Dieng, Desa yang Hilang dan Elegi Api di Atas Awan

Terbanglah di atas Dataran Tinggi Dieng, daerah yang secara administratif dimiliki oleh dua kabupaten yakni Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo di propinsi Jawa Tengah. Kita bisa terbang secara fisik, entah secara langsung menggunakan pesawat ultralight maupun secara tak langsung dengan PUNA (pesawat udara nir awak) atau lebih dikenal sebagai dron (drone). Tetapi bisa juga kita terbang secara non-fisik, dengan menggunakan program komputer (software) atau aplikasi pemetaan populer seperti Google Earth maupun Google Maps. Tetapkan koordinat 7º 12′ LS 109º 51′ BT (-7,2; 109,85) sebagai titik awal. Lalu bergeraklah perlahan ke barat.

Jika dilakukan dengan benar maka panorama memukau Dataran Tinggi Dieng bagian barat pun tersajilah. Tepatnya panorama di sekitar kota Batur (Kabupaten Banjarnegara). Kita akan menyaksikan bentang lahan berbukit-bukit yang terbagi-bagi ke dalam bidang-bidang lahan tertentu berpola geometris khas. Lahan-lahan pertanian mudah dikenali sebagai kotak persegi empat mengikuti kontur tanah. Di lereng yang curam, kotak-kotak itu ramping dan membentuk sistem undak-undakan (terasering). Sebaliknya di lereng landai, kotak-kotak tersebut nampak lebih lebar.

Gambar 1. Panorama sebagian Dataran Tinggi Dieng barat di sekitar koordinat 7º 12′ LS 109º 51′ BT. Nampak Desa Pesurenan dan bekas Desa Kepucukan. Desa Kepucukan adalah desa yang hilang pasca tragedi seiring meletusnya Telaga Sinila (Kawah Sinila) di tahun 1979 TU. Sumber: Sudibyo, 2017 dengan basis Google Earth.


Sekitar setengah kilometer ke barat daya dari titik awal penerbangan kita, tersaji panorama berbeda. Tempat ini juga lahan pertanian, namun pola geometrisnya berbeda. Ukuran kotak-kotak di sini lebih kecil dibanding lahan pertanian disekelilingnya. Mereka juga cenderung menampakkan geometri mendekati bujursangkar, bukan persegi empat. Saat dibandingkan dengan geometri lahan pemukiman, misalnya di kota Batur (sebelah barat) maupun desa Pesurenan (sebelah timur), terlihat geometri lahan di tempat itu relatif serupa dengan lahan pemukiman. Inilah lokasi dari sebuah desa yang hilang. Sebelum tahun 1979 Tarikh Umum (TU), tempat ini bernama Desa Kepucukan, bagian dari kecamatan Batur (Kabupaten Banjarnegara).

Kepucukan

Kita mungkin pernah mendengar tentang desa yang hilang di Dataran Tinggi Dieng. Namun hampir semuanya selalu merujuk ke dusun Legetang, bagian dari Desa Kepakisan (juga di kecamatan Batur). Dusun yang makmur itu lenyap dalam semalam dan terhapus dari peta setelah bencana tanah longsor dahsyat menimbuni sepenuhnya pada tengah malam 16 April 1955 TU. Kecuali jasad kepala dusun, segenap 350 orang penduduk dan tamu yang berkunjung ke dusun tersebut pada malam naas itu tertimbun di bawah berton-ton material tebal produk longsoran lereng sektor tenggara Gunung Pangamun-amun.

Gambar 2. Pintu masuk ke bekas desa Kepucukan dengan gapura yang masih berdiri tegak. Desa Kepucukan dinyatakan dihapus secara administratif pasca Tragedi Sinila 1979 dan dinyatakan sebagai kawasan terlarang. Meski demikian pelanggaran sering terjadi. Sumber: BanyumasNews/Nanang, 2014.


Tetapi sesungguhnya ada beberapa desa yang hilang di Dieng. Salah satunya adalah desa Kepucukan. Berbeda dengan ketampakan bekas dusun Legetang yang kini hanya berupa bukit kecil sebagai kuburan massal bagi ratusan penduduknya, bekas desa Kepucukan masih mudah dikenali baik dalam citra satelit maupun foto udara. Desa Kepucukan hilang setelah dinyatakan dihapus pemerintah Kabupaten Banjarnegara pada tahun 1979 TU, menyusul malapetaka memilukan Tragedi Sinila. Tragedi itu merenggut nyawa 149 orang dan memaksa tak kurang dari 15.000 orang lainnya di kawasan Dataran Tinggi Dieng bagian barat untuk mengungsi. Tragedi ini sekaligus menyajikan gambaran nyata bagi dunia, betapa sebuah gunung berapi yang bererupsi dalam skala kecil bisa berujung pada malapetaka berskala besar dalam situasi khusus.

Tragedi Sinila terjadi pada Selasa 20 Februari 1979 TU. Petaka diawali oleh rentetan tiga gempa dangkal berturut-turut. Gempa pertama terjadi pada pukul 01:55 WIB. Getarannya cukup keras dengan skala intensitas mungkin mencapai 4 hingga 5 MMI (Modified Mercalli Intensity) sehingga cukup kuat untuk membangunkan orang-orang yang terlelap di kota Batur. Gempa kedua menyusul terjadi pada pukul 02:40 WIB, getarannya juga cukup kuat pula hingga dirasakan warga desa Pesurenan. Dan gempa terakhir mengguncang pada pukul 04:00 WIB.

Gambar 3. Panorama Kawah Sinila dan Kawah Sigludug, dua kawah yang berperan besar Tragedi Sinila 1979. Kawah Sinila tergenangi air sebagai telaga, sementara Kawah Sigludug tetap kering. Kawah Sigludug baru muncul pada 20 Februari 1979 TU. Sumber: Sudibyo, 2017 dengan basis Google Earth.


Tanpa disadari penduduk yang tinggal diatasnya, rentetan gempa menyebabkan kesetimbangan rapuh dalam perut bumi Dataran Tinggi Dieng bagian barat terganggu berat. Retakan-retakan timbul dan menyebar dalam tanah yang sejatinya sudah rapuh karena dibelah oleh aneka sesar dan diperlemah oleh alterasi hidrotermal khas vulkanisme. Retakan-retakan itu juga menembus cebakan-cebakan (reservoir) gas vulkanik yang ada di kedalaman sekitar 1 hingga 2 kilometer. Akibatnya isi cebakan berupa gas karbondioksida (CO2) dan uap air bertekanan tinggi pun segera meraih jalan keluarnya.

Gerakan gas dan uap itu memilih jalan termudah yang sudah ada, yakni titik lemah yang berujung di Kawah Sinila. Penduduk Dieng sudah lama mengenal kawah ini. Ia adalah cekungan bergaris tengah sekitar 50 meter yang terisi air sehingga menjadi sebuah telaga (danau kecil) yang diberi nama Telaga Nila atau Telaga Sinila. Kawah yang ini kurang populer dibandingkan dengan kawah-kawah tetangganya seperti Kawah Candradimuka, Telaga Dringo dan Sumur (kawah) Jalatunda. Penduduk juga mengenalnya sebagai kawah yang kalem, tak seperti Kawah Timbang yang juga tetangganya namun lasak. Akan tetapi kesan kalem itu akan segera terhapus pada petaka Selasa pagi itu.

Erupsi freatik pun terjadilah, yang dimulai sejak pukul 05:04 WIB. Dorongan sangat kuat dari gas dan uap bertekanan tinggi membobol dasar Kawah Sinila diiringi dentuman menggelegar. Material letusan pun menyembur tinggi hingga beberapa ratus meter, membentuk kolom coklat gelap meraksasa yang mendirikan bulu roma. Bongkahan-bongkahan tanah dan bebatuan hingga seukuran 40 sentimeter mulai terlontar hingga sejarak 150 meter dari kawah. Bersamaan dengannya uap pekat pun terus mengepul. Tanah bergetar. Sekitar pukul 06:00 WIB terjadilah semburan kedua. Horor kian mencekam saat tanah sejarak 250 meter di sebelah barat-baratdaya kawah Sinila mendadak berlubang pada pukul 06:50 WIB. Kawah baru ini sontak menyemburkan material letusan dan kepulan uap pekat. Ia rajin mengirimkan suara gemuruh susul menyusul mirip petir. Dalam istilah setempat petir memiliki nama gluduk atau gludug. Sehingga kawah baru itupun mendapatkan nama Kawah Sigludug.

Gambar 4. Rekonstruksi aliran lahar dari Kawah Sinila dan Kawah Sigludug dalam peristiwa erupsi 1979 yang berujung pada Tragedi Sinila. Nampak aliran lahar mengepung Desa Kepucukan dari arah utara dan timur sehingga hanya menyisakan arah ke barat sebagai pilihan untuk menyelamatkan diri, yang berujung pada tragedi. Digambar ulang dari Guern dkk (1982). Sumber: Sudibyo, 2017 dengan basis Google Earth.


Pada pukul 06:00 WIB itu kawah Sinila mulai melelehkan lahar. Lahar bergerak mengikuti alur batang sungai kecil didekatnya. Sekitar pukul 07:00 WIB, kawah Sinila kembali memuntahkan laharnya. Lahar mengalir hingga sejauh kurang lebih 4 kilometer, memotong jalan raya utama Dieng dan hampir menjangkau jalan lintas selatan di dekat desa Kaliputih. Kawah Sigludug pun turut memuntahkan lahar, namun dengan volume lebih sedikit. Lahar Sigludug hanya mengalir sejauh sekitar 1 kilometer saja mengikuti alur batang kali Tempurung untuk kemudian berhenti sebelum gerbang desa Kepucukan.

Kejadian ini sontak menggemparkan penduduk Dataran Tinggi Dieng bagian barat. Warga enam desa yang mengitari kawah Sinila dan kawah Sigludug pun mengungsi. Termasuk desa Kepucukan. Namun tanpa disadari penduduk Kepucukan, takdir kebumian menempatkan mereka dalam simalakama. Desa ini dijepit dua lembah sungai, baik di sisi timur maupun barat. Terdapat tiga jalur untuk keluar masuk desa, masing-masing ke utara menuju jalur raya utama Dieng. Lalu ke timur menuju desa Pesurenan dan yang terakhir ke barat menuju kota Batur. Sebagian jalur ke barat adalah jalan setapak yang menyeberangi kali Tempurung dan berujung di jalur jalan raya lintas utara Dieng sejarak 1,5 kilometer sebelah timur kota Batur. Di sini berdiri bangunan SD (sekolah dasar) Inpres Kepucukan.

Liang Maut

Pada horor Selasa pagi itu penduduk Kepucukan tak mungkin mengungsi ke utara. Itu sama saja menuju marabahaya, karena disanalah Kawah Sinila dan Kawah Sigludug berada. Mereka juga tak mungkin ke timur, sebab lahar Sinila telah memutus jalur tersebut. Maka pilihan rasional yang tersedia adalah ke barat. Akan tetapi tak satupun menyadari bahwa jalur barat yang dikira aman sesungguhnya adalah jalur maut.

Gambar 5. Lokasi jalur maut Tragedi Sinila 1979, digambar ulang dari Guern dkk (1982) Direktorat Vulkanologi (1979). Nampak pula posisi liang-liang maut penyembur gas karbondioksida, yang turut berkontribusi pada jatuhnya korban terutama di sekitar SD Inpres Kepucukan. Sumber: Sudibyo, 2017 dengan basis Google Earth.


Rentetan gempa disusul erupsi kawah Sinila dan kawah Sigludug membuat tanah yang sudah rapuh itu kian retak-retak di banyak tempat. Beberapa dari retakannya menjulur hingga muncul di paras bumi, sebagai rekahan atau liang kecil. Seperti halnya di Kawah Sinila dan Kawah Sigludug, dari liang-liang kecil ini tersembur gas CO2. Dua liang muncul di sekitar Kawah Timbang. Kawah Timbang sendiri juga turut menyemburkan gas yang sama. Densitas (massa jenis) gas CO2 lebih berat dibanding udara, sehingga selalu menempel ke paras tanah. Keterikatan gas CO2 dengan uap air seperti yang umum dijumpai di Dieng membuat densitasnya menjadi lebih besar. Sehingga ia menjadi laksana air mengalir, bergerak dari tempat yang tinggi ke rendah dengan dikendalikan gravitasi Bumi.

Kombinasi semburan gas CO2 dari dua liang dan Kawah Timbang mengalir jauh ke selatan-baratdaya, menyusuri lembah sungai kecil. Sejarak 800 meter dari kawah Timbang, aliran maut ini bersua dengan barisan pengungsi Kepucukan yang sedang menyusuri jalan raya utama Dieng menjelang kompleks makam (bong) Cina, sekitar 1 kilometer dari kota Batur. Tak terelakkan lagi dalam tempo singkat barisan ini bertumbangan di tempatnya masing-masing. Pingsan lalu meregang nyawa. Sisanya, yang melihat barisan bagian depan gugur, sontak berbalik arah kembali ke Kepucukan. Tanpa disadari, liang-liang kecil yang sama juga bermunculan di sekitar SD Inpres Kepucukan. Bahkan ada empat liang disini, satu diantaranya persis di pinggir jalan setapak. Tak pelak, CO2 pun menyambar-nyambar. Sebanyak 145 orang meregang nyawa di jalan raya.

Gambar 6. Daerah bahaya dalam Tragedi Sinila 1979, digambar ulang dari Direktorat Vulkanologi (1979). Nampak segenap Desa Kepucukan tercakup ke dalam daerah bahaya, sehingga desa ini terlalu rawan untuk dihuni kembali. Sumber: Sudibyo, 2017 dengan basis Google Maps.


Mulai pukul 11:00 WIB aktivitas di kawah Sinila dan Sigludug cenderung mereda. Letusan benar-benar berhenti pada keesokan harinya. Secara keseluruhan erupsi Sinila dan Siglugug memiliki skala 1 VEI (Volcanic Explosivity Index), karena muntahan material letusannya kurang dari sejuta meter kubik. Kawah Sinila sendiri hanya memuntahkan 15.000 meter3 lahar dengan komponen lava didalamnya adalah lava tua (berasal dari magma tua, tanpa keterlibatan magma segar).

Kaldera

Banjarnegara pun gempar kala menyaksikan ratusan penduduk Kepucukan telah bergelimpangan tanpa nyawa. Upaya evakuasi intensif terutama mulai Rabu pagi (21 Februari 1979 TU) juga diiringi jatuhnya lagi 4 korban jiwa dari relawan. Butuh waktu tiga hari untuk mengevakuasi seluruh jasad korban. Seluruh jasad disemayamkan secara terpisah di tiga lokasi dalam kota Batur, yakni di kantor Koramil, Masjid Batur dan kantor kecamatan. Mereka semua lantas dimakamkan pada sebuah pemakaman massal di tengah-tengah ladang kentang tak jauh dari kota Batur. Sebuah tugu peringatan didirikan di sini.

Indonesia dan juga dunia dibuat terpana menatap korban-korban tragedi Sinila. Tragedi letusan gunung berapi yang aneh, karena jasad para korban nampak relatif bersih tanpa diselimuti debu vulkanik. Perhatian besar pun tertuju ke kawasan Dataran Tinggi Dieng. Ebiet G Ade mengabadikan tragedi ini dengan apik dalam lagunya Berita kepada Kawan di album Camelia III.

Penyelidikan memperlihatkan korban-korban berjatuhan akibat paparan gas CO2 dalam konsentrasi tinggi. Selain di sekitar kawah Timbang dan SD Inpres Kepucukan, liang-liang gas itu juga muncul di sejumlah titik. Sebagian diantaranya terkonsentrasi di tepi barat Kali Tempurung. Sebagian diantaranya juga sudah diketahui sebelum tahun 1979 TU. Konsentrasi gas CO2 demikian pekat hingga mencapai 40 kali lipat ambang batas aman. Eksistensi liang-liang tersebut dan hasil pengukuran gas vulkanik di berbagai titik menjadi alasan Direktorat Vulkanologi (kini Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/PVMBG) untuk membentuk Daerah Bahaya Dieng. Zona tersebut terbagi ke dalam dua zona, yakni zona tertutup total dan tertutup sebagian. Tidak boleh ada orang yang masuk dan beraktivitas di zona tertutup total, apapun alasannya. Sementara pada zona tertutup sebagian boleh dimasuki dan ada aktivitas manusia meski terbatas hanya di siang hari dan hanya pada saat angin berhembus.

Segenap desa Kepucukan dan desa Simbar tercakup ke dalam Daerah Bahaya Dieng ini. Beberapa bulan kemudian pemerintah kabupaten Banjarnegara mengambil keputusan menghapus desa Kepucukan dan desa Simbar secara administratif. Sebagian dari penyintas (survivor) di kedua desa diikutsertakan program transmigrasi ke pulau Sumatra. Sebagian lainnya berpindah tempat tinggal ke desa-desa tetangga. Seluruh bangunan di bekas kedua desa pun dibongkar. Namun lahan tempat bangunan-bangunan itu semula berdiri tetap dibiarkan apa adanya. Inilah yang membuat bekas desa Kepucukan mudah dikenali dari udara.

Gambar 7. Struktur kompleks vulkanik Dieng, yang terdiri dari kaldera (garis merah) di sisi timur dan graben/cekungan Batur (garis hitam) di sisi barat. Nampak sejumlah kerucut vulkanis yang tumbuh dalam kompleks vulkanik ini. Digambar ulang dari Sukhyar (1994). Sumber: Sudibyo, 2017 dengan basis Google Maps.


