Konstelasi Idul Adha 1435 H di Indonesia dan Saudi Arabia

Bagian ketiga dari lima tulisan

Lembaran kalender 1435 Hijriyyah telah hampir memasuki bulan kalender pamungkasnya, yakni Zulhijjah. Inilah salah satu bulan kalender yang tinggi kedudukannya di mata Umat Islam sejagat. Karena di saat inilah terdapat ibadah yang menjadi bagian Rukun Islam, yakni haji. Dan momen menentukan bagi ibadah haji terjadi setiap tanggal 9 Zulhijjah dalam prosesi wukuf di padang Arafah. Sementara jamaah calon haji berkumpul di padang Arafah untuk wukuf, umat Islam di segenap penjuru jagat lainnya dianjurkan untuk menunaikan ibadah puasa Arafah yang bersifat sunat. Dan di esok harinya, yakni pada 10 Zulhijjah, Idul Adha pun datanglah. Disusul dengan hari-hari tasyrik yang datang beruntun dalam tiga hari berikutnya. Inilah saat-saat dimana hewan-hewan kurban disembelih, sebagai pengingat akan pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS kala baru beberapa waktu memasuki lembah Bakka (kini Makkah).

Di Indonesia, popularitas hari raya Idul Adha memang tidaklah setinggi hari raya Idul Fitri. Meski sama-sama menjadi hari raya yang memiliki makna budaya, namun magnitud Idul Adha sebagai peristiwa budaya tidaklah semassif Idul Fitri. Pergerakan massa menjelang dan selepas Idul Adha jauh lebih kecil dibanding Idul Fitri. Banyak orang Indonesia yang tetap memilih untuk merayakan Idul Adha di tempat tinggalnya masing-masing tanpa merasa perlu menyempatkan pulang ke tanah tumpah darah nenek moyang. Apalagi penyembelihan hewan kurban dapat dilaksanakan kapanpun selama empat hari berturut-turut semenjak saat Idul Adha. Meski demikian diskursus seputar perbedaan atau persamaan dalam penetapan hari raya Idul Adha tetap mendapat banyak perhatian seperti halnya Idul Fitri.

Bagaimana seputar penetapan hari raya Idul Adha 10 Zulhijjah 1435 H di Indonesia?

Gambar 1. Hilaal tua (Bulan sabit tua) diabadikan pada Selasa 23 September 2014 pukul 04:55 WIB dari Bangil, Pasuruan (Jawa Timur) oleh Agus Siswanto. Hilaal tua adalah fase Bulan yang menjadi pasangan dari hilaal. Secara astronomis hilaal tua sama pentingnya dengan hilaal, namun secara syari hanya hilaal yang berperan menjadi penentu pergantian kalender Hijriyyah. Sumber: Siswanto, 2014.

Gambar 1. Hilaal tua (Bulan sabit tua) diabadikan pada Selasa 23 September 2014 pukul 04:55 WIB dari Bangil, Pasuruan (Jawa Timur) oleh Agus Siswanto. Hilaal tua adalah fase Bulan yang menjadi pasangan dari hilaal. Secara astronomis hilaal tua sama pentingnya dengan hilaal, namun secara syari hanya hilaal yang berperan menjadi penentu pergantian kalender Hijriyyah. Sumber: Siswanto, 2014.

Idul Adha 1435 H sangat bergantung pada kapan tanggal 1 Zulhijjah 1435 H ditetapkan. Dan penetapan tanggal tersebut bergantung kepada kapan 29 Zulqaidah 1435 H terjadi. Bagi segenap Indonesia, 29 Zulqaidah 1435 H bertepatan dengan Rabu 24 September 2014. Sehingga elemen-elemen Bulan saat Matahari terbenam pada tanggal tersebutlah yang menjadi penentu.

Di satu sisi ormas Muhammadiyah melalui Pimpinan Pusat-nya telah jauh-jauh hari memaklumatkan bahwa bagi mereka tanggal 1 Zulhijjah 1435 H bertepatan dengan Kamis 25 September 2014. Sehingga Idul Adha 1435 H terjadi pada Sabtu 4 Oktober 2014. Yang menjadi dasarnya adalah sebagian Indonesia telah memenuhi “kriteria” wujudul hilaal, khususnya Indonesia bagian barat. Sementara di sisi yang lain, meski masih tetap menantikan hasil sidang itsbat penetapan Idul Adha 1435 H yang salah satunya mengagendakan untuk mendengar dan menerima/menolak laporan-laporan observasi hilaal dari seluruh penjuru Indonesia, namun kemungkinan besar Menteri Agama bakal memutuskan 1 Zulhijjah 1435 H bertepatan dengan Jumat 26 September 2014 bila mengacu “kriteria” kesepakatan yang berlaku pada saat ini. Sebab tak satupun titik di wilayah Indonesia yang memenuhi “kriteria” imkan rukyat. Maka hampir dapat dipastikan Menteri Agama juga bakal mengumumkan Idul Adha 1435 terjadi pada Minggu 5 Oktober 2014.

Bagaimana dengan ormas besar lainnya, yakni Nahdlatul ‘Ulama (NU)? Sikap Pengurus Besar-nya jelas, yakni NU tetap menunggu hasil-hasil rukyat dan memverifikasinya. Namun melihat elemen-elemen Bulan pada 29 Zulqaidah 1435 H, juga hampir dapat dipastikan NU bakal ber-Idul Adha 1435 H pada Minggu 5 Oktober 2014. Musababnya pada Rabu senja itu hilaal mustahil dapat dirukyat, bahkan menggunakan teleskop termutakhir sekalipun. Meski demikian, dengan ‘kekuasaan’ di tubuh NU tidak berada di tangan Pengurus Besar-nya melainkan terdistribusi ke ulama/pondok pesantren kharismatis, tetap bakal ada beberapa kalangan yang menyelisihi keputusan Pengurus Besar dan ber-Idul Adha sehari lebih dini. Terutama kalangan yang masih mempergunakan sistem perhitungan (sistem hisab) Sullam, misalnya di Cakung (DKI Jakarta). Hal yang sama pun bakal dijumpai di tubuh Muhammadiyah. Meski di sini ‘kekuasaan’ berada di tangan Pengurus Pusat, namun tetap bakal ada beberapa kalangan yang menyelisihi keputusannya dan ber-Idul Adha sehari kemudian. Faktor bagaimana Saudi Arabia memutuskan Idul Adha-nya sangat menentukan sikap kalangan ini.

Elemen Bulan

Bagaimana sesungguhnya posisi Bulan pada Rabu senja 24 September 2014 sehingga hari raya Idul Adha 1435 H bakal berpotensi besar berbeda di Indonesia?

Satu parameter penting penentuan awal bulan kalender Hijriyyah adalah konjungsi Bulan-Matahari (ijtima’). Ini adalah peristiwa dimana pusat cakram Matahari tepat segaris bujur ekliptika dengan pusat cakram Bulan ditinjau dari titik referensi tertentu. Dalam peristiwa ini Bulan bisa saja seakan-akan ‘menindih’ Matahari dalam situasi khusus yang disebut Gerhana Matahari. Namun yang kerapkali terjadi adalah Bulan tetap mengambil jarak sudut tertentu terhadap Matahari, sehingga Matahari dan Bulan terlihat berjauhan dan hanya berada dalam satu garis lurus. Garis lurus ini tidak harus mendatar (horizontal) ataupun tegak (vertikal). Di Indonesia, konjungsi Bulan dan Matahari lebih sering terjadi saat kedua raksasa langit tersebut terletak pada satu garis lurus yang relatif miring terhadap cakrawala (horizon).

Dengan menggunakan sistem hisab kontemporer khususnya sistem perhitungan ELP 2000-82 diketahui bahwa bila ditinjau dari titik pusat Bumi (geosentrik), konjungsi terjadi pada Rabu 24 September 2014 pukul 13:14 WIB. Sebaliknya bila ditinjau dari titik permukaan Bumi (toposentrik), konjungsi justru terjadi lebih kemudian. Yakni dalam rentang waktu antara pukul 13:55 WIB (bagi kota Medan, propinsi Sumatra Utara) hingga pukul 15:00 WIB (bagi kota Biak, propinsi Papua). Konjungsi toposentrik sejatinya lebih realistis mengingat segenap umat manusia hidup di permukaan Bumi. Namun dalam praktiknya kalah populer dibanding konjungsi geosentrik. Sehingga yang populer menjadi patokan perhitungan ilmu falak adalah konjungsi geosentrik.

Gambar 2. Peta tinggi Bulan di Indonesia pada saat Matahari terbenam Rabu 24 September 2014. Nampak bahwa Indonesia dibelah oleh garis nol (garis yang menunjukkan tinggi Bulan sama dengan nol derajat). Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 2. Peta tinggi Bulan di Indonesia pada saat Matahari terbenam Rabu 24 September 2014. Nampak bahwa Indonesia dibelah oleh garis nol (garis yang menunjukkan tinggi Bulan sama dengan nol derajat). Sumber: Sudibyo, 2014.

Konjungsi geosentrik Bulan-Matahari menentukan elemen umur Bulan geosentrik, yakni selang waktu antara saat konjungsi (geosentrik) hingga saat Matahari terbenam di masing-masing titik pada satu wilayah negeri tertentu. Bagi Indonesia pada 24 September 2014 senja umur Bulan bervariasi antara +2,3 jam di Jayapura (propinsi Papua) hingga +5,3 jam di Lhoknga (propinsi Aceh). Selain umur Bulan, terdapat parameter signifikan lainnya yang disebut tinggi Bulan, yakni tinggi pusat cakram Bulan terhadap garis cakrawala (horizon) pada saat Matahari terbenam. Di Indonesia, pada saat yang sama tinggi Bulan bervariasi antara -0,7 derajat di Jayapura (propinsi Papua) hingga +0,5 derajat di Pelabuhan Ratu (propinsi Jawa Barat). Dan parameter berikutnya yang juga menentukan adalah elongasi Bulan, yakni jarak sudut antara titik pusat cakram Bulan dan Matahari pada saat Matahari terbenam. Pada saat tersebut, elongasi Bulan di Indonesia bernilai antara 1,8 derajat di Merauke (propinsi Papua) hingga 2,5 derajat di pulau Sabang (propinsi Aceh). Harus digarisbawahi bahwa semua angka merupakan hasil perhitungan berdasar kondisi ideal, dimana elevasi (ketinggian) setiap titik dianggap sama dengan paras (permukaan) air laut rata-rata.

Dari pemaparan data tersebut terlihat, bahwa parameter tinggi Bulan ternyata tidaklah mengikuti bentuk geografis Indonesia. Sehingga posisi Bulan dan Matahari saat ini menjadikan titik Lhoknga (Aceh), yang menjadi titik terbarat Indonesia, tidak memiliki tinggi Bulan terbesar bagi seluruh negeri. Sebaliknya geometri posisi Bulan dan Matahari adalah demikian rupa sehingga justru di titik Pelabuhan Ratu-lah tinggi Bulan mencapai nilai maksimumnya bagi segenap Indonesia. Hal ini pun berlaku dalam lingkup global. Kita bisa melihat misalnya di Saudi Arabia, negeri yang secara teknis terletak jauh lebih ke barat dibanding Indonesia. Namun pada Rabu senja 24 September 2014, tinggi Bulan di kotasuci Makkah adalah setara tinggi Bulan di Pelabuhan Ratu. Yakni sama-sama +0,5 derajat.

Sisi Hisab

Bagaimana cara membaca data-data ini sehingga kita bisa mengetahui bahwa secara teknis Idul Adha 1435 H di Indonesia berkemungkinan besar bakal terlaksana secara berbeda?

Gambar 3. Peta umur Bulan (selisih antara saat konjungsi Bulan-Matahari geosentris dengan terbenamnya Matahari setempat) di Indonesia pada saat Matahari terbenam Rabu 24 September 2014. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 3. Peta umur Bulan (selisih antara saat konjungsi Bulan-Matahari geosentris dengan terbenamnya Matahari setempat) di Indonesia pada saat Matahari terbenam Rabu 24 September 2014. Sumber: Sudibyo, 2014.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, khasanah perbedaan atau persamaan dalam berpuasa Ramadhan serta berhari raya Idul Fitri dan Idul Adha di Indonesia sangat dipengaruhi oleh bagaimana sikap dua ormas Islam terbesar, yakni NU di satu sisi dan Muhammadiyah di sisi yang lain. Dan keduanya memiliki cara berbeda dalam penentuan itu. Bagi NU, penentuan tersebut hanya bisa dilakukan dengan cara rukyat hilaal dengan hisab (perhitungan ilmu falak) sebagai sebagai faktor pendukung pelaksanaan rukyat. Semenjak beberapa tahun belakangan NU telah mulai konsisten melakukan rukyat hilaal bagi penentuan setiap awal bulan kalender Hijriyyah. Seiring beragamnya sistem hisab di tubuh NU yang hasilnya pun sangat bervariasi, ormas ini memiliki parameter sendiri untuk menentukan apakah hasil rukyat hilaal bisa diterima ataukah tidak. Parameter tersebut mengacu pada “kriteria” imkan rukyat yang diformulasikan Kementerian Agama RI, khususnya pada faktor tinggi Bulan minimal yang dinyatakan sistem hisab kontemporer.

rmd1435_IR

Sebaliknya bagi Muhammadiyah, awal bulan kalender Hijriyyah cukup ditentukan dengan cara hisab tanpa perlu melakukan rukyat hilaal. Kriteria yang digunakan adalah “kriteria” wujudul hilaal, yang pada saat ini memiliki formulasi sebagai berikut :

rmd1435_WH

Dengan membandingkan dua “kriteria” tersebut terhadap elemen posisi Bulan pada Rabu senja 24 September 2014, maka dengan mudah dapat dilihat sebagian wilayah Indonesia telah memenuhi “kriteria” wujudul hilaal khususnya bagian sebelah barat. Sementara bagian timur belum memenuhi. Ini terjadi akibat garis nol (yakni garis yang menghubungkan titik-titik yang memiliki tinggi Bulan tepat sama dengan nol derajat saat Matahari terbenam) memang ‘membelah’ Indonesia. Di sisi barat garis ini tinggi Bulan telah bernilai positif. Sebaliknya di sisi timur negatif. Namun dengan berdasar prinsip naklul wujud, yang mulai digunakan Muhammadiyah semenjak 2013 lalu, maka bagian timur Indonesia pun dianggap sudah memenuhi “kriteria” mengingat kedudukannya sebagai satu kesatuan wilayah negara ini. Sehingga 1 Zulhijjah bagi Muhammadiyah bertepatan dengan Kamis 25 September 2014 dan hari raya Idul Adha jatuh pada Sabtu 4 Oktober 2014.

Sementara bila dipandang dari “kriteria” imkan rukyat, tiada satupun titik di segenap wilayah Indonesia yang memenuhi syarat karena seluruhnya memiliki tinggi Bulan kurang dari +2 derajat. Dengan demikian tak satupun bagian wilayah Indonesia yang memenuhi “kriteria” Imkan Rukyat. Sehingga 1 Zulhijjah 1435 H bakal bertepatan dengan Jumat 25 September 2014 dan hari raya Idul Adha bertepatan dengan Minggu 5 Oktober 2014. Inilah potensi perbedaan itu.

Sisi Rukyat

Uraian di atas mendasarkan pada perspektif hisab. Nah bagaimana jika berdasar pada perspektif rukyat?

Di Indonesia, saat tinggi Bulan setara atau lebih dari 2 derajat memang sudah mulai muncul laporan rukyatul hilaal yang menyatakan terlihatnya hilaal. Laporan ini memang dapat divalidasi di tingkat sidang itsbat karena dianggap telah memenuhi “kriteria” imkan rukyat, namun tidak demikian dari sisi ilmiah. Laporan-laporan tersebut selalu hanya menyatakan “hilaal terlihat” tanpa adanya parameter-parameter hasil observasi yang bisa dievaluasi dalam ruang dan waktu yang berbeda. Apalagi rukyat yang menyertakan citra (foto) sebagai bukti fisik.

Di sisi lain, rekapitulasi rukyat hilaal yang merentang masa baik dalam lingkup global seperti dilakukan ICOP (International Crescent Observation Project) maupun lingkup lokal Indonesia yang dihimpun RHI (Rukyatul Hilal Indonesia) tidak mendukung “kriteria” imkan rukyat. Pekerjaan ICOP mewujud pada persamaan batas yang dikenal sebagai kriteria empirik Audah (atau kriteria Odeh). Sementara kerja keras RHI mengemuka sebagai kriteria empirik RHI (atau kriteria RHI). Baik kriteria Odeh maupun kriteria RHI memiliki bentuk yang mirip (jika dibatasi pada kawasan tropis semata) dan memiliki nilai ambang batas yang lebih besar ketimbang “kriteria” imkan rukyat, apalagi wujudul hilaal. Harus digarisbawahi bahwa baik kriteria Odeh maupun kriteria RHI dibentuk oleh laporan-laporan observasi hilaal baik dengan mata dibantu oleh alat bantu optik (teleskop/binokular) maupun tidak.

Gambar 4. Kiri: citra asli hilaal Makassar 2013 hasil rukyat pencitraan yang terdiri dari 10 citra berbeda dan kemudian ditumpuk (di-stacking) lewat software pengolah citra, hal standar dalam astronomi modern. Kanan: citra hilaal Makassar 2013 yang telah dipermak lebih lanjut dengan software pengolah citra, yang diperuntukkan bagi kalangan umum (non perukyat). Nampak jelas goresan tipis sedikit melengkung, yang adalah hilaal. Sumber: Observatorium Bosscha, 2013 dan Cecep Nurwendaya, 2013.

Gambar 4. Kiri: citra asli hilaal Makassar 2013 hasil rukyat pencitraan yang terdiri dari 10 citra berbeda dan kemudian ditumpuk (di-stacking) lewat software pengolah citra, hal standar dalam astronomi modern. Kanan: citra hilaal Makassar 2013 yang telah dipermak lebih lanjut dengan software pengolah citra, yang diperuntukkan bagi kalangan umum (non perukyat). Nampak jelas goresan tipis sedikit melengkung, yang adalah hilaal. Sumber: Observatorium Bosscha, 2013 dan Cecep Nurwendaya, 2013.

Perubahan dramatis terjadi pada 2013 tepatnya saat penentuan Idul Fitri 1434 H (2013) melalui rukyat hilaal Rabu senja 7 Agustus 2013. Meski baik kriteria Odeh maupun RHI menunjukkan hilaal tidak mungkin teramati pada saat itu di segenap Indonesia, namun tim Observatorium Bosscha yang ditempatkan di Makassar (propinsi Sulawesi Selatan) secara gemilang berhasil mengobservasinya sekaligus melampirkan citra (foto) hilaal tersebut, sebagai bukti fisik. Sukses ini merupakan kulminasi dari kerja keras para perukyat hilaal kontemporer (yang mencakup observatorium Bosscha, sejumlah institusi pendidikan dan ormas terkait) untuk mencari dan mengembangkan teknik-teknik observasi yang bisa dijadikan acuan sekaligus menyajikan bukti kuat semenjak 2009.

Sukses observasi hilaal Makassar 2013 itu merupakan buah dari penggunaan teleskop (untuk memperkuat intensitas cahaya sabit Bulan) yang ditempatkan pada dudukan (mounting) robotik (sehingga teleskop senantiasa terus mengarah ke posisi Bulan dari waktu ke waktu) disertai penggunaan filter (untuk meningkatkan kontras antara sabit Bulan dengan langit latar belakangnya) dan kamera beresolusi tinggi (untuk merekam citra sabit Bulan sebagai data elektronis) yang disertai pengolahan citra (guna mempertajam citra/foto mentah dengan teknik stacking sehingga menyajikan hasil yang ramah mata). Hilaal Makassar 2013 terekam pada pukul 18:11 WITA, atau 5 menit setelah Matahari terbenam di lokasi tersebut. Di tempat lain, penggunaan instrumen serupa (teleskop + mounting + filter + kamera) pun berhasil merekam sabit Bulan dalam waktu berjam-jam sebelum Matahari terbenam, seperti yang dilakukan tim observatorium as-Salam, Surakarta (Jawa Tengah) dan observatorium al-Buruj, Kudus (Jawa Tengah). Kedua tim tersebut merupakan bagian dari jejaring RHI. Meski status sabit Bulan yang terekam sebelum terbenamnya Matahari tetap dipahami bukan sebagai hilaal yang memiliki kekuatan hukum, melainkan hanya sabit Bulan semata. Hilaal Makassar 2013 menjadikan sidang itsbat saat itu memiliki yurisprudensi baru, yakni menerima hasil rukyat pencitraan (rukyat hilaal yang berbasis teleskop, kamera dan pengolahan citra).

