung Toba yang bisa tertidur jauh lebih lama lagi sebelum beraksi.

Sebaliknya gunung berapi purba sudah benar-benar putus hubungan dengan dapur magmanya. Andaikata jauh dibawahnya masih terdapat dapur magma, maka peluang bagi magma segar untuk bisa menyeruak ke paras Bumi telah tertutup oleh keberadaan sumbat sangat keras dan sangat panjang yang mengisi diatremanya. Bila dapur magmanya terletak di kedalaman 10 kilometer, maka sepanjang itu pulalah diatrema tersumbat total oleh batuan beku yang sangat keras.

Gunung Nglanggeran

Tidak jauh dari desa Sampang terdapat bukit-bukit yang berdinding terjal dan tersusun oleh batuan pejal. Bukit-bukit tersebut menempati area seluas 48 hektar yang berada di desa Nglanggeran, kecamatan Patuk (Gunungkidul). Inilah Gunung Nglanggeran. Bukit-bukit batu pejal itu sesungguhnya leher vulkanik. Ilmu kebumian menyebutnya tersusun oleh batuan beku terobosan (intrusi), karena sesungguhnya magma yang membentuk leher vulkanik ini tidak pernah tersingkap di paras Bumi kala dalam proses pembentukannya. Ia sepenuhnya mendingin hingga membeku di dalam tanah, tatkala segenap tubuh gunung ini masih ada.

Gambar 3. Rekonstruksi kasar bentuk tubuh Gunung Nglanggeran pada saat masih sebagai gunung berapi aktif, tanpa skala dan dianggap berbentuk kerucut sempurna dengan kawah di puncaknya. Lokasi kawah segaris lurus dengan kompleks Gunung Nglanggeran masakini. Pada masa aktifnya, sebagian tubuh gunung berapi ini berada di bawah paras air laut. Dibuat berdasarkan citra Google StreetView dari satu titik di desa Serut, kec. Gedangsari (Gunungkidul) yang terletak di sebelah utara Gunung Nglanggeran. Sumber: Sudibyo, 2017 dengan basis Google StreetView, 2017.

Gambar 3. Rekonstruksi kasar bentuk tubuh Gunung Nglanggeran pada saat masih sebagai gunung berapi aktif, tanpa skala dan dianggap berbentuk kerucut sempurna dengan kawah di puncaknya. Lokasi kawah segaris lurus dengan kompleks Gunung Nglanggeran masakini. Pada masa aktifnya, sebagian tubuh gunung berapi ini berada di bawah paras air laut. Dibuat berdasarkan citra Google StreetView dari satu titik di desa Serut, kec. Gedangsari (Gunungkidul) yang terletak di sebelah utara Gunung Nglanggeran. Sumber: Sudibyo, 2017 dengan basis Google StreetView, 2017.

Dimanakah letak kawah gunung berapi purba ini (atau setidaknya sisa kawahnya)? Pada umumnya kawah gunung berapi terletak di puncak gunung sekaligus menjadi muara dari diatrema. Mengingat bukit-bukit batu itu adalah leher vulkanik Nglanggeran, maka logikanya kawah gunung berapi purba tersebut ada di ujung atas leher vulkaniknya. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Sutikno Bronto (2009, 2010), vulkanolog legendaris Indonesia, bahwa sebagian besar bukit-bukit batu itu tersusun oleh aglomerat.

Aglomerat adalah batuan produk letusan gunung berapi yang banyak mengandung bom gunung berapi, yakni bongkahan batuan beku yang ukurannya besar. Saat sebuah gunung berapi meletus, bom gunung berapi akan dilontarkan kuat-kuat dari dalam lubang letusan atau kawah, lantas jatuh bebas di sekitar kawah dalam jarak yang tak jauh. Sisa-sisa bom gunung berapi Nglanggeran ditemukan berbentuk mirip buah salak, dengan bagian runcing di sebelah atas sementara bagian yang besar dan berat di sisi bawah.

Maka anggapan bahwa kawah gunung berapi purba Nglanggeran berada di desa Sampang, yang berjarak beberapa kilometer dari leher vulkanik Nglanggeran, menjadi kurang tepat. Memang pada saat Gunung Nglanggeran masih aktif dalam berpuluh juta tahun silam, area yang kini menjadi desa Sampang kemungkinan merupakan bagian dari tubuh gunung berapi itu. Namun area ini bukanlah bagian dari kawasan yang bersinggungan atau berdekatan dengan diatrema gunung berapi tersebut, dengan segala dinamikanya.

Pengukuran umur batuan beku menunjukkan Gunung Nglanggeran adalah gunung berapi aktif pada masa sekitar 58 juta tahun silam. Jika dikaitkan dengan sejarah geologi pulau Jawa, jelas Gunung Nglanggeran merupakan gunung berapi laut. Bagian kakinya berdiri di atas dasar Samudera Indonesia (Indian Ocean) dengan sebagian tubuhnya mungkin terbasuh permanen dalam air laut. Apakah puncaknya menyembul di atas paras laut dan menjadi sebuah pulau vulkanis? Kita tidak tahu. Namun yang jelas, dalam kurun 58 juta tahun terakhir Gunung Nglanggeran telah mati. Pergerakan tektonik seiring dorongan lempeng Australia yang oseanik lantas mendorongnya lebih ke utara, untuk kemudian terangkat dari dasar samudera seiring terbentuknya pulau Jawa dan akhirnya menyatu dengan kompleks Pegunungan Selatan di sisi selatan Jawadwipa.

Isu Gunung Nglanggeran aktif kembali sebenarnya bukan hal yang baru. Saat Gunung Merapi meletus besar dalam Letusan Merapi 2010 di bulan November 2010 TU, sejumlah orang yang bertempat tinggal di sekitar Gunung Nglanggeran mengaku merasa ada getaran dan mendengar suara gemuruh. Bahkan ada juga yang mengaku melihat kepulan asap dari bukit-bukit batu itu. Evaluasi lebih lanjut memperlihatkan getaran dan suara gemuruh itu sejatinya berasal dari Gunung Merapi, yang berjarak sekitar 40 kilometer dari Gunung Nglanggeran. Letusan Merapi 2010 itu memang luar biasa dan berbeda dengan letusan-letusan Merapi sebelumnya. Sehingga suara gemuruhnya pun terdengar hingga jarak yang cukup jauh, demikian halnya getaran-getaran gempa vulkaniknya.

Gambar 4. Bebatuan mirip pilar-pilar yang saling bertumpuk di ujung Tanjung Karangbata, Kebumen (Jawa Tengah). Bebatuan ini kemungkinan adalah bagian dari leher vulkanik Gunung Manganti, salah satu gunung berapi purba di Tanjung Karangbolong. Bebatuan khas semacam ini dinamakan kekar kolom dan acap dijumpai di lingkungan gunung berapi purba khususnya di eks-diatrema dan cabang-cabangnya. Diabadikan oleh geolog Bambang Mertani. Sumber: Mertani, 2013.

Gambar 4. Bebatuan mirip pilar-pilar yang saling bertumpuk di ujung Tanjung Karangbata, Kebumen (Jawa Tengah). Bebatuan ini kemungkinan adalah bagian dari leher vulkanik Gunung Manganti, salah satu gunung berapi purba di Tanjung Karangbolong. Bebatuan khas semacam ini dinamakan kekar kolom dan acap dijumpai di lingkungan gunung berapi purba khususnya di eks-diatrema dan cabang-cabangnya. Diabadikan oleh geolog Bambang Mertani. Sumber: Mertani, 2013.

Dalam kondisi Gunung Nglanggeran seperti sekarang ini, apakah ia bisa aktif lagi? Peluangnya sangat kecil sehingga secara teknis bisa dikatakan mustahil. Leher vulkanik Nglanggeran merupakan ujung yang kasatmata dari batuan beku pejal sangat panjang yang menyumbat total diatrema gunung berapi purba tersebut. Mustahil bagi magma segar untuk bisa menjebolnya. Apalagi sebagai fluida, magma juga lebih menyukai untuk menembus/melewati titik-titik yang lebih lemah di kerak Bumi. Ketimbang harus bersusah-payah membobol batuan beku pejal yang sangat panjang yang menyumbat total diatrema Gunung Nglanggeran, mengapa tidak mencari titik yang lebih lemah disekitarnya?

Dalam bahasa yang lebih sederhana, andaikata saya adalah magma segar nun jauh di bawah Nglanggeran (pada kedalaman misalnya 30 kilometer), maka ketimbang susah-susah harus berjuang membobol sumbat sangat keras dan panjang di Nglanggeran, mengapa saya tidak sedikit beringsut ke utara saja dan keluar lewat Gunung Merapi?

Kepungan Gunung Berapi Purba

Pada aras yang lain, diskusi seputar Gunung Nglanggeran terkini dengan kepulan uap panas didekatnya membuat kita mau tak mau membuat kita menekuri kembali bumi Yogyakarta pada khususnya dan pulau Jawa bagian selatan pada umumnya dengan lebih cermat. Terutama terkait gunung berapi purba. Luar biasanya, dari perspektif ilmu kebumian, Yogyakarta boleh dikata sebagai kota yang ‘dikepung’ oleh gunung-gemunung berapi purba !

Gambar 5. Salah satu sudut Gunung Watuadeg, yakni gunung berapi purba yang berjarak cukup dekat dengan kota Yogyakarta. Diabadikan dari tepi timur Sungai Opak, nampak singkapan lava bantal di sisi barat dasar sungai dengan tampilan khasnya sebagai bongkah-bongkah batuan beku kehitaman yang saling terhubung. Diabadikan oleh Nova Aristianto pada 2014 TU. Sumber: Aristianto, 2014.

Gambar 5. Salah satu sudut Gunung Watuadeg, yakni gunung berapi purba yang berjarak cukup dekat dengan kota Yogyakarta. Diabadikan dari tepi timur Sungai Opak, nampak singkapan lava bantal di sisi barat dasar sungai dengan tampilan khasnya sebagai bongkah-bongkah batuan beku kehitaman yang saling terhubung. Diabadikan oleh Nova Aristianto pada 2014 TU. Sumber: Aristianto, 2014.