Tragedi Sinila menampakkan salah satu wajah Dieng, yakni wajah ancaman. Wajah yang merugikan bagi kehidupan umat manusia dan makhluk hidup lainnya. Di sisi lain Dataran Tinggi Dieng juga memiliki wajah yang ramah, yakni wajah keindahan. Ancaman dan keindahan memang berbaur menjadi satu bagi tanah yang adalah dataran tinggi tertinggi kedua di dunia setelah Dataran Tinggi Tibet.

Secara geologis Dataran Tinggi Dieng adalah kaldera, atau cekungan (depresi) vulkano-tektonik. Jadi ia adalah produk dari letusan dahsyat sebuah gunung berapi, yang di kemudian hari nampaknya diikuti oleh pergerakan tektonik khususnya pematahan (pensesaran). Dalam hal ini Dataran Tinggi Dieng memiliki kemiripan dengan Danau Toba, meski tentu saja dari segi ukurannya jauh lebih kecil. Karena aktivitas vulkaniknya maka dataran tinggi ini disebut juga Kompleks Vulkanik Dieng.

Kompleks vulkanik Dieng mencakup area sepanjang 14 kilometer (arah barat-timur) dan lebar 6 kilometer (arah utara-selatan). Antara setengah hingga satu juta tahun silam, sebagian kompleks vulkanik ini adalah bagian barat dari Gunung Prahu tua. Suatu letusan dahsyat dialami Gunung Prahu tua pada masa akhir hidupnya, menghasilkan kaldera yang memiliki diameter 7 kilometer. Sisa tubuhnya (tinggal setinggi 2.566 meter dpl) menjadi Gunung Prahu muda yang juga adalah batas sisi timur kaldera. Batas sisi barat dan selatannya masing-masing diduduki Gunung Nagasari (2.365 meter dpl) dan Gunung Bisma (2.365 meter dpl), dua kerucut vulkanik yang lahir dalam aktivitas pascakaldera.

Aktivitas pascakaldera juga membentuk Gunung Seroja (2.275 meter dpl), yang di kemudian hari mengalami erupsi parasitik di kakinya dan membentuk kawah 800 meter yang lantas terisi air sebagai Telaga Menjer. Lalu terbentuk pula Gunung Merdada dan Gunung Pangonan (2.308 meter dpl). Puncak keduanya juga berhias kawah, namun hanya kawah Merdada saja yang tergenangi air sebagian menjadi Telaga Merdada. Di sekitar jajaran Gunung Pangonan dan Merdada inilah kemudian lahir Gunung Pagerkandang/Sipandu (2.241 meter dpl) dan Igir Binem. Gunung Pagerkandang memiliki kawah kering, namun di kakinya tumbuh kawah parasiter yang tergenangi air menjadi telaga Sileri. Sementara Igir Binem memiliki dua kawah berisi air yang saling berdampingan, masing-masing Telaga Warna dan Telaga Pengilon.

Kerucut-kerucut vulkanis ini mulai tumbuh sekitar 17.000 tahun silam. Sementara leleran lava termuda dalam kaldera berumur 8.500 tahun, yakni aliran lava Sikunang. Setelah itu masih lahir lagi sejumlah kerucut vulkanik seluruhnya terkonsentrasi di dekat batas selatan kaldera. Misalnya Gunung Sidede (2.231 meter dpl), Gunung Pakuwaja (2.395 meter dpl), Gunung Sikunir (2.463 meter dpl), Gunung Sikendil (2.340 meter dpl), Gunung Prambanan dan Gunung Watusumbul (2.154 meter dpl).

Setelah kaldera Dieng terbentuk dan aktivitas pascakaldera mulai tumbuh, ketidakstabilan masih berlangsung di sisi barat. Hingga terjadilah pensesaran turun atau pengamblesan (subsidence) yang membentuk graben Batur. Segera sesar-sesar di graben menjadi jalur-jalur lemah yang dilalui magma dari dapur magma di bawah kaldera. Sehingga sejumlah kerucut vulkanis pun lahir. Misalnya Gunung Dringo dan Gunung Petarangan (2.135 meter dpl). Keduanya muncul pada masa yang sama dengan lahirnya Gunung Pangonan dan Gunung Merdada. Lalu Gunung Legetang, yang lahir tepat di sisi timur graben Batur. Baik di dalam kaldera maupun graben Batur, kerucut-kerucut vulkanik tersebut menjulang mulai dari setinggi 100 hingga 300 meter dari paras dataran Dieng.

Gambar 8. Diagram skematik sederhana tentang sistem sesar besar Kebumen-Muria-Meratus dan Cilacap-Pamanukan-Lematang di Jawa Tengah. Aktivitas sistem sesar besar ini diduga menjadi penyebab kompleks vulkanik Dieng “terdorong” ke utara dari lokasi seharusnya. Digambar ulang dari Satyana dan Purwaningsih (2002) Sumber: Sudibyo, 2015.


Dibanding jajaran gunung berapi aktif di tanah Jawa yang bergabung dalam jalur vulkanik Jawa muda, kompleks vulkanik Dieng terletak terlalu ke utara. Selain Dieng, hanya ada tiga gunung berapi muda Jawa yang juga berposisi demikian. Masing-masing Gunung Ciremai, Gunung Ungaran dan Gunung Muria. Keempat gunung berapi tersebut bisa menyebal keluar dari jalur vulkanik Jawa muda akibat aktifnya dua sesar besar, masing-masing sesar besar Kebumen-Muria-Meratus dan sesar besar Cilacap-Pamanukan-Lematang. Selain menjadi penyebab keluarnya kompleks vulkanik Dieng dari jalur vulkanik Jawa muda, dua sesar besar tersebut juga bertanggung jawab atas lebih sempitnya lebar pulau Jawa di bagian tengah ketimbang di bagian barat maupun timur.

Api di Atas Awan

Kompleks vulkanik Dieng adalah satu-satunya gunung berapi berkaldera yang ada di Jawa Tengah. Aktivitas pascakaldera disini dalam kurun 17.000 tahun terakhir telah membentuk tak kurang dari 100 kawah. Sebagian besar diantaranya, yakni sekitar 70 kawah, terkonsentrasi dalam kaldera. Sementara sisanya, yakni sekitar 30 kawah, mengambil tempat dalam graben Batur.

Gambar 9. Kawah Timbang, diabadikan dari sisi utara. Kawah kering ini dikenal rajin menyemburkan gas karbondioksida yang terikat uap air. Gas tersebut akan mengalir menuruni lembah di latar belakang. Sebagian korban Tragedi Sinila menghirup gas beracun dari kawah Timbang ini. Sumber: Aldhila Gusta, 2014.


Dengan lokasinya yang menjulang di ketinggian dan dipahat secara simultan oleh panas magma dan air hujan selama beribu-ribu tahun, tak heran bila kompleks vulkanik Dieng menjadi tempat yang eksotis. Eksotisme yang telah dikenal sejak beratus-ratus tahun silam. Peradaban Jawa masa kuna bahkan menempatkannya dalam posisi tempat suci sesuai dengan kosmologi yang diyakini. Candi-candi Hindu tertua di Jawa pun berdiri di sini, yang dibangun di masa Kerajaan Medang. Dua pusat kerajaan Medang pada zamannya, yakni Mamrati dan Poh Pitu, pun (diduga) terletak tak jauh dari Dieng yakni di sebelah timur Gunung Sindoro. Candi-candi tersebut kini menjadi tempat kunjungan wisatawan yang ramai.

Selain candi, Dieng juga banyak dikunjungi karena aktivitas pascakalderanya. Hanya di Dieng kita bisa ‘merasakan’ gelegak aktivitas vulkanik dalam jarak yang begitu dekat seperti di Kawah Sikidang. Suatu sensasi yang unik karena api (kawah) itu berada di daerah yang sesungguhnya dingin menggigil karena berlokasi di atas garis awan. Panorama di aneka telaga seperti Telaga Warna, Telaga Pengilon dan Telaga Menjer pun sungguh menawan. Pada aras yang lain, kompleks vulkanik ini terkenal akan kesuburan tanahnya, salah satu ciri khas kawasan vulkanik. Dengan kesuburan lahannya dan ditunjang oleh kedudukannya di ketinggian, lahan pertanian Dieng menjadi produsen kentang terbesar se-Indonesia.

Gambar 10. Kawah Sikendang, tepat di tepi jalur lalu-lalang antara Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Dengan konsentrasi gas CO2 yang dilepaskan kawah ini mencapai 74 % maka perlu penataan lebih lanjut agar pengunjung tidak tepat berada di bibir kawah. Sumber: Geomagz/Parpar Priatna, 2015.


Akan tetapi high risk high gain, sisi eksotika Dieng sebanding dengan sisi ancamannya. Kompleks ini adalah kompleks vulkanik yang masih aktif, sehingga gejolak magmanya kerap menghasilkan erupsi. Meski dalam tiga abad terakhir karakter letusan di Dieng berupa erupsi freatik yang kerap diikuti lontaran/semburan lumpur dengan lubang letusan yang berbeda-beda. Erupsi di Dieng memiliki skala yang kecil, hanya 1 hingga 2 VEI, terhitung sejak catatan tahun 1786 TU. Gelegak magma juga memanasi tubuh kompleks vulkanik Dieng dengan begitu intensif dan berkesinambungan sehingga laksana dikukus terus menerus. Akibatnya terjadi alterasi hidrotermal (persentuhan dengan cairan panas produk aktivitas vulkanik), yang melemahkan kekuatan batuan. Sehingga tanah Dieng menjadi lebih rapuh dan mudah longsor. Diduga pernah terjadi letusan yang cukup besar dengan segala akibatnya sehingga Dieng sempat kosong dari hunian manusia selama beberapa waktu, sebelum kemudian mulai dihuni kembali di abad ke-19 TU.

Gambar 11. Distribusi gas karbondioksida dalam tanah pada kompleks vulkanik Dieng. Nampak konsentrasi tertinggi (lebih dari 25 %) dijumpai baik dalam kaldera maupun graben Batur. Sumber: UGM/Fak. Geografi, 2014.


Namun ancaman paling menonjol di Dieng adalah gas beracunnya, dalam wujud gas CO2. Gas ini adalah gas vulkanik, berasal dari magma segar nun jauh di kedalaman Dieng. Magma segar tersebut tak bergerak, namun melepaskan cairan hidrotermal yang kaya gas CO2 secara kontinu. Berkurangnya tekanan saat bergerak ke atas membuat cairan superpanas ini mengalami pendidihan pada kedalaman sekitar 4,5 kilometer sehingga terbentuklah gas CO2 yang kaya uap air. Campuran ini terus bergerak ke atas sembari terus memperkaya konsentrasi gas CO2-nya hingga akhirnya tiba di cebakan-cebakan pada kedalaman sekitar 1 kilometer. Dari sini sebagian gas tersebut mengalir keluar terutama lewat lubang-lubang kawah. Namun sebagian lainnya tetap tersekap dalam cebakan dan dalam tanah.

Kawah Sikidang melepaskan gas CO2 dalam konsentrasi 5,7 % yang tergolong rendah. Sebaliknya Kawah Sileri, yang paling rajin meletus itu, memiliki konsentrasi gas CO2 yang cukup tinggi, yakni sebesar 56 %. Bahkan Kawah Sikendang, kawah kecil tak populer yang terletak di sisi Telaga Warna, melepaskan gas CO2 hingga 73,8 %. Pengukuran gas CO2 dalam tanah menunjukkan bahwa baik kaldera maupun graben Batur umumnya mengandung gas CO2 dalam konsentrasi lebih dari 0,5 % (angka batas aman). Sebaliknya konsentrasi gas CO2 di udara terbuka hanya berkisar 0,03 % atau setara dengan lingkungan selain Dieng. Kandungan gas CO2 yang besar di dalam tanah membawa implikasi bahwa mereka bisa terbebaskan ke udara saat terjadi gangguan besar dalam tanah Dieng, baik berupa gempa bumi maupun letusan gunung berapi.

Referensi:

IAVCEI. 2000. Crater Lakes of Java: Dieng, Kelud and Ijen, Excursion Guidebook. International Association of Volcanology and Chemistry of the Earth’s Interior, 2000 General Assembly. Bali: Denpasar.

Rizal. 2014. Kajian Sebaran dan Karakteristik Kawah di Gunungapi Dieng. Kuliah Kerja Lapangan 3, Fakultas Geografi UGM, Yogyakarta.

Priatna. 2015. Menata Eksotisme Dieng. Majalah Geomagz, vol. 5 no. 3 September 2015, hal. 35-39.

Guern dkk. 1982. An Example of Health Hazard, People Killed by Gas during a Phreatic Eruption: Dieng Plateau (Java, Indonesia), February 20th 1979. Bulletin of Volcanology, vol. 45-2 (1982), hal. 153-156.

Sukhyar dkk. 1994. Peta Geologi Komplek Gunungapi Dieng, Jawa Tengah. Direktorat Vulkanologi.

Global Volcanism Program. Dieng Volcanic Complex. Smithsonian Institution, National Museum of Natural History.

Nanang. 2014. Kompleks Sinila dan Timbang Jadi Incaran Penggarap. BanyumasNews.com, 5 April 2014.

Iklan

Erupsi Freatik di Kawah Sileri

Sejauh ini 11 orang dikabarkan mengalami luka-luka akibat jatuh saat lari berhamburan dalam peristiwa letusan yang terjadi di Kawah Sileri di kompleks Dataran Tinggi Dieng. Letusan itu terjadi pada Minggu 2 Juli 2017 Tarikh Umum (TU) sekitar pukul 12:00 WIB. Letusan ditandai dengan semburan material hingga setinggi sekitar 150 meter di atas kawah, diikuti dengan kepulan uap air pekat yang membumbung tinggi. Tak pelak pengunjung kawah yang juga adalah salah satu obyek wisata di kawasan Dieng ini pun dibikin panik. Terlebih peristiwa ini terjadi pada masa libur Lebaran 2017, kala Dataran Tinggi Dieng sedang padat-padatnya oleh wisatawan.

Dan kisah muram pun bergulir kembali dalam beberapa jam kemudian, meski dalam bentuk kejadian yang sama sekali berbeda. Yakni saat helikopter Basarnas (Badan SAR Nasional) yang sedang terbang menuju lokasi letusan usai menjalankan tugas pengawasan arus mudik dan balik Lebaran di pintu tol fungsional Gringsing (Kabupaten Batang) bernasib naas. Helikopter yang mengangkut sembilan orang itu menubruk tebing Bukit Butak, Candiroto (Kabupaten Temanggung) dan jatuh terbakar. Seluruh penumpangnya dipastikan tewas.

Gambar 1. Hembusan uap air panas pekat dari Kawah Sileri, sesaat setelah erupsi freatik terjadi pada 2 Juli 2017 TU pukul 12:00 WIB. Foto dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sumber: BNPB/Sutopo Purwo Nugroho, 2017.

Freatik

Kawah Sileri merupakan satu dari sekitar 100 kawah yang tersebar di sekujur Dataran Tinggi Dieng, yang dikenal juga sebagai kompleks vulkanik Dieng. Kawah ini merupakan cekungan seluas 4 hektar, menjadikannya kawah terluas di kompleks vulkanik Dieng. Kawah yang secara administratif terletak di desa Kepakisan, Batur (Kabupaten Banjarnegara) ini dalam kesehariannya digenangi air sebagai sebuah telaga. Pelepasan gas-gas vulkanik dari dasar kawah menyebabkan asap putih mirip kabut senantiasa mengepul dari paras air telaga ini. Airnya nampak berwarna putih abu-abu mirip air cucian beras, yang dalam istilah setempat disebut Leri. Karena itulah kawah ini mendapatkan namanya sebagai Kawah Sileri.

Erupsi (letusan) Sileri barusan tergolong erupsi freatik. Tanda-tandanya sangat jelas terhampar di sekeliling kawah sebagai endapan material letusan. Material tersebut merupakan lumpur bersuhu rendah yang melampar hingga sejauh 50 meter dari bibir kawah. Suhu rendah tersebut setidaknya setara dengan suhu lingkungan dan jauh lebih rendah ketimbang suhu air kawah (yang rata-rata sebesar 70º C), sehingga tidak menyebabkan luka bakar pada kulit manusia saat dipegang. Erupsi freatik diketahui menyemburkan material letusan dengan suhu yang relatif rendah (umumnya kurang dari 200º C) dibanding jenis erupsi magmatik.

Gambar 2. Citra satelit Dataran Tinggi Dieng dalam cahaya tampak, dengan sejumlah kawah ukuran besar yang tergenangi air sebagai telaga. Nampak Telaga Sileri (dimana Kawah Sileri berada), tergolong kecil dibanding telaga-telaga yang lain. Sumber: Sudibyo, 2017 berdasar peta Google Maps.

Berdasarkan tenaga penggeraknya, secara umum dikenal tiga jenis erupsi vulkanik. Yakni erupsi magmatik, erupsi freatik dan erupsi freatomagmatik. Erupsi magmatik adalah erupsi yang ditenagai oleh magma segar dengan kandungan gas-gas vulkaniknya yang besar. Magma segar ini menyeruak dari dapur magma di kedalaman. Inilah erupsi yang umumnya dikenal khalayak. Karena bertumpu pada magma segar, maka saat keluar dari lubang letusan dan bertransformasi menjadi material letusan (misalnya lava atau awan panas), suhunya masih sangat tinggi (lebih dari 700º C).

