Repihan Sejarah Sudut Nusantara berlatar Gerhana Sang Surya (1): Panjer

Sekeping daerah di Lembah Luk Ulo, di antara Sungai Luk Ulo dan Sungai Kedungbener yang menjadi anak sungai utamanya, di sisi selatan tanah Jawa bagian tengah. Saat itu Rabu 7 April 1502 TU (Tarikh Umum) yang bertepatan dengan 29 Ramadhan 907 H. Penghujung bulan suci. Masyarakat Muslim setempat sedang bersiap-siap merayakan Idul Fitri di bawah natural leader Sayyid Abdul Kahfi al-Hasani yang kelak populer dengan nama Syekh Abdul Kahfi Awwal. Kala waktu telah beranjak memasuki saat Dhuhur, mendadak di langit terjadi peristiwa yang sangat langka dan mengesankan. Selama hampir tiga jam kemudian terjadi Bagowong (Pagowong) atau Coblong, istilah Jawa Kuna untuk Gerhana Matahari Total. Peristiwa langit langka itu nampaknya demikian mempesona dan menginspirasi, hingga diabadikan menjadi nama lokasi.

Gambar 1. Rekonstruksi wilayah Gerhana Matahari Total 7 April 1502 di pulau Jawa dan sekitarnya. Angka-angka menunjukkan jam-jam terjadinya puncak gerhana dalam WIB. Nampak lokasi Panjer (kini Kebumen) berada di sumbu Zona Total gerhana ini. Peristiwa langit tersebut mungkin menginspirasi pemberian nama Panjer. Sumber: Sudibyo, 2019.

Terakhir kalinya Gerhana Matahari Total terjadi bagi daerah di antara Sungai Luk Ulo dan Sungai Kedungbener adalah hampir enam abad sebelumnya. Tepatnya pada 24 Februari 928 TU, kala tanah itu masih dalam naungan Kerajaan Medang yang sedang menjalani masa-masa turbulensi seiring kudeta silih berganti. Manakala Gerhana Matahari Total 7 April 1502 TU terjadi, tanah Jawa pun sedang menjalani metamorfosa dramatis. Di ujung timur Kerajaan Majapahit yang sudah tua masih bertahta namun kian berkeping-keping saja seakan sedang dipercepat menuju masa paripurnanya. Sedangkan di bagian tengah tanah Jawa kekuasaan bercorak lain mulai menanjak. Yakni Kesultanan Demak di bawah pimpinan Raden Patah yang menyandang gelar Sultan Alam Akbar al-Fattah.

Sayyid Abdul Kahfi al-Hasani memegang peranan penting dalam Kesultanan Demak. Datang sebagai pendakwah dari tanah Hadhramaut, beliau memiliki hubungan sangat erat dengan Sunan Ampel dan Sunan Kudus, dua dari Wali Sanga yang menjadi tulang punggung Kesultanan Demak. Pada tepian Sungai Kedungbener, Sayyid Abdul Kahfi al-Hasani babat alas membuka lahan yang disebut tsumma dha’u yang beraroma harum. Disinilah salah satu pondok pesantren tertua di Indonesia masakini, bahkan di Asia Tenggara, berdiri. Pesantren Somalangu secara resmi berdiri pada 25 Sya’ban 879 H (4 Januari 1475 TU) ditandai dengan sebuah prasasti berbahan batu zamrud yang kini masih ada dalam lingkungan pondok pesantren tersebut.

Manjer

Di penghujung suatu bulan Ramadhan, lebih dari seperempat abad setelah Pesantren Somalangu berdiri, peristiwa Gerhana Matahari Total yang mengesankan terjadi di langit setempat. Perhitungan astronomi modern yang termaktub dalam Five Millenium Canon of Solar Eclipses karya Fred Espenak (astronom NASA, Amerika Serikat) menunjukkan gerhana dimulai pada pukul 11:39 WIB. Mulai saat itu langit siang secara berangsur-angsur meredup dan menggelap selagi Matahari secara perlahan-lahan nampak ‘robek.’ Mulai pukul 13:04 WIB langit menjadi betul-betul gelap dimana Matahari berubah menjadi bundaran hitam bermahkota putih lembut. Bintang-bintang pun bertaburan menghiasi langit yang sesungguhnya masih siang bolong. Hal ini berlangsung selama hampir 5 menit kemudian. Setelah itu langit secara berangsur-angsur mulai bertambah terang dan Matahari pun kembali ke bentuk bundarnya sebagai penanda akhir gerhana pada pukul 14:31 WIB.

Perhitungan sederhana guna memprakirakan terjadinya Gerhana Matahari sudah dikenal sejak masa Yunani Kuno lewat Claudius Ptolomeus (100-170 TU) seperti termaktub dalam Almagest. Al-Battani (wafat 929 TU) memperbaikinya sehingga memungkinkan pengembangan prediksi Gerhana Matahari Cincin. Meski demikian belum ada bukti karya-karya ini telah masuk dan dipelajari di tanah Jawa terutama pada era transisi Kerajaan Majapahit – Kesultanan Demak. Sehingga dapat diperkirakan tak ada penduduk yang tinggal di antara Sungai Luk Ulo dan Sungai Kedungbener yang telah memprakirakan kejadian Gerhana Matahari sebelumnya.

Akan tetapi begitu gerhana mulai terjadi dan langit mulai menggelap, orang-orang pun riuh menabuh lesung mengikuti tradisi Jawa akan mitos Batara Kala menelan sang surya. Gerhana Matahari Total yang terjadi pada tengah siang bolong, saat Matahari sedang berkulminasi atas (istiwa’) yang menadai awal waktu Dhuhur, di penghujung bulan suci bagi Umat Islam, nampaknya memberikan kesan sangat mendalam bagi orang-orang yang tinggal di antara Sungai Luk Ulo hingga Sungai Kedungbener. Peristiwa luar biasa itu mungkin menginspirasi pemberian nama sebuah daerah di dekat Pesantren Somalangu sebagai Panjer.

Dalam Bahasa Jawa, kata Panjer memiliki kedudukan dan makna yang sama dengan kata Manjer. Berdasarkan riset pak Widya Sawitar, astronom senior di POJ (Planetarium dan Observatorium Jakarta), Orang Jawa mengenal sekitar 90 nama julukan untuk Matahari. Nama-nama julukan tersebut sebagian merupakan pengaruh dari bahasa Sansekerta dan umumnya terkait kalender pertanian (pranata mangsa), simbolisasi keseharian, penanda rentang waktu serta penanda fenomena alam tertentu. Kata Manjer adalah salah satu diantaranya. Manjer merupakan istilah bagi transit Matahari atau istiwa’, yaitu situasi saat Matahari mencapai titik kulminasi atas dalam peredaran semu hariannya. Nama julukan lain yang memiliki makna serupa Manjer adalah Panengahnikangrawi dan Suryasata.

