Gunung Slamet, Si Menara Api di Malam Hari

Gunung Slamet (3.428 meter dari paras air laut) di Jawa Tengah terkesan kian menjadi-jadi saja. Bukannya lebih kalem dan bertambah ‘jinak’, ia kini justru kian gemar mempertontonkan kegagahannya kepada siapapun manusia yang sedang berada ataupun bermukim di sekujur kaki dan lerengnya. Semenjak kembali menyandang status Siaga (Level III) per 12 Agustus 2014 silam, intensitas letusan gunung berapi aktif tertinggi kedua di seantero pulau Jawa ini cenderung meningkat. Suara dentuman dan gemuruh kian sering terdengar. Kian jauh pula daerah yang sanggup mendengar dentuman tersebut. Getaran tanah pun kian kerap terjadi, membuat kaca-kaca jendela pada bangunan-bangunan di kaki gunung rutin berderak-derak. Kepulan debu vulkanik yang dilepaskan dari lubang letusan kian meninggi saja. Dan di malam hari material berpijar yang mirip kembang api raksasa juga lebih sering muncul dengan ketinggian semburan kian meninggi saja. Kini pancuran api tersebut bahkan sudah mulai bisa dilihat dari kota Purwokerto, menjadikan Gunung Slamet ibarat menara api penerang gelapnya malam hari.

Gambar 1. Gunung Slamet pada Jumat 12 September 2014 malam, diabadikan dari arah Pemalang. Nampak puncak gunung ibarat menara api. Kepulan debu dan asap terlihat menyebar ke barat berhias gugusan bintang Sagittarius di latar belakang. Sumber: Fatrurrizal, 2014.

Gambar 1. Gunung Slamet pada Jumat 12 September 2014 malam, diabadikan dari arah Pemalang. Nampak puncak gunung ibarat menara api. Kepulan debu dan asap terlihat menyebar ke barat berhias gugusan bintang Sagittarius di latar belakang. Sumber: Fatrurrizal, 2014.

Tak hanya itu, batu cair panas mirip bubur kental yang kita kenal sebagai lava pun sudah menyeruak ke lantai kawah dalam jumlah cukup banyak. Kawah Slamet pun tak lagi sanggup menampungnya, hingga meluber melalui lekukan kawah di sisi barat daya sebagai lava pijar yang mengalir sejauh 1.500 meter. Bahkan pada Kamis 11 September 2014 dini hari kemarin lava pijar terdeteksi telah mengalir pula ke lereng timur, juga melalui lekukan kawah di sini, hingga sejauh 1.300 meter. Lava menjulur demikian jauh hingga memasuki kawasan padang sabana di batas vegetasi lereng utara. Akibatnya kawasan bersemak-belukar itu pun mulai terbakar. Hingga beberapa jam kemudian kebakaran itu kian meluas hingga radius 4 km dari kawah. Di siang harinya Gunung Slamet kembali memperlihatkan kebolehannya dengan menampakkan fenomena unik yang jarang terjadi, yakni terbentuknya cincin asap. Muncul pada sekitar pukul 12:45 WIB, cincin asap ini menghembus demikian tinggi hingga mudah dilihat baik dari kaki gunung bagian selatan maupun utara. Sebelumnya hujan debu telah mengguyur beberapa bagian di sekitar kaki gunung. Tak hanya debu vulkanik, di dekat puncak gunung bahkan telah diguyur hujan kerikil dan pasir.

Gambar 2. Cincin asap Gunung Slamet yang muncul pada Kamis 11 September 2014 sekitar pukul 12:45 WIB. Cincin asap dalam letusan Slamet sejatinya menunjukkan bagaimana geometri dan ukuran saluran magma serta betapa saluran magma tetap terbuka tanpa sumbatan yang berarti. Sumber: Leo Kennedy Adam, 2014.

Gambar 2. Cincin asap Gunung Slamet yang muncul pada Kamis 11 September 2014 sekitar pukul 12:45 WIB. Cincin asap dalam letusan Slamet sejatinya menunjukkan bagaimana geometri dan ukuran saluran magma serta betapa saluran magma tetap terbuka tanpa sumbatan yang berarti. Sumber: Leo Kennedy Adam, 2014.

Tak pelak tabiat Gunung Slamet kali ini membuat sebagian kita resah. Apalagi ditambahi informasi sejumlah hewan liar mulai turun dari hutan belantara di tubuh gunung. Keresahan meraja di sebagian kita yang sedang berada atau bertempat tinggal di sekitar gunung. Juga bagi yang memiliki sanak saudara di sini. Informasi tak berkeruncingan dari sumber-sumber yang tak dapat dipertanggungjawabkan pun membanjir. Demikian pula gambar/foto. Ada berbagai foto akan letusan gunung berapi dan jilatan awan panasnya yang diklaim sebagai letusan Gunung Slamet, padahal itu adalah foto comotan dari letusan Gunung Sinabung (Sumatra Utara) di awal tahun ini. Penampakan cincin asap pun dicermati sebagai kemunculan Mbah Bebek dan dianggap pertanda buruk. Dalam situasi dimana hampir sebagian besar kita memiliki perangkat ponsel terkini dengan segala kecanggihannya namun pada saat yang sama relatif awam akan kegunungapian, tak pelak sebaran foto-foto tersebut membuat rasa cemas dan resah kita kian meningkat. Kecemasan yang tak pada tempatnya mengingat perilaku Gunung Slamet sendiri tak seheboh itu.

Apa yang kini terjadi dengan Gunung Slamet? Bagaimana status aktivitasnya? Apakah lava pijar yang panas membara itu akan mengalir lebih jauh lagi hingga bisa mencapai pemukiman di kaki gunung? Apakah awan panas akan segera terbentuk mengikuti lava pijar? Apa yang sebaiknya dilakukan?

Aktivitas

Sejak menyandang status Siaga (Level III) untuk kedua kalinya, intensitas letusan Gunung Slamet memang tinggi. Pun demikian dalam seminggu terakhir. Merujuk data yang dihimpun secara terus-menerus dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI melalui pos pengamatan Gambuhan, Pemalang, kegempaan vulkanik Gunung Slamet menjadi bukti betapa riuhnya gunung itu. Masih terdeteksi adanya pasokan magma segar yang membuncah dari perutbumi nun jauh di bawah gunung, seperti diperlihatkan beberapa kejadian gempa vulkanik semenjak 4 hingga 6 September 2014.

Gambar 3. Grafik jumlah gempa vulkanik, hembusan dan letusan Gunung Slamet per hari dalam periode 4 hingga 11 September 2014. Nampak gempa vulkanik absen setelah 6 September, sebaliknya gempa letusan mulai muncul pada 9 September dan langsung meroket dalam sehari berikutnya. Sumber: Sudibyo, 2014 berdasarkan data PVMBG, 2014.

Gambar 3. Grafik jumlah gempa vulkanik, hembusan dan letusan Gunung Slamet per hari dalam periode 4 hingga 11 September 2014. Nampak gempa vulkanik absen setelah 6 September, sebaliknya gempa letusan mulai muncul pada 9 September dan langsung meroket dalam sehari berikutnya. Sumber: Sudibyo, 2014 berdasarkan data PVMBG, 2014.

Masih terjadinya gempa vulkanik menjadi pertanda jelas bahwa Gunung Slamet masih mendapatkan pasokan magma segar dari perutbumi. Cepat atau lambat magma ini pasti bakal keluar melalui lubang letusan yang sudah lama terbentuk di dasar kawah aktif Slamet. Benar saja. Lontaran material pijar (yang terlihat sebagai sinar api) dan lava pijar Gunung Slamet mendadak meroket pada 9 hingga 11 September 2014. Bersamaan dengannya gempa letusan, yakni getaran yang terjadi bersamaan dengan semburan asap abu-abu (pertanda debu vulkanik) dari kawah, mulai terjadi kembali dan segera melonjak. Gempa hembusan, yakni getaran yang bersamaan dengan berkepulnya asap putih (pertanda uap air) dari kawah, kian melonjak. Aktivitas letusan dan hembusan ini masih dibarengi dengan terjadinya tremor vulkanik menerus, sebagai pertanda terus terjadinya pelepasan gas-gas vulkanik dari magma yang sedang mulai membeku menjelang terlontar dari lubang letusan bersamaan dengan gerakan magma itu sendiri, terus berlangsung semenjak Agustus.

Gambar 4. Grafik jumlah sinar api dan lava pijar yang dimuntahkan Gunung Slamet per hari dalam periode 4 hingga 11 September 2014. Nampak kejadian sinar api meroket dan mencapai puncaknya pada 9 September dan setelah itu mulai menurun. Sebaliknya kejadian lava pijar cenderung mulai naik mulai dan mencapai puncaknya pada 10 September. Sumber: Sudibyo, 2014 berdasarkan data PVMBG, 2014.

Gambar 4. Grafik jumlah sinar api dan lava pijar yang dimuntahkan Gunung Slamet per hari dalam periode 4 hingga 11 September 2014. Nampak kejadian sinar api meroket dan mencapai puncaknya pada 9 September dan setelah itu mulai menurun. Sebaliknya kejadian lava pijar cenderung mulai naik mulai dan mencapai puncaknya pada 10 September. Sumber: Sudibyo, 2014 berdasarkan data PVMBG, 2014.

Jelas terlihat meningkatnya intensitas letusan Gunung Slamet pada 9 hingga 11 September 2014 merupakan imbas dari pasokan magma segar baru yang terus terjadi, seperti diperlihatkan gempa vulkaniknya. Magma segar yang mulai membeku saat keluar dari lubang letusan kini tak lagi hanya berupa bongkahan material beragam ukuran yang masih memijar, seperti halnya yang terjadi pada letusan Slamet sebelumnya (misalnya letusan 1999-2000 dan letusan 1988). Namun juga berupa lava, sebuah fenomena yang jarang terjadi dalam era sejarah tercatat di gunung berapi ini.

Material vulkanik yang dimuntahkan Gunung Slamet sepanjang letusan 2014-nya kali ini nampaknya cukup banyak dalam kisaran jutaan meter kubik. Selain memenuhi lantai kawah aktif hingga meluber menjadi lava pijar ke barat daya dan kemudian juga ke timur, sebagian material vulkaniknya (termasuk lava) telah membentuk gundukan yang mengerucut di sekeliling lubang letusan. Observasi lapangan (misalnya yang dilakukan secara pribadi oleh mas Aris Yanto) maupun pencitraan satelit memastikan keberadaan gundukan kerucut ini. Namun di pucuk gundukan ini masih tetap terdapat ujung lubang letusan tanpa tertutupi material sama-sekali, berbeda dengan kubah lava pada umumnya yang relatif tersumbat. Fenomena ini menunjukkan bahwa saluran magma/diatrema Gunung Slamet memang tetap terbuka.

Gambar 5. Grafik jumlah suara dentuman dan gemuruh pada letusan Gunung Slamet per hari dalam periode 4 hingga 11 September 2014. Nampak jumlah suara gemuruh dan dentuman yang terdeteksi pada rentang waktu 9 hingga 11 September 2014 lebih besar ketimbang sebelumnya. Sumber: Sudibyo, 2014 berdasarkan data PVMBG, 2014.

Gambar 5. Grafik jumlah suara dentuman dan gemuruh pada letusan Gunung Slamet per hari dalam periode 4 hingga 11 September 2014. Nampak jumlah suara gemuruh dan dentuman yang terdeteksi pada rentang waktu 9 hingga 11 September 2014 lebih besar ketimbang sebelumnya. Sumber: Sudibyo, 2014 berdasarkan data PVMBG, 2014.

Munculnya cincin asap yang langka juga menunjukkan bahwa saluran magma memang tetap terbuka. Cincin asap secara umum hanya bisa terjadi saat asap, yakni gas-gas vulkanik, berkumpul demikian rupa dalam ruang sempit berbentuk/mirip tabung. Kemudian ia menghembus keluar pada tekanan dan kecepatan yang pas. Sehingga selepas keluar dari ruang tersebut, asap tetap mempertahankan bentuk geometri tabung tempat semula ia berada tanpa melayang terlalu rendah ataupun buyar tersapu tekanannya sendiri. Cincin asap dalam letusan gunung berapi adalah pemandangan yang sangat langka, apalagi di Indonesia. Selain di Gunung Slamet, sejauh ini bentuk cincin asap sejenis baru terdokumentasikan dalam letusan Gunung Batutara di pulau Lembata (Nusa Tenggara Timur) dan Gunung Sinabung (Sumatra Utara). Dalam khasanah kegunungapian, selain menjadi pertanda terbukanya saluran magma fenomena cincin asap juga menjadi petunjuk untuk memahami bentuk dan diameter saluran magma.

Status Aktivitas

Dengan semua dinamika dalam seminggu terakhir, bagaimana status aktivitas Gunung Slamet?

Ada empat level status aktivitas yang dapat melekat di sebuah gunung berapi Indonesia untuk kurun tertentu. Status Aktif Normal (Level I) menjadi level terendah. Aktif Normal secara umum terjadi bila gunung berapi tidak mengalami pergerakan magma segar yang signifikan. Meski tetap melepaskan gas vulkanik dan gempa-gempa khas gunung berapi, kecuali gempa vulkanik dalam, namun semuanya berada dalam rentang nilai rata-rata secara statistik. Di level berikutnya ada status Waspada (Level II). Secara umum status ini terjadi tatkala magma dalam perutbumi mulai bergerak naik sehingga menimbulkan peningkatan jumlah gempa vulkanik dalam dan dangkal. Pelepasan gas vulkanik mulai meningkat namun belum diikuti perubahan bentuk tubuh gunung (deformasi). Dalam status ini kewaspadaan manusia yang tinggal di sekitar gunung sebaiknya mulai ditingkatkan. Barang-barang yang dibutuhkan dalam rangka evakuasi kelak sudah mulai disiapkan, meskipun evakuasi belum terjadi. Kawasan terlarang pun umumnya mulai dibentuk, meski tidak semua gunung berapi mengalami hal demikian. Kawasan terlarang dalam status Waspada (Level II) meski masih beradius kecil dari kawah aktif.

Gambar 6. Contoh gempa letusan Gunung Slamet yang terekam di pos pengamatan Gambuhan pada 25 Agustus 2014 pukul 05:50 WIB. Kala kepulan asap berwana abu-abu/gelap menyeruak dari kawah aktif di puncak gunung, pada saat yang sama seismometer analog di pos merekam getarannya (tanda panah). Sumber: PVMBG, 2014.

Gambar 6. Contoh gempa letusan Gunung Slamet yang terekam di pos pengamatan Gambuhan pada 25 Agustus 2014 pukul 05:50 WIB. Kala kepulan asap berwana abu-abu/gelap menyeruak dari kawah aktif di puncak gunung, pada saat yang sama seismometer analog di pos merekam getarannya (tanda panah). Sumber: PVMBG, 2014.

Jika pergerakan magma segar terus berlangsung maka gunung berapi bakal memasuki status lebih tinggi, yakni Siaga (Level III). Secara umum pada status ini magma telah bergerak cukup signifikan hingga mulai memasuki tubuh gunung berapi. Akibatnya gempa vulkaniknya meroket disertai pelepasan gas vulkanik dan mulai terdeformasinya tubuh gunung dalam wujud penggelembungan (inflasi). Dapat terjadi magma sudah mencapai kepundan dan menyeruak keluar sebagai letusan (erupsi) lewat lubang letusan yang dibuatnya. Jika berupa lava, magma yang ter-erupsi bisa terkumpul di satu titik sebagai kubah lava maupun tersebar sebagai lava pijar. Kubah lava mungkin dapat longsor dan menghasilkan awan panas (piroklastika), namun jangkauannya relatif pendek. Dalam status ini meski sudah meletus tapi intensitasnya rendah. Sehingga lava dan awan panasnya belum mengancam umat manusia di yang bermukim di sekitar tubuh gunung. Pada status ini evakuasi masyarakat sudah mulai dilakukan, khususnya yang berdiam di kawasan terlarang. Radius kawasan terlarang juga diperluas. Dan status berikutnya sekaligus yang tertinggi adalah Awas (Level IV), yang secara umum terjadi saat intensitas letusan kian meningkat sehingga produk letusannya khususnya lava dan awan panasnya sudah mulai mengancam pemukiman manusia secara langsung. Dalam status ini radius kawasan terlarang kian diperluas dan evakuasi segenap manusia didalamnya menjadi hal mutlak.

Saat ini Gunung Slamet berstatus Siaga (Level III). Magma sudah keluar di permukaan. Sebagian membeku sebagai debu pasir dan kerikil sebagai material pijar yang dimuncratkan ke langit saat keluar dari lubang letusan. Sementara sebagian lagi keluar sebagai lava pijar membara yang kental dan mengalir lambat. Saat keluar dari lubang letusan, material pijar terlontar hingga setinggi maksimum 700 meter di atas kawah sebelum kemudian jatuh kembali dalam lintasan parabola di bawah pengaruh gravitasi Bumi. Hampir seluruh material tersebut mengendap kembali di kawasan puncak. Terkecuali debu vulkanik yang ringan sehingga paling mudah mendingin tapi juga paling gampang dihembus angin ke jarak yang jauh. Sementara lava pijarnya mengalir sejauh maksimum 1.500 meter dari lubang letusan. Hingga saat ini letusan Gunung Slamet belum menghasilkan awan panas. Jelas bahwa material letusan, khususnya lava pijar, masih berposisi cukup jauh dari pemukiman penduduk di kaki gunung dan belum melampaui radius 4 kilometer dari kawah aktif. Sehingga status aktivitas Gunung Slamet hingga saat ini masih dipertahankan pada Siaga (Level III) dan belum dipandang perlu untuk dinaikkan.

Lava dan Awan Panas

Bentuk tubuh Gunung Slamet unik. Ada lembah besar yang menghubungkan kawasan puncak dengan kaki gunung sebelah barat laut, yakni ke arah Kabupaten Tegal. Melihat bentuknya, lembah besar ini diduga merupakan jejak yang masih tersisa dari letusan mendatar (lateral) yang pernah dialami Gunung Slamet nun jauh di masa silam. Lava pijar yang saat ini diletuskan Gunung Slamet ke barat daya tepat memasuki hulu lembah besar. Andaikata intensitas letusan terus meningkat, lembah besar ini menjadi kawasan yang paling potensial dilalui lava pijar. Selain berpotensi mengalir ke arah barat laut, lekukan di bibir kawah aktif juga memungkinkan lava pijar Gunung Slamet mengalir ke arah timur laut menuju Kabupaten Pemalang, seperti yang terjadi pada 11 September 2014 barusan. Lava pijar yang telah mendingin juga masih memiliki potensi bencana khususnya kala hujan lebat. Butiran-butiran lava yang telah mendingin akan bercampur dan larut terbawa air hujan sebagai lahar hujan yang mengalir ke kaki barat laut Gunung Slamet menyusuri sungai yang berhulu di lembah besar ini. Inilah yang menjadikan kawasan lereng Gunung Slamet bagian utara memiliki kerentanan lebih tinggi dalam menghadapi setiap letusan gunung tersebut.

Gambar 7. Dua wajah kawah Gunung Slamet saat ini berdasarkan observasi lapangan 26 Agustus 2014. Baik di kala malam maupun siang hari, gundukan material baru yang mengerucut nampak jelas berada di dalam kawah aktif. Di pucuk gundukan material ini nampak ujung dari lubang letusan. Belum jelas status gundukan ini apakah sekedar tumpukan material letusan ataukah kubah lava. Sumber: Aris Yanto, 2014.

Gambar 7. Dua wajah kawah Gunung Slamet saat ini berdasarkan observasi lapangan 26 Agustus 2014. Baik di kala malam maupun siang hari, gundukan material baru yang mengerucut nampak jelas berada di dalam kawah aktif. Di pucuk gundukan material ini nampak ujung dari lubang letusan. Belum jelas status gundukan ini apakah sekedar tumpukan material letusan ataukah kubah lava. Sumber: Aris Yanto, 2014.

Bagaimana dengan potensi terjadinya awan panas Gunung Slamet? Sejauh ini, letusan memang telah menghasilkan gundukan yang mengerucut di sekeliling lubang letusan. Apakah gundukan ini kubah lava? Mungkin ya, tapi mungkin juga tidak. Pada saat ini gundukan tersebut masih berada di dalam kawah aktif Slamet. Ia belumlah tumbuh sedemikian besar sehingga belumlah menutupi seluruh bagian kawah aktif. Maka andaikata gundukan ini adalah kubah lava, setiap guguran yang dialaminya terbatasi hanya di dalam lantai kawah aktif. Dengan ukuran yang masih kecil, maka kecil kemungkinan terjadinya guguran/runtuhan besar yang menghasilkan awan panas. Andaikata guguran besar terjadi, sebaran materialnya akan terbatasi hanya di lantai kawah aktif. Dari sini dapat dikatakan bahwa pada saat ini potensi terbentuknya awan panas dalam letusan Gunung Slamet masih amat sangat kecil.

Gambar 8. Citra satelit sumberdaya Bumi SPOT sebelum Letusan Slamet 2014 dalam warna natural (atas) dan Landsat-8 OLI pada 30 Agustus 2014 dalam warna komposit RGB (bawah). Nampak jelas adanya perubahan dalam kawah aktif Gunung Slamet, dari semula berbentuk cekung saja (atas) menjadi berhias gundukan (bawah) yang ditebari warna kemerahan, yang adalah jejak panas dari lava pijar. Sumber: LAPAN, 2014.

Gambar 8. Citra satelit sumberdaya Bumi SPOT sebelum Letusan Slamet 2014 dalam warna natural (atas) dan Landsat-8 OLI pada 30 Agustus 2014 dalam warna komposit RGB (bawah). Nampak jelas adanya perubahan dalam kawah aktif Gunung Slamet, dari semula berbentuk cekung saja (atas) menjadi berhias gundukan (bawah) yang ditebari warna kemerahan, yang adalah jejak panas dari lava pijar. Sumber: LAPAN, 2014.

Ukuran gundukan tersebut memang masih bisa membesar lagi seiring masih intensifnya Gunung Slamet memuntahkan magmanya. Jika berlangsung terus secara berkesinambungan, maka di masa depan gundukan ini bisa sedemikian besarnya sehingga menutupi seluruh bagian kawah aktif. Selain membuat Gunung Slamet bertambah tinggi, gundukan yang demikian besar juga bakal lebih tak stabil khususnya jika ia memang kubah lava. Baru dalam kondisi inilah potensi terjadinya awan panas atau wedhus gembel dalam letusan Gunung Slamet membesar. Dengan satu penegasan, jika gundukan itu memang kubah lava.

Apa yang Sebaiknya Kita Lakukan?

Pasca peningkatan intensitas letusan dalam rentang waktu 9 hingga 11 September 2014, kini Gunung Slamet justru cenderung menurun. Ia cenderung lebih kalem. Gelagat ini sejatinya tak mengherankan seiring nihilnya gempa vulkaniknya selepas 6 September 2014. Dengan kata lain suplai magma segar yang baru dalam jumlah signifikan dari perutbumi relatif berkurang. Sehingga lontaran material pijar dan lava pijar beserta suara dentuman dan gemuruh yang ditimbulkannya relatif menurun dalam jumlah yang relatif besar. Situasi kalem semacam ini bakal terus bertahan sampai ada suplai magma segar yang baru lagi kelak. Kapan magma segar yang baru akan kembali naik dari perutbumi? Hanya Allah SWT yang tahu. Ilmu pengetahuan dan teknologi masakini belum memiliki kemampuan untuk memperkirakannya. Kita hanya bisa mengetahuinya tepat pada saat magma segar itu sudah bergerak naik, yang direfleksikan oleh kejadian gempa vulkaniknya. Yang jelas begitu suplai magma segar yang baru terdeteksi, dapat dikatakan bahwa dalam beberapa hari hingga seminggu kemudian intensitas letusan Gunung Slamet kembali meningkat.