Sementara erupsi freatik ditenagai oleh uap air bertekanan tinggi. Uap air tersebut terbentuk seiring pemanasan air bawah tanah oleh sumber panas, yang bisa berasal dari magma segar maupun magma tua. Magma tua adalah magma yang tersisa dari episode letusan sebelumnya dan tetap berada di dalam saluran magma (diatrema). Karena sifatnya sebagai penghantar panas yang buruk, maka magma tua tetap memiliki suhu cukup tinggi yang mampu memanaskan air bawah tanah hingga menjadi uap. Bila tekanannya sudah sangat tinggi maka sumbat batuan yang selama ini menyekap uap air tersebut dalam reservoirnya pun dapat bobol. Sepanjang perjalanannya ke atas, uap air bertekanan tinggi ini menyeret pula bagian-bagian sumbat batuan maupun magma tua, menjadikannya material letusan. Maka material letusan freatik berciri khas suhu relatif lebih rendah dan diiringi dengan adanya fragmen-fragmen batuan tua dalam beragam ukuran yang mulai memperlihatkan tanda-tanda melapuk.

Sedangkan erupsi freatomagmatik terjadi tatkala magma segar langsung bersentuhan dengan air bawah tanah. Akibatnya terjadi pendinginan cepat di ‘kulit’ (permukaan) tubuh magma segar itu, sehingga membentuk batu-batuan seukuran kerikil. Uap air bertekanan tinggi pun sontak terbentuk. Sehingga material letusannya terdiri dari batuan segar dan uap air dengan suhu relatif tinggi.

Dengan karakter demikian maka erupsi freatik bisa menjadi peristiwa yang mengawali episode letusan sebuah gunung berapi. Misalnya pada Gunung Sinabung dalam Letusan Sinabung 2010 dan awal-awal Letusan Sinabung 2013 – sekarang. Dalam hal ini maka durasi erupsinya dapat cukup panjang, mulai dari beberapa hari hingga berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun kemudian. Di sini erupsi freatik menjadi pendahulu dari erupsi magmatik. Sebaliknya erupsi freatik pun dapat berdiri sendiri tanpa erupsi magmatik. Misalnya pada Gunung Merapi, terutama dalam aktivitas 2012-2014-nya. Erupsi freatik yang berdiri sendiri umumnya berdurasi sangat singkat, tak sampai sejam.

Erupsi Freatik Dieng

Erupsi freatik merupakan ciri khas dari aktivitas vulkanik di Dataran Tinggi Dieng. Selama 200 tahun terakhir terjadi setidaknya 10 kejadian erupsi freatik, atau rata-rata sekali erupsi per 20 tahun. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang bernaung di bawah Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral membagi erupsi freatik di Dieng ke dalam dua kategori. Yang pertama adalah erupsi freatik tanpa tanda awal seismik. terjadi karena terjadi sumbatan mendadak pada fumarol (sumber uap air) atau solfatara (sumber gas SO2).

Gambar 3. Material letusan berupa lumpur dingin yang melampar hingga 50 meter dari bibir kawah Sileri. Lokasi Kawah Sileri adalah di sisi kanan dari foto. Bersumber dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sumber: BNPB/Sutopo Purwo Nugroho, 2017.

Sementara yang kedua adalah erupsi freatik dengan tanda awal seismik, baik berupa gempa tektonik lokal maupun regional. Termasuk ke dalam kategori kedua adalah erupsi freatik yang muncul dari retakan di paras Bumi dimana tidak ada indikasi panasbumi (dalam bentuk kawah maupun alterasi batuan) disitu. Kategori kedua ini lebih sering terjadi di kompleks vulkanik Dieng bagian barat. Yakni di kawasan yang dikenal sebagai graben Batur.

Erupsi Sileri barusan nampaknya lebih condong ke kategori pertama. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan tidak ada tanda-tanda awal seismik yang terekam pada seismometer di stasiun-stasiun geofisika yang berdekatan dengan kompleks vulkanik Dieng. Baik pada stasiun yang relatif jauh seperti stasiun Yogyakarta (YOGI), Semarang (SMRI) dan Karangpucung (KPJI). Maupun pada stasiun yang relatif dekat seperti Slawi (CTJI) dan Banjarnegara (BJI), dimana stasiun Banjarnegara sedang diluar jaringan (offline).

Bila Erupsi Sileri barusan merupakan erupsi freatik kategori pertama, maka curah hujan yang tinggi yang mengguyur sebagian kawasan Jawa Tengah sepanjang Juni 2017 TU lalu mungkin menjadi salah satu faktor yang berperan penting. Hujan deras mungkin menyebabkan ada bagian lereng kawah yang longsor hingga menimbuni fumarol atau solfatara di dasar Kawah Sileri. Hujan juga memberi pasokan air yang berlimpah ke kawah, menjadikan cukup banyak air yang bisa meresap menjadi air bawah tanah dan dididihkan oleh magma tua di bawah Kawah Sileri. Begitu fumarol tersumbat, maka uap air tak menemukan jalan keluarnya sehingga tekanannya pun meningkat. Dan pada akhirnya erupsi pun terjadilah.

Menurut catatan PVMBG, sepanjang 2017 TU ini Kawah Sileri ternyata sudah tiga kali mengalami erupsi freatik. Kejadian pertama adalah pada 3 April 2017 TU silam. Yang disusul dengan kejadian kedua pada 24 April 2017 TU. Sementara kejadian ketiga, pada 2 Juli 2017 TU, adalah yang terbesar. Baik pada erupsi freatik yang pertama maupun yang kedua juga tidak diikuti dengan tanda-tanda awal seismik. Atas dua kejadian erupsi tersebut PVMBG merekomendasikan agar pengelola obyek wisata Dieng membatasi jangkauan pengunjung hingga radius 100 meter dari kawah. Rupanya rekomendasi tersebut tak dijalankan. Pada saat Erupsi Sileri barusan terjadi, pengunjung bahkan mendekat hingga hanya 15 meter dari bibir kawah.

Gambar 4. Tampak dekat lumpur yang disemburkan dan diendapkan di sekitar Kawah Sileri. Karakteristik lumpur ini membuktikan bahwa Erupsi Sileri adalah erupsi freatik. Foto dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sumber: BNPB/Sutopo Purwo Nugroho, 2017.

Mujur bahwa Erupsi Sileri kali ini tidak diikuti dengan pelepasan gas CO2 dalam jumlah besar dengan konsentrasi pekat. Sehingga bencana memilukan seperti Tragedi Sinila 1979 yang menewaskan 149 orang dapat dihindari. Namun Kawah Sileri juga bukannya kawah yang anteng. Sepanjang delapan dasawarsa terakhir, Kawah Sileri menjadi kawah yang paling aktif di kompleks vulkanik Dieng. Ia telah delapan kali meletus, atau rata-rata meletus setiap 10 tahun sekali. Letusan 1944 tercatat apik dalam sejarah karena menewaskan tak kurang dari 144 orang. Aktivitas berikutnya adalah Letusan 1964 yang berupa erupsi freatik disertai semburan lumpur. Demikian halnya Letusan 1984 dan Letusan 1986. Sebaliknya Letusan 2003, Letusan 2006 dan Letusan 2009 merupakan erupsi freatik tanpa semburan lumpur yang signifikan.

Dan akhirnya, Erupsi Sileri mempertontonkan dengan telanjang satu dari dua sisi Dataran Tinggi Dieng. Yakni sisi ancaman. Sementara sisi yang berseberangan adalah sisi keindahan, yang telah banyak menggamit hati para insan dan menjadikan mereka berduyun-duyun mendatangi tanah di atas awan ini. Mengutip kata-kata seorang geografer legendaris T Bachtiar, Dataran Tinggi Dieng adalah sekolah tentang semesta. Inilah tempat belajar tentang keindahan, kehidupan dan kewaspadaan. Di sini, antara pesona dan keberkahan berhimpitan dengan ancaman, layaknya dua sisi dari sebuah mata pisau.

Referensi :

IAVCEI. 2000. Crater Lakes of Java: Dieng, Kelud and Ijen, Excursion Guidebook. International Association of Volcanology and Chemistry of the Earth’s Interior, 2000 General Assembly. Bali: Denpasar.

Rizal. 2014. Kajian Sebaran dan Karakteristik Kawah di Gunungapi Dieng. Kuliah Kerja Lapangan 3, Fakultas Geografi UGM, Yogyakarta.

Tempo.co. 2017. PVMBG Sudah Ingatkan Pengelola Dieng Soal Letusan Kawah Sileri. Tempo.co Minggu 2 Juli 2017.

Daryono Sutopawiro. 2017. komunikasi personal.

Andri Sulistyo. 2017. komunikasi personal.

Yogyakarta dan Kepungan Gunung-Gemunung Berapi Purba

Uap panas mengepul dari satu sudut di dusun Kayen desa Sampang, kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul (DIY) mulai Kamis pagi 15 Februari 2017 (TU) Tarikh Umum lalu. Hingga beberapa hari kemudian uap masih mengepul. Bersamanya menguar pula aroma Belerang yang khas. Khalayak setempat pun dibuat resah. Terlebih setelah salah satu penyebab potensial, yakni arus listrik melalui grounding yang bocor, telah dapat dikesampingkan mengingat saat aliran listrik ke rumah pak Trisno Wiyono dimatikan, uap panas itu tetap mengepul dari sudut pekarangannya.

Apalagi titik keluarnya uap panas tersebut tidak terlalu jauh dari Gunung Nglanggeran, kompleks gunung berapi purba yang kini menjadi obyek wisata. Tersebar cerita yang konon dari masa silam, bahwa kawah Gunung Nglanggeran pada masanya adalah berada di dusun itu. Maka saat saling dikait-kaitkan, mudah saja mendatangkan kesan bahwa kepulan uap tersebut ada hubungannya dengan Gunung Nglanggeran.

Gambar 1. Lokasi titik kepulan uap panas di dusun Kayen desa Sampang kecamatan Gedangsari, Gunungkidul. Uap tersebut keluar di dekat sudut bangunan di latar depan. Uap lantas disalurkan ke ketinggian dengan pipa logam, setelah pipa PVC yang digunakan sebelumnya rusak dan melengkung oleh panasnya uap. Sumber: Kabar Handayani, 2017.

Gambar 1. Lokasi titik kepulan uap panas di dusun Kayen desa Sampang kecamatan Gedangsari, Gunungkidul. Uap tersebut keluar di dekat sudut bangunan di latar depan. Uap lantas disalurkan ke ketinggian dengan pipa logam, setelah pipa PVC yang digunakan sebelumnya rusak dan melengkung oleh panasnya uap. Sumber: Kabar Handayani, 2017.

Apakah gunung berapi purba itu aktif lagi?

BPPTKG (Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknik Kebencanaan Geologi), lembaga yang berkedudukan di Yogyakarta dan berada di bawah payung Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral RI pun menerjunkan timnya ke desa Sampang. Tim ini sangat berkompeten mengingat tugas BPPTKG salah satunya adalah mengamati segenap perilaku Gunung Merapi, baik dalam kondisi normal maupun meletus. Pengukuran temperatur menunjukkan tepat di titik keluarnya uap, suhu mencapai 68º C.

Suhu ini tergolong tinggi sehingga mampu melengkungkan pipa PVC yang dipasang warga untuk menyalurkan uap hingga ke ketinggian tertentu. Sebalikya dalam radius 2 meter dari titik tersebut, suhu telah merosot drastis menjadi tinggal 30º C atau hampir sama dengan suhu rata-rata setempat. Sementara pengukuran gas menunjukkan adanya konsentrasi gas CO2 yang sedikit lebih besar dibanding normal, yakni mencapai 1 % (pada udara normal 0,3 %). Analisis lebih lanjut dikerjakan dalam laboratorium setelah tim mengambil sampel air hasil kondensasi uap tersebut.

Apakah sebuah gunung berapi purba dapat ‘bangun’ kembali setelah mati?

Tanpa mendahului kerja tim BPPTKG, dapat dikatakan bahwa peluang ‘bangun’ kembalinya sebuah gunung berapi purba adalah serupa dengan peluang hidupnya kembali seekor dinosaurus di masa kini (setelah mereka terbabat habis 65 juta tahun silam). Dengan kata lain, amat sangat kecil sehingga praktis bisa dikatakan mustahil. Gunung berapi purba pada dasarnya adalah fosil gunung berapi. Sebagai fosil, ia dapat disetarakan dengan fosil dinosaurus.

Dulu, dulu sekali nun jauh di masa silam, pada waktu berjuta hingga berpuluh juta tahun silam, gunung berapi purba itu adalah gunung berapi yang aktif. Tentu saat itu ia rajin meletus layaknya Gunung Merapi masa kini.Namun pada satu waktu, gunung berapi itu mati seiring usianya. terutama setelah pasokan magma dari dapur magmanya terputus total oleh sebab tertentu. Sehingga magma yang masih tersisa dalam diatrema (saluran magma utama)-nya pun kehilangan dorongan untuk ke atas. Apalagi keluar lewat kawah.

Perlahan-lahan sisa magma ini mulai membeku, membentuk batuan beku seperti granit atau diorit atau sejenisnya secara perlahan-lahan. Pada saat yang sama keseimbangan alamiah yang selama ini menopang tubuh gunung berapi itu dalam menjaga bentuknya, yakni antara pasokan magma yang menyeruak sebagai lava dengan kikisan air sebagai erosi, pun berantakan. Tinggal satu sisi yang terus bekerja, yakni yang secara perlahan-lahan menyayat, mengukir dan mengikis selapis demi selapis tubuh gunung.

Proses perusakan tubuh gunung itu terus berlangsung selama ratusan ribu hingga jutaan tahun kemudian. Sehingga sebagian besar tubuhnya pun habis dikikis. Yang masih nampak hanyalah bukit batuan beku keras eks-diatrema yang disebut leher vulkanik atau sumbat vulkanik. Dan sisa-sisa kakinya. Inilah fosil gunung berapi.

Gambar 2. Perbandingan penampang melintang antara gunung berapi aktif (atas) dengan gunung berapi purba. Penampang gunung berapi purba terbagi lagi menjadi gunung berapi purba yang tererosi dalam tingkat dewasa (tengah) dan yang tererosi tingkat lanjut (bawah). Jika hanya dilihat sekilas, maka sangat sulit untuk membedakan gunung berapi purba baik tingkat dewasa maupun lanjut dengan bukit-bukit non vulkanik pada umumnya. Sumber: Bronto, 2012.

Gambar 2. Perbandingan penampang melintang antara gunung berapi aktif (atas) dengan gunung berapi purba. Penampang gunung berapi purba terbagi lagi menjadi gunung berapi purba yang tererosi dalam tingkat dewasa (tengah) dan yang tererosi tingkat lanjut (bawah). Jika hanya dilihat sekilas, maka sangat sulit untuk membedakan gunung berapi purba baik tingkat dewasa maupun lanjut dengan bukit-bukit non vulkanik pada umumnya. Sumber: Bronto, 2012.

Gunung berapi purba jelas berbeda dengan gunung berapi tidur (dorman). Berbeda dengan gunung berapi purba, gunung berapi tidur tidaklah mati. Ia hanya tertidur panjang, namun masih tetap terhubung dengan dapur magmanya. Meski diatrema-nya umumnya tersumbat oleh magma sisa yang masih setengah plastis dan panas (meski beberapa bagian mulai membeku dan membatu). Perubahan dalam dapur magma (misalnya akibat guncangan gempa) akan membuat magma segar mengandung lebih banyak gas sehingga bertekanan sangat tinggi.

Maka sumbat diatrema pun bisa ditembus dan magma segar akan keluar sebagai lava yang penuh gas dari kawah. Inilah yang terjadi dalam letusan-letusan dahsyat gunung berapi, termasuk tiga peristiwa legendaris: Letusan Samalas-Rinjani 1257, Letusan Tambora 1815, Letusan Krakatau 1883. Pada umumnya sebuah gunung berapi dikatakan ‘tertidur’ jika letusan terakhirnya terjadi kurang dari 10.000 tahun terakhir. Terkecuali dalam kasus gunung-gemunung berapi super seperti Gunung Toba yang bisa tertidur jauh lebih lama lagi sebelum beraksi.

Sebaliknya gunung berapi purba sudah benar-benar putus hubungan dengan dapur magmanya. Andaikata jauh dibawahnya masih terdapat dapur magma, maka peluang bagi magma segar untuk bisa menyeruak ke paras Bumi telah tertutup oleh keberadaan sumbat sangat keras dan sangat panjang yang mengisi diatremanya. Bila dapur magmanya terletak di kedalaman 10 kilometer, maka sepanjang itu pulalah diatrema tersumbat total oleh batuan beku yang sangat keras.

Gunung Nglanggeran

Tidak jauh dari desa Sampang terdapat bukit-bukit yang berdinding terjal dan tersusun oleh batuan pejal. Bukit-bukit tersebut menempati area seluas 48 hektar yang berada di desa Nglanggeran, kecamatan Patuk (Gunungkidul). Inilah Gunung Nglanggeran. Bukit-bukit batu pejal itu sesungguhnya leher vulkanik. Ilmu kebumian menyebutnya tersusun oleh batuan beku terobosan (intrusi), karena sesungguhnya magma yang membentuk leher vulkanik ini tidak pernah tersingkap di paras Bumi kala dalam proses pembentukannya. Ia sepenuhnya mendingin hingga membeku di dalam tanah, tatkala segenap tubuh gunung ini masih ada.