Kulminasi atas Matahari sesungguhnya merupakan peristiwa langit yang rutin terjadi setiap hari dan tidaklah cukup unik dalam perspektif astronomi. Namun manakala peristiwa Gerhana Matahari Total yang sangat langka terjadi kala sang Surya sedang manjer di penghujung bulan Ramadhan pada daerah yang sebagian besar penduduknya memeluk Islam, kesan yang ditimbulkannya akan luar biasa dan menginspirasi. Analisis astronomi menunjukkan pasca Gerhana Matahari Total 7 April 1502, selama setengah milenium (lima abad) kemudian tanah Panjer hanya mengalami dua Gerhana Matahari Total lainnya. Masing-masing Gerhana Matahari Total 24 Juli 1683 yang terjadi kala Matahari terbit dan Gerhana Matahari Total 11 Juni 1983 yang terjadi di pagi hari.

Lebih dari seabad kemudian pasca Gerhana Matahari Total 7 April 1502 yang bersejarah, Panjer telah berkembang meluas dan terstruktur melampaui ukuran sebuah desa. Panjer kemudian menyeruak ke pentas sejarah di era Kerajaan Mataram manakala Sultan Agung mempersiapkan invasi ke Batavia yang dikuasai VOC. Tersebut nama Ki Bagus Badranala yang menyiapkan keperluan logistik dan sumberdaya manusia guna mendukung invasi tersebut, dalam kurun 1627-1629 TU. Atas jasa-jasanya maka Ki Bagus Badranala dikukuhkan menjadi Ki Gede Panjer Roma pada 21 Agustus 1629 TU. Berselang 13 tahun kemudian Ki Gede Panjer Roma dilantik menjadi sebagai Bupati Panjer yang pertama dan menyandang nama baru: Panembahan Badranala. Bahwa dua abad kemudian terjadi gempa politik tanah Jawa seiring meletusnya Perang Jawa / Perang Dipanegara yang demikian menghancurkan, yang memaksa berubahnya nama Kabupaten Panjer menjadi Kabupaten Kebumen, itu tidak menghilangkan ketokohan Panembahan Badranala. Tanggal 21 Agustus 1629 TU pun kini ditetapkan sebagai Hari Jadi Kab. Kebumen berdasarkan Peraturan Daerah no. 3/2018.

Hingga saat ini belum ditemukan bukti tertulis maupun cerita tutur (lisan) terkait asal-usul nama Panjer dan peristiwa langit langka berupa Gerhana Matahari Total di tengah siang bolong. Namun dalam sudut pandang toponomi, yakni cabang ilmu pengetahuan yang mencari hubungan antara fenomena alam lokal dengan nama daerah setempat, hal itu tetap berterima. Terdapat banyak tempat di tanah Kebumen yang mengandung unsur nama karang- (misalnya Karangsambung, Karanggayam, Karangpoh, Karanganyar, Karangtanjung, Karangkembang dan sebagainya). Tempat-tempat tersebut secara tertulis maupun lisan juga belum diketahui asal-usulnya. Namun dengan pendekatan toponomi, kata karang- yang melekat pada nama tempat-tempat itu terbukti merepresentasikan fenomena alam setempat terkait pegunungan/perbukitan dan formasi-formasi batuan yang khas.

Seperti halnya bangsa-bangsa lainnya di dunia, leluhur manusia Indonesia di masa silam mempelajari astronomi sebagai bagian dari bertahan hidup. Guna mereduksi sebesar mungkin dampak dari fenomena-fenomena alam tertentu yang dipandang merugikan (misalnya musim kemarau) dan sebaliknya mengeksploitasi semaksimal mungkin terjadi fenomena-fenomena alam lainnya yang menguntungkan (misalnya musim hujan) untuk bercocok tanam dan mengembangkan peradaban. Dalam kesempatan yang sama pembelajaran itu juga mewariskan pengetahuan tersebut pada nama-nama daerah dan istilah-istilah unik bagi anak cucunya.

Referensi :

Sawitar. 2016.Tekang Adityamandala. Planetarium dan Observatorium Jakarta, diakses 25 Desember 2019 TU.

Mentari Menjadi Sabit Tebal, Gerhana Matahari 29 Rabiul Akhir 1441 H/26 Desember 2019

Kamis 29 Rabiul Akhir 1441 H atau 26 Desember 2019 TU (Tarikh Umum) akan terjadi peristiwa langit yang jarang terjadi. Gerhana Matahari Cincin atau Gerhana Matahari Annular namanya. Di puncak gerhana, Matahari akan terlihat menyerupai cincin bercahaya kuning-jingga di langit khususnya jika disaksikan dari Zona Antumbra dalam wilayah gerhana. Sedangkan wilayah gerhana lainnya, yakni Zona Penumbra, hanya akan menyaksikan sebagian wajah Matahari tertutupi oleh bundaran Bulan yang gelap di puncak gerhana dengan besarnya penutupan tergantung pada letak setiap tempat.

Kabar baiknya, segenap Indonesia tercakup ke dalam wilayah gerhana Matahari Cincin ini. Bahkan Zona Umbra melintasi sejumlah kabupaten/kota di tujuh propinsi.

Konfigurasi Gerhana

Gambar 1. Wajah Matahari yang nampak sebagian ditutupi bundaran Bulan sepanjang peristiwa Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 silam. Diabadikan di Kebumen, yang nampak sebagai gerhana sebagian. Sumber: Sudibyo, 2016.

Peristiwa Gerhana Matahari terjadi saat Bumi, Bulan dan Matahari benar–benar sejajar pada satu garis lurus dalam perspektif tiga–dimensi dimana Bulan menyelisip di tengah-tengah Bumi dan Matahari. Kesejajaran ini disebut syzygy. Dalam ilmu falak, Gerhana Matahari terjadi pada saat yang sama dengan peristiwa konjungsi Bulan–Matahari (ijtima’), yakni saat Bulan dan Matahari menempati satu garis bujur ekliptika yang sama di langit. Yang membedakan, Bulan dalam peristiwa Gerhana Matahari juga sedang menempati salah satu di antara dua titik nodal dalam orbitnya. Titik nodal adalah titik potong khayali antara orbit Bulan tepat dengan ekliptika (bidang edar Bumi dalam mengelilingi Matahari).

Maka meski dalam setiap tahun Hijriyyah terjadi 12 kali peristiwa konjungsi Bulan-Matahari, tidak setiap konjungsi tersebut menghasilkan Gerhana Matahari. Karena tidak setiap saat konjungsi Bulan-Matahari berlangsung bersamaan dengan Bulan sedang di dekat atau bahkan berada di salah satu titik nodalnya. Dalam setahun Hijriyyah umumnya hanya terjadi minimal 2 dan maksimal 4 peristiwa Gerhana Matahari.

Akibat kesejajaran tersebut maka pancaran sinar Matahari yang mengarah ke Bumi bakal diblokir sedikit oleh bundaran Bulan. Menjadikan peristiwa Gerhana Matahari selalu berlangsung di siang hari. Karena ukuran Bulan lebih kecil dibandingkan Bumi, maka pemblokiran tersebut tidak terjadi secara tidak merata di sekujur paras Bumi yang sedang terpapar sinar Matahari saat itu. Melainkan hanya di sektor–sektor tertentu saja bergantung pada geometri orbit Bulan kala kesejajaran tersebut terjadi.