Mari lihat dua contoh berikut. Dari Yogyakarta, sempatkanlah menengok sudut kecil di sebelah tenggara Bandara Adisucipto dalam jarak tak lebih dari 5 kilometer. Susurilah jalan raya Berbah-Prambanan dari arah barat menuju lokasi situs Candi Abang. Di jalan ini anda akan melintasi jembatan Sungai Opak yang memiliki nama unik: Jembatan Gemblung. Lihatlah ke dasar sungai yang juga adalah batas antara desa Kalitirto (sisi barat) dan Jogotirto (sisi timur) di kecamatan Berbah (Sleman). Jika air surut, akan terlihat panorama bebatuan gamping di sisi timur sebaliknya di sisi barat terhampar bongkah-bongkah batuan beku membulat kehitaman yang saling terhubung. Bebatuan ini adalah lava bantal, maka lokasi ini populer sebagai Lava Bantal Geoheritage. Saat menatapnya, sadarkah bahwa anda sesungguhnya sedang berdiri di gunung berapi purba?

Gunung berapi purba itu adalah Gunung Watuadeg. Lava Bantal Geoheritage merupakan bagian dari tubuh gunung. Seluruh lava bantal itu memancar dari satu titik yang kini berupa bukit seukuran 75 x 50 meter2 dengan tinggi sekitar 15 meter yang terletak sejarak 150 meter di sebelah barat jembatan. Sisa-sisa sumbat vulkanik dijumpai di sisi selatan bukit yang bernama Bukit Sumberkulon ini. Analisis memperlihatkan Gunung Watuadeg aktif pada masa 57 juta tahun silam, atau sezaman dengan masa aktif Gunung Nglanggeran. Ia juga tumbuh di dasar Samudera Indonesia dan berdasar keberadaan lava bantalnya maka seluruh tubuhnya mungkin terendam air laut. Namun ukuran Gunung Watuadeg jauh lebih kecil ketimbang Gunung Nglanggeran.

Gambar 6. Bukit Gede (kiri) dan Bukit Gedang (kanan) di kecamatan Godean, Sleman (DIY). Dua bukit ini adaah bagian dari jejak gunung berapi purba yang dinamakan Gunung Godean. Diabadikan pada citra Google StreetView dari satu titik di jalan raya Godean-Seyegan. Sumber: Google StreetView, 2017.

Gambar 6. Bukit Gede (kiri) dan Bukit Gedang (kanan) di kecamatan Godean, Sleman (DIY). Dua bukit ini adaah bagian dari jejak gunung berapi purba yang dinamakan Gunung Godean. Diabadikan pada citra Google StreetView dari satu titik di jalan raya Godean-Seyegan. Sumber: Google StreetView, 2017.

Kembali ke Yogyakarta, dari tugu pal putih yang menjadi simbol kota ini, susurilah jalan raya ke arah barat hingga memasuki Jalan Godean. Susurilah terus ke barat hingga sejauh 6 kilometer, sampai bersua dengan sebuah pertigaan yang mengarah ke kiri dan ke kanan. Anda akan tiba di sebuah tempat yang juga bernama Godean dan menjadi bagian dari Kabupaten Sleman. Di sini anda akan bersua dengan sedikitnya 6 buah bukit yang letaknya saling berdekatan dan relatif lebih tinggi dibanding bukit-bukit kecil yang ada di sisi utaranya. Sekilas pandang tak ada yang istimewa dari keenam bukit ini. Namun bukit-bukit yang terlihat biasa saja ini sejatinya adalah sumbat vulkanik yang telah melapuk sebuah gunung berapi purba yang dinamakan Gunung Godean. Kapan Gunung Godean aktif di masa silam belum dapat diketahui dengan pasti.

Ada banyak gunung berapi purba yang bertebaran di sekitar Yogyakarta. Jika dibatasi pada yang telah diketahui umurnya seperti halnya Gunung Nglanggeran dan Gunung Watuadeg, kita bisa mulai dengan Gunung Parangtritis. Sesuai namanya, gunung berapi purba ini ‘duduk’ di lokasi obyek wisata pantai Parangtritis yang terkenal itu. Gunung berapi purba ini jauh lebih muda ketimbang Nglanggeran, yakni aktif sekitar 26 juta tahun silam. Namun ukuran tubuh gunungnya nampaknya serupa. Meski demikian dimana posisi sumbat vulkaniknya belum jelas. Lalu di sebelah utara Gunung Nglanggeran terserak jejak gunung berapi purba bertubuh raksasa, yang disebut Gunung Baturagung. Gunung berapi purba ini aktif antara 14 hingga 40 juta tahun silam. Di sebelah timur Gunung Baturagung, pada tempat yang kini menjadi bagian dari kota Wonogiri terdapat jejak gunung berapi purba lainnya yang tak kalah besarnya. Yakni Gunung Gajahmungkur, yang aktif antara 10 hingga 22 juta tahun silam.

Gambar 7. Lokasi gunung-gemunung berapi purba yang telah terpetakan dan dianalisis oleh sejumlah ilmuwan hingga saat ini. Gunung-gemunung berapi purba ditandai dengan lingkaran-lingkaran. Besar kecilnya lingkaran bergantung kepada dimensi tubuh gunung berapi purba yang bersangkutan. Pada sebagian gunung berapi purba tersebut disajikan pula umur relatifnya berdasarkan sampel batuan beku Sumber: Bronto, 2010 dalam Verdiansyah & Hartono, 2016.

Gambar 7. Lokasi gunung-gemunung berapi purba yang telah terpetakan dan dianalisis oleh sejumlah ilmuwan hingga saat ini. Gunung-gemunung berapi purba ditandai dengan lingkaran-lingkaran. Besar kecilnya lingkaran bergantung kepada dimensi tubuh gunung berapi purba yang bersangkutan. Pada sebagian gunung berapi purba tersebut disajikan pula umur relatifnya berdasarkan sampel batuan beku Sumber: Bronto, 2010 dalam Verdiansyah & Hartono, 2016.

Dari Gunung Gajahmungkur, jika kita bergerak ke selatan sejajar dengan garis tegak lurus sumbu orientasi pulau Jawa, kita akan bersirobok dengan Gunung Batur. Gunung berapi purba yang ‘duduk’ di obyek wisata Pantai Wediombo ini aktif sekitar 13 juta tahun silam dengan ukuran tubuh gunung setara Gunung Nglanggeran. Jajaran gunung-gemunung berapi purba pun menghiasi kaki langit Yogyakarta bagian barat. Dari Gunung Godean ke arah barat, kita akan bersua dengan Pegunungan Menoreh. Pegunungan ini sejatinya merupakan kompleks gunung berapi purba yang mencakup tiga gunung sekaligus. Masing-masing Gunung Menoreh, Gunung Ijo dan Gunung Gajah. Aktivitas vulkanik pada gunung-gunung tersebut terjadi dalam kurun antara 47 hingga 8 juta tahun silam. Dibanding gunung-gemunung berapi purba yang telah disebut sebelumnya, gunung berapi purba di Pegunungan Menoreh memiliki ukuran tubuh terbesar.

Sementara jika gunung-gemunung berapi purba yang belum diketahui umurnya seperti halnya Gunung Godean ditelusuri, jumlahnya akan membengkak lagi. Di antara Gunung Parangtritis dan Gunung Baturagung saja tercatat ada 4 gunung berapi purba yang belum diketahui umurnya. Salah satunya adalah Gunung Imogiri. Sementara di antara Gunung Gajahmungkur dan Gunung Batur terdapat 5 gunung berapi purba, salah satunya dinamakan Gunung Panggang.

Gambar 8. Busur vulkanik Jawa tua (garis merah putus-putus), yang terdiri dari gunung-gemunung berapi purba. Di sebelah utaranya terdapat busur vulkanik Jawa muda (garis kuning putus-putus), tempat gunung-gemunung berapi modern di pulau Jawa berada dengan sebagian besar diantaranya aktif. Sumber: Hall & Smyth, 2008 dalam Satyana, 2014.

Gambar 8. Busur vulkanik Jawa tua (garis merah putus-putus), yang terdiri dari gunung-gemunung berapi purba. Di sebelah utaranya terdapat busur vulkanik Jawa muda (garis kuning putus-putus), tempat gunung-gemunung berapi modern di pulau Jawa berada dengan sebagian besar diantaranya aktif. Sumber: Hall & Smyth, 2008 dalam Satyana, 2014.

Mayoritas gunung berapi purba di sekitar Yogyakarta pada masanya merupakan bagian dari busur vulkanik Jawa tua. Yakni jajaran gunung-gemunung berapi yang menjadi wajah aktivitas vulkanik pulau Jawa sejak 45 juta tahun silam. Aktivitas busur vulkanik tua itu dan mendadak berakhir pada masa sekitar 20 juta tahun silam, tanpa sebab yang jelas. Gunung-gemunung berapi yang lebih muda lantas terbentuk lebih ke utara dan membentuk busur vulkanik Jawa muda. Dalam busur vulkanik yang mulai aktif semenjak 5 juta tahun silam hingga kini terdapat 45 buah kerucut gunung berapi, yang membentang mulai dari Gunung Karang-Pulasari di barat (Banten) hingga Gunung Ijen di timur (Jawa Timur).

Selain menjadi artefak atas aktivitasnya sendiri di masa silam, gunung-gemunung berapi purba di sekitar Yogyakarta juga menjadi saksi bisu bagaimana sisi selatan pulau Jawa terangkat layaknya terdongkrak. Sehingga banyak dari gunung-gemunung purba yang semula tersembunyi dalam sepi di dasar Samudera Indonesia lantas terangkat dan muncul ke daratan. Selain sebagai bagian dari pengembangan ilmu pengetahuan terutama ilmu kebumian, eksistensi gunung-gemunung berapi purba juga bisa dikembangkan untuk menggamit minat publik akan eksotismenya. Gunung-gemunung berapi purba juga berpotensi memiliki nilai ekonomis tersendiri, mengingat sejumlah mineral barang tambang yang berharga (termasuk tembaga dan emas) berasosiasi dengan magma dan cairan hidrotermal dengan karakter tertentu yang telah membeku.

Referensi :

Kabar Handayani. 2017. Uap Panas Muncul dari Tanah di Gedangsari. Laman Kabar Handayani, diakses pada 21 Februari 2017.

Aristianto. 2014. Berhujan-hujan Ria ke Lava Bantal Berbah. Blog Tulisan Aris, diakses pada 21 Februari 2017.

DetikNews. 2010. BPPTK: Kecil Kemungkinan Gunung Purba Nglanggeran Meletus Kembali. Detik.com 11 November 2010, diakses pada 21 Februari 2017.