Sejauh ini letusan Gunung Slamet masih tetap membatasi lontaran material pijar dan lava pijarnya hanya di sekitar kawasan puncak. Belum ada material vulkanik panas membara yang terlontar melampaui batas radius 4 kilometer dari kawah aktif yang saat ini diberlakukan. Sehingga sejatinya Gunung Slamet masih tetap berada dalam ritme letusan yang telah dilakoninya selama berabad-abad terakhir. Ia masih mempertahankan tipe letusannya pada erupsi strombolian. Ia masih memiliki saluran magma yang terbuka tanpa hambatan berarti, sehingga tak berkesempatan menimbun magma hingga jumlah yang sangat besar ataupun meningkatkan tekanan gas vulkaniknya hingga sangat tinggi. Ketinggian semburan material vulkaniknya pun masih tergolong rendah, juga kepekatan debu vulkaniknya seperti diperlihatkan oleh Volcanic Ash Advisory Committee (VAAC) Darwin. Karenanya ia belum mengganggu aktivitas penerbangan yang melintas di atas/dekatnya. Maka dari itu bisa disimpulkan bahwa potensi Gunung Slamet untuk meletus besar adalah sangat kecil.

Gambar 9. Ilustrasi gunung berapi dengan saluran magma yang terbuka dan tertutup. Jika saluran magma terbuka, yakni tak memiliki penghalang yang signifikan, maka magma dengan mudah keluar dari kawah sehingga intensitas letusannya relatif kecil. Sebaliknya jika saluran magma tertutupi oleh sumbat yang pejal dan kuat, maka magma dan gas harus terkumpul dan memiliki tekanan yang sangat tinggi guna menjebol sumbatnya. Sehingga intensitas intensitas letusannya jauh lebih besar. Gunung Slamet memiliki saluran magma yang terbuka, sehingga potensinya untuk meletus besar adalah sangat kecil. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 9. Ilustrasi gunung berapi dengan saluran magma yang terbuka dan tertutup. Jika saluran magma terbuka, yakni tak memiliki penghalang yang signifikan, maka magma dengan mudah keluar dari kawah sehingga intensitas letusannya relatif kecil. Sebaliknya jika saluran magma tertutupi oleh sumbat yang pejal dan kuat, maka magma dan gas harus terkumpul dan memiliki tekanan yang sangat tinggi guna menjebol sumbatnya. Sehingga intensitas intensitas letusannya jauh lebih besar. Gunung Slamet memiliki saluran magma yang terbuka, sehingga potensinya untuk meletus besar adalah sangat kecil. Sumber: Sudibyo, 2014.

Dalam kaitannya dengan ini, menarik untuk mencermati pernyataan Dr. Surono, ahli kegunungapian legendaris yang juga Kepala Badan Geologi. Bahwa tak perlu meden-medeni (menakut-nakuti) terkait (letusan) Gunung Slamet. Ditinjau dari sudut pandang ilmu kegunungapian, letusan Gunung Slamet kali ini masih tergolong kalem. Apalagi jika dibandingkan dengan Letusan Kelud 2014 dan Letusan Sangeang Api 2014 kemarin. Sepanjang tidak memasuki kawasan terlarang (yang beradius mendatar hingga 4 kilometer dari kawah aktif), maka tak ada yang perlu dikhawatirkan. Bahkan letusan Slamet kali ini sejatinya bisa dinikmati sebagai obyek wisata baru. Menyaksikan semburan api mencuat dari puncak Gunung Slamet di kala malam akan cukup mengesankan, yang bisa menjadi bagian dari upaya kita memahami kinerja alam semesta sekaligus mengagumi kebesaran-Nya.

Yang jelas ke depan intensitas letusan Gunung Slamet masih berpotensi untuk meninggi kembali seperti barusan terlewat, sepanjang masih terjadi suplai magma segar yang baru dalam jumlah signifikan. Kapan? Hanya Allah SWT yang tahu. Namun saat hal itu kembali terjadi, mari upayakan untuk menekan rasa cemas dan resah kita seminimal mungkin. Tetaplah mengacu informasi pada sumber-sumber yang bisa dipertanggungjawabkan, dalam hal ini PVMBG melalui Pos Gambuhan ataupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Brebes, Tegal, Pemalang, Purbalingga dan Banyumas. PVMBG dan juga Badan Geologi cukup aktif dalam menyalurkan informasi khususnya lewat media elektronik dan/atau media sosial. Pun demikian sejumlah relawan bencana, yang juga tetap merujuk pada PVMBG. Tak perlu membesar-besarkan klaim, info (apalagi foto) yang belum jelas juntrungannya. Kerap sebuah bencana lokal menjadi petaka yang sungguh berlipatganda, yang sejatinya bisa dihindari, kala informasinya disebarkan sebagai desas-desus yang merambah kemana-mana dalam ranah media sosial.

Catatan :

Beberapa tulisan terkait sebelumnya :

Letusan Gunung Slamet, Antara Mitos dan Realitas.

Gunung Merapi Berstatus Waspada (Level II), Gunung Slamet Meningkat ke Siaga (Level III).

Gunung Slamet (Hampir) Usai Tunaikan Janji.

Bila Gunung Slamet Mencicil Letusan.

Referensi :

PVMBG. 2014. Evaluasi Aktivitas G. Slamet Status Siaga (Level III) Hingga Tanggal 12 September 2014.

Asteroid 2014 RC dan “Kawah Meteor” Nikaragua

Bongkahan besar itu akhirnya melanjutkan perjalanannya dengan selamat meski melintas pada jarak cukup dekat terhadap Bumi kita. Ya. Pada puncak perlintasannya asteroid 2014 RC berhasil dibidik dan diamati sifat-sifatnya lewat sejumlah teleskop dari berbagai penjuru. Benderangnya malam dengan cahaya Bulan yang mendekati purnamanya memang membuat asteroid yang di atas kertas pun sudah sangat redup (magnitudo semu +11,5) jadi lebih sulit diamati. Namun beberapa observatorium dari sejumlah penjuru berhasil mencetak sukses. Sebut saja Observatorium Siding Spring (Australia), Virtual Telescope Project di Ceccano (Italia) serta observatorium Lowell di Arizona dan NASA Infrared Telescope Facility di Hawaii (keduanya di Amerika Serikat).

Lewat kerja keras mereka kini kita telah selangkah lebih maju dalam memahami sifat-sifat asteroid. Teleskop inframerah NASA memperlihatkan betapa asteroid 2014 RC memantulkan hingga 25 % cahaya Matahari yang menerpanya. Angka ini hampir menyamai kemampuan Bumi (memantulkan 30 % cahaya Matahari) dan jauh lebih besar ketimbang Bulan yang hanya sanggup memantulkan 12 % saja sinar Matahari yang jatuh kepadanya. Dengan kata lain asteroid ini memiliki albedo hingga 0,25.

Gambar 1. Film pendek yang memperlihatkan pergerakan asteroid 2014 RC di latar depan bintang-bintang saat hendak mencapai titik terdekatnya ke Bumi, diabadikan lewat teleskop Hall diameter 105 cm di Observatorium Lowell, Arizona (Amerika Serikat). Film dibuat dengan menggabungkan sejumlah citra/foto terpisah yang diambil dalam waktu berurutan. Sumber: Lowell Observatory, 2014.

Gambar 1. Film pendek yang memperlihatkan pergerakan asteroid 2014 RC di latar depan bintang-bintang saat hendak mencapai titik terdekatnya ke Bumi, diabadikan lewat teleskop Hall diameter 105 cm di Observatorium Lowell, Arizona (Amerika Serikat). Film dibuat dengan menggabungkan sejumlah citra/foto terpisah yang diambil dalam waktu berurutan. Sumber: Lowell Observatory, 2014.

Albedo ini lumayan tinggi. Albedo dalam nilai ini menunjukkan bahwa asteroid 2014 RC banyak mengandung mineral-mineral logam. Sehingga strukturnya relatif lebih padat. Massa jenisnya pun relatif tinggi. Dengan albedo demikian maka asteroid 2014 RC adalah bagian keluarga asteroid tipe S. Yakni asteroid-asteroid yang komposisinya didominasi oleh besi dan magnesium silikat. Asteroid tipe S merupakan keluarga asteroid dengan populasi terbanyak kedua di lingkung tata surya kita, yakni mencakup 17 % dari seluruh asteroid yang telah ditemukan hingga saat ini.

Selain mencerminkan strukturnya, nilai albedo yang lumayan tinggi juga berimplikasi pada ukuran sang asteroid. Semula asteroid ini dianggap berdiameter sekitar 20 meter berdasarkan asumsi albedonya hanya senilai 0,05 seperti halnya asteroid pada umumnya. Namun kini dengan nilai albedo 0,25 dipastikan bahwa ukuran asteroid 2014 RC adalah tak lebih besar dari 12 meter. Dan karena menjadi bagian dari asteroid tipe S, massa jenis 2014 RC diperkirakan berada di sekitar 3 gram di setiap sentimeter kubiknya. Sehingga saat menjangkau titik terdekatnya terhadap Bumi, asteroid 2014 RC mengangkut energi kinetik sebesar 73 kiloton TNT. Energi tersebut hampir menyamai 4 butir bom nuklir Hiroshima yang diledakkan secara serempak.

Gambar 2. Asteroid 2014 RC diabadikan per 7 September 2014 jelang pukul 24:00 WIB dengan teleskop robotik reflektor astrograf 43 cm di Observatorium Siding Spring (Australia). Teleskop diarahkan mengikuti gerakan bintang-bintang dengan waktu penyinaran (paparan) 60 detik. Asteroid bergerak dengan kecepatan sudut yang tinggi sehingag nampak sebagai garis lurus panjang. Sumber: Remanzacco Observatory, 2014.

Gambar 2. Asteroid 2014 RC diabadikan per 7 September 2014 jelang pukul 24:00 WIB dengan teleskop robotik reflektor astrograf 43 cm di Observatorium Siding Spring (Australia). Teleskop diarahkan mengikuti gerakan bintang-bintang dengan waktu penyinaran (paparan) 60 detik. Asteroid bergerak dengan kecepatan sudut yang tinggi sehingag nampak sebagai garis lurus panjang. Sumber: Remanzacco Observatory, 2014.

Di samping bisa menentukan ukurannya dengan tingkat ketelitian yang jauh lebih tinggi, observasi yang digelar tatkala asteroid 2014 RC menghampiri titik terdekatnya ke Bumi itu juga menjumpai fakta mencengangkan lainnya. Asteroid ternyata berotasi sangat cepat pada sumbunya, dengan periode rotasi hanya 15,8 detik. Ini adalah periode rotasi benda langit terpendek bagi anggota tata surya yang pernah teramati. Begitu cepatnya maka panjang siang hari di asteroid ini hanya akan berlangsung selama 7,9 detik. Begitupun panjang malam harinya.

Nikaragua

Tiga belas jam sebelum asteroid 2014 RC mencapai titik terdekatnya ke planet kita sebuah peristiwa aneh terjadi di pinggiran bandara internasional Augusto Cesar Sandino di kota Managua (Nikaragua). Petugas bandara dan penduduk sekitar melaporkan adanya dentuman keras disertai getaran tanah menjelang tengah malam, tepatnya sekitar pukul 23:05 waktu setempat. Keesokan paginya di kawasan penyangga bandara dijumpai lubang besar membulat nan aneh dengan bentuk mirip mangkuk, yang menghamburkan tanah alluvial ke sekelilingnya. Terdapat juga pepohonan yang rubuh. Diameter lubang besar ini sekitar 12 meter dengan kedalaman maksimum 5 meter. Di dasar lubang dijumpai bongkahan-bongkahan tanah berukuran besar yang kasar (blocky).

Gambar 3. Cekungan besar mirip mangkuk yang terbentuk di kawasan pinggiran bandara internasional Sandino di dekat kota Managua (Nikaragua), diabadikan dari udara oleh militer Nikaragua. Sumber: National Geographic, 2014.

Gambar 3. Cekungan besar mirip mangkuk yang terbentuk di kawasan pinggiran bandara internasional Sandino di dekat kota Managua (Nikaragua), diabadikan dari udara oleh militer Nikaragua. Sumber: National Geographic, 2014.

Temuan ini, bersama dengan fakta terjadinya dentuman menggelegar beserta tanah bergetar, sontak menghebohkan jagat. Ia mengingatkan semua orang pada peristiwa sejenis 1,5 tahun silam. Yakni tatkala asteroid 2012 DA14 melintas-dekat Bumi hingga hanya sejarak 27.700 kilometer saja di atas sudut barat daya pulau Sumatra (Indonesia). Beberapa jam sebelumnya, Rusia dikejutkan oleh munculnya kilatan cahaya singkat di langit namun benderangnya melebihi Matahari, yang disusul dengan hempasan kuat di udara dan getaran tanah. Awan nan lurus segera terlihat memanjang di langit. Ribuan orang luka-luka ringan hingga sedang, akibat terkena pecahan kaca-kaca jendela yang hancur berkeping oleh hempasan udara. Sejumlah bangunan ambruk. Beberapa orang bahkan melaporkan ada rasa pedih di kulit ibarat lama terpapar sinar Matahari tropik. Total kerugian material mencapai puluhan milyar rupiah. Penyelidikan lebih lanjut menunjukkan bahwa peristiwa yang kemudian lebih dikenal sebagai Peristiwa Chelyabinsk atau Tumbukan Chelyabinsk disebabkan oleh jatuhnya asteroid tak-bernama sebesar sekitar 20 meter ke Bumi. Atmosfer Bumi masih sanggup meredamnya sehingga ia keburu hancur berkeping dan melepaskan sebagian besar energi kinetiknya menyerupai ledakan di udara (airburst). Namun tetap saja dampak pelepasan energi tersebut, dalam rupa rambatan gelombang kejut (gelombang tekanan di udara) tetap terasakan di permukaan Bumi yang ada dibawahnya. Inilah yang menciptakan kerusakan berskala luas di kawasan Chelyabinsk dan sekitarnya serta merenggut korban luka-luka.

Apakah hal serupa juga yang terjadi di Nikaragua barusan?

Gambar 4. Perbandingan antara "kawah meteor" Nikaragua dengan kawah Meteor Carancas (Peru). Cincin kawah setebal 1 meter dan bongkah-bongkah tanah yang kasar nampak menghiasi kawah Carancas, hal yang tak dijumpai di "kawah" Nikaragua. SUmber: Space.com, 2014 & Brown dkk, 2008.

Gambar 4. Perbandingan antara “kawah meteor” Nikaragua dengan kawah Meteor Carancas (Peru). Cincin kawah setebal 1 meter dan bongkah-bongkah tanah yang kasar nampak menghiasi kawah Carancas, hal yang tak dijumpai di “kawah” Nikaragua. SUmber: Space.com, 2014 & Brown dkk, 2008.

Pemerintah Nikaragua segera membentuk komisi penyelidik beranggotakan sejumlah astronom dan geosifikawan untuk menguak peristiwa tersebut. Sejauh ini geofisikawan Instituto Nicaraguense de Estudios Territoriales (INETER) menyebut lubang besar itu terbentuk akibat tumbukan benda langit (meteor) dan dikaitkan dengan kepingan asteroid yang mungkin menjadi bagian dari asteroid 2014 RC. Maka lubang besar itu boleh disebut sebagai “kawah meteor” Nikaragua. Namun demikian banyak astronom dan geofisikawan di luar Nikaragua yang tak sependapat.

Faktor

Dalam hemat penulis, ada empat faktor yang membuat “kawah meteor” Nikaragua diragukan keabsahannya sebagai produk tumbukan meteor. Yang pertama, terbentuknya kawah tumbukan seukuran itu seharusnya didahului penampakan boloid (bolide), yakni meteor yang sangat terang disertai suara gemuruh, di langit. Simulasi sederhana memperlihatkan agar sebuah meteoroid yang dianggap sebagai bagian pecahan 2014 RC dapat menghasilkan kawah tumbukan bergaris tengah 12 meter, maka ia harus berukuran sekitar 10 meter dengan massa sekitar 1.600 ton. Saat memasuki atmosfer Bumi meteoroid akan berpijar sangat terang dengan kecerlangan menyamai Bulan purnama. Andaikata terjadi peristiwa airburst, kecerlangannya bahkan akan berlipat-lipat kali Bulan purnama atau malah bahkan mendekati benderangnya Matahari.

Pemandangan seperti itu akan sangat mudah dilihat di langit, bahkan di kala siang sekalipun. Kita umat manusia pernah menyaksikan langsung betapa sebentuk boloid dengan terang hampir menyamai Matahari terlihat di siang bolong dan kemudian jatuh di Desaguadero (Peru) pada 15 September 2007. Inilah Peristiwa Carancas. Titik jatuhnya boloid itu pun kini dikenal sebagai kawah Carancas (diameter 13,5 meter), kawah tumbukan termuda di Bumi. Dengan situasi tersebut maka boloid pun bahkan masih bisa disaksikan kala langit tertutupi awan sekalipun. Apalagi di saat malam. Apalagi jika terjadi di sebuah kota besar seperti Managua, yang adalah ibukota Nikaragua. Apalagi di dekat sebuah bandara internasional yang sibuk dan nyaris tak pernah tidur. Ketiadaan ini membuat status “kawah meteor” Nikaragua diragukan.

Gambar 5. Gambaran sederhana bagaimana masuknya meteoroid ke atmosfer Bumi yang berujung peristiwa airburst menghasilkan gelombang infrasonik dan gelombang gempa, dua jenis gelombang berbeda yang memungkinkan untuk mendeteksi (sekaligus mengonfirmasi) peristiwa tersebut. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan gambar latarbelakang dari Neisius, 2004.

Gambar 5. Gambaran sederhana bagaimana masuknya meteoroid ke atmosfer Bumi yang berujung peristiwa airburst menghasilkan gelombang infrasonik dan gelombang gempa, dua jenis gelombang berbeda yang memungkinkan untuk mendeteksi (sekaligus mengonfirmasi) peristiwa tersebut. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan gambar latarbelakang dari Neisius, 2004.

Yang kedua, saat meteoroid yang bersumber dari pecahan asteroid berukuran kecil (dalam skala astronomi) memasuki atmosfer Bumi, pada umumnya hanya menyisakan 1 % saja massanya untuk menjadi meteorit. Sisanya terhambur di dalam atmosfer sebagai partikulat berukuran debu. Di sisi lain, kawah tumbukan bergaris tengah 12 meter dapat dibentuk oleh meteorit tunggal seukuran 2,2 meter (massa hampir 16 ton) yang jatuh pada kecepatan 700 kmjam, menyamai kecepatan jelajah pesawat jet komersial. Jika meteorit ini dianggap sebagai bongkahan tunggal yang tersisa dari sebuah meteoroid, maka sebelum memasuki atmosfer Bumi meteoroid itu akan bermassa sekitar 1.600 ton dengan diameter 10 meter. Mayoritas massanya memang akan terhambur menjadi partikulat debu, Namun andaikata terjadi peristiwa airburst, maka akan terbentuk kepingan dan bongkahan seukuran kerikil atau lebih besar lagi. Mereka akan berjatuhan sebagai meteorit ke permukaan Bumi dibawahnya, dalam sebuah kawasan ellips (lonjong) seluas beberapa kilometer persegi.

Lokasi “kawah meteor” Nikaragua berada di pinggiran kota Managua. Jika benar ia dibentuk oleh meteor, seharusnya ada kawasan ellips tempat meteorit berjatuhan. Kawasan itu sangat mungkin berimpit dengan pemukiman di pinggiran kota. Dan meteorit-meteorit yang mengguyur pemukiman ini tentu akan menyebabkan hujan batu yang mudah diidentifikasi. Ketiadaan temuan meteorit dalam jarak tertentu dari “kawah meteor menjadi salah satu faktor untuk meragukan statusnya.

Yang ketiga, kawah meteor berdiameter kecil pada umumnya berbentuk mirip mangkuk, khususnya bila meteoroidnya memiliki lintasan yang terhadap paras Bumi membentuk sudut 30 derajat atau lebih. Namun cekungan mirip mangkuk ini mempunyai sejumlah ciri khas, yakni salah satunya memiliki tepi yang meninggi sebagai tanggul yang melingkari cekungan. Fenomena ini dikenal sebagai cincin kawah. Cincin kawah merupakan konsekuensi dari hantaman berkecepatan sangat tinggi dari meteorit ke tanah. Sehingga tanah target tergerus dan terciprat ke sekelilingnya hingga mengendap dengan posisi lapisan-lapisan tanahnya terbalik dibanding semula. Akibat lainnya, hantaman berkecepatan sangat tinggi juga akan menghamburkan material tanah dalam wujud bongkahan beraneka ukuran keluar dari kawah ke lingkungan sekelilingnya hingga radius tertentu.

Hal tersebut tak teramati di “kawah meteor” Nikaragua. Nyaris tak ada cincin kawah di “kawah meteor” tersebut. Partikel-partikel tanah yang terhambur ke sekelilingnya juga berukuran kecil, seukuran butir pasir. Bongkah-bongkah besar memang ada, namun justru berserakan di dasar “kawah meteor” tanpa bisa keluar darinya. Fenomena ini juga yang meragukan identitas “kawah meteor” Nikaragua.

Gambar 6. Contoh sinyal gelombang infrasonik dan gempa (seismik) produk tumbukan benda langit yang terekam di mikrobarometer dan seismometer. Dalam hal ini adalah Peristiwa Carancas. Rekaman infrasonik berasal dari stasiun yang berjarak 80 km dari titik tumbukan, sementara rekaman gempa dari seismometer yang berjarak lebih jauh yakni 100 km. Sumber: Brown dkk, 2008.

Gambar 6. Contoh sinyal gelombang infrasonik dan gempa (seismik) produk tumbukan benda langit yang terekam di mikrobarometer dan seismometer. Dalam hal ini adalah Peristiwa Carancas. Rekaman infrasonik berasal dari stasiun yang berjarak 80 km dari titik tumbukan, sementara rekaman gempa dari seismometer yang berjarak lebih jauh yakni 100 km. Sumber: Brown dkk, 2008.

Dan yang keempat, tiap kali meteoroid memasuki atmosfer Bumi, ia akan menekan lapisan-lapisan udara yang dilintasinya dengan sangat kuat sekaligus mentransfer sejumlah energi kinetiknya. Sehingga terjadi sebentuk gelombang yang menjalar sebagai gelombang akustik (suara). Salah satu bagiannya adalah gelombang infrasonik, yang sanggup menjalar sangat jauh dari sumbernya. Bila gelombang akustiknya masih sangat kuat saat menyentuh permukaan Bumi, maka terjadi transformasi menjadi gelombang permukaan yang disebut gelombang Rayleigh, bagian dari gelombang gempa (seismik). Gelombang infrasonik dapat diendus oleh detektor mikrobarometer sementara gelombang gempa diindra seismometer. Dewasa ini cukup banyak instrumen seismometer dan barometer yang terpasang simultan di berbagai sudut Bumi, khususnya dalam tiap-tiap IMS (International Monitoring Station) bagian dari CTBTO (The Comprehensive nuclear Test Ban Treaty Organization). CTBTO adalah lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa yang bertugas menegakkan pengawasan atas larangan ujicoba nuklir global dalam segala matra. Selain oleh ledakan nuklir, secara alamiah gelombang infrasonik dan gelombang gempa bisa disebabkan oleh peristiwa tumbukan benda langit maupun letusan besar/dahsyat sebuah gunung berapi.

Simulasi sederhana menunjukkan jika meteoroidnya berdiameter 10 meter, bermassa sekitar 1.600 ton dan melejit dengan kecepatan setara asteroid 2014 RC saat di titik terdekatnya ke Bumi, yakni 15 km/detik (54.000 km/jam), maka ia mengandung 42 kiloton energi. Energi tersebut setara dengan 2 butir bom nuklir Hiroshima yang diledakkan serempak. Energi sebesar ini akan menghasilkan gelombang infrasonik dan gelombang gempa yang sangat mudah dideteksi oleh mikrobarometer dan seismometer yang berdekatan dengannya. Sebagai gambaran, saat Peristiwa Carancas terjadi, energi kinetik meteoroidnya berkisar antara 0,06 hingga 0,23 kiloton TNT. Namun gelombang infrasoniknya terekam oleh detektor mikrobarometer yang terpasang di titik berjarak hingga 1.600 km dari lokasi tumbukan. Sementara gelombang gempanya terekam seismometer yang berajark 100 km dari titik tumbukan. Sampai sejauh ini belum dijumpai stasiun yang mendeteksi gelombang infrasonik dan gempa terkait pembentukan “kawah meteor” Nikaragua ini, hal yang menguatkan keraguan akan statusnya.