Gambar 2. Konfigurasi posisi Matahari, Bumi dan Bulan yang melahirkan peristiwa Gerhana Matahari Total dan Gerhana Matahari Cincin (tanpa skala jarak antar benda langit). Sumber: Sudibyo, 2019.

Ada tiga jenis Gerhana Matahari. Yang pertama adalah Gerhana Matahari Total (GMT). Terjadi saat Bulan menempati titik nodal kala konjungsi Bulan-Matahari dan jaraknya relatif dekat ke Bumi, yakni menempati atau berdekatan dengan titik perigee (titik terdekat orbit Bulan ke Bumi). Sehingga ukuran–tampak Bulan relatif sama atau sedikit lebih besar ketimbang Matahari, yakni 0º 30’. Maka cakram Bulan sepenuhnya menutupi cakram Matahari di puncak gerhana dan terbentuk dua bayangan, yaitu umbra (bayangan inti total) dan penumbra (bayangan tambahan). Lokasi yang dilintasi umbra akan menyaksikan Gerhana Matahari Total sementara lokasi penumbra hanya menyaksikan gerhana sebagian.

Yang kedua adalah Gerhana Matahari Cincin (GMC). Konfigurasinya mirip dengan GMT hanya bedanya Bulan berjarak relatif jauh dari Bumi, yakni berdekatan atau bahkan menempati titik apogee (titik terjauh orbit Bulan ke Bumi). Imbasnya ukuran–tampak Bulan lebih kecil ketimbang Matahari, membuat cakram Bulan tidak sepenuhnya menutupi cakram Matahari di puncak gerhana. Pada konfigurasi ini juga terbentuk dua bayangan, yaitu antumbra (bayangan inti cincin) dan penumbra. Lokasi yang dilintasi antumbra akan menyaksikan Gerhana Matahari Cincin sedangkan lokasi penumbra hanya menyaksikan gerhana

Dan yang ketiga, Gerhana Matahari Sebagian (GMS). Berbeda halnya dengan GMT dan GMC, GMS terjadi saat Bulan hanya berdekatan saja dengan salah satu titik nodalnya di saat konjungsi Bulan-Matahari. Sehingga cakram Bulan tidak sepenuhnya menutupi cakram Matahari pada puncak gerhana. Dalam konfigurasi ini cahaya Matahari yang terblokir Bulan hanya akan membentuk satu bayangan, yaitu penumbra. Karenanya dimanapun berada di lokasi penumbra, hanya akan terlihat gerhana sebagian.

Data Perhitungan Gerhana

Perhitungan astronomi menunjukkan wilayah Gerhana Matahari Cincin 29 Rabiul Akhir 1441 H akan meingkupi hampir seluruh benua Asia, sebagian kecil benua Afrika dan sebagian besar benua Australia. Zona antumbranya melintasi daratan Arab Saudi di barat melintasi Qatar, Uni Emirat Arab, India, Sri Lanka, Indonesia, Malaysia, Singapura dan Filipina. Indonesia menjadi negara sentral dalam Gerhana Matahari ini karena ditempati titik greatest eclipse, titik yang memiliki durasi anularitas (durasi Matahari nampak sebagai cincin bercahaya) terpanjang. Titik tersebut terletak di Kab. Siak (propinsi Riau) dengan durasi annularitas 3 menit 40 detik.

Gambar 3. Wilayah Gerhana Matahari Cincin 29 Rabiul Akhir 1441 H di Indonesia. Perhatikan zona antumbra yang disebut Zona Cincin. Sisa wilayah Indonesia yang ada di luar Zona Cincin adalah zona penumbra dan mengalami gerhana sebagian. Garis-garis menunjukkan titik-titik yang mengalami magnitudo gerhana yang sama (dinyatakan dalam persen). Sumber: Sudibyo, 2019.

Selain Kab. Siak, zona umbra Gerhana Matahari ini melintasi sejumlah ibukota kabupaten/kota di Indonesia yang tersebar ke dalam tujuh propinsi. Di propinsi Aceh, zona umbra melewati kota Sinabang (Kab. Simeulue) dan Singkil (Kab. Aceh Singkil). Di propinsi Sumatra Utara, zona umbra melintasi Kota Sibolga, Pandan (Kab. Tapanuli Tengah), Tarutung (Kab. Tapanuli Utara), Sipirok (Kab. Tapanuli Selatan), Panyambungan (Kab. Mandailing Natal),Kota Pinang (Kab. Labuhanbatu Selatan) dan Kota Padang Sidempuan. Di propinsi Riau, selain Siak Sri Indrapura (Kab. Siak) zona umbra juga melewati Pasir Pengaraian (Kab. Rokan Hulu), sebagian Kota Dumai dan sebagian Kota Pekanbaru. Bagi propinsi Kepulauan Riau, zona umbra melewati Kota Batam, Kota Kijang (Kab. Bintan), Tanjung Balai Karimun (Kab. Karimun) dan Kota Tanjung Pinang (ibukota propinsi).

Untuk propinsi Kalimantan Barat, zona umbra melintasi Kota Singkawang, Bengkayang (Kab. Bengkayang), Mempawah (Kab. Mempawah) dan Sambas (Kab. Sambas). Sedangkan di propinsi Kalimantan Timur, zona umbra melewati Berau (Kab. Berau). Dan di propinsi Kalimantan Utara zona umbra melintasi Kota Tanjung Selor (ibukota propinsi). Sisa wilayah Indonesia lainnya tercakup ke dalam Zona Penumbra sehingga hanya akan menyaksikan gerhana sebagian dengan magnitudo gerhana bergantung kepada lokasi masing–masing.

Dari semua tempat tersebut, durasi Gerhana Matahari terpanjang terletak pada kota yang berdekatan dengan titik greatest eclipse, yakni 3 jam 52 menit di Kota Tanjung Pinang dan Siak Sri Indrapura. Sedangkan durasi Gerhana Matahari terpendek terjadi di tempat yang memiliki magnitudo gerhana terkecil, yakni di Merauke (Kab. Merauke propinsi Papua) yang lamanya hanya 2 jam 12 menit. Bagi pulau Jawa, magnitudo gerhana bervariasi mulai dari 68,8 % (durasi 3 jam 24 menit) di Blambangan hingga 79,4 % (durasi 3 jam 41 menit) di Merak (propinsi Banten).

Melihat Gerhana

Dibanding peristiwa Gerhana Bulan, kesempatan mengalami Gerhana Matahari cukup langka. Gerhana Matahari Cincin terakhir dengan zona umbra yang melintasi sebagian besar Indonesia terjadi pada Gerhana Matahari Cincin 29 Januari 2009. Dan setelah itu Gerhana Matahari Cincin serupa baru akan terjadi lagi dalam Gerhana Matahari Cincin 21 Mei 2031 yang akan datang. Kejarangan ini cukup berbeda dibanding peristiwa Gerhana Bulan Total yang lebih sering terjadi.

