Konstelasi Idul Adha 1435 H di Indonesia dan Saudi Arabia

Bagian ketiga dari lima tulisan

Lembaran kalender 1435 Hijriyyah telah hampir memasuki bulan kalender pamungkasnya, yakni Zulhijjah. Inilah salah satu bulan kalender yang tinggi kedudukannya di mata Umat Islam sejagat. Karena di saat inilah terdapat ibadah yang menjadi bagian Rukun Islam, yakni haji. Dan momen menentukan bagi ibadah haji terjadi setiap tanggal 9 Zulhijjah dalam prosesi wukuf di padang Arafah. Sementara jamaah calon haji berkumpul di padang Arafah untuk wukuf, umat Islam di segenap penjuru jagat lainnya dianjurkan untuk menunaikan ibadah puasa Arafah yang bersifat sunat. Dan di esok harinya, yakni pada 10 Zulhijjah, Idul Adha pun datanglah. Disusul dengan hari-hari tasyrik yang datang beruntun dalam tiga hari berikutnya. Inilah saat-saat dimana hewan-hewan kurban disembelih, sebagai pengingat akan pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS kala baru beberapa waktu memasuki lembah Bakka (kini Makkah).

Di Indonesia, popularitas hari raya Idul Adha memang tidaklah setinggi hari raya Idul Fitri. Meski sama-sama menjadi hari raya yang memiliki makna budaya, namun magnitud Idul Adha sebagai peristiwa budaya tidaklah semassif Idul Fitri. Pergerakan massa menjelang dan selepas Idul Adha jauh lebih kecil dibanding Idul Fitri. Banyak orang Indonesia yang tetap memilih untuk merayakan Idul Adha di tempat tinggalnya masing-masing tanpa merasa perlu menyempatkan pulang ke tanah tumpah darah nenek moyang. Apalagi penyembelihan hewan kurban dapat dilaksanakan kapanpun selama empat hari berturut-turut semenjak saat Idul Adha. Meski demikian diskursus seputar perbedaan atau persamaan dalam penetapan hari raya Idul Adha tetap mendapat banyak perhatian seperti halnya Idul Fitri.

Bagaimana seputar penetapan hari raya Idul Adha 10 Zulhijjah 1435 H di Indonesia?

Gambar 1. Hilaal tua (Bulan sabit tua) diabadikan pada Selasa 23 September 2014 pukul 04:55 WIB dari Bangil, Pasuruan (Jawa Timur) oleh Agus Siswanto. Hilaal tua adalah fase Bulan yang menjadi pasangan dari hilaal. Secara astronomis hilaal tua sama pentingnya dengan hilaal, namun secara syari hanya hilaal yang berperan menjadi penentu pergantian kalender Hijriyyah. Sumber: Siswanto, 2014.

Gambar 1. Hilaal tua (Bulan sabit tua) diabadikan pada Selasa 23 September 2014 pukul 04:55 WIB dari Bangil, Pasuruan (Jawa Timur) oleh Agus Siswanto. Hilaal tua adalah fase Bulan yang menjadi pasangan dari hilaal. Secara astronomis hilaal tua sama pentingnya dengan hilaal, namun secara syari hanya hilaal yang berperan menjadi penentu pergantian kalender Hijriyyah. Sumber: Siswanto, 2014.

Idul Adha 1435 H sangat bergantung pada kapan tanggal 1 Zulhijjah 1435 H ditetapkan. Dan penetapan tanggal tersebut bergantung kepada kapan 29 Zulqaidah 1435 H terjadi. Bagi segenap Indonesia, 29 Zulqaidah 1435 H bertepatan dengan Rabu 24 September 2014. Sehingga elemen-elemen Bulan saat Matahari terbenam pada tanggal tersebutlah yang menjadi penentu.

Di satu sisi ormas Muhammadiyah melalui Pimpinan Pusat-nya telah jauh-jauh hari memaklumatkan bahwa bagi mereka tanggal 1 Zulhijjah 1435 H bertepatan dengan Kamis 25 September 2014. Sehingga Idul Adha 1435 H terjadi pada Sabtu 4 Oktober 2014. Yang menjadi dasarnya adalah sebagian Indonesia telah memenuhi “kriteria” wujudul hilaal, khususnya Indonesia bagian barat. Sementara di sisi yang lain, meski masih tetap menantikan hasil sidang itsbat penetapan Idul Adha¬†1435 H yang salah satunya mengagendakan untuk mendengar dan menerima/menolak laporan-laporan observasi hilaal dari seluruh penjuru Indonesia, namun kemungkinan besar Menteri Agama bakal memutuskan 1 Zulhijjah 1435 H bertepatan dengan Jumat 26 September 2014 bila mengacu “kriteria” kesepakatan yang berlaku pada saat ini. Sebab tak satupun titik di wilayah Indonesia yang memenuhi “kriteria” imkan rukyat. Maka hampir dapat dipastikan Menteri Agama juga bakal mengumumkan Idul Adha 1435 terjadi pada Minggu 5 Oktober 2014.

Bagaimana dengan ormas besar lainnya, yakni Nahdlatul ‘Ulama (NU)? Sikap Pengurus Besar-nya jelas, yakni NU tetap menunggu hasil-hasil rukyat dan memverifikasinya. Namun melihat elemen-elemen Bulan pada 29 Zulqaidah 1435 H, juga hampir dapat dipastikan NU bakal ber-Idul Adha 1435 H pada Minggu 5 Oktober 2014. Musababnya pada Rabu senja itu hilaal mustahil dapat dirukyat, bahkan menggunakan teleskop termutakhir sekalipun. Meski demikian, dengan ‘kekuasaan’ di tubuh NU tidak berada di tangan Pengurus Besar-nya melainkan terdistribusi ke ulama/pondok pesantren kharismatis, tetap bakal ada beberapa kalangan yang menyelisihi keputusan Pengurus Besar dan ber-Idul Adha sehari lebih dini. Terutama kalangan yang masih mempergunakan sistem perhitungan (sistem hisab) Sullam, misalnya di Cakung (DKI Jakarta). Hal yang sama pun bakal dijumpai di tubuh Muhammadiyah. Meski di sini ‘kekuasaan’ berada di tangan Pengurus Pusat, namun tetap bakal ada beberapa kalangan yang menyelisihi keputusannya dan ber-Idul Adha sehari kemudian. Faktor bagaimana Saudi Arabia memutuskan Idul Adha-nya sangat menentukan sikap kalangan ini.

Elemen Bulan

Bagaimana sesungguhnya posisi Bulan pada Rabu senja 24 September 2014 sehingga hari raya Idul Adha 1435 H bakal berpotensi besar berbeda di Indonesia?

Satu parameter penting penentuan awal bulan kalender Hijriyyah adalah konjungsi Bulan-Matahari (ijtima’). Ini adalah peristiwa dimana pusat cakram Matahari tepat segaris bujur ekliptika dengan pusat cakram Bulan ditinjau dari titik referensi tertentu. Dalam peristiwa ini Bulan bisa saja seakan-akan ‘menindih’ Matahari dalam situasi khusus yang disebut Gerhana Matahari. Namun yang kerapkali terjadi adalah Bulan tetap mengambil jarak sudut tertentu terhadap Matahari, sehingga Matahari dan Bulan terlihat berjauhan dan hanya berada dalam satu garis lurus. Garis lurus ini tidak harus mendatar (horizontal) ataupun tegak (vertikal). Di Indonesia, konjungsi Bulan dan Matahari lebih sering terjadi saat kedua raksasa langit tersebut terletak pada satu garis lurus yang relatif miring terhadap cakrawala (horizon).

Dengan menggunakan sistem hisab kontemporer khususnya sistem perhitungan ELP 2000-82 diketahui bahwa bila ditinjau dari titik pusat Bumi (geosentrik), konjungsi terjadi pada Rabu 24 September 2014 pukul 13:14 WIB. Sebaliknya bila ditinjau dari titik permukaan Bumi (toposentrik), konjungsi justru terjadi lebih kemudian. Yakni dalam rentang waktu antara pukul 13:55 WIB (bagi kota Medan, propinsi Sumatra Utara) hingga pukul 15:00 WIB (bagi kota Biak, propinsi Papua). Konjungsi toposentrik sejatinya lebih realistis mengingat segenap umat manusia hidup di permukaan Bumi. Namun dalam praktiknya kalah populer dibanding konjungsi geosentrik. Sehingga yang populer menjadi patokan perhitungan ilmu falak adalah konjungsi geosentrik.

Gambar 2. Peta tinggi Bulan di Indonesia pada saat Matahari terbenam Rabu 24 September 2014. Nampak bahwa Indonesia dibelah oleh garis nol (garis yang menunjukkan tinggi Bulan sama dengan nol derajat). Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 2. Peta tinggi Bulan di Indonesia pada saat Matahari terbenam Rabu 24 September 2014. Nampak bahwa Indonesia dibelah oleh garis nol (garis yang menunjukkan tinggi Bulan sama dengan nol derajat). Sumber: Sudibyo, 2014.

Konjungsi geosentrik Bulan-Matahari menentukan elemen umur Bulan geosentrik, yakni selang waktu antara saat konjungsi (geosentrik) hingga saat Matahari terbenam di masing-masing titik pada satu wilayah negeri tertentu. Bagi Indonesia pada 24 September 2014 senja umur Bulan bervariasi antara +2,3 jam di Jayapura (propinsi Papua) hingga +5,3 jam di Lhoknga (propinsi Aceh). Selain umur Bulan, terdapat parameter signifikan lainnya yang disebut tinggi Bulan, yakni tinggi pusat cakram Bulan terhadap garis cakrawala (horizon) pada saat Matahari terbenam. Di Indonesia, pada saat yang sama tinggi Bulan bervariasi antara -0,7 derajat di Jayapura (propinsi Papua) hingga +0,5 derajat di Pelabuhan Ratu (propinsi Jawa Barat). Dan parameter berikutnya yang juga menentukan adalah elongasi Bulan, yakni jarak sudut antara titik pusat cakram Bulan dan Matahari pada saat Matahari terbenam. Pada saat tersebut, elongasi Bulan di Indonesia bernilai antara 1,8 derajat di Merauke (propinsi Papua) hingga 2,5 derajat di pulau Sabang (propinsi Aceh). Harus digarisbawahi bahwa semua angka merupakan hasil perhitungan berdasar kondisi ideal, dimana elevasi (ketinggian) setiap titik dianggap sama dengan paras (permukaan) air laut rata-rata.