Gambar 7. Peta proyeksi lintasan asteroid 2014 RC di permukaan Bumi mulai 7 September 2014 pukul 10:00 WIB hingga 10 jam kemudian. Nampak asteroid bergerak ke barat. Nampak lokasi kota Managua (Nikaragua) yang terletak jauh di utara proyeksi lintasan asteroid. Sumber: Sudibyo, 2014 berdasar data NASA Solar System Dynamics.

Gambar 7. Peta proyeksi lintasan asteroid 2014 RC di permukaan Bumi mulai 7 September 2014 pukul 10:00 WIB hingga 10 jam kemudian. Nampak asteroid bergerak ke barat. Nampak lokasi kota Managua (Nikaragua) yang terletak jauh di utara proyeksi lintasan asteroid. Sumber: Sudibyo, 2014 berdasar data NASA Solar System Dynamics.

Jika empat faktor itu saja cukup membuat status “kawah meteor” Nikaragua diragukan, apalagi bila dikait-kaitkan dengan asteroid 2014 RC. Saat ledakan misterius menggelegar di pinggiran bandara internasional Sandino tersebut, asteroid 2014 RC sedang melintas di atas Amerika Selatan dalam jarak lebih dari 280.000 kilometer dari paras Bumi. Dan kala itu ia sedang bergerak ke arah barat. Sementara lokasi kawah meteor” Nikaragua berjarak lebih dari 4.600 kilometer dari titik proyeksi asteroid 2014 RC pada saat itu dengan arah ke utara. Dengan jarak pisah sejauh itu dan apalagi berbeda arah, dapat dikatakan mustahil untuk menghubungkan asteroid 2014 RC dengan “kawah meteor” Nikaragua. Apalagi status “kawah meteor” itu sendiri meragukan.

Referensi :

Cooke. 2014. Did a Meteorite Cause a Crater in Nicaragua? Watch the Skies, Blog NASA.

Vergano. 2014. NASA Raises Doubts About Reports of Nicaraguan Meteorite, Questions Follow Supposed Meteorite Impact. National Geographic News. September 8, 2014.

Wall. 2014. Nicaragua Meteorite Impact Theory May be Meteor-wrong. Space.com, September 8, 2014.

Guido, Howes & Niccolini. 2014. Close Approach of Asteroid 2014 RC, Update. Remanzacco Observatory, Italia.

Brown dkk. 2008. Analysis of a Crater-forming Meteorite Impact on Peru. Journal of Geophysical Research, vol. 113, E09007.

Collins dkk. 2005. Earth Impact Effects Program : A Web–based Computer Program for Calculating the Regional Environmental Consequences of a Meteoroid Impact on Earth. Meteoritics & Planetary Science 40, no. 6 (2005), 817–840.

2014 RC: Asteroid yang Mendekat Hingga 34.000 km

Bongkahan batu itu kira-kira sebesar rumah berukuran sedang berlantai tiga. Selama ini ia melayang-layang di kedalaman langit, beredar mengelilingi sang surya dalam tata surya kita. Lintasan peredarannya sungguh aneh untuk ukuran manusia karena begitu lonjong. Demikian lonjongnya sehingga pada suatu saat bongkahan batu tersebut akan lebih terpanggang bara mentari ketimbang Bumi kita karena posisinya yang lebih dekat ke Matahari. Sebaliknya di lain waktu bongkahan batu ini pun bisa menggigil kedinginan tatkala menempati lokasi yang demikian jauh, sehingga lebih jauh ketimbang jarak planet Mars ke Matahari. Tak hanya itu, konfigurasi orbitnya demikian rupa sehingga pada 7 dan 8 September 2014 ini bongkahan batu besar itu akan berposisi cukup dekat dengan Bumi kita. Demikian dekatnya sehingga ia bakal melesat hanya pada jarak 34.000 kilometer di atas kita. Namun jangan cemas, ia tak berpotensi memasuki selimut udara Bumi kita, apalagi hingga jatuh mencium daratan/lautan.

Gambar 1. Asteroid 2014 RC (tanda panah) diabadikan pada 5 September 2014 pukul 14:00 WIB dengan teleskop robotik reflektor astrograf 61 cm di Auberry, California (Amerika Serikat). Teleskop diarahkan untuk mengikuti gerak asteroid dan mencitra/memotret sebanyak 30 kali dengan masing-masing citra/foto dibuat lewat waktu penyinaran (paparan) 30 detik. Seluruh citra kemudian digabungkan menjadi satu lewat teknik stacking. Sehingga asteroid terlihat sebagai bintik cahaya, sementara bintang-bintang di latar belakang nampak sebagai garis-garis. Sumber: Remanzacco Observatory, 2014.

Gambar 1. Asteroid 2014 RC (tanda panah) diabadikan pada 5 September 2014 pukul 14:00 WIB dengan teleskop robotik reflektor astrograf 61 cm di Auberry, California (Amerika Serikat). Teleskop diarahkan untuk mengikuti gerak asteroid dan mencitra/memotret sebanyak 30 kali dengan masing-masing citra/foto dibuat lewat waktu penyinaran (paparan) 30 detik. Seluruh citra kemudian digabungkan menjadi satu lewat teknik stacking. Sehingga asteroid terlihat sebagai bintik cahaya, sementara bintang-bintang di latar belakang nampak sebagai garis-garis. Sumber: Remanzacco Observatory, 2014.

Bongkahan batu besar itu adalah asteroid. Ia sama sekali tak pernah dikenal sebelumnya. Hingga awal September 2014 ini, yakni kala sistem penyigi langit Catalina Sky Survey yang bersenjatakan teleskop reflektor Schmidt 68 cm di Observatorium Gunung Tucson, Arizona (Amerika Serikat) melihatnya untuk pertama kalinya pada 1 September 2014. Sistem penyigi langit semi-otomatis yang dirancang untuk mengenali benda langit tak dikenal khususnya yang berada di lingkungan dekat Bumi ini melihatnya sebagai sebintik cahaya yang amat sangat redup. Dengan magnitudo semu +20 praktis asteroid ini 250 kali lebih redup dibanding planet-kerdil Pluto. Di malam berikutnya, asteroid yang sama pun terlihat melalui sistem penyigi langit semi-otomatis yang lainnya, yakni Pan-STARRS (Panoramic Survey Telescope and Rapid Response Systems) yang berpangkalan di Gunung Haleakala, Kepulauan Hawaii (Amerika Serikat).

Saat orbit asteroid ini dibandingkan dengan basis data asteroid yang telah terobservasi sebelumnya, tak satupun yang memiliki identitas serupa. Maka jelas bahwa ia adalah asteroid baru, asteroid yang tak pernah dikenal sebelumnya. Sesuai aturan yang ditegakkan IAU (International Astronomical Union) maka asteroid baru ini tidak diberi nama. Namun ia diberi kode yang khas yakni 2014 RC, mengingat asteroid ini adalah asteroid ketiga (kode C) yang ditemukan pada paruh pertama bulan September (kode R) di tahun 2014 (kode 2014). Dengan magnitudo mutlak/absolut +26,8 maka asteroid 2014 RC ini berukuran sekitar 20 meter, jika dianggap berbentuk sferis (menyerupai bola). Jika massa jenisnya dianggap berada di antara 2 hingga 4 gram per sentimeter kubik, yakni massa jenis kebanyakan asteroid, maka asteroid 2014 RC ini bermassa antara 8.400 hingga 16.800 ton.

Observasi demi observasi memperlihatkan asteroid 2014 RC beredar mengeliling Matahari dalam orbit lonjong dengan titik terdekat ke Matahari (perihelion) sejarak 123 juta kilometer. Bandingkan dengan perihelion Bumi, yang masih sebesar 147,5 juta kilometer. Sebaliknya titik terjauhnya ke Matahari (aphelion) melambung hingga sejarak 270 juta kilometer. Bandingkan dengan orbit planet Mars, yang ‘hanya’ sejauh 228 juta kilometer dari Matahari (rata-rata). Jarak rata-rata orbit asteroid 2014 RC ke Matahari adalah sebesar 196 juta kilometer. Asteroid ini menempuh orbitnya dalam sekali putaran setiap 1,5 tahun. Dengan konfigurasi orbit demikian maka asteroid 2014 RC tergolong asteroid dekat Bumi (ADB) atau near earth asteroid (NEA) kelas Apollo, karena perihelionnya lebih kecil ketimbang orbit Bumi namun jarak rata-ratanya (dan juga periode revolusinya) lebih besar ketimbang Bumi.

Melintas Dekat

Gambar 2. Orbit asteroid 2014 RC di antara orbit planet-planet Merkurius, Venus, Bumi dan Mars. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Starry Night Backyard 3.0 berdasar data NASA Solar System Dynamics.

Gambar 2. Orbit asteroid 2014 RC di antara orbit planet-planet Merkurius, Venus, Bumi dan Mars. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Starry Night Backyard 3.0 berdasar data NASA Solar System Dynamics.

Selain sebagai asteroid dekat Bumi asteroid 2014 RC juga merupakan asteroid berpotensi bahaya. Sebuah asteroid digolongkan berpotensi bahaya jika ia pada suatu saat melintas dalam jarak maksimum 7,5 juta kilometer terhitung dari inti Bumi kita, atau setara dengan 19,5 kali lipat jarak rata-rata Bumi ke Bulan. Bagi asteroid 2014 RC, situasi tersebut terjadi saat ia melintas-dekat/berpapasan-dekat (near miss) dengan Bumi kita pada tahun 2014 dan 2017.

Khusus di tahun 2014 ini, perlintasan-dekatnya tergolong ekstrim karena asteroid akan melesat hanya sejarak 33.500 hingga 33.700 kilometer di atas paras Bumi. Situasi tersebut terjadi pada 7 September 2014 pukul 18:01 UTC, atau sama dengan 8 September 2014 pukul 01:01 WIB. Pada saat itu titik terdekat di permukaan Bumi ke asteroid tersebut berada di kawasan Oseania di Samudera Pasifik bagian tengah. Hunian terdekat berjarak sekitar 200 kilometer di sebelah tenggara, yakni pulau Pitcairn (Inggris). Pada jarak 33.500 hingga 33.700 kilometer tersebut praktis bongkahan batu sebesar rumah itu melesat dalam jarak lebih dekat ke Bumi ketimbang orbit geostasioner. Orbit geostasioner adalah orbit setinggi 35.782 kilometer di atas khatulistiwa yang disesaki oleh satelit-satelit komunikasi dan cuaca dalam jumlah bejibun sebagai penunjang kehidupan manusia modern. Namun demikian potensi tubrukan antara satelit-satelit buatan yang masih aktif di orbit geostasioner dengan asteroid 2014 RC ini adalah nol. Musababnya saat melintas di atas garis khatulistiwa, asteroid 2014 RC telah berjarak lebih besar ketimbang orbit geostasioner.

Selandia Baru menjadi kawasan yang mampu menikmati jam demi jam perjalanan asteroid 2014 RC saat hendak berpapasan-dekat dengan Bumi. Saat koordinat ekuatorial yang dilintasi asteroid ini dalam setiap jamnya diproyeksikan ke permukaan Bumi sebagai koordinat geografis, dijumpai pola unik. Awalnya titik-titik itu bergerak ke barat dari Samudera Pasifik menuju kepulauan Selandia Baru. Lalu proyeksi lintasan itu berbalik (retrograde), seakan-akan mengitari kepulauan Selandia Baru dari utara ke selatan untuk kemudian kembali bergerak ke timur menuju samudera. Di kawasan Oseania, proyeksi lintasan asteroid kembali berubah arah, kali ini ke utara hingga menyeberang khatulistiwa. Setelah kembali berubah arah ke barat di Samudera Pasifik bagian utara, titik-titik proyeksi itu selanjutnya melintas di Asia tenggara, tepatnya di ujung utara kepulauan Filipina dan akhirnya memasuki kawasan Indocina.

Gambar 3. Bumi dilihat dari asteroid 2014 RC pada 7 September 2014 20:01 WIB, atau 5 jam sebelum mencapai jarak terdekatnya ke Bumi. Nampak kawasan Antartika dan Australia, serta lokasi orbit geostasioner. Pada saat mencapai jarak terdekatnya, asteroid 2014 RC akan lebih dekat ke Bumi ketimbang satelit-satelit komunikasi dan cuaca di orbit geostasioner. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Starry Night Backyard 3.0 berdasar data NASA Solar System Dynamics.

Gambar 3. Bumi dilihat dari asteroid 2014 RC pada 7 September 2014 20:01 WIB, atau 5 jam sebelum mencapai jarak terdekatnya ke Bumi. Nampak kawasan Antartika dan Australia, serta lokasi orbit geostasioner. Pada saat mencapai jarak terdekatnya, asteroid 2014 RC akan lebih dekat ke Bumi ketimbang satelit-satelit komunikasi dan cuaca di orbit geostasioner. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Starry Night Backyard 3.0 berdasar data NASA Solar System Dynamics.

Saat berada di titik terdekatnya di atas Oseania, asteroid 2014 RC bakal mengerjap dengan magnitudo semu sekitar +11,5. Dengan begitu ia takkan mungkin disaksikan oleh mata kita tanpa alat bantu apapun. Kita harus menggunakan teleskop dengan lensa atau cermin obyektif berdiameter minimal 16 cm untuk menyaksikannya. Tak hanya itu, teleskop tersebut pun harus disetel untuk selalu mengikuti pergerakan asteroid tersebut melanglang langit. Tantangan observasi bertambah besar mengingat langit malam pada saat itu dalam kondisi relatif benderang seiring kehadiran Bulan dengan fase sedang menuju purnama. Sehingga menyulitkan untuk menyaksikan benda-benda langit yang redup.

Dari Indonesia, asteroid ini akan berada di langit bagian tenggara berdekatan dengan bintang Formalhaut di rasi Piscis Austrinis pada Minggu 7 September 2014 saat Matahari terbenam. Dalam jam-jam berikutnya asteroid akan kian meninggi di langit sembari beringsut ke arah selatan dengan mengambil posisi di dekat bintang Ankaa (rasi Phoenix) pada pukul 22:00 WIB. Asteroid kemudian mulai menurun kembali sehingga dalam sejam kemudian ia telah berposisi di dekat bintang terang Archenar (rasi Eridanus). Dan akhirnya di sekitar tengah malam waktu WIB, asteroid bakal terbenam di langit tenggara. Namun demikian ia bakal muncul lagi di langit timur pada pagi harinya (Senin 8 September 2014) jelang fajar, berdekatan dengan planet Venus. Hanya saja pada saat itu ia telah demikian redup dan sangat sulit dilihat, bahkan dengan teleskop sekalipun.

Potensi Bahaya

Bukan kali ini saja sebuah asteroid melintas-dekat dengan Bumi. Dan asteroid 2014 RC bahkan tak memecahkan rekor sebagai asteroid pelintas-terdekat Bumi. Hingga kini rekor tersebut masih dipegang asteroid 2011 CQ1 (diameter 1 meter), yang melintas di atas Samudera Pasifik pada 5 Februari 2011 silam pada jarak hanya 5.480 kilometer saja di atas paras Bumi. Namun setiap kali peristiwa semacam ini terjadi, kita selalu dihadapkan pada pertanyaan. Apakah ia akan jatuh ke Bumi? Seberapa berbahayakah ia bagi peradaban kita saat ini?

Gambar 4. Proyeksi lintasan asteroid 2014 RC di permukaan Bumi semenjak 7 September 2014 pukul 17:0 WIB hingga 8 September 2014 pukul 11:00 WIB. Nampak lintasan asteroid seakan-akan mengelilingi kepulauan Selandia Baru. Tanda bintang (*) merupakan proyeksi titik terdekat asteroid ke Bumi. Sumber: Sudibyo, 2014 berdasar data NASA Solar System Dynamics.

Gambar 4. Proyeksi lintasan asteroid 2014 RC di permukaan Bumi semenjak 7 September 2014 pukul 17:0 WIB hingga 8 September 2014 pukul 11:00 WIB. Nampak lintasan asteroid seakan-akan mengelilingi kepulauan Selandia Baru. Tanda bintang (*) merupakan proyeksi titik terdekat asteroid ke Bumi. Sumber: Sudibyo, 2014 berdasar data NASA Solar System Dynamics.

Asteroid 2014 RC membawa energi yang bukan main. Melesat dengan kecepatan 9,99 km/detik, ia bakal secepat 15 km/detik (54.000 km/jam) bila jatuh menuju ke Bumi. Pada kecepatan tersebut asteroid 2014 RC membawa energi kinetik sebesar 225 hingga 450 kiloton TNT, atau setara dengan 11 hingga 23 kali lipat kekuatan bom nuklir Hiroshima. Energi kinetik sebesar itu harus mendapat perhatian serius. Apalagi setelah kawasan Chelyabinsk dan sekitarnya (Rusia) luluh lantak pada 15 Februari 2013 silam, kala sebuah asteroid tak-bernama dan tak-teridentifikasi melesat ke atmosfer dan melepaskan energi kinetik yang sedikit lebih besar dari energi kinetik asteroid 2014 RC ini. Ribuan orang luka-luka dan kerugian material mencapai milyaran rupiah.

Peristiwa Chelyabinsk membuat semua terkesiap, menyaksikan betapa rentannya peradaban manusia modern dalam berhadapan dengan kekuatan alam dari langit. Betapa tidak? Asteroid yang bertanggung jawab atas peristiwa Chelyabinsk adalah seukuran dengan asteroid 2014 RC ini, yang tergolong ‘asteroid kecil’ bagi astronomi. Selama ini hanya asteroid-asteroid berukuran besar (diameter lebih dari 100 meter) saja yang dianggap bakal mengganggu kenyamanan hidup kita di Bumi. Kita pun makin terkesiap setelah data terbaru menunjukkan ternyata asteroid lebih kerap berjatuhan ke Bumi dari semula diduga. Secara rata-rata tiap tahun terjadi sedikitnya 2 kali peristiwa masuknya asteroid ke atmosfer Bumi yang mengangkut energi kinetik minimal 1 kiloton TNT.

Mujurnya, meski melintas-relatif dekat asteroid 2014 RC ini hanya lewat saja. Ia tak punya potensi untuk jatuh ke permukaan Bumi. Evaluasi NASA Meteoroid Environment Office menunjukkan bahwa hingga satu abad mendatang, asteroid 2014 RC tidak memiliki peluang untuk menjatuhi Bumi, sekecil apapun. Karena itu asteroid 2014 RC pun telah dikeluarkan dari Sentry Table, yakni daftar yang memuat asteroid-asteroid yang memiliki peluang untuk berbenturan dengan Bumi meski nilai peluangnya kecil. Karena itu tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Di sisi lain kesempatan melintas-dekatnya asteroid 2014 RC mendemonstrasikan bagaimana kemampuan sistem-sistem penyigi langit semi-otomatis terkini dalam mendeteksi benda langit yang berpeluang mendekati Bumi. Namun sistem tersebut belumlah sempurna. Terbatasnya jumlah observatorium yang berpartisipasi dan gangguan alamiah konfigurasi Bumi-Bulan (yang membuat malam-malam tertentu berhias Bulan terang hingga purnama) membuat sistem penyigi tersebut masih berlubang di sana-sini. Karena itu jangan heran meski asteroid 2014 RC telah terdeteksi dalam tujuh hari sebelum melintas-dekat, namun sistem yang sama gagal mendeteksi asteroid yang bertanggung jawab atas peristiwa Chelyabinsk (meski sama-sama berdiameter sekitar 20 meter). Inilah salah satu tantangan terbesar astronomi di era kontemporer, untuk membangun sebuah sistem penyigi langit semi-otomatis yang mampu bekerja dalam setiap saat dan setiap kondisi tanpa terkecuali sebagai bagian dari mitigasi. Pada saat yang sama, mitigasi potensi tumbukan benda langit pun harus mengenali karekteristik struktur dan komposisi komet/asteroid secara langsung. Inilah yang menjadi dasar sejumlah misi antariksa tak berawak spesifik ke asteroid/komet, seperti Rosetta. Semua itu dilakukan sebagai upaya agar kelak kita bisa mengelola ancaman dari langit dengan lebih baik. Dan agar tak bernasib mengenaskan seperti halnya yang dialami kawanan dinosaurus pada 65 juta tahun silam, hewan-hewan raksasa yang merajai Bumi namun punah akibat hantaman benda langit.

Referensi:

Guido, Howes & Niccolini. 2014. Close Approach of Asteroid 2014 RC. Remanzacco Observatory, Italia.

NASA. 2014. Jet Propulsion Laboratory Small-Body Database Browser: 2014 RC. NASA Solar System Dynamics, JPL, California.

Menelisik Letusan Krakatau 15 Abad Silam, Letusan yang Memisahkan Pulau Jawa dan Sumatra?

Selat sempit itu mirip benar dengan segitiga raksasa kala dilihat dari ketinggian udara. Saat itu, di dekat puncak segitiga ini berdiri kokoh sebuah gunung berapi. Ia tegak menjulang perkasa seakan memaku buana. Tubuhnya (mungkin) demikian besarnya sehingga kakinya membentang begitu lebar, nyaris menutup seluruh perairan laut yang ada di sana. Tak heran jika gunung berapi besar ini ibarat jembatan penyatu dua pulau besar itu, yang semula dipisahkan oleh selat sempit tersebut. Orang bisa menyeberang dari satu pulau ke pulau yang lain dengan berjalan menyusuri kaki gunung. Selat itu pun seakan berubah menjadi sebuah teluk nan besar.

Namun semuanya berubah total di suatu ketika 15 abad silam. Berawal dari getaran demi getaran yang terus mengguncang,disusul asap mengepul dari puncak sang gunung dan lama-kelamaan kian memekat, maka tibalah saat gunung berapi itu mempertontonkan kedahsyatannya. Letusan sangat dahsyat pun terjadilah. Pada puncak letusannya, sekitar 400.000 meter kubik magma disemburkan gunung berapi dalam setiap detiknya. Maka setiap detiknya gunung itu memuntahkan magma dalam jumlah yang cukup untuk mengisi 17.000 mobil tanki bahan bakar berkapasitas 24.000 liter. Uap panas, gas vulkanik nan mencekik, bebatuan membara dan debu vulkanik pekat disemburkan hingga ketinggian berpuluh kilometer ke atmosfer. Sebagian diantaranya berjatuhan kembali ke Bumi, menggelapkan langit kedua pulau besar yang ada didekatnya. Sebagian lagi melayang di dalam lapisan stratosfer dan memicu efek dramatik yang terasa dampaknya di segenap penjuru permukaan Bumi dalam jangka panjang. Bersamaan dengan gelap pekatnya langit kedua pulau besar didekatnya, tubuh gunung pun mulai ambruk ke dasar laut. Gelora raksasa pun tercipta, dengan tinggi luar biasa saat tiba di pesisir sehingga mampu menerjang berkilo-kilometer ke daratan. Gelora raksasa segera menyapu bersih apa dan siapa saja yang dilintasinya.

Gambar 1. Panorama Kepulauan Krakatau yang ikonik. Gundukan di latar depan adalah Gunung Anak Krakatau, dengan leleran lava produk letusan tahun 1975 yang telah membeku di bagian kanan bawah. Jauh di latar belakang terlihat pulau Rakata, yang adalah salah satu titik tertinggi dinding kaldera Letusan Krakatau 1883 yang mencuat di atas permukaan Laut. Kepulauan Krakatau mendunia lewat letusan dahsyatnya di tahun 1883. Namun jejak-jejak lapisan debu tebal yang tersingkap di berbagai pulau di kepulauan ini menunjukkan bahwa gunung berapi ini telah meletus dahsyat lebih dari sekali sepanjang sejarahnya. Sumber: Direktorat Vulkanologi (kini PVMBG), 1979.