Kini bagaimana dengan penentuan Idul Adha 1435 H (2014)? Sayangnya parameter posisi Bulan dan Matahari pada saat hilaal Makassar 2013 sukses teramati sangat berbeda dengan elemen-elemen Bulan untuk penentuan 1 Zulhijjah 1435 H. Hilaal Makassar 2013 teramati saat elongasi Bulan bernilai 7 derajat. Sementara dalam penentuan Idul Adha 145 H ini elongasi Bulan hanyalah bernilai maksimum 2,5 derajat. Jauh di bawah angka 7 derajat. Maka dapat dikatakan potensi terekamnya hilaal lewat rukyat pencitraan adalah mustahil.

Saudi Arabia

Parameter lain yang perlu dilihat dalam konstelasi penentuan Idul Adha 1435 H di Indonesia adalah bagaimana keputusan Saudi Arabia. Keputusan negeri mancanegara tersebut cukup penting, setidaknya bagi sejumlah kalangan, mengingat Saudi Arabia adalah negeri dimana haramain (dua tanah haram, yakni Makkah dan Madinah) berada. Dengan demikian Saudi Arabia memegang peranan sentral dalam sejumlah aspek, termasuk urusan penentuan awal bulan kalender Hijriyyah. Ada banyak negara Islam atau negara yang berpenduduk mayoritas Muslim maupun komunitas-komunitas Muslim yang menyandarkan dirinya pada apapun keputusan Saudi Arabia.

Saudi Arabia menggunakan kalender Hijriyyah sebagai kalender sipil, yakni kalender yang mengatur keseharian kehidupan di negeri tersebut baik untuk urusan birokrasi, bisnis/perdagangan maupun komunikasi. Namun bukan untuk kepentingan ibadah. Kalender tersebut dikenal sebagai kalender Ummul Qura, yang bekerja berdasarkan “kriteria” Ummul Qura. Kriteria ini mirip “kriteria” wujudul hilaal yang digunakan Muhammadiyah, dengan sedikit perbedaan kecil. Tetapi, dalam hal penentuan awal Ramadhan dan dua hari raya, Saudi Arabia berpatokan pada rukyatul hilaal. Jika hilaal tak teramati, maka dilakukan istikmal tanpa harus mengubah tanggal dalam kalendernya. Sehingga bagi Saudi Arabia adalah sah-sah saja saat ibadah puasa Ramadhan dimulai pada tanggal 2 Ramadhan, atau hari raya Idul Fitri berlangsung pada tanggal 2 Syawwal dan hari raya Idul Adha pada tanggal 11 Zulhijjah.

Semenjak 2013 muncul gejala Saudi Arabia cukup selektif dalam menerima hasil rukyatul hilaal. Dengan mengacu sistem hisab kontemporer, maka bilamana terdapat laporan rukyatul hilaal dari titik-titik tertentu sementara hasil perhitungan menunjukkan posisi Bulan berada di atau bahkan malah di bawah horizon tatkala Matahari terbenam, maka laporan itu ditolak. Di masa silam laporan semacam ini seringkali diterima begitu saja, hal yang kerap membuat keputusan-keputusan Saudi Arabia dipertanyakan oleh negara-negara tetangganya yang kritis, seperti Mesir. Kini laporan rukyatul hilaal yang diterima hanyalah laporan yang terjadi saat hasil perhitungan menunjukkan Bulan berada di atas horizon (tinggi positif). Dan keputusan dinyatakan oleh Mahkamah Agung Kerajaan.

Bagaimana dalam penentuan Idul Adha 1435 H?

Gambar 5. Peta tinggi Bulan di segenap permukaan Bumi pada saat Matahari terbenam Rabu 24 September 2014. Garis kuning menunjukkan garis nol (garis dimana tinggi Bulan sama dengan nol derajat). Selain membelah Indonesia, garis nol juga sedikit memotong wilayah Saudi Arabia. Di sebelah barat garis nol ini semua lokasi memiliki tinggi Bulan positif (+), sementara di timurnya memiliki tinggi Bulan negatif (-). Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 5. Peta tinggi Bulan di segenap permukaan Bumi pada saat Matahari terbenam Rabu 24 September 2014. Garis kuning menunjukkan garis nol (garis dimana tinggi Bulan sama dengan nol derajat). Selain membelah Indonesia, garis nol juga sedikit memotong wilayah Saudi Arabia. Di sebelah barat garis nol ini semua lokasi memiliki tinggi Bulan positif (+), sementara di timurnya memiliki tinggi Bulan negatif (-). Sumber: Sudibyo, 2014.

Perhitungan menunjukkan segenap wilayah Saudi Arabia berada di sisi barat garis nol. Sehingga semuanya memiliki tinggi Bulan positif, jika elevasi lokasi sejajar dengan paras air laut rata-rata. Namun hasil perhitungan lebih lanjut mencerminkan bahwa tinggi Bulan di Saudi Arabia demikian kecil. Karena posisi Bulan berada di atau bahkan di bawah horizon tatkala Matahari terbenam pada Rabu senja 24 September 2014. Di Saudi Arabia bagian utara, Bulan berada di bawah horizon. Sementara di Saudi Arabia bagian selatan Bulan berada tepat atau sedikit di atas horizon dengan tinggi Bulan tak sampai +0,5 derajat. Situasi ini agak mirip dengan elemen Bulan saat penentuan 1 Ramadhan 1435 H lalu. Sehingga diprediksikan Saudi Arabia bakal mengambil keputusan yang senada dengan saat Ramadhan lalu. Meski kemungkinan sebaliknya pun tetap terbuka.

Faktor lain yang menjadi pertimbangan dalam menetapkan Idul Adha di Saudi Arabia berada di luar ranah astronomi, yakni haji akbar. Dalam pengertian yang dipedomani kerajaan tersebut, haji akbar terjadi tatkala wukuf bertepatan dengan hari Jumat. Sesuai tradisi, bila haji akbar terjadi maka pemerintah Saudi Arabia berkewajiban membiayai perjalanan haji seluruh warganegaranya sekaligus meliburkannya dari rutinitas hariannya. Sejatinya hal ini sedikit merepotkan, karena memakan sumber daya dan finansial yang cukup besar. Di masa silam Saudi Arabia kerap terlihat mencoba menggeser waktu pelaksanaan wukuf bilamana mereka tak siap dalam penyelenggaraan haji akbar.

Konsekuensinya, Kamis 25 September 2014 memang bertepatan dengan 1 Zulhijjah 1435 H menurut kalender Ummul Qura. Namun Saudi Arabia kemungkinan akan ber-Idul Adha pada Minggu 5 Oktober 2014 yang bertepatan dengan 11 Zulhijjah 145 H. Jika demikian, maka wukuf di padang Arafah kemungkinan bakal terjadi pada Sabtu 4 Oktober 2014.

Situasi tersebut pun disikapi oleh Muhammadiyah melalui Pengurus Pusat-nya. Menyikapi potensi perbedaan ber-Idul Adha antara Muhammadiyah dan Saudi Arabia, maka dalam pertemuan di Yogyakarta pada 9-10 September 2014 tempo hari, Muhammadiyah tetap menekankan pimpinannya dari tingkat pusat hingga tingkat ranting untuk mematuhi apa yang telah menjadi ketetapan Pengurus Pusat. Terhadap warganya Muhammadiyah pun menganjurkan demikian. Namun andaikata merasa ragu-ragu, diberikan keleluasaan untuk memilih apa yang menurutnya diyakininya meski berbeda dengan ketetapan Pengurus Pusat.

Cakung

Ketidakutuhan pun bakal dijumpai di tubuh NU mengingat masih banyaknya ulama/pondok pesantren karismatis yang mengacu pada sistem hisab Sullam. Meski Pengurus Besar telah menyebut sistem hisab ini kurang akurat dan digolongkan ke dalam sistem hisab taqriby (pendekatan/approksimasi), masih banyak warga NU yang berpedoman kepadanya. Hal ini didasari oleh sejarah, dimana sistem hisab ini berpatokan pada kitab Sullam al-Nayyirain. Inilah kitab ilmu falak tertua di era Indonesia kontemporer (dicetak pada 1930-an) yang ditulis Guru Mansyur dari Jembatan Lima (propinsi DKI Jakarta). Guru Mansyur adalah salah satu tokoh ilmu falak tersohor sekaligus eksponen NU di awal mula, sehingga cukup dihormati. Selain penghormatan ini, kitab Sullam al-Nayyirain banyak dipelajari karena kemudahannya dibandingkan sistem hisab lainnnya di tubuh NU.

Dalam perkembangannya, pengguna sistem hisab Sullam mencoba mengadopsi “kriteria” imkan rukyat ke dalam sistem hisab mereka. Namun adopsi ini berkesan serampangan. Maka saat hasil perhitungan sistem hisab ini menunjukkan tinggi Bulan (irtifa’) sudah melewati 2 derajat pada suatu senja, keesokan paginya sudah memasuki bulan kalender Hijriyyah yang baru. Adopsi ini mengesampingkan peringatan yang diberikan Guru Mansyur sendiri, yang menyebut bahwa batas tinggi Bulan untuk memasuki bulan kalender yang baru adalah 5 derajat. Di samping itu sistem hisab ini pun ditekankan harus sering dikalibrasi dengan mengacu pada peristiwa Gerhana Matahari, yang nyaris tak pernah dilakukan.

Bagi para penggunanya, sistem hisab Sullam merupakan pedoman untuk pelaksanaan rukyat seperti yang dimotori Cakung dan Basmol (keduanya di propinsi DKI Jakarta). Namun hampir selalu terjadi bahwa saat hasil perhitungan sistem hisab Sullam menunjukkan tinggi Bulan menurut Sullam sebesar 2 derajat atau lebih, maka rukyat mendadak menyajikan hasil positif (berhasil melihat). Bahkan meski langit tersaput awan sekalipun. Bahkan meski lokasi DKI Jakarta sudah tak lagi memenuhi syarat seiring banyaknya bangunan tinggi dan polusi cahaya yang benderang, yang sejatinya sangat mengganggu dalam observasi benda langit. Karena itu tak mengherankan jika hasil rukyat Cakung (dan juga Basmol) kerap mendapat kritikan di lingkungan NU sendiri.

Bagaimana dengan Idul Adha 1435 H?

Berbeda dengan sistem hisab kontemporer (yang telah terbukti saat dibandingkan dengan Gerhana Matahari), sistem hisab Sullam memprediksi konjungsi Bulan dan Matahari (geosentris) akan terjadi pada Rabu 24 September 2014 pukul 12:19 WIB. Tinggi Bulan (irtifa’) dalam sistem hisab Sullam mengacu pada rumus sederhana, yakni selisih antra saat konjungsi dan terbenamnya Matahari dibagi dua. Maka bilamana Matahari terbenam pada pukul 17:30 WIB (terjadi di propinsi Jawa Barat), sistem hisab Sullam akan menyajikan tinggi Bulan = (17:30 – 12:19)/2 = +2,5 derajat. Evaluasi lebih lanjut memperlihatkan bahwa hampir segenap wilayah Indonesia (kecuali pulau Irian) telah memiliki tinggi Bulan versi Sulam lebih dari 2 derajat. Maka terlepas dari bagaimana mereka melakukan rukyatul hilaal, dapat diprediksi bahwa bagi pengguna sistem hisab ini, 1 Zulhijjah 1435 H bertepatan dengan Kamis 25 September 2014. Sehingga mereka akan ber-Idul Adha pada Sabtu 4 Oktober 2014.

Kesimpulan

Berdasar ulasan di atas, kita bisa mengatakan bahwa sebagian besar Umat Islam di Indonesia kemungkinan besar akan ber-Idul Adha 1435 H pada saat yang berbeda. Sebagian pada Sabtu 4 Oktober 2014, yakni warga Muhammadiyah yang mengikuti keputusan Pengurus Pusat maupun warga NU pengguna sistem hisab Sullam. Sementara sebagian lagi pada Minggu 5 Oktober 2014, yakni warga NU yang merujuk hasil rukyatul hilaal terverifikasi dan (mungkin warga Muhammadiyah) yang mengacu keputusan kerajaan Saudi Arabia.

Wallahualam.

Referensi :

Sudibyo. 2013. Zulhijjah 1435 H (2014). Kertas Kerja dalam Temu Kerja Nasional Hisab Rukyat 2013. Batam (Kepulauan Riau), Juni 2013.

Sudibyo. 2013. Zulhijjah 1435 H (2014), Tinjauan Kembali. Kertas Kerja dalam Temu Kerja Nasional Hisab Rukyat 2014. Bogor (Jawa Barat), Maret 2014.

Nurwendaya. 2013. Sidang Itsbat Awal Zulhijjah 1434 H. Bahan Sidang Itsbat Kementerian Agama RI 5 Oktober 2013 (29 Zulqaidah 1434 H).

BMKG. 2014. Informasi Hilal Saat Matahari Terbenam Rabu 24 September 2014 M Penentu Awal Bulan Zulhijjah 1435 H.

Lihat tulisan pertama.

Lihat tulisan kedua.

Meteor Meledak di Utara Pulau Irian, 10 September 2014

Rabu 10 September 2014 dinihari. Jarum jam menunjukkan pukul tiga dinihari kurang empat menit untuk waktu Indonesia bagian timur. Sunyi sepi meraja seakan menguasai buana. Hampir segenap insan di pulau Irian dan pulau-pulau kecil sekitarnya masih terlelap dalam gelap. Kecuali mereka yang memang diharuskan bertugas malam hingga fajar menjelang. Tak ada satupun yang menyadari bahwa nun jauh di utara, di atas perairan Samudera Pasifik, sebuah peristiwa langit sedang bergulir.

Sebongkah batu, mungkin bergaris tengah hampir 1 meter dengan berat mungkin 2 ton, sedang melesat dari langit. Lintasan nya menuju ke permukaan Bumi dan membentuk sudut sebesar (mungkin) 45 derajat. Melejit dengan kecepatan mungkin 20 km/detik (72.000 km/jam) atau 60 kali lebih cepat ketimbang jet tempur supersonik, bongkahan batu ini seakan hendak menjajal ‘kesaktian’ atmosfer Bumi. Dan lapisan-lapisan udara yang menyelubungi planet biru tempat tinggal kita ini pun tak mau kalah. Ia berusaha meredamnya sekuat tenaga. Dan berhasil !

Gambar 1. Lokasi titik ledakan di udara/airburst 10 September 2014 dinihari (Impact 10/09/2014) di sebelah utara pulau Irian dalam peta. Titik airburst berjarak 500 km dari kota Biak, atau 700 km dari kota Jayapura. Dengan energi 0,1 kiloton TNT maka gelombang kejut yang diproduksi oleh meteor-terang yang mengalami airburst takkan berdampak pada permukaan Bumi di bawahnya, apalagi ke daratan pulau Irian. Sumber: Sudibyo, 2014 berbasis Google Earth.

Gambar 1. Lokasi titik ledakan di udara/airburst 10 September 2014 dinihari (Impact 10/09/2014) di sebelah utara pulau Irian dalam peta. Titik airburst berjarak 500 km dari kota Biak, atau 700 km dari kota Jayapura. Dengan energi 0,1 kiloton TNT maka gelombang kejut yang diproduksi oleh meteor-terang yang mengalami airburst takkan berdampak pada permukaan Bumi di bawahnya, apalagi ke daratan pulau Irian. Sumber: Sudibyo, 2014 berbasis Google Earth.

Kala melejit menembus batas ketinggian 90 km dari paras air laut rata-rata, bongkahan batu ini mulai berpijar setelah dihajar tekanan ram lapisan-lapisan udara yang sedang dilintasinya. Semakin jauh merasuk ke dalam atmosfer, tekanan ram yang dideritanya semakin besar. Sehingga ia pun kian berpijar cemerlang dan kian tergerus permukaannya. Jadilah meteor yang lantas berkembang menjadi meteor-terang (fireball). Puncak kecerlangannya tercapai saat berada pada ketinggian sekitar 35 km dari paras air laut rata-rata, dimana ia telah 40 kali lipat lebih benderang dibanding Venus. Atau sama benderangnya dengan Bulan sabit tebal. Sejurus kemudian tekanan ram yang diderita meteor-terang ini telah demikian besarnya hingga melampaui ambang batas daya tahan mineral batuan penyusunnya. Maka mulailah dia berkeping menjadi pecahan-pecahan beragam ukuran. Pemecahan terus berlangsung dan kepingan-kepingan itu terus bergerak menembus atmosfer sebelum kemudian seolah-olah menubruk sesuatu tak kasat mata di udara pada ketinggian 32,5 km membuat lajunya kontan melambat. Maka terlepaslah sebagian besar energi kinetik meteor-terang ini dalam proses mirip ledakan di udara (airburst). Proses ini menghasilkan kilatan cahaya sangat terang, mungkin seterang Bulan purnama, namun hanya dalam sekejap mata saja.

Cerita tersebut nyaris menjadi fiksi seiring tak ada seorangpun di dekatnya yang mengetahui, andai saja tak ada satelit mata-mata yang mencermati. Satelit mata-mata rahasia milik Departemen Pertahanan Amerika Serikat, yang sejatinya dirancang untuk mendeteksi kilatan cahaya berganda ciri khas ledakan nuklir mendeteksi adanya kilatan cahaya pada koordinat 3,2 LU 137,2 BT. Lokasi kilatan berada di atas Samudera Pasifik sejauh 500 km sebelah utara-timur laut kota Biak. Atau 700 km sebelah barat laut kota Jayapura. Sekilas kilatan cahayanya mirip kilatan ledakan nuklir, namun analisis lebih lanjut menunjukkan sejumlah perbedaan mendasar. Dan di kalangan ilmuwan militer, kilatan cahaya semacam ini sudah dipahami sebagai peristiwa alamiah dalam wujud masuknya meteoroid ke dalam atmosfer Bumi hingga berubah menjadi meteor-terang dan berujung pada peristiwa airburst. Airburst itu terjadi pada ketinggian 32,5 km dan melepaskan cahaya dalam beragam spektrum dengan keseluruhan energinya mencapai 28 GigaJoule. Dari angka ini dapat diketahui bahwa energi kinetik yang dilepaskan meteor-terang itu mencapai 0,1 kiloton TNT. Atau setara dengan ledakan bom konvensional berdaya ledak tinggi seberat 100 ton. Meski terkesan cukup besar untuk ukuran kita, namun dalam perspektif astronomi maupun fisika ledakan nuklir, energi yang dilepaskan airburst ini tergolong sangat kecil.

Satelit

Gambar 2. Contoh kilatan cahaya pada peristiwa airburst, dalam hal ini saat asteroid 2008 TC3 berubah menjadi boloid dan meledak di atas Sudan bagian utara. Kilatan ini direkam oleh satelit cuaca sipil Meteosat-8 milik Eropa lewat kanal inframerah pada 7 Oktober 2008 pukul 09:45 WIB. Airburst ini melepaskan energi antara 1 hingga 2 kiloton TNT. Airburst sejenis dengan pelepasan energi lebih kecil kerap terekam oleh satelit militer detektor ledakan nuklir yang dirahasiakan. Sumber: Eumetsat, 2008.

Gambar 2. Contoh kilatan cahaya pada peristiwa airburst, dalam hal ini saat asteroid 2008 TC3 berubah menjadi boloid dan meledak di atas Sudan bagian utara. Kilatan ini direkam oleh satelit cuaca sipil Meteosat-8 milik Eropa lewat kanal inframerah pada 7 Oktober 2008 pukul 09:45 WIB. Airburst ini melepaskan energi antara 1 hingga 2 kiloton TNT. Airburst sejenis dengan pelepasan energi lebih kecil kerap terekam oleh satelit militer detektor ledakan nuklir yang dirahasiakan. Sumber: Eumetsat, 2008.

