Yogyakarta dan Kepungan Gunung-Gemunung Berapi Purba

Uap panas mengepul dari satu sudut di dusun Kayen desa Sampang, kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul (DIY) mulai Kamis pagi 15 Februari 2017 (TU) Tarikh Umum lalu. Hingga beberapa hari kemudian uap masih mengepul. Bersamanya menguar pula aroma Belerang yang khas. Khalayak setempat pun dibuat resah. Terlebih setelah salah satu penyebab potensial, yakni arus listrik melalui grounding yang bocor, telah dapat dikesampingkan mengingat saat aliran listrik ke rumah pak Trisno Wiyono dimatikan, uap panas itu tetap mengepul dari sudut pekarangannya.

Apalagi titik keluarnya uap panas tersebut tidak terlalu jauh dari Gunung Nglanggeran, kompleks gunung berapi purba yang kini menjadi obyek wisata. Tersebar cerita yang konon dari masa silam, bahwa kawah Gunung Nglanggeran pada masanya adalah berada di dusun itu. Maka saat saling dikait-kaitkan, mudah saja mendatangkan kesan bahwa kepulan uap tersebut ada hubungannya dengan Gunung Nglanggeran.

Gambar 1. Lokasi titik kepulan uap panas di dusun Kayen desa Sampang kecamatan Gedangsari, Gunungkidul. Uap tersebut keluar di dekat sudut bangunan di latar depan. Uap lantas disalurkan ke ketinggian dengan pipa logam, setelah pipa PVC yang digunakan sebelumnya rusak dan melengkung oleh panasnya uap. Sumber: Kabar Handayani, 2017.

Gambar 1. Lokasi titik kepulan uap panas di dusun Kayen desa Sampang kecamatan Gedangsari, Gunungkidul. Uap tersebut keluar di dekat sudut bangunan di latar depan. Uap lantas disalurkan ke ketinggian dengan pipa logam, setelah pipa PVC yang digunakan sebelumnya rusak dan melengkung oleh panasnya uap. Sumber: Kabar Handayani, 2017.

Apakah gunung berapi purba itu aktif lagi?

BPPTKG (Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknik Kebencanaan Geologi), lembaga yang berkedudukan di Yogyakarta dan berada di bawah payung Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral RI pun menerjunkan timnya ke desa Sampang. Tim ini sangat berkompeten mengingat tugas BPPTKG salah satunya adalah mengamati segenap perilaku Gunung Merapi, baik dalam kondisi normal maupun meletus. Pengukuran temperatur menunjukkan tepat di titik keluarnya uap, suhu mencapai 68º C.

Suhu ini tergolong tinggi sehingga mampu melengkungkan pipa PVC yang dipasang warga untuk menyalurkan uap hingga ke ketinggian tertentu. Sebalikya dalam radius 2 meter dari titik tersebut, suhu telah merosot drastis menjadi tinggal 30º C atau hampir sama dengan suhu rata-rata setempat. Sementara pengukuran gas menunjukkan adanya konsentrasi gas CO2 yang sedikit lebih besar dibanding normal, yakni mencapai 1 % (pada udara normal 0,3 %). Analisis lebih lanjut dikerjakan dalam laboratorium setelah tim mengambil sampel air hasil kondensasi uap tersebut.

Apakah sebuah gunung berapi purba dapat ‘bangun’ kembali setelah mati?

Tanpa mendahului kerja tim BPPTKG, dapat dikatakan bahwa peluang ‘bangun’ kembalinya sebuah gunung berapi purba adalah serupa dengan peluang hidupnya kembali seekor dinosaurus di masa kini (setelah mereka terbabat habis 65 juta tahun silam). Dengan kata lain, amat sangat kecil sehingga praktis bisa dikatakan mustahil. Gunung berapi purba pada dasarnya adalah fosil gunung berapi. Sebagai fosil, ia dapat disetarakan dengan fosil dinosaurus.

Dulu, dulu sekali nun jauh di masa silam, pada waktu berjuta hingga berpuluh juta tahun silam, gunung berapi purba itu adalah gunung berapi yang aktif. Tentu saat itu ia rajin meletus layaknya Gunung Merapi masa kini.Namun pada satu waktu, gunung berapi itu mati seiring usianya. terutama setelah pasokan magma dari dapur magmanya terputus total oleh sebab tertentu. Sehingga magma yang masih tersisa dalam diatrema (saluran magma utama)-nya pun kehilangan dorongan untuk ke atas. Apalagi keluar lewat kawah.

Perlahan-lahan sisa magma ini mulai membeku, membentuk batuan beku seperti granit atau diorit atau sejenisnya secara perlahan-lahan. Pada saat yang sama keseimbangan alamiah yang selama ini menopang tubuh gunung berapi itu dalam menjaga bentuknya, yakni antara pasokan magma yang menyeruak sebagai lava dengan kikisan air sebagai erosi, pun berantakan. Tinggal satu sisi yang terus bekerja, yakni yang secara perlahan-lahan menyayat, mengukir dan mengikis selapis demi selapis tubuh gunung.

Proses perusakan tubuh gunung itu terus berlangsung selama ratusan ribu hingga jutaan tahun kemudian. Sehingga sebagian besar tubuhnya pun habis dikikis. Yang masih nampak hanyalah bukit batuan beku keras eks-diatrema yang disebut leher vulkanik atau sumbat vulkanik. Dan sisa-sisa kakinya. Inilah fosil gunung berapi.

Gambar 2. Perbandingan penampang melintang antara gunung berapi aktif (atas) dengan gunung berapi purba. Penampang gunung berapi purba terbagi lagi menjadi gunung berapi purba yang tererosi dalam tingkat dewasa (tengah) dan yang tererosi tingkat lanjut (bawah). Jika hanya dilihat sekilas, maka sangat sulit untuk membedakan gunung berapi purba baik tingkat dewasa maupun lanjut dengan bukit-bukit non vulkanik pada umumnya. Sumber: Bronto, 2012.

Gambar 2. Perbandingan penampang melintang antara gunung berapi aktif (atas) dengan gunung berapi purba. Penampang gunung berapi purba terbagi lagi menjadi gunung berapi purba yang tererosi dalam tingkat dewasa (tengah) dan yang tererosi tingkat lanjut (bawah). Jika hanya dilihat sekilas, maka sangat sulit untuk membedakan gunung berapi purba baik tingkat dewasa maupun lanjut dengan bukit-bukit non vulkanik pada umumnya. Sumber: Bronto, 2012.

Gunung berapi purba jelas berbeda dengan gunung berapi tidur (dorman). Berbeda dengan gunung berapi purba, gunung berapi tidur tidaklah mati. Ia hanya tertidur panjang, namun masih tetap terhubung dengan dapur magmanya. Meski diatrema-nya umumnya tersumbat oleh magma sisa yang masih setengah plastis dan panas (meski beberapa bagian mulai membeku dan membatu). Perubahan dalam dapur magma (misalnya akibat guncangan gempa) akan membuat magma segar mengandung lebih banyak gas sehingga bertekanan sangat tinggi.

Maka sumbat diatrema pun bisa ditembus dan magma segar akan keluar sebagai lava yang penuh gas dari kawah. Inilah yang terjadi dalam letusan-letusan dahsyat gunung berapi, termasuk tiga peristiwa legendaris: Letusan Samalas-Rinjani 1257, Letusan Tambora 1815, Letusan Krakatau 1883. Pada umumnya sebuah gunung berapi dikatakan ‘tertidur’ jika letusan terakhirnya terjadi kurang dari 10.000 tahun terakhir. Terkecuali dalam kasus gunung-gemunung berapi super seperti Gunung Toba yang bisa tertidur jauh lebih lama lagi sebelum beraksi.