Gambar 1. Panorama Kepulauan Krakatau yang ikonik. Gundukan di latar depan adalah Gunung Anak Krakatau, dengan leleran lava produk letusan tahun 1975 yang telah membeku di bagian kanan bawah. Jauh di latar belakang terlihat pulau Rakata, yang adalah salah satu titik tertinggi dinding kaldera Letusan Krakatau 1883 yang mencuat di atas permukaan Laut. Kepulauan Krakatau mendunia lewat letusan dahsyatnya di tahun 1883. Namun jejak-jejak lapisan debu tebal yang tersingkap di berbagai pulau di kepulauan ini menunjukkan bahwa gunung berapi ini telah meletus dahsyat lebih dari sekali sepanjang sejarahnya. Sumber: Direktorat Vulkanologi (kini PVMBG), 1979.

Begitu klimaks drama menggidikkan ini usai, pemandangan baru pun tersaji sudah. Gunung berapi besar itu lenyap hampir sepenuhnya. Apa yang semula menjadi tempat berdirinya gundukan tinggi besar ibarat paku buana itu pun kini berganti total menjadi pemandangan samudera. Dua pulau besar itu pun kembali terpisahkan. Tak ada lagi jembatan alamiah yang menjadi penghubung keduanya seperti sedia kala. Di kemudian hari salah satu pulau besar itu dikenal sebagai pulau Jawa, sementara pulau lainnya adalah pulau Sumatra. Dan kelak di kemudian hari, di tengah-tengah perairan dimana gunung berapi besar itu dahulu pernah ada, tumbuh sebentuk gunung berapi lainnya meski dimensinya jauh lebih kecil. Kelak kita mengenalnya sebagai Gunung Krakatau.

Petaka

Siapa yang tak kenal dengan Gunung Krakatau? Walaupun ia hanyalah sebentuk gundukan kecil mungil berasap di tengah-tengah keluasan perairan Selat Sunda, namun namanya sungguh meraksasa. Apalagi jika bukan karena Letusan Krakatau 1883 yang demikian menggetarkan. Letusan yang baru kita peringati kejadiannya untuk ke-131 kalinya di Agustus 2014 ini. Namun amukan Gunung Krakatau di tahun 1883 itu sejatinya bukanlah letusan terbesar yang pernah dialami si gunung lasak ini sepanjang sejarahnya.

Kala ilmu kegunungapian terus berkembang hingga menjadi seperti sekarang, para ahli kegunungapian pun berdatangan ke sudut-sudut kepulauan Krakatau ini. Mereka mengabadikan, menganalisis dan mendokumentasikan setiap singkapan bebatuan yang ada. Kini kita tahu bahwa lapisan-lapisan debu vulkanik yang bertumpukan di kepulauan ini menunjukkan betapa dalam setidaknya 8.000 tahun terakhir, gunung ini telah meletus dahsyat sebanyak sedikitnya tiga kali. Kedahsyatan tersebut tecermin lewat eksistensi tiga lapisan debu vulkanik yang cukup tebal dibanding lapisan-lapisan sejenis lainnya. Pada dasarnya semakin tebal lapisan debu vulkaniknya maka semakin besar pula skala letusannya.

Lapisan debu tebal teratas merupakan lapisan yang termuda yang dihasilkan Letusan Krakatau 1883. Namun letusan itu, yang dahsyatnya tak kepalang untuk ukuran manusia modern itu, sejatinya merupakan letusan terkecil dari ketiga letusan dahsyat dalam sejarah Krakatau. Peringkat kedua ditempati oleh Letusan Krakatau 1215, yang terjadi pada tahun 1215 berdasarkan pertanggalan radioaktif pada batang/ranting kayu yang mengarang (menjadi arang) di dalam lapisan debunya. Skala letusannya mungkin setara dengan letusan 1883, yakni sama-sama menempati 6 VEI (Volcanic Explosivity Index). Meski berdasarkan ketebalan lapisan debunya, Letusan Krakatau 1215 nampaknya menyemburkan material letusan dalam jumlah sedikit lebih besar ketimbang Letusan Krakatau 1883. Dan pemuncaknya adalah letusan sangat dahsyat yang menghasilkan lapisan debu demikian tebal, hingga setebal 25 meter. Belum ada sisa kayu yang telah mengarang yang berhasil dijumpai pada lapisan debu tebal ini, sehingga letusan pembentuknya terjadi belum bisa ditentukan berdasarkan teknik pertanggalan karbon radioaktif. Berdasarkan ketebalan debunya, letusan ini diperkirakan memiliki skala 7 VEI. Sejauh ini hanya Letusan Tambora 1815 dan Letusan Samalas (Rinjani) 1257 yang menyamai skala letusannya.

Gambar 2. Kiri: singkapan lapisan-lapisan debu tebal produk letusan dahsyat pada terbing terjal di salah satu sudut Kepulauan Krakatau. Nampak lapisan debu setebal 25 meter yang diduga merupakan produk letusan sangat dahsyat di abad ke-6. Kanan: vulkanolog Haraldur Sigurdsson nampak sedang menuruni tebing terjal itu guna menyelidiki lebih lanjut. Sumber: Wohletz, 2000.

Gambar 2. Kiri: singkapan lapisan-lapisan debu tebal produk letusan dahsyat pada terbing terjal di salah satu sudut Kepulauan Krakatau. Nampak lapisan debu setebal 25 meter yang diduga merupakan produk letusan sangat dahsyat di abad ke-6. Kanan: vulkanolog Haraldur Sigurdsson nampak sedang menuruni tebing terjal itu guna menyelidiki lebih lanjut. Sumber: Wohletz, 2000.

Tengara akan letusan sangat dahsyat yang membentuk lapisan debu setebal hingga 25 meter itu nampaknya datang dari sumber tertulis nan jauh di luar kepulauan Nusantara. Tepatnya di Cina. Sebuah berita Cina, yakni kronik Nan Shi, mencatat suara gemuruh mirip guntur di kejauhan yang terdengar dari barat daya pada suatu waktu di tahun 535. Peristiwa ini merupakan awal dari malapetaka besar yang menghantam imperium Cina sepanjang tahun 536-537. Kronik yang sama menuturkan betapa pada titimangsa Desember 536, debu kuning pekat mengguyur daratan di seluruh wilayah kekaisaran laksana hujan salju. Lantas sepanjang bulan Juli dan Agustus tahun berikutnya, udara membeku dan salju turun dengan derasnya di tengah-tengah masa yang seharusnya merupakan musim panas. Kronik Bei Shi pun mencatat hal senada. Akibatnya lahan pertanian pun hancur membuat produksi pangan merosot drastis. Kelaparan pun segera merebak dimana-mana dan merenggut korban-korbannya dalam jumlah sangat besar. Demikian parah situasinya sehingga kaisar sampai memberlakukan dekrit pengampunan pajak.

Namun petaka besar di tahun 535-536 itu ternyata tak hanya melanda Cina. Di Semenanjung Korea bagian utara, kerajaan Koguryo pun berjuang hidup mati mempertahankan diri setelah mendadak dihantam banjir besar. Banjir besar yang salah musim itu segera disusul dengan merebaknya wabah penyakit. Nada pesimisme yang sama juga dijumpai di Kepulauan Jepang lewat kronik Nihon Shoki. Kronik itu menuturkan betapa terjadi perubahan cuaca yang tak biasa yang disusul hancurnya lahan pertanian.

Tak hanya di Cina, Korea dan Jepang, malapetaka sejenis ternyata juga tercatat di kawasan pesisir Laut Tengah (Mediterania). Seorang uskup John dari Efesus (kini bagian dari Turki) menuliskan dalam kroniknya berapa pemandangan aneh terjadi di langit, saat Matahari seakan–akan kehilangan kecerahannya hingga hanya sedikit lebih terang saja dibanding Bulan. Situasi ini bertahan hingga 18 bulan lamanya. Bersamaan dengannya terjadi kelaparan besar menyusul hancurnya lahan pertanian akibat cuaca ekstrim yang salam musim. Tak hanya kelaparan yang melanda, wabah penyakit sampar (pes) pun bergentayangan mencari korban-korbannya. Hal senada juga diutarakan senator Cassiodorus di imperium Romawi pada saat yang hampir sama.

Gambar 3. Lokasi dimana terdapat catatan sejarah setempat terkait peristiwa dramatis di tahun 535, beserta data-data kronologis yang berhasil digali dari analisis lingkaran tahun kayu-kayu tua, sedimen dasar danau dan lembaran-lembaran es. Semua menunjukkan adanya gangguan iklim dramatis selama beberapa tahun, yang secara alamiah lebih mungkin disebabkan oleh letusan gunung berapi yang sangat dahsyat. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan data dari Wohletz, 2000.

Gambar 3. Lokasi dimana terdapat catatan sejarah setempat terkait peristiwa dramatis di tahun 535, beserta data-data kronologis yang berhasil digali dari analisis lingkaran tahun kayu-kayu tua, sedimen dasar danau dan lembaran-lembaran es. Semua menunjukkan adanya gangguan iklim dramatis selama beberapa tahun, yang secara alamiah lebih mungkin disebabkan oleh letusan gunung berapi yang sangat dahsyat. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan data dari Wohletz, 2000.

Bagi Eropa dan Asia, peristiwa aneh di tahun 535-536 ini adalah momen yang mengantarkan peradaban mereka memasuki abad kegelapan. Kekuasaan imperium Romawi mulai melemah sehingga sebagian wilayahnya mulai diambil-alih suku-suku Jermania nan perkasa yang bermigrasi dari Mongolia akibat bencana kelaparan. Pada saat yang sama peradaban Kristen Arian (rival terbesar Katolik Roma) pun berakhir secara misterius. Di Jazirah Arabia bagian selatan, peristiwa aneh itu memperparah situasi dalam peradaban Himyarit yang telah melemah seiring bobolnya bendungan Ma’rib. Kelaparan berkepanjangan dan wabah sampar kian melemahkannya hingga pada puncaknya mengambrukkan peradaban itu. Sampar semula hanya terkonsentrasi di Afrika timur. Namun kekeringan dahsyat menyebabkan populasi tikus merajalela tanpa bisa dikontrol lagi oleh para predatornya yang keburu mati kelaparan. Tikus-tikus pembawa kutu-kutu inang sampar selanjutnya memasuki pelabuhan–pelabuhan di pesisir Afrika timur dan terbawa armada kapal dagang yang berlayar melintasi Laut Merah dan terusan Trajanus ke Laut Tengah. Dengan cara inilah wabah sampar bergentayangan hingga mencapai Arabia selatan, Mediterania dan bahkan kepulauan Inggris serta lembah Mesopotamia.

Data

Baiklah, semua itu adalah catatan sejarah. Dan sejarah kerap bersifat multitafsir kala dipandang kembali dari masa yang lebih kemudian, dari zaman yang telah berubah. Namun bagaimana dengan catatan-catatan yang lebih independen, yakni jejak-jejak yang tak terkotori campur tangan manusia?

Petunjuk menarik datang dari lingkaran tahunan di dalam batang-batang kayu yang sangat tua. Lingkaran tahunan adalah lapisan kambium yang telah menjadi lapisan kayu pada tumbuhan berkayu keras. Sifat lapisan kambium ini khas, dimana tebal tipisnya dipengaruhi oleh normal tidaknya kehidupan tumbuhan bersangkutan terkait banyak sedikitnya jumlah air dan pencahayaan Matahari yang bisa diserap. Pada dasarnya berkurangnya jumlah air dan penyinaran Matahari akan menghasilkan lapisan kayu lebih tipis, demikian sebaliknya.

Analisis yang telah dilakukan terhadap lingkaran tahunan kayu-kayu tua di daratan Irlandia menunjukkan pada abad ke-6 dijumpai lapisan-lapisan kayu yang lebih tipis, terjadi semenjak tahun 535 dan berlangsung hingga 10 tahun kemudian. Analisis perbandingan dengan kayu-kayu tua di tempat lainnya menunjukkan fenomena ini bukanlah khas Irlandia semata. Sebab dijumpai pula di bagian Eropa lainnya seperti Swedia barat laut, Finlandia utara, Semenanjung Yamal (Rusia), Yunani dan Polandia. Juga didapati di daratan Amerika utara seperti di Sierra Nevada dan Carolina utara, maupun di Amerika selatan seperti di Chile selatan dan Argentina selatan. Bahkan di tempat sejauh dan seterpencil Tasmania (Australia) juga dijumpai hal serupa. Maka dapat dikatakan bahwa pasca tahun 535 hingga beberapa tahun kemudian iklim Bumi secara umum mengalami gangguan lumayan berat, sehingga jumlah air (dalam wujud curah hujan) merosot drastis bersamaan dengan berkurangnya penyinaran Matahari.

Gambar 4. Atas: dinamika ketebalan lingkaran kayu pada lingkaran tahunan kayu-kayu tua yang berhasil diekstrak dari Siberia (Rusia), Finlandia dan Swedia dalam rentang kronologi sejak tahun 1 hingga 1997. Garis merah menunjukkan lapisan kayu dari tahun 535 hingga beberapa tahun kemudian, nampak memiliki ketebalan paling kecil dibanding yang lain. Bawah:  dinamika kadar asam sulfat yang berhasil diekstrak dari lembaran es di proyek pengeboran GRIP (Greenland). Kadara asam sulfat tertinggi adalah pada tahun 535 hingga beberapa tahun kemudian (ditunjukkan dengan pensil). Sumber: Wohletz, 2000.

Gambar 4. Atas: dinamika ketebalan lingkaran kayu pada lingkaran tahunan kayu-kayu tua yang berhasil diekstrak dari Siberia (Rusia), Finlandia dan Swedia dalam rentang kronologi sejak tahun 1 hingga 1997. Garis merah menunjukkan lapisan kayu dari tahun 535 hingga beberapa tahun kemudian, nampak memiliki ketebalan paling kecil dibanding yang lain. Bawah:dinamika kadar asam sulfat yang berhasil diekstrak dari lembaran es di proyek pengeboran GRIP (Greenland). Kadara asam sulfat tertinggi adalah pada tahun 535 hingga beberapa tahun kemudian (ditunjukkan dengan pensil). Sumber: Wohletz, 2000.

Petunjuk lain gangguan iklim Bumi pada saat itu datang dari dasar sejumlah danau di berbagai penjuru. Sebuah danau mendapatkan airnya dari kawasan tangkapan air yang ada disekitarnya. Kala hujan mengguyur, air jatuh ke kawasan ini sembari menyeret partikel-partikel tumbuhan (umumnya bulir serbuk sari) lantas mengalir ke danau melalui alur parit-parit kecil dengan membawa serta partikel-partikel tanah. Seluruh partikel itu lalu diendapkan di dasar danau dan pengendapan berlangsungs ecara berkesinambungan. Pada saat gangguan iklim terjadi, berkurangnya curah hujan akan membuat tumbuh-tumbuhan hidup di bawah normal. Sehingga jumlah serbuk sari yang diproduksinya akan menyusut, pun demikian serbuk sari yang mengendap di dasar danau. Pengeboran terhadap dasar danau-danau di benua Amerika seperti danau Titicaca dan Marcachoca (keduanya di Amerika selatan) serta danau Chichancanab dan Punta Laguna (keduanya di Amerika tengah) memperlihatkan gejala itu. Dibantu dengan teknik pertanggalan radioaktif, maka terkuak bahwa mulai tahun 535 hingga beberapa tahun kemudian jumlah serbuk sari yang mengendap di dasar danau jauh lebih sedikit dibanding sebelumnya maupun sesudahnya. Hal ini menunjukkan dengan jelas terjadinya gangguan iklim Bumi, terutama lewat menurunnya jumlah curah hujan.

Baiklah, dari data lingkaran tahunan di kayu-kayu tua dan endapan dasar danau tersebut, kita tahu ada sesuatu yang terjadi di tahun 535 yang dampaknya menghantam sistem iklim Bumi dengan begitu telak. Namun apa penyebabnya? Di sinilah kita berhutang kepada para ahli glasiologi, yang bertekun diri menantang bahaya pergi ke tempat-tempat terpencil yang sangat dingin baik, di kawasan kutub maupun di pucuk-pucuk pegunungan bersalju. Bukan untuk berwisata maupun memompa adrenalin sekuat tenaga, namun untuk mengebor lembaran-lembaran es di sana dan membawanya pulang ke laboratorium berpendingin khusus. Lapisan-lapisan es pada dasarnya terbentuk dari guyuran hujan salju yang terus terakumulasi selama bertahun-tahun. Saat jatuh ke Bumi, butir-butir salju membawa serta partikulat dan gas apapun yang ada di udara pada saat itu. Maka es beku dalam lembaran-lembaran es dimanapun berada sejatinya memuat informasi tentang apa yang dialami atmosfer Bumi kita hingga kurun waktu ribuan atau bahkan puluhan ribu tahun silam.

Saat lembaran–lembaran es di Greenland (lewat proyek GRIP dan Dye 3) serta Antartika (lewat proyek Byrd) dibor, analisisnya menghasilkan temuan menarik yang terkait langsung peristiwa tahun 535. Dengan dibantu teknik pertanggalan karbon radioaktif, diketahui bahwa pada lapisan es yang berasal dari tahun 535 terkandung asam sulfat dalam jumlah besar, yang mencapai 5 kali lipat di atas normal. Asam sulfat umum dijumpai dalam atmosfer Bumi dalam wujud aerosol sebagai produk aktivitas vulkanisme. Namun kadar asam sulfat yang sangat besar menandakan terjadi sesuatu yang di luar kebiasaan, baik berupa letusan gunung berapi yang dahsyat maupun tumbukan benda langit (komet atau asteroid) yang cukup besar. Kadar asam sulfat dari tahun 535 itu adalah yang tertinggi sepanjang 2.000 tahun terakhir. Ia masih lebih tinggi dibanding kadar asam sulfat dari tahun 1815 (produk Letusan Tambora 1815), apalagi dari tahun 1883 (produk Letusan Krakatau 1883). Belakangan pengeboran lembaran es di gletser Quelccaya di Pegunungan Andes (Amerika selatan) juga menjumpai hal senada. Bahwa lonjakan asam sulfat itu dijumpai baik di lingkaran kutub utara (yakni di Greenland) maupun selatan (yakni Antartika) menandakan bahwa peristiwa yang menjadi penyebabnya haruslah berlokasi di kawasan khatulistiwa’ dan sekitarnya.

Saat semua data tersebut dibandingkan dengan catatan sejarah, terkuaklah sebuah fakta: terjadi sebuah peristiwa di luar normal (entah dalam wujud letusan gunung berapi yang sangat dahsyat ataupun tumbukan benda langit) mengambil tempat di kepulauan Nusantara, khususnya yang berada di arah barat daya dari Nanking/Nanjing (ibukota imperium Cina di abad ke-6 dan tempat kronik Nan shi ditulis). Peristiwa itu menghembuskan partikulat debu dalam jumlah sangat banyak ke atmosfer hingga demikian tinggi untuk kemudian terdistribusi ke segenap penjuru lapisan stratosfer. Maka tercipta lapisan debu bercampur aerosol asam sulfat, entah sebagai tabir surya vulkanik maupun tabir surya tumbukan, yang berkemampuan sangat efektif dalam mereduksi pancaran sinar Matahari yang seharusnya dihantarkan ke permukaan Bumi tanpa gangguan.

Maka Matahari pun nampak seakan-akan lebih redup. Penurunan suhu rata-rata permukaan Bumi pun terjadilah. Es meluas dimana-mana. Produksi uap air secara umum berkurang sehingga curah hujan pun turut berkurang. Iklim jadi kacau. Akibatnya lahan pertanian hancur. Produksi tanaman pangan merosot drastis, membuat dunia kelaparan. Suhu udara yang lebih dingin dan orang-orang yang daya tahan tubuhnya menurun (akibat kelaparan) memudahkan bakteri patogen menyebar melampaui area tradisionalnya. Maka abad kegelapan pun terjadilah. Tak sulit membayangkan bahwa jutaan orang, angka yang sangat signifikan bagi populasi penduduk Bumi masa itu, meregang nyawa menjadi korbannya. Tak heran jika ada yang berpendapat, surga seakan sedang menjauh dari dunia. Murka-Nya seakan sedang menjelma.

Simulasi

Bagian kepulauan Nusantara yang berada di arah barat daya dari kota Nanking mencakup pulau Sumatra dan Jawa serta pulau-pulau kecil disekitarnya sekarang. Sampai saat ini di kawasan ini belum dijumpai eksistensi kawah produk tumbukan benda langit, khususnya yang berasal dari abad ke-6. Sehingga penyebab peristiwa di tahun 535 itu lebih mungkin adalah letusan gunung berapi sanga dahsyat. Pulau Sumatra dan Jawa memang dipadati oleh gunung-gemunung berapi aktif. Namun saat kita mencari gunung berapi mana yang meletus demikian dahsyatnya di abad ke-6, telunjuk akan terarah ke satu titik: Gunung Krakatau.

Letusan Krakatau di abad ke-6 merupakan letusan yang paling samar datanya. Ada lapisan debu sangat tebal (setebal 25 meter) yang tertinggal di kepulauan Krakatau, namun belum bisa diketahui umurnya mengingat tiadanya jejak kayu yang mengarang yang bisa digunakan untuk penentuan umur dengan teknik pertanggalan karbon radioaktif. Di sisi lain, data sejarah memperlihatkan adanya keterputusan peradaban di abad ke-6, yang ditandai dengan punahnya kebudayaan Pasemah (Lampung) dan Aruteun/Holotan (Jawa Barat). Di luar Indonesia, sejumlah peradaban juga diketahui berakhir kala memasuki abad ke-6, misalnya Beikthano (Myanmar), peradaban pantai barat Malaya (Malaysia) dan peradaban Oc Eo (Kampuchea). Ada banyak faktor yang menyebabkan sebuah peradaban berakhir. Dan letusan dahsyat gunung berapi dapat menjadi salah satu faktornya, seperti terlihat pada berakhirnya peradaban Papekat dan Tambora di pulau Sumbawa akibat Letusan Tambora 1815.

Ada sebuah karya sastra klasik di tanah Jawa yang samar-samar menyajikan penggambaran mencekam akan peristiwa letusan dahsyat sebuah gunung berapi di masa silam. Yakni kitab Pustaka Raja Purwa, yang ditulis oleh R Ng (Raden Ngabehi) Ranggawarsita sang pujangga besar terakhir di tanah Jawa pada 1869 di istana Kasunanan Surakarta. Kitab ini sejatinya merupakan kumpulan cerita yang berakar dari kitab Mahabharata dan Ramayana nan tersohor. Sehingag kisah-kisah didalamnya berakar dari awal milenium di tanah India, dengan beberapa bagiannya telah dimodifikasi agar sesuai dengan situasi tanah Jawa. Di salah satu bagian kitab yang menjadi acuan para dalang wayang kulit itu tersurat kisah menggetarkan. Tertera, betapa pada suatu waktu bumi Jawa dikejutkan oleh dentuman keras melebihi halilintar yang datang dari arah Gunung Batuwara dan Gunung Kapi. Tanah pun bergetar keras yang segera diikuti amukan petir dan halilintar. Suasana menjadi gulita bahkan meski di siang hari. Hujan mengguyur sangat deras. Dan beberapa saat kemudian air bah yang tak biasa pun menggenang hebat, menjalar dari Gunung Kapi di barat hingga Gunung Kamula di timur. Setelah semua itu usai, Jawa terpisah dari Sumatra.

Gunung Batuwara kini kita kenal sebagai Gunung Pulosari, salah satu gunung berapi anak di lingkungan kaldera Dano (Banten). Gunung Kapi terletak di sisi barat Gunung Batuwara. Hanya ada satu gunung berapi yang sesuai dengan ciri-ciri Gunung Kapi ini, yakni Gunung Krakatau.

Baik, mari anggap Gunung Krakatau menjadi biang keladi perubahan iklim dramatis di tahun 535, yang menggiring segenap dunia berperadaban menuju ke abad kegelapan lewat letusan sangat dahsyatnya. Nah seberapa besar letusan tersebut?