Beberapa Gerhana Matahari yang nampak sebagai gerhana sebagian memang singgah di Indonesia di antara tahun 2009 hingga 2019 TU ini. Namun tak semuanya memiliki konfigurasi menguntungkan guna diamati. Misalnya Gerhana Matahari Cincin 15 Januari 2010, tak satupun Indonesia yang berada pada zona umbra sementara zona penumbra hanya meliputi pulau Sumatra, Kalimantan, Jawa (sebagian) dan Sulawesi (sebagian). Berikutnya Gerhana Matahari Cincin 10 Mei 2013 yang juga tak menyertakan satupun bagian Indonesia dalam zona umbranya, meski hampir seluruh Indonesia berkesempatan dalam zona penumbra. Namun dengan gerhana terjadi tepat pada saat Matahari terbit, maka upaya mengamatinya juga sulit. Demikian halnya Gerhana Matahari Sebagian 29 April 2014, meski terjadi di tengah hari namun magnitudo gerhananya di Indonesia sangat kecil. Hanya sebagian pulau Jawa dan kepulauan Nusa Tenggara saja yang masuk ke dalam zona penumbra.

Sah–sah saja bila ingin berpartisipasi langsung dalam gerhana dan mengabadikannya dengan kamera. Namun beberapa hal yang harus digarisbawahi. Pada dasarnya kita dilarang menatap langsung ke Matahari, juga mengarahkan kamera secara langsung. Selain intensitas sinarnya begitu besar hingga terlalu benderang menyilaukan, salah satu gelombang elektromagnetik berenergi tinggi yang dipancarkan adalah berkas sinar ultraungu. Dengan tingginya energinya, sinar ultraungu bisa menyebabkan perubahan kimia pada sel–sel retina apabila terpapar terlalu lama. Pada dasarnya menatap Matahari terlalu lama sama merusaknya dengan melihat pengelasan las listrik tanpa pelindung mata sama sekali. Gangguan penglihatan bisa terjadi.

Dalam situasi normal, mata kita memiliki respon spontan untuk menyipit dan mengerjap saat menatap Matahari. Inilah alarm kewaspadaan sekaligus pengaman mata kita. Namun pada saat Gerhana Matahari, khususnya dengan persentase penutupan Matahari yang besar, situasi unik terjadi. Meredupnya Matahari sepanjang durasi gerhana akan membuat langit lebih temaram. Alarm kewaspadaan tubuh pun mengendor. Kini Matahari jadi lebih enak dipandang tanpa harus banyak menyipitkan mata. Pada saat yang sama, temaramnya langit juga membuat mata kita meresponnya dengan membuka pupil lebih lebar untuk memungkinkan lebih banyak sinar yang masuk. Sehingga kualitas penglihatan tetap terjaga. Kombinasi dua hal ini berpotensi membuat lebih banyak sinar ultraungu Matahari yang masuk ke bola mata dibanding normal. Disinilah bahaya itu muncul.

Bagaimana cara melihat Gerhana Matahari yang aman? Pada dasarnya Matahari cukup aman untuk dipandang apabila intensitas sinarnya telah diperlemah hingga minimal 50.000 kali lipat dari semula sebelum memasuki mata kita. Melihat Matahari dengan pantulan sinarnya melalui permukaan air yang tenang sama sekali tak disarankan. Sebab intensitas sinar hasil pemantulan hanyalah diperlemah 50 kali dari semula. Dengan dasar tersebut maka perlu adanya filter (penapis) yang tepat di antara mata kita dan Matahari. Filter yang dianjurkan adalah yang memperlemah sinar Matahari hingga 100.000 kali dari semula (0,001 %), yang teknisnya dikenal sebagai filter ND 5 (neutral density 5). Filter semacam ini secara komersial dipasarkan sebagai kacamata Matahari.

Bagaimana jika tak ada filter ND 5? Kita pun tetap bisa mengamati Gerhana Matahari lewat filter-buatan-sendiri sendiri. Cari negatif film hitam putih yang telah ‘terbakar’ (dipapar sinar Matahari lalu dicuci di studio foto). Potong–potong menjadi 3 helai lalu rekatkan/tumpuk menjadi satu. Agar lebih mudah dipegang, tempatkanlah dalam misalnya kertas karton yang telah dilubangi demikian rupa agar mirip kacamata. Inilah filter Matahari–buatan–sendiri yang tak kalah ampuhnya dengan filter komersial. Bisa juga menggunakan kacamata las bernomor 14. Dengan piranti semacam ini maka mata (atau kamera) anda akan tetap leluasa mengamati Gerhana Matahari tanpa khawatir cedera (atau rusak).

Shalat Gerhana

Gambar 4. Kontur waktu tengah (waktu puncak) Gerhana Matahari Cincin 29 Rabiul Akhir 1441 H di Indonesia. Setiap garis menghubungkan titik-titik yang mengalami puncak gerhana pada saat yang sama, dinyatakan dalam waktu Indonesia bagian barat (WIB). Sumber: Sudibyo, 2019.

Bagi Umat Islam, sangat dianjurkan menyelenggarakan shalat Gerhana Matahari tatkala peristiwa langit yang langka ini terjadi. Tulisan ini tak hendak menyentuh tata cara pelaksanaan shalat gerhana atau contoh khutbah gerhana. Namun hanya mengupas kapan waktunya.

Beberapa kalangan mempertanyakan (sekaligus mempersoalkan) mengapa peristiwa Gerhana Matahari Cincin 29 Rabiul Akhir 1441 H disambut dengan demikian gegap gempita? Mengapa tak mendirikan shalat gerhana saja? Mengapa justru menonjolkan pengamatan?

Sejatinya tak perlu ada dikotomi seperti itu. Durasi Gerhana Matahari Cincin 29 Rabiul Akhir 1441 H di Indonesia cukup lama dengan durasi terpanjang 3 jam 52 menit dan durasi terpendek 2 jam 12 menit. Shalat Gerhana Matahari memang ditegakkan pada saat gerhana sudah terjadi. Sekarang mari kita lihat lamanya waktu yang dibutuhkan guna mendirikan shalat Gerhana Matahari. Shalat dua raka’at itu umumnya bisa dilaksanakan dalam tempo 10 menit. Kemudian khutbah gerhana sesudahnya juga seyogyanya berlaku 10 menit (tidak lebih panjang, sesuai dengan yang disunnahkan). Dengan demikian secara keseluruhan pelaksanaan shalat gerhana membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Katakanlah maksimal 30 menit.