Sebaliknya gunung berapi purba sudah benar-benar putus hubungan dengan dapur magmanya. Andaikata jauh dibawahnya masih terdapat dapur magma, maka peluang bagi magma segar untuk bisa menyeruak ke paras Bumi telah tertutup oleh keberadaan sumbat sangat keras dan sangat panjang yang mengisi diatremanya. Bila dapur magmanya terletak di kedalaman 10 kilometer, maka sepanjang itu pulalah diatrema tersumbat total oleh batuan beku yang sangat keras.

Gunung Nglanggeran

Tidak jauh dari desa Sampang terdapat bukit-bukit yang berdinding terjal dan tersusun oleh batuan pejal. Bukit-bukit tersebut menempati area seluas 48 hektar yang berada di desa Nglanggeran, kecamatan Patuk (Gunungkidul). Inilah Gunung Nglanggeran. Bukit-bukit batu pejal itu sesungguhnya leher vulkanik. Ilmu kebumian menyebutnya tersusun oleh batuan beku terobosan (intrusi), karena sesungguhnya magma yang membentuk leher vulkanik ini tidak pernah tersingkap di paras Bumi kala dalam proses pembentukannya. Ia sepenuhnya mendingin hingga membeku di dalam tanah, tatkala segenap tubuh gunung ini masih ada.

Gambar 3. Rekonstruksi kasar bentuk tubuh Gunung Nglanggeran pada saat masih sebagai gunung berapi aktif, tanpa skala dan dianggap berbentuk kerucut sempurna dengan kawah di puncaknya. Lokasi kawah segaris lurus dengan kompleks Gunung Nglanggeran masakini. Pada masa aktifnya, sebagian tubuh gunung berapi ini berada di bawah paras air laut. Dibuat berdasarkan citra Google StreetView dari satu titik di desa Serut, kec. Gedangsari (Gunungkidul) yang terletak di sebelah utara Gunung Nglanggeran. Sumber: Sudibyo, 2017 dengan basis Google StreetView, 2017.

Gambar 3. Rekonstruksi kasar bentuk tubuh Gunung Nglanggeran pada saat masih sebagai gunung berapi aktif, tanpa skala dan dianggap berbentuk kerucut sempurna dengan kawah di puncaknya. Lokasi kawah segaris lurus dengan kompleks Gunung Nglanggeran masakini. Pada masa aktifnya, sebagian tubuh gunung berapi ini berada di bawah paras air laut. Dibuat berdasarkan citra Google StreetView dari satu titik di desa Serut, kec. Gedangsari (Gunungkidul) yang terletak di sebelah utara Gunung Nglanggeran. Sumber: Sudibyo, 2017 dengan basis Google StreetView, 2017.

Dimanakah letak kawah gunung berapi purba ini (atau setidaknya sisa kawahnya)? Pada umumnya kawah gunung berapi terletak di puncak gunung sekaligus menjadi muara dari diatrema. Mengingat bukit-bukit batu itu adalah leher vulkanik Nglanggeran, maka logikanya kawah gunung berapi purba tersebut ada di ujung atas leher vulkaniknya. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Sutikno Bronto (2009, 2010), vulkanolog legendaris Indonesia, bahwa sebagian besar bukit-bukit batu itu tersusun oleh aglomerat.

Aglomerat adalah batuan produk letusan gunung berapi yang banyak mengandung bom gunung berapi, yakni bongkahan batuan beku yang ukurannya besar. Saat sebuah gunung berapi meletus, bom gunung berapi akan dilontarkan kuat-kuat dari dalam lubang letusan atau kawah, lantas jatuh bebas di sekitar kawah dalam jarak yang tak jauh. Sisa-sisa bom gunung berapi Nglanggeran ditemukan berbentuk mirip buah salak, dengan bagian runcing di sebelah atas sementara bagian yang besar dan berat di sisi bawah.

Maka anggapan bahwa kawah gunung berapi purba Nglanggeran berada di desa Sampang, yang berjarak beberapa kilometer dari leher vulkanik Nglanggeran, menjadi kurang tepat. Memang pada saat Gunung Nglanggeran masih aktif dalam berpuluh juta tahun silam, area yang kini menjadi desa Sampang kemungkinan merupakan bagian dari tubuh gunung berapi itu. Namun area ini bukanlah bagian dari kawasan yang bersinggungan atau berdekatan dengan diatrema gunung berapi tersebut, dengan segala dinamikanya.

Pengukuran umur batuan beku menunjukkan Gunung Nglanggeran adalah gunung berapi aktif pada masa sekitar 58 juta tahun silam. Jika dikaitkan dengan sejarah geologi pulau Jawa, jelas Gunung Nglanggeran merupakan gunung berapi laut. Bagian kakinya berdiri di atas dasar Samudera Indonesia (Indian Ocean) dengan sebagian tubuhnya mungkin terbasuh permanen dalam air laut. Apakah puncaknya menyembul di atas paras laut dan menjadi sebuah pulau vulkanis? Kita tidak tahu. Namun yang jelas, dalam kurun 58 juta tahun terakhir Gunung Nglanggeran telah mati. Pergerakan tektonik seiring dorongan lempeng Australia yang oseanik lantas mendorongnya lebih ke utara, untuk kemudian terangkat dari dasar samudera seiring terbentuknya pulau Jawa dan akhirnya menyatu dengan kompleks Pegunungan Selatan di sisi selatan Jawadwipa.

Isu Gunung Nglanggeran aktif kembali sebenarnya bukan hal yang baru. Saat Gunung Merapi meletus besar dalam Letusan Merapi 2010 di bulan November 2010 TU, sejumlah orang yang bertempat tinggal di sekitar Gunung Nglanggeran mengaku merasa ada getaran dan mendengar suara gemuruh. Bahkan ada juga yang mengaku melihat kepulan asap dari bukit-bukit batu itu. Evaluasi lebih lanjut memperlihatkan getaran dan suara gemuruh itu sejatinya berasal dari Gunung Merapi, yang berjarak sekitar 40 kilometer dari Gunung Nglanggeran. Letusan Merapi 2010 itu memang luar biasa dan berbeda dengan letusan-letusan Merapi sebelumnya. Sehingga suara gemuruhnya pun terdengar hingga jarak yang cukup jauh, demikian halnya getaran-getaran gempa vulkaniknya.

Gambar 4. Bebatuan mirip pilar-pilar yang saling bertumpuk di ujung Tanjung Karangbata, Kebumen (Jawa Tengah). Bebatuan ini kemungkinan adalah bagian dari leher vulkanik Gunung Manganti, salah satu gunung berapi purba di Tanjung Karangbolong. Bebatuan khas semacam ini dinamakan kekar kolom dan acap dijumpai di lingkungan gunung berapi purba khususnya di eks-diatrema dan cabang-cabangnya. Diabadikan oleh geolog Bambang Mertani. Sumber: Mertani, 2013.

Gambar 4. Bebatuan mirip pilar-pilar yang saling bertumpuk di ujung Tanjung Karangbata, Kebumen (Jawa Tengah). Bebatuan ini kemungkinan adalah bagian dari leher vulkanik Gunung Manganti, salah satu gunung berapi purba di Tanjung Karangbolong. Bebatuan khas semacam ini dinamakan kekar kolom dan acap dijumpai di lingkungan gunung berapi purba khususnya di eks-diatrema dan cabang-cabangnya. Diabadikan oleh geolog Bambang Mertani. Sumber: Mertani, 2013.

Dalam kondisi Gunung Nglanggeran seperti sekarang ini, apakah ia bisa aktif lagi? Peluangnya sangat kecil sehingga secara teknis bisa dikatakan mustahil. Leher vulkanik Nglanggeran merupakan ujung yang kasatmata dari batuan beku pejal sangat panjang yang menyumbat total diatrema gunung berapi purba tersebut. Mustahil bagi magma segar untuk bisa menjebolnya. Apalagi sebagai fluida, magma juga lebih menyukai untuk menembus/melewati titik-titik yang lebih lemah di kerak Bumi. Ketimbang harus bersusah-payah membobol batuan beku pejal yang sangat panjang yang menyumbat total diatrema Gunung Nglanggeran, mengapa tidak mencari titik yang lebih lemah disekitarnya?