Gambar 5. Peta kedalaman dasar Selat Sunda berdasar arsip Angkatan Laut Inggris di era perang Napoleon, dipadukan dengan peta topografi daratan Sumatra dan Jawa. Nampak cekungan nyaris membulat selebar sekitar 50 km yang diduga adalah kaldera raksasa produk Letusan Krakatau Purba. Sumber: Wohletz, 2000.

Gambar 5. Peta kedalaman dasar Selat Sunda berdasar arsip Angkatan Laut Inggris di era perang Napoleon, dipadukan dengan peta topografi daratan Sumatra dan Jawa. Nampak cekungan nyaris membulat selebar sekitar 50 km yang diduga adalah kaldera raksasa produk Letusan Krakatau Purba. Sumber: Wohletz, 2000.

Inilah yang ditelusuri seorang Ken Wohletz, ahli kegunungapian (vulkanolog) di Laboratorium Nasional Los Alamos (Amerika Serikat), tempat senjata nuklir pertama dirakit dan diledakkan. Para ahli kegunungapian pada umumnya telah dapat menerima bahwa apa yang kini kita kenal sebagai Kepulauan Krakatau sejatinya merupakan relik (sisa) dari Gunung Krakatau Purba yang demikian besar. Gunung tersebut mungkin menjulang setinggi hingga 2.000 meter dari permukaan laut dengan bentangan kakinya melampar hingga selebar 12 km. Letusan sangat dahsyat di masa silam melenyapkan hampir seluruh tubuhnya dan membentuk kaldera berdiameter sekitar 7 km. Sebagian dinding kaldera yang masih tersembul di atas Selat Sunda sebagai pulau Rakata, Sertung dan Panjang. Pada satu titik di pulau Rakata, kelak di kemudian hari tumbuh Gunung Krakatau yang pada klimaksnya berkembang membesar dengan tiga puncak utamanya: Rakata, Danan dan Perbuwatan. Pasca letusan 1883, seluruh tubuh Gunung Krakatau lenyap menjadi kaldera, kecuali sebagian pulau Rakata. Di tengah-tengah kaldera letusan 1883 inilah tumbuh Gunung Anak Krakatau yang kita kenal sekarang.

Tapi menurut Wohletz, ukuran Gunung Krakatau Purba mungkin lebih besar. Merujuk peta kedalaman Selat Sunda dalam arsip Angkatan Laut Inggris yang berasal dari masa pendudukan di tanah Jawa pada era perang Napoleon, Wohletz mendapati adanya cekungan besar (bergaris tengah sekitar 50 km). Cekungan ini dipagari oleh Kepulauan Krakatau, pulau Sebesi, pulau Sebuku, kaki Gunung Rajabasa dan pulau Sangiang. Jejak tepian cekungan ini di Pulau Sangiang nampak sebagai tebing terjal yang menyayat sebagian tubuh gunung berapi purba pembentuk pulau itu. Terletak tepat di lokasi gunung berapi aktif, tafsiran terbaik akan eksistensi cekungan ini adalah kemungkinan besar merupakan kaldera, lubang besar yang ditinggalkan di permukaan Bumi (dalam hal ini di dasar Selat Sunda) akibat letusan yang teramat dahsyat. Jika kalderanya sebesar ini maka jelas Gunung Krakatau Purba bertubuh jauh lebih besar. Kaki gunungnya mungkin membentang hingga mencakup area berdiameter 50 km atau lebih. Ketinggiannya nampaknya melebihi tinggi Gunung Rajabasa (1.281 meter dpl), mungkin hingga setinggi 3.000 meter atau bahkan lebih.

Gambar 6. Tebing terjal di Pulau Sangiang, yang secara menakjubkan memperlihatkan penampang bagian puncak gunung berapi purba dengan dua kawahnya. Tebing terjal ini kemungkinan merupakan salah satu titik tertinggi dari (dugaan) dinding kaldera raksasa Krakatau Purba yang lebarnya sekitar 50 km. Sumber: Bronto, 2012.

Gambar 6. Tebing terjal di Pulau Sangiang, yang secara menakjubkan memperlihatkan penampang bagian puncak gunung berapi purba dengan dua kawahnya. Tebing terjal ini kemungkinan merupakan salah satu titik tertinggi dari (dugaan) dinding kaldera raksasa Krakatau Purba yang lebarnya sekitar 50 km. Sumber: Bronto, 2012.

Agar sebuah gunung sebesar ini bisa ambruk dan lenyap menjadi kaldera yang berada di bawah permukaan laut, maka harus terjadi subsidens (amblesan) sebesar sekitar 100 meter. Subsidens ini disebabkan oleh kosongnya kantung magma dangkal di dasar gunung seiring dimuntahkannya magma secara besar-besaran dalam letusan yang sangat dahsyat. Jika dianggap diameter kantung magma dangkal tersebut sekitar 50 km, maka subsidens sebesar 100 meter ini hanya bisa disebabkan oleh tersemburnya magma menjadi rempah letusan sebanyak sekitar 200 kilometer kubik (200.000 juta meter kubik).

Lewat program komputer Erupt3 yang dikembangkannya, Wohletz pun telah menyimulasikan sejumlah aspek dalam letusan dahsyat tersebut, dengan bersandar pada beberapa anggapan. Sebelum meletus dahsyat, tubuh Gunung Krakatau Purba demikian besar sehingga menyembul ke atas permukaan Selat Sunda sebagai pulau vulkanis. Pulau ini demikian besar sehingga menutupi hampir seluruh bagian perairan Selat Sunda yang membentang di antara kaki Gunung Rajabasa (Sumatra) hingga Anyer (Jawa). Sebagai gunung berapi laut, perilaku Gunung Krakatau Purba sangat dipengaruhi berlimpahnya air laut yang mengepungnya dari segenap penjuru. Saat letusan mulai terjadi rempah letusan disemburkan Gunung Krakatau Purba hingga setinggi sekitar 20 km dari paras Selat Sunda, sebagai erupsi freatik. Erupsi freatik ini terjadi saat magma segar yang sedang mendesak naik mulai bertemu dengan air laut yang meresap di dalam tubuh gunung, menghasilkan uap panas bertekanan tinggi yang lantas mendobrak titik lemah di sekitar puncak. Tersemburlah uap air bersama debu vulkanik dari magma tua yang sudah membatu.

Erupsi freatik menciptakan lubang letusan, memperlebarnya dan mengawali retak-retak ke segenap arah hingga mulai melemahkan kekuatan batuan penyusun tubuh gunung. Kekuatan yang melemah memungkinkan magma mulai tersembur, lama-kelamaan dalam jumlah kian membesar dan bertekanan sangat tinggi. Terjadilah erupsi magmatik dalam tipe erupsi ultraplinian. Menyeruak dengan suhu sekitar 900 derajat Celcius, magma yang keluar sebagai batuapung dan debu vulkanik melesat dengan kecepatan awal sangat tinggi, sekitar dua kali lipat kecepatan suara, kala terlepas dari lubang letusan. Akibatnya mereka tersembur hingga setinggi 50 km dari paras selat Sunda dan lantas membentuk struktur menyerupai cendawan raksasa, untuk kemudian berjatuhan kembali ke Bumi. Hujan debu vulkanik pekat dan batuapung mengguyur deras hingga radius sekitar 60 km dari lubang letusan.

Gambar 7. Salah satu hasil simulasi program Erupt3 tentang karakter (kemungkinan) Letusan Krakatau Purba 535. Atas: saat letusan hendak mencapai puncaknya sebagai tipe ultraplinian yang menyemburkan material setinggi 60 km dan membentuk awan cendawan raksasa. Bawah: klimaks letusan ditandai dengan letusan tipe freatoplinian akbar dengan semburan material setinggi  30 km dan membentuk awan panas. Kombinasi dua tipe letusan inilah yang membentuk kaldera selebar 50 km dengan memuntahkan 200 kilometer kubik magma. Sumber: Wohletz, 2000.

Gambar 7. Salah satu hasil simulasi program Erupt3 tentang karakter (kemungkinan) Letusan Krakatau Purba 535. Atas: saat letusan hendak mencapai puncaknya sebagai tipe ultraplinian yang menyemburkan material setinggi 60 km dan membentuk awan cendawan raksasa. Bawah: klimaks letusan ditandai dengan letusan tipe freatoplinian akbar dengan semburan material setinggi 30 km dan membentuk awan panas. Kombinasi dua tipe letusan inilah yang membentuk kaldera selebar 50 km dengan memuntahkan 200 kilometer kubik magma. Sumber: Wohletz, 2000.

Pengeluaran magma secara besar-besaran dalam tahap ini membuat kantung magma dangkal di dasar gunung mulai terkosongkan. Bobot tubuh gunung yang sangat besar membuat retak-retak di sekujur tubuhnya kian bertambah. Subsidens pun mulai terjadi. membuat kian banyak saja air laut yang merasuk. Pada saat yang sama tubuh gunung yang kian melemah memungkinkannya memuntahkan magma dalam jumlah lebih besar. Maka klimaks letusan pun terjadilah, saat air laut bercampur langsung dengan magma panas membara membentuk erupsi bertipe freatoplinian akbar. Gelegar suara letusannya terdengar jauh hingga ke daratan Cina. Setiap detiknya gunung ini memuntahkan sekitar 400.000 meter kubik magma yang membentuk debu, lapili (kerikil), bom vulkanik (bongkahan besar) dan batuapung. Rempah vulkanik yang lebih besar dan berat dari debu dan batuapung menyembur hingga ketinggian sekitar 30 km. Setelah membentuk struktur cendawan raksasa, rempah letusan ini pun berjatuhan kembali ke Bumi dalam kondisi masih cukup panas sehingga menjadi awan panas (piroklastika) letusan. Awan panas diperkirakan menjalar hingga sejauh 60 km dari lubang letusan memanggang benda apa saja yang dilewatinya. Setelah klimaks letusan terlampaui, intensitas letusan pun berkecenderungan menurun. Pada saat yang sama tubuh gunung pun terus menghancur dan melesak ke dalam laut membentuk kaldera. Air laut yang masih terus merasuk terus bercampur dengan sisa-sisa magma yang tak tersembur, menghasilkan semburan uap panas bertekanan tinggi bercampur debu vulkanik yang kembali menghambur hingga setinggi sekitar 20 km. Erupsi freatik ini menjadi bab penutup dari kedahsyatan letusan itu.

Dengan memuntahkan sekitar 200 kilometer kubik magma, Letusan Krakatau Purba adalah 25 % lebih besar ketimbang Letusan Tambora 1815 (volume magma 160 kilometer kubik) dan 10 kali lebih dahsyat dari Letusan Krakatau 1883 (volume magma 20 kilometer kubik). Lewat program Erupt3-nya, Wohletz menyimpulkan terkurasnya magma sebanyak itu menyebabkan Gunung Krakatau Purba mengalami subsidens dan mengubah topografinya secara dramatis. Hampir segenap tubuh gunung lenyap terbenam menjadi kaldera, kecuali sebagian kecil area puncak yang masih menyembul di atas permukaan Selat Sunda sebagai pulau kecil. Maka bentang lahan yang selama ini seakan menjembatani pulau Jawa dan Sumatra pun terputus sudah.

Gambar 8. Hasil simulasi program Erupt3 terkait (kemungkinan) perubahan topografi Gunung Krakatau Purba antara sebelum dan sesudah letusan dahsyatnya di tahun 535. Sebelum letusan, tubuh gunung merentang demikian lebar hingga berperan sebagai jembatan alamiah penghubung daratan pulau Sumatra dan Jawa. Setelah letusan, jembatan tersebut menghilang berganti dengan kaldera 50 km yang tergenangi air laut sebagai bagian dari Selat Sunda. Sumber: Wohletz, 2000.

Gambar 8. Hasil simulasi program Erupt3 terkait (kemungkinan) perubahan topografi Gunung Krakatau Purba antara sebelum dan sesudah letusan dahsyatnya di tahun 535. Sebelum letusan, tubuh gunung merentang demikian lebar hingga berperan sebagai jembatan alamiah penghubung daratan pulau Sumatra dan Jawa. Setelah letusan, jembatan tersebut menghilang berganti dengan kaldera 50 km yang tergenangi air laut sebagai bagian dari Selat Sunda. Sumber: Wohletz, 2000.

Letusan sangat dahsyat yang mengambil tempat di sebuah pulau vulkanis ini jelas membentuk gelora raksasa atau tsunami. Tsunami terbentuk seiring ambruknya tubuh gunung ke dasar laut bersamaan dengan hempasan awan panas yang menjalar di dasar laut. Seberapa besar daya hancur tsunaminya belum bisa diketahui. Di sisi lain, dampak letusan sangat dahsyat ini sangat terasa di sekujur penjuru Bumi. Dari 200 kilometer kubik magma, 10 hingga 80 kilometer kubik diantaranya berupa debu vulkanik halus yang terinjeksi demikian tinggi hingga memasuki lapisan stratosfer. Namun tak hanya debu. Letusan juga mengubah sekitar 150 meter kubik air laut menjadi uap sebanyak sekitar 200.000 kilometer kubik. Separuh diantaranya mengembun kembali di ketinggian rendah, namun sisanya membumbung tinggi memasuki lapisan stratosfer dan berubah menjadi kristal-kristal es. Pada saat yang sama juga tersembur sekitar 180 juta ton gas belerang, yang lantas bereaksi dengan uap air membentuk tetes-tetes asam sulfat. Sirkulasi atmosferik di lapisan stratosfer membuat debu, aerosol asam sulfat dan kristal es tersebar ke segenap penjuru dan menciptakan tabir surya vulkanik demikian tebal. Ketebalannya mencapai sekitar 20 hingga 150 meter, yang melayang di ketinggian 30 km tanpa bisa dicuci oleh proses cuaca.

Dampaknya sangat menyiksa Bumi hingga beberapa tahun kemudian. Tabir surya vulkanik nan tebal ini menghalangi 50 % cahaya Matahari yang seharusnya diteruskan ke Bumi. Terjadilah penurunan suhu rata-rata permukaan Bumi, yang bisa mencapai 5 derajat Celcius di bawah normal. Imbasnya udara menjadi lebih dingin, tutupan es pun menyebar keluar dari lingkaran kutub dan jumlah uap air yang diproduksi dari lautan pun menurun. Akibat lebih lanjutnya, cuaca pun sangat terganggu. Kekeringan berlangsung dimana-mana, meski tak jarang juga terjadi hujan sangat lebat hingga badai yang salah musim. Keberadaan kristal-kristal es di lapisan stratosfer pun berdampak pada hancurnya lapisan Ozon. Sinar ultraviolet beta dari Matahari pun membanjir deras tanpa terhalangi dan bekerja merusak sel-sel makhluk hidup. Secara keseluruhan letusan ini benar-benar membuat Bumi menjadi tak nyaman ditinggali makhluk hidup, khususnya manusia. Tak heran jika abad kegelapan pun terjadilah.

Masa Depan

Di atas kertas, seperti itulah kedahsyatan Letusan Krakatau Purba, yang diperkirakan terjadi pada tahun 535. Tentu saja butuh penelitian lebih lanjut guna memastikan apakah semua atau sebagian hasil simulasi itu memang benar-benar terjadi ataukah tidak. Yang jelas, lapisan debu setebal 20 meter yang terjepit di antara lapisan produk letusan 8.000 tahun silam dan lapisan produk Letusan Krakatau 1215 memastikan bahwa pada suatu waktu di masa silam Gunung Krakatau memang pernah meletus dengan kedahsyatan letusan yang jauh lebih besar ketimbang Letusan Krakatau 1883.

Sifat Gunung Krakatau yang gemar meletus dahsyat dan menghancurkan dirinya sendiri, setidaknya sudah tiga kali terjadi, tentu harus menjadi perhatian. Terlebih kawasan Selat Sunda kian memegang peranan penting. Perairan ini menjadi salah satu urat nadi terpenting bagi Indonesia modern, sebagai jalur penghubung antara pulau Sumatra dan Jawa lewat laut. Bahkan kelak jalur darat pun bakal tersambung dengan Jembatan Selat Sunda, meski pembangunannya masih dalam rencana dan terus menuai kontroversi. Pusat-pusat pertumbuhan ekonomi juga terus berdiri di sini. Alangkah baiknya jika segenap kepentingan manusia yang didirikan di kawasan ini tetap menyesuaikan diri dengan sifat alamiah Gunung Krakatau. Itu untuk kebaikan kita sendiri. Karena kita manusialah yang harus menyesuaikan diri dengan dinamika alam semesta, bukan sebaliknya. Dalam kasus Gunung Krakatau, kitalah yang harus bersiap semenjak dini andaikata gunung berapi lasak ini kembali mempertontonkan kedahsyatannya di masa depan.

Referensi:

Wohletz. 2000. Were the Dark Ages Triggered by Volcano-related Climate Changes in the 6th Century? EOS Trans Amer Geophys Union 48(81), F1305.

Bronto. 2012. Gunung Padang Berdasarkan Pandangan Geologi Gunung Api. Kertas Kerja Rembug Nasional Gunung Padang, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Trio Letusan Mirip-Krakatau di Io

Indonesia selalu mengenal Agustus sebagai bulan kalender bercita rasa nasionalis. Inilah bulan dimana manusia Indonesia memperingati kemerdekaan negerinya dari belenggu tirani. Maka Agustus pun senantiasa disongsong dengan penuh gairah dan suka cita. Warga di berbagai pelosok menggelar aneka lomba. Sebagian diantaranya bakal membikin siapapun yang bukan manusia Indonesia mengernyitkan dahi, sebab begitu unik dan takkan pernah terlintas dalam benak atlet-atlet olimpik. Apa mau dikata, lomba-lomba ini memang bukan dirancang untuk mengejar prestasi namun semata bertujuan mengundang rasa geli dan menghibur hati. Pada tanggal 16 malam, banyak pula yang menggelar malam tirakatan disertai tumpengan. Tak sedikit pula yang menghabiskan sisa malam itu dengan membuka mata nyaris semalam suntuk.

Gambar 1. Gunung Krakatau diabadikan pada Mei 188. Nampak debu vulkanik pekat mengepul dari puncak Perbuwatan, menandai mulai terjadinya erupsi magmatik di gunung berapi yang telah lama tidur ini. Dalam tiga bulan kemudian seluruh gunung ini menyemburkan material vulkanik dalam jumlah sangat besar yang ditembuskan hingga berpuluh kilometer ke atmosfer. Akibatnya hampir seluruh tubuh gunung hancur dan ambruk ke dasar laut menjadi kaldera, kecuali sebagian kecil lereng puncak Rakata. Sumber: USGS, 1982.

Gambar 1. Gunung Krakatau diabadikan pada Mei 1883. Nampak debu vulkanik pekat mengepul dari puncak Perbuwatan, menandai mulai terjadinya erupsi magmatik di gunung berapi yang telah lama tidur ini. Dalam tiga bulan kemudian seluruh gunung ini menyemburkan material vulkanik dalam jumlah sangat besar yang ditembuskan hingga berpuluh kilometer ke atmosfer. Akibatnya hampir seluruh tubuh gunung hancur dan ambruk ke dasar laut menjadi kaldera, kecuali sebagian kecil lereng puncak Rakata. Sumber: USGS, 1982.

Namun Agustus juga bakal selalu dikenang sebagai bulan kalender dimana kita seyogyanya menundukkan kepala, memanjatkan doa. Khususnya kepada 36.417 jiwa (angka resmi) atau hampir 120.000 nyawa (angka perkiraan) yang melayang dalam sebuah peristiwa kelam selama tiga hari kelam berturut-turut yang terjadi lebih dari seratus tahun silam. Korban jiwa dalam jumlah yang luar biasa besar ini jatuh terenggut kala Gunung Krakatau dengan puncak-puncak Rakata, Danan dan Perbuwatan meledakkan dirinya dalam sebuah letusan teramat dahsyat. Selama tiga hari berturut-turut pada 27 hingga 29 Agustus 1883 gunung berapi kecil mungil layaknya bisul di tengah-tengah Selat Sunda (kini termasuk propinsi Lampung) itu meletus dengan kedahsyatan tak terperi untuk ukuran manusia. Sebanyak 20 kilometer kubik (20.000 juta meter kubik) material vulkanik dimuntahkan keluar, seperlima diantaranya langsung tersembur ke langit pada kekuatan teramat tinggi sehingga menjangkau ketinggian 40 km lebih dari paras air laut.

Terlepasnya magma dengan volume sangat besar dalam kurun waktu yang cukup singkat membuat kantung magma dangkal di dasar Gunung Krakatau terkuras habis, meninggalkan ruang kosong. Ruang kosong ini tak mampu menahan bobot jutaan ton batuan yang ada diatasnya. Sehingga tubuh gunung pun runtuh, Terbentuklah cekungan besar yang adalah kaldera di dasar Selat Sunda, dengan garis tengah 7 km dan kedalaman hingga 250 meter dari paras air laut. Kombinasi runtuhnya tubuh gunung ke dalam laut dan hempasan awan panas (piroklastika) yang terbentuk kala material vulkanik sangat pekat kembali berjatuhan ke Bumi memproduksi tsunami yang demikian bergelora. Tsunami ini berderap lambat, butuh waktu hampir sejam sebelum bisa menjangkau kedua belah pesisir Selat Sunda yang terdekat ke Krakatau. Namun sebaliknya ia sungguh bergelora dengan ketinggian tak terkira yang tak terbayang di benak manusia. Gelombang setinggi 37 meter menghajar pesisir Merak tanpa ampun. Sementara kawasan Anyer dan Caringin lebur digempur tsunami setinggi hingga 15 meter. Di daratan Sumatra gelora yang menjulang setinggi 22 meter mencukur Teluk Betung. Sementara Blimbing dan Kalianda dihempas gelombang 15 meter. Hampir seluruh korban jiwa yang terenggut dalam tragedi Letusan Krakatau 1883 disebabkan oleh tsunami ini. Terkecuali sekitar 1.000 orang yang meregang nyawa di Katibung akibat hempasan awan panas yang menjalar demikian jauh akibat letusan lateral (mendatar) ke utara dalam salah satu episode amukan Krakatau.

Gambar 2. Jejak kedahsyatan tsunami Letusan Krakatau 1883, yang mencukur habis pesisir Anyer. Atas: bangkai gerbong kereta yang terguling dan terseret jauh dari stasiun oleh air tsunami. Bawah: bongkahan karang gigantis seberat 600 ton lebih, yang terangkat dan terbawa gelora tsunami menuju pantai. Bongkahan karang ini menghantam mercusuar Anyer tepat di kilometer nol jalan raya pos (jalan Daendels), membuat menara setinggi 40 meter itu ambruk. Sumber: History Channel, 2009.

Gambar 2. Jejak kedahsyatan tsunami Letusan Krakatau 1883, yang mencukur habis pesisir Anyer. Atas: bangkai gerbong kereta yang terguling dan terseret jauh dari stasiun oleh air tsunami. Bawah: bongkahan karang gigantis seberat 600 ton lebih, yang terangkat dan terbawa gelora tsunami menuju pantai. Bongkahan karang ini menghantam mercusuar Anyer tepat di kilometer nol jalan raya pos (jalan Daendels), membuat menara setinggi 40 meter itu ambruk. Sumber: History Channel, 2009.

Tsunami Krakatau merupakan bencana alam dengan korban jiwa manusia terbesar di Indonesia semenjak 1883. Rekor ini bertahan hingga 121 tahun kemudian sebelum kemudian dilampaui oleh bencana gempa akbar Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 dengan tsunami dahsyatnya. Sebaliknya Letusan Krakatau 1883 bukanlah letusan gunung berapi terdahsyat yang pernah berlangsung di tanah Nusantara sepanjang sejarah yang tercatat. Letusan ini hanyalah menempati peringkat ketiga, di bawah Letusan Samalas (Rinjani) 1257 dan Letusan Tambora 1815. Skala letusan Krakatau terpaku di angka 6 VEI (Volcanic Explosivity Index), setingkat di bawah skala letusan Samalas dan Tambora yang masing-masing menempati angka 7 VEI. Namun amukan Krakatau menjadi letusan gunung berapi dalam tingkat katastrofik pertama yang terekam dengan baik. Hanya beberapa minggu sebelum letusan ini terjadi kabel laut terakhir yang menautkan media sosial elektronik pertama bagi manusia, yakni telegraf, tersambung sudah. Untuk ukuran masakini media sosial ini tentu sangat primitif dan lambat. Namun pada era meletusnya Krakatau di tahun 1883 itu, ia tergolong cukup cepat dalam menyalurkan informasi. Sehingga sontak Krakatau pun menjadi buah bibir dalam lingkup global. Laporan demi laporan teramatinya gejala mirip tsunami, yang sejatinya adalah dampak gelombang kejut letusan terhadap paras air laut setempat, juga segera bermunculan dari berbagai penjuru. Bandingkan dengan Letusan Tambora 1815 yang kabar terawalnya baru tiba di daratan Eropa enam minggu setelah gunung berapi itu mempertontonkan kedahsyatannya.