Bronto dkk. 2014. Longsoran Raksasa Gunung Api Merapi Yogyakarta-Jawa Tengah. Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral, vol. 15 no. 4 November 2014, hal. 165-183.

Verdiansyah & Hartono. 2016. Alterasi Hidrotermal Dan Mineralisasi Logam Berharga Di Cekungan Yogyakarta, Sebuah Pemikiran dari Kehadiran Sistem Hidrotermal Daerah Godean. Seminar Nasional ke-3 Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran, Bandung.

Gerhana Matahari dan Kisah Kenabian: Yusya’ AS dan Rasulullah SAW

Gerhana kerap membawa kisah menarik yang mengiringi kehadirannya. Baik pada peristiwa Gerhana Matahari maupun Gerhana Bulan. Baik di masa kini, apalagi masa silam kala kehadiran gerhana kerap dianggap sebagai pertanda dari langit. Termasuk dalam peristiwa sejarah yang menentukan nasib sebuah negeri.

Di masa Yunani Kuno, kota Syracuse dikepung rapat oleh pasukan Athena selama Perang Peloponnesia. Mereka hampir kalah. Namun sebuah titik balik tak terduga datang pada 28 Agustus 413 STU (Sebelum Tarikh Umum) saat Bulan purnama mendadak meredup, ‘robek’ dan bahkan bersalin warna menjadi merah darah sangat redup hanya dalam 2 jam setelah terbit. Pasukan Athena, yang dihinggapi tahayul, menganggap gerhana itu pertanda buruk dan memutuskan menunda serangan ke posisi-posisi pasukan Syracuse. Syracuse pun memanfaatkan kesempatan ini dengan baik, sehingga gantian mereka yang melancarkan serangan dadakan ke pasukan Athena. Athena pun hancur lebur.

Delapan belas abad kemudian kisah yang mirip pun berulang. Selagi pasukan besar Utsmaniy mengepung kota Konstantinopel, ibukota kekaisaran Romawi Timur (Byzantium), pada 22 Mei 1453 TU Bulan terbit dalam kondisi setengah ‘robek’ sebagai Gerhana Bulan Sebagian di kaki langit timur kota. Saat itu Bulan menampakkan wajahnya dengan sekitar 70 % cakram Bulan tertutupi oleh umbra Bumi. Saat itu Konstantinopel sudah dikepung pasukan Utsmaniy sebulan lamanya. Gerhana ini menerbitkan rasa takut dan merosotkan moral penduduk Konstantinopel. Apalagi tersiar legenda bahwa kejatuhan kekaisaran mereka telah lama diramalkan dan akan ditandai oleh gerhana. Benar, tujuh hari kemudian kota itu takluk dan imperium Byzantium yang pernah perkasa itu pun tinggal sejarah.

Gambar 1. Beberapa bagian tahap Gerhana Matahari, seperti yang diabadikan dalam peristiwa Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016. Sejumlah peristiwa gerhana, termasuk Gerhana Matahari, kerap bersesuaian dengan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah sebuah negeri. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 1. Beberapa bagian tahap Gerhana Matahari, seperti yang diabadikan dalam peristiwa Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016. Sejumlah peristiwa gerhana, termasuk Gerhana Matahari, kerap bersesuaian dengan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah sebuah negeri. Sumber: Sudibyo, 2016.

Dalam tulisan ini fenomena gerhana di masa silam dibatasi pada peristiwa Gerhana Matahari di masa kenabian, yakni di era Nabi Yusya’ AS dan Rasulullah Muhammad SAW.

Gerhana dan Legenda Berhentinya Matahari

Pertempuran menentukan itu nampaknya terjadi sekitar 32 abad silam. Ringkasnya: pasukan Bani Israil yang sedang berjuang memasuki negeri Kanaan yang dijanjikan harus berhadapan dengan pasukan suku Hivit (bagian dari sukubangsa Amorit) yang berkekuatan besar pada suatu tempat di luar kota al-Jib (Gibeon). Suku Hivit adalah orang-orang yang berbadan besar dan perkasa, yang mendiami dataran luas di sisi barat Laut Mati hingga ke pesisir Laut Tengah. Tak tanggung-tanggung, di hari itu orang-orang Hivit mengerahkan kekuatan dalam jumlah besar dari lima negara kota sekaligus, kekuatan yang sanggup menggetarkan siapapun .

Pertempuran al-Jib pun meletus hari itu hingga ke rembang petang. Dan tak ada yang mengira kalau pasukan Bani Israil ternyata berhasil mengangkangi keperkasaan pasukan Hivit yang semula dikenal tak terkalahkan. Di bawah pimpinan Yusya’, yang  merupakan seorang nabi, pasukan Bani Israil pun menghancurkan pasukan Hivit dalam pertempuran al-Jib. Jalan bagi Bani Israil untuk menancapkan kakinya di negeri Kanaan yang dijanjikan pun kian terbuka. Pertempuran ini juga mewariskan kisah legendaris, yang menuturkan Yusya’ berseru kepada Matahari dan Bulan untuk berdiam di posisinya masing-masing hingga pertempuran usai. Atau dalam kata-kata lain, inilah nabi yang menahan gerak Matahari (dan juga Bulan).

Gambar 2. Ilustrasi artistik yang menggambarkan Nabi Yusya' AS (Joshua) menghentikan Matahari di atas kota al-Jib (Gibeon) pada saat pertempuran berlangsung, menurut lukisan John Martin pada 1816 TU. Riset terbaru memperlihatkan peristiwa 'berhentinya Matahari' tersebut sesungguhnya mungkin merupakan Gerhana Matahari Cincin. Sumber: John Martin, 1816 dalam Wikipedia, 2017.

Gambar 2. Ilustrasi artistik yang menggambarkan Nabi Yusya’ AS (Joshua) menghentikan Matahari di atas kota al-Jib (Gibeon) pada saat pertempuran berlangsung, menurut lukisan John Martin pada 1816 TU. Riset terbaru memperlihatkan peristiwa ‘berhentinya Matahari’ tersebut sesungguhnya mungkin merupakan Gerhana Matahari Cincin. Sumber: John Martin, 1816 dalam Wikipedia, 2017.

Kini, kapan Pertempuran al-Jib itu terjadi nampaknya sudah bisa ditetapkan tanggalnya. Riset multidisiplin ilmu oleh tim cendekiawan Universitas Ben Gurion (Israel) yang dipimpin Hezi Yitzhak menyimpulkan Pertempuran al-Jib itu mungkin terjadi pada 30 Oktober 1207 STU (Sebelum Tarikh Umum), bertepatan dengan peristiwa Gerhana Matahari Cincin. Dan lokasi dimana pertempuran tersebut berlangsung merupakan bagian dari zona antumbra (zona yang mampu melihat bentuk cincin/anularitas pada puncak gerhana) dalam wilayah Gerhana Matahari Cincin 30 Oktober 1206 STU tersebut.

Kisah kenabian Yusya’ atau Yosua (Joshua) lebih banyak tersurat dalam alkitab Ibrani dan alkitab Kristiani Perjanjian Lama, bahkan beliau menjadi tokoh sentral Kitab Yosua di kedua alkitab tersebut. Sebaliknya al-Qur’an tidak secara eksplisit menyebut nama Nabi Yusya’ AS. Beliau hanya disebut sebagai murid Nabi Musa AS khususnya yang menyertai Nabi Musa AS selama dalam perjalanan mencari Nabi Khidir AS seperti ternyata dalam surat al-Kahfi ayat 60-62. Namun sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Ubay ibn Ka’ab RA memastikan bahwa murid yang dimaksud dalam ayat-ayat tersebut memang sosok Nabi Yusya’ AS.

Yusya’ AS merupakan sosok kepercayaan Nabi Musa AS. Namanya mulai muncul selepas eksodusnya Bani Israil dari negeri Mesir menuju negeri Kanaan, tanah yang dijanjikan Allah SWT seperti yang diwahyukan-Nya kepada Musa AS. Begitu lolos dari kejaran Firaun dan pasukannya lewat mukjizat terbelahnya Laut Merah, Bani Israil segera beringsut melangkahkan kakinya menuju negeri Kanaan. Namun lama-kelamaan terbit rasa gentar dalam kalbu mereka seiring tersiarnya kabar bahwa negeri yang hendak mereka tuju dan taklukkan itu ternyata dihuni sukubangsa Amorit, orang-orang yang terkenal bertubuh perkasa tanpa tanding dalam setiap medan pertempuran. Rasa gentar itu kian meluap hingga akhirnya mencapai puncaknya, menjangkiti hampir semua orang. Mereka pun memutuskan untuk berhenti, enggan melanjutkan perjalanan ke negeri Kanaan meski telah dijanjikan kemenangan. Upaya Yusya’ dan Qalib untuk menyemangati mereka tiada henti tidak juga membuahkan hasil.

Akibatnya Bani Israil pun mendapat murka Allah SWT dan dihukum untuk terjebak di gurun pasir di antara negeri Mesir dan Kanaan hingga 40 tahun kemudian. Selama masa hukuman ini Yusya’ menjadi pengawal Nabi Musa AS yang setia. Sehingga menjelang wafatnya, Nabi Musa AS pun mewariskan kepemimpinan Bani Israil ke tangan Yusya’. Segera setelah menerima tampuk kepemimpinan, Yusya’ pun menjadi nabi setelah menerima wahyu Illahi yang memerintahkannya menyeberangi Sungai Yordan untuk memulai penaklukan negeri Kanaan yang telah dijanjikan-Nya. Dari kamp pasukannya di Gilgal, secara berturut-turut Yusya’ AS menggerakkan pasukannya menaklukkan negeri Ariha (Jericho) dan Ai. Selepas itu, setelah menggerakkan pasukannya diam-diam di tengah malam menempuh jarak 30 kilometer hingga tiba di perkemahan pasukan Hivit di dekat kota Yerusalem, maka Pertempuran al-Jib pun berkobar dahsyat mulai keesokan paginya.

Gambar 3. Matahari yang berbentuk menyerupai sabit dalam puncak sebuah peristiwa Gerhana Matahari Cincin, yang hanya terlihat sebagai gerhana sebagian di lokasi pemotretan. Meski dalam berawan tebal dan hampir mendung, namun bentuk sabit tersebut mudah dilihat terutama tatkala sinar Matahari berhasil menerobos sela-sela awan. Jika langit cerah, Gerhana Matahari pada puncaknya tentu lebih mudah diidentifikasi dan menarik perhatian khalayak, baik di masa kini maupun silam. Baik di masa damai maupun peperangan. Sumber: Sudibyo, 2009.