Dalam bahasa yang lebih sederhana, andaikata saya adalah magma segar nun jauh di bawah Nglanggeran (pada kedalaman misalnya 30 kilometer), maka ketimbang susah-susah harus berjuang membobol sumbat sangat keras dan panjang di Nglanggeran, mengapa saya tidak sedikit beringsut ke utara saja dan keluar lewat Gunung Merapi?

Kepungan Gunung Berapi Purba

Pada aras yang lain, diskusi seputar Gunung Nglanggeran terkini dengan kepulan uap panas didekatnya membuat kita mau tak mau membuat kita menekuri kembali bumi Yogyakarta pada khususnya dan pulau Jawa bagian selatan pada umumnya dengan lebih cermat. Terutama terkait gunung berapi purba. Luar biasanya, dari perspektif ilmu kebumian, Yogyakarta boleh dikata sebagai kota yang ‘dikepung’ oleh gunung-gemunung berapi purba !

Gambar 5. Salah satu sudut Gunung Watuadeg, yakni gunung berapi purba yang berjarak cukup dekat dengan kota Yogyakarta. Diabadikan dari tepi timur Sungai Opak, nampak singkapan lava bantal di sisi barat dasar sungai dengan tampilan khasnya sebagai bongkah-bongkah batuan beku kehitaman yang saling terhubung. Diabadikan oleh Nova Aristianto pada 2014 TU. Sumber: Aristianto, 2014.

Gambar 5. Salah satu sudut Gunung Watuadeg, yakni gunung berapi purba yang berjarak cukup dekat dengan kota Yogyakarta. Diabadikan dari tepi timur Sungai Opak, nampak singkapan lava bantal di sisi barat dasar sungai dengan tampilan khasnya sebagai bongkah-bongkah batuan beku kehitaman yang saling terhubung. Diabadikan oleh Nova Aristianto pada 2014 TU. Sumber: Aristianto, 2014.

Mari lihat dua contoh berikut. Dari Yogyakarta, sempatkanlah menengok sudut kecil di sebelah tenggara Bandara Adisucipto dalam jarak tak lebih dari 5 kilometer. Susurilah jalan raya Berbah-Prambanan dari arah barat menuju lokasi situs Candi Abang. Di jalan ini anda akan melintasi jembatan Sungai Opak yang memiliki nama unik: Jembatan Gemblung. Lihatlah ke dasar sungai yang juga adalah batas antara desa Kalitirto (sisi barat) dan Jogotirto (sisi timur) di kecamatan Berbah (Sleman). Jika air surut, akan terlihat panorama bebatuan gamping di sisi timur sebaliknya di sisi barat terhampar bongkah-bongkah batuan beku membulat kehitaman yang saling terhubung. Bebatuan ini adalah lava bantal, maka lokasi ini populer sebagai Lava Bantal Geoheritage. Saat menatapnya, sadarkah bahwa anda sesungguhnya sedang berdiri di gunung berapi purba?

Gunung berapi purba itu adalah Gunung Watuadeg. Lava Bantal Geoheritage merupakan bagian dari tubuh gunung. Seluruh lava bantal itu memancar dari satu titik yang kini berupa bukit seukuran 75 x 50 meter2 dengan tinggi sekitar 15 meter yang terletak sejarak 150 meter di sebelah barat jembatan. Sisa-sisa sumbat vulkanik dijumpai di sisi selatan bukit yang bernama Bukit Sumberkulon ini. Analisis memperlihatkan Gunung Watuadeg aktif pada masa 57 juta tahun silam, atau sezaman dengan masa aktif Gunung Nglanggeran. Ia juga tumbuh di dasar Samudera Indonesia dan berdasar keberadaan lava bantalnya maka seluruh tubuhnya mungkin terendam air laut. Namun ukuran Gunung Watuadeg jauh lebih kecil ketimbang Gunung Nglanggeran.

Gambar 6. Bukit Gede (kiri) dan Bukit Gedang (kanan) di kecamatan Godean, Sleman (DIY). Dua bukit ini adaah bagian dari jejak gunung berapi purba yang dinamakan Gunung Godean. Diabadikan pada citra Google StreetView dari satu titik di jalan raya Godean-Seyegan. Sumber: Google StreetView, 2017.

Gambar 6. Bukit Gede (kiri) dan Bukit Gedang (kanan) di kecamatan Godean, Sleman (DIY). Dua bukit ini adaah bagian dari jejak gunung berapi purba yang dinamakan Gunung Godean. Diabadikan pada citra Google StreetView dari satu titik di jalan raya Godean-Seyegan. Sumber: Google StreetView, 2017.

Kembali ke Yogyakarta, dari tugu pal putih yang menjadi simbol kota ini, susurilah jalan raya ke arah barat hingga memasuki Jalan Godean. Susurilah terus ke barat hingga sejauh 6 kilometer, sampai bersua dengan sebuah pertigaan yang mengarah ke kiri dan ke kanan. Anda akan tiba di sebuah tempat yang juga bernama Godean dan menjadi bagian dari Kabupaten Sleman. Di sini anda akan bersua dengan sedikitnya 6 buah bukit yang letaknya saling berdekatan dan relatif lebih tinggi dibanding bukit-bukit kecil yang ada di sisi utaranya. Sekilas pandang tak ada yang istimewa dari keenam bukit ini. Namun bukit-bukit yang terlihat biasa saja ini sejatinya adalah sumbat vulkanik yang telah melapuk sebuah gunung berapi purba yang dinamakan Gunung Godean. Kapan Gunung Godean aktif di masa silam belum dapat diketahui dengan pasti.

Ada banyak gunung berapi purba yang bertebaran di sekitar Yogyakarta. Jika dibatasi pada yang telah diketahui umurnya seperti halnya Gunung Nglanggeran dan Gunung Watuadeg, kita bisa mulai dengan Gunung Parangtritis. Sesuai namanya, gunung berapi purba ini ‘duduk’ di lokasi obyek wisata pantai Parangtritis yang terkenal itu. Gunung berapi purba ini jauh lebih muda ketimbang Nglanggeran, yakni aktif sekitar 26 juta tahun silam. Namun ukuran tubuh gunungnya nampaknya serupa. Meski demikian dimana posisi sumbat vulkaniknya belum jelas. Lalu di sebelah utara Gunung Nglanggeran terserak jejak gunung berapi purba bertubuh raksasa, yang disebut Gunung Baturagung. Gunung berapi purba ini aktif antara 14 hingga 40 juta tahun silam. Di sebelah timur Gunung Baturagung, pada tempat yang kini menjadi bagian dari kota Wonogiri terdapat jejak gunung berapi purba lainnya yang tak kalah besarnya. Yakni Gunung Gajahmungkur, yang aktif antara 10 hingga 22 juta tahun silam.

Gambar 7. Lokasi gunung-gemunung berapi purba yang telah terpetakan dan dianalisis oleh sejumlah ilmuwan hingga saat ini. Gunung-gemunung berapi purba ditandai dengan lingkaran-lingkaran. Besar kecilnya lingkaran bergantung kepada dimensi tubuh gunung berapi purba yang bersangkutan. Pada sebagian gunung berapi purba tersebut disajikan pula umur relatifnya berdasarkan sampel batuan beku Sumber: Bronto, 2010 dalam Verdiansyah & Hartono, 2016.

Gambar 7. Lokasi gunung-gemunung berapi purba yang telah terpetakan dan dianalisis oleh sejumlah ilmuwan hingga saat ini. Gunung-gemunung berapi purba ditandai dengan lingkaran-lingkaran. Besar kecilnya lingkaran bergantung kepada dimensi tubuh gunung berapi purba yang bersangkutan. Pada sebagian gunung berapi purba tersebut disajikan pula umur relatifnya berdasarkan sampel batuan beku Sumber: Bronto, 2010 dalam Verdiansyah & Hartono, 2016.