Dari pemaparan data tersebut terlihat, bahwa parameter tinggi Bulan ternyata tidaklah mengikuti bentuk geografis Indonesia. Sehingga posisi Bulan dan Matahari saat ini menjadikan titik Lhoknga (Aceh), yang menjadi titik terbarat Indonesia, tidak memiliki tinggi Bulan terbesar bagi seluruh negeri. Sebaliknya geometri posisi Bulan dan Matahari adalah demikian rupa sehingga justru di titik Pelabuhan Ratu-lah tinggi Bulan mencapai nilai maksimumnya bagi segenap Indonesia. Hal ini pun berlaku dalam lingkup global. Kita bisa melihat misalnya di Saudi Arabia, negeri yang secara teknis terletak jauh lebih ke barat dibanding Indonesia. Namun pada Rabu senja 24 September 2014, tinggi Bulan di kotasuci Makkah adalah setara tinggi Bulan di Pelabuhan Ratu. Yakni sama-sama +0,5 derajat.

Sisi Hisab

Bagaimana cara membaca data-data ini sehingga kita bisa mengetahui bahwa secara teknis Idul Adha 1435 H di Indonesia berkemungkinan besar bakal terlaksana secara berbeda?

Gambar 3. Peta umur Bulan (selisih antara saat konjungsi Bulan-Matahari geosentris dengan terbenamnya Matahari setempat) di Indonesia pada saat Matahari terbenam Rabu 24 September 2014. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 3. Peta umur Bulan (selisih antara saat konjungsi Bulan-Matahari geosentris dengan terbenamnya Matahari setempat) di Indonesia pada saat Matahari terbenam Rabu 24 September 2014. Sumber: Sudibyo, 2014.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, khasanah perbedaan atau persamaan dalam berpuasa Ramadhan serta berhari raya Idul Fitri dan Idul Adha di Indonesia sangat dipengaruhi oleh bagaimana sikap dua ormas Islam terbesar, yakni NU di satu sisi dan Muhammadiyah di sisi yang lain. Dan keduanya memiliki cara berbeda dalam penentuan itu. Bagi NU, penentuan tersebut hanya bisa dilakukan dengan cara rukyat hilaal dengan hisab (perhitungan ilmu falak) sebagai sebagai faktor pendukung pelaksanaan rukyat. Semenjak beberapa tahun belakangan NU telah mulai konsisten melakukan rukyat hilaal bagi penentuan setiap awal bulan kalender Hijriyyah. Seiring beragamnya sistem hisab di tubuh NU yang hasilnya pun sangat bervariasi, ormas ini memiliki parameter sendiri untuk menentukan apakah hasil rukyat hilaal bisa diterima ataukah tidak. Parameter tersebut mengacu pada “kriteria” imkan rukyat yang diformulasikan Kementerian Agama RI, khususnya pada faktor tinggi Bulan minimal yang dinyatakan sistem hisab kontemporer.

rmd1435_IR

Sebaliknya bagi Muhammadiyah, awal bulan kalender Hijriyyah cukup ditentukan dengan cara hisab tanpa perlu melakukan rukyat hilaal. Kriteria yang digunakan adalah “kriteria” wujudul hilaal, yang pada saat ini memiliki formulasi sebagai berikut :

rmd1435_WH

Dengan membandingkan dua “kriteria” tersebut terhadap elemen posisi Bulan pada Rabu senja 24 September 2014, maka dengan mudah dapat dilihat sebagian wilayah Indonesia telah memenuhi “kriteria” wujudul hilaal khususnya bagian sebelah barat. Sementara bagian timur belum memenuhi. Ini terjadi akibat garis nol (yakni garis yang menghubungkan titik-titik yang memiliki tinggi Bulan tepat sama dengan nol derajat saat Matahari terbenam) memang ‘membelah’ Indonesia. Di sisi barat garis ini tinggi Bulan telah bernilai positif. Sebaliknya di sisi timur negatif. Namun dengan berdasar prinsip naklul wujud, yang mulai digunakan Muhammadiyah semenjak 2013 lalu, maka bagian timur Indonesia pun dianggap sudah memenuhi “kriteria” mengingat kedudukannya sebagai satu kesatuan wilayah negara ini. Sehingga 1 Zulhijjah bagi Muhammadiyah bertepatan dengan Kamis 25 September 2014 dan hari raya Idul Adha jatuh pada Sabtu 4 Oktober 2014.

Sementara bila dipandang dari “kriteria” imkan rukyat, tiada satupun titik di segenap wilayah Indonesia yang memenuhi syarat karena seluruhnya memiliki tinggi Bulan kurang dari +2 derajat. Dengan demikian tak satupun bagian wilayah Indonesia yang memenuhi “kriteria” Imkan Rukyat. Sehingga 1 Zulhijjah 1435 H bakal bertepatan dengan Jumat 25 September 2014 dan hari raya Idul Adha bertepatan dengan Minggu 5 Oktober 2014. Inilah potensi perbedaan itu.

Sisi Rukyat

Uraian di atas mendasarkan pada perspektif hisab. Nah bagaimana jika berdasar pada perspektif rukyat?

Di Indonesia, saat tinggi Bulan setara atau lebih dari 2 derajat memang sudah mulai muncul laporan rukyatul hilaal yang menyatakan terlihatnya hilaal. Laporan ini memang dapat divalidasi di tingkat sidang itsbat karena dianggap telah memenuhi “kriteria” imkan rukyat, namun tidak demikian dari sisi ilmiah. Laporan-laporan tersebut selalu hanya menyatakan “hilaal terlihat” tanpa adanya parameter-parameter hasil observasi yang bisa dievaluasi dalam ruang dan waktu yang berbeda. Apalagi rukyat yang menyertakan citra (foto) sebagai bukti fisik.

Di sisi lain, rekapitulasi rukyat hilaal yang merentang masa baik dalam lingkup global seperti dilakukan ICOP (International Crescent Observation Project) maupun lingkup lokal Indonesia yang dihimpun RHI (Rukyatul Hilal Indonesia) tidak mendukung “kriteria” imkan rukyat. Pekerjaan ICOP mewujud pada persamaan batas yang dikenal sebagai kriteria empirik Audah (atau kriteria Odeh). Sementara kerja keras RHI mengemuka sebagai kriteria empirik RHI (atau kriteria RHI). Baik kriteria Odeh maupun kriteria RHI memiliki bentuk yang mirip (jika dibatasi pada kawasan tropis semata) dan memiliki nilai ambang batas yang lebih besar ketimbang “kriteria” imkan rukyat, apalagi wujudul hilaal. Harus digarisbawahi bahwa baik kriteria Odeh maupun kriteria RHI dibentuk oleh laporan-laporan observasi hilaal baik dengan mata dibantu oleh alat bantu optik (teleskop/binokular) maupun tidak.

Gambar 4. Kiri: citra asli hilaal Makassar 2013 hasil rukyat pencitraan yang terdiri dari 10 citra berbeda dan kemudian ditumpuk (di-stacking) lewat software pengolah citra, hal standar dalam astronomi modern. Kanan: citra hilaal Makassar 2013 yang telah dipermak lebih lanjut dengan software pengolah citra, yang diperuntukkan bagi kalangan umum (non perukyat). Nampak jelas goresan tipis sedikit melengkung, yang adalah hilaal. Sumber: Observatorium Bosscha, 2013 dan Cecep Nurwendaya, 2013.

Gambar 4. Kiri: citra asli hilaal Makassar 2013 hasil rukyat pencitraan yang terdiri dari 10 citra berbeda dan kemudian ditumpuk (di-stacking) lewat software pengolah citra, hal standar dalam astronomi modern. Kanan: citra hilaal Makassar 2013 yang telah dipermak lebih lanjut dengan software pengolah citra, yang diperuntukkan bagi kalangan umum (non perukyat). Nampak jelas goresan tipis sedikit melengkung, yang adalah hilaal. Sumber: Observatorium Bosscha, 2013 dan Cecep Nurwendaya, 2013.

Perubahan dramatis terjadi pada 2013 tepatnya saat penentuan Idul Fitri 1434 H (2013) melalui rukyat hilaal Rabu senja 7 Agustus 2013. Meski baik kriteria Odeh maupun RHI menunjukkan hilaal tidak mungkin teramati pada saat itu di segenap Indonesia, namun tim Observatorium Bosscha yang ditempatkan di Makassar (propinsi Sulawesi Selatan) secara gemilang berhasil mengobservasinya sekaligus melampirkan citra (foto) hilaal tersebut, sebagai bukti fisik. Sukses ini merupakan kulminasi dari kerja keras para perukyat hilaal kontemporer (yang mencakup observatorium Bosscha, sejumlah institusi pendidikan dan ormas terkait) untuk mencari dan mengembangkan teknik-teknik observasi yang bisa dijadikan acuan sekaligus menyajikan bukti kuat semenjak 2009.