Nah dengan waktu maksimum 30 menit maka di daerah yang memiliki durasi terpanjang gerhana masih menyisakan waktu mendekati 3,5 jam sementara di daerah dengan durasi gerhana terpendek pun masih menyisakan waktu mendekati 1,75 jam bukan? Mengapa sisa waktu tersebut tidak dimanfaatkan untuk aneka kegiatan pendukung, mulai dari kegiatan ilmiah hingga kesenian? Terlebih Gerhana Matahari adalah salah satu ayat kauniyah yang perlu diajarkan kepada anak cucu kita. Dalam perpsektif ayat qauliyah sekalipun,bukankah terdapat sekurangnya 750 ayat al–Qur’an yang membahas dan mendeskripsikan beragam fenomena dalam jagat raya seperti dipaparkan oleh Syeh Jauhari Thanthawi sekitar tujuh dasawarsa silam?

Tanpa Perang Dingin Takkan Ada Pendaratan Manusia di Bulan

Tahun ini, tepatnya pada 21 Juli 2019 TU (Tarikh Umum) lalu, kita menyongsong setengah abad pendaratan manusia di Bulan dalam dunia yang sudah demikian berubah dan respon yang campur–aduk. Sebagian dari kita terkagum–kagum akan pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi yang menjadi tulang punggung mksi antariksa beresiko tersebut, yang dalam beberapa hal terlalu primitif untuk ukuran masakini. Misalnya, sistem komputer masa itu bertumpu pada prosesor yang selambat siput apabila dibandingkan yang ditanam pada gawai–gawai pintar masakini. Pun kameranya, yang selain lebih lebih berat juga jauh lebih kompleks dibanding kamera berkeping elektronik modern.

Sebaliknya sebagian lainnya mencibir, mencoba denial dan menganggapnya sekedar konspirasi. Pun di Indonesia, negeri yang baru saja melewati tahap demi tahap pemilihan umum 2019, kegiatan elektoral tingkat nasional yang penuh dengan gelimang hoaks. Cacat fotografi di Bulan, besarnya radiasi di sabuk van–Allen hingga kenapa tiada lagi astronot yang mendarat di sana meski sudah berlalu setengah abad lamanya kembali diperbincangkan.

Gambar 1. Pemandangan langka saat roket raksasa Saturnus 5 saat mulai mengangkasa dari landasan peluncuran no. 39A di pusat antariksa Kennedy, Tanjung Canaveral, Florida (Amerika Serikat) pada 16 Juli 1969 TU, diabadikan dari menara peluncuran. Bagian paling atas adalah menara penyelamat, tersambung langsung dengan modul komando wantariksa Apollo 11. Dibawahnya terdapat modul layanan yang berwarna keperakan. Sementara modul pendarat Bulan tersimpan aman dalam sungkup pelindung berbentuk kerucut terpancung, tepat di bawah modul layanan. Sumber: NASA, 1969.

Jarang sekali di antara kita yang mencoba menarik benang merah antara program pendaratan manusia di Bulan dengan dinamika Perang Dingin. Padahal tanpa berkecamuknya Perang Dingin, peristiwa pendaratan manusia di Bulan boleh jadi takkan pernah terjadi hingga masakini. Setidaknya hingga berakhirnya abad ke-20 TU.

Perang Dingin merupakan peningkatan tensi geopolitik yang membentuk perang urat syaraf modern dan mengharu–biru umat manusia sejak usainya Perang Dunia 2 hingga empat dasawarsa kemudian kemudian. Tepatnya sejak 1947 TU hingga tercapainya perjanjian Malta di tahun 1991 TU. Itulah masa tatkala dunia seakan dipaksa memilih untuk berkubu pada salah satu dari dua kekuatan adikuasa. Yaitu blok kapitalis di bawah pimpinan Amerika Serikat atau blok komunis yang digawangi Uni Soviet. Itulah pula rentang masa manakala aneka perseteruan bersenjata berlabel proxy war di antara kedua blok meletus. Mulai dari perang Korea, perang Arab Israel yang berbabak–babak, perang Vietnam, perang sipil Kamboja hingga transisi Orde Lama menuju Orde Baru yang berkuah darah di Indonesia.

Ketertinggalan

Perang dingin juga menjadi masa kala perlombaan senjata didorong jauh menjangkau titik paling ekstrim. Generasi kakek–nenek kita dan kedua orang tua kita menjadi saksi mata betapa kapal–kapal perang menjadi kian tambun yang berdaya gempur kian jauh, langit yang kian riuh oleh lesatan aneka pesawat tempur dan pengebom era jet dan pembangunan senjata–senjata mutakhir berkekuatan dahsyat menggentarkan seperti senjata nuklir. Dan perlombaan antariksa dimana pendaratan manusia di Bulan termasuk didalamnya, adalah turunan langsung dari perlombaan senjata.

Kala John F Kennedy menduduki tahta kepresidenan Amerika Serikat, adikuasa itu nyaris sepenuhnya tertinggal dalam penguasaan antariksa dibandingkan Uni Soviet. Negeri tirai besi, demikian julukan Uni Soviet kala itu, unggul dalam segala hal. Mereka lebih dulu meluncurkan satelit buatan pertama (Sputnik–1), meluncurkan makhluk hidup pertama (anjing bernama Laika), mengorbitkan manusia pertama ke langit (kosmonot Yuri Gagarin) dan bahkan menempatkan perempuan pertama ke orbit (kosmonot Valentina Tereshkova).

Gambar 2. Roket Soyuz-FG saat mulai lepas landas dari Kosmodrom Baikonur (Kazakhstan) pada 18 September 2006 TU mendorong wantariksa Soyuz TMA di hidungnya ke stasiun antariksa ISS. Kecuali sejumlah modifikasi di bagian atas, bentuk dasar roket ini diturunkan dari R-7 Semyorka, rudal balistik antarbenua operasional pertama milik Uni Soviet. Sumber: NASA, 2006.

Kelak mereka pun unggul dalam melakukan perjalanan antariksa pertama (kosmonot Alexei Leonov), mengirimkan wantariksa (wahana antariksa) pendarat pertama ke Bulan dengan selamat (Luna–9) dan mengirim wantariksa pengorbit Bulan pertama yang bekerja baik (Luna–10). Sebaliknya Amerika Serikat terseok–seok dan hanya unggul dalam hal fotografi Bumi pertama dari langit (Explorer 6) serta peluncuran teleskop landas–antariksa pertama (Orbital Solar Observatory).

Kennedy juga melihat Amerika Serikat tertinggal dalam kancah penguasaan rudal balistik antarbenua (ICBM/inter continental ballistic missile), jenis senjata roket baru berhulu ledak nuklir yang berkekuatan menggentarkan. Baik di Amerika Serikat maupun Uni Soviet, pengembangan rudal balistik antarbenua merupakan turunan senjata V-2/A-4 yang dibangun Jerman di masa Perang Dunia 2. Namun Uni Soviet melangkah lebih maju meski mereka tak memboyong insinyur-insinyur top Jerman pascaperang sebagaimana yang dilakukan Amerika Serikat. Analisis badan–badan intelejen menunjukkan hingga tahun 1963 TU Uni Soviet akan memiliki 1.500 butir ICBM, jauh melampaui Amerika Serikat yang diperkirakan baru akan sanggup membangun 130 ICBM saja.