Gambar 3. Rekonstruksi kasar bentuk tubuh Gunung Nglanggeran pada saat masih sebagai gunung berapi aktif, tanpa skala dan dianggap berbentuk kerucut sempurna dengan kawah di puncaknya. Lokasi kawah segaris lurus dengan kompleks Gunung Nglanggeran masakini. Pada masa aktifnya, sebagian tubuh gunung berapi ini berada di bawah paras air laut. Dibuat berdasarkan citra Google StreetView dari satu titik di desa Serut, kec. Gedangsari (Gunungkidul) yang terletak di sebelah utara Gunung Nglanggeran. Sumber: Sudibyo, 2017 dengan basis Google StreetView, 2017.

Gambar 3. Rekonstruksi kasar bentuk tubuh Gunung Nglanggeran pada saat masih sebagai gunung berapi aktif, tanpa skala dan dianggap berbentuk kerucut sempurna dengan kawah di puncaknya. Lokasi kawah segaris lurus dengan kompleks Gunung Nglanggeran masakini. Pada masa aktifnya, sebagian tubuh gunung berapi ini berada di bawah paras air laut. Dibuat berdasarkan citra Google StreetView dari satu titik di desa Serut, kec. Gedangsari (Gunungkidul) yang terletak di sebelah utara Gunung Nglanggeran. Sumber: Sudibyo, 2017 dengan basis Google StreetView, 2017.

Dimanakah letak kawah gunung berapi purba ini (atau setidaknya sisa kawahnya)? Pada umumnya kawah gunung berapi terletak di puncak gunung sekaligus menjadi muara dari diatrema. Mengingat bukit-bukit batu itu adalah leher vulkanik Nglanggeran, maka logikanya kawah gunung berapi purba tersebut ada di ujung atas leher vulkaniknya. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Sutikno Bronto (2009, 2010), vulkanolog legendaris Indonesia, bahwa sebagian besar bukit-bukit batu itu tersusun oleh aglomerat.

Aglomerat adalah batuan produk letusan gunung berapi yang banyak mengandung bom gunung berapi, yakni bongkahan batuan beku yang ukurannya besar. Saat sebuah gunung berapi meletus, bom gunung berapi akan dilontarkan kuat-kuat dari dalam lubang letusan atau kawah, lantas jatuh bebas di sekitar kawah dalam jarak yang tak jauh. Sisa-sisa bom gunung berapi Nglanggeran ditemukan berbentuk mirip buah salak, dengan bagian runcing di sebelah atas sementara bagian yang besar dan berat di sisi bawah.

Maka anggapan bahwa kawah gunung berapi purba Nglanggeran berada di desa Sampang, yang berjarak beberapa kilometer dari leher vulkanik Nglanggeran, menjadi kurang tepat. Memang pada saat Gunung Nglanggeran masih aktif dalam berpuluh juta tahun silam, area yang kini menjadi desa Sampang kemungkinan merupakan bagian dari tubuh gunung berapi itu. Namun area ini bukanlah bagian dari kawasan yang bersinggungan atau berdekatan dengan diatrema gunung berapi tersebut, dengan segala dinamikanya.

Pengukuran umur batuan beku menunjukkan Gunung Nglanggeran adalah gunung berapi aktif pada masa sekitar 58 juta tahun silam. Jika dikaitkan dengan sejarah geologi pulau Jawa, jelas Gunung Nglanggeran merupakan gunung berapi laut. Bagian kakinya berdiri di atas dasar Samudera Indonesia (Indian Ocean) dengan sebagian tubuhnya mungkin terbasuh permanen dalam air laut. Apakah puncaknya menyembul di atas paras laut dan menjadi sebuah pulau vulkanis? Kita tidak tahu. Namun yang jelas, dalam kurun 58 juta tahun terakhir Gunung Nglanggeran telah mati. Pergerakan tektonik seiring dorongan lempeng Australia yang oseanik lantas mendorongnya lebih ke utara, untuk kemudian terangkat dari dasar samudera seiring terbentuknya pulau Jawa dan akhirnya menyatu dengan kompleks Pegunungan Selatan di sisi selatan Jawadwipa.

Isu Gunung Nglanggeran aktif kembali sebenarnya bukan hal yang baru. Saat Gunung Merapi meletus besar dalam Letusan Merapi 2010 di bulan November 2010 TU, sejumlah orang yang bertempat tinggal di sekitar Gunung Nglanggeran mengaku merasa ada getaran dan mendengar suara gemuruh. Bahkan ada juga yang mengaku melihat kepulan asap dari bukit-bukit batu itu. Evaluasi lebih lanjut memperlihatkan getaran dan suara gemuruh itu sejatinya berasal dari Gunung Merapi, yang berjarak sekitar 40 kilometer dari Gunung Nglanggeran. Letusan Merapi 2010 itu memang luar biasa dan berbeda dengan letusan-letusan Merapi sebelumnya. Sehingga suara gemuruhnya pun terdengar hingga jarak yang cukup jauh, demikian halnya getaran-getaran gempa vulkaniknya.

Gambar 4. Bebatuan mirip pilar-pilar yang saling bertumpuk di ujung Tanjung Karangbata, Kebumen (Jawa Tengah). Bebatuan ini kemungkinan adalah bagian dari leher vulkanik Gunung Manganti, salah satu gunung berapi purba di Tanjung Karangbolong. Bebatuan khas semacam ini dinamakan kekar kolom dan acap dijumpai di lingkungan gunung berapi purba khususnya di eks-diatrema dan cabang-cabangnya. Diabadikan oleh geolog Bambang Mertani. Sumber: Mertani, 2013.

Gambar 4. Bebatuan mirip pilar-pilar yang saling bertumpuk di ujung Tanjung Karangbata, Kebumen (Jawa Tengah). Bebatuan ini kemungkinan adalah bagian dari leher vulkanik Gunung Manganti, salah satu gunung berapi purba di Tanjung Karangbolong. Bebatuan khas semacam ini dinamakan kekar kolom dan acap dijumpai di lingkungan gunung berapi purba khususnya di eks-diatrema dan cabang-cabangnya. Diabadikan oleh geolog Bambang Mertani. Sumber: Mertani, 2013.

Dalam kondisi Gunung Nglanggeran seperti sekarang ini, apakah ia bisa aktif lagi? Peluangnya sangat kecil sehingga secara teknis bisa dikatakan mustahil. Leher vulkanik Nglanggeran merupakan ujung yang kasatmata dari batuan beku pejal sangat panjang yang menyumbat total diatrema gunung berapi purba tersebut. Mustahil bagi magma segar untuk bisa menjebolnya. Apalagi sebagai fluida, magma juga lebih menyukai untuk menembus/melewati titik-titik yang lebih lemah di kerak Bumi. Ketimbang harus bersusah-payah membobol batuan beku pejal yang sangat panjang yang menyumbat total diatrema Gunung Nglanggeran, mengapa tidak mencari titik yang lebih lemah disekitarnya?

Dalam bahasa yang lebih sederhana, andaikata saya adalah magma segar nun jauh di bawah Nglanggeran (pada kedalaman misalnya 30 kilometer), maka ketimbang susah-susah harus berjuang membobol sumbat sangat keras dan panjang di Nglanggeran, mengapa saya tidak sedikit beringsut ke utara saja dan keluar lewat Gunung Merapi?

Kepungan Gunung Berapi Purba

Pada aras yang lain, diskusi seputar Gunung Nglanggeran terkini dengan kepulan uap panas didekatnya membuat kita mau tak mau membuat kita menekuri kembali bumi Yogyakarta pada khususnya dan pulau Jawa bagian selatan pada umumnya dengan lebih cermat. Terutama terkait gunung berapi purba. Luar biasanya, dari perspektif ilmu kebumian, Yogyakarta boleh dikata sebagai kota yang ‘dikepung’ oleh gunung-gemunung berapi purba !

Gambar 5. Salah satu sudut Gunung Watuadeg, yakni gunung berapi purba yang berjarak cukup dekat dengan kota Yogyakarta. Diabadikan dari tepi timur Sungai Opak, nampak singkapan lava bantal di sisi barat dasar sungai dengan tampilan khasnya sebagai bongkah-bongkah batuan beku kehitaman yang saling terhubung. Diabadikan oleh Nova Aristianto pada 2014 TU. Sumber: Aristianto, 2014.

Gambar 5. Salah satu sudut Gunung Watuadeg, yakni gunung berapi purba yang berjarak cukup dekat dengan kota Yogyakarta. Diabadikan dari tepi timur Sungai Opak, nampak singkapan lava bantal di sisi barat dasar sungai dengan tampilan khasnya sebagai bongkah-bongkah batuan beku kehitaman yang saling terhubung. Diabadikan oleh Nova Aristianto pada 2014 TU. Sumber: Aristianto, 2014.

Mari lihat dua contoh berikut. Dari Yogyakarta, sempatkanlah menengok sudut kecil di sebelah tenggara Bandara Adisucipto dalam jarak tak lebih dari 5 kilometer. Susurilah jalan raya Berbah-Prambanan dari arah barat menuju lokasi situs Candi Abang. Di jalan ini anda akan melintasi jembatan Sungai Opak yang memiliki nama unik: Jembatan Gemblung. Lihatlah ke dasar sungai yang juga adalah batas antara desa Kalitirto (sisi barat) dan Jogotirto (sisi timur) di kecamatan Berbah (Sleman). Jika air surut, akan terlihat panorama bebatuan gamping di sisi timur sebaliknya di sisi barat terhampar bongkah-bongkah batuan beku membulat kehitaman yang saling terhubung. Bebatuan ini adalah lava bantal, maka lokasi ini populer sebagai Lava Bantal Geoheritage. Saat menatapnya, sadarkah bahwa anda sesungguhnya sedang berdiri di gunung berapi purba?

Gunung berapi purba itu adalah Gunung Watuadeg. Lava Bantal Geoheritage merupakan bagian dari tubuh gunung. Seluruh lava bantal itu memancar dari satu titik yang kini berupa bukit seukuran 75 x 50 meter2 dengan tinggi sekitar 15 meter yang terletak sejarak 150 meter di sebelah barat jembatan. Sisa-sisa sumbat vulkanik dijumpai di sisi selatan bukit yang bernama Bukit Sumberkulon ini. Analisis memperlihatkan Gunung Watuadeg aktif pada masa 57 juta tahun silam, atau sezaman dengan masa aktif Gunung Nglanggeran. Ia juga tumbuh di dasar Samudera Indonesia dan berdasar keberadaan lava bantalnya maka seluruh tubuhnya mungkin terendam air laut. Namun ukuran Gunung Watuadeg jauh lebih kecil ketimbang Gunung Nglanggeran.

Gambar 6. Bukit Gede (kiri) dan Bukit Gedang (kanan) di kecamatan Godean, Sleman (DIY). Dua bukit ini adaah bagian dari jejak gunung berapi purba yang dinamakan Gunung Godean. Diabadikan pada citra Google StreetView dari satu titik di jalan raya Godean-Seyegan. Sumber: Google StreetView, 2017.

Gambar 6. Bukit Gede (kiri) dan Bukit Gedang (kanan) di kecamatan Godean, Sleman (DIY). Dua bukit ini adaah bagian dari jejak gunung berapi purba yang dinamakan Gunung Godean. Diabadikan pada citra Google StreetView dari satu titik di jalan raya Godean-Seyegan. Sumber: Google StreetView, 2017.

Kembali ke Yogyakarta, dari tugu pal putih yang menjadi simbol kota ini, susurilah jalan raya ke arah barat hingga memasuki Jalan Godean. Susurilah terus ke barat hingga sejauh 6 kilometer, sampai bersua dengan sebuah pertigaan yang mengarah ke kiri dan ke kanan. Anda akan tiba di sebuah tempat yang juga bernama Godean dan menjadi bagian dari Kabupaten Sleman. Di sini anda akan bersua dengan sedikitnya 6 buah bukit yang letaknya saling berdekatan dan relatif lebih tinggi dibanding bukit-bukit kecil yang ada di sisi utaranya. Sekilas pandang tak ada yang istimewa dari keenam bukit ini. Namun bukit-bukit yang terlihat biasa saja ini sejatinya adalah sumbat vulkanik yang telah melapuk sebuah gunung berapi purba yang dinamakan Gunung Godean. Kapan Gunung Godean aktif di masa silam belum dapat diketahui dengan pasti.

Ada banyak gunung berapi purba yang bertebaran di sekitar Yogyakarta. Jika dibatasi pada yang telah diketahui umurnya seperti halnya Gunung Nglanggeran dan Gunung Watuadeg, kita bisa mulai dengan Gunung Parangtritis. Sesuai namanya, gunung berapi purba ini ‘duduk’ di lokasi obyek wisata pantai Parangtritis yang terkenal itu. Gunung berapi purba ini jauh lebih muda ketimbang Nglanggeran, yakni aktif sekitar 26 juta tahun silam. Namun ukuran tubuh gunungnya nampaknya serupa. Meski demikian dimana posisi sumbat vulkaniknya belum jelas. Lalu di sebelah utara Gunung Nglanggeran terserak jejak gunung berapi purba bertubuh raksasa, yang disebut Gunung Baturagung. Gunung berapi purba ini aktif antara 14 hingga 40 juta tahun silam. Di sebelah timur Gunung Baturagung, pada tempat yang kini menjadi bagian dari kota Wonogiri terdapat jejak gunung berapi purba lainnya yang tak kalah besarnya. Yakni Gunung Gajahmungkur, yang aktif antara 10 hingga 22 juta tahun silam.

Gambar 7. Lokasi gunung-gemunung berapi purba yang telah terpetakan dan dianalisis oleh sejumlah ilmuwan hingga saat ini. Gunung-gemunung berapi purba ditandai dengan lingkaran-lingkaran. Besar kecilnya lingkaran bergantung kepada dimensi tubuh gunung berapi purba yang bersangkutan. Pada sebagian gunung berapi purba tersebut disajikan pula umur relatifnya berdasarkan sampel batuan beku Sumber: Bronto, 2010 dalam Verdiansyah & Hartono, 2016.

Gambar 7. Lokasi gunung-gemunung berapi purba yang telah terpetakan dan dianalisis oleh sejumlah ilmuwan hingga saat ini. Gunung-gemunung berapi purba ditandai dengan lingkaran-lingkaran. Besar kecilnya lingkaran bergantung kepada dimensi tubuh gunung berapi purba yang bersangkutan. Pada sebagian gunung berapi purba tersebut disajikan pula umur relatifnya berdasarkan sampel batuan beku Sumber: Bronto, 2010 dalam Verdiansyah & Hartono, 2016.

Dari Gunung Gajahmungkur, jika kita bergerak ke selatan sejajar dengan garis tegak lurus sumbu orientasi pulau Jawa, kita akan bersirobok dengan Gunung Batur. Gunung berapi purba yang ‘duduk’ di obyek wisata Pantai Wediombo ini aktif sekitar 13 juta tahun silam dengan ukuran tubuh gunung setara Gunung Nglanggeran. Jajaran gunung-gemunung berapi purba pun menghiasi kaki langit Yogyakarta bagian barat. Dari Gunung Godean ke arah barat, kita akan bersua dengan Pegunungan Menoreh. Pegunungan ini sejatinya merupakan kompleks gunung berapi purba yang mencakup tiga gunung sekaligus. Masing-masing Gunung Menoreh, Gunung Ijo dan Gunung Gajah. Aktivitas vulkanik pada gunung-gunung tersebut terjadi dalam kurun antara 47 hingga 8 juta tahun silam. Dibanding gunung-gemunung berapi purba yang telah disebut sebelumnya, gunung berapi purba di Pegunungan Menoreh memiliki ukuran tubuh terbesar.

Sementara jika gunung-gemunung berapi purba yang belum diketahui umurnya seperti halnya Gunung Godean ditelusuri, jumlahnya akan membengkak lagi. Di antara Gunung Parangtritis dan Gunung Baturagung saja tercatat ada 4 gunung berapi purba yang belum diketahui umurnya. Salah satunya adalah Gunung Imogiri. Sementara di antara Gunung Gajahmungkur dan Gunung Batur terdapat 5 gunung berapi purba, salah satunya dinamakan Gunung Panggang.

Gambar 8. Busur vulkanik Jawa tua (garis merah putus-putus), yang terdiri dari gunung-gemunung berapi purba. Di sebelah utaranya terdapat busur vulkanik Jawa muda (garis kuning putus-putus), tempat gunung-gemunung berapi modern di pulau Jawa berada dengan sebagian besar diantaranya aktif. Sumber: Hall & Smyth, 2008 dalam Satyana, 2014.

Gambar 8. Busur vulkanik Jawa tua (garis merah putus-putus), yang terdiri dari gunung-gemunung berapi purba. Di sebelah utaranya terdapat busur vulkanik Jawa muda (garis kuning putus-putus), tempat gunung-gemunung berapi modern di pulau Jawa berada dengan sebagian besar diantaranya aktif. Sumber: Hall & Smyth, 2008 dalam Satyana, 2014.