Di masa silam kisah semacam ini takkan terangkat ke permukaan. Ia akan terus menjadi rahasia tersembunyi di balik pintu-pintu kukuh Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Mengingat keberhasilan mendeteksi kilatan cahaya yang dilepaskan meteor-terang atau bahkan boloid di udara merupakan bagian dari kemampuan Amerika Serikat dalam mendeteksi ada tidaknya peledakan senjata nuklir khususnya di matra udara. Dan kemampuan tersebut sangat dirahasiakan sebagai bagian dari mempertahankan superioritas negeri itu. Kita hanya tahu bahwa semenjak 1959 Amerika Serikat telah menggelar detektor ledakan nuklir berpangkalan di satelit dalam spektrum inframerah dan cahaya tampak lewat program Vela. Program tersebut kini berkembang kian kompleks dan bermutasi menjadi IONDS (Integrated Operational Nuclear Detection System).

Sangat sedikit informasi dari produk program ini yang tersalur keluar, terkecuali lewat publikasi tertentu. Misalnya ditemukannya fenomena ledakan sinar gamma di sudut-sudut langit, yang kemudian menjadi salah satu bahasan khusus dalam ilmu astronomi masa kini. Atau misalnya seberapa banyak meteoroid berbobot minimum 1 ton memasuki atmosfer, yang hanya disebut sejumlah 30 hingga 50 kejadian per tahunnya. Bahkan lembaga sekelas NASA sekalipun, yang sama-sama merupakan organ pemerintahan Amerika Serikat, kesulitan dalam mengakses data IONDS ini meski banyak programnya yang bersinggungan dengan kepentingan militer. Padahal tingkat sensitivitas detektor satelit-satelit mata-mata jauh lebih tinggi ketimbang rangkaian radas (instrumen) mikrobarometer dan seismometer yang ditanam stasiun-stasiun IMS di segenap penjuru oleh The Comprehensive nuclear Test Ban Treaty Organization (CTBTO), lembaga pemantau peledakan senjata nuklir segala mata di bawah payung Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Padahal resiko tumbukan benda langit sudah menjadi keniscayaan. Terutama setelah dunia menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana 21 keping komet Shoemaker-Levy 9 berjatuhan secara beruntun ke planet gas raksasa Jupiter di antara tanggal 16 hingga 22 Juli 1994. Setiap keping melejit secepat 60 km/detik (216.000 km/jam), dengan energi kinetik total yang dilepaskan dari seluruh kepingan komet tersebut mencapai 100 juta megaton TNT. Ini setara dengan 5 milyar butir bom nuklir Hiroshima yang diledakkan serempak. Gigantisnya ukuran Jupiter membuat tumbukan komet Shoemaker-Levy 9 tidak berdampak berarti. Namun lain urusannya jika komet semacam itu menubruk planet ‘sekecil’ Bumi kita.

Gambar 3. Gambaran seniman tentang bagaimana sebongkah meteoroid memasuki atmosfer Bumi dan berpijar sebagai boloid untuk kemudian berujung pada peristiwa airburst. Jika meteoroidnya cukup besar, energi yang dilepaskan airburst-nya pun cukup besar sehingga gelombang kejut yang diproduksinya bisa menghasilkan kerusakan di permukaan Bumi. Hal seperti itulah yang terjadi dalam Peristiwa Chelyabinsk 15 Februari 2013. Sumber: Don Davis dalam Space.com, 2014.

Gambar 3. Gambaran seniman tentang bagaimana sebongkah meteoroid memasuki atmosfer Bumi dan berpijar sebagai boloid untuk kemudian berujung pada peristiwa airburst. Jika meteoroidnya cukup besar, energi yang dilepaskan airburst-nya pun cukup besar sehingga gelombang kejut yang diproduksinya bisa menghasilkan kerusakan di permukaan Bumi. Hal seperti itulah yang terjadi dalam Peristiwa Chelyabinsk 15 Februari 2013. Sumber: Don Davis dalam Space.com, 2014.

Sayangnya keniscayaan ini tak dibarengi dengan peningkatan pemahaman kekerapan masuknya meteoroid, khususnya yang berukuran besar, ke Bumi kita. Beberapa diantaranya memang langsung disaksikan manusia sebagai kilatan cahaya sangat terang, yang bisa disaksikan di siang hari apalagi di kala malam. Kilatan cahaya sangat terang tersebut lantas dipungkasi dengan temuan meteorit di kawasan tertentu. Namun kesempatan semacam ini sangat jarang terjadi. Musababnya mayoritas permukaan Bumi kita adalah lautan yang tak berpenghuni. Dan sebagian kecilnya daratan, yang itu pun hanya sudut-sudut tertentu saja yang berpenghuni. Mayoritas bentang daratan di permukaan Bumi berupa hutan perawan, pegunungan sunyi, padang es dan gurun kerontang tak berpenghuni. Cara termudah guna mendeteksi kilatan cahaya yang diproduksi meteoroid besar saat memasuki atmosfer Bumi sebagai meteor-terang atau boloid hanyalah dengan memasang jaringan sensor di satelit. Sensor yang sanggup memelototi segenap sudut lapisan udara di permukaan Bumi manapun tanpa terkecuali. Sensor semacam ini sudah lama ada, namun karena sensitivitasnya beririsan dengan kemampuan deteksi ledakan nuklir atmosferik, maka ia hanya menjadi ‘mainan’ kalangan militer adidaya.

Syukurlah, ada sedikit perubahan setelah Peristiwa Chelyabinsk 2013. Masuknya asteroid berbobot lebih dari 10.000 ton yang tak-bernama dan tak-terdeteksi sebelumnya ke atmosfer sebagai boloid yang berujung pada peristiwa airburst di atas kawasan Chelyabinsk dan sekitarnya pada Jumat 15 Februari 2013 menggugah kesadaran banyak pihak. Airburst Chelyabinsk melepaskan energi hingga 500 kiloton TNT, setara 25 butir bom nuklir Hiroshima yang diledakkan serempak, dan menjalar sebagai gelombang kejut maupun sinar panas. Hempasan gelombang kejut memorak-porandakan kawasan Chelyabinsk dan sekitarnya. Ribuan orang terluka ringan. Angka kerugian akibat rusaknya bangunan mencapai puluhan milyar rupiah. Secara tak terduga militer Amerika Serikat bersedia berbagi data IONDS untuk astronomi melalui NASA Meteoroid Environment Office. Tentunya setelah dipilah-dipilah dan dipisahkan dari data-data yang bersifat non-astronomis.

Lewat data ini kita mengetahui bahwa semenjak 1 Januari hingga 10 September 2014, Bumi kita telah digempur oleh sedikitnya 21 buah meteoroid. Seluruhnya meledak di ketinggian udara sebagai peristiwa airburst. Sejauh ini pelepasan energi terbesar terjadi di atas Antartika pada 23 Agustus 2014 sebesar 7,6 kiloton TNT. Sementara pelepasan energi terkecil terjadi pada 18 Februari 2014 di atas Argentina, yakni hanya 0,092 kiloton TNT. Sebagai pembanding, bom nuklir Hiroshima mengandung energi sebesar 20 kiloton TNT. Bila digabungkan dengan peristiwa jatuhnya asteroid 2014 AA yang berhasil dideteksi CTBTO, maka terdapat 22 peristiwa airburst sepanjang 2014 (hingga 10 September). Angka ini lebih besar dibanding data sangat terbatas yang pernah dilansir Departemen Pertahanan Amerika Serikat, yang menyebut setiap tahunnya rata-rata terjadi 11 peristiwa airburst.

Gambar 4. Peta titik-titik koordinat dimana satelit mata-mata Amerika Serikat mendeteksi kilatan cahaya produk masuknya meteoroid ke dalam atmosfer Bumi sepanjang tahun 2014 (hingga 10 September). Sumber: Sudibyo, 2014 dengan data dari NASA.

Gambar 4. Peta titik-titik koordinat dimana satelit mata-mata Amerika Serikat mendeteksi kilatan cahaya produk masuknya meteoroid ke dalam atmosfer Bumi sepanjang tahun 2014 (hingga 10 September). Sumber: Sudibyo, 2014 dengan data dari NASA.

Seluruh peristiwa airburst di tahun 2014 itu tak ada yang berdampak ke manusia. Namun data ini membuka pengetahuan baru nan mencengangkan. Sebelumnya melalui publikasi data CTBTO kita tahu bahwa setiap tahunnya Bumi digempur oleh sedikitnya dua meteoroid besar yang melepaskan energi minimal 1 kiloton TNT. Kini data militer Amerika Serikat yang sudah (sebagian) dibuka menunjukkan bahwa meteoroid yang memasuki atmosfer Bumi dengan membawa energi kinetik minimal 1 kiloton TNT jauh lebih sering terjadi. Berikutnya menjadi tugas para astronom untuk mencermati bagaimana hubungan antara energi vs kekerapan masuknya meteoroid, sebagai bahan untuk memprediksi setiap berapa tahun sekali meteoroid yang mengandung energi kinetik berdampak merusak (misalnya seperti meteoroid Chelyabinsk atau yang lebih besar lagi) memasuki atmosfer Bumi. Dari prediksi ini kelak semoga bisa disusun berbagai langkah antisipasinya.

Referensi:

NASA. 2014. Fireball and Bolide Reports.

Ceplecha dkk. 1999. Superbolides. Meteoroids 1998, Astronomical Institute of the Slovak Academy of Sciences, Bratislava, pp. 37-54.

Gunung Slamet, Si Menara Api di Malam Hari

Gunung Slamet (3.428 meter dari paras air laut) di Jawa Tengah terkesan kian menjadi-jadi saja. Bukannya lebih kalem dan bertambah ‘jinak’, ia kini justru kian gemar mempertontonkan kegagahannya kepada siapapun manusia yang sedang berada ataupun bermukim di sekujur kaki dan lerengnya. Semenjak kembali menyandang status Siaga (Level III) per 12 Agustus 2014 silam, intensitas letusan gunung berapi aktif tertinggi kedua di seantero pulau Jawa ini cenderung meningkat. Suara dentuman dan gemuruh kian sering terdengar. Kian jauh pula daerah yang sanggup mendengar dentuman tersebut. Getaran tanah pun kian kerap terjadi, membuat kaca-kaca jendela pada bangunan-bangunan di kaki gunung rutin berderak-derak. Kepulan debu vulkanik yang dilepaskan dari lubang letusan kian meninggi saja. Dan di malam hari material berpijar yang mirip kembang api raksasa juga lebih sering muncul dengan ketinggian semburan kian meninggi saja. Kini pancuran api tersebut bahkan sudah mulai bisa dilihat dari kota Purwokerto, menjadikan Gunung Slamet ibarat menara api penerang gelapnya malam hari.

Gambar 1. Gunung Slamet pada Jumat 12 September 2014 malam, diabadikan dari arah Pemalang. Nampak puncak gunung ibarat menara api. Kepulan debu dan asap terlihat menyebar ke barat berhias gugusan bintang Sagittarius di latar belakang. Sumber: Fatrurrizal, 2014.

Gambar 1. Gunung Slamet pada Jumat 12 September 2014 malam, diabadikan dari arah Pemalang. Nampak puncak gunung ibarat menara api. Kepulan debu dan asap terlihat menyebar ke barat berhias gugusan bintang Sagittarius di latar belakang. Sumber: Fatrurrizal, 2014.

Tak hanya itu, batu cair panas mirip bubur kental yang kita kenal sebagai lava pun sudah menyeruak ke lantai kawah dalam jumlah cukup banyak. Kawah Slamet pun tak lagi sanggup menampungnya, hingga meluber melalui lekukan kawah di sisi barat daya sebagai lava pijar yang mengalir sejauh 1.500 meter. Bahkan pada Kamis 11 September 2014 dini hari kemarin lava pijar terdeteksi telah mengalir pula ke lereng timur, juga melalui lekukan kawah di sini, hingga sejauh 1.300 meter. Lava menjulur demikian jauh hingga memasuki kawasan padang sabana di batas vegetasi lereng utara. Akibatnya kawasan bersemak-belukar itu pun mulai terbakar. Hingga beberapa jam kemudian kebakaran itu kian meluas hingga radius 4 km dari kawah. Di siang harinya Gunung Slamet kembali memperlihatkan kebolehannya dengan menampakkan fenomena unik yang jarang terjadi, yakni terbentuknya cincin asap. Muncul pada sekitar pukul 12:45 WIB, cincin asap ini menghembus demikian tinggi hingga mudah dilihat baik dari kaki gunung bagian selatan maupun utara. Sebelumnya hujan debu telah mengguyur beberapa bagian di sekitar kaki gunung. Tak hanya debu vulkanik, di dekat puncak gunung bahkan telah diguyur hujan kerikil dan pasir.

Gambar 2. Cincin asap Gunung Slamet yang muncul pada Kamis 11 September 2014 sekitar pukul 12:45 WIB. Cincin asap dalam letusan Slamet sejatinya menunjukkan bagaimana geometri dan ukuran saluran magma serta betapa saluran magma tetap terbuka tanpa sumbatan yang berarti. Sumber: Leo Kennedy Adam, 2014.

Gambar 2. Cincin asap Gunung Slamet yang muncul pada Kamis 11 September 2014 sekitar pukul 12:45 WIB. Cincin asap dalam letusan Slamet sejatinya menunjukkan bagaimana geometri dan ukuran saluran magma serta betapa saluran magma tetap terbuka tanpa sumbatan yang berarti. Sumber: Leo Kennedy Adam, 2014.

Tak pelak tabiat Gunung Slamet kali ini membuat sebagian kita resah. Apalagi ditambahi informasi sejumlah hewan liar mulai turun dari hutan belantara di tubuh gunung. Keresahan meraja di sebagian kita yang sedang berada atau bertempat tinggal di sekitar gunung. Juga bagi yang memiliki sanak saudara di sini. Informasi tak berkeruncingan dari sumber-sumber yang tak dapat dipertanggungjawabkan pun membanjir. Demikian pula gambar/foto. Ada berbagai foto akan letusan gunung berapi dan jilatan awan panasnya yang diklaim sebagai letusan Gunung Slamet, padahal itu adalah foto comotan dari letusan Gunung Sinabung (Sumatra Utara) di awal tahun ini. Penampakan cincin asap pun dicermati sebagai kemunculan Mbah Bebek dan dianggap pertanda buruk. Dalam situasi dimana hampir sebagian besar kita memiliki perangkat ponsel terkini dengan segala kecanggihannya namun pada saat yang sama relatif awam akan kegunungapian, tak pelak sebaran foto-foto tersebut membuat rasa cemas dan resah kita kian meningkat. Kecemasan yang tak pada tempatnya mengingat perilaku Gunung Slamet sendiri tak seheboh itu.

Apa yang kini terjadi dengan Gunung Slamet? Bagaimana status aktivitasnya? Apakah lava pijar yang panas membara itu akan mengalir lebih jauh lagi hingga bisa mencapai pemukiman di kaki gunung? Apakah awan panas akan segera terbentuk mengikuti lava pijar? Apa yang sebaiknya dilakukan?

Aktivitas

Sejak menyandang status Siaga (Level III) untuk kedua kalinya, intensitas letusan Gunung Slamet memang tinggi. Pun demikian dalam seminggu terakhir. Merujuk data yang dihimpun secara terus-menerus dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI melalui pos pengamatan Gambuhan, Pemalang, kegempaan vulkanik Gunung Slamet menjadi bukti betapa riuhnya gunung itu. Masih terdeteksi adanya pasokan magma segar yang membuncah dari perutbumi nun jauh di bawah gunung, seperti diperlihatkan beberapa kejadian gempa vulkanik semenjak 4 hingga 6 September 2014.

Gambar 3. Grafik jumlah gempa vulkanik, hembusan dan letusan Gunung Slamet per hari dalam periode 4 hingga 11 September 2014. Nampak gempa vulkanik absen setelah 6 September, sebaliknya gempa letusan mulai muncul pada 9 September dan langsung meroket dalam sehari berikutnya. Sumber: Sudibyo, 2014 berdasarkan data PVMBG, 2014.

Gambar 3. Grafik jumlah gempa vulkanik, hembusan dan letusan Gunung Slamet per hari dalam periode 4 hingga 11 September 2014. Nampak gempa vulkanik absen setelah 6 September, sebaliknya gempa letusan mulai muncul pada 9 September dan langsung meroket dalam sehari berikutnya. Sumber: Sudibyo, 2014 berdasarkan data PVMBG, 2014.

Masih terjadinya gempa vulkanik menjadi pertanda jelas bahwa Gunung Slamet masih mendapatkan pasokan magma segar dari perutbumi. Cepat atau lambat magma ini pasti bakal keluar melalui lubang letusan yang sudah lama terbentuk di dasar kawah aktif Slamet. Benar saja. Lontaran material pijar (yang terlihat sebagai sinar api) dan lava pijar Gunung Slamet mendadak meroket pada 9 hingga 11 September 2014. Bersamaan dengannya gempa letusan, yakni getaran yang terjadi bersamaan dengan semburan asap abu-abu (pertanda debu vulkanik) dari kawah, mulai terjadi kembali dan segera melonjak. Gempa hembusan, yakni getaran yang bersamaan dengan berkepulnya asap putih (pertanda uap air) dari kawah, kian melonjak. Aktivitas letusan dan hembusan ini masih dibarengi dengan terjadinya tremor vulkanik menerus, sebagai pertanda terus terjadinya pelepasan gas-gas vulkanik dari magma yang sedang mulai membeku menjelang terlontar dari lubang letusan bersamaan dengan gerakan magma itu sendiri, terus berlangsung semenjak Agustus.

Gambar 4. Grafik jumlah sinar api dan lava pijar yang dimuntahkan Gunung Slamet per hari dalam periode 4 hingga 11 September 2014. Nampak kejadian sinar api meroket dan mencapai puncaknya pada 9 September dan setelah itu mulai menurun. Sebaliknya kejadian lava pijar cenderung mulai naik mulai dan mencapai puncaknya pada 10 September. Sumber: Sudibyo, 2014 berdasarkan data PVMBG, 2014.

Gambar 4. Grafik jumlah sinar api dan lava pijar yang dimuntahkan Gunung Slamet per hari dalam periode 4 hingga 11 September 2014. Nampak kejadian sinar api meroket dan mencapai puncaknya pada 9 September dan setelah itu mulai menurun. Sebaliknya kejadian lava pijar cenderung mulai naik mulai dan mencapai puncaknya pada 10 September. Sumber: Sudibyo, 2014 berdasarkan data PVMBG, 2014.

Jelas terlihat meningkatnya intensitas letusan Gunung Slamet pada 9 hingga 11 September 2014 merupakan imbas dari pasokan magma segar baru yang terus terjadi, seperti diperlihatkan gempa vulkaniknya. Magma segar yang mulai membeku saat keluar dari lubang letusan kini tak lagi hanya berupa bongkahan material beragam ukuran yang masih memijar, seperti halnya yang terjadi pada letusan Slamet sebelumnya (misalnya letusan 1999-2000 dan letusan 1988). Namun juga berupa lava, sebuah fenomena yang jarang terjadi dalam era sejarah tercatat di gunung berapi ini.

Material vulkanik yang dimuntahkan Gunung Slamet sepanjang letusan 2014-nya kali ini nampaknya cukup banyak dalam kisaran jutaan meter kubik. Selain memenuhi lantai kawah aktif hingga meluber menjadi lava pijar ke barat daya dan kemudian juga ke timur, sebagian material vulkaniknya (termasuk lava) telah membentuk gundukan yang mengerucut di sekeliling lubang letusan. Observasi lapangan (misalnya yang dilakukan secara pribadi oleh mas Aris Yanto) maupun pencitraan satelit memastikan keberadaan gundukan kerucut ini. Namun di pucuk gundukan ini masih tetap terdapat ujung lubang letusan tanpa tertutupi material sama-sekali, berbeda dengan kubah lava pada umumnya yang relatif tersumbat. Fenomena ini menunjukkan bahwa saluran magma/diatrema Gunung Slamet memang tetap terbuka.

Gambar 5. Grafik jumlah suara dentuman dan gemuruh pada letusan Gunung Slamet per hari dalam periode 4 hingga 11 September 2014. Nampak jumlah suara gemuruh dan dentuman yang terdeteksi pada rentang waktu 9 hingga 11 September 2014 lebih besar ketimbang sebelumnya. Sumber: Sudibyo, 2014 berdasarkan data PVMBG, 2014.

Gambar 5. Grafik jumlah suara dentuman dan gemuruh pada letusan Gunung Slamet per hari dalam periode 4 hingga 11 September 2014. Nampak jumlah suara gemuruh dan dentuman yang terdeteksi pada rentang waktu 9 hingga 11 September 2014 lebih besar ketimbang sebelumnya. Sumber: Sudibyo, 2014 berdasarkan data PVMBG, 2014.