Sukses observasi hilaal Makassar 2013 itu merupakan buah dari penggunaan teleskop (untuk memperkuat intensitas cahaya sabit Bulan) yang ditempatkan pada dudukan (mounting) robotik (sehingga teleskop senantiasa terus mengarah ke posisi Bulan dari waktu ke waktu) disertai penggunaan filter (untuk meningkatkan kontras antara sabit Bulan dengan langit latar belakangnya) dan kamera beresolusi tinggi (untuk merekam citra sabit Bulan sebagai data elektronis) yang disertai pengolahan citra (guna mempertajam citra/foto mentah dengan teknik stacking sehingga menyajikan hasil yang ramah mata). Hilaal Makassar 2013 terekam pada pukul 18:11 WITA, atau 5 menit setelah Matahari terbenam di lokasi tersebut. Di tempat lain, penggunaan instrumen serupa (teleskop + mounting + filter + kamera) pun berhasil merekam sabit Bulan dalam waktu berjam-jam sebelum Matahari terbenam, seperti yang dilakukan tim observatorium as-Salam, Surakarta (Jawa Tengah) dan observatorium al-Buruj, Kudus (Jawa Tengah). Kedua tim tersebut merupakan bagian dari jejaring RHI. Meski status sabit Bulan yang terekam sebelum terbenamnya Matahari tetap dipahami bukan sebagai hilaal yang memiliki kekuatan hukum, melainkan hanya sabit Bulan semata. Hilaal Makassar 2013 menjadikan sidang itsbat saat itu memiliki yurisprudensi baru, yakni menerima hasil rukyat pencitraan (rukyat hilaal yang berbasis teleskop, kamera dan pengolahan citra).

Kini bagaimana dengan penentuan Idul Adha 1435 H (2014)? Sayangnya parameter posisi Bulan dan Matahari pada saat hilaal Makassar 2013 sukses teramati sangat berbeda dengan elemen-elemen Bulan untuk penentuan 1 Zulhijjah 1435 H. Hilaal Makassar 2013 teramati saat elongasi Bulan bernilai 7 derajat. Sementara dalam penentuan Idul Adha 145 H ini elongasi Bulan hanyalah bernilai maksimum 2,5 derajat. Jauh di bawah angka 7 derajat. Maka dapat dikatakan potensi terekamnya hilaal lewat rukyat pencitraan adalah mustahil.

Saudi Arabia

Parameter lain yang perlu dilihat dalam konstelasi penentuan Idul Adha 1435 H di Indonesia adalah bagaimana keputusan Saudi Arabia. Keputusan negeri mancanegara tersebut cukup penting, setidaknya bagi sejumlah kalangan, mengingat Saudi Arabia adalah negeri dimana haramain (dua tanah haram, yakni Makkah dan Madinah) berada. Dengan demikian Saudi Arabia memegang peranan sentral dalam sejumlah aspek, termasuk urusan penentuan awal bulan kalender Hijriyyah. Ada banyak negara Islam atau negara yang berpenduduk mayoritas Muslim maupun komunitas-komunitas Muslim yang menyandarkan dirinya pada apapun keputusan Saudi Arabia.

Saudi Arabia menggunakan kalender Hijriyyah sebagai kalender sipil, yakni kalender yang mengatur keseharian kehidupan di negeri tersebut baik untuk urusan birokrasi, bisnis/perdagangan maupun komunikasi. Namun bukan untuk kepentingan ibadah. Kalender tersebut dikenal sebagai kalender Ummul Qura, yang bekerja berdasarkan “kriteria” Ummul Qura. Kriteria ini mirip “kriteria” wujudul hilaal yang digunakan Muhammadiyah, dengan sedikit perbedaan kecil. Tetapi, dalam hal penentuan awal Ramadhan dan dua hari raya, Saudi Arabia berpatokan pada rukyatul hilaal. Jika hilaal tak teramati, maka dilakukan istikmal tanpa harus mengubah tanggal dalam kalendernya. Sehingga bagi Saudi Arabia adalah sah-sah saja saat ibadah puasa Ramadhan dimulai pada tanggal 2 Ramadhan, atau hari raya Idul Fitri berlangsung pada tanggal 2 Syawwal dan hari raya Idul Adha pada tanggal 11 Zulhijjah.

Semenjak 2013 muncul gejala Saudi Arabia cukup selektif dalam menerima hasil rukyatul hilaal. Dengan mengacu sistem hisab kontemporer, maka bilamana terdapat laporan rukyatul hilaal dari titik-titik tertentu sementara hasil perhitungan menunjukkan posisi Bulan berada di atau bahkan malah di bawah horizon tatkala Matahari terbenam, maka laporan itu ditolak. Di masa silam laporan semacam ini seringkali diterima begitu saja, hal yang kerap membuat keputusan-keputusan Saudi Arabia dipertanyakan oleh negara-negara tetangganya yang kritis, seperti Mesir. Kini laporan rukyatul hilaal yang diterima hanyalah laporan yang terjadi saat hasil perhitungan menunjukkan Bulan berada di atas horizon (tinggi positif). Dan keputusan dinyatakan oleh Mahkamah Agung Kerajaan.

Bagaimana dalam penentuan Idul Adha 1435 H?

Gambar 5. Peta tinggi Bulan di segenap permukaan Bumi pada saat Matahari terbenam Rabu 24 September 2014. Garis kuning menunjukkan garis nol (garis dimana tinggi Bulan sama dengan nol derajat). Selain membelah Indonesia, garis nol juga sedikit memotong wilayah Saudi Arabia. Di sebelah barat garis nol ini semua lokasi memiliki tinggi Bulan positif (+), sementara di timurnya memiliki tinggi Bulan negatif (-). Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 5. Peta tinggi Bulan di segenap permukaan Bumi pada saat Matahari terbenam Rabu 24 September 2014. Garis kuning menunjukkan garis nol (garis dimana tinggi Bulan sama dengan nol derajat). Selain membelah Indonesia, garis nol juga sedikit memotong wilayah Saudi Arabia. Di sebelah barat garis nol ini semua lokasi memiliki tinggi Bulan positif (+), sementara di timurnya memiliki tinggi Bulan negatif (-). Sumber: Sudibyo, 2014.

Perhitungan menunjukkan segenap wilayah Saudi Arabia berada di sisi barat garis nol. Sehingga semuanya memiliki tinggi Bulan positif, jika elevasi lokasi sejajar dengan paras air laut rata-rata. Namun hasil perhitungan lebih lanjut mencerminkan bahwa tinggi Bulan di Saudi Arabia demikian kecil. Karena posisi Bulan berada di atau bahkan di bawah horizon tatkala Matahari terbenam pada Rabu senja 24 September 2014. Di Saudi Arabia bagian utara, Bulan berada di bawah horizon. Sementara di Saudi Arabia bagian selatan Bulan berada tepat atau sedikit di atas horizon dengan tinggi Bulan tak sampai +0,5 derajat. Situasi ini agak mirip dengan elemen Bulan saat penentuan 1 Ramadhan 1435 H lalu. Sehingga diprediksikan Saudi Arabia bakal mengambil keputusan yang senada dengan saat Ramadhan lalu. Meski kemungkinan sebaliknya pun tetap terbuka.

Faktor lain yang menjadi pertimbangan dalam menetapkan Idul Adha di Saudi Arabia berada di luar ranah astronomi, yakni haji akbar. Dalam pengertian yang dipedomani kerajaan tersebut, haji akbar terjadi tatkala wukuf bertepatan dengan hari Jumat. Sesuai tradisi, bila haji akbar terjadi maka pemerintah Saudi Arabia berkewajiban membiayai perjalanan haji seluruh warganegaranya sekaligus meliburkannya dari rutinitas hariannya. Sejatinya hal ini sedikit merepotkan, karena memakan sumber daya dan finansial yang cukup besar. Di masa silam Saudi Arabia kerap terlihat mencoba menggeser waktu pelaksanaan wukuf bilamana mereka tak siap dalam penyelenggaraan haji akbar.

Konsekuensinya, Kamis 25 September 2014 memang bertepatan dengan 1 Zulhijjah 1435 H menurut kalender Ummul Qura. Namun Saudi Arabia kemungkinan akan ber-Idul Adha pada Minggu 5 Oktober 2014 yang bertepatan dengan 11 Zulhijjah 145 H. Jika demikian, maka wukuf di padang Arafah kemungkinan bakal terjadi pada Sabtu 4 Oktober 2014.

Situasi tersebut pun disikapi oleh Muhammadiyah melalui Pengurus Pusat-nya. Menyikapi potensi perbedaan ber-Idul Adha antara Muhammadiyah dan Saudi Arabia, maka dalam pertemuan di Yogyakarta pada 9-10 September 2014 tempo hari, Muhammadiyah tetap menekankan pimpinannya dari tingkat pusat hingga tingkat ranting untuk mematuhi apa yang telah menjadi ketetapan Pengurus Pusat. Terhadap warganya Muhammadiyah pun menganjurkan demikian. Namun andaikata merasa ragu-ragu, diberikan keleluasaan untuk memilih apa yang menurutnya diyakininya meski berbeda dengan ketetapan Pengurus Pusat.

Cakung

Ketidakutuhan pun bakal dijumpai di tubuh NU mengingat masih banyaknya ulama/pondok pesantren karismatis yang mengacu pada sistem hisab Sullam. Meski Pengurus Besar telah menyebut sistem hisab ini kurang akurat dan digolongkan ke dalam sistem hisab taqriby (pendekatan/approksimasi), masih banyak warga NU yang berpedoman kepadanya. Hal ini didasari oleh sejarah, dimana sistem hisab ini berpatokan pada kitab Sullam al-Nayyirain. Inilah kitab ilmu falak tertua di era Indonesia kontemporer (dicetak pada 1930-an) yang ditulis Guru Mansyur dari Jembatan Lima (propinsi DKI Jakarta). Guru Mansyur adalah salah satu tokoh ilmu falak tersohor sekaligus eksponen NU di awal mula, sehingga cukup dihormati. Selain penghormatan ini, kitab Sullam al-Nayyirain banyak dipelajari karena kemudahannya dibandingkan sistem hisab lainnnya di tubuh NU.

Dalam perkembangannya, pengguna sistem hisab Sullam mencoba mengadopsi “kriteria” imkan rukyat ke dalam sistem hisab mereka. Namun adopsi ini berkesan serampangan. Maka saat hasil perhitungan sistem hisab ini menunjukkan tinggi Bulan (irtifa’) sudah melewati 2 derajat pada suatu senja, keesokan paginya sudah memasuki bulan kalender Hijriyyah yang baru. Adopsi ini mengesampingkan peringatan yang diberikan Guru Mansyur sendiri, yang menyebut bahwa batas tinggi Bulan untuk memasuki bulan kalender yang baru adalah 5 derajat. Di samping itu sistem hisab ini pun ditekankan harus sering dikalibrasi dengan mengacu pada peristiwa Gerhana Matahari, yang nyaris tak pernah dilakukan.