Gambar 3. Matahari yang berbentuk menyerupai sabit dalam puncak sebuah peristiwa Gerhana Matahari Cincin, yang hanya terlihat sebagai gerhana sebagian di lokasi pemotretan. Meski dalam berawan tebal dan hampir mendung, namun bentuk sabit tersebut mudah dilihat terutama tatkala sinar Matahari berhasil menerobos sela-sela awan. Jika langit cerah, Gerhana Matahari pada puncaknya tentu lebih mudah diidentifikasi dan menarik perhatian khalayak, baik di masa kini maupun silam. Baik di masa damai maupun peperangan. Sumber: Sudibyo, 2009.

Tim cendekiawan Ben Gurion tersebut tiba pada kesimpulan mengenai tanggal Pertempuran al-Jib setelah melalui pendekatan astronomi dan reinterpretasi teks ayat Yoshua 10:12. Terjemah dalam Bahasa Indonesia dari ayat tersebut adalah “…Matahari, berhentilah di atas Gibeon dan engkau, Bulan, di atas lembah Ayalon !” Namun tim cendekiawan Ben Gurion berpendapat bahwa kata Ibrani “dom (do.wm)” (yang secara tradisional diterjemahkan sebagai “berhenti”) juga bisa diterjemahkan sebagai “menjadi gelap.” Sehingga terjemahannya bisa menjadi “…Matahari, menjadi gelap di atas Gibeon dan engkau, Bulan, di atas lembah Ayalon !” Dari terjemah ini muncul kesan bahwa pada saat itu Matahari dan Bulan hadir bersamaan di langit dengan Matahari menjadi gelap.

Dari sisi astronomi ada satu peristiwa langit yang bersesuaian dengan deskripsi tersebut, yakni Gerhana Matahari. Dengan kata lain, Pertempuran al-Jib yang mengambil tempat di dekat kota Yerusalem itu nampaknya bertepatan dengan peristiwa Gerhana Matahari dengan Yerusalem dan sekitarnya menjadi bagian dari wilayah gerhana, khususnya zona umbra atau antumbra.

Tim cendekiawan Ben Gurion lantas memutuskan menggali data Gerhana Matahari masa silam, khususnya melalui basisdata badan antariksa Amerika Serikat (NASA) yang legendaris di bawah tajuk Five Millenium (-1999 to +3000) Canon of Solar Eclipse Database. Basisdata ini memuat segala peristiwa Gerhana Matahari dalam kurun 5.000 tahun mulai dari tahun 2000 STU hingga tahun 3000 TU. Selama rentang waktu tersebut Bumi kita akan mengalami 11.898 peristiwa Gerhana Matahari, yang terdiri dari 4.200 Gerhana Matahari Sebagian, 3.956 Gerhana Matahari Cincin, 3.173 Gerhana Matahari Total dan 569 Gerhana Matahari Hibrid. Tim memutuskan untuk berkonsentrasi pada rentang waktu antara 1500 STU hingga 1000 STU. Mereka mendapati bahwa dalam rentang waktu tersebut, hanya ada tiga peristiwa Gerhana Matahari yang menjadikan kota Yerusalem dan sekitarnya dilintasi zona umbra atau antumbra. Yakni satu kejadian Gerhana Matahari Total dan dua kejadian Gerhana Matahari Cincin.

Dalam rentang waktu tersebut, peristiwa Gerhana Matahari yang paling menarik adalah Gerhana Matahari Cincin 30 Oktober 1207 STU. Dari kota Yerusalem dan sekitarnya, peristiwa langit ini terjadi pada sore hari dan dapat disaksikan hampir pada seluruh tahapnya. Awal gerhana terjadi pada pukul 15:07 waktu setempat saat Matahari berkedudukan 23,0º di atas horizon barat. Anularitas gerhana, yakni periode ketampakan bentuk cincin, mulai terjadi pada pukul 16:26 waktu setempat dan berlangsung hingga 5 menit kemudian (lebih detilnya 5 menit 13 detik). Puncak gerhana terjadi pada pukul 16:28 waktu setempat dengan tinggi Matahari 7,0º di atas horizon barat. Gerhana masih berlangsung kala Matahari terbenam pada pukul 17:05 waktu setempat, karena akhir gerhana terjadi pada pukul 17:39 waktu setempat. Durasi tampak dari Gerhana Matahari ini di kota Yerusalem dan sekitarnya adalah 1 jam 58 menit.

Gambar 4. Peta zona antumbra dalam wilayah Gerhana Matahari Cincin 30 Oktober 1207 STU. Nampak zona antumbra (lebar 360 kilometer) melintasi kota Yerusalem dan lingkungan sekitarnya, termasuk lokasi pertempuran al-Jib (Gibeon). Atas dasar inilah tim cendekiawan Universitas Ben Gurion menyimpulkan bahwa Pertempuran al-Jib terjadi pada tanggal itu. Sumber: Xavier Jubier, 2017 dengan basis NASA, 2006.

Gambar 4. Peta zona antumbra dalam wilayah Gerhana Matahari Cincin 30 Oktober 1207 STU. Nampak zona antumbra (lebar 360 kilometer) melintasi kota Yerusalem dan lingkungan sekitarnya, termasuk lokasi pertempuran al-Jib (Gibeon). Atas dasar inilah tim cendekiawan Universitas Ben Gurion menyimpulkan bahwa Pertempuran al-Jib terjadi pada tanggal itu. Sumber: Xavier Jubier, 2017 dengan basis NASA, 2006.

Peristiwa Gerhana Matahari Cincin ini membuat langit sore 30 Oktober 1207 STU di kota Yerusalem dan sekitarnya meremang lebih awal dibanding hari-hari normal. Langit setempat akan mulai terasa lebih gelap pada, katakanlah, pukul 16:30 waktu setempat. Puncak gerhana ini memang tidak menjadikan kota Yerusalem dan sekitarnya menjadi gelap gulita. Namun dengan intensitas sinar Matahari yang tiba di paras Bumi setempat tinggal 5 % dari normal pada saat puncak gerhana, jelas situasinya cukup remang-remang. Puncak gerhana juga akan menyajikan panorama unik saat Matahari terlihat sebagai cincin bercahaya yang ganjil, bukan sebagai lingkaran sangat terang yang menyilaukan mata. Jelas pemandangan ganjil ini akan menarik perhatian, termasuk pada kedua belah pasukan yang sedang bertempur di medan al-Jib.

Bagaimana peristiwa Gerhana Matahari pada Pertempuran al-Jib lantas ditafsirkan sebagai peristiwa ‘berhenti’-nya Matahari di jauh kemudian hari? David Dickinson, jurnalis di Universe Today, menduga persoalannya ada pada paham geosentrisme yang mendominasi dunia hingga abad ke-16 TU. Paham tersebut bertumpu pada Bumi sebagai pusat semesta dan pusat pergerakan segala benda langit. Demikian mendalamnya dominasi paham ini sehingga dua agama besar, yakni Kristen dan Islam, pun mengadopsinya di masa itu. Gereja mengadopsi geosentrisme karena, selain menyajikan tujuh buah langit yang ditempati setiap planet (termasuk Matahari dan Bulan) dengan masing-masing langit berbentuk bola sempurna sebagai refleksi kesempurnaan ilahiah, juga karena menyediakan ruang di luar bola bintang-bintang tetap untuk lokasi surga dan neraka. Maka ‘berhenti’-nya Matahari menjadi salah satu ‘bukti’ yang menyokong paham geosentrisme.

Gerhana Pagi di Kotasuci Madinah

Peristiwa gerhana dalam kisah kenabian juga terjadi pada era lebih kemudian, yakni pada masa Rasulullah Muhammad SAW. Tepatnya hanya beberapa bulan sebelum beliau wafat. Gerhana tersebut terjadi pada hari yang sama dengan wafatnya Ibrahim, putra Rasulullah SAW yang masih bayi. Wafatnya Ibrahim yang bersamaan dengan menggelapnya langit membuat sebagian penduduk kotasuci Madinah menduga-duga bahwa kedua peristiwa itu berhubungan. Ada juga yang menduga bahwa alam raya turut berduka. Mendengar hal itu, usai memakamkan putranya Rasulullah SAW pun menjelaskan peristiwa gerhana tidaklah berhubungan dengan hidup matinya seseorang. Karena Bulan dan Matahari adalah dua dari sekian banyak tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Dan Umat Islam agar segera berzikir dengan menunaikan shalat gerhana tatkala menyaksikan peristiwa gerhana.

Gambar 5. Perbandingan situasi lingkungan pada saat tahap awal sebuah gerhana (kiri) dengan pada saat puncak gerhana (kanan). Kejadian ini diabadikan pada peristiwa Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016, dimana di lokasi pemotretan di Karanganyar (Kebumen) hanya nampak sebagai gerhana sebagian. Situasi langit cerah. Peredupan semacam ini mudah dikenali khalayak ramai dalam gerhana, baik di masa kini maupun silam. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 5. Perbandingan situasi lingkungan pada saat tahap awal sebuah gerhana (kiri) dengan pada saat puncak gerhana (kanan). Kejadian ini diabadikan pada peristiwa Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016, dimana di lokasi pemotretan di Karanganyar (Kebumen) hanya nampak sebagai gerhana sebagian. Situasi langit cerah. Peredupan semacam ini mudah dikenali khalayak ramai dalam gerhana, baik di masa kini maupun silam. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gerhana yang terjadi pada saat wafatnya Ibrahim adalah Gerhana Matahari. Analisis astronomi, juga dengan menelaah Five Millenium (-1999 to +3000) Canon of Solar Eclipse Database memperlihatkan satu-satunya peristiwa Gerhana Matahari yang terjadi pada masa Rasulullah SAW tinggal di Madinah hingga wafatnya adalah Gerhana Matahari Cincin 27 Januari 632 TU. Kotasuci Madinah dan sekitarnya menjadi bagian dari wilayah gerhana ini, tepatnya bagian dari zona penumbranya. Sehingga yang terlihat hanyalah gerhana sebagian. Dari kotasuci Madinah dan lingkungan sekitarnya, gerhana ini akan dapat dilihat hanya dalam beberapa saat pasca terbitnya Matahari. Basisdata di atas memperlihatkan bahwa awal gerhana di kotasuci Madinah dan sekitarnya terjadi pada pukul 07:16 waktu setempat, saat Matahari hanyalah setinggi 0,9º dari horizon timur. Puncak gerhana terjadi pada pukul 08:29 waktu setempat, saat Matahari sudah setinggi 16,0º dari horizon timur.Dan gerhana berakhir pada pukul 09:54 waktu setempat kala Matahari sudah berkedudukan cukup tinggi, yakni 31,8º dari horizon timur. Persentase penutupan cakram Matahari di saat puncak gerhana mencapai 76,4 %. Sehingga intensitas sinar Matahari yang tiba di kotasuci Madinah dan sekitarnya tinggal 24 % saja dari normalnya pada saat puncak gerhana. Situasi ini jelas membuat suasana menjadi remang-remang yang mudah diindra oleh orang-orang.