Munculnya cincin asap yang langka juga menunjukkan bahwa saluran magma memang tetap terbuka. Cincin asap secara umum hanya bisa terjadi saat asap, yakni gas-gas vulkanik, berkumpul demikian rupa dalam ruang sempit berbentuk/mirip tabung. Kemudian ia menghembus keluar pada tekanan dan kecepatan yang pas. Sehingga selepas keluar dari ruang tersebut, asap tetap mempertahankan bentuk geometri tabung tempat semula ia berada tanpa melayang terlalu rendah ataupun buyar tersapu tekanannya sendiri. Cincin asap dalam letusan gunung berapi adalah pemandangan yang sangat langka, apalagi di Indonesia. Selain di Gunung Slamet, sejauh ini bentuk cincin asap sejenis baru terdokumentasikan dalam letusan Gunung Batutara di pulau Lembata (Nusa Tenggara Timur) dan Gunung Sinabung (Sumatra Utara). Dalam khasanah kegunungapian, selain menjadi pertanda terbukanya saluran magma fenomena cincin asap juga menjadi petunjuk untuk memahami bentuk dan diameter saluran magma.

Status Aktivitas

Dengan semua dinamika dalam seminggu terakhir, bagaimana status aktivitas Gunung Slamet?

Ada empat level status aktivitas yang dapat melekat di sebuah gunung berapi Indonesia untuk kurun tertentu. Status Aktif Normal (Level I) menjadi level terendah. Aktif Normal secara umum terjadi bila gunung berapi tidak mengalami pergerakan magma segar yang signifikan. Meski tetap melepaskan gas vulkanik dan gempa-gempa khas gunung berapi, kecuali gempa vulkanik dalam, namun semuanya berada dalam rentang nilai rata-rata secara statistik. Di level berikutnya ada status Waspada (Level II). Secara umum status ini terjadi tatkala magma dalam perutbumi mulai bergerak naik sehingga menimbulkan peningkatan jumlah gempa vulkanik dalam dan dangkal. Pelepasan gas vulkanik mulai meningkat namun belum diikuti perubahan bentuk tubuh gunung (deformasi). Dalam status ini kewaspadaan manusia yang tinggal di sekitar gunung sebaiknya mulai ditingkatkan. Barang-barang yang dibutuhkan dalam rangka evakuasi kelak sudah mulai disiapkan, meskipun evakuasi belum terjadi. Kawasan terlarang pun umumnya mulai dibentuk, meski tidak semua gunung berapi mengalami hal demikian. Kawasan terlarang dalam status Waspada (Level II) meski masih beradius kecil dari kawah aktif.

Gambar 6. Contoh gempa letusan Gunung Slamet yang terekam di pos pengamatan Gambuhan pada 25 Agustus 2014 pukul 05:50 WIB. Kala kepulan asap berwana abu-abu/gelap menyeruak dari kawah aktif di puncak gunung, pada saat yang sama seismometer analog di pos merekam getarannya (tanda panah). Sumber: PVMBG, 2014.

Gambar 6. Contoh gempa letusan Gunung Slamet yang terekam di pos pengamatan Gambuhan pada 25 Agustus 2014 pukul 05:50 WIB. Kala kepulan asap berwana abu-abu/gelap menyeruak dari kawah aktif di puncak gunung, pada saat yang sama seismometer analog di pos merekam getarannya (tanda panah). Sumber: PVMBG, 2014.

Jika pergerakan magma segar terus berlangsung maka gunung berapi bakal memasuki status lebih tinggi, yakni Siaga (Level III). Secara umum pada status ini magma telah bergerak cukup signifikan hingga mulai memasuki tubuh gunung berapi. Akibatnya gempa vulkaniknya meroket disertai pelepasan gas vulkanik dan mulai terdeformasinya tubuh gunung dalam wujud penggelembungan (inflasi). Dapat terjadi magma sudah mencapai kepundan dan menyeruak keluar sebagai letusan (erupsi) lewat lubang letusan yang dibuatnya. Jika berupa lava, magma yang ter-erupsi bisa terkumpul di satu titik sebagai kubah lava maupun tersebar sebagai lava pijar. Kubah lava mungkin dapat longsor dan menghasilkan awan panas (piroklastika), namun jangkauannya relatif pendek. Dalam status ini meski sudah meletus tapi intensitasnya rendah. Sehingga lava dan awan panasnya belum mengancam umat manusia di yang bermukim di sekitar tubuh gunung. Pada status ini evakuasi masyarakat sudah mulai dilakukan, khususnya yang berdiam di kawasan terlarang. Radius kawasan terlarang juga diperluas. Dan status berikutnya sekaligus yang tertinggi adalah Awas (Level IV), yang secara umum terjadi saat intensitas letusan kian meningkat sehingga produk letusannya khususnya lava dan awan panasnya sudah mulai mengancam pemukiman manusia secara langsung. Dalam status ini radius kawasan terlarang kian diperluas dan evakuasi segenap manusia didalamnya menjadi hal mutlak.

Saat ini Gunung Slamet berstatus Siaga (Level III). Magma sudah keluar di permukaan. Sebagian membeku sebagai debu pasir dan kerikil sebagai material pijar yang dimuncratkan ke langit saat keluar dari lubang letusan. Sementara sebagian lagi keluar sebagai lava pijar membara yang kental dan mengalir lambat. Saat keluar dari lubang letusan, material pijar terlontar hingga setinggi maksimum 700 meter di atas kawah sebelum kemudian jatuh kembali dalam lintasan parabola di bawah pengaruh gravitasi Bumi. Hampir seluruh material tersebut mengendap kembali di kawasan puncak. Terkecuali debu vulkanik yang ringan sehingga paling mudah mendingin tapi juga paling gampang dihembus angin ke jarak yang jauh. Sementara lava pijarnya mengalir sejauh maksimum 1.500 meter dari lubang letusan. Hingga saat ini letusan Gunung Slamet belum menghasilkan awan panas. Jelas bahwa material letusan, khususnya lava pijar, masih berposisi cukup jauh dari pemukiman penduduk di kaki gunung dan belum melampaui radius 4 kilometer dari kawah aktif. Sehingga status aktivitas Gunung Slamet hingga saat ini masih dipertahankan pada Siaga (Level III) dan belum dipandang perlu untuk dinaikkan.

Lava dan Awan Panas

Bentuk tubuh Gunung Slamet unik. Ada lembah besar yang menghubungkan kawasan puncak dengan kaki gunung sebelah barat laut, yakni ke arah Kabupaten Tegal. Melihat bentuknya, lembah besar ini diduga merupakan jejak yang masih tersisa dari letusan mendatar (lateral) yang pernah dialami Gunung Slamet nun jauh di masa silam. Lava pijar yang saat ini diletuskan Gunung Slamet ke barat daya tepat memasuki hulu lembah besar. Andaikata intensitas letusan terus meningkat, lembah besar ini menjadi kawasan yang paling potensial dilalui lava pijar. Selain berpotensi mengalir ke arah barat laut, lekukan di bibir kawah aktif juga memungkinkan lava pijar Gunung Slamet mengalir ke arah timur laut menuju Kabupaten Pemalang, seperti yang terjadi pada 11 September 2014 barusan. Lava pijar yang telah mendingin juga masih memiliki potensi bencana khususnya kala hujan lebat. Butiran-butiran lava yang telah mendingin akan bercampur dan larut terbawa air hujan sebagai lahar hujan yang mengalir ke kaki barat laut Gunung Slamet menyusuri sungai yang berhulu di lembah besar ini. Inilah yang menjadikan kawasan lereng Gunung Slamet bagian utara memiliki kerentanan lebih tinggi dalam menghadapi setiap letusan gunung tersebut.

Gambar 7. Dua wajah kawah Gunung Slamet saat ini berdasarkan observasi lapangan 26 Agustus 2014. Baik di kala malam maupun siang hari, gundukan material baru yang mengerucut nampak jelas berada di dalam kawah aktif. Di pucuk gundukan material ini nampak ujung dari lubang letusan. Belum jelas status gundukan ini apakah sekedar tumpukan material letusan ataukah kubah lava. Sumber: Aris Yanto, 2014.

Gambar 7. Dua wajah kawah Gunung Slamet saat ini berdasarkan observasi lapangan 26 Agustus 2014. Baik di kala malam maupun siang hari, gundukan material baru yang mengerucut nampak jelas berada di dalam kawah aktif. Di pucuk gundukan material ini nampak ujung dari lubang letusan. Belum jelas status gundukan ini apakah sekedar tumpukan material letusan ataukah kubah lava. Sumber: Aris Yanto, 2014.

Bagaimana dengan potensi terjadinya awan panas Gunung Slamet? Sejauh ini, letusan memang telah menghasilkan gundukan yang mengerucut di sekeliling lubang letusan. Apakah gundukan ini kubah lava? Mungkin ya, tapi mungkin juga tidak. Pada saat ini gundukan tersebut masih berada di dalam kawah aktif Slamet. Ia belumlah tumbuh sedemikian besar sehingga belumlah menutupi seluruh bagian kawah aktif. Maka andaikata gundukan ini adalah kubah lava, setiap guguran yang dialaminya terbatasi hanya di dalam lantai kawah aktif. Dengan ukuran yang masih kecil, maka kecil kemungkinan terjadinya guguran/runtuhan besar yang menghasilkan awan panas. Andaikata guguran besar terjadi, sebaran materialnya akan terbatasi hanya di lantai kawah aktif. Dari sini dapat dikatakan bahwa pada saat ini potensi terbentuknya awan panas dalam letusan Gunung Slamet masih amat sangat kecil.

Gambar 8. Citra satelit sumberdaya Bumi SPOT sebelum Letusan Slamet 2014 dalam warna natural (atas) dan Landsat-8 OLI pada 30 Agustus 2014 dalam warna komposit RGB (bawah). Nampak jelas adanya perubahan dalam kawah aktif Gunung Slamet, dari semula berbentuk cekung saja (atas) menjadi berhias gundukan (bawah) yang ditebari warna kemerahan, yang adalah jejak panas dari lava pijar. Sumber: LAPAN, 2014.

Gambar 8. Citra satelit sumberdaya Bumi SPOT sebelum Letusan Slamet 2014 dalam warna natural (atas) dan Landsat-8 OLI pada 30 Agustus 2014 dalam warna komposit RGB (bawah). Nampak jelas adanya perubahan dalam kawah aktif Gunung Slamet, dari semula berbentuk cekung saja (atas) menjadi berhias gundukan (bawah) yang ditebari warna kemerahan, yang adalah jejak panas dari lava pijar. Sumber: LAPAN, 2014.

Ukuran gundukan tersebut memang masih bisa membesar lagi seiring masih intensifnya Gunung Slamet memuntahkan magmanya. Jika berlangsung terus secara berkesinambungan, maka di masa depan gundukan ini bisa sedemikian besarnya sehingga menutupi seluruh bagian kawah aktif. Selain membuat Gunung Slamet bertambah tinggi, gundukan yang demikian besar juga bakal lebih tak stabil khususnya jika ia memang kubah lava. Baru dalam kondisi inilah potensi terjadinya awan panas atau wedhus gembel dalam letusan Gunung Slamet membesar. Dengan satu penegasan, jika gundukan itu memang kubah lava.

Apa yang Sebaiknya Kita Lakukan?

Pasca peningkatan intensitas letusan dalam rentang waktu 9 hingga 11 September 2014, kini Gunung Slamet justru cenderung menurun. Ia cenderung lebih kalem. Gelagat ini sejatinya tak mengherankan seiring nihilnya gempa vulkaniknya selepas 6 September 2014. Dengan kata lain suplai magma segar yang baru dalam jumlah signifikan dari perutbumi relatif berkurang. Sehingga lontaran material pijar dan lava pijar beserta suara dentuman dan gemuruh yang ditimbulkannya relatif menurun dalam jumlah yang relatif besar. Situasi kalem semacam ini bakal terus bertahan sampai ada suplai magma segar yang baru lagi kelak. Kapan magma segar yang baru akan kembali naik dari perutbumi? Hanya Allah SWT yang tahu. Ilmu pengetahuan dan teknologi masakini belum memiliki kemampuan untuk memperkirakannya. Kita hanya bisa mengetahuinya tepat pada saat magma segar itu sudah bergerak naik, yang direfleksikan oleh kejadian gempa vulkaniknya. Yang jelas begitu suplai magma segar yang baru terdeteksi, dapat dikatakan bahwa dalam beberapa hari hingga seminggu kemudian intensitas letusan Gunung Slamet kembali meningkat.

Sejauh ini letusan Gunung Slamet masih tetap membatasi lontaran material pijar dan lava pijarnya hanya di sekitar kawasan puncak. Belum ada material vulkanik panas membara yang terlontar melampaui batas radius 4 kilometer dari kawah aktif yang saat ini diberlakukan. Sehingga sejatinya Gunung Slamet masih tetap berada dalam ritme letusan yang telah dilakoninya selama berabad-abad terakhir. Ia masih mempertahankan tipe letusannya pada erupsi strombolian. Ia masih memiliki saluran magma yang terbuka tanpa hambatan berarti, sehingga tak berkesempatan menimbun magma hingga jumlah yang sangat besar ataupun meningkatkan tekanan gas vulkaniknya hingga sangat tinggi. Ketinggian semburan material vulkaniknya pun masih tergolong rendah, juga kepekatan debu vulkaniknya seperti diperlihatkan oleh Volcanic Ash Advisory Committee (VAAC) Darwin. Karenanya ia belum mengganggu aktivitas penerbangan yang melintas di atas/dekatnya. Maka dari itu bisa disimpulkan bahwa potensi Gunung Slamet untuk meletus besar adalah sangat kecil.

Gambar 9. Ilustrasi gunung berapi dengan saluran magma yang terbuka dan tertutup. Jika saluran magma terbuka, yakni tak memiliki penghalang yang signifikan, maka magma dengan mudah keluar dari kawah sehingga intensitas letusannya relatif kecil. Sebaliknya jika saluran magma tertutupi oleh sumbat yang pejal dan kuat, maka magma dan gas harus terkumpul dan memiliki tekanan yang sangat tinggi guna menjebol sumbatnya. Sehingga intensitas intensitas letusannya jauh lebih besar. Gunung Slamet memiliki saluran magma yang terbuka, sehingga potensinya untuk meletus besar adalah sangat kecil. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 9. Ilustrasi gunung berapi dengan saluran magma yang terbuka dan tertutup. Jika saluran magma terbuka, yakni tak memiliki penghalang yang signifikan, maka magma dengan mudah keluar dari kawah sehingga intensitas letusannya relatif kecil. Sebaliknya jika saluran magma tertutupi oleh sumbat yang pejal dan kuat, maka magma dan gas harus terkumpul dan memiliki tekanan yang sangat tinggi guna menjebol sumbatnya. Sehingga intensitas intensitas letusannya jauh lebih besar. Gunung Slamet memiliki saluran magma yang terbuka, sehingga potensinya untuk meletus besar adalah sangat kecil. Sumber: Sudibyo, 2014.

Dalam kaitannya dengan ini, menarik untuk mencermati pernyataan Dr. Surono, ahli kegunungapian legendaris yang juga Kepala Badan Geologi. Bahwa tak perlu meden-medeni (menakut-nakuti) terkait (letusan) Gunung Slamet. Ditinjau dari sudut pandang ilmu kegunungapian, letusan Gunung Slamet kali ini masih tergolong kalem. Apalagi jika dibandingkan dengan Letusan Kelud 2014 dan Letusan Sangeang Api 2014 kemarin. Sepanjang tidak memasuki kawasan terlarang (yang beradius mendatar hingga 4 kilometer dari kawah aktif), maka tak ada yang perlu dikhawatirkan. Bahkan letusan Slamet kali ini sejatinya bisa dinikmati sebagai obyek wisata baru. Menyaksikan semburan api mencuat dari puncak Gunung Slamet di kala malam akan cukup mengesankan, yang bisa menjadi bagian dari upaya kita memahami kinerja alam semesta sekaligus mengagumi kebesaran-Nya.

Yang jelas ke depan intensitas letusan Gunung Slamet masih berpotensi untuk meninggi kembali seperti barusan terlewat, sepanjang masih terjadi suplai magma segar yang baru dalam jumlah signifikan. Kapan? Hanya Allah SWT yang tahu. Namun saat hal itu kembali terjadi, mari upayakan untuk menekan rasa cemas dan resah kita seminimal mungkin. Tetaplah mengacu informasi pada sumber-sumber yang bisa dipertanggungjawabkan, dalam hal ini PVMBG melalui Pos Gambuhan ataupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Brebes, Tegal, Pemalang, Purbalingga dan Banyumas. PVMBG dan juga Badan Geologi cukup aktif dalam menyalurkan informasi khususnya lewat media elektronik dan/atau media sosial. Pun demikian sejumlah relawan bencana, yang juga tetap merujuk pada PVMBG. Tak perlu membesar-besarkan klaim, info (apalagi foto) yang belum jelas juntrungannya. Kerap sebuah bencana lokal menjadi petaka yang sungguh berlipatganda, yang sejatinya bisa dihindari, kala informasinya disebarkan sebagai desas-desus yang merambah kemana-mana dalam ranah media sosial.

Catatan :

Beberapa tulisan terkait sebelumnya :

Letusan Gunung Slamet, Antara Mitos dan Realitas.

Gunung Merapi Berstatus Waspada (Level II), Gunung Slamet Meningkat ke Siaga (Level III).

Gunung Slamet (Hampir) Usai Tunaikan Janji.

Bila Gunung Slamet Mencicil Letusan.

Referensi :

PVMBG. 2014. Evaluasi Aktivitas G. Slamet Status Siaga (Level III) Hingga Tanggal 12 September 2014.

Asteroid 2014 RC dan “Kawah Meteor” Nikaragua

Bongkahan besar itu akhirnya melanjutkan perjalanannya dengan selamat meski melintas pada jarak cukup dekat terhadap Bumi kita. Ya. Pada puncak perlintasannya asteroid 2014 RC berhasil dibidik dan diamati sifat-sifatnya lewat sejumlah teleskop dari berbagai penjuru. Benderangnya malam dengan cahaya Bulan yang mendekati purnamanya memang membuat asteroid yang di atas kertas pun sudah sangat redup (magnitudo semu +11,5) jadi lebih sulit diamati. Namun beberapa observatorium dari sejumlah penjuru berhasil mencetak sukses. Sebut saja Observatorium Siding Spring (Australia), Virtual Telescope Project di Ceccano (Italia) serta observatorium Lowell di Arizona dan NASA Infrared Telescope Facility di Hawaii (keduanya di Amerika Serikat).

Lewat kerja keras mereka kini kita telah selangkah lebih maju dalam memahami sifat-sifat asteroid. Teleskop inframerah NASA memperlihatkan betapa asteroid 2014 RC memantulkan hingga 25 % cahaya Matahari yang menerpanya. Angka ini hampir menyamai kemampuan Bumi (memantulkan 30 % cahaya Matahari) dan jauh lebih besar ketimbang Bulan yang hanya sanggup memantulkan 12 % saja sinar Matahari yang jatuh kepadanya. Dengan kata lain asteroid ini memiliki albedo hingga 0,25.

Gambar 1. Film pendek yang memperlihatkan pergerakan asteroid 2014 RC di latar depan bintang-bintang saat hendak mencapai titik terdekatnya ke Bumi, diabadikan lewat teleskop Hall diameter 105 cm di Observatorium Lowell, Arizona (Amerika Serikat). Film dibuat dengan menggabungkan sejumlah citra/foto terpisah yang diambil dalam waktu berurutan. Sumber: Lowell Observatory, 2014.

Gambar 1. Film pendek yang memperlihatkan pergerakan asteroid 2014 RC di latar depan bintang-bintang saat hendak mencapai titik terdekatnya ke Bumi, diabadikan lewat teleskop Hall diameter 105 cm di Observatorium Lowell, Arizona (Amerika Serikat). Film dibuat dengan menggabungkan sejumlah citra/foto terpisah yang diambil dalam waktu berurutan. Sumber: Lowell Observatory, 2014.