Bagi para penggunanya, sistem hisab Sullam merupakan pedoman untuk pelaksanaan rukyat seperti yang dimotori Cakung dan Basmol (keduanya di propinsi DKI Jakarta). Namun hampir selalu terjadi bahwa saat hasil perhitungan sistem hisab Sullam menunjukkan tinggi Bulan menurut Sullam sebesar 2 derajat atau lebih, maka rukyat mendadak menyajikan hasil positif (berhasil melihat). Bahkan meski langit tersaput awan sekalipun. Bahkan meski lokasi DKI Jakarta sudah tak lagi memenuhi syarat seiring banyaknya bangunan tinggi dan polusi cahaya yang benderang, yang sejatinya sangat mengganggu dalam observasi benda langit. Karena itu tak mengherankan jika hasil rukyat Cakung (dan juga Basmol) kerap mendapat kritikan di lingkungan NU sendiri.

Bagaimana dengan Idul Adha 1435 H?

Berbeda dengan sistem hisab kontemporer (yang telah terbukti saat dibandingkan dengan Gerhana Matahari), sistem hisab Sullam memprediksi konjungsi Bulan dan Matahari (geosentris) akan terjadi pada Rabu 24 September 2014 pukul 12:19 WIB. Tinggi Bulan (irtifa’) dalam sistem hisab Sullam mengacu pada rumus sederhana, yakni selisih antra saat konjungsi dan terbenamnya Matahari dibagi dua. Maka bilamana Matahari terbenam pada pukul 17:30 WIB (terjadi di propinsi Jawa Barat), sistem hisab Sullam akan menyajikan tinggi Bulan = (17:30 – 12:19)/2 = +2,5 derajat. Evaluasi lebih lanjut memperlihatkan bahwa hampir segenap wilayah Indonesia (kecuali pulau Irian) telah memiliki tinggi Bulan versi Sulam lebih dari 2 derajat. Maka terlepas dari bagaimana mereka melakukan rukyatul hilaal, dapat diprediksi bahwa bagi pengguna sistem hisab ini, 1 Zulhijjah 1435 H bertepatan dengan Kamis 25 September 2014. Sehingga mereka akan ber-Idul Adha pada Sabtu 4 Oktober 2014.

Kesimpulan

Berdasar ulasan di atas, kita bisa mengatakan bahwa sebagian besar Umat Islam di Indonesia kemungkinan besar akan ber-Idul Adha 1435 H pada saat yang berbeda. Sebagian pada Sabtu 4 Oktober 2014, yakni warga Muhammadiyah yang mengikuti keputusan Pengurus Pusat maupun warga NU pengguna sistem hisab Sullam. Sementara sebagian lagi pada Minggu 5 Oktober 2014, yakni warga NU yang merujuk hasil rukyatul hilaal terverifikasi dan (mungkin warga Muhammadiyah) yang mengacu keputusan kerajaan Saudi Arabia.

Wallahualam.

Referensi :

Sudibyo. 2013. Zulhijjah 1435 H (2014). Kertas Kerja dalam Temu Kerja Nasional Hisab Rukyat 2013. Batam (Kepulauan Riau), Juni 2013.

Sudibyo. 2013. Zulhijjah 1435 H (2014), Tinjauan Kembali. Kertas Kerja dalam Temu Kerja Nasional Hisab Rukyat 2014. Bogor (Jawa Barat), Maret 2014.

Nurwendaya. 2013. Sidang Itsbat Awal Zulhijjah 1434 H. Bahan Sidang Itsbat Kementerian Agama RI 5 Oktober 2013 (29 Zulqaidah 1434 H).

BMKG. 2014. Informasi Hilal Saat Matahari Terbenam Rabu 24 September 2014 M Penentu Awal Bulan Zulhijjah 1435 H.

Lihat tulisan pertama.

Lihat tulisan kedua.

Meteor Meledak di Utara Pulau Irian, 10 September 2014

Rabu 10 September 2014 dinihari. Jarum jam menunjukkan pukul tiga dinihari kurang empat menit untuk waktu Indonesia bagian timur. Sunyi sepi meraja seakan menguasai buana. Hampir segenap insan di pulau Irian dan pulau-pulau kecil sekitarnya masih terlelap dalam gelap. Kecuali mereka yang memang diharuskan bertugas malam hingga fajar menjelang. Tak ada satupun yang menyadari bahwa nun jauh di utara, di atas perairan Samudera Pasifik, sebuah peristiwa langit sedang bergulir.

Sebongkah batu, mungkin bergaris tengah hampir 1 meter dengan berat mungkin 2 ton, sedang melesat dari langit. Lintasan nya menuju ke permukaan Bumi dan membentuk sudut sebesar (mungkin) 45 derajat. Melejit dengan kecepatan mungkin 20 km/detik (72.000 km/jam) atau 60 kali lebih cepat ketimbang jet tempur supersonik, bongkahan batu ini seakan hendak menjajal ‘kesaktian’ atmosfer Bumi. Dan lapisan-lapisan udara yang menyelubungi planet biru tempat tinggal kita ini pun tak mau kalah. Ia berusaha meredamnya sekuat tenaga. Dan berhasil !

Gambar 1. Lokasi titik ledakan di udara/airburst 10 September 2014 dinihari (Impact 10/09/2014) di sebelah utara pulau Irian dalam peta. Titik airburst berjarak 500 km dari kota Biak, atau 700 km dari kota Jayapura. Dengan energi 0,1 kiloton TNT maka gelombang kejut yang diproduksi oleh meteor-terang yang mengalami airburst takkan berdampak pada permukaan Bumi di bawahnya, apalagi ke daratan pulau Irian. Sumber: Sudibyo, 2014 berbasis Google Earth.

Gambar 1. Lokasi titik ledakan di udara/airburst 10 September 2014 dinihari (Impact 10/09/2014) di sebelah utara pulau Irian dalam peta. Titik airburst berjarak 500 km dari kota Biak, atau 700 km dari kota Jayapura. Dengan energi 0,1 kiloton TNT maka gelombang kejut yang diproduksi oleh meteor-terang yang mengalami airburst takkan berdampak pada permukaan Bumi di bawahnya, apalagi ke daratan pulau Irian. Sumber: Sudibyo, 2014 berbasis Google Earth.

Kala melejit menembus batas ketinggian 90 km dari paras air laut rata-rata, bongkahan batu ini mulai berpijar setelah dihajar tekanan ram lapisan-lapisan udara yang sedang dilintasinya. Semakin jauh merasuk ke dalam atmosfer, tekanan ram yang dideritanya semakin besar. Sehingga ia pun kian berpijar cemerlang dan kian tergerus permukaannya. Jadilah meteor yang lantas berkembang menjadi meteor-terang (fireball). Puncak kecerlangannya tercapai saat berada pada ketinggian sekitar 35 km dari paras air laut rata-rata, dimana ia telah 40 kali lipat lebih benderang dibanding Venus. Atau sama benderangnya dengan Bulan sabit tebal. Sejurus kemudian tekanan ram yang diderita meteor-terang ini telah demikian besarnya hingga melampaui ambang batas daya tahan mineral batuan penyusunnya. Maka mulailah dia berkeping menjadi pecahan-pecahan beragam ukuran. Pemecahan terus berlangsung dan kepingan-kepingan itu terus bergerak menembus atmosfer sebelum kemudian seolah-olah menubruk sesuatu tak kasat mata di udara pada ketinggian 32,5 km membuat lajunya kontan melambat. Maka terlepaslah sebagian besar energi kinetik meteor-terang ini dalam proses mirip ledakan di udara (airburst). Proses ini menghasilkan kilatan cahaya sangat terang, mungkin seterang Bulan purnama, namun hanya dalam sekejap mata saja.

Cerita tersebut nyaris menjadi fiksi seiring tak ada seorangpun di dekatnya yang mengetahui, andai saja tak ada satelit mata-mata yang mencermati. Satelit mata-mata rahasia milik Departemen Pertahanan Amerika Serikat, yang sejatinya dirancang untuk mendeteksi kilatan cahaya berganda ciri khas ledakan nuklir mendeteksi adanya kilatan cahaya pada koordinat 3,2 LU 137,2 BT. Lokasi kilatan berada di atas Samudera Pasifik sejauh 500 km sebelah utara-timur laut kota Biak. Atau 700 km sebelah barat laut kota Jayapura. Sekilas kilatan cahayanya mirip kilatan ledakan nuklir, namun analisis lebih lanjut menunjukkan sejumlah perbedaan mendasar. Dan di kalangan ilmuwan militer, kilatan cahaya semacam ini sudah dipahami sebagai peristiwa alamiah dalam wujud masuknya meteoroid ke dalam atmosfer Bumi hingga berubah menjadi meteor-terang dan berujung pada peristiwa airburst. Airburst itu terjadi pada ketinggian 32,5 km dan melepaskan cahaya dalam beragam spektrum dengan keseluruhan energinya mencapai 28 GigaJoule. Dari angka ini dapat diketahui bahwa energi kinetik yang dilepaskan meteor-terang itu mencapai 0,1 kiloton TNT. Atau setara dengan ledakan bom konvensional berdaya ledak tinggi seberat 100 ton. Meski terkesan cukup besar untuk ukuran kita, namun dalam perspektif astronomi maupun fisika ledakan nuklir, energi yang dilepaskan airburst ini tergolong sangat kecil.