Trio Io

Amukan gunung berapi seukuran Letusan Krakatau 1883 tentu menggetarkan dan menakutkan segenap manusia. Termasuk di masa kini. Nah bagaimana jika kita berhadapan dengan tak hanya satu, melainkan tiga letusan yang skala kedahsyatannya menyamai atau bahkan malah melebihi Letusan Krakatau 1883?

Gambar 3. Tiga letusan mirip Letusan Krakatau 1883 di Io sepanjang 15 hingga 29 Agustus 2013. Kiri: letusan Rarog Patera, diobservasi teleskop Keck II pada panjang gelombang 1,59 mikron. Tengah: letusan Rarog Patera dan Heno Patera, diobservasi teleskop Keck II pada panjang gelombang 2,27 mikron. Dan kanan: letusan 201308C dan Rarog Patera, diobservasi teleskop IRTF NASA pada panjang gelombang 3,78 mikron. Nampak bahwa letusan 201308C adalah yang terbesar, diikuti letusan Rarog Patera dan kemudian Heno Patera. Saat 201308C meletus dahsyat, letusan di Rarog Patera dan Heno Patera sudah berakhir. Sumber: NASA & Keck II Observatory, 2014.

Gambar 3. Tiga letusan mirip Letusan Krakatau 1883 di Io sepanjang 15 hingga 29 Agustus 2013. Kiri: letusan Rarog Patera, diobservasi teleskop Keck II pada panjang gelombang 1,59 mikron. Tengah: letusan Rarog Patera dan Heno Patera, diobservasi teleskop Keck II pada panjang gelombang 2,27 mikron. Dan kanan: letusan 201308C dan Rarog Patera, diobservasi teleskop IRTF NASA pada panjang gelombang 3,78 mikron. Nampak bahwa letusan 201308C adalah yang terbesar, diikuti letusan Rarog Patera dan kemudian Heno Patera. Saat 201308C meletus dahsyat, letusan di Rarog Patera dan Heno Patera sudah berakhir. Sumber: NASA & Keck II Observatory, 2014.

Ini bukan kabar burung. Trio letusan mirip Krakatau itu memang benar-benar terjadi. Namun jangan buru-buru cemas dan memacu adrenalin anda. Trio letusan tersebut mengambil lokasi yang sangat jauh dari Bumi, yakni pada sebuah benda langit lain yang ukurannya hanya sedikit lebih besar dibanding Bulan. Trio letusan itu terjadi di Io yang adalah salah satu satelit alamiah dari planet Jupiter. Demikian dahsyat ketiga letusan itu sehingga kilatan cahayanya dapat disaksikan dari Bumi, meski hanya dapat disaksikan lewat fasilitas teleskop tercanggih. Adalah tiga teleskop berpangkalan di puncak Gunung Mauna Kea, Kepulauan Hawaii (Amerika Serikat), yang merekam ketiga letusan tersebut. Ketiganya adalah teleskop Gemini North, Keck II dan IRTF (Infra Red Telecope Facility) NASA. Ketiga letusan terekam dalam rentang waktu antara 15 dan 29 Agustus 2013, saat Io berjarak 865 juta kilometer dari Bumi.

Dua letusan pertama terdeteksi oleh teleskop Keck II (diameter cermin 10 meter) saat diarahkan ke Io pada 15 Agustus 2013 pukul 22:30 WIB. Bekerja pada spektrum sinar inframerah dan dilengkapi sistem optik adaptif untuk mengoreksi gangguan optis akibat turbulensi dalam atmosfer Bumi, teleskop Keck II merekam dua titik berpendar terang di permukaan Io yang tak pernah ada sebelumnya. Titik pendar pertama berimpit dengan posisi Gunung Rarog Patera yang telah dikenal sebelumnya. Sementara titik letusan kedua bertepatan dengan Gunung Heno Patera, yang juga telah dikenali sebelumnya. Dan letusan terakhir terdeteksi dua minggu kemudian, yakni pada 29 Agustus 2013, lewat teleskop Gemini North dan IRTF NASA. Letusan ini terjadi di lokasi yang tak dikenal dan untuk sementara diberi kode sebagai 201308C.

Observasi lanjutan menunjukkan bahwa ketiganya merupakan erupsi eksplosif gunung berapi Io yang khas. Letusan Rarog Patera mengeluarkan lava sepanas hingga sekitar 750 derajat Celcius. Pada puncak letusannya ia melepaskan daya hingga 8 terawatt (8 juta megawatt). Lava lantas membanjir menutupi area seluas hingga 120 kilometer persegi disekeliling lubang letusan. Sementara letusan Heno Patera menyemburkan lava yang sedikit lebih dingin yakni 700 derajat Celcius sehingga daya puncaknya pun sedikit lebih rendah yakni 5 hingga 6 terawatt (5 juta hingga 6 juta megawatt). Namun letusan Heno Patera memuntahkan lava yang menutupi kawasan dua kali lipat lebih luas yakni 300 kilometer persegi. Dan letusan 201308C adalah yang terdahsyat. Pada puncaknya ia melepaskan daya antara 15 hingga 25 terawatt (15 juta hingga 25 juta megawatt) dengan lava panasnya hingga sepanas 1.600 derajat Celcius atau bahkan lebih.

Gambar 4. Peta permukaan Io berdasar citra komposit Voyager 1, Voyager 2 dan Galileo. Nampak lokasi Rarog Patera, Heno Patera dan 201308C, tiga gunung berapi yang terlibat dalam trio letusan besar Agustus 2013. Terlihat juga lokasi Gunung Loki dengan kalderanya yang terbesar di Io. Juga Gunung Pele, gunung berapi luar Bumi yang pertama kali terdeteksi. Sumber: Sudibyo 2014 dengan peta dasar USGS Astrogeology, 2014.

Gambar 4. Peta permukaan Io berdasar citra komposit Voyager 1, Voyager 2 dan Galileo. Nampak lokasi Rarog Patera, Heno Patera dan 201308C, tiga gunung berapi yang terlibat dalam trio letusan besar Agustus 2013. Terlihat juga lokasi Gunung Loki dengan kalderanya yang terbesar di Io. Juga Gunung Pele, gunung berapi luar Bumi yang pertama kali terdeteksi. Sumber: Sudibyo 2014 dengan peta dasar USGS Astrogeology, 2014.

Analisis lebih lanjut memperlihatkan trio letusan ini merupakan letusan besar karena memuntahkan magma dalam jumlah sangat banyak. Jumlah magma yang disemburkan letusan Rarog Patera dan Heno Patera berkisar antara 50.000 hingga 100.000 meter kubik per detik. Sebaliknya berapa magma yang dikeluarkan letusan 201308C belum jelas, namun dapat diduga jauh lebih besar ketimbang Rarog dan Heno Patera. Bandingkan dengan Letusan Krakatau 1883 di Bumi, yang pada puncak letusannya menghamburkan magma sebanyak ‘hanya’ 20.400 meter kubik per detik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kecepatan pengeluaran magma Rarog Patera dan Heno Patera adalah antara 2 hingga 4 kali lipat lebih tinggi ketimbang Krakatau. Namun tak demikian dengan dayanya, yakni jumlah energi yang dilepaskan dalam tiap satuan waktu. Jika suhu magma Krakatau 1883 dianggap 800 derajat Celcius, maka daya sebesar 14 terawatt terlepas dalam puncak letusannya. Ini lebih besar ketimbang daya letusan Rarog maupun Heno Patera, namun masih lebih kecil dibanding letusan 201308C.

Io adalah benda langit yang sedikit lebih besar dari Bulan (diameter Io = 3.628 km dan diameter Bulan = 3.474 km). Maka dari itu gravitasinya pun cukup kecil yakni 5,5 kali lebih kecil ketimbang Bumi. Saat terjadi letusan sedahsyat Letusan Krakatau 1883 di Io, gravitasi kecilnya membuat material letusan sanggup tersembur hingga mencapai ketinggian beratus-ratus kilometer. Bandingkan dengan Bumi, dimana letusan gunung berapi terdahsyat sekalipun takkan sanggup menyemburkan debu vulkaniknya hingga melampaui ketinggian 100 km. Debu vulkanik gunung-gemunung berapi di Io bahkan sanggup melesat keluar dari lingkungan pengaruh satelit alamiah Jupiter itu dan lantas berubah haluan menjadi debu bermuatan listrik mengelilingi Jupiter sebagai plasma. Observasi dengan satelit HISAKI milik Jepang, yang dirancang khusus untuk mengamati plasma yang mengedari Jupiter dari kejauhan orbit Bumi, berhasil mendeteksi meningkatnya jumlah debu bermuatan listrik dalam lingkungan plasma tersebut setelah trio letusan ini terjadi.

Tidal

Sekilas adanya gunung berapi di luar Bumi bakal membuat dahi kita berkernyit. Apalagi di lingkungan sekecil Io. Apalagi saat gunung-gemunung berapi tersebut meletus dengan kekuatan yang luar biasa besar hingga menyamai atau bahkan melebihi Letusan Krakatau 1883 yang demikian populer. Gunung berapi aktif di luar Bumi memang baru diketahui eksistensinya pada 1979. Untuk pertama kalinya gunung berapi semacam itu memang ditemukan di Io, dalam satu babak eksplorasi antariksa takberawak yang bergelora.

Io adalah satelit alamiah Jupiter yang cukup populer. Astronom legendaris Galileo Galilei menjadi orang yang pertama kali menyaksikannya lewat teleskop pembias sederhana (perbesaran 20 kali) buatan sendiri pada 7 Januari 1610 malam. Observasi serupa di malam selanjutnya memastikan eksistensi Io. Inilah satu dari empat satelit Galilean Jupiter, sekaligus satelit alamiah terbesar yang berjarak paling dekat dengan planet gas raksasa itu. Io hanya membutuhkan 42 jam untuk beredar mengelilingi sang planet induk sekali putaran. Benda langit ini sejatinya dapat disaksikan mata manusia tanpa menggunakan alat bantu karena magnitudo semunya +5, atau setingkat lebih terang ketimbang ambang batas keterlihatan benda langit lewat mata manusia (yakni magnitudo semu +6). Namun benderangnya Jupiter persis disebelahnya membuat Io takkan dapat disaksikan dengan cara itu.

Gambar 5. Citra resolusi rendah terhadap lingkungan tiga gunung berapi yang terlibat dalam trio letusan besar Agustus 2013 diabadikan oleh wahana Voyager 1 (kiri) dan galileo (kanan). Ketiganya adalah Gunung Rarog Patera (lingkaran hijau), Heno Patera (lingkaran merah) dan 201308C (lingkaran ungu). Jelas terlihat bahwa ketiga gunung berapi ini pada dasarnya adalah kaldera. Sumber: NASA, 1979 & 1999.

Gambar 5. Citra resolusi rendah terhadap lingkungan tiga gunung berapi yang terlibat dalam trio letusan besar Agustus 2013 diabadikan oleh wahana Voyager 1 (kiri) dan galileo (kanan). Ketiganya adalah Gunung Rarog Patera (lingkaran hijau), Heno Patera (lingkaran merah) dan 201308C (lingkaran ungu). Jelas terlihat bahwa ketiga gunung berapi ini pada dasarnya adalah kaldera. Sumber: NASA, 1979 & 1999.

Hingga hampir empat abad kemudian Io hanya terlihat sebagai bintik cahaya mirip bintang. Namun seiring perkembangan zaman yang meningkatkan kemampuan teleskop-teleskop termutakhir, perlahan-lahan Io mulai tampil sebagai cakram redup. Meski demikian ada satu anggapan yang tak berubah merentang abad, yakni aktivitas geologisnya. Dengan ukuran hanya sedikit lebih besar dari Bulan, Io dianggap sebagai benda langit yang telah mati. Artinya, kondisi internalnya telah mendingin (hampir) sepenuhnya sehingga tak lagi tersisa cukup panas yang bisa keluar ke permukaan dalam rupa vulkanisme beserta aktivitas penyertanya. Hingga 1978 pandangan ini masih bertahan meski observasi teleskop inframerah termutakhir saat itu mengungkap adanya hal aneh di Io. Anomali itu sebanding dengan pancaran panas dari obyek bersuhu sekitar 300 derajat Celcius dari area seluas 8.000 kilometer persegi di Io, yang mengesankan sebagai aktivitas vulkanik.

Pandangan tersebut berubah total setelah wahana antariksa takberawak Voyager 1 melintas di dekat Io dalam perjalanannya mengarungi tata surya guna menuju ke planet Saturnus. Voyager 1 memperlihatkan betapa mulusnya permukaan Io, tanpa berhias kawah-kawah tumbukan benda langit (asteroid atau komet) disana-sini. Padahal kawah-kawah tumbukan dalam aneka ukuran amat umum dijumpai pada permukaan benda langit yang telah mati seperti misalnya Bulan dan planet Mars. Maka permukaan Io amat berbeda dibanding Bulan. Io memang memiliki atmosfer namun sangat tipis, sehingga permukaannya yang mulus jelas bukan hasil kerja gaya-gaya eksogen seiring cuaca. Permukaan Io lebih merupakan manifestasi dari gaya endogennya.

Dan heboh besar pun meledak begitu Voyager 1 bersiap meninggalkan lingkungan Io. Untuk kepentingan navigasi optikal guna mengetahui posisi wahana di langit, Voyager 1 mengarahkan kameranya ke Io pada 8 Maret 1979. Hasilnya mengejutkan. Voyager 1 tak hanya menangkap citra Io sebagai benda langit berbentuk sabit lebar mirip Bulan, namun juga merekam sejenis busur setengah lingkaran yang mengembang mirip payung di tepi cakram Io. Selidik punya selidik, bentuk mirip payung ini ternyata material vulkanik yang tersembur hebat dari suatu titik yang kemudian dinamakan Gunung Pele. Semburan material vulkanik yang demikian tinggi menandakan telah terjadi letusan besar. Tertangkap juga sebentuk kaldera raksasa yang di kemudian hari dinamakan Gunung Loki. Observasi selanjutnya dalam waktu yang berbeda melalui wahana Voyager 2 (1979), Galileo (1995-2003), Cassini-Huygens (2000) dan New Horizon (2007) menunjukkan bahwa dunia sekecil Io ternyata dijejali 150 gunung berapi dalam berbagai bentuk. Gunung Pele menjadi gunung berapi Io yang terbesar. Tapi angka itu diyakini hanyalah sebagian dari seluruh populasi gunung berapi di Io yang diduga mencapai 400 buah atau lebih.

Gambar 6. Video detik-detik letusan Gunung Tvashtar Patera seperti diabadikan wahana New Horizon (2007) saat melintas-dekat Jupiter dalam perjalanan menuju planet-kerdil Pluto. Material vulkanik terlihat disemburkan setinggi 330 km dan membentuk busur setengah bola mirip payung raksasa, ciri khas letusan besar. Sumber: NASA, 2007.

Gambar 6. Video detik-detik letusan Gunung Tvashtar Patera seperti diabadikan wahana New Horizon (2007) saat melintas-dekat Jupiter dalam perjalanan menuju planet-kerdil Pluto. Material vulkanik terlihat disemburkan setinggi 330 km dan membentuk busur setengah bola mirip payung raksasa, ciri khas letusan besar. Sumber: NASA, 2007.

Vulkanisme di Io semula diduga lebih menyemburkan magma yang didominasi senyawa-senyawa belerang sehingga suhunya lebih dingin ketimbang lava di Bumi. Namun observasi lebih lanjut menjungkirbalikkan anggapan itu. Banyak gunung berapi Io yang ternyata menyemburkan magma dengan dominasi senyawa-senyawa silikat, layaknya magma di Bumi. Sehingga magmanya setara atau bahkan lebih panas dibanding magma di Bumi. Gunung-gunung berapi Io kerap meletus dalam jangka panjang lewat erupsi efusif. Ini adalah letusan yang melelerkan lava tanpa disertai semburan material vulkanik yang cukup tinggi. Erupsi efusif di Io menghasilkan lava yang bergerak cepat, sehingga mampu menutupi area seluas 12,6 hingga 21,6 hektar dalam setiap jamnya (kasus letusan Prometheus dan Amirani). Sementara lava produk erupsi efusif di Bumi hanya sanggup menutupi area seluas 0,2 hektar saja dalam setiap jamnya (kasus letusan Kilauea di Kepulauan Hawaii). Namun pada saat-saat tertentu, dalam jangka pendek, gunung-gunung berapi ini juga dapat mengalami erupsi eksplosif. Erupsi eksplosif ini sungguh luar biasa. Iasanggup menyemburkan lava panas hingga setinggi 1 km laksana air mancur berapi gigantis. Sementara debu vulkaniknya mampu tersembur jauh lebih tinggi lagi. Kecepatan pengeluaran lavanya pun demikian besar sehingga sebanding dengan letusan gunung berapi model banjir lava basalt di Bumi, seperti misalnya Letusan Laki 1783 (Islandia).

Mengapa dunia kecil Io bisa sedahsyat dan seunik ini? Vulkanisme di Io digerakkan oleh sumber yang berbeda dibanding Bumi. Di Bumi, gunung-gemunung berapi muncul akibat adanya sumber panas internal dimana 90 % diantaranya berasal dari peluruhan radioaktif inti-inti atom berat sementara 10 % sisanya adalah panas-sisa proses pembentukan Bumi purba dari masa remaja tata surya. Panas tersebut menghasilkan sirkulasi dalam lapisan selubung (mantel) Bumi sehingga menggerakkan lempeng-lempeng tektonik di keraknya. Perbenturan dan pemisahan lempeng-lempeng inilah yang memproduksi vulkanisme. Namun hanya 1 % panas internal Bumi yang mewujud sebagai vulkanisme dan tektonisme, 99 % sisanya terlepas keluar melalui proses konduksi di kerak Bumi.

Di internal Io juga terjadi peluruhan radioaktif inti-inti atom berat, namun energi yang dihasilkannya hanya mencakup 0,5 % saja. 99,5 % panas internal Io disumbangkan oleh pemanasan tidal, seiring posisi Io yang unik dalam lingkungan planet Jupiter. Io berjarak relatif dekat dengan planet induknya. Dan dengan 2 satelit Galilean lainnya, yakni Europa dan Ganymede, Io mengalami resonansi orbital dalam bentuk resonansi Laplace. Maka kala Ganymede tepat menyelesaikan revolusinya terhadap Jupiter sekali, Io pun tepat empat kali berevolusi. Demikian halnya saat Europa sekali berevolusi, maka Io tepat dua kali berevolusi. Sifat ini membuat orbit Io sangat stabil dan nyaris berbentuk lingkaran sempurna. Di sisi lain kedekatannya dengan Jupiter membuat Io mengalami gaya tidal (gaya pasang surut) yang sangat besar. Sehingga permukaan Io menggelembung dan mengempis secara teratur dengan perbedaan ketinggian permukaan rata-rata bisa mencapai 100 meter. Bandingkan dengan Bumi, dimana gaya tidal Bulan hanya sanggup menghasilkan perbedaan setinggi 1 meter saja.

Mengembang dan mengempisnya Io pun dirasakan oleh struktur internalnya hingga menciptakan panas yang sangat besar. Panas ini tak bisa dimanifestasikan dalam perubahan orbit Io, akibat resonansi orbitalnya dengan Europa dan Ganymede. Maka panas itu pun akhirnya melelehkan sebagian lapisan selubung Io hingga membentuk lapisan magma (samudera magma) pada kedalaman 50 km dengan ketebalan rata-rata sekitar 50 km. Magma dari samudera magma inilah yang kemudian keluar ke permukaan, menciptakan vulkanisme yang sangat intensif.

Referensi:

de Pater dkk. 2014. Two New, Rare, High-effusion Outburst Eruptions at Rarog and Heno Paterae on Io. Icarus 2014.06.016

de Kleer dkk. 2014. Near-infrared Monitoring of Io and Detection of a Violent Outburst on 29 August 2013. Icarus 2014.06.006

Perry. 2014. Three Major Volcanic Eruptions Observed On Io in the Span of Two Weeks. Planetary Society 2014/08/12.

Antara Letusan Tambora, Waterloo dan Perang Diponegoro

Yogyakarta, Rabu 20 Juli 1825. Matahari kuning kemerah-merahan mengambang rendah di atas kaki langit barat saat jarum jam menunjuk pukul 17:00 setempat. Cahaya keemasannya melaburi langit senja dan juga pucuk-pucuk pepohonan di seantero kota, seakan hendak melipur lara para penduduknya yang menderita di bawah pendudukan Belanda. Namun keindahan senja itu tak sanggup menghapus amarah membara. Di kejauhan sana, di dekat kaki langit sebelah barat, asap mengepul pekat. Inilah saat pasukan gabungan Kasultanan Yogyakarta dan Belanda menyerbu Ndalem Tegalrejo, kediaman Pangeran Diponegoro di pedesaan sisi barat kota. Pasukan gabungan itu datang menghantam dengan satu tujuan: meringkus sang pangeran. Itulah jawaban atas sikap keras Pangeran Diponegoro yang dianggap membangkang karena menolak rencana pelebaran jalan raya (kelak menjadi bagian jalan raya Yogyakarta-Magelang) yang melintasi tapalbatas Ndalem Tegalrejo. Penyerbuan berlangsung kelewat batas. Ndalem Tegalrejo digedor, digeledah, diobrak-abrik dan lantas dibakar. Namun sang buruan tak tertangkap. Bersama sejumlah pengiringnya, Diponegoro meloloskan diri dari kepungan dan lantas menyingkir 10 km ke selatan, ke perbukitan Selarong yang dipenuhi goa-goa kapur.

Diponegoro. Kadang ditulis juga sebagai Dipanegara. Tak satupun orang Indonesia khususnya yang pernah mengenyam bangku sekolah yang asing akan namanya. Diponegoro adalah pahlawan nasional Indonesia. Sosoknya gampang terpatri dalam benak: berpakaian serba putih, bersorban putih pula dan menyandang keris didepan raga. Tak heran jika tampilan ini banyak ditiru khususnya dalam pentas perayaan peringatan kemerdekaan republik ini, baik di sekolah, di karnaval menyusuri jalan-jalan utama maupun di panggung serta layar perak. Tak berbilang pula kota-kota yang menabalkan salah satu ruas jalan utamanya dengan namanya. Namanya pun melekat pada daerah militer di Jawa Tengah (sebagai Kodam IV/Diponegoro), juga pada salah satu lembaga perguruan tinggi prestisius (Universitas Diponegoro). Sejumlah patung bernuansa kepahlawanan yang menggambarkan sosoknya pun berdiri dimana-mana. Bahkan dua buah kapal perang TNI-AL pun menyandang namanya, misalnya yang termutakhir KRI Diponegoro-365.

Gambar 1. Dinding berlubang di pagar sisi barat eks Ndalem Tegalrejo (kini Museum Sasana Wiratama Dipoengoro, Yogyakarta). Di sinilah Pangeran Diponegoro meloloskan diri saat kediamannya diserbu pasukan gabungan Kasultanan Yogyakarta dan Belanda, yang mengawali berkobarnya Perang Diponegoro. Sumber: Amangkuratprastono, 2014.

Gambar 1. Dinding berlubang di pagar sisi barat eks Ndalem Tegalrejo (kini Museum Sasana Wiratama Dipoengoro, Yogyakarta). Di sinilah Pangeran Diponegoro meloloskan diri saat kediamannya diserbu pasukan gabungan Kasultanan Yogyakarta dan Belanda, yang mengawali berkobarnya Perang Diponegoro. Sumber: Amangkuratprastono, 2014.