Albedo ini lumayan tinggi. Albedo dalam nilai ini menunjukkan bahwa asteroid 2014 RC banyak mengandung mineral-mineral logam. Sehingga strukturnya relatif lebih padat. Massa jenisnya pun relatif tinggi. Dengan albedo demikian maka asteroid 2014 RC adalah bagian keluarga asteroid tipe S. Yakni asteroid-asteroid yang komposisinya didominasi oleh besi dan magnesium silikat. Asteroid tipe S merupakan keluarga asteroid dengan populasi terbanyak kedua di lingkung tata surya kita, yakni mencakup 17 % dari seluruh asteroid yang telah ditemukan hingga saat ini.

Selain mencerminkan strukturnya, nilai albedo yang lumayan tinggi juga berimplikasi pada ukuran sang asteroid. Semula asteroid ini dianggap berdiameter sekitar 20 meter berdasarkan asumsi albedonya hanya senilai 0,05 seperti halnya asteroid pada umumnya. Namun kini dengan nilai albedo 0,25 dipastikan bahwa ukuran asteroid 2014 RC adalah tak lebih besar dari 12 meter. Dan karena menjadi bagian dari asteroid tipe S, massa jenis 2014 RC diperkirakan berada di sekitar 3 gram di setiap sentimeter kubiknya. Sehingga saat menjangkau titik terdekatnya terhadap Bumi, asteroid 2014 RC mengangkut energi kinetik sebesar 73 kiloton TNT. Energi tersebut hampir menyamai 4 butir bom nuklir Hiroshima yang diledakkan secara serempak.

Gambar 2. Asteroid 2014 RC diabadikan per 7 September 2014 jelang pukul 24:00 WIB dengan teleskop robotik reflektor astrograf 43 cm di Observatorium Siding Spring (Australia). Teleskop diarahkan mengikuti gerakan bintang-bintang dengan waktu penyinaran (paparan) 60 detik. Asteroid bergerak dengan kecepatan sudut yang tinggi sehingag nampak sebagai garis lurus panjang. Sumber: Remanzacco Observatory, 2014.

Gambar 2. Asteroid 2014 RC diabadikan per 7 September 2014 jelang pukul 24:00 WIB dengan teleskop robotik reflektor astrograf 43 cm di Observatorium Siding Spring (Australia). Teleskop diarahkan mengikuti gerakan bintang-bintang dengan waktu penyinaran (paparan) 60 detik. Asteroid bergerak dengan kecepatan sudut yang tinggi sehingag nampak sebagai garis lurus panjang. Sumber: Remanzacco Observatory, 2014.

Di samping bisa menentukan ukurannya dengan tingkat ketelitian yang jauh lebih tinggi, observasi yang digelar tatkala asteroid 2014 RC menghampiri titik terdekatnya ke Bumi itu juga menjumpai fakta mencengangkan lainnya. Asteroid ternyata berotasi sangat cepat pada sumbunya, dengan periode rotasi hanya 15,8 detik. Ini adalah periode rotasi benda langit terpendek bagi anggota tata surya yang pernah teramati. Begitu cepatnya maka panjang siang hari di asteroid ini hanya akan berlangsung selama 7,9 detik. Begitupun panjang malam harinya.

Nikaragua

Tiga belas jam sebelum asteroid 2014 RC mencapai titik terdekatnya ke planet kita sebuah peristiwa aneh terjadi di pinggiran bandara internasional Augusto Cesar Sandino di kota Managua (Nikaragua). Petugas bandara dan penduduk sekitar melaporkan adanya dentuman keras disertai getaran tanah menjelang tengah malam, tepatnya sekitar pukul 23:05 waktu setempat. Keesokan paginya di kawasan penyangga bandara dijumpai lubang besar membulat nan aneh dengan bentuk mirip mangkuk, yang menghamburkan tanah alluvial ke sekelilingnya. Terdapat juga pepohonan yang rubuh. Diameter lubang besar ini sekitar 12 meter dengan kedalaman maksimum 5 meter. Di dasar lubang dijumpai bongkahan-bongkahan tanah berukuran besar yang kasar (blocky).

Gambar 3. Cekungan besar mirip mangkuk yang terbentuk di kawasan pinggiran bandara internasional Sandino di dekat kota Managua (Nikaragua), diabadikan dari udara oleh militer Nikaragua. Sumber: National Geographic, 2014.

Gambar 3. Cekungan besar mirip mangkuk yang terbentuk di kawasan pinggiran bandara internasional Sandino di dekat kota Managua (Nikaragua), diabadikan dari udara oleh militer Nikaragua. Sumber: National Geographic, 2014.

Temuan ini, bersama dengan fakta terjadinya dentuman menggelegar beserta tanah bergetar, sontak menghebohkan jagat. Ia mengingatkan semua orang pada peristiwa sejenis 1,5 tahun silam. Yakni tatkala asteroid 2012 DA14 melintas-dekat Bumi hingga hanya sejarak 27.700 kilometer saja di atas sudut barat daya pulau Sumatra (Indonesia). Beberapa jam sebelumnya, Rusia dikejutkan oleh munculnya kilatan cahaya singkat di langit namun benderangnya melebihi Matahari, yang disusul dengan hempasan kuat di udara dan getaran tanah. Awan nan lurus segera terlihat memanjang di langit. Ribuan orang luka-luka ringan hingga sedang, akibat terkena pecahan kaca-kaca jendela yang hancur berkeping oleh hempasan udara. Sejumlah bangunan ambruk. Beberapa orang bahkan melaporkan ada rasa pedih di kulit ibarat lama terpapar sinar Matahari tropik. Total kerugian material mencapai puluhan milyar rupiah. Penyelidikan lebih lanjut menunjukkan bahwa peristiwa yang kemudian lebih dikenal sebagai Peristiwa Chelyabinsk atau Tumbukan Chelyabinsk disebabkan oleh jatuhnya asteroid tak-bernama sebesar sekitar 20 meter ke Bumi. Atmosfer Bumi masih sanggup meredamnya sehingga ia keburu hancur berkeping dan melepaskan sebagian besar energi kinetiknya menyerupai ledakan di udara (airburst). Namun tetap saja dampak pelepasan energi tersebut, dalam rupa rambatan gelombang kejut (gelombang tekanan di udara) tetap terasakan di permukaan Bumi yang ada dibawahnya. Inilah yang menciptakan kerusakan berskala luas di kawasan Chelyabinsk dan sekitarnya serta merenggut korban luka-luka.

Apakah hal serupa juga yang terjadi di Nikaragua barusan?

Gambar 4. Perbandingan antara "kawah meteor" Nikaragua dengan kawah Meteor Carancas (Peru). Cincin kawah setebal 1 meter dan bongkah-bongkah tanah yang kasar nampak menghiasi kawah Carancas, hal yang tak dijumpai di "kawah" Nikaragua. SUmber: Space.com, 2014 & Brown dkk, 2008.

Gambar 4. Perbandingan antara “kawah meteor” Nikaragua dengan kawah Meteor Carancas (Peru). Cincin kawah setebal 1 meter dan bongkah-bongkah tanah yang kasar nampak menghiasi kawah Carancas, hal yang tak dijumpai di “kawah” Nikaragua. SUmber: Space.com, 2014 & Brown dkk, 2008.

Pemerintah Nikaragua segera membentuk komisi penyelidik beranggotakan sejumlah astronom dan geosifikawan untuk menguak peristiwa tersebut. Sejauh ini geofisikawan Instituto Nicaraguense de Estudios Territoriales (INETER) menyebut lubang besar itu terbentuk akibat tumbukan benda langit (meteor) dan dikaitkan dengan kepingan asteroid yang mungkin menjadi bagian dari asteroid 2014 RC. Maka lubang besar itu boleh disebut sebagai “kawah meteor” Nikaragua. Namun demikian banyak astronom dan geofisikawan di luar Nikaragua yang tak sependapat.

Faktor

Dalam hemat penulis, ada empat faktor yang membuat “kawah meteor” Nikaragua diragukan keabsahannya sebagai produk tumbukan meteor. Yang pertama, terbentuknya kawah tumbukan seukuran itu seharusnya didahului penampakan boloid (bolide), yakni meteor yang sangat terang disertai suara gemuruh, di langit. Simulasi sederhana memperlihatkan agar sebuah meteoroid yang dianggap sebagai bagian pecahan 2014 RC dapat menghasilkan kawah tumbukan bergaris tengah 12 meter, maka ia harus berukuran sekitar 10 meter dengan massa sekitar 1.600 ton. Saat memasuki atmosfer Bumi meteoroid akan berpijar sangat terang dengan kecerlangan menyamai Bulan purnama. Andaikata terjadi peristiwa airburst, kecerlangannya bahkan akan berlipat-lipat kali Bulan purnama atau malah bahkan mendekati benderangnya Matahari.

Pemandangan seperti itu akan sangat mudah dilihat di langit, bahkan di kala siang sekalipun. Kita umat manusia pernah menyaksikan langsung betapa sebentuk boloid dengan terang hampir menyamai Matahari terlihat di siang bolong dan kemudian jatuh di Desaguadero (Peru) pada 15 September 2007. Inilah Peristiwa Carancas. Titik jatuhnya boloid itu pun kini dikenal sebagai kawah Carancas (diameter 13,5 meter), kawah tumbukan termuda di Bumi. Dengan situasi tersebut maka boloid pun bahkan masih bisa disaksikan kala langit tertutupi awan sekalipun. Apalagi di saat malam. Apalagi jika terjadi di sebuah kota besar seperti Managua, yang adalah ibukota Nikaragua. Apalagi di dekat sebuah bandara internasional yang sibuk dan nyaris tak pernah tidur. Ketiadaan ini membuat status “kawah meteor” Nikaragua diragukan.

Gambar 5. Gambaran sederhana bagaimana masuknya meteoroid ke atmosfer Bumi yang berujung peristiwa airburst menghasilkan gelombang infrasonik dan gelombang gempa, dua jenis gelombang berbeda yang memungkinkan untuk mendeteksi (sekaligus mengonfirmasi) peristiwa tersebut. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan gambar latarbelakang dari Neisius, 2004.

Gambar 5. Gambaran sederhana bagaimana masuknya meteoroid ke atmosfer Bumi yang berujung peristiwa airburst menghasilkan gelombang infrasonik dan gelombang gempa, dua jenis gelombang berbeda yang memungkinkan untuk mendeteksi (sekaligus mengonfirmasi) peristiwa tersebut. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan gambar latarbelakang dari Neisius, 2004.

Yang kedua, saat meteoroid yang bersumber dari pecahan asteroid berukuran kecil (dalam skala astronomi) memasuki atmosfer Bumi, pada umumnya hanya menyisakan 1 % saja massanya untuk menjadi meteorit. Sisanya terhambur di dalam atmosfer sebagai partikulat berukuran debu. Di sisi lain, kawah tumbukan bergaris tengah 12 meter dapat dibentuk oleh meteorit tunggal seukuran 2,2 meter (massa hampir 16 ton) yang jatuh pada kecepatan 700 kmjam, menyamai kecepatan jelajah pesawat jet komersial. Jika meteorit ini dianggap sebagai bongkahan tunggal yang tersisa dari sebuah meteoroid, maka sebelum memasuki atmosfer Bumi meteoroid itu akan bermassa sekitar 1.600 ton dengan diameter 10 meter. Mayoritas massanya memang akan terhambur menjadi partikulat debu, Namun andaikata terjadi peristiwa airburst, maka akan terbentuk kepingan dan bongkahan seukuran kerikil atau lebih besar lagi. Mereka akan berjatuhan sebagai meteorit ke permukaan Bumi dibawahnya, dalam sebuah kawasan ellips (lonjong) seluas beberapa kilometer persegi.

Lokasi “kawah meteor” Nikaragua berada di pinggiran kota Managua. Jika benar ia dibentuk oleh meteor, seharusnya ada kawasan ellips tempat meteorit berjatuhan. Kawasan itu sangat mungkin berimpit dengan pemukiman di pinggiran kota. Dan meteorit-meteorit yang mengguyur pemukiman ini tentu akan menyebabkan hujan batu yang mudah diidentifikasi. Ketiadaan temuan meteorit dalam jarak tertentu dari “kawah meteor menjadi salah satu faktor untuk meragukan statusnya.

Yang ketiga, kawah meteor berdiameter kecil pada umumnya berbentuk mirip mangkuk, khususnya bila meteoroidnya memiliki lintasan yang terhadap paras Bumi membentuk sudut 30 derajat atau lebih. Namun cekungan mirip mangkuk ini mempunyai sejumlah ciri khas, yakni salah satunya memiliki tepi yang meninggi sebagai tanggul yang melingkari cekungan. Fenomena ini dikenal sebagai cincin kawah. Cincin kawah merupakan konsekuensi dari hantaman berkecepatan sangat tinggi dari meteorit ke tanah. Sehingga tanah target tergerus dan terciprat ke sekelilingnya hingga mengendap dengan posisi lapisan-lapisan tanahnya terbalik dibanding semula. Akibat lainnya, hantaman berkecepatan sangat tinggi juga akan menghamburkan material tanah dalam wujud bongkahan beraneka ukuran keluar dari kawah ke lingkungan sekelilingnya hingga radius tertentu.

Hal tersebut tak teramati di “kawah meteor” Nikaragua. Nyaris tak ada cincin kawah di “kawah meteor” tersebut. Partikel-partikel tanah yang terhambur ke sekelilingnya juga berukuran kecil, seukuran butir pasir. Bongkah-bongkah besar memang ada, namun justru berserakan di dasar “kawah meteor” tanpa bisa keluar darinya. Fenomena ini juga yang meragukan identitas “kawah meteor” Nikaragua.

Gambar 6. Contoh sinyal gelombang infrasonik dan gempa (seismik) produk tumbukan benda langit yang terekam di mikrobarometer dan seismometer. Dalam hal ini adalah Peristiwa Carancas. Rekaman infrasonik berasal dari stasiun yang berjarak 80 km dari titik tumbukan, sementara rekaman gempa dari seismometer yang berjarak lebih jauh yakni 100 km. Sumber: Brown dkk, 2008.

Gambar 6. Contoh sinyal gelombang infrasonik dan gempa (seismik) produk tumbukan benda langit yang terekam di mikrobarometer dan seismometer. Dalam hal ini adalah Peristiwa Carancas. Rekaman infrasonik berasal dari stasiun yang berjarak 80 km dari titik tumbukan, sementara rekaman gempa dari seismometer yang berjarak lebih jauh yakni 100 km. Sumber: Brown dkk, 2008.

Dan yang keempat, tiap kali meteoroid memasuki atmosfer Bumi, ia akan menekan lapisan-lapisan udara yang dilintasinya dengan sangat kuat sekaligus mentransfer sejumlah energi kinetiknya. Sehingga terjadi sebentuk gelombang yang menjalar sebagai gelombang akustik (suara). Salah satu bagiannya adalah gelombang infrasonik, yang sanggup menjalar sangat jauh dari sumbernya. Bila gelombang akustiknya masih sangat kuat saat menyentuh permukaan Bumi, maka terjadi transformasi menjadi gelombang permukaan yang disebut gelombang Rayleigh, bagian dari gelombang gempa (seismik). Gelombang infrasonik dapat diendus oleh detektor mikrobarometer sementara gelombang gempa diindra seismometer. Dewasa ini cukup banyak instrumen seismometer dan barometer yang terpasang simultan di berbagai sudut Bumi, khususnya dalam tiap-tiap IMS (International Monitoring Station) bagian dari CTBTO (The Comprehensive nuclear Test Ban Treaty Organization). CTBTO adalah lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa yang bertugas menegakkan pengawasan atas larangan ujicoba nuklir global dalam segala matra. Selain oleh ledakan nuklir, secara alamiah gelombang infrasonik dan gelombang gempa bisa disebabkan oleh peristiwa tumbukan benda langit maupun letusan besar/dahsyat sebuah gunung berapi.

Simulasi sederhana menunjukkan jika meteoroidnya berdiameter 10 meter, bermassa sekitar 1.600 ton dan melejit dengan kecepatan setara asteroid 2014 RC saat di titik terdekatnya ke Bumi, yakni 15 km/detik (54.000 km/jam), maka ia mengandung 42 kiloton energi. Energi tersebut setara dengan 2 butir bom nuklir Hiroshima yang diledakkan serempak. Energi sebesar ini akan menghasilkan gelombang infrasonik dan gelombang gempa yang sangat mudah dideteksi oleh mikrobarometer dan seismometer yang berdekatan dengannya. Sebagai gambaran, saat Peristiwa Carancas terjadi, energi kinetik meteoroidnya berkisar antara 0,06 hingga 0,23 kiloton TNT. Namun gelombang infrasoniknya terekam oleh detektor mikrobarometer yang terpasang di titik berjarak hingga 1.600 km dari lokasi tumbukan. Sementara gelombang gempanya terekam seismometer yang berajark 100 km dari titik tumbukan. Sampai sejauh ini belum dijumpai stasiun yang mendeteksi gelombang infrasonik dan gempa terkait pembentukan “kawah meteor” Nikaragua ini, hal yang menguatkan keraguan akan statusnya.

Gambar 7. Peta proyeksi lintasan asteroid 2014 RC di permukaan Bumi mulai 7 September 2014 pukul 10:00 WIB hingga 10 jam kemudian. Nampak asteroid bergerak ke barat. Nampak lokasi kota Managua (Nikaragua) yang terletak jauh di utara proyeksi lintasan asteroid. Sumber: Sudibyo, 2014 berdasar data NASA Solar System Dynamics.

Gambar 7. Peta proyeksi lintasan asteroid 2014 RC di permukaan Bumi mulai 7 September 2014 pukul 10:00 WIB hingga 10 jam kemudian. Nampak asteroid bergerak ke barat. Nampak lokasi kota Managua (Nikaragua) yang terletak jauh di utara proyeksi lintasan asteroid. Sumber: Sudibyo, 2014 berdasar data NASA Solar System Dynamics.

Jika empat faktor itu saja cukup membuat status “kawah meteor” Nikaragua diragukan, apalagi bila dikait-kaitkan dengan asteroid 2014 RC. Saat ledakan misterius menggelegar di pinggiran bandara internasional Sandino tersebut, asteroid 2014 RC sedang melintas di atas Amerika Selatan dalam jarak lebih dari 280.000 kilometer dari paras Bumi. Dan kala itu ia sedang bergerak ke arah barat. Sementara lokasi kawah meteor” Nikaragua berjarak lebih dari 4.600 kilometer dari titik proyeksi asteroid 2014 RC pada saat itu dengan arah ke utara. Dengan jarak pisah sejauh itu dan apalagi berbeda arah, dapat dikatakan mustahil untuk menghubungkan asteroid 2014 RC dengan “kawah meteor” Nikaragua. Apalagi status “kawah meteor” itu sendiri meragukan.

Referensi :

Cooke. 2014. Did a Meteorite Cause a Crater in Nicaragua? Watch the Skies, Blog NASA.

Vergano. 2014. NASA Raises Doubts About Reports of Nicaraguan Meteorite, Questions Follow Supposed Meteorite Impact. National Geographic News. September 8, 2014.

Wall. 2014. Nicaragua Meteorite Impact Theory May be Meteor-wrong. Space.com, September 8, 2014.

Guido, Howes & Niccolini. 2014. Close Approach of Asteroid 2014 RC, Update. Remanzacco Observatory, Italia.

Brown dkk. 2008. Analysis of a Crater-forming Meteorite Impact on Peru. Journal of Geophysical Research, vol. 113, E09007.

Collins dkk. 2005. Earth Impact Effects Program : A Web–based Computer Program for Calculating the Regional Environmental Consequences of a Meteoroid Impact on Earth. Meteoritics & Planetary Science 40, no. 6 (2005), 817–840.

2014 RC: Asteroid yang Mendekat Hingga 34.000 km

Bongkahan batu itu kira-kira sebesar rumah berukuran sedang berlantai tiga. Selama ini ia melayang-layang di kedalaman langit, beredar mengelilingi sang surya dalam tata surya kita. Lintasan peredarannya sungguh aneh untuk ukuran manusia karena begitu lonjong. Demikian lonjongnya sehingga pada suatu saat bongkahan batu tersebut akan lebih terpanggang bara mentari ketimbang Bumi kita karena posisinya yang lebih dekat ke Matahari. Sebaliknya di lain waktu bongkahan batu ini pun bisa menggigil kedinginan tatkala menempati lokasi yang demikian jauh, sehingga lebih jauh ketimbang jarak planet Mars ke Matahari. Tak hanya itu, konfigurasi orbitnya demikian rupa sehingga pada 7 dan 8 September 2014 ini bongkahan batu besar itu akan berposisi cukup dekat dengan Bumi kita. Demikian dekatnya sehingga ia bakal melesat hanya pada jarak 34.000 kilometer di atas kita. Namun jangan cemas, ia tak berpotensi memasuki selimut udara Bumi kita, apalagi hingga jatuh mencium daratan/lautan.