Uni Soviet telah mendemonstrasikan kemampuannya dalam membangun R-7 Semyorka (SS-6 Sapwood), rudal balistik antarbenua operasional pertama di dunia. Awalnya R-7 mampu menghantam sasaran sejauh 6.000 km saat uji terbang di bulan Agustus 1957. Setahun kemudian Soviet bahkan mampu meningkatkan kemampuannya sehingga bisa menjangkau jarak 13.000 km. Soviet pun bereksperimen lebih lanjut dengan memodifikasi R-7 sebagai kuda beban pendorong Sputnik–1 dan wantariksa berikutnya ke orbit. Turunan teknologi rudal balistik R-7 inilah yang tetap dipergunakan hingga saat ini sebagai keluarga roket Soyuz yang mencetak rekor sebagai roket yang paling banyak diluncurkan, yakni lebih dari 1.840 peluncuran sejak 1966 TU. Roket Soyuz sekaligus merupakan roket yang paling andal dan termurah, khususnya sebelum tibanya era roket Falcon 9 dari SpaceX.

Keunggulan dalam hal penguasaan teknologi dan jumlah rudal balistik antarbenua tak sekedar mendemonstrasikan superioritas Soviet. Itu juga menciptakan kekhawatiran ketidakseimbangan kekuatan militer, yang secara langsung mengancam kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya. Perasaan inferior itu tak hanya menjangkiti pucuk pimpinan Amerika Serikat, namun juga meluas hingga ke lapisan–lapisan masyarakat. Dan Kennedy ingin membalikkan situasi itu.

Gambar 3. SLBM, varian rudal balistik antarbenua yang diluncurkan dari kapal selam. Peluncuran rudal Trident yang berdaya jangkau 7.400 km ini adalah bagian dari ujicoba peluncuran 9 Oktober 1984 TU. Rudal diluncurkan dari kapal selam nuklir SSBN 658 Mariano G Vallejo milik Angkatan Laut Amerika Serikat. Sumber: US Navy, 1984.

Pertimbangan geopolitik dan strategis militer itulah yang menjadi landasan Kennedy menetapkan program pendaratan manusia di Bulan sebagai salah satu tujuan nasional Amerika Serikat yang baru. Orang Amerika Serikat harus mendarat di Bulan dan kembali lagi ke Bumi dengan selamat sebelum dekade 1960–an Tarikh Umum berakhir. Begitu tekatnya, berapapun biayanya. Program penerbangan antariksa Amerika Serikat pun bertransformasi dari sekedar upaya ala kadarnya berbumbu persaingan antar angkatan dalam tubuh militer menjadi sebuah usaha tersistematis dan massif di bawah administrasi sipil baru bernama NASA dengan tujuan sangat jelas : Bulan.

Program Apollo

Tembakan senapan runduk menutup usia Kennedy secara tragis di jalanan kota Dallas, Texas, pada 22 November 1963 TU. Namun bangunan dasar penerbangan antariksa Amerika Serikat tak berubah meski presidennya silih berganti. Lewat Program Ranger (1961–1965) yang setengah babak–belur, Amerika Serikat mendapatkan pelajaran berharga dalam mengorganisasi pengiriman wantariksa tak berawak ke Bulan. Program Surveyor (1966–1968) menumbuhkan dan melipatgandakan rasa percaya diri, dimana wantariksa tak hanya sekedar memotret namun juga memetakan sebagian wajah Bulan secara sistematis. Baik Program Ranger maupun Program Surveyor meletakkan anak–anak tangga yang dibutuhkan bagi Program Apollo, payung bagi pendaratan manusia Amerika Serikat di Bulan.



Gambar 4. Sebagian besar astronot Program Apollo dalam kesempatan reuni yang langka di NASA Johnson Space Center, Houston (Amerika Serikat) pada 21 Agustus 1978 TU menjelang paparan program antariksa ulang-alik Amerika Serikat. Astronot-astronot yang mendarat di Bulan dilabeli dengan angka merah, sementara yang mengorbit Bulan ditandai dengan angka kuning. Sumber : NASA, 1978.

Neil Armstrong dan Edwin Aldrin memang menjadi dua orang pertama yang menapakkan kaki di Bulan. Akan tetapi tak hanya mereka saja yang pernah berkeliaran di wajah sang candra. Secara keseluruhan terdapat dua belas orang yang pernah mendarat dan mengeksplorasi Bulan. Empat diantaranya masih hidup hingga saat ini. Sebaliknya juga ada dua belas orang pula yang pernah meninggalkan orbit Bumi guna mengorbit sang candra, dengan empat diantaranya telah berpulang.

Di balik langkah–langkah ke–24 orang tersebut, terhampar upaya pengerahan sumber daya manusia dan finansial dalam skala raksasa yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dan belum pernah terulang lagi hingga masakini.

Fisika pendaratan manusia di Bulan dapat disederhanakan sebagai upaya memacu kecepatan sampai hampir melepaskan diri dari pengaruh gravitasi Bumi sembari mengarah ke kedudukan Bulan. Upaya tersebut akan mewujud dalam sebentuk orbit sangat lonjong (ellips) dengan titik terjauh dalam pengaruh kuat gravitasi Bulan. Selanjutnya giliran memperlambat kecepatan hingga bisa memasuki orbit Bulan dan lantas mendarat di paras Bulan dengan lembut.

Dalam praktiknya fisika pendaratan manusia di Bulan menyediakan tiga metode, yakni metode pendaratan langsung, metode perakitan di orbit Bumi dan metode perakitan di orbit Bulan. Metode pendaratan langsung bisa mengirimkan wantariksa berawak tiga astronot langsung ke permukaan Bulan dengan roket berkekuatan tinggi. Namun roket yang dibutuhkan bakal sangat besar. NASA pernah menyiapkan konsep roket Nova, yang diproyeksikan mampu mengangkut 74 ton muatan ke permukaan Bulan. Akan tetapi dengan bobot diperhtungkan hampir 4.500 ton saat peluncuran, Nova dipandang tidak layak secara teknis dan ongkos pembangunannya bakal sangat mahal.

Metode perakitan di orbit Bumi (EOR/earth orbit rendezvous) dipandang lebih murah, tetapi juga lebih kompleks. Pada dasarnya metode ini merupakan variasi dari metode pendaratan langsung, dimana komponen-komponen wantariksanya diluncurkan satu persatu ke orbit rendah Bumi untuk kemudian digandengkan satu dengan yang lain. Peluncuran tambahan harus dilakukan pula guna mengisi bahan bakar roket transfer yang bakal mendorong wantariksa yang sudah tergabung itu ke orbit Bulan. NASA memperhitungkan dibutuhkan 10 hingga 15 peluncuran dengan menggunakan roket Saturnus 1 yang sedang dibangun dan memiliki kapasitas angkut 9 ton ke orbit rendah.

Metode ini tidak menjadi pilihan, selain karena dipandang terlalu kompleks, juga ada kekhawatiran akan penguasaan teknologi penggandengan di langit (orbital rendezvous). Meski kekhawatiran terakhir itu terbukti tak beralasan setelah NASA mengujicobanya lewat misi antariksa berawak di bawah tajuk Program Gemini dengan hasil memuaskan.