Gambar 6.  Peta zona antumbra dalam wilayah Gerhana Matahari Cincin 27 Januari 632 TU. Nampak zona antumbra (lebar 70 kilometer) melintas jauh di selatan dari lokasi kotasuci Madinah. Garis kuning menandakan garis yang menghubungkan titik-titik yang mengalami Matahari terbit tepat pada saat awal gerhana. Kotasuci Madinah dan lingkungan sekitarnya hanya melihat gerhana sebagian yang dimulai hanya beberapa saat dari terbitnya Matahari. Sumber: Xavier Jubier, 2017 dengan basis NASA, 2006.

Gambar 6. Peta zona antumbra dalam wilayah Gerhana Matahari Cincin 27 Januari 632 TU. Nampak zona antumbra (lebar 70 kilometer) melintas jauh di selatan dari lokasi kotasuci Madinah. Garis kuning menandakan garis yang menghubungkan titik-titik yang mengalami Matahari terbit tepat pada saat awal gerhana. Kotasuci Madinah dan lingkungan sekitarnya hanya melihat gerhana sebagian yang dimulai hanya beberapa saat dari terbitnya Matahari. Sumber: Xavier Jubier, 2017 dengan basis NASA, 2006.

Konversi kalender memperlihatkan tanggal 27 Januari 632 TU bertepatan dengan tahun 10 H, yakni tahun terjadinya haji wada’ (haji perpisahan). Dalam haji wada’ itu Rasulullah SAW menerima sejumlah wahyu, salah satunya adalah perintah untuk menjadikan kalender Umat Islam (yang dikemudian hari dinamakan kalender Hijriyyah) sebagai kalender lunar murni, kalender yang sepenuhnya berbasis pergerakan Bulan. Sehingga setahun kalender Hijriyyah selalu terdiri dari 12 bulan tanpa ada lagi interkalasi (bulan kabisat atau bulan sisipan) yang dipraktikkan sebagai Naasi’ seperti sebelumnya.

Maka dapat disimpulkan bahwa tahun 10 H terdiri dari 12 bulan saja seperti tahun-tahun berikutnya sehingga 27 Januari 632 TU ekivalen dengan 29 Syawwal 10 H. Tarikh ath-Thabari menyebutkan Ibrahim lahir di sekitar bulan Zulhijjah 8 H, demikian halnya menurut Ibn Katsir dengan mengutip Ibn Saad. Maka pada saat wafatnya, Ibrahim berusia 21 bulan, angka yang sesuai dengan Tarikh ath-Thabari.

jib_tabel-gm-rasulullahsawSepanjang masa kenabiannya, Rasulullah SAW bersua dengan sembilan peristiwa Gerhana Matahari. Yakni empat Gerhana Matahari Total dan lima Gerhana Matahari Cincin. Lima peristiwa Gerhana Matahari terjadi tatkala Rasulullah SAW masih tinggal di kotasuci Makkah, sementara empat lainnya terjadi setelah berhijrah ke kotasuci Madinah.

Dan seluruh peristiwa gerhana tersebut menjadikan kotasuci Makkah dan Madinah hanya sebagai bagian dari zona penumbra saja. Namun dari sembilan Gerhana Matahari tersebut, kemungkinan besar hanya lima diantaranya yang benar-benar bisa diindra oleh orang-orang pada saat itu. Karena hanya kelima Gerhana Matahari inilah yang memiliki nilai persentase tutupan cakram Matahari yang cukup besar pada saat puncak gerhana terjadi. Dari kelimanya hanya satu yang terjadi pada saat Rasulullah SAW sudah tinggal di kotasuci Madinah, yakni Gerhana Matahari Cincin 27 Januari 632 TU. Sementara empat lainnya, masing-masing Gerhana Matahari Total 23 Juli 413 TU, Gerhana Matahari Cincin 21 Mei 616 TU, Gerhana Matahari Cincin 4 November 617 TU dan Gerhana Matahari Total 2 September 620 TU terjadi tatkala Rasulullah SAW masih tinggal di kotasuci Makkah.

Referensi :

Fred Espenak & Jean Meeus. 2006. Five Millenium (-1999 to +3000) Canon of Solar Eclipse Database. NASA/TP-2006-214141, Oktober 2006.

Dickinson. 2017. Ancient Annular, Dating Joshua’s Eclipse. Universe Today, 6 Feb 2017.

Gerhana Bulan 11 Februari 2017 yang Pemalu

Sabtu 11 Februari 2017 Tarikh Umum (TU) jelang Matahari terbit. Bilamana langit cerah dan anda tinggal di pulau Jawa bagian barat, atau di pulau Kalimantan bagian barat, atau di pulau Sumatra dan pulau-pulau kecil disekelilingnya, arahkan pandangan ke langit barat. Bila pandangan tak terhalang, Bulan akan nampak bertengger di atas kaki langit barat sebagai Bulan purnama. Wajahnya sesungguhnya bulat bundar penuh, namun kedudukannya yang rendah di atas kaki langit membuatnya nampak terdistorsi menjadi sedikit lonjong.

 Gambar 1. Bulan dalam peristiwa Gerhana Bulan Penumbral 16-17 September 2016, diabadikan dengan teleskop yang terangkai kamera. Secara kasat mata penggelapan wajah Bulan dalam Gerhana Bulan Penumbral sangat sulit untuk diamati. Sumber: Sudibyo, 2016.


Gambar 1. Bulan dalam peristiwa Gerhana Bulan Penumbral 16-17 September 2016, diabadikan dengan teleskop yang terangkai kamera. Secara kasat mata penggelapan wajah Bulan dalam Gerhana Bulan Penumbral sangat sulit untuk diamati. Sumber: Sudibyo, 2016.

Mulai pukul 05:34 WIB, suatu peristiwa terjadi pada Bulan. Namun secara kasat mata sangat sulit bagi anda yang tinggal di tiga lokasi tadi untuk mendeteksinya. Inilah peristiwa Gerhana Bulan Penumbral atau disebut juga Gerhana Bulan samar. Gerhana Bulan Penumbral 11 Februari 2017 merupakan gerhana yang paling awal di musim gerhana tahun 2017 TU. Dalam peristiwa Gerhana Bulan Penumbral ini, bundaran cakram Bulan akan memasuki zona bayangan tambahan (penumbra) Bumi akibat konfigurasi posisi Bulan, Bumi dan Matahari yang nyaris hampir segaris lurus dalam segala arah (syzygy) dengan Bulan di antara kedua benda langit lainnya. Meski memiliki konfigurasi yang serupa dengan peristiwa Gerhana Bulan Total maupun Gerhana Bulan Sebagian, namun masuknya cakram Bulan hanya ke dalam bayangan tambahan Bumi membuat Bulan masih tetap akan terlihat layaknya Bulan purnama. Ia masih tetap mendapatkan sinar Matahari meski intensitasnya sedikit lebih rendah dibanding seharusnya.

Seperti halnya peristiwa Gerhana Bulan pada umumnya, tidak setiap saat Bulan purnama terjadi diiringi dengan peristiwa Gerhana Bulan. Sebaliknya suatu peristiwa Gerhana Bulan pasti terjadi bertepatan dengan saat Bulan purnama. Musababnya adalah orbit Bulan yang tak berimpit dengan bidang edar Bumi mengelilingi Matahar), melainkan menyudut sebesar 5o. Hanya ada dua titik dimana Bulan berpeluang tepat segaris lurus syzygy dengan Bumi dan Matahari, yakni di titik nodal naik dan titik nodal turun. Dan dalam kejadian Bulan purnama, mayoritas terjadi tatkala Bulan tak berdekatan ataupun berada dalam salah satu dari dua titik nodal tersebut. Inilah sebabnya mengapa tak setiap saat Bulan purnama kita bersua dengan Gerhana Bulan.

Gerhana Bulan Penumbral 11 Februari 2017 hanya terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama adalah awal gerhana/kontak awal penumbra (P1) yang akan terjadi pada pukul 05:34 WIB. Sementara tahap kedua adalah puncak gerhana, yang bakal terjadi pada pukul 07:33 WIB dengan magnitudo saat puncak adalah 0,99. Artinya pada saat itu 99 % cakram Bulan tertutupi oleh bayangan tambahan Bumi. Dan yang terakhir adalah tahap akhir gerhana/kontak akhir penumbra (P4) yang bakal berlangsung pada pukul 09:53 WIB. Dengan demikian durasi Gerhana Bulan Penumbral 11 Februari 2017 ini adalah 4 jam 19 menit.

Gambar 2. Peta wilayah Gerhana Bulan Penumbral 11 Februari 2017 dalam lingkup global. Perhatikan Indonesia dibelah oleh garis P1 , yakni garis dimana awal gerhana bertepatan dengan terbenamnya Bulan (terbitnya Matahari). Dengan demikian hanya sebagian Indonesia berkesempatan menyaksikan Gerhana Bulan yang samar ini, sepanjang langit cerah. Sumber: NASA, 2016.

Gambar 2. Peta wilayah Gerhana Bulan Penumbral 11 Februari 2017 dalam lingkup global. Perhatikan Indonesia dibelah oleh garis P1 , yakni garis dimana awal gerhana bertepatan dengan terbenamnya Bulan (terbitnya Matahari). Dengan demikian hanya sebagian Indonesia berkesempatan menyaksikan Gerhana Bulan yang samar ini, sepanjang langit cerah. Sumber: NASA, 2016.