Dari Gunung Gajahmungkur, jika kita bergerak ke selatan sejajar dengan garis tegak lurus sumbu orientasi pulau Jawa, kita akan bersirobok dengan Gunung Batur. Gunung berapi purba yang ‘duduk’ di obyek wisata Pantai Wediombo ini aktif sekitar 13 juta tahun silam dengan ukuran tubuh gunung setara Gunung Nglanggeran. Jajaran gunung-gemunung berapi purba pun menghiasi kaki langit Yogyakarta bagian barat. Dari Gunung Godean ke arah barat, kita akan bersua dengan Pegunungan Menoreh. Pegunungan ini sejatinya merupakan kompleks gunung berapi purba yang mencakup tiga gunung sekaligus. Masing-masing Gunung Menoreh, Gunung Ijo dan Gunung Gajah. Aktivitas vulkanik pada gunung-gunung tersebut terjadi dalam kurun antara 47 hingga 8 juta tahun silam. Dibanding gunung-gemunung berapi purba yang telah disebut sebelumnya, gunung berapi purba di Pegunungan Menoreh memiliki ukuran tubuh terbesar.

Sementara jika gunung-gemunung berapi purba yang belum diketahui umurnya seperti halnya Gunung Godean ditelusuri, jumlahnya akan membengkak lagi. Di antara Gunung Parangtritis dan Gunung Baturagung saja tercatat ada 4 gunung berapi purba yang belum diketahui umurnya. Salah satunya adalah Gunung Imogiri. Sementara di antara Gunung Gajahmungkur dan Gunung Batur terdapat 5 gunung berapi purba, salah satunya dinamakan Gunung Panggang.

Gambar 8. Busur vulkanik Jawa tua (garis merah putus-putus), yang terdiri dari gunung-gemunung berapi purba. Di sebelah utaranya terdapat busur vulkanik Jawa muda (garis kuning putus-putus), tempat gunung-gemunung berapi modern di pulau Jawa berada dengan sebagian besar diantaranya aktif. Sumber: Hall & Smyth, 2008 dalam Satyana, 2014.

Gambar 8. Busur vulkanik Jawa tua (garis merah putus-putus), yang terdiri dari gunung-gemunung berapi purba. Di sebelah utaranya terdapat busur vulkanik Jawa muda (garis kuning putus-putus), tempat gunung-gemunung berapi modern di pulau Jawa berada dengan sebagian besar diantaranya aktif. Sumber: Hall & Smyth, 2008 dalam Satyana, 2014.

Mayoritas gunung berapi purba di sekitar Yogyakarta pada masanya merupakan bagian dari busur vulkanik Jawa tua. Yakni jajaran gunung-gemunung berapi yang menjadi wajah aktivitas vulkanik pulau Jawa sejak 45 juta tahun silam. Aktivitas busur vulkanik tua itu dan mendadak berakhir pada masa sekitar 20 juta tahun silam, tanpa sebab yang jelas. Gunung-gemunung berapi yang lebih muda lantas terbentuk lebih ke utara dan membentuk busur vulkanik Jawa muda. Dalam busur vulkanik yang mulai aktif semenjak 5 juta tahun silam hingga kini terdapat 45 buah kerucut gunung berapi, yang membentang mulai dari Gunung Karang-Pulasari di barat (Banten) hingga Gunung Ijen di timur (Jawa Timur).

Selain menjadi artefak atas aktivitasnya sendiri di masa silam, gunung-gemunung berapi purba di sekitar Yogyakarta juga menjadi saksi bisu bagaimana sisi selatan pulau Jawa terangkat layaknya terdongkrak. Sehingga banyak dari gunung-gemunung purba yang semula tersembunyi dalam sepi di dasar Samudera Indonesia lantas terangkat dan muncul ke daratan. Selain sebagai bagian dari pengembangan ilmu pengetahuan terutama ilmu kebumian, eksistensi gunung-gemunung berapi purba juga bisa dikembangkan untuk menggamit minat publik akan eksotismenya. Gunung-gemunung berapi purba juga berpotensi memiliki nilai ekonomis tersendiri, mengingat sejumlah mineral barang tambang yang berharga (termasuk tembaga dan emas) berasosiasi dengan magma dan cairan hidrotermal dengan karakter tertentu yang telah membeku.

Referensi :

Kabar Handayani. 2017. Uap Panas Muncul dari Tanah di Gedangsari. Laman Kabar Handayani, diakses pada 21 Februari 2017.

Aristianto. 2014. Berhujan-hujan Ria ke Lava Bantal Berbah. Blog Tulisan Aris, diakses pada 21 Februari 2017.

DetikNews. 2010. BPPTK: Kecil Kemungkinan Gunung Purba Nglanggeran Meletus Kembali. Detik.com 11 November 2010, diakses pada 21 Februari 2017.

Bronto dkk. 2014. Longsoran Raksasa Gunung Api Merapi Yogyakarta-Jawa Tengah. Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral, vol. 15 no. 4 November 2014, hal. 165-183.

Verdiansyah & Hartono. 2016. Alterasi Hidrotermal Dan Mineralisasi Logam Berharga Di Cekungan Yogyakarta, Sebuah Pemikiran dari Kehadiran Sistem Hidrotermal Daerah Godean. Seminar Nasional ke-3 Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran, Bandung.

Iklan

Gerhana Matahari dan Kisah Kenabian: Yusya’ AS dan Rasulullah SAW

Gerhana kerap membawa kisah menarik yang mengiringi kehadirannya. Baik pada peristiwa Gerhana Matahari maupun Gerhana Bulan. Baik di masa kini, apalagi masa silam kala kehadiran gerhana kerap dianggap sebagai pertanda dari langit. Termasuk dalam peristiwa sejarah yang menentukan nasib sebuah negeri.

Di masa Yunani Kuno, kota Syracuse dikepung rapat oleh pasukan Athena selama Perang Peloponnesia. Mereka hampir kalah. Namun sebuah titik balik tak terduga datang pada 28 Agustus 413 STU (Sebelum Tarikh Umum) saat Bulan purnama mendadak meredup, ‘robek’ dan bahkan bersalin warna menjadi merah darah sangat redup hanya dalam 2 jam setelah terbit. Pasukan Athena, yang dihinggapi tahayul, menganggap gerhana itu pertanda buruk dan memutuskan menunda serangan ke posisi-posisi pasukan Syracuse. Syracuse pun memanfaatkan kesempatan ini dengan baik, sehingga gantian mereka yang melancarkan serangan dadakan ke pasukan Athena. Athena pun hancur lebur.

Delapan belas abad kemudian kisah yang mirip pun berulang. Selagi pasukan besar Utsmaniy mengepung kota Konstantinopel, ibukota kekaisaran Romawi Timur (Byzantium), pada 22 Mei 1453 TU Bulan terbit dalam kondisi setengah ‘robek’ sebagai Gerhana Bulan Sebagian di kaki langit timur kota. Saat itu Bulan menampakkan wajahnya dengan sekitar 70 % cakram Bulan tertutupi oleh umbra Bumi. Saat itu Konstantinopel sudah dikepung pasukan Utsmaniy sebulan lamanya. Gerhana ini menerbitkan rasa takut dan merosotkan moral penduduk Konstantinopel. Apalagi tersiar legenda bahwa kejatuhan kekaisaran mereka telah lama diramalkan dan akan ditandai oleh gerhana. Benar, tujuh hari kemudian kota itu takluk dan imperium Byzantium yang pernah perkasa itu pun tinggal sejarah.