Pada akhirnya metode ketiga-lah, yakni perakitan di orbit Bulan (LOR/lunar orbit rendezvous) yang dipilih. Selain yang termurah, metode ini juga hanya membutuhkan satu kali peluncuran roket sehingga jauh lebih efisien. Dengan metode ini pula diperhitungkan impian Kennedy dapat dilaksanakan sebelum dasawarsa 1960-an Tarikh Umum berakhir dengan tenggat waktu yang lebih rasional.

Lewat metode ini maka wantariksa Bulan terbagi atas modul komando, modul layanan dan modul pendarat. Modul pendaratnya dapat dibuat lebih kecil dan dirancang hanya beroperasi di lingkungan bergravitasi rendah seperti Bulan. Ketiganya diluncurkan secara bersama-sama dalam satu roket. Kala tahap transfer ke Bulan dimulai, ketiga modul itu pun digandengkan membuat ketiga astronot memiliki ruang gerak lebih leluasa selama 3 hari mengarungi langit saat berangkat ke Bulan.

Baru setibanya di orbit Bulan, modul pendarat memisahkan diri dan melaksanakan tugas pendaratan di Bulan dengan dua astronot. Usai bertugas, sebagian modul ini (khususnya bagian atas) akan mengangkasa kembali untuk bergandengan dengan modul komando. Begitu kedua astronot dan sampel-sampel batuan/tanah Bulan telah dipindahkan ke modul komando, sisa modul pendarat pun dilepaskan di orbit Bulan. Hanya modul komando inilah yang akhirnya kembali ke Bumi sementara modul layanan dilepaskan di orbit Bumi.

Gambar 5. Sketsa sederhana yang menggambarkan perbedaan besar ukuran wantariksa antara metode pendaratan langsung dengan metode perakitan di orbit Bulan. Dalam metode pendaratan langsung, modul komando dan modul layanan harus didaratkan di Bulan sehingga membutuhkan bahan bakar yang sangat banyak. Konsekuensinya roket pendorongnya harus sangat berat. Sebaliknya dalam metode perakitan di orbit Bulan, hanya modul pendarat saja yang akan mendarat di Bulan. Sehingga roket pendorongnya dapat lebih kecil. Sumber: NASA, 1979.

Sangat Mahal

Pilihan terhadap metode perakitan di orbit Bulan membuat NASA memutuskan membangun roket raksasa Saturnus 5, roket terbesar dan terkuat yang pernah dibuat manusia hingga masa kini. Sebagai roket bertingkat tiga yang menjulang setinggi 111 meter dan bobot 2.900 ton, Saturnus 5 memiliki kapasitas angkut 140 ton ke orbit rendah Bumi (ketinggian 170 km). Kapasitas tersebut mencukupi guna mendorong gabungan modul pendarat Bulan, modul layanan dan modul komando berbobot 30 ton ditambah roket transfer yang bobotnya 90 ton.

Daya dorong akumulatif 3.600 ton timbul kala kelima mesin roket jumbo di tingkat pertamanya dinyalakan. Gabungan kelima mesin itu sungguh rakus, menyedot tak kurang dari 12,5 ton campuran kerosen dan pengoksid dalam tiap detiknya. Daya dorong yang luar biasa itu membuat sensor–sensor pengukur gempa bumi yang berada di segenap daratan Amerika Serikat riuh bergetar manakala roket raksasa ini mulai mengangkasa dari landasan nomor 39A di kompleks peluncuran Tanjung Canaveral, Florida.

Meski telah memilih metode yang paling murah dan paling efisien, begitupun Program Apollo membuat Amerika Serikat harus merogoh koceknya dalam-dalam. Sempat terbelalak menatap usulan anggaran hampir US $ 90 milyar (berdasarkan nilai mata uang 2018) diajukan ke meja kerjanya di Gedung Putih, Kennedy lalu menandatanganinya tanpa banyak cingcong. Kelak anggaran program pendaratan manusia di Bulan membengkak hingga US $ 158 milyar. Itu belum terhitung anggaran Program Ranger (US $ 1 milyar) dan Program Surveyor (US $ 3 milyar). Bayangkan saja, untuk setiap peluncuran roket raksasa Saturnus 5 dibutuhkan dana US $ 1,16 milyar. Sementara Program Apollo meluncurkan 13 roket Saturnus 5 sepanjang periode 1967 hingga 1975 TU.

Gambar 6. Modul pendarat Bulan dari Apollo 11, beberapa jam setelah pendaratan berlangsung, diabadikan oleh Neil Armstrong. Nampak Edwin Aldrin sedang membuka ruang bagasi guna mengeluarkan instrumen ilmiah yang hendak dipasang di Bulan. Sumber: NASA, 1969.

Gambar 6. Modul pendarat Bulan dari Apollo 11, beberapa jam setelah pendaratan berlangsung, diabadikan oleh Neil Armstrong. Nampak Edwin Aldrin sedang membuka ruang bagasi guna mengeluarkan instrumen ilmiah yang hendak dipasang di Bulan. Sumber: NASA, 1969.

Jika kita rupiahkan, anggaran Program Apollo setara dengan Rp 2.200 trilyun (berdasarkan kurs 2018). Sehingga ongkos tiket setiap astronot yang terbang ke Bulan saat itu mencapai Rp 91 trilyun.

Selain dana luar biasa besar, Amerika Serikat juga mengerahkan sumber daya manusia terbaiknya dalam skala yang belum pernah ada. Pada puncaknya Program Apollo mempekerjakan 400.000 orang yang melibatkan 20.000 firma industri dan universitas di segenap penjuru. Di bawah pimpinan Wernher von Braun, pionir peroketan kelahiran Jerman yang bermigrasi ke Amerika Serikat di akhir era Perang Dunia 2, semua itu ditujukan membangun roket raksasa Saturnus 5 dengan modul pendarat, modul layanan dan modul komandonya beserta sistem komunikasi jarak jauh Bumi dan Bulan.

Mobil Bulan

Peluncuran Apollo 11 menyedot perhatian yang sangat besar. Lebih dari sejuta orang berjejalan di tepi pantai dan tepi jalan raya pada jarak yang aman dari landasan nomor 39A. Tokoh-tokoh penting sipil dan militer, termasuk para menteri, gubernur negara bagian, beberapa walikota, duta-dutabesar negara tetangga dan anggota Kongres hadir di panggung kehormatan menyaksikan peluncuran tersebut. Sekitar 25 juta warga Amerika Serikat menyaksikannya lewat siaran langsung stasiun-stasiun televisi. Dunia kian memperhatikannya manakala Armstrong menapakkan kaki di Bulan, disusul Edwin Aldrin. Meski hanya 21,5 jam di paras Bulan dengan hanya 2,5 jam diantaranya yang benar-benar digunakan untuk mengekplorasi wajah sang candra.