Mayoritas gunung berapi purba di sekitar Yogyakarta pada masanya merupakan bagian dari busur vulkanik Jawa tua. Yakni jajaran gunung-gemunung berapi yang menjadi wajah aktivitas vulkanik pulau Jawa sejak 45 juta tahun silam. Aktivitas busur vulkanik tua itu dan mendadak berakhir pada masa sekitar 20 juta tahun silam, tanpa sebab yang jelas. Gunung-gemunung berapi yang lebih muda lantas terbentuk lebih ke utara dan membentuk busur vulkanik Jawa muda. Dalam busur vulkanik yang mulai aktif semenjak 5 juta tahun silam hingga kini terdapat 45 buah kerucut gunung berapi, yang membentang mulai dari Gunung Karang-Pulasari di barat (Banten) hingga Gunung Ijen di timur (Jawa Timur).

Selain menjadi artefak atas aktivitasnya sendiri di masa silam, gunung-gemunung berapi purba di sekitar Yogyakarta juga menjadi saksi bisu bagaimana sisi selatan pulau Jawa terangkat layaknya terdongkrak. Sehingga banyak dari gunung-gemunung purba yang semula tersembunyi dalam sepi di dasar Samudera Indonesia lantas terangkat dan muncul ke daratan. Selain sebagai bagian dari pengembangan ilmu pengetahuan terutama ilmu kebumian, eksistensi gunung-gemunung berapi purba juga bisa dikembangkan untuk menggamit minat publik akan eksotismenya. Gunung-gemunung berapi purba juga berpotensi memiliki nilai ekonomis tersendiri, mengingat sejumlah mineral barang tambang yang berharga (termasuk tembaga dan emas) berasosiasi dengan magma dan cairan hidrotermal dengan karakter tertentu yang telah membeku.

Referensi :

Kabar Handayani. 2017. Uap Panas Muncul dari Tanah di Gedangsari. Laman Kabar Handayani, diakses pada 21 Februari 2017.

Aristianto. 2014. Berhujan-hujan Ria ke Lava Bantal Berbah. Blog Tulisan Aris, diakses pada 21 Februari 2017.

DetikNews. 2010. BPPTK: Kecil Kemungkinan Gunung Purba Nglanggeran Meletus Kembali. Detik.com 11 November 2010, diakses pada 21 Februari 2017.

Bronto dkk. 2014. Longsoran Raksasa Gunung Api Merapi Yogyakarta-Jawa Tengah. Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral, vol. 15 no. 4 November 2014, hal. 165-183.

Verdiansyah & Hartono. 2016. Alterasi Hidrotermal Dan Mineralisasi Logam Berharga Di Cekungan Yogyakarta, Sebuah Pemikiran dari Kehadiran Sistem Hidrotermal Daerah Godean. Seminar Nasional ke-3 Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran, Bandung.

Semburan Lumpur Pati dan Selat Muria yang Telah Mati

Warga RT 01 RW 11 Dukuh Sarimulyo Desa Wotan Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati (Jawa Tengah) barangkali tak pernah menyangka upaya mereka untuk mendapatkan air bersih berlimpah guna mengatasi kekeringan akibat kemarau berkepanjangan ternyata berujung peristiwa menghebohkan Sabtu 1 November 2014 Tarikh Umum (TU) lalu. Tak hanya membikin gempar penduduk sedesa, bahkan hingga sekecamatan dan sekabupaten sekaligus. Semenjak dua minggu sebelumnya mereka telah berusaha mengebor sumur dalam, sebagai upaya menawarkah dahaga warga dari 110 KK (kepala keluarga) setelah sumur-sumur dangkal mereka mengering dan berubah menjadi kumpulan air keruh. Pengeboran pertama bersua dengan air asin, sementara pengeboran kedua yang mengambil lokasi berbeda hanya menghasilkan air berlumpur. Dan saat pengeboran ketiga dilakukan di halaman rumah pak Sabar, lumpur kembali ditemukan dan kali ini justru menyembur sangat tinggi.

Gambar 1. Saat air dan lumpur menyembur dari sumur hasil pengeboran yang sedang dikerjakan warga 01 RW 11 Dukuh Sarimulyo Desa Wotan, Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati (Jawa Tengah) dalam kejadian yang dinamakan Semburan lumpur Pati. Semburan berlangsung selama 28 jam kemudian dan mengeluarkan gas yang didominasi metana. Sumber: Tribun Jogja, 2014.

Gambar 1. Saat air dan lumpur menyembur dari sumur hasil pengeboran yang sedang dikerjakan warga 01 RW 11 Dukuh Sarimulyo Desa Wotan, Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati (Jawa Tengah) dalam kejadian yang dinamakan Semburan lumpur Pati. Semburan berlangsung selama 28 jam kemudian dan mengeluarkan gas yang didominasi metana. Sumber: Tribun Jogja, 2014.

Semburan terjadi mulai pukul 15:15 WIB kala pengeboran telah mencapai kedalaman 140 meter. Di hari pertama air bercampur lumpur menyembur setinggi sekitar 20 hingga 25 meter bersamaan dengan bau gas menyengat yang menyergap. Di hari kedua, tinggi semburan menurun menjadi sekitar 15 meter dengan air yang lebih jernih. Semburan akhirnya berhenti dengan sendirinya di kala petang hari kedua, yakni pada Minggu 2 November 2014 TU pukul 19:00 WIB. Selepas itu air tinggal mengalir saja tanpa menyembur. Meski demikian semburan air bercampur lumpur ini telah berdampak pada rumah-rumah penduduk yang berjarak hingga 20 meter dari titik semburan. Rumah-rumah itu sempat berhias timbunan lumpur setebal hingga 20 sentimeter. Tak pelak penduduk pun segera mengungsi semenjak hari pertama. terlebih setelah terdengarnya suara gemuruh dan desisan menyerupai kembang api yang dinyalakan.

Tanpa bisa dicegah, kegemparan pun merebak. Kekhawatiran pun terbit. Sebagian mengira peristiwa ini akan kian masif dan meluas seperti halnya semburan lumpur Lapindo (Sidoarjo) yang muncul semenjak 2006 TU silam dan tak menunjukkan tanda-tanda bakal berhenti hingga kini. Kosakata semburan lumpur Pati pun bermunculan di laman-laman media massa maupun media sosial.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Metana

Tim Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI telah melakukan pengukuran lapangan sehari pasca semburan berhenti. Dalam penuturan pak Surono, Kepala Badai Geologi, air yang keluar dari sumur bor cenderung bersifat basa dengan pH 8,4 dan bersuhu rendah (yakni 31,1 derajat Celcius). Pengukuran komposisi gas dengan menggunakan radas Draeger memperlihatkan dominannya kadar gas metana, yakni maksimum 76 % LEL (low explosive level) dan rata-rata 35 % LEL. Gas-gas lain seperti karbondioksida, sulfurdioksida dan hidrogen sulfida absen/tak terdeteksi. Meski semburan sudah berhenti, namun tim menemukan di lokasi masih terjadi gelembung-gelembung gas berintensitas rendah.

Gambar 2. Api yang menyala dari mulut sumur hasil pengeboran di desa Lubang Kidul, Kecamatan Butuh Kabupaten Purworejo (juga di Jawa Tengah) yang terjadi pada 5 September 2013 TU silam. Semburan lumpur Pati pada dasarnya sama dengan semburan lumpur Butuh. Bedanya, gas yang menyembur di Butuh memang sengaja dibakar. Sumber: Urip Widodo, 2013.

Gambar 2. Api yang menyala dari mulut sumur hasil pengeboran di desa Lubang Kidul, Kecamatan Butuh Kabupaten Purworejo (juga di Jawa Tengah) yang terjadi pada 5 September 2013 TU silam. Semburan lumpur Pati pada dasarnya sama dengan semburan lumpur Butuh. Bedanya, gas yang menyembur di Butuh memang sengaja dibakar. Sumber: Urip Widodo, 2013.

Bila dominannya gas metana dipadukan dengan singkatnya durasi semburan (yakni hanya ~28 jam), maka jelas bahwa semburan lumpur Pati ini ditenagai oleh gas metana atau gas rawa. Sehingga kejadian ini lebih mungkin merupakan perulangan dari apa yang pernah terjadi di desa Lubang Kidul, Kecamatan Butuh Kabupaten Purworejo lebih dari setahun silam, tepatnya pada 5 September 2013 TU. Nampaknya pengeboran itu menembus kantung gas metana bertekanan tinggi di dalam tanah. Sehingga gas metana pun mengalir deras ke permukaan tanah melalui lubang bor sembari membawa serta air dan butir-butir tanah yang menyertainya. Tekanan gas metana dalam semburan lumpur Pati nampaknya lebih besar dibanding dalam semburan lumpur Butuh, terlihat dari tingginya lumpur yang tersembur. Namun seperti halnya kasus Butuh, ukuran kantung gas metana ini nampaknya relatif kecil yang membuatnya cepat terkuras habis. Sehingga semburan pun berlangsung hanya dalam waktu yang relatif singkat saja. Meski demikian masih ada aliran gas metana ke permukaan, seperti terlihat dari gelembung-gelembung gas berintensitas rendah yang ditemukan tim.

Sumur sedalam sekitar 140 meter yang dibor warga Sarimulyo itu nampaknya telah menembus lapisan sedimen formasi Bulu. Formasi ini terdiri dari batu gamping berpasir dengan sisipan napal di antaranya. Formasi ini menyebar cukup luas mulai dari dataran Rembang-Pati di sebelah barat hingga Madura di sebelah timur, dengan ketebalan antara 50 hingga 200 meter. Berdasarnya kandungan fosilnya, diketahui batuan-batuan sedimen dalam formasi ini diendapkan di dataran pesisir purba (zona litoral). Hal ini diperlihatkan pula oleh sifat air semburan yang basa dan bersuhu rendah. Ini menandakan air semburan tidak berasal dari lingkungan geotermal sehingga tidak mendapatkan pengaruh gunung berapi. Sebab air yang berasal dari lingkungan geotermal umumnya bersuhu tinggi (lebih dari 40 derajat Celcius) dan cenderung asam seiring tingginya kadar silikat dan sulfat. Sedangkan air yang cenderung basa umumnya berasal dari lapisan-lapisan batuan sedimen yang dahulunya diendapkan di laut sehingga kaya akan logam khususnya Natrium.

Kawasan pesisir purba tersebut nampaknya berawa-rawa. Seiring waktu, kawasan ini berubah menjadi daratan akibat sedimentasi masif disertai gerak pengangkatan kerak bumi setempat. Sehingga tumbuh-tumbuhan yang merajai rawa-rawa tersebut perlahan-lahan tertimbun di bawah sedimen tebal. Saat membusuk, gas metana pun terlepaskan. Namun berada jauh di dalam tanah, gas-gas metana ini terperangkap tanpa tak bisa keluar menuju permukaan tanah. Terbentuklah kantung-kantung gas metana yang bercampur bersama air bawah tanah. Saat kantung semacam ini tertembus, baik oleh sebab alamiah maupun aktivitas manusia, gas pun mengalir keluar sembari menyeret air dan partikel-partikel tanah yang dilintasinya.

Meski sempat mengkhawatirkan, semburan lumpur Pati ini nampaknya membawa berkah bagi warga Sarimulyo. Sebab pengeboran tersebut nampaknya menembus akuifer air bawah tanah dalam yang bisa dimanfaatkan sebagai air baku untuk berbagai keperluan (termasuk air minum) dalam jumlah relatif besar. Penawar dahaga yang selama ini dicari-cari nampaknya sudah ditemukan. Kabar baiknya lagi, dengan gas metana sebagai pendorong utama semburan ini, maka semburan lumpur Pati takkan berkembang meluas hingga menjadi bencana layaknya semburan lumpur Lapindo (Sidoarjo).

Selat Muria

Gambar 3. Selat Muria (warna biru muda) pada masa 1.500 tahun silam. Nampak selat ini membentang luas di antara Semarang hingga Pati, sekaligus memisahkan pulau Jawa dengan kompleks Gunung Muria (pulau Muria). Lokasi semburan lumpur Pati di desa Wotan berada di pesisir selat ini. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth dan data dari Noerwidi, 2002.

Gambar 3. Selat Muria (warna biru muda) pada masa 1.500 tahun silam. Nampak selat ini membentang luas di antara Semarang hingga Pati, sekaligus memisahkan pulau Jawa dengan kompleks Gunung Muria (pulau Muria). Lokasi semburan lumpur Pati di desa Wotan berada di pesisir selat ini. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth dan data dari Noerwidi, 2002.

Kejadian semburan lumpur Pati menjadi pengingat bagi kita untuk menguak sejarah kawasan ini hingga beribu tahun silam, khususnya dalam ranah geologi. Dahulu kawasan ini adalah rawa-rawa di pesisir purba yang menjadi bagian dari sebuah laut dangkal yang membentang dari kota Semarang sekarang di sebelah barat hingga ke kota kecil Lasem sekarang di sebelah timur. Maka jika kini kita berkendara menyusuri jalan raya utama penghubung kota-kota Semarang, Demak, Kudus, Pati hingga Rembang, bayangkanlah bahwa hingga sekitar 1.500 tahun silam daratan yang mengalasi jalan raya ini belumlah ada. Semuanya masih berupa perairan laut dangkal yang terhubung langsung dengan Laut Jawa purba. Kini kita menyebut perairan dangkal purba ini sebagai Selat Muria. Disebut selat, sebab ia memisahkan daratan utama pulau Jawa purba di sebelah selatan dengan sebuah gunung berapi laut besar yang menyembul di atas paras air laut rata-rata sebagai pulau vulkanis, sebut namanya pulau Muria. Kini pulau vulkanis itu telah menyatu dengan daratan pulau Jawa menjadi semenanjung Muria. Sebentuk bentang lahan gunung berapi padam yang telah tererosi tingkat dewasa di semenanjung ini pun dikenal sebagai Gunung Muria.

Selat Muria dan Gunung Muria adalah salah satu keajaiban geologis di kawasan ini. Tariklah sepasang garis imajiner yang diposisikan sejajar dengan garis pantai utara pulau Jawa dari lokasi Gunung Muria, masing-masing ke arah barat dan timur, akan kita lihat bahwa di sepanjang lintasan garis imajiner ini, tak ada satupun gunung berapi yang terlihat, entah yang sudah padam dan tererosi (baik tingkat dewasa maupun lanjut) apalagi yang masih aktif. Ya. Gunung Muria adalah gunung berapi yang menyendiri dan terletak paling utara di pulau Jawa, atau paling jauh dari zona subduksi.

Dalam penuturan pak Awang Satyana, gunung berapi ini muncul sebagai imbas dari relatif lemahnya kerak bumi di sini akibat eksistensi patahan besar Kebumen-Muria-Meratus. Patahan besar sepanjang lebih dari 1.000 kilometer yang mengambil lintasan barat daya-timur laut ini aktif sekitar 65 juta tahun silam. Ia memahat bumi Jawa Tengah demikian rupa sehingga mengangkat daratan setempat yang melahirkan Pegunungan Karangbolong dan kawasan geologi Karangsambung (keduanya di Kebumen) sekaligus menenggelamkan segmen Pegunungan Selatan di sini. Sehingga bentang lahan di antara Bantul hingga Cilacap sangat bertolak belakang dibanding kawasan pesisir selatan pulau Jawa pada umumnya, karena di sini berupa dataran rendah. Patahan besar ini telah lama mati dalam berjuta-juta tahun silam, namun jejaknya memungkinkan magma untuk menyeruak naik dan keluar di permukaan Bumi sebagai gunung berapi. Termasuk di Muria.

Pada masanya pulau Muria terdiri dari tiga buah gunung berapi masing-masing Gunung Muria yang besar beserta Gunung Genuk dan Gunung Patiayam (keduanya relatif berukuran kecil). Gunung-gunung berapi ini mulai terbentuk sekitar 2 juta tahun silam dan terus aktif memuntahkan magmanya menjadi lava dan lahar hingga masa setidaknya 320.000 tahun yang lalu. Mengikuti naik turunnya paras air laut akibat siklus glasial-interglasial dalam 650.000 tahun terakhir, Selat Muria pun telah berulang-kali mengering dan kemudian terisi air laut kembali. Sehingga pulau Muria pun telah sedikitnya 12 kali terpisah dan menyatu lagi dengan daratan utama pulau Jawa purba. Karena itu tak mengherankan bila di sini dijumpai fosil-fosil makhluk hidup masa silam. Termasuk diantaranya fosil Homo erectus yang diduga berasal dari kurun 850.000 tahun yang lalu yang dijumpai di situs Patiayam (sebelah timur laut kota Kudus sekarang).

Gambar 4. Gambar 3. Selat Muria (warna biru muda) pada 500 tahun silam di masa kerajaan Demak. Dibanding 1.000 tahun sebelumnya, selat ini telah lebih sempit akibat sedimentasi besar-besaran. Hanya di ujung barat selat ini masih relatif luas dan nampak menyerupai corong (estuaria). Demak dan Juwana merupakan dua pelabuhan penting di selat ini. Lokasi semburan lumpur Pati di desa Wotan kini sudah berada di daratan hasil sedimentasi Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth dan data dari Noerwidi, 2002.