Satelit

Gambar 2. Contoh kilatan cahaya pada peristiwa airburst, dalam hal ini saat asteroid 2008 TC3 berubah menjadi boloid dan meledak di atas Sudan bagian utara. Kilatan ini direkam oleh satelit cuaca sipil Meteosat-8 milik Eropa lewat kanal inframerah pada 7 Oktober 2008 pukul 09:45 WIB. Airburst ini melepaskan energi antara 1 hingga 2 kiloton TNT. Airburst sejenis dengan pelepasan energi lebih kecil kerap terekam oleh satelit militer detektor ledakan nuklir yang dirahasiakan. Sumber: Eumetsat, 2008.

Gambar 2. Contoh kilatan cahaya pada peristiwa airburst, dalam hal ini saat asteroid 2008 TC3 berubah menjadi boloid dan meledak di atas Sudan bagian utara. Kilatan ini direkam oleh satelit cuaca sipil Meteosat-8 milik Eropa lewat kanal inframerah pada 7 Oktober 2008 pukul 09:45 WIB. Airburst ini melepaskan energi antara 1 hingga 2 kiloton TNT. Airburst sejenis dengan pelepasan energi lebih kecil kerap terekam oleh satelit militer detektor ledakan nuklir yang dirahasiakan. Sumber: Eumetsat, 2008.

Di masa silam kisah semacam ini takkan terangkat ke permukaan. Ia akan terus menjadi rahasia tersembunyi di balik pintu-pintu kukuh Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Mengingat keberhasilan mendeteksi kilatan cahaya yang dilepaskan meteor-terang atau bahkan boloid di udara merupakan bagian dari kemampuan Amerika Serikat dalam mendeteksi ada tidaknya peledakan senjata nuklir khususnya di matra udara. Dan kemampuan tersebut sangat dirahasiakan sebagai bagian dari mempertahankan superioritas negeri itu. Kita hanya tahu bahwa semenjak 1959 Amerika Serikat telah menggelar detektor ledakan nuklir berpangkalan di satelit dalam spektrum inframerah dan cahaya tampak lewat program Vela. Program tersebut kini berkembang kian kompleks dan bermutasi menjadi IONDS (Integrated Operational Nuclear Detection System).

Sangat sedikit informasi dari produk program ini yang tersalur keluar, terkecuali lewat publikasi tertentu. Misalnya ditemukannya fenomena ledakan sinar gamma di sudut-sudut langit, yang kemudian menjadi salah satu bahasan khusus dalam ilmu astronomi masa kini. Atau misalnya seberapa banyak meteoroid berbobot minimum 1 ton memasuki atmosfer, yang hanya disebut sejumlah 30 hingga 50 kejadian per tahunnya. Bahkan lembaga sekelas NASA sekalipun, yang sama-sama merupakan organ pemerintahan Amerika Serikat, kesulitan dalam mengakses data IONDS ini meski banyak programnya yang bersinggungan dengan kepentingan militer. Padahal tingkat sensitivitas detektor satelit-satelit mata-mata jauh lebih tinggi ketimbang rangkaian radas (instrumen) mikrobarometer dan seismometer yang ditanam stasiun-stasiun IMS di segenap penjuru oleh The Comprehensive nuclear Test Ban Treaty Organization (CTBTO), lembaga pemantau peledakan senjata nuklir segala mata di bawah payung Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Padahal resiko tumbukan benda langit sudah menjadi keniscayaan. Terutama setelah dunia menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana 21 keping komet Shoemaker-Levy 9 berjatuhan secara beruntun ke planet gas raksasa Jupiter di antara tanggal 16 hingga 22 Juli 1994. Setiap keping melejit secepat 60 km/detik (216.000 km/jam), dengan energi kinetik total yang dilepaskan dari seluruh kepingan komet tersebut mencapai 100 juta megaton TNT. Ini setara dengan 5 milyar butir bom nuklir Hiroshima yang diledakkan serempak. Gigantisnya ukuran Jupiter membuat tumbukan komet Shoemaker-Levy 9 tidak berdampak berarti. Namun lain urusannya jika komet semacam itu menubruk planet ‘sekecil’ Bumi kita.

Gambar 3. Gambaran seniman tentang bagaimana sebongkah meteoroid memasuki atmosfer Bumi dan berpijar sebagai boloid untuk kemudian berujung pada peristiwa airburst. Jika meteoroidnya cukup besar, energi yang dilepaskan airburst-nya pun cukup besar sehingga gelombang kejut yang diproduksinya bisa menghasilkan kerusakan di permukaan Bumi. Hal seperti itulah yang terjadi dalam Peristiwa Chelyabinsk 15 Februari 2013. Sumber: Don Davis dalam Space.com, 2014.

Gambar 3. Gambaran seniman tentang bagaimana sebongkah meteoroid memasuki atmosfer Bumi dan berpijar sebagai boloid untuk kemudian berujung pada peristiwa airburst. Jika meteoroidnya cukup besar, energi yang dilepaskan airburst-nya pun cukup besar sehingga gelombang kejut yang diproduksinya bisa menghasilkan kerusakan di permukaan Bumi. Hal seperti itulah yang terjadi dalam Peristiwa Chelyabinsk 15 Februari 2013. Sumber: Don Davis dalam Space.com, 2014.

Sayangnya keniscayaan ini tak dibarengi dengan peningkatan pemahaman kekerapan masuknya meteoroid, khususnya yang berukuran besar, ke Bumi kita. Beberapa diantaranya memang langsung disaksikan manusia sebagai kilatan cahaya sangat terang, yang bisa disaksikan di siang hari apalagi di kala malam. Kilatan cahaya sangat terang tersebut lantas dipungkasi dengan temuan meteorit di kawasan tertentu. Namun kesempatan semacam ini sangat jarang terjadi. Musababnya mayoritas permukaan Bumi kita adalah lautan yang tak berpenghuni. Dan sebagian kecilnya daratan, yang itu pun hanya sudut-sudut tertentu saja yang berpenghuni. Mayoritas bentang daratan di permukaan Bumi berupa hutan perawan, pegunungan sunyi, padang es dan gurun kerontang tak berpenghuni. Cara termudah guna mendeteksi kilatan cahaya yang diproduksi meteoroid besar saat memasuki atmosfer Bumi sebagai meteor-terang atau boloid hanyalah dengan memasang jaringan sensor di satelit. Sensor yang sanggup memelototi segenap sudut lapisan udara di permukaan Bumi manapun tanpa terkecuali. Sensor semacam ini sudah lama ada, namun karena sensitivitasnya beririsan dengan kemampuan deteksi ledakan nuklir atmosferik, maka ia hanya menjadi ‘mainan’ kalangan militer adidaya.

Syukurlah, ada sedikit perubahan setelah Peristiwa Chelyabinsk 2013. Masuknya asteroid berbobot lebih dari 10.000 ton yang tak-bernama dan tak-terdeteksi sebelumnya ke atmosfer sebagai boloid yang berujung pada peristiwa airburst di atas kawasan Chelyabinsk dan sekitarnya pada Jumat 15 Februari 2013 menggugah kesadaran banyak pihak. Airburst Chelyabinsk melepaskan energi hingga 500 kiloton TNT, setara 25 butir bom nuklir Hiroshima yang diledakkan serempak, dan menjalar sebagai gelombang kejut maupun sinar panas. Hempasan gelombang kejut memorak-porandakan kawasan Chelyabinsk dan sekitarnya. Ribuan orang terluka ringan. Angka kerugian akibat rusaknya bangunan mencapai puluhan milyar rupiah. Secara tak terduga militer Amerika Serikat bersedia berbagi data IONDS untuk astronomi melalui NASA Meteoroid Environment Office. Tentunya setelah dipilah-dipilah dan dipisahkan dari data-data yang bersifat non-astronomis.

Lewat data ini kita mengetahui bahwa semenjak 1 Januari hingga 10 September 2014, Bumi kita telah digempur oleh sedikitnya 21 buah meteoroid. Seluruhnya meledak di ketinggian udara sebagai peristiwa airburst. Sejauh ini pelepasan energi terbesar terjadi di atas Antartika pada 23 Agustus 2014 sebesar 7,6 kiloton TNT. Sementara pelepasan energi terkecil terjadi pada 18 Februari 2014 di atas Argentina, yakni hanya 0,092 kiloton TNT. Sebagai pembanding, bom nuklir Hiroshima mengandung energi sebesar 20 kiloton TNT. Bila digabungkan dengan peristiwa jatuhnya asteroid 2014 AA yang berhasil dideteksi CTBTO, maka terdapat 22 peristiwa airburst sepanjang 2014 (hingga 10 September). Angka ini lebih besar dibanding data sangat terbatas yang pernah dilansir Departemen Pertahanan Amerika Serikat, yang menyebut setiap tahunnya rata-rata terjadi 11 peristiwa airburst.

Gambar 4. Peta titik-titik koordinat dimana satelit mata-mata Amerika Serikat mendeteksi kilatan cahaya produk masuknya meteoroid ke dalam atmosfer Bumi sepanjang tahun 2014 (hingga 10 September). Sumber: Sudibyo, 2014 dengan data dari NASA.

Gambar 4. Peta titik-titik koordinat dimana satelit mata-mata Amerika Serikat mendeteksi kilatan cahaya produk masuknya meteoroid ke dalam atmosfer Bumi sepanjang tahun 2014 (hingga 10 September). Sumber: Sudibyo, 2014 dengan data dari NASA.

Seluruh peristiwa airburst di tahun 2014 itu tak ada yang berdampak ke manusia. Namun data ini membuka pengetahuan baru nan mencengangkan. Sebelumnya melalui publikasi data CTBTO kita tahu bahwa setiap tahunnya Bumi digempur oleh sedikitnya dua meteoroid besar yang melepaskan energi minimal 1 kiloton TNT. Kini data militer Amerika Serikat yang sudah (sebagian) dibuka menunjukkan bahwa meteoroid yang memasuki atmosfer Bumi dengan membawa energi kinetik minimal 1 kiloton TNT jauh lebih sering terjadi. Berikutnya menjadi tugas para astronom untuk mencermati bagaimana hubungan antara energi vs kekerapan masuknya meteoroid, sebagai bahan untuk memprediksi setiap berapa tahun sekali meteoroid yang mengandung energi kinetik berdampak merusak (misalnya seperti meteoroid Chelyabinsk atau yang lebih besar lagi) memasuki atmosfer Bumi. Dari prediksi ini kelak semoga bisa disusun berbagai langkah antisipasinya.