Wilayah gerhana bagi Gerhana Bulan Penumbral 11 Februari 2017 melingkupi hampir segenap paras Bumi, kecuali sebagian kecil benua Asia (yakni Asia timur jauh dan sebagian Asia tenggara) serta segenap benua Australia. Sebagian besar Indonesia tidak tercakup ke dalam wilayah gerhana ini. Secara umum Indonesia terbelah menjadi dua oleh garis P1, yakni himpunan titik-titik yang mengalami momen terbenamnya Bulan bersamaan dengan awal gerhana. Garis P1 tersebut melintas melalui pulau Kalimantan dan pulau Jawa. Hanya daerah-daerah yang berada di sebelah barat dari garis P1 inilah yang berkesempatan tercakup ke dalam wilayah Gerhana Bulan Penumbral 11 Februari 2017. Dengan demikian wilayah gerhana ini di Indonesia hanya mencakup sebagian pulau Jawa (propinsi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah), sebagian pulau Kalimantan (propinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah) serta segenap pulau Sumatra dan pulau-pulau kecil disekitarnya. Di daerah-daerah tersebut, Gerhana Bulan Penumbral ini pun takkan bisa dinikmati secara utuh karena terjadi kala Bulan sedang dalam proses terbenam. Maka dapat dikatakan peristiwa Gerhana Bulan ini merupakan gerhana yang pemalu, karena Bulan tak menampakkan seluruh tahap gerhananya.

Sesuai dengan namanya, Gerhana Bulan Penumbral ini nyaris tak dapat dibedakan dengan Bulan purnama biasa. Butuh teleskop dengan kemampuan baik untuk dapat melihatnya. Untuk memotretnya, butuh kamera dengan pengaturan (setting) yang lebih kompleks dan bisa disetel secara manual. Dalam puncak gerhana Bulan samar, jika cara pengaturan kamera kita tepat maka Bulan akan terlihat menggelap di salah satu sudutnya. Detail teknis pemotretan untuk mengabadikan gerhana ini dengan menggunakan kamera DSLR (digital single lens reflex) tersaji berikut ini :

Bagi Umat Islam ada anjuran untuk menyelenggarakan shalat gerhana baik di kala terjadi peristiwa Gerhana Matahari maupun Gerhana Bulan. Tapi hal tersebut tak berlaku dalam kejadian Gerhana Bulan Penumbral ini. Musababnya gerhana Bulan samar dapat dikatakan mustahil untuk bisa diindra dengan mata manusia secara langsung. Padahal dasar penyelenggaraan shalat gerhana adalah saat gerhana tersebut dapat dilihat, seperti dinyatakan dalam hadits Bukhari, Muslim dan Malik yang bersumber dari Aisyah RA. Pendapat ini pula yang dipegang oleh dua ormas Islam terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul ‘Ulama dan Muhammadiyah. Keduanya sepakat saat gerhana tak bisa disaksikan (secara langsung), maka shalat gerhana tak dilaksanakan.

Bom, Ledakan dan Dampak Gelombang Kejutnya

Sebuah peledak rakitan dalam rupa bom pressure cooker atau lebih populer dengan nama bom panci ditemukan polisi dalam penggerebekan di Bekasi (propinsi Jawa Barat) pada Sabtu 10 Desember 2016 Tarikh Umum (TU) lalu. Peledak atau bom rakitan tersebut mendapat nama demikian karena desain dasarnya menggunakan panci tekan (pressure cooker) sebagai wadah untuk muatan primer dan muatan sekundernya. Muatan primernya disebut-sebut sebagai bahan peledak TATP (tri aseton tri peroksida) dengan berat 3 kilogram. Sementara muatan sekundernya disebut-sebut berupa paku dan bola-bola kecil (gotri).

Hanya muatan primer yang telah dipasang dalam wadahnya. Untuk menghindari kemungkinan terjadinya ledakan yang tak terduga saat barang-barang bukti ini diangkut dari lokasi penemuan, maka tim penjinak bahan peledak memutuskan untuk memusnahkan muatan primer dengan meledakkannya melalui teknik tertentu. Sehingga dampak ledakannya disebu-sebut tinggal seperlima dari normal.  Begitupun penduduk di sekitar lokasi hingga radius 500 meter dari titik pemusnahan harus dievakuasi untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Polisi menyebut peledak rakitan ini bisa berdampak hingga radius 300 meter dari titik ledak.

Gambar 1. Penampakan bom pressure cooker yang disita polisi dalam penggerebekan di Bekasi. Nampak panci tekan yang akan menjadi wadah. Nampak juga muatan primer berupa TATP seberat 3 kg (warna merah bata) yang telah dipasangi detonator (terlihat dari kabel yang menjulur). Sumber: Detikcom, 2016.

Gambar 1. Penampakan bom pressure cooker yang disita polisi dalam penggerebekan di Bekasi. Nampak panci tekan yang akan menjadi wadah. Nampak juga muatan primer berupa TATP seberat 3 kg (warna merah bata) yang telah dipasangi detonator (terlihat dari kabel yang menjulur). Sumber: Detikcom, 2016.

Benarkah demikian ?

Low Explosive dan High Explosive

Pada dasarnya ledakan adalah peristiwa pelepasan energi dalam jumlah cukup besar pada volume ruang yang sempit dalam tempo singkat. Energi tersebut bisa berupa energi kimia, energi gas yang tertekan atau bahkan energi nuklir. Ledakan bisa disebabkan oleh pembakaran bahan peledak ataupun bahan mudah meledak, baik secara sengaja maupun tidak. Salah satu dampak dari ledakan adalah penjalaran gelombang kejut (shockwave), yakni tekanan kuat tak-kasat mata yang melebihi tekanan atmosfer setempat sebagai hasil dorongan amat sangat kuat gas-gas maupun plasma produk ledakan ke udara sekitar. Namun sebelum mengupas lebih lanjut perihal gelombang kejut, mari kita tinjau dulu klasifikasi bahan peledak.

Berdasarkan kecepatan awal pelepasan gelombang kejutnya, atau disebut sebagai kecepatan peledakan, maka dikenal ada dua kelompok bahan peledak. Kelompok pertama adalah kelompok bahan peledak berdaya tinggi atau high explosive. Ia mendapatkan namanya karena memiliki kecepatan peledakan yang lebih besar ketimbang kecepatan suara di udara. TATP tergolong kelompok ini karena kecepatan peledakannya sebesar 5,3 km/detik atau setara 19.000 km/jam. Segolongan dengannya adalah TNT (trinitrotoluena) yang legendaris. Selain menjadi standar untuk mendeskripsikan energi ledakan, TNT juga digunakan sebagai bahan racikan campuran untuk membentuk bahan-bahan peledak berdaya tinggi lainnya (misalnya Composition B, Composition H6, Amatol dan lain-lain). TNT memiliki kecepatan peledakan 6,9 km/detik atau setara 24.800 km/jam. Sebagai pembanding, kecepatan suara di paras Bumi pada suhu dan tekanan standar adalah ‘hanya’ 340 meter/detik atau setara 1.200 km/jam. Peristiwa ledakan yang disebabkan oleh kelompok bahan peledak ini memiliki nama khas sendiri: detonasi.

Kelompok kedua adalah kelompok bahan peledak berdaya rendah atau low explosive. Dinamakan demikian karena memiliki kecepatan peledakan yang lebih kecil ketimbang kecepatan suara. Kelompok bahan peledak ini memiliki kecepatan peledakan mulai dari hanya beberapa sentimeter per detik hingga maksimum 400 meter/detik. Bubuk petasan/mercon dan juga kembang api tergolong ke dalam kelompok ini. Seperti halnya detonasi, peristiwa ledakan yang disebabkan kelompok bahan peledak ini pun memiliki nama tersendiri: deflagrasi.

Ledakan melepaskan energi yang secara praktis disebut energi ledakan. Ia dinyatakan dalam TNT dengan standar 1 kilogram TNT = 4,18 Mega Joule (MJ). Jika energinya sangat besar, ia bisa juga dinyatakan dalam ton TNT (1 ton TNT = 1.000 kilogram TNT), kiloton TNT (1 kiloton TNT = 1.000 ton TNT) atau bahkan megaton TNT (1 megaton TNT = 1.000.000 ton TNT). Ledakan terbesar yang pernah diproduksi umat manusia hingga saat ini adalah yang dilakukan eks-Uni Soviet dalam ujicoba nuklir Tsar Bomba (RDS-220) pada 30 Oktober 1961 TU. Ujicoba bom hidrogen yang diledakkan di ketinggian 4.000 meter dpl (dari paras air laut rata-rata) itu melepaskan energi 50 megaton TNT. Atau 2.500 kali lipat lebih dahsyat ketimbang bom Hiroshima.

Gambar 2. Panorama pasca ledakan Oklahoma (Amerika Serikat) 19 April 1995 TU. Nampak kawah yang tercipta saat peledak rakitan berbasis pupuk dan minyak dengan kandungan energi setara 1,8 ton TNT didetonasikan. Hempasan gelombang kejut membuat sebagian gedung federal ambruk dan menelan banyak korban jiwa. Sumber: Associated Press, 1995.

Gambar 2. Panorama pasca ledakan Oklahoma (Amerika Serikat) 19 April 1995 TU. Nampak kawah yang tercipta saat peledak rakitan berbasis pupuk dan minyak dengan kandungan energi setara 1,8 ton TNT didetonasikan. Hempasan gelombang kejut membuat sebagian gedung federal ambruk dan menelan banyak korban jiwa. Sumber: Associated Press, 1995.

Dalam persepsi umum, bahan peledak berdaya tinggi memiliki komposisi rahasia dan hanya digunakan di kalangan militer. Itu tidak sepenuhnya benar. Banyak bahan peledak berdaya tinggi yang bisa dirakit sendiri di luar kalangan militer. Dalam aksi pengeboman gedung federal Oklahoma (Amerika Serikat) pada 19 April 1995 TU, dua tersangka yakni Timothy McVeigh dan Terry Nichols menggunakan bahan yang umum dijumpai di lingkungan pertanian: pupuk dan minyak. Peledak rakitan berdaya ledak tinggi seberat 2,2 ton yang ditaruh pada truk sewaan itu sungguh dahsyat sehingga tatkala diledakkan melepaskan energi setara 1,8 ton TNT. Ledakan dahsyat itu menewaskan 169 orang dan melukai lebih dari 680 orang. Ia juga memproduksi kawah selebar 8 meter dengan kedalaman 2 meter di titik ledakan, sementara gelombang kejutnya merusak segala bangunan hingga radius 500 meter dari titik ledakan.

Dampak Gelombang Kejut

Bagaimana jika sebuah peledak berdaya tinggi didetonasikan di udara bebas?