Gambar 4. Gambar 3. Selat Muria (warna biru muda) pada 500 tahun silam di masa kerajaan Demak. Dibanding 1.000 tahun sebelumnya, selat ini telah lebih sempit akibat sedimentasi besar-besaran. Hanya di ujung barat selat ini masih relatif luas dan nampak menyerupai corong (estuaria). Demak dan Juwana merupakan dua pelabuhan penting di selat ini. Lokasi semburan lumpur Pati di desa Wotan kini sudah berada di daratan hasil sedimentasi Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth dan data dari Noerwidi, 2002.

Hingga setidaknya 1.500 tahun silam, Selat Muria ini masih ada dan masih cukup lebar. Di puncak kejayaan kerajaan Medang (Mataram Hindu), selat ini menempati posisi cukup penting seiring diletakkannya pelabuhan utama kerajaan di sini. Tepatnya di ujung barat, yakni di kawasan Bergota (bagian dari kota Semarang) sekarang. Namun pada masa itu pun orang-orang Medang mulai berhadapan dengan tantangan alamiah Selat Muria, berupa sedimentasi yang sangat intensif. Dengan garis pantai pulau Jawa bagian utara bergeser rata-rata 100 meter per tahun, sulit untuk mempertahankan pelabuhan Bergota bagi kapal-kapal berukuran besar. Mundurnya peran pelabuhan Bergota ini disebut-sebut menjadi salah satu faktor yang memaksa Mpu Sindok memindahkan pusat kerajaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, di samping faktor-faktor lain. Sedimentasi yang masif pun membuat Selat Muria kian menyempit.

Hingga sekitar 500 tahun silam, tepatnya di penghujung era kerajaan Majapahit, Selat Muria masih ada namun telah demikian sempit sehingga mirip sungai besar. Atau mirip dengan terusan. Sisanya telah tertimbun baik sebagai daratan yang kering maupun lahan rawa yang setengah basah. Hanya ujung baratnya yang masih relatif lebar sehingga membentuk semacam corong (estuaria). di sisi selatan corong ini terdapat rawa-rawa yang ditumbuhi tanaman gelagah beraroma wangi, membuat kawasan ini dikenal dengan nama Gelagah Wangi. Kelak di awal abad ke-16 TU pangeran Jimbun (atau Jin bun) mendirikan pemukiman yang kemudian terus berkembang menjadi sebuah kerajaan Islam pertama di tanah Jawa, kerajaan Demak atau Demak Bintara. Sang pangeran pun menjadi raja pertamanya yang bergelar Sultan Alam Akbar al-Fatah, yang populer dengan sebutan Raden Fatah atau Raden Patah. Sebuah pelabuhan besar pun didirikan di sini, sementara di ujung timur Selat Muria pun telah berdiri pelabuhan Juwana. Maka Selat Muria, meski sempit, kian ramai dihilir mudiki perahu-perahu yang mengangkut aneka barang dan orang. Keramaian ini terus berlangsung meski di kemudian hari kerajaan Demak hancur dan pusat kekuasaan berpindah ke Pajang, untuk kemudian ke Mataram (Islam).

Namun keramaian ini harus purna sekitar seabad setelah Demak sirna. Sedimentasi yang kian massif membuat Selat Muria akhirnya menyerah dan mati. Pada pertengahan abad ke-17 TU selat yang telah menyempit itu sudah terputus, tertutup oleh sedimen di antara Demak dan Pati sekarang. Karenanya pada tahun 1657 TU Tumenggung Pati mengumumkan rencananya untuk menggali kembali sebuah terusan yang menghubungkan Demak dan Pati, sebagai upaya untuk menghidupkan kembali Selat Muria dan tetap menjaga arus lalu lintas perdagangan lewat laut. Upaya ini nampaknya tak berhasil. Selat Muria tetap mati, pun demikian pelabuhan-pelabuhan di sepanjang alurnya termasuk pelabuhan Demak. Peran pelabuhan Demak kemudian diambil-alih oleh pelabuhan Jepara. Bagian Selat Muria lainnya yang masih tersisa pun lama-kelamaan tertutup juga oleh sedimentasi yang masif. Pulau Muria pun kini bersatu dengan daratan utama pulau Jawa sebagai semenanjung Muria.

Matinya Selat Muria membuat rawa-rawa yang tersebar di sepanjang pesisirnya menjadi tertimbun sedimen. Gas-gas metana yang diproduksi pun membentuk kantung-kantung gas metana dangkal di dalam tanah. Saat ia tertembus, maka gas pun mengalir keluar. Seperti dalam semburan lumpur Pati barusan.

Referensi:

Surono. 2014. komunikasi personal.

Satyana. 2009. Kerajaan Demak dan Geologi Selat Muria. Arsip Iagi.net.

Noerwidi & Susanto. 2012. Sangiran-Patiayam Perbandingan Karakter Dua Situs Plestosen di Jawa, dalam Kehidupan Purba Sangiran. Jakarta, Pusat Arkeologi Nasional.

Bronto & Mulyaningsih. 2007. Gunung Api Maar di Semenanjung Muria. Jurnal Geologi Indonesia vol. 2 no. 1 (Maret 2007), 43-54.

Adhi N. 2014. Semburan di Pati Berbeda dengan di Sidoarjo. AntaraNews.

1256: Bumi Merekah, Magma Melimpah dan Nyaris Mengubur Madinah

Solah tingkah gunung berapi telah mengharu biru Indonesia sepanjang 2014 ini. Akhir-akhir ini Gunung Slamet menyedot perhatian besar khususnya bagi yang bertempat tinggal di pulau Jawa seiring ulahnya. Meski letusannya tergolong kecil dan terlokalisir di seputar puncak saja sehingga kawasan terlarang pun ditetapkan hanya sejarak 4 kilometer dari kawah aktif, banyak orang dibikin cemas. Apalagi isu tak berkeruncingan bertaburan dimana-mana. Sementara di luar pulau Jawa tepatnya di pulau Sumatra, Gunung Sinabung masih terus saja bergemuruh. Meski statusnya telah diturunkan menjadi Siaga (Level III), atau sejajar status Gunung Slamet, namun Sinabung terlihat lebih aktif. Gunung berapi yang lama tertidur tersebut kini terus saja membangun lidah lava. Ia menjulur kian panjang ke arah tenggara dan kian tebal. Berulangkali awan panas (piroklastika) guguran masih terjadi tatkala bagian-bagian tertentu lidah lava rontok seiring labilnya strukturnya dan oleh pengaruh gravitasi. Di pulau Sulawesi, dua gunung berapi lasak dengan status Siaga (Level III) yang sama pun masih rajin memuntahkan magmanya meski relatif sepi dari perhatian. Masing-masing adalah Gunung Lokon-Empung dan Gunung Karangetang (keduanya di propinsi Sulawesi utara).

Gambar 1. Semburan magma basaltik hingga setinggi sekitar 100 meter menyeruak dari retakan di padang Holuhraun, sebagai perwujudan dari erupsi efusif Gunung Bardarbunga di Islandia. Letusan tidak menyemburkan debu vulkanik pekat ke langit, namun melelerkan lava panas membara yang mengukir permukaan tanah layaknya sungai api. Diabadikan oleh tim Reykjavik Helicopters pada awal September 2014. Sumber: Reykjavik Helicopters, 5 September 2014.

Gambar 1. Semburan magma basaltik hingga setinggi sekitar 100 meter menyeruak dari retakan di padang Holuhraun, sebagai perwujudan dari erupsi efusif Gunung Bardarbunga di Islandia. Letusan tidak menyemburkan debu vulkanik pekat ke langit, namun melelerkan lava panas membara yang mengukir permukaan tanah layaknya sungai api. Diabadikan oleh tim Reykjavik Helicopters pada awal September 2014. Sumber: Reykjavik Helicopters, 5 September 2014.

Jangan lupakan letusan besar Gunung Kelud (propinsi Jawa Timur) pada 13 Februari 2014 lalu yang demikian menggetarkan. Amukannya sempat melumpuhkan sebagian pulau Jawa. Menyusul letusan besar Gunung Sangeang Api (propinsi Nusa Tenggara Barat) pada 30 Mei 2014. Meski tak sepopuler dan tak sebesar letusan Kelud, namun muntahan debu vulkaniknya sempat melumpuhkan lalu lintas udara negeri tetangga: Australia. Syukurlah dua letusan besar tersebut tak banyak menelan korban jiwa, meski angka kerugian material yang diakibatkannya mencapai ratusan milyar rupiah. Di antara kedua letusan besar tersebut, patut dicatat pula aksi Gunung Merapi (propinsi Jawa Tengah dan DIY) yang telah berulangkali menghembuskan debu vulkaniknya dalam kejadian erupsi freatik yang demikian sekonyong-konyong dan nyaris tak didului tanda-tanda umum. Meski tak menyebabkan korban jiwa maupun luka, tetap saja rasa cemas sempat membara.

Holuhraun

Di mancanegara, sejumlah gunung berapi pun unjuk gigi. Satu yang menyedot perhatian adalah letusan unik Gunung Bardarbunga di Islandia. Islandia sendiri sudah merupakan keajaiban. Secara geologis inilah pulau yang berdiri tepat di atas punggungan tengah Samudera Atlantik, jalur rekahan memanjang yang menjadi tempat menyeruaknya magma dari perutbumi. Tak sekedar membentuk pegunungan memanjang yang hampir seluruhnya berada di dasar samudera, magma ini juga mendorong lempeng-lempeng tektonik yang mengapitnya ke dua arah berlawanan. Masing-masing lempeng Amerika Utara ke barat dan lempeng Eurasia ke timur. Sementara secara geografis, Islandia terletak di dalam lingkar kutub utara sehingga memiliki iklim kutub. Bahkan Islandia menjadi satu dari dua daratan besar dalam lingkar kutub utara yang selalu berselimutkan es, selain pulau Greenland. Maka Islandia lah tempat merah (baca: magma) dan putih (baca: es) bertemu, tempat di mana panas (magma) dan dingin (es) bersua.

Gambar 2. Islandia dalam peta sederhana, yang menunjukkan posisinya persis di punggungan tengah Samudera Atlantik. Sumber: USGS, 2014.

Gambar 2. Islandia dalam peta sederhana, yang menunjukkan posisinya persis di punggungan tengah Samudera Atlantik. Sumber: USGS, 2014.

Magma yang menyuplai gunung-gemunung berapi Islandia sangat berbeda dibanding Indonesia. Di Islandia magmanya berasal dari lokasi yang jauh lebih dalam. Yakni dari selubung (mantel) Bumi, lapisan plastis sangat tebal dan panas yang terletak tepat di bawah kerak bumi mulai kedalaman 40 kilometer. Magma Islandia adalah magma basaltik sehingga lebih encer, lebih banyak mengandung mineral-mineral logam, miskin gas vulkanik dan bersuhu lebih tinggi. Karena encernya, pucuk gunung-gemunung berapi Islandia cenderung berketinggian rendah dengan lereng relatif lebih landai. Saat meletus, magma basaltik cenderung keluar dari lubang letusan sebagai lava cair encer yang meleleh kemana-mana laksana lilin cair dalam erupsi tipe efusif. Sangat jarang terjadi letusan yang menyemburkan berjuta-juta meter kubik debu vulkanik ke langit. Perkecualian adalah Gunung Eyjafjallajokul dalam letusan 2010-nya. Saat itu letusan menyemburkan sekitar 100 juta meter kubik debu vulkanik pekat hingga setinggi 8 kilometer. Hembusan angin mendorong debu vulkanik menutupi ruang udara Eropa bagian utara. Akibatnya parah. 107.000 penerbangan terpaksa dibatalkan dalam 8 hari berturut-turut, angka yang setara 48 % total penerbangan global. Total kerugian yang ditimbulkannya melampaui angka Rp 16 trilyun.

Meski terkesan tak segalak gunung-gemunung berapi Indonesia, namun aktivitas gunung berapi Islandia jauh lebih intensif. Sepanjang 500 tahun terakhir volume lava akumulatif yang dihasilkannya setara sepertiga total volume lava di Bumi. Episode letusan terdahsyat terjadi pada 1783-1784 di Gunung Laki. Tak ada semburan debu vulkanik tebal yang membumbung tinggi hingga berkilo-kilometer ke langit menciptakan suasana horor. Namun Laki memuntahkan 14.000 juta meter kubik lava basaltik lewat 130 lubang letusan selama delapan bulan berturut-turut. Bersamanya tersembur pula gas-gas vulkanik, termasuk 8 juta ton gas asam fluorida dan 120 juta ton gas belerang (sulfurdioksida). Udara Islandia pun tercemar berat sehingga 80 % domba, 50 % sapi dan 50 % kuda mati perlahan-lahan setelah gigi-geliginya rontok akibat paparan gas asam fluorida berlebihan. Matinya hewan-hewan ternak itu membuat segenap Islandia dilanda bencana kelaparan tiada tara. Pada puncaknya sebanyak 20 hingga 25 % populasi penduduknya tewas berkalang tanah.

Gambar 3. Plot episentrum gempa-gempa vulkanik di sekitar Gunung Bardarbunga beserta kedalamannya dalam periode antara 16 hingga 24 Agustus 2014. Nampak episentrum berkerumun di sebuah garis irregular sepanjang sekitar 40 kilometer yang menjulur ke timur laut dari Gunung Bardarbunga. Inilah pertanda terbentuknya pematang instrusi magmatik sebagai tempat dimana amagma berakumulasi tepat sebelum keluar ke permukaan Bumi. Tanda bintang (*) adalah tempat terbentuknya retakan yang selanjutnya menjadi pusat letusan Holuhraun mulai 29 Agustus 2014. Sumber: Icelandic Meteorological Office, 2014.

Gambar 3. Plot episentrum gempa-gempa vulkanik di sekitar Gunung Bardarbunga beserta kedalamannya dalam periode antara 16 hingga 24 Agustus 2014. Nampak episentrum berkerumun di sebuah garis irregular sepanjang sekitar 40 kilometer yang menjulur ke timur laut dari Gunung Bardarbunga. Inilah pertanda terbentuknya pematang instrusi magmatik sebagai tempat dimana amagma berakumulasi tepat sebelum keluar ke permukaan Bumi. Tanda bintang (*) adalah tempat terbentuknya retakan yang selanjutnya menjadi pusat letusan Holuhraun mulai 29 Agustus 2014. Sumber: Icelandic Meteorological Office, 2014.

Islandia kembali mengeliat pada 2014 ini lewat Gunung Bardarbunga. Awalnya adalah krisis seismik selama sebulan penuh ditandai terjadinya gempa demi gempa kecil yang datang beruntun. Bersamaan dengannya bagian kerak bumi di sektor timurlaut gunung juga mulai menggelembung. Keduanya adalah pertanda bahwa magma segar dalam jumlah cukup signifikan sedang menanjak naik dari perut Gunung Bardarbunga hendak mencari jalan keluar. Krisis seismik juga memperlihatkan magma segar telah berkumpul demikian rupa hingga menghasilkan pematang intrusi magmatik sepanjang sekitar 40 kilometer pada segmen kerak bumi yang membentang di antara Gunung Bardarbunga dan padang Holuhraun. Di Holuhraun inilah, tepatnya di sekitar ujung pematang intrusi magmatik, tanah merekah sepanjang 2 kilometer pada 29 Agustus 2014 dinihari. Darinya magma basaltik tumpah keluar, beberapa sebagai pancuran lava yang menyembur hingga setinggi lebih dari 100 meter. Bersamaan dengan itu tubuh Gunung Bardarbunga kontan mengempis, terjadi penurunan pada lantai kaldera Bardarbunga hingga 15 meter dari semula.

Lava basaltik yang encer membanjir ke timur laut, laksana sungai api, dalam volume teramat besar. Hingga 1 Oktober 2014 lava telah menutupi area seluas 48 kilometer persegi dengan ketebalan rata-rata 14 meter, setinggi gedung berlantai tiga. Dengan demikian volume lava pada saat itu mencapai sekitar 650 juta meter kubik, lima kali lipat volume Letusan Kelud 2014. Sehingga sejauh ini letusan Holuhraun adalah letusan dengan material vulkanik terbesar di Bumi sepanjang 2014. Maka setiap detiknya letusan Holuhraun melepaskan 290 meter kubik lava. Dengan kata lain setiap detiknya retakan Holuharun memuntahkan lava dalam jumlah yang setara muatan 12 truk tanki pengangkut BBM berkapasitas 24.000 liter. Total energinya pun sangat besar. Jika suhu magmanya dianggap 900 derajat Celcius, maka energi termal yang dihasilkan letusan Holuhraun hingga 1 Oktober 2014 mencapai 117 megaton TNT. Ini setara energi yang dilepaskan 5.850 butir bom nuklir Hiroshima.

Gambar 4. Sebaran lava basaltik letusan Holuhraun hingga 1 Oktober 2014. Lava telah menutupi area seluas 48,2 kilometer persegi dengan panjang sekitar 16 kilometer. Volume magma yang diletuskan hingga 1 Oktober 2014 telah sekitar 650 juta meter kubik. Tak ada tanda-tanda aktivitas letusan mulai menyurut. Sumber: University of Iceland, 2014.

Gambar 4. Sebaran lava basaltik letusan Holuhraun hingga 1 Oktober 2014. Lava telah menutupi area seluas 48,2 kilometer persegi dengan panjang sekitar 16 kilometer. Volume magma yang diletuskan hingga 1 Oktober 2014 telah sekitar 650 juta meter kubik. Tak ada tanda-tanda aktivitas letusan mulai menyurut. Sumber: University of Iceland, 2014.