Gambar 1. Asteroid 2014 RC (tanda panah) diabadikan pada 5 September 2014 pukul 14:00 WIB dengan teleskop robotik reflektor astrograf 61 cm di Auberry, California (Amerika Serikat). Teleskop diarahkan untuk mengikuti gerak asteroid dan mencitra/memotret sebanyak 30 kali dengan masing-masing citra/foto dibuat lewat waktu penyinaran (paparan) 30 detik. Seluruh citra kemudian digabungkan menjadi satu lewat teknik stacking. Sehingga asteroid terlihat sebagai bintik cahaya, sementara bintang-bintang di latar belakang nampak sebagai garis-garis. Sumber: Remanzacco Observatory, 2014.

Gambar 1. Asteroid 2014 RC (tanda panah) diabadikan pada 5 September 2014 pukul 14:00 WIB dengan teleskop robotik reflektor astrograf 61 cm di Auberry, California (Amerika Serikat). Teleskop diarahkan untuk mengikuti gerak asteroid dan mencitra/memotret sebanyak 30 kali dengan masing-masing citra/foto dibuat lewat waktu penyinaran (paparan) 30 detik. Seluruh citra kemudian digabungkan menjadi satu lewat teknik stacking. Sehingga asteroid terlihat sebagai bintik cahaya, sementara bintang-bintang di latar belakang nampak sebagai garis-garis. Sumber: Remanzacco Observatory, 2014.

Bongkahan batu besar itu adalah asteroid. Ia sama sekali tak pernah dikenal sebelumnya. Hingga awal September 2014 ini, yakni kala sistem penyigi langit Catalina Sky Survey yang bersenjatakan teleskop reflektor Schmidt 68 cm di Observatorium Gunung Tucson, Arizona (Amerika Serikat) melihatnya untuk pertama kalinya pada 1 September 2014. Sistem penyigi langit semi-otomatis yang dirancang untuk mengenali benda langit tak dikenal khususnya yang berada di lingkungan dekat Bumi ini melihatnya sebagai sebintik cahaya yang amat sangat redup. Dengan magnitudo semu +20 praktis asteroid ini 250 kali lebih redup dibanding planet-kerdil Pluto. Di malam berikutnya, asteroid yang sama pun terlihat melalui sistem penyigi langit semi-otomatis yang lainnya, yakni Pan-STARRS (Panoramic Survey Telescope and Rapid Response Systems) yang berpangkalan di Gunung Haleakala, Kepulauan Hawaii (Amerika Serikat).

Saat orbit asteroid ini dibandingkan dengan basis data asteroid yang telah terobservasi sebelumnya, tak satupun yang memiliki identitas serupa. Maka jelas bahwa ia adalah asteroid baru, asteroid yang tak pernah dikenal sebelumnya. Sesuai aturan yang ditegakkan IAU (International Astronomical Union) maka asteroid baru ini tidak diberi nama. Namun ia diberi kode yang khas yakni 2014 RC, mengingat asteroid ini adalah asteroid ketiga (kode C) yang ditemukan pada paruh pertama bulan September (kode R) di tahun 2014 (kode 2014). Dengan magnitudo mutlak/absolut +26,8 maka asteroid 2014 RC ini berukuran sekitar 20 meter, jika dianggap berbentuk sferis (menyerupai bola). Jika massa jenisnya dianggap berada di antara 2 hingga 4 gram per sentimeter kubik, yakni massa jenis kebanyakan asteroid, maka asteroid 2014 RC ini bermassa antara 8.400 hingga 16.800 ton.

Observasi demi observasi memperlihatkan asteroid 2014 RC beredar mengeliling Matahari dalam orbit lonjong dengan titik terdekat ke Matahari (perihelion) sejarak 123 juta kilometer. Bandingkan dengan perihelion Bumi, yang masih sebesar 147,5 juta kilometer. Sebaliknya titik terjauhnya ke Matahari (aphelion) melambung hingga sejarak 270 juta kilometer. Bandingkan dengan orbit planet Mars, yang ‘hanya’ sejauh 228 juta kilometer dari Matahari (rata-rata). Jarak rata-rata orbit asteroid 2014 RC ke Matahari adalah sebesar 196 juta kilometer. Asteroid ini menempuh orbitnya dalam sekali putaran setiap 1,5 tahun. Dengan konfigurasi orbit demikian maka asteroid 2014 RC tergolong asteroid dekat Bumi (ADB) atau near earth asteroid (NEA) kelas Apollo, karena perihelionnya lebih kecil ketimbang orbit Bumi namun jarak rata-ratanya (dan juga periode revolusinya) lebih besar ketimbang Bumi.

Melintas Dekat

Gambar 2. Orbit asteroid 2014 RC di antara orbit planet-planet Merkurius, Venus, Bumi dan Mars. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Starry Night Backyard 3.0 berdasar data NASA Solar System Dynamics.

Gambar 2. Orbit asteroid 2014 RC di antara orbit planet-planet Merkurius, Venus, Bumi dan Mars. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Starry Night Backyard 3.0 berdasar data NASA Solar System Dynamics.

Selain sebagai asteroid dekat Bumi asteroid 2014 RC juga merupakan asteroid berpotensi bahaya. Sebuah asteroid digolongkan berpotensi bahaya jika ia pada suatu saat melintas dalam jarak maksimum 7,5 juta kilometer terhitung dari inti Bumi kita, atau setara dengan 19,5 kali lipat jarak rata-rata Bumi ke Bulan. Bagi asteroid 2014 RC, situasi tersebut terjadi saat ia melintas-dekat/berpapasan-dekat (near miss) dengan Bumi kita pada tahun 2014 dan 2017.

Khusus di tahun 2014 ini, perlintasan-dekatnya tergolong ekstrim karena asteroid akan melesat hanya sejarak 33.500 hingga 33.700 kilometer di atas paras Bumi. Situasi tersebut terjadi pada 7 September 2014 pukul 18:01 UTC, atau sama dengan 8 September 2014 pukul 01:01 WIB. Pada saat itu titik terdekat di permukaan Bumi ke asteroid tersebut berada di kawasan Oseania di Samudera Pasifik bagian tengah. Hunian terdekat berjarak sekitar 200 kilometer di sebelah tenggara, yakni pulau Pitcairn (Inggris). Pada jarak 33.500 hingga 33.700 kilometer tersebut praktis bongkahan batu sebesar rumah itu melesat dalam jarak lebih dekat ke Bumi ketimbang orbit geostasioner. Orbit geostasioner adalah orbit setinggi 35.782 kilometer di atas khatulistiwa yang disesaki oleh satelit-satelit komunikasi dan cuaca dalam jumlah bejibun sebagai penunjang kehidupan manusia modern. Namun demikian potensi tubrukan antara satelit-satelit buatan yang masih aktif di orbit geostasioner dengan asteroid 2014 RC ini adalah nol. Musababnya saat melintas di atas garis khatulistiwa, asteroid 2014 RC telah berjarak lebih besar ketimbang orbit geostasioner.

Selandia Baru menjadi kawasan yang mampu menikmati jam demi jam perjalanan asteroid 2014 RC saat hendak berpapasan-dekat dengan Bumi. Saat koordinat ekuatorial yang dilintasi asteroid ini dalam setiap jamnya diproyeksikan ke permukaan Bumi sebagai koordinat geografis, dijumpai pola unik. Awalnya titik-titik itu bergerak ke barat dari Samudera Pasifik menuju kepulauan Selandia Baru. Lalu proyeksi lintasan itu berbalik (retrograde), seakan-akan mengitari kepulauan Selandia Baru dari utara ke selatan untuk kemudian kembali bergerak ke timur menuju samudera. Di kawasan Oseania, proyeksi lintasan asteroid kembali berubah arah, kali ini ke utara hingga menyeberang khatulistiwa. Setelah kembali berubah arah ke barat di Samudera Pasifik bagian utara, titik-titik proyeksi itu selanjutnya melintas di Asia tenggara, tepatnya di ujung utara kepulauan Filipina dan akhirnya memasuki kawasan Indocina.

Gambar 3. Bumi dilihat dari asteroid 2014 RC pada 7 September 2014 20:01 WIB, atau 5 jam sebelum mencapai jarak terdekatnya ke Bumi. Nampak kawasan Antartika dan Australia, serta lokasi orbit geostasioner. Pada saat mencapai jarak terdekatnya, asteroid 2014 RC akan lebih dekat ke Bumi ketimbang satelit-satelit komunikasi dan cuaca di orbit geostasioner. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Starry Night Backyard 3.0 berdasar data NASA Solar System Dynamics.

Gambar 3. Bumi dilihat dari asteroid 2014 RC pada 7 September 2014 20:01 WIB, atau 5 jam sebelum mencapai jarak terdekatnya ke Bumi. Nampak kawasan Antartika dan Australia, serta lokasi orbit geostasioner. Pada saat mencapai jarak terdekatnya, asteroid 2014 RC akan lebih dekat ke Bumi ketimbang satelit-satelit komunikasi dan cuaca di orbit geostasioner. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Starry Night Backyard 3.0 berdasar data NASA Solar System Dynamics.

Saat berada di titik terdekatnya di atas Oseania, asteroid 2014 RC bakal mengerjap dengan magnitudo semu sekitar +11,5. Dengan begitu ia takkan mungkin disaksikan oleh mata kita tanpa alat bantu apapun. Kita harus menggunakan teleskop dengan lensa atau cermin obyektif berdiameter minimal 16 cm untuk menyaksikannya. Tak hanya itu, teleskop tersebut pun harus disetel untuk selalu mengikuti pergerakan asteroid tersebut melanglang langit. Tantangan observasi bertambah besar mengingat langit malam pada saat itu dalam kondisi relatif benderang seiring kehadiran Bulan dengan fase sedang menuju purnama. Sehingga menyulitkan untuk menyaksikan benda-benda langit yang redup.

Dari Indonesia, asteroid ini akan berada di langit bagian tenggara berdekatan dengan bintang Formalhaut di rasi Piscis Austrinis pada Minggu 7 September 2014 saat Matahari terbenam. Dalam jam-jam berikutnya asteroid akan kian meninggi di langit sembari beringsut ke arah selatan dengan mengambil posisi di dekat bintang Ankaa (rasi Phoenix) pada pukul 22:00 WIB. Asteroid kemudian mulai menurun kembali sehingga dalam sejam kemudian ia telah berposisi di dekat bintang terang Archenar (rasi Eridanus). Dan akhirnya di sekitar tengah malam waktu WIB, asteroid bakal terbenam di langit tenggara. Namun demikian ia bakal muncul lagi di langit timur pada pagi harinya (Senin 8 September 2014) jelang fajar, berdekatan dengan planet Venus. Hanya saja pada saat itu ia telah demikian redup dan sangat sulit dilihat, bahkan dengan teleskop sekalipun.

Potensi Bahaya

Bukan kali ini saja sebuah asteroid melintas-dekat dengan Bumi. Dan asteroid 2014 RC bahkan tak memecahkan rekor sebagai asteroid pelintas-terdekat Bumi. Hingga kini rekor tersebut masih dipegang asteroid 2011 CQ1 (diameter 1 meter), yang melintas di atas Samudera Pasifik pada 5 Februari 2011 silam pada jarak hanya 5.480 kilometer saja di atas paras Bumi. Namun setiap kali peristiwa semacam ini terjadi, kita selalu dihadapkan pada pertanyaan. Apakah ia akan jatuh ke Bumi? Seberapa berbahayakah ia bagi peradaban kita saat ini?

Gambar 4. Proyeksi lintasan asteroid 2014 RC di permukaan Bumi semenjak 7 September 2014 pukul 17:0 WIB hingga 8 September 2014 pukul 11:00 WIB. Nampak lintasan asteroid seakan-akan mengelilingi kepulauan Selandia Baru. Tanda bintang (*) merupakan proyeksi titik terdekat asteroid ke Bumi. Sumber: Sudibyo, 2014 berdasar data NASA Solar System Dynamics.

Gambar 4. Proyeksi lintasan asteroid 2014 RC di permukaan Bumi semenjak 7 September 2014 pukul 17:0 WIB hingga 8 September 2014 pukul 11:00 WIB. Nampak lintasan asteroid seakan-akan mengelilingi kepulauan Selandia Baru. Tanda bintang (*) merupakan proyeksi titik terdekat asteroid ke Bumi. Sumber: Sudibyo, 2014 berdasar data NASA Solar System Dynamics.

Asteroid 2014 RC membawa energi yang bukan main. Melesat dengan kecepatan 9,99 km/detik, ia bakal secepat 15 km/detik (54.000 km/jam) bila jatuh menuju ke Bumi. Pada kecepatan tersebut asteroid 2014 RC membawa energi kinetik sebesar 225 hingga 450 kiloton TNT, atau setara dengan 11 hingga 23 kali lipat kekuatan bom nuklir Hiroshima. Energi kinetik sebesar itu harus mendapat perhatian serius. Apalagi setelah kawasan Chelyabinsk dan sekitarnya (Rusia) luluh lantak pada 15 Februari 2013 silam, kala sebuah asteroid tak-bernama dan tak-teridentifikasi melesat ke atmosfer dan melepaskan energi kinetik yang sedikit lebih besar dari energi kinetik asteroid 2014 RC ini. Ribuan orang luka-luka dan kerugian material mencapai milyaran rupiah.

Peristiwa Chelyabinsk membuat semua terkesiap, menyaksikan betapa rentannya peradaban manusia modern dalam berhadapan dengan kekuatan alam dari langit. Betapa tidak? Asteroid yang bertanggung jawab atas peristiwa Chelyabinsk adalah seukuran dengan asteroid 2014 RC ini, yang tergolong ‘asteroid kecil’ bagi astronomi. Selama ini hanya asteroid-asteroid berukuran besar (diameter lebih dari 100 meter) saja yang dianggap bakal mengganggu kenyamanan hidup kita di Bumi. Kita pun makin terkesiap setelah data terbaru menunjukkan ternyata asteroid lebih kerap berjatuhan ke Bumi dari semula diduga. Secara rata-rata tiap tahun terjadi sedikitnya 2 kali peristiwa masuknya asteroid ke atmosfer Bumi yang mengangkut energi kinetik minimal 1 kiloton TNT.

Mujurnya, meski melintas-relatif dekat asteroid 2014 RC ini hanya lewat saja. Ia tak punya potensi untuk jatuh ke permukaan Bumi. Evaluasi NASA Meteoroid Environment Office menunjukkan bahwa hingga satu abad mendatang, asteroid 2014 RC tidak memiliki peluang untuk menjatuhi Bumi, sekecil apapun. Karena itu asteroid 2014 RC pun telah dikeluarkan dari Sentry Table, yakni daftar yang memuat asteroid-asteroid yang memiliki peluang untuk berbenturan dengan Bumi meski nilai peluangnya kecil. Karena itu tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Di sisi lain kesempatan melintas-dekatnya asteroid 2014 RC mendemonstrasikan bagaimana kemampuan sistem-sistem penyigi langit semi-otomatis terkini dalam mendeteksi benda langit yang berpeluang mendekati Bumi. Namun sistem tersebut belumlah sempurna. Terbatasnya jumlah observatorium yang berpartisipasi dan gangguan alamiah konfigurasi Bumi-Bulan (yang membuat malam-malam tertentu berhias Bulan terang hingga purnama) membuat sistem penyigi tersebut masih berlubang di sana-sini. Karena itu jangan heran meski asteroid 2014 RC telah terdeteksi dalam tujuh hari sebelum melintas-dekat, namun sistem yang sama gagal mendeteksi asteroid yang bertanggung jawab atas peristiwa Chelyabinsk (meski sama-sama berdiameter sekitar 20 meter). Inilah salah satu tantangan terbesar astronomi di era kontemporer, untuk membangun sebuah sistem penyigi langit semi-otomatis yang mampu bekerja dalam setiap saat dan setiap kondisi tanpa terkecuali sebagai bagian dari mitigasi. Pada saat yang sama, mitigasi potensi tumbukan benda langit pun harus mengenali karekteristik struktur dan komposisi komet/asteroid secara langsung. Inilah yang menjadi dasar sejumlah misi antariksa tak berawak spesifik ke asteroid/komet, seperti Rosetta. Semua itu dilakukan sebagai upaya agar kelak kita bisa mengelola ancaman dari langit dengan lebih baik. Dan agar tak bernasib mengenaskan seperti halnya yang dialami kawanan dinosaurus pada 65 juta tahun silam, hewan-hewan raksasa yang merajai Bumi namun punah akibat hantaman benda langit.

Referensi:

Guido, Howes & Niccolini. 2014. Close Approach of Asteroid 2014 RC. Remanzacco Observatory, Italia.

NASA. 2014. Jet Propulsion Laboratory Small-Body Database Browser: 2014 RC. NASA Solar System Dynamics, JPL, California.

Menelisik Letusan Krakatau 15 Abad Silam, Letusan yang Memisahkan Pulau Jawa dan Sumatra?

Selat sempit itu mirip benar dengan segitiga raksasa kala dilihat dari ketinggian udara. Saat itu, di dekat puncak segitiga ini berdiri kokoh sebuah gunung berapi. Ia tegak menjulang perkasa seakan memaku buana. Tubuhnya (mungkin) demikian besarnya sehingga kakinya membentang begitu lebar, nyaris menutup seluruh perairan laut yang ada di sana. Tak heran jika gunung berapi besar ini ibarat jembatan penyatu dua pulau besar itu, yang semula dipisahkan oleh selat sempit tersebut. Orang bisa menyeberang dari satu pulau ke pulau yang lain dengan berjalan menyusuri kaki gunung. Selat itu pun seakan berubah menjadi sebuah teluk nan besar.

Namun semuanya berubah total di suatu ketika 15 abad silam. Berawal dari getaran demi getaran yang terus mengguncang,disusul asap mengepul dari puncak sang gunung dan lama-kelamaan kian memekat, maka tibalah saat gunung berapi itu mempertontonkan kedahsyatannya. Letusan sangat dahsyat pun terjadilah. Pada puncak letusannya, sekitar 400.000 meter kubik magma disemburkan gunung berapi dalam setiap detiknya. Maka setiap detiknya gunung itu memuntahkan magma dalam jumlah yang cukup untuk mengisi 17.000 mobil tanki bahan bakar berkapasitas 24.000 liter. Uap panas, gas vulkanik nan mencekik, bebatuan membara dan debu vulkanik pekat disemburkan hingga ketinggian berpuluh kilometer ke atmosfer. Sebagian diantaranya berjatuhan kembali ke Bumi, menggelapkan langit kedua pulau besar yang ada didekatnya. Sebagian lagi melayang di dalam lapisan stratosfer dan memicu efek dramatik yang terasa dampaknya di segenap penjuru permukaan Bumi dalam jangka panjang. Bersamaan dengan gelap pekatnya langit kedua pulau besar didekatnya, tubuh gunung pun mulai ambruk ke dasar laut. Gelora raksasa pun tercipta, dengan tinggi luar biasa saat tiba di pesisir sehingga mampu menerjang berkilo-kilometer ke daratan. Gelora raksasa segera menyapu bersih apa dan siapa saja yang dilintasinya.

Gambar 1. Panorama Kepulauan Krakatau yang ikonik. Gundukan di latar depan adalah Gunung Anak Krakatau, dengan leleran lava produk letusan tahun 1975 yang telah membeku di bagian kanan bawah. Jauh di latar belakang terlihat pulau Rakata, yang adalah salah satu titik tertinggi dinding kaldera Letusan Krakatau 1883 yang mencuat di atas permukaan Laut. Kepulauan Krakatau mendunia lewat letusan dahsyatnya di tahun 1883. Namun jejak-jejak lapisan debu tebal yang tersingkap di berbagai pulau di kepulauan ini menunjukkan bahwa gunung berapi ini telah meletus dahsyat lebih dari sekali sepanjang sejarahnya. Sumber: Direktorat Vulkanologi (kini PVMBG), 1979.