Gambar 1. Beberapa bagian tahap Gerhana Matahari, seperti yang diabadikan dalam peristiwa Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016. Sejumlah peristiwa gerhana, termasuk Gerhana Matahari, kerap bersesuaian dengan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah sebuah negeri. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 1. Beberapa bagian tahap Gerhana Matahari, seperti yang diabadikan dalam peristiwa Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016. Sejumlah peristiwa gerhana, termasuk Gerhana Matahari, kerap bersesuaian dengan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah sebuah negeri. Sumber: Sudibyo, 2016.

Dalam tulisan ini fenomena gerhana di masa silam dibatasi pada peristiwa Gerhana Matahari di masa kenabian, yakni di era Nabi Yusya’ AS dan Rasulullah Muhammad SAW.

Gerhana dan Legenda Berhentinya Matahari

Pertempuran menentukan itu nampaknya terjadi sekitar 32 abad silam. Ringkasnya: pasukan Bani Israil yang sedang berjuang memasuki negeri Kanaan yang dijanjikan harus berhadapan dengan pasukan suku Hivit (bagian dari sukubangsa Amorit) yang berkekuatan besar pada suatu tempat di luar kota al-Jib (Gibeon). Suku Hivit adalah orang-orang yang berbadan besar dan perkasa, yang mendiami dataran luas di sisi barat Laut Mati hingga ke pesisir Laut Tengah. Tak tanggung-tanggung, di hari itu orang-orang Hivit mengerahkan kekuatan dalam jumlah besar dari lima negara kota sekaligus, kekuatan yang sanggup menggetarkan siapapun .

Pertempuran al-Jib pun meletus hari itu hingga ke rembang petang. Dan tak ada yang mengira kalau pasukan Bani Israil ternyata berhasil mengangkangi keperkasaan pasukan Hivit yang semula dikenal tak terkalahkan. Di bawah pimpinan Yusya’, yang  merupakan seorang nabi, pasukan Bani Israil pun menghancurkan pasukan Hivit dalam pertempuran al-Jib. Jalan bagi Bani Israil untuk menancapkan kakinya di negeri Kanaan yang dijanjikan pun kian terbuka. Pertempuran ini juga mewariskan kisah legendaris, yang menuturkan Yusya’ berseru kepada Matahari dan Bulan untuk berdiam di posisinya masing-masing hingga pertempuran usai. Atau dalam kata-kata lain, inilah nabi yang menahan gerak Matahari (dan juga Bulan).

Gambar 2. Ilustrasi artistik yang menggambarkan Nabi Yusya' AS (Joshua) menghentikan Matahari di atas kota al-Jib (Gibeon) pada saat pertempuran berlangsung, menurut lukisan John Martin pada 1816 TU. Riset terbaru memperlihatkan peristiwa 'berhentinya Matahari' tersebut sesungguhnya mungkin merupakan Gerhana Matahari Cincin. Sumber: John Martin, 1816 dalam Wikipedia, 2017.

Gambar 2. Ilustrasi artistik yang menggambarkan Nabi Yusya’ AS (Joshua) menghentikan Matahari di atas kota al-Jib (Gibeon) pada saat pertempuran berlangsung, menurut lukisan John Martin pada 1816 TU. Riset terbaru memperlihatkan peristiwa ‘berhentinya Matahari’ tersebut sesungguhnya mungkin merupakan Gerhana Matahari Cincin. Sumber: John Martin, 1816 dalam Wikipedia, 2017.

Kini, kapan Pertempuran al-Jib itu terjadi nampaknya sudah bisa ditetapkan tanggalnya. Riset multidisiplin ilmu oleh tim cendekiawan Universitas Ben Gurion (Israel) yang dipimpin Hezi Yitzhak menyimpulkan Pertempuran al-Jib itu mungkin terjadi pada 30 Oktober 1207 STU (Sebelum Tarikh Umum), bertepatan dengan peristiwa Gerhana Matahari Cincin. Dan lokasi dimana pertempuran tersebut berlangsung merupakan bagian dari zona antumbra (zona yang mampu melihat bentuk cincin/anularitas pada puncak gerhana) dalam wilayah Gerhana Matahari Cincin 30 Oktober 1206 STU tersebut.

Kisah kenabian Yusya’ atau Yosua (Joshua) lebih banyak tersurat dalam alkitab Ibrani dan alkitab Kristiani Perjanjian Lama, bahkan beliau menjadi tokoh sentral Kitab Yosua di kedua alkitab tersebut. Sebaliknya al-Qur’an tidak secara eksplisit menyebut nama Nabi Yusya’ AS. Beliau hanya disebut sebagai murid Nabi Musa AS khususnya yang menyertai Nabi Musa AS selama dalam perjalanan mencari Nabi Khidir AS seperti ternyata dalam surat al-Kahfi ayat 60-62. Namun sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Ubay ibn Ka’ab RA memastikan bahwa murid yang dimaksud dalam ayat-ayat tersebut memang sosok Nabi Yusya’ AS.

Yusya’ AS merupakan sosok kepercayaan Nabi Musa AS. Namanya mulai muncul selepas eksodusnya Bani Israil dari negeri Mesir menuju negeri Kanaan, tanah yang dijanjikan Allah SWT seperti yang diwahyukan-Nya kepada Musa AS. Begitu lolos dari kejaran Firaun dan pasukannya lewat mukjizat terbelahnya Laut Merah, Bani Israil segera beringsut melangkahkan kakinya menuju negeri Kanaan. Namun lama-kelamaan terbit rasa gentar dalam kalbu mereka seiring tersiarnya kabar bahwa negeri yang hendak mereka tuju dan taklukkan itu ternyata dihuni sukubangsa Amorit, orang-orang yang terkenal bertubuh perkasa tanpa tanding dalam setiap medan pertempuran. Rasa gentar itu kian meluap hingga akhirnya mencapai puncaknya, menjangkiti hampir semua orang. Mereka pun memutuskan untuk berhenti, enggan melanjutkan perjalanan ke negeri Kanaan meski telah dijanjikan kemenangan. Upaya Yusya’ dan Qalib untuk menyemangati mereka tiada henti tidak juga membuahkan hasil.

Akibatnya Bani Israil pun mendapat murka Allah SWT dan dihukum untuk terjebak di gurun pasir di antara negeri Mesir dan Kanaan hingga 40 tahun kemudian. Selama masa hukuman ini Yusya’ menjadi pengawal Nabi Musa AS yang setia. Sehingga menjelang wafatnya, Nabi Musa AS pun mewariskan kepemimpinan Bani Israil ke tangan Yusya’. Segera setelah menerima tampuk kepemimpinan, Yusya’ pun menjadi nabi setelah menerima wahyu Illahi yang memerintahkannya menyeberangi Sungai Yordan untuk memulai penaklukan negeri Kanaan yang telah dijanjikan-Nya. Dari kamp pasukannya di Gilgal, secara berturut-turut Yusya’ AS menggerakkan pasukannya menaklukkan negeri Ariha (Jericho) dan Ai. Selepas itu, setelah menggerakkan pasukannya diam-diam di tengah malam menempuh jarak 30 kilometer hingga tiba di perkemahan pasukan Hivit di dekat kota Yerusalem, maka Pertempuran al-Jib pun berkobar dahsyat mulai keesokan paginya.

Gambar 3. Matahari yang berbentuk menyerupai sabit dalam puncak sebuah peristiwa Gerhana Matahari Cincin, yang hanya terlihat sebagai gerhana sebagian di lokasi pemotretan. Meski dalam berawan tebal dan hampir mendung, namun bentuk sabit tersebut mudah dilihat terutama tatkala sinar Matahari berhasil menerobos sela-sela awan. Jika langit cerah, Gerhana Matahari pada puncaknya tentu lebih mudah diidentifikasi dan menarik perhatian khalayak, baik di masa kini maupun silam. Baik di masa damai maupun peperangan. Sumber: Sudibyo, 2009.