Sejauh ini tak ada korban jiwa maupun luka-luka akibat letusan Holuhraun. Kerugian material juga relatif tidak ada, seiring tidak terganggunya lalu lintas penerbangan sipil setempat maupun regional (Eropa) dan tidak adanya infrastruktur yang dilalap sang lava. Namun letusan ini mengirimkan pesan sangat jelas pada segenap manusia, bahwa vulkanisme di Bumi tak hanya menghasilkan gunung-gemunung berapi yang tinggi mengerucut dengan erupsi sentral di kawah utamanya seperti umum dijumpai di Indonesia. Namun juga sanggup menghasilkan gunung-gemunung berapi ‘aneh’ berbentuk retakan panjang yang sanggup membanjirkan lava basalt dalam erupsi retakan. Erupsi retakan seperti letusan Holuhraun memang jarang dijumpai di Bumi. Hanya di tempat-tempat dimana terjadi aktivitas vulkanisme titik-panas (hotspot) sajalah letusan sejenis terjadi. Dan Islandia adalah salah satu tempat tersebut.

Di luar Islandia pun masih ada sejumlah tempat yang menjadi panggung vulkanisme titik-panas. Salah satunya sangat dikenal Umat Islam sedunia mengingat kedudukannya demikian dekat dengan satu dari dua kotasuci, yakni Madinah. Dan 7,5 abad silam, gunung berapi dengan retakan panjang yang tak begitu kita kenal ini meletus dengan skala kedahsyatan menyerupai letusan Holuhraun. Banjir lava panas membaranya demikian mencekam, hingga hampir mengubur kotasuci Madinah dalam lautan bara. Inilah Letusan Madinah.

Letusan Madinah

Bandar udara internasional Pangeran Muhammad bin Abdulaziz adalah pintu gerbang utama kotasuci Madinah al-Munawwarah. Ia juga menjadi satu dari dua pintu masuk utama ke dua kotasuci bagi Umat Islam selain bandar udara internasional King Abdul Aziz di Jeddah. Bandar udara ini terletak di pinggiran utara kotasuci Madinah, tak seberapa jauh dari Gunung Uhud yang bersejarah. Jika kita melayangkan pandangan mata dari sini, Gunung Uhud yang tandus dengan hiasan warna coklat tanah kemerah-merahan nampak memanjakan mata di arah barat daya. Lansekap sewarna juga dijumpai di arah barat, utara dan timur. Namun tidak dengan arah selatan. Sejauh mata memandang hanya nampak bukit-bukit tandus kehitaman, dengan bongkahan bebatuan penyusunnya yang jauh lebih kasar ketimbang bebatuan Gunung Uhud. Sangat sedikit informasi yang tersedia tentang bukit-bukit kehitaman ini. Namun siapa sangka, di balik minimnya informasi, bukit-bukit kehitaman ini sejatinya adalah jejak kasat mata dari salah satu periode paling mencekam sepanjang sejarah kotasuci Madinah. Inilah endapan lava basaltik dari Letusan Madinah, letusan besar yang hampir saja memanggang Madinah.

Gambar 5. Citra satelit Landsat dalam warna nyata untuk kotasuci Madinah dan sekitarnya. Nampak hampir seluruh permukaan tanah di sekitar kota ini didominasi warna coklat kemerah-merahan. Terkecuali di sisi tenggara kota yang permukaan tanahnya bewarna hitam/gelap. Inilah endapan lava jejak Letusan Madinah 1256. Sumber: Google Earth, 2014.

Gambar 5. Citra satelit Landsat dalam warna nyata untuk kotasuci Madinah dan sekitarnya. Nampak hampir seluruh permukaan tanah di sekitar kota ini didominasi warna coklat kemerah-merahan. Terkecuali di sisi tenggara kota yang permukaan tanahnya bewarna hitam/gelap. Inilah endapan lava jejak Letusan Madinah 1256. Sumber: Google Earth, 2014.

Kalender menunjukkan hari Senin 1 Jumadil Akhir 654 Hijriyyah kala sebuah getaran mulai mengguncang kotasuci Madinah. Para pedagang, peziarah tanah suci, penduduk dan segenap manusia lainnya yang sedang berada maupun tinggal di kotasuci itu merasakannya. Semuanya berharap getaran tadi hanyalah getaran tanah biasa yang akan berhenti dengan segera secepat kedatangannya. Namun harapan itu sirna laksana uap menghilang di udara. Betapa tidak, dalam empat hari kemudian secara beruntun getaran demi getaran tanah justru terus saja terjadi berulang-ulang. Kekerapannya kian mengencang dan sering. Di Jumat pagi, sedikitnya 18 getaran keras mengguncang hanya dalam waktu singkat. Dan siang harinya, kala orang-orang sedang berkumpul di Masjid Nabawi menanti waktu shalat Jumat, sebuah getaran keras, terkeras di antara semua getaran sebelumnya, mengagetkan semuanya. Tak pelak semua itu mengundang tanya di hati setiap orang. Rasa cemas pun mulai membersit. Apalagi getaran demi getaran terus saja terjadi selepas shalat Jumat, meski tak sekeras sebelumnya.

Drama mencapai klimaksnya pada Sabtu pagi usai shalat Shubuh, bertepatan dengan 1 Juli 1256. Secara mendadak ketenangan dan keheningan pagi dibuyarkan suara bergemuruh susul-menyusul yang datang dari arah al-Hijaz di tenggara. Bersamanya muncul pancuran bola-bola api merah kebiruan ke langit dalam jumlah besar. Demikian banyaknya bola-bola api yang mirip kembang api ini sehingga cahayanya benderang menyinari cakrawala laksana tersorot Matahari. Selama berhari-hari kemudian pancuran api terus berlangsung tanpa henti dan bahkan kian bertambah banyak saja. Kini malam-malam di kotasuci Madinah pun berubah dramatis menjadi seterang siang hari. Demikian terangnya malam-malam itu sehingga bagian Raudhah dan makam Nabi SAW yang ada di dalam kompleks Masjid Nabawi bagaikan tersorot cahaya Matahari secara terus-menerus. Cahaya terang itu bahkan bisa disaksikan dengan jelas dari Tayma’ dan kotasuci Makkah al-Mukarramah, padahal keduanya berjarak 300 kilometer dari sumber bola-bola api ini.

Sejarawan al-Qastalani menulis, orang-orang Badui pemberani yang mencoba mendekati titik sumber lontaran api tercengang menyaksikan pemandangan menggidikkan. Cairan panas kental mirip bubur yang sangat encer berwarna merah-kebiruan dengan beberapa bagiannya telah menghitam nampak menggelegak. Di latar belakangnya terlihat enam titik pancuran bola-bola api membara yang terus-menerus muncrat ke langit. Seluruh cairan tersebut bergerak mengalir perlahan laksana sungai sembari menyeret batu, pohon, tanah dan apa saja yang dilaluinya. Suara bergemuruh mirip petir yang sambung-menyambung terus saja terdengar. Asap pekat beraroma belerang terus mengepul, memedihkan mata dan menyesakkan dada. Demikian pekat asapnya sehingga udara laksana berkabut terus-menerus. Akibatnya Matahari pun hanya terlihat sebagai bundaran kemerah-merahan saja, hatta telah berkedudukan cukup tinggi di langit. Udara di dekat cairan kental nan aneh ini demikian panasnya, sehingga tak seorang pun berani mendekatinya lebih dekat dari dua lontaran anak panah (+/- 200 m).

Gambar 6. Citra satelit Landsat dalam warna nyata untuk salah satu lokasi retakan yang menjadi sumber Letusan Madinah 1256. Nampak sejumlah kerucu skoria (cinder cone) yang dikelilingi bebatuan berwarna gelap (yang adalah endapan lava basaltik). Sumber: Google Earth, 2014.

Gambar 6. Citra satelit Landsat dalam warna nyata untuk salah satu lokasi retakan yang menjadi sumber Letusan Madinah 1256. Nampak sejumlah kerucu skoria (cinder cone) yang dikelilingi bebatuan berwarna gelap (yang adalah endapan lava basaltik). Sumber: Google Earth, 2014.

Di masa kini kita mengetahui apa yang dihadapi orang-orang Madinah saat itu adalah lava panas produk letusan gunung berapi. Dengan teknologi terkini, relatif lebih mudah mengetahui apa yang sedang terjadi dengan menerbangkan radas (instrumen) dalam kedudukan cukup tinggi di atas lava panas membara itu, baik di dalam pesawat udara nir-awak maupun via satelit penginderaan jauh. Layaknya letusan Holuhraun, Letusan Madinah bersumber pada sebuah retakan di segmen kerak bumi berbelas kilometer sebelah tenggara kotasuci Madinah. Entah seberapa panjangnya retakan itu, namun darinya magma basaltik membanjir keluar sembari muncrat hingga puluhan meter ke udara. Sejumlah gundukan mengerucut yang membukit pun terbentuk di sepanjang retakan ini, yang disebut kerucut skoria (cinder cone). Magma encer itu lantas mengalir sebagai lava menyusuri kontur rupabumi setempat menuju tempat-tempat yang lebih rendah. Pada puncaknya lava panas ini pun terkumpul demikian rupa hingga laksana sejenis danau lava berkedalaman 3 meter yang membentang sepanjang 23 kilometer.

Teknologi di abad ke-13 memang belum memungkinkan manusia masa itu melihat keseluruhan dinamika Letusan Madinah. Apalagi memprakirakan kemana danau lava itu bakal bergerak mengalir dan menelan apa saja yang ada dihadapannya. Namun orang-orang Badui yang pemberani itu terus mengamati pergerakan cairan kental panas nan aneh (yang adalah tepi danau lava) itu dari hari ke hari. Sehingga mereka pun menyadari bahwa cairan panas menggelegak itu secara perlahan namun pasti sedang beringsut mengarah ke kotasuci Madinah yang memang berketinggian lebih rendah. Jelas sudah. Jika semua terus berlangsung seperti itu, maka segenap isi kotasuci tersebut akan tenggelam dalam lautan bara. Kini rasa cemas yang melanda penduduk Madinah pun bermetamorfosis menjadi ketakutan luar biasa. Juga kebingungan. Belum pernah mereka atau nenek moyang mereka, atau bahkan Bangsa Arab sekalipun, menghadapi peristiwa alam semacam ini. Dapat dipahami jika di tengah ketakutan dan kebingungan ini kisah-kisah akan hari akhir pun menyebar kemana-mana. Apalagi salah satu di antara tanda-tanda besar kedatangan hari akhir adalah munculnya api di tanah Hijaz. Dan kini kotasuci Madinah (yang berada di kawasan Hijaz) benar-benar berhadapan dengan api panas membara dalam ukuran yang sungguh tak pernah terbayangkan pada zaman itu.

Menyadari bahaya yang mengancam kotasuci Madinah seisinya, gubernur sigap bertindak. Seluruh penduduk maupun musafir, baik laki-laki maupun perempuan, baik orang dewasa maupun anak-anak, dimintanya untuk segera berkumpul di Masjid Nabawi khususnya di bagian Raudhah dan sekitarnya yang merupakan kawasan mustajab. Semua pun berdoa dengan sepenuh hati, bertaubat dan memohon ampunan Allah SWT atas segala kesalahan yang telah dilakukan. Mereka juga memohon agar cairan kental panas itu, yang kian mendekat saja ke kotasuci, untuk dihentikan atau dialihkan. Banyak yang mencucurkan air mata di tengah kekhusukan doanya ketika menyadari bahwa jika Allah SWT menghendaki, dengan mudah cairan kental panas itu menelan kotasuci Madinah beserta seluruh isinya dan menghapusnya dari muka bumi tanpa sisa dan tiada sesuatu pun yang dapat menghalanginya.

Dan keajaiban pun terjadilah. Seperti bernyawa, lava panas itu berhenti sebelum tapal batas kotasuci dan lantas lantas berbelok ke utara untuk kemudian melambat, berhenti dan membeku. Letusan Madinah sendiri berakhir dalam 52 hari setelah bermula. Sepanjang 52 hari tersebut 500 juta meter kubik magma dimuntahkan dari dalam perut bumi. Sehingga rata-rata Letusan Madinah memuntahkan lebih dari 100 meter kubik magma dalam setiap detiknya.

Harrat Rahat

Gambar 7. Retakan di padang Holuhraun pada 30 Agustus 2014, sehari setelah letusan Holuhraun bermula. Nampak lava panas membara sedang meluap dan mengendap ke sekelilingnya sembari mendingin sehingga berubah warna menjadi gelap. Gas vulkanik pekat nampak terus mengepul. Panorama semacam ini pula yang dilihat orang-orang Madinah kala terjadi Letusan Madinah 1256 pada 7,5 abad silam. Sumber: Dailykos, 2014.

Gambar 7. Retakan di padang Holuhraun pada 30 Agustus 2014, sehari setelah letusan Holuhraun bermula. Nampak lava panas membara sedang meluap dan mengendap ke sekelilingnya sembari mendingin sehingga berubah warna menjadi gelap. Gas vulkanik pekat nampak terus mengepul. Panorama semacam ini pula yang dilihat orang-orang Madinah kala terjadi Letusan Madinah 1256 pada 7,5 abad silam. Sumber: Dailykos, 2014.

Letusan Madinah merupakan wujud nyata eksistensi gunung berapi di semenanjung Arabia. Ya. Meski mayoritas bagiannya beriklim gurun, namun bentang lahan semenanjung terbesar di muka bumi ini tidaklah melulu berisi lautan pasir gersang. Padang pasir semacam itu hanya dijumpai di sisi selatan dan tenggara sebagai padang pasir ar-Rub’ al-Khali, yang adalah lautan pasir lepas terluas di muka bumi. Semenanjung ini juga bukan sekedar tanah tempat agama-agama samawi dilahirkan, tanah tempat para nabi dan rasul diutus serta tanah tempat berdirinya dua kotasuci Umat Islam. Namun lebih dari itu, semenanjung ini juga adalah salah satu keajaiban geologi yang sulit dicari padanannya di tempat lain. Sebagian Semenanjung Arabia khususnya daratan yang sebelah-menyebelah Laut Merah (termasuk kawasan Hijaz) adalah salah satu daratan tertua di muka bumi. Daratan ini dikenal sebagai Tameng Arabia-Nubia (Arabian-Nubian Shield). Dengan umur sedikitnya 600 juta, batuan di Tameng Arabia-Nubia sejatinya telah begitu padat sehingga jauh lebih stabil dibanding daratan lainnya yang lebih muda.

Namun di Tameng Arabia-Nubia pula kita kita bisa menyaksikan momen lahirnya kerak bumi baru dan meluasnya lempeng tektonik. Bentangan panjang Laut Merah yang menghiasi kawasan ini sejatinya adalah lembah besar yang dalam sehingga tergenangi air asin yang mengalir dari Samudera Hindia. Lembah besar ini bukanlah lembah biasa, sebab dibentuk oleh pergerakan tektonik intensif. Ia bersambung dengan lembah-lembah lurus lainnya yang menjulur dari Turki hingga ke Afrika Tengah dalam sebuah ekspresi yang disebut Lembah Retakan Besar (Great Rift Valley) sepanjang sekitar 4.000 kilometer. Di sejumlah bagian lembah inilah magma panas menyeruak dari lapisan selubung, terutama di sepanjang retakan kecil sumbu dasar Laut Merah, khususnya di sisi selatan. Begitu keluar, magma panas mulai mendingin dan membeku menjadi bayi lempeng tektonik oseanik. Jika pola semacam ini berlangsung secara menerus, maka dalam puluhan juta tahun ke depan Laut Merah akan demikian meluas menjadi samudera baru sementara retakan kecil sumbu dasarnya berevolusi menjadi punggungan tengah samudera seperti Islandia saat ini. Maka jangan heran jika saat ini di tengah-tengah Laut Merah dijumpai sejumlah gunung berapi. Ada yang tetap terbenam di bawah permukaan air dan ada pula yang menyembul di atas laut sebagai pulau vulkanis.

Tetapi retakan tidak hanya muncul di dasar Laut Merah. Di kawasan Hijaz, sejumlah retakan yang mirip pun terbentuk dan menjadi panggung bagi vulkanisme titik-panas serupa. Di retakan-retakan inilah magma menyeruak keluar membentuk gunung berapi Hijaz yang khas. Jangan bayangkan gunung berapi Arabia berbentuk kerucut tinggi yang indah seperti halnya gunung-gunung berapi komposit (stratovulcan) di Indonesia. Vulkanisme titik-panas menghasilkan magma basaltik yang lebih encer, sehingga gunung berapi Hijaz sejatinya hanyalah tumpukan lava yang tersebar menutupi area sangat luas dengan sejumlah kerucut skoria berketinggian rendah muncul didalamnya. Dapat dikata gunung berapi Hijaz memiliki panorama yang ‘jelek.’ Namun dibalik ‘kejelekan’-nya, vulkanisme di tanah Hijaz ini sungguh luar biasa. Secara akumulatif dalam 10 juta tahun terakhir ia telah memuntahkan lava basaltik yang menutupi area seluas 180 ribu kilometer persegi, setara sepersepuluh luas Indonesia.