Penerbangan Apollo berikutnya tak pernah meraih perhatian sebesar yang diterima Apollo 11. Histeria massa tak terlihat dalam penerbangan Apollo 12 (14 – 24 November 1969 TU), meskipun peluncurannya jauh lebih dramatis (dihempas angin kencang 152 knot dan 2 kali disambar petir) serta mencatat prestasi baru sebagai pendaratan presisi pertama. Penerbangan Apollo 13 (11-17 April 1970 TU) sempat hendak bernasib serupa, sebelum tragedi meledaknya tanki Oksigen yang melumpuhkan total modul layanan menyedot perhatian besar. Misi antariksa berawak ke Bulan pun berubah menjadi misi penyelamatan para astronot. Dan pilihan metode perakitan di orbit Bulan menjadi salah satu kunci penyelamat. Modul pendarat yang nganggur memungkinkan para astronot memodifikasinya sebagai sekoci penyelamat sepanjang sisa misi antariksa yang nyaris berubah bencana itu.

Misi Apollo 14 dan misi-misi antariksa berawak ke Bulan berikutnya (hingga yang terakhir Apollo 17) dipandang sebagai rutinitas NASA belaka. Apollo 14 (31 Januari – 9 Februari 1971 TU) masih melanjutkan eksplorasi Bulan dengan berjalan kaki. Mulai misi Apollo 15 (26 Juli – 7 Agustus 1971 TU), NASA memanfaatkan mobil Bulan sebagai bagian eksplorasi. Mobil Bulan memungkinkan astronot menjelajah lebih jauh ketimbang berjalan kaki. Pada misi Apollo 15, mobil Bulan menempuh jarak hinga 27,8 km. Pada misi Apollo 16 (16-27 April 1972 TU), mobil Bulan menempuh jarak sedikit lebih pendek yakni 27,1 km. Dan pada misi yang terakhir yakni Apollo 17 (7 – 19 Desember 1972 TU), mobil Bulan menempuh jarak yang terjauh hingga 35,74 km. Apollo 17 sekaligus menjadi satu-satunya misi pendaratan manusia di Bulan yang membawa seorang astronot sipil. Yaitu ahli kebumian bernama Harrison Schmitt.

Mengalahkan Soviet

Dipandang dari perspektif politik dan strategi militer, program pendaratan manusia di Bulan pada dasarnya telah mencapai kulminasinya pada misi Apollo 11. Imajinasi bahwa Amerika Serikat telah menang dalam balapan manusia menuju ke Bulan menguasai dunia masa itu. Selepas itu perhatian mulai menyurut dan penerbangan antariksa berawak ke Bulan dipandang mulai menjadi rutinitas, terkecuali pada misi Apollo 13. NASA sendiri telah merencanakan 10 misi pendaratan manusia di Bulan, namun mereka pun mengantisipasi kemungkinan pemotongan anggaran.

Gambar 7. Perbandingan model roket Saturnus 5 milik Amerika Serikat (kiri) dengan roket N-1 milik Uni Soviet (kanan). 13 peluncuran roket Saturnus 5 berlangsung sukses meski dua diantaranya dihinggapi masalah teknis, sementara seluruh peluncuran roket N-1 berujung gagal. Sumber: Anonim, 2011.

Dan benarlah demikian. Di masa kepresidenan Nixon-lah nasib Program Apollo berakhir. Selain dihadapkan pada intensitas Perang Vietnam yang kian meningkat, kian mahal dan makin tak populer di dalam negeri, secara personal Nixon tak menyukai gemuruh penerbangan antariksa yang gemanya terlalu membahana layaknya Program Apollo. Nixon memang menyaksikan para astronot Amerika Serikat satu persatu mendarat di Bulan. Namun ia juga yang mengayunkan kapak pemotong anggaran NASA. Sehingga Program Apollo pun harus berakhir di Apollo 17 dengan Apollo 18 hingga Apollo 20 harus dibatalkan. Seolah meramalkan masa depan, Nixon berujar takkan lagi ada manusia yang mendarat di Bulan hingga abad ke-20 TU berakhir. Ia memang benar.

Nixon memang mengakhiri sebuah era yang dibiayai anggaran berskala raksasa dan ditenagai oleh sumber daya manusia yang tak kalah luar biasa. Sebuah era yang menjadi penanda bahwa Amerika Serikat telah mengungguli Uni Soviet dalam kancah eksplorasi manusia di Bulan. Tanpa tanding.

Di Uni Soviet, walaupun menampakkan kesan enggan berkompetisi sesungguhnya mereka diam–diam juga berupaya mendaratkan manusia di Bulan. Lewat dekrit Nikita Khruschev pada 1964 TU, negeri beruang merah itu memasang tahun 1967 TU sebagai tenggat waktu pendaratan kosmonotnya di Bulan. Tenggat itu lalu direvisi mundur setahun menjadi 1968. Namun dana yang terbatas, desain bangunan roket yang sangat kompleks, berpulangnya sang maestro Sergei Korolev (yang secakap von Braun) secara mendadak pada awal tahun 1966 dan gagalnya ujicoba penerbangan roket Bulannya secara berturut–turut membuat kosmonot Soviet tetap berkutat di titik nol. Tak pernah berhasil pergi ke Bulan.

Salah satu kegagalan yang menyesakkan terjadi hanya dua minggu jelang penerbangan Apollo 11. Roket N–1, sang raksasa bertingkat 5 dengan tinggi 105 meter dan bobot 2.750 ton yang dirancang bakal menjadi kuda beban Soviet ke Bulan, gagal terbang. Hanya 10 detik pasca lepas landas, manakala baru mencapai ketinggian 100 meter, mendadak 29 mesin roket tingkat pertamanya mati. Hanya tersisa sebuah mesin saja yang berfungsi normal. Akibatnya roket terberat kedua sedunia dengan daya dorong terbesar (4.600 ton) itu pun kembali mencium Bumi, meledak dan terbakar hebat selama berjam–jam kemudian hingga menghancurkan landasannya.

Gambar 8. Saat-saat roket raksasa N-1 mulai mengangkasa dari kosmodrom Baikonur, Kazakhstan (saat itu Uni Soviet). Kemungkinan dalam uji terbang yang kedua (3 Juli 1969 TU) atau yang ketiga (26 Juni 1971 TU). Sumber : Smithsonian, 2019.

Bencana ini menandai satu dari empat kegagalan ujicoba terbang roket N–1 selama kurun 1969 hingga 1972 TU. Setelah menyaksikan 12 astronot Amerika Serikat sukses mengeksplorasi Bulan, akhirnya Leonid Brezhnev sang supremo Soviet pasca Nikita memutuskan lempar handuk. Pada tahun 1974 TU ia menghentikan segenap upaya negara beruang merah itu untuk mengirim kosmonotnya ke Bulan. Dunia baru mengetahui semua cerita ini berbelas tahun kemudian, manakala Perang Dingin sudah berakhir dan Uni Soviet tepat di pintu keruntuhan.

Versi singkat artikel ini dipublikasikan di Kompas.com