Referensi:

NASA. 2014. Fireball and Bolide Reports.

Ceplecha dkk. 1999. Superbolides. Meteoroids 1998, Astronomical Institute of the Slovak Academy of Sciences, Bratislava, pp. 37-54.

Gunung Slamet, Si Menara Api di Malam Hari

Gunung Slamet (3.428 meter dari paras air laut) di Jawa Tengah terkesan kian¬†menjadi-jadi saja. Bukannya lebih kalem dan bertambah ‘jinak’, ia kini justru kian gemar mempertontonkan kegagahannya kepada siapapun manusia yang sedang berada ataupun bermukim di sekujur kaki dan lerengnya. Semenjak kembali menyandang status Siaga (Level III) per 12 Agustus 2014 silam, intensitas letusan gunung berapi aktif tertinggi kedua di seantero pulau Jawa ini cenderung meningkat. Suara dentuman dan gemuruh kian sering terdengar. Kian jauh pula daerah yang sanggup mendengar dentuman tersebut. Getaran tanah pun kian kerap terjadi, membuat kaca-kaca jendela pada bangunan-bangunan di kaki gunung rutin berderak-derak. Kepulan debu vulkanik yang dilepaskan dari lubang letusan kian meninggi saja. Dan di malam hari material berpijar yang mirip kembang api raksasa juga lebih sering muncul dengan ketinggian semburan kian meninggi saja. Kini pancuran api tersebut bahkan sudah mulai bisa dilihat dari kota Purwokerto, menjadikan Gunung Slamet ibarat menara api penerang gelapnya malam hari.

Gambar 1. Gunung Slamet pada Jumat 12 September 2014 malam, diabadikan dari arah Pemalang. Nampak puncak gunung ibarat menara api. Kepulan debu dan asap terlihat menyebar ke barat berhias gugusan bintang Sagittarius di latar belakang. Sumber: Fatrurrizal, 2014.

Gambar 1. Gunung Slamet pada Jumat 12 September 2014 malam, diabadikan dari arah Pemalang. Nampak puncak gunung ibarat menara api. Kepulan debu dan asap terlihat menyebar ke barat berhias gugusan bintang Sagittarius di latar belakang. Sumber: Fatrurrizal, 2014.

Tak hanya itu, batu cair panas mirip bubur kental yang kita kenal sebagai lava pun sudah menyeruak ke lantai kawah dalam jumlah cukup banyak. Kawah Slamet pun tak lagi sanggup menampungnya, hingga meluber melalui lekukan kawah di sisi barat daya sebagai lava pijar yang mengalir sejauh 1.500 meter. Bahkan pada Kamis 11 September 2014 dini hari kemarin lava pijar terdeteksi telah mengalir pula ke lereng timur, juga melalui lekukan kawah di sini, hingga sejauh 1.300 meter. Lava menjulur demikian jauh hingga memasuki kawasan padang sabana di batas vegetasi lereng utara. Akibatnya kawasan bersemak-belukar itu pun mulai terbakar. Hingga beberapa jam kemudian kebakaran itu kian meluas hingga radius 4 km dari kawah. Di siang harinya Gunung Slamet kembali memperlihatkan kebolehannya dengan menampakkan fenomena unik yang jarang terjadi, yakni terbentuknya cincin asap. Muncul pada sekitar pukul 12:45 WIB, cincin asap ini menghembus demikian tinggi hingga mudah dilihat baik dari kaki gunung bagian selatan maupun utara. Sebelumnya hujan debu telah mengguyur beberapa bagian di sekitar kaki gunung. Tak hanya debu vulkanik, di dekat puncak gunung bahkan telah diguyur hujan kerikil dan pasir.

Gambar 2. Cincin asap Gunung Slamet yang muncul pada Kamis 11 September 2014 sekitar pukul 12:45 WIB. Cincin asap dalam letusan Slamet sejatinya menunjukkan bagaimana geometri dan ukuran saluran magma serta betapa saluran magma tetap terbuka tanpa sumbatan yang berarti. Sumber: Leo Kennedy Adam, 2014.

Gambar 2. Cincin asap Gunung Slamet yang muncul pada Kamis 11 September 2014 sekitar pukul 12:45 WIB. Cincin asap dalam letusan Slamet sejatinya menunjukkan bagaimana geometri dan ukuran saluran magma serta betapa saluran magma tetap terbuka tanpa sumbatan yang berarti. Sumber: Leo Kennedy Adam, 2014.

Tak pelak tabiat Gunung Slamet kali ini membuat sebagian kita resah. Apalagi ditambahi informasi sejumlah hewan liar mulai turun dari hutan belantara di tubuh gunung. Keresahan meraja di sebagian kita yang sedang berada atau bertempat tinggal di sekitar gunung. Juga bagi yang memiliki sanak saudara di sini. Informasi tak berkeruncingan dari sumber-sumber yang tak dapat dipertanggungjawabkan pun membanjir. Demikian pula gambar/foto. Ada berbagai foto akan letusan gunung berapi dan jilatan awan panasnya yang diklaim sebagai letusan Gunung Slamet, padahal itu adalah foto comotan dari letusan Gunung Sinabung (Sumatra Utara) di awal tahun ini. Penampakan cincin asap pun dicermati sebagai kemunculan Mbah Bebek dan dianggap pertanda buruk. Dalam situasi dimana hampir sebagian besar kita memiliki perangkat ponsel terkini dengan segala kecanggihannya namun pada saat yang sama relatif awam akan kegunungapian, tak pelak sebaran foto-foto tersebut membuat rasa cemas dan resah kita kian meningkat. Kecemasan yang tak pada tempatnya mengingat perilaku Gunung Slamet sendiri tak seheboh itu.

Apa yang kini terjadi dengan Gunung Slamet? Bagaimana status aktivitasnya? Apakah lava pijar yang panas membara itu akan mengalir lebih jauh lagi hingga bisa mencapai pemukiman di kaki gunung? Apakah awan panas akan segera terbentuk mengikuti lava pijar? Apa yang sebaiknya dilakukan?

Aktivitas

Sejak menyandang status Siaga (Level III) untuk kedua kalinya, intensitas letusan Gunung Slamet memang tinggi. Pun demikian dalam seminggu terakhir. Merujuk data yang dihimpun secara terus-menerus dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI melalui pos pengamatan Gambuhan, Pemalang, kegempaan vulkanik Gunung Slamet menjadi bukti betapa riuhnya gunung itu. Masih terdeteksi adanya pasokan magma segar yang membuncah dari perutbumi nun jauh di bawah gunung, seperti diperlihatkan beberapa kejadian gempa vulkanik semenjak 4 hingga 6 September 2014.

Gambar 3. Grafik jumlah gempa vulkanik, hembusan dan letusan Gunung Slamet per hari dalam periode 4 hingga 11 September 2014. Nampak gempa vulkanik absen setelah 6 September, sebaliknya gempa letusan mulai muncul pada 9 September dan langsung meroket dalam sehari berikutnya. Sumber: Sudibyo, 2014 berdasarkan data PVMBG, 2014.

Gambar 3. Grafik jumlah gempa vulkanik, hembusan dan letusan Gunung Slamet per hari dalam periode 4 hingga 11 September 2014. Nampak gempa vulkanik absen setelah 6 September, sebaliknya gempa letusan mulai muncul pada 9 September dan langsung meroket dalam sehari berikutnya. Sumber: Sudibyo, 2014 berdasarkan data PVMBG, 2014.

Masih terjadinya gempa vulkanik menjadi pertanda jelas bahwa Gunung Slamet masih mendapatkan pasokan magma segar dari perutbumi. Cepat atau lambat magma ini pasti bakal keluar melalui lubang letusan yang sudah lama terbentuk di dasar kawah aktif Slamet. Benar saja. Lontaran material pijar (yang terlihat sebagai sinar api) dan lava pijar Gunung Slamet mendadak meroket pada 9 hingga 11 September 2014. Bersamaan dengannya gempa letusan, yakni getaran yang terjadi bersamaan dengan semburan asap abu-abu (pertanda debu vulkanik) dari kawah, mulai terjadi kembali dan segera melonjak. Gempa hembusan, yakni getaran yang bersamaan dengan berkepulnya asap putih (pertanda uap air) dari kawah, kian melonjak. Aktivitas letusan dan hembusan ini masih dibarengi dengan terjadinya tremor vulkanik menerus, sebagai pertanda terus terjadinya pelepasan gas-gas vulkanik dari magma yang sedang mulai membeku menjelang terlontar dari lubang letusan bersamaan dengan gerakan magma itu sendiri, terus berlangsung semenjak Agustus.

Gambar 4. Grafik jumlah sinar api dan lava pijar yang dimuntahkan Gunung Slamet per hari dalam periode 4 hingga 11 September 2014. Nampak kejadian sinar api meroket dan mencapai puncaknya pada 9 September dan setelah itu mulai menurun. Sebaliknya kejadian lava pijar cenderung mulai naik mulai dan mencapai puncaknya pada 10 September. Sumber: Sudibyo, 2014 berdasarkan data PVMBG, 2014.

Gambar 4. Grafik jumlah sinar api dan lava pijar yang dimuntahkan Gunung Slamet per hari dalam periode 4 hingga 11 September 2014. Nampak kejadian sinar api meroket dan mencapai puncaknya pada 9 September dan setelah itu mulai menurun. Sebaliknya kejadian lava pijar cenderung mulai naik mulai dan mencapai puncaknya pada 10 September. Sumber: Sudibyo, 2014 berdasarkan data PVMBG, 2014.