Gambar 3. Matahari yang berbentuk menyerupai sabit dalam puncak sebuah peristiwa Gerhana Matahari Cincin, yang hanya terlihat sebagai gerhana sebagian di lokasi pemotretan. Meski dalam berawan tebal dan hampir mendung, namun bentuk sabit tersebut mudah dilihat terutama tatkala sinar Matahari berhasil menerobos sela-sela awan. Jika langit cerah, Gerhana Matahari pada puncaknya tentu lebih mudah diidentifikasi dan menarik perhatian khalayak, baik di masa kini maupun silam. Baik di masa damai maupun peperangan. Sumber: Sudibyo, 2009.

Tim cendekiawan Ben Gurion tersebut tiba pada kesimpulan mengenai tanggal Pertempuran al-Jib setelah melalui pendekatan astronomi dan reinterpretasi teks ayat Yoshua 10:12. Terjemah dalam Bahasa Indonesia dari ayat tersebut adalah “…Matahari, berhentilah di atas Gibeon dan engkau, Bulan, di atas lembah Ayalon !” Namun tim cendekiawan Ben Gurion berpendapat bahwa kata Ibrani “dom (do.wm)” (yang secara tradisional diterjemahkan sebagai “berhenti”) juga bisa diterjemahkan sebagai “menjadi gelap.” Sehingga terjemahannya bisa menjadi “…Matahari, menjadi gelap di atas Gibeon dan engkau, Bulan, di atas lembah Ayalon !” Dari terjemah ini muncul kesan bahwa pada saat itu Matahari dan Bulan hadir bersamaan di langit dengan Matahari menjadi gelap.

Dari sisi astronomi ada satu peristiwa langit yang bersesuaian dengan deskripsi tersebut, yakni Gerhana Matahari. Dengan kata lain, Pertempuran al-Jib yang mengambil tempat di dekat kota Yerusalem itu nampaknya bertepatan dengan peristiwa Gerhana Matahari dengan Yerusalem dan sekitarnya menjadi bagian dari wilayah gerhana, khususnya zona umbra atau antumbra.

Tim cendekiawan Ben Gurion lantas memutuskan menggali data Gerhana Matahari masa silam, khususnya melalui basisdata badan antariksa Amerika Serikat (NASA) yang legendaris di bawah tajuk Five Millenium (-1999 to +3000) Canon of Solar Eclipse Database. Basisdata ini memuat segala peristiwa Gerhana Matahari dalam kurun 5.000 tahun mulai dari tahun 2000 STU hingga tahun 3000 TU. Selama rentang waktu tersebut Bumi kita akan mengalami 11.898 peristiwa Gerhana Matahari, yang terdiri dari 4.200 Gerhana Matahari Sebagian, 3.956 Gerhana Matahari Cincin, 3.173 Gerhana Matahari Total dan 569 Gerhana Matahari Hibrid. Tim memutuskan untuk berkonsentrasi pada rentang waktu antara 1500 STU hingga 1000 STU. Mereka mendapati bahwa dalam rentang waktu tersebut, hanya ada tiga peristiwa Gerhana Matahari yang menjadikan kota Yerusalem dan sekitarnya dilintasi zona umbra atau antumbra. Yakni satu kejadian Gerhana Matahari Total dan dua kejadian Gerhana Matahari Cincin.

Dalam rentang waktu tersebut, peristiwa Gerhana Matahari yang paling menarik adalah Gerhana Matahari Cincin 30 Oktober 1207 STU. Dari kota Yerusalem dan sekitarnya, peristiwa langit ini terjadi pada sore hari dan dapat disaksikan hampir pada seluruh tahapnya. Awal gerhana terjadi pada pukul 15:07 waktu setempat saat Matahari berkedudukan 23,0º di atas horizon barat. Anularitas gerhana, yakni periode ketampakan bentuk cincin, mulai terjadi pada pukul 16:26 waktu setempat dan berlangsung hingga 5 menit kemudian (lebih detilnya 5 menit 13 detik). Puncak gerhana terjadi pada pukul 16:28 waktu setempat dengan tinggi Matahari 7,0º di atas horizon barat. Gerhana masih berlangsung kala Matahari terbenam pada pukul 17:05 waktu setempat, karena akhir gerhana terjadi pada pukul 17:39 waktu setempat. Durasi tampak dari Gerhana Matahari ini di kota Yerusalem dan sekitarnya adalah 1 jam 58 menit.

Gambar 4. Peta zona antumbra dalam wilayah Gerhana Matahari Cincin 30 Oktober 1207 STU. Nampak zona antumbra (lebar 360 kilometer) melintasi kota Yerusalem dan lingkungan sekitarnya, termasuk lokasi pertempuran al-Jib (Gibeon). Atas dasar inilah tim cendekiawan Universitas Ben Gurion menyimpulkan bahwa Pertempuran al-Jib terjadi pada tanggal itu. Sumber: Xavier Jubier, 2017 dengan basis NASA, 2006.

Gambar 4. Peta zona antumbra dalam wilayah Gerhana Matahari Cincin 30 Oktober 1207 STU. Nampak zona antumbra (lebar 360 kilometer) melintasi kota Yerusalem dan lingkungan sekitarnya, termasuk lokasi pertempuran al-Jib (Gibeon). Atas dasar inilah tim cendekiawan Universitas Ben Gurion menyimpulkan bahwa Pertempuran al-Jib terjadi pada tanggal itu. Sumber: Xavier Jubier, 2017 dengan basis NASA, 2006.

Peristiwa Gerhana Matahari Cincin ini membuat langit sore 30 Oktober 1207 STU di kota Yerusalem dan sekitarnya meremang lebih awal dibanding hari-hari normal. Langit setempat akan mulai terasa lebih gelap pada, katakanlah, pukul 16:30 waktu setempat. Puncak gerhana ini memang tidak menjadikan kota Yerusalem dan sekitarnya menjadi gelap gulita. Namun dengan intensitas sinar Matahari yang tiba di paras Bumi setempat tinggal 5 % dari normal pada saat puncak gerhana, jelas situasinya cukup remang-remang. Puncak gerhana juga akan menyajikan panorama unik saat Matahari terlihat sebagai cincin bercahaya yang ganjil, bukan sebagai lingkaran sangat terang yang menyilaukan mata. Jelas pemandangan ganjil ini akan menarik perhatian, termasuk pada kedua belah pasukan yang sedang bertempur di medan al-Jib.

Bagaimana peristiwa Gerhana Matahari pada Pertempuran al-Jib lantas ditafsirkan sebagai peristiwa ‘berhenti’-nya Matahari di jauh kemudian hari? David Dickinson, jurnalis di Universe Today, menduga persoalannya ada pada paham geosentrisme yang mendominasi dunia hingga abad ke-16 TU. Paham tersebut bertumpu pada Bumi sebagai pusat semesta dan pusat pergerakan segala benda langit. Demikian mendalamnya dominasi paham ini sehingga dua agama besar, yakni Kristen dan Islam, pun mengadopsinya di masa itu. Gereja mengadopsi geosentrisme karena, selain menyajikan tujuh buah langit yang ditempati setiap planet (termasuk Matahari dan Bulan) dengan masing-masing langit berbentuk bola sempurna sebagai refleksi kesempurnaan ilahiah, juga karena menyediakan ruang di luar bola bintang-bintang tetap untuk lokasi surga dan neraka. Maka ‘berhenti’-nya Matahari menjadi salah satu ‘bukti’ yang menyokong paham geosentrisme.