Gambar 3. Berbagai dampak hempasan gelombang kejut dari Peristiwa Chelyabinsk 2013 di kota Yemanzhelinsk (Russia). Mulai dari kaca-kaca jendela yang pecah dan jendela yang rusak (A, B, D, E, F, H), kerangka jendela yang terdorong masuk (C ) hingga eternit yang jebol (G). Semua kerusakan ini disebabkan oleh pelepasan energi tinggi mirip-ledakan dari sebutir asteroid kecil yang memasuki atmosfer Bumi menjadi boloid. Sumber: Popova dkk, 2013.

Gambar 3. Berbagai dampak hempasan gelombang kejut dari Peristiwa Chelyabinsk 2013 di kota Yemanzhelinsk (Russia). Mulai dari kaca-kaca jendela yang pecah dan jendela yang rusak (A, B, D, E, F, H), kerangka jendela yang terdorong masuk (C ) hingga eternit yang jebol (G). Semua kerusakan ini disebabkan oleh pelepasan energi tinggi mirip-ledakan dari sebutir asteroid kecil yang memasuki atmosfer Bumi menjadi boloid. Sumber: Popova dkk, 2013.

Gelombang kejut adalah dampak yang paling dominan. Gelombang kejut senantiasa terbentuk saat bahan peledak apapun, baik berdaa rendah apalagi berdaya tinggi, diledakkan. Gelombang kejut juga senantiasa terbentuk dalam peristiwa mirip-ledakan. Baik mulai dari kecelakaan industri seperti misalnya dalam peristiwa ledakan kompleks pelabuhan Tianjin (Cina) pada 12 Agustus 2015 TU hingga letusan eksplosif gunung berapi seperti misalnya Letusan Merapi 2010. Bahkan peristiwa langit pun kerap melepaskan gelombang kejut, misalnya saat jatuhnya meteor di Chelyabinsk (Russia) pada 13 Februari 2013 TU.  Dalam kejadian yang disebut Peristiwa Chelyabinsk 2013 itu sebanyak 7.320 bangunan pecah kaca-kaca jendelanya akibat hempasan gelombang kejut. Pecahan kaca-kaca jendela itu beterbangan dan melukai orang-orang didekatnya. Akibatnya 1.613 orang terpaksa mendatangi rumah sakit dan klinik terdekat dengan luka-luka iris akibat hantaman pecahan kaca.

Gelombang kejut merupakan tekanan tak-kasat mata yang diekspresikan oleh nilai tekanan-lebih atau overpressure, yakni selisih antara tekanan gelombang kejut terhadap tekanan atmosfer standar (diidealkan pada paras air laut rata-rata). Nilai overpressure itu bisa mulai dari sekecil 200 Pascal (Pa, 1 Pa = 1 Newton/meter2) dengan dampak minimal yakni hanya menggetarkan kaca jendela dan berkemungkinan meretakkan kisi-kisinya. Namun bisa juga sebesar 1 MegaPascal (1.000.000 Pa) dengan dampak sangat mematikan bagi manusia, karena mampu memutilasi tubuh kita tanpa ampun. Bahkan jika overpressure-nya mencapai 2,5 MegaPascal, dampaknya sanggup melubangi tanah dan menciptakan cekungan kawah yang khas. Semua bergantung kepada jarak terhadap titik ledakan. Karena overpressure berbanding terbalik dengan bertambahnya jarak dan dalam kondisi tertentu dapat berbanding terbalik dengan kuadrat jarak dari titik ledakan.

Menjalarnya gelombang kejut menyebabkan titik-titik yang dilintasinya memiliki tekanan udara lebih besar dibanding lingkungan sekitar untuk sesaat. Dan perbedaan tekanan udara menyebabkan berhembusnya angin. Maka penjalaran gelombang kejut pun diikuti dengan hembusan angin dri arah titik ledakan menuju keluar. Kuat lemahnya hembusan angin akibat ledakan bergantung kepada besar kecilnya overpressure yang terjadi. Maka ia bisa berhembus dengan kecepatan hanya 13 km/jam (pada overpressure 200 Pascal). Namun bisa juga secepat lebih dari 2.200 km/jam (pada overpressure 1 MegaPascal).

Gambar 4. Contoh dampak gelombang kejut pada medium dari dua peristiwa berbeda, yakni ujicoba detonasi 500 kilogram TNT Angkatan Laut AS dalam Operation Sailor Hat 1965 di pulau Kahoolawe, Hawaii (AS) dan bencana industrial terbakarnya pabrik amonium perklorat PEPCON di Nevada (AS) pada 4 Mei 1988 TU yang menghasilkan peristiwa mirip-ledakan dengan energi 1 kiloton TNT. TL = titik ledak, 1 = medium (air atau tanah) yang tepat dilintasi gelombang kejut, 3 = medium yang belum terlintasi gelombang kejut. Perhatikan perubahan fisis pada medium sebelum dan saat terlintasi gelombang kejut. Sumber: AL AS, 1965 & Discovery Channel, 2010.

Gambar 4. Contoh dampak gelombang kejut pada medium dari dua peristiwa berbeda, yakni ujicoba detonasi 500 kilogram TNT Angkatan Laut AS dalam Operation Sailor Hat 1965 di pulau Kahoolawe, Hawaii (AS) dan bencana industrial terbakarnya pabrik amonium perklorat PEPCON di Nevada (AS) pada 4 Mei 1988 TU yang menghasilkan peristiwa mirip-ledakan dengan energi 1 kiloton TNT. TL = titik ledak, 1 = medium (air atau tanah) yang tepat dilintasi gelombang kejut, 3 = medium yang belum terlintasi gelombang kejut. Perhatikan perubahan fisis pada medium sebelum dan saat terlintasi gelombang kejut. Sumber: AL AS, 1965 & Discovery Channel, 2010.

Bagaimana dampak ledakan bom panci dengan muatan primer TATP 3 kilogram?

Mari kita simulasikan. Beberapa referensi menyebut kandungan energi TATP setara dengan 80 hingga 90 % TNT. Artinya TATP 3 kilogram sama dahsyatnya dengan TNT 2,4 hingga 2,7 kilogram. Mari keluarkan TATP dari wadahnya (panci) dan singkirkan muatan sekundernya (paku dan bola-bola besi), lalu detonasikan di udara terbuka. Penjalaran gelombang kejutnya dan dampaknya (dalam hal overpressure) dapat ditelaah melalui persamaan-persamaan simultan yang disajikan Kinney & Graham dalam buku  “Explosive Shocks in Air”  (1985). Persamaan-persamaan yang sama banyak diterapkan dalam mengevaluasi dampak gelombang kejut dari peristiwa ledakan entah dari peledak konvensional berdaya tinggi bahkan hingga peledak nuklir. Disini diasumsikan bahwa energi ledakan TATP tersebut setara dengan 3 kg TNT. Asumsi lainnya, tinggi titik ledakan adalah 1 meter dari permukaan tanah, atau sesuai dengan ketinggian pinggang rata-rata manusia dewasa saat berdiri.

Hasilnya menakjubkan. Dalam jarak 18 meter, gelombang kejut ledakan TATP 3 kilogram menghasilkan overpressure sebesar 8.500 Pascal yang dampaknya sanggup menjatuhkan orang yang sedang berdiri tegak. Tentu saja orang tersebut akan jatuh berdebam dengan keras sehingga diikuti patah tulang di berbagai tempat dan kemungkinan gegar otak. Dalam jarak 25 meter, overpressure-nya masih sebesar 5.500 Pascal sehingga kaca jendela masih bisa dibikin remuk. Yang lebih mengerikan, pecahan-pecahan kaca jendela ini lantas akan dilesatkan dengan kecepatan tinggi laksana peluru hingga jarak 54 meter. Orang yang berada dalam rentang jarak ini bisa mengalami luka tembus laksana diberondong peluru. Hingga jarak 82 meter, kaca jendela masih bisa dibikin pecah sebagian akibat overpressure sebesar 1.200 Pascal. Orang yang kebetulan berada didekatnya bisa mengalami luka iris. Bahkan hingga jarak 432 meter, tepi kaca jendela masih bisa dibikin retak akibat overpressure sebesar 200 Pascal.

Bagaimana dampak bagi manusia? Uraian di atas memperlihatkan bahwa jika anda berdiri hingga jarak 25 meter dari titik ledak, maka anda kemungkinan besar akan tewas. Baik akibat terjatuh sangat keras (terlebih bila tak segera ditangani) maupun dihujani remukan kaca dalam jumlah tak kepalang banyaknya yang melesat secepat peluru, bak tembakan mitraliur. Jika anda berdiri pada jarak 50 meter, anda masih akan terluka (sedang hingga berat) akibat semburan puing-puing. Dan di jarak 82 meter, anda masih akan terluka (ringan) khususnya jika berada di dekat jendela.

Gambar 5. Dampak gelombang kejut ledakan TATP 3 kg yang dipilih untuk lima overpressure dengan dampak tertentu. Titik ledakan hipotetik ini diasumsikan berada di satu titik di sebelah utara landasan pacu FASI di kawasan pantai Parangtritis, Bantul (DI Yogyakarta). Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 5. Dampak gelombang kejut ledakan TATP 3 kg yang dipilih untuk lima overpressure dengan dampak tertentu. Titik ledakan hipotetik ini diasumsikan berada di satu titik di sebelah utara landasan pacu FASI di kawasan pantai Parangtritis, Bantul (DI Yogyakarta). Sumber: Sudibyo, 2016.

Harus digarisbawahi bahwa perhitungan ini dikerjakan dalam kondisi ideal dengan titik ledak di udara terbuka tanpa muatan sekunder. Jika paku dan bola-bola besi turut disertakan, maka saat TATP meledak gelombang kejutnya akan mendorong paku dan bola-bola besi tersebut melesat dengan kecepatan tinggi seperti peluru. Mereka bisa melesat hingga sejauh 100 meter dari titik ledak. Jelas bahwa jika ada seseorang yang berdiri dalam jarak kurang dari 100 meter dari titik ledak. ia bisa mengalami luka tembus dan luka tusuk layaknya terkena peluru senapan. Tingkat keparahan luka jenis ini lebih tinggi ketimbang luka akibat tembusan atau irisan pecahan kaca. Maka dapat dikatakan bahwa penambahan muatan sekunder membuat daya hancur bom ini lebih besar.