Gambar 1. Panorama Kepulauan Krakatau yang ikonik. Gundukan di latar depan adalah Gunung Anak Krakatau, dengan leleran lava produk letusan tahun 1975 yang telah membeku di bagian kanan bawah. Jauh di latar belakang terlihat pulau Rakata, yang adalah salah satu titik tertinggi dinding kaldera Letusan Krakatau 1883 yang mencuat di atas permukaan Laut. Kepulauan Krakatau mendunia lewat letusan dahsyatnya di tahun 1883. Namun jejak-jejak lapisan debu tebal yang tersingkap di berbagai pulau di kepulauan ini menunjukkan bahwa gunung berapi ini telah meletus dahsyat lebih dari sekali sepanjang sejarahnya. Sumber: Direktorat Vulkanologi (kini PVMBG), 1979.

Begitu klimaks drama menggidikkan ini usai, pemandangan baru pun tersaji sudah. Gunung berapi besar itu lenyap hampir sepenuhnya. Apa yang semula menjadi tempat berdirinya gundukan tinggi besar ibarat paku buana itu pun kini berganti total menjadi pemandangan samudera. Dua pulau besar itu pun kembali terpisahkan. Tak ada lagi jembatan alamiah yang menjadi penghubung keduanya seperti sedia kala. Di kemudian hari salah satu pulau besar itu dikenal sebagai pulau Jawa, sementara pulau lainnya adalah pulau Sumatra. Dan kelak di kemudian hari, di tengah-tengah perairan dimana gunung berapi besar itu dahulu pernah ada, tumbuh sebentuk gunung berapi lainnya meski dimensinya jauh lebih kecil. Kelak kita mengenalnya sebagai Gunung Krakatau.

Petaka

Siapa yang tak kenal dengan Gunung Krakatau? Walaupun ia hanyalah sebentuk gundukan kecil mungil berasap di tengah-tengah keluasan perairan Selat Sunda, namun namanya sungguh meraksasa. Apalagi jika bukan karena Letusan Krakatau 1883 yang demikian menggetarkan. Letusan yang baru kita peringati kejadiannya untuk ke-131 kalinya di Agustus 2014 ini. Namun amukan Gunung Krakatau di tahun 1883 itu sejatinya bukanlah letusan terbesar yang pernah dialami si gunung lasak ini sepanjang sejarahnya.

Kala ilmu kegunungapian terus berkembang hingga menjadi seperti sekarang, para ahli kegunungapian pun berdatangan ke sudut-sudut kepulauan Krakatau ini. Mereka mengabadikan, menganalisis dan mendokumentasikan setiap singkapan bebatuan yang ada. Kini kita tahu bahwa lapisan-lapisan debu vulkanik yang bertumpukan di kepulauan ini menunjukkan betapa dalam setidaknya 8.000 tahun terakhir, gunung ini telah meletus dahsyat sebanyak sedikitnya tiga kali. Kedahsyatan tersebut tecermin lewat eksistensi tiga lapisan debu vulkanik yang cukup tebal dibanding lapisan-lapisan sejenis lainnya. Pada dasarnya semakin tebal lapisan debu vulkaniknya maka semakin besar pula skala letusannya.

Lapisan debu tebal teratas merupakan lapisan yang termuda yang dihasilkan Letusan Krakatau 1883. Namun letusan itu, yang dahsyatnya tak kepalang untuk ukuran manusia modern itu, sejatinya merupakan letusan terkecil dari ketiga letusan dahsyat dalam sejarah Krakatau. Peringkat kedua ditempati oleh Letusan Krakatau 1215, yang terjadi pada tahun 1215 berdasarkan pertanggalan radioaktif pada batang/ranting kayu yang mengarang (menjadi arang) di dalam lapisan debunya. Skala letusannya mungkin setara dengan letusan 1883, yakni sama-sama menempati 6 VEI (Volcanic Explosivity Index). Meski berdasarkan ketebalan lapisan debunya, Letusan Krakatau 1215 nampaknya menyemburkan material letusan dalam jumlah sedikit lebih besar ketimbang Letusan Krakatau 1883. Dan pemuncaknya adalah letusan sangat dahsyat yang menghasilkan lapisan debu demikian tebal, hingga setebal 25 meter. Belum ada sisa kayu yang telah mengarang yang berhasil dijumpai pada lapisan debu tebal ini, sehingga letusan pembentuknya terjadi belum bisa ditentukan berdasarkan teknik pertanggalan karbon radioaktif. Berdasarkan ketebalan debunya, letusan ini diperkirakan memiliki skala 7 VEI. Sejauh ini hanya Letusan Tambora 1815 dan Letusan Samalas (Rinjani) 1257 yang menyamai skala letusannya.

Gambar 2. Kiri: singkapan lapisan-lapisan debu tebal produk letusan dahsyat pada terbing terjal di salah satu sudut Kepulauan Krakatau. Nampak lapisan debu setebal 25 meter yang diduga merupakan produk letusan sangat dahsyat di abad ke-6. Kanan: vulkanolog Haraldur Sigurdsson nampak sedang menuruni tebing terjal itu guna menyelidiki lebih lanjut. Sumber: Wohletz, 2000.

Gambar 2. Kiri: singkapan lapisan-lapisan debu tebal produk letusan dahsyat pada terbing terjal di salah satu sudut Kepulauan Krakatau. Nampak lapisan debu setebal 25 meter yang diduga merupakan produk letusan sangat dahsyat di abad ke-6. Kanan: vulkanolog Haraldur Sigurdsson nampak sedang menuruni tebing terjal itu guna menyelidiki lebih lanjut. Sumber: Wohletz, 2000.

Tengara akan letusan sangat dahsyat yang membentuk lapisan debu setebal hingga 25 meter itu nampaknya datang dari sumber tertulis nan jauh di luar kepulauan Nusantara. Tepatnya di Cina. Sebuah berita Cina, yakni kronik Nan Shi, mencatat suara gemuruh mirip guntur di kejauhan yang terdengar dari barat daya pada suatu waktu di tahun 535. Peristiwa ini merupakan awal dari malapetaka besar yang menghantam imperium Cina sepanjang tahun 536-537. Kronik yang sama menuturkan betapa pada titimangsa Desember 536, debu kuning pekat mengguyur daratan di seluruh wilayah kekaisaran laksana hujan salju. Lantas sepanjang bulan Juli dan Agustus tahun berikutnya, udara membeku dan salju turun dengan derasnya di tengah-tengah masa yang seharusnya merupakan musim panas. Kronik Bei Shi pun mencatat hal senada. Akibatnya lahan pertanian pun hancur membuat produksi pangan merosot drastis. Kelaparan pun segera merebak dimana-mana dan merenggut korban-korbannya dalam jumlah sangat besar. Demikian parah situasinya sehingga kaisar sampai memberlakukan dekrit pengampunan pajak.

Namun petaka besar di tahun 535-536 itu ternyata tak hanya melanda Cina. Di Semenanjung Korea bagian utara, kerajaan Koguryo pun berjuang hidup mati mempertahankan diri setelah mendadak dihantam banjir besar. Banjir besar yang salah musim itu segera disusul dengan merebaknya wabah penyakit. Nada pesimisme yang sama juga dijumpai di Kepulauan Jepang lewat kronik Nihon Shoki. Kronik itu menuturkan betapa terjadi perubahan cuaca yang tak biasa yang disusul hancurnya lahan pertanian.

Tak hanya di Cina, Korea dan Jepang, malapetaka sejenis ternyata juga tercatat di kawasan pesisir Laut Tengah (Mediterania). Seorang uskup John dari Efesus (kini bagian dari Turki) menuliskan dalam kroniknya berapa pemandangan aneh terjadi di langit, saat Matahari seakan–akan kehilangan kecerahannya hingga hanya sedikit lebih terang saja dibanding Bulan. Situasi ini bertahan hingga 18 bulan lamanya. Bersamaan dengannya terjadi kelaparan besar menyusul hancurnya lahan pertanian akibat cuaca ekstrim yang salam musim. Tak hanya kelaparan yang melanda, wabah penyakit sampar (pes) pun bergentayangan mencari korban-korbannya. Hal senada juga diutarakan senator Cassiodorus di imperium Romawi pada saat yang hampir sama.

Gambar 3. Lokasi dimana terdapat catatan sejarah setempat terkait peristiwa dramatis di tahun 535, beserta data-data kronologis yang berhasil digali dari analisis lingkaran tahun kayu-kayu tua, sedimen dasar danau dan lembaran-lembaran es. Semua menunjukkan adanya gangguan iklim dramatis selama beberapa tahun, yang secara alamiah lebih mungkin disebabkan oleh letusan gunung berapi yang sangat dahsyat. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan data dari Wohletz, 2000.

Gambar 3. Lokasi dimana terdapat catatan sejarah setempat terkait peristiwa dramatis di tahun 535, beserta data-data kronologis yang berhasil digali dari analisis lingkaran tahun kayu-kayu tua, sedimen dasar danau dan lembaran-lembaran es. Semua menunjukkan adanya gangguan iklim dramatis selama beberapa tahun, yang secara alamiah lebih mungkin disebabkan oleh letusan gunung berapi yang sangat dahsyat. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan data dari Wohletz, 2000.

Bagi Eropa dan Asia, peristiwa aneh di tahun 535-536 ini adalah momen yang mengantarkan peradaban mereka memasuki abad kegelapan. Kekuasaan imperium Romawi mulai melemah sehingga sebagian wilayahnya mulai diambil-alih suku-suku Jermania nan perkasa yang bermigrasi dari Mongolia akibat bencana kelaparan. Pada saat yang sama peradaban Kristen Arian (rival terbesar Katolik Roma) pun berakhir secara misterius. Di Jazirah Arabia bagian selatan, peristiwa aneh itu memperparah situasi dalam peradaban Himyarit yang telah melemah seiring bobolnya bendungan Ma’rib. Kelaparan berkepanjangan dan wabah sampar kian melemahkannya hingga pada puncaknya mengambrukkan peradaban itu. Sampar semula hanya terkonsentrasi di Afrika timur. Namun kekeringan dahsyat menyebabkan populasi tikus merajalela tanpa bisa dikontrol lagi oleh para predatornya yang keburu mati kelaparan. Tikus-tikus pembawa kutu-kutu inang sampar selanjutnya memasuki pelabuhan–pelabuhan di pesisir Afrika timur dan terbawa armada kapal dagang yang berlayar melintasi Laut Merah dan terusan Trajanus ke Laut Tengah. Dengan cara inilah wabah sampar bergentayangan hingga mencapai Arabia selatan, Mediterania dan bahkan kepulauan Inggris serta lembah Mesopotamia.

Data

Baiklah, semua itu adalah catatan sejarah. Dan sejarah kerap bersifat multitafsir kala dipandang kembali dari masa yang lebih kemudian, dari zaman yang telah berubah. Namun bagaimana dengan catatan-catatan yang lebih independen, yakni jejak-jejak yang tak terkotori campur tangan manusia?

Petunjuk menarik datang dari lingkaran tahunan di dalam batang-batang kayu yang sangat tua. Lingkaran tahunan adalah lapisan kambium yang telah menjadi lapisan kayu pada tumbuhan berkayu keras. Sifat lapisan kambium ini khas, dimana tebal tipisnya dipengaruhi oleh normal tidaknya kehidupan tumbuhan bersangkutan terkait banyak sedikitnya jumlah air dan pencahayaan Matahari yang bisa diserap. Pada dasarnya berkurangnya jumlah air dan penyinaran Matahari akan menghasilkan lapisan kayu lebih tipis, demikian sebaliknya.

Analisis yang telah dilakukan terhadap lingkaran tahunan kayu-kayu tua di daratan Irlandia menunjukkan pada abad ke-6 dijumpai lapisan-lapisan kayu yang lebih tipis, terjadi semenjak tahun 535 dan berlangsung hingga 10 tahun kemudian. Analisis perbandingan dengan kayu-kayu tua di tempat lainnya menunjukkan fenomena ini bukanlah khas Irlandia semata. Sebab dijumpai pula di bagian Eropa lainnya seperti Swedia barat laut, Finlandia utara, Semenanjung Yamal (Rusia), Yunani dan Polandia. Juga didapati di daratan Amerika utara seperti di Sierra Nevada dan Carolina utara, maupun di Amerika selatan seperti di Chile selatan dan Argentina selatan. Bahkan di tempat sejauh dan seterpencil Tasmania (Australia) juga dijumpai hal serupa. Maka dapat dikatakan bahwa pasca tahun 535 hingga beberapa tahun kemudian iklim Bumi secara umum mengalami gangguan lumayan berat, sehingga jumlah air (dalam wujud curah hujan) merosot drastis bersamaan dengan berkurangnya penyinaran Matahari.

Gambar 4. Atas: dinamika ketebalan lingkaran kayu pada lingkaran tahunan kayu-kayu tua yang berhasil diekstrak dari Siberia (Rusia), Finlandia dan Swedia dalam rentang kronologi sejak tahun 1 hingga 1997. Garis merah menunjukkan lapisan kayu dari tahun 535 hingga beberapa tahun kemudian, nampak memiliki ketebalan paling kecil dibanding yang lain. Bawah:  dinamika kadar asam sulfat yang berhasil diekstrak dari lembaran es di proyek pengeboran GRIP (Greenland). Kadara asam sulfat tertinggi adalah pada tahun 535 hingga beberapa tahun kemudian (ditunjukkan dengan pensil). Sumber: Wohletz, 2000.

Gambar 4. Atas: dinamika ketebalan lingkaran kayu pada lingkaran tahunan kayu-kayu tua yang berhasil diekstrak dari Siberia (Rusia), Finlandia dan Swedia dalam rentang kronologi sejak tahun 1 hingga 1997. Garis merah menunjukkan lapisan kayu dari tahun 535 hingga beberapa tahun kemudian, nampak memiliki ketebalan paling kecil dibanding yang lain. Bawah:dinamika kadar asam sulfat yang berhasil diekstrak dari lembaran es di proyek pengeboran GRIP (Greenland). Kadara asam sulfat tertinggi adalah pada tahun 535 hingga beberapa tahun kemudian (ditunjukkan dengan pensil). Sumber: Wohletz, 2000.

Petunjuk lain gangguan iklim Bumi pada saat itu datang dari dasar sejumlah danau di berbagai penjuru. Sebuah danau mendapatkan airnya dari kawasan tangkapan air yang ada disekitarnya. Kala hujan mengguyur, air jatuh ke kawasan ini sembari menyeret partikel-partikel tumbuhan (umumnya bulir serbuk sari) lantas mengalir ke danau melalui alur parit-parit kecil dengan membawa serta partikel-partikel tanah. Seluruh partikel itu lalu diendapkan di dasar danau dan pengendapan berlangsungs ecara berkesinambungan. Pada saat gangguan iklim terjadi, berkurangnya curah hujan akan membuat tumbuh-tumbuhan hidup di bawah normal. Sehingga jumlah serbuk sari yang diproduksinya akan menyusut, pun demikian serbuk sari yang mengendap di dasar danau. Pengeboran terhadap dasar danau-danau di benua Amerika seperti danau Titicaca dan Marcachoca (keduanya di Amerika selatan) serta danau Chichancanab dan Punta Laguna (keduanya di Amerika tengah) memperlihatkan gejala itu. Dibantu dengan teknik pertanggalan radioaktif, maka terkuak bahwa mulai tahun 535 hingga beberapa tahun kemudian jumlah serbuk sari yang mengendap di dasar danau jauh lebih sedikit dibanding sebelumnya maupun sesudahnya. Hal ini menunjukkan dengan jelas terjadinya gangguan iklim Bumi, terutama lewat menurunnya jumlah curah hujan.

Baiklah, dari data lingkaran tahunan di kayu-kayu tua dan endapan dasar danau tersebut, kita tahu ada sesuatu yang terjadi di tahun 535 yang dampaknya menghantam sistem iklim Bumi dengan begitu telak. Namun apa penyebabnya? Di sinilah kita berhutang kepada para ahli glasiologi, yang bertekun diri menantang bahaya pergi ke tempat-tempat terpencil yang sangat dingin baik, di kawasan kutub maupun di pucuk-pucuk pegunungan bersalju. Bukan untuk berwisata maupun memompa adrenalin sekuat tenaga, namun untuk mengebor lembaran-lembaran es di sana dan membawanya pulang ke laboratorium berpendingin khusus. Lapisan-lapisan es pada dasarnya terbentuk dari guyuran hujan salju yang terus terakumulasi selama bertahun-tahun. Saat jatuh ke Bumi, butir-butir salju membawa serta partikulat dan gas apapun yang ada di udara pada saat itu. Maka es beku dalam lembaran-lembaran es dimanapun berada sejatinya memuat informasi tentang apa yang dialami atmosfer Bumi kita hingga kurun waktu ribuan atau bahkan puluhan ribu tahun silam.

Saat lembaran–lembaran es di Greenland (lewat proyek GRIP dan Dye 3) serta Antartika (lewat proyek Byrd) dibor, analisisnya menghasilkan temuan menarik yang terkait langsung peristiwa tahun 535. Dengan dibantu teknik pertanggalan karbon radioaktif, diketahui bahwa pada lapisan es yang berasal dari tahun 535 terkandung asam sulfat dalam jumlah besar, yang mencapai 5 kali lipat di atas normal. Asam sulfat umum dijumpai dalam atmosfer Bumi dalam wujud aerosol sebagai produk aktivitas vulkanisme. Namun kadar asam sulfat yang sangat besar menandakan terjadi sesuatu yang di luar kebiasaan, baik berupa letusan gunung berapi yang dahsyat maupun tumbukan benda langit (komet atau asteroid) yang cukup besar. Kadar asam sulfat dari tahun 535 itu adalah yang tertinggi sepanjang 2.000 tahun terakhir. Ia masih lebih tinggi dibanding kadar asam sulfat dari tahun 1815 (produk Letusan Tambora 1815), apalagi dari tahun 1883 (produk Letusan Krakatau 1883). Belakangan pengeboran lembaran es di gletser Quelccaya di Pegunungan Andes (Amerika selatan) juga menjumpai hal senada. Bahwa lonjakan asam sulfat itu dijumpai baik di lingkaran kutub utara (yakni di Greenland) maupun selatan (yakni Antartika) menandakan bahwa peristiwa yang menjadi penyebabnya haruslah berlokasi di kawasan khatulistiwa’ dan sekitarnya.

Saat semua data tersebut dibandingkan dengan catatan sejarah, terkuaklah sebuah fakta: terjadi sebuah peristiwa di luar normal (entah dalam wujud letusan gunung berapi yang sangat dahsyat ataupun tumbukan benda langit) mengambil tempat di kepulauan Nusantara, khususnya yang berada di arah barat daya dari Nanking/Nanjing (ibukota imperium Cina di abad ke-6 dan tempat kronik Nan shi ditulis). Peristiwa itu menghembuskan partikulat debu dalam jumlah sangat banyak ke atmosfer hingga demikian tinggi untuk kemudian terdistribusi ke segenap penjuru lapisan stratosfer. Maka tercipta lapisan debu bercampur aerosol asam sulfat, entah sebagai tabir surya vulkanik maupun tabir surya tumbukan, yang berkemampuan sangat efektif dalam mereduksi pancaran sinar Matahari yang seharusnya dihantarkan ke permukaan Bumi tanpa gangguan.

Maka Matahari pun nampak seakan-akan lebih redup. Penurunan suhu rata-rata permukaan Bumi pun terjadilah. Es meluas dimana-mana. Produksi uap air secara umum berkurang sehingga curah hujan pun turut berkurang. Iklim jadi kacau. Akibatnya lahan pertanian hancur. Produksi tanaman pangan merosot drastis, membuat dunia kelaparan. Suhu udara yang lebih dingin dan orang-orang yang daya tahan tubuhnya menurun (akibat kelaparan) memudahkan bakteri patogen menyebar melampaui area tradisionalnya. Maka abad kegelapan pun terjadilah. Tak sulit membayangkan bahwa jutaan orang, angka yang sangat signifikan bagi populasi penduduk Bumi masa itu, meregang nyawa menjadi korbannya. Tak heran jika ada yang berpendapat, surga seakan sedang menjauh dari dunia. Murka-Nya seakan sedang menjelma.

Simulasi

Bagian kepulauan Nusantara yang berada di arah barat daya dari kota Nanking mencakup pulau Sumatra dan Jawa serta pulau-pulau kecil disekitarnya sekarang. Sampai saat ini di kawasan ini belum dijumpai eksistensi kawah produk tumbukan benda langit, khususnya yang berasal dari abad ke-6. Sehingga penyebab peristiwa di tahun 535 itu lebih mungkin adalah letusan gunung berapi sanga dahsyat. Pulau Sumatra dan Jawa memang dipadati oleh gunung-gemunung berapi aktif. Namun saat kita mencari gunung berapi mana yang meletus demikian dahsyatnya di abad ke-6, telunjuk akan terarah ke satu titik: Gunung Krakatau.