Ya. Diponegoro memang pahlawan besar, sosok sentral dibalik Perang Diponegoro atau yang dikenal juga sebagai Perang Jawa dalam melawan penjajahan Belanda. Perang Diponegoro menjadi peperangan paling berdarah, paling mahal dan paling menguras tenaga sepanjang sejarah penjajahan Belanda di Indonesia. Hanya dalam tempo 5 tahun Belanda harus mengerahkan 50.000 serdadu dengan tak kurang dari 15.000 diantaranya tumpas berkalang tanah. Separuh korban tewas itu adalah pasukan terpilih yang didatangkan langsung dari tanah Eropa. Perkebunan-perkebunan yang selama ini menjadi lumbung uang dibakar dan dirusak. Total kerugiannya pun melangit, mencapai angka 20 juta gulden pada masa itu atau setara milyaran rupiah di masa kini. Dikombinasikan dengan duit yang harus dirogoh dalam perang Napoleon di daratan Eropa yang disusul pemberontakan Belgia dan perang Paderi di Sumatra, Perang Diponegoro membuat pemerintah Belanda maupun satelit seberang lautannya (yakni pemerintah kolonial Hindia Belanda) mendapati diri mereka bangkrut sebangkrut-bangkrutnya.

Diponegoro sejatinya bukan nama diri. Itu adalah gelar kepangeranan yang bukan main-main. Gelar bagi seorang pangeran yang menyebarkan pencerahan dan kekuatan bagi sebuah negara. Sebelum 1825 gelar ini acapkali dipakai sejumlah putra raja wangsa Mataram masa itu. Pangeran Diponegoro yang kita bicarakan ini lahir sebagai BRM (Bandoro Raden Mas) Mustahar, putra sulung Sri Sultan Hamengku Buwono III, di tahun 1785. Saat beranjak remaja, sesuai tradisi keraton maka namanya bersalin menjadi RM (Raden Mas) Ontowiryo. Dan pada tahun 1812 beliau dinobatkan sebagai pangeran dengan menyandang gelar BPH (Bandoro Pangeran Haryo) Diponegoro. Sebagai putra tertua sang raja yang sedang bertahta, Diponegoro pun memiliki kesempatan untuk menjadi raja berikutnya. Namun Diponegoro tahu diri, ia bukanlah putra permaisuri. Sebaliknya ia justru keluar dari lingkungan keraton dan tinggal di pedesaan untuk mendekatkan diri dengan rakyat Yogyakarta sembari memperdalam ilmu agama (Islam). Dalam saat-saat tertentu sang pangeran, dengan menyamar sebagai wong cilik, bahkan tak segan-segan blusukan ke pelosok tanah Mataram, dua abad sebelum kosakata blusukan menjadi trademark Jokowi.

Namun selepas Perang Diponegoro, tak satupun bangsawan wangsa Mataram baik di Kasultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta maupun Pakualaman dan Mangkunegaran yang bersedia menyandang nama Diponegoro lagi. Nama itu ibarat aib, pembawa kutukan. Bagi Kasultanan Yogyakarta sendiri, Pangeran Diponegoro bahkan dipandang sebagai sosok pengkhianat. Betapa tidak? Perang Diponegoro merenggut korban tak kepalang. Lebih dari seperlima juta orang Jawa meregang nyawa. Populasi warga Yogyakarta pun menyusut hingga tinggal separuh. Seluruh biaya peperangan di pihak Belanda dibebankan ke Kasultanan. Dan begitu perang usai, Belanda melucuti wilayah Kasultanan terutama di Bagelen (sekarang Purworejo), Banyumas dan Panjer (sekarang Kebumen) sebagai pampasan perang. Kasultanan pun nyaris bangkrut, hampir terhapus dari panggung sejarah. Tak heran jika kebencian pun berakar dalam. Bahkan keturunan Diponegoro dilarang untuk memasuki keraton, kapanpun dan atas alasan apapun. Larangan ini baru dicabut lebih dari seabad kemudian pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono IX, kala zaman sudah berubah. Apalagi setelah Presiden Soekarno berinisiatif menggelar peringatan satu abad wafatnya Pangeran Diponegoro pada 1955.

Faktor

Gambar 2. Pertempuran Nglengkong 30 Juli 1826 dalam sketsa. Pasukan gabungan Kasultanan Yogyakarta dan Belanda berhadapan dengan laskar Diponegoro, yang menghasilkan kemenangan terbesar bagi Pangeran Diponegoro pada saat itu. Sumber: Amangkuratprastono, 2014.

Gambar 2. Pertempuran Nglengkong 30 Juli 1826 dalam sketsa. Pasukan gabungan Kasultanan Yogyakarta dan Belanda berhadapan dengan laskar Diponegoro, yang menghasilkan kemenangan terbesar bagi Pangeran Diponegoro pada saat itu. Sumber: Amangkuratprastono, 2014.

Buku-buku sejarah di bangku sekolah menyebut penyerbuan Ndalem Tegalrejo itulah penyulut Perang Diponegoro. Ya. Perang Diponegoro memang dimulai dari Tegalrejo. Namun penyerbuan Tegalrejo bukanlah faktor utama penyebab perang. Sang pangeran sendiri dalam Babad Diponegoro, karya sastra biografis yang ditulis Diponegoro selama masa penawanan di pulau Sulawesi dan kini telah diakui secara internasional sebagai salah satu Memory of the World oleh UNESCO, menyebut bibit peperangan besar itu telah bersemi semenjak 12 tahun sebelumnya. Yakni saat kolonialisme Eropa mempertontonkan wajah kurangajarnya dengan mulai mencampuri urusan internal Kasultanan. Inggris, yang saat itu menguasai pulau Jawa sebagai ekses perang Napoleon, mengacak-acak keraton, memprovokasi terbentuknya kadipaten Pakualaman (sebagai pecahan Kasultanan) dan bahkan pada puncaknya melakukan penjarahan akbar pada 1812.

Inggris tak bertahan lama di Yogyakarta. Mulai pertengahan 1816, Belanda kembali dan mengambil-alih seluruh wilayah jajahannya. Dalam keadaan hampir bangkrut, Belanda meneruskan praktik provokasi Inggris. Keraton makin diacak-acak. Minuman keras bergentayangan dimana-mana, membuat para pangeran muda dan tua mabuk tanpa kenal ruang dan waktu. Perselingkuhan opsir-opsir Belanda dengan para putri keraton pun merebak. Sedemikian parah situasinya sehingga Mahandis Y. Thamrin dalam National Geographic Indonesia edisi Agustus 2014 bahkan menyebut Belanda memperlakukan keraton tak ubahnya seperti tempat pelacuran. Di luar keraton, Belanda melakoni model penjajahan gaya batu dengan membebani setiap orang lewat aneka macam pajak yang mencekik leher. Di wilayah Bagelen saja setiap orang dibebani membayar 13 jenis pajak sekaligus! Zaman pun menjadi edan.

Lambat laun kekurangajaran Belanda di dalam dan di luar keraton laksana menyulut bara dalam sekam. Ketidaksukaan dan kebencian merebak dimana-mana, baik di kalangan bangsawan, prajurit, ulama, bupati, demang, santri, petani maupun rakyat kecil pemberani. Kegemaran blusukannya membuat Diponegoro mampu mencermati ketidaksukaan itu. Dan beliau tidak menulikan diri. Sebaliknya, Diponegoro justru mulai membentuk jaringan rahasia dengan mereka untuk membangun kekuatan. Dana pun mulai mengalir, terutama dari para bangsawan dan dari pencegatan demi pencegatan konvoi logistik Belanda yang sekilas terkesan sebagai tindakan sporadis. Dengan dana tersebut dibangunlah kilang mesiu rahasia di pinggiran Yogyakarta dan tempat-tempat lain. Senapan pun mulai dibeli dari Prusia. Organisasi militer mulai dibentuk dengan mengacu pada struktur tentara imperium Turki Utsmani.

Dengan semua persiapan nan senyap itu Perang Jawa memang benar-benar tinggal menunggu waktu. Dan si pemicu pun datanglah, kala Ndalem Tegalrejo diserbu. Tak heran jika hanya dalam dua minggu pasca penyerbuan Tegalrejo, Diponegoro kembali ke kota Yogyakarta, kali ini bersama 6.000 prajurit. Kota dikepung dari segenap penjuru selama sebulan lebih semenjak 7 Agustus 1825. Tak sekedar mengepung dan memutuskan seluruh akses jalan masuk kota, pasukan Diponegoro secara sistematis juga menghujani Yogyakarta dengan mesiu khususnya ke target-target strategis milik Belanda. Yogyakarta menjadi lautan api. Belanda pun kewalahan dan memilih bertahan sekuat tenaga di dalam Benteng Vredeburg sembari menunggu bala bantuan dari Batavia.

Waterloo

Selain faktor-faktor yang bersifat lokal itu, faktor global turut menjadi penyebab Perang Diponegoro. Seperti berkecamuknya Pertempuran Waterloo (1815) di daratan Eropa dan disusul berjangkitnya penyakit demikian rupa hingga menciptakan wabah berskala besar yang berujung pandemi (1817-1824). Cukup menarik bahwa dua faktor global tersebut nampaknya sangat dipengaruhi sebuah peristiwa alamiah dalam skala yang sungguh luar biasa, yakni Letusan Tambora 1815.

Bagaimana bisa demikian?

Gambar 3. Pertempuran Waterloo dalam lukisan William Sadler. Kekalahan Perancis dalam perang besar ini mengubah geopolitik Eropa dan berpengaruh global, termasuk memicu Perang Diponegoro.

Gambar 3. Pertempuran Waterloo dalam lukisan William Sadler. Kekalahan Perancis dalam perang besar ini mengubah geopolitik Eropa dan berpengaruh global, termasuk memicu Perang Diponegoro.

Pertempuran Waterloo adalah perang yang menentukan kejatuhan kekaisaran Napoleon Bonaparte. Napoleon adalah produk ajaib revolusi Perancis, revolusi yang semula bertujuan meruntuhkan kekuasaan monarki absolut (mutlak) namun belakangan justru berbuah tegaknya kembali kekuasaan monarki absolut yang lain. Selagi menjabat kaisar Perancis, Napoleon berusaha mewujudkan ambisinya menyatukan seluruh daratan Eropa di tangannya. Ambisi ini menyebabkan Perancis terus-menerus bertempur dengan negara-negara tetangganya, terutama Inggris dan Prusia, yang mewujud dalam sejumlah episode Perang Koalisi. Mulai Perang Koalisi Ketiga (1805) hingga Perang Koalisi Kelima (1809), Perancis memetik banyak kemenangan. Sehingga pada 1812 imperium Perancis mencapai puncak kejayaannya dengan wilayah membentang luas meliputi hampir seluruh daratan Eropa barat, kecuali Portugis dan Eropa tenggara menjadi wilayah imperium Turki Utsmani, yang dianggap sekutu Perancis. Sebaliknya Eropa timur sepenuhnya ada di bawah kekaisaran Rusia. Maka Napoleon dan pasukannya pun bermanuver ke timur.

Namun invasi Napoleon ke Rusia justru membuatnya tersungkur telak. Taktik yang salah, musim dingin yang demikian menggigil membekukan dan sengatan wabah tipus membuat Perancis mengalami kekalahan besar-besaran. Napoleon terpaksa pulang dengan memalukan dari Moskow sembari membawa hanya 4 % dari sisa pasukannya, setara 27.000 orang. Sebagian besar lainnya tewas atau malah tertangkap lawan. Demoralisasi pun menyebar di sekujur Perancis. Akibatnya saat koalisi Prusia, Swedia, Austria dan Jerman bangkit mengeroyok Perancis dengan bantuan Rusia dalam Perang Koalisi Keenam (1812-1814), Napoleon dipaksa bertekuk lutut. Setengah juta pasukan koalisi berbaris rapi memasuki kota Paris pada 30 Maret 1814 dan sang kaisar yang terguling dipaksa pergi ke pengasingan di pulau Elba, lepas pantai barat Italia. Koalisi mendudukkan raja Louis XVIII, monarki sebelumnya, sebagai penguasa Perancis yang baru. Bersama Inggris Raya koalisi pun mulai merancang pertemuan di Wina guna menata ulang geopolitik Eropa sesuai monarki-monarki yang ada sebelum meletusnya perang Napoleon. Pertemuan mulai terlaksana setengah tahun kemudian dan lantas populer sebagai Kongres Wina.

Mendadak berhembus kabar Napoleon Bonaparte meloloskan diri dari pulau Elba. Kabar itu ternyata benar dan sejatinya tak mengejutkan seiring lemahnya penjagaan di pulau Elba. Napoleon mendarat di Perancis pada 1 Maret 1815 dan segera memperoleh dukungan luas dari publik untuk merengkuh kembali tahta kekaisarannya. Raja Louis XVIII terpaksa lari terbirit-birit dari Paris. Begitu imperium Perancis kembali, sasaran pertamanya adalah menghabisi seluruh musuhnya. Maka 280.000 prajurit baru pun disiapkan ditambah dengan 250.000 veteran perang. Napoleon juga mengeluarkan dekrit baru yang memungkinkan 2,5 juta penduduk memasuki legiun-legiun Perancis. Di luar sana, koalisi Austria, Prusia, Rusia dan Inggris Raya pun segera mengorganisir diri. Pasukan besar juga dibentuk dan siap dibenturkan. Perang Koalisi Ketujuh pun siap berkobar.

Malang, kali ini Napoleon (kembali) harus jatuh tersungkur. Serangan dadakannya ke pusat konsentrasi pasukan koalisi di Brussels (Belgia) yang belum sempat menata diri berujung petaka di Waterloo. Hujan sangat deras yang salah musim mendadak mengguyur, membuat jalanan menjadi demikian berlumpur sehingga artileri berat yang menjadi tulang punggung pasukan Perancis tak bisa bergerak leluasa. Tak lama kemudian udara kian mendingin, fenomena aneh untuk rentang waktu yang seharusnya adalah musim panas. Udara yang kian mendingin membuat pasukan Perancis terserang radang dingin hingga menyulitkan gerakannya. Demikian dinginnya sehingga pasukan Perancis sampai-sampai terpaksa membakar setiap sepatu tak terpakai sekedar untuk menghangatkan badan. Ambisi Napoleon membuat lawan-lawannya kocar-kacir sembari berharap Inggris pulang kembali ke negerinya dan Prusia keluar dari koalisi pun lenyap laksana kabut dipanggang sinar Matahari. Justru sebaliknya pasukan Perancis yang mendapat pukulan sangat telak hingga segenap sayapnya lumpuh. Korban pun sangat besar, dari 72.000 prajurit Perancis hanya 29 % yang selamat di akhir pertempuran. Bandingkan dengan kekuatan koalisi, yang masih menyisakan 80 % pasukannya dari yang semula berkekuatan 118.000 prajurit.

Akumulasi faktor-faktor yang tak menguntungkan membuat Perancis tak lagi punya keunggulan hingga terpaksa harus bertekuk lutut di bawah kaki pasukan koalisi di akhir pertempuran pada 18 Juni 1815. Sebagai konsekuensinya Napoleon pun mundur dari tahta dan menyerahkan diri ke Inggris. Inggris lantas mengasingkannya ke pulau Saint Helena di tengah-tengah Samudra Atlantik lepas pantai barat Afrika hingga akhir hayatnya. Kongres Wina pun kembali digelar dan menghasilkan sejumlah keputusan. Salah satunya adalah dikembalikannya tanah Nusantara ke tangan Belanda sekaligus menegakkan kembali pemerintah kolonial Hindia Belanda menggantikan pemerintahan pendudukan Inggris.

Tambora

Gambar 4. Letusan Gunung Pinatubo pada Juni 1991, menjelang puncak letusan katastrofiknya. Debu vulkanik Pinatubo disemburkan jauh tingga hingga memasuki lapisan stratosfer dan sempat menciptakan tabir surya vulkanik meski tak berdampak besar bagi iklim Bumi. Letusan Tambora 1815 pada dasarnya juga demikian, hanya saja 16 kali lipat lebih dahsyat ketimbang Pinatubo. Sehingga dampaknya pun sangat besar. Sumber: USGS, 1991.

Gambar 4. Letusan Gunung Pinatubo pada Juni 1991, menjelang puncak letusan katastrofiknya. Debu vulkanik Pinatubo disemburkan jauh tingga hingga memasuki lapisan stratosfer dan sempat menciptakan tabir surya vulkanik meski tak berdampak besar bagi iklim Bumi. Letusan Tambora 1815 pada dasarnya juga demikian, hanya saja 16 kali lipat lebih dahsyat ketimbang Pinatubo. Sehingga dampaknya pun sangat besar. Sumber: USGS, 1991.

Tak sulit untuk melihat hujan sangat deras dan udara yang mendadak mendingin adalah salah satu faktor krusial yang menentukan kekalahan Perancis di medan perang Waterloo. Mengapa kedua hal yang tak menguntungkan Perancis itu terjadi? Pertempuran Waterloo berkecamuk pada 15 Juni 1815. Maka tak sulit untuk mengaitkan jalannya pertempuran dengan peristiwa alamiah berskala luar biasa yang terjadi dua bulan sebelumnya mengambil tempat ribuan kilometer dari Waterloo, yakni di kepulauan Nusantara. Itu adalah meletusnya Gunung Tambora, yang mencapai puncak kedahsyatannya dalam kurun 5 hingga 15 April 1815. Letusan ini menyemburkan 160 kilometer kubik (160.000 juta meter kubik) material vulkanik. Milyaran ton debu vulkanik sangat halus menyembur tinggi hingga mencapai lapisan stratosfer. Bersamanya terbawa serta ratusan juta ton gas belerang, yang lantas bereaksi dengan air membentuk tetes-tetes asam sulfat. Paduan keduanya membentuk tabir surya vulkanik yang menyelubungi sekujur penjuru atmosfer Bumi pada ketinggian antara 10 hingga 30 km. Tabir surya ini membuat 25 % cahaya Matahari tereduksi sehingga hanya 75 % saja yang berhasil ditransmisikan ke Bumi. Akibatnya suhu rata-rata permukaan Bumi pun menurun dengan segala akibatnya.

Mudah untuk melihat bahwa hujan salah musim dan sangat deras merupakan bagian dari kacau-balaunya cuaca akibat penurunan suhu rata-rata permukaan. Pun demikian dalam hal udara yang kian mendingin. Hal yang sama juga bertanggungjawab atas terjadinya wabah penyakit berskala global. Udara yang lebih dingin, tebaran debu vulkanik dan cuaca yang kacau membuat sanitasi lingkungan memburuk. Bibit penyakit yang semula hanya endemis di daerah tertentu pun sanggup menyebar lebih jauh. Inilah yang terjadi dengan kolera, yang semula hanya berjangkit di kawasan lembah Sungai Gangga (India). Namun semenjak 1817 kolera mulai tersebar ke kawasan lain. Pada puncaknya hampir seluruh Asia tersapu wabah penyakit mematikan ini, bersama dengan sisi timur Afrika dan sebagian Eropa Timur. Wabah kolera inilah yang menyebabkan kematian massal di tanah Jawa. Demikian banyak penduduk yang meninggal sehingga lahan pertanian tak terurus. Akibatnya bencana kelaparan pun merebak. Wabah ini tak pandang bulu dalam memilih korbannya, kalangan bangsawan dan bahkan Sri Sultan Hamengku Buwono IV pun turut menjadi sasaran. Tak pelak bencana ini pun berimbas ke ranah sosial-politis, terutama setelah Belanda memilih putra raja (yang baru berusia 3 tahun) menjadi raja selanjutnya bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono V. Karena belum cukup umur, Pangeran Diponegoro ditunjuk sebagai wali raja namun pemerintahan sehari-hari sejatinya dikendalikan Residen Belanda bersama Patih Danurejo IV.

Gambar 5. Kaldera Gunung Tambora yang demikian luas dan dalam. Cekungan air berwarna kehijauan didasarnya adalah Danau Motilahalo. Kaldera ini terbentuk dalam Letusan Tambora 1815 yang dahsyat, hampir 2 abad silam. Kedahsyatannya memicu beragam dampak sosial-politis, termasuk Pertempuran Waterloo dan juga Perang Diponegoro. Sumber: Wahibur Rahman, dalam Geomagz vol. 4 no. 2 (Juni 2014).

Gambar 5. Kaldera Gunung Tambora yang demikian luas dan dalam. Cekungan air berwarna kehijauan didasarnya adalah Danau Motilahalo. Kaldera ini terbentuk dalam Letusan Tambora 1815 yang dahsyat, hampir 2 abad silam. Kedahsyatannya memicu beragam dampak sosial-politis, termasuk Pertempuran Waterloo dan juga Perang Diponegoro. Sumber: Wahibur Rahman, dalam Geomagz vol. 4 no. 2 (Juni 2014).

Kita bisa beranda-andai bagaimana jika pada saat itu Gunung Tambora tak meletus dahsyat? Takdir memang adalah garis nasib yang sepenuhnya menjadi kuasa Allah SWT. Namun jika Letusan Tambora 1815 tak terjadi, jalannya Pertempuran Waterloo mungkin bakal berbeda. Mengingat sebelum pasukan Prusia berhasil berkonsolidasi dengan rekan-rekan koalisinya, kekuatan koalisi di Waterloo hanyalah berjumlah 68.000 prajurit. Sementara Perancis sedikit lebih unggul dengan 72.000 prajurit dan masih dilengkapi artileri berat yang lebih baik. Maka andaikata letusan dahsyat itu tak berlangsung, Perancis mungkin bisa mengungguli kekuatan koalisi. Sejarah berkemungkinan berubah total. Kongres Wina bisa urung mencapai hasilnya dan Belanda dengan penjajahan gaya batunya mungkin takkan datang ke tanah Jawa pada pertengahan 1816 itu.

Referensi:

Djamhari. 2003. Strategi Menjinakkan Diponegoro: Stelsel-Benteng 1827-1830. Jakarta: Komunitas Bambu.

Penadi. 2000. Riwayat Kota Purworejo dan Perang Bharatayudha di Tanah Bagelen Abad XIX. Purworejo: Lembaga Studi Pengembangan Sosial dan Budaya.

Thamrin. 2014. Kecamuk Perang Jawa. National Geographic Indonesia edisi Agustus 2014, hal. 28-49.

Blog Amangkurat Prastono.

Bila Gunung Slamet Mencicil Letusan

Terhitung mulai Selasa 12 Agustus 2014 pukul 10:00 WIB Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia meningkatkan status Gunung Slamet (propinsi Jawa Tengah) dari semula Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III). Peningkatan ini didasari oleh cenderung meningkatnya aktivitas letusan gunung berapi tertinggi kedua di pulau Jawa itu seperti tercermin dalam ranah kegempaan, ketinggian semburan debu vulkanik letusan, suhu mata air panas di kakinya dan mulai terjadinya leleran lava pijar. Bagi sebagian besar kita peningkatan status ini terasa mengejutkan. Namun bagi saudara-saudara kita yang tinggal di sekitar gunung berapi aktif yang bertubuh terbesar seantero pulau Jawa itu peningkatan status lebih sebagai formalisasi terhadap apa yang mereka saksikan secara langsung pada Gunung Slamet dalam kurun sebulan terakhir.

Gambar 1. Pancuran api Gunung Slamet, yang adalah lontaran material vulkanik berpijar mirip air mancur dari kawah aktif Slamet untuk kemudian berjatuhan kembali ke dalam/sekitar kawah sebagai ciri khas erupsi Strombolian. Pada status Siaga (Level III) kali ini, selain erupsi Strombolian juga telah terjadi leleran lava pijar ke arah barat-barat daya (tanda panah). Sumber: Hendrasto (Kepala PVMBG), 2014.

Gambar 1. Pancuran api Gunung Slamet, yang adalah lontaran material vulkanik berpijar mirip air mancur dari kawah aktif Slamet untuk kemudian berjatuhan kembali ke dalam/sekitar kawah sebagai ciri khas erupsi Strombolian. Pada status Siaga (Level III) kali ini, selain erupsi Strombolian juga telah terjadi leleran lava pijar ke arah barat-barat daya (tanda panah). Sumber: Hendrasto (Kepala PVMBG), 2014.