Muatan sekunder dalam bentuk potongan-potongan logam acap dijumpai dalam persenjataan militer. Misalnya dalam sistem rudal antipesawat udara, yang memandaatkan potongan-potongan logam dengan geometri tertentu untuk bisa menembus badan pesawat. Sehingga pesawat sasaran akan tetap rusak berat dan rontok dibobol oleh potongan-potongan logam berkecapatn tinggi meskipun rudal meledak dalam jarak tertentu, katakanlah 10 meter, dari pesawat tersebut. Jenis rudal seperti inilah yang tempo hari menjatuhkan pesawat Boeing-777 Malaysia Airlines penerbangan MH17 di Ukraina timur.

Dapat dilihat bahwa dengan hasil perhitungan dampak gelombang kejut, pernyataan polisi bahwa peledak rakitan berbasis TATP 3 kilogram itu bisa berdampak hingga radius 300 meter dari titik ledak tidaklah berlebihan. Jadi bom pressure cooker itu  bukan bom mainan, bukan mercon. Dampaknya bisa mengerikan. Apalagi jika muatan sekundernya, seperti paku maupun gotri, turut dipasang. Sebab saat detonasi terjadi, muatan sekunder itu akan melejit secepat peluru. Jarak 150 meter dari titik ledak pun belum tentu aman.

Perbandingan

Sebagian kita ada yang mencoba membandingkan kemampuan TATP 3 kilogram ini dengan bom kelas berat seperti MOAB dan FOAB. Tujuannya untuk mendiskreditkan temuan peledak rakitan di Bekasi. Disebut bahwa dampak ledakan bom MOAB adalah 150 meter sementara dampak ledakan FOAB mencapai 300 meter. Sementara peledak rakitan Bekasi juga bisa berdampak 300 meter, padahal bobotnya jauh lebih kecil ketimbang MOAB (11 ton TNT) maupun FOAB (44 ton TNT). Satu hal yang mustahil, begitu kesimpulan mereka.

Bagaimana perbandingan yang sebenarnya?

Bom MOAB (Mother of All Bombs) memiliki nama resmi GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast. Ini adalah jenis bom pintar atau bom yang dipandu untuk menuju ke sasaran tertentu tanpa penggerak aktif (GBU = guided bomb unit) yang juga berfungsi sebagai bom psikologis, senjata untuk meratakan lahan berhutan dan bom pemusnah ladang ranjau. Amerika Serikat (AS) mengembangkan bom kelas berat berbobot 10.300 kilogram dengan bahan peledak Composition H6 seberat 8.500 kilogram ini pada 2003 TU sebagai pengganti dari bom sejenis (yang lebih ringan) yakni BLU-82 Daisy Cutter. Saat ini dalam gudang senjata militer AS hanya tersedia 15 unit bom MOAB .

Dengan kandungan energi 11 ton TNT, bom MOAB memiliki blast radius 150 meter. Blast radius adalah radius dimana kerusakan berat dan kerusakan total akibat hempasan gelombang kejut ledakan terjadi. Dalam blast radius inilah pepohonan di hutan akan tumbang, dan ranjau-ranjau yang ditanam pada ladang ranjau akan meledak akibat overpressure hebat (sebesar 21.700 Pascal).

Sementara bom FOAB (Father of All Bombs) dikembangkan oleh militer Russia sejak 2007 TU dengan nama resmi ATBIP (Aviation Thermobaric Bomb of Increased Power). Ini juga merupakan bom pintar dan bom psikologis yang berpinsip termobarik (memanfaatkan oksigen di udara) dengan bobot 9.000 kilogram. Dengan kandungan enerfi 44 ton TNT, bom kelas berat ini memiliki blast radius 300 meter. Berbeda dengan MOAB, saat ini tersedia 100 buah bom FOAB dalam arsenal militer Russia sekaligus menjadikannya bom non nuklir terkuat yang pernah ada. Baik bom MOAB maupun FOAB memiliki kesamaan, yakni tak satupun yang pernah digunakan dalam medan pertempuran.

Gambar 6. Perbandingan dampak gelombang kejut antara ledakan TATP 3 kg, MOAB (11 ton TNT) dan FOAB (44 ton TNT). Perbandingan dibatasi pada blast radius dan dampak yang memecahkan kaca jendela. Titik ledakan hipotetik ini diasumsikan berada di dalam kawasan dataran pantai Ambal, Kebumen (Jawa Tengah). Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 6. Perbandingan dampak gelombang kejut antara ledakan TATP 3 kg, MOAB (11 ton TNT) dan FOAB (44 ton TNT). Perbandingan dibatasi pada blast radius dan dampak yang memecahkan kaca jendela. Titik ledakan hipotetik ini diasumsikan berada di dalam kawasan dataran pantai Ambal, Kebumen (Jawa Tengah). Sumber: Sudibyo, 2016.

Bagaimana dampak gelombang kejut produk ledakannya? Perhitungan pada bom MOAB dengan asumsi titik ledak setinggi 1 meter dan ledakan di udara terbuka memperlihatkan ledakan bom ini menciptakan blast radius hingga jarak 150 meter dari titik ledak. Lebih jauh lagi, ia sanggup menjatuhkan seseorang yang berdiri sejauh 276 meter dari titik ledak. Gelombang kejutnya juga masih bisa meremukkan kaca jendela pada jarak 376 meter dari titik ledak. Kian jauh lagi, gelombang kejutnya juga masih mampu menyebarkan puing-puing hingga sejauh 821 meter dari titik ledak. Bahkan gelombang kejutnya masih sanggup meretakkan kaca jendela yang terletak sejauh 6.670 meter dari titik ledak.

panci-tabelHal serupa berlaku juga pada bom FOAB. Hanya harus digarisbawahi bahwa bom termobarik memproduksi gelombang kejut dengan durasi lebih lama ketimbang bom non-termobarik. Sehingga radius dampak gelombang kejut ledakan bom termobarik akan lebih besar. Ini terlihat dari blast radius-nya. Perhitungan dampak gelombang kejut bom FOAB dengan asumsi titik ledak setinggi 1 meter dan ledakan di udara terbuka memperlihatkan blast radius-nya (yakni overpressure 21.700 Pascal) hingga sejauh 240 meter dari titik ledak. Tetapi dlam praktiknya blast radius bom FOAB adalah sebesar 300 meter. Sehingga terdapat faktor multiplikasi (pengali) sebesar 1,25. Dengan mempertimbangkan hal ini maka dapat diperhitungkan bahwa seseorang yang berdiri sejauh 548 meter dari titik ledak akan jatuh terhempas dengan keras. Gelombang kejut masih berkemampuan meremukkan kaca jendela pada jarak 745 meter dari titik ledak. Gelombang kejut juga masih mampu menyebarkan puing-puing hingga sejauh 1.629 meter dari titik ledak. Dampak terlemahnya, yakni retaknya kaca jendela akibat paparan gelombang kejut, akan terjadi hingga jarak 13.214 meter dari titik ledak.

Baik bom MOAB maupun FOAB tak pernah dipakai dalam medan pertempuran. Namun ada peledak rakitan yang hampir sama dahsyatnya yang pernah didetonasikan pada masa silam. Datanglah ke Beirut (Lebanon) pada 1983 TU, negeri indah pada masa Kahlil Gibran namun dirobek-robek kesumat nan kisut  antara tahun 1975 hingga 1990 TU. Sedemikian dalam angkara yang membara sehingga pernah pada satu masa penduduk Beirut menyimpan stok granat dalam jumlah lebih banyak ketimbang payung. Di tengah-tengah kekacauan inilah pada 23 Oktober 1983 TU pagi sebuah truk berbobot 19 ton melaju di kompleks bandara internasional Beirut. Ia bergerak ke arah Hilton Beirut, nama tak-resmi bagi markas Batalyon ke-1 Marinir ke-8 Amerika Serikat yang menjadi bagian dari pasukan penjaga perdamaian internasional di Lebanon. Setelah memaksa masuk ke dalam kompleks dengan menerjang kawat berduri yang mengelilingi markas, truk berhenti tepat di lobi gedung bertingkat 4 tersebut. Pengemudinya, bagian dari milisi Hezbollah, lantas menekan tombol maut.

Gambar 7. Kepulan asap tebal membumbung tinggi dari kompleks markas Batalyon ke-1 Marinir ke-8 Amerika Serikat sesat setelah dihantam detonasi peledak rakitan termobarik dengan energi setara 9,5 ton TNT. Secara keseluruhan 255 orang tewas akibat ledakan ini. Sumber; US Marine Corps, 1983.

Gambar 7. Kepulan asap tebal membumbung tinggi dari kompleks markas Batalyon ke-1 Marinir ke-8 Amerika Serikat sesat setelah dihantam detonasi peledak rakitan termobarik dengan energi setara 9,5 ton TNT. Secara keseluruhan 255 orang tewas akibat ledakan ini. Sumber; US Marine Corps, 1983.

Ledakannya sungguh dahsyat. Peledak rakitan termobarik itu melepaskan energi setara 9,5 ton TNT, ledakan non-nuklir terbesar sepanjang sejarah sejak berakhirnya Perang Dunia 2. Ledakan itu menciptakan kawah selebar 10 meter. Seluruh bagian truk tersebut hilang menguap tak berbekas, kecuali blok mesinnya saja. Bangunan Hilton Beirut pun dibikin remuk bertumpuk, laksana diangkat ke udara untuk kemudian dibanting sangat keras ke tanah. 242 orang didalamnya  yang terdiri dari 220 Marinir, 18 pelaut, 3 tentara dan 1 sipil sontak meregang nyawa, sementara 128 orang lainnya mengalami luka-luka berat. Di antara korban luka-luka, 13 diantaranya akhirnya tewas. Sehingga secara keseluruhan jumlah korban tewas mencapai 255 orang. Inilah korban jiwa terbesar yang dialami Marinir AS semenjak pertempuran Iwo Jima (Januari 1945 TU) dalam Perang Dunia 2. Detonasi peledak rakitan inilah faktor utama yang mendorong Ronald Reagan, Presiden AS saat itu, untuk menarik mundur seluruh pasukannya dari Lebanon tanpa terkecuali.

Referensi :

Amelia. 2016. Ini Penampakan Bom Panci yang Diamankan Polisi di Bintara Bekasi. Detik.com, diakses 10 Desember 2016.

Painter. 2007. The Forensic Analysis of Triacetone Triperoxide (TATP) Precursors and Synthetic Byproducts. Tesis. Florida: Dept. of Science, College of Sciences, University of Central Orlando.

Kinney & Graham. 1985. Explosive Shocks in the Air. Springer-Verlag, New York, 2nd edition.