Gerhana Pagi di Kotasuci Madinah

Peristiwa gerhana dalam kisah kenabian juga terjadi pada era lebih kemudian, yakni pada masa Rasulullah Muhammad SAW. Tepatnya hanya beberapa bulan sebelum beliau wafat. Gerhana tersebut terjadi pada hari yang sama dengan wafatnya Ibrahim, putra Rasulullah SAW yang masih bayi. Wafatnya Ibrahim yang bersamaan dengan menggelapnya langit membuat sebagian penduduk kotasuci Madinah menduga-duga bahwa kedua peristiwa itu berhubungan. Ada juga yang menduga bahwa alam raya turut berduka. Mendengar hal itu, usai memakamkan putranya Rasulullah SAW pun menjelaskan peristiwa gerhana tidaklah berhubungan dengan hidup matinya seseorang. Karena Bulan dan Matahari adalah dua dari sekian banyak tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Dan Umat Islam agar segera berzikir dengan menunaikan shalat gerhana tatkala menyaksikan peristiwa gerhana.

Gambar 5. Perbandingan situasi lingkungan pada saat tahap awal sebuah gerhana (kiri) dengan pada saat puncak gerhana (kanan). Kejadian ini diabadikan pada peristiwa Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016, dimana di lokasi pemotretan di Karanganyar (Kebumen) hanya nampak sebagai gerhana sebagian. Situasi langit cerah. Peredupan semacam ini mudah dikenali khalayak ramai dalam gerhana, baik di masa kini maupun silam. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 5. Perbandingan situasi lingkungan pada saat tahap awal sebuah gerhana (kiri) dengan pada saat puncak gerhana (kanan). Kejadian ini diabadikan pada peristiwa Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016, dimana di lokasi pemotretan di Karanganyar (Kebumen) hanya nampak sebagai gerhana sebagian. Situasi langit cerah. Peredupan semacam ini mudah dikenali khalayak ramai dalam gerhana, baik di masa kini maupun silam. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gerhana yang terjadi pada saat wafatnya Ibrahim adalah Gerhana Matahari. Analisis astronomi, juga dengan menelaah Five Millenium (-1999 to +3000) Canon of Solar Eclipse Database memperlihatkan satu-satunya peristiwa Gerhana Matahari yang terjadi pada masa Rasulullah SAW tinggal di Madinah hingga wafatnya adalah Gerhana Matahari Cincin 27 Januari 632 TU. Kotasuci Madinah dan sekitarnya menjadi bagian dari wilayah gerhana ini, tepatnya bagian dari zona penumbranya. Sehingga yang terlihat hanyalah gerhana sebagian. Dari kotasuci Madinah dan lingkungan sekitarnya, gerhana ini akan dapat dilihat hanya dalam beberapa saat pasca terbitnya Matahari. Basisdata di atas memperlihatkan bahwa awal gerhana di kotasuci Madinah dan sekitarnya terjadi pada pukul 07:16 waktu setempat, saat Matahari hanyalah setinggi 0,9º dari horizon timur. Puncak gerhana terjadi pada pukul 08:29 waktu setempat, saat Matahari sudah setinggi 16,0º dari horizon timur.Dan gerhana berakhir pada pukul 09:54 waktu setempat kala Matahari sudah berkedudukan cukup tinggi, yakni 31,8º dari horizon timur. Persentase penutupan cakram Matahari di saat puncak gerhana mencapai 76,4 %. Sehingga intensitas sinar Matahari yang tiba di kotasuci Madinah dan sekitarnya tinggal 24 % saja dari normalnya pada saat puncak gerhana. Situasi ini jelas membuat suasana menjadi remang-remang yang mudah diindra oleh orang-orang.

Gambar 6.  Peta zona antumbra dalam wilayah Gerhana Matahari Cincin 27 Januari 632 TU. Nampak zona antumbra (lebar 70 kilometer) melintas jauh di selatan dari lokasi kotasuci Madinah. Garis kuning menandakan garis yang menghubungkan titik-titik yang mengalami Matahari terbit tepat pada saat awal gerhana. Kotasuci Madinah dan lingkungan sekitarnya hanya melihat gerhana sebagian yang dimulai hanya beberapa saat dari terbitnya Matahari. Sumber: Xavier Jubier, 2017 dengan basis NASA, 2006.

Gambar 6. Peta zona antumbra dalam wilayah Gerhana Matahari Cincin 27 Januari 632 TU. Nampak zona antumbra (lebar 70 kilometer) melintas jauh di selatan dari lokasi kotasuci Madinah. Garis kuning menandakan garis yang menghubungkan titik-titik yang mengalami Matahari terbit tepat pada saat awal gerhana. Kotasuci Madinah dan lingkungan sekitarnya hanya melihat gerhana sebagian yang dimulai hanya beberapa saat dari terbitnya Matahari. Sumber: Xavier Jubier, 2017 dengan basis NASA, 2006.

Konversi kalender memperlihatkan tanggal 27 Januari 632 TU bertepatan dengan tahun 10 H, yakni tahun terjadinya haji wada’ (haji perpisahan). Dalam haji wada’ itu Rasulullah SAW menerima sejumlah wahyu, salah satunya adalah perintah untuk menjadikan kalender Umat Islam (yang dikemudian hari dinamakan kalender Hijriyyah) sebagai kalender lunar murni, kalender yang sepenuhnya berbasis pergerakan Bulan. Sehingga setahun kalender Hijriyyah selalu terdiri dari 12 bulan tanpa ada lagi interkalasi (bulan kabisat atau bulan sisipan) yang dipraktikkan sebagai Naasi’ seperti sebelumnya.

Maka dapat disimpulkan bahwa tahun 10 H terdiri dari 12 bulan saja seperti tahun-tahun berikutnya sehingga 27 Januari 632 TU ekivalen dengan 29 Syawwal 10 H. Tarikh ath-Thabari menyebutkan Ibrahim lahir di sekitar bulan Zulhijjah 8 H, demikian halnya menurut Ibn Katsir dengan mengutip Ibn Saad. Maka pada saat wafatnya, Ibrahim berusia 21 bulan, angka yang sesuai dengan Tarikh ath-Thabari.

jib_tabel-gm-rasulullahsawSepanjang masa kenabiannya, Rasulullah SAW bersua dengan sembilan peristiwa Gerhana Matahari. Yakni empat Gerhana Matahari Total dan lima Gerhana Matahari Cincin. Lima peristiwa Gerhana Matahari terjadi tatkala Rasulullah SAW masih tinggal di kotasuci Makkah, sementara empat lainnya terjadi setelah berhijrah ke kotasuci Madinah.

Dan seluruh peristiwa gerhana tersebut menjadikan kotasuci Makkah dan Madinah hanya sebagai bagian dari zona penumbra saja. Namun dari sembilan Gerhana Matahari tersebut, kemungkinan besar hanya lima diantaranya yang benar-benar bisa diindra oleh orang-orang pada saat itu. Karena hanya kelima Gerhana Matahari inilah yang memiliki nilai persentase tutupan cakram Matahari yang cukup besar pada saat puncak gerhana terjadi. Dari kelimanya hanya satu yang terjadi pada saat Rasulullah SAW sudah tinggal di kotasuci Madinah, yakni Gerhana Matahari Cincin 27 Januari 632 TU. Sementara empat lainnya, masing-masing Gerhana Matahari Total 23 Juli 413 TU, Gerhana Matahari Cincin 21 Mei 616 TU, Gerhana Matahari Cincin 4 November 617 TU dan Gerhana Matahari Total 2 September 620 TU terjadi tatkala Rasulullah SAW masih tinggal di kotasuci Makkah.

Referensi :

Fred Espenak & Jean Meeus. 2006. Five Millenium (-1999 to +3000) Canon of Solar Eclipse Database. NASA/TP-2006-214141, Oktober 2006.

Dickinson. 2017. Ancient Annular, Dating Joshua’s Eclipse. Universe Today, 6 Feb 2017.