Jelas terlihat meningkatnya intensitas letusan Gunung Slamet pada 9 hingga 11 September 2014 merupakan imbas dari pasokan magma segar baru yang terus terjadi, seperti diperlihatkan gempa vulkaniknya. Magma segar yang mulai membeku saat keluar dari lubang letusan kini tak lagi hanya berupa bongkahan material beragam ukuran yang masih memijar, seperti halnya yang terjadi pada letusan Slamet sebelumnya (misalnya letusan 1999-2000 dan letusan 1988). Namun juga berupa lava, sebuah fenomena yang jarang terjadi dalam era sejarah tercatat di gunung berapi ini.

Material vulkanik yang dimuntahkan Gunung Slamet sepanjang letusan 2014-nya kali ini nampaknya cukup banyak dalam kisaran jutaan meter kubik. Selain memenuhi lantai kawah aktif hingga meluber menjadi lava pijar ke barat daya dan kemudian juga ke timur, sebagian material vulkaniknya (termasuk lava) telah membentuk gundukan yang mengerucut di sekeliling lubang letusan. Observasi lapangan (misalnya yang dilakukan secara pribadi oleh mas Aris Yanto) maupun pencitraan satelit memastikan keberadaan gundukan kerucut ini. Namun di pucuk gundukan ini masih tetap terdapat ujung lubang letusan tanpa tertutupi material sama-sekali, berbeda dengan kubah lava pada umumnya yang relatif tersumbat. Fenomena ini menunjukkan bahwa saluran magma/diatrema Gunung Slamet memang tetap terbuka.

Gambar 5. Grafik jumlah suara dentuman dan gemuruh pada letusan Gunung Slamet per hari dalam periode 4 hingga 11 September 2014. Nampak jumlah suara gemuruh dan dentuman yang terdeteksi pada rentang waktu 9 hingga 11 September 2014 lebih besar ketimbang sebelumnya. Sumber: Sudibyo, 2014 berdasarkan data PVMBG, 2014.

Gambar 5. Grafik jumlah suara dentuman dan gemuruh pada letusan Gunung Slamet per hari dalam periode 4 hingga 11 September 2014. Nampak jumlah suara gemuruh dan dentuman yang terdeteksi pada rentang waktu 9 hingga 11 September 2014 lebih besar ketimbang sebelumnya. Sumber: Sudibyo, 2014 berdasarkan data PVMBG, 2014.

Munculnya cincin asap yang langka juga menunjukkan bahwa saluran magma memang tetap terbuka. Cincin asap secara umum hanya bisa terjadi saat asap, yakni gas-gas vulkanik, berkumpul demikian rupa dalam ruang sempit berbentuk/mirip tabung. Kemudian ia menghembus keluar pada tekanan dan kecepatan yang pas. Sehingga selepas keluar dari ruang tersebut, asap tetap mempertahankan bentuk geometri tabung tempat semula ia berada tanpa melayang terlalu rendah ataupun buyar tersapu tekanannya sendiri. Cincin asap dalam letusan gunung berapi adalah pemandangan yang sangat langka, apalagi di Indonesia. Selain di Gunung Slamet, sejauh ini bentuk cincin asap sejenis baru terdokumentasikan dalam letusan Gunung Batutara di pulau Lembata (Nusa Tenggara Timur) dan Gunung Sinabung (Sumatra Utara). Dalam khasanah kegunungapian, selain menjadi pertanda terbukanya saluran magma fenomena cincin asap juga menjadi petunjuk untuk memahami bentuk dan diameter saluran magma.

Status Aktivitas

Dengan semua dinamika dalam seminggu terakhir, bagaimana status aktivitas Gunung Slamet?

Ada empat level status aktivitas yang dapat melekat di sebuah gunung berapi Indonesia untuk kurun tertentu. Status Aktif Normal (Level I) menjadi level terendah. Aktif Normal secara umum terjadi bila gunung berapi tidak mengalami pergerakan magma segar yang signifikan. Meski tetap melepaskan gas vulkanik dan gempa-gempa khas gunung berapi, kecuali gempa vulkanik dalam, namun semuanya berada dalam rentang nilai rata-rata secara statistik. Di level berikutnya ada status Waspada (Level II). Secara umum status ini terjadi tatkala magma dalam perutbumi mulai bergerak naik sehingga menimbulkan peningkatan jumlah gempa vulkanik dalam dan dangkal. Pelepasan gas vulkanik mulai meningkat namun belum diikuti perubahan bentuk tubuh gunung (deformasi). Dalam status ini kewaspadaan manusia yang tinggal di sekitar gunung sebaiknya mulai ditingkatkan. Barang-barang yang dibutuhkan dalam rangka evakuasi kelak sudah mulai disiapkan, meskipun evakuasi belum terjadi. Kawasan terlarang pun umumnya mulai dibentuk, meski tidak semua gunung berapi mengalami hal demikian. Kawasan terlarang dalam status Waspada (Level II) meski masih beradius kecil dari kawah aktif.

Gambar 6. Contoh gempa letusan Gunung Slamet yang terekam di pos pengamatan Gambuhan pada 25 Agustus 2014 pukul 05:50 WIB. Kala kepulan asap berwana abu-abu/gelap menyeruak dari kawah aktif di puncak gunung, pada saat yang sama seismometer analog di pos merekam getarannya (tanda panah). Sumber: PVMBG, 2014.

Gambar 6. Contoh gempa letusan Gunung Slamet yang terekam di pos pengamatan Gambuhan pada 25 Agustus 2014 pukul 05:50 WIB. Kala kepulan asap berwana abu-abu/gelap menyeruak dari kawah aktif di puncak gunung, pada saat yang sama seismometer analog di pos merekam getarannya (tanda panah). Sumber: PVMBG, 2014.

Jika pergerakan magma segar terus berlangsung maka gunung berapi bakal memasuki status lebih tinggi, yakni Siaga (Level III). Secara umum pada status ini magma telah bergerak cukup signifikan hingga mulai memasuki tubuh gunung berapi. Akibatnya gempa vulkaniknya meroket disertai pelepasan gas vulkanik dan mulai terdeformasinya tubuh gunung dalam wujud penggelembungan (inflasi). Dapat terjadi magma sudah mencapai kepundan dan menyeruak keluar sebagai letusan (erupsi) lewat lubang letusan yang dibuatnya. Jika berupa lava, magma yang ter-erupsi bisa terkumpul di satu titik sebagai kubah lava maupun tersebar sebagai lava pijar. Kubah lava mungkin dapat longsor dan menghasilkan awan panas (piroklastika), namun jangkauannya relatif pendek. Dalam status ini meski sudah meletus tapi intensitasnya rendah. Sehingga lava dan awan panasnya belum mengancam umat manusia di yang bermukim di sekitar tubuh gunung. Pada status ini evakuasi masyarakat sudah mulai dilakukan, khususnya yang berdiam di kawasan terlarang. Radius kawasan terlarang juga diperluas. Dan status berikutnya sekaligus yang tertinggi adalah Awas (Level IV), yang secara umum terjadi saat intensitas letusan kian meningkat sehingga produk letusannya khususnya lava dan awan panasnya sudah mulai mengancam pemukiman manusia secara langsung. Dalam status ini radius kawasan terlarang kian diperluas dan evakuasi segenap manusia didalamnya menjadi hal mutlak.

Saat ini Gunung Slamet berstatus Siaga (Level III). Magma sudah keluar di permukaan. Sebagian membeku sebagai debu pasir dan kerikil sebagai material pijar yang dimuncratkan ke langit saat keluar dari lubang letusan. Sementara sebagian lagi keluar sebagai lava pijar membara yang kental dan mengalir lambat. Saat keluar dari lubang letusan, material pijar terlontar hingga setinggi maksimum 700 meter di atas kawah sebelum kemudian jatuh kembali dalam lintasan parabola di bawah pengaruh gravitasi Bumi. Hampir seluruh material tersebut mengendap kembali di kawasan puncak. Terkecuali debu vulkanik yang ringan sehingga paling mudah mendingin tapi juga paling gampang dihembus angin ke jarak yang jauh. Sementara lava pijarnya mengalir sejauh maksimum 1.500 meter dari lubang letusan. Hingga saat ini letusan Gunung Slamet belum menghasilkan awan panas. Jelas bahwa material letusan, khususnya lava pijar, masih berposisi cukup jauh dari pemukiman penduduk di kaki gunung dan belum melampaui radius 4 kilometer dari kawah aktif. Sehingga status aktivitas Gunung Slamet hingga saat ini masih dipertahankan pada Siaga (Level III) dan belum dipandang perlu untuk dinaikkan.

Lava dan Awan Panas

Bentuk tubuh Gunung Slamet unik. Ada lembah besar yang menghubungkan kawasan puncak dengan kaki gunung sebelah barat laut, yakni ke arah Kabupaten Tegal. Melihat bentuknya, lembah besar ini diduga merupakan jejak yang masih tersisa dari letusan mendatar (lateral) yang pernah dialami Gunung Slamet nun jauh di masa silam. Lava pijar yang saat ini diletuskan Gunung Slamet ke barat daya tepat memasuki hulu lembah besar. Andaikata intensitas letusan terus meningkat, lembah besar ini menjadi kawasan yang paling potensial dilalui lava pijar. Selain berpotensi mengalir ke arah barat laut, lekukan di bibir kawah aktif juga memungkinkan lava pijar Gunung Slamet mengalir ke arah timur laut menuju Kabupaten Pemalang, seperti yang terjadi pada 11 September 2014 barusan. Lava pijar yang telah mendingin juga masih memiliki potensi bencana khususnya kala hujan lebat. Butiran-butiran lava yang telah mendingin akan bercampur dan larut terbawa air hujan sebagai lahar hujan yang mengalir ke kaki barat laut Gunung Slamet menyusuri sungai yang berhulu di lembah besar ini. Inilah yang menjadikan kawasan lereng Gunung Slamet bagian utara memiliki kerentanan lebih tinggi dalam menghadapi setiap letusan gunung tersebut.

Gambar 7. Dua wajah kawah Gunung Slamet saat ini berdasarkan observasi lapangan 26 Agustus 2014. Baik di kala malam maupun siang hari, gundukan material baru yang mengerucut nampak jelas berada di dalam kawah aktif. Di pucuk gundukan material ini nampak ujung dari lubang letusan. Belum jelas status gundukan ini apakah sekedar tumpukan material letusan ataukah kubah lava. Sumber: Aris Yanto, 2014.