Gambar 8. Lava basaltik panas membara sedang merayap menyusuri tanah Islandia, diabadikan pada 15 September 2014. Pelan namun pasti lava basaltik ini terus bergerak maju menutupi wilayah lebih luas dari hari ke hari. Panorama sejenis tersebut juga disaksikan orang-orang Madinah kala terjadi Letusan Madinah 1256 pada 7,5 abad silam. Sumber: University of Iceland, 2014.

Gambar 8. Lava basaltik panas membara sedang merayap menyusuri tanah Islandia, diabadikan pada 15 September 2014. Pelan namun pasti lava basaltik ini terus bergerak maju menutupi wilayah lebih luas dari hari ke hari. Panorama sejenis tersebut juga disaksikan orang-orang Madinah kala terjadi Letusan Madinah 1256 pada 7,5 abad silam. Sumber: University of Iceland, 2014.

Salah satu retakan di sini adalah yang berpangkal dari sekitar kotasuci Makkah al-Mukarramah dan menerus ke utara-timur laut melintas di dekat kotasuci Madinah hingga kemudian berujung di Nafud. Karenanya retakan sepanjang sekitar 600 kilometer ini lebih dikenal sebagai retakan Makkah-Madinah-Nafud atau Makkah-Madinah-Nafud volcanic line. Lewat retakan inilah magma melimpah ke permukaan tanah dan membentuk sedikitnya empat gunung berapi Hijaz. Dari selatan ke utara, masing-masing adalah Harrat Rahat, Harrat Kurama, Harrat Khaybar dan Harrat Ithnayn. Harrat Rahat menjadi gunung berapi terbesar di jalur retakan ini, bahkan di seantero Semenanjung Arabia. Ia membentang sepanjang 310 kilometer dari Jeddah ke Madinah dengan lebar rata-rata sekitar 75 kilometer. Harrat Rahat pada dasarnya adalah tumpukan lava basaltik yang telah membeku dengan total volume sebesar 2.000 kilometer kubik. Lava sebanyak itu diletuskan secara bertahap lewat 400 saluran magma serta lebih dari 2.000 kerucut skoria sepanjang 10 juta tahun terakhir. Praktis kotasuci Makkah dan Madinah sebenarnya berdiri tepat di tubir gunung berapi raksasa menggetarkan yang memiliki nama lain Harrat Bani Abdullah, atau Harrat Madinah, atau Harrat Rashid, atau Harrat Turrah, atau Harrat el-Medina, atau Harrat er-Raha, atau Jabal Ma’tan, atau Jabal Umm Ruqubah, atau Jabal al-Hurus, atau Jibal Diba’ Al Hurus ini. Dan di ujung utara gunung berapi raksasa inilah Letusan Madinah terjadi dalam 7,5 abad silam.

Gambar 9. Peta Semenanjung Arabia bagian barat khususnya kawasan Hijaz. Nampak gunung-gemunung berapi Arabia (harrat) dengan yang terbesar adalah Harrat Rahat. Praktis kotasuci Makkah dan Madinah berdiri di tubir gunung berapi raksasa ini. Tanda bintang (*) menunjukkan lokasi Letusan Madinah 1256. Aktivitas terakhir gunung-gemunung berapi ini adalah di Harrat Lunayyir, 200 kilometer barat laut kotasuci Madinah. Sumber: Zahrani dkk, 2013.

Gambar 9. Peta Semenanjung Arabia bagian barat khususnya kawasan Hijaz. Nampak gunung-gemunung berapi Arabia (harrat) dengan yang terbesar adalah Harrat Rahat. Praktis kotasuci Makkah dan Madinah berdiri di tubir gunung berapi raksasa ini. Tanda bintang (*) menunjukkan lokasi Letusan Madinah 1256. Aktivitas terakhir gunung-gemunung berapi ini adalah di Harrat Lunayyir, 200 kilometer barat laut kotasuci Madinah. Sumber: Zahrani dkk, 2013.

Letusan Madinah bukanlah akhir dari aktivitas gunung berapi Hijaz. Gunung-gunung berapi unik ini terus aktif bahkan hingga kini. Pada 2009 lalu terjadi lonjakan jumlah gempa vulkanik secara mendadak di Harrat Lunayyir, sebuah gunung berapi Hijaz berukuran kecil yang terletak di barat laut kotasuci Madinah. Selama bulan April hingga Juni 2009 terjadi 40.000 guncangan gempa vulkanik dengan magnitudo antara 2 hingga 5,4 skala Richter. Inilah pertanda sangat jelas bahwa magma basaltik di perutbumi kawasan Hijaz masih tetap berupaya mencari jalan keluar ke permukaan. Pertanda tersebut kian jelas lewat terbentuknya retakan sepanjang 8 kilometer selebar 45 sentimeter. Belajar dari pengalaman Letusan Madinah 7,5 abad silam, otoritas Saudi Arabia tak menyia-nyiakan waktu untuk mengevakuasi sekitar 30.000 orang di kota al-Ays yang ada dalam kompleks gunung berapi ini. Namun tak seperti Harrat Rahat, Harrat Lunayyir ternyata tak kunjung memuntahkan magmanya. Ia urung meletus. Mungkin masih menunggu kesempatan lain di masa depan.

Referensi :

Sudibyo. 2012. Ensiklopedia Fenomena Alam dalam al-Qur’an, Menguak Rahasia Ayat-Ayat Kauniyah. Surakarta: Tinta Medina, cetakan pertama.

Rei. 2014. Bardarbunga: Sorry, Ireland (Update 2x). DailyKos.com, 5 September 2014.

Frimann. 2014. Bardarbunga Daily Update. Iceland Geology, Volcano and Earthquake Activity in Iceland.

al-Zahrani dkk. 2013. Aftershock Sequence Analysis of 19 May, 2009 Earthquake of Lunayyir Lava Flow, Northwest Saudi Arabia. International Journal of the Physical Sciences Vol. 8(7), 23 February 2013, pp. 277-285.

Semburan Lumpur Butuh Purworejo (Jawa Tengah), Sebuah Pendahuluan

Air bercampur lumpur hitam mendadak menyembur di kebun pak Ponco Sumarno (52 tahun), warga RT 02 RW 01 dusun Jogomudo desa Lubang Kidul, kecamatan Butuh, kabupaten Purworejo (Jawa Tengah) semenjak Kamis sore 5 September 2013. Semburan terjadi dari sebuah lubang sumur bor yang sedang dibuat pemilik kebun dengan tujuan untuk mengairi kolam ikan guramenya yang kekurangan air. Pekerjaan pembuatan sumur bor dilakukan oleh Eko Siswanto (37 tahun), warga desa Boto Daleman kecamatan Bayan (dari kabupaten yang sama), sebagai tukang pembuat sumur bersama tiga orang pekerjanya. Saat pengeboran mencapai kedalaman 8 meter, mendadak air mulai mengalir keluar dari lubang bor. Salah seorang pekerja sempat mencoba merasainya dan air dingin ini ternyata berasa asin layaknya air laut. Pada saat yang sama pula terasa ada tekanan kuat dari dalam lubang bor, sehingga pengeboran disepakati dihentikan dengan anggapan sumber air sudah ditemukan.

Gambar 1. Semburan lumpur Butuh Purworejo di kala siang, hanya beberapa jam setelah berawal. Nampak semburan masih setinggi pohon pisang. Sumber: Wewed Urip Widodo, 2013

Gambar 1. Semburan lumpur Butuh Purworejo di kala siang, hanya beberapa jam setelah berawal. Nampak semburan masih setinggi pohon pisang. Sumber: Wewed Urip Widodo, 2013

Namun dengan tujuan memperbanyak jumlah cadangan air, Eko berinisiatif menambah kedalaman sumur sepanjang satu pipa lagi. Dan pak Ponco pun menyetujuinya. Begitu pengeboran dilanjutkan, tekanan dari dalam lubang bor jutru terasa kian menguat. Dan saat pengeboran mencapai kedalaman 15 meter, air bercampur lumpur hitam pun mulai mengalir dan akhirnya menyembur. Di awal mula semburan lumpur yang laksana air mancur mencapai ketinggian 6 meter, namun berselang beberapa saat kemudian merosot menjadi tinggal 3-4 meter. Di malam hari bahkan terlihat api menyala-nyala dari lubang bor, sehingga suasana jadi mencekam.

Kontan peristiwa ini segera menghebohkan masyarakat Butuh. Kabar pun terus meluas ke segenap penjuru dan masyarakat pun mulai datang berbondong-bondong ke lokasi. Muncul kekhawatiran bahwa semburan lumpur Butuh ini (demikian saja kita namakan) akan membesar dan meluas hingga menjadi petaka yang tak kalah besarnya dengan kasus semburan Lumpur Lapindo Sidoarjo (Jawa Timur) yang masih terus berlangsung hingga kini meski telah berjalan lebih dari 7 tahun. Apalagi lokasi semburan lumpur Butuh tepat di tengah-tengah pemukiman penduduk.

Kebumen Low

Lokasi semburan lumpur Butuh terletak di dataran rendah sejauh sekitar setengah kilometer di sebelah timur aliran sungai Butuh atau sekitar 9 kilometer di sebelah utara pesisir Samudera Hindia. Dari jalur jalan raya utama yang menjadi poros selatan Jawa Tengah khususnya dari Pasar Butuh yang terkenal dengan kuliner dawetnya, lokasi semburan lumpur masih berjarak sekitar 1 kilometer ke selatan.

Apa yang sebenarnya menyebabkan semburan lumpur Butuh masih harus menanti hasil analisis kandungan gas-gas dan cairan yang dikeluarkan. Namun meninjau geologi setempat, apa penyebab peristiwa ini bisa diperkirakan. Mengutip penjelasan pak Awang Harun Satyana, geolog senior yang kini bertugas di SKK Migas, yang di-cross-check-an dengan sumber-sumber lain diketahui bahwa dataran rendah yang membentang di Kabupaten Kebumen dan Purworejo secara geologis dikenal sebagai Rendahan Kebumen (Kebumen Low). Dataran rendah ini berbataskan pada Tinggian/Pegunungan karst Karangbolong di barat, Pegunungan Serayu Selatan di utara dan Tinggian/Pegunungan Menoreh di timur. Pegunungan karst Karangbolong merupakan tinggian yang terbentuk sebagai hasil aktifnya sistem patahan besar yang membentang dari Kebumen hingga ke Pegunungan Meratus (Kalimantan Selatan) bersama dengan sistem patahan yang membentang dari Cilacap hingga Lematang (Sumatra Selatan). Kedua patahan besar ini aktif di zaman purba (yakni sekitar 65 juta tahun silam) dan kini telah mati, namun jejak aktivitasnya masih membekas dalam banyak hal, salah satunya adalah terangkatnya daerah Gombong selatan hingga Karangbolong sampai setinggi 2.000 meter lebih, meski kini telah tererosi berat dan tinggal setinggi 600-an meter. Sementara Pegunungan Menoreh dibentuk oleh aktivitas vulkanik jutaan tahun silam yang memunculkan tiga gunung berapi tua yang kini telah padam/mati dan kini hanya menyisakan fosilnya semata.

Rendahan Kebumen di masa silam dalam era sejarah merupakan perairan laut pedalaman. Apa yang kini menjadi lokasi kota Kebumen di masa silam merupakan muara sungai Lukulo purba. Intensifnya sungai Lukulo purba mengalirkan sedimen yang dikikis dari Pegunungan Serayu Selatan menyebabkan terbentuknya delta di muaranya. Kini bekas delta tersebut menjadi kawasan dengan kandungan tanah liat bermutu tinggi yang menghidupi industri genteng, sehingga hanya terbatasi mulai dari sisi timur kota Kebumen (Tanahsari) hingga sisi barat (Soka). Sungai-sungai besar lainnya pun demikian. Laut pedalaman ini pun mungkin mendapatkan materi sedimen tambahan dari sungai Progo purba, yang menghanyutkan material vulkanik produk letusan Merapi, Merbabu, Sindoro dan Sumbing. Konsekuensinya laut pedalaman itu kian mendangkal dan lama-kelamaan berubah menjadi daratan dengan rawa-rawa di sana-sini. Rawa-rawa itu menghidupi banyak tumbuhan, yang lantas membentuk lapisan tanah gambut. Saat pemadatan dan pengendapan terus-menerus terjadi, tanah gambut yang berlapis-lapis tertimbun sehingga menjadi sumber zat-zat organik tempat bakteri tumbuh subur. Aktivitas bakteri menyebabkan zat-zat organik terurai menjadi beraneka-ragam gas, terutama metana.

Gambar 2. Semburan lumpur Butuh Purworejo di kala malam, hanya beberapa jam setelah berawal. Nampak lidah api menyala-nyala tepat dari lubang semburan. Sumber: Wewed Urip Widodo, 2013

Gambar 2. Semburan lumpur Butuh Purworejo di kala malam, hanya beberapa jam setelah berawal. Nampak lidah api menyala-nyala tepat dari lubang semburan. Sumber: Wewed Urip Widodo, 2013

Produksi metana yang terus-menerus membuat gas ini kian banyak sehingga lama-kelamaan membentuk sejenis reservoar atau kantung gas bawahtanah, dalam berbagai ukuran dan bertekanan tinggi. Sepanjang tak ada jalan yang menghubungkan kantung gas ini dengan udara luar, metana bakal seterusnya terjebak didalamnya. Namun begitu kantung gas ini tertembus lubang sumur maupun penyebab alamiah seperti misalnya terobekkan oleh reaktivasi patahan (dalam gempa bumi), maka jadilah metana menemukan jalan tol-nya ke permukaan. Semburan gas metana bertekanan tinggi pun akan terjadi, yang sanggup mendorong air dan segala partikulat sedimen yang dilaluinya sehingga membentuk pancuran lumpur. Keberadaan metana pun ditunjang secara kasat mata dengan adanya nyala api yang terlihat dari semburan tersebut.

Berbeda

Dengan kondisi geologi semacam itu maka semburan lumpur Butuh jauh berbeda dibandingkan yang terjadi pada kasus Lapindo Sidoarjo (Jawa Timur). Meski terdapat dua kubu yang berbeda pandangan tentang penyebabnya yakni antara pengeboran eksplorasi migas yang tak taat prosedur di satu sisi dan bencana gempa Yogya 2006 di sisi lain, namun kedua kubu mengamini bahwa air yang terlibat dalam kasus Sidoarjo berasal dari kedalaman berkilo-kilometer di bawah tanah. Air tersebut terdorong ke permukaan Bumi bukan oleh tekanan gas metana, melainkan oleh aksi vulkanik terutama lewat pemanasan magma dari Gunung Penanggungan di dekatnya. Maka bila kasus Sidoarjo merupakan fenomena gunung lumpur (mud volcano) yang tetap bertahan hingga sekarang meski telah berlangsung lebih dari 7 tahun sebagai akibat ketersediaan lapisan sedimen sumber lumpur yang mampu menjaga pasokan tetap stabil serta stabilnya sumber tenaga penggeraknya di bawah Gunung Penanggungan, maka semburan lumpur Butuh hanya ditenagai dorongan gas metana yang jumlahnya terbatas.

Karena itu seiring berjalannya waktu, aliran gas metana di semburan lumpur Butuh bakal kian mengecil sehingga tekanannya pun kian rendahnya. Dan pada akhirnya semburan bakal berhenti dengan sendirinya, mungkin dalam beberapa hari atau beberapa minggu. Semburan semacam ini sebenarnya bukan yang aneh untuk kawasan Rendahan Kebumen. Pada tahun 1996 silam, sebuah sumur bor yang sedang digali di dekat Kantor Pos Kutowinangun (Kebumen) mendadak juga menyemburkan air setelah mencapai kedalaman tertentu. Namun berselang beberapa hari kemudian semburan pun berhenti.

Air produk semburan yang terasa asin menjadi indikasi bahwa daerah Butuh sebagai bagian dari Rendahan Kebumen dulunya memang laut. Mengingat intrusi air laut tak terjadi di sini, setidaknya berdasarkan ketiadaan gejala-gejala yang nampak di permukaan tanah, maka air asin tersebut mungkin merupakan air laut purba (connate water) yang terjebak saat Rendahan Kebumen masih berupa laut.

Gambar 3. Peta topografi Rendahan Kebumen (Kebumen Low) yang 'dipagari' Pegunungan Karangbolong (barat), Serayu Selatan (utara) dan Menoreh (timur). Lokasi semburan lumpur Butuh ditandia dengan anak panah. Sumber: Sudibyo, 2013 dengan peta dari Google Maps.

Gambar 3. Peta topografi Rendahan Kebumen (Kebumen Low) yang ‘dipagari’ Pegunungan Karangbolong (barat), Serayu Selatan (utara) dan Menoreh (timur). Lokasi semburan lumpur Butuh ditandia dengan anak panah. Sumber: Sudibyo, 2013 dengan peta dari Google Maps.

Mengingat semburan berkemungkinan besar bakal berhenti dengan sendirinya, tak ada yang perlu dikhawatirkan di Butuh, Purworejo. Namun sebagai upaya pengamanan, pihak berwenang dapat memasang pipa penyalur vertikal langsung dari lubang semburan, sehingga gas metana langsung terbuang ke udara hingga ketinggian tertentu tanpa sempat menyebar horizontal dan terkonsentrasi. Mengingat gas ini dapat terbakar pada situasi tertentu. Pipa penyalur juga bermanfaat untuk menghembuskan gas-gas lain (seandainya) ada ke ketinggian, misalnya Hidrogen Sulfida yang berbau busuk dan beracun pada kadar tertentu.