Gerhana Bulan 11 Februari 2017 yang Pemalu

Sabtu 11 Februari 2017 Tarikh Umum (TU) jelang Matahari terbit. Bilamana langit cerah dan anda tinggal di pulau Jawa bagian barat, atau di pulau Kalimantan bagian barat, atau di pulau Sumatra dan pulau-pulau kecil disekelilingnya, arahkan pandangan ke langit barat. Bila pandangan tak terhalang, Bulan akan nampak bertengger di atas kaki langit barat sebagai Bulan purnama. Wajahnya sesungguhnya bulat bundar penuh, namun kedudukannya yang rendah di atas kaki langit membuatnya nampak terdistorsi menjadi sedikit lonjong.

 Gambar 1. Bulan dalam peristiwa Gerhana Bulan Penumbral 16-17 September 2016, diabadikan dengan teleskop yang terangkai kamera. Secara kasat mata penggelapan wajah Bulan dalam Gerhana Bulan Penumbral sangat sulit untuk diamati. Sumber: Sudibyo, 2016.


Gambar 1. Bulan dalam peristiwa Gerhana Bulan Penumbral 16-17 September 2016, diabadikan dengan teleskop yang terangkai kamera. Secara kasat mata penggelapan wajah Bulan dalam Gerhana Bulan Penumbral sangat sulit untuk diamati. Sumber: Sudibyo, 2016.

Mulai pukul 05:34 WIB, suatu peristiwa terjadi pada Bulan. Namun secara kasat mata sangat sulit bagi anda yang tinggal di tiga lokasi tadi untuk mendeteksinya. Inilah peristiwa Gerhana Bulan Penumbral atau disebut juga Gerhana Bulan samar. Gerhana Bulan Penumbral 11 Februari 2017 merupakan gerhana yang paling awal di musim gerhana tahun 2017 TU. Dalam peristiwa Gerhana Bulan Penumbral ini, bundaran cakram Bulan akan memasuki zona bayangan tambahan (penumbra) Bumi akibat konfigurasi posisi Bulan, Bumi dan Matahari yang nyaris hampir segaris lurus dalam segala arah (syzygy) dengan Bulan di antara kedua benda langit lainnya. Meski memiliki konfigurasi yang serupa dengan peristiwa Gerhana Bulan Total maupun Gerhana Bulan Sebagian, namun masuknya cakram Bulan hanya ke dalam bayangan tambahan Bumi membuat Bulan masih tetap akan terlihat layaknya Bulan purnama. Ia masih tetap mendapatkan sinar Matahari meski intensitasnya sedikit lebih rendah dibanding seharusnya.

Seperti halnya peristiwa Gerhana Bulan pada umumnya, tidak setiap saat Bulan purnama terjadi diiringi dengan peristiwa Gerhana Bulan. Sebaliknya suatu peristiwa Gerhana Bulan pasti terjadi bertepatan dengan saat Bulan purnama. Musababnya adalah orbit Bulan yang tak berimpit dengan bidang edar Bumi mengelilingi Matahar), melainkan menyudut sebesar 5o. Hanya ada dua titik dimana Bulan berpeluang tepat segaris lurus syzygy dengan Bumi dan Matahari, yakni di titik nodal naik dan titik nodal turun. Dan dalam kejadian Bulan purnama, mayoritas terjadi tatkala Bulan tak berdekatan ataupun berada dalam salah satu dari dua titik nodal tersebut. Inilah sebabnya mengapa tak setiap saat Bulan purnama kita bersua dengan Gerhana Bulan.

Gerhana Bulan Penumbral 11 Februari 2017 hanya terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama adalah awal gerhana/kontak awal penumbra (P1) yang akan terjadi pada pukul 05:34 WIB. Sementara tahap kedua adalah puncak gerhana, yang bakal terjadi pada pukul 07:33 WIB dengan magnitudo saat puncak adalah 0,99. Artinya pada saat itu 99 % cakram Bulan tertutupi oleh bayangan tambahan Bumi. Dan yang terakhir adalah tahap akhir gerhana/kontak akhir penumbra (P4) yang bakal berlangsung pada pukul 09:53 WIB. Dengan demikian durasi Gerhana Bulan Penumbral 11 Februari 2017 ini adalah 4 jam 19 menit.

Gambar 2. Peta wilayah Gerhana Bulan Penumbral 11 Februari 2017 dalam lingkup global. Perhatikan Indonesia dibelah oleh garis P1 , yakni garis dimana awal gerhana bertepatan dengan terbenamnya Bulan (terbitnya Matahari). Dengan demikian hanya sebagian Indonesia berkesempatan menyaksikan Gerhana Bulan yang samar ini, sepanjang langit cerah. Sumber: NASA, 2016.

Gambar 2. Peta wilayah Gerhana Bulan Penumbral 11 Februari 2017 dalam lingkup global. Perhatikan Indonesia dibelah oleh garis P1 , yakni garis dimana awal gerhana bertepatan dengan terbenamnya Bulan (terbitnya Matahari). Dengan demikian hanya sebagian Indonesia berkesempatan menyaksikan Gerhana Bulan yang samar ini, sepanjang langit cerah. Sumber: NASA, 2016.

Wilayah gerhana bagi Gerhana Bulan Penumbral 11 Februari 2017 melingkupi hampir segenap paras Bumi, kecuali sebagian kecil benua Asia (yakni Asia timur jauh dan sebagian Asia tenggara) serta segenap benua Australia. Sebagian besar Indonesia tidak tercakup ke dalam wilayah gerhana ini. Secara umum Indonesia terbelah menjadi dua oleh garis P1, yakni himpunan titik-titik yang mengalami momen terbenamnya Bulan bersamaan dengan awal gerhana. Garis P1 tersebut melintas melalui pulau Kalimantan dan pulau Jawa. Hanya daerah-daerah yang berada di sebelah barat dari garis P1 inilah yang berkesempatan tercakup ke dalam wilayah Gerhana Bulan Penumbral 11 Februari 2017. Dengan demikian wilayah gerhana ini di Indonesia hanya mencakup sebagian pulau Jawa (propinsi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah), sebagian pulau Kalimantan (propinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah) serta segenap pulau Sumatra dan pulau-pulau kecil disekitarnya. Di daerah-daerah tersebut, Gerhana Bulan Penumbral ini pun takkan bisa dinikmati secara utuh karena terjadi kala Bulan sedang dalam proses terbenam. Maka dapat dikatakan peristiwa Gerhana Bulan ini merupakan gerhana yang pemalu, karena Bulan tak menampakkan seluruh tahap gerhananya.

Sesuai dengan namanya, Gerhana Bulan Penumbral ini nyaris tak dapat dibedakan dengan Bulan purnama biasa. Butuh teleskop dengan kemampuan baik untuk dapat melihatnya. Untuk memotretnya, butuh kamera dengan pengaturan (setting) yang lebih kompleks dan bisa disetel secara manual. Dalam puncak gerhana Bulan samar, jika cara pengaturan kamera kita tepat maka Bulan akan terlihat menggelap di salah satu sudutnya. Detail teknis pemotretan untuk mengabadikan gerhana ini dengan menggunakan kamera DSLR (digital single lens reflex) tersaji berikut ini :

Bagi Umat Islam ada anjuran untuk menyelenggarakan shalat gerhana baik di kala terjadi peristiwa Gerhana Matahari maupun Gerhana Bulan. Tapi hal tersebut tak berlaku dalam kejadian Gerhana Bulan Penumbral ini. Musababnya gerhana Bulan samar dapat dikatakan mustahil untuk bisa diindra dengan mata manusia secara langsung. Padahal dasar penyelenggaraan shalat gerhana adalah saat gerhana tersebut dapat dilihat, seperti dinyatakan dalam hadits Bukhari, Muslim dan Malik yang bersumber dari Aisyah RA. Pendapat ini pula yang dipegang oleh dua ormas Islam terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul ‘Ulama dan Muhammadiyah. Keduanya sepakat saat gerhana tak bisa disaksikan (secara langsung), maka shalat gerhana tak dilaksanakan.