Gambar 7. Dua wajah kawah Gunung Slamet saat ini berdasarkan observasi lapangan 26 Agustus 2014. Baik di kala malam maupun siang hari, gundukan material baru yang mengerucut nampak jelas berada di dalam kawah aktif. Di pucuk gundukan material ini nampak ujung dari lubang letusan. Belum jelas status gundukan ini apakah sekedar tumpukan material letusan ataukah kubah lava. Sumber: Aris Yanto, 2014.

Bagaimana dengan potensi terjadinya awan panas Gunung Slamet? Sejauh ini, letusan memang telah menghasilkan gundukan yang mengerucut di sekeliling lubang letusan. Apakah gundukan ini kubah lava? Mungkin ya, tapi mungkin juga tidak. Pada saat ini gundukan tersebut masih berada di dalam kawah aktif Slamet. Ia belumlah tumbuh sedemikian besar sehingga belumlah menutupi seluruh bagian kawah aktif. Maka andaikata gundukan ini adalah kubah lava, setiap guguran yang dialaminya terbatasi hanya di dalam lantai kawah aktif. Dengan ukuran yang masih kecil, maka kecil kemungkinan terjadinya guguran/runtuhan besar yang menghasilkan awan panas. Andaikata guguran besar terjadi, sebaran materialnya akan terbatasi hanya di lantai kawah aktif. Dari sini dapat dikatakan bahwa pada saat ini potensi terbentuknya awan panas dalam letusan Gunung Slamet masih amat sangat kecil.

Gambar 8. Citra satelit sumberdaya Bumi SPOT sebelum Letusan Slamet 2014 dalam warna natural (atas) dan Landsat-8 OLI pada 30 Agustus 2014 dalam warna komposit RGB (bawah). Nampak jelas adanya perubahan dalam kawah aktif Gunung Slamet, dari semula berbentuk cekung saja (atas) menjadi berhias gundukan (bawah) yang ditebari warna kemerahan, yang adalah jejak panas dari lava pijar. Sumber: LAPAN, 2014.

Gambar 8. Citra satelit sumberdaya Bumi SPOT sebelum Letusan Slamet 2014 dalam warna natural (atas) dan Landsat-8 OLI pada 30 Agustus 2014 dalam warna komposit RGB (bawah). Nampak jelas adanya perubahan dalam kawah aktif Gunung Slamet, dari semula berbentuk cekung saja (atas) menjadi berhias gundukan (bawah) yang ditebari warna kemerahan, yang adalah jejak panas dari lava pijar. Sumber: LAPAN, 2014.

Ukuran gundukan tersebut memang masih bisa membesar lagi seiring masih intensifnya Gunung Slamet memuntahkan magmanya. Jika berlangsung terus secara berkesinambungan, maka di masa depan gundukan ini bisa sedemikian besarnya sehingga menutupi seluruh bagian kawah aktif. Selain membuat Gunung Slamet bertambah tinggi, gundukan yang demikian besar juga bakal lebih tak stabil khususnya jika ia memang kubah lava. Baru dalam kondisi inilah potensi terjadinya awan panas atau wedhus gembel dalam letusan Gunung Slamet membesar. Dengan satu penegasan, jika gundukan itu memang kubah lava.

Apa yang Sebaiknya Kita Lakukan?

Pasca peningkatan intensitas letusan dalam rentang waktu 9 hingga 11 September 2014, kini Gunung Slamet justru cenderung menurun. Ia cenderung lebih kalem. Gelagat ini sejatinya tak mengherankan seiring nihilnya gempa vulkaniknya selepas 6 September 2014. Dengan kata lain suplai magma segar yang baru dalam jumlah signifikan dari perutbumi relatif berkurang. Sehingga lontaran material pijar dan lava pijar beserta suara dentuman dan gemuruh yang ditimbulkannya relatif menurun dalam jumlah yang relatif besar. Situasi kalem semacam ini bakal terus bertahan sampai ada suplai magma segar yang baru lagi kelak. Kapan magma segar yang baru akan kembali naik dari perutbumi? Hanya Allah SWT yang tahu. Ilmu pengetahuan dan teknologi masakini belum memiliki kemampuan untuk memperkirakannya. Kita hanya bisa mengetahuinya tepat pada saat magma segar itu sudah bergerak naik, yang direfleksikan oleh kejadian gempa vulkaniknya. Yang jelas begitu suplai magma segar yang baru terdeteksi, dapat dikatakan bahwa dalam beberapa hari hingga seminggu kemudian intensitas letusan Gunung Slamet kembali meningkat.

Sejauh ini letusan Gunung Slamet masih tetap membatasi lontaran material pijar dan lava pijarnya hanya di sekitar kawasan puncak. Belum ada material vulkanik panas membara yang terlontar melampaui batas radius 4 kilometer dari kawah aktif yang saat ini diberlakukan. Sehingga sejatinya Gunung Slamet masih tetap berada dalam ritme letusan yang telah dilakoninya selama berabad-abad terakhir. Ia masih mempertahankan tipe letusannya pada erupsi strombolian. Ia masih memiliki saluran magma yang terbuka tanpa hambatan berarti, sehingga tak berkesempatan menimbun magma hingga jumlah yang sangat besar ataupun meningkatkan tekanan gas vulkaniknya hingga sangat tinggi. Ketinggian semburan material vulkaniknya pun masih tergolong rendah, juga kepekatan debu vulkaniknya seperti diperlihatkan oleh Volcanic Ash Advisory Committee (VAAC) Darwin. Karenanya ia belum mengganggu aktivitas penerbangan yang melintas di atas/dekatnya. Maka dari itu bisa disimpulkan bahwa potensi Gunung Slamet untuk meletus besar adalah sangat kecil.

Gambar 9. Ilustrasi gunung berapi dengan saluran magma yang terbuka dan tertutup. Jika saluran magma terbuka, yakni tak memiliki penghalang yang signifikan, maka magma dengan mudah keluar dari kawah sehingga intensitas letusannya relatif kecil. Sebaliknya jika saluran magma tertutupi oleh sumbat yang pejal dan kuat, maka magma dan gas harus terkumpul dan memiliki tekanan yang sangat tinggi guna menjebol sumbatnya. Sehingga intensitas intensitas letusannya jauh lebih besar. Gunung Slamet memiliki saluran magma yang terbuka, sehingga potensinya untuk meletus besar adalah sangat kecil. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 9. Ilustrasi gunung berapi dengan saluran magma yang terbuka dan tertutup. Jika saluran magma terbuka, yakni tak memiliki penghalang yang signifikan, maka magma dengan mudah keluar dari kawah sehingga intensitas letusannya relatif kecil. Sebaliknya jika saluran magma tertutupi oleh sumbat yang pejal dan kuat, maka magma dan gas harus terkumpul dan memiliki tekanan yang sangat tinggi guna menjebol sumbatnya. Sehingga intensitas intensitas letusannya jauh lebih besar. Gunung Slamet memiliki saluran magma yang terbuka, sehingga potensinya untuk meletus besar adalah sangat kecil. Sumber: Sudibyo, 2014.

Dalam kaitannya dengan ini, menarik untuk mencermati pernyataan Dr. Surono, ahli kegunungapian legendaris yang juga Kepala Badan Geologi. Bahwa tak perlu meden-medeni (menakut-nakuti) terkait (letusan) Gunung Slamet. Ditinjau dari sudut pandang ilmu kegunungapian, letusan Gunung Slamet kali ini masih tergolong kalem. Apalagi jika dibandingkan dengan Letusan Kelud 2014 dan Letusan Sangeang Api 2014 kemarin. Sepanjang tidak memasuki kawasan terlarang (yang beradius mendatar hingga 4 kilometer dari kawah aktif), maka tak ada yang perlu dikhawatirkan. Bahkan letusan Slamet kali ini sejatinya bisa dinikmati sebagai obyek wisata baru. Menyaksikan semburan api mencuat dari puncak Gunung Slamet di kala malam akan cukup mengesankan, yang bisa menjadi bagian dari upaya kita memahami kinerja alam semesta sekaligus mengagumi kebesaran-Nya.

Yang jelas ke depan intensitas letusan Gunung Slamet masih berpotensi untuk meninggi kembali seperti barusan terlewat, sepanjang masih terjadi suplai magma segar yang baru dalam jumlah signifikan. Kapan? Hanya Allah SWT yang tahu. Namun saat hal itu kembali terjadi, mari upayakan untuk menekan rasa cemas dan resah kita seminimal mungkin. Tetaplah mengacu informasi pada sumber-sumber yang bisa dipertanggungjawabkan, dalam hal ini PVMBG melalui Pos Gambuhan ataupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Brebes, Tegal, Pemalang, Purbalingga dan Banyumas. PVMBG dan juga Badan Geologi cukup aktif dalam menyalurkan informasi khususnya lewat media elektronik dan/atau media sosial. Pun demikian sejumlah relawan bencana, yang juga tetap merujuk pada PVMBG. Tak perlu membesar-besarkan klaim, info (apalagi foto) yang belum jelas juntrungannya. Kerap sebuah bencana lokal menjadi petaka yang sungguh berlipatganda, yang sejatinya bisa dihindari, kala informasinya disebarkan sebagai desas-desus yang merambah kemana-mana dalam ranah media sosial.

Catatan :

Beberapa tulisan terkait sebelumnya :

Letusan Gunung Slamet, Antara Mitos dan Realitas.

Gunung Merapi Berstatus Waspada (Level II), Gunung Slamet Meningkat ke Siaga (Level III).

Gunung Slamet (Hampir) Usai Tunaikan Janji.

Bila Gunung Slamet Mencicil Letusan.

Referensi :

PVMBG. 2014. Evaluasi Aktivitas G. Slamet Status Siaga (Level III) Hingga Tanggal 12 September 2014.