Ya. Aktivitas Gunung Slamet memang sedang meningkat. Salah satu petunjuknya secara kasat mata nampak sebagai letusan debu. Pada paruh pertama Juli 2014 (yakni dari tanggal 1 hingga 15), Gunung Slamet hanya mengalami 31 letusan debu yang membumbung setinggi 300 hingga 1.500 meter dari puncak. Namun pada paruh kedua Juli 2014 meroket menjadi 148 letusan debu yang setinggi 300 hingga 2.000 meter dari puncak disertai 2 kali suara dentuman berintensitas sedang dan 1 kali pancuran api. Dan pada paruh pertama Agustus 2014 (hingga tanggal 12) telah terjadi 100 kali letusan debu (tinggi kolom letusan 300 hingga 800 meter dari puncak), disertai terdengarnya suara dentuman berintensitas sedang hingga kuat sebanyak 109 kali, terdengarnya suara gemuruh hingga 9 kali dan 37 kali pancuran api serta 2 kali luncuran lava pijar sejauh 1.500 meter ke arah barat-barat daya.

Petunjuk kasat mata ini beriringan dengan meningkatnya kegempaan vulkanik Gunung Slamet. Misalnya gempa letusan. Bila sepanjang Juni 2014 gunung berapi ini hanya menghasilkan 1 gempa letusan/hari (rata-rata), maka pada Juli 2014 meningkat menjadi 43 gempa letusan/hari (rata-rata). Dan pada paruh pertama Agustus 2014 (tepatnya semenjak tanggal 1 hingga 11), jumlah gempa letusannya meroket tajam menjadi 43 gempa letusan/hari (rata-rata). Demikian pula dengan gempa hembusan. Jika sepanjang Juni 2014 hanya terjadi 123 gempa hembusan/hari (rata-rata), maka sepanjang Juli 2014 meningkat menjadi 247 gempa hembusan/hari (rata-rata). Dan dalam paruh pertama Agustus 2014 terus membumbung tinggi sampai menyentuh angka 456 gempa hembusan/hari (rata-rata). Pun demikian dengan gempa vulkanik. Jika pada Juni 2014 hanya terjadi 3 gempa vulkanik dalam dan 4 gempa vulkanik dangkal, maka sepanjang Juli 2014 meningkat sedikit menjadi 6 gempa vulkanik dalam dan 8 gempa vulkanik dangkal.

Petunjuk lainnya datang dari mata air panas di kaki gunung. Pengukuran suhu mata air panas Pandansari dan Sicaya (7,5 km ke arah barat laut dari puncak Slamet) menunjukkan suhu air panas di kedua tempat tersebut cenderung naik dalam kurun sebulan terakhir, meski kenaikannya berfluktuasi. Dan petunjuk lain yang lebih jelas datang dari pengukuran EDM (electronic distance measurement). Semenjak awal Agustus 2014 terdeteksi terjadinya peningkatan tekanan dari dalam tubuh gunung melalui pengukuran EDM di titik Cilik (5,5, km sebelah utara puncak) dan titik Buncis (6 km sebelah barat laut puncak). Peningkatan tekanan tubuh gunung menunjukkan bahwa sepanjang paruh pertama Agustus 2014 ini tubuh Gunung Slamet sedang membengkak/menggelembung atau mengalami inflasi.

Gambar 2. Kegempaan Gunung Slamet sepanjang tahun 2014 (hingga 11 Agustus 2014). Area di antara sepasang garis hitam tegak menunjukkan situasi saat Gunung Slamet berstatus Siaga (Level III) pada periode yang pertama (yakni antara 30 April hingga 12 Mei 2014). Sementara kotak bergaris merah menunjukkan aneka kegempaan semenjak awal Juli 2014, yakni pada saat letusan debu dan gempa letusan kembali mulai terjadi. Dalam kotak merah ini nampak gempa letusan, gempa hembusan dan dua gempa vulkanik cenderung meningkat. Sumber: PVMBG, 2014.

Gambar 2. Kegempaan Gunung Slamet sepanjang tahun 2014 (hingga 11 Agustus 2014). Area di antara sepasang garis hitam tegak menunjukkan situasi saat Gunung Slamet berstatus Siaga (Level III) pada periode yang pertama (yakni antara 30 April hingga 12 Mei 2014). Sementara kotak bergaris merah menunjukkan aneka kegempaan semenjak awal Juli 2014, yakni pada saat letusan debu dan gempa letusan kembali mulai terjadi. Dalam kotak merah ini nampak gempa letusan, gempa hembusan dan dua gempa vulkanik cenderung meningkat. Sumber: PVMBG, 2014.

Dengan data-data tersebut, apa yang yang sebenarnya sedang terjadi di Gunung Slamet? Apakah aktivitasnya bakal terus meningkat? Apakah gunung ini akan meletus? Apakah ia akan meletus lebih besar lagi sebagaimana dahsyatnya letusan Gunung Kelud 13 Februari 2014 maupun letusan Gunung Sangeang Api 30 Mei 2014 lalu? Apakah letusan ini akan memenuhi mitos bahwa Gunung Slamet memang bakal membelah pulau Jawa? Mengapa peningkatan status ini terjadi hanya sehari pasca peristiwa Bulan purnama perigean atau supermoon?

Apakah Gunung Slamet Akan Meletus?

Gunung Slamet sejatinya sudah meletus sejak Maret 2014 lalu yakni kala statusnya ditingkatkan menjadi Waspada (Level II) mulai 10 Maret 2014. Secara kasat mata letusan itu terlihat sebagai semburan debu vulkanik bertekanan lemah sehingga hanya membumbung setinggi maksimum beberapa ratus meter saja di atas puncak. Di malam hari pemandangan semburan debu ini tergantikan oleh pancuran material pijar dari kawah (pancuran api), sebuah ciri khas erupsi strombolian. Pada saat yang sama instrumen seismometer (pengukur gempa) akan merekam getaran khas. Inilah gempa letusan. Di waktu yang lain, seismometer kerap pula merekam getaran yang mirip namun hanya dibarengi semburan asap putih/uap air dari kawah aktif, fenomena yang dikenal sebagai gempa hembusan.

Namun harus digarisbawahi bahwa meskipun letusan sudah terjadi sejak Maret 2014, sepanjang itu melulu berbentuk semburan debu tanpa disertai penumpukan lava. Sehingga tak terbentuk aliran lava pijar atau bahkan malah awan panas (aliran piroklastika). Atas dasar inilah dalam status Waspada (Level II), PVMBG hanya merekomendasikan tak ada aktivitas manusia dalam bentuk apapun di tubuh gunung hingga radius mendatar (horizontal) 2 km dari kawah aktif.

Semenjak dinyatakan berstatus Waspada (Level II) pada Maret 2014 itu Gunung Slamet memang terus memperlihatkan peningkatan aktivitas seperti terlihat pada melonjaknya jumlah gempa letusan dan gempa hembusannya. Belakangan bahkan terjadi deformasi tubuh gunung dalam rupa inflasi atau pembengkakan/penggelembungan tubuh gunung. Inflasi selalu menandai masuknya magma segar ke kantung magma dangkal di dasar tubuh gunung. Besar kecilnya volume magma segar yang diinjeksikan ke dalam kantung magma itu sebanding dengan tinggi rendahnya derajat inflasi tubuh gunung. Inilah yang menjadi alasan PVMBG untuk kembali meningkatkan status Gunung Slamet menjadi Siaga (Level III) mulai 30 April 2014. Konsekuensinya daerah terlarang pun diperluas menjadi radius mendatar 4 km dari kawah aktif.

Namun uniknya status Siaga (Level III) ini hanya disandang Gunung Slamet selama 12 hari. Meski berstatus Siaga (Level III), pasokan magma segar ke dalam tubuh gunung justru menurun seperti diperlihatkan oleh menurunnya gempa vulkanik dalam dan dangkalnya. Dengan letusan demi letusan debu terus berlangsung sementara pasokan magma segar berkurang, maka jumlah magma segar yang masih terkandung dalam kantung magma dangkal di dasar gunung kian menipis. Akibatnya pelan namun pasti letusan debu pun mulai menyurut. Bahkan mulai 6 Mei 2014 sudah tak terjadi letusan debu lagi sehingga gempa letusan pun nihil. Itulah saat hari-hari aktivitas Gunung Slamet ditandai hanya dengan hembusan asap putih/uap air, itu pun dengan kekerapan (jumlah kejadian) yang cenderung menurun. Demikian halnya gempa hembusannya. Atas dasar inilah PVMBG kemudian menurunkan status Gunung Slamet menjadi Waspada (Level II). Status tersebut bertahan hingga 10 Agustus 2014. Meski cenderung menurun, PVMBG tetap melaksanakan pemantauan secara menerus sebagai bagian untuk berjaga-jaga sekaligus mendeteksi kemungkinan ia keluar dari tabiatnya yang telah dikenal secara lebih dini.

Apa yang Terjadi Saat Ini?

Gambar 3. Citra satelit SPOT kanal cahaya tampak akan kawasan puncak Gunung Slamet. Nampak jejak aliran lava masa silam, kemungkinan dari Letusan Slamet 1934 (tanda panah) di sisi barat daya kawah. Sumber: Google Earth, 2014 dengan label oleh Sudibyo.

Gambar 3. Citra satelit SPOT kanal cahaya tampak akan kawasan puncak Gunung Slamet. Nampak jejak aliran lava masa silam, kemungkinan dari Letusan Slamet 1934 (tanda panah) di sisi barat daya kawah. Sumber: Google Earth, 2014 dengan label oleh Sudibyo.

Pada saat ini, di bulan Agustus 2014 ini, Gunung Slamet memang mengalami peningkatan aktivitas kembali. Parameternya cukup jelas, yakni melonjaknya jumlah gempa letusan dan gempa hembusan. Letusan debu mulai terjadi pada awal Juli 2014, sehingga mulai saat itu gempa letusan kembali terjadi di Gunung Slamet. Pada saat yang sama hembusan asap putih/uap air juga cenderung meningkat, meski berfluktuasi. Peningkatan ini jelas terkait dengan naiknya kembali pasokan magma segar dari perutbumi ke dalam tubuh gunung, yang juga mulai terdeteksi pada awal Juli 2014 lewat adanya gempa vulkanik dalam dan dangkal. Saat itu kedua gempa vulkanik tersebut memang tak seriuh gempa yang sama pada paruh pertama Maret 2014 lalu.

Gempa vulkanik merupakan getaran yang terjadi tatkala magma segar yang menanjak naik dari perutbumi mulai meretakkan/memecahkan batuan-batuan yang menghalang dalam saluran magma. Batuan-batuan penghalang itu pun sejatinya magma juga, namun dari periode erupsi sebelumnya (yakni 2009 atau lebih dulu lagi) sehingga adalah magma tua yang telah membeku dan mulai membatu. Begitu batuan-batuan itu terpecahkan maka jalan pun terbuka sehingga magma dapat memasuki kantung magma dangkal di dasar gunung dan kemudian terus bergerak naik hingga menyembur keluar dari kawah aktif di puncak. Saat magma segar yang baru kembali menanjak naik dari perutbumi pada awal Juli 2014 lalu, jalan yang hendak dilaluinya relatif tak terhambat lagi. Sehingga magma segar ini pun tak harus memecahkan lapisan-lapisan batuan penghalang dalam jumlah yang besar. Inilah kemungkinan penyebab kecilnya gempa vulkanik (dalam dan dangkal) Gunung Slamet pada Juli 2014.

Parameter paling jelas bahwa terjadi pasokan magma segar yang baru ke dalam tubuh gunung terlihat pada deformasinya. Dengan Gunung Slamet mengalami inflasi pada saat ini, maka jelas magma segar yang baru dalam volume tertentu telah dipasok ke dalam kantung magma dangkal di dasar Gunung Slamet. Berikutnya sebagian atau bahkan hampir seluruh magma segar ini tentu akan dikeluarkan melalui kawah aktif di puncak. Maka tidaklah mengherankan jika aktivitas letusan Gunung Slamet cenderung meningkat, seperti diperlihatkan oleh meningkatnya letusan debu dan hembusan asap putih/uap airnya.

Satu hal yang membedakan status Siaga (Level III) Gunung Slamet saat ini dengan status sejenis sebelumnya (yakni status periode 30 April hingga 12 Mei 2014) adalah lava. Dalam Siaga (Level III) Gunung Slamet kali ini, lava pijar meleler ke arah barat-barat daya hingga sejauh 1.500 meter dari kawah. Sebaliknya status yang sama di periode sebelumnya tak disertai aksi lava. Lava pijar ini keluar ke barat-barat daya mengikuti aliran lava pijar yang pernah terjadi pada periode erupsi sebelumnya, yang terakhir pada Letusan Slamet 1934. Lava mengalir ke arah barat-barat daya mengikuti lekukan pada bibir kawah aktif Gunung Slamet di sisi barat daya ini. Citra satelit Spot pada kanal cahaya tampak dalam basisdata Google Earth jelas memperlihatkan bagaimana jejak-jejak aliran lava masa silam di puncak sektor barat daya ini.

Belum jelas mengapa kali ini Gunung Slamet melelerkan lava pijar. Bisa jadi aktivitas letusan debu Gunung Slamet selama ini, melalui erupsi strombolian secara terus-menerus dalam kurun hampir setengah tahun terakhir, membuat cekungan kawah aktif dipenuhi material vulkanik sehingga lava mulai ‘tumpah’ lewat sisi yang lebih rendah/berlekuk. Namun bisa juga telah terbentuk lubang letusan yang baru di dekat lekukan dinding kawah aktif ini, sehingga magma yang menyeruak keluar darinya langsung mengalir ke lereng sebagai lava pijar.

Apakah Akan Terjadi Letusan Besar?

Pada saat ini tubuh Gunung Slamet memang sedang mengandung sejumlah magma segar yang baru. Cepat atau lambat, magma segar ini tentu akan dimuntahkan sebagai letusan. Permasalahannya, apakah pengeluaran magma segar yang baru ini bisa berujung pada terjadinya letusan besar? Apakah akan terjadi letusan seperti letusan Gunung Kelud (propinsi Jawa Timur) 13 Februari 2014 maupun letusan Gunung Sangeang Api (propinsi Nusa Tenggara Barat) 30 Mei 2014 ?

Pada saat ini, potensi Gunung Slamet untuk meletus besar adalah kecil dan mungkin bahkan sangat kecil. Sedikitnya ada dua alasan yang mendasarinya. Pertama, seberapa banyak volume magma segar yang memasuki tubuh Gunung Slamet. Dahsyat tidaknya letusan sebuah gunung berapi sangat bergantung pada volume magma segar yang memasuki kantung magma dangkal di dasar tubuh gunung. Semakin banyak magma segarnya maka akan semakin besar dan dahsyat letusannya. Letusan Kelud 2014 menjadi dahsyat karena magma segar yang terlibat mencapai 120 juta meter kubik. Pun demikian Letusan Merapi 2010, yang menghamburkan magma segar hingga 150 juta meter kubik. Gunung Krakatau menjadi legenda dengan kedahsyatannya nan menggetarkan, karena Letusan Krakatau 1883 memuntahkan 20 kilometer kubik (20.000 juta meter kubik) magma segar. Dan Gunung Tambora menciptakan malapetaka berskala global saat menghamburkan tak kurang dari 160 kilometer kubik (160.000 juta meter kubik) magma segar dalam Letusan Tambora 1815.

Seperti tersebut di atas, volume magma segar yang terinjeksi ke dalam tubuh gunung akan berbanding lurus dengan derajat inlfasinya. Dengan kata lain, makin banyak magma segar yang masuk maka tubuh gunung akan kian membengkak/menggelembung. Dalam hal Gunung Slamet memang telah terjadi inflasi dan sejauh ini datanya masih terus dicermati oleh para peneliti Badan Geologi khususnya peneliti PVMBG. Namun melihat kecenderungan yang terjadi pada periode April-Mei 2014 lalu (yakni tatkala tubuh Gunung Slamet juga mengalami inflasi), derajat inflasinya tergolong kecil. Sehingga volume magma segar yang masuk ke dalam tubuhnya pun boleh jadi berkisar beberapa juta meter kubik saja. Untuk ukuran gunung berapi aktif, akumulasi magma segar sebanyak beberapa juta meter kubik itu tergolong menengah dan jauh dari ambang batas yang diperlukan untuk menghasilkan letusan besar.

Alasan kedua terletak pada karakteristik jalan/saluran magma Gunung Slamet. Gunung Slamet memiliki sistem yang terbuka, dimana di antara kantung magma dangkalnya dengan kawah aktif dipuncaknya tak ada penghalang yang berarti. Hal ini sangat berbeda bila dibandingkan dengan Gunung Kelud sebelum letusan 13 Februari 2014, dimana dasar kawahnya disumbat pekat oleh kubah lava produk erupsi 2007 yang mulai membeku/membatu dengan volume 16 juta meter kubik dan bermassa sekitar 23 juta ton. Pun demikian Gunung Merapi sebelum letusan 26 Oktober 2010, yang puncaknya dipenuhi kubah-kubah lava dari beragam periode erupsi semenjak 2 abad sebelumnya. Sehingga praktis Gunung Merapi pra-2010 bahkan tak memiliki kawah, karena seluruhnnya disumbat oleh kubah-kubah lava beragam usia yang telah menua dan membatu. Dengan saluran yang terbuka, maka magma segar dalam tubuh Gunung Slamet pun tak harus tertahan dulu untuk kemudian mengalami peningkatan volume dan tekanan. Maka begitu magma segar memasuki tubuh gunung, dalam tempo yang tak terlalu lama pun ia pun dimuntahkan melalui kawah aktif yang sudah terbuka. Sehingga tak terjadi peningkatan tekanan secara dramatis ataupun akumulasi magma yang siap dimuntahkan.

Gambar 4. Kawasan rawan bencana Gunung Slamet dalam status Siaga (Level III). Lingkaran berangka 4 menunjukkan kawasan beradius mendatar 4 km dari kawah aktif. Sementara area kuning menunjukkan area yang berpotensi terlanda aliran lava dan awan panas. Sumber: digambar ulang oleh Sudibyo, 2014 dengan data PVMBG dan peta Google Maps terrain.

Gambar 4. Kawasan rawan bencana Gunung Slamet dalam status Siaga (Level III). Lingkaran berangka 4 menunjukkan kawasan beradius mendatar 4 km dari kawah aktif. Sementara area kuning menunjukkan area yang berpotensi terlanda aliran lava dan awan panas. Sumber: digambar ulang oleh Sudibyo, 2014 dengan data PVMBG dan peta Google Maps terrain.

Dua alasan tersebut menjadikan potensi terjadinya letusan Gunung Slamet yang lebih besar pun cukup kecil. Maka tak perlu ada kekhawatiran berlebihan. Apalagi dikait-kaitkan dengan mitos bahwa letusan Gunung Slamet kali ini bakal membelah pulau Jawa. Memang pada beberapa ratus tahun silam gunung berapi ini mungkin pernah meletus besar hingga mengubur ibukota kerajaan kecil bernama Kerajaan Pasirluhur di kaki selatannya. Peristiwa itu pula yang mungkin menyebabkan nama gunung berapi aktif ini mengalami transformasi menjadi Gunung Slamet (dari yang semula diduga bernama Gunung Pasir Luhur). Semua itu memang perlu untuk diteliti lebih lanjut, oleh pihak-pihak yang berkompeten. Namun pada saat ini, dalam status Siaga (Level III) Gunung Slamet kali ini, dapat dikatakan bahwa potensi terjadinya letusan besar adalah sangat kecil.

Mencicil

Jelas bahwa gejolak Gunung Slamet kali ini hingga menjadi berstatus Siaga (Level III), status yang untuk kedua kalinya disandang gunung itu dalam tahun 2014 ini, telah dimulai semenjak awal Juli 2014. Maka meski secara formal baru ditetapkan berstatus Siaga (Level III) pada Selasa 12 Agustus 2014 kemarin, dapat dikatakan bahwa gejolak Gunung Slamet kali ini tidak berada dalam pengaruh fenomena astronomis yang disebut Bulan purnama perigean atau supermoon. Tahun 2014 ini memang mencatat terjadinya tiga peristiwa Bulan purnama perigean yang berurutan, masing-masing pada Sabtu 12 Juli 2014, Minggu 11 Agustus 2014 dan kelak pada Selasa 9 September 2014.

Bulan dalam status purnama maupun kebalikannya (yakni Bulan dalam status Bulan baru) memang menempati posisi unik, karena nyaris segaris dengan posisi Bumi dan Matahari. Akibatnya pada saat itu gaya tidal Bulan pun berkolaborasi dengan gaya tidal Matahari, sehingga Bumi merasakan tarikan yang lebih kuat. Air laut adalah bagian Bumi yang paling menderita kolaborasi gaya tersebut, yang mewujud dalam rupa pasang naik yang tertinggi. Namun sejatinya tak hanya air laut yang merasakannya. Kulit Bumi pun demikian, meski tak sekasat mata pasang surut air laut. Naik turunnya kulit Bumi akibat kolaborasi gaya tidal tersebut bisa saja meningkatkan tekanan di dalam kulit Bumi, yang dapat bermanifestasi entah menjadi pemicu gempa bumi ataupun pemicu letusan gunung berapi (pada gunung berapi yang sedang kritis, yakni yang sudah menimbun magma segar dalam tubuhnya). Namun dari data di atas terlihat bahwa lonjakan aktivitas Gunung Slamet sudah terjadi bahkan sebelum Bulan purnama perigean yang pertama (yakni pada Sabtu 12 Juli 2014) terjadi. Sehingga untuk sementara dapat dikatakan bahwa tak ada kaitan peningkatan aktivitas Gunung Slamet dengan supermoon.

Menguat, melemah dan menguatnya lagi aktivitasnya menunjukkan bahwa Gunung Slamet mengeluarkan material vulkaniknya secara mencicil. Ia tak sekonyong-konyong mengeluarkan material vulkaniknya dalam tempo relatif singkat sebagaimana halnya Gunung Kelud (dalam Letusan 2014) maupun Gunung Merapi (dalam Letusan 2010) dan Gunung Sangeang Api (dalam Letusan 2014). Letusan yang dicicil menjadikan aktivitas Gunung Slamet kali ini lebih mirip dengan aktivitas Gunung Sinabung, bedanya material vulkanik yang dimuntahkan Slamet lebih kecil dan didominasi debu vulkanik (bukan lava). Mencicil letusan memang bukan tabiat Gunung Slamet yang kita kenal setidaknya dalam seperempat abad terakhir, namun itu bukannya tak mungkin. Mengingat seperti halnya manusia, tabiat sebuah gunung berapi pun dapat berubah seiring waktu. Pada saat ini Gunung Slamet bisa diibaratkan tidak sedang mengajak kita untuk sprint (berlari jarak pendek) melainkan untuk berlari maraton. Dibutuhkan kesabaran, daya tahan dan waktu yang lebih panjang untuk menyikapi gejolaknya.

Dalam status Siaga (Level III) kali ini kawasan terlarang di Gunung Slamet pun diperluas menjadi radius mendatar 4 km dari kawah aktif. Hanya di kawasan inilah tidak direkomendasikan adanya aktivitas manusia dalam bentuk apapun, entah masyarakat setempat, para pendaki gunung maupun wisatawan. Sebab hanya di kawasan inilah yang berpotensi terbesar bagi terjadinya hujan debu dan kerikil panas Gunung Slamet. Dan hanya di kawasan ini pula leleran lava pijar ataupun awan panas berpotensi melanda. Di luar radius tersebut adalah kawasan yang aman, termasuk sejumlah kota dan lokasi penting di sekitar Gunung Slamet ini seperti kota Purwokerto, Purbalingga dan Bumiayu serta Baturaden dan Guci.

Referensi :

PVMBG. 2014. Peningkatan Tingkat Aktivitas Gunung Slamet Dari Waspada (Level II) ke Siaga (Level III), 12 Agustus 2014.