Letusan Krakatau di abad ke-6 merupakan letusan yang paling samar datanya. Ada lapisan debu sangat tebal (setebal 25 meter) yang tertinggal di kepulauan Krakatau, namun belum bisa diketahui umurnya mengingat tiadanya jejak kayu yang mengarang yang bisa digunakan untuk penentuan umur dengan teknik pertanggalan karbon radioaktif. Di sisi lain, data sejarah memperlihatkan adanya keterputusan peradaban di abad ke-6, yang ditandai dengan punahnya kebudayaan Pasemah (Lampung) dan Aruteun/Holotan (Jawa Barat). Di luar Indonesia, sejumlah peradaban juga diketahui berakhir kala memasuki abad ke-6, misalnya Beikthano (Myanmar), peradaban pantai barat Malaya (Malaysia) dan peradaban Oc Eo (Kampuchea). Ada banyak faktor yang menyebabkan sebuah peradaban berakhir. Dan letusan dahsyat gunung berapi dapat menjadi salah satu faktornya, seperti terlihat pada berakhirnya peradaban Papekat dan Tambora di pulau Sumbawa akibat Letusan Tambora 1815.

Ada sebuah karya sastra klasik di tanah Jawa yang samar-samar menyajikan penggambaran mencekam akan peristiwa letusan dahsyat sebuah gunung berapi di masa silam. Yakni kitab Pustaka Raja Purwa, yang ditulis oleh R Ng (Raden Ngabehi) Ranggawarsita sang pujangga besar terakhir di tanah Jawa pada 1869 di istana Kasunanan Surakarta. Kitab ini sejatinya merupakan kumpulan cerita yang berakar dari kitab Mahabharata dan Ramayana nan tersohor. Sehingag kisah-kisah didalamnya berakar dari awal milenium di tanah India, dengan beberapa bagiannya telah dimodifikasi agar sesuai dengan situasi tanah Jawa. Di salah satu bagian kitab yang menjadi acuan para dalang wayang kulit itu tersurat kisah menggetarkan. Tertera, betapa pada suatu waktu bumi Jawa dikejutkan oleh dentuman keras melebihi halilintar yang datang dari arah Gunung Batuwara dan Gunung Kapi. Tanah pun bergetar keras yang segera diikuti amukan petir dan halilintar. Suasana menjadi gulita bahkan meski di siang hari. Hujan mengguyur sangat deras. Dan beberapa saat kemudian air bah yang tak biasa pun menggenang hebat, menjalar dari Gunung Kapi di barat hingga Gunung Kamula di timur. Setelah semua itu usai, Jawa terpisah dari Sumatra.

Gunung Batuwara kini kita kenal sebagai Gunung Pulosari, salah satu gunung berapi anak di lingkungan kaldera Dano (Banten). Gunung Kapi terletak di sisi barat Gunung Batuwara. Hanya ada satu gunung berapi yang sesuai dengan ciri-ciri Gunung Kapi ini, yakni Gunung Krakatau.

Baik, mari anggap Gunung Krakatau menjadi biang keladi perubahan iklim dramatis di tahun 535, yang menggiring segenap dunia berperadaban menuju ke abad kegelapan lewat letusan sangat dahsyatnya. Nah seberapa besar letusan tersebut?

Gambar 5. Peta kedalaman dasar Selat Sunda berdasar arsip Angkatan Laut Inggris di era perang Napoleon, dipadukan dengan peta topografi daratan Sumatra dan Jawa. Nampak cekungan nyaris membulat selebar sekitar 50 km yang diduga adalah kaldera raksasa produk Letusan Krakatau Purba. Sumber: Wohletz, 2000.

Gambar 5. Peta kedalaman dasar Selat Sunda berdasar arsip Angkatan Laut Inggris di era perang Napoleon, dipadukan dengan peta topografi daratan Sumatra dan Jawa. Nampak cekungan nyaris membulat selebar sekitar 50 km yang diduga adalah kaldera raksasa produk Letusan Krakatau Purba. Sumber: Wohletz, 2000.

Inilah yang ditelusuri seorang Ken Wohletz, ahli kegunungapian (vulkanolog) di Laboratorium Nasional Los Alamos (Amerika Serikat), tempat senjata nuklir pertama dirakit dan diledakkan. Para ahli kegunungapian pada umumnya telah dapat menerima bahwa apa yang kini kita kenal sebagai Kepulauan Krakatau sejatinya merupakan relik (sisa) dari Gunung Krakatau Purba yang demikian besar. Gunung tersebut mungkin menjulang setinggi hingga 2.000 meter dari permukaan laut dengan bentangan kakinya melampar hingga selebar 12 km. Letusan sangat dahsyat di masa silam melenyapkan hampir seluruh tubuhnya dan membentuk kaldera berdiameter sekitar 7 km. Sebagian dinding kaldera yang masih tersembul di atas Selat Sunda sebagai pulau Rakata, Sertung dan Panjang. Pada satu titik di pulau Rakata, kelak di kemudian hari tumbuh Gunung Krakatau yang pada klimaksnya berkembang membesar dengan tiga puncak utamanya: Rakata, Danan dan Perbuwatan. Pasca letusan 1883, seluruh tubuh Gunung Krakatau lenyap menjadi kaldera, kecuali sebagian pulau Rakata. Di tengah-tengah kaldera letusan 1883 inilah tumbuh Gunung Anak Krakatau yang kita kenal sekarang.

Tapi menurut Wohletz, ukuran Gunung Krakatau Purba mungkin lebih besar. Merujuk peta kedalaman Selat Sunda dalam arsip Angkatan Laut Inggris yang berasal dari masa pendudukan di tanah Jawa pada era perang Napoleon, Wohletz mendapati adanya cekungan besar (bergaris tengah sekitar 50 km). Cekungan ini dipagari oleh Kepulauan Krakatau, pulau Sebesi, pulau Sebuku, kaki Gunung Rajabasa dan pulau Sangiang. Jejak tepian cekungan ini di Pulau Sangiang nampak sebagai tebing terjal yang menyayat sebagian tubuh gunung berapi purba pembentuk pulau itu. Terletak tepat di lokasi gunung berapi aktif, tafsiran terbaik akan eksistensi cekungan ini adalah kemungkinan besar merupakan kaldera, lubang besar yang ditinggalkan di permukaan Bumi (dalam hal ini di dasar Selat Sunda) akibat letusan yang teramat dahsyat. Jika kalderanya sebesar ini maka jelas Gunung Krakatau Purba bertubuh jauh lebih besar. Kaki gunungnya mungkin membentang hingga mencakup area berdiameter 50 km atau lebih. Ketinggiannya nampaknya melebihi tinggi Gunung Rajabasa (1.281 meter dpl), mungkin hingga setinggi 3.000 meter atau bahkan lebih.

Gambar 6. Tebing terjal di Pulau Sangiang, yang secara menakjubkan memperlihatkan penampang bagian puncak gunung berapi purba dengan dua kawahnya. Tebing terjal ini kemungkinan merupakan salah satu titik tertinggi dari (dugaan) dinding kaldera raksasa Krakatau Purba yang lebarnya sekitar 50 km. Sumber: Bronto, 2012.

Gambar 6. Tebing terjal di Pulau Sangiang, yang secara menakjubkan memperlihatkan penampang bagian puncak gunung berapi purba dengan dua kawahnya. Tebing terjal ini kemungkinan merupakan salah satu titik tertinggi dari (dugaan) dinding kaldera raksasa Krakatau Purba yang lebarnya sekitar 50 km. Sumber: Bronto, 2012.

Agar sebuah gunung sebesar ini bisa ambruk dan lenyap menjadi kaldera yang berada di bawah permukaan laut, maka harus terjadi subsidens (amblesan) sebesar sekitar 100 meter. Subsidens ini disebabkan oleh kosongnya kantung magma dangkal di dasar gunung seiring dimuntahkannya magma secara besar-besaran dalam letusan yang sangat dahsyat. Jika dianggap diameter kantung magma dangkal tersebut sekitar 50 km, maka subsidens sebesar 100 meter ini hanya bisa disebabkan oleh tersemburnya magma menjadi rempah letusan sebanyak sekitar 200 kilometer kubik (200.000 juta meter kubik).

Lewat program komputer Erupt3 yang dikembangkannya, Wohletz pun telah menyimulasikan sejumlah aspek dalam letusan dahsyat tersebut, dengan bersandar pada beberapa anggapan. Sebelum meletus dahsyat, tubuh Gunung Krakatau Purba demikian besar sehingga menyembul ke atas permukaan Selat Sunda sebagai pulau vulkanis. Pulau ini demikian besar sehingga menutupi hampir seluruh bagian perairan Selat Sunda yang membentang di antara kaki Gunung Rajabasa (Sumatra) hingga Anyer (Jawa). Sebagai gunung berapi laut, perilaku Gunung Krakatau Purba sangat dipengaruhi berlimpahnya air laut yang mengepungnya dari segenap penjuru. Saat letusan mulai terjadi rempah letusan disemburkan Gunung Krakatau Purba hingga setinggi sekitar 20 km dari paras Selat Sunda, sebagai erupsi freatik. Erupsi freatik ini terjadi saat magma segar yang sedang mendesak naik mulai bertemu dengan air laut yang meresap di dalam tubuh gunung, menghasilkan uap panas bertekanan tinggi yang lantas mendobrak titik lemah di sekitar puncak. Tersemburlah uap air bersama debu vulkanik dari magma tua yang sudah membatu.

Erupsi freatik menciptakan lubang letusan, memperlebarnya dan mengawali retak-retak ke segenap arah hingga mulai melemahkan kekuatan batuan penyusun tubuh gunung. Kekuatan yang melemah memungkinkan magma mulai tersembur, lama-kelamaan dalam jumlah kian membesar dan bertekanan sangat tinggi. Terjadilah erupsi magmatik dalam tipe erupsi ultraplinian. Menyeruak dengan suhu sekitar 900 derajat Celcius, magma yang keluar sebagai batuapung dan debu vulkanik melesat dengan kecepatan awal sangat tinggi, sekitar dua kali lipat kecepatan suara, kala terlepas dari lubang letusan. Akibatnya mereka tersembur hingga setinggi 50 km dari paras selat Sunda dan lantas membentuk struktur menyerupai cendawan raksasa, untuk kemudian berjatuhan kembali ke Bumi. Hujan debu vulkanik pekat dan batuapung mengguyur deras hingga radius sekitar 60 km dari lubang letusan.

Gambar 7. Salah satu hasil simulasi program Erupt3 tentang karakter (kemungkinan) Letusan Krakatau Purba 535. Atas: saat letusan hendak mencapai puncaknya sebagai tipe ultraplinian yang menyemburkan material setinggi 60 km dan membentuk awan cendawan raksasa. Bawah: klimaks letusan ditandai dengan letusan tipe freatoplinian akbar dengan semburan material setinggi  30 km dan membentuk awan panas. Kombinasi dua tipe letusan inilah yang membentuk kaldera selebar 50 km dengan memuntahkan 200 kilometer kubik magma. Sumber: Wohletz, 2000.

Gambar 7. Salah satu hasil simulasi program Erupt3 tentang karakter (kemungkinan) Letusan Krakatau Purba 535. Atas: saat letusan hendak mencapai puncaknya sebagai tipe ultraplinian yang menyemburkan material setinggi 60 km dan membentuk awan cendawan raksasa. Bawah: klimaks letusan ditandai dengan letusan tipe freatoplinian akbar dengan semburan material setinggi 30 km dan membentuk awan panas. Kombinasi dua tipe letusan inilah yang membentuk kaldera selebar 50 km dengan memuntahkan 200 kilometer kubik magma. Sumber: Wohletz, 2000.

Pengeluaran magma secara besar-besaran dalam tahap ini membuat kantung magma dangkal di dasar gunung mulai terkosongkan. Bobot tubuh gunung yang sangat besar membuat retak-retak di sekujur tubuhnya kian bertambah. Subsidens pun mulai terjadi. membuat kian banyak saja air laut yang merasuk. Pada saat yang sama tubuh gunung yang kian melemah memungkinkannya memuntahkan magma dalam jumlah lebih besar. Maka klimaks letusan pun terjadilah, saat air laut bercampur langsung dengan magma panas membara membentuk erupsi bertipe freatoplinian akbar. Gelegar suara letusannya terdengar jauh hingga ke daratan Cina. Setiap detiknya gunung ini memuntahkan sekitar 400.000 meter kubik magma yang membentuk debu, lapili (kerikil), bom vulkanik (bongkahan besar) dan batuapung. Rempah vulkanik yang lebih besar dan berat dari debu dan batuapung menyembur hingga ketinggian sekitar 30 km. Setelah membentuk struktur cendawan raksasa, rempah letusan ini pun berjatuhan kembali ke Bumi dalam kondisi masih cukup panas sehingga menjadi awan panas (piroklastika) letusan. Awan panas diperkirakan menjalar hingga sejauh 60 km dari lubang letusan memanggang benda apa saja yang dilewatinya. Setelah klimaks letusan terlampaui, intensitas letusan pun berkecenderungan menurun. Pada saat yang sama tubuh gunung pun terus menghancur dan melesak ke dalam laut membentuk kaldera. Air laut yang masih terus merasuk terus bercampur dengan sisa-sisa magma yang tak tersembur, menghasilkan semburan uap panas bertekanan tinggi bercampur debu vulkanik yang kembali menghambur hingga setinggi sekitar 20 km. Erupsi freatik ini menjadi bab penutup dari kedahsyatan letusan itu.

Dengan memuntahkan sekitar 200 kilometer kubik magma, Letusan Krakatau Purba adalah 25 % lebih besar ketimbang Letusan Tambora 1815 (volume magma 160 kilometer kubik) dan 10 kali lebih dahsyat dari Letusan Krakatau 1883 (volume magma 20 kilometer kubik). Lewat program Erupt3-nya, Wohletz menyimpulkan terkurasnya magma sebanyak itu menyebabkan Gunung Krakatau Purba mengalami subsidens dan mengubah topografinya secara dramatis. Hampir segenap tubuh gunung lenyap terbenam menjadi kaldera, kecuali sebagian kecil area puncak yang masih menyembul di atas permukaan Selat Sunda sebagai pulau kecil. Maka bentang lahan yang selama ini seakan menjembatani pulau Jawa dan Sumatra pun terputus sudah.

Gambar 8. Hasil simulasi program Erupt3 terkait (kemungkinan) perubahan topografi Gunung Krakatau Purba antara sebelum dan sesudah letusan dahsyatnya di tahun 535. Sebelum letusan, tubuh gunung merentang demikian lebar hingga berperan sebagai jembatan alamiah penghubung daratan pulau Sumatra dan Jawa. Setelah letusan, jembatan tersebut menghilang berganti dengan kaldera 50 km yang tergenangi air laut sebagai bagian dari Selat Sunda. Sumber: Wohletz, 2000.

Gambar 8. Hasil simulasi program Erupt3 terkait (kemungkinan) perubahan topografi Gunung Krakatau Purba antara sebelum dan sesudah letusan dahsyatnya di tahun 535. Sebelum letusan, tubuh gunung merentang demikian lebar hingga berperan sebagai jembatan alamiah penghubung daratan pulau Sumatra dan Jawa. Setelah letusan, jembatan tersebut menghilang berganti dengan kaldera 50 km yang tergenangi air laut sebagai bagian dari Selat Sunda. Sumber: Wohletz, 2000.

Letusan sangat dahsyat yang mengambil tempat di sebuah pulau vulkanis ini jelas membentuk gelora raksasa atau tsunami. Tsunami terbentuk seiring ambruknya tubuh gunung ke dasar laut bersamaan dengan hempasan awan panas yang menjalar di dasar laut. Seberapa besar daya hancur tsunaminya belum bisa diketahui. Di sisi lain, dampak letusan sangat dahsyat ini sangat terasa di sekujur penjuru Bumi. Dari 200 kilometer kubik magma, 10 hingga 80 kilometer kubik diantaranya berupa debu vulkanik halus yang terinjeksi demikian tinggi hingga memasuki lapisan stratosfer. Namun tak hanya debu. Letusan juga mengubah sekitar 150 meter kubik air laut menjadi uap sebanyak sekitar 200.000 kilometer kubik. Separuh diantaranya mengembun kembali di ketinggian rendah, namun sisanya membumbung tinggi memasuki lapisan stratosfer dan berubah menjadi kristal-kristal es. Pada saat yang sama juga tersembur sekitar 180 juta ton gas belerang, yang lantas bereaksi dengan uap air membentuk tetes-tetes asam sulfat. Sirkulasi atmosferik di lapisan stratosfer membuat debu, aerosol asam sulfat dan kristal es tersebar ke segenap penjuru dan menciptakan tabir surya vulkanik demikian tebal. Ketebalannya mencapai sekitar 20 hingga 150 meter, yang melayang di ketinggian 30 km tanpa bisa dicuci oleh proses cuaca.

Dampaknya sangat menyiksa Bumi hingga beberapa tahun kemudian. Tabir surya vulkanik nan tebal ini menghalangi 50 % cahaya Matahari yang seharusnya diteruskan ke Bumi. Terjadilah penurunan suhu rata-rata permukaan Bumi, yang bisa mencapai 5 derajat Celcius di bawah normal. Imbasnya udara menjadi lebih dingin, tutupan es pun menyebar keluar dari lingkaran kutub dan jumlah uap air yang diproduksi dari lautan pun menurun. Akibat lebih lanjutnya, cuaca pun sangat terganggu. Kekeringan berlangsung dimana-mana, meski tak jarang juga terjadi hujan sangat lebat hingga badai yang salah musim. Keberadaan kristal-kristal es di lapisan stratosfer pun berdampak pada hancurnya lapisan Ozon. Sinar ultraviolet beta dari Matahari pun membanjir deras tanpa terhalangi dan bekerja merusak sel-sel makhluk hidup. Secara keseluruhan letusan ini benar-benar membuat Bumi menjadi tak nyaman ditinggali makhluk hidup, khususnya manusia. Tak heran jika abad kegelapan pun terjadilah.

Masa Depan

Di atas kertas, seperti itulah kedahsyatan Letusan Krakatau Purba, yang diperkirakan terjadi pada tahun 535. Tentu saja butuh penelitian lebih lanjut guna memastikan apakah semua atau sebagian hasil simulasi itu memang benar-benar terjadi ataukah tidak. Yang jelas, lapisan debu setebal 20 meter yang terjepit di antara lapisan produk letusan 8.000 tahun silam dan lapisan produk Letusan Krakatau 1215 memastikan bahwa pada suatu waktu di masa silam Gunung Krakatau memang pernah meletus dengan kedahsyatan letusan yang jauh lebih besar ketimbang Letusan Krakatau 1883.

Sifat Gunung Krakatau yang gemar meletus dahsyat dan menghancurkan dirinya sendiri, setidaknya sudah tiga kali terjadi, tentu harus menjadi perhatian. Terlebih kawasan Selat Sunda kian memegang peranan penting. Perairan ini menjadi salah satu urat nadi terpenting bagi Indonesia modern, sebagai jalur penghubung antara pulau Sumatra dan Jawa lewat laut. Bahkan kelak jalur darat pun bakal tersambung dengan Jembatan Selat Sunda, meski pembangunannya masih dalam rencana dan terus menuai kontroversi. Pusat-pusat pertumbuhan ekonomi juga terus berdiri di sini. Alangkah baiknya jika segenap kepentingan manusia yang didirikan di kawasan ini tetap menyesuaikan diri dengan sifat alamiah Gunung Krakatau. Itu untuk kebaikan kita sendiri. Karena kita manusialah yang harus menyesuaikan diri dengan dinamika alam semesta, bukan sebaliknya. Dalam kasus Gunung Krakatau, kitalah yang harus bersiap semenjak dini andaikata gunung berapi lasak ini kembali mempertontonkan kedahsyatannya di masa depan.

Referensi:

Wohletz. 2000. Were the Dark Ages Triggered by Volcano-related Climate Changes in the 6th Century? EOS Trans Amer Geophys Union 48(81), F1305.

Bronto. 2012. Gunung Padang Berdasarkan Pandangan Geologi Gunung Api. Kertas Kerja Rembug Nasional Gunung